3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kota Ambon Gambaran umum lokasi penelitian Luas Kota Ambon adalah 377 km2 (luas daratan sekitar 359,45 km2 ), dengan demikian luasnya meliputi hampir separuh dari luas pulau Ambon. Secara geografis, Kota Ambon terletak pada 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur yang berbatasan dengan:    Sebelah Utara : Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda Sebelah Timur : Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Barat

: Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, 2008 Gambar 3.1. Peta Administratif Kota Ambon Saat ini Kota Ambon dibagi dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, dan Leitimur Selatan. Jumlah desa atau kelurahan yang tersebar di kelima kecamatan tersebut sebanyak 50 desa/kelurahan. Berdasarkan luas wilayahnya, maka Kecamatan

12

Teluk Ambon merupakan kecamatan terluas, yaitu 93,68 km2. Sebaliknya, Kecamatan Teluk Ambon Baguala menjadi kecamatan dengan luas wilayah paling keci, yaitu 40,11 km2. Dengan batas wilayah yang demikian maka perairan Kota Ambon dipengaruhi oleh dinamika laut Banda. Dari 50 Desa/Kelurahan, maka 34 Desa/Kelurahan (68%) berada pada kawasan pesisir, sedangkan desa-desa lainnya terletak di daerah pegunungan dan jauh dari pantai. Desa-desa di daerah pegunungan tersebut memiliki ”hak petuanan” di kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan Laporan Statistik PPN Ambon (2009), jumlah penduduk Kota Ambon yang bermata pencaharian tergantung pada perikanan hanya sebesar 1,4 persen dengan jumlah nelayan dan rumah tangga perikanan (RTP) masingmasing sebanyak 3.796 jiwa atau 3.378 rumah tangga. Nelayan Kota Ambon dapat dikatakan sebagai nelayan sub-sisten. Jumlah nelayan terbesar terdapat di Kecamatan Nusaniwe (34,61%) yang terkonsentrasi di Desa Latuhalat (Tabel 3.1). Latuhalat menjadi sentra kegiatan penangkapan karena kondisi perairan yang menunjang produksi perikanan tangkap. Namun, beberapa desa pesisir lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi untuk budidaya perikanan, pengolahan, eko-wisata laut. Tabel 3.1. Jumlah Nelayan dan RTP Kota Ambon Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Teluk Ambon Teluk Ambon Baguala Sirimau Leitimur Selatan Nusaniwe Jumlah Jumlah Nelayan 677 819 372 614 1,314 3,796 Jumlah RTP 593 725 293 547 1,22 3,378

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon, 2008 Usaha perikanan di Ambon terdiri dari usaha perikanan komersial dan usaha perikanan rakyat. Usaha perikanan komersial ditunjukkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang berpangkalan di Kota Ambon

(fishingground penangkapan adalah di perairan Maluku dan Papua). Sementara itu, usaha perikanan rakyat pada umumnya terdiri dari kapal ikan ukuran kecil

13

sampai ukuran 30 GT.

Berkembangnya usaha perikanan didaerah tersebut

berpotensi mempengaruhi ketersediaan ikan. Saat ini di Ambon semakin banyak tertangkap ikan tuna ukuran kecil (baby tuna), ini merupakan pertanda stok ikan semakin berkurang. Di Kota Ambon terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang tesebar pada beberapa lokasi. Kapal yang berkunjung ke PPN Ambon sangat bervariasi, baik jenis alat tangkapnya maupun ukuran kapalnya. Selain kapal penangkap ikan, ada pula kapal pengangkut yang berperan sebagai kapal pengumpul ikan dari beberapa kapal penangkap ikan yang berada di tengah laut. Kapal pengangkut ikan ini juga berfungsi sebagai penyuplai bahan bakar dan perbekalan untuk biasanya memiliki trip hingga 6 bulan. Jumlah kapal pengangkut yang singgah di PPN Ambon, yaitu sebanyak 275 kapal atau 32 persen dari total kapal yang berkunjung. Ukuran kapal pengangkut antara > 10—1000 GT yang didominasi oleh ukuran 51—100 GT. Sementara itu, kapal penangkap dengan alat tangkap pukat tarik ikan, pukat tarik udang ganda, dan huhate adalah kapal yang paling banyak berkunjung di PPN Ambon masing-masing sebanyak 26 persen, 17 persen, dan 7 persen dari jumlah kapal yang berkunjung ke PPN Ambon. Jenis ikan yang dominan didaratkan selama tahun 2009 adalah ikan pelagis kecil, seperti: ikan gulamah/tigawaja, layang, layur, dan ekor kuning, sedangkan dari jenis non-ikan adalah cumi-cumi (Gambar 3.2). Ikan gulamah/tigawaja adalah ikan yang paling banyak didaratkan, mencapai 61,24 persen dari total ikan yang didaratkan. Gambar 3.2. menunjukkan ikan yang didaratkan didominasi oleh ikanikan kecil yang umumnya banyak dijumpai di pasar lokal. Ironisnya, Kota Ambon sangat kaya akan ikan-ikan pelagis besar, seperti ikan tuna, tongkol, dan cakalang serta ikan karang seperti lalosi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan berupa ikan pelagis besar tidak didaratkan di PPN, tetapi langsung dijual ke awak kapal penangkap yang

14

dermaga laut dan pelabuhan tersedia 19 buah untuk melayani angkutan penumpang dan barang. 2008) Penyaluran logistik untuk kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh PPN Ambon meliputi air bersih.2. 2009 Gambar 3. Dari hasil pengamatan. Hal inilah yang mendorong sulitnya nelayan mendapatkan kebutuhan logistiknya secara cepat dengan harga yang terjangkau. Dari hasil pengamatan. (Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. berasal dari dalam dan luar pelabuhan. Namun. Sebaliknya. Persentase Produksi menurut jenis ikan dominan Selain sebagai tempat pendaratan ikan serta berlabuhnya kapal-kapal penangkap dan pengangkut ikan . kebutuhan es seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam pelabuhan karena 15 . Kebutuhan nelayan akan air bersih dapat dapat disuplai dari dalam PPN Amon. Padahal. Penyaluran logistik air bersih.perusahaan-perusahaan sebagai komoditas ekspor. dan BBM/solar. Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon. sedangkan kebutuhan BBM/solar sepenuhnya berasal dari luar pelabuhan. es. Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah perusahaan kapal mendapat kesulitan untuk melakukan docking karena fasilitas yang tersedia hanya melayani ukuran kapal di bawah 500 GT. keterbatasan infrastruktur dalam pelabuhan membuat nelayan harus mencari sumber logistik di luar pelabuhan. misalnya. PPN Ambon kurang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya. PPN Ambon tidak memiliki stasiun pengisian bahan bakar berupa SPDN atau SPBB sebagai agen resmi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal nelayan. nelayan yang menangkap ikan tuna langsung membawa hasil tangkapannya ke perusahaan yang menawarkan harga tertinggi agar keuntungan yang nelayan peroleh besar.

700 1.7 1.016 16.3 3.186.2 2. 2009 Produksi ikan pada tahun 2009 adalah 22.3.1 1. dan layang.80 9.4 830 1.343. Tabel 3.000) 5.3 696.000 620.710.242 1.8 14.8 22. 2009 16 .312 985 1.927.50 857.2 2. Jumlah logistik kapal penangkap ikan di PPN Ambon pada tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Air (Ltr) 368 903.6 2. Tabel 3.845.30 3 1.7 1.000 659.810 147.5 29.800 300. layang.200 9.50 16.607.5 3.617.5 1.1 400.40 11.031.6 1.00 17 1.770 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.pelabuhan memiliki pabrik es yang produksinya cukup memenuhi kebutuhan nelayan Kota Ambon.898.2 26.252.5 Kebutuhan Logistik Es Balok (Ton) BBM/Solar (Ltr) 13 1. Hal ini disebabkan oleh karena ikan-ikan tersebut merupakan komoditas ekspor utama dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar luar negeri.604.016 13 2.7 ton dengan total nilai sebesar Rp72.413.369.981.292 17.210. dan tuna dengan nilai produksi terbesar berasal dari ikan cakalang.2. Jenis ikan yang paling besar sumbangannya terhadap total produksi adalah ikan tongkol.50 16.279.724.7 857.2 2.422.200 72.1 4.757 milyar.343. tongkol.550 5.4 Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon.30 16.757.526 9.453 6.9 7.941.005.5 603.741.851.7 35.320 15.927. Volume dan nilai produksi perikanan per jenis ikan tahun 2009 Jenis ikan Cakalang Kembung Lalosi Teri Layang Selar Tongkol Tuna Lainnya Jumlah Produksi Volume (Ton) Nilai (Rp.000 23. cakalang.50 1.

dan rumpon. jaring insang (9. alat tangkap lainnya. Armada penangkapan yang mengoperasikan alat tangkap pancing tangan (hand 17 . Armada penangkapan ikan di Ambon tahun 2009 Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Kota Ambon sangat bervariasi. pancing tonda. 2009 Gambar 3. perahu motor tempel (outboard engine) dan kapal motor dengan mesin dalam (inboard engine). purse seine. Kapal tanpa motor lebih banyak digunakan dibandingkan perahu motor tempel dan kapal motor. Alat tangkap huhate (pole and line) dan giob atau bobo (purse seine) adalah jenisjenis alat tangkap yang sedikit sekali penggunaannya karena sarana penangkapan ini tergolong mahal.8%). Namun. seperti bubu.4 persen nelayan Kota Ambon menggunakan alat tangkap tersebut.Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor (perahu semang).3%). dan pukat pantai. juga tergolong banyak karena ada 10. Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tangan (56%). jaring angkat. Selain itu. dan pancing tonda (7.3%). jaring insang. Prosentase kapal motor dengan mesin sebagai armada penangkapan hanya digunakan oleh satu persen nelayan Kota Ambon. jala. huhate. tangguk. antara lain hand line. jaring angkat (14. dari sisi manfaat dapat melibatkan banyak nelayan dalam operasional alat tangkap tersebut. panah.3. yaitu sebanyak 67 persen dan sisanya 32 persen didominasi oleh perahu dengan motor tempel. rawai.

jenis alat tangkapnya. baik ukuran panjang kapal dan kekuatan mesinnya. nelayan cenderung mudah berpindah daerah penangkapan (fishing ground) sehingga kegiatan penangkapan tidak terganggu dengan adanya perubahan musim angin. Hal ini terbukti dengan samanya jumlah trip hari untuk musim angin barat dan angin timur 18 . misalnya gill net. bantuan kapal yang diterima nelayan biasanya tidak dapat langsung digunakan karena harus dimodifikasi terlebih dahulu. dan bottom gill net. Karakteristik Usaha Responden Karakteristik responden menurut kepemilikian kapal. gelombang. Untuk itu.line) umumnya juga menggunakan alat tangkap lainnya. Daerah penangkapan ikan umumnya berada di dalam teluk dan pada perairan di sekitar teluk Ambon. Ukuran kapal tersebut menyebabkan nelayan tidak mampu menangkap ikan di lautan lepas karena ukuran kapal tidak mampu melawan arus. karena jika angin kencang tidak terjadi di seluruh wilayah perairan karena terhalang oleh pulau dan gunung di sekeliling teluk. dan angin yang cukup besar. tramel net.<10GT dan sisanya (30 persen) memiliki kapal berukuran < 5 GT.4. dan bahan bakar yang digunakan dapat dipelajari dari Tampilan Tabel 3. Berdasarkan kepemilikan kapal 70 persen responden memiliki kapal dengan ukuran ≥5GT . Nelayan Ambon tidak terpengaruh oleh musim. Kondisi ini memang memaksa nelayan untuk menggunakan kapal dengan ukuran panjang dan lebar kapal yang berbeda. Dengan demikian.

Tabel 3.4. Karakteristik responden dari aspek teknis
Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT
< 5 GT

Jumlah 9 21 0 0 30 9 8 13 30 25 5 30

Prosentase 30 70 0 0 100 30.00 26.67 43.33 100 83 17 100

≥5GT - <10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT - <100GT Jumlah Jenis Alat Tangkap Pancing tonda Purse seine Gillnet Jumlah Bahan Bakar yang digunakan Bensin Minyak tanah Jumlah

Sumber: Data primer diolah, 2010 Tabel 3.5 menunjukkan pendapatan dan Pengeluaran dari kegiatan penangkapan ikan. Pada nelayan pancing tonda, penerimaan diperoleh dari penjualan ikan tuna pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp1.707.111. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 593.611 yang dialokasikan untuk membeli bensin, oli, es, ransum, dan biaya di darat berupa perawatan kapal. Dengan demikian, keuntungan yang diterima nelayan pancing tonda adalah sebesar Rp1.113.500/trip. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 50% untuk pemilik kapal, 25% untuk nahkoda dan 25% lagi untuk ABK. Pada prakteknya, keuntungan tersebut dibagi dua untuk pemilik dan ABK mengingat biasanya kapal pancing tonda bekerja dengan anggota keluarganya sendiri sehingga bagian ABK adalah Rp 556.750 pada trip terakhir. Untuk kapal purse seine, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dua jenis alat tangkap lainnya. Penerimaan yang diterima pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp3.054.085 dari penjualan ikan kawalinya Rp885.000 dari nilai ikan momar Rp2.973.000 sehingga total penerimaannya adalah Rp3.858.000. Dengan biaya operasional sebesar Rp803.915 maka besarnya

19

keuntungan adalah Rp3.054.085. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 40% untuk pemilik kapal, 30% perawatan, dan perbaikan kapal, 27% untuk ABK, dan 3% untuk nahkoda. Banyaknya ABK yang bekerja di sebuah kapal purse seine membuat penerimaan riil yang diperoleh ABK justru kecil dibandingkan dengan ABK di kapal pancing tonda, yaitu ± Rp41.270 untuk seorang ABK. Tabel 3.5. Pendapatan dan Pengeluaran Kegiatan Penangkapan Ikan
Uraian Penerimaan (Rp) Tuna Selar (Kawalinya) Layang (Momar) Tongkol Kembung (Lema) Jumlah Biaya operasional (Rp) Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Ransum biaya di darat Total Biaya Operasional Keuntungan (Rp) Pancing tonda (< 5 GT) 1,707,111 885,000 2,973,000 1,200,000 288,400 1,488,400 Jenis Alat Tangkap Purse seine (≤ 5-10 GT) Gillnet (≤ 5-10 GT)

1,707,111

3,858,000

0 322,222 0 66,444 41,556 38,389 125,000 593,611 1,113,500

0 118,125 128,250 116,875 13,200 105,625 321,840 803,915 3,054,085

75,000 69,688 15,533 55,714 98,000 15,750 53,333 308,018 1,180,382

Sumber: Data primer diolah, 2010 Alat tangkap gillnet rata-rata menangkap ikan tongkol dan lema sehingga penerimaannya dari kedua jenis ikan tersebut adalah Rp1.488.400. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung rendah karena kapal gillnet tidak banyak membeli oli, minyak tanah, dan ransum sehingga total biaya operasionalnya adalah Rp308.018. Rendahnya biaya operasional ini disebabkan oleh karena nelayan gillnet memiliki trip penangkapan setiap hari sehingga biaya ransum dan biaya bensinnya rendah. Setelah dikurangi dengan biaya operasional tersebut maka besarnya keuntungan sebesar Rp1.180.382. Selanjutnya, sistem

20

bagi hasil dari keuntungan tersebut adalah 60% untuk pemilik, 6% untuk nahkoda, dan 34% untuk ABK. Seperti halnya kapal purse seine, banyaknya ABK yang bekerja membuat bagian keuntungan yang diterima oleh seorang ABK sedikit, yaitu ± Rp40.000.

Bantuan Usaha Perikanan Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatagorikan sebagai subsidi. Namun bantuan ini sifatnya tidak reguler karena diberikan pada keadaan tertentu. Bantuan ini adalah bentuk intervensi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu berjalannya usaha penangkapan ikan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat langsung berupa uang tunai atau peralatan tangkap yang langsung diserahkan kepada kelompok nelayan, misalnya subsidi BBM atau bantuan kapal dan alat tangkapnya bagi kelompok nelayan terpilih. Ada pula subsidi yang diberikan secara tidak langsung, misalnya berupa penyediaan fasilitas untuk memperlancar usaha penangkapan. Intervensi yang intensif kepada nelayan lebih banyak dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Akan tetapi, bentuk intervensinya lebih bersifat pemberdayaan nelayan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya kolektif bersama seluruh masyarakat pesisir untuk pengelolaan ekosistem, sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk menjamin kegiatan nelayan itu secara berkelanjutan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon dan Provinsi Maluku banyak menyediakan bantuan

peralatan penangkapan yang diberikan dalam bentuk paket barang dan uang dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati untuk mendukung usaha nelayan. Bantuan yang bersifat pemberdayaan masyarakat ini jumlahnya sangat kecil, namun sangat membantu dalam pengembangan usaha perikanan yang ada disekitar teluk Ambon. Bantuan tersebut umumnya menggunakan dana yang berasal dari angggaran pemerintah dan sifatnya sangat temporer.

21

3. 2008 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. 2009 Berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan di lapangan. Pemberian bantuan ke depan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memaksimalkan kegiatan dan kelembagaan masyarakat yang sedang berjalan (bukan dengan membentuk kelompok-kelompok baru).6. Bantuan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Perikanan di Kota Ambon Tahun 2002—2008 No. 4. 1. wisata bahari dengan pendekatan terpadu dan menerapkan sistem konservasi yang tersebar dalam lima kecamatan 22 . 2006 6.Tabel 3. 2003 2004 2005 5. Beberapa desa dan kelurahan yang berpotensi dikembangkan untuk usaha perikanan tangkap. budidaya laut. 2007 7. serta yang mempunyai peranan selama ini dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Tahun 2002 Jenis Bantuan Rumpon Gilnet Kios BBM Puse seine Bodi BBM&Alat Papalele ikan Rumpon Rumpon Papalele ikan Papalele ikan Gilnet Rumpon Rumpon Papalele ikan Gilnet Pengolahan Pancing tonda Bagan Kios Bubu Gilnet Pancing tonda Rumpon Papalele ikan Jumlah kelompok penerima bantuan 4 5 1 2 1 1 10 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 3 2 1 1 1 7 1 1 Sumber bantuan APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN Bentuk bantuan Uang Uang/Barang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang 2. bentukbentuk pemberdayaan kepada nelayan sangat bervariasi dalam aktivitas dan lokasi usaha.

dan PT perikanan Nusantara .7. Halong dan Latta serta kelurahan Lateri . Lateri. Hative Besar.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).Lokasi Desa-desa Rumahtiga. Hative kecil. pancing tonda. 1. Teluk Ambon 4. Waiheru.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Budidaya laut (ikan). Leitimur Selatan 23 .Pariwisata massal berupa rekreasi pantai dan secara khusus wisata selam di kawasan kapal tenggelam di Waiame. giob/bobo. dan PT perikanan Nusantara . (beberapa desa seperti Latta.Lokasi desa-desa Latuhalat. alat pancing . Rumpon. dan Nusaniwe . NegeriLama. huhate. ilmiah serta “eco-tourism” . Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Demikian juga masyarakat dari desa tertentu yang dapat dikembangkan sebagai desa pengolahan ikan dan non-ikan.Budidaya laut (ikan dan non-ikan). melalui pendekatan pengelolaan dan konservasi. Nania. alat pancing. Bentuk-bentuk intervensi pemerintah daerah dalam kegiatan penangkapan di Kota Ambon No. . melalui pendekatan pengelolaan ekosistem Daerah Aliran Sungai dan mangrove.Lokasi kelurahan Pandan Kasturi. Tabel 3.Pengembangan wisata rekreasi massal.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. Seilale. dan PT perikanan Nusantara . desa-desa Batu Merah.dalam tabel di bawah ini. . wisata selam.Penangkapan ikan : Jaring insang.Lokasi desa-desa Passo.Alat tangkap seperti jaring insang.Alat tangkap: Jaring insang.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Halong di waktu lampau terkenal sebagai nelayan pole and line yang tangguh) . . wisata khusus alam darat dan laut . huhate .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . alat pancing.Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. dengan isu utama adalah pencemaran. jaring insang. Sirimau 3.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Laha dan Tawiri . dan PT perikanan Nusantara . dengan isu utama adalah pencemaran . Kecamatan Nusaniwe Bentuk Intervensi .Alat tangkap : Jaring insang. dengan konservasi. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Bagan. Galala. Teluk Ambon Baguala 5. 2. huhate dan giob/bobo .Alat tangkap : pancing tonda.

Naku. Hukurila . Hatalae. Untuk kapal pancing tonda saja yang melakukan one day fishing rata-rata memerlukan 64 liter bensin. teripang.No. kebutuhan bahan bakar berupa bensin dalam satu trip cukup besar. Selain itu. selam antara Hukurila dan Hutumuri .Lokasi Desa-desa Hutumuri. sedangkan kapal purse seine rata-rata memerlukan bensin sebanyak 24 liter dan minyak tanah 37 liter. Lokasi pengecer juga cukup jauh sehingga nelayan harus membawa jerigen atau botol kaca sebagai wadahnya. 24 .Budidaya laut (rumput laut.500—Rp6.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Kecamatan Bentuk Intervensi . Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya SPDN atau SPBB sebagai penyalur BBM bersubsidi bagi nelayan di PPN Ambon. batu laga.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). siput lain) dengan pendekatan pengelolaan dan konservasi serta mengembangkan teknologi untuk pembenihan dan pemulihan stok. Padahal.000 per liter. . dan PT perikanan Nusantara Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Tidak tersedianya SPDN/SPBN menyebabkan nelayan yang menjadi responden mengalami kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini mereka beli dari pengecer dengan harga Rp4. lola. 2008 Peran Subsidi Perikanan Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. subsidi BBM kepada nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran < 5—10 GT dengan alat tangkap pancing tonda dan purse seine dapat dikatakan tidak ada. Kilang. faktor penyebab lainnya karena armada penangkapan yang digunakan nelayan responden adalah kapal dengan motor tempel yang berbahan bakar bensin. Leahari. sedangkan subsidi BBM hanya diberikan untuk armada penangkapan yang berbahan bakar solar.Pengembangan pariwisata massal untuk rekreasi dan secara khusus wisata ilmiah.

707.Bensin .500 Berbeda dengan kedua armada penangkapan dengan dua alat tangkap di atas.Tabel 3. Penurunan pendapatan tersebut bagi nelayan bagi responden menunjukkan bahwa usaha perikanan tersebut memiliki prospek keberlanjutan yang baik walaupun BBM yang digunakan tanpa di Subsidi.8.000 per liter sehingga biaya operasional per trip adalah Rp308.611 Rp1. bensin.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM* Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM** Rata-rata nilai hasil tangkapan Jenis alat tangkap Pancing tonda Purse seine < 5 GT ≥ 5-10 GT 1 hari 1 hari 64 liter Rp593.915 Rp3. Dengan asumsi harga solar non-subsidi adalah Rp7.488. dan minyak tanah yang masing-masing sebanyak 12. Analisis biaya dan pendapatan menurut jenis alat tangkap Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip Rata-rata volume (per trip) . yaitu sebesar 24 persen.5 liter. pada wilayah Ambon ikan yang terdapat di wilayah perairan Ambon masih dapat 25 . Selain itu. Bertambah besarnya biaya operasional tersebut berdampak pada penurunan keuntungan per trip yang diperoleh nelayan yang bisa mencapai 8 persen.400 Sumber: Data primer diolah.500 maka solar yang digunakan responden dengan kapal gillnet termasuk ke dalam solar bersubsidi dengan harga Rp6.000 Gillnet ≥ 5-10 GT 1 hari 12. dan 5 liter.111 24 liter 37 liter Rp803. kapal dengan alat tangkap gillnet menggunakan solar.018 Rp401.858.768 Rp1.768 yang artinya nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan dengan penggunaan BBM bersubsidi meskipun porsi biaya solar terhadap biaya operasional tanpa subsidi BBM atau dengan subsidi BBM hampir sama. 2010 * Harga BBM di eceran ** Harga BBM tanpa subsidi = Rp7. Apabila dibandingkan dengan harga BBM tanpa subsidi maka besarnya biaya operasional per trip adalah Rp401.Solar .018.5 liter 20 liter 5 liter Rp308. 20 liter.

yaitu PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry. baik di tahun 2009 (65%) maupun pada tahun 2010 (60%) dari total subsidi BBM yang disalurkan PPN Ambon. sejak Maret 2009 hingga sekarang subsidi BBM hanya disalurkan ke tiga perusahaan. dan PT Samudra Sakti Sepakat. Penyaluran BBM bersubsidi ini dikelola oleh PPN Ambon yang berwenang mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak Pertamina berdasarkan surat permohonan dari perusahaan.mendukung berbagai armada penangkapan yang terdapat pada kawasan tersebut. Sementara itu. 26 . Berdasarkan data dalam Tabel 13. Namun demikian. pengisian solar akan dilakukan di dermaga tempat kapal berlabuh dengan menggunakan mobil tanki dari Pertamina sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya sewa mobil tanki di samping membayar harga BBM yang dibeli. PT Samudra Sakti Sepakat baru menerima subsidi BBM sejak bulan Mei 2009 hingga sekarang dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dua perusahaan lainnya. surat rekomendasi ini dipelajari oleh Pertamina sehingga pemberian BBM bersubsidi tidak selalu sebanyak yang diminta dan direkomendasikan. Namun. PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry memperoleh BBM bersubsidi paling banyak. Selanjutnya. subsidi BBM justru disalurkan untuk armada penangkapan dari 7—10 perusahaan besar di Ambon sejak tahun 2007 hingga sekarang. PT Cilacap Samudera Fishing Industry. Setelah Pertamina menyetujui permohonan tersebut.

2.975 Sumber: PPN Ambon diolah.Tabel 3. Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry PT.9. Luas wilayah Kota Bitung 31. Rekapitulasi BBM bersubsidi yang dikeluarkan PPN Ambon tahun 2009—2010 Jumlah BBM bersubsidi (KL) Bulan PT. Samudera Sakti Sepakat Jumlah Tahun 2009 Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah 150 95 100 125 125 170 765 25 25 75 50 70 70 315 20 25 50 45 25 30 195 195 145 225 220 220 270 1.275 180 175 200 150 205 255 205 130 175 255 1. yang batas-batas wilayahnya sebagai berikut:  Sebelah Utara dengan Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Timur dengan Laut Maluku  Sebelah Selatan dengan Laut Maluku 27 .350.1°35'39" LU dan 125°1'43" 125°18'13" BT.930 100 75 50 125 125 80 75 25 50 75 780 20 25 40 20 20 70 25 45 265 280 250 270 300 370 355 300 225 250 375 2. 2010 3. Kota Bitung Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Bitung terletak pada 1°23'23" .35 Ha. Cilacap Samudera Fishing Industry PT.

10 .55 2.65 6. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat. 1. 28 .00 516.06% berombak berbukit dan 32.35 % 50. 8. merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0 – 15 derajat.18% merupakan dataran landai serta sisanya 18.26 10.350.83 1.00 2. Kecamatan Ranowulu Matuari Girian Mandidir Maesa Aertembaga Lembeh Selatan Lembeh Utara Jumlah Kelurahan 11 8 7 8 8 10 7 10 69 Luas Daerah (ha) 15.56 8.09 10. perdagangan dan jasa serta pemukiman. sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan. 6.083. 5. Tabel 3.10.00 31.553.73% bergunung. Dibandingkan hasil Sensus Penduduk terakhir yakni tahun 2000 yang berjumlah 140. keadaan tanahnya sebagian besar daratan Bitung atau 45. dengan rincian seperti pada tampilan Tabel 3.80 3.03% berombak. industri. Sebelah Barat dengan Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Secara administratif wilayah Bitung dibagi dalam 8 kecamatan dan 69 kelurahan.266 jiwa.14 8. 7.70 3.82 100 Sumber : Kantor Statistik Bitung (2010) Dilihat dari aspek topografis. Jumlah penduduk Kota Bitung pada tahun 2008 diestimasikan sebesar 178.00 969.309. 4. Kecamatan. Desa serta Luas Wilayah Kota Bitung No.396. Hanya 4.64 3.766. 2.30 2.270 jiwa berarti setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 3%.756. 3.

98 km2 dan produksi 125. Peningkatan jumlah perahu motor temple rata-rata sebesar 32. Karakteristik Usaha Perikanan Kota Bitung Bitung memiliki sumber daya perikanan yang cukup potensial. kapal motor juga mengalami peningkatan dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah perahu tanpa motor. Selain perahu motor temple.81% per tahun. Kapal penangkap ikan dengan kategori 11-30 GT atau kapal yang memperoleh izin pada tingkat propinsi berjumlah sebanyak 9% dari 29 . Penurunan ini terlihat karena adanya penurunan jumlah perahu tanpa motor dalam jumlah yang signifikan. Penurunan jumlah perahu tanpa motor sejalan dengan meningkatnya jumlah perahu motor temple. potensi penangkapan di Sulawesi Utara pada perairan 12 mil seluas 314.39% per tahun. Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya. Penurunan jumlah perahu tanpa motor ini disebabkan karena sebagian nelayan telah memiliki perahu dengan motor temple.9 ton per tahun.5035 km persegi. Pengurusan administrasi seperti surat izin usaha perikanan.9 ton per tahun.Dilihat dari sebaran penduduk per kecamatan sebagian besar penduduk Bitung terkonsentrasi di Kecamatan Maesa. maka kepadatan penduduk pada tahun 2008 mencapai sekitar 569 jiwa per kilometer persegi. Pada perairan zona ekonomi eksklusif seluas 190 km2 dan produksi 196. Kapal motor dengan kategori 6-10 GT yang terdapat di Bitung sebanyak 10%. Ditinjau dari kategori kapal. Armada penangkapan ikan dilihat dari jumlah kapal selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan 4. perahu tanpa motor yang digunakan untuk menangkap ikan sebesar 40% dan kapal motor < 5 GT sebesar 5% dari total jumlah kapal yang ada. surat izin penangkapan ikan untuk kapal kurang dari 10 GT dilakukan di tingkat Kota Bitung. sehingga total jumlah amada penangkapan menunjukkan penurunan.81% per tahun dan peningkatan kapal motor dengan rata-rata 20. Jika dihubungkan dengan luas wilayah Kota Bitung yang 313.

029 700 690 525 PERAHU MOTOR TEMPEL (3) 597 630 727 121 622 642 520 510 510 313 KAPAL MOTOR (4) 155 126 104 274 275 291 409 411 413 448 JUMLAH (5) 2.456 1.613 1.470 1. alat tangkap yang banyak dijumpai di Kota Bitung adalah alat tangkap purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil dan alat tangkap pole and line untuk menangkap ikan cakalang.523 1.367 2.286 Sumber: dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. 2000-2009 PERAHU TANPA TAHUN (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MOTOR (2) 1.472 1.227 2.477 1.229 2. Kapal kurang dari 5 GT dengan alat tangkap hand line mampu melakukan penangkapan di ZEEI dengan ikan hasil tangkapan tuna berukuran lebih dari 35 kg per ekor.11.303 1. Kapal dengan kategori lebih dari 30 GT terdapat di Kota Bitung sebanyak 35%. 2010 Alat tangkap yang dominan di Bitung adalah hand line yaitu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna. Perkembangan jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Bitung. Tabel 3.472 1.471 1.621 1.total jumlah kapal yang terdapat di Kota Bitung. 30 . Selain alat tangkap hand line.867 2.958 1.

050 525 1.10 GT Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 11 .050 50 250 5 100 1 1 2 4 1 8 32 67 387 63 441 50 1. Jumlah kapal dan jumlah nelayan menurut jenis alat tangkap di Bitung.30 GT Pole and line Tuna long line Light Boat Pengangkut/Penampung JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 525 1. tahun 2009 KATEGORI KAPAL Tanpa Motor ALAT TANGKAP Hand Line Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Bagan Apung Set Net < 5 GT Sero Tanam Pole and line Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 6 .12.250 16 64 3 18 132 1.Tabel 3.773 33 660 19 475 5 125 9 135 24 120 24 31 .

sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap yang pada ukuran lebih dari 10 GT memerlukan ABK sebanyak 20 orang.505 13. kapal pengangkut yang terdapat di Kota Bitung berjumlah sekitar 2% dari total kapal.755 18 360 65 1.625 47 1. 32 .460 Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Pole and line Tuna long line > 30 GT Bottom long line Pukat Ikan Gill Net Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Total 448 1. rata-rata jumlah nelayan yang terlibat sebanyak 25 orang per kapal per trip.470 16 320 16 400 23 690 1 5 164 2.6 ha dan reklamasi 1 ha. Bitung ditunjang oleh sebuah Pelabuhan Perikanan Samudera dengan luas 4. Pada alat tangkap purse seine dan pole and line.470 Jumlah nelayan yang terlibat di dalam sebuah kapal penangkap ikan tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan.175 98 1. Sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap hand line memerlukan ABK lebih banyak untuk ukuran kapal yang lebih besar.KATEGORI KAPAL ALAT TANGKAP JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 240 114 1. Dalam pemanfaatan sumber daya perikanan.286 8. Kapal dengan alat tangkap hand line yang berukuran kurang dari 10 GT hanya memerlukan ABK sebanyak 7 orang. Selain kapal penangkap ikan.

Jumlah kunjungan kapal di PPS Bitung.dermaga 1 sepanjang 1.215 6.00 m LWS dan dermaga 2 sepanjang 1.891 567 305 19 59 266 145 67 15. Jumlah kapal yang berkunjung ke PPS bitung mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2005. Jalan utama PPS Bitung 1. baik dilihat dari jumlah kapal dan juga ukuran kapal. es dan air bersih. Kunjungan kapal di PPS bertujuan untuk melakukan pembongkaran ikan dan juga untuk memuat perbekalan seperti BBM.202 11.267 539 499 1. Meningkatnya jumlah kunjungan kapal diatas 50 GT menunjukkan semakin banyaknya jumlah kapal yang beraktivitas di PPS Bitung.648 m2.352 127 215 1.952 10.581 230 226 366 24.764 m bobot kapal 30-600 ton dengan kedalaman -5.30 GT KAPAL 30 .50 GT MOTOR 50 . Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas kapal.432 3.702 8.357 150 354 1.720 9.502 10.200 GT > 200 GT 86 29 3 1.100 GT 100 .101 719 718 216 21.130 9. Pada tahun 2005 jumlah kapal yang paling sering berkunjung adalah kapal tanpa motor.20 GT 20 .13. Kunjungan kapal diatas 50 GT juga mengalami peningkatan.877 954 777 1. 2005-2009 Sumber : Profil PPS Bitung.465 677 417 206 20. sedangkan pada tahun 2009 jumlah kapal yang sering berkunjung adalah kapal motor tempel.610 m untuk bobot kapal 5-30 ton dengan kedalaman -1.5 m LWS. 2010 33 . dari kapal tanpa motor menjadi kapal motor tempel.637 12.300 2.660 2006 2007 2008 2009 3.494 24 2 1.254 22. Tabel KATEGORI DAN 2005 UKURAN KAPAL Jumlah (unit) PTM Motor Tempel < 10 GT 10 .

hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pemuatan es ke kapal-kapal ikan yang akan melakukan penangkapan. Cold Storage Penjualan Suku Cadang. A SPDN (BBM Solar) Pabrik Pengolahan Ikan Pabrik Prosesing Fillet Ikan Tuna Kantor Administrasi dan Operasional Penyalur minyak tanah. Kelana Djaya Abadi CV. Caria Ch.92 72. Getra Mitra Usaha PT. dan Unit Pengolahan Ikan UKM Kantor Administrasi 34 .000 168. Waserda Pabrik Es.32 81 40 565.60 Usaha Solar (SPBB) dan Air Pengolahan dan Cold Storage Prosesing ikan segar dan Cold Storage Pabrik es.50 1.000 616 600 4. Wailan Pratama PT.14.46 651.000 1. Golden Bridge International PT. Mikaindo Abdai Cemerlang PT. Nama perusahaan yang terdapat di PPS Bitung. 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Perusahaan PT. Bitung Bahari Sejahtera KSU. Lautan Bahari Sejahtera PT.20 49.000 500 1. Mikaindo Abadi Cemerlang Daeng Umar Genda Dra. Komegoro PT. Penyaluran air bersih untuk kebutuhan kapal penangkapan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki dalam kawasan PPS Bitung. Pathemang Raya PT.000 2. Beberapa pabrik es juga dibangun di areal PPS Bitung. Etmiko Sarana Laut PT. Prosesing Plant Prosesing Ikan dan Cold Storage SPBN Tipe. Bitung Bahari Sejahtera Luas Lahan (M²) 927 1. kapal ikan yang akan melakukan pengisian solar harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi pengisian solar kepada petugas pelabuhan perikanan. Tabel 3. Penyaluran solar untuk kapal-kapal ikan telah dibangun SPDN dan SPBB. Prosesing Ikan Segar. Sukses Abadi 27 Kios Pesisir PT. Oli Depot Air Isi Ulang Jasa Wartel Kantor Sekterariat Kantor Adm.000 1.Fasilitas penyediaan perbekalan yang sangat dibutuhkan oleh kapal ikan dalam melakukan penangkapan sebagian besar terdapat di dalam kawasan PPS Bitung. Sari Tuna Makmur PT. Pangow Jasa Wartel “Aldin” HIPPBI UD.000 1.556.

505 725.230 751. Masingmasing kapal ikan dapat melakukan pengisian solar maksimum setiap bulan 25.15.800 907.638 8.000 Solar (KL) 858.Kapal ikan yang dapat melakukan pengisian solar adalah kapal ikan Indonesia dan tidak menggunaka ABK asing. Alat tangkap yang memberikan kontribusi hasil tangkapan paling banyak adalah alat tangkap purse seine atau pukat cincin. Teluk Tomini dan Laut Arafura.020 11.000 620.000 97.850 23.000 253.590 957.000 530. Kebutuhan terhadap perbekalan setiap bulan selama tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3.925 4.240 886.660 771.955 13. Bagi kapal ikan berbendera Indonesia tetapi merupakan kapal ikan eks asing dan menggunakan ABK asing tidak diperbolehkan untuk mendapatkan solar dengan harga subsidi.520 10.000 36.190 23.090 696.000 liter.374 Sumber : PPS Bitung 2010 Lokasi penangkapan atau fishing ground kapal-kapal penangkap ikan yang berasal atau mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung yaitu di Laut Sulawesi.730 838.188 15.899 4.715 6.15.955 110.911 7.110 827.000 174. Kebutuhan perbekalan di Bitung. Tabel 3.245 3.165 4.758 15.452.740 995. tahun 2009 Kebutuhan Perbekalan BULAN Air bersih (m3) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 19.205 823.465 1. Ikan hasil tangkapan alat tangkap purse seine adalah ikan pelagis 35 .000 3.270 24. Alat tangkap ini berjumlah banyak dan juga hasil tangkapan setiap kapalnya dalam jumlah besar.655 Es (Ton) 13.312.000 900.024.

Harga ikan pelagis kecil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ikan pelagis besar. Potensi sumber daya ikan cakalang di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini cukup besar. Selain purse seine. Nelayan dengan skala kecil juga dapat memanfaatkan ikan tuna menggunakan alat tangkap hand line. Potensi ikan tuna di Laut Sulawesi masih sangat besar. alat tangkap yang memberikan kontribusi jumlah tangkapan besar yaitu kapal dengan alat tangkap huhate atau pole and line. sehingga masih dapat dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dalam jumlah yang banyak.kecil yaitu layang dan kembung. sehingga mengundang nelayan-nelayan dari Negara tetangga untuk melakukan penangkapan di perairan Indonesia. Nelayan tersebut sudah harus memiliki keahlian khusus sehingga dapat menangkapan ikan tuna berukuran diatas 30 kg per ekor dengan menggunakan perahu di bawah 5 GT. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Bitung untuk melakukan penangkapan ikan tuna adalah hand line dan long line. Kapal dengan alat tangkap hand line Kapal dengan alat tangkap purse seine 36 . Potensi lainnya masih belum dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dengan maksimum adalah jenis ikan tuna. Hasil tangkapan utama alat tangkap huhate adalah cakalang.

Kapal dengan alat tangkap purse seine Kapal dengan alat tangkap pole and line Gambar 3.998.50 12.90 L.70 45.90 100.425.10 13.70 8.00 128.566.189.90 99.80 4.90 18.90 15.60 37 .468.80 5.00 6.532.20 209.576.90 280.16.299.998.90 17. tahun 2009 Alat Tangkap Payang Pukat tarik udang tunggal Dogol Pukat pantai Pukat Cincin Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Bagan perahu/ rakit Rawai tuna Huhate Pancing tonda Pancing ulur Pancing cumi Jumlah T.40 45.70 4.099.637.778.40 1.674. huhate dan pancing tonda.70 L. Tabel 3. Arafura 109.20 199.20 Total 1.60 355.789.70 17.60 99.90 1.998.886. Kapal penangkap ikan Bitung yang melakukan penangkapan ikan di Laut Arafura seperti purse seine.333.00 8.4.866.Sulawesi 927.401.125.40 3.566. Aktivitas Perikanan pada PPS Bitung 2010 Laut Arafura juga merupakan salah satu fishing ground armada perikanan Bitung.90 5.00 1. Produksi ikan di Bitung berdasarkan jenis alat tangkap dan fishing ground.90 13.823.462.30 46.80 4.904. Tomini 600.00 80.60 99. disamping beberapa jenis ikan lainnya seperti cakalang dan ikan-ikan pelagis kecil.890.60 14.00 4.80 2.80 127.00 180. Potensi terbesar yang terdapat di Laut Arafura adalah udang.80 299.90 3.300.70 127.

