P. 1
Bab_3

Bab_3

|Views: 1,945|Likes:
Dipublikasikan oleh Benny Osta Nababan

More info:

Published by: Benny Osta Nababan on Jan 21, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

pdf

text

original

3.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Kota Ambon Gambaran umum lokasi penelitian Luas Kota Ambon adalah 377 km2 (luas daratan sekitar 359,45 km2 ), dengan demikian luasnya meliputi hampir separuh dari luas pulau Ambon. Secara geografis, Kota Ambon terletak pada 3o – 4o Lintang Selatan dan 128o – 129o Bujur Timur yang berbatasan dengan:    Sebelah Utara : Desa Hitu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Selatan : Laut Banda Sebelah Timur : Desa Suli, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah

Sebelah Barat

: Desa Hatu, Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah

Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan, 2008 Gambar 3.1. Peta Administratif Kota Ambon Saat ini Kota Ambon dibagi dalam lima kecamatan, yaitu: Kecamatan Teluk Ambon, Teluk Ambon Baguala, Sirimau, Nusaniwe, dan Leitimur Selatan. Jumlah desa atau kelurahan yang tersebar di kelima kecamatan tersebut sebanyak 50 desa/kelurahan. Berdasarkan luas wilayahnya, maka Kecamatan

12

Teluk Ambon merupakan kecamatan terluas, yaitu 93,68 km2. Sebaliknya, Kecamatan Teluk Ambon Baguala menjadi kecamatan dengan luas wilayah paling keci, yaitu 40,11 km2. Dengan batas wilayah yang demikian maka perairan Kota Ambon dipengaruhi oleh dinamika laut Banda. Dari 50 Desa/Kelurahan, maka 34 Desa/Kelurahan (68%) berada pada kawasan pesisir, sedangkan desa-desa lainnya terletak di daerah pegunungan dan jauh dari pantai. Desa-desa di daerah pegunungan tersebut memiliki ”hak petuanan” di kawasan pesisir dan laut. Berdasarkan Laporan Statistik PPN Ambon (2009), jumlah penduduk Kota Ambon yang bermata pencaharian tergantung pada perikanan hanya sebesar 1,4 persen dengan jumlah nelayan dan rumah tangga perikanan (RTP) masingmasing sebanyak 3.796 jiwa atau 3.378 rumah tangga. Nelayan Kota Ambon dapat dikatakan sebagai nelayan sub-sisten. Jumlah nelayan terbesar terdapat di Kecamatan Nusaniwe (34,61%) yang terkonsentrasi di Desa Latuhalat (Tabel 3.1). Latuhalat menjadi sentra kegiatan penangkapan karena kondisi perairan yang menunjang produksi perikanan tangkap. Namun, beberapa desa pesisir lainnya memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi untuk budidaya perikanan, pengolahan, eko-wisata laut. Tabel 3.1. Jumlah Nelayan dan RTP Kota Ambon Tahun 2008
No. 1. 2. 3. 4. 5. Kecamatan Teluk Ambon Teluk Ambon Baguala Sirimau Leitimur Selatan Nusaniwe Jumlah Jumlah Nelayan 677 819 372 614 1,314 3,796 Jumlah RTP 593 725 293 547 1,22 3,378

Sumber : Dinas Perikanan dan Kelautan Kota Ambon, 2008 Usaha perikanan di Ambon terdiri dari usaha perikanan komersial dan usaha perikanan rakyat. Usaha perikanan komersial ditunjukkan oleh beroperasinya perusahaan besar yang berpangkalan di Kota Ambon

(fishingground penangkapan adalah di perairan Maluku dan Papua). Sementara itu, usaha perikanan rakyat pada umumnya terdiri dari kapal ikan ukuran kecil

13

sampai ukuran 30 GT.

Berkembangnya usaha perikanan didaerah tersebut

berpotensi mempengaruhi ketersediaan ikan. Saat ini di Ambon semakin banyak tertangkap ikan tuna ukuran kecil (baby tuna), ini merupakan pertanda stok ikan semakin berkurang. Di Kota Ambon terdapat Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Ambon dan Pusat Pendaratan Ikan (PPI) yang tesebar pada beberapa lokasi. Kapal yang berkunjung ke PPN Ambon sangat bervariasi, baik jenis alat tangkapnya maupun ukuran kapalnya. Selain kapal penangkap ikan, ada pula kapal pengangkut yang berperan sebagai kapal pengumpul ikan dari beberapa kapal penangkap ikan yang berada di tengah laut. Kapal pengangkut ikan ini juga berfungsi sebagai penyuplai bahan bakar dan perbekalan untuk biasanya memiliki trip hingga 6 bulan. Jumlah kapal pengangkut yang singgah di PPN Ambon, yaitu sebanyak 275 kapal atau 32 persen dari total kapal yang berkunjung. Ukuran kapal pengangkut antara > 10—1000 GT yang didominasi oleh ukuran 51—100 GT. Sementara itu, kapal penangkap dengan alat tangkap pukat tarik ikan, pukat tarik udang ganda, dan huhate adalah kapal yang paling banyak berkunjung di PPN Ambon masing-masing sebanyak 26 persen, 17 persen, dan 7 persen dari jumlah kapal yang berkunjung ke PPN Ambon. Jenis ikan yang dominan didaratkan selama tahun 2009 adalah ikan pelagis kecil, seperti: ikan gulamah/tigawaja, layang, layur, dan ekor kuning, sedangkan dari jenis non-ikan adalah cumi-cumi (Gambar 3.2). Ikan gulamah/tigawaja adalah ikan yang paling banyak didaratkan, mencapai 61,24 persen dari total ikan yang didaratkan. Gambar 3.2. menunjukkan ikan yang didaratkan didominasi oleh ikanikan kecil yang umumnya banyak dijumpai di pasar lokal. Ironisnya, Kota Ambon sangat kaya akan ikan-ikan pelagis besar, seperti ikan tuna, tongkol, dan cakalang serta ikan karang seperti lalosi. Hal ini menunjukkan bahwa hasil tangkapan berupa ikan pelagis besar tidak didaratkan di PPN, tetapi langsung dijual ke awak kapal penangkap yang

14

Penyaluran logistik air bersih.2.perusahaan-perusahaan sebagai komoditas ekspor. 2009 Gambar 3. misalnya. (Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan. es. Padahal. dermaga laut dan pelabuhan tersedia 19 buah untuk melayani angkutan penumpang dan barang. Sebaliknya. Dari hasil pengamatan. Namun. 2008) Penyaluran logistik untuk kapal penangkap ikan yang dilakukan oleh PPN Ambon meliputi air bersih. Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon. nelayan yang menangkap ikan tuna langsung membawa hasil tangkapannya ke perusahaan yang menawarkan harga tertinggi agar keuntungan yang nelayan peroleh besar. PPN Ambon kurang dilengkapi dengan sarana dan prasarana lainnya. Persentase Produksi menurut jenis ikan dominan Selain sebagai tempat pendaratan ikan serta berlabuhnya kapal-kapal penangkap dan pengangkut ikan . berasal dari dalam dan luar pelabuhan. Dari hasil pengamatan. sedangkan kebutuhan BBM/solar sepenuhnya berasal dari luar pelabuhan. Hal inilah yang mendorong sulitnya nelayan mendapatkan kebutuhan logistiknya secara cepat dengan harga yang terjangkau. Kebutuhan nelayan akan air bersih dapat dapat disuplai dari dalam PPN Amon. Permasalahan lainnya yang dihadapi adalah perusahaan kapal mendapat kesulitan untuk melakukan docking karena fasilitas yang tersedia hanya melayani ukuran kapal di bawah 500 GT. kebutuhan es seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam pelabuhan karena 15 . keterbatasan infrastruktur dalam pelabuhan membuat nelayan harus mencari sumber logistik di luar pelabuhan. PPN Ambon tidak memiliki stasiun pengisian bahan bakar berupa SPDN atau SPBB sebagai agen resmi dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar kapal nelayan. dan BBM/solar.

292 17.5 603.4 830 1.031. 2009 Produksi ikan pada tahun 2009 adalah 22.242 1.000) 5.604.2 2.757 milyar.1 1.2.700 1.617.2 26.7 1.898.5 Kebutuhan Logistik Es Balok (Ton) BBM/Solar (Ltr) 13 1.252.30 3 1. tongkol.770 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon.9 7.210.851.50 16.453 6.7 857.5 3. Tabel 3.pelabuhan memiliki pabrik es yang produksinya cukup memenuhi kebutuhan nelayan Kota Ambon.200 9.927.5 29.50 857. layang.000 23.710.3.343.320 15.422. Tabel 3.50 16.800 300. dan tuna dengan nilai produksi terbesar berasal dari ikan cakalang.1 4.000 659.80 9.279. cakalang. Volume dan nilai produksi perikanan per jenis ikan tahun 2009 Jenis ikan Cakalang Kembung Lalosi Teri Layang Selar Tongkol Tuna Lainnya Jumlah Produksi Volume (Ton) Nilai (Rp.2 2.186.7 1.7 ton dengan total nilai sebesar Rp72.941.741.810 147.845. dan layang.4 Sumber: Laporan Statistik PPN Ambon.30 16.200 72.6 1.000 620.981.343.369. Jenis ikan yang paling besar sumbangannya terhadap total produksi adalah ikan tongkol.5 1.757.526 9.40 11. Jumlah logistik kapal penangkap ikan di PPN Ambon pada tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Air (Ltr) 368 903.413.3 696.016 13 2.724.8 14.607.50 1.6 2. Hal ini disebabkan oleh karena ikan-ikan tersebut merupakan komoditas ekspor utama dengan harga jual yang cukup tinggi di pasar luar negeri.927.2 2.016 16.8 22.7 35. 2009 16 .3 3.550 5.312 985 1.1 400.005.00 17 1.

4 persen nelayan Kota Ambon menggunakan alat tangkap tersebut. Namun. huhate. Kapal tanpa motor lebih banyak digunakan dibandingkan perahu motor tempel dan kapal motor. panah. dan pukat pantai. dan rumpon. alat tangkap yang paling banyak digunakan adalah pancing tangan (56%). antara lain hand line.Armada penangkapan yang digunakan adalah perahu tanpa motor (perahu semang).8%). jala. purse seine.3%). rawai. jaring insang. juga tergolong banyak karena ada 10. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. dari sisi manfaat dapat melibatkan banyak nelayan dalam operasional alat tangkap tersebut.3. Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Armada penangkapan yang mengoperasikan alat tangkap pancing tangan (hand 17 . seperti bubu. jaring angkat. jaring angkat (14. alat tangkap lainnya. perahu motor tempel (outboard engine) dan kapal motor dengan mesin dalam (inboard engine). 2009 Gambar 3. pancing tonda. Prosentase kapal motor dengan mesin sebagai armada penangkapan hanya digunakan oleh satu persen nelayan Kota Ambon. Alat tangkap huhate (pole and line) dan giob atau bobo (purse seine) adalah jenisjenis alat tangkap yang sedikit sekali penggunaannya karena sarana penangkapan ini tergolong mahal. jaring insang (9. Armada penangkapan ikan di Ambon tahun 2009 Jenis alat tangkap yang digunakan nelayan Kota Ambon sangat bervariasi. tangguk. Selain itu. yaitu sebanyak 67 persen dan sisanya 32 persen didominasi oleh perahu dengan motor tempel. dan pancing tonda (7.3%).

Ukuran kapal tersebut menyebabkan nelayan tidak mampu menangkap ikan di lautan lepas karena ukuran kapal tidak mampu melawan arus. jenis alat tangkapnya.4. Berdasarkan kepemilikan kapal 70 persen responden memiliki kapal dengan ukuran ≥5GT . karena jika angin kencang tidak terjadi di seluruh wilayah perairan karena terhalang oleh pulau dan gunung di sekeliling teluk.<10GT dan sisanya (30 persen) memiliki kapal berukuran < 5 GT. dan bahan bakar yang digunakan dapat dipelajari dari Tampilan Tabel 3. baik ukuran panjang kapal dan kekuatan mesinnya. Untuk itu. Hal ini terbukti dengan samanya jumlah trip hari untuk musim angin barat dan angin timur 18 . Nelayan Ambon tidak terpengaruh oleh musim. dan angin yang cukup besar. dan bottom gill net. Karakteristik Usaha Responden Karakteristik responden menurut kepemilikian kapal. tramel net. Dengan demikian. Kondisi ini memang memaksa nelayan untuk menggunakan kapal dengan ukuran panjang dan lebar kapal yang berbeda. nelayan cenderung mudah berpindah daerah penangkapan (fishing ground) sehingga kegiatan penangkapan tidak terganggu dengan adanya perubahan musim angin. Daerah penangkapan ikan umumnya berada di dalam teluk dan pada perairan di sekitar teluk Ambon. bantuan kapal yang diterima nelayan biasanya tidak dapat langsung digunakan karena harus dimodifikasi terlebih dahulu. misalnya gill net. gelombang.line) umumnya juga menggunakan alat tangkap lainnya.

Tabel 3.4. Karakteristik responden dari aspek teknis
Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT
< 5 GT

Jumlah 9 21 0 0 30 9 8 13 30 25 5 30

Prosentase 30 70 0 0 100 30.00 26.67 43.33 100 83 17 100

≥5GT - <10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT - <100GT Jumlah Jenis Alat Tangkap Pancing tonda Purse seine Gillnet Jumlah Bahan Bakar yang digunakan Bensin Minyak tanah Jumlah

Sumber: Data primer diolah, 2010 Tabel 3.5 menunjukkan pendapatan dan Pengeluaran dari kegiatan penangkapan ikan. Pada nelayan pancing tonda, penerimaan diperoleh dari penjualan ikan tuna pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp1.707.111. Sementara itu, biaya operasional yang dikeluarkan adalah sebesar Rp 593.611 yang dialokasikan untuk membeli bensin, oli, es, ransum, dan biaya di darat berupa perawatan kapal. Dengan demikian, keuntungan yang diterima nelayan pancing tonda adalah sebesar Rp1.113.500/trip. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 50% untuk pemilik kapal, 25% untuk nahkoda dan 25% lagi untuk ABK. Pada prakteknya, keuntungan tersebut dibagi dua untuk pemilik dan ABK mengingat biasanya kapal pancing tonda bekerja dengan anggota keluarganya sendiri sehingga bagian ABK adalah Rp 556.750 pada trip terakhir. Untuk kapal purse seine, keuntungan yang diperoleh jauh lebih besar dibandingkan dua jenis alat tangkap lainnya. Penerimaan yang diterima pada trip terakhir rata-rata sebesar Rp3.054.085 dari penjualan ikan kawalinya Rp885.000 dari nilai ikan momar Rp2.973.000 sehingga total penerimaannya adalah Rp3.858.000. Dengan biaya operasional sebesar Rp803.915 maka besarnya

19

keuntungan adalah Rp3.054.085. Keuntungan ini selanjutnya dibagi 40% untuk pemilik kapal, 30% perawatan, dan perbaikan kapal, 27% untuk ABK, dan 3% untuk nahkoda. Banyaknya ABK yang bekerja di sebuah kapal purse seine membuat penerimaan riil yang diperoleh ABK justru kecil dibandingkan dengan ABK di kapal pancing tonda, yaitu ± Rp41.270 untuk seorang ABK. Tabel 3.5. Pendapatan dan Pengeluaran Kegiatan Penangkapan Ikan
Uraian Penerimaan (Rp) Tuna Selar (Kawalinya) Layang (Momar) Tongkol Kembung (Lema) Jumlah Biaya operasional (Rp) Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Ransum biaya di darat Total Biaya Operasional Keuntungan (Rp) Pancing tonda (< 5 GT) 1,707,111 885,000 2,973,000 1,200,000 288,400 1,488,400 Jenis Alat Tangkap Purse seine (≤ 5-10 GT) Gillnet (≤ 5-10 GT)

1,707,111

3,858,000

0 322,222 0 66,444 41,556 38,389 125,000 593,611 1,113,500

0 118,125 128,250 116,875 13,200 105,625 321,840 803,915 3,054,085

75,000 69,688 15,533 55,714 98,000 15,750 53,333 308,018 1,180,382

Sumber: Data primer diolah, 2010 Alat tangkap gillnet rata-rata menangkap ikan tongkol dan lema sehingga penerimaannya dari kedua jenis ikan tersebut adalah Rp1.488.400. Selain itu, biaya operasional yang dikeluarkan juga cenderung rendah karena kapal gillnet tidak banyak membeli oli, minyak tanah, dan ransum sehingga total biaya operasionalnya adalah Rp308.018. Rendahnya biaya operasional ini disebabkan oleh karena nelayan gillnet memiliki trip penangkapan setiap hari sehingga biaya ransum dan biaya bensinnya rendah. Setelah dikurangi dengan biaya operasional tersebut maka besarnya keuntungan sebesar Rp1.180.382. Selanjutnya, sistem

20

bagi hasil dari keuntungan tersebut adalah 60% untuk pemilik, 6% untuk nahkoda, dan 34% untuk ABK. Seperti halnya kapal purse seine, banyaknya ABK yang bekerja membuat bagian keuntungan yang diterima oleh seorang ABK sedikit, yaitu ± Rp40.000.

Bantuan Usaha Perikanan Bantuan yang diberikan oleh pemerintah dapat dikatagorikan sebagai subsidi. Namun bantuan ini sifatnya tidak reguler karena diberikan pada keadaan tertentu. Bantuan ini adalah bentuk intervensi pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah untuk membantu berjalannya usaha penangkapan ikan. Bantuan yang diberikan dapat bersifat langsung berupa uang tunai atau peralatan tangkap yang langsung diserahkan kepada kelompok nelayan, misalnya subsidi BBM atau bantuan kapal dan alat tangkapnya bagi kelompok nelayan terpilih. Ada pula subsidi yang diberikan secara tidak langsung, misalnya berupa penyediaan fasilitas untuk memperlancar usaha penangkapan. Intervensi yang intensif kepada nelayan lebih banyak dilaksanakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Maluku dan Kota Ambon. Akan tetapi, bentuk intervensinya lebih bersifat pemberdayaan nelayan yang dilakukan sebagai bagian dari upaya kolektif bersama seluruh masyarakat pesisir untuk pengelolaan ekosistem, sumberdaya alam kelautan dan perikanan untuk menjamin kegiatan nelayan itu secara berkelanjutan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon dan Provinsi Maluku banyak menyediakan bantuan

peralatan penangkapan yang diberikan dalam bentuk paket barang dan uang dengan mekanisme yang telah diatur dan disepakati untuk mendukung usaha nelayan. Bantuan yang bersifat pemberdayaan masyarakat ini jumlahnya sangat kecil, namun sangat membantu dalam pengembangan usaha perikanan yang ada disekitar teluk Ambon. Bantuan tersebut umumnya menggunakan dana yang berasal dari angggaran pemerintah dan sifatnya sangat temporer.

21

1. 3.Tabel 3. budidaya laut. bentukbentuk pemberdayaan kepada nelayan sangat bervariasi dalam aktivitas dan lokasi usaha. serta yang mempunyai peranan selama ini dalam upaya menyejahterakan masyarakat. 2007 7. 2006 6. Beberapa desa dan kelurahan yang berpotensi dikembangkan untuk usaha perikanan tangkap.6. 2009 Berdasarkan informasi masyarakat dan pengamatan di lapangan. 4. wisata bahari dengan pendekatan terpadu dan menerapkan sistem konservasi yang tersebar dalam lima kecamatan 22 . 2003 2004 2005 5. 2008 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Pemberian bantuan ke depan perlu dilakukan dengan pertimbangan untuk memaksimalkan kegiatan dan kelembagaan masyarakat yang sedang berjalan (bukan dengan membentuk kelompok-kelompok baru). Bantuan Melalui Pemberdayaan Masyarakat Perikanan di Kota Ambon Tahun 2002—2008 No. Tahun 2002 Jenis Bantuan Rumpon Gilnet Kios BBM Puse seine Bodi BBM&Alat Papalele ikan Rumpon Rumpon Papalele ikan Papalele ikan Gilnet Rumpon Rumpon Papalele ikan Gilnet Pengolahan Pancing tonda Bagan Kios Bubu Gilnet Pancing tonda Rumpon Papalele ikan Jumlah kelompok penerima bantuan 4 5 1 2 1 1 10 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 3 2 1 1 1 7 1 1 Sumber bantuan APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN APBN Bentuk bantuan Uang Uang/Barang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang/Barang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang Uang 2.

Teluk Ambon Baguala 5. dan PT perikanan Nusantara . alat pancing .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Tabel 3. huhate dan giob/bobo . (beberapa desa seperti Latta. alat pancing.Alat tangkap : Jaring insang. wisata khusus alam darat dan laut .Penangkapan ikan : Jaring insang. Bagan. Waiheru.Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie. Demikian juga masyarakat dari desa tertentu yang dapat dikembangkan sebagai desa pengolahan ikan dan non-ikan.Lokasi kelurahan Pandan Kasturi. giob/bobo. huhate . pancing tonda. Bentuk-bentuk intervensi pemerintah daerah dalam kegiatan penangkapan di Kota Ambon No.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . dengan isu utama adalah pencemaran. huhate. Laha dan Tawiri .Pengembangan wisata rekreasi massal. Halong di waktu lampau terkenal sebagai nelayan pole and line yang tangguh) . dengan konservasi.7. 1. Lateri.Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . alat pancing. ilmiah serta “eco-tourism” . Halong dan Latta serta kelurahan Lateri . Hative Besar. Nania. . melalui pendekatan pengelolaan ekosistem Daerah Aliran Sungai dan mangrove.Pariwisata massal berupa rekreasi pantai dan secara khusus wisata selam di kawasan kapal tenggelam di Waiame. Kecamatan Nusaniwe Bentuk Intervensi . dan PT perikanan Nusantara . . wisata selam.Lokasi desa-desa Latuhalat. dan PT perikanan Nusantara . Galala. Rumpon.Alat tangkap seperti jaring insang. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . NegeriLama.Budidaya laut (ikan). desa-desa Batu Merah. Seilale. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Leitimur Selatan 23 . dan Nusaniwe .Lokasi desa-desa Passo.Budidaya laut (ikan dan non-ikan).Lokasi Desa-desa Rumahtiga. melalui pendekatan pengelolaan dan konservasi.Pemasaran melalui Tempat Pelelangan Ikan (PPI) di Erie.dalam tabel di bawah ini. Sirimau 3.Alat tangkap : pancing tonda.Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN).Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Teluk Ambon 4. 2. Hative kecil. . dengan isu utama adalah pencemaran . dan PT perikanan Nusantara . jaring insang.Alat tangkap: Jaring insang.

Hukurila .Alat dan metoda pengolahan ikan yang berkualitas . Lokasi pengecer juga cukup jauh sehingga nelayan harus membawa jerigen atau botol kaca sebagai wadahnya. Tidak tersedianya SPDN/SPBN menyebabkan nelayan yang menjadi responden mengalami kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini mereka beli dari pengecer dengan harga Rp4.Pengembangan pariwisata massal untuk rekreasi dan secara khusus wisata ilmiah. kebutuhan bahan bakar berupa bensin dalam satu trip cukup besar. Selain itu. Kilang. siput lain) dengan pendekatan pengelolaan dan konservasi serta mengembangkan teknologi untuk pembenihan dan pemulihan stok. Leahari.Budidaya laut (rumput laut. subsidi BBM kepada nelayan tradisional yang menggunakan kapal berukuran < 5—10 GT dengan alat tangkap pancing tonda dan purse seine dapat dikatakan tidak ada. Padahal.No.Lokasi Desa-desa Hutumuri.000 per liter. Naku.500—Rp6. faktor penyebab lainnya karena armada penangkapan yang digunakan nelayan responden adalah kapal dengan motor tempel yang berbahan bakar bensin. . 24 . sedangkan subsidi BBM hanya diberikan untuk armada penangkapan yang berbahan bakar solar. batu laga. lola. Hal ini disebabkan oleh tidak tersedianya SPDN atau SPBB sebagai penyalur BBM bersubsidi bagi nelayan di PPN Ambon. sedangkan kapal purse seine rata-rata memerlukan bensin sebanyak 24 liter dan minyak tanah 37 liter. 2008 Peran Subsidi Perikanan Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh. dan PT perikanan Nusantara Sumber: Profil Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Kota Ambon. Kecamatan Bentuk Intervensi . teripang. Untuk kapal pancing tonda saja yang melakukan one day fishing rata-rata memerlukan 64 liter bensin. selam antara Hukurila dan Hutumuri .Pemasaran melalui Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Hatalae.

707. Apabila dibandingkan dengan harga BBM tanpa subsidi maka besarnya biaya operasional per trip adalah Rp401.Tabel 3.000 Gillnet ≥ 5-10 GT 1 hari 12.018 Rp401. dan 5 liter. 20 liter.768 yang artinya nelayan harus mengeluarkan biaya lebih besar dibandingkan dengan penggunaan BBM bersubsidi meskipun porsi biaya solar terhadap biaya operasional tanpa subsidi BBM atau dengan subsidi BBM hampir sama.400 Sumber: Data primer diolah. Bertambah besarnya biaya operasional tersebut berdampak pada penurunan keuntungan per trip yang diperoleh nelayan yang bisa mencapai 8 persen.Bensin .500 Berbeda dengan kedua armada penangkapan dengan dua alat tangkap di atas.8. bensin.611 Rp1.858.111 24 liter 37 liter Rp803. 2010 * Harga BBM di eceran ** Harga BBM tanpa subsidi = Rp7. Dengan asumsi harga solar non-subsidi adalah Rp7. Selain itu. dan minyak tanah yang masing-masing sebanyak 12.018. yaitu sebesar 24 persen.5 liter.500 maka solar yang digunakan responden dengan kapal gillnet termasuk ke dalam solar bersubsidi dengan harga Rp6.5 liter 20 liter 5 liter Rp308.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM* Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM** Rata-rata nilai hasil tangkapan Jenis alat tangkap Pancing tonda Purse seine < 5 GT ≥ 5-10 GT 1 hari 1 hari 64 liter Rp593. Analisis biaya dan pendapatan menurut jenis alat tangkap Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip Rata-rata volume (per trip) .768 Rp1.Solar .915 Rp3. kapal dengan alat tangkap gillnet menggunakan solar.488. Penurunan pendapatan tersebut bagi nelayan bagi responden menunjukkan bahwa usaha perikanan tersebut memiliki prospek keberlanjutan yang baik walaupun BBM yang digunakan tanpa di Subsidi.000 per liter sehingga biaya operasional per trip adalah Rp308. pada wilayah Ambon ikan yang terdapat di wilayah perairan Ambon masih dapat 25 .

sejak Maret 2009 hingga sekarang subsidi BBM hanya disalurkan ke tiga perusahaan. PT Samudra Sakti Sepakat baru menerima subsidi BBM sejak bulan Mei 2009 hingga sekarang dengan jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dua perusahaan lainnya. baik di tahun 2009 (65%) maupun pada tahun 2010 (60%) dari total subsidi BBM yang disalurkan PPN Ambon. dan PT Samudra Sakti Sepakat. subsidi BBM justru disalurkan untuk armada penangkapan dari 7—10 perusahaan besar di Ambon sejak tahun 2007 hingga sekarang. surat rekomendasi ini dipelajari oleh Pertamina sehingga pemberian BBM bersubsidi tidak selalu sebanyak yang diminta dan direkomendasikan. Berdasarkan data dalam Tabel 13. Penyaluran BBM bersubsidi ini dikelola oleh PPN Ambon yang berwenang mengeluarkan surat rekomendasi kepada pihak Pertamina berdasarkan surat permohonan dari perusahaan.mendukung berbagai armada penangkapan yang terdapat pada kawasan tersebut. yaitu PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry. Namun. PT Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry memperoleh BBM bersubsidi paling banyak. PT Cilacap Samudera Fishing Industry. Setelah Pertamina menyetujui permohonan tersebut. Selanjutnya. pengisian solar akan dilakukan di dermaga tempat kapal berlabuh dengan menggunakan mobil tanki dari Pertamina sehingga perusahaan harus mengeluarkan biaya sewa mobil tanki di samping membayar harga BBM yang dibeli. 26 . Sementara itu. Namun demikian.

1°35'39" LU dan 125°1'43" 125°18'13" BT. Arabikatama Khatulistiwa Fishing Industry PT.35 Ha. Luas wilayah Kota Bitung 31.275 180 175 200 150 205 255 205 130 175 255 1.2. yang batas-batas wilayahnya sebagai berikut:  Sebelah Utara dengan Kecamatan Likupang Kabupaten Minahasa Utara  Sebelah Timur dengan Laut Maluku  Sebelah Selatan dengan Laut Maluku 27 .930 100 75 50 125 125 80 75 25 50 75 780 20 25 40 20 20 70 25 45 265 280 250 270 300 370 355 300 225 250 375 2.350. Samudera Sakti Sepakat Jumlah Tahun 2009 Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jumlah Tahun 2010 Januari Februari Maret April Mei Juni Jumlah 150 95 100 125 125 170 765 25 25 75 50 70 70 315 20 25 50 45 25 30 195 195 145 225 220 220 270 1. Rekapitulasi BBM bersubsidi yang dikeluarkan PPN Ambon tahun 2009—2010 Jumlah BBM bersubsidi (KL) Bulan PT. 2010 3.975 Sumber: PPN Ambon diolah.9. Kota Bitung Gambaran Umum Lokasi Penelitian Kota Bitung terletak pada 1°23'23" .Tabel 3. Cilacap Samudera Fishing Industry PT.

309.65 6. Desa serta Luas Wilayah Kota Bitung No. 4. Jumlah penduduk Kota Bitung pada tahun 2008 diestimasikan sebesar 178. Sebelah Barat dengan Kecamatan Kauditan Kabupaten Minahasa Utara Secara administratif wilayah Bitung dibagi dalam 8 kecamatan dan 69 kelurahan.270 jiwa berarti setiap tahun rata-rata pertumbuhan penduduk mencapai 3%.80 3.766.70 3.82 100 Sumber : Kantor Statistik Bitung (2010) Dilihat dari aspek topografis.35 % 50.553.56 8.03% berombak. 6. keadaan tanahnya sebagian besar daratan Bitung atau 45.10 .06% berombak berbukit dan 32. sehingga secara fisik dapat dikembangkan sebagai wilayah perkotaan.09 10.083.18% merupakan dataran landai serta sisanya 18. Dibandingkan hasil Sensus Penduduk terakhir yakni tahun 2000 yang berjumlah 140. Tabel 3.10. 28 .00 516. perdagangan dan jasa serta pemukiman. 3.73% bergunung. merupakan daratan yang relatif cukup datar dengan kemiringan 0 – 15 derajat. 1. 5. Kecamatan Ranowulu Matuari Girian Mandidir Maesa Aertembaga Lembeh Selatan Lembeh Utara Jumlah Kelurahan 11 8 7 8 8 10 7 10 69 Luas Daerah (ha) 15.14 8. dengan rincian seperti pada tampilan Tabel 3. Kecamatan.64 3. industri.350. 8.266 jiwa.396.30 2.55 2. 2.00 2.00 31. 7.756. Hanya 4. Di bagian Timur mulai dari pesisir pantai Aertembaga sampai dengan Tanjung Merah di bagian Barat.00 969.26 10.83 1.

Dilihat dari sebaran penduduk per kecamatan sebagian besar penduduk Bitung terkonsentrasi di Kecamatan Maesa. Armada penangkapan ikan dilihat dari jumlah kapal selama 10 tahun terakhir menunjukkan penurunan dengan rata-rata penurunan 4. Kapal penangkap ikan dengan kategori 11-30 GT atau kapal yang memperoleh izin pada tingkat propinsi berjumlah sebanyak 9% dari 29 .81% per tahun dan peningkatan kapal motor dengan rata-rata 20. potensi penangkapan di Sulawesi Utara pada perairan 12 mil seluas 314.39% per tahun. Pengurusan administrasi seperti surat izin usaha perikanan. Kapal motor dengan kategori 6-10 GT yang terdapat di Bitung sebanyak 10%.98 km2 dan produksi 125. maka kepadatan penduduk pada tahun 2008 mencapai sekitar 569 jiwa per kilometer persegi. kapal motor juga mengalami peningkatan dengan jumlah yang lebih kecil dibandingkan penurunan jumlah perahu tanpa motor.9 ton per tahun. Karakteristik Usaha Perikanan Kota Bitung Bitung memiliki sumber daya perikanan yang cukup potensial. surat izin penangkapan ikan untuk kapal kurang dari 10 GT dilakukan di tingkat Kota Bitung. Peningkatan jumlah perahu motor temple rata-rata sebesar 32. Selain perahu motor temple. Penurunan jumlah perahu tanpa motor ini disebabkan karena sebagian nelayan telah memiliki perahu dengan motor temple. Penurunan ini terlihat karena adanya penurunan jumlah perahu tanpa motor dalam jumlah yang signifikan. Ditinjau dari kategori kapal.5035 km persegi. Angka ini tergolong padat sebagaimana daerah perkotaan lainnya. perahu tanpa motor yang digunakan untuk menangkap ikan sebesar 40% dan kapal motor < 5 GT sebesar 5% dari total jumlah kapal yang ada. Penurunan jumlah perahu tanpa motor sejalan dengan meningkatnya jumlah perahu motor temple. Pada perairan zona ekonomi eksklusif seluas 190 km2 dan produksi 196. sehingga total jumlah amada penangkapan menunjukkan penurunan. Jika dihubungkan dengan luas wilayah Kota Bitung yang 313.9 ton per tahun.81% per tahun.

471 1.229 2.total jumlah kapal yang terdapat di Kota Bitung.621 1.867 2. Kapal kurang dari 5 GT dengan alat tangkap hand line mampu melakukan penangkapan di ZEEI dengan ikan hasil tangkapan tuna berukuran lebih dari 35 kg per ekor.477 1.958 1.472 1.367 2.029 700 690 525 PERAHU MOTOR TEMPEL (3) 597 630 727 121 622 642 520 510 510 313 KAPAL MOTOR (4) 155 126 104 274 275 291 409 411 413 448 JUMLAH (5) 2.613 1. 2010 Alat tangkap yang dominan di Bitung adalah hand line yaitu alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan tuna. Tabel 3.11. Perkembangan jumlah perahu/kapal penangkap ikan di Bitung.470 1. alat tangkap yang banyak dijumpai di Kota Bitung adalah alat tangkap purse seine untuk menangkap ikan pelagis kecil dan alat tangkap pole and line untuk menangkap ikan cakalang.227 2.286 Sumber: dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Selain alat tangkap hand line. 2000-2009 PERAHU TANPA TAHUN (1) 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 MOTOR (2) 1.303 1.456 1. Kapal dengan kategori lebih dari 30 GT terdapat di Kota Bitung sebanyak 35%.523 1. 30 .472 1.

tahun 2009 KATEGORI KAPAL Tanpa Motor ALAT TANGKAP Hand Line Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Bagan Apung Set Net < 5 GT Sero Tanam Pole and line Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 6 .10 GT Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine 11 .12.050 50 250 5 100 1 1 2 4 1 8 32 67 387 63 441 50 1.773 33 660 19 475 5 125 9 135 24 120 24 31 .Tabel 3.050 525 1.250 16 64 3 18 132 1. Jumlah kapal dan jumlah nelayan menurut jenis alat tangkap di Bitung.30 GT Pole and line Tuna long line Light Boat Pengangkut/Penampung JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 525 1.

286 8. Pada alat tangkap purse seine dan pole and line. 32 .470 Jumlah nelayan yang terlibat di dalam sebuah kapal penangkap ikan tergantung dari jenis alat tangkap yang digunakan. Sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap hand line memerlukan ABK lebih banyak untuk ukuran kapal yang lebih besar.755 18 360 65 1.505 13.460 Jumlah Tuna Hand Line/Hand Line Purse Seine Pole and line Tuna long line > 30 GT Bottom long line Pukat Ikan Gill Net Light Boat Pengangkut/Penampung Jumlah Total 448 1. Kapal dengan alat tangkap hand line yang berukuran kurang dari 10 GT hanya memerlukan ABK sebanyak 7 orang.KATEGORI KAPAL ALAT TANGKAP JUMLAH KAPAL JUMLAH NELAYAN 240 114 1.175 98 1. rata-rata jumlah nelayan yang terlibat sebanyak 25 orang per kapal per trip. sedangkan untuk kapal dengan alat tangkap yang pada ukuran lebih dari 10 GT memerlukan ABK sebanyak 20 orang.6 ha dan reklamasi 1 ha. Selain kapal penangkap ikan.470 16 320 16 400 23 690 1 5 164 2. kapal pengangkut yang terdapat di Kota Bitung berjumlah sekitar 2% dari total kapal. Dalam pemanfaatan sumber daya perikanan.625 47 1. Bitung ditunjang oleh sebuah Pelabuhan Perikanan Samudera dengan luas 4.

13.581 230 226 366 24.00 m LWS dan dermaga 2 sepanjang 1. Kunjungan kapal diatas 50 GT juga mengalami peningkatan.101 719 718 216 21. Tabel KATEGORI DAN 2005 UKURAN KAPAL Jumlah (unit) PTM Motor Tempel < 10 GT 10 .494 24 2 1. Meningkatnya jumlah kunjungan kapal diatas 50 GT menunjukkan semakin banyaknya jumlah kapal yang beraktivitas di PPS Bitung.877 954 777 1. 2010 33 .dermaga 1 sepanjang 1. Jumlah kunjungan kapal di PPS Bitung.50 GT MOTOR 50 .357 150 354 1.202 11.267 539 499 1. es dan air bersih. Jalan utama PPS Bitung 1.465 677 417 206 20.660 2006 2007 2008 2009 3. Kunjungan kapal di PPS bertujuan untuk melakukan pembongkaran ikan dan juga untuk memuat perbekalan seperti BBM. sedangkan pada tahun 2009 jumlah kapal yang sering berkunjung adalah kapal motor tempel.432 3.200 GT > 200 GT 86 29 3 1.637 12.30 GT KAPAL 30 .100 GT 100 .648 m2. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kualitas kapal. 2005-2009 Sumber : Profil PPS Bitung.300 2. Pada tahun 2005 jumlah kapal yang paling sering berkunjung adalah kapal tanpa motor.720 9.764 m bobot kapal 30-600 ton dengan kedalaman -5.891 567 305 19 59 266 145 67 15.254 22.702 8.130 9.352 127 215 1. baik dilihat dari jumlah kapal dan juga ukuran kapal.610 m untuk bobot kapal 5-30 ton dengan kedalaman -1. dari kapal tanpa motor menjadi kapal motor tempel.5 m LWS.215 6. Jumlah kapal yang berkunjung ke PPS bitung mengalami peningkatan yang cukup signifikan dari tahun 2005.502 10.952 10.20 GT 20 .

hal ini bertujuan untuk mempermudah proses pemuatan es ke kapal-kapal ikan yang akan melakukan penangkapan. Penyaluran air bersih untuk kebutuhan kapal penangkapan merupakan salah satu fasilitas yang dimiliki dalam kawasan PPS Bitung.000 2.14. Cold Storage Penjualan Suku Cadang.000 1.000 168. Pangow Jasa Wartel “Aldin” HIPPBI UD. Prosesing Plant Prosesing Ikan dan Cold Storage SPBN Tipe. Nama perusahaan yang terdapat di PPS Bitung.32 81 40 565. Komegoro PT. Wailan Pratama PT.92 72.000 500 1. dan Unit Pengolahan Ikan UKM Kantor Administrasi 34 .000 1.50 1. Beberapa pabrik es juga dibangun di areal PPS Bitung.556. Etmiko Sarana Laut PT. Lautan Bahari Sejahtera PT. Kelana Djaya Abadi CV.20 49. Caria Ch. Mikaindo Abadi Cemerlang Daeng Umar Genda Dra.000 616 600 4.60 Usaha Solar (SPBB) dan Air Pengolahan dan Cold Storage Prosesing ikan segar dan Cold Storage Pabrik es. Sari Tuna Makmur PT. Bitung Bahari Sejahtera Luas Lahan (M²) 927 1. A SPDN (BBM Solar) Pabrik Pengolahan Ikan Pabrik Prosesing Fillet Ikan Tuna Kantor Administrasi dan Operasional Penyalur minyak tanah. Oli Depot Air Isi Ulang Jasa Wartel Kantor Sekterariat Kantor Adm. Mikaindo Abdai Cemerlang PT. kapal ikan yang akan melakukan pengisian solar harus terlebih dahulu meminta surat rekomendasi pengisian solar kepada petugas pelabuhan perikanan.46 651. Prosesing Ikan Segar.000 1. Pathemang Raya PT. Sukses Abadi 27 Kios Pesisir PT. Tabel 3. Waserda Pabrik Es.Fasilitas penyediaan perbekalan yang sangat dibutuhkan oleh kapal ikan dalam melakukan penangkapan sebagian besar terdapat di dalam kawasan PPS Bitung. Bitung Bahari Sejahtera KSU. Getra Mitra Usaha PT. 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Nama Perusahaan PT. Penyaluran solar untuk kapal-kapal ikan telah dibangun SPDN dan SPBB. Golden Bridge International PT.

tahun 2009 Kebutuhan Perbekalan BULAN Air bersih (m3) Januari Pebruari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah 19.655 Es (Ton) 13.899 4.000 liter.925 4. Alat tangkap ini berjumlah banyak dan juga hasil tangkapan setiap kapalnya dalam jumlah besar.730 838.520 10.955 110.024.000 36. Masingmasing kapal ikan dapat melakukan pengisian solar maksimum setiap bulan 25.020 11.165 4.800 907.505 725.000 620.090 696. Kebutuhan terhadap perbekalan setiap bulan selama tahun 2009 dapat dilihat pada Tabel 3.715 6.758 15.188 15.000 3.000 900.190 23.740 995.850 23.000 253.240 886.660 771.465 1.911 7. Teluk Tomini dan Laut Arafura.374 Sumber : PPS Bitung 2010 Lokasi penangkapan atau fishing ground kapal-kapal penangkap ikan yang berasal atau mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung yaitu di Laut Sulawesi. Kebutuhan perbekalan di Bitung.205 823.000 97. Ikan hasil tangkapan alat tangkap purse seine adalah ikan pelagis 35 . Alat tangkap yang memberikan kontribusi hasil tangkapan paling banyak adalah alat tangkap purse seine atau pukat cincin.15.110 827.270 24.245 3.955 13.230 751.15.000 174.590 957.638 8. Bagi kapal ikan berbendera Indonesia tetapi merupakan kapal ikan eks asing dan menggunakan ABK asing tidak diperbolehkan untuk mendapatkan solar dengan harga subsidi.452.000 Solar (KL) 858.000 530.Kapal ikan yang dapat melakukan pengisian solar adalah kapal ikan Indonesia dan tidak menggunaka ABK asing.312. Tabel 3.

Kapal dengan alat tangkap hand line Kapal dengan alat tangkap purse seine 36 . Potensi sumber daya ikan cakalang di Laut Sulawesi dan Teluk Tomini cukup besar. sehingga mengundang nelayan-nelayan dari Negara tetangga untuk melakukan penangkapan di perairan Indonesia. Potensi ikan tuna di Laut Sulawesi masih sangat besar. Nelayan tersebut sudah harus memiliki keahlian khusus sehingga dapat menangkapan ikan tuna berukuran diatas 30 kg per ekor dengan menggunakan perahu di bawah 5 GT. alat tangkap yang memberikan kontribusi jumlah tangkapan besar yaitu kapal dengan alat tangkap huhate atau pole and line.kecil yaitu layang dan kembung. Harga ikan pelagis kecil tersebut jauh lebih rendah dibandingkan ikan pelagis besar. Selain purse seine. Nelayan dengan skala kecil juga dapat memanfaatkan ikan tuna menggunakan alat tangkap hand line. Hasil tangkapan utama alat tangkap huhate adalah cakalang. Alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Bitung untuk melakukan penangkapan ikan tuna adalah hand line dan long line. sehingga masih dapat dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dalam jumlah yang banyak. Potensi lainnya masih belum dimanfaatkan oleh nelayan Bitung dengan maksimum adalah jenis ikan tuna.

789.40 45.299.60 99.00 4. Aktivitas Perikanan pada PPS Bitung 2010 Laut Arafura juga merupakan salah satu fishing ground armada perikanan Bitung.90 1. Tabel 3.566.532.Kapal dengan alat tangkap purse seine Kapal dengan alat tangkap pole and line Gambar 3.Sulawesi 927.30 46.20 Total 1.60 99.401.90 L. huhate dan pancing tonda.70 8.998.566.80 299.998.099.333.80 127. Potensi terbesar yang terdapat di Laut Arafura adalah udang.468.00 6.90 280.00 128.60 355.300.70 4.90 100.823. Arafura 109.40 1.866.00 8.90 5.16.20 209.90 99.00 1.90 15.00 180.90 3.00 80. disamping beberapa jenis ikan lainnya seperti cakalang dan ikan-ikan pelagis kecil.890.90 13. Tomini 600.189.886.80 2.70 45.4.80 5.10 13.425.904. Produksi ikan di Bitung berdasarkan jenis alat tangkap dan fishing ground.637.80 4.90 18.60 37 .70 L.80 4.20 199.674.576.125.462.50 12. tahun 2009 Alat Tangkap Payang Pukat tarik udang tunggal Dogol Pukat pantai Pukat Cincin Jaring insang hanyut Jaring insang tetap Bagan perahu/ rakit Rawai tuna Huhate Pancing tonda Pancing ulur Pancing cumi Jumlah T.998.40 3. Kapal penangkap ikan Bitung yang melakukan penangkapan ikan di Laut Arafura seperti purse seine.60 14.778.90 17.70 17.70 127.

80 61.70 12.20 Sumber: Dinas kelautan dan Perikanan Kota Bitung.80 4. Jumlah produksi ikan layang mengalami peningkatan dari tahun 2007 ke tahun 2008 yaitu 10. Kegiatan Pembongkaran dan Distribusi Ikan di PPS Bitung Jumlah produksi ikan cakalang dan ikan tuna di Bitung selalu menunjukkan peningkatan.40 L.21% per tahun.50 145.5. peningkatan produksi ikan tuna periode 2007-2009 adalah 6.60 68.20%.Alat Tangkap Sero Bubu Alat tangkap kepiting Jumlah Jumlah T. Arafura 41.94%.90 3.701. 2010 Ikan cakalang hasil tangkapan Ikan layang hasil tangkapan Gambar 3.65%. tetapi mengalami penurunan yang cukup signifikan dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 21.073. dan mengalami peningkatan yang cukup besar dari tahun 2008 ke tahun 2009 yaitu 9. 38 .053.Sulawesi 90.36% per tahun. Jika dirata-rata.90 55.90 0.48% dari tahun 2007 ke tahun 2008.278.00 L.80 Total 145. Tomini 54.70 42. Produksi ikan tuna mengalami peningkatan sebesar 2. Peningkatan jumlah produksi ikan cakalang sebesar 6.

245.452. Penentuan kualitas ikan tuna dilakukan dengan cara mencek kualitas daging ikan tuna.70 52. Harga ikan tuna menunjukkan peningkatan mulai dari harga 16 ribu pada bulan Januari sampai harga 30 ribu pada bulan Juni.362.80 26.338.327.39) % peningkatan Sumber: PPS.10 135.747.40 2009 61.Tabel 3.60 28.272. Bitung 2010.20 6. Produksi Ikan Hasil Tangkapan yang didaratkan di PPS Bitung Tahun 2007 – 2009 Produksi (ton) Jenis ikan 2007 Cakalang Tuna Layang ikan lainnya Jumlah 54.899.572.80 145.90 53.60 2.820. pada saat ikan masuk ke perusahaan pengolahan.72) (7. baik peningkatan maupun penurunan.21 (5.30 142. Rata-rata harga ikan cakalang selama tahun 2009 adalah Rp 11.188 per kg.17.50 2. Harga ikan layang lebih tinggi pada bulan April disebabkan karena 39 . Harga ikan tuna yang didaratkan oleh nelayan sangat tergantung pada kualitas ikan.275. Sebenarnya harga ikan tuna setiap bulannya tidak menunjukkan perubahan yang signifikan.656.377. Harga ikan layang ditentukan oleh perusahaan pengolahan ikan yang terdapat di sekitar Bitung. sedangkan pada bulan-bulan berikutnya menunjukkan angka yang stabil yaitu pada level 11 ribu dan pada bulan Oktober sampai dengan bulan Desember menunjukkan angka yang semakin menurun. sedangkan ikan tuna dengan harga dibawah 20 ribu adalah ikan tuna yang tidak dapat dipasarkan ke pasar ekspor. Harga pada bulan Januari menunjukkan posisi yang paling tinggi pada tahun 2009 yaitu 17 ribu.003.053.40 58. Selama tahun 2009.36 6. harga ikan cakalang menunjukkan penurunan dari bulan Januari sampai dengan bulan Desember.10 2008 57. Harga ikan layang pada tahun 2009 menunjukkan harga yang stabil atau tidak mengalami banyak perubahan.90 22. Ikan tuna dengan harga 30 ribu adalah ikan tuna dengan grade A.10 2.

000 9.000 11. Usaha tersebut dilakukan baik dengan system pengolahan tradisional maupun modern.000 16. Penanganan hasil perikanan meliputi penanganan terhadap bahan mentah (ikan). pengecer sampai ke pabrik pengolahan.000 30.267 Selar 13.000 10.000 14. peralatan yang digunakan.000 11.275 24.000 22.000 12.000 11.000 10.000 29.000 11.000 11.000 31.119 11.000 9.999 12.000 16.350 8.000 13. yang perlakuannya dimulai sejak ikan ditangkap.18. penanganan di pasarpasar.039 11.000 10.000 30.000 9.000 9.188 Tuna 16.997 28.000 10.523 Layang 9.000 12.883 9.336 Sumber: PPS Bitung 2010. bahan pembantu.pada bulan tersebut produksi ikan layang sedikit berkurang dibandingkan bulanbulan lainnya.919 12.000 12.870 9. Harga beberapa Jenis ikan di PPS Bitung (Rp/Kg).000 15. Usaha pengolahan hasil perikanan di Bitung sudah sejak lama dilakukan dan telah berkembang dengan baik sehingga menjadikan Bitung sebagai pusat pengolahan ikan terbesar di Sulawesi Utara. Saat ini telah ada tiga kelompok pengolah ikan asap yang beranggotakan 10 – 30 pengolah belum termasuk pengolah perseorangan.288 8. Tabel 3.000 12.000 11. teknologi serta persyaratan lain yang harus dipenuhi oleh pengolah dan pabrik (UPI).000 8. Pengolahan tradisional dilakukan melalui adanya industry rumah tangga pengolahan ikan asap/ fufu. penanganan saat didaratkan.000 30.000 11.000 11.000 15. penanganan di atas kapal. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Rata-rata Cakalang 17.512 11.519 11. 40 . bahan tambahan.000 8. sehingga untuk memenuhi produksi perusahaan pengolahan. Penanganan hasil perikanan berperan penting dalam memanfaatkan produksi perikanan. ikan dibeli dengan harga yang lebih tinggi.000 30.000 9.

Sinar Pure Foods Int'l PT. Pengolahan ikan dengan cara pembekuan untuk ikan hasil tangkapan kapal purse seine berorientasi pasar lokal.0 35. 100 100 100 50 Rata 2 80 35 30 30 Pemasaran % 80. Surabaya. Untuk memenuhi kapasitas pengolahan tersebut.Pabrik ikan kayu .0 AS.Usaha pengolahan modern di Bitung sampai saat ini berjumlah 45 perusahaan yang terdiri dari : .Pengolahan ikan tuna. Selain itu juga disebabkan oleh adanya jenis-jenis ikan yang langsung dapat diekspor tanpa harus terlebih dahulu dilakukan pengolahan. Delta Pacifik Indotuna 2007 Kaleng. 1979 1991 Kaleng Kaleng Kaleng.0 60. Samudera Sentosa PT. frozen.Pabrik pembekuan ikan . cakalang dan layang segar untuk ekspor Perusahaan pengolahan perikanan di Bitung didominasi oleh perusahaan pengalengan ikan dan ikan kayu. UEA PT. Kedua jenis olahan tersebut berorientasi pasar ekspor. Tabel 3. Nama Perusahaan. dan Jakarta.0 30. Deho Canning Co. Bitung harus dapat menarik nelayan untuk mendaratkan hasil tangkapannya di Bitung dan mengolah hasil tangkapan tersebut pada perusahaan pengolahan ikan yang tersedia. seperti Bitung.19. Lokal Arab Saudi.UE AS. Disamping itu juga terdapat pembekuan ikan tuna dan pembuatan loin tuna.UE Jepang. Besarnya kapasitas pengolahan yang tidak terpakai disebabkan karena rendahnya jumlah ikan yang didaratkan di Bitung. Total kapasitas pengolahan ikan di Bitung adalah 894 ton. Sedangkan yang terpakai hanya 35% dari kapasitas tersebut. frozen 41 . Kapasitas Perusahaan Perikanan di Bitung. Jenis Produk.Pabrik pengalengan ikan . tahun 2010 Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 1 2 3 4 PT.

Mina Samudra Kencana 2005 2006 2006 2005 Frozen Frozen: Utuh Fresh.Fro zen Fresh/Frozen Ikan Kayu Ikan Kayu.0 Lokal/Jkt. Melody Asri 1992 2000 Jepang. Alam Baru Rekor PT. Celebes Minapratama PT. Taiwn Eksport. Lokal 2002 Frozen Frozen Export.Saku Fresh.Jepang. Indo Hong Hai PT. frozen Ikan Kayu 9 20 25 20 20 20 100 20 10 20 10 30 5 6 15 18 50 3 4 4 2 20 5 50. Taiwn Sngpr. Perikanan Nusantara 9 10 11 12 14 15 16 17 18 19 20 21 PT. Yuh Yow Indo PT.0 40. Etmico Sarana Laut PT. Bitung Mina Utama PT.7 AS. Manadomina Citrataruna PT.0 20.0 15.8 Lokal/Jkt. Japindo Tencep Raya PT.0 75. Primadaya Bitung PT.0 66. Sari Cakalang PT.Frozen.UE.Frozen:U tuh Fresh. Anugerah Timur Makmur PT. Ikan Kayu Fresh:Utuh. Nutrindo Freshfood Int'l PT.Frozen :Loin. Shing Sheng Fa Ocean 2001 Frozen 22 23 24 25 26 PT.0 0.7 Sngpr. Lokal PT. Fresh:Loin 10 10 3 2 30. Lautan Bahari Sejahtera PT. Bintang Mandiri Bersaudara 2007 2006 1989 Jepang Lokal/Btg Jepang PT.Krea.0 30.0 20. 6 7 8 2004 2006 15 3 5 1 33.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 5 Fresh. Sari Malalugis PT.0 50.Sby 2007 27 2007 Frozen 18 5 27.3 16. Frozen Frozen Frozen. Citra Buana Sulut PT.3 PT.0 20.Frozen : Fresh.0 90. Tridara Putra Mandiri PT. Sari Tuna Makmur 1999 AS.0 15 3 20.Krea.Sby 42 .Lokal 30 Rata 2 10 Pemasaran % 33. Lokal Jepang 1994 2000 2004 Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen Frozen Jepang Jepang Lokal Export. Jepang Belanda PT.0 20.

Ocean Tuna PT.0 40.0 20. Fresh:Loin Frozen 2006 2008 2005 2005 2006 Frozen Frozen Frozen Frozen Fresh Frozen Frozen Fresh 2006 Frozen 3 5 6 10 15 4 5 5 4 12 5 60 894 2 2 2 2 2 1 1 1 1 3 2 10 366 50.Sby Lokal/Btg Lokal/ Jkt.3 20.0 40. Nick's UD.0 20.0 13. Bitung Timur.0 25. Nelayan CV. Fresh:Loin Frozen. Berdasarkan data primer. International Alliance Food 2007 2007 Frozen Kaleng Lokal/ Jkt.0 25. Sukses Abadi UD.Sby Lokal Lokal/Btg Lokal/Jkt. Permata Laut Jaya 2007 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 CV. maka 80% dari total responden merupakan angkatan kerja dengan umur 43 . Singa Raja UD. Citra Anugrah Fishtama PT.Sby Lokal/Jkt. Sby JUMLAH Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. Data primer dikumpulkan melalui pengamatan langsung.7 35. Mitra Sakana CV.2 Lokal/Jkt. Sby Lokal/Jkt.Sby Lokal/Jkt. Berkat Baru UD.0 16. Sinco Ocean Ikan Kayu Ikan Kayu Frozen. Lembeh.3 25. Girian dan Madidir.0 33.Kapasitas (Ton) No Nama Perusahaan Tahun Berdiri Jenis Produk Terpasang 28 29 30 PT.0 Rata 2 Pemasaran % CV. wawancara dengan responden menggunakan kuesioner. Responden yang dilakukan wawancara sebanyak 35 orang. Bahari Mitra Lestari UD. Lautan Berkah CV. Jasuma UD. Sby 5 2 40.Sby Lokal/Jkt. Esria UD. Kina Sasi Biru UD. 2010 Karakteristik Usaha Perikanan Pengumpulan data primer dilakukan di Kecamatan Aertembaga.

Dilihat dari jumlah keluarga. sehingga dapat dikatakan. Jumlah anggota keluarga yang bekerja pada umumnya hanya 1 orang yaitu responden itu sendiri sebanyak 83% dari total jumlah responden. responden yang i berpendidikan tamat SMA sebanyak 60% dan tamat SMP sebanyak 31% dan sisanya hanya berpendidikan Sekolah Dasar. kapal dengan ukuran diatas 10 GT sampai kurang dari 30 GT sebanyak 31% dan kapal dengan ukuran lebih dari 44 . responden telah menamatkan tingkat pendidikan samapi Sekolah Menegah Atas. Pengalaman responden dalam usaha perikanan sebanyak 46% berpengalaman kurang dari 5 tahun.produktif yaitu antara 20 sampai 50 tahun. 51% responden memiliki anggota keluarga 3 sampai 4 orang. kapal dengan ukuran 5 GT sampai dengan kurang 10 GT sebanyak 34%. sisanya terdiri dari pemilik dan nahkoda. anggota DPRD. dan 20% lainnya berumur lebih dari 50 tahun. Sedangkan responden yang sudah sangat berpengalaman atau lebih dari 15 tahun hanya sebanyak 17% dari total jumlah responden. seperti Walikota. Pemilik kapal penangkap ikan di Kota Bitung mempunyai latar belakang yang beragam. PNS dan wiraswasta murni. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan nelayan di Kota Bitung sudah lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Responden yang belum memiliki anak sebanyak 34% dan sisanya responden yang telah memiliki anak lebih dari 2 orang. sehingga sulit untuk dijadikan sebagai responden. 37% telah berpengalaman lebih dari 5 tahun dan kurang dari 15 tahun. Status responden dalam kegiatan penangkapan ikan 85% anak buah kapal. Pengelompokkan responden berdasarkan ukuran kapal yaitu kapal dengan ukuran kurang dari 5 GT sebanyak 2 responden. Hal ini disebabkan karena sebagian besar nelayan berumur kurang dari 50 tahun dan sebelum terjun ke usaha perikanan. Berdasarkan jenjang pendidikan. responden memiliki anak 1-2 orang. dimana nelayan sebagian besar hanya berpendidikan sampai Sekolah Dasar.

00 ≥5GT .<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT . Ditinjau dari jenis alat tangkap. setiap kapal purse seine juga memperoleh ikan kembung sejumlah 154 kg dan harga Rp 7.700 per kg.71 34. maka alat tangkap dapat dikelompokkkan dalam alat tangkap purse seine.20. Karakteristik Penguasaan Kapal Penangkap Ikan. sehingga penerimaan nelayan dari penjualan ikan layang adalah Rp 4. Ikan dominan hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap purse seine adalah ikan layang dan sebagian ikan kembung. responden dengan alat tangkap purse seine sebanyak 10 orang dan sisanya responden dengan menggunakan alat tangkap hand line untuk menangkap ikan tuna. Selain ikan layang. Sebagian besar kapal yang digunakan responden mempunyai bahan bakar solar atau bermesin diesel. Total penerimaan responden dengan menggunakan alat tangkap purse seine adalah Rp 5.30 GT sebanyak 29%.600 per trip. Tabel 3.29 31.43 28.<100GT Jumlah 45 . Sedangkan untuk jenis alat tangkap hand line harus dibedakan untuk hand line dengan skala kecil dan hand line dengan skala sedang. tetapi sebagian responden juga menggunakan bahan bakar bensin dan minyak untuk kapal dengan motor tempel.312. tahun 2010 Karakteristik Kepemilikan Kapal Menurut GT < 5 GT Jumlah Prosentase 2 12 11 10 35 5. pole and line dan hand line. responden dengan alat tangkap pole and line sebanyak 10 orang. Rata-rata jumlah ikan layang yang diperoleh oleh kapal purse seine adalah 560 kg per trip dengan harga rata-rata Rp 7.57 100.451. Melihat keberagaman usaha penangkapan ikan di Bitung.000 per trip.400 per kg.

000 per liter. Setiap trip dibutuhkan minyak tanah sebanyak 150-250 liter dengan harga berkisar antara Rp 3. Ikan layang yang dibeli oleh pedagang pengumpul.86 100. pembeli tersebut sebagian besar sudah menjadi langganan pemilik kapal untuk menjual hasil tangkapannya.57 42.43 71.43 17.Karakteristik Jenis Alat Tangkap Pole and Line Purse seine Tuna Hand Line Jumlah Bahan Bakar yg digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah 4 Jumlah Prosentase 10 10 15 35 28.14 100. Minyak tanah diperoleh oleh nelayan dari pengecer yang 46 . karena sudah banyak pembeli yang datang. Biaya operasional kapal dengan alat tangkap purse seine ini terdiri dari biaya bahan bakar. baru dibayarkan kepada nelayan setelah ikan tersebut dijual ke perusahaan pengolahan. Pemilik kapal atau pengurus kapal sudah terlebih dahulu mengetahui harga ikan layang sebelum kapal datang. Ikan layang langsung dijual oleh nelayan di lokasi pendaratan. tetapi jika ikan dibeli oleh pedagang besar. maka pembayaran dilakukan secara tunai.00 25 6 35 Sumber: data primer (2010) Pembeli ikan layang pada umumnya adalah pedagang pengumpul untuk selanjutnya dijual ke perusahaan pengolahan. oli dan es serta biaya untuk pengurusan izin berlayar dan biaya tambat.0004. juga langsung dibeli oleh pedagang besar dari perusahaan pengolahan tanpa melalui pedagang pengumpul. Bahan bakar utama yang digunakan kapal dengan mesin tempel ini adalah minyak tanah dan dicampur dengan bensin.00 11.57 28. Selain itu.

000 67.000 Izin berlayar 1.750 262.21.869 8.000 2.500 2.672.600 X x 5.850 operasional 3.451.600 Pole and Line (>30GT<100GT X X X 54.312.000 122. Untuk lebih amannya.760.840 19.500 129.840 Penerimaan (Rp) Layang Kembung Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional X (Rp) X Solar 109. tahun 2010 Jenis Alat Tangkap Uraian Purse seine (> 5GT<10GT) X 4.terdapat di kawasan PPS Bitung.000 2.250. 2010 47 .750 17.140.750 17.085.400 1.840 50.945.500 250.064. Bensin dibutuhkan sebanyak 30 liter per trip dengan harga Rp 4.656 399.907. Penerimaan dan Pengeluaran Per Trip menurut Alat Tangkap di Bitung.000 696.750 Keuntungan Sumber: data primer.000 14.260 50.481.969.250 Bensin 474.096.000 per liter. Harga minyak tanah sangat ditentukan oleh ketersediaan pada suatu wilayah.000 per liter.000 3.160 31.000 6.580.881 X 4. Nelayan dapat membeli bensin dengan harga Rp 4.160 Tuna hand line Tuna Hand Line 2 1 (>10GT(>5GT-<10GT) <30GT) X X X X X X X X 14.500-5.000 biaya tambat Total biaya 1.139.586.580.509.000 X 1.000 X 22.000 Es X Umpan X Ransum 20. karena tidak diperbolehkan membeli bensin dengan menggunakan jerigen.000 x 54.000 400.463 40.000 X 1.000 4. nelayan membeli bensin di pengecer dengan harga Rp 5.760.000 5.000 1.000 143.748.000 Minyak tanah 352.000 X 2.210.222.692.365.000 1.000 34.096.000 8.709.600 Oli 525.575. Tabel 3.500 per liter di SPBU terdekat dengan mencuri-curi kesempatan dari petugas.

087. Bantuan kepada nelayan di Kota Bitung yang diberikan dalam bentuk kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan dengan sumber dana dari Dana Alokasi Khusus (DAK).214 2008 2009 Bagan 6 Rumpon 10 969. yaitu subsidi bahan bakar solar dan subsidi dalam bentuk sarana penangkapan seperti kapal dan alat tangkap serta alat bantu penangkapan. Bentuk bantuan yang terakhir ini diberikan oleh pemerintah melalui berbagai program yang sifatnya sangat terbatas.540. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan Tugas Pembantuan (TP).662. Getra Mitra Usaha.500 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung. 2010 Sedangkan subsidi BBM diberikan secara reguler melalui agen penyaluran BBM yang ditunjuk oleh PT.22.943.500 2010 Rumpon Ponton 6 1 5.Peran Subsidi Perikanan Subsidi perikanan yang disalurkan di Kota Bitung dapat dibedakan menjadi dua bentuk. Agen penyaluran BBM di PPS Bitung adalah SPDN Komegoro dan SPBB PT. tahun 2005-2010 Tahun 2005 2006 Kapal/perahu Alat tangkap Alat bantu tangkap Jenis Jumlah Jenis Jumlah Jenis Jumlah Pump boat 3 Rumpon 1 Small purse seine 3 Jaring 3 Pelang 3 Small purse seine Light boat Pelang Pajeko Light boat Perahu tuna Ketinting Pengangkut Pajeko Pancing tuna Pancing ulur Ketinting 5 5 20 2 2 4 8 1 1 6 1 1 Purse seine Pancing Alat tangkap 5 5 2 Rakit 11 1. SPBB melayani 48 . Tabel 3.484.000 Biaya (Rp) 2007 1. Pertamina.827. Bentuk bantuan Perikanan di Kota Bitung.

131. tahun 2009 Bulan Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Pertamina ( KL ) 816. Hal ini dilakukan untuk menghambat adanya penggunaan BBM subsidi oleh pihak-pihak yang tidak berhak.59 1.00 PT.pejualan BBM untuk seluruh jenis dan ukuran kapal dan SPDN yang melayani kapal kurang dari 30 GT.99 1.00 324. Asosiasi yang terdapat di Bitung yaitu Asosiasi kapal perikanan nasional dan HNSI (Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia). Getra (SPBB) ( KL ) 847.24 1.000 liter.71 Total 1.59 956.124. Maksimum pemberian rekomendasi BBM solar setiap bulannya adalah 25.56 1. Banyaknya solar yang disalurkan oleh SPBB dan depo pertamina untuk kapal perikanan di PPS Bitung pada tahun 2009 disajikan pada tabel 3.71 49 . Tabel 3. Kapal penangkap ikan dengan lamanya trip 3 bulan atau lebih dapat memesan solar sebanyak 75.000 liter atau 75.24 993.20 1.93 420.56 824.27 723. Tetapi hal ini dikeluhkan oleh nelayan yang melakukan trip lebih panjang dari 3 bulan. Setiap kapal ikan yang akan mengisi Solar di SPBB dan Pertamina terlebih dahulu meminta rekomendasi ke PPS Bitung dengan syarat telah menjadi anggota asosiasi.000 liter sekaligus tetapi kapal ikan dengan trip hanya 1 bulan tidak diberikan rekomendasi untuk pengisian Solar 75. Pengurusan rekomendasi untuk pengisian BBM di SPBB PPS Bitung dapat dilakukan setelah kapal tersebut mendapat Surat Laik Operasi dari pengawas perikanan dan Surat Izin Berlayar dari Syahbandar Perikanan.23.000 liter per 3 bulan berdasarkan lamanya waktu operasi penangkapan per trip.391.23.59 691.280.00 398.00 883.00 241. Kapal ikan yang mendapat rekomendasi dari PPS Bitung dapat memesan langsung solar di depot PERTAMINA.663. Besarnya jumlah solar dalam rekomendasi pengisian BBM ditentukan oleh syahbandar perikanan dengan terlebih dahulu melihat ketersediaan BBM di atas kapal.575.143. Jumlah Solar yang disalurkan di PPS Bitung.99 883.59 1.00 307.

Pada tahun 2010. rata-rata solar yang disalurkan oleh SPDN ini adalah 24 KL dan pada tahun 2010 mengalami peningkatan menjadi 32 KL. Pada tahun 2009.281.019. SPDN hanya diperbolehkan untuk melayani kapal kurang dari 30 GT.410.23.25 1. rata-rata solar yang disalurkan langsung oleh depo Pertamina ke kapal nelayan sebanyak 425 KL ber bulan.93 425. Selain itu.83 837.47 1.102.83 1. Hal ini disebabkan 50 .00 439.275. Kapal-kapal ikan kurang dari 30 GT lebih cenderung untuk melakukan pengisian solar di SPBB dibandingkan di SPDN. jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB lebih tinggi lagi yaitu 940 KL per bulan.02 15.76 1.47 1.022.343. Harga solar yang dibebankan kepada nelayan adalah Rp 4.500 per liter solar.30 904. Hanya nelayan skala besar yang mau melakukan pembelian secara langsung ke depo Pertamina dengan jumlah BBM lebih dari 20 KL.52 Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2009 Berdasarkan Tabel 3.24 PT.Bulan Agustus September Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata Pertamina ( KL ) 200.00 5.00 391. Tidak semua nelayan mau membeli BBM secara langsung ke depo Pertamina karena administrasi yang lebih panjang dibandingkan membeli BBM di SPBB. Rata-rata solar yang disalurkan oleh SPBB pada tahun 2009 adalah 856 KL per bulan dengan harga Rp 4.171.02 10. Harga yang harus dibayarkan oleh nelayan adalah Rp 4. Harga ini lebih mahal dibandingkan harga yang ditetapkan oleh pertamina. Getra (SPBB) ( KL ) 822.32 856.119.378.28 Total 1. penyaluran solar di PPS Bitung dilakukan oleh SPDN yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha Komegoro. Kelebihan harga tersebut digunakan untuk biaya transportasi pengangkutan solar dari depo pertamina menuju PPS Bitung.500 per liter.76 770.30 1.00 334. karena pembayaran harus dilakukan di bank. Pengisian BBM baru dapat dilakukan sehari setelah dilakukan pembayaran.00 349.575 per liter.

banyaknya solar yang disalurkan di PPS Bitung dapat dilihat pada Tabel 3.67 897. hal ini disebabkan karena kapal kurang dari 10 GT sebagian besar tidak menggunakan bahan bakar solar.55 8. Ditinjau dari ukuran kapal.00 292.65 684.022.oleh beberapa hal antara lain tidak kontinyunya stok BBM yang dimiliki oleh SPDN.23 238.95 284. oleh lebih banyaknya konsumsi BBM oleh kapal berukuran besar dan juga banyaknya jumlah kapal lebih dari 30 GT.10 321.50 649.67 11.85 12.30 665.70 199. Penyaluran Solar oleh SPBB untuk kapal diatas 30 GT sekitar 70% dari total solar yang disalurkan. Rata-rata solar yang disalurkan di PPS Bitung sebanyak 1.55 666.42 1. Berdasarkan ukuran kapal.21 14.24.99 918.30 GT ( KL ) 217.65 16.00 593. tahun 2009 Bulan < 10 GT ( KL ) 3. system pelayanan yang diberikan dan diduga adanya perbedaan takaran liter.47 13. Sedangkan untuk kapal dibawah 10 GT hanya disalurkan sebanyak 1.99 792.15 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September 51 .50 500.69 1. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Bitung jumlah kapal lebih dari 30 GT di Kota Bitung sebanyak 35% dari total seluruh kapal ikan di Kota Bitung.019. melainkan campuran bensin dan minyak tanah. penyaluran BBM paling besar adalah untuk kapal lebih dari 30 GT.24. Solar yang disalurkan SPBB berdasarkan ukuran kapal di PPS Bitung. Hal ini disebabkan.82 597.92 725.90 JUMLAH ( KL ) 942.70 182.13 894.40 UKURAN KAPAL 10 .95 229.20 >30 GT ( KL ) 720.20 315. Tabel 3.68 15.94 15.05 712.500 KL per bulan.4%.

Bulan

< 10 GT ( KL )

UKURAN KAPAL 10 - 30 GT ( KL )

>30 GT ( KL )

JUMLAH ( KL ) 997.50 1,101.54 895.84 832.10 11,027.06 918.92

Oktober Nopember Desember Jumlah Rata-rata

20.93 11.19 8.40 152.93 12.74

372.71 304.45 297.20 3,255.39 271.28

707.90 580.20 526.50 7,618.74 634.90

Sumber : Pelabuhan Perikanan Samudera Bitung Tahun 2010 Ditinjau dari jenis alat tangkap, kapal penangkap dengan alat tangkap pole and line merupakan kapal yang menggunakan solar terbesar di PPS Bitung. Sebanyak 23% penyaluran solar dari SPBB di PPS Bitung yaitu untuk kapal pole and line. Selain kapal penangkap ikan, kapal pengangkut ikan yang berlabuh di PPS Bitung juga mendapatkan solar subsidi yang disalurkan oleh SPBB Getra di PPS Bitung. Sebanyak 50% jumlah solar yang disalurkan oleh SPBB tersebut adalah untuk kapal pengangkut ikan. Sedangkan sisanya disalurkan kepada kapal penangkap dengan jenis alat tangkap rawai tuna, purse seine dan hand line. Bahan bakar minyak merupakan salah satu biaya terbesar yang ditanggung oleh nelayan dalam melakukan usaha penangkapan. Bahan bakar yang diperlukan oleh kapal motor adalah solar sedangkan bahan bakar untuk kapal dengan mesin tempel menggunakan campuran bensin dan minyak. Nelayan yang melakukan penangkapan dengan menggunakan mesin tempel melakukan penangkapan tidak jauh dari lokasi pendaratan. Tersedianya stasiun pengisian untuk bahan bakar solar tidak memberikan efek yang signifikan bagi nelayan kelompok ini. Kapal motor dengan GT lebih besar akan memerlukan solar lebih banyak. Pada lokasi penelitian Bitung, kapal dengan menggunakan alat tangkap pole and line mengkonsumsi solar paling banyak yaitu 4,9 KL per trip. Biaya untuk pembelian solar bagi kapal pole and line adalah 65% dari total

52

biaya operasional, sedangkan bagi kapal ikan dengan alat tangkap lainnya hanya sekitar 30% dari total biaya operasional. Tabel 3.25. Perbandingan Biaya Operasional Beberapa Jenis Alat Tangkap dengan dan tanpa Subsidi di Bitung, tahun 2010
Jenis Alat Tangkap Tuna Hand Line Pole and Line 1
≥30GT - <100GT ≥5GT -<10GT

Uraian Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: - musim ikan - musim biasa - musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): - Solar (liter) - Bensin (liter) - Minyak tanah (liter) Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM (Rp) Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi solar (Rp) Penerimaan Kotor (Rp) Prosentase BBM subsidi terhadap biaya operasional Prosentase BBM tanpa subsidi terhadap biaya operasional Sumber : Data Primer, 2010

Purse seine
≥5GT -<10GT

Tuna hand line 2
≥10GT -<30GT

1 1 1 340 30 160 2,279,430 2,789,850 5,451,600 34.99 46.88

3 5 7 4960 15 200 34,907,840 49,415,840 54,580,000 65.01 75.28

8 10 13 338 91 40 4,497,369 5,366,088 14,096,750 30.09 41.41

10 11 14 370 35 40 5,367,910 6,450,160 17,760,000 31.53 43.02

Subsidi solar yaitu dengan harga Rp 4.500 per liter memberikan pengaruh cukup besar terhadap total biaya operasional. Tanpa adanya subsidi solar

(dengan asumsi harga solar Rp 7.500 per liter) menyebabkan peningkatan total biaya operasional bagi seluruh kapal penangkap ikan dengan kapal motor. Pada tingkat harga solar Rp 7.500 per liter meningkatkan prosentasi biaya solar terhadap total biaya operasional berkisar 10-12% pada nelayan di Kota Bitung. Sedangkan total biaya operasional mengalami peningkatan sebesar 19-41% dibandingkan dengan harga solar bersubsidi. Peningkatan biaya operasional tertinggi yaitu terjadi pada kapal dengan alat tangkap pole and line yaitu sebesar 41% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Biaya operasional kapal dengan alat

53

tangkap tuna hand line mengalami peningkatan sebesar 20% dibandingkan dengan solar bersubsidi. Dari Tabel 3.25, terlihat bahwa kapal dengan konsumsi solar lebih

banyak akan merasakan dampak yang lebih besar terhadap perubahan harga solar. Adanya peningkatan biaya operasional dengan solar tanpa subsidi

menyebabkan semakin rendahnya keuntungan yang diterima oleh nelayan. Penurunan keuntungan kapal dengan alat tangkap pole and line dengan solar tanpa subsidi adalah 73% dibandingkan dengan menggunakan solar bersubsidi. Kapal dengan alat tangkap tuna hand line mengalami penurunan keuntungan akibat tidak adanya subsidi solar sebesar 9% dibandingkan keuntungan dengan solar bersubsidi. Perlu dicatat bahwa berdasarkan Tabel 3.25, jika solar untuk kegiatan penangkapan ikan tersebut menggunakan harga pasar bebas, maka usaha penangkapan ikan di Bitung masih dapat beroperasi dengan baik. Hal ini disebabkan karena potensi ikan pada perairan Sulawesi Utara masih cukup potensial.

3.3. Kecamatan Palabuhanratu Gambaran Umum Lokasi Penelitian Perairan Pelabuhanratu terletak pada posisi geografis 6o57’- 7o07’ LS dan 106o22’-106o23’ BT dengan panjang pantai lebih kurang 105 km. Perairan tersebut merupakan perairan pantai selatan Jawa Barat yang memiliki hubungan dengan Samudra Hindia. Kabupaten Sukabumi memiliki luas wilayah 4.200 km2 atau 9,18 persen dari luas Provinsi Jawa Barat (dengan Banten) atau 3,01 persen dari luas Pulau Jawa. Secara administratif, wilayah Kecamatan Palabuhanratu berbatasan dengan:
 

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kabupaten Sukabumi Sebelah Selatan, berbatasan dengan Samudera Indonesia

54

Peta Kecamatan Palabuhanratu Kondisi Teluk Palabuhanratu banyak dipengaruhi oleh kondisi oseanografi Samudera Hindia seperti adanya pengaruh angin yang besar.6. di antara Musim Timur dan Musim Barat terjadi periode peralihan (Wyrtki.  Sebelah Barat. Wyrtki (1961) mengemukakan bahwa keadaan angin di Palabuhanratu sesuai dengan sifat laut dan tercatat kecepatannya sebesar 1-7. di Samudra 55 .id Gambar 3. berbatasan dengan Provinsi Banten Sebelah Timur. pada bulan September-Oktober Karakteristik Perikanan Teluk Palabuhanratu yang terletak 60 km arah selatan dari kota Sukabumi adalah sebuah kawasan yang terletak di pesisir selatan Jawa Barat. Musim sangat berpengaruh terhadap kondisi hidrodinamika perairan teluk.5 cm/dtk pada bulan September sampai Desember yang bergerak ke arah barat.co.google. 2008). 1961) yang disebut Musim Peralihan Timur (Maret-April) dan Musim peralihan Barat (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. Selanjutnya dikatakan bahwa perairan Teluk Palabuhanratu mempunyai suhu permukaan laut pada musim barat berkisar 29o-30oC dan pada musim timur 26o-27oC. Pada periode Musim Timur (MeiAgustus) gelombang dan arus relatif lebih tenang dibandingkan pada periode musim barat November-Februari). berbatasan dengan Kabupaten Cianjur Sumber: www.

76 -15. Selain itu. Jaring Rampus.46 -7. perikanan.05 6.17 Motor Tempel 275 323 317 253 266 428 511 531 416 < 10 GT 147 141 106 106 111 143 153 137 102 Kapal Motor 11 . Tabel 3. seperti Gill net.Hindia.76 -24. Potensi wilayah pesisir Palabuhanratu mencakup potensi sumber daya hayati. yaitu sebesar 17.34 persen.11 27.26. dan Pancing rawai lainnya. Potensi sumber daya hayati meliputi ekosistem pesisir. Wilayah pesisirnya terbentang dengan panjang garis pantai ± 200 km. Realisasi operasional jumlah kapal/perahu Motor Tempel dan Kapal Motor lainnya yang beroperasional disajikan pada Tabel 1. Jumlah Perahu Motor Tempel dan Kapal Motor Tahun 2000 – 2008 Jenis Kapal/Perahu (Unit) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jumlah (Unit) > 30 GT 11 12 13 11 139 68 77 103 69 456 490 452 381 530 676 798 852 646 Fluktuasi (%) -0. Tabel tersebut menunjukkan bahwa jumlah armada yang beroperasional didominasi oleh jenis kapal/perahu Motor Tempel sebanyak 230 unit kapal jumlahnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. 2008 Jumlah kapal perikanan yang beroperasi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu pada Tahun 2009 mengalami kenaikan jika dibandingkan tahun sebelumnya. Bagan. Pancing ulur. Jenis armada penangkapan ikan yang menggunakan base fishing port-nya Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu adalah jenis Kapal Motor dengan ukuran kapal < 10 GT s/d > 30 GT dengan berbagai macam alat tangkap.55 18. non-hayati. (Laporan Tahunan PPN Palabuhanratu. dan jasa-jasa lingkungan. Purse seine. Palabuhanratu memiliki Pelabuhan Perikanan Nusantara yang merupakan tempat pelelangan ikan terbesar di Jawa Barat. Payang. 2008).65 7.30 GT 12 7 13 8 10 28 53 71 52 Sumber Data Statistik PPNP.20 GT 11 7 3 3 4 9 4 10 7 21 . dan biota laut lainnya.71 39. Bertambahnya jumlah kapal yang beroperasi tidak berdampak terhadap jumlah frekuensi keluar 56 . Tuna Longline.

279 4. Secara umum.13 70.602 Fluktuasi Kapal Motor Motor Tempel (%) (%) 42.masuk kapal.335 21.14 -21.104 Motor Tempel (Kali) 14.61 -11.884 34.22 24. Adapun kebutuhan perahu/kapal perikanan terhadap ketiga jenis logistik tersebut diuraikan dalam Tabel 3.694 kali dengan rata-rata 394 kali per bulan.16 75.057.005 3.510 23. Kebutuhan logistik kapal ada yang mengalami penurunan ada pula yang mengalami peningkatan dibandingkan dengan kebutuhan logistik kapal tahun sebelumnya. Frekuensi kunjungan kapal motor dan motor tempel (Tabel 3.802 16.64 -7.27.48 22.28.738 24.891 2.57 -15. Total frekuensi kunjungan kapal Motor Tempel sebesar 27. Kebutuhan logistik BBM yang terdiri 57 .738 11.68 -27.27) pada tahun 2000-2008 selalu mengalami fluktuasi yang bergantung pola musim ikan dan perubahan cuaca yang tidak menentu.675 2. 2008 Kapal perikanan yang akan melakukan kegiatan penangkapan ikan terlebih dahulu harus melengkapi kebutuhan logistiknya berupa es balok.836 29.497 Jumlah Total (Kali) 21.12 persen.694 3.18 -9.65 75. yaitu sebesar 5.27 Sumber Data Statistik PPN Palabuhanratu.26 persen dan frekuensi masuk kapal sebesar 34.38 52. jenis perahu/kapal motor tempel yang menggunakan Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sebagai tempat labuhnya mengalami penurunan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.641 18.198 32. Total frekuensi kunjungan kapal pada tahun 2008 sebesar 32.638 5.42 -46.776 15.588 28.90 -67.505 19.522 40.31 72.10 -5. solar di samping kebutuhan logistik lainnya serta konsumsi.303 kali per bulan.695 kali per bulan.05 persen.595 16.27 persen.101 12. sebaliknya terjadi penurunan pada frekuensi keluar kapal sebesar 29.847 22.031 15.248 1. Tabel 3.857 5.335 kali dengan rata-rata kapal yang masuk ke kolam Pelabuhan sebesar 2.771 1.919 27. sedangkan jenis kapal motor naik sebesar 22. sedangkan frekuensi kunjungan Kapal Motor sebesar 4.08 79. air bersih.12 5.83 45.641 kali dengan jumlah rata-rata 2. Frekuensi Kunjungan Kapal Motor dan Motor Tempel Tahun 2000 – 2008 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Kapal Motor (Kali) 6.

64 BBM / Solar (Ltr) Jumlah 1.74 12.56 persen.000 6.45 7.528.259 Fluktuasi (%) 18.000 380.660. Berbeda dengan kapal-kapal yang ada di kolam 2 (dua).213.300 4.749.863 164.155 1.511.591.490 277.17 18.371 2.60 2.216 1.61 -3.595 285.200 1.041.785 6.07 -72.917. kebutuhan logistik air mengalami penurunan sebesar 20.55 persen.dari solar untuk kapal motor dan bensin untuk perahu motor tempel mengalami peningkatan sebesar 18.29 1 2 3 4 5 6 7 8 9 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Rata-rata Sumber Data Statistik PPNP 2008 Ket : @ BALOK ES = + 50 Kg a.00 -60.034.24 4.92 30.443.50 persen (Buku Stastistik Perikanan.45 289. dan kebutuhan logistik minyak tanah juga mengalami penurunan sebesar 70.51 persen.700 1..37 -45.44 27.35 -84.65 0.316.39 -21.380. Penyaluran Kebutuhan Logistik Kapal di PPN Palabuhanratu Tahun 2000 -2008 Kebutuhan Logistik Es (Balok) Fluktuas Jumlah i (%) 74. kebutuhan logistik es mengalami kenaikan sebesar 1.821.912 5.000 1.897.07 -16.787.675.000 4.68 63.110 4.22 .600 4.53 198.28. Air Bersih Penyaluran kebutuhan air bersih untuk kapal perikanan di PPN Palabuhanratu dipenuhi oleh sebuah perusahaan swasta. Air yang disalurkan berasal dari air PDAM yang dialirkan ke kapal perikanan melaluai jaringan pipa dan slang plastik dengan ukuran penjualan dalam bentuk “Blong” (drum plastik) yang berkapasitas 250 liter dan 120 liter atau dalam bentuk jerigen plastik (30 liter) untuk kapal-kapal yang ada di kolam 1 (satu).470 112.090 2.479.917.29 -46.161 158.27 -84.870 10.034 -17.778 147.71 19.49 286. yaitu pengisiannya menggunakan jaringan pipa yang 58 .32 115.78 1 5.704 219. 2009).632 11.045.92 -20. Tabel 3.900 1.61 75.1.811.868 117.450 196.40 No Tahun Air (Ltr) Fluktuas Jumlah i (%) 2.24 6.

kesadaran nelayan akan pentingnya mempertahankan mutu ikan semakin tinggi sehingga secara umum penggunaan es di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu cenderung turun sebesar 16.61 persen.langsung sampai ke dalam kapal dengan ukuran penjualan dalam bentuk kubikasi. Es Balok Kebutuhan logistik untuk es balok di PPN Palabuhanratu selama ini masih disuplai oleh dua perusahaan swasta. Di samping itu. Jumlah pemakain es balok oleh kapal/perahu perikanan di PPN Palabuhanratu untuk operasional penangkapan ikan disajikan pada grafik berikut. b.7. Kemampuan dalam mensuplai air bersih di PPN Palabuhanratu masih cukup besar dengan tersedianya mobil tangki untuk mengangkut air bersih yang berkapasitas 400 m³. Total penggunaan es balok oleh nelayan untuk operasional penangkapan ikan pada tahun 2007 adalah 59 . Sumber: Laporan Tahunan. Kebutuhan Es Balok di PPN Palabuhanratu tahun 1993—2008 Jumlah pemakaian es balok sampai sampai tahun 2007 mengalami fluktuasi bergantung jauh dekatnya wilayah penangkapan. yaitu pabrik es Sari Petejo dan Tirta Jaya. 2009 Gambar 3. Di samping itu. instalasi baru khusus untuk nelayan dan pihak investor guna meningkatkan pelayanan kebutuhan air bersih kepada masyarakat perikanan telah terpasang.

Perkembangan Kebutuhan BBM di PPN Palabuhanratu tahun 1993--2008 Kebutuhan BBM di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu berfluktuasi. 2009 Gambar 3. Volume logistik BBM terendah terjadi pada tahun 2001.000 liter karena aktvitas kapal masih didominasi kapal motor tempel. Sumber: Laporan Tahunan.045.04 persen per tahun.811.281 liter dimana pemakaian solar 60 .65 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. c.sebesar 164.8. Sementara itu. tergantung dari jumlah kunjungan kapal. Pemakaian solar kapal perikanan pada tahun 2008 sebanyak 5.161 kg (@ balok = 50 Kg) atau rata-rata per bulan sebanyak 13. Volume logistik BBM tertinggi terjadi pada tahun 2004 karena aktivitas kunjungan kapal longline (KM > 30 GT) yang meningkat tajam.680 kg. jumlah total pemakaian solar pada tahun 2008 mengalami kenaikan sebesar 118. yaitu hanya sebanyak 1.371 liter dengan rata-rata pemakaian per bulan 484. BBM (Solar) Jumlah pemakaian solar kapal perikanan di PPN Palabuhanratu semenjak dioperasionalkan mulai tahun 1993 sampai sekarang selalu mengalami fluktuasi seiring dengan kunjungan jumlah kapal pendatang yang tambat di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu dan jauh dekatnya daerah penangkapan ikan serta jumlah kapal perikanan dengan kecenderungan kenaikannya sebesar 5.

675 12. cakalang.ini banyaknya dilakukan oleh kapal-kapal pendatang (Kapal Tuna Long Line) yang mengisi logistik bahan bakarnya antara lain solar di PPN Palabuhanratu dan semakin jauhnya daerah penangkapan ikan (fishing ground). layang deles.477.007 6.513 1.050 739. Sementara itu.687 1.317.774 Harga (Rp/kg) 7.29.764.908 87.676 15.000 102.016 kg dengan nilai produksi sebesar Rp3.774.155 542.584 20.312 Sumber: Buku Statistik PPN Palabuhanratu.468 8.179 29.500 398.472 11.050 476.011 8.000 30.411 9.216 4. Kegiatan penangkapan ikan 50-70 persennya merupakan biaya operasional yang sebagian besar untuk keperluan pembelian BBM solar.372 11.697. tuna yellow fin.241.500 2.813. tingkat harga jual ikan tuna mata besar dan yellow fin tercatat paling tinggi.697.512.049 103. layaran.468 per kg. Hasil tangkapan nelayan di Palabuhanratu didominasi oleh ikan tuna mata besar.000 1.500 1.956 17.848. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Ikan Tongkol Komo Cakalang Tongkol Lisong Tongkol Abu-abu Tembang Tuna Albakor Tuna Mata Besar Tuna Yellow Fin Cucut Setuhuk Loreng Pedang-pedang Layur Layang Deles Layaran Peperek Rata-rata Volume (Kg) 15.733 301.230. Volume Produksi. Berdasarkan data produksi.308. dan tongkol lisong.917 251.308.595.093.997 15. Hasil tangkapan yang tidak kalah banyaknya adalah ikan layur.789.796.648. yaitu masing-masing sebesar Rp24.183. Penyaluran BBM solar di Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu disediakan oleh SPBB dan SPBN yang dikelola oleh pihak swasta dan melalui SPDN yang dikelola oleh pihak KUD Mina. Sebagian besar ikan di 61 .183 dan Rp21.338.115. rata-rata volume produksi pada tahun 2009 adalah 251.610 107.461 4.979 30.601. dan Harga per Jenis Ikan Tahun 2009 No.230 115.193 320.285 66. dan peperek. 2009 Ikan-ikan yang telah didaratkan di PPN Palabuhanratu kemudian didistribusikan ke pasar di berbagai wilayah.800 1.183 21.500 3.067.500 11.998. Tabel 3.015.108 13.960 1.300 175.272.6 Nilai (Rp) 112.000 1. Nilai Produksi.495.704.000 1.578.593.888.000 133.827 24.

Karakteristik Usaha Responden Jumlah responden yang diwawancarai sebagai sumber data primer adalah sebanyak 40 orang yang tersebar di delapan kecamatan. dan Suli. Hal ini menunjukkan bahwa responden termasuk nelayan yang berpendidikan karena sebagian besar responden pernah dan telah mengenyam pendidikan formal. yaitu sebanyak 40 persen. Sesuai dengan data yang diperoleh. Kemudian. responden sebagian besar adalah tamatan Sekolah Dasar (SD) yaitu sebanyak 50 persen dan 37.45 persen dari total volume produksi pada tahun 2009.5 persennya adalah tamatan Sekolah Menengah Pertama (SMP).22 persen dari total volume produksi. Sementara itu. nelayan yang menjadi responden masih tergolong muda karena pengalaman usaha mereka sebagian besar ≤ 5 tahun. 6—15 tahun. Bayah. Pasar regional lainnya yang juga mampu menyerap produksi ikan Palabuhanratu adalah Cianjur sebesar 8. Berdasarkan data yang diperoleh. sedangkan pasar lokal hanya mampu menyerap 8. Berdasarkan tingkat pendidikannya. Pasar regional yang menjadi tujuan utama dari pemasaran ikan Palabuhanratu adalah Jakarta sebesar 57. dan > 15 tahun. Cisolok. distribusi ke luar negeri atau ekspor yang langsung dilakukan dari Palabuhanratu hanya menyerap 2. 35 persennya memiliki pengalaman usaha 6—15 tahun dan hanya 25 persen 62 . Taman. Pengalaman usaha nelayan tersebar merata dari rentang waktu ≤ 5 tahun. asal responden sebagian besar atau 65 persen adalah nelayan dari Kecamatan Palabuhanratu dan sebagian kecil lagi tersebar di tujuh kecamatan lainnya.Palabuhanratu dipasarkan di pasar lokal dan regional. Cilacap. Simpenan. Sebagian kecil responden adalah tidak tamat SD dan tamatan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sekolah tinggi. Pemasaran ke Jakarta sebenarnya juga dijual kembali ke luar negeri oleh perusahaan-perusahaan besar yang menampung ikan-ikan dari Palabuhanratu sehingga kegiatan ekspor tercatat berasal dari Jakarta.64 persen. yaitu Kecamatan Palabuhanratu. Pasir Bayu.42 persen saja dari total volume produksi.

sebagian kecilnya (15%) memiliki anggota keluarga ≤ 2 orang. Sementara itu. Sebagian kecilnya lagi atau 10 persen responden yang melibatkan ≥ 3 orang anggota keluarga. Berdasarkan kepemilikan kapal (GT). Karakteristik responden juga dapat dilhat dari aspek teknis usaha penangkapannya berdasarkan kepemilikan kapal menurut GT.5 persen dari total responden. yaitu ≥ 10GT . Sementara itu. Kondisi ini disebabkan oleh karena armada penangkapan yang digunakan berukuran kecil. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan penangkapan menjadi mata pencaharian yang sangat diandalkan responden karena sejak usia muda mereka telah memilih nelayan sebagai profesi utama. keterlibatan anggota keluarga yang lain tidak terlalu signifikan dalam memikul beban ekonomi keluarga. responden yang bekerja sebagai nahkoda hanya sebanyak 11 orang atau 27.5 persen anggota keluarga yang terlibat dalam usaha penangkapan hanya 1 orang yang berarti hanya kepala keluarga yang bekerja.berpengalaman lebih dari 15 tahun. tampak bahwa kepala keluarga menjadi tumpuan utama dalam pemenuhan kebutuhan keluarga.5 persen dari total responden yang melibatkan 2 orang anggota keluarga yang bekerja. Berdasarkan statusnya. Sementara itu.5 persen bertindak sebagai ABK. Berdasarkan data yang diperoleh. sebagian besar responden adalah pemilik kapal dan ABK. ada pula keterlibatan istri dalam usaha penangkapan sebanyak 12.< 30GT dengan wilayah penangkapan yang tidak jauh. jenis alat tangkap. Berdasarkan jumlah anggota keluarga yang bekerja. 45 persen 63 . dan bahan bakar yang digunakan. Namun demikian. Sebagian besar responden termasuk ke dalam kategori keluarga besar yang memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang dan ≥ 5 orang. 77. Sebagian besar atau 55 persen responden memiliki anggota keluarga sebanyak 3—4 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga sedang yang terdiri dari orang tua dan dua orang anak dan 35 persennya memiliki anggota keluarga berjumlah ≥ 5 orang sehingga termasuk ke dalam kategori keluarga besar. Sebanyak 40 persen responden mengoperasikan sendiri armada penangkapannya dan sebanyak 32.

Alat bantu tangkap lainnya yang juga banyak digunakan adalah bagan yang ditancapkan di lokasi yang masih banyak memiliki sumber daya ikan. responden yang menggunakan kapal < 5 GT tidak ada karena wilayah penangkapan di lokasi penelitian bertambah jauh karena ketersediaan ikan semakin menurun. yaitu 12. dan longline. Jenis alat tangkap lainnya adalah longline sebanyak 15 persen dan gillnet sebesar 12.5 persen. yaitu sebesar 32. gillnet. tetapi ada pula nelayan yang menggunakan kapal dengan motor tempel. Jenis alat tangkap dan alat bantu lainnya yang digunakan responden adalah pancing tonda.5 persen untuk kapal ukuran ≥10 . 64 .5 persen atau hanya satu armada penangkapan yang menggunakannya karena minyak tanah hanya digunakan untuk menghidupkan mesin dan sebagai bahan bakar lampu petromaks. Bahkan.< 10 GT dan 32.5 persen dan bensin sebanyak 30 persen. Hal ini terlihat dari jenis bahan bakar (BBM) yang digunakan yang sebagian besar menggunakan solar sebanyak 67. Armada penangkapan yang digunakan sebagian besar adalah kapal motor dengan mesin berada di dalam kapal (inboard boat). bagan.<100 GT. Namun demikian. yaitu sebanyak 16 orang atau sebesar 40 persen. Dari keempat jenis alat tangkap tersebut.5 persen dari jumlah responden. Bagan hanya berperan sebagai alat bantu penangkapan karena setelah ikan berkumpul di bagan. responden yang menggunakan kapal dengan ukuran sedang dan besar hanya sebagian kecil saja.responden memiliki kapal dengan ukuran ≥ 5 . kondisi ini juga menyebabkan beberapa jenis alat tangkap tidak dapat lagi digunakan. nelayan akan mengambil ikan dengan menggunakan jaring yang ditarik oleh dua buah kapal. minyak tanah hanya menyumbang 2.5 persen responden menggunakan alat bantu bagan tancap dalam kegiatan penangkapannya.<30 GT dan 10 persen untuk kapal ukuran ≥30 . Sementara itu. Sementara itu. pancing tonda paling banyak digunakan oleh responden.

Hasil tangkapan bagan adalah ikan teri dan cumi-cumi yang masingmasing sebesar Rp272. Kerugian ini disebabkan oleh hasil tangkapan yang diperoleh didominasi oleh cumi-cumi dibandingkan ikan teri.5 2. Tabel tersebut keuntungan yang diperoleh nelayan per trip menurut tangkap dan ukuran armada penangkapan dari empat jenis alat tangkap.<100GT ≥100GT Bagan Jumlah Jenis Alat Tangkap Bagan Gill net Longline Pancing Tonda Jumlah Bahan Bakar yang Digunakan Bensin Solar Minyak Tanah Jumlah Sumber: Data primer diolah.889 dengan besarnya biaya operasional adalah Rp1. analisa usaha kegiatan Dari alat penangkapan ikan di Palabuhanratu dapat dilihat pada Tabel 3. padahal harga cumi-cumi rata-rata sangat rendah. 31. Penguasaan Aset Usaha Perikanan di PPN Pelabuhan Ratu Karakteristik Kepemilikan Kapal (GT) < 5 GT Jumlah (n) 0 18 5 4 13 40 13 5 6 16 40 12 27 1 40 Prosentase (%) 0 45 12. yaitu Rp3.5 100 ≥5GT . dan biaya di darat tidak menjadi komponen dari biaya operasional. hanya alat bantu penangkapan bagan yang rata-rata menunjukkan kerugian sebesar Rp 915. 65 .5 10 32. Sementara itu.Tabel 3. biaya solar.200 per kg.30. umpan.477.5 100 32. 2010 Dari kegiatan penangkapan tersebut.777 dan Rp288.5 12.<10GT ≥10GT -<30GT ≥30GT .984.5 15 40 100 30 67.450.

500.334 62. yaitu Rp1.000 0 16.269.000 0 0 240.813 25.31.667 207.825.250 474.000 124.750 106.250.875 Gillnet (≥5GT <10GT) Jenis Alat Tangkap Longline 1 (≥10GT -<30GT) Longline 2 (≥30GT 100GT) Pancing Tonda (≥5GT -<10GT) 0 109.298 dengan biaya solar mengambil bagian yang paling besar.000 118.000 0 0 7.000 438.533.000 16.577 288.500.Tabel 3. 2010 Hasil tangkapan kapal dengan alat tangkap gillnet adalah ikan tongkol dan cakalang dengan total penerimaan sebesar Rp10.500.000.298 7.798 3.483.984) 1.000.990 4. Uraian Penerimaan Teri Cumi-cumi Tongkol Cakalang Tuna Jumlah Biaya operasional Solar Bensin Minyak tanah Oli Es Umpan Ransum Biaya di darat Total biaya operasional Keuntungan Bagan 272.916.063 207.477.000 2.000 16.000 352.875 16.889 5. analisis membedakan antara longline ukuran ≥10 GT-<30 GT dan longline ukuran ≥30 GT-<100 GT karena hasil tangkapan dan biaya operasional jauh berbeda sehingga mudah mendapatkan 66 . dan bagian ABK adalah sebesar Rp2.051.500 741.188 688.000 561.666 1.357. yaitu 50 : 20 : 30 maka bagian pemilik kapal rata-rata sebesar Rp375. nahkoda Rp1.000 0 461.269. Khusus untuk alat tangkap longline.702.466 10.602.500. Analisa Usaha penangkapan Ikan Beberapa Alat Tangkap di Palabuhanratu 2010.500 6.432.702 6.000 16.648 Sumber: Data primer diolah. biaya operasional yang dikeluarkan sebesar Rp3.500 42.000 atau sebesar 39 persen.450 (915.000 55.750. Besarnya penerimaan dan biaya operasional tersebut menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp7.227 12.397.667 2.000.000.000 118.324.500.325.483.466.500. Sementara itu.256 667.000.600 1.000 120.708.000 0 50.825. Sesuai dengan sistem bagi hasil yang berlaku.600 525.500 866.000.500 0 9.667 0 2.787.000.000 5.791.000 45.000 875.324.

000.227 pada trip terakhir.000.500 sehingga keuntungan bersihnya sebesar Rp6. yaitu masingmasing sebesar Rp16.300. sistem bagi hasil yang digunakan juga sama sehingga bagian pemilik rata-rata sebesar Rp31.000.602.666.000.000. Dengan demikian.432.000.334 sehingga keuntungan bersih yang diperoleh sebesar Rp62.000. sedangkan SPBB melayani kapal-kapal besar ukuran ≥ 30 GT.000. Bentuk subsidi yang dikelola oleh PPN berupa subsidi BBM berupa solar melalui SPDN dan SPBB yang tersedia di pelabuhan.000. dan 40% untuk ABK.nilai rata-ratanya.500.000. Sistem bagi hasil yang digunakan adalah 50% untuk pemilik.875. dan 35% untuk ABK sehingga hasil yang diperoleh oleh masing-masing rata-rata adalah sebesar Rp6.708. 10% untuk nahkoda. nahkoda Rp660. Kondisi ini ditunjukkan oleh besarnya penerimaan dan biaya operasional longline ukuran ≥30 GT-<100 GT masing-masing sebesar Rp118.000. dan ABK sebesar Rp25. Kegiatan penangkapan pada trip terakhir untuk kapal dengan alat tangkap pancing tonda membukukan keuntungan bersih sebesar Rp12. SPDN khusus melayani kebutuhan solar dari kapal-kapal ukuran < 30 GT.000. Subsidi Perikanan di Palabuhanratu Subsidi perikanan di Palabuhanratu disalurkan oleh dua pihak.000 dan Rp9. dan ABK sebesar Rp4.483.051. yaitu Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi.000.500. bagian pemilik ratarata adalah Rp3. sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan rata-rata sebesar Rp4. 15% untuk nahkoda. 67 .648.791. dan ABK sebesar Rp2. nahkoda sebesar Rp2.300.641. Hasil tangkapan utama yang dibawa oleh pancing tonda adalah ikan tuna dengan nilai rata-rata Rp16. Sistem bagi hasil yang berlaku adalah 50% untuk pemilik. Sementara itu.000. jumlah penerimaan dan biaya operasional untuk kapal longline ukuran ≥10 GT-<30 GT sangat jauh berbeda.000.000 dan Rp55.397. Untuk longline ukuran ≥30 GT-<100 GT. nahkoda sebesar Rp6.

Namun. seperti rumpon yang diberikan kepada kelompok nelayan yang lulus seleksi setelah mengajukan proposal bantuan.a Rumpon Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi diolah. Selain itu. 1. mesin. Ada pula bantuan berupa alat bantu penangkapan. Data statistik pelabuhan menunjukkan bahwa dalam 5 tahun terakhir jumlah tangkapan ikan nelayan mengalami penurunan.Tabel 3. Namun demikian. Dinas Kelautan dan Perikanan juga memberikan bantuan modal untuk mengkonversi armada penangkapan nelayan dengan alat tangkap payang menjadi kapal rumpon.a BBM/Solar Dasar Kebijakan Kebijakan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak secara nasional. dan alat tangkap (paket) 1. Tidak Langsung: 2.32. Tidak mampunya kapal payang dan gillnet beroperasi di perairan Palabuhanratu karena fishing ground yang semakin jauh Kebijakan pemasangan rumpon di sekitar perairan Palabuhanratu Menurunnya sumber daya ikan sehingga fishing ground semakin jauh 1.b Bantuan kapal. seperti paket penangkapan berupa armada penangkapan dan alat tangkapnya. Akibatnya. pemerintah bisa saja memberi bantuan untuk mengganti kapal yang ada dengan kapal jenis purse seine. nelayan banyak yang tidak dapat melaut untuk menangkap ikan. armada penangkapan yang dimiliki sebagian besar nelayan Palabuhanratu tidak menunjang untuk sampai ke wilayah penangkapan yang jauh. disadari bahwa purse seine justru membahayakan kelestarian sumber daya ikan karena kemampuannya mengeruk semua jenis ikan dari yang ikan terkecil hingga 68 . Bentuk-bentuk subsidi perikanan tangkap laut tahun 2009 No. 2010 Sementara itu. Menurunnya hasil tangkapan ini mendorong nelayan untuk menempuh perjalanan yang panjang karena wilayah penangkapan (fishing ground) semakin jauh. subsidi atau bantuan yang disalurkan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan lebih bersifat paket. Untuk mengatasi permasalahan ini. Jenis kapal ini memang dapat memberikan hasil tangkapan yang banyak bagi nelayan. Jenis Subsidi Langsung: 1.c Bantuan modal untuk mengkonversi perahu 2.

Saat ini. 69 .ikan ukuran besar. Bentuk rumpon dan cara kerjanya yang ada di perairan Palabuhanratu Pemerintah melalui Dinas Kelautan dan Perikanan memutuskan untuk menggunakan rumpon sebagai salah satu cara untuk mengatasi permasalahan usaha nelayan dan kelestarian sumber daya tersebut. Rumpon di perairan Palabuhanratu biasanya berupa rumpon permukaan yang menggunakan pelepah pohon kelapa sebagai sumber makanan ikan agar ikanikan tetap berkumpul di sekitar rumpon. Namun demikian. Agar tali tidak kusut dan terpelintir. ikan-ikan akan berkumpul di sekitarnya sehingga mempermudah nelayan dalam menentukan lokasi penanngkapan dan membantu nelayan mendapatkan ikan dengan mudah. namun ada juga rumpon yang seharga Rp150 juta. Dengan bantuan rumpon. Teorinya keberadaan tiap-tiap rumpon dirahasiakan agar kelompok nelayan lain tidak bisa sembarangan menangkap di semua rumpon yang ada. Gambar 3. Harga rumpon per unit rata-rata sebesar Rp60 juta. dipasanglah beberapa cincin di sepanjang tali rafia tersebut. Rumpon adalah alat bantu yang dipasang untuk menangkap ikan.9. jumlah rumpon yang berasal dari bantuan pemerintah berjumlah 40 unit dengan jarak per rumpon sejauh 8 mil. Purse seine juga akan merusak terumbu karang dan kekayaan laut lainnya sehingga justru mengancam kelestarian sumber daya di masa depan. Hal ini dilakukan karena tali rafia lebih praktis karena tidak perlu diganti dalam jangka waktu yang cukup lama. saat ini sebagian besar pelepah pohon kelapa diganti dengan tali plastik rafia. Sebuah rumpon diperuntukkan bagi 1 kelompok nelayan yang terdiri atas 5 kapal nelayan.

Untuk itu.Namun. pemerintah daerah berusaha menyediakan daerah penangkapan baru yang lebih terjangkau melalui rumpon-rumpon yang disebar di sepanjang perairan Palabuhanratu. Bantuan modal ini merupakan bantuan bergulir dari satu kelompok nelayan ke kelompok nelayan lainnya. Pelabuhan Perikanan selaku Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap hanya menyediakan lahan. Modal tersebut sedianya digunakan untuk mengkonversi kapal mereka menjadi kapal penangkap ikan di rumpon karena menurunnya ketersediaan sumber daya ikan membuat kapal payang tidak mampu beroperasi lagi. prakteknya hal itu sangat sulit dilakukan karena faktor iba karena sekelompok nelayan bisa membawa hasil tangkapan yang banyak. bantuan modal tersebut macet karena kelompok nelayan yang menerima bantuan tidak mengembalikan modal tersebut sehingga kelompok nelayan lain tidak mendapat kesempatan yang sama. Dalam memberikan pelayanan BBM solar bersubsidi. tangki BBM solar dan fasilitas lainnya. Sedangkan dalam kaitannya dengan pengajuan kuota BBM dan jumlah kuota yang disediakan merupakan kewenangan dari pihak Pertamina serta ditembuskan ke Direktorat Jenderal kelautan. Akan tetapi. bangunan. Pelayanan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara pebauhanratu dilakukan dalam tiga jenis stasiun pengisian. sedangkan ada kelompok lain yang tidak mendapat hasil tangkapan sama sekali. Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (P3K) yang merupakan bagian dari Program Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir termasuk di dalamnya Pembangunan Solar Packed Dealer untuk Nelayan (SPDN). Bentuk bantuan lainnya yang juga diberikan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sukabumi adalah bantuan modal bagi nelayan yang memiliki armada penangkapan dengan alat tangkap payang. SPDN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak KUD 70 . yaitu: (1) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) Solar Packed Delaer untuk Nelayan (SPDN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan.

sedangkan pihak KUD memanfaat ketiga fasilitas tersebut dengan sistem sewa sesuai dengan peraturan yang berlaku. Paridi Asyudewi yang berlokasi di didermaga II. Penggunaan fasilitas (3) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) Statsiun Pengisian Bahan Bakar Bunker (SPBB) di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. (2) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) adalah stasiun pengisian bahan bakar solar dengan fisik bangunan yang lebih besar dari SPDN yang diperuntukkan kepada nelayan dan pembudidaya ikan skala kecil.Sinar Laut dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan. pihak PT. SPBN di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dikelola pihak swasta PT. Dalam operasionalnya. Pengisiannya dilakukan 71 . sedangkan bangunan dispenser dispenser adalah milik pihak PT. Dalam operasionalnya KUD Sinar Laut memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 320 m3. instalasi pompa BBM dan dispenser. Dalam operasionalnya. Paridi Asyudewi menggunjakan tongkang atau bunker kapal milik PT. SPDN ini melayani kebutuhan BBM solar bersubsidi bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom I yang berukuran < 30 GT (Kapal rumpon. Mekar Tunas Raya Sejati sendiri. Paridi Asyudewi dengan kouta rata-rata sebanyak 400 kiloliter per bulan. PT. Mekar Tunas Raya Sejati memanfaatkan fasilitas pelabuhan perikanan berupa tangki BBM dengan kapasitas 208 m3 dan instalasi pompa BBM. SPBN ini melayani kebutuhan BBM solar bagi kapal-kapal perikanan yang melakukan tambat di Kolom II dengan nukuran kapal > 30 GT (Kapal longline). pompa BBM dan bangunan dispenser) milik Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu. dogol dan gillnet). pelabuhan tersebut dilakukan dengan system sewa. Ketiga fasilitas tersebut (tangki BBM. Mekar Tunas Raya Sejati dengan kuota rata-rata sebanyak 236 kiloliter per bulan.

1 liter atau sama dengan 126. TNI AL. realisasi penjualan BBM 72 .026. Pada tahapan ini. yang selanjutnya dilakukan pengisian ke kapal-kapal yang ada di Kolom II. Sementara itu.417. POL AIR. nelayan melaopor ke TNI AL. yang selanjutnya diperkenankan mengajukan permohonan pengisian solar ke penyalur (SPBN/SPBB). atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 126. Realisasi penjualan BBM melalui SPDN sejak bulan Mei 2009 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.000 liter dalam tiap minggunya. ke petugas jasa untuk melakukan biaya bayar tambat.5 liter. dan terakhir melapor ke Syahbandar di Pelabuhan Perikanan untuk mendapatkan SIB.651. Setelah kapal mendapatkan SLO dan SIB. maka dalam waktu 1 x 24 jam penyalur BBM solar besubdisi (SPBN/SPBB) diperbolehkan menjual solarnya kepada kapal yang akan berangkat melaut setelah sebelumnya berkoordinasi dengan pihak syahbandar dalan hal pengisian BLB (Buku Lapor Bunker). yaitu: (1) Tahapan Melapor Kedatangan Kapal Pada tahapan melapor kedatangan. (2) Tahap Melapor Keberangkatan Kapal Setelah nelayan melakukan tahapan melapor kedatangan kapal pada beberapa hari sebelum kebarangkatannnya kembali. ke Pengawas Perikanan untuk mendapatkan SLO. Status mobil tangki tersebut adalah milik PT.dengan dibantu mobil tangki minyak dengan kapasitas 16. petugas jasa. POL AIR kemudian melapor ke petugas teknis untuk mendapatkan STBLKK.6511 kiloliter. Pelayanan BBM solar bersubsidi di pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu dilakukan melalui mekanisme dalam dua tahapan melapor. maka nelayan diwajibkan melapor keberangkatan kapalnya. Paridi Asyudewi yang berfungsi menyalurkan BBM solar bersubsidi melalui darat yang kemudian disalurkan ke dalam bunker/tongkang. pihak nelayan diwajibkan melapor ke prtugas teknis. Syahbandar dan Pengawas Perikanan di Pelabuhan Perikanan.

2010 73 .0 55.76%).221.277.5 60.447.0 110.000.140.147.0 128.422.0 95. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 367. sedangkan untuk SPBB telah mencapai hampir keseluhan jatah yang diberikannya (91.026.095.651.0 86.721.0 70.352.0 72.963.0 127.785.491.0 46. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Periode Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Volume Penjualan (Lt) Meter A Meter B 55.248.0 56.0445 kiloliter.322.038.139.540. terlihat bahwa untuk SPDN baru mencapai separuh (53.558.734.1 liter.006.1 Sumber: KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.894.936.0 62.0 155.835.068.001.0 127.257.. atau rata-rata relaisasi penjualan per bulannya adalah sebanyak 30.432. Tabel 3. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 No.melalui SPBN sejak bulan November 2008 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 663.0 71.0 51.0 55.756.0 71.0 56.0 1.33.0 liter.8 68.0 126.954.148.698.044.0 68.042.978.0 61.3 Total (Lt) 123.0 68.412.577.0 132.0 77.0 139.989.0 46. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu.0 128.417.0 70.0 85.356.310.0 128. Bila realisasi penjualan tersebut dibandingkan dengan kuota yang diberikan.0 2.179.211. Sementara untuk SPBN baru mencapai kurang dari seperempat (12.998.5 126.006.0 127.460.0 127.570.0 128.798.1445 kiloliter.0 35.741.77%) dari kuota yang dijatahkannya.0 57.0 62.696.0 63. Sedangkan dari Tabel 3 dan Gambar 3 diketahui bahwa realisasi penjualan BBM melalui SPBB sejak bulan Januari 2010 hingga Agustus 2010 secara total telah mencapai volume sebanyak 2.144.5 liter atau sama dengan 30.5 liter atau sama dengan 367.5 54.154.586.0 879.727.484.700.0 86.0 65.461.67%) dari kuota yang dijatahkannya.0 60.265.0 66.0 41.0 71.194.5 128.0 59.

000. Periode Mei 2009 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.2 47.351.0 23.000.0 42.0 120.6 33.000.765.9 34.200.8 19.0 140.230.0 14.200.179.000. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPDN KUD Mina “Sinar Laut” Pelabuhanratu. Mekar Tunas Raya Sejati.990.0 0.7 37.0 100.5 November 2008 Desember 2008 Januari 2009 Februari 2009 Maret 2009 April 2009 Mei 2009 Juni 2009 Juli 2009 Agustus 2009 September 2009 Oktober 2009 November 2009 Desember 2009 Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Total Rata-Rata per Bulan Sumber: SPBN PT.0 20.144.209.253.0 54. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.048.537.0 80.805.0 34.826.0 40. 2008-2010 M ay 74 .000.2 58.410.200. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 No.0 663.160.34.330.0 0.10. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.0 12.2 22.977.5 50.3 22.558.0 11.000.1 30.000.453. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Periode Volume Penjualan (Lt) 12. Pelabuhanratu.0 Volume Penjualan (Lt) 0 l-1 Ju 0 -1 ay M 0 -1 ar M 10 nJa 09 vNo 9 -0 ep S 9 l-0 Ju 09 Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.000.800.8 22.908.9 64.4 22.6 21.122.0 60.

751.0 403.000. Namun di sisi lain. 1 2 3 4 5 6 7 8 Total Rata-Rata per Bulan Sumber : SPBB PT. Tentunya pernyataannya dapat dibenarkan bila digunakan asumsi bahwa besaran kuota BBM solar bersubsidi yang di sediakan adalah dihitung berdasarkan jumlah kebutuhan BBM untuk nelayannya. Dengan kata lain.0 267.044.0 20.936. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBN “PT.870.115.0 50.633.0 30.0 40. Periode November 2008 sampai dengan Agustus 2010 Tabel 3.102. 70.813.0 0.0 433. rendahnya relaisasi tersebut (terumana pada SPDN dan SPBN) menunjukkan bahwa sesungguhnya masih terdapat sebagian besar nelayan yang membeli BBM solar yang dibutuhkannnya justru di luar SPDN dan SPBB yang ditunjuk.0 2.000.0 505.0 466. Hal ini seperti terlihat dari besaran realisasi penjualan BBM solar bersubsidi yang masih di bawah kuota.0 0.5 10 gAu 0 -1 ay M 10 bFe 09 vNo 09 gAu 9 -0 ay M 09 bFe 08 vNo Periode Pengisian (Bulan) No. MEKAR TUNAS RAYA SEJATI” Pelabuhanratu.000.000. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu.0 10.356. Paridi Asyudewi. SPBN dan SPBB) maupun mekanismenya dalam penyaluran atau penjualan BBM solar bersubsidi di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu telah cukup memadai.11. 2010 75 .Secara teknis mekanisme pelayanan baik yang dilihat melalui polanya (SPDN.35.0 Gambar 3. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT. pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara telah mampu menyalurkannya secara baik.0 367.000.0 449. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Periode Januari 2010 Februari 2010 Maret 2010 April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 Volume Penjualan (Lt) 410.0 Volume Penjualan (Lt) 60.000.072.000.

gillnet.000. Dalam perkembangannya sampai dengan tahun 2010 pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara baru menyediakan BBM jenis solar saja.0 10 gAu 0 l-1 Ju 10 nJu 0 -1 ay M 0 r. BBM jenis solar tersebut digunakan untuk kapal perikanan yang berukuran > 10 GT.1 Ap 0 -1 ar M 10 bFe 10 nJa Periode Pengisian (Bulan) Gambar 3.12.000.0 200. khususnya bagi nelayan skala usaha mikro dan kecil merupakan komponen yang sangat penting dalam menjalankan kegiatannya. jenis BBM yang dibutuhkan di Pelabuhan Perikanan Nusantara Pelabuhanratu adalah jenis solar dan premium/bensin. PARIDI ASYUDEWI” Pelabuhanratu.0 400.0 0. namun hanya digunakan untuk keperluan penerangan saja.000. Periode Januari 2010 sampai dengan Agustus 2010 Peran Subsidi Perikanan Bahan Bakar Minyak (BBM) merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi masyarakat perikanan khususnya nelayan di Palabuhanratu dalam melakukan operasional penangkapan ikan.000. Hal ini karena komponen biaya BBM berkisar antara 40-60% dari seluruh biaya 76 . Kebutuhan BBM.0 100. longline dan kapal rumpon.000. Realisasi Penjualan BBM Solar Bersubsidi SPBB “PT. Melihat kondisi di lapangan dari berbagai jenis kapal maupun mesin yang digunakan nelayan untuk melakukan operasional penangkapan. Sedangkan jenis mesin tempel digunakan untuk kapal payang dan kincang dengan BBM jenis premium/bensin.0 Volume Penjualan (Lt) 500.0 300.000.600. yakni kapal yang menggunakan mesin diesel untuk jenis kapal dogol. Di samping itu jenis kerosin/minyak tanah digunakan oleh nelayan.

22 7 5.4 50 561.36. usaha penangkapan dengan menggunakan bagan mengalami kerugian yang cukup besar karena biaya operasional yang harus dikeluarkan lebih besar daripada penerimaan yang diperolehnya. Akibatnya.791.33 4 83.musim paceklik Rata-rata volume BBM (per trip): . Berdasarkan hasil olahan data di atas.Bensin .29 8 10. di atas menunjukkan bahwa subsidi BBM.170.00 0 9333 liter 55.324.operasional penangkapan ikan. Artinya.0 00 1500 liter 9. dengan kenaikan harga BBM solar tersebut maka nelayan mengalami beban tambahan yang harus dikeluarkan sebesar 11.477. Biaya untuk bahan bakar 77 .29 8 4.36.483. khususnya solar.50 0 16.000.8 75 Sumber: Data primer diolah.musim biasa .791.Solar . Tabel 3.500.Minyak tanah Rata-rata biaya operasional per trip dengan subsidi BBM Rata-rata biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM Nilai hasil tangkap 1 hari 1 hari 1 hari 7 hari 7 hari 7 hari 15 hari 15 hari 15 hari 120 hari 100 hari 77 hari 6 hari 6 hari 7 hari 5 liter 6 liter 1.0 00 393 liter 6 liter 13 liter 4. memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat perikanan.85 2 16.592.2%.2%. Kondisi seperti ini sangat memberatkan nelayan.397.33 4 118.897. bila terjadi kenaikan harga BBM jenis solar sebesar 28% maka akan menambah beban biaya produksi penangkapan ikan sebesar 28% x 40% = 11.500 13.466 282 liter 10 liter 8 liter 3. 2010 Tabel 3. terlebih lagi karena selama ini nelayan dalam memenuhi kebutuhan BBM solar dibeli dari pihak ketiga (tengkulak) yang harganya lebih mahal kurang lebih 30% dari harga ketentuan pemerintah.musim ikan .825.432. Analisa pendapatan dan biaya usaha penangkapan pada Trip Tahun 2010 Jenis alat tangkap Uraian Bagan Gillnet ≥5GT <10GT Longline 1 ≥10GT <30GT Longline 2 ≥30GT 100GT Pancing Tonda ≥5GT <10GT Rata-rata ukuran kapal Rata-rata lama hari per trip: .

Berdasarkan olahan data pada Tabel 12.500 atau 48 persen lebih besar dibandingkan biaya operasional per trip dengan subsidi BBM. Perbedaannya adalah beban biaya bahan bakar tidak sepenuhnya ditanggung nelayan. bagian biaya solar terhadap biaya operasional menjadi 81 persen dibandingkan apabila kegiatan usaha penangkapan dibantu dengan subsidi BBM yang hanya mengambil bagian 72 persen per trip. Pemberian subsidi BBM sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap longline. Jika nelayan menggunakan BBM bersubsidi maka porsi solar terhadap biaya operasional adalah 38 persen. Kenaikan biaya operasional ini berdampak pada turunnya keuntungan yang diperoleh nelayan rata-rata sebesar 68 persen. sedangkan jika tanpa subsidi porsinya semakin besar yang mencapai 51 persen per trip penangkapan.298 yang mengakibatkan berkurangnya keuntungan nelayan rata-rata sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan keuntungan dengan BBM bersubsidi.170. kondisi yang jauh berbeda ditunjukkan oleh kapal-kapal dengan alat tangkap lainnya yang mampu memperoleh keuntungan cukup besar bagi nelayan. terutama bagi kapal longline ukuran ≥10GT . besarnya biaya operasional per trip tanpa subsidi BBM adalah Rp13. Begitupula halnya dengan kapal longline ukuran ≥ 30 GT – 100 GT yang harus mengeluarkan biaya operasional per trip lebih besar 60 persen apabila menggunakan solar tanpa subsidi sehingga porsi biaya solar terhadap biaya 78 .897. Di sisi lain.<30GT.yang berupa bensin dan minyak tanah menyumbang hampir 40 persen dari total biaya operasional.500 maka biaya operasional per trip yang harus dikeluarkan adalah Rp4. komponen biaya bahan bakar kapal ratarata sebesar 60 persen dari total biaya operasional yang dikeluarkan. tetapi ada intervensi pemerintah dengan memberikan subsidi bahan bakar solar yang mereka gunakan. Dengan demikian. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. Seperti halnya kapal gillnet. Kedua jenis bahan bakar tersebut tidak termasuk bahan bakar yang disubsidi sehingga beban biaya tersebut sepenuhnya harus ditanggung sendiri oleh nelayan kecil.

baik secara langsung (pemberian pelayanan oleh petugas pelabuhan perikanan dengan menggunakan fasilitas milik Pelabuhan Perikanan) maupun tidak langsung (pemberian pelayanan pihak pelabuhan perikanan melalui bekerja sama dengan pihak swasta).operasional naik dari 75 persen menjadi 86 persen.500 per liter maka biaya operasional per trip dengan bahan bakar bersubsidi adalah Rp4.227. Perbandingan antara adanya subsidi BBM dan tanpa subsidi BBM pada usaha penangkapan ditunjukkan oleh porsi yang meningkat dari biaya solar terhadap total biaya operasional yang dikeluarkan. Subsidi BBM juga sangat dirasakan dampaknya bagi nelayan dengan alat tangkap pancing tonda. Dengan asumsi harga solar nonsubsidi adalah Rp7. 3. Porsi biaya solar mencapai 40 persen jika nelayan mendapat solar bersubsidi. dengan luas wilayah 117. Dampak selanjutnya adalah menurunnya keuntungan yang diperoleh nelayan sebesar 45 persen. sedangkan tanpa subsidi BBM porsi biaya solar meningkat menjadi 53 persen terhadap total biaya operasional per trip. Akibatnya. Pihak Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu sangat berperan dalam memberikan pelayanan BBM solar dengan harga subsidi. sedangkan tanpa subsidi BBM sebesar Rp5.4.377 hektar dan sebagian wilayahnya menghadap ke Teluk Lampung. Lampung merupakan pengembangan dari Kabupaten Lampung Selatan dan dan secara resmi dibentuk berdasar UU No: 33 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Pesawaran.852 atau meningkat 26 persen.592. besarnya keuntungan nelayan rata-rata menjadi menurun sebanyak 10 persen. Kabupaten ini berada di bagian pesisir selatan wilayah Propinsi Lampung. Kabupaten Pesawaran (Lampung) Gambaran Umum Lokasi Kabupaten Pesawaran. 79 . intervensi pemerintah melalui pemberian subsidi BBM masih sangat diperlukan oleh nelayan dalam negeri untuk menjamin keberlanjutan usaha penangkapannya. Berdasarkan hasil analisis tersebut.432.

685.8 16. 80 .37.0 442.0 2. budidaya ikan barong.0 110.8 Perkembangan Rp.0 100. dalam tahun 2008-2009 terjadi perkembangan yang cukup signifikan khusus pada budidaya (KJA) Ikan Kerapu yang didominasi oleh Kerapu Bebek dapat dilihat pada Tabel 3.6 508. Tangkap laut Tangkap perairan umum Budidaya tambak Budidaya air tawar Daging tiram mutiara Rumput laut Budiaya Kerapu (KJA) Benih ikan JUMLAH 74. Tabel 3. 5.37. 2.939.0 96.570. Pesawaran Dalam hal perkembangan luas lahan budidaya dan jumlah rumah tangga pembudidaya ikan di Kab.996.5 144. Juta) 2008 1. 4. sedangkan potensi lahan tambak 750 ha yang sebagian besar ada di Kecamatan Padang Cermin dan Kecamatan Punduh Pidada.39.820.692.833.2 624. 7. Nilai produksi perikanan di Kab.6 17.0 437.5 ha. budidaya rumput laut. 8. dan budidaya teripang dengan total potensi lahan seluar 3. Wilayah laut dan pesisir Kabupaten Pesawaran meliputi sebagian dari Teluk Lampung dan 37 pulau kecil yang tersebar di Teluk Lampung dengan potensi meliputi budidaya kerang mutiara.4 4.6 143.2 12. berdasarkan data produksi 2009 didominasi oleh perikanan budidaya yang jika dilihat secara proporsinal terlihat pada Tabel 3.045.8 768.388.121.880.4 105. Pesawaran.0 1. 6. 3.520.2 % 26 16 16 38 10 17 49 73 23 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.750.6 71.278. budidaya ikan kerapu.667.610.Saat ini wilayah kab.511.141. juta 19.0 603.5 47.2 121. Pesawaran Tahun 2008-2009 No Jenis usaha Nilai produksi (Rp.0 2.884. Pesawaran terdiri atas 7 (tujuh) wilayah kecamatan dan 133 desa dengan ibukota di Gedong Tataan.6 2009 93. Hasil (nilai) produksi perikanan di Kabupaten Pesawaran.0 10.0 419.

5 10 12 359 391 2 2.5 15 1 75.40. Dari Tabel 3. Pesawaran.5 369. 7. 6. Pesawaran.886 2009 1. 5. 2. 3.0 Kenaikan Ha 17 2 32 0.Tabel 3. Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH 1.39 Jumlah Rumah Tangga (RTP) pembudidaya ikan di Kab. 2.282 18 45 14 94 510 225 2.118 Kenaikan Orang 116 4 6 0 21 140 15 302 % 10 28 15 0 38 29 7 16 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.240.40 diketahui bahwa jenis subsidi yang pernah 81 .5 % 5 20 9 25 25 26 2. 2008-2009 No Jenis Usaha Tahun (Orang) 2008 1. 6. 7. Pesawaran Bentuk-Bentuk Subsidi Perikanan Selama periode tahun 2009 telah dilakukan pemberian subsidi kepada pelaku usaha sector kelautan dan perikanan di Kabupaten Pesawaran. Lampung.4 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.8 2.5 2.38. 4.164. 4.5 60 75 3. Jenis Usaha Kolam Minapadi Tambak KJA Air tawar Rumput laut KJA Kerapu Tiram Mutiara JUMLAH Tahun (ha) 2008 2009 352. 5. Tahun 2008-2009 No 1. Pesawaran Tabel 3.5 3.8 4.5 3.166 14 39 14 73 370 210 1. 3. Adapun jenis dan dasar kebijakan pemberian subsidi tersebut seperti tertera pada Tabel 3. Perkembangan luas areal budidaya laut di Kab.

Pesawaran 82 .b Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Antisipasi menghadapi dampak bencana alam pada tempat tinggal masyarakat nelayan. Sedangkan subsidi tidak langsung diberikan dalam bentuk program atau bantuan lainnya yang sifatnya bukan barang ataupun financial.Peningkatan pengembangan usaha budidaya ikan air tawar (gurame dan nila) sementara kemampuan modal para pembudidaya yang relative terbatas. 2. 1. Subsidi langsung dalam hal ini dimaksud sebagai bantuan yang diterima oleh para pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan dari pemerintah (Kementerian Kelautan dan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat) dalam bentuk barang ataupun finansial.c Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila . Jenis Subsidi Langsung: 1. Tabel 3.a Pelatihan Rendahnya tingkat keterampilan (skill) masyarakat pesisir terkait dengan pengembangan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan. Tidak Langsung: 2. Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Sektor Kelautan dan Perikanan di Kabupaten Pesawaran Lampung No.Lemahnya modal para pembudidaya ikan air tawar terutama untuk membeli benih dan induk ikan gurame dan ikan nila .a PNPM Mandiri-KP Ketidakberdayaan ekonomi masyarakat dalam mengembangkan kegiatan usaha di sektor kelautan dan perikanan. 1.diberikan oleh pemerintah di Kabupaten Pesawaran Lampung adalah meliputi: Subsidi yang bersifat langsung dan subsidi yang bersifat tidak langsung.40. Dasar Kebijakan 1.

Alokasi dana PNPM Mandiri-KP di Kabupaten Pesawaran tahun 2009 Lokasi Jumlah Kelompok 10 Jumlah Anggota 92 Jenis usaha Jaring payang padang.975 Kec. Padang Cermin.41. Padang Cermin. Desa 8 77 9 259. tangkap bubu. pancing bandrong.000) 249. baik subsidi secara langsung maupun tidak langsung di Kabupaten Pesawaran pada tahun 2009. Tabel 3. dan perbaikan jalan KJA Kerapu. budidata rumput laut.Jenis subsidi langsung diberikan oleh pemerintah dalam tiga bentuk yaitu: (1) PNPM Mandiri_KP. dan (3) Bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. Kebijakan yang mendasari pemberian subsidi dengan jenis langsung dan tidak langsung tersebut. Penjelasan dari masing-masing bentuk subsidi tersebut dijelaskan pada uraian selanjutnya. nelayan pancing. jaring kelitik.999 83 . (2) Pembangunan rumah nelayan ramah bencana. Desa Sukajaya Lempasing Kec. tangkap jaring. Sedangkan jenis subsidi tidak langsung berupa pelatihan bagi para pembudidaya ikan air tawar. Jumlah paket 10 Nilai (Rp. dalam hal ini lebih didasari oleh latar belakang kondisi usaha sector kelautan dan perikanan dan kondisi pelakunya yang memang membutuhkannya terutama untuk alasan pemberdayaan masyarakat di sektor kelautan dan perikanan dan pengembangan atau keberlanjutan usaha sector kelautan dan perikanan tersebut ke depan. meliputi: (1) PNPM Mandiri-Kelautan dan Perikanan Sasaran program ini adalah masyarakat bidang kelautan dan perikanan yang bertempat tinggal di wikayah pesisir atau diluar pesisir yang memiliki kegiatan di bidang kelautan dan perikanan. pancing cumi. Bentuk-bentuk subsidi sektor kelautan dan perikanan yang pernah diberikan pemerintah.

dan Desa Durian. Jumlah paket Nilai (Rp.Lokasi Durian Jumlah Kelompok Jumlah Anggota Jenis usaha pengeringan ikan asin.000) 2 desa 18 169 19 509. menggunakan dana APBD Kab. Desa Sidodadi. Magang pembudidaya rumput laut ke NTB. dan rehabilitasi jalan setapak. Desa Pulau Pahawang. Desa Kampung Baru. Subsidi selisih harga berupa bantuan selisih harga benih dan induk ikan Gurame dan ikan Nila. (3) Pelatihan Melalui dana APBD Provinsi Lampung. Padang Cermin (20 unit) di Desa Sukajaya Lempasing. 84 . Pelatihan pembenihan ikan laut. Pesabwaran (2) Pembangunan Rumah Nelayan Ramah Bencana Sasarannya: pemenuhan kebutuhan masyarakat nelayan terhadap rumah tahan bencana. Pelatihan budidaya laut dalam rangka pemberdayaan usaha skala kecil. Pembangunan rumah di lakukan di dua kecamatan yaitu: Kecamatan Punduh Pidada (30 unit) di Desa pulau Legundi. dilakukan pelatihan yang pesertanya adalagh masyarakat pesisir dan aparat terkait. Kec. Pelatihan pembuatan alat tangkap nelayan. Magang tambak resirkulasi. Topik materi pelatihan diantaranya: Pelatihan manajer pengendali mutu perikanan. Pelatihan cara budidaya ikan yang baik (CBIB).974 Sumber: Laporan Tahunan 2009 Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Pesawaran. Pelatihan pembenih dan pembudidaya ikan air tawar. dan Desa Sukarame. (4) Subsidi selisih harga Subsidi selisih harga dimaksudkan sebagai bantuan pemerintah (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pasewaran Lampung) untuk membayar selisih harga antara harga pasar dengan harga keekonomiannya. Pelatihan manajer usaha dan percontohan pembenihan tiram mutiara.

Dengan demikian. dan dengan siklus usaha selama 13 bulan.511. 314. pembahasan mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya tidak dilakukan dengan pendekatan perbandingan antara sebelum dan sesudah (after and before comparative) diberi subsidi.000. Secara eksisting. Untuk rata-rata usaha budidaya pembesaran ikap kerapu bebek dalam keramba jarring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. dalam hal ini dari Kementerian Kelautan Perikanan atau Dinas Kelautan dan Perikanan setempat. Secara rinci gambara mengenai biaya dan penerimaan usaha tersebut seperti tertera pada Tabel 3.-. dan (2) Kemungkinan peran atau dampak potensial yang dapat dilakukan atau terjadi bila subsidi diberikan terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungannya. dalam bagian ini dilakukan dengan mengambil kasus budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. diperlukan rata-rata biaya total sebanyak Rp.634. tetapi berdasarkan kemungkinan (potensial) dampaknya bila subsidi tersebut diberikan. dalam bagian ini akan dijelaskan: (1) Analisis biaya dan penerimaan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran.dan menghasilkan rata-rata penerimaan sebesar Rp. Lampung. Lampung dengan luasan sebanyak 13 kolam yang masing-masing berukuran 3x3 m2 dengan kedalaman 5 m. usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di lokasi kasus tersebut hingga saat ini tidak atau belum mendapatkan subsidi (langsung ataupun tidak langsung) dari pemerintah. Oleh karena itu. Untuk itu. meskipun baru bersifat normatif namun kita masih dapat memperkirakan peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha budidaya pmbesaran ikan kerapu dal KJA tersebut. dan kemungkinan dampaknya terhadap kelestarian lingkungan.42.Peran Subsidi Perikanan Uraian mengenai peran subsidi terhadap keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan. 85 .210..230. Propinsi Lampung.

Lampu Penerangan i.061. Tali e.000 46. Pakan Pelet f.705.500 3.000 442.95 0.324.000 7.000 1.700 1.292.49 0.Investasi: a.000 1.634. Lampu Penerangan i. Bambu f.466 77.88 1.895.2 Biaya Tidak Tetap: a.250 3.500 449.500 441.404.264.000 2.) 230.000 314.679.14 69.634.126.100 172.382.592.) Nilai (Rp.00 30.555.376.42.750 2.07 28.735. Jaring d.100 5.656.257 256.000 621.085. Tempat Pemeliharaan b. Penerimaan: Produksi kerapu 3. Solar c.50 Proporsi (%) 100.276 320.90 1 1 30 137 147 169 1 2 1 1 unit unit unit kg buah unit unit unit unit unit 4.750 17.150 Sumber: Data Primer diolah (2010) 86 .Biaya Penyusutan: a. Tenaga Kerja g.65 1.500 16.702. Biaya Total: 1. Timbangan . Retribusi Kebersihan k. Tali e.500 5.101 975. Propinsi Lampung (KJA sebanyak 13 Kolam dan Siklus Usaha selama 13 Bulan) Uraian 1. Timbangan 1. Jaring d.511 71.000 487. Bensin b.400 10. Gudang j.575 15.750 326.500 135.475 10.42 0.500 65.811. Pelampung g.200 2.430.587.62 1421 580 3280 10036 2420 4 83 1308 4 14 28 698 lt lt ekor kg kg orang tabung galon paket kolam kolam kg 3.000 23.500 48. Pompa Air h.357. Bambu f.500 4.500 1.1 Biaya Tetap: . Pompa Air h.32 1.511 85. Perahu c.264.300 365.210.000 29. Benih ikan d.921.000 16. Ransum bulanan j.010.120 6. Gas Elpiji h. Pajak Kolam Keramba 2. Pakan Rucah e.005.555 1.125.996 1.500 281.905 582.74 25. Perahu c.604 159.07 0.000 358.750 71.10 3. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam keramba Jaring Apung di Kabupaten Pesawaran.556 166.100 2.05 0.344 4.Tabel 3.370.000 0. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Volume Satuan Harga (Rp.57 7.27 1.468.200 5.02 0. Gudang j. Pelampung g.500 1.511 1.11 1.87 0.33 21.03 0.67 0.000 449. Air Bersih i. Tempat Pemeliharaan b.050 6.655 59.60 2.453.

500.50.atau 28. 65. dan (2) Untuk pakan ikan yang menyerap sebanyak Rp. seperti komponen benih atau pun pakan) dalam pengembangan usaha tersebut..22% dari biaya totalnya. Untuk itu sebaiknya pemerintah 87 .57% dan untuk pakan pelet sebanyak Rp. Melihat kondisi struktur biaya usaha budidaya pembesara ikan kerapu dalam KJA di Kabupetan Pesawaran. 69..65%. terutama dalam jangka panjang.000. Biaya pakan tersebut terdiri dari biaya unuk pakan ikan rucah (pakan alami) sebanyak Rp.atau 21. Sementara. sehingga pemerintah dalam hal ini harus menentukan prioritas apakah akan memberikan subsidi pada komponen tertentu atau komponen tertentu lainnya.Dari Tabel 3. 17. diantaranya adalah pertimbangan: (1) Sejauhmanakah urgensi memberikan subsidi kedua komponen tersebut dalam mendorong keberlanjutan usaha..42 diketahui bahwa berdasarkan strukturnya. Lampung (Tabel 3.314.895.210. yaitu: benih ikan kerapu atau pakan ikan.000.atau 36. Terdapat banyak pertimbangan dalam pemberian subsidi (langsung) pada kegiatan usaha budidaya pembesaran ikan karapu tersebut.750. proporsi biaya usaha budidaya pembesaran ikan kerapu didominasi oleh dua jenis biaya pengeluaran. rata-rata penerimaan yang dihasilkan baru bersumber dari budidaya pembesaran ikan kerapu bebek saja (monoculture). Secara sederhana. dan (2) Apakah pemberian subsidi tersebut secara potensial berdampak terhadap kelestarian lingkungan.42).-.592.750.900. yaitu: (1) Untuk benih ikan kerapu yang menyerap sebanyak Rp.atau 7. yaitu sebanyak 698 kg dengan nilai sebanyak Rp. berdasarkan besaran penerimaan dan biaya totalnya. 48. secara potensial subsidi dapat diberikan pada komponen biaya/pengeluaran yang memiliki proporsi yang tergolong dominan.634.07% dari biaya totalnya. maka dapat diketahui bahwa usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran telah mencapai kondisi efisiensi dengan rasio penermaan terhadap biayanya sebesar 1. Bila diasumsikan bahwa pemerintah berada dalam kondisi memiliki anggaran yang relatif terbatas.

Hal ini terlihat dari besarnya proporsi biaya kedua komponen tersebut (benih ikan dan pakan ikan) terhadap biaya total dari kegiatan usaha tersebut. Dengan adanya 88 . banyak aspek positif yang berkaitan dengan keberlanjutan usaha meskipun akan diikuti secara proposional dengan meningkatnya jumnlah pakan ikan rucah yang digunakan. Sementara dari dasar pertimbangan kedua (aspek kelestarian lingkungan). Komponen benih ikan kerapu memiliki proporsi biaya sebesar 21. Diantara aspek positif tersebut adalah dorongan kepada peningkatan penggunaan benih ikan kerapu yang bermutu baik dibanding yang digunakan oleh pembudidayaan saat ini. Namun bila dilihat dari sisi prioritas dan fakta di lapang dimana permasalahan benih yang berkualitas semakin mendesak untuk dicarikan solusinya. karena menurut persepsi pelaku usaha tersebut di lapangan bahwa mutu benih ikan kerapu dewasa ini semakin menurun. untuk kondisi saat ini ataupun ke depan memberikan subsidi pakan ikan rucah tampaknya kurang tepat. Bila pemerintah memang pada akhirnya memutuskan untuk memberikan subsidi benih ikan. Dari awalnya untuk menghasilkan ukuran 500 gram per ekor diperlukan periode pemeliharaan kurang dari 12 bulan. Meskipun dalam kenyataannya pakan ikan rucah ini memiliki peran sangat penting besar di samping benih ikan dalam kegiatan produksi ikan kerapu di lokasi tersebut.57%.07%. sedangkan komponen pakan ikan khususnya pakan ikan rucah memiliki proporsi biaya sebesar 28. Dari dasar pertimbangan pertama (aspek keberlanjutan usaha) tampaknya baik subsidi benih ikan maupun subsidi pakan keduanya sama-sama berpotensi memiliki peran penting dalam keberlanjutan usaha budidaya pembesaran ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung. saat ini sudah bervariasi mulai dari 13 – 16 bulan.memutuskannya setelah melakukan pengkajian berdasarkan kedua pertimbangan di atas (keberlanjutan usaha dan kelestarian lingkungan). karena peningkatan pakan tersebut berpotensi meningkatkan cemaran (polusi) terhadap lingkungan perairan budidaya ikan kerapu di Kabupaten Pesawaran Lampung.

05 6.pemerintah memberikan subsidi benih yang berkualitas baik. Untuk lebih meyakinkan kita.50 1. pemerintah menghadapi situasi yang lebih sulit dan kurang dapat memasukkan unsur pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Simulasi Perubahan Rasio Penerimaan terhadap Biaya (R/C) Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran pada Berbagai Perubahan Tingkat Subsidi Benih Ikan (Tanpa dan Dengan Subsidi Benih) Subsidi Benih (%) 5 10 15 20 25 R/C Tanpa Subsidi 1. berarti produktivitas usaha budidaya pembesaran dalam KJA di Kabupaten Pesawaran dapat lebih ditingkatkan lagi.69 5.50 R/C Dengan Subsidi Benih 1. Lampung.43.54 1. dibandingkan bila benih ikan yang menjadi pilihan tersebut. Dengan kata lain. bahwa pemberian subsidi benih ikan ke depan akan efektif dalam meningkatkan keberlanjutan usaha yang diihat menggunakan indicator rasio penerimaan terhadap biaya (efisiensi) usaha budidaya pembesaran ikan kerapu dalam keramba jaring apung (KJA) di Kabupaten Pesawaran. secara sederhana pada Tabel 3.50 1.43 dan Tabel 3.50 1.44.10 2.50 1. Sementara di sisi lain.45 Sumber: Data Primer diolah dari data primer (2010) Keterangan: R/C = Rasio Penerimaan terhadap Biaya Total 89 .52 1. secara teknis lebih rumit karena dominasi pakan ikan rucah yang notabene diperoleh dari dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan alat tangkap yang dalam waktu dekat akan dilarang pemerintah yaitu alat tangkap jaring cantrang (jaring gardan).58 1.56 1. bila pemberian subsidi pakan ikan yang menjadi pilihan.38 3.60 Perubahan R/C (%) 1. dapat dilihat hasil simulasi pada kondisi tanpa dan dengan subsidi. pemberian subsidi berupa pakan ikan. Tabel 3.

257 256. Benih ikan 0.257 256.1 Biaya Tetap: .43 dan Tabel 3.56.404. Pelampung g.500 1.500 1.101 975.264.125 7.53 12.604 159.085.000 16.03 0.500 449.000 487.500 5.511 1.921.750 71.) Biaya (%) 230.82 90 .921.500 5. Tempat Pemeliharaan b.453.382.43 0.702.750 326.370.125.88 1.344 4.996 1. Sebagai gambaran untuk pemberian subsidi benih ikan sebsar 15% akan meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya (R/C) usaha budidaya tersebut meningkat dari semula (tanpa subsidi benih) sebesar 1.07 0.625 Uraian 1. Jaring d.404.000 2.02 0.705. Tabel 3. Perahu c. Tali e.90 85.Biaya Penyusutan: a.345.02 0.01 0. Tempat Pemeliharaan b.100 2.750 326.69% (lihat Tabel 3. Pelampung g.511 30.679.264.679.466 77. Timbangan 1. Bensin b.11 1.324. Solar c. Biaya Total: 1.1 4. Perahu c.00 71.750 71.44).000 23.14 3.085.10 3.061.126.79 23.11 1.33 21.655 59.511 85. Lampu Penerangan i.500 48.500 449.000 2.656.344 4.468.264.000 23.276 320. Bambu f.705. Lampu Penerangan i.000 29.14 69.324.634.656. Rata-rata Biaya dan Penerimaan Usaha Budidaya Pembesaran Ikan Kerapu Bebek dalam KJA pada Kondisi Tanpa dan Dengan Subsidi Benih 15% Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp.468. Pompa Air h. Jaring d.100 5.9 0 87.000 29.100 2.500 3.511 1.31 0.07 0. Timbangan .081.000 16.44.49 0.655 59.35 0.50 menadi sebesar 1.466 77.500 3.357.276 320.000 487.636 100 71.125. Gudang j.02 0.453.000 7. Pompa Air h. Bambu f.42 0. Gudang j.702.061.303.500 41.556 166. atau R/C usaha meningkat sebesar 3.126. Tali e.Investasi: a.2 Biaya Tidak Tetap: a.Dari Tabel 3.32 1.101 975.) Biaya (%) 223.264.556 166.592.604 152.357.511 100.43 diketahui bahwa pemberian subsidi benih ikan dapat meningkatkan rasio penerimaan terhadap biaya total (efisiensi) usaha budidaya tersebut.382.996 1.87 0.74 25.500 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.100 5.

66 2. Polusi (cemaran) tersebut ditimbulkan dari limbah pakan ikan rucah maupun pakan pelet ikan yang akan meningkat secara proporsional seiring dengan meningkatnya penggunaan benih ikan dalam kegiatan produksi tersebut. Air Bersih h.27 1.000 1.000 314.700 1.555.210.700 1.250 3. sehingga berkembang dan menyebabkan daya dukung perairan yang menurun.) Biaya (%) 65. bila upaya-upaya pengelolaan tersebut tidak 91 . terutama dalam jangka panjang. Pakan Rucah e.895.67 0.) Biaya (%) 65.634.000 621.210.53 6. Lampung secara baik dan konsisten.12 0. Pakan Pelet f Tenaga Kerja f. Pajak Kolam Keramba 2.42 1.02 0.64 1. Kemungkinan peran (dampak) negative terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut bisa saja terjadi. maka diperkirakan akan terjadi beberapa hal yang berkaitan dengan perubahan lingkungan perairan di lokasi budidaya dan sekitarnya.735.811.811.750 7. Sebaliknya.735.57 17.050 6.000 1.95 0. Gas Elpiji g.68 17.895.430. Beberapa hal tersebut diantaranya adalah: bila diasumsikan dengan pemberian subsidi benih ikan tersebut. Penerimaan: Produksi ikan kerapu 3. Retribusi Kebersihan j.50 1.000 1.750 28.60 2.000 1.62 Dengan Subsidi Benih Ikan 15% Proporsi Nilai (Rp.05 0.376.26 Sumber: Data Primer diolah (2010) Selanjutnya.750 15. Rasio Penerimaan terhadap Biaya Tanpa Subsidi Proporsi Nilai (Rp. Secara normative dapat disampaikan bahwa apabila diberikan subsidi benih ikan pada kegiatan usaha budaya tersebut. namun dalam realitasnya justru hal tersebut dapat tidak terjadi sepanjang dilakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan perairan budidaya pembesaran ikan kerapu dalam KJA di Kabupaten Pesawaran. maka hal ini berarti pada lingkungan perairan budidaya tersebut terdapat potensi polusi (cemaran).376.250 3. Ransum bulanan i.555.050 6.56 1.430.65 2.750 28.634. kita akan bahas bagaimana kemungkinan peran (dampak) subsidi benih ikan pada budidaya pembesaran ikan kerapu tersebut terhadap kelestarian lingkungan perairan budidaya.000 314.000 621.Uraian d.

918. dalam tiga tahun terakhir 30% . Kolaka berasal dari perikanan laut (perikanan tangkap dan budidaya). Kendari Gambaran umum lokasi penelitian Kabupaten Kolaka berada di jazirah Tenggara pulau Sulawesi dan secara geografis terletak pada bagian Barat Propinsi Sulawesi Tenggara.39% PDRB Kab. Hasil budidaya perikanan laut Kab.000 Km2. Kolaka disumbang oleh sektor pertanian (termasuk perikanan). Sebelum tahun 2001. maka pemberian subsidi benih ikan sebaiknya dapat diikuti dengan pemberlakuan regulasi yang bertujuan untuk mengendalikan tekanan cemaran terhadap lingkungan perairan budidaya tersebut. sedangkan budidaya tambak ikan Bandeng di atas 40% dari total produksi perikanan budidaya di Kabupaten Kolaka. Kolaka terbagi ke dalam 20 kecamatan. Teripang. Berdasarkan data statistik. 92 . 3. Kabupaten Kolaka. Berdasarkan tabel 4. Secara proporsional. Ikan Kerapu dan Mutiara. Sebagai upaya antisipatif terhadap kemungkinan terjadi dampak negative tersebut. Bandeng.5. namun dalam kurun waktu 2001 sampai 2007 terjadi tiga kali pemekaran wilayah kecamatan sehingga saat ini Kab. kontribusi nilai hasil produksi rumput laut tahun 2008 dan 2009 di atas 50%.dilakukan secara baik dan konsisten. Kolaka terbagi ke dalam 32 wilayah kecamatan.38 Km2 dan wilayah perairan (laut) sekitar 15. justru dampak negative tersbut berpotensi besar dapat terjadi. Kab. Kabupaten Kolaka dijadikan lokasi penelitian mewakili perikanan budidaya (laut) mengingat perikanan laut mendominasi produksi perikanan dibandingkan perikanan daratan. produksi perikanan Kab.1. Kolaka terdiri atas Rumput laut. dapat dilihat. Wilayahnya terdiri atas daratan seluas 6.

6967 55.163 162.45.007 262.287 8.Juta) Komoditi 2007 4.9585 43. dalam kajian ini difokuskan kepada komoditas unggulan.26243 Budidaya Bandeng Pembudidaya ikan Bandeng di Kecamatan Wolo dan Wundulako mengelola lahan milik sendiri.99 9.849 9.643 112 5 1.728 22.4819 30. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) Produksi (Ton) Nilai Produksi (Rp.697 3 13. Tingkat pendidikan rata rata tamat SD dan SLTP dan masih dalam usia produktif (20 – 49 tahun) dengan rata rata usia 34 tahun.3733 46.033 2008 119.566 405 165 137.64 0.152 Tambak Teripang Kerapu Rumput laut Mutiara Jumlah 7.491 24.198 67. Kabupaten Kolaka.44 0. Pembudidaya ikan Bandeng di Budidaya Bandeng di Kab. Survey dilakukan terhadap pembudidaya tambak dan rumput laut di Desa Towua.643 110 5 584 500 2008 4.031 9 3 15.868 24. Kolaka. Tabel 3.75 3.604 9.223 2007 109.332 2009 122.437 396 138 151.903 500 2009 4. Kolaka dilakukan di tambak tambak yang ada di pesisir pantai yang ada di lingkungan sekitar hunian warga.Berkaitan dengan hal di atas. Perkembangan Luas areal dan Produksi Budidaya Laut di Kab.643 110 5 1.353 273.7 ha.169 8.231 9 3 15. menggunakan modal sendiri dengan rata rata luasan kepemilikan lahan 1. 2009 Kontribusi/porsi: Tambak (%) Rumput laut (%) 9.475 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Kecamatan Wunduloko. Jenis budidaya adalah pembibitan dan pembesaran dengan masa 93 .273 3.776 1. yaitu budidaya rumput laut dan budidaya tambak ikan Bandeng karena bantuan pemerintah banyak ditujukan kepada kedua jenis usaha ini.784 2008 7.15 .343 389 131 50.544 2.75379 52.2 1.919 40 2007 6.817 2009 7. dan di Desa Muara Lapao-pao Kecamatan Wolo.

Kondisi ini. itupun sekedarnya saja. Gelondongan tersebut diletakkan di dasar tambak yang mampu menampung bibit sebanyak 15 ribu ekor yang biasanya diisi 2 kali dalam setahun. Artinya. Setelah lama pemeliharaan 4 bulan. Sistem panen dilakukan bertahap. Hanya saja. Pemberian pupuk lebih didasarkan kepada kemampuan masing masing pembudidaya. bibit sudah bisa dipindahkan ke tambak untuk tahap pembesaran. mereka tetap dapat menebar benih pada musim-musim penanaman. bantuan benih tersebut diakui dapat menggeser alokasi modal yang telah mereka perhitungkan. Selanjutnya.. Bibit alam yang dibeli seharga Rp50 per ekor disimpan dalam tempat yang disebut gelondongan. Pembeli (pedagang) berasal dari Kolaka dan sekitarnya dan ikanpun dijual dalam bentuk ikan segar di pasar pasar yang ada di Kab. Tidak ada acuan baku yang diikuti dalam pemberian pupuk. Waktu 2 bulan ini dimanfaatkan untuk mengeringkan tambak sebelum tahap penebaran/penanaman bibit dimulai.000 ekor per petak tambak. pembeli (yang disebut pembonceng) membeli langsung ke tambak dan membeli secara eceran sebanyak 100 – 200 ekor. Proses pengeringan tambak biasanya memerlukan waktu satu bulan dan sisa waktu satu bulan digunakan untuk pemberian pupuk kimia (Urea dan TSP).pemeliharaan 6 bulan. hampir tidak ada pembudidaya yang memberi pakan tambahan dalam bentuk apapun. modal yang sebelumnya telah dianggarkan untuk 94 . Kemudian tambak diisi air secara bertahap. tanpa adanya bantuan tersebut. Selama pembesaran. Tujuan pemberian pupuk dan pengisian air secara bertahap agar tumbuh lumut dan jasad renik yang nantinya berfungsi sebagai pakan alami ikan Bandeng. jenis bantuan yang diberikan berupa benih nener dan benur tidak secara signifikan membantu keberlanjutan usaha para petani tambak.000—3. mulai dilakukan panen. Kalaupun diberi pakan pelet. dan racun yang berfungsi sebagai pembasmi ikan liar. Alasannya. dimana pasar yang ada terbatas pada pasar lokal dan belum ada industri pengolahan ikan Bandeng membuat harga jual jatuh pada saat panen bahkan kadang tidak terserap pasar. bibit ditebar yang biasanya berjumlah 2. Menurut petani tambak yang diwawancarai. Dalam waktu 2 bulan. Caranya. Kolaka.

894 6.44 1.51 1.53 1. pengadaan kedua input tersebut diharapkan dapat menjadi perhatian pemerintah daerah setempat. Saat ini.44 1.233 1.47 1.52 2009 1. bantuan berupa pupuk dan mesin pompa menjadi harapan petani tambak bandeng dan udang.53 1.51 1.175 1. Selain itu.45 1. Sementara itu.645*) Vol.44 1. Produksi (Ton) 2007 1.45 1.407 545 69 836 171 428 172 1.258 1.031 2009 1. 2009 Catatan: *) Belum termasuk bantuan bedah tambak 240 ha 95 .45 1. Untuk itu.46 1.54 1.697 2008 1.56 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.46.989 7. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Tambak di Kab.membeli benih ikan dapat digeser untuk alokasi pupuk atau biaya input lainnya.58 1. harga pupuk saat ini sangat mahal sehingga dirasakan sangat membebani para petani tambak.049 7.56 1.54 1. Bantuan untuk melakukan bedah tambak diakui sangat bermanfaat.52 1.51 1. input berupa mesin juga sangat diperlukan para petani yang selama ini belum pernah tersentuh oleh bantuan pemerintah.44 1. baik untuk keberlanjutan usaha maupun bagi kelestarian sumber daya. Kolaka Tahun 2007-2009 Luas areal (ha) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Baula Pomalaa Tanggetada Watubangga Total 2007 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4645 2008 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.645 2009 816 977 377 47 580 118 296 118 1316 4.52 1.57 1.221 Produktivitas (ton/ha) 2007 1.58 1. pertumbuhan ikan menjadi sangat bagus karena lingkungan tambak yang kondusif bagi tumbuhnya pakan alami yang dibutuhkan oleh bandeng dan udang.57 1.45 2008 1. Input berupa pupuk merupakan bahan baku utama yang diperlukan dalam usaha tambak ini sehingga sebagian besar modal diperuntukkan untuk membeli pupuk.507 589 74 909 186 463 186 2. Faktor utamanya adalah karena program bedah tambak ini dapat mengaktifkan kembali tambak yang telah lama ditinggalkan karena sudah tidak layak pakai.52 1.477 572 72 878 179 450 181 1.56 1.51 1. Pada kenyataannya.56 1. Tabel 3. Kolaka.

Pomalaa 0% 8% 8. Masalah mulai timbul dalam budidaya Rumput laut sejak awal tahun 2008. Tanggetada 0% 8% 9. produksi 1. Kolaka. Wundulako 0% 9% 6. Kolaka Tahun 2007-2009 No Kecamatan Luas areal Vol. 2009 Budidaya Rumput Laut Rumput laut merupakan komoditas budidaya unggulan di Kabupaten Kolaka. kesejahteraan pembudidaya menunjukkan peningkatan yang berarti. rumput laut juga mampu menarik perhatian para pembalak kayu sehingga penebangan hutan berkurang cukup signifikan yang mengakibatkan kelestarian hutan juga terjaga. adanya tabungan di bank. Akibatnya. Wolo 0% 7% 2. berupa gangguan yang menyebabkan bibit Rumput laut yang berumur 3 96 . Kondisi ini sangat berbeda dengan masa sebelumnya yang menunjukkan bangunan rumah yang sederhana serta tidak adanya kendaraan bermotor di rumah. Bahkan. banyak nelayan yang beralih menjadi pembudidaya rumput laut. Perubahan yang kasat mata adalah dengan dibangunnya rumah yang permanen. Booming rumput laut dimulai pada tahun 2004 sejak tindakan bom ikan oleh para nelayan dikecam oleh masyarakat sekitarnya. Sulawesi Tenggara. Baula 0% 9% 7. usaha budidaya Rumput laut mencapai masa jayanya. dan dimilikinya kendaraan bermotor. Dalam kurun waktu tersebut. Prosentase Peningkatan Luas areal dan Produksi Tambak Tiap Kecamatan di Kab. Watubangga 0% 8% Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Hal ini menunjukkan bahwa pengamanan sumber daya sudah berbasis masyarakat sehingga telah tumbuh kesadaran yang tinggi terhadap kelestarian sumber daya di kalangan pelaku utama perikanan sendiri. Samataru 0% 7% 3. Latambaga 0% 8% 4. Selama periode 2004 hingga 2008. Kolaka 0% 7% 5.47.Tabel : 3.

Kabupaten Kolaka baru mampu menembus pasar lokal dan pasar Makassar yang diambil oleh pedagang besar untuk kemudian diekspor. Selama ini. Sementara pada 97 . Rambu-rambu tersebut dibuat dengan menggunakan pelampung dan pemberat agar tidak bergeser karena arus laut. Pemasaran hasil produksi berupa rumput laut kering juga menjadi masalah bagi pembudidaya. Sulawesi Selatan. Akibatnya. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mengatur jalur-jalur perhubungan bagi lalu lintas kapal nelayan yang akan ke atau dari laut. dan para-para atau tempat menjemur rumput laut. pelampung. Untuk itu. rumput laut kering dari Desa Barbarina. Selama ini. Masalah lain yang ada terkait dengan batas-batas lahan budidaya yang mengakibatkan adanya konflik antar sesama petani rumput laut maupun antara petani rumput laut dengan nelayan. Komoditas rumput laut telah tersentuh bantuan sejak tahun 2004—2010. Untuk itu. jangkar. produktivitas hasil sangat rendah. Untuk itu. baik kelompok budidaya maupun kelompok tangkap laut. para petani tambak sangat mengharapkan adanya penelitian atas masalah tersebut agar gangguan tersebut dapat diatasi dengan cepat. kepadatan lahan. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka berusaha menyelesaikan konflik tersebut dengan mengundang Kepala Desa dan kelompok-kelompok. petani rumput laut sangat mengharapkan bantuan pemerintah daerah untuk memperluas pasar yang selama ini hanya diserap oleh pasar di Makassar. Kecamatan Muaralapao-pao. cara tersebut dapat diterima oleh para pembudidaya rumput laut dan nelayan. tali. Gangguan ini belum teridentifikasi faktor penyebabnya. dinas membuat rambu-rambu batas rumput laut yang menyala saat malam hari. Untuk itu. atau karena lingkungan budidayanya. jumlah produksi yang besar dapat terjual dengan harga jual yang tinggi. produksi rumput laut yang ada sering menumpuk di gudang penyimpanan sehingga harga jual menjadi turun. apakah karena kualitas bibit. Dengan demikian.minggu menjadi hancur. Bantuan pada 2004 hingga 2006 berbentuk paket berupa bibit. Akibatnya.

904 1. Bantuan yang diberikan bersifat seragam sehingga setiap kelompok yang mendapat bantuan akan menerima barang yang seragam. Gudang penyimpanan ini sangat diperlukan untuk menampung hasil panen hingga pedagang pengumpul dari Makassar datang mengambil.562 2.429 13.788 1. gudang penyimpanan sederhana terbuat dari kayu yang dibangun di bawah rumah salah seorang ketua kelompok.750 3. Kolaka Tahun 2007-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Total Luas areal (ha) 2007 2008 2009 89 291 294 117 396 398 90 307 310 61 201 203 54 191 193 48 156 158 61 199 201 61 163 164 581 1.265 1. bantuan hanya berupa bibit dan tali.525 1.374 1.523 3.735 2.497 1. Selama ini.585 3. Produksi (Ton) 2007 2008 2009 2. Bantuan tersebut diberikan satu kali dalam setahun. Kolaka.921 Vol.123 1.370 1.861 2.784 16. bantuan lain yang diharapkan adalah bantuan berupa gudang penyimpanan dengan bangunan yang permanen. Selain itu.817 22. bantuan tahun 2009 adalah bibit dan tali maka setiap kelompok akan mendapat bibit dan tali dalam jumlah dan kualitas yang sama. Artinya. Untuk itu. Tabel 3. bantuan tidak dibedakan sesuai dengan kebutuhan setiap kelompok.379 2.826 2. Kegiatan panen ini biasanya tidak bisa dilakukan sekali jalan.039 1.422 1.355 4. Sementara itu. Perkembangan Luas areal dan Produktivitas Rumput Laut di Kab.690 1. Contohnya.48. 2009 98 .074 Produktivitas (ton/ha) 2007 2008 2009 23 9 11 24 8 11 24 8 11 23 9 11 24 8 11 23 9 11 25 9 13 25 11 15 24 9 12 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. apalagi jika lokasi lahannya berada jauh dari tepi pantai.280 1. bantuan mesin untuk perahu bermotor sangat diperlukan oleh para petani untuk memantau kondisi rumput laut setiap dua hari sekali dan juga untuk mengangkut hasil panen.tahun 2007 hingga sekarang. Hal inipun sangat bergantung pada besar kecilnya perahu sehingga kapasitas untuk memuat rumput laut berbeda.119 2.110 2.068 2. keberadaan perahu bermotor sangat diharapkan oleh para petani rumput laut untuk mengganti perahu dayung yang selama ini mereka gunakan.

00 1.2 167. dan secara tidak langsung (masyarakat tidak langsung menerima bantuan tetapi merasakan manfaatnya). Produksi (%) 07-08 08-09 07-09 22. Ini dilakukan agar pemilik tambak mengolah tambaknya secara berkelanjutan.5 59 22. Kolaka.17 244. dan bantuan berupa “bedah tambak”.Tabel 3.3 50 22. Selanjutnya.5 59 22. setiap kelompok budidaya melalui ketua kelompoknya mengajukan permohonan bantuan dalam bentuk proposal yang di dalamnya dicantumkan jenis bantuan yang dibutuhkan.5 253. proposal tersebut diverifikasi lapang oleh petugas dinas untuk melihat kebenaran dari informasi yang disampaikan dalam proposal. yaitu pemda memfasilitasi pengerjaan pembuatan/pembenahan tambak tambak masyarakat yang terbengkalai.01 0.79 257.05 1.0 30.0 Luas (%) 08-09 1.44 232. Proposal tersebut harus diketahui oleh kepala desa dan ditandatangani oleh semua anggota kelompok. tali ris dan jangkar.7 225.28 1.0 226.5 59 22.7 61 Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab.0 238.5 59 22.5 59 22. Prosedurnya. 99 . Peningkatan Luas areal dan Produksi Rumput Laut di Kab.51 168.41 229.93 07-09 230.3 80 22.51 0.0 23.0 47. 2009 Jenis dan Dasar Kebijakan Subsidi Subsidi/bantuan kepada pembudidaya dapat dikelompokkan berdasarkan manfaat yang diterima oleh masyarakat pembudidaya.17 229.61 0. bukan secara perorangan.1 229. Bantuan yang selama ini diberikan untuk kelompok pembudidaya.0 30.85 229. untuk budidaya ikan Bandeng (benih.0 31. Selanjutnya.2 226.5 59 22.49.0 30. 1 2 3 4 5 6 7 8 Kecamatan Wolo Samataru Latambaga Kolaka Wundulako Pomalaa Tanggetada Watubangga Rata rata 07-08 227. berupa sarana produksi seperti: untuk budidaya rumput laut (bibit rumput laut. Program bantuan atau subsidi langsung diberikan kepada pembudidaya di Kabupaten Kolaka.08 Vol. Kolaka Tahun 2007-2009 No.5 241. Pemilik tambak hanya membayar setengah dari total biaya penataan lahan tambak.98 1.0 30.0 30.34 240. gudang penyimpanan dan mesin perahu).03 0.0 30. Bantuan langsung (penerima langsung mendapatkan/menerima bantuan).

Artinya. (c) siap sharing dalam bantuan yang sifatnya fifty-fifty karena tanpa komitmen ini bantuan akan gagal sehingga usaha budidayanya tidak mampu berkembang. Budidaya rumput laut . Adapun kriteria pemberian bantuan adalah: (a) prioritaskan pembudidaya yang miskin. Hal itu sangat membantu keberlanjutan usaha mereka.000 = Rp2. jangkar) perikanan kedua terbesar setelah budidaya tambak. biaya bedah tambak akan dibantu pemerintah dengan nilai 50 persennya saja. Program bantuan/subsidi tidak langsung dapat berupa pembangunan sarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. Untuk itu. Sedangkan biaya 4 jam lagi ditanggung oleh petani tambak. Bantuan dengan sistem fifty-fifty khusus diberikan untuk program bedah tambak. namun terjadi kecenderungan penurunan produksi dan luas lahan karena 100 . Tabel 3. Jenis bantuan/subsidi dan dasar pertimbangannya No A. (b) belum pernah mendapat bantuan. Patokan yang digunakan adalah biaya pengerjaan tambak per jam yang besarnya Rp500. tali ris. pemerintah berusaha mengoperasikan tambak-tambak tersebut dengan cara membantu biaya perbaikan tambak.kelompok pembudidaya yang mendapat bantuan disahkan dalam Surat Keputusan (SK) yang dikeluarkan oleh kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kolaka. Program ini terbukti sangat disambut baik oleh para petani tambak karena tambak yang telah rusak dapat dihidupkan kembali.000. Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Subsidi/Bantuan langsung Dasar pertimbangan 1. Program ini mulai dilakukan tahun 2007 hingga sekarang karena pada periode tersebut banyak tambak yang terbengkalai (idle) akibat pendangkalan yang pada terjadi pada tambak.000.Budidaya rumput laut merupakan a) Pengembangan Sapras Budidaya penyumbang pendapatan sektor Rumput laut (bibit. Jika untuk memperbaiki tambak memerlukan waktu 8 jam maka bantuan akan diberikan sebanyak 4 jam atau sebesar 4 jam x Rp500.000.50.

paku) Dasar pertimbangan . Pembangunan Tower Hatchery Watubangga 4.Perlu pemacuan dalam penyediaan benih bermutu dalam jumlah besar. Rehabilitasi Kantor BBI Wundulako 2. .No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan b) Pengadaan sarana penunjang budidaya rumput laut (kayu tiang. Penyempurnaan Sapras Hatchery Wolo 5. tali. Rehabilitasi dan Rekonstruksi Tambak B. 101 . Mowewe. waring. oleh pemerintah (pusat dan daerah) secara langsung maupun tidak langsung kepada masyarakat pembudidaya.Masyarakat pembudidaya kesulitan dalam mendapatkan benih. Sedangkan bantuan tidak langsung berupa pembangunan prasarana/fasilitas yang pemanfaatannya dapat dirasakan oleh masyarakat pembudidaya. maupun hutan bakau di pesisir. kayu) 3. Akibatnya mereka kehilangan sumber pendapatan dari budidaya ikan sehingga beralih menjadi perambah hutan di bukit bukit sekitar daerah hunian. dalam jumlah maupun kualitas yang diharapkan. Pengembangan Pembudidaya Teripang (bibit. Wundulako Bentuk-bentuk Subsidi Perikanan Seperti yang telah dikemukakan di atas. kayu lantai. Pemantapan BBI Loea. subsidi/bantuan yang diberikan . Bantuan langsung pada umumnya ditujukan untuk meningkatkan produksi. .Potensi konflik batas lahan budidaya rumput laut dan jalur pelayaran sehingga perlu penataan dan penertiban .Teripang merupakan komoditas yang memiliki prospek harga yang bagus.Banyak lahan tambak terbengkalai karena pemiliknya tidak cukup dana untuk penggalian dan penataan lahan tambaknya yang sudah dangkal dan tumbuh gulma. namun belum banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Pembangunan Hatchery 3. Subsidi/bantuan tidak langsung 1. 2.

Pembangunan hatchery.000 - - 10 paket 100 ha 63. waring. pembelian bibit. kayu dan lainnya yang fungsinya untuk budidaya Rumput laut dan pembuatan para para untuk penjemuran rumput laut hasil panen. 1.000 4.000 - 5 unit 240 ha 94.185 49. Penyempurnaan sarana prasarana hatchery di Kec. tali ris. jangkar Sarana penunjang (kayu tiang. 1. Bantuan/Subsidi langsung Budidaya Rumput laut Pengadaan sapras (bibit. talli ris.200 - - B.51. Kolaka tahun 2007 – 2010 No Jenis dan bentuk subsidi/bantuan Vol 2007 Alokasi (000) Vol 2008 Alokasi (000) Vol 2009 Alokasi (000) Vol 2010 Alokasi (000) A.000 8.500 - 75. 1 unit 1 unit - 167. jangkar. Seperti yang dapat dilihat pada Tabel 4. Watubangga.000 - - - - Sumber: Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. tali) Rehab dan konstruksi tambak Bantuan/Subsidi tidak langsung Pembangunan Hatchery Tower hatchery Watubangga Penyempurnaan sapras hatchery Wolo Pemantapan BBI Loea. bentuk bentuk bantuan langsung berupa: pembelian bibit.250. Wundulako 102 . 3.7. a) b) 2. 3.000 2 paket 4 paket - 1.000 - - 559. serta subsidi biaya penggalian dan penataan lahan tambak yang terbengkalai. 3 paket 110. Pemantapan BBI Loea di Mowewe.900 1 unit - 75. Mowewe.000 6 paket - 400.Tabel 3. 50 paket - 415.950 400. diolah.372 kg - 362. Pembangunan tower hatchery di Kec.300 7 klp 83. Kolaka. 2.900 - - - 1 unit - 63. lantai) Budidaya Teripang (bibit. waring. Bentuk bentuk bantuan tidak langsung yang dilakukan (yang berkaitan dengan budidaya rumput laut dan budidaya tambak) diantaranya: Rehabilitasi kantor BBI Wundulako. Jenis dan bantuk bantuan/subsidi perikanan budidaya laut di Kab. Wolo. tali dan kayu untuk budidaya Teripang.

Dengan demikian. meningkat menjadi 1. produksi dan produktivitas budidaya Rumput laut. produksi dan produktivitas dapat ditingkatkan. (2) Petani tambak tidak cukup dana untuk memberi pakan secara intensif dan hanya mengandalkan pakan alami sehingga harus mengurangi padat tebar yang berpengaruh kepada produktivitas hasil.Peran Subsidi Perikanan Dalam kurun waktu 2007 sampai dengan 2009 tidak terjadi pertambahan luas areal tambak yang diusahakan untuk budidaya. sedangkan produktivitas hasil yang rendah yaitu 1. mengingat pakan merupakan komponen biaya terbesar dalam budidaya tambak Bandeng.52 ton/ha (2008) dan kemudian 1. Berbeda dengan ikan bandeng.45 ton/ha (2007). Dalam jangka panjang program ini akan sangat membantu dalam keberlanjutan usaha dan kelestarian sumberdaya.56 ton/ha (2009). budidaya rumput laut justru terjadi penurunan yang signifikan pada tahun 2008 baik dalam hal luas lahan. Agar produk yang dihasilkan dapat diserap oleh pasar. luas lahan tambak yang difungsikan relatif tetap bahkan cenderung akan berkurang karena pendangkalan yang terjadi terus menerus akibat penebangan hutan di bukit dan hutan mangrove di pesisir. Kondisi ini terjadi karena: (1) Petani tambak tidak cukup dana untuk merehabilitasi tambaknya yang sudah puluhan tahun digunakan dan telah terjadi pendangkalan. Akibatnya. pembinaan kelembagaan pemasaran dan kemudahan akses pasar akan lebih menjamin dalam usaha budidaya yang berkelanjutan. Seperti yang telah dikemukakan di 103 . Dampak langsung yang sudah dapat dilihat adalah berkurangnya perambah perambah hutan dan penebang hutan bakau karena sebagian dari pemilik tambak sudah dapat mengopersionalkan kembali tambaknya. maka bantuan untuk pakan merupakan pilihan utama setelah bedah tambak. Berdasarkan kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa jenis bantuan berupa bedah tambak perannya cukup nyata terhadap budidaya Bandeng. Inipun baru sebatas perannya terhadap pertambahan luas lahan yang dilakukan dalam tahun 2009 (240 ha). Demikian juga volume produksi ikan hanya meningkat 8-9%. Namun demikian.

sudah saatnya bantuan/subsidi dalam budidaya Rumput laut dirancang dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat pembudidaya. Ke depan. Agar mutu hasil produksi dapat tetap terjaga sampai siap dijual. media penjemuran (para para) dan gudang penyimpanan hasil sangat diperlukan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara: penyediaan bibit unggul. karena selama ini pembudidaya melakukan perbanyakan sendiri dari bibit yang mereka gunakan yang tentunya kualitas bibitnya semakin menurun. belum berperan terhadap peningkatan produksi dan produktivitas yang merupakan muara dari program pembangunan yaitu peningkatan pendapatan usaha dan keberlanjutan usaha masyarakat yang dalam hal ini masyarakat pembudidaya Rumput laut. peran bantuan/subsidi pada komoditas Rumput laut baru sebatas penambahan areal budidaya. 104 . Cara lain dengan meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan (teknis dan non teknis) seperti teknis budidaya yang baik. dan manajemen usaha. Jika dikaji lebih dalam melalui perbandingan data tahun 2007 dengan data tahun 2009 dapat dilihat bahwa dalam hal luasan lahan terjadi peningkatan luas sebesar 229%. hal ini terjadi karena adanya serangan hama/penyakit pada bibit Rumput laut yang masih muda.bagian terdahulu. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa seperti halnya pada budidaya Bandeng. Namun hal ini tidak langsung diikuti oleh peningkatan produksi yang signifikan karena ternyata produksi hanya meningkat 61%.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->