Anda di halaman 1dari 51

Es

"Sebongkah Es dalam segelas air akan perlahan larut. Anda tidak akan melihatnya kemudian,
selain merasakan dinginnya air."

Ciputra, CEO Pembangunan Jaya pernah mengatakan bahwa pemimpin yang berhasil adalah
pemimpin yang kehadirannya nyaris tidak dirasakan orang lain. Ada benarnya, jika yang
dimaksudkan adalah seorang pemimpin harus bisa menunjukkan hasil sehingga bisa dinikmati
semua orang dan bukan hanya gembar-gembornya (baca: keberadaanya) saja yang dirasakan
mereka yang di bawah.

Sebagai analogi mungkin seperti Anda mencampur sirop, begitu dituangkan dalam segelas air,
segera warnanya kelihatan. Pemimpin yang baik bukan seperti sirop, tetapi seperti sebongkah
es. Larut ke dalam air dan membuat dingin air di sekitarnya,tetapi kemudian es itu sendiri tidak
terlihat karena sudah menyatu dengan air. Atau juga seperti garam, dapat dirasakan hasil
kehadirannya, tetapi nyaris 'peristiwa pengasinannya' tidak terlihat oleh mata kita.

Efek visual dari warna-warni sirop memang dramatis. Celakanya banyak "pemimpin dan manusia
sirop" di sekitar kita. Dan celakanya lagi kita memang semua gampang terpesona oleh hal-hal
yang secara visual sangat mempengaruhi emosional dan ego kita. Sejujurnya, kadang itu hanya
kosmetik. Bukankah air yang berwarna hijau atau merah, belum tentu terasa enak, sebaliknya air
yang kelihatan bening bisa jadi terasa asin atau manis?

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Cerita

"Selalu mulailah pembicaraan Anda dengan fakta bukan penjelasan."

Manusia beranak pinak melahirkan sebuah generasi. Sebuah generasi akan beranak-pinak
melahirkan generasi-generasi yang lain. Kata-kata yang keluar dari mulut kita melahirkan sebuah
cerita. Dan sebuah cerita akan beranak pinak melahirkan versi cerita yang lain.
Sudah menjadi hukum alam, bahwa setiap generasi mempunyai ciri-ciri dan karakteristik yang
berbeda dengan generasi sebelumnya. Dan seakan meniru kaidah alam itu, sebuah cerita akan
mengalami "mutasi genetis" kata-kata, sehingga melahirkan generasi cerita yang baru.

Ada hal yang menggembirakan dari generasi manusia masa kini. Dibandingkan dengan generasi-
generasi sebelumnya, manusia masa kini memiliki postur tubuh yang labih baik, paras yang lebih
indah, dan kecerdasan yang luar biasa. Tidak ditemukan generasi masa kini yang justru
mengalami degradasi bentuk menjadi serupa dengan seekor monyet, misalnya.

Yang terjadi dalam dunia kata-kata adalah sebaliknya. Banyak hal-hal menyedihkan yang terjadi
pada setiap generasi cerita. Struktur genetis kata-kata dalam anatomi cerita telah berubah
bentuk, sehingga generasi baru cerita jauh menyimpang dari nenek-moyang mereka. Bukan
hanya peta anatomi cerita yang berubah, melainkan struktur genetis dan jiwa dari cerita itu sudah
berubah total.

Mari kita berkaca, apakah dalam keseharian kita secara langsung maupun tidak berperan dalam
men-"degradasi" sebuah cerita atau men-"distorsi" berita? Bukankah lidah kita tak bertulang?

Ada resep sederhana agar kita tidak terjerumus untuk membuat "generasi cerita baru" yang
menyimpang, yaitu biasakan berbicara mengenai "fakta" bukan "penjelasan". Fakta akan
membawa setiap percakapan kita menjadi sebuah komunikasi yang otentik. Sebaliknya, bila
Anda memulai sesuatu dengan penjelasan maka percakapan Anda akan berpotensi besar untuk
menngalami distorsi.

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Garam

"Semua manusia mempunyai porsi peran dan tanggung jawab masing-masing.


Seperti bumbu-bumbu dalam sebuah masakan, takaran yang kurang atau
berlebihan akan membuat masakan terasa tidak enak."
Alkisah, seorang Juru Masak kerajaan diminta untuk membuat sop kesukaan Sang Raja. Seperti
biasa ia menyiapkan bahan-bahan serta bumbu yang diperlukan. "Hey, kalian sudah tahu apa
yang mesti kalian lakukan. Seperti biasa, kita akan membuat sop kesukaan Raja!" kata sang
Koki kepada merica, garam, bawang putih, bumbu-bumbuan lainnya serta bahan-bahan untuk
sop, termasuk buntut sapi segar.

"Horee!" kata mereka bersemangat.

"Ah, akhirnya aku akan segera masuk ke perut Sang Raja! Sudah bosan menunggu di freezer
ini!" pikir si buntut sapi.

Karena ini sudah menjadi pekerjaan rutin, sang Koki tidak lagi perlu mengawasi mereka. Untuk
setiap jenis masakan yang biasa dimasak, bumbu dan bahan-bahan masakan yang ada di dapur
kerajaan itu sudah tahu berapa banyak dan kapan mereka harus masuk ke dalam panci
pemasak. Termasuk menu sop kesukaan sang Raja.

Sambil menunggu air mendidih dan buntut menjadi lunak, terjadi percakapan menarik antar para
bumbu. Rupanya ada jenis garam baru yang dibeli Juru Masak kerajaan.

"Hey, tahukah kalian bahwa aku jenis garam baru yang dibuat khusus pabrik besar di luar
negeri?" kata Garam memperkenalkan diri.

"O ya?" sahut Merica sekenanya. Bumbu-bumbu yang lain terdiam dan merasa tidak suka
dengan kesombongan garam baru ini.

"Aku menggantikan garam yang biasa. Kalian tahu betapa pentingnya aku? Semua jenis
masakan tidak akan enak tanpa kehadiran dan perananku!"

Semua diam.

"Hari ini akan kubuktikan kepada kalian, betapa aku lebih hebat dari garam sebelumnya. Kalian
kembali ke tempat masing-masing dan aku sendiri yang kan masuk ke dalam! Cukup dengan
aku, masakan akan terasa lezat!"

"Tapi ..." kata Bawang Putih protes.

"Tidak ! Biarkan aku saja yang masuk dan akan kubuktikan bahwa Raja akan mendapatkan rasa
baru yang lezat.

Singkat kata, tanpa diketahui sang Koki, hanya Garam yang masuk ke dalam panci
masakan, bumbu-bumbuan yang lain kembali ke tempatnya masing-masing tanpa bisa berbuat
apa-apa. Sang Koki sendiri sudah percaya dengan semua "tim" yang ada sehingga ia
merasa tidak perlu mencicipi sop itu sebelum disajikan kepada Sang Raja.
Sudah dapat diduga, Raja marah besar ketika menyantap sop kesukaannya itu terasa asin dan
hambar. Tidak seperti sop yang biasa disajikan kepadanya. Raja memanggil Juru Masak
kerajaan dan menghukumnya selama tiga hari di penjara bawah tanah dan setelah masa
hukuman selesai, Koki mengerti duduk persoalannya. Mulai hari itu ia tidak menggunakan garam
yang sombong itu lagi, dan ia bertekad untuk selalu mencicipi masakan sebelum disajikan ke
sang Raja.

Cerita itu mengingatkan kita akan pentingnya kerjasama. Masing-masing anggota dalam sebuah
tim atau organisasi mempunyai porsi peranan masing-masing. Tidak ada anggota yang lebih
penting dari yang lain dan bisa menggantikan semua anggota sendirian. Cerita itu juga
mengingatkan kepada kita bahwa sebagai seorang yang bertanggung jawab (baca: team leader),
kita tidak bisa mengandalkan hasil pekerjaan hanya kepada sebuah "kepercayaan". Kita juga
harus melakukan kontrol dan supervisi terhadap apa yang dilakukan anggota tim. Pelajaran
yang lain adalah, kesembongan akan membunuh diri sendiri, dan bahkan juga bisa
mencelakakan orang lain.

Jujur
"Mustahil Anda bersikap jujur terhadap orang lain selagi Anda memang tidak
pernah jujur terhadap diri sendiri."

Cathay Pacific CX313 yang dijadwalkan melakukan penerbangan Beijing-Hongkong meluncur


menuju landasan pacu Beijing Capital International Airport untuk segera take-off. Kru dan para
penumpang bersiap-siap untuk segera mengudara. Tiba-tiba hentakan hebat terjadi dan
pesawat berhenti mendadak, mengakibatkan awak pesawat yang masih berdiri terlempar ke
lantai pesawat. Beberapa dari mereka mengalami cidera.

Melalui pengeras suara yang ada, Captain Pilot yang tidak disebutkan namanya mohon maaf
dan menginformasikan bahwa pengereman mendadak dilakukan karena ada "last minutes
amandment" dari menara pengawas airport.

Insiden kecil ini tampaknya biasa saja, tetapi menurut berita yang saya baca, kejadian ini
menyebabkan Captain Pilot itu harus menjalani pemeriksaan serius dan konseling dengan
psikiater! Kenapa? Ternyata kejadiannya tidak seperti yang dirasakan dan didengar penumpang
ketika itu. Kejadian sesungguhnya adalah pesawat terlalu cepat meluncur ke runway. First-
Officer pesawat itu tidak berhasil memperlambat laju pesawat, ketika diperintahkan oleh Captain
Pilot untuk melakukan pengereman. Captain Pilot sendiri kemudian yang melakukan sudden-
break dengan tujuan untuk segera menghentikan pesawat agar tidak terjadi kecelakaan yang
lebih fatal, mengingat lalu-lintas penerbangan yang begitu padat.

Yang dipermasalahkan di sini adalah bukan faktor-faktor teknis pesawat seperti kegagalan rem
atau ketidakmampuan First-Officer-nya, melainkan Captain Pilot dituduh telah memberikan
missleading information --untuk menutupi kejadian "memalukan" itu-- dengan mengumumkan
kepada public (para penumpang) bahwa pengereman mendadak dilakukan karena ada "last-
minutes amandment" dari traffic-controller di menara pengawas.
Membaca cerita ini, saya kemudian membayangkan kedua anak saya. Ketika si Kakak ditegur
karena melakukan hal yang tidak benar, dengan mudahnya ia melempar kesalahan itu kepada
adiknya, "Bukan saya, itu Adik yang berantakin!". Ini persis seperti yang dilakukan Captain Pilot
CX313 itu. "Habis menara pengawas memberikan perintah mendadak sih!" begitu barangkali.

Sikap mencari kambing hitam dan menyalahkan orang lain sebenarnya bentuk lain dari
ketidakdewasaan seseorang. Bukankah salah satu ciri manusia dewasa adalah sadar
sepenuhnya akan tanggung jawab dari segala tindakan yang (sudah dan akan) dilakukannya?
Kedewasaan ini membutuhkan satu syarat penting yaitu kejujuran terhadap diri sendiri. Mustahil
Anda bersikap jujur dan mengambil tanggungjawab penuh terhadap semua tindakan yang anda
lakukan kalau Anda sendiri tidak pernah jujur terhadap diri sendiri.

Berat
"No one can predict to what heights you can soar, even you will not know until
you spread your wings." - Unknown Author

Alkisah, ketika alam semesta ini diciptakan, planet-planet yang ada di tata surya berbagi tugas.
Matahari sebagai tetua planet memimpin rapat dan mengusulkan lintasan masing-masing planet
beserta hitungan waktu yang harus ditempuh. Semua planet menyetujuinya selain planet bumi.

"Gila! masa aku harus mengelilingimu 365 kali selama satu tahun! Mana sanggup aku?"

"Bagaimana kalau 30 kali dalam satu bulan?"

"Tiga puluh kali? Apakah engkau tidak melihat tubuhku yang penuh dengan air ini? Aku akan
repot sekali bila dalam sebukan harus mengelilingimu 30 kali?

"Bagaimana kalau 7 kali dalam seminggu?"

"Ayolah, 7 kali dalam seminggu tanpa istirahat akan membuatku gila!"

"Bagaimana kalau 1 kali dalam sehari?"

"Nah, itu baru make sense!"

Mulai saat itu bergeraklah seluruh planet seperti yang diusulkan Matahari. Termasuk bumi yang
mengelilingi Matahari 1 kali dalam 1 hari.

Tanpa terasa hari demi hari berlalu dan bumi telah berkali-kali mengelilingi Matahari tanpa henti,
bahkan ketika hitungan sudah menunjukkan 365 kali!
"Nah, Bumi ternyata engkau bisa tanpa henti mengelilingiku 365 kali!" kata Matahari disambut
senyum bangga Bumi.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang (mungkin kelihatannya) begitu
terasa berat dan di luar kemampuan kita. Tetapi seperti seekor Rajawali, kita tak bisa
mempredikiskan berapa "ketinggian terbang" yang bisa kita capai, sebelum kita "mengepakkan"
sayap kita.

Jangan berkata "tidak" sebelum Anda pernah mencobanya.

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Irwan Prabowo.

Siapa

"Dalam situasi mendesak, genting atau dalam tekanan yang tinggi, Anda akan
tahu siapa Anda sebenarnya."

Kepanikan terjadi di pesawat Cathay Pacific CX0777 penerbangan Hongkong-Jakarta yang


dijadwalkan mendarat di Bandara Soekarno-Hatta pukul 13:05 WIB, tanggal 30 April 2006 lalu.
Hanya beberapa menit menjelang pendaratan seorang anak laki-laki usia sekitar 6 tahun --yang
entah kenapa bisa masuk ke kamar kecil sendirian, terkunci di dalam! Padahal seluruh kru dan
penumpang sedang dalam persiapan pendaratan. Penumpang telah diminta
menaikkan sandaran kaki, menegakkan tempat duduk, membuka kaca jendela dan mengenakan
sabuk pengaman. Dari ketinggian, landasan sudah terlihat dan pesawat perlahan turun
mendekati landas pacu.

Anak laki-laki itu terus berteriak dan menggedor pintu, sementara seorang pramugari berusaha
sekuat tenaga untuk membuka pintu dari luar. Tidak berhasil. Terlihat ia semakin panik, terlebih
si Anak terus berteriak. Ayah dan Ibu anak itu beranjak dari tempat duduk mereka dan
bergantian berusaha menenangkan si buah hati. Untuk sementara berhasil. Sebaliknya si
Pramugari terlihat tegang meskipun secara professional ia berusaha tetap tenang. Jari-jari
kecilnya tidak terlalu kuat untuk bisa mencongkel kunci pintu dari luar. Pramugari yang lain
sudah duduk di tempatnya masing-masing untuk pendaratan. Saya berpikir, seandainya anak itu
tidak berhasil dikeluarkan dari kamar kecil, sesuai prosedur keselamatan penerbangan yang saya
tahu, pastilah pilot akan membatalkan pendaratan.

Tetapi sebelum semua itu terjadi, seorang bergegas pramugara datang dari arah depan. Awak
pesawat lain barangkali memanggil bantuan. Dengan sebuah alat kecil, kunci berhasil dibuka. Si
anak keluar dan berlari ke arah orangtuanya, si pramugari terlihat lega, meskipun belum bisa
tersenyum. Sambil mengencangkan sabuk pengaman, saya lihat si pramugari berkali-kali
menarik nafas panjang sambil memenepuk-nepuk dada. Sangat lega barangkali. Bayangkan,
seandainya kejadian kecil dalam area tanggung jawabnya itu sampai menyebabkan pendaratan
dibatalkan, mungkin ia akan ada proses investigasi kenapa sampai ada anak kecil masuk kamar
kecil sendirian menjelang pendaratan. Diam-diam saya pun ikut lega.

Dari peristiwa kecil ini saya mempunyai catatan kecil. Memperhatikan sikap orang-orang di
sekitar tempat itu yang tidak berbuat apa-apa (selain menyalahkan orangtua si anak, barangkali),
pramugari yang terlihat panik meskipun menjalankan tugasnya secara professional, awak
pesawat lain yang menghadapi dilema antara datang membantu dengan prosedur yang harus
ditaatinya, serta terlebih lagi orangtua si anak yang juga terlihat pucat. Pada akhirnya saya
menyimpulkan, kita semua ini manusia biasa. Atribut, topeng-topeng yang kita kenakan akan
rontok dengan sendirinya ketika sebuah peristiwa memaksa. Betapa pun gagahnya mereka
ketika masuk pesawat, pada akhirnya kegagahan itu luntur ketika sebuah peristiwa kecil tapi
mendebarkan terjadi. Bukankah siapa kita sesungguhnya akan terlihat ketika kita dihadapkan
kepada situasi yang megancam? Ketok asline, kata orang Jawa.

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Irwan Prabowo.

K)urus

"Bahasa dan kata-kata sangat terbatas untuk menjelaskan siapa Anda. Tetapi
segala tindak-tanduk Anda 'mengatakan' segalanya."
Mungkinkah nenek moyang kita sudah merasa putus asa dan mati kreatifitasnya ketika
harus menciptakan kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang mirip pengucapannya tetapi lain
arti? Lihatlah kata "alu", "palu", "malu", dan "jalu". Atau kata "ajar", "fajar", "hajar", "jajar",
dan "wajar" yang juga menjadi sederetan kata-kata mirip --dibedakan satu huruf-- tetapi berbeda
arti. Sama halnya ketika seorang anak bingung dengan kata "urus" dan "kurus" dalam PR
Bahasa-nya. Bukan lantaran mirip dengan kata "lurus", "jurus", "turus" dan "murus" tetapi kedua
kata itu kalau di tambahi awalan "pe" atau "me" akan berbentuk dan berbunyi sama plek, tetapi
lain artinya. "Pengurus" berarti "pengelola atau pemegang jabatan dalam organisasi" (dari
"pe"+"urus") atau berarti (si) "pembuat kurus" (dari "pe"+"kurus"). Sedangkan "Mengurus" bisa
berarti "mengelola" ("me"+"urus") atau "(dalam proses) menjadi kurus" (dari "me"+"kurus").

Entah, barangkali nenek moyang kita hendak menyindir para pengurus organisasi /
perusahaan yang selama ini lebih banyak membuat kurus anggota / pekerjanya.

Belum lagi ketika harus menjelaskan arti kata "murus" yang dalam Bahasa Jawa berarti "buang-
buang air", karena ada anak menyangka yang dibuang air beneran. Nggak bisa disalahkan juga,
karena bagi yang sedang belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar, siapa sangka ternyata
"membuang air" dan "buang air" berbeda artinya?

Dalam tata pergaulan tinggi, penggunaan bahasa menjadi sangat penting artinya. Jangan Anda
sekali-kali menggunakan bahasa jalanan dalam tata pergaulan tingkat tinggi. Perancis, Inggris
dan Jawa adalah komunitas yang dikenal mempunyai bahasa tingkat tinggi. Dalam hubungan
diplomasi antar negara pun, para diplomat dituntut untuk menguasa bahasa diplomasi dengan
baik.

Namun demikian, betapa pun cakap kita dalam memilih kata dan menggunakan bahasa, kata-
kata dalam sebuah bahasa bagaimana pun terbatas. Sebuah bahasa tidak bisa menjelaskan
dengan utuh siapa kita. Segala hal yang kita lakukan, semua perbuatan kita adalah bahasa yang
paling jelas, yang bisa dengan gamblang menceritakan siapa kita. Oleh sebab itu, Anda tidak
perlu mencari kata-kata dan merangkai-rangkaikannya hanya sekedar untuk menjelaskan siapa
Anda, karena Anda adalah apa yang Anda lakukan. Bukankah begitu?

Selamat Siang dan selamat bekerja.

Sinyal
"Pesawat handphone --tercanggih sekalipun-- membutuhkan sinyal untuk bisa
berfungsi sebagai alat komunikasi. Untuk menjadi pribadi yang efektif, kita pun
harus sensitif terhadap sinyal-sinyal komunikasi yang dipancarkan orang lain."
Dalam sebuah seminar di sebuah kampus, seorang mahasiswa yang menemani saya
menceritakan banyak anekdot mengenai petani cengkeh yang biasanya mendadak kaya sehabis
panen. Kebanyakan temanya adalah soal bagaimana mereka membelanjakan uang mereka
yang berlebih itu. Ini salah satunya:

Ada seorang petani cengkeh dari pedalaman pergi berbelanja ke kota dengan membawa banyak
sekali uang hasil penjualan panenannya. Mereka bermaksud membelanjakan uang yang
berlimpah itu. Datanglah mereka ke sebuah gerai handphone terbesar di kota itu. "Saya hendak
membeli handphone type yang paling baru dan canggih?" kata petani itu.

"Oh silahkan Pak, apakah Bapak sudah ada SIM card-nya?" sambut pegawai toko dengan
ramah.

"Oh perlu SIM juga ya?" tanya petani itu sembil mencabut dompet, mengeluarkan SIM
mengemudinya.

"Oh, bukan SIM mengemudi Pak, tapi nomor dari operatornya ... kalau begitu apa sekalian SIM
card-nya Pak?"

"Oh ya, kalau begitu sekalian SIM card-nya." jawab petani itu kalem.

"Tapi Pak, maaf, Bapak tinggal di daerah mana?"

"Saya? di Sungai Ujung, Kabupaten Kaki Bukit."

"Wah, di sana nggak ada sinyal Pak."

"Oh ya? kalau begitu tolong dik, dilengkapi dengan sinyal sekalian."

Bagaimana pun canggihnya pesawat telepon yang kita miliki, tidak akan berfungsi dengan baik
kalau tidak ada sinyal yang ditangkap. Demikian pula dalam kehidupan sehari-hari kita,
sesunggunya banyak sekali sinyal-sinyal komunikasi yang perlu kita tangkap untuk mempertajam
keputusan yang hendak kita ambil. Kemampuan untuk secara sensitif menangkap sinyal-sinyal
komunikasi itu kemudian mengolahnya secara internal merupakan ciri khas yang hanya dimiliki
oleh mereka yang mempunyai kepribadian matang. Sebaliknya, secanggih apa pun
penampilan Anda, tetapi nggak pernah nyambung, ya tak lebih dari sebuah handphone canggih
yang nggak bisa dipakai nelpon. Tulalit kan?

Selamat Siang dan selamat bekerja.

da puisi balesannya nich ternyata…

Suara Hati Rhoma Irama:


Menjawab kiriman puisi dari Bali

Ente-ente semua yang ana hormati...


Ana tak salahkan turis pakai bikini
Karna mereka mencari matahari
Tapi jangan di pantai kebanggaan negeri ini
Untuk itu tolong pahami
Jangan berjemur pakai bikini

Ente-ente semua yang ana hormati...


Mulailah introspeksi diri
Kelak kau temukan kebenaran sejati
Jangan banyak teori
Apalagi merasa tak suci
Karena engkau tak tahu makna berpoligami
Dengan syahwat yang menari-nari

Ente-ente semua yang ana hormati...


Silakan engkau datang kemari
Nikmati alam anugerah ilahi
Kami sambut dengan suka hati
Poligami pun kami ajari
Meluncur di atas birahi yang tinggi
Akan tetapi...
Jangan sampai engkau tidak pelototi
Kalau ada bodi seksi
Apalagi sampai tidak birahi

Ente-ente semua yang ana hormati...


Mereka harus dicaci maki
Karna telah cari sensasi bangkitkan birahi
Tapi tak mau diajak poligami

Jangan fanatik budaya Indonesia asli


Ingat budaya Arab Saudi
Pinggang dan pusar penuh arti
Juga indah kalau diterapkan di Bali
Semua itu akan jadi fantasi

Ente-ente semua yang ana hormati...


Jika engkau sudah datang kemari
Satu hal yang saya peringati
Kalau ada turis cantik sekali
Harus dapat kau jadikan istri

Salam damai dari kami

Rhoma Irama
- dangdoet forever -

Berikut ini wawancara imajiner seorang wartawati (W), perempuan muda aktif
berumur 23-an dengan Bang Haji Rhoma Irama (R)

W: "Bang Rhoma, menurut anda apa definisi porno aksi itu sih?"

R:: "Ya, pornoaksi adalah suatu tindakan atau perilaku porno yang membuat kita
jadi berpikiran kotor!"
W: "Apa konkretnya pikiran kotor itu, Bang?"

R:: "Ya..itu pikiran yang ngeres, yang membuat kita jadi 'terangsang' karena
melihat hal2 seperti itu.."

W: "Maksutnya, apanya yg terangsang, Bang..?"

R:: (sambil mesam-mesem) "Ya..itulah...You know-lah..itu.."

W: "Ooh...I see.." "Bisa memberi komentar kenapa Bang Rhoma mengatakan kalo
gaya panggung dangdut Inul itu juga pornoaksi?"

R:: "Ya..karena Inul itu gerakan 'bokong-nya' memang membuat kita yg lihat jadi
berpikir porno.."

W: "Lho, ..masak sih Bang?"

R:: "Ya..donk..coba tanya semua penonton terutama yg cowok2 deh.."

W: "Bang, mengapa kalo Bang Rhoma beraksi selalu dengan kemeja bagian
atas terbuka..dan keliatan bulu dada Bang Rhoma..?" "Menurut Bang Rhoma, apa
itu juga pornoaksi?"

R:: "Hmm..ya jelas bukan dong! Itu bukan pornoaksi.."

W: "Bagaimana kalau saya bilang sama Bang Rhoma karena liat bulu2 dada Bang
Rhoma...saya jadi merinding?" "Maksud saya...lalu saya jadi berpikiran..hm..yang
gimana gitu sama abang..?"

R:: (muka merah menahan marah) "Ya kalo gitu..kamu GAK USAH LIAT BULU
DADA-SAYA!!

W: "YA Kalo gitu..Bang Rhoma juga NGGAK USAH LIAT BOKONG INUL!"

R:: @#%&88888******~!(@)(@)#$^& ( * ) ( * ) @#$%^

Kiriman Paulus:
"Suara Hati Anak Pantai"

Bang Rhoma yang saya hormati...


Jangan salahkan turis pakai bikini
Mereka mencari matahari
Di pantai kebanggaan negeri ini
Untuk itu tolong pahami
Tak mungkin berjemur pakai dasi
Bang Rhoma yang saya hormati...
Mulailah introspeksi diri
Kelak kau temukan kebenaran sejati
Jangan banyak teori
Apalagi merasa suci
Engkau sendiri berpoligami

Kami anak pantai


Terbiasa dengan pemandangan begini
Biar pun rambut warna-warni
Kami masih punya nurani
Tak pernah ada syahwat menari

Bang Rhoma yang saya hormati...


Silahkan engkau datang kemari
Nikmati alam anugerah ilahi
Kami sambut dengan suka hati
Surfing pun kami ajari
Meluncur di atas ombak tinggi
Akan tetapi...
Jangan engkau pelototi
Kalau ada bodi seksi
Apalagi sampai birahi

Bang Rhoma yang saya hormati...


Mereka jangan dicaci maki
Apalagi dituduh pornografi
Semua itu keindahan tubuh yang alami
Dari negeri Sakura sampai Chili
Semua ada disini
Biarkan semua bangsa berbaur dalam damai
Mereka tidak cari sensasi
Tapi menghilangkan kepenatan sehari-hari

Jangan fanatik budaya Arab Saudi


Ingat budaya Indonesia asli
Sensual tapi penuh arti
Jika kau paksa terapkan di Bali
Semua itu akan jadi basi

Bang Rhoma yang saya hormati...


Jika engkau sudah datang kemari
Satu hal yang saya peringati
Meski ada turis cantik sekali
Jangan kau jadikan istri

Salam damai dari kami


# ------------------------------------------------

Sensitivitas
"Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya."

Sebuah keluarga dari suku Mescarlero Apache Indian telah menggugat produser mini seri TV
Into the West yang disutradari Steven Spielberg. Persoalannya? Salah seorang pemain
cilik, Christina Ponce (8), bocah perempuan keturunan Indian yang dalam film itu
memerankan bocah laki-laki (karena kelangkaan karakter bocah laki-laki Indian), dicukur
rambutnya tanpa persetujuan orangtuanya. Sebegitu amat? Ya, karena sesuai dengan
kebudayaan suku Apache, memotong rambut seorang anak anak gadis pertama kalinya
adalah sakral dan harus disertai dengan sebuah upacara ritual yang disebut Coming of Age,
semacam upacara memasuki masa akil balik. Melalui pengadilan di Distrik Albuquerque,
orangtua Christina menuntut produser film itu sejumlah USD 250,000 untuk tekanan emosi yang
dialaminya serta USD 75,000 untuk "kerusakan" rambut anaknya.

Hal ini tidak akan terjadi kalau para kru film Into the West, mempunyai culture-sensitivity, yaitu
kesadaran penuh dan rasa hormat akan latar belakang budaya dan kebiasaan yang berbeda-
beda. Kasus rambut Christina ini adalah salah satu contoh terbaik issue cross-culture yang
mengemuka.

Ada banyak kasus mirip dialami oleh para professional yang bekerja di multinational company.
Seringkali kerjasama terhambat karena persoalan pemahaman culture antar anggota tim dan
bahkan dengan atasan tidak baik. Atau tidak usah terlalu jauh, apabila Anda telah menikah dan
suami atau isteri Anda berlatar belakang suku dan budaya yang berbeda, maka permasalahan –
sekecil apa pun itu pasti terjadi.

Untuk menjadi manusia yang efektif kita harus bisa memahami (karakteristik personal dan latar
belakang budaya) orang lain dan memperlakukannya seperti mereka ingin diperlakukan. Bukan
memperlakukan orang lain seperti kita ingin diperlakukan. "Do as they would be done by" and
not "Do as you would be done by." Sebab yang pertama meletakkan orang lain sebagai fokus
sedangkan yang kedua fokusnya kepada diri sendiri.

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Irwan Prabowo.

Penggaris

"Ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan kepada kita
juga."

Seorang murid kelas 2 Sekolah Dasar, sebutlah UCok, protes kepada gurunya. Ia merasa telah
menjawab pertanyaan ulangan matematika nomor 9 dengan benar, tetapi dianggap salah. Soal
itu meminta siswa peserta ulangan untuk mengukur panjang dan lebar buku cetak pelajaran
matematika masing-masing. Usut punya usut, penggaris yang digunakan untuk mengukur oleh
Ucok itu ternyata berbeda dengan apa yang dipakai gurunya. Ia menggunakan penggaris kertas
bonus majalah anak-anak, dan Sang Guru menggunakan penggaris plastik yang biasa dijual di
toko -toko stationary. Ternyata memang ada beberapa deviasi panjang antara kedua jenis
penggaris tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita juga menggunakan "ukuran-ukuran" yang kita miliki
untuk menilai orang lain. Kita cenderung melihat orang lain dengan persepsi ('kacamata') yang
kita pakai. Seperti UCok dan gurunya yang mengukur benda yang sama dengan ukuran jenis
penggaris yang berbeda, kita pun sering melakukannya dalam melihat dan kemudian menilai
orang lain.

Jelas ukuran yang berbeda akan menghasilkan informasi yang berbeda pula. Oleh sebab itu,
hati-hati dalam menilai orang. Terlebih apabila kita mempunyai 'penggaris' yang berbeda dengan
yang umumnya dipakai sebagai standard. Bisa jadi penilaian Anda berdasarkan 'ukuran' yang
Anda paka akan menjadi bumerang. Bukankah ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa
ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan dukurkan kepada kita juga? Benar ngak ?????

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Bau
"Serapat-rapat kita menyimpan bangkai, pada akhirnya bau busuknya akan
tercium juga." - Pepatah Lama

Begitu pepatah yang kita kenal. Tetapi tahukah Anda, bahwa kepolisian China --seperti
diberitakan Kantor berita China Xinhua dan dikutip Kompas, 18 Maret 2006 lalu-- justru telah
mengkoleksi 500 jenis bau badan yang disimpan di sebuah lembaga di kota Nanjing. Sampel
bau itu akan digunakan sebagai pembanding dari sampel bau-bauan yang diambil dari tempat
kejadian perkara. Setiap jenis bau disimpan dalam sebongkah es yang terus dipertahankan
suhunya berkisar 18 derajad Celcius. "Dengan cara ini, sampel bau bisa tetap terjaga
kesegarannya setidaknya sampai tiga tahun," kata Song Zhenhua, pengelola data bau badan
yang langka itu.
Menarik juga. Tidak jelas, apakah 500 jenis bau itu termasuk bau badan para koruptor. Kalau ya
dan itu diterapkan di Indonesia, saya rasa koruptor di negeri ini akan tunggang langgang bila
ketemu anjing pelacak!

Secara fisik, manusia akan mengeluarkan aroma 'khas' paling tidak dalam empat kondisi.
Pertama, lupa gosok gigi atau membersihkan badan. Kedua, barusan mengkonsumsi makanan
atau minuman tertentu, misalnya petai, durian dan minuman alkohol. Ketiga, dalam kondisi
sakit (kronis). Dan keempat, sedang mengeluarkan 'gas alam' ... Berbagai macam usaha
dilakukan orang untuk mengusir bau fisik ini. Mulai dari gosok gigi, minum air banyak sampai
memakai obat anti bau badan.

Akan halnya, sikap-mental dan perilaku kita yang 'basi' punya potensi besar menjadikan kita
'manusia bau'. Sikap-mental 'basi' itu merupakan perilaku ndablek yang tidak mau berubah
memperbaiki diri, meskipun berbagai kesempatan diberikan. Celakanya sikap-mental 'basi'
seperti ini ditutup rapat dengan penampilan-penampilan yang mengecoh. Bukankah
pengemplang dan koruptor di negeri ini menutupi keboborkannya secara lihai? Bahkan pejabat
negara pun bisa dibuatnya terkecoh!

Kutipan peribahasa hari ini mengingatkan kita bahwa serapat apa pun kita menutup sikap-mental
'basi' kita, lama-lama bau busuk kita akan tercium juga. Anda akan menjadi 'manusia bau',
manusia busuk yang dijauhi sesama dan pantas dibuang.

Ingat, bau badan mudah dihilangkan dengan bantuan pembersih badan dan obat anti bau
badan. Tetapi once Anda mendapatkan predikat manusia busuk, Anda perlu waktu lama untuk
memulihkannya kembali.

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Arnald Bronson N

Operator Tx Tv7 Medan

Perempuan

"Mengasihi lebih baik dari pada (sekedar) mengasihani."

Simak baik-baik permainan matematika kurang ajar yang saya temukan di jaringan maya ini.
Bagi perempuan barangkali sangat provokatif dan menyakitkan! Simaklah: "Untuk menggaet
Perempuan, kita membutuhkan Waktu dan Uang. Dalam persamaan matematika, kita
bisa tulis: Perempuan = Waktu x Uang. Di sisi lain, kita mengenal pepatah "Waktu
adalah Uang", sehigga bila diaplikasikan ke rumus di atas (kata Waktu diganti dengan kata
Uang) maka persamaannya menjadi: Perempuan = Uang x Uang, alias Perempuan =
(Uang) pangkat 2. Kita juga mengenal pepatah lama yang mengatakan bahwa
"Akar masalah adalah cinta uang". Sehingga karena Uang = akar (Masalah), maka
rumusnya menjadi Perempuan = akar dari ((Masalah) pangkat 2) dan disederhanakan
(sesuai prinsip matematika akar dan pangkat 2 saling meniadakan) menjadi Perempuan =
Masalah." Alamak! Ha ha ha ha !!!!!! @@@

Dalam realita berdasarkan berbagai situasi sosial budaya yang menyertainya, nasib perempuan
di dunia ini memang tidak seberuntung dan sejelas kaum lelaki. Celakanya dalam banyak kasus
laki-laki lah yang sengaja membuat ketidak beruntungan dan ketidakjelasan itu. Saya percaya
yang bikin joke di atas juga oknum berkelamin laki-laki.

Tadi malam bersama !!!@@@??? (red), saya nonton DVD yang diilhami oleh kisah nyata
berjudul North Country. Film ini menggambarkan perjuangan hukum seorang single parent
--ibu dari dua anak-- yang bekerja sebagai buruh, melawan perusahaan pertambangan besar
tempat ia bekerja. Sebagai buruh di perusahaan yang didominasi kaum laki-laki, perlakuan tidak
senonoh, pelecehan seksual, perlakuan diskriminatif oleh buruh laki-laki atau bahkan atasan
menjadi makanan sehari-hari. Kepedihannya memuncak ketika ia mengadukan pelecehan yang
diterimanya ke manajemen, bukan tanggapan positif yang ia terima, tetapi justru berakhir
dengan pemecatan. Melalui upaya class action, ia menuntut perusahaan itu dan pada
akhirnya ia menang di pengadilan. Kisah ini menjadi cikal bakal perjuangan melawan sexual-
harrasment yang selama ini semakin giat dikampanyekan.

Namun demikian, perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan hak-haknya terasa


masih begitu berat. Ingat kasus TKW yang diperkosa, diperas, disiksa bukan hanya oleh majikan
mereka di luar negeri, tetapi justru oleh laki-laki bangsa sendiri! Di airport lagi. Juga kasus
Perda No. 8/2005 Pemda Tangerang tentang Pelacuran yang dalam pelaksanaannya
menimbulkan persoalan. Betapa tidak, siapa pun yang (malangnya) dicurigai dan berjenis
kelamin perempuan, bisa kena garuk dan ditahan atas nama moralitas! Jangan lupa
pula RUU anti pornografi dan pornoaksi yang (lagi-lagi) menyoal aurat kaum
perempuan. Tulisan ini bukan menyoal pro dan kontra RUU itu tersendiri. Bahkan di Jepang,
rancangan undang-undang yang mengijinkan kaisar perempuan pun diprotes keras!

Lalu, haruskah kita mengasihani kaum perempuan? (Sebaiknya) tidak! --dengan segala
harapan positif. Karena yang kita perlukan adalah mengasihi mereka. Bagaimana pun mereka
adalah ibu dari semua jenis kelamin umat manusia di bumi ini. Mendudukkan mereka pada
posisi yang seharusnya, sebagai pelaku kehidupan --bukan sebagai obyek-- adalah salah satu
bentuk "mengasihi" yang saya maksud. Karena "mengasihani" berarti semata-mata
mendudukan mereka sebagai obyek yang berada "di bawah" laki-laki. Mengasihinya
berarti melihat setara dan menghargainya sepenuh hidup manusia. Selamat pagi dan selamat
bekerja.

Bagi yg belum tahu & ingin tahu ….

Hati2 kalau mau berciuman didepan umum….. dendanya 100 – 500 jt !!!

Larangan bagi setiap orang, menari erotis atau bergoyang erotis di depan umum (Pasal 28),
Pidana Penjara 18 bulan-7 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 150.000.000
(seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp. 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh
juta rupiah) (Pasal 82), Pelarangan Pornoaksi di atas DIKECUALIKAN untuk (Pasal 36): Cara
Berbusana dan/atau Tingkah laku yang menjadi kebiasaan menurut Adat Istiadat dan/atau
Budaya Kesukuan, SEPANJANG BERKAITAN DENGAN PELAKSANAAN RITUS KEAGAMAAN ATAU
KEPERCAYAAN,
Kegiatan Seni, HANYA dapat dilaksanakan di TEMPAT KHUSUS PERTUNJUKAN SENI- YANG
MENDAPATKAN IZIN DARI PEMERINTAH (Pasal 37),

Kegiatan Olahraga, HANYA dapat dilaksanakan di TEMPAT KHUSUS OLAHRAGA - YANG


MENDAPATKAN IZIN DARI PEMERINTAH (Pasal 37), atau Tujuan Pendidikan dalam Bidang
Kesehatan, DALAM BATAS YANG DIPERLUKAN (Pasal 34): SESUAI Tingkat Pendidikan &
Bidang Studi pihak yang menjadi sasaran Pendidikan dan/atau Pengembangan Ilmu
Pengetahuan (Penjelasan Pasal 34), TERBATAS pada Lembaga Riset/Pendidikan yang bidang
keilmuannya bertujuan untuk Pengembangan Pengetahuan.

Larangan bagi setiap orang, membuat (diantaranya) Tulisan, Film, yang mengeksploitasi daya
tarik aktivitas orang dalam berhubungan seks, atau melakukan aktivitas yang mengarah pada
hubungan seks dengan Pasangan SEJENIS [Pasal 9 ayat (2)], Pidana Penjara 2-10 tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) (Pasal 63),

Larangan bagi setiap orang, berciuman bibir di depan umum (Pasal 27), Pidana Penjara
1-5 tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 100.000.000 (seratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp.500.000.000 (lima ratus juta rupiah) (Pasal 81).

Pasal2 di bawah ini adalah PASAL2 YANG DAPAT MEMPIDANA PEKERJA SENI LAINNYA, bila
dalam pelaksanaannya Pasal2 RUU ini tidak berusaha ditafsirkan kembali, MOHON
INFORMASIKAN SELUAS MUNGKIN KEPADA TEMAN2 KITA YANG MUNGKIN KARENA
PEKERJAANNYA MEREKA MENJADI RENTAN DIPIDANA APABILA RUU INI DISAHKAN:

PORNOGRAFI

Larangan bagi setiap orang, untuk membuat Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau
yang dapat disamakan dengan Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa (Pasal 4),
dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 5 (lima)
tahundan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp. 100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 500.000.000,-(lima ratus juta rupiah) (Pasal 58).

Larangan bagi setiap orang, untuk membuat Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau
yang dapat disamakan dengan Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik ketelanjangan tubuh orang dewasa (Pasal 5), dipidana dengan
Pidana Penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan atau paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp.150.000.000,- seratus lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp. 750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) (Pasal 59).

Larangan bagi setiap orang, untuk membuat Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau
yang dapat disamakan dengan Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau
bergoyang erotis (Pasal 6), dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 1(satu) tahun atau
paling lama 5 (lima) tahun dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp.100.000.000,- (seratus
juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) (Pasal 60).

Larangan bagi setiap orang, untuk membuat Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau
yang dapat disamakan dengan Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik aktivitas orang yang berciuman bibir (Pasal 7), dipidana dengan
Pidana Penjara paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun dan/atau Pidana
Denda paling sedikit Rp.100.000.000,-(seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) (Pasal 61).

Larangan bagi setiap orang, untuk menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau yang dapat disamakan dengan
Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang mengeksploitasi daya tarik
bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa melalui Media Massa cetak, Media
Massa elektronik dan/atau Alat komunikasi medio (Pasal 12), dipidana dengan Pidana Penjara
paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau
Pidana Denda paling sedikit Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp.
2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) (Pasal 66).

Larangan bagi setiap orang, untuk menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau yang dapat disamakan dengan
Film, Syair Lagu, Puisi,Gambar, Foto dan/atau Lukisan yang mengeksploitasi daya tarik
ketelanjangan tubuh melalui Media Massa cetak, Media Massa elektronik dan/atau Alat
komunikasi medio (Pasal 13), dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6
(enam) bulan atau paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp.
300.000.000,-(tiga ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 2.000.000.000,- (dua milyar
rupiah) (Pasal 67).

Larangan bagi setiap orang, untuk menyiarkan,memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau yang dapat disamakan dengan
Film, Syair Lagu, Puisi,Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang mengeksploitasi daya tarik tubuh
atau bagian-bagian tubuh orang yang menari erotis atau bergoyang erotis melalui Media
Massa cetak, Media Massa elektronik dan/atau Alat komunikasi medio (Pasal 14), dipidana
dengan Pidana Penjara paling singkat 2 (dua) tahun 6 (enam) bulan atau paling lama 12 (dua
belas) tahun dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp. 300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah)
dan paling banyak Rp.2.000.000.000,- (dua milyar rupiah) (Pasal 68).
Larangan bagi setiap orang, untuk menyiarkan,memperdengarkan, mempertontonkan atau
menempelkan Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau yang dapat disamakan dengan
Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
yang berciuman bibir melalui Media Massa cetak, Media Massa elektronik dan/atau Alat
komunikasi medio (Pasal 15), dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 2 (dua) tahun
atau paling lama 10 (sepuluh) tahun dan/atau pidana denda paling sedikit Rp. 200.000.000,-
(dua ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) (Pasal
69).

Larangan bagi setiap orang, untuk menyiarkan, memperdengarkan, mempertontonkan atau


menempelkan Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau yang dapat disamakan dengan
Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang mengeksploitasi aktivitas orang
dalam berhubungan seks atau melakukan aktivitas yang mengarah pada hubungan seks
dengan pasangan sejenis melalui Media Massa cetak, Media Massa elektronik dan/atau Alat
komunikasi medio [Pasal 17 ayat (2)], dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 3 (tiga)
tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp
350.000.000 (tiga ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp 2.500.000.000 (dua
milyar lima ratus juta rupiah) [Penjelasan Pasal 71 ayat (2)

Larangan bagi setiap orang, untuk menjadikan diri sendiri dan/atau orang lain sebagai
modelatau obyek pembuatan Tulisan, Suara atau Rekaman Suara, Film atau yang dapat
disamakan dengan Film, Syair Lagu, Puisi, Gambar, Foto, dan/atau Lukisan yang
mengeksploitasi daya tarik bagian tubuh tertentu yang sensual dari orang dewasa,
ketelanjangan tubuh dan/atau daya tarik tubuh atau bagian-bagian tubuh orang yang menari
erotis atau bergoyang erotis, aktivitas orang yang berciuman bibir, aktivitas orang yang
melakukan masturbasi atau onani, orang yang berhubungan seks atau melakukan aktivitas
yang mengarah pada hubungan seks dengan pasangan berlawanan jenis, pasangan sejenis,
orang yang telah meninggal dunia dan/atau dengan hewan (Pasal 20), dipidana dengan
Pidana Penjara paling singkat 18 (delapan belas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp.150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) dan
paling banyak Rp.750.000.000,-(tujuh ratus lima puluh juta rupiah) (Pasal 74).

Larangan bagi setiap orang, untuk membuat, menyebarluaskan, dan menggunakan Karya Seni
yang mengandung sifat pornografi di Media Massa cetak, Media Massa elektronik, atau Alat
komunikasi medio, dan yang berada di Tempat-tempat umum yang bukan dimaksudkan
sebagai tempat pertunjukan Karya Seni (Pasal 22), dipidana dengan Pidana Penjara paling
singkat 18 (delapan belas) bulan dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau Pidana Denda
paling sedikit Rp. 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.
750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) (Pasal 76).

Larangan bagi setiap orang, untuk membeli Barang Pornografi dan/atau Jasa Pornografi tanpa
alasan yang dibenarkan berdasarkan Undang-Undang ini (Pasal 23), dipidana dengan Pidana
Penjara paling singkat 1 (satu) tahun atau paling lama 5 (lima) tahun dan/atau Pidana Denda
paling sedikit Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) dan paling banyak Rp. 500.000.000,-
(lima ratus juta rupiah)(Pasal 77).

Larangan bagi setiap orang, untukmenyediakan Dana bagi orang lain untuk melakukan
Kegiatan dan/atau Pameran Pornografi (Pasal 24 ayat(1)];menyediakan Tempat bagi orang
lain untuk melakukan Kegiatan Pornografi dan/atau Pameran Pornografi [Pasal 24 ayat (2)];
dan menyediakan Peralatan dan/atau Perlengkapan bagi orang lain untuk melakukan Kegiatan
Pornografi dan/atau Pameran Pornografi [Pasal 24 ayat (3)]; dipidana dengan Pidana Penjara
paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan/atau Pidana Denda
paling sedikit Rp. 350.000.000,- (tiga ratuslima puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp.
2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah)(Pasal 78).

PORNOAKSI

Larangan bagi setiap orang, untuk menyediakan dana bagi orang lain untuk melakukan
Kegiatan Pornoaksi, Acara Pertunjukan Seks, atau Acara Pesta Seks [Pasal 33 ayat (1)],
dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 8 (delapan)
tahun dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp 300.000.000 (tiga ratus juta rupiah) dan
paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu milyar lima ratus juta rupiah) [Pasal 88 ayat (1)].

Larangan bagi setiap orang, untuk menyediakan tempat bagi orang lain untuk melakukan
Kegiatan Pornoaksi, Acara Pertunjukan Seks, atau Acara PestaSeks [Pasal 33 ayat (2)],
dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun
dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp 200.000.000 (dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp 750.000.000 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah) [Pasal 88 ayat (2)].

Larangan bagi setiap orang, untuk menyediakan Peralatan dan/atau Perlengkapan bagi orang
lain untuk melakukan kegiatan Pornoaksi, Acara Pertunjukan Seks, atau Acara Pesta Seks
[Pasal 33 ayat (3)], dipidana dengan Pidana Penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling
lama 5(lima) tahun dan/atau Pidana Denda paling sedikit Rp 50.000.000 (lima puluh juta
rupiah) dan paling banyak Rp 250.000.000 (dua ratus lima puluh juta rupiah) [Pasal 88 ayat
(3)].

------------------------------------

Pasal2 tersebut di atas secara prinsip bertentangan dengan Peraturan Perundang2an yang
ebih tinggi, UUD 1945 setelah Amandemen IV, UU Hak Asasi Manusia, Deklarasi Universal
Hak2 Asasi Manusia (DUHAM), UU Pengesahan Konvensi Hak2 Sipil & Politik, UU Pengesahan
Konvensi mengenai Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap Perempuan, dan lain2
(untuk lengkapnya dapat Kita diskusikan lebih lanjut).

Hormat kami,
JARINGAN KERJA PROLEGNAS PRO PEREMPUAN, Aliansi Pelangi antar Bangsa (APAB), BUPERA
FSPSI Reformasi, CETRO, Derap Warapsari, ICMC, ICRP, Institut Perempuan, Kakilima,
Kalyanamitra, Kapal Perempuan, Komisi Nasional anti Kekerasan terhadap Perempuan
(Komnas Perempuan), KePPak Perempuan, Koalisi Perempuan Indonesia Jabotabek, Koalisi
Perempuan Indonesia Sekretariat Nasional, LBH APIK Jakarta, LBH Jakarta, LKBH PeKa, Mitra
Perempuan, Perempuan Mahardika, PKT RSCM, PP Fatayat NU, PP Muslimat NU, PSHK
Indonesia, Puan Amal Hayati, Rahima, Rekan Perempuan, Rumpun Gema Perempuan, Senjata
Kartini (SEKAR), SIKAP, The Asia Foundation (TAF), Yayasan Kesehatan Perempuan (YKP),
Yayasan Pulih, YATRIWI

Larangan bagi setiap orang dewasa, mempertontonkan bagian tubuh tertentu yang sensual
(Pasal 25), antara lain: alat kelamin, PAHA, PINGGUL, pantat, PUSAR, & PAYUDARA
PEREMPUAN baikTERLIHAT SEBAGIAN maupun seluruhnya, Pidana Penjara 2-10 tahun
dan/atau pidana denda paling sedikit Rp.200.000.000,- (dua ratus juta rupiah) dan paling
banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) (Pasal 79)

“BIARLAH HATI YANG MENCINTAI DAN PEDULI PADA ORANG LAIN


SEMAKIN BERTAMBAH DIHARI KASIH SAYANG INI TANPA MEMBEDA-
BEDAKANNYA KEPADA SIAPAPUN” AMEN

Air, Tetaplah Air


Besarnya permintaan akan air minum yang bersih membuat
para pemasar rame-rame terjun ke industri air minum olahan.
Dan mereka semua mengaku: Sehat!

Kebutuhan penduduk urban akan air yang bersih menjadi motif ekonomi lahirnya industri air minum dalam
kemasan. Air minum yang bersih, selalu dan akan terus menjadi masalah penduduk urban dalam beberapa
dekade ke depan. Meski pemerintah telah memiliki Perusahaan Air Minum (PAM) untuk memenuhi
kebutuhan akan air bersih, toh tingkat kepercayaan untuk minum air ledeng (sekalipun sudah direbus) tidak
pernah meningkat.
Pasar industri ini memang menawarakan angka yang menggiurkan. Pada tahun 2004, nilai industri ini telah
mencapai...... triliun rupiah, dengan angka pertumbuhan ...% setahun. Itulah sebabnya, mengapa banyak
pemain—mulai dari pemain besar sampai industri rumah tangga—menyesaki industri ini. Teorinya “ada gula
ada semut”; makin banyak gula, makin banyak semut yang datang.
Adalah Tirto Utomo, yang pertama kali memelopori air minum dalam kemasan dengan merek Aqua-nya.
Dulu seringkali disebut sebagai air mineral, namun karena ada keberatan beberapa pihak, akhirnya disebut
sebagai AMDK (Air Minum Dalam Kemasan). Kepioniran Aqua ini membuahkan hasil: pasar yang
bertambah besar dan pemain yang bertambah banyak. Apalagi pengolahan AMDK bisa dilakukan mulai dari
yang sederhana sampai canggih. Yang penting: bersih dan sehat!
Akibatnya, setelah susah payah mengumpulkan market share (sampai 80%), Aqua terus-menerus
mengalami ancaman dari berbagai pemain, yang misinya hampir serupa: mengambil sepersekian saja dari
pangsa pasar Aqua.
Situasi ini patut membuat Aqua deg-degan. Siapakah yang paling kelimpungan dengan bertumbuhnya
industri air minum isi ulang? Aqua! Mengapa? Soalnya, kemasan bekas galon mereka dijadikan tempat
untuk mengisi air minum isi ulang. Sebagai pemain terbesar, sudah risiko jika galon bekas Aqua paling
banyak ditemui konsumen.
Aqua pula yang kelabakan dengan banyaknya pemain baru yang mengambil keuntungan dari ke-generik-an
merek Aqua. Itulah sebabnya mereka sampai meluncurkan iklan untuk mendidik masyarakat bahwa Aqua
itu, ya Aqua (Bukan Ades, bukan Dua Tang, bukan Total, dan bukan yang lain-lain).
Bau sedap industri ini juga sudah masuk ke hidung pemain besar industri makanan dan minuman lainnya.
Coca-Cola Company membeli Ades. Belakangan Nestle juga “jahil” masuk ke pasar ini dengan meluncurkan
air minum kemasan bermerek Nestle. Lewat kekuatan jalur distribusi yang dimiliki, mereka yakin bisa
membanjiri pasar dengan brand mereka. Semuanya, tentu saja dengan iming-iming: air sehat.
Isu paling mutakhir adalah lahirnya sub kategori baru dalam industri ini, yaitu air beroksigen. Premis yang
diajukan ke konsumen adalah: masyarakat perkotaan kekurangan zat cair yang mengandung oksigen.
Apalagi, polusi di kota besar membuat masyarakat semakin sulit memperoleh udara bersih.
Logikanya, kekurangan itu bisa dipenuhi dengan minum air yang mengandung O2. Walaupun untuk
meminumnya perlu ritual tertentu (dibuka dan langsung diminum habis) pemilik merek air minum beroksigen
ini tetap percaya diri bahwa pasar air semacam ini bakal bertumbuh. Buktinya, beberapa pemain pun coba-
coba masuk ke kategori tersebut. Mereka berupaya menggeser masyarakat ke paradigma baru: air sehat
adalah air yang mengandung oksigen cukup.
Bagi yang berduit lebih, mencari air sehat tidak perlu dengan membeli air minum yang sudah dikemas.
Mereka bisa membeli Water Treatment System untuk dipasang di rumah atau alat penyaring air yang bukan
sekadar membersihkan air ledeng, tetapi juga menghilangkan berbagai penyakit dan membuat awet muda.
Alat semacam ini juga menjadi ancaman bagi Aqua di masa mendatang. Apalagi jika pemasar produk ini
bisa meyakinkan konsumen dengan perhitungan ekonomis jangka panjang. Plus, jaminan kesehatan di
masa mendatang.
Sekarang tinggal bagaimana konsumen teredukasi oleh definisi air sehat. Apakah air yang berasal dari mata
air pegunungan? Atau air dengan kadar mineral tinggi? Atau air yang beroksigen? Atau air heksagonal?
Menariknya, semua air minum olahan tersebut nyaris tidak berbeda rasanya. Semua unsur yang menjadi
nilai jual, sebenarnya tidak bisa langsung dirasakan oleh orang awam. Selain pelepas dahaga, benefit lain
dari air olahan bersifat jangka panjang. Akhirnya, bagi konsumen, air, ya tetap air. Persepsi manusialah
yang membuatnya berbeda. Setujukah Anda? (Rahmat Susanta/Majalah Marketing)

Life With A Mission


Beberapa waktu lalu, saya terbang naik Garuda Indonesia dari
Singapura ke Jakarta. Selama penerbangan, saya dilayani oleh seorang
pramugari cantik. Namanya Dewi Sahyanti.

Saya terkesan dengannya. Saya lihat, pramugari yang satu ini beda
dengan yang lain. Wajahnya wajah senyum, smile face, atau sumeh kata
orang Jawa. Sikapnya pun sangat baik dalam melayani. Keramahan yang
ditunjukkannya terkesan natural dan memang berasal dari hati, tidak
dibuat – buat atau sekedar sikap professional semata.
Saya lantas ngobrol dengannya. Saya Tanya, sudah berapa tahun jadi
pramugari ? 17 tahun katanya. Lho, biasanya kalau sudah 17 tahun
begitukan sudah capek dan sudah pension ? Jawabnya lagi, menjadi
pramugari ini sudah meerupakan calling, panggilan jiwa, bukan lagi
dianggap pekerjaan. Dia senang melihat pramugari yang selalu
bepergian ke mana – mana dan selalu malayani orang. Jadi, walaupun
mungkin kadang – kadang terasa capek, ia tetap bias menikmati. Ada
kepuasan batin tersendiri yang tidak bias diukur dengan materi.

Wah, saya benar – benar terkesan dengan ucapannya ini. Jarang saya
temui orang yang menajalani pekerjaannya karena memang sesuai dengan
panggilan jiwanya.

Saya langsung teringat dengan konsep progression of commitment value.


Memang, setiap saya mendapatkan masukan dari orang lain, selalu coba
saya hubungkan dengan berbagai konsep bisnis yang ada di kepala saya.
DAlam konsep progression of commitment value ada 4 tingkatan
komitmen. Yaitu berturut – turut dari mulai yang terendah
tingkatannya : political commitment, intellectual commitment,
emotional commitment, dan spiritual commitment.

Tingkatan terendah adalah political commitment. Pada tingkatan ini,


orang hanya memiliki komitment terhadap sesuatu karena sifatnya yang
terpaksa, misalnya karena tuntutan pekerjaan atau pengaruh kekuasaan.
Tingkatan selanjutnya adalh intellectual commitment. Ornag memiliki
komitmen terhadap sesuatu karena hal itu dipandang mampu memenuhi
kebutuhan intelektualnya. Misalnya seseorang yang dalam situasi
apapun selalu menyempatkan diri untuk membaca buku.

Sedangkan tingkatan ketiga adalah emotional commitment. Komitmen


orang yang ada di tingkatan ini sudah bersifat emosional, sukareladan
tidak lagi memikirkan untung – rugi. Misalnya saja adalah para
pengikut tokoh tertentu yang selalu mengikuti apa yang diucapkan
pemimpinnya. Sedangkan spiritual commitment merupakan tingkatan
komitmen tertinggi; seseorang akan berkomitmen dengan apa yang
dikerjakannya karena hal itu memang merupakan panggilan jiwanya.
Orang ini sudah tidak lagi terikat kepada hal – hal yang bersifat
duniawi.

Bagi saya, hubungan antara Sahyanti dengan pekerjaannya ini sudah


sampai tingkatan spiritual commitment. Ia memiliki komitmen terhadap
pekerjaannya sebagai pramugari karena memang merupakan impiannya
sejak kecil dan sesuai dengan penggilan jiwanya.

Nah, kisah Sahyanti ini juga mirip dengan kisah pribadi saya sendiri.

Saat perayaan tahun baru Cina lalu, saya menyaksikan kisah Confusius
di salah satu stasiun televise. Anda tentu tahu, filsuf Cina yang
hidup sekitar 2500 tahun lalui ini selalau menginspirasi orang –
orang untuk tidak hanya bekerja keras, namun juga untuk selalu
belajar setiap saat.
Confusius berkata, "Anda harus terus belajar sampai saat tutup peti
mati Anda ditutup!" Memang, Confusius dikenal sebagai seorang yang
selalu belajar (learning), membagi pengetahuan dan pengalamannya
(sharing), serta mengajarkannya (teaching) kepada siapapun sepanjang
hidupnya. Dia juga tidak pernah menyerah dan tidak pernah puas dengan
apa yang telah dicapainya.

Nah, pada hari itu juga, sore hari, tiba – tiba hati saya merasa
sangat tersentuh. Saat itu, salah satu sahabat saya bercerita tentang
pesan dari alamarhum ayah saya. Walaupun kami telah bersahabat sangat
lama, namun sahabat saya ini justru lebih banyak ngobrol dengan ayah
saya daripada dengan saya sendiri. Kisah ini bahkan belum pernah
disampaikan kepada saya oleh ayah saya.

Suatu malam, kepada sahabat saya itu, almarhum ayah saya menunjukkan
gambar Confusius yang berada disamping foto saya. Ayah saya bilang
bahwa dia ingin saya bisa menjadi seperti Confusius. Itulah sebabnya
mengapa saya diberi nama Tan Tjiu Shiok (nama kecil saya) yang
berarti saya harus terus belajar setiap saat.

Rupanya, impian ayah saya ini tercapai. Waktu muda, saya mengajar
murid SMP untuk membiayai sekolah, karena keluarga saya sangat
miskin. Saya sudah menjadi guru matematika dan fisika sejak usia yang
masih sangat muda, 17 tahun. Bahkan, sebelum berusia 20 tahun saya
sudah menjadi kepala sekolah SMP!

Secara keseluruhan, saya menjadi guru SMP, SMA, dan bahkan SD selama
20 tahun! Saya memang sangat menikmati pekerjaan mengajar ini. Saya
itu selalu berpikir dalam keadaan apapun. Saya selalu berpikir ketika
saya bicara, berjalan, berbelanja, mandi dan bahkan tidur! Dengan
berpikir, saya menciptakan berbagai model pemasaran saya, mulai dari
Marketing Plus 2000, Sustainable Market-ing Enterprise sampai
Marketing in Venus.

Inilah yang namanya life with a mission. Dalam menjalani hidup ini,
kita harus tahu apa misi hidup kita. Lalu, apakah yang kita lakukan
sesuai dengan misi hidup kita itu banyak orang yang mengerjakan
sesuatu, namun sebenarnya tidak tahu untuk apa dia mengerjakan itu.
Banyak pula orang yang bekerja keras, namun tidak mendapatkan
kebahagiaan. Ini semua karena tidak ada keselarasan antara apa yang
mereka kerjakan dengan tujuan hidup mereka.

Jadi, seperti kisah Sahyanti dan saya tadi. Kerjakanlah semua hal
sesuai dengan panggilan jiwa Anda. Niscaya, Anda pun akan mendapatkan
kenikmatan batin yang tidak akan tergantikan oleh apa pun!

Sumber: Life With A Mission oleh Hermawan Kartajaya, dimuat di Garuda


In-Flight Magazine edisi Mei 2004. Hermawan Kartajaya, adalah Founder dan
President MarkPlus&Co dan President World Marketing Association (WMA). Pada
tahun 2003, dianugrahi gelar sebagai “50 gurus who have shaped the future of
marketing” oleh CIM-UK, bersama satu orang wakil Asia yang lain, yakni Kenichi
Ohmae dari Jepang
P R I A vs C O W O K

Tidak semua pria dewasa menjadi 'pria', ada juga


yang masih begitu kekanakan setelah umurnya
mencapai 40. Tenaaaang, jangan keburu marah
dulu dengan kenyataan ini, mungkin memang
sebagian orang dilahirkan untuk jadi 'pria', tapi
memang ada juga yang cukup menjadi 'cowok'
saja. Sekali lagi, jangan kawatir, terima saja diri
Anda sebagai pria (P) atau sebagai cowok (C), toh
semua punya nilai lebih dan kurang tersendiri.

Dan yang tak kalah penting, percayalah kadang


wanita tidak peduli. Inilah Perbedaan mendasar
antara seorang PRIA dan COWOK

P : Tahu jelas lima tahun lagi ia mau jadi apa


C : Tidak jelas lima menit lagi ia mau berbuat apa

P : Jago membuat wanita merasa tenang


C : Jago membuat cewek merasa senang

P : Bacaannya Jhon Grisham, mainannya golf,


tontonannya CNN
C : Bacaannya Harry Potter, mainannya bilyar,
tontonannya MTV

P : Sebelum umur 30 sudah banyak uang


C : Sebelum umur 30 sudah banyak dosa

P : Seimbang antara penghasilan dan pemasukan


C : Seimbang antara hutang dan pembayaran
minimum

P : Mendukung emansipasi wanita, tapi tetap


membayari bon makan wanita
C: Mendukung emansipasi wanita dengan
membiarkan wanita bayar sendiri

P : Punya akuntan, penjahit dan dokter langganan


C : Punya salon, kafe dan bengkel langganan

P : Meminta Anda nimbrung ngobrol kalau


mamanya menelepon
C : Pura-pura Anda tidak bersamanya jika
mamanya menelepon

P : Putus dengan pasangannya sambil berjabatan


tangan dan mengakui sulitnya menjembatani
perbedaan antar mereka berdua, diiringi
ucapan, "Kita tetap bisa berteman selamanya."
C : Putus dengan pasangannya sambil kabur dari
rumah, merokok berbatang -batang, plus
ucapan, "Jangan undang aku ke pernikahanmu
nanti!"

P : Mencintai wanita 10 % pada pertemuan awal


dan meningkat terus
C : Mencintai wanita 100 % pada pertemuan awal
dan menurun terus

P : Berpikir dewasa seperti orang usia 40 tahun


saat berusia 17 tahun
C : Berpikir kekanakan seperti orang usia 17 tahun
saat berusia 40 tahun

P: Bisa menang hanya dengan otak dalam konflik


C: Cuma bisa ngamuk, adu mulut, n adu otot kalo
konflik

P : Mikirnya "Aku masih kurang pengetahuan,


harus belajar lebh banyak"
C : Mikirnya "Aku yang terhebat di muka bumi,
siapapun aku hadapin !!!"

P: Otak no 1, digabungin otot kalo kepaksa


C: Otot no 1, ditambah otak kalo punya

PESAN YANG BERHARGA

Setiap Hari Dalam Hidupmu adalah ISTIMEWA.....

Sahabatku membuka laci tempat istrinya menyimpan


pakaian dalam dan membuka bungkusan berbahan sutra
"Ini, ......", dia berkata,"Bukan bungkusan yang
asing
lagi".

Dia membuka kotak itu dan memandang pakaian dalam


sutra serta kotaknya. "Istriku mendapatkan ini
ketika
pertama kali kami pergi ke New York, 8 atau 9 tahun
yang lalu.

Dia tidak pernah mengeluarkan bungkusan ini. Karena


menurut dia,hanya akan digunakan untuk kesempatan
yang
istimewa.

Dia melangkah dekat tempat tidur dan meletakkan


bungkusan hadiah didekat pakaian yang dia pakai
ketika
pergi ke pemakaman.

Istrinya baru saja meninggal.

Dia menoleh padaku dan berkata :

"JANGAN PERNAH MENYIMPAN SESUATU UNTUK KESEMPATAN


ISTIMEWA, SETIAP HARI DALAM HIDUPMU ADALAH
KESEMPATAN
YANG ISTI! MEWA !"

Aku masih berpikir bahwa kata-kata itu akhirnya


mengubah hidupku. Sekarang aku lebih banyak membaca
dan mengurangi bersih-bersih. Aku duduk di sofa
tanpa
khawatir tentang apapun. Aku meluangkan waktu lebih
banyak bersama keluargaku dan mengurangi waktu
bekerjaku.

Aku mengerti bahwa kehidupan seharusnya menjadi


sumber
pengalaman supaya bisa hidup, tidak semata-mata> supaya
bisa survive(bertahan hidup) saja.
Aku tidak berlama-lama menyimpan sesuatu. Aku
menggunakan gelas-gelas kristal setiap hari. Aku
akan
mengenakan pakaian baru untuk pergi ke Supermarket,
jika aku menyukainya. Aku
tidak menyimpan parfum specialku untuk kesempatan
istimewa, aku menggunakannya kemanapun aku
menginginkannya.

Kata-kata "Suatu hari ....." dan Satu saat nanti


.."sudah lenyap dari kamusku. Jika dengan melihat,
mendengar dan melakukan sesuatu ternyata bisa
menjadi
berharga, aku ingin melihat, mendengar atau
mela! kukannya sekarang.

Aku ingin tahu apa yang dilakukan oleh istri temanku


apabila dia tahu dia tidak akan ada di sana pagi
berikutnya, ini yang tak seorangpun mampu
mengatakannya.
Aku berpikir, dia mungkin sedang menelepon
rekan-rekannya
serta sahabat terdekatnya. Barangkali juga dia
menelpon teman lama untuk berdamai atas perselisihan
yang pernah mereka lakukan.
Aku suka berpikir bahwa dia mungkin pergi makan
Martabak Spesial, makanan favoritnya.

Semua ini adalah hal-hal kecil yang mungkin akan aku


sesali jika tak aku lakukan, jika aku tahu waktu
sudah
dekat.

Aku akan menyesalinya, karena aku tidak akan lebih


lama lagi melihat teman-teman yang akan aku temui,
juga surat-surat yang ingin aku tulis.

sedih, karena aku tidak sempat mengatakan betapa aku


mencintai orangtuaku, saudara-saudaraku dan
teman2ku.
Sekarang, aku mencoba untuk tidak menunda atau
menyimpan apapun yang bisa membuatku tertawa dan
bisa
membuatku menikmati hidup.
Dan, setiap pagi, aku berkata kepada diriku sendiri
bahwa hari ini akan menjadi hari istimewa.
Setiap hari, setiap jam, setiap menit, adalah
istimewa.

Apabila kamu mendapatkan pesan ini, itu karena


seseorang peduli padamu, dan karena mungkin ada> seseorang yang kamu
pedulikan. Jika kamu terlalu
sibuk untuk mengirimkan pesan ini kepada orang lain dan
kamu
berkata kepada dirimu sendiri bahwa kamu akan
"Suatu saat" itu sangat jauh ...

DAN MUNGKIN TIDAK AKAN PEWRNAH DATANG ....

Pilih Terbuka atau Tertutup, Ya?


Media memiliki jangkauan yang luas terhadap publik. Tapi tidak sedikit perusahaan menutup diri
terhadap pers. Apa untung-ruginya menutup diri terhadap media massa?

Dalam sebuah artikelnya, Hermawan Kartajaya—pakar pemasaran Indonesia—pernah menyebut Donald


Trump sebagai salah satu pebisnis yang paling jeli memanfaatkan media massa. Trump dikenal sebagai
orang yang tidak pernah menjauhi pers, justru sebaliknya, di berbagai kesempatan, dia malah
mendekatinya. Bukan apa-apa, Trump sangat paham, media massa bisa menjadi corong untuk kepentingan
bisnisnya. Trump juga terkenal cerdik meng-create berita yang diinginkan media.

Tapi, tidak sedikit pemilik merek yang justru alergi terhadap media massa. Mereka mengambil kebijakan
untuk tidak membuka diri terhadap media massa. Sikap alergi terhadap pemberitaan media ini dipicu
kekhawatiran berita yang keluar tidak sesuai keinginan mereka. Atau terjadi pembelokkan opini oleh media
yang bersangkutan. Biar aman, mereka lebih memilih berkomunikasi dengan customer lewat iklan atau
advertorial.

Unilever dikenal sebagai salah satu perusahaan terbuka yang lebih suka memilih komunikasi lewat iklan.
Perusahaan ini sempat sulit ditembus media untuk sharing berita. Kabar yang beredar, alasan menutup diri
dari pemberitaan agar para manajer di perusahaan ini bersikap low profile, sehingga tidak perlu “bersaing”
publisitas di media. Tapi, itu dulu. Sekarang, perusahaan consumer goods itu sangat welcome terhadap
pemberitaan media. Meski lebih banyak menggunakan jawaban tertulis, lewar PR-nya, Unilever sangat
ringan menjawab berbagai kebutuhan pemberitaan media massa.

Mitra
Maria D. Dwianto, External Communications Manager PT Unilever Indonesia Tbk, mengungkapkan, media
bukanlah pihak yang harus dihindari. Sebaliknya, media merupakan pihak yang harus dijadikan mitra dalam
mengembangkan perusahaan. Apalagi, diakui Mia (nama panggilan akrab Maria D. Dwianto), media
merupakan alat pembentuk opini yang sangat powerful di masyarakat. Itulah alasan, mengapa Unilever
berusaha transparan dengan media sebagai salah satu stake holder-nya. “Bagi kami, saat ini media
merupakan mitra strategis dalam meraih pertumbuhan yang lebih tinggi melalui peningkatan citra korporat,
sejalan dengan citra yang terproyeksi melalui pemberitaan di media massa,” paparnya.

Keuntungan bersikap terbuka dengan pers, menurut Mia, pihaknya dapat memberikan informasi yang
lengkap dan akurat sesuai dengan sudut pandang perusahaan. Dengan demikian, pemberitaan yang
dipublikasikan media akan memuat sudut pandang perusahaan. Hanya saja, bebernya, tidak semua
informasi secara detil bisa disampaikan ke publik lewat wartawan. Sejumlah informasi sengaja tidak bisa di-
sharing karena bersifat confidential. Misalnya, informasi mendetil tentang strategi perusahaan atau
mengenai kinerja keuangan korporat dan kinerja keuangan brand—selain dari kinerja keuangan korporat
yang dimuat dalam laporan keuangan perusahaan. Alasannya, agar tidak dimanfaatkan oleh kompetitor.

Mia juga menjelaskan, bersikap terbuka terhadap wartawan merupakan pilihan yang lebih baik karena dapat
menghindari pemberitaan yang tidak seimbang dan tidak sesuai dengan sudut pandang korporat. Kondisi
seperti ini jelas akan merugikan korporat karena bisa menimbulkan citra yang kurang baik terhadap
perusahaan. “Ini sangat penting dalam membangun citra positif perusahaan dan brand-brand-nya, yang
dalam jangka panjang akan semakin meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap Unilever,”
tandasnya.

Lebih Kredibel
Donald Trump sangat paham bahwa pemberitaan lewat media atau publicity memiliki kredibilitas yang
sangat tinggi. Pasalnya, informasi tersebut ditulis oleh orang ketiga secara objektif yang tidak punya
kepentingan terhadap sumber berita, kecuali berita itu sendiri. Publik pun menerima pemberitaan sebagai
informasi yang lebih terpercaya dan akurat. Berbeda dengan publicity, iklan sudah dipahami sebagai
“jualan” sehingga bobot nilainya berada di bawah publicity. Meskipun ada sejumlah pemilik merek yang
mencoba mencari jalan keluar dengan cara meluncurkan advertorial (kependekan dari advertising dan
editorial), tetapi publik atau konsumen tetap mengkategorikannya sebagai iklan.

Keuntungannya, selain sangat credible dan powerful, publicity juga tidak menghajatkan pemilik merek untuk
membayar space di media alias gratis. Donald Trump, tanpa mengeluarkan bajet promosi yang besar,
mampu menyampaikan keunikan produknya kepada publik. Contohnya, ketika dia membangun gedung di
New York, media langsung menjadikannya sebagai sumber berita karena mampu menciptakan “isu” yang
menjadi incaran media. Saat itu, Trump meniupkan berita bahwa gedung yang dibangunnya itu dikhususkan
untuk para selebriti Holywood. Kontan media pun ingin tahu seperti apa gedung yang menarget para
seleberiti itu. Walhasil, target market membaca pemberitaan media. Dengan demikian, gedung tersebut
mendapatkan publisitas tanpa harus beriklan.
Tetapi, tidak semua perusahaan selalu melihat sisi positif dari pemberitaan. Menurut Maria Wongsonagoro,
pengamat kehumasan dari Trisakti, perusahaan punya kebijakan sendiri untuk mengatur hubungan dengan
pihak luar termasuk dengan media massa. Pada saat tertentu, perusahaan enggan berurusan dengan
media karena sedang melalui periode yang sensitif. Atau ada juga perusahaan yang menentukan periode
tenggang untuk tidak berhubungan dengan media. Apalagi, imbuhnya, tidak semua informasi bisa dibuka ke
publik.

Terbuka dengan media, papar Maria, membuka jalan bagi perusahaan untuk menyampaikan pesan sesuai
dengan sudut pandang mereka. Tetapi, tambahnya, perusahaan juga punya kekhawatiran terhadap media.
Jika informasi yang diberikan perusahaan di-misinterpretasi, maka yang muncul adalah dampak negatifnya.
Karenanya, perusahaan-perusahaan memilih kebijakan untuk mengatur hubungan dengan media.

Meski begitu, saran Maria, perusahaan sangat perlu menjalin hubungan dengan media massa, sebab pada
saat-saat tertentu, mereka memerlukan penyebaran-penyebaran pesan kepada customer atau stake holder-
nya. “Kita kan tidak bisa menjamin kalau perusahaan itu tidak akan kena isu. Kalau ada keperluan yang
berhubungan dengan isu tertentu, misalnya, bisa tersalurkan dengan baik karena terjalin hubungan dengan
media secara baik,” paparnya.

Setidaknya, papar Maria, keberhasilan menjalin hubungan dengan media, paling tidak, menghasilkan
banyak share of voice. Menurutnya, banyak contoh sebuah perusahaan atau brand lebih berhasil karena
lebih banyak diliput media daripada kompetitornya. (Tajwini Jahari & Miranda Hutagalung/Majalah
Marketing).

Takut
"Jangan takut untuk merasa takut. Perasaan takut kita justru bisa
menjadi sahabat kita yang baik."

Suatu ketika, dalam sebuah acara kantor, kami mengundang Aa Gym. Sambil menunggu giliran
beliau berbicara, kami bersantap malam bersama. Sudah bisa diduga, komunikasi jadi tidak
imbang. Kami banyak "menginterogasi" beliau, dan beliau menjawab satu per satu pertanyaan
kami dengan sabar dan penuh semangat. Pertanyaan kami beragam, mulai dari soal bagaimana
mengelola jadwalnya yang padat sampai dengan bagaimana memelihara stamina tubuh.

Salah satu pertanyaan yang kami ajukan adalah, bagaimana Aa menggali ide bahan ceramah,
menghayatinya, serta menyampaikannya dengan logika yang sangat baik tetapi tetap dengan
bahasa yang sederhana. Salah satu trik, menurutnya adalah dengan mengalaminya sendiri.
"Kalau saya mau bicara soal perasaaan takut, misalnya, maka saya harus tahu bagaimana sih
rasanya takut itu ..." katanya. "Pada saat ceramah, gagasan akan mengalir begitu saja."
demikian kira-kira penjelasan Aa.

Semua orang, berapa pun usianya, pasti memiliki rasa takut. Bahkan orang yang mengaku
pemberani pun pasti mempunyai perasaan takut ini. Tetapi celakanya memang ada semacam
"nota kesepahaman" manusia di dunia ini bahwa manusia penakut akan dianggap rendah
dibandingkan dengan mereka yang disebut pemberani. Bukankah para pemberani di acara
TV Fear Factor, bisa mendapatkan (baca: dihargai) 1 juta dollar untuk aksi-aksi berani mereka?
Tetapi, sekali lagi jangan pernah merasa aneh jika Anda mempunyai perasaan takut.

Perasaan takut adalah manusiawi, dan justru perasaan takut kita bisa menjadi sahabat yang
paling baik. Ia akan memberikan alert, memberikan peringatan akan satu hal dan kemudian
mengarahkan kepada tindakan-tindakan apa yang harus kita tempuh. Dan semua itu
berlangsung sedemikian cepat sehingga kita bahkan tidak menyadari bahwa kita justru
sedang "dibimbing" oleh perasaan takut kita. Seorang rekan wanita merasa takut untuk menyetir
kendaraan melewati perempatan Cempaka Putih karena banyak kasus perampasan terjadi di
sana. Perasaan takutnya ini secara tidak disadari selalu mengarahkan dirinya mencari jalur
alternatif yang lebih aman. Seorang eksekutif sangat takut gagal. Dan itu membuatnya ia
sangat "alert" dengan faktor-faktor penyebab kegagalan, sehingga dalam proses
pengambilan keputusan, sejauh mungkin ia menghindarkan diri untuk kompromi dengan faktor-
faktor yang bisa menyebabkan kegagalan. Sebaliknya ia mengarahkan dirinya kepada aspek
lain yang lebih mengarah kepada keberhasilan.

Jadi jangan takut untuk merasa takut. Yang Anda perlu takutkan adalah apabila Anda mulai
ketakutan, karena ketakutan berbeda dengan perasaan takut. Secara psikis, seseorang dalam
keadaan ketakutan dikategorikan tidak sehat, sedangkan sekedar merasa takut adalah wajar.
Aa Gym justru menciptakan rasa takut untuk merasakan dan menghayati rasa takut itu, tetapi
tidak menjadi ketakutan. Jadi sesungguhnya rasa takut kita adalah sahabat terbaik yang kita
miliki.
Selamat pagi dan selamat bekerja.

Senangkan Mereka Semasa Hidup

Usia ayah telah mencapai 70 tahun, namun tubuhnya masih kuat. Dia mampu
mengendarai sepeda ke pasar yang jauhnya lebih kurang 2 kilometer untuk
belanja keperluan sehari-hari. Sejak meninggalnya ibu pada 6 tahun
lalu, ayah sendirian di kampung. Oleh karena itu kami kakak-beradik 5
orang bergiliran menjenguknya.

Kami semua sudah berkeluarga dan tinggal jauh dari kampung halaman di
Teluk Intan. Sebagai anak sulung, saya memiliki tanggung jawab yang
lebih besar. Setiap kali saya menjenguknya, setiap kali itulah istri
saya mengajaknya tinggal bersama kami di Kuala Lumpur.

"Nggak usah. lain kali saja.!"jawab ayah. Jawaban itu yang selalu
diberikan kepada kami saat mengajaknya pindah. Kadang-kadang ayah
mengalah dan mau menginap bersama kami, namun 2 hari kemudian dia minta
diantar balik. Ada-ada saja alasannya.

Suatu hari Januari lalu, ayah mau ikut saya ke Kuala Lumpur. Kebetulan
sekolah masih libur, maka anak-anak saya sering bermain dan
bersenda-gurau dengan kakek mereka. Memasuki hari ketiga, ia mulai
minta pulang. Seperti biasa, ada-ada saja alasan yang diberikannya. "Saya
sibuk,ayah. Tak boleh ambil cuti. Tunggulah sebentar lagi. akhir minggu ini
saya akan antar ayah," balas saya. Anak-anak saya ikut membujuk kakek mereka.
"Biarlah ayah pulang sendiri jika kamu sibuk. Tolong belikan tiket bus
saja ayah." katanya yang membuat saya bertambah kesal. Memang ayah pernah
berkali-kali pulang naik bus sendirian.

"Nggak usah saja yah." bujuk saya saat makan malam. Ayah diam dan lalu
masuk ke kamar bersama cucu-cucunya. Esok paginya saat saya hendak
berangkat ke kantor, ayah sekali lagi minta saya untuk membelikannya
tiket bus. "Ayah ini benar-benar nggak mau mengerti yah. saya sedang
sibuk, sibuuukkkk!!!" balas saya terus keluar menghidupkan mobil.

Saya tinggalkan ayah terdiam di muka pintu. Sedih hati saya melihat
mukanya. Di dalam mobil, istri saya lalu berkata, "Mengapa bersikap
kasar kepada ayah? Bicaralah baik-baik! Kasihan khan dia.!" Saya terus
membisu.

Sebelum istri saya turun setibanya di kantor, dia berpesan agar saya
penuhi permintaan ayah. "Jangan lupa, Pa.. belikan tiket buat ayah,"
katanya singkat. Di kantor saya termenung cukup lama. Lalu saya meminta
ijin untuk keluar kantor membeli tiket bus buat ayah.

Pk. 11.00 pagi saya tiba di rumah dan minta ayah untuk bersiap. "Bus
berangkat pk. 14.00," kata saya singkat. Saya memang saat itu bersikap
agak kasar karena didorong rasa marah akibat sikap keras kepala ayah.
Ayah tanpa banyak bicara lalu segera berbenah. Dia masukkan
baju-bajunya kedalam tas dan kami berangkat. Selama dalam perjalanan,
kami tak berbicara sepatah kata pun.

Saat itu ayah tahu bahwa saya sedang marah. Ia pun enggan menyapa
saya.! Setibanya di stasiun, saya lalu mengantarnya ke bus. Setelah itu saya
Pamit dan terus turun dari bus. Ayah tidak mau melihat saya, matanya
memandang keluar jendela. Setelah bus berangkat, saya lalu kembali ke
mobil. Saat melewati halaman stasiun, saya melihat tumpukan kue pisang
di atas meja dagangan dekat stasiun. Langkah saya lalu terhenti dan
teringat ayah yang sangat menyukai kue itu. Setiap kali ia pulang ke kampung, ia
selalu minta dibelikan kue itu. Tapi hari itu ayah tidak minta apa pun.

Saya lalu segera pulang. Tiba di rumah, perasaan menjadi tak menentu.
Ingat pekerjaan di kantor, ingat ayah yang sedang dalam perjalanan,
ingat Istri yang berada di kantornya. Malam itu sekali lagi saya
mempertahankan ego saya saat istri meminta saya menelpon ayah di
kampung seperti yang biasa saya lakukan setiap kali ayah pulang dengan bus.
Malam berikutnya, istri bertanya lagi apakah ayah sudah saya hubungi.
"Nggak mungkin belum tiba," jawab saya sambil meninggikan suara.

Dini hari itu, saya menerima telepon dari rumah sakit Teluk Intan.
"Ayah sudah tiada." kata sepupu saya disana. "Beliau meninggal 5 menit
yang lalu setelah mengalami sesak nafas saat Maghrib tadi." Ia lalu
meminta saya agar segera pulang. Saya lalu jatuh terduduk di lantai
dengan gagang telepon masih di tangan. Istri lalu segera datang dan bertanya,
"Ada apa, bang?"
Saya hanya menggeleng-geleng dan setelah agak lama baru bisa berkata,
"Ayah sudah tiada!!"

Setibanya di kampung, saya tak henti-hentinya menangis. Barulah saat


Itu saya sadar betapa berharganya seorang ayah dalam hidup ini. Kue
pisang, kata-kata saya kepada ayah, sikapnya sewaktu di rumah,
kata-kata istri mengenai ayah silih berganti menyerbu pikiran.

Hanya Tuhan yang tahu betapa luluhnya hati saya jika teringat hal itu.
Saya sangat merasa kehilangan ayah yang pernah menjadi tempat saya
mencurahkan perasaan, seorang teman yang sangat pengertian dan ayah
yang sangat mengerti akan anak-anaknya. Mengapa saya tidak dapat
merasakan perasaan seorang tua yang merindukan belaian kasih sayang

anak-anaknya sebelum meninggalkannya buat selama-lamanya.

Sekarang 5 tahun telah berlalu. Setiap kali pulang ke kampung, hati


saya bagai terobek-robek saat memandang nisan di atas pusara ayah. Saya
tidak dapat menahan air mata jika teringat semua peristiwa pada
saat-saat akhir saya bersamanya. Saya merasa sangat bersalah dan tidak dapat
memaafkan diri ini.

Benar kata orang, kalau hendak berbakti sebaiknya sewaktu ayah dan ibu
masih hidup. Jika sudah tiada, menangis airmata darah sekalipun tidak
berarti lagi.

Kepada pembaca yang masih memiliki orangtua, jagalah perasaan mereka.


Kasihilah mereka sebagaimana mereka merawat kita sewaktu kecil dulu.

SUAMI ISTRI .....

Perlukah Berdoa Bersama?

Ibadah!
Orang segera berpikir bahwa kata "ibadah" sangat erat kaitannya
dengan kebaktian bersama , seperti misa atau kebaktian lain. Orang
yang beribadah biasanya memang berada di rumah kebaktian atau di
dalam pertemuan doa. Tetapi ibadah juga dapat dilakukan secara
individual, berdua atau juga dalam kehidupan yang nyata, ibadah itu
juga dapat dibaca orang lain, melalui praktik iman.

Ibadah!

Secara individual mari kita bicarakan perannya, dalam lingkup suami-


istri dan keluarga, dalam ibadah kelompok kecil.

Pertanyaan: Sungguh perlukah suami dan istri berdoa bersama-sama?

Kapan Berdoa Bersama

Rumah tangga adalah unit terkecil dari sebuah lembaga agama.


Suasana akrab dengan sesama tampak dalam lingkup keluarga.
Suami-istri saling memahami, anak-anak memahami orang tua
mereka, begitu pula sebaliknya. Jadi, dalam doa, mereka mengerti
betul apa yang mereka kehendaki bersama. Berbeda dengan
kebaktian di gereja. Di gereja, semua orang datang berkumpul dan
mendoakan hal yang sama namun tidak selamanya mengerti betul
keperluan masing-masing. Tetapi, di dalam keluarga, ayah mendoakan
anak-anak mereka, anak-anak mendoakan orang tua mereka, ibu
mendoakan kesejahteraan semua keluarga.

Masing-masing individu di dalam keluarga mengerti betul apa yang


mereka doakan. Begitu yakin atas permintaan mereka itu, karena
suasana akrab ada di dalam mereka, tanpa rasa curiga. Karena saling
mempedulikan, mereka berada di dalam persatuan dan kesatuan.
Permintaan mereka jelas dan Tuhan yang mereka sembah dan yakini
ada dan mendengar doa mereka. Sebagaimana mereka melihat
kenyataan bahwa orang tua, bapak dan ibu mereka ada di tengah-
tengah mereka, demikian pulalah mereka memastikan bahwa Bapa
yang di surga itu pun

mendengar doa mereka dengan kapasitas dan kenyataan yang tidak


meragukan.

Kapan berdoa bersama?

Pada waktu anak-anak bangun, dapat diadakan ibadah singkat,


mendengarkan firman Tuhan sejenak sebelum melakukan kegiatan
sehari-hari. Anak-anak dapat berpartisipasi dalam doa, mendoakan
keperluan keluarga dan diri mereka, didukung anggota keluarga
lainnya.

Pada waktu makan bersama, pemimpin doa dapat bergantian dan


semuanya "mengaminkan" bahwa Tuhan yang memberikan makanan
mereka sehari-hari. Mereka yakin bahwa Tuhan juga akan memberikan
makanan bagi mereka untuk hari esok.

Ketika hendak tidur, anak-anak dan orang tua berdoa


bersama,bersyukur kepada Tuhan karena mereka telah menjalani hari
yang nyaman dan penuh dengan perjuangan, dengan baik. Oleh
karena itu, mereka bersyukur kepada Tuhan bahwa waktu tidur,
istirahat dengan tenang, diberikan Tuhan kepada mereka serta
memohon perlindungan Tuhan, dalam suasana tidur yang tenang ini,
agar Tuhan menjaga mereka sepenuhnya. Mereka sama sekali tidak
berdaya dalam suasana tidur itu sehingga hanya dengan penjagaan
Tuhan saja mereka dapat bangun keesokan harinya.

Begitu pun ketika mereka bangun, mereka berdoa dan bersyukur


kepada Tuhan karena masih diberi kesempatan untuk menjalani hidup
hari ini.Tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari. Hanya Tuhan
yang memiliki hari esok, dan hari esok itu diberikan Tuhan kepada
umat manusia sesuai dengan kehendak-Nya. Setiap hari selalu baru.
Baru bagi umat manusia. Doa-doa yang baru pun disampaikan kepada
Tuhan.

Saat Teduh Untuk Diri Sendiri

Kalau anggota keluarga yang ada masih terlalu kecil dan


individualistis, biasanya ibulah menjadi pihak paling sibuk. Namun
demikian, seorang ibu hendaknya mengambil waktu yang tenang
untuk dirinya sendiri, untuk berjumpa dengan Tuhannya. Banyak
kecemasan yang dirasakan seorang ibu yang tidak pernah dirasakan
atau dicemaskan sang suami. Derita anak adalah derita ibu, kata
ungkapan. "Surga berada di bawah telapak kaki ibu," kata orang lagi.
Jadi derita dan surga ada dan bertumpu pada perilaku kehidupan
seorang ibu.

Oleh karena itu, sudah selayaknya seorang ibu menyediakan waktu


berdoa seorang diri. Manakala semua anggota keluarga sudah tidur
dengan tenang, ia perlu bangun dan berdoa, mengutarakan kepada
Tuhan semua masalah yang dialami, dihadapi dan digelisahkannya.
Saat itu digunakan untuk mencurahkan segenap keluh kesah kepada-
Nya, pelindung yang Maha Tangguh, Maha Kuasa dan tidak pernah
meninggalkan umat-Nya. Yesus Kristus akan mendengarkan doa
seorang ibu karena memang Ia pun pernah merasakan kasih sayang
seorang ibu ketika Ia berada di dunia ini sebagai Anak Manusia, yang
lahir di tengah-tengah keluarga Yusuf dan Maria. Berdoalah kepada-
Nya, hai kaum ibu, Ia akan mendengarkan keluh kesahmu. Tidak ada
kesukaran dunia ini yang tidak pernah dirasakan-Nya, tidak ada derita
manusia seberat derita yang pernah ditanggung-Nya. Dalam usia yang
singkat,sebagai manusia, Ia telah menanggung penderitaan umat
manusia sampai kepada kematian sekalipun.

Utarakanlah persoalanmu kepada-Nya, maka Ia akan memberikan


kekuatan dan jalan keluar yang baik kepadamu. Tidak ada masalah
yang tidak dapat dipecahkan-Nya. Tidak ada kesulitan besar di dunia
ini yang tidak dapat diselesaikan-Nya. Ingatlah, bahwa Dialah pencipta,
penyedia segala keperluan hidup umat manusia dan segala makhluk
yang hidup di bawah langit bumi ini.

Tiada gunung kesulitan yang tidak dapat didaki bersama Yesus Kristus.
Tidak ada lembah derita yang begitu dalam yang tidak dapat dijangkau
Yesus Kristus. Tidak ada laut perjuangan hidup yang paling kuat
gelombangnya yang tidak dapat diteduhkan oleh Kristus. Tidak ada
penyakit yang begitu parah yang tidak dapat disembuhkan oleh
Kristus. Tidak ada lembah maut yang begitu kelam yang tidak dapat
ditaklukkan oleh Kristus. Tiada tangisan yang begitu sedih yang tidak
dapat dihiburkan oleh Kristus. Tengadahkan wajahmu ke atas, ulurkan
tanganmu dua-duanya kepada-Nya, maka Ia akan melihatmu dan
mengulurkan tangan pertolongan untukmu.

Gunakanlah saat teduh itu dengan hati sungguh-sungguh.

Ketika Jarak Memisahkan Suami dan Istri

Kehidupan kota yang begitu rumit dan dinamis membuat suami dan
istri bekerja di tempat yang berbeda dan jauh jaraknya. Karena "jarak"
ini banyak godaan yang dihadapi kedua belah pihak. Iblis mencari
celah-celah untuk merenggangkan hubungan suami dan istri karena
jarak ini.

Mungkin, Hawa ( Eva ) cepat jatuh ke dalam godaan ular itu karena ia
berjauhan dari Adam. Dalam jarak yang berjauhan ini, perhatian
kadang-kadang terpusat pada sesuatu yang menggoda itu saja, dan
tidak menyadari bahaya yang mengancam. Bahaya itu muncul bukan
secara tiba-tiba. Datangnya sangat pelahan dan halus, nyaris tidak
terasa dan tahu-tahu kita sudah terperangkap di dalamnya. Waktu dan
tempat sangat memegang peranan penting dalam "penggodaan."
Semakin jauh Anda dari pusat kendali, semakin berkurang tenaga
pengendalian Anda.

Doa adalah komunikasi dengan Tuhan. Seringlah berdoa di mana pun


Anda berada. Seorang istri yang jauh dari suaminya harus menyiapkan
diri untuk lebih banyak berdoa, baik untuk suaminya dan juga untuk
dirinya sendiri. Doa akan meneguhkan iman, memberikan ketentraman
kepada jiwa dan mendatangkan keteduhan bagi batin dan perasaan.
Juga bagi sang suami, banyak godaan di tempat pekerjaan yang dapat
membuat perhatiannya untuk sementara jauh dari kepentingan
keluarga.

Kepeduliannya terhadap keluarga hendaknya diungkapkan


dalam doa dan Tuhan akan mengatasi jarak itu serta
menanamkan "rasa rindu" di dalam diri masing-masing
anggota keluarga, untuk berkumpul bersama-sama. Tuhan itu
Maha Tahu dan Maha Kuasa. Ia mengetahui kekurangan-kekurangan
umat-Nya dan mampu memberi kekuatan kepada mereka apabila
mereka memohon pertolongan kepada-Nya. Ia akan menjawab pada
waktu yang tepat.

Suami yang jarang berdoa, lebih dekat kepada bencana yang dapat
muncul sewaktu-waktu. Istri yang lupa berdoa, berarti membiarkan
pencobaan mengancam rumah tangganya dan kemungkinan akan
lebih banyak menuai ketidakbahagiaan.

Doa yang Efektif

Bagaimana cara berdoa yang efektif? Tanyakan kepada diri kita


sendiri.

Di dalam lingkungan keluarga, sebagaimana yang telah kita bicarakan


pada awal tulisan ini, doa yang efektif itu adalah doa yang
disampaikan dengan hati yang tulus, pada saat yang tepat dan
kemudian menunggu jawaban dengan sabar. Doa menjadi efektif kalau
kita membiarkan Tuhan menyelesaikan persoalan bagi kita. Persoalan
kita diselesaikan-Nya? Tanya kita lagi. Ya, dengan semboyan "Ora et
Labora." Berdoa dan bekerja.

Di dalam keluarga, doa yang efektif ialah apabila masing-masing


pasangan memperlakukan pasangannya dengan penuh pertimbangan,
penguasaan diri dan merindukan kesejahteraan pasangannya. Artinya,
saling mendoakan dengan penuh kesungguhan. Tanpa pamrih.
Doa sang suami akan menjadi efektif apabila ia melakukan hal
yang berikut ini:

"Demikianlah juga kamu," kata Petrus dalam 1 Petrus 3:7, "hai suami-
suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih
lemah." Petrus mengungkapkan hubungan suami-istri di sini dengan
pengakuan bahwa pihak istri itu adalah "kaum yang lemah" atau
memang dalam posisi yang lemah menurut pendapat orang pada
zaman itu. Kalau mereka memang lemah maka adalah menjadi
kewajiban yang kuat untuk menolongnya.

Banyak perempuan yang memperjuangkan hak-hak asasi kaumnya,


karena diperlakukan tidak sebagaimana wajarnya sebagai sesama
manusia, juga di dalam keluarga. Sang suami, yang merasa dirinya
kuat, bantulah istrimu yang lemah. Maka doamu akan dijawab oleh
Tuhan. Mengapa suami berdoa kepada Tuhan? Ya, setidaknya karena
ia merasa lemah di hadapan Tuhan untuk menghadapi perjuangan
hidup. Kalau Tuhan menolongnya, pertolongan berikutnya wajarlah
diberikannya kepada istrinya. Dengan demikian, doanya akan dijawab.

Lebih lanjut Petrus mengatakan di dalam ayat yang sama:

"Hormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu


kehidupan, supaya 'doamu jangan terhalang'." (tulisan tambahan
dengan tanda petik dari penulis). Jelas sekali di sini diberikan jawaban
bagaimana doa yang efektif itu. "Hormati mereka sebagai teman
pewaris dari kasih karunia," artinya, ada kesamaan derajat antara
suami dan istri. Doa yang tidak disertai dengan rasa hormat dan kasih
sayang tidak akan dijawab oleh Tuhan. Hal itu dikatakan dengan jelas
di sini. Hal itu juga berarti, bahwa barangsiapa yang menyiksa istrinya,
doanya tidak akan dijawab. Mari kita camkan itu. Sebagai ahli waris
kasih karunia, yakni Kerajaan Allah, istri harus diperlakukan dengan
baik dan ramah, sederajat, karena sama-sama calon warga surga.

Sikap dalam doa, hendaknya diungkapkan dengan rasa hormat dan


ketenangan yang meneduhkan jiwa dan lingkungan. Kalau kita
meminta kepada Tuhan (berdoa), perlukah kita berteriak-teriak seolah-
olah Ia kurang peka terhadap permintaan kita?

Coba kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam
Roma 8:26, "Demikianlah juga Roh membantu kita dalam kelemahan
kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi
Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan
yang tidak terucapkan."
Sang rasul mengatakan di sini bahwa kita ini lemah, dan selalu
memerlukan kekuatan dari Tuhan, bahkan, kadang-kadang seruan kita
tidak terucapkan karena tekanan yang begitu dalam menekan
sanubari kita. Saat hening, saat teduh, saat yang khusyuk, sangat kita
perlukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Kasih Yesus akan senantiasa melindungi kita yang menyandarkan


hidup kedalam tangan penyelenggaraanNya dan bekerja
sama denganNya dalam menjaga kemurnian , baik pribadi maupun
keluarga.

GBU ALL .....

Masalah

"Setiap orang mempunyai masalah. Tetapi masalah terbesar manusia


adalah kebiasaan memelihara masalah itu tetap sebagai masalah."

Sebuah kertas berukuran kartu nama dan berhiaskan dua buah daun berwarna coklat muda dan
krem dibagikan kepada para pelayat yang hadir. Di sana tertulis: "I found that I'm dying in the
young age, ada perasasaan sedih, tetapi tetep berdoa; kalau God's will to make me stay alive so
be it & kalo Tuhan mau Dewi kembali ke sisi-Nya, maka itu juga akan menjadi kebahagiaan
karena bisa bertemu dengan-Nya muka dengan muka." Kutipan itu diakhiri dengan kata-kata
"Dewi, 17 Des 03".

Ratusan pelayat yang hadir dalam upacara doa abu jenazah Dewi di Kampus Universitas Atma
Jaya, Jakarta Selasa 8 July 2004, merasa terharu sekali membaca kutipan yang dipersiapkan
teman-teman baik Dewi itu. Itu adalah kutipan surat Dewi kepada teman-temannya ketika
kesehatannya mulai memburuk akibat kanker darah yang dideritanya sejak lama. Yang
membuat rekan-rekannya semakin kehilangan adalah, sebelum menjalani perawatan di
Singapore, dalam kesehariannya Dewi tetap menunjukkan sikap yang positif dan penuh
semangat. Senyum ramah yang senantiasa menghiasi bibirnya tidak pernah dilupakan teman-
teman kuliahnya. Vonis kematian yang bagi kebanyakan orang akan menjadi masalah besar
tidak sedikit pun mengganggu kegiatannya sehari-hari. Luar biasa.

Dalam menghadapi sebuah masalah, manusia mempunyai sikap beragam. Pertama adalah
jenis manusia yang cepat sekali down, keder apabila dihadapkan kepada satu masalah. For
them, a problem --whatever it is-- is a disaster. Sebisa mungkin masalah dihindari. Jenis yang
lain adalah manusia yang sebenarnya mengerti ada masalah, tetapi mereka keep a distance.
Membiarkan masalah itu, menganggap seolah-olah tidak ada atau berharap atau percaya bahwa
masalah itu akan berlalu begitu saja. Jenis yang terakhir adalah jenis manusia yang
percaya bahwa masalah itu harus dihadapi dan diselesaikan.

Apa pun sikap Anda terhadap segala masalah yang Anda hadapi hari ini, saya mengingatkan
bahwa bagaimana pun, masalah adalah realita yang harus dihadapi. Semakin Anda menghindar
atau mendiamkan sebuah masalah, seperti bola salju yang makin besar menggelinding ke
bawah, ia akan menjadi bom waktu yang sangat dahsyat.

Selamat pagi dan selamat bekerja

Pikiran
"Seperti air yang selalu mencari jalan untuk dirinya sendiri, apa yang selalu kita pikirkan
akan menjadi sumber energi yang mengarahkan tindakan-tindakan kita."

"Apakah ada perasaan putus asa sewaktu terapung di laut sendirian? Misalnya, berpikir
'habislah sudah hidupku' …?" tanya wartawan MetroTV kepada Ari Afrizal, 21, korban gelombang
Tsunami, selama 15 hari 14 malam terapung-apung di lautan lepas. "Tidak!" jawabnya tegas,
"Yang terpikir saya waktu itu, saya mau hidup, saya tidak mau mati!"

Ternyata tekad serta apa yang dipikirkan Ari menjadi kenyataan. Pemuda yang berasal dari desa
Kabong, Aceh Jaya, berhasil diselamatkan kapal Al-Yamamah yang lewat di lokasi 320 kilometer
dari pantai barat Sumatera, 15 hari setelah bencana Tsunami Aceh 26 Desember 2004. Selama
terapung di lautan Ari melawan terik matahari, dinginnya hujan serta pekatnya malam dengan
hanya memakan buah kelapa serta bantuan kayu dan sampan yang hanyut bersama-sama ke
laut. Tekadnya untuk hidup telah membuatnya bertahan selama 15 hari sebelum akhirnya
ditolong awak kapal Al-Yamamah.

Dalam kehidupan sehari-hari, perasaan ragu, takut atau pesimis, seringkali menghantui pikiran
kita. Padahal, pikiran positif, semangat serta tekad merupakan modal awal yang barangkali 50%
akan menjamin keberhasilan pekerjaan dan tugas-tugas kita. Pernahkah kita sadari bahwa apa
yang kita pikirkan sesungguhnya merupakan sumber kekuatan yang luar biasa "dahsyat"?

Dalam khasanah psikologis ini disebut sebagai "Self-fullfiling Phropecy" atau "Pygmalion Effect".
Adalah Robert Merton, seorang profesor sosiologi di Universitas Columbia yang pada tahun 1957
mengembangkan konsep ini. Dalam kajiannya yang terkenal dengan sebutan "Social Theory and
Social Structure", Merton mengatakan (dengan bahasa sederhana) ketika sebuah ekspetasi
sudah dibuat, bahkan ketika itu tidak akurat, kita akan cenderung untuk bertindak melakukan
sesuatu yang konsisten dengan ekspetasi itu. Dan herannya, kebanyakan ekspetasi itu akan
membuahkan hasil nyata, layaknya sebuah proses mejik. Bukankah Ari Afrizal, korban Tsunami
yang terapung di lautan lepas selama 15 hari itu telah membuktikannya? Bahwa apa yang
dipikirkannya tidak mau mati di tengah-tengah laut membuat dirinya bertahan dan bahkan
diselamatkan oleh kapal yang lewat!

Oleh sebab itu, jangan bermain-main dengan pikiran Anda sendiri, Anda harus mengarahkan
pikiran secara positif dan sitematis, karena pikiran Anda akan membawa Anda ke mana akan
menuju. Seorang tokoh pernah mengatakan, "All things, whatever you ask, praying, believe
that you shall receive them, and it will be to you."

Temen-temen kalo lu ditilang di jalan oleh polisi apapun, jangan sekali2


damai atau ngasi duit,bilang tilang aja langsung. hasilnya tuh plokis pasti
bete karena gak dapet duit, kedua, ngurusnya gampang
kok, dan dendanya resmi...begitu sodara..sodara.

Tips nya :
1. kalo lu ditilang di jalan sebenernya ada dua pilihan (gue juga baru tahu), form biru dan form
merah.
2. Form biru adalah kalo lu terima kesalahan lu (artinya lu gak perluberdebat ama hakim). Dgn
form ini lu bayar dendanya di BRI yg ditunjuk, abis bayar denda resmi ke BRI, ambil SIM ato
STNK yg disita ke kantor Ditlantas POLDA Metro di Pancoran,gedung baru, sebelum Gelael arah
cawang. Disini ada ruang khusus loket Tilang, ruang tunggu nyaman ber-AC, dengan hiburan
SateliteTV (norak ya gue)
3. Form merah artinya lu gak terima kesalahan lu, dan dikasi kesempatan untuk berdebat ato
minta keringanan ama hakim. Biasanya tanggal sidang adalah maksimum 14 hari dari tanggal
kejadian,tergantung hari sidang Tilang di PN (Pengadilan Negeri) bersangkutan. Contoh
seandainya ditilang di Kuningan, berarti sidang di PN Jaksel, jl ampera, disini sidang tilang setiap
selasa. Nah oleh polisi, barang sitaan (SIM or STNK) akan disetor ke kantor Ditlantas pancoran
itu sampai dengan H-1 tanggal sidang. Jadi selama masih di pancoran SIM/STNK itu bisa ditebus
tanpa sidang ke PN, cukup ke loket yg gue sebutin tadi, serahin form merah,
bayar dendanya, SIM/STNK balik dengan sukses.

4. H-1 tgl sidang dan seterusnya, SIM/STNK udah dikirim ke pengadilan sesuai daerah perkara,
jadi kudu ditebus di PN masing2

5. Kalo pengen hadir sidang, dateng sesuai tanggal sidang yang tertera disurat Tilang ke PN yg
ditunjuk. Tapi ini gak gue saranin. Kenapa ? karena
antreannya luarbiasa banyak, kita gak punya kesempatan bertemu hakim, karena sidangnya
sebenarnya IN ABSENTIA, dan banyak banget CALO yg nawarin bantuan.
Mending enggak deh

6. Lebih baik cuekin aja tanggal sidang, ambil SIM/STNK terserah elu di hari lain, hindari hari
sidang tilang biar gak rame, terus langsung tuju Loket
khusus Tilang yang ada di masing2 PN. Tunjukin form merahnya, dalam 5 menit SIM/STNK udah
di tangan elu dengan bayar denda resmi. Sebelumnya cermati
berapa denda resminya, biar gak dilebih2in ama petugasnya . Contoh nih, gue tahu denda masuk
jalur cepat (gue naik motor) Rp.15000, petugasnya bilang Rp.15600, dikasi angka 600 seolah2
itu perhitungan rumus2 njelimet, padahal akal2an aja biar ada yg masuk kantong dia. Gue kasi
uang bullet 15.000 dia diem aja kok..hehe

7. Udah ngerti kan. jadi intinya : jangan sekali2 damai ama polisi dijalanan, tilang
mah tilang aja, pilih prosedur sesuai tips diatas, gak usah sidang kalo gak pengen bete, cuekin
calo2 yg nawarin bantuan, bayar denda sesuai tarif resmi. Semua ini demi INDONESIA yg bersih
dan berwibawa gemah ripah loh jinawi...hehehehe

PS : Silakan disebar ke temen2, biar gak ada yg diperas ama plokis, calo dll.

- KEEP SAFETY RIDING & DRIVING -

--regards

Panic Buying Bisa Diciptakan Pemasar


Panic buying tidak hanya terjadi karena faktor ancaman, tetapi bisa juga di-create oleh
pemasar. Harold’s, Harry Potter, dan Avanza sukses menciptakan itu.

Masih ingat antrian panjang di sejumlah SPBU akibat kelangkaan BBM beberapa waktu lalu?
Atau antrian panjang di tengah malam menjelang jam berlakunya tarif baru BBM? Atau ketika
krisis moneter 1997, saat itu rupiah mencapai Rp15.000, sejumlah supermarket diserbu
konsumen yang memborong beras, mie, minyak, susu, dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya?
Itulah fenomena panic buying yang kerap terjadi pada konsumen. Umumnya, “kepanikan” ini
dipicu oleh berbagai isu atau berita tentang kenaikan harga atau kelangkaan barang.
Dalam kasus panic buying, konsumen mengalami kondisi psikologis, mereka tiba-tiba menjadi
takut akan faktor luar yang seolah-olah mengancamnya. Barangkali, realitasnya tidak demikian,
tetapi konsumen seperti itu kehilangan keseimbangan, cenderung emosional, tidak rasional dan
impulsif. Kondisi seperti itu selalu didahului oleh berita atau isu yang dianggap “mengancam”.

Roy Goni, pengamat pemasaran dari Universitas Atmajaya, mengatakan bahwa panic buying
terjadi akibat orang “takut” dan berusaha mempersiapkan segalanya. Apalagi daya beli mereka
tidak bertambah—justru malah menurun—sehingga ketakutan makin luar biasa. Lalu, mereka
berusaha cari aman dengan membeli sejumlah produk. “Panic buying itu kan adalah orang
kehilangan rasa aman. Seakan-akan mereka keluar dari comfort zone-nya,” katanya.

Sementara itu, menurut pengamat prilaku konsumen dari MMUI, Harry Susianto, ada tiga situasi
yang gejalanya hampir sama dengan apa yang disebut sebagai panic buying. Pertama, ketika
konsumen menyerbu merek/produk lantaran merek tersebut dipersepsi sangat bagus atau sangat
murah. Contoh dalam kategori ini adalah mobil Avanza. Banyak konsumen membeli Avanza
hanya lewat secarik kertas yang memuat foto dan spesifikasi yang terbatas, tanpa melihat fisik
dan melakukan test drive. Contoh lainnya, program sale tahunan di Harold’s London yang
langsung diserbu konsumen tanpa pikir-pikir.

Kedua, kendaraan yang kehabisan bensin dan antri di SPBU, juga ibu rumah tangga yang
kehabisan minyak tanah karena isu kelangkaan. Ketiga, seperti terjadi pada saat krisis moneter,
konsumen khawatir harga barang naik sehingga memborong semua sembako.

Bagi Harry, panic buying lebih cocok pada kondisi yang ketiga. Karena barang akan naik harga
atau langka, mereka khawatir (panik) dan memborong barang-barang yang ada. Fenomena ini
terjadi pada barang kebutuhan pokok yang sangat vital dan tidak ada substitusinya.

Bisa Diciptakan
Harry menambahkan, panic buying bisa di-create pemasar, hanya saja bersifat tidak etis. Jika
ketahuan, bisa merusak reputasi merek. Tapi, dalam pengertian yang pertama tadi, banyak
pemasar berhasil menciptakan hal itu.

Harold’s, perusahaan ritel di London, berhasil menciptakan momentum setiap akhir tahun dan
semua orang ingin membeli item produk di sana. Lalu buku Harry Potter. Konsumen berani antri
walaupun tengah malam, hanya untuk mendapatkan buku tersebut karena terbatas. Menurut Roy
Goni, baik Harold’s maupun Harry Potter termasuk kategori “panic buying” (dalam tanda kutip),
karena sebenarnya momentum yang diciptakan bagian dari marketing gimmick. Pemasar
sengaja membuatnya. “Jadi itu memang di-create oleh pemasar,” kata Roy.

Berbeda dengan panic buying yang sesungguhnya, konsumen di-trigger oleh faktor-faktor non
marketing yang memaksa mereka memanfaatkan kesempatan itu lantaran hilangnya rasa aman.

Roy berpendapat, bisa saja pemasar menciptakan panic buying dengan menggunakan marketing
factor. Hanya saja, tidak semua merek mampu melakukannya. Kondisi seperti itu, paparnya,
cuma bisa dilakukan terhadap barang-barang sekunder yang branded, punya ikon dan identitas,
yang bisa membuat orang rela berkorban untuk mendapatkannya. Tanpa identitas, tegas Roy,
orang tidak bakal mau susah payah karena tidak ada value yang diharapkan konsumen. (Tajwini
jahari & Rofian Akbar/Majalah Marketing)
Dua Carrier untuk TelkomFlexi
Rabu, 01 Maret 2006 2:19:49 PM

Jakarta, (Republika) -- Memberikan layanan kepada pelanggan di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten
dengan menggunakan frekuensi 800 Mhz, rupanya hanya soal waktu saja bagi TelkomFlexi. Operator yang
meraih penghargaan Best Operator CDMA versi majalah Seluler ini, bakal memanfaatkan kanal 56 pada
freuensi 800 Mhz.
“Pemerintah telah mengalokasikan dua carrier untuk TelkomFlexi, ” kata Kepala Divisi Flexi, PT Telkom
Indonesia, Dian Rachmawan. Ia menjelaskan dua carrier frekuensi 800 Mhz tersebut berada pada kanal 56.

Tidak hanya dua carrier, bahkan pemerintah berencana menambah dua carrier lagi apabila kinerja
TelkomFlexi semakin baik. “Kalau TelkomFlexi serius mengembangkan layanan, tidak tertutup kemungkinan
pemerintah menambah dua carrier lagi untuk TelkomFlexi,” kata Dian kemudian.

Dengan memiliki empat carrier, Dian menyatakan TelkomFlexi akan mampu memberikan layanan yang
lebih optimal. Termasuk memberikan layanan EvDO (Evolution Data Optimized). Satu carrier setara dengan
1,25 Mhz.

Ihwal layanan EvDO, TelkomFlexi telah melakukan ujicoba pertengahan tahun lalu. Belum diperoleh
kepastian, kapan layanan ini akan dirilis secara komersial kepada masyarakat.

Sekadar mengingatkan, operator CDMA yang memanfaatkan frekuensi 1900 Mhz, harus pindah dari
frekuensi bersangkutan. Pasalnya frekuensi 1900 Mhz dialokasikan untuk layanan GSM generasi ketiga
(3G). Pemerintah memberi batas waktu hingga 31 Desember 2007 kepada StarOne dan TelkomFlexi untuk
meninggalkan frekuensi ini.

Ketika ditanya wartawan, apakah dua carrier tersebut cukup memadai untuk TelkomFlexi untuk melayani
sekitar 1,2 juta pelanggan di DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Dian menyatakan secara teknis dua
carrier cukup memadai untuk memberikan layanan.

“Lebih baik lagi jika carrier lebih banyak,” papar Dian. Untuk kawasan padat pelanggan, diperlukan paling
tidak tiga carrier agar kualitas layanan lebih baik.

Ditemui wartawan usai acara Celluler Award 2006, pekan lalu, Dian menyatakan alokasi frekuensi
disebutnya sebagai respon terhadap keseriusan TelkomFlexi menyediakan layanan telekomunikasi kepada
masyarakat. Hingga pertengahan 2006 TelkomFlexi melayanni sekitar 4,3 juta pelanggan, dengan coverage
lebih dari 200 kota di Indonesia. Jumlah pelanggan dan area layanan yang dimiliki TelkomFlexi, jauh diatas
operator lain berteknologi CDMA. Operator CDMA dengan kategori limited mobility seperti StarOne atau
Esia, area layanannya masih dibawah 50 kota dengan pelanggan dibawah 1 juta.

TelkomFlexi akan segera beralih ke frekuensi 800 Mhz. Layanan ini diperkirakan akan tersedia pada kuartal
pertama tahun 2007. Dian menjelaskan untuk deployment pembangunan infrastruktur dan jaringan,
diperlukan waktu sekitar 8 bulan. “Kalau deployment berlangsung mulai pertengahan tahun ini,
pengoperasian layanan ini akan dinikmati pelanggan pada awal tahun 2007,” kata Dian.

Pihaknya saat ini tengah menyiapkan overlay sebagai antisipasi terhadap perpindahan frekuensi dari 1900
Mhz ke 800 Mhz. Pada overlay ini, TelkomFlexi akan mengoperasikan layanan dengan memanfaatkan dua
frekuensi sekaligus, yakni 1900 Mhz dan 800 Mhz.

Frekuensi 1900 Mhz akan dioperasikan paling lama hingga 31 Desember 2007.“ Frekuensi 1900 Mhz bisa
saja dimatikan sebelum 31 Desember 2007, setelah kami memastikan semua pelanggan telah
memanfaatkan layanan dengan frekuensi 800 Mhz,“ kata Dian.

Sehubungan dengan perpindahan frekuensi tersebut, Dian menganjurkan pelanggan di DKI Jakarta, Banten
dan Jawa Barat menggunakan ponsel berfrekuensi ganda, yakni 1900 dan 800. Dengan ponsel frekuensi
ganda, pelanggan akan nyaman menikmati layanan selama transisi.

“Andaikata kami migrasi ke frekuensi 800 Mhz, pelanggan masih bisa memanfaatkan ponsel yang dimiliki,”
ujar Dian.

Berbicara mengenai layanan pada frekuensi 800 Mhz, Dian memastikan bahwa secara teknis tak ada
berbeda dengan layanan dengan menggunakan 1900 Mhz. “Untuk CDMA frekuensi 800 Mhz sebenarnya
lebih baik. Karena dengan frekuensi yang lebih rendah, perambatan sinyal menjadi lebih kecil, sehingga
menghasilkan kualitas suara yang lebih baik pula,” kata Dian.

Lantas bagaiamana dengan pelanggan yang saat ini menggunakan ponsel dengan frekuensi tunggal 1900
Mhz? Karena kebijakan migrasi frekuensi merupakan kebijakan dari pemerintah, kompensasi kepada
pelanggan karena harus mengganti ponsel, tentu saja menjadi tanggung jawab pemerintah.
“Namun jika ada keputusan pemerintah TelkomFlexi yang harus memberi ganti rugi kepada pelanggan,
kami tentu saja akan tunduk kepada keputusan itu,” ujar Dian. Sejauh ini, belum ada keputusan pemerintah
mengenai hal tersebut. (tar )

Superman
"Bermimpi menjadi superman tidak dilarang, menjadi superman
beneran juga boleh-boleh saja. Yang perlu dikhawatirkan adalah
kalau Anda merasa diri menjadi superman."

Seorang juara dunia tinju kelas berat sedang dalam penerbangan internasional bersama
dengan timnya. Paramugari menegur dengan sopan karena ia ketahuan tidak
mengenakan sabuk keselamatan ketika cuaca buruk. Beberapakali ia ditegur dengan
ramah, tetapi sang juara dunia itu tetap tak bergeming. Terakhir ditegur, sang petinju
tersinggung dan dengan nada arogan ia membalas, "Hey, you know, Superman tidak
memerlukan sabuk keselamatan, tau!". Si pramugari lalu dengan sopan serta
professional mejawab, "I see Sir, do you think that Superman juga perlu naik pesawat?
You can go out and fly anyway ..."

Banyak orang senang disebut sebagai "superman", manusia super, manusia hebat. Itu
sebabnya banyak perlombaan diadakan dan diciptakan untuk sekedar memberikan label
"hebat" kepada seseorang. Di lingkungan kantor pun program rewards/awards sengaja
diciptakan yang konon untuk merangsang produktifitas.

Namun demikian, kalau Anda sudah mulai senang dan menikmati predikat "super" yang
diberikan oleh entah bos, rekan kerja, teman, atau anak buah, apalagi kalau merasa diri
hebat, hati-hati! Pertama, sadarlah bahwa apa pun yang Anda capai, tidak pernah murni
karena kehebatan diri sendiri. Kedua, pengakuan akan kehebatan Anda bukan dari
perasaan anda sendiri, juga bukan dari lontaran kata-kata dan tulisan, tetapi dari sesuatu
yang dihasilkan dan dirasakan oleh orang lain. Nah, semoga kita tidak hanya bisa
merasa hebat, tetapi sungguh-sungguh buah pekerjaan kita memang bisa dirasakan
manfaatnya oleh orang lain. Apabila itu terjadi, Anda tidak usah repot-repot mencari
pengakuan.

Selamat pagi dan selamat bekerja.

Setelah Ekspatriat, Kini Giliran Lokal

Klinik Global Doctor cerdik menangkap pasar ekspatriat. Tapi mengapa mereka juga melirik
pelanggan lokal?

Di mana-mana, pasien pasti ingin service yang memuaskan. Terlebih kaum yang berduit, untuk
mendapatkan layanan prima, mereka tak segan-segan bayar lebih mahal. Sayang, pelayanan di rumah sakit
dan praktik dokter di Indonesia umumnya masih jauh dari memuaskan. Istilahnya, tidak “memanusiakan”
manusia. Tidak heran bila kemudian banyak yang memilih pergi ke luar negeri untuk berobat.

Ironis memang, tapi itu kenyataan. Kebanyakan dokter bekerja secara mekanis. Setelah pasien ditanya
sakit apa, diperiksa sebentar, akhirnya ditutup dengan ucapan, “Ini obatnya. Kalau belum sembuh, kembali
lagi minggu depan.” Tidak banyak basa-basi, yang mungkin justru lebih dibutuhkan pasien. Di sisi lain,
praktik dokter keluarga yang dulu marak, kini sepertinya mulai hilang. Nah, kondisi inilah yang dijadikan
peluang oleh Global Doctor—klinik dengan pelayanan berstandar internasional.

Sentuhan Personal
Adalah Gavin Argyle, yang memelopori klinik ini di Jakarta tahun 2001. Konsepnya waktu itu adalah
menawarkan pelayanan telemedicine untuk para ekspatriat di negara-negara Dunia Ketiga, seperti Cina,
Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Pada 2003, klinik ini diakuisisi oleh MedAire, perusahaan asal Amerika
Serikat. “Kami kemudian tidak memberi pelayanan telemedicine. Karena mahalnya servis tersebut, kami
ganti dengan konsultasi lewat internet,” ujar Rama T Mustika, Director Global Doctor.

Fasilitas yang dimiliki Global Doctor sendiri tergolong lengkap. Ada USG, X-Ray, Medical Check-Up, UGD,
dental clinic, akupuntur, evakuasi medis, dan lain-lain. Mereka didukung enam dokter umum dan sejumlah
dokter spesialis. Tentu saja, semua tenaga medis di sana bisa berbahasa asing.

Menurut Rama, pendekatan mereka adalah kenyamanan dalam pemenuhan kesehatan. Misalnya, dokter di
Global Doctor memberikan waktu konsultasi 15-30 menit. Sistemnya by appointment sehingga pasien cuma
perlu 5–10 menit untuk menunggu giliran. Bahkan, tambah Rama lagi, klinik ini sudah seperti keluarga.
Banyak yang datang ke sana bukan hanya untuk berobat tapi juga “curhat”.

Sentuhan pribadi seperti ini memang menjadi senjata utama Global Doctor. Selain itu, lokasinya cukup
strategis karena dekat kawasan Sudirman. “Kami juga memiliki jaringan dengan klinik Global Doctor lain.
Kami bisa kirim medical record pasien ke dokter-dokter kami di negara lain untuk mendapatkan second
opinion yang lebih baik,” katanya.

Global Doctor menawarkan paket membership dan home visit (untuk pasien “post surgery”). Keanggotaan
ini terdiri dari Classic Plan, Senior Plan, Gold Plan, dan Platinum Plan. Tarifnya dibedakan atas individual
(Rp900 ribu–Rp 4 juta), couple (Rp1,8 juta–Rp6 juta), family (Rp2,7 juta–Rp9 juta), dan corporate.
Fasilitasnya beragam. Gold dan Platinum misalnya, sudah meng-cover evakuasi ke negara asal. Sedang
pada Senior Plan (usia 65 ke atas), dokterlah yang akan berkunjung ke rumah pasien.

Meskipun tarifnya premium, kata Rama, pelanggan merasa nyaman dan puas berobat atau konsultasi ke
sana. Hal itu terlihat dari perkembangan jumlah pasien mereka. Bila awalnya baru 200 orang, tahun lalu
angkanya sudah mencapai 6.000 orang. Rama mengaku selama ini promosinya sederhana saja, cuma
membagikan brosur-brosur (ke kawasan perkantoran, hotel dan kafe yang kerap didatangi turis) serta
publikasi di media kalangan ekspatriat.

Di samping menjadi target, kaum ekspatriat di sini juga merupakan bagian dari promosi. Mereka menjadi
semacam “jaminan” dan pemikat bagi konsumen lokal. “Sebab, kalau bule saja mau datang ke sini, orang
Indonesia tentu juga mau mencoba,” papar Rama.

Tapi ada konsekuensinya, kebanyakan orang jadi mengira Global Doctor hanya khusus untuk kaum
ekspatriat. Saat ini saja, sekitar 80% pelanggan adalah orang asing. Padahal Global Doctor terbuka bagi
umum. Rama mengatakan, mereka ingin komposisinya berubah menjadi 50:50 untuk asing dan lokal.

Kenapa tertarik membidik pasar lokal juga? Alasannya, kaum ekspatriat sifatnya tidak tetap. Rata-rata cuma
2–3 tahun di sini dan hidup sendiri. Sementara orang Indonesia keluarganya banyak, lebih potensial. “Ini
pertimbangan kami. Yang kami sasar adalah orang Indonesia yang peduli pada kesehatan,” kata Rama.
Dan agaknya, untuk meraih itu, diperlukan komunikasi pemasaran yang lebih tepat sasaran.