3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kota Ambon Gambaran umum lokasi penelitian Luas Kota Ambon adalah 377 km2 (luas daratan sekitar 359,45 km2 ), dengan demikian luasnya meliputi hampir separuh dari luas pulau Ambon. Secara geografis, Kota Ambon terletak pada 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur yang berbatasan dengan:    Sebelah Utara : Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda Sebelah Timur : Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Barat

: Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, 2008 Gambar 3.1. Peta Administratif Kota Ambon Saat ini Kota Ambon dibagi dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, dan Leitimur Selatan. Jumlah desa atau kelurahan yang tersebar di kelima kecamatan tersebut sebanyak 50 desa/kelurahan. Berdasarkan luas wilayahnya, maka Kecamatan

12

Teluk Ambon merupakan kecamatan terluas, yaitu 93,68 km2. Sebaliknya, Kecamatan Teluk Ambon Baguala menjadi kecamatan dengan luas wilayah paling keci, yaitu 40,11 km2. Dengan batas wilayah yang demikian maka perairan Kota Ambon dipengaruhi oleh dinamika laut Banda. Dari 50 Desa/Kelurahan, maka 34 Desa/Kelurahan (68%) berada pada kawasan pesisir, sedangkan desa-desa lainnya terletak di daerah pegunungan dan jauh dari pantai. Desa-desa di daerah pegunungan tersebut memiliki ”hak petuanan” di kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan Laporan Statistik PPN Ambon (2009), jumlah penduduk Kota Ambon yang bermata pencaharian tergantung pada perikanan hanya sebesar 1,4 persen dengan jumlah nelayan dan rumah tangga perikanan (RTP) masingmasing sebanyak 3.796 jiwa atau 3.378 rumah tangga. Nelayan Kota Ambon dapat dikatakan sebagai nelayan sub-sisten. Jumlah nelayan terbesar terdapat di Kecamatan Nusaniwe (34,61%) yang terkonsentrasi di Desa Latuhalat (Tabel 3.1). Latuhalat menjadi sentra kegiatan penangkapan karena kondisi perairan yang menunjang produksi perikanan tangkap. Namun, beberapa desa pesisir lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi untuk budidaya perikanan, pengolahan, eko-wisata laut. Tabel 3.1. Jumlah Nelayan dan RTP Kota Ambon Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Teluk Ambon Teluk Ambon Baguala Sirimau Leitimur Selatan Nusaniwe Jumlah Jumlah Nelayan 677 819 372 614 1,314 3,796 Jumlah RTP 593 725 293 547 1,22 3,378

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon, 2008 Usaha perikanan di Ambon terdiri dari usaha perikanan komersial dan usaha perikanan rakyat. Usaha perikanan komersial ditunjukkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang berpangkalan di Kota Ambon

(fishingground penangkapan adalah di perairan Maluku dan Papua). Sementara itu, usaha perikanan rakyat pada umumnya terdiri dari kapal ikan ukuran kecil

13

sampai ukuran 30 GT.

Berkembangnya usaha perikanan didaerah tersebut

berpotensi mempengaruhi ketersediaan ikan. Saat ini di Ambon semakin banyak tertangkap ikan tuna ukuran kecil (baby tuna), ini merupakan pertanda stok ikan semakin berkurang. Di Kota Ambon terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang tesebar pada beberapa lokasi. Kapal yang berkunjung ke PPN Ambon sangat bervariasi, baik jenis alat tangkapnya maupun ukuran kapalnya. Selain kapal penangkap ikan, ada pula kapal pengangkut yang berperan sebagai kapal pengumpul ikan dari beberapa kapal penangkap ikan yang berada di tengah laut. Kapal pengangkut ikan ini juga berfungsi sebagai penyuplai bahan bakar dan perbekalan untuk biasanya memiliki trip hingga 6 bulan. Jumlah kapal pengangkut yang singgah di PPN Ambon, yaitu sebanyak 275 kapal atau 32 persen dari total kapal yang berkunjung. Ukuran kapal pengangkut antara > 10—1000 GT yang didominasi oleh ukuran 51—100 GT. Sementara itu, kapal penangkap dengan alat tangkap pukat tarik ikan, pukat tarik udang ganda, dan huhate adalah kapal yang paling banyak berkunjung di PPN Ambon masing-masing sebanyak 26 persen, 17 persen, dan 7 persen dari jumlah kapal yang berkunjung ke PPN Ambon. Jenis ikan yang dominan didaratkan selama tahun 2009 adalah ikan pelagis kecil, seperti: ikan gulamah/tigawaja, layang, layur, dan ekor kuning, sedangkan dari jenis non-ikan adalah cumi-cumi (Gambar 3.2). Ikan gulamah/tigawaja adalah ikan yang paling banyak didaratkan, mencapai 61,24 persen dari total ikan yang didaratkan. Gambar 3.2. menunjukkan ikan yang didaratkan didominasi oleh ikanikan kecil yang umumnya banyak dijumpai di pasar lokal. Ironisnya, Kota Ambon sangat kaya akan ikan-ikan pelagis besar, seperti ikan tuna, tongkol, dan cakalang serta ikan karang seperti lalosi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan berupa ikan pelagis besar tidak didaratkan di PPN, tetapi langsung dijual ke awak kapal penangkap yang

14

sedangkan kebutuhan BBM/solar sepenuhnya berasal dari luar pelabuhan. nelayan yang menangkap ikan tuna langsung membawa hasil tangkapannya ke perusahaan yang menawarkan harga tertinggi agar keuntungan yang nelayan peroleh besar. dermaga laut dan pelabuhan tersedia 19 buah untuk melayani angkutan penumpang dan barang. Dari hasil pengamatan. Namun. Dari hasil pengamatan.perusahaan-perusahaan sebagai komoditas ekspor. berasal dari dalam dan luar pelabuhan. Kebutuhan nelayan akan air bersih dapat dapat disuplai dari dalam PPN Amon. Padahal. PPN Ambon tidak memiliki stasiun pengisian bahan bakar berupa SPDN atau SPBB sebagai agen resmi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal nelayan. misalnya. Penyaluran logistik air bersih. dan BBM/solar. Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah perusahaan kapal mendapat kesulitan untuk melakukan docking karena fasilitas yang tersedia hanya melayani ukuran kapal di bawah 500 GT. Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon. kebutuhan es seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam pelabuhan karena 15 . keterbatasan infrastruktur dalam pelabuhan membuat nelayan harus mencari sumber logistik di luar pelabuhan. Persentase Produksi menurut jenis ikan dominan Selain sebagai tempat pendaratan ikan serta berlabuhnya kapal-kapal penangkap dan pengangkut ikan . (Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. Sebaliknya. 2009 Gambar 3. Hal inilah yang mendorong sulitnya nelayan mendapatkan kebutuhan logistiknya secara cepat dengan harga yang terjangkau. es. 2008) Penyaluran logistik untuk kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh PPN Ambon meliputi air bersih.2. PPN Ambon kurang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya.

000 620.210.845.5 29.413.252.757 milyar. Jumlah logistik kapal penangkap ikan di PPN Ambon pada tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Air (Ltr) 368 903.343.607.898.pelabuhan memiliki pabrik es yang produksinya cukup memenuhi kebutuhan nelayan Kota Ambon.200 9.604.741.343.7 857. Tabel 3.1 400.80 9.031.7 1.3 3.800 300.422.292 17.1 4.810 147.4 830 1.5 1. dan tuna dengan nilai produksi terbesar berasal dari ikan cakalang.2.526 9.016 16.30 3 1.279.6 1.5 603.50 16. Volume dan nilai produksi perikanan per jenis ikan tahun 2009 Jenis ikan Cakalang Kembung Lalosi Teri Layang Selar Tongkol Tuna Lainnya Jumlah Produksi Volume (Ton) Nilai (Rp.5 3. tongkol.4 Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon.50 857.927.50 1.5 Kebutuhan Logistik Es Balok (Ton) BBM/Solar (Ltr) 13 1.6 2.7 ton dengan total nilai sebesar Rp72. Tabel 3.7 35.369. Hal ini disebabkan oleh karena ikan-ikan tersebut merupakan komoditas ekspor utama dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar luar negeri.320 15. cakalang.2 26. Jenis ikan yang paling besar sumbangannya terhadap total produksi adalah ikan tongkol.700 1.30 16.000 23.2 2.927. 2009 Produksi ikan pada tahun 2009 adalah 22.941.312 985 1.40 11.724. dan layang. layang.617.200 72.242 1.851.770 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.1 1.757.7 1.016 13 2.9 7.00 17 1.2 2.981.3.710.8 14.000 659.550 5. 2009 16 .3 696.2 2.186.453 6.8 22.005.000) 5.50 16.

Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Prosentase kapal motor dengan mesin sebagai armada penangkapan hanya digunakan oleh satu persen nelayan Kota Ambon.8%). 2009 Gambar 3. jala. jaring insang (9. dan pukat pantai. jaring insang. jaring angkat (14. alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tangan (56%).3. rawai. Armada penangkapan ikan di Ambon tahun 2009 Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Kota Ambon sangat bervariasi.3%). Alat tangkap huhate (pole and line) dan giob atau bobo (purse seine) adalah jenisjenis alat tangkap yang sedikit sekali penggunaannya karena sarana penangkapan ini tergolong mahal. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. huhate. juga tergolong banyak karena ada 10. jaring angkat. alat tangkap lainnya. pancing tonda. yaitu sebanyak 67 persen dan sisanya 32 persen didominasi oleh perahu dengan motor tempel.Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor (perahu semang). Kapal tanpa motor lebih banyak digunakan dibandingkan perahu motor tempel dan kapal motor. antara lain hand line. dari sisi manfaat dapat melibatkan banyak nelayan dalam operasional alat tangkap tersebut. purse seine.3%). dan pancing tonda (7. Namun. tangguk. Selain itu. Armada penangkapan yang mengoperasikan alat tangkap pancing tangan (hand 17 . dan rumpon. seperti bubu. perahu motor tempel (outboard engine) dan kapal motor dengan mesin dalam (inboard engine). panah.4 persen nelayan Kota Ambon menggunakan alat tangkap tersebut.

4. nelayan cenderung mudah berpindah daerah penangkapan (fishing ground) sehingga kegiatan penangkapan tidak terganggu dengan adanya perubahan musim angin. gelombang. baik ukuran panjang kapal dan kekuatan mesinnya. tramel net. dan bottom gill net. misalnya gill net.line) umumnya juga menggunakan alat tangkap lainnya. Ukuran kapal tersebut menyebabkan nelayan tidak mampu menangkap ikan di lautan lepas karena ukuran kapal tidak mampu melawan arus. Dengan demikian. Karakteristik Usaha Responden Karakteristik responden menurut kepemilikian kapal. Berdasarkan kepemilikan kapal 70 persen responden memiliki kapal dengan ukuran ≥5GT . Daerah penangkapan ikan umumnya berada di dalam teluk dan pada perairan di sekitar teluk Ambon. Untuk itu. dan bahan bakar yang digunakan dapat dipelajari dari Tampilan Tabel 3. karena jika angin kencang tidak terjadi di seluruh wilayah perairan karena terhalang oleh pulau dan gunung di sekeliling teluk. dan angin yang cukup besar. bantuan kapal yang diterima nelayan biasanya tidak dapat langsung digunakan karena harus dimodifikasi terlebih dahulu. jenis alat tangkapnya.<10GT dan sisanya (30 persen) memiliki kapal berukuran < 5 GT. Hal ini terbukti dengan samanya jumlah trip hari untuk musim angin barat dan angin timur 18 . Kondisi ini memang memaksa nelayan untuk menggunakan kapal dengan ukuran panjang dan lebar kapal yang berbeda. Nelayan Ambon tidak terpengaruh oleh musim.

Tabel 3.4. Karakteristik responden dari aspek teknis
Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT
< 5 GT

Jumlah 9 21 0 0 30 9 8 13 30 25 5 30

Prosentase 30 70 0 0 100 30.00 26.67 43.33 100 83 17 100

≥5GT - <10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT - <100GT Jumlah Jenis Alat Tangkap Pancing tonda Purse seine Gillnet Jumlah Bahan Bakar yang digunakan Bensin Minyak tanah Jumlah

Sumber: Data primer diolah, 2010 Tabel 3.5 menunjukkan pendapatan dan Pengeluaran dari kegiatan penangkapan ikan. Pada nelayan pancing tonda, penerimaan diperoleh dari penjualan ikan tuna pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp1.707.111. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 593.611 yang dialokasikan untuk membeli bensin, oli, es, ransum, dan biaya di darat berupa perawatan kapal. Dengan demikian, keuntungan yang diterima nelayan pancing tonda adalah sebesar Rp1.113.500/trip. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 50% untuk pemilik kapal, 25% untuk nahkoda dan 25% lagi untuk ABK. Pada prakteknya, keuntungan tersebut dibagi dua untuk pemilik dan ABK mengingat biasanya kapal pancing tonda bekerja dengan anggota keluarganya sendiri sehingga bagian ABK adalah Rp 556.750 pada trip terakhir. Untuk kapal purse seine, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dua jenis alat tangkap lainnya. Penerimaan yang diterima pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp3.054.085 dari penjualan ikan kawalinya Rp885.000 dari nilai ikan momar Rp2.973.000 sehingga total penerimaannya adalah Rp3.858.000. Dengan biaya operasional sebesar Rp803.915 maka besarnya

19

keuntungan adalah Rp3.054.085. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 40% untuk pemilik kapal, 30% perawatan, dan perbaikan kapal, 27% untuk ABK, dan 3% untuk nahkoda. Banyaknya ABK yang bekerja di sebuah kapal purse seine membuat penerimaan riil yang diperoleh ABK justru kecil dibandingkan dengan ABK di kapal pancing tonda, yaitu ± Rp41.270 untuk seorang ABK. Tabel 3.5. Pendapatan dan Pengeluaran Kegiatan Penangkapan Ikan
Uraian Penerimaan (Rp) Tuna Selar (Kawalinya) Layang (Momar) Tongkol Kembung (Lema) Jumlah Biaya operasional (Rp) Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Ransum biaya di darat Total Biaya Operasional Keuntungan (Rp) Pancing tonda (< 5 GT) 1,707,111 885,000 2,973,000 1,200,000 288,400 1,488,400 Jenis Alat Tangkap Purse seine (≤ 5-10 GT) Gillnet (≤ 5-10 GT)

1,707,111

3,858,000

0 322,222 0 66,444 41,556 38,389 125,000 593,611 1,113,500

0 118,125 128,250 116,875 13,200 105,625 321,840 803,915 3,054,085

75,000 69,688 15,533 55,714 98,000 15,750 53,333 308,018 1,180,382

Sumber: Data primer diolah, 2010 Alat tangkap gillnet rata-rata menangkap ikan tongkol dan lema sehingga penerimaannya dari kedua jenis ikan tersebut adalah Rp1.488.400. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung rendah karena kapal gillnet tidak banyak membeli oli, minyak tanah, dan ransum sehingga total biaya operasionalnya adalah Rp308.018. Rendahnya biaya operasional ini disebabkan oleh karena nelayan gillnet memiliki trip penangkapan setiap hari sehingga biaya ransum dan biaya bensinnya rendah. Setelah dikurangi dengan biaya operasional tersebut maka besarnya keuntungan sebesar Rp1.180.382. Selanjutnya, sistem

20

bagi hasil dari keuntungan tersebut adalah 60% untuk pemilik, 6% untuk nahkoda, dan 34% untuk ABK. Seperti halnya kapal purse seine, banyaknya ABK yang bekerja membuat bagian keuntungan yang diterima oleh seorang ABK sedikit, yaitu ± Rp40.000.

Bantuan Usaha Perikanan Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatagorikan sebagai subsidi. Namun bantuan ini sifatnya tidak reguler karena diberikan pada keadaan tertentu. Bantuan ini adalah bentuk intervensi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu berjalannya usaha penangkapan ikan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat langsung berupa uang tunai atau peralatan tangkap yang langsung diserahkan kepada kelompok nelayan, misalnya subsidi BBM atau bantuan kapal dan alat tangkapnya bagi kelompok nelayan terpilih. Ada pula subsidi yang diberikan secara tidak langsung, misalnya berupa penyediaan fasilitas untuk memperlancar usaha penangkapan. Intervensi yang intensif kepada nelayan lebih banyak dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Akan tetapi, bentuk intervensinya lebih bersifat pemberdayaan nelayan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya kolektif bersama seluruh masyarakat pesisir untuk pengelolaan ekosistem, sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk menjamin kegiatan nelayan itu secara berkelanjutan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon dan Provinsi Maluku banyak menyediakan bantuan

peralatan penangkapan yang diberikan dalam bentuk paket barang dan uang dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati untuk mendukung usaha nelayan. Bantuan yang bersifat pemberdayaan masyarakat ini jumlahnya sangat kecil, namun sangat membantu dalam pengembangan usaha perikanan yang ada disekitar teluk Ambon. Bantuan tersebut umumnya menggunakan dana yang berasal dari angggaran pemerintah dan sifatnya sangat temporer.

21

1. Pemberian bantuan ke depan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memaksimalkan kegiatan dan kelembagaan masyarakat yang sedang berjalan (bukan dengan membentuk kelompok-kelompok baru). 3. bentukbentuk pemberdayaan kepada nelayan sangat bervariasi dalam aktivitas dan lokasi usaha. 2008 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. 2007 7. Beberapa desa dan kelurahan yang berpotensi dikembangkan untuk usaha perikanan tangkap. wisata bahari dengan pendekatan terpadu dan menerapkan sistem konservasi yang tersebar dalam lima kecamatan 22 . 2006 6. 2003 2004 2005 5. budidaya laut.Tabel 3. 2009 Berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan di lapangan. serta yang mempunyai peranan selama ini dalam upaya menyejahterakan masyarakat.6. 4. Bantuan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Perikanan di Kota Ambon Tahun 2002—2008 No. Tahun 2002 Jenis Bantuan Rumpon Gilnet Kios BBM Puse seine Bodi BBM&Alat Papalele ikan Rumpon Rumpon Papalele ikan Papalele ikan Gilnet Rumpon Rumpon Papalele ikan Gilnet Pengolahan Pancing tonda Bagan Kios Bubu Gilnet Pancing tonda Rumpon Papalele ikan Jumlah kelompok penerima bantuan 4 5 1 2 1 1 10 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 3 2 1 1 1 7 1 1 Sumber bantuan APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN Bentuk bantuan Uang Uang/Barang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang 2.

2. ilmiah serta “eco-tourism” . Teluk Ambon Baguala 5. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Teluk Ambon 4.7.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Bagan. wisata selam. melalui pendekatan pengelolaan ekosistem Daerah Aliran Sungai dan mangrove. wisata khusus alam darat dan laut . Kecamatan Nusaniwe Bentuk Intervensi .dalam tabel di bawah ini.Lokasi desa-desa Passo. dan PT perikanan Nusantara . Seilale. Tabel 3.Alat tangkap : pancing tonda.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . alat pancing. Hative Besar. Nania. Hative kecil. . huhate .Budidaya laut (ikan). Laha dan Tawiri .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. Halong di waktu lampau terkenal sebagai nelayan pole and line yang tangguh) . giob/bobo.Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. Bentuk-bentuk intervensi pemerintah daerah dalam kegiatan penangkapan di Kota Ambon No. NegeriLama. dengan isu utama adalah pencemaran .Penangkapan ikan : Jaring insang. dan Nusaniwe . .Lokasi desa-desa Latuhalat.Lokasi kelurahan Pandan Kasturi. jaring insang. dengan konservasi.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Pengembangan wisata rekreasi massal. (beberapa desa seperti Latta.Alat tangkap : Jaring insang. Leitimur Selatan 23 . Galala. Waiheru. .Pariwisata massal berupa rekreasi pantai dan secara khusus wisata selam di kawasan kapal tenggelam di Waiame. desa-desa Batu Merah.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Demikian juga masyarakat dari desa tertentu yang dapat dikembangkan sebagai desa pengolahan ikan dan non-ikan. alat pancing.Alat tangkap: Jaring insang. dan PT perikanan Nusantara . Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). dan PT perikanan Nusantara . melalui pendekatan pengelolaan dan konservasi.Alat tangkap seperti jaring insang. Lateri.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . dengan isu utama adalah pencemaran. 1. Halong dan Latta serta kelurahan Lateri . Sirimau 3. pancing tonda.Lokasi Desa-desa Rumahtiga. Rumpon. alat pancing .Budidaya laut (ikan dan non-ikan). huhate dan giob/bobo . huhate. dan PT perikanan Nusantara .

24 . 2008 Peran Subsidi Perikanan Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. selam antara Hukurila dan Hutumuri . Tidak tersedianya SPDN/SPBN menyebabkan nelayan yang menjadi responden mengalami kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini mereka beli dari pengecer dengan harga Rp4.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). .Budidaya laut (rumput laut.Pengembangan pariwisata massal untuk rekreasi dan secara khusus wisata ilmiah. lola. Padahal.Lokasi Desa-desa Hutumuri. Untuk kapal pancing tonda saja yang melakukan one day fishing rata-rata memerlukan 64 liter bensin. Leahari. teripang. Kilang. Hatalae. sedangkan kapal purse seine rata-rata memerlukan bensin sebanyak 24 liter dan minyak tanah 37 liter. Selain itu.No. faktor penyebab lainnya karena armada penangkapan yang digunakan nelayan responden adalah kapal dengan motor tempel yang berbahan bakar bensin. Kecamatan Bentuk Intervensi . Lokasi pengecer juga cukup jauh sehingga nelayan harus membawa jerigen atau botol kaca sebagai wadahnya. subsidi BBM kepada nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran < 5—10 GT dengan alat tangkap pancing tonda dan purse seine dapat dikatakan tidak ada.000 per liter.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya SPDN atau SPBB sebagai penyalur BBM bersubsidi bagi nelayan di PPN Ambon. Hukurila . sedangkan subsidi BBM hanya diberikan untuk armada penangkapan yang berbahan bakar solar. siput lain) dengan pendekatan pengelolaan dan konservasi serta mengembangkan teknologi untuk pembenihan dan pemulihan stok. dan PT perikanan Nusantara Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. batu laga.500—Rp6. kebutuhan bahan bakar berupa bensin dalam satu trip cukup besar. Naku.

Dengan asumsi harga solar non-subsidi adalah Rp7.Solar .488.5 liter. dan minyak tanah yang masing-masing sebanyak 12.611 Rp1. bensin. kapal dengan alat tangkap gillnet menggunakan solar.5 liter 20 liter 5 liter Rp308.8. 2010 * Harga BBM di eceran ** Harga BBM tanpa subsidi = Rp7.000 per liter sehingga biaya operasional per trip adalah Rp308. dan 5 liter.768 Rp1.Tabel 3.707.500 Berbeda dengan kedua armada penangkapan dengan dua alat tangkap di atas.111 24 liter 37 liter Rp803.018 Rp401.500 maka solar yang digunakan responden dengan kapal gillnet termasuk ke dalam solar bersubsidi dengan harga Rp6.018.915 Rp3. 20 liter.858. Analisis biaya dan pendapatan menurut jenis alat tangkap Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip Rata-rata volume (per trip) . yaitu sebesar 24 persen.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM* Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM** Rata-rata nilai hasil tangkapan Jenis alat tangkap Pancing tonda Purse seine < 5 GT ≥ 5-10 GT 1 hari 1 hari 64 liter Rp593.400 Sumber: Data primer diolah. Bertambah besarnya biaya operasional tersebut berdampak pada penurunan keuntungan per trip yang diperoleh nelayan yang bisa mencapai 8 persen.Bensin .768 yang artinya nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan dengan penggunaan BBM bersubsidi meskipun porsi biaya solar terhadap biaya operasional tanpa subsidi BBM atau dengan subsidi BBM hampir sama. Apabila dibandingkan dengan harga BBM tanpa subsidi maka besarnya biaya operasional per trip adalah Rp401. pada wilayah Ambon ikan yang terdapat di wilayah perairan Ambon masih dapat 25 .000 Gillnet ≥ 5-10 GT 1 hari 12. Selain itu. Penurunan pendapatan tersebut bagi nelayan bagi responden menunjukkan bahwa usaha perikanan tersebut memiliki prospek keberlanjutan yang baik walaupun BBM yang digunakan tanpa di Subsidi.

sejak Maret 2009 hingga sekarang subsidi BBM hanya disalurkan ke tiga perusahaan. pengisian solar akan dilakukan di dermaga tempat kapal berlabuh dengan menggunakan mobil tanki dari Pertamina sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya sewa mobil tanki di samping membayar harga BBM yang dibeli. Selanjutnya. Sementara itu. yaitu PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry. dan PT Samudra Sakti Sepakat. Namun. PT Cilacap Samudera Fishing Industry. surat rekomendasi ini dipelajari oleh Pertamina sehingga pemberian BBM bersubsidi tidak selalu sebanyak yang diminta dan direkomendasikan. 26 . Penyaluran BBM bersubsidi ini dikelola oleh PPN Ambon yang berwenang mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak Pertamina berdasarkan surat permohonan dari perusahaan. Setelah Pertamina menyetujui permohonan tersebut. subsidi BBM justru disalurkan untuk armada penangkapan dari 7—10 perusahaan besar di Ambon sejak tahun 2007 hingga sekarang. baik di tahun 2009 (65%) maupun pada tahun 2010 (60%) dari total subsidi BBM yang disalurkan PPN Ambon. PT Samudra Sakti Sepakat baru menerima subsidi BBM sejak bulan Mei 2009 hingga sekarang dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dua perusahaan lainnya. PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry memperoleh BBM bersubsidi paling banyak. Berdasarkan data dalam Tabel 13.mendukung berbagai armada penangkapan yang terdapat pada kawasan tersebut. Namun demikian.

350. Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry PT. Kota Bitung Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Bitung terletak pada 1°23'23" . 2010 3.9.2. Rekapitulasi BBM bersubsidi yang dikeluarkan PPN Ambon tahun 2009—2010 Jumlah BBM bersubsidi (KL) Bulan PT. Samudera Sakti Sepakat Jumlah Tahun 2009 Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah 150 95 100 125 125 170 765 25 25 75 50 70 70 315 20 25 50 45 25 30 195 195 145 225 220 220 270 1. Cilacap Samudera Fishing Industry PT.35 Ha. yang batas-batas wilayahnya sebagai berikut:  Sebelah Utara dengan Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Timur dengan Laut Maluku  Sebelah Selatan dengan Laut Maluku 27 .930 100 75 50 125 125 80 75 25 50 75 780 20 25 40 20 20 70 25 45 265 280 250 270 300 370 355 300 225 250 375 2.1°35'39" LU dan 125°1'43" 125°18'13" BT.975 Sumber: PPN Ambon diolah. Luas wilayah Kota Bitung 31.275 180 175 200 150 205 255 205 130 175 255 1.Tabel 3.

28 .00 31.56 8.766.10 .266 jiwa.396.09 10. 1.083. Dibandingkan hasil Sensus Penduduk terakhir yakni tahun 2000 yang berjumlah 140. 2. 5.83 1.64 3.80 3. Tabel 3. perdagangan dan jasa serta pemukiman. Kecamatan Ranowulu Matuari Girian Mandidir Maesa Aertembaga Lembeh Selatan Lembeh Utara Jumlah Kelurahan 11 8 7 8 8 10 7 10 69 Luas Daerah (ha) 15. 4. 6.30 2.03% berombak. sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan. keadaan tanahnya sebagian besar daratan Bitung atau 45.00 2.309.35 % 50. 7. Desa serta Luas Wilayah Kota Bitung No. 3. Kecamatan.73% bergunung.65 6. 8.270 jiwa berarti setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 3%.70 3. dengan rincian seperti pada tampilan Tabel 3. Jumlah penduduk Kota Bitung pada tahun 2008 diestimasikan sebesar 178.350.14 8.18% merupakan dataran landai serta sisanya 18.553.10.756. merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0 – 15 derajat. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat.00 969. Sebelah Barat dengan Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Secara administratif wilayah Bitung dibagi dalam 8 kecamatan dan 69 kelurahan.82 100 Sumber : Kantor Statistik Bitung (2010) Dilihat dari aspek topografis.55 2. Hanya 4.06% berombak berbukit dan 32.26 10.00 516. industri.

Ditinjau dari kategori kapal.98 km2 dan produksi 125. maka kepadatan penduduk pada tahun 2008 mencapai sekitar 569 jiwa per kilometer persegi. kapal motor juga mengalami peningkatan dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah perahu tanpa motor. Kapal motor dengan kategori 6-10 GT yang terdapat di Bitung sebanyak 10%.39% per tahun.81% per tahun dan peningkatan kapal motor dengan rata-rata 20. Karakteristik Usaha Perikanan Kota Bitung Bitung memiliki sumber daya perikanan yang cukup potensial. Selain perahu motor temple.9 ton per tahun. Jika dihubungkan dengan luas wilayah Kota Bitung yang 313. Penurunan jumlah perahu tanpa motor sejalan dengan meningkatnya jumlah perahu motor temple. Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya. sehingga total jumlah amada penangkapan menunjukkan penurunan. Kapal penangkap ikan dengan kategori 11-30 GT atau kapal yang memperoleh izin pada tingkat propinsi berjumlah sebanyak 9% dari 29 . Penurunan ini terlihat karena adanya penurunan jumlah perahu tanpa motor dalam jumlah yang signifikan.9 ton per tahun. Penurunan jumlah perahu tanpa motor ini disebabkan karena sebagian nelayan telah memiliki perahu dengan motor temple. Armada penangkapan ikan dilihat dari jumlah kapal selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan 4. perahu tanpa motor yang digunakan untuk menangkap ikan sebesar 40% dan kapal motor < 5 GT sebesar 5% dari total jumlah kapal yang ada. Pengurusan administrasi seperti surat izin usaha perikanan.81% per tahun. Pada perairan zona ekonomi eksklusif seluas 190 km2 dan produksi 196. surat izin penangkapan ikan untuk kapal kurang dari 10 GT dilakukan di tingkat Kota Bitung.5035 km persegi. Peningkatan jumlah perahu motor temple rata-rata sebesar 32.Dilihat dari sebaran penduduk per kecamatan sebagian besar penduduk Bitung terkonsentrasi di Kecamatan Maesa. potensi penangkapan di Sulawesi Utara pada perairan 12 mil seluas 314.

958 1.456 1.227 2.470 1. Selain alat tangkap hand line.523 1.477 1. 2010 Alat tangkap yang dominan di Bitung adalah hand line yaitu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna.472 1.472 1.867 2. Perkembangan jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Bitung.11. 2000-2009 PERAHU TANPA TAHUN (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MOTOR (2) 1. Kapal dengan kategori lebih dari 30 GT terdapat di Kota Bitung sebanyak 35%.367 2.229 2. Tabel 3.471 1.621 1. Kapal kurang dari 5 GT dengan alat tangkap hand line mampu melakukan penangkapan di ZEEI dengan ikan hasil tangkapan tuna berukuran lebih dari 35 kg per ekor.613 1. alat tangkap yang banyak dijumpai di Kota Bitung adalah alat tangkap purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil dan alat tangkap pole and line untuk menangkap ikan cakalang. 30 .286 Sumber: dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.303 1.029 700 690 525 PERAHU MOTOR TEMPEL (3) 597 630 727 121 622 642 520 510 510 313 KAPAL MOTOR (4) 155 126 104 274 275 291 409 411 413 448 JUMLAH (5) 2.total jumlah kapal yang terdapat di Kota Bitung.

050 525 1.Tabel 3.12.250 16 64 3 18 132 1. tahun 2009 KATEGORI KAPAL Tanpa Motor ALAT TANGKAP Hand Line Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Bagan Apung Set Net < 5 GT Sero Tanam Pole and line Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 6 .30 GT Pole and line Tuna long line Light Boat Pengangkut/Penampung JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 525 1. Jumlah kapal dan jumlah nelayan menurut jenis alat tangkap di Bitung.050 50 250 5 100 1 1 2 4 1 8 32 67 387 63 441 50 1.773 33 660 19 475 5 125 9 135 24 120 24 31 .10 GT Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 11 .

470 Jumlah nelayan yang terlibat di dalam sebuah kapal penangkap ikan tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan.505 13.KATEGORI KAPAL ALAT TANGKAP JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 240 114 1. rata-rata jumlah nelayan yang terlibat sebanyak 25 orang per kapal per trip. Selain kapal penangkap ikan.460 Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Pole and line Tuna long line > 30 GT Bottom long line Pukat Ikan Gill Net Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Total 448 1.175 98 1. 32 . Bitung ditunjang oleh sebuah Pelabuhan Perikanan Samudera dengan luas 4.625 47 1.286 8. Sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap hand line memerlukan ABK lebih banyak untuk ukuran kapal yang lebih besar. Dalam pemanfaatan sumber daya perikanan. Pada alat tangkap purse seine dan pole and line.470 16 320 16 400 23 690 1 5 164 2.6 ha dan reklamasi 1 ha. Kapal dengan alat tangkap hand line yang berukuran kurang dari 10 GT hanya memerlukan ABK sebanyak 7 orang. sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap yang pada ukuran lebih dari 10 GT memerlukan ABK sebanyak 20 orang. kapal pengangkut yang terdapat di Kota Bitung berjumlah sekitar 2% dari total kapal.755 18 360 65 1.

465 677 417 206 20.432 3.502 10.952 10.130 9.610 m untuk bobot kapal 5-30 ton dengan kedalaman -1.581 230 226 366 24.254 22. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas kapal.720 9.891 567 305 19 59 266 145 67 15.267 539 499 1. Meningkatnya jumlah kunjungan kapal diatas 50 GT menunjukkan semakin banyaknya jumlah kapal yang beraktivitas di PPS Bitung.352 127 215 1. Pada tahun 2005 jumlah kapal yang paling sering berkunjung adalah kapal tanpa motor. Tabel KATEGORI DAN 2005 UKURAN KAPAL Jumlah (unit) PTM Motor Tempel < 10 GT 10 .dermaga 1 sepanjang 1.100 GT 100 .50 GT MOTOR 50 .30 GT KAPAL 30 .13.300 2. Jumlah kapal yang berkunjung ke PPS bitung mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2005.877 954 777 1. es dan air bersih.648 m2. 2005-2009 Sumber : Profil PPS Bitung.660 2006 2007 2008 2009 3.764 m bobot kapal 30-600 ton dengan kedalaman -5.702 8.637 12.494 24 2 1.101 719 718 216 21. 2010 33 . baik dilihat dari jumlah kapal dan juga ukuran kapal. dari kapal tanpa motor menjadi kapal motor tempel. Kunjungan kapal diatas 50 GT juga mengalami peningkatan. Jumlah kunjungan kapal di PPS Bitung. Jalan utama PPS Bitung 1.20 GT 20 . Kunjungan kapal di PPS bertujuan untuk melakukan pembongkaran ikan dan juga untuk memuat perbekalan seperti BBM.00 m LWS dan dermaga 2 sepanjang 1.5 m LWS.200 GT > 200 GT 86 29 3 1. sedangkan pada tahun 2009 jumlah kapal yang sering berkunjung adalah kapal motor tempel.357 150 354 1.215 6.202 11.

Cold Storage Penjualan Suku Cadang. Caria Ch.60 Usaha Solar (SPBB) dan Air Pengolahan dan Cold Storage Prosesing ikan segar dan Cold Storage Pabrik es. Sari Tuna Makmur PT. Beberapa pabrik es juga dibangun di areal PPS Bitung. Nama perusahaan yang terdapat di PPS Bitung.32 81 40 565.20 49.14. hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pemuatan es ke kapal-kapal ikan yang akan melakukan penangkapan.000 500 1.556.46 651. Getra Mitra Usaha PT. Bitung Bahari Sejahtera KSU. dan Unit Pengolahan Ikan UKM Kantor Administrasi 34 . Komegoro PT.000 616 600 4.50 1. kapal ikan yang akan melakukan pengisian solar harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi pengisian solar kepada petugas pelabuhan perikanan. Penyaluran air bersih untuk kebutuhan kapal penangkapan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki dalam kawasan PPS Bitung.000 1. Oli Depot Air Isi Ulang Jasa Wartel Kantor Sekterariat Kantor Adm. Golden Bridge International PT. Sukses Abadi 27 Kios Pesisir PT. Waserda Pabrik Es. Penyaluran solar untuk kapal-kapal ikan telah dibangun SPDN dan SPBB. Prosesing Plant Prosesing Ikan dan Cold Storage SPBN Tipe. Wailan Pratama PT. Pangow Jasa Wartel “Aldin” HIPPBI UD.000 2. Mikaindo Abadi Cemerlang Daeng Umar Genda Dra.000 1.000 1.Fasilitas penyediaan perbekalan yang sangat dibutuhkan oleh kapal ikan dalam melakukan penangkapan sebagian besar terdapat di dalam kawasan PPS Bitung. 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Perusahaan PT. Kelana Djaya Abadi CV.000 168. Mikaindo Abdai Cemerlang PT. Pathemang Raya PT. Bitung Bahari Sejahtera Luas Lahan (M²) 927 1. Prosesing Ikan Segar. Etmiko Sarana Laut PT. Lautan Bahari Sejahtera PT.92 72. Tabel 3. A SPDN (BBM Solar) Pabrik Pengolahan Ikan Pabrik Prosesing Fillet Ikan Tuna Kantor Administrasi dan Operasional Penyalur minyak tanah.

240 886.911 7.925 4.000 253.270 24.000 174. Masingmasing kapal ikan dapat melakukan pengisian solar maksimum setiap bulan 25.000 liter.465 1.374 Sumber : PPS Bitung 2010 Lokasi penangkapan atau fishing ground kapal-kapal penangkap ikan yang berasal atau mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung yaitu di Laut Sulawesi.590 957.715 6. Bagi kapal ikan berbendera Indonesia tetapi merupakan kapal ikan eks asing dan menggunakan ABK asing tidak diperbolehkan untuk mendapatkan solar dengan harga subsidi.660 771.000 900. Ikan hasil tangkapan alat tangkap purse seine adalah ikan pelagis 35 .655 Es (Ton) 13.638 8.758 15. Kebutuhan terhadap perbekalan setiap bulan selama tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3.090 696.505 725.452.Kapal ikan yang dapat melakukan pengisian solar adalah kapal ikan Indonesia dan tidak menggunaka ABK asing.899 4.110 827.000 Solar (KL) 858.15. Alat tangkap ini berjumlah banyak dan juga hasil tangkapan setiap kapalnya dalam jumlah besar.520 10.024.230 751.955 110.800 907.000 97.245 3. Teluk Tomini dan Laut Arafura. tahun 2009 Kebutuhan Perbekalan BULAN Air bersih (m3) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 19.15.000 36.740 995. Alat tangkap yang memberikan kontribusi hasil tangkapan paling banyak adalah alat tangkap purse seine atau pukat cincin.020 11.165 4.730 838.850 23.955 13.000 530.188 15. Tabel 3.190 23.000 3.205 823.312. Kebutuhan perbekalan di Bitung.000 620.

Potensi lainnya masih belum dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dengan maksimum adalah jenis ikan tuna. Selain purse seine. Potensi sumber daya ikan cakalang di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini cukup besar. Harga ikan pelagis kecil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ikan pelagis besar. Nelayan dengan skala kecil juga dapat memanfaatkan ikan tuna menggunakan alat tangkap hand line. Hasil tangkapan utama alat tangkap huhate adalah cakalang.kecil yaitu layang dan kembung. Kapal dengan alat tangkap hand line Kapal dengan alat tangkap purse seine 36 . alat tangkap yang memberikan kontribusi jumlah tangkapan besar yaitu kapal dengan alat tangkap huhate atau pole and line. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Bitung untuk melakukan penangkapan ikan tuna adalah hand line dan long line. sehingga mengundang nelayan-nelayan dari Negara tetangga untuk melakukan penangkapan di perairan Indonesia. Nelayan tersebut sudah harus memiliki keahlian khusus sehingga dapat menangkapan ikan tuna berukuran diatas 30 kg per ekor dengan menggunakan perahu di bawah 5 GT. sehingga masih dapat dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dalam jumlah yang banyak. Potensi ikan tuna di Laut Sulawesi masih sangat besar.

425.20 209.90 1.80 4.333.80 127.637.886.866.90 3.998.Kapal dengan alat tangkap purse seine Kapal dengan alat tangkap pole and line Gambar 3.099.462. disamping beberapa jenis ikan lainnya seperti cakalang dan ikan-ikan pelagis kecil.90 17.40 45.90 L.80 4. Kapal penangkap ikan Bitung yang melakukan penangkapan ikan di Laut Arafura seperti purse seine.16.Sulawesi 927.20 199. huhate dan pancing tonda. tahun 2009 Alat Tangkap Payang Pukat tarik udang tunggal Dogol Pukat pantai Pukat Cincin Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Bagan perahu/ rakit Rawai tuna Huhate Pancing tonda Pancing ulur Pancing cumi Jumlah T.998.90 99.00 180.532.70 45.904.00 128.299.70 127.20 Total 1.566.70 L.778.60 99.40 1.90 5.00 6.300.60 37 .70 17. Produksi ikan di Bitung berdasarkan jenis alat tangkap dan fishing ground.50 12.998.674. Tomini 600.789.189.90 13. Arafura 109.90 15.90 100.80 2.401. Potensi terbesar yang terdapat di Laut Arafura adalah udang.4.890.00 80.823. Aktivitas Perikanan pada PPS Bitung 2010 Laut Arafura juga merupakan salah satu fishing ground armada perikanan Bitung.30 46.90 18.10 13.00 4.40 3. Tabel 3.80 5.90 280.576.00 8.70 4.70 8.60 99.566.125.468.60 14.80 299.60 355.00 1.

053.20 Sumber: Dinas kelautan dan Perikanan Kota Bitung.90 3. dan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 9.00 L.70 12.278. tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 21. peningkatan produksi ikan tuna periode 2007-2009 adalah 6.90 0.21% per tahun.60 68.40 L.80 61.70 42.50 145. 38 .65%.90 55. Arafura 41. Kegiatan Pembongkaran dan Distribusi Ikan di PPS Bitung Jumlah produksi ikan cakalang dan ikan tuna di Bitung selalu menunjukkan peningkatan.80 4.36% per tahun.Sulawesi 90.80 Total 145. Produksi ikan tuna mengalami peningkatan sebesar 2. 2010 Ikan cakalang hasil tangkapan Ikan layang hasil tangkapan Gambar 3.20%. Tomini 54. Peningkatan jumlah produksi ikan cakalang sebesar 6.5. Jika dirata-rata.94%.48% dari tahun 2007 ke tahun 2008.701.Alat Tangkap Sero Bubu Alat tangkap kepiting Jumlah Jumlah T.073. Jumlah produksi ikan layang mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 yaitu 10.

Harga ikan layang pada tahun 2009 menunjukkan harga yang stabil atau tidak mengalami banyak perubahan.40 2009 61.899. Harga ikan tuna menunjukkan peningkatan mulai dari harga 16 ribu pada bulan Januari sampai harga 30 ribu pada bulan Juni.72) (7.820. baik peningkatan maupun penurunan.30 142.17.656.452.70 52.362.40 58. Harga ikan layang lebih tinggi pada bulan April disebabkan karena 39 . Harga pada bulan Januari menunjukkan posisi yang paling tinggi pada tahun 2009 yaitu 17 ribu. Harga ikan tuna yang didaratkan oleh nelayan sangat tergantung pada kualitas ikan.80 145.377.003.188 per kg.21 (5.272.Tabel 3. harga ikan cakalang menunjukkan penurunan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember.572. Rata-rata harga ikan cakalang selama tahun 2009 adalah Rp 11. Sebenarnya harga ikan tuna setiap bulannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Produksi Ikan Hasil Tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung Tahun 2007 – 2009 Produksi (ton) Jenis ikan 2007 Cakalang Tuna Layang ikan lainnya Jumlah 54.338.053.10 135.10 2008 57.245.50 2. sedangkan ikan tuna dengan harga dibawah 20 ribu adalah ikan tuna yang tidak dapat dipasarkan ke pasar ekspor.36 6. Bitung 2010.60 28.39) % peningkatan Sumber: PPS.80 26. Selama tahun 2009. Harga ikan layang ditentukan oleh perusahaan pengolahan ikan yang terdapat di sekitar Bitung.90 53. Ikan tuna dengan harga 30 ribu adalah ikan tuna dengan grade A.747. pada saat ikan masuk ke perusahaan pengolahan.275.60 2. sedangkan pada bulan-bulan berikutnya menunjukkan angka yang stabil yaitu pada level 11 ribu dan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember menunjukkan angka yang semakin menurun. Penentuan kualitas ikan tuna dilakukan dengan cara mencek kualitas daging ikan tuna.90 22.10 2.20 6.327.

000 8.997 28.288 8. Usaha pengolahan hasil perikanan di Bitung sudah sejak lama dilakukan dan telah berkembang dengan baik sehingga menjadikan Bitung sebagai pusat pengolahan ikan terbesar di Sulawesi Utara.267 Selar 13.999 12.000 30.275 24.000 15.119 11.000 15.000 12. penanganan di atas kapal. sehingga untuk memenuhi produksi perusahaan pengolahan.519 11.523 Layang 9.000 9.000 11. Harga beberapa Jenis ikan di PPS Bitung (Rp/Kg).512 11.000 8. ikan dibeli dengan harga yang lebih tinggi.336 Sumber: PPS Bitung 2010.000 30. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Cakalang 17.000 11.000 10.883 9.000 11.000 22.000 11.000 31.000 13. 40 . pengecer sampai ke pabrik pengolahan.000 16.000 12.000 16. penanganan saat didaratkan.000 9.000 11.000 9.000 30.350 8.919 12. teknologi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh pengolah dan pabrik (UPI).000 30.000 11.000 12. Saat ini telah ada tiga kelompok pengolah ikan asap yang beranggotakan 10 – 30 pengolah belum termasuk pengolah perseorangan.000 9. bahan tambahan. Tabel 3.000 9.000 12. Penanganan hasil perikanan meliputi penanganan terhadap bahan mentah (ikan).000 14.pada bulan tersebut produksi ikan layang sedikit berkurang dibandingkan bulanbulan lainnya.188 Tuna 16.000 11.039 11.000 10. yang perlakuannya dimulai sejak ikan ditangkap. bahan pembantu. peralatan yang digunakan. Pengolahan tradisional dilakukan melalui adanya industry rumah tangga pengolahan ikan asap/ fufu.18.000 10.000 10. penanganan di pasarpasar.870 9.000 11. Penanganan hasil perikanan berperan penting dalam memanfaatkan produksi perikanan.000 29. Usaha tersebut dilakukan baik dengan system pengolahan tradisional maupun modern.

Samudera Sentosa PT. Pengolahan ikan dengan cara pembekuan untuk ikan hasil tangkapan kapal purse seine berorientasi pasar lokal. seperti Bitung. 100 100 100 50 Rata 2 80 35 30 30 Pemasaran % 80. Untuk memenuhi kapasitas pengolahan tersebut. Kedua jenis olahan tersebut berorientasi pasar ekspor. Lokal Arab Saudi. Deho Canning Co. Selain itu juga disebabkan oleh adanya jenis-jenis ikan yang langsung dapat diekspor tanpa harus terlebih dahulu dilakukan pengolahan.Pabrik ikan kayu . Sedangkan yang terpakai hanya 35% dari kapasitas tersebut.UE Jepang. cakalang dan layang segar untuk ekspor Perusahaan pengolahan perikanan di Bitung didominasi oleh perusahaan pengalengan ikan dan ikan kayu.0 AS.UE AS.Pengolahan ikan tuna.19. frozen 41 .Pabrik pembekuan ikan . Kapasitas Perusahaan Perikanan di Bitung. Bitung harus dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung dan mengolah hasil tangkapan tersebut pada perusahaan pengolahan ikan yang tersedia.Pabrik pengalengan ikan .0 30. Tabel 3. Disamping itu juga terdapat pembekuan ikan tuna dan pembuatan loin tuna. dan Jakarta. Delta Pacifik Indotuna 2007 Kaleng. tahun 2010 Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 1 2 3 4 PT.Usaha pengolahan modern di Bitung sampai saat ini berjumlah 45 perusahaan yang terdiri dari : . Nama Perusahaan. 1979 1991 Kaleng Kaleng Kaleng. frozen. Besarnya kapasitas pengolahan yang tidak terpakai disebabkan karena rendahnya jumlah ikan yang didaratkan di Bitung.0 60. Jenis Produk.0 35. Total kapasitas pengolahan ikan di Bitung adalah 894 ton. UEA PT. Surabaya. Sinar Pure Foods Int'l PT.

Frozen :Loin.0 50. Nutrindo Freshfood Int'l PT.Sby 42 . frozen Ikan Kayu 9 20 25 20 20 20 100 20 10 20 10 30 5 6 15 18 50 3 4 4 2 20 5 50.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 5 Fresh. Ikan Kayu Fresh:Utuh. Etmico Sarana Laut PT.7 AS.7 Sngpr.Frozen : Fresh. Frozen Frozen Frozen. Yuh Yow Indo PT. Jepang Belanda PT.8 Lokal/Jkt.0 20.0 15 3 20. Sari Malalugis PT. Bitung Mina Utama PT. Lokal Jepang 1994 2000 2004 Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen Frozen Jepang Jepang Lokal Export.0 20. Sari Cakalang PT. Japindo Tencep Raya PT.3 16.Frozen:U tuh Fresh. Mina Samudra Kencana 2005 2006 2006 2005 Frozen Frozen: Utuh Fresh.0 0. Tridara Putra Mandiri PT. Shing Sheng Fa Ocean 2001 Frozen 22 23 24 25 26 PT.0 15. Taiwn Eksport. Bintang Mandiri Bersaudara 2007 2006 1989 Jepang Lokal/Btg Jepang PT. Citra Buana Sulut PT.0 Lokal/Jkt.Frozen.Krea. Manadomina Citrataruna PT. Alam Baru Rekor PT. Primadaya Bitung PT.Saku Fresh. Sari Tuna Makmur 1999 AS.0 90. Perikanan Nusantara 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 21 PT. Anugerah Timur Makmur PT.0 20.0 75.Lokal 30 Rata 2 10 Pemasaran % 33.0 30.Sby 2007 27 2007 Frozen 18 5 27. Fresh:Loin 10 10 3 2 30. Taiwn Sngpr.UE.3 PT.Jepang. 6 7 8 2004 2006 15 3 5 1 33. Lokal PT. Lokal 2002 Frozen Frozen Export.Fro zen Fresh/Frozen Ikan Kayu Ikan Kayu.0 20.Krea. Lautan Bahari Sejahtera PT. Celebes Minapratama PT. Indo Hong Hai PT. Melody Asri 1992 2000 Jepang.0 40.0 66.

Berdasarkan data primer.0 40. Lembeh. Nick's UD. wawancara dengan responden menggunakan kuesioner.0 16. Bahari Mitra Lestari UD. Fresh:Loin Frozen 2006 2008 2005 2005 2006 Frozen Frozen Frozen Frozen Fresh Frozen Frozen Fresh 2006 Frozen 3 5 6 10 15 4 5 5 4 12 5 60 894 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 10 366 50. International Alliance Food 2007 2007 Frozen Kaleng Lokal/ Jkt. maka 80% dari total responden merupakan angkatan kerja dengan umur 43 .Sby Lokal/Btg Lokal/ Jkt.0 33.3 20.0 25. Ocean Tuna PT.0 20. Citra Anugrah Fishtama PT.3 25. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Permata Laut Jaya 2007 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 CV. Bitung Timur. Jasuma UD.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 28 29 30 PT. Kina Sasi Biru UD. 2010 Karakteristik Usaha Perikanan Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Aertembaga. Responden yang dilakukan wawancara sebanyak 35 orang. Singa Raja UD.0 25. Esria UD.2 Lokal/Jkt.Sby Lokal/Jkt. Mitra Sakana CV.0 13. Sby 5 2 40. Fresh:Loin Frozen.0 40.Sby Lokal/Jkt. Sby JUMLAH Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.0 20. Sinco Ocean Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen.Sby Lokal Lokal/Btg Lokal/Jkt.Sby Lokal/Jkt. Sukses Abadi UD. Berkat Baru UD. Nelayan CV. Sby Lokal/Jkt. Girian dan Madidir. Lautan Berkah CV.7 35.0 Rata 2 Pemasaran % CV.

dan 20% lainnya berumur lebih dari 50 tahun. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada umumnya hanya 1 orang yaitu responden itu sendiri sebanyak 83% dari total jumlah responden. Berdasarkan jenjang pendidikan. Sedangkan responden yang sudah sangat berpengalaman atau lebih dari 15 tahun hanya sebanyak 17% dari total jumlah responden. PNS dan wiraswasta murni. Responden yang belum memiliki anak sebanyak 34% dan sisanya responden yang telah memiliki anak lebih dari 2 orang. anggota DPRD. Pemilik kapal penangkap ikan di Kota Bitung mempunyai latar belakang yang beragam. 37% telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan kurang dari 15 tahun. Hal ini disebabkan karena sebagian besar nelayan berumur kurang dari 50 tahun dan sebelum terjun ke usaha perikanan. 51% responden memiliki anggota keluarga 3 sampai 4 orang. sisanya terdiri dari pemilik dan nahkoda. Dilihat dari jumlah keluarga. Pengalaman responden dalam usaha perikanan sebanyak 46% berpengalaman kurang dari 5 tahun. sehingga sulit untuk dijadikan sebagai responden. kapal dengan ukuran diatas 10 GT sampai kurang dari 30 GT sebanyak 31% dan kapal dengan ukuran lebih dari 44 . Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Kota Bitung sudah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Status responden dalam kegiatan penangkapan ikan 85% anak buah kapal. dimana nelayan sebagian besar hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar. seperti Walikota. responden yang i berpendidikan tamat SMA sebanyak 60% dan tamat SMP sebanyak 31% dan sisanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar.produktif yaitu antara 20 sampai 50 tahun. sehingga dapat dikatakan. responden memiliki anak 1-2 orang. Pengelompokkan responden berdasarkan ukuran kapal yaitu kapal dengan ukuran kurang dari 5 GT sebanyak 2 responden. kapal dengan ukuran 5 GT sampai dengan kurang 10 GT sebanyak 34%. responden telah menamatkan tingkat pendidikan samapi Sekolah Menegah Atas.

sehingga penerimaan nelayan dari penjualan ikan layang adalah Rp 4. Karakteristik Penguasaan Kapal Penangkap Ikan. Sebagian besar kapal yang digunakan responden mempunyai bahan bakar solar atau bermesin diesel. Selain ikan layang. Total penerimaan responden dengan menggunakan alat tangkap purse seine adalah Rp 5. responden dengan alat tangkap purse seine sebanyak 10 orang dan sisanya responden dengan menggunakan alat tangkap hand line untuk menangkap ikan tuna. pole and line dan hand line. Tabel 3.71 34. Ditinjau dari jenis alat tangkap. Melihat keberagaman usaha penangkapan ikan di Bitung. Rata-rata jumlah ikan layang yang diperoleh oleh kapal purse seine adalah 560 kg per trip dengan harga rata-rata Rp 7.451.700 per kg.000 per trip. tahun 2010 Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT < 5 GT Jumlah Prosentase 2 12 11 10 35 5.<100GT Jumlah 45 .312.20.30 GT sebanyak 29%. Sedangkan untuk jenis alat tangkap hand line harus dibedakan untuk hand line dengan skala kecil dan hand line dengan skala sedang. maka alat tangkap dapat dikelompokkkan dalam alat tangkap purse seine.00 ≥5GT . setiap kapal purse seine juga memperoleh ikan kembung sejumlah 154 kg dan harga Rp 7.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .400 per kg.43 28.57 100. tetapi sebagian responden juga menggunakan bahan bakar bensin dan minyak untuk kapal dengan motor tempel. Ikan dominan hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap purse seine adalah ikan layang dan sebagian ikan kembung.29 31. responden dengan alat tangkap pole and line sebanyak 10 orang.600 per trip.

karena sudah banyak pembeli yang datang.57 42.43 17.86 100.00 11. juga langsung dibeli oleh pedagang besar dari perusahaan pengolahan tanpa melalui pedagang pengumpul. Minyak tanah diperoleh oleh nelayan dari pengecer yang 46 . Ikan layang langsung dijual oleh nelayan di lokasi pendaratan. oli dan es serta biaya untuk pengurusan izin berlayar dan biaya tambat.00 25 6 35 Sumber: data primer (2010) Pembeli ikan layang pada umumnya adalah pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke perusahaan pengolahan. Ikan layang yang dibeli oleh pedagang pengumpul. pembeli tersebut sebagian besar sudah menjadi langganan pemilik kapal untuk menjual hasil tangkapannya.43 71.000 per liter.57 28. Pemilik kapal atau pengurus kapal sudah terlebih dahulu mengetahui harga ikan layang sebelum kapal datang.14 100. baru dibayarkan kepada nelayan setelah ikan tersebut dijual ke perusahaan pengolahan.0004. maka pembayaran dilakukan secara tunai. Selain itu. Setiap trip dibutuhkan minyak tanah sebanyak 150-250 liter dengan harga berkisar antara Rp 3. Biaya operasional kapal dengan alat tangkap purse seine ini terdiri dari biaya bahan bakar. Bahan bakar utama yang digunakan kapal dengan mesin tempel ini adalah minyak tanah dan dicampur dengan bensin. tetapi jika ikan dibeli oleh pedagang besar.Karakteristik Jenis Alat Tangkap Pole and Line Purse seine Tuna Hand Line Jumlah Bahan Bakar yg digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah 4 Jumlah Prosentase 10 10 15 35 28.

Untuk lebih amannya. Penerimaan dan Pengeluaran Per Trip menurut Alat Tangkap di Bitung.096.160 Tuna hand line Tuna Hand Line 2 1 (>10GT(>5GT-<10GT) <30GT) X X X X X X X X 14.945.140.085.672.000 X 1.750 262.000 2.000 2.750 17.575.580.365. karena tidak diperbolehkan membeli bensin dengan menggunakan jerigen.500 250.881 X 4.000 122.750 17.250 Bensin 474.750 Keuntungan Sumber: data primer.760.000 Minyak tanah 352.210.000 400.096.969.000 5.000 3.000 8.840 50.000 x 54.509.312. 2010 47 .000 1.terdapat di kawasan PPS Bitung.907.692.451.656 399.222.850 operasional 3.840 19.481.748.400 1. nelayan membeli bensin di pengecer dengan harga Rp 5.463 40.000 34. Bensin dibutuhkan sebanyak 30 liter per trip dengan harga Rp 4.500 per liter di SPBU terdekat dengan mencuri-curi kesempatan dari petugas.709. tahun 2010 Jenis Alat Tangkap Uraian Purse seine (> 5GT<10GT) X 4.500 129.600 X x 5.840 Penerimaan (Rp) Layang Kembung Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional X (Rp) X Solar 109.000 1.000 X 22.064.869 8.000 per liter.760.000 Es X Umpan X Ransum 20.000 143. Nelayan dapat membeli bensin dengan harga Rp 4.250.000 biaya tambat Total biaya 1.500-5.600 Pole and Line (>30GT<100GT X X X 54.000 4.000 X 2.000 6.000 696.260 50.139.21.600 Oli 525.500 2.000 67. Tabel 3.000 14.000 X 1.580.000 Izin berlayar 1.000 per liter.160 31. Harga minyak tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan pada suatu wilayah.586.

000 Biaya (Rp) 2007 1. tahun 2005-2010 Tahun 2005 2006 Kapal/perahu Alat tangkap Alat bantu tangkap Jenis Jumlah Jenis Jumlah Jenis Jumlah Pump boat 3 Rumpon 1 Small purse seine 3 Jaring 3 Pelang 3 Small purse seine Light boat Pelang Pajeko Light boat Perahu tuna Ketinting Pengangkut Pajeko Pancing tuna Pancing ulur Ketinting 5 5 20 2 2 4 8 1 1 6 1 1 Purse seine Pancing Alat tangkap 5 5 2 Rakit 11 1.500 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.214 2008 2009 Bagan 6 Rumpon 10 969.500 2010 Rumpon Ponton 6 1 5. Getra Mitra Usaha.22.662.484.087.943.Peran Subsidi Perikanan Subsidi perikanan yang disalurkan di Kota Bitung dapat dibedakan menjadi dua bentuk. SPBB melayani 48 .827. Bantuan kepada nelayan di Kota Bitung yang diberikan dalam bentuk kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan dengan sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK). 2010 Sedangkan subsidi BBM diberikan secara reguler melalui agen penyaluran BBM yang ditunjuk oleh PT. Tabel 3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Tugas Pembantuan (TP). Agen penyaluran BBM di PPS Bitung adalah SPDN Komegoro dan SPBB PT. Bentuk bantuan yang terakhir ini diberikan oleh pemerintah melalui berbagai program yang sifatnya sangat terbatas. yaitu subsidi bahan bakar solar dan subsidi dalam bentuk sarana penangkapan seperti kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan. Bentuk bantuan Perikanan di Kota Bitung. Pertamina.540.

00 398.00 883. Getra (SPBB) ( KL ) 847. Tabel 3.000 liter atau 75.pejualan BBM untuk seluruh jenis dan ukuran kapal dan SPDN yang melayani kapal kurang dari 30 GT.24 993.124.575.56 824.24 1.000 liter. Hal ini dilakukan untuk menghambat adanya penggunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak. Tetapi hal ini dikeluhkan oleh nelayan yang melakukan trip lebih panjang dari 3 bulan.71 49 . Kapal ikan yang mendapat rekomendasi dari PPS Bitung dapat memesan langsung solar di depot PERTAMINA.59 691. Pengurusan rekomendasi untuk pengisian BBM di SPBB PPS Bitung dapat dilakukan setelah kapal tersebut mendapat Surat Laik Operasi dari pengawas perikanan dan Surat Izin Berlayar dari Syahbandar Perikanan.280. Jumlah Solar yang disalurkan di PPS Bitung.000 liter per 3 bulan berdasarkan lamanya waktu operasi penangkapan per trip.93 420.000 liter sekaligus tetapi kapal ikan dengan trip hanya 1 bulan tidak diberikan rekomendasi untuk pengisian Solar 75. Banyaknya solar yang disalurkan oleh SPBB dan depo pertamina untuk kapal perikanan di PPS Bitung pada tahun 2009 disajikan pada tabel 3. Kapal penangkap ikan dengan lamanya trip 3 bulan atau lebih dapat memesan solar sebanyak 75.59 1. Asosiasi yang terdapat di Bitung yaitu Asosiasi kapal perikanan nasional dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).99 1.143.27 723.59 1.00 PT. Maksimum pemberian rekomendasi BBM solar setiap bulannya adalah 25. Setiap kapal ikan yang akan mengisi Solar di SPBB dan Pertamina terlebih dahulu meminta rekomendasi ke PPS Bitung dengan syarat telah menjadi anggota asosiasi.59 956.23.391. Besarnya jumlah solar dalam rekomendasi pengisian BBM ditentukan oleh syahbandar perikanan dengan terlebih dahulu melihat ketersediaan BBM di atas kapal.131.20 1.23.00 307.00 324.00 241.663.56 1. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Pertamina ( KL ) 816.71 Total 1.99 883.

Pengisian BBM baru dapat dilakukan sehari setelah dilakukan pembayaran.30 904.02 15.500 per liter.24 PT.02 10.00 334.23.00 5.28 Total 1.47 1.019. jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB lebih tinggi lagi yaitu 940 KL per bulan. SPDN hanya diperbolehkan untuk melayani kapal kurang dari 30 GT. Harga yang harus dibayarkan oleh nelayan adalah Rp 4.410.275. penyaluran solar di PPS Bitung dilakukan oleh SPDN yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Komegoro. Getra (SPBB) ( KL ) 822.25 1.171. Selain itu. Pada tahun 2010.119.47 1.102.30 1. Harga solar yang dibebankan kepada nelayan adalah Rp 4.00 439.343. Hanya nelayan skala besar yang mau melakukan pembelian secara langsung ke depo Pertamina dengan jumlah BBM lebih dari 20 KL. Tidak semua nelayan mau membeli BBM secara langsung ke depo Pertamina karena administrasi yang lebih panjang dibandingkan membeli BBM di SPBB.281. Kapal-kapal ikan kurang dari 30 GT lebih cenderung untuk melakukan pengisian solar di SPBB dibandingkan di SPDN. Hal ini disebabkan 50 .022. rata-rata solar yang disalurkan langsung oleh depo Pertamina ke kapal nelayan sebanyak 425 KL ber bulan.Bulan Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata Pertamina ( KL ) 200.32 856.76 770.76 1.93 425.500 per liter solar. Harga ini lebih mahal dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pertamina. Kelebihan harga tersebut digunakan untuk biaya transportasi pengangkutan solar dari depo pertamina menuju PPS Bitung.83 837. Pada tahun 2009. Rata-rata solar yang disalurkan oleh SPBB pada tahun 2009 adalah 856 KL per bulan dengan harga Rp 4.00 349.00 391. rata-rata solar yang disalurkan oleh SPDN ini adalah 24 KL dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 32 KL.575 per liter. karena pembayaran harus dilakukan di bank.83 1.378.52 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 3.

20 315. Sedangkan untuk kapal dibawah 10 GT hanya disalurkan sebanyak 1.90 JUMLAH ( KL ) 942.95 284.30 665. Berdasarkan ukuran kapal.94 15.82 597. hal ini disebabkan karena kapal kurang dari 10 GT sebagian besar tidak menggunakan bahan bakar solar. banyaknya solar yang disalurkan di PPS Bitung dapat dilihat pada Tabel 3.70 182. Rata-rata solar yang disalurkan di PPS Bitung sebanyak 1.500 KL per bulan.55 666. tahun 2009 Bulan < 10 GT ( KL ) 3.oleh beberapa hal antara lain tidak kontinyunya stok BBM yang dimiliki oleh SPDN.00 593.67 897.21 14. Hal ini disebabkan.24. melainkan campuran bensin dan minyak tanah. Ditinjau dari ukuran kapal.85 12.67 11.99 918. Solar yang disalurkan SPBB berdasarkan ukuran kapal di PPS Bitung.30 GT ( KL ) 217. Penyaluran Solar oleh SPBB untuk kapal diatas 30 GT sekitar 70% dari total solar yang disalurkan.65 684.40 UKURAN KAPAL 10 .69 1. oleh lebih banyaknya konsumsi BBM oleh kapal berukuran besar dan juga banyaknya jumlah kapal lebih dari 30 GT.47 13.92 725. system pelayanan yang diberikan dan diduga adanya perbedaan takaran liter.4%.99 792.70 199.13 894.50 649.95 229.019.42 1. Tabel 3.022. penyaluran BBM paling besar adalah untuk kapal lebih dari 30 GT.24.50 500.23 238.55 8.65 16.20 >30 GT ( KL ) 720.15 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 51 .68 15. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung jumlah kapal lebih dari 30 GT di Kota Bitung sebanyak 35% dari total seluruh kapal ikan di Kota Bitung.05 712.10 321.00 292.

Bulan

< 10 GT ( KL )

UKURAN KAPAL 10 - 30 GT ( KL )

>30 GT ( KL )

JUMLAH ( KL ) 997.50 1,101.54 895.84 832.10 11,027.06 918.92

Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata

20.93 11.19 8.40 152.93 12.74

372.71 304.45 297.20 3,255.39 271.28

707.90 580.20 526.50 7,618.74 634.90

Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2010 Ditinjau dari jenis alat tangkap, kapal penangkap dengan alat tangkap pole and line merupakan kapal yang menggunakan solar terbesar di PPS Bitung. Sebanyak 23% penyaluran solar dari SPBB di PPS Bitung yaitu untuk kapal pole and line. Selain kapal penangkap ikan, kapal pengangkut ikan yang berlabuh di PPS Bitung juga mendapatkan solar subsidi yang disalurkan oleh SPBB Getra di PPS Bitung. Sebanyak 50% jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB tersebut adalah untuk kapal pengangkut ikan. Sedangkan sisanya disalurkan kepada kapal penangkap dengan jenis alat tangkap rawai tuna, purse seine dan hand line. Bahan bakar minyak merupakan salah satu biaya terbesar yang ditanggung oleh nelayan dalam melakukan usaha penangkapan. Bahan bakar yang diperlukan oleh kapal motor adalah solar sedangkan bahan bakar untuk kapal dengan mesin tempel menggunakan campuran bensin dan minyak. Nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan mesin tempel melakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi pendaratan. Tersedianya stasiun pengisian untuk bahan bakar solar tidak memberikan efek yang signifikan bagi nelayan kelompok ini. Kapal motor dengan GT lebih besar akan memerlukan solar lebih banyak. Pada lokasi penelitian Bitung, kapal dengan menggunakan alat tangkap pole and line mengkonsumsi solar paling banyak yaitu 4,9 KL per trip. Biaya untuk pembelian solar bagi kapal pole and line adalah 65% dari total

52

biaya operasional, sedangkan bagi kapal ikan dengan alat tangkap lainnya hanya sekitar 30% dari total biaya operasional. Tabel 3.25. Perbandingan Biaya Operasional Beberapa Jenis Alat Tangkap dengan dan tanpa Subsidi di Bitung, tahun 2010
Jenis Alat Tangkap Tuna Hand Line Pole and Line 1
≥30GT - <100GT ≥5GT -<10GT

Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: - musim ikan - musim biasa - musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): - Solar (liter) - Bensin (liter) - Minyak tanah (liter) Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM (Rp) Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi solar (Rp) Penerimaan Kotor (Rp) Prosentase BBM subsidi terhadap biaya operasional Prosentase BBM tanpa subsidi terhadap biaya operasional Sumber : Data Primer, 2010

Purse seine
≥5GT -<10GT

Tuna hand line 2
≥10GT -<30GT

1 1 1 340 30 160 2,279,430 2,789,850 5,451,600 34.99 46.88

3 5 7 4960 15 200 34,907,840 49,415,840 54,580,000 65.01 75.28

8 10 13 338 91 40 4,497,369 5,366,088 14,096,750 30.09 41.41

10 11 14 370 35 40 5,367,910 6,450,160 17,760,000 31.53 43.02

Subsidi solar yaitu dengan harga Rp 4.500 per liter memberikan pengaruh cukup besar terhadap total biaya operasional. Tanpa adanya subsidi solar

(dengan asumsi harga solar Rp 7.500 per liter) menyebabkan peningkatan total biaya operasional bagi seluruh kapal penangkap ikan dengan kapal motor. Pada tingkat harga solar Rp 7.500 per liter meningkatkan prosentasi biaya solar terhadap total biaya operasional berkisar 10-12% pada nelayan di Kota Bitung. Sedangkan total biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 19-41% dibandingkan dengan harga solar bersubsidi. Peningkatan biaya operasional tertinggi yaitu terjadi pada kapal dengan alat tangkap pole and line yaitu sebesar 41% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Biaya operasional kapal dengan alat

53

tangkap tuna hand line mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Dari Tabel 3.25, terlihat bahwa kapal dengan konsumsi solar lebih

banyak akan merasakan dampak yang lebih besar terhadap perubahan harga solar. Adanya peningkatan biaya operasional dengan solar tanpa subsidi

menyebabkan semakin rendahnya keuntungan yang diterima oleh nelayan. Penurunan keuntungan kapal dengan alat tangkap pole and line dengan solar tanpa subsidi adalah 73% dibandingkan dengan menggunakan solar bersubsidi. Kapal dengan alat tangkap tuna hand line mengalami penurunan keuntungan akibat tidak adanya subsidi solar sebesar 9% dibandingkan keuntungan dengan solar bersubsidi. Perlu dicatat bahwa berdasarkan Tabel 3.25, jika solar untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut menggunakan harga pasar bebas, maka usaha penangkapan ikan di Bitung masih dapat beroperasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena potensi ikan pada perairan Sulawesi Utara masih cukup potensial.

3.3. Kecamatan Palabuhanratu Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perairan Pelabuhanratu terletak pada posisi geografis 6o57’- 7o07’ LS dan 106o22’-106o23’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.200 km2 atau 9,18 persen dari luas Provinsi Jawa Barat (dengan Banten) atau 3,01 persen dari luas Pulau Jawa. Secara administratif, wilayah Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan:
 

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

54

Peta Kecamatan Palabuhanratu Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar. 1961) yang disebut Musim Peralihan Timur (Maret-April) dan Musim peralihan Barat (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. pada bulan September-Oktober Karakteristik Perikanan Teluk Palabuhanratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat.id Gambar 3. Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk.6.5 cm/dtk pada bulan September sampai Desember yang bergerak ke arah barat. Wyrtki (1961) mengemukakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu sesuai dengan sifat laut dan tercatat kecepatannya sebesar 1-7. di antara Musim Timur dan Musim Barat terjadi periode peralihan (Wyrtki.google.co.  Sebelah Barat. 2008). Pada periode Musim Timur (MeiAgustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat November-Februari). di Samudra 55 . Selanjutnya dikatakan bahwa perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29o-30oC dan pada musim timur 26o-27oC. berbatasan dengan Provinsi Banten Sebelah Timur. berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sumber: www.

11 27. Jumlah Perahu Motor Tempel dan Kapal Motor Tahun 2000 – 2008 Jenis Kapal/Perahu (Unit) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah (Unit) > 30 GT 11 12 13 11 139 68 77 103 69 456 490 452 381 530 676 798 852 646 Fluktuasi (%) -0. perikanan. Payang. Selain itu.55 18. yaitu sebesar 17.Hindia.46 -7. 2008).20 GT 11 7 3 3 4 9 4 10 7 21 .17 Motor Tempel 275 323 317 253 266 428 511 531 416 < 10 GT 147 141 106 106 111 143 153 137 102 Kapal Motor 11 .26. dan jasa-jasa lingkungan. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km.76 -24. Realisasi operasional jumlah kapal/perahu Motor Tempel dan Kapal Motor lainnya yang beroperasional disajikan pada Tabel 1. seperti Gill net. Pancing ulur.30 GT 12 7 13 8 10 28 53 71 52 Sumber Data Statistik PPNP. non-hayati. dan Pancing rawai lainnya. Potensi wilayah pesisir Palabuhanratu mencakup potensi sumber daya hayati. Purse seine.05 6. Bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi tidak berdampak terhadap jumlah frekuensi keluar 56 .76 -15. Tabel 3. Potensi sumber daya hayati meliputi ekosistem pesisir. Jenis armada penangkapan ikan yang menggunakan base fishing port-nya Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu adalah jenis Kapal Motor dengan ukuran kapal < 10 GT s/d > 30 GT dengan berbagai macam alat tangkap.71 39. Jaring Rampus. Palabuhanratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada yang beroperasional didominasi oleh jenis kapal/perahu Motor Tempel sebanyak 230 unit kapal jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Bagan.34 persen. Tuna Longline. dan biota laut lainnya. 2008 Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu pada Tahun 2009 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya.65 7. (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu.

005 3. air bersih.588 28.61 -11.42 -46.64 -7.919 27. Frekuensi Kunjungan Kapal Motor dan Motor Tempel Tahun 2000 – 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Kapal Motor (Kali) 6.738 24.335 kali dengan rata-rata kapal yang masuk ke kolam Pelabuhan sebesar 2. Tabel 3.776 15.57 -15.836 29. jenis perahu/kapal motor tempel yang menggunakan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sebagai tempat labuhnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.802 16.101 12.27 persen.27.891 2. sebaliknya terjadi penurunan pada frekuensi keluar kapal sebesar 29. sedangkan jenis kapal motor naik sebesar 22.38 52.masuk kapal. 2008 Kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan penangkapan ikan terlebih dahulu harus melengkapi kebutuhan logistiknya berupa es balok.847 22.522 40.27) pada tahun 2000-2008 selalu mengalami fluktuasi yang bergantung pola musim ikan dan perubahan cuaca yang tidak menentu.884 34.303 kali per bulan.48 22.12 persen.26 persen dan frekuensi masuk kapal sebesar 34.28.638 5. Kebutuhan logistik BBM yang terdiri 57 .595 16.104 Motor Tempel (Kali) 14.10 -5.90 -67.05 persen.057.279 4.738 11.694 kali dengan rata-rata 394 kali per bulan. Kebutuhan logistik kapal ada yang mengalami penurunan ada pula yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan logistik kapal tahun sebelumnya.13 70.22 24.505 19.18 -9.31 72.695 kali per bulan.641 18.16 75.08 79.641 kali dengan jumlah rata-rata 2. Total frekuensi kunjungan kapal pada tahun 2008 sebesar 32.248 1.335 21. Frekuensi kunjungan kapal motor dan motor tempel (Tabel 3. Total frekuensi kunjungan kapal Motor Tempel sebesar 27.83 45.198 32. yaitu sebesar 5.68 -27. Secara umum.771 1.694 3.857 5. solar di samping kebutuhan logistik lainnya serta konsumsi.65 75.14 -21. Adapun kebutuhan perahu/kapal perikanan terhadap ketiga jenis logistik tersebut diuraikan dalam Tabel 3. sedangkan frekuensi kunjungan Kapal Motor sebesar 4.602 Fluktuasi Kapal Motor Motor Tempel (%) (%) 42.031 15.675 2.12 5.27 Sumber Data Statistik PPN Palabuhanratu.497 Jumlah Total (Kali) 21.510 23.

53 198.07 -16.600 4. kebutuhan logistik air mengalami penurunan sebesar 20.64 BBM / Solar (Ltr) Jumlah 1.811.49 286.595 285.61 -3.45 289.32 115.041.259 Fluktuasi (%) 18.371 2.55 persen.528.045.868 117.704 219.749.92 30.92 -20.65 0.675.912 5. Penyaluran Kebutuhan Logistik Kapal di PPN Palabuhanratu Tahun 2000 -2008 Kebutuhan Logistik Es (Balok) Fluktuas Jumlah i (%) 74.68 63.110 4.29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Sumber Data Statistik PPNP 2008 Ket : @ BALOK ES = + 50 Kg a.787. Air yang disalurkan berasal dari air PDAM yang dialirkan ke kapal perikanan melaluai jaringan pipa dan slang plastik dengan ukuran penjualan dalam bentuk “Blong” (drum plastik) yang berkapasitas 250 liter dan 120 liter atau dalam bentuk jerigen plastik (30 liter) untuk kapal-kapal yang ada di kolam 1 (satu).22 .900 1.863 164.40 No Tahun Air (Ltr) Fluktuas Jumlah i (%) 2.000 4. Berbeda dengan kapal-kapal yang ada di kolam 2 (dua). 2009).155 1.39 -21.200 1.785 6.27 -84.78 1 5.778 147.917.450 196.216 1.000 380.71 19.870 10.17 18.380.29 -46.07 -72.700 1.000 6.50 persen (Buku Stastistik Perikanan.316.000 1.44 27.24 6.511.034 -17.591.479.00 -60. Tabel 3.56 persen.490 277.60 2.1.dari solar untuk kapal motor dan bensin untuk perahu motor tempel mengalami peningkatan sebesar 18.37 -45.300 4. kebutuhan logistik es mengalami kenaikan sebesar 1.51 persen.213. Air Bersih Penyaluran kebutuhan air bersih untuk kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dipenuhi oleh sebuah perusahaan swasta.821.61 75.917. dan kebutuhan logistik minyak tanah juga mengalami penurunan sebesar 70.45 7.660.443.897.632 11.35 -84.24 4.74 12.034.090 2. yaitu pengisiannya menggunakan jaringan pipa yang 58 .161 158.470 112.28..

Sumber: Laporan Tahunan. instalasi baru khusus untuk nelayan dan pihak investor guna meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih kepada masyarakat perikanan telah terpasang. Kemampuan dalam mensuplai air bersih di PPN Palabuhanratu masih cukup besar dengan tersedianya mobil tangki untuk mengangkut air bersih yang berkapasitas 400 m³. Jumlah pemakain es balok oleh kapal/perahu perikanan di PPN Palabuhanratu untuk operasional penangkapan ikan disajikan pada grafik berikut. yaitu pabrik es Sari Petejo dan Tirta Jaya. Es Balok Kebutuhan logistik untuk es balok di PPN Palabuhanratu selama ini masih disuplai oleh dua perusahaan swasta. Di samping itu. kesadaran nelayan akan pentingnya mempertahankan mutu ikan semakin tinggi sehingga secara umum penggunaan es di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu cenderung turun sebesar 16.langsung sampai ke dalam kapal dengan ukuran penjualan dalam bentuk kubikasi. 2009 Gambar 3.7. b. Total penggunaan es balok oleh nelayan untuk operasional penangkapan ikan pada tahun 2007 adalah 59 .61 persen. Kebutuhan Es Balok di PPN Palabuhanratu tahun 1993—2008 Jumlah pemakaian es balok sampai sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi bergantung jauh dekatnya wilayah penangkapan. Di samping itu.

680 kg.04 persen per tahun.65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Perkembangan Kebutuhan BBM di PPN Palabuhanratu tahun 1993--2008 Kebutuhan BBM di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu berfluktuasi. Sementara itu. jumlah total pemakaian solar pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 118. BBM (Solar) Jumlah pemakaian solar kapal perikanan di PPN Palabuhanratu semenjak dioperasionalkan mulai tahun 1993 sampai sekarang selalu mengalami fluktuasi seiring dengan kunjungan jumlah kapal pendatang yang tambat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dan jauh dekatnya daerah penangkapan ikan serta jumlah kapal perikanan dengan kecenderungan kenaikannya sebesar 5.161 kg (@ balok = 50 Kg) atau rata-rata per bulan sebanyak 13. Pemakaian solar kapal perikanan pada tahun 2008 sebanyak 5.045. Sumber: Laporan Tahunan. c. Volume logistik BBM terendah terjadi pada tahun 2001. tergantung dari jumlah kunjungan kapal.8.371 liter dengan rata-rata pemakaian per bulan 484.811.281 liter dimana pemakaian solar 60 .000 liter karena aktvitas kapal masih didominasi kapal motor tempel. Volume logistik BBM tertinggi terjadi pada tahun 2004 karena aktivitas kunjungan kapal longline (KM > 30 GT) yang meningkat tajam.sebesar 164. yaitu hanya sebanyak 1. 2009 Gambar 3.

layaran.300 175.610 107.774 Harga (Rp/kg) 7.764. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Ikan Tongkol Komo Cakalang Tongkol Lisong Tongkol Abu-abu Tembang Tuna Albakor Tuna Mata Besar Tuna Yellow Fin Cucut Setuhuk Loreng Pedang-pedang Layur Layang Deles Layaran Peperek Rata-rata Volume (Kg) 15. layang deles.230 115.500 1.917 251.049 103. Tabel 3.500 3. Sementara itu. Sebagian besar ikan di 61 .578. 2009 Ikan-ikan yang telah didaratkan di PPN Palabuhanratu kemudian didistribusikan ke pasar di berbagai wilayah. tingkat harga jual ikan tuna mata besar dan yellow fin tercatat paling tinggi.512.155 542.468 8.495.908 87.468 per kg. Volume Produksi.461 4.500 11.979 30.000 1.704.956 17.115.016 kg dengan nilai produksi sebesar Rp3.000 133. Hasil tangkapan yang tidak kalah banyaknya adalah ikan layur.230. dan Harga per Jenis Ikan Tahun 2009 No.500 398.29. dan tongkol lisong.179 29. tuna yellow fin.411 9.007 6.050 739.183 dan Rp21.ini banyaknya dilakukan oleh kapal-kapal pendatang (Kapal Tuna Long Line) yang mengisi logistik bahan bakarnya antara lain solar di PPN Palabuhanratu dan semakin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground).584 20.848.183.308. Hasil tangkapan nelayan di Palabuhanratu didominasi oleh ikan tuna mata besar.477. rata-rata volume produksi pada tahun 2009 adalah 251.193 320.697.000 30.998.472 11.733 301.050 476.216 4. yaitu masing-masing sebesar Rp24.093.067.774.317.000 102.601.676 15.241.513 1.285 66.000 1.593.338.000 1. dan peperek.015. Berdasarkan data produksi.800 1.595.011 8.697. cakalang.960 1.108 13.6 Nilai (Rp) 112.789.687 1.312 Sumber: Buku Statistik PPN Palabuhanratu. Kegiatan penangkapan ikan 50-70 persennya merupakan biaya operasional yang sebagian besar untuk keperluan pembelian BBM solar.648.827 24.813.796.183 21.308.372 11.500 2.272.888. Nilai Produksi.997 15. Penyaluran BBM solar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu disediakan oleh SPBB dan SPBN yang dikelola oleh pihak swasta dan melalui SPDN yang dikelola oleh pihak KUD Mina.675 12.

Cisolok. asal responden sebagian besar atau 65 persen adalah nelayan dari Kecamatan Palabuhanratu dan sebagian kecil lagi tersebar di tujuh kecamatan lainnya. dan Suli. Simpenan. Cilacap. Karakteristik Usaha Responden Jumlah responden yang diwawancarai sebagai sumber data primer adalah sebanyak 40 orang yang tersebar di delapan kecamatan. Pengalaman usaha nelayan tersebar merata dari rentang waktu ≤ 5 tahun. Pasar regional lainnya yang juga mampu menyerap produksi ikan Palabuhanratu adalah Cianjur sebesar 8. dan > 15 tahun.64 persen. 6—15 tahun.5 persennya adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sebagian kecil responden adalah tidak tamat SD dan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sekolah tinggi. Berdasarkan data yang diperoleh. 35 persennya memiliki pengalaman usaha 6—15 tahun dan hanya 25 persen 62 . yaitu Kecamatan Palabuhanratu. Sesuai dengan data yang diperoleh. distribusi ke luar negeri atau ekspor yang langsung dilakukan dari Palabuhanratu hanya menyerap 2. Pemasaran ke Jakarta sebenarnya juga dijual kembali ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan besar yang menampung ikan-ikan dari Palabuhanratu sehingga kegiatan ekspor tercatat berasal dari Jakarta. Pasar regional yang menjadi tujuan utama dari pemasaran ikan Palabuhanratu adalah Jakarta sebesar 57. Bayah.Palabuhanratu dipasarkan di pasar lokal dan regional. sedangkan pasar lokal hanya mampu menyerap 8. Berdasarkan tingkat pendidikannya.45 persen dari total volume produksi pada tahun 2009. Pasir Bayu. Kemudian. Sementara itu. nelayan yang menjadi responden masih tergolong muda karena pengalaman usaha mereka sebagian besar ≤ 5 tahun. Taman.22 persen dari total volume produksi.42 persen saja dari total volume produksi. responden sebagian besar adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 50 persen dan 37. yaitu sebanyak 40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk nelayan yang berpendidikan karena sebagian besar responden pernah dan telah mengenyam pendidikan formal.

5 persen bertindak sebagai ABK. Berdasarkan statusnya. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan menjadi mata pencaharian yang sangat diandalkan responden karena sejak usia muda mereka telah memilih nelayan sebagai profesi utama. Namun demikian.5 persen dari total responden yang melibatkan 2 orang anggota keluarga yang bekerja. tampak bahwa kepala keluarga menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. responden yang bekerja sebagai nahkoda hanya sebanyak 11 orang atau 27. Sebagian besar atau 55 persen responden memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga sedang yang terdiri dari orang tua dan dua orang anak dan 35 persennya memiliki anggota keluarga berjumlah ≥ 5 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga besar. 77. Kondisi ini disebabkan oleh karena armada penangkapan yang digunakan berukuran kecil. sebagian besar responden adalah pemilik kapal dan ABK.5 persen anggota keluarga yang terlibat dalam usaha penangkapan hanya 1 orang yang berarti hanya kepala keluarga yang bekerja. ada pula keterlibatan istri dalam usaha penangkapan sebanyak 12. Sementara itu. Sementara itu. keterlibatan anggota keluarga yang lain tidak terlalu signifikan dalam memikul beban ekonomi keluarga. Sebagian besar responden termasuk ke dalam kategori keluarga besar yang memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang dan ≥ 5 orang. Berdasarkan kepemilikan kapal (GT).5 persen dari total responden.< 30GT dengan wilayah penangkapan yang tidak jauh. Sebanyak 40 persen responden mengoperasikan sendiri armada penangkapannya dan sebanyak 32. sebagian kecilnya (15%) memiliki anggota keluarga ≤ 2 orang.berpengalaman lebih dari 15 tahun. 45 persen 63 . Sementara itu. Berdasarkan data yang diperoleh. jenis alat tangkap. dan bahan bakar yang digunakan. Sebagian kecilnya lagi atau 10 persen responden yang melibatkan ≥ 3 orang anggota keluarga. yaitu ≥ 10GT . Karakteristik responden juga dapat dilhat dari aspek teknis usaha penangkapannya berdasarkan kepemilikan kapal menurut GT. Berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja.

yaitu sebanyak 16 orang atau sebesar 40 persen. responden yang menggunakan kapal dengan ukuran sedang dan besar hanya sebagian kecil saja.5 persen atau hanya satu armada penangkapan yang menggunakannya karena minyak tanah hanya digunakan untuk menghidupkan mesin dan sebagai bahan bakar lampu petromaks.responden memiliki kapal dengan ukuran ≥ 5 . Armada penangkapan yang digunakan sebagian besar adalah kapal motor dengan mesin berada di dalam kapal (inboard boat). bagan.5 persen dan bensin sebanyak 30 persen. Bagan hanya berperan sebagai alat bantu penangkapan karena setelah ikan berkumpul di bagan. Alat bantu tangkap lainnya yang juga banyak digunakan adalah bagan yang ditancapkan di lokasi yang masih banyak memiliki sumber daya ikan.<30 GT dan 10 persen untuk kapal ukuran ≥30 . nelayan akan mengambil ikan dengan menggunakan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal. Jenis alat tangkap dan alat bantu lainnya yang digunakan responden adalah pancing tonda.<100 GT. tetapi ada pula nelayan yang menggunakan kapal dengan motor tempel. Namun demikian.5 persen. kondisi ini juga menyebabkan beberapa jenis alat tangkap tidak dapat lagi digunakan. dan longline. responden yang menggunakan kapal < 5 GT tidak ada karena wilayah penangkapan di lokasi penelitian bertambah jauh karena ketersediaan ikan semakin menurun.5 persen untuk kapal ukuran ≥10 .5 persen dari jumlah responden. Hal ini terlihat dari jenis bahan bakar (BBM) yang digunakan yang sebagian besar menggunakan solar sebanyak 67.< 10 GT dan 32. Jenis alat tangkap lainnya adalah longline sebanyak 15 persen dan gillnet sebesar 12. gillnet. yaitu sebesar 32. yaitu 12. Sementara itu. 64 . pancing tonda paling banyak digunakan oleh responden. Bahkan. Dari keempat jenis alat tangkap tersebut. minyak tanah hanya menyumbang 2. Sementara itu.5 persen responden menggunakan alat bantu bagan tancap dalam kegiatan penangkapannya.

hanya alat bantu penangkapan bagan yang rata-rata menunjukkan kerugian sebesar Rp 915. dan biaya di darat tidak menjadi komponen dari biaya operasional.200 per kg. Kerugian ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang diperoleh didominasi oleh cumi-cumi dibandingkan ikan teri.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT . padahal harga cumi-cumi rata-rata sangat rendah. biaya solar. Hasil tangkapan bagan adalah ikan teri dan cumi-cumi yang masingmasing sebesar Rp272. Sementara itu. 31. 2010 Dari kegiatan penangkapan tersebut.450.<100GT ≥100GT Bagan Jumlah Jenis Alat Tangkap Bagan Gill net Longline Pancing Tonda Jumlah Bahan Bakar yang Digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah Sumber: Data primer diolah.5 15 40 100 30 67.5 100 ≥5GT . umpan.30. yaitu Rp3.984.777 dan Rp288. analisa usaha kegiatan Dari alat penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 3.5 12.889 dengan besarnya biaya operasional adalah Rp1.5 10 32.477.5 2. Penguasaan Aset Usaha Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Karakteristik Kepemilikan Kapal (GT) < 5 GT Jumlah (n) 0 18 5 4 13 40 13 5 6 16 40 12 27 1 40 Prosentase (%) 0 45 12. 65 .5 100 32. Tabel tersebut keuntungan yang diperoleh nelayan per trip menurut tangkap dan ukuran armada penangkapan dari empat jenis alat tangkap.Tabel 3.

990 4.500 741.466.324. Analisa Usaha penangkapan Ikan Beberapa Alat Tangkap di Palabuhanratu 2010.051.666 1.813 25.000 16.600 1. Uraian Penerimaan Teri Cumi-cumi Tongkol Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Umpan Ransum Biaya di darat Total biaya operasional Keuntungan Bagan 272.000 0 50.500.500.500.600 525.483. Besarnya penerimaan dan biaya operasional tersebut menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp7.000 120.000 55.000.000 561.188 688.357. nahkoda Rp1.298 dengan biaya solar mengambil bagian yang paling besar.533.432.648 Sumber: Data primer diolah.000 118.791.750. Sesuai dengan sistem bagi hasil yang berlaku.667 0 2.000. Khusus untuk alat tangkap longline.298 7.000 45. 2010 Hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap gillnet adalah ikan tongkol dan cakalang dengan total penerimaan sebesar Rp10.000 118.825.000 0 461.000 875.667 207.324.875 16.875 Gillnet (≥5GT <10GT) Jenis Alat Tangkap Longline 1 (≥10GT -<30GT) Longline 2 (≥30GT 100GT) Pancing Tonda (≥5GT -<10GT) 0 109. analisis membedakan antara longline ukuran ≥10 GT-<30 GT dan longline ukuran ≥30 GT-<100 GT karena hasil tangkapan dan biaya operasional jauh berbeda sehingga mudah mendapatkan 66 .397. Sementara itu.500 866.000 124.000.450 (915.31.500.602.325.000 5.334 62.269. yaitu 50 : 20 : 30 maka bagian pemilik kapal rata-rata sebesar Rp375.500.916.708.000 0 0 7.702.000 352.000 16.000.500 42.000 0 0 240.984) 1.667 2.000.000 0 16.250.500 6. biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp3.825.483. dan bagian ABK adalah sebesar Rp2.250 474.000 438.750 106.466 10.063 207.500.889 5.269.577 288.500 0 9.000 2.477.702 6.787.798 3.000.000 atau sebesar 39 persen.256 667.Tabel 3.000 16.227 12. yaitu Rp1.000.

483.227 pada trip terakhir.000.000 dan Rp9. Hasil tangkapan utama yang dibawa oleh pancing tonda adalah ikan tuna dengan nilai rata-rata Rp16. dan ABK sebesar Rp4.nilai rata-ratanya.666. bagian pemilik ratarata adalah Rp3. nahkoda sebesar Rp6. dan 35% untuk ABK sehingga hasil yang diperoleh oleh masing-masing rata-rata adalah sebesar Rp6.791. Sementara itu.000. sistem bagi hasil yang digunakan juga sama sehingga bagian pemilik rata-rata sebesar Rp31.000.000. 67 .602. dan ABK sebesar Rp2.000. sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp4. 10% untuk nahkoda.000.500. Sistem bagi hasil yang digunakan adalah 50% untuk pemilik.300.648. nahkoda sebesar Rp2. dan ABK sebesar Rp25. nahkoda Rp660. dan 40% untuk ABK.000.641.334 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp62.708. Bentuk subsidi yang dikelola oleh PPN berupa subsidi BBM berupa solar melalui SPDN dan SPBB yang tersedia di pelabuhan. sedangkan SPBB melayani kapal-kapal besar ukuran ≥ 30 GT.000.000 dan Rp55.875. jumlah penerimaan dan biaya operasional untuk kapal longline ukuran ≥10 GT-<30 GT sangat jauh berbeda.000. yaitu masingmasing sebesar Rp16.051.000.000. Kegiatan penangkapan pada trip terakhir untuk kapal dengan alat tangkap pancing tonda membukukan keuntungan bersih sebesar Rp12. SPDN khusus melayani kebutuhan solar dari kapal-kapal ukuran < 30 GT. Subsidi Perikanan di Palabuhanratu Subsidi perikanan di Palabuhanratu disalurkan oleh dua pihak.500 sehingga keuntungan bersihnya sebesar Rp6. Dengan demikian.300. yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. Kondisi ini ditunjukkan oleh besarnya penerimaan dan biaya operasional longline ukuran ≥30 GT-<100 GT masing-masing sebesar Rp118.000.000.432. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 50% untuk pemilik.397. Untuk longline ukuran ≥30 GT-<100 GT.000. 15% untuk nahkoda.000.500.

Tidak Langsung: 2.Tabel 3. 2010 Sementara itu. Ada pula bantuan berupa alat bantu penangkapan.a BBM/Solar Dasar Kebijakan Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak secara nasional. Jenis Subsidi Langsung: 1. Namun. mesin. Menurunnya hasil tangkapan ini mendorong nelayan untuk menempuh perjalanan yang panjang karena wilayah penangkapan (fishing ground) semakin jauh. Data statistik pelabuhan menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir jumlah tangkapan ikan nelayan mengalami penurunan. pemerintah bisa saja memberi bantuan untuk mengganti kapal yang ada dengan kapal jenis purse seine.b Bantuan kapal. Selain itu. seperti paket penangkapan berupa armada penangkapan dan alat tangkapnya. dan alat tangkap (paket) 1.32. 1. Jenis kapal ini memang dapat memberikan hasil tangkapan yang banyak bagi nelayan. Dinas Kelautan dan Perikanan juga memberikan bantuan modal untuk mengkonversi armada penangkapan nelayan dengan alat tangkap payang menjadi kapal rumpon. subsidi atau bantuan yang disalurkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan lebih bersifat paket. armada penangkapan yang dimiliki sebagian besar nelayan Palabuhanratu tidak menunjang untuk sampai ke wilayah penangkapan yang jauh. Bentuk-bentuk subsidi perikanan tangkap laut tahun 2009 No.c Bantuan modal untuk mengkonversi perahu 2. Akibatnya. Tidak mampunya kapal payang dan gillnet beroperasi di perairan Palabuhanratu karena fishing ground yang semakin jauh Kebijakan pemasangan rumpon di sekitar perairan Palabuhanratu Menurunnya sumber daya ikan sehingga fishing ground semakin jauh 1. seperti rumpon yang diberikan kepada kelompok nelayan yang lulus seleksi setelah mengajukan proposal bantuan. disadari bahwa purse seine justru membahayakan kelestarian sumber daya ikan karena kemampuannya mengeruk semua jenis ikan dari yang ikan terkecil hingga 68 . nelayan banyak yang tidak dapat melaut untuk menangkap ikan. Namun demikian. Untuk mengatasi permasalahan ini.a Rumpon Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi diolah.

69 . Saat ini. Bentuk rumpon dan cara kerjanya yang ada di perairan Palabuhanratu Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menggunakan rumpon sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan usaha nelayan dan kelestarian sumber daya tersebut. Hal ini dilakukan karena tali rafia lebih praktis karena tidak perlu diganti dalam jangka waktu yang cukup lama. Rumpon adalah alat bantu yang dipasang untuk menangkap ikan. Dengan bantuan rumpon. Teorinya keberadaan tiap-tiap rumpon dirahasiakan agar kelompok nelayan lain tidak bisa sembarangan menangkap di semua rumpon yang ada.9. jumlah rumpon yang berasal dari bantuan pemerintah berjumlah 40 unit dengan jarak per rumpon sejauh 8 mil. Sebuah rumpon diperuntukkan bagi 1 kelompok nelayan yang terdiri atas 5 kapal nelayan. Harga rumpon per unit rata-rata sebesar Rp60 juta. Rumpon di perairan Palabuhanratu biasanya berupa rumpon permukaan yang menggunakan pelepah pohon kelapa sebagai sumber makanan ikan agar ikanikan tetap berkumpul di sekitar rumpon. Gambar 3. Namun demikian.ikan ukuran besar. dipasanglah beberapa cincin di sepanjang tali rafia tersebut. ikan-ikan akan berkumpul di sekitarnya sehingga mempermudah nelayan dalam menentukan lokasi penanngkapan dan membantu nelayan mendapatkan ikan dengan mudah. Purse seine juga akan merusak terumbu karang dan kekayaan laut lainnya sehingga justru mengancam kelestarian sumber daya di masa depan. namun ada juga rumpon yang seharga Rp150 juta. Agar tali tidak kusut dan terpelintir. saat ini sebagian besar pelepah pohon kelapa diganti dengan tali plastik rafia.

Bentuk bantuan lainnya yang juga diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi adalah bantuan modal bagi nelayan yang memiliki armada penangkapan dengan alat tangkap payang. Untuk itu. Akan tetapi. Modal tersebut sedianya digunakan untuk mengkonversi kapal mereka menjadi kapal penangkap ikan di rumpon karena menurunnya ketersediaan sumber daya ikan membuat kapal payang tidak mampu beroperasi lagi. bantuan modal tersebut macet karena kelompok nelayan yang menerima bantuan tidak mengembalikan modal tersebut sehingga kelompok nelayan lain tidak mendapat kesempatan yang sama. yaitu: (1) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan. Dalam memberikan pelayanan BBM solar bersubsidi. prakteknya hal itu sangat sulit dilakukan karena faktor iba karena sekelompok nelayan bisa membawa hasil tangkapan yang banyak. bangunan. Bantuan modal ini merupakan bantuan bergulir dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir termasuk di dalamnya Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). SPDN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak KUD 70 . pemerintah daerah berusaha menyediakan daerah penangkapan baru yang lebih terjangkau melalui rumpon-rumpon yang disebar di sepanjang perairan Palabuhanratu.Namun. Pelabuhan Perikanan selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap hanya menyediakan lahan. sedangkan ada kelompok lain yang tidak mendapat hasil tangkapan sama sekali. tangki BBM solar dan fasilitas lainnya. Pelayanan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara pebauhanratu dilakukan dalam tiga jenis stasiun pengisian. Sedangkan dalam kaitannya dengan pengajuan kuota BBM dan jumlah kuota yang disediakan merupakan kewenangan dari pihak Pertamina serta ditembuskan ke Direktorat Jenderal kelautan.

instalasi pompa BBM dan dispenser. Paridi Asyudewi menggunjakan tongkang atau bunker kapal milik PT. Mekar Tunas Raya Sejati sendiri. Paridi Asyudewi dengan kouta rata-rata sebanyak 400 kiloliter per bulan. PT. Penggunaan fasilitas (3) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. pihak PT. SPBN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. Dalam operasionalnya. Pengisiannya dilakukan 71 . Dalam operasionalnya. sedangkan bangunan dispenser dispenser adalah milik pihak PT. pompa BBM dan bangunan dispenser) milik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu. SPDN ini melayani kebutuhan BBM solar bersubsidi bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom I yang berukuran < 30 GT (Kapal rumpon. dogol dan gillnet). Mekar Tunas Raya Sejati dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. (2) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar dengan fisik bangunan yang lebih besar dari SPDN yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil. Mekar Tunas Raya Sejati memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 208 m3 dan instalasi pompa BBM. Dalam operasionalnya KUD Sinar Laut memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 320 m3. Ketiga fasilitas tersebut (tangki BBM. sedangkan pihak KUD memanfaat ketiga fasilitas tersebut dengan sistem sewa sesuai dengan peraturan yang berlaku. SPBN ini melayani kebutuhan BBM solar bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom II dengan nukuran kapal > 30 GT (Kapal longline). Paridi Asyudewi yang berlokasi di didermaga II.Sinar Laut dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. pelabuhan tersebut dilakukan dengan system sewa.

