Anda di halaman 1dari 15

HUBUNGAN ANTARA BAHASA DAN OTAK,

LOGIKA DAN PIKIRAN DALAM KAJIAN


PSIKOLINGUISTIK
Posted on: January 26, 2010 by: susilo.adi.setyawan

Oleh Susilo Adi Setyawan

PENDAHULUAN

Bahasa adalah medium tanpa batas yang membawa segala sesuatu mampu termuat dalam
lapangan pemahaman manusia. Oleh karena itu memahami bahasa akan memungkinkan
peneliti untuk memahami bentuk-bentuk pemahaman manusia.
Bahasa adalah media manusia berpikir secara abstrak yang memungkinkan objek-objek
faktual ditransformasikan menjadi simbol-simbol abstrak. Dengan adanya transformasi
ini maka manusia dapat berpikir mengenai tentang sebuah objek, meskipun objek itu
tidak terinderakan saat proses berpikir itu dilakukan olehnya (Surya Sumantri, 1998).
Materi bahasa bisa dipahami melalui Linguistik sebagaimana dikemukakan oleh
Yudibrata bahwa linguistik adalah ilmu yang mengkaji bahasa, biasanya menghasilkan
teori-teori bahasa; tidak demikian halnya dengan siswa sebagai pembelajar bahasa,
(1998: 2). Siswa sebagai organisme dengan segala prilakunya termasuk proses yang
terjadi dalam diri siswa ketika belajar bahasa tidak bisa dipahami oleh linguistik, tetapi
hanya bisa dipahami melalui ilmu lain yang berkaitan dengannya, yaitu Psikologi. Atas
dasar hal tersebut muncullah disiplin ilmu yang baru yang disebut Psikolinguistik atau
disebut juga dengan istilah Psikologi Bahasa.
Terkait dengan hal di atas, dapat dikatakan sebenarnya manusia dapat berpikir tanpa
menggunakan bahasa, tetapi bahasa mempermudah kemampuan belajar dan mengingat,
memecakan persoalan dan menarik kesimpulan. Bahasa memungkinkan individu
menyandi peristiwa dan objek dalam bentuk kata-kata. Dengan bahasa individu mampu
mengabstraksikan pengalamannya dan mengkomunikasikannya pada orang lain karena
bahasa merupakan sistem lambang yang tidak terbatas yang mampu mengungkapkan
segala pemikiran.
Berdasarkan pemikiran di atas , dapat dikatakan keterkaitan antara bahasa dan pikiran
adalah sebuah tema yang sangat menantang dalam dunia kajian psikologi. Maka dari itu,
penulis berupaya mengungkap hubungan tersebut dengan menyertakan pandangan dan
konsep dari beberapa ahli yang berhubungan dengan disiplin ilmu ini.

Pengertian Psikolinguistik
Psikologi berasal dari bahasa Inggris pscychology. Kata pscychology berasal dari bahasa
Greek (Yunani), yaitu dari akar kata psyche yang berarti jiwa, ruh, sukma dan logos yang
berarti ilmu. Jadi, secara etimologi psikologi berati ilmu jiwa.
Pengertian psikologi sebagai ilmu jiwa dipakai ketika psikologi masih berada atau
merupakan bagian dari filsafat, bahkan dalam kepustakaan kita pada tahun 50-an ilmu
jiwa lazim dipakai sebagai padanan psikologi. Kini dengan berbagai alasan tertentu
(misalnya timbulnya konotasi bahwa psikologi langsung menyelidiki jiwa) istilah ilmu
jiwa tidak dipakai lagi.
Pergeseran atau perubahan pengertian yang tentunya berkonsekuensi pada objek
psikologi sendiri tadi tentu saja berdasar pada perkembangan pemikiran para peminatnya.
Bruno (Syah, 1995)secara rinci mengemukakan pengertian psikologi dalam tiga bagian
yang pada prinsipnya saling berhubungan. Pertama psikologi adalah studi mengenai ruh.
Kedua psikologi adalah ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental. Ketiga psikologi
adalah ilmu pengetahuan mengenai tingkah laku organisme.
Pengertian pertama merupakan definisi yang paling kuno dan klasik (bersejarah) yang
berhubungan dengan filsafat Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Mereka
menganggap bahwa kesadaran manusia berhubungan dengan ruhnya. Karena itu, studi
mengenai kesadaran dan proses mental manusia pun merupakan bagian dari studi
mengenai ruh.
Ketika psikologi melepaskan diri dari filsafat sebagai induknya dan menjadi ilmu yang
mandiri pada tahun 1879, yaitu saat Wiliam Wundt (1832-1920) mendirikan
laboratorium psikologinya, ruh dikeluarkan dari studi psikologi. para ahli, di antaranya
William james (1842-1910) sehingga pendapat kedua menyatakan bahwa psikologi
sebagai ilmu pengetahuan mengenai kehidupan mental.
Pengertian ketiga dikemukakan J.B. Watson (1878-1958) sebagai tokoh yang radikal
yang tidak puas dengan definisi tadi lalu beliau mendefinisikan psikologi sebagai ilmu
pengetahuan tentang tingkah laku (behavior) organisme. Selain itu, Watson sendiri
menafikan (menganggap tidak ada) eksistensi ruh dan kehidupan mental. Eksistensi ruh
dan kehidupan internal manusia menurut Watson dan kawan-kawannya tidak dapat
dibuktikan karena tidak ada, kecuali dalam hayalan belaka. Dengan demikian dapat kita
katakan bahwa Psikologi behaviorisme adalah aliran ilmu jiwa yang tidak berjiwa.
Untuk menengahi pendapat tadi muncullah pengertian yang dikemukakan oleh pakar
yang lain, di antaranya Crow & Crow. Menurutnya psikologi adalah ilmu yang
mempelajari tingkah laku manusia, yakni interaksi manusia dengan dunia sekitarnya
(manusia, hewan, iklim, kebudayaan, dsb.
Pengertian psikologi di atas sesuai dengan kenyataan yang ada selama ini, yakni bahwa
para psikolog pada umumnya menekankan penyelidikan terhadap perilaku manusia yang
bersifat jasmaniah (aspek pasikomotor) dan yang bersifat rohaniah (kognitif dan afektif).
Tingkah laku psikomotor (ranah karsa) bersifat terbuka, seperti berbicara, duduk,
berjalan, dsb., sedangkan tingkah laku kognitif dan afektif (ranah cipta dan ranah rasa)
bersifat tertutup, seperti berpikir, berkeyakinan, berperasaan, dsb.
Berdasarkan pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa psikologi ialah ilmu
pengetahuan mengenai prilaku manusia baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
Linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa secara ilmiah (Kridalaksana, 1982:
99). Sejalan dengan pendapat di atas Martinet mengemukakan (1987: 19)
mengemukakan bahwa linguistik adalah telaah ilmiah mengenai bahasa manusia.
Secara lebih rinci dalam Webster’s New Collegiate Dictionary (Nikelas, 1988: 10)
dinyatakan linguistics is the study of human speech including the units, nature, structure,
and modification of language ‘linguistik adalah studi tentang ujaran manusia termasuk
unit-unitnya, hakikat bahasa, struktur, dan perubahan-perubahan bahasa’.
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa Linguistik ialah ilmu tentang bahasa
dengan karakteristiknya. Bahasa sendiri dipakai oleh manusia, baik dalam berbicara
maupun menulis dan dipahami oleh manusia baik dalam menyimak ataupun membaca.
Berdasarkan pengertian psikologi dan linguistik pada uraian sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari perilaku berbahasa,
baik perilaku yang tampak maupun perilaku yang tidak tampak.
Untuk lebih jelasnya, mengenai pengertian psikolinguistik berikut ini dikemukakan
beberapa definisi psikolinguistik.
Aitchison (Dardjowidojo,2003: 7) berpendapat bahwa psikolinguistik adalah studi
tentang bahasa dan minda. Sejalan dengan pendapat di atas. Field (2003: 2)
mengemukakan psycholinguistics explores the relationship between the human mind and
language ‘psikolinguistik membahas hubungan antara otak manusia dengan bahasa’.
Minda atau otak beroperasi ketika terjadi pemakaian bahasa. Karena itu, Harley
(Dardjowidjojo,2003: 7) berpendapat bahwa psikolinguistik adalah studi tentang proses
mental-mental dalam pemakaian bahasa.
Sebelum menggunakan bahasa, seorang pemakai bahasa terlebih dahulu memperoleh
bahasa. Dalam kaitan ini Levelt (Marat,1983: 1) mengemukakan bahwa psikolinguistik
adalah suatu studi mengenai penggunaan dan perolehan bahasa oleh manusia.
Kridalaksana (1982: 140) pun berpendapat sama dengan menyatakan bahwa
psikolinguistik adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dengan perilaku
dan akal budi manusia serta kemampuan berbahasa dapat diperoleh.
Dalam proses berbahasa terjadi proses memahami dan menghasilkan ujaran, berupa
kalimat-kalimat. Karena itu, Emmon Bach (Tarigan, 1985: 3) mengemukakan bahwa
psikolinguistik adalah suatu ilmu yang meneliti bagaimana sebenarnya para
pembicara/pemakai bahasa membentuk/ membangun kalimat-kalimat bahasa tersebut.
Sejalan dengan pendapat di atas Slobin (Chaer,2003: 5) mengemukakan bahwa
psikolinguistik mencoba menguraikan proses-proses psikologi yang berlangsung jika
seseorang mengucapkan kalimat-kalimat yang didengarnya pada waktu berkomunikasi
dan bagaimana kemampuan bahasa diperoleh manusia. Secara lebih rinci Chaer (2003:
6) berpendapat bahwa psikolinguistik mencoba menerangkan hakikat struktur bahasa,
dan bagaimana struktur itu diperoleh, digunakan pada waktu bertutur, dan pada waktu
memahami kalimat-kalimat dalam pertuturan itu.
Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan
memahami ujaran. Dalam kaitan ini Garnham (Musfiroh, 2002: 1) mengemukakan
Psycholinguistics is the study of a mental mechanisms that nake it possible for people to
use language. It is a scientific discipline whose goal is a coherent theory of the way in
which language is produce and understood ‘Psikolinguistik adalah studi tentang
mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat
memproduksi atau memahami ujaran’.

Keterkaitan Antara Bahasa dan Pikiran


Pada hakikatnya dalam kegiatan berkomunikasi terjadi proses memproduksi dan
memahami ujaran. Dapat dikatakan bahwa psikolinguistik adalah studi tentang
mekanisme mental yang terjadi pada orang yang menggunakan bahasa, baik pada saat
memproduksi atau memahami ujaran .Dengan kata lain, dalam penggunaan bahasa terjadi
proses mengubah pikiran menjadi kode dan mengubah kode menjadi pikiran. Ujaran
merupakan sintesis dari proses pengubahan konsep menjadi kode, sedangkan pemahaman
pesan tersebut hasil analisis kode.
Bahasa sebagai wujud atau hasil proses dan sebagai sesuatu yang diproses baik berupa
bahasa lisan maupun bahasa tulis, sebagaimana dikemukakan oleh Kempen (Marat,
1983: 5) bahwa Psikolinguistik adalah studi mengenai manusia sebagai pemakai bahasa,
yaitu studi mengenai sistem-sistem bahasa yang ada pada manusia yang dapat
menjelaskan cara manusia dapat menangkap ide-ide orang lain dan bagaimana ia dapat
mengekspresikan ide-idenya sendiri melalui bahasa, baik secara tertulis ataupun secara
lisan. Apabila dikaitkan dengan keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh
seseorang, hal ini berkaitan dengan keterampilan berbahasa, yaitu menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis.
Semua bahasa yang diperoleh pada hakikatnya dibutuhkan untuk berkomunikasi. Karena
itu, Slama (Pateda, 1990: 13) mengemukakan bahwa psycholinguistics is the study of
relations between our needs for expression and communications and the means offered to
us by a language learned in one’s childhood and later ‘psikolinguistik adalah telaah
tentang hubungan antara kebutuhan-kebutuhan kita untuk berekspresi dan berkomunikasi
dan benda-benda yang ditawarkan kepada kita melalui bahasa yang kita pelajari sejak
kecil dan tahap-tahap selanjutnya. Manusia hanya akan dapat berkata dan memahami satu
dengan lainnya dalam kata-kata yang terbahasakan. Bahasa yang dipelajari semenjak
anak-anak bukanlah bahasa yang netral dalam mengkoding realitas objektif. Bahasa
memiliki orientasi yang subjektif dalam menggambarkan dunia pengalaman manusia.
Orientasi inilah yang selanjutnya mempengaruhi bagaimana manusia berpikir dan
berkata.
Perilaku yang tampak dalam berbahasa adalah perilaku manusia ketika berbicara dan
menulis atau ketika dia memproduksi bahasa, sedangkan prilaku yang tidak tampak
adalah perilaku manusia ketika memahami yang disimak atau dibaca sehingga menjadi
sesuatu yang dimilikinya atau memproses sesuatu yang akan diucapkan atau ditulisnya.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan ruang lingkup Psikolinguistik yaitu penerolehan
bahasa, pemakaian bahasa, pemproduksian bahasa, pemprosesan bahasa, proses
pengkodean, hubungan antara bahasa dan prilaku manusia, hubungan antara bahasa
dengan otak. Berkaitan dengan hal ini Yudibrata, (1998: 9) menyatakan bahwa
Psikolinguistik meliputi pemerolehan atau akuaisisi bahasa, hubungan bahasa dengan
otak, pengaruh pemerolehan bahasa dan penguasaan bahasa terhadap kecerdasan cara
berpikir, hubungan encoding (proses mengkode) dengan decoding
(penafsiran/pemaknaan kode), hubungan antara pengetahuan bahasa dengan pemakaian
bahasa dan perubahan bahasa).
Manusia sebagai pengguna bahasa dapat dianggap sebagai organisme yang beraktivitas
untuk mencapai ranah-ranah psikologi, baik kognitif, afektif, maupun psikomotor.
Kemampuan menggunakan bahasa baik secara reseptif (menyimak dan membaca)
ataupun produktif (berbicara dan menulis) melibatkan ketiga ranah tadi.
Istilah cognitive berasal dari cognition yang padanannya knowing berarti mengetahui.
Dalam arti yang luas cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan
pengetahuan.. (Neisser dalam Syah, 2004:22). Dalam perkembangan selanjutnya istilah
kognitiflah yang menjadi populer sebagai salah satu domain, ranah/wilayah/bidang
psikologis manusia yang meliputi perilaku mental manusia yang berhubungan dengan
pemahaman, pertimbangan, pemecahan masalah, pengolahan informasi, kesengajaan, dan
keyakinan.
Menurut Chaplin (Syah, 2004:22) ranah ini berpusat di otak yang juga berhubungan
dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa.
Ranah kognitif yang berpusat di otak merupakan ranah yang yang terpenting Ranah ini
merupakan sumner sekaligus pengendali ranah-ranah kejiwaan lainnya, yaitu ranah
efektif (rasa) dan ranah psikomotor (karsa). Dalam kaitan ini Syah (2004: 22)
mengemukakan bahwa tanpa ranah kognitif sulit dibayangkan seseorang dapat berpikir.
Tanpa kemampuan berpikir mustahil seseongr tersebut dapat memahami dan meyakini
faedah materi-materi yang disajikan kepadanya.
Afektif adalah ranah psikologi yang meliputi seluruh fenomena perasaan seperti cinta,
sedih, senang, benci, serta sikap-sikap tertentu terhadap diri sendiri dan lingkungannya.
Sedangkan, psikomotor adalah ranah psikologi yang segala amal jasmaniah yang konkret
dan mudah diamati baik kuantitas maupun kualitasnya karena sifatnya terbuka (Syah,
2004: 52).
Beberapa ahli mencoba memaparkan bentuk hubungan antara bahasa dan pikiran, atau
lebih disempitkan lagi, bagaimana bahasa mempengaruhi pikiran manusia. Dari banyak
tokoh yang memaparkan hubungan antara bahasa dan pikiran, penulis melihat bahwa
paparan Edward Sapir dan Benyamin Whorf yang banyak dikutip oleh berbagai peneliti
dalam meneliti hubungan bahasa dan pikiran.
Sapir dan Worf mengatakan bahwa tidak ada dua bahasa yang memiliki kesamaan untuk
dipertimbangkan sebagai realitas sosial yang sama. Sapir dan Worf menguraikan dua
hipotesis mengenai keterkaitan antara bahasa dan pikiran.

1. Hipotesis pertama adalah lingusitic relativity hypothesis yang menyatakan bahwa


perbedaan struktur bahasa secara umum paralel dengan perbedaan kognitif non bahasa
(nonlinguistic cognitive). Perbedaan bahasa menyebabkan perbedaan pikiran orang yang
menggunakan bahasa tersebut.
2. Hipotesis kedua adalah linguistics determinism yang menyatakan bahwa struktur
bahasa mempengaruhi cara inidvidu mempersepsi dan menalar dunia perseptual. Dengan
kata lain, struktur kognisi manusia ditentukan oleh kategori dan struktur yang sudah ada
dalam bahasa.

Pengaruh bahasa terhadap pikiran dapat terjadi melalui habituasi dan beroperasinya aspek
formal bahasa, misalnya gramar dan leksikon. Whorf mengatakan “grammatical and
lexical resources of individual languages heavily constrain the conceptual representations
available to their speakers”. Gramar dan leksikon dalam sebuah bahasa menjadi penentu
representasi konseptual yang ada dalam pengguna bahasa tersebut. Selain habituasi dan
aspek formal bahasa, salah satu aspek yang dominan dalam konsep Whorf dan Sapir
adalah masalah bahasa mempengaruhi kategorisasi dalam persepsi manusia yang akan
menjadi premis dalam berpikir, seperti apa yang dikatakan oleh Whorf berikut ini :
“Kita membelah alam dengan garis yang dibuat oleh bahasa native kita. Kategori dan
tipe yang kita isolasi dari dunia fenomena tidak dapat kita temui karena semua fenomena
tersebut tertangkap oleh majah tiap observer. Secara kontras, dunia mempresentasikan
sebuah kaleidoscopic flux yang penuh impresi yang dikategorikan oleh pikiran kita, dan
ini adalah sistem bahasa yang ada di pikiran kita. Kita membelah alam,
mengorganisasikannya ke dalam konsep, memilah unsur-unsur yang penting.”
Bahasa bagi Whorf pemandu realitas sosial dan mengkondisikan pikiran individu tentang
sebuah masalah dan proses sosial. Individu tidak hidup dalam dunia objektif, tidak hanya
dalam dunia kegiatan sosial seperti yang biasa dipahaminya, tetapi sangat ditentukan oleh
simbol-simbol bahasa tertentu yang menjadi medium komunikasi sosial. Tidak ada dua
bahasa yang cukup sama untuk mewakili realitas yang sama. Dunia tempat tinggal
berbagai masyarakat dinilai oleh Whorf sebagai dunia yang sama akan tetapi dengan
karakteristik yang berbeda. Singkat kata, dapat disimpulkan bahwa pandangan manusia
tentag dunia dibentuk oleh bahasa sehingga karena bahasa berbeda maka pandangan
tentang dunia pun berbeda. Secara selektif individu menyaring sensori yangmasuk seperti
yang diprogramkan oleh bahasa yang dipakainya. Dengan begitu, masyarakat yang
menggunakan bahasa yang berbeda memiliki perbedaan sensori pula (Rakhmat, 1999).

Kompleksitas dalam Ujaran dan Pikiran


Pada umumnya suatu pemikiran yang kompleks dinyatakan dalam kalimat yang
kompleks pula. Hal ini, dapat diartikan pula apabila dalam mengungkapkan sebuah
kalimat, dibutuhkan pemikiran yang kompleks. Kompleksitas makna dalam kalimat yang
kompleks muncul, karena dalam kalimat tersebut terdapat proposisi yang jumlahnya
sangat banyak. Dalam penerapan proposisi-proposisi tersebut dapat bertindak sebagai
anak kalimat yang menjadi pelengkap untuk kalimat induk, selain itu, kalimat itu dapat
diperpanjang selama setiap akhir dari kalimat tersebut adalah nomina.
Kompleksitas makna dapat terwujud dalam bentuk-bentuk lain, salah satu penyebabnya
adalah karena keadaan. Menurut kalian psikolinguistik, hal ini terbagi menjadi dua, yakni
netral (unmarked) dan tak netral (marked). Seperti terlihat pada contoh berikut :
1.UNS mempunyai 120.000 mahasiswa yang terbagi menjadi 9 fakultas.
2.UNS mempunyai 70.000 mahasiswi.
Kata mahasiswa pada (a) bersifat netral, karena kata mahasiswa mempunyai arti luas,
yakni semua pelajar baik laki-laki dan perempuan. Sedangkan pada (b) mempunyai
makna pelajar perempuan saja, pada makna ini disebut tak netral, karena telah
mengerucut pada salah satu kelompok jenis kelamin saja.
Dalam sebuah kalimat yang menggunakan bahasa Inggris, netral dan tak netral akan lebih
mudah untuk dijelaskan, seperti pada kalimat berikut ini:
1.How tall is your daughter?
2.How short is your daughter?
Dalam kalimat tersebut jika ditanyakan pada seseorang maka lebih mudah untuk
menjawab pertanyaan (a) daripada (b), karena kalimat (a) mempunyai sifat netral. Dalam
pembelajaran psikolinguistik konsep netral (unmarked) umumnya merujuk pada makna
positif. Dalam bahasa Inggris, kata-kata netral mempunyai sisi kebalikannya, misal happy
menjadi unhappy. Sedangkan pada kata tak netral, misal sad, tidak dapat kita membuat
sisi positifnya.

Hubungan Logika dengan Bahasa


Logika atau dalam terminologi Indonesia disebut “filsafat berpikir” secara umum
merupakan suatu studi tentang manusia, karena yang berpikir itu adalah manusia dan
berpikir merupakan tindakan manusia. Tindakan ini mempunyai tujuan yaitu untuk tahu.
Tahu ini bukanlah suatu alat atau daya pada manusia yang dipunyainya sejak lahir seperti
mata, telinga atau alat indera lainnya, melainkan tahu itu merupakan suatu tindakan yang
mempunyai hasil yang disebut sebagai pengetahuan. Adapun alat atau dayanya disebut
pikir, budi atau akal.
Berpikir tidak dilakukan manusia sejak lahirnya, walaupun kemampuan itu ada, tetapi
pada umumnya mengikuti perkembangan fisik manusia secara biologis. Jadi kemampuan
berpikir pada manusia merupakan kemampuan potensial. Berpikir pada prakteknya
tidaklah terlalu mudah; dalam konteks ini dapat dikatakan bahwa mungkin orang salah
dalam berpikir, bukan karena pengetahuannya yang salah, melainkan karena jalan
pikirannya yang tidak lurus atau tidak menurut aturan. Misalkan dikatakan terhadap
seseorang yang berbelanja agak berlebih-lebihan serta tidak menawar-nawar; ‘ah itu
orang Jakarta’, hal yang demikian itu disebut tidak logis, sebab walaupun mungkin benar
bahwa orang yang berbelanja demikian itu orang Jakarta, tapi tidak semua orang Jakarta
selalu bertindak demikian kalau berbelanja.
Sebaliknya jika dikatakan orang: A sama dengan B, dan B sama dengan C, maka A sama
dengan C. Itu segera nampak kelurusan dari jalan pikiran tersebut, logislah itu, kata
orang. Jadi rupa-rupanya adalah aturan berpikir yang tak boleh dilanggar. Suatu tugas
ilmiah mencari aturan berpikir ini supaya dikatahui, kalau ada pelanggaran aturan atau
penyelewengan dari jalan berpikir yang lurus, maka dicobalah oleh para ahli pikir untuk
memenuhi tugas itu, hasilnya memang bermanfaat sekali bagi manusia yang hendak
berpikir. Pengetahuan itu merupakan bagian dari filsafat dan disebut orang dengan istilah
“logika”. Tugas logika ialah memberikan penjelasan bagaimana orang seharusnya
berpikir. Ada juga yang mengatakan bahwa logika itu mengutarakan teknik berpikir,
yaitu cara yang sebenarnya untuk berpikir.
Pikiran merupakan juru kunci didalam berlogika, sebenarnya apakah yang disebut dengan
pikiran itu? Apakah semua orang sudah menyadari bahwa pikiran bisa bekerja sendiri
secara otomatis dan juga bisa bekerja dengan tuntunan si pemilik pikiran?
Sebagaimana telah kita ketahui sebelumnya bahwa ilmu logika pada dasarnya adalah
untuk mempelajari hukum-hukum, patokan-patokan dan rumus-rumus berpikir. Sekarang
yang menjadi pertanyaan kita adalah apakah semua pemikiran yang sering kita
kemukakan dan pemikiran seseorang yang disampaikan kepada kita bisa dinilai logis atau
tidak?
Membicarakan hal serupa ini serasa gampang-gampang susah, gampang karena bagi
kebanyakan kita yang disebut berpikir ya berpikir aja. Tinggal ngikuti naluri saja, apa
yang kita rasakan, apa yang kita yakini, bagaimana pikiran kelompok kita, bagaimana
kecenderungan pribadi kita, bagaimana kepribadian dan sugesti-sugesti apa yang kita
dapatkan, maka itulah yang akan kita sampaikan sebagai buah pikiran.
Namun demikian, diluar itu masih ada juga dari sebagian kita yang mengemukakan buah
pikirannya dengan mengikuti luapan emosi seperti caci maki, kata pujian atau pernyataan
keheranan dan kekaguman. Membicarakan pikiran juga bisa menjadi susah jika kita harus
menilai hasil buah pikiran yang disampaikan itu, apakah sudah benar atau salah? Sudah
bertujuan “baik” atau “jahat” , bertujuan mengatakan fakta apa adanya atau hanya
sekedar ingin memutar balikkan fakta, bertujuan untuk memperoleh keuntungan pribadi
dan kelompok atau untuk tujuan kebenaran dan lain-lain.
Bagaimana cara kita untuk mengetahui apa yang disampaikan seseorang dalam buah
pikirannya adalah merupakan tugas ilmu logika untuk mengukurnya. Ilmu Logika akan
menyelediki, menyaring dan menilai buah pikiran seseorang dengan cara serius dan
terpelajar serta bertujuan mendapakan kebenaran terlepas dari segala kepentingan
perorangan dan kelompok. Logika akan merumuskan, menetapkan patokan-patokan dan
memberikan hukum-hukum yang harus ditaati agar manusia bisa berpikir benar, efisien
dan teratur.
Sekarang yang menjadi perhatian kita adalah, bagaimana caranya ilmu logika melakukan
hal serupa diatas?
Logika melakukan hal serupa diatas bisa dengan dua cara, pertama dengan meneliti
logika formalnya, yaitu melakukan penelitian terhadap kaidah logikanya, hukum-hukum
logikanya dan patokan-patokan yang digunakan, apakah sudah benar atau masih salah
dalam menarik kesimpulan atau konklusinya.
Kedua dengan melakukan penelitian terhadap logika materialnya, apakah sudah ada
persesuaian antara pikiran yang diutarakan dengan kenyataan. Sampai disini ada
perbedaan sedikit, apa yang bisa dilakukan oleh ilmu logika material dengan apa yang
bisa dilakukan oleh ilmu spiritual semacam tawasuf dan irfan. Bagi ilmu logika material,
mengukur kebenaran buah pikiran itu tidak lebih dari meneliti kesatuan (non kontradiksi)
antara apa yang diucapkan berdasarkan buah pikiran dengan apa yang bisa dilihat sebagai
fakta. Apakah buah pikiran sesuai dengan kenyataan atau tidak.
Bagi logika, ucapan adalah buah pikiran. Pikiran hanya bisa berbuah jika dia diucapkan
melalui suara, ucapan, tulisan atau isyarat. Isyarat adalah perkataan yang dipadatkan,
karena itu ia adalah perkataan juga. Jadi pikiran dan perkataan adalah identik, tidak
berbeda satu sama lain dan yang satu bukan tambahan bagi yang lainnya. Dan bagi
logika, susunan kata-kata yang keluar melalui ucapan, isyarat dan tulisan seseorang
adalah ‘data’ dan data itu disebut sebagai premis-premis. Apakah premisnya sudah sesuai
dengan kenyataan yang ada atau tidak.
Pikiran manusia pada hakikatnya selalu mencari dan berusaha untuk memperoleh
kebenaran. Karena itu pikiran merupakan suatu proses. Dalam proses tersebut haruslah
diperhatikan kebenaran bentuk dapat berpikir logis. Kebenaran ini hanya menyatakan
serta mengandaikan adanya jalan, cara, teknik, serta hukum-hukum yang perlu diikuti.
Semua hal ini diselidiki serta dirumuskan dalam logika.
Manusia berpikir itu untuk tahu. Kalau ia berpikir tidak semestinya mungkin ia tidak
akan mencapai pengetahuan yang benar. Tak seorang pun mencita-citakan kekeliruan; ia
ingin mencapai kebenaran dalam proses tahu-nya itu. Adapun manusia kalau tahu tentang
sesuatu, ia akan mengakui sesuatu terhadap sesuatu itu. Misalnya, kalau orang tahu
tentang sebuah rumah, mungkin ia tahu juga bahwa rumah itu besar atau kecil. Maka
besar atau kecil ini diakui hubungannya dengan rumah itu. Apa pengetahuan itu juga
tidak merupakan pengingkaran? Misalnya dalam pengetahuan bahwa: “rumah itu tidak
besar” memang menurut bentuknya, ini pengingkaran, negatif. Tetapi pengetahuan yang
sebenarnya adalah positif atau pengakuan. Dalam bentuk ingkar tersebut di atas, orang
tahu bahwa ada rumah besar menurut ukuran positif yang ada padanya. Itu dasarnya dulu,
setelah itu diketahui, maka ternyata bahwa rumah itu tidak mempunyai sifat itu; tetapi
tentu ada yang positif pada rumah itu, misalnya indah, mahal, bersih, dan lain sebagainya.
Pengetahuan adalah positif. Lebih jelasnya hal ini dalam contoh pengetahuan yang
dipunyai orang bahwa: “daun itu tidak merah”. Orang itu tahu benar, bahwa daun itu
hijau atau kuning. Jika ia sekiranya tidak mempunyai pengetahuan yang positif, tak
mungkin ia tahu, bahwa daun itu tidak merah. Memang harus diakui, bahwa menurut
bentuknya mungkin pengetahuan ada yang positif dan ada yang negatif. Tetapi sekali
lagi: dasar pengetahuan adalah positif, sebab jika ada sesuatu yang dihubungkan dengan
sesuatu kedua, maka ‘sesuatu’ itu haruslah positif.
Sebelumnya dikatakan bahwa tahu ialah mengakui hubungan sesuatu dengan sesuatu.
Pengakuan ini bisa nampak, kalau dikatakan, dicetuskan dengan kata atau rentetan kata.
Betul pengetahuan itu tidak selalu dan tidak perlu dicetuskan dengan kata atau dengan
alat pergaulan lain (gerak, tulisan, dan lain-lain), tetapi jika hendak dinampakan kepada
orang lain, maka haruslah dicetuskan dengan alat pergaulan, dan diantara alat itu yang
amat baik adalah bahasa. Adapun bahasa yang utama adalah yang dikatakan, diutarakan
dengan kata, bahasa lisan. Bahasa dengan kata-katanya dipergunakan manusia untuk
mengutarakan isi hatinya. Tiap kata memang mengandung maksud, tetapi dalam bahasa
lisan maksud itu tidak hanya ditunjukan dengan kata saja, melainkan juga diiringi dengan
gerak, ekspresi, dan situasi lainnya.
Namun, sebagai alat pergaulan kita harus membedakan bermacam-macam bahasa. Ada
bahasa lisan yang diucapkan dengan lisan, dan alat pengucap lainnya, dan ada bahasa
tulisan, serta ada bahasa gerak. Dalam ilmu, terutama dalam logika, bahasa itu harus bisa
mencerminkan maksud setepat-tepatnya. Lain halnya dengan bahasa yang dipergunakan
dalam kesusasteraan. Di situ yang diutamakan adalah keindahan bahasa. Memang
maksud juga penting, tetapi di samping maksud ada faktor indah. Jadi bahasa menurut
caranya mengutarakan ada bahasa lisan, tertulis, dan gerak. Menurut tujuannya ada
bahasa kesusasteraan dan bahasa ilmiah. Dalam bahasa ilmiah, pengemasan bahasa yang
disampaikan haruslah logis, karena ilmiah artinya berbicara tentang pengetahuan, dan
tahu ini mengikuti aturannya sendiri, yaitu logika.
Bahasa kesusasteraan tidak selalu dan juga tidak mungkin selalu logis, karena logika
bukanlah satu-satunya faktor penting dalam dunia kesusteraan. Seringkali seakan-akan
bahasa kesusasteraan memperkosa logika seperti dalam ungkapan: putri malam, keluar
masuk, kepala surat atau guru kepala, minum teh, dan lain sebagainya. Walaupun
memang tidak logis, tetapi kita tahu maksudnya.
Bagaimanapun coraknya, bahasa selalu merupakan bentuk berpikir, karena dari bahasa
kita dapat tahu maksud orang berbahasa itu. Sebagai bentuk berpikir, bahasa disebut
penjelmaan berpikir. Sebagai penjelmaan berpikir bahasa menampakan manusia. Itu
sebabnya maka ada bermacam-macam bahasa yang berlainan susunan dan bentuk
kalimatnya, juga dalam pembentukan kata-katanya.
Oleh karena manusia yang berpikir itu merupakan kesatuan dan keseluruhan, maka
bahasanya pun merupakan kesatuan dan keseluruhan. Bahasa merupakan sesuatu yang
hidup dan dinamis. Seringkali perkembangan bahasa tidak selaras dengan perkembangan
masyarakat yang mempunyainya, sehingga kerapkali ada kepincangan antara manusia
dengan bahasanya, sebab bahasanya tidak mau “di-per-alat” begitu saja. Dalam ilmu dan
pengetahuan modern yang dahulu tidak dipunyai oleh masyarakat tertentu, maka manusia
mudah berkenalan dengan maksud atau pengertian baru, tetapi itu tak dapat dikatakan
dalam bahasanya sendiri. Hal yang demikian ini kita alami dalam bahasa kita maka kita
cari dan kita bentuk kata majemuk baru, kita terima pembentukan dari kata asal yang
sudah kita miliki tetapi bentuk yang lajim belum ada; adapula kita pinjam saja dari kata
asing, entah dari bahasa asing kuno, maupun yang modern; bagaimanapun, kita harus
punya kata, sebab kita harus dapat mengatakan isi hati kita. Itulah pikir berpengaruh
kepada bahasa, tetapi pembentukan kata baru dan kalimat baru sebagai pencerminan
pikiran baru ini, harus juga selalu dalam kerangka bahasanya. Perkosaan terhadap
susunan bahasa sendiri, akan mengakibatkan bahasa takkan dipahami oleh masyarakat
yang berbahasa itu. Itulah pengaruh bahasa terhadap pikir.
Bukanlah tugas logika untuk menyelidiki bahasa, walaupun bagaimana eratnya hubungan
logika dengan bahasa. Dalam tulisan ini dikemukakan sedikit soal bahasa, karena bahasa
adalah pencerminan dan alat berpikir manusia. Tugas logika ialah meneropong tentang
hal berpikir manusia dan mencoba memberi penjelasan bagaimana manusia dapat
berpikir dengan semestinya untuk dapat mencapai kebenaran.
Secara singkat logika dapat dikataka sebagai ilmu pengetahuan dan kemampuian untuk
berpikir lurus. Ilmu pengetahuan sendiri adalah kumpulan pengetahuan tentang pokok
tertentu. Kumpulan ini merupakan suatu kesatuan yang sistematis serta memberikan
penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Penjelasan ini terjadi dengan
menunjukkan sebab musababnya.
Logika juga termasuk dalam ilmu pengetahuan yang dijelaskan diatas. Kajian ilmu logika
adalah azas-azas yang menentukan pemikiran yang lurus, tepat, dan sehat. Agar dapat
berpikir seperti itu, logika menyelidiki, merumuskan, serta menerapkan hukum-hukum
yang harus ditepati. Hal ini menunjukkan bahwa logika bukanlah sebatas teori, tapi juga
merupakan suatu keterampilan untuk menerapkan hukum-hukum pemikiran dalam
praktek. Ini sebabnya logika disebut filsafat yang praktis.
Objek material logika adalah berfikir. Yang dimaksud berfikir disini adalah kegiatan
pikiran, akal budi manusia. Dengan berfkir, manusia mengolah dan mengerjakan
pengetahuan yang telah diperolehnya. Dengan mengolah dan mengerjakannya ia dapat
memperoleh kebenaran. Pengolahan dan pegearjaan ini terjadi dengan
mempertimbangkan, menguraikan, membandingkan, serta menghubungkan pengertian
satu dengan pengertian lainnya.
Tetapi bukan sembarangan berfikir yang diselidiki dalam logika. Dalam logika berfikir
dipandang dari sudut kelurusan dan ketepatannya. Karena berfikir lurus dan tepat
merupakan objek formal logika. Suatu pemikiran disebut lurus dan tepat, apabila
pemikirn itu sesuai dengan hukum-hukum serta aturan-aturan yang sudah ditetapkan
dalam logika.
Dengan demikian kebenaran juga dapat diperoleh dengan lebih mudah dan aman. Semua
ini menunjukkan bahwa logika merupakan suatu pegangan atau pedoman untuk
pemikiran.
Macam-macam logika.
Logika dapat dibedakan atas dua macam, namun keduanya tidak dapat dipisahkan.
a. Logika Kodratiah
Akal budi (pikiran) bekerja menurut hukum-hukum logika dengan cara spontan. Tetapi
dalam hal-hal tertentu (biasanya dalam masalah yang sulit), akal budi manusia maupun
seluruh diri manusia bisa dipengaruhi oleh keinginan-keinginan dan kecenderungan-
kecenderungan yang subjektif. selain itu, perkembangan pengetahuan manusia sendiri
sangat terbatas.
Hal-hal ini menyebabkan kesesatan tidak terhindarkan. Walaupun sebenarnya dalam diri
manusia sendiri juga ada kebutuhan untuk menghindari kesesatan tersebut. Untuk
menghindari kesesatan itulah, dibutuhkan ilmu khusus yang merumuskan azaz-azaz yang
harus ditepati dalam setiap pemikiran, yaitu logika ilmiah.
b. Logika Ilmiah
Logika ini membantu logika kodratiah. Logika ilmiah memperhalus dan mempertajam
akal budi, juga menolong agar akal budi bekerja lebih tepat, lebih teliti, lebih mudah, dan
lebih aman. Dengan demikian kesesatan dapat dihindarkan, atau minimal bisa dikurangi
dengan kadar tertentu. Logika inilah, yang dimaksud mempunyai hukum-hukum atau
azaz-azaz yang harus ditepati.
Dalam penyelidikan hukum-hukum logika, dapat diuraikan bahwa pemikiran manusia
terjadi tiga unsur. Yaitu pengertian-pengertian atau kata, kemudian kata atau pengetian
itu disusun itu sedemikian tupa sehingga menjadi keputusan-keputusan. Akhirnya
keputusan-keputusan itu disusun menjadi penyimpulan-penyimpulan.
Dapat dijelaskan bahwa hasil yang diperoleh dari mempergunakan suatu teknik (logika),
akan tergantung dari baik-buruknya alat bahasa yang digunakan.
Penggunaan bahasa sebagai alat logika harus memperhatikan perbedaan antara bahasa
sebagai alat logika dan bahasa sebagai alat kesusasteraan. Kita ambil contoh dari
pernyataan “Lukisan itu tidak jelek”, maka yang saya maksud lukisan itu belum dapat
dikatakan indah, atau saya bermaksud lukisan itu belum dapat dikatakan indah, namun
saya tidak berani untuk mengatakan bahwa lukisan itu jelek. Logika hanya dapat
memperhitungkan penilaian-penilaian yang isinya dirumuskan secara seksama, tanpa
suatu nilai perasaan.
Penggunaan bahasa sebagai alat dari logika masih memiliki kekurangan. Contohnya puisi
yang diubah ke dalam bentuk prosa. Puisi tadi akan kehilangan nilai puisi-nya, pikiran
yang tadi muncul didalam puisi dengan indahnya tidak lagi menghantarkan maknanya
kepada si pembaca. Hakekat kesusastraan berada di atas hubungan dan batas-batas
logika, bahkan keindahana dalam puisi bertentangan syarat-syarat logika.
Begitu pula terjadi didalam peribahasa, perumpamaan-perumpamaan yang timbul dalam
kehidupan sehari-hari mungkin dapat dimengerti seperti “bintang lapangan”, “kupu-kupu
malam”. Syarat-syarat logika dalam pembentukan peribahasa diabaikan didalam susunan
kata –katanya dan isinya. Bahasa sebagai alat logika memiliki kekurangan–kekurangan,
karena sebagaian besar bahasa berkembang dan dipengaruhi oleh proses berpikir secara
pre-logis (tidak logis) seperti simbolisme didalam mitologi.
Jadi,bahasa memiliki dua fungsi yang dilihat dari segi perkembangannya. Bahasa lebih
mudah digunakan pada kesusastraan daripada sebagai alat pemikiran ilmiah umumnya
khususnya pada logika.

Hubungan Bahasa, Otak, dan Pikiran dalam pembelajaran Berbasis Peta Pikiran
Setiap manusia lahir dengan segala potensi yang dimiliki, termasuk potensi pikiran.
Namun, pada praktik pembelajaran, penggunaannya masih jauh dari optimal. Hal ini
tercermin dari berbagai kesulitan yang muncul pada pembelajaran, seperti kesulitan
dalam memusatkan perhatian atau mengingat, yang berujung pada rendahnya hasil
pembelajaran. Dalam praktik pembelajaran di sekolah, kondisi ini masih diperburuk oleh
praktik pembelajaran yang keliru, seperti pemberian tambahan pembelajaran baik di
dalam maupun di luar sekolah. Padahal proses tersebut, hanya dapat bermakna repetisi
dari proses pembelajaran sebelumnya dan tidak memberi nilai tambah bagi pemahaman
siswa. Pembelajaran tidak hanya terbatas pada membaca buku atau mendengar
pengajaran yang tidak memberi pemahaman. Pembelajaran melibatkan pemikiran yang
bekerja yang bekerja secara asosiatif, sehingga dalam setiap pembelajaran terjadi
penghubungan antar satu informasi dengan informasi yang lain. Pembelajaran sangat erat
kaitannya dengan penggunaan otak sebagai pusat aktivitas mental mulai dari
pengambilan, pemrosesan, hingga penyimpulan informasi. Dengan demikian,
pembelajaran merupakan proses sinergisme antara otak, pikiran dan pemikiran untuk
menghasilkan daya guna yang optimal.
Untuk mengoptimalkan hasil pembelajaran, maka proses pembelajaran harus
menggunakan pendekatan keseluruhan otak. Ketika manusia berkomunikasi dengan kata-
kata, otak pada saat yang sama harus mencari, memilah, merumuskan, merapikan,
mengatur, menghubungkan, dan menjadikan campuran antara gagasan-gagasan dengan
kata-kata yang sudah mempunyai arti itu dapat dipahami. Pada saat yang sama, kata-kata
ini dirangkai dengan gambar, symbol, citra (kesan), bunyi, dan perasaan. Sekumpulan
kata yang bercampur aduk tak berangkai di dalam otak, keluar secara satu demi satu,
dihubungkan oleh logika, di atur oleh tata bahasa, dan menghasilkan arti yang dapat
dipahami.
Salah satu upaya yang dapat digunakan dalam membuat citra visual dan perangkat grafis
lainnya sehingga dapat memberikan kesan mendalam adalah peta pikiran. Peta Pikiran
merupakan teknik pencatat yang dikembangkan oleh Tony Buzan dan didasarkan pada
riset tentang cara kerja otak. Peta Pikiran menggunakan pengingat visual dan sensorik
alam suatu pola dari ide-ide yang berkaitan. Peta ini dapat membangkitkan ide-ide
orisinil dan memicu ingatan yang mudah. Oleh karena itu, proses pembelajaran
seharusnya dapat menggunakan teknik pencatatan peta pikiran sebagai salah satu cara
belajar yang dapat dilatihkan kepada siswa. Penggunaan Peta Pikiran (Mind mapping)
dalam pembelajaran diarapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan kreativitas siswa.
Belajar Berbasis Peta Pikiran
Belajar didefinisikan sebagai semua perubahan pada kapabilitas dan perilaku organisme,
baik secara mental maupun fisik, yang diakibatkan oleh pengalaman (Yovan, 2008).
Kemampuan belajar merupakan alat andalan dalam mempertahankan kehidupan.
Menurut Potter (2002), ada dua kategori umum tentang bagaimana kita belajar, yaitu
pertama, bagaimana kita menyerap informasi dengan mudah (modalitas), dan kedua cara
kita mengatur dan mengolah informasi tersebut (dominasi otak). Dengan demikian, cara
belajar merupakan kombinasi dari bagaimana menyerap, lalu mengatur, dan mengolah
informasi.
Belajar berbasis pada konsep Peta Pikiran (Mind mapping) merupakan cara belajar yang
menggunakan konsep pembelajaran komprehensif Total-Mind Learning (TML). Pada
konteks TML, pembelajaran mendapatkan arti yang lebih luas. Bahwasanya, di setiap
saat dan di setiap tempat semua makhluk hidup di muka bumi belajar, karena belajar
merupakan proses alamiah. Semua makhluk belajar menyikapi berbagai stimulus dari
lingkungan sekitar untuk mempertahankan hidup.
Dari tinjauan Psikologis, belajar merupakan aktivitas pemrosesan informasi, yang dapat
diartikan sebagai proses pembentukan pengetahuan (proses kognitif). Menurut Peaget,
setiap anak memiliki skema (scheme) yang merupakan konsep atau kerangka yang eksis
di dalam pikiran individu yang dipakai untuk mengorganisasikan dan
menginterpretasikan informasi. Sedangkan menurut Vygotsky, kemampuan kognitif
dimediasi dengan kata, bahasa, dan bentuk diskursus, yang berfungsi sebagai alat
psikologis untuk membantu dan mentransformasi aktivitas mental.
Fakta yang harus disadari, bahwa dunia pembelajaran bagi anak saat ini dibanjiri dengan
informasi yang up to date setiap saat. Ketidakmampuan memroses informasi secara
optimal di tengah arus informasi menyebabkan banyak individu yang mengalami
hambatan dalam belajar ataupun bekerja. Menurut Yovan (2008), hambatan pemrosesan
informasi terletak pada dua hal utama, yaitu proses pencatatan dan proses penyajian
kembali. Keduanya merupakan proses yang saling berhubungan satu sama lain.
Dalam hal pencatatan, seringkali individu tanpa disadari membuat catatan yang tidak
efektif. Sebagian besar melakukan pencatatan secara linear, bahkan tidak sedikit pula
yang membuat catatan dengan menyalin langsung seluruh informasi yang tersaji pada
buku atau penjelasan lisan. Hal ini mengakibatkan hubungan antaride/informasi menjadi
sangat terbatas dan spesifik, sehingga berujung pada minimnya kreativitas yang dapat
dikembangkan setelahnya. Selain itu, bentuk pencatatan seperti ini juga memunculkan
kesulitan untu mengingat dan menggunakan seluruh informasi tersebut dalam belajar atau
bekerja.
Sedangkan dalam hal penyajian kembali informasi, kemampuan yang paling dibutuhkan
adalah memanggil ulang (recalling) informasi yang telah dipelajari. Pemaggilan ulang
merupakan kemampuan menyajikan secara tertulis atau lisan berbagai informasi dan
hubungannya, dalam format yang sangat personal. Hal ini merupakan salah satu indikator
pemahaman individu atas informasi yang diberikan. Dengan demikian, proses
pemanggilan ulang sangat erat hubungannya dengan proses pengingatan atau
remembering.
Salah satu hal yang berperan dalam pengingatan adalah asosiasi yang kuat antarinformasi
dengan interpretasi dari informasi tersebut. Kondisi ini, hanya bisa terjadi ketika
informasi tersebut memiliki representasi mental di pikiran. Contohnya, jika seseorang
ingin mengingat “mobil”, maka sebelumnya ia perlu merepresentasikan mobil dalam
pikirannya, mungkin berupa gambar, merek, harga atau kecepatan. Hubungan tersebut
perlu dipahami secara personal, sehingga setelahnya tercipta representasi mental yang
lebih mudah diingat.
Bentuk pencatatan yang dapat mengakomodir berbagai maksud di atas adalah dengan
Peta Pikiran (Mind Map). Dengan peta pikiran, individu dapat mengantisipasi derasnya
laju informasi dengan memiliki kemampuan mencatat yang memungkinkan terciptanya
“hasil cetak mental” (mental computer printout). Hal ini tidak hanya dapat membantu
dalam mempelajari informasi yang diberikan, tapi juga dapat merefleksikan pemahaman
personal yang mendalam atas informasi tersebut. Selain itu Mind mapping juga
memungkinkan terjadinya asosiasi yang lebih lengkap pada informasi yang ingin
dipelajari, baik asosiasi antarsesama informasi yang ingin dipelajari ataupun dengan
informasi yang telah tersimpam sebelumnya di ingatan. Peta Pikiran merupakan suatu
teknik grafik yang sangat ampuh dan menjadi kunci yang universal untuk membuka
potensi dari seluruh otak, karena menggunakan seluruh keterampilan yang terdapat pada
bagian neo-korteks dari otak atau yang lebih dikenal sebagai otak kiri dan otak kanan.
Mind Mapping bertujuan membuat materi pelajaran terpola secara visual dan grafis yang
akhirnya dapat membantu merekam, memperkuat, dan mengingat kembali informasi
yang telah dipelajari. Mind Mapping adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan
gaya belajar visual. Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak
yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak
maka akan memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk
informasi, baik secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol,
bentuk dan sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.Mind
Mapping yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi pada setiap materi. Hal ini disebabkan
karena berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap saat.
Suasana menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat
proses belajar akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran.
Dengan demikian, guru diharapkan dapat menciptakan suasana yang dapat mendukung
kondisi belajar siswa terutama dalam proses pembuatan Mind Mapping. Proses belajar
yang dialami seseorang sangat bergantung kepada lingkungan tempat belajar. Jika
lingkungan belajar dapat memberikan sugesti positif, maka akan baik dampaknya bagi
proses dan hasil belajar, sebaliknya jika lingkungan tersebut memberikan sugesti negatif
maka akan buruk dampaknya bagi proses dan hasil belajar.

Simpulan
Psikolinguistik adalah studi tentang mekanisme mental yang terjadi pada orang yang
menggunakan bahasa, baik pada saat memproduksi atau memahami ujaran. Hubungan
bahasa dengan pikiran, yaitu dalam penggunaan bahasa terjadi proses mengubah pikiran
menjadi kode dan mengubah kode menjadi pikiran. Ujaran merupakan sintesis dari
proses pengubahan konsep menjadi kode, sedangkan pemahaman pesan tersebut hasil
analisis kode. Pada umumnya suatu pemikiran yang kompleks dinyatakan dalam kalimat
yang kompleks pula. Hal ini, dapat diartikan pula apabila dalam mengungkapkan sebuah
kalimat, dibutuhkan pemikiran yang kompleks. Kompleksitas makna dalam kalimat yang
kompleks muncul, karena dalam kalimat tersebut terdapat proposisi yang jumlahnya
sangat banyak. Dalam penerapan proposisi-proposisi tersebut dapat bertindak sebagai
anak kalimat yang menjadi pelengkap untuk kalimat induk, selain itu, kalimat itu dapat
diperpanjang selama setiap akhir dari kalimat tersebut adalah nomina. Manusia yang
berpikir itu merupakan kesatuan dan keseluruhan, maka bahasanya pun merupakan
kesatuan dan keseluruhan. Bahasa merupakan sesuatu yang hidup dan dinamis. Seringkali
perkembangan bahasa tidak selaras dengan perkembangan masyarakat yang
mempunyainya, sehingga kerapkali ada kepincangan antara manusia dengan bahasanya.
Mind Mapping adalah satu teknik mencatat yang mengembangkan gaya belajar visual.
Mind Mapping memadukan dan mengembangkan potensi kerja otak yang terdapat di
dalam diri seseorang. Dengan adanya keterlibatan kedua belahan otak maka akan
memudahkan seseorang untuk mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik
secara tertulis maupun secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan
sebagainya memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima.Mind Mapping
yang dibuat oleh siswa dapat bervariasi pada setiap materi. Hal ini disebabkan karena
berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap saat. Suasana
menyenangkan yang diperoleh siswa ketika berada di ruang kelas pada saat proses belajar
akan mempengaruhi penciptaan peta pikiran.

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Chaer. 2003. Psikolinguistik: Kajian Teoretik. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Harimurti Kridalaksana. 1982. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.

Mansoer Pateda. 1990. Aspek-aspek Psikolinguistik. Ende Flores: Nusa Indah.

Muhibin Syah. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.


Rakhmat. 1999. Psikologi Komunikasi. Bandung : Rosdakarya.

Samsunuwiyati Marat. 1983. Psikolinguistik. Bandung: Fakultas Psikologi Universitas


Padjadjaran.

Soenjono Dardjowidjojo. 2003. Psikolinguistik: Pengantar Pemahaman Bahasa


Manusia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Sri Utari Subiyakto Nababan. 1992. Psikolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama.

Tadkirotun Musfiroh. 2002. Pengantar psikolinguistik. Yogyakarta: Fakultas Bahasa dan


Seni, Universitas Negeri Yogyakarta.

Yudibrata, dkk. 1998. Psikolinguistik. Jakarta: Depdikbud PPGLTP Setara D-III.