Anda di halaman 1dari 8

Artik

el

1
* 1 “Peta
1 * Emosi”
1 Versi
Danil
Goleman
ANEKA KARYA BAMBONG CITY EXSPRES

Oleh
Muhammad Ibrahim, S.Th.I
Artikel
1. KECAKAPAN PRIBADI

Kecakapan ini menentukan bagaimana kitra mau dan mampu mengelola diri sendiri

Kesadaran Diri

Mengetahui kondisi diri sendiri, kesukaan, sumber daya dan intuisi;

- Kesadaran emosi : menenali emosi diri sendiri dan efeknya.

- Penilaian diri secara teliti : mengetahui kekuatan dan batas-batas diri.

- Percaya diri : keyakinan tentang menghargai diri dan kemampuan diri.

Pengaturan Diri

Menelola kondisi, impuls, dan sumber daya diri sendiri

- Kendali diri : menelola emosi-emosi dan desakan-desakan hati.

- Sifat dapat dipercaya : memelihara norma kejujuran dan integritas.

- Kewaspadaan : bertanggung jawab atas kinerja pribadi.

- Adaptabilitas : keluesan dalam menghadapi perubahan.

- Inovasi : mudah menerima dan terbuka terhadap gagasan, pendekatan dan informasi-

informasi baru.

Motivasi

Kecenderungan yang menghantar atau memudahkan peraihan sasaran

- Dorongan prestasi : dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar

keberhasilan.

- Komitmen : menyesuaikan diri dengan sasaran kelompok atau perusahaan.

- Inisiatif : kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan .


- Optimisme : kegigihan dalam memperjuangkan sasaran kendati ada halangan dan

kegagalan.

2. KECAKAPAN SOSIAL

Kecakapan ini menentukan bagaimana kita menangani suatu hubungan

Empati

Kesadaran terhadap perasaan, kebutuhan, dan kepentingan orang lain.

Memahami orang lain : mengindra perasaan dan prespektif orang lain, dan menunjukan

minast aktif terhadap kepentingan bersama.

Orientasi pelayanan : mengantisipasi, mengenali, dan berusaha memenuhi kebutuhan

pelanggan.

Mengembangkan orang lain : merasakan kebutuhan perkembangan orang lain dan

berusaha menumbuhkan kemampuan mereka.

Mengatasi keragaman : menumbuhkan peluang melalui pergaulan dengan bermacam-

macam orang.

Kesadaran politik : mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan

hubungannya dengan kekuasan

Keterampilan Social

Kepintaran dalam menggugah tanggapan yang dikehendakinya pada orang lain

- Pengaruh : memiliki taktik-taktik untuk melakukan persuasi.

- Komunikasi : menirimkan pesan yang jelas dan meyakinkan.

- Kepemimpinan : membangkitkan inspirasi dan memandu kelompok dan orang lain.

- Katalisator perubahan : memulai mengelola perubahan.


- Manajemen konflik : negosiasi dan pemecahan silang pendapat.

- Pengikat jaringan : menumbuhkan hubungan sebagai alat.

- Kolaborasi dan kooperasi : kerja sama dengan orang lain demi tujuan bersama.

- Kemampuan tim : menciptakan sinergi kelompok dalam memperjuangkan tujuan

bersama.

7 Kecerdasan dan sekolah

Di dalam buku Frames of Mind yang terbit tahun 1983, seorang psikolog bernama

Howard Gardner menyimpulkan hasil risetnya yang mengatakan bahwa sedikitnya ada tujuh

jenis kecerdasan:

1. Kecerdasan linguistik, berkaitan dengan kemampuan bahasa dan penggunaannya.

Orang-orang yang berbakat dalam bidang ini senang bermain-main dengan bahasa,

gemar membaca dan menulis, tertarik dengan suara, arti dan narasi. Mereka

seringkali pengeja yang baik dan mudah mengingat tanggal, tempat dan nama.

2. Kecerdasan musikal, berkaitan dengan musik, melodi, ritme dan nada. Orang-orang

ini pintar membuat musik sendiri dan juga sensitif terhadap musik dan melodi.

Sebagian bisa berkonsentrasi lebih baik jika musik diperdengarkan; banyak dari

mereka seringkali menyanyi atau bersenandung sendiri atau mencipta lagu serta

musik.

3. Kecerdasan logis-matematis, berhubungan dengan pola, rumus-rumus, angka-angka

dan logika. Orang-orang ini cenderung pintar dalam teka-teki, gambar, aritmatika,

dan memecahkan masalah matematika; mereka seringkali menyukai komputer dan

pemrograman.
4. Kecerdasan spasial, berhubungan dengan bentuk, lokasi dan mebayangkan hubungan

di antaranya. Orang-orang ini biasanya menyukai perancangan dan bangunan,

disamping pintar membaca peta, diagram dan bagan.

5. Kecerdasan tubuh-kinestetik, berhubungan dengan pergerakan dan ketrampilan olah

tubuh. Orang-orang ini adalah para penari dan aktor, para pengrajin dan atlet. Mereka

memiliki bakat mekanik tubuh dan pintar meniru mimik serta sulit untuk duduk

diam.

6. Kecerdasan interpersonal, berhubungan dengan kemampuan untuk bisa mengerti dan

menghadapi perasaan orang lain. Orang-orang ini seringkali ahli berkomunikasi dan

pintar mengorganisasi, serta sangat sosial. Mereka biasanya baik dalam memahami

perasaan dan motif orang lain.

7. Kecerdasan intrapersonal, berhubungan dengan mengerti diri sendiri. Orang-orang ini

seringkali mandiri dan senang menekuni aktifitas sendirian. Mereka cenderung

percaya diri dan punya pendapat, dan memilih pekerjaan dimana mereka bisa

memiliki kendali terhadap cara mereka menghabiskan waktu. Menurut Gardner,

masing-masing dari kita memiliki sebuah kombinasi dari kecerdasan-kecerdasan ini.

Setiap orang mempunyai kekuatan relatif dari tiap kecerdasan di atas sedemikian

rupa sehingga orang tersebut cenderung menentukan pilihan aktifitas apapun yang

dia sukai tanpa keterpaksaan. Kita menyebutnya sebagai bakat.Dari sini kita bisa

mengukur sejauh mana cakupan pendidikan yang pernah kita terima saat duduk

dibangku SD hingga perguruan tinggi? Rasanyan, kebanyakan institusi pendidikan di

Indonesia memberikan porsi yang besar terfokus pada pembangunan kecerdasan

logis-matematis. Bahkan secara tak sadar masyarakat kitapun cenderung memberikan

apresiasi yang berlebihan bagi orang yang memiliki kecerdasan logis-matematis.

Banyak orang tua yang merasa prihatin bila mendapatkan anak-anaknya lemah dalam
hal yang berbau logis-matematis. Keprihatinan tersebut mendorong para orang tua

untuk memasukan anak-anaknya ke tempat bimbingan belajar atau mencari guru

private yang mampu mengajarkan anaknya tentang dunia logis-matematis. Namun

sesungguhnya mereka tidak mengajarkan apapun, yang jelas mereka melakukan

pemaksaan terhadap suatu hal yang memang bukanlah bakat sang anak.Lalu dimana

anak-anak kita bisa mendapatkan ruang dan waktu yang bisa menumbuhkan dan

menyalurkan atau setidaknya mengakomodir bakat mereka? Jawaban yang pasti

adalah diluar sekolah. Saatnya kita harus berfikir untuk mendidik tanpa sekolah.

Bagaimana caranya memberikan pendidikan tanpa sekolah? Wallahu’alam.

Empat Pilar Belajar

Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia

yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata, 2005) merumuskan empat

pilar belajar, yaitu: belajar mengetahui (learning to know), belajar berkarya (learning

to do), belajar hidup bersama (learning to live together), dan belajar berkembang

secara utuh (learning to be).

1. Belajar mengetahui (learning to know)

Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan

informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja

disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan

teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama

dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan

tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh

planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh,

memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan


berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet,

bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab,

diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk

mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan,

memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll.

Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Learning the Treasure

Within, menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat

(mean) dan pengetahuan sebagai hasil (end). Sebagai alat, pengetahuan digunakan

untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai

kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Sebagai

hasil, pengetahuan mereka dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan

menemukan.

Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh

karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi

knowing much (berusaha tahu banyak).

2. Belajar berkarya (learning to do)

Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang

berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya

berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari

perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna

khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau

berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan

perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini,

juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi

teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena


tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu

yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu

terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

3. Belajar hidup bersama (learning to live together)

Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka

kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup

bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu

berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut

belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan,

kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama

dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable

(berusaha membina kehidupan bersama)

4. Belajar berkembang utuh (learning to be)

Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut

pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya

berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik,

maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar

mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan

kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh

dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha

banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral

yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.