TNI AL.6511 kiloliter. Pada tahapan ini.5 liter. dan terakhir melapor ke Syahbandar di Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan SIB. POL AIR. POL AIR kemudian melapor ke petugas teknis untuk mendapatkan STBLKK. ke Pengawas Perikanan untuk mendapatkan SLO. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 126. Pelayanan BBM solar bersubsidi di pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dilakukan melalui mekanisme dalam dua tahapan melapor.dengan dibantu mobil tangki minyak dengan kapasitas 16. maka dalam waktu 1 x 24 jam penyalur BBM solar besubdisi (SPBN/SPBB) diperbolehkan menjual solarnya kepada kapal yang akan berangkat melaut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak syahbandar dalan hal pengisian BLB (Buku Lapor Bunker).651. nelayan melaopor ke TNI AL. Status mobil tangki tersebut adalah milik PT. yaitu: (1) Tahapan Melapor Kedatangan Kapal Pada tahapan melapor kedatangan. Realisasi penjualan BBM melalui SPDN sejak bulan Mei 2009 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2. yang selanjutnya diperkenankan mengajukan permohonan pengisian solar ke penyalur (SPBN/SPBB). Syahbandar dan Pengawas Perikanan di Pelabuhan Perikanan. Paridi Asyudewi yang berfungsi menyalurkan BBM solar bersubsidi melalui darat yang kemudian disalurkan ke dalam bunker/tongkang. realisasi penjualan BBM 72 .417.000 liter dalam tiap minggunya. yang selanjutnya dilakukan pengisian ke kapal-kapal yang ada di Kolom II.026. ke petugas jasa untuk melakukan biaya bayar tambat. Sementara itu. (2) Tahap Melapor Keberangkatan Kapal Setelah nelayan melakukan tahapan melapor kedatangan kapal pada beberapa hari sebelum kebarangkatannnya kembali. Setelah kapal mendapatkan SLO dan SIB. maka nelayan diwajibkan melapor keberangkatan kapalnya. petugas jasa. pihak nelayan diwajibkan melapor ke prtugas teknis.1 liter atau sama dengan 126.

0 128.0 56.461.0 62.1 Sumber: KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.727.0 68.1445 kiloliter.0 128.978.068.835. Bila realisasi penjualan tersebut dibandingkan dengan kuota yang diberikan.0 41.586.0 1.734.0 66.095.3 Total (Lt) 123.570.0 132.0 70.422.147.741.140.139.0 61. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 No. Tabel 3. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.0 51.998.798.0 2.447.0 56.277.0 62.006.0 63.026. Sedangkan dari Tabel 3 dan Gambar 3 diketahui bahwa realisasi penjualan BBM melalui SPBB sejak bulan Januari 2010 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.558.785.5 128.0 72.0 127.412.0 71.211.006. sedangkan untuk SPBB telah mencapai hampir keseluhan jatah yang diberikannya (91.5 liter atau sama dengan 30.540.154. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 367.1 liter.352.76%).0 liter.0 55.756.257.310.0 55.963.0 879.0 46.194.651.0 128.0 155. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 30.0 85.77%) dari kuota yang dijatahkannya.5 54.0 86..5 126.0 86. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Periode Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Volume Penjualan (Lt) Meter A Meter B 55. 2010 73 .0 127.989.221.954. Sementara untuk SPBN baru mencapai kurang dari seperempat (12.936.0 71.491.577.432.484.322.0 35. terlihat bahwa untuk SPDN baru mencapai separuh (53.0 77.356.0 139.0 46.417.144.0 59.700.265.0 110.8 68.0 128.148.038.001.0 95.0445 kiloliter.179.5 60.460.67%) dari kuota yang dijatahkannya.0 60.042.5 liter atau sama dengan 367.0 71.0 127.248.0 70.698.0 65.33.000.0 57.0 127.0 68.696.melalui SPBN sejak bulan November 2008 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 663.894.721.0 126.044.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Periode Volume Penjualan (Lt) 12.0 12.0 54.0 42. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.0 60.0 34.6 21.230.9 34.2 47.0 40.200. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.200.0 0.000.8 22.0 140.0 80. Pelabuhanratu.453.5 50.253.209.1 30. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 No.330.10.800.0 11.765.826.0 120.9 64.000.0 663.0 100.122.34.8 19.2 22.000.000.0 20.0 0.179.160.7 37.2 58.805.990.048.977.5 November 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Sumber: SPBN PT.0 Volume Penjualan (Lt) 0 l-1 Ju 0 -1 ay M 0 -1 ar M 10 nJa 09 vNo 9 -0 ep S 9 l-0 Ju 09 Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.908.0 23.6 33.3 22. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.0 14. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3. Mekar Tunas Raya Sejati.4 22.000.000. 2008-2010 M ay 74 .537.000.000.144.351.200.558.410.

0 Gambar 3.000.751.0 20. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT. Paridi Asyudewi.000.000. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.102.0 30.0 449.0 267.000. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Periode Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Volume Penjualan (Lt) 410. rendahnya relaisasi tersebut (terumana pada SPDN dan SPBN) menunjukkan bahwa sesungguhnya masih terdapat sebagian besar nelayan yang membeli BBM solar yang dibutuhkannnya justru di luar SPDN dan SPBB yang ditunjuk.35.0 466. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.000. 70.5 10 gAu 0 -1 ay M 10 bFe 09 vNo 09 gAu 9 -0 ay M 09 bFe 08 vNo Periode Pengisian (Bulan) No. 2010 75 .Secara teknis mekanisme pelayanan baik yang dilihat melalui polanya (SPDN.813. Hal ini seperti terlihat dari besaran realisasi penjualan BBM solar bersubsidi yang masih di bawah kuota.0 10. Tentunya pernyataannya dapat dibenarkan bila digunakan asumsi bahwa besaran kuota BBM solar bersubsidi yang di sediakan adalah dihitung berdasarkan jumlah kebutuhan BBM untuk nelayannya.000.11.0 403.115.0 2.0 Volume Penjualan (Lt) 60.0 50.633.0 505.0 0.000.870. SPBN dan SPBB) maupun mekanismenya dalam penyaluran atau penjualan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu telah cukup memadai. 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-Rata per Bulan Sumber : SPBB PT.0 40. pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara telah mampu menyalurkannya secara baik.356.0 367. Dengan kata lain.936.072.0 0. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.0 433. Namun di sisi lain.044.

Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.600. jenis BBM yang dibutuhkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu adalah jenis solar dan premium/bensin.000. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Peran Subsidi Perikanan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat perikanan khususnya nelayan di Palabuhanratu dalam melakukan operasional penangkapan ikan.000.0 200. BBM jenis solar tersebut digunakan untuk kapal perikanan yang berukuran > 10 GT. Hal ini karena komponen biaya BBM berkisar antara 40-60% dari seluruh biaya 76 . Sedangkan jenis mesin tempel digunakan untuk kapal payang dan kincang dengan BBM jenis premium/bensin.1 Ap 0 -1 ar M 10 bFe 10 nJa Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3. Di samping itu jenis kerosin/minyak tanah digunakan oleh nelayan. Kebutuhan BBM.0 400. Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2010 pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara baru menyediakan BBM jenis solar saja. longline dan kapal rumpon. khususnya bagi nelayan skala usaha mikro dan kecil merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan kegiatannya.000.000. gillnet. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. yakni kapal yang menggunakan mesin diesel untuk jenis kapal dogol.0 0.0 Volume Penjualan (Lt) 500.0 100.0 10 gAu 0 l-1 Ju 10 nJu 0 -1 ay M 0 r.000.000.12.0 300. namun hanya digunakan untuk keperluan penerangan saja. Melihat kondisi di lapangan dari berbagai jenis kapal maupun mesin yang digunakan nelayan untuk melakukan operasional penangkapan.

usaha penangkapan dengan menggunakan bagan mengalami kerugian yang cukup besar karena biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan yang diperolehnya.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM Nilai hasil tangkap 1 hari 1 hari 1 hari 7 hari 7 hari 7 hari 15 hari 15 hari 15 hari 120 hari 100 hari 77 hari 6 hari 6 hari 7 hari 5 liter 6 liter 1.85 2 16.500.Solar . Biaya untuk bahan bakar 77 .musim biasa .Bensin .897.791.592. khususnya solar.8 75 Sumber: Data primer diolah. di atas menunjukkan bahwa subsidi BBM.operasional penangkapan ikan.483.36. Akibatnya.musim ikan . Artinya.477.500 13.0 00 393 liter 6 liter 13 liter 4.22 7 5.36. terlebih lagi karena selama ini nelayan dalam memenuhi kebutuhan BBM solar dibeli dari pihak ketiga (tengkulak) yang harganya lebih mahal kurang lebih 30% dari harga ketentuan pemerintah.2%. 2010 Tabel 3.324. Berdasarkan hasil olahan data di atas. Tabel 3.0 00 1500 liter 9.466 282 liter 10 liter 8 liter 3.397.000.825.33 4 118.432. dengan kenaikan harga BBM solar tersebut maka nelayan mengalami beban tambahan yang harus dikeluarkan sebesar 11.00 0 9333 liter 55. Analisa pendapatan dan biaya usaha penangkapan pada Trip Tahun 2010 Jenis alat tangkap Uraian Bagan Gillnet ≥5GT <10GT Longline 1 ≥10GT <30GT Longline 2 ≥30GT 100GT Pancing Tonda ≥5GT <10GT Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: .791. bila terjadi kenaikan harga BBM jenis solar sebesar 28% maka akan menambah beban biaya produksi penangkapan ikan sebesar 28% x 40% = 11.50 0 16.4 50 561.29 8 4.29 8 10.170.33 4 83.musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): . Kondisi seperti ini sangat memberatkan nelayan.2%. memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perikanan.

tetapi ada intervensi pemerintah dengan memberikan subsidi bahan bakar solar yang mereka gunakan. Kedua jenis bahan bakar tersebut tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi sehingga beban biaya tersebut sepenuhnya harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil.yang berupa bensin dan minyak tanah menyumbang hampir 40 persen dari total biaya operasional. Dengan demikian. kondisi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh kapal-kapal dengan alat tangkap lainnya yang mampu memperoleh keuntungan cukup besar bagi nelayan. sedangkan jika tanpa subsidi porsinya semakin besar yang mencapai 51 persen per trip penangkapan. Kenaikan biaya operasional ini berdampak pada turunnya keuntungan yang diperoleh nelayan rata-rata sebesar 68 persen. Pemberian subsidi BBM sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap longline. terutama bagi kapal longline ukuran ≥10GT . Di sisi lain. komponen biaya bahan bakar kapal ratarata sebesar 60 persen dari total biaya operasional yang dikeluarkan.<30GT. bagian biaya solar terhadap biaya operasional menjadi 81 persen dibandingkan apabila kegiatan usaha penangkapan dibantu dengan subsidi BBM yang hanya mengambil bagian 72 persen per trip. Perbedaannya adalah beban biaya bahan bakar tidak sepenuhnya ditanggung nelayan.170. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7.897. Jika nelayan menggunakan BBM bersubsidi maka porsi solar terhadap biaya operasional adalah 38 persen. Seperti halnya kapal gillnet.500 maka biaya operasional per trip yang harus dikeluarkan adalah Rp4.500 atau 48 persen lebih besar dibandingkan biaya operasional per trip dengan subsidi BBM. Begitupula halnya dengan kapal longline ukuran ≥ 30 GT – 100 GT yang harus mengeluarkan biaya operasional per trip lebih besar 60 persen apabila menggunakan solar tanpa subsidi sehingga porsi biaya solar terhadap biaya 78 . Berdasarkan olahan data pada Tabel 12. besarnya biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM adalah Rp13.298 yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan nelayan rata-rata sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan keuntungan dengan BBM bersubsidi.

852 atau meningkat 26 persen. baik secara langsung (pemberian pelayanan oleh petugas pelabuhan perikanan dengan menggunakan fasilitas milik Pelabuhan Perikanan) maupun tidak langsung (pemberian pelayanan pihak pelabuhan perikanan melalui bekerja sama dengan pihak swasta). sedangkan tanpa subsidi BBM sebesar Rp5. Perbandingan antara adanya subsidi BBM dan tanpa subsidi BBM pada usaha penangkapan ditunjukkan oleh porsi yang meningkat dari biaya solar terhadap total biaya operasional yang dikeluarkan. Kabupaten ini berada di bagian pesisir selatan wilayah Propinsi Lampung. 3. Pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sangat berperan dalam memberikan pelayanan BBM solar dengan harga subsidi. sedangkan tanpa subsidi BBM porsi biaya solar meningkat menjadi 53 persen terhadap total biaya operasional per trip. 79 .4. Berdasarkan hasil analisis tersebut. dengan luas wilayah 117.592.500 per liter maka biaya operasional per trip dengan bahan bakar bersubsidi adalah Rp4. Porsi biaya solar mencapai 40 persen jika nelayan mendapat solar bersubsidi.377 hektar dan sebagian wilayahnya menghadap ke Teluk Lampung. Lampung merupakan pengembangan dari Kabupaten Lampung Selatan dan dan secara resmi dibentuk berdasar UU No: 33 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran. intervensi pemerintah melalui pemberian subsidi BBM masih sangat diperlukan oleh nelayan dalam negeri untuk menjamin keberlanjutan usaha penangkapannya.432.227. Kabupaten Pesawaran (Lampung) Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pesawaran. Subsidi BBM juga sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap pancing tonda. Akibatnya.operasional naik dari 75 persen menjadi 86 persen. Dampak selanjutnya adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh nelayan sebesar 45 persen. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. besarnya keuntungan nelayan rata-rata menjadi menurun sebanyak 10 persen.

Pesawaran Tahun 2008-2009 No Jenis usaha Nilai produksi (Rp.0 10. dalam tahun 2008-2009 terjadi perkembangan yang cukup signifikan khusus pada budidaya (KJA) Ikan Kerapu yang didominasi oleh Kerapu Bebek dapat dilihat pada Tabel 3.820. berdasarkan data produksi 2009 didominasi oleh perikanan budidaya yang jika dilihat secara proporsinal terlihat pada Tabel 3.5 47. Pesawaran. Tangkap laut Tangkap perairan umum Budidaya tambak Budidaya air tawar Daging tiram mutiara Rumput laut Budiaya Kerapu (KJA) Benih ikan JUMLAH 74.6 2009 93.2 % 26 16 16 38 10 17 49 73 23 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.6 143.8 Perkembangan Rp.388.0 2. juta 19. dan budidaya teripang dengan total potensi lahan seluar 3.6 17.141.2 624. 2.750.Saat ini wilayah kab.833. budidaya ikan kerapu.0 603.121.5 144.4 4.8 16.520.37. Pesawaran Dalam hal perkembangan luas lahan budidaya dan jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Kab.278.0 96.610.692.880.0 1. Nilai produksi perikanan di Kab. budidaya ikan barong.2 121.6 508.685.045.0 419. 7.0 2. 5.0 442.939.5 ha. 80 . Pesawaran terdiri atas 7 (tujuh) wilayah kecamatan dan 133 desa dengan ibukota di Gedong Tataan.996. 8. Hasil (nilai) produksi perikanan di Kabupaten Pesawaran.4 105. 6. 4. Juta) 2008 1.0 437. budidaya rumput laut.37.8 768.0 100.511.570.6 71.884. 3. Tabel 3.0 110.39. sedangkan potensi lahan tambak 750 ha yang sebagian besar ada di Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Punduh Pidada. Wilayah laut dan pesisir Kabupaten Pesawaran meliputi sebagian dari Teluk Lampung dan 37 pulau kecil yang tersebar di Teluk Lampung dengan potensi meliputi budidaya kerang mutiara.667.2 12.

Pesawaran.5 3.118 Kenaikan Orang 116 4 6 0 21 140 15 302 % 10 28 15 0 38 29 7 16 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. 5. 7. 3. 5. Pesawaran Bentuk-Bentuk Subsidi Perikanan Selama periode tahun 2009 telah dilakukan pemberian subsidi kepada pelaku usaha sector kelautan dan perikanan di Kabupaten Pesawaran.240.39 Jumlah Rumah Tangga (RTP) pembudidaya ikan di Kab. Jenis Usaha Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH Tahun (ha) 2008 2009 352.Tabel 3.5 % 5 20 9 25 25 26 2.282 18 45 14 94 510 225 2. Dari Tabel 3.5 15 1 75. 4.38. Tahun 2008-2009 No 1. 2008-2009 No Jenis Usaha Tahun (Orang) 2008 1. Lampung.5 369.886 2009 1. 4. Pesawaran. 3. 6.5 2.40. Adapun jenis dan dasar kebijakan pemberian subsidi tersebut seperti tertera pada Tabel 3. Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH 1.166 14 39 14 73 370 210 1.8 4.164.0 Kenaikan Ha 17 2 32 0. 7.4 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.5 10 12 359 391 2 2.5 3.5 60 75 3.8 2. 2.40 diketahui bahwa jenis subsidi yang pernah 81 . 6. Perkembangan luas areal budidaya laut di Kab. 2. Pesawaran Tabel 3.

Subsidi langsung dalam hal ini dimaksud sebagai bantuan yang diterima oleh para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan dari pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat) dalam bentuk barang ataupun finansial. Tidak Langsung: 2. 2. 1.c Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila .40.a PNPM Mandiri-KP Ketidakberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan. Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.Peningkatan pengembangan usaha budidaya ikan air tawar (gurame dan nila) sementara kemampuan modal para pembudidaya yang relative terbatas. Jenis Subsidi Langsung: 1.b Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Antisipasi menghadapi dampak bencana alam pada tempat tinggal masyarakat nelayan. Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pesawaran Lampung No. Tabel 3.Lemahnya modal para pembudidaya ikan air tawar terutama untuk membeli benih dan induk ikan gurame dan ikan nila . 1.diberikan oleh pemerintah di Kabupaten Pesawaran Lampung adalah meliputi: Subsidi yang bersifat langsung dan subsidi yang bersifat tidak langsung. Pesawaran 82 .a Pelatihan Rendahnya tingkat keterampilan (skill) masyarakat pesisir terkait dengan pengembangan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan. Dasar Kebijakan 1. Sedangkan subsidi tidak langsung diberikan dalam bentuk program atau bantuan lainnya yang sifatnya bukan barang ataupun financial.

Tabel 3. baik subsidi secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Pesawaran pada tahun 2009. dalam hal ini lebih didasari oleh latar belakang kondisi usaha sector kelautan dan perikanan dan kondisi pelakunya yang memang membutuhkannya terutama untuk alasan pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan dan pengembangan atau keberlanjutan usaha sector kelautan dan perikanan tersebut ke depan. (2) Pembangunan rumah nelayan ramah bencana. nelayan pancing.975 Kec. pancing cumi. dan perbaikan jalan KJA Kerapu. Sedangkan jenis subsidi tidak langsung berupa pelatihan bagi para pembudidaya ikan air tawar. Bentuk-bentuk subsidi sektor kelautan dan perikanan yang pernah diberikan pemerintah. tangkap jaring. budidata rumput laut.Jenis subsidi langsung diberikan oleh pemerintah dalam tiga bentuk yaitu: (1) PNPM Mandiri_KP.41.999 83 . Penjelasan dari masing-masing bentuk subsidi tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. Kebijakan yang mendasari pemberian subsidi dengan jenis langsung dan tidak langsung tersebut. tangkap bubu. pancing bandrong. Desa Sukajaya Lempasing Kec. meliputi: (1) PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan Sasaran program ini adalah masyarakat bidang kelautan dan perikanan yang bertempat tinggal di wikayah pesisir atau diluar pesisir yang memiliki kegiatan di bidang kelautan dan perikanan. Alokasi dana PNPM Mandiri-KP di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 Lokasi Jumlah Kelompok 10 Jumlah Anggota 92 Jenis usaha Jaring payang padang. dan (3) Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Jumlah paket 10 Nilai (Rp. jaring kelitik. Padang Cermin. Desa 8 77 9 259. Padang Cermin.000) 249.

Pelatihan pembenihan ikan laut. Pesabwaran (2) Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Sasarannya: pemenuhan kebutuhan masyarakat nelayan terhadap rumah tahan bencana. Pelatihan budidaya laut dalam rangka pemberdayaan usaha skala kecil. dan rehabilitasi jalan setapak. dilakukan pelatihan yang pesertanya adalagh masyarakat pesisir dan aparat terkait.000) 2 desa 18 169 19 509.Lokasi Durian Jumlah Kelompok Jumlah Anggota Jenis usaha pengeringan ikan asin. dan Desa Durian. Jumlah paket Nilai (Rp. menggunakan dana APBD Kab. Pelatihan manajer usaha dan percontohan pembenihan tiram mutiara. Desa Sidodadi. Topik materi pelatihan diantaranya: Pelatihan manajer pengendali mutu perikanan. Padang Cermin (20 unit) di Desa Sukajaya Lempasing. Kec.974 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pelatihan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Pesawaran. Magang tambak resirkulasi. Desa Kampung Baru. Magang pembudidaya rumput laut ke NTB. Desa Pulau Pahawang. 84 . Pelatihan pembuatan alat tangkap nelayan. (4) Subsidi selisih harga Subsidi selisih harga dimaksudkan sebagai bantuan pemerintah (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasewaran Lampung) untuk membayar selisih harga antara harga pasar dengan harga keekonomiannya. Pembangunan rumah di lakukan di dua kecamatan yaitu: Kecamatan Punduh Pidada (30 unit) di Desa pulau Legundi. (3) Pelatihan Melalui dana APBD Provinsi Lampung. Subsidi selisih harga berupa bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. dan Desa Sukarame. Pelatihan pembenih dan pembudidaya ikan air tawar.

tetapi berdasarkan kemungkinan (potensial) dampaknya bila subsidi tersebut diberikan. 314. diperlukan rata-rata biaya total sebanyak Rp.210. dalam bagian ini dilakukan dengan mengambil kasus budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. Dengan demikian.42. Lampung. pembahasan mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya tidak dilakukan dengan pendekatan perbandingan antara sebelum dan sesudah (after and before comparative) diberi subsidi. dalam hal ini dari Kementerian Kelautan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.Peran Subsidi Perikanan Uraian mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan. usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di lokasi kasus tersebut hingga saat ini tidak atau belum mendapatkan subsidi (langsung ataupun tidak langsung) dari pemerintah. Secara eksisting. Propinsi Lampung. dan kemungkinan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan. dan dengan siklus usaha selama 13 bulan. Untuk rata-rata usaha budidaya pembesaran ikap kerapu bebek dalam keramba jarring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.230.. dan (2) Kemungkinan peran atau dampak potensial yang dapat dilakukan atau terjadi bila subsidi diberikan terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya. dalam bagian ini akan dijelaskan: (1) Analisis biaya dan penerimaan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.dan menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp. Secara rinci gambara mengenai biaya dan penerimaan usaha tersebut seperti tertera pada Tabel 3.000.-. meskipun baru bersifat normatif namun kita masih dapat memperkirakan peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha budidaya pmbesaran ikan kerapu dal KJA tersebut. 85 . Untuk itu. Oleh karena itu.511.634. Lampung dengan luasan sebanyak 13 kolam yang masing-masing berukuran 3x3 m2 dengan kedalaman 5 m.

500 3.750 71. Bambu f.49 0.750 2. Tali e.250 3. Pelampung g.705.000 1. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Volume Satuan Harga (Rp.400 10.000 29.005.500 281.500 135.) 230.000 358.120 6.453.921.656.2 Biaya Tidak Tetap: a.370. Jaring d.592.150 Sumber: Data Primer diolah (2010) 86 .100 5.65 1. Perahu c.905 582.382.604 159.33 21.210.42. Tempat Pemeliharaan b. Propinsi Lampung (KJA sebanyak 13 Kolam dan Siklus Usaha selama 13 Bulan) Uraian 1.500 1.587.634.010.500 65.257 256. Lampu Penerangan i. Air Bersih i.100 2. Solar c. Pakan Rucah e. Tempat Pemeliharaan b.085.750 17.100 172.500 449.511 1.466 77. Bensin b. Pompa Air h.655 59.000 16.07 0.101 975.57 7.500 48.811.702.10 3.556 166.357.344 4.07 28.996 1.264.000 449.404.Biaya Penyusutan: a.200 5. Gas Elpiji h.03 0.62 1421 580 3280 10036 2420 4 83 1308 4 14 28 698 lt lt ekor kg kg orang tabung galon paket kolam kolam kg 3.430.000 621.000 487.32 1.88 1. Pelampung g. Biaya Total: 1.500 1.1 Biaya Tetap: . Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam keramba Jaring Apung di Kabupaten Pesawaran.74 25.Investasi: a.27 1.679.14 69. Timbangan 1.000 0.000 2.061. Gudang j. Tali e. Jaring d.500 441.300 365.02 0.292.511 85. Penerimaan: Produksi kerapu 3. Timbangan .11 1.750 326.42 0.050 6. Pajak Kolam Keramba 2.511 71.000 46.200 2.87 0. Perahu c.000 23.500 16. Gudang j.000 442. Benih ikan d.000 1.60 2.376.90 1 1 30 137 147 169 1 2 1 1 unit unit unit kg buah unit unit unit unit unit 4.575 15.) Nilai (Rp.500 5.126.000 314. Pakan Pelet f.735.276 320.125.95 0. Retribusi Kebersihan k.468.324. Lampu Penerangan i.555 1.50 Proporsi (%) 100.00 30.895.000 7.700 1.67 0.500 4.Tabel 3.05 0.264.555. Pompa Air h. Bambu f. Ransum bulanan j.634.475 10. Tenaga Kerja g.

Biaya pakan tersebut terdiri dari biaya unuk pakan ikan rucah (pakan alami) sebanyak Rp.Dari Tabel 3.895. terutama dalam jangka panjang.592.210.-. yaitu: (1) Untuk benih ikan kerapu yang menyerap sebanyak Rp. rata-rata penerimaan yang dihasilkan baru bersumber dari budidaya pembesaran ikan kerapu bebek saja (monoculture).42).900.500. 17.. Sementara. yaitu sebanyak 698 kg dengan nilai sebanyak Rp.750. berdasarkan besaran penerimaan dan biaya totalnya.634.07% dari biaya totalnya. diantaranya adalah pertimbangan: (1) Sejauhmanakah urgensi memberikan subsidi kedua komponen tersebut dalam mendorong keberlanjutan usaha. Lampung (Tabel 3. Bila diasumsikan bahwa pemerintah berada dalam kondisi memiliki anggaran yang relatif terbatas. Terdapat banyak pertimbangan dalam pemberian subsidi (langsung) pada kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan karapu tersebut.atau 28.50.65%. dan (2) Apakah pemberian subsidi tersebut secara potensial berdampak terhadap kelestarian lingkungan.atau 21.atau 7. Secara sederhana.314. Untuk itu sebaiknya pemerintah 87 .42 diketahui bahwa berdasarkan strukturnya.57% dan untuk pakan pelet sebanyak Rp. dan (2) Untuk pakan ikan yang menyerap sebanyak Rp. secara potensial subsidi dapat diberikan pada komponen biaya/pengeluaran yang memiliki proporsi yang tergolong dominan. Melihat kondisi struktur biaya usaha budidaya pembesara ikan kerapu dalam KJA di Kabupetan Pesawaran. 69. 48.750. seperti komponen benih atau pun pakan) dalam pengembangan usaha tersebut..000. yaitu: benih ikan kerapu atau pakan ikan. maka dapat diketahui bahwa usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran telah mencapai kondisi efisiensi dengan rasio penermaan terhadap biayanya sebesar 1.atau 36.000. proporsi biaya usaha budidaya pembesaran ikan kerapu didominasi oleh dua jenis biaya pengeluaran. sehingga pemerintah dalam hal ini harus menentukan prioritas apakah akan memberikan subsidi pada komponen tertentu atau komponen tertentu lainnya.22% dari biaya totalnya.. 65.

07%. Dari awalnya untuk menghasilkan ukuran 500 gram per ekor diperlukan periode pemeliharaan kurang dari 12 bulan. saat ini sudah bervariasi mulai dari 13 – 16 bulan. Hal ini terlihat dari besarnya proporsi biaya kedua komponen tersebut (benih ikan dan pakan ikan) terhadap biaya total dari kegiatan usaha tersebut. sedangkan komponen pakan ikan khususnya pakan ikan rucah memiliki proporsi biaya sebesar 28. Dengan adanya 88 . Sementara dari dasar pertimbangan kedua (aspek kelestarian lingkungan). Komponen benih ikan kerapu memiliki proporsi biaya sebesar 21. banyak aspek positif yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha meskipun akan diikuti secara proposional dengan meningkatnya jumnlah pakan ikan rucah yang digunakan.memutuskannya setelah melakukan pengkajian berdasarkan kedua pertimbangan di atas (keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan). karena peningkatan pakan tersebut berpotensi meningkatkan cemaran (polusi) terhadap lingkungan perairan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. untuk kondisi saat ini ataupun ke depan memberikan subsidi pakan ikan rucah tampaknya kurang tepat. Dari dasar pertimbangan pertama (aspek keberlanjutan usaha) tampaknya baik subsidi benih ikan maupun subsidi pakan keduanya sama-sama berpotensi memiliki peran penting dalam keberlanjutan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. karena menurut persepsi pelaku usaha tersebut di lapangan bahwa mutu benih ikan kerapu dewasa ini semakin menurun.57%. Namun bila dilihat dari sisi prioritas dan fakta di lapang dimana permasalahan benih yang berkualitas semakin mendesak untuk dicarikan solusinya. Diantara aspek positif tersebut adalah dorongan kepada peningkatan penggunaan benih ikan kerapu yang bermutu baik dibanding yang digunakan oleh pembudidayaan saat ini. Meskipun dalam kenyataannya pakan ikan rucah ini memiliki peran sangat penting besar di samping benih ikan dalam kegiatan produksi ikan kerapu di lokasi tersebut. Bila pemerintah memang pada akhirnya memutuskan untuk memberikan subsidi benih ikan.

pemerintah menghadapi situasi yang lebih sulit dan kurang dapat memasukkan unsur pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.50 R/C Dengan Subsidi Benih 1.10 2. Tabel 3.50 1.58 1. dibandingkan bila benih ikan yang menjadi pilihan tersebut.43.69 5.54 1. dapat dilihat hasil simulasi pada kondisi tanpa dan dengan subsidi. Lampung.45 Sumber: Data Primer diolah dari data primer (2010) Keterangan: R/C = Rasio Penerimaan terhadap Biaya Total 89 .43 dan Tabel 3. Simulasi Perubahan Rasio Penerimaan terhadap Biaya (R/C) Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran pada Berbagai Perubahan Tingkat Subsidi Benih Ikan (Tanpa dan Dengan Subsidi Benih) Subsidi Benih (%) 5 10 15 20 25 R/C Tanpa Subsidi 1. Sementara di sisi lain.50 1. bahwa pemberian subsidi benih ikan ke depan akan efektif dalam meningkatkan keberlanjutan usaha yang diihat menggunakan indicator rasio penerimaan terhadap biaya (efisiensi) usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.56 1.05 6.44.pemerintah memberikan subsidi benih yang berkualitas baik.38 3.60 Perubahan R/C (%) 1. bila pemberian subsidi pakan ikan yang menjadi pilihan. secara sederhana pada Tabel 3. berarti produktivitas usaha budidaya pembesaran dalam KJA di Kabupaten Pesawaran dapat lebih ditingkatkan lagi.52 1.50 1. pemberian subsidi berupa pakan ikan. secara teknis lebih rumit karena dominasi pakan ikan rucah yang notabene diperoleh dari dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang dalam waktu dekat akan dilarang pemerintah yaitu alat tangkap jaring cantrang (jaring gardan).50 1. Untuk lebih meyakinkan kita. Dengan kata lain.

49 0. Biaya Total: 1.466 77.9 0 87.324. Lampu Penerangan i.500 3.000 487.264. Bambu f.43 diketahui bahwa pemberian subsidi benih ikan dapat meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya total (efisiensi) usaha budidaya tersebut.357.125.453.Biaya Penyusutan: a.000 29. Gudang j. Gudang j. Pompa Air h.42 0.702.061. Tali e.357.382.511 85.101 975.33 21.02 0.69% (lihat Tabel 3.264. Jaring d.500 5.750 71.679.100 2.02 0.53 12.79 23.604 152.264.750 326.07 0.500 449.50 menadi sebesar 1.996 1.705.500 3.Dari Tabel 3. Jaring d.921.35 0.10 3.468.2 Biaya Tidak Tetap: a.085.000 16.264.382.655 59. Tali e.453. Bambu f.000 16. Perahu c. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam KJA pada Kondisi Tanpa dan Dengan Subsidi Benih 15% Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.656.000 23.592.Investasi: a.303. Tempat Pemeliharaan b.705.01 0.081.468.500 48.00 71.344 4.750 326.31 0.82 90 .43 0.87 0.750 71.) Biaya (%) 230.000 29. Pelampung g.702.634.511 1.11 1. Pelampung g.085.511 30.500 1.125 7.88 1.921.345.679.02 0.126.000 7.996 1.1 4.74 25.) Biaya (%) 223.404. Tempat Pemeliharaan b.556 166.061.32 1. Lampu Penerangan i.556 166.43 dan Tabel 3. Benih ikan 0.100 5.656.100 5.000 23. Sebagai gambaran untuk pemberian subsidi benih ikan sebsar 15% akan meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) usaha budidaya tersebut meningkat dari semula (tanpa subsidi benih) sebesar 1.101 975.44). Timbangan 1. Pompa Air h.000 2. Bensin b.276 320.500 1.03 0.625 Uraian 1.000 487.000 2.07 0.500 449.90 85.11 1. Timbangan . atau R/C usaha meningkat sebesar 3.636 100 71.604 159.257 256.14 3.404.466 77.14 69.1 Biaya Tetap: . Tabel 3.44.324. Perahu c.511 100. Solar c.125.511 1.276 320.500 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.370.500 41.655 59.500 5.100 2.344 4.257 256.56.126.

000 1.62 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.000 1.53 6. Sebaliknya.26 Sumber: Data Primer diolah (2010) Selanjutnya.050 6. sehingga berkembang dan menyebabkan daya dukung perairan yang menurun. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah: bila diasumsikan dengan pemberian subsidi benih ikan tersebut.050 6.02 0. Polusi (cemaran) tersebut ditimbulkan dari limbah pakan ikan rucah maupun pakan pelet ikan yang akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya penggunaan benih ikan dalam kegiatan produksi tersebut.56 1. Air Bersih h.000 621. namun dalam realitasnya justru hal tersebut dapat tidak terjadi sepanjang dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan perairan budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.634.05 0.895.700 1.555.60 2.12 0. Lampung secara baik dan konsisten. Gas Elpiji g.250 3.000 314. maka diperkirakan akan terjadi beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan perairan di lokasi budidaya dan sekitarnya. Penerimaan: Produksi ikan kerapu 3. kita akan bahas bagaimana kemungkinan peran (dampak) subsidi benih ikan pada budidaya pembesaran ikan kerapu tersebut terhadap kelestarian lingkungan perairan budidaya. Pakan Pelet f Tenaga Kerja f. Ransum bulanan i.700 1.50 1.64 1. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.376.000 314. maka hal ini berarti pada lingkungan perairan budidaya tersebut terdapat potensi polusi (cemaran).65 2. Pajak Kolam Keramba 2.750 28.000 621.376.895.67 0.Uraian d.68 17.750 28.750 7.750 15.210. Pakan Rucah e.430.) Biaya (%) 65. Secara normative dapat disampaikan bahwa apabila diberikan subsidi benih ikan pada kegiatan usaha budaya tersebut.000 1.430.634.811.210.735.) Biaya (%) 65.95 0.735.555.57 17.000 1. Kemungkinan peran (dampak) negative terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut bisa saja terjadi.250 3. bila upaya-upaya pengelolaan tersebut tidak 91 .811.66 2.42 1.27 1. terutama dalam jangka panjang. Retribusi Kebersihan j.

000 Km2. Kolaka terbagi ke dalam 32 wilayah kecamatan. 92 .38 Km2 dan wilayah perairan (laut) sekitar 15. dalam tiga tahun terakhir 30% . Kolaka berasal dari perikanan laut (perikanan tangkap dan budidaya). namun dalam kurun waktu 2001 sampai 2007 terjadi tiga kali pemekaran wilayah kecamatan sehingga saat ini Kab. produksi perikanan Kab. Hasil budidaya perikanan laut Kab. Berdasarkan data statistik. 3. Bandeng.dilakukan secara baik dan konsisten. Kabupaten Kolaka. Ikan Kerapu dan Mutiara.5. maka pemberian subsidi benih ikan sebaiknya dapat diikuti dengan pemberlakuan regulasi yang bertujuan untuk mengendalikan tekanan cemaran terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut. dapat dilihat. Teripang. Secara proporsional. sedangkan budidaya tambak ikan Bandeng di atas 40% dari total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Kolaka. Kendari Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Kolaka berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. kontribusi nilai hasil produksi rumput laut tahun 2008 dan 2009 di atas 50%. Sebagai upaya antisipatif terhadap kemungkinan terjadi dampak negative tersebut.918.39% PDRB Kab. Kolaka disumbang oleh sektor pertanian (termasuk perikanan). Kabupaten Kolaka dijadikan lokasi penelitian mewakili perikanan budidaya (laut) mengingat perikanan laut mendominasi produksi perikanan dibandingkan perikanan daratan. justru dampak negative tersbut berpotensi besar dapat terjadi. Kolaka terdiri atas Rumput laut. Kolaka terbagi ke dalam 20 kecamatan.1. Berdasarkan tabel 4. Wilayahnya terdiri atas daratan seluas 6. Sebelum tahun 2001. Kab.

273 3. 2009 Kontribusi/porsi: Tambak (%) Rumput laut (%) 9. Kolaka dilakukan di tambak tambak yang ada di pesisir pantai yang ada di lingkungan sekitar hunian warga.6967 55.868 24. Perkembangan Luas areal dan Produksi Budidaya Laut di Kab.903 500 2009 4.643 112 5 1.9585 43.4819 30.169 8.163 162.7 ha.697 3 13.643 110 5 584 500 2008 4.437 396 138 151.604 9. dan di Desa Muara Lapao-pao Kecamatan Wolo.44 0.75 3. Kecamatan Wunduloko.45.15 .2 1. dalam kajian ini difokuskan kepada komoditas unggulan.566 405 165 137.784 2008 7. yaitu budidaya rumput laut dan budidaya tambak ikan Bandeng karena bantuan pemerintah banyak ditujukan kepada kedua jenis usaha ini.26243 Budidaya Bandeng Pembudidaya ikan Bandeng di Kecamatan Wolo dan Wundulako mengelola lahan milik sendiri.231 9 3 15.776 1. menggunakan modal sendiri dengan rata rata luasan kepemilikan lahan 1. Survey dilakukan terhadap pembudidaya tambak dan rumput laut di Desa Towua.3733 46. Tabel 3.99 9.544 2.198 67.491 24.353 273.728 22. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp.817 2009 7.849 9.343 389 131 50. Pembudidaya ikan Bandeng di Budidaya Bandeng di Kab.287 8.475 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.75379 52.152 Tambak Teripang Kerapu Rumput laut Mutiara Jumlah 7. Tingkat pendidikan rata rata tamat SD dan SLTP dan masih dalam usia produktif (20 – 49 tahun) dengan rata rata usia 34 tahun.033 2008 119.031 9 3 15.223 2007 109. Kolaka.332 2009 122.Berkaitan dengan hal di atas.64 0. Jenis budidaya adalah pembibitan dan pembesaran dengan masa 93 .643 110 5 1.919 40 2007 6.Juta) Komoditi 2007 4. Kabupaten Kolaka.007 262.

Artinya. Kalaupun diberi pakan pelet. Pemberian pupuk lebih didasarkan kepada kemampuan masing masing pembudidaya. Selanjutnya. Alasannya. bibit sudah bisa dipindahkan ke tambak untuk tahap pembesaran. itupun sekedarnya saja. Tidak ada acuan baku yang diikuti dalam pemberian pupuk. mereka tetap dapat menebar benih pada musim-musim penanaman. dan racun yang berfungsi sebagai pembasmi ikan liar. Kemudian tambak diisi air secara bertahap. Kondisi ini. Sistem panen dilakukan bertahap.000 ekor per petak tambak. mulai dilakukan panen.. Selama pembesaran. Caranya. Waktu 2 bulan ini dimanfaatkan untuk mengeringkan tambak sebelum tahap penebaran/penanaman bibit dimulai. bibit ditebar yang biasanya berjumlah 2. Setelah lama pemeliharaan 4 bulan. Pembeli (pedagang) berasal dari Kolaka dan sekitarnya dan ikanpun dijual dalam bentuk ikan segar di pasar pasar yang ada di Kab.000—3. Tujuan pemberian pupuk dan pengisian air secara bertahap agar tumbuh lumut dan jasad renik yang nantinya berfungsi sebagai pakan alami ikan Bandeng. Hanya saja. modal yang sebelumnya telah dianggarkan untuk 94 .pemeliharaan 6 bulan. hampir tidak ada pembudidaya yang memberi pakan tambahan dalam bentuk apapun. pembeli (yang disebut pembonceng) membeli langsung ke tambak dan membeli secara eceran sebanyak 100 – 200 ekor. jenis bantuan yang diberikan berupa benih nener dan benur tidak secara signifikan membantu keberlanjutan usaha para petani tambak. tanpa adanya bantuan tersebut. Dalam waktu 2 bulan. Menurut petani tambak yang diwawancarai. Gelondongan tersebut diletakkan di dasar tambak yang mampu menampung bibit sebanyak 15 ribu ekor yang biasanya diisi 2 kali dalam setahun. Kolaka. bantuan benih tersebut diakui dapat menggeser alokasi modal yang telah mereka perhitungkan. Bibit alam yang dibeli seharga Rp50 per ekor disimpan dalam tempat yang disebut gelondongan. dimana pasar yang ada terbatas pada pasar lokal dan belum ada industri pengolahan ikan Bandeng membuat harga jual jatuh pada saat panen bahkan kadang tidak terserap pasar. Proses pengeringan tambak biasanya memerlukan waktu satu bulan dan sisa waktu satu bulan digunakan untuk pemberian pupuk kimia (Urea dan TSP).

membeli benih ikan dapat digeser untuk alokasi pupuk atau biaya input lainnya.47 1. harga pupuk saat ini sangat mahal sehingga dirasakan sangat membebani para petani tambak.45 2008 1.44 1.58 1.233 1. bantuan berupa pupuk dan mesin pompa menjadi harapan petani tambak bandeng dan udang.049 7.52 1. pengadaan kedua input tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah setempat. Pada kenyataannya.51 1. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Baula Pomalaa Tanggetada Watubangga Total 2007 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4645 2008 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.407 545 69 836 171 428 172 1.989 7.52 2009 1.645 2009 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.258 1. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Tambak di Kab. input berupa mesin juga sangat diperlukan para petani yang selama ini belum pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah.175 1.58 1.51 1. Produksi (Ton) 2007 1. Input berupa pupuk merupakan bahan baku utama yang diperlukan dalam usaha tambak ini sehingga sebagian besar modal diperuntukkan untuk membeli pupuk.54 1.53 1. baik untuk keberlanjutan usaha maupun bagi kelestarian sumber daya. Selain itu.56 1.46.45 1.645*) Vol. Faktor utamanya adalah karena program bedah tambak ini dapat mengaktifkan kembali tambak yang telah lama ditinggalkan karena sudah tidak layak pakai. Bantuan untuk melakukan bedah tambak diakui sangat bermanfaat.57 1.44 1. 2009 Catatan: *) Belum termasuk bantuan bedah tambak 240 ha 95 . Kolaka.697 2008 1.53 1.477 572 72 878 179 450 181 1.031 2009 1. pertumbuhan ikan menjadi sangat bagus karena lingkungan tambak yang kondusif bagi tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan oleh bandeng dan udang.56 1.52 1.51 1. Untuk itu. Saat ini.46 1.44 1.894 6.221 Produktivitas (ton/ha) 2007 1. Tabel 3. Sementara itu.54 1.56 1.44 1.51 1.45 1.507 589 74 909 186 463 186 2.57 1.56 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.52 1.45 1.

Kolaka. berupa gangguan yang menyebabkan bibit Rumput laut yang berumur 3 96 . Kolaka Tahun 2007-2009 No Kecamatan Luas areal Vol. Bahkan. kesejahteraan pembudidaya menunjukkan peningkatan yang berarti. Kolaka 0% 7% 5. Wundulako 0% 9% 6. Pomalaa 0% 8% 8. Sulawesi Tenggara. Perubahan yang kasat mata adalah dengan dibangunnya rumah yang permanen. banyak nelayan yang beralih menjadi pembudidaya rumput laut. Prosentase Peningkatan Luas areal dan Produksi Tambak Tiap Kecamatan di Kab. Booming rumput laut dimulai pada tahun 2004 sejak tindakan bom ikan oleh para nelayan dikecam oleh masyarakat sekitarnya. Masalah mulai timbul dalam budidaya Rumput laut sejak awal tahun 2008. dan dimilikinya kendaraan bermotor. Selama periode 2004 hingga 2008. Akibatnya. Tanggetada 0% 8% 9. Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya yang menunjukkan bangunan rumah yang sederhana serta tidak adanya kendaraan bermotor di rumah.Tabel : 3. produksi 1. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan sumber daya sudah berbasis masyarakat sehingga telah tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian sumber daya di kalangan pelaku utama perikanan sendiri. 2009 Budidaya Rumput Laut Rumput laut merupakan komoditas budidaya unggulan di Kabupaten Kolaka. Samataru 0% 7% 3. Wolo 0% 7% 2. usaha budidaya Rumput laut mencapai masa jayanya. Baula 0% 9% 7. adanya tabungan di bank.47. rumput laut juga mampu menarik perhatian para pembalak kayu sehingga penebangan hutan berkurang cukup signifikan yang mengakibatkan kelestarian hutan juga terjaga. Watubangga 0% 8% Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Dalam kurun waktu tersebut. Latambaga 0% 8% 4.

Selama ini. para petani tambak sangat mengharapkan adanya penelitian atas masalah tersebut agar gangguan tersebut dapat diatasi dengan cepat. petani rumput laut sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk memperluas pasar yang selama ini hanya diserap oleh pasar di Makassar. rumput laut kering dari Desa Barbarina. Untuk itu. produksi rumput laut yang ada sering menumpuk di gudang penyimpanan sehingga harga jual menjadi turun. Bantuan pada 2004 hingga 2006 berbentuk paket berupa bibit. Untuk itu. Dengan demikian. tali. baik kelompok budidaya maupun kelompok tangkap laut. Komoditas rumput laut telah tersentuh bantuan sejak tahun 2004—2010. Masalah lain yang ada terkait dengan batas-batas lahan budidaya yang mengakibatkan adanya konflik antar sesama petani rumput laut maupun antara petani rumput laut dengan nelayan. kepadatan lahan. Selama ini. dan para-para atau tempat menjemur rumput laut. jumlah produksi yang besar dapat terjual dengan harga jual yang tinggi. Untuk itu. Sementara pada 97 . produktivitas hasil sangat rendah. Akibatnya. Sulawesi Selatan. pelampung. atau karena lingkungan budidayanya. Kabupaten Kolaka baru mampu menembus pasar lokal dan pasar Makassar yang diambil oleh pedagang besar untuk kemudian diekspor. cara tersebut dapat diterima oleh para pembudidaya rumput laut dan nelayan. Gangguan ini belum teridentifikasi faktor penyebabnya. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengatur jalur-jalur perhubungan bagi lalu lintas kapal nelayan yang akan ke atau dari laut. Pemasaran hasil produksi berupa rumput laut kering juga menjadi masalah bagi pembudidaya. Akibatnya. apakah karena kualitas bibit. dinas membuat rambu-rambu batas rumput laut yang menyala saat malam hari. Untuk itu.minggu menjadi hancur. Rambu-rambu tersebut dibuat dengan menggunakan pelampung dan pemberat agar tidak bergeser karena arus laut. Kecamatan Muaralapao-pao. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berusaha menyelesaikan konflik tersebut dengan mengundang Kepala Desa dan kelompok-kelompok. jangkar.

123 1.068 2.074 Produktivitas (ton/ha) 2007 2008 2009 23 9 11 24 8 11 24 8 11 23 9 11 24 8 11 23 9 11 25 9 13 25 11 15 24 9 12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Tabel 3. Bantuan tersebut diberikan satu kali dalam setahun.525 1.784 16. Artinya.904 1.119 2.48.735 2.861 2. Sementara itu. Gudang penyimpanan ini sangat diperlukan untuk menampung hasil panen hingga pedagang pengumpul dari Makassar datang mengambil. Contohnya.422 1. Untuk itu. bantuan hanya berupa bibit dan tali. Bantuan yang diberikan bersifat seragam sehingga setiap kelompok yang mendapat bantuan akan menerima barang yang seragam. bantuan lain yang diharapkan adalah bantuan berupa gudang penyimpanan dengan bangunan yang permanen. Kolaka.355 4.523 3.690 1.tahun 2007 hingga sekarang. keberadaan perahu bermotor sangat diharapkan oleh para petani rumput laut untuk mengganti perahu dayung yang selama ini mereka gunakan.826 2. bantuan tidak dibedakan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok.788 1. Produksi (Ton) 2007 2008 2009 2.110 2.370 1.817 22. gudang penyimpanan sederhana terbuat dari kayu yang dibangun di bawah rumah salah seorang ketua kelompok. Selama ini.374 1.429 13. Selain itu. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Rumput Laut di Kab.265 1.280 1.750 3. apalagi jika lokasi lahannya berada jauh dari tepi pantai.497 1.562 2. bantuan mesin untuk perahu bermotor sangat diperlukan oleh para petani untuk memantau kondisi rumput laut setiap dua hari sekali dan juga untuk mengangkut hasil panen. 2009 98 .039 1. bantuan tahun 2009 adalah bibit dan tali maka setiap kelompok akan mendapat bibit dan tali dalam jumlah dan kualitas yang sama. Kolaka Tahun 2007-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Total Luas areal (ha) 2007 2008 2009 89 291 294 117 396 398 90 307 310 61 201 203 54 191 193 48 156 158 61 199 201 61 163 164 581 1. Kegiatan panen ini biasanya tidak bisa dilakukan sekali jalan. Hal inipun sangat bergantung pada besar kecilnya perahu sehingga kapasitas untuk memuat rumput laut berbeda.921 Vol.585 3.379 2.

49. Peningkatan Luas areal dan Produksi Rumput Laut di Kab. bukan secara perorangan.00 1.01 0. Kolaka.61 0.93 07-09 230. yaitu pemda memfasilitasi pengerjaan pembuatan/pembenahan tambak tambak masyarakat yang terbengkalai.3 50 22.5 241. Bantuan yang selama ini diberikan untuk kelompok pembudidaya.79 257.08 Vol.7 61 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.0 Luas (%) 08-09 1.5 59 22. Ini dilakukan agar pemilik tambak mengolah tambaknya secara berkelanjutan. Program bantuan atau subsidi langsung diberikan kepada pembudidaya di Kabupaten Kolaka.5 59 22.03 0.0 30. Selanjutnya.5 59 22. 2009 Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Subsidi/bantuan kepada pembudidaya dapat dikelompokkan berdasarkan manfaat yang diterima oleh masyarakat pembudidaya.0 31. dan secara tidak langsung (masyarakat tidak langsung menerima bantuan tetapi merasakan manfaatnya).28 1. Prosedurnya. Proposal tersebut harus diketahui oleh kepala desa dan ditandatangani oleh semua anggota kelompok.51 0.05 1.5 59 22.3 80 22.2 167.Tabel 3. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Rata rata 07-08 227.0 30.5 253. proposal tersebut diverifikasi lapang oleh petugas dinas untuk melihat kebenaran dari informasi yang disampaikan dalam proposal.5 59 22.0 23. gudang penyimpanan dan mesin perahu). Bantuan langsung (penerima langsung mendapatkan/menerima bantuan).7 225.0 238.0 30.17 244. Kolaka Tahun 2007-2009 No.85 229. Pemilik tambak hanya membayar setengah dari total biaya penataan lahan tambak.44 232. setiap kelompok budidaya melalui ketua kelompoknya mengajukan permohonan bantuan dalam bentuk proposal yang di dalamnya dicantumkan jenis bantuan yang dibutuhkan.17 229.0 47. tali ris dan jangkar.0 30. Produksi (%) 07-08 08-09 07-09 22.2 226.0 30.0 226. Selanjutnya. 99 .98 1.34 240. untuk budidaya ikan Bandeng (benih.1 229.41 229.0 30.5 59 22. berupa sarana produksi seperti: untuk budidaya rumput laut (bibit rumput laut.51 168. dan bantuan berupa “bedah tambak”.

Program ini terbukti sangat disambut baik oleh para petani tambak karena tambak yang telah rusak dapat dihidupkan kembali. Program bantuan/subsidi tidak langsung dapat berupa pembangunan sarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. (b) belum pernah mendapat bantuan. Budidaya rumput laut .000.000. Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Subsidi/Bantuan langsung Dasar pertimbangan 1.000. biaya bedah tambak akan dibantu pemerintah dengan nilai 50 persennya saja. Jika untuk memperbaiki tambak memerlukan waktu 8 jam maka bantuan akan diberikan sebanyak 4 jam atau sebesar 4 jam x Rp500. namun terjadi kecenderungan penurunan produksi dan luas lahan karena 100 .Budidaya rumput laut merupakan a) Pengembangan Sapras Budidaya penyumbang pendapatan sektor Rumput laut (bibit. Bantuan dengan sistem fifty-fifty khusus diberikan untuk program bedah tambak. tali ris. Program ini mulai dilakukan tahun 2007 hingga sekarang karena pada periode tersebut banyak tambak yang terbengkalai (idle) akibat pendangkalan yang pada terjadi pada tambak. Sedangkan biaya 4 jam lagi ditanggung oleh petani tambak. Artinya. Adapun kriteria pemberian bantuan adalah: (a) prioritaskan pembudidaya yang miskin. Jenis bantuan/subsidi dan dasar pertimbangannya No A.kelompok pembudidaya yang mendapat bantuan disahkan dalam Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka. Tabel 3. jangkar) perikanan kedua terbesar setelah budidaya tambak. pemerintah berusaha mengoperasikan tambak-tambak tersebut dengan cara membantu biaya perbaikan tambak.50. Hal itu sangat membantu keberlanjutan usaha mereka. Patokan yang digunakan adalah biaya pengerjaan tambak per jam yang besarnya Rp500. (c) siap sharing dalam bantuan yang sifatnya fifty-fifty karena tanpa komitmen ini bantuan akan gagal sehingga usaha budidayanya tidak mampu berkembang.000 = Rp2. Untuk itu.

Masyarakat pembudidaya kesulitan dalam mendapatkan benih. Mowewe. namun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Bantuan langsung pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan produksi. Pembangunan Tower Hatchery Watubangga 4. 101 .Potensi konflik batas lahan budidaya rumput laut dan jalur pelayaran sehingga perlu penataan dan penertiban . kayu lantai.Perlu pemacuan dalam penyediaan benih bermutu dalam jumlah besar. Subsidi/bantuan tidak langsung 1. kayu) 3. 2.Teripang merupakan komoditas yang memiliki prospek harga yang bagus. tali. dalam jumlah maupun kualitas yang diharapkan. Wundulako Bentuk-bentuk Subsidi Perikanan Seperti yang telah dikemukakan di atas. Pemantapan BBI Loea. .No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan b) Pengadaan sarana penunjang budidaya rumput laut (kayu tiang. Sedangkan bantuan tidak langsung berupa pembangunan prasarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya.Banyak lahan tambak terbengkalai karena pemiliknya tidak cukup dana untuk penggalian dan penataan lahan tambaknya yang sudah dangkal dan tumbuh gulma. Pengembangan Pembudidaya Teripang (bibit. maupun hutan bakau di pesisir. Rehabilitasi Kantor BBI Wundulako 2. Penyempurnaan Sapras Hatchery Wolo 5. . Pembangunan Hatchery 3. waring. paku) Dasar pertimbangan . subsidi/bantuan yang diberikan . oleh pemerintah (pusat dan daerah) secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pembudidaya. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tambak B. Akibatnya mereka kehilangan sumber pendapatan dari budidaya ikan sehingga beralih menjadi perambah hutan di bukit bukit sekitar daerah hunian.

waring.250. pembelian bibit. Kolaka.500 - 75. a) b) 2. 1. Kolaka tahun 2007 – 2010 No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Vol 2007 Alokasi (000) Vol 2008 Alokasi (000) Vol 2009 Alokasi (000) Vol 2010 Alokasi (000) A.900 - - - 1 unit - 63.372 kg - 362.000 6 paket - 400.000 - - 559. lantai) Budidaya Teripang (bibit.185 49. tali) Rehab dan konstruksi tambak Bantuan/Subsidi tidak langsung Pembangunan Hatchery Tower hatchery Watubangga Penyempurnaan sapras hatchery Wolo Pemantapan BBI Loea.000 - 5 unit 240 ha 94. 3. Bentuk bentuk bantuan tidak langsung yang dilakukan (yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dan budidaya tambak) diantaranya: Rehabilitasi kantor BBI Wundulako. serta subsidi biaya penggalian dan penataan lahan tambak yang terbengkalai.000 - - 10 paket 100 ha 63. Pemantapan BBI Loea di Mowewe. 2.900 1 unit - 75.000 - - - - Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.300 7 klp 83. Mowewe. Pembangunan hatchery. diolah. Watubangga. tali ris. tali dan kayu untuk budidaya Teripang.000 2 paket 4 paket - 1. jangkar Sarana penunjang (kayu tiang. kayu dan lainnya yang fungsinya untuk budidaya Rumput laut dan pembuatan para para untuk penjemuran rumput laut hasil panen. waring. 3 paket 110. Wolo. jangkar. bentuk bentuk bantuan langsung berupa: pembelian bibit. Penyempurnaan sarana prasarana hatchery di Kec. 50 paket - 415. Jenis dan bantuk bantuan/subsidi perikanan budidaya laut di Kab. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4. 1 unit 1 unit - 167. Wundulako 102 . talli ris.000 4. 1. Bantuan/Subsidi langsung Budidaya Rumput laut Pengadaan sapras (bibit.000 8.Tabel 3. 3. Pembangunan tower hatchery di Kec.200 - - B.950 400.51.7.

Kondisi ini terjadi karena: (1) Petani tambak tidak cukup dana untuk merehabilitasi tambaknya yang sudah puluhan tahun digunakan dan telah terjadi pendangkalan. Dalam jangka panjang program ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan usaha dan kelestarian sumberdaya. Berbeda dengan ikan bandeng. produksi dan produktivitas budidaya Rumput laut.52 ton/ha (2008) dan kemudian 1. Seperti yang telah dikemukakan di 103 . (2) Petani tambak tidak cukup dana untuk memberi pakan secara intensif dan hanya mengandalkan pakan alami sehingga harus mengurangi padat tebar yang berpengaruh kepada produktivitas hasil. luas lahan tambak yang difungsikan relatif tetap bahkan cenderung akan berkurang karena pendangkalan yang terjadi terus menerus akibat penebangan hutan di bukit dan hutan mangrove di pesisir. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bantuan berupa bedah tambak perannya cukup nyata terhadap budidaya Bandeng. Dampak langsung yang sudah dapat dilihat adalah berkurangnya perambah perambah hutan dan penebang hutan bakau karena sebagian dari pemilik tambak sudah dapat mengopersionalkan kembali tambaknya. mengingat pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya tambak Bandeng. Akibatnya. Agar produk yang dihasilkan dapat diserap oleh pasar. Demikian juga volume produksi ikan hanya meningkat 8-9%.Peran Subsidi Perikanan Dalam kurun waktu 2007 sampai dengan 2009 tidak terjadi pertambahan luas areal tambak yang diusahakan untuk budidaya.45 ton/ha (2007). sedangkan produktivitas hasil yang rendah yaitu 1. budidaya rumput laut justru terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008 baik dalam hal luas lahan. Dengan demikian. Inipun baru sebatas perannya terhadap pertambahan luas lahan yang dilakukan dalam tahun 2009 (240 ha). pembinaan kelembagaan pemasaran dan kemudahan akses pasar akan lebih menjamin dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. maka bantuan untuk pakan merupakan pilihan utama setelah bedah tambak. meningkat menjadi 1. produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan. Namun demikian.56 ton/ha (2009).

Namun hal ini tidak langsung diikuti oleh peningkatan produksi yang signifikan karena ternyata produksi hanya meningkat 61%. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada budidaya Bandeng. belum berperan terhadap peningkatan produksi dan produktivitas yang merupakan muara dari program pembangunan yaitu peningkatan pendapatan usaha dan keberlanjutan usaha masyarakat yang dalam hal ini masyarakat pembudidaya Rumput laut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: penyediaan bibit unggul.bagian terdahulu. Cara lain dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan (teknis dan non teknis) seperti teknis budidaya yang baik. peran bantuan/subsidi pada komoditas Rumput laut baru sebatas penambahan areal budidaya. hal ini terjadi karena adanya serangan hama/penyakit pada bibit Rumput laut yang masih muda. karena selama ini pembudidaya melakukan perbanyakan sendiri dari bibit yang mereka gunakan yang tentunya kualitas bibitnya semakin menurun. sudah saatnya bantuan/subsidi dalam budidaya Rumput laut dirancang dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya. Agar mutu hasil produksi dapat tetap terjaga sampai siap dijual. 104 . dan manajemen usaha. media penjemuran (para para) dan gudang penyimpanan hasil sangat diperlukan. Jika dikaji lebih dalam melalui perbandingan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 dapat dilihat bahwa dalam hal luasan lahan terjadi peningkatan luas sebesar 229%. Ke depan.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.