Anda di halaman 1dari 33

Protozoa Usus dan Luminal

Parasit adalah organisme yang mengambil makanan dan tempat tinggal dari
organisme lain dan mendapatkan semua keuntungan dari hubungan ini. Parasit
diistilahkan obligat bila dia dapat hidup hanya dalam hospes, dia diklasifikasi sebagai
fakultatif bila dia dapat hidup baik dalam hospes maupun dalam bentuk bebas.
Parasit yang hidup di dalam tubuh diistilahkan endoparasit, dan parasit yang ada di
permukaan tubuh disebut ektoparasit. Parasit yang dapat menyebabkan kerugian
pada hospes adalah parasit patogenik, sementara itu mereka yang mendapatkan
keuntungan dari hospes tanpa merugikan hospes disebut komensal.

Organisme yang ditempati oleh parasit dan menderita kerugian yang disebabkan oleh
parasit disebut hospes. Hospes dimana parasit hidup pada tahap dewasa dan seksual
disebut hospes definitif, sedangkan hospes dimana parasit menjalani tahap larva dan
aseksual adalah hospes intermediet. Hospes lain yang ditempati oleh parasit dan
menjamin kelangsungan siklus hidup parasit dan bertindak sebagai sumber tambahan
bagi infeksi manusia dikenal sebagai hospes reservoir. Sebuah organisme (biasanya
insekta) yang bertanggung jawab untuk memindahkan infeksi parasit disebut vektor.

Protozoa Usus dan Luminal

Protozoa usus dan luminal yang signifikan terhadap kesehatan manusia adalah:

 Entamoeba histolytica (Amebae)


 Balantidium coli (Ciliates)
 Giardia lamblia and Trichomonas vaginalis (Flagellates)
 Cryptosporidium parvum and Isospora belli (Sporozoa)

AMEBIASIS (amebic dysentery, amebic hepatitis)

Etiologi
E. histolytica adalah penyebab utama dari disentri amuba.

Epidemiologi
0,5 sampai 50% dari populasi dunia mengandung parasit E. Histolytica dengan angka
kejadian infeksi yang lebih tinggi terjadi di negara-negara miskin. 1 sampai 3% dari
populasi Amerika terinfeksi. Infeksi berhubungan dengan higiene yang buruk.
Manusia merupakan hospes utama, meskipun anjing, kujing dan binatang pengerat
juga dapat terinfeksi.

Morfologi
Trofozoit: Bentuk ini memiliki penampakan seperti amuba dan biasanya berdiameter
15-30 mikrometer, meskipun strain yang lebih invasif cenderung lebih besar.
Organisme ini memiliki inti tunggal dengan kariosom sentral kecil yang mudah
dibedakan (Gambar 1A,B). Endoplasma bergranula halus mungkin mengandung
eritrosit yang dicerna (Gambar 1C). Kromatin inti terdistribusi di sepanjang tepi dari
nukleus.

1
1A 1B
1A, 1B: Trofozoit dari Entamoeba histolytica. Pewarnaan Trichrome. Trofozoit memanjang (bisa memanjang
sampai 60 µm), dan mereka cenderung berada dalam tinja orang yang diare. (Dalam tinja orang yang tidak diare,
mereka berbentuk bundar, dan berukuran 15-20 µm.) Nuklei menunjukkan kariosom yang terletak di tengah
dengan kromatin perifer yang terdistribusi secara seragam. CDC DPDx Parasite Image Library

1C
Trofozoit dari Entamoeba histolytica. Pewarnaan Trichrome. Dua karakteristik diagnostik terlihat disini: dua dari
trofozoit telah menelan eritrosit, dan nukleinya khas kecil, kariosom terletak di tengah, tipis, kromatin perifer yang
seragam. CDC DPDx Parasite Image Library

Kista dan trofozoit Entamoeba histolytica, pewarnaan haematoxylin © Dr Peter Darben, Queensland University of
Technology clinical parasitology collection. Used with permission

2
Trofozoit Entamoeba histolytica trophozoites dalam potongan usus (H&E) © Dr Peter Darben, Queensland
University of Technology clinical parasitology collection. Used with permission

Parasit amuba (Entamoeba histolytica) menyebabkan disentri amuba dan ulkus (tahap trofozoit
vegetatif). Disentri amuba menyebar dengan kontaminasi tinja pada makanan dan air dan paling sering
terjadi dimana sanitasinya buruk. © Dennis Kunkel Microscopy, Inc. Used with permission

3
2A 2B
Kista dari Entamoeba histolytica, dengan pewarnaan trichrome (2A) dan iodine (2B). Setiap kista mempunyai 4
nuklei, dimana 3 (pada 2A) dan 2 (pada 2B) tampak dalam tampilan ini. Nuklei memiliki karakteristik kariosomnya
terletak di tengah. Kista dalam 2° mengandung badan kromatin besar. Kista Entamoeba histolytica berukuran 12-
15 µm CDC DPDx Parasite Image Library

Kista: Kista Entamoeba histolytica berbentuk sferis, dengan dinding refraktil;


sitoplasma mengandung badan kromatin berwarna gelap dan 1 sampai 4 nuklei
dengan kariosom sentral dan kromatin perifer terdistribusi.

Siklus hidup
Infeksi terjadi dengan menelan kista dari makanan atau tangan yang terkontaminasi
tinja. Kista tahan terhadap lingkungan lambung dan keluar ke usus dimana kista akan
pecah. Metakista membelah menjadi empat dan kemudian delapan amuba yang
bergerak ke usus besar. Sebagian besar dari organisme tersebut keluar dari tubuh
melalui tinja tetapi, dengan besarnya bolus infeksi, sebagian amuba menempel dan
menginvasi jaringan mukosa membentuk lesi ”flask-shaped” (bomb craters).
Organisme membentuk kista untuk pembelahan dan dikeluarkan melalui feses
(Gambar 3). Tidak ada hospes intermediet atau reservoir.

4
Gambar 3

Infeksi oleh Entamoeba histolytica terjadi bila menelan kista matang (1) dalam makanan, air, atau tangan yang
terkontaminasi tinja. Pemecahan kista (2) terjadi di usus kecil dan trofozoit (3) dikeluarkan, yang mana dia akan
bermigrasi ke usus besar. Trofozoit membelah secara biner dan memproduksi kista (4), yang akan dikeluarkan
melalui tinja. Karena perlindungan oleh dindingnya, kista dapat bertahan selama beberapa hari sampai beberapa
minggu di lingkungan luar dan bertanggung jawab terhadap penularan. (Trofozoit juga dikeluarkan dalam tinja cair
(berair), tetapi dengan cepat menjadi rusak saat berada di luar tubuh, dan jika ditelan tidak akan bertahan
terhadap paparan lingkungan lambung.) Pada sebagian kasus, trofozoit tetap berada di lumen usus. (A: infeksi
non-invasif) dari individu yang merupakan pembawa tanpa gejala dan mengeluarkan kista. Pada sebagian pasien
trofozoit menginvasi mukosa usus (B: penyakit usus), atau, melalui pembuluh darah, tempat di luar usus seperti
hati, otak, dan paru-paru (C: penyakit di luar usus), dengan manifestasi patologi gabungan. Sudah diterima
sebagai kebenaran bahwa bentuk invasif dan non-invasif menggambarkan spesies yang berbeda, baik itu E.
histolytica dan E. dispar, yang secara morfologi sulit dibedakan. Penularan juga dapat terjadi melalui paparan
terhadap tinja selama hubungan seksual (dalam kasus dimana tidak hanya kista, tetapi juga trofozoit dapat
terbukti infektif). CDC DPDx Parasite Image Library

5
Gejala
Akut: Disentri yang berulang kali disertai dengan nekrosis mukosa dan nyeri perut.

Kronik: Episode disentri disertai darah dan mukus dalam tinja yang berulang. Ada
gangguan gastrointestinal dan konstipasi. Kista ditemukan dalam tinja. Organisme
mungkin menginvasi hati, paru dan otak dimana dia menyebabkan abses yang
menyebabkan disfungsi hati, pneumonitis, dan ensefalitis.

Patologi
Ulkus usus (craters/flasks – gambar 4) karena kerusakan jaringan akibat enzim.
Infeksi dapat mengakibatkan apendisitis, perforasi, striktur granuloma, pseudo-polip,
abses hati (gambar 4); kadang-kadang abses otak, paru dan limpa dapat juga terjadi.
Striktur dan pseudo-polip timbul akibat respon peradangan dari hospes.

Gambar 4

Gross patologi dari hati yang mengandung abses amuba. CDC/Dr. Mae Melvin; Dr. E. West of Mobile, AL

Gross patologi dari abses amuba pada hati. Tabung pus “coklat” dari abses. CDC/Dr. Mae Melvin; Dr. E. West of
Mobile, AL

6
Histopatologi dari bentuk khas “flask-shaped ulcer” dari amebiasis usus. CDC/Dr. Mae Melvin

Imunologi
Ada respon antibodi sesudah infeksi invasif (abses hati atau kolitis) tetapi cukup
dipertanyakan dalam imunitas, karena adanya episode usus yang berulang pada pasien
ini.

Diagnosis
Gejala, riwayat dan epidemiologi merupakan kunci untuk diagnosis. Dalam
laboratorium, infeksi dikonfirmasi dengan menemukan kista di dalam tinja (Gambar
1). Infeksi E. Histolytica dibedakan dari disentri basiler dengan kurangnya gejala
panas tinggi dan tidak adanya leukositosis dari polimorfonukleus (PMN).

Harus dibedakan dari protozoa usus non-patogen lainnya (misalnya Entamoeba coli,
Entamoeba hartmanni, Dientamoeba fragilis, Endolimax nana, Iodamoeba buetschlii,
dan lain-lain). (Gambar 5).

Gambar 5

Entamoeba coli: Trofozoit, diwarnai dengan trichrome, menunjukkan karakteristik kariosom yang besar, bentuknya
eksentrik, dan sitoplasma yang kasar dan mempunyai lubang-lubang kecil. Trofozoit E. coli biasanya berukuran
20-25 µm, tetapi mereka dapat memanjang (sebagaimana dalam kasus ini) dan mencapai 50 µm. CDC

7
Entamoeba coli: Trofozoit, diwarnai dengan trichrome, menunjukkan karakteristik kariosom yang besar, eksentrik,
dan sitoplasma yang kasar dan berlubang-lubang kecil. Trofozoit E. coli biasanya berukuran 20-25 µm, tetapi
mereka dapat memanjang (sebagaimana dalam kasus ini) dan mencapai 50 µm. CDC

Kista dan trofozoit Entamoeba coli, pewarnaan haematoxylin © Dr Peter Darben, Queensland University of
Technology clinical parasitology collection. Used with permission

8
Trofozoit Entamoeba coli, pewarnaan trichrome © Dr Peter Darben, Queensland University of Technology clinical
parasitology collection. Used with permission

Entamoeba coli: Trofozoit, diwarnai dengan trichrome, menunjukkan karakteristik kariosom yang besar, eksentrik,
dan sitoplasma yang kasar dan berlubang-lubang kecil. Trofozoit E. coli biasanya berukuran 20-25 µm, tetapi
mereka dapat memanjang (sebagaimana dalam kasus ini) dan mencapai 50 µm. CDC DPDx Parasite Image
Library

9
Entamoeba hartmanni: Kista, dengan satu nucleus yang dapat dilihat pada lapangan pandang ini; agak mirip
dengan kista E. histolytica, tetapi dibedakan dengan ukurannya yang lebih kecil (5-10 µm dibandingkan dengan
10-20 µm) CDC DPDx Parasite Image Library

A B
Entamoeba hartmanni: A, B: Trofozoit diwarnai dengan trichrome : trofozoit E. hartmanni agak mirip dengan E.
histolytica, dengan sebuah kariosom yang kecil, seringkali terletak di tengah, kromatin perifer yang halus, dan
sitoplasma yang bergranula halus; perbedaan utama adalah dalam ukurannya yang kecil: 5-12 µm dibandingkan
dengan 10-60 µm untuk E. histolytica. Perhatikan bahwa pada (A) trofozoit menelan yeast, bukan eritrosit.
(Penelanan eritrosit merupakan patognomonik dari E. histolytica.) CDC DPDx Parasite Image Library

A B C
Endolimax nana: Trofozoit diwarnai dengan trichrome (A) dan kista diwarnai dengan iodine (B) dan dalam
trichrome (C). Perhatikan dalam trofozoit ditandai dengan kariosom seperti bercak besar dan kurangnya kromatin
perifer. Kista sudah matang, mereka mengandung empat nuclei yang lebih kecil dari nuclei trofozoit dan tidak
mempunyai kromatin perifer. Trofozoit biasanya berukuran 8-10 µm, sedangkan kista biasanya berukuran 6-8
µm. CDC DPDx Parasite Image Library

10
A B C
Iodamoeba bütschlii: Trofozoit diwarnai dengan trichrome (A) dan dengan hematoxylin-eosin (B), dan kista
diwarnai dengan trichrome (C). Perhatikan kariosom besar dalam trofozoit, dan pada gambar (B) kariosom
dikelilingi oleh granula akromatik refraktil. Dalam kista (C), sebuah massa besar dari glikogen mendorong inti ke
pinggi. Trofozoit biasanya berukuran 12-15 µm, dan kista biasanya berukuran 10-12 µm. CDC DPDx Parasite
Image Library

Trofozoit Dientamoeba fragilis, pewarnaan trichrome. Dientamoeba fragilis bukan amuba, tetapi sebuah flagellata!
Dia harus dibedakan secara morfologi dengan amuba. Intinya adalah kelompok granula, tanpa kromatin perifer.
Ukurannya bervariasi antara 5-15 µm. Spesies ini tidak memiliki tahap kista. Gambar-gambar disumbangkan oleh
Georgia Department of Public Health/CDC

Terapi
Iodoquinol digunakan untuk mengobati infeksi tanpa gejala dan metronidazol
digunakan untuk amebiasis dengan gejala dan kronis, termasuk penyakit di luar usus.

GIARDIASIS (lambliasis)

Etiologi
Giardia lamblia (sebuah flagellata)

Epidemiologi
Giardia tersebar di seluruh dunia dan banyak ditemukan di South Carolina. Ini
merupakan penyakit usus yang disebabkan oleh protozoa yang paling sering terjadi di
Amerika dan penyebab yang paling sering diidentifikasi dari penyakit yang ditularkan
melalui air bila dihubungkan dengan pencemaran sistem penjernihan air, minum dari
aliran air yang terkontaminasi, perjalanan ke daerah endemis (Rusia, India, Rocky
Mountains, dan lain-lain) dan tempat penitipan anak.

Morfologi
Trofozoit: Giardia adalah organisme berukuran 12 sampai 15 mikrometer, berbentuk
setengah buah pir dengan 8 flagella dan 2 axostyles yang diatur dalam simetris
bilateral. Ada dua diskus penghisap besar yang terletak di depan. Sitoplasma
mengandung dua nuklei dan dua badan parabasal (Gambar 7).

11
Kista: Kista Giardia berukuran 9 sampai 12 mikrometer berbentuk sel ellips dengan
dinding tipis yang jelas batasnya. Sitoplasma mengandung empat nuklei dan struktur-
struktur yang terlihat di trofozoit.

Siklus Hidup (Gambar 6)


Infeksi terjadi dengan menelan kista, biasanya dalam air yang terkontaminasi.
Pemecahan kista terjadi di dalam duodenum dan trofozoit berkumpul di usus kecil
bagian atas dimana mereka berenang secara bebas atau menempel ke epitel
submukosa melalui diskus penghisap bagian ventral. Trofozoit bebas akan
membentuk kista ketika mereka bergerak ke aliran bawah dan mitosis terjadi selama
proses pembentukan kista. Kista dikeluarkan di dalam tinja. Manusia adalah hospes
utama meskipun berang-berang, babi dan kera juga dapat terinfeksi dan bertindak
sebagai reservoir.

Kista adalah bentuk yang resisten dan bertanggung jawab terhadap penularan giardiasis. Baik kista maupun
trofozoit dapat ditemukan di tinja (tahap diagnostik) . Kista tersebut keras, dapat bertahan beberapa bulan
dalam air dingin. Infeksi terjadi dengan menelan kista yang terdapat dalam air, makanan yang terkontaminasi,
atau dengan penularan dari fekal ke oral (tangan atau benda pembawa infeksi) . Di usus halus, proses
penghancuran kista melepaskan trofozoit (setiap kista menghasilkan dua trofozoit) . Trofozoit membelah
dengan pembelahan biner, tetap di dalam lumen dari usus halus bagian proksimal dimana dapat bebas atau
menempel pada mukosa dengan menggunakan diskus penghisap bagian ventral . Pembentukan kista terjadi

12
ketika parasit melewati usus besar. Kista adalah tahap yang paling sering ditemukan pada tinja yang tidak cair
. Karena kista infeksius ketika dikeluarkan di dalam tinja dan segera sesudah itu, penularan dari orang ke orang
mungkin terjadi. Bila binatang terinfeksi dengan Giardia, peran mereka sebagai reservoir tidak jelas. CDC DPDx
Parasite Image Library

Gejala
Gejala awal termasuk sering kentut, perut tegang, mual dan diare dengan tinja berbau
busuk, eksplosif, seringkali berair. Tinja mengandung lemak yang berlebihan tetapi
jarang sekali ada darah atau jaringan nekrotik. Semakin kronis tahapannya
berhubungan dengan malabsorpsi vitamin B12, defisiensi disakarida dan intoleransi
laktosa.

Patologi
Tertutupnya epitel usus oleh trofozoit dan datarnya permukaan mukosa
mengakibatkan malabsorpsi dari zat gizi.

Imunologi
Ada sebagian peran dari IgA dan IgM dan ada peningkatan angka kejadian infeksi
pada pasien imunodefisiensi (misalnya AIDS).

Diagnosis
Gejala, riwayat penyakit, epidemiologi digunakan untuk diagnosis. Giardia yang
menyebabkan disentri berbeda dari disentri yang lain karena kurang mukus dan darah
dalam tinja, kurangnya peningkatan leukosit polimorfonukleus (PMN) di dalam tinja
dan kurangnya demam tinggi. Kista di dalam tinja dan trofozoit (Gambar 7) di dalam
duodenum dapat diidentifikasi secara mikroskopik sesudah isinya diperoleh dengan
menggunakan Enterotest. Trofozoit harus dibedakan dari flagellata non patogen
Trichomona hominis, yaitu flagellata asimetris dengan membran yang dapat
berundulasi.

Terapi
Metronidazole merupakan ”drug of choice”

Gambar 7

Trofozoit Giardia dalam potongan usus (H&E) © Dr


Peter Darben, Queensland University of Technology clinical parasitology collection. Used with permission

13
A B C
Kista-kista Giardia lamblia, diwarnai dengan iron- hematoxylin (A, B) dan dalam sediaan basah (C; dari pasien
yang ditemukan di Haiti). Ukurannya: panjang 8-12 µm. Masing-masing kista memiliki dua nuklei (yang lebih
matang akan memiliki empat nuklei). CDC

Giardia lamblia – sebuah parasit manusia pada saluran pencernaan. Organisme ini menyebar melalui
kontak langsung atau melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Giardia spp. Berbentuk pir,
dengan flagella seperti rambut untuk pergerakan. Mereka menyebabkan penyakit giardiasis (atau
lambliasis), sebuah infeksi usus halus yang sering terjadi di daerah tropis. Giardia spp. menempel ke
mikrovilli dalam usus manusia dengan menggunakan diskus penghisap. Keram perut, pembengkakan,
diare dan mual mungkin terjadi. © Dennis Kunkel Microscopy, Inc. Used with permission

14
Kista Giardia lamblia. Chlorazol black. CDC/Dr. George R. Healy

Infeksi Protozoa pada usus manusia (Giardia) sp. © Dennis Kunkel Microscopy, Inc. Used with permission

15
Kista Giardia lamblia. Iodine stain. CDC DPDx Parasite Image Library

Giardia - Fluorescent Antibody (FA) Staining. Photo Credit: H.D.A. Lindquist, U.S. EPA

16
Giardia lamblia. Indirect fluorescent antibody stain. Positive test. CDC/Dr. Govinda S. Visvesvara gsv1@cdc.gov

Giardia lamblia. Indirect fluorescent antibody stain. Negative test. CDC/Dr. Govinda S. Visvesvara gsv1@cdc.gov

Pewarnaan DAPI dari giardia: Pewarnaan nuklei ini memungkinkan visualisasi dari nuklei. Baik Giardia dan
Cryptosporidium mempunyai sampai 4 nuklei yang dapat dilihat jika utuh. Photo Credit: H.D.A. Lindquist, U.S.
EPA

PROTOZOA USUS LAINNYA


Balantidium coli dan Cryptosporidium (parvum) adalah protozoa zoonosis pada
infeksi usus dengan masalah kesehatan yang signifikan. Isospora belli adalah parasit
oportunistik pada manusia.

17
Balantidium coli
Parasit ini terutama ditemukan pada sapi, babi dan kuda. Organisme ini adalah siliata
yang besar (100 x 60 mikrometer) dengan sebuah makro dan mikro nukleus (Gambar
8). Infeksi terjadi umumnya pada pekerja perkebunan dan penduduk desa dengan
jalan menelan kista dalam tinja dari binatang perkebunan. Penularan dari manusia ke
manusia jarang terjadi tapi mungkin. Gejala dan patogenesis dari balantidiasis mirip
dengan entamebiasis, termasuk erosi epitel usus. Meskipun demikian, abses hati, paru
dan otak jarang ditemukan. Metronidazol dan iodoquinol merupakan obat yang
efektif.

Gambar 8

A B
Trofozoit Balantidium coli. Karakteristiknya: ukurannya yang besar (40 µm sampai lebih dari 70 µm) adanya silia
di permukaan sel – khususnya terlihat pada gambar (B) sebuah cytostome (tanda panah) makronukleus
berbentuk kacang yang sering tampak – lihat gambar (A), dan mikronukleus yang lebih kecil, kurang jelas. CDC

C Tr
ofozoit Balantidium coli pada potongan usus (H&E) © Dr Peter Darben, Queensland University of Technology
clinical parasitology collection. Used with permission

18
D
Kista dan trofozoit Balantidium coli © Dr Peter Darben, Queensland University of Technology clinical parasitology
collection. Used with permission

19
D
Siklus hidup Balantidium coli
Kista adalah tahap parasit yang bertanggung jawab untuk penularan balantidiasis . Kista paling sering
diperoleh melalui menelan makanan atau air yang terkontaminasi . Setelah ditelan, terjadi penghancuran kista
di usus halus, dan trofozoit berkoloni di usus besar . Trofozoit tinggal di lumen usus besar dari manusia dan
binatang, dimana mereka berkembang biak dengan pembelahan biner, dimana pada waktu itu konjugasi dapat
terjadi . Trofozoit menjalani proses pembentukan kista untuk menghasilkan kista yang infektif . Sebagian
trofozoit menginvasi dinding usus besar dan berkembang biak. Sebagian kembali ke lumen dan hancur. Kista
yang matang dikeluarkan melalui tinja . CDC DPDx Parasite Image Library

Cryptosporidium parvum
C.parvum adalah parasit berbentuk bulat kecil berukuran 3-5 mikrometer yang
ditemukan di saluran pencernaan pada beberapa binatang dan menyebabkan diare
pada manusia melalui makanan dan air yang terkontaminasi (Gambar 9). Manusia
yang terinfeksi dengan menelan ookista C. parvum yang mengandung banyak
sporozoit. Sporozoit dilepaskan di saluran pencernaan bagian atas dan menempel pada
sel mukosa saluran pencernaan dimana mereka membelah untuk menghasilkan
merozoit. Merozoit menginvasi sel mukosa lain dan terus berkembang biak secara
aseksual. Sebagian merozoit berdiferensiasi menjadi gametosit jantan dan betina dan
membentuk sebuah ookista yang nantinya berkembang biak dan berdiferensiasi

20
menjadi sporozoit. Ookista yang matang dikeluarkan dalam tinja dan menginfeksi
individu lain (Gambar 10).

Ketika sebagian besar manusia dalam suatu komunitas menderita diare, kemungkinan
besar penyebabnya adalah C. Parvum. Bolus kecil dari infeksi dapat menyebabkan
diare ringan, sedangkan bila termakan organisme tersebut dalam jumlah lebih besar
dapat menyebabkan gejala yang lebih berat termasuk diare berair dalam jumlah
banyak, keram pada perut, banyak kentut dan kehilangan berat badan. Berat dan
lamanya gejala berhubungan dengan daya tahan tubuh. Pada pasien AIDS, organisme
tersebut dapat menyebabkan diare yang berkepanjangan dan berat, dan organisme
dapat menginvasi kandung kemih, saluran empedu dan epitel paru. Tidak ada terapi
efektif yang diakui untuk cryptosporidiasis, meskipun paromisin digunakan sebagai
obat percobaan.

Ada beberapa macam tes antibodi untuk mendeteksi tetapi kebanyakan dari tes ini
mendeteksi spesies Cryptosporidium selain C. Parvum. Tes reaksi rantai polimer yang
sensitif tersedia untuk mendeteksi C. Parvum dalam lingkungan dan sampel binatang.

Gambar 9

Ookista dari Cryptosporidium parvum, dalam sediaan


basah, dilihat dengan mikroskop differential interference contrast (DIC). Ookista berbentuk bundar, berdiameter
4.2 µm - 5.4 µm. Sporozoit dapat dilihat di dalam ookista, menunjukkan bahwa sporulasi telah terjadi. (Sebagai
perbandingan, ookista dari Cyclospora cayetanensis, parasit koksidia yang penting lain pada manusia, dua kali
lebih besar dan tidak bersporulasi – tidak mengandung sporokista). CDC

Ookista dari Cryptosporidium parvum diwarnai dengan metode


acid-fast. Dengan latar belakang biru-hijau, ookista tampak dalam warna merah terang. Sporozoit dapat dilihat di
dalam dua ookista di bagian kanan. CDC

21
Ookista dari Cryptosporidium sp., yang tidak diwarnai dan dengan pewarnaan Modified Kinyoun's acid fast © Dr
Peter Darben, Queensland University of Technology clinical parasitology collection. Used with permission

Ookista dari Cryptosporidium parvum diwarnai dengan pewarnaan metode acid-


fast. Gambar ini menunjukkan bahwa pewarnaan dapat bervariasi. Pengecualian, infeksi yang sembuah dapat
disertai dengan peningkatan jumlah “hantu” ookista. CDC

Ookista ini diwarnai dengan antibodi yang dilabeli dengan fluoresen,


membuat pengidentifikasian menjadi lebih mudah. Meskipun demikian, sebagian antibodi melabeli semua spesies
dari Cryptosporidium © AWPL, ARS, USDA

22
Kasus Cryptosporidiosis yang dilaporkan, United States 1997 USFDA

23
Gambar 10

Siklus hidup Cryptosporidium


(from: Juranek DD. Cryptosporidiosis. In: Hunter’s Tropical Medicine, 8th edition. Strickland GT, Editor.)
Ookista yang disporulasi, mengandung 4 sporozoit, dikeluarkan oleh hospes yang terinfeksi melalui tinja dan rute
lain seperti sekresi saluran pernapasan . Penularan Cryptosporidium parvum terjadi terutama melalui kontak
dengan air yang terkontaminasi (misalnya, air minum atau air di tempat rekreasi). Kadang-kadang bersumber dari
makanan, seperti chicken salad, yang dapat bertindak sebagai alat penularan. Sebagian wabah di Amerika terjadi
di taman yang ada kolam, kolam renang umum, dan tempat penitipan anak. Penularan melalui binatang dari C.
parvum terjadi melalui paparan dengan binatang yang terinfeksi atau paparan terhadap air yang terkontaminasi
oleh tinja dari binatang yang terinfeksi . Setelah ditelan (dan mungkin setelah dihirup) oleh hospes yang sesuai
, penghancuran kista terjadi. Sporozoit dikeluarkan dan sel epitel dipenuhi dengan parasit ( , ) pada
saluran pencernaan atau jaringan lain seperti saluran pernapasan. Dalam sel ini, parasit menjalani
perkembangbiakan aseksual (schizogoni atau merogoni) ( , , ) dan kemudian perkembangbiakan secara
seksual (gametogony) menghasilkan mikrogamon (jantan) dan makrogamon (betina) . Setelah pembuahan
makrogamon oleh mikrogamet ( ), ookista ( , ) berkembang yang bersporulasi di dalam hospes yang
terinfeksi. Dua jenis ookista yang dihasilkan adalah, yang berdinding tebal, yang umumnya dikeluarkan dari
hospes , dan ookista yang berdinding tipis , yang terutama terlibat dalam autoinfeksi. Ookista menjadi
infeksius setelah dikeluarkan, jadi memungkinkan penularan secara langsung dan segera melalui fekal-oral.
Perlu dicatat bahwa ookista dari Cyclospora cayetanensis, parasit koksidia penting lain, tidak bersporulasi ketika
dikeluarkan dan tidak menjadi infeksius sampai sporulasi selesai. CDC DPDx Parasite Image Library

24
Isospora belli
I. belli adalah sebuah infeksi yang jarang terjadi pada manusia normal, meskipun
demikian infeksi ini banyak ditemukan dalam jumlah yang meningkat pada pasien
AIDS. Infeksi terjadi melalui rute oral-fekal. Tahap infeksius dari organisme ini
adalah ookista oval (Gambar 11), yang mana, sesudah ditelan, mengikuti siklus hidup
C. parvum. Penyakit ini menyebabkan gejala yang mirip dengan giardiasis. Pada
orang normal, infeksi dapat sembuh dengan sendirinya dengan istirahat dan diet
ringan dan infeksi yang lebih berat dapat diterapi dengan obat-obat sulfa. Terapi harus
dilakukan dalam waktu yang lebih lama pada pasien AIDS.

Gambar 11

A B C
Ookista Isospora belli. Ookista berukuran besar (25 - 30 µm) dan memiliki bentuk khusus berupa elips. Ketika
dikeluarkan, mereka belum matang dan mengandung satu sporoblast (A, B). Ookista matang sesudah
dikeluarkan: sporoblast tunggal membelah menjadi dua sporoblast (C), yang kemudian membentuk dinding kista,
menjadi sporokista, yang kadang-kadang mengandung empat sporozoit pada masing-masing sporokista. Images
contributed by Georgia Division of Public Health/CDC DPDx Parasite Image Library

25
Siklus hidup Isospora belli
Pada saat dikeluarkan, ookista yang belum matang biasanya mengandung satu sporoblast (jarang sekali dua)
. Pada proses pematangan selanjutnya sesudah dikeluarkan, sporoblast membelah menjadi dua (ookista
sekarang mengandung dua sporoblast); sporoblast mensekresikan dinding kista, kemudian menjadi sporokista;
dan tiap sporokista membelah dua kali untuk menghasilkan empat sporozoit. . Infeksi terjadi dengan jalan

26
menelan ookista yang mengandung sporozoit: sporokista hancur dinding kistanya di usus kecil dan mengeluarkan
sporozoit, yang menginvasi sel epitel dan memulai skizogoni . Sesudah pecahnya skizon, merozoit
dikeluarkan, menginvasi sel epitel baru, dan melanjutkan siklus perkembangbiakan aseksual . Trofozoit
berkembang menjadi skizon yang mengandung banyak merozoit. Sesudah paling sedikit satu minggu, tahap
seksual dimulai dengan perkembangan gametosit jantan dan betina . Pembuahan menghasilkan
perkembangan ookista yang dikeluarkan dalam tinja . Isospora belli menginfeksi baik manusia dan binatang.
CDC DPDx Parasite Image Library

PROTOZOA LUMINAL

TRICHOMONIASIS

Etiologi
Trichomonas vaginalis (sebuah flagellata)

Epidemiologi
Trichomonas vaginalis tersebar di seluruh dunia; angka kejadiannya sekitar 5% pada
wanita normal dan 70% diantara wanita tuna susila dan tahanan.

Morfologi
Bentuk trofozoit berdiameter 15-18 mikrometer dan berbentuk setengah buah pir
dengan satu nukleus, empat flagella depan dan satu flagellum samping yang
menempel pada membran yang dapat berundulasi. Dua aksostil diatur secara simetris
(Gambar 12). Organisme ini tidak membentuk kista.

Siklus Hidup
T. vaginalis berkoloni di vagina wanita dan di uretra (kadang-kadang prostat) pria.
Infeksi tejadi terutama melalui hubungan seksual, meskipun infeksi secara non-
seksual juga mungkin terjadi. Organisme tidak membentuk kista dan membelah
dengan pembelahan fusi yang menyukai keasaman yang rendah (pH > 5,9; pH normal
adalah 3,5-4,5). Tidak ada reservoir selain manusia.

Gejala
Infeksi T. vaginalis jarang memberikan gejala pada pria, meskipun dapat
menyebabkan uretritis ringan atau kadang-kadang prostatitis. Pada wanita, seringkali
tanpa gejala, tetapi infeksi berat pada lingkungan pH yang tinggi dapat menyebabkan
vaginitis ringan sampai berat dengan cairan kekuningan banyak berbau busuk,
kadang-kadang keluar cairan berbusa (Gambar 12).

Patologi
Organisme menyebabkan kerusakan yang bergantung pada kontak pada epitel dari
organ yang terinfeksi.

Diagnosis
Kecurigaan klinis dapat dikonfirmasi dengan ditemukannya organisme pada
pewarnaan Giemsa (Gambar 12) dari cairan vagina atau, pada kasus yang sulit,
dengan mengkultur sampel swab dalam media Diamond. Trofozoit dapat dibedakan
dari flagellata non-patogen Trichomona hominis.

27
Terapi
Metronidazole (meskipun teratogenik) efektif baik pada pria dan wanita. Douche
dengan menggunakan cuka mungkin dapat bermanfaat. Kebersihan pribadi dan
penggunaan kondom dapat membantu.

Gambar 12

Trichomonas vaginialis - Trophozoites CDC DPDx Parasite Image Library

Trichomonas vaginialis - Trophozoites CDC

28
Dua trofozoit dari Trichomonas vaginalis
dari kultur. Tampak empat buah flagella dan inti tunggal. Batang gelap ditengah adalah aksostil yang merupakan
karakteristik dari trichomonas © Ohio State University/P.W. Pappas/S.M. Wardrop

T. vaginalis – cairan Vaginal. CDC

29
Trichomonas – Pewarnaan sekresi vaginal. CDC

Trofozoit Trichomonas vaginalis, pewarnaan Pap © Dr Peter Darben, Queensland University of Technology
clinical parasitology collection. Used with permission

30
Trichomonas vaginalis - parasit protozoa yang menyebabkan trichomoniasis (fase vegetative yang
disebut trofozoit). © Dennis Kunkel Microscopy, Inc. Used with permission

31
Siklus hidup Trichomonas vaginalis
Trichomonas vaginalis tinggal dalam saluran genital wanita bagian bawah dan pada uretra dan prostat pria ,
dimana ia bereplikasi dengan pembelahan biner . Parasit tidak tampak memiliki bentuk kista, dan tidak dapat
bertahan dengan baik pada lingkungan luar. Trichomonas vaginalis ditularkan diantara manusia, hospes satu-
satunya, terutama melalui hubungan seksual . DPDx Parasite Image Library

32
Ringkasan

Organisme Penularan Gejala Diagnosis Terapi

Saluran Pencernaan:
Disentri disertai dengan Iodoquinol atau
Tinja: kista dengan 1-4
darah dan jaringan
Entameba nuklei dan/atau trofozoit.
Oro-fecal nekrosis.
histolytica Metronidazole
Trofozoit pada aspirasi.
Kronik: abses
Abses: Metronidazole

Diare yang banyak


berbau burung (Fowl-
smelling, bulky Tinja: khas trofozoit Iodoquinol or
Giardia lamblia Oro-fecal
diarrhea); jarang dan/atau kista giardia Metronidazole.
ditemukan darah atau
jaringan nekrosis.

Disentri disertai darah


Oro-fecal; Tinja: trofozoit bersilia Iodoquinol or
Balantidium coli dan jaringan nekrosis
zoonosis dan/atau kista. Metronidazole.
tetapi tanpa abses.

Cryptosporidium
Oro-fecal Diare Ookista dalam tinja Paromycin (uji coba)
parvum

Isospora belli Oro-fecal Seperti Giardiasis Ookista dalam tinja Obat-obat Sulfa

Vaginitis; kadang-
Trichomonas Flagellata dalam apusan Mebendazole; douche
Seksual kadang
vaginalis vagina (atau urethra). cuka; steroid
uretritis/prostatitis.

Sumber:
Hunt, R. (2005) Intestinal and Luminal Protozoa [Online]. Available:
http://pathmicro.med.sc.edu/parasitology/intest-protozoa.htm [Diakses: 14 Maret
2005].

33