00 L. Jumlah produksi ikan layang mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 yaitu 10.Alat Tangkap Sero Bubu Alat tangkap kepiting Jumlah Jumlah T. peningkatan produksi ikan tuna periode 2007-2009 adalah 6.80 4. Jika dirata-rata.70 42. 38 . tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 21. Arafura 41.50 145.40 L. dan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 9.701.94%.Sulawesi 90.48% dari tahun 2007 ke tahun 2008.36% per tahun.90 0.21% per tahun.073. Kegiatan Pembongkaran dan Distribusi Ikan di PPS Bitung Jumlah produksi ikan cakalang dan ikan tuna di Bitung selalu menunjukkan peningkatan.80 Total 145.053.90 3.70 12.5.20 Sumber: Dinas kelautan dan Perikanan Kota Bitung.278.80 61.65%. Produksi ikan tuna mengalami peningkatan sebesar 2. Peningkatan jumlah produksi ikan cakalang sebesar 6.20%. 2010 Ikan cakalang hasil tangkapan Ikan layang hasil tangkapan Gambar 3.60 68. Tomini 54.90 55.

harga ikan cakalang menunjukkan penurunan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. pada saat ikan masuk ke perusahaan pengolahan.820.053.452.90 53.40 58.20 6. Ikan tuna dengan harga 30 ribu adalah ikan tuna dengan grade A.362. Harga ikan layang lebih tinggi pada bulan April disebabkan karena 39 .90 22.36 6.60 28. Selama tahun 2009.656. Harga ikan layang ditentukan oleh perusahaan pengolahan ikan yang terdapat di sekitar Bitung.60 2.377. Penentuan kualitas ikan tuna dilakukan dengan cara mencek kualitas daging ikan tuna.188 per kg. Rata-rata harga ikan cakalang selama tahun 2009 adalah Rp 11.10 2.Tabel 3.10 135. Harga pada bulan Januari menunjukkan posisi yang paling tinggi pada tahun 2009 yaitu 17 ribu.10 2008 57. Harga ikan layang pada tahun 2009 menunjukkan harga yang stabil atau tidak mengalami banyak perubahan. Bitung 2010.327. baik peningkatan maupun penurunan.245.899.30 142. Harga ikan tuna menunjukkan peningkatan mulai dari harga 16 ribu pada bulan Januari sampai harga 30 ribu pada bulan Juni.003.39) % peningkatan Sumber: PPS. Produksi Ikan Hasil Tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung Tahun 2007 – 2009 Produksi (ton) Jenis ikan 2007 Cakalang Tuna Layang ikan lainnya Jumlah 54. Sebenarnya harga ikan tuna setiap bulannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. sedangkan pada bulan-bulan berikutnya menunjukkan angka yang stabil yaitu pada level 11 ribu dan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember menunjukkan angka yang semakin menurun.50 2. Harga ikan tuna yang didaratkan oleh nelayan sangat tergantung pada kualitas ikan.21 (5.338.572.747.70 52.272. sedangkan ikan tuna dengan harga dibawah 20 ribu adalah ikan tuna yang tidak dapat dipasarkan ke pasar ekspor.80 26.40 2009 61.275.17.80 145.72) (7.

000 30. Penanganan hasil perikanan meliputi penanganan terhadap bahan mentah (ikan).523 Layang 9. bahan pembantu.000 8.000 9. bahan tambahan. peralatan yang digunakan.000 11. sehingga untuk memenuhi produksi perusahaan pengolahan. Pengolahan tradisional dilakukan melalui adanya industry rumah tangga pengolahan ikan asap/ fufu.512 11.000 11.000 30. Usaha tersebut dilakukan baik dengan system pengolahan tradisional maupun modern.000 10. Harga beberapa Jenis ikan di PPS Bitung (Rp/Kg).000 9.000 12. Penanganan hasil perikanan berperan penting dalam memanfaatkan produksi perikanan. Saat ini telah ada tiga kelompok pengolah ikan asap yang beranggotakan 10 – 30 pengolah belum termasuk pengolah perseorangan. penanganan saat didaratkan.000 14.000 15.119 11.000 11.000 31.000 12.000 11.275 24.000 9. yang perlakuannya dimulai sejak ikan ditangkap.999 12.997 28.000 9.000 16.188 Tuna 16.919 12.000 16. penanganan di atas kapal.18.350 8.000 11.000 8.000 10. 40 .pada bulan tersebut produksi ikan layang sedikit berkurang dibandingkan bulanbulan lainnya.288 8.000 30. pengecer sampai ke pabrik pengolahan.000 11. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Cakalang 17.000 30. ikan dibeli dengan harga yang lebih tinggi.336 Sumber: PPS Bitung 2010.000 22.000 11.000 9.519 11. Tabel 3.000 10.870 9. Usaha pengolahan hasil perikanan di Bitung sudah sejak lama dilakukan dan telah berkembang dengan baik sehingga menjadikan Bitung sebagai pusat pengolahan ikan terbesar di Sulawesi Utara.000 12.883 9.267 Selar 13.000 12. teknologi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh pengolah dan pabrik (UPI). penanganan di pasarpasar.000 29.000 11.000 13.000 10.000 15.039 11.

Surabaya. Tabel 3. Deho Canning Co.0 35. frozen.Usaha pengolahan modern di Bitung sampai saat ini berjumlah 45 perusahaan yang terdiri dari : . Lokal Arab Saudi. Sedangkan yang terpakai hanya 35% dari kapasitas tersebut. Disamping itu juga terdapat pembekuan ikan tuna dan pembuatan loin tuna. 1979 1991 Kaleng Kaleng Kaleng.Pabrik pembekuan ikan .UE AS. Delta Pacifik Indotuna 2007 Kaleng. Kedua jenis olahan tersebut berorientasi pasar ekspor. Kapasitas Perusahaan Perikanan di Bitung. Selain itu juga disebabkan oleh adanya jenis-jenis ikan yang langsung dapat diekspor tanpa harus terlebih dahulu dilakukan pengolahan.Pengolahan ikan tuna. Total kapasitas pengolahan ikan di Bitung adalah 894 ton. Bitung harus dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung dan mengolah hasil tangkapan tersebut pada perusahaan pengolahan ikan yang tersedia. Jenis Produk. UEA PT. cakalang dan layang segar untuk ekspor Perusahaan pengolahan perikanan di Bitung didominasi oleh perusahaan pengalengan ikan dan ikan kayu.UE Jepang. Besarnya kapasitas pengolahan yang tidak terpakai disebabkan karena rendahnya jumlah ikan yang didaratkan di Bitung. Nama Perusahaan.0 AS. Sinar Pure Foods Int'l PT. tahun 2010 Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 1 2 3 4 PT. frozen 41 .Pabrik pengalengan ikan . Pengolahan ikan dengan cara pembekuan untuk ikan hasil tangkapan kapal purse seine berorientasi pasar lokal.0 30. seperti Bitung. Untuk memenuhi kapasitas pengolahan tersebut.0 60.19. Samudera Sentosa PT. 100 100 100 50 Rata 2 80 35 30 30 Pemasaran % 80.Pabrik ikan kayu . dan Jakarta.

Frozen:U tuh Fresh. Lautan Bahari Sejahtera PT. Perikanan Nusantara 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 21 PT. Nutrindo Freshfood Int'l PT.0 20. Anugerah Timur Makmur PT.0 40. Melody Asri 1992 2000 Jepang. Ikan Kayu Fresh:Utuh.7 Sngpr. Sari Tuna Makmur 1999 AS. Shing Sheng Fa Ocean 2001 Frozen 22 23 24 25 26 PT. Japindo Tencep Raya PT.Sby 2007 27 2007 Frozen 18 5 27.0 Lokal/Jkt.0 30. Lokal 2002 Frozen Frozen Export. Taiwn Eksport.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 5 Fresh.0 66.0 20. Celebes Minapratama PT.3 PT.0 20. Fresh:Loin 10 10 3 2 30.Frozen : Fresh.Fro zen Fresh/Frozen Ikan Kayu Ikan Kayu.0 20. Indo Hong Hai PT.Krea. Bintang Mandiri Bersaudara 2007 2006 1989 Jepang Lokal/Btg Jepang PT.8 Lokal/Jkt.UE.Frozen. Frozen Frozen Frozen. frozen Ikan Kayu 9 20 25 20 20 20 100 20 10 20 10 30 5 6 15 18 50 3 4 4 2 20 5 50.Saku Fresh. 6 7 8 2004 2006 15 3 5 1 33.0 75. Manadomina Citrataruna PT.0 15 3 20. Jepang Belanda PT.0 0.Sby 42 . Primadaya Bitung PT. Bitung Mina Utama PT. Tridara Putra Mandiri PT. Yuh Yow Indo PT. Etmico Sarana Laut PT. Sari Cakalang PT.Lokal 30 Rata 2 10 Pemasaran % 33. Mina Samudra Kencana 2005 2006 2006 2005 Frozen Frozen: Utuh Fresh. Taiwn Sngpr. Alam Baru Rekor PT. Citra Buana Sulut PT.Jepang.7 AS.3 16. Lokal Jepang 1994 2000 2004 Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen Frozen Jepang Jepang Lokal Export.0 50. Sari Malalugis PT. Lokal PT.0 15.Frozen :Loin.0 90.Krea.

Sby JUMLAH Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.2 Lokal/Jkt. Fresh:Loin Frozen. Kina Sasi Biru UD. Girian dan Madidir.0 25.0 25. Lembeh.3 25. wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Singa Raja UD. maka 80% dari total responden merupakan angkatan kerja dengan umur 43 . Citra Anugrah Fishtama PT.Sby Lokal/Jkt. Berkat Baru UD.0 20. Ocean Tuna PT. Berdasarkan data primer.3 20. International Alliance Food 2007 2007 Frozen Kaleng Lokal/ Jkt.0 16.Sby Lokal Lokal/Btg Lokal/Jkt. Responden yang dilakukan wawancara sebanyak 35 orang. Permata Laut Jaya 2007 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 CV.0 40.0 20. Jasuma UD. Nick's UD. Sinco Ocean Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen.Sby Lokal/Btg Lokal/ Jkt. 2010 Karakteristik Usaha Perikanan Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Aertembaga. Mitra Sakana CV. Bahari Mitra Lestari UD. Sby 5 2 40.7 35.0 13.0 33. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung.Sby Lokal/Jkt.Sby Lokal/Jkt.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 28 29 30 PT. Sby Lokal/Jkt. Esria UD.0 Rata 2 Pemasaran % CV. Bitung Timur. Nelayan CV.0 40. Sukses Abadi UD. Lautan Berkah CV. Fresh:Loin Frozen 2006 2008 2005 2005 2006 Frozen Frozen Frozen Frozen Fresh Frozen Frozen Fresh 2006 Frozen 3 5 6 10 15 4 5 5 4 12 5 60 894 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 10 366 50.

kapal dengan ukuran 5 GT sampai dengan kurang 10 GT sebanyak 34%.produktif yaitu antara 20 sampai 50 tahun. Pengalaman responden dalam usaha perikanan sebanyak 46% berpengalaman kurang dari 5 tahun. Status responden dalam kegiatan penangkapan ikan 85% anak buah kapal. 51% responden memiliki anggota keluarga 3 sampai 4 orang. Hal ini disebabkan karena sebagian besar nelayan berumur kurang dari 50 tahun dan sebelum terjun ke usaha perikanan. sisanya terdiri dari pemilik dan nahkoda. Responden yang belum memiliki anak sebanyak 34% dan sisanya responden yang telah memiliki anak lebih dari 2 orang. anggota DPRD. PNS dan wiraswasta murni. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada umumnya hanya 1 orang yaitu responden itu sendiri sebanyak 83% dari total jumlah responden. dimana nelayan sebagian besar hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar. sehingga dapat dikatakan. Berdasarkan jenjang pendidikan. Dilihat dari jumlah keluarga. Pemilik kapal penangkap ikan di Kota Bitung mempunyai latar belakang yang beragam. responden yang i berpendidikan tamat SMA sebanyak 60% dan tamat SMP sebanyak 31% dan sisanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Pengelompokkan responden berdasarkan ukuran kapal yaitu kapal dengan ukuran kurang dari 5 GT sebanyak 2 responden. Sedangkan responden yang sudah sangat berpengalaman atau lebih dari 15 tahun hanya sebanyak 17% dari total jumlah responden. responden memiliki anak 1-2 orang. seperti Walikota. kapal dengan ukuran diatas 10 GT sampai kurang dari 30 GT sebanyak 31% dan kapal dengan ukuran lebih dari 44 . responden telah menamatkan tingkat pendidikan samapi Sekolah Menegah Atas. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Kota Bitung sudah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. sehingga sulit untuk dijadikan sebagai responden. 37% telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan kurang dari 15 tahun. dan 20% lainnya berumur lebih dari 50 tahun.

Sedangkan untuk jenis alat tangkap hand line harus dibedakan untuk hand line dengan skala kecil dan hand line dengan skala sedang.71 34.30 GT sebanyak 29%. maka alat tangkap dapat dikelompokkkan dalam alat tangkap purse seine. tahun 2010 Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT < 5 GT Jumlah Prosentase 2 12 11 10 35 5. Ditinjau dari jenis alat tangkap. Selain ikan layang.600 per trip.700 per kg.57 100. Ikan dominan hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap purse seine adalah ikan layang dan sebagian ikan kembung.43 28.20.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .312. Sebagian besar kapal yang digunakan responden mempunyai bahan bakar solar atau bermesin diesel. Karakteristik Penguasaan Kapal Penangkap Ikan. Rata-rata jumlah ikan layang yang diperoleh oleh kapal purse seine adalah 560 kg per trip dengan harga rata-rata Rp 7.29 31.400 per kg.451. responden dengan alat tangkap pole and line sebanyak 10 orang. Total penerimaan responden dengan menggunakan alat tangkap purse seine adalah Rp 5. Tabel 3. sehingga penerimaan nelayan dari penjualan ikan layang adalah Rp 4. responden dengan alat tangkap purse seine sebanyak 10 orang dan sisanya responden dengan menggunakan alat tangkap hand line untuk menangkap ikan tuna. pole and line dan hand line.000 per trip.<100GT Jumlah 45 . tetapi sebagian responden juga menggunakan bahan bakar bensin dan minyak untuk kapal dengan motor tempel. Melihat keberagaman usaha penangkapan ikan di Bitung.00 ≥5GT . setiap kapal purse seine juga memperoleh ikan kembung sejumlah 154 kg dan harga Rp 7.

Minyak tanah diperoleh oleh nelayan dari pengecer yang 46 . pembeli tersebut sebagian besar sudah menjadi langganan pemilik kapal untuk menjual hasil tangkapannya.14 100.000 per liter.00 25 6 35 Sumber: data primer (2010) Pembeli ikan layang pada umumnya adalah pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke perusahaan pengolahan. Bahan bakar utama yang digunakan kapal dengan mesin tempel ini adalah minyak tanah dan dicampur dengan bensin.Karakteristik Jenis Alat Tangkap Pole and Line Purse seine Tuna Hand Line Jumlah Bahan Bakar yg digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah 4 Jumlah Prosentase 10 10 15 35 28. oli dan es serta biaya untuk pengurusan izin berlayar dan biaya tambat. baru dibayarkan kepada nelayan setelah ikan tersebut dijual ke perusahaan pengolahan. juga langsung dibeli oleh pedagang besar dari perusahaan pengolahan tanpa melalui pedagang pengumpul. Biaya operasional kapal dengan alat tangkap purse seine ini terdiri dari biaya bahan bakar. Ikan layang yang dibeli oleh pedagang pengumpul.57 28.0004.43 17. Ikan layang langsung dijual oleh nelayan di lokasi pendaratan. Pemilik kapal atau pengurus kapal sudah terlebih dahulu mengetahui harga ikan layang sebelum kapal datang. maka pembayaran dilakukan secara tunai. tetapi jika ikan dibeli oleh pedagang besar. Selain itu. Setiap trip dibutuhkan minyak tanah sebanyak 150-250 liter dengan harga berkisar antara Rp 3.86 100.43 71. karena sudah banyak pembeli yang datang.00 11.57 42.

750 262.600 Oli 525.21.969.709.000 122.000 14.840 19.945.509.000 X 1.096.656 399.500 250.000 2. Nelayan dapat membeli bensin dengan harga Rp 4.750 17.140.000 Es X Umpan X Ransum 20.500 129.760. 2010 47 .481.500 per liter di SPBU terdekat dengan mencuri-curi kesempatan dari petugas.000 34.586.840 Penerimaan (Rp) Layang Kembung Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional X (Rp) X Solar 109.600 Pole and Line (>30GT<100GT X X X 54.000 X 22.907.750 17.312. Harga minyak tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan pada suatu wilayah.451.000 696. karena tidak diperbolehkan membeli bensin dengan menggunakan jerigen.000 Minyak tanah 352.500-5.222.748.000 400.000 4.160 31.000 per liter.500 2. nelayan membeli bensin di pengecer dengan harga Rp 5.000 6.139.000 1.881 X 4.400 1.000 67. Penerimaan dan Pengeluaran Per Trip menurut Alat Tangkap di Bitung.000 5.365.000 8.210.000 2.000 x 54.840 50.000 X 2.000 143. Bensin dibutuhkan sebanyak 30 liter per trip dengan harga Rp 4.463 40. Tabel 3. tahun 2010 Jenis Alat Tangkap Uraian Purse seine (> 5GT<10GT) X 4.160 Tuna hand line Tuna Hand Line 2 1 (>10GT(>5GT-<10GT) <30GT) X X X X X X X X 14.600 X x 5.000 1.580.260 50.760.250.096.692.064.000 Izin berlayar 1.000 3.869 8.750 Keuntungan Sumber: data primer.terdapat di kawasan PPS Bitung. Untuk lebih amannya.000 per liter.850 operasional 3.000 X 1.580.250 Bensin 474.085.575.672.000 biaya tambat Total biaya 1.

500 2010 Rumpon Ponton 6 1 5. tahun 2005-2010 Tahun 2005 2006 Kapal/perahu Alat tangkap Alat bantu tangkap Jenis Jumlah Jenis Jumlah Jenis Jumlah Pump boat 3 Rumpon 1 Small purse seine 3 Jaring 3 Pelang 3 Small purse seine Light boat Pelang Pajeko Light boat Perahu tuna Ketinting Pengangkut Pajeko Pancing tuna Pancing ulur Ketinting 5 5 20 2 2 4 8 1 1 6 1 1 Purse seine Pancing Alat tangkap 5 5 2 Rakit 11 1.827. Bantuan kepada nelayan di Kota Bitung yang diberikan dalam bentuk kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan dengan sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK). 2010 Sedangkan subsidi BBM diberikan secara reguler melalui agen penyaluran BBM yang ditunjuk oleh PT. Tabel 3. Bentuk bantuan yang terakhir ini diberikan oleh pemerintah melalui berbagai program yang sifatnya sangat terbatas. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Tugas Pembantuan (TP). Bentuk bantuan Perikanan di Kota Bitung. yaitu subsidi bahan bakar solar dan subsidi dalam bentuk sarana penangkapan seperti kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan.943.214 2008 2009 Bagan 6 Rumpon 10 969.484.662.22.540. SPBB melayani 48 .000 Biaya (Rp) 2007 1. Pertamina.087. Agen penyaluran BBM di PPS Bitung adalah SPDN Komegoro dan SPBB PT.500 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Getra Mitra Usaha.Peran Subsidi Perikanan Subsidi perikanan yang disalurkan di Kota Bitung dapat dibedakan menjadi dua bentuk.

000 liter per 3 bulan berdasarkan lamanya waktu operasi penangkapan per trip. Asosiasi yang terdapat di Bitung yaitu Asosiasi kapal perikanan nasional dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia). Setiap kapal ikan yang akan mengisi Solar di SPBB dan Pertamina terlebih dahulu meminta rekomendasi ke PPS Bitung dengan syarat telah menjadi anggota asosiasi.124.00 398.23.59 956.000 liter sekaligus tetapi kapal ikan dengan trip hanya 1 bulan tidak diberikan rekomendasi untuk pengisian Solar 75.71 Total 1.00 PT. Getra (SPBB) ( KL ) 847.99 1.93 420.143.20 1. Kapal penangkap ikan dengan lamanya trip 3 bulan atau lebih dapat memesan solar sebanyak 75.000 liter.59 1.280. Pengurusan rekomendasi untuk pengisian BBM di SPBB PPS Bitung dapat dilakukan setelah kapal tersebut mendapat Surat Laik Operasi dari pengawas perikanan dan Surat Izin Berlayar dari Syahbandar Perikanan. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Pertamina ( KL ) 816. Besarnya jumlah solar dalam rekomendasi pengisian BBM ditentukan oleh syahbandar perikanan dengan terlebih dahulu melihat ketersediaan BBM di atas kapal. Hal ini dilakukan untuk menghambat adanya penggunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak.56 824. Kapal ikan yang mendapat rekomendasi dari PPS Bitung dapat memesan langsung solar di depot PERTAMINA. Maksimum pemberian rekomendasi BBM solar setiap bulannya adalah 25. Tetapi hal ini dikeluhkan oleh nelayan yang melakukan trip lebih panjang dari 3 bulan. Jumlah Solar yang disalurkan di PPS Bitung.00 883. Tabel 3.56 1. Banyaknya solar yang disalurkan oleh SPBB dan depo pertamina untuk kapal perikanan di PPS Bitung pada tahun 2009 disajikan pada tabel 3.575.99 883.59 691.27 723.pejualan BBM untuk seluruh jenis dan ukuran kapal dan SPDN yang melayani kapal kurang dari 30 GT.391.00 307.663.00 241.24 993.59 1.00 324.24 1.23.131.71 49 .000 liter atau 75.

Harga ini lebih mahal dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pertamina. Kapal-kapal ikan kurang dari 30 GT lebih cenderung untuk melakukan pengisian solar di SPBB dibandingkan di SPDN.24 PT.022. rata-rata solar yang disalurkan langsung oleh depo Pertamina ke kapal nelayan sebanyak 425 KL ber bulan.00 349.00 334.52 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 3.30 1. Pada tahun 2010.500 per liter.343.00 391.02 10. Selain itu.93 425.119. Pengisian BBM baru dapat dilakukan sehari setelah dilakukan pembayaran. Hal ini disebabkan 50 .76 1.76 770. penyaluran solar di PPS Bitung dilakukan oleh SPDN yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Komegoro. Hanya nelayan skala besar yang mau melakukan pembelian secara langsung ke depo Pertamina dengan jumlah BBM lebih dari 20 KL. jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB lebih tinggi lagi yaitu 940 KL per bulan. Rata-rata solar yang disalurkan oleh SPBB pada tahun 2009 adalah 856 KL per bulan dengan harga Rp 4.47 1. SPDN hanya diperbolehkan untuk melayani kapal kurang dari 30 GT.25 1. Pada tahun 2009.171.00 439.275.102.23.32 856.47 1.00 5.30 904.410.28 Total 1.500 per liter solar.02 15.019. rata-rata solar yang disalurkan oleh SPDN ini adalah 24 KL dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 32 KL.281. Getra (SPBB) ( KL ) 822. Harga yang harus dibayarkan oleh nelayan adalah Rp 4. Harga solar yang dibebankan kepada nelayan adalah Rp 4.Bulan Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata Pertamina ( KL ) 200.83 1. Kelebihan harga tersebut digunakan untuk biaya transportasi pengangkutan solar dari depo pertamina menuju PPS Bitung.378. Tidak semua nelayan mau membeli BBM secara langsung ke depo Pertamina karena administrasi yang lebih panjang dibandingkan membeli BBM di SPBB.83 837.575 per liter. karena pembayaran harus dilakukan di bank.

Sedangkan untuk kapal dibawah 10 GT hanya disalurkan sebanyak 1.95 284. Berdasarkan ukuran kapal.69 1. Tabel 3.30 665.40 UKURAN KAPAL 10 . Hal ini disebabkan. Ditinjau dari ukuran kapal. Solar yang disalurkan SPBB berdasarkan ukuran kapal di PPS Bitung.oleh beberapa hal antara lain tidak kontinyunya stok BBM yang dimiliki oleh SPDN.24.022.67 11.4%. penyaluran BBM paling besar adalah untuk kapal lebih dari 30 GT.90 JUMLAH ( KL ) 942.99 792.019.55 8.10 321.95 229.50 500.68 15.05 712.21 14.55 666.20 >30 GT ( KL ) 720.65 684. oleh lebih banyaknya konsumsi BBM oleh kapal berukuran besar dan juga banyaknya jumlah kapal lebih dari 30 GT.65 16. tahun 2009 Bulan < 10 GT ( KL ) 3. hal ini disebabkan karena kapal kurang dari 10 GT sebagian besar tidak menggunakan bahan bakar solar.23 238.47 13.50 649. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung jumlah kapal lebih dari 30 GT di Kota Bitung sebanyak 35% dari total seluruh kapal ikan di Kota Bitung.85 12.24.92 725.94 15.30 GT ( KL ) 217. melainkan campuran bensin dan minyak tanah.15 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 51 .13 894.20 315. Rata-rata solar yang disalurkan di PPS Bitung sebanyak 1.00 292. system pelayanan yang diberikan dan diduga adanya perbedaan takaran liter.70 182.00 593.70 199. Penyaluran Solar oleh SPBB untuk kapal diatas 30 GT sekitar 70% dari total solar yang disalurkan. banyaknya solar yang disalurkan di PPS Bitung dapat dilihat pada Tabel 3.42 1.500 KL per bulan.82 597.99 918.67 897.

Bulan

< 10 GT ( KL )

UKURAN KAPAL 10 - 30 GT ( KL )

>30 GT ( KL )

JUMLAH ( KL ) 997.50 1,101.54 895.84 832.10 11,027.06 918.92

Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata

20.93 11.19 8.40 152.93 12.74

372.71 304.45 297.20 3,255.39 271.28

707.90 580.20 526.50 7,618.74 634.90

Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2010 Ditinjau dari jenis alat tangkap, kapal penangkap dengan alat tangkap pole and line merupakan kapal yang menggunakan solar terbesar di PPS Bitung. Sebanyak 23% penyaluran solar dari SPBB di PPS Bitung yaitu untuk kapal pole and line. Selain kapal penangkap ikan, kapal pengangkut ikan yang berlabuh di PPS Bitung juga mendapatkan solar subsidi yang disalurkan oleh SPBB Getra di PPS Bitung. Sebanyak 50% jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB tersebut adalah untuk kapal pengangkut ikan. Sedangkan sisanya disalurkan kepada kapal penangkap dengan jenis alat tangkap rawai tuna, purse seine dan hand line. Bahan bakar minyak merupakan salah satu biaya terbesar yang ditanggung oleh nelayan dalam melakukan usaha penangkapan. Bahan bakar yang diperlukan oleh kapal motor adalah solar sedangkan bahan bakar untuk kapal dengan mesin tempel menggunakan campuran bensin dan minyak. Nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan mesin tempel melakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi pendaratan. Tersedianya stasiun pengisian untuk bahan bakar solar tidak memberikan efek yang signifikan bagi nelayan kelompok ini. Kapal motor dengan GT lebih besar akan memerlukan solar lebih banyak. Pada lokasi penelitian Bitung, kapal dengan menggunakan alat tangkap pole and line mengkonsumsi solar paling banyak yaitu 4,9 KL per trip. Biaya untuk pembelian solar bagi kapal pole and line adalah 65% dari total

52

biaya operasional, sedangkan bagi kapal ikan dengan alat tangkap lainnya hanya sekitar 30% dari total biaya operasional. Tabel 3.25. Perbandingan Biaya Operasional Beberapa Jenis Alat Tangkap dengan dan tanpa Subsidi di Bitung, tahun 2010
Jenis Alat Tangkap Tuna Hand Line Pole and Line 1
≥30GT - <100GT ≥5GT -<10GT

Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: - musim ikan - musim biasa - musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): - Solar (liter) - Bensin (liter) - Minyak tanah (liter) Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM (Rp) Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi solar (Rp) Penerimaan Kotor (Rp) Prosentase BBM subsidi terhadap biaya operasional Prosentase BBM tanpa subsidi terhadap biaya operasional Sumber : Data Primer, 2010

Purse seine
≥5GT -<10GT

Tuna hand line 2
≥10GT -<30GT

1 1 1 340 30 160 2,279,430 2,789,850 5,451,600 34.99 46.88

3 5 7 4960 15 200 34,907,840 49,415,840 54,580,000 65.01 75.28

8 10 13 338 91 40 4,497,369 5,366,088 14,096,750 30.09 41.41

10 11 14 370 35 40 5,367,910 6,450,160 17,760,000 31.53 43.02

Subsidi solar yaitu dengan harga Rp 4.500 per liter memberikan pengaruh cukup besar terhadap total biaya operasional. Tanpa adanya subsidi solar

(dengan asumsi harga solar Rp 7.500 per liter) menyebabkan peningkatan total biaya operasional bagi seluruh kapal penangkap ikan dengan kapal motor. Pada tingkat harga solar Rp 7.500 per liter meningkatkan prosentasi biaya solar terhadap total biaya operasional berkisar 10-12% pada nelayan di Kota Bitung. Sedangkan total biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 19-41% dibandingkan dengan harga solar bersubsidi. Peningkatan biaya operasional tertinggi yaitu terjadi pada kapal dengan alat tangkap pole and line yaitu sebesar 41% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Biaya operasional kapal dengan alat

53

tangkap tuna hand line mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Dari Tabel 3.25, terlihat bahwa kapal dengan konsumsi solar lebih

banyak akan merasakan dampak yang lebih besar terhadap perubahan harga solar. Adanya peningkatan biaya operasional dengan solar tanpa subsidi

menyebabkan semakin rendahnya keuntungan yang diterima oleh nelayan. Penurunan keuntungan kapal dengan alat tangkap pole and line dengan solar tanpa subsidi adalah 73% dibandingkan dengan menggunakan solar bersubsidi. Kapal dengan alat tangkap tuna hand line mengalami penurunan keuntungan akibat tidak adanya subsidi solar sebesar 9% dibandingkan keuntungan dengan solar bersubsidi. Perlu dicatat bahwa berdasarkan Tabel 3.25, jika solar untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut menggunakan harga pasar bebas, maka usaha penangkapan ikan di Bitung masih dapat beroperasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena potensi ikan pada perairan Sulawesi Utara masih cukup potensial.

3.3. Kecamatan Palabuhanratu Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perairan Pelabuhanratu terletak pada posisi geografis 6o57’- 7o07’ LS dan 106o22’-106o23’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.200 km2 atau 9,18 persen dari luas Provinsi Jawa Barat (dengan Banten) atau 3,01 persen dari luas Pulau Jawa. Secara administratif, wilayah Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan:
 

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

54

6. Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk.5 cm/dtk pada bulan September sampai Desember yang bergerak ke arah barat.id Gambar 3. pada bulan September-Oktober Karakteristik Perikanan Teluk Palabuhanratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat. Peta Kecamatan Palabuhanratu Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar. 1961) yang disebut Musim Peralihan Timur (Maret-April) dan Musim peralihan Barat (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. 2008). di antara Musim Timur dan Musim Barat terjadi periode peralihan (Wyrtki. berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sumber: www. Wyrtki (1961) mengemukakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu sesuai dengan sifat laut dan tercatat kecepatannya sebesar 1-7.google. Selanjutnya dikatakan bahwa perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29o-30oC dan pada musim timur 26o-27oC. berbatasan dengan Provinsi Banten Sebelah Timur. Pada periode Musim Timur (MeiAgustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat November-Februari).co. di Samudra 55 .  Sebelah Barat.

Jaring Rampus. Pancing ulur. Purse seine.30 GT 12 7 13 8 10 28 53 71 52 Sumber Data Statistik PPNP. dan biota laut lainnya. Potensi sumber daya hayati meliputi ekosistem pesisir.55 18. Selain itu. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada yang beroperasional didominasi oleh jenis kapal/perahu Motor Tempel sebanyak 230 unit kapal jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.20 GT 11 7 3 3 4 9 4 10 7 21 .76 -15.34 persen.17 Motor Tempel 275 323 317 253 266 428 511 531 416 < 10 GT 147 141 106 106 111 143 153 137 102 Kapal Motor 11 . Tabel 3. Realisasi operasional jumlah kapal/perahu Motor Tempel dan Kapal Motor lainnya yang beroperasional disajikan pada Tabel 1. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km. Jenis armada penangkapan ikan yang menggunakan base fishing port-nya Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu adalah jenis Kapal Motor dengan ukuran kapal < 10 GT s/d > 30 GT dengan berbagai macam alat tangkap.11 27. Potensi wilayah pesisir Palabuhanratu mencakup potensi sumber daya hayati.Hindia. Tuna Longline.65 7. Payang. Jumlah Perahu Motor Tempel dan Kapal Motor Tahun 2000 – 2008 Jenis Kapal/Perahu (Unit) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah (Unit) > 30 GT 11 12 13 11 139 68 77 103 69 456 490 452 381 530 676 798 852 646 Fluktuasi (%) -0.05 6. Palabuhanratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat. dan jasa-jasa lingkungan. yaitu sebesar 17. (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. Bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi tidak berdampak terhadap jumlah frekuensi keluar 56 . dan Pancing rawai lainnya. 2008). 2008 Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu pada Tahun 2009 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya.26.46 -7. non-hayati.71 39. seperti Gill net. Bagan. perikanan.76 -24.

yaitu sebesar 5.641 18.42 -46.675 2.510 23.602 Fluktuasi Kapal Motor Motor Tempel (%) (%) 42.497 Jumlah Total (Kali) 21. Adapun kebutuhan perahu/kapal perikanan terhadap ketiga jenis logistik tersebut diuraikan dalam Tabel 3.28. Total frekuensi kunjungan kapal Motor Tempel sebesar 27.857 5.65 75.588 28.248 1.522 40.57 -15.771 1.08 79.802 16.61 -11.27.891 2. sebaliknya terjadi penurunan pada frekuensi keluar kapal sebesar 29.64 -7.38 52.031 15. Total frekuensi kunjungan kapal pada tahun 2008 sebesar 32.847 22. Frekuensi kunjungan kapal motor dan motor tempel (Tabel 3.104 Motor Tempel (Kali) 14.31 72. Kebutuhan logistik kapal ada yang mengalami penurunan ada pula yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan logistik kapal tahun sebelumnya.26 persen dan frekuensi masuk kapal sebesar 34.335 21.303 kali per bulan.836 29.12 persen.505 19. sedangkan frekuensi kunjungan Kapal Motor sebesar 4.masuk kapal.68 -27.198 32. Frekuensi Kunjungan Kapal Motor dan Motor Tempel Tahun 2000 – 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Kapal Motor (Kali) 6.738 11. Kebutuhan logistik BBM yang terdiri 57 .694 kali dengan rata-rata 394 kali per bulan. Secara umum.638 5.101 12. jenis perahu/kapal motor tempel yang menggunakan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sebagai tempat labuhnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.12 5.884 34.27 Sumber Data Statistik PPN Palabuhanratu.13 70.005 3. air bersih.279 4.18 -9.90 -67.595 16.27) pada tahun 2000-2008 selalu mengalami fluktuasi yang bergantung pola musim ikan dan perubahan cuaca yang tidak menentu.738 24.057.919 27.05 persen.16 75.27 persen.641 kali dengan jumlah rata-rata 2. Tabel 3. 2008 Kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan penangkapan ikan terlebih dahulu harus melengkapi kebutuhan logistiknya berupa es balok.48 22.10 -5.14 -21.776 15. sedangkan jenis kapal motor naik sebesar 22.695 kali per bulan. solar di samping kebutuhan logistik lainnya serta konsumsi.22 24.694 3.335 kali dengan rata-rata kapal yang masuk ke kolam Pelabuhan sebesar 2.83 45.

787.000 380.17 18.868 117.49 286.51 persen.591.528.041.300 4. Berbeda dengan kapal-kapal yang ada di kolam 2 (dua).24 6.92 -20. kebutuhan logistik air mengalami penurunan sebesar 20.50 persen (Buku Stastistik Perikanan.660.821.900 1.161 158.213.200 1.60 2.07 -16.450 196.45 289.371 2.000 1.749.92 30.600 4.785 6.917.216 1.034 -17. Air Bersih Penyaluran kebutuhan air bersih untuk kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dipenuhi oleh sebuah perusahaan swasta. kebutuhan logistik es mengalami kenaikan sebesar 1.912 5.35 -84.32 115.07 -72.28.29 -46.dari solar untuk kapal motor dan bensin untuk perahu motor tempel mengalami peningkatan sebesar 18.380.65 0.034. Tabel 3.110 4.22 .00 -60.71 19.56 persen. yaitu pengisiannya menggunakan jaringan pipa yang 58 .74 12.61 75.40 No Tahun Air (Ltr) Fluktuas Jumlah i (%) 2. Penyaluran Kebutuhan Logistik Kapal di PPN Palabuhanratu Tahun 2000 -2008 Kebutuhan Logistik Es (Balok) Fluktuas Jumlah i (%) 74.68 63.78 1 5.490 277.55 persen.316.443.61 -3.37 -45.479.470 112.259 Fluktuasi (%) 18.39 -21.155 1.24 4.870 10.44 27.090 2.704 219. 2009).000 6.000 4.27 -84.1. dan kebutuhan logistik minyak tanah juga mengalami penurunan sebesar 70.29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Sumber Data Statistik PPNP 2008 Ket : @ BALOK ES = + 50 Kg a.917.53 198.863 164.45 7.511.675.595 285.700 1.045.64 BBM / Solar (Ltr) Jumlah 1.811.632 11.897. Air yang disalurkan berasal dari air PDAM yang dialirkan ke kapal perikanan melaluai jaringan pipa dan slang plastik dengan ukuran penjualan dalam bentuk “Blong” (drum plastik) yang berkapasitas 250 liter dan 120 liter atau dalam bentuk jerigen plastik (30 liter) untuk kapal-kapal yang ada di kolam 1 (satu)..778 147.

7. Total penggunaan es balok oleh nelayan untuk operasional penangkapan ikan pada tahun 2007 adalah 59 . Sumber: Laporan Tahunan. Kemampuan dalam mensuplai air bersih di PPN Palabuhanratu masih cukup besar dengan tersedianya mobil tangki untuk mengangkut air bersih yang berkapasitas 400 m³. Di samping itu. Es Balok Kebutuhan logistik untuk es balok di PPN Palabuhanratu selama ini masih disuplai oleh dua perusahaan swasta.langsung sampai ke dalam kapal dengan ukuran penjualan dalam bentuk kubikasi. Di samping itu. b. Jumlah pemakain es balok oleh kapal/perahu perikanan di PPN Palabuhanratu untuk operasional penangkapan ikan disajikan pada grafik berikut. Kebutuhan Es Balok di PPN Palabuhanratu tahun 1993—2008 Jumlah pemakaian es balok sampai sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi bergantung jauh dekatnya wilayah penangkapan.61 persen. kesadaran nelayan akan pentingnya mempertahankan mutu ikan semakin tinggi sehingga secara umum penggunaan es di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu cenderung turun sebesar 16. instalasi baru khusus untuk nelayan dan pihak investor guna meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih kepada masyarakat perikanan telah terpasang. 2009 Gambar 3. yaitu pabrik es Sari Petejo dan Tirta Jaya.

680 kg.65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Volume logistik BBM tertinggi terjadi pada tahun 2004 karena aktivitas kunjungan kapal longline (KM > 30 GT) yang meningkat tajam.8.811. yaitu hanya sebanyak 1. c.281 liter dimana pemakaian solar 60 .000 liter karena aktvitas kapal masih didominasi kapal motor tempel. jumlah total pemakaian solar pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 118. Sumber: Laporan Tahunan. BBM (Solar) Jumlah pemakaian solar kapal perikanan di PPN Palabuhanratu semenjak dioperasionalkan mulai tahun 1993 sampai sekarang selalu mengalami fluktuasi seiring dengan kunjungan jumlah kapal pendatang yang tambat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dan jauh dekatnya daerah penangkapan ikan serta jumlah kapal perikanan dengan kecenderungan kenaikannya sebesar 5.04 persen per tahun. Volume logistik BBM terendah terjadi pada tahun 2001. Sementara itu.371 liter dengan rata-rata pemakaian per bulan 484. tergantung dari jumlah kunjungan kapal.sebesar 164. 2009 Gambar 3. Pemakaian solar kapal perikanan pada tahun 2008 sebanyak 5. Perkembangan Kebutuhan BBM di PPN Palabuhanratu tahun 1993--2008 Kebutuhan BBM di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu berfluktuasi.045.161 kg (@ balok = 50 Kg) atau rata-rata per bulan sebanyak 13.

308.193 320.ini banyaknya dilakukan oleh kapal-kapal pendatang (Kapal Tuna Long Line) yang mengisi logistik bahan bakarnya antara lain solar di PPN Palabuhanratu dan semakin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground).648. Sementara itu.610 107.29. cakalang.997 15. Berdasarkan data produksi.093.179 29.317.016 kg dengan nilai produksi sebesar Rp3.827 24.241.000 30.813.007 6. Hasil tangkapan nelayan di Palabuhanratu didominasi oleh ikan tuna mata besar. Nilai Produksi.183 21.676 15.230 115.960 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Ikan Tongkol Komo Cakalang Tongkol Lisong Tongkol Abu-abu Tembang Tuna Albakor Tuna Mata Besar Tuna Yellow Fin Cucut Setuhuk Loreng Pedang-pedang Layur Layang Deles Layaran Peperek Rata-rata Volume (Kg) 15.011 8.979 30.000 1.687 1. dan Harga per Jenis Ikan Tahun 2009 No.500 11.500 2.108 13. layaran. Tabel 3. tingkat harga jual ikan tuna mata besar dan yellow fin tercatat paling tinggi. yaitu masing-masing sebesar Rp24.067.500 1.888.595.300 175.774.796.230. rata-rata volume produksi pada tahun 2009 adalah 251. dan peperek.472 11. tuna yellow fin.917 251.593. layang deles.000 1.764.774 Harga (Rp/kg) 7. Penyaluran BBM solar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu disediakan oleh SPBB dan SPBN yang dikelola oleh pihak swasta dan melalui SPDN yang dikelola oleh pihak KUD Mina.789.697.285 66.461 4. Kegiatan penangkapan ikan 50-70 persennya merupakan biaya operasional yang sebagian besar untuk keperluan pembelian BBM solar.411 9.015.584 20.998.956 17.513 1. dan tongkol lisong.733 301.308.468 per kg.675 12.477.216 4.049 103.050 476.697.800 1.000 133.312 Sumber: Buku Statistik PPN Palabuhanratu.512.468 8.704. Volume Produksi.183 dan Rp21.338.115.578.500 3.6 Nilai (Rp) 112.848. 2009 Ikan-ikan yang telah didaratkan di PPN Palabuhanratu kemudian didistribusikan ke pasar di berbagai wilayah.601.495.000 102.183.050 739. Sebagian besar ikan di 61 .372 11.000 1.155 542.500 398.908 87. Hasil tangkapan yang tidak kalah banyaknya adalah ikan layur.272.

6—15 tahun. Pasar regional yang menjadi tujuan utama dari pemasaran ikan Palabuhanratu adalah Jakarta sebesar 57. Sebagian kecil responden adalah tidak tamat SD dan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sekolah tinggi. Bayah. dan > 15 tahun. Taman. Pengalaman usaha nelayan tersebar merata dari rentang waktu ≤ 5 tahun.42 persen saja dari total volume produksi. dan Suli.64 persen. Sementara itu. Pasar regional lainnya yang juga mampu menyerap produksi ikan Palabuhanratu adalah Cianjur sebesar 8. Pasir Bayu. nelayan yang menjadi responden masih tergolong muda karena pengalaman usaha mereka sebagian besar ≤ 5 tahun. sedangkan pasar lokal hanya mampu menyerap 8. Simpenan. Karakteristik Usaha Responden Jumlah responden yang diwawancarai sebagai sumber data primer adalah sebanyak 40 orang yang tersebar di delapan kecamatan.5 persennya adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Berdasarkan data yang diperoleh. Sesuai dengan data yang diperoleh.22 persen dari total volume produksi. Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk nelayan yang berpendidikan karena sebagian besar responden pernah dan telah mengenyam pendidikan formal. Cisolok. asal responden sebagian besar atau 65 persen adalah nelayan dari Kecamatan Palabuhanratu dan sebagian kecil lagi tersebar di tujuh kecamatan lainnya. Berdasarkan tingkat pendidikannya. Cilacap. yaitu Kecamatan Palabuhanratu. Kemudian. 35 persennya memiliki pengalaman usaha 6—15 tahun dan hanya 25 persen 62 . Pemasaran ke Jakarta sebenarnya juga dijual kembali ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan besar yang menampung ikan-ikan dari Palabuhanratu sehingga kegiatan ekspor tercatat berasal dari Jakarta.45 persen dari total volume produksi pada tahun 2009. yaitu sebanyak 40 persen. responden sebagian besar adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 50 persen dan 37. distribusi ke luar negeri atau ekspor yang langsung dilakukan dari Palabuhanratu hanya menyerap 2.Palabuhanratu dipasarkan di pasar lokal dan regional.

Sementara itu. sebagian besar responden adalah pemilik kapal dan ABK. Karakteristik responden juga dapat dilhat dari aspek teknis usaha penangkapannya berdasarkan kepemilikan kapal menurut GT. keterlibatan anggota keluarga yang lain tidak terlalu signifikan dalam memikul beban ekonomi keluarga. jenis alat tangkap. Sementara itu. ada pula keterlibatan istri dalam usaha penangkapan sebanyak 12. sebagian kecilnya (15%) memiliki anggota keluarga ≤ 2 orang. yaitu ≥ 10GT . Sebagian besar responden termasuk ke dalam kategori keluarga besar yang memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang dan ≥ 5 orang.5 persen dari total responden yang melibatkan 2 orang anggota keluarga yang bekerja. responden yang bekerja sebagai nahkoda hanya sebanyak 11 orang atau 27. dan bahan bakar yang digunakan. Kondisi ini disebabkan oleh karena armada penangkapan yang digunakan berukuran kecil. Namun demikian. Berdasarkan kepemilikan kapal (GT). Berdasarkan statusnya.berpengalaman lebih dari 15 tahun. Sebagian besar atau 55 persen responden memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga sedang yang terdiri dari orang tua dan dua orang anak dan 35 persennya memiliki anggota keluarga berjumlah ≥ 5 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga besar.5 persen dari total responden. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan menjadi mata pencaharian yang sangat diandalkan responden karena sejak usia muda mereka telah memilih nelayan sebagai profesi utama.5 persen anggota keluarga yang terlibat dalam usaha penangkapan hanya 1 orang yang berarti hanya kepala keluarga yang bekerja.< 30GT dengan wilayah penangkapan yang tidak jauh. Sebagian kecilnya lagi atau 10 persen responden yang melibatkan ≥ 3 orang anggota keluarga. Berdasarkan data yang diperoleh.5 persen bertindak sebagai ABK. Berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja. 77. 45 persen 63 . Sementara itu. tampak bahwa kepala keluarga menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Sebanyak 40 persen responden mengoperasikan sendiri armada penangkapannya dan sebanyak 32.

< 10 GT dan 32. Bahkan.<100 GT. Dari keempat jenis alat tangkap tersebut.5 persen dari jumlah responden. gillnet. Jenis alat tangkap dan alat bantu lainnya yang digunakan responden adalah pancing tonda. Sementara itu. Alat bantu tangkap lainnya yang juga banyak digunakan adalah bagan yang ditancapkan di lokasi yang masih banyak memiliki sumber daya ikan. bagan. nelayan akan mengambil ikan dengan menggunakan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal. yaitu sebesar 32. kondisi ini juga menyebabkan beberapa jenis alat tangkap tidak dapat lagi digunakan. Namun demikian. 64 . responden yang menggunakan kapal dengan ukuran sedang dan besar hanya sebagian kecil saja. Bagan hanya berperan sebagai alat bantu penangkapan karena setelah ikan berkumpul di bagan. minyak tanah hanya menyumbang 2.5 persen untuk kapal ukuran ≥10 .5 persen atau hanya satu armada penangkapan yang menggunakannya karena minyak tanah hanya digunakan untuk menghidupkan mesin dan sebagai bahan bakar lampu petromaks. Jenis alat tangkap lainnya adalah longline sebanyak 15 persen dan gillnet sebesar 12.<30 GT dan 10 persen untuk kapal ukuran ≥30 . responden yang menggunakan kapal < 5 GT tidak ada karena wilayah penangkapan di lokasi penelitian bertambah jauh karena ketersediaan ikan semakin menurun.5 persen responden menggunakan alat bantu bagan tancap dalam kegiatan penangkapannya. Hal ini terlihat dari jenis bahan bakar (BBM) yang digunakan yang sebagian besar menggunakan solar sebanyak 67. tetapi ada pula nelayan yang menggunakan kapal dengan motor tempel. dan longline.5 persen. Armada penangkapan yang digunakan sebagian besar adalah kapal motor dengan mesin berada di dalam kapal (inboard boat). yaitu 12.5 persen dan bensin sebanyak 30 persen.responden memiliki kapal dengan ukuran ≥ 5 . yaitu sebanyak 16 orang atau sebesar 40 persen. pancing tonda paling banyak digunakan oleh responden. Sementara itu.

2010 Dari kegiatan penangkapan tersebut.<100GT ≥100GT Bagan Jumlah Jenis Alat Tangkap Bagan Gill net Longline Pancing Tonda Jumlah Bahan Bakar yang Digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah Sumber: Data primer diolah.777 dan Rp288. padahal harga cumi-cumi rata-rata sangat rendah. 31.5 100 32.5 2.30. dan biaya di darat tidak menjadi komponen dari biaya operasional.477. biaya solar.889 dengan besarnya biaya operasional adalah Rp1. Kerugian ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang diperoleh didominasi oleh cumi-cumi dibandingkan ikan teri.5 100 ≥5GT . Penguasaan Aset Usaha Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Karakteristik Kepemilikan Kapal (GT) < 5 GT Jumlah (n) 0 18 5 4 13 40 13 5 6 16 40 12 27 1 40 Prosentase (%) 0 45 12.5 12.Tabel 3. hanya alat bantu penangkapan bagan yang rata-rata menunjukkan kerugian sebesar Rp 915. Sementara itu.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .5 10 32.5 15 40 100 30 67. Hasil tangkapan bagan adalah ikan teri dan cumi-cumi yang masingmasing sebesar Rp272. analisa usaha kegiatan Dari alat penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 3. Tabel tersebut keuntungan yang diperoleh nelayan per trip menurut tangkap dan ukuran armada penangkapan dari empat jenis alat tangkap. yaitu Rp3.200 per kg.984. 65 .450. umpan.

31.990 4.750.250. biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp3.000 875.875 Gillnet (≥5GT <10GT) Jenis Alat Tangkap Longline 1 (≥10GT -<30GT) Longline 2 (≥30GT 100GT) Pancing Tonda (≥5GT -<10GT) 0 109.787.798 3.500 6.483.825.000 16.000.334 62.000 0 0 7.000 0 50.477.702.397. yaitu 50 : 20 : 30 maka bagian pemilik kapal rata-rata sebesar Rp375.984) 1.269.000 118.791.000 120.000 55.000 0 461. 2010 Hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap gillnet adalah ikan tongkol dan cakalang dengan total penerimaan sebesar Rp10.000.000 438.702 6.577 288. yaitu Rp1.466 10.357.666 1.000 atau sebesar 39 persen.298 dengan biaya solar mengambil bagian yang paling besar. Sementara itu.600 1.916.000 124.825.000 118.500.269.325.000 0 0 240. Analisa Usaha penangkapan Ikan Beberapa Alat Tangkap di Palabuhanratu 2010.500 42. Khusus untuk alat tangkap longline.000 0 16. Sesuai dengan sistem bagi hasil yang berlaku.466.708. dan bagian ABK adalah sebesar Rp2.667 2.188 688.500.227 12.000.000 561. Uraian Penerimaan Teri Cumi-cumi Tongkol Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Umpan Ransum Biaya di darat Total biaya operasional Keuntungan Bagan 272.256 667.500 0 9.533.000.600 525.000 16.667 0 2.000 16.298 7.483.000. nahkoda Rp1.450 (915.813 25.000 352.324.648 Sumber: Data primer diolah. Besarnya penerimaan dan biaya operasional tersebut menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp7.602.500.063 207.250 474. analisis membedakan antara longline ukuran ≥10 GT-<30 GT dan longline ukuran ≥30 GT-<100 GT karena hasil tangkapan dan biaya operasional jauh berbeda sehingga mudah mendapatkan 66 .500 866.500.000.000.500.667 207.500 741.000 45.432.875 16.889 5.051.000 5.324.500.750 106.Tabel 3.000 2.

397. nahkoda sebesar Rp6. dan ABK sebesar Rp4.000.432.641. 67 .334 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp62. Bentuk subsidi yang dikelola oleh PPN berupa subsidi BBM berupa solar melalui SPDN dan SPBB yang tersedia di pelabuhan. sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp4. dan ABK sebesar Rp25. jumlah penerimaan dan biaya operasional untuk kapal longline ukuran ≥10 GT-<30 GT sangat jauh berbeda. sedangkan SPBB melayani kapal-kapal besar ukuran ≥ 30 GT.227 pada trip terakhir. nahkoda Rp660. Subsidi Perikanan di Palabuhanratu Subsidi perikanan di Palabuhanratu disalurkan oleh dua pihak.875.nilai rata-ratanya.000.000.000. dan 35% untuk ABK sehingga hasil yang diperoleh oleh masing-masing rata-rata adalah sebesar Rp6.483. yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 50% untuk pemilik.051.791.000. 15% untuk nahkoda. yaitu masingmasing sebesar Rp16. nahkoda sebesar Rp2. Sementara itu. Hasil tangkapan utama yang dibawa oleh pancing tonda adalah ikan tuna dengan nilai rata-rata Rp16.500 sehingga keuntungan bersihnya sebesar Rp6.648. dan 40% untuk ABK.000.000.500.300. Kegiatan penangkapan pada trip terakhir untuk kapal dengan alat tangkap pancing tonda membukukan keuntungan bersih sebesar Rp12.708.000. Untuk longline ukuran ≥30 GT-<100 GT.000. 10% untuk nahkoda.000.000.000 dan Rp9.666.602. sistem bagi hasil yang digunakan juga sama sehingga bagian pemilik rata-rata sebesar Rp31.000.000 dan Rp55. Dengan demikian.000. dan ABK sebesar Rp2.300. SPDN khusus melayani kebutuhan solar dari kapal-kapal ukuran < 30 GT.000. bagian pemilik ratarata adalah Rp3.500. Sistem bagi hasil yang digunakan adalah 50% untuk pemilik.000. Kondisi ini ditunjukkan oleh besarnya penerimaan dan biaya operasional longline ukuran ≥30 GT-<100 GT masing-masing sebesar Rp118.

Tidak mampunya kapal payang dan gillnet beroperasi di perairan Palabuhanratu karena fishing ground yang semakin jauh Kebijakan pemasangan rumpon di sekitar perairan Palabuhanratu Menurunnya sumber daya ikan sehingga fishing ground semakin jauh 1. Menurunnya hasil tangkapan ini mendorong nelayan untuk menempuh perjalanan yang panjang karena wilayah penangkapan (fishing ground) semakin jauh. Bentuk-bentuk subsidi perikanan tangkap laut tahun 2009 No. armada penangkapan yang dimiliki sebagian besar nelayan Palabuhanratu tidak menunjang untuk sampai ke wilayah penangkapan yang jauh.c Bantuan modal untuk mengkonversi perahu 2. dan alat tangkap (paket) 1. mesin. Dinas Kelautan dan Perikanan juga memberikan bantuan modal untuk mengkonversi armada penangkapan nelayan dengan alat tangkap payang menjadi kapal rumpon. 2010 Sementara itu. seperti paket penangkapan berupa armada penangkapan dan alat tangkapnya. nelayan banyak yang tidak dapat melaut untuk menangkap ikan. Namun. disadari bahwa purse seine justru membahayakan kelestarian sumber daya ikan karena kemampuannya mengeruk semua jenis ikan dari yang ikan terkecil hingga 68 .32. Tidak Langsung: 2.a BBM/Solar Dasar Kebijakan Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak secara nasional. Namun demikian.Tabel 3. Jenis Subsidi Langsung: 1. Selain itu. pemerintah bisa saja memberi bantuan untuk mengganti kapal yang ada dengan kapal jenis purse seine. Data statistik pelabuhan menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir jumlah tangkapan ikan nelayan mengalami penurunan. Ada pula bantuan berupa alat bantu penangkapan. Akibatnya. subsidi atau bantuan yang disalurkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan lebih bersifat paket.a Rumpon Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi diolah.b Bantuan kapal. seperti rumpon yang diberikan kepada kelompok nelayan yang lulus seleksi setelah mengajukan proposal bantuan. Jenis kapal ini memang dapat memberikan hasil tangkapan yang banyak bagi nelayan. 1. Untuk mengatasi permasalahan ini.

Bentuk rumpon dan cara kerjanya yang ada di perairan Palabuhanratu Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menggunakan rumpon sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan usaha nelayan dan kelestarian sumber daya tersebut.9. dipasanglah beberapa cincin di sepanjang tali rafia tersebut. Gambar 3. 69 . saat ini sebagian besar pelepah pohon kelapa diganti dengan tali plastik rafia. Rumpon di perairan Palabuhanratu biasanya berupa rumpon permukaan yang menggunakan pelepah pohon kelapa sebagai sumber makanan ikan agar ikanikan tetap berkumpul di sekitar rumpon. Teorinya keberadaan tiap-tiap rumpon dirahasiakan agar kelompok nelayan lain tidak bisa sembarangan menangkap di semua rumpon yang ada. Rumpon adalah alat bantu yang dipasang untuk menangkap ikan. Namun demikian. namun ada juga rumpon yang seharga Rp150 juta. Agar tali tidak kusut dan terpelintir. Harga rumpon per unit rata-rata sebesar Rp60 juta. ikan-ikan akan berkumpul di sekitarnya sehingga mempermudah nelayan dalam menentukan lokasi penanngkapan dan membantu nelayan mendapatkan ikan dengan mudah.ikan ukuran besar. Sebuah rumpon diperuntukkan bagi 1 kelompok nelayan yang terdiri atas 5 kapal nelayan. Hal ini dilakukan karena tali rafia lebih praktis karena tidak perlu diganti dalam jangka waktu yang cukup lama. Purse seine juga akan merusak terumbu karang dan kekayaan laut lainnya sehingga justru mengancam kelestarian sumber daya di masa depan. Dengan bantuan rumpon. jumlah rumpon yang berasal dari bantuan pemerintah berjumlah 40 unit dengan jarak per rumpon sejauh 8 mil. Saat ini.

pemerintah daerah berusaha menyediakan daerah penangkapan baru yang lebih terjangkau melalui rumpon-rumpon yang disebar di sepanjang perairan Palabuhanratu. bantuan modal tersebut macet karena kelompok nelayan yang menerima bantuan tidak mengembalikan modal tersebut sehingga kelompok nelayan lain tidak mendapat kesempatan yang sama. Modal tersebut sedianya digunakan untuk mengkonversi kapal mereka menjadi kapal penangkap ikan di rumpon karena menurunnya ketersediaan sumber daya ikan membuat kapal payang tidak mampu beroperasi lagi. SPDN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak KUD 70 .Namun. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir termasuk di dalamnya Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). Pelabuhan Perikanan selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap hanya menyediakan lahan. Pelayanan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara pebauhanratu dilakukan dalam tiga jenis stasiun pengisian. Bentuk bantuan lainnya yang juga diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi adalah bantuan modal bagi nelayan yang memiliki armada penangkapan dengan alat tangkap payang. Dalam memberikan pelayanan BBM solar bersubsidi. bangunan. sedangkan ada kelompok lain yang tidak mendapat hasil tangkapan sama sekali. Akan tetapi. yaitu: (1) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan. Bantuan modal ini merupakan bantuan bergulir dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya. tangki BBM solar dan fasilitas lainnya. prakteknya hal itu sangat sulit dilakukan karena faktor iba karena sekelompok nelayan bisa membawa hasil tangkapan yang banyak. Sedangkan dalam kaitannya dengan pengajuan kuota BBM dan jumlah kuota yang disediakan merupakan kewenangan dari pihak Pertamina serta ditembuskan ke Direktorat Jenderal kelautan. Untuk itu.

PT. Mekar Tunas Raya Sejati dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. SPDN ini melayani kebutuhan BBM solar bersubsidi bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom I yang berukuran < 30 GT (Kapal rumpon. Dalam operasionalnya. Dalam operasionalnya KUD Sinar Laut memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 320 m3. sedangkan bangunan dispenser dispenser adalah milik pihak PT. Paridi Asyudewi dengan kouta rata-rata sebanyak 400 kiloliter per bulan. (2) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar dengan fisik bangunan yang lebih besar dari SPDN yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil. Dalam operasionalnya. SPBN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. Ketiga fasilitas tersebut (tangki BBM. Penggunaan fasilitas (3) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. dogol dan gillnet). SPBN ini melayani kebutuhan BBM solar bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom II dengan nukuran kapal > 30 GT (Kapal longline). pompa BBM dan bangunan dispenser) milik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu. Mekar Tunas Raya Sejati sendiri. sedangkan pihak KUD memanfaat ketiga fasilitas tersebut dengan sistem sewa sesuai dengan peraturan yang berlaku. instalasi pompa BBM dan dispenser.Sinar Laut dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. Paridi Asyudewi yang berlokasi di didermaga II. pelabuhan tersebut dilakukan dengan system sewa. Mekar Tunas Raya Sejati memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 208 m3 dan instalasi pompa BBM. pihak PT. Paridi Asyudewi menggunjakan tongkang atau bunker kapal milik PT. Pengisiannya dilakukan 71 .

petugas jasa. POL AIR kemudian melapor ke petugas teknis untuk mendapatkan STBLKK. maka nelayan diwajibkan melapor keberangkatan kapalnya. POL AIR. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 126. ke Pengawas Perikanan untuk mendapatkan SLO. Sementara itu. Setelah kapal mendapatkan SLO dan SIB. Pada tahapan ini. dan terakhir melapor ke Syahbandar di Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan SIB. nelayan melaopor ke TNI AL.dengan dibantu mobil tangki minyak dengan kapasitas 16. yaitu: (1) Tahapan Melapor Kedatangan Kapal Pada tahapan melapor kedatangan. TNI AL. Realisasi penjualan BBM melalui SPDN sejak bulan Mei 2009 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2. yang selanjutnya diperkenankan mengajukan permohonan pengisian solar ke penyalur (SPBN/SPBB).6511 kiloliter. yang selanjutnya dilakukan pengisian ke kapal-kapal yang ada di Kolom II.5 liter.417. Status mobil tangki tersebut adalah milik PT.651.026. pihak nelayan diwajibkan melapor ke prtugas teknis. Syahbandar dan Pengawas Perikanan di Pelabuhan Perikanan. maka dalam waktu 1 x 24 jam penyalur BBM solar besubdisi (SPBN/SPBB) diperbolehkan menjual solarnya kepada kapal yang akan berangkat melaut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak syahbandar dalan hal pengisian BLB (Buku Lapor Bunker).000 liter dalam tiap minggunya. ke petugas jasa untuk melakukan biaya bayar tambat. Pelayanan BBM solar bersubsidi di pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dilakukan melalui mekanisme dalam dua tahapan melapor. realisasi penjualan BBM 72 .1 liter atau sama dengan 126. Paridi Asyudewi yang berfungsi menyalurkan BBM solar bersubsidi melalui darat yang kemudian disalurkan ke dalam bunker/tongkang. (2) Tahap Melapor Keberangkatan Kapal Setelah nelayan melakukan tahapan melapor kedatangan kapal pada beberapa hari sebelum kebarangkatannnya kembali.

148.0 127.0 56.696.570.0 55.0 55.0 70.0 68.77%) dari kuota yang dijatahkannya.835.0 71.0 60.0 86.221.1 liter.0 57.0 155.0 1.095.412..417.0 128.0 41. Tabel 3.0 128.8 68.785. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.741.026.963. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 367.700.460.0 72.0 68.3 Total (Lt) 123.0 66.894.0 139.0 71.310.0 59.5 60.0 63.558.432.586.0 35. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Periode Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Volume Penjualan (Lt) Meter A Meter B 55.0 127.978.0 70.1 Sumber: KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.798.1445 kiloliter.356.5 liter atau sama dengan 367.0 liter.0 126.248.422.461.0 61.265.melalui SPBN sejak bulan November 2008 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 663.0 62.277.140.042.068.734.0 127. Sementara untuk SPBN baru mencapai kurang dari seperempat (12.76%).698.038.651.989.727.0 127.0 51.5 126.154.540. Bila realisasi penjualan tersebut dibandingkan dengan kuota yang diberikan.721.484.67%) dari kuota yang dijatahkannya.0 71.491.001.447.144.577.139.044.0 95.954.0 879. Sedangkan dari Tabel 3 dan Gambar 3 diketahui bahwa realisasi penjualan BBM melalui SPBB sejak bulan Januari 2010 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2. sedangkan untuk SPBB telah mencapai hampir keseluhan jatah yang diberikannya (91.33. terlihat bahwa untuk SPDN baru mencapai separuh (53.5 liter atau sama dengan 30.211.5 54.0 128.0 65.0 77.322.0 85.0 46.0 62.257.0445 kiloliter.179. 2010 73 .0 128.998.006.147.194. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 No.5 128.0 46.0 110.936.0 86. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 30.0 2.352.756.0 132.0 56.000.006.

0 54.453. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.5 50.160.0 120.800.9 34.9 64.6 33.1 30.000.000.000.0 663.977. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Periode Volume Penjualan (Lt) 12.4 22.179.000.048.0 14.200.0 100. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.410.230.0 0.0 42.000.34.537.2 22.122. Pelabuhanratu.0 140. Mekar Tunas Raya Sejati.0 34.0 80.3 22.0 23.000.144.10.351.805.908.5 November 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Sumber: SPBN PT.0 0.000.0 40.200.8 19.0 20.2 58.253.8 22. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.330.7 37. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 No.826.990.000.765.558.0 60.0 11. 2008-2010 M ay 74 .6 21.0 Volume Penjualan (Lt) 0 l-1 Ju 0 -1 ay M 0 -1 ar M 10 nJa 09 vNo 9 -0 ep S 9 l-0 Ju 09 Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.2 47.209.200.0 12.

0 0.000.5 10 gAu 0 -1 ay M 10 bFe 09 vNo 09 gAu 9 -0 ay M 09 bFe 08 vNo Periode Pengisian (Bulan) No.0 0. Dengan kata lain.0 403.0 10.356.Secara teknis mekanisme pelayanan baik yang dilihat melalui polanya (SPDN. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.870.813. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.0 20.000.000.0 433.0 40. 70. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.751.0 267.000.0 449.0 367.633.0 505. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu.0 466.000.072. Namun di sisi lain. 2010 75 .0 2.0 30. pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara telah mampu menyalurkannya secara baik.102. rendahnya relaisasi tersebut (terumana pada SPDN dan SPBN) menunjukkan bahwa sesungguhnya masih terdapat sebagian besar nelayan yang membeli BBM solar yang dibutuhkannnya justru di luar SPDN dan SPBB yang ditunjuk. Hal ini seperti terlihat dari besaran realisasi penjualan BBM solar bersubsidi yang masih di bawah kuota. 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-Rata per Bulan Sumber : SPBB PT.115.044.0 Volume Penjualan (Lt) 60.35.000. SPBN dan SPBB) maupun mekanismenya dalam penyaluran atau penjualan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu telah cukup memadai.0 50. Tentunya pernyataannya dapat dibenarkan bila digunakan asumsi bahwa besaran kuota BBM solar bersubsidi yang di sediakan adalah dihitung berdasarkan jumlah kebutuhan BBM untuk nelayannya.000. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Periode Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Volume Penjualan (Lt) 410. Paridi Asyudewi.11.0 Gambar 3.936.

1 Ap 0 -1 ar M 10 bFe 10 nJa Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3. namun hanya digunakan untuk keperluan penerangan saja.0 Volume Penjualan (Lt) 500. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. jenis BBM yang dibutuhkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu adalah jenis solar dan premium/bensin. yakni kapal yang menggunakan mesin diesel untuk jenis kapal dogol. Melihat kondisi di lapangan dari berbagai jenis kapal maupun mesin yang digunakan nelayan untuk melakukan operasional penangkapan.000.000. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.000.000.0 400.0 200.0 10 gAu 0 l-1 Ju 10 nJu 0 -1 ay M 0 r. gillnet.0 300. BBM jenis solar tersebut digunakan untuk kapal perikanan yang berukuran > 10 GT.000. Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2010 pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara baru menyediakan BBM jenis solar saja. Hal ini karena komponen biaya BBM berkisar antara 40-60% dari seluruh biaya 76 .000. Kebutuhan BBM. longline dan kapal rumpon. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Peran Subsidi Perikanan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat perikanan khususnya nelayan di Palabuhanratu dalam melakukan operasional penangkapan ikan. khususnya bagi nelayan skala usaha mikro dan kecil merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan kegiatannya.0 100.600. Sedangkan jenis mesin tempel digunakan untuk kapal payang dan kincang dengan BBM jenis premium/bensin.0 0. Di samping itu jenis kerosin/minyak tanah digunakan oleh nelayan.12.

musim biasa .Bensin . Artinya. terlebih lagi karena selama ini nelayan dalam memenuhi kebutuhan BBM solar dibeli dari pihak ketiga (tengkulak) yang harganya lebih mahal kurang lebih 30% dari harga ketentuan pemerintah.791.500 13. Kondisi seperti ini sangat memberatkan nelayan.50 0 16.477.2%.897.85 2 16.500.33 4 83.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM Nilai hasil tangkap 1 hari 1 hari 1 hari 7 hari 7 hari 7 hari 15 hari 15 hari 15 hari 120 hari 100 hari 77 hari 6 hari 6 hari 7 hari 5 liter 6 liter 1. Analisa pendapatan dan biaya usaha penangkapan pada Trip Tahun 2010 Jenis alat tangkap Uraian Bagan Gillnet ≥5GT <10GT Longline 1 ≥10GT <30GT Longline 2 ≥30GT 100GT Pancing Tonda ≥5GT <10GT Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: .170.4 50 561. memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perikanan. Tabel 3.00 0 9333 liter 55.36.29 8 10.397.432.791. khususnya solar.Solar . di atas menunjukkan bahwa subsidi BBM.2%.33 4 118.000.22 7 5.36.592.0 00 393 liter 6 liter 13 liter 4.0 00 1500 liter 9.operasional penangkapan ikan.825. Berdasarkan hasil olahan data di atas. dengan kenaikan harga BBM solar tersebut maka nelayan mengalami beban tambahan yang harus dikeluarkan sebesar 11. bila terjadi kenaikan harga BBM jenis solar sebesar 28% maka akan menambah beban biaya produksi penangkapan ikan sebesar 28% x 40% = 11.musim ikan .466 282 liter 10 liter 8 liter 3.musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): . Akibatnya. 2010 Tabel 3. usaha penangkapan dengan menggunakan bagan mengalami kerugian yang cukup besar karena biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan yang diperolehnya. Biaya untuk bahan bakar 77 .483.29 8 4.324.8 75 Sumber: Data primer diolah.

Di sisi lain. Seperti halnya kapal gillnet. Kenaikan biaya operasional ini berdampak pada turunnya keuntungan yang diperoleh nelayan rata-rata sebesar 68 persen.897. Perbedaannya adalah beban biaya bahan bakar tidak sepenuhnya ditanggung nelayan. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. kondisi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh kapal-kapal dengan alat tangkap lainnya yang mampu memperoleh keuntungan cukup besar bagi nelayan. Kedua jenis bahan bakar tersebut tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi sehingga beban biaya tersebut sepenuhnya harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil. besarnya biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM adalah Rp13.<30GT. tetapi ada intervensi pemerintah dengan memberikan subsidi bahan bakar solar yang mereka gunakan. terutama bagi kapal longline ukuran ≥10GT .yang berupa bensin dan minyak tanah menyumbang hampir 40 persen dari total biaya operasional. Berdasarkan olahan data pada Tabel 12.500 atau 48 persen lebih besar dibandingkan biaya operasional per trip dengan subsidi BBM.298 yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan nelayan rata-rata sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan keuntungan dengan BBM bersubsidi. Begitupula halnya dengan kapal longline ukuran ≥ 30 GT – 100 GT yang harus mengeluarkan biaya operasional per trip lebih besar 60 persen apabila menggunakan solar tanpa subsidi sehingga porsi biaya solar terhadap biaya 78 . Jika nelayan menggunakan BBM bersubsidi maka porsi solar terhadap biaya operasional adalah 38 persen.500 maka biaya operasional per trip yang harus dikeluarkan adalah Rp4. sedangkan jika tanpa subsidi porsinya semakin besar yang mencapai 51 persen per trip penangkapan. bagian biaya solar terhadap biaya operasional menjadi 81 persen dibandingkan apabila kegiatan usaha penangkapan dibantu dengan subsidi BBM yang hanya mengambil bagian 72 persen per trip. Pemberian subsidi BBM sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap longline. komponen biaya bahan bakar kapal ratarata sebesar 60 persen dari total biaya operasional yang dikeluarkan. Dengan demikian.170.

3. Kabupaten ini berada di bagian pesisir selatan wilayah Propinsi Lampung. Akibatnya. dengan luas wilayah 117.227. sedangkan tanpa subsidi BBM sebesar Rp5. Kabupaten Pesawaran (Lampung) Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pesawaran.operasional naik dari 75 persen menjadi 86 persen. Lampung merupakan pengembangan dari Kabupaten Lampung Selatan dan dan secara resmi dibentuk berdasar UU No: 33 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran. intervensi pemerintah melalui pemberian subsidi BBM masih sangat diperlukan oleh nelayan dalam negeri untuk menjamin keberlanjutan usaha penangkapannya.852 atau meningkat 26 persen.4. Berdasarkan hasil analisis tersebut. Porsi biaya solar mencapai 40 persen jika nelayan mendapat solar bersubsidi. 79 .432.377 hektar dan sebagian wilayahnya menghadap ke Teluk Lampung. Pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sangat berperan dalam memberikan pelayanan BBM solar dengan harga subsidi. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. Subsidi BBM juga sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap pancing tonda. besarnya keuntungan nelayan rata-rata menjadi menurun sebanyak 10 persen. baik secara langsung (pemberian pelayanan oleh petugas pelabuhan perikanan dengan menggunakan fasilitas milik Pelabuhan Perikanan) maupun tidak langsung (pemberian pelayanan pihak pelabuhan perikanan melalui bekerja sama dengan pihak swasta).592.500 per liter maka biaya operasional per trip dengan bahan bakar bersubsidi adalah Rp4. Perbandingan antara adanya subsidi BBM dan tanpa subsidi BBM pada usaha penangkapan ditunjukkan oleh porsi yang meningkat dari biaya solar terhadap total biaya operasional yang dikeluarkan. sedangkan tanpa subsidi BBM porsi biaya solar meningkat menjadi 53 persen terhadap total biaya operasional per trip. Dampak selanjutnya adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh nelayan sebesar 45 persen.

5 144. dan budidaya teripang dengan total potensi lahan seluar 3.0 1. budidaya ikan kerapu.750. juta 19.570. Juta) 2008 1.884.685.388. Pesawaran.2 624.39.996.511.278. Tangkap laut Tangkap perairan umum Budidaya tambak Budidaya air tawar Daging tiram mutiara Rumput laut Budiaya Kerapu (KJA) Benih ikan JUMLAH 74.0 96.121. 8. berdasarkan data produksi 2009 didominasi oleh perikanan budidaya yang jika dilihat secara proporsinal terlihat pada Tabel 3.520. dalam tahun 2008-2009 terjadi perkembangan yang cukup signifikan khusus pada budidaya (KJA) Ikan Kerapu yang didominasi oleh Kerapu Bebek dapat dilihat pada Tabel 3.37. sedangkan potensi lahan tambak 750 ha yang sebagian besar ada di Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Punduh Pidada.0 2.5 47.0 419.6 508. Pesawaran Dalam hal perkembangan luas lahan budidaya dan jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Kab.8 Perkembangan Rp.667. Nilai produksi perikanan di Kab.6 2009 93. budidaya ikan barong.610. Hasil (nilai) produksi perikanan di Kabupaten Pesawaran. budidaya rumput laut. 4.2 % 26 16 16 38 10 17 49 73 23 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.692.6 71.2 12. 5.141. 2.820.0 100. 6.6 17. 3.0 10.37.8 16.4 4.045.0 603.8 768. Wilayah laut dan pesisir Kabupaten Pesawaran meliputi sebagian dari Teluk Lampung dan 37 pulau kecil yang tersebar di Teluk Lampung dengan potensi meliputi budidaya kerang mutiara.0 442.0 2.880.939. Pesawaran terdiri atas 7 (tujuh) wilayah kecamatan dan 133 desa dengan ibukota di Gedong Tataan.4 105.Saat ini wilayah kab.833.0 437. Pesawaran Tahun 2008-2009 No Jenis usaha Nilai produksi (Rp. Tabel 3.2 121.6 143. 80 .0 110. 7.5 ha.

Tahun 2008-2009 No 1. 7. 6.8 2. Jenis Usaha Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH Tahun (ha) 2008 2009 352.240. 5. Adapun jenis dan dasar kebijakan pemberian subsidi tersebut seperti tertera pada Tabel 3. 4.5 10 12 359 391 2 2. 2. 5.5 2. 6.4 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.5 3.886 2009 1.5 369.40 diketahui bahwa jenis subsidi yang pernah 81 .39 Jumlah Rumah Tangga (RTP) pembudidaya ikan di Kab. Perkembangan luas areal budidaya laut di Kab.0 Kenaikan Ha 17 2 32 0.5 60 75 3.Tabel 3.164. 7.40. Pesawaran Tabel 3. 4. Pesawaran.118 Kenaikan Orang 116 4 6 0 21 140 15 302 % 10 28 15 0 38 29 7 16 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.5 3. 2008-2009 No Jenis Usaha Tahun (Orang) 2008 1. Pesawaran Bentuk-Bentuk Subsidi Perikanan Selama periode tahun 2009 telah dilakukan pemberian subsidi kepada pelaku usaha sector kelautan dan perikanan di Kabupaten Pesawaran.166 14 39 14 73 370 210 1.282 18 45 14 94 510 225 2. Lampung.8 4.5 % 5 20 9 25 25 26 2.38. 3. 3. Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH 1. 2.5 15 1 75. Dari Tabel 3. Pesawaran.

Jenis Subsidi Langsung: 1. Dasar Kebijakan 1. 2.b Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Antisipasi menghadapi dampak bencana alam pada tempat tinggal masyarakat nelayan.a Pelatihan Rendahnya tingkat keterampilan (skill) masyarakat pesisir terkait dengan pengembangan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.c Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila .diberikan oleh pemerintah di Kabupaten Pesawaran Lampung adalah meliputi: Subsidi yang bersifat langsung dan subsidi yang bersifat tidak langsung. Tabel 3.Lemahnya modal para pembudidaya ikan air tawar terutama untuk membeli benih dan induk ikan gurame dan ikan nila . 1. Pesawaran 82 .a PNPM Mandiri-KP Ketidakberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.Peningkatan pengembangan usaha budidaya ikan air tawar (gurame dan nila) sementara kemampuan modal para pembudidaya yang relative terbatas. Subsidi langsung dalam hal ini dimaksud sebagai bantuan yang diterima oleh para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan dari pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat) dalam bentuk barang ataupun finansial. Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Tidak Langsung: 2.40. Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pesawaran Lampung No. 1. Sedangkan subsidi tidak langsung diberikan dalam bentuk program atau bantuan lainnya yang sifatnya bukan barang ataupun financial.

(2) Pembangunan rumah nelayan ramah bencana.999 83 .975 Kec. Padang Cermin. tangkap bubu. pancing cumi. nelayan pancing. Desa Sukajaya Lempasing Kec. Desa 8 77 9 259. Alokasi dana PNPM Mandiri-KP di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 Lokasi Jumlah Kelompok 10 Jumlah Anggota 92 Jenis usaha Jaring payang padang. budidata rumput laut.41. pancing bandrong. Kebijakan yang mendasari pemberian subsidi dengan jenis langsung dan tidak langsung tersebut. Penjelasan dari masing-masing bentuk subsidi tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. meliputi: (1) PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan Sasaran program ini adalah masyarakat bidang kelautan dan perikanan yang bertempat tinggal di wikayah pesisir atau diluar pesisir yang memiliki kegiatan di bidang kelautan dan perikanan. Jumlah paket 10 Nilai (Rp.Jenis subsidi langsung diberikan oleh pemerintah dalam tiga bentuk yaitu: (1) PNPM Mandiri_KP. tangkap jaring. dan perbaikan jalan KJA Kerapu. dalam hal ini lebih didasari oleh latar belakang kondisi usaha sector kelautan dan perikanan dan kondisi pelakunya yang memang membutuhkannya terutama untuk alasan pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan dan pengembangan atau keberlanjutan usaha sector kelautan dan perikanan tersebut ke depan. Bentuk-bentuk subsidi sektor kelautan dan perikanan yang pernah diberikan pemerintah. dan (3) Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Padang Cermin. Sedangkan jenis subsidi tidak langsung berupa pelatihan bagi para pembudidaya ikan air tawar.000) 249. Tabel 3. jaring kelitik. baik subsidi secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Pesawaran pada tahun 2009.

Pelatihan pembenihan ikan laut. Topik materi pelatihan diantaranya: Pelatihan manajer pengendali mutu perikanan. Pelatihan pembuatan alat tangkap nelayan. (3) Pelatihan Melalui dana APBD Provinsi Lampung. Kec. Pesawaran. Desa Kampung Baru. Magang pembudidaya rumput laut ke NTB. Magang tambak resirkulasi. Desa Sidodadi.Lokasi Durian Jumlah Kelompok Jumlah Anggota Jenis usaha pengeringan ikan asin. Padang Cermin (20 unit) di Desa Sukajaya Lempasing. dan Desa Durian. Pelatihan manajer usaha dan percontohan pembenihan tiram mutiara. (4) Subsidi selisih harga Subsidi selisih harga dimaksudkan sebagai bantuan pemerintah (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasewaran Lampung) untuk membayar selisih harga antara harga pasar dengan harga keekonomiannya. Pelatihan budidaya laut dalam rangka pemberdayaan usaha skala kecil. dilakukan pelatihan yang pesertanya adalagh masyarakat pesisir dan aparat terkait. Jumlah paket Nilai (Rp. menggunakan dana APBD Kab. Pesabwaran (2) Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Sasarannya: pemenuhan kebutuhan masyarakat nelayan terhadap rumah tahan bencana. Desa Pulau Pahawang. dan Desa Sukarame. Pelatihan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Pelatihan pembenih dan pembudidaya ikan air tawar. 84 .974 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.000) 2 desa 18 169 19 509. dan rehabilitasi jalan setapak. Pembangunan rumah di lakukan di dua kecamatan yaitu: Kecamatan Punduh Pidada (30 unit) di Desa pulau Legundi. Subsidi selisih harga berupa bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila.

dan dengan siklus usaha selama 13 bulan.-. meskipun baru bersifat normatif namun kita masih dapat memperkirakan peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha budidaya pmbesaran ikan kerapu dal KJA tersebut. pembahasan mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya tidak dilakukan dengan pendekatan perbandingan antara sebelum dan sesudah (after and before comparative) diberi subsidi. dalam bagian ini akan dijelaskan: (1) Analisis biaya dan penerimaan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.Peran Subsidi Perikanan Uraian mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan.000. 314. dan kemungkinan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan. Secara eksisting. Untuk rata-rata usaha budidaya pembesaran ikap kerapu bebek dalam keramba jarring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. diperlukan rata-rata biaya total sebanyak Rp. Untuk itu. Lampung. dalam bagian ini dilakukan dengan mengambil kasus budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. Propinsi Lampung.511. 85 . Secara rinci gambara mengenai biaya dan penerimaan usaha tersebut seperti tertera pada Tabel 3. dan (2) Kemungkinan peran atau dampak potensial yang dapat dilakukan atau terjadi bila subsidi diberikan terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya.210. Lampung dengan luasan sebanyak 13 kolam yang masing-masing berukuran 3x3 m2 dengan kedalaman 5 m. usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di lokasi kasus tersebut hingga saat ini tidak atau belum mendapatkan subsidi (langsung ataupun tidak langsung) dari pemerintah.dan menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp.230.42. tetapi berdasarkan kemungkinan (potensial) dampaknya bila subsidi tersebut diberikan.634. Dengan demikian. Oleh karena itu.. dalam hal ini dari Kementerian Kelautan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.

62 1421 580 3280 10036 2420 4 83 1308 4 14 28 698 lt lt ekor kg kg orang tabung galon paket kolam kolam kg 3. Penerimaan: Produksi kerapu 3.Biaya Penyusutan: a.42.750 71.468.95 0.32 1.005.500 281. Timbangan 1.264.07 0.324.Tabel 3. Lampu Penerangan i.500 1.200 5.475 10.74 25.50 Proporsi (%) 100. Gas Elpiji h.87 0.656.000 29.14 69. Lampu Penerangan i.679.634.000 16.000 449.000 0.210.500 1. Tali e.101 975.376.811.000 46.556 166. Pompa Air h.604 159.500 4.67 0. Pakan Rucah e.276 320.750 326. Tempat Pemeliharaan b.11 1. Tempat Pemeliharaan b.500 16.702.00 30.125.010.) 230.750 2. Perahu c.000 1.500 48.500 135.250 3.100 5.2 Biaya Tidak Tetap: a.511 85.511 1. Biaya Total: 1.Investasi: a.10 3.000 7. Gudang j.555.257 256.42 0.33 21.750 17. Bensin b.705.587.000 2.27 1. Retribusi Kebersihan k.382.555 1.49 0. Pajak Kolam Keramba 2.90 1 1 30 137 147 169 1 2 1 1 unit unit unit kg buah unit unit unit unit unit 4.) Nilai (Rp.700 1.575 15. Pompa Air h.000 487. Ransum bulanan j.02 0.126. Solar c.65 1.07 28.895.292. Bambu f.000 1.453. Perahu c.466 77.300 365. Tenaga Kerja g.357.655 59.400 10.061. Timbangan . Gudang j. Air Bersih i.264. Jaring d.500 449.500 3.60 2.634.000 358.100 2.03 0. Propinsi Lampung (KJA sebanyak 13 Kolam dan Siklus Usaha selama 13 Bulan) Uraian 1.150 Sumber: Data Primer diolah (2010) 86 .000 442.05 0.921.200 2.370. Pelampung g.000 621. Jaring d.120 6.905 582.88 1.000 314.000 23. Bambu f.500 65. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam keramba Jaring Apung di Kabupaten Pesawaran.500 441. Pakan Pelet f. Pelampung g.050 6.500 5.404.344 4.1 Biaya Tetap: . Benih ikan d.996 1.592.57 7. Tali e. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Volume Satuan Harga (Rp.100 172.735.511 71.085.430.

65.210. sehingga pemerintah dalam hal ini harus menentukan prioritas apakah akan memberikan subsidi pada komponen tertentu atau komponen tertentu lainnya.592. yaitu: benih ikan kerapu atau pakan ikan. dan (2) Untuk pakan ikan yang menyerap sebanyak Rp.634. Sementara. proporsi biaya usaha budidaya pembesaran ikan kerapu didominasi oleh dua jenis biaya pengeluaran. 48. berdasarkan besaran penerimaan dan biaya totalnya. yaitu: (1) Untuk benih ikan kerapu yang menyerap sebanyak Rp. 69. Biaya pakan tersebut terdiri dari biaya unuk pakan ikan rucah (pakan alami) sebanyak Rp.750. seperti komponen benih atau pun pakan) dalam pengembangan usaha tersebut.. Terdapat banyak pertimbangan dalam pemberian subsidi (langsung) pada kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan karapu tersebut. Bila diasumsikan bahwa pemerintah berada dalam kondisi memiliki anggaran yang relatif terbatas.895.000.57% dan untuk pakan pelet sebanyak Rp.atau 28.. 17. Secara sederhana.500.atau 36.314.65%. yaitu sebanyak 698 kg dengan nilai sebanyak Rp.50. maka dapat diketahui bahwa usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran telah mencapai kondisi efisiensi dengan rasio penermaan terhadap biayanya sebesar 1. dan (2) Apakah pemberian subsidi tersebut secara potensial berdampak terhadap kelestarian lingkungan. Lampung (Tabel 3. diantaranya adalah pertimbangan: (1) Sejauhmanakah urgensi memberikan subsidi kedua komponen tersebut dalam mendorong keberlanjutan usaha. rata-rata penerimaan yang dihasilkan baru bersumber dari budidaya pembesaran ikan kerapu bebek saja (monoculture). secara potensial subsidi dapat diberikan pada komponen biaya/pengeluaran yang memiliki proporsi yang tergolong dominan.atau 7.900.42).atau 21..07% dari biaya totalnya.22% dari biaya totalnya.-. Untuk itu sebaiknya pemerintah 87 .000. Melihat kondisi struktur biaya usaha budidaya pembesara ikan kerapu dalam KJA di Kabupetan Pesawaran.750. terutama dalam jangka panjang.Dari Tabel 3.42 diketahui bahwa berdasarkan strukturnya.

karena menurut persepsi pelaku usaha tersebut di lapangan bahwa mutu benih ikan kerapu dewasa ini semakin menurun. Bila pemerintah memang pada akhirnya memutuskan untuk memberikan subsidi benih ikan.memutuskannya setelah melakukan pengkajian berdasarkan kedua pertimbangan di atas (keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan). Komponen benih ikan kerapu memiliki proporsi biaya sebesar 21. Sementara dari dasar pertimbangan kedua (aspek kelestarian lingkungan). banyak aspek positif yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha meskipun akan diikuti secara proposional dengan meningkatnya jumnlah pakan ikan rucah yang digunakan. karena peningkatan pakan tersebut berpotensi meningkatkan cemaran (polusi) terhadap lingkungan perairan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. untuk kondisi saat ini ataupun ke depan memberikan subsidi pakan ikan rucah tampaknya kurang tepat.07%. Dari dasar pertimbangan pertama (aspek keberlanjutan usaha) tampaknya baik subsidi benih ikan maupun subsidi pakan keduanya sama-sama berpotensi memiliki peran penting dalam keberlanjutan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. sedangkan komponen pakan ikan khususnya pakan ikan rucah memiliki proporsi biaya sebesar 28. Hal ini terlihat dari besarnya proporsi biaya kedua komponen tersebut (benih ikan dan pakan ikan) terhadap biaya total dari kegiatan usaha tersebut. Meskipun dalam kenyataannya pakan ikan rucah ini memiliki peran sangat penting besar di samping benih ikan dalam kegiatan produksi ikan kerapu di lokasi tersebut.57%. Namun bila dilihat dari sisi prioritas dan fakta di lapang dimana permasalahan benih yang berkualitas semakin mendesak untuk dicarikan solusinya. Diantara aspek positif tersebut adalah dorongan kepada peningkatan penggunaan benih ikan kerapu yang bermutu baik dibanding yang digunakan oleh pembudidayaan saat ini. Dari awalnya untuk menghasilkan ukuran 500 gram per ekor diperlukan periode pemeliharaan kurang dari 12 bulan. Dengan adanya 88 . saat ini sudah bervariasi mulai dari 13 – 16 bulan.

50 1.50 1.pemerintah memberikan subsidi benih yang berkualitas baik. Tabel 3.50 R/C Dengan Subsidi Benih 1. Simulasi Perubahan Rasio Penerimaan terhadap Biaya (R/C) Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran pada Berbagai Perubahan Tingkat Subsidi Benih Ikan (Tanpa dan Dengan Subsidi Benih) Subsidi Benih (%) 5 10 15 20 25 R/C Tanpa Subsidi 1.54 1. Untuk lebih meyakinkan kita. dibandingkan bila benih ikan yang menjadi pilihan tersebut.43 dan Tabel 3. dapat dilihat hasil simulasi pada kondisi tanpa dan dengan subsidi.43.60 Perubahan R/C (%) 1. secara teknis lebih rumit karena dominasi pakan ikan rucah yang notabene diperoleh dari dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang dalam waktu dekat akan dilarang pemerintah yaitu alat tangkap jaring cantrang (jaring gardan).38 3.44. Dengan kata lain. bila pemberian subsidi pakan ikan yang menjadi pilihan.50 1. Sementara di sisi lain. berarti produktivitas usaha budidaya pembesaran dalam KJA di Kabupaten Pesawaran dapat lebih ditingkatkan lagi.58 1. bahwa pemberian subsidi benih ikan ke depan akan efektif dalam meningkatkan keberlanjutan usaha yang diihat menggunakan indicator rasio penerimaan terhadap biaya (efisiensi) usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.56 1. pemerintah menghadapi situasi yang lebih sulit dan kurang dapat memasukkan unsur pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. secara sederhana pada Tabel 3.50 1. Lampung.10 2.45 Sumber: Data Primer diolah dari data primer (2010) Keterangan: R/C = Rasio Penerimaan terhadap Biaya Total 89 . pemberian subsidi berupa pakan ikan.05 6.52 1.69 5.

Bensin b.000 487. Tali e.264.466 77.276 320.53 12.468.02 0. Gudang j.705. Pelampung g.264.750 71.56. Timbangan .257 256.Investasi: a. Tabel 3.1 4. Tempat Pemeliharaan b.655 59.125 7.69% (lihat Tabel 3.Dari Tabel 3.500 3.100 5.556 166.382.101 975.10 3.) Biaya (%) 223. Lampu Penerangan i.264.500 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.511 85.11 1. Gudang j.01 0.466 77.500 3.061.000 23.061.500 1.100 2.101 975.996 1. Solar c.000 16.000 2.679.74 25.081.44).750 326.02 0.14 69.996 1.511 1.500 5.357.03 0. Jaring d. Perahu c.500 449.02 0.344 4.500 5.126.07 0.357.50 menadi sebesar 1. Pelampung g.000 2.655 59. Pompa Air h.000 16.32 1.592.511 100.126.500 41.370. Bambu f.656.453.90 85.49 0.35 0.404. Timbangan 1.43 dan Tabel 3.276 320.43 diketahui bahwa pemberian subsidi benih ikan dapat meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya total (efisiensi) usaha budidaya tersebut.000 29.085.750 326.500 48.679.656.79 23.344 4.31 0.257 256.88 1.404.324. Pompa Air h. Lampu Penerangan i. Bambu f.2 Biaya Tidak Tetap: a.625 Uraian 1.468.511 1.500 449.702.303.00 71. Sebagai gambaran untuk pemberian subsidi benih ikan sebsar 15% akan meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) usaha budidaya tersebut meningkat dari semula (tanpa subsidi benih) sebesar 1.125. Jaring d.705.11 1.000 23.100 2.604 152. Perahu c. Biaya Total: 1.702.87 0. Benih ikan 0.453.500 1.511 30.125.604 159.382.556 166.636 100 71.085.000 7.100 5.07 0.921.000 487. Tempat Pemeliharaan b. atau R/C usaha meningkat sebesar 3.44.1 Biaya Tetap: .Biaya Penyusutan: a.33 21.634.43 0.82 90 .921.750 71. Tali e.) Biaya (%) 230.324.42 0.14 3.264.345.9 0 87.000 29. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam KJA pada Kondisi Tanpa dan Dengan Subsidi Benih 15% Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.

634. Retribusi Kebersihan j.05 0.750 15.430.050 6.66 2.210. Polusi (cemaran) tersebut ditimbulkan dari limbah pakan ikan rucah maupun pakan pelet ikan yang akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya penggunaan benih ikan dalam kegiatan produksi tersebut.50 1.62 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.811.895.57 17.750 28.376. terutama dalam jangka panjang.42 1. Pakan Pelet f Tenaga Kerja f.376.000 621.27 1.000 314. kita akan bahas bagaimana kemungkinan peran (dampak) subsidi benih ikan pada budidaya pembesaran ikan kerapu tersebut terhadap kelestarian lingkungan perairan budidaya. Lampung secara baik dan konsisten. maka hal ini berarti pada lingkungan perairan budidaya tersebut terdapat potensi polusi (cemaran).) Biaya (%) 65.811. Secara normative dapat disampaikan bahwa apabila diberikan subsidi benih ikan pada kegiatan usaha budaya tersebut.) Biaya (%) 65. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah: bila diasumsikan dengan pemberian subsidi benih ikan tersebut.250 3. bila upaya-upaya pengelolaan tersebut tidak 91 . Kemungkinan peran (dampak) negative terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut bisa saja terjadi. namun dalam realitasnya justru hal tersebut dapat tidak terjadi sepanjang dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan perairan budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.555.000 1.700 1.53 6.56 1.000 1. Penerimaan: Produksi ikan kerapu 3. maka diperkirakan akan terjadi beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan perairan di lokasi budidaya dan sekitarnya. Gas Elpiji g.555.000 621.634. Pakan Rucah e.02 0. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.895. Ransum bulanan i.700 1. Air Bersih h.430.735.735.26 Sumber: Data Primer diolah (2010) Selanjutnya.750 7.000 1.67 0.000 1.000 314.210. sehingga berkembang dan menyebabkan daya dukung perairan yang menurun.64 1.750 28.Uraian d. Sebaliknya.68 17.65 2.250 3.12 0.050 6.95 0.60 2. Pajak Kolam Keramba 2.

dilakukan secara baik dan konsisten.918. Secara proporsional. Kolaka terbagi ke dalam 20 kecamatan. maka pemberian subsidi benih ikan sebaiknya dapat diikuti dengan pemberlakuan regulasi yang bertujuan untuk mengendalikan tekanan cemaran terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut. Hasil budidaya perikanan laut Kab. Kolaka terdiri atas Rumput laut.5.39% PDRB Kab. sedangkan budidaya tambak ikan Bandeng di atas 40% dari total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Kolaka. Kolaka terbagi ke dalam 32 wilayah kecamatan. Sebelum tahun 2001. produksi perikanan Kab. Kab. justru dampak negative tersbut berpotensi besar dapat terjadi. namun dalam kurun waktu 2001 sampai 2007 terjadi tiga kali pemekaran wilayah kecamatan sehingga saat ini Kab.1. Kabupaten Kolaka dijadikan lokasi penelitian mewakili perikanan budidaya (laut) mengingat perikanan laut mendominasi produksi perikanan dibandingkan perikanan daratan. Ikan Kerapu dan Mutiara. Kendari Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Kolaka berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. Bandeng. Kabupaten Kolaka. Kolaka disumbang oleh sektor pertanian (termasuk perikanan). Berdasarkan data statistik.000 Km2. Sebagai upaya antisipatif terhadap kemungkinan terjadi dampak negative tersebut. 92 .38 Km2 dan wilayah perairan (laut) sekitar 15. kontribusi nilai hasil produksi rumput laut tahun 2008 dan 2009 di atas 50%. Teripang. dapat dilihat. Kolaka berasal dari perikanan laut (perikanan tangkap dan budidaya). dalam tiga tahun terakhir 30% . Wilayahnya terdiri atas daratan seluas 6. 3. Berdasarkan tabel 4.

604 9.728 22.491 24. dalam kajian ini difokuskan kepada komoditas unggulan.231 9 3 15.6967 55.Berkaitan dengan hal di atas.198 67.566 405 165 137.437 396 138 151.643 110 5 584 500 2008 4.868 24.784 2008 7.033 2008 119. Kabupaten Kolaka.223 2007 109. Tingkat pendidikan rata rata tamat SD dan SLTP dan masih dalam usia produktif (20 – 49 tahun) dengan rata rata usia 34 tahun.75379 52.26243 Budidaya Bandeng Pembudidaya ikan Bandeng di Kecamatan Wolo dan Wundulako mengelola lahan milik sendiri.152 Tambak Teripang Kerapu Rumput laut Mutiara Jumlah 7.919 40 2007 6.15 . Tabel 3.9585 43.849 9.343 389 131 50. Kolaka dilakukan di tambak tambak yang ada di pesisir pantai yang ada di lingkungan sekitar hunian warga.643 112 5 1.817 2009 7.353 273. Jenis budidaya adalah pembibitan dan pembesaran dengan masa 93 .7 ha. dan di Desa Muara Lapao-pao Kecamatan Wolo.3733 46. Pembudidaya ikan Bandeng di Budidaya Bandeng di Kab.273 3.031 9 3 15. menggunakan modal sendiri dengan rata rata luasan kepemilikan lahan 1.Juta) Komoditi 2007 4.697 3 13.007 262.163 162. Perkembangan Luas areal dan Produksi Budidaya Laut di Kab.903 500 2009 4. Kolaka.4819 30. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp.643 110 5 1. 2009 Kontribusi/porsi: Tambak (%) Rumput laut (%) 9.99 9.75 3.44 0.544 2.2 1.169 8. yaitu budidaya rumput laut dan budidaya tambak ikan Bandeng karena bantuan pemerintah banyak ditujukan kepada kedua jenis usaha ini.332 2009 122. Kecamatan Wunduloko.287 8.475 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.64 0.45.776 1. Survey dilakukan terhadap pembudidaya tambak dan rumput laut di Desa Towua.

Bibit alam yang dibeli seharga Rp50 per ekor disimpan dalam tempat yang disebut gelondongan. tanpa adanya bantuan tersebut. Pembeli (pedagang) berasal dari Kolaka dan sekitarnya dan ikanpun dijual dalam bentuk ikan segar di pasar pasar yang ada di Kab.000 ekor per petak tambak. Kolaka. Alasannya. dan racun yang berfungsi sebagai pembasmi ikan liar. Pemberian pupuk lebih didasarkan kepada kemampuan masing masing pembudidaya. Artinya. Tujuan pemberian pupuk dan pengisian air secara bertahap agar tumbuh lumut dan jasad renik yang nantinya berfungsi sebagai pakan alami ikan Bandeng. bibit sudah bisa dipindahkan ke tambak untuk tahap pembesaran. Setelah lama pemeliharaan 4 bulan. mulai dilakukan panen. Tidak ada acuan baku yang diikuti dalam pemberian pupuk. hampir tidak ada pembudidaya yang memberi pakan tambahan dalam bentuk apapun. pembeli (yang disebut pembonceng) membeli langsung ke tambak dan membeli secara eceran sebanyak 100 – 200 ekor. jenis bantuan yang diberikan berupa benih nener dan benur tidak secara signifikan membantu keberlanjutan usaha para petani tambak. Sistem panen dilakukan bertahap. bantuan benih tersebut diakui dapat menggeser alokasi modal yang telah mereka perhitungkan. Selanjutnya. Waktu 2 bulan ini dimanfaatkan untuk mengeringkan tambak sebelum tahap penebaran/penanaman bibit dimulai. bibit ditebar yang biasanya berjumlah 2.000—3. modal yang sebelumnya telah dianggarkan untuk 94 . Selama pembesaran. Hanya saja. dimana pasar yang ada terbatas pada pasar lokal dan belum ada industri pengolahan ikan Bandeng membuat harga jual jatuh pada saat panen bahkan kadang tidak terserap pasar. Menurut petani tambak yang diwawancarai. Caranya. mereka tetap dapat menebar benih pada musim-musim penanaman. Kondisi ini.. Dalam waktu 2 bulan. Kalaupun diberi pakan pelet. Gelondongan tersebut diletakkan di dasar tambak yang mampu menampung bibit sebanyak 15 ribu ekor yang biasanya diisi 2 kali dalam setahun. Proses pengeringan tambak biasanya memerlukan waktu satu bulan dan sisa waktu satu bulan digunakan untuk pemberian pupuk kimia (Urea dan TSP). Kemudian tambak diisi air secara bertahap.pemeliharaan 6 bulan. itupun sekedarnya saja.

031 2009 1.44 1. Input berupa pupuk merupakan bahan baku utama yang diperlukan dalam usaha tambak ini sehingga sebagian besar modal diperuntukkan untuk membeli pupuk.51 1.57 1. Produksi (Ton) 2007 1.697 2008 1.58 1.membeli benih ikan dapat digeser untuk alokasi pupuk atau biaya input lainnya.989 7.53 1. input berupa mesin juga sangat diperlukan para petani yang selama ini belum pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah.58 1.56 1. bantuan berupa pupuk dan mesin pompa menjadi harapan petani tambak bandeng dan udang.54 1.57 1.45 1.51 1. Sementara itu.47 1.645 2009 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4. pertumbuhan ikan menjadi sangat bagus karena lingkungan tambak yang kondusif bagi tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan oleh bandeng dan udang. Tabel 3.258 1. Faktor utamanya adalah karena program bedah tambak ini dapat mengaktifkan kembali tambak yang telah lama ditinggalkan karena sudah tidak layak pakai.45 2008 1.44 1.049 7.56 1.56 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Tambak di Kab.894 6.52 1. Kolaka.51 1.175 1. pengadaan kedua input tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah setempat.45 1. Saat ini.54 1.46 1.52 1.407 545 69 836 171 428 172 1.52 2009 1.51 1. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Baula Pomalaa Tanggetada Watubangga Total 2007 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4645 2008 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.56 1. Selain itu.44 1.52 1. Bantuan untuk melakukan bedah tambak diakui sangat bermanfaat. baik untuk keberlanjutan usaha maupun bagi kelestarian sumber daya.46. harga pupuk saat ini sangat mahal sehingga dirasakan sangat membebani para petani tambak.233 1. Untuk itu.44 1.45 1.53 1.645*) Vol.477 572 72 878 179 450 181 1. Pada kenyataannya.221 Produktivitas (ton/ha) 2007 1. 2009 Catatan: *) Belum termasuk bantuan bedah tambak 240 ha 95 .507 589 74 909 186 463 186 2.

Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya yang menunjukkan bangunan rumah yang sederhana serta tidak adanya kendaraan bermotor di rumah. Wolo 0% 7% 2. Watubangga 0% 8% Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Prosentase Peningkatan Luas areal dan Produksi Tambak Tiap Kecamatan di Kab. Perubahan yang kasat mata adalah dengan dibangunnya rumah yang permanen. dan dimilikinya kendaraan bermotor. usaha budidaya Rumput laut mencapai masa jayanya.47. Kolaka Tahun 2007-2009 No Kecamatan Luas areal Vol. Tanggetada 0% 8% 9. Kolaka 0% 7% 5. Dalam kurun waktu tersebut. Bahkan. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan sumber daya sudah berbasis masyarakat sehingga telah tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian sumber daya di kalangan pelaku utama perikanan sendiri. Samataru 0% 7% 3. Akibatnya. Pomalaa 0% 8% 8. produksi 1. Masalah mulai timbul dalam budidaya Rumput laut sejak awal tahun 2008. Latambaga 0% 8% 4. Baula 0% 9% 7. banyak nelayan yang beralih menjadi pembudidaya rumput laut. berupa gangguan yang menyebabkan bibit Rumput laut yang berumur 3 96 . Sulawesi Tenggara. Selama periode 2004 hingga 2008. Booming rumput laut dimulai pada tahun 2004 sejak tindakan bom ikan oleh para nelayan dikecam oleh masyarakat sekitarnya. 2009 Budidaya Rumput Laut Rumput laut merupakan komoditas budidaya unggulan di Kabupaten Kolaka. rumput laut juga mampu menarik perhatian para pembalak kayu sehingga penebangan hutan berkurang cukup signifikan yang mengakibatkan kelestarian hutan juga terjaga.Tabel : 3. Kolaka. Wundulako 0% 9% 6. kesejahteraan pembudidaya menunjukkan peningkatan yang berarti. adanya tabungan di bank.

baik kelompok budidaya maupun kelompok tangkap laut. Untuk itu. Sementara pada 97 . dan para-para atau tempat menjemur rumput laut. Masalah lain yang ada terkait dengan batas-batas lahan budidaya yang mengakibatkan adanya konflik antar sesama petani rumput laut maupun antara petani rumput laut dengan nelayan. jangkar. tali. Untuk itu. dinas membuat rambu-rambu batas rumput laut yang menyala saat malam hari. pelampung. Selama ini. Sulawesi Selatan. Bantuan pada 2004 hingga 2006 berbentuk paket berupa bibit. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berusaha menyelesaikan konflik tersebut dengan mengundang Kepala Desa dan kelompok-kelompok. Gangguan ini belum teridentifikasi faktor penyebabnya. Akibatnya. kepadatan lahan. Untuk itu. Kabupaten Kolaka baru mampu menembus pasar lokal dan pasar Makassar yang diambil oleh pedagang besar untuk kemudian diekspor. atau karena lingkungan budidayanya. Kecamatan Muaralapao-pao. Untuk itu. cara tersebut dapat diterima oleh para pembudidaya rumput laut dan nelayan. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengatur jalur-jalur perhubungan bagi lalu lintas kapal nelayan yang akan ke atau dari laut. Pemasaran hasil produksi berupa rumput laut kering juga menjadi masalah bagi pembudidaya. produktivitas hasil sangat rendah. petani rumput laut sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk memperluas pasar yang selama ini hanya diserap oleh pasar di Makassar. para petani tambak sangat mengharapkan adanya penelitian atas masalah tersebut agar gangguan tersebut dapat diatasi dengan cepat. jumlah produksi yang besar dapat terjual dengan harga jual yang tinggi. Rambu-rambu tersebut dibuat dengan menggunakan pelampung dan pemberat agar tidak bergeser karena arus laut. Selama ini. Dengan demikian. rumput laut kering dari Desa Barbarina. Komoditas rumput laut telah tersentuh bantuan sejak tahun 2004—2010.minggu menjadi hancur. apakah karena kualitas bibit. produksi rumput laut yang ada sering menumpuk di gudang penyimpanan sehingga harga jual menjadi turun. Akibatnya.

Hal inipun sangat bergantung pada besar kecilnya perahu sehingga kapasitas untuk memuat rumput laut berbeda. Artinya.585 3.921 Vol.525 1.817 22.826 2. Bantuan tersebut diberikan satu kali dalam setahun.123 1.379 2.355 4.119 2.904 1. Kolaka. Kegiatan panen ini biasanya tidak bisa dilakukan sekali jalan. gudang penyimpanan sederhana terbuat dari kayu yang dibangun di bawah rumah salah seorang ketua kelompok. bantuan lain yang diharapkan adalah bantuan berupa gudang penyimpanan dengan bangunan yang permanen.422 1. Produksi (Ton) 2007 2008 2009 2. Bantuan yang diberikan bersifat seragam sehingga setiap kelompok yang mendapat bantuan akan menerima barang yang seragam.tahun 2007 hingga sekarang. keberadaan perahu bermotor sangat diharapkan oleh para petani rumput laut untuk mengganti perahu dayung yang selama ini mereka gunakan.48. Untuk itu. Selama ini.039 1. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Rumput Laut di Kab. apalagi jika lokasi lahannya berada jauh dari tepi pantai.265 1. Sementara itu.788 1.280 1.429 13. Selain itu. Contohnya.861 2.523 3. bantuan tahun 2009 adalah bibit dan tali maka setiap kelompok akan mendapat bibit dan tali dalam jumlah dan kualitas yang sama. bantuan hanya berupa bibit dan tali.690 1. Gudang penyimpanan ini sangat diperlukan untuk menampung hasil panen hingga pedagang pengumpul dari Makassar datang mengambil. 2009 98 .110 2.750 3. bantuan tidak dibedakan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok.784 16. Kolaka Tahun 2007-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Total Luas areal (ha) 2007 2008 2009 89 291 294 117 396 398 90 307 310 61 201 203 54 191 193 48 156 158 61 199 201 61 163 164 581 1.068 2.370 1. bantuan mesin untuk perahu bermotor sangat diperlukan oleh para petani untuk memantau kondisi rumput laut setiap dua hari sekali dan juga untuk mengangkut hasil panen.374 1.497 1.074 Produktivitas (ton/ha) 2007 2008 2009 23 9 11 24 8 11 24 8 11 23 9 11 24 8 11 23 9 11 25 9 13 25 11 15 24 9 12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.735 2. Tabel 3.562 2.

Peningkatan Luas areal dan Produksi Rumput Laut di Kab.44 232.51 168. Kolaka.49.0 30.0 30.61 0. Ini dilakukan agar pemilik tambak mengolah tambaknya secara berkelanjutan.5 59 22.17 244.51 0. Program bantuan atau subsidi langsung diberikan kepada pembudidaya di Kabupaten Kolaka.93 07-09 230. tali ris dan jangkar.7 225.5 59 22. Produksi (%) 07-08 08-09 07-09 22.3 50 22.08 Vol.0 31.2 226. Pemilik tambak hanya membayar setengah dari total biaya penataan lahan tambak.28 1.0 238.00 1. dan bantuan berupa “bedah tambak”. Selanjutnya.1 229. 99 .05 1. Bantuan langsung (penerima langsung mendapatkan/menerima bantuan).7 61 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kolaka Tahun 2007-2009 No.3 80 22. Prosedurnya.0 226.5 241. dan secara tidak langsung (masyarakat tidak langsung menerima bantuan tetapi merasakan manfaatnya).5 59 22.17 229.0 30.5 59 22. proposal tersebut diverifikasi lapang oleh petugas dinas untuk melihat kebenaran dari informasi yang disampaikan dalam proposal.01 0.5 59 22.0 30.0 47. Proposal tersebut harus diketahui oleh kepala desa dan ditandatangani oleh semua anggota kelompok.85 229. Selanjutnya.0 30.5 59 22. gudang penyimpanan dan mesin perahu). bukan secara perorangan. berupa sarana produksi seperti: untuk budidaya rumput laut (bibit rumput laut.5 253.0 23.Tabel 3.98 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Rata rata 07-08 227.0 Luas (%) 08-09 1. untuk budidaya ikan Bandeng (benih.41 229. 2009 Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Subsidi/bantuan kepada pembudidaya dapat dikelompokkan berdasarkan manfaat yang diterima oleh masyarakat pembudidaya. yaitu pemda memfasilitasi pengerjaan pembuatan/pembenahan tambak tambak masyarakat yang terbengkalai. setiap kelompok budidaya melalui ketua kelompoknya mengajukan permohonan bantuan dalam bentuk proposal yang di dalamnya dicantumkan jenis bantuan yang dibutuhkan.0 30.79 257. Bantuan yang selama ini diberikan untuk kelompok pembudidaya.2 167.34 240.03 0.

Budidaya rumput laut . Hal itu sangat membantu keberlanjutan usaha mereka.000 = Rp2. (b) belum pernah mendapat bantuan.Budidaya rumput laut merupakan a) Pengembangan Sapras Budidaya penyumbang pendapatan sektor Rumput laut (bibit. Tabel 3.kelompok pembudidaya yang mendapat bantuan disahkan dalam Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka. Jika untuk memperbaiki tambak memerlukan waktu 8 jam maka bantuan akan diberikan sebanyak 4 jam atau sebesar 4 jam x Rp500. Artinya. Program bantuan/subsidi tidak langsung dapat berupa pembangunan sarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya.000. Program ini terbukti sangat disambut baik oleh para petani tambak karena tambak yang telah rusak dapat dihidupkan kembali. Patokan yang digunakan adalah biaya pengerjaan tambak per jam yang besarnya Rp500. tali ris. namun terjadi kecenderungan penurunan produksi dan luas lahan karena 100 .000. Untuk itu. biaya bedah tambak akan dibantu pemerintah dengan nilai 50 persennya saja. Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Subsidi/Bantuan langsung Dasar pertimbangan 1. Sedangkan biaya 4 jam lagi ditanggung oleh petani tambak. jangkar) perikanan kedua terbesar setelah budidaya tambak. (c) siap sharing dalam bantuan yang sifatnya fifty-fifty karena tanpa komitmen ini bantuan akan gagal sehingga usaha budidayanya tidak mampu berkembang. Program ini mulai dilakukan tahun 2007 hingga sekarang karena pada periode tersebut banyak tambak yang terbengkalai (idle) akibat pendangkalan yang pada terjadi pada tambak.50.000. Bantuan dengan sistem fifty-fifty khusus diberikan untuk program bedah tambak. Adapun kriteria pemberian bantuan adalah: (a) prioritaskan pembudidaya yang miskin. pemerintah berusaha mengoperasikan tambak-tambak tersebut dengan cara membantu biaya perbaikan tambak. Jenis bantuan/subsidi dan dasar pertimbangannya No A.

Pembangunan Hatchery 3. namun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat.Teripang merupakan komoditas yang memiliki prospek harga yang bagus.No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan b) Pengadaan sarana penunjang budidaya rumput laut (kayu tiang. Penyempurnaan Sapras Hatchery Wolo 5. Pengembangan Pembudidaya Teripang (bibit. .Perlu pemacuan dalam penyediaan benih bermutu dalam jumlah besar. waring. Subsidi/bantuan tidak langsung 1. Bantuan langsung pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan produksi. maupun hutan bakau di pesisir. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tambak B. Sedangkan bantuan tidak langsung berupa pembangunan prasarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. Wundulako Bentuk-bentuk Subsidi Perikanan Seperti yang telah dikemukakan di atas. tali. paku) Dasar pertimbangan . .Banyak lahan tambak terbengkalai karena pemiliknya tidak cukup dana untuk penggalian dan penataan lahan tambaknya yang sudah dangkal dan tumbuh gulma. Pemantapan BBI Loea. 101 . oleh pemerintah (pusat dan daerah) secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pembudidaya. Pembangunan Tower Hatchery Watubangga 4.Potensi konflik batas lahan budidaya rumput laut dan jalur pelayaran sehingga perlu penataan dan penertiban . kayu) 3. 2. subsidi/bantuan yang diberikan .Masyarakat pembudidaya kesulitan dalam mendapatkan benih. kayu lantai. dalam jumlah maupun kualitas yang diharapkan. Akibatnya mereka kehilangan sumber pendapatan dari budidaya ikan sehingga beralih menjadi perambah hutan di bukit bukit sekitar daerah hunian. Mowewe. Rehabilitasi Kantor BBI Wundulako 2.

500 - 75. Kolaka. Pembangunan tower hatchery di Kec. Penyempurnaan sarana prasarana hatchery di Kec. Bantuan/Subsidi langsung Budidaya Rumput laut Pengadaan sapras (bibit. waring. 3 paket 110. Pemantapan BBI Loea di Mowewe.7. Bentuk bentuk bantuan tidak langsung yang dilakukan (yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dan budidaya tambak) diantaranya: Rehabilitasi kantor BBI Wundulako. kayu dan lainnya yang fungsinya untuk budidaya Rumput laut dan pembuatan para para untuk penjemuran rumput laut hasil panen. tali ris.000 - 5 unit 240 ha 94. pembelian bibit.300 7 klp 83.000 6 paket - 400. a) b) 2.250. bentuk bentuk bantuan langsung berupa: pembelian bibit.000 - - 10 paket 100 ha 63. serta subsidi biaya penggalian dan penataan lahan tambak yang terbengkalai. tali dan kayu untuk budidaya Teripang. Pembangunan hatchery. waring. jangkar Sarana penunjang (kayu tiang.372 kg - 362. tali) Rehab dan konstruksi tambak Bantuan/Subsidi tidak langsung Pembangunan Hatchery Tower hatchery Watubangga Penyempurnaan sapras hatchery Wolo Pemantapan BBI Loea. Wundulako 102 .000 4. 1.200 - - B. diolah. 1 unit 1 unit - 167. talli ris. 50 paket - 415.000 - - - - Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Wolo. lantai) Budidaya Teripang (bibit. Jenis dan bantuk bantuan/subsidi perikanan budidaya laut di Kab.Tabel 3.900 - - - 1 unit - 63.950 400. 3. Watubangga. Mowewe. 2.185 49.000 - - 559. 3.900 1 unit - 75.51. 1.000 2 paket 4 paket - 1. jangkar. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.000 8. Kolaka tahun 2007 – 2010 No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Vol 2007 Alokasi (000) Vol 2008 Alokasi (000) Vol 2009 Alokasi (000) Vol 2010 Alokasi (000) A.

52 ton/ha (2008) dan kemudian 1. Dengan demikian. Berbeda dengan ikan bandeng. meningkat menjadi 1.Peran Subsidi Perikanan Dalam kurun waktu 2007 sampai dengan 2009 tidak terjadi pertambahan luas areal tambak yang diusahakan untuk budidaya.56 ton/ha (2009). mengingat pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya tambak Bandeng. Demikian juga volume produksi ikan hanya meningkat 8-9%. (2) Petani tambak tidak cukup dana untuk memberi pakan secara intensif dan hanya mengandalkan pakan alami sehingga harus mengurangi padat tebar yang berpengaruh kepada produktivitas hasil. produksi dan produktivitas budidaya Rumput laut. Seperti yang telah dikemukakan di 103 . pembinaan kelembagaan pemasaran dan kemudahan akses pasar akan lebih menjamin dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. budidaya rumput laut justru terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008 baik dalam hal luas lahan. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bantuan berupa bedah tambak perannya cukup nyata terhadap budidaya Bandeng. Kondisi ini terjadi karena: (1) Petani tambak tidak cukup dana untuk merehabilitasi tambaknya yang sudah puluhan tahun digunakan dan telah terjadi pendangkalan.45 ton/ha (2007). produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan. Dalam jangka panjang program ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan usaha dan kelestarian sumberdaya. Namun demikian. luas lahan tambak yang difungsikan relatif tetap bahkan cenderung akan berkurang karena pendangkalan yang terjadi terus menerus akibat penebangan hutan di bukit dan hutan mangrove di pesisir. Akibatnya. Agar produk yang dihasilkan dapat diserap oleh pasar. Inipun baru sebatas perannya terhadap pertambahan luas lahan yang dilakukan dalam tahun 2009 (240 ha). Dampak langsung yang sudah dapat dilihat adalah berkurangnya perambah perambah hutan dan penebang hutan bakau karena sebagian dari pemilik tambak sudah dapat mengopersionalkan kembali tambaknya. sedangkan produktivitas hasil yang rendah yaitu 1. maka bantuan untuk pakan merupakan pilihan utama setelah bedah tambak.

Jika dikaji lebih dalam melalui perbandingan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 dapat dilihat bahwa dalam hal luasan lahan terjadi peningkatan luas sebesar 229%. karena selama ini pembudidaya melakukan perbanyakan sendiri dari bibit yang mereka gunakan yang tentunya kualitas bibitnya semakin menurun. sudah saatnya bantuan/subsidi dalam budidaya Rumput laut dirancang dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya. peran bantuan/subsidi pada komoditas Rumput laut baru sebatas penambahan areal budidaya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: penyediaan bibit unggul. belum berperan terhadap peningkatan produksi dan produktivitas yang merupakan muara dari program pembangunan yaitu peningkatan pendapatan usaha dan keberlanjutan usaha masyarakat yang dalam hal ini masyarakat pembudidaya Rumput laut. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada budidaya Bandeng. Agar mutu hasil produksi dapat tetap terjaga sampai siap dijual. hal ini terjadi karena adanya serangan hama/penyakit pada bibit Rumput laut yang masih muda. media penjemuran (para para) dan gudang penyimpanan hasil sangat diperlukan. Cara lain dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan (teknis dan non teknis) seperti teknis budidaya yang baik. Ke depan. Namun hal ini tidak langsung diikuti oleh peningkatan produksi yang signifikan karena ternyata produksi hanya meningkat 61%. dan manajemen usaha. 104 .bagian terdahulu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful