3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kota Ambon Gambaran umum lokasi penelitian Luas Kota Ambon adalah 377 km2 (luas daratan sekitar 359,45 km2 ), dengan demikian luasnya meliputi hampir separuh dari luas pulau Ambon. Secara geografis, Kota Ambon terletak pada 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur yang berbatasan dengan:    Sebelah Utara : Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda Sebelah Timur : Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Barat

: Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, 2008 Gambar 3.1. Peta Administratif Kota Ambon Saat ini Kota Ambon dibagi dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, dan Leitimur Selatan. Jumlah desa atau kelurahan yang tersebar di kelima kecamatan tersebut sebanyak 50 desa/kelurahan. Berdasarkan luas wilayahnya, maka Kecamatan

12

Teluk Ambon merupakan kecamatan terluas, yaitu 93,68 km2. Sebaliknya, Kecamatan Teluk Ambon Baguala menjadi kecamatan dengan luas wilayah paling keci, yaitu 40,11 km2. Dengan batas wilayah yang demikian maka perairan Kota Ambon dipengaruhi oleh dinamika laut Banda. Dari 50 Desa/Kelurahan, maka 34 Desa/Kelurahan (68%) berada pada kawasan pesisir, sedangkan desa-desa lainnya terletak di daerah pegunungan dan jauh dari pantai. Desa-desa di daerah pegunungan tersebut memiliki ”hak petuanan” di kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan Laporan Statistik PPN Ambon (2009), jumlah penduduk Kota Ambon yang bermata pencaharian tergantung pada perikanan hanya sebesar 1,4 persen dengan jumlah nelayan dan rumah tangga perikanan (RTP) masingmasing sebanyak 3.796 jiwa atau 3.378 rumah tangga. Nelayan Kota Ambon dapat dikatakan sebagai nelayan sub-sisten. Jumlah nelayan terbesar terdapat di Kecamatan Nusaniwe (34,61%) yang terkonsentrasi di Desa Latuhalat (Tabel 3.1). Latuhalat menjadi sentra kegiatan penangkapan karena kondisi perairan yang menunjang produksi perikanan tangkap. Namun, beberapa desa pesisir lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi untuk budidaya perikanan, pengolahan, eko-wisata laut. Tabel 3.1. Jumlah Nelayan dan RTP Kota Ambon Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Teluk Ambon Teluk Ambon Baguala Sirimau Leitimur Selatan Nusaniwe Jumlah Jumlah Nelayan 677 819 372 614 1,314 3,796 Jumlah RTP 593 725 293 547 1,22 3,378

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon, 2008 Usaha perikanan di Ambon terdiri dari usaha perikanan komersial dan usaha perikanan rakyat. Usaha perikanan komersial ditunjukkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang berpangkalan di Kota Ambon

(fishingground penangkapan adalah di perairan Maluku dan Papua). Sementara itu, usaha perikanan rakyat pada umumnya terdiri dari kapal ikan ukuran kecil

13

sampai ukuran 30 GT.

Berkembangnya usaha perikanan didaerah tersebut

berpotensi mempengaruhi ketersediaan ikan. Saat ini di Ambon semakin banyak tertangkap ikan tuna ukuran kecil (baby tuna), ini merupakan pertanda stok ikan semakin berkurang. Di Kota Ambon terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang tesebar pada beberapa lokasi. Kapal yang berkunjung ke PPN Ambon sangat bervariasi, baik jenis alat tangkapnya maupun ukuran kapalnya. Selain kapal penangkap ikan, ada pula kapal pengangkut yang berperan sebagai kapal pengumpul ikan dari beberapa kapal penangkap ikan yang berada di tengah laut. Kapal pengangkut ikan ini juga berfungsi sebagai penyuplai bahan bakar dan perbekalan untuk biasanya memiliki trip hingga 6 bulan. Jumlah kapal pengangkut yang singgah di PPN Ambon, yaitu sebanyak 275 kapal atau 32 persen dari total kapal yang berkunjung. Ukuran kapal pengangkut antara > 10—1000 GT yang didominasi oleh ukuran 51—100 GT. Sementara itu, kapal penangkap dengan alat tangkap pukat tarik ikan, pukat tarik udang ganda, dan huhate adalah kapal yang paling banyak berkunjung di PPN Ambon masing-masing sebanyak 26 persen, 17 persen, dan 7 persen dari jumlah kapal yang berkunjung ke PPN Ambon. Jenis ikan yang dominan didaratkan selama tahun 2009 adalah ikan pelagis kecil, seperti: ikan gulamah/tigawaja, layang, layur, dan ekor kuning, sedangkan dari jenis non-ikan adalah cumi-cumi (Gambar 3.2). Ikan gulamah/tigawaja adalah ikan yang paling banyak didaratkan, mencapai 61,24 persen dari total ikan yang didaratkan. Gambar 3.2. menunjukkan ikan yang didaratkan didominasi oleh ikanikan kecil yang umumnya banyak dijumpai di pasar lokal. Ironisnya, Kota Ambon sangat kaya akan ikan-ikan pelagis besar, seperti ikan tuna, tongkol, dan cakalang serta ikan karang seperti lalosi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan berupa ikan pelagis besar tidak didaratkan di PPN, tetapi langsung dijual ke awak kapal penangkap yang

14

Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah perusahaan kapal mendapat kesulitan untuk melakukan docking karena fasilitas yang tersedia hanya melayani ukuran kapal di bawah 500 GT. Namun. Hal inilah yang mendorong sulitnya nelayan mendapatkan kebutuhan logistiknya secara cepat dengan harga yang terjangkau.perusahaan-perusahaan sebagai komoditas ekspor. Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon.2. nelayan yang menangkap ikan tuna langsung membawa hasil tangkapannya ke perusahaan yang menawarkan harga tertinggi agar keuntungan yang nelayan peroleh besar. misalnya. PPN Ambon kurang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya. berasal dari dalam dan luar pelabuhan. (Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. Padahal. Dari hasil pengamatan. kebutuhan es seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam pelabuhan karena 15 . keterbatasan infrastruktur dalam pelabuhan membuat nelayan harus mencari sumber logistik di luar pelabuhan. 2009 Gambar 3. PPN Ambon tidak memiliki stasiun pengisian bahan bakar berupa SPDN atau SPBB sebagai agen resmi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal nelayan. sedangkan kebutuhan BBM/solar sepenuhnya berasal dari luar pelabuhan. dermaga laut dan pelabuhan tersedia 19 buah untuk melayani angkutan penumpang dan barang. Kebutuhan nelayan akan air bersih dapat dapat disuplai dari dalam PPN Amon. Penyaluran logistik air bersih. Persentase Produksi menurut jenis ikan dominan Selain sebagai tempat pendaratan ikan serta berlabuhnya kapal-kapal penangkap dan pengangkut ikan . dan BBM/solar. 2008) Penyaluran logistik untuk kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh PPN Ambon meliputi air bersih. Dari hasil pengamatan. Sebaliknya. es.

1 400.770 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.550 5. 2009 Produksi ikan pada tahun 2009 adalah 22.031.800 300.453 6.710.700 1.30 16. 2009 16 .000 23.312 985 1.200 9.186.413.279.50 16.757.016 16.1 4.7 35.5 Kebutuhan Logistik Es Balok (Ton) BBM/Solar (Ltr) 13 1.604.927. dan tuna dengan nilai produksi terbesar berasal dari ikan cakalang.00 17 1.50 16.005.000 620.242 1.2 26.7 1.210.851.pelabuhan memiliki pabrik es yang produksinya cukup memenuhi kebutuhan nelayan Kota Ambon.2.3.810 147.40 11.343.80 9.757 milyar. Jumlah logistik kapal penangkap ikan di PPN Ambon pada tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Air (Ltr) 368 903.7 1.6 2.8 22.526 9. Tabel 3.2 2.016 13 2.30 3 1. dan layang.981.607.7 ton dengan total nilai sebesar Rp72.320 15. Volume dan nilai produksi perikanan per jenis ikan tahun 2009 Jenis ikan Cakalang Kembung Lalosi Teri Layang Selar Tongkol Tuna Lainnya Jumlah Produksi Volume (Ton) Nilai (Rp.5 1.941.292 17.50 1. cakalang.000 659.927.000) 5.724.4 Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon.741.6 1.5 3.3 696.1 1. Tabel 3.369.617.2 2. Jenis ikan yang paling besar sumbangannya terhadap total produksi adalah ikan tongkol.4 830 1.252.2 2.422.898.3 3.5 29.50 857. tongkol. Hal ini disebabkan oleh karena ikan-ikan tersebut merupakan komoditas ekspor utama dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar luar negeri.7 857.343.5 603.845.9 7. layang.8 14.200 72.

jala. 2009 Gambar 3. huhate.3. Armada penangkapan ikan di Ambon tahun 2009 Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Kota Ambon sangat bervariasi.4 persen nelayan Kota Ambon menggunakan alat tangkap tersebut. yaitu sebanyak 67 persen dan sisanya 32 persen didominasi oleh perahu dengan motor tempel. Namun. jaring angkat. rawai. dan pancing tonda (7. Kapal tanpa motor lebih banyak digunakan dibandingkan perahu motor tempel dan kapal motor. Prosentase kapal motor dengan mesin sebagai armada penangkapan hanya digunakan oleh satu persen nelayan Kota Ambon. Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. alat tangkap lainnya. tangguk.3%).3%). jaring insang. Selain itu. perahu motor tempel (outboard engine) dan kapal motor dengan mesin dalam (inboard engine). dari sisi manfaat dapat melibatkan banyak nelayan dalam operasional alat tangkap tersebut. panah. juga tergolong banyak karena ada 10. seperti bubu. antara lain hand line. Alat tangkap huhate (pole and line) dan giob atau bobo (purse seine) adalah jenisjenis alat tangkap yang sedikit sekali penggunaannya karena sarana penangkapan ini tergolong mahal. dan pukat pantai. purse seine. pancing tonda. dan rumpon. jaring angkat (14. jaring insang (9. Armada penangkapan yang mengoperasikan alat tangkap pancing tangan (hand 17 .Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor (perahu semang).8%). Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tangan (56%).

dan bottom gill net. Karakteristik Usaha Responden Karakteristik responden menurut kepemilikian kapal. gelombang. baik ukuran panjang kapal dan kekuatan mesinnya. jenis alat tangkapnya. Nelayan Ambon tidak terpengaruh oleh musim. Dengan demikian.<10GT dan sisanya (30 persen) memiliki kapal berukuran < 5 GT. Kondisi ini memang memaksa nelayan untuk menggunakan kapal dengan ukuran panjang dan lebar kapal yang berbeda. Ukuran kapal tersebut menyebabkan nelayan tidak mampu menangkap ikan di lautan lepas karena ukuran kapal tidak mampu melawan arus. Hal ini terbukti dengan samanya jumlah trip hari untuk musim angin barat dan angin timur 18 . tramel net. dan angin yang cukup besar. bantuan kapal yang diterima nelayan biasanya tidak dapat langsung digunakan karena harus dimodifikasi terlebih dahulu. nelayan cenderung mudah berpindah daerah penangkapan (fishing ground) sehingga kegiatan penangkapan tidak terganggu dengan adanya perubahan musim angin. misalnya gill net. Daerah penangkapan ikan umumnya berada di dalam teluk dan pada perairan di sekitar teluk Ambon. Untuk itu. Berdasarkan kepemilikan kapal 70 persen responden memiliki kapal dengan ukuran ≥5GT .line) umumnya juga menggunakan alat tangkap lainnya.4. karena jika angin kencang tidak terjadi di seluruh wilayah perairan karena terhalang oleh pulau dan gunung di sekeliling teluk. dan bahan bakar yang digunakan dapat dipelajari dari Tampilan Tabel 3.

Tabel 3.4. Karakteristik responden dari aspek teknis
Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT
< 5 GT

Jumlah 9 21 0 0 30 9 8 13 30 25 5 30

Prosentase 30 70 0 0 100 30.00 26.67 43.33 100 83 17 100

≥5GT - <10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT - <100GT Jumlah Jenis Alat Tangkap Pancing tonda Purse seine Gillnet Jumlah Bahan Bakar yang digunakan Bensin Minyak tanah Jumlah

Sumber: Data primer diolah, 2010 Tabel 3.5 menunjukkan pendapatan dan Pengeluaran dari kegiatan penangkapan ikan. Pada nelayan pancing tonda, penerimaan diperoleh dari penjualan ikan tuna pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp1.707.111. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 593.611 yang dialokasikan untuk membeli bensin, oli, es, ransum, dan biaya di darat berupa perawatan kapal. Dengan demikian, keuntungan yang diterima nelayan pancing tonda adalah sebesar Rp1.113.500/trip. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 50% untuk pemilik kapal, 25% untuk nahkoda dan 25% lagi untuk ABK. Pada prakteknya, keuntungan tersebut dibagi dua untuk pemilik dan ABK mengingat biasanya kapal pancing tonda bekerja dengan anggota keluarganya sendiri sehingga bagian ABK adalah Rp 556.750 pada trip terakhir. Untuk kapal purse seine, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dua jenis alat tangkap lainnya. Penerimaan yang diterima pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp3.054.085 dari penjualan ikan kawalinya Rp885.000 dari nilai ikan momar Rp2.973.000 sehingga total penerimaannya adalah Rp3.858.000. Dengan biaya operasional sebesar Rp803.915 maka besarnya

19

keuntungan adalah Rp3.054.085. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 40% untuk pemilik kapal, 30% perawatan, dan perbaikan kapal, 27% untuk ABK, dan 3% untuk nahkoda. Banyaknya ABK yang bekerja di sebuah kapal purse seine membuat penerimaan riil yang diperoleh ABK justru kecil dibandingkan dengan ABK di kapal pancing tonda, yaitu ± Rp41.270 untuk seorang ABK. Tabel 3.5. Pendapatan dan Pengeluaran Kegiatan Penangkapan Ikan
Uraian Penerimaan (Rp) Tuna Selar (Kawalinya) Layang (Momar) Tongkol Kembung (Lema) Jumlah Biaya operasional (Rp) Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Ransum biaya di darat Total Biaya Operasional Keuntungan (Rp) Pancing tonda (< 5 GT) 1,707,111 885,000 2,973,000 1,200,000 288,400 1,488,400 Jenis Alat Tangkap Purse seine (≤ 5-10 GT) Gillnet (≤ 5-10 GT)

1,707,111

3,858,000

0 322,222 0 66,444 41,556 38,389 125,000 593,611 1,113,500

0 118,125 128,250 116,875 13,200 105,625 321,840 803,915 3,054,085

75,000 69,688 15,533 55,714 98,000 15,750 53,333 308,018 1,180,382

Sumber: Data primer diolah, 2010 Alat tangkap gillnet rata-rata menangkap ikan tongkol dan lema sehingga penerimaannya dari kedua jenis ikan tersebut adalah Rp1.488.400. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung rendah karena kapal gillnet tidak banyak membeli oli, minyak tanah, dan ransum sehingga total biaya operasionalnya adalah Rp308.018. Rendahnya biaya operasional ini disebabkan oleh karena nelayan gillnet memiliki trip penangkapan setiap hari sehingga biaya ransum dan biaya bensinnya rendah. Setelah dikurangi dengan biaya operasional tersebut maka besarnya keuntungan sebesar Rp1.180.382. Selanjutnya, sistem

20

bagi hasil dari keuntungan tersebut adalah 60% untuk pemilik, 6% untuk nahkoda, dan 34% untuk ABK. Seperti halnya kapal purse seine, banyaknya ABK yang bekerja membuat bagian keuntungan yang diterima oleh seorang ABK sedikit, yaitu ± Rp40.000.

Bantuan Usaha Perikanan Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatagorikan sebagai subsidi. Namun bantuan ini sifatnya tidak reguler karena diberikan pada keadaan tertentu. Bantuan ini adalah bentuk intervensi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu berjalannya usaha penangkapan ikan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat langsung berupa uang tunai atau peralatan tangkap yang langsung diserahkan kepada kelompok nelayan, misalnya subsidi BBM atau bantuan kapal dan alat tangkapnya bagi kelompok nelayan terpilih. Ada pula subsidi yang diberikan secara tidak langsung, misalnya berupa penyediaan fasilitas untuk memperlancar usaha penangkapan. Intervensi yang intensif kepada nelayan lebih banyak dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Akan tetapi, bentuk intervensinya lebih bersifat pemberdayaan nelayan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya kolektif bersama seluruh masyarakat pesisir untuk pengelolaan ekosistem, sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk menjamin kegiatan nelayan itu secara berkelanjutan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon dan Provinsi Maluku banyak menyediakan bantuan

peralatan penangkapan yang diberikan dalam bentuk paket barang dan uang dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati untuk mendukung usaha nelayan. Bantuan yang bersifat pemberdayaan masyarakat ini jumlahnya sangat kecil, namun sangat membantu dalam pengembangan usaha perikanan yang ada disekitar teluk Ambon. Bantuan tersebut umumnya menggunakan dana yang berasal dari angggaran pemerintah dan sifatnya sangat temporer.

21

4. Bantuan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Perikanan di Kota Ambon Tahun 2002—2008 No. 2006 6. serta yang mempunyai peranan selama ini dalam upaya menyejahterakan masyarakat. 2008 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Pemberian bantuan ke depan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memaksimalkan kegiatan dan kelembagaan masyarakat yang sedang berjalan (bukan dengan membentuk kelompok-kelompok baru). budidaya laut.Tabel 3. 2003 2004 2005 5. Beberapa desa dan kelurahan yang berpotensi dikembangkan untuk usaha perikanan tangkap. 1. bentukbentuk pemberdayaan kepada nelayan sangat bervariasi dalam aktivitas dan lokasi usaha. Tahun 2002 Jenis Bantuan Rumpon Gilnet Kios BBM Puse seine Bodi BBM&Alat Papalele ikan Rumpon Rumpon Papalele ikan Papalele ikan Gilnet Rumpon Rumpon Papalele ikan Gilnet Pengolahan Pancing tonda Bagan Kios Bubu Gilnet Pancing tonda Rumpon Papalele ikan Jumlah kelompok penerima bantuan 4 5 1 2 1 1 10 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 3 2 1 1 1 7 1 1 Sumber bantuan APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN Bentuk bantuan Uang Uang/Barang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang 2. 3.6. 2009 Berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan di lapangan. 2007 7. wisata bahari dengan pendekatan terpadu dan menerapkan sistem konservasi yang tersebar dalam lima kecamatan 22 .

Bagan. Halong dan Latta serta kelurahan Lateri . melalui pendekatan pengelolaan dan konservasi.Pariwisata massal berupa rekreasi pantai dan secara khusus wisata selam di kawasan kapal tenggelam di Waiame. dan PT perikanan Nusantara .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie.dalam tabel di bawah ini. Waiheru. Halong di waktu lampau terkenal sebagai nelayan pole and line yang tangguh) . dengan isu utama adalah pencemaran. .Lokasi kelurahan Pandan Kasturi. Rumpon. Nania.Alat tangkap : Jaring insang.Lokasi Desa-desa Rumahtiga. Lateri. melalui pendekatan pengelolaan ekosistem Daerah Aliran Sungai dan mangrove. . giob/bobo. Teluk Ambon 4. .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Leitimur Selatan 23 . wisata khusus alam darat dan laut . Seilale. alat pancing .Lokasi desa-desa Latuhalat.Lokasi desa-desa Passo.Alat tangkap: Jaring insang. ilmiah serta “eco-tourism” .Pengembangan wisata rekreasi massal. 1. Hative kecil. Hative Besar. dan PT perikanan Nusantara . jaring insang. (beberapa desa seperti Latta. desa-desa Batu Merah. dan PT perikanan Nusantara . Bentuk-bentuk intervensi pemerintah daerah dalam kegiatan penangkapan di Kota Ambon No. Galala. alat pancing. alat pancing. huhate.Alat tangkap seperti jaring insang. 2.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). pancing tonda. dan PT perikanan Nusantara . Teluk Ambon Baguala 5.Alat tangkap : pancing tonda.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Budidaya laut (ikan). dengan isu utama adalah pencemaran . Tabel 3.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).Penangkapan ikan : Jaring insang. huhate . Demikian juga masyarakat dari desa tertentu yang dapat dikembangkan sebagai desa pengolahan ikan dan non-ikan. dengan konservasi. Sirimau 3. Kecamatan Nusaniwe Bentuk Intervensi .Budidaya laut (ikan dan non-ikan).7. huhate dan giob/bobo .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. dan Nusaniwe . NegeriLama. Laha dan Tawiri . wisata selam.

Hukurila .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). siput lain) dengan pendekatan pengelolaan dan konservasi serta mengembangkan teknologi untuk pembenihan dan pemulihan stok. Kecamatan Bentuk Intervensi . subsidi BBM kepada nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran < 5—10 GT dengan alat tangkap pancing tonda dan purse seine dapat dikatakan tidak ada. kebutuhan bahan bakar berupa bensin dalam satu trip cukup besar. Leahari. faktor penyebab lainnya karena armada penangkapan yang digunakan nelayan responden adalah kapal dengan motor tempel yang berbahan bakar bensin. Untuk kapal pancing tonda saja yang melakukan one day fishing rata-rata memerlukan 64 liter bensin. Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya SPDN atau SPBB sebagai penyalur BBM bersubsidi bagi nelayan di PPN Ambon. 24 . dan PT perikanan Nusantara Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. selam antara Hukurila dan Hutumuri .500—Rp6. sedangkan subsidi BBM hanya diberikan untuk armada penangkapan yang berbahan bakar solar. Tidak tersedianya SPDN/SPBN menyebabkan nelayan yang menjadi responden mengalami kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini mereka beli dari pengecer dengan harga Rp4. Lokasi pengecer juga cukup jauh sehingga nelayan harus membawa jerigen atau botol kaca sebagai wadahnya. 2008 Peran Subsidi Perikanan Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh.000 per liter. sedangkan kapal purse seine rata-rata memerlukan bensin sebanyak 24 liter dan minyak tanah 37 liter. Hatalae.Lokasi Desa-desa Hutumuri. Naku.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .No. batu laga. teripang. lola.Pengembangan pariwisata massal untuk rekreasi dan secara khusus wisata ilmiah. Selain itu. Kilang.Budidaya laut (rumput laut. . Padahal.

018 Rp401.915 Rp3. Penurunan pendapatan tersebut bagi nelayan bagi responden menunjukkan bahwa usaha perikanan tersebut memiliki prospek keberlanjutan yang baik walaupun BBM yang digunakan tanpa di Subsidi. 20 liter. Dengan asumsi harga solar non-subsidi adalah Rp7.500 maka solar yang digunakan responden dengan kapal gillnet termasuk ke dalam solar bersubsidi dengan harga Rp6. bensin.Solar . dan 5 liter.111 24 liter 37 liter Rp803.611 Rp1. Selain itu. Bertambah besarnya biaya operasional tersebut berdampak pada penurunan keuntungan per trip yang diperoleh nelayan yang bisa mencapai 8 persen. kapal dengan alat tangkap gillnet menggunakan solar.488. Apabila dibandingkan dengan harga BBM tanpa subsidi maka besarnya biaya operasional per trip adalah Rp401.018. yaitu sebesar 24 persen. pada wilayah Ambon ikan yang terdapat di wilayah perairan Ambon masih dapat 25 .000 Gillnet ≥ 5-10 GT 1 hari 12.Tabel 3.858. 2010 * Harga BBM di eceran ** Harga BBM tanpa subsidi = Rp7.000 per liter sehingga biaya operasional per trip adalah Rp308.768 Rp1.500 Berbeda dengan kedua armada penangkapan dengan dua alat tangkap di atas.8.707. Analisis biaya dan pendapatan menurut jenis alat tangkap Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip Rata-rata volume (per trip) .Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM* Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM** Rata-rata nilai hasil tangkapan Jenis alat tangkap Pancing tonda Purse seine < 5 GT ≥ 5-10 GT 1 hari 1 hari 64 liter Rp593.Bensin .768 yang artinya nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan dengan penggunaan BBM bersubsidi meskipun porsi biaya solar terhadap biaya operasional tanpa subsidi BBM atau dengan subsidi BBM hampir sama.5 liter 20 liter 5 liter Rp308. dan minyak tanah yang masing-masing sebanyak 12.5 liter.400 Sumber: Data primer diolah.

26 . PT Samudra Sakti Sepakat baru menerima subsidi BBM sejak bulan Mei 2009 hingga sekarang dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dua perusahaan lainnya. PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry memperoleh BBM bersubsidi paling banyak. sejak Maret 2009 hingga sekarang subsidi BBM hanya disalurkan ke tiga perusahaan. PT Cilacap Samudera Fishing Industry.mendukung berbagai armada penangkapan yang terdapat pada kawasan tersebut. Namun demikian. Namun. subsidi BBM justru disalurkan untuk armada penangkapan dari 7—10 perusahaan besar di Ambon sejak tahun 2007 hingga sekarang. baik di tahun 2009 (65%) maupun pada tahun 2010 (60%) dari total subsidi BBM yang disalurkan PPN Ambon. yaitu PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry. Sementara itu. Setelah Pertamina menyetujui permohonan tersebut. Selanjutnya. Penyaluran BBM bersubsidi ini dikelola oleh PPN Ambon yang berwenang mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak Pertamina berdasarkan surat permohonan dari perusahaan. pengisian solar akan dilakukan di dermaga tempat kapal berlabuh dengan menggunakan mobil tanki dari Pertamina sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya sewa mobil tanki di samping membayar harga BBM yang dibeli. dan PT Samudra Sakti Sepakat. surat rekomendasi ini dipelajari oleh Pertamina sehingga pemberian BBM bersubsidi tidak selalu sebanyak yang diminta dan direkomendasikan. Berdasarkan data dalam Tabel 13.

Cilacap Samudera Fishing Industry PT.9. Samudera Sakti Sepakat Jumlah Tahun 2009 Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah 150 95 100 125 125 170 765 25 25 75 50 70 70 315 20 25 50 45 25 30 195 195 145 225 220 220 270 1. Luas wilayah Kota Bitung 31. yang batas-batas wilayahnya sebagai berikut:  Sebelah Utara dengan Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Timur dengan Laut Maluku  Sebelah Selatan dengan Laut Maluku 27 .Tabel 3.35 Ha. Rekapitulasi BBM bersubsidi yang dikeluarkan PPN Ambon tahun 2009—2010 Jumlah BBM bersubsidi (KL) Bulan PT.930 100 75 50 125 125 80 75 25 50 75 780 20 25 40 20 20 70 25 45 265 280 250 270 300 370 355 300 225 250 375 2. 2010 3. Kota Bitung Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Bitung terletak pada 1°23'23" .2.975 Sumber: PPN Ambon diolah.275 180 175 200 150 205 255 205 130 175 255 1. Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry PT.350.1°35'39" LU dan 125°1'43" 125°18'13" BT.

00 516.756. perdagangan dan jasa serta pemukiman. sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan. Sebelah Barat dengan Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Secara administratif wilayah Bitung dibagi dalam 8 kecamatan dan 69 kelurahan. 4.18% merupakan dataran landai serta sisanya 18.10 .270 jiwa berarti setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 3%. 6. Kecamatan Ranowulu Matuari Girian Mandidir Maesa Aertembaga Lembeh Selatan Lembeh Utara Jumlah Kelurahan 11 8 7 8 8 10 7 10 69 Luas Daerah (ha) 15. Kecamatan. 28 . industri.553.00 31. 3.65 6.350.266 jiwa. merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0 – 15 derajat. 2.83 1. Tabel 3. Jumlah penduduk Kota Bitung pada tahun 2008 diestimasikan sebesar 178.396.35 % 50.64 3. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat. 8.82 100 Sumber : Kantor Statistik Bitung (2010) Dilihat dari aspek topografis.03% berombak. 1.26 10.766. dengan rincian seperti pada tampilan Tabel 3. Desa serta Luas Wilayah Kota Bitung No. 5.083.00 2.80 3.309. 7. keadaan tanahnya sebagian besar daratan Bitung atau 45.09 10.70 3.14 8.06% berombak berbukit dan 32.10.56 8.55 2. Dibandingkan hasil Sensus Penduduk terakhir yakni tahun 2000 yang berjumlah 140. Hanya 4.00 969.73% bergunung.30 2.

Penurunan jumlah perahu tanpa motor ini disebabkan karena sebagian nelayan telah memiliki perahu dengan motor temple. surat izin penangkapan ikan untuk kapal kurang dari 10 GT dilakukan di tingkat Kota Bitung. Ditinjau dari kategori kapal. maka kepadatan penduduk pada tahun 2008 mencapai sekitar 569 jiwa per kilometer persegi. sehingga total jumlah amada penangkapan menunjukkan penurunan. Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya.81% per tahun dan peningkatan kapal motor dengan rata-rata 20. Penurunan ini terlihat karena adanya penurunan jumlah perahu tanpa motor dalam jumlah yang signifikan. Karakteristik Usaha Perikanan Kota Bitung Bitung memiliki sumber daya perikanan yang cukup potensial.39% per tahun. Penurunan jumlah perahu tanpa motor sejalan dengan meningkatnya jumlah perahu motor temple. Kapal motor dengan kategori 6-10 GT yang terdapat di Bitung sebanyak 10%.9 ton per tahun.9 ton per tahun. Pengurusan administrasi seperti surat izin usaha perikanan.5035 km persegi. Armada penangkapan ikan dilihat dari jumlah kapal selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan 4. Pada perairan zona ekonomi eksklusif seluas 190 km2 dan produksi 196. potensi penangkapan di Sulawesi Utara pada perairan 12 mil seluas 314. Selain perahu motor temple. Peningkatan jumlah perahu motor temple rata-rata sebesar 32. Jika dihubungkan dengan luas wilayah Kota Bitung yang 313. Kapal penangkap ikan dengan kategori 11-30 GT atau kapal yang memperoleh izin pada tingkat propinsi berjumlah sebanyak 9% dari 29 . perahu tanpa motor yang digunakan untuk menangkap ikan sebesar 40% dan kapal motor < 5 GT sebesar 5% dari total jumlah kapal yang ada. kapal motor juga mengalami peningkatan dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah perahu tanpa motor.81% per tahun.Dilihat dari sebaran penduduk per kecamatan sebagian besar penduduk Bitung terkonsentrasi di Kecamatan Maesa.98 km2 dan produksi 125.

613 1. Perkembangan jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Bitung. Kapal kurang dari 5 GT dengan alat tangkap hand line mampu melakukan penangkapan di ZEEI dengan ikan hasil tangkapan tuna berukuran lebih dari 35 kg per ekor.303 1.477 1.472 1.456 1. Kapal dengan kategori lebih dari 30 GT terdapat di Kota Bitung sebanyak 35%.472 1.029 700 690 525 PERAHU MOTOR TEMPEL (3) 597 630 727 121 622 642 520 510 510 313 KAPAL MOTOR (4) 155 126 104 274 275 291 409 411 413 448 JUMLAH (5) 2.11.958 1.621 1.286 Sumber: dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.523 1.367 2.229 2.227 2. alat tangkap yang banyak dijumpai di Kota Bitung adalah alat tangkap purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil dan alat tangkap pole and line untuk menangkap ikan cakalang.867 2. 2000-2009 PERAHU TANPA TAHUN (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MOTOR (2) 1.total jumlah kapal yang terdapat di Kota Bitung. Selain alat tangkap hand line. 2010 Alat tangkap yang dominan di Bitung adalah hand line yaitu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna. Tabel 3.471 1. 30 .470 1.

Tabel 3.30 GT Pole and line Tuna long line Light Boat Pengangkut/Penampung JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 525 1.250 16 64 3 18 132 1. tahun 2009 KATEGORI KAPAL Tanpa Motor ALAT TANGKAP Hand Line Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Bagan Apung Set Net < 5 GT Sero Tanam Pole and line Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 6 . Jumlah kapal dan jumlah nelayan menurut jenis alat tangkap di Bitung.10 GT Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 11 .050 50 250 5 100 1 1 2 4 1 8 32 67 387 63 441 50 1.12.773 33 660 19 475 5 125 9 135 24 120 24 31 .050 525 1.

32 . kapal pengangkut yang terdapat di Kota Bitung berjumlah sekitar 2% dari total kapal. rata-rata jumlah nelayan yang terlibat sebanyak 25 orang per kapal per trip.470 Jumlah nelayan yang terlibat di dalam sebuah kapal penangkap ikan tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan.625 47 1.175 98 1. Selain kapal penangkap ikan. Dalam pemanfaatan sumber daya perikanan.460 Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Pole and line Tuna long line > 30 GT Bottom long line Pukat Ikan Gill Net Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Total 448 1. sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap yang pada ukuran lebih dari 10 GT memerlukan ABK sebanyak 20 orang.KATEGORI KAPAL ALAT TANGKAP JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 240 114 1.755 18 360 65 1.470 16 320 16 400 23 690 1 5 164 2.6 ha dan reklamasi 1 ha.505 13. Kapal dengan alat tangkap hand line yang berukuran kurang dari 10 GT hanya memerlukan ABK sebanyak 7 orang.286 8. Bitung ditunjang oleh sebuah Pelabuhan Perikanan Samudera dengan luas 4. Sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap hand line memerlukan ABK lebih banyak untuk ukuran kapal yang lebih besar. Pada alat tangkap purse seine dan pole and line.

es dan air bersih.130 9.648 m2.267 539 499 1. Jumlah kunjungan kapal di PPS Bitung.465 677 417 206 20.5 m LWS. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas kapal.215 6.254 22.200 GT > 200 GT 86 29 3 1.702 8.00 m LWS dan dermaga 2 sepanjang 1.502 10.13.494 24 2 1.764 m bobot kapal 30-600 ton dengan kedalaman -5.952 10.610 m untuk bobot kapal 5-30 ton dengan kedalaman -1. Jalan utama PPS Bitung 1.357 150 354 1.877 954 777 1.352 127 215 1.100 GT 100 . baik dilihat dari jumlah kapal dan juga ukuran kapal. 2010 33 . sedangkan pada tahun 2009 jumlah kapal yang sering berkunjung adalah kapal motor tempel. Pada tahun 2005 jumlah kapal yang paling sering berkunjung adalah kapal tanpa motor.637 12. Kunjungan kapal di PPS bertujuan untuk melakukan pembongkaran ikan dan juga untuk memuat perbekalan seperti BBM.300 2.720 9.891 567 305 19 59 266 145 67 15. Meningkatnya jumlah kunjungan kapal diatas 50 GT menunjukkan semakin banyaknya jumlah kapal yang beraktivitas di PPS Bitung.dermaga 1 sepanjang 1.432 3.30 GT KAPAL 30 .202 11.581 230 226 366 24. 2005-2009 Sumber : Profil PPS Bitung.50 GT MOTOR 50 . dari kapal tanpa motor menjadi kapal motor tempel. Tabel KATEGORI DAN 2005 UKURAN KAPAL Jumlah (unit) PTM Motor Tempel < 10 GT 10 .101 719 718 216 21.20 GT 20 . Kunjungan kapal diatas 50 GT juga mengalami peningkatan. Jumlah kapal yang berkunjung ke PPS bitung mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2005.660 2006 2007 2008 2009 3.

Oli Depot Air Isi Ulang Jasa Wartel Kantor Sekterariat Kantor Adm. Sukses Abadi 27 Kios Pesisir PT. Wailan Pratama PT. Getra Mitra Usaha PT. Beberapa pabrik es juga dibangun di areal PPS Bitung.000 1.32 81 40 565.000 1. 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Perusahaan PT.000 168. Etmiko Sarana Laut PT. Pangow Jasa Wartel “Aldin” HIPPBI UD.50 1.20 49. Penyaluran air bersih untuk kebutuhan kapal penangkapan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki dalam kawasan PPS Bitung.60 Usaha Solar (SPBB) dan Air Pengolahan dan Cold Storage Prosesing ikan segar dan Cold Storage Pabrik es.000 616 600 4. Bitung Bahari Sejahtera Luas Lahan (M²) 927 1.14. kapal ikan yang akan melakukan pengisian solar harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi pengisian solar kepada petugas pelabuhan perikanan. A SPDN (BBM Solar) Pabrik Pengolahan Ikan Pabrik Prosesing Fillet Ikan Tuna Kantor Administrasi dan Operasional Penyalur minyak tanah. Tabel 3. Penyaluran solar untuk kapal-kapal ikan telah dibangun SPDN dan SPBB. Kelana Djaya Abadi CV. Prosesing Ikan Segar. Sari Tuna Makmur PT. dan Unit Pengolahan Ikan UKM Kantor Administrasi 34 .46 651. Golden Bridge International PT. Mikaindo Abdai Cemerlang PT. Caria Ch. Komegoro PT.556. hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pemuatan es ke kapal-kapal ikan yang akan melakukan penangkapan. Mikaindo Abadi Cemerlang Daeng Umar Genda Dra.000 2.000 500 1.92 72. Pathemang Raya PT.000 1. Bitung Bahari Sejahtera KSU. Nama perusahaan yang terdapat di PPS Bitung. Waserda Pabrik Es.Fasilitas penyediaan perbekalan yang sangat dibutuhkan oleh kapal ikan dalam melakukan penangkapan sebagian besar terdapat di dalam kawasan PPS Bitung. Prosesing Plant Prosesing Ikan dan Cold Storage SPBN Tipe. Lautan Bahari Sejahtera PT. Cold Storage Penjualan Suku Cadang.

505 725.715 6. Alat tangkap yang memberikan kontribusi hasil tangkapan paling banyak adalah alat tangkap purse seine atau pukat cincin.740 995.240 886. Bagi kapal ikan berbendera Indonesia tetapi merupakan kapal ikan eks asing dan menggunakan ABK asing tidak diperbolehkan untuk mendapatkan solar dengan harga subsidi.758 15. tahun 2009 Kebutuhan Perbekalan BULAN Air bersih (m3) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 19.000 Solar (KL) 858.638 8.520 10.15.000 253.188 15.660 771.165 4.230 751.090 696.110 827.590 957.Kapal ikan yang dapat melakukan pengisian solar adalah kapal ikan Indonesia dan tidak menggunaka ABK asing.000 530.374 Sumber : PPS Bitung 2010 Lokasi penangkapan atau fishing ground kapal-kapal penangkap ikan yang berasal atau mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung yaitu di Laut Sulawesi.955 13.024.312.205 823.800 907.020 11.000 liter. Masingmasing kapal ikan dapat melakukan pengisian solar maksimum setiap bulan 25.000 900. Teluk Tomini dan Laut Arafura.850 23.270 24.000 3.000 620. Ikan hasil tangkapan alat tangkap purse seine adalah ikan pelagis 35 .730 838.245 3.925 4.000 97. Alat tangkap ini berjumlah banyak dan juga hasil tangkapan setiap kapalnya dalam jumlah besar.15.655 Es (Ton) 13. Kebutuhan terhadap perbekalan setiap bulan selama tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3. Kebutuhan perbekalan di Bitung.452.899 4.911 7. Tabel 3.000 174.190 23.955 110.000 36.465 1.

Selain purse seine. Nelayan tersebut sudah harus memiliki keahlian khusus sehingga dapat menangkapan ikan tuna berukuran diatas 30 kg per ekor dengan menggunakan perahu di bawah 5 GT. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Bitung untuk melakukan penangkapan ikan tuna adalah hand line dan long line. Potensi lainnya masih belum dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dengan maksimum adalah jenis ikan tuna. Potensi ikan tuna di Laut Sulawesi masih sangat besar. Kapal dengan alat tangkap hand line Kapal dengan alat tangkap purse seine 36 . Harga ikan pelagis kecil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ikan pelagis besar.kecil yaitu layang dan kembung. Nelayan dengan skala kecil juga dapat memanfaatkan ikan tuna menggunakan alat tangkap hand line. Hasil tangkapan utama alat tangkap huhate adalah cakalang. sehingga mengundang nelayan-nelayan dari Negara tetangga untuk melakukan penangkapan di perairan Indonesia. alat tangkap yang memberikan kontribusi jumlah tangkapan besar yaitu kapal dengan alat tangkap huhate atau pole and line. Potensi sumber daya ikan cakalang di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini cukup besar. sehingga masih dapat dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dalam jumlah yang banyak.

30 46.70 L.4. Kapal penangkap ikan Bitung yang melakukan penangkapan ikan di Laut Arafura seperti purse seine.90 17.886.60 37 .20 209.90 13.890.16.90 280.462.00 180.90 1.425.90 18.90 100.70 45.333.998.80 4.125. tahun 2009 Alat Tangkap Payang Pukat tarik udang tunggal Dogol Pukat pantai Pukat Cincin Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Bagan perahu/ rakit Rawai tuna Huhate Pancing tonda Pancing ulur Pancing cumi Jumlah T.20 Total 1.300.70 4.674.70 127. Produksi ikan di Bitung berdasarkan jenis alat tangkap dan fishing ground.90 L.80 4.00 8. Arafura 109.40 1.566. huhate dan pancing tonda.189.00 6.637. Tomini 600.90 15.40 3. disamping beberapa jenis ikan lainnya seperti cakalang dan ikan-ikan pelagis kecil.60 355.90 5.566.789.00 128.20 199.401.00 4.00 1.80 299.00 80. Aktivitas Perikanan pada PPS Bitung 2010 Laut Arafura juga merupakan salah satu fishing ground armada perikanan Bitung.468.40 45.576.80 5.80 127.60 99.60 14. Potensi terbesar yang terdapat di Laut Arafura adalah udang.90 3.Sulawesi 927.90 99.532.998.866. Tabel 3.778.60 99.70 17.823.70 8.904.Kapal dengan alat tangkap purse seine Kapal dengan alat tangkap pole and line Gambar 3.10 13.099.50 12.299.80 2.998.

80 61.80 Total 145.20 Sumber: Dinas kelautan dan Perikanan Kota Bitung.50 145.70 42. Jumlah produksi ikan layang mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 yaitu 10. Arafura 41.40 L. Tomini 54.21% per tahun. peningkatan produksi ikan tuna periode 2007-2009 adalah 6.053.20%.36% per tahun.Alat Tangkap Sero Bubu Alat tangkap kepiting Jumlah Jumlah T. 38 .Sulawesi 90. 2010 Ikan cakalang hasil tangkapan Ikan layang hasil tangkapan Gambar 3.90 55. Kegiatan Pembongkaran dan Distribusi Ikan di PPS Bitung Jumlah produksi ikan cakalang dan ikan tuna di Bitung selalu menunjukkan peningkatan.90 0. Produksi ikan tuna mengalami peningkatan sebesar 2.701.278.70 12.5.00 L.65%. dan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 9.48% dari tahun 2007 ke tahun 2008.80 4.60 68. tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 21.073.94%.90 3. Peningkatan jumlah produksi ikan cakalang sebesar 6. Jika dirata-rata.

10 135. Harga pada bulan Januari menunjukkan posisi yang paling tinggi pada tahun 2009 yaitu 17 ribu.377.30 142.10 2. Selama tahun 2009. Sebenarnya harga ikan tuna setiap bulannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Ikan tuna dengan harga 30 ribu adalah ikan tuna dengan grade A.362. harga ikan cakalang menunjukkan penurunan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. baik peningkatan maupun penurunan.245. Harga ikan layang ditentukan oleh perusahaan pengolahan ikan yang terdapat di sekitar Bitung.820.656. Penentuan kualitas ikan tuna dilakukan dengan cara mencek kualitas daging ikan tuna.452. Bitung 2010.50 2. sedangkan pada bulan-bulan berikutnya menunjukkan angka yang stabil yaitu pada level 11 ribu dan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember menunjukkan angka yang semakin menurun. sedangkan ikan tuna dengan harga dibawah 20 ribu adalah ikan tuna yang tidak dapat dipasarkan ke pasar ekspor. Harga ikan tuna menunjukkan peningkatan mulai dari harga 16 ribu pada bulan Januari sampai harga 30 ribu pada bulan Juni.899.Tabel 3.39) % peningkatan Sumber: PPS.60 28.90 22.40 58.327. Harga ikan layang pada tahun 2009 menunjukkan harga yang stabil atau tidak mengalami banyak perubahan.10 2008 57.70 52.72) (7. pada saat ikan masuk ke perusahaan pengolahan.36 6.21 (5. Harga ikan tuna yang didaratkan oleh nelayan sangat tergantung pada kualitas ikan.20 6.60 2.053.275.188 per kg.80 145.272.17. Produksi Ikan Hasil Tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung Tahun 2007 – 2009 Produksi (ton) Jenis ikan 2007 Cakalang Tuna Layang ikan lainnya Jumlah 54.40 2009 61.338. Harga ikan layang lebih tinggi pada bulan April disebabkan karena 39 . Rata-rata harga ikan cakalang selama tahun 2009 adalah Rp 11.747.80 26.003.572.90 53.

000 9. bahan tambahan.350 8. 40 . Harga beberapa Jenis ikan di PPS Bitung (Rp/Kg).288 8.000 11.000 16.000 11.000 15.000 31.999 12. Usaha pengolahan hasil perikanan di Bitung sudah sejak lama dilakukan dan telah berkembang dengan baik sehingga menjadikan Bitung sebagai pusat pengolahan ikan terbesar di Sulawesi Utara.523 Layang 9.000 12.000 9. yang perlakuannya dimulai sejak ikan ditangkap. bahan pembantu.919 12. sehingga untuk memenuhi produksi perusahaan pengolahan.000 13.000 11. Penanganan hasil perikanan meliputi penanganan terhadap bahan mentah (ikan).519 11.336 Sumber: PPS Bitung 2010. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Cakalang 17.039 11.000 10. teknologi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh pengolah dan pabrik (UPI). ikan dibeli dengan harga yang lebih tinggi.000 30.000 9. Saat ini telah ada tiga kelompok pengolah ikan asap yang beranggotakan 10 – 30 pengolah belum termasuk pengolah perseorangan. Penanganan hasil perikanan berperan penting dalam memanfaatkan produksi perikanan.pada bulan tersebut produksi ikan layang sedikit berkurang dibandingkan bulanbulan lainnya.883 9.267 Selar 13.000 8.000 9. penanganan di atas kapal.000 12.000 16.997 28.188 Tuna 16.000 9.000 11.000 15.000 12.000 8.000 12.000 29.000 11. Tabel 3.000 10. peralatan yang digunakan.000 10.870 9.000 11.000 10.000 30.18. penanganan saat didaratkan.000 30. Usaha tersebut dilakukan baik dengan system pengolahan tradisional maupun modern.512 11.275 24.000 14.000 11. Pengolahan tradisional dilakukan melalui adanya industry rumah tangga pengolahan ikan asap/ fufu. penanganan di pasarpasar.000 22.119 11. pengecer sampai ke pabrik pengolahan.000 30.000 11.

Pabrik pembekuan ikan . Besarnya kapasitas pengolahan yang tidak terpakai disebabkan karena rendahnya jumlah ikan yang didaratkan di Bitung. frozen.0 60.0 30. Sedangkan yang terpakai hanya 35% dari kapasitas tersebut. Untuk memenuhi kapasitas pengolahan tersebut.0 AS. seperti Bitung. Disamping itu juga terdapat pembekuan ikan tuna dan pembuatan loin tuna. Sinar Pure Foods Int'l PT. Lokal Arab Saudi. tahun 2010 Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 1 2 3 4 PT. Surabaya. frozen 41 . Pengolahan ikan dengan cara pembekuan untuk ikan hasil tangkapan kapal purse seine berorientasi pasar lokal.0 35. Kapasitas Perusahaan Perikanan di Bitung. Selain itu juga disebabkan oleh adanya jenis-jenis ikan yang langsung dapat diekspor tanpa harus terlebih dahulu dilakukan pengolahan.19. Kedua jenis olahan tersebut berorientasi pasar ekspor.UE Jepang.Pabrik pengalengan ikan .Pabrik ikan kayu . Delta Pacifik Indotuna 2007 Kaleng. Total kapasitas pengolahan ikan di Bitung adalah 894 ton. Jenis Produk. Bitung harus dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung dan mengolah hasil tangkapan tersebut pada perusahaan pengolahan ikan yang tersedia. Deho Canning Co.UE AS. Tabel 3. dan Jakarta. Samudera Sentosa PT.Usaha pengolahan modern di Bitung sampai saat ini berjumlah 45 perusahaan yang terdiri dari : . 100 100 100 50 Rata 2 80 35 30 30 Pemasaran % 80. UEA PT. 1979 1991 Kaleng Kaleng Kaleng. Nama Perusahaan. cakalang dan layang segar untuk ekspor Perusahaan pengolahan perikanan di Bitung didominasi oleh perusahaan pengalengan ikan dan ikan kayu.Pengolahan ikan tuna.

Frozen:U tuh Fresh.0 20. Taiwn Sngpr.0 50.3 PT.7 Sngpr. Primadaya Bitung PT. Sari Tuna Makmur 1999 AS. Ikan Kayu Fresh:Utuh. Anugerah Timur Makmur PT.Frozen : Fresh.0 66.Krea.0 75. Bintang Mandiri Bersaudara 2007 2006 1989 Jepang Lokal/Btg Jepang PT.Saku Fresh. Mina Samudra Kencana 2005 2006 2006 2005 Frozen Frozen: Utuh Fresh. Lokal Jepang 1994 2000 2004 Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen Frozen Jepang Jepang Lokal Export. Lokal 2002 Frozen Frozen Export.0 40. Manadomina Citrataruna PT. Japindo Tencep Raya PT. Jepang Belanda PT. Indo Hong Hai PT.Sby 42 . Lautan Bahari Sejahtera PT. Tridara Putra Mandiri PT.Sby 2007 27 2007 Frozen 18 5 27.0 0.0 20.0 90.Frozen.0 20.Jepang. Alam Baru Rekor PT. Perikanan Nusantara 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 21 PT. Frozen Frozen Frozen. Etmico Sarana Laut PT. Bitung Mina Utama PT. Celebes Minapratama PT.Lokal 30 Rata 2 10 Pemasaran % 33. frozen Ikan Kayu 9 20 25 20 20 20 100 20 10 20 10 30 5 6 15 18 50 3 4 4 2 20 5 50. Yuh Yow Indo PT.8 Lokal/Jkt.UE. Fresh:Loin 10 10 3 2 30.0 15 3 20. Sari Malalugis PT.Fro zen Fresh/Frozen Ikan Kayu Ikan Kayu.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 5 Fresh.0 Lokal/Jkt. Lokal PT.0 20. Citra Buana Sulut PT.0 30. Melody Asri 1992 2000 Jepang. Nutrindo Freshfood Int'l PT.0 15. Taiwn Eksport.Frozen :Loin.Krea.7 AS. 6 7 8 2004 2006 15 3 5 1 33.3 16. Sari Cakalang PT. Shing Sheng Fa Ocean 2001 Frozen 22 23 24 25 26 PT.

Mitra Sakana CV.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 28 29 30 PT. Sby Lokal/Jkt. Sinco Ocean Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen.Sby Lokal/Btg Lokal/ Jkt. Bahari Mitra Lestari UD. Berkat Baru UD. Nick's UD.0 Rata 2 Pemasaran % CV. Singa Raja UD. Sukses Abadi UD. wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Kina Sasi Biru UD. Nelayan CV.0 25. Ocean Tuna PT. International Alliance Food 2007 2007 Frozen Kaleng Lokal/ Jkt. Girian dan Madidir.0 40. Citra Anugrah Fishtama PT.Sby Lokal Lokal/Btg Lokal/Jkt.Sby Lokal/Jkt.0 20.7 35.0 33. Jasuma UD. Responden yang dilakukan wawancara sebanyak 35 orang. 2010 Karakteristik Usaha Perikanan Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Aertembaga. Lembeh.2 Lokal/Jkt. Fresh:Loin Frozen. Fresh:Loin Frozen 2006 2008 2005 2005 2006 Frozen Frozen Frozen Frozen Fresh Frozen Frozen Fresh 2006 Frozen 3 5 6 10 15 4 5 5 4 12 5 60 894 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 10 366 50. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung.0 20. Bitung Timur.0 16.0 40. Lautan Berkah CV.Sby Lokal/Jkt. maka 80% dari total responden merupakan angkatan kerja dengan umur 43 .3 25. Permata Laut Jaya 2007 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 CV.0 13. Esria UD.0 25. Berdasarkan data primer.Sby Lokal/Jkt.3 20. Sby JUMLAH Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Sby 5 2 40.

kapal dengan ukuran 5 GT sampai dengan kurang 10 GT sebanyak 34%. anggota DPRD. Pengelompokkan responden berdasarkan ukuran kapal yaitu kapal dengan ukuran kurang dari 5 GT sebanyak 2 responden. dimana nelayan sebagian besar hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar. responden telah menamatkan tingkat pendidikan samapi Sekolah Menegah Atas. Status responden dalam kegiatan penangkapan ikan 85% anak buah kapal. dan 20% lainnya berumur lebih dari 50 tahun. Sedangkan responden yang sudah sangat berpengalaman atau lebih dari 15 tahun hanya sebanyak 17% dari total jumlah responden.produktif yaitu antara 20 sampai 50 tahun. sehingga dapat dikatakan. Pemilik kapal penangkap ikan di Kota Bitung mempunyai latar belakang yang beragam. PNS dan wiraswasta murni. Berdasarkan jenjang pendidikan. Pengalaman responden dalam usaha perikanan sebanyak 46% berpengalaman kurang dari 5 tahun. responden yang i berpendidikan tamat SMA sebanyak 60% dan tamat SMP sebanyak 31% dan sisanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar. responden memiliki anak 1-2 orang. 37% telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan kurang dari 15 tahun. seperti Walikota. kapal dengan ukuran diatas 10 GT sampai kurang dari 30 GT sebanyak 31% dan kapal dengan ukuran lebih dari 44 . Hal ini disebabkan karena sebagian besar nelayan berumur kurang dari 50 tahun dan sebelum terjun ke usaha perikanan. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada umumnya hanya 1 orang yaitu responden itu sendiri sebanyak 83% dari total jumlah responden. Responden yang belum memiliki anak sebanyak 34% dan sisanya responden yang telah memiliki anak lebih dari 2 orang. sisanya terdiri dari pemilik dan nahkoda. sehingga sulit untuk dijadikan sebagai responden. Dilihat dari jumlah keluarga. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Kota Bitung sudah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. 51% responden memiliki anggota keluarga 3 sampai 4 orang.

setiap kapal purse seine juga memperoleh ikan kembung sejumlah 154 kg dan harga Rp 7.<100GT Jumlah 45 .<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT . Tabel 3. Melihat keberagaman usaha penangkapan ikan di Bitung.451. Sedangkan untuk jenis alat tangkap hand line harus dibedakan untuk hand line dengan skala kecil dan hand line dengan skala sedang.57 100. Selain ikan layang. responden dengan alat tangkap pole and line sebanyak 10 orang.30 GT sebanyak 29%.400 per kg.29 31.600 per trip. tahun 2010 Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT < 5 GT Jumlah Prosentase 2 12 11 10 35 5. maka alat tangkap dapat dikelompokkkan dalam alat tangkap purse seine. sehingga penerimaan nelayan dari penjualan ikan layang adalah Rp 4. tetapi sebagian responden juga menggunakan bahan bakar bensin dan minyak untuk kapal dengan motor tempel.000 per trip. Ikan dominan hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap purse seine adalah ikan layang dan sebagian ikan kembung. Sebagian besar kapal yang digunakan responden mempunyai bahan bakar solar atau bermesin diesel. Rata-rata jumlah ikan layang yang diperoleh oleh kapal purse seine adalah 560 kg per trip dengan harga rata-rata Rp 7. Karakteristik Penguasaan Kapal Penangkap Ikan. Total penerimaan responden dengan menggunakan alat tangkap purse seine adalah Rp 5.700 per kg.312.00 ≥5GT .43 28. pole and line dan hand line.20. Ditinjau dari jenis alat tangkap. responden dengan alat tangkap purse seine sebanyak 10 orang dan sisanya responden dengan menggunakan alat tangkap hand line untuk menangkap ikan tuna.71 34.

Setiap trip dibutuhkan minyak tanah sebanyak 150-250 liter dengan harga berkisar antara Rp 3. karena sudah banyak pembeli yang datang. Minyak tanah diperoleh oleh nelayan dari pengecer yang 46 .0004. juga langsung dibeli oleh pedagang besar dari perusahaan pengolahan tanpa melalui pedagang pengumpul.00 25 6 35 Sumber: data primer (2010) Pembeli ikan layang pada umumnya adalah pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke perusahaan pengolahan. oli dan es serta biaya untuk pengurusan izin berlayar dan biaya tambat.43 71.000 per liter. Biaya operasional kapal dengan alat tangkap purse seine ini terdiri dari biaya bahan bakar. Selain itu. pembeli tersebut sebagian besar sudah menjadi langganan pemilik kapal untuk menjual hasil tangkapannya.86 100. Ikan layang yang dibeli oleh pedagang pengumpul.14 100.00 11.57 42.57 28.43 17. tetapi jika ikan dibeli oleh pedagang besar. maka pembayaran dilakukan secara tunai.Karakteristik Jenis Alat Tangkap Pole and Line Purse seine Tuna Hand Line Jumlah Bahan Bakar yg digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah 4 Jumlah Prosentase 10 10 15 35 28. Ikan layang langsung dijual oleh nelayan di lokasi pendaratan. baru dibayarkan kepada nelayan setelah ikan tersebut dijual ke perusahaan pengolahan. Bahan bakar utama yang digunakan kapal dengan mesin tempel ini adalah minyak tanah dan dicampur dengan bensin. Pemilik kapal atau pengurus kapal sudah terlebih dahulu mengetahui harga ikan layang sebelum kapal datang.

750 262.600 Pole and Line (>30GT<100GT X X X 54.500 129.580. 2010 47 .760.000 X 2.969.840 19. Bensin dibutuhkan sebanyak 30 liter per trip dengan harga Rp 4.000 2.907.096. Harga minyak tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan pada suatu wilayah.160 31.000 400.000 14.451.000 3.750 17.750 17.160 Tuna hand line Tuna Hand Line 2 1 (>10GT(>5GT-<10GT) <30GT) X X X X X X X X 14.222.000 122.000 696.656 399.509.463 40.000 34.000 per liter.250 Bensin 474.850 operasional 3.500 250.000 67.748. tahun 2010 Jenis Alat Tangkap Uraian Purse seine (> 5GT<10GT) X 4.000 biaya tambat Total biaya 1.064.000 Es X Umpan X Ransum 20.869 8.945.600 X x 5.840 Penerimaan (Rp) Layang Kembung Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional X (Rp) X Solar 109.672.000 4.139. Penerimaan dan Pengeluaran Per Trip menurut Alat Tangkap di Bitung.000 2.881 X 4.000 1.096.600 Oli 525.140.000 X 1.000 X 1.692.840 50.000 x 54.760. karena tidak diperbolehkan membeli bensin dengan menggunakan jerigen.000 Minyak tanah 352.21.085.481.000 6.terdapat di kawasan PPS Bitung.000 X 22. Nelayan dapat membeli bensin dengan harga Rp 4.500 2.000 143.000 per liter.400 1.575.500-5.580.312. Untuk lebih amannya. Tabel 3.260 50.500 per liter di SPBU terdekat dengan mencuri-curi kesempatan dari petugas.000 8.000 Izin berlayar 1.709.750 Keuntungan Sumber: data primer.586.210.250.365.000 5.000 1. nelayan membeli bensin di pengecer dengan harga Rp 5.

tahun 2005-2010 Tahun 2005 2006 Kapal/perahu Alat tangkap Alat bantu tangkap Jenis Jumlah Jenis Jumlah Jenis Jumlah Pump boat 3 Rumpon 1 Small purse seine 3 Jaring 3 Pelang 3 Small purse seine Light boat Pelang Pajeko Light boat Perahu tuna Ketinting Pengangkut Pajeko Pancing tuna Pancing ulur Ketinting 5 5 20 2 2 4 8 1 1 6 1 1 Purse seine Pancing Alat tangkap 5 5 2 Rakit 11 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Tugas Pembantuan (TP).827. yaitu subsidi bahan bakar solar dan subsidi dalam bentuk sarana penangkapan seperti kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan.087.22. SPBB melayani 48 . Getra Mitra Usaha.Peran Subsidi Perikanan Subsidi perikanan yang disalurkan di Kota Bitung dapat dibedakan menjadi dua bentuk.214 2008 2009 Bagan 6 Rumpon 10 969. Tabel 3.943. Pertamina.662.484. Bentuk bantuan yang terakhir ini diberikan oleh pemerintah melalui berbagai program yang sifatnya sangat terbatas.500 2010 Rumpon Ponton 6 1 5. Bantuan kepada nelayan di Kota Bitung yang diberikan dalam bentuk kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan dengan sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Agen penyaluran BBM di PPS Bitung adalah SPDN Komegoro dan SPBB PT.500 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.540. Bentuk bantuan Perikanan di Kota Bitung. 2010 Sedangkan subsidi BBM diberikan secara reguler melalui agen penyaluran BBM yang ditunjuk oleh PT.000 Biaya (Rp) 2007 1.

124.23.00 241.99 1. Banyaknya solar yang disalurkan oleh SPBB dan depo pertamina untuk kapal perikanan di PPS Bitung pada tahun 2009 disajikan pada tabel 3.000 liter.27 723.00 307. Getra (SPBB) ( KL ) 847.24 993. Jumlah Solar yang disalurkan di PPS Bitung.59 691.663. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Pertamina ( KL ) 816.131.391.71 49 .56 824.00 883.99 883.000 liter atau 75. Maksimum pemberian rekomendasi BBM solar setiap bulannya adalah 25.24 1. Tetapi hal ini dikeluhkan oleh nelayan yang melakukan trip lebih panjang dari 3 bulan.71 Total 1. Hal ini dilakukan untuk menghambat adanya penggunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak.93 420.00 PT. Pengurusan rekomendasi untuk pengisian BBM di SPBB PPS Bitung dapat dilakukan setelah kapal tersebut mendapat Surat Laik Operasi dari pengawas perikanan dan Surat Izin Berlayar dari Syahbandar Perikanan.56 1.00 324. Kapal ikan yang mendapat rekomendasi dari PPS Bitung dapat memesan langsung solar di depot PERTAMINA. Asosiasi yang terdapat di Bitung yaitu Asosiasi kapal perikanan nasional dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).000 liter sekaligus tetapi kapal ikan dengan trip hanya 1 bulan tidak diberikan rekomendasi untuk pengisian Solar 75.pejualan BBM untuk seluruh jenis dan ukuran kapal dan SPDN yang melayani kapal kurang dari 30 GT.00 398.280.20 1.143.59 956.000 liter per 3 bulan berdasarkan lamanya waktu operasi penangkapan per trip. Besarnya jumlah solar dalam rekomendasi pengisian BBM ditentukan oleh syahbandar perikanan dengan terlebih dahulu melihat ketersediaan BBM di atas kapal.575.59 1. Setiap kapal ikan yang akan mengisi Solar di SPBB dan Pertamina terlebih dahulu meminta rekomendasi ke PPS Bitung dengan syarat telah menjadi anggota asosiasi. Kapal penangkap ikan dengan lamanya trip 3 bulan atau lebih dapat memesan solar sebanyak 75. Tabel 3.59 1.23.

52 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 3. Harga solar yang dibebankan kepada nelayan adalah Rp 4.76 770. karena pembayaran harus dilakukan di bank.24 PT.00 5.83 1.02 15.102. Kapal-kapal ikan kurang dari 30 GT lebih cenderung untuk melakukan pengisian solar di SPBB dibandingkan di SPDN.02 10.93 425.171. Hanya nelayan skala besar yang mau melakukan pembelian secara langsung ke depo Pertamina dengan jumlah BBM lebih dari 20 KL.83 837.25 1.00 334.500 per liter.00 391. Pada tahun 2009. rata-rata solar yang disalurkan oleh SPDN ini adalah 24 KL dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 32 KL.575 per liter. Getra (SPBB) ( KL ) 822. rata-rata solar yang disalurkan langsung oleh depo Pertamina ke kapal nelayan sebanyak 425 KL ber bulan.119.022.Bulan Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata Pertamina ( KL ) 200. Tidak semua nelayan mau membeli BBM secara langsung ke depo Pertamina karena administrasi yang lebih panjang dibandingkan membeli BBM di SPBB.500 per liter solar.019. Hal ini disebabkan 50 .281.30 1.275.30 904.23. Rata-rata solar yang disalurkan oleh SPBB pada tahun 2009 adalah 856 KL per bulan dengan harga Rp 4.47 1. Harga ini lebih mahal dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pertamina.378.76 1.28 Total 1. Pengisian BBM baru dapat dilakukan sehari setelah dilakukan pembayaran. penyaluran solar di PPS Bitung dilakukan oleh SPDN yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Komegoro. Harga yang harus dibayarkan oleh nelayan adalah Rp 4. Kelebihan harga tersebut digunakan untuk biaya transportasi pengangkutan solar dari depo pertamina menuju PPS Bitung.410. jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB lebih tinggi lagi yaitu 940 KL per bulan.32 856. Selain itu. SPDN hanya diperbolehkan untuk melayani kapal kurang dari 30 GT.47 1.00 439.343.00 349. Pada tahun 2010.

Hal ini disebabkan. penyaluran BBM paling besar adalah untuk kapal lebih dari 30 GT.20 315.70 199.30 GT ( KL ) 217.95 284. tahun 2009 Bulan < 10 GT ( KL ) 3. Rata-rata solar yang disalurkan di PPS Bitung sebanyak 1. Solar yang disalurkan SPBB berdasarkan ukuran kapal di PPS Bitung.23 238.82 597. banyaknya solar yang disalurkan di PPS Bitung dapat dilihat pada Tabel 3.10 321.20 >30 GT ( KL ) 720.00 292.00 593.65 16.019. Sedangkan untuk kapal dibawah 10 GT hanya disalurkan sebanyak 1.90 JUMLAH ( KL ) 942.05 712.24.67 897.500 KL per bulan.4%.55 8.67 11. Penyaluran Solar oleh SPBB untuk kapal diatas 30 GT sekitar 70% dari total solar yang disalurkan. system pelayanan yang diberikan dan diduga adanya perbedaan takaran liter.47 13.69 1. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung jumlah kapal lebih dari 30 GT di Kota Bitung sebanyak 35% dari total seluruh kapal ikan di Kota Bitung.24.42 1.50 649.95 229.oleh beberapa hal antara lain tidak kontinyunya stok BBM yang dimiliki oleh SPDN.94 15.13 894. oleh lebih banyaknya konsumsi BBM oleh kapal berukuran besar dan juga banyaknya jumlah kapal lebih dari 30 GT.85 12.99 792.70 182.55 666.30 665.21 14. melainkan campuran bensin dan minyak tanah.92 725. Berdasarkan ukuran kapal.50 500.15 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 51 .022. Ditinjau dari ukuran kapal.65 684. Tabel 3.99 918.68 15. hal ini disebabkan karena kapal kurang dari 10 GT sebagian besar tidak menggunakan bahan bakar solar.40 UKURAN KAPAL 10 .

Bulan

< 10 GT ( KL )

UKURAN KAPAL 10 - 30 GT ( KL )

>30 GT ( KL )

JUMLAH ( KL ) 997.50 1,101.54 895.84 832.10 11,027.06 918.92

Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata

20.93 11.19 8.40 152.93 12.74

372.71 304.45 297.20 3,255.39 271.28

707.90 580.20 526.50 7,618.74 634.90

Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2010 Ditinjau dari jenis alat tangkap, kapal penangkap dengan alat tangkap pole and line merupakan kapal yang menggunakan solar terbesar di PPS Bitung. Sebanyak 23% penyaluran solar dari SPBB di PPS Bitung yaitu untuk kapal pole and line. Selain kapal penangkap ikan, kapal pengangkut ikan yang berlabuh di PPS Bitung juga mendapatkan solar subsidi yang disalurkan oleh SPBB Getra di PPS Bitung. Sebanyak 50% jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB tersebut adalah untuk kapal pengangkut ikan. Sedangkan sisanya disalurkan kepada kapal penangkap dengan jenis alat tangkap rawai tuna, purse seine dan hand line. Bahan bakar minyak merupakan salah satu biaya terbesar yang ditanggung oleh nelayan dalam melakukan usaha penangkapan. Bahan bakar yang diperlukan oleh kapal motor adalah solar sedangkan bahan bakar untuk kapal dengan mesin tempel menggunakan campuran bensin dan minyak. Nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan mesin tempel melakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi pendaratan. Tersedianya stasiun pengisian untuk bahan bakar solar tidak memberikan efek yang signifikan bagi nelayan kelompok ini. Kapal motor dengan GT lebih besar akan memerlukan solar lebih banyak. Pada lokasi penelitian Bitung, kapal dengan menggunakan alat tangkap pole and line mengkonsumsi solar paling banyak yaitu 4,9 KL per trip. Biaya untuk pembelian solar bagi kapal pole and line adalah 65% dari total

52

biaya operasional, sedangkan bagi kapal ikan dengan alat tangkap lainnya hanya sekitar 30% dari total biaya operasional. Tabel 3.25. Perbandingan Biaya Operasional Beberapa Jenis Alat Tangkap dengan dan tanpa Subsidi di Bitung, tahun 2010
Jenis Alat Tangkap Tuna Hand Line Pole and Line 1
≥30GT - <100GT ≥5GT -<10GT

Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: - musim ikan - musim biasa - musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): - Solar (liter) - Bensin (liter) - Minyak tanah (liter) Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM (Rp) Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi solar (Rp) Penerimaan Kotor (Rp) Prosentase BBM subsidi terhadap biaya operasional Prosentase BBM tanpa subsidi terhadap biaya operasional Sumber : Data Primer, 2010

Purse seine
≥5GT -<10GT

Tuna hand line 2
≥10GT -<30GT

1 1 1 340 30 160 2,279,430 2,789,850 5,451,600 34.99 46.88

3 5 7 4960 15 200 34,907,840 49,415,840 54,580,000 65.01 75.28

8 10 13 338 91 40 4,497,369 5,366,088 14,096,750 30.09 41.41

10 11 14 370 35 40 5,367,910 6,450,160 17,760,000 31.53 43.02

Subsidi solar yaitu dengan harga Rp 4.500 per liter memberikan pengaruh cukup besar terhadap total biaya operasional. Tanpa adanya subsidi solar

(dengan asumsi harga solar Rp 7.500 per liter) menyebabkan peningkatan total biaya operasional bagi seluruh kapal penangkap ikan dengan kapal motor. Pada tingkat harga solar Rp 7.500 per liter meningkatkan prosentasi biaya solar terhadap total biaya operasional berkisar 10-12% pada nelayan di Kota Bitung. Sedangkan total biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 19-41% dibandingkan dengan harga solar bersubsidi. Peningkatan biaya operasional tertinggi yaitu terjadi pada kapal dengan alat tangkap pole and line yaitu sebesar 41% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Biaya operasional kapal dengan alat

53

tangkap tuna hand line mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Dari Tabel 3.25, terlihat bahwa kapal dengan konsumsi solar lebih

banyak akan merasakan dampak yang lebih besar terhadap perubahan harga solar. Adanya peningkatan biaya operasional dengan solar tanpa subsidi

menyebabkan semakin rendahnya keuntungan yang diterima oleh nelayan. Penurunan keuntungan kapal dengan alat tangkap pole and line dengan solar tanpa subsidi adalah 73% dibandingkan dengan menggunakan solar bersubsidi. Kapal dengan alat tangkap tuna hand line mengalami penurunan keuntungan akibat tidak adanya subsidi solar sebesar 9% dibandingkan keuntungan dengan solar bersubsidi. Perlu dicatat bahwa berdasarkan Tabel 3.25, jika solar untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut menggunakan harga pasar bebas, maka usaha penangkapan ikan di Bitung masih dapat beroperasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena potensi ikan pada perairan Sulawesi Utara masih cukup potensial.

3.3. Kecamatan Palabuhanratu Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perairan Pelabuhanratu terletak pada posisi geografis 6o57’- 7o07’ LS dan 106o22’-106o23’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.200 km2 atau 9,18 persen dari luas Provinsi Jawa Barat (dengan Banten) atau 3,01 persen dari luas Pulau Jawa. Secara administratif, wilayah Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan:
 

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

54

di antara Musim Timur dan Musim Barat terjadi periode peralihan (Wyrtki. Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk. Pada periode Musim Timur (MeiAgustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat November-Februari). pada bulan September-Oktober Karakteristik Perikanan Teluk Palabuhanratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat.  Sebelah Barat.6. 1961) yang disebut Musim Peralihan Timur (Maret-April) dan Musim peralihan Barat (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu.5 cm/dtk pada bulan September sampai Desember yang bergerak ke arah barat. 2008). Wyrtki (1961) mengemukakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu sesuai dengan sifat laut dan tercatat kecepatannya sebesar 1-7. berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sumber: www.google. berbatasan dengan Provinsi Banten Sebelah Timur. di Samudra 55 .id Gambar 3. Peta Kecamatan Palabuhanratu Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar. Selanjutnya dikatakan bahwa perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29o-30oC dan pada musim timur 26o-27oC.co.

Jenis armada penangkapan ikan yang menggunakan base fishing port-nya Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu adalah jenis Kapal Motor dengan ukuran kapal < 10 GT s/d > 30 GT dengan berbagai macam alat tangkap.17 Motor Tempel 275 323 317 253 266 428 511 531 416 < 10 GT 147 141 106 106 111 143 153 137 102 Kapal Motor 11 . 2008 Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu pada Tahun 2009 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Payang. Potensi wilayah pesisir Palabuhanratu mencakup potensi sumber daya hayati.65 7.34 persen. dan jasa-jasa lingkungan.55 18. Potensi sumber daya hayati meliputi ekosistem pesisir.05 6. Bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi tidak berdampak terhadap jumlah frekuensi keluar 56 .76 -24. Selain itu.11 27. Realisasi operasional jumlah kapal/perahu Motor Tempel dan Kapal Motor lainnya yang beroperasional disajikan pada Tabel 1.71 39.26. non-hayati. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada yang beroperasional didominasi oleh jenis kapal/perahu Motor Tempel sebanyak 230 unit kapal jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. perikanan.76 -15. dan biota laut lainnya.Hindia. Palabuhanratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat. Tuna Longline. Purse seine.20 GT 11 7 3 3 4 9 4 10 7 21 . 2008). dan Pancing rawai lainnya. Jumlah Perahu Motor Tempel dan Kapal Motor Tahun 2000 – 2008 Jenis Kapal/Perahu (Unit) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah (Unit) > 30 GT 11 12 13 11 139 68 77 103 69 456 490 452 381 530 676 798 852 646 Fluktuasi (%) -0. Jaring Rampus. (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km. Bagan.46 -7. seperti Gill net.30 GT 12 7 13 8 10 28 53 71 52 Sumber Data Statistik PPNP. Pancing ulur. Tabel 3. yaitu sebesar 17.

602 Fluktuasi Kapal Motor Motor Tempel (%) (%) 42. Secara umum.694 kali dengan rata-rata 394 kali per bulan.836 29.27 Sumber Data Statistik PPN Palabuhanratu.497 Jumlah Total (Kali) 21. yaitu sebesar 5. sebaliknya terjadi penurunan pada frekuensi keluar kapal sebesar 29.61 -11.595 16.248 1.14 -21. Tabel 3. Frekuensi kunjungan kapal motor dan motor tempel (Tabel 3.505 19.12 persen.857 5.101 12.12 5.22 24.13 70.27 persen.005 3.031 15.522 40.masuk kapal.694 3. Kebutuhan logistik kapal ada yang mengalami penurunan ada pula yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan logistik kapal tahun sebelumnya.891 2.057.588 28.38 52. Total frekuensi kunjungan kapal Motor Tempel sebesar 27.884 34.802 16. 2008 Kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan penangkapan ikan terlebih dahulu harus melengkapi kebutuhan logistiknya berupa es balok. air bersih.31 72.83 45.68 -27.05 persen.695 kali per bulan. Total frekuensi kunjungan kapal pada tahun 2008 sebesar 32.90 -67.64 -7.738 11.27.303 kali per bulan.776 15.48 22.638 5. solar di samping kebutuhan logistik lainnya serta konsumsi.42 -46.675 2. sedangkan jenis kapal motor naik sebesar 22. Frekuensi Kunjungan Kapal Motor dan Motor Tempel Tahun 2000 – 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Kapal Motor (Kali) 6.16 75.10 -5.08 79.919 27. Adapun kebutuhan perahu/kapal perikanan terhadap ketiga jenis logistik tersebut diuraikan dalam Tabel 3.26 persen dan frekuensi masuk kapal sebesar 34.847 22. jenis perahu/kapal motor tempel yang menggunakan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sebagai tempat labuhnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.57 -15.335 21.641 18. sedangkan frekuensi kunjungan Kapal Motor sebesar 4.510 23.771 1.18 -9.27) pada tahun 2000-2008 selalu mengalami fluktuasi yang bergantung pola musim ikan dan perubahan cuaca yang tidak menentu.279 4.104 Motor Tempel (Kali) 14.198 32.28.65 75.641 kali dengan jumlah rata-rata 2. Kebutuhan logistik BBM yang terdiri 57 .738 24.335 kali dengan rata-rata kapal yang masuk ke kolam Pelabuhan sebesar 2.

034 -17.64 BBM / Solar (Ltr) Jumlah 1.07 -16.704 219.000 6.07 -72.40 No Tahun Air (Ltr) Fluktuas Jumlah i (%) 2.380.811.110 4.32 115.50 persen (Buku Stastistik Perikanan.213.511.53 198.470 112.528.785 6.863 164.300 4.090 2.51 persen.00 -60.787.28. kebutuhan logistik es mengalami kenaikan sebesar 1.259 Fluktuasi (%) 18.29 -46.443.60 2.034..29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Sumber Data Statistik PPNP 2008 Ket : @ BALOK ES = + 50 Kg a.450 196.35 -84.000 380.92 30.917.000 1. yaitu pengisiannya menggunakan jaringan pipa yang 58 .479.45 289.155 1.24 6.92 -20.44 27. 2009).371 2.591.821.61 -3.490 277.55 persen.316.778 147.632 11.912 5.61 75.56 persen.897.000 4. Air yang disalurkan berasal dari air PDAM yang dialirkan ke kapal perikanan melaluai jaringan pipa dan slang plastik dengan ukuran penjualan dalam bentuk “Blong” (drum plastik) yang berkapasitas 250 liter dan 120 liter atau dalam bentuk jerigen plastik (30 liter) untuk kapal-kapal yang ada di kolam 1 (satu).dari solar untuk kapal motor dan bensin untuk perahu motor tempel mengalami peningkatan sebesar 18. dan kebutuhan logistik minyak tanah juga mengalami penurunan sebesar 70.675.216 1.870 10.68 63.27 -84. kebutuhan logistik air mengalami penurunan sebesar 20.39 -21.65 0. Air Bersih Penyaluran kebutuhan air bersih untuk kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dipenuhi oleh sebuah perusahaan swasta.45 7.595 285.868 117. Berbeda dengan kapal-kapal yang ada di kolam 2 (dua). Tabel 3. Penyaluran Kebutuhan Logistik Kapal di PPN Palabuhanratu Tahun 2000 -2008 Kebutuhan Logistik Es (Balok) Fluktuas Jumlah i (%) 74.49 286.71 19.700 1.045.900 1.1.200 1.74 12.78 1 5.600 4.17 18.37 -45.161 158.660.041.749.24 4.917.22 .

instalasi baru khusus untuk nelayan dan pihak investor guna meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih kepada masyarakat perikanan telah terpasang. Kebutuhan Es Balok di PPN Palabuhanratu tahun 1993—2008 Jumlah pemakaian es balok sampai sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi bergantung jauh dekatnya wilayah penangkapan.langsung sampai ke dalam kapal dengan ukuran penjualan dalam bentuk kubikasi. Jumlah pemakain es balok oleh kapal/perahu perikanan di PPN Palabuhanratu untuk operasional penangkapan ikan disajikan pada grafik berikut. kesadaran nelayan akan pentingnya mempertahankan mutu ikan semakin tinggi sehingga secara umum penggunaan es di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu cenderung turun sebesar 16. Sumber: Laporan Tahunan.7. Di samping itu. Di samping itu. Es Balok Kebutuhan logistik untuk es balok di PPN Palabuhanratu selama ini masih disuplai oleh dua perusahaan swasta. yaitu pabrik es Sari Petejo dan Tirta Jaya. Total penggunaan es balok oleh nelayan untuk operasional penangkapan ikan pada tahun 2007 adalah 59 . b. Kemampuan dalam mensuplai air bersih di PPN Palabuhanratu masih cukup besar dengan tersedianya mobil tangki untuk mengangkut air bersih yang berkapasitas 400 m³. 2009 Gambar 3.61 persen.

161 kg (@ balok = 50 Kg) atau rata-rata per bulan sebanyak 13. Sumber: Laporan Tahunan. jumlah total pemakaian solar pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 118. Pemakaian solar kapal perikanan pada tahun 2008 sebanyak 5. Sementara itu. Volume logistik BBM tertinggi terjadi pada tahun 2004 karena aktivitas kunjungan kapal longline (KM > 30 GT) yang meningkat tajam. Perkembangan Kebutuhan BBM di PPN Palabuhanratu tahun 1993--2008 Kebutuhan BBM di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu berfluktuasi.sebesar 164.811.04 persen per tahun. Volume logistik BBM terendah terjadi pada tahun 2001.65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.281 liter dimana pemakaian solar 60 .8.045.000 liter karena aktvitas kapal masih didominasi kapal motor tempel. yaitu hanya sebanyak 1. BBM (Solar) Jumlah pemakaian solar kapal perikanan di PPN Palabuhanratu semenjak dioperasionalkan mulai tahun 1993 sampai sekarang selalu mengalami fluktuasi seiring dengan kunjungan jumlah kapal pendatang yang tambat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dan jauh dekatnya daerah penangkapan ikan serta jumlah kapal perikanan dengan kecenderungan kenaikannya sebesar 5. c.371 liter dengan rata-rata pemakaian per bulan 484. 2009 Gambar 3.680 kg. tergantung dari jumlah kunjungan kapal.

512.468 per kg.183.016 kg dengan nilai produksi sebesar Rp3.308.584 20.050 476.015.979 30. cakalang.917 251.193 320.468 8.610 107. dan peperek.312 Sumber: Buku Statistik PPN Palabuhanratu.697. Penyaluran BBM solar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu disediakan oleh SPBB dan SPBN yang dikelola oleh pihak swasta dan melalui SPDN yang dikelola oleh pihak KUD Mina.704.997 15. Sebagian besar ikan di 61 .495.155 542.338.308.675 12.29. yaitu masing-masing sebesar Rp24.956 17.183 21.676 15.011 8.888.000 102.241.500 1.115.800 1.317. layang deles.000 30.472 11.774 Harga (Rp/kg) 7. tuna yellow fin.108 13.285 66.960 1.593.6 Nilai (Rp) 112. layaran.848.813.230.007 6. tingkat harga jual ikan tuna mata besar dan yellow fin tercatat paling tinggi. Hasil tangkapan yang tidak kalah banyaknya adalah ikan layur. Kegiatan penangkapan ikan 50-70 persennya merupakan biaya operasional yang sebagian besar untuk keperluan pembelian BBM solar.648.697.908 87. Sementara itu.050 739. Volume Produksi. Berdasarkan data produksi.372 11. dan tongkol lisong.774.513 1.578.687 1.272.093.183 dan Rp21.764. 2009 Ikan-ikan yang telah didaratkan di PPN Palabuhanratu kemudian didistribusikan ke pasar di berbagai wilayah.049 103. Hasil tangkapan nelayan di Palabuhanratu didominasi oleh ikan tuna mata besar. dan Harga per Jenis Ikan Tahun 2009 No.789.500 2.000 133.179 29. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Ikan Tongkol Komo Cakalang Tongkol Lisong Tongkol Abu-abu Tembang Tuna Albakor Tuna Mata Besar Tuna Yellow Fin Cucut Setuhuk Loreng Pedang-pedang Layur Layang Deles Layaran Peperek Rata-rata Volume (Kg) 15. rata-rata volume produksi pada tahun 2009 adalah 251.216 4.300 175. Tabel 3.000 1.500 398.500 11.411 9.733 301.ini banyaknya dilakukan oleh kapal-kapal pendatang (Kapal Tuna Long Line) yang mengisi logistik bahan bakarnya antara lain solar di PPN Palabuhanratu dan semakin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground).827 24.067.601.000 1.595. Nilai Produksi.000 1.796.500 3.998.230 115.461 4.477.

yaitu sebanyak 40 persen.5 persennya adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). nelayan yang menjadi responden masih tergolong muda karena pengalaman usaha mereka sebagian besar ≤ 5 tahun. yaitu Kecamatan Palabuhanratu. Berdasarkan tingkat pendidikannya. Pemasaran ke Jakarta sebenarnya juga dijual kembali ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan besar yang menampung ikan-ikan dari Palabuhanratu sehingga kegiatan ekspor tercatat berasal dari Jakarta. Pasar regional yang menjadi tujuan utama dari pemasaran ikan Palabuhanratu adalah Jakarta sebesar 57. 35 persennya memiliki pengalaman usaha 6—15 tahun dan hanya 25 persen 62 . dan > 15 tahun. 6—15 tahun. asal responden sebagian besar atau 65 persen adalah nelayan dari Kecamatan Palabuhanratu dan sebagian kecil lagi tersebar di tujuh kecamatan lainnya. sedangkan pasar lokal hanya mampu menyerap 8. Kemudian. Cilacap. Simpenan.22 persen dari total volume produksi. Pengalaman usaha nelayan tersebar merata dari rentang waktu ≤ 5 tahun.Palabuhanratu dipasarkan di pasar lokal dan regional.42 persen saja dari total volume produksi. Sebagian kecil responden adalah tidak tamat SD dan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sekolah tinggi. responden sebagian besar adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 50 persen dan 37. Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk nelayan yang berpendidikan karena sebagian besar responden pernah dan telah mengenyam pendidikan formal. Berdasarkan data yang diperoleh. Taman.64 persen. Pasar regional lainnya yang juga mampu menyerap produksi ikan Palabuhanratu adalah Cianjur sebesar 8.45 persen dari total volume produksi pada tahun 2009. distribusi ke luar negeri atau ekspor yang langsung dilakukan dari Palabuhanratu hanya menyerap 2. Sesuai dengan data yang diperoleh. Bayah. dan Suli. Karakteristik Usaha Responden Jumlah responden yang diwawancarai sebagai sumber data primer adalah sebanyak 40 orang yang tersebar di delapan kecamatan. Pasir Bayu. Cisolok. Sementara itu.

5 persen dari total responden yang melibatkan 2 orang anggota keluarga yang bekerja.5 persen dari total responden. Sebagian besar responden termasuk ke dalam kategori keluarga besar yang memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang dan ≥ 5 orang. responden yang bekerja sebagai nahkoda hanya sebanyak 11 orang atau 27. Berdasarkan statusnya. Sebanyak 40 persen responden mengoperasikan sendiri armada penangkapannya dan sebanyak 32. Sementara itu.berpengalaman lebih dari 15 tahun. Berdasarkan kepemilikan kapal (GT). Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan menjadi mata pencaharian yang sangat diandalkan responden karena sejak usia muda mereka telah memilih nelayan sebagai profesi utama. Berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja.< 30GT dengan wilayah penangkapan yang tidak jauh. jenis alat tangkap. tampak bahwa kepala keluarga menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. keterlibatan anggota keluarga yang lain tidak terlalu signifikan dalam memikul beban ekonomi keluarga. Sementara itu. Berdasarkan data yang diperoleh. 45 persen 63 . yaitu ≥ 10GT . Karakteristik responden juga dapat dilhat dari aspek teknis usaha penangkapannya berdasarkan kepemilikan kapal menurut GT.5 persen bertindak sebagai ABK. 77.5 persen anggota keluarga yang terlibat dalam usaha penangkapan hanya 1 orang yang berarti hanya kepala keluarga yang bekerja. dan bahan bakar yang digunakan. sebagian kecilnya (15%) memiliki anggota keluarga ≤ 2 orang. sebagian besar responden adalah pemilik kapal dan ABK. ada pula keterlibatan istri dalam usaha penangkapan sebanyak 12. Sebagian besar atau 55 persen responden memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga sedang yang terdiri dari orang tua dan dua orang anak dan 35 persennya memiliki anggota keluarga berjumlah ≥ 5 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga besar. Sebagian kecilnya lagi atau 10 persen responden yang melibatkan ≥ 3 orang anggota keluarga. Kondisi ini disebabkan oleh karena armada penangkapan yang digunakan berukuran kecil. Namun demikian. Sementara itu.

5 persen responden menggunakan alat bantu bagan tancap dalam kegiatan penangkapannya.5 persen dari jumlah responden. Sementara itu.5 persen untuk kapal ukuran ≥10 .< 10 GT dan 32. Namun demikian. responden yang menggunakan kapal dengan ukuran sedang dan besar hanya sebagian kecil saja. Armada penangkapan yang digunakan sebagian besar adalah kapal motor dengan mesin berada di dalam kapal (inboard boat).<100 GT. Jenis alat tangkap lainnya adalah longline sebanyak 15 persen dan gillnet sebesar 12.5 persen dan bensin sebanyak 30 persen. Alat bantu tangkap lainnya yang juga banyak digunakan adalah bagan yang ditancapkan di lokasi yang masih banyak memiliki sumber daya ikan. tetapi ada pula nelayan yang menggunakan kapal dengan motor tempel. yaitu sebesar 32. kondisi ini juga menyebabkan beberapa jenis alat tangkap tidak dapat lagi digunakan. bagan. Dari keempat jenis alat tangkap tersebut. minyak tanah hanya menyumbang 2.responden memiliki kapal dengan ukuran ≥ 5 . Sementara itu. Jenis alat tangkap dan alat bantu lainnya yang digunakan responden adalah pancing tonda. 64 .<30 GT dan 10 persen untuk kapal ukuran ≥30 . yaitu sebanyak 16 orang atau sebesar 40 persen. nelayan akan mengambil ikan dengan menggunakan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal. Bahkan. yaitu 12.5 persen atau hanya satu armada penangkapan yang menggunakannya karena minyak tanah hanya digunakan untuk menghidupkan mesin dan sebagai bahan bakar lampu petromaks. responden yang menggunakan kapal < 5 GT tidak ada karena wilayah penangkapan di lokasi penelitian bertambah jauh karena ketersediaan ikan semakin menurun. Bagan hanya berperan sebagai alat bantu penangkapan karena setelah ikan berkumpul di bagan.5 persen. gillnet. pancing tonda paling banyak digunakan oleh responden. Hal ini terlihat dari jenis bahan bakar (BBM) yang digunakan yang sebagian besar menggunakan solar sebanyak 67. dan longline.

477.200 per kg. Hasil tangkapan bagan adalah ikan teri dan cumi-cumi yang masingmasing sebesar Rp272.450. analisa usaha kegiatan Dari alat penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 3. 65 .5 15 40 100 30 67.984. Tabel tersebut keuntungan yang diperoleh nelayan per trip menurut tangkap dan ukuran armada penangkapan dari empat jenis alat tangkap.889 dengan besarnya biaya operasional adalah Rp1.777 dan Rp288. biaya solar. yaitu Rp3.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .5 100 ≥5GT .Tabel 3. 2010 Dari kegiatan penangkapan tersebut.5 2.30.<100GT ≥100GT Bagan Jumlah Jenis Alat Tangkap Bagan Gill net Longline Pancing Tonda Jumlah Bahan Bakar yang Digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah Sumber: Data primer diolah. Sementara itu. Kerugian ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang diperoleh didominasi oleh cumi-cumi dibandingkan ikan teri.5 12. hanya alat bantu penangkapan bagan yang rata-rata menunjukkan kerugian sebesar Rp 915. umpan.5 100 32. dan biaya di darat tidak menjadi komponen dari biaya operasional. Penguasaan Aset Usaha Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Karakteristik Kepemilikan Kapal (GT) < 5 GT Jumlah (n) 0 18 5 4 13 40 13 5 6 16 40 12 27 1 40 Prosentase (%) 0 45 12.5 10 32. padahal harga cumi-cumi rata-rata sangat rendah. 31.

600 525.000.188 688.051.813 25.000 55.000 16.000 5.667 207.500 866.432.000 352.250 474.466.000 16.256 667.000.787.000 120.500.916.000 atau sebesar 39 persen. nahkoda Rp1.000 0 0 240.750.063 207.000.000 118. analisis membedakan antara longline ukuran ≥10 GT-<30 GT dan longline ukuran ≥30 GT-<100 GT karena hasil tangkapan dan biaya operasional jauh berbeda sehingga mudah mendapatkan 66 .500 741.500.000 0 16.708.000 16.227 12.825.500.500.000 0 461.667 0 2.875 Gillnet (≥5GT <10GT) Jenis Alat Tangkap Longline 1 (≥10GT -<30GT) Longline 2 (≥30GT 100GT) Pancing Tonda (≥5GT -<10GT) 0 109.500.000 2.269.334 62.466 10.324.000. Uraian Penerimaan Teri Cumi-cumi Tongkol Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Umpan Ransum Biaya di darat Total biaya operasional Keuntungan Bagan 272.533.000 0 50.000 0 0 7.648 Sumber: Data primer diolah. Sementara itu.000 118.269.477. Khusus untuk alat tangkap longline.000 45.483.000. 2010 Hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap gillnet adalah ikan tongkol dan cakalang dengan total penerimaan sebesar Rp10.500 6.702 6.250.889 5.666 1.324.702.Tabel 3.325.000. Analisa Usaha penangkapan Ikan Beberapa Alat Tangkap di Palabuhanratu 2010. Besarnya penerimaan dan biaya operasional tersebut menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp7.000 438.600 1.357. yaitu 50 : 20 : 30 maka bagian pemilik kapal rata-rata sebesar Rp375.791.500 0 9.31.397.500 42. biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp3.500.798 3.875 16. yaitu Rp1.602.000.000 124.298 dengan biaya solar mengambil bagian yang paling besar. Sesuai dengan sistem bagi hasil yang berlaku.450 (915.000 561.577 288.000 875.298 7.667 2. dan bagian ABK adalah sebesar Rp2.990 4.483.825.984) 1.750 106.

Untuk longline ukuran ≥30 GT-<100 GT.000. 15% untuk nahkoda.500.000. Kegiatan penangkapan pada trip terakhir untuk kapal dengan alat tangkap pancing tonda membukukan keuntungan bersih sebesar Rp12. Sistem bagi hasil yang digunakan adalah 50% untuk pemilik.483.000.000. yaitu masingmasing sebesar Rp16.500 sehingga keuntungan bersihnya sebesar Rp6.000. 10% untuk nahkoda. Sementara itu.432. SPDN khusus melayani kebutuhan solar dari kapal-kapal ukuran < 30 GT.227 pada trip terakhir.000.602.000.051.791. dan ABK sebesar Rp25. sedangkan SPBB melayani kapal-kapal besar ukuran ≥ 30 GT.000.334 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp62. dan 35% untuk ABK sehingga hasil yang diperoleh oleh masing-masing rata-rata adalah sebesar Rp6.000.300. nahkoda Rp660. Dengan demikian.000 dan Rp55. sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp4.000. yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi.000 dan Rp9. bagian pemilik ratarata adalah Rp3. nahkoda sebesar Rp2.648.000.875.708. dan 40% untuk ABK. jumlah penerimaan dan biaya operasional untuk kapal longline ukuran ≥10 GT-<30 GT sangat jauh berbeda. sistem bagi hasil yang digunakan juga sama sehingga bagian pemilik rata-rata sebesar Rp31. Hasil tangkapan utama yang dibawa oleh pancing tonda adalah ikan tuna dengan nilai rata-rata Rp16.300.000.nilai rata-ratanya. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 50% untuk pemilik. Bentuk subsidi yang dikelola oleh PPN berupa subsidi BBM berupa solar melalui SPDN dan SPBB yang tersedia di pelabuhan. 67 .397. dan ABK sebesar Rp4.641.000. nahkoda sebesar Rp6. Subsidi Perikanan di Palabuhanratu Subsidi perikanan di Palabuhanratu disalurkan oleh dua pihak.666.500.000. dan ABK sebesar Rp2.000. Kondisi ini ditunjukkan oleh besarnya penerimaan dan biaya operasional longline ukuran ≥30 GT-<100 GT masing-masing sebesar Rp118.

a Rumpon Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi diolah. Menurunnya hasil tangkapan ini mendorong nelayan untuk menempuh perjalanan yang panjang karena wilayah penangkapan (fishing ground) semakin jauh. disadari bahwa purse seine justru membahayakan kelestarian sumber daya ikan karena kemampuannya mengeruk semua jenis ikan dari yang ikan terkecil hingga 68 . armada penangkapan yang dimiliki sebagian besar nelayan Palabuhanratu tidak menunjang untuk sampai ke wilayah penangkapan yang jauh. seperti paket penangkapan berupa armada penangkapan dan alat tangkapnya. mesin. Akibatnya. pemerintah bisa saja memberi bantuan untuk mengganti kapal yang ada dengan kapal jenis purse seine. Data statistik pelabuhan menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir jumlah tangkapan ikan nelayan mengalami penurunan.b Bantuan kapal. Jenis Subsidi Langsung: 1. 1.a BBM/Solar Dasar Kebijakan Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak secara nasional. Namun demikian.c Bantuan modal untuk mengkonversi perahu 2. Bentuk-bentuk subsidi perikanan tangkap laut tahun 2009 No. Tidak mampunya kapal payang dan gillnet beroperasi di perairan Palabuhanratu karena fishing ground yang semakin jauh Kebijakan pemasangan rumpon di sekitar perairan Palabuhanratu Menurunnya sumber daya ikan sehingga fishing ground semakin jauh 1.Tabel 3. seperti rumpon yang diberikan kepada kelompok nelayan yang lulus seleksi setelah mengajukan proposal bantuan. Jenis kapal ini memang dapat memberikan hasil tangkapan yang banyak bagi nelayan. nelayan banyak yang tidak dapat melaut untuk menangkap ikan.32. Tidak Langsung: 2. Untuk mengatasi permasalahan ini. Selain itu. dan alat tangkap (paket) 1. Dinas Kelautan dan Perikanan juga memberikan bantuan modal untuk mengkonversi armada penangkapan nelayan dengan alat tangkap payang menjadi kapal rumpon. 2010 Sementara itu. subsidi atau bantuan yang disalurkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan lebih bersifat paket. Ada pula bantuan berupa alat bantu penangkapan. Namun.

Sebuah rumpon diperuntukkan bagi 1 kelompok nelayan yang terdiri atas 5 kapal nelayan. 69 . Hal ini dilakukan karena tali rafia lebih praktis karena tidak perlu diganti dalam jangka waktu yang cukup lama. Dengan bantuan rumpon. Rumpon adalah alat bantu yang dipasang untuk menangkap ikan. Rumpon di perairan Palabuhanratu biasanya berupa rumpon permukaan yang menggunakan pelepah pohon kelapa sebagai sumber makanan ikan agar ikanikan tetap berkumpul di sekitar rumpon. Saat ini. jumlah rumpon yang berasal dari bantuan pemerintah berjumlah 40 unit dengan jarak per rumpon sejauh 8 mil. Harga rumpon per unit rata-rata sebesar Rp60 juta.9. Gambar 3. ikan-ikan akan berkumpul di sekitarnya sehingga mempermudah nelayan dalam menentukan lokasi penanngkapan dan membantu nelayan mendapatkan ikan dengan mudah. saat ini sebagian besar pelepah pohon kelapa diganti dengan tali plastik rafia. namun ada juga rumpon yang seharga Rp150 juta. Bentuk rumpon dan cara kerjanya yang ada di perairan Palabuhanratu Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menggunakan rumpon sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan usaha nelayan dan kelestarian sumber daya tersebut.ikan ukuran besar. Teorinya keberadaan tiap-tiap rumpon dirahasiakan agar kelompok nelayan lain tidak bisa sembarangan menangkap di semua rumpon yang ada. dipasanglah beberapa cincin di sepanjang tali rafia tersebut. Namun demikian. Agar tali tidak kusut dan terpelintir. Purse seine juga akan merusak terumbu karang dan kekayaan laut lainnya sehingga justru mengancam kelestarian sumber daya di masa depan.

sedangkan ada kelompok lain yang tidak mendapat hasil tangkapan sama sekali. Pelabuhan Perikanan selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap hanya menyediakan lahan. SPDN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak KUD 70 .Namun. prakteknya hal itu sangat sulit dilakukan karena faktor iba karena sekelompok nelayan bisa membawa hasil tangkapan yang banyak. pemerintah daerah berusaha menyediakan daerah penangkapan baru yang lebih terjangkau melalui rumpon-rumpon yang disebar di sepanjang perairan Palabuhanratu. Pelayanan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara pebauhanratu dilakukan dalam tiga jenis stasiun pengisian. Dalam memberikan pelayanan BBM solar bersubsidi. bantuan modal tersebut macet karena kelompok nelayan yang menerima bantuan tidak mengembalikan modal tersebut sehingga kelompok nelayan lain tidak mendapat kesempatan yang sama. bangunan. Sedangkan dalam kaitannya dengan pengajuan kuota BBM dan jumlah kuota yang disediakan merupakan kewenangan dari pihak Pertamina serta ditembuskan ke Direktorat Jenderal kelautan. Modal tersebut sedianya digunakan untuk mengkonversi kapal mereka menjadi kapal penangkap ikan di rumpon karena menurunnya ketersediaan sumber daya ikan membuat kapal payang tidak mampu beroperasi lagi. Bentuk bantuan lainnya yang juga diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi adalah bantuan modal bagi nelayan yang memiliki armada penangkapan dengan alat tangkap payang. Bantuan modal ini merupakan bantuan bergulir dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya. Akan tetapi. yaitu: (1) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan. Untuk itu. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir termasuk di dalamnya Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). tangki BBM solar dan fasilitas lainnya.

Paridi Asyudewi yang berlokasi di didermaga II. Mekar Tunas Raya Sejati dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. pihak PT. PT. instalasi pompa BBM dan dispenser. Mekar Tunas Raya Sejati memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 208 m3 dan instalasi pompa BBM. pelabuhan tersebut dilakukan dengan system sewa. Paridi Asyudewi dengan kouta rata-rata sebanyak 400 kiloliter per bulan. Penggunaan fasilitas (3) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. Ketiga fasilitas tersebut (tangki BBM. Mekar Tunas Raya Sejati sendiri. Dalam operasionalnya. (2) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar dengan fisik bangunan yang lebih besar dari SPDN yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil. Pengisiannya dilakukan 71 . Paridi Asyudewi menggunjakan tongkang atau bunker kapal milik PT. SPBN ini melayani kebutuhan BBM solar bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom II dengan nukuran kapal > 30 GT (Kapal longline). dogol dan gillnet). Dalam operasionalnya. pompa BBM dan bangunan dispenser) milik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu. SPBN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. sedangkan pihak KUD memanfaat ketiga fasilitas tersebut dengan sistem sewa sesuai dengan peraturan yang berlaku. SPDN ini melayani kebutuhan BBM solar bersubsidi bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom I yang berukuran < 30 GT (Kapal rumpon. sedangkan bangunan dispenser dispenser adalah milik pihak PT.Sinar Laut dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. Dalam operasionalnya KUD Sinar Laut memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 320 m3.

651. pihak nelayan diwajibkan melapor ke prtugas teknis. Paridi Asyudewi yang berfungsi menyalurkan BBM solar bersubsidi melalui darat yang kemudian disalurkan ke dalam bunker/tongkang.000 liter dalam tiap minggunya.026. dan terakhir melapor ke Syahbandar di Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan SIB. yang selanjutnya diperkenankan mengajukan permohonan pengisian solar ke penyalur (SPBN/SPBB). ke Pengawas Perikanan untuk mendapatkan SLO. Sementara itu. petugas jasa. yang selanjutnya dilakukan pengisian ke kapal-kapal yang ada di Kolom II. POL AIR. Pada tahapan ini. realisasi penjualan BBM 72 .dengan dibantu mobil tangki minyak dengan kapasitas 16. (2) Tahap Melapor Keberangkatan Kapal Setelah nelayan melakukan tahapan melapor kedatangan kapal pada beberapa hari sebelum kebarangkatannnya kembali. ke petugas jasa untuk melakukan biaya bayar tambat.6511 kiloliter. TNI AL.5 liter. POL AIR kemudian melapor ke petugas teknis untuk mendapatkan STBLKK. Realisasi penjualan BBM melalui SPDN sejak bulan Mei 2009 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2. Syahbandar dan Pengawas Perikanan di Pelabuhan Perikanan. Pelayanan BBM solar bersubsidi di pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dilakukan melalui mekanisme dalam dua tahapan melapor. nelayan melaopor ke TNI AL.1 liter atau sama dengan 126. maka nelayan diwajibkan melapor keberangkatan kapalnya.417. Status mobil tangki tersebut adalah milik PT. Setelah kapal mendapatkan SLO dan SIB. yaitu: (1) Tahapan Melapor Kedatangan Kapal Pada tahapan melapor kedatangan. maka dalam waktu 1 x 24 jam penyalur BBM solar besubdisi (SPBN/SPBB) diperbolehkan menjual solarnya kepada kapal yang akan berangkat melaut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak syahbandar dalan hal pengisian BLB (Buku Lapor Bunker). atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 126.

0 71. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 No.221. Tabel 3.835.756.460.179.894.0 35.0 56.0 128.0 128.696.0 71.8 68.0 68.026.0 127.577.006.1 liter. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 367.785.558.77%) dari kuota yang dijatahkannya.154.265.734.417.006.0 128.1 Sumber: KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.33.0 70.461.0 61.741.0 46.0 86.540.698.0 77.0 62. sedangkan untuk SPBB telah mencapai hampir keseluhan jatah yang diberikannya (91.0 62.491.0 71.978.954.586.963.0 70.0 127.484.5 liter atau sama dengan 30.727.5 128.0 127.0 68.700. Bila realisasi penjualan tersebut dibandingkan dengan kuota yang diberikan.352. 2010 73 . Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.147.1445 kiloliter.044..0 60.0 liter.0 51.0 86.322.998.721. Sedangkan dari Tabel 3 dan Gambar 3 diketahui bahwa realisasi penjualan BBM melalui SPBB sejak bulan Januari 2010 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.0 128.936.0 132.068.0 63.194.038.0 126.5 126.277.76%).432.0 65.248.095.0 879.0 56.356.0 66.000.148.989.0 41.3 Total (Lt) 123. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Periode Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Volume Penjualan (Lt) Meter A Meter B 55.257.5 54.139.412. Sementara untuk SPBN baru mencapai kurang dari seperempat (12.211.0 46.447.570.798.310.651.0 110.0 85.0 55.0 2.5 liter atau sama dengan 367.67%) dari kuota yang dijatahkannya.001.144.0 57.5 60. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 30.melalui SPBN sejak bulan November 2008 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 663.0 127.0 59.140.422.042.0 72.0 1.0445 kiloliter.0 139.0 95.0 155.0 55. terlihat bahwa untuk SPDN baru mencapai separuh (53.

558.977.805.765.34.0 0.000. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Periode Volume Penjualan (Lt) 12.0 54.800.0 0.200. Mekar Tunas Raya Sejati.5 November 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Sumber: SPBN PT. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.0 663.330.0 20.000.9 64. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 No.5 50.2 58.179.000.2 22.6 21.0 140.1 30.122.7 37. Pelabuhanratu.9 34.200.160.0 80.453.537.209.2 47.0 23.8 22. 2008-2010 M ay 74 .0 120.4 22. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.000.0 12. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.0 60.990.000.0 34.048.144.3 22.0 40.0 11.6 33.8 19.230.000.000.200.410.351.0 42. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.826.000.0 100.0 14.908.10.253.0 Volume Penjualan (Lt) 0 l-1 Ju 0 -1 ay M 0 -1 ar M 10 nJa 09 vNo 9 -0 ep S 9 l-0 Ju 09 Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.

Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.0 10.072.751.0 367. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu.0 40. 70.0 50.870.356.0 20.936.0 Volume Penjualan (Lt) 60.044. 2010 75 .633.0 433.0 505. 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-Rata per Bulan Sumber : SPBB PT.0 0.0 0.0 267. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.102. Tentunya pernyataannya dapat dibenarkan bila digunakan asumsi bahwa besaran kuota BBM solar bersubsidi yang di sediakan adalah dihitung berdasarkan jumlah kebutuhan BBM untuk nelayannya.000.000. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.Secara teknis mekanisme pelayanan baik yang dilihat melalui polanya (SPDN.11.0 30. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.000. Namun di sisi lain.000. rendahnya relaisasi tersebut (terumana pada SPDN dan SPBN) menunjukkan bahwa sesungguhnya masih terdapat sebagian besar nelayan yang membeli BBM solar yang dibutuhkannnya justru di luar SPDN dan SPBB yang ditunjuk. pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara telah mampu menyalurkannya secara baik.0 403.115. Hal ini seperti terlihat dari besaran realisasi penjualan BBM solar bersubsidi yang masih di bawah kuota.0 Gambar 3.000. SPBN dan SPBB) maupun mekanismenya dalam penyaluran atau penjualan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu telah cukup memadai.0 449. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Periode Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Volume Penjualan (Lt) 410.0 466.0 2.813.000. Paridi Asyudewi.5 10 gAu 0 -1 ay M 10 bFe 09 vNo 09 gAu 9 -0 ay M 09 bFe 08 vNo Periode Pengisian (Bulan) No. Dengan kata lain.35.000.

khususnya bagi nelayan skala usaha mikro dan kecil merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan kegiatannya. Sedangkan jenis mesin tempel digunakan untuk kapal payang dan kincang dengan BBM jenis premium/bensin. Kebutuhan BBM. namun hanya digunakan untuk keperluan penerangan saja.1 Ap 0 -1 ar M 10 bFe 10 nJa Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.000. yakni kapal yang menggunakan mesin diesel untuk jenis kapal dogol.000. Hal ini karena komponen biaya BBM berkisar antara 40-60% dari seluruh biaya 76 .000.0 0. Di samping itu jenis kerosin/minyak tanah digunakan oleh nelayan.600. longline dan kapal rumpon.0 200.0 100.000.12.000. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Peran Subsidi Perikanan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat perikanan khususnya nelayan di Palabuhanratu dalam melakukan operasional penangkapan ikan. Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2010 pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara baru menyediakan BBM jenis solar saja.0 Volume Penjualan (Lt) 500.000. jenis BBM yang dibutuhkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu adalah jenis solar dan premium/bensin. gillnet.0 10 gAu 0 l-1 Ju 10 nJu 0 -1 ay M 0 r. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu.0 400. Melihat kondisi di lapangan dari berbagai jenis kapal maupun mesin yang digunakan nelayan untuk melakukan operasional penangkapan. BBM jenis solar tersebut digunakan untuk kapal perikanan yang berukuran > 10 GT.0 300.

musim biasa . bila terjadi kenaikan harga BBM jenis solar sebesar 28% maka akan menambah beban biaya produksi penangkapan ikan sebesar 28% x 40% = 11.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM Nilai hasil tangkap 1 hari 1 hari 1 hari 7 hari 7 hari 7 hari 15 hari 15 hari 15 hari 120 hari 100 hari 77 hari 6 hari 6 hari 7 hari 5 liter 6 liter 1.36.500.0 00 1500 liter 9.musim ikan .000.22 7 5.33 4 118.170.432.Bensin .0 00 393 liter 6 liter 13 liter 4. khususnya solar. memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perikanan.477.29 8 4.2%.592. 2010 Tabel 3.33 4 83.500 13. Kondisi seperti ini sangat memberatkan nelayan.2%.825.397.Solar .8 75 Sumber: Data primer diolah. terlebih lagi karena selama ini nelayan dalam memenuhi kebutuhan BBM solar dibeli dari pihak ketiga (tengkulak) yang harganya lebih mahal kurang lebih 30% dari harga ketentuan pemerintah.791.4 50 561.897. usaha penangkapan dengan menggunakan bagan mengalami kerugian yang cukup besar karena biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan yang diperolehnya. Artinya. di atas menunjukkan bahwa subsidi BBM.791.36.operasional penangkapan ikan.85 2 16.00 0 9333 liter 55.324.50 0 16. dengan kenaikan harga BBM solar tersebut maka nelayan mengalami beban tambahan yang harus dikeluarkan sebesar 11.466 282 liter 10 liter 8 liter 3. Tabel 3.musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): .29 8 10.483. Berdasarkan hasil olahan data di atas. Biaya untuk bahan bakar 77 . Analisa pendapatan dan biaya usaha penangkapan pada Trip Tahun 2010 Jenis alat tangkap Uraian Bagan Gillnet ≥5GT <10GT Longline 1 ≥10GT <30GT Longline 2 ≥30GT 100GT Pancing Tonda ≥5GT <10GT Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: . Akibatnya.

Seperti halnya kapal gillnet. besarnya biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM adalah Rp13. tetapi ada intervensi pemerintah dengan memberikan subsidi bahan bakar solar yang mereka gunakan.897.<30GT. Di sisi lain. sedangkan jika tanpa subsidi porsinya semakin besar yang mencapai 51 persen per trip penangkapan. Jika nelayan menggunakan BBM bersubsidi maka porsi solar terhadap biaya operasional adalah 38 persen.170. Kenaikan biaya operasional ini berdampak pada turunnya keuntungan yang diperoleh nelayan rata-rata sebesar 68 persen. komponen biaya bahan bakar kapal ratarata sebesar 60 persen dari total biaya operasional yang dikeluarkan. kondisi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh kapal-kapal dengan alat tangkap lainnya yang mampu memperoleh keuntungan cukup besar bagi nelayan. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. Dengan demikian. Pemberian subsidi BBM sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap longline.500 maka biaya operasional per trip yang harus dikeluarkan adalah Rp4.298 yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan nelayan rata-rata sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan keuntungan dengan BBM bersubsidi. Berdasarkan olahan data pada Tabel 12. Kedua jenis bahan bakar tersebut tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi sehingga beban biaya tersebut sepenuhnya harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil. Perbedaannya adalah beban biaya bahan bakar tidak sepenuhnya ditanggung nelayan.500 atau 48 persen lebih besar dibandingkan biaya operasional per trip dengan subsidi BBM. Begitupula halnya dengan kapal longline ukuran ≥ 30 GT – 100 GT yang harus mengeluarkan biaya operasional per trip lebih besar 60 persen apabila menggunakan solar tanpa subsidi sehingga porsi biaya solar terhadap biaya 78 .yang berupa bensin dan minyak tanah menyumbang hampir 40 persen dari total biaya operasional. terutama bagi kapal longline ukuran ≥10GT . bagian biaya solar terhadap biaya operasional menjadi 81 persen dibandingkan apabila kegiatan usaha penangkapan dibantu dengan subsidi BBM yang hanya mengambil bagian 72 persen per trip.

Subsidi BBM juga sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap pancing tonda.432. sedangkan tanpa subsidi BBM porsi biaya solar meningkat menjadi 53 persen terhadap total biaya operasional per trip. intervensi pemerintah melalui pemberian subsidi BBM masih sangat diperlukan oleh nelayan dalam negeri untuk menjamin keberlanjutan usaha penangkapannya. sedangkan tanpa subsidi BBM sebesar Rp5. Kabupaten ini berada di bagian pesisir selatan wilayah Propinsi Lampung. 79 . dengan luas wilayah 117. besarnya keuntungan nelayan rata-rata menjadi menurun sebanyak 10 persen. baik secara langsung (pemberian pelayanan oleh petugas pelabuhan perikanan dengan menggunakan fasilitas milik Pelabuhan Perikanan) maupun tidak langsung (pemberian pelayanan pihak pelabuhan perikanan melalui bekerja sama dengan pihak swasta). Pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sangat berperan dalam memberikan pelayanan BBM solar dengan harga subsidi.4.227.377 hektar dan sebagian wilayahnya menghadap ke Teluk Lampung.500 per liter maka biaya operasional per trip dengan bahan bakar bersubsidi adalah Rp4. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7.852 atau meningkat 26 persen. Perbandingan antara adanya subsidi BBM dan tanpa subsidi BBM pada usaha penangkapan ditunjukkan oleh porsi yang meningkat dari biaya solar terhadap total biaya operasional yang dikeluarkan. 3. Porsi biaya solar mencapai 40 persen jika nelayan mendapat solar bersubsidi. Dampak selanjutnya adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh nelayan sebesar 45 persen. Akibatnya.592. Kabupaten Pesawaran (Lampung) Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pesawaran.operasional naik dari 75 persen menjadi 86 persen. Lampung merupakan pengembangan dari Kabupaten Lampung Selatan dan dan secara resmi dibentuk berdasar UU No: 33 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran. Berdasarkan hasil analisis tersebut.

0 603.8 16.511. dalam tahun 2008-2009 terjadi perkembangan yang cukup signifikan khusus pada budidaya (KJA) Ikan Kerapu yang didominasi oleh Kerapu Bebek dapat dilihat pada Tabel 3. 7. 2. Pesawaran terdiri atas 7 (tujuh) wilayah kecamatan dan 133 desa dengan ibukota di Gedong Tataan. budidaya ikan kerapu. berdasarkan data produksi 2009 didominasi oleh perikanan budidaya yang jika dilihat secara proporsinal terlihat pada Tabel 3. Nilai produksi perikanan di Kab.5 47.2 % 26 16 16 38 10 17 49 73 23 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. juta 19.8 Perkembangan Rp. 80 .820. Wilayah laut dan pesisir Kabupaten Pesawaran meliputi sebagian dari Teluk Lampung dan 37 pulau kecil yang tersebar di Teluk Lampung dengan potensi meliputi budidaya kerang mutiara.0 110.692.8 768.278.0 419. Pesawaran.4 4.880.520.5 ha.884.6 2009 93.37.2 12. Hasil (nilai) produksi perikanan di Kabupaten Pesawaran. 3. 4.121.0 96.996. budidaya ikan barong.610.39.Saat ini wilayah kab. Pesawaran Dalam hal perkembangan luas lahan budidaya dan jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Kab.5 144.4 105.833. 8. Pesawaran Tahun 2008-2009 No Jenis usaha Nilai produksi (Rp.6 143.667.141.0 2.388.045.0 2.750.0 442. Tabel 3.6 71.685. dan budidaya teripang dengan total potensi lahan seluar 3.6 17.2 121. Tangkap laut Tangkap perairan umum Budidaya tambak Budidaya air tawar Daging tiram mutiara Rumput laut Budiaya Kerapu (KJA) Benih ikan JUMLAH 74.37. budidaya rumput laut.0 437. 6.0 1. Juta) 2008 1.570.0 10.6 508.2 624. 5.939.0 100. sedangkan potensi lahan tambak 750 ha yang sebagian besar ada di Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Punduh Pidada.

38.5 3. Pesawaran Bentuk-Bentuk Subsidi Perikanan Selama periode tahun 2009 telah dilakukan pemberian subsidi kepada pelaku usaha sector kelautan dan perikanan di Kabupaten Pesawaran.8 2. Pesawaran Tabel 3. 6.Tabel 3.8 4. Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH 1.5 3. 3.5 % 5 20 9 25 25 26 2.282 18 45 14 94 510 225 2. Adapun jenis dan dasar kebijakan pemberian subsidi tersebut seperti tertera pada Tabel 3.166 14 39 14 73 370 210 1.5 15 1 75. Jenis Usaha Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH Tahun (ha) 2008 2009 352. Dari Tabel 3. Pesawaran. 4.886 2009 1.0 Kenaikan Ha 17 2 32 0. 5. 2. 6. Perkembangan luas areal budidaya laut di Kab. Tahun 2008-2009 No 1.5 369. 2008-2009 No Jenis Usaha Tahun (Orang) 2008 1.5 60 75 3.5 2. 4.4 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.40. 2. 7.5 10 12 359 391 2 2.118 Kenaikan Orang 116 4 6 0 21 140 15 302 % 10 28 15 0 38 29 7 16 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Lampung. Pesawaran.40 diketahui bahwa jenis subsidi yang pernah 81 .39 Jumlah Rumah Tangga (RTP) pembudidaya ikan di Kab.240. 3.164. 7. 5.

Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pesawaran Lampung No. 2. Subsidi langsung dalam hal ini dimaksud sebagai bantuan yang diterima oleh para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan dari pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat) dalam bentuk barang ataupun finansial. Pesawaran 82 .a Pelatihan Rendahnya tingkat keterampilan (skill) masyarakat pesisir terkait dengan pengembangan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.40.a PNPM Mandiri-KP Ketidakberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.c Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila . Tabel 3. 1. Dasar Kebijakan 1.Peningkatan pengembangan usaha budidaya ikan air tawar (gurame dan nila) sementara kemampuan modal para pembudidaya yang relative terbatas.b Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Antisipasi menghadapi dampak bencana alam pada tempat tinggal masyarakat nelayan.Lemahnya modal para pembudidaya ikan air tawar terutama untuk membeli benih dan induk ikan gurame dan ikan nila . Sedangkan subsidi tidak langsung diberikan dalam bentuk program atau bantuan lainnya yang sifatnya bukan barang ataupun financial. Tidak Langsung: 2.diberikan oleh pemerintah di Kabupaten Pesawaran Lampung adalah meliputi: Subsidi yang bersifat langsung dan subsidi yang bersifat tidak langsung. Jenis Subsidi Langsung: 1. 1.

Tabel 3. baik subsidi secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Pesawaran pada tahun 2009. Padang Cermin. tangkap jaring. Jumlah paket 10 Nilai (Rp. meliputi: (1) PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan Sasaran program ini adalah masyarakat bidang kelautan dan perikanan yang bertempat tinggal di wikayah pesisir atau diluar pesisir yang memiliki kegiatan di bidang kelautan dan perikanan. jaring kelitik.000) 249. pancing cumi. Sedangkan jenis subsidi tidak langsung berupa pelatihan bagi para pembudidaya ikan air tawar. Desa Sukajaya Lempasing Kec. dan (3) Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. (2) Pembangunan rumah nelayan ramah bencana.41. Padang Cermin. Kebijakan yang mendasari pemberian subsidi dengan jenis langsung dan tidak langsung tersebut. tangkap bubu. budidata rumput laut. Desa 8 77 9 259. Alokasi dana PNPM Mandiri-KP di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 Lokasi Jumlah Kelompok 10 Jumlah Anggota 92 Jenis usaha Jaring payang padang.975 Kec. dan perbaikan jalan KJA Kerapu. nelayan pancing.Jenis subsidi langsung diberikan oleh pemerintah dalam tiga bentuk yaitu: (1) PNPM Mandiri_KP. dalam hal ini lebih didasari oleh latar belakang kondisi usaha sector kelautan dan perikanan dan kondisi pelakunya yang memang membutuhkannya terutama untuk alasan pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan dan pengembangan atau keberlanjutan usaha sector kelautan dan perikanan tersebut ke depan. Bentuk-bentuk subsidi sektor kelautan dan perikanan yang pernah diberikan pemerintah.999 83 . pancing bandrong. Penjelasan dari masing-masing bentuk subsidi tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya.

(3) Pelatihan Melalui dana APBD Provinsi Lampung. dan Desa Durian. Topik materi pelatihan diantaranya: Pelatihan manajer pengendali mutu perikanan. Pelatihan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). Pelatihan pembenih dan pembudidaya ikan air tawar. menggunakan dana APBD Kab. Desa Kampung Baru.Lokasi Durian Jumlah Kelompok Jumlah Anggota Jenis usaha pengeringan ikan asin. Padang Cermin (20 unit) di Desa Sukajaya Lempasing. Pelatihan manajer usaha dan percontohan pembenihan tiram mutiara. Desa Sidodadi. Subsidi selisih harga berupa bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Pesabwaran (2) Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Sasarannya: pemenuhan kebutuhan masyarakat nelayan terhadap rumah tahan bencana. dilakukan pelatihan yang pesertanya adalagh masyarakat pesisir dan aparat terkait. Pelatihan pembuatan alat tangkap nelayan. dan Desa Sukarame. dan rehabilitasi jalan setapak. Pesawaran.000) 2 desa 18 169 19 509. Pelatihan budidaya laut dalam rangka pemberdayaan usaha skala kecil. 84 .974 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. (4) Subsidi selisih harga Subsidi selisih harga dimaksudkan sebagai bantuan pemerintah (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasewaran Lampung) untuk membayar selisih harga antara harga pasar dengan harga keekonomiannya. Magang pembudidaya rumput laut ke NTB. Desa Pulau Pahawang. Magang tambak resirkulasi. Pelatihan pembenihan ikan laut. Jumlah paket Nilai (Rp. Kec. Pembangunan rumah di lakukan di dua kecamatan yaitu: Kecamatan Punduh Pidada (30 unit) di Desa pulau Legundi.

Dengan demikian.dan menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp. Secara rinci gambara mengenai biaya dan penerimaan usaha tersebut seperti tertera pada Tabel 3.511. diperlukan rata-rata biaya total sebanyak Rp. Lampung dengan luasan sebanyak 13 kolam yang masing-masing berukuran 3x3 m2 dengan kedalaman 5 m. meskipun baru bersifat normatif namun kita masih dapat memperkirakan peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha budidaya pmbesaran ikan kerapu dal KJA tersebut. usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di lokasi kasus tersebut hingga saat ini tidak atau belum mendapatkan subsidi (langsung ataupun tidak langsung) dari pemerintah. dan (2) Kemungkinan peran atau dampak potensial yang dapat dilakukan atau terjadi bila subsidi diberikan terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya. dalam bagian ini dilakukan dengan mengambil kasus budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. Secara eksisting. Lampung. dalam hal ini dari Kementerian Kelautan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat.634. 314. pembahasan mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya tidak dilakukan dengan pendekatan perbandingan antara sebelum dan sesudah (after and before comparative) diberi subsidi.42.-. 85 .Peran Subsidi Perikanan Uraian mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu. dan dengan siklus usaha selama 13 bulan.000. Untuk itu. tetapi berdasarkan kemungkinan (potensial) dampaknya bila subsidi tersebut diberikan. dan kemungkinan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan. Untuk rata-rata usaha budidaya pembesaran ikap kerapu bebek dalam keramba jarring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.. Propinsi Lampung. dalam bagian ini akan dijelaskan: (1) Analisis biaya dan penerimaan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.230.210.

250 3.57 7. Tempat Pemeliharaan b.60 2.42 0.556 166. Pelampung g.000 7.100 172. Jaring d.404.2 Biaya Tidak Tetap: a. Tempat Pemeliharaan b. Tali e.750 71.895.400 10. Bambu f.000 2.475 10.000 16.200 2.511 71.000 46.750 326. Perahu c.705.555.000 358. Solar c.370.634.376.000 0.000 621. Gudang j.500 65.500 4.500 5.120 6.500 135.061.750 2. Bensin b. Retribusi Kebersihan k.905 582.67 0. Benih ikan d.000 314.000 29.466 77.921.010.000 23.005.996 1.264.65 1.) 230.382.03 0.000 1.11 1.604 159.14 69. Pelampung g.Biaya Penyusutan: a. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam keramba Jaring Apung di Kabupaten Pesawaran.150 Sumber: Data Primer diolah (2010) 86 .10 3. Propinsi Lampung (KJA sebanyak 13 Kolam dan Siklus Usaha selama 13 Bulan) Uraian 1.500 1.468.634.292.88 1. Lampu Penerangan i.500 449.702.000 1.575 15. Tenaga Kerja g. Penerimaan: Produksi kerapu 3. Timbangan 1.357.811.430.126.49 0. Lampu Penerangan i.1 Biaya Tetap: . Perahu c.Tabel 3.74 25.62 1421 580 3280 10036 2420 4 83 1308 4 14 28 698 lt lt ekor kg kg orang tabung galon paket kolam kolam kg 3.Investasi: a. Pajak Kolam Keramba 2.500 281. Gudang j.257 256.344 4.679.125.90 1 1 30 137 147 169 1 2 1 1 unit unit unit kg buah unit unit unit unit unit 4.500 441.264. Air Bersih i.587.100 2.592.500 1.33 21.42.07 0.87 0.02 0.750 17.700 1. Pakan Pelet f. Pompa Air h.500 16.000 449. Gas Elpiji h.05 0.656.500 48.) Nilai (Rp.324.101 975. Timbangan .000 487.511 85. Tali e.210.95 0.000 442.07 28. Jaring d.085. Pakan Rucah e.555 1.655 59.50 Proporsi (%) 100. Pompa Air h.050 6.500 3.511 1. Biaya Total: 1.100 5.32 1.00 30. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Volume Satuan Harga (Rp.276 320.200 5.453. Ransum bulanan j.300 365.27 1. Bambu f.735.

Melihat kondisi struktur biaya usaha budidaya pembesara ikan kerapu dalam KJA di Kabupetan Pesawaran.50..750.42 diketahui bahwa berdasarkan strukturnya.000.750.. 69. seperti komponen benih atau pun pakan) dalam pengembangan usaha tersebut.634. secara potensial subsidi dapat diberikan pada komponen biaya/pengeluaran yang memiliki proporsi yang tergolong dominan.210. dan (2) Untuk pakan ikan yang menyerap sebanyak Rp.atau 36.65%. 17.900. Bila diasumsikan bahwa pemerintah berada dalam kondisi memiliki anggaran yang relatif terbatas.57% dan untuk pakan pelet sebanyak Rp. yaitu sebanyak 698 kg dengan nilai sebanyak Rp. 65. Secara sederhana.07% dari biaya totalnya.000. terutama dalam jangka panjang.592. yaitu: (1) Untuk benih ikan kerapu yang menyerap sebanyak Rp.22% dari biaya totalnya. berdasarkan besaran penerimaan dan biaya totalnya. Sementara. Terdapat banyak pertimbangan dalam pemberian subsidi (langsung) pada kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan karapu tersebut.314.500. Biaya pakan tersebut terdiri dari biaya unuk pakan ikan rucah (pakan alami) sebanyak Rp.-. sehingga pemerintah dalam hal ini harus menentukan prioritas apakah akan memberikan subsidi pada komponen tertentu atau komponen tertentu lainnya.atau 21.895.42).atau 28. yaitu: benih ikan kerapu atau pakan ikan.. 48. diantaranya adalah pertimbangan: (1) Sejauhmanakah urgensi memberikan subsidi kedua komponen tersebut dalam mendorong keberlanjutan usaha. Lampung (Tabel 3.atau 7. Untuk itu sebaiknya pemerintah 87 . dan (2) Apakah pemberian subsidi tersebut secara potensial berdampak terhadap kelestarian lingkungan. rata-rata penerimaan yang dihasilkan baru bersumber dari budidaya pembesaran ikan kerapu bebek saja (monoculture). maka dapat diketahui bahwa usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran telah mencapai kondisi efisiensi dengan rasio penermaan terhadap biayanya sebesar 1. proporsi biaya usaha budidaya pembesaran ikan kerapu didominasi oleh dua jenis biaya pengeluaran.Dari Tabel 3.

07%. Dengan adanya 88 .memutuskannya setelah melakukan pengkajian berdasarkan kedua pertimbangan di atas (keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan). sedangkan komponen pakan ikan khususnya pakan ikan rucah memiliki proporsi biaya sebesar 28. Sementara dari dasar pertimbangan kedua (aspek kelestarian lingkungan). Namun bila dilihat dari sisi prioritas dan fakta di lapang dimana permasalahan benih yang berkualitas semakin mendesak untuk dicarikan solusinya. Komponen benih ikan kerapu memiliki proporsi biaya sebesar 21. banyak aspek positif yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha meskipun akan diikuti secara proposional dengan meningkatnya jumnlah pakan ikan rucah yang digunakan. Hal ini terlihat dari besarnya proporsi biaya kedua komponen tersebut (benih ikan dan pakan ikan) terhadap biaya total dari kegiatan usaha tersebut. Dari dasar pertimbangan pertama (aspek keberlanjutan usaha) tampaknya baik subsidi benih ikan maupun subsidi pakan keduanya sama-sama berpotensi memiliki peran penting dalam keberlanjutan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung.57%. saat ini sudah bervariasi mulai dari 13 – 16 bulan. untuk kondisi saat ini ataupun ke depan memberikan subsidi pakan ikan rucah tampaknya kurang tepat. Meskipun dalam kenyataannya pakan ikan rucah ini memiliki peran sangat penting besar di samping benih ikan dalam kegiatan produksi ikan kerapu di lokasi tersebut. karena menurut persepsi pelaku usaha tersebut di lapangan bahwa mutu benih ikan kerapu dewasa ini semakin menurun. Dari awalnya untuk menghasilkan ukuran 500 gram per ekor diperlukan periode pemeliharaan kurang dari 12 bulan. Bila pemerintah memang pada akhirnya memutuskan untuk memberikan subsidi benih ikan. karena peningkatan pakan tersebut berpotensi meningkatkan cemaran (polusi) terhadap lingkungan perairan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. Diantara aspek positif tersebut adalah dorongan kepada peningkatan penggunaan benih ikan kerapu yang bermutu baik dibanding yang digunakan oleh pembudidayaan saat ini.

52 1.60 Perubahan R/C (%) 1.45 Sumber: Data Primer diolah dari data primer (2010) Keterangan: R/C = Rasio Penerimaan terhadap Biaya Total 89 .43.44. bahwa pemberian subsidi benih ikan ke depan akan efektif dalam meningkatkan keberlanjutan usaha yang diihat menggunakan indicator rasio penerimaan terhadap biaya (efisiensi) usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. pemberian subsidi berupa pakan ikan.50 1.54 1.50 1.50 1.pemerintah memberikan subsidi benih yang berkualitas baik. Lampung.43 dan Tabel 3. secara teknis lebih rumit karena dominasi pakan ikan rucah yang notabene diperoleh dari dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang dalam waktu dekat akan dilarang pemerintah yaitu alat tangkap jaring cantrang (jaring gardan).05 6. pemerintah menghadapi situasi yang lebih sulit dan kurang dapat memasukkan unsur pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk lebih meyakinkan kita. berarti produktivitas usaha budidaya pembesaran dalam KJA di Kabupaten Pesawaran dapat lebih ditingkatkan lagi. bila pemberian subsidi pakan ikan yang menjadi pilihan.10 2. Sementara di sisi lain.38 3.50 1. Simulasi Perubahan Rasio Penerimaan terhadap Biaya (R/C) Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran pada Berbagai Perubahan Tingkat Subsidi Benih Ikan (Tanpa dan Dengan Subsidi Benih) Subsidi Benih (%) 5 10 15 20 25 R/C Tanpa Subsidi 1.56 1. Tabel 3.50 R/C Dengan Subsidi Benih 1. dibandingkan bila benih ikan yang menjadi pilihan tersebut.69 5. dapat dilihat hasil simulasi pada kondisi tanpa dan dengan subsidi. secara sederhana pada Tabel 3. Dengan kata lain.58 1.

500 3.921.996 1.11 1.556 166.) Biaya (%) 230.10 3.33 21.257 256.081.500 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.Biaya Penyusutan: a.511 100.101 975.02 0.702.07 0.636 100 71.382.679.656. Tempat Pemeliharaan b.264.634. atau R/C usaha meningkat sebesar 3.655 59.404.344 4. Bambu f.000 487. Gudang j.264.061. Tali e.35 0. Sebagai gambaran untuk pemberian subsidi benih ikan sebsar 15% akan meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) usaha budidaya tersebut meningkat dari semula (tanpa subsidi benih) sebesar 1.466 77.511 1.468.100 5.500 449.702.370.466 77.Dari Tabel 3.) Biaya (%) 223.53 12.500 449.085.500 3.500 1.085. Pelampung g.100 2.705.88 1.324.07 0.468.44).303.500 48. Perahu c. Lampu Penerangan i.000 29.32 1.345. Timbangan .100 5.000 29.604 152. Pompa Air h.1 Biaya Tetap: .556 166.125.655 59.11 1.14 69.00 71.264. Tali e.404.000 2. Timbangan 1.500 5.000 7.357.453.74 25.511 30.264.996 1. Gudang j.344 4.750 71.500 5.000 23. Jaring d.101 975.257 256.42 0.43 0.511 1. Jaring d.126.79 23. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam KJA pada Kondisi Tanpa dan Dengan Subsidi Benih 15% Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.126.592.382.01 0. Tabel 3.14 3.625 Uraian 1.43 diketahui bahwa pemberian subsidi benih ikan dapat meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya total (efisiensi) usaha budidaya tersebut.453. Solar c.000 23.511 85.656.750 71.921.Investasi: a. Tempat Pemeliharaan b.000 2.31 0.604 159.276 320.1 4.061. Biaya Total: 1.43 dan Tabel 3.000 487.2 Biaya Tidak Tetap: a.44.679.87 0.750 326.03 0.705.56.02 0.9 0 87.02 0.357.100 2.50 menadi sebesar 1.750 326.000 16.69% (lihat Tabel 3. Pompa Air h. Lampu Penerangan i. Bambu f.125 7.500 1.500 41.90 85.82 90 . Bensin b.000 16.125.324. Benih ikan 0. Pelampung g.49 0.276 320. Perahu c.

000 1.62 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.68 17.210.56 1.811.555.26 Sumber: Data Primer diolah (2010) Selanjutnya.895.750 15.000 314. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah: bila diasumsikan dengan pemberian subsidi benih ikan tersebut. Secara normative dapat disampaikan bahwa apabila diberikan subsidi benih ikan pada kegiatan usaha budaya tersebut. Sebaliknya. Kemungkinan peran (dampak) negative terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut bisa saja terjadi.66 2.430. Retribusi Kebersihan j.000 621.000 621.) Biaya (%) 65.000 1.95 0.750 28.555. Pakan Pelet f Tenaga Kerja f. Pajak Kolam Keramba 2. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.Uraian d.750 28.376. Pakan Rucah e. maka diperkirakan akan terjadi beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan perairan di lokasi budidaya dan sekitarnya.700 1.67 0.050 6. Air Bersih h.57 17.376.000 1.60 2.02 0.27 1.64 1.210.42 1.) Biaya (%) 65.811.050 6. Lampung secara baik dan konsisten. sehingga berkembang dan menyebabkan daya dukung perairan yang menurun.250 3.50 1.53 6. maka hal ini berarti pada lingkungan perairan budidaya tersebut terdapat potensi polusi (cemaran).895.634.000 1. Polusi (cemaran) tersebut ditimbulkan dari limbah pakan ikan rucah maupun pakan pelet ikan yang akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya penggunaan benih ikan dalam kegiatan produksi tersebut.000 314. Penerimaan: Produksi ikan kerapu 3. Ransum bulanan i. namun dalam realitasnya justru hal tersebut dapat tidak terjadi sepanjang dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan perairan budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.750 7.634.735.430. Gas Elpiji g.735.700 1. bila upaya-upaya pengelolaan tersebut tidak 91 .05 0. terutama dalam jangka panjang.250 3. kita akan bahas bagaimana kemungkinan peran (dampak) subsidi benih ikan pada budidaya pembesaran ikan kerapu tersebut terhadap kelestarian lingkungan perairan budidaya.12 0.65 2.

dilakukan secara baik dan konsisten. Berdasarkan tabel 4. Kolaka terbagi ke dalam 32 wilayah kecamatan.000 Km2. 3. Kab.38 Km2 dan wilayah perairan (laut) sekitar 15.5. sedangkan budidaya tambak ikan Bandeng di atas 40% dari total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Kolaka. Kabupaten Kolaka. Berdasarkan data statistik. Secara proporsional. dalam tiga tahun terakhir 30% .918. Kolaka terdiri atas Rumput laut. Ikan Kerapu dan Mutiara. Hasil budidaya perikanan laut Kab. Teripang.39% PDRB Kab. namun dalam kurun waktu 2001 sampai 2007 terjadi tiga kali pemekaran wilayah kecamatan sehingga saat ini Kab. Kolaka disumbang oleh sektor pertanian (termasuk perikanan). dapat dilihat. produksi perikanan Kab. Kendari Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Kolaka berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. Bandeng. Sebelum tahun 2001. maka pemberian subsidi benih ikan sebaiknya dapat diikuti dengan pemberlakuan regulasi yang bertujuan untuk mengendalikan tekanan cemaran terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut. Sebagai upaya antisipatif terhadap kemungkinan terjadi dampak negative tersebut. Kolaka berasal dari perikanan laut (perikanan tangkap dan budidaya). Kolaka terbagi ke dalam 20 kecamatan. 92 . Wilayahnya terdiri atas daratan seluas 6. justru dampak negative tersbut berpotensi besar dapat terjadi. kontribusi nilai hasil produksi rumput laut tahun 2008 dan 2009 di atas 50%.1. Kabupaten Kolaka dijadikan lokasi penelitian mewakili perikanan budidaya (laut) mengingat perikanan laut mendominasi produksi perikanan dibandingkan perikanan daratan.

26243 Budidaya Bandeng Pembudidaya ikan Bandeng di Kecamatan Wolo dan Wundulako mengelola lahan milik sendiri.44 0.9585 43.223 2007 109. yaitu budidaya rumput laut dan budidaya tambak ikan Bandeng karena bantuan pemerintah banyak ditujukan kepada kedua jenis usaha ini. Kolaka.169 8. Tingkat pendidikan rata rata tamat SD dan SLTP dan masih dalam usia produktif (20 – 49 tahun) dengan rata rata usia 34 tahun.6967 55.437 396 138 151.643 112 5 1.919 40 2007 6.75 3.475 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Jenis budidaya adalah pembibitan dan pembesaran dengan masa 93 .4819 30. menggunakan modal sendiri dengan rata rata luasan kepemilikan lahan 1. Kabupaten Kolaka.99 9.332 2009 122.643 110 5 1.903 500 2009 4.7 ha.353 273.Berkaitan dengan hal di atas.784 2008 7.273 3. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp.Juta) Komoditi 2007 4.643 110 5 584 500 2008 4.64 0.566 405 165 137. Survey dilakukan terhadap pembudidaya tambak dan rumput laut di Desa Towua.776 1.031 9 3 15.343 389 131 50. 2009 Kontribusi/porsi: Tambak (%) Rumput laut (%) 9.868 24.697 3 13. dalam kajian ini difokuskan kepada komoditas unggulan.287 8. Tabel 3.231 9 3 15.3733 46.728 22.604 9.544 2. Kolaka dilakukan di tambak tambak yang ada di pesisir pantai yang ada di lingkungan sekitar hunian warga.2 1.007 262.75379 52.163 162.849 9.491 24.033 2008 119. Perkembangan Luas areal dan Produksi Budidaya Laut di Kab. Kecamatan Wunduloko.15 .45.817 2009 7. dan di Desa Muara Lapao-pao Kecamatan Wolo.152 Tambak Teripang Kerapu Rumput laut Mutiara Jumlah 7. Pembudidaya ikan Bandeng di Budidaya Bandeng di Kab.198 67.

Kolaka. Menurut petani tambak yang diwawancarai. Pembeli (pedagang) berasal dari Kolaka dan sekitarnya dan ikanpun dijual dalam bentuk ikan segar di pasar pasar yang ada di Kab. Tujuan pemberian pupuk dan pengisian air secara bertahap agar tumbuh lumut dan jasad renik yang nantinya berfungsi sebagai pakan alami ikan Bandeng. modal yang sebelumnya telah dianggarkan untuk 94 . Pemberian pupuk lebih didasarkan kepada kemampuan masing masing pembudidaya. Kalaupun diberi pakan pelet. Proses pengeringan tambak biasanya memerlukan waktu satu bulan dan sisa waktu satu bulan digunakan untuk pemberian pupuk kimia (Urea dan TSP). bantuan benih tersebut diakui dapat menggeser alokasi modal yang telah mereka perhitungkan. bibit sudah bisa dipindahkan ke tambak untuk tahap pembesaran. Dalam waktu 2 bulan. Alasannya. mulai dilakukan panen. Hanya saja. Caranya. Bibit alam yang dibeli seharga Rp50 per ekor disimpan dalam tempat yang disebut gelondongan. pembeli (yang disebut pembonceng) membeli langsung ke tambak dan membeli secara eceran sebanyak 100 – 200 ekor. Waktu 2 bulan ini dimanfaatkan untuk mengeringkan tambak sebelum tahap penebaran/penanaman bibit dimulai. Kondisi ini.pemeliharaan 6 bulan.. hampir tidak ada pembudidaya yang memberi pakan tambahan dalam bentuk apapun. jenis bantuan yang diberikan berupa benih nener dan benur tidak secara signifikan membantu keberlanjutan usaha para petani tambak. Artinya.000—3. dan racun yang berfungsi sebagai pembasmi ikan liar. Kemudian tambak diisi air secara bertahap. itupun sekedarnya saja. Tidak ada acuan baku yang diikuti dalam pemberian pupuk. Selama pembesaran. Selanjutnya. mereka tetap dapat menebar benih pada musim-musim penanaman. Gelondongan tersebut diletakkan di dasar tambak yang mampu menampung bibit sebanyak 15 ribu ekor yang biasanya diisi 2 kali dalam setahun. bibit ditebar yang biasanya berjumlah 2. dimana pasar yang ada terbatas pada pasar lokal dan belum ada industri pengolahan ikan Bandeng membuat harga jual jatuh pada saat panen bahkan kadang tidak terserap pasar. Sistem panen dilakukan bertahap. tanpa adanya bantuan tersebut. Setelah lama pemeliharaan 4 bulan.000 ekor per petak tambak.

46 1.507 589 74 909 186 463 186 2.221 Produktivitas (ton/ha) 2007 1. Selain itu. Produksi (Ton) 2007 1. Sementara itu.44 1. Saat ini.46.45 1. Tabel 3.58 1.52 1.58 1.44 1.258 1. harga pupuk saat ini sangat mahal sehingga dirasakan sangat membebani para petani tambak.56 1. Untuk itu. input berupa mesin juga sangat diperlukan para petani yang selama ini belum pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah. 2009 Catatan: *) Belum termasuk bantuan bedah tambak 240 ha 95 .54 1.45 1.56 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.52 2009 1. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Tambak di Kab.57 1. pengadaan kedua input tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah setempat.645 2009 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Baula Pomalaa Tanggetada Watubangga Total 2007 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4645 2008 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.477 572 72 878 179 450 181 1.175 1.45 1. bantuan berupa pupuk dan mesin pompa menjadi harapan petani tambak bandeng dan udang.56 1.52 1.52 1.645*) Vol. baik untuk keberlanjutan usaha maupun bagi kelestarian sumber daya.989 7.51 1.51 1. Faktor utamanya adalah karena program bedah tambak ini dapat mengaktifkan kembali tambak yang telah lama ditinggalkan karena sudah tidak layak pakai.894 6.51 1.44 1.56 1. Kolaka.57 1. Input berupa pupuk merupakan bahan baku utama yang diperlukan dalam usaha tambak ini sehingga sebagian besar modal diperuntukkan untuk membeli pupuk.407 545 69 836 171 428 172 1.233 1.45 2008 1.54 1.53 1.membeli benih ikan dapat digeser untuk alokasi pupuk atau biaya input lainnya.53 1.031 2009 1.44 1.049 7. Bantuan untuk melakukan bedah tambak diakui sangat bermanfaat.697 2008 1.47 1. pertumbuhan ikan menjadi sangat bagus karena lingkungan tambak yang kondusif bagi tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan oleh bandeng dan udang.51 1. Pada kenyataannya.

Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya yang menunjukkan bangunan rumah yang sederhana serta tidak adanya kendaraan bermotor di rumah. Akibatnya. Perubahan yang kasat mata adalah dengan dibangunnya rumah yang permanen. Wolo 0% 7% 2. Booming rumput laut dimulai pada tahun 2004 sejak tindakan bom ikan oleh para nelayan dikecam oleh masyarakat sekitarnya. rumput laut juga mampu menarik perhatian para pembalak kayu sehingga penebangan hutan berkurang cukup signifikan yang mengakibatkan kelestarian hutan juga terjaga. banyak nelayan yang beralih menjadi pembudidaya rumput laut.47. 2009 Budidaya Rumput Laut Rumput laut merupakan komoditas budidaya unggulan di Kabupaten Kolaka. Dalam kurun waktu tersebut. Selama periode 2004 hingga 2008. Masalah mulai timbul dalam budidaya Rumput laut sejak awal tahun 2008. berupa gangguan yang menyebabkan bibit Rumput laut yang berumur 3 96 . produksi 1. Bahkan. Pomalaa 0% 8% 8.Tabel : 3. Kolaka 0% 7% 5. dan dimilikinya kendaraan bermotor. Sulawesi Tenggara. Latambaga 0% 8% 4. Baula 0% 9% 7. Wundulako 0% 9% 6. Kolaka. Kolaka Tahun 2007-2009 No Kecamatan Luas areal Vol. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan sumber daya sudah berbasis masyarakat sehingga telah tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian sumber daya di kalangan pelaku utama perikanan sendiri. adanya tabungan di bank. Watubangga 0% 8% Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Tanggetada 0% 8% 9. Prosentase Peningkatan Luas areal dan Produksi Tambak Tiap Kecamatan di Kab. usaha budidaya Rumput laut mencapai masa jayanya. Samataru 0% 7% 3. kesejahteraan pembudidaya menunjukkan peningkatan yang berarti.

produktivitas hasil sangat rendah. pelampung. Selama ini. dinas membuat rambu-rambu batas rumput laut yang menyala saat malam hari. Untuk itu. atau karena lingkungan budidayanya. petani rumput laut sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk memperluas pasar yang selama ini hanya diserap oleh pasar di Makassar. Masalah lain yang ada terkait dengan batas-batas lahan budidaya yang mengakibatkan adanya konflik antar sesama petani rumput laut maupun antara petani rumput laut dengan nelayan. Rambu-rambu tersebut dibuat dengan menggunakan pelampung dan pemberat agar tidak bergeser karena arus laut. jangkar. Akibatnya. Dengan demikian. apakah karena kualitas bibit. Untuk itu. Komoditas rumput laut telah tersentuh bantuan sejak tahun 2004—2010. Sementara pada 97 . produksi rumput laut yang ada sering menumpuk di gudang penyimpanan sehingga harga jual menjadi turun. Gangguan ini belum teridentifikasi faktor penyebabnya. para petani tambak sangat mengharapkan adanya penelitian atas masalah tersebut agar gangguan tersebut dapat diatasi dengan cepat. Akibatnya. Kabupaten Kolaka baru mampu menembus pasar lokal dan pasar Makassar yang diambil oleh pedagang besar untuk kemudian diekspor. jumlah produksi yang besar dapat terjual dengan harga jual yang tinggi. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berusaha menyelesaikan konflik tersebut dengan mengundang Kepala Desa dan kelompok-kelompok. baik kelompok budidaya maupun kelompok tangkap laut. Sulawesi Selatan. Untuk itu.minggu menjadi hancur. cara tersebut dapat diterima oleh para pembudidaya rumput laut dan nelayan. kepadatan lahan. Untuk itu. Kecamatan Muaralapao-pao. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengatur jalur-jalur perhubungan bagi lalu lintas kapal nelayan yang akan ke atau dari laut. rumput laut kering dari Desa Barbarina. Selama ini. tali. dan para-para atau tempat menjemur rumput laut. Pemasaran hasil produksi berupa rumput laut kering juga menjadi masalah bagi pembudidaya. Bantuan pada 2004 hingga 2006 berbentuk paket berupa bibit.

379 2.861 2.525 1.110 2.123 1.119 2. Kolaka Tahun 2007-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Total Luas areal (ha) 2007 2008 2009 89 291 294 117 396 398 90 307 310 61 201 203 54 191 193 48 156 158 61 199 201 61 163 164 581 1.280 1. Kegiatan panen ini biasanya tidak bisa dilakukan sekali jalan.750 3.921 Vol.370 1. Gudang penyimpanan ini sangat diperlukan untuk menampung hasil panen hingga pedagang pengumpul dari Makassar datang mengambil. apalagi jika lokasi lahannya berada jauh dari tepi pantai.074 Produktivitas (ton/ha) 2007 2008 2009 23 9 11 24 8 11 24 8 11 23 9 11 24 8 11 23 9 11 25 9 13 25 11 15 24 9 12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. gudang penyimpanan sederhana terbuat dari kayu yang dibangun di bawah rumah salah seorang ketua kelompok. Selain itu. Untuk itu.429 13.422 1. keberadaan perahu bermotor sangat diharapkan oleh para petani rumput laut untuk mengganti perahu dayung yang selama ini mereka gunakan.690 1.497 1.tahun 2007 hingga sekarang. bantuan lain yang diharapkan adalah bantuan berupa gudang penyimpanan dengan bangunan yang permanen.374 1. bantuan mesin untuk perahu bermotor sangat diperlukan oleh para petani untuk memantau kondisi rumput laut setiap dua hari sekali dan juga untuk mengangkut hasil panen.788 1. Selama ini. Tabel 3. Bantuan yang diberikan bersifat seragam sehingga setiap kelompok yang mendapat bantuan akan menerima barang yang seragam.562 2. Kolaka.904 1.068 2.817 22. Artinya. bantuan tidak dibedakan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok.784 16. Hal inipun sangat bergantung pada besar kecilnya perahu sehingga kapasitas untuk memuat rumput laut berbeda. Sementara itu. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Rumput Laut di Kab.585 3.735 2. bantuan hanya berupa bibit dan tali. Produksi (Ton) 2007 2008 2009 2. bantuan tahun 2009 adalah bibit dan tali maka setiap kelompok akan mendapat bibit dan tali dalam jumlah dan kualitas yang sama.523 3.265 1. 2009 98 . Contohnya.48.355 4.039 1. Bantuan tersebut diberikan satu kali dalam setahun.826 2.

bukan secara perorangan.03 0.08 Vol. Pemilik tambak hanya membayar setengah dari total biaya penataan lahan tambak.05 1. Kolaka Tahun 2007-2009 No.34 240. setiap kelompok budidaya melalui ketua kelompoknya mengajukan permohonan bantuan dalam bentuk proposal yang di dalamnya dicantumkan jenis bantuan yang dibutuhkan. Selanjutnya. untuk budidaya ikan Bandeng (benih.98 1.0 238.51 168. Bantuan yang selama ini diberikan untuk kelompok pembudidaya.Tabel 3.0 Luas (%) 08-09 1.17 229.0 31.5 59 22. Kolaka.3 50 22. berupa sarana produksi seperti: untuk budidaya rumput laut (bibit rumput laut. Produksi (%) 07-08 08-09 07-09 22. tali ris dan jangkar.1 229.61 0. Proposal tersebut harus diketahui oleh kepala desa dan ditandatangani oleh semua anggota kelompok.00 1.0 30.41 229. Program bantuan atau subsidi langsung diberikan kepada pembudidaya di Kabupaten Kolaka.5 253. dan bantuan berupa “bedah tambak”.49.5 59 22.01 0.0 30. gudang penyimpanan dan mesin perahu).0 47.7 225.2 167.5 59 22.0 226.51 0. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Rata rata 07-08 227. Prosedurnya. Ini dilakukan agar pemilik tambak mengolah tambaknya secara berkelanjutan. dan secara tidak langsung (masyarakat tidak langsung menerima bantuan tetapi merasakan manfaatnya). proposal tersebut diverifikasi lapang oleh petugas dinas untuk melihat kebenaran dari informasi yang disampaikan dalam proposal.5 59 22. Bantuan langsung (penerima langsung mendapatkan/menerima bantuan).7 61 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.0 30. Selanjutnya.5 241.85 229.17 244.5 59 22.44 232. Peningkatan Luas areal dan Produksi Rumput Laut di Kab. 99 .0 23.5 59 22.2 226.0 30.28 1.79 257. 2009 Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Subsidi/bantuan kepada pembudidaya dapat dikelompokkan berdasarkan manfaat yang diterima oleh masyarakat pembudidaya. yaitu pemda memfasilitasi pengerjaan pembuatan/pembenahan tambak tambak masyarakat yang terbengkalai.3 80 22.93 07-09 230.0 30.0 30.

kelompok pembudidaya yang mendapat bantuan disahkan dalam Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka.50. Adapun kriteria pemberian bantuan adalah: (a) prioritaskan pembudidaya yang miskin.000. (b) belum pernah mendapat bantuan.000. Untuk itu.Budidaya rumput laut merupakan a) Pengembangan Sapras Budidaya penyumbang pendapatan sektor Rumput laut (bibit. Sedangkan biaya 4 jam lagi ditanggung oleh petani tambak. Artinya. (c) siap sharing dalam bantuan yang sifatnya fifty-fifty karena tanpa komitmen ini bantuan akan gagal sehingga usaha budidayanya tidak mampu berkembang.000. Jenis bantuan/subsidi dan dasar pertimbangannya No A. biaya bedah tambak akan dibantu pemerintah dengan nilai 50 persennya saja.000 = Rp2. jangkar) perikanan kedua terbesar setelah budidaya tambak. namun terjadi kecenderungan penurunan produksi dan luas lahan karena 100 . Hal itu sangat membantu keberlanjutan usaha mereka. Bantuan dengan sistem fifty-fifty khusus diberikan untuk program bedah tambak. Program ini terbukti sangat disambut baik oleh para petani tambak karena tambak yang telah rusak dapat dihidupkan kembali. pemerintah berusaha mengoperasikan tambak-tambak tersebut dengan cara membantu biaya perbaikan tambak. Program bantuan/subsidi tidak langsung dapat berupa pembangunan sarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. Jika untuk memperbaiki tambak memerlukan waktu 8 jam maka bantuan akan diberikan sebanyak 4 jam atau sebesar 4 jam x Rp500. Budidaya rumput laut . Patokan yang digunakan adalah biaya pengerjaan tambak per jam yang besarnya Rp500. Tabel 3. Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Subsidi/Bantuan langsung Dasar pertimbangan 1. tali ris. Program ini mulai dilakukan tahun 2007 hingga sekarang karena pada periode tersebut banyak tambak yang terbengkalai (idle) akibat pendangkalan yang pada terjadi pada tambak.

Perlu pemacuan dalam penyediaan benih bermutu dalam jumlah besar.Potensi konflik batas lahan budidaya rumput laut dan jalur pelayaran sehingga perlu penataan dan penertiban . kayu lantai. paku) Dasar pertimbangan . maupun hutan bakau di pesisir. dalam jumlah maupun kualitas yang diharapkan. Bantuan langsung pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan produksi. Mowewe.Teripang merupakan komoditas yang memiliki prospek harga yang bagus. subsidi/bantuan yang diberikan . 2. Pembangunan Tower Hatchery Watubangga 4. . Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tambak B. Pemantapan BBI Loea. . Pengembangan Pembudidaya Teripang (bibit. oleh pemerintah (pusat dan daerah) secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pembudidaya. Pembangunan Hatchery 3. tali. waring.No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan b) Pengadaan sarana penunjang budidaya rumput laut (kayu tiang. Penyempurnaan Sapras Hatchery Wolo 5. 101 .Masyarakat pembudidaya kesulitan dalam mendapatkan benih. Subsidi/bantuan tidak langsung 1. Rehabilitasi Kantor BBI Wundulako 2.Banyak lahan tambak terbengkalai karena pemiliknya tidak cukup dana untuk penggalian dan penataan lahan tambaknya yang sudah dangkal dan tumbuh gulma. Wundulako Bentuk-bentuk Subsidi Perikanan Seperti yang telah dikemukakan di atas. Sedangkan bantuan tidak langsung berupa pembangunan prasarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. kayu) 3. Akibatnya mereka kehilangan sumber pendapatan dari budidaya ikan sehingga beralih menjadi perambah hutan di bukit bukit sekitar daerah hunian. namun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat.

talli ris. Bantuan/Subsidi langsung Budidaya Rumput laut Pengadaan sapras (bibit. Kolaka tahun 2007 – 2010 No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Vol 2007 Alokasi (000) Vol 2008 Alokasi (000) Vol 2009 Alokasi (000) Vol 2010 Alokasi (000) A. Kolaka.000 - 5 unit 240 ha 94. waring. 3. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4. serta subsidi biaya penggalian dan penataan lahan tambak yang terbengkalai.000 6 paket - 400. Wundulako 102 . tali ris.000 - - 559.000 4. 1.950 400.900 - - - 1 unit - 63.372 kg - 362.Tabel 3.7. Penyempurnaan sarana prasarana hatchery di Kec.000 8.000 - - - - Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.250. 2. tali) Rehab dan konstruksi tambak Bantuan/Subsidi tidak langsung Pembangunan Hatchery Tower hatchery Watubangga Penyempurnaan sapras hatchery Wolo Pemantapan BBI Loea. Pembangunan tower hatchery di Kec.500 - 75.200 - - B. Bentuk bentuk bantuan tidak langsung yang dilakukan (yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dan budidaya tambak) diantaranya: Rehabilitasi kantor BBI Wundulako. Mowewe. diolah. jangkar Sarana penunjang (kayu tiang. 3. kayu dan lainnya yang fungsinya untuk budidaya Rumput laut dan pembuatan para para untuk penjemuran rumput laut hasil panen. Pembangunan hatchery.51. Pemantapan BBI Loea di Mowewe. 50 paket - 415.185 49. 3 paket 110. lantai) Budidaya Teripang (bibit. pembelian bibit. bentuk bentuk bantuan langsung berupa: pembelian bibit. 1. Wolo. tali dan kayu untuk budidaya Teripang.900 1 unit - 75.000 - - 10 paket 100 ha 63. 1 unit 1 unit - 167.000 2 paket 4 paket - 1. Watubangga. waring.300 7 klp 83. jangkar. a) b) 2. Jenis dan bantuk bantuan/subsidi perikanan budidaya laut di Kab.

Dengan demikian. Agar produk yang dihasilkan dapat diserap oleh pasar. Dampak langsung yang sudah dapat dilihat adalah berkurangnya perambah perambah hutan dan penebang hutan bakau karena sebagian dari pemilik tambak sudah dapat mengopersionalkan kembali tambaknya.56 ton/ha (2009).45 ton/ha (2007). maka bantuan untuk pakan merupakan pilihan utama setelah bedah tambak. pembinaan kelembagaan pemasaran dan kemudahan akses pasar akan lebih menjamin dalam usaha budidaya yang berkelanjutan.52 ton/ha (2008) dan kemudian 1. budidaya rumput laut justru terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008 baik dalam hal luas lahan. produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan. mengingat pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya tambak Bandeng. Akibatnya. Berbeda dengan ikan bandeng. meningkat menjadi 1. Seperti yang telah dikemukakan di 103 . Namun demikian. produksi dan produktivitas budidaya Rumput laut. (2) Petani tambak tidak cukup dana untuk memberi pakan secara intensif dan hanya mengandalkan pakan alami sehingga harus mengurangi padat tebar yang berpengaruh kepada produktivitas hasil. Inipun baru sebatas perannya terhadap pertambahan luas lahan yang dilakukan dalam tahun 2009 (240 ha). luas lahan tambak yang difungsikan relatif tetap bahkan cenderung akan berkurang karena pendangkalan yang terjadi terus menerus akibat penebangan hutan di bukit dan hutan mangrove di pesisir. Kondisi ini terjadi karena: (1) Petani tambak tidak cukup dana untuk merehabilitasi tambaknya yang sudah puluhan tahun digunakan dan telah terjadi pendangkalan. Demikian juga volume produksi ikan hanya meningkat 8-9%. Dalam jangka panjang program ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan usaha dan kelestarian sumberdaya.Peran Subsidi Perikanan Dalam kurun waktu 2007 sampai dengan 2009 tidak terjadi pertambahan luas areal tambak yang diusahakan untuk budidaya. sedangkan produktivitas hasil yang rendah yaitu 1. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bantuan berupa bedah tambak perannya cukup nyata terhadap budidaya Bandeng.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara: penyediaan bibit unggul. Namun hal ini tidak langsung diikuti oleh peningkatan produksi yang signifikan karena ternyata produksi hanya meningkat 61%. media penjemuran (para para) dan gudang penyimpanan hasil sangat diperlukan. Jika dikaji lebih dalam melalui perbandingan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 dapat dilihat bahwa dalam hal luasan lahan terjadi peningkatan luas sebesar 229%. hal ini terjadi karena adanya serangan hama/penyakit pada bibit Rumput laut yang masih muda.bagian terdahulu. dan manajemen usaha. Cara lain dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan (teknis dan non teknis) seperti teknis budidaya yang baik. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada budidaya Bandeng. 104 . peran bantuan/subsidi pada komoditas Rumput laut baru sebatas penambahan areal budidaya. Agar mutu hasil produksi dapat tetap terjaga sampai siap dijual. sudah saatnya bantuan/subsidi dalam budidaya Rumput laut dirancang dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya. belum berperan terhadap peningkatan produksi dan produktivitas yang merupakan muara dari program pembangunan yaitu peningkatan pendapatan usaha dan keberlanjutan usaha masyarakat yang dalam hal ini masyarakat pembudidaya Rumput laut. Ke depan. karena selama ini pembudidaya melakukan perbanyakan sendiri dari bibit yang mereka gunakan yang tentunya kualitas bibitnya semakin menurun.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful