Anda di halaman 1dari 19

JURNAL

KEBISINGAN DAN PENGARUHNY PADA LINGKUNGAN HIDUP

Ditulis oleh Sungging Handoko

STUDI KASUS

POLUSI UDARA DI JAKARTA

DI SUSUN OLEH :

HERIE SETIO PRATAMA

(41609120069)
KEBISINGAN DAN PENGRUHNYA PADA LINGKUNGAN HIDUP

1. PENDAHULUAN
Adanya pencemaran lingkungan hidup seperti pencemaran udara, air dan tanah
semuanya adalah beberapa akibat perkembangan zaman modern sekarang ini. Masalah
pencemaran pada abad sekarang semakin komplek dirasakan dan tidak sedikit beberapa ahli
mengadakan seminar, pertemuan guna membahas masalah tersebut. Dari yang bersifat
nasional maupun internasional. Salah satu seminar yang membahas pencemaran dan belum
lama di Bandung oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman dimana
dimana salah satu unsur-unsur pokok yang dibahas dalam seminar tersebut adalah : “Tentang
pencegahan pencemaran dalam arti umum yang meliputi antara lain : Pencegahan Pencemaran
Karena Kebisingan”. Seminar yang memecahkan masalah kebisingan ini adalah pertama kalinya
dilakukan di Indonesia.

2. PEMBAHASAN
2.1 TINGKAT KEBISINGAN DAN PENGARUHNYA
Tidak semua bunyi menimbulkan gangguan pada pendengar. Hal ini tergantung dari
tingkat tinggi rendahnya ukuran kebisingan yang dihasilkan; dan diukur dalam decibel.
Semakin tinggi desibelnya semakin banyak pengaruh yang ditimbulkan. Beberapa catatan
pengukuran tingkat decibel yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Rocket dan sejenisnya menghasilkan kebisingan : 170 desibel.
2. Sirine menghasilkan kebisingan: 150 desibel.
Keduanya berada dalam batas limit ekstrim toleransi pendengaran manusia yang
berukuran : 140 desibel.
Batas tekanan suara yang menyulitkan telinga: 120 desibel.
1. Sepeda motor : 110 desibel.
2. K. A. dan stasiun Kereta api bawah tanah di Paris: 90 desibel
Kesemuanya masih dalam perimbangan intensitas range yang bias membahayakan
pendengaran manusia. Pada tingkat dibawahnya adalah tingkat kebisingan yang dihasilkan
di dalam rumah seperti:
Bunyi bel jam dinding kira-kira: 80 desibel, bel tilpon: 70 desibel, suara pembicaraan /
kelakar yang keras: 60 desibel, seperti dipasar-pasar, super market, tempat-tempat umum.
Suara sonometer penghantar tidur tidak lebih dari: 30 desibel.

2.2 PENGARUHNYA PADA KESEHATAN


Pada pertanyaan apakah kebisingan begitu merugikan kesehatan, belum ada seorang
dokter, ilmiawan yang berani mengatakan dan memberi jawaban yang nyata. Dimanapun
data yang diperoleh dari survei statistic keseluruhan terhadap kebisingan ternyata
mempengaruhi dan merugikan kesehatan.
Pada faktor biologi lainnya pernah dilakukan penyelidikan di USA pengaruh kebisingan
terhadap pertumbuhan tanaman, dilakukan oleh seorang ahli fisiologi tumbuh-tumbuhan
California yaitu W. F. Gericke dengan melakukan percobaan pada suaru green hoyce (rumah
tanaman) yang sedang ditumbuhi sejenis tanaman diarahkan kepadanya beberapa suara
berbeda tingkat decibelnya. Setelah beberapa bulan dilakukan pengontrolan diperoleh hasil
bahwa tanaman yang terkena pengaruh suara dengan tingkat decibel tinggi terjadi
kematian dan penghambatan pertumbuhan.

2.3 PENGARUH PADA KEJIWAAN


Diantara faktor-faktor yang banyak mempengaruhi kesehatan jiwa dan melumpuhkan
kegiatan seseorang kebisingan; seperti percakapan-percakapan yang keras, nyanyian-
nyanyian dan musik keras serta segala bentuk kebisingan yang dihasilkan sebagai cirri
zaman modern. Alat-alat transportasi yang menghasilkan suara yang memekakan telinga,
memusingkan kepala dan melesukan jiwa. Dengan kata lain dapat diartikan bahwa sesaat
kebisingan memburu ketenangan hidup, terutama kota-kota besar. Akibat kebisingan
adalah adanya kecemasanjiwa yang mulai tampak dinegara-negara maju dimana timbul
gejala-gejala adanya gangguan psychologis sehingga memaksa kelompok-kelompok tertentu
berlari mengasingkan diri dari kebisingan kota kepuncak-puncak gunung, ketempat yang
sepi lainnya.
Ahli-ahli ilmu jiwa menduga bahwa kadar kepenatan jiwa yang disebabkan oleh
kesungguhan berfikir atau konsentrasi otak selama satu jam untuk memecahkan soal-soal
matematik yang rumit adalah berkadar 100 unit.
Sedangkan kadar kepenatan jiwa yang disebabkan oleh kebisingan adalah 600 unit.
Berarti perbandingan kadar kepenatan jiwa yang disebabkan konsentrasi otak dalam
suasana sepi lebih rendah dari kadar kepenatan jiwa karena kebisingan, dengan
perbandingan yang menyolok 1 : 6.

3. PENCEGAHAN / SOLUSI
Langkah-langkah yang telah dilakukan terhadap pengaruh kebisingan pada kesehatan
ialah dengan dilakukannya study tentang masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh kebisingan
untuk beberapa tahun di Eropa oleh WHO, dan penelitian akibat kebisingan pada kesehatan
serta usaha penanggulangannya dilaporkan oleh WHO Regional Office di Copenhagen tahun
1970.
Usaha yang dilakukan di USA untuk mengurangi akibat kebisingan didalam rumah adalah
dengan beberapa cara yaitu mengharuskan memakai permadani yang tebal pada yang
menempati flat disebelah atas, dengan memakai/membuat ruangan berkarpet serta sound
proof.
Langkah-langkah perseorangan lainnya dalah mengurangi kebiasaan membunyikan
musik-musik keras, suara kelakar yang sumbang dan ramai. Dinding dan lantai dengan dilapisi
bahan penyerap suara seperti permadani akan mengurangi bunyi dan gaung akibat geseran
ataupun getaran-getaran suara keras lainnya.
Serta sound proof. Langkah-langkah perseorangan lainnya adalah mengurangi kebiasaan
membunyikan musik-musik keras, suara kelakar yang sumbang dan ramai, Dinding dan lantai
dengan dilapisi bahan penyerap suara seperti permadani akan mengurangi bunyi dan gaung
akibat geseran ataupun getaran-getaran suara keras lainnya.
Langkah-langkah lain dimasyarakat bias diusahakan dengan melarang pemakaian mobil
atau motor dengan knalpot terbuka. Menjauhkan pusat-pusat suara bising dari perkampungan
penduduk, seperti bunyi pesawat-pesawat supersonik, pusat-pusat latihan ledakan serta
industri-industri berat dengan suaramesin yang gemuruh memekakan. Mengurangi dengan
jalan menempatkan generator kapasitas tinggi pada ruang sound proof. Langkah-langkah
tersebut diusahakan demi kelangsungan dan ketenangan hidup.

4. KESIMPULAN

Seperti dituliskan oleh Schopenhaver bahwa: “Noise is the most offensive of


interruptions and can even shatter one’s thought”; maka sebagai reaksi tulisan tersebut
seorang pendengar mengatakan bahwa ditengah-tengah kebisingan meditasi tidak mungkin
dilakukan, berdoapun sukar dan pada pokoknya kebisingan yang berkepanjangan adalah suatu
siksaan. Dan kebisingan adalah suatu ledakan yang menyusup kedalam lingkungan hidup,
merongrong dan mengerogoti ketenangan hidup.

5. DAFTAR PUSTAKA

Abdul Kadir M. (1999), IBD, Fajar Agung, Jakarta.


Abdullah Aly & Eny Rahma (1999), IAD, Bumi Aksara, Jakarta.
M.A. Regnault (1990) The Decibel Inferno, WHO.
Munandar S. (2000), ISD (Revisi), Retika Aditama, Bandung.
Aat Suriatmadja (1999), Ilmu Lingkungan, ITB, Bandung.
KEBISINGAN DAN PENGARUHNY PADA LINGKUNGAN HIDUP

Ditulis oleh Sungging Handoko

A. Pendahuluan

Adanya pencemaran lingkungan hidup seperti pencemaran udara, air dan tanah
semuanya adalah beberapa akibat perkembangan zaman modern sekarang ini. Masalah
pencemaran pada abad sekarang semakin komplek dirasakan dan tidak sedikit beberapa ahli
mengadakan seminar, pertemuan guna membahas masalah tersebut. Dari yang bersifat
nasional maupun internasional. Salah satu seminar yang membahas pencemaran dan belum
lama di Bandung oleh Badan Pembinaan Hukum Nasional, Departemen Kehakiman dimana
dimana salah satu unsur-unsur pokok yang dibahas dalam seminar tersebut adalah : “Tentang
pencegahan pencemaran dalam arti umum yang meliputi antara lain : Pencegahan Pencemaran
Karena Kebisingan”. Seminar yang memecahkan masalah kebisingan ini adalah pertama kalinya
dilakukan di Indonesia.

Pada abad sebelum ditemukannya peralatan modern yang mengeluarkan suara bising,
kebisingan belum merupakan problem kehidupan; dan masa sekarang memaksakan kepada kita
untuk ikut memikirkan dan memecahkannya. Beberapa tulisan menyebutkan bahwa kebisingan
dirasakan sekarang ini masalahnya sudah mulai dirasakan gejala-gejalanya sejak jaman Roma
kuno yang tertulis dalam bentuk satire Juvenal.

Pada abad ke XVI dibawah Ratu Elisabeth di Inggris suaminya telah melarang memukul
bunyi-bunyian yang terlalu keras dan membisingkan. Kemudian pada abad berikutnya Boileau
mengeluh akibat kebisingan kota Parisa selama pemerintahan Louis XIV. Kemudian mengikuti
evolusi dan perkembangan teknik kebisingan semakin terasa pengaruhnya. Pencemaran udara
dan pencemaran air dengan cepat dapat diketahui akibatnya dan diuraikan menurut unsure-
unsurnya tetapi kebisingan tidaklah demikian cepat dan mudah diketahui akibatnya. Hal ini
disebabkan penaruh kebisingan baru dirasakan setelah menahun. Dari beberapa keluhan akibat
kebisingan maka kebisingan dapat didefinisikan sebagai “suatu suara yang tidak diinginkan oleh
pendengar karena keras dan mengesalkan”.

Dibanyak tempat kebisingan nyata sebagai suatu hasil dari perkembangan teknik modern
dimana ia dapat menimbulkan gelombang dan tekanan suara yang tinggi sehingga melebihi
batas pendengaran manusia dan mahluk hidup lainnya. Kebisingan adalah suatu hal yang tak
dapat dielakkan seperti parasit yang sedikit demi sedikit menggerogoti hospesnya. Kebisingan
menyusup dari pusat bunyi kepelosok kota dan desa, keseluruh penjuru dunia.

B. TINGKAT KEBISINGAN DAN PENGARUHNYA

Tidak semua bunyi menimbulkan gangguan pada pendengar. Hal ini tergantung dari
tingkat tinggi rendahnya ukuran kebisingan yang dihasilkan; dan diukur dalam decibel. Semakin
tinggi desibelnya semakin banyak pengaruh yang ditimbulkan. Beberapa catatan pengukuran
tingkat decibel yang pernah dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Rocket dan sejenisnya menghasilkan kebisingan : 170 desibel.

2. Sirine menghasilkan kebisingan: 150 desibel.

Keduanya berada dalam batas limit ekstrim toleransi pendengaran manusia yang
berukuran : 140 desibel.

Batas tekanan suara yang menyulitkan telinga: 120 desibel.

1. Sepeda motor : 110 desibel.

2. K. A. dan stasiun Kereta api bawah tanah di Paris: 90 desibel

Kesemuanya masih dalam perimbangan intensitas range yang bias membahayakan


pendengaran manusia. Pada tingkat dibawahnya adalah tingkat kebisingan yang dihasilkan di
dalam rumah seperti:
Bunyi bel jam dinding kira-kira: 80 desibel, bel tilpon: 70 desibel, suara pembicaraan /
kelakar yang keras: 60 desibel, seperti dipasar-pasar, super market, tempat-tempat umum.
Suara sonometer penghantar tidur tidak lebih dari: 30 desibel.

C. PENGARUHNYA PADA KESEHATAN

Pada pertanyaan apakah kebisingan begitu merugikan kesehatan, belum ada seorang
dokter, ilmiawan yang berani mengatakan dan memberi jawaban yang nyata. Dimanapun data
yang diperoleh dari survei statistic keseluruhan terhadap kebisingan ternyata mempengaruhi
dan merugikan kesehatan. Penelitian Epidemiologi di U. S. A. menunjukkan dan memutuskan
bahwa kebisingan itu bebas berkembang dengan cepat dikota dan pelosok Negara.
Penyelidikan di Swedia diantara pegawai-pegawai industri kelompok umur: 15 – 20 tahun,
menunjukkan adanya kelainan pada pendengaran dan menyebabkan kecemasan pendengar
dengan prosentase 19.5% ditahun 1970. Yang ternyata lebih tinggi dua kali dibandingkan tahun
1956. Survey di Inggris mengumumkan 20 – 45% dari penduduk yang tinggal ditempat dimana
kebisingan lalu lintas melampaui batas yang ditetapkan oleh Comitte menimbulkan gangguan
pendengaran. Beberapa gejala yang dirasakan akibat kebisingan pada manusia adalah akibat
kebisingan dari tingkat decibel tinggi dengan mempengaruhi pada sistim cardiovasular,
tachycardia, denyut jantung dan tekanan darah cepat dilanjutkan dengan konstriksi otot darah.
Rythm dari pernapasan tidak normal dan mempengaruhi pada sistim digestive. Beberapa akibat
lain yang serius adalah apengaruh pada sistim syaraf pusat dimana beberapa dokteer
mengatakan bahwa kebisingan mempengaruhi sati dari tiga penyebab neurosis, dan empat
sakit kepala dari lima penyebab.

Pada faktor biologi lainnya pernah dilakukan penyelidikan di USA pengaruh kebisingan
terhadap pertumbuhan tanaman, dilakukan oleh seorang ahli fisiologi tumbuh-tumbuhan
California yaitu W. F. Gericke dengan melakukan percobaan pada suaru green hoyce (rumah
tanaman) yang sedang ditumbuhi sejenis tanaman diarahkan kepadanya beberapa suara
berbeda tingkat decibelnya. Setelah beberapa bulan dilakukan pengontrolan diperoleh hasil
bahwa tanaman yang terkena pengaruh suara dengan tingkat decibel tinggi terjadi kematian
dan penghambatan pertumbuhan. Sedangkan pada tingkat decibel yang rendah tidak ada
pengaruhnya. Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh kebisingan pada tanaman nyata adanya.
Juga dari kebisingan dengan decibel tinggi memungkinkan berpindahnya – tempat hidup
burung-burung dari satu tempat yang bising ketempat lain yang dianggapnya lebih sepi dan
memberi ketenangan hidup bagi anak-anaknya yang masih belum dewasa.

D. PENGARUH PADA KEJIWAAN

Diantara faktor-faktor yang banyak mempengaruhi kesehatan jiwa dan melumpuhkan


kegiatan seseorang kebisingan; seperti percakapan-percakapan yang keras, nyanyian-nyanyian
dan musik keras serta segala bentuk kebisingan yang dihasilkan sebagai cirri zaman modern.
Alat-alat transportasi yang menghasilkan suara yang memekakan telinga, memusingkan kepala
dan melesukan jiwa. Dengan kata lain dapat diartikan bahwa sesaat kebisingan memburu
ketenangan hidup, terutama kota-kota besar. Akibat kebisingan adalah adanya kecemasanjiwa
yang mulai tampak dinegara-negara maju dimana timbul gejala-gejala adanya gangguan
psychologis sehingga memaksa kelompok-kelompok tertentu berlari mengasingkan diri dari
kebisingan kota kepuncak-puncak gunung, ketempat yang sepi lainnya.

Ahli-ahli ilmu jiwa menduga bahwa kadar kepenatan jiwa yang disebabkan oleh
kesungguhan berfikir atau konsentrasi otak selama satu jam untuk memecahkan soal-soal
matematik yang rumit adalah berkadar 100 unit.

Sedangkan kadar kepenatan jiwa yang disebabkan oleh kebisingan adalah 600 unit.
Berarti perbandingan kadar kepenatan jiwa yang disebabkan konsentrasi otak dalam suasana
sepi lebih rendah dari kadar kepenatan jiwa karena kebisingan, dengan perbandingan yang
menyolok 1 : 6.
E. PENCEGAHAN

Langkah-langkah yang telah dilakukan terhadap pengaruh kebisingan pada kesehatan


ialah dengan dilakukannya study tentang masalah kesehatan yang ditimbulkan oleh kebisingan
untuk beberapa tahun di Eropa oleh WHO, dan penelitian akibat kebisingan pada kesehatan
serta usaha penanggulangannya dilaporkan oleh WHO Regional Office di Copenhagen tahun
1970.

Oktober 1971 dengan pertemuan di Hague denan 8 negara Eropa dan USA membahas
dan membentuk rekomendasi dari perkembangan pengawasan kebisingan program terutama
kebisingan didalam rumah/alat-alat rumah tangga. Desember 1971, pertemuan WHO dengan 8
negara Eropa dan Amerika Utara dengan keinginan untuk menetapkan index kebisingan pada
tempat-tempat yang terlindung. Sekalipun data konkrit belum disebutkan.

Usaha yang dilakukan di USA untuk mengurangi akibat kebisingan didalam rumah adalah
dengan beberapa cara yaitu mengharuskan memakai permadani yang tebal pada yang
menempati flat disebelah atas, dengan memakai/membuat ruangan berkarpet serta sound
proof.

Langkah-langkah perseorangan lainnya dalah mengurangi kebiasaan membunyikan


musik-musik keras, suara kelakar yang sumbang dan ramai. Dinding dan lantai dengan dilapisi
bahan penyerap suara seperti permadani akan mengurangi bunyi dan gaung akibat geseran
ataupun getaran-getaran suara keras lainnya.

Serta sound proof. Langkah-langkah perseorangan lainnya adalah mengurangi kebiasaan


membunyikan musik-musik keras, suara kelakar yang sumbang dan ramai, Dinding dan lantai
dengan dilapisi bahan penyerap suara seperti permadani akan mengurangi bunyi dan gaung
akibat geseran ataupun getaran-getaran suara keras lainnya.
Langkah-langkah lain dimasyarakat bias diusahakan dengan melarang pemakaian mobil
atau motor dengan knalpot terbuka. Menjauhkan pusat-pusat suara bising dari perkampungan
penduduk, seperti bunyi pesawat-pesawat supersonik, pusat-pusat latihan ledakan serta
industri-industri berat dengan suaramesin yang gemuruh memekakan. Mengurangi dengan
jalan menempatkan generator kapasitas tinggi pada ruang sound proof. Langkah-langkah
tersebut diusahakan demi kelangsungan dan ketenangan hidup.

F. RINGKASAN

Seperti dituliskan oleh Schopenhaver bahwa: “Noise is the most offensive of


interruptions and can even shatter one’s thought”; maka sebagai reaksi tulisan tersebut
seorang pendengar mengatakan bahwa ditengah-tengah kebisingan meditasi tidak mungkin
dilakukan, berdoapun sukar dan pada pokoknya kebisingan yang berkepanjangan adalah suatu
siksaan. Dan kebisingan adalah suatu ledakan yang menyusup kedalam lingkungan hidup,
merongrong dan mengerogoti ketenangan hidup.

G. Sumber Pustaka

Abdul Kadir M. (1999), IBD, Fajar Agung, Jakarta.

Abdullah Aly & Eny Rahma (1999), IAD, Bumi Aksara, Jakarta.

M.A. Regnault (1990) The Decibel Inferno, WHO.

Munandar S. (2000), ISD (Revisi), Retika Aditama, Bandung.

Aat Suriatmadja (1999), Ilmu Lingkungan, ITB, Bandung.


POLUSI UDARA DI JAKARTA

1. PENDAHULUAN

Polusi udara di Jakarta adalah yang terparah di seluruh Indonesia, sampai-sampai


sebagian warga Jakarta memberikan julukan "kota polusi" kepadanya. Munculnya julukan
tersebut tentu bukan tanpa alasan sama sekali. Data-data di bawah ini bisa memberikan
gambaran tentang parahnya polusi udara di Jakarta.
Pertama, dalam skala global, Jakarta adalah kota dengan tingkat polusi terburuk nomor
3 di dunia (setelah kota di Meksiko dan Thailand). Kedua, masih dalam skala global, kadar
partikel debu (particulate matter) yang terkandung dalam udara Jakarta adalah yang tertinggi
nomor 9 (yaitu 104 mikrogram per meter kubik) dari 111 kota dunia yang disurvei oleh Bank
Dunia pada tahun 2004. Sebagai perbandingan, Uni Eropa menetapkan angka 50 mikrogram per
meter kubik sebagai ambang batas tertinggi kadar partikel debu dalam udara. Ketiga, jumlah
hari dengan kualitas tidak sehat di Jakarta semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun
2002, Jakarta dinyatakan sehat selama 22 hari, sedangkan pada tahun 2003, Jakarta dinyatakan
sehat hanya selama 7 hari. Lebih lanjut, berdasarkan penelitian Kelompok Kerja Udara Kaukus
Lingkungan Hidup, pada tahun 2004 dan 2005, jumlah hari dengan kualitas udara terburuk di
Jakarta jauh di bawah 50 hari. Namun pada tahun 2006, jumlahnya justru naik di atas 51 hari.
Dengan kondisi seