3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kota Ambon Gambaran umum lokasi penelitian Luas Kota Ambon adalah 377 km2 (luas daratan sekitar 359,45 km2 ), dengan demikian luasnya meliputi hampir separuh dari luas pulau Ambon. Secara geografis, Kota Ambon terletak pada 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur yang berbatasan dengan:    Sebelah Utara : Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda Sebelah Timur : Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Barat

: Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, 2008 Gambar 3.1. Peta Administratif Kota Ambon Saat ini Kota Ambon dibagi dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, dan Leitimur Selatan. Jumlah desa atau kelurahan yang tersebar di kelima kecamatan tersebut sebanyak 50 desa/kelurahan. Berdasarkan luas wilayahnya, maka Kecamatan

12

Teluk Ambon merupakan kecamatan terluas, yaitu 93,68 km2. Sebaliknya, Kecamatan Teluk Ambon Baguala menjadi kecamatan dengan luas wilayah paling keci, yaitu 40,11 km2. Dengan batas wilayah yang demikian maka perairan Kota Ambon dipengaruhi oleh dinamika laut Banda. Dari 50 Desa/Kelurahan, maka 34 Desa/Kelurahan (68%) berada pada kawasan pesisir, sedangkan desa-desa lainnya terletak di daerah pegunungan dan jauh dari pantai. Desa-desa di daerah pegunungan tersebut memiliki ”hak petuanan” di kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan Laporan Statistik PPN Ambon (2009), jumlah penduduk Kota Ambon yang bermata pencaharian tergantung pada perikanan hanya sebesar 1,4 persen dengan jumlah nelayan dan rumah tangga perikanan (RTP) masingmasing sebanyak 3.796 jiwa atau 3.378 rumah tangga. Nelayan Kota Ambon dapat dikatakan sebagai nelayan sub-sisten. Jumlah nelayan terbesar terdapat di Kecamatan Nusaniwe (34,61%) yang terkonsentrasi di Desa Latuhalat (Tabel 3.1). Latuhalat menjadi sentra kegiatan penangkapan karena kondisi perairan yang menunjang produksi perikanan tangkap. Namun, beberapa desa pesisir lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi untuk budidaya perikanan, pengolahan, eko-wisata laut. Tabel 3.1. Jumlah Nelayan dan RTP Kota Ambon Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Teluk Ambon Teluk Ambon Baguala Sirimau Leitimur Selatan Nusaniwe Jumlah Jumlah Nelayan 677 819 372 614 1,314 3,796 Jumlah RTP 593 725 293 547 1,22 3,378

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon, 2008 Usaha perikanan di Ambon terdiri dari usaha perikanan komersial dan usaha perikanan rakyat. Usaha perikanan komersial ditunjukkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang berpangkalan di Kota Ambon

(fishingground penangkapan adalah di perairan Maluku dan Papua). Sementara itu, usaha perikanan rakyat pada umumnya terdiri dari kapal ikan ukuran kecil

13

sampai ukuran 30 GT.

Berkembangnya usaha perikanan didaerah tersebut

berpotensi mempengaruhi ketersediaan ikan. Saat ini di Ambon semakin banyak tertangkap ikan tuna ukuran kecil (baby tuna), ini merupakan pertanda stok ikan semakin berkurang. Di Kota Ambon terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang tesebar pada beberapa lokasi. Kapal yang berkunjung ke PPN Ambon sangat bervariasi, baik jenis alat tangkapnya maupun ukuran kapalnya. Selain kapal penangkap ikan, ada pula kapal pengangkut yang berperan sebagai kapal pengumpul ikan dari beberapa kapal penangkap ikan yang berada di tengah laut. Kapal pengangkut ikan ini juga berfungsi sebagai penyuplai bahan bakar dan perbekalan untuk biasanya memiliki trip hingga 6 bulan. Jumlah kapal pengangkut yang singgah di PPN Ambon, yaitu sebanyak 275 kapal atau 32 persen dari total kapal yang berkunjung. Ukuran kapal pengangkut antara > 10—1000 GT yang didominasi oleh ukuran 51—100 GT. Sementara itu, kapal penangkap dengan alat tangkap pukat tarik ikan, pukat tarik udang ganda, dan huhate adalah kapal yang paling banyak berkunjung di PPN Ambon masing-masing sebanyak 26 persen, 17 persen, dan 7 persen dari jumlah kapal yang berkunjung ke PPN Ambon. Jenis ikan yang dominan didaratkan selama tahun 2009 adalah ikan pelagis kecil, seperti: ikan gulamah/tigawaja, layang, layur, dan ekor kuning, sedangkan dari jenis non-ikan adalah cumi-cumi (Gambar 3.2). Ikan gulamah/tigawaja adalah ikan yang paling banyak didaratkan, mencapai 61,24 persen dari total ikan yang didaratkan. Gambar 3.2. menunjukkan ikan yang didaratkan didominasi oleh ikanikan kecil yang umumnya banyak dijumpai di pasar lokal. Ironisnya, Kota Ambon sangat kaya akan ikan-ikan pelagis besar, seperti ikan tuna, tongkol, dan cakalang serta ikan karang seperti lalosi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan berupa ikan pelagis besar tidak didaratkan di PPN, tetapi langsung dijual ke awak kapal penangkap yang

14

es. Namun. Dari hasil pengamatan. berasal dari dalam dan luar pelabuhan. nelayan yang menangkap ikan tuna langsung membawa hasil tangkapannya ke perusahaan yang menawarkan harga tertinggi agar keuntungan yang nelayan peroleh besar. Penyaluran logistik air bersih. Persentase Produksi menurut jenis ikan dominan Selain sebagai tempat pendaratan ikan serta berlabuhnya kapal-kapal penangkap dan pengangkut ikan . Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah perusahaan kapal mendapat kesulitan untuk melakukan docking karena fasilitas yang tersedia hanya melayani ukuran kapal di bawah 500 GT. Sebaliknya.2. Hal inilah yang mendorong sulitnya nelayan mendapatkan kebutuhan logistiknya secara cepat dengan harga yang terjangkau. (Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. PPN Ambon kurang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya.perusahaan-perusahaan sebagai komoditas ekspor. Padahal. dermaga laut dan pelabuhan tersedia 19 buah untuk melayani angkutan penumpang dan barang. Dari hasil pengamatan. PPN Ambon tidak memiliki stasiun pengisian bahan bakar berupa SPDN atau SPBB sebagai agen resmi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal nelayan. kebutuhan es seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam pelabuhan karena 15 . dan BBM/solar. 2009 Gambar 3. misalnya. sedangkan kebutuhan BBM/solar sepenuhnya berasal dari luar pelabuhan. keterbatasan infrastruktur dalam pelabuhan membuat nelayan harus mencari sumber logistik di luar pelabuhan. Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon. 2008) Penyaluran logistik untuk kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh PPN Ambon meliputi air bersih. Kebutuhan nelayan akan air bersih dapat dapat disuplai dari dalam PPN Amon.

80 9.941.2 2.845.2.757 milyar.700 1.710.981.50 16.757.453 6.741.200 72. tongkol.7 857.927.312 985 1.6 1.50 16.000) 5.2 2.810 147. Hal ini disebabkan oleh karena ikan-ikan tersebut merupakan komoditas ekspor utama dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar luar negeri.210.5 1.40 11.9 7.00 17 1.724.7 1.016 13 2.7 1.30 3 1.279.320 15. dan layang.770 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.pelabuhan memiliki pabrik es yang produksinya cukup memenuhi kebutuhan nelayan Kota Ambon. layang.7 ton dengan total nilai sebesar Rp72. Tabel 3.30 16.000 620.343.5 Kebutuhan Logistik Es Balok (Ton) BBM/Solar (Ltr) 13 1. dan tuna dengan nilai produksi terbesar berasal dari ikan cakalang. Tabel 3.898.5 29. Volume dan nilai produksi perikanan per jenis ikan tahun 2009 Jenis ikan Cakalang Kembung Lalosi Teri Layang Selar Tongkol Tuna Lainnya Jumlah Produksi Volume (Ton) Nilai (Rp.2 2.016 16.526 9. Jenis ikan yang paling besar sumbangannya terhadap total produksi adalah ikan tongkol.000 659.000 23.5 603.1 4.927.252.031.422.292 17. 2009 16 .50 1.8 22.8 14.1 400.4 Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon.2 26.6 2.550 5.50 857.200 9.3 696.851. cakalang. Jumlah logistik kapal penangkap ikan di PPN Ambon pada tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Air (Ltr) 368 903.005.242 1.5 3.343.800 300.7 35.186.369.4 830 1.413. 2009 Produksi ikan pada tahun 2009 adalah 22.604.617.3 3.3.607.1 1.

jaring angkat. antara lain hand line. Armada penangkapan yang mengoperasikan alat tangkap pancing tangan (hand 17 .3. seperti bubu.Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor (perahu semang). jaring angkat (14. rawai. dan pukat pantai. Alat tangkap huhate (pole and line) dan giob atau bobo (purse seine) adalah jenisjenis alat tangkap yang sedikit sekali penggunaannya karena sarana penangkapan ini tergolong mahal. Kapal tanpa motor lebih banyak digunakan dibandingkan perahu motor tempel dan kapal motor. dan pancing tonda (7.4 persen nelayan Kota Ambon menggunakan alat tangkap tersebut. alat tangkap lainnya. perahu motor tempel (outboard engine) dan kapal motor dengan mesin dalam (inboard engine). dari sisi manfaat dapat melibatkan banyak nelayan dalam operasional alat tangkap tersebut. Armada penangkapan ikan di Ambon tahun 2009 Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Kota Ambon sangat bervariasi.3%). huhate. Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. pancing tonda. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tangan (56%). panah. Prosentase kapal motor dengan mesin sebagai armada penangkapan hanya digunakan oleh satu persen nelayan Kota Ambon. 2009 Gambar 3. jaring insang. Namun. purse seine. yaitu sebanyak 67 persen dan sisanya 32 persen didominasi oleh perahu dengan motor tempel.3%). tangguk. juga tergolong banyak karena ada 10. jaring insang (9. Selain itu. jala.8%). dan rumpon.

gelombang. Ukuran kapal tersebut menyebabkan nelayan tidak mampu menangkap ikan di lautan lepas karena ukuran kapal tidak mampu melawan arus. Dengan demikian. Daerah penangkapan ikan umumnya berada di dalam teluk dan pada perairan di sekitar teluk Ambon. Nelayan Ambon tidak terpengaruh oleh musim. jenis alat tangkapnya. tramel net. bantuan kapal yang diterima nelayan biasanya tidak dapat langsung digunakan karena harus dimodifikasi terlebih dahulu. Untuk itu. Berdasarkan kepemilikan kapal 70 persen responden memiliki kapal dengan ukuran ≥5GT . dan bahan bakar yang digunakan dapat dipelajari dari Tampilan Tabel 3. misalnya gill net. baik ukuran panjang kapal dan kekuatan mesinnya. Kondisi ini memang memaksa nelayan untuk menggunakan kapal dengan ukuran panjang dan lebar kapal yang berbeda. nelayan cenderung mudah berpindah daerah penangkapan (fishing ground) sehingga kegiatan penangkapan tidak terganggu dengan adanya perubahan musim angin. Karakteristik Usaha Responden Karakteristik responden menurut kepemilikian kapal. dan angin yang cukup besar.line) umumnya juga menggunakan alat tangkap lainnya. Hal ini terbukti dengan samanya jumlah trip hari untuk musim angin barat dan angin timur 18 . dan bottom gill net. karena jika angin kencang tidak terjadi di seluruh wilayah perairan karena terhalang oleh pulau dan gunung di sekeliling teluk.4.<10GT dan sisanya (30 persen) memiliki kapal berukuran < 5 GT.

Tabel 3.4. Karakteristik responden dari aspek teknis
Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT
< 5 GT

Jumlah 9 21 0 0 30 9 8 13 30 25 5 30

Prosentase 30 70 0 0 100 30.00 26.67 43.33 100 83 17 100

≥5GT - <10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT - <100GT Jumlah Jenis Alat Tangkap Pancing tonda Purse seine Gillnet Jumlah Bahan Bakar yang digunakan Bensin Minyak tanah Jumlah

Sumber: Data primer diolah, 2010 Tabel 3.5 menunjukkan pendapatan dan Pengeluaran dari kegiatan penangkapan ikan. Pada nelayan pancing tonda, penerimaan diperoleh dari penjualan ikan tuna pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp1.707.111. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 593.611 yang dialokasikan untuk membeli bensin, oli, es, ransum, dan biaya di darat berupa perawatan kapal. Dengan demikian, keuntungan yang diterima nelayan pancing tonda adalah sebesar Rp1.113.500/trip. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 50% untuk pemilik kapal, 25% untuk nahkoda dan 25% lagi untuk ABK. Pada prakteknya, keuntungan tersebut dibagi dua untuk pemilik dan ABK mengingat biasanya kapal pancing tonda bekerja dengan anggota keluarganya sendiri sehingga bagian ABK adalah Rp 556.750 pada trip terakhir. Untuk kapal purse seine, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dua jenis alat tangkap lainnya. Penerimaan yang diterima pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp3.054.085 dari penjualan ikan kawalinya Rp885.000 dari nilai ikan momar Rp2.973.000 sehingga total penerimaannya adalah Rp3.858.000. Dengan biaya operasional sebesar Rp803.915 maka besarnya

19

keuntungan adalah Rp3.054.085. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 40% untuk pemilik kapal, 30% perawatan, dan perbaikan kapal, 27% untuk ABK, dan 3% untuk nahkoda. Banyaknya ABK yang bekerja di sebuah kapal purse seine membuat penerimaan riil yang diperoleh ABK justru kecil dibandingkan dengan ABK di kapal pancing tonda, yaitu ± Rp41.270 untuk seorang ABK. Tabel 3.5. Pendapatan dan Pengeluaran Kegiatan Penangkapan Ikan
Uraian Penerimaan (Rp) Tuna Selar (Kawalinya) Layang (Momar) Tongkol Kembung (Lema) Jumlah Biaya operasional (Rp) Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Ransum biaya di darat Total Biaya Operasional Keuntungan (Rp) Pancing tonda (< 5 GT) 1,707,111 885,000 2,973,000 1,200,000 288,400 1,488,400 Jenis Alat Tangkap Purse seine (≤ 5-10 GT) Gillnet (≤ 5-10 GT)

1,707,111

3,858,000

0 322,222 0 66,444 41,556 38,389 125,000 593,611 1,113,500

0 118,125 128,250 116,875 13,200 105,625 321,840 803,915 3,054,085

75,000 69,688 15,533 55,714 98,000 15,750 53,333 308,018 1,180,382

Sumber: Data primer diolah, 2010 Alat tangkap gillnet rata-rata menangkap ikan tongkol dan lema sehingga penerimaannya dari kedua jenis ikan tersebut adalah Rp1.488.400. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung rendah karena kapal gillnet tidak banyak membeli oli, minyak tanah, dan ransum sehingga total biaya operasionalnya adalah Rp308.018. Rendahnya biaya operasional ini disebabkan oleh karena nelayan gillnet memiliki trip penangkapan setiap hari sehingga biaya ransum dan biaya bensinnya rendah. Setelah dikurangi dengan biaya operasional tersebut maka besarnya keuntungan sebesar Rp1.180.382. Selanjutnya, sistem

20

bagi hasil dari keuntungan tersebut adalah 60% untuk pemilik, 6% untuk nahkoda, dan 34% untuk ABK. Seperti halnya kapal purse seine, banyaknya ABK yang bekerja membuat bagian keuntungan yang diterima oleh seorang ABK sedikit, yaitu ± Rp40.000.

Bantuan Usaha Perikanan Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatagorikan sebagai subsidi. Namun bantuan ini sifatnya tidak reguler karena diberikan pada keadaan tertentu. Bantuan ini adalah bentuk intervensi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu berjalannya usaha penangkapan ikan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat langsung berupa uang tunai atau peralatan tangkap yang langsung diserahkan kepada kelompok nelayan, misalnya subsidi BBM atau bantuan kapal dan alat tangkapnya bagi kelompok nelayan terpilih. Ada pula subsidi yang diberikan secara tidak langsung, misalnya berupa penyediaan fasilitas untuk memperlancar usaha penangkapan. Intervensi yang intensif kepada nelayan lebih banyak dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Akan tetapi, bentuk intervensinya lebih bersifat pemberdayaan nelayan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya kolektif bersama seluruh masyarakat pesisir untuk pengelolaan ekosistem, sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk menjamin kegiatan nelayan itu secara berkelanjutan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon dan Provinsi Maluku banyak menyediakan bantuan

peralatan penangkapan yang diberikan dalam bentuk paket barang dan uang dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati untuk mendukung usaha nelayan. Bantuan yang bersifat pemberdayaan masyarakat ini jumlahnya sangat kecil, namun sangat membantu dalam pengembangan usaha perikanan yang ada disekitar teluk Ambon. Bantuan tersebut umumnya menggunakan dana yang berasal dari angggaran pemerintah dan sifatnya sangat temporer.

21

2006 6. Bantuan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Perikanan di Kota Ambon Tahun 2002—2008 No. bentukbentuk pemberdayaan kepada nelayan sangat bervariasi dalam aktivitas dan lokasi usaha. 3. Tahun 2002 Jenis Bantuan Rumpon Gilnet Kios BBM Puse seine Bodi BBM&Alat Papalele ikan Rumpon Rumpon Papalele ikan Papalele ikan Gilnet Rumpon Rumpon Papalele ikan Gilnet Pengolahan Pancing tonda Bagan Kios Bubu Gilnet Pancing tonda Rumpon Papalele ikan Jumlah kelompok penerima bantuan 4 5 1 2 1 1 10 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 3 2 1 1 1 7 1 1 Sumber bantuan APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN Bentuk bantuan Uang Uang/Barang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang 2.6. budidaya laut.Tabel 3. Beberapa desa dan kelurahan yang berpotensi dikembangkan untuk usaha perikanan tangkap. Pemberian bantuan ke depan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memaksimalkan kegiatan dan kelembagaan masyarakat yang sedang berjalan (bukan dengan membentuk kelompok-kelompok baru). 2003 2004 2005 5. 2008 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. 2007 7. 4. serta yang mempunyai peranan selama ini dalam upaya menyejahterakan masyarakat. 2009 Berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan di lapangan. 1. wisata bahari dengan pendekatan terpadu dan menerapkan sistem konservasi yang tersebar dalam lima kecamatan 22 .

Alat tangkap : pancing tonda. dan PT perikanan Nusantara . Nania. Halong di waktu lampau terkenal sebagai nelayan pole and line yang tangguh) . wisata khusus alam darat dan laut . Teluk Ambon 4. NegeriLama.7. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). ilmiah serta “eco-tourism” . .dalam tabel di bawah ini. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Tabel 3.Lokasi kelurahan Pandan Kasturi. pancing tonda. huhate dan giob/bobo . melalui pendekatan pengelolaan dan konservasi.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Bagan.Lokasi desa-desa Passo.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . 2.Pariwisata massal berupa rekreasi pantai dan secara khusus wisata selam di kawasan kapal tenggelam di Waiame.Alat tangkap: Jaring insang. melalui pendekatan pengelolaan ekosistem Daerah Aliran Sungai dan mangrove.Budidaya laut (ikan dan non-ikan). Hative kecil.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Budidaya laut (ikan). . Leitimur Selatan 23 . Kecamatan Nusaniwe Bentuk Intervensi . dan PT perikanan Nusantara . alat pancing. dengan isu utama adalah pencemaran.Penangkapan ikan : Jaring insang. dan PT perikanan Nusantara . huhate .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Halong dan Latta serta kelurahan Lateri . dan PT perikanan Nusantara .Alat tangkap seperti jaring insang.Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. giob/bobo. Waiheru.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas .Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. alat pancing.Lokasi Desa-desa Rumahtiga. dan Nusaniwe . wisata selam. Sirimau 3. (beberapa desa seperti Latta. Bentuk-bentuk intervensi pemerintah daerah dalam kegiatan penangkapan di Kota Ambon No.Alat tangkap : Jaring insang. dengan konservasi.Lokasi desa-desa Latuhalat.Pengembangan wisata rekreasi massal. huhate. Laha dan Tawiri . jaring insang. Galala. Demikian juga masyarakat dari desa tertentu yang dapat dikembangkan sebagai desa pengolahan ikan dan non-ikan. desa-desa Batu Merah. 1. Teluk Ambon Baguala 5. alat pancing . Lateri. Seilale. dengan isu utama adalah pencemaran . Rumpon. Hative Besar.

Lokasi pengecer juga cukup jauh sehingga nelayan harus membawa jerigen atau botol kaca sebagai wadahnya. 2008 Peran Subsidi Perikanan Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. Tidak tersedianya SPDN/SPBN menyebabkan nelayan yang menjadi responden mengalami kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini mereka beli dari pengecer dengan harga Rp4.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Padahal. lola. dan PT perikanan Nusantara Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.000 per liter. subsidi BBM kepada nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran < 5—10 GT dengan alat tangkap pancing tonda dan purse seine dapat dikatakan tidak ada.Lokasi Desa-desa Hutumuri.500—Rp6.No. kebutuhan bahan bakar berupa bensin dalam satu trip cukup besar. Kecamatan Bentuk Intervensi . sedangkan kapal purse seine rata-rata memerlukan bensin sebanyak 24 liter dan minyak tanah 37 liter. faktor penyebab lainnya karena armada penangkapan yang digunakan nelayan responden adalah kapal dengan motor tempel yang berbahan bakar bensin.Budidaya laut (rumput laut. Leahari. Selain itu. Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya SPDN atau SPBB sebagai penyalur BBM bersubsidi bagi nelayan di PPN Ambon. batu laga. 24 . teripang. Hukurila . Hatalae. Kilang. . siput lain) dengan pendekatan pengelolaan dan konservasi serta mengembangkan teknologi untuk pembenihan dan pemulihan stok. sedangkan subsidi BBM hanya diberikan untuk armada penangkapan yang berbahan bakar solar. selam antara Hukurila dan Hutumuri . Untuk kapal pancing tonda saja yang melakukan one day fishing rata-rata memerlukan 64 liter bensin.Pengembangan pariwisata massal untuk rekreasi dan secara khusus wisata ilmiah. Naku.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).

611 Rp1. Bertambah besarnya biaya operasional tersebut berdampak pada penurunan keuntungan per trip yang diperoleh nelayan yang bisa mencapai 8 persen.111 24 liter 37 liter Rp803.500 maka solar yang digunakan responden dengan kapal gillnet termasuk ke dalam solar bersubsidi dengan harga Rp6. dan minyak tanah yang masing-masing sebanyak 12. Analisis biaya dan pendapatan menurut jenis alat tangkap Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip Rata-rata volume (per trip) . bensin.Bensin . pada wilayah Ambon ikan yang terdapat di wilayah perairan Ambon masih dapat 25 .Tabel 3.000 per liter sehingga biaya operasional per trip adalah Rp308.858.707. Dengan asumsi harga solar non-subsidi adalah Rp7.768 yang artinya nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan dengan penggunaan BBM bersubsidi meskipun porsi biaya solar terhadap biaya operasional tanpa subsidi BBM atau dengan subsidi BBM hampir sama.018. yaitu sebesar 24 persen.5 liter 20 liter 5 liter Rp308. 20 liter.488. dan 5 liter.Solar . 2010 * Harga BBM di eceran ** Harga BBM tanpa subsidi = Rp7. Selain itu.8.5 liter.500 Berbeda dengan kedua armada penangkapan dengan dua alat tangkap di atas.000 Gillnet ≥ 5-10 GT 1 hari 12.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM* Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM** Rata-rata nilai hasil tangkapan Jenis alat tangkap Pancing tonda Purse seine < 5 GT ≥ 5-10 GT 1 hari 1 hari 64 liter Rp593.018 Rp401. kapal dengan alat tangkap gillnet menggunakan solar.915 Rp3.400 Sumber: Data primer diolah.768 Rp1. Apabila dibandingkan dengan harga BBM tanpa subsidi maka besarnya biaya operasional per trip adalah Rp401. Penurunan pendapatan tersebut bagi nelayan bagi responden menunjukkan bahwa usaha perikanan tersebut memiliki prospek keberlanjutan yang baik walaupun BBM yang digunakan tanpa di Subsidi.

subsidi BBM justru disalurkan untuk armada penangkapan dari 7—10 perusahaan besar di Ambon sejak tahun 2007 hingga sekarang. Sementara itu. Penyaluran BBM bersubsidi ini dikelola oleh PPN Ambon yang berwenang mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak Pertamina berdasarkan surat permohonan dari perusahaan. Namun. sejak Maret 2009 hingga sekarang subsidi BBM hanya disalurkan ke tiga perusahaan. PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry memperoleh BBM bersubsidi paling banyak. Namun demikian. Setelah Pertamina menyetujui permohonan tersebut. PT Cilacap Samudera Fishing Industry. pengisian solar akan dilakukan di dermaga tempat kapal berlabuh dengan menggunakan mobil tanki dari Pertamina sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya sewa mobil tanki di samping membayar harga BBM yang dibeli. 26 .mendukung berbagai armada penangkapan yang terdapat pada kawasan tersebut. Selanjutnya. baik di tahun 2009 (65%) maupun pada tahun 2010 (60%) dari total subsidi BBM yang disalurkan PPN Ambon. surat rekomendasi ini dipelajari oleh Pertamina sehingga pemberian BBM bersubsidi tidak selalu sebanyak yang diminta dan direkomendasikan. Berdasarkan data dalam Tabel 13. dan PT Samudra Sakti Sepakat. PT Samudra Sakti Sepakat baru menerima subsidi BBM sejak bulan Mei 2009 hingga sekarang dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dua perusahaan lainnya. yaitu PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry.

Luas wilayah Kota Bitung 31. 2010 3.275 180 175 200 150 205 255 205 130 175 255 1.Tabel 3. yang batas-batas wilayahnya sebagai berikut:  Sebelah Utara dengan Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Timur dengan Laut Maluku  Sebelah Selatan dengan Laut Maluku 27 .975 Sumber: PPN Ambon diolah.1°35'39" LU dan 125°1'43" 125°18'13" BT.35 Ha. Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry PT. Rekapitulasi BBM bersubsidi yang dikeluarkan PPN Ambon tahun 2009—2010 Jumlah BBM bersubsidi (KL) Bulan PT. Cilacap Samudera Fishing Industry PT.350.9. Kota Bitung Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Bitung terletak pada 1°23'23" . Samudera Sakti Sepakat Jumlah Tahun 2009 Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah 150 95 100 125 125 170 765 25 25 75 50 70 70 315 20 25 50 45 25 30 195 195 145 225 220 220 270 1.2.930 100 75 50 125 125 80 75 25 50 75 780 20 25 40 20 20 70 25 45 265 280 250 270 300 370 355 300 225 250 375 2.

3. 8.00 31.270 jiwa berarti setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 3%.766. industri. sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan.82 100 Sumber : Kantor Statistik Bitung (2010) Dilihat dari aspek topografis. 5.30 2. Tabel 3.70 3.083. 7. 28 . perdagangan dan jasa serta pemukiman.18% merupakan dataran landai serta sisanya 18. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat.756.10 . dengan rincian seperti pada tampilan Tabel 3. merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0 – 15 derajat.03% berombak. Sebelah Barat dengan Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Secara administratif wilayah Bitung dibagi dalam 8 kecamatan dan 69 kelurahan. keadaan tanahnya sebagian besar daratan Bitung atau 45.396.06% berombak berbukit dan 32. 4.553.00 516.266 jiwa. Kecamatan Ranowulu Matuari Girian Mandidir Maesa Aertembaga Lembeh Selatan Lembeh Utara Jumlah Kelurahan 11 8 7 8 8 10 7 10 69 Luas Daerah (ha) 15. 6.350.00 2.09 10. 2.35 % 50.00 969.56 8.73% bergunung.14 8. Dibandingkan hasil Sensus Penduduk terakhir yakni tahun 2000 yang berjumlah 140.55 2. 1.83 1.26 10.309. Hanya 4.10.65 6. Jumlah penduduk Kota Bitung pada tahun 2008 diestimasikan sebesar 178.64 3. Kecamatan. Desa serta Luas Wilayah Kota Bitung No.80 3.

Pada perairan zona ekonomi eksklusif seluas 190 km2 dan produksi 196. perahu tanpa motor yang digunakan untuk menangkap ikan sebesar 40% dan kapal motor < 5 GT sebesar 5% dari total jumlah kapal yang ada.9 ton per tahun. Penurunan jumlah perahu tanpa motor ini disebabkan karena sebagian nelayan telah memiliki perahu dengan motor temple.5035 km persegi. Penurunan jumlah perahu tanpa motor sejalan dengan meningkatnya jumlah perahu motor temple.81% per tahun. potensi penangkapan di Sulawesi Utara pada perairan 12 mil seluas 314. Penurunan ini terlihat karena adanya penurunan jumlah perahu tanpa motor dalam jumlah yang signifikan. Selain perahu motor temple. Ditinjau dari kategori kapal. kapal motor juga mengalami peningkatan dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah perahu tanpa motor. Jika dihubungkan dengan luas wilayah Kota Bitung yang 313.39% per tahun. Peningkatan jumlah perahu motor temple rata-rata sebesar 32. surat izin penangkapan ikan untuk kapal kurang dari 10 GT dilakukan di tingkat Kota Bitung.9 ton per tahun. maka kepadatan penduduk pada tahun 2008 mencapai sekitar 569 jiwa per kilometer persegi. Kapal penangkap ikan dengan kategori 11-30 GT atau kapal yang memperoleh izin pada tingkat propinsi berjumlah sebanyak 9% dari 29 . Pengurusan administrasi seperti surat izin usaha perikanan. Kapal motor dengan kategori 6-10 GT yang terdapat di Bitung sebanyak 10%.Dilihat dari sebaran penduduk per kecamatan sebagian besar penduduk Bitung terkonsentrasi di Kecamatan Maesa. Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya. sehingga total jumlah amada penangkapan menunjukkan penurunan.98 km2 dan produksi 125. Armada penangkapan ikan dilihat dari jumlah kapal selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan 4.81% per tahun dan peningkatan kapal motor dengan rata-rata 20. Karakteristik Usaha Perikanan Kota Bitung Bitung memiliki sumber daya perikanan yang cukup potensial.

30 .303 1. 2000-2009 PERAHU TANPA TAHUN (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MOTOR (2) 1.total jumlah kapal yang terdapat di Kota Bitung. 2010 Alat tangkap yang dominan di Bitung adalah hand line yaitu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna.472 1.472 1.286 Sumber: dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.867 2.958 1.11.229 2.367 2.613 1.477 1.227 2. Perkembangan jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Bitung. Kapal kurang dari 5 GT dengan alat tangkap hand line mampu melakukan penangkapan di ZEEI dengan ikan hasil tangkapan tuna berukuran lebih dari 35 kg per ekor.471 1.029 700 690 525 PERAHU MOTOR TEMPEL (3) 597 630 727 121 622 642 520 510 510 313 KAPAL MOTOR (4) 155 126 104 274 275 291 409 411 413 448 JUMLAH (5) 2.621 1.523 1. Kapal dengan kategori lebih dari 30 GT terdapat di Kota Bitung sebanyak 35%.456 1. alat tangkap yang banyak dijumpai di Kota Bitung adalah alat tangkap purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil dan alat tangkap pole and line untuk menangkap ikan cakalang. Tabel 3. Selain alat tangkap hand line.470 1.

Tabel 3. tahun 2009 KATEGORI KAPAL Tanpa Motor ALAT TANGKAP Hand Line Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Bagan Apung Set Net < 5 GT Sero Tanam Pole and line Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 6 .10 GT Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 11 .773 33 660 19 475 5 125 9 135 24 120 24 31 .12.050 525 1. Jumlah kapal dan jumlah nelayan menurut jenis alat tangkap di Bitung.050 50 250 5 100 1 1 2 4 1 8 32 67 387 63 441 50 1.250 16 64 3 18 132 1.30 GT Pole and line Tuna long line Light Boat Pengangkut/Penampung JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 525 1.

755 18 360 65 1. rata-rata jumlah nelayan yang terlibat sebanyak 25 orang per kapal per trip.505 13. Dalam pemanfaatan sumber daya perikanan.175 98 1. sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap yang pada ukuran lebih dari 10 GT memerlukan ABK sebanyak 20 orang.KATEGORI KAPAL ALAT TANGKAP JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 240 114 1. Sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap hand line memerlukan ABK lebih banyak untuk ukuran kapal yang lebih besar.460 Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Pole and line Tuna long line > 30 GT Bottom long line Pukat Ikan Gill Net Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Total 448 1. Bitung ditunjang oleh sebuah Pelabuhan Perikanan Samudera dengan luas 4.470 16 320 16 400 23 690 1 5 164 2. Selain kapal penangkap ikan.470 Jumlah nelayan yang terlibat di dalam sebuah kapal penangkap ikan tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan.625 47 1. kapal pengangkut yang terdapat di Kota Bitung berjumlah sekitar 2% dari total kapal. Pada alat tangkap purse seine dan pole and line.286 8. Kapal dengan alat tangkap hand line yang berukuran kurang dari 10 GT hanya memerlukan ABK sebanyak 7 orang. 32 .6 ha dan reklamasi 1 ha.

720 9.215 6. baik dilihat dari jumlah kapal dan juga ukuran kapal.200 GT > 200 GT 86 29 3 1.13.202 11. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas kapal.891 567 305 19 59 266 145 67 15.50 GT MOTOR 50 . sedangkan pada tahun 2009 jumlah kapal yang sering berkunjung adalah kapal motor tempel. Jumlah kapal yang berkunjung ke PPS bitung mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2005. Jumlah kunjungan kapal di PPS Bitung.5 m LWS.877 954 777 1. dari kapal tanpa motor menjadi kapal motor tempel.502 10.702 8.267 539 499 1. 2010 33 .610 m untuk bobot kapal 5-30 ton dengan kedalaman -1. Tabel KATEGORI DAN 2005 UKURAN KAPAL Jumlah (unit) PTM Motor Tempel < 10 GT 10 .432 3.952 10. es dan air bersih.465 677 417 206 20.254 22. Pada tahun 2005 jumlah kapal yang paling sering berkunjung adalah kapal tanpa motor.357 150 354 1. Jalan utama PPS Bitung 1. Kunjungan kapal diatas 50 GT juga mengalami peningkatan. Kunjungan kapal di PPS bertujuan untuk melakukan pembongkaran ikan dan juga untuk memuat perbekalan seperti BBM.130 9.352 127 215 1.20 GT 20 . 2005-2009 Sumber : Profil PPS Bitung.300 2.648 m2.00 m LWS dan dermaga 2 sepanjang 1. Meningkatnya jumlah kunjungan kapal diatas 50 GT menunjukkan semakin banyaknya jumlah kapal yang beraktivitas di PPS Bitung.637 12.581 230 226 366 24.101 719 718 216 21.dermaga 1 sepanjang 1.660 2006 2007 2008 2009 3.30 GT KAPAL 30 .494 24 2 1.764 m bobot kapal 30-600 ton dengan kedalaman -5.100 GT 100 .

kapal ikan yang akan melakukan pengisian solar harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi pengisian solar kepada petugas pelabuhan perikanan. Cold Storage Penjualan Suku Cadang.32 81 40 565.60 Usaha Solar (SPBB) dan Air Pengolahan dan Cold Storage Prosesing ikan segar dan Cold Storage Pabrik es. A SPDN (BBM Solar) Pabrik Pengolahan Ikan Pabrik Prosesing Fillet Ikan Tuna Kantor Administrasi dan Operasional Penyalur minyak tanah. 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Perusahaan PT. Pangow Jasa Wartel “Aldin” HIPPBI UD. Nama perusahaan yang terdapat di PPS Bitung.000 500 1. Bitung Bahari Sejahtera Luas Lahan (M²) 927 1. Tabel 3. Waserda Pabrik Es.50 1. Caria Ch. Kelana Djaya Abadi CV.000 1. Oli Depot Air Isi Ulang Jasa Wartel Kantor Sekterariat Kantor Adm. Mikaindo Abdai Cemerlang PT. dan Unit Pengolahan Ikan UKM Kantor Administrasi 34 .92 72. Wailan Pratama PT. Mikaindo Abadi Cemerlang Daeng Umar Genda Dra. Prosesing Plant Prosesing Ikan dan Cold Storage SPBN Tipe.556.14.000 168. Golden Bridge International PT. Prosesing Ikan Segar.Fasilitas penyediaan perbekalan yang sangat dibutuhkan oleh kapal ikan dalam melakukan penangkapan sebagian besar terdapat di dalam kawasan PPS Bitung. Bitung Bahari Sejahtera KSU.000 1. Sari Tuna Makmur PT.20 49. hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pemuatan es ke kapal-kapal ikan yang akan melakukan penangkapan. Penyaluran air bersih untuk kebutuhan kapal penangkapan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki dalam kawasan PPS Bitung. Pathemang Raya PT.000 1.46 651. Getra Mitra Usaha PT. Komegoro PT. Beberapa pabrik es juga dibangun di areal PPS Bitung.000 616 600 4.000 2. Etmiko Sarana Laut PT. Sukses Abadi 27 Kios Pesisir PT. Lautan Bahari Sejahtera PT. Penyaluran solar untuk kapal-kapal ikan telah dibangun SPDN dan SPBB.

190 23.465 1.374 Sumber : PPS Bitung 2010 Lokasi penangkapan atau fishing ground kapal-kapal penangkap ikan yang berasal atau mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung yaitu di Laut Sulawesi.850 23.730 838.660 771.655 Es (Ton) 13.000 253.000 Solar (KL) 858.955 13. Kebutuhan terhadap perbekalan setiap bulan selama tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3.758 15.899 4.165 4. Ikan hasil tangkapan alat tangkap purse seine adalah ikan pelagis 35 .520 10.245 3.955 110.230 751. Bagi kapal ikan berbendera Indonesia tetapi merupakan kapal ikan eks asing dan menggunakan ABK asing tidak diperbolehkan untuk mendapatkan solar dengan harga subsidi.000 liter.240 886. Teluk Tomini dan Laut Arafura.800 907.Kapal ikan yang dapat melakukan pengisian solar adalah kapal ikan Indonesia dan tidak menggunaka ABK asing.911 7.15. Kebutuhan perbekalan di Bitung.205 823. tahun 2009 Kebutuhan Perbekalan BULAN Air bersih (m3) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 19.312. Alat tangkap yang memberikan kontribusi hasil tangkapan paling banyak adalah alat tangkap purse seine atau pukat cincin. Masingmasing kapal ikan dapat melakukan pengisian solar maksimum setiap bulan 25.452.188 15.000 900.000 97.590 957.15.505 725. Alat tangkap ini berjumlah banyak dan juga hasil tangkapan setiap kapalnya dalam jumlah besar. Tabel 3.000 174.000 530.000 3.638 8.000 36.090 696.270 24.715 6.925 4.110 827.000 620.024.020 11.740 995.

Potensi sumber daya ikan cakalang di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini cukup besar. Potensi lainnya masih belum dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dengan maksimum adalah jenis ikan tuna. Hasil tangkapan utama alat tangkap huhate adalah cakalang. alat tangkap yang memberikan kontribusi jumlah tangkapan besar yaitu kapal dengan alat tangkap huhate atau pole and line. sehingga mengundang nelayan-nelayan dari Negara tetangga untuk melakukan penangkapan di perairan Indonesia. Potensi ikan tuna di Laut Sulawesi masih sangat besar. Nelayan dengan skala kecil juga dapat memanfaatkan ikan tuna menggunakan alat tangkap hand line.kecil yaitu layang dan kembung. Kapal dengan alat tangkap hand line Kapal dengan alat tangkap purse seine 36 . sehingga masih dapat dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dalam jumlah yang banyak. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Bitung untuk melakukan penangkapan ikan tuna adalah hand line dan long line. Selain purse seine. Harga ikan pelagis kecil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ikan pelagis besar. Nelayan tersebut sudah harus memiliki keahlian khusus sehingga dapat menangkapan ikan tuna berukuran diatas 30 kg per ekor dengan menggunakan perahu di bawah 5 GT.

778.90 L.462.90 280.80 4.70 45.80 299.90 15.70 L.890.50 12.10 13.299.566.189.637.60 99.00 80.90 17.00 180.823.532.90 100.90 99.70 127.80 127.90 18.886. tahun 2009 Alat Tangkap Payang Pukat tarik udang tunggal Dogol Pukat pantai Pukat Cincin Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Bagan perahu/ rakit Rawai tuna Huhate Pancing tonda Pancing ulur Pancing cumi Jumlah T.904.674.90 1.60 355. Kapal penangkap ikan Bitung yang melakukan penangkapan ikan di Laut Arafura seperti purse seine.90 3. Potensi terbesar yang terdapat di Laut Arafura adalah udang.00 4. huhate dan pancing tonda.00 6. Tabel 3.401. disamping beberapa jenis ikan lainnya seperti cakalang dan ikan-ikan pelagis kecil.60 37 .80 2.998.40 3. Produksi ikan di Bitung berdasarkan jenis alat tangkap dan fishing ground.60 14.566.70 8. Tomini 600.998.333.80 5.80 4.4.90 13.70 17.30 46.00 128.00 1.20 209.20 199.00 8.468.425.300.40 45.789.60 99.866.099.Kapal dengan alat tangkap purse seine Kapal dengan alat tangkap pole and line Gambar 3. Aktivitas Perikanan pada PPS Bitung 2010 Laut Arafura juga merupakan salah satu fishing ground armada perikanan Bitung.70 4.125.20 Total 1.576.16. Arafura 109.Sulawesi 927.90 5.40 1.998.

2010 Ikan cakalang hasil tangkapan Ikan layang hasil tangkapan Gambar 3.80 Total 145.00 L. Peningkatan jumlah produksi ikan cakalang sebesar 6.073.50 145.40 L. dan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 9. peningkatan produksi ikan tuna periode 2007-2009 adalah 6.Alat Tangkap Sero Bubu Alat tangkap kepiting Jumlah Jumlah T. 38 .053.80 61.65%. Produksi ikan tuna mengalami peningkatan sebesar 2. Jika dirata-rata. Kegiatan Pembongkaran dan Distribusi Ikan di PPS Bitung Jumlah produksi ikan cakalang dan ikan tuna di Bitung selalu menunjukkan peningkatan. tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 21.701.5.90 55.70 42.70 12.20 Sumber: Dinas kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Arafura 41.94%.20%.278. Tomini 54. Jumlah produksi ikan layang mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 yaitu 10.36% per tahun.90 3.Sulawesi 90.90 0.80 4.48% dari tahun 2007 ke tahun 2008.21% per tahun.60 68.

harga ikan cakalang menunjukkan penurunan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember.275.10 2.338.80 145.39) % peningkatan Sumber: PPS.17.820. Penentuan kualitas ikan tuna dilakukan dengan cara mencek kualitas daging ikan tuna.Tabel 3.003. Sebenarnya harga ikan tuna setiap bulannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Harga pada bulan Januari menunjukkan posisi yang paling tinggi pada tahun 2009 yaitu 17 ribu. Rata-rata harga ikan cakalang selama tahun 2009 adalah Rp 11.70 52.40 58. Selama tahun 2009.80 26.10 135.72) (7. Harga ikan tuna menunjukkan peningkatan mulai dari harga 16 ribu pada bulan Januari sampai harga 30 ribu pada bulan Juni.188 per kg.053. baik peningkatan maupun penurunan.50 2. Produksi Ikan Hasil Tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung Tahun 2007 – 2009 Produksi (ton) Jenis ikan 2007 Cakalang Tuna Layang ikan lainnya Jumlah 54. Harga ikan layang lebih tinggi pada bulan April disebabkan karena 39 .572.40 2009 61. Harga ikan layang ditentukan oleh perusahaan pengolahan ikan yang terdapat di sekitar Bitung. pada saat ikan masuk ke perusahaan pengolahan.656.10 2008 57.90 53. Ikan tuna dengan harga 30 ribu adalah ikan tuna dengan grade A.20 6. Bitung 2010.245.272.899.60 28.60 2. Harga ikan tuna yang didaratkan oleh nelayan sangat tergantung pada kualitas ikan.30 142. sedangkan pada bulan-bulan berikutnya menunjukkan angka yang stabil yaitu pada level 11 ribu dan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember menunjukkan angka yang semakin menurun. Harga ikan layang pada tahun 2009 menunjukkan harga yang stabil atau tidak mengalami banyak perubahan.327.747. sedangkan ikan tuna dengan harga dibawah 20 ribu adalah ikan tuna yang tidak dapat dipasarkan ke pasar ekspor.90 22.452.21 (5.377.36 6.362.

523 Layang 9. ikan dibeli dengan harga yang lebih tinggi.267 Selar 13. peralatan yang digunakan. penanganan di atas kapal.000 30.18.000 22. sehingga untuk memenuhi produksi perusahaan pengolahan.000 9. Tabel 3.350 8.000 16.000 11.000 11.pada bulan tersebut produksi ikan layang sedikit berkurang dibandingkan bulanbulan lainnya. penanganan di pasarpasar.000 10.000 9.000 12. Penanganan hasil perikanan berperan penting dalam memanfaatkan produksi perikanan.512 11.000 10.000 12.000 11. Usaha pengolahan hasil perikanan di Bitung sudah sejak lama dilakukan dan telah berkembang dengan baik sehingga menjadikan Bitung sebagai pusat pengolahan ikan terbesar di Sulawesi Utara.288 8. pengecer sampai ke pabrik pengolahan.000 11.000 9.000 30.000 15.519 11.919 12.039 11. Pengolahan tradisional dilakukan melalui adanya industry rumah tangga pengolahan ikan asap/ fufu.119 11.000 14. bahan tambahan.000 8.000 11.000 8. bahan pembantu.000 30.000 31.000 10. penanganan saat didaratkan.000 15. Usaha tersebut dilakukan baik dengan system pengolahan tradisional maupun modern.336 Sumber: PPS Bitung 2010.000 9. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Cakalang 17. 40 .997 28. Harga beberapa Jenis ikan di PPS Bitung (Rp/Kg). yang perlakuannya dimulai sejak ikan ditangkap.000 29.000 30.999 12.000 12.188 Tuna 16. teknologi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh pengolah dan pabrik (UPI). Penanganan hasil perikanan meliputi penanganan terhadap bahan mentah (ikan).000 16.000 13.870 9.000 11.000 9.000 10. Saat ini telah ada tiga kelompok pengolah ikan asap yang beranggotakan 10 – 30 pengolah belum termasuk pengolah perseorangan.275 24.000 12.883 9.000 11.000 11.

tahun 2010 Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 1 2 3 4 PT. Sedangkan yang terpakai hanya 35% dari kapasitas tersebut.Pengolahan ikan tuna.UE Jepang. Deho Canning Co. Delta Pacifik Indotuna 2007 Kaleng.Usaha pengolahan modern di Bitung sampai saat ini berjumlah 45 perusahaan yang terdiri dari : . Total kapasitas pengolahan ikan di Bitung adalah 894 ton. Pengolahan ikan dengan cara pembekuan untuk ikan hasil tangkapan kapal purse seine berorientasi pasar lokal. Kapasitas Perusahaan Perikanan di Bitung. Disamping itu juga terdapat pembekuan ikan tuna dan pembuatan loin tuna.Pabrik pembekuan ikan . dan Jakarta.0 60.0 35. Samudera Sentosa PT. frozen. seperti Bitung.0 30. UEA PT. Nama Perusahaan. Besarnya kapasitas pengolahan yang tidak terpakai disebabkan karena rendahnya jumlah ikan yang didaratkan di Bitung.UE AS.Pabrik pengalengan ikan . Untuk memenuhi kapasitas pengolahan tersebut. 1979 1991 Kaleng Kaleng Kaleng.0 AS. Lokal Arab Saudi. Sinar Pure Foods Int'l PT. 100 100 100 50 Rata 2 80 35 30 30 Pemasaran % 80. Jenis Produk. Bitung harus dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung dan mengolah hasil tangkapan tersebut pada perusahaan pengolahan ikan yang tersedia. Selain itu juga disebabkan oleh adanya jenis-jenis ikan yang langsung dapat diekspor tanpa harus terlebih dahulu dilakukan pengolahan.Pabrik ikan kayu . Tabel 3.19. cakalang dan layang segar untuk ekspor Perusahaan pengolahan perikanan di Bitung didominasi oleh perusahaan pengalengan ikan dan ikan kayu. frozen 41 . Kedua jenis olahan tersebut berorientasi pasar ekspor. Surabaya.

Primadaya Bitung PT.UE.0 90. 6 7 8 2004 2006 15 3 5 1 33. Citra Buana Sulut PT.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 5 Fresh. Lokal PT. Mina Samudra Kencana 2005 2006 2006 2005 Frozen Frozen: Utuh Fresh.0 75. Lokal Jepang 1994 2000 2004 Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen Frozen Jepang Jepang Lokal Export. Tridara Putra Mandiri PT.Saku Fresh. Lokal 2002 Frozen Frozen Export. Indo Hong Hai PT.Frozen : Fresh.8 Lokal/Jkt. Melody Asri 1992 2000 Jepang.Krea. Perikanan Nusantara 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 21 PT.Frozen:U tuh Fresh.0 20.3 16.Sby 42 .Krea.Frozen. Fresh:Loin 10 10 3 2 30.0 20. Anugerah Timur Makmur PT.Lokal 30 Rata 2 10 Pemasaran % 33. Frozen Frozen Frozen. Alam Baru Rekor PT.3 PT.0 Lokal/Jkt. Lautan Bahari Sejahtera PT. Taiwn Eksport.0 40.7 AS. Sari Tuna Makmur 1999 AS.0 15. Ikan Kayu Fresh:Utuh. Yuh Yow Indo PT.Sby 2007 27 2007 Frozen 18 5 27. Bintang Mandiri Bersaudara 2007 2006 1989 Jepang Lokal/Btg Jepang PT.0 20. Etmico Sarana Laut PT. Taiwn Sngpr.0 0.0 50. Nutrindo Freshfood Int'l PT. frozen Ikan Kayu 9 20 25 20 20 20 100 20 10 20 10 30 5 6 15 18 50 3 4 4 2 20 5 50. Jepang Belanda PT. Bitung Mina Utama PT. Japindo Tencep Raya PT.Jepang. Manadomina Citrataruna PT.0 30. Celebes Minapratama PT.7 Sngpr.Frozen :Loin. Sari Cakalang PT.0 66. Sari Malalugis PT.0 20. Shing Sheng Fa Ocean 2001 Frozen 22 23 24 25 26 PT.0 15 3 20.Fro zen Fresh/Frozen Ikan Kayu Ikan Kayu.

Nick's UD. Kina Sasi Biru UD. Singa Raja UD. 2010 Karakteristik Usaha Perikanan Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Aertembaga. Bitung Timur. Sby JUMLAH Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Bahari Mitra Lestari UD.0 13. Sinco Ocean Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen. International Alliance Food 2007 2007 Frozen Kaleng Lokal/ Jkt.Sby Lokal Lokal/Btg Lokal/Jkt. maka 80% dari total responden merupakan angkatan kerja dengan umur 43 .Sby Lokal/Jkt.0 40.0 40. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung. Responden yang dilakukan wawancara sebanyak 35 orang.0 25.2 Lokal/Jkt.0 20. Ocean Tuna PT.0 16. Berdasarkan data primer. Sukses Abadi UD. Sby 5 2 40. Lembeh. Fresh:Loin Frozen.Sby Lokal/Jkt.0 33. Fresh:Loin Frozen 2006 2008 2005 2005 2006 Frozen Frozen Frozen Frozen Fresh Frozen Frozen Fresh 2006 Frozen 3 5 6 10 15 4 5 5 4 12 5 60 894 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 10 366 50.0 Rata 2 Pemasaran % CV. Sby Lokal/Jkt.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 28 29 30 PT.Sby Lokal/Btg Lokal/ Jkt. Citra Anugrah Fishtama PT. Permata Laut Jaya 2007 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 CV.3 25. Jasuma UD.0 25.3 20. Nelayan CV.Sby Lokal/Jkt. wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Esria UD. Mitra Sakana CV. Berkat Baru UD.7 35. Girian dan Madidir. Lautan Berkah CV.0 20.

51% responden memiliki anggota keluarga 3 sampai 4 orang. 37% telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan kurang dari 15 tahun. kapal dengan ukuran diatas 10 GT sampai kurang dari 30 GT sebanyak 31% dan kapal dengan ukuran lebih dari 44 . Sedangkan responden yang sudah sangat berpengalaman atau lebih dari 15 tahun hanya sebanyak 17% dari total jumlah responden. dimana nelayan sebagian besar hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar.produktif yaitu antara 20 sampai 50 tahun. responden memiliki anak 1-2 orang. sehingga dapat dikatakan. kapal dengan ukuran 5 GT sampai dengan kurang 10 GT sebanyak 34%. anggota DPRD. Pengelompokkan responden berdasarkan ukuran kapal yaitu kapal dengan ukuran kurang dari 5 GT sebanyak 2 responden. PNS dan wiraswasta murni. Pemilik kapal penangkap ikan di Kota Bitung mempunyai latar belakang yang beragam. Pengalaman responden dalam usaha perikanan sebanyak 46% berpengalaman kurang dari 5 tahun. responden telah menamatkan tingkat pendidikan samapi Sekolah Menegah Atas. dan 20% lainnya berumur lebih dari 50 tahun. seperti Walikota. Dilihat dari jumlah keluarga. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada umumnya hanya 1 orang yaitu responden itu sendiri sebanyak 83% dari total jumlah responden. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Kota Bitung sudah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Responden yang belum memiliki anak sebanyak 34% dan sisanya responden yang telah memiliki anak lebih dari 2 orang. Status responden dalam kegiatan penangkapan ikan 85% anak buah kapal. Hal ini disebabkan karena sebagian besar nelayan berumur kurang dari 50 tahun dan sebelum terjun ke usaha perikanan. sehingga sulit untuk dijadikan sebagai responden. sisanya terdiri dari pemilik dan nahkoda. Berdasarkan jenjang pendidikan. responden yang i berpendidikan tamat SMA sebanyak 60% dan tamat SMP sebanyak 31% dan sisanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar.

29 31. Ikan dominan hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap purse seine adalah ikan layang dan sebagian ikan kembung. Rata-rata jumlah ikan layang yang diperoleh oleh kapal purse seine adalah 560 kg per trip dengan harga rata-rata Rp 7. Total penerimaan responden dengan menggunakan alat tangkap purse seine adalah Rp 5. responden dengan alat tangkap pole and line sebanyak 10 orang.43 28.57 100. tahun 2010 Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT < 5 GT Jumlah Prosentase 2 12 11 10 35 5.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .700 per kg. maka alat tangkap dapat dikelompokkkan dalam alat tangkap purse seine. Selain ikan layang. tetapi sebagian responden juga menggunakan bahan bakar bensin dan minyak untuk kapal dengan motor tempel.600 per trip.400 per kg. Sebagian besar kapal yang digunakan responden mempunyai bahan bakar solar atau bermesin diesel. responden dengan alat tangkap purse seine sebanyak 10 orang dan sisanya responden dengan menggunakan alat tangkap hand line untuk menangkap ikan tuna.00 ≥5GT . sehingga penerimaan nelayan dari penjualan ikan layang adalah Rp 4.312.000 per trip.30 GT sebanyak 29%. Karakteristik Penguasaan Kapal Penangkap Ikan.<100GT Jumlah 45 . Sedangkan untuk jenis alat tangkap hand line harus dibedakan untuk hand line dengan skala kecil dan hand line dengan skala sedang. setiap kapal purse seine juga memperoleh ikan kembung sejumlah 154 kg dan harga Rp 7. Melihat keberagaman usaha penangkapan ikan di Bitung.71 34. pole and line dan hand line. Ditinjau dari jenis alat tangkap. Tabel 3.451.20.

pembeli tersebut sebagian besar sudah menjadi langganan pemilik kapal untuk menjual hasil tangkapannya.57 42. Ikan layang yang dibeli oleh pedagang pengumpul. karena sudah banyak pembeli yang datang.000 per liter. Setiap trip dibutuhkan minyak tanah sebanyak 150-250 liter dengan harga berkisar antara Rp 3.57 28.86 100. Biaya operasional kapal dengan alat tangkap purse seine ini terdiri dari biaya bahan bakar.43 17.14 100.00 11. tetapi jika ikan dibeli oleh pedagang besar.43 71. Selain itu. Bahan bakar utama yang digunakan kapal dengan mesin tempel ini adalah minyak tanah dan dicampur dengan bensin. juga langsung dibeli oleh pedagang besar dari perusahaan pengolahan tanpa melalui pedagang pengumpul. baru dibayarkan kepada nelayan setelah ikan tersebut dijual ke perusahaan pengolahan. oli dan es serta biaya untuk pengurusan izin berlayar dan biaya tambat.0004. Ikan layang langsung dijual oleh nelayan di lokasi pendaratan.00 25 6 35 Sumber: data primer (2010) Pembeli ikan layang pada umumnya adalah pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke perusahaan pengolahan. Pemilik kapal atau pengurus kapal sudah terlebih dahulu mengetahui harga ikan layang sebelum kapal datang. maka pembayaran dilakukan secara tunai. Minyak tanah diperoleh oleh nelayan dari pengecer yang 46 .Karakteristik Jenis Alat Tangkap Pole and Line Purse seine Tuna Hand Line Jumlah Bahan Bakar yg digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah 4 Jumlah Prosentase 10 10 15 35 28.

586.000 122.222.000 400.945.580.terdapat di kawasan PPS Bitung.463 40.500 2.760.000 1.096.160 31.000 per liter.139.210.750 17.000 4. 2010 47 .000 x 54.000 Es X Umpan X Ransum 20.000 5.840 19. karena tidak diperbolehkan membeli bensin dengan menggunakan jerigen.000 per liter.500 129.000 X 1.21. tahun 2010 Jenis Alat Tangkap Uraian Purse seine (> 5GT<10GT) X 4.692.000 biaya tambat Total biaya 1.907. Untuk lebih amannya.000 67.451. nelayan membeli bensin di pengecer dengan harga Rp 5.250 Bensin 474.000 143.750 17.869 8.881 X 4.750 262.000 696.160 Tuna hand line Tuna Hand Line 2 1 (>10GT(>5GT-<10GT) <30GT) X X X X X X X X 14.260 50.500 per liter di SPBU terdekat dengan mencuri-curi kesempatan dari petugas.750 Keuntungan Sumber: data primer.312. Nelayan dapat membeli bensin dengan harga Rp 4.140.709. Bensin dibutuhkan sebanyak 30 liter per trip dengan harga Rp 4.250.840 50.000 8.656 399.600 Oli 525.000 2.500 250.000 Izin berlayar 1.580.481.760.000 Minyak tanah 352.000 X 22.969.000 34. Harga minyak tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan pada suatu wilayah.000 1.096.000 X 1.600 Pole and Line (>30GT<100GT X X X 54.840 Penerimaan (Rp) Layang Kembung Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional X (Rp) X Solar 109.600 X x 5.064.672.850 operasional 3.748.500-5.000 X 2.085.000 14.365.509. Tabel 3.000 2.000 6. Penerimaan dan Pengeluaran Per Trip menurut Alat Tangkap di Bitung.000 3.575.400 1.

Bentuk bantuan yang terakhir ini diberikan oleh pemerintah melalui berbagai program yang sifatnya sangat terbatas. SPBB melayani 48 . Pertamina.943. Bentuk bantuan Perikanan di Kota Bitung. Bantuan kepada nelayan di Kota Bitung yang diberikan dalam bentuk kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan dengan sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK).540.500 2010 Rumpon Ponton 6 1 5. Agen penyaluran BBM di PPS Bitung adalah SPDN Komegoro dan SPBB PT.214 2008 2009 Bagan 6 Rumpon 10 969.827.000 Biaya (Rp) 2007 1. Tabel 3.662.484.500 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung.Peran Subsidi Perikanan Subsidi perikanan yang disalurkan di Kota Bitung dapat dibedakan menjadi dua bentuk.087.22. 2010 Sedangkan subsidi BBM diberikan secara reguler melalui agen penyaluran BBM yang ditunjuk oleh PT. yaitu subsidi bahan bakar solar dan subsidi dalam bentuk sarana penangkapan seperti kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan. Getra Mitra Usaha. tahun 2005-2010 Tahun 2005 2006 Kapal/perahu Alat tangkap Alat bantu tangkap Jenis Jumlah Jenis Jumlah Jenis Jumlah Pump boat 3 Rumpon 1 Small purse seine 3 Jaring 3 Pelang 3 Small purse seine Light boat Pelang Pajeko Light boat Perahu tuna Ketinting Pengangkut Pajeko Pancing tuna Pancing ulur Ketinting 5 5 20 2 2 4 8 1 1 6 1 1 Purse seine Pancing Alat tangkap 5 5 2 Rakit 11 1. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Tugas Pembantuan (TP).

Besarnya jumlah solar dalam rekomendasi pengisian BBM ditentukan oleh syahbandar perikanan dengan terlebih dahulu melihat ketersediaan BBM di atas kapal. Banyaknya solar yang disalurkan oleh SPBB dan depo pertamina untuk kapal perikanan di PPS Bitung pada tahun 2009 disajikan pada tabel 3.00 398.56 1.59 1.24 1. Hal ini dilakukan untuk menghambat adanya penggunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak.000 liter. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Pertamina ( KL ) 816.280.93 420.663. Kapal ikan yang mendapat rekomendasi dari PPS Bitung dapat memesan langsung solar di depot PERTAMINA.00 241.575.000 liter per 3 bulan berdasarkan lamanya waktu operasi penangkapan per trip.124.59 956.000 liter atau 75.56 824.000 liter sekaligus tetapi kapal ikan dengan trip hanya 1 bulan tidak diberikan rekomendasi untuk pengisian Solar 75. Maksimum pemberian rekomendasi BBM solar setiap bulannya adalah 25.27 723.00 324.71 49 .99 883.71 Total 1.00 307.59 691. Asosiasi yang terdapat di Bitung yaitu Asosiasi kapal perikanan nasional dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia). Getra (SPBB) ( KL ) 847. Setiap kapal ikan yang akan mengisi Solar di SPBB dan Pertamina terlebih dahulu meminta rekomendasi ke PPS Bitung dengan syarat telah menjadi anggota asosiasi.143.00 PT. Pengurusan rekomendasi untuk pengisian BBM di SPBB PPS Bitung dapat dilakukan setelah kapal tersebut mendapat Surat Laik Operasi dari pengawas perikanan dan Surat Izin Berlayar dari Syahbandar Perikanan. Kapal penangkap ikan dengan lamanya trip 3 bulan atau lebih dapat memesan solar sebanyak 75.391.20 1.24 993.00 883.99 1. Tetapi hal ini dikeluhkan oleh nelayan yang melakukan trip lebih panjang dari 3 bulan.59 1.pejualan BBM untuk seluruh jenis dan ukuran kapal dan SPDN yang melayani kapal kurang dari 30 GT. Tabel 3.23. Jumlah Solar yang disalurkan di PPS Bitung.23.131.

83 837. Kelebihan harga tersebut digunakan untuk biaya transportasi pengangkutan solar dari depo pertamina menuju PPS Bitung. Harga solar yang dibebankan kepada nelayan adalah Rp 4. Pada tahun 2010. Hanya nelayan skala besar yang mau melakukan pembelian secara langsung ke depo Pertamina dengan jumlah BBM lebih dari 20 KL. Pengisian BBM baru dapat dilakukan sehari setelah dilakukan pembayaran.102.02 10.022. Harga yang harus dibayarkan oleh nelayan adalah Rp 4.30 904. Hal ini disebabkan 50 .28 Total 1.47 1. penyaluran solar di PPS Bitung dilakukan oleh SPDN yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Komegoro.00 391. Harga ini lebih mahal dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pertamina.410.23.02 15.281.00 334. SPDN hanya diperbolehkan untuk melayani kapal kurang dari 30 GT. Rata-rata solar yang disalurkan oleh SPBB pada tahun 2009 adalah 856 KL per bulan dengan harga Rp 4.500 per liter. rata-rata solar yang disalurkan langsung oleh depo Pertamina ke kapal nelayan sebanyak 425 KL ber bulan.119.32 856.30 1. Getra (SPBB) ( KL ) 822. rata-rata solar yang disalurkan oleh SPDN ini adalah 24 KL dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 32 KL.00 439. karena pembayaran harus dilakukan di bank.47 1.378.500 per liter solar.575 per liter. Kapal-kapal ikan kurang dari 30 GT lebih cenderung untuk melakukan pengisian solar di SPBB dibandingkan di SPDN.00 5. jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB lebih tinggi lagi yaitu 940 KL per bulan.171.24 PT.93 425. Pada tahun 2009.83 1.343.76 770.019.Bulan Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata Pertamina ( KL ) 200.76 1. Selain itu.00 349. Tidak semua nelayan mau membeli BBM secara langsung ke depo Pertamina karena administrasi yang lebih panjang dibandingkan membeli BBM di SPBB.275.25 1.52 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 3.

15 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 51 . Berdasarkan ukuran kapal. banyaknya solar yang disalurkan di PPS Bitung dapat dilihat pada Tabel 3.90 JUMLAH ( KL ) 942.oleh beberapa hal antara lain tidak kontinyunya stok BBM yang dimiliki oleh SPDN. Penyaluran Solar oleh SPBB untuk kapal diatas 30 GT sekitar 70% dari total solar yang disalurkan. penyaluran BBM paling besar adalah untuk kapal lebih dari 30 GT.99 792.4%.94 15.05 712. tahun 2009 Bulan < 10 GT ( KL ) 3. system pelayanan yang diberikan dan diduga adanya perbedaan takaran liter. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung jumlah kapal lebih dari 30 GT di Kota Bitung sebanyak 35% dari total seluruh kapal ikan di Kota Bitung. melainkan campuran bensin dan minyak tanah.85 12.50 500. Sedangkan untuk kapal dibawah 10 GT hanya disalurkan sebanyak 1. Hal ini disebabkan.95 284.47 13.10 321.20 315.20 >30 GT ( KL ) 720.55 8. Solar yang disalurkan SPBB berdasarkan ukuran kapal di PPS Bitung.92 725.65 16. Ditinjau dari ukuran kapal.022.70 182.30 665.23 238.99 918.70 199.82 597. Rata-rata solar yang disalurkan di PPS Bitung sebanyak 1.69 1.24.42 1.00 292. hal ini disebabkan karena kapal kurang dari 10 GT sebagian besar tidak menggunakan bahan bakar solar.68 15.30 GT ( KL ) 217.65 684.55 666.21 14.67 11.24.00 593.40 UKURAN KAPAL 10 .13 894.50 649.019.500 KL per bulan.67 897.95 229. Tabel 3. oleh lebih banyaknya konsumsi BBM oleh kapal berukuran besar dan juga banyaknya jumlah kapal lebih dari 30 GT.

Bulan

< 10 GT ( KL )

UKURAN KAPAL 10 - 30 GT ( KL )

>30 GT ( KL )

JUMLAH ( KL ) 997.50 1,101.54 895.84 832.10 11,027.06 918.92

Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata

20.93 11.19 8.40 152.93 12.74

372.71 304.45 297.20 3,255.39 271.28

707.90 580.20 526.50 7,618.74 634.90

Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2010 Ditinjau dari jenis alat tangkap, kapal penangkap dengan alat tangkap pole and line merupakan kapal yang menggunakan solar terbesar di PPS Bitung. Sebanyak 23% penyaluran solar dari SPBB di PPS Bitung yaitu untuk kapal pole and line. Selain kapal penangkap ikan, kapal pengangkut ikan yang berlabuh di PPS Bitung juga mendapatkan solar subsidi yang disalurkan oleh SPBB Getra di PPS Bitung. Sebanyak 50% jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB tersebut adalah untuk kapal pengangkut ikan. Sedangkan sisanya disalurkan kepada kapal penangkap dengan jenis alat tangkap rawai tuna, purse seine dan hand line. Bahan bakar minyak merupakan salah satu biaya terbesar yang ditanggung oleh nelayan dalam melakukan usaha penangkapan. Bahan bakar yang diperlukan oleh kapal motor adalah solar sedangkan bahan bakar untuk kapal dengan mesin tempel menggunakan campuran bensin dan minyak. Nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan mesin tempel melakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi pendaratan. Tersedianya stasiun pengisian untuk bahan bakar solar tidak memberikan efek yang signifikan bagi nelayan kelompok ini. Kapal motor dengan GT lebih besar akan memerlukan solar lebih banyak. Pada lokasi penelitian Bitung, kapal dengan menggunakan alat tangkap pole and line mengkonsumsi solar paling banyak yaitu 4,9 KL per trip. Biaya untuk pembelian solar bagi kapal pole and line adalah 65% dari total

52

biaya operasional, sedangkan bagi kapal ikan dengan alat tangkap lainnya hanya sekitar 30% dari total biaya operasional. Tabel 3.25. Perbandingan Biaya Operasional Beberapa Jenis Alat Tangkap dengan dan tanpa Subsidi di Bitung, tahun 2010
Jenis Alat Tangkap Tuna Hand Line Pole and Line 1
≥30GT - <100GT ≥5GT -<10GT

Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: - musim ikan - musim biasa - musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): - Solar (liter) - Bensin (liter) - Minyak tanah (liter) Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM (Rp) Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi solar (Rp) Penerimaan Kotor (Rp) Prosentase BBM subsidi terhadap biaya operasional Prosentase BBM tanpa subsidi terhadap biaya operasional Sumber : Data Primer, 2010

Purse seine
≥5GT -<10GT

Tuna hand line 2
≥10GT -<30GT

1 1 1 340 30 160 2,279,430 2,789,850 5,451,600 34.99 46.88

3 5 7 4960 15 200 34,907,840 49,415,840 54,580,000 65.01 75.28

8 10 13 338 91 40 4,497,369 5,366,088 14,096,750 30.09 41.41

10 11 14 370 35 40 5,367,910 6,450,160 17,760,000 31.53 43.02

Subsidi solar yaitu dengan harga Rp 4.500 per liter memberikan pengaruh cukup besar terhadap total biaya operasional. Tanpa adanya subsidi solar

(dengan asumsi harga solar Rp 7.500 per liter) menyebabkan peningkatan total biaya operasional bagi seluruh kapal penangkap ikan dengan kapal motor. Pada tingkat harga solar Rp 7.500 per liter meningkatkan prosentasi biaya solar terhadap total biaya operasional berkisar 10-12% pada nelayan di Kota Bitung. Sedangkan total biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 19-41% dibandingkan dengan harga solar bersubsidi. Peningkatan biaya operasional tertinggi yaitu terjadi pada kapal dengan alat tangkap pole and line yaitu sebesar 41% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Biaya operasional kapal dengan alat

53

tangkap tuna hand line mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Dari Tabel 3.25, terlihat bahwa kapal dengan konsumsi solar lebih

banyak akan merasakan dampak yang lebih besar terhadap perubahan harga solar. Adanya peningkatan biaya operasional dengan solar tanpa subsidi

menyebabkan semakin rendahnya keuntungan yang diterima oleh nelayan. Penurunan keuntungan kapal dengan alat tangkap pole and line dengan solar tanpa subsidi adalah 73% dibandingkan dengan menggunakan solar bersubsidi. Kapal dengan alat tangkap tuna hand line mengalami penurunan keuntungan akibat tidak adanya subsidi solar sebesar 9% dibandingkan keuntungan dengan solar bersubsidi. Perlu dicatat bahwa berdasarkan Tabel 3.25, jika solar untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut menggunakan harga pasar bebas, maka usaha penangkapan ikan di Bitung masih dapat beroperasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena potensi ikan pada perairan Sulawesi Utara masih cukup potensial.

3.3. Kecamatan Palabuhanratu Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perairan Pelabuhanratu terletak pada posisi geografis 6o57’- 7o07’ LS dan 106o22’-106o23’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.200 km2 atau 9,18 persen dari luas Provinsi Jawa Barat (dengan Banten) atau 3,01 persen dari luas Pulau Jawa. Secara administratif, wilayah Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan:
 

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

54

di Samudra 55 . berbatasan dengan Provinsi Banten Sebelah Timur.co.  Sebelah Barat. Pada periode Musim Timur (MeiAgustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat November-Februari).id Gambar 3.6. Wyrtki (1961) mengemukakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu sesuai dengan sifat laut dan tercatat kecepatannya sebesar 1-7. pada bulan September-Oktober Karakteristik Perikanan Teluk Palabuhanratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat.google. 2008). Selanjutnya dikatakan bahwa perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29o-30oC dan pada musim timur 26o-27oC.5 cm/dtk pada bulan September sampai Desember yang bergerak ke arah barat. berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sumber: www. Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk. 1961) yang disebut Musim Peralihan Timur (Maret-April) dan Musim peralihan Barat (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. di antara Musim Timur dan Musim Barat terjadi periode peralihan (Wyrtki. Peta Kecamatan Palabuhanratu Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar.

Tabel 3. non-hayati.05 6. Pancing ulur. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km. 2008). dan biota laut lainnya. 2008 Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu pada Tahun 2009 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya.55 18.20 GT 11 7 3 3 4 9 4 10 7 21 . Tuna Longline. Jaring Rampus.34 persen. Jenis armada penangkapan ikan yang menggunakan base fishing port-nya Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu adalah jenis Kapal Motor dengan ukuran kapal < 10 GT s/d > 30 GT dengan berbagai macam alat tangkap.71 39. Selain itu. Palabuhanratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat.65 7.Hindia.76 -15. Jumlah Perahu Motor Tempel dan Kapal Motor Tahun 2000 – 2008 Jenis Kapal/Perahu (Unit) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah (Unit) > 30 GT 11 12 13 11 139 68 77 103 69 456 490 452 381 530 676 798 852 646 Fluktuasi (%) -0.17 Motor Tempel 275 323 317 253 266 428 511 531 416 < 10 GT 147 141 106 106 111 143 153 137 102 Kapal Motor 11 . seperti Gill net. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada yang beroperasional didominasi oleh jenis kapal/perahu Motor Tempel sebanyak 230 unit kapal jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. perikanan. Bagan. Payang.46 -7. Potensi wilayah pesisir Palabuhanratu mencakup potensi sumber daya hayati.76 -24.11 27.26. Bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi tidak berdampak terhadap jumlah frekuensi keluar 56 . Potensi sumber daya hayati meliputi ekosistem pesisir. Purse seine.30 GT 12 7 13 8 10 28 53 71 52 Sumber Data Statistik PPNP. Realisasi operasional jumlah kapal/perahu Motor Tempel dan Kapal Motor lainnya yang beroperasional disajikan pada Tabel 1. dan Pancing rawai lainnya. dan jasa-jasa lingkungan. yaitu sebesar 17. (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu.

057.27) pada tahun 2000-2008 selalu mengalami fluktuasi yang bergantung pola musim ikan dan perubahan cuaca yang tidak menentu.694 kali dengan rata-rata 394 kali per bulan.641 18.738 24.335 kali dengan rata-rata kapal yang masuk ke kolam Pelabuhan sebesar 2.695 kali per bulan.335 21.279 4.738 11.776 15.101 12.38 52.891 2.836 29.masuk kapal.68 -27.771 1. jenis perahu/kapal motor tempel yang menggunakan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sebagai tempat labuhnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Frekuensi Kunjungan Kapal Motor dan Motor Tempel Tahun 2000 – 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Kapal Motor (Kali) 6.31 72.22 24.884 34.198 32.505 19.857 5. Kebutuhan logistik kapal ada yang mengalami penurunan ada pula yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan logistik kapal tahun sebelumnya.031 15.16 75. Frekuensi kunjungan kapal motor dan motor tempel (Tabel 3.05 persen.18 -9.61 -11.42 -46. sedangkan jenis kapal motor naik sebesar 22. Adapun kebutuhan perahu/kapal perikanan terhadap ketiga jenis logistik tersebut diuraikan dalam Tabel 3. Total frekuensi kunjungan kapal Motor Tempel sebesar 27.14 -21.497 Jumlah Total (Kali) 21.13 70.10 -5.638 5.641 kali dengan jumlah rata-rata 2.104 Motor Tempel (Kali) 14.248 1. sebaliknya terjadi penurunan pada frekuensi keluar kapal sebesar 29.90 -67.27.28.595 16.919 27.26 persen dan frekuensi masuk kapal sebesar 34.27 persen.12 persen. air bersih. Secara umum. Total frekuensi kunjungan kapal pada tahun 2008 sebesar 32.802 16.27 Sumber Data Statistik PPN Palabuhanratu. solar di samping kebutuhan logistik lainnya serta konsumsi.675 2.510 23.65 75.694 3.83 45.602 Fluktuasi Kapal Motor Motor Tempel (%) (%) 42. Kebutuhan logistik BBM yang terdiri 57 . yaitu sebesar 5.588 28.522 40.08 79.12 5.847 22.48 22. 2008 Kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan penangkapan ikan terlebih dahulu harus melengkapi kebutuhan logistiknya berupa es balok. sedangkan frekuensi kunjungan Kapal Motor sebesar 4.64 -7.57 -15.303 kali per bulan. Tabel 3.005 3.

45 7. Berbeda dengan kapal-kapal yang ada di kolam 2 (dua).479.55 persen.700 1.912 5.675.28.259 Fluktuasi (%) 18.811.07 -16.300 4. Air yang disalurkan berasal dari air PDAM yang dialirkan ke kapal perikanan melaluai jaringan pipa dan slang plastik dengan ukuran penjualan dalam bentuk “Blong” (drum plastik) yang berkapasitas 250 liter dan 120 liter atau dalam bentuk jerigen plastik (30 liter) untuk kapal-kapal yang ada di kolam 1 (satu).155 1.490 277.917.316.371 2.778 147.17 18.00 -60.44 27.61 -3.49 286.511. dan kebutuhan logistik minyak tanah juga mengalami penurunan sebesar 70.92 -20.900 1.600 4.51 persen.443.61 75.78 1 5.64 BBM / Solar (Ltr) Jumlah 1.27 -84.821.897.000 380. Air Bersih Penyaluran kebutuhan air bersih untuk kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dipenuhi oleh sebuah perusahaan swasta.917.787.785 6.749.50 persen (Buku Stastistik Perikanan.65 0.200 1.595 285. kebutuhan logistik air mengalami penurunan sebesar 20.71 19.000 1.528.24 4.470 112. yaitu pengisiannya menggunakan jaringan pipa yang 58 .37 -45.45 289.29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Sumber Data Statistik PPNP 2008 Ket : @ BALOK ES = + 50 Kg a.53 198. Penyaluran Kebutuhan Logistik Kapal di PPN Palabuhanratu Tahun 2000 -2008 Kebutuhan Logistik Es (Balok) Fluktuas Jumlah i (%) 74.045.92 30.000 6.034 -17.1.041.704 219.35 -84.870 10.380.034.60 2.07 -72. 2009).450 196.161 158.dari solar untuk kapal motor dan bensin untuk perahu motor tempel mengalami peningkatan sebesar 18.000 4.868 117.39 -21. Tabel 3.32 115.863 164.632 11.68 63.213..591.29 -46.216 1. kebutuhan logistik es mengalami kenaikan sebesar 1.660.74 12.40 No Tahun Air (Ltr) Fluktuas Jumlah i (%) 2.24 6.22 .110 4.56 persen.090 2.

Total penggunaan es balok oleh nelayan untuk operasional penangkapan ikan pada tahun 2007 adalah 59 .61 persen. Di samping itu. instalasi baru khusus untuk nelayan dan pihak investor guna meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih kepada masyarakat perikanan telah terpasang.7. Sumber: Laporan Tahunan.langsung sampai ke dalam kapal dengan ukuran penjualan dalam bentuk kubikasi. kesadaran nelayan akan pentingnya mempertahankan mutu ikan semakin tinggi sehingga secara umum penggunaan es di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu cenderung turun sebesar 16. Jumlah pemakain es balok oleh kapal/perahu perikanan di PPN Palabuhanratu untuk operasional penangkapan ikan disajikan pada grafik berikut. Kemampuan dalam mensuplai air bersih di PPN Palabuhanratu masih cukup besar dengan tersedianya mobil tangki untuk mengangkut air bersih yang berkapasitas 400 m³. Kebutuhan Es Balok di PPN Palabuhanratu tahun 1993—2008 Jumlah pemakaian es balok sampai sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi bergantung jauh dekatnya wilayah penangkapan. 2009 Gambar 3. yaitu pabrik es Sari Petejo dan Tirta Jaya. Es Balok Kebutuhan logistik untuk es balok di PPN Palabuhanratu selama ini masih disuplai oleh dua perusahaan swasta. Di samping itu. b.

371 liter dengan rata-rata pemakaian per bulan 484. jumlah total pemakaian solar pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 118.8. c. 2009 Gambar 3.sebesar 164. yaitu hanya sebanyak 1.045.04 persen per tahun.000 liter karena aktvitas kapal masih didominasi kapal motor tempel. Sementara itu.65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.811.161 kg (@ balok = 50 Kg) atau rata-rata per bulan sebanyak 13.680 kg. Sumber: Laporan Tahunan. Pemakaian solar kapal perikanan pada tahun 2008 sebanyak 5. Perkembangan Kebutuhan BBM di PPN Palabuhanratu tahun 1993--2008 Kebutuhan BBM di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu berfluktuasi. BBM (Solar) Jumlah pemakaian solar kapal perikanan di PPN Palabuhanratu semenjak dioperasionalkan mulai tahun 1993 sampai sekarang selalu mengalami fluktuasi seiring dengan kunjungan jumlah kapal pendatang yang tambat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dan jauh dekatnya daerah penangkapan ikan serta jumlah kapal perikanan dengan kecenderungan kenaikannya sebesar 5. Volume logistik BBM terendah terjadi pada tahun 2001. tergantung dari jumlah kunjungan kapal.281 liter dimana pemakaian solar 60 . Volume logistik BBM tertinggi terjadi pada tahun 2004 karena aktivitas kunjungan kapal longline (KM > 30 GT) yang meningkat tajam.

676 15.115.108 13.285 66. Hasil tangkapan yang tidak kalah banyaknya adalah ikan layur.183 dan Rp21.675 12.697.230 115.956 17.067.495.000 1.000 1.016 kg dengan nilai produksi sebesar Rp3.000 102.848.827 24. rata-rata volume produksi pada tahun 2009 adalah 251.155 542. Sementara itu. dan peperek. layaran.500 1.411 9.179 29.500 398.979 30.917 251.272.704.601.050 739.468 8.049 103.477. Tabel 3. Kegiatan penangkapan ikan 50-70 persennya merupakan biaya operasional yang sebagian besar untuk keperluan pembelian BBM solar.888. Berdasarkan data produksi. Penyaluran BBM solar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu disediakan oleh SPBB dan SPBN yang dikelola oleh pihak swasta dan melalui SPDN yang dikelola oleh pihak KUD Mina.050 476.687 1.183 21.216 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Ikan Tongkol Komo Cakalang Tongkol Lisong Tongkol Abu-abu Tembang Tuna Albakor Tuna Mata Besar Tuna Yellow Fin Cucut Setuhuk Loreng Pedang-pedang Layur Layang Deles Layaran Peperek Rata-rata Volume (Kg) 15. Hasil tangkapan nelayan di Palabuhanratu didominasi oleh ikan tuna mata besar.372 11.595.317. dan tongkol lisong.6 Nilai (Rp) 112.308.512.998.29. Nilai Produksi.774.697.000 1.300 175.908 87.338. 2009 Ikan-ikan yang telah didaratkan di PPN Palabuhanratu kemudian didistribusikan ke pasar di berbagai wilayah. layang deles.796.593.578.000 133.308.584 20.230. dan Harga per Jenis Ikan Tahun 2009 No. tuna yellow fin.015.997 15. tingkat harga jual ikan tuna mata besar dan yellow fin tercatat paling tinggi.960 1.193 320.000 30.241.610 107.513 1.500 3.312 Sumber: Buku Statistik PPN Palabuhanratu.093.764.007 6.800 1. yaitu masing-masing sebesar Rp24.461 4.468 per kg.789.ini banyaknya dilakukan oleh kapal-kapal pendatang (Kapal Tuna Long Line) yang mengisi logistik bahan bakarnya antara lain solar di PPN Palabuhanratu dan semakin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground).183.011 8.648.813.774 Harga (Rp/kg) 7. Sebagian besar ikan di 61 . Volume Produksi.500 11.472 11.733 301. cakalang.500 2.

dan > 15 tahun. Cisolok. distribusi ke luar negeri atau ekspor yang langsung dilakukan dari Palabuhanratu hanya menyerap 2.42 persen saja dari total volume produksi. Kemudian. 35 persennya memiliki pengalaman usaha 6—15 tahun dan hanya 25 persen 62 . Pasar regional yang menjadi tujuan utama dari pemasaran ikan Palabuhanratu adalah Jakarta sebesar 57. Sebagian kecil responden adalah tidak tamat SD dan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sekolah tinggi. Pasar regional lainnya yang juga mampu menyerap produksi ikan Palabuhanratu adalah Cianjur sebesar 8. Sesuai dengan data yang diperoleh. yaitu sebanyak 40 persen. 6—15 tahun. Simpenan. Pemasaran ke Jakarta sebenarnya juga dijual kembali ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan besar yang menampung ikan-ikan dari Palabuhanratu sehingga kegiatan ekspor tercatat berasal dari Jakarta. Cilacap.64 persen.Palabuhanratu dipasarkan di pasar lokal dan regional. asal responden sebagian besar atau 65 persen adalah nelayan dari Kecamatan Palabuhanratu dan sebagian kecil lagi tersebar di tujuh kecamatan lainnya. Berdasarkan data yang diperoleh.45 persen dari total volume produksi pada tahun 2009.5 persennya adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk nelayan yang berpendidikan karena sebagian besar responden pernah dan telah mengenyam pendidikan formal. Pengalaman usaha nelayan tersebar merata dari rentang waktu ≤ 5 tahun. Bayah. Karakteristik Usaha Responden Jumlah responden yang diwawancarai sebagai sumber data primer adalah sebanyak 40 orang yang tersebar di delapan kecamatan.22 persen dari total volume produksi. dan Suli. sedangkan pasar lokal hanya mampu menyerap 8. responden sebagian besar adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 50 persen dan 37. Berdasarkan tingkat pendidikannya. Pasir Bayu. Sementara itu. nelayan yang menjadi responden masih tergolong muda karena pengalaman usaha mereka sebagian besar ≤ 5 tahun. Taman. yaitu Kecamatan Palabuhanratu.

Berdasarkan data yang diperoleh. ada pula keterlibatan istri dalam usaha penangkapan sebanyak 12.5 persen dari total responden.5 persen anggota keluarga yang terlibat dalam usaha penangkapan hanya 1 orang yang berarti hanya kepala keluarga yang bekerja. Sementara itu. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan menjadi mata pencaharian yang sangat diandalkan responden karena sejak usia muda mereka telah memilih nelayan sebagai profesi utama. keterlibatan anggota keluarga yang lain tidak terlalu signifikan dalam memikul beban ekonomi keluarga. 77. Sebagian besar responden termasuk ke dalam kategori keluarga besar yang memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang dan ≥ 5 orang.5 persen dari total responden yang melibatkan 2 orang anggota keluarga yang bekerja. 45 persen 63 . Sebanyak 40 persen responden mengoperasikan sendiri armada penangkapannya dan sebanyak 32. dan bahan bakar yang digunakan. responden yang bekerja sebagai nahkoda hanya sebanyak 11 orang atau 27. sebagian besar responden adalah pemilik kapal dan ABK. jenis alat tangkap. Sebagian besar atau 55 persen responden memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga sedang yang terdiri dari orang tua dan dua orang anak dan 35 persennya memiliki anggota keluarga berjumlah ≥ 5 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga besar. Kondisi ini disebabkan oleh karena armada penangkapan yang digunakan berukuran kecil. yaitu ≥ 10GT .berpengalaman lebih dari 15 tahun. Sementara itu. Sebagian kecilnya lagi atau 10 persen responden yang melibatkan ≥ 3 orang anggota keluarga. Sementara itu. Karakteristik responden juga dapat dilhat dari aspek teknis usaha penangkapannya berdasarkan kepemilikan kapal menurut GT.< 30GT dengan wilayah penangkapan yang tidak jauh. Namun demikian. Berdasarkan statusnya. Berdasarkan kepemilikan kapal (GT). Berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja. sebagian kecilnya (15%) memiliki anggota keluarga ≤ 2 orang.5 persen bertindak sebagai ABK. tampak bahwa kepala keluarga menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga.

pancing tonda paling banyak digunakan oleh responden. Alat bantu tangkap lainnya yang juga banyak digunakan adalah bagan yang ditancapkan di lokasi yang masih banyak memiliki sumber daya ikan. Hal ini terlihat dari jenis bahan bakar (BBM) yang digunakan yang sebagian besar menggunakan solar sebanyak 67. bagan.<30 GT dan 10 persen untuk kapal ukuran ≥30 . Dari keempat jenis alat tangkap tersebut. responden yang menggunakan kapal < 5 GT tidak ada karena wilayah penangkapan di lokasi penelitian bertambah jauh karena ketersediaan ikan semakin menurun.< 10 GT dan 32. Jenis alat tangkap lainnya adalah longline sebanyak 15 persen dan gillnet sebesar 12. 64 .<100 GT.responden memiliki kapal dengan ukuran ≥ 5 . nelayan akan mengambil ikan dengan menggunakan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal. responden yang menggunakan kapal dengan ukuran sedang dan besar hanya sebagian kecil saja.5 persen atau hanya satu armada penangkapan yang menggunakannya karena minyak tanah hanya digunakan untuk menghidupkan mesin dan sebagai bahan bakar lampu petromaks.5 persen untuk kapal ukuran ≥10 . gillnet. Bagan hanya berperan sebagai alat bantu penangkapan karena setelah ikan berkumpul di bagan. Namun demikian. Jenis alat tangkap dan alat bantu lainnya yang digunakan responden adalah pancing tonda. tetapi ada pula nelayan yang menggunakan kapal dengan motor tempel. Bahkan. kondisi ini juga menyebabkan beberapa jenis alat tangkap tidak dapat lagi digunakan. yaitu sebanyak 16 orang atau sebesar 40 persen. dan longline. minyak tanah hanya menyumbang 2.5 persen dari jumlah responden.5 persen dan bensin sebanyak 30 persen. Sementara itu. Sementara itu. yaitu 12.5 persen.5 persen responden menggunakan alat bantu bagan tancap dalam kegiatan penangkapannya. Armada penangkapan yang digunakan sebagian besar adalah kapal motor dengan mesin berada di dalam kapal (inboard boat). yaitu sebesar 32.

5 15 40 100 30 67. umpan. 65 . padahal harga cumi-cumi rata-rata sangat rendah.984.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .477.450.5 100 32. Tabel tersebut keuntungan yang diperoleh nelayan per trip menurut tangkap dan ukuran armada penangkapan dari empat jenis alat tangkap.200 per kg.5 10 32. 31. yaitu Rp3.777 dan Rp288. hanya alat bantu penangkapan bagan yang rata-rata menunjukkan kerugian sebesar Rp 915. Penguasaan Aset Usaha Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Karakteristik Kepemilikan Kapal (GT) < 5 GT Jumlah (n) 0 18 5 4 13 40 13 5 6 16 40 12 27 1 40 Prosentase (%) 0 45 12.<100GT ≥100GT Bagan Jumlah Jenis Alat Tangkap Bagan Gill net Longline Pancing Tonda Jumlah Bahan Bakar yang Digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah Sumber: Data primer diolah. Kerugian ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang diperoleh didominasi oleh cumi-cumi dibandingkan ikan teri.889 dengan besarnya biaya operasional adalah Rp1. Sementara itu.5 12. dan biaya di darat tidak menjadi komponen dari biaya operasional. Hasil tangkapan bagan adalah ikan teri dan cumi-cumi yang masingmasing sebesar Rp272. 2010 Dari kegiatan penangkapan tersebut.5 100 ≥5GT .30. biaya solar.5 2. analisa usaha kegiatan Dari alat penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 3.Tabel 3.

000.750 106.000 120.477. dan bagian ABK adalah sebesar Rp2.298 7.000.000 5.000 55.000 16.000 16. analisis membedakan antara longline ukuran ≥10 GT-<30 GT dan longline ukuran ≥30 GT-<100 GT karena hasil tangkapan dan biaya operasional jauh berbeda sehingga mudah mendapatkan 66 .466 10.000 0 0 240.500 866.825. Uraian Penerimaan Teri Cumi-cumi Tongkol Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Umpan Ransum Biaya di darat Total biaya operasional Keuntungan Bagan 272.000.324.500 42.483.577 288.000 0 50.648 Sumber: Data primer diolah.000 875.500.334 62.000 16.000 0 0 7.000 2.702.666 1.600 1.269.063 207.31. Besarnya penerimaan dan biaya operasional tersebut menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp7.667 0 2.Tabel 3.000 438.000.000.250.397.269.984) 1.000.483.791.798 3.500.000 0 16.000 atau sebesar 39 persen.889 5.000 0 461.432. yaitu Rp1.000.357.708.602.916.500.051.667 2.324.298 dengan biaya solar mengambil bagian yang paling besar.875 Gillnet (≥5GT <10GT) Jenis Alat Tangkap Longline 1 (≥10GT -<30GT) Longline 2 (≥30GT 100GT) Pancing Tonda (≥5GT -<10GT) 0 109.500.500. yaitu 50 : 20 : 30 maka bagian pemilik kapal rata-rata sebesar Rp375.990 4. Sementara itu.000 118.500 741.450 (915.750.466. nahkoda Rp1.500. Analisa Usaha penangkapan Ikan Beberapa Alat Tangkap di Palabuhanratu 2010.250 474.000 352.256 667.600 525.500 6.875 16.325.533.188 688. Sesuai dengan sistem bagi hasil yang berlaku.787.000 118. biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp3.702 6.500 0 9. Khusus untuk alat tangkap longline.000 45.825.667 207. 2010 Hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap gillnet adalah ikan tongkol dan cakalang dengan total penerimaan sebesar Rp10.813 25.227 12.000 124.000 561.

000. 10% untuk nahkoda. Dengan demikian. nahkoda sebesar Rp6.483. Kondisi ini ditunjukkan oleh besarnya penerimaan dan biaya operasional longline ukuran ≥30 GT-<100 GT masing-masing sebesar Rp118. Kegiatan penangkapan pada trip terakhir untuk kapal dengan alat tangkap pancing tonda membukukan keuntungan bersih sebesar Rp12.708.000.432.500 sehingga keuntungan bersihnya sebesar Rp6. Bentuk subsidi yang dikelola oleh PPN berupa subsidi BBM berupa solar melalui SPDN dan SPBB yang tersedia di pelabuhan.397. sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp4.000. sedangkan SPBB melayani kapal-kapal besar ukuran ≥ 30 GT. yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi.000.000. 15% untuk nahkoda. dan 40% untuk ABK.000. dan 35% untuk ABK sehingga hasil yang diperoleh oleh masing-masing rata-rata adalah sebesar Rp6. yaitu masingmasing sebesar Rp16.000. bagian pemilik ratarata adalah Rp3.602. dan ABK sebesar Rp25.000. SPDN khusus melayani kebutuhan solar dari kapal-kapal ukuran < 30 GT. Subsidi Perikanan di Palabuhanratu Subsidi perikanan di Palabuhanratu disalurkan oleh dua pihak.641. Sementara itu.000.875.666.500. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 50% untuk pemilik.000. Hasil tangkapan utama yang dibawa oleh pancing tonda adalah ikan tuna dengan nilai rata-rata Rp16. Untuk longline ukuran ≥30 GT-<100 GT. dan ABK sebesar Rp4.000. 67 . nahkoda sebesar Rp2.300. jumlah penerimaan dan biaya operasional untuk kapal longline ukuran ≥10 GT-<30 GT sangat jauh berbeda.000.334 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp62.300.000 dan Rp9.000.000.648.791. nahkoda Rp660. sistem bagi hasil yang digunakan juga sama sehingga bagian pemilik rata-rata sebesar Rp31.051. Sistem bagi hasil yang digunakan adalah 50% untuk pemilik.nilai rata-ratanya. dan ABK sebesar Rp2.500.227 pada trip terakhir.000 dan Rp55.000.

a Rumpon Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi diolah. disadari bahwa purse seine justru membahayakan kelestarian sumber daya ikan karena kemampuannya mengeruk semua jenis ikan dari yang ikan terkecil hingga 68 .c Bantuan modal untuk mengkonversi perahu 2. Untuk mengatasi permasalahan ini. 1. Tidak mampunya kapal payang dan gillnet beroperasi di perairan Palabuhanratu karena fishing ground yang semakin jauh Kebijakan pemasangan rumpon di sekitar perairan Palabuhanratu Menurunnya sumber daya ikan sehingga fishing ground semakin jauh 1. Menurunnya hasil tangkapan ini mendorong nelayan untuk menempuh perjalanan yang panjang karena wilayah penangkapan (fishing ground) semakin jauh. Jenis Subsidi Langsung: 1. subsidi atau bantuan yang disalurkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan lebih bersifat paket. Jenis kapal ini memang dapat memberikan hasil tangkapan yang banyak bagi nelayan. Ada pula bantuan berupa alat bantu penangkapan. pemerintah bisa saja memberi bantuan untuk mengganti kapal yang ada dengan kapal jenis purse seine.Tabel 3. seperti rumpon yang diberikan kepada kelompok nelayan yang lulus seleksi setelah mengajukan proposal bantuan. Namun.a BBM/Solar Dasar Kebijakan Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak secara nasional. Akibatnya. nelayan banyak yang tidak dapat melaut untuk menangkap ikan.b Bantuan kapal. Selain itu. Tidak Langsung: 2.32. dan alat tangkap (paket) 1. 2010 Sementara itu. armada penangkapan yang dimiliki sebagian besar nelayan Palabuhanratu tidak menunjang untuk sampai ke wilayah penangkapan yang jauh. Dinas Kelautan dan Perikanan juga memberikan bantuan modal untuk mengkonversi armada penangkapan nelayan dengan alat tangkap payang menjadi kapal rumpon. Data statistik pelabuhan menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir jumlah tangkapan ikan nelayan mengalami penurunan. mesin. seperti paket penangkapan berupa armada penangkapan dan alat tangkapnya. Namun demikian. Bentuk-bentuk subsidi perikanan tangkap laut tahun 2009 No.

ikan ukuran besar. Harga rumpon per unit rata-rata sebesar Rp60 juta. 69 . Gambar 3. dipasanglah beberapa cincin di sepanjang tali rafia tersebut. Dengan bantuan rumpon. Rumpon di perairan Palabuhanratu biasanya berupa rumpon permukaan yang menggunakan pelepah pohon kelapa sebagai sumber makanan ikan agar ikanikan tetap berkumpul di sekitar rumpon. ikan-ikan akan berkumpul di sekitarnya sehingga mempermudah nelayan dalam menentukan lokasi penanngkapan dan membantu nelayan mendapatkan ikan dengan mudah.9. Purse seine juga akan merusak terumbu karang dan kekayaan laut lainnya sehingga justru mengancam kelestarian sumber daya di masa depan. Rumpon adalah alat bantu yang dipasang untuk menangkap ikan. Saat ini. Hal ini dilakukan karena tali rafia lebih praktis karena tidak perlu diganti dalam jangka waktu yang cukup lama. Agar tali tidak kusut dan terpelintir. saat ini sebagian besar pelepah pohon kelapa diganti dengan tali plastik rafia. jumlah rumpon yang berasal dari bantuan pemerintah berjumlah 40 unit dengan jarak per rumpon sejauh 8 mil. Namun demikian. Sebuah rumpon diperuntukkan bagi 1 kelompok nelayan yang terdiri atas 5 kapal nelayan. namun ada juga rumpon yang seharga Rp150 juta. Teorinya keberadaan tiap-tiap rumpon dirahasiakan agar kelompok nelayan lain tidak bisa sembarangan menangkap di semua rumpon yang ada. Bentuk rumpon dan cara kerjanya yang ada di perairan Palabuhanratu Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menggunakan rumpon sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan usaha nelayan dan kelestarian sumber daya tersebut.

tangki BBM solar dan fasilitas lainnya. bantuan modal tersebut macet karena kelompok nelayan yang menerima bantuan tidak mengembalikan modal tersebut sehingga kelompok nelayan lain tidak mendapat kesempatan yang sama. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir termasuk di dalamnya Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). prakteknya hal itu sangat sulit dilakukan karena faktor iba karena sekelompok nelayan bisa membawa hasil tangkapan yang banyak. yaitu: (1) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan. Dalam memberikan pelayanan BBM solar bersubsidi. bangunan. Modal tersebut sedianya digunakan untuk mengkonversi kapal mereka menjadi kapal penangkap ikan di rumpon karena menurunnya ketersediaan sumber daya ikan membuat kapal payang tidak mampu beroperasi lagi. Untuk itu. Pelabuhan Perikanan selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap hanya menyediakan lahan. pemerintah daerah berusaha menyediakan daerah penangkapan baru yang lebih terjangkau melalui rumpon-rumpon yang disebar di sepanjang perairan Palabuhanratu. Bantuan modal ini merupakan bantuan bergulir dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya. Sedangkan dalam kaitannya dengan pengajuan kuota BBM dan jumlah kuota yang disediakan merupakan kewenangan dari pihak Pertamina serta ditembuskan ke Direktorat Jenderal kelautan. SPDN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak KUD 70 . Akan tetapi.Namun. Pelayanan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara pebauhanratu dilakukan dalam tiga jenis stasiun pengisian. Bentuk bantuan lainnya yang juga diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi adalah bantuan modal bagi nelayan yang memiliki armada penangkapan dengan alat tangkap payang. sedangkan ada kelompok lain yang tidak mendapat hasil tangkapan sama sekali.

sedangkan pihak KUD memanfaat ketiga fasilitas tersebut dengan sistem sewa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Ketiga fasilitas tersebut (tangki BBM. (2) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar dengan fisik bangunan yang lebih besar dari SPDN yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil. dogol dan gillnet). sedangkan bangunan dispenser dispenser adalah milik pihak PT. SPDN ini melayani kebutuhan BBM solar bersubsidi bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom I yang berukuran < 30 GT (Kapal rumpon. Paridi Asyudewi menggunjakan tongkang atau bunker kapal milik PT. instalasi pompa BBM dan dispenser. Dalam operasionalnya KUD Sinar Laut memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 320 m3. PT. pompa BBM dan bangunan dispenser) milik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu. Paridi Asyudewi dengan kouta rata-rata sebanyak 400 kiloliter per bulan. Dalam operasionalnya. Paridi Asyudewi yang berlokasi di didermaga II. Mekar Tunas Raya Sejati memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 208 m3 dan instalasi pompa BBM.Sinar Laut dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. Penggunaan fasilitas (3) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. SPBN ini melayani kebutuhan BBM solar bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom II dengan nukuran kapal > 30 GT (Kapal longline). pihak PT. SPBN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. pelabuhan tersebut dilakukan dengan system sewa. Dalam operasionalnya. Mekar Tunas Raya Sejati dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. Mekar Tunas Raya Sejati sendiri. Pengisiannya dilakukan 71 .

5 liter.1 liter atau sama dengan 126. yang selanjutnya dilakukan pengisian ke kapal-kapal yang ada di Kolom II. POL AIR. Paridi Asyudewi yang berfungsi menyalurkan BBM solar bersubsidi melalui darat yang kemudian disalurkan ke dalam bunker/tongkang. Syahbandar dan Pengawas Perikanan di Pelabuhan Perikanan. (2) Tahap Melapor Keberangkatan Kapal Setelah nelayan melakukan tahapan melapor kedatangan kapal pada beberapa hari sebelum kebarangkatannnya kembali. Sementara itu. yaitu: (1) Tahapan Melapor Kedatangan Kapal Pada tahapan melapor kedatangan. maka nelayan diwajibkan melapor keberangkatan kapalnya. realisasi penjualan BBM 72 . ke Pengawas Perikanan untuk mendapatkan SLO.651. pihak nelayan diwajibkan melapor ke prtugas teknis. Realisasi penjualan BBM melalui SPDN sejak bulan Mei 2009 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2. Setelah kapal mendapatkan SLO dan SIB. petugas jasa. TNI AL. dan terakhir melapor ke Syahbandar di Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan SIB.417.6511 kiloliter.000 liter dalam tiap minggunya. yang selanjutnya diperkenankan mengajukan permohonan pengisian solar ke penyalur (SPBN/SPBB). Pelayanan BBM solar bersubsidi di pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dilakukan melalui mekanisme dalam dua tahapan melapor.026. nelayan melaopor ke TNI AL. POL AIR kemudian melapor ke petugas teknis untuk mendapatkan STBLKK.dengan dibantu mobil tangki minyak dengan kapasitas 16. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 126. maka dalam waktu 1 x 24 jam penyalur BBM solar besubdisi (SPBN/SPBB) diperbolehkan menjual solarnya kepada kapal yang akan berangkat melaut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak syahbandar dalan hal pengisian BLB (Buku Lapor Bunker). Status mobil tangki tersebut adalah milik PT. ke petugas jasa untuk melakukan biaya bayar tambat. Pada tahapan ini.

0 2.0 62.310.044.491.147.140.0 65.741.0 57. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.0 77.0 68.835.0 128.0 71.0445 kiloliter.0 126.0 86.721.0 139.0 86.77%) dari kuota yang dijatahkannya.0 127.5 liter atau sama dengan 367.540.194.0 127.577.5 126..006.0 41.006.0 71.461.412.068.33.0 70.422. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 30.0 70.0 95.3 Total (Lt) 123.0 46.095. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 367.322. terlihat bahwa untuk SPDN baru mencapai separuh (53.0 128.5 128.154.0 62.0 66. Tabel 3.698.5 liter atau sama dengan 30. Sementara untuk SPBN baru mencapai kurang dari seperempat (12.0 71.558.1 liter.356.0 56.0 72.0 56. sedangkan untuk SPBB telah mencapai hampir keseluhan jatah yang diberikannya (91.038.277.5 60. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Periode Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Volume Penjualan (Lt) Meter A Meter B 55.0 liter.0 59.651.998.417.0 61.0 60.586.432.5 54. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 No.76%).1 Sumber: KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.0 132.785.257.144.0 55.798.1445 kiloliter.727.026.042.0 128.0 51.0 85.265.0 55.179.734.248.0 63.139.989.0 127.67%) dari kuota yang dijatahkannya.894.0 128.0 127.696.570.954.936.8 68.0 35.0 110.352.700.221.000.484. Sedangkan dari Tabel 3 dan Gambar 3 diketahui bahwa realisasi penjualan BBM melalui SPBB sejak bulan Januari 2010 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.978.148. 2010 73 .963.756.211.0 155.0 879.460.0 68.001.0 46.melalui SPBN sejak bulan November 2008 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 663.447. Bila realisasi penjualan tersebut dibandingkan dengan kuota yang diberikan.0 1.

0 0.410.0 60. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.9 34.826.000.0 42. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Periode Volume Penjualan (Lt) 12.000.0 54.5 50.8 22. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.000.0 34.8 19.800.908.6 33.0 80.200.0 14.3 22.0 120.1 30.000.048.179.351.2 58.537.990.7 37.977.000.0 140.5 November 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Sumber: SPBN PT.34.4 22.0 12.558.10.144.0 Volume Penjualan (Lt) 0 l-1 Ju 0 -1 ay M 0 -1 ar M 10 nJa 09 vNo 9 -0 ep S 9 l-0 Ju 09 Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.122.209.0 663.0 40. 2008-2010 M ay 74 .000.0 20. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 No.330.230.253.0 23.200. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.2 22.0 100.805.200.453.160.000.000. Pelabuhanratu. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.6 21.765. Mekar Tunas Raya Sejati.0 11.0 0.2 47.9 64.

0 367. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. Hal ini seperti terlihat dari besaran realisasi penjualan BBM solar bersubsidi yang masih di bawah kuota.0 403.633.0 30.936.5 10 gAu 0 -1 ay M 10 bFe 09 vNo 09 gAu 9 -0 ay M 09 bFe 08 vNo Periode Pengisian (Bulan) No. pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara telah mampu menyalurkannya secara baik. 70. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT. SPBN dan SPBB) maupun mekanismenya dalam penyaluran atau penjualan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu telah cukup memadai.0 Gambar 3.Secara teknis mekanisme pelayanan baik yang dilihat melalui polanya (SPDN.000. Paridi Asyudewi.870. 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-Rata per Bulan Sumber : SPBB PT.000.0 267. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.11. 2010 75 . Namun di sisi lain. rendahnya relaisasi tersebut (terumana pada SPDN dan SPBN) menunjukkan bahwa sesungguhnya masih terdapat sebagian besar nelayan yang membeli BBM solar yang dibutuhkannnya justru di luar SPDN dan SPBB yang ditunjuk. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT.0 0.813.000.0 Volume Penjualan (Lt) 60.000.0 466.35.0 50.356.0 40. Tentunya pernyataannya dapat dibenarkan bila digunakan asumsi bahwa besaran kuota BBM solar bersubsidi yang di sediakan adalah dihitung berdasarkan jumlah kebutuhan BBM untuk nelayannya. Dengan kata lain.0 10.0 449.000.0 20.115.000.102. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Periode Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Volume Penjualan (Lt) 410.0 2. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.0 505.0 433.0 0.000.751.072.044.

000. gillnet. Melihat kondisi di lapangan dari berbagai jenis kapal maupun mesin yang digunakan nelayan untuk melakukan operasional penangkapan.000. jenis BBM yang dibutuhkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu adalah jenis solar dan premium/bensin. namun hanya digunakan untuk keperluan penerangan saja.0 200. Di samping itu jenis kerosin/minyak tanah digunakan oleh nelayan. Sedangkan jenis mesin tempel digunakan untuk kapal payang dan kincang dengan BBM jenis premium/bensin. Hal ini karena komponen biaya BBM berkisar antara 40-60% dari seluruh biaya 76 .000.0 400.12.0 10 gAu 0 l-1 Ju 10 nJu 0 -1 ay M 0 r. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT. Kebutuhan BBM.600.0 Volume Penjualan (Lt) 500.000.000.0 300. BBM jenis solar tersebut digunakan untuk kapal perikanan yang berukuran > 10 GT. Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2010 pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara baru menyediakan BBM jenis solar saja.000.0 100.1 Ap 0 -1 ar M 10 bFe 10 nJa Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu. khususnya bagi nelayan skala usaha mikro dan kecil merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan kegiatannya. longline dan kapal rumpon. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Peran Subsidi Perikanan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat perikanan khususnya nelayan di Palabuhanratu dalam melakukan operasional penangkapan ikan. yakni kapal yang menggunakan mesin diesel untuk jenis kapal dogol.0 0.

592.29 8 10. 2010 Tabel 3.477.8 75 Sumber: Data primer diolah.466 282 liter 10 liter 8 liter 3. bila terjadi kenaikan harga BBM jenis solar sebesar 28% maka akan menambah beban biaya produksi penangkapan ikan sebesar 28% x 40% = 11.791.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM Nilai hasil tangkap 1 hari 1 hari 1 hari 7 hari 7 hari 7 hari 15 hari 15 hari 15 hari 120 hari 100 hari 77 hari 6 hari 6 hari 7 hari 5 liter 6 liter 1.432. Analisa pendapatan dan biaya usaha penangkapan pada Trip Tahun 2010 Jenis alat tangkap Uraian Bagan Gillnet ≥5GT <10GT Longline 1 ≥10GT <30GT Longline 2 ≥30GT 100GT Pancing Tonda ≥5GT <10GT Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: .musim biasa .324. memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perikanan.825.897. Artinya.36.170.85 2 16.2%.500.Solar .Bensin . terlebih lagi karena selama ini nelayan dalam memenuhi kebutuhan BBM solar dibeli dari pihak ketiga (tengkulak) yang harganya lebih mahal kurang lebih 30% dari harga ketentuan pemerintah.00 0 9333 liter 55. Akibatnya.musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): . usaha penangkapan dengan menggunakan bagan mengalami kerugian yang cukup besar karena biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan yang diperolehnya.483.50 0 16.000. Berdasarkan hasil olahan data di atas. khususnya solar.4 50 561.29 8 4.397.2%. dengan kenaikan harga BBM solar tersebut maka nelayan mengalami beban tambahan yang harus dikeluarkan sebesar 11. di atas menunjukkan bahwa subsidi BBM.36. Tabel 3. Kondisi seperti ini sangat memberatkan nelayan.33 4 83.musim ikan .0 00 393 liter 6 liter 13 liter 4.33 4 118.22 7 5.0 00 1500 liter 9. Biaya untuk bahan bakar 77 .791.500 13.operasional penangkapan ikan.

<30GT. Perbedaannya adalah beban biaya bahan bakar tidak sepenuhnya ditanggung nelayan. kondisi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh kapal-kapal dengan alat tangkap lainnya yang mampu memperoleh keuntungan cukup besar bagi nelayan. besarnya biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM adalah Rp13.500 maka biaya operasional per trip yang harus dikeluarkan adalah Rp4. Kenaikan biaya operasional ini berdampak pada turunnya keuntungan yang diperoleh nelayan rata-rata sebesar 68 persen. Kedua jenis bahan bakar tersebut tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi sehingga beban biaya tersebut sepenuhnya harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil.897.yang berupa bensin dan minyak tanah menyumbang hampir 40 persen dari total biaya operasional.500 atau 48 persen lebih besar dibandingkan biaya operasional per trip dengan subsidi BBM.298 yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan nelayan rata-rata sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan keuntungan dengan BBM bersubsidi. Begitupula halnya dengan kapal longline ukuran ≥ 30 GT – 100 GT yang harus mengeluarkan biaya operasional per trip lebih besar 60 persen apabila menggunakan solar tanpa subsidi sehingga porsi biaya solar terhadap biaya 78 . Berdasarkan olahan data pada Tabel 12. bagian biaya solar terhadap biaya operasional menjadi 81 persen dibandingkan apabila kegiatan usaha penangkapan dibantu dengan subsidi BBM yang hanya mengambil bagian 72 persen per trip. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. komponen biaya bahan bakar kapal ratarata sebesar 60 persen dari total biaya operasional yang dikeluarkan. sedangkan jika tanpa subsidi porsinya semakin besar yang mencapai 51 persen per trip penangkapan. Dengan demikian. Pemberian subsidi BBM sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap longline. Seperti halnya kapal gillnet.170. Jika nelayan menggunakan BBM bersubsidi maka porsi solar terhadap biaya operasional adalah 38 persen. tetapi ada intervensi pemerintah dengan memberikan subsidi bahan bakar solar yang mereka gunakan. Di sisi lain. terutama bagi kapal longline ukuran ≥10GT .

sedangkan tanpa subsidi BBM sebesar Rp5. dengan luas wilayah 117. besarnya keuntungan nelayan rata-rata menjadi menurun sebanyak 10 persen. Subsidi BBM juga sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap pancing tonda. intervensi pemerintah melalui pemberian subsidi BBM masih sangat diperlukan oleh nelayan dalam negeri untuk menjamin keberlanjutan usaha penangkapannya.592.227.4.852 atau meningkat 26 persen. baik secara langsung (pemberian pelayanan oleh petugas pelabuhan perikanan dengan menggunakan fasilitas milik Pelabuhan Perikanan) maupun tidak langsung (pemberian pelayanan pihak pelabuhan perikanan melalui bekerja sama dengan pihak swasta). Berdasarkan hasil analisis tersebut. Pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sangat berperan dalam memberikan pelayanan BBM solar dengan harga subsidi. Porsi biaya solar mencapai 40 persen jika nelayan mendapat solar bersubsidi. 79 . Perbandingan antara adanya subsidi BBM dan tanpa subsidi BBM pada usaha penangkapan ditunjukkan oleh porsi yang meningkat dari biaya solar terhadap total biaya operasional yang dikeluarkan.500 per liter maka biaya operasional per trip dengan bahan bakar bersubsidi adalah Rp4.432.377 hektar dan sebagian wilayahnya menghadap ke Teluk Lampung. Kabupaten Pesawaran (Lampung) Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pesawaran. Akibatnya. Dampak selanjutnya adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh nelayan sebesar 45 persen.operasional naik dari 75 persen menjadi 86 persen. 3. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. sedangkan tanpa subsidi BBM porsi biaya solar meningkat menjadi 53 persen terhadap total biaya operasional per trip. Lampung merupakan pengembangan dari Kabupaten Lampung Selatan dan dan secara resmi dibentuk berdasar UU No: 33 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran. Kabupaten ini berada di bagian pesisir selatan wilayah Propinsi Lampung.

0 437.8 16.388.0 2.278.6 143.4 4.0 442. budidaya ikan kerapu.610.8 Perkembangan Rp.0 110. 6.0 2.0 419.750. 4.0 1.939. Juta) 2008 1.5 47. Pesawaran terdiri atas 7 (tujuh) wilayah kecamatan dan 133 desa dengan ibukota di Gedong Tataan.833. Wilayah laut dan pesisir Kabupaten Pesawaran meliputi sebagian dari Teluk Lampung dan 37 pulau kecil yang tersebar di Teluk Lampung dengan potensi meliputi budidaya kerang mutiara. 7. Nilai produksi perikanan di Kab.37. 80 . sedangkan potensi lahan tambak 750 ha yang sebagian besar ada di Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Punduh Pidada.6 508.2 12.5 144.2 624. juta 19.667.685. 3.4 105.0 10. dalam tahun 2008-2009 terjadi perkembangan yang cukup signifikan khusus pada budidaya (KJA) Ikan Kerapu yang didominasi oleh Kerapu Bebek dapat dilihat pada Tabel 3.121. 5.511.880. Pesawaran. dan budidaya teripang dengan total potensi lahan seluar 3. Hasil (nilai) produksi perikanan di Kabupaten Pesawaran.0 100.045.5 ha.570.2 % 26 16 16 38 10 17 49 73 23 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.692.6 71.Saat ini wilayah kab.141. Tabel 3.37.39. budidaya rumput laut.6 17. budidaya ikan barong. Tangkap laut Tangkap perairan umum Budidaya tambak Budidaya air tawar Daging tiram mutiara Rumput laut Budiaya Kerapu (KJA) Benih ikan JUMLAH 74.0 96. Pesawaran Tahun 2008-2009 No Jenis usaha Nilai produksi (Rp.0 603. 8.996.2 121. 2.8 768.6 2009 93.820. Pesawaran Dalam hal perkembangan luas lahan budidaya dan jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Kab.884.520. berdasarkan data produksi 2009 didominasi oleh perikanan budidaya yang jika dilihat secara proporsinal terlihat pada Tabel 3.

4. Dari Tabel 3.886 2009 1. Pesawaran Bentuk-Bentuk Subsidi Perikanan Selama periode tahun 2009 telah dilakukan pemberian subsidi kepada pelaku usaha sector kelautan dan perikanan di Kabupaten Pesawaran. Tahun 2008-2009 No 1. 5. 7. Pesawaran.5 3. 2. 2008-2009 No Jenis Usaha Tahun (Orang) 2008 1.240. 3.5 60 75 3.40.5 369.4 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Adapun jenis dan dasar kebijakan pemberian subsidi tersebut seperti tertera pada Tabel 3. Lampung.5 15 1 75.282 18 45 14 94 510 225 2.5 2. Pesawaran.5 % 5 20 9 25 25 26 2.118 Kenaikan Orang 116 4 6 0 21 140 15 302 % 10 28 15 0 38 29 7 16 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH 1.5 10 12 359 391 2 2.8 2.39 Jumlah Rumah Tangga (RTP) pembudidaya ikan di Kab. 6. 6.8 4.Tabel 3. Perkembangan luas areal budidaya laut di Kab.38.166 14 39 14 73 370 210 1. 3.0 Kenaikan Ha 17 2 32 0. 7. 5.5 3.164.40 diketahui bahwa jenis subsidi yang pernah 81 . 4. Jenis Usaha Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH Tahun (ha) 2008 2009 352. 2. Pesawaran Tabel 3.

Tidak Langsung: 2. Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pesawaran Lampung No. Dasar Kebijakan 1. 1.40. Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.Peningkatan pengembangan usaha budidaya ikan air tawar (gurame dan nila) sementara kemampuan modal para pembudidaya yang relative terbatas.c Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila . Subsidi langsung dalam hal ini dimaksud sebagai bantuan yang diterima oleh para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan dari pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat) dalam bentuk barang ataupun finansial. Jenis Subsidi Langsung: 1.Lemahnya modal para pembudidaya ikan air tawar terutama untuk membeli benih dan induk ikan gurame dan ikan nila . Sedangkan subsidi tidak langsung diberikan dalam bentuk program atau bantuan lainnya yang sifatnya bukan barang ataupun financial. 1.diberikan oleh pemerintah di Kabupaten Pesawaran Lampung adalah meliputi: Subsidi yang bersifat langsung dan subsidi yang bersifat tidak langsung.b Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Antisipasi menghadapi dampak bencana alam pada tempat tinggal masyarakat nelayan. Pesawaran 82 . 2. Tabel 3.a Pelatihan Rendahnya tingkat keterampilan (skill) masyarakat pesisir terkait dengan pengembangan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.a PNPM Mandiri-KP Ketidakberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan.

meliputi: (1) PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan Sasaran program ini adalah masyarakat bidang kelautan dan perikanan yang bertempat tinggal di wikayah pesisir atau diluar pesisir yang memiliki kegiatan di bidang kelautan dan perikanan.975 Kec. Desa Sukajaya Lempasing Kec. (2) Pembangunan rumah nelayan ramah bencana. budidata rumput laut.Jenis subsidi langsung diberikan oleh pemerintah dalam tiga bentuk yaitu: (1) PNPM Mandiri_KP. pancing cumi. nelayan pancing. Padang Cermin. dan (3) Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Kebijakan yang mendasari pemberian subsidi dengan jenis langsung dan tidak langsung tersebut.41. Tabel 3. Alokasi dana PNPM Mandiri-KP di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 Lokasi Jumlah Kelompok 10 Jumlah Anggota 92 Jenis usaha Jaring payang padang. tangkap jaring. baik subsidi secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Pesawaran pada tahun 2009. Bentuk-bentuk subsidi sektor kelautan dan perikanan yang pernah diberikan pemerintah. Jumlah paket 10 Nilai (Rp. jaring kelitik. dan perbaikan jalan KJA Kerapu. Sedangkan jenis subsidi tidak langsung berupa pelatihan bagi para pembudidaya ikan air tawar. dalam hal ini lebih didasari oleh latar belakang kondisi usaha sector kelautan dan perikanan dan kondisi pelakunya yang memang membutuhkannya terutama untuk alasan pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan dan pengembangan atau keberlanjutan usaha sector kelautan dan perikanan tersebut ke depan.000) 249. Padang Cermin. pancing bandrong. tangkap bubu.999 83 . Desa 8 77 9 259. Penjelasan dari masing-masing bentuk subsidi tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya.

Pelatihan manajer usaha dan percontohan pembenihan tiram mutiara. Kec.000) 2 desa 18 169 19 509. (4) Subsidi selisih harga Subsidi selisih harga dimaksudkan sebagai bantuan pemerintah (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasewaran Lampung) untuk membayar selisih harga antara harga pasar dengan harga keekonomiannya. Pesabwaran (2) Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Sasarannya: pemenuhan kebutuhan masyarakat nelayan terhadap rumah tahan bencana. dan Desa Durian. Pelatihan cara budidaya ikan yang baik (CBIB). menggunakan dana APBD Kab. Pelatihan pembuatan alat tangkap nelayan. Desa Sidodadi. Subsidi selisih harga berupa bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Topik materi pelatihan diantaranya: Pelatihan manajer pengendali mutu perikanan. Pelatihan pembenih dan pembudidaya ikan air tawar.Lokasi Durian Jumlah Kelompok Jumlah Anggota Jenis usaha pengeringan ikan asin.974 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pelatihan pembenihan ikan laut. Magang tambak resirkulasi. dan Desa Sukarame. Magang pembudidaya rumput laut ke NTB. Desa Kampung Baru. Jumlah paket Nilai (Rp. dan rehabilitasi jalan setapak. 84 . Pelatihan budidaya laut dalam rangka pemberdayaan usaha skala kecil. Padang Cermin (20 unit) di Desa Sukajaya Lempasing. Pembangunan rumah di lakukan di dua kecamatan yaitu: Kecamatan Punduh Pidada (30 unit) di Desa pulau Legundi. Pesawaran. dilakukan pelatihan yang pesertanya adalagh masyarakat pesisir dan aparat terkait. (3) Pelatihan Melalui dana APBD Provinsi Lampung. Desa Pulau Pahawang.

000. pembahasan mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya tidak dilakukan dengan pendekatan perbandingan antara sebelum dan sesudah (after and before comparative) diberi subsidi.230. 314. tetapi berdasarkan kemungkinan (potensial) dampaknya bila subsidi tersebut diberikan. dan dengan siklus usaha selama 13 bulan. Secara rinci gambara mengenai biaya dan penerimaan usaha tersebut seperti tertera pada Tabel 3. meskipun baru bersifat normatif namun kita masih dapat memperkirakan peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha budidaya pmbesaran ikan kerapu dal KJA tersebut.dan menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp. Lampung. dan kemungkinan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan. dalam hal ini dari Kementerian Kelautan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. dalam bagian ini dilakukan dengan mengambil kasus budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. Dengan demikian. 85 .634. dalam bagian ini akan dijelaskan: (1) Analisis biaya dan penerimaan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran. usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di lokasi kasus tersebut hingga saat ini tidak atau belum mendapatkan subsidi (langsung ataupun tidak langsung) dari pemerintah.42. dan (2) Kemungkinan peran atau dampak potensial yang dapat dilakukan atau terjadi bila subsidi diberikan terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya. diperlukan rata-rata biaya total sebanyak Rp. Lampung dengan luasan sebanyak 13 kolam yang masing-masing berukuran 3x3 m2 dengan kedalaman 5 m.511.210. Untuk rata-rata usaha budidaya pembesaran ikap kerapu bebek dalam keramba jarring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran..Peran Subsidi Perikanan Uraian mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan.-. Untuk itu. Secara eksisting. Oleh karena itu. Propinsi Lampung.

702.453.370. Bambu f.511 1.905 582.700 1. Biaya Total: 1. Tenaga Kerja g.750 71.500 5.000 0.210.292. Solar c.07 28.085.811.430.88 1. Tali e. Jaring d.264.100 172.257 256.57 7.100 5.200 2. Pajak Kolam Keramba 2.10 3.65 1.000 487.05 0.400 10.656.587.500 3. Penerimaan: Produksi kerapu 3. Lampu Penerangan i.150 Sumber: Data Primer diolah (2010) 86 .000 16.87 0.50 Proporsi (%) 100. Retribusi Kebersihan k.000 7. Benih ikan d.42.895.921.466 77.500 1. Pompa Air h. Lampu Penerangan i.555. Perahu c.376. Propinsi Lampung (KJA sebanyak 13 Kolam dan Siklus Usaha selama 13 Bulan) Uraian 1.62 1421 580 3280 10036 2420 4 83 1308 4 14 28 698 lt lt ekor kg kg orang tabung galon paket kolam kolam kg 3.404.02 0. Tempat Pemeliharaan b. Pelampung g.679. Timbangan .67 0.27 1.74 25.500 16.655 59.200 5.344 4. Pakan Pelet f. Tempat Pemeliharaan b.468.000 621.60 2.300 365.324.000 314.125.357.126.634. Pompa Air h.000 1.500 4.000 442.120 6.) 230.95 0.005.000 1.07 0.500 65.000 29. Gudang j. Timbangan 1.500 48.556 166. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Volume Satuan Harga (Rp. Bambu f.634.2 Biaya Tidak Tetap: a.90 1 1 30 137 147 169 1 2 1 1 unit unit unit kg buah unit unit unit unit unit 4.500 281.276 320. Gas Elpiji h.100 2. Pelampung g.592. Perahu c.750 2.735. Ransum bulanan j.996 1.250 3.000 2.Tabel 3.050 6. Jaring d. Gudang j.382.061.000 46. Air Bersih i. Bensin b.604 159.14 69.32 1.101 975.750 17.33 21.1 Biaya Tetap: .555 1.Biaya Penyusutan: a.264.511 85.500 449.11 1.511 71.000 358.000 449. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam keramba Jaring Apung di Kabupaten Pesawaran.500 135.) Nilai (Rp.00 30.500 1.49 0.000 23.Investasi: a. Pakan Rucah e.705.475 10.42 0.575 15. Tali e.03 0.010.500 441.750 326.

50.. Biaya pakan tersebut terdiri dari biaya unuk pakan ikan rucah (pakan alami) sebanyak Rp.210. rata-rata penerimaan yang dihasilkan baru bersumber dari budidaya pembesaran ikan kerapu bebek saja (monoculture). dan (2) Untuk pakan ikan yang menyerap sebanyak Rp.atau 7.Dari Tabel 3.. yaitu: (1) Untuk benih ikan kerapu yang menyerap sebanyak Rp. terutama dalam jangka panjang. 69.57% dan untuk pakan pelet sebanyak Rp.22% dari biaya totalnya. yaitu: benih ikan kerapu atau pakan ikan. yaitu sebanyak 698 kg dengan nilai sebanyak Rp. diantaranya adalah pertimbangan: (1) Sejauhmanakah urgensi memberikan subsidi kedua komponen tersebut dalam mendorong keberlanjutan usaha.000.atau 28.atau 21. secara potensial subsidi dapat diberikan pada komponen biaya/pengeluaran yang memiliki proporsi yang tergolong dominan.592.750.atau 36. 48..750. Untuk itu sebaiknya pemerintah 87 . berdasarkan besaran penerimaan dan biaya totalnya.314. Bila diasumsikan bahwa pemerintah berada dalam kondisi memiliki anggaran yang relatif terbatas.07% dari biaya totalnya. Terdapat banyak pertimbangan dalam pemberian subsidi (langsung) pada kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan karapu tersebut. 17. Secara sederhana.500. sehingga pemerintah dalam hal ini harus menentukan prioritas apakah akan memberikan subsidi pada komponen tertentu atau komponen tertentu lainnya.000. Sementara. Lampung (Tabel 3.634. seperti komponen benih atau pun pakan) dalam pengembangan usaha tersebut.900.42 diketahui bahwa berdasarkan strukturnya. proporsi biaya usaha budidaya pembesaran ikan kerapu didominasi oleh dua jenis biaya pengeluaran. Melihat kondisi struktur biaya usaha budidaya pembesara ikan kerapu dalam KJA di Kabupetan Pesawaran. dan (2) Apakah pemberian subsidi tersebut secara potensial berdampak terhadap kelestarian lingkungan.-.65%.42). maka dapat diketahui bahwa usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran telah mencapai kondisi efisiensi dengan rasio penermaan terhadap biayanya sebesar 1. 65.895.

Namun bila dilihat dari sisi prioritas dan fakta di lapang dimana permasalahan benih yang berkualitas semakin mendesak untuk dicarikan solusinya. Dari dasar pertimbangan pertama (aspek keberlanjutan usaha) tampaknya baik subsidi benih ikan maupun subsidi pakan keduanya sama-sama berpotensi memiliki peran penting dalam keberlanjutan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. Dari awalnya untuk menghasilkan ukuran 500 gram per ekor diperlukan periode pemeliharaan kurang dari 12 bulan. Komponen benih ikan kerapu memiliki proporsi biaya sebesar 21. Hal ini terlihat dari besarnya proporsi biaya kedua komponen tersebut (benih ikan dan pakan ikan) terhadap biaya total dari kegiatan usaha tersebut. Bila pemerintah memang pada akhirnya memutuskan untuk memberikan subsidi benih ikan.memutuskannya setelah melakukan pengkajian berdasarkan kedua pertimbangan di atas (keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan). karena menurut persepsi pelaku usaha tersebut di lapangan bahwa mutu benih ikan kerapu dewasa ini semakin menurun. untuk kondisi saat ini ataupun ke depan memberikan subsidi pakan ikan rucah tampaknya kurang tepat. sedangkan komponen pakan ikan khususnya pakan ikan rucah memiliki proporsi biaya sebesar 28.57%. Diantara aspek positif tersebut adalah dorongan kepada peningkatan penggunaan benih ikan kerapu yang bermutu baik dibanding yang digunakan oleh pembudidayaan saat ini. Meskipun dalam kenyataannya pakan ikan rucah ini memiliki peran sangat penting besar di samping benih ikan dalam kegiatan produksi ikan kerapu di lokasi tersebut. banyak aspek positif yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha meskipun akan diikuti secara proposional dengan meningkatnya jumnlah pakan ikan rucah yang digunakan. saat ini sudah bervariasi mulai dari 13 – 16 bulan. Sementara dari dasar pertimbangan kedua (aspek kelestarian lingkungan).07%. karena peningkatan pakan tersebut berpotensi meningkatkan cemaran (polusi) terhadap lingkungan perairan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. Dengan adanya 88 .

Lampung. secara teknis lebih rumit karena dominasi pakan ikan rucah yang notabene diperoleh dari dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang dalam waktu dekat akan dilarang pemerintah yaitu alat tangkap jaring cantrang (jaring gardan). pemerintah menghadapi situasi yang lebih sulit dan kurang dapat memasukkan unsur pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.69 5.50 1. bila pemberian subsidi pakan ikan yang menjadi pilihan. pemberian subsidi berupa pakan ikan.58 1.60 Perubahan R/C (%) 1. secara sederhana pada Tabel 3.52 1.43. dibandingkan bila benih ikan yang menjadi pilihan tersebut. Untuk lebih meyakinkan kita.10 2.43 dan Tabel 3. Tabel 3.50 R/C Dengan Subsidi Benih 1. Sementara di sisi lain.56 1.50 1.pemerintah memberikan subsidi benih yang berkualitas baik.50 1. bahwa pemberian subsidi benih ikan ke depan akan efektif dalam meningkatkan keberlanjutan usaha yang diihat menggunakan indicator rasio penerimaan terhadap biaya (efisiensi) usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran.54 1. dapat dilihat hasil simulasi pada kondisi tanpa dan dengan subsidi. berarti produktivitas usaha budidaya pembesaran dalam KJA di Kabupaten Pesawaran dapat lebih ditingkatkan lagi.05 6. Dengan kata lain. Simulasi Perubahan Rasio Penerimaan terhadap Biaya (R/C) Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran pada Berbagai Perubahan Tingkat Subsidi Benih Ikan (Tanpa dan Dengan Subsidi Benih) Subsidi Benih (%) 5 10 15 20 25 R/C Tanpa Subsidi 1.44.45 Sumber: Data Primer diolah dari data primer (2010) Keterangan: R/C = Rasio Penerimaan terhadap Biaya Total 89 .38 3.50 1.

511 85.500 48.345.000 23.604 159. Pompa Air h.750 71.453.101 975.000 487.11 1.500 1.655 59.656.085.9 0 87.344 4.000 16.636 100 71.69% (lihat Tabel 3. Pompa Air h.257 256.43 dan Tabel 3.125.264.679.404.276 320.74 25.085.10 3.125 7.705. Tempat Pemeliharaan b.468.49 0.556 166.382.081. Timbangan 1.Investasi: a.03 0.000 487.276 320.656.468.50 menadi sebesar 1.56.500 1.1 4.357. Timbangan . atau R/C usaha meningkat sebesar 3.679.750 326.000 16.88 1.324.466 77.125.500 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.500 3. Pelampung g.264. Gudang j.500 5.00 71.705.500 41.000 29.061.303.14 3.655 59. Bensin b.404.32 1.87 0.996 1. Perahu c.702.000 23.257 256. Tali e.382.921.31 0.1 Biaya Tetap: .82 90 .100 2.90 85.921.500 449.02 0.500 3.370. Lampu Penerangan i. Solar c. Jaring d.511 30.33 21.511 1.14 69.000 2.996 1. Pelampung g.11 1.592. Sebagai gambaran untuk pemberian subsidi benih ikan sebsar 15% akan meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) usaha budidaya tersebut meningkat dari semula (tanpa subsidi benih) sebesar 1. Biaya Total: 1.126.061. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam KJA pada Kondisi Tanpa dan Dengan Subsidi Benih 15% Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.000 7. Bambu f. Lampu Penerangan i. Benih ikan 0.324.264.702.750 71.42 0. Bambu f.511 100.79 23.511 1.100 5.07 0.126.625 Uraian 1.) Biaya (%) 223.357.02 0.Dari Tabel 3.634. Perahu c.53 12.35 0.) Biaya (%) 230.07 0.500 449. Tempat Pemeliharaan b.100 2.750 326.01 0.453.556 166.43 0. Tabel 3.44).000 29.466 77. Gudang j. Tali e.2 Biaya Tidak Tetap: a.101 975.43 diketahui bahwa pemberian subsidi benih ikan dapat meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya total (efisiensi) usaha budidaya tersebut.344 4.264.44.500 5.604 152. Jaring d.02 0.000 2.Biaya Penyusutan: a.100 5.

Beberapa hal tersebut diantaranya adalah: bila diasumsikan dengan pemberian subsidi benih ikan tersebut.) Biaya (%) 65.12 0.53 6.000 621.750 7. Penerimaan: Produksi ikan kerapu 3.68 17.000 1.700 1.895.62 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.000 1.42 1.56 1. Pakan Rucah e.60 2.Uraian d. Ransum bulanan i.430.735. kita akan bahas bagaimana kemungkinan peran (dampak) subsidi benih ikan pada budidaya pembesaran ikan kerapu tersebut terhadap kelestarian lingkungan perairan budidaya.634.05 0.750 15.811. sehingga berkembang dan menyebabkan daya dukung perairan yang menurun.555. maka diperkirakan akan terjadi beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan perairan di lokasi budidaya dan sekitarnya.02 0. Pakan Pelet f Tenaga Kerja f.64 1.26 Sumber: Data Primer diolah (2010) Selanjutnya.250 3. Lampung secara baik dan konsisten. Kemungkinan peran (dampak) negative terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut bisa saja terjadi. Polusi (cemaran) tersebut ditimbulkan dari limbah pakan ikan rucah maupun pakan pelet ikan yang akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya penggunaan benih ikan dalam kegiatan produksi tersebut.634. terutama dalam jangka panjang. Air Bersih h. Pajak Kolam Keramba 2.895.050 6.000 1.66 2.000 1.000 314. Sebaliknya.95 0.376.) Biaya (%) 65.250 3.430.050 6. namun dalam realitasnya justru hal tersebut dapat tidak terjadi sepanjang dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan perairan budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.210. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.750 28.376.210. Retribusi Kebersihan j.000 621.735.700 1.67 0. Gas Elpiji g.57 17.000 314. maka hal ini berarti pada lingkungan perairan budidaya tersebut terdapat potensi polusi (cemaran).750 28. bila upaya-upaya pengelolaan tersebut tidak 91 .50 1.65 2.811.555.27 1. Secara normative dapat disampaikan bahwa apabila diberikan subsidi benih ikan pada kegiatan usaha budaya tersebut.

39% PDRB Kab.38 Km2 dan wilayah perairan (laut) sekitar 15. Hasil budidaya perikanan laut Kab. justru dampak negative tersbut berpotensi besar dapat terjadi. Berdasarkan tabel 4. Sebelum tahun 2001. Kolaka terbagi ke dalam 32 wilayah kecamatan. Sebagai upaya antisipatif terhadap kemungkinan terjadi dampak negative tersebut.000 Km2. Ikan Kerapu dan Mutiara. Bandeng. produksi perikanan Kab. 3. Teripang. Kab. Berdasarkan data statistik. namun dalam kurun waktu 2001 sampai 2007 terjadi tiga kali pemekaran wilayah kecamatan sehingga saat ini Kab. Kolaka berasal dari perikanan laut (perikanan tangkap dan budidaya). kontribusi nilai hasil produksi rumput laut tahun 2008 dan 2009 di atas 50%. Kolaka terbagi ke dalam 20 kecamatan.918.dilakukan secara baik dan konsisten. Secara proporsional. maka pemberian subsidi benih ikan sebaiknya dapat diikuti dengan pemberlakuan regulasi yang bertujuan untuk mengendalikan tekanan cemaran terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut. 92 . Kolaka terdiri atas Rumput laut.5. sedangkan budidaya tambak ikan Bandeng di atas 40% dari total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Kolaka. Kabupaten Kolaka. Kabupaten Kolaka dijadikan lokasi penelitian mewakili perikanan budidaya (laut) mengingat perikanan laut mendominasi produksi perikanan dibandingkan perikanan daratan. dalam tiga tahun terakhir 30% . Kendari Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Kolaka berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat Propinsi Sulawesi Tenggara. Kolaka disumbang oleh sektor pertanian (termasuk perikanan). dapat dilihat. Wilayahnya terdiri atas daratan seluas 6.1.

15 . Perkembangan Luas areal dan Produksi Budidaya Laut di Kab.697 3 13.6967 55.903 500 2009 4.231 9 3 15.475 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.031 9 3 15.99 9.44 0.643 110 5 584 500 2008 4.64 0.Berkaitan dengan hal di atas. Kolaka dilakukan di tambak tambak yang ada di pesisir pantai yang ada di lingkungan sekitar hunian warga.566 405 165 137.919 40 2007 6.287 8. Jenis budidaya adalah pembibitan dan pembesaran dengan masa 93 .491 24.343 389 131 50. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp.544 2.3733 46.26243 Budidaya Bandeng Pembudidaya ikan Bandeng di Kecamatan Wolo dan Wundulako mengelola lahan milik sendiri.868 24.817 2009 7.198 67.7 ha.728 22.007 262.223 2007 109. Kecamatan Wunduloko.784 2008 7.437 396 138 151. Survey dilakukan terhadap pembudidaya tambak dan rumput laut di Desa Towua.Juta) Komoditi 2007 4.169 8.332 2009 122.643 110 5 1.353 273. dan di Desa Muara Lapao-pao Kecamatan Wolo.643 112 5 1.776 1.604 9.45. Pembudidaya ikan Bandeng di Budidaya Bandeng di Kab. yaitu budidaya rumput laut dan budidaya tambak ikan Bandeng karena bantuan pemerintah banyak ditujukan kepada kedua jenis usaha ini.273 3.75 3. Tingkat pendidikan rata rata tamat SD dan SLTP dan masih dalam usia produktif (20 – 49 tahun) dengan rata rata usia 34 tahun.75379 52. Kabupaten Kolaka.2 1.033 2008 119.4819 30. Tabel 3. 2009 Kontribusi/porsi: Tambak (%) Rumput laut (%) 9. menggunakan modal sendiri dengan rata rata luasan kepemilikan lahan 1. Kolaka.9585 43.152 Tambak Teripang Kerapu Rumput laut Mutiara Jumlah 7. dalam kajian ini difokuskan kepada komoditas unggulan.163 162.849 9.

Tidak ada acuan baku yang diikuti dalam pemberian pupuk. modal yang sebelumnya telah dianggarkan untuk 94 . Selanjutnya. Artinya. Bibit alam yang dibeli seharga Rp50 per ekor disimpan dalam tempat yang disebut gelondongan. pembeli (yang disebut pembonceng) membeli langsung ke tambak dan membeli secara eceran sebanyak 100 – 200 ekor. Kolaka. Pembeli (pedagang) berasal dari Kolaka dan sekitarnya dan ikanpun dijual dalam bentuk ikan segar di pasar pasar yang ada di Kab. dimana pasar yang ada terbatas pada pasar lokal dan belum ada industri pengolahan ikan Bandeng membuat harga jual jatuh pada saat panen bahkan kadang tidak terserap pasar. tanpa adanya bantuan tersebut. Tujuan pemberian pupuk dan pengisian air secara bertahap agar tumbuh lumut dan jasad renik yang nantinya berfungsi sebagai pakan alami ikan Bandeng.000—3. Kemudian tambak diisi air secara bertahap. Hanya saja. jenis bantuan yang diberikan berupa benih nener dan benur tidak secara signifikan membantu keberlanjutan usaha para petani tambak. Kondisi ini. Dalam waktu 2 bulan. Proses pengeringan tambak biasanya memerlukan waktu satu bulan dan sisa waktu satu bulan digunakan untuk pemberian pupuk kimia (Urea dan TSP). mereka tetap dapat menebar benih pada musim-musim penanaman. Menurut petani tambak yang diwawancarai. Alasannya.pemeliharaan 6 bulan. itupun sekedarnya saja. Selama pembesaran. Waktu 2 bulan ini dimanfaatkan untuk mengeringkan tambak sebelum tahap penebaran/penanaman bibit dimulai. Kalaupun diberi pakan pelet.000 ekor per petak tambak.. dan racun yang berfungsi sebagai pembasmi ikan liar. Gelondongan tersebut diletakkan di dasar tambak yang mampu menampung bibit sebanyak 15 ribu ekor yang biasanya diisi 2 kali dalam setahun. mulai dilakukan panen. bibit ditebar yang biasanya berjumlah 2. bantuan benih tersebut diakui dapat menggeser alokasi modal yang telah mereka perhitungkan. Sistem panen dilakukan bertahap. hampir tidak ada pembudidaya yang memberi pakan tambahan dalam bentuk apapun. Pemberian pupuk lebih didasarkan kepada kemampuan masing masing pembudidaya. Caranya. bibit sudah bisa dipindahkan ke tambak untuk tahap pembesaran. Setelah lama pemeliharaan 4 bulan.

56 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. harga pupuk saat ini sangat mahal sehingga dirasakan sangat membebani para petani tambak.645*) Vol.44 1.58 1. pengadaan kedua input tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah setempat. bantuan berupa pupuk dan mesin pompa menjadi harapan petani tambak bandeng dan udang.54 1.258 1.53 1.53 1. Sementara itu. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Tambak di Kab. Input berupa pupuk merupakan bahan baku utama yang diperlukan dalam usaha tambak ini sehingga sebagian besar modal diperuntukkan untuk membeli pupuk. Bantuan untuk melakukan bedah tambak diakui sangat bermanfaat.233 1. Pada kenyataannya.507 589 74 909 186 463 186 2. Produksi (Ton) 2007 1. baik untuk keberlanjutan usaha maupun bagi kelestarian sumber daya.52 1. Tabel 3. input berupa mesin juga sangat diperlukan para petani yang selama ini belum pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah.894 6. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Baula Pomalaa Tanggetada Watubangga Total 2007 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4645 2008 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.645 2009 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4. Selain itu.51 1.52 1. Faktor utamanya adalah karena program bedah tambak ini dapat mengaktifkan kembali tambak yang telah lama ditinggalkan karena sudah tidak layak pakai.45 2008 1.52 2009 1.45 1.51 1.049 7. 2009 Catatan: *) Belum termasuk bantuan bedah tambak 240 ha 95 .47 1.56 1. Kolaka.477 572 72 878 179 450 181 1.221 Produktivitas (ton/ha) 2007 1.46 1.44 1.56 1.51 1.44 1.407 545 69 836 171 428 172 1. Saat ini.52 1.46.031 2009 1.175 1.51 1.989 7. Untuk itu.45 1.57 1. pertumbuhan ikan menjadi sangat bagus karena lingkungan tambak yang kondusif bagi tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan oleh bandeng dan udang.57 1.45 1.44 1.56 1.58 1.membeli benih ikan dapat digeser untuk alokasi pupuk atau biaya input lainnya.54 1.697 2008 1.

Bahkan.47. Baula 0% 9% 7. Latambaga 0% 8% 4. Samataru 0% 7% 3. Masalah mulai timbul dalam budidaya Rumput laut sejak awal tahun 2008. Booming rumput laut dimulai pada tahun 2004 sejak tindakan bom ikan oleh para nelayan dikecam oleh masyarakat sekitarnya. Watubangga 0% 8% Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. banyak nelayan yang beralih menjadi pembudidaya rumput laut. 2009 Budidaya Rumput Laut Rumput laut merupakan komoditas budidaya unggulan di Kabupaten Kolaka. Perubahan yang kasat mata adalah dengan dibangunnya rumah yang permanen. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan sumber daya sudah berbasis masyarakat sehingga telah tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian sumber daya di kalangan pelaku utama perikanan sendiri. berupa gangguan yang menyebabkan bibit Rumput laut yang berumur 3 96 . Pomalaa 0% 8% 8. Tanggetada 0% 8% 9. produksi 1.Tabel : 3. dan dimilikinya kendaraan bermotor. Kolaka. usaha budidaya Rumput laut mencapai masa jayanya. rumput laut juga mampu menarik perhatian para pembalak kayu sehingga penebangan hutan berkurang cukup signifikan yang mengakibatkan kelestarian hutan juga terjaga. Akibatnya. Dalam kurun waktu tersebut. Kolaka Tahun 2007-2009 No Kecamatan Luas areal Vol. kesejahteraan pembudidaya menunjukkan peningkatan yang berarti. Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya yang menunjukkan bangunan rumah yang sederhana serta tidak adanya kendaraan bermotor di rumah. Wolo 0% 7% 2. Wundulako 0% 9% 6. Prosentase Peningkatan Luas areal dan Produksi Tambak Tiap Kecamatan di Kab. Kolaka 0% 7% 5. adanya tabungan di bank. Selama periode 2004 hingga 2008. Sulawesi Tenggara.

Akibatnya. Gangguan ini belum teridentifikasi faktor penyebabnya. pelampung. Untuk itu. kepadatan lahan. cara tersebut dapat diterima oleh para pembudidaya rumput laut dan nelayan. jumlah produksi yang besar dapat terjual dengan harga jual yang tinggi. Sulawesi Selatan. produksi rumput laut yang ada sering menumpuk di gudang penyimpanan sehingga harga jual menjadi turun. rumput laut kering dari Desa Barbarina. Untuk itu. Kabupaten Kolaka baru mampu menembus pasar lokal dan pasar Makassar yang diambil oleh pedagang besar untuk kemudian diekspor. Untuk itu. apakah karena kualitas bibit. Rambu-rambu tersebut dibuat dengan menggunakan pelampung dan pemberat agar tidak bergeser karena arus laut. produktivitas hasil sangat rendah. Selama ini. Sementara pada 97 . Dengan demikian. para petani tambak sangat mengharapkan adanya penelitian atas masalah tersebut agar gangguan tersebut dapat diatasi dengan cepat. Masalah lain yang ada terkait dengan batas-batas lahan budidaya yang mengakibatkan adanya konflik antar sesama petani rumput laut maupun antara petani rumput laut dengan nelayan. Akibatnya. atau karena lingkungan budidayanya. Pemasaran hasil produksi berupa rumput laut kering juga menjadi masalah bagi pembudidaya. Komoditas rumput laut telah tersentuh bantuan sejak tahun 2004—2010. tali. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berusaha menyelesaikan konflik tersebut dengan mengundang Kepala Desa dan kelompok-kelompok. Kecamatan Muaralapao-pao. dan para-para atau tempat menjemur rumput laut. Selama ini. jangkar. Bantuan pada 2004 hingga 2006 berbentuk paket berupa bibit.minggu menjadi hancur. petani rumput laut sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk memperluas pasar yang selama ini hanya diserap oleh pasar di Makassar. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengatur jalur-jalur perhubungan bagi lalu lintas kapal nelayan yang akan ke atau dari laut. baik kelompok budidaya maupun kelompok tangkap laut. Untuk itu. dinas membuat rambu-rambu batas rumput laut yang menyala saat malam hari.

750 3.48. bantuan tidak dibedakan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok. Bantuan tersebut diberikan satu kali dalam setahun.110 2.265 1.788 1. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Rumput Laut di Kab.904 1. Hal inipun sangat bergantung pada besar kecilnya perahu sehingga kapasitas untuk memuat rumput laut berbeda. Untuk itu.tahun 2007 hingga sekarang. Contohnya.784 16. Kolaka Tahun 2007-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Total Luas areal (ha) 2007 2008 2009 89 291 294 117 396 398 90 307 310 61 201 203 54 191 193 48 156 158 61 199 201 61 163 164 581 1. Tabel 3. Gudang penyimpanan ini sangat diperlukan untuk menampung hasil panen hingga pedagang pengumpul dari Makassar datang mengambil. bantuan mesin untuk perahu bermotor sangat diperlukan oleh para petani untuk memantau kondisi rumput laut setiap dua hari sekali dan juga untuk mengangkut hasil panen.374 1.119 2. 2009 98 . bantuan hanya berupa bibit dan tali. apalagi jika lokasi lahannya berada jauh dari tepi pantai. Kegiatan panen ini biasanya tidak bisa dilakukan sekali jalan.379 2. bantuan lain yang diharapkan adalah bantuan berupa gudang penyimpanan dengan bangunan yang permanen.068 2.039 1.123 1. bantuan tahun 2009 adalah bibit dan tali maka setiap kelompok akan mendapat bibit dan tali dalam jumlah dan kualitas yang sama.921 Vol.422 1.585 3. gudang penyimpanan sederhana terbuat dari kayu yang dibangun di bawah rumah salah seorang ketua kelompok.525 1. Artinya. Selain itu.562 2. Produksi (Ton) 2007 2008 2009 2.826 2. Selama ini. Bantuan yang diberikan bersifat seragam sehingga setiap kelompok yang mendapat bantuan akan menerima barang yang seragam.280 1.817 22.735 2. keberadaan perahu bermotor sangat diharapkan oleh para petani rumput laut untuk mengganti perahu dayung yang selama ini mereka gunakan. Sementara itu. Kolaka.074 Produktivitas (ton/ha) 2007 2008 2009 23 9 11 24 8 11 24 8 11 23 9 11 24 8 11 23 9 11 25 9 13 25 11 15 24 9 12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.429 13.690 1.497 1.355 4.370 1.861 2.523 3.

5 59 22.0 23.49.0 238.5 59 22. Selanjutnya.79 257.0 30. berupa sarana produksi seperti: untuk budidaya rumput laut (bibit rumput laut.00 1. Prosedurnya. proposal tersebut diverifikasi lapang oleh petugas dinas untuk melihat kebenaran dari informasi yang disampaikan dalam proposal. setiap kelompok budidaya melalui ketua kelompoknya mengajukan permohonan bantuan dalam bentuk proposal yang di dalamnya dicantumkan jenis bantuan yang dibutuhkan.41 229. bukan secara perorangan.5 241.34 240.2 226.5 59 22.0 30.51 168. tali ris dan jangkar.08 Vol. Peningkatan Luas areal dan Produksi Rumput Laut di Kab.51 0.03 0. untuk budidaya ikan Bandeng (benih. 99 . gudang penyimpanan dan mesin perahu).61 0.0 30.3 50 22.Tabel 3.5 59 22.0 31.5 59 22. Kolaka.17 229. Proposal tersebut harus diketahui oleh kepala desa dan ditandatangani oleh semua anggota kelompok. Kolaka Tahun 2007-2009 No.0 30.17 244.05 1. dan secara tidak langsung (masyarakat tidak langsung menerima bantuan tetapi merasakan manfaatnya). Bantuan yang selama ini diberikan untuk kelompok pembudidaya.28 1.0 Luas (%) 08-09 1.5 59 22.3 80 22. 2009 Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Subsidi/bantuan kepada pembudidaya dapat dikelompokkan berdasarkan manfaat yang diterima oleh masyarakat pembudidaya.93 07-09 230. Selanjutnya. dan bantuan berupa “bedah tambak”.98 1.0 226.5 253.2 167. Program bantuan atau subsidi langsung diberikan kepada pembudidaya di Kabupaten Kolaka. Bantuan langsung (penerima langsung mendapatkan/menerima bantuan).1 229. yaitu pemda memfasilitasi pengerjaan pembuatan/pembenahan tambak tambak masyarakat yang terbengkalai. Pemilik tambak hanya membayar setengah dari total biaya penataan lahan tambak. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Rata rata 07-08 227.01 0.0 30.7 225.0 47.7 61 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Ini dilakukan agar pemilik tambak mengolah tambaknya secara berkelanjutan.0 30.44 232.85 229. Produksi (%) 07-08 08-09 07-09 22.

biaya bedah tambak akan dibantu pemerintah dengan nilai 50 persennya saja. (b) belum pernah mendapat bantuan. namun terjadi kecenderungan penurunan produksi dan luas lahan karena 100 .000.50. Jenis bantuan/subsidi dan dasar pertimbangannya No A. Patokan yang digunakan adalah biaya pengerjaan tambak per jam yang besarnya Rp500. Sedangkan biaya 4 jam lagi ditanggung oleh petani tambak.kelompok pembudidaya yang mendapat bantuan disahkan dalam Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka.000 = Rp2. Jika untuk memperbaiki tambak memerlukan waktu 8 jam maka bantuan akan diberikan sebanyak 4 jam atau sebesar 4 jam x Rp500. Program bantuan/subsidi tidak langsung dapat berupa pembangunan sarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. Program ini terbukti sangat disambut baik oleh para petani tambak karena tambak yang telah rusak dapat dihidupkan kembali. Tabel 3.000.000. Hal itu sangat membantu keberlanjutan usaha mereka. Bantuan dengan sistem fifty-fifty khusus diberikan untuk program bedah tambak. pemerintah berusaha mengoperasikan tambak-tambak tersebut dengan cara membantu biaya perbaikan tambak. Adapun kriteria pemberian bantuan adalah: (a) prioritaskan pembudidaya yang miskin. jangkar) perikanan kedua terbesar setelah budidaya tambak. Budidaya rumput laut . Untuk itu. Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Subsidi/Bantuan langsung Dasar pertimbangan 1. Artinya. (c) siap sharing dalam bantuan yang sifatnya fifty-fifty karena tanpa komitmen ini bantuan akan gagal sehingga usaha budidayanya tidak mampu berkembang. Program ini mulai dilakukan tahun 2007 hingga sekarang karena pada periode tersebut banyak tambak yang terbengkalai (idle) akibat pendangkalan yang pada terjadi pada tambak.Budidaya rumput laut merupakan a) Pengembangan Sapras Budidaya penyumbang pendapatan sektor Rumput laut (bibit. tali ris.

Perlu pemacuan dalam penyediaan benih bermutu dalam jumlah besar. tali. Pemantapan BBI Loea.Masyarakat pembudidaya kesulitan dalam mendapatkan benih. . waring. kayu) 3. subsidi/bantuan yang diberikan . 2. oleh pemerintah (pusat dan daerah) secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pembudidaya. 101 .Teripang merupakan komoditas yang memiliki prospek harga yang bagus. . dalam jumlah maupun kualitas yang diharapkan. Pembangunan Tower Hatchery Watubangga 4. Subsidi/bantuan tidak langsung 1. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tambak B.Banyak lahan tambak terbengkalai karena pemiliknya tidak cukup dana untuk penggalian dan penataan lahan tambaknya yang sudah dangkal dan tumbuh gulma. Pengembangan Pembudidaya Teripang (bibit. maupun hutan bakau di pesisir. Rehabilitasi Kantor BBI Wundulako 2. Pembangunan Hatchery 3. kayu lantai. paku) Dasar pertimbangan . Penyempurnaan Sapras Hatchery Wolo 5.Potensi konflik batas lahan budidaya rumput laut dan jalur pelayaran sehingga perlu penataan dan penertiban . Akibatnya mereka kehilangan sumber pendapatan dari budidaya ikan sehingga beralih menjadi perambah hutan di bukit bukit sekitar daerah hunian. namun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Wundulako Bentuk-bentuk Subsidi Perikanan Seperti yang telah dikemukakan di atas. Sedangkan bantuan tidak langsung berupa pembangunan prasarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. Mowewe. Bantuan langsung pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan produksi.No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan b) Pengadaan sarana penunjang budidaya rumput laut (kayu tiang.

3 paket 110. 50 paket - 415. Kolaka. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4. Penyempurnaan sarana prasarana hatchery di Kec. waring.500 - 75.372 kg - 362. jangkar Sarana penunjang (kayu tiang. Bantuan/Subsidi langsung Budidaya Rumput laut Pengadaan sapras (bibit. Watubangga. 3. jangkar.300 7 klp 83. Mowewe.250. Pembangunan hatchery.7.51. bentuk bentuk bantuan langsung berupa: pembelian bibit.000 - - - - Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. tali) Rehab dan konstruksi tambak Bantuan/Subsidi tidak langsung Pembangunan Hatchery Tower hatchery Watubangga Penyempurnaan sapras hatchery Wolo Pemantapan BBI Loea.Tabel 3. Pembangunan tower hatchery di Kec. tali dan kayu untuk budidaya Teripang.950 400. tali ris. Jenis dan bantuk bantuan/subsidi perikanan budidaya laut di Kab. pembelian bibit.000 6 paket - 400.000 - - 10 paket 100 ha 63. 3.000 8. Pemantapan BBI Loea di Mowewe. Kolaka tahun 2007 – 2010 No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Vol 2007 Alokasi (000) Vol 2008 Alokasi (000) Vol 2009 Alokasi (000) Vol 2010 Alokasi (000) A.900 - - - 1 unit - 63. 2. talli ris.200 - - B. 1 unit 1 unit - 167. waring.900 1 unit - 75. Bentuk bentuk bantuan tidak langsung yang dilakukan (yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dan budidaya tambak) diantaranya: Rehabilitasi kantor BBI Wundulako. 1.185 49. Wundulako 102 .000 - - 559. diolah. kayu dan lainnya yang fungsinya untuk budidaya Rumput laut dan pembuatan para para untuk penjemuran rumput laut hasil panen.000 2 paket 4 paket - 1. 1.000 - 5 unit 240 ha 94. lantai) Budidaya Teripang (bibit. a) b) 2. Wolo. serta subsidi biaya penggalian dan penataan lahan tambak yang terbengkalai.000 4.

budidaya rumput laut justru terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008 baik dalam hal luas lahan. Agar produk yang dihasilkan dapat diserap oleh pasar. Dampak langsung yang sudah dapat dilihat adalah berkurangnya perambah perambah hutan dan penebang hutan bakau karena sebagian dari pemilik tambak sudah dapat mengopersionalkan kembali tambaknya. maka bantuan untuk pakan merupakan pilihan utama setelah bedah tambak. sedangkan produktivitas hasil yang rendah yaitu 1.52 ton/ha (2008) dan kemudian 1. Akibatnya. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bantuan berupa bedah tambak perannya cukup nyata terhadap budidaya Bandeng. produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan. Namun demikian.Peran Subsidi Perikanan Dalam kurun waktu 2007 sampai dengan 2009 tidak terjadi pertambahan luas areal tambak yang diusahakan untuk budidaya.56 ton/ha (2009). luas lahan tambak yang difungsikan relatif tetap bahkan cenderung akan berkurang karena pendangkalan yang terjadi terus menerus akibat penebangan hutan di bukit dan hutan mangrove di pesisir. meningkat menjadi 1.45 ton/ha (2007). (2) Petani tambak tidak cukup dana untuk memberi pakan secara intensif dan hanya mengandalkan pakan alami sehingga harus mengurangi padat tebar yang berpengaruh kepada produktivitas hasil. Dalam jangka panjang program ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan usaha dan kelestarian sumberdaya. Seperti yang telah dikemukakan di 103 . mengingat pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya tambak Bandeng. Berbeda dengan ikan bandeng. Dengan demikian. Inipun baru sebatas perannya terhadap pertambahan luas lahan yang dilakukan dalam tahun 2009 (240 ha). produksi dan produktivitas budidaya Rumput laut. pembinaan kelembagaan pemasaran dan kemudahan akses pasar akan lebih menjamin dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. Kondisi ini terjadi karena: (1) Petani tambak tidak cukup dana untuk merehabilitasi tambaknya yang sudah puluhan tahun digunakan dan telah terjadi pendangkalan. Demikian juga volume produksi ikan hanya meningkat 8-9%.

dan manajemen usaha. Ke depan. hal ini terjadi karena adanya serangan hama/penyakit pada bibit Rumput laut yang masih muda.bagian terdahulu. 104 . Agar mutu hasil produksi dapat tetap terjaga sampai siap dijual. Jika dikaji lebih dalam melalui perbandingan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 dapat dilihat bahwa dalam hal luasan lahan terjadi peningkatan luas sebesar 229%. peran bantuan/subsidi pada komoditas Rumput laut baru sebatas penambahan areal budidaya. sudah saatnya bantuan/subsidi dalam budidaya Rumput laut dirancang dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya. media penjemuran (para para) dan gudang penyimpanan hasil sangat diperlukan. Cara lain dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan (teknis dan non teknis) seperti teknis budidaya yang baik. Namun hal ini tidak langsung diikuti oleh peningkatan produksi yang signifikan karena ternyata produksi hanya meningkat 61%. belum berperan terhadap peningkatan produksi dan produktivitas yang merupakan muara dari program pembangunan yaitu peningkatan pendapatan usaha dan keberlanjutan usaha masyarakat yang dalam hal ini masyarakat pembudidaya Rumput laut. karena selama ini pembudidaya melakukan perbanyakan sendiri dari bibit yang mereka gunakan yang tentunya kualitas bibitnya semakin menurun. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada budidaya Bandeng. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: penyediaan bibit unggul.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful