Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Dizaman kuno penyakit yang diderita manusia sering dikait-kaitkan


dengan gejala –gejala spiritual. Seorang penderita sakit dihubungkan dengan
adanya gangguan dari roh jahat oleh semacam mahluk halus. Karenanya penderita
selalu berhubungan dengan dukun yang dianggap mampu berkomunikasi dengan
mahluk halus dan mampu menhan gangguannya. Dalam hal ini pengobatn
penyakit dikaitkan dengan gejala ruhani manusia.
Sebaliknya di dunia moderen penyakit manusia didiaknosa berdasarkan
gejala- gejala biologis. Mahluk- mahluk halus yang diasumsikan sebagai ruh jahat
dimasyarakat primitif ternyata dengan menggunakan perangkat medis moderen
dapat dideteksi dengan mikroskop, yaitu berupa kuman atau virus. Kemajuan
dalam dunia kedokteran membawa manusia demikian yakinnya bahwa gejala
simtomatis penyakit disebabkan faktor fisik semata. Kepercayaan ini memang
sebagian besar dapat dibuktikan oleh sebagian besar pengobatan dengan
menggunakan peralatan dan pengobatan hasil temuan dibidang kedokteran
moderen.
Disela-sela perkembangan ilmu kedokteran moderen tersebut, para
psikolog dan agamawan mulai melihat gejala penyakit dari sudut pandang yang
berbeda yaitu gejala gangguan penyakit mental sedangkan sebagian besar dokter
fisik melihat bahwa penyakit mental sama sekali tidak ada hubungannya dengan
penyembuhan medis tapi sebagai penyembuhan penderita penyakit mental adalah
dengan menggunakan pendekatan agama.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Kesehatan Mental.


Sebelum kita membahas pengertian kesehatan mental. Kita perlu
melacak dari beberapa pengertian yang telah oleh beberapa pakar psikologi.
Dalam perjalanan sejarahnya, pengertian kesehatan mental mengalami
perkembangan sebagai berikut :
a. Kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari gangguan dan
penyakit jiwa (neurosis dan psikosis).1
b. Kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan dirinya sendiri, dengan
orang lain dan masyarakat serta lingkungan di mana ia hidup.2
c. Terwujudnya keharmonisan yang sungguh-sungguh antara fungsi-
fungsi jiwa serta mempunyai kesanggupan untuk mengatasi problem
yang biasa terjadi, serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan
bathin (konflik).
d. Pengetahuan dan perbuatan yang bertujuan untuk mengembangkan dan
meningkatkan potensi, bakat dan pembawaan semaksimal mungkin,
sehingga membawa kebahagiaan diri dan orang lain, terhindar dari
gangguan dan penyakit jiwa.3
Dari pengertian diatas diambil suatu batasan bahwa orang yang sehat
mentalnya adalah orang yang terhindar dari gangguan dan penyakit jiwa,
mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-masalah dan
kegoncangan-kegoncangan yang biasa, adanya keserasian fungsi jiwa, dan
merasa bahwa dirinya berharga, berguna, dan berbahagia serta dapat
menggunakan potensi-potensi yang ada semaksimal mungkin.
Dalam pengertian yang sangat sederhana kesehatan mental sudah
dikenal sejak manusia pertama yaitu Adam, karena Adam merasa berdosa dan
meyebabkan jiwanya gelisah dan sedih. Untuk menghilangkan kesedihan itu ia
bertaubat kepada Allah dan taubatnya itu diterima di sisi Allah SWT.

1
Zakiah Daradjat, Kesehatan Mental, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi Press, 1983), cet. 1 h. 6
2
Yustinus Semiun, Kesehatan Mental I, ( Yogyakarta: Kanisius, 2006), h. 50
3
Ibid. h. 11-13

2
Kesehatan mental sebagai salah satu cabang ilmu jiwa sudah dikenal
sejak abad ke-19, seperti di Jerman tahun 1875 M, orang sudah mengenal
kesehatan mental sebagai ilmu walaupun masih sederhana.
Pada Abad ke-20 ilmu kesehatan mental sudah jauh berkembang dan
maju dengan pesat sejalan dengan kemajuan ilmu dan teknologi modern. Ia
merupakan ilmu yang bersifat praktis dan banyak dipraktekkan dalam
kehidupan sehari-hari. Pada umumnya dulu pengertian orang tentang ilmu
kesehatan mental sangat sempit dan terbatas. Seperti ada yang membatasi
pengertian kesehatan mental pada absennya seorang dari gangguan jiwa.
Pengertian semacam ini dikemukakan oleh Sigmund Freud. William Glaser
membatasi pengertian kesehatan mental pada “rasa tanggung jawab”
seseorang dalam memenuhi kebutuhan.
Mustafa Fahmi, sebagaimana yang dikutip Muhammmad Mahmud,
menemukan dua pola dalam mendefenisikan kesehatan mental yaitu pola
negatif (salaby) yaitu terhindarnya seseorang dari gejala neurosis (al-amradh
al-‘ashabiyah) dan psikosis (al-amradh al-dzibaniyah) dan pola positif
(ijaby), yaitu kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri
dan terhadap lingkungan.
Menurut Marie Johada memberikan pengertian yang sangat luas
tentang pengertian kesehatan mental dari yang sebelumnya, sehingga
pengertian orang terhadap ilmu kesehatan mental mengalami perkembangan
dan kemajuan.4 Menurutnya, pengertian kesehatan mental tidak hanya terbatas
kepada absennya seseorang dari gangguan dan penyakit jiwa, tetapi orang
yang sehat mentalnya, juga memiliki sifat dan karakteristik utama. Walaupun
dia mengartikan sangat luas tetapi pengertian yang dikemukakannya belum
mencakup seluruh aspek kehidupan manusia, karena agama belum termasuk
kedalamnya.
Menurut Zakiah Daradjat, merumuskan pengertian kesehatan mental
dalam pengertian yang luas dengan memasukkan aspek agama didalamnya.
Kesehatan mental yang dikemukakan Zakiah Daradjat ialah: terwujudnya
keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaaan dan

4
Ramayulis, Psikologi Agama, (Jakarta : Kalam Mulia, 2009), cet. Ke- 9 h. 129

3
terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan
lingkungannya, berlandaskan keimanan dan ketaqwaan, serta bertujuan untuk
mencapai hidup yang bermakna dan bahagia dunia dan akhirat. Dengan
masuknya faktor keimanan, ketaqwaan dan ketuhanan dalam pengertian ilmu
kesehatan mental, maka pengertian kesehatan mental terasa luas dan
mencakup seluruh aspek dari kehidupan manusia. Dan sekaligus menunjukkan
bahwa agama mempunyai hubungan erat dengan kesehatan mental.

B. Prinsip-prinsip Kesehatan Mental.


Yang dimaksud dengan prinsip-prinsip kesehatan mental dasar yang
harus ditegakkan orang dalam dirinya untuk mendapatkan kesehatan mental
yang baik serta terhindar dari gangguan kejiwaan.
Prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri
Prinsip ini biasa diistilahkan dengan self image. Self image yang juga
disebut dengan citra diri merupakan salh satu unsure penting dalam
pengembangan diri. Citra diri positif akan mewarnai pola hidup, sikap,
cara berfikir dan corak penghayatan, serta ragam perbuatan yang positif
pula.
2. Keterpaduan antara integrasi diri
Yang dimaksud keterpaduan disini adalah adanya keseimbangan antara
kekuatan jiwa dalam diri, kesatuna pandangan (falsafah) dalam hidup dan
kesanggupan mengatasi stress.
3. Perwujudan diri (aktualisasi diri)
Merupakan proses pematangan diri. Menurut Reiff, orang yang sehat
mentalnya adalah orang yang mampu mengaktualisasikan diri atau mampu
mewujudkan potensi yang dimilikinya serta memenuhi kebuuhan-
kebutuhannya dengan cara yang baik dan memuaskan.
4. Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal.
5. Berminat dalam tugas dan pekerjaan

4
Orang yang menyukai terhadap pekerjaan walaupun berat maka akan
cepat selesai dari pada pekerjaan yang ringan tapi tidak diminati.
6. Agama, cita-cita, dan falsafah hidup
Untuk pembinaan dan pengembangan kesehatan mental orang
membutuhkan agama, seperangkat cita-cita yang knsisten dan pandangan
hdup yang kokoh.
7. Pengawasan diri
Pengawasan terhadap diri merupakan hal pokok dari kehidupan oang
dewasa yang bermental sehat dan berkrepibadian normal karena dengan
pengawasan tersebut orang mampu membimbing segala tingkah lakunya.
8. Rasa benar dan tanggung jawab
Rasa benar, dan tanggung jawab dan sukses adalah keinginan setiap
orang yang sehat mentalnya. Rasa benar yang ada dalam diri selalu
mengajak orang kepada kebaikan, tanggung jawab dan rasa sukses.5

C. Aliran Dalam Kesehatan Mental


1. Psikoanalitik
Aliran ini dikenal dengan tokoh yang mempeloporinya yaitu Sigmund
Freud dengan pandangan bahwa manusia adalah makhluk evolusi yang
terjadi secara kebetulan dan merupakan makhluk biologis. Psikoanalisis
merupakan suatu sistem dinamis dari psikologi yang mencari akar tingkah
laku manusia didalam dorongan dan konflik yang tidak disadari. Freud
memandang tingkah laku manusia terjadi karena terdapatnya interaksi
antara tiga ala dalam personaliti yaitu id, ego dan super ego.
Id bekerja menurut prinsip kelezatan, dan tidak dapat mengambil
pertimbangan-pertimbangan sosial dan tidak bersifat realistis, tetapi ia
sanggup membentuk khayalan-khayalan untuk pemuasannya, meskipun
dalam arti sesungguhnya. Ego muncul untuk memuaskan id, ego bekerja
diatas prinsip realitas dan menggunakan potensi intelektual. Sedangkan
super ego bekerja diatas prinsip nilai-nilai akhlak dan berkenaan dengan

5
Sururin, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2004), cet. 1, h. 145-149

5
yang betul dan yang salah. Oleh karena itu, super ego sering juga disebut
dengan hati nurani.
Penganut aliran psikoanalitik lainnya yakni Erick Fromm. Ia pesimis
bahwa manusia akan mencapai kesehatan mental dalam arti yang
sebenarnya. Menurutnya manusia hanya sanggup mendapatkan kesehatan
mental sebahagiannya saja. Sebab ia dengan kondisi yang saling bertarung
tidak akan mungkin mencapai kebahagiaan dan kemajuan sekaligus.
Aliran psikoanalitik mendapat kritik dari berbagai pakar psikologi
karena aliran ini dipandang sangat menyederhanakan energi dasar dalam
diri manusia pada insting.
2. Aliran behavioristik
Aliran ini dipelopori oleh Thorndike dan John B. Watson. Aliran ini
menitik-beratkan kepada tingkah laku manusia. Mereka memandang
manusia diibaratkan mesin. Tingkah lakunya merupakan respon dari setiap
stimulus. Aliran ini berpendapat bahwa kesehatan mental adalah
kesanggupan seseorang untuk memperoleh kebiasaan yang sesuai dan
dinamik yang dapat menolongnya berintegrasi dengan lingkungan, dan
menghadapi suasana-suasana yang memerlukan pengambilan keputusan.
Dengan kata lain, orang yang sehat mentalnya adalah orang yang mampu
ber-adjusment secara baik dengan lingkungan dimana ia berada.
3. Aliran Humanistik
Aliran ini dipelopori oleh Abraham Maslow, seorang yang semula
beraliran behavioristik, merasa tidak puas dengan aliran tersebut. Ia
meragukan keadaan manusia yang dikondisikan seperti mesin yang
mengatur stimulus-respon.
Aliran ini berpendapat bahwa pengkajian terhadap manusia harus
didekati dari sudut kemanusiaannya. Manusia dilengkapi dengan potensi
yang bebas dipergunakan menurut kemauannya. Oleh karena itu kesehatan
mental, menurut aliran ini adalah kesadaran terhadap potensi-potensinya
dan kebebasannya untuk mencapai apa yang dikehendaki dengan cara
yang dipilihnya.
4. Aliran psikologi transpersonal

6
Aliran ini merupakan kelanjutan dari aliran humanistik. Penggagasnya
juga termasuk Jung, Abraham Maslow, Victor Frankl, William James yang
banyak mempengaruhi pemikiran Jung.
Menurut Maslow, pengalaman keagamaan adalah peak experience,
plateu dan father reaches of human nature. Dalam arti kata psikologi
belum sempurna sebelum difokuskan kembali pada spiritual agama. Aliran
transpersonal dan psokoterapi menawarkan perjalanan psikologis untuk
menemukan diri dengan melihat kedalam “self ego, eksistensi psikologis”.
Agama membicarakan tentang kesadaran spiritual yang luas dan multi
dimensional. Diri kita, eksistensi psikologis kita , merupakan penampakan
luar dari esensi spritual kita.

D. Kedudukan dan peran kesehatan mental dalam Islam


Dalam dunia Islam, kedudukan, fungsi, dan peranan kesehatan mental
tampak lebih jelas lagi. Maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia di
muka bumi adalah untuk beribadah dalam pengertian luas. Ibadah dalam
pengertian, kegiatannya mencakup seluruh aspek kegiatan manusia. Baik yang
bersifat i’tiqad, pikiran, amal sosial, jasmani, rohani, akhlak, dan keindahan.6
Pengertian ibadah dalam Islam secara luas adalah pengembangan sifat-
sifat Allah yang pada manusia untuk menumbuhkan potensi diri yang telah
diberikan Allah berupa potensi-potensi yang terdapat dalam nama Allah yang
agung (al-asma al-husna), seperti potensi ilmu, kuasa, sosial, kekayaan,
pendengaran, dan pemikiran, serta potensi-potensi lainnya.
Dengan demikian maksud dan tujuan ibadah dalam Islam tidak hanya
menyangkut hubungan vertikal atau hablun min Allah, tetapi juga menyangkut
hubungan horizontal yang meliputi hablum min al-annas, hablun min al-nafs,
dan hablun minal-alam.
Dari uraian singkat di atas dapat dilihat bagaimana kedudukan
kesehatan mental dalam Islam. Kesehatan mental dalam Islam adalah ibadah
dalam pengertian luas atau pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia

6
Ibid, h. 148

7
dalam rangka pengabdian kepada Allah dan agamanya, untuk mendapatkan
al-nafs al-muthmainnah (jiwa yang tenang dan bahagia). Firman Allah :
“Hai jiwa dalam ketenangan! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang senang dan diridhai-Nya.”
E. Hubungan Agama Dengan Kesehatan Mental.
Kesehatan mental (mental hygiene) adalah ilmu yang meliputi sistem
tentang prinsip-prinsip, peraturan-peraturan serta prosedur-prosedur untuk
mempertinggi kesehatan rohani (M. Buchori, 1982: 5). Menurut H.C
Witherington, permasalahan kesehatan mental menyangkut pengetahuan serta
prinsip-prinsip yang terdapat lapangan psikologi, kedokteran, psikiatri,
biologi, sosiologi, dan agama (M. Buchori, 1982: 5).7
Sejumlah kasus yang menunjukkan adanya hubungan antara faktor
keyakinan dan kesehatan mental tampaknya sudah disadari para ilmuwan
beberapa abad lalu. Misalnya, pernyataan Carel Gustay Jung “diantara pasien
saya yang setengah baya, tidak seorang pun yang penyebab penyakit
kejiwaannya tidak dilatarbelakangi oleh aspek agama”.
Kenyataan serupa itu juga akan dijumpai dalam banyak buku yang
mengungkapkan akan betapa eratnya hubungan antara agama dan kesehatan
mental. Di Indonesia sendiri ada dua buku yang diterbitkan dengan judul
Peranan Agama dan Kesehatan Mental oleh Prof. Dr. Zakiah Daradjat dan
Agama dan Kesehatan Mental disusun oleh Prof. Dr. Aulia, telah membahas
secara luas mengenai sejumlah kasus yang menunjukkan ada hubungan antara
kesehatan jiwa dan agama. Dan Prof. Dr. Muhammad Mahmud Abd Al-Qadir
lebih jauh membahas hubungan antara agama dan kesehatan mental melalui
pendekatan teori biokimia. Menurutnya, di dalam tubuh manusia terdapat
sembilan jenis kelenjar hormon yang memproduksi persenyawaan-
persenyawaan itu disebut hormon.

F. Metode Perolehan Dan Pemeliharaan Kesehatan Mental.


1. Metode Pengembangan Potensi

7
Jalaluddin, Psikologi Agama, ( Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 156

8
Ada dua unsur dasar pembentukan manusia yaitu jasmani dan
rohani, dengan segala potensi yang melekat padanya, keduanya
mempunyai kebutuhan dasar untuk bisa berkembang dan bermanfaat
secara maksimal, sesuai dengan keberadaannya.
a. Potensi jasmani
Dalam rangka memenuhi kebutuhan jasmaniah (potensi
jasmani), Islam memerintahkan untuk makan, minum, dan beberapa
hal yang berkaitan dengan jasmani, secara cukup, dalam arti tidak
berlebihan atau kurang dan sesuai dengan yang telah digariskan oleh
syari’at.
b. Potensi rohani
Sedangkan untuk pengembangan rohaniah, khususnya akidah
(potensi akidah), pada prinsipnya Islam mengajarkan agar manusia
menjauhi segenap dosa dan kemaksiatan agar tidak mengotori akidah
atau keimanannya.
2. Metode Iman, Islam dan Ihsan
a. Metode Iman
Sesuai dengan metode kesehatan mental adalah berlandaskan
kepada agama, yaitu keimanan dan ketaqwaan. Hal ini dapat
dimengerti sebagai indikator orang yang memiliki kesehatan mental
adalah orang-orang yang senantiasa melakukan aktivitas-aktivitas
keagamaan sesuai dengan iman yang melekat pada dirinya, sedangkan
ketaqwaan merupakan kristalisasi iman seseorang.8
b. Metode Islam
Seseorang yang mengaku Islam berarti ia melaksanakan,
tunduk dan patuh serta berserah diri sepenuh hati terhadap hukum-
hukum dan aturan Allah, yang dalam hidunya selalu berada dalam
kondisi aman dan damai, yang pada akhirnya dapat mendatangkan
keselamatan hidup di dunia dan di akhirat.
c. Metode Ihsan

8
Op-cit, h. 170

9
Ihsan secara bahasa berarti baik. Orang yang baik atau mukhsin
adalah orang yang mengetahui hal-hal yang baik, dan dilakukan
dengan niat yang baik.
3. Metode Takhalli, Tahalli, dan Tajalli
a. Takhalli
Pada umumnya berarti sebagai membersihkan diri dari sifat-
sifat tercela, dari maksiat lahir dan batin. Takhalli juga berarti
mengosongkan diri dari sifat ketergantungan terhadap kelezatan hidup
duniawi. Pada takhali, seseorang berjuang keras untuk dapat
mengosongkan jiwa mereka dari sifat tercela yang mendatangkan
kegelisahan pada jiwanya, sifat-sifat tercela itu antara lain
1.) Hasad
Yaitu membenci nikmat Tuhan yang dianugerahkan kepada orang
lain agar nikmat itu terhapus atau hilang
2.) Hiqd
Menurut al-ghazali hiqd adalah keadaan hati yang terus menerus
berat, marah dan iri terhadap orang lain yang menimbulkan
dendam.
3.) Takabbur
Yaitu memandang rendah orang lain dan menganggap tinggi atau
mulia diri sendiri atau membesarkan diri dihadapan orang lain.
4.) Nifaq
Artinya bermuka dua atau berpura-pura, ia menjadi karakteristik
orang munafik.
5.) Kikir
Adalah sifat yang terlalu mencintai harta benda yang dimilikinya
dan hal itu membuat ia terikat pada dunia dan ia tidak mau
memberikan harta kepada orang lain yang juga mempunyai hak
didalamnya seperti fakir miskin, kepentingan umum, kegiatan-
kegiatan sosial dan agama.
6.) Su’ al-dzan

10
Yaitu buruk sangka. Buruk sangka terhadap siapapun sangat dicela
oleh agama baik kepada Allah maupun manusia.
7.) Riya
Yaitu memperlihatkan amal kebajikan supaya dilihat dan dipuji
orang lain.
8.) Ghabbah
Yaitu marah atau kemarahan dengan konotasi negatif dan
kelebihan, sedangkan secara umum diartikan al-nafsu al ammarah
bi al su’ yang selalu mendorong perbuatan jahat sehingga
mendatangkan kerugian pada diri sediri dan orang lain.
9.) Ghibah
Menggunjing atau menceritakan segala sesuatu mengenai orang
lain yang orang lain itu tidak menyukainya apabila ia mengetahui.
10.) Hub al-dunya
Cinta terhadap dunia. Cinta kepada dunia bisa berwujud mencintai
kemasyuran, popularitas kekuasaan pangkat, dan jabatan.
11.) Namimah
Adalah menyampaikan perkataan seseorang kepada orang lain
dengan tujuan mengadu domba antara keduanya.
b. Tahalli
Yaitu mengisi jiwa dengan sifat-sifat yang terpuji. Dengan
metode ini jiwa seseorang tekah bersih dari sifat-sifat tercela dan
maksiat, kemudian ia berusaha secara sungguh-sungguh mengisi diri
dengan tingkah laku yang baik dan terpuji. Diantara sifat-sifat yang
terpuji adalah: taubat, zuhud, khauf, shabr, syukur, ikhlas, tawakkal,
ridha, dan zikr al- maut
c. Tajalli
Setelah mengetahui fase takhalli dan tahalli, maka metode
pembinaan mental disempurnakan dengan fase tajalli. Tajalli adalah
terungkapnya nur ghaib untuk hati. Tajalli merupakan lenyap atau
hilangnya hijab dari sifat-sifat kemanusiaan, lenyapnya segala yang
lain ketika nampak wajah Allah.

11
4. Metode Murabathah
Murabathah pada umumnya diartikan melakukakan ketekunan.
Kalau dihubungkan dengan ajaran Islam berarti tekun dalam
melaksanakan perintah Allah SWT. Menurut said hawwa untuk
melaksanakan metode murabathah ada beberapa yang harus dilakukan,
yaitu:
a. Musyarathah
Yaitu memenuhi persyaratan agar seseorang ingin mencapai
ketenangan jiwa dan kesucian batin. Maka ia harus memenuhi
persyaratan yang ditetapkan agama, berupa melaksankan amal-amal
shaleh yang ditetapkan allah serta amal-amal lain yang dipandang baik
oleh masyarakat.
b. Muraqabah
Yaitu memonitor perilaku sehari-hari. Apabila seseorang telah
mengrjakan persyratan-persyaratan tertentu sesuai dengan ketentuan
Allah SWT, maka tahap selanjutnya harus melakukan muraqabah atau
memonitoring diri dan jiwa dikala sudah melaksanakan amalan-amalan
yang sudah dilakukan.
c. Muhasabah
Yaitu melakukan perhitungan pada diri sendiri sesudah
beramal.
d. Mu’aqabah
Berarti menghajar diri karena kurang berhati-hati.
Bagaimanapun hati-hatinya manusia dalam membuat perhitungan,
tetapi ia tidak dapat menjamin dirinya jauh dari perbuatan maksiat,
atau setidak-tidaknya berlaku seadanya dan kurang berhati-hati dalam
melaksanakan hak Allah SWT.
e. Mujahadah
Yaitu bersungguh-sungguh atau berjihad.
f. Mu’atabah
Yaitu mencela keburukan yang dikerjakan dam menghukum
diri sendiri. Kita diberi Allah SWT nafsu, kalau dorongan nafsu ini

12
kuat maka ia dapat menaklukkan akal dan hati, sehingga kekuatan
akal dan hati menjadi lemah.
5. Metode Pengendalian nafsu (riyadhah)
Riyadhah adalah suatu latihan yang dilaksanakan secara terus
menerus dalam rangka menekan daya nafsu. Menurut abdul mujib,
substansi manusia memiliki tiga daya yaitu: a. qalbu (fitrah ilahiyah), b.
akal (fitrah insaniyah), dan c. nafsu (fitrah hayanawiyah)

13
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Orang yang sehat mentalnya adalah orang yang terhindar dari gangguan
dan penyakit jiwa, mampu menyesuaikan diri, sanggup menghadapi masalah-
masalah dan kegoncangan-kegoncangan yang biasa, adanya keserasian fungsi
jiwa, dan merasa bahwa dirinya berharga, berguna, dan berbahagia serta dapat
menggunakan potensi-potensi yang ada semaksimal mungkin.
Ada 8 prinsip dari kesehatan mental, yaitu:
1. Gambaran dan sikap yang baik terhadap diri sendiri
2. Keterpaduan antara integrasi diri
3. Perwujudan diri (aktualisasi diri)
4. Berkemampuan menerima orang lain, melakukan aktivitas sosial dan
menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat tinggal.
5. Berminat dalam tugas dan pekerjaan
6. Agama, cita-cita, dan falsafah hidup
7. Pengawasan diri
8. Rasa benar dan tanggung jawab
Diantara aliran-aliran dalam kesehatan mental adalah: Psikoanalitik,
bahavioristik, psikologi transpersonal, dan menurut pandangan islam. Orang
yang sehat mentalnya adalah orang yang dalam rohani atau dalam hatinya
selalu merasa tenang, aman, dan tentram.
Ada beberapa metode perolehan dan pemeliharaan kesehatan mental,
yaitu:
1. Metode pengembangan potensi
2. Metode iman, islam dan ihsan
3. Metode tkhalli, tahalli, dan tajali
4. Metode murabathah
5. Metode pengendalian nafsu
B. Saran
Pada makalah ini terdapat banyak kekurangan, baik dari segi susunan
katanya, penulisannya dan lain sebagainya. Maka kami sebagai pemakalah

14
mengucapkan banyak ma’af atas kekurangan kami karena kami hanya manusia
biasa yang tak luput dari kesalahan. Dan kami juga mengharapkan kritik dan saran
yang mendukung, dan semoga dengan kritik dan saran yang di berikan bisa kami
jadikan pelajaran untuk memperbaiki makalah kami selanjutnya.

15
DAFTAR PUSTAKA

Daradjat, Zakiah, 1983, Kesehatan Mental, cet. 1,Yogyakarta : Fakultas Psikologi

Press

Jalaluddin, 2005, Psikologi Agama, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada

Ramayulis, 2009, Psikologi Agama, cet. Ke- 9, Jakarta : Kalam Mulia

Semiun, Yustinus, 2006, Kesehatan Mental I, Yogyakarta: Kanisius

Sururin, 2004, Ilmu Jiwa Agama, cet. 1, Jakarta : Raja Grafindo Persada

http://ppraudlatulmubtadiin.wordpress.com/2009/11/14/agama-dan-kesehatan-

mental/

16