3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kota Ambon Gambaran umum lokasi penelitian Luas Kota Ambon adalah 377 km2 (luas daratan sekitar 359,45 km2 ), dengan demikian luasnya meliputi hampir separuh dari luas pulau Ambon. Secara geografis, Kota Ambon terletak pada 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur yang berbatasan dengan:    Sebelah Utara : Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda Sebelah Timur : Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Barat

: Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, 2008 Gambar 3.1. Peta Administratif Kota Ambon Saat ini Kota Ambon dibagi dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, dan Leitimur Selatan. Jumlah desa atau kelurahan yang tersebar di kelima kecamatan tersebut sebanyak 50 desa/kelurahan. Berdasarkan luas wilayahnya, maka Kecamatan

12

Teluk Ambon merupakan kecamatan terluas, yaitu 93,68 km2. Sebaliknya, Kecamatan Teluk Ambon Baguala menjadi kecamatan dengan luas wilayah paling keci, yaitu 40,11 km2. Dengan batas wilayah yang demikian maka perairan Kota Ambon dipengaruhi oleh dinamika laut Banda. Dari 50 Desa/Kelurahan, maka 34 Desa/Kelurahan (68%) berada pada kawasan pesisir, sedangkan desa-desa lainnya terletak di daerah pegunungan dan jauh dari pantai. Desa-desa di daerah pegunungan tersebut memiliki ”hak petuanan” di kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan Laporan Statistik PPN Ambon (2009), jumlah penduduk Kota Ambon yang bermata pencaharian tergantung pada perikanan hanya sebesar 1,4 persen dengan jumlah nelayan dan rumah tangga perikanan (RTP) masingmasing sebanyak 3.796 jiwa atau 3.378 rumah tangga. Nelayan Kota Ambon dapat dikatakan sebagai nelayan sub-sisten. Jumlah nelayan terbesar terdapat di Kecamatan Nusaniwe (34,61%) yang terkonsentrasi di Desa Latuhalat (Tabel 3.1). Latuhalat menjadi sentra kegiatan penangkapan karena kondisi perairan yang menunjang produksi perikanan tangkap. Namun, beberapa desa pesisir lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi untuk budidaya perikanan, pengolahan, eko-wisata laut. Tabel 3.1. Jumlah Nelayan dan RTP Kota Ambon Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Teluk Ambon Teluk Ambon Baguala Sirimau Leitimur Selatan Nusaniwe Jumlah Jumlah Nelayan 677 819 372 614 1,314 3,796 Jumlah RTP 593 725 293 547 1,22 3,378

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon, 2008 Usaha perikanan di Ambon terdiri dari usaha perikanan komersial dan usaha perikanan rakyat. Usaha perikanan komersial ditunjukkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang berpangkalan di Kota Ambon

(fishingground penangkapan adalah di perairan Maluku dan Papua). Sementara itu, usaha perikanan rakyat pada umumnya terdiri dari kapal ikan ukuran kecil

13

sampai ukuran 30 GT.

Berkembangnya usaha perikanan didaerah tersebut

berpotensi mempengaruhi ketersediaan ikan. Saat ini di Ambon semakin banyak tertangkap ikan tuna ukuran kecil (baby tuna), ini merupakan pertanda stok ikan semakin berkurang. Di Kota Ambon terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang tesebar pada beberapa lokasi. Kapal yang berkunjung ke PPN Ambon sangat bervariasi, baik jenis alat tangkapnya maupun ukuran kapalnya. Selain kapal penangkap ikan, ada pula kapal pengangkut yang berperan sebagai kapal pengumpul ikan dari beberapa kapal penangkap ikan yang berada di tengah laut. Kapal pengangkut ikan ini juga berfungsi sebagai penyuplai bahan bakar dan perbekalan untuk biasanya memiliki trip hingga 6 bulan. Jumlah kapal pengangkut yang singgah di PPN Ambon, yaitu sebanyak 275 kapal atau 32 persen dari total kapal yang berkunjung. Ukuran kapal pengangkut antara > 10—1000 GT yang didominasi oleh ukuran 51—100 GT. Sementara itu, kapal penangkap dengan alat tangkap pukat tarik ikan, pukat tarik udang ganda, dan huhate adalah kapal yang paling banyak berkunjung di PPN Ambon masing-masing sebanyak 26 persen, 17 persen, dan 7 persen dari jumlah kapal yang berkunjung ke PPN Ambon. Jenis ikan yang dominan didaratkan selama tahun 2009 adalah ikan pelagis kecil, seperti: ikan gulamah/tigawaja, layang, layur, dan ekor kuning, sedangkan dari jenis non-ikan adalah cumi-cumi (Gambar 3.2). Ikan gulamah/tigawaja adalah ikan yang paling banyak didaratkan, mencapai 61,24 persen dari total ikan yang didaratkan. Gambar 3.2. menunjukkan ikan yang didaratkan didominasi oleh ikanikan kecil yang umumnya banyak dijumpai di pasar lokal. Ironisnya, Kota Ambon sangat kaya akan ikan-ikan pelagis besar, seperti ikan tuna, tongkol, dan cakalang serta ikan karang seperti lalosi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan berupa ikan pelagis besar tidak didaratkan di PPN, tetapi langsung dijual ke awak kapal penangkap yang

14

2008) Penyaluran logistik untuk kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh PPN Ambon meliputi air bersih. kebutuhan es seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam pelabuhan karena 15 . Dari hasil pengamatan. keterbatasan infrastruktur dalam pelabuhan membuat nelayan harus mencari sumber logistik di luar pelabuhan. Persentase Produksi menurut jenis ikan dominan Selain sebagai tempat pendaratan ikan serta berlabuhnya kapal-kapal penangkap dan pengangkut ikan .2. Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah perusahaan kapal mendapat kesulitan untuk melakukan docking karena fasilitas yang tersedia hanya melayani ukuran kapal di bawah 500 GT.perusahaan-perusahaan sebagai komoditas ekspor. Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon. berasal dari dalam dan luar pelabuhan. Hal inilah yang mendorong sulitnya nelayan mendapatkan kebutuhan logistiknya secara cepat dengan harga yang terjangkau. PPN Ambon tidak memiliki stasiun pengisian bahan bakar berupa SPDN atau SPBB sebagai agen resmi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal nelayan. nelayan yang menangkap ikan tuna langsung membawa hasil tangkapannya ke perusahaan yang menawarkan harga tertinggi agar keuntungan yang nelayan peroleh besar. dermaga laut dan pelabuhan tersedia 19 buah untuk melayani angkutan penumpang dan barang. (Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. misalnya. Kebutuhan nelayan akan air bersih dapat dapat disuplai dari dalam PPN Amon. Padahal. Dari hasil pengamatan. PPN Ambon kurang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya. Penyaluran logistik air bersih. dan BBM/solar. es. Namun. Sebaliknya. 2009 Gambar 3. sedangkan kebutuhan BBM/solar sepenuhnya berasal dari luar pelabuhan.

50 857.2 26.5 1.2 2.50 1.8 14.186.741.2 2. layang.279.30 3 1.607.016 16. Volume dan nilai produksi perikanan per jenis ikan tahun 2009 Jenis ikan Cakalang Kembung Lalosi Teri Layang Selar Tongkol Tuna Lainnya Jumlah Produksi Volume (Ton) Nilai (Rp.927.00 17 1.2 2.526 9.016 13 2. 2009 Produksi ikan pada tahun 2009 adalah 22.50 16.700 1.40 11.200 9.200 72.941. dan tuna dengan nilai produksi terbesar berasal dari ikan cakalang.981.5 29.3.6 1.550 5.000 23.710. cakalang. 2009 16 .9 7.1 1.320 15.5 Kebutuhan Logistik Es Balok (Ton) BBM/Solar (Ltr) 13 1.292 17. dan layang.1 400.210.3 3.252.5 3. Tabel 3.898.4 830 1.757 milyar.7 1.pelabuhan memiliki pabrik es yang produksinya cukup memenuhi kebutuhan nelayan Kota Ambon.7 ton dengan total nilai sebesar Rp72.2.343.617.845.312 985 1.50 16.6 2.5 603.724.604.927.8 22.30 16.000 659.343. Hal ini disebabkan oleh karena ikan-ikan tersebut merupakan komoditas ekspor utama dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar luar negeri.4 Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon. Tabel 3. tongkol.000) 5.757.80 9.005.810 147.242 1.031.413.453 6. Jumlah logistik kapal penangkap ikan di PPN Ambon pada tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Air (Ltr) 368 903.000 620.770 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.3 696.369.422.800 300.851.7 857. Jenis ikan yang paling besar sumbangannya terhadap total produksi adalah ikan tongkol.7 1.1 4.7 35.

dan pukat pantai. Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. perahu motor tempel (outboard engine) dan kapal motor dengan mesin dalam (inboard engine). purse seine. alat tangkap lainnya.3%). juga tergolong banyak karena ada 10. Armada penangkapan yang mengoperasikan alat tangkap pancing tangan (hand 17 . dan pancing tonda (7.4 persen nelayan Kota Ambon menggunakan alat tangkap tersebut.8%). jaring angkat.3%). yaitu sebanyak 67 persen dan sisanya 32 persen didominasi oleh perahu dengan motor tempel. antara lain hand line. rawai. dan rumpon.3. jaring insang. panah. jaring insang (9. tangguk. Prosentase kapal motor dengan mesin sebagai armada penangkapan hanya digunakan oleh satu persen nelayan Kota Ambon. seperti bubu. Armada penangkapan ikan di Ambon tahun 2009 Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Kota Ambon sangat bervariasi. Kapal tanpa motor lebih banyak digunakan dibandingkan perahu motor tempel dan kapal motor. alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tangan (56%). jaring angkat (14. Namun.Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor (perahu semang). dari sisi manfaat dapat melibatkan banyak nelayan dalam operasional alat tangkap tersebut. pancing tonda. huhate. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Selain itu. jala. Alat tangkap huhate (pole and line) dan giob atau bobo (purse seine) adalah jenisjenis alat tangkap yang sedikit sekali penggunaannya karena sarana penangkapan ini tergolong mahal. 2009 Gambar 3.

Untuk itu.4. misalnya gill net. Hal ini terbukti dengan samanya jumlah trip hari untuk musim angin barat dan angin timur 18 . gelombang. dan bottom gill net. dan angin yang cukup besar.line) umumnya juga menggunakan alat tangkap lainnya. dan bahan bakar yang digunakan dapat dipelajari dari Tampilan Tabel 3. baik ukuran panjang kapal dan kekuatan mesinnya. bantuan kapal yang diterima nelayan biasanya tidak dapat langsung digunakan karena harus dimodifikasi terlebih dahulu. Daerah penangkapan ikan umumnya berada di dalam teluk dan pada perairan di sekitar teluk Ambon. karena jika angin kencang tidak terjadi di seluruh wilayah perairan karena terhalang oleh pulau dan gunung di sekeliling teluk. Karakteristik Usaha Responden Karakteristik responden menurut kepemilikian kapal.<10GT dan sisanya (30 persen) memiliki kapal berukuran < 5 GT. Ukuran kapal tersebut menyebabkan nelayan tidak mampu menangkap ikan di lautan lepas karena ukuran kapal tidak mampu melawan arus. Nelayan Ambon tidak terpengaruh oleh musim. jenis alat tangkapnya. Dengan demikian. nelayan cenderung mudah berpindah daerah penangkapan (fishing ground) sehingga kegiatan penangkapan tidak terganggu dengan adanya perubahan musim angin. Kondisi ini memang memaksa nelayan untuk menggunakan kapal dengan ukuran panjang dan lebar kapal yang berbeda. Berdasarkan kepemilikan kapal 70 persen responden memiliki kapal dengan ukuran ≥5GT . tramel net.

Tabel 3.4. Karakteristik responden dari aspek teknis
Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT
< 5 GT

Jumlah 9 21 0 0 30 9 8 13 30 25 5 30

Prosentase 30 70 0 0 100 30.00 26.67 43.33 100 83 17 100

≥5GT - <10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT - <100GT Jumlah Jenis Alat Tangkap Pancing tonda Purse seine Gillnet Jumlah Bahan Bakar yang digunakan Bensin Minyak tanah Jumlah

Sumber: Data primer diolah, 2010 Tabel 3.5 menunjukkan pendapatan dan Pengeluaran dari kegiatan penangkapan ikan. Pada nelayan pancing tonda, penerimaan diperoleh dari penjualan ikan tuna pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp1.707.111. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 593.611 yang dialokasikan untuk membeli bensin, oli, es, ransum, dan biaya di darat berupa perawatan kapal. Dengan demikian, keuntungan yang diterima nelayan pancing tonda adalah sebesar Rp1.113.500/trip. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 50% untuk pemilik kapal, 25% untuk nahkoda dan 25% lagi untuk ABK. Pada prakteknya, keuntungan tersebut dibagi dua untuk pemilik dan ABK mengingat biasanya kapal pancing tonda bekerja dengan anggota keluarganya sendiri sehingga bagian ABK adalah Rp 556.750 pada trip terakhir. Untuk kapal purse seine, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dua jenis alat tangkap lainnya. Penerimaan yang diterima pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp3.054.085 dari penjualan ikan kawalinya Rp885.000 dari nilai ikan momar Rp2.973.000 sehingga total penerimaannya adalah Rp3.858.000. Dengan biaya operasional sebesar Rp803.915 maka besarnya

19

keuntungan adalah Rp3.054.085. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 40% untuk pemilik kapal, 30% perawatan, dan perbaikan kapal, 27% untuk ABK, dan 3% untuk nahkoda. Banyaknya ABK yang bekerja di sebuah kapal purse seine membuat penerimaan riil yang diperoleh ABK justru kecil dibandingkan dengan ABK di kapal pancing tonda, yaitu ± Rp41.270 untuk seorang ABK. Tabel 3.5. Pendapatan dan Pengeluaran Kegiatan Penangkapan Ikan
Uraian Penerimaan (Rp) Tuna Selar (Kawalinya) Layang (Momar) Tongkol Kembung (Lema) Jumlah Biaya operasional (Rp) Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Ransum biaya di darat Total Biaya Operasional Keuntungan (Rp) Pancing tonda (< 5 GT) 1,707,111 885,000 2,973,000 1,200,000 288,400 1,488,400 Jenis Alat Tangkap Purse seine (≤ 5-10 GT) Gillnet (≤ 5-10 GT)

1,707,111

3,858,000

0 322,222 0 66,444 41,556 38,389 125,000 593,611 1,113,500

0 118,125 128,250 116,875 13,200 105,625 321,840 803,915 3,054,085

75,000 69,688 15,533 55,714 98,000 15,750 53,333 308,018 1,180,382

Sumber: Data primer diolah, 2010 Alat tangkap gillnet rata-rata menangkap ikan tongkol dan lema sehingga penerimaannya dari kedua jenis ikan tersebut adalah Rp1.488.400. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung rendah karena kapal gillnet tidak banyak membeli oli, minyak tanah, dan ransum sehingga total biaya operasionalnya adalah Rp308.018. Rendahnya biaya operasional ini disebabkan oleh karena nelayan gillnet memiliki trip penangkapan setiap hari sehingga biaya ransum dan biaya bensinnya rendah. Setelah dikurangi dengan biaya operasional tersebut maka besarnya keuntungan sebesar Rp1.180.382. Selanjutnya, sistem

20

bagi hasil dari keuntungan tersebut adalah 60% untuk pemilik, 6% untuk nahkoda, dan 34% untuk ABK. Seperti halnya kapal purse seine, banyaknya ABK yang bekerja membuat bagian keuntungan yang diterima oleh seorang ABK sedikit, yaitu ± Rp40.000.

Bantuan Usaha Perikanan Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatagorikan sebagai subsidi. Namun bantuan ini sifatnya tidak reguler karena diberikan pada keadaan tertentu. Bantuan ini adalah bentuk intervensi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu berjalannya usaha penangkapan ikan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat langsung berupa uang tunai atau peralatan tangkap yang langsung diserahkan kepada kelompok nelayan, misalnya subsidi BBM atau bantuan kapal dan alat tangkapnya bagi kelompok nelayan terpilih. Ada pula subsidi yang diberikan secara tidak langsung, misalnya berupa penyediaan fasilitas untuk memperlancar usaha penangkapan. Intervensi yang intensif kepada nelayan lebih banyak dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Akan tetapi, bentuk intervensinya lebih bersifat pemberdayaan nelayan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya kolektif bersama seluruh masyarakat pesisir untuk pengelolaan ekosistem, sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk menjamin kegiatan nelayan itu secara berkelanjutan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon dan Provinsi Maluku banyak menyediakan bantuan

peralatan penangkapan yang diberikan dalam bentuk paket barang dan uang dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati untuk mendukung usaha nelayan. Bantuan yang bersifat pemberdayaan masyarakat ini jumlahnya sangat kecil, namun sangat membantu dalam pengembangan usaha perikanan yang ada disekitar teluk Ambon. Bantuan tersebut umumnya menggunakan dana yang berasal dari angggaran pemerintah dan sifatnya sangat temporer.

21

1. wisata bahari dengan pendekatan terpadu dan menerapkan sistem konservasi yang tersebar dalam lima kecamatan 22 . 2003 2004 2005 5. Pemberian bantuan ke depan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memaksimalkan kegiatan dan kelembagaan masyarakat yang sedang berjalan (bukan dengan membentuk kelompok-kelompok baru). 2007 7. Bantuan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Perikanan di Kota Ambon Tahun 2002—2008 No. serta yang mempunyai peranan selama ini dalam upaya menyejahterakan masyarakat. 2009 Berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan di lapangan. Tahun 2002 Jenis Bantuan Rumpon Gilnet Kios BBM Puse seine Bodi BBM&Alat Papalele ikan Rumpon Rumpon Papalele ikan Papalele ikan Gilnet Rumpon Rumpon Papalele ikan Gilnet Pengolahan Pancing tonda Bagan Kios Bubu Gilnet Pancing tonda Rumpon Papalele ikan Jumlah kelompok penerima bantuan 4 5 1 2 1 1 10 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 3 2 1 1 1 7 1 1 Sumber bantuan APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN Bentuk bantuan Uang Uang/Barang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang 2. 2006 6. bentukbentuk pemberdayaan kepada nelayan sangat bervariasi dalam aktivitas dan lokasi usaha.Tabel 3.6. 3. 4. 2008 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. budidaya laut. Beberapa desa dan kelurahan yang berpotensi dikembangkan untuk usaha perikanan tangkap.

Galala. Sirimau 3. Teluk Ambon 4. dan Nusaniwe . giob/bobo. Lateri.dalam tabel di bawah ini. Waiheru. Hative kecil. dengan konservasi. alat pancing. wisata selam. dan PT perikanan Nusantara . alat pancing . Demikian juga masyarakat dari desa tertentu yang dapat dikembangkan sebagai desa pengolahan ikan dan non-ikan.Lokasi desa-desa Passo. desa-desa Batu Merah.Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. pancing tonda. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). melalui pendekatan pengelolaan ekosistem Daerah Aliran Sungai dan mangrove.Alat tangkap seperti jaring insang. Rumpon. dengan isu utama adalah pencemaran .Lokasi kelurahan Pandan Kasturi.Penangkapan ikan : Jaring insang. Laha dan Tawiri .Lokasi Desa-desa Rumahtiga. dengan isu utama adalah pencemaran. .Budidaya laut (ikan dan non-ikan). Bagan.Pengembangan wisata rekreasi massal. melalui pendekatan pengelolaan dan konservasi. Hative Besar. Kecamatan Nusaniwe Bentuk Intervensi . .Budidaya laut (ikan). Tabel 3. Nania. ilmiah serta “eco-tourism” .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Teluk Ambon Baguala 5.Alat tangkap : Jaring insang. wisata khusus alam darat dan laut . Halong di waktu lampau terkenal sebagai nelayan pole and line yang tangguh) .Pariwisata massal berupa rekreasi pantai dan secara khusus wisata selam di kawasan kapal tenggelam di Waiame.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Halong dan Latta serta kelurahan Lateri . huhate .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . huhate. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). huhate dan giob/bobo . jaring insang.Alat tangkap : pancing tonda. 1. NegeriLama. alat pancing. Bentuk-bentuk intervensi pemerintah daerah dalam kegiatan penangkapan di Kota Ambon No.Lokasi desa-desa Latuhalat. dan PT perikanan Nusantara .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). dan PT perikanan Nusantara .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Leitimur Selatan 23 . Seilale. (beberapa desa seperti Latta. 2.Alat tangkap: Jaring insang.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .7. . dan PT perikanan Nusantara .

24 . teripang. faktor penyebab lainnya karena armada penangkapan yang digunakan nelayan responden adalah kapal dengan motor tempel yang berbahan bakar bensin. Padahal. Hatalae. lola. . sedangkan kapal purse seine rata-rata memerlukan bensin sebanyak 24 liter dan minyak tanah 37 liter. batu laga. siput lain) dengan pendekatan pengelolaan dan konservasi serta mengembangkan teknologi untuk pembenihan dan pemulihan stok.Lokasi Desa-desa Hutumuri.No. selam antara Hukurila dan Hutumuri .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). dan PT perikanan Nusantara Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. kebutuhan bahan bakar berupa bensin dalam satu trip cukup besar. Lokasi pengecer juga cukup jauh sehingga nelayan harus membawa jerigen atau botol kaca sebagai wadahnya. Kecamatan Bentuk Intervensi .Budidaya laut (rumput laut. Hukurila . Selain itu. Leahari. Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya SPDN atau SPBB sebagai penyalur BBM bersubsidi bagi nelayan di PPN Ambon.000 per liter. Tidak tersedianya SPDN/SPBN menyebabkan nelayan yang menjadi responden mengalami kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini mereka beli dari pengecer dengan harga Rp4. Naku. subsidi BBM kepada nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran < 5—10 GT dengan alat tangkap pancing tonda dan purse seine dapat dikatakan tidak ada. sedangkan subsidi BBM hanya diberikan untuk armada penangkapan yang berbahan bakar solar. 2008 Peran Subsidi Perikanan Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. Kilang.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Untuk kapal pancing tonda saja yang melakukan one day fishing rata-rata memerlukan 64 liter bensin.500—Rp6.Pengembangan pariwisata massal untuk rekreasi dan secara khusus wisata ilmiah.

611 Rp1. dan minyak tanah yang masing-masing sebanyak 12.500 Berbeda dengan kedua armada penangkapan dengan dua alat tangkap di atas. pada wilayah Ambon ikan yang terdapat di wilayah perairan Ambon masih dapat 25 .8.5 liter. Apabila dibandingkan dengan harga BBM tanpa subsidi maka besarnya biaya operasional per trip adalah Rp401. kapal dengan alat tangkap gillnet menggunakan solar.768 Rp1. 20 liter.768 yang artinya nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan dengan penggunaan BBM bersubsidi meskipun porsi biaya solar terhadap biaya operasional tanpa subsidi BBM atau dengan subsidi BBM hampir sama.111 24 liter 37 liter Rp803.000 Gillnet ≥ 5-10 GT 1 hari 12.858. Dengan asumsi harga solar non-subsidi adalah Rp7.Solar . dan 5 liter. Selain itu.915 Rp3.018.707.500 maka solar yang digunakan responden dengan kapal gillnet termasuk ke dalam solar bersubsidi dengan harga Rp6. 2010 * Harga BBM di eceran ** Harga BBM tanpa subsidi = Rp7.Bensin .000 per liter sehingga biaya operasional per trip adalah Rp308. Penurunan pendapatan tersebut bagi nelayan bagi responden menunjukkan bahwa usaha perikanan tersebut memiliki prospek keberlanjutan yang baik walaupun BBM yang digunakan tanpa di Subsidi.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM* Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM** Rata-rata nilai hasil tangkapan Jenis alat tangkap Pancing tonda Purse seine < 5 GT ≥ 5-10 GT 1 hari 1 hari 64 liter Rp593.400 Sumber: Data primer diolah. bensin. Analisis biaya dan pendapatan menurut jenis alat tangkap Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip Rata-rata volume (per trip) .018 Rp401. Bertambah besarnya biaya operasional tersebut berdampak pada penurunan keuntungan per trip yang diperoleh nelayan yang bisa mencapai 8 persen.488.Tabel 3. yaitu sebesar 24 persen.5 liter 20 liter 5 liter Rp308.

26 . baik di tahun 2009 (65%) maupun pada tahun 2010 (60%) dari total subsidi BBM yang disalurkan PPN Ambon. yaitu PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry. Namun. Namun demikian.mendukung berbagai armada penangkapan yang terdapat pada kawasan tersebut. PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry memperoleh BBM bersubsidi paling banyak. Sementara itu. Setelah Pertamina menyetujui permohonan tersebut. PT Samudra Sakti Sepakat baru menerima subsidi BBM sejak bulan Mei 2009 hingga sekarang dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dua perusahaan lainnya. dan PT Samudra Sakti Sepakat. PT Cilacap Samudera Fishing Industry. sejak Maret 2009 hingga sekarang subsidi BBM hanya disalurkan ke tiga perusahaan. subsidi BBM justru disalurkan untuk armada penangkapan dari 7—10 perusahaan besar di Ambon sejak tahun 2007 hingga sekarang. Penyaluran BBM bersubsidi ini dikelola oleh PPN Ambon yang berwenang mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak Pertamina berdasarkan surat permohonan dari perusahaan. surat rekomendasi ini dipelajari oleh Pertamina sehingga pemberian BBM bersubsidi tidak selalu sebanyak yang diminta dan direkomendasikan. Selanjutnya. pengisian solar akan dilakukan di dermaga tempat kapal berlabuh dengan menggunakan mobil tanki dari Pertamina sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya sewa mobil tanki di samping membayar harga BBM yang dibeli. Berdasarkan data dalam Tabel 13.

275 180 175 200 150 205 255 205 130 175 255 1.1°35'39" LU dan 125°1'43" 125°18'13" BT. Luas wilayah Kota Bitung 31.Tabel 3. Cilacap Samudera Fishing Industry PT. yang batas-batas wilayahnya sebagai berikut:  Sebelah Utara dengan Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Timur dengan Laut Maluku  Sebelah Selatan dengan Laut Maluku 27 . 2010 3.2.9. Kota Bitung Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Bitung terletak pada 1°23'23" . Samudera Sakti Sepakat Jumlah Tahun 2009 Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah 150 95 100 125 125 170 765 25 25 75 50 70 70 315 20 25 50 45 25 30 195 195 145 225 220 220 270 1. Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry PT.350.35 Ha.975 Sumber: PPN Ambon diolah.930 100 75 50 125 125 80 75 25 50 75 780 20 25 40 20 20 70 25 45 265 280 250 270 300 370 355 300 225 250 375 2. Rekapitulasi BBM bersubsidi yang dikeluarkan PPN Ambon tahun 2009—2010 Jumlah BBM bersubsidi (KL) Bulan PT.

09 10.06% berombak berbukit dan 32. Jumlah penduduk Kota Bitung pada tahun 2008 diestimasikan sebesar 178. Dibandingkan hasil Sensus Penduduk terakhir yakni tahun 2000 yang berjumlah 140.55 2.64 3. dengan rincian seperti pada tampilan Tabel 3.756. Tabel 3.309.56 8.65 6. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat. 28 .10 .00 31.266 jiwa.80 3. Sebelah Barat dengan Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Secara administratif wilayah Bitung dibagi dalam 8 kecamatan dan 69 kelurahan. merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0 – 15 derajat. 3.00 516.83 1.70 3.30 2. keadaan tanahnya sebagian besar daratan Bitung atau 45. perdagangan dan jasa serta pemukiman.270 jiwa berarti setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 3%.00 2.350. Desa serta Luas Wilayah Kota Bitung No. Kecamatan. 5. 7. 1.766.35 % 50.396. industri. Kecamatan Ranowulu Matuari Girian Mandidir Maesa Aertembaga Lembeh Selatan Lembeh Utara Jumlah Kelurahan 11 8 7 8 8 10 7 10 69 Luas Daerah (ha) 15.553. 2. 4.73% bergunung.14 8.00 969.18% merupakan dataran landai serta sisanya 18.26 10.083. 6.10.03% berombak. 8. sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan.82 100 Sumber : Kantor Statistik Bitung (2010) Dilihat dari aspek topografis. Hanya 4.

39% per tahun. Penurunan jumlah perahu tanpa motor ini disebabkan karena sebagian nelayan telah memiliki perahu dengan motor temple. Penurunan jumlah perahu tanpa motor sejalan dengan meningkatnya jumlah perahu motor temple. Ditinjau dari kategori kapal. Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya. Armada penangkapan ikan dilihat dari jumlah kapal selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan 4.Dilihat dari sebaran penduduk per kecamatan sebagian besar penduduk Bitung terkonsentrasi di Kecamatan Maesa. potensi penangkapan di Sulawesi Utara pada perairan 12 mil seluas 314. Peningkatan jumlah perahu motor temple rata-rata sebesar 32.98 km2 dan produksi 125. Selain perahu motor temple. Pengurusan administrasi seperti surat izin usaha perikanan. Penurunan ini terlihat karena adanya penurunan jumlah perahu tanpa motor dalam jumlah yang signifikan. kapal motor juga mengalami peningkatan dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah perahu tanpa motor. perahu tanpa motor yang digunakan untuk menangkap ikan sebesar 40% dan kapal motor < 5 GT sebesar 5% dari total jumlah kapal yang ada. Jika dihubungkan dengan luas wilayah Kota Bitung yang 313. Pada perairan zona ekonomi eksklusif seluas 190 km2 dan produksi 196.81% per tahun dan peningkatan kapal motor dengan rata-rata 20.9 ton per tahun.81% per tahun.5035 km persegi. Karakteristik Usaha Perikanan Kota Bitung Bitung memiliki sumber daya perikanan yang cukup potensial.9 ton per tahun. Kapal penangkap ikan dengan kategori 11-30 GT atau kapal yang memperoleh izin pada tingkat propinsi berjumlah sebanyak 9% dari 29 . Kapal motor dengan kategori 6-10 GT yang terdapat di Bitung sebanyak 10%. surat izin penangkapan ikan untuk kapal kurang dari 10 GT dilakukan di tingkat Kota Bitung. sehingga total jumlah amada penangkapan menunjukkan penurunan. maka kepadatan penduduk pada tahun 2008 mencapai sekitar 569 jiwa per kilometer persegi.

30 . 2000-2009 PERAHU TANPA TAHUN (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MOTOR (2) 1. Selain alat tangkap hand line.456 1. alat tangkap yang banyak dijumpai di Kota Bitung adalah alat tangkap purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil dan alat tangkap pole and line untuk menangkap ikan cakalang.367 2.286 Sumber: dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.472 1.229 2.029 700 690 525 PERAHU MOTOR TEMPEL (3) 597 630 727 121 622 642 520 510 510 313 KAPAL MOTOR (4) 155 126 104 274 275 291 409 411 413 448 JUMLAH (5) 2.total jumlah kapal yang terdapat di Kota Bitung.471 1.227 2. Perkembangan jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Bitung.613 1. Tabel 3.303 1.470 1.621 1. 2010 Alat tangkap yang dominan di Bitung adalah hand line yaitu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna.867 2. Kapal dengan kategori lebih dari 30 GT terdapat di Kota Bitung sebanyak 35%.472 1. Kapal kurang dari 5 GT dengan alat tangkap hand line mampu melakukan penangkapan di ZEEI dengan ikan hasil tangkapan tuna berukuran lebih dari 35 kg per ekor.958 1.523 1.477 1.11.

12.10 GT Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 11 .Tabel 3.773 33 660 19 475 5 125 9 135 24 120 24 31 .050 525 1.050 50 250 5 100 1 1 2 4 1 8 32 67 387 63 441 50 1. tahun 2009 KATEGORI KAPAL Tanpa Motor ALAT TANGKAP Hand Line Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Bagan Apung Set Net < 5 GT Sero Tanam Pole and line Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 6 . Jumlah kapal dan jumlah nelayan menurut jenis alat tangkap di Bitung.250 16 64 3 18 132 1.30 GT Pole and line Tuna long line Light Boat Pengangkut/Penampung JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 525 1.

kapal pengangkut yang terdapat di Kota Bitung berjumlah sekitar 2% dari total kapal.460 Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Pole and line Tuna long line > 30 GT Bottom long line Pukat Ikan Gill Net Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Total 448 1. Kapal dengan alat tangkap hand line yang berukuran kurang dari 10 GT hanya memerlukan ABK sebanyak 7 orang. Dalam pemanfaatan sumber daya perikanan.6 ha dan reklamasi 1 ha. rata-rata jumlah nelayan yang terlibat sebanyak 25 orang per kapal per trip.KATEGORI KAPAL ALAT TANGKAP JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 240 114 1. Bitung ditunjang oleh sebuah Pelabuhan Perikanan Samudera dengan luas 4.755 18 360 65 1.286 8. Sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap hand line memerlukan ABK lebih banyak untuk ukuran kapal yang lebih besar.470 Jumlah nelayan yang terlibat di dalam sebuah kapal penangkap ikan tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan. 32 . Selain kapal penangkap ikan.625 47 1.505 13.175 98 1. Pada alat tangkap purse seine dan pole and line.470 16 320 16 400 23 690 1 5 164 2. sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap yang pada ukuran lebih dari 10 GT memerlukan ABK sebanyak 20 orang.

130 9.891 567 305 19 59 266 145 67 15.581 230 226 366 24. baik dilihat dari jumlah kapal dan juga ukuran kapal. 2010 33 .952 10.352 127 215 1.267 539 499 1. es dan air bersih.20 GT 20 .465 677 417 206 20.00 m LWS dan dermaga 2 sepanjang 1.764 m bobot kapal 30-600 ton dengan kedalaman -5. sedangkan pada tahun 2009 jumlah kapal yang sering berkunjung adalah kapal motor tempel.502 10.648 m2.50 GT MOTOR 50 . Kunjungan kapal di PPS bertujuan untuk melakukan pembongkaran ikan dan juga untuk memuat perbekalan seperti BBM.200 GT > 200 GT 86 29 3 1.702 8.432 3. Kunjungan kapal diatas 50 GT juga mengalami peningkatan.610 m untuk bobot kapal 5-30 ton dengan kedalaman -1.30 GT KAPAL 30 .5 m LWS. dari kapal tanpa motor menjadi kapal motor tempel.300 2.494 24 2 1. Tabel KATEGORI DAN 2005 UKURAN KAPAL Jumlah (unit) PTM Motor Tempel < 10 GT 10 .13.254 22.357 150 354 1.dermaga 1 sepanjang 1. Meningkatnya jumlah kunjungan kapal diatas 50 GT menunjukkan semakin banyaknya jumlah kapal yang beraktivitas di PPS Bitung.877 954 777 1. 2005-2009 Sumber : Profil PPS Bitung. Jalan utama PPS Bitung 1.215 6.202 11. Jumlah kapal yang berkunjung ke PPS bitung mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2005. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas kapal.660 2006 2007 2008 2009 3.100 GT 100 .720 9.637 12.101 719 718 216 21. Jumlah kunjungan kapal di PPS Bitung. Pada tahun 2005 jumlah kapal yang paling sering berkunjung adalah kapal tanpa motor.

Mikaindo Abdai Cemerlang PT. Caria Ch. kapal ikan yang akan melakukan pengisian solar harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi pengisian solar kepada petugas pelabuhan perikanan. Komegoro PT.000 500 1. Getra Mitra Usaha PT. Tabel 3. A SPDN (BBM Solar) Pabrik Pengolahan Ikan Pabrik Prosesing Fillet Ikan Tuna Kantor Administrasi dan Operasional Penyalur minyak tanah. hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pemuatan es ke kapal-kapal ikan yang akan melakukan penangkapan. Kelana Djaya Abadi CV. Bitung Bahari Sejahtera Luas Lahan (M²) 927 1. Mikaindo Abadi Cemerlang Daeng Umar Genda Dra. 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Perusahaan PT. Bitung Bahari Sejahtera KSU.556. Etmiko Sarana Laut PT. Sari Tuna Makmur PT. Nama perusahaan yang terdapat di PPS Bitung.60 Usaha Solar (SPBB) dan Air Pengolahan dan Cold Storage Prosesing ikan segar dan Cold Storage Pabrik es. Beberapa pabrik es juga dibangun di areal PPS Bitung. Prosesing Ikan Segar.000 616 600 4. Penyaluran air bersih untuk kebutuhan kapal penangkapan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki dalam kawasan PPS Bitung.000 1. Penyaluran solar untuk kapal-kapal ikan telah dibangun SPDN dan SPBB. Lautan Bahari Sejahtera PT. Pathemang Raya PT. dan Unit Pengolahan Ikan UKM Kantor Administrasi 34 .20 49. Cold Storage Penjualan Suku Cadang.50 1. Oli Depot Air Isi Ulang Jasa Wartel Kantor Sekterariat Kantor Adm. Wailan Pratama PT.000 2.46 651.14. Sukses Abadi 27 Kios Pesisir PT.000 168.32 81 40 565.92 72. Prosesing Plant Prosesing Ikan dan Cold Storage SPBN Tipe.000 1. Waserda Pabrik Es.000 1. Golden Bridge International PT.Fasilitas penyediaan perbekalan yang sangat dibutuhkan oleh kapal ikan dalam melakukan penangkapan sebagian besar terdapat di dalam kawasan PPS Bitung. Pangow Jasa Wartel “Aldin” HIPPBI UD.

Kebutuhan terhadap perbekalan setiap bulan selama tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3.638 8.520 10.000 253. Teluk Tomini dan Laut Arafura.000 900.000 620.000 3.374 Sumber : PPS Bitung 2010 Lokasi penangkapan atau fishing ground kapal-kapal penangkap ikan yang berasal atau mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung yaitu di Laut Sulawesi.190 23.000 530.240 886.000 97.660 771.911 7.165 4. Alat tangkap yang memberikan kontribusi hasil tangkapan paling banyak adalah alat tangkap purse seine atau pukat cincin.505 725.188 15.205 823.955 13.15.955 110.090 696.230 751.730 838.000 liter. tahun 2009 Kebutuhan Perbekalan BULAN Air bersih (m3) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 19.740 995.899 4. Alat tangkap ini berjumlah banyak dan juga hasil tangkapan setiap kapalnya dalam jumlah besar. Kebutuhan perbekalan di Bitung. Masingmasing kapal ikan dapat melakukan pengisian solar maksimum setiap bulan 25.655 Es (Ton) 13.465 1.000 36. Ikan hasil tangkapan alat tangkap purse seine adalah ikan pelagis 35 . Tabel 3.850 23.15.270 24.020 11.312.000 174.800 907.452.590 957. Bagi kapal ikan berbendera Indonesia tetapi merupakan kapal ikan eks asing dan menggunakan ABK asing tidak diperbolehkan untuk mendapatkan solar dengan harga subsidi.925 4.245 3.Kapal ikan yang dapat melakukan pengisian solar adalah kapal ikan Indonesia dan tidak menggunaka ABK asing.000 Solar (KL) 858.715 6.110 827.758 15.024.

kecil yaitu layang dan kembung. Hasil tangkapan utama alat tangkap huhate adalah cakalang. Nelayan dengan skala kecil juga dapat memanfaatkan ikan tuna menggunakan alat tangkap hand line. Selain purse seine. Potensi sumber daya ikan cakalang di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini cukup besar. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Bitung untuk melakukan penangkapan ikan tuna adalah hand line dan long line. Potensi ikan tuna di Laut Sulawesi masih sangat besar. Nelayan tersebut sudah harus memiliki keahlian khusus sehingga dapat menangkapan ikan tuna berukuran diatas 30 kg per ekor dengan menggunakan perahu di bawah 5 GT. sehingga mengundang nelayan-nelayan dari Negara tetangga untuk melakukan penangkapan di perairan Indonesia. Potensi lainnya masih belum dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dengan maksimum adalah jenis ikan tuna. Harga ikan pelagis kecil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ikan pelagis besar. Kapal dengan alat tangkap hand line Kapal dengan alat tangkap purse seine 36 . sehingga masih dapat dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dalam jumlah yang banyak. alat tangkap yang memberikan kontribusi jumlah tangkapan besar yaitu kapal dengan alat tangkap huhate atau pole and line.

Kapal penangkap ikan Bitung yang melakukan penangkapan ikan di Laut Arafura seperti purse seine.40 3.00 1.90 L.60 99.90 100.125.90 3.10 13.20 199.866.904.823.90 17.30 46.789. huhate dan pancing tonda.00 80.60 99.70 17.60 355.80 127.80 4.425.90 13.90 99.40 1.998.70 45.70 127. Potensi terbesar yang terdapat di Laut Arafura adalah udang.300.00 180.099. Tomini 600.70 4.60 37 .00 4.60 14.890.468.576.401.50 12.80 4.566.637.90 5.532.00 128.189.998.40 45.998.Kapal dengan alat tangkap purse seine Kapal dengan alat tangkap pole and line Gambar 3.20 209.80 2.462.674.90 18. Arafura 109. tahun 2009 Alat Tangkap Payang Pukat tarik udang tunggal Dogol Pukat pantai Pukat Cincin Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Bagan perahu/ rakit Rawai tuna Huhate Pancing tonda Pancing ulur Pancing cumi Jumlah T.90 280.4.16.20 Total 1. Aktivitas Perikanan pada PPS Bitung 2010 Laut Arafura juga merupakan salah satu fishing ground armada perikanan Bitung.Sulawesi 927.70 L. Tabel 3.90 1.00 8.333.70 8. Produksi ikan di Bitung berdasarkan jenis alat tangkap dan fishing ground.566. disamping beberapa jenis ikan lainnya seperti cakalang dan ikan-ikan pelagis kecil.778.00 6.299.80 5.90 15.80 299.886.

peningkatan produksi ikan tuna periode 2007-2009 adalah 6. Jika dirata-rata.Sulawesi 90. 2010 Ikan cakalang hasil tangkapan Ikan layang hasil tangkapan Gambar 3. Arafura 41.00 L.5.40 L.20%.21% per tahun.80 61. 38 .80 4.20 Sumber: Dinas kelautan dan Perikanan Kota Bitung.94%.70 12.701.48% dari tahun 2007 ke tahun 2008.50 145. dan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 9.65%.36% per tahun.90 3. Jumlah produksi ikan layang mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 yaitu 10.278.90 0.90 55.80 Total 145.70 42. Kegiatan Pembongkaran dan Distribusi Ikan di PPS Bitung Jumlah produksi ikan cakalang dan ikan tuna di Bitung selalu menunjukkan peningkatan. tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 21. Peningkatan jumlah produksi ikan cakalang sebesar 6.Alat Tangkap Sero Bubu Alat tangkap kepiting Jumlah Jumlah T.60 68. Produksi ikan tuna mengalami peningkatan sebesar 2.053. Tomini 54.073.

338.10 2.899.72) (7. Penentuan kualitas ikan tuna dilakukan dengan cara mencek kualitas daging ikan tuna.39) % peningkatan Sumber: PPS. pada saat ikan masuk ke perusahaan pengolahan. Sebenarnya harga ikan tuna setiap bulannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.Tabel 3. Selama tahun 2009.36 6. sedangkan pada bulan-bulan berikutnya menunjukkan angka yang stabil yaitu pada level 11 ribu dan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember menunjukkan angka yang semakin menurun.452.40 2009 61.572.60 28.327. Harga pada bulan Januari menunjukkan posisi yang paling tinggi pada tahun 2009 yaitu 17 ribu.20 6.656. Harga ikan tuna yang didaratkan oleh nelayan sangat tergantung pada kualitas ikan. Harga ikan tuna menunjukkan peningkatan mulai dari harga 16 ribu pada bulan Januari sampai harga 30 ribu pada bulan Juni.747.40 58. Produksi Ikan Hasil Tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung Tahun 2007 – 2009 Produksi (ton) Jenis ikan 2007 Cakalang Tuna Layang ikan lainnya Jumlah 54.80 26.188 per kg.10 135.21 (5. Harga ikan layang lebih tinggi pada bulan April disebabkan karena 39 . Harga ikan layang pada tahun 2009 menunjukkan harga yang stabil atau tidak mengalami banyak perubahan.377. Rata-rata harga ikan cakalang selama tahun 2009 adalah Rp 11.50 2.245.275.30 142.820.053.90 53. baik peningkatan maupun penurunan.10 2008 57. sedangkan ikan tuna dengan harga dibawah 20 ribu adalah ikan tuna yang tidak dapat dipasarkan ke pasar ekspor.80 145. Harga ikan layang ditentukan oleh perusahaan pengolahan ikan yang terdapat di sekitar Bitung.60 2.003.70 52. Bitung 2010.17.272.90 22.362. Ikan tuna dengan harga 30 ribu adalah ikan tuna dengan grade A. harga ikan cakalang menunjukkan penurunan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember.

000 12.999 12.919 12.523 Layang 9.519 11.000 8.000 13. Usaha pengolahan hasil perikanan di Bitung sudah sejak lama dilakukan dan telah berkembang dengan baik sehingga menjadikan Bitung sebagai pusat pengolahan ikan terbesar di Sulawesi Utara. Penanganan hasil perikanan meliputi penanganan terhadap bahan mentah (ikan).267 Selar 13.997 28.350 8. pengecer sampai ke pabrik pengolahan. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Cakalang 17.000 11.000 12. penanganan di atas kapal. Usaha tersebut dilakukan baik dengan system pengolahan tradisional maupun modern.883 9.512 11.000 30.000 16.000 11. bahan pembantu.000 14.000 11.000 10.870 9.000 29.039 11.000 30.000 30.188 Tuna 16.336 Sumber: PPS Bitung 2010. 40 . Pengolahan tradisional dilakukan melalui adanya industry rumah tangga pengolahan ikan asap/ fufu.000 9. penanganan di pasarpasar. sehingga untuk memenuhi produksi perusahaan pengolahan.000 9.000 9.000 10.000 15.pada bulan tersebut produksi ikan layang sedikit berkurang dibandingkan bulanbulan lainnya.000 10. Tabel 3.288 8.000 16. Penanganan hasil perikanan berperan penting dalam memanfaatkan produksi perikanan.000 9. yang perlakuannya dimulai sejak ikan ditangkap.18.275 24.000 15. ikan dibeli dengan harga yang lebih tinggi. Harga beberapa Jenis ikan di PPS Bitung (Rp/Kg).119 11.000 12.000 10. bahan tambahan.000 11.000 22. teknologi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh pengolah dan pabrik (UPI).000 11.000 12.000 31.000 11.000 11. penanganan saat didaratkan. peralatan yang digunakan. Saat ini telah ada tiga kelompok pengolah ikan asap yang beranggotakan 10 – 30 pengolah belum termasuk pengolah perseorangan.000 30.000 11.000 9.000 8.

Pengolahan ikan tuna.0 AS. Delta Pacifik Indotuna 2007 Kaleng.0 60.Pabrik pengalengan ikan . UEA PT. frozen 41 .Pabrik pembekuan ikan .UE Jepang. Samudera Sentosa PT. Disamping itu juga terdapat pembekuan ikan tuna dan pembuatan loin tuna. Kapasitas Perusahaan Perikanan di Bitung.UE AS.Pabrik ikan kayu . Surabaya.0 30. 1979 1991 Kaleng Kaleng Kaleng. Selain itu juga disebabkan oleh adanya jenis-jenis ikan yang langsung dapat diekspor tanpa harus terlebih dahulu dilakukan pengolahan. Besarnya kapasitas pengolahan yang tidak terpakai disebabkan karena rendahnya jumlah ikan yang didaratkan di Bitung. frozen. tahun 2010 Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 1 2 3 4 PT. Deho Canning Co. Jenis Produk. Tabel 3.19. Total kapasitas pengolahan ikan di Bitung adalah 894 ton. seperti Bitung. Untuk memenuhi kapasitas pengolahan tersebut.0 35.Usaha pengolahan modern di Bitung sampai saat ini berjumlah 45 perusahaan yang terdiri dari : . dan Jakarta. Kedua jenis olahan tersebut berorientasi pasar ekspor. Bitung harus dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung dan mengolah hasil tangkapan tersebut pada perusahaan pengolahan ikan yang tersedia. 100 100 100 50 Rata 2 80 35 30 30 Pemasaran % 80. Sedangkan yang terpakai hanya 35% dari kapasitas tersebut. cakalang dan layang segar untuk ekspor Perusahaan pengolahan perikanan di Bitung didominasi oleh perusahaan pengalengan ikan dan ikan kayu. Pengolahan ikan dengan cara pembekuan untuk ikan hasil tangkapan kapal purse seine berorientasi pasar lokal. Lokal Arab Saudi. Sinar Pure Foods Int'l PT. Nama Perusahaan.

0 20. Mina Samudra Kencana 2005 2006 2006 2005 Frozen Frozen: Utuh Fresh. Sari Tuna Makmur 1999 AS. Lokal Jepang 1994 2000 2004 Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen Frozen Jepang Jepang Lokal Export.UE.0 30.0 15 3 20. Japindo Tencep Raya PT. Jepang Belanda PT.0 75.0 20.Krea. Anugerah Timur Makmur PT.7 Sngpr. Sari Malalugis PT.Fro zen Fresh/Frozen Ikan Kayu Ikan Kayu. Alam Baru Rekor PT. Nutrindo Freshfood Int'l PT. Bitung Mina Utama PT.Sby 42 . 6 7 8 2004 2006 15 3 5 1 33.0 90. Indo Hong Hai PT.0 20.Jepang. Etmico Sarana Laut PT. Manadomina Citrataruna PT. Bintang Mandiri Bersaudara 2007 2006 1989 Jepang Lokal/Btg Jepang PT.0 66.Frozen :Loin.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 5 Fresh.Sby 2007 27 2007 Frozen 18 5 27. Shing Sheng Fa Ocean 2001 Frozen 22 23 24 25 26 PT.0 Lokal/Jkt.0 50. Perikanan Nusantara 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 21 PT. Lokal PT. Fresh:Loin 10 10 3 2 30.0 40.Frozen:U tuh Fresh. Melody Asri 1992 2000 Jepang.Krea.Frozen.Frozen : Fresh.Saku Fresh. Frozen Frozen Frozen.8 Lokal/Jkt. Taiwn Sngpr. Primadaya Bitung PT. Celebes Minapratama PT.0 20. Citra Buana Sulut PT. Taiwn Eksport.0 15.7 AS.Lokal 30 Rata 2 10 Pemasaran % 33.0 0. Lokal 2002 Frozen Frozen Export. Ikan Kayu Fresh:Utuh. Yuh Yow Indo PT.3 16. Sari Cakalang PT. frozen Ikan Kayu 9 20 25 20 20 20 100 20 10 20 10 30 5 6 15 18 50 3 4 4 2 20 5 50.3 PT. Lautan Bahari Sejahtera PT. Tridara Putra Mandiri PT.

Sby 5 2 40. Ocean Tuna PT.0 40. Lembeh. Jasuma UD.7 35. Mitra Sakana CV.3 25.0 40. Bahari Mitra Lestari UD.0 20. Responden yang dilakukan wawancara sebanyak 35 orang. Lautan Berkah CV.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 28 29 30 PT. International Alliance Food 2007 2007 Frozen Kaleng Lokal/ Jkt. Sby JUMLAH Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Sinco Ocean Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen. Sukses Abadi UD.3 20. Kina Sasi Biru UD. Singa Raja UD. wawancara dengan responden menggunakan kuesioner.0 33.0 16. Berdasarkan data primer.Sby Lokal/Btg Lokal/ Jkt.2 Lokal/Jkt. Nick's UD.Sby Lokal Lokal/Btg Lokal/Jkt. 2010 Karakteristik Usaha Perikanan Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Aertembaga. Berkat Baru UD.0 25. Sby Lokal/Jkt. Fresh:Loin Frozen 2006 2008 2005 2005 2006 Frozen Frozen Frozen Frozen Fresh Frozen Frozen Fresh 2006 Frozen 3 5 6 10 15 4 5 5 4 12 5 60 894 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 10 366 50. maka 80% dari total responden merupakan angkatan kerja dengan umur 43 . Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Nelayan CV.Sby Lokal/Jkt. Citra Anugrah Fishtama PT. Permata Laut Jaya 2007 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 CV. Esria UD.Sby Lokal/Jkt. Fresh:Loin Frozen.0 25.Sby Lokal/Jkt. Bitung Timur.0 13. Girian dan Madidir.0 Rata 2 Pemasaran % CV.0 20.

Pengelompokkan responden berdasarkan ukuran kapal yaitu kapal dengan ukuran kurang dari 5 GT sebanyak 2 responden. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Kota Bitung sudah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Hal ini disebabkan karena sebagian besar nelayan berumur kurang dari 50 tahun dan sebelum terjun ke usaha perikanan. kapal dengan ukuran 5 GT sampai dengan kurang 10 GT sebanyak 34%. PNS dan wiraswasta murni. Pemilik kapal penangkap ikan di Kota Bitung mempunyai latar belakang yang beragam. Berdasarkan jenjang pendidikan. Dilihat dari jumlah keluarga. seperti Walikota. 51% responden memiliki anggota keluarga 3 sampai 4 orang. sehingga dapat dikatakan. Sedangkan responden yang sudah sangat berpengalaman atau lebih dari 15 tahun hanya sebanyak 17% dari total jumlah responden. kapal dengan ukuran diatas 10 GT sampai kurang dari 30 GT sebanyak 31% dan kapal dengan ukuran lebih dari 44 . sisanya terdiri dari pemilik dan nahkoda. 37% telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan kurang dari 15 tahun. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada umumnya hanya 1 orang yaitu responden itu sendiri sebanyak 83% dari total jumlah responden. responden telah menamatkan tingkat pendidikan samapi Sekolah Menegah Atas.produktif yaitu antara 20 sampai 50 tahun. Responden yang belum memiliki anak sebanyak 34% dan sisanya responden yang telah memiliki anak lebih dari 2 orang. sehingga sulit untuk dijadikan sebagai responden. anggota DPRD. responden memiliki anak 1-2 orang. dimana nelayan sebagian besar hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar. Pengalaman responden dalam usaha perikanan sebanyak 46% berpengalaman kurang dari 5 tahun. dan 20% lainnya berumur lebih dari 50 tahun. responden yang i berpendidikan tamat SMA sebanyak 60% dan tamat SMP sebanyak 31% dan sisanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Status responden dalam kegiatan penangkapan ikan 85% anak buah kapal.

tetapi sebagian responden juga menggunakan bahan bakar bensin dan minyak untuk kapal dengan motor tempel.312. Sedangkan untuk jenis alat tangkap hand line harus dibedakan untuk hand line dengan skala kecil dan hand line dengan skala sedang. maka alat tangkap dapat dikelompokkkan dalam alat tangkap purse seine.<100GT Jumlah 45 .43 28. setiap kapal purse seine juga memperoleh ikan kembung sejumlah 154 kg dan harga Rp 7. Total penerimaan responden dengan menggunakan alat tangkap purse seine adalah Rp 5.400 per kg.600 per trip. Tabel 3.700 per kg.57 100. Melihat keberagaman usaha penangkapan ikan di Bitung. pole and line dan hand line. responden dengan alat tangkap pole and line sebanyak 10 orang. Selain ikan layang.20.71 34.29 31. Sebagian besar kapal yang digunakan responden mempunyai bahan bakar solar atau bermesin diesel. responden dengan alat tangkap purse seine sebanyak 10 orang dan sisanya responden dengan menggunakan alat tangkap hand line untuk menangkap ikan tuna. Ditinjau dari jenis alat tangkap.00 ≥5GT . Karakteristik Penguasaan Kapal Penangkap Ikan. sehingga penerimaan nelayan dari penjualan ikan layang adalah Rp 4.451.000 per trip. tahun 2010 Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT < 5 GT Jumlah Prosentase 2 12 11 10 35 5.30 GT sebanyak 29%.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT . Rata-rata jumlah ikan layang yang diperoleh oleh kapal purse seine adalah 560 kg per trip dengan harga rata-rata Rp 7. Ikan dominan hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap purse seine adalah ikan layang dan sebagian ikan kembung.

Ikan layang langsung dijual oleh nelayan di lokasi pendaratan. Selain itu. tetapi jika ikan dibeli oleh pedagang besar.Karakteristik Jenis Alat Tangkap Pole and Line Purse seine Tuna Hand Line Jumlah Bahan Bakar yg digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah 4 Jumlah Prosentase 10 10 15 35 28. Biaya operasional kapal dengan alat tangkap purse seine ini terdiri dari biaya bahan bakar.14 100.000 per liter. Setiap trip dibutuhkan minyak tanah sebanyak 150-250 liter dengan harga berkisar antara Rp 3.57 28.00 25 6 35 Sumber: data primer (2010) Pembeli ikan layang pada umumnya adalah pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke perusahaan pengolahan. juga langsung dibeli oleh pedagang besar dari perusahaan pengolahan tanpa melalui pedagang pengumpul.57 42. Pemilik kapal atau pengurus kapal sudah terlebih dahulu mengetahui harga ikan layang sebelum kapal datang.86 100. oli dan es serta biaya untuk pengurusan izin berlayar dan biaya tambat. Bahan bakar utama yang digunakan kapal dengan mesin tempel ini adalah minyak tanah dan dicampur dengan bensin.0004. baru dibayarkan kepada nelayan setelah ikan tersebut dijual ke perusahaan pengolahan.00 11. karena sudah banyak pembeli yang datang. pembeli tersebut sebagian besar sudah menjadi langganan pemilik kapal untuk menjual hasil tangkapannya. Ikan layang yang dibeli oleh pedagang pengumpul.43 71. maka pembayaran dilakukan secara tunai.43 17. Minyak tanah diperoleh oleh nelayan dari pengecer yang 46 .

000 Es X Umpan X Ransum 20.000 143.840 Penerimaan (Rp) Layang Kembung Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional X (Rp) X Solar 109.000 X 1.869 8.000 per liter.750 17. karena tidak diperbolehkan membeli bensin dengan menggunakan jerigen.000 14.760.222.000 Minyak tanah 352. Untuk lebih amannya.750 262.840 19.terdapat di kawasan PPS Bitung.000 4.210.365. tahun 2010 Jenis Alat Tangkap Uraian Purse seine (> 5GT<10GT) X 4.160 31.000 Izin berlayar 1.000 400.000 2.945.451.575.600 Oli 525.750 Keuntungan Sumber: data primer.400 1.000 x 54.881 X 4. Bensin dibutuhkan sebanyak 30 liter per trip dengan harga Rp 4.850 operasional 3.750 17.250 Bensin 474.250.000 X 2.586.000 biaya tambat Total biaya 1.000 5.139.672.000 34. nelayan membeli bensin di pengecer dengan harga Rp 5.000 6.000 X 22. 2010 47 .600 Pole and Line (>30GT<100GT X X X 54.500 2.600 X x 5.969. Penerimaan dan Pengeluaran Per Trip menurut Alat Tangkap di Bitung.160 Tuna hand line Tuna Hand Line 2 1 (>10GT(>5GT-<10GT) <30GT) X X X X X X X X 14.000 67.312.000 1.000 per liter.580.085.140. Tabel 3.000 2.692.760. Harga minyak tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan pada suatu wilayah.907.064.463 40.509.709.840 50.481.000 122.580.000 3.748.096.000 696.000 X 1.500 per liter di SPBU terdekat dengan mencuri-curi kesempatan dari petugas.500 250.656 399.260 50.000 1.500-5.096.000 8. Nelayan dapat membeli bensin dengan harga Rp 4.500 129.21.

22.943. Pertamina.540.087. Bentuk bantuan Perikanan di Kota Bitung. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Tugas Pembantuan (TP). tahun 2005-2010 Tahun 2005 2006 Kapal/perahu Alat tangkap Alat bantu tangkap Jenis Jumlah Jenis Jumlah Jenis Jumlah Pump boat 3 Rumpon 1 Small purse seine 3 Jaring 3 Pelang 3 Small purse seine Light boat Pelang Pajeko Light boat Perahu tuna Ketinting Pengangkut Pajeko Pancing tuna Pancing ulur Ketinting 5 5 20 2 2 4 8 1 1 6 1 1 Purse seine Pancing Alat tangkap 5 5 2 Rakit 11 1. Bentuk bantuan yang terakhir ini diberikan oleh pemerintah melalui berbagai program yang sifatnya sangat terbatas.827. Getra Mitra Usaha.500 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Bantuan kepada nelayan di Kota Bitung yang diberikan dalam bentuk kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan dengan sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Tabel 3. SPBB melayani 48 .214 2008 2009 Bagan 6 Rumpon 10 969. Agen penyaluran BBM di PPS Bitung adalah SPDN Komegoro dan SPBB PT.Peran Subsidi Perikanan Subsidi perikanan yang disalurkan di Kota Bitung dapat dibedakan menjadi dua bentuk.484.662. yaitu subsidi bahan bakar solar dan subsidi dalam bentuk sarana penangkapan seperti kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan.500 2010 Rumpon Ponton 6 1 5. 2010 Sedangkan subsidi BBM diberikan secara reguler melalui agen penyaluran BBM yang ditunjuk oleh PT.000 Biaya (Rp) 2007 1.

71 49 .131.23.59 1. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Pertamina ( KL ) 816.000 liter atau 75.00 241.00 PT. Jumlah Solar yang disalurkan di PPS Bitung.00 307.143.59 691. Tabel 3.71 Total 1.27 723. Hal ini dilakukan untuk menghambat adanya penggunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak.00 398.24 1. Tetapi hal ini dikeluhkan oleh nelayan yang melakukan trip lebih panjang dari 3 bulan.56 1.99 883. Pengurusan rekomendasi untuk pengisian BBM di SPBB PPS Bitung dapat dilakukan setelah kapal tersebut mendapat Surat Laik Operasi dari pengawas perikanan dan Surat Izin Berlayar dari Syahbandar Perikanan.00 883.280.000 liter sekaligus tetapi kapal ikan dengan trip hanya 1 bulan tidak diberikan rekomendasi untuk pengisian Solar 75.99 1.663.124.575.20 1. Kapal penangkap ikan dengan lamanya trip 3 bulan atau lebih dapat memesan solar sebanyak 75.00 324.000 liter per 3 bulan berdasarkan lamanya waktu operasi penangkapan per trip.23. Asosiasi yang terdapat di Bitung yaitu Asosiasi kapal perikanan nasional dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).59 956. Maksimum pemberian rekomendasi BBM solar setiap bulannya adalah 25.391.000 liter.24 993.56 824.93 420. Getra (SPBB) ( KL ) 847. Setiap kapal ikan yang akan mengisi Solar di SPBB dan Pertamina terlebih dahulu meminta rekomendasi ke PPS Bitung dengan syarat telah menjadi anggota asosiasi. Kapal ikan yang mendapat rekomendasi dari PPS Bitung dapat memesan langsung solar di depot PERTAMINA. Besarnya jumlah solar dalam rekomendasi pengisian BBM ditentukan oleh syahbandar perikanan dengan terlebih dahulu melihat ketersediaan BBM di atas kapal.59 1.pejualan BBM untuk seluruh jenis dan ukuran kapal dan SPDN yang melayani kapal kurang dari 30 GT. Banyaknya solar yang disalurkan oleh SPBB dan depo pertamina untuk kapal perikanan di PPS Bitung pada tahun 2009 disajikan pada tabel 3.

575 per liter.28 Total 1.30 904. karena pembayaran harus dilakukan di bank. Kapal-kapal ikan kurang dari 30 GT lebih cenderung untuk melakukan pengisian solar di SPBB dibandingkan di SPDN. rata-rata solar yang disalurkan langsung oleh depo Pertamina ke kapal nelayan sebanyak 425 KL ber bulan.500 per liter solar.00 349.30 1. Harga solar yang dibebankan kepada nelayan adalah Rp 4. jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB lebih tinggi lagi yaitu 940 KL per bulan. Pada tahun 2009.23.00 439.76 1.275.00 334.00 5.93 425. rata-rata solar yang disalurkan oleh SPDN ini adalah 24 KL dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 32 KL.25 1.47 1. Harga yang harus dibayarkan oleh nelayan adalah Rp 4.02 10. penyaluran solar di PPS Bitung dilakukan oleh SPDN yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Komegoro.52 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 3.410.32 856. Pada tahun 2010. Selain itu. Rata-rata solar yang disalurkan oleh SPBB pada tahun 2009 adalah 856 KL per bulan dengan harga Rp 4. Harga ini lebih mahal dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pertamina. Hal ini disebabkan 50 .281. Tidak semua nelayan mau membeli BBM secara langsung ke depo Pertamina karena administrasi yang lebih panjang dibandingkan membeli BBM di SPBB.00 391.171.83 1.47 1.119. Kelebihan harga tersebut digunakan untuk biaya transportasi pengangkutan solar dari depo pertamina menuju PPS Bitung.500 per liter. Hanya nelayan skala besar yang mau melakukan pembelian secara langsung ke depo Pertamina dengan jumlah BBM lebih dari 20 KL.022.02 15.76 770. SPDN hanya diperbolehkan untuk melayani kapal kurang dari 30 GT.378. Getra (SPBB) ( KL ) 822.102.343.24 PT. Pengisian BBM baru dapat dilakukan sehari setelah dilakukan pembayaran.Bulan Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata Pertamina ( KL ) 200.83 837.019.

40 UKURAN KAPAL 10 .92 725.24.67 11.50 500. Penyaluran Solar oleh SPBB untuk kapal diatas 30 GT sekitar 70% dari total solar yang disalurkan. hal ini disebabkan karena kapal kurang dari 10 GT sebagian besar tidak menggunakan bahan bakar solar. Rata-rata solar yang disalurkan di PPS Bitung sebanyak 1.30 GT ( KL ) 217.65 16.99 918.90 JUMLAH ( KL ) 942.20 >30 GT ( KL ) 720. Solar yang disalurkan SPBB berdasarkan ukuran kapal di PPS Bitung.67 897.95 284. penyaluran BBM paling besar adalah untuk kapal lebih dari 30 GT. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung jumlah kapal lebih dari 30 GT di Kota Bitung sebanyak 35% dari total seluruh kapal ikan di Kota Bitung.00 292. Hal ini disebabkan.82 597.94 15.95 229.42 1.13 894. Sedangkan untuk kapal dibawah 10 GT hanya disalurkan sebanyak 1.15 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 51 .23 238. Berdasarkan ukuran kapal.20 315.00 593.85 12.47 13.10 321.70 182. Ditinjau dari ukuran kapal. melainkan campuran bensin dan minyak tanah.oleh beberapa hal antara lain tidak kontinyunya stok BBM yang dimiliki oleh SPDN.50 649.70 199.019.68 15. banyaknya solar yang disalurkan di PPS Bitung dapat dilihat pada Tabel 3. tahun 2009 Bulan < 10 GT ( KL ) 3.69 1.24. oleh lebih banyaknya konsumsi BBM oleh kapal berukuran besar dan juga banyaknya jumlah kapal lebih dari 30 GT.99 792. Tabel 3.55 666.4%.500 KL per bulan. system pelayanan yang diberikan dan diduga adanya perbedaan takaran liter.05 712.55 8.30 665.21 14.65 684.022.

Bulan

< 10 GT ( KL )

UKURAN KAPAL 10 - 30 GT ( KL )

>30 GT ( KL )

JUMLAH ( KL ) 997.50 1,101.54 895.84 832.10 11,027.06 918.92

Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata

20.93 11.19 8.40 152.93 12.74

372.71 304.45 297.20 3,255.39 271.28

707.90 580.20 526.50 7,618.74 634.90

Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2010 Ditinjau dari jenis alat tangkap, kapal penangkap dengan alat tangkap pole and line merupakan kapal yang menggunakan solar terbesar di PPS Bitung. Sebanyak 23% penyaluran solar dari SPBB di PPS Bitung yaitu untuk kapal pole and line. Selain kapal penangkap ikan, kapal pengangkut ikan yang berlabuh di PPS Bitung juga mendapatkan solar subsidi yang disalurkan oleh SPBB Getra di PPS Bitung. Sebanyak 50% jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB tersebut adalah untuk kapal pengangkut ikan. Sedangkan sisanya disalurkan kepada kapal penangkap dengan jenis alat tangkap rawai tuna, purse seine dan hand line. Bahan bakar minyak merupakan salah satu biaya terbesar yang ditanggung oleh nelayan dalam melakukan usaha penangkapan. Bahan bakar yang diperlukan oleh kapal motor adalah solar sedangkan bahan bakar untuk kapal dengan mesin tempel menggunakan campuran bensin dan minyak. Nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan mesin tempel melakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi pendaratan. Tersedianya stasiun pengisian untuk bahan bakar solar tidak memberikan efek yang signifikan bagi nelayan kelompok ini. Kapal motor dengan GT lebih besar akan memerlukan solar lebih banyak. Pada lokasi penelitian Bitung, kapal dengan menggunakan alat tangkap pole and line mengkonsumsi solar paling banyak yaitu 4,9 KL per trip. Biaya untuk pembelian solar bagi kapal pole and line adalah 65% dari total

52

biaya operasional, sedangkan bagi kapal ikan dengan alat tangkap lainnya hanya sekitar 30% dari total biaya operasional. Tabel 3.25. Perbandingan Biaya Operasional Beberapa Jenis Alat Tangkap dengan dan tanpa Subsidi di Bitung, tahun 2010
Jenis Alat Tangkap Tuna Hand Line Pole and Line 1
≥30GT - <100GT ≥5GT -<10GT

Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: - musim ikan - musim biasa - musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): - Solar (liter) - Bensin (liter) - Minyak tanah (liter) Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM (Rp) Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi solar (Rp) Penerimaan Kotor (Rp) Prosentase BBM subsidi terhadap biaya operasional Prosentase BBM tanpa subsidi terhadap biaya operasional Sumber : Data Primer, 2010

Purse seine
≥5GT -<10GT

Tuna hand line 2
≥10GT -<30GT

1 1 1 340 30 160 2,279,430 2,789,850 5,451,600 34.99 46.88

3 5 7 4960 15 200 34,907,840 49,415,840 54,580,000 65.01 75.28

8 10 13 338 91 40 4,497,369 5,366,088 14,096,750 30.09 41.41

10 11 14 370 35 40 5,367,910 6,450,160 17,760,000 31.53 43.02

Subsidi solar yaitu dengan harga Rp 4.500 per liter memberikan pengaruh cukup besar terhadap total biaya operasional. Tanpa adanya subsidi solar

(dengan asumsi harga solar Rp 7.500 per liter) menyebabkan peningkatan total biaya operasional bagi seluruh kapal penangkap ikan dengan kapal motor. Pada tingkat harga solar Rp 7.500 per liter meningkatkan prosentasi biaya solar terhadap total biaya operasional berkisar 10-12% pada nelayan di Kota Bitung. Sedangkan total biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 19-41% dibandingkan dengan harga solar bersubsidi. Peningkatan biaya operasional tertinggi yaitu terjadi pada kapal dengan alat tangkap pole and line yaitu sebesar 41% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Biaya operasional kapal dengan alat

53

tangkap tuna hand line mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Dari Tabel 3.25, terlihat bahwa kapal dengan konsumsi solar lebih

banyak akan merasakan dampak yang lebih besar terhadap perubahan harga solar. Adanya peningkatan biaya operasional dengan solar tanpa subsidi

menyebabkan semakin rendahnya keuntungan yang diterima oleh nelayan. Penurunan keuntungan kapal dengan alat tangkap pole and line dengan solar tanpa subsidi adalah 73% dibandingkan dengan menggunakan solar bersubsidi. Kapal dengan alat tangkap tuna hand line mengalami penurunan keuntungan akibat tidak adanya subsidi solar sebesar 9% dibandingkan keuntungan dengan solar bersubsidi. Perlu dicatat bahwa berdasarkan Tabel 3.25, jika solar untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut menggunakan harga pasar bebas, maka usaha penangkapan ikan di Bitung masih dapat beroperasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena potensi ikan pada perairan Sulawesi Utara masih cukup potensial.

3.3. Kecamatan Palabuhanratu Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perairan Pelabuhanratu terletak pada posisi geografis 6o57’- 7o07’ LS dan 106o22’-106o23’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.200 km2 atau 9,18 persen dari luas Provinsi Jawa Barat (dengan Banten) atau 3,01 persen dari luas Pulau Jawa. Secara administratif, wilayah Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan:
 

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

54

di antara Musim Timur dan Musim Barat terjadi periode peralihan (Wyrtki.co. Pada periode Musim Timur (MeiAgustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat November-Februari). pada bulan September-Oktober Karakteristik Perikanan Teluk Palabuhanratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat. 1961) yang disebut Musim Peralihan Timur (Maret-April) dan Musim peralihan Barat (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sumber: www. Wyrtki (1961) mengemukakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu sesuai dengan sifat laut dan tercatat kecepatannya sebesar 1-7. Peta Kecamatan Palabuhanratu Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar.google. Selanjutnya dikatakan bahwa perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29o-30oC dan pada musim timur 26o-27oC.6.5 cm/dtk pada bulan September sampai Desember yang bergerak ke arah barat. 2008).  Sebelah Barat. di Samudra 55 . Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk. berbatasan dengan Provinsi Banten Sebelah Timur.id Gambar 3.

Palabuhanratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat.Hindia. seperti Gill net. dan jasa-jasa lingkungan.20 GT 11 7 3 3 4 9 4 10 7 21 .26. dan Pancing rawai lainnya. (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu.30 GT 12 7 13 8 10 28 53 71 52 Sumber Data Statistik PPNP. Bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi tidak berdampak terhadap jumlah frekuensi keluar 56 . perikanan. Tabel 3. 2008). Pancing ulur.55 18. Bagan.17 Motor Tempel 275 323 317 253 266 428 511 531 416 < 10 GT 147 141 106 106 111 143 153 137 102 Kapal Motor 11 . Jumlah Perahu Motor Tempel dan Kapal Motor Tahun 2000 – 2008 Jenis Kapal/Perahu (Unit) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah (Unit) > 30 GT 11 12 13 11 139 68 77 103 69 456 490 452 381 530 676 798 852 646 Fluktuasi (%) -0. Selain itu.34 persen. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km.76 -15. 2008 Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu pada Tahun 2009 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya. yaitu sebesar 17.11 27.76 -24.71 39. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada yang beroperasional didominasi oleh jenis kapal/perahu Motor Tempel sebanyak 230 unit kapal jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Jaring Rampus. Potensi wilayah pesisir Palabuhanratu mencakup potensi sumber daya hayati. Realisasi operasional jumlah kapal/perahu Motor Tempel dan Kapal Motor lainnya yang beroperasional disajikan pada Tabel 1.46 -7.65 7. Jenis armada penangkapan ikan yang menggunakan base fishing port-nya Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu adalah jenis Kapal Motor dengan ukuran kapal < 10 GT s/d > 30 GT dengan berbagai macam alat tangkap. non-hayati. Potensi sumber daya hayati meliputi ekosistem pesisir.05 6. Payang. Purse seine. dan biota laut lainnya. Tuna Longline.

335 21.738 24.61 -11.10 -5.522 40. yaitu sebesar 5.14 -21.104 Motor Tempel (Kali) 14. sebaliknya terjadi penurunan pada frekuensi keluar kapal sebesar 29.638 5.802 16.694 kali dengan rata-rata 394 kali per bulan.57 -15. air bersih. 2008 Kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan penangkapan ikan terlebih dahulu harus melengkapi kebutuhan logistiknya berupa es balok.248 1.28.641 18.27.675 2. Kebutuhan logistik BBM yang terdiri 57 .695 kali per bulan.27 persen. Adapun kebutuhan perahu/kapal perikanan terhadap ketiga jenis logistik tersebut diuraikan dalam Tabel 3.057. sedangkan frekuensi kunjungan Kapal Motor sebesar 4. Frekuensi Kunjungan Kapal Motor dan Motor Tempel Tahun 2000 – 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Kapal Motor (Kali) 6.694 3.857 5.27) pada tahun 2000-2008 selalu mengalami fluktuasi yang bergantung pola musim ikan dan perubahan cuaca yang tidak menentu.891 2.031 15.847 22. Tabel 3.588 28.335 kali dengan rata-rata kapal yang masuk ke kolam Pelabuhan sebesar 2.27 Sumber Data Statistik PPN Palabuhanratu.005 3.22 24. Frekuensi kunjungan kapal motor dan motor tempel (Tabel 3.101 12.602 Fluktuasi Kapal Motor Motor Tempel (%) (%) 42.279 4.884 34.16 75.13 70.198 32.65 75. Total frekuensi kunjungan kapal Motor Tempel sebesar 27. Kebutuhan logistik kapal ada yang mengalami penurunan ada pula yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan logistik kapal tahun sebelumnya.42 -46.83 45.836 29.90 -67.595 16.12 5.masuk kapal.776 15. solar di samping kebutuhan logistik lainnya serta konsumsi.497 Jumlah Total (Kali) 21.919 27.771 1.510 23.18 -9. Secara umum.05 persen.738 11.38 52.641 kali dengan jumlah rata-rata 2.68 -27. jenis perahu/kapal motor tempel yang menggunakan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sebagai tempat labuhnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.303 kali per bulan.26 persen dan frekuensi masuk kapal sebesar 34. Total frekuensi kunjungan kapal pada tahun 2008 sebesar 32.505 19.12 persen.64 -7.31 72.08 79. sedangkan jenis kapal motor naik sebesar 22.48 22.

700 1.675.034.55 persen.595 285.600 4.65 0.07 -72.53 198.811.479.000 1.17 18.897. yaitu pengisiannya menggunakan jaringan pipa yang 58 .61 -3. Berbeda dengan kapal-kapal yang ada di kolam 2 (dua).64 BBM / Solar (Ltr) Jumlah 1.000 6.27 -84.000 380.511.900 1.787. dan kebutuhan logistik minyak tanah juga mengalami penurunan sebesar 70.200 1.29 -46.704 219.92 -20.1.034 -17.045.450 196.22 .56 persen.92 30.917.161 158.528. Tabel 3. Air Bersih Penyaluran kebutuhan air bersih untuk kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dipenuhi oleh sebuah perusahaan swasta.28.32 115.24 4.71 19.316.870 10.041.68 63.660.49 286.216 1. Air yang disalurkan berasal dari air PDAM yang dialirkan ke kapal perikanan melaluai jaringan pipa dan slang plastik dengan ukuran penjualan dalam bentuk “Blong” (drum plastik) yang berkapasitas 250 liter dan 120 liter atau dalam bentuk jerigen plastik (30 liter) untuk kapal-kapal yang ada di kolam 1 (satu).40 No Tahun Air (Ltr) Fluktuas Jumlah i (%) 2.259 Fluktuasi (%) 18.300 4. kebutuhan logistik es mengalami kenaikan sebesar 1.07 -16. 2009).490 277.45 7.591.39 -21.863 164.632 11.24 6.090 2.dari solar untuk kapal motor dan bensin untuk perahu motor tempel mengalami peningkatan sebesar 18. Penyaluran Kebutuhan Logistik Kapal di PPN Palabuhanratu Tahun 2000 -2008 Kebutuhan Logistik Es (Balok) Fluktuas Jumlah i (%) 74.380.29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Sumber Data Statistik PPNP 2008 Ket : @ BALOK ES = + 50 Kg a.213.44 27.51 persen.37 -45.000 4.110 4.35 -84.78 1 5.50 persen (Buku Stastistik Perikanan.155 1.912 5.749.821.61 75..45 289.00 -60.74 12.917. kebutuhan logistik air mengalami penurunan sebesar 20.443.60 2.470 112.785 6.868 117.778 147.371 2.

Kebutuhan Es Balok di PPN Palabuhanratu tahun 1993—2008 Jumlah pemakaian es balok sampai sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi bergantung jauh dekatnya wilayah penangkapan. instalasi baru khusus untuk nelayan dan pihak investor guna meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih kepada masyarakat perikanan telah terpasang. Di samping itu. Total penggunaan es balok oleh nelayan untuk operasional penangkapan ikan pada tahun 2007 adalah 59 .7. Sumber: Laporan Tahunan. Es Balok Kebutuhan logistik untuk es balok di PPN Palabuhanratu selama ini masih disuplai oleh dua perusahaan swasta. Kemampuan dalam mensuplai air bersih di PPN Palabuhanratu masih cukup besar dengan tersedianya mobil tangki untuk mengangkut air bersih yang berkapasitas 400 m³. kesadaran nelayan akan pentingnya mempertahankan mutu ikan semakin tinggi sehingga secara umum penggunaan es di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu cenderung turun sebesar 16. Jumlah pemakain es balok oleh kapal/perahu perikanan di PPN Palabuhanratu untuk operasional penangkapan ikan disajikan pada grafik berikut.61 persen.langsung sampai ke dalam kapal dengan ukuran penjualan dalam bentuk kubikasi. Di samping itu. b. 2009 Gambar 3. yaitu pabrik es Sari Petejo dan Tirta Jaya.

2009 Gambar 3.811.161 kg (@ balok = 50 Kg) atau rata-rata per bulan sebanyak 13.680 kg. Pemakaian solar kapal perikanan pada tahun 2008 sebanyak 5.04 persen per tahun.045. c. jumlah total pemakaian solar pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 118. Perkembangan Kebutuhan BBM di PPN Palabuhanratu tahun 1993--2008 Kebutuhan BBM di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu berfluktuasi. Sementara itu.8.000 liter karena aktvitas kapal masih didominasi kapal motor tempel.65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Volume logistik BBM tertinggi terjadi pada tahun 2004 karena aktivitas kunjungan kapal longline (KM > 30 GT) yang meningkat tajam. yaitu hanya sebanyak 1.281 liter dimana pemakaian solar 60 .sebesar 164.371 liter dengan rata-rata pemakaian per bulan 484. Sumber: Laporan Tahunan. BBM (Solar) Jumlah pemakaian solar kapal perikanan di PPN Palabuhanratu semenjak dioperasionalkan mulai tahun 1993 sampai sekarang selalu mengalami fluktuasi seiring dengan kunjungan jumlah kapal pendatang yang tambat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dan jauh dekatnya daerah penangkapan ikan serta jumlah kapal perikanan dengan kecenderungan kenaikannya sebesar 5. Volume logistik BBM terendah terjadi pada tahun 2001. tergantung dari jumlah kunjungan kapal.

687 1.115.372 11. tingkat harga jual ikan tuna mata besar dan yellow fin tercatat paling tinggi.230 115. 2009 Ikan-ikan yang telah didaratkan di PPN Palabuhanratu kemudian didistribusikan ke pasar di berbagai wilayah. Tabel 3.411 9.960 1. dan peperek.312 Sumber: Buku Statistik PPN Palabuhanratu.800 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Ikan Tongkol Komo Cakalang Tongkol Lisong Tongkol Abu-abu Tembang Tuna Albakor Tuna Mata Besar Tuna Yellow Fin Cucut Setuhuk Loreng Pedang-pedang Layur Layang Deles Layaran Peperek Rata-rata Volume (Kg) 15.595.29.697.513 1.093.000 1.675 12. tuna yellow fin.308.774.011 8.789.477.956 17.461 4.796.338.285 66.468 per kg. Penyaluran BBM solar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu disediakan oleh SPBB dan SPBN yang dikelola oleh pihak swasta dan melalui SPDN yang dikelola oleh pihak KUD Mina. rata-rata volume produksi pada tahun 2009 adalah 251.015.512. Kegiatan penangkapan ikan 50-70 persennya merupakan biaya operasional yang sebagian besar untuk keperluan pembelian BBM solar.ini banyaknya dilakukan oleh kapal-kapal pendatang (Kapal Tuna Long Line) yang mengisi logistik bahan bakarnya antara lain solar di PPN Palabuhanratu dan semakin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground). Hasil tangkapan yang tidak kalah banyaknya adalah ikan layur. Hasil tangkapan nelayan di Palabuhanratu didominasi oleh ikan tuna mata besar.764. Volume Produksi.179 29. Berdasarkan data produksi.648.183 dan Rp21.733 301.016 kg dengan nilai produksi sebesar Rp3.774 Harga (Rp/kg) 7.000 133.317.979 30.500 2.007 6.000 102.500 3.500 398.241.000 1.610 107.6 Nilai (Rp) 112.000 1.300 175. Nilai Produksi.697.050 476.827 24.676 15. cakalang.183.216 4.593.908 87.000 30. yaitu masing-masing sebesar Rp24.997 15.230.848.272.601.193 320.067.888.495.704. Sebagian besar ikan di 61 . dan Harga per Jenis Ikan Tahun 2009 No.049 103.500 1.183 21. dan tongkol lisong.050 739.500 11.308.108 13.584 20. Sementara itu.917 251. layaran.155 542.578.813. layang deles.468 8.472 11.998.

Sesuai dengan data yang diperoleh. Karakteristik Usaha Responden Jumlah responden yang diwawancarai sebagai sumber data primer adalah sebanyak 40 orang yang tersebar di delapan kecamatan. yaitu Kecamatan Palabuhanratu. dan Suli. Cilacap. Pemasaran ke Jakarta sebenarnya juga dijual kembali ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan besar yang menampung ikan-ikan dari Palabuhanratu sehingga kegiatan ekspor tercatat berasal dari Jakarta.5 persennya adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk nelayan yang berpendidikan karena sebagian besar responden pernah dan telah mengenyam pendidikan formal. Berdasarkan data yang diperoleh. Taman.45 persen dari total volume produksi pada tahun 2009. Kemudian. yaitu sebanyak 40 persen. Pasar regional lainnya yang juga mampu menyerap produksi ikan Palabuhanratu adalah Cianjur sebesar 8. asal responden sebagian besar atau 65 persen adalah nelayan dari Kecamatan Palabuhanratu dan sebagian kecil lagi tersebar di tujuh kecamatan lainnya. Pasir Bayu. dan > 15 tahun. Sementara itu. Bayah.Palabuhanratu dipasarkan di pasar lokal dan regional. distribusi ke luar negeri atau ekspor yang langsung dilakukan dari Palabuhanratu hanya menyerap 2. Pengalaman usaha nelayan tersebar merata dari rentang waktu ≤ 5 tahun. 35 persennya memiliki pengalaman usaha 6—15 tahun dan hanya 25 persen 62 .42 persen saja dari total volume produksi. responden sebagian besar adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 50 persen dan 37. Sebagian kecil responden adalah tidak tamat SD dan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sekolah tinggi. sedangkan pasar lokal hanya mampu menyerap 8. nelayan yang menjadi responden masih tergolong muda karena pengalaman usaha mereka sebagian besar ≤ 5 tahun.64 persen.22 persen dari total volume produksi. Simpenan. 6—15 tahun. Pasar regional yang menjadi tujuan utama dari pemasaran ikan Palabuhanratu adalah Jakarta sebesar 57. Cisolok. Berdasarkan tingkat pendidikannya.

Berdasarkan statusnya. Sementara itu.5 persen bertindak sebagai ABK. ada pula keterlibatan istri dalam usaha penangkapan sebanyak 12. responden yang bekerja sebagai nahkoda hanya sebanyak 11 orang atau 27. Sementara itu. Sebanyak 40 persen responden mengoperasikan sendiri armada penangkapannya dan sebanyak 32. Karakteristik responden juga dapat dilhat dari aspek teknis usaha penangkapannya berdasarkan kepemilikan kapal menurut GT.berpengalaman lebih dari 15 tahun.5 persen anggota keluarga yang terlibat dalam usaha penangkapan hanya 1 orang yang berarti hanya kepala keluarga yang bekerja. yaitu ≥ 10GT . Sebagian kecilnya lagi atau 10 persen responden yang melibatkan ≥ 3 orang anggota keluarga. Sebagian besar responden termasuk ke dalam kategori keluarga besar yang memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang dan ≥ 5 orang. keterlibatan anggota keluarga yang lain tidak terlalu signifikan dalam memikul beban ekonomi keluarga. Sementara itu.5 persen dari total responden. tampak bahwa kepala keluarga menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Berdasarkan kepemilikan kapal (GT).< 30GT dengan wilayah penangkapan yang tidak jauh. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan menjadi mata pencaharian yang sangat diandalkan responden karena sejak usia muda mereka telah memilih nelayan sebagai profesi utama. 45 persen 63 . dan bahan bakar yang digunakan. Sebagian besar atau 55 persen responden memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga sedang yang terdiri dari orang tua dan dua orang anak dan 35 persennya memiliki anggota keluarga berjumlah ≥ 5 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga besar. Namun demikian. Berdasarkan data yang diperoleh. Berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja. sebagian kecilnya (15%) memiliki anggota keluarga ≤ 2 orang. Kondisi ini disebabkan oleh karena armada penangkapan yang digunakan berukuran kecil. 77.5 persen dari total responden yang melibatkan 2 orang anggota keluarga yang bekerja. jenis alat tangkap. sebagian besar responden adalah pemilik kapal dan ABK.

<30 GT dan 10 persen untuk kapal ukuran ≥30 .5 persen responden menggunakan alat bantu bagan tancap dalam kegiatan penangkapannya. bagan. Dari keempat jenis alat tangkap tersebut. yaitu sebesar 32.5 persen untuk kapal ukuran ≥10 . gillnet. Bahkan. 64 .5 persen dari jumlah responden. Namun demikian. minyak tanah hanya menyumbang 2. tetapi ada pula nelayan yang menggunakan kapal dengan motor tempel.< 10 GT dan 32. yaitu 12. responden yang menggunakan kapal dengan ukuran sedang dan besar hanya sebagian kecil saja. Armada penangkapan yang digunakan sebagian besar adalah kapal motor dengan mesin berada di dalam kapal (inboard boat).5 persen. Sementara itu. Jenis alat tangkap dan alat bantu lainnya yang digunakan responden adalah pancing tonda.5 persen atau hanya satu armada penangkapan yang menggunakannya karena minyak tanah hanya digunakan untuk menghidupkan mesin dan sebagai bahan bakar lampu petromaks. Sementara itu.<100 GT.responden memiliki kapal dengan ukuran ≥ 5 . Alat bantu tangkap lainnya yang juga banyak digunakan adalah bagan yang ditancapkan di lokasi yang masih banyak memiliki sumber daya ikan. Bagan hanya berperan sebagai alat bantu penangkapan karena setelah ikan berkumpul di bagan. nelayan akan mengambil ikan dengan menggunakan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal. Jenis alat tangkap lainnya adalah longline sebanyak 15 persen dan gillnet sebesar 12. dan longline.5 persen dan bensin sebanyak 30 persen. responden yang menggunakan kapal < 5 GT tidak ada karena wilayah penangkapan di lokasi penelitian bertambah jauh karena ketersediaan ikan semakin menurun. pancing tonda paling banyak digunakan oleh responden. kondisi ini juga menyebabkan beberapa jenis alat tangkap tidak dapat lagi digunakan. yaitu sebanyak 16 orang atau sebesar 40 persen. Hal ini terlihat dari jenis bahan bakar (BBM) yang digunakan yang sebagian besar menggunakan solar sebanyak 67.

777 dan Rp288.5 12. dan biaya di darat tidak menjadi komponen dari biaya operasional. biaya solar. 65 . 31.984.450.200 per kg.30. padahal harga cumi-cumi rata-rata sangat rendah.5 100 ≥5GT . Penguasaan Aset Usaha Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Karakteristik Kepemilikan Kapal (GT) < 5 GT Jumlah (n) 0 18 5 4 13 40 13 5 6 16 40 12 27 1 40 Prosentase (%) 0 45 12. Sementara itu. analisa usaha kegiatan Dari alat penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 3. umpan.889 dengan besarnya biaya operasional adalah Rp1. yaitu Rp3.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .5 15 40 100 30 67.5 2. hanya alat bantu penangkapan bagan yang rata-rata menunjukkan kerugian sebesar Rp 915.<100GT ≥100GT Bagan Jumlah Jenis Alat Tangkap Bagan Gill net Longline Pancing Tonda Jumlah Bahan Bakar yang Digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah Sumber: Data primer diolah.5 100 32. Kerugian ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang diperoleh didominasi oleh cumi-cumi dibandingkan ikan teri. Tabel tersebut keuntungan yang diperoleh nelayan per trip menurut tangkap dan ukuran armada penangkapan dari empat jenis alat tangkap.Tabel 3.5 10 32. Hasil tangkapan bagan adalah ikan teri dan cumi-cumi yang masingmasing sebesar Rp272.477. 2010 Dari kegiatan penangkapan tersebut.

000.000.000 561.984) 1.000 352.250 474.324.000 55.397.000 124.256 667.000 45.000 16.000 438.466.500.500.269.000.600 525.708.787.825.298 dengan biaya solar mengambil bagian yang paling besar.602.466 10.500 866.667 0 2.500.188 688.000 0 0 7. Uraian Penerimaan Teri Cumi-cumi Tongkol Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Umpan Ransum Biaya di darat Total biaya operasional Keuntungan Bagan 272.250.666 1. Sementara itu.000 118.450 (915. Sesuai dengan sistem bagi hasil yang berlaku.334 62.357.000 120.000.916.000 0 50.500 0 9.500.000 875. 2010 Hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap gillnet adalah ikan tongkol dan cakalang dengan total penerimaan sebesar Rp10.483.813 25.483.750 106.324.750.500.667 207.000 5. yaitu 50 : 20 : 30 maka bagian pemilik kapal rata-rata sebesar Rp375.Tabel 3.000 16.000.051.990 4.500 6.063 207.500 42.798 3.889 5.000.227 12.500 741.791.600 1.875 Gillnet (≥5GT <10GT) Jenis Alat Tangkap Longline 1 (≥10GT -<30GT) Longline 2 (≥30GT 100GT) Pancing Tonda (≥5GT -<10GT) 0 109. dan bagian ABK adalah sebesar Rp2.298 7.432. analisis membedakan antara longline ukuran ≥10 GT-<30 GT dan longline ukuran ≥30 GT-<100 GT karena hasil tangkapan dan biaya operasional jauh berbeda sehingga mudah mendapatkan 66 .000 118.269.477.875 16. Besarnya penerimaan dan biaya operasional tersebut menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp7.000 atau sebesar 39 persen.702.000 16.31.325.000 0 0 240. Khusus untuk alat tangkap longline. nahkoda Rp1. yaitu Rp1.577 288.533.000 0 461.825. Analisa Usaha penangkapan Ikan Beberapa Alat Tangkap di Palabuhanratu 2010. biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp3.648 Sumber: Data primer diolah.667 2.000 2.000 0 16.000.702 6.500.

000. nahkoda Rp660.000. 15% untuk nahkoda.227 pada trip terakhir. Kondisi ini ditunjukkan oleh besarnya penerimaan dan biaya operasional longline ukuran ≥30 GT-<100 GT masing-masing sebesar Rp118.000.500. Hasil tangkapan utama yang dibawa oleh pancing tonda adalah ikan tuna dengan nilai rata-rata Rp16. Bentuk subsidi yang dikelola oleh PPN berupa subsidi BBM berupa solar melalui SPDN dan SPBB yang tersedia di pelabuhan. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 50% untuk pemilik.648. 67 . 10% untuk nahkoda. Sementara itu.791.051.666.000 dan Rp55. sistem bagi hasil yang digunakan juga sama sehingga bagian pemilik rata-rata sebesar Rp31.708.000 dan Rp9. SPDN khusus melayani kebutuhan solar dari kapal-kapal ukuran < 30 GT.000.000.641.875. jumlah penerimaan dan biaya operasional untuk kapal longline ukuran ≥10 GT-<30 GT sangat jauh berbeda.nilai rata-ratanya.300.500 sehingga keuntungan bersihnya sebesar Rp6. dan ABK sebesar Rp25. Untuk longline ukuran ≥30 GT-<100 GT. nahkoda sebesar Rp2.397. Subsidi Perikanan di Palabuhanratu Subsidi perikanan di Palabuhanratu disalurkan oleh dua pihak. bagian pemilik ratarata adalah Rp3.000.000. yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi.000.483. yaitu masingmasing sebesar Rp16.602.000. dan ABK sebesar Rp4.000. sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp4. Kegiatan penangkapan pada trip terakhir untuk kapal dengan alat tangkap pancing tonda membukukan keuntungan bersih sebesar Rp12.500.432. nahkoda sebesar Rp6. Sistem bagi hasil yang digunakan adalah 50% untuk pemilik. dan 40% untuk ABK. sedangkan SPBB melayani kapal-kapal besar ukuran ≥ 30 GT. dan 35% untuk ABK sehingga hasil yang diperoleh oleh masing-masing rata-rata adalah sebesar Rp6.334 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp62.000.000.000.000. Dengan demikian. dan ABK sebesar Rp2.300.000.

Untuk mengatasi permasalahan ini. seperti paket penangkapan berupa armada penangkapan dan alat tangkapnya. Jenis Subsidi Langsung: 1. 1. Jenis kapal ini memang dapat memberikan hasil tangkapan yang banyak bagi nelayan.c Bantuan modal untuk mengkonversi perahu 2. mesin. Data statistik pelabuhan menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir jumlah tangkapan ikan nelayan mengalami penurunan.a BBM/Solar Dasar Kebijakan Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak secara nasional. Bentuk-bentuk subsidi perikanan tangkap laut tahun 2009 No. armada penangkapan yang dimiliki sebagian besar nelayan Palabuhanratu tidak menunjang untuk sampai ke wilayah penangkapan yang jauh. Selain itu.a Rumpon Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi diolah. disadari bahwa purse seine justru membahayakan kelestarian sumber daya ikan karena kemampuannya mengeruk semua jenis ikan dari yang ikan terkecil hingga 68 . seperti rumpon yang diberikan kepada kelompok nelayan yang lulus seleksi setelah mengajukan proposal bantuan. subsidi atau bantuan yang disalurkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan lebih bersifat paket. Tidak mampunya kapal payang dan gillnet beroperasi di perairan Palabuhanratu karena fishing ground yang semakin jauh Kebijakan pemasangan rumpon di sekitar perairan Palabuhanratu Menurunnya sumber daya ikan sehingga fishing ground semakin jauh 1. 2010 Sementara itu.Tabel 3. dan alat tangkap (paket) 1.b Bantuan kapal. nelayan banyak yang tidak dapat melaut untuk menangkap ikan. Namun. Menurunnya hasil tangkapan ini mendorong nelayan untuk menempuh perjalanan yang panjang karena wilayah penangkapan (fishing ground) semakin jauh. Dinas Kelautan dan Perikanan juga memberikan bantuan modal untuk mengkonversi armada penangkapan nelayan dengan alat tangkap payang menjadi kapal rumpon.32. Tidak Langsung: 2. pemerintah bisa saja memberi bantuan untuk mengganti kapal yang ada dengan kapal jenis purse seine. Ada pula bantuan berupa alat bantu penangkapan. Namun demikian. Akibatnya.

dipasanglah beberapa cincin di sepanjang tali rafia tersebut. Sebuah rumpon diperuntukkan bagi 1 kelompok nelayan yang terdiri atas 5 kapal nelayan. Bentuk rumpon dan cara kerjanya yang ada di perairan Palabuhanratu Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menggunakan rumpon sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan usaha nelayan dan kelestarian sumber daya tersebut. Rumpon di perairan Palabuhanratu biasanya berupa rumpon permukaan yang menggunakan pelepah pohon kelapa sebagai sumber makanan ikan agar ikanikan tetap berkumpul di sekitar rumpon. Agar tali tidak kusut dan terpelintir. Dengan bantuan rumpon. 69 . Gambar 3. Namun demikian. Hal ini dilakukan karena tali rafia lebih praktis karena tidak perlu diganti dalam jangka waktu yang cukup lama. jumlah rumpon yang berasal dari bantuan pemerintah berjumlah 40 unit dengan jarak per rumpon sejauh 8 mil. Purse seine juga akan merusak terumbu karang dan kekayaan laut lainnya sehingga justru mengancam kelestarian sumber daya di masa depan. namun ada juga rumpon yang seharga Rp150 juta. Rumpon adalah alat bantu yang dipasang untuk menangkap ikan. ikan-ikan akan berkumpul di sekitarnya sehingga mempermudah nelayan dalam menentukan lokasi penanngkapan dan membantu nelayan mendapatkan ikan dengan mudah.9.ikan ukuran besar. saat ini sebagian besar pelepah pohon kelapa diganti dengan tali plastik rafia. Saat ini. Teorinya keberadaan tiap-tiap rumpon dirahasiakan agar kelompok nelayan lain tidak bisa sembarangan menangkap di semua rumpon yang ada. Harga rumpon per unit rata-rata sebesar Rp60 juta.

Untuk itu. Pelayanan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara pebauhanratu dilakukan dalam tiga jenis stasiun pengisian. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir termasuk di dalamnya Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). yaitu: (1) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan. tangki BBM solar dan fasilitas lainnya. Sedangkan dalam kaitannya dengan pengajuan kuota BBM dan jumlah kuota yang disediakan merupakan kewenangan dari pihak Pertamina serta ditembuskan ke Direktorat Jenderal kelautan. Bentuk bantuan lainnya yang juga diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi adalah bantuan modal bagi nelayan yang memiliki armada penangkapan dengan alat tangkap payang. bangunan. pemerintah daerah berusaha menyediakan daerah penangkapan baru yang lebih terjangkau melalui rumpon-rumpon yang disebar di sepanjang perairan Palabuhanratu. bantuan modal tersebut macet karena kelompok nelayan yang menerima bantuan tidak mengembalikan modal tersebut sehingga kelompok nelayan lain tidak mendapat kesempatan yang sama. Pelabuhan Perikanan selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap hanya menyediakan lahan. Dalam memberikan pelayanan BBM solar bersubsidi. SPDN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak KUD 70 .Namun. Bantuan modal ini merupakan bantuan bergulir dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya. sedangkan ada kelompok lain yang tidak mendapat hasil tangkapan sama sekali. Akan tetapi. prakteknya hal itu sangat sulit dilakukan karena faktor iba karena sekelompok nelayan bisa membawa hasil tangkapan yang banyak. Modal tersebut sedianya digunakan untuk mengkonversi kapal mereka menjadi kapal penangkap ikan di rumpon karena menurunnya ketersediaan sumber daya ikan membuat kapal payang tidak mampu beroperasi lagi.

Dalam operasionalnya. Ketiga fasilitas tersebut (tangki BBM. Mekar Tunas Raya Sejati sendiri. dogol dan gillnet). Penggunaan fasilitas (3) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. PT. Dalam operasionalnya. Mekar Tunas Raya Sejati memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 208 m3 dan instalasi pompa BBM. Pengisiannya dilakukan 71 . Mekar Tunas Raya Sejati dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. pelabuhan tersebut dilakukan dengan system sewa. Dalam operasionalnya KUD Sinar Laut memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 320 m3. SPDN ini melayani kebutuhan BBM solar bersubsidi bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom I yang berukuran < 30 GT (Kapal rumpon. SPBN ini melayani kebutuhan BBM solar bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom II dengan nukuran kapal > 30 GT (Kapal longline). (2) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar dengan fisik bangunan yang lebih besar dari SPDN yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil. instalasi pompa BBM dan dispenser. sedangkan bangunan dispenser dispenser adalah milik pihak PT. Paridi Asyudewi dengan kouta rata-rata sebanyak 400 kiloliter per bulan. sedangkan pihak KUD memanfaat ketiga fasilitas tersebut dengan sistem sewa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Paridi Asyudewi yang berlokasi di didermaga II. pihak PT. SPBN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. pompa BBM dan bangunan dispenser) milik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu. Paridi Asyudewi menggunjakan tongkang atau bunker kapal milik PT.Sinar Laut dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan.

Pada tahapan ini. Paridi Asyudewi yang berfungsi menyalurkan BBM solar bersubsidi melalui darat yang kemudian disalurkan ke dalam bunker/tongkang. maka nelayan diwajibkan melapor keberangkatan kapalnya. POL AIR kemudian melapor ke petugas teknis untuk mendapatkan STBLKK. Status mobil tangki tersebut adalah milik PT. Syahbandar dan Pengawas Perikanan di Pelabuhan Perikanan.5 liter.000 liter dalam tiap minggunya. yang selanjutnya diperkenankan mengajukan permohonan pengisian solar ke penyalur (SPBN/SPBB). yaitu: (1) Tahapan Melapor Kedatangan Kapal Pada tahapan melapor kedatangan.dengan dibantu mobil tangki minyak dengan kapasitas 16. dan terakhir melapor ke Syahbandar di Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan SIB.651. (2) Tahap Melapor Keberangkatan Kapal Setelah nelayan melakukan tahapan melapor kedatangan kapal pada beberapa hari sebelum kebarangkatannnya kembali.026. ke Pengawas Perikanan untuk mendapatkan SLO. yang selanjutnya dilakukan pengisian ke kapal-kapal yang ada di Kolom II. ke petugas jasa untuk melakukan biaya bayar tambat. pihak nelayan diwajibkan melapor ke prtugas teknis. TNI AL. realisasi penjualan BBM 72 .1 liter atau sama dengan 126. Setelah kapal mendapatkan SLO dan SIB. nelayan melaopor ke TNI AL. maka dalam waktu 1 x 24 jam penyalur BBM solar besubdisi (SPBN/SPBB) diperbolehkan menjual solarnya kepada kapal yang akan berangkat melaut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak syahbandar dalan hal pengisian BLB (Buku Lapor Bunker). petugas jasa. Pelayanan BBM solar bersubsidi di pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dilakukan melalui mekanisme dalam dua tahapan melapor. Sementara itu. POL AIR.417.6511 kiloliter. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 126. Realisasi penjualan BBM melalui SPDN sejak bulan Mei 2009 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.

734.67%) dari kuota yang dijatahkannya.558.melalui SPBN sejak bulan November 2008 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 663.0 128.148.5 liter atau sama dengan 367.798.0 51.0 132.460.0 46.0 71.412.998.447. sedangkan untuk SPBB telah mencapai hampir keseluhan jatah yang diberikannya (91.0 128.5 60.0 86.144.540..0 110.139.0 71.577.698. Sedangkan dari Tabel 3 dan Gambar 3 diketahui bahwa realisasi penjualan BBM melalui SPBB sejak bulan Januari 2010 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.989.356.0 55.095.0 59.0 155.0 127.1 liter.0 127.0 liter.835.700. Bila realisasi penjualan tersebut dibandingkan dengan kuota yang diberikan.76%).0 2.0 127.0445 kiloliter.0 77.0 86.77%) dari kuota yang dijatahkannya.044.0 66. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 30.422.194.0 55.277.5 128.484.248.432.756.785.696.0 63.140.894.0 70.000.5 54.0 60.0 128.0 41.5 liter atau sama dengan 30.0 68. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Periode Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Volume Penjualan (Lt) Meter A Meter B 55.0 35.3 Total (Lt) 123.006.0 62.0 128.0 62.0 46.461.001.0 879.570.257.0 95.265.322.154.221.651. Sementara untuk SPBN baru mencapai kurang dari seperempat (12.0 127. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 No. Tabel 3.963.0 56.491.0 72.727.006.1445 kiloliter. 2010 73 .33.417.741.978.586.0 65.0 139.0 1.026.721. terlihat bahwa untuk SPDN baru mencapai separuh (53.179.0 57.0 61. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 367.954.0 68.0 71.0 70.0 126.147.211.8 68.5 126.1 Sumber: KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.352.042.068.0 85.936.038.0 56.310.

200.330. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.048.0 80.6 21.000.000.000.8 19.122.453.805.7 37.0 54. Mekar Tunas Raya Sejati.0 40. Pelabuhanratu.0 34.537.2 22.0 11.0 140.0 12.8 22.160.34.6 33.5 November 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Sumber: SPBN PT. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.2 58.1 30. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.4 22. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Periode Volume Penjualan (Lt) 12.179.826.230.9 64.0 14.0 60.5 50.351.2 47.0 20.0 Volume Penjualan (Lt) 0 l-1 Ju 0 -1 ay M 0 -1 ar M 10 nJa 09 vNo 9 -0 ep S 9 l-0 Ju 09 Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.144.800.0 0.10.000.200.000. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 No.3 22.977.908.000.765.000.209.9 34. 2008-2010 M ay 74 .990.0 663.0 23.0 42.558.0 120.200.000.0 0.0 100.410. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.253.

633.0 0.0 10. 2010 75 .813.0 50.0 Volume Penjualan (Lt) 60.102.936.0 367. 70.0 403.0 30.0 466.072.870.751. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.0 20.115. SPBN dan SPBB) maupun mekanismenya dalam penyaluran atau penjualan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu telah cukup memadai. pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara telah mampu menyalurkannya secara baik.044.0 40.356. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Periode Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Volume Penjualan (Lt) 410.000.0 449.000. Tentunya pernyataannya dapat dibenarkan bila digunakan asumsi bahwa besaran kuota BBM solar bersubsidi yang di sediakan adalah dihitung berdasarkan jumlah kebutuhan BBM untuk nelayannya.0 0. Namun di sisi lain.35. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.Secara teknis mekanisme pelayanan baik yang dilihat melalui polanya (SPDN.000. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT. Paridi Asyudewi.000. 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-Rata per Bulan Sumber : SPBB PT.0 505. rendahnya relaisasi tersebut (terumana pada SPDN dan SPBN) menunjukkan bahwa sesungguhnya masih terdapat sebagian besar nelayan yang membeli BBM solar yang dibutuhkannnya justru di luar SPDN dan SPBB yang ditunjuk.0 Gambar 3.0 267.0 433. Dengan kata lain.11. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. Hal ini seperti terlihat dari besaran realisasi penjualan BBM solar bersubsidi yang masih di bawah kuota.000.000.000.5 10 gAu 0 -1 ay M 10 bFe 09 vNo 09 gAu 9 -0 ay M 09 bFe 08 vNo Periode Pengisian (Bulan) No. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.0 2.

Kebutuhan BBM.600.0 10 gAu 0 l-1 Ju 10 nJu 0 -1 ay M 0 r. Melihat kondisi di lapangan dari berbagai jenis kapal maupun mesin yang digunakan nelayan untuk melakukan operasional penangkapan. Hal ini karena komponen biaya BBM berkisar antara 40-60% dari seluruh biaya 76 .0 100.000. jenis BBM yang dibutuhkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu adalah jenis solar dan premium/bensin.000. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Peran Subsidi Perikanan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat perikanan khususnya nelayan di Palabuhanratu dalam melakukan operasional penangkapan ikan.0 200. yakni kapal yang menggunakan mesin diesel untuk jenis kapal dogol. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.12.0 300. Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2010 pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara baru menyediakan BBM jenis solar saja. BBM jenis solar tersebut digunakan untuk kapal perikanan yang berukuran > 10 GT. Di samping itu jenis kerosin/minyak tanah digunakan oleh nelayan.000.0 0. gillnet.000.000.1 Ap 0 -1 ar M 10 bFe 10 nJa Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3. longline dan kapal rumpon.000.0 Volume Penjualan (Lt) 500. Sedangkan jenis mesin tempel digunakan untuk kapal payang dan kincang dengan BBM jenis premium/bensin. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. namun hanya digunakan untuk keperluan penerangan saja. khususnya bagi nelayan skala usaha mikro dan kecil merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan kegiatannya.0 400.

477.musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): . di atas menunjukkan bahwa subsidi BBM.29 8 10.0 00 1500 liter 9.36.2%. bila terjadi kenaikan harga BBM jenis solar sebesar 28% maka akan menambah beban biaya produksi penangkapan ikan sebesar 28% x 40% = 11.33 4 118. Tabel 3.170.825.432.22 7 5. Artinya. Biaya untuk bahan bakar 77 .00 0 9333 liter 55.324.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM Nilai hasil tangkap 1 hari 1 hari 1 hari 7 hari 7 hari 7 hari 15 hari 15 hari 15 hari 120 hari 100 hari 77 hari 6 hari 6 hari 7 hari 5 liter 6 liter 1. memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perikanan. Berdasarkan hasil olahan data di atas.musim ikan . usaha penangkapan dengan menggunakan bagan mengalami kerugian yang cukup besar karena biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan yang diperolehnya.36.500 13. Kondisi seperti ini sangat memberatkan nelayan.466 282 liter 10 liter 8 liter 3.0 00 393 liter 6 liter 13 liter 4. Analisa pendapatan dan biaya usaha penangkapan pada Trip Tahun 2010 Jenis alat tangkap Uraian Bagan Gillnet ≥5GT <10GT Longline 1 ≥10GT <30GT Longline 2 ≥30GT 100GT Pancing Tonda ≥5GT <10GT Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: .000.592.483.897.29 8 4.musim biasa . terlebih lagi karena selama ini nelayan dalam memenuhi kebutuhan BBM solar dibeli dari pihak ketiga (tengkulak) yang harganya lebih mahal kurang lebih 30% dari harga ketentuan pemerintah.397. khususnya solar.4 50 561.50 0 16.2%.33 4 83.8 75 Sumber: Data primer diolah.791. 2010 Tabel 3.85 2 16.791.500.Solar . Akibatnya. dengan kenaikan harga BBM solar tersebut maka nelayan mengalami beban tambahan yang harus dikeluarkan sebesar 11.Bensin .operasional penangkapan ikan.

komponen biaya bahan bakar kapal ratarata sebesar 60 persen dari total biaya operasional yang dikeluarkan. sedangkan jika tanpa subsidi porsinya semakin besar yang mencapai 51 persen per trip penangkapan.500 atau 48 persen lebih besar dibandingkan biaya operasional per trip dengan subsidi BBM.yang berupa bensin dan minyak tanah menyumbang hampir 40 persen dari total biaya operasional. Kedua jenis bahan bakar tersebut tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi sehingga beban biaya tersebut sepenuhnya harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil.298 yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan nelayan rata-rata sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan keuntungan dengan BBM bersubsidi. terutama bagi kapal longline ukuran ≥10GT . tetapi ada intervensi pemerintah dengan memberikan subsidi bahan bakar solar yang mereka gunakan. besarnya biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM adalah Rp13. Perbedaannya adalah beban biaya bahan bakar tidak sepenuhnya ditanggung nelayan. Kenaikan biaya operasional ini berdampak pada turunnya keuntungan yang diperoleh nelayan rata-rata sebesar 68 persen. Begitupula halnya dengan kapal longline ukuran ≥ 30 GT – 100 GT yang harus mengeluarkan biaya operasional per trip lebih besar 60 persen apabila menggunakan solar tanpa subsidi sehingga porsi biaya solar terhadap biaya 78 . Pemberian subsidi BBM sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap longline. Dengan demikian.500 maka biaya operasional per trip yang harus dikeluarkan adalah Rp4. Seperti halnya kapal gillnet. kondisi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh kapal-kapal dengan alat tangkap lainnya yang mampu memperoleh keuntungan cukup besar bagi nelayan. bagian biaya solar terhadap biaya operasional menjadi 81 persen dibandingkan apabila kegiatan usaha penangkapan dibantu dengan subsidi BBM yang hanya mengambil bagian 72 persen per trip. Berdasarkan olahan data pada Tabel 12. Jika nelayan menggunakan BBM bersubsidi maka porsi solar terhadap biaya operasional adalah 38 persen.897. Di sisi lain.<30GT.170. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7.

Perbandingan antara adanya subsidi BBM dan tanpa subsidi BBM pada usaha penangkapan ditunjukkan oleh porsi yang meningkat dari biaya solar terhadap total biaya operasional yang dikeluarkan. baik secara langsung (pemberian pelayanan oleh petugas pelabuhan perikanan dengan menggunakan fasilitas milik Pelabuhan Perikanan) maupun tidak langsung (pemberian pelayanan pihak pelabuhan perikanan melalui bekerja sama dengan pihak swasta). Subsidi BBM juga sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap pancing tonda.592. 3. Pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sangat berperan dalam memberikan pelayanan BBM solar dengan harga subsidi. Akibatnya. intervensi pemerintah melalui pemberian subsidi BBM masih sangat diperlukan oleh nelayan dalam negeri untuk menjamin keberlanjutan usaha penangkapannya. besarnya keuntungan nelayan rata-rata menjadi menurun sebanyak 10 persen. Dampak selanjutnya adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh nelayan sebesar 45 persen. Berdasarkan hasil analisis tersebut.227. sedangkan tanpa subsidi BBM sebesar Rp5.4. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7.377 hektar dan sebagian wilayahnya menghadap ke Teluk Lampung. sedangkan tanpa subsidi BBM porsi biaya solar meningkat menjadi 53 persen terhadap total biaya operasional per trip.500 per liter maka biaya operasional per trip dengan bahan bakar bersubsidi adalah Rp4. Kabupaten ini berada di bagian pesisir selatan wilayah Propinsi Lampung. Kabupaten Pesawaran (Lampung) Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pesawaran.432. Lampung merupakan pengembangan dari Kabupaten Lampung Selatan dan dan secara resmi dibentuk berdasar UU No: 33 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran.operasional naik dari 75 persen menjadi 86 persen. Porsi biaya solar mencapai 40 persen jika nelayan mendapat solar bersubsidi. dengan luas wilayah 117.852 atau meningkat 26 persen. 79 .

045.6 143. budidaya ikan barong.0 419.0 603. dalam tahun 2008-2009 terjadi perkembangan yang cukup signifikan khusus pada budidaya (KJA) Ikan Kerapu yang didominasi oleh Kerapu Bebek dapat dilihat pada Tabel 3. Hasil (nilai) produksi perikanan di Kabupaten Pesawaran.667.6 71.37.37.750. Pesawaran Tahun 2008-2009 No Jenis usaha Nilai produksi (Rp.0 2.4 4.511.6 17.0 437.685.0 2.5 ha.8 16. juta 19.2 12.121.610.939.880. Pesawaran. 3. berdasarkan data produksi 2009 didominasi oleh perikanan budidaya yang jika dilihat secara proporsinal terlihat pada Tabel 3.2 % 26 16 16 38 10 17 49 73 23 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.4 105.6 508.39.Saat ini wilayah kab. Tangkap laut Tangkap perairan umum Budidaya tambak Budidaya air tawar Daging tiram mutiara Rumput laut Budiaya Kerapu (KJA) Benih ikan JUMLAH 74.833.8 Perkembangan Rp.820.0 1.6 2009 93. 4.884.2 121. Wilayah laut dan pesisir Kabupaten Pesawaran meliputi sebagian dari Teluk Lampung dan 37 pulau kecil yang tersebar di Teluk Lampung dengan potensi meliputi budidaya kerang mutiara. 2.0 110.0 96.5 144.692.0 100. 6.141. Pesawaran Dalam hal perkembangan luas lahan budidaya dan jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Kab.570.5 47. 7. Juta) 2008 1.2 624.278.520. budidaya rumput laut.0 442. sedangkan potensi lahan tambak 750 ha yang sebagian besar ada di Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Punduh Pidada.388.996. Tabel 3. dan budidaya teripang dengan total potensi lahan seluar 3.8 768. budidaya ikan kerapu. Nilai produksi perikanan di Kab. 80 .0 10. Pesawaran terdiri atas 7 (tujuh) wilayah kecamatan dan 133 desa dengan ibukota di Gedong Tataan. 5. 8.

118 Kenaikan Orang 116 4 6 0 21 140 15 302 % 10 28 15 0 38 29 7 16 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH 1. Pesawaran. Lampung.5 % 5 20 9 25 25 26 2.5 3.39 Jumlah Rumah Tangga (RTP) pembudidaya ikan di Kab.5 10 12 359 391 2 2. 2008-2009 No Jenis Usaha Tahun (Orang) 2008 1. 4.8 2. Jenis Usaha Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH Tahun (ha) 2008 2009 352. 3. 3.0 Kenaikan Ha 17 2 32 0.8 4. 2. Pesawaran. 6. Pesawaran Bentuk-Bentuk Subsidi Perikanan Selama periode tahun 2009 telah dilakukan pemberian subsidi kepada pelaku usaha sector kelautan dan perikanan di Kabupaten Pesawaran.Tabel 3.282 18 45 14 94 510 225 2.240. Tahun 2008-2009 No 1.5 60 75 3.5 2. Dari Tabel 3.38. Perkembangan luas areal budidaya laut di Kab.164. Pesawaran Tabel 3.5 369. 2.886 2009 1. Adapun jenis dan dasar kebijakan pemberian subsidi tersebut seperti tertera pada Tabel 3.40 diketahui bahwa jenis subsidi yang pernah 81 .40. 7. 5. 6. 4. 7. 5.166 14 39 14 73 370 210 1.5 15 1 75.5 3.4 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.

Subsidi langsung dalam hal ini dimaksud sebagai bantuan yang diterima oleh para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan dari pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat) dalam bentuk barang ataupun finansial.40. 1. Dasar Kebijakan 1. Tabel 3.Lemahnya modal para pembudidaya ikan air tawar terutama untuk membeli benih dan induk ikan gurame dan ikan nila . Tidak Langsung: 2.c Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila .b Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Antisipasi menghadapi dampak bencana alam pada tempat tinggal masyarakat nelayan. 2. Jenis Subsidi Langsung: 1. Sedangkan subsidi tidak langsung diberikan dalam bentuk program atau bantuan lainnya yang sifatnya bukan barang ataupun financial. Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pesawaran Lampung No.a Pelatihan Rendahnya tingkat keterampilan (skill) masyarakat pesisir terkait dengan pengembangan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.diberikan oleh pemerintah di Kabupaten Pesawaran Lampung adalah meliputi: Subsidi yang bersifat langsung dan subsidi yang bersifat tidak langsung.Peningkatan pengembangan usaha budidaya ikan air tawar (gurame dan nila) sementara kemampuan modal para pembudidaya yang relative terbatas. 1.a PNPM Mandiri-KP Ketidakberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan. Pesawaran 82 . Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.

41. tangkap jaring.Jenis subsidi langsung diberikan oleh pemerintah dalam tiga bentuk yaitu: (1) PNPM Mandiri_KP. Padang Cermin. jaring kelitik. Bentuk-bentuk subsidi sektor kelautan dan perikanan yang pernah diberikan pemerintah. Padang Cermin.999 83 . dalam hal ini lebih didasari oleh latar belakang kondisi usaha sector kelautan dan perikanan dan kondisi pelakunya yang memang membutuhkannya terutama untuk alasan pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan dan pengembangan atau keberlanjutan usaha sector kelautan dan perikanan tersebut ke depan. budidata rumput laut. (2) Pembangunan rumah nelayan ramah bencana. tangkap bubu. Jumlah paket 10 Nilai (Rp. Desa Sukajaya Lempasing Kec. Alokasi dana PNPM Mandiri-KP di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 Lokasi Jumlah Kelompok 10 Jumlah Anggota 92 Jenis usaha Jaring payang padang. Kebijakan yang mendasari pemberian subsidi dengan jenis langsung dan tidak langsung tersebut. dan (3) Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Tabel 3.975 Kec. pancing cumi. Sedangkan jenis subsidi tidak langsung berupa pelatihan bagi para pembudidaya ikan air tawar.000) 249. meliputi: (1) PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan Sasaran program ini adalah masyarakat bidang kelautan dan perikanan yang bertempat tinggal di wikayah pesisir atau diluar pesisir yang memiliki kegiatan di bidang kelautan dan perikanan. baik subsidi secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Pesawaran pada tahun 2009. nelayan pancing. Penjelasan dari masing-masing bentuk subsidi tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. dan perbaikan jalan KJA Kerapu. pancing bandrong. Desa 8 77 9 259.

dan rehabilitasi jalan setapak. Kec. (4) Subsidi selisih harga Subsidi selisih harga dimaksudkan sebagai bantuan pemerintah (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasewaran Lampung) untuk membayar selisih harga antara harga pasar dengan harga keekonomiannya. Jumlah paket Nilai (Rp. Desa Sidodadi. Pelatihan budidaya laut dalam rangka pemberdayaan usaha skala kecil. Desa Kampung Baru. Pelatihan pembuatan alat tangkap nelayan. menggunakan dana APBD Kab. Magang pembudidaya rumput laut ke NTB. Pelatihan pembenihan ikan laut. Padang Cermin (20 unit) di Desa Sukajaya Lempasing.000) 2 desa 18 169 19 509. dilakukan pelatihan yang pesertanya adalagh masyarakat pesisir dan aparat terkait. 84 . Pembangunan rumah di lakukan di dua kecamatan yaitu: Kecamatan Punduh Pidada (30 unit) di Desa pulau Legundi. Pelatihan manajer usaha dan percontohan pembenihan tiram mutiara. (3) Pelatihan Melalui dana APBD Provinsi Lampung.974 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Topik materi pelatihan diantaranya: Pelatihan manajer pengendali mutu perikanan. Desa Pulau Pahawang. Subsidi selisih harga berupa bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. dan Desa Durian. Pesawaran. dan Desa Sukarame. Pelatihan pembenih dan pembudidaya ikan air tawar. Pelatihan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Magang tambak resirkulasi.Lokasi Durian Jumlah Kelompok Jumlah Anggota Jenis usaha pengeringan ikan asin. Pesabwaran (2) Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Sasarannya: pemenuhan kebutuhan masyarakat nelayan terhadap rumah tahan bencana.

Secara rinci gambara mengenai biaya dan penerimaan usaha tersebut seperti tertera pada Tabel 3. usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di lokasi kasus tersebut hingga saat ini tidak atau belum mendapatkan subsidi (langsung ataupun tidak langsung) dari pemerintah. Propinsi Lampung. Oleh karena itu. Dengan demikian.42.Peran Subsidi Perikanan Uraian mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan. tetapi berdasarkan kemungkinan (potensial) dampaknya bila subsidi tersebut diberikan. meskipun baru bersifat normatif namun kita masih dapat memperkirakan peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha budidaya pmbesaran ikan kerapu dal KJA tersebut.634. 85 . dan dengan siklus usaha selama 13 bulan. 314.dan menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp. pembahasan mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya tidak dilakukan dengan pendekatan perbandingan antara sebelum dan sesudah (after and before comparative) diberi subsidi.000. Untuk itu.210. dan kemungkinan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan.-. Lampung. diperlukan rata-rata biaya total sebanyak Rp. dalam hal ini dari Kementerian Kelautan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.. Lampung dengan luasan sebanyak 13 kolam yang masing-masing berukuran 3x3 m2 dengan kedalaman 5 m. Secara eksisting. Untuk rata-rata usaha budidaya pembesaran ikap kerapu bebek dalam keramba jarring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. dalam bagian ini akan dijelaskan: (1) Analisis biaya dan penerimaan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.511. dalam bagian ini dilakukan dengan mengambil kasus budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.230. dan (2) Kemungkinan peran atau dampak potensial yang dapat dilakukan atau terjadi bila subsidi diberikan terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya.

00 30. Tenaga Kerja g.49 0. Gas Elpiji h.264.2 Biaya Tidak Tetap: a.634. Benih ikan d.000 1. Air Bersih i.000 7.32 1.210.061.50 Proporsi (%) 100.604 159.555. Timbangan 1.14 69.264.500 3.000 442. Gudang j.555 1.) 230.500 48.430.07 28.511 85.050 6.88 1.500 1.700 1.000 621.400 10. Tempat Pemeliharaan b.65 1.33 21.511 71.250 3.000 16.500 281. Retribusi Kebersihan k. Bensin b.905 582.000 358. Jaring d.11 1.750 326. Perahu c.468.556 166.57 7.000 1. Pakan Pelet f.500 5.324. Pompa Air h. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Volume Satuan Harga (Rp.010.466 77.42 0. Biaya Total: 1.500 1. Timbangan .996 1.Investasi: a.000 487. Tempat Pemeliharaan b.200 5.500 4.000 46.100 5.27 1.120 6.74 25.02 0.292. Propinsi Lampung (KJA sebanyak 13 Kolam dan Siklus Usaha selama 13 Bulan) Uraian 1.05 0.276 320.000 29.62 1421 580 3280 10036 2420 4 83 1308 4 14 28 698 lt lt ekor kg kg orang tabung galon paket kolam kolam kg 3.000 0.921. Bambu f. Gudang j.656.03 0.475 10. Ransum bulanan j.500 135.750 17. Tali e.750 71. Lampu Penerangan i. Pajak Kolam Keramba 2. Bambu f.679.500 449.300 365.895. Jaring d.705.000 23.200 2.10 3.634.60 2.005.382. Penerimaan: Produksi kerapu 3. Pakan Rucah e.500 65.085.500 441. Lampu Penerangan i.) Nilai (Rp.404. Tali e.370.592.344 4.126.587.100 172.453.811.357.67 0.702.101 975.42. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam keramba Jaring Apung di Kabupaten Pesawaran.257 256.575 15.500 16.000 314.Tabel 3.95 0. Pelampung g.655 59.750 2. Pelampung g.735.000 449. Solar c.100 2.376.511 1. Pompa Air h.87 0.Biaya Penyusutan: a.125. Perahu c.150 Sumber: Data Primer diolah (2010) 86 .90 1 1 30 137 147 169 1 2 1 1 unit unit unit kg buah unit unit unit unit unit 4.07 0.1 Biaya Tetap: .000 2.

yaitu: (1) Untuk benih ikan kerapu yang menyerap sebanyak Rp.22% dari biaya totalnya.42). seperti komponen benih atau pun pakan) dalam pengembangan usaha tersebut. Terdapat banyak pertimbangan dalam pemberian subsidi (langsung) pada kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan karapu tersebut. rata-rata penerimaan yang dihasilkan baru bersumber dari budidaya pembesaran ikan kerapu bebek saja (monoculture).07% dari biaya totalnya. 69.atau 7.atau 36.000.. 65. maka dapat diketahui bahwa usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran telah mencapai kondisi efisiensi dengan rasio penermaan terhadap biayanya sebesar 1. Secara sederhana. 48.atau 21. secara potensial subsidi dapat diberikan pada komponen biaya/pengeluaran yang memiliki proporsi yang tergolong dominan.314.atau 28.65%.210.42 diketahui bahwa berdasarkan strukturnya.634. Bila diasumsikan bahwa pemerintah berada dalam kondisi memiliki anggaran yang relatif terbatas.50.000. terutama dalam jangka panjang. dan (2) Apakah pemberian subsidi tersebut secara potensial berdampak terhadap kelestarian lingkungan. Melihat kondisi struktur biaya usaha budidaya pembesara ikan kerapu dalam KJA di Kabupetan Pesawaran. yaitu: benih ikan kerapu atau pakan ikan.500. diantaranya adalah pertimbangan: (1) Sejauhmanakah urgensi memberikan subsidi kedua komponen tersebut dalam mendorong keberlanjutan usaha. Sementara. sehingga pemerintah dalam hal ini harus menentukan prioritas apakah akan memberikan subsidi pada komponen tertentu atau komponen tertentu lainnya. yaitu sebanyak 698 kg dengan nilai sebanyak Rp.895.900..Dari Tabel 3. dan (2) Untuk pakan ikan yang menyerap sebanyak Rp.. 17.57% dan untuk pakan pelet sebanyak Rp.750. berdasarkan besaran penerimaan dan biaya totalnya.-. Lampung (Tabel 3. proporsi biaya usaha budidaya pembesaran ikan kerapu didominasi oleh dua jenis biaya pengeluaran.592. Untuk itu sebaiknya pemerintah 87 .750. Biaya pakan tersebut terdiri dari biaya unuk pakan ikan rucah (pakan alami) sebanyak Rp.

Diantara aspek positif tersebut adalah dorongan kepada peningkatan penggunaan benih ikan kerapu yang bermutu baik dibanding yang digunakan oleh pembudidayaan saat ini. Meskipun dalam kenyataannya pakan ikan rucah ini memiliki peran sangat penting besar di samping benih ikan dalam kegiatan produksi ikan kerapu di lokasi tersebut. Dari dasar pertimbangan pertama (aspek keberlanjutan usaha) tampaknya baik subsidi benih ikan maupun subsidi pakan keduanya sama-sama berpotensi memiliki peran penting dalam keberlanjutan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. saat ini sudah bervariasi mulai dari 13 – 16 bulan. banyak aspek positif yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha meskipun akan diikuti secara proposional dengan meningkatnya jumnlah pakan ikan rucah yang digunakan. karena peningkatan pakan tersebut berpotensi meningkatkan cemaran (polusi) terhadap lingkungan perairan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. Dari awalnya untuk menghasilkan ukuran 500 gram per ekor diperlukan periode pemeliharaan kurang dari 12 bulan. Hal ini terlihat dari besarnya proporsi biaya kedua komponen tersebut (benih ikan dan pakan ikan) terhadap biaya total dari kegiatan usaha tersebut. Bila pemerintah memang pada akhirnya memutuskan untuk memberikan subsidi benih ikan. Dengan adanya 88 . Komponen benih ikan kerapu memiliki proporsi biaya sebesar 21. Namun bila dilihat dari sisi prioritas dan fakta di lapang dimana permasalahan benih yang berkualitas semakin mendesak untuk dicarikan solusinya. sedangkan komponen pakan ikan khususnya pakan ikan rucah memiliki proporsi biaya sebesar 28. untuk kondisi saat ini ataupun ke depan memberikan subsidi pakan ikan rucah tampaknya kurang tepat. Sementara dari dasar pertimbangan kedua (aspek kelestarian lingkungan).memutuskannya setelah melakukan pengkajian berdasarkan kedua pertimbangan di atas (keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan).07%.57%. karena menurut persepsi pelaku usaha tersebut di lapangan bahwa mutu benih ikan kerapu dewasa ini semakin menurun.

pemberian subsidi berupa pakan ikan.52 1.38 3.58 1.43.43 dan Tabel 3. dibandingkan bila benih ikan yang menjadi pilihan tersebut. Sementara di sisi lain. dapat dilihat hasil simulasi pada kondisi tanpa dan dengan subsidi.50 1. Dengan kata lain. berarti produktivitas usaha budidaya pembesaran dalam KJA di Kabupaten Pesawaran dapat lebih ditingkatkan lagi.pemerintah memberikan subsidi benih yang berkualitas baik.60 Perubahan R/C (%) 1.54 1.45 Sumber: Data Primer diolah dari data primer (2010) Keterangan: R/C = Rasio Penerimaan terhadap Biaya Total 89 . Untuk lebih meyakinkan kita.50 1. pemerintah menghadapi situasi yang lebih sulit dan kurang dapat memasukkan unsur pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.56 1. Lampung.69 5.50 R/C Dengan Subsidi Benih 1. secara teknis lebih rumit karena dominasi pakan ikan rucah yang notabene diperoleh dari dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang dalam waktu dekat akan dilarang pemerintah yaitu alat tangkap jaring cantrang (jaring gardan).50 1.50 1. Simulasi Perubahan Rasio Penerimaan terhadap Biaya (R/C) Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran pada Berbagai Perubahan Tingkat Subsidi Benih Ikan (Tanpa dan Dengan Subsidi Benih) Subsidi Benih (%) 5 10 15 20 25 R/C Tanpa Subsidi 1. bahwa pemberian subsidi benih ikan ke depan akan efektif dalam meningkatkan keberlanjutan usaha yang diihat menggunakan indicator rasio penerimaan terhadap biaya (efisiensi) usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.44. bila pemberian subsidi pakan ikan yang menjadi pilihan. secara sederhana pada Tabel 3.05 6.10 2. Tabel 3.

100 5.000 16.500 1.702.500 1.07 0.87 0.466 77. Tali e.500 5.656.750 326.264.42 0.125.2 Biaya Tidak Tetap: a.02 0.264.750 71.126.556 166.000 2.69% (lihat Tabel 3. Jaring d.604 159.500 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.44.679.) Biaya (%) 223.276 320.702.404.500 449.655 59.085.081.101 975.679.00 71. Bambu f.324.382.303.43 diketahui bahwa pemberian subsidi benih ikan dapat meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya total (efisiensi) usaha budidaya tersebut.264. Bensin b.43 0.000 7.000 29.000 23.634.996 1.500 3.49 0.53 12.33 21.79 23.14 69.500 5.000 29.468.500 449.511 100.061.705.705. Bambu f. Tali e. Lampu Penerangan i.50 menadi sebesar 1.468. atau R/C usaha meningkat sebesar 3.11 1.511 1. Gudang j.257 256.556 166.655 59. Timbangan 1.370.604 152.1 4.82 90 .921.43 dan Tabel 3.656.750 71.9 0 87. Perahu c.382.085.000 16. Tempat Pemeliharaan b.625 Uraian 1.100 2.061.000 487.125.750 326.344 4.90 85.03 0.344 4. Sebagai gambaran untuk pemberian subsidi benih ikan sebsar 15% akan meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) usaha budidaya tersebut meningkat dari semula (tanpa subsidi benih) sebesar 1.10 3.453.511 85. Pompa Air h.404.11 1.02 0.35 0. Jaring d.592.921. Perahu c.125 7.Biaya Penyusutan: a.88 1.14 3.000 23.000 2.) Biaya (%) 230.996 1.000 487.Dari Tabel 3.264.Investasi: a. Tempat Pemeliharaan b.32 1. Tabel 3.100 2.511 30.511 1.466 77. Biaya Total: 1.276 320.07 0. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam KJA pada Kondisi Tanpa dan Dengan Subsidi Benih 15% Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp. Pelampung g.100 5. Gudang j.345.56.500 48.500 41.101 975. Pelampung g. Solar c.500 3. Benih ikan 0.126.324.44).02 0.357.636 100 71. Pompa Air h.31 0. Lampu Penerangan i. Timbangan .01 0.453.74 25.1 Biaya Tetap: .257 256.357.

50 1. Ransum bulanan i. Kemungkinan peran (dampak) negative terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut bisa saja terjadi.430.000 1.555.65 2.430.56 1.750 28. Lampung secara baik dan konsisten.000 621.68 17. Pajak Kolam Keramba 2. sehingga berkembang dan menyebabkan daya dukung perairan yang menurun. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.250 3.050 6. Polusi (cemaran) tersebut ditimbulkan dari limbah pakan ikan rucah maupun pakan pelet ikan yang akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya penggunaan benih ikan dalam kegiatan produksi tersebut.376. Sebaliknya. Pakan Rucah e.250 3.26 Sumber: Data Primer diolah (2010) Selanjutnya.750 7. bila upaya-upaya pengelolaan tersebut tidak 91 . Pakan Pelet f Tenaga Kerja f.000 621.811. Gas Elpiji g. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah: bila diasumsikan dengan pemberian subsidi benih ikan tersebut. Penerimaan: Produksi ikan kerapu 3.735.634.555.95 0. terutama dalam jangka panjang.12 0.Uraian d.000 1.634. namun dalam realitasnya justru hal tersebut dapat tidak terjadi sepanjang dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan perairan budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.67 0.700 1.05 0. maka hal ini berarti pada lingkungan perairan budidaya tersebut terdapat potensi polusi (cemaran).895.000 314.750 15.895. kita akan bahas bagaimana kemungkinan peran (dampak) subsidi benih ikan pada budidaya pembesaran ikan kerapu tersebut terhadap kelestarian lingkungan perairan budidaya.000 1.27 1. Retribusi Kebersihan j.53 6.811.700 1.) Biaya (%) 65.57 17. Secara normative dapat disampaikan bahwa apabila diberikan subsidi benih ikan pada kegiatan usaha budaya tersebut.735.42 1.64 1.210.) Biaya (%) 65.210. Air Bersih h.60 2.750 28. maka diperkirakan akan terjadi beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan perairan di lokasi budidaya dan sekitarnya.050 6.000 1.02 0.62 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.000 314.66 2.376.

namun dalam kurun waktu 2001 sampai 2007 terjadi tiga kali pemekaran wilayah kecamatan sehingga saat ini Kab. Berdasarkan data statistik. Kolaka berasal dari perikanan laut (perikanan tangkap dan budidaya). 3. Hasil budidaya perikanan laut Kab. Bandeng. justru dampak negative tersbut berpotensi besar dapat terjadi. Kab. Kolaka terbagi ke dalam 32 wilayah kecamatan. Kolaka disumbang oleh sektor pertanian (termasuk perikanan). produksi perikanan Kab.39% PDRB Kab.1.38 Km2 dan wilayah perairan (laut) sekitar 15. Kolaka terbagi ke dalam 20 kecamatan. Kabupaten Kolaka. Ikan Kerapu dan Mutiara. 92 . Teripang. Kendari Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Kolaka berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat Propinsi Sulawesi Tenggara.000 Km2. Sebelum tahun 2001. Secara proporsional. dapat dilihat.dilakukan secara baik dan konsisten. Kabupaten Kolaka dijadikan lokasi penelitian mewakili perikanan budidaya (laut) mengingat perikanan laut mendominasi produksi perikanan dibandingkan perikanan daratan. kontribusi nilai hasil produksi rumput laut tahun 2008 dan 2009 di atas 50%.5. Wilayahnya terdiri atas daratan seluas 6. maka pemberian subsidi benih ikan sebaiknya dapat diikuti dengan pemberlakuan regulasi yang bertujuan untuk mengendalikan tekanan cemaran terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut.918. dalam tiga tahun terakhir 30% . sedangkan budidaya tambak ikan Bandeng di atas 40% dari total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Kolaka. Kolaka terdiri atas Rumput laut. Sebagai upaya antisipatif terhadap kemungkinan terjadi dampak negative tersebut. Berdasarkan tabel 4.

75379 52. Tingkat pendidikan rata rata tamat SD dan SLTP dan masih dalam usia produktif (20 – 49 tahun) dengan rata rata usia 34 tahun.9585 43.Juta) Komoditi 2007 4. Pembudidaya ikan Bandeng di Budidaya Bandeng di Kab.7 ha.75 3.784 2008 7.776 1.544 2. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp.3733 46. Kecamatan Wunduloko.919 40 2007 6. Kolaka dilakukan di tambak tambak yang ada di pesisir pantai yang ada di lingkungan sekitar hunian warga.163 162.152 Tambak Teripang Kerapu Rumput laut Mutiara Jumlah 7. menggunakan modal sendiri dengan rata rata luasan kepemilikan lahan 1.26243 Budidaya Bandeng Pembudidaya ikan Bandeng di Kecamatan Wolo dan Wundulako mengelola lahan milik sendiri.849 9.99 9.231 9 3 15.475 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Perkembangan Luas areal dan Produksi Budidaya Laut di Kab.44 0.817 2009 7.604 9.343 389 131 50.332 2009 122.223 2007 109.4819 30.491 24. Jenis budidaya adalah pembibitan dan pembesaran dengan masa 93 .728 22.45.15 .007 262.2 1. Kabupaten Kolaka.287 8. dan di Desa Muara Lapao-pao Kecamatan Wolo.198 67.64 0.437 396 138 151.643 110 5 584 500 2008 4.697 3 13. Tabel 3.031 9 3 15.566 405 165 137.169 8.353 273.643 110 5 1.903 500 2009 4.033 2008 119. dalam kajian ini difokuskan kepada komoditas unggulan. Survey dilakukan terhadap pembudidaya tambak dan rumput laut di Desa Towua.273 3.6967 55. 2009 Kontribusi/porsi: Tambak (%) Rumput laut (%) 9.Berkaitan dengan hal di atas. Kolaka. yaitu budidaya rumput laut dan budidaya tambak ikan Bandeng karena bantuan pemerintah banyak ditujukan kepada kedua jenis usaha ini.643 112 5 1.868 24.

Selanjutnya. dan racun yang berfungsi sebagai pembasmi ikan liar. Bibit alam yang dibeli seharga Rp50 per ekor disimpan dalam tempat yang disebut gelondongan. Kemudian tambak diisi air secara bertahap.000 ekor per petak tambak. Kolaka. modal yang sebelumnya telah dianggarkan untuk 94 .pemeliharaan 6 bulan. Caranya. Gelondongan tersebut diletakkan di dasar tambak yang mampu menampung bibit sebanyak 15 ribu ekor yang biasanya diisi 2 kali dalam setahun. bibit ditebar yang biasanya berjumlah 2. Hanya saja. Pemberian pupuk lebih didasarkan kepada kemampuan masing masing pembudidaya. mulai dilakukan panen. Pembeli (pedagang) berasal dari Kolaka dan sekitarnya dan ikanpun dijual dalam bentuk ikan segar di pasar pasar yang ada di Kab. Tujuan pemberian pupuk dan pengisian air secara bertahap agar tumbuh lumut dan jasad renik yang nantinya berfungsi sebagai pakan alami ikan Bandeng. Artinya. dimana pasar yang ada terbatas pada pasar lokal dan belum ada industri pengolahan ikan Bandeng membuat harga jual jatuh pada saat panen bahkan kadang tidak terserap pasar. Proses pengeringan tambak biasanya memerlukan waktu satu bulan dan sisa waktu satu bulan digunakan untuk pemberian pupuk kimia (Urea dan TSP). Sistem panen dilakukan bertahap. hampir tidak ada pembudidaya yang memberi pakan tambahan dalam bentuk apapun. Dalam waktu 2 bulan. mereka tetap dapat menebar benih pada musim-musim penanaman. Waktu 2 bulan ini dimanfaatkan untuk mengeringkan tambak sebelum tahap penebaran/penanaman bibit dimulai. Menurut petani tambak yang diwawancarai. bantuan benih tersebut diakui dapat menggeser alokasi modal yang telah mereka perhitungkan. Kalaupun diberi pakan pelet. jenis bantuan yang diberikan berupa benih nener dan benur tidak secara signifikan membantu keberlanjutan usaha para petani tambak. Tidak ada acuan baku yang diikuti dalam pemberian pupuk. Setelah lama pemeliharaan 4 bulan.000—3. itupun sekedarnya saja.. bibit sudah bisa dipindahkan ke tambak untuk tahap pembesaran. pembeli (yang disebut pembonceng) membeli langsung ke tambak dan membeli secara eceran sebanyak 100 – 200 ekor. Alasannya. Kondisi ini. Selama pembesaran. tanpa adanya bantuan tersebut.

45 1.44 1.54 1.989 7. pertumbuhan ikan menjadi sangat bagus karena lingkungan tambak yang kondusif bagi tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan oleh bandeng dan udang.52 2009 1.45 1.56 1. Kolaka. bantuan berupa pupuk dan mesin pompa menjadi harapan petani tambak bandeng dan udang. Untuk itu.049 7. Input berupa pupuk merupakan bahan baku utama yang diperlukan dalam usaha tambak ini sehingga sebagian besar modal diperuntukkan untuk membeli pupuk.258 1.175 1. Bantuan untuk melakukan bedah tambak diakui sangat bermanfaat.51 1.57 1.58 1.51 1. pengadaan kedua input tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah setempat.46. Selain itu.894 6.44 1.46 1. Tabel 3.45 1.47 1. Saat ini. Faktor utamanya adalah karena program bedah tambak ini dapat mengaktifkan kembali tambak yang telah lama ditinggalkan karena sudah tidak layak pakai.53 1. Sementara itu.52 1.52 1.221 Produktivitas (ton/ha) 2007 1. 2009 Catatan: *) Belum termasuk bantuan bedah tambak 240 ha 95 . Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Baula Pomalaa Tanggetada Watubangga Total 2007 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4645 2008 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4. Produksi (Ton) 2007 1.645 2009 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4. input berupa mesin juga sangat diperlukan para petani yang selama ini belum pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Tambak di Kab.697 2008 1.233 1.51 1.507 589 74 909 186 463 186 2.45 2008 1.477 572 72 878 179 450 181 1.44 1. baik untuk keberlanjutan usaha maupun bagi kelestarian sumber daya.44 1.56 1.53 1.407 545 69 836 171 428 172 1.56 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.52 1.54 1.56 1.645*) Vol.51 1.58 1.57 1.membeli benih ikan dapat digeser untuk alokasi pupuk atau biaya input lainnya. Pada kenyataannya.031 2009 1. harga pupuk saat ini sangat mahal sehingga dirasakan sangat membebani para petani tambak.

Tabel : 3. dan dimilikinya kendaraan bermotor. Wolo 0% 7% 2. Selama periode 2004 hingga 2008. usaha budidaya Rumput laut mencapai masa jayanya. Sulawesi Tenggara. Akibatnya. berupa gangguan yang menyebabkan bibit Rumput laut yang berumur 3 96 . adanya tabungan di bank. Bahkan. Perubahan yang kasat mata adalah dengan dibangunnya rumah yang permanen. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan sumber daya sudah berbasis masyarakat sehingga telah tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian sumber daya di kalangan pelaku utama perikanan sendiri. Kolaka 0% 7% 5. Kolaka. Booming rumput laut dimulai pada tahun 2004 sejak tindakan bom ikan oleh para nelayan dikecam oleh masyarakat sekitarnya. Wundulako 0% 9% 6. Kolaka Tahun 2007-2009 No Kecamatan Luas areal Vol. Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya yang menunjukkan bangunan rumah yang sederhana serta tidak adanya kendaraan bermotor di rumah. Dalam kurun waktu tersebut. banyak nelayan yang beralih menjadi pembudidaya rumput laut. rumput laut juga mampu menarik perhatian para pembalak kayu sehingga penebangan hutan berkurang cukup signifikan yang mengakibatkan kelestarian hutan juga terjaga. Watubangga 0% 8% Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. kesejahteraan pembudidaya menunjukkan peningkatan yang berarti. Samataru 0% 7% 3. 2009 Budidaya Rumput Laut Rumput laut merupakan komoditas budidaya unggulan di Kabupaten Kolaka. Masalah mulai timbul dalam budidaya Rumput laut sejak awal tahun 2008. Baula 0% 9% 7. Pomalaa 0% 8% 8. produksi 1. Latambaga 0% 8% 4.47. Tanggetada 0% 8% 9. Prosentase Peningkatan Luas areal dan Produksi Tambak Tiap Kecamatan di Kab.

cara tersebut dapat diterima oleh para pembudidaya rumput laut dan nelayan. pelampung. Untuk itu. Komoditas rumput laut telah tersentuh bantuan sejak tahun 2004—2010. Bantuan pada 2004 hingga 2006 berbentuk paket berupa bibit.minggu menjadi hancur. atau karena lingkungan budidayanya. Kecamatan Muaralapao-pao. Selama ini. jumlah produksi yang besar dapat terjual dengan harga jual yang tinggi. Selama ini. dinas membuat rambu-rambu batas rumput laut yang menyala saat malam hari. Gangguan ini belum teridentifikasi faktor penyebabnya. petani rumput laut sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk memperluas pasar yang selama ini hanya diserap oleh pasar di Makassar. tali. Sulawesi Selatan. Untuk itu. Pemasaran hasil produksi berupa rumput laut kering juga menjadi masalah bagi pembudidaya. Kabupaten Kolaka baru mampu menembus pasar lokal dan pasar Makassar yang diambil oleh pedagang besar untuk kemudian diekspor. Akibatnya. dan para-para atau tempat menjemur rumput laut. produktivitas hasil sangat rendah. Masalah lain yang ada terkait dengan batas-batas lahan budidaya yang mengakibatkan adanya konflik antar sesama petani rumput laut maupun antara petani rumput laut dengan nelayan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berusaha menyelesaikan konflik tersebut dengan mengundang Kepala Desa dan kelompok-kelompok. rumput laut kering dari Desa Barbarina. produksi rumput laut yang ada sering menumpuk di gudang penyimpanan sehingga harga jual menjadi turun. baik kelompok budidaya maupun kelompok tangkap laut. Untuk itu. kepadatan lahan. Untuk itu. apakah karena kualitas bibit. Sementara pada 97 . jangkar. Akibatnya. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengatur jalur-jalur perhubungan bagi lalu lintas kapal nelayan yang akan ke atau dari laut. Rambu-rambu tersebut dibuat dengan menggunakan pelampung dan pemberat agar tidak bergeser karena arus laut. Dengan demikian. para petani tambak sangat mengharapkan adanya penelitian atas masalah tersebut agar gangguan tersebut dapat diatasi dengan cepat.

370 1. Produksi (Ton) 2007 2008 2009 2.039 1. Artinya. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Rumput Laut di Kab. gudang penyimpanan sederhana terbuat dari kayu yang dibangun di bawah rumah salah seorang ketua kelompok. keberadaan perahu bermotor sangat diharapkan oleh para petani rumput laut untuk mengganti perahu dayung yang selama ini mereka gunakan. Contohnya. 2009 98 .265 1.068 2.562 2.826 2.tahun 2007 hingga sekarang.585 3.861 2.817 22. bantuan mesin untuk perahu bermotor sangat diperlukan oleh para petani untuk memantau kondisi rumput laut setiap dua hari sekali dan juga untuk mengangkut hasil panen. bantuan tidak dibedakan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok. Selain itu. Bantuan tersebut diberikan satu kali dalam setahun.280 1.735 2. Kegiatan panen ini biasanya tidak bisa dilakukan sekali jalan. bantuan tahun 2009 adalah bibit dan tali maka setiap kelompok akan mendapat bibit dan tali dalam jumlah dan kualitas yang sama.119 2.379 2.904 1.422 1. apalagi jika lokasi lahannya berada jauh dari tepi pantai. Sementara itu.497 1.921 Vol.788 1. Kolaka Tahun 2007-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Total Luas areal (ha) 2007 2008 2009 89 291 294 117 396 398 90 307 310 61 201 203 54 191 193 48 156 158 61 199 201 61 163 164 581 1.525 1. Gudang penyimpanan ini sangat diperlukan untuk menampung hasil panen hingga pedagang pengumpul dari Makassar datang mengambil.750 3. Hal inipun sangat bergantung pada besar kecilnya perahu sehingga kapasitas untuk memuat rumput laut berbeda. Kolaka.374 1.429 13. bantuan lain yang diharapkan adalah bantuan berupa gudang penyimpanan dengan bangunan yang permanen.123 1.110 2.690 1. Untuk itu.523 3. bantuan hanya berupa bibit dan tali.355 4. Bantuan yang diberikan bersifat seragam sehingga setiap kelompok yang mendapat bantuan akan menerima barang yang seragam. Tabel 3.784 16. Selama ini.48.074 Produktivitas (ton/ha) 2007 2008 2009 23 9 11 24 8 11 24 8 11 23 9 11 24 8 11 23 9 11 25 9 13 25 11 15 24 9 12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.

05 1. Kolaka Tahun 2007-2009 No.5 253.0 30. Bantuan yang selama ini diberikan untuk kelompok pembudidaya.5 59 22.5 59 22. Pemilik tambak hanya membayar setengah dari total biaya penataan lahan tambak. setiap kelompok budidaya melalui ketua kelompoknya mengajukan permohonan bantuan dalam bentuk proposal yang di dalamnya dicantumkan jenis bantuan yang dibutuhkan.49. Ini dilakukan agar pemilik tambak mengolah tambaknya secara berkelanjutan.28 1.17 244.1 229.0 30.0 Luas (%) 08-09 1.01 0.03 0. Peningkatan Luas areal dan Produksi Rumput Laut di Kab.7 225.0 30.3 80 22.2 167.5 59 22.41 229.0 23.0 31.2 226.0 30.51 0.51 168. Prosedurnya.0 226.61 0.5 59 22.Tabel 3.79 257.3 50 22.34 240.08 Vol. yaitu pemda memfasilitasi pengerjaan pembuatan/pembenahan tambak tambak masyarakat yang terbengkalai. dan bantuan berupa “bedah tambak”. Bantuan langsung (penerima langsung mendapatkan/menerima bantuan). 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Rata rata 07-08 227. tali ris dan jangkar.5 241.0 238. untuk budidaya ikan Bandeng (benih.00 1. berupa sarana produksi seperti: untuk budidaya rumput laut (bibit rumput laut. Kolaka. bukan secara perorangan.44 232. proposal tersebut diverifikasi lapang oleh petugas dinas untuk melihat kebenaran dari informasi yang disampaikan dalam proposal.0 30. Proposal tersebut harus diketahui oleh kepala desa dan ditandatangani oleh semua anggota kelompok.5 59 22.93 07-09 230. Program bantuan atau subsidi langsung diberikan kepada pembudidaya di Kabupaten Kolaka.17 229. gudang penyimpanan dan mesin perahu). 2009 Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Subsidi/bantuan kepada pembudidaya dapat dikelompokkan berdasarkan manfaat yang diterima oleh masyarakat pembudidaya. dan secara tidak langsung (masyarakat tidak langsung menerima bantuan tetapi merasakan manfaatnya). Selanjutnya.85 229.0 47.0 30. Produksi (%) 07-08 08-09 07-09 22. 99 . Selanjutnya.7 61 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.5 59 22.98 1.

Sedangkan biaya 4 jam lagi ditanggung oleh petani tambak. Untuk itu.50. Hal itu sangat membantu keberlanjutan usaha mereka. Jenis bantuan/subsidi dan dasar pertimbangannya No A. Program bantuan/subsidi tidak langsung dapat berupa pembangunan sarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya.000. Bantuan dengan sistem fifty-fifty khusus diberikan untuk program bedah tambak.000 = Rp2.kelompok pembudidaya yang mendapat bantuan disahkan dalam Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka. jangkar) perikanan kedua terbesar setelah budidaya tambak. Budidaya rumput laut . Adapun kriteria pemberian bantuan adalah: (a) prioritaskan pembudidaya yang miskin. namun terjadi kecenderungan penurunan produksi dan luas lahan karena 100 .000. Program ini mulai dilakukan tahun 2007 hingga sekarang karena pada periode tersebut banyak tambak yang terbengkalai (idle) akibat pendangkalan yang pada terjadi pada tambak. Tabel 3. Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Subsidi/Bantuan langsung Dasar pertimbangan 1. biaya bedah tambak akan dibantu pemerintah dengan nilai 50 persennya saja. Jika untuk memperbaiki tambak memerlukan waktu 8 jam maka bantuan akan diberikan sebanyak 4 jam atau sebesar 4 jam x Rp500. (c) siap sharing dalam bantuan yang sifatnya fifty-fifty karena tanpa komitmen ini bantuan akan gagal sehingga usaha budidayanya tidak mampu berkembang. Program ini terbukti sangat disambut baik oleh para petani tambak karena tambak yang telah rusak dapat dihidupkan kembali. (b) belum pernah mendapat bantuan.000.Budidaya rumput laut merupakan a) Pengembangan Sapras Budidaya penyumbang pendapatan sektor Rumput laut (bibit. tali ris. Patokan yang digunakan adalah biaya pengerjaan tambak per jam yang besarnya Rp500. Artinya. pemerintah berusaha mengoperasikan tambak-tambak tersebut dengan cara membantu biaya perbaikan tambak.

Subsidi/bantuan tidak langsung 1. Sedangkan bantuan tidak langsung berupa pembangunan prasarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya.Masyarakat pembudidaya kesulitan dalam mendapatkan benih. Mowewe. kayu) 3. Bantuan langsung pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan produksi. waring. Pembangunan Hatchery 3.Perlu pemacuan dalam penyediaan benih bermutu dalam jumlah besar.Potensi konflik batas lahan budidaya rumput laut dan jalur pelayaran sehingga perlu penataan dan penertiban . oleh pemerintah (pusat dan daerah) secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pembudidaya. subsidi/bantuan yang diberikan .No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan b) Pengadaan sarana penunjang budidaya rumput laut (kayu tiang. dalam jumlah maupun kualitas yang diharapkan. Pembangunan Tower Hatchery Watubangga 4. Akibatnya mereka kehilangan sumber pendapatan dari budidaya ikan sehingga beralih menjadi perambah hutan di bukit bukit sekitar daerah hunian. Pengembangan Pembudidaya Teripang (bibit. 2. 101 . Rehabilitasi Kantor BBI Wundulako 2. tali. Wundulako Bentuk-bentuk Subsidi Perikanan Seperti yang telah dikemukakan di atas. paku) Dasar pertimbangan . namun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tambak B.Banyak lahan tambak terbengkalai karena pemiliknya tidak cukup dana untuk penggalian dan penataan lahan tambaknya yang sudah dangkal dan tumbuh gulma. maupun hutan bakau di pesisir. Penyempurnaan Sapras Hatchery Wolo 5. Pemantapan BBI Loea. .Teripang merupakan komoditas yang memiliki prospek harga yang bagus. . kayu lantai.

7.Tabel 3. kayu dan lainnya yang fungsinya untuk budidaya Rumput laut dan pembuatan para para untuk penjemuran rumput laut hasil panen. 1 unit 1 unit - 167. jangkar. Bentuk bentuk bantuan tidak langsung yang dilakukan (yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dan budidaya tambak) diantaranya: Rehabilitasi kantor BBI Wundulako. 2.000 - - 559. serta subsidi biaya penggalian dan penataan lahan tambak yang terbengkalai.000 - 5 unit 240 ha 94.500 - 75.900 - - - 1 unit - 63. Kolaka tahun 2007 – 2010 No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Vol 2007 Alokasi (000) Vol 2008 Alokasi (000) Vol 2009 Alokasi (000) Vol 2010 Alokasi (000) A.300 7 klp 83. Penyempurnaan sarana prasarana hatchery di Kec. lantai) Budidaya Teripang (bibit.000 2 paket 4 paket - 1. Jenis dan bantuk bantuan/subsidi perikanan budidaya laut di Kab. pembelian bibit. Mowewe.000 - - - - Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. diolah. Kolaka.200 - - B. Watubangga. Pembangunan hatchery.000 8. 50 paket - 415. talli ris. 1.900 1 unit - 75. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4. Wolo. Bantuan/Subsidi langsung Budidaya Rumput laut Pengadaan sapras (bibit.372 kg - 362. tali ris. Pembangunan tower hatchery di Kec.185 49. Pemantapan BBI Loea di Mowewe. jangkar Sarana penunjang (kayu tiang.000 6 paket - 400. waring. 1. 3 paket 110. Wundulako 102 . a) b) 2.51. waring.250.950 400.000 - - 10 paket 100 ha 63. 3. tali) Rehab dan konstruksi tambak Bantuan/Subsidi tidak langsung Pembangunan Hatchery Tower hatchery Watubangga Penyempurnaan sapras hatchery Wolo Pemantapan BBI Loea. bentuk bentuk bantuan langsung berupa: pembelian bibit. tali dan kayu untuk budidaya Teripang. 3.000 4.

Seperti yang telah dikemukakan di 103 . Akibatnya. (2) Petani tambak tidak cukup dana untuk memberi pakan secara intensif dan hanya mengandalkan pakan alami sehingga harus mengurangi padat tebar yang berpengaruh kepada produktivitas hasil. meningkat menjadi 1. pembinaan kelembagaan pemasaran dan kemudahan akses pasar akan lebih menjamin dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan. Inipun baru sebatas perannya terhadap pertambahan luas lahan yang dilakukan dalam tahun 2009 (240 ha). Demikian juga volume produksi ikan hanya meningkat 8-9%.45 ton/ha (2007). mengingat pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya tambak Bandeng. luas lahan tambak yang difungsikan relatif tetap bahkan cenderung akan berkurang karena pendangkalan yang terjadi terus menerus akibat penebangan hutan di bukit dan hutan mangrove di pesisir. Namun demikian. Dengan demikian. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bantuan berupa bedah tambak perannya cukup nyata terhadap budidaya Bandeng. Agar produk yang dihasilkan dapat diserap oleh pasar.56 ton/ha (2009).Peran Subsidi Perikanan Dalam kurun waktu 2007 sampai dengan 2009 tidak terjadi pertambahan luas areal tambak yang diusahakan untuk budidaya.52 ton/ha (2008) dan kemudian 1. maka bantuan untuk pakan merupakan pilihan utama setelah bedah tambak. Berbeda dengan ikan bandeng. Kondisi ini terjadi karena: (1) Petani tambak tidak cukup dana untuk merehabilitasi tambaknya yang sudah puluhan tahun digunakan dan telah terjadi pendangkalan. Dampak langsung yang sudah dapat dilihat adalah berkurangnya perambah perambah hutan dan penebang hutan bakau karena sebagian dari pemilik tambak sudah dapat mengopersionalkan kembali tambaknya. Dalam jangka panjang program ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan usaha dan kelestarian sumberdaya. produksi dan produktivitas budidaya Rumput laut. budidaya rumput laut justru terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008 baik dalam hal luas lahan. sedangkan produktivitas hasil yang rendah yaitu 1.

Jika dikaji lebih dalam melalui perbandingan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 dapat dilihat bahwa dalam hal luasan lahan terjadi peningkatan luas sebesar 229%. Ke depan. Namun hal ini tidak langsung diikuti oleh peningkatan produksi yang signifikan karena ternyata produksi hanya meningkat 61%. sudah saatnya bantuan/subsidi dalam budidaya Rumput laut dirancang dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya. karena selama ini pembudidaya melakukan perbanyakan sendiri dari bibit yang mereka gunakan yang tentunya kualitas bibitnya semakin menurun. Agar mutu hasil produksi dapat tetap terjaga sampai siap dijual. hal ini terjadi karena adanya serangan hama/penyakit pada bibit Rumput laut yang masih muda.bagian terdahulu. dan manajemen usaha. belum berperan terhadap peningkatan produksi dan produktivitas yang merupakan muara dari program pembangunan yaitu peningkatan pendapatan usaha dan keberlanjutan usaha masyarakat yang dalam hal ini masyarakat pembudidaya Rumput laut. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: penyediaan bibit unggul. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada budidaya Bandeng. media penjemuran (para para) dan gudang penyimpanan hasil sangat diperlukan. 104 . Cara lain dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan (teknis dan non teknis) seperti teknis budidaya yang baik. peran bantuan/subsidi pada komoditas Rumput laut baru sebatas penambahan areal budidaya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful