P. 1
Studi Kasus

Studi Kasus

|Views: 446|Likes:
Dipublikasikan oleh Agi Ramdan

More info:

Published by: Agi Ramdan on Jan 24, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/14/2013

pdf

text

original

STUDI KASUS: SIPADAN DAN LIGITAN

KRONOLOGI SENGKETA SIPADAN DAN LIGITAN
Sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan muncul pertama kali pada saat dilakukan perundingan antara Indonesia dan Malaysia mengenai batas landas kontinen Indonesia-Malaysia di Kuala Lumpur pada tanggal 9 sampai 12 September 1969. Pada Saat itu UU No. 4 Tahun 1960 yang memuat peta Wawasan Nusantara kita dimana ditarik dengan garis pangkal yang menghubungkan titik terluar dari pulau-pulau terluar yang dimiliki Indonesia, kedua pulau Sipadan dan Ligitan berada diluar peta tersebut. Sementara itu dari pihak Malaysia juga tidak memuat kedua pulau tersebut dalam peta-peta mereka hingga tahun 1970. Hingga dapat disimpulkan bahwa kedua pulau itu bukan merupakan bukan wilayah Indonesia maupun wilayah Malaysia, Pada perundingan tersebut disepakati oleh kedua belah pihak untuk menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang menyangkut kedua pulau itu sampai penyelesaian sengketa. Namun pada tahun 1970 Malaysia secara sepihak menerbitkan peta baru yang memasukan kedua pulau tersebut ke dalam wilayahnya, dan mulai membangun dan mengelola fasilitas wisata di kedua pulau tersebut. Perundingan mengenai sengketa Pulau Sipadan Ligitan kembali diangkat kembali pada perundingan antara Presiden RI Soeharto dan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad pada tahun 1989 di Yogyakarta. Kesimpulan dari perundingan ini menyatakan bahwa penyelesaian sengkata ini tidak mungkin untuk diselesaikan dalam kerangka perundingan bilateral, akhirnya pada tahun 1997 kedua belah pihak sepakat untuk membawa sengketa tersebut ke Mahkamah Internasional dengan dengan menandatangani dokumen "Special Agreement for the Submission to the International Court of Justice on the Dispute between Indonesian and Malaysia concerning the Sovereignty over Pulau Ligitan and Pulau Sipadan" di Kuala Lumpur pada tanggal 31 Mei 1997. Kesepakatan khusus yang telah ditandatangani itu secara resmi disampaikan kepada Mahkamah Internasional, melalui suatu "joint letter" atau notifikasi bersama, pada tanggal 2 November 1998. Pada tahun itu juga dilakukan proses argumentasi tertulis ("written pleadings") dari kedua belah pihak dianggap selesai pada akhir Maret tahun 2001 di Mahkamah Internasional. Argumentasi tertulis itu terdiri atas penyampaian "memorial", "counter memorial", dan "reply" ke Mahkamah Internasional. Proses penyelesaian sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasional memasuki tahap akhir, yaitu proses argumentasi lisan ("oral hearing"), yang berlangsung dari tanggal 3-12 Juni 2002. Pada kesempatan itu, Menlu Hassan Wirajuda selaku pemegang kuasa hukum RI, menyampaikan argumentasi lisannya ("agent s speech"), yang kemudian diikuti oleh presentasi argumentasi yuridis yang disampaikan Tim Pengacara RI. Mahkamah Internasional kemudian menyatakan bahwa keputusan akhir atas sengketa tersebut akan ditetapkan pada Desember 2002.

SIKAP PEMERINTAH INDONESIA MENGHADAPI SENGKETA SIPADAN DAN LIGITAN Sejak disepakati oleh Indonesia dan Malaysia untuk menahan diri untuk tidak melakukan kegiatankegiatan yang menyangkut pulau Sipadan dan Ligitan sampai penyelesaian sengketa. pada tanggal 17 Desember 2002. karena kedua negara terikat pada prinsip Treaty of Amity and Cooperation. Filipina. Sikap pihak Indonesia yang ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN dan selalu menolak membawa masalah ini ke ICJ kemudian melunak. Pihak Indonesia secara fair play benar-benar tidak melakukan kegiatan apapun. beliau menyatakan bahwa Mahkamah Internasional mengambil keputusan itu bukan karena Argumentasi Malaysia lebih dulu masuk ke Sipadan-Ligitan dan membangun dermaga. Dalam kaitan itu. Mahkamah Internasional di Den Haag menetapkan Pulau Sipadan dan Ligitan menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Kerajaan Malaysia atas dasar efektivitas karena Malaysia telah melakukan upaya administrasi dan pengelolaan konservasi alam di kedua pulau tersebut. Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan PM Mahathir tersebut yang pernah diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar Ibrahim. Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur pada tanggal 7 Oktober 1996. dan Taiwan. Cina. Vietnam. pada awalnya Indonesia menolak penyelesaian lewat pihak ketiga itu dengan alasan yang mendasar. sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta sengketa kepulauan Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam. Malaysia akhirnya dapat membuktikan bahwa Inggris paling awal masuk Sipadan-Ligitan dengan bukti berupa mercusuar dan konservasi penyu. Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) dalam KTT pertama ASEAN di pulau Bali ini antara lain menyebutkan bahwa akan membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak Malaysia menolak beralasan karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk klaim pulau Batu Puteh. dibuatkan kesepakatan "Final and Binding" pada tanggal 31 Mei 1997. yakni penyelesaian masalah kawasan sendiri. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan sepasukan polisi hutan (setara Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara Indonesia serta meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau. tetapi singgah sebentar tanpa melakukan apa pun. namun bukti sejarah yang paling awal masuk Sipadan-Ligitan yakni Inggris (penjajah Malaysia) dan Belanda (penjajah Indonesia) bukti sejarah yang paling awal masuk Sipadan-Ligitan yakni Inggris (penjajah Malaysia) dan Belanda (penjajah Indonesia). Indonesia meratifikasi pada tanggal 29 Desember 1997 dengan Keppres . Pada tahun 1976. Walaupun Malaysia secara terang-terangan mengklaim wilayah tersebut pihak Indonesia tetap acuh dan menyerahkan sepenuhnya keputusan kepemilikan pulau secara sah pada penyelesaian sengketa. Belum lagi. Wakil Menlu pada saat itu Triyono Wibowo mengklarifikasi mengenai hal ini. sebagai sesama negara ASEAN kita masih menjunjung tinggi semangat ASEAN. Salah satu alasannya.Hasilnya. kedua negara menandatangani persetujuan tersebut. Dari awal Malaysia bertekad menyelesaikan sengketa itu melalui Mahkamah Internasional. sedangkan Belanda hanya terbukti pernah masuk ke Sipadan-Ligitan. tanpa campur tangan pihak lain.

dan bukti lain yang disiapkan kedua pihak relatif seimbang. Proses hukum di MI/ICJ ini memakan waktu kurang lebih 3 tahun. Seolah mencari cari alasan. Mahkamah Internasional mengambil dasar efektivitas atau effective occupation dibandingkan dengan mengedepankan landasan batas wilayah menurut batas wilayah terluarnya. Selain itu. Di atas kertas Indonesia tidak kalah . Secara Yuridis Sipadan dan Ligitan jika mengacu pada treaty tersebut adalah milik Indonesia. Dishidros TNI AL. Indonesia mengangkat co agent RI di MI/ICJ yaitu Dirjen Pol Deplu. padahal walupun telah disepakati dari awal untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang menyangkut kedua pulau itu sampai penyelesaian sengketa. Pada saat Written pleading kepada Mahkamah Memorial pada 2 Nopember 1999. dan mulai membangun dan mengelola fasilitas wisata di kedua pulau tersebut. Mengutip salah satu komentar Djoni Djikstra dalam kompasiana.Nomor 49 Tahun 1997 demikian pula Malaysia meratifikasi pada 19 November 1997. beliau mengatakan Mahkamah International (International Court of Justice/ICJ) menghadiahkan Sipadan Ligitan menjadi hak milik malaysia berdasarkan effective occupation. Beberapa pihak mengkaitkan hal ini dengan fasilitas kesehatan untuk Presiden Soeharto di Malaysia. Counter Memorial pada 2 Agustus 2000 dan reply pada 2 Maret 2001. Mahkamah ini justru lebih mengedepankan subsequent conduct dari kedua pengklaim seolah ini adalah sidang hak asuh anak dalam perceraian. dan Dubes RI untuk Belanda. Hal yang sama juga dilakukan pihak Malaysia. Dep. Bupati Nunukan. Namun hasilnya berkata lain. ANALISIS Jika kita lihat Kasus Sipadan dan Ligitan.000 dana telah dikeluarkan yang sebagian besar untuk membayar pengacara. Mabes TNI. Hal inilah yang menjadi sorotan. dimulai dari perundingan terakhir ini pihak Indonesia serius memperjuangkan P.000. Sementara Indonesia acuh dan hanya berdiam diri serta menunggu penyelesaian secara formal dilakukan. Energi dan SDM. peta. dari 17 hakim di Mahkamah Internasional. Malaysia dengan terang-terangan menerbitkan peta baru yang memasukan kedua pulau tersebut ke dalam wilayahnya. Dalam menghadapi dan menyiapkan materi tersebut diatas Indonesia membentuk satuan tugas khusus (SATGASSUS) yang terdiri dari berbagai institusi terkait yaitu : Deplu. satu hal yang dapat kita garis bawahi.com. Sebenarnya jika ditinjau ulang. argumen bahwa garis 4° 10 yang tercantum dalam treaty 1891 dinyatakan bukan merupakan consequences dari intending context of the treaty. Indonesia hanya mendapatkan 1 suara dan 16 suara lain memihak malaysia. Dephan. cukup banyak energi dan dana telah dikeluarkan. Menlu Hassan Wirayuda mengatakan kurang lebih Rp. sebelum Mahkamah Internasional mengambil keputusan berdasarkan perkiraan para pakar atas keputusan Mahkamah Internasional fifty-fifty . karena berdasarkan dasar hukum. Indonesia juga mengangkat Tim Penasehat Hukum Internasional (International Counsels). Selanjutnya proses Oral hearing dari kedua negara bersengketa pada 3 12 Juni 2002 . 16. Depdagri. Ligitan. pakar kelautan dan pakar hukum laut International. Sipadan dan P. Jadi yang mengurusi lebih yang mendapatkan hak asuh.000. Dapat dikatakan.

mengenai kurang tanggapnya Indonesia mengenai permasalahan di wilayahnya sendiri. Selain itu. hal serupa terjadi ketika jejak pendapat di Timtim. . Seharusnya Indonesia memberikan perhatian lebih terhadap wilayah perbatasan. bukan hanya keinginan untuk memiliki suatu daerah tanpa membangun daerah terkait masalah keamanan dan kesejahteraan. pelaksanaan kewenangan secara terus menerus terhadap kedua pulau. Indonesia tidak siap dengan faktor-faktor lain yang mungkin saja menjadi pertimbangan. namun jika kita lihat surat keputusan Mahkamah Internasional.dengan Malaysia namun kenyataanya berkata lain. Sipadan dan Ligitan diberikan kepada malaysia juga atas dasar pemeliharaan dari pemerintah Malaysia setelah ditinggalkan pemerintahan Inggris. Sehingga jika Indonesia tetap seperti sekarang sangat mungkin akan ada Sipadan-sipadan lain yang lepas dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. walaupun dikatakan Wakil Menlu bahwa Mahkamah Internasional memberikan Sipadan dan Ligitan kepada Malaysia atas dasar fakta sejarah. Kita dapat menarik kesimpulan. antara lain misalnya adanya itikad dan keinginan untuk bertindak sebagai perwujudan kedaulatan. Dalam kaitan ini menjelaskan. Mahkamah melihat adanya klaim kedaulatan oleh pihak Malaysia berdasarkan kegiatan-kegiatan yang membuktikan adanya suatu tindakan nyata.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->