Anda di halaman 1dari 44

Hypnotic Language Patterns untuk Call Center

987 VIEWS | POSTED BY RONNY F. RONODIRDJO ON NOVEMBER - 18 - 2010 9 COMMENTS

Seperti Anda, Oneng -istrinya Bajaj Bajuri- pernah kesal karena pulsa yang dibelinya
nggak masuk-masuk ke hp-nya sekalipun ia sudah mematuhi petunjuknya.
Mungkin Anda pernah mengalami seperti itu? Tentunya Anda akan langsung
menghubungi Call Center dari operator itu… Oneng-pun yang kesal juga
meghubungi Call Center tapi ngak ada ada hasilnya. Malah hasilnya tambah kesal.
Oh! Anda belum pernah dengar kisahnya…., oke deh… ini kutipannya untuk Anda….
Bajuri: “Kenape neng, pagi-pagi udah cemberut….?”
Oneng: “Ini bang, Hp Oneng pulsanya kagak masuk-masuk nih….
Bajuri: “Kenape kagak telpon Customer Service-nya aje, neng…”
Oneng: “Udah bang,tapi Oneng diboongin……”
Bajuri: “Diboongin gimane?”
Oneng: “Katenye, kalo mo ngomong sama operator, tekan pagar, Oneng udah
seharian tekan pagar kite di luar… Tuuu operator kaga ada satupun yang nongol.
Ampe pagernya udah miring nih…”
Bajuri: Masih BAGUS !!! Untung ye, Loe kaga disuruh tekan Bintang !!!
Hehehehe,
Memang mengesalkan saat menghubungi Cal Center dan tidak mendapatkan
tanggapan yang sesuai. Apalagi jika disuruh menunggu lama… atau dipingpong ke
sana kemari.
Nah, beberapa perusahaan lantas mengantisipasi hal ini dengan menggunakan
Jawaban Otomatis, menggunakan Mesin Penjawab, yang bahkan dilengkapi dengan
Menu Pilihan.
Misalkan “Silahkan pencet # untuk bantuan Operator…”
Nah, sayangnya tetap saja kita kesal, karena di akhir pilihan Menu ini, tetap saja
kalau mau bantuan Operator, tetap disuruh menunggu. Ya khan…
Berikut, untuk perusahaan yang ingin menggunakan bahasa hypnosis agar
customernya nggak pada marah, justru menjadi makin setia. Silahkan aplikasikan ide
dibawah ini. Ide ini berbasis Hypnotic Language Patterns, menggunakan Gaya Dodol
‘ala Oneng….
Jiahhhh, pastinya saya tidak akan menarik royalty untuk penggunaan metode ini,
demikian pula, saya tidak akan menanggung hasil apapun. Hehehehe… Semua hasil
atau resiko ditanggung sendiri…. Enak khan…
“Terima kasih masih bersedia menunggu…, semua operator kami masih sibuk
melayani pelanggan. Sementara tangan Anda masih memegang gagang telepon dan
mendengarkan suara ini… Kami ingin menyampaikan bahwa kami memiliki prinsip
bahwa telepon dari Anda sangat penting artinya bagi kami. Sedemikian pentingnya
sehingga semakin lama Anda bersedia menunggu semakin kami yakin bahwa telepon
itu penting bagi kami… Untuk bersedia menunggu lebih lama, silahkan pencet angka
10… dan lanjutkan terus hingga angka 1.
Silahkan pencet angka 10… ya… Anda mulai bersabar…
9 … Anda menjadi rileks
8 … Anda merasakan bertambah tenang dan tarik nafas yang dalaaam..
7 … Katakan pada diri sendiri : saya benar-benar rileks
6 … Anda nyamaaaaan sekali… bagus
5 … Sedemikian nyamannya Anda sehingga Anda mulai mengantuk
4 … Semakin mengantuuuuuk sekali… iyaaaaak…
3 … Anda mulai tertidur dengan lelaaaaap…
2 … Semakin lelaaaaap dan tenaaaaang
1 … Anda berada dalam tidur hypnosis yang tenang sekali…
Bagus, seperti itu… Suara yang Anda dengar di telepon ini membuat Anda lebihhhh
lelaaaap sekali. Apapun yang Anda dengar pada saat ini membawa Anda ke rasa
nyamaaaan dan damai yang luar biasa. Nafas Anda keluar masuk dengan tenang,
artinya Anda berada dalam tidur hypnosis yang luar biasa lelaaaap sekali… Katakan
dan perintahkan pada diri sendiri untuk tertidur makin lelaaaap dan nyaman…
Bagus, Sebentar lagi Anda akan mendengar suara telepon ini ditutup dengan nada
akhir…., namun tidak sekarang… dan ketika Anda mendengar nada akhir penutupan
dari telepon ini, tanpa alasan yang jelas Anda tiba-tiba melupakan semua problem,
keluhan ataupun komplain pada kami.
Semakin Anda berusaha mengingat, semakin Anda lupa apapun problem, keluhan,
ataupun komplain pada kami… Dan bahkan ketika Anda berusaha menolak sugesti
ini, justru sugesti ini akan semakin mempengaruhi Anda di bawah sadar Anda yang
paling dalam. Sedemikian dalamnya sugesti ini, sehingga ketika Anda bangun nanti,
Anda akan merasakan perasaan puas menggunakan layanan kami secara luar biasa.
Anda bahkan senantiasa ingin menceritakan kepuasan layanan kami pada
siapapun… Bagus… Sebentar lagi telepon ini akan berakhir dan dengarkan nada
akhir telepon ini di tutup …. TUT TUT….. TUUUUUUT…..”
Well…. Anda suka?
Silahkan modifikasi sendiri. Benar-benar berbasis hypnotic language patterns lho…
Untuk keperluan apapun, tinggal sesuaikan saja ama tombol keypad-nya…
Ngomong-omong soal keypad…. Jadi ingat kisah Oneng yang lain penggunakan
keypad :
Bajuri dan Oneng antri di ATM
Bajuri: “Ngeliatin ape lu, Neng?”
Oneng : [Bisik-bisik) “Bang, aye tau PIN orang yang diri di depan kite hee hee
heeeeee…. !”
Bajuri: “Nyang bener lu, emang berape nomer PIN-nye?”
Oneng : “Enam bintang …!”

Jika Peta Bukan Wilayah, Mengapa Masih


Dipakai?
863 VIEWS | POSTED BY TEDDI P. YULIAWAN ON NOVEMBER - 16 - 2010 2 COMMENTS

Pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan yang terceletuk dalam benak saya
setelah menyelami NLP selama kira-kira 4 tahun. Sebuah pertanyaan yang bernada
iseng, namun rupa-rupanya menyimpan persoalan mendasar.
Ya, jika peta bukan wilayah, mengapa masih dipakai? Mengapa tak kita langsung saja
masuk ke wilayahnya, tanpa menggunakan peta? Nyebur aja langsung.
Maka penelusuran pun saya lakukan, dan mengantarkan saya pada kesimpulan
sederhana. Ya, sangat sederhana, yang saking sederhananya justru tidak kepikiran
sejak awal.
Apakah itu?
Ya presuposisi lanjutannya. Dalam beberapa versi, presuposisi NLP “peta bukan
wilayah”, dilanjutkan dengan “manusia merespon berdasarkan peta yang dimiliki,
bukan pada realitanya”. Jadi, mengapa tetap memakai, “peta”, ya karena dasar
perilaku kita adalah “peta” yang kita miliki.
Eh, apaan sih dari tadi ngomongin “peta”?
Oh iya, maaf. “Peta”, dalam bahasan NLP, sama dengan “persepsi” dalam bahasa
psikologi. Atau dalam bahasa awam, seringkali orang mengatakan, “Ah, itu cuma
pikiranmu saja!” atau “Oh, itu sih perasaanmu saja!”
Maka tak heran, meskipun seringkali seseorang pun menyadari bahwa ia memahami
sesuatu dengan caranya sendiri, namun toh ia tetap merasa benar. Merasa itu
pemahaman yang paling tepat. Bukankah orang yang merokok sudah tahu persis
akibatnya bagi kesehatan? Bukankah orang yang melanggar lampu merah paham
persis risiko kecelakaan yang mungkin terjadi?
Ya, mereka tahu persis. Dan pada saat yang sama tetap saja melakukan hal yang
berkebalikan. Bukan karena faktanya, melainkan karena persepsi atau petanya.
Inilah sebabnya dalam kelas-kelas saya sering katakan bahwa kenyataan bahwa
manusia merespon berdasarkan persepsi yang dimiliki adalah musibah sekaligus
anugerah. Musibah, jika persepsi yang digunakan sudah jadul, membahayakan, atau
tidak sesuai dengan apa yang ingin kita capai. Misal, ingin keluarga bahagia namun
mempersepsikan bahwa kesetiaan itu tak penting. Ya jelas ‘jaka sembung’. Maka
persepsi seperti ini layaknya sebuah program komputer yang tak cocok, dan harus
di-uninstall lalu diganti dengan program yang sesuai.
Nah, ini sekaligus menjawab soal anugerah. Justru karena kita merespon hanya
berdasarkan persepsi, maka untuk mengubah respon—yang karenanya mengubah
nasib—kita cukup mengubah persepsi. Tak ada urusan dengan kenyataan, sebab
kenyataan bisa dimaknai sebagai apapun. Uang Rp10.000,00 bisa dimaknai hanya
sebagai seporsi makan siang, atau 3 porsi makan sehari, amat tergantung pada
siapa yang sedang memegang uang tersebut. Bukan urusan nominalnya, melainkan
nilai yang dipahami oleh seseorang terhadap nominal tersebut.
Mungkin ini salah satu sebab mengapa ada sebuah ajaran bahwa Tuhan berkata,
“Aku menurut prasangka hamba-Ku.” Apapun yang kita persepsikan tentang Tuhan,
dan karenanya menentukan sikap kita terhadap-Nya, bukanlah Tuhan. Melainkan
hanya pemahaman yang kita miliki sampai detik ini, yang masih bisa berubah seiring
waktu. Selayaknya jawaban kita terhadap pertanyaan, “Dimana kah letak jalan
Jenderal Sudirman?”, yang amat tergantung pada peta kota mana yang kita
gunakan. Secara, begitu banyak jalan bernama Jenderal Sudirman bertebaran di
kota-kota di negeri ini.
Nah, sampai disini, maka pertanyaan penting berikutnya adalah bagaimana
persisnya kita mengubah alias meng-upgrade peta yang kita miliki?
Sabar, rileks. Kita mulai dari…
Bagaimana Sih Sebenarnya Persepsi Terbentuk?
Anda tentu ingat cuplikan lagu berikut ini.
Dua mata saya.
Hidung saya satu.
Dua telinga saya, yang kiri dan kanan.
Ya, lagu zaman TK yang mengajarkan panca indera ini begitu akrab di telinga, dan
seketika muncul saat saya mempelajari NLP. Kita telah paham bahwa manusia
memiliki panca indera, namun mungkin belum mengetahui bahwa peran penting
panca indera dalam pembentukan persepsi.
Silakan pikirkan seseorang yang Anda cintai. Apa yang muncul?
Aha, gambar? Suara? Rasa? Aroma tubuh? Begitu, bukan?
Pikirkan makanan favorit Anda. Apa yang muncul? Gambar? Suara? Rasa di lidah?
Aroma? Tekstur?
Nah, adakah dari 2 contoh pikiran tadi, yang memunculkan jenis memori yang di luar
dari hasil panca indera? Bukan gambar, bukan suara, bukan rasa, bukan aroma,
bukan tekstur?
Demikianlah, kebanyakan pengalaman internal kita merupakan hasil pemrosesan
dari panca indera. Maka persepsi, adalah hasil dari panca indera. Maka panca indera,
adalah pintu masuknya Informasi, yang menyebabkan kita memersepsikan sesuatu
sebagaimana saat ini.
Apa yang kita lihat menjadi gambar dalam pikiran. Apa yang kita dengar menjadi
suara. Apa yang kita cium menjadi aroma. Apa yang kita cecap menjadi rasa. Apa
yang kita raba menjadi tekstur dan suhu.
Ah, ini kan sudah biasa. Apa istimewanya?
Silakan perhatikan telapak tangan Anda dari jarak 30 cm. Apa saja yang Anda lihat?
Tandai sebanyak mungkin.
Nah, sekarang dekatkan telapak tangan Anda, sehingga jaraknya hanya 15 cm. Apa
saja kini yang Anda lihat? Berapa banyak yang tadi tidak tampak, kini baru jelas?
OK, sekarang dekatkan lagi hingga hanya 5 cm. Apa saja kini hal baru yang Anda
temukan?
Aha! Jika Anda seperti kebanyakan orang, maka semakin dekat Anda melihat,
semakin Anda sadari bahwa ada begitu banyak hal yang tak Anda lihat tadinya, kini
menjadi begitu jelas. Ini baru soal tangan. Bagaimana dengan orang lain? Seseorang
yang rata-rata Anda lihat dalam jarak yang pasti lebih dari 30 cm. Yang Anda temui
mungkin hanya sekali. Yang bahkan baru Anda lihat dari foto. Informasi seperti apa
kah kiranya yang Anda miliki jika hanya demikian cara Anda melihatnya?
Yak, jelas sekali. Apa yang kita lihat tentang orang lain, begitu sedikit dari apa yang
benar-benar ia miliki. Maka teramat jauh bedanya antara persepsi yang kita miliki
tentang seseorang, dengan jati diri yang sebenarnya. Persepsi kita tentang
seseorang, baik sukai ataupun tidak, hanyalah snapshot dari perilakunya, dan sama
sekali bukan dirinya.
Nah, sampai di sini, beberapa peserta dalam kelas-kelas saya biasanya terkesima.
Bukan oleh penjelasan saya, namun oleh pengalaman mereka sendiri. Betapa sering
diri ini memberikan penilaian akan perilaku seseorang, hanya berdasaran secuplik
ingatan yang jauh dari lengkap. Dan dari ingatan tak lengkap itu kemudian lahir
penilaian benci, marah, dengki, dll. Betapa kita begitu tak adil sejatinya, saat
menempelkan label buruk pada seseorang, hanya karena pernah melihat—bahkan
seringkali hanya mendengar dari orang lain—perilakunya yang tak kita setujui.
Hmm…peta bukanlah wilayah. Betapa pernyataan ini begitu valid.
Jangan terlalu cinta, karena bisa jadi satu saat akan benti. Jangan terlalu benci,
karena bisa jadi satu saat akan cinta.
Ajaran ini begitu benar. Sebab cinta dan benci, hanyalah rasa yang didasarkan pada
penginderaan yang tak lengkap. Penginderaan yang penuh dengan distorsi,
generalisasi, dan delesi.
Kita terkadang tidak mendengar, apa yang seharusnya kita dengar. Kita mendengar,
apa yang ingin kita dengar.
Lagi-lagi, ini semua musibah sekaligus anugerah. Musibah, jika seseorang melulu
mendengar yang buruk dan malas mendengar yang baik. Anugerah, sebab kita bisa
mencinta, justru karena memerhatikan yang baik, dan menafikan yang buruk.
Maka dalam kelas “Self Leadership Mastery”, saya ajak peserta untuk melatih panca
indera kita untuk memasukkan informasi secara jernih.
Adillah engkau, sejak dalam pikiran.
Demikian tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Bumi Manusia. Bertahun-tahun lalu
saya membacanya, baru paham sekarang. Terbukti, saya hanya membaca apa yang
ingin dan mampu saya baca.

Apalah Arti Sebuah Nama


915 VIEWS | POSTED BY TEDDI P. YULIAWAN ON NOVEMBER - 9 - 2010 8 COMMENTS
Kita hari ini adalah hasil dari apa yang kita putuskan kemarin.
Kita esok adalah hasil dari apa yang kita putuskan hari ini.
Saya teringat suatu kali pernah berdiskusi dengan seorang sahabat. Setelah
membahas berbagai hal, sampailah ia pada pertanyaan, “Siapa kamu?”
Tentu saja saya jawab, “Saya Teddi.”
“Bukan, itu namamu. Siapa kamu?” tanyanya lagi.
Saya pun terperangah, terbengong sebentar, baru kemudian bisa berkomentar, “Iya
ya. Selama ini aku pikir jawaban untuk pertanyaan seperti itu adalah dengan
menyebutkan nama. Padahal, nama hanyalah sebuah doa yang dipanjatkan oleh
orang tua kita, yang bisa jadi sudah, sedang, atau belum terwujud.”
Apalagi jika kemudian ada seseorang yang menggunakan nama beken, yang jauh
dari nama aslinya. Bisa jadi ia hanyalah merupakan sebuah julukan yang maknanya
begitu dangkal, sehingga sama sekali tidak menggambarkan sosok asli sang pemilik.
Maka pertanyaan sederhana seperti di atas rupanya memiliki jawaban yang tak
kunjung usai dijawab, tergantung dengan menggunakan kaca mata dan sudut apa.
Sejurus kemudian, pikiran saya bergelayut pada sebuah ungkapan Abraham Maslow,
“Ia yang memegang palu, akan melihat segala hal sebagai paku.”
Seketika saya pun bertanya-tanya, “Jangan-jangan, cara saya menjawab pertanyaan
‘Siapa aku?’ ada hubungannya dengan cara saya berpikir dan berperilaku selama ini?
Jangan-jangan apa yang biasa saya anggap sebagai sesuatu yang sulit sebenarnya
mudah? Jangan-jangan apa yang selama ini saya anggap sebagai karakter saya
sejatinya sesuatu yang bisa diubah?” Dan seterusnya.
Cukup lama saya merenungi hal ini, yang sampai kini rasanya belum tuntas. Namun
sebuah titik cahaya mulai terkuak ketika saya belajar soal “nominalisasi” dalam NLP.
Nama adalah Nominalisasi
Ya, nama adalah nominalisasi. Dan nominalisasi? Adalah proses pembendaan
(nomina) terhadap sesuatu yang bukan benda. Sebagai contoh, kata pendidikan
adalah kata benda. Namun kalau kita telusuri di dunia ini, takkan pernah kita bisa
menemukan benda yang bernama pendidikan. Ia adalah label yang diberikan kepada
seperangkat sistem untuk mendidik manusia, sehingga mudah dan praktis disebut.
Begitu pula dengan kebahagiaan, kesuksesan, dll. Kesemuanya tak berwujud, namun
seolah memiliki bentuk.
Bagaimana dengan nama seseorang? Bukankah ia memiliki wujud, yakni sang
pemilik?
Ya dan tidak. Nama seseorang amat berbeda dengan nama benda. Seorang manusia
memang memiliki wujud, namun ia tidak pernah statis seperti layaknya benda.
Manusia adalah makhluk dengan jiwa dan tubuh yang selalu tumbuh dan
berkembang, berubah seiring bertambahnya usia. Maka tak heran jika banyak orang
sering mengalami kondisi yang disebut pangling, karena seseorang yang dikenalnya
mengalami perubahan yang signifikan, baik secara fisik maupun psikologis. Kondisi
pangling ini terjadi sebab kita menyimpan ingatan tentang nama seseorang dan
menempelkannya pada sosok yang kita ingat saat terakhir kali berjumpa. Sehingga
ketika bertemu kembali dan teryata sosok tersebut telah berubah,
seketikatrance pun dialami yang membuat ingatan tersebut harus direvisi.
Maka menjawab pertanyaan “Siapa Aku?” hanya dengan menyebutkan nama jelas
amat tidak tepat. Karena sang diri ini telah berkembang begitu kompleks sehingga
bisa jadi sang nama tak sanggup lagi mewakili. Pertanyaan ini harus dijawab dengan
proses masuk ke dalam, membedah satu demi satu, aspek demi aspek, detil demi
detil, sampai akhirnya bertemu dengan cetak biru yang mendasari terbentuknya
perilaku. Pun proses seperti ini takkan sanggup menjawab semuanya, lagi-lagi
dikarenakan sang diri pun terus berevolusi tanpa henti.
Menggunakan NLP Untuk Mengenal Diri
Titik keunikan NLP adalah terletak pada pakem “the difference that makes a
difference”. Perbedaan yang membedakan. Secara operasional, bentuk riilnya adalah
mempelajari struktur sebuah perilaku, alih-alih berkutat dengan isinya.
“Bukan soal apa yang Anda katakan,” kata sebuah pepatah, “melainkan bagaimana
Anda mengatakannya.” Tidak cukup sekedar mengatakan, “I love you,” melainkan
harus mengatakannya dengan penuh ketulusan dan kesungguhan agar ia punya efek
menukik ke dalam hati yang mendengar.
Sementara telah begitu banyak ilmu mengkaji soal “apa” yang kita katakan, maka
NLP fokus pada “bagaimana” kita mengatakannya. Maka ia pun seringkali
didefinisikan sebagai sebuah ilmu tentang “struktur dari pengalaman subyektif”.
Maka memberdayakan NLP dalam rangka mengenal diri adalah menggunakannya
untuk mengenali struktur subyektif diri ini. Dalam “NLP Communication Model” atau
yang sering juga disebut dengan “Human Model of the World”, diuraikan bahwa
sumber dari sebuah perilaku adalah kondisi pikiran-perasaan atau state of mind.
Karenanya, mengubah perilaku sejatinya adalah proses mengubah state of
mind yang menaunginya. Tentu sulit bagi Anda tersenyum bahagia jika kondisi
pikiran-perasaan Anda sedang berduka, bukan? Kalaupun Anda bisa tersenyum,
orang tentu akan begitu mudah menyadari bahwa senyuman Anda adalah sekedar
penghibur hati. Begitu pula sukar bagi Anda menyembunyikan rona wajah keceriaan
saat hati sedang bersuka ria, meski Anda berusaha keras untuk tetap terlihat tenang.
Lalu darimana datangnya state of mind?
Dari integrasi yang harmonis antara persepsi (lebih beken dengan istilah
representasi internal, dalam NLP) dan gerakan tubuh (fisiologi). Pikiran dan tubuh
adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan, kata salah satu pakem dalam NLP. Maka
suasana sedih adalah kesatuan antara posisi tubuh yang mendukung untuk merasa
sedih, yang berjalin kelindan dengan pikiran yang dipenuhi ingatan tentang
kesedihan. Sebagaimana suasana semangat nan antusias adalah perkawinan antara
tubuh yang segar berirama dengan pikiran yang fokus pada hal-hal yang mungkin.
Gerakan tubuh lebih mudah nan praktis untuk mengubah state of mind, hanya tanpa
pengubahan persepsi, ia selayaknya P3K semata. Sementara pengubahan persepsi
relatif sedikit lebih kompleks, namun memiliki efek yang jauh lebih permanen. Inilah
yang sering disebut oleh para motivator sebagai mindset.
Nah, sampai di sini, maka mengenal diri menggunakan kacamata NLP adalah proses
membedah sumber perilaku sang diri dengan mempelajari efek gerakan tubuh dan
struktur persepsi yang kita miliki. Dengan memahami cara keduanya bekerja, kita
bisa dengan mudah mengendalikan serta mengarahkan perilaku untuk mencapai
hasil yang kita inginkan. Persis seperti bunyi sebuah pepatah, “Yang kita sadari, bisa
kita kendalikan. Yang tidak kita sadari, mengendalikan kita.”
Bagaimana persisnya? Kita mulai dari…
Mengenal Soal Mind
Meskipun kata mind seringkali diterjemahkan sebagai pikiran yang melulu bersifat
intelektual, saya lebih sepakat bahwa ia dipahami layaknya dalam ilmu psikologi: the
totality of conscious and unconscious mental processes and activities.
Maka mind bukan hanya soal kognitif, melainkan juga afektif dan psikomotorik.
Bukan hanya soal intelektual, melainkan juga emosional dan fisikal. Ia tidak hanya
yang menyebabkan Anda dan saya bisa berpikir secara rasional, melainkan juga
merasa, dan berperilaku.
Agak bingung?
Bagus. Saya beri ilustrasi. Pikirkan seseorang yang Anda cintai. Lihat wajahnya,
dengar suaranya, sepenuhnya.
Aha, bukankah Anda tak bisa menahan munculnya rasa cinta, padahal ia tak secara
sengaja Anda munculkan?
Contoh sederhana ini membuktikan bahwa pikiran dan perasaan memang tak pernah
saling melepaskan diri, meski sains konon berusaha memahaminya secara terpisah.
Pada kenyataannya, saat seseorang merasa tak berdaya, maka ingatan buruk lebih
mudah terpikir. Begitu pun ketika ia sedang memikirkan bonus akhir tahun, tak
kuasa ia menahan kegembiraan.
Nah, sebagaimana definisi yang telah saya sebutkan di atas, mind memang meliputi
proses conscious danunconscious. Sebuah pembedaan yang paling banyak dikenal di
ranah NLP dan hipnosis, di samping bahasan-bahasan lain seperti subconscious,
super conscious, dll.
Karena saya ingin mengajak Anda untuk dapat segera mempraktikkannya, maka kita
ambil yang mudah saja. Toh, ini semua hanya asumsi, yang bisa berubah seiring
waktu.
Mind ada dua, conscious mind dan unconscious mind. Ada banyak cara untuk
menerangkan keduanya, dan saya memilih yang paling praktis. Pada
intinya, conscious mind adalah segala sesuatu yang Anda pilih untuk sadari saat ini.
Maka tulisan yang sedang Anda baca ini sedang berada dalam conscious mind Anda,
mungkin bersama dengan beberapa hal lain.
Sementara itu, sisanya yang jauh lebih banyak, berada di unconscious mind. Ia
adalah segala hal lain yang sedang tidak Anda sadari dan menjalankan perannya
masing-masing dalam diri Anda. Anda tak perlu berpikir tentang bagaimana
menggerakkan kaki untuk bisa berjalan lurus, bukan? Ya, karena cara berjalan yang
baik telah teregister dengan amat kokoh dalam unconscious mind Anda. Unconscious
mind adalah kumpulan entah berapa banyak pembelajaran yang telah menjadi
kebiasaan selama hidup, baik dipelajari secara sadar maupun tidak.
Maka conscious dan unconscious mind adalah dua bagian yang bekerja saling
melengkapi. Consciousberfungsi penting dalam hal akuisisi pengetahuan dan
keterampilan, sementara unconscious menjadikannya sebuah sistem yang berjalan
otomatis sehingga hidup jadi mudah. Di awal belajar sepeda, seseorang perlu
memperhatikan begitu banyak hal, mulai dari arah stang, gerakan kaki saat
mengayuh, menjaga keseimbangan, dst. Begitu lancar dan menjadi keterampilan,
maka hal-hal tersebut tak lagi jadi perhatian, sehingga ia bahkan bisa dengan mudah
melepaskan tangan.
Ah, Anda tentu ingat pertama kali belajar membaca dan menulis, bukan? Betapa
rumitnya memahami fungsi huruf, merangkainya menjadi kata, lalu kata menjadi
kalimat. Dan sekarang? Semuanya begitu ringan nan sederhana.
Dalam unconscious mind lah tersimpan segala program yang menurut bahasa
psikologi disebut sebagai karakter, bakat, kepribadian, dan lain sebagainya.
Dalam unconscious mind pula terkandung berbagai program yang menurut bahasa
NLP dikenal sebagai identitas diri, keyakinan, kemampuan, dan perilaku.
Maka proses pengenalan diri menggunakan NLP adalah proses untuk mengenali dan
memahami cara kerja berbagai program yang terinstal dalam kedua bagian mind ini.
Jauh lebih banyak program kita berada padaunconscious, maka dari sana lah kita
pertama kali akan memulai perjalanan. Begitu dikenali, dan diputuskan untuk diubah,
maka kita pun memerlukan conscious mind untuk memasukkan Informasi baru guna
dikembangkan menjadi perilaku yang diinginkan.
Semisal, seorang manajer penasaran bagaimana bisa memotivasi anak buahnya
untuk mulai berpikir konseptual daripada hanya memerhatikan hal-hal detil dalam
pekerjaannya. Setelah ditelusuri, dikenali bahwa hal ini disebabkan oleh
kebiasaannya yang selalu fokus untuk meneliti satu demi satu pekerjaan anak
buahnya setiap kali membaca sebuah laporan. Tidak heran, mereka pun fokus pada
hal tersebut.
Begitu mulai mengenali pola perilakunya, sang manajer pun bersegera menyelami
berbagai program yang melatarbelakangi kebiasaannya tersebut. Setelah beberapa
waktu, ia pun menyadari adanya sebuah keyakinan yang tertanam kuat semenjak ia
pertama kali bekerja. Sebuah keyakinan yang diajarkan oleh salah seorang atasan
yang amat berpengaruh, “The devil is always in the details!” Demikian kalimat yang
berulang kali ia dengar hingga menjadi keyakinan yang begitu mendarah daging
selama karirnya.
Menyadari program ini, ia pun segera mempelajari struktur dan cara kerja keyakinan
tersebut. Bekal NLP jelas amat praktis untuk melakukan proses ini. Sampai di sini,
maka ada banyak pilihan model dan teknik yang dapat digunakan untuk melakukan
upgrade terhadap keyakinan lama dan menyesuaikannya dengan kondisi yang kini
dihadapi. Nah, saya sendiri lebih cocok dengan istilah upgrade daripada menghapus
atau mengubah. Sebab tidak ada keyakinan yang buruk, yang ada hanyalah
keyakinan yang perlu diperluas sehingga lebih fleksibel dengan berbagai situasi.
Sebagai contoh, jika waktu kecil seorang anak bisa menangis karena tidak mendapat
permen, maka setelah dewasa ia tetap bisa menangis, namun untuk alasan yang
jauh lebih kompleks daripada tidak dapat permen.
Selesai di sini?
Tentu tidak. Ia tetap harus memulai langkah riil untuk menjadikan keyakinan baru ini
kokoh layaknya keyakinan yang lama, melalui implementasi sehari-hari, sehingga
menjadi tanggung jawab unconscious mind kembali.
Nah, inilah yang saya maksud dengan menyelami unconscious mind, mempelajari
strukturnya secaraconscious, kemudian melatihnya hingga kembali
pada unconscious mind.
Untuk melakukan hal ini, kita perlu terlebih dahulu memahami bagaimana persisnya
pikiran kita mengakuisisi

Self Leadership Model


703 VIEWS | POSTED BY TEDDI P. YULIAWAN ON NOVEMBER - 2 - 2010 0 COMMENT

Saya teringat “Pak Ogah” yang dulu sering mengatur lalu lintas di salah satu
pertigaan menuju rumah. Kami sering menyebutnya “Si Makasih”, karena ia punya
logat yang khas setiap kali mengucapkan kata “Makasih” saat diberi uang. Selama
bertahun-tahun, ia begitu konsisten mengatur lalu lintas, dan saya tak menyadari
peran istimewanya, selain bahwa ia seperti kebanyakan “Pak Ogah” lain.
Sampai satu saat, ia mulai jarang masuk. Ya, ia digantikan oleh orang lain, tidak
hanya satu, tapi berganti-ganti.
Ada yang aneh. Ya, aneh. Antrian mobil yang mau menyeberang menjadi lebih
panjang dari biasanya. Tidak hanya sekali, tapi berkali-kali saya tandai. Setiap kali ia
digantikan oleh orang lain, antrian menjadi panjang. Dan setiap kali ia kembali
bertugas, antrian pun memendek.
Cukup lama saya dan istri memperhatikan apa yang terjadi, sampai satu waktu kami
menyadari, bahwa “Si Makasih” memang memiliki cara mengatur lalu lintas yang
unik. Tidak saja ia lebih cekatan dibandingkan yang lain, ia terasa memiliki wibawa
yang lebih tinggi di jalanan. Jika Pak Ogah lain menghalangi satu jalur untuk memberi
jalan pada jalur lain, dan seringkali masih diterabas, lain dengan “Si Makasih”. Begitu
ia pasang badan, atau berteriak “STOP!”, seketika tak ada yang berani lewat.
Gerakannya begitu taktis, sehingga antrian pun menjadi amat wajar.
Ah, Anda pernah mendengar sekolah untuk menjadi Pak Ogah? Sama, saya juga
belum. Begitu pun pelatihan, apalagi sertifikasi. Pak Ogah adalah profesi alamiah
yang terjadi begitu saja, utamanya di Jakarta. Sebuah profesi yang saya rindukan
ketika berada di Jogja yang mulai padat, dan sebagai pengemudi kita harus berjuang
sendiri untuk berbelok menembus jalur.
Maka saya yakin “Si Makasih” pasti tak pernah belajar keterampilan mengatur lalu
lintas ala Polantas di sekolah-sekolah kepolisian. Ia pasti mempelajarinya di
jalanan. Learning by doing, kata orang sekolahan. Tapi mengapa rekan-rekannya
yang lain tidak secanggih dia? Mengapa hasilnya berbeda?
Saya pun teringat sebuah bahasan dalam buku karya Marcus Buckingham, “First,
Break All the Rules”, bahwa setiap profesi memerlukan bakat. Dikisahkan dalam
buku tersebut, bahkan profesi yang kata orang bisa dilakukan oleh siapapun
seperti housekeeper, membutuhkan bakat agar ia exceptional. Kalau sekedar bersih,
semua orang tentu bisa. Tapi bersih dan punya nilai estetika, plus dilakukan setiap
hari secara konsisten, ia jelas membutuhkan lebih dari sekedar basic training dan
SOP. Ya, ia membutuhkan bakat.
Nah, “Si Makasih” ini, saya asumsikan memang memiliki bakat yang ia perlukan
untuk menjadi seorang Pak Ogah yang efektif. Kegesitan, kecepatan mengambil
keputusan, gaya bicara yang lugas, klop dah semua yang mendukung untuk
menjalankan tugasnya. Maka rekan-rekannya yang menggantikan pun kuwalahan
setiap kali ia absen (atau cuti?). Rupanya profesi ini tak semudah yang mereka
bayangkan.
Dan Anda bisa bayangkan betapa pentingnya profesi ini di kota seperti Jakarta? Ya!
Sangat-sangat penting. Tanpa Pak Ogah expert seperti “Si Makasih”, para bos
pengambil keputusan bisa telat sampai kantor akibat antrian yang berkepanjangan.
Belum lagi pesawat yang delay akibat pilot yang terlambat. Wuih!
Hmm…jika profesi seperti Pak Ogah saja memerlukan bakat
agar exceptional dan excellent, bagaimana dengan profesi lain?
Maka bahasan kita di artikel sebelumnya tentang alasan kita hidup pun menjadi lebih
masuk akal, bukan? Bahwa tiap manusia memiliki tugas yang ia emban dalam hidup,
dan Tuhan telah memberinya segala yang ia butuhkan untuk menjalankan tugas
tersebut. Anda dan saya, tidak lahir tanpa tujuan. Kita lahir dengan tugas, dan bekal
yang memadai untuk menjalankannya.
Ini adalah fase: “Siapa Aku?” alias Self Awareness. Fase wajib sebelum
melangkah kemana pun. Sebab yang tidak kita sadari, tidak bisa kita kelola. Yang
tidak bisa kita kelola, tidak bisa kita pimpin.
Begitu kita menyadari apa saja potensi yang sebenarnya kita miliki, maka saatnya
menentukan rute mana yang akan kita lalui.
Rute?
Yes. Tidak sekedar dream, atau goal. Hidup adalah rangkaian perjalanan dari satu
rute menyambung ke rute yang lain, yang berujung pada terminal tujuan puncak:
Tuhan. Maka apapun goal Anda dalam hidup, sejatinya tidak sekedar sebuah tujuan,
melainkan sesuatu yang dapat mendekatkan Anda untuk kembali dengan mulus.
Inilah fase, “Mana Jalanku?”
Nah, saat rute sudah ditentukan, langkah selanjutnya adalah “Apa saja yang harus
kulakukan?”Haruskah naik mobil, angkutan umum, numpang teman, dll? Jangan-
jangan tak bisa dengan jalan darat dan harus lewat udara? Berapa jauh? Bekal apa
yang diperlukan? Jika dengan kendaraan sendiri, bagaimana harus
mengemudikannya? Dan seterusnya.
Salah menentukan cara, maka perjalanan pun terhambat. Bagaimana bisa
menyeberangi pulau jika tak pakai kapal feri? Di titik inilah kita menyusun
perencanaan, sebab kegagalan seringkali bukan disebabkan oleh tujuannya,
melainkan cara mencapainya. Mau ke Tangerang dari Bekasi, yang ada hanya
sepeda. Bisa sampai sih, tapi besok. Hehehe…
Cukupkah dengan 3 fase di atas?
Ya, jika tujuan hidup Anda hanya di dunia. Tiga fase tersebut sudah akan cukup
membantu Anda untuk mencapai kebahagiaan dalam jangka pendek. Namun untuk
memastikan kita bisa kembali dengan mulus, putaran ketiganya harus senantiasa
diarahkan “Ke Mana Aku Menujut?”: Tuhan.
Tuhan?
Ya. Mengarahkan hidup kita untuk melangkah selalu menuju Tuhan akan menjadikan
kita insan tanpa batas potensi, sebab kita sedang berada dalam naungan Yang Maha
Segala. Kita akan senantiasa berada dalamstate of mind yang unik, penuh percaya
diri, penuh keyakinan, dan pantang menyerah.
Hidup pun jadi indah nan nikmat. Setiap detik adalah pencarian, sekaligus
pencapaian.
Bagaimana persisnya NLP membantu kita menjalani tiap fase di atas?
Tunggu artikel selanjutnya, OK!
Diwongke – Terapi Trauma Pengungsi Merapi
Jogja
990 VIEWS | POSTED BY KRISHNAMURTI ON OCTOBER - 29 - 2010 2 COMMENTS
(Artikel ini saya tulis saat jadi relawan Gempa Jogja & Jateng sebagai Panduan Praktis
& Sederhana Terapi Psikis / Mental para korban, Jogjakarta, 2 Juni 2006. Artikel ini
saya posting karena banyak pertanyaan tentang terapi-terapi yang kami lakukan.
Satu hal yang perlu dicatat adalah bahwa saya bukanlah seorang terapis. Kegiatan
utama saya tetaplah Mindset Motivator. Semoga ide-ide berikut ini masih bisa
berguna juga untuk kejadian “batuknya” Gunung Merapi)
Faktor Psikis dan Mental menjadi sangat penting, karena mana mungkin makanan
terasa enak kalau hati kita sedang galau. Penyakit akan makin parah, kalau kita
melihatnya sebagai bencana. Namun, penyakit akan cepat sembuh kalau kita melihat
bahwa rasa sakit adalah proses penyembuhan.
Dengan berbekal pengalaman menjadi Relawan Terapi di Aceh dengan menggunakan
pengetahuan New Code NLP yang saya pelajari dari DR. John Grinder di Malaysia &
Inggris, maka teknik terapi atau Trauma Healing tsb menjadi sangat sederhana dan
dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk untuk penyembuhan diri sendiri. Berikut
ini sharing singkatnya.
Kunci Melakukan Terapi NLP:
1. Memiliki NIAT TULUS (INTENT) dari dalam lubuk hati untuk membantu saudara kita
yg sedang tertimpa kemalangan tanpa memandang Agama, Suku, Jenis Kelamin dan
Umur. Misal: Bau badan atau mulut pasien adalah sinyal untuk kita menganalisa apa
yang sedang dia rasakan dan berguna untuk kita melakukan terapi bagian mana
yang perlu diterapi.
2. Memiliki “ROSO” kemanusiaan yang rendah hati untuk melayani karena terapi
yang akan kita lakukan, kuncinya sangat sederhana yakni “DIWONGKE”
Tahapan Terapi:
1. Tahap awal yang paling penting adalah Pendekatan dengan penderita. Terapi
hanya bisa dilakukan jika penderita sudah Percaya pada Niat Tulus kita.
Catatan: (Maaf sekali) Buanglah segera Niat Kotor (jika ada, lho) spt misalnya
Kristenisasi, Islamisasi, Budha-isasi atau apapun istilahnya. Niat ini hanya membuat
bangsa kita semakin BODOH. Hanyalah orang BODOH yang mau pindah agama
karena sebungkus mie kering. Saya sangat percaya Allah-pun sedih jika umatnya
beragama dengan cara BODOH seperti itu.
Sebelum melakukan pendekatan:
· Anda dalam posisi yg NO MIND atau KNOWING NOTHING STATE artinya tidak
menilai, tidak mereka-reka, Anda hanya perlu empati ikut merasakan apa yg
dirasakan pasien (sambung roso)
Beberapa ide menjalin pendekatan:
· Diam dan tenang dengan lembut, lakukan kontak mata sampai pasien merasa
nyaman dan tersenyum, lalu boleh lanjutkan dengan:
· Menyentuh (menunjukkan kepedulian Anda)
· menganggukkan kepala (yang berarti aku mengerti apa yang kamu alami)
· mengacungkan jempol (sbg tanda saya hormat dengan semangat Anda)
· atau berkata dengan suara meyakinkan berupa kalimat positip (lakukan dengan
tulus), misal:
· “Wah, lukanya cepat sekali kering ya…” (tunggu respon setuju)
· “Wajah Ibu sudah makin segar saja…” (lihat respon wajah bersyukur)
· “Hebat nih kamu..” (tunggu respon setuju atau “Oh ya” gembira)
· “Mau Minyak Tawon? Biar bengkaknya cepat sembuh”
· “Ini lho pak buat tenang…” sambil Anda mencontohkan menggunakan Inhaler dan
tunggu sampai dia juga melakukannya.
2. Tahap berikutnya adalah mencari alat bantu yg tepat untuk pasien tsb guna
menghasilkan rasa Tenang sebelum melakukan terapi, contoh:
· Tanyakan dulu ke pasien apa yang sedang dirasakan dan selalu arahkan
jawabannya ke sisi positip dari kejadian yg dialami.
· Setelah itu, tanya ke Unconsious Mind Anda: “Produk apa yang dibutuhkan pasien
tsb” dan dengan otomatis Unconcious Anda akan membimbing Anda memilih produk
yg pas untuk pasien tsb.
· Lalu, baiknya dengan tersenyum Anda ambil produk yg dibutuhkan dan Anda sendiri
melakukan demo langsung ke pasien tsb sbg kalibrasi (menguji) apakah dia bersedia
dibantu, misalnya lihat contoh berikut:
Produk & teknik yg sering digunakan oleh penduduk (efek plasebo)
1. Minyak Tawon: Obat gosok (sambil diurut perlahan satu arah) bagian yang
bengkak atau linu. Baik sekali saat mengurut, Anda tetap berdoa dalam hati dengan
tulus agar Allah berkenan memberikan penyembuhan.
2. Minyak Kayu Putih: Obat gosok hangat untuk anak-anak atau orang tua. Teteskan
minyak kayu putih ke dua belah tapak tangan Anda, gosok kedua telapak tangan
Anda dengan cepat, setelah itu tempelkan ke bagian yang perlu untuk dihangatkan.
Boleh juga untuk dihirup untuk menimbulkan rasa tenang dan hangat. Boleh juga
ditambahkan kata-kata sugesti seperti: Ikhlas, ikhlas dan ikhlaaas…
3. Minyak Angin: Obat gosok bagian tubuh yg terasa pegal2 spt otot leher, boleh
gunakan teknik spt minyak kayu putih untuk dihirup. Guyonan gaya plesetan Jogja
sangat membantu suasana terapi menjadi segar dan arti “Nrimo” dapat disampaikan
sebagai bagian dari proses hidup yang memang harus dilalui. Semuanya adalah
kehendak Sang Pencipta.
4. Balsem: Sbg obat gosok & kerokan karena masuk angin yg menimbulkan efek
nyaman dan perasaan “enteng”. Ingat, bukan balsemnya yang hebat, namun niat
tulus Andalah yang menyembuhkan saudara kita yang sedang tertimpa bencana ini.
5. Inhaler: Untuk dihisap melalui hidung yg menimbulkan efek tenang. Setelah
tenang, tanyakan kalimat sugesti yang menguatkan. Dampak bertanya lebih kuat
dibanding sugesti.
6. Salonpas: Ditempel ke dua pelipis jika pasien merasa pusing atau di otot leher jika
merasa tegang atau punggung yg terasa pegal, bahkan digunakan untuk obat sakit
gigi.
7. Tasbeh / Rosario: Untuk menenangkan diri (break pattern) apapun kalimat yg
diucapkan, baik sekali jika dilakukan sambil bernafas berikut:
· Tarik nafas pendek saja
· Buang nafas sepanjang mungkin, saat nafas keluar minta pasien bayangkan
penyakitnya menjauh (sirna)
8. Virgin Coconut Oil : Baik sekali untuk membantu meringankan gatal-gatal atau
luka yg terbuka atau sebagai obat gosok.
9. Rokok: Khusus untuk pasien yang “Blur” atau “Hang” atau pandangannya kosong,
tawarkan hanya 1-2 batang rokok, lihat responnya, bantu nyalakan rokoknya, sama-
sama hisap rokoknya. Saat hembuskan rokok, berikan kalimat sugestinya: Biarlah
semua rasa sedih, kecewa, marah dsb menjauh, menjauh dan menjauh…
10. Boneka: Untuk membuat anak-anak kembali tersenyum, lalu ajak main untuk
hilangkan tarumanya dengan cara:
- “Ayo, letakkan semua ketakutanmu ke telapak tanganku” Lakukan satu persatu &
tunggu sampai semua selesai.
- Beberapa ide menjauhkan beban tsb, misal:
- Ajak dia tiup yg jauh semua beban tsb sampai hilang
- Anda lempar beban yg telah diletakkan ditangan Anda tersebut sejauh mungkin…
- Setelah itu amati perubahan bahasa tubuhnya sampai menjadi senang, lalu tanya
lagi apa yg dia rasakan sekarang jika mengingat kembali bencana yg dialami. Kalau
dia bilang hilang, artinya terapi berhasil.
3. Tahap Akhir adalah memberikan Kalimat Sugesti Penyembuhan yang pas:
(Lakukan setelah pasien merasa nyaman dengan tahap 2 atau lakukan sambil pasien
tetap melakukan kegiatan tahap 2)
· Berikan Kalimat Sugesti Penyembuhan & amati sinyal SETUJU dari pasien akan
kalimat tersebut, misal:
· Sakit itu artinya proses penyembuhan sedang terjadi
· Obat buatan manusia terbatas, obat buatan Allah pasti menyembuhkan
· Rasakan proses penyembuhan sedang terjadi pd kaki kiri Anda
· Semakin aku tidur nyenyak, semakin aku cepat sembuh
· Aku semakin sehat, aku semakin sehat
· Aku semakin segar, aku semakin segar
· Syukuri (Nrimo) dan ambil hikmah positip dari kejadian ini
· Gunakan kalimat lain yg Anda rasa pas spt falsafah Jawa… paling baik jika
menggunakan bahasa Jawa & lebih baik lagi jika Anda menguasai doa-doa bahasa
Jawa yang sering digunakan penduduk setempat.
Demikian dan senang sekali kalau Anda bisa memberikan respon atau masukan ke
email saya: krishnamurti@indo.net.id dan terima kasih sebelumnya. Semoga teknik
terapi ini bisa menjadi terapi khas budaya kita yakni Terapi ala Jawa.
Tabik,
Krishnamurti

NLP dan Kepemimpinan: Self Leadership


709 VIEWS | POSTED BY TEDDI P. YULIAWAN ON OCTOBER - 27 - 2010 0 COMMENT
Manusia adalah makhluk beralasan.
Kalimat di atas cukup lama terngiang dalam benak saya, membuat
saya trance bukan kepalang mencari makna yang menyimpulkannya. Entah dari
mana ia bermula, baru belakangan saya mampu melihat titik terang yang
menggairahkan.
Mari kita tengok perilaku manusia (baca: kita sendiri). Mengapa ia muncul? Mengapa
saya melakukan sesuatu, dan tidak melakukan yang lain? Mengapa saya memilih
satu hal dan membiarkan hal yang lain? Mengapa saya menyukai seseorang dan
tidak yang lain?
Pertanyaan-pertanyaan di atas pun menggelayuti pikiran saya hingga berujung pada
pertanyaan: Adakah perilaku manusia yang muncul tanpa alasan?
Orang makan karena lapar. Orang tidur karena ngantuk. Orang kerja karena
menyambut rezeki. Orang sekolah karena ingin pandai. Orang menikah karena ingin
membangun keluarga dan berketurunan. Orang beragama karena ingin damai. Dan
seterusnya.
Well, mungkin ada, mungkin tidak. Dianggap tidak pun, ia selalu bisa dicari
alasannya. Maka mungkin memang kalimat di atas ada benarnya, manusia adalah
makhluk beralasan. Kita perlu alasan untuk berpikir, merasa, dan bertindak. Tanpa
alasan, kita akan berhenti. Ah, padahal berhenti pun juga merupakan alasan.
Pertanyaan ‘mengapa’ ini pula lah yang rupanya mendorong Richard Bandler dan
John Grinder membedah model terapi Fritz Perls, Virginia Satir, dan Milton Erickson,
hingga melahirkan NLP di akhir dekade 1970-an.
“Mengapa mereka bisa melakukan sesuatu berbeda dari yang lain?”
Lalu dilanjutkan, “Apa perbedaan yang membedakan mereka dari yang lain?”
Dan, NLP pun lahir. Karena alasan. Menggunakan bahasa NLP, alasan adalah bentuk
keyakinan yang umumnya berstruktur cause-effect atau complex equivalence (sila
baca buku INI bagi yang belum paham). Dan keyakinan, memang berfungsi
menaungi berbagai bentuk keterampilan dan perilaku. Sebuah perilaku bisa muncul
atau tidak, amat tergantung pada apakah ia masuk dalam daftar yang ada dalam
keyakinan yang menuanginya.
Membahas hal ini, saya teringat beberapa kali membantu klien yang setelah
diintervensi dengan berbagai cara yang saya anggap ampuh, belum memunculkan
hasil yang menggembirakan. Dalam kondisi demikian, salah satu pertanyaan favorit
saya kemudian adalah, “Anda percaya Tuhan Maha Sempurna?”
“Tentu,” demikian jawaban standar, bahkan dari seorang yang tidak taat agama
sekalipun.
“Menurut Anda, mungkinkah Tuhan iseng memberi Anda kondisi ini? Atau
mungkinkah ia salah orang, sehingga seharusnya bukan Anda yang menerimanya?”
tanya saya kemudian.
“Tidak mungkin.”
“Lalu, menurut Anda, dengan ke Maha Sempurna-an-Nya, apa alasan Dia member
Anda kondisi ini?” tanya saya dengan sungguh-sungguh.
Cukup sering sesi saya segera berakhir setelah saya mengajukan pertanyaan
tersebut. Karena rupanya pertanyaan demikian mengajak seseorang untuk keluar
dari kotak masalahnya, menuju sebuah state of mind alam keserbamungkinan. Ia
yang tadinya mentok mencari solusi atas permasalahan yang dihadapi, seketika
mendapatkan pencerahan. “Sulit bagi saya menemukan solusi jika saya hanya
mengandalkan diri sendiri. Mengapa tidak saya serahkan pada Tuhan untuk
membimbing saya? Bukankah ia Maha Mengetahui dan Maha Kuasa?”
Dari titik inilah konsep Self Leadership Mastery berawal. Setiap manusia adalah
pemimpin. Maka alasan keberadaan manusia adalah untuk menjadi pemimpin.
Memimpin apa?
Memimpin apa yang dititipkan padanya.
Apa saja?
Semuanya. Jiwanya, tubuhnya, pikirannya, perasaannya. Itu yang paling mendasar.
Saat mulai dewasa dan bersekolah, ia dititipi ilmu.
Loh, kok dititipi ilmu? Ya karena begitu lulus ia dituntut untuk menggunakan ilmunya,
dalam bentuk bekerja.
Setelah menikah ia dititipi keluarga, suami/istri, anak, kakak, adik, dan lain lain.
Belum lagi ia dititipi tetangga, kawan, karyawan (jika punya perusahaan sendiri), dan
seterusnya.
Adakah manusia yang hidup tanpa titipan? Tentu tidak. Maka sangat logis jika setiap
manusia adalah pemimpin, yang akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang
dipimpinnya. Persis seperti pemimpin perusahaan yang selalu dimintai
pertanggungjawaban oleh pemegang saham.
Sisi lain, dikatakan titipan sebab ia tidak benar-benar memilikinya. Ketika sampai
waktunya, setiap hal yang ia miliki akan bisa diambil tanpa bisa ia kontrol. Maka
tugas pemimpin memang mengelola titipan agar ia dimanfaatkan menurut keinginan
sang pemilik.
Maka sesi pertama “Self Leadership Mastery” adalah sesi saat saya mengajak setiap
orang untuk menyelami alasan keberadaannya. Apa saja yang dimiliki? Bagaimana
kah ia harus digunakan? Bagaimana kah ia bisa memuaskan Sang Pemilik?
Bagaimana caranya?
Nah, mari kita praktikkan langsung sebuah latihan favorit saya.
Mulailah dengan berdiri di sebuah tempat yang memungkinkan Anda untuk
melangkah sebanyak 5 langkah ke belakang.
Pikirkan sebuah situasi yang Anda ingin mempunyai lebih banyak pilihan, yang Anda
memiliki keraguan bahwa Anda sudah menggunakan semua sumber daya yang Anda
miliki, yang Anda merasa bahwa Anda bukanlah Anda yang sebenarnya. Anda juga
bisa menggunakan latihan ini untuk lebih memastikan bahwa Anda sudah
menyelaraskan semua sumber daya yang Anda miliki.
Mulailah dengan memikirkan lingkungan di tempat Anda merasakan munculnya
masalah tersebut.
Deskripsikan lingkungan tempat Anda berada.
Di manakah Anda?
Siapa saja yang ada di sekeliling Anda?
Apa saja hal yang bisa tandai di tempat ini?
Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang
Anda rasa di tempat tersebut.

Ambil satu langkah ke belakang. Biarkan pemahaman Anda tentang lingkungan tadi
berada pada tempatnya di hadapan Anda. Kini Anda berada dalam tempat yang
membuat Anda memikirkan perilaku Anda.
Nah, sekarang, di tempat ini, dengan tetap memikirkan situasi yang sama, apa saja
yang sedang Anda lakukan?
Pikirkan Anda sedang bergerak, mengambil tindakan, dan berpikir.
Pikirkan bagaimana perilaku Anda menyesuaikan diri dengan lingkungan Anda.
Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang
Anda rasa demi melakukan hal-hal tersebut.

Ambil satu langkah lagi ke belakang, ke sebuah tempat yang sebentar lagi akan
membantu Anda memahami berbagai kemampuan yang Anda miliki.
Pikirkan berbagai keterampilan yang Anda miliki.
Apa saja kah keterampilan itu?
Bagaimana sikap mental yang Anda miliki?
Bagaimana kualitas berpikir Anda?
Kemampuan komunikasi dan interpersonal apa saja yang Anda miliki?
Kualitas apa saja yang Anda miliki yang sejauh ini sudah menjadikan hidup Anda
lebih baik?
Hal apa saja—dalam konteks apapun—yang dapat Anda lakukan dengan baik?
Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang
Anda rasa demi melakukan hal-hal tersebut.

Melangkah ke belakang lagi, berefleksilah kepada keyakinan dan nilai-nilai yang


Anda miliki.
Apa saja yang penting bagi Anda?
Apa saja yang bermakna bagi Anda?
Keyakinan yang membangun apa saja yang Anda miliki terhadap diri Anda sendiri?
Keyakinan yang membangun apa saja yang Anda miliki terhadap orang lain?
Prinsip apa saja yang sangat Anda pegang teguh?
Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, dan rasakan apa yang
Anda rasa demi melakukan hal-hal tersebut.

Anda bukanlah perilaku Anda, pun bukan pula keyakinan Anda. Ambil satu langkah
ke belakang, dan pikirkan keunikan personal Anda, identitas diri Anda.
Apa misi Anda dalam hidup?
Orang seperti apa kah Anda?
Rasakan menjadi diri Anda sendiri sepenuhnya, dan apa yang ingin Anda capai
dalam hidup.
Ekspresikan dalam metafora—simbol atau apapun yang muncul dalam pikiran Anda
yang dapat menggambarkan diri Anda.

Ambil langkah terakhir, sebuah langkah yang sejenak lagi akan membuat Anda
terhubung pada sesuatu yang tak terbatas.
Pikirkan bagaimana Anda terhubung dengan sesuatu yang tak terbatas. Beberapa
orang merasakan keterhubungan dengan sesuatu yang begitu besar, jauh lebih
besar dari dirinya. Sebuah perasaan terhubung yang menghimpun keseluruhan diri
Anda bersama makhluk-makhluk lain, sehingga Anda merasa begitu kecil.
Rasakan perasaan terhubung ini. Metafora apakah yang tepat untuk
menggambarkan hal ini?

Ambil perasaan terhubung ini sembari Anda melangkah maju ke lokasi tempat Anda
memikirkan identitasdiri Anda (satu langkah di depan), dengan tetap
mempertahankan posisi tubuh persis seperti pada langkah terakhir . Perhatikan,
dengarkan, dan rasakan perubahan yang muncul.
Sekarang, ambil perasaan diri Anda yang baru ini, berikut metaforanya, untuk
melangkah ke lokasi tempat keyakinan dan nilai-nilai berada. Pertahankan posisi
tubuh Anda seperti sebelumnya.
Apa saja yang penting bagi Anda sekarang?
Apa saja yang Anda yakini sekarang?
Apa yang Anda inginkan untuk Anda anggap penting?
Apa yang Anda inginkan untuk Anda yakini?
Keyakinan dan nilai-nilai apa saja yang menggambarkan identitas Anda?
Ambil perasaan keyakinan yang baru ini dan melangkahlah ke level keterampilan,
dengan tetap mempertahankan posisi tubuh sebelumnya.
Bagaimana menurut Anda, keterampilan Anda akan bertransformasi dan semakin
meningkat serta semakin dalam?
Bagaimana Anda akan menggunakan keterampilan tersebut dalam level yang paling
maksimal?

Pertahankan posisi tubuh Anda, dan melangkahlah ke level perilaku.


Bagaimana Anda akan berperilaku sehingga menggambarkan keselarasan yang
sudah Anda rasakan sekarang?

Terakhir, melangkahlah ke tempat Anda pertama kali berdiri, tempat Anda


memikirkan lingkungan Anda.
Bagaimana semuanya terasa berbeda ketika Anda membawa keselarasan ini ke
lingkungan tempat Anda berada?
Tandai perasaan Anda demi membawa keselarasan ini.
Aha, apa yang Anda rasakan sekarang? Beberapa rekan yang telah melakukannya
di kelas-kelas saya biasa mengatakan bahwa mereka merasa memiliki tubuh dan
pikiran yang lebih utuh daripada sebelumnya. Semua terasa menyatu dan selaras.
Beberapa yang rutin melakukan latihan ini bahkan bercerita bahwa mereka mampu
mengambil keputusan baru yang selama ini tidak berani mereka ambil.
OK. Saya akan biarkan Anda untuk mulai berlatih, sendiri atau berpasangan. Dan kita
diskusikan kembali apa saja yang Anda dapat setelahnya.
Dan jika Anda penasaran bagaimana saya membantu Anda melatihnya, silakan
mampir ke SINI. Sembari itu, nantikan artikel selanjutnya, OK!
NLP dan Kepemimpinan
760 VIEWS | POSTED BY TEDDI P. YULIAWAN ON OCTOBER - 21 - 2010 1 COMMENT
Bicara soal kepemimpinan, saya teringat sebuah pengalaman ketika terakhir kali
menjadi program manageruntuk sebuah proyek management trainee 2 tahun lalu.
Sebagai rangkaian dari program panjang tersebut, kami mengundang Presiden
Direktur kami untuk bertemu dengan para trainee dan berbagi kisah tentang
perjalanan kepemimpian beliau. Dalam format diskusi melingkar, beliau membuka
dengan sebuah pertanyaan menggelitik. Ya, bahkan sampai sekarang saya masih
terus tergelitik setiap kali mengingatnya.
“Siapa di sini yang ingin jadi pemimpin?” tanya beliau.
Serempak seluruh trainee pun mengacungkan tangan penuh percaya diri. Maklum,
mereka ini adalah karyawan pilihan yang memang sudah ditengarai bibit
kepemimpinannya sejak proses seleksi. Dalam hati, saya pun ikut mengacungkan
tangan saya. Namun karena jaim sebagai senior, maka saya senyum-senyum saja.
Hehehe…
“Bagus,” ujar beliau. Dan para trainee pun menurunkan tangan mereka.
“Nah, kalau semua orang ingin jadi pemimpin, lalu siapa dong yang jadi
pengikutnya?” Tanya beliau lagi sambil tersenyum.
Denggggg! Sontak saja wajah senyum malu muncul dari wajah para trainee, plus
saya sendiri. Malu karena dikiranya pertanyaan yang akan diajukan adalah
pertanyaan yang sudah ada dalam boks berpikir kami. Eh, ternyata ia justru di luar
dari apa yang kami duga. Bahkan, ia merupakan pertanyaan yang sangat mendasar
tentang konsep kepemimpinan.
Saya pun merenungi pertanyaan tersebut cukup lama. Bahkan sampai sekarang,
ketika setidaknya setahun belakangan saya mulai merasakan bahwa NLP hanya
sebagai NLP masih terlalu mentah untuk dinikmati. Ia perlu diberi konteks agar
menjadikan setiap orang yang mempelajari begitu mudah mendapatkan manfaat
lebih banyak.
Beberapa pertanyaan pun bermunculan dalam benak saya setiap kali memikirkan
pertanyaan tersebut. Beberapa masih belum terjawab. Yang lain mulai menghadirkan
kecerahan dalam pikiran saya.
Ya, sangat logis untuk memahami bahwa jumlah pengikut (follower) jauh lebih
banyak daripada pemimpin (leader). Maka sejatinya ilmu tentang bagaimana menjadi
pengikut yang baik mestilah lebih banyak dan komprehensif diajarkan daripada
bagaimana menjadi pemimpin yang baik. Uniknya, justru sebaliknya lah yang terjadi.
Dimana-mana begitu mudah ditemukan buku dan pelatihan kepemimpinan,
sementara begitu banyak bahasan tentang kepengikutan (followership).
Sisi lain, kondisi ini juga amat wajar. Karena jadi pengikut itu pasti dan alamiah. Maka
tak perlu diajari secara khusus. Sedangkan menjadi pemimpin itu belum pasti. Ia
hanya bisa dicapai melalui sebuah proses seleksi ketat yang berujung hanya pada
beberapa gelintir orang saja.
Ah, proses. Kata ini seketika menyentil hati saya. Persis seperti sebuah pertanyaan
yang berlompatan dalam pikiran saya, “Adakah pemimpin hebat yang berawal dari
pengikut yang pecundang?”
Hmm..Anda tentu sepakat dengan saya. Ya, tidak ada! Hampir tidak mungkin
seseorang terpilih sebagai pemimpin jika selama menjadi pengikut ia adalah seorang
pecundang. Kalau hanya jabatan bertitel pimpinan sih masih mungkin. Tapi
pemimpin betulan? Ah, tidak mungkin.
Maka, saya pun sampai pada kesimpulan (kok baru sekarang ya?) bahwa menjadi
seorang pemimpin memang dimulai dengan menjadikan diri kita layak untuk
menjadi pemimpin. Alias, menjadi pemimpin yang hebat, pasti harus diawali dari
menjadi pengikut yang hebat pula. Contoh mudah saja, mungkinkah Anda memilih
ketua RT yang selama ini suka menunggak iuran warga? Hehehe…
Lalu, apa donk hubungan bahasan soal kepemimpinan ini dengan NLP?
Ya sangat erat donk. Karena titik awal kepemimpinan adalah kepengikutan
(followership), maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana mengembangkan jiwa
kepengikutan yang baik ini?
Segera saja ingatan saya tertuju pada sebuah ajaran klasik, “Setiap orang adalah
pemimpin. Dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang
dipimpinnya.”
Nah, dari sini, kesimpulan berikutnya adalah, kepengikutan sejatinya adalah
kepemimpinan pula. Lebih spesifiknya, kepemimpinan diri (self leadership).
Aha! Anda tentu sudah bisa menebak arah bahasan saya, kan?
Ya, bicara soal mengelola diri, ya bicara soal NLP. Bagaimana menjadikan diri ini
yang terbaik yang ia bisa? NLP mengajarkan: model lah yang terbaik, lalu
modifikasikan sesuai kebutuhan Anda. Itu singkatnya. Panjangnya? Silakan baca di
“The Art of Enjoying Life”. Hehehe…
Dari sini, saya kemudian menemukan sebuah titik terang akan pertanyaan saya sejak
2 tahun lalu, “Bagaimana NLP bisa dinikmati oleh lebih banyak orang?”
Belajar melalui kelas Practitioner dan Master Practitioner memang dahsyat. Hanya ia
begitu tersegmentasi, dan kurang accessible bagi orang awam yang belum punya
kemewahan mengikuti kelas berhari-hari itu. Bahkan, saya sendiri membuktikan
bahwa mengikuti kedua kelas tersebut memerlukan waktu yang tak sedikit hingga
akhirnya bisa saya terapkan secara otomatis. Bukan karena rumit, melainkan karena
ilmunya yang sudah sebegitu luas dan komprehensif membahas perilaku manusia,
hingga perlu disesuaikan dalam sebuah konteks yang mudah untuk
diimplementasikan.
Sisi lain, sebagaimana saya tulis dalam artikel terdahulu mengenai Spiritual NLP,
saya merasakan NLP masih sebagai pisau, yang penggunaannya harus diarahkan
sehingga menjadi manfaat alih-alih mudharat. Apalagi ia memang fokus pada
struktur, dan hampir tidak mengajarkan apapun soal konten.
Semisal, bagaimana menjadi semangat? Cari pengalaman semangat, akses,
amplifikasi, pasang tombol, lalu gunakan dalam konteks yang diperlukan. Tidak perlu
peduli pengalaman apa yang diakses. Tidak juga perlu peduli ia akan digunakan
untuk konteks apa.
Ah, kan ada pilar ekologi?
Betul. Dan apakah yang dimaksud dengan ekologi itu? Apakah ukuran sesuatu
dikatakan ekologis atau tidak? Maka sampai sini tugas NLP pun selesai. Dan berlanjut
pada pelajaran soal etika dan prinsip kehidupan.
Yes, Anda betul. Kesinilah saya mengarah. Saya mengajak Anda untuk menerapkan
NLP sebagai alat untuk mengakselerasi diri mencapai kesuksesan yang holistik.
Kesuksesan yang hanya bisa dicapai sebagai hasil dari proses kita meniti jalan
menuju Tuhan.
Oh, kok tiba-tiba terdengar serius nan filosofis?
Tidak, tidak. Ini sangat praktikal, meski saya tidak menjanjikan hasil yang instan.
Loh, kok nggak instan? Bukankah instan adalah salah satu kampanye NLP?
Ah, masak sih? NLP itu, mengajarkan soal efektivitas, yakni jalan mana yang paling
cepat menyampaikan pada tujuan. Maka ketika seseorang menggunakan NLP lalu
berhasil menjadi kaya secara financial namun miskin secara spiritual, maka ia
sebenarnya bukan jalan cepat menuju kesuksesan, melainkan jalan yang lambat.
Lambat, karena ia mesti memulai lagi dari awal untuk akhirnya memahami bahwa
kesuksesan bukanlah pencapaian hanya di satu aspek hidup, melainkan keseluruhan
aspek spiritual, sosial, emosional, intelektual, dan finansial.
Maka memang prosesnya bisa berlangsung mulai dari hitungan bulan hingga tahun,
yang takkan pernah berakhir sampai akhir hayat. Proses untuk meniti tiap jalan
dalam kehidupan Anda secara alamiah, penuh penghayatan lagi kesungguhan.
Sebab tidak ada satu detik pun dalam hidup, melainkan ia adalah cara Tuhan untuk
mengantarkan Anda kembali.
Nah, bagaimana rupanya model ini bekerja?
Sabar. Saya akan bahas langkah demi langkah di rangkaian artikel berikutnya. Atau
saat Anda sudah mulai ingin merasakan langsung pengalaman menerapkannya,
silakan berkunjung ke SINI.

Uji Sugestibilitas: Perlukah?


1,406 VIEWS | POSTED BY ADI W. GUNAWAN ON SEPTEMBER - 18 - 2010 4 COMMENTS

Salah satu peserta Indonesia Hypnosis Summit (IHS) 2010 mengirimi saya email
dan bertanya, “….saat Bapak menjelaskan mengenai induksi, Bapak tidak bicara
tentang uji sugestibilitas. Kita tahu bahwa sangat penting untuk bisa mengetahui tipe
sugestibilitas klien agar dapat melakukan teknik induksi yang sesuai sehingga dapat
membawa klien masuk ke kondisi deep trance sebelum melakukan terapi. Kemarin
itu apakah memang tidak sempat dijelaskan ataukah Pak Adi merasa uji
sugestibilitas tidak penting?”
Wah, peserta ini cukup jeli. Saya memang tidak menjelaskan mengenai uji
sugestibilitas. Saya menjelaskan enam teknik dasar induksi dan pengelompokkan
teknik induksi. Enam teknik dasar induksi adalah Eye Fixation, Relaxation of Nervous
System, Mental Confusion, Mental Misdirection, Loss of Equilibrium, dan Shock to
Nervous System.
Dari enam teknik dasar ini dikembangkan menjadi sangat banyak teknik induksi.
Walaupun saat ini ada begitu banyak teknik induksi namun bila dicermati dengan
sungguh-sungguh maka teknik induksi yang ada dapat dikategorikan menjadi empat
kelompok: Progressive Relaxation (yang biasanya membutuhkan waktu 30 – 45
menit), Rapid Induction ( sekitar 4 menit), Instant Indcution (beberapa detik), dan
Emotionally Induced Induction (induksi karena emosi yang dialami klien).
Nah, kembali ke pertanyaan yang menjadi judul artikel ini, “Uji Sugestibilitas :
Perlukah?”
Jawabannya bergantung kebutuhan. Bila untuk melakukan stage hypnosis maka uji
sugestibilitas harus dilakukan untuk bisa memilih atau menemukan subjek hipnosis
yang mudah. Bisa anda bayangkan apa yang terjadi jika stage hypnotist tidak
melakukan uji sugestibilitas dan langsung memilih subjek dari penonton. Akibatnya
akan fatal karena subjek tidak akan bisa dihipnosis dengan cepat dan tidak akan ada
pertunjukkan yang menarik.
Bagaimana dengan hipnoterapi? Apa perlu uji sugestibilitas?
Di tahun-tahun awal saya sebagai hipnoterapis saya memang sangat menekankan
pentingnya uji sugestibilitas. Hal ini bertujuan agar saya dapat melakukan induksi
dengan tepat sehingga klien bisa masuk ke kondisi deep trance.
Bila mengacu pada SHSS (Stanford Hypnotic Suceptibility Scale) yang dikembangkan
oleh Ernest Hilgard maka manusia terbagi menjadi 85% yang moderat, 10% mudah,
dan 5% sulit dihipnosis. SHSS ini banyak digunakan sebagai acuan oleh hipnoterapis
hingga saat ini.
Dr. Kappas mengembangkan teori sugestibilitas yang menyatakan bahwa manusia
terbagai menjadi dua kategori besar yaitu physical suggestibility (sugestibilitas yang
bersifat fisik) dan emotional suggestibility (sugestibilitas yang bersifat emosi). Dari
penelitian ditemukan bahwa 60% populasi bersifat emotionally suggestible dan 40%
physically suggestible. Kelompok emotionally suggestible mempunyai sub kategori
yang dinamakan intellectual suggestibility yang mewakili sekitar 5% populasi.
Pakar lain, Herbert Spiegel, mengembangkan teknik uji sugestibilitas, dengan
menggunakan gerakan bola mata dan empat indikator lainnya, yang dikenal dengan
Hypnotic Induction Profile (HIP). Selanjutnya Spiegel juga mengembangkan Spectrum
of Hypnotizability and Personality Style dan mengelompokkan subjek ke dalam tipe
Apollonian, Odyssean, dan Dionysian.
Ada pengalaman menarik saat seorang rekan menceritakan pengalamannya saat
diinduksi oleh seorang hipnoterapis. Rekan ini, di depan kelas pelatihan, diinduksi
berkali-kali dengan menggunakan bermacam teknik, tetap tidak bisa masuk ke
kondisi hipnosis. Akhirnya hipnoterapis ini berkata, “Anda tidak bisa trance karena
anda masuk kategori orang yang tidak bisa dihiposis.”
Saat mendengar cerita ini ada dua hal yang muncul di pikiran saya. Pertama,
hipnoterapis ini mengacu pada HIP Spiegel, Regular Zero Profile, yang menyatakan
bahwa orang dalam kategori ini tidak bisa dihiposis. Kedua, hipnoterapis ini mungkin
gemas pada rekan saya ini karena telah dicoba dihipnosis berulang kali tapi tetap
tidak berhasil sehingga untuk mudahnya ia mengatakan bahwa rekan saya ini masuk
kategori orang yang tidak bisa dihipnosis.
Benarkah ada kategori orang yang tidak bisa dihipnosis?
Jawabannya bergantung pada teori apa atau pendapat pakar mana yang kita
gunakan sebagai acuan. Di sini tidak ada jawaban benar atau salah. Yang ada adalah
untuk setiap teori atau pendapat pakar mempunyai konsekuensi yang spesifik
terhadap hasil induksi yang kita lakukan.
Dulu waktu saya pertama kali mendalami hipnoterapi saya sempat bingung saat
membaca riset para pakar mengenai tipe sugestibilitas dan apa yang harus dilakukan
untuk bisa melakukan induksi dengan benar yang bisa membawa klien masuk ke
kondisi deep trance.
Di awal karir saya sebagai hipnoterapis saya sangat memperhatikan uji sugestibilitas.
Biasanya sebelum menghipnosis klien saya akan meminta klien melakukan The Hand
Drop Test, Arm Rising and Falling Test, Postural Sway, dan kadang bisa ditambah
dengan The Pendulum Swing Test.
Dari pengalaman saya menemukan bahwa uji sugestibilitas di atas sebenarnya
adalah untuk menemukan klien yang masuk kategori Physically Suggestible. Kalau
klien sulit menjalankan tes, misalnya Arm Rising and Falling Test, maka saya tahu
klien ini masuk kategori emotionally suggestible atau mungkin yang tipe intellectual.
Untuk klien yang “sulit” maka saya perlu menggunakan teknik induksi yang sesuai.
Misalnya dengan teknik 7 plus minus 2, auto dual method, teknik hand rolling, dan
teknk yang bersifat membingungkan pikiran.
Namun jujur saya merasa tidak nyaman dengan hal ini. Setiap kali mau melakukan
terapi saya harus melakukan uji sugestibilitas. Dan yang membuat hal ini menjadi
semakin sulit bagi saya adalah ada banyak klien yang telah ke hipnoterapis lain yang
juga melakukan hal ini, uji sugestibilitas. Nah, klien datang ke saya karena merasa
belum mengalami perubahan signifikan. Bisa dibayangkan apa yang terjadi bila saya
melakukan, di awal sesi terapi, hal yang sama yang dilakukan terapis sebelumnya.
Seringkali sejak awal terapi klien sudah menolak. Mereka berpikir, “Lho, ini kan yang
dilakukan terapis sebelumnya. Saya tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Cara
ini nggak mungkin berhasil.”
Berangkat dari pengalaman ini saya selanjutnya berpikir, “Apakah ada teknik induksi
yang sederhana, yang bisa dilakukan pada semua klien tanpa perlu tahu tipe
sugestibilitasnya? Apakah ada teknik yang sederhana, mudah dipelajari, mudah
diaplikasikan, mudah diduplikasi, dan yang paling penting telah teruji sangat efektif
untuk bisa membawa subjek tipe apapun masuk ke kondisi deep trance dengan
cepat dan pasti?”
Saya mencari hampir 3 tahun. Dan akhirnya menemukannya. Teknik ini selanjutnya
saya ujicobakan di ruang praktik saya dengan hasil yang sangat memuaskan. Seiring
dengan perkembangan pemahaman mengenai cara kerja pikiran saya
menyempurnakan teknik induksi ini sehingga menjadi jauh lebih efektif. Dan baru-
baru ini, di kelas Quantum Hypnosis Indonesia angkatan 9 saya kembali
menyempurnakan teknik ini dan hasilnya sungguh luar biasa.
Yang saya lakukan adalah saya menggabungkan teknik induksi asli dengan
pengetahuan yang saya dapatkan dari hasil riset dengan menggunakan Mind Mirror
IV dengan melihat langsung perubahan gelombang otak dan kedalaman trance saat
induksi diberikan.
Sebelum penyempurnaan di QHI 9, dari pengalaman, teknik induksi ini terbukti
mempunyai tingkat efektivitas antara 90% – 92,17% mampu membawa klien tipe
apapun masuk ke kondisi profound somnambulism. Yang “gagal” diinduksi bukan
berarti tidak masuk deep trance namun sering kali klien melampaui kondisi profound
somnambulism dan masuk ke level Esdaile atau Hypnotic Coma. Untuk yang level ini
tidak dihitung.
Penyempurnaan teknik induksi di QHI 9 ini mempunyai tingkat efektivitas yang
sangat tinggi. Hasil uji sementara menghasilkan rata-rata 97,34%. Saya masih
menunggu laporan lanjutan dari alumni QHI.
Jadi, menjawab pertanyaan di atas, uji sugestibilitas apakah perlu dilakukan atau
tidak semuanya bergantung pada masing-masing individu. Sekali lagi ini bukan benar
atau salah. Namun lebih pada teori yang digunakan.
Untuk saya pribadi dan semua alumni QHI, dalam konteks hipnoterapi, kami sama
sekali tidak menggunakan uji sugestibilitas saat akan melakukan induksi.

Relationship Paradigm
1,451 VIEWS | POSTED BY ISSA KUMALASARI ON SEPTEMBER - 3 - 2010 3 COMMENTS

Apakah Anda menginginkan hubungan di mana Anda merasa benar-benar merasa


“content” dan fulfilled , di mana pasangan pujaan Anda dan mendukung dalam
segala hal yang ingin Anda lakukan?
Apakah Anda ingin dicintai, dihormati dan memiliki hubungan yang intim ? Sebuah
hubungan di mana pasangan memegang dan menghormati nilai yang sama seperti
yang Anda lakukan?
Neuro Linguistic Programming (NLP) memiliki cara membangun dan mempetahankan
hubungan. MengetahuiAttraction Strategy pasangan Anda adalah wajib, karena
setiap orang mempunyai strategy untuk tertarik pada seseorang. Dalam NLP anda di
ajarkan acar mengertahui Attraction Strategy pasangan agar Anda dapat selalu
memenuhinya untuk pasangan Anda. Bukan hanya NLP mampu juga membantu Anda
menemukan Deep Love Strategy dari pasangan dan mengetahui pemicu nya
sehuingga Anda dapat membuat pasangan anda selalu jatu cinta setiap hari hanya
dengan mengaktifkan kembali deep love strategy dapat menambah keintiman dan
membuat kehidupan pasangan menjadi berbunga.
Ini juga adalah presupoosisi NLP , adalah memungkin kan bagi Anda yang ingin
memiliki dan menciptakan hubungan yang Anda pilih

Tentu orang tua Anda dan hubungan masa lalu memiliki pengaruh besar pada
bagaimana Anda akan bertingkah laku. Semua pengaruh ini menentukan apa yang
Anda inginkan dan apa yang tidak Anda inginkan dari sebuah hubungan. Time Line
Therapy™ juga dapat membantu anda membersihkan pengalaman masa lalu yang
dapat menghantui hubungan anda dengan pasangan untuk menjadi utuh dan
harmonis.
Fundamental masalah antara pasangan dan diri Anda sendiri terjadi saat Anda
meletakkan sebuah nilai yang sangat tinggi pada sesuatu tetapi orang lain tidak
berpikir itu adalah penting. Siapa pun adalah orang yang lebih dominan cenderung
menang, tapi berapa biayanya?
Rahasianya adalah untuk mengetahui apa yang penting bagi Anda dan pasangan
Anda. NLP memiliki teknik – teknik khusus untuk menemukan nilai-nilai yang tidak
disadari yang dapat menjadi driver dari hubungan Anda.
Nah apakah hukum tarik menarik dalam satu hubungan adalah sebuah mitos ?
Carl Jung, mengatakan bahwa dalam hubungan, kita mencari satu sama lain secara
tidak sadar dan kemudian memproyeksikan ketakutan terdalam kita kepada
pasangan kita …
Hal seperti yang biasa terjadi di dalam sebuah hubungan dimana orang biasanya
menyalahkan sisi buruk kepada pasangannya. Jung mengatakan bahwa sesuatu
pengalaman masa lalu yang terpendam dapat mempengaruhi penilaian kita terhadap
pasangan kita.
Berikut ini adalah hal sederhana yang bisa Anda lakukan untuk memulai mendesain
dan memiliki hubungan yang ingin Anda miliki bersama dengan pasangan Anda ;
1. Silahkan tulis semua hal termasuk sifat, sikap , atau ciri – ciri yang anda inginkan
dari pasangan Anda. Jika anda belum mempunyai pasangan , tuliskan semua sifat
atau ciri – ciri dari pasangan yang anda dambakan.
_______________________________
_______________________________
_______________________________
_______________________________
_______________________________
_______________________________
Pikirkan bahwa sikap, ciri – ciri atau sifat yang anda inginkan dari pasangan harus
anda miliki, simple nya begini sifat yang anda inginkan dari pasang harus ada dalam
diri anda. Bagaimana mungkin Anda dapat menarik sesuatu jika hal tersebut tidak
ada dalam diri Anda, nah ini adalah hukum tarik menarik. So mulai sekarang lakukan
thal – hal yang anda tuliskan diatas. Jika Anda belum mempunyai sifat atau ciri-ciri
yang Anda sebutkan diatas, itu hanya Limiting Decision (read Time Line Therapy™).
Time Line Therapy™ dapat meng-“uninstall” dan “undo” limiting decision dan dapat
di kombinasi dengan teknik NLP untuk meng “install” desired behavior” yang ingin
anda miliki. Those traits or behaviors has to be present inside you ! Remember, like
attracts like !
2. Silahkan tulis semua sifat atau ciri – ciri yang anda sangat tidak sukai atau anda
benci dari pasangan Anda . Jika Anda belum punya pasangan tuliskan apa sifat yang
tidak anda sukai dari pasangan yang anda dambakan.
_______________________________
_______________________________
_______________________________
_______________________________
_______________________________
_______________________________
Tahukan Anda bahwa apa yang anda benci atau tidak anda sukai dari pasangan anda
adalah kemungkinan anda punya pengalaman negative di masa lalu yang belum
terselesaikan. Dengan melakukan pembersihan emosi negative (read Time Line
Therapy™) dimasa lalu anda dapat menarik hal yang anda inginkan termasuk dari
pasangan anda atau dalam mencari pasangan. Ingat Perception is Projection !
menuirut Carl Jung, kita cenderung mempresentasikan keluar “repressed emotion” di
masa lalu dan memproyeksikannya pada orang sekeliling termasuk pasangan kita
yang biasanya berupa hal yang tidak anda sukai atau benci.
Again, like attracts like, anda menarik hal – hal yang ada dalam diri anda begitu kata
hukum tarik menarik. Nah apa yang perlu anda lakukan adalah jika anda punya satu
hal saja yang tidak anda sukai dari pasangan anda, segera bersihkan diri dari
pengalaman masa lalu untuk memiliki hubungan yang anda dambakan.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat anda lakukan untuk meningkatkan
hubungan anda dengan pasangan / calon anda :
• Menetapkan tujuan yang realistis dan dapat dicapai bersama-sama.
• Bersihkan semua emosi negatif yang melekat pada hubungan Anda – baik
saat ini dan / atau masa lalu, sehingga menghapus semua asosiasi negatif Anda
mungkin telah dibangun dari waktu ke waktu untuk pasangan atau calon
pasangan anda
• Membersihkan semua keyakinan yang membatasi (limiting belief) yang
menghentikan Anda dari mempunyai hubungan yang Anda inginkan
• Menemukan apa yang penting bagi Anda berdua dalam hubungan Anda,
bekerja satu sama lainnya untuk menyelesaikan setiap konflik, lakukan
penyesuaian Anda berdua dan saling mendukung sepenuhnya dalam
mendapatkan apa yang Anda inginkan.
• Belajar bagaimana untuk saling memberi umpan balik lain dan menghilangkan
hambatan komunikasi untuk mendukung satu sama lain
• Memahami kepribadian masing-masing sehingga Anda dapat sepenuhnya
berada dan merasakan keharmonisan yang dalam yang anda berdua ingin miliki
• Mengijinkan diri anda menarik dan tertarik untuk mengizinkan pasangan
untuk merasa jatuh cinta dengan Anda setiap hari.

Tip Praktis NLP#88: Doa Pulas “Teknik Mudah


Menangkal Kejahatan Hipnotis Gendam”
2,806 VIEWS | POSTED BY KRISHNAMURTI ON AUGUST - 29 - 2010 32 COMMENTS

Gendam itu Hipnotis!


Banyak pendapat Pakar Hipnotis yang menurut saya bukan seorang pakar ha ha ha…
Karena tidak pernah belajar Gendam, tapi bicara soal gendam. Aneh, bukan? Menilai
sesuatu yang tidak pernah dilakoni…
Setelah saya belajar ke salah satu Guru yang menguasai teknik Gendam di Garut,
guna menangkal kejahatan Gendam sekitar 3 tahun lalu, saya kaget sekali ternyata
Gendam adalah proses Hipnotis biasa saja. Ada teknik NLP yang digunakan, ada
teknik visualisasi dan teknik lainnya, yang akan saya jelaskan kemudian.
Sudahlah, tidak perlu diperdebatkan. Saya bisa membuktikan secara ilmiah, saya
bisa mendemokan bahwa Gendam itu ilmu hipnotis biasa saja. Bukan Mistik…
Awal Saya Belajar Gendam
Karena saya seorang yang sangat logika, membuat proses mempelajari gendam ini
menjadi cukup lama. Namun, setelah saya kuasai proses, struktur kerja dari sebuah
gendam, ternyata ini hanyalah salah satu teknik hipnotis saja. Jadi, bisa digunakan
untuk kebaikan, juga bisa digunakan untuk kejahatan. Ingat, semua ilmu sifatnya
netral saja. Jahat atau baik, tergantung penggunanya saja.
Mengapa kejahatan hipnotis makin marak?
Nah, membahas hal ini jauh lebih menarik dari pada membahas gendam. Mengapa
kejahatan hipnotis makin marak terjadi? Pasti ada sebabnya. Mudah saja
menganalisanya. Kejahatan adalah kejahatan. Seseorang yang berniat jahat, akan
menggunakan berbagai macam cara untuk mewujudkan impiannya. Ingat, penjahat
tuh juga punya impian. Ada yang punya cita-cita besar. Ada yang punya ideologi dan
sebagainya. Hanya cara memperjuangkannya, masih dalam koridor akhlak yang
berbeda dengan yang ada saja.
Mengapa pejahat sekarang lebih senang menggunakan teknik hipnotis, dalam
melakukan kejahatannya? Hal pertama yang terlintas adalah karena…
1. Aman
Jika saya sudah ada niat jahat dan mendapat ide teknik hipnotis di salah satu acara
televisi, maka saya akan “tersadarkan” bahwa ide tersebut bisa membuat impian
saya menjadi kenyataan. Saya bisa melakukan aksi saya dengan lebih aman,
dibanding saya mencopet atau menjambret, bukan?
Jika saya sudah lulus NLP, maka saya tinggal berlatih “Pattern Interupt” untuk
mengakali korban saya dan saat si korban “hang”, maka itulah waktu saya untuk
menguras dompet, HP dan barang berharga lainnya. Hmmm…. Anda mulai tertarik
nih jadi copet hipnotis he he he…
2. Bukan Tindak Kekerasan
Seorang lulusan hipnosis, hipnoterapi atau yang sejenis, pasti paham betul bahwa
dalam proses hipnosis, kita dilatih untuk bersuara perlahan, lembut dan 1/3 lebih
lambat dari kecepatan rata-rata suara normal kita.
Artinya, seorang hipnotis atau hipnoterapis akan berbicara dengan perlahan. Nah,
repotnya stigma di masyarakat, orang yang bicara perlahan adalah orang baik.
Orang yang bicaranya keras, itu orang yang banyak omong, orang jahat. Lha,
kasihan teman hipnotis saya yang orang Batak ha ha ha…
Singkatnya, proses kejahatan hipnotis tidak dilakukan dalam bentuk kekerasan.
Contoh nyata, seorang kasir malah mau dijebloskan ke penjara oleh polisi karena dari
video rekaman terbukti kasir tersebut “sadar” menyerahkan uang di brankas kepada
orang yang “meminta”nya, karena dianggap si kasir tersebut bekerja sama. Sulit,
membuktikan secara hukum bahwa kasir tersebut dalam kuasa “hipnotis”, walau
saya bisa membuktikannya secara proses.
Masih banyak sekali contoh kejahatan hipnotis lainnya, lain waktu saya akan cerita
lagi. Apalagi kasus-kasus yang dilaporkan ke Radio Sonora 92.0 FM tentang
kejahatan hipnotis, hipnoterapis, wah bisa jadi satu buku lagi he he…
Mengapa Kalangan Hipnotis menolak Gendam?
Mudah saja, Gendam itu kesannya mistik. Disebut mistik karena kita tidak tahu
prosesnya, kita tidak pernah mempelajarinya. Digunakan untuk merampok,
digunakan untuk kejahatan. Nah, jadi yang salah bukan gendamnya, tapi pelakunya.
Kok, bisa yang disalahkan gendamnya dan dikelompokkan ke dunia mistik. Sadis
amat tuh kalangan hipnotis. Jadi menurut saya, berikut ini beberapa alasannya…
1. Ketidaktahuan Proses
Karena hanya dengar-dengar, karena hanya baca-baca, karena “katanya”, maka
terjadilah kekacau-balauan tentang ilmu gendam ini, yang menurut saya ini adalah
ilmu hipnotis kuno khas Indonesia bangeeet. Malah, sangat kereeen. Karena orang
“bule”, orang NLP Amerika belum menelitinya he he…
Nah, akibat ketidaktahuan proses inilah yang membuat kalangan hipnotis “ilmiah” ini
menolak dan menyatakan bahwa gendam bukanlah hipnotis. Sungguh, sebuah
pernyataan bodoh karena ketidaktahuan ha ha ha…
Buat saya, ilmu gendam sangatlah bermanfaat. Bisa digunakan untuk anti
kecopetan, anti kemalingan, anti kehilangan dan lainnya. Nanti, saya cerita lagi deh
bagaimana memanfaatkan gendam ini untuk kebaikan. Nah, akibat ketidaktahuan
proses gendam, sehingga dikelompokkan mistik, bukan hipnotis karena ujung-
ujungnya kelompok hipnotis sangat takut…
2. Omset Turun
Ha ha ha… ini intinya. Maaf ya teman-teman sesama hipnotis, kita harus jujur ke
masyarakat. Apalagi sekarang kan, bulan puasa (saat saya menulis artikel ini).
Padahal, gendam adalah ilmu hipnotis biasa saja. Tidak perlu dimusuhi, tidak perlu
dipisahkan, tidak perlu dikelompokkan. Semua hanyalah ilmu pengetahuan saja.
Yang perlu kita bagikan ke umum adalah pengetahuan akhlak di balik sebuah ilmu
tersebut. Bukan memisahkan ada ilmu jahat, ada ilmu baik.
Saya menuliskan hal berikut ini di buku ke 2 saya yang berjudul: “Damaikan Setan
dan Malaikat dalam Pikiranmu”, di halaman 349:
“Semakin banyak aku belajar, semakin takut aku berkata”
Karena, sangat kusadari semakin banyak ilmu yang aku kuasai, ternyata selain aku
bisa berbuat kebaikan, aku juga sangatlah berpotensi berbuat kejahatan, khususnya
menggunakan teknik hipnotis (baca: hipnosis) yang aku “sangat” kukuasai.
Cara pandang saya sederhana saja:
“Tanpa ilmu hipnotis saja, kejahatan terus meningkat. Apalagi dengan adanya ilmu
Hipnotis”.
Banyak orang marah dan tidak setuju akan pernyataan saya ini, namun saya sangat
yakin sekali, waktulah yang akan membuktikannya. Kita tunggu saja…
Demikian kutipan buku ke 2 saya tersebut, yang sudah mulai tersedia di TB
Gramedia dan toko buku lainnya. Yang saat ini, sudah masuk cetakan ke 2. Laku nih
ye… Lumayanlah laris maniiis… Tanjung Simpul… Dagangan habis, duit ngumpul ha
ha…
Beberapa Contoh Pengguna Jasa Hipnotis Gendam
Berikut ini hasil pengamatan saya dan kawan-kawan seperguruan dalam mempelajari
bagaimana ilmu gendam digunakan dan juga bagaimana menolaknya.
Dalam istilah saya sendiri, untuk memudahkan analogi apa itu Hipnotis Gendam ini,
Anda bisa bayangkan seperti selubung atau SARUNG yang hanya muncul secara
IMAJINER. Jadi, buat mudahnya saya ganti saja istilah Hipnotis Gendam ini dengan
istilah SARUNG IMAJINER.
Hipnotis Gendam Toko-toko di Mal
Guna menaikkan penjualan, banyak sekali toko-toko yang menggunakan jasa
gendam, baik di ruko atau di mal. Bisa dilakukan sendiri, mengundang orang untuk
melakukannya atau menggunakan teknologi untuk membuat daerah tertentu
sebagai kumparan magnet, selubung magnet atau sarung imajiner tadi. Ya, seperti
jaring perangkap bening sehingga tidak terlihat oleh kasat mata.
Proses hipnotis gendam sederhana saja, hanya sebuah kubangan magnet. Bisa
besar, bisa kecil. Bisa kuat “tekanan”nya, bisa biasa saja, bisa lemah. Tergantung si
pembuatnya saja. Bisa dibuat di tempat yang mau digendam atau dikirim dari
tempat lain, biasanya dilakukan oleh seseorang di sebuah tempat dan dikirimkan
lewat pikirannya ke tempat si pemesan.
Apa tujuannya? Mudah saja. AgarAnda tidak berpikir logika saat Anda berbelanja.
Agar hanya nafsu duniawi yang muncul. Nafsu serakah, nafsu kepemilikan, nafsu
keterikatan dan nafsu-nafsu lainnya yang sejenis.
Nah, saat Anda masuk ke dalam kubangan magnet di toko tersebut, maka magnet
atau pesan-pesan listrik di otak Anda akan terganggu, kacau sebentar, ter-interrupt,
seperti “hang”, seperti tidak bisa mikir. Nah, peluang inilah yang dimanfaatkan
merayu Anda untuk melakukan pembelian.
Setiap instruksi akan datang dari penjualnya, seperti mengeluarkan kartu kredit,
menandatanganinya. Semua berjalan seperti normal biasa saja. Begitu Anda keluar
dari toko tersebut, kembali ke rumah. Barulah Anda menyesal karena telah membeli
sebuah kompor seharga Rp. 4 juta yang juga tidak Anda perlukan banget sih…
Bagaimana menolak Gendam di Toko atau Mal?
Bawalah uang secukupnya, hanya untuk membeli keperluan yang Anda ingin beli.
Hindari membawa kartu kredit yang berlebihan. Berbelanjalah yang perlu saja.
Jangan buang waktu, hanya untuk jalan-jalan dan lihat-lihat. Jika Anda ingin jalan-
jalanpun, sebaiknya tetap jaga kesadaran Anda, tetap eling, mawas diri…
Bila Anda merasa masuk ke sebuah kubangan energi listrik yang membuat Anda
“hang” atau kacau sejenak, langsung buru-buru jalan cepat dengan kaki yang
menghentak. Atau, buang nafas dengan menghentak beberapa kali. Teknik lain,
kibaskan pakaian Anda seperti membersihkan debu kotor.
Hipnotis Gendam Tempat Hiburan
Adalah tempat yang paling banyak menggunakan jasa gendam ini. Semua tempat
hiburan malam yang pernah saya kunjungi, ada gendamnya. Baik, dilakukan secara
traditional, profesional maupun efek teknologi yang mungkin si pemilik tempat
tersebut, tidak menyadari menggunakan teknologi untuk menggendam sebuah area,
Tentu saya tidak akan menjelaskan bagaimana bekerjanya sebuah teknologi untuk
menggendam sebuah area, karena itu sama saja mengajarkan kejahatan ke orang
lain.
Tujuannya sekali lagi, sangatlah sederhana. Membuat logika Anda tidak bekerja
dengan baik dan fungsi itu ada di otak kita. Sehingga saat terganggu, logika akan
kacau sebentar, mulainya emosi nafsu yang bekerja.
Ingat, logika membuat manusia berpikir. Emosi membuat menusia bertindak (action).
Bagaimana menolak gendam ini? Jangan bawa duit dan jangan pergi ke tempat
hiburan malam he he…
Hipnotis Gendam Telpon
Saat Anda merasa diri Anda aneh, merasa “hang”, karena di telpon seseorang yang
sok kenal atau orang yang justru Anda kenal, secepatnya:
- Matikan telpon Anda
- Tutup hidung dan mulut Anda, lalu tiupkan udara sekuat mungkin sehingga
terasa seperti ada udara menekan keluar dari telinga Anda. Lakukan beberapa kali
sampai terasa enak kembali.
- Tiup yang keras telpon Anda seperti membersihkan dari debu yang menempel.
- Doakan bahagia orang yang menelpon Anda tadi. Jangan memaki atau marah
kepada orang tersebut. Doakan dengan ikhlas. Tidak perlu berdoa agar dia tersadar.
Doakan saja dia bahagia. Karena bila dia bahagia, dia tidak akan melakukannya ke
orang lain. Tapi, tetaplah untuk…
- Laporkan ke polisi secepatnya nomor telpon pelaku.
- Jadilah orang yang pemaaf, namunlah tetaplah cerdik. Memaafkan bukan
berarti menyetujui. Apalagi kejahatan…
Bagaimana Mencegah Hipnotis Gendam Kiriman?
Anda teringat teman lama dan muncul perasaan yang kuat sekali ingin ketemu,
namun tidak tahu dimana dia berada sekarang. Sedang mengingat-ingat, eh… tahu-
tahu ada telpon masuk dan ternyata dari dia. Duh, gembiranya bukan?
Menurut Anda, apakah kejadian tadi sebuah kebetulan? Tentu tidak, Anda sudah
“memanggil” dia dulu dalam pikiran Anda. Tanpa disadari, Anda mengirimkan pesan.
Anda mengirimkan perasaan ke dia dan diterima oleh dia, maka ditelponlah Anda…
Nah, demikianpun dengan gendam, bisa dikirim seperti paket lebaran he he…
Karena manusia mempunyai pikiran, maka manusia diberikan oleh sang Pencipta
juga kemampuan tanpa batas untuk mengimajinasi. Sehingga, manusia bisa
membayangkan mengirim parsel lebaran hanya melalui pikiran. Kok bisa? Itu lho SMS
lebaran he he…
Demikianpun kerja hipnotis gendam kiriman, energi kumparan magnet tadi tentunya
bisa dikirim ke rumah Anda atau rumah saya. Ya, kita tidak mempunyai kemampuan
melarang orang yang mau mengirimkan kado tersebut. Namun, ingat baik-baik.
Sebagai manusia, makhluk yang paling mulia di muka bumi ini, kita berhak untuk
menolak kiriman kado tersebut. Ingat, kita berhak menolaknya…
1. Doa Mohon Perlindungan Selama Tidur
Cara yang paling mudah adalah berdoa sebelum tidur dan memohon kepada Nya
untuk melindungi semua anggota keluarga di rumah kita, selama tidur sampai
bangun pagi. Juga mohon perlindungan untuk fisik rumah kita agar dijauhkan dari
niat jahat orang lain.
Hal lain yang bisa Anda lakukan adalah sering-sering mengirimkan masakan ke
tetangga sebelah rumah he he… Jangan pelit, biasalah berbagi dengan tetangga.
Ingat, hanya pohon yang buahnya lebat yang dilempari batu oleh anak-anak.
2. Berdoalah sampai terpulas
Ide lain yang sangat mudah adalah teruslah berdoa, berzdikir, meditasi, Rosario
sapmai Anda tertidur pulas. Ingat, fisik badan Anda tidur. Namun, ijinkan Alam Bawah
Sadar Anda untuk terus berdoa sampai Anda terbangun di pagi hari. Teknik ini,
sangat ampuh dan sudah teruji. Berdoa, berdoa dan berdoa… Sampai Anda tertidur
pulas dalam doa… itu saja kunci terampuh dalam menolah hipnotis gendam kiriman
ini.
(Saat menulis ini, saya terus berdoa agar diberikan kekuatan oleh Dia yang Maha
Akbar. Karena dengan membuka rahasia ini, akan banyak juga orang yang tidak
suka. Terutama mereka yang menggunakan Hipnotis Gendam sebagai mata
pencarian. Namun, untuk kepentingan orang banyak, saya beranikan diri untuk
menuliskannya…)
Hipnotis Gendam untuk Proteksi Diri
Terhindari dari niat jahat pencopet, pencoleng atau orang iseng. Tekniknya mudah
saja, coba parkir kendaraan Anda di tempat yang banyak malingnya dan tidak perlu
dikunci. Saat Anda meninggalkan kendaaraan Anda, bayangkan dengan keyakinan
penuh, seluruh kendaraan Anda ditutup oleh pembungkus imajiner, sehingga
tersarung penuh. Setelah itu, amati saja… Dari pengalaman saya selama ini, mobil
tidak terkuncipun jauh dari niat untuk dicuri, bahkan didekatipun bisa tidak jadi.
Namun, jangan untuk konyol-konyolan. Hilang beneran mobil Anda, saya tidak
bertanggung jawab he he… Saya biasanya menggunakan teknik ini, bila saya sudah
meninggalkan jauh mobil saya di tempat parkiran, namun saya tidak yakin apakah
mobil saya sudah terkunci. Maka, saya diam sebentar menutup mata.
Berkonsentrasi. Lalu, menyelubungi semua benda penting yang ada dalam mobil
tersebut dengan “Sarung Imajiner” ala saya he he…
Demikian pengalaman saya selama ini, khususnya untuk barang-barang yang
tertinggal di sebuah tempat, langsung saya gunakan “Sarung Imajiner” untuk
menutupnya agar terhindar dari niat “meminjam” si pencoleng he he..
Gunakan teknik “Sarung Imajiner” ini untuk menjaga dompet Anda saat naik Bus
Kota yang berdesak-desakan. Ingat, rasa takut berlebihanlah yang membuat Anda
bisa “dirasakan” oleh kelompok pencopet ini. Mereka berpikir pasti Anda bawa
sesuatu yang berharga. Orang yang tenang banget, tidur cuek ngorok di bus, pasti
didiamkan karena kelompok pencopleng tahu banget orang ini orang bokek ha ha…
Ide-ide ini saya kembangkan dari buku “Visualisasi Kreatif” karya Shakti Gwain dan
juga Guru saya belajar gendam di Garut. Ternyata Guru saya sangatlah NLP he he…
Hipnotis Gendam untuk Melindungi Rumah dari Maling saat libur Lebaran
Bagian ini memang tambahan, karena ada perminataan pendengar radio Sonora 92.0
FM saat saya siaran Motivasi Pagi hari Senin, 30 Agustus 2010 jam 7:00 saat kami
membahas artikel ini.
Pertanyaannya:
Bagaimana ilmu hipnotis gendam ini dimanfaatkan untuk melindungi rumah dari
maling, saat kita meninggalkan rumah karena liburan pulang kampung lebaran?
Jawaban saya:
Mudah saja… Sebelum pergi meninggalkan rumah, cukup ajak seluruh anggota
keluarga berdoa mohon keselamatan selama perjalanan. Setelah itu, karena Anda
akan meninggalkan rumah Anda dalam keadaan kosong, maka ajak ngomong rumah
tersebut dengan cara seperti memperlakukannya seperti orang, seperti saudara,
seperti teman.
Cukup katakan: Terima kasih sudah memberikan kami perlindungan, sekarang kami
sekeluarga akan mudik pulang kampung. Kami berdoa agar rumah dalam keadaan
baik-baik saja dan terhindar dari niat jahat orang lain untuk mengambil benda-benda
yang ada di dalam rumah, juga termasuk niat merusak rumah.
Setelah itu, ini kunci teknik Hipnotis Gendamnya:
Setelah berada di luar rumah, dalam benak Anda buatlah visualisasi “Sarung
Imajiner” yang besar sekali. Lalu, dengan keyakinan penuh dan doa sesuai keyakinan
Anda masing-masing, pasanglah sarung imajiner tersebut menyelubungi seluruh
rumah Anda. Lakukan, sampai Anda membayangkan seluruh rumah sudah tertutup
sarung imajiner tersebut.
Terakhir, sebelum berangkat meninggalkan rumah, katakan dalam hati sambil
melihat ke arah rumah Anda: “Kami pergi ya… Sampai ketemu minggu depan…”
Yakinlah, rumah Anda akan aman dari gangguan maling. Saya sering sekali
melakukan hal ini, sejak belasan tahun lalu he he… Mudah dan murah sekali, bukan?
Hipnotis Gendam untuk Pengobatan Jarak Jauh
Dasar teknik ini sama seperti yang saya dapatkan saat ikut kelas Trance Camp-nya
Steven Gilligan di San Diego, Amerika, sekitar tahun 2006 lalu, yakni Energy Ball.
Walau berawal dari imajiner, namun bila terus dilatih energi ini bisa terasa makin
kuat dan membesar.
Nah, sederhana saja. Mohon kepada Dia untuk mengijinkan energi ini menjadi energi
penyembuhan, energi kasih, energi cinta, energi metta, energi rochmad atau apapun
namanya, lalu kirimkan ke teman, saudara yang sedang sakit. Kirimkan energi ini
melalui pikiran Anda dalam suasana berdoa. Kirimkan ke bagian tubuh yang sakit.
Dan, teruslah berdoa agar Dia mengijinkan penyembuhan ini. Karena itu adalah
kuasaNya. Kita hanyalah sarana saja.
Bentuk energinya berupa bola, bayangkan Anda memegang bolah dan mengirimkan
bola tersebut ke orang yang Anda sedang doakan. Kunci kesembuhan teknik ini
adalah niat yang tulus ikhlas.
Masih banyak lagi manfaat dari hipnotis gendam ini, jika digunakan dengan benar.
Jadi, sekali lagi lupakan persoalan mistik atau tidak mistik. Hitam atau Putih. Gelap
atau terang. Semua tergantung dari niat hati ini saja.
Saya tutup artikel ini, mengutip syair dari buku ke 2 saya: “Damaikan Setan dan
Malaikat dalam Pikiranmu” di halaman 371 yaitu:
Ampunilah aku ya Allah…
Semoga Engkau menjagaku dari niat berbuat jahat.
Biarlah ilmu yang kumiliki ini hanya untuk kebaikan.
Biarlah potensi ini menjadi hikmah untuk orang banyak.
Ya, Allah. Izinkan aku makhluk daging yang lemah ini dijaga oleh Mu.
Jika ilmu hipnotisku dapat membuatku masuk neraka…
Kumohon cabutlah nyawaku ini secepatnya…
Jangan biarkan orang lain sengsara karena diriku…
Lebih baik aku kembali kepadaMu…
Dari pada aku menjadi sampah bangsaku…
Jakarta, refleksi tengah malam Maulud, Februari 2010.
Krishnamurti yang masih sering berbuat keliru…
Demikian sobat pembaca, artikel ini saya tuliskan untuk membangunkan keyakinan
dalam diri Anda bahwa Manusia adalah Makhluk yang paling Mulia di dunia ini. Jadi,
jangan pernah takut akan apapun, selama Anda berada di jalan kebenaran. Apalagi
hanya hal sepele yang disebut Hipnotis Gendam he he he… Keciiiil…
Tangerang, 29 Agustus 2010
Krishnamurti, Mindset Motivator

Jatuh Cinta Lagi…


1,253 VIEWS | POSTED BY TEDDI P. YULIAWAN ON AUGUST - 20 - 2010 6 COMMENTS
Wit ing trisno, jalaran sako kulino.
Demikian bunyi pepatah Jawa yang seringkali saya dengar. Secara bebas, ia dapat
diterjemahkan dengan:pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Umumnya, pepatah ini
muncul untuk mengomentari pasangan suami-istri yang menikah setelah menjadi
teman cukup lama (misalnya, teman sekantor, satu sekolah, dll). Karena sering
bertemu dan berbagi cerita, pasangan-pasangan ini pun rupanya juga berbagi rasa,
yang berujung pada pernikahan.
Saya ingat betul pepatah ini, karena saya pun mengalami hal yang sama. Pertama
kali mengenal istri saya, saya belum menunjukkan ketertarikan untuk menjadikannya
sebagai pasangan hidup. Begitu pula sebaliknya. Namun seiring waktu berjalan,
persahabatan yang kami bina akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta yang entah
kapan kami tebar.
Entah mengapa beberapa waktu belakangan pepatah Jawa yang satu ini mencuat
kembali dalam benak saya. Bedanya, saya menyadari makna yang berbeda. Ia bukan
lagi sekedar menjelaskan tentang romantika cinta sahabat yang menjadi kekasih,
namun lebih jauh dari itu. Ia justru merupakan sebuah nasihat yang teramat dalam
bagi para pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, untuk terus menyemai
cinta sampai akhir hayat.
Kok?
Ya. Pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Dimulai dari menanam bibit, memupuk,
menyirami, hingga menjaganya dari serangan hama, proses menumbuhkan dan
memelihara pohon persis seperti proses menumbuhkan dan memelihara cinta. Jika
kita ingin sebuah pohon tetap berbuah, maka tiada lain yang bisa dilakukan selain
terus melanjutkan proses pemeliharaan sepanjang hayat.
Maka pepatah ini menjadi sangat relevan bagi para pasangan yang sudah menikah
beberapa tahun (atau bertahun-tahun) dan merasakan kehampaan, flat, bahkan
kebosanan. Yang muncul seringkali adalah kalimat:
Cinta kami sudah mulai pudar. Saya merasa kehilangan rasa cinta. Tidak seperti dulu
lagi. Saya tidak mencintainya lagi.
Dan seterusnya.
Well, maaf jika saya mengecewakan Anda yang barangkali mengatakan kalimat-
kalimat seperti itu. Tapi saya katakan, “Bukan cinta yang hilang. Bukan cinta yang
mati. Tapi cinta yang sudah tidak Anda pupuk sejak lama, hingga ia perlahan-lahan
kering layaknya pohon, berhenti berbuah, dan berakhir pada kematian.”
Ya. Mereka yang merasa kehilangan rasa cinta sejatinya tidak lah kehilangan rasa
cinta. Melainkan membiarkan cinta itu tak terpelihara, sehingga ia menguap dan
mati.
“Love is a verb,” nasihat dari salah seorang guru saya. Belakangan, saya
menemukan kalimat ini begitu popular, bahkan menjadi salah satu judul buku penulis
kondang sekaligus konselor perkawinan, Gary Chapman. Siapapun yang pertama kali
meneluarkan kalimat indah ini, saya sepakat. Seribu persen sepakat!
Kok?
Ya. Seperti yang saya tulis di artikel soal cinta sebelumnya, “Everyday I Love You”,
cinta memang sebuah nominalisasi. Sebuah kata kerja atau kata proses yang
dibendakan, sehingga seolah ia adalah benda mati yang tak bisa berubah. Padahal,
jelas tidak ada benda bernama cinta, yang bisa datang dan pergi, hilang dan
kembali. Yang ada adalah cinta yang ditumbuhkan, dipelihara. Ketika dibiarkan,
jangan heran jika ia redup dan mati. Maka memahami cinta seperti ini membuat saya
yakin betul bahwa cinta memang tak lain sebuah proses mencintai.
Ah, cukup ah teorinya. Praktiknya gimana donk? Biar kita bisa menumbuhkan dan
memelihara cinta setiap saat? Biar cinta kita tidak gersang dan mati?
Yuuuk…mari…
Latihan berikut ini bisa Anda lakukan sendiri, atau dibantu oleh orang lain.
Ambil posisi duduk yang rileeeeeks dan santaaaai. Duduk yang nyaman. Boleh
sambil buka atau tutup mata, yang mana yang membuat lebih mudah
berkonsentrasi.
Sambil menikmati nafas yang masuuuuk, keluaaar, masuuuuk, dan keluaaaar,
silakan mengingat kembali saat Anda merasakan perasaan cinta yang begitu
mendalam.
Setiap orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Dan saya menemukan
beberapa cirinya adalah perasaan tenang, ikhlas, lega, dikarenakan telah
memberikan apa yang Anda berikan pada orang yang Anda cintai, sepenuhnya. Ya,
cinta adalah hasil dari proses memberi secara tulus. Sehingga ia tidak memiliki
kaitan dengan apapun yang akan Anda terima setelahnya.
Cinta juga tidak ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu memiliki, apalagi nafsu
seksual. Cinta adalah sebuah perasaan yang murni, nyaman, dan berdiri sendiri.
Tidak tergantung pada syarat apapun. Cinta adalah perasaan yang sederhana.
Aha, Anda sudah mulai merasakannya? Bagus sekali. Bagaimana rasanya di pikiran
Anda? Di tubuh?
Di bagian mana saja tepatnya Anda merasakannya? Tentu setiap orang unik. Saya
sendiri merasakan sebuah perasaan yang mengalir, nyaman, dari diri saya kepada
orang yang saya cintai. Anehnya, semakin saya memasrahkan untuk memberi rasa
cinta ini, semakin kuat gelombang yang kembali kepada diri saya.
Maka yang kemudian saya rasakan biasanya adalah perasaan tersambung. Koneksi
perasaan yang kuat antara saya dan dia. Sehingga apapun yang saya alami ketika
bersamanya, pahit ataupun manis, selalu menghadirkan perasaan cinta baru.
Seorang sahabat pernah mengajarkan, “Setiap konflik dalam percintaan adalah jalan
untuk memperbarui cinta. Cinta yang lebih kokoh dari sebelumnya.”
Maka saya penasaran, bagaimana Anda merasakan semuanya dalam pikiran dan
tubuh Anda. Bagaimana perilaku Anda berubah karenanya? Seberapa tenang Anda
menjalani kehidupan Anda berbekal dengannya?
Nah, sementara Anda terus menikmati apa yang Anda rasakan sekarang, bukankah
Anda ingin menyimpannya di dalam diri Anda? Menyimpan perasaan ini di suatu
tempat di dalam diri, yang dapat dengan mudah Anda akses, kapan pun Anda
membutuhkannya. Sehingga bahkan tanpa perlu Anda sadari, ia dapat muncul
dengan sendirinya.
Lanjutkan proses ini hingga Anda selesai. Dan Anda boleh membuka mata lalu
kembali ke ruangan ini sekarang.
Nah, bukankah ia begitu indah sampai-sampai Anda tak ingin membuka mata?
Ya, demikianlah yang saya rasakan, setiap kali saya melakukannya, setiap minggu.
Setiap minggu?
Ya iya lah. Memelihara pohon saja harus disirami setiap hari. Apalagi cinta? Yang
efeknya jauh lebih besar untuk hidup kita?
Anda bisa melakukannya satu demi satu untuk setiap orang yang Anda cintai,
ataupun sekaligus, misalnya sekalian untuk satu keluarga.
Nah, ini yang anehnya nih. Meskipun saya hanya melakukannya untuk beberapa
orang saja, saya jadi lebih mudah memunculkan rasa cinta ini untuk hal-hal lain.
Misalnya, mencintai pekerjaan. Meskipun dengan kadar yang tentunya berbeda.
Buktikan sendiri deh.
Dan, seiring dengan proses latihan yang Anda lakukan terus-menerus setelah ini,
Anda bisa jadi tidak memerlukan langkah-langkah formal seperti yang Anda jalani
sebelumnya. Karena ia bisa muncul hanya dengan Anda cukup memikirkannya saja.
Tips nih. Setiap kali muncul perbedaan pendapat, pertengkaran, dan lain sebagainya,
aksesnya perasaan ini sebelum Anda melanjutkan proses perdebatan itu. Sehingga
alih-alih menjadi ‘pembunuh’ cinta, proses tersebut malah akan semakin
menguatkan cinta Anda. Sebab bukan cinta sejati jika baru dirasakan saat kondisi
senang saja. Baru disebut cinta sejati jika ia dapat dirasakan dalam kondisi apapun,
susah dan senang.
Selamat mencinta!

Tip Praktis NLP#87: Renungan Merdeka


“Berhentilah Panggil Aku Cina…”
2,837 VIEWS | POSTED BY KRISHNAMURTI ON AUGUST - 19 - 2010 65 COMMENTS

“NLP tuh ilmu Monyet”, kata John Grinder.


Sebagai seorang penerap ilmu NLP yang telah saya tekuni selama 6-7 tahun ini, saya
TIDAK PERNAH tertarik untuk mengajarkan NLP. Sejak belajar NLP, saya sangat
tertarik dengan ilmu memodel yang menjadi dasar ilmu NLP. Di benak saya saat itu,
bila saya hanya mengajarkan produk NLP ke orang banyak, kapan majunya bangsa
ini? Kan, tidak mungkin saya membuat kelas NLP Praktisioner di depan 1.000 orang?
Tetapi, saya bisa membangkitkan kesadaran kehidupan 1.000 orang dengan teknik
NLP. Nah, 2 cara pandang yang berbeda sekali, bukan?
Namun, saya sangat menghormati mereka yang mengajarkan ilmu NLP kepada orang
banyak. Saya hanya tertarik yang berbeda saja. Saya sangat tertarik akan kata
percepatan. Saya sangat tertarik ilmu dan teknik untuk percepatan sukses tersebut
yakni MODELLING. Dan, mulailah saya memodel orang-orang sukses di Indonesia ini.
Semua hasil karya modelling ini, akan saya tuangkan menjadi buku di Share the Key
ke 3 yang berjudul: Andapun MOTIVATOR!!!
Memodel Bung Karno
Sudah sekitar 4 tahun ini saya punya intensi tinggi sekali dengan Sang Proklamator
Bangsa Indonesia yakni Bung Karno. Saya kunjungi makam beliau. Saya jabangi
tempat-tempat yang sering dijadikan tempat refleksi beliau. Sebuah tempat yang
dijadikan perenungan diri. Saya terus mencoba merasakan apa yang beliau rasakan.
Satu hal yang menarik ternyata, saya sudah membaca buku Bung Karno sejak saya
SMP di Xaverius II Palembang, dimana saya satu kelas dengan M Tito Karnavian yang
sekarang menjabat sebagai Kadensus 88 dan saya selalu ingat akan kalimat ini:
“Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia”
Banyak hal perubahan sikap, cara pikir dan hal lainnya dalam diri saya, setelah saya
memodel Bung Karno. Misalnya: Suara yang menggelegar, tatapan mata yang sangat
tajam, tarikan nafas meditatif, maupun marah yang luar biasa ha ha ha… jika beliau
tersinggung saat bangsa Indonesia disepelekan.
Nah, saya bersyukur saya bisa merasakan “state” emosi saat Indonesia disepelekan
oleh Malaysia karena kasus nelayan yang mencuri ikan di perairan Indonesia.
Kebetulan saya sedang memodel Bung Karno untuk salah satu state lainnya,
bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan kita pada:
Tanggal 17 Agustus 2010
Salah satu renungan tekad dalam diri saya yang muncul adalah:
Walau bangsaku banyak koruptor…
Walau tanah airku banyak dijual…
Walau mental negeriku belum lagi merdeka…
Namun, darahku tetap untukmu…
Dan, aku akan terus berkarya yg terbaik…
Sampai tulangku menyatu dengan tanah tumpah darahku..
Indonesia pusaka…
Jakarta, 17 Agustus 2010
Krishnamurti, Mindset Motivator
Ada satu lagi syair yang muncul, saya letakkan di bawah artikel ini sebuah renungan
di malam penutup hari kemerdekaan, sebuah pengharapan dari batin saya saja. Dan,
keesokan harinya yakni:
Tanggal 18 Agustus 2010
Saya terbangun pagi-pagi dan membaca berita di koran. Dan, setelah membaca
denga lengkap dari berbagai sumber tentang kejadian kasus nelayan Malaysia yang
mencuri ikan di perairan Indonesia, saya bertanya dalam hati:
“Apa yang Bung Karno lakukan, jika saat ini beliau jadi Presiden?”
Saya diam sejenak dan masuk ke “state” Bung Karno, astaga tiba-tiba diri saya
meledak dahsyat. Ada marah besar dalam diri saya. Bukan kepada Presiden
sekarang, tapi pada kejadian pelecehannya. Lalu, saya mengutip kalimat Bung Karno
yang saya posting di status FB saya dan juga di Milis Bidadari Words yang saya
kelola, termasuk di “contact list” BBM menjadi:
“Kita tunjukkan
kita masih memiliki martabat.
Yoo… Ayo… Kita Ganyang… Malaysia…”
(Presiden Soekarno, 27 Juli 1963)
Pemimpin Tegas,
Bangsa jadi Percaya Diri…
Dalam hidup ini,
kita harus bisa tegas.
Terutama dalam hal prinsip
dan sikap pada kebenaran…
Krishnamurti, Mindset Motivator
Wah, beragam respon masuk ke saya secara mendadak. Ada yang bangga, ada yang
terharu, ada yang setuju, ada yang suka dan ternyata ada yang takut, ada yang
marah, bahkan ada yang memaki. Demikian makiannya:
“Bego loe ya .. ganyang-ganyang emangnya loe mampu, kalo mampu ganyang aja
sendiri jangan ngajak2 orang lain .. gue kasi tau aje loe motivator tuh hidup dijaman
sekarang bukan ngutip2 orang dari jaman baheula yang ga ada tempatnnye lagi di
jaman sekarang .. “, dari email: rek…@…
Saya terngakak-ngakak baca email ini. Inikah gambaran anak muda kita saat ini?
Kasihan betul. Bukan lagi mental tempe, tapi mental tahu ha ha ha…
Dengan “state Bung Karno” lagi, saya balas dengan TEGAS ke status FB saya kalimat
berikut:
Maaf, bagi Anda yg keberatan dgn status2 sy di FB ini,
silakan REMOVE from FRIEND aja… Jika mau
berteman dg sy, terimalah sy apa adanya… Kadang
lembut, kadang keras, kadang TEGAS. Sy hanyalah
manusia biasa bukan Dewa… Make it simple…
Dan di milis Bidadari Words, saya posting:
Bagi Anda yg keberatan dg kiriman sy di milis Bidadari Words ini & mau
keluar, silakan kirim email kosong ke: BidadariWords-
unsubscribe@YahooGroups.Com Make It Simple… Krishnamurti, Mindset
Motivator
Ha ha ha… sungguh seru menjadi seorang Bung Karno, sangatlah tegas dan
berwibawa. Sungguh, tidak ada rasa takut.
Malam harinya, saya mendapat ilham kailmat berikut ini:
“Bukan bangsa lain lebih besar dari bangsa kita. Tetapi,
karena bangsa kita lemah yang membuat bangsa lain
jadi besar… Besar kepala…”
Agak tengah malam, seroang teman ngobrol dengan saya tentang kehilangan teman
dan hasil diskusi singkat tersebut, saya posting ke status FB saya berikut ini:
Seorang teman: “Gak takut kehilangan kawan2 Mas,
dengan status Mas di FB tadi?”
Saya jawab: “Dalam hidup ini, kita tidak akan kehilangan
apapun, jika kita tidak punya apa-apa he he…”
Maksud saya adalah janganlah hidup melekat dengan duniawi. Setelah itu, saya
bersyukur sekali bisa mendapatkan “state Bung Karno” ini dan merasakannya
sehingga sekarang sudah tersimpan di alam bawah sadar saya. Sehingga, sekarang
bila saya ingin menggunakannya kembali, saya cukup “upload” lagi saja… Terima
kasih ya Allah, Engkau sungguh Maha Besar… Thanks juga untuk para Guru pencipta
NLP. Hari saat saya menulis artikel ini, yakni:
Tanggal 20 Agustus 2010
Saya di “tekan” dengan lembut oleh orang-orang yang menurut saya “penakut” ha
ha… Bisikannya saya posting ke Milis Bidadari Words, saya tulis di status FB dan juga
saya Broadcast Message di BBM sebagai berikut:
Ada teman sesama Tionghoa menasehati:
“Sebagai orang Tionghoa di Indonesia, janganlah buat
pernyataan terlalu keras di umum seperti Ganyang
Malaysia. Walau hanya kutipan dr Bung Karno”
Saya jawab:
“ENGKONG SAYA MENGAJARKAN:
JANGAN TINGGAL DI NEGERI INI,
JIKA KITA TIDAK MAU BERKORBAN UNTUK NEGERI INI!”
Diapun stres ha ha… Rasain…
Respon di BBM sayapun belimpahruah… Sekali lagi, selain saya berterima kasih
dengan adanya ilmu NLP yang memungkinkan saya memodel orang-orang yang saya
kagumi, sehingga terjadi perubahan dalam diri ini menjadi seseorang yang saya
inginkan. Juga, saya ingin minta maaf, kepada pihak manapun yang mungkin bisa
tersinggung karena pernyataan-pernyataan saya di Face Book dan Milis Bidadari
Words yang saya kelola. Saya hanyalah ingin jadi diri saya sendiri saja. Saya ingin
menjadi orang yang berguna untuk bangsa ini.
Satu hal yang ingin saya sampaikan ke para pembaca, bahwa saya terus berubah…
Saya selalu berubah… Tentunya menjadi Krishnamurti yang lebih baik. Seorang
Krishnamurti yang TEGAS…
Sebagai akhir dari artikel ini, saya ingin berbagi perasaan saya sebagai salah satu
anak bangsa ini…
Berhentilah Panggil Aku Cina…
Hai Bangsaku,
Walau Oey Tiong Beng nama lahirku.
Walau Tionghoa adalah sukuku.
Walau ada tanda khusus di KTP-ku.
Walau “Cina Lu” jadi makianku
Walau minoritas adalah agamaku.
Namun,
Karena aku terlahir di bumi pertiwi.
Karena aku bertumbuh di Sriwijaya
Karena aku sekolah yang berbahasa.
Dan,
Selama aku masih makan padi petani desa.
Selama aku masih minum air Sukabumi.
Selama aku masih bernafas di udara Nusantara.
Selama aku masih ternafkah dari sang Nusa.
Dan juga,
Akhirnya aku akan dikubur di tanah Jawa.
Tanah yang ditebus dengan deru tangis pejuang kita.
Tanah yang ditebus dengan darah para Pahlawan bangsa.
Tanah yang tertumpah darah karena Jiwa dikorbankan.
Tanah yang direbut, tanah yang diperjuangkan.
Agar tanah tersebut menjadi merdeka untuk anak kita.
Maka,
Mataku hanyalah untuk memperhatikan lelah saudaraku.
Tanganku hanyalah untuk membopong lemah saudaraku.
Otakku hanyalah untuk memikirkan nasib saudaraku.
Darahku hanyalah untuk menyelamatkan nyawa saudaraku.
Hatiku hanyalah untuk menyembuhkan luka perih saudaraku.
Karena…
Jiwaku sudah kuserahkan untuk bangsaku. Bangsa Indonesia…
Bangsa yang masih berjuang untuk terus merdeka.
Sebenar-benarnya,
Aku adalah orang Sumatera.
Aku adalah orang pribumi.
Aku adalah orang Indonesia.
Dan,
Sebelum nafasku berhembus akhir.
Sebelum nyawaku kembali ke angkasa.
Sebelum kulitku menyatu ke tanah.
Aku akan terus berkarya bagi bangsaku.
Akan kuberikan hanya yang terbaik.
Yang terbaik dari tulang tenagaku.
Yang terbaik dari otot pikiranku.
Yang terbaik dari lubuk hatilku.
Agar Indonesiaku makin dihargai.
Agar Indonesiaku makin dihormati.
Agar Indonesiaku makin bersih.
Agar Indonesiaku makin putih.
Agar Indonesiaku makin wangi.
Agar Indonesiaku kembali bangga menjadi Indonesia…
Dan, agar saudaraku berhenti memanggilku Cina.
Karena aku adalah orang asli Indonesia. Aku juga orang pribumi…
Karena akupun terlahir dari Ibu Pertiwi empunya Bumi Nusantara ini…
Ternyata, aku orang Pribumi…
Bukan orang Cina…
Renungan Hari Merdeka di akhir hari Jakarta, 17 Agustus 2010
(Renungan batinku, Oey Tiong Beng yang dipaksa rezim Orde Baru untuk ganti
nama, sehingga dipilihlah nama Krishnamurti, yang sekarang menjadi Mindset
Motivator karena terinspirasi oleh Jiwa sang Proklamator)
Harapan Penulis
Semoga tulisan ini menjadi pesan untuk anak cucu saya di masa mendatang saat
saya sudah tiada, juga keluarga Tionghoa lainnya. Berjuanglah untuk bangsa ini. Ini
bangsa kita. Ini tanah air kita. Ini adalah hidup kita. Ini adalah cinta kita…
Lahir di Indonesia.
Hidup di Indonesia.
Matipun di Indonesia.
Maka hebatkanlah Indonesia.
Demikian artikel ini, yang saya tulis di bandara Soekarno-Hatta karena tertinggal
pesawat menuju ke Jogjakarta. Jakarta, 19 Agustus 2010
Krishnamurti, Mindset Motivator