Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Myanmar adalah sebuah negara yang terletak di kawasan Asia Tenggara yang
merupakan anggota dari ASEAN. Sifat negara Myanmar adalah tertutup dan dipimpin
oleh pemerintahan militer yang otoritarian. Bentuk pemerintahan Myanmar saat ini
adalah Junta Militer dengan nama The State Peace and Development Council
(SPDC). SPDC saat ini dipimpin oleh Jenderal Than Shwe yang juga merupakan
kepala negara Myanmar sejak 23 April 1992 hingga sekarang, sedangkan kepala
pemerintahan dikepalai oleh Perdana Menteri Jenderal Thein Sein. Junta militer telah
berkuasa di Myanmar selama 46 tahun terhitung sejak terjadinya kudeta militer oleh
Jenderal Ne Win terhadap pemerintahan sipil yang saat itu dipimpin oleh U Nu pada
tahun 1962.1

Rezim ini sangat tidak peduli akan kondisi dan keinginan rakyat Myanmar,
dimana pada tahun 1990 di saat dilakukan pemilu nasional dengan kemenangan partai
NLD (National League for Democratic), rezim ini menganulir hasil pemilu tersebut
dan melakukan penahanan terhadap para anggota NLD. Salah satu orang yang
menjadi korban penahanan tersebut adalah pemenang nobel perdamaian Aung San
Suu Kyi. Hinga hari ini, SPDC secara terus menerus masih melakukan berbagai
tindak kekerasan terhadap para aktivis demokrasi, rakyat sipil, dan terhadap berbagai
etnis, dimana dari keseluruhan populasi Myanmar, terdapat 7 suku mayoritas yang
mendiami Myanmar yaitu Arakan, Chin, Kachin, Karen, Karenni, Mon, dan Shan, di
samping 130 etnis dan kelompok minoritas lain, yang mana keseluruhan dari etnis
tersebut merupakan 40% dari keseluruhan penduduk Myanmar (di luar etnis Bama

1 Myanmar, diakses dari http://www.persecution.net/burma.htm pada tanggal 15 Juni 2010.


sebagai etnis mayoritas). Jika melihat berbagai tindak kekerasan yang dilakukan
SPDC terhadap rakyatnya, maka tidak berlebihan jika mengatakan SPDC merupakan
salah satu rezim yang paling represif yang ada di dunia saat ini.2

Myanmar merupakan negara yang mengalami arus investasi asing yang cukup
tinggi pada masa sebelum PD II, namun pada masa pascaperang, khususnya setelah
kemerdekaan Myanmar dari Inggris pada tahun 1948, kebijakan pemerintah
mengenai nasionalisasi ekonomi (sosialisme ekonomi) telah membelenggu investasi
asing di Myanmar, yang otomatis menghilangkan segala bentuk investasi asing secara
keseluruhan di Myanmar. Hingga pada tahun 1976, pemerintahan Myanmar pada
masa itu mulai mengindikasikan ketertarikan akan pembentukan “kerjasama ekonomi
yang saling menguntungkan” dengan perusahaan-perusahaan asing yang memiliki
kelebihan berupa teknologi yang dibutuhkan oleh Myanmar. Sudut pandang akan
kebijakan ini semakin diperkuat ketika Myanmar dibawah rezim pemerintahan Saw
Maung melegalkan segala perdagangan internal dan eksternal negara tanpa memberi
kontrol ketat terhadap industri-industri utama.3

Akhirnya, pada akhir tahun 1988, pemerintahan Myanmar merubah orientasi


sistem ekonomi mereka dari sistem perencanaan ekonomi yang terpusat menjadi
sistem perencanaan ekonomi yang berorientasi pasar demi mengundang investasi
asing ke Myanmar dibawah naungan hukum investasi asing Myanmar, atau yang
disebut Union of Myanmar Foreign Investment Law, dan dalam masa itu variasi
investasi masih terbatas pada beberapa sektor tertentu. Diantara sektor-sektor
tersebut, salah satunya adalah sektor sektor pengembangan dan eksplorasi minyak
dan gas alam. Tingginya deposit nilai minyak dan gas alam ini menyebabkan banyak
investor asing yang tertarik untuk menanamkan modalnya dan melakukan berbagai

2 Earth Rights International, The Human Cost of Energy:


Chevron’s Continuing Role in Financing Oppression and Profiting From Human Rights Abuses in
Military-Ruled Burma (Myanmar), hal 16
3 Myanmar - Foreign investment, diakses dari http://www.nationsencyclopedia.com/Asia-and-
Oceania/Myanmar.html pada tanggal 13 Januari 2010.
3

proyek kerjasama dengan pihak otoritas Myanmar.4

Perusahaan-perusahaan tersebut diantaranya adalah Total dari Perancis,


Unocal (sekarang Chevron) dari AS, serta perusahaan-perusahaan rekanan dari Asia
lain yang bergerak sebagai sub-kontraktor. Keseluruhan perusahaan tersebut bergerak
dalam sebuah konsorsium yang mengelola blok Yadana yang terletak di selatan
Rangoon yang ditemukan pada tahun 1982 oleh pihak Myanmar. Dalam masa itu
Myanmar telah memiliki produksi gas yang cukup untuk kebutuhan dalam negerinya,
namun pihak Myanmar tidak bisa membayar platform biaya produksi maupun
teknologi untuk mengembangkan proyek tersebut.5
Pada tahun 1992, perusahaan Perancis, Total, sebagai pemenang tender
menandatangani kontrak pertama dengan pihak junta militer untuk melakukan
pengembangan pada proyek Yadana, yang tujuannya adalah melakukan eksplorasi
gas alam yang selanjutnya akan dialirkan melalui jalur pipa gas menuju Thailand.
Dari awal mula pelaksanaan proyek ini, kontrak yang tertulis menyatakan bahwa
paling tidak 50% dari keuntungan proyek ini mengalir ke kantong junta militer
melalui perusahaan BUMN Kementrian Energi yang dikontrol junta, yaitu Myanma
Oil & Gas Enterprise (MOGE), yang juga berperan sebagai regulator dalam proyek
ini. Perusahaan AS, Unocal (sekarang Chevron) yang pada awalnya merupakan
kompetitor bagi Total dalam perebutan tender kontrak awal proyek Yadana,
selanjutnya menjadi partner dalam proyek ini pada awal tahun 1993 dengan membeli
sebagian saham pada proyek Yadana. Pada tahun 1995, Thailand sebagai pembeli
utama gas dari Myanmar bergabung dalam proyek ini dengan mengikutsertakan
perusahaan BUMN-nya, Petroleum Authority of Thailand Exploration and
Production, atau PTTEP untuk memiliki sebagian saham di proyek itu. Total dan
Chevron merupakan perusahaan yang memiliki saham terbesar dalam proyek ini,
yaitu sebesar 31,25% dan 28,25%, diikuti dengan PTTEP sebesar 25,5% dan MOGE
4 Myanmar - Foreign investment, diakses dari http://www.nationsencyclopedia.com/Asia-and-
Oceania/Myanmar.html pada tanggal 13 Januari 2010.
5The Burma-Thailand Gas Debacle, diakses dari http://www.irrawaddy.org/article.php?art_id=
4216&page=1pada tanggal 10 Juli 2010.
mendapatkan saham secara cuma-cuma sebesar 15%. Proyek Yadana merupakan
proyek investasi asing terbesar sepanjang sejarah Myanmar, dan merupakan sumber
pendapatan utama bagi rezim junta militer.6
Dalam proses eksplorasi dan produksinya, konsorsium yang mengelola blok
ini menyewa Tentara Myanmar untuk membersihkan jalan bagian darat bagi jalur
pipa gas yang menuju Thailand melalui Divisi Tenasserim di Myanmar. Selain
berfungsi sebagai “pembersih jalan”, para tentara ini juga memberikan jaminan
keamanan bagi para awak konsorsium. Dalam menjalankan tugasnya, para tentara
Burma beroperasi seperti biasanya, yaitu melakukan pembakaran terhadap desa-desa
disekitar, menggunakan tenaga kerja paksa, bahkan menyiksa dan membunuh
penduduk lokal.7
Masuknya Multinational Corporation, atau MNC di Myanmar tersebut
ternyata tidak diikuti dengan peningkatan kondisi ekonomi dan kesejahteraan
rakyatnya, dimana tingkat pendidikan, kesehatan, dan kecukupan energi dalam negeri
Myanmar sangatlah buruk. Statistik ekonomi Myanmar tidak mudah didapatkan.
Sejak tahun 1997, para jenderal junta militer bahkan tidak mempublikasikan
anggaran dasar negara yang formal, dan angka-angka yang mereka berikan tidak
dapat dipercaya. Pada periode yang sama, angka-angka mengenai kesehatan,
pendidikan, dan data-data sosial lain sangatlah langka. Tetapi, berdasarkan beberapa
perkiraan, rezim ini diperkirakan menggunakan 40% dari anggaran belanja negara
untuk pertahanan dan persenjataan, tetapi hanya membelanjakan kurang dari 1% GDP
negara untuk kesehatan dan pendidikan.8

Permasalahan yang terdapat di Myanmar ini menurut penulis menarik untuk


dikaji dikarenakan dua alasan. Pertama, bahwa fenomena yang terjadi pada
umumnya adalah jika sebuah negara memiliki sifat yang demokratis, memiliki sistem
6 Earth Rights International, The Human Cost of Energy: Chevron’s Continuing Role in Financing
Oppression and Profiting From Human Rights Abuses in Military-Ruled Burma (Myanmar), hal 16.
7 Historic Advance for Universal Human Rights: Unocal to Compensate Burmese Villagers, diakses
dari http://mailtw.ccrjustice.org/press-releases pada tanggal 10 Juni 2010.
8 Tragedi Myanmar, diakses dari http://www.marxist.com/tragedi-myanmar.htm pada tanggal 17
Januari 2010.
5

sosial yang kuat, dan terbuka akan arus globalisasi, maka MNC akan semakin mudah
masuk, sebaliknya jika pada umumnya negara memiliki sifat yang otoritarian,
memiliki sistem kontrol pemerintah yang terlampau kuat, dan tertutup akan arus
globalisasi maka MNC akan sulit masuk dan berkembang. Namun, kasus di Myanmar
merupakan sebuah anomali dan sangat menarik untuk dikaji, karena meskipun negara
dan sistem pemerintahannya tertutup dan otoriter, bahkan telah mendapat sanksi
ekonomi, MNC masih tertarik hingga dapat masuk dan berkembang di Myanmar.

Kedua, proyek Yadana merupakan proyek investasi asing terbesar sepanjang


sejarah Myanmar, dan merupakan sumber pendapatan utama bagi rezim junta militer,
dimana produksi gas mencapai 525 juta kaki kubik per hari yang dicapai pada tahun
2001, dan terus meningkat hingga 680 juta kaki kubik per hari pada tahun 2006, yang
mana dari jumlah ini sebesar 630 juta kaki kubik diekspor ke Thailand, dan sisanya
diguakan untuk kebutuhan domestik. Sedangkan total nilai investasi pada proyek
Yadana ini sebesar 1.184 miliar USD selama kurun waktu tahun 2004-2007.9
Disamping itu, secara tidak langsung, para partner proyek seperti Total dan Chevron
telah melakukan berbagai pelanggaran HAM yang dilakukan oleh tentara Myanmar
dalam proses kegiatan eksplorasi di blok Yadana, seperti penggunaan tenaga kerja
paksa dalam proses pembangunan infrastruktur perusahaan mereka di Myanmar,
pengusiran paksa para warga desa untuk pembersihan jalur pipa, dan berbagai
pelangaran HAM lainnya.10

Dalam tulisan ini penulis akan menjelaskan permasalahan yang ada dengan
sudut pandang bahwa sebenarnya terdapat konsep yang menyatakan MNC dapat tetap
berkembang di sebuah negara meskipun negara tersebut memiliki sifat yang

9 Chapter Six. Energy and Empire: A Political Economy of Oil and Gas Development in Myanmar
BLOOD MONEY. A Grounded Theory of Corporate Citizenship. Myanmar (Burma) as a Case in
Point (Black, 2009; University of Waikato), hal 221, diakses dari http://adt.waikato.ac.nz/uploads/
approved/adt-uow20100107.145917/public/01front.pdf pada tanggal 18 November 2010.
10 Chapter Seven. Energy and Empire: A Political Economy of Oil and Gas Development in Myanmar
BLOOD MONEY. A Grounded Theory of Corporate Citizenship. Myanmar (Burma) as a Case in
Point (Black, 2009; University of Waikato), hal 226, diakses dari http://adt.waikato.ac.nz/uploads/
approved/adt-uow20100107.145917/public/01front.pdf pada tanggal 18 November 2010.
otoritarian, memiliki sistem kontrol pemerintah yang terlampau kuat, dan tertutup
akan arus globalisasi, dan tidak memiliki akses terhadap jaringan institusi
internasional. Atas dasar itulah kemudian muncul ketertarikan penulis secara
akademis untuk menulis skripsi ini, yang mana dalam kajian hubungan internasional
terdapat landasan teori yang dapat menjelaskan fenomena tersebut.

Bagi beberapa negara, masuknya investasi asing ke sebuah negara seharusnya


dapat membuka hubungan antar masyarakat dunia dan membawa arus demokrasi dan
kemakmuran bagi rakyatnya. Namun dalam kasus di Myanmar, perdagangan dan
investasi asing justru membantu memperkuat kedudukan junta militer yang represif
dan otoriter. Di saat rakyat Myanmar tidak mendapat dampak apapun dari besarnya
investasi asing di Myanmar, junta militer Myanmar justru mengimpor peralatan
militer besar-besaran hingga bernilai lebih dari 2 miliar USD semenjak tahun 1989.11

Diantara sekian banyak perusahaan asing yang menanamkan modalnya di


Myanmar, perusahaan-perusahaan yang berasal dari negara-negara barat, khususnya
Perancis dan Amerika Serikat, merupakan sebuah fenomena unik yang menarik untuk
dikaji lebih lanjut. Hal ini dikarenakan negara-negara tersebut merupakan negara
yang paling mengecam keras berbagai tindakan yang dilakukan oleh rezim junta
militer, bahkan negara-negara tersebut merupakan negara yang memberikan sanksi
berupa embargo ekonomi kepada Myanmar. Rendahnya tingkat institusionalisasi
internasional, yaitu seberapa jauh sebuah area-isu spesifik yang diatur dalam
perjanjian bilateral, rezim multilateral, ataupun organisasi internasional antara
Myanmar dan negara-negara barat juga menyebabkan masuknya MNC dari negara-
negara barat ke Myanmar menjadi sebuah kejanggalan tersendiri.12

Atas dasar latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk mengambil
tulisan dengan judul “Keberadaan MNC Migas di Myanmar (Studi Kasus Total

11 Burma: Country in Crisis diakses dari http://www.asiaobserver.com/ pada tanggal 03 Oktober


2010.
12 Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 6
7

dan Chevron di Blok Yadana Myanmar)”

Ruang Lingkup Pembahasan


Ruang lingkup pembahasan diperlukan dalam setiap penulisan. Ruang lingkup
pembahasan digunakan untuk membatasi topik penulisan karya ilmiah, dengan tujuan
untuk menghindari pembahasan yang menyimpang dari tema, sehingga diharapkan
pembahasan lebih terarah dan jelas. Pembatasan-pembatasan yang penulis gunakan
adalah sebagi berikut:

1.2.1 Batasan Materi


Tulisan ini difokuskan pada penjelasan mengenai perkembangan MNC dari
negara barat di Myanmar. Di sini pembahasan akan dititikberatkan pada
perkembangan proyek Yadana yang dilakukan oleh perusahaan konsorsium Total dan
Chevron di Myanmar dengan hubungannya atas kondisi politik domestik Myanmar.

1.2.2 Batasan Waktu


Pembahasan dalam tulisan ini mengambil rentang waktu mulai tahun 1992
hingga tahun 2010. Alasan penulis mengambil batasan waktu mulai tahun 1992
dikarenakan pada tahun itu perusahaan-perusahaan yang berasal dari negara barat,
khususnya Total dan Chevron masuk dan melakukan investasi di blok Yadana.
Sementara pembahasan hingga perkembangan tahun 2010 dikarenakan sampai saat
ini perusahaan-perusahaan tersebut masih tetap beroperasi di Myanmar, serta sampai
saat ini junta militer Myanmar masih berkuasa, yang menandakan segala kegiatan
yang berkaitan dengan perkembangan MNC di Myanmar masih dikontrol oleh junta
militer. Fakta-fakta dan data terbaru atas permasalahan ini masih akan menjadi bahan
penting penulis dalam menyusun karya ilmiah ini

Rumusan Masalah
Menurut Sugiyono :
“Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnya
dengan apa yang benar-benar terjadi”

Setelah masalah diketahui, dipilih, dan diidentifikasi, maka langkah


selanjutnya adalah mengadakan perumusan masalah.
Permasalahan penelitian ini adalah :
“Apa penyebab MNC migas asing, khususnya Total dan Chevron tertarik untuk
melakukan investasi di Myanmar?”
“Bagaimana MNC Total dan Chevron dapat masuk dan berkembang di
Myanmar meskipun menghadapi sistem domestik Myanmar yang state-
controlled?”

Kerangka Pemikiran
Dalam menganalisa masuknya MNC ke suatu negara, yang dalam hal ini
adalah Myanmar, penulis menggunakan teori lokasi investasi yang diungkapkan oleh
Susan Feinberg dalam karyanya yang berjudul World Economy Location Theory dan
teori struktur domestik (domestic structure) yang diungkapkan oleh Thomas Risse-
Kappen dalam karyanya yang berjudul Bringing Transnasional Relation Back In.
Keseluruhan konsep ini secara gamblang memberikan penjelasan atas berbagai faktor
yang membuat sebuah MNC tertarik untuk melakukan investasi di sebuah negara dan
memberikan penjelasan akan berbagai faktor yang dapat memudahkan ataupun
menyulitkan MNC masuk ke suatu negara serta perkembangannya di kemudian hari.
Kedua konsep ini berjalan dan bergerak di dalam struktur sebuah pemerintahan.13
Penulis menganggap kedua konsep tersebut relevan dengan kajian tentang keberadaan
MNC di suatu negara serta telah menghasilkan riset-riset empiris yang sangat
bermanfaat, oleh karena itu konsep-konsep tersebut selanjutnya akan memperkaya
wacana mengenai teori dalam hubungan transnasional.

13 Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 6


9

1.4.1 Teori Lokasi Investasi


Teori lokasi investasi yang diungkapkan oleh Susan Feinberg dalam karyanya
yang berjudul World Economy Location Theory seringkali digunakan untuk
mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi para MNC dalam memilih
lokasi investasi mereka. Beberapa faktor tersebut diantaranya adalah :
Kondisi Hukum, Politik dan Aturan Yang Berlaku di Negara Target
Kondisi hukum dan peraturan-peraturan dari sebuah negara sangatlah penting
dalam memberi ketertarikan bagi investor asing. Berbagai peraturan seperti misalnya
peraturan akan tingkat pajak perusahaan tentu saja mempengaruhi biaya operasional
dari sebuah MNC. Sebaliknya, terdapat pula negara-negara yang menerapkan
peraturan ketat, seperti tidak diperbolehkannya kepemilikan aset secara penuh,
diwajibkan melakukan transfer teknologi, membatasi jumlah keuntungan yang
didapat, dan memberikan harga lebih tinggi dari produk domestik yang ada. Dapat
dipastikan, negara-negara yang melakukan peraturan ketat semacam itu kurang
menatik bagi para investor asing. Meskipun pada saat ini mulai bermunculan tren
akan liberalisasi perdagangan, pengetatan akan peraturan investasi masih dianut di
kebanyakan negara di dunia
Fitur lain yang menjadi daya tarik tersendiri bagi investor adalah faktor buruh
dan tenaga kerja, yaitu sejauh mana organisasi-organisasi buruh dapat mempengaruhi
kehadiran MNC di sebuah negara. Faktor perlindungan akan aset-aset perusahaan,
hak kekayaan intelektual, institusi investasi lokal, aturan lingkungan, dan aturan
perdagangan juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi MNC dalam memilih lokasi
investasi.
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas, perlu diperhatikan pula
mengenai beberapa tipe akan resiko politik yang menentukan lokasi para MNC
menanamkan investasinya, karena pada dasarnya, MNC menentukan lokasi investasi
berdasarkan jaminan keuntungan, dan faktor-faktor resiko yang dihadapi yang akan
mempengaruhi pendapatan perusahaan di kemudian hari, karena faktor resiko
merupakan faktor penghambat dalam mendapatkan keuntungan. Negara-negara yang
mengindikasikan resiko tinggi ataupun memiliki sejarah melakukan nasionalisasi
perusahaan asing, memiliki institusi sosial yang lemah, korupsi yang merajalela,
pemerintahan yang represif, seringnya terjadi kudeta politik, atau konflik etnis yang
berkepanjangan tentu akan menghambat masuknya alur investasi asing. Kebanyakan
negara-negara termiskin di dunia, seperti Haiti dan Honduras dan kebanyakan negara-
negara di sub-sahara, dimana terdapat berbagai konflik dan resiko politik, maka
negara-negara tersebut akan mendapatkan arus investasi yang cenderung kecil.
Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan negara-negara yang memiliki
resiko investasi tinggi akan mendapatkan arus investasi yang relatif tinggi, sehingga
faktor resiko bukanlah sesuatu yang mutlak untuk menjadi sebuah penghambat,
selama resiko tersebut sepadan dengan profit yang akan didapatkan oleh perusahaan
di kemudian hari, contohnya adalah China dan Nigeria. Meskipun China dan Nigeria
merupakan negara yang memiliki resiko investasi tinggi, namun kelebihan yang
dimiliki kedua negara tersebut mengalahkan faktor resiko yang ada. Hal itu
dikarenakan Nigeria merupakan salah satu negara yang kaya akan minyak bumi,
sedangkan China merupakan negara dengan populasi terbesar yang memiliki
pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Faktor-faktor semacam itulah yang dapat
mengalahkan faktor resiko sebagai penghambat investasi di sebuah negara, sehingga
MNC tetap akan menanamkan investasinya meskipun negara tersebut memiliki resiko
investasi yang cenderung tinngi.

Kondisi Ekonomi Negara Target


Fitur-fitur kondisi ekonomi dari negara target juga merupakan faktor penting
dalam menentukan lokasi investasi. Ketersediaan modal, Sumber Daya Manusia, dan
Sumber Daya Alam, seperti ketersediaan tenaga kerja murah di China, dan
ketersediaan minyak bumi yang melimpah di Nigeria memberikan pengaruh sangat
besar terhadap ketertarikan investor. Pentingnya keberadaan faktor produksi pada
11

pemikiran neoklasik, seperti ketersediaan lahan, tenaga kerja, dan bahan mentah yang
akan dipergunakan oleh MNC dalam menentukan lokasi investasi, pada dasarnya
berjalan konsisten dengan prediksi dari teori lokasi investasi.
Kekuatan ekonomi dan daya beli masyarakat dari negara target merupakan
pertimbangan lain dari faktor ekonomi sebuah MNC menentukan lokasi investasinya.
Ukuran pemasaran dari sebuah negara dapat dilihat dari biaya transportasinya, yaitu
sejauh mana fasilitas transportasi di sebuah negara dapat menjangkau jumlah
konsumen yang tinggi dengan biaya yang relatif murah. Daya tarik tinggi yang
muncul dari negara-negara maju sehingga mereka memiliki alur investasi tinggi
adalah dikarenakan tingginya taraf ekonomi yang tercermin dari tingginya
pendapatan negara (GDP), serta tingginya GDP-per kapita. Tingginya taraf ekonomi
ini menunjukkan bahwa kondisi infrastruktur negara dan daya beli masyarakat
cenderung tinggi, sehingga akan menjadi sebuah ketertarikan tersendiri bagi investor
asing untuk menanamkan investasinya.
Sama halnya dengan faktor resiko politik yang telah diungkapkan
sebelumnya, dalam menentukan lokasi investasinya, MNC juga memantau mengenai
resiko ekonomi di negara target. Negara yang memiliki sejarah pernah mengalami
inflasi sangat tinggi ataupun mengalami nilai mata uang yang lemah mungkin akan
sulit untuk mendapatkan arus investasi asing. Sama halnya dengan negara yang
mengalami inflasi, negara yang seringkali mengalami krisis keuangan dan finansial
secara periodik juga tidak akan begitu menarik bagi arus investasi asing.

1.4.2 Teori Struktur Domestik


Konsep struktur domestik yang diungkapkan oleh Thomas Risse-Kappen
dalam karyanya yang berjudul Bringing Transnasional Relation Back In lebih
menjelaskan sejauh mana kemampuan aktor-aktor transnasional menciptakan channel
terhadap sistem politik di sebuah negara dan berbagai macam kebutuhan yang
diperlukan untuk menciptakan koalisi yang saling menguntungkan (antara aktor
transnasional dan pemerintah) atau selanjutnya disebut winning coalition untuk
merubah kebijakan yang ada di sebuah negara. Pada satu sisi, jika sebuah negara
lebih mendominasi sistem domestiknya, maka jauh lebih sulit bagi aktor
transnasionalisme untuk menembus sistem sosial dan politik dari negara target.
Namun jika aktor transnasional berhasil melewati rintangan tersebut, maka dampak
daripada aturan-aturan yang mereka bawa akan dapat bertahan dan sangat
berpengaruh dalam pengambilan kebijakan di negara target, dengan catatan, hal
tersebut juga perlu didukung dengan coalition-building dengan kelompok yang lebih
kecil dari aktor-aktor pemerintahan yang muncul sebagai “rekanan” di kemudian hari.
Di sisi lain, jika semakin terfragmentasi sebuah negara dan sistem sosialnya
semakin terorganisasi, maka akan semakin mudah akses bagi aktor transnasional
untuk beroperasi disana. Namun perlu diingat, syarat-syarat yang harus dipenuhi
untuk membentuk sebuah koalisi yang sukses tidak sama dalam masing-masing
sistem negara.14
Pendekatan struktur domestik mengijinkan pembedaan terhadap beberapa
tingkatan dari kekuatan dan otonomi sebuah negara terhadap masyarakatnya, dan
pendekatan ini bergerak dibalik pengertian umum tentang pendekatan “kaum statis”
versus “kaum pluralis” terhadap negara. Pendekatan ini awal mulanya diterapkan
dalam bidang pembandingan kebijakan ekonomi luar negeri, yang kemudian
memperbarui riset-riset empiris mengenai beberapa isu di area tertentu untuk
menjelaskan beberapa variasi atas respon negara terhadap berbagai tekanan-tekanan
internasional, berbagai macam kendala, dan berbagai macam kesempatan. Pendekatan
ini sangat cocok diterapkan untuk membahas tentang beberapa variasi dari dampak-
dampak para aktor transnasional yang beroperasi dalam kebijakan sebuah negara.15
Gagasan mengenai konsep struktur domestik merujuk pada institusi-institusi
politik dari sebuah negara hingga struktur sosial, dan kepada hubungan akan
kebijakan-kebijakan yang menyatukan keduanya. Konsep struktur domestik meliputi
organisasi dari aparat-aparat politik dan institusi-institusi yang bergerak dalam bidang

14 Ibid
15 Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 19
13

sosial, termasuk didalamnya adalah rutinitas mereka, peraturan-peraturan akan


pengambilan keputusan, serta berbagai prosedur tentang hukum dan adat, yang sama
halnya dengan nilai serta norma yang terdapat dalam budaya politiknya.16
Konsep ini telah sebenarnya telah disinggung pada beberapa definisi yang ada
sebelumnya, sebagai contoh adalah konsep dari Katzenstein yang membahas tentang
“Between Power and Plenty”. Konsep-konsep tersebut terkonsentrasi pada fitur-fitur
organisasional dari sebuah negara dan masyarakat, khususnya pada tingkatan
sentralisasi mereka. Hal ini membimbing kita pada perdebatan mengenai pembedaan
akan negara kuat dan lemah. Karena kekuatan sebuah negara seringkali diukur dari
kapasitas negara tersebut untuk “mengekstrak” berbagai sumber daya dari
masyarakatnya untuk mencapai berbagai tujuannya di dunia internasional.17
Ketiga komponen dari konsep politik domestik membentuk tiga ruang lingkup
pembahasan tersendiri, yaitu :
Ruang lingkup struktur sebuah negara (Negara yang tersentralisasi versus
negara yang terfragmentasi)

Ruang lingkup struktur sosial (struktur sosial lemah versus struktur sosial
kuat)

Ruang lingkup jaringan kebijakan (Negara terkonsensual versus negara yang


terpolarisasi)

Salah satu dari pandangan-pandangan ruang lingkup tersebut juga dapat


digunakan untuk membahas mengenai struktur domestik pada masing-masing tipe
negara secara spesifik. Untuk mengurangi kompleksitas diantara ketiganya, maka
masing-masing dari komponen domestik struktur tersebut dapat diperdebatkan,
dengan hasil dimana akan menghasilkan enam tipe berbeda dari munculnya struktur
domestik di masing-masing negara. Beberapa tipe-tipe yang dianggap ideal tersebut
selanjutnya akan dihubungkan dengan beberapa usulan-usulan spesifik terhadap
16 Ibid, Hal 20
17 Ibid
kebijakan yang akan ditempuh oleh aktor-aktor dan koalisi transnasional.18
Keenam tipe tersebut adalah :19
Pertama, negara-negara dengan tipe struktur domestik yang secara penuh
dikontrol oleh negara (state-controlled), yang mana tipe ini melingkupi institusi
politik yang sangat terpusat dengan kuatnya pemerintahan, khususnya badan
eksekutif dan memiliki organisasi-organisasi sosial sebagai penengah yang lemah.
Namun, meskipun muncul organisasi-organisasi penengah yang cukup kuat dalam
bidang jaringan pembuat kebijakan atau bahkan dalam bidang kultur politik yang
berorientasi konsensual, masyarakatnya terlalu lemah untuk menyeimbangkan
perannya dibandingkan dengan peran dan kontrol negara. Banyak dari negara-negara
dunia ketiga yang menganut sistem komunis dengan sistem perencanaan ekonomi
yang terpusat serta berbagai pemerintahan otoritariannya telah menemukan
kecocokan akan deskripsi dari tipe ini. Beberapa contoh negara-negara yang sesuai
dengan tipe ini adalah awal mula Uni Soviet, Jerman Timur, dan Rumania pada masa
pemerintahan komunis.
Kedua, adalah negara-negara dengan tipe struktur domestik yang didominasi
oleh negara (state-dominated) yang mana tipe ini dapat dibedakan dari tipe
sebelumnya, yaitu struktur domestik yang secara penuh dikontrol oleh negara (state-
controlled). Hal tersebut dikarenakan terdapat perbedaan kondisi jaringan dan sistem
pembuat kebijakan (policy networks) dari tipe ini. Pada tipe ini terdapat organisasi-
organisasi penengah yang cukup besar dan kuat untuk menghubungkan kebutuhan
masyarakat kepada sistem politik yang ada, atau bahkan membawanya hingga kepada
sebuah konsensus yang mempengaruhi norma-norma pengambilan keputusan.
Pemikiran ini muncul karena kultur politik dalam sebuah negara seringkali
menjadikan negara sebagai pelaksana dari kebutuhan akan masyarakatnya. Dalam
kata lain, kultur politik ataupun organisasi-organisasi menengah berguna untuk
menyeimbangkan kekuatan dari negara. Hal tersebutlah yang membedakan tipe ini

18 Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 22-23


19 Ibid
15

dengan tipe state-controlled yang mana masyarakat dan organisasinya terlalu lemah
untuk menyeimbangkan perannya dibandingkan dengan negara. Contoh negara-
negara yang sesuai dengan tipe ini adalah Singapura, Korea Selatan, dan Zimbabwe.
Ketiga adalah negara-negara dengan tipe struktur domestik yang menemui
“jalan buntu” (stalemate). Tipe ini dicirikan dengan perbandingan sistem negara yang
kuat menghadapi sistem organisasi sosial yang kuat pula dalam kondisi negara yang
terpolarisasi, baik dalam bidang adat maupun kultur politiknya yang seringkali
memunculkan perdebatan akan posisi tawar-menawar antar keduanya. Konflik sosial
dan politik tampaknya akan sulit diselesaikan dalam negara-negara dengan tipe
seperti ini, terlebih lagi, pemboikotan kebijakan pemerintah sangat sering terjadi
dalam tipe ini. Negara-negara yang menjadi contoh dalam kasus ini adalah India, dan
Hungaria (sebelum tahun 1989).
Keempat adalah negara-negara dengan tipe struktur domestik yang dalam
pelaksanaannya mengutamakan kerjasama antara pemerintah dengan masyarakatnya,
atau yang biasa disebut corporatist. Negara-negara dengan tipe ini memiliki
organisasi penengah yang kuat seperti partai politik berorientasi konsensual yang
secara beriringan dan berkelanjutan melakukan “pengawalan” serta bargaining
terhadap pemerintah dan selalu melakukan kompromi-kompromi. Contoh negara-
negara yang menggunakan tipe ini adalah pada kebanyakan negara-negara kecil di
Eropa, termasuk juga di dalamnya adalah Jepang.
Kelima adalah negara-negara dengan tipe struktur domestik yang didominasi
oleh masyarakatnya (society-dominated). Tipe ini ada pada negara yang memiliki
tekanan publik yang kuat, namun memiliki institusi politik yang tidak terpusat dan
terpecah-pecah. Negara yang tergolong kategori ini adalah Amerika Serikat, dan
dalam beberapa kasus, Hong Kong juga termasuk di dalamnya. Tidak tertinggal
Filipina juga termasuk di dalam tipe ini, dimana negara yang sangat terfragmentasi
(kepulauan yang terpisah-pisah) menghadapi tekanan publik yang sangat tinggi dalam
kultur politik yang sangat terpolarisasi.
Keenam adalah struktur domestik yang rapuh (fragile). Pada tipe ini struktur
domestik merupakan kombinasi dari institusi negara yang terfragmentasi, tingkat
mobilisasi sosial yang rendah, ditambah lagi organisasi sosial yang rendah. Negara-
negara yang tergolong dalam tipe ini adalah kebanyakan negara-negara di Afrika. Hal
yang sama juga terjadi pada Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet.
Pembahasan dan asumsi yang akan dibahas selanjutnya akan lebih masuk akal
dan menjadi pembahasan tersendiri. Hal tersebut dikarenakan semakin tersentralisasi
sistem politik sebuah negara, maka semakin sedikit akses yang dapat digunakan aktor
transnasional untuk menembus sistem dan institusi dari “negara target”. Dalam kata
lain, akses semakin sulit ketika menghadapi negara dengan sistem struktur domestik
yang sepenuhnya dikontrol negara (state-controlled), padahal, ada harapan akan jauh
lebih mudah mendapatkan akses ketika menghadapi negara dengan institusi politik
yang “lemah”. Hal ini dikarenakan pada negara yang struktur domestiknya dikontrol
oleh negara, pemerintah memiliki wewenang yang sangat kuat dan luas untuk
memperketat akses transnasional. Contoh kasusnya adalah ketika organisasi
perdamaian dari barat menghadapi kesulitan untuk masuk ke wilayah Eropa Timur
untuk menjalin hubungan dengan pihak-pihak pergerakan anti-komunis disana.20
Namun, jika semakin terfragmentasi sebuah negara, maka kemampuan
pemerintahan nasional untuk mencegah masuknya aktivitas transnasional juga
semakin lemah. Dalam kasus tipe struktur domestik yang didominasi negara (state-
dominated), aktor transnasional dan koalisi tidak mendapatkan masalah yang berarti
dalam menembus sistem sosial dan politik di negara target, hal tersebut dikarenakan
karena para aktor transnasional tersebut memiliki jalur yang sangat banyak berupa
organisasi-organisasi sosial dan masyarakat untuk mempengaruhi kebijakan yang ada.
Bahkan dalam beberapa kasus di negara-negara dunia ketiga, isu akan pemblokiran
visa tidak akan berpengaruh pada kegiatan transnasional disana.21
Perlu digarisbawahi, kemudahan aktor transnasionalisme mendapatkan akses
terhadap suatu negara tidak menjamin bahwa aktor tersebut dapat memberi pengaruh

20 Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 25


21 Ibid
17

terhadap kebijakan yang sudah ada. Alasannya adalah, bahwa tingkat kesuksesan dari
aktor transnasional untuk mempengaruhi perubahan kebijakan di suatu negara adalah
tergantung bagaimana mereka membentuk winning coalition dengan negara target
sebagai tolak ukur dari fungsi struktur domestik. Disaat munculnya hambatan
pertama yaitu mendapatkan akses yang hanya didapat dengan cara yang sulit dan
terbatas yaitu dengan cara membentuk koalisi transnasional, maka hambatan
berikutnya yang siap menunggu adalah membangun winning coalition itu sendiri,
yang bergantung pada kemempuan mereka untuk mempengaruhi struktur domestik
“negara target”.22
Jika melihat kondisi Myanmar saat ini, maka dapat dikatakan tipe sistem
domestik Myanmar adalah tipe struktur domestik yang secara penuh dikontrol oleh
negara (state-controlled), yang mana tipe ini melingkupi institusi politik yang sangat
terpusat dengan kuatnya pemerintahan, khususnya badan eksekutif dan memiliki
organisasi-organisasi sosial sebagai penengah yang lemah. Badan eksekutif yang
dikuasai secara total oleh Junta Militer seakan tidak mendapatkan pertentangan
domestik yang begitu berarti dari rakyatnya. Hal tersebut dikarenakan selain negara
yang dikontrol ketat oleh militer, rakyat dan organisasi-organisasi sosial di Myanmar
juga tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk melawan pemerintah, kalaupun
ada perlawanan, militer langsung bertindak represif dan seringkali melakukan
kekerasan dalam “membungkam” pihak-pihak yang melakukan perlawanan tersebut.
Namun, meskipun suatu saat nanti muncul organisasi-organisasi penengah yang
cukup kuat dalam bidang jaringan pembuat kebijakan atau bahkan dalam bidang
kultur politik yang berorientasi konsensual di Myanmar, masyarakat Myanmar terlalu
lemah untuk menyeimbangkan perannya dibandingkan dengan peran dan kontrol
negara.23
Berikut ini adalah tabel yang secara singkat menjelaskan seberapa jauh MNC
dapat mempengaruhi arah kebijakan politik domestik di sebuah negara dengan tipe-

22 Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 26


23 Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 22-23
tipe negara yang berbeda :
Tabel 1.1 : Pengaruh MNC terhadap arah kebijakan pemerintah pada beberapa tipe
negara

TIPE STRUKTUR AKSES TERHADAP PENGARUH MNC


DOMESTIK INSTITUSI TERHADAP ARAH
DOMESTIK KEBIJAKAN
PEMERINTAH

State Controlled Paling sulit MNC sangat berpengaruh


dan sulit untuk diganggu
gugat

State-Dominated Cenderung Lebih Sulit Idem

Stalemate Cukup Sulit Tidak berdampak apa-apa

Corporatist Cukup Mudah Dapat berlangsung secara


bertahap dan berlangsung
dalam jangka waktu lama
dengan syarat
membentuk koalisi
dengan organisasi sosial
maupun politik yang kuat

Society-Dominated Mudah Sulit untuk membentuk


koalisi dengan organisasi
sosial yang kuat

Fragile Sangat Mudah Tidak berdampak apa-apa

Sumber : Bringing Transnasional Relation Back In, Thomas Risse-Kappen, Hal 28

1.5 Argumen Utama


Dari elaborasi latar belakang permasalahan dan kerangka pemikiran yang
19

telah diuraikan di atas, dapat diajukan jawaban sementara yang lebih sederhana dan
runut dalam tulisan ini adalah :

“MNC migas Total dan Chevron tertarik untuk melakukan investasi di


Myanmar, serta dapat masuk dan berkembang di Myanmar yang state-
controlled dikarenakan tiga hal, pertama, adanya jaminan atas kondisi domestik
dan hukum investasi di Myanmar menyebabkan para MNC tertarik untuk
melakukan investasi di Myanmar, kedua, para MNC tersebut telah berhasil
membentuk channel dan winning coalition dengan aktor domestik Myanmar,
ketiga, sistem struktur domestik Myanmar yang bersifat state-controlled
menyebabkan MNC yang telah beroperasi di Myanmar semakin terlindungi dan
sulit untuk diganggu gugat, khususnya oleh pihak dalam negeri Myanmar”

1.6 Metode Penelitian


Metode penelitian merupakan prosedur atau langkah-langkah sistematis dalam
memecahkan suatu masalah sesuai dengan ketentuan yang ada. Dengan menggunakan
metode penelitian diharapkan peneliti dapat memperoleh data yang dibutuhkan sesuai
dengan permasalahan yang ada. Oleh karena itu metode penelitian mempunyai
peranan penting dalam tercapainya penelitian.
Menurut Sudjarwo, yang dimaksud metode adalah suatu prosedur atau cara
untuk mengetahui sesuatu dengan langkah sistematis.24 Sedangkan Sugiono
menyebutkan ”Metode penelitian merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data
dengan tujuan dan kegunaan tertentu”. Maka dalam hal ini penulis menggunakan
metode penelitian, sebagai berikut :
1. Teknik pengumpulan data
2. Metode analisis data.
24 Sudjarwo dalam Rusidi, 2001:22
1.6.1 Teknik Pengumpulan Data
Strategi penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi pustaka,
dengan teknik pengumpulan data dari berbagai sumber data sekunder, seperti buku
teks, terbitan berkala, jurnal, majalah, surat kabar, dokumen, makalah, dan bahan-
bahan lainnya. Tidak tertutup kemungkinan untuk menggunakan berbagai buku,
terbitan, jurnal, majalah, surat kabar, dokumen, makalah, dan bahan-bahan lain yang
berbentuk elektronik (yang biasa didapat melalui instrumen internet).

1.6.2 Metode Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis
kualitatif. Analisis kualitatif dilakukan terhadap data yang berupa informasi atau
uraian dalam bentuk bahasa prosa kemudian dikaitkan dengan data lainnya untuk
mendapatkan kejelasan terhadap suatu kebenaran atau sebaliknya sehingga
memperoleh gambaran baru atau menguatkan suatu gambaran yang telah ada dan
sebaliknya.
Sedangkan untuk metode berpikir, penulis menggunakan cara berpikir
deduktif. Dengan menggunakan metode deduktif berarti analisa dimulai dari
pengetahuan yang sifatnya umum. Bertitiktolak pada pengetahuan yang umum itu,
kemudian kita menilai suatu kebijakan yang sifatnya lebih khusus. Dalam artian, kita
menganalisa peristiwa-peristiwa ataupun fenomena-fenomena yang bersifat lebih
spesifik.

1.7 Pendekatan
Pendekatan dalam karya tulis ilmiah diperlukan untuk memahami sudut
pandang dari permasalahan yang ada. Pendekatan menurut The Liang Gie adalah:

“Keseluruhan sikap penyelidikan, sudut pandangan, ukuran, pangkal duga dan


kerangka dasar pemikiran daripada sesuatu ilmu yang dipakai untuk
mendekati sesuatu sasaran memasuki suatu bidang ilmu dan memahami
21

pengetahuan yang teratur dan bulat mengenai sasaran yang ditelaah ilmu
tersebut.”25

Pendekatan yang akan penulis gunakan dalam penelitian ini adalah


pendekatan realis, karena salah satu kontribusi yang diberikan realisme adalah
perhatiannya terhadap permasalahan relative gains dan absolute gains. Menurut
Joseph Grieco dan Stephen Krasner menyatakan bahwa sistem yang anarkis memaksa
negara untuk memperhatikan secara bersamaan: 1) absolute gains dari kerjasama dan;
2) aturan main dalam distribusi keuntungan di antara partisipan.26 Logikanya adalah,
jika sebuah negara mendapatkan keuntungan lebih besar dari yang lain maka ia secara
gradual akan semakin kuat. Sementara negara yang lain akan semakin rentan
(vulnerable). Secara garis besar pendekatan realisme menekankan pada aspek
kepentingan yang begitu kental dalam melakukan interaksi internasional. Dapat
dikatakan, setiap perilaku negara di fora internasional senantiasa dituntun oleh konsep
kepentingan, karena dalam dunia yang anarkhi dan self help, negara akan cenderung
memperjuangkan kepentingannya sendiri.27

1.8 Sistematika Penulisan


Pada bab 1 akan dijelaskan mengenai latar belakang MNC migas dari negara
barat, khususnya Total dan Chevron yang dapat terus berkembang di Myanmar di
tengah sifat negara Myanmar yang tertutup dengan batasan waktu mulai tahun 1992
hingga tahun 2010. Pada bab ini juga akan muncul permasalahan yang selanjutnya
akan dikaji dengan landasan teori yang ada sehingga mendapatkan hipotesis, atau
jawaban sementara. Selanjutnya bab ini akan menerangkan tujuan dan manfaat dari
penelitian, metode penelitian, tipe penelitian, objek penelitian, sumber dan jenis data,
teknik pengumpulan data, metode analisis data, hingga pada pendekatan teoritis.

25 The Liang Gie. Ilmu Politik. Yogyakarta: Yayasan Ilmu dan Teknologi. 1986, Hal. 80
26 Teori-teori Dalam Hubungan Internasional, diakses dari http://suicunesoul.blogspot.com/
2008/12/teori-teori-dalam-hubungan.html pada 02 Januari 2010.
27 Teori-teori Dalam Hubungan Internasional, diakses dari http://suicunesoul.blogspot.com/
2008/12/teori-teori-dalam-hubungan.html pada 02 Januari 2010.
Pada bab 2 secara khusus akan menjelaskan tentang gambaran umum
Myanmar serta kondisinya dibawah pemerintahan Junta Militer. Selanjutnya analisis
membahas tentang dampak sanksi ekonomi terhadap perkembangan MNC di
Myanmar. Setelah itu, pembahasan akan beralih kepada penjabaran tentang sanksi
ekonomi dan aplikasinya di Myanmar.
Pada bab 3 secara khusus akan menjelaskan tentang gambaran umum dari
MNC serta perkembangannya di Myanmar. Selanjutnya, pembahasan akan diarahkan
pada situasi investasi di Myanmar dan perkembangan MNC di Myanmar dengan
melakukan ulasan khusus terhadap MNC dari negara-negara barat yang bergerak
dalam bidang eksplorasi minyak dan gas, khususnya Total dan Chevron. Selain
penjelasan-penjelasan tersebut, selanjutnya akan dibahas mengenai pengaruh
hadirnya MNC terhadap kondisi dalam negeri Myanmar.
Pada bab 4 akan dijelaskan mengenai pemecahan masalah melalui analisis
data dengan menggunakan metode, teknik, dan landasan teori yang telah dipilih.
Yaitu akan dijelaskan faktor-faktor yang menyebabkan MNC migas dari negara barat
dapat masuk dan terus berkembang di Myanmar yang memiliki sifat tertutup dengan
menggunaka analisis teori lokasi investasi dan teori struktur domestik.
Pada bab 5 akan dijelaskan mengenai kesimpulan dari skripsi ini.