Anda di halaman 1dari 19

KUALITAS PENGEMBANAN PROFESI HUKUM

DI INDONESIA

I Made Widana Putra, S.H.

1092461024

PROGRAM MAGISTER KENOTARIATAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2011
BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Fungsi dan jabatan notaris dalam gerak pembangunan nasional yang semakin
kompleks dewasa ini tentunya makin luas dan makin berkembang, sebab kelancaran dan
kepastian hukum segenap usaha yang dijalankan oleh segenap pihak makin banyak dan luas,
dan hal ini tentunya tidak terlepas dari pelayanan dan produk hukum yang dihasilkan oleh
notaris. Pemerintah (sebagai yang memberikan sebagian kewenangan kepada notaris) dan
masyarakat banyak tentunya mempunyai harapan agar pelayanan jasa yang diberikan oleh
notaris benar-benar memiliki nilai dan bobot yang dapat diandalkan.1

Jabatan notaris, selain sebagai jabatan yang menggeluti masalah-masalah teknis


hukum, juga harus turut berpartisipasi aktif dalam pembangunan nasional, oleh karena itu
notaris harus senantiasa selalu menghayati idealisme perjuangan bangsa secara menyeluruh.
Untuk itu (terutama sekali dalam rangka peningkatan jasa pelayanannya) notaris harus selalu
mengikuti perkembangan hukum nasional, yang pada akhirnya notaris mampu melaksanakan
profesinya secara proporsional. Dalam menjalankan tugas jabatannya seorang notaris harus
berpegang teguh kepada kode etik jabatan notaris, kaarena tanpa itu, harkat dan martabat
profesionalisme akan hilang sama sekali. Namun demikian dalam pelaksanaannya sehari-hari
sering ditemukan adanya penyimpangan-penyimpangan maupun pelanggaran-pelanggaran
terhadap kode etik yang dilakukan oleh para notaris.

Pelanggaran terhadap kode etik tidak saja terjadi pada profesi notaris, tetapi secara
umum juga terjadi pada profesi pengembang hukum lainnya. Profesi hukum meliputi polisi,
jaksa, hakim, advokat, notaris, dan lain-lain yang kesemuanya menjalankan aktivitas hukum
dan menjadi objek yang dinilai oleh masyarakat tentang baik buruknya upaya pengembanan
profesi hukum. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan oleh para pengemban profesi
1
Suhrawardi K. Lubis, Etika Profesi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2002, h.35
hukum juga menunjukkan bahwa masih ada pengemban profesi hukum yang tidak
menjalankan kode etik profesinya dengan baik. Hal ini juga menunjukkan kualitas moral
yang tidak baik.

Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan biasanya disebabkan karena pengemban


profesi hukum dalam menjalankan tugas jabatannya berorientasi pada penghasilan
(honorarium) semata. Hal-hal yang melanggar hukum, kode etik profesi, dan moral tetap
dilakukan demi memperoleh klien sebanyak mungkin. Pengemban profesi hukum seperti itu
tidak memandang (dan menghayati) profesinya sebagai suatu pelayanan kepada masyarakat
dan tanpa pamrih.

Setiap manusia, siapa pun dan apa pun profesinya, membutuhkan perenungan-
perenungan atas moralitas yang terkait dengan profesinya, bagitu juga dengan profesi hukum.
Dalam praktiknya, profesi hukum dituntut untuk harus selalu memperhatikan etika dan moral
selama menjalankan tugas-tugasnya. Hal ini tentu wajar karena profesi hukum, terlebih yang
terkait dengan dunia peradilan, sangat rentan dengan masalah-masalah. Dalam penyelesaian
masalah tidak jarang menggunakan jalan pintas yang sebenarnya tidak etis dilakukan oleh
professional yang telah mendapatkan pendidikan hukum.2

Perilaku pengemban profesi hukum yang sangat ironis dengan tugas yang diembannya
menyebabkan masyarakat berpikir bahwa hukum itu kotor, curang, tidak adil, dan lain
sebagainya. Fakta seperti ini menyebabkan ketidakpercayaan masyarakat kepada para
pengemban profesi hukum yang sebenarnya telah mendapatkan gaji yang besar dari negara.
Ketidakpercayaan tersebut berdampak pula pada hukum negara kita yang dirasa tidak
menjamin rasa keadilan dalam masyarakat. Hal ini sungguh berlawanan dengan prinsip
negara hukum yang menjamin rasa keadilan warga negara. Ketidakpercayaan masyarakat
kepada para pengemban profesi hukum juga menunjukkan bahwa rendahnya kualitas
pengembanan profesi hukum.

I.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan 2 (dua)


permasalahan hukum yaitu :

2
Kelik Pramudya dan Ananto Widiatmoko, Pedoman Etika Profesi Aparat Hukum, Pustaka Yustisia,
Yogyakarta, 2010, h.5
1. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan kondisi rendahnya kualitas
pengembanan profesi hukum ?

2. Bagaimanakah cara menguatkan moral agar semuanya tumbuh tertanam integritas


moral yang tinggi ?

BAB II

PEMBAHASAN

II.1. Faktor-faktor Yang Menyebabkan Kondisi Rendahnya Kualitas Pengembanan


Profesi Hukum

Timbulnya ketidakpercayaan masyarakat kepada para pengemban profesi hukum


merupakan bukti bahwa rendahnya kualitas para pengemban hukum. Dalam menjalankan
tugas jabatannya sering terjadi para pengemban profesi hukum mengabaikan etika dan moral,
bahkan telah jamak pula terjadi para pengemban hukum terlibat dalam perbuatan-perbuatan
yang bertentangan dengan etika dan moral, sehingga mereka berstatus tersangka, terdakwa,
atau terpidana. Kata-kata seperti “etika”, “etis” dan “moral” tidak hanya terdengar dalam
ruang kuliah saja dan tidak monopoli kaum cendikiawan. Diluar kalangan intelektual pun
sering disinggung tentang hal-hal seperti itu. Mayarakat awam pun sering menyinggung
tentang hal itu, dan jika kita membaca surat kabar atau majalah, hampir setiap hari kita
menemui kata-kata tersebut.

WJS. Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia mengemukakan bahwa


pengertian etika adalah : ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral).3 Dalam istilah
Latin “ethos” atau “ethikos” selalu disebut dengan mos sehingga dari perkataan tersebut
lahirlah moralitas atau yang sering diistilahkan dengan perkataan moral. Namun demikian,
apabila dibandingkan dalam pemakaian yang lebih luas perkataan etika dipandang sebagai
lebih luas dari perkataan moral, sebab terkadang istilah moral sering dipergunakan hanya
3
Suhrawardi K. Lubis, op.cit, h.1
untuk menerapkan sikap lahiriah seseorang yang biasa dari wujud tingkah laku atau
perbuatannya saja.4 Sedangkan etika dipandang selain menunjukkan sikap lahiriah seseorang
juga meliputi kaidah-kaidah dan motif-motif perbuatan seseorang itu. Kaidah-kaidah, nilai-
nilai, dan norma-norma itu menjadi ukuran moralitas perbuatan. Moralitas merupakan
kualitas perbuatan manusia, dalam arti perbuatan itu baik atau buruk, benar atau salah.
Moralitas perbuatan ditentukan oleh tiga faktor, yaitu motivasi, tujuan akhir, dan lingkungan
perbuatan.5

Dalam sejarah manusia, jenis pekerjaan yang menuntut kepemilikan keahlian dan
keterampilan yang tinggi dalam tatanan pergaulan masyarakat mendapatkan tempat yang
terhormat dalam masyarakat hingga akhirnya memiliki atribut-atribut sarat nilai terhadap
profesi. Franz Magnis Suseno mengemukakan tiga nilai moral yang dituntut dari pengemban
profesi yaitu :6

1. Berani beerbuat dengan bertekad umtuk bertindak sesuai tuntutan profesi.


2. Menyadari kewajiban yang harus dipenuhi dalam menjalankan profesi.
3. Idealisme yang tinggi sebagai perwujudan makna organisasi profesi.

Dalam profesi hukum di Indonesia saat ini mengalami kondisi rendahnya kualitas
pengembanan profesi hukum. Hasil penelitian terhadap 100 responden masyarakat yang
berdomisili di Jakarta, Bandung, berkenaan dengan hal-hal yang menghambat upaya
penegakan kode etik profesi hukum, menunjukkan bahwa kecendrungan melindungi teman
sejawat secara tidak professional berjumlah 29,8 %, masalah cultural 27,2 %, ketidak jelasan
prosedur 14%. Menurut responden jenis pelanggaran kode etik profesi adalah suap,
pemerasan, dan penggelapan barang bukti berjumlah 53,3%. Melanggar sumpah jabatan,
diskriminasi pelayanan, mengancam, memaksa mengaku, menghambat penyelesaian perkara,
kofirasi dan penyalahgunaan jabatan sebesar 31%. Dari hasil penelitian terssebut dapat
disimpulkan bahwa kode etik profesi hukum masih sangat memprihatinkan karena belum
sepenuhnya ditegakkan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pengembanan profesi


hukum di Indonesia. Diabaikannya etika dalam menjalankan kewajiban sebagai profesi
pengemban hukum merupakan faktor utama yang menyebabkan rendahnya kualitas

4
Ibid.
5
Abdulkadir Muhammad, Etika Profesi Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, h.12
6
I Gede A.B. Wiranata , Dasar Dasar Etika dan Moralitas, Citra Aditya Bakti, Bandung, h.250
pengembanan profesi hukum di indonesia. Para pengemban hukum mengabaikan etika
profesi karena lemahnya sanksi dalam kode etik, kode etik tidak mempunyai sanksi yang
keras. Pemberlakuan sanksi yang tertuang dalam rumusan kode etik hanya terbatas pada
strata sanksi moral.

Rendahnya kualitas pengembanan profesi hukum di Indonesia juga dipengaruhi oleh


faktor kesadaran hukum para pengemban profesi hukum. Sudikno Mertokusumo berpendapat
bahwa :

“Kesadaran hukum adalah kesadaran yang ada pada setiap manusia tentang apa
hukum itu atau apa seharusnya hukum itu, suatu kategori tertentu dari hidup kejiwaan
kita dengan mana kita membedakan antara hukum dan tidak hukum (onrecht), antara
yang seyogyanya dilakukan dan tidak seyogyanya dilakukan”.7

Menurut Achmad Ali, kesadaran hukum ada dua macam, yaitu ; kesadaran hukum
positif, identik dengan ketaatan hukum, dan kesadaran hukum negatif, identik dengan
ketikdaktaatan hukum.8 Sedangkan Oetojo Oesman menjelaskan bahwa kesadaran hukum itu
ada dua : kesadaran hukum yang baik , yaitu ketaatan hukum dan kesadaran hukum yang
buruk, yaitu ketidaktaan hukum.9 Kesadaran hukum terbentuk dalam tindakan dan karenanya
merupakan persoalan praktik untuk dikaji secara empiris. Dengan kata lain, kesadaran hukum
adalah persoalan “hukum sebagai perilaku”, dan bukan sebagai aturan, norma atau asas.
Dengan kesadaran hukumnya, seseorang dapat berlaku positif yaitu menaati hukum, tetapi
sebaliknya seseorang juga dapat berperilaku negatif, yaitu melanggar hukum.

Pada dasarnya para pengemban profesi hukum tahu dan memahami perbuatan-
perbuatan yang dilarang oleh kode etik profesi, tetapi secara sadar pula mereka berperilaku
negatif, yaitu melanggar kode etik profesi atau moral. Misalnya saja seorang notaris bahwa
perbuatan “mengirimkan minuta kepada klien untuk ditandatangani” adalah perbuatan yang
dilarang berdasarkan pasal 4 ayat (3) huruf i Kode Etik Notaris, tetapi ia tetap melakukan hal
itu demi memberikan pelayanan “terbaik” kepada kliennya. Ini adalah salah satu contoh
kesadaran hukum yang buruk, identik dengan ketidaktaatan hukum. Kesadaran hukum buruk

7
Sudikno Mertokusumo, Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat, 19 Maret 2008,
http://sudiknoartikel.blogspot.com
8
Achmad Ali, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence), Kencana,
Jakarta, 2009, h. 298
9
Ibid, h.510
ini dipicu oleh adanya keinginan untuk memperoleh penghasilan (honorarium) yang
sebanyak-banyaknya. Dengan kata lain, faktor ekonomi juga menyebabkan rendahnya
kualitas pengembanan profesi hukum.

Untuk menjaga kualitas pengembanan profesi hukum, maka diperlukan adanya badan
atau instansi yang berwenang mengawasi dan memeriksa para pengemban profesi hukum.
Pengawasan terhadap para pengemban profesi hukum pada dasarnya bertujuan agar para
pengemban profesi hukum tetap professional dalam menjalankan tugas jabatannya. Misalnya
sebagai contoh dalam profesi notaris, pengawasan terhadap notaris dilakukan oleh Menteri
sebagaimana diatur dalam pasal 67 ayat (1) Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang
Jabatan Notaris (selanjutnya disingkat UUJN). Dalam melaksanakan pengawasan tersebut
Menteri mebentuk Majelis Pengawas (pasal 67 ayat (2) UUJN). Pasal 67 ayat (3) UUJN
menentukan Majelis Pengawas tersebut terdiri dari 9 (sembilan) orang, terdiri dari unsur :
pemerintah (sebanyak 3 orang), organisasi notaris (3 orang), dan ahli/akademik (3 orang).
Menurut pasal 68 UUJN, bahwa Majelis Pengawas Notaris, terdiri atas ; Majelis Pengawas
Daerah, Majelis Pengawas Wilayah, dan Majelis Pengawas Pusat.

Pengawasan dan pemeriksaaan terhadap notaris yang dilakukan oleh Majelis


Pengawas, yang di dalamnya ada unsur notaris, dengan demikian setidaknya notaris diawasi
dan diperiksa oleh anggota Majelis Pengawas yang memahami dunia notaris. Adanya anggota
Majelis Pengawas dari notaris merupakan pengawasan internal artinya dilakukan oleh sesama
notaris yang memahami dunia notaris luar dalam, sedangkan unsur eksternal yang mewakili
dunia akademik, pemerintah dan masyarakat. Perpaduan keanggotaan Majelis Pengawas
diharapkan dapat memberikan sinergi pengawasan dan pemeriksaan yang objektif, sehingga
setiap pengawasan dilakukan berdasarkan aturan hukum yang berlaku, dan para notaris dalam
menjalankan tugas jabatannya tidak menyimpang dari UUJN dan kode etik notaris karena
diawasi secara internal dan eksternal.

Majelis Pengawas Notaris, tidak hanya melakukan pengawasan dan pemeriksaan


terhadap notaris, tetapi juga berwenang untuk menjatuhkan sanksi tertentu terhadap notaris
yang telah terbukti melakukan pelanggaran dalam tugas jabatan notaris. Salah satu
kewenangan Majelis Pengawas Daerah adalah menyelenggarakan sidang untuk memeriksa
adanya dugaan pelanggaran Kode Etik Notaris atau pelanggaran pelaksanaan jabatan notaris
(pasal 70 huruf a UUJN). Majelis Pengawas Wilayah berwenang memberikan sanksi berupa
teguran lisan atau tertulis kepada notaris, disamping juga beberapa wewenang lainnya (pasal
73 UUJN). Bahwa tujuan dari pengawasan dan pemeriksaan terhadap notaris agar para
notaris ketika menjalankan tugas jabatannya memenuhi semua persyaratan yang berkaitan
dengan pelaksanaan tugas jabatan notaris, demi untuk pengamanan dari kepentingan
masyarakat.10

Meskipun pengawasan dan pemeriksaan terhadap para pengemban profesi hukum,


tetapi pelanggaran-pelanggaran tehadap kode etik profesi hukum masih kerap terjadi, maka
perlu dilakukan penegakan kode etik profesi hukum. Penegakan kode etik profesi akan dapat
mewujudkan manfaat dan tujuan kode etik profesi hukum yang bersangkutan. Penegakan
kode etik profesi tidak akan terlepas dari faktor etika manusianya, artinya dengan perilaku
yang baik dan benar dari manusia maka sudah barang tentu etika yang dirumuskan dalam
kode etik akan mudah untuk ditegakan oleh anggotanya, dijadikan pegangan, dan sebagai
dasar memberikan sanksi bagi anggota profesi yang melanggar kode etik tersebut.

Sama halnya dengan penegakan hukum, penegakan kode etik adalah usaha
melaksanakan kode etik sebagaimana mestinya, mengawasi pelaksanaannya supaya tidak
terjadi pelanggaran, dan jika terjadi pelanggaran memulihkan kode etik yang dilanggar itu
supaya ditegakan kembali, karena kode etik adalah bagian dari hukum positif, maka norma-
norma penegakan hukum juga berlaku pada penegakan kode etik. Kode etik dalam formatnya
yang tertulis adalah sebuah hukum positif yang keberlakuannya terbatas pada lingkup
anggota profesi bersangkutan.

Penegakan kode etik profesi menurut Bintatar Sinaga S.H.,M.H, Iwan Darmawan
S.H.,M.H, Sapto Handoyo DP.,S.H dalam karya ilmiahnya pada Forum Kajian Hukum FH-
UNPAK, adalah sebagai berikut :11

1. Penegakan kode etik adalah usaha melaksanakan kode etik sebagaimana mestinya,
mengawasi pelaksanaannya supaya tidak terjadi pelanggaran. Jika tidak terjadi pelanggaran
maka untuk memulihkannya kode etik yang dilanggar itu supaya ditegakkan kembali.
2. Penegakan kode etik dalam arti sempit adalah memulihkan hak dan kewajiban yang telah di
langgar, sehingga timbul keseimbangan seperti semula. Bentuk pemulihan itu berupa
penindakan terhadap pelanggaran kode etik.

10
Habib Adjie, Hukum Notaris Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2008, h.172
11
Iwan Darmawan, Etika Dan Tanggung Jawab Profesi Hukum–Suatu Kontemplasi Menuju Fajar Budi,
FKH : FH-UNPAK, 2009, h.48
3. Penindakan tersebut meliputi tingkatan sebagai berikut :

i) Teguran himbauan supaya menghentikan pelanggaran, dan jangan melakukan pelanggaran


lagi.
ii) Mengucilkan pelanggar dari kelompok profesi sebagai orang tidak disenangi sampai dia
menyadari kembali perbuatannya.
iii) Memberlakukan tindakan hukum sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku
dengan sanksi yang keras.

Kode etik profesi pada dasarnya adalah norma perilaku yang sudah dianggap benar
atau yang sudah mapan dan tentunya akan lebih efektif lagi apabila norma perilaku tersebut
dirumuskan sedemikian baiknya, sehingga memuaskan pihak-pihak yang berkepentingan.
Kode etik profesi merupakan kristalisasi perilaku yang dianggap benar menurut pendapat
umum karena berdasarkan pertimbangan kepentingan profesi yang bersangkutan. Dengan
demikian, kode etik profesi dapat mencegah kesalah pahaman dan konflik, dan sebaliknya
berguna sebagai bahan refleksi nama baik profesi. Kode etik profesi yang baik adalah yang
mencerminkan nilai moral anggota kelompok profesi sendiri dan pihak yang membutuhkan
pelayanan profesi yang bersangkutan.

Kode etik profesi adalah seperangkat kaidah perilaku yang disusun secara tertulis dan
sistematis sebagai pedoman yang harus dipatuhi dalam mengembankan suatu profesi bagi
suatu masyarakat profesi. Sebagai sebuah pedoman, kode etik (code of conduct) memiliki
beberapa tujuan pokok, yaitu :12

a) Memberikan Penjelasan Standar Etika. Standar etika yang harus di penuhi oleh pelaku
profesi di rumuskan dalam kode etik profesi. Di dalamnya di jelaskan mengenai
penetapan hak, tanggungjawab, dan kewajiban terhadap klien, lembaga, dan
masyarakat pada umumnya.

b) Memberikan Batasan Kebolehan dan atau Larangan. Kode etik memuat batasan
kebolehan dan atau larangan terhadap anggota profesi dalam menjalankan profesinya.
Tidak jarang ketika melaksanakan tugas profesi, seorang profesional menghadapi
dilema dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat.

12
I Gede A.B. Wiranata , op.cit, h. 243-244
c) Memberikan Himbauan Moralitas. Kode etik profesi memberi himbauan moralitas
kepada anggotanya dalam melaksanakan tugas di bidangnya. Dengan himbauan
meskipun bersifat moralitas, seorang profesional di ingatkan eksistensi hukum moral
berupa kehendak bebas untuk melakukan profesi tanpa tekanan, paksaan, atau kepura-
puraan. Pelaksanaan moral profesi adalah sesuatu yang bersifat luhur.

d) Sarana Kontrol Sosial. Kemandirian profesi yang dimiliki sering menjadikan sebuah
profesi sangat sulit untuk terjangkau oleh nalar mereka yang tidak mengemban atau
mematuhi ciri profesi. Meskipun demikian, tidak pada tempatnya apabila semua
profesional selalu berlindung dalam etik profesinya. Kode etik menjamin
perlindungan sejauh moralitas dasar perbuatannya terpenuhi. Kemandirian profesional
dikontrol melalui kode etik profesinya.

Tidak hanya profesi hukum yang memiliki kode etik profesi, tetapi setiap profesi
memiliki kode etik. Secara umum manfaat yang dapat di petik dari adanya kode etik,
diantaranya adalah menjaga dan meningkatkan kualitas keterampilan teknis, melindungi
kesejahteraan materil para pengmban profesi, dan bersifat terbuka. Penegakan kode etik
profesi hukum akan sangat bermanfaat bagi para pengemban profesi hukum itu sendiri
maupun masyarakat luas, yaitu sebagai berikut :13

a) Menghindari unsur persaingan tidak sehat di kalangan anggota profesi, kode etik
profesi memuat moralitas profesi, batasan-batasan kebolehan dan larangan bagi
anggota serta pilihan kemungkinan-kemungkinan yang harus dilakukan jika terjadi
dilema dalam pelaksanaan profesinya. Oleh karena itu, setiap anggota terhindar dari
perbuatan persaingan tidak bebas. Dalam skala yang lebih luas, kualitas moral profesi
akan senantiasa terjaga.

b) Menjamin solidaritas dan kolegialitas antar anggota untuk saling menghormati. Sikap
solidaritas ini akan mewujudkan kehidupan tata persaudaraan diantara anggota
profesi. Dengan memiliki pola kolegialitas maka dapat dipastikan profesi dan
anggotanya mampu menghindarkan diri dari campur tangan pihak ketiga atau pihak-
pihak lain dalam mengamalkan profesinya.

c) Mewajibkan pengutamakan kepentingan pelayanan terhadap masyarakat umum /


publik. Adanya tuntutan pelayanan yang optimal dalam kode etik secara tersirat harus

13
Iwan Darmawan, op.cit., h.50
memacu kejujuran dan keterampilan diri pribadi anggota profesi untuk tetap
menambah keterampilan dalam bidangnya. Kewajiban ini memberikan jaminan
kepuasan materil pengemban profesi.

d) Kode etik profesi menuntut para anggotanya bekerja secara terbuka dan transparan
dalam mengamalkan keahlian profesinya. Pertanggungjawaban moral profesi
dilakukan selain kepada hati nurani dan moralitas dirinya, juga dilakukan terhadap
masyarakat luas. Dengan pemaknaan demikian maka seorang profesi terhindarkan
dari wacana penipuan dan kebohongan terhadap public namun, terhadap rahasia
personal yang harus dipegang teguh oleh seorang profesi karena jabatan yang
ditentukan undang-undang wajib untuk tidak dipublikasikan.

II.2. Cara Menguatkan Moral Agar Semuanya Tumbuh Tertanam Integritas Moral

Yang Tinggi

Untuk menguatkan moral dan tertanam integritas moral yang tinggi tidak dapat
dilakukan dengan cara-cara yang instant (langsung jadi), tapi harus dilakukan secara bertahap
dengan proses dan jangka waktu yang panjang. Tanpa mengesampingkan arti penting
pendidikan formal, jika hanya mengandalkan pendidikan etika dan moral yang diberikan pada
pendidikan formal, maka ini tidak akan banyak memberikan manfaat. Kesadaran hukum dan
ketaatan pada norma-norma etika dan moral harus ditanamkan sejak usia dini (anak-anak)
dalam pendidikan keluarga. Pendidikan etika dan moral sejak usia dini serta ditambah dengan
pendidikan etika dan moral pada jejang pendidikan formal akan memberikan hasil yang lebih
maksimal.

Sebuah pepatah Cina Kuno berbunyi “segala kebaikan dan keburukan berawal dari
rumah”. Adakalanya pepatah tersebut dapat dijadikan renungan bagi kita semua, betapa
penting dan beharganya arti sebuah rumah. Rumah dalam hal ini bukan diartikan sebagai
bangunan tempat tinggal, tetapi berkumpulnya sebuah keluarga. Bahkan lebih dalam lagi,
rumah berfungsi sebagai “Universitas” tempat pembelajaran dan tempat bersemainya nilai-
nilai dan norma-norma luhur yang diajarkan dan ditunjukkan melalui metode yang kita kenal
dengan cinta dan kasih sayang. John Locke menulis bahwa pada hakikatnya seorang anak
ketika dilahirkan ke dunia, tidak ubahnya seperti “tabula rasa” (kertas putih) yang bersih dari
coretan ataupun tulisan. Lingkungaanlah yang menggoreskan tulisan di atasnya. Keluarga
merupakan lingkungan utama dan pertama tempat anak menerima pelajaran pertamanya.
Dengan demikian segala bentuk fondasi individu berasal dari rumah, termasuk fondasi
moralnya.

Pendidikan keluarga merupakan tempat terbaik bagi pendidikan moral karena


keluarga adalah kingkungan dan pergaulan pertama yang dijumpai oleh seorang anak.
Seorang anak usia dini belum bersentuhan dengan pergaulan masyarakat luas yang telah
dipengaruhi oleh berbagai unsur, terutama cara berpikir yang hanya mementingkan
hedonisme. Anak masih seperti kertas putih yang bersih dari coretan atau tulisan, sehingga
transformasi nilai-nilai etika dan moral tersebut dari oarng tuanya akan lebih mudah
dilakukan. Pendidikan dalam keluarga memang telah memberikan segala jenis pendidikan,
akan tetapi untuk ini pendidikan yang diberikan hanyalah dasar-dasarnya saja. Oleh karena
itu lingkungan keluarga merupakan lingkungan pertama bagi perkembangan anak.
Pendidikan yang pertama merupakan pondasi bagi pendidikan selanjujtnya. Semua jenis
pendidikan masih dikembangkan dan disempurnakan di lingkungan sekolah dan lingkungan
masyarakat. Dan akhirnya hanya pendidikan moral dan religius saja yang bertahan di
lingkungan di rumah.

Di dalam keluarga telah dipelajari pengetahuan dasar, keterampilan, aspek-aspek


kerohanian serta kepribadian dasar yang dapat dikembangkan lebih jauh dalam lingkungan
sekolah dan lingkungan kerja dan dalam lingkungan hidup lain dalam masyarakat. Dalam
keluargalah anak-anak mulai berkenalan dengan orang lain dan benda-benda. Di sini pula ia
mulai mempelajari cara-cara dan aturan berbuat dan berperilaku sesuai dengan norma sosial
yang dianut masyarakat sekitarnya. Juga diawali disini belajar berbahasa yang meliputi
berbagai seginya seperti pengenalan kata, penyusunan kalimat, sopan santun berbahasa, yang
kesemuanya merupakan segi kehidupan paling penting dalam kehidupan masyarakat.
Sosialisasi dalam berbagai segi kehidupan dipelajari dalam keluarga, tentu hasilnya akan
sangat tergantung kepada berbagai karakteristik keluarga tempat anak itu diasuh dan
dibesarkan.

Etika dan moral seorang anak sangat dipengaruhi oleh pola asuh yang diterapkan oleh
oleh orang tuanya. Pola asuh harus berpijak pada dua kenyataan bahwa anak adalah subjek
yang bebas dan anak sebagai makhluk yang masih lemah dan butuh bantuan untuk
mengembangkan diri. Manusia sebagai subjek harus dipandang sebagai pribadi. Anak sebagai
pribadi yang masih perlu mempribadikan dirinya, dan terbuka untuk dipribadikan. Proses
pempribadian anak akan berjalan dengan lancar jika cinta kasih selalu tersirat dan tersurat
dalam proses itu. Orang tua harus mampu memberikan pemahaman kepada anak bahwa anak
harus berbuat sesuai etika dan moral yang baik. Orang tua juga harus menjelaskan bahwa
perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, norma agama, kesusilaan, ketertiban umum,
serta merugikan kepentingan orang lain adalah perbuatan yang tidak bermoral. Disamping itu
orang tua juga harus memberikan contoh-contoh sikap yang bermoral, sehingga menjadi
teladan bagi anak-anaknya. Hal-hal seperti ini harus terus ditanamkan pada seorang anak,
sehingga nantinya akan terus digunakan sebagai pegangan hidup dalam lingkungan kerja
(profesi) dan masyarakat.

Salah satu pola asuh agar tertanaam etika dan moral yang baik adalah dengan cara
memberikan kesempatan kepada anak mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan
dengan pertimbangan moral, salah satunya menggunakan pendekatan atau model
perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach) yang terkenal dengan
Moral Reasoning.14 Model atau Pendekatan ini dikatakan pendekatan perkembangan kognitif
karena karakteristiknya memberikan penekanan pada aspek kognitif dan perkembangannya.
Pendekatan ini mendorong anak untuk berpikir aktif tentang masalah-masalah moral dan
dalam membuat keputusan-keputusan moral. Perkembangan moral menurut pendekatan ini
dilihat sebagai perkembangan tingkat berpikir dalam membuat pertimbangan moral, dari
suatu tingkat yang lebih rendah menuju suatu tingkat yang lebih tinggi.

Pendekatan perkembangan kognitif pertama kali dikemukakan oleh Dewey.


Selanjutkan dikembangkan lagi oleh Piaget dan Kohlberg. Dewey membagi perkembangan
moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai berikut:15 (1) Tahap "premoral" atau
"preconventional". Dalam tahap ini tingkah laku seseorang didorong oleh desakan yang
bersifat fisikal atau sosial; (2) Tahap "conventional". Dalam tahap ini seseorang mulai
menerima nilai dengan sedikit kritis, berdasarkan kepada kriteria kelompoknya. (3) Tahap
"autonomous". Dalam tahap ini seseorang berbuat atau bertingkah laku sesuai dengan akal
pikiran dan pertimbangan dirinya sendiri, tidak sepenuhnya menerima kriteria kelompoknya.

Kohlberg merumuskan tiga tingkat perkembangan moral,16 dan yang menjadi kunci
dari teori Kohlberg, ialah internalisasi, yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang

14
Mulya Ihza, Pendidikan Nilai dan Moral, 2010, http://zakariaakbar.blogspot.com/
15
Muhammad Baitul Alim, Teori Perkembangan Moral Kohlberg, 2010, http://www.psikologizone.com
16
Ibid.
dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. Tingkat
Satu adalah Penalaran Prakonvensional, yaitu tingkat yang paling rendah dalam teori
perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, anak tidak memperlihatkan internalisasi
nilai-nilai moral, penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.
Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman. Anak-anak taat karena orang-
orang dewasa menuntut mereka untuk taat.

Tingkat Dua adalah Penalaran Konvensional, yaitu tingkat menengah dari teori
perkembangan moral Kohlberg. pada tahap ini seseorang menghargai kebenaran, kepedulian,
dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Anak
anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini, sambil
mengharapkan dihargai oelh orangtuanya. Tahap Tiga adalah Penalaran Pascakonvensional
yaitu tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tingkat ini, moralitas
benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Seorang
mengenal tindakan moral alternatif, menjajaki pilihan-pilihan, dan kemudian memutuskan
berdasarkan suatu kode moral pribadi. Prinsip-prinsip etis universal, pada tahap ini seseorang
telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang
universal. Bila menghadapi konflik secara hukum dan suara hati, seseorang akan mengikuti
suara hati, walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi.

Sedangkan Piaget berusaha mendefinisikan tingkat perkembangan moral pada anak-


anak melalui pengamatan dan wawancara. Dari hasil pengamatan terhadap anak-anak ketika
bermain, dan jawaban mereka atas pertanyaan mengapa mereka patuh kepada peraturan,
Piaget sampai pada suatu kesimpulan bahwa perkembangan kemampuan kognitif pada anak-
anak mempengaruhi pertimbangan moral mereka. berdasarkan teori-teori moral yang
dikemukakan tersebut, maka untuk menanamkan integritas moral yang tinggi harus dilakukan
sejak usia dini (anak-anak) yang dimulai dari lingkungan keluarga. Dengan demikian apabila
saat ini terjadi kondisi rendahnya kualitas pengembanan profesi hukum, maka hal itu juga
tidak telepas dari rendahnya pendidikan etika dan moral para pengembaan hukum pada usia
dini di lingkungan keluarganya masing-masing.
BAB III

PENUTUP

III.1. Kesimpulan

1. Faktor-faktor yang menyebabkan kondisi rendahnya kualitas pengembanan profesi


hukum :

a. Diabaikannya etika dalam menjalankan kewajiban sebagai profesi pengemban


hukum. Lemahnya sanksi dalam kode etik profesi hukum, kode etik tidak
mempunyai sanksi yang keras.

b. Kesadaran hukum yang buruk, para pengemban profesi hukum tahu dan
memahami kode etik profesinya, tetapi tetap melakukan pelanggaran.

c. Menjalankan profesi hanya semata-mata mengejar penghasilan (honorarium),


dan mengabaikan kode etik profesi.

2. Yang berwenang untuk menjatuhkan sanksi bagi para pengemban profesi hukum yang
melanggar kode etik profesi adalah badan atau instansi yang telah ditentukan
berdasarkan Undang-undang maupun Kode Etik Profesi Hukum masing-masing.
Untuk profesi notaries dilakukan oleh Majelis Pengawas Notaris, terdiri atas ; Majelis
Pengawas Daerah, Majelis Pengawas Wilayah, dan Majelis Pengawas Pusat.

Bahwa tujuan dari pengawasan dan pemeriksaan terhadap notaris agar para notaris
ketika menjalankan tugas jabatannya memenuhi semua persyaratan yang berkaitan
dengan pelaksanaan tugas jabatan notaris, demi untuk pengamanan dari kepentingan
masyarakat.

3. Manfaat penegakan kode etik profesi hukum :

a. Menghindari unsur persaingan tidak sehat di kalangan anggota profesi

b. Menjamin solidaritas dan kolegialitas antar anggota untuk saling menghormati.

c. Mewajibkan pengutamakan kepentingan pelayanan terhadap masyarakat umum /


publik.
d. Kode etik profesi menuntut para anggotanya bekerja secara terbuka dan transparan
dalam mengamalkan keahlian profesinya.

4. Keluarga merupakan tempat terbaik bagi pendidikan moral karena keluarga adalah
lingkungan dan pergaulan pertama yang dijumpai oleh seorang anak.

5. Cara menguatkan moral agar semuanya tumbuh dan tertanam integritas moral yang
tinggi adalah dengan proses pendidikan anak di lingkungan keluarga dilakukan
dengan cinta kasih. Orang tua terus memberikan pemahaman kepada anak bahwa
anak harus berbuat sesuai etika dan moral yang baik. Orang tua juga harus
menjelaskan bahwa perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum, norma agama,
kesusilaan, ketertiban umum, serta merugikan kepentingan orang lain adalah
perbuatan yang tidak bermoral.

6. Dewey membagi perkembangan moral anak menjadi tiga tahap (level) sebagai
berikut: (1) Tahap "premoral" atau "preconventional"; (2) Tahap "conventional"; (3)
Tahap "autonomous".

Kohlberg juga merumuskan tiga tingkat perkembangan moral, yakni Tingkat Satu
adalah Penalaran Prakonvensional, Tingkat Dua adalah Penalaran Konvensional, dan
Tingkat Tiga adalah Penalaran Pascakonvensional.

III.2. Saran

1. Penegakan kode etik profesi harus terus dilakukan secara berkesinambungan dan
memberikan sanksi tegas kepada pengemban profesi hukum yang melanggar sehingga
tetap menjaga kepentingan pengemban profesi itu sendiri dan kepentingan
masyarakat.

2. Pendidikan etika dan moral harus dilakukan sejak usia dini di lingkungan keluarga,
tidak hanya mengandalkan pendidikan formal di sekolah maupun lembaga pendidikan
lainnya.
DAFTAR PUSTAKA

Adjie, Habib, Hukum Notaris Indonesia, Refika Aditama, Bandung, 2008.


Ali, Achmad, Menguak Teori Hukum (Legal Theory) dan Teori Peradilan (Judicialprudence),
Kencana, Jakarta, 2009.
Baitul Alim, Muhammad, Teori Perkembangan Moral Kohlberg, 2010,
http://www.psikologizone.com
Darmawan, Iwan, Etika Dan Tanggung Jawab Profesi Hukum–Suatu Kontemplasi Menuju
Fajar Budi, FKH : FH-UNPAK, 2009.
Ihza, Mulya, Pendidikan Nilai dan Moral, 2010, http://zakariaakbar.blogspot.com.
Lubis, Suhrawardi K., Etika Profesi Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2002.
Mertokusumo, Sudikno, Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat, 19 Maret 2008,
http://sudiknoartikel.blogspot.com
Muhammad, Abdulkadir, Etika Profesi Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006.
Pramudya, Kelik dan Widiatmoko, Ananto, Pedoman Etika Profesi Aparat Hukum, Pustaka
Yustisia, Yogyakarta, 2010.
Wiranata , I Gede A.B., Dasar Dasar Etika dan Moralitas, Citra Aditya Bakti, Bandung.

Peraturan Perundang-undangan :
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris