Anda di halaman 1dari 7

RESUME 3

RELIGION
GRADE IV TERM 2
THEME : ECONOMY POTENTIAL
January 3rd – March 18th 2011
Teacher : Mr. Rafiq

A. Al-Quran Surah Al-Ikhlas

Surah Al-Ikhlas diturunkan di kota Mekkah. Di dalam Al-Quran,

surah ini berada pada urutan ke-112. Surah ini dinamakan “A-Ikhlas”

karena sepenuhnya menegaskan kemurnian keesaan Allah SWT. Tidak

ada sekutu bagi Allah SWT, serta tidak ada sesuatu yang menyamai-

Nya. Hanya kepada Allah kita memohon pertolongan dan petunjuk.

ِ‫حيم‬
ِ ‫ن الّر‬ ِ ‫حَم‬ ْ ‫ل الّر‬ ِّ ‫سِم ا‬
ْ ‫ِب‬
‫{ َوَلْم َيُكن ّلُه‬3} ‫{ َلْم َيِلْد َوَلْم ُيوَلْد‬2} ‫صَمُد‬ ّ ‫ل ال‬
ُّ ‫{ ا‬1} ‫حٌد‬
َ ‫ل َأ‬
ُّ ‫ل ُهَو ا‬
ْ ‫ُق‬
4}‫حٌد‬ َ ‫}ُكُفًوا َأ‬
Artinya: Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, (1) Allah adalah

Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. (2) Dia tiada

beranak dan tiada pula diperanakkan, (3) dan tidak ada seorangpun

yang setara dengan Dia". (4)

B. Kisah Nabi Muhammad SAW

1. Nabi Muhammad SAW. di masa kecil hingga masa


kerasulannya.

Sebelum Islam datang bangsa Arab hidup penuh dengan

kebebasan dan kejahatan. Pada waktu itu berlaku hukum rimba, yaitu

orang yang kuat dialah yang berkuasa dan orang yang lemah akan
ditindas oleh yang kuat. Masyarakat Pada zaman itu dikenal sebagai

masyarakat jahiliyah, artinya masyarakat yang bodoh. Karena mereka

pada zaman itu sebenarnya sudah mengenal Allah tapi mereka tidak

mau menyembah-Nya.

Pada zaman kebodohan (kejahiliyian), lahirlah Nabi Muhammad

saw. sebagai rahmat bagi alam semesta. Nabi Muhammad saw. lahir di

kota Mekah pada hari senin 12 Rabi’ul-awwal tahun Gajah atau tanggal

20 April 571 Masehi. Ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib

dan ibunya bernama Aminah Az-Zuhriyah. Nabi Muhammad saw. lahir

dalam keadaan yatim karena ayahnya telah meninggal dunia sejak ia

masih dalam kandungan ibunya berumur 3 bulan. Ayahnya dimakamkan

di kota Madinah.

Setelah Nabi Muhammad saw. lahir, sudah menjadi kebiasaan

orang Mekah, terutama dalam golongan bangsawan, menyusui dan

menitipkan bayi mereka kepada wanita dusun. Tujuannya agar bayi

tersebut dapat menghirup udara segar dan bersih, serta dapat

berbicara dengan bahasa yang murni dan fasih. Orang yang menyusui

Muhammad pertama kali adalah ibunya sendiri. Setelah ibunya

kemudian disusui oleh Suwaibah Al-Aslamiyah (bekas budak Abu Lahab)

lalu Muhammad disusui oleh Halimah binti Abu Duaib As-Sa’diyah.

Selama empat tahun Nabi Muhammad saw. disusui oleh Halimah. Ia

selalu mendapat rezeki yang melimpah atas berkah memelihara

Muhammad. Pada usia 6 tahun ibunda Muhammad, Aminah, mengajak

Muhammad untuk ziarah ke makam ayahnya, Abdullah, di Madinah.

Ketika pulang ke Mekah, di tengah perjalanan yang tidak jauh dari


Madinah, yaitu Abwa, Aminah jatuh sakit dan kemudian meninggal

dunia. Setelah itu Muhammad menjadi yatim piatu. Sejak ibunya

meninggal, Muhammad diasuh kakeknya yang bernama Abdul Muthalib.

Kakeknya sangat sayang kepada cucunya. Namun, perasaan sayang itu

tidak berlangsung lama. Dua tahun kemudian Abdul Muthalib meninggal

dunia. Sebelum ia meninggal, ia berwasiat agar Muhammad diasuh

pamannya yang bernama Abu Thalib. Abu Thalib adalah seorang

pedagang yang sehari-hari berdagang ke negeri Syam (Syiria). Kasih

sayang pamannya tidak dibeda-bedakan antara Muhammad dan anaknya.

Selama ia mengasuh Muhammad, kehidupan ekonominya semakin

membaik.

Pada usia 12 tahun, Muhammad diajak Abu Thalib berdagang

ke negeri Syam (Syiria). Setelah sampai di Syiria, mereka singgah di

Bushra (suatu kota yang terdapat biara). Di sana mereka bertemu

dengan pendeta Bukhaira yang menasehati Abu Thalib agar dia

mengajak Muhammad segera pulang dan menjaganya baik-baik. Pendeta

menemukan tanda di bahu Nabi Muhammad saw. ia mengatakan kepada

Abu Thalib tanda tersebut menunjukkan bahwa Muhammad kelak

dewasa nanti akan memiliki urusan penting, yaitu menjadi Nabi sebagai

penyelamat manusia dari jalan yang sesat. Segeralah Abu Thalib

membawa Muhammad pulang karena takut akan gangguan orang-orang

Yahudi. Pada usia 15 tahun beliau sudah berani mengikuti perang Fijar

atau Harbul Fijar, yakni perang kesucian; membantu pamannya Zubair

untuk menyediakan perlengkapan perang. Muhammad tumbuh menjadi

anak yang cerdas. Beliau suka membantu pamannya menggembala


kambing dan berdagang. Beliau berperilaku baik dalam kesehariannya.

Beliau terkenal ramah, sopan santun, jujur, dan amanah. Sehingga

beliau mendapatkan gelar Al-Amin, artinya orang yang dapat dipercaya.

Ketika Muhammad berumur 25 tahun, beliau pergi ke negeri Syam yang

kedua kalinya bersama Maisarah pembantu dari seorang janda kaya

raya yang bernama Khadijah. Muhammad diberi kepercayaan oleh

Khadijah untuk berdagang dari modal Khadijah. Muhammad berdagang

dengan jujur sehingga dengan kejujurannya beliau selalu mendapatkan

laba yang banyak. Khadijah bangga kepada Muhammad karena

kejujurannya dalam berdagang. Usaha tersebut melahirkan pertalian

antara keduanya, dan akhirnya keduanya menikah. Ketika itu

Muhammad berumur 25 tahun dan Khadijah berumur 40 tahun.

2. Meneladani Perilaku Nabi Muhammad saw.


Nabi Muhammad saw. sebagai uswatun hasanah (suri

tauladan), maksudnya adalah bahwa pada diri Nabi Muhammad saw.

terdapat contoh-contoh yang baik. Firman Allah SWT :

ُ
‫ة‬
ٌ َ ‫سن‬
َ ‫ح‬
َ ٌ ‫سوَة‬
ْ ‫ل اللهِ أ‬
ِ ْ‫سو‬
ُ ‫ي َر‬ ْ ُ ‫ن ل َك‬
ْ ِ‫م ف‬ َ ْ ‫ل ََقد‬
َ ‫كا‬
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang

baik bagimu “(Q.S. Al-Ahzab: 21).

Semua perilaku Nabi Muhammad SAW. merupakan sifat-sifat

atau akhlak terpuji. Sifat terpuji yang tercermin dalam setiap langkah

beliau antara lain: dipercaya, jujur, pemurah, pengasih, dan penyayang.


a) Dipercaya.

Sejak kecil Nabi Muhammad SAW. telah terlihat tutur kata yang

sopan, jelas, dan tegas, sehingga penduduk Mekah memberikan gelar

“Al-Amin”, artinya dapat dipercaya. Rasulullah tidak pernah dusta

dalam bicara, dan tidak pernah khianat bila dipercaya.

b) Jujur.

Rasulullah menyuruh kita memperhatikan kejujuran, karena di dalam

kejujuran terdapat keselamatan. Rasulullah adalah orang yang memiliki

sifat jujur yang tidak ada bandingannya. Sejak kecil beliau sudah

berani berkata jujur dan yakin sepenuhnya terhadap apa yang

dikatakannya.

c) Pemurah.

Ketika Rasulullah dan pembantunya berjalan, tiba-tiba orang Badui

menarik kerah baju Rasulullah dan dia meminta harta kepada

Rasulullah. Pada saat itu Rasulullah tidak marah, bahkan tersenyum

ramah. Beliau lalu memerintahkan pembantunya untuk memberikan

permintaan orang Badui.

d) Pengasih.

Rasulullah sangat mengasihi kaum yang lemah. Orang-orang yang miskin

dan orang-orang yang lemah adalah termasuk orang yang dekat di hati

Rasulullah.
e) Penyayang.

Rasulullah sayang terhadap anak yatim. Karena orang yang sayang

kepada anak yatim hidupnya penuh dengan keberkahan.

C. Mengenal Asmaul Husna

1. Al-Muqsith artinya Maha Mengadili. Allah SWT pasti mengadili

orang-orang yang durhaka kepada Allah SWT dan mereka akan

menyesal tak berkesudahan.

2. Al-Jaami’, mempunyai arti Maha Penghimpun. Pada hari kiamat,

Allah SWT akan mengumpulkan semua hamba-Nya untuk menerima

balasan atas perbuatan mereka di dunia.

3. Al-Ghaniyy, berarti Maha Kaya. Tiada yang menandingi

kekayaan Allah SWT. Allah SWT adalah sumber kekayaan.

4. Al-Mughniyy artinya Maha Pemberi Kekayaan. Allah SWT

memberi kekayaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki.

5. Al-Maani’ yang berarti Maha Mencegah. Allah SWT dapat

mencegah dan juga memberikan kembali apa yang Allah SWT

limpahkan, tanpa ada yang bisa menghalangi.

6. Ad-Dhaarr, berarti Maha Memberi Derita. Jika Allah SWT

berkehendak memberi derita tidak akan ada yang dapat

menghalangi kecuali Allah SWT sendiri.

7. An-Naafi’, berarti Maha Memberi Manfaat. Jika Allah SWT

berkehendak memberi manfaat dan karunia tidak akan ada yang

dapat menghalangi.
Sumber :
1. Achmad Farichi, dkk, Khazanah Pendidikan Agama Islam 4,
Yudistira : 2007.
2. Bambang Murtedjo, Sirin, Cinta Agama Islam untuk SD Kelas 4,
Ganexa Exact : 2007.
3. Tim Bina Karya Guru, Pendidikan Agama Islam untuk SD kelas 4,
Erlangga : 2006
4. Ariany Syurfah, Multi Intelligences for Islamic Teaching, Syamil
Publishing : 2007
5. Redaksi DAR, Kamus Anak Muslim 3 Bahasa, Mizan : 2001.
6. Aleq Masrofi, dkk, Pendidikan Agama Islam 4, Widya Utama : 2005
7. Rohim Agustjik dkk, Gerakan Moral Asmaul Husna 99, FKA ESQ :
8. M. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi: Asmaul Husna dalam
Perspektif Al-Quran, Lentera Hati : 1998
9. Putri Mokoginta, 99 Asmaul Husna yang Indah, Mediatama Publishing
Group : 2008