Anda di halaman 1dari 45

Makalah Individu

Dosen : Dr. Dwi Deswary,M.Pd


Mata Kuliah : Perencanaan Pendidikan

Di susun Oleh :
Jhon Priadi Hutahaean

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


PROGRAM PASCASARJANA MANAJEMEN PENDIDIKAN
2011

_____________________________________________________________________________
__________________________
ANALISIS RENSTRA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
TAHUN 2005 – 2009 DAN TAHUN 2010 – 2014
_____________________________________________________________________________
_________________________

KATA PENGANTAR

Pendidkan Dasar Universal Bermutu dan Berkesetaraan Gender; Perluasan dan


Pemerataan Rencana Strategis (Renstra) Departemen Pendidikan Nasional tahun
2010—2014 disusun berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 17 Tahun 2007 tentang
Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005--2025, UU No. 20
Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, UU No. 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, serta Peraturan Presiden No…. Tahun
2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010--
2014.Selain itu Renstra Departemen Pendidikan Nasional disusun berdasarkan
filsafat Pancasila serta berlandaskan pada paradigma pendidikan dan
pemberdayaan manusia seutuhnya, paradigma pendidikan sepanjang hayat yang
berpusat pada peserta didik, paradigma pendidikan untuk semua yang inklusif, dan
paradigm Pendidikan untuk Perkembangan, Pengembangan, dan/atau
Pembangunan Berkelanjutan (PuP3B).

Rancangan Renstra Depdiknas disusun melalui berbagai tahapan, termasuk


interaksi dengan para pemangku kepentingan pendidikan di pusat dan di daerah,
partisipasi seluruh pejabat Depdiknas, serta dengan memperhatikan arah reformasi
perencanaan dan penganggaran yang telah ditentukan oleh Bappenas dan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Departemen Keuangan. Rancangan Renstra ini juga disusun dengan semangat
untuk menjaga kesinambungan pembangunan pendidikan nasional dan sebagai
landasan bagi pemerintahan periode 2010--2014 dalam menentukan arah
pembangunan pendidikan ke depan. Renstra Departemen Pendidikan Nasional
Tahun 2010-2014 memuat enam strategi yaitu (1) Perluasan dan Pemerataan
Akses Pendidikan Usia Dini (PAUD) Bermutu dan Berkesetaraan Gender; (2)
Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Akses Pendidikan Menengah Bermutu,
Berkesetaraan Gender, dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat; (4) Perluasan
dan Pemerataan Akses Pendidikan Tinggi Bermutu, Berdaya Saing Internasional,
Berkesetaraan Gender dan Relevan dengan Kebutuhan Bangsa dan Negara; (5)
Perluasan dan Pemerataan Akses Pendidikan Orang Dewasa Berkelanjutan yang
Berkesetaraan Gender dan Relevan dengan Kebutuhan Masyarakat; dan (6)
Penguatan Tata Kelola, Sistem Pengendalian

BAB I
PENDAHULUAN

Pembangunan pendidikan nasional tidak dapat lepas dari


perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun global.
Pendidikan harus dibangun dalam keterkaitannya secara fungsional dengan
berbagai bidang kehidupan, yang masing- masing memiliki persoalan dan
tantangan yang semakin kompleks. Dalam dimensi sektoral tersebut,
pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada
pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam rangka menyiapkan
tenaga kerja. Dalam lima tahun ke depan, pembangunan pendidikan
nasional harus dilihat dalam perspektif pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya. Dalam perspektif demikian, pendidikan harus lebih berperan
dalam membangun seluruh potensi manusia agar menjadi subyek yang
berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan
pembangunan nasional. Potensi manusia Indonesia yang dikembangkan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


mencakup olah hati yang berkualitas dengan keimanan, ketakwaan dengan
akhlak mulia, olah rasa yang berkualitas dengan seni atau estetika, olah
pikir yang berkualitas dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
potensi fisik yang berkualitas dengan olah raga.

Renstra Depdiknas disusun dengan mengacu pada amanat


UndangUndang Dasar 1945, amandemen ke-4 pasal 31 tentang
Pendidikan; Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia
Masa Depan; Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas); UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara; Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; UU Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah, UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,
PP Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; PP Nomor 21
Tahun 2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga,
dan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional pendidikan

Renstra Depdiknas 2005 - 2009

Pembangunan Pendidikan Nasional (Renstra Depdiknas) Tahun 2005-


2009 yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional. Renstra ini menjadi pedoman bagi semua tingkatan
pengelola pendidikan, mulai dari pemerintah pusat, daerah, masyarakat
dan satuan pendidikan, untuk merencanakan dan melaksanakan program
pembangunan pendidikan nasional serta mengevaluasi hasilnya.

Renstra Depdiknas Tahun 2005-2009 disusun dalam rangka


mempercepat sasaran Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on The Rights
of the Child) yang menyatakan bahwa setiap negara di dunia melindungi
dan melaksanakan hakhak anak tentang pendidikan dengan mewujudkan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


wajib belajar pendidikan dasar bagi semua secara bebas (Artikel 28) dan
konvensi mengenai HAM yang menyatakan "Setiap orang berhak atas
pendidikan. Pendidikan harus bebas biaya, setidaknya pada pendidikan
dasar. Pendidikan dasar harus bersifat wajib. Pendidikan teknik dan profesi
harus tersedia secara umum dan pendidikan yang lebih tinggi harus sama-
sama dapat dimasuki semua orang berdasarkan kemampuan" (Deklarasi
HAM, Artikel 26). Hat ini sejalan degan pencapaian sasaran pembangunan
yang disepakati dalam Kerangka Aksi Dakar Pendidikan Untuk Semua (PUS)
atauE d u c a t i o n for All (EFA). Dalam sasaran Konvensi Hak-Hak Anak
dan PUS, Pemerintah telah metetapkan kebijakan dasar dan Program
Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) tahun 2015, yaitu mewujudkan anak
yang cerdas/ceria dan berakhlak mulia melalui upaya perluasan
aksesibilitas, peningkatan kualitas dan efisiensi pendidikan, serta partisipasi
masyarakat. Karena itu, kebijakan pendidikan perlu mengakomodasikan
hak-hak anak dan kebutuhan anak termasuk juga mempertimbangkan
tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam upaya mewujudkan
tujuan pembangunan nasional tersebut, Depdiknas sebagai
penanggungjawab pendidikan nasional mempunyai visi sebagai berikut.

Insan Indonesia cerdas dan Kompetitif

Visi Depdiknas lebih menekankan pada pendidikan transformatif,


yang menjadikan lembaga pendidikan sebagai motor penggerak
perubahan dari masyarakat tradisional kemasyarakat maju. Masyarakat
maju selalu diikuti oleh proses4Kemungkinan keterlaksanaan kebijakan dan
program 2010-2014; ransformasi struktural, yang menandai suatu
perubahan dari masyarakat yang bertumpu pada pertanian menuju
masyarakat berbasis industri.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Bahkan diera global sekarang, transformasi itu berjalan dengan
sangat cepat yang kemudian mengantarkan pada masyarakat
berpengetahuan (knowledge society). Di dalam masyarakat
berpengetahuan, peranan ilmu pengetahuan dan penggunaan ICT sangat
dominan. Namun, masyarakat Indonesia yang sebagian besar masih
berciri agraris belum sepenuhnya mampu memanfaatkan iptek yang
mengalami perkembangan pesat dan menjadi penggerak utama (prime
mover) perubahan masyarakat. Untuk mewujudkan visi pendidikan
transformatif tersebut Depdiknas telah menetapkan beberapa misi
sebagai berikut :

Mewujudkan Pendidikan Yang Mampu Membangun Insan Indonesia


yang Cerdas
dan Kompetitif dengan Adil, Bermutu, dan Relevan untuk Kebutuhan
Masyarakat Global

Untuk mewujudkan misi tersebut, Depdiknas menetapkan beberapa


strategi dan program dalam suatu skala prioritas. Salah satu bentuk dari
prioritas tersebut adalah penggunaan dana APBN/APBD dan dana
masyarakat yang lebih ditekankan pada upaya pemerataan dan
peningkatan mutu pendidikan yang didukung oleh sistem governance
yang sehat, efisien, dan akuntabel.

Renstra Depdiknas 2010 - 2014

Renstra Depdiknas Tahun 2010--2014 ditujukan untuk lebih


memantapkan penataan Indonesia di segala bidang dengan menekankan
upaya peningkatan kualitas SDM termasuk pengembangan kemampuan ilmu
dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. RPJMN Tahun

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


2010--2014 tersebut, selanjutnya dijabarkan ke dalam Rencana Strategis
(Renstra) Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2010-2014.

Sesuai Ketentuan Umum Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun


2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Nasional
berkewajiban untuk mencapai Visi Pendidikan Nasional sebagai berikut:

Hambatan yang mungkin timbul pada implementasi Renstra 2010-


2014, serta rumuskan alternatif pemecahannya.
Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)
1
ANALISIS RENSTRA DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
TAHUN 2005 – 2009 DAN TAHUN 2010 – 2014
PENDAHULUAN

Pembangunan pendidikan nasional tidak dapat lepas dari


perkembangan lingkungan strategis, baik nasional maupun global.
Pendidikan harus dibangun dalam keterkaitannya secara fungsional dengan
berbagai bidang kehidupan, yang masing- masing memiliki persoalan dan
tantangan yang semakin kompleks. Dalam dimensi sektoral tersebut,
pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada
pembangunan sumber daya manusia (SDM) dalam rangka menyiapkan
tenaga kerja. Dalam lima tahun ke depan, pembangunan pendidikan
nasional harus dilihat dalam perspektif pembangunan manusia Indonesia
seutuhnya. Dalam perspektif demikian, pendidikan harus lebih berperan
dalam membangun seluruh potensi manusia agar menjadi subyek yang
berkembang secara optimal dan bermanfaat bagi masyarakat dan
pembangunan nasional. Potensi manusia Indonesia yang dikembangkan
mencakup olah hati yang berkualitas dengan keimanan, ketakwaan dengan
akhlak mulia, olah rasa yang berkualitas dengan seni atau estetika, olah

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


pikir yang berkualitas dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta
potensi fisik yang berkualitas dengan olah raga.

Renstra Depdiknas disusun dengan mengacu pada amanat


UndangUndang Dasar 1945, amandemen ke-4 pasal 31 tentang
Pendidikan; Ketetapan MPR Nomor VII/MPR/2001 tentang Visi Indonesia
Masa Depan; Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional (Sisdiknas); UndangUndang Nomor 17 Tahun 2003
tentang Keuangan Negara; Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; UU Nomor 32 Tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah, UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,
PP Nomor 20 Tahun 2004 tentang Rencana Kerja Pemerintah; PP Nomor 21
Tahun 2004 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian/Lembaga,
dan PP Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)


2

Renstra Depdiknas 2005 - 2009

Pembangunan Pendidikan Nasional (Renstra Depdiknas) Tahun 2005-


2009 yang merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional. Renstra ini menjadi pedoman bagi semua tingkatan
pengelola pendidikan, mulai dari pemerintah pusat, daerah, masyarakat
dan satuan pendidikan, untuk merencanakan dan melaksanakan program
pembangunan pendidikan nasional serta mengevaluasi hasilnya.

Renstra Depdiknas Tahun 2005-2009 disusun dalam rangka


mempercepat sasaran Konvensi Hak-Hak Anak (Convention on The Rights

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


of the Child) yang menyatakan bahwa setiap negara di dunia melindungi
dan melaksanakan hakhak anak tentang pendidikan dengan mewujudkan
wajib belajar pendidikan dasar bagi semua secara bebas (Artikel 28) dan
konvensi mengenai HAM yang menyatakan "Setiap orang berhak atas
pendidikan. Pendidikan harus bebas biaya, setidaknya pada pendidikan
dasar. Pendidikan dasar harus bersifat wajib. Pendidikan teknik dan profesi
harus tersedia secara umum dan pendidikan yang lebih tinggi harus sama-
sama dapat dimasuki semua orang berdasarkan kemampuan" (Deklarasi
HAM, Artikel 26). Hat ini sejalan degan pencapaian sasaran pembangunan
yang disepakati dalam Kerangka Aksi Dakar Pendidikan Untuk Semua (PUS)
atauE d u c a t i o n for All (EFA). Dalam sasaran Konvensi Hak-Hak Anak
dan PUS, Pemerintah telah metetapkan kebijakan dasar dan Program
Nasional Bagi Anak Indonesia (PNBAI) tahun 2015, yaitu mewujudkan anak
yang cerdas/ceria dan berakhlak mulia melalui upaya perluasan
aksesibilitas, peningkatan kualitas dan efisiensi pendidikan, serta partisipasi
masyarakat. Karena itu, kebijakan pendidikan perlu mengakomodasikan
hak-hak anak dan kebutuhan anak termasuk juga mempertimbangkan
tingkat pertumbuhan dan perkembangan anak.

Dalam upaya mewujudkan tujuan pembangunan nasional tersebut,


Depdiknas
sebagai penanggungjawab pendidikan nasional mempunyai visi sebagai
berikut.
Insan Indonesia Cerdas dan Kompetitif

Visi Depdiknas lebih menekankan pada pendidikan transformatif,


yang menjadikan lembaga pendidikan sebagai motor penggerak
perubahan dari masyarakat tradisional ke masyarakat maju. Masyarakat
maju selalu diikuti oleh proses

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)
3

transformasi struktural, yang menandai suatu perubahan dari masyarakat


yang bertumpu pada pertanian menuju masyarakat berbasis industri.
Bahkan di era global sekarang, transformasi itu berjalan dengan sangat
cepat yang kemudian mengantarkan pada masyarakat berpengetahuan
(knowledge society). Di dalam masyarakat berpengetahuan, peranan ilmu
pengetahuan dan penggunaan ICT sangat dominan. Namun, masyarakat
Indonesia yang sebagian besar masih berciri agraris belum sepenuhnya
mampu memanfaatkan iptek yang mengalami perkembangan pesat dan
menjadi penggerak utama (prime mover) perubahan masyarakat.

Untuk mewujudkan visi pendidikan transformatif tersebut Depdiknas


telah
menetapkan beberapa misi sebagai berikut.

Mewujudkan Pendidikan Yang Mampu Membangun Insan Indonesia yang


Cerdas
dan Kompetitif dengan Adil, Bermutu, dan Relevan untuk Kebutuhan
Masyarakat Global

Untuk mewujudkan misi tersebut, Depdiknas menetapkan beberapa


strategi dan program dalam suatu skala prioritas. Salah satu bentuk dari
prioritas tersebut adalah penggunaan dana APBN/APBD dan dana
masyarakat yang lebih ditekankan pada upaya pemerataan dan
peningkatan mutu pendidikan yang didukung oleh sistem

governance yang sehat, efisien, dan akuntabel.


Renstra Depdiknas 2010 - 2014

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Renstra Depdiknas Tahun 2010--2014 ditujukan untuk lebih
memantapkan penataan Indonesia di segala bidang dengan menekankan
upaya peningkatan kualitas SDM termasuk pengembangan kemampuan ilmu
dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. RPJMN Tahun
2010--2014 tersebut, selanjutnya dijabarkan ke dalam Rencana Strategis
(Renstra) Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2010--2014.

Sesuai Ketentuan Umum Penjelasan Undang-Undang Nomor 20 Tahun


2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Departemen Pendidikan Nasional
berkewajiban untuk mencapai Visi Pendidikan Nasional sebagai berikut:

Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)


4

Terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan


berwibawa
untuk memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi
manusia yang berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab
tantangan
zaman yang selalu berubah.

Dalam rangka mewujudkan Visi Pendidikan Nasional dan sesuai


dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, Misi Pendidikan Nasional adalah:

1) Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh


pendidikan
yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
2) Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara
utuh sejak

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar;
3) Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk
mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
4) Meningkatkan profesionalisme dan akuntabilitas lembaga pendidikan dan
pengelolanya sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan,
pengalaman, sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan
5) Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan
pendidikan
berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan RI.
Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)
5
ANALISIS RENSTRA
TAHUN 2005 – 2009 DAN TAHUN 2010 – 2014
1.
Filosofi yang mendasari perubahan/perbedaan Renstra

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UU


Sisdiknas amat mendasar dalam memberikan landasan filosofis serta
berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan, seperti filosofi
pendidikan nasional berdasarkan filsafat Pancasila, paradigma pendidikan
dan pemberdayaan manusia seutuhnya, paradigma pembelajaran sepanjang
hayat berpusat pada peserta didik, paradigma pendidikan untuk semua
yang inklusif, dan Paradigma Pendidikan untuk Perkembangan,
Pengembangan dan/atau Pembangunan Berkelanjutan (PuP3B atau
Education For Sustainable

Development).
Penjelasan singkat dari filosofi itu adalah sebagai berikut :
1.
Pendidikan Nasional berdasarkan filsafat Pancasila

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Secara mendasar landasan filsafat Pancasila menyiratkan bahwa sistem
pendidikan nasional dapat menempatkan peserta didik sebagai mahluk yang
diciptakan gleh Tuhan dengan segala fitrahnya dengan tugas memimpin
pembangunan kehidupan yang berharkat dan bermartabat, sebagai mahluk
yang mampu menjadi manusia yang bermoral, berbudi luhur, dan berakhlak
mulia. Oleh karena itu, pendidikan merupakan upaya pemberdayaan peserta
didik untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya, yaitu yang
menjunjung tinggi dan memegang teguh norma-norma agama dalam
kehidupan sehari-hari baik sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, mahluk
individu, maupun mahluk sosial.

2.
Paradigma Pendidikan dan Pemberdayaan Manusia Seutuhnya

Paradigma pendidikan dan pemberdayaan manusia seutuhnya yang


memperlakukan anak sebagai subyek merupakan penghargaan terhadap
anak sebagai manusia yang utuh, yang memiliki hak untuk
mengaktualisasikan dirinya secara maksimal dalam aspek kecerdasan
intelektual, spiritual, sosial dan kinestetik. Anak tidak lagi dipaksakan untuk
mengikuti keinginan orang tua, sebaliknya orang tua sebagai fasilitator
untuk menolong anak menemukan bakat atau minatnya. Guru sebagai
fasilitator membantu anak menemukan bakatnya serta menolongnya
mamou

Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)


6
memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya sehingga dapat tumbuh
dengan wajar
dan mampu mengintegrasikan berbagai pengetahuan yang ia miliki.
3.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Paradigma Pembelajaran Sepanjang Hayat Berpusat pada Peserta Didik.

Paradigma pembelajaran sepanjang hayat berarti bahwa pembelajaran


merupakan proses yang berlangsung seumur hidup, yaitu pembelajaran
sejak lahir hingga akhir hayat yang diselenggarakan secara terbuka dan
multi makna. Paradigma ini memperlakukan, memfasilitasi, dan mendorong
peserta didik menjadi subyek pembelajar mandiri yang bertanggungnjawab,
kreatif, inovatif, dan kewirausahaan.

4.
Paradigma Pendidikan untuk Semua yang Inklusi

Paradigma pendidikan untuk semua ini merupakan upaya pemehuhan


akan kebutuhan pendidikan sebagai hak asasi manusia minimal tingkat
pendidikan dasar. Paradigma ini merupakan salah stu paradigma dan prinsip
penjaminan mutu pendidikan nasional. Konsekwensi dari paradigma ini
adalah bahwa setiap individu berhak dan wajib mengikuti dan
menyelesaikan pendidikan minimal pada tingkat pendidikan dasar dan
pemerintah harus membiayainya.

2.
Latar Belakang Perubahan Renstra

Adapun yang melatarbelakangi perubahan Renstra 2005-2009


dengan Renstra 2010-2014 yaitu berdasarkan Rencana Pembangunan
Jangka Panjang Nasional (RPJPN), Departemen Pendidikan Nasional
menyusun Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang
(RPPNJP) 2005-2025, seperti yang tertuang di dalam Permendiknas Nomor
32 Tahun 2005, tentang Renstra Depdiknas Tahun 2005-2009. Rencana
tersebut dijabarkan ke dalam empat tema pembangunan pendidikan, yaitu
tema pembangunan I (2005-2009) yang berfokus pada peningkatan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


kapasitas dan modernisasi, sedangkan teme pembangunan II berfokus pada
penguatan pelayanan.

3.
Prioritas Kebijakan dan Program Yang Menjadi Sasaran Pencapaian Renstra

Sedangkan yang menjadi prioritas kebijakan pada periode 2005-


2009 adalah Depdiknas teleh berhasil mengembangkan kebijakan-kebijakan
terobosan, yaitu (1) pendanaan massal pendidikan, (2) peningkatan
kualifikasi dan sertifikasi pendidik secara massal, (3) penerapan TIK secara
massal untuk e-pembelajaran dan e-admlnlstrasi, (4)

Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)


7

pembangunan prasarana dan dan sarana pendidikan secara massal, (5)


rehabilitasi prasarana pendidikan secara massal, (6) reformasi perbukuan
secara mendasar, (7) penjgkatan mutu dan daya saing pendidikan dengan
pendekatan komprehensif (8) perbaikan rasio peserta didik SMK-SMA, (9)
otomisasi satuan pendidikan, (10) intensifikasi dan ekstensifikasi pendidika
nonformal dan informal untuk menggapaikan layanan pendidikan kepada
peserta didik yang tak terjangkauvpendidikan formal

(raching and unreached), dan (11) penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan
citra publik
pendidikan dengan pendekatan komprehensif.

Hingga akhir tahun 2009, pembangunan pendidikan Indonesia telah


menunjukan banyak kemajuan dan hasil yang cukup menggembirakan pada
semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Secara umum capaian hasil
pembangunan pendidikan tersebut dikelompokkan ke dalam aspek (1)
Perluasan Pemerataan Akses Pendidikan, (2) Peningkatan mutu dan Daya

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Saing Pendidikan, dan (3) Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan citra
Publik.

Pembangunan pendidikan nasional hingga tahun 2009, khususnya


selama kurun waktu lima tahun terakhir, telah menunjukkan keberhasilan
yang sangat nyata. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan atau dalam
RPJM 2010-2014 pembangunan pendidikan akan lebih ditingkatkan lagi
melalui implementasi Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional
2010-2014. Beberapa potensi yang dimiliki merupakan bekal yang sangat
bermanfaat dalam melanjutkan pembangunan pendidikan tersebut. Namun,
selain potensi tersebut masih dijumpai sejumlah permasalahan pendidikan
yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu :

1.
Potensi

Capaian pembangunan pendidikan selama lima tahun terakhir di atas


merupakan potensi dan kekuatan untuk melanjutkan pembangunan
pendidikan ke depan. Capaian perluasan akses pendidikan khususnya pada
jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah telah membuka kesempatan yang luas bagi penduduk usia
sekolah untuk memperoleh pendidikan. Pada aspek pemerataan akses,
peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan juga menunjukkan
besaran indikator kinerja yang harus meningkat dari tahun ke tahunbdan
pada umumnya telah mencapai atau melebihi target Rencana Strategis
Departemen Pendidikan 2005-2009. Hal tersebut merupakan potensi yang
dapat mendorong dan meningkatkan motivasi untuk melanjutkan
pembangunan pendidikan.

Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)


8

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


2.
Permasalahan

Di samping beberapa potensi yang dapat dijadikan bekal dalam


melanjutkan pembangunan lima tahun ke depan,masih ditemui beberapa
permasalahan yang harus diatasi dalam kurun waktu 2010-2014 yaitu rasio
guru dan siswa yang menunjukkan disparitas antarpropinsi, mutu
pendidikan,dan mutu tenaga pendidik,

Strategi dan arah kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010-


2014 dirumuskan berdasarkan pada RPJMN 2010-2014 dan evaluasi capaian
pembangunan pendidikan sampai tahun 2009 serta komitmen pemerintah
pada konvensi internasional mengenai pendidikan, khususnya Konvensi
Dakar tentang Pendidikan untuk Semua (Educatin for All), Konvensi Hak
Anak (Convention on the Right of

Child), Millenium Development Goals (MDGs), dan World Summit on


Sustainable
Development.

Strategi merupakan upaya yang sistematis melalui pengintegrasian dari


tujuan, sasaran, kebijakan, program, dan kegiatan untuk mencapai misi
Depdiknas yang telah ditetapkan. Keenam strategi pembangunan
pendidikan nasional pada periode lima tahun mendatang adalah :

1. Perluasan dan pemerataan akses PAUD bermutu dan kesetaraan gender


di semua
provinsi, kabupaten, dan kota melalui :
a. Penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD yang bermutu yang
merata antar provinsi, kabupaten, dan kota.
b. Perluasan dan pemerataan akses TK/TKLB bermutu dan kesetaraan
gender di

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


semua propinsi, kabupaten, dan kota.
c. Keluasan dan kemerataan akses PAUD nonformal bermutu dan kesetaraan
gender di semua propinsi, kabupaten dan kota.
d. Ketersediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan
standar mutu PAUD, serta keterlaksanaan akreditasi PAUD.

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi


perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini
adalah masa yang paling berharga dan sangat penting bagi anak untuk
mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulan
terhadap perkembangan kepribadian,psikomotor, kognitif maupun sosialnya
yang dapat diperoleh melalui pendidikan usia dini (PAUD) yang meliputi
TK/RA untuk anak usia 5-6 tahun, serta kelompok

Analisis Renstra Depdiknas ( Sutrisno, NIM 0102509060)


9

a. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan dasar yang bermutu antar


propinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi penyediaan guru SD/SDLB dan
SMP/SMPLB.
b. Perluasan pemerataan akses SD/SDLB dan SMP/SMPLB bermutu dan
kesetaraan gender di semua propinsi, kabupaten, dan kota.
c. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket A dan Paket B bermutu
dan kesetaraan gender di semua propinsi, kabupaten, dan kota,
d. Penyediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan
standar mutu pendidikan dasar, serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan
dasar.

Adapun kemungkinan ketercapaian strategi ini juga sangat besar


karena sekarang banyak anak lulusa Sekolah Dasar melanjutkan ke tingkat
SMP/SMPLB karena ada program sekolah gratis untuk Progrm Wajib Belajar 9

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


tahun yang bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan
layanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur
formal maupun nonformal. Akan tetapi para orang tua masih rancu dengan
istilah sekolah gratis. Mereka menganggap kalau sekolah gratis mereka
sudah tidak mengeluarkan biaya apapun, sehingga waktu ada iuran atau
sejenisnya mereka susah untuk membayarnya. Jadi untuk istilah SEKOLAH
GRATIS sebaiknya diganti dengan istilah lain yang tidak menimbulkan
persepsi yang salah.

3. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan menengah bermutu,


kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di semua
propinsi, kabupaten dan kota melalui :

a. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan menengah bermutu yang


meliputi penyediaan guru SMA/SMLB/SMK dan tenaga kependidikan
paket C

b. perluasan dan pemerataan akses pendidikan SMA/SMLB dan SMK


bermutu, kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan
masyarakat di semua provinsi, kabupaten. dan kota.

c. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket C bermutu, ber


kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di
semua provinsi, kabupaten, dan kota.

d. Ketersediaan model kurikulum dan pembelajaran data dan informasi


berbasis riest dan standar mutu pendidikan menengah serta
keterlaksanaan akreditasi pendidikan menengah.

Depdiknas memiliki kebijakan untuk membalik rasio peserta didik


SMK dibanding SMA dari 30 : 70 pada tahun 2004 menjadi 67 : 33 pada
tahun 2014. Kebijakan ini ditujukan agar keluaran pendidikan dapat lebih

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


berorientasi pada pemenuhan dunia kerja serta kebutuhan dunia usaha dan
industri.

Pendidikan vokasi dirasa perlu karena memiliki paradigma yang


menekankan pada pendidikan yang menyesuiakan dengan permintaan
pasar (demand driven) guna mendukung pembangunan ekonomi kreatif.
Ketersambungan (link) diantara pengguna lulusan pendidikan dan
penyelenggara dan kecocokan (match) setara employee dan employer
menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan vokasi. Keberhasilan
penyelenggaraan pendidikan vokasi dapat dilihat dan tingkat mutu dan
relevansi yaitu jumlah penyerapan lulusan dan kesesuaian bidang pekerjaan
yang dipilih dan ditekuninya. Pendidikan vokasi melayani sistem ekonomi,
sistem sosial, dan politik serta menjadi jawaban/terobosan pembangunan
ekonomi kreatif.

Pemerintah menghendaki rasio SMK : SMA adalah 67 : 33 adalah strategi


yang tepat karena dilihat dari kesiapannya lulusan SMK lebih siap kerja
dibanding lulusan SMA, akan tetapi apabila lulusan SMK tidak melanjutkan
ke jenjang perguruan tinggi mereka akan hanya menjadi tenaga/karyawan
dan bukan pemikir. Untuk itu perguruan tingga sebaiknya juga memfasilitasi
para lulusan tersebut sehingga mereka menjadi tenaga pemikir.

4. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi, bermutu, berdaya


saing internasional, berkesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan
bangsa dan negara dilaksanakan melalui :

a. perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu, berdaya


saing internasional, kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan
bangsa dan negara yang meliputi pemerataan dan perluasan akses prodi
vokasi,profesi, dan akademik.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


b. Ketersediaan data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu
pendidikan tinggi, serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan tinggi.
Strategi ihi bisa berhasil lebih baik apabila para dosen memiliki kualitas
yang baik,perguruan tinggi dilengkapi dengan sarana dan prasarana
serta memberi kemudahan-kemudahan mahasiswa untuk maju.

Adapun hambatan- hambatan yang mungkin muncul yaitu karena biaya


perguruan tinggi semakin tinggi,semakin banyak lulusan yang tidak
meneruskan ke jenjang perguruan tinggi. Sebaiknya pemerintah memberi
kebijakan bagaimana agar kedua-duanya bisa berjalan dengan memberikan
subsidi misalnya.

5. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa berkelanjutan


yang berkesetaraan gender dan relevan dengan kebutuhan masyarakat
dilaksanakan melalui

a. perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa bermutu,


berkesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di
provinsi yang meliputi peningkatan tingkat literasi yang berkesetaraan
gender di kabupaten dan kota

b. penyediaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan


orang dewasa berkelanjutan yang berkesetaraan gender dan relevan
dengan kebutuhan masyarakat.

c. Penyediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan


standar nasional pendidikan orang dewasa berkelanjutan serta
keterlaksanaan akreditasi pendidikan orang dewasa berkelanjutan.
Strategi bisa terlaksana apabila masyarakat sampai lingkungan terkecil
RT diadakan kegiatan bebas buta huruf yang lebih dikenal dengan
gerakan Bebas Tiga Buta.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Kendala yang mungkin timbul yaitu sulitnya menggugah kesadaran para
orang dewasa untuk belajar membaca dan menulis,sedangkan negara bisa
maju apabila masyarakatnya tidak bodoh. Negara –negara yang sudah maju
dulunya menempatkan pendidikan pada prioritas pendidikan pertama untuk
memberantas pendidikan karena kemiskinan identik dengan kebodohan.

6. Penguatan tata kelola, sistem pengendalian manajemen, dan sistem


pengawasan intern yang dilakukan melalui :

a. penguatan tata kelola dan sistem pengendalian manajemen di satuan


kerja Depdiknas.
b. penguatan tata kelola dan sistem pengendalian manajemen Depdiknas
yang meliputi perwujudan pelayanan prima dalam perencanaan dan
kerja sama luar negeri Depdiknas.
c. penyediaan dan pendayagunaan buku ajar, kebahasaan, e-pendidikan,
kehumasan dan sistem sekolah sehat meliputi perwujudan layanan
prima di bidang informasi dan kehumasan pendidikan.
d. penguatan sistem pengendalian manajemen dan sistem pengawasan
internal Depdiknas yang meliputi pencapaian intensifikasi dan
ekstensifikasi pengawasan yang akuntabel, pencapaian audit investigasi
sesuai dengan standar audit, dan perwujudan pelayanan prima dalam
manajemen operasional Itjen Depdiknas.

Adapun arah kebijakan pembangunan pendidikan nasional tahun 2010-2014


adalah :
1. Reformasi pendanaan pendidikan.
2. Reformasi pendidik dan tenaga kependidikan.
3. Penerapan TIK untuk e-pembelajaran dan e-administrasi
4. Pembangunan dan rehabilitasi prasarana pendidikan
5. Penyediaan sarana pendidikan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


6. Reformasi perbukuan secara mendasar
7. Peningkatan mutu dan daya saing pendidikan dengan pendekatan
komprehensif
8. Perbaikan rasio peserta didik SMK, SMA, dan pendidikan vokasi
9. Otonomisasi satuan pendidikan
10. Intensifikasi dan ekstensifikasi pendidikan nonformal dan informal
untuk menggapaikan layanan pendidikan kepada peserta didik yang
tak terjangkau pendidikan formal (Reaching the Unreached).
11. Penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan
dengan pendekatan komprehensif
12. Reformasi pembelajaran yang mendidik, dialogis, dan
menyenangkan
13. Penguatan partisipasi masyarakat di bidang pendidikan
14. Revitalisasi pendidikan inovatif, kreatif dan enterprenurial

Sedangkan program pembangunan pendidikan nasional tahun 2010-2014


adalah :
1. Restrukturisasi program dan kegiatan departemen pendidikan
nasional
2. Pembagian kewenangan dan tanggung jawab pemerintah pusat,
provinsi, kabupaten dan kota
3. Program dan kegiatan pokok departemen pendidikan nasional
tahun 2010-2014

BAB II
PEMBAHASAN

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


ANALISIS RENSTRA TAHUN 2005 – 2009
DAN TAHUN 2010 – 2014

1. ANALISIS VISI DAN MISI


Yang dimaksud dengan insan Indonesia cerdas komprehensif adalah insan yang
secara komprehensif cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan kinestetis.
Cerdas emosional dan social
– Beraktualisasi diri melalui olah rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan
apresiativitas akanmkehalusan dan keindahan seni dan budaya,
serta,kompetensi untuk mengekspresikannya.
– Beraktualisasi diri melalui interaksi sosial yang (a) membina dan memupuk
hubungan timbale balik; (b) mdemokratis; (c) empatik dan simpatik; (d)
mmenjunjung tinggi hak asasi manusia; (e)m ceria dan percaya diri; (d)
menghargai kebhinekaan dalam nbermasyarakat dan bernegara; (e)
berwawasan mkebangsaan dengan kesadaran akan hak dan kewajiban
warga negara.
Cerdas intelektual
– Beraktualisasi diri melalui olah pikir untuk memperoleh kompetensi dan
kemandirian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
– Aktualisasi insan intelektual yang kritis, kreatif,inovatif dan imajinatif.
Cerdas kinestetis
– Beraktualisasi diri melalui olah raga untuk mewujudkan insan yang sehat,
bugar, berdayatahan, sigap, terampil, dan trengginas.
– Aktualisasi insan adiraga. Pembentukan masyarakat maju selalu diikuti oleh
proses transformasi struktural, yang menandai suatu perubahan dari
mmasyarakat yang potensi kemanusiannya kurang berkembang menuju
masyarakatm maju dan berkembang yang mengaktualisasikan potensi

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


kemanusiannya secaram Insan Indonesia Cerdas Komprehensif,
Kompetitif, danm Bermartabatm (Insan Kamil/Insan Paripurna)

2. Filosofi yang mendasari perubahan/perbedaan Renstra

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dan UU


Sisdiknas amat mendasar dalam memberikan landasan filosofis serta
berbagai prinsip dasar dalam pembangunan pendidikan, seperti filosofi
pendidikan nasional berdasarkan filsafat Pancasila, paradigma pendidikan
dan pemberdayaan manusia seutuhnya, paradigma pembelajaran sepanjang
hayat berpusat pada peserta didik, paradigma pendidikan untuk semua
yang inklusif, dan Paradigma Pendidikan untuk Perkembangan,
Pengembangan dan/atau Pembangunan Berkelanjutan (PuP3B atau
Education For Sustainable Development). Penjelasan singkat dari filosofi itu
adalah sebagai berikut :

1. Pendidikan Nasional berdasarkan filsafat Pancasila

Secara mendasar landasan filsafat Pancasila menyiratkan bahwa sistem


pendidikan nasional dapat menempatkan peserta didik sebagai mahluk yang
diciptakan gleh Tuhan dengan segala fitrahnya dengan tugas memimpin
pembangunan kehidupan yang berharkat dan bermartabat, sebagai mahluk
yang mampu menjadi manusia yang bermoral, berbudi luhur, dan berakhlak
mulia. Oleh karena itu, pendidikan merupakan upaya pemberdayaan peserta
didik untuk berkembang menjadi manusia seutuhnya, yaitu yang
menjunjung tinggi dan memegang teguh norma-norma agama dalam
kehidupan sehari-hari baik sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, mahluk
individu, maupun mahluk sosial.

2. Paradigma Pendidikan dan Pemberdayaan Manusia Seutuhnya

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Paradigma pendidikan dan pemberdayaan manusia seutuhnya yang
memperlakukan anak sebagai subyek merupakan penghargaan terhadap
anak sebagai manusia yang utuh, yang memiliki hak untuk
mengaktualisasikan dirinya secara maksimal dalam aspek kecerdasan
intelektual, spiritual, sosial dan kinestetik. Anak tidak lagi dipaksakan untuk
mengikuti keinginan orang tua, sebaliknya orang tua sebagai fasilitator
untuk menolong anak menemukan bakat atau minatnya. Guru sebagai
fasilitator membantu anak menemukan bakatnya serta menolongnya
mampu memaksimalkan potensi yang ada pada dirinya sehingga dapat
tumbuh dengan wajar dan mampu mengintegrasikan berbagai
pengetahuan yang ia miliki.

3. Paradigma Pembelajaran Sepanjang Hayat Berpusat pada


Peserta Didik.

Paradigma pembelajaran sepanjang hayat berarti bahwa pembelajaran


merupakan proses yang berlangsung seumur hidup, yaitu pembelajaran
sejak lahir hingga akhir hayat yang diselenggarakan secara terbuka dan
multi makna. Paradigma ini memperlakukan, memfasilitasi, dan mendorong
peserta didik menjadi subyek pembelajar mandiri yang bertanggungnjawab,
kreatif, inovatif, dan kewirausahaan.

4. Paradigma Pendidikan untuk Semua yang Inklusi

Paradigma pendidikan untuk semua ini merupakan upaya pemehuhan akan


kebutuhan pendidikan sebagai hak asasi manusia minimal tingkat
pendidikan dasar. Paradigma ini merupakan salah stu paradigma dan prinsip
penjaminan mutu pendidikan nasional. Konsekwensi dari paradigma ini
adalah bahwa setiap individu berhak dan wajib mengikuti dan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


menyelesaikan pendidikan minimal pada tingkat pendidikan dasar dan
pemerintah harus membiayainya.

2. Latar Belakang Perubahan Renstra

Adapun yang melatarbelakangi perubahan Renstra 2005-2009 dengan


Renstra 2010-2014 yaitu berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN), Departemen Pendidikan Nasional menyusun
Rencana Pembangunan Pendidikan Nasional Jangka Panjang (RPPNJP) 2005-
2025, seperti yang tertuang di dalam Permendiknas Nomor 32 Tahun 2005,
tentang Renstra Depdiknas Tahun 2005-2009. Rencana tersebut dijabarkan
ke dalam empat tema pembangunan pendidikan, yaitu tema pembangunan I
(2005-2009) yang berfokus pada peningkatan kapasitas dan modernisasi,
sedangkan teme pembangunan II berfokus pada penguatan pelayanan.

3. Prioritas Kebijakan dan Program Yang Menjadi Sasaran


Pencapaian Renstra

Sedangkan yang menjadi prioritas kebijakan pada periode 2005-2009 adalah


Depdiknas teleh berhasil mengembangkan kebijakan-kebijakan terobosan,
yaitu (1) pendanaan massal pendidikan, (2) peningkatan kualifikasi dan
sertifikasi pendidik secara massal, (3) penerapan TIK secara massal untuk e-
pembelajaran dan e-admlnlstrasi, (4) pembangunan prasarana dan dan
sarana pendidikan secara massal, (5) rehabilitasi prasarana pendidikan
secara massal, (6) reformasi perbukuan secara mendasar, (7) penjgkatan
mutu dan daya saing pendidikan dengan pendekatan komprehensif (8)
perbaikan rasio peserta didik SMK-SMA, (9) otomisasi satuan pendidikan,
(10) intensifikasi dan ekstensifikasi pendidika nonformal dan informal untuk
menggapaikan layanan pendidikan kepada peserta didik yang tak
terjangkauvpendidikan formal (raching and unreached), dan (11) penguatan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan dengan pendekatan
komprehensif.

Hingga akhir tahun 2009, pembangunan pendidikan Indonesia telah


menunjukan banyak kemajuan dan hasil yang cukup menggembirakan pada
semua jalur, jenis, dan jenjang pendidikan. Secara umum capaian hasil
pembangunan pendidikan tersebut dikelompokkan ke dalam aspek (1)
Perluasan Pemerataan Akses Pendidikan, (2) Peningkatan mutu dan Daya
Saing Pendidikan, dan (3) Penguatan Tata Kelola, Akuntabilitas, dan citra
Publik.

Pembangunan pendidikan nasional hingga tahun 2009, khususnya


selama kurun waktu lima tahun terakhir, telah menunjukkan keberhasilan
yang sangat nyata. Dalam kurun waktu lima tahun ke depan atau dalam
RPJM 2010-2014 pembangunan pendidikan akan lebih ditingkatkan lagi
melalui implementasi Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional
2010-2014. Beberapa potensi yang dimiliki merupakan bekal yang sangat
bermanfaat dalam melanjutkan pembangunan pendidikan tersebut. Namun,
selain potensi tersebut masih dijumpai sejumlah permasalahan pendidikan
yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu :

1. Potensi

Capaian pembangunan pendidikan selama lima tahun terakhir di atas


merupakan potensi dan kekuatan untuk melanjutkan pembangunan
pendidikan ke depan. Capaian perluasan akses pendidikan khususnya pada
jenjang pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, dan pendidikan
menengah telah membuka kesempatan yang luas bagi penduduk usia
sekolah untuk memperoleh pendidikan. Pada aspek pemerataan akses,
peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan juga menunjukkan
besaran indikator kinerja yang harus meningkat dari tahun ke tahunbdan

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


pada umumnya telah mencapai atau melebihi target Rencana Strategis
Departemen Pendidikan 2005-2009. Hal tersebut merupakan potensi yang
dapat mendorong dan meningkatkan motivasi untuk melanjutkan
pembangunan pendidikan

2. Permasalahan

Di samping beberapa potensi yang dapat dijadikan bekal dalam


melanjutkan pembangunan lima tahun ke depan,masih ditemui beberapa
permasalahan yang harus diatasi dalam kurun waktu 2010-2014 yaitu rasio
guru dan siswa yang menunjukkan disparitas antarpropinsi, mutu
pendidikan,dan mutu tenaga pendidik,

Strategi dan arah kebijakan pembangunan pendidikan tahun 2010-2014


dirumuskan berdasarkan pada RPJMN 2010-2014 dan evaluasi capaian
pembangunan pendidikan sampai tahun 2009 serta komitmen pemerintah
pada konvensi internasional mengenai pendidikan, khususnya Konvensi
Dakar tentang Pendidikan untuk Semua (Educatin for All), Konvensi Hak
Anak (Convention on the Right of Child), Millenium Development Goals
(MDGs), dan World Summit on Sustainable Development.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Strategi merupakan upaya yang sistematis melalui pengintegrasian dari
tujuan, sasaran, kebijakan, program, dan kegiatan untuk mencapai misi
Depdiknas yang telah ditetapkan. Keenam strategi pembangunan
pendidikan nasional pada periode lima tahun mendatang adalah :

1. Perluasan dan pemerataan akses PAUD bermutu dan kesetaraan gender


di semua provinsi, kabupaten, dan kota melalui :
a. Penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan PAUD yang bermutu
yang merata antar provinsi, kabupaten, dan kota.
b. Perluasan dan pemerataan akses TK/TKLB bermutu dan kesetaraan
gender di semua propinsi, kabupaten, dan kota.
c. Keluasan dan kemerataan akses PAUD nonformal bermutu dan
kesetaraan
gender di semua propinsi, kabupaten dan kota.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


d. Ketersediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis
riset, dan
standar mutu PAUD, serta keterlaksanaan akreditasi PAUD.

Masa usia dini merupakan periode emas (golden age) bagi


perkembangan anak untuk memperoleh proses pendidikan. Periode ini
adalah masa yang paling berharga dan sangat penting bagi anak untuk
mengenali berbagai macam fakta di lingkungannya sebagai stimulan
terhadap perkembangan kepribadian,psikomotor, kognitif maupun sosialnya
yang dapat diperoleh melalui pendidikan usia dini (PAUD) yang meliputi
TK/RA untuk anak usia 5-6 tahun, serta kelompok bermain,taman penitipan
anak, dan berbagai program serupa untuk anak usia 3-4 tahun.Selain itu
beberapa muatan penyiapan anak usia dini untuk belajar di SD/MI diberikan
juga di Posyandu dan program Bina Balita. Posyandu yang pada awalnya
merupakan program layanan kesehatan bagi ibu dan anak usia dini, kini
telah dilengkapi muatan pendidikan. Demikian juga Bina Balita yang
memberikan layanan pendidikan pemeliharaan kesehatan pada anak bagi
orang tua, terutama ibu, yang memiliki anak di bawah usia 5 tahun.

Kemungkinan tercapainya program ini sangat mungkin sekali karena


ibu-ibu sekarang sebagian besar sudah menyadari betapa pentingnya
pendidikan. Akan tetapi bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil atau di
daerah pesisir belum tahu akan hal itu. Program ini akan tercapai
sasarannya bila pihak yang berwenang secara langsung memberi
penyuluhan betapa pentingnya pendidikan anak di usia dini.

1. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan dasar universal bermutu dan


kesetaraan gender disemua provinsi, kabupaten, dan kota melalui :

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


a. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan dasar yang
bermutu antar propinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi
penyediaan guru SD/SDLB dan SMP/SMPLB.
b. Perluasan pemerataan akses SD/SDLB dan SMP/SMPLB bermutu
dan kesetaraan gender di semua propinsi, kabupaten, dan kota.
c. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket A dan Paket B
bermutu dan kesetaraan gender di semua propinsi, kabupaten,
dan kota,
d. Penyediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis
riset, dan standar mutu pendidikan dasar, serta keterlaksanaan
akreditasi pendidikan dasar.

Adapun kemungkinan ketercapaian strategi ini juga sangat besar


karena sekarang banyak anak lulusa Sekolah Dasar melanjutkan ke tingkat
SMP/SMPLB karena ada program sekolah gratis untuk Progrm Wajib Belajar 9
tahun yang bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan
layanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur
formal maupun nonformal. Akan tetapi para orang tua masih rancu dengan
istilah sekolah gratis. Mereka menganggap kalau sekolah gratis mereka
sudah tidak mengeluarkan biaya apapun, sehingga waktu ada iuran atau
sejenisnya mereka susah untuk membayarnya. Jadi untuk istilah SEKOLAH
GRATIS sebaiknya diganti dengan istilah lain yang tidak menimbulkan
persepsi yang salah.

3. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan menengah bermutu,


kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di
semua propinsi, kabupaten dan kota melalui :

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


a. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan menengah bermutu
yang meliputi penyediaan guru SMA/SMLB/SMK dan tenaga
kependidikan paket C
b. perluasan dan pemerataan akses pendidikan SMA/SMLB dan SMK
bermutu, kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan
masyarakat di semua provinsi, kabupaten. dan kota.
c. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket C bermutu, ber
kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di
semua provinsi, kabupaten, dan kota.
d. Ketersediaan model kurikulum dan pembelajaran data dan informasi
berbasis riest dan standar mutu pendidikan menengah serta
keterlaksanaan akreditasi pendidikan menengah.

Depdiknas memiliki kebijakan untuk membalik rasio peserta didik


SMK dibanding SMA dari 30 : 70 pada tahun 2004 menjadi 67 : 33 pada
tahun 2014. Kebijakan ini ditujukan agar keluaran pendidikan dapat lebih
berorientasi pada pemenuhan dunia kerja serta kebutuhan dunia usaha dan
industri.

Pendidikan vokasi dirasa perlu karena memiliki paradigma yang


menekankan pada pendidikan yang menyesuiakan dengan permintaan
pasar (demand driven) guna mendukung pembangunan ekonomi kreatif.
Ketersambungan (link) diantara pengguna lulusan pendidikan dan
penyelenggara dan kecocokan (match) setara employee dan employer
menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan vokasi. Keberhasilan
penyelenggaraan pendidikan vokasi dapat dilihat dan tingkat mutu dan
relevansi yaitu jumlah penyerapan lulusan dan kesesuaian bidang pekerjaan
yang dipilih dan ditekuninya. Pendidikan vokasi melayani sistem ekonomi,
sistem sosial, dan politik serta menjadi jawaban/terobosan pembangunan
ekonomj kreatif.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Pemerintah menghendaki rasio SMK : SMA adalah 67 : 33 adalah
strategi yang tepat karena dilihat dari kesiapannya lulusan SMK lebih siap
kerja bermain,taman penitipan anak, dan berbagai program serupa untuk
anak usia 3-4 tahun.Selain itu beberapa muatan penyiapan anak usia dini
untuk belajar di SD/MI diberikan juga di Posyandu dan program Bina Balita.
Posyandu yang pada awalnya merupakan program layanan kesehatan bagi
ibu dan anak usia dini, kini telah dilengkapi muatan pendidikan. Demikian
juga Bina Balita yang memberikan layanan pendidikan pemeliharaan
kesehatan pada anak bagi orang tua, terutama ibu, yang memiliki anak di
bawah usia 5 tahun.

Kemungkinan tercapainya program ini sangat mungkin sekali karena


ibu-ibu sekarang sebagian besar sudah menyadari betapa pentingnya
pendidikan. Akan tetapi bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil atau di
daerah pesisir belum tahu akan hal itu. Program ini akan tercapai
sasarannya bila pihak yang berwenang secara langsung memberi
penyuluhan betapa pentingnya pendidikan anak di usia dini.

2. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan dasar universal bermutu dan


kesetaraan gender disemua provinsi, kabupaten, dan kota melalui

a. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan dasar yang bermutu


antar propinsi, kabupaten, dan kota yang meliputi penyediaan guru
SD/SDLB dan SMP/SMPLB.
b. Perluasan pemerataan akses SD/SDLB dan SMP/SMPLB bermutu dan
kesetaraan gender di semua propinsi, kabupaten, dan kota.
c. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket A dan Paket B
bermutu dan kesetaraan gender di semua propinsi, kabupaten, dan
kota,

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


d. Penyediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset, dan
standar mutu pendidikan dasar, serta keterlaksanaan akreditasi
pendidikan dasar.

4. Kemungkinan Keterlaksanaan Renstra 2010 - 2014

Adapun kemungkinan ketercapaian strategi ini juga sangat besar karena


sekarang banyak anak lulusa Sekolah Dasar melanjutkan ke tingkat
SMP/SMPLB karena ada program sekolah gratis untuk Progrm Wajib Belajar 9
tahun yang bertujuan untuk meningkatkan perluasan dan pemerataan
layanan pendidikan dasar yang bermutu dan terjangkau, baik melalui jalur
formal maupun nonformal. Akan tetapi para orang tua masih rancu dengan
istilah sekolah gratis. Mereka menganggap kalau sekolah gratis mereka
sudah tidak mengeluarkan biaya apapun, sehingga waktu ada iuran atau
sejenisnya mereka susah untuk membayarnya. Jadiuntuk istilah SEKOLAH
GRATIS sebaiknya diganti dengan istilah lain yang tidak menimbulkan
persepsi yang salah.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


1. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan menengah bermutu,
kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di
semua propinsi, kabupaten dan kota melalui :
a. penyediaan pendidik dan tenaga kependidikan menengah bermutu
yang meliputi penyediaan guru SMA/SMLB/SMK dan tenaga
kependidikan paket C
b. perluasan dan pemerataan akses pendidikan SMA/SMLB dan SMK
bermutu, kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan
masyarakat di semua provinsi, kabupaten. dan kota.
c. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan Paket C bermutu, ber
kesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di
semua provinsi, kabupaten, dan kota.
d. Ketersediaan model kurikulum dan pembelajaran data dan informasi
berbasis riest dan standar mutu pendidikan menengah serta
keterlaksanaan akreditasi pendidikan menengah.

Depdiknas memiliki kebijakan untuk membalik rasio peserta didik


SMK dibanding SMA dari 30 : 70 pada tahun 2004 menjadi 67 : 33 pada
tahun 2014. Kebijakan ini ditujukan agar keluaran pendidikan dapat lebih
berorientasi pada pemenuhan dunia kerja serta kebutuhan dunia usaha dan
industri.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Pendidikan vokasi dirasa perlu karena memiliki paradigma yang
menekankan pada pendidikan yang menyesuiakan dengan permintaan
pasar (demand driven) guna mendukung pembangunan ekonomi kreatif.
Ketersambungan (link) diantara pengguna lulusan pendidikan dan
penyelenggara dan kecocokan (match) setara employee dan employer
menjadi dasar penyelenggaraan pendidikan vokasi. Keberhasilan
penyelenggaraan pendidikan vokasi dapat dilihat dan tingkat mutu dan
relevansi yaitu jumlah penyerapan lulusan dan kesesuaian bidang pekerjaan
yang dipilih dan ditekuninya. Pendidikan vokasi melayani sistem ekonomi,
sistem sosial, dan politik serta menjadi jawaban/terobosan pembangunan
ekonomj kreatif.

Pemerintah menghendaki rasio SMK : SMA adalah 67 : 33 adalah strategi


yang tepat karena dilihat dari kesiapannya lulusan SMK lebih siap kerja
dibanding lulusan SMA, akan tetapi apabila lulusan SMK tidak melanjutkan
ke jenjang perguruan tinggi mereka akan hanya menjadi tenaga/karyawan
dan bukan pemikir. Untuk itu perguruan tingga sebaiknya juga memfasilitasi
para lulusan tersebut sehingga mereka menjadi tenaga pemikir.

Perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi, bermutu,


berdaya saing internasional, berkesetaraan gender, dan relevan
dengan kebutuhan bangsa dan negara dilaksanakan melalui :

a. perluasan dan pemerataan akses pendidikan tinggi bermutu,


berdaya saing internasional, kesetaraan gender, dan relevan
dengan kebutuhan bangsa dan negara yang meliputi pemerataan
dan perluasan akses prodi vokasi,profesi, dan akademik.
b. Ketersediaan data dan informasi berbasis riset, dan standar mutu
pendidikan tinggi, serta keterlaksanaan akreditasi pendidikan tinggi.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Strategi ihi bisa berhasil lebih baik apabila para dosen memiliki kualitas
yang baik,perguruan tinggi dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta
memberi kemudahan-kemudahan mahasiswa untuk maju. Adapun
hambatan- hambatan yang mungkin muncul yaitu karena biaya perguruan
tinggi semakin tinggi,semakin banyak lulusan yang tidak meneruskan ke
jenjang perguruan tinggi. Sebaiknya pemerintah memberi kebijakan
bagaimana agar kedua-duanya bisa berjalan dengan memberikan subsidi
misalnya.

1. Perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa


berkelanjutan yang berkesetaraan gender dan relevan dengan
kebutuhan masyarakat dilaksanakan melalui :
a. perluasan dan pemerataan akses pendidikan orang dewasa bermutu,
berkesetaraan gender, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat di
provinsi yang meliputi peningkatan tingkat literasi yang
berkesetaraan gender di kabupaten dan kota
b. penyediaan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan
orang dewasa berkelanjutan yang berkesetaraan gender dan relevan
dengan kebutuhan masyarakat.
c. Penyediaan model pembelajaran, data dan informasi berbasis riset,
dan standar nasional pendidikan orang dewasa berkelanjutan serta
keterlaksanaan akreditasi pendidikan orang dewasa berkelanjutan.
pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, dan
pemerintahan kota perlu dilaksanakan secara konsekuen.

Disparitas tersebut mungkin selama ini tidak disadari oleh pemerintah


provinsi, pemerintah kabupaten dan pemerintah kota karena dalam setiap
dokumen perencanaan pembangunan sejak era repelita, propenas, sampai
Renstra Kementerian/Lembaga tidak pernah dicantumkan kewajiban tiap
provinsi, kabupaten, dan kota dalam pencapaian target atau sasaran kinerja

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


pembangunan pendidikan. Masih dalam aspek akses pendidikan,
kesenjangan partisipasi pendidikan masih terjadi antara penduduk miskin
dan penduduk kaya.

Menurut Susenas 2006, Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk


kelompok umur 13-15 tahun yang mengikuti pendidikan formal yang berasal
dari kuantil pertama (kelompok 20% termiskin) baru mencapai 74,2%,
sementara untuk kuantil kelima (kelompok 20% terkaya) telah mencapai
92,2%.

Hal ini berarti bahwa kesempatan memperoleh pendidikan bagi


penduduk kelompok termiskin masih jauh lebih rendah dibandingkan
dengan penduduk kelompok terkaya. Kebijakan pendanaan massal seperti
BOS, beasiswa miskin, BKM, BOMM telah terbukti dapat mengurangi
disparitas partisipasi pendidikan antara penduduk miskin dan penduduk

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


kaya tersebut. Oleh karena itu, kebijakan pendanaan massal perlu
dilanjutkan di masa datang dengan mekanisme dan metode penyaluran
yang lebih baik.

Disparitas dalam kesempatan memperoleh pendidikan juga terjadi


antara penduduk yang tinggal di perdesaan dan penduduk yang tinggal di
perkotaan. Menurut data Susenas 2006, Angka Partisipasi Sekolah (APS)
penduduk usia 13-15 tahun di perkotaan sudah mencapai 89,7%, sementara
di perdesaan baru mencapai 80,3%.

Alternatif Penyelesaian

Walaupun disparitas tersebut tidak terlalu besar, tetapi jika dihitung


jumlah absolut penduduk usia 13–15 tahun angkanya cukup signifikan. Oleh
karena itu, kebijakan terobosan pembangunan prasarana dan sarana
pendidikan secara massal yang telah dilaksanakan selama kurun waktu lima
tahun yang lalu perlu dilanjutkan dengan menitik-beratkan pembangunan
pada provinsi dan kabupaten dengan angka partisipasi pendidikan yang
masih rendah, dan dengan memperhatikan disparitas akses pendidikan
antara daerah perkotaan dengan daerah perdesaan.

Berkaitan dengan komitmen Millenium Development Goals


(MDGs),goal ketiga dan target keempat, yaitu tidak adanya disparitas
gender siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah sudah terpenuhi
pada tahun 2005. Namun bila diukur rasio Angka Partisipasi Murni (APM)
siswa perempuan terhadap APM siswa laki-laki pada setiap jenjang
pendidikan masih terdapat kesenjangan. Oleh karena itu, pembangunan
pendidikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan perlu ditekankan pada
upaya pengurangan disparitas antargender.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


BAB III
PENUTUP

I. KESIMPULAN

1. Rencana Strategis

Perencanaan strategis adalah suatu proses yang dapat membantu sekolah


menentukan arah pengembangannya.Rencana strategis merupakan peta yang
menjabarkan cara menuju pencapaian hasil-hasil dalam jangka panjang.Sebuah
rencana strategis menggambarkan visi, misi, dan tujuan sekolah.Visi sekolah harus
singkat dan jelas, menggambarkan apa yang diupayakan sekolah untuk dicapai.Visi

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


berorientasi pada masa depan, mencerminkan standar yang tinggi dan digunakan
sebagai acuan dasar dalam merumuskan misi dan tujuan sekolah.Misi merupakan
rincian dari visi sekolah, menjabarkan uraian tugas, kewajiban dan rencana untuk
mewujudkan visi sekolah.Tujuan (goal) sekolah berhubungan dengan hasil yang
ingin dicapai dalam jangka menengah. Tujuan tersebut harus dapatdiukur dan
dituliskan sedemikian rupa sehingga sekolah tahu dengan jelas kapan tujuan
tersebut tercapai.

1. Rencana Operasional

Rencana operasional berisikan tujuan jangka pendek (objectives) dan rencana kerja
yang
dibutuhkan guna mewujudkan rencana strategis sekolah. Sekolah mengidentifikasi
tujuan-tujuan jangka pendek untuk mencapai tujuan jangka menengah sekolah.
Tujuan-tujuan tersebut harus bisa diukur guna memudahkan evaluasi dan
direncanakan dalam periode yang relatif singkat seperti satu tahun ajaran atau
kurang dari itu. Tahap akhir yang dilakukan adalah menyusun sebuah rencana
kerja untuk memaparkan secara rinci tentang apa yang direncanakan oleh sekolah
untuk mewujudkan tujuan jangka menengahnya

2. Hasil Analisis

Walaupun disparitas tersebut tidak terlalu besar, tetapi jika dihitung jumlah
absolut penduduk usia 13–15 tahun angkanya cukup signifikan. Oleh karena
itu, kebijakan terobosan pembangunan prasarana dan sarana pendidikan
secara massal yang telah dilaksanakan selama kurun waktu lima tahun yang
lalu perlu dilanjutkan dengan menitik-beratkan pembangunan pada provinsi
dan kabupaten dengan angka partisipasi pendidikan yang masih rendah,
dan dengan memperhatikan disparitas akses pendidikan antara daerah
perkotaan dengan daerah perdesaan.

Berkaitan dengan komitmen Millenium Development Goals


(MDGs),goal ketiga dan target keempat, yaitu tidak adanya disparitas

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


gender siswa pada jenjang pendidikan dasar dan menengah sudah terpenuhi
pada tahun 2005. Namun bila diukur rasio Angka Partisipasi Murni (APM)
siswa perempuan terhadap APM siswa laki-laki pada setiap jenjang
pendidikan masih terdapat kesenjangan. Oleh karena itu, pembangunan
pendidikan dalam kurun waktu lima tahun ke depan perlu ditekankan pada
upaya pengurangan disparitas antargender.

II. SARAN

1. SEKOLAH GRATIS sebaiknya diganti dengan istilah lain yang tidak


menimbulkan persepsi yang salahdari orangtua murid
2. Hambatan- hambatan yang muncul seperti biaya perguruan tinggi
semakin tinggi,semakin banyak lulusan yang tidak meneruskan ke
jenjang perguruan tinggi. Sebaiknya pemerintah memberi kebijakan
bagaimana agar kedua-duanya bisa berjalan dengan baik contohnya
memberikan subsidi.

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


DAFTAR PUSTAKA

(Sumber Pustaka : Dokumen Renstra Departemen Pendidikan Nasional


Tahun 2005 –
2009 dan Dokumen Renstra Departemen Pendidikan Nasional Tahun 2010 –
2014

Already have a Scribd account?

Top of Form
75d32e88cee9fc

email address or username

password
Log In Trouble logging in?

Bottom of Form

Login Successful

Now bringing you back...

« Back to Login

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean


Reset your password

Please enter your email address below to reset your password. We will send
you an email with instructions on how to continue.

Top of Form
75d32e88cee9fc

Makalah Analisis Renstra Oleh Jhon Priadi Hutahaean