3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kota Ambon Gambaran umum lokasi penelitian Luas Kota Ambon adalah 377 km2 (luas daratan sekitar 359,45 km2 ), dengan demikian luasnya meliputi hampir separuh dari luas pulau Ambon. Secara geografis, Kota Ambon terletak pada 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur yang berbatasan dengan:    Sebelah Utara : Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda Sebelah Timur : Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Barat

: Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, 2008 Gambar 3.1. Peta Administratif Kota Ambon Saat ini Kota Ambon dibagi dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, dan Leitimur Selatan. Jumlah desa atau kelurahan yang tersebar di kelima kecamatan tersebut sebanyak 50 desa/kelurahan. Berdasarkan luas wilayahnya, maka Kecamatan

12

Teluk Ambon merupakan kecamatan terluas, yaitu 93,68 km2. Sebaliknya, Kecamatan Teluk Ambon Baguala menjadi kecamatan dengan luas wilayah paling keci, yaitu 40,11 km2. Dengan batas wilayah yang demikian maka perairan Kota Ambon dipengaruhi oleh dinamika laut Banda. Dari 50 Desa/Kelurahan, maka 34 Desa/Kelurahan (68%) berada pada kawasan pesisir, sedangkan desa-desa lainnya terletak di daerah pegunungan dan jauh dari pantai. Desa-desa di daerah pegunungan tersebut memiliki ”hak petuanan” di kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan Laporan Statistik PPN Ambon (2009), jumlah penduduk Kota Ambon yang bermata pencaharian tergantung pada perikanan hanya sebesar 1,4 persen dengan jumlah nelayan dan rumah tangga perikanan (RTP) masingmasing sebanyak 3.796 jiwa atau 3.378 rumah tangga. Nelayan Kota Ambon dapat dikatakan sebagai nelayan sub-sisten. Jumlah nelayan terbesar terdapat di Kecamatan Nusaniwe (34,61%) yang terkonsentrasi di Desa Latuhalat (Tabel 3.1). Latuhalat menjadi sentra kegiatan penangkapan karena kondisi perairan yang menunjang produksi perikanan tangkap. Namun, beberapa desa pesisir lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi untuk budidaya perikanan, pengolahan, eko-wisata laut. Tabel 3.1. Jumlah Nelayan dan RTP Kota Ambon Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Teluk Ambon Teluk Ambon Baguala Sirimau Leitimur Selatan Nusaniwe Jumlah Jumlah Nelayan 677 819 372 614 1,314 3,796 Jumlah RTP 593 725 293 547 1,22 3,378

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon, 2008 Usaha perikanan di Ambon terdiri dari usaha perikanan komersial dan usaha perikanan rakyat. Usaha perikanan komersial ditunjukkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang berpangkalan di Kota Ambon

(fishingground penangkapan adalah di perairan Maluku dan Papua). Sementara itu, usaha perikanan rakyat pada umumnya terdiri dari kapal ikan ukuran kecil

13

sampai ukuran 30 GT.

Berkembangnya usaha perikanan didaerah tersebut

berpotensi mempengaruhi ketersediaan ikan. Saat ini di Ambon semakin banyak tertangkap ikan tuna ukuran kecil (baby tuna), ini merupakan pertanda stok ikan semakin berkurang. Di Kota Ambon terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang tesebar pada beberapa lokasi. Kapal yang berkunjung ke PPN Ambon sangat bervariasi, baik jenis alat tangkapnya maupun ukuran kapalnya. Selain kapal penangkap ikan, ada pula kapal pengangkut yang berperan sebagai kapal pengumpul ikan dari beberapa kapal penangkap ikan yang berada di tengah laut. Kapal pengangkut ikan ini juga berfungsi sebagai penyuplai bahan bakar dan perbekalan untuk biasanya memiliki trip hingga 6 bulan. Jumlah kapal pengangkut yang singgah di PPN Ambon, yaitu sebanyak 275 kapal atau 32 persen dari total kapal yang berkunjung. Ukuran kapal pengangkut antara > 10—1000 GT yang didominasi oleh ukuran 51—100 GT. Sementara itu, kapal penangkap dengan alat tangkap pukat tarik ikan, pukat tarik udang ganda, dan huhate adalah kapal yang paling banyak berkunjung di PPN Ambon masing-masing sebanyak 26 persen, 17 persen, dan 7 persen dari jumlah kapal yang berkunjung ke PPN Ambon. Jenis ikan yang dominan didaratkan selama tahun 2009 adalah ikan pelagis kecil, seperti: ikan gulamah/tigawaja, layang, layur, dan ekor kuning, sedangkan dari jenis non-ikan adalah cumi-cumi (Gambar 3.2). Ikan gulamah/tigawaja adalah ikan yang paling banyak didaratkan, mencapai 61,24 persen dari total ikan yang didaratkan. Gambar 3.2. menunjukkan ikan yang didaratkan didominasi oleh ikanikan kecil yang umumnya banyak dijumpai di pasar lokal. Ironisnya, Kota Ambon sangat kaya akan ikan-ikan pelagis besar, seperti ikan tuna, tongkol, dan cakalang serta ikan karang seperti lalosi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan berupa ikan pelagis besar tidak didaratkan di PPN, tetapi langsung dijual ke awak kapal penangkap yang

14

2008) Penyaluran logistik untuk kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh PPN Ambon meliputi air bersih.perusahaan-perusahaan sebagai komoditas ekspor. (Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. dermaga laut dan pelabuhan tersedia 19 buah untuk melayani angkutan penumpang dan barang. PPN Ambon kurang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya. Dari hasil pengamatan. kebutuhan es seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam pelabuhan karena 15 . Padahal. berasal dari dalam dan luar pelabuhan. Namun. nelayan yang menangkap ikan tuna langsung membawa hasil tangkapannya ke perusahaan yang menawarkan harga tertinggi agar keuntungan yang nelayan peroleh besar. keterbatasan infrastruktur dalam pelabuhan membuat nelayan harus mencari sumber logistik di luar pelabuhan. Persentase Produksi menurut jenis ikan dominan Selain sebagai tempat pendaratan ikan serta berlabuhnya kapal-kapal penangkap dan pengangkut ikan . Sebaliknya. es.2. Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon. dan BBM/solar. Dari hasil pengamatan. sedangkan kebutuhan BBM/solar sepenuhnya berasal dari luar pelabuhan. Hal inilah yang mendorong sulitnya nelayan mendapatkan kebutuhan logistiknya secara cepat dengan harga yang terjangkau. PPN Ambon tidak memiliki stasiun pengisian bahan bakar berupa SPDN atau SPBB sebagai agen resmi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal nelayan. Penyaluran logistik air bersih. misalnya. Kebutuhan nelayan akan air bersih dapat dapat disuplai dari dalam PPN Amon. 2009 Gambar 3. Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah perusahaan kapal mendapat kesulitan untuk melakukan docking karena fasilitas yang tersedia hanya melayani ukuran kapal di bawah 500 GT.

6 2. tongkol.927.757.005.724. 2009 Produksi ikan pada tahun 2009 adalah 22. Tabel 3.000 620.7 857.770 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.2 2.898.981.292 17.4 830 1.210.741.320 15.8 22. Tabel 3. cakalang.031.5 Kebutuhan Logistik Es Balok (Ton) BBM/Solar (Ltr) 13 1.607.710.453 6.00 17 1. Hal ini disebabkan oleh karena ikan-ikan tersebut merupakan komoditas ekspor utama dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar luar negeri.50 16.413. dan tuna dengan nilai produksi terbesar berasal dari ikan cakalang.941.50 1.312 985 1.016 16. Jumlah logistik kapal penangkap ikan di PPN Ambon pada tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Air (Ltr) 368 903.252.851.6 1.186.604.000 659. Volume dan nilai produksi perikanan per jenis ikan tahun 2009 Jenis ikan Cakalang Kembung Lalosi Teri Layang Selar Tongkol Tuna Lainnya Jumlah Produksi Volume (Ton) Nilai (Rp.1 400.5 3.845.700 1.pelabuhan memiliki pabrik es yang produksinya cukup memenuhi kebutuhan nelayan Kota Ambon.369.50 16.2 26.200 9.5 1.000) 5.242 1.1 1.3 3.343.9 7.617.000 23.5 603.2 2.550 5.757 milyar.3.200 72.2 2. dan layang.016 13 2.7 35.2.80 9.4 Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon.30 3 1.810 147. 2009 16 .50 857.422.40 11.30 16. Jenis ikan yang paling besar sumbangannya terhadap total produksi adalah ikan tongkol.343. layang.3 696.1 4.7 ton dengan total nilai sebesar Rp72.526 9.8 14.927.279.7 1.800 300.7 1.5 29.

Namun.Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor (perahu semang). jaring angkat (14. Selain itu. tangguk.3. alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tangan (56%). 2009 Gambar 3. juga tergolong banyak karena ada 10. seperti bubu.4 persen nelayan Kota Ambon menggunakan alat tangkap tersebut. Prosentase kapal motor dengan mesin sebagai armada penangkapan hanya digunakan oleh satu persen nelayan Kota Ambon.3%). jaring insang (9. purse seine. jaring angkat. pancing tonda. dan pukat pantai. jaring insang. yaitu sebanyak 67 persen dan sisanya 32 persen didominasi oleh perahu dengan motor tempel. alat tangkap lainnya. Armada penangkapan yang mengoperasikan alat tangkap pancing tangan (hand 17 . dari sisi manfaat dapat melibatkan banyak nelayan dalam operasional alat tangkap tersebut. perahu motor tempel (outboard engine) dan kapal motor dengan mesin dalam (inboard engine). dan rumpon. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. rawai. huhate. dan pancing tonda (7. Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Armada penangkapan ikan di Ambon tahun 2009 Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Kota Ambon sangat bervariasi.8%). Kapal tanpa motor lebih banyak digunakan dibandingkan perahu motor tempel dan kapal motor. jala. panah. antara lain hand line.3%). Alat tangkap huhate (pole and line) dan giob atau bobo (purse seine) adalah jenisjenis alat tangkap yang sedikit sekali penggunaannya karena sarana penangkapan ini tergolong mahal.

Kondisi ini memang memaksa nelayan untuk menggunakan kapal dengan ukuran panjang dan lebar kapal yang berbeda.<10GT dan sisanya (30 persen) memiliki kapal berukuran < 5 GT. Hal ini terbukti dengan samanya jumlah trip hari untuk musim angin barat dan angin timur 18 . bantuan kapal yang diterima nelayan biasanya tidak dapat langsung digunakan karena harus dimodifikasi terlebih dahulu. Dengan demikian. Untuk itu. dan angin yang cukup besar. baik ukuran panjang kapal dan kekuatan mesinnya.line) umumnya juga menggunakan alat tangkap lainnya. misalnya gill net. Daerah penangkapan ikan umumnya berada di dalam teluk dan pada perairan di sekitar teluk Ambon. dan bottom gill net. jenis alat tangkapnya. karena jika angin kencang tidak terjadi di seluruh wilayah perairan karena terhalang oleh pulau dan gunung di sekeliling teluk. Berdasarkan kepemilikan kapal 70 persen responden memiliki kapal dengan ukuran ≥5GT . gelombang. Ukuran kapal tersebut menyebabkan nelayan tidak mampu menangkap ikan di lautan lepas karena ukuran kapal tidak mampu melawan arus. Karakteristik Usaha Responden Karakteristik responden menurut kepemilikian kapal. tramel net.4. nelayan cenderung mudah berpindah daerah penangkapan (fishing ground) sehingga kegiatan penangkapan tidak terganggu dengan adanya perubahan musim angin. Nelayan Ambon tidak terpengaruh oleh musim. dan bahan bakar yang digunakan dapat dipelajari dari Tampilan Tabel 3.

Tabel 3.4. Karakteristik responden dari aspek teknis
Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT
< 5 GT

Jumlah 9 21 0 0 30 9 8 13 30 25 5 30

Prosentase 30 70 0 0 100 30.00 26.67 43.33 100 83 17 100

≥5GT - <10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT - <100GT Jumlah Jenis Alat Tangkap Pancing tonda Purse seine Gillnet Jumlah Bahan Bakar yang digunakan Bensin Minyak tanah Jumlah

Sumber: Data primer diolah, 2010 Tabel 3.5 menunjukkan pendapatan dan Pengeluaran dari kegiatan penangkapan ikan. Pada nelayan pancing tonda, penerimaan diperoleh dari penjualan ikan tuna pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp1.707.111. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 593.611 yang dialokasikan untuk membeli bensin, oli, es, ransum, dan biaya di darat berupa perawatan kapal. Dengan demikian, keuntungan yang diterima nelayan pancing tonda adalah sebesar Rp1.113.500/trip. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 50% untuk pemilik kapal, 25% untuk nahkoda dan 25% lagi untuk ABK. Pada prakteknya, keuntungan tersebut dibagi dua untuk pemilik dan ABK mengingat biasanya kapal pancing tonda bekerja dengan anggota keluarganya sendiri sehingga bagian ABK adalah Rp 556.750 pada trip terakhir. Untuk kapal purse seine, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dua jenis alat tangkap lainnya. Penerimaan yang diterima pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp3.054.085 dari penjualan ikan kawalinya Rp885.000 dari nilai ikan momar Rp2.973.000 sehingga total penerimaannya adalah Rp3.858.000. Dengan biaya operasional sebesar Rp803.915 maka besarnya

19

keuntungan adalah Rp3.054.085. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 40% untuk pemilik kapal, 30% perawatan, dan perbaikan kapal, 27% untuk ABK, dan 3% untuk nahkoda. Banyaknya ABK yang bekerja di sebuah kapal purse seine membuat penerimaan riil yang diperoleh ABK justru kecil dibandingkan dengan ABK di kapal pancing tonda, yaitu ± Rp41.270 untuk seorang ABK. Tabel 3.5. Pendapatan dan Pengeluaran Kegiatan Penangkapan Ikan
Uraian Penerimaan (Rp) Tuna Selar (Kawalinya) Layang (Momar) Tongkol Kembung (Lema) Jumlah Biaya operasional (Rp) Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Ransum biaya di darat Total Biaya Operasional Keuntungan (Rp) Pancing tonda (< 5 GT) 1,707,111 885,000 2,973,000 1,200,000 288,400 1,488,400 Jenis Alat Tangkap Purse seine (≤ 5-10 GT) Gillnet (≤ 5-10 GT)

1,707,111

3,858,000

0 322,222 0 66,444 41,556 38,389 125,000 593,611 1,113,500

0 118,125 128,250 116,875 13,200 105,625 321,840 803,915 3,054,085

75,000 69,688 15,533 55,714 98,000 15,750 53,333 308,018 1,180,382

Sumber: Data primer diolah, 2010 Alat tangkap gillnet rata-rata menangkap ikan tongkol dan lema sehingga penerimaannya dari kedua jenis ikan tersebut adalah Rp1.488.400. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung rendah karena kapal gillnet tidak banyak membeli oli, minyak tanah, dan ransum sehingga total biaya operasionalnya adalah Rp308.018. Rendahnya biaya operasional ini disebabkan oleh karena nelayan gillnet memiliki trip penangkapan setiap hari sehingga biaya ransum dan biaya bensinnya rendah. Setelah dikurangi dengan biaya operasional tersebut maka besarnya keuntungan sebesar Rp1.180.382. Selanjutnya, sistem

20

bagi hasil dari keuntungan tersebut adalah 60% untuk pemilik, 6% untuk nahkoda, dan 34% untuk ABK. Seperti halnya kapal purse seine, banyaknya ABK yang bekerja membuat bagian keuntungan yang diterima oleh seorang ABK sedikit, yaitu ± Rp40.000.

Bantuan Usaha Perikanan Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatagorikan sebagai subsidi. Namun bantuan ini sifatnya tidak reguler karena diberikan pada keadaan tertentu. Bantuan ini adalah bentuk intervensi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu berjalannya usaha penangkapan ikan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat langsung berupa uang tunai atau peralatan tangkap yang langsung diserahkan kepada kelompok nelayan, misalnya subsidi BBM atau bantuan kapal dan alat tangkapnya bagi kelompok nelayan terpilih. Ada pula subsidi yang diberikan secara tidak langsung, misalnya berupa penyediaan fasilitas untuk memperlancar usaha penangkapan. Intervensi yang intensif kepada nelayan lebih banyak dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Akan tetapi, bentuk intervensinya lebih bersifat pemberdayaan nelayan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya kolektif bersama seluruh masyarakat pesisir untuk pengelolaan ekosistem, sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk menjamin kegiatan nelayan itu secara berkelanjutan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon dan Provinsi Maluku banyak menyediakan bantuan

peralatan penangkapan yang diberikan dalam bentuk paket barang dan uang dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati untuk mendukung usaha nelayan. Bantuan yang bersifat pemberdayaan masyarakat ini jumlahnya sangat kecil, namun sangat membantu dalam pengembangan usaha perikanan yang ada disekitar teluk Ambon. Bantuan tersebut umumnya menggunakan dana yang berasal dari angggaran pemerintah dan sifatnya sangat temporer.

21

2009 Berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan di lapangan. Pemberian bantuan ke depan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memaksimalkan kegiatan dan kelembagaan masyarakat yang sedang berjalan (bukan dengan membentuk kelompok-kelompok baru). bentukbentuk pemberdayaan kepada nelayan sangat bervariasi dalam aktivitas dan lokasi usaha. 2008 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Tahun 2002 Jenis Bantuan Rumpon Gilnet Kios BBM Puse seine Bodi BBM&Alat Papalele ikan Rumpon Rumpon Papalele ikan Papalele ikan Gilnet Rumpon Rumpon Papalele ikan Gilnet Pengolahan Pancing tonda Bagan Kios Bubu Gilnet Pancing tonda Rumpon Papalele ikan Jumlah kelompok penerima bantuan 4 5 1 2 1 1 10 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 3 2 1 1 1 7 1 1 Sumber bantuan APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN Bentuk bantuan Uang Uang/Barang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang 2. 2007 7.6. Bantuan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Perikanan di Kota Ambon Tahun 2002—2008 No. 2006 6. Beberapa desa dan kelurahan yang berpotensi dikembangkan untuk usaha perikanan tangkap. wisata bahari dengan pendekatan terpadu dan menerapkan sistem konservasi yang tersebar dalam lima kecamatan 22 . 4. budidaya laut. 2003 2004 2005 5. 3.Tabel 3. 1. serta yang mempunyai peranan selama ini dalam upaya menyejahterakan masyarakat.

Alat tangkap: Jaring insang.7. Tabel 3. giob/bobo.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). dan Nusaniwe .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Alat tangkap seperti jaring insang. dan PT perikanan Nusantara . dengan isu utama adalah pencemaran. . jaring insang. Laha dan Tawiri .Alat tangkap : Jaring insang. dan PT perikanan Nusantara . NegeriLama.Pengembangan wisata rekreasi massal.Lokasi kelurahan Pandan Kasturi. melalui pendekatan pengelolaan dan konservasi. Bagan. Halong dan Latta serta kelurahan Lateri .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Sirimau 3. Waiheru. alat pancing. Lateri. 1.Lokasi desa-desa Latuhalat. dan PT perikanan Nusantara . Leitimur Selatan 23 . Teluk Ambon Baguala 5.Penangkapan ikan : Jaring insang. ilmiah serta “eco-tourism” .Lokasi desa-desa Passo. Kecamatan Nusaniwe Bentuk Intervensi . Hative Besar. Bentuk-bentuk intervensi pemerintah daerah dalam kegiatan penangkapan di Kota Ambon No. Nania. pancing tonda. 2.Pariwisata massal berupa rekreasi pantai dan secara khusus wisata selam di kawasan kapal tenggelam di Waiame.dalam tabel di bawah ini. Teluk Ambon 4. (beberapa desa seperti Latta. Seilale. alat pancing . wisata selam.Alat tangkap : pancing tonda. huhate .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. Rumpon.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . huhate. wisata khusus alam darat dan laut . Hative kecil. Halong di waktu lampau terkenal sebagai nelayan pole and line yang tangguh) .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie.Budidaya laut (ikan dan non-ikan). Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Galala. Demikian juga masyarakat dari desa tertentu yang dapat dikembangkan sebagai desa pengolahan ikan dan non-ikan. desa-desa Batu Merah. dan PT perikanan Nusantara . Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . dengan konservasi. dengan isu utama adalah pencemaran .Budidaya laut (ikan). . alat pancing. huhate dan giob/bobo . melalui pendekatan pengelolaan ekosistem Daerah Aliran Sungai dan mangrove.Lokasi Desa-desa Rumahtiga.

faktor penyebab lainnya karena armada penangkapan yang digunakan nelayan responden adalah kapal dengan motor tempel yang berbahan bakar bensin.500—Rp6. Kecamatan Bentuk Intervensi .Lokasi Desa-desa Hutumuri. 24 . Hatalae. sedangkan subsidi BBM hanya diberikan untuk armada penangkapan yang berbahan bakar solar. Leahari.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).000 per liter. Selain itu.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . batu laga. subsidi BBM kepada nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran < 5—10 GT dengan alat tangkap pancing tonda dan purse seine dapat dikatakan tidak ada. selam antara Hukurila dan Hutumuri .Budidaya laut (rumput laut. Padahal.Pengembangan pariwisata massal untuk rekreasi dan secara khusus wisata ilmiah. Kilang. dan PT perikanan Nusantara Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya SPDN atau SPBB sebagai penyalur BBM bersubsidi bagi nelayan di PPN Ambon. kebutuhan bahan bakar berupa bensin dalam satu trip cukup besar. Lokasi pengecer juga cukup jauh sehingga nelayan harus membawa jerigen atau botol kaca sebagai wadahnya. teripang. Untuk kapal pancing tonda saja yang melakukan one day fishing rata-rata memerlukan 64 liter bensin. siput lain) dengan pendekatan pengelolaan dan konservasi serta mengembangkan teknologi untuk pembenihan dan pemulihan stok.No. sedangkan kapal purse seine rata-rata memerlukan bensin sebanyak 24 liter dan minyak tanah 37 liter. 2008 Peran Subsidi Perikanan Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. Tidak tersedianya SPDN/SPBN menyebabkan nelayan yang menjadi responden mengalami kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini mereka beli dari pengecer dengan harga Rp4. Naku. . lola. Hukurila .

000 per liter sehingga biaya operasional per trip adalah Rp308.488.768 yang artinya nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan dengan penggunaan BBM bersubsidi meskipun porsi biaya solar terhadap biaya operasional tanpa subsidi BBM atau dengan subsidi BBM hampir sama.500 Berbeda dengan kedua armada penangkapan dengan dua alat tangkap di atas.858.Bensin .000 Gillnet ≥ 5-10 GT 1 hari 12.500 maka solar yang digunakan responden dengan kapal gillnet termasuk ke dalam solar bersubsidi dengan harga Rp6. Analisis biaya dan pendapatan menurut jenis alat tangkap Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip Rata-rata volume (per trip) .611 Rp1.5 liter. Selain itu. 2010 * Harga BBM di eceran ** Harga BBM tanpa subsidi = Rp7.018.018 Rp401. bensin.8. Apabila dibandingkan dengan harga BBM tanpa subsidi maka besarnya biaya operasional per trip adalah Rp401. Penurunan pendapatan tersebut bagi nelayan bagi responden menunjukkan bahwa usaha perikanan tersebut memiliki prospek keberlanjutan yang baik walaupun BBM yang digunakan tanpa di Subsidi.Solar .915 Rp3. Bertambah besarnya biaya operasional tersebut berdampak pada penurunan keuntungan per trip yang diperoleh nelayan yang bisa mencapai 8 persen. 20 liter.5 liter 20 liter 5 liter Rp308. yaitu sebesar 24 persen. Dengan asumsi harga solar non-subsidi adalah Rp7. kapal dengan alat tangkap gillnet menggunakan solar. pada wilayah Ambon ikan yang terdapat di wilayah perairan Ambon masih dapat 25 .Tabel 3.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM* Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM** Rata-rata nilai hasil tangkapan Jenis alat tangkap Pancing tonda Purse seine < 5 GT ≥ 5-10 GT 1 hari 1 hari 64 liter Rp593. dan 5 liter.707. dan minyak tanah yang masing-masing sebanyak 12.111 24 liter 37 liter Rp803.400 Sumber: Data primer diolah.768 Rp1.

yaitu PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry. Penyaluran BBM bersubsidi ini dikelola oleh PPN Ambon yang berwenang mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak Pertamina berdasarkan surat permohonan dari perusahaan. Berdasarkan data dalam Tabel 13. Setelah Pertamina menyetujui permohonan tersebut. Namun. PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry memperoleh BBM bersubsidi paling banyak. 26 . Namun demikian. pengisian solar akan dilakukan di dermaga tempat kapal berlabuh dengan menggunakan mobil tanki dari Pertamina sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya sewa mobil tanki di samping membayar harga BBM yang dibeli. Selanjutnya. PT Samudra Sakti Sepakat baru menerima subsidi BBM sejak bulan Mei 2009 hingga sekarang dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dua perusahaan lainnya. dan PT Samudra Sakti Sepakat.mendukung berbagai armada penangkapan yang terdapat pada kawasan tersebut. subsidi BBM justru disalurkan untuk armada penangkapan dari 7—10 perusahaan besar di Ambon sejak tahun 2007 hingga sekarang. sejak Maret 2009 hingga sekarang subsidi BBM hanya disalurkan ke tiga perusahaan. baik di tahun 2009 (65%) maupun pada tahun 2010 (60%) dari total subsidi BBM yang disalurkan PPN Ambon. surat rekomendasi ini dipelajari oleh Pertamina sehingga pemberian BBM bersubsidi tidak selalu sebanyak yang diminta dan direkomendasikan. PT Cilacap Samudera Fishing Industry. Sementara itu.

Rekapitulasi BBM bersubsidi yang dikeluarkan PPN Ambon tahun 2009—2010 Jumlah BBM bersubsidi (KL) Bulan PT. 2010 3. Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry PT. Kota Bitung Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Bitung terletak pada 1°23'23" .35 Ha. Samudera Sakti Sepakat Jumlah Tahun 2009 Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah 150 95 100 125 125 170 765 25 25 75 50 70 70 315 20 25 50 45 25 30 195 195 145 225 220 220 270 1.Tabel 3.975 Sumber: PPN Ambon diolah. Cilacap Samudera Fishing Industry PT.2.350. yang batas-batas wilayahnya sebagai berikut:  Sebelah Utara dengan Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Timur dengan Laut Maluku  Sebelah Selatan dengan Laut Maluku 27 . Luas wilayah Kota Bitung 31.1°35'39" LU dan 125°1'43" 125°18'13" BT.930 100 75 50 125 125 80 75 25 50 75 780 20 25 40 20 20 70 25 45 265 280 250 270 300 370 355 300 225 250 375 2.275 180 175 200 150 205 255 205 130 175 255 1.9.

03% berombak.083.350. 3.09 10.65 6. Jumlah penduduk Kota Bitung pada tahun 2008 diestimasikan sebesar 178. keadaan tanahnya sebagian besar daratan Bitung atau 45.00 2. Kecamatan Ranowulu Matuari Girian Mandidir Maesa Aertembaga Lembeh Selatan Lembeh Utara Jumlah Kelurahan 11 8 7 8 8 10 7 10 69 Luas Daerah (ha) 15. Kecamatan.10.82 100 Sumber : Kantor Statistik Bitung (2010) Dilihat dari aspek topografis.266 jiwa. 28 .56 8.00 31.73% bergunung.83 1.00 969. Dibandingkan hasil Sensus Penduduk terakhir yakni tahun 2000 yang berjumlah 140.70 3. 1. sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan.06% berombak berbukit dan 32.18% merupakan dataran landai serta sisanya 18. dengan rincian seperti pada tampilan Tabel 3.64 3. Sebelah Barat dengan Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Secara administratif wilayah Bitung dibagi dalam 8 kecamatan dan 69 kelurahan. 8.26 10.756. 7. Hanya 4. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat.553. 6.35 % 50. 2.766.80 3.30 2.00 516. 5.10 . Desa serta Luas Wilayah Kota Bitung No.270 jiwa berarti setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 3%. merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0 – 15 derajat.55 2. industri. 4.396. perdagangan dan jasa serta pemukiman.309.14 8. Tabel 3.

Pada perairan zona ekonomi eksklusif seluas 190 km2 dan produksi 196.5035 km persegi. Penurunan jumlah perahu tanpa motor ini disebabkan karena sebagian nelayan telah memiliki perahu dengan motor temple. perahu tanpa motor yang digunakan untuk menangkap ikan sebesar 40% dan kapal motor < 5 GT sebesar 5% dari total jumlah kapal yang ada.39% per tahun. potensi penangkapan di Sulawesi Utara pada perairan 12 mil seluas 314. Kapal penangkap ikan dengan kategori 11-30 GT atau kapal yang memperoleh izin pada tingkat propinsi berjumlah sebanyak 9% dari 29 . Selain perahu motor temple. Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya.9 ton per tahun.Dilihat dari sebaran penduduk per kecamatan sebagian besar penduduk Bitung terkonsentrasi di Kecamatan Maesa. Armada penangkapan ikan dilihat dari jumlah kapal selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan 4. Penurunan jumlah perahu tanpa motor sejalan dengan meningkatnya jumlah perahu motor temple.81% per tahun. Kapal motor dengan kategori 6-10 GT yang terdapat di Bitung sebanyak 10%. Jika dihubungkan dengan luas wilayah Kota Bitung yang 313. kapal motor juga mengalami peningkatan dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah perahu tanpa motor. maka kepadatan penduduk pada tahun 2008 mencapai sekitar 569 jiwa per kilometer persegi.98 km2 dan produksi 125. Karakteristik Usaha Perikanan Kota Bitung Bitung memiliki sumber daya perikanan yang cukup potensial. Pengurusan administrasi seperti surat izin usaha perikanan. sehingga total jumlah amada penangkapan menunjukkan penurunan. Ditinjau dari kategori kapal.9 ton per tahun. surat izin penangkapan ikan untuk kapal kurang dari 10 GT dilakukan di tingkat Kota Bitung. Penurunan ini terlihat karena adanya penurunan jumlah perahu tanpa motor dalam jumlah yang signifikan. Peningkatan jumlah perahu motor temple rata-rata sebesar 32.81% per tahun dan peningkatan kapal motor dengan rata-rata 20.

471 1.958 1.286 Sumber: dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.621 1.229 2.477 1. alat tangkap yang banyak dijumpai di Kota Bitung adalah alat tangkap purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil dan alat tangkap pole and line untuk menangkap ikan cakalang. Perkembangan jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Bitung. Kapal dengan kategori lebih dari 30 GT terdapat di Kota Bitung sebanyak 35%.227 2.11. Selain alat tangkap hand line.367 2.total jumlah kapal yang terdapat di Kota Bitung. 2010 Alat tangkap yang dominan di Bitung adalah hand line yaitu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna.472 1.472 1. Tabel 3. 30 .456 1.523 1. Kapal kurang dari 5 GT dengan alat tangkap hand line mampu melakukan penangkapan di ZEEI dengan ikan hasil tangkapan tuna berukuran lebih dari 35 kg per ekor. 2000-2009 PERAHU TANPA TAHUN (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MOTOR (2) 1.303 1.613 1.029 700 690 525 PERAHU MOTOR TEMPEL (3) 597 630 727 121 622 642 520 510 510 313 KAPAL MOTOR (4) 155 126 104 274 275 291 409 411 413 448 JUMLAH (5) 2.867 2.470 1.

773 33 660 19 475 5 125 9 135 24 120 24 31 .12. Jumlah kapal dan jumlah nelayan menurut jenis alat tangkap di Bitung.050 525 1.10 GT Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 11 . tahun 2009 KATEGORI KAPAL Tanpa Motor ALAT TANGKAP Hand Line Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Bagan Apung Set Net < 5 GT Sero Tanam Pole and line Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 6 .250 16 64 3 18 132 1.Tabel 3.30 GT Pole and line Tuna long line Light Boat Pengangkut/Penampung JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 525 1.050 50 250 5 100 1 1 2 4 1 8 32 67 387 63 441 50 1.

Dalam pemanfaatan sumber daya perikanan.755 18 360 65 1.286 8. Sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap hand line memerlukan ABK lebih banyak untuk ukuran kapal yang lebih besar. Selain kapal penangkap ikan. kapal pengangkut yang terdapat di Kota Bitung berjumlah sekitar 2% dari total kapal. Bitung ditunjang oleh sebuah Pelabuhan Perikanan Samudera dengan luas 4.460 Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Pole and line Tuna long line > 30 GT Bottom long line Pukat Ikan Gill Net Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Total 448 1.505 13. Kapal dengan alat tangkap hand line yang berukuran kurang dari 10 GT hanya memerlukan ABK sebanyak 7 orang. 32 .6 ha dan reklamasi 1 ha. rata-rata jumlah nelayan yang terlibat sebanyak 25 orang per kapal per trip. Pada alat tangkap purse seine dan pole and line.470 16 320 16 400 23 690 1 5 164 2. sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap yang pada ukuran lebih dari 10 GT memerlukan ABK sebanyak 20 orang.KATEGORI KAPAL ALAT TANGKAP JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 240 114 1.625 47 1.175 98 1.470 Jumlah nelayan yang terlibat di dalam sebuah kapal penangkap ikan tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan.

215 6.30 GT KAPAL 30 . Kunjungan kapal di PPS bertujuan untuk melakukan pembongkaran ikan dan juga untuk memuat perbekalan seperti BBM.465 677 417 206 20.637 12.352 127 215 1. 2005-2009 Sumber : Profil PPS Bitung.432 3. dari kapal tanpa motor menjadi kapal motor tempel.581 230 226 366 24.660 2006 2007 2008 2009 3.20 GT 20 .502 10.267 539 499 1.50 GT MOTOR 50 .877 954 777 1. sedangkan pada tahun 2009 jumlah kapal yang sering berkunjung adalah kapal motor tempel. Jumlah kapal yang berkunjung ke PPS bitung mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2005.648 m2.494 24 2 1. Jalan utama PPS Bitung 1.254 22.952 10. baik dilihat dari jumlah kapal dan juga ukuran kapal.357 150 354 1.702 8. Meningkatnya jumlah kunjungan kapal diatas 50 GT menunjukkan semakin banyaknya jumlah kapal yang beraktivitas di PPS Bitung.610 m untuk bobot kapal 5-30 ton dengan kedalaman -1.13.891 567 305 19 59 266 145 67 15.200 GT > 200 GT 86 29 3 1.720 9. Jumlah kunjungan kapal di PPS Bitung. Tabel KATEGORI DAN 2005 UKURAN KAPAL Jumlah (unit) PTM Motor Tempel < 10 GT 10 .101 719 718 216 21.764 m bobot kapal 30-600 ton dengan kedalaman -5.5 m LWS.130 9.00 m LWS dan dermaga 2 sepanjang 1. es dan air bersih.202 11.100 GT 100 . 2010 33 .300 2. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas kapal. Kunjungan kapal diatas 50 GT juga mengalami peningkatan.dermaga 1 sepanjang 1. Pada tahun 2005 jumlah kapal yang paling sering berkunjung adalah kapal tanpa motor.

Bitung Bahari Sejahtera KSU. Mikaindo Abdai Cemerlang PT. Pangow Jasa Wartel “Aldin” HIPPBI UD. Sukses Abadi 27 Kios Pesisir PT.556.32 81 40 565. Prosesing Plant Prosesing Ikan dan Cold Storage SPBN Tipe. Pathemang Raya PT.60 Usaha Solar (SPBB) dan Air Pengolahan dan Cold Storage Prosesing ikan segar dan Cold Storage Pabrik es.Fasilitas penyediaan perbekalan yang sangat dibutuhkan oleh kapal ikan dalam melakukan penangkapan sebagian besar terdapat di dalam kawasan PPS Bitung. 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Perusahaan PT. Cold Storage Penjualan Suku Cadang.000 616 600 4. Penyaluran solar untuk kapal-kapal ikan telah dibangun SPDN dan SPBB. Lautan Bahari Sejahtera PT.000 1. Etmiko Sarana Laut PT. Wailan Pratama PT. Nama perusahaan yang terdapat di PPS Bitung. Golden Bridge International PT. dan Unit Pengolahan Ikan UKM Kantor Administrasi 34 .92 72. Getra Mitra Usaha PT. Beberapa pabrik es juga dibangun di areal PPS Bitung. A SPDN (BBM Solar) Pabrik Pengolahan Ikan Pabrik Prosesing Fillet Ikan Tuna Kantor Administrasi dan Operasional Penyalur minyak tanah.000 168. Waserda Pabrik Es. Bitung Bahari Sejahtera Luas Lahan (M²) 927 1.000 1. Caria Ch. Kelana Djaya Abadi CV. Penyaluran air bersih untuk kebutuhan kapal penangkapan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki dalam kawasan PPS Bitung. Komegoro PT. hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pemuatan es ke kapal-kapal ikan yang akan melakukan penangkapan.50 1.000 2. Oli Depot Air Isi Ulang Jasa Wartel Kantor Sekterariat Kantor Adm.46 651. kapal ikan yang akan melakukan pengisian solar harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi pengisian solar kepada petugas pelabuhan perikanan. Sari Tuna Makmur PT.000 500 1. Tabel 3. Prosesing Ikan Segar.14. Mikaindo Abadi Cemerlang Daeng Umar Genda Dra.000 1.20 49.

925 4.800 907.190 23.730 838. Kebutuhan perbekalan di Bitung.230 751.850 23.955 110.165 4.505 725. Bagi kapal ikan berbendera Indonesia tetapi merupakan kapal ikan eks asing dan menggunakan ABK asing tidak diperbolehkan untuk mendapatkan solar dengan harga subsidi.465 1.715 6.090 696.Kapal ikan yang dapat melakukan pengisian solar adalah kapal ikan Indonesia dan tidak menggunaka ABK asing.655 Es (Ton) 13.520 10.638 8.000 liter. tahun 2009 Kebutuhan Perbekalan BULAN Air bersih (m3) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 19.245 3.000 620. Tabel 3. Alat tangkap yang memberikan kontribusi hasil tangkapan paling banyak adalah alat tangkap purse seine atau pukat cincin.899 4.000 97.758 15. Teluk Tomini dan Laut Arafura.15.000 3.000 530.660 771.740 995.188 15.15.590 957.000 900.911 7.205 823.020 11. Masingmasing kapal ikan dapat melakukan pengisian solar maksimum setiap bulan 25.955 13.270 24.000 253.000 36.024.374 Sumber : PPS Bitung 2010 Lokasi penangkapan atau fishing ground kapal-kapal penangkap ikan yang berasal atau mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung yaitu di Laut Sulawesi.312. Alat tangkap ini berjumlah banyak dan juga hasil tangkapan setiap kapalnya dalam jumlah besar. Ikan hasil tangkapan alat tangkap purse seine adalah ikan pelagis 35 .000 Solar (KL) 858.110 827.452. Kebutuhan terhadap perbekalan setiap bulan selama tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3.240 886.000 174.

Harga ikan pelagis kecil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ikan pelagis besar. Potensi ikan tuna di Laut Sulawesi masih sangat besar. sehingga masih dapat dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dalam jumlah yang banyak. alat tangkap yang memberikan kontribusi jumlah tangkapan besar yaitu kapal dengan alat tangkap huhate atau pole and line. Kapal dengan alat tangkap hand line Kapal dengan alat tangkap purse seine 36 .kecil yaitu layang dan kembung. Nelayan tersebut sudah harus memiliki keahlian khusus sehingga dapat menangkapan ikan tuna berukuran diatas 30 kg per ekor dengan menggunakan perahu di bawah 5 GT. Selain purse seine. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Bitung untuk melakukan penangkapan ikan tuna adalah hand line dan long line. sehingga mengundang nelayan-nelayan dari Negara tetangga untuk melakukan penangkapan di perairan Indonesia. Potensi sumber daya ikan cakalang di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini cukup besar. Hasil tangkapan utama alat tangkap huhate adalah cakalang. Nelayan dengan skala kecil juga dapat memanfaatkan ikan tuna menggunakan alat tangkap hand line. Potensi lainnya masih belum dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dengan maksimum adalah jenis ikan tuna.

Potensi terbesar yang terdapat di Laut Arafura adalah udang.90 100.20 199. Produksi ikan di Bitung berdasarkan jenis alat tangkap dan fishing ground. Arafura 109.886.998.80 2. Tomini 600.00 4.90 3.70 45.00 8.70 8.462.866.90 13.90 5.80 5. Aktivitas Perikanan pada PPS Bitung 2010 Laut Arafura juga merupakan salah satu fishing ground armada perikanan Bitung.401.300.00 1.425.00 180.099.778.890.60 99.90 1. huhate dan pancing tonda.16. disamping beberapa jenis ikan lainnya seperti cakalang dan ikan-ikan pelagis kecil.4.20 Total 1.90 L.80 4.998.189.00 80.90 280.904.70 17.90 15.998.789.80 127.674.70 127.40 1.60 355.20 209.333.10 13. tahun 2009 Alat Tangkap Payang Pukat tarik udang tunggal Dogol Pukat pantai Pukat Cincin Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Bagan perahu/ rakit Rawai tuna Huhate Pancing tonda Pancing ulur Pancing cumi Jumlah T.Sulawesi 927.70 L.90 99.125.60 14.Kapal dengan alat tangkap purse seine Kapal dengan alat tangkap pole and line Gambar 3.468.576.40 3.80 299.566.50 12.299.637.60 37 .40 45.00 6.00 128.30 46.532.70 4.90 17.823.60 99. Kapal penangkap ikan Bitung yang melakukan penangkapan ikan di Laut Arafura seperti purse seine.80 4. Tabel 3.566.90 18.

20%.80 Total 145. Peningkatan jumlah produksi ikan cakalang sebesar 6.80 4.Sulawesi 90.278. Jumlah produksi ikan layang mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 yaitu 10.80 61.701.073.60 68.48% dari tahun 2007 ke tahun 2008.94%.20 Sumber: Dinas kelautan dan Perikanan Kota Bitung.50 145. Arafura 41.Alat Tangkap Sero Bubu Alat tangkap kepiting Jumlah Jumlah T. Tomini 54.21% per tahun. tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 21. Jika dirata-rata.053.00 L. Produksi ikan tuna mengalami peningkatan sebesar 2.65%.40 L. 2010 Ikan cakalang hasil tangkapan Ikan layang hasil tangkapan Gambar 3.70 42. peningkatan produksi ikan tuna periode 2007-2009 adalah 6.90 0.36% per tahun.5. 38 .90 3.90 55. Kegiatan Pembongkaran dan Distribusi Ikan di PPS Bitung Jumlah produksi ikan cakalang dan ikan tuna di Bitung selalu menunjukkan peningkatan.70 12. dan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 9.

Harga ikan tuna menunjukkan peningkatan mulai dari harga 16 ribu pada bulan Januari sampai harga 30 ribu pada bulan Juni.338. Selama tahun 2009.656.21 (5. Harga pada bulan Januari menunjukkan posisi yang paling tinggi pada tahun 2009 yaitu 17 ribu.899.90 22.10 2008 57.70 52. baik peningkatan maupun penurunan.30 142.820.377.275.72) (7.10 2.40 58.80 26.36 6. Penentuan kualitas ikan tuna dilakukan dengan cara mencek kualitas daging ikan tuna.Tabel 3. Ikan tuna dengan harga 30 ribu adalah ikan tuna dengan grade A.452.747. sedangkan ikan tuna dengan harga dibawah 20 ribu adalah ikan tuna yang tidak dapat dipasarkan ke pasar ekspor.50 2.10 135.003.39) % peningkatan Sumber: PPS. Sebenarnya harga ikan tuna setiap bulannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. sedangkan pada bulan-bulan berikutnya menunjukkan angka yang stabil yaitu pada level 11 ribu dan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember menunjukkan angka yang semakin menurun. Harga ikan tuna yang didaratkan oleh nelayan sangat tergantung pada kualitas ikan.188 per kg.20 6.362.60 2.327. Harga ikan layang ditentukan oleh perusahaan pengolahan ikan yang terdapat di sekitar Bitung.80 145. Rata-rata harga ikan cakalang selama tahun 2009 adalah Rp 11. Bitung 2010.272.245.17. Produksi Ikan Hasil Tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung Tahun 2007 – 2009 Produksi (ton) Jenis ikan 2007 Cakalang Tuna Layang ikan lainnya Jumlah 54.053.60 28.90 53. Harga ikan layang pada tahun 2009 menunjukkan harga yang stabil atau tidak mengalami banyak perubahan.40 2009 61. harga ikan cakalang menunjukkan penurunan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember.572. pada saat ikan masuk ke perusahaan pengolahan. Harga ikan layang lebih tinggi pada bulan April disebabkan karena 39 .

000 30.000 14.000 11.519 11. 40 .000 16.000 30.000 10. Usaha tersebut dilakukan baik dengan system pengolahan tradisional maupun modern.999 12.000 11. sehingga untuk memenuhi produksi perusahaan pengolahan.000 11. Harga beberapa Jenis ikan di PPS Bitung (Rp/Kg).188 Tuna 16.523 Layang 9.pada bulan tersebut produksi ikan layang sedikit berkurang dibandingkan bulanbulan lainnya. Pengolahan tradisional dilakukan melalui adanya industry rumah tangga pengolahan ikan asap/ fufu.267 Selar 13.000 12.000 11.000 31.000 9.000 9.000 12.000 12.883 9.000 10. Usaha pengolahan hasil perikanan di Bitung sudah sejak lama dilakukan dan telah berkembang dengan baik sehingga menjadikan Bitung sebagai pusat pengolahan ikan terbesar di Sulawesi Utara. Saat ini telah ada tiga kelompok pengolah ikan asap yang beranggotakan 10 – 30 pengolah belum termasuk pengolah perseorangan.512 11. teknologi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh pengolah dan pabrik (UPI). tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Cakalang 17. peralatan yang digunakan.336 Sumber: PPS Bitung 2010.000 22.000 15.000 12.000 8.288 8.000 29. bahan pembantu.000 9.000 10.000 16. Penanganan hasil perikanan meliputi penanganan terhadap bahan mentah (ikan). yang perlakuannya dimulai sejak ikan ditangkap. pengecer sampai ke pabrik pengolahan. penanganan di pasarpasar. penanganan saat didaratkan.000 11.000 11.919 12.000 9.997 28.000 15.870 9.18. ikan dibeli dengan harga yang lebih tinggi.000 30. bahan tambahan.350 8.000 11. penanganan di atas kapal.039 11.119 11.000 10.275 24. Tabel 3.000 11.000 30.000 8. Penanganan hasil perikanan berperan penting dalam memanfaatkan produksi perikanan.000 9.000 13.

Pabrik pengalengan ikan . 100 100 100 50 Rata 2 80 35 30 30 Pemasaran % 80. Surabaya.0 AS.Pengolahan ikan tuna. Pengolahan ikan dengan cara pembekuan untuk ikan hasil tangkapan kapal purse seine berorientasi pasar lokal. Selain itu juga disebabkan oleh adanya jenis-jenis ikan yang langsung dapat diekspor tanpa harus terlebih dahulu dilakukan pengolahan.Pabrik ikan kayu . Tabel 3. tahun 2010 Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 1 2 3 4 PT. frozen. Sinar Pure Foods Int'l PT. Disamping itu juga terdapat pembekuan ikan tuna dan pembuatan loin tuna.0 60. UEA PT. Nama Perusahaan. Sedangkan yang terpakai hanya 35% dari kapasitas tersebut. 1979 1991 Kaleng Kaleng Kaleng. Lokal Arab Saudi.0 30.Pabrik pembekuan ikan . frozen 41 . Kedua jenis olahan tersebut berorientasi pasar ekspor. Jenis Produk.UE AS. Kapasitas Perusahaan Perikanan di Bitung. Untuk memenuhi kapasitas pengolahan tersebut.0 35. cakalang dan layang segar untuk ekspor Perusahaan pengolahan perikanan di Bitung didominasi oleh perusahaan pengalengan ikan dan ikan kayu. Besarnya kapasitas pengolahan yang tidak terpakai disebabkan karena rendahnya jumlah ikan yang didaratkan di Bitung.Usaha pengolahan modern di Bitung sampai saat ini berjumlah 45 perusahaan yang terdiri dari : . Delta Pacifik Indotuna 2007 Kaleng. dan Jakarta. Bitung harus dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung dan mengolah hasil tangkapan tersebut pada perusahaan pengolahan ikan yang tersedia. Samudera Sentosa PT.19. Total kapasitas pengolahan ikan di Bitung adalah 894 ton. seperti Bitung.UE Jepang. Deho Canning Co.

0 75.Krea. Fresh:Loin 10 10 3 2 30. Alam Baru Rekor PT. Ikan Kayu Fresh:Utuh.0 50. Nutrindo Freshfood Int'l PT. 6 7 8 2004 2006 15 3 5 1 33.Frozen : Fresh. Melody Asri 1992 2000 Jepang.Sby 2007 27 2007 Frozen 18 5 27.Sby 42 .7 Sngpr.7 AS. Primadaya Bitung PT. Celebes Minapratama PT.0 20. Lokal PT. Perikanan Nusantara 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 21 PT.3 16. Yuh Yow Indo PT.Saku Fresh.0 20.0 20.0 20. Bintang Mandiri Bersaudara 2007 2006 1989 Jepang Lokal/Btg Jepang PT. Tridara Putra Mandiri PT.Fro zen Fresh/Frozen Ikan Kayu Ikan Kayu. Etmico Sarana Laut PT. Sari Malalugis PT.0 40. Indo Hong Hai PT. frozen Ikan Kayu 9 20 25 20 20 20 100 20 10 20 10 30 5 6 15 18 50 3 4 4 2 20 5 50. Taiwn Sngpr.0 30. Lokal Jepang 1994 2000 2004 Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen Frozen Jepang Jepang Lokal Export. Manadomina Citrataruna PT.0 15. Anugerah Timur Makmur PT. Bitung Mina Utama PT. Sari Tuna Makmur 1999 AS. Frozen Frozen Frozen.Lokal 30 Rata 2 10 Pemasaran % 33. Taiwn Eksport. Mina Samudra Kencana 2005 2006 2006 2005 Frozen Frozen: Utuh Fresh.UE.0 Lokal/Jkt.0 90. Lokal 2002 Frozen Frozen Export. Japindo Tencep Raya PT.Krea.0 15 3 20. Sari Cakalang PT.Frozen.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 5 Fresh. Jepang Belanda PT. Lautan Bahari Sejahtera PT. Citra Buana Sulut PT.3 PT.Jepang.0 66.0 0.8 Lokal/Jkt.Frozen :Loin. Shing Sheng Fa Ocean 2001 Frozen 22 23 24 25 26 PT.Frozen:U tuh Fresh.

Sby Lokal/Jkt. Sby Lokal/Jkt.3 20. Permata Laut Jaya 2007 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 CV.0 25. Lautan Berkah CV. Fresh:Loin Frozen. Nick's UD. Sby 5 2 40.0 20. Berkat Baru UD. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung. 2010 Karakteristik Usaha Perikanan Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Aertembaga. Esria UD.Sby Lokal/Jkt. Sby JUMLAH Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.Sby Lokal/Jkt.0 13. Mitra Sakana CV. wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Sukses Abadi UD.0 40. Bitung Timur. Sinco Ocean Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen.0 Rata 2 Pemasaran % CV. Nelayan CV.0 33.Sby Lokal/Btg Lokal/ Jkt. Berdasarkan data primer. Lembeh.0 40.2 Lokal/Jkt. Kina Sasi Biru UD. Girian dan Madidir.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 28 29 30 PT.3 25. International Alliance Food 2007 2007 Frozen Kaleng Lokal/ Jkt. maka 80% dari total responden merupakan angkatan kerja dengan umur 43 .7 35. Bahari Mitra Lestari UD.0 20.0 16. Jasuma UD.Sby Lokal Lokal/Btg Lokal/Jkt. Singa Raja UD. Ocean Tuna PT. Responden yang dilakukan wawancara sebanyak 35 orang.0 25. Fresh:Loin Frozen 2006 2008 2005 2005 2006 Frozen Frozen Frozen Frozen Fresh Frozen Frozen Fresh 2006 Frozen 3 5 6 10 15 4 5 5 4 12 5 60 894 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 10 366 50. Citra Anugrah Fishtama PT.

Responden yang belum memiliki anak sebanyak 34% dan sisanya responden yang telah memiliki anak lebih dari 2 orang. sehingga dapat dikatakan. Pengelompokkan responden berdasarkan ukuran kapal yaitu kapal dengan ukuran kurang dari 5 GT sebanyak 2 responden. 37% telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan kurang dari 15 tahun. anggota DPRD.produktif yaitu antara 20 sampai 50 tahun. sehingga sulit untuk dijadikan sebagai responden. Berdasarkan jenjang pendidikan. responden yang i berpendidikan tamat SMA sebanyak 60% dan tamat SMP sebanyak 31% dan sisanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar. dimana nelayan sebagian besar hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Kota Bitung sudah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Dilihat dari jumlah keluarga. Status responden dalam kegiatan penangkapan ikan 85% anak buah kapal. dan 20% lainnya berumur lebih dari 50 tahun. responden telah menamatkan tingkat pendidikan samapi Sekolah Menegah Atas. kapal dengan ukuran diatas 10 GT sampai kurang dari 30 GT sebanyak 31% dan kapal dengan ukuran lebih dari 44 . sisanya terdiri dari pemilik dan nahkoda. responden memiliki anak 1-2 orang. 51% responden memiliki anggota keluarga 3 sampai 4 orang. Pemilik kapal penangkap ikan di Kota Bitung mempunyai latar belakang yang beragam. PNS dan wiraswasta murni. seperti Walikota. kapal dengan ukuran 5 GT sampai dengan kurang 10 GT sebanyak 34%. Hal ini disebabkan karena sebagian besar nelayan berumur kurang dari 50 tahun dan sebelum terjun ke usaha perikanan. Sedangkan responden yang sudah sangat berpengalaman atau lebih dari 15 tahun hanya sebanyak 17% dari total jumlah responden. Pengalaman responden dalam usaha perikanan sebanyak 46% berpengalaman kurang dari 5 tahun. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada umumnya hanya 1 orang yaitu responden itu sendiri sebanyak 83% dari total jumlah responden.

tahun 2010 Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT < 5 GT Jumlah Prosentase 2 12 11 10 35 5.57 100.600 per trip. responden dengan alat tangkap pole and line sebanyak 10 orang.400 per kg. tetapi sebagian responden juga menggunakan bahan bakar bensin dan minyak untuk kapal dengan motor tempel.000 per trip. Sebagian besar kapal yang digunakan responden mempunyai bahan bakar solar atau bermesin diesel.00 ≥5GT .<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .700 per kg.<100GT Jumlah 45 . Rata-rata jumlah ikan layang yang diperoleh oleh kapal purse seine adalah 560 kg per trip dengan harga rata-rata Rp 7. Sedangkan untuk jenis alat tangkap hand line harus dibedakan untuk hand line dengan skala kecil dan hand line dengan skala sedang. Ditinjau dari jenis alat tangkap. Melihat keberagaman usaha penangkapan ikan di Bitung. Tabel 3. Ikan dominan hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap purse seine adalah ikan layang dan sebagian ikan kembung.71 34. pole and line dan hand line. setiap kapal purse seine juga memperoleh ikan kembung sejumlah 154 kg dan harga Rp 7. sehingga penerimaan nelayan dari penjualan ikan layang adalah Rp 4.20.312.29 31.451. Total penerimaan responden dengan menggunakan alat tangkap purse seine adalah Rp 5. responden dengan alat tangkap purse seine sebanyak 10 orang dan sisanya responden dengan menggunakan alat tangkap hand line untuk menangkap ikan tuna. Selain ikan layang.30 GT sebanyak 29%. maka alat tangkap dapat dikelompokkkan dalam alat tangkap purse seine. Karakteristik Penguasaan Kapal Penangkap Ikan.43 28.

Selain itu. Setiap trip dibutuhkan minyak tanah sebanyak 150-250 liter dengan harga berkisar antara Rp 3. pembeli tersebut sebagian besar sudah menjadi langganan pemilik kapal untuk menjual hasil tangkapannya. karena sudah banyak pembeli yang datang. maka pembayaran dilakukan secara tunai. Bahan bakar utama yang digunakan kapal dengan mesin tempel ini adalah minyak tanah dan dicampur dengan bensin.86 100.57 28. tetapi jika ikan dibeli oleh pedagang besar.57 42. Ikan layang yang dibeli oleh pedagang pengumpul.00 11. Pemilik kapal atau pengurus kapal sudah terlebih dahulu mengetahui harga ikan layang sebelum kapal datang. baru dibayarkan kepada nelayan setelah ikan tersebut dijual ke perusahaan pengolahan.00 25 6 35 Sumber: data primer (2010) Pembeli ikan layang pada umumnya adalah pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke perusahaan pengolahan. juga langsung dibeli oleh pedagang besar dari perusahaan pengolahan tanpa melalui pedagang pengumpul.0004.43 71.000 per liter.14 100.Karakteristik Jenis Alat Tangkap Pole and Line Purse seine Tuna Hand Line Jumlah Bahan Bakar yg digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah 4 Jumlah Prosentase 10 10 15 35 28. oli dan es serta biaya untuk pengurusan izin berlayar dan biaya tambat. Biaya operasional kapal dengan alat tangkap purse seine ini terdiri dari biaya bahan bakar. Ikan layang langsung dijual oleh nelayan di lokasi pendaratan. Minyak tanah diperoleh oleh nelayan dari pengecer yang 46 .43 17.

945.312.222.000 400.000 5.085.000 14. Harga minyak tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan pada suatu wilayah.000 3.096.750 17.500 129.000 Minyak tanah 352.850 operasional 3. karena tidak diperbolehkan membeli bensin dengan menggunakan jerigen.692.580.750 262.500 per liter di SPBU terdekat dengan mencuri-curi kesempatan dari petugas.000 1.000 Es X Umpan X Ransum 20.096.000 biaya tambat Total biaya 1.000 X 2.760.000 122.586.500 250.000 2.580.250.064.672. Bensin dibutuhkan sebanyak 30 liter per trip dengan harga Rp 4. Tabel 3.907.160 31.000 x 54.210.840 50.000 8.21. 2010 47 .500-5.869 8.000 Izin berlayar 1. Penerimaan dan Pengeluaran Per Trip menurut Alat Tangkap di Bitung.840 19.000 34.748.709.terdapat di kawasan PPS Bitung.760.000 per liter.750 Keuntungan Sumber: data primer.656 399.250 Bensin 474.600 X x 5.969.463 40.140.000 2.000 67.000 4.500 2.451.000 per liter.400 1. Nelayan dapat membeli bensin dengan harga Rp 4.000 X 1. Untuk lebih amannya.881 X 4.840 Penerimaan (Rp) Layang Kembung Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional X (Rp) X Solar 109.509.160 Tuna hand line Tuna Hand Line 2 1 (>10GT(>5GT-<10GT) <30GT) X X X X X X X X 14.481.575.139.000 696.260 50.600 Oli 525.000 6.600 Pole and Line (>30GT<100GT X X X 54.000 X 22.000 X 1.000 143.000 1. nelayan membeli bensin di pengecer dengan harga Rp 5. tahun 2010 Jenis Alat Tangkap Uraian Purse seine (> 5GT<10GT) X 4.365.750 17.

yaitu subsidi bahan bakar solar dan subsidi dalam bentuk sarana penangkapan seperti kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan. 2010 Sedangkan subsidi BBM diberikan secara reguler melalui agen penyaluran BBM yang ditunjuk oleh PT.484. Bantuan kepada nelayan di Kota Bitung yang diberikan dalam bentuk kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan dengan sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK). Getra Mitra Usaha.500 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.827.500 2010 Rumpon Ponton 6 1 5. Tabel 3.943.540. Bentuk bantuan yang terakhir ini diberikan oleh pemerintah melalui berbagai program yang sifatnya sangat terbatas.214 2008 2009 Bagan 6 Rumpon 10 969.Peran Subsidi Perikanan Subsidi perikanan yang disalurkan di Kota Bitung dapat dibedakan menjadi dua bentuk. SPBB melayani 48 .22. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Tugas Pembantuan (TP). Bentuk bantuan Perikanan di Kota Bitung. tahun 2005-2010 Tahun 2005 2006 Kapal/perahu Alat tangkap Alat bantu tangkap Jenis Jumlah Jenis Jumlah Jenis Jumlah Pump boat 3 Rumpon 1 Small purse seine 3 Jaring 3 Pelang 3 Small purse seine Light boat Pelang Pajeko Light boat Perahu tuna Ketinting Pengangkut Pajeko Pancing tuna Pancing ulur Ketinting 5 5 20 2 2 4 8 1 1 6 1 1 Purse seine Pancing Alat tangkap 5 5 2 Rakit 11 1.000 Biaya (Rp) 2007 1. Agen penyaluran BBM di PPS Bitung adalah SPDN Komegoro dan SPBB PT.087. Pertamina.662.

23.000 liter sekaligus tetapi kapal ikan dengan trip hanya 1 bulan tidak diberikan rekomendasi untuk pengisian Solar 75.00 PT. Tetapi hal ini dikeluhkan oleh nelayan yang melakukan trip lebih panjang dari 3 bulan.23.663.59 1.575.143.59 691.00 324.27 723. Kapal ikan yang mendapat rekomendasi dari PPS Bitung dapat memesan langsung solar di depot PERTAMINA. Besarnya jumlah solar dalam rekomendasi pengisian BBM ditentukan oleh syahbandar perikanan dengan terlebih dahulu melihat ketersediaan BBM di atas kapal. Getra (SPBB) ( KL ) 847. Tabel 3.99 1.00 307.24 1.24 993. Maksimum pemberian rekomendasi BBM solar setiap bulannya adalah 25.20 1.00 241.56 1.391. Kapal penangkap ikan dengan lamanya trip 3 bulan atau lebih dapat memesan solar sebanyak 75.59 1.000 liter.00 398.59 956.71 Total 1. Setiap kapal ikan yang akan mengisi Solar di SPBB dan Pertamina terlebih dahulu meminta rekomendasi ke PPS Bitung dengan syarat telah menjadi anggota asosiasi. Asosiasi yang terdapat di Bitung yaitu Asosiasi kapal perikanan nasional dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia).000 liter per 3 bulan berdasarkan lamanya waktu operasi penangkapan per trip.99 883.000 liter atau 75. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Pertamina ( KL ) 816.56 824.71 49 .pejualan BBM untuk seluruh jenis dan ukuran kapal dan SPDN yang melayani kapal kurang dari 30 GT. Banyaknya solar yang disalurkan oleh SPBB dan depo pertamina untuk kapal perikanan di PPS Bitung pada tahun 2009 disajikan pada tabel 3. Jumlah Solar yang disalurkan di PPS Bitung. Hal ini dilakukan untuk menghambat adanya penggunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak.131. Pengurusan rekomendasi untuk pengisian BBM di SPBB PPS Bitung dapat dilakukan setelah kapal tersebut mendapat Surat Laik Operasi dari pengawas perikanan dan Surat Izin Berlayar dari Syahbandar Perikanan.93 420.124.280.00 883.

019.00 439.00 334.00 391.500 per liter.32 856. rata-rata solar yang disalurkan langsung oleh depo Pertamina ke kapal nelayan sebanyak 425 KL ber bulan.52 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 3. Pada tahun 2009.500 per liter solar. jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB lebih tinggi lagi yaitu 940 KL per bulan.275.02 15. Kelebihan harga tersebut digunakan untuk biaya transportasi pengangkutan solar dari depo pertamina menuju PPS Bitung.343. Hanya nelayan skala besar yang mau melakukan pembelian secara langsung ke depo Pertamina dengan jumlah BBM lebih dari 20 KL. Rata-rata solar yang disalurkan oleh SPBB pada tahun 2009 adalah 856 KL per bulan dengan harga Rp 4. Selain itu. Pengisian BBM baru dapat dilakukan sehari setelah dilakukan pembayaran. Getra (SPBB) ( KL ) 822. Tidak semua nelayan mau membeli BBM secara langsung ke depo Pertamina karena administrasi yang lebih panjang dibandingkan membeli BBM di SPBB.47 1.23.022.24 PT.83 1. Harga yang harus dibayarkan oleh nelayan adalah Rp 4. Pada tahun 2010.119. SPDN hanya diperbolehkan untuk melayani kapal kurang dari 30 GT.30 1. Hal ini disebabkan 50 .76 1.00 5.47 1.83 837.30 904. rata-rata solar yang disalurkan oleh SPDN ini adalah 24 KL dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 32 KL.102. Harga ini lebih mahal dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pertamina.575 per liter.378.00 349.76 770.25 1. Harga solar yang dibebankan kepada nelayan adalah Rp 4.171.93 425.02 10. Kapal-kapal ikan kurang dari 30 GT lebih cenderung untuk melakukan pengisian solar di SPBB dibandingkan di SPDN.Bulan Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata Pertamina ( KL ) 200.281.28 Total 1.410. penyaluran solar di PPS Bitung dilakukan oleh SPDN yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Komegoro. karena pembayaran harus dilakukan di bank.

20 315. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung jumlah kapal lebih dari 30 GT di Kota Bitung sebanyak 35% dari total seluruh kapal ikan di Kota Bitung.21 14.55 666. hal ini disebabkan karena kapal kurang dari 10 GT sebagian besar tidak menggunakan bahan bakar solar.67 11.022.23 238.40 UKURAN KAPAL 10 .85 12.92 725.95 229. Penyaluran Solar oleh SPBB untuk kapal diatas 30 GT sekitar 70% dari total solar yang disalurkan. Berdasarkan ukuran kapal.13 894.50 649. Hal ini disebabkan.65 684.68 15. melainkan campuran bensin dan minyak tanah.94 15.00 292.24.oleh beberapa hal antara lain tidak kontinyunya stok BBM yang dimiliki oleh SPDN. Rata-rata solar yang disalurkan di PPS Bitung sebanyak 1.82 597. tahun 2009 Bulan < 10 GT ( KL ) 3.47 13.55 8. banyaknya solar yang disalurkan di PPS Bitung dapat dilihat pada Tabel 3.50 500.95 284. Tabel 3.10 321.019.65 16.70 182.24.05 712.99 918.30 665. system pelayanan yang diberikan dan diduga adanya perbedaan takaran liter. Sedangkan untuk kapal dibawah 10 GT hanya disalurkan sebanyak 1.90 JUMLAH ( KL ) 942.4%.70 199.00 593. oleh lebih banyaknya konsumsi BBM oleh kapal berukuran besar dan juga banyaknya jumlah kapal lebih dari 30 GT.30 GT ( KL ) 217. penyaluran BBM paling besar adalah untuk kapal lebih dari 30 GT.20 >30 GT ( KL ) 720.69 1.15 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 51 .500 KL per bulan.67 897.42 1. Solar yang disalurkan SPBB berdasarkan ukuran kapal di PPS Bitung.99 792. Ditinjau dari ukuran kapal.

Bulan

< 10 GT ( KL )

UKURAN KAPAL 10 - 30 GT ( KL )

>30 GT ( KL )

JUMLAH ( KL ) 997.50 1,101.54 895.84 832.10 11,027.06 918.92

Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata

20.93 11.19 8.40 152.93 12.74

372.71 304.45 297.20 3,255.39 271.28

707.90 580.20 526.50 7,618.74 634.90

Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2010 Ditinjau dari jenis alat tangkap, kapal penangkap dengan alat tangkap pole and line merupakan kapal yang menggunakan solar terbesar di PPS Bitung. Sebanyak 23% penyaluran solar dari SPBB di PPS Bitung yaitu untuk kapal pole and line. Selain kapal penangkap ikan, kapal pengangkut ikan yang berlabuh di PPS Bitung juga mendapatkan solar subsidi yang disalurkan oleh SPBB Getra di PPS Bitung. Sebanyak 50% jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB tersebut adalah untuk kapal pengangkut ikan. Sedangkan sisanya disalurkan kepada kapal penangkap dengan jenis alat tangkap rawai tuna, purse seine dan hand line. Bahan bakar minyak merupakan salah satu biaya terbesar yang ditanggung oleh nelayan dalam melakukan usaha penangkapan. Bahan bakar yang diperlukan oleh kapal motor adalah solar sedangkan bahan bakar untuk kapal dengan mesin tempel menggunakan campuran bensin dan minyak. Nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan mesin tempel melakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi pendaratan. Tersedianya stasiun pengisian untuk bahan bakar solar tidak memberikan efek yang signifikan bagi nelayan kelompok ini. Kapal motor dengan GT lebih besar akan memerlukan solar lebih banyak. Pada lokasi penelitian Bitung, kapal dengan menggunakan alat tangkap pole and line mengkonsumsi solar paling banyak yaitu 4,9 KL per trip. Biaya untuk pembelian solar bagi kapal pole and line adalah 65% dari total

52

biaya operasional, sedangkan bagi kapal ikan dengan alat tangkap lainnya hanya sekitar 30% dari total biaya operasional. Tabel 3.25. Perbandingan Biaya Operasional Beberapa Jenis Alat Tangkap dengan dan tanpa Subsidi di Bitung, tahun 2010
Jenis Alat Tangkap Tuna Hand Line Pole and Line 1
≥30GT - <100GT ≥5GT -<10GT

Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: - musim ikan - musim biasa - musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): - Solar (liter) - Bensin (liter) - Minyak tanah (liter) Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM (Rp) Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi solar (Rp) Penerimaan Kotor (Rp) Prosentase BBM subsidi terhadap biaya operasional Prosentase BBM tanpa subsidi terhadap biaya operasional Sumber : Data Primer, 2010

Purse seine
≥5GT -<10GT

Tuna hand line 2
≥10GT -<30GT

1 1 1 340 30 160 2,279,430 2,789,850 5,451,600 34.99 46.88

3 5 7 4960 15 200 34,907,840 49,415,840 54,580,000 65.01 75.28

8 10 13 338 91 40 4,497,369 5,366,088 14,096,750 30.09 41.41

10 11 14 370 35 40 5,367,910 6,450,160 17,760,000 31.53 43.02

Subsidi solar yaitu dengan harga Rp 4.500 per liter memberikan pengaruh cukup besar terhadap total biaya operasional. Tanpa adanya subsidi solar

(dengan asumsi harga solar Rp 7.500 per liter) menyebabkan peningkatan total biaya operasional bagi seluruh kapal penangkap ikan dengan kapal motor. Pada tingkat harga solar Rp 7.500 per liter meningkatkan prosentasi biaya solar terhadap total biaya operasional berkisar 10-12% pada nelayan di Kota Bitung. Sedangkan total biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 19-41% dibandingkan dengan harga solar bersubsidi. Peningkatan biaya operasional tertinggi yaitu terjadi pada kapal dengan alat tangkap pole and line yaitu sebesar 41% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Biaya operasional kapal dengan alat

53

tangkap tuna hand line mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Dari Tabel 3.25, terlihat bahwa kapal dengan konsumsi solar lebih

banyak akan merasakan dampak yang lebih besar terhadap perubahan harga solar. Adanya peningkatan biaya operasional dengan solar tanpa subsidi

menyebabkan semakin rendahnya keuntungan yang diterima oleh nelayan. Penurunan keuntungan kapal dengan alat tangkap pole and line dengan solar tanpa subsidi adalah 73% dibandingkan dengan menggunakan solar bersubsidi. Kapal dengan alat tangkap tuna hand line mengalami penurunan keuntungan akibat tidak adanya subsidi solar sebesar 9% dibandingkan keuntungan dengan solar bersubsidi. Perlu dicatat bahwa berdasarkan Tabel 3.25, jika solar untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut menggunakan harga pasar bebas, maka usaha penangkapan ikan di Bitung masih dapat beroperasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena potensi ikan pada perairan Sulawesi Utara masih cukup potensial.

3.3. Kecamatan Palabuhanratu Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perairan Pelabuhanratu terletak pada posisi geografis 6o57’- 7o07’ LS dan 106o22’-106o23’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.200 km2 atau 9,18 persen dari luas Provinsi Jawa Barat (dengan Banten) atau 3,01 persen dari luas Pulau Jawa. Secara administratif, wilayah Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan:
 

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

54

  Sebelah Barat. Pada periode Musim Timur (MeiAgustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat November-Februari). Wyrtki (1961) mengemukakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu sesuai dengan sifat laut dan tercatat kecepatannya sebesar 1-7.id Gambar 3. berbatasan dengan Provinsi Banten Sebelah Timur. berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sumber: www. Peta Kecamatan Palabuhanratu Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar. Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk.co. di Samudra 55 . 1961) yang disebut Musim Peralihan Timur (Maret-April) dan Musim peralihan Barat (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. Selanjutnya dikatakan bahwa perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29o-30oC dan pada musim timur 26o-27oC.google.5 cm/dtk pada bulan September sampai Desember yang bergerak ke arah barat. di antara Musim Timur dan Musim Barat terjadi periode peralihan (Wyrtki.6. pada bulan September-Oktober Karakteristik Perikanan Teluk Palabuhanratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat. 2008).

76 -15. Tuna Longline.55 18.76 -24. dan biota laut lainnya. yaitu sebesar 17. Purse seine. perikanan. 2008 Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu pada Tahun 2009 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Jaring Rampus.Hindia. non-hayati.34 persen. Payang. Jumlah Perahu Motor Tempel dan Kapal Motor Tahun 2000 – 2008 Jenis Kapal/Perahu (Unit) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah (Unit) > 30 GT 11 12 13 11 139 68 77 103 69 456 490 452 381 530 676 798 852 646 Fluktuasi (%) -0.65 7. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km. (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. Realisasi operasional jumlah kapal/perahu Motor Tempel dan Kapal Motor lainnya yang beroperasional disajikan pada Tabel 1. seperti Gill net. Potensi wilayah pesisir Palabuhanratu mencakup potensi sumber daya hayati. Tabel 3. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada yang beroperasional didominasi oleh jenis kapal/perahu Motor Tempel sebanyak 230 unit kapal jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 2008). Selain itu. dan Pancing rawai lainnya. Bagan.30 GT 12 7 13 8 10 28 53 71 52 Sumber Data Statistik PPNP. Palabuhanratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat.71 39. dan jasa-jasa lingkungan.17 Motor Tempel 275 323 317 253 266 428 511 531 416 < 10 GT 147 141 106 106 111 143 153 137 102 Kapal Motor 11 . Potensi sumber daya hayati meliputi ekosistem pesisir.11 27.46 -7.20 GT 11 7 3 3 4 9 4 10 7 21 . Jenis armada penangkapan ikan yang menggunakan base fishing port-nya Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu adalah jenis Kapal Motor dengan ukuran kapal < 10 GT s/d > 30 GT dengan berbagai macam alat tangkap.05 6. Bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi tidak berdampak terhadap jumlah frekuensi keluar 56 . Pancing ulur.26.

27 persen.510 23.638 5.248 1.27.65 75. Total frekuensi kunjungan kapal pada tahun 2008 sebesar 32.335 21.05 persen. Frekuensi kunjungan kapal motor dan motor tempel (Tabel 3.68 -27.31 72.12 5.198 32.13 70.847 22. Kebutuhan logistik kapal ada yang mengalami penurunan ada pula yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan logistik kapal tahun sebelumnya.61 -11.675 2. Adapun kebutuhan perahu/kapal perikanan terhadap ketiga jenis logistik tersebut diuraikan dalam Tabel 3.005 3.64 -7.335 kali dengan rata-rata kapal yang masuk ke kolam Pelabuhan sebesar 2.279 4.836 29.57 -15.694 kali dengan rata-rata 394 kali per bulan.738 11.18 -9.919 27.12 persen. sebaliknya terjadi penurunan pada frekuensi keluar kapal sebesar 29.595 16.16 75.031 15.22 24.90 -67.771 1. Kebutuhan logistik BBM yang terdiri 57 .28. sedangkan jenis kapal motor naik sebesar 22.masuk kapal.08 79.48 22.83 45.497 Jumlah Total (Kali) 21.588 28.10 -5.14 -21.522 40.776 15. Total frekuensi kunjungan kapal Motor Tempel sebesar 27. Tabel 3.857 5.38 52.694 3.802 16.641 18.602 Fluktuasi Kapal Motor Motor Tempel (%) (%) 42. Frekuensi Kunjungan Kapal Motor dan Motor Tempel Tahun 2000 – 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Kapal Motor (Kali) 6.303 kali per bulan.27) pada tahun 2000-2008 selalu mengalami fluktuasi yang bergantung pola musim ikan dan perubahan cuaca yang tidak menentu. solar di samping kebutuhan logistik lainnya serta konsumsi.057.505 19.641 kali dengan jumlah rata-rata 2.42 -46.26 persen dan frekuensi masuk kapal sebesar 34.101 12.891 2.27 Sumber Data Statistik PPN Palabuhanratu. jenis perahu/kapal motor tempel yang menggunakan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sebagai tempat labuhnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.738 24. sedangkan frekuensi kunjungan Kapal Motor sebesar 4.695 kali per bulan. yaitu sebesar 5. Secara umum. 2008 Kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan penangkapan ikan terlebih dahulu harus melengkapi kebutuhan logistiknya berupa es balok. air bersih.104 Motor Tempel (Kali) 14.884 34.

034. kebutuhan logistik air mengalami penurunan sebesar 20.897.811. 2009)..24 4.000 6.29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Sumber Data Statistik PPNP 2008 Ket : @ BALOK ES = + 50 Kg a.371 2.110 4.68 63.56 persen. Air yang disalurkan berasal dari air PDAM yang dialirkan ke kapal perikanan melaluai jaringan pipa dan slang plastik dengan ukuran penjualan dalam bentuk “Blong” (drum plastik) yang berkapasitas 250 liter dan 120 liter atau dalam bentuk jerigen plastik (30 liter) untuk kapal-kapal yang ada di kolam 1 (satu).000 1.17 18.51 persen.155 1.591.39 -21.71 19.00 -60.316.78 1 5.778 147.863 164.600 4.65 0.511.92 30.28.870 10. yaitu pengisiannya menggunakan jaringan pipa yang 58 .27 -84.749.60 2.213.912 5.53 198.000 4.490 277.450 196.000 380.29 -46.45 7.32 115.74 12.45 289. dan kebutuhan logistik minyak tanah juga mengalami penurunan sebesar 70.55 persen.041.dari solar untuk kapal motor dan bensin untuk perahu motor tempel mengalami peningkatan sebesar 18.64 BBM / Solar (Ltr) Jumlah 1.900 1.700 1.821.787.216 1.868 117.37 -45.161 158.045.49 286.595 285.660.61 75.034 -17.61 -3.785 6.704 219.380.528. Tabel 3.07 -72. Penyaluran Kebutuhan Logistik Kapal di PPN Palabuhanratu Tahun 2000 -2008 Kebutuhan Logistik Es (Balok) Fluktuas Jumlah i (%) 74.259 Fluktuasi (%) 18.92 -20.090 2.40 No Tahun Air (Ltr) Fluktuas Jumlah i (%) 2.675.50 persen (Buku Stastistik Perikanan. kebutuhan logistik es mengalami kenaikan sebesar 1.22 .07 -16.470 112.917.200 1.632 11.300 4.443. Air Bersih Penyaluran kebutuhan air bersih untuk kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dipenuhi oleh sebuah perusahaan swasta.1.35 -84.479. Berbeda dengan kapal-kapal yang ada di kolam 2 (dua).44 27.24 6.917.

Di samping itu. 2009 Gambar 3. kesadaran nelayan akan pentingnya mempertahankan mutu ikan semakin tinggi sehingga secara umum penggunaan es di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu cenderung turun sebesar 16. b. Kemampuan dalam mensuplai air bersih di PPN Palabuhanratu masih cukup besar dengan tersedianya mobil tangki untuk mengangkut air bersih yang berkapasitas 400 m³. yaitu pabrik es Sari Petejo dan Tirta Jaya. Kebutuhan Es Balok di PPN Palabuhanratu tahun 1993—2008 Jumlah pemakaian es balok sampai sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi bergantung jauh dekatnya wilayah penangkapan. Di samping itu. instalasi baru khusus untuk nelayan dan pihak investor guna meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih kepada masyarakat perikanan telah terpasang. Jumlah pemakain es balok oleh kapal/perahu perikanan di PPN Palabuhanratu untuk operasional penangkapan ikan disajikan pada grafik berikut.61 persen.7.langsung sampai ke dalam kapal dengan ukuran penjualan dalam bentuk kubikasi. Es Balok Kebutuhan logistik untuk es balok di PPN Palabuhanratu selama ini masih disuplai oleh dua perusahaan swasta. Sumber: Laporan Tahunan. Total penggunaan es balok oleh nelayan untuk operasional penangkapan ikan pada tahun 2007 adalah 59 .

jumlah total pemakaian solar pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 118.045.371 liter dengan rata-rata pemakaian per bulan 484. tergantung dari jumlah kunjungan kapal.281 liter dimana pemakaian solar 60 . 2009 Gambar 3. BBM (Solar) Jumlah pemakaian solar kapal perikanan di PPN Palabuhanratu semenjak dioperasionalkan mulai tahun 1993 sampai sekarang selalu mengalami fluktuasi seiring dengan kunjungan jumlah kapal pendatang yang tambat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dan jauh dekatnya daerah penangkapan ikan serta jumlah kapal perikanan dengan kecenderungan kenaikannya sebesar 5.811. c.8.04 persen per tahun.000 liter karena aktvitas kapal masih didominasi kapal motor tempel. Sumber: Laporan Tahunan.161 kg (@ balok = 50 Kg) atau rata-rata per bulan sebanyak 13. Pemakaian solar kapal perikanan pada tahun 2008 sebanyak 5. Perkembangan Kebutuhan BBM di PPN Palabuhanratu tahun 1993--2008 Kebutuhan BBM di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu berfluktuasi.65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. yaitu hanya sebanyak 1. Volume logistik BBM terendah terjadi pada tahun 2001.sebesar 164.680 kg. Volume logistik BBM tertinggi terjadi pada tahun 2004 karena aktivitas kunjungan kapal longline (KM > 30 GT) yang meningkat tajam. Sementara itu.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Ikan Tongkol Komo Cakalang Tongkol Lisong Tongkol Abu-abu Tembang Tuna Albakor Tuna Mata Besar Tuna Yellow Fin Cucut Setuhuk Loreng Pedang-pedang Layur Layang Deles Layaran Peperek Rata-rata Volume (Kg) 15.848.108 13.338.230.500 11.468 8.312 Sumber: Buku Statistik PPN Palabuhanratu.960 1.733 301.610 107. Penyaluran BBM solar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu disediakan oleh SPBB dan SPBN yang dikelola oleh pihak swasta dan melalui SPDN yang dikelola oleh pihak KUD Mina.050 739. yaitu masing-masing sebesar Rp24.998.193 320.813.774 Harga (Rp/kg) 7.093.472 11. layang deles.956 17.461 4.675 12.155 542.372 11.512. Hasil tangkapan nelayan di Palabuhanratu didominasi oleh ikan tuna mata besar. Sebagian besar ikan di 61 .687 1.183 dan Rp21. Sementara itu.000 1.29.000 1.000 133.285 66.016 kg dengan nilai produksi sebesar Rp3.115.648. layaran.183 21.308.015.774.007 6.764.495.827 24.179 29.908 87. 2009 Ikan-ikan yang telah didaratkan di PPN Palabuhanratu kemudian didistribusikan ke pasar di berbagai wilayah.800 1.500 3.411 9. Berdasarkan data produksi.468 per kg.997 15. Kegiatan penangkapan ikan 50-70 persennya merupakan biaya operasional yang sebagian besar untuk keperluan pembelian BBM solar. Nilai Produksi. Tabel 3.049 103.601.000 30.697.500 2.593.183.697. Volume Produksi.789. dan tongkol lisong.676 15. Hasil tangkapan yang tidak kalah banyaknya adalah ikan layur. dan Harga per Jenis Ikan Tahun 2009 No.979 30. rata-rata volume produksi pada tahun 2009 adalah 251.308.595. tuna yellow fin.000 1.796.704.500 398.578.050 476.500 1. cakalang.477.888.000 102.011 8.230 115.317.513 1.917 251.241. dan peperek.067.6 Nilai (Rp) 112. tingkat harga jual ikan tuna mata besar dan yellow fin tercatat paling tinggi.300 175.216 4.ini banyaknya dilakukan oleh kapal-kapal pendatang (Kapal Tuna Long Line) yang mengisi logistik bahan bakarnya antara lain solar di PPN Palabuhanratu dan semakin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground).584 20.272.

Berdasarkan tingkat pendidikannya. Pasir Bayu. Sesuai dengan data yang diperoleh. responden sebagian besar adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 50 persen dan 37. dan > 15 tahun.45 persen dari total volume produksi pada tahun 2009.5 persennya adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pemasaran ke Jakarta sebenarnya juga dijual kembali ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan besar yang menampung ikan-ikan dari Palabuhanratu sehingga kegiatan ekspor tercatat berasal dari Jakarta. 35 persennya memiliki pengalaman usaha 6—15 tahun dan hanya 25 persen 62 . Sebagian kecil responden adalah tidak tamat SD dan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sekolah tinggi. Taman. Cisolok. Pengalaman usaha nelayan tersebar merata dari rentang waktu ≤ 5 tahun. Cilacap. yaitu Kecamatan Palabuhanratu.22 persen dari total volume produksi. nelayan yang menjadi responden masih tergolong muda karena pengalaman usaha mereka sebagian besar ≤ 5 tahun.64 persen. Pasar regional lainnya yang juga mampu menyerap produksi ikan Palabuhanratu adalah Cianjur sebesar 8. Simpenan.Palabuhanratu dipasarkan di pasar lokal dan regional. Kemudian. Berdasarkan data yang diperoleh.42 persen saja dari total volume produksi. Pasar regional yang menjadi tujuan utama dari pemasaran ikan Palabuhanratu adalah Jakarta sebesar 57. distribusi ke luar negeri atau ekspor yang langsung dilakukan dari Palabuhanratu hanya menyerap 2. dan Suli. 6—15 tahun. Bayah. asal responden sebagian besar atau 65 persen adalah nelayan dari Kecamatan Palabuhanratu dan sebagian kecil lagi tersebar di tujuh kecamatan lainnya. Sementara itu. Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk nelayan yang berpendidikan karena sebagian besar responden pernah dan telah mengenyam pendidikan formal. Karakteristik Usaha Responden Jumlah responden yang diwawancarai sebagai sumber data primer adalah sebanyak 40 orang yang tersebar di delapan kecamatan. yaitu sebanyak 40 persen. sedangkan pasar lokal hanya mampu menyerap 8.

Sementara itu. Namun demikian. Berdasarkan kepemilikan kapal (GT). Sebagian besar responden termasuk ke dalam kategori keluarga besar yang memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang dan ≥ 5 orang. jenis alat tangkap. yaitu ≥ 10GT . Berdasarkan data yang diperoleh. Sebanyak 40 persen responden mengoperasikan sendiri armada penangkapannya dan sebanyak 32. responden yang bekerja sebagai nahkoda hanya sebanyak 11 orang atau 27.< 30GT dengan wilayah penangkapan yang tidak jauh. 77. Sementara itu. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan menjadi mata pencaharian yang sangat diandalkan responden karena sejak usia muda mereka telah memilih nelayan sebagai profesi utama. keterlibatan anggota keluarga yang lain tidak terlalu signifikan dalam memikul beban ekonomi keluarga. tampak bahwa kepala keluarga menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga. Karakteristik responden juga dapat dilhat dari aspek teknis usaha penangkapannya berdasarkan kepemilikan kapal menurut GT. sebagian besar responden adalah pemilik kapal dan ABK. dan bahan bakar yang digunakan. Sebagian kecilnya lagi atau 10 persen responden yang melibatkan ≥ 3 orang anggota keluarga. Sebagian besar atau 55 persen responden memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga sedang yang terdiri dari orang tua dan dua orang anak dan 35 persennya memiliki anggota keluarga berjumlah ≥ 5 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga besar.5 persen dari total responden. Berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja. Kondisi ini disebabkan oleh karena armada penangkapan yang digunakan berukuran kecil. Sementara itu.berpengalaman lebih dari 15 tahun.5 persen anggota keluarga yang terlibat dalam usaha penangkapan hanya 1 orang yang berarti hanya kepala keluarga yang bekerja. sebagian kecilnya (15%) memiliki anggota keluarga ≤ 2 orang. ada pula keterlibatan istri dalam usaha penangkapan sebanyak 12.5 persen dari total responden yang melibatkan 2 orang anggota keluarga yang bekerja. Berdasarkan statusnya. 45 persen 63 .5 persen bertindak sebagai ABK.

<30 GT dan 10 persen untuk kapal ukuran ≥30 . pancing tonda paling banyak digunakan oleh responden. Namun demikian. nelayan akan mengambil ikan dengan menggunakan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal. Bahkan. Jenis alat tangkap lainnya adalah longline sebanyak 15 persen dan gillnet sebesar 12.5 persen untuk kapal ukuran ≥10 . Bagan hanya berperan sebagai alat bantu penangkapan karena setelah ikan berkumpul di bagan. Sementara itu. dan longline. minyak tanah hanya menyumbang 2. gillnet.5 persen.5 persen dan bensin sebanyak 30 persen. kondisi ini juga menyebabkan beberapa jenis alat tangkap tidak dapat lagi digunakan. yaitu sebesar 32. yaitu sebanyak 16 orang atau sebesar 40 persen.5 persen atau hanya satu armada penangkapan yang menggunakannya karena minyak tanah hanya digunakan untuk menghidupkan mesin dan sebagai bahan bakar lampu petromaks. Armada penangkapan yang digunakan sebagian besar adalah kapal motor dengan mesin berada di dalam kapal (inboard boat).<100 GT. responden yang menggunakan kapal dengan ukuran sedang dan besar hanya sebagian kecil saja. yaitu 12.5 persen dari jumlah responden. Hal ini terlihat dari jenis bahan bakar (BBM) yang digunakan yang sebagian besar menggunakan solar sebanyak 67. bagan.5 persen responden menggunakan alat bantu bagan tancap dalam kegiatan penangkapannya. Sementara itu. 64 . Jenis alat tangkap dan alat bantu lainnya yang digunakan responden adalah pancing tonda. tetapi ada pula nelayan yang menggunakan kapal dengan motor tempel. Dari keempat jenis alat tangkap tersebut. responden yang menggunakan kapal < 5 GT tidak ada karena wilayah penangkapan di lokasi penelitian bertambah jauh karena ketersediaan ikan semakin menurun.responden memiliki kapal dengan ukuran ≥ 5 .< 10 GT dan 32. Alat bantu tangkap lainnya yang juga banyak digunakan adalah bagan yang ditancapkan di lokasi yang masih banyak memiliki sumber daya ikan.

Tabel tersebut keuntungan yang diperoleh nelayan per trip menurut tangkap dan ukuran armada penangkapan dari empat jenis alat tangkap.200 per kg. analisa usaha kegiatan Dari alat penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 3.777 dan Rp288.5 15 40 100 30 67.477. Sementara itu. padahal harga cumi-cumi rata-rata sangat rendah.5 2. dan biaya di darat tidak menjadi komponen dari biaya operasional.Tabel 3.5 100 32. umpan. hanya alat bantu penangkapan bagan yang rata-rata menunjukkan kerugian sebesar Rp 915.5 12. yaitu Rp3. 31. Kerugian ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang diperoleh didominasi oleh cumi-cumi dibandingkan ikan teri.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .889 dengan besarnya biaya operasional adalah Rp1. Hasil tangkapan bagan adalah ikan teri dan cumi-cumi yang masingmasing sebesar Rp272.450. 65 . Penguasaan Aset Usaha Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Karakteristik Kepemilikan Kapal (GT) < 5 GT Jumlah (n) 0 18 5 4 13 40 13 5 6 16 40 12 27 1 40 Prosentase (%) 0 45 12.<100GT ≥100GT Bagan Jumlah Jenis Alat Tangkap Bagan Gill net Longline Pancing Tonda Jumlah Bahan Bakar yang Digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah Sumber: Data primer diolah.5 100 ≥5GT .5 10 32. biaya solar. 2010 Dari kegiatan penangkapan tersebut.30.984.

000.000.000 875.708.000 16.483. Analisa Usaha penangkapan Ikan Beberapa Alat Tangkap di Palabuhanratu 2010.648 Sumber: Data primer diolah.702.051.000 0 50.269.916.702 6.450 (915. analisis membedakan antara longline ukuran ≥10 GT-<30 GT dan longline ukuran ≥30 GT-<100 GT karena hasil tangkapan dan biaya operasional jauh berbeda sehingga mudah mendapatkan 66 .602. yaitu Rp1.477.500.990 4.750 106. Khusus untuk alat tangkap longline.000 16.357.250 474.875 Gillnet (≥5GT <10GT) Jenis Alat Tangkap Longline 1 (≥10GT -<30GT) Longline 2 (≥30GT 100GT) Pancing Tonda (≥5GT -<10GT) 0 109.000 atau sebesar 39 persen.298 dengan biaya solar mengambil bagian yang paling besar.813 25.825.324.667 2.500.500.298 7.000 2.000 120.600 1.000 0 461.000.000 55.000 45.000 352. biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp3.000 0 16.500.500.250.000.000 5.324.500.227 12.000. Sesuai dengan sistem bagi hasil yang berlaku.31. dan bagian ABK adalah sebesar Rp2.500 866.825.000 16.397.Tabel 3.334 62.325.000 561. Sementara itu.000 118.256 667.063 207.984) 1.000. yaitu 50 : 20 : 30 maka bagian pemilik kapal rata-rata sebesar Rp375.188 688.000 124.875 16.466.500 0 9.000 118.000 438.500 6.666 1.667 0 2.500 42. nahkoda Rp1.269.000.000 0 0 7.000 0 0 240.667 207.432. 2010 Hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap gillnet adalah ikan tongkol dan cakalang dengan total penerimaan sebesar Rp10.889 5.466 10.533.798 3. Besarnya penerimaan dan biaya operasional tersebut menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp7.500 741.483.600 525. Uraian Penerimaan Teri Cumi-cumi Tongkol Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Umpan Ransum Biaya di darat Total biaya operasional Keuntungan Bagan 272.750.787.791.577 288.

000.000.000. Kegiatan penangkapan pada trip terakhir untuk kapal dengan alat tangkap pancing tonda membukukan keuntungan bersih sebesar Rp12.483.397.227 pada trip terakhir.641.500.300. dan ABK sebesar Rp2. 15% untuk nahkoda. Kondisi ini ditunjukkan oleh besarnya penerimaan dan biaya operasional longline ukuran ≥30 GT-<100 GT masing-masing sebesar Rp118. dan 35% untuk ABK sehingga hasil yang diperoleh oleh masing-masing rata-rata adalah sebesar Rp6. nahkoda sebesar Rp2. dan 40% untuk ABK. dan ABK sebesar Rp4. sedangkan SPBB melayani kapal-kapal besar ukuran ≥ 30 GT.300.000.334 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp62. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 50% untuk pemilik. yaitu masingmasing sebesar Rp16.432. yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi.000. Bentuk subsidi yang dikelola oleh PPN berupa subsidi BBM berupa solar melalui SPDN dan SPBB yang tersedia di pelabuhan. bagian pemilik ratarata adalah Rp3. Hasil tangkapan utama yang dibawa oleh pancing tonda adalah ikan tuna dengan nilai rata-rata Rp16.000 dan Rp55. jumlah penerimaan dan biaya operasional untuk kapal longline ukuran ≥10 GT-<30 GT sangat jauh berbeda. 67 .nilai rata-ratanya. Sementara itu.000 dan Rp9. 10% untuk nahkoda. Untuk longline ukuran ≥30 GT-<100 GT.602.500 sehingga keuntungan bersihnya sebesar Rp6.000. dan ABK sebesar Rp25.000.000. sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp4. Subsidi Perikanan di Palabuhanratu Subsidi perikanan di Palabuhanratu disalurkan oleh dua pihak.000. sistem bagi hasil yang digunakan juga sama sehingga bagian pemilik rata-rata sebesar Rp31.000.000.000.500.000.875.051. nahkoda Rp660.000. Dengan demikian.666.791. SPDN khusus melayani kebutuhan solar dari kapal-kapal ukuran < 30 GT. Sistem bagi hasil yang digunakan adalah 50% untuk pemilik.648.708. nahkoda sebesar Rp6.000.

Namun. Dinas Kelautan dan Perikanan juga memberikan bantuan modal untuk mengkonversi armada penangkapan nelayan dengan alat tangkap payang menjadi kapal rumpon. Untuk mengatasi permasalahan ini. Jenis Subsidi Langsung: 1. Bentuk-bentuk subsidi perikanan tangkap laut tahun 2009 No. 1. seperti rumpon yang diberikan kepada kelompok nelayan yang lulus seleksi setelah mengajukan proposal bantuan. Namun demikian. Tidak mampunya kapal payang dan gillnet beroperasi di perairan Palabuhanratu karena fishing ground yang semakin jauh Kebijakan pemasangan rumpon di sekitar perairan Palabuhanratu Menurunnya sumber daya ikan sehingga fishing ground semakin jauh 1. Akibatnya. Selain itu.c Bantuan modal untuk mengkonversi perahu 2.Tabel 3. armada penangkapan yang dimiliki sebagian besar nelayan Palabuhanratu tidak menunjang untuk sampai ke wilayah penangkapan yang jauh. mesin. seperti paket penangkapan berupa armada penangkapan dan alat tangkapnya. dan alat tangkap (paket) 1.b Bantuan kapal. Tidak Langsung: 2. pemerintah bisa saja memberi bantuan untuk mengganti kapal yang ada dengan kapal jenis purse seine. nelayan banyak yang tidak dapat melaut untuk menangkap ikan. Ada pula bantuan berupa alat bantu penangkapan.a Rumpon Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi diolah. Jenis kapal ini memang dapat memberikan hasil tangkapan yang banyak bagi nelayan.32. Data statistik pelabuhan menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir jumlah tangkapan ikan nelayan mengalami penurunan. 2010 Sementara itu. disadari bahwa purse seine justru membahayakan kelestarian sumber daya ikan karena kemampuannya mengeruk semua jenis ikan dari yang ikan terkecil hingga 68 .a BBM/Solar Dasar Kebijakan Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak secara nasional. Menurunnya hasil tangkapan ini mendorong nelayan untuk menempuh perjalanan yang panjang karena wilayah penangkapan (fishing ground) semakin jauh. subsidi atau bantuan yang disalurkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan lebih bersifat paket.

9. namun ada juga rumpon yang seharga Rp150 juta. Hal ini dilakukan karena tali rafia lebih praktis karena tidak perlu diganti dalam jangka waktu yang cukup lama. Agar tali tidak kusut dan terpelintir. jumlah rumpon yang berasal dari bantuan pemerintah berjumlah 40 unit dengan jarak per rumpon sejauh 8 mil. Gambar 3. Harga rumpon per unit rata-rata sebesar Rp60 juta.ikan ukuran besar. 69 . Rumpon di perairan Palabuhanratu biasanya berupa rumpon permukaan yang menggunakan pelepah pohon kelapa sebagai sumber makanan ikan agar ikanikan tetap berkumpul di sekitar rumpon. Saat ini. Teorinya keberadaan tiap-tiap rumpon dirahasiakan agar kelompok nelayan lain tidak bisa sembarangan menangkap di semua rumpon yang ada. Bentuk rumpon dan cara kerjanya yang ada di perairan Palabuhanratu Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menggunakan rumpon sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan usaha nelayan dan kelestarian sumber daya tersebut. saat ini sebagian besar pelepah pohon kelapa diganti dengan tali plastik rafia. dipasanglah beberapa cincin di sepanjang tali rafia tersebut. Dengan bantuan rumpon. Rumpon adalah alat bantu yang dipasang untuk menangkap ikan. Sebuah rumpon diperuntukkan bagi 1 kelompok nelayan yang terdiri atas 5 kapal nelayan. Namun demikian. Purse seine juga akan merusak terumbu karang dan kekayaan laut lainnya sehingga justru mengancam kelestarian sumber daya di masa depan. ikan-ikan akan berkumpul di sekitarnya sehingga mempermudah nelayan dalam menentukan lokasi penanngkapan dan membantu nelayan mendapatkan ikan dengan mudah.

Bantuan modal ini merupakan bantuan bergulir dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya.Namun. Pelabuhan Perikanan selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap hanya menyediakan lahan. Modal tersebut sedianya digunakan untuk mengkonversi kapal mereka menjadi kapal penangkap ikan di rumpon karena menurunnya ketersediaan sumber daya ikan membuat kapal payang tidak mampu beroperasi lagi. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir termasuk di dalamnya Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). yaitu: (1) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan. bangunan. Pelayanan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara pebauhanratu dilakukan dalam tiga jenis stasiun pengisian. Akan tetapi. Sedangkan dalam kaitannya dengan pengajuan kuota BBM dan jumlah kuota yang disediakan merupakan kewenangan dari pihak Pertamina serta ditembuskan ke Direktorat Jenderal kelautan. sedangkan ada kelompok lain yang tidak mendapat hasil tangkapan sama sekali. pemerintah daerah berusaha menyediakan daerah penangkapan baru yang lebih terjangkau melalui rumpon-rumpon yang disebar di sepanjang perairan Palabuhanratu. Untuk itu. Bentuk bantuan lainnya yang juga diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi adalah bantuan modal bagi nelayan yang memiliki armada penangkapan dengan alat tangkap payang. Dalam memberikan pelayanan BBM solar bersubsidi. tangki BBM solar dan fasilitas lainnya. prakteknya hal itu sangat sulit dilakukan karena faktor iba karena sekelompok nelayan bisa membawa hasil tangkapan yang banyak. SPDN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak KUD 70 . bantuan modal tersebut macet karena kelompok nelayan yang menerima bantuan tidak mengembalikan modal tersebut sehingga kelompok nelayan lain tidak mendapat kesempatan yang sama.

Mekar Tunas Raya Sejati memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 208 m3 dan instalasi pompa BBM. Paridi Asyudewi dengan kouta rata-rata sebanyak 400 kiloliter per bulan. PT. Mekar Tunas Raya Sejati dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. pelabuhan tersebut dilakukan dengan system sewa. pihak PT. Mekar Tunas Raya Sejati sendiri. sedangkan pihak KUD memanfaat ketiga fasilitas tersebut dengan sistem sewa sesuai dengan peraturan yang berlaku. instalasi pompa BBM dan dispenser. SPBN ini melayani kebutuhan BBM solar bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom II dengan nukuran kapal > 30 GT (Kapal longline). Pengisiannya dilakukan 71 . Penggunaan fasilitas (3) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. pompa BBM dan bangunan dispenser) milik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu. SPBN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. Dalam operasionalnya. SPDN ini melayani kebutuhan BBM solar bersubsidi bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom I yang berukuran < 30 GT (Kapal rumpon. sedangkan bangunan dispenser dispenser adalah milik pihak PT. Dalam operasionalnya. (2) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar dengan fisik bangunan yang lebih besar dari SPDN yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil. Paridi Asyudewi yang berlokasi di didermaga II.Sinar Laut dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. dogol dan gillnet). Dalam operasionalnya KUD Sinar Laut memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 320 m3. Paridi Asyudewi menggunjakan tongkang atau bunker kapal milik PT. Ketiga fasilitas tersebut (tangki BBM.

Setelah kapal mendapatkan SLO dan SIB. POL AIR kemudian melapor ke petugas teknis untuk mendapatkan STBLKK. realisasi penjualan BBM 72 . dan terakhir melapor ke Syahbandar di Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan SIB. Status mobil tangki tersebut adalah milik PT. POL AIR. Syahbandar dan Pengawas Perikanan di Pelabuhan Perikanan. maka nelayan diwajibkan melapor keberangkatan kapalnya. Realisasi penjualan BBM melalui SPDN sejak bulan Mei 2009 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.651. nelayan melaopor ke TNI AL. pihak nelayan diwajibkan melapor ke prtugas teknis. yang selanjutnya diperkenankan mengajukan permohonan pengisian solar ke penyalur (SPBN/SPBB). yang selanjutnya dilakukan pengisian ke kapal-kapal yang ada di Kolom II. TNI AL.5 liter.417.6511 kiloliter.1 liter atau sama dengan 126. ke Pengawas Perikanan untuk mendapatkan SLO.026. (2) Tahap Melapor Keberangkatan Kapal Setelah nelayan melakukan tahapan melapor kedatangan kapal pada beberapa hari sebelum kebarangkatannnya kembali.dengan dibantu mobil tangki minyak dengan kapasitas 16. Pada tahapan ini. petugas jasa. maka dalam waktu 1 x 24 jam penyalur BBM solar besubdisi (SPBN/SPBB) diperbolehkan menjual solarnya kepada kapal yang akan berangkat melaut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak syahbandar dalan hal pengisian BLB (Buku Lapor Bunker). Paridi Asyudewi yang berfungsi menyalurkan BBM solar bersubsidi melalui darat yang kemudian disalurkan ke dalam bunker/tongkang.000 liter dalam tiap minggunya. Pelayanan BBM solar bersubsidi di pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dilakukan melalui mekanisme dalam dua tahapan melapor. yaitu: (1) Tahapan Melapor Kedatangan Kapal Pada tahapan melapor kedatangan. ke petugas jasa untuk melakukan biaya bayar tambat. Sementara itu. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 126.

0 127.1445 kiloliter.006. Bila realisasi penjualan tersebut dibandingkan dengan kuota yang diberikan.936.5 128.0 35.77%) dari kuota yang dijatahkannya.741. Sedangkan dari Tabel 3 dan Gambar 3 diketahui bahwa realisasi penjualan BBM melalui SPBB sejak bulan Januari 2010 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.0 126.0 128.5 liter atau sama dengan 30.0 128.570.0 85.0 68.0 55.558.0 110. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 30.5 54.0 70.5 126.0 71.696.989.0 77.0 128.0 59. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.978.727.140.144.0 879.356.0 71.0 70.038.894.0 68.0 60.044.322.248.954.0 63.277.1 liter.963.998.0 46.460.194. 2010 73 .461.melalui SPBN sejak bulan November 2008 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 663.0 86.67%) dari kuota yang dijatahkannya.148.0 56. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 367. sedangkan untuk SPBB telah mencapai hampir keseluhan jatah yang diberikannya (91.0 95.5 liter atau sama dengan 367.785.756.698.0 62.586.0 128.0 1.0 127.577. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Periode Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Volume Penjualan (Lt) Meter A Meter B 55.0 71.139.651.0 132.422.257.0 41.412.0 57.221.310.432.0 62.352.. terlihat bahwa untuk SPDN baru mencapai separuh (53.540.000.3 Total (Lt) 123.1 Sumber: KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.211.447.0 127.154.0 55.026.042.76%).0 2.0 155.0 51.0445 kiloliter.0 65.0 127.484.006.0 56.700. Tabel 3.33.798.835.0 86.0 72.417.001.491.0 61.734. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 No.0 66.8 68.0 139.0 46.095.068.0 liter.147. Sementara untuk SPBN baru mencapai kurang dari seperempat (12.179.265.5 60.721.

10.6 21.230.000.0 14. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 No.200.7 37.453.0 Volume Penjualan (Lt) 0 l-1 Ju 0 -1 ay M 0 -1 ar M 10 nJa 09 vNo 9 -0 ep S 9 l-0 Ju 09 Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.8 19. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Periode Volume Penjualan (Lt) 12.0 140.048.122.200.990.0 34.0 0.200.0 100.5 November 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Sumber: SPBN PT.2 22.0 20.0 663.351.000.2 47.805.0 54.0 12. Mekar Tunas Raya Sejati.000. Pelabuhanratu.0 120.253.800.000.209.6 33.826.179. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.537.1 30.330. 2008-2010 M ay 74 .410.3 22.000.908. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.0 80.000.9 64.000.558.0 23.0 11.144.4 22.977.0 60.0 0.8 22.000.9 34.5 50.160.0 40.2 58.0 42. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.34.765.

0 505. 70.0 267.Secara teknis mekanisme pelayanan baik yang dilihat melalui polanya (SPDN. Paridi Asyudewi.356.0 433.751.0 50.35. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.0 Volume Penjualan (Lt) 60. pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara telah mampu menyalurkannya secara baik.813. SPBN dan SPBB) maupun mekanismenya dalam penyaluran atau penjualan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu telah cukup memadai. Tentunya pernyataannya dapat dibenarkan bila digunakan asumsi bahwa besaran kuota BBM solar bersubsidi yang di sediakan adalah dihitung berdasarkan jumlah kebutuhan BBM untuk nelayannya. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.633. rendahnya relaisasi tersebut (terumana pada SPDN dan SPBN) menunjukkan bahwa sesungguhnya masih terdapat sebagian besar nelayan yang membeli BBM solar yang dibutuhkannnya justru di luar SPDN dan SPBB yang ditunjuk.072.0 0.5 10 gAu 0 -1 ay M 10 bFe 09 vNo 09 gAu 9 -0 ay M 09 bFe 08 vNo Periode Pengisian (Bulan) No.000.0 466. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Periode Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Volume Penjualan (Lt) 410.000.115. Namun di sisi lain.0 0.044.000.936. Hal ini seperti terlihat dari besaran realisasi penjualan BBM solar bersubsidi yang masih di bawah kuota.0 449.000.0 2.0 Gambar 3. 2010 75 . Dengan kata lain.0 40.000.11.0 367.0 403.0 20.0 30.102.0 10.000. 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-Rata per Bulan Sumber : SPBB PT.000. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.870. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.

0 400.0 100.000.0 0.0 10 gAu 0 l-1 Ju 10 nJu 0 -1 ay M 0 r.000. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Peran Subsidi Perikanan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat perikanan khususnya nelayan di Palabuhanratu dalam melakukan operasional penangkapan ikan. Sedangkan jenis mesin tempel digunakan untuk kapal payang dan kincang dengan BBM jenis premium/bensin.1 Ap 0 -1 ar M 10 bFe 10 nJa Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3. gillnet.600. Di samping itu jenis kerosin/minyak tanah digunakan oleh nelayan. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. jenis BBM yang dibutuhkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu adalah jenis solar dan premium/bensin.000.12. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT. yakni kapal yang menggunakan mesin diesel untuk jenis kapal dogol. Kebutuhan BBM. namun hanya digunakan untuk keperluan penerangan saja. Melihat kondisi di lapangan dari berbagai jenis kapal maupun mesin yang digunakan nelayan untuk melakukan operasional penangkapan.000. khususnya bagi nelayan skala usaha mikro dan kecil merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan kegiatannya.0 Volume Penjualan (Lt) 500.0 200. Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2010 pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara baru menyediakan BBM jenis solar saja.0 300.000. Hal ini karena komponen biaya BBM berkisar antara 40-60% dari seluruh biaya 76 .000. BBM jenis solar tersebut digunakan untuk kapal perikanan yang berukuran > 10 GT. longline dan kapal rumpon.

00 0 9333 liter 55.483.500.592.Solar .432. Tabel 3. memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perikanan. Biaya untuk bahan bakar 77 .170.0 00 1500 liter 9. Analisa pendapatan dan biaya usaha penangkapan pada Trip Tahun 2010 Jenis alat tangkap Uraian Bagan Gillnet ≥5GT <10GT Longline 1 ≥10GT <30GT Longline 2 ≥30GT 100GT Pancing Tonda ≥5GT <10GT Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: .29 8 10.50 0 16. terlebih lagi karena selama ini nelayan dalam memenuhi kebutuhan BBM solar dibeli dari pihak ketiga (tengkulak) yang harganya lebih mahal kurang lebih 30% dari harga ketentuan pemerintah.500 13.8 75 Sumber: Data primer diolah.000.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM Nilai hasil tangkap 1 hari 1 hari 1 hari 7 hari 7 hari 7 hari 15 hari 15 hari 15 hari 120 hari 100 hari 77 hari 6 hari 6 hari 7 hari 5 liter 6 liter 1.466 282 liter 10 liter 8 liter 3. di atas menunjukkan bahwa subsidi BBM.36.musim biasa . Berdasarkan hasil olahan data di atas.791. dengan kenaikan harga BBM solar tersebut maka nelayan mengalami beban tambahan yang harus dikeluarkan sebesar 11.825.29 8 4. khususnya solar. Akibatnya.36.22 7 5.791.0 00 393 liter 6 liter 13 liter 4. Kondisi seperti ini sangat memberatkan nelayan.4 50 561. usaha penangkapan dengan menggunakan bagan mengalami kerugian yang cukup besar karena biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan yang diperolehnya.33 4 118.897.Bensin .33 4 83.85 2 16.477. bila terjadi kenaikan harga BBM jenis solar sebesar 28% maka akan menambah beban biaya produksi penangkapan ikan sebesar 28% x 40% = 11.324.musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): .musim ikan .2%.2%. 2010 Tabel 3.operasional penangkapan ikan.397. Artinya.

Begitupula halnya dengan kapal longline ukuran ≥ 30 GT – 100 GT yang harus mengeluarkan biaya operasional per trip lebih besar 60 persen apabila menggunakan solar tanpa subsidi sehingga porsi biaya solar terhadap biaya 78 .170. tetapi ada intervensi pemerintah dengan memberikan subsidi bahan bakar solar yang mereka gunakan. terutama bagi kapal longline ukuran ≥10GT .<30GT. Kedua jenis bahan bakar tersebut tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi sehingga beban biaya tersebut sepenuhnya harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil. Seperti halnya kapal gillnet.500 atau 48 persen lebih besar dibandingkan biaya operasional per trip dengan subsidi BBM. Pemberian subsidi BBM sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap longline. kondisi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh kapal-kapal dengan alat tangkap lainnya yang mampu memperoleh keuntungan cukup besar bagi nelayan. sedangkan jika tanpa subsidi porsinya semakin besar yang mencapai 51 persen per trip penangkapan. Kenaikan biaya operasional ini berdampak pada turunnya keuntungan yang diperoleh nelayan rata-rata sebesar 68 persen. Jika nelayan menggunakan BBM bersubsidi maka porsi solar terhadap biaya operasional adalah 38 persen. komponen biaya bahan bakar kapal ratarata sebesar 60 persen dari total biaya operasional yang dikeluarkan. bagian biaya solar terhadap biaya operasional menjadi 81 persen dibandingkan apabila kegiatan usaha penangkapan dibantu dengan subsidi BBM yang hanya mengambil bagian 72 persen per trip. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. Di sisi lain.500 maka biaya operasional per trip yang harus dikeluarkan adalah Rp4.298 yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan nelayan rata-rata sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan keuntungan dengan BBM bersubsidi. Dengan demikian. Berdasarkan olahan data pada Tabel 12.897. besarnya biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM adalah Rp13.yang berupa bensin dan minyak tanah menyumbang hampir 40 persen dari total biaya operasional. Perbedaannya adalah beban biaya bahan bakar tidak sepenuhnya ditanggung nelayan.

baik secara langsung (pemberian pelayanan oleh petugas pelabuhan perikanan dengan menggunakan fasilitas milik Pelabuhan Perikanan) maupun tidak langsung (pemberian pelayanan pihak pelabuhan perikanan melalui bekerja sama dengan pihak swasta). Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. Dampak selanjutnya adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh nelayan sebesar 45 persen.500 per liter maka biaya operasional per trip dengan bahan bakar bersubsidi adalah Rp4. sedangkan tanpa subsidi BBM sebesar Rp5. besarnya keuntungan nelayan rata-rata menjadi menurun sebanyak 10 persen. intervensi pemerintah melalui pemberian subsidi BBM masih sangat diperlukan oleh nelayan dalam negeri untuk menjamin keberlanjutan usaha penangkapannya. Kabupaten ini berada di bagian pesisir selatan wilayah Propinsi Lampung. Porsi biaya solar mencapai 40 persen jika nelayan mendapat solar bersubsidi. Akibatnya. Berdasarkan hasil analisis tersebut.377 hektar dan sebagian wilayahnya menghadap ke Teluk Lampung. 79 . 3. dengan luas wilayah 117.operasional naik dari 75 persen menjadi 86 persen. sedangkan tanpa subsidi BBM porsi biaya solar meningkat menjadi 53 persen terhadap total biaya operasional per trip.852 atau meningkat 26 persen.4.432. Pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sangat berperan dalam memberikan pelayanan BBM solar dengan harga subsidi.227. Perbandingan antara adanya subsidi BBM dan tanpa subsidi BBM pada usaha penangkapan ditunjukkan oleh porsi yang meningkat dari biaya solar terhadap total biaya operasional yang dikeluarkan. Subsidi BBM juga sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap pancing tonda.592. Kabupaten Pesawaran (Lampung) Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pesawaran. Lampung merupakan pengembangan dari Kabupaten Lampung Selatan dan dan secara resmi dibentuk berdasar UU No: 33 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran.

Tabel 3.8 768.2 % 26 16 16 38 10 17 49 73 23 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.833.6 143.0 100. dan budidaya teripang dengan total potensi lahan seluar 3.5 144.4 105.278. Wilayah laut dan pesisir Kabupaten Pesawaran meliputi sebagian dari Teluk Lampung dan 37 pulau kecil yang tersebar di Teluk Lampung dengan potensi meliputi budidaya kerang mutiara.8 Perkembangan Rp.0 603.996.0 2. 5. Pesawaran.2 624.0 437.045.880. budidaya ikan barong.570. Hasil (nilai) produksi perikanan di Kabupaten Pesawaran.4 4. 7. sedangkan potensi lahan tambak 750 ha yang sebagian besar ada di Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Punduh Pidada. Nilai produksi perikanan di Kab. Juta) 2008 1.692.0 96.750.37.Saat ini wilayah kab. berdasarkan data produksi 2009 didominasi oleh perikanan budidaya yang jika dilihat secara proporsinal terlihat pada Tabel 3.0 10.5 47.685.511.2 12. 80 .6 71.2 121.0 110. Pesawaran Tahun 2008-2009 No Jenis usaha Nilai produksi (Rp. juta 19.8 16. 6.520.121. Tangkap laut Tangkap perairan umum Budidaya tambak Budidaya air tawar Daging tiram mutiara Rumput laut Budiaya Kerapu (KJA) Benih ikan JUMLAH 74. dalam tahun 2008-2009 terjadi perkembangan yang cukup signifikan khusus pada budidaya (KJA) Ikan Kerapu yang didominasi oleh Kerapu Bebek dapat dilihat pada Tabel 3.141. 4.388.5 ha.820. Pesawaran Dalam hal perkembangan luas lahan budidaya dan jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Kab. 2.610.0 1.6 17.6 2009 93. Pesawaran terdiri atas 7 (tujuh) wilayah kecamatan dan 133 desa dengan ibukota di Gedong Tataan.39.939.0 442.6 508.884.37.667. 8. 3.0 419.0 2. budidaya ikan kerapu. budidaya rumput laut.

3.39 Jumlah Rumah Tangga (RTP) pembudidaya ikan di Kab.5 60 75 3.8 2.0 Kenaikan Ha 17 2 32 0. Tahun 2008-2009 No 1. 5. 6.40. Pesawaran Tabel 3.5 3. Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH 1. 3.282 18 45 14 94 510 225 2.5 2. Perkembangan luas areal budidaya laut di Kab.240.8 4. 2008-2009 No Jenis Usaha Tahun (Orang) 2008 1.5 % 5 20 9 25 25 26 2. 4. Adapun jenis dan dasar kebijakan pemberian subsidi tersebut seperti tertera pada Tabel 3.118 Kenaikan Orang 116 4 6 0 21 140 15 302 % 10 28 15 0 38 29 7 16 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. 6. Lampung.5 15 1 75.886 2009 1.164. 4. Pesawaran. Pesawaran Bentuk-Bentuk Subsidi Perikanan Selama periode tahun 2009 telah dilakukan pemberian subsidi kepada pelaku usaha sector kelautan dan perikanan di Kabupaten Pesawaran.5 10 12 359 391 2 2. Dari Tabel 3. 7.38. 2. Jenis Usaha Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH Tahun (ha) 2008 2009 352.4 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.5 3.Tabel 3. 2. Pesawaran.40 diketahui bahwa jenis subsidi yang pernah 81 . 5.5 369.166 14 39 14 73 370 210 1. 7.

Dasar Kebijakan 1.c Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila . Pesawaran 82 . Subsidi langsung dalam hal ini dimaksud sebagai bantuan yang diterima oleh para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan dari pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat) dalam bentuk barang ataupun finansial. Tabel 3. 1. 1.a PNPM Mandiri-KP Ketidakberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan. 2.Peningkatan pengembangan usaha budidaya ikan air tawar (gurame dan nila) sementara kemampuan modal para pembudidaya yang relative terbatas. Jenis Subsidi Langsung: 1. Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pesawaran Lampung No. Tidak Langsung: 2. Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Sedangkan subsidi tidak langsung diberikan dalam bentuk program atau bantuan lainnya yang sifatnya bukan barang ataupun financial.diberikan oleh pemerintah di Kabupaten Pesawaran Lampung adalah meliputi: Subsidi yang bersifat langsung dan subsidi yang bersifat tidak langsung.b Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Antisipasi menghadapi dampak bencana alam pada tempat tinggal masyarakat nelayan.40.Lemahnya modal para pembudidaya ikan air tawar terutama untuk membeli benih dan induk ikan gurame dan ikan nila .a Pelatihan Rendahnya tingkat keterampilan (skill) masyarakat pesisir terkait dengan pengembangan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.

Kebijakan yang mendasari pemberian subsidi dengan jenis langsung dan tidak langsung tersebut. Alokasi dana PNPM Mandiri-KP di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 Lokasi Jumlah Kelompok 10 Jumlah Anggota 92 Jenis usaha Jaring payang padang. meliputi: (1) PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan Sasaran program ini adalah masyarakat bidang kelautan dan perikanan yang bertempat tinggal di wikayah pesisir atau diluar pesisir yang memiliki kegiatan di bidang kelautan dan perikanan. Bentuk-bentuk subsidi sektor kelautan dan perikanan yang pernah diberikan pemerintah. tangkap bubu. Desa 8 77 9 259. dan (3) Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. baik subsidi secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Pesawaran pada tahun 2009. dalam hal ini lebih didasari oleh latar belakang kondisi usaha sector kelautan dan perikanan dan kondisi pelakunya yang memang membutuhkannya terutama untuk alasan pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan dan pengembangan atau keberlanjutan usaha sector kelautan dan perikanan tersebut ke depan. Padang Cermin. jaring kelitik.000) 249.999 83 . (2) Pembangunan rumah nelayan ramah bencana. tangkap jaring. nelayan pancing.41. dan perbaikan jalan KJA Kerapu.975 Kec. Desa Sukajaya Lempasing Kec. Penjelasan dari masing-masing bentuk subsidi tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. budidata rumput laut. Jumlah paket 10 Nilai (Rp.Jenis subsidi langsung diberikan oleh pemerintah dalam tiga bentuk yaitu: (1) PNPM Mandiri_KP. pancing cumi. pancing bandrong. Sedangkan jenis subsidi tidak langsung berupa pelatihan bagi para pembudidaya ikan air tawar. Tabel 3. Padang Cermin.

Pelatihan pembuatan alat tangkap nelayan.974 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Magang tambak resirkulasi. Desa Pulau Pahawang. Pelatihan manajer usaha dan percontohan pembenihan tiram mutiara. Pelatihan pembenih dan pembudidaya ikan air tawar. Padang Cermin (20 unit) di Desa Sukajaya Lempasing. menggunakan dana APBD Kab. 84 . Desa Sidodadi. Subsidi selisih harga berupa bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Pesabwaran (2) Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Sasarannya: pemenuhan kebutuhan masyarakat nelayan terhadap rumah tahan bencana.000) 2 desa 18 169 19 509. Pelatihan pembenihan ikan laut. Magang pembudidaya rumput laut ke NTB. dan Desa Sukarame. dan rehabilitasi jalan setapak. Jumlah paket Nilai (Rp. (4) Subsidi selisih harga Subsidi selisih harga dimaksudkan sebagai bantuan pemerintah (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasewaran Lampung) untuk membayar selisih harga antara harga pasar dengan harga keekonomiannya. Pelatihan budidaya laut dalam rangka pemberdayaan usaha skala kecil. (3) Pelatihan Melalui dana APBD Provinsi Lampung. Topik materi pelatihan diantaranya: Pelatihan manajer pengendali mutu perikanan. Kec. Pembangunan rumah di lakukan di dua kecamatan yaitu: Kecamatan Punduh Pidada (30 unit) di Desa pulau Legundi. dan Desa Durian. Pesawaran. Desa Kampung Baru. dilakukan pelatihan yang pesertanya adalagh masyarakat pesisir dan aparat terkait. Pelatihan cara budidaya ikan yang baik (CBIB).Lokasi Durian Jumlah Kelompok Jumlah Anggota Jenis usaha pengeringan ikan asin.

Secara eksisting.511. dalam hal ini dari Kementerian Kelautan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Secara rinci gambara mengenai biaya dan penerimaan usaha tersebut seperti tertera pada Tabel 3.000. Untuk rata-rata usaha budidaya pembesaran ikap kerapu bebek dalam keramba jarring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.Peran Subsidi Perikanan Uraian mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan. Lampung. pembahasan mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya tidak dilakukan dengan pendekatan perbandingan antara sebelum dan sesudah (after and before comparative) diberi subsidi. dan dengan siklus usaha selama 13 bulan. Dengan demikian. usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di lokasi kasus tersebut hingga saat ini tidak atau belum mendapatkan subsidi (langsung ataupun tidak langsung) dari pemerintah. 85 . Oleh karena itu. dan kemungkinan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan.. dalam bagian ini akan dijelaskan: (1) Analisis biaya dan penerimaan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.42. dan (2) Kemungkinan peran atau dampak potensial yang dapat dilakukan atau terjadi bila subsidi diberikan terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya. Propinsi Lampung. 314.dan menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp.230.210. diperlukan rata-rata biaya total sebanyak Rp. Untuk itu. tetapi berdasarkan kemungkinan (potensial) dampaknya bila subsidi tersebut diberikan.634.-. Lampung dengan luasan sebanyak 13 kolam yang masing-masing berukuran 3x3 m2 dengan kedalaman 5 m. meskipun baru bersifat normatif namun kita masih dapat memperkirakan peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha budidaya pmbesaran ikan kerapu dal KJA tersebut. dalam bagian ini dilakukan dengan mengambil kasus budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.

Perahu c. Gudang j.90 1 1 30 137 147 169 1 2 1 1 unit unit unit kg buah unit unit unit unit unit 4.750 71.511 85. Ransum bulanan j.587. Air Bersih i.000 7.500 3. Benih ikan d.Investasi: a.11 1. Pompa Air h. Gas Elpiji h. Bambu f. Gudang j.33 21.250 3.679. Pajak Kolam Keramba 2.42 0.101 975.200 2.468. Lampu Penerangan i.376. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Volume Satuan Harga (Rp.010.100 2.500 48. Perahu c.100 5.07 0.811.) 230.150 Sumber: Data Primer diolah (2010) 86 . Lampu Penerangan i.702.100 172.60 2.500 449.87 0.95 0. Pompa Air h.000 0.404.210. Pelampung g.000 449.05 0. Pelampung g.Tabel 3.475 10.511 71.511 1. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam keramba Jaring Apung di Kabupaten Pesawaran.120 6. Timbangan . Pakan Rucah e.555.996 1.604 159.556 166.000 314.000 1.200 5.32 1.14 69. Tali e.88 1.085.921.62 1421 580 3280 10036 2420 4 83 1308 4 14 28 698 lt lt ekor kg kg orang tabung galon paket kolam kolam kg 3.895.344 4.500 1.264.000 487.000 2.005.500 4.500 1.357.000 1. Bensin b.Biaya Penyusutan: a. Bambu f.300 365.67 0.700 1. Tenaga Kerja g.000 23.264.061.050 6.57 7. Penerimaan: Produksi kerapu 3.324. Tempat Pemeliharaan b.000 46. Retribusi Kebersihan k.000 442.126.000 16. Timbangan 1.500 5.750 326.905 582.000 29.655 59.500 441.1 Biaya Tetap: .00 30.634.500 65.42.400 10.735.592.27 1. Tempat Pemeliharaan b. Pakan Pelet f.50 Proporsi (%) 100. Tali e. Jaring d.292.65 1.000 358.) Nilai (Rp.750 17.02 0.000 621.125.10 3.500 16.453. Jaring d.49 0.500 281.257 256.74 25.276 320.500 135.705.03 0.2 Biaya Tidak Tetap: a.555 1.382.634.370.575 15. Propinsi Lampung (KJA sebanyak 13 Kolam dan Siklus Usaha selama 13 Bulan) Uraian 1.07 28.430.466 77. Biaya Total: 1.750 2. Solar c.656.

000.atau 7. rata-rata penerimaan yang dihasilkan baru bersumber dari budidaya pembesaran ikan kerapu bebek saja (monoculture).895. maka dapat diketahui bahwa usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran telah mencapai kondisi efisiensi dengan rasio penermaan terhadap biayanya sebesar 1. Biaya pakan tersebut terdiri dari biaya unuk pakan ikan rucah (pakan alami) sebanyak Rp.750.atau 36. Untuk itu sebaiknya pemerintah 87 . berdasarkan besaran penerimaan dan biaya totalnya. Sementara.57% dan untuk pakan pelet sebanyak Rp.65%.. dan (2) Untuk pakan ikan yang menyerap sebanyak Rp. Terdapat banyak pertimbangan dalam pemberian subsidi (langsung) pada kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan karapu tersebut. dan (2) Apakah pemberian subsidi tersebut secara potensial berdampak terhadap kelestarian lingkungan..-.634.42). diantaranya adalah pertimbangan: (1) Sejauhmanakah urgensi memberikan subsidi kedua komponen tersebut dalam mendorong keberlanjutan usaha. 17. yaitu: (1) Untuk benih ikan kerapu yang menyerap sebanyak Rp. terutama dalam jangka panjang.750. proporsi biaya usaha budidaya pembesaran ikan kerapu didominasi oleh dua jenis biaya pengeluaran. yaitu sebanyak 698 kg dengan nilai sebanyak Rp. Secara sederhana. sehingga pemerintah dalam hal ini harus menentukan prioritas apakah akan memberikan subsidi pada komponen tertentu atau komponen tertentu lainnya. Bila diasumsikan bahwa pemerintah berada dalam kondisi memiliki anggaran yang relatif terbatas. secara potensial subsidi dapat diberikan pada komponen biaya/pengeluaran yang memiliki proporsi yang tergolong dominan.500.. Melihat kondisi struktur biaya usaha budidaya pembesara ikan kerapu dalam KJA di Kabupetan Pesawaran. seperti komponen benih atau pun pakan) dalam pengembangan usaha tersebut.50.42 diketahui bahwa berdasarkan strukturnya. Lampung (Tabel 3.22% dari biaya totalnya. yaitu: benih ikan kerapu atau pakan ikan.atau 21.000. 48.314. 69.07% dari biaya totalnya.atau 28.592.900. 65.210.Dari Tabel 3.

Dari dasar pertimbangan pertama (aspek keberlanjutan usaha) tampaknya baik subsidi benih ikan maupun subsidi pakan keduanya sama-sama berpotensi memiliki peran penting dalam keberlanjutan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. saat ini sudah bervariasi mulai dari 13 – 16 bulan. Meskipun dalam kenyataannya pakan ikan rucah ini memiliki peran sangat penting besar di samping benih ikan dalam kegiatan produksi ikan kerapu di lokasi tersebut. Komponen benih ikan kerapu memiliki proporsi biaya sebesar 21. Dari awalnya untuk menghasilkan ukuran 500 gram per ekor diperlukan periode pemeliharaan kurang dari 12 bulan. Sementara dari dasar pertimbangan kedua (aspek kelestarian lingkungan). Dengan adanya 88 . karena peningkatan pakan tersebut berpotensi meningkatkan cemaran (polusi) terhadap lingkungan perairan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. banyak aspek positif yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha meskipun akan diikuti secara proposional dengan meningkatnya jumnlah pakan ikan rucah yang digunakan. Bila pemerintah memang pada akhirnya memutuskan untuk memberikan subsidi benih ikan. untuk kondisi saat ini ataupun ke depan memberikan subsidi pakan ikan rucah tampaknya kurang tepat. sedangkan komponen pakan ikan khususnya pakan ikan rucah memiliki proporsi biaya sebesar 28. Hal ini terlihat dari besarnya proporsi biaya kedua komponen tersebut (benih ikan dan pakan ikan) terhadap biaya total dari kegiatan usaha tersebut.memutuskannya setelah melakukan pengkajian berdasarkan kedua pertimbangan di atas (keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan). karena menurut persepsi pelaku usaha tersebut di lapangan bahwa mutu benih ikan kerapu dewasa ini semakin menurun. Diantara aspek positif tersebut adalah dorongan kepada peningkatan penggunaan benih ikan kerapu yang bermutu baik dibanding yang digunakan oleh pembudidayaan saat ini.57%.07%. Namun bila dilihat dari sisi prioritas dan fakta di lapang dimana permasalahan benih yang berkualitas semakin mendesak untuk dicarikan solusinya.

45 Sumber: Data Primer diolah dari data primer (2010) Keterangan: R/C = Rasio Penerimaan terhadap Biaya Total 89 .50 1.10 2.50 R/C Dengan Subsidi Benih 1. Tabel 3. dibandingkan bila benih ikan yang menjadi pilihan tersebut. Untuk lebih meyakinkan kita.58 1.43. secara sederhana pada Tabel 3.50 1. dapat dilihat hasil simulasi pada kondisi tanpa dan dengan subsidi.pemerintah memberikan subsidi benih yang berkualitas baik. Simulasi Perubahan Rasio Penerimaan terhadap Biaya (R/C) Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran pada Berbagai Perubahan Tingkat Subsidi Benih Ikan (Tanpa dan Dengan Subsidi Benih) Subsidi Benih (%) 5 10 15 20 25 R/C Tanpa Subsidi 1.44. Sementara di sisi lain. pemberian subsidi berupa pakan ikan. secara teknis lebih rumit karena dominasi pakan ikan rucah yang notabene diperoleh dari dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang dalam waktu dekat akan dilarang pemerintah yaitu alat tangkap jaring cantrang (jaring gardan).05 6. berarti produktivitas usaha budidaya pembesaran dalam KJA di Kabupaten Pesawaran dapat lebih ditingkatkan lagi.43 dan Tabel 3.38 3.69 5.50 1. pemerintah menghadapi situasi yang lebih sulit dan kurang dapat memasukkan unsur pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.54 1. Lampung. bila pemberian subsidi pakan ikan yang menjadi pilihan.50 1. bahwa pemberian subsidi benih ikan ke depan akan efektif dalam meningkatkan keberlanjutan usaha yang diihat menggunakan indicator rasio penerimaan terhadap biaya (efisiensi) usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. Dengan kata lain.56 1.52 1.60 Perubahan R/C (%) 1.

126.74 25.655 59. Benih ikan 0.404.344 4. Pelampung g. Timbangan . Tabel 3.556 166. Solar c. atau R/C usaha meningkat sebesar 3.511 100. Sebagai gambaran untuk pemberian subsidi benih ikan sebsar 15% akan meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) usaha budidaya tersebut meningkat dari semula (tanpa subsidi benih) sebesar 1.14 3.750 326.43 dan Tabel 3. Timbangan 1.085.07 0.081. Lampu Penerangan i.500 5.705.000 2.604 159.000 23.996 1.468.32 1.49 0.511 85.43 diketahui bahwa pemberian subsidi benih ikan dapat meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya total (efisiensi) usaha budidaya tersebut.1 4. Tempat Pemeliharaan b.000 487.101 975. Lampu Penerangan i.11 1.88 1.07 0. Jaring d.125.257 256.264. Tempat Pemeliharaan b.556 166.500 3.90 85.679. Perahu c.996 1.00 71.125 7.56.324. Biaya Total: 1.750 71.679.126.604 152.264.921.Investasi: a. Pompa Air h.000 487.02 0.382.000 29.100 2.44).453.53 12.500 48.82 90 .69% (lihat Tabel 3.466 77. Tali e.702.404.500 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp. Tali e.357.) Biaya (%) 230. Bambu f.466 77.500 3.625 Uraian 1.03 0.061.87 0.000 16.33 21.592.264.276 320.264.705.257 256.43 0.636 100 71.02 0.656.100 5.35 0.101 975.061. Bambu f. Jaring d.468.303.656.000 29. Gudang j. Gudang j.324.50 menadi sebesar 1.500 449.921.2 Biaya Tidak Tetap: a.9 0 87.1 Biaya Tetap: .511 1.370.000 2. Bensin b.500 449.000 23.500 41.31 0.100 5.500 5.511 1.000 16.500 1.345.750 326. Pompa Air h.453.500 1.344 4.42 0.085.000 7. Perahu c.11 1.357.100 2.Dari Tabel 3.382.655 59.02 0.750 71.44.276 320.79 23.01 0. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam KJA pada Kondisi Tanpa dan Dengan Subsidi Benih 15% Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.702. Pelampung g.10 3.511 30.14 69.Biaya Penyusutan: a.125.) Biaya (%) 223.634.

376.895.56 1.250 3.60 2. bila upaya-upaya pengelolaan tersebut tidak 91 .27 1.376.95 0. Retribusi Kebersihan j.210.000 314.430. Gas Elpiji g.050 6.634. Ransum bulanan i.735.26 Sumber: Data Primer diolah (2010) Selanjutnya.) Biaya (%) 65. Sebaliknya.555.000 314.555. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah: bila diasumsikan dengan pemberian subsidi benih ikan tersebut.210.65 2. Penerimaan: Produksi ikan kerapu 3.02 0.811.57 17.430. Secara normative dapat disampaikan bahwa apabila diberikan subsidi benih ikan pada kegiatan usaha budaya tersebut. Pakan Pelet f Tenaga Kerja f.Uraian d. maka hal ini berarti pada lingkungan perairan budidaya tersebut terdapat potensi polusi (cemaran).700 1.000 621. namun dalam realitasnya justru hal tersebut dapat tidak terjadi sepanjang dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan perairan budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.000 1.12 0.050 6.750 28.735.62 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp. maka diperkirakan akan terjadi beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan perairan di lokasi budidaya dan sekitarnya.67 0.750 28.000 1.000 621. Pajak Kolam Keramba 2.000 1. terutama dalam jangka panjang. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.250 3.53 6. Polusi (cemaran) tersebut ditimbulkan dari limbah pakan ikan rucah maupun pakan pelet ikan yang akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya penggunaan benih ikan dalam kegiatan produksi tersebut.750 7. kita akan bahas bagaimana kemungkinan peran (dampak) subsidi benih ikan pada budidaya pembesaran ikan kerapu tersebut terhadap kelestarian lingkungan perairan budidaya. sehingga berkembang dan menyebabkan daya dukung perairan yang menurun.64 1.42 1. Kemungkinan peran (dampak) negative terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut bisa saja terjadi. Air Bersih h.634.66 2.05 0.68 17.) Biaya (%) 65.895. Pakan Rucah e.000 1.700 1. Lampung secara baik dan konsisten.811.750 15.50 1.

918. 92 . 3.39% PDRB Kab. Hasil budidaya perikanan laut Kab. kontribusi nilai hasil produksi rumput laut tahun 2008 dan 2009 di atas 50%. Kolaka terdiri atas Rumput laut. sedangkan budidaya tambak ikan Bandeng di atas 40% dari total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Kolaka. justru dampak negative tersbut berpotensi besar dapat terjadi. Berdasarkan data statistik.dilakukan secara baik dan konsisten. Kab. dalam tiga tahun terakhir 30% . dapat dilihat.1. Berdasarkan tabel 4. Kolaka terbagi ke dalam 32 wilayah kecamatan. Ikan Kerapu dan Mutiara. maka pemberian subsidi benih ikan sebaiknya dapat diikuti dengan pemberlakuan regulasi yang bertujuan untuk mengendalikan tekanan cemaran terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut. Sebagai upaya antisipatif terhadap kemungkinan terjadi dampak negative tersebut. Sebelum tahun 2001. Wilayahnya terdiri atas daratan seluas 6. Teripang. Secara proporsional. Kolaka terbagi ke dalam 20 kecamatan. Kolaka disumbang oleh sektor pertanian (termasuk perikanan).38 Km2 dan wilayah perairan (laut) sekitar 15. Kabupaten Kolaka dijadikan lokasi penelitian mewakili perikanan budidaya (laut) mengingat perikanan laut mendominasi produksi perikanan dibandingkan perikanan daratan. namun dalam kurun waktu 2001 sampai 2007 terjadi tiga kali pemekaran wilayah kecamatan sehingga saat ini Kab. Kendari Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Kolaka berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. Kolaka berasal dari perikanan laut (perikanan tangkap dan budidaya). Kabupaten Kolaka.5. produksi perikanan Kab. Bandeng.000 Km2.

437 396 138 151.64 0.3733 46.273 3.031 9 3 15.849 9.9585 43.6967 55. Kolaka dilakukan di tambak tambak yang ada di pesisir pantai yang ada di lingkungan sekitar hunian warga.566 405 165 137.343 389 131 50.817 2009 7. Survey dilakukan terhadap pembudidaya tambak dan rumput laut di Desa Towua.4819 30.198 67.45.75 3.99 9.223 2007 109.353 273.868 24.007 262. menggunakan modal sendiri dengan rata rata luasan kepemilikan lahan 1. Pembudidaya ikan Bandeng di Budidaya Bandeng di Kab. dalam kajian ini difokuskan kepada komoditas unggulan.332 2009 122.544 2.033 2008 119. Kolaka.44 0.776 1.903 500 2009 4. Perkembangan Luas areal dan Produksi Budidaya Laut di Kab.643 112 5 1.919 40 2007 6.728 22.75379 52.163 162.15 .697 3 13. Tabel 3.643 110 5 1.491 24. dan di Desa Muara Lapao-pao Kecamatan Wolo. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp.169 8.231 9 3 15. 2009 Kontribusi/porsi: Tambak (%) Rumput laut (%) 9.784 2008 7.Juta) Komoditi 2007 4.643 110 5 584 500 2008 4.475 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.26243 Budidaya Bandeng Pembudidaya ikan Bandeng di Kecamatan Wolo dan Wundulako mengelola lahan milik sendiri.152 Tambak Teripang Kerapu Rumput laut Mutiara Jumlah 7. Jenis budidaya adalah pembibitan dan pembesaran dengan masa 93 .604 9.2 1.Berkaitan dengan hal di atas.287 8. yaitu budidaya rumput laut dan budidaya tambak ikan Bandeng karena bantuan pemerintah banyak ditujukan kepada kedua jenis usaha ini. Kabupaten Kolaka. Tingkat pendidikan rata rata tamat SD dan SLTP dan masih dalam usia produktif (20 – 49 tahun) dengan rata rata usia 34 tahun. Kecamatan Wunduloko.7 ha.

Hanya saja. Waktu 2 bulan ini dimanfaatkan untuk mengeringkan tambak sebelum tahap penebaran/penanaman bibit dimulai.pemeliharaan 6 bulan. Kondisi ini. Setelah lama pemeliharaan 4 bulan. Gelondongan tersebut diletakkan di dasar tambak yang mampu menampung bibit sebanyak 15 ribu ekor yang biasanya diisi 2 kali dalam setahun. Kalaupun diberi pakan pelet. bibit sudah bisa dipindahkan ke tambak untuk tahap pembesaran.. Tidak ada acuan baku yang diikuti dalam pemberian pupuk. bantuan benih tersebut diakui dapat menggeser alokasi modal yang telah mereka perhitungkan. Dalam waktu 2 bulan. mereka tetap dapat menebar benih pada musim-musim penanaman. Kemudian tambak diisi air secara bertahap.000—3. pembeli (yang disebut pembonceng) membeli langsung ke tambak dan membeli secara eceran sebanyak 100 – 200 ekor. dan racun yang berfungsi sebagai pembasmi ikan liar. hampir tidak ada pembudidaya yang memberi pakan tambahan dalam bentuk apapun. Tujuan pemberian pupuk dan pengisian air secara bertahap agar tumbuh lumut dan jasad renik yang nantinya berfungsi sebagai pakan alami ikan Bandeng. Alasannya. Pembeli (pedagang) berasal dari Kolaka dan sekitarnya dan ikanpun dijual dalam bentuk ikan segar di pasar pasar yang ada di Kab. Selanjutnya. Artinya. bibit ditebar yang biasanya berjumlah 2. dimana pasar yang ada terbatas pada pasar lokal dan belum ada industri pengolahan ikan Bandeng membuat harga jual jatuh pada saat panen bahkan kadang tidak terserap pasar. Bibit alam yang dibeli seharga Rp50 per ekor disimpan dalam tempat yang disebut gelondongan. Pemberian pupuk lebih didasarkan kepada kemampuan masing masing pembudidaya. Sistem panen dilakukan bertahap. tanpa adanya bantuan tersebut. Caranya. Proses pengeringan tambak biasanya memerlukan waktu satu bulan dan sisa waktu satu bulan digunakan untuk pemberian pupuk kimia (Urea dan TSP). mulai dilakukan panen. Kolaka. Selama pembesaran. Menurut petani tambak yang diwawancarai.000 ekor per petak tambak. itupun sekedarnya saja. jenis bantuan yang diberikan berupa benih nener dan benur tidak secara signifikan membantu keberlanjutan usaha para petani tambak. modal yang sebelumnya telah dianggarkan untuk 94 .

221 Produktivitas (ton/ha) 2007 1. Pada kenyataannya.46 1.258 1.58 1. 2009 Catatan: *) Belum termasuk bantuan bedah tambak 240 ha 95 . Sementara itu.44 1.45 1.56 1.47 1. bantuan berupa pupuk dan mesin pompa menjadi harapan petani tambak bandeng dan udang.52 2009 1.45 2008 1.51 1.56 1. Untuk itu.51 1. Faktor utamanya adalah karena program bedah tambak ini dapat mengaktifkan kembali tambak yang telah lama ditinggalkan karena sudah tidak layak pakai. harga pupuk saat ini sangat mahal sehingga dirasakan sangat membebani para petani tambak.049 7.645 2009 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.56 1.58 1.031 2009 1.52 1.507 589 74 909 186 463 186 2.membeli benih ikan dapat digeser untuk alokasi pupuk atau biaya input lainnya. pengadaan kedua input tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah setempat.52 1. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Baula Pomalaa Tanggetada Watubangga Total 2007 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4645 2008 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.53 1. Selain itu.477 572 72 878 179 450 181 1.54 1.56 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kolaka. input berupa mesin juga sangat diperlukan para petani yang selama ini belum pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah. Bantuan untuk melakukan bedah tambak diakui sangat bermanfaat.44 1.233 1.44 1.52 1. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Tambak di Kab.54 1.44 1.46.697 2008 1.45 1.175 1.989 7.57 1. Saat ini. pertumbuhan ikan menjadi sangat bagus karena lingkungan tambak yang kondusif bagi tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan oleh bandeng dan udang.53 1.51 1.407 545 69 836 171 428 172 1.894 6. Input berupa pupuk merupakan bahan baku utama yang diperlukan dalam usaha tambak ini sehingga sebagian besar modal diperuntukkan untuk membeli pupuk.45 1.51 1. Tabel 3.57 1.645*) Vol. baik untuk keberlanjutan usaha maupun bagi kelestarian sumber daya. Produksi (Ton) 2007 1.

Dalam kurun waktu tersebut. Samataru 0% 7% 3. adanya tabungan di bank. Wundulako 0% 9% 6. Booming rumput laut dimulai pada tahun 2004 sejak tindakan bom ikan oleh para nelayan dikecam oleh masyarakat sekitarnya. Baula 0% 9% 7. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan sumber daya sudah berbasis masyarakat sehingga telah tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian sumber daya di kalangan pelaku utama perikanan sendiri. Selama periode 2004 hingga 2008. Wolo 0% 7% 2. Tanggetada 0% 8% 9. Pomalaa 0% 8% 8. produksi 1. berupa gangguan yang menyebabkan bibit Rumput laut yang berumur 3 96 . Prosentase Peningkatan Luas areal dan Produksi Tambak Tiap Kecamatan di Kab. Akibatnya. Watubangga 0% 8% Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Latambaga 0% 8% 4. Perubahan yang kasat mata adalah dengan dibangunnya rumah yang permanen. dan dimilikinya kendaraan bermotor. banyak nelayan yang beralih menjadi pembudidaya rumput laut. Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya yang menunjukkan bangunan rumah yang sederhana serta tidak adanya kendaraan bermotor di rumah. Masalah mulai timbul dalam budidaya Rumput laut sejak awal tahun 2008. Kolaka 0% 7% 5. kesejahteraan pembudidaya menunjukkan peningkatan yang berarti. Sulawesi Tenggara.47.Tabel : 3. Kolaka. 2009 Budidaya Rumput Laut Rumput laut merupakan komoditas budidaya unggulan di Kabupaten Kolaka. Kolaka Tahun 2007-2009 No Kecamatan Luas areal Vol. usaha budidaya Rumput laut mencapai masa jayanya. Bahkan. rumput laut juga mampu menarik perhatian para pembalak kayu sehingga penebangan hutan berkurang cukup signifikan yang mengakibatkan kelestarian hutan juga terjaga.

Selama ini. apakah karena kualitas bibit. para petani tambak sangat mengharapkan adanya penelitian atas masalah tersebut agar gangguan tersebut dapat diatasi dengan cepat. Selama ini. tali. rumput laut kering dari Desa Barbarina. Untuk itu.minggu menjadi hancur. Akibatnya. pelampung. Gangguan ini belum teridentifikasi faktor penyebabnya. Komoditas rumput laut telah tersentuh bantuan sejak tahun 2004—2010. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berusaha menyelesaikan konflik tersebut dengan mengundang Kepala Desa dan kelompok-kelompok. Rambu-rambu tersebut dibuat dengan menggunakan pelampung dan pemberat agar tidak bergeser karena arus laut. jumlah produksi yang besar dapat terjual dengan harga jual yang tinggi. cara tersebut dapat diterima oleh para pembudidaya rumput laut dan nelayan. Sementara pada 97 . produktivitas hasil sangat rendah. Pemasaran hasil produksi berupa rumput laut kering juga menjadi masalah bagi pembudidaya. Kecamatan Muaralapao-pao. kepadatan lahan. baik kelompok budidaya maupun kelompok tangkap laut. Bantuan pada 2004 hingga 2006 berbentuk paket berupa bibit. Untuk itu. petani rumput laut sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk memperluas pasar yang selama ini hanya diserap oleh pasar di Makassar. Kabupaten Kolaka baru mampu menembus pasar lokal dan pasar Makassar yang diambil oleh pedagang besar untuk kemudian diekspor. Sulawesi Selatan. dinas membuat rambu-rambu batas rumput laut yang menyala saat malam hari. dan para-para atau tempat menjemur rumput laut. atau karena lingkungan budidayanya. produksi rumput laut yang ada sering menumpuk di gudang penyimpanan sehingga harga jual menjadi turun. Untuk itu. jangkar. Untuk itu. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengatur jalur-jalur perhubungan bagi lalu lintas kapal nelayan yang akan ke atau dari laut. Dengan demikian. Masalah lain yang ada terkait dengan batas-batas lahan budidaya yang mengakibatkan adanya konflik antar sesama petani rumput laut maupun antara petani rumput laut dengan nelayan. Akibatnya.

735 2.817 22.110 2. bantuan mesin untuk perahu bermotor sangat diperlukan oleh para petani untuk memantau kondisi rumput laut setiap dua hari sekali dan juga untuk mengangkut hasil panen.690 1. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Rumput Laut di Kab.119 2.904 1. bantuan hanya berupa bibit dan tali.562 2. Bantuan tersebut diberikan satu kali dalam setahun. apalagi jika lokasi lahannya berada jauh dari tepi pantai.374 1.039 1. Contohnya.265 1. bantuan tahun 2009 adalah bibit dan tali maka setiap kelompok akan mendapat bibit dan tali dalam jumlah dan kualitas yang sama.523 3.355 4.123 1.788 1. Untuk itu.074 Produktivitas (ton/ha) 2007 2008 2009 23 9 11 24 8 11 24 8 11 23 9 11 24 8 11 23 9 11 25 9 13 25 11 15 24 9 12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kolaka. bantuan tidak dibedakan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok.921 Vol. Hal inipun sangat bergantung pada besar kecilnya perahu sehingga kapasitas untuk memuat rumput laut berbeda.750 3.48. Gudang penyimpanan ini sangat diperlukan untuk menampung hasil panen hingga pedagang pengumpul dari Makassar datang mengambil.429 13.280 1.525 1. Tabel 3. Kegiatan panen ini biasanya tidak bisa dilakukan sekali jalan. keberadaan perahu bermotor sangat diharapkan oleh para petani rumput laut untuk mengganti perahu dayung yang selama ini mereka gunakan. Bantuan yang diberikan bersifat seragam sehingga setiap kelompok yang mendapat bantuan akan menerima barang yang seragam.422 1.tahun 2007 hingga sekarang. Sementara itu.370 1.861 2.379 2.826 2.784 16. Selama ini. bantuan lain yang diharapkan adalah bantuan berupa gudang penyimpanan dengan bangunan yang permanen.585 3. 2009 98 . Artinya. Produksi (Ton) 2007 2008 2009 2. Selain itu.068 2. Kolaka Tahun 2007-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Total Luas areal (ha) 2007 2008 2009 89 291 294 117 396 398 90 307 310 61 201 203 54 191 193 48 156 158 61 199 201 61 163 164 581 1.497 1. gudang penyimpanan sederhana terbuat dari kayu yang dibangun di bawah rumah salah seorang ketua kelompok.

Peningkatan Luas areal dan Produksi Rumput Laut di Kab.5 59 22.0 226.0 30.0 31.2 167.17 229.03 0.17 244.3 50 22.41 229.34 240.0 Luas (%) 08-09 1.5 59 22. yaitu pemda memfasilitasi pengerjaan pembuatan/pembenahan tambak tambak masyarakat yang terbengkalai.7 61 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.5 59 22.05 1.5 241. Produksi (%) 07-08 08-09 07-09 22.61 0. Selanjutnya. bukan secara perorangan.0 238. Kolaka Tahun 2007-2009 No.51 0. setiap kelompok budidaya melalui ketua kelompoknya mengajukan permohonan bantuan dalam bentuk proposal yang di dalamnya dicantumkan jenis bantuan yang dibutuhkan. untuk budidaya ikan Bandeng (benih. Pemilik tambak hanya membayar setengah dari total biaya penataan lahan tambak.5 253. 2009 Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Subsidi/bantuan kepada pembudidaya dapat dikelompokkan berdasarkan manfaat yang diterima oleh masyarakat pembudidaya.0 30.Tabel 3.0 30. Bantuan langsung (penerima langsung mendapatkan/menerima bantuan). Selanjutnya.44 232. gudang penyimpanan dan mesin perahu).49.01 0.2 226.5 59 22. Ini dilakukan agar pemilik tambak mengolah tambaknya secara berkelanjutan.28 1.0 47. Bantuan yang selama ini diberikan untuk kelompok pembudidaya.0 30.85 229. 99 .7 225. berupa sarana produksi seperti: untuk budidaya rumput laut (bibit rumput laut. tali ris dan jangkar.08 Vol.5 59 22.0 23. dan secara tidak langsung (masyarakat tidak langsung menerima bantuan tetapi merasakan manfaatnya). dan bantuan berupa “bedah tambak”.93 07-09 230. Program bantuan atau subsidi langsung diberikan kepada pembudidaya di Kabupaten Kolaka.5 59 22.0 30.98 1. Proposal tersebut harus diketahui oleh kepala desa dan ditandatangani oleh semua anggota kelompok.0 30.1 229.79 257. Kolaka. Prosedurnya. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Rata rata 07-08 227.3 80 22. proposal tersebut diverifikasi lapang oleh petugas dinas untuk melihat kebenaran dari informasi yang disampaikan dalam proposal.00 1.51 168.

Bantuan dengan sistem fifty-fifty khusus diberikan untuk program bedah tambak. Hal itu sangat membantu keberlanjutan usaha mereka. Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Subsidi/Bantuan langsung Dasar pertimbangan 1. Program bantuan/subsidi tidak langsung dapat berupa pembangunan sarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. Jenis bantuan/subsidi dan dasar pertimbangannya No A.000. Untuk itu. Patokan yang digunakan adalah biaya pengerjaan tambak per jam yang besarnya Rp500. Tabel 3.50. Program ini mulai dilakukan tahun 2007 hingga sekarang karena pada periode tersebut banyak tambak yang terbengkalai (idle) akibat pendangkalan yang pada terjadi pada tambak. Adapun kriteria pemberian bantuan adalah: (a) prioritaskan pembudidaya yang miskin. Sedangkan biaya 4 jam lagi ditanggung oleh petani tambak. tali ris. (c) siap sharing dalam bantuan yang sifatnya fifty-fifty karena tanpa komitmen ini bantuan akan gagal sehingga usaha budidayanya tidak mampu berkembang.000 = Rp2. (b) belum pernah mendapat bantuan.000. Program ini terbukti sangat disambut baik oleh para petani tambak karena tambak yang telah rusak dapat dihidupkan kembali. Budidaya rumput laut .Budidaya rumput laut merupakan a) Pengembangan Sapras Budidaya penyumbang pendapatan sektor Rumput laut (bibit. biaya bedah tambak akan dibantu pemerintah dengan nilai 50 persennya saja. namun terjadi kecenderungan penurunan produksi dan luas lahan karena 100 .kelompok pembudidaya yang mendapat bantuan disahkan dalam Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka. Artinya.000. pemerintah berusaha mengoperasikan tambak-tambak tersebut dengan cara membantu biaya perbaikan tambak. jangkar) perikanan kedua terbesar setelah budidaya tambak. Jika untuk memperbaiki tambak memerlukan waktu 8 jam maka bantuan akan diberikan sebanyak 4 jam atau sebesar 4 jam x Rp500.

Pembangunan Hatchery 3. Rehabilitasi Kantor BBI Wundulako 2.Perlu pemacuan dalam penyediaan benih bermutu dalam jumlah besar. paku) Dasar pertimbangan . waring.Masyarakat pembudidaya kesulitan dalam mendapatkan benih. kayu lantai. Mowewe. Subsidi/bantuan tidak langsung 1. namun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat. subsidi/bantuan yang diberikan . oleh pemerintah (pusat dan daerah) secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pembudidaya. tali. kayu) 3. dalam jumlah maupun kualitas yang diharapkan. Pemantapan BBI Loea. 2. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tambak B. Akibatnya mereka kehilangan sumber pendapatan dari budidaya ikan sehingga beralih menjadi perambah hutan di bukit bukit sekitar daerah hunian.No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan b) Pengadaan sarana penunjang budidaya rumput laut (kayu tiang. Penyempurnaan Sapras Hatchery Wolo 5. .Teripang merupakan komoditas yang memiliki prospek harga yang bagus. 101 . Sedangkan bantuan tidak langsung berupa pembangunan prasarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. Wundulako Bentuk-bentuk Subsidi Perikanan Seperti yang telah dikemukakan di atas. Pengembangan Pembudidaya Teripang (bibit. Bantuan langsung pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan produksi. .Potensi konflik batas lahan budidaya rumput laut dan jalur pelayaran sehingga perlu penataan dan penertiban . Pembangunan Tower Hatchery Watubangga 4.Banyak lahan tambak terbengkalai karena pemiliknya tidak cukup dana untuk penggalian dan penataan lahan tambaknya yang sudah dangkal dan tumbuh gulma. maupun hutan bakau di pesisir.

000 4. 50 paket - 415.000 - - - - Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.51.500 - 75. 2.000 8. Pembangunan tower hatchery di Kec. Wundulako 102 . Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4.900 1 unit - 75. Kolaka. kayu dan lainnya yang fungsinya untuk budidaya Rumput laut dan pembuatan para para untuk penjemuran rumput laut hasil panen. jangkar Sarana penunjang (kayu tiang. 3 paket 110. Pembangunan hatchery. diolah. Mowewe. Pemantapan BBI Loea di Mowewe. tali ris. lantai) Budidaya Teripang (bibit.Tabel 3. Jenis dan bantuk bantuan/subsidi perikanan budidaya laut di Kab.185 49. 1. Bantuan/Subsidi langsung Budidaya Rumput laut Pengadaan sapras (bibit.950 400.000 - 5 unit 240 ha 94.300 7 klp 83. tali dan kayu untuk budidaya Teripang. Wolo. Penyempurnaan sarana prasarana hatchery di Kec. a) b) 2.000 - - 10 paket 100 ha 63.372 kg - 362. 3. waring. Kolaka tahun 2007 – 2010 No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Vol 2007 Alokasi (000) Vol 2008 Alokasi (000) Vol 2009 Alokasi (000) Vol 2010 Alokasi (000) A. waring.200 - - B.900 - - - 1 unit - 63.000 - - 559. talli ris.250. pembelian bibit.000 2 paket 4 paket - 1. 1. Bentuk bentuk bantuan tidak langsung yang dilakukan (yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dan budidaya tambak) diantaranya: Rehabilitasi kantor BBI Wundulako. serta subsidi biaya penggalian dan penataan lahan tambak yang terbengkalai. 1 unit 1 unit - 167. Watubangga. tali) Rehab dan konstruksi tambak Bantuan/Subsidi tidak langsung Pembangunan Hatchery Tower hatchery Watubangga Penyempurnaan sapras hatchery Wolo Pemantapan BBI Loea.7. 3.000 6 paket - 400. jangkar. bentuk bentuk bantuan langsung berupa: pembelian bibit.

Agar produk yang dihasilkan dapat diserap oleh pasar. produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan. Seperti yang telah dikemukakan di 103 . (2) Petani tambak tidak cukup dana untuk memberi pakan secara intensif dan hanya mengandalkan pakan alami sehingga harus mengurangi padat tebar yang berpengaruh kepada produktivitas hasil. Berbeda dengan ikan bandeng. Namun demikian. Dalam jangka panjang program ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan usaha dan kelestarian sumberdaya. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bantuan berupa bedah tambak perannya cukup nyata terhadap budidaya Bandeng. Akibatnya. produksi dan produktivitas budidaya Rumput laut. budidaya rumput laut justru terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008 baik dalam hal luas lahan. pembinaan kelembagaan pemasaran dan kemudahan akses pasar akan lebih menjamin dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. Kondisi ini terjadi karena: (1) Petani tambak tidak cukup dana untuk merehabilitasi tambaknya yang sudah puluhan tahun digunakan dan telah terjadi pendangkalan. Demikian juga volume produksi ikan hanya meningkat 8-9%. Dampak langsung yang sudah dapat dilihat adalah berkurangnya perambah perambah hutan dan penebang hutan bakau karena sebagian dari pemilik tambak sudah dapat mengopersionalkan kembali tambaknya. mengingat pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya tambak Bandeng. Dengan demikian. Inipun baru sebatas perannya terhadap pertambahan luas lahan yang dilakukan dalam tahun 2009 (240 ha). maka bantuan untuk pakan merupakan pilihan utama setelah bedah tambak.52 ton/ha (2008) dan kemudian 1. meningkat menjadi 1.Peran Subsidi Perikanan Dalam kurun waktu 2007 sampai dengan 2009 tidak terjadi pertambahan luas areal tambak yang diusahakan untuk budidaya. luas lahan tambak yang difungsikan relatif tetap bahkan cenderung akan berkurang karena pendangkalan yang terjadi terus menerus akibat penebangan hutan di bukit dan hutan mangrove di pesisir. sedangkan produktivitas hasil yang rendah yaitu 1.56 ton/ha (2009).45 ton/ha (2007).

104 . Jika dikaji lebih dalam melalui perbandingan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 dapat dilihat bahwa dalam hal luasan lahan terjadi peningkatan luas sebesar 229%. Ke depan. hal ini terjadi karena adanya serangan hama/penyakit pada bibit Rumput laut yang masih muda. sudah saatnya bantuan/subsidi dalam budidaya Rumput laut dirancang dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya.bagian terdahulu. karena selama ini pembudidaya melakukan perbanyakan sendiri dari bibit yang mereka gunakan yang tentunya kualitas bibitnya semakin menurun. belum berperan terhadap peningkatan produksi dan produktivitas yang merupakan muara dari program pembangunan yaitu peningkatan pendapatan usaha dan keberlanjutan usaha masyarakat yang dalam hal ini masyarakat pembudidaya Rumput laut. Namun hal ini tidak langsung diikuti oleh peningkatan produksi yang signifikan karena ternyata produksi hanya meningkat 61%. media penjemuran (para para) dan gudang penyimpanan hasil sangat diperlukan. peran bantuan/subsidi pada komoditas Rumput laut baru sebatas penambahan areal budidaya. dan manajemen usaha. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: penyediaan bibit unggul. Cara lain dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan (teknis dan non teknis) seperti teknis budidaya yang baik. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada budidaya Bandeng. Agar mutu hasil produksi dapat tetap terjaga sampai siap dijual.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.