Anda di halaman 1dari 13

Linguistik

Konsep
Yunita Hatibie

KONSEP

Pendahuluan
Dalam suatu kalimat “Saya belajar di perpusatakaan”. Kalimat
tersebut memiliki empat unsur atau kata. Jika seseorang mengucapkan kata
saya, maka yang akan terbayang pada diri kita adalah diri kita sendiri. Jika
seseorang mengucapkan kata belajar, maka yang akan terbayang adalah
kegiatan belajar bukan menari. Kegiatan belajar tersebut terjadi dalam
perpustakaan bukan ditempat lain. Hal ini terjadi karena adanya ujaran dari
seseorang.
Bunyi ujaran atau lambang yang tertulis dipahami karena makna
tiap-tiap kata, ada didalam otak kita. Begitu ada rangsangan berupa kalimat
yang terdiri dari kata-kata, maka makna tiap satuan unsur bahasa yang
disebut kata yang ada didalam otak, secara otomatis keluar dari
persemayamannya. Dalam proses bahasa, maksudnya jika terjadi
komunikasi, pada pihak pendengar terjadi proses pemecahan kode fonologis,
pemecahan kode gramatikal, dan pemecahan kode semantik.

Jadi, kalimat ”saya belajar di perpustakaan” memiliki konsep dalam


otak kita. Kata saya memiliki konsep, demikian pula kata belajar, ke dan
perpustakaan. Konsep saya adalah orang pertama bentuk hormat jika
sedang berkomunikasi dengan kawan dalam bahasa Indonesia. Konsep saya
berbeda dengan konsep engkau, dia, kami, kamu, dll. Demikian pula konsep
belajar berbeda dengan konsep bermain, menari, menyanyi, dll.

Untuk lebih jelasnya lagi, disaat seseorang menyebut kata kucing,


terbayang pada diri kita apa yang disebut kucing. Demikian halnya dengan
orang mengujarkan kucing. Bahkan sebelum menyebutkan kucing
sesungguhnya ada desakan dari jiwa kita yang bekerja sama dengan otak
kita untuk mengatakan kucing karena pada otak kita telah ada konsep

1
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

mengenai kucing jadi ada desakan untuk mengatakan kucing. Jadi kucing
memiliki konsep kucing yang siap diujarkan. Hal ini sulit dijelaskan tentang
bagaimana konsep kucing berproses hingga menghasilkan ujaran kucing.
Palmer (1976:27) menyebut prosesnya adalah sesuatu yang aneh tetapi
otomatis ”ghost in the machine. Maksudnya adalah proses tersebut berlaku
cepat dan otomatis.

Konsep itu dapat dipahami melalui kemandirian kata atau melalui


realisasi dengan kata yang lain. Jadi akan ada kata yang bebas konteks
kalimat dan kata yang bebas tetapi terikat konteks kalimat. Makna kata yang
bebas konteks kalimat mudah dianalisis, sedangkan makna kata yang terikat
konteks kalimat sulit dianalisis. Makna kata yang bebas tetapi terikat konteks
kalimat sulit akan jelas, jika berada dalam relasi dengan kata yang lain.
Misalnya makna kata ‘yang’ sulit dijawab. Makna kata ini akan mudah
dipahami jika ditempatkan dalam suatu kalimat misalnya “Bagian mana yang
kau pilih?”.

De Saussure dalam terjemahan Baskin mengemukakan proses


konsep yang direalisasikan jika dua orang sedang berkomunikasi dalam
bentuk diagram berikut:1

Didengar

Dilafalkan Didengar

1
Baskin, Wade, Penerj., Course in General Linguistics. (Glasgow: Fontana/Collins 1974) p.

2
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

Katakanlah A dan B berkomunikasi. Sebelum A mengujarkan


sesuatu, tentu didahului oleh rangsangan. Rangsangan menyebabkan A
memilih kata yang konsepnya ia pahami (tentu saja kata-kata ini akan
bergabung dalam bentuk kalimat). Kata-kata yang tergabung dalam kalimat
dilafalkan.Si B mendapat rangsangan berupa kata-kata yang tergabung
dalam kalimat yang dilafalkan oleh si A. Pada si B terjadi pemecahan kode
yakni kode fonologis, kode gramatikal dank ode semantic..demikian
sebaliknya selama A dan B berkomunikasi.
Pada diagram yang dikemukakan oleh Saussure terjadi proses
dalam otak. Konsep yang akan dikatakan berwujud kata yang kemudian
bergabung dalam bahasa yang bersangkutan. Konsep yang berwujud kata
yang bergabung dalam kalimat siap untuk dilafalkan. Lafal berupa bunyi-
bunyi bahasa tersebut dapat didengar oleh karena aada udara sebagai
perantara, dan alat dengar sipendengar bekerja normal. Apa yang dilafalkan
akan melewati udara dan menyentuh alat dengar pendengar yang kemudin
berproses seperti yang terjadi pada pembicara.
Hubungan antara kata dan acuan hanya ungkin dipahami melalui
konsep yang ada didalam otak, baik pada pembicara maupun pada
pendengar. Palmer mengemukakan melalui pemikiran atau referensi, konsep
tentang pemikiran kita.2 Konsep itu berupa bayangan, berupa pemahaman,
berupa pengertian. Jadi disaat seseorang mengemukakan kucing maka
terbayanglah bentuk seekor kucing, ukurannya, suaranya, gerakannya, dll.

Pembahasan
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005), secara linguistic
konsep adalah gambaran mental dari objek, proses, atau apapun yang ada di
luar bahasa yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal2 lain.
1. Representasi Mental (Mental Representations)

2
Palmer , F.R., Semantics a New Outline. (Cambridge: Cambridge University Press 1976) p.26.

3
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

Pada pendekatan ini pembicara dan pendengar menggunakan


seperangkat konsep yang mereka miliki untuk menaksirkan lambang (mental
models). Menurut referential approach (pendekatan referensial) makna
(meaning) definisikan dengan cara menghubungkan bahasa dengan dunia.
Menurut representational approach (pendekatan representasi) makna
didefinisikan dengan cara menghubungkan bahasa dengan konsep dan
conceptual structures (struktur konseptual), yaitu konstruksi. Makna sebuah
kata merupakan pemahaman (image) dalam benak pembicara dan
pendengar. Konsep tidak perlu dikaitkan dengan persepsi.

Konsep bisa jadi lebih kompleks karena didapat dari budaya.


Ferdinand de Saussure mendinisikan konsep sebagai ruang yang diisi oleh
konsep dalam suatu sistem bahasa. Jadi konsep dibatasi oleh konsep yang
lain dalam sistem tersebut, nilainya tergantung pada konsep lain yang ada
dalam sistem bahasa tertentu.

Bertrand Russell, berpendapat bahwa konsep dapat diperoleh


secara terpisah. Misalnnya, seorang anak dapat memahami arti kata “merah”
tanpa mengetahui arti kata “kuning” atau “hijau”. Sudut pandang ini
dinamakan atomisme. Sebagian kata dipahami dengan cara menunjuk objek
yang dimaksud. Hal ini disebut definisi ostensive (otensive definition).

Menurut pendapat W.V.O Quine ini menerima atomisme dalam


pemerolehan bahasa berarti menolak cara pandang strukturalis tentang
ketergantungan makna pada system bahasa. Strukturalisme telah
menjelaskan dengan baik bahwa mengapa dalam suatu bahasa yang
memiliki hanya dua istilah warna ‘hitam’, misalnya tidak sama nilainya
dengan nilai istilah ‘black’ dalam bahasa Inggris, tetapi memiliki makna yang
jauh lebih luas, mencakup semua spectrum warna-warna gelap.

4
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

Pendapat eksternalisme, bahwa makna merupakan satu kesatuan


utuh dalam benak seseorang (purely mental enitity). Apabila objek,kejadian,
situasi berbeda,pemahaman tentang makna juga berbeda. Makna tidak
berada dalam kepala, tetapi diluar kepala (meanings are not in the head; they
are in the world).

Ogden dan Richards dalam bukunya The Meaning of Meaning


(1923) berpendapat bahwa ada hubungan antara dunia (objek), bahasa dan
gagasan, di mana hubungan antara kata dan objek tidak langsung, melalui
konsep. Hubungan antara konsep, lambing dan acuan diperlihatkan Ogden
dan Richards dalam Ullman3, Palmer4 dan lyons5 yang diistilahkan dengan
segitiga semiotic (semiotic triangle, Basic triangle, the triangle of signification)
yang digambarkan sebagai berikut:

Concept (thought or reference)

Word (symbol) referent

Symbol atau lambang adalah unsure linguistic berupa kata atau


kalimat, acuan adalah objek, peristiwa, fakta atau proses yang berkaitan
dengan dunia pengalaman manusia. Sementara itu, konsep thought atau
reference atau meaning adalah apa yang ada didalam pikiran mengenai
objek yang ditunjukkan oleh lambang. Menurut teori ini tidak ada hubungan

3
Ullman, Stephen., Semantics an Introduction to the Science of Meaning. (Oxford: Basil Balckwell
1972), p.55
4
Palmer , F.R., Semantics a New Outline. (Cambridge: Cambridge University Press 1976) p.26
5
Lyons, John Semantic I, (Cambridge University Press 1977), p.96.

5
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

langsung antara lambang (symbol) dengan acuan (referent), tidak adanya


hubungan antara bahasa dengan dunia fisik, hubungan selamanya melalui
pikiran dalam wujud konsep-konsep yang ada dalam otak.
Lambang atau simbol memiiki hubungan tidak langsung dengan
kenyataan. Perberdaan tanda dan simbol terletak pada hubungannya dengan
kenyataan, tanda menyatakan hubungan langsung dengan kenyataan,
sedangkan simbol tidak.
Lambang menurut Plato adalah kata di dalam suatu bahasa,
sedangkan makna adalah objek yang kita hayati di dunia, berupa rujukan
yang ditunjuk oleh lambang tersebut. Hubungan lambang dengan bahasa
dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan alat komunikasi yang terdiri atas
tanda dan lambang.
Hubungan antara kata (lambang), makna (konsep atau reference dan
sesuatu yang diacu (referent) adalah hubungan tidak langsung. Hubungan
tersebut digambarkan melalui apa yang disebut segi tiga semiotik (semiotic
triangle) (lihat Ogden&Richards, 1972; Palmer, 1976).
Meaning (Concept) Thought of Reference

Word
Referent
Form (kata) Simbol stands for referent
Simbol atau lambang adalah unsur linguistik berupa kata (kalimat
dsb); referent adalah objek atau hal yang ditunjuk (peristiwa, fakta di dalam
dunia pengalaman manusia); konsep (reference) adalah apa yang ada pada
pikiran kita tentang objek yang diwujudkan melalui lambang (simbol).
Hubungan antara lambang dan acuan bersifat arbitrer karena tidak
ada alas an yang kuat menganggap konsep tertentu harus dihubungan
dengan lambang yang berwujud deretan bunyi atau deretan huruf yang

6
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

bermakna, dan karena itu linguis tidak dapat menjelaskan secara tuntas
tentang tanda dalam sistem bahasa.
Jadi jika seseorang menyebut kucing. terbayang pada kita apa yang
disebut kucing. Acuannya berupa kucing yang sebenarnya terbayang pada
kita. Jika kita diminta untuk mendeskripsikan yang bagaimana itu kucing, kita
dapat menyebutkannya. Hal ini terjadi karena realitas kucing telah ada dalam
otak, dan konsep kucing telah ada dalam otak. Semua ini terjadi melalui
pengalaman.
Sebenarnya sebelum seseorang mengatakan kucing, telah ada lebih
dahulu desakan jiwa yang bekerja sama dengan otak untuk menyebut kucing.
Telah ada konsep tentang kucing dalam otak, deretan bunyinya juga sudah
ada yakni kucing sehingga lahirlah lambang kucing yang tidak berdiri sendiri
dan harus dirangkaian dengan lambang yang lain sehingga terbentuklah
kalimat yang lain. Proses menghubungkannyapun harus masuk akal. tidak
mungkin lambang kucing didahului oleh kata pohon atau diikuti oleh kata
meja.
Mengenai segi tiga semiotik yang dikemukakan oleh Ogden dan
Richards, Korzybski yang dikutip oleh George yang menganalisis perbedaan
struktural yang menurut dia hubungan antara peristiwa, benda, dan struktur
lambang berubah atau berdiferensiasi sesuai dengan perkembangan budaya
manusia.6 Jika diperhatikan segitiga semiotik itu terlihat pada puncaknya
adalah konsep, dunia pengalaman manusia yang kemudian akan diwujudkan
dalam bentuk kata dan kalimat yang berdiferensiasi. Makin tinggi pendidikan
seseorang maka semakin luas pengalamannya, makin luas juga
pergaulannya, sehingga makin banyak lambang yang dikuasai dan dapat
digunakannya.
Sementara itu, implikasi bagi teori makna referensial adalah bahwa
dalam menggunakan kata kita tidak pernah mengacu langsung pada
6
F.H George, Semantics.(London. The English University Press.1994), p. 65

7
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

objeknya, bahkan pada saat kita menggunakan kata ganti (pronoun). Di lain
pihak, kata mengacu pada objek (kenyataan) namun dalam hal-hal
problematika kita harus mengacu pada konsep. Dan merupakan hal yang
paling tepat bagi semantik untuk menggabungkan pendekatan representasi
dan pendekatan referensial terhadap makna, termasuk kebenaran bersyarat
dan kognitif (berdasar pada pengetahuan factual yang empiris. Tetapi
faktanya, yang paling tepat bagi ungkapan-ungkapan bahasa tertentu.
Pembicara sering sekali tidak memiliki cukup pengetahuan untuk
membedakan satu konsep dari konsep yang lain sementara masih
meggunakan keduanya dalam suatu percakan. Misalnya, ikan paus dan ikan
hiu. Pembicara mungkin tidak bisa membedakan keduanya, menjelaskan
secara terperinci tentang keadaan yang cukup diperlukan dari masing-
masing. Inilah yang disebut pembagian kerja linguistic oleh Hilary Putnam
(1975): para ahli paham tentang definisi tersebut, sehingga orang
kebanyakan tidak perlu paham.
Jerry Folder (1994), bahwa dunia memberikan kesempatan kepada
kita untuk berasumsi bahwa terdapat hubungan satu-satu antara kata dan
konsep, yaitu jika ada ikan paus dan ikan hiu, terdapat juga ikan-ikan paus
dan ikan-ikan hiu-seperti itulah dunia. Kasus-kasus the Morning Star dan the
Evening Star jarang terjadi
2. Prototip Dan Komposisionalitas

Makna bukanlah sebuah gagasan atau sekumpulan cirri-ciri khusus.


Konsep memiliki batasan-batasan yang kabur. Tidak mudah untuk
menentukan apakah beberapa individu menjadi bagian dari suatu kategori
(golongan) tertentu atau tidak. Misalnya, tomat sebagi representasi buah-
buahan tidaklah lebih representasif daripada mangga; mentimun sebagai
representasi sayuran tidak lebih representatif daripada bayam; kipas angin
sebagai representasi mebel tidak lebih dari representative daripada meja.

8
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

Ketika menggunakan sebuah kata, pembicara memilki stereotip di


benaknya, yaitu jenis-jenis contoh yang menjadi focus dari suatu kategori.
Elenour Rosch dan William Laboy pada tahun 19701n telah menyimpulkan
bahwa para pembicara tidak menemui kesulitan dalam member nama dan
mengategorikan anggota-anggota tipikal dari suatu kategori, sebaliknya
mereka menemui lebih banyak kesulitan dengan anggota-anggota kategori
yang atipikal.Rotch menyebut penyusunan suatu konsep sebagai dari suatu
dampak tipikalitas.

Laboy (1973) pengkategorian (objek) menggunakan kapasitas


kognitif akal manusia dan kategori-kategori ini, khususnya jenis-jenis yang
normal (natural) dan kultural, ditemukan pada prototipe yang menonjol secara
konseptual, yang memberikan kemungkinan pada penilaian contoh-contoh
dengan menggunakan skala tipikalitas. Apabila konsep sangat kabur kita
hanya dapat berasumsi bahwa manusia berhasil berkomunikasi Karena
pendengar dan pembicara memahami kata-kata dengan cara yang sama
(asumsi umum). Perbedaannya (discrepancy) hanyalah terjadi ketika ada
penyimpangan yang jelas dalam konteks.

Rosch meneliti hubungan antara konsep-konsep, dalam hirarki


khusus konsep. Tingkat dasar merupakan tingkatan di mana kumpulan
terbesar atribut yang terkait secara natural tersedia untuk
pengatagorian( misalnya, semua atribut yang mengungkapkan “dogginess”
atau “chairness”.

George Lakoff menyebut pengalaman ini sebagai Idealized Cognitive


models I Model Kognitif ideal (iCMs). Suatu kerangka dibangun dari
pengetahuan ensiklopedia yang utuh dan dari pengalaman cultural yang
menuju suatu konstruksi sudut pandang universal.

9
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

Lakoff (1987a:73), Semakin tidak seimbang perbandingan antara


latar belakang ICM dan pengetahuan yang kita miliki, semakin tidak sesuai
(keliru) kita dalam menerapkan konsep ini. Hasilnya adalah suatu kekeliruan-
suatu dampak prototipe semata.

Struktural radial, misalnya mother (ibu), di mana terdapat anggota


initi dari kategori tersebut dan keragaman telah disepakati, tidak dapat
diprediksi dengan aturan (misalnya, foster mother). Ini merupakan sumber
yang paling menarik dari dampak prototype; tidak ada model tunggal yang
dapat mewakili keseluruhan kategori (Lakoff,1987b: 406). Para ahli bahasa
kognitif yang lain juga sependapat dengan Lakoff bahwa ICM s kurang lebih
sama dengan Frames. Fillmore (1985), Mental models (Johnson-Laird 1983)
or Mental spaces. Fauconler (1985, 1997).

Prototipe telah dipahami secara seksama sebagai default meanings


atau mental models dunia. Model mental bukan hanya merupakan konsep
yang gagal. Model mental ini juga merupakan kondisi yang stereotipikal,
kerangka yang kita coba untuk sesuaikan dengan situasi yang baru kita
dapatkan. Ini merupakan pendekatan makna representasional; orang
menyusun peta mental dunia karena mereka tidak dapat memahami dunia
tanpa membuat alat bantu berpikir.

Johnson Laird (1983: 154-155), teori ini mengatakan bahwa makna


timbul pada saat proses manipulasi model mental.

Masalah utama prototipe adalah bahwa prototipe tidak memiliki


property yang memadai untuk membuat prototipe yang baru. Prototipe tidak
komposisional. Konsep dianggap komposisional apabila konsep dihubungkan
dengan kata-kata dan prinsip-prinsip kombinasi mental akan menghasilkan
teori yang kompleks dan sentential. Menurut Fodor (1998), konsep
merupakan unsur-unsur gagasan dan komposisional.

10
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

3. Bahasa dan Gagasan

Dalam lingusitik (ilmu bahasa), ini masuk domain (wilayah),


semantik, pragmatik, dan psikosemantik. Di luar linguistik, digunakan
temuan-temuan dari psikologi, ilmu syaraf, filsafat, dan sosiologi. Gagasan
terdiri dari konsep-konsep. Konsep merupakan bagian-bagian yang
membentuk proposisi. Seperti halnya kalimat unsur-unsur pembentuknya
adalah kata-kata, proposisi unsur-unsur pembentuknya adalah konsep.
Proposisi dan konsep merupakan unit-unit gagasan.

Konsep bukanlah pendapat. Pendapat milik pribadi-pribadi,


sementara konsep dapat menjadi milik bersama. Konsep lebih berupa jenis
(type) daripada tanda (token) dan merupakan bagian dari sistem bahasa.
Konsep berasal dari pengalaman atau pun pembawaan-klasifikasi dan asal
usulnya menimbulkan pertentangan. Bahasa bergantung pada gagasan.

Gagasan adalah kemampuan untuk berbicara, berbicara kepada diri


sendiri. Kemampuan berbicara merupakan buah dari berpikir, bukan
instrument. Mengingat kembali pendapat kaum strukturalis, ada kemungkinan
bahwa sistem bahasa merupakan satu kesatuan, bukan hanya kemampuan
berbicara atau bahasa lisan saja.

4. Relativitas Bahasa dan Universalisme


Pada hakekatnya, kita mempunyai lebih banyak konsep dari pada
kata. Berpikir ditentukan oleh bahasa, atau paling tidak persepsi tentang
dunia dipengaruhi oleh bahasa yang digunakan.
Tak seorang pun bebas mendeskripsikan alam dengan apa adanya,
tetapi dibatasi oleh interpresainya bahkan pada saat berpikir tentang dirinya
sendiri. Orang yang bisa mendekati kebebasannya dalam pertimbangan
semacam ini adalah seorang ahli bahasa yang sudah sangat memahami
sangat banyak sistem-sistem lingusitik yang berbeda. Namun belum ada ahli

11
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

bahasa dalam posisi seperti ini. Jadi kita diperkenalkan dengan prinsip baru
relativitas, yang beranggapan bahwa semua pengamat tidak dipandu oleh
data fisik yang sama menuju potret dunia, jika latar belakang linguistik tidak
sama, atau daptkah dengan suatu cara disesuaikan. (Hhorf (1996:214).
Relativitas tidak terbatas pada kata benda, sistem tense dan aspek
juga beragam dalam bahasa dan mestinya merefleksikan persepsi dunia
pembicara. Hipotesis pada dasarnya strukturalis makna hanya dapat didekati
melalui sistem suatu bahasa dan sistem itu secara keseluruhan membatasi
konsep-konsep tertentu.
Slobin moderat (1996:91) Kita hanya dapat berbicara dan mengerti
satu sama lain dalam bahasa tertentu. Bahasa yang kita pelajari pada masa
kanak-kanak bukanlah sistem koding yang netral terhadap realitas objek.
Justru, masing-masing merupakan orientasi subjektif terhadap dunia
pengalaman manusia, dan orientasi ini mempengaruhi cara-cara berpikir
sambil berbicara.
Pedenson at al (1998: juga Levinson, 1996, 1997) meneliti
konseptualisasi ruang dalam bahasa yang berbeda dan menyimpulkan
bahwa variasi antara jenis-jenis konseptualisas berhubungan dengan variasi
di antara bahas-bahasa.

Kesimpulan
Simbol atau lambang adalah unsur linguistik berupa kata (kalimat
dsb); referent adalah objek atau hal yang ditunjuk (peristiwa, fakta di dalam
dunia pengalaman manusia); konsep (reference) adalah apa yang ada pada
pikiran kita tentang objek yang diwujudkan melalui lambang (simbol).
Tanda dengan hal yang ditandai bersifat langsung. Seperti yang ditandai
oleh Matahari terbit, Pada awalnya, tanda dalam bahasa Indonesia berarti
bekas.

12
Linguistik
Konsep
Yunita Hatibie

Prototipe: sesuatu yg mengandung ciri yg plg esential, dibandingkan dgn


benda atau hal lain yg sejenis.

Daftar Pustaka
Baskin, Wade, Penerj., 1974 Course in General Linguistics. Glasgow:
Fontana/Collins
F.H George, Semantics.London. The English University Press.1994,65
Lyons, John 1977 Semantic I, Cambridge University Press
Palmer , F.R., 1976 Semantics a New Outline. Cambridge: Cambridge
University Press.
Ullman, Stephen., 1972 Semantics an Introduction to the Science of
Meaning. Oxford: Basil Balckwell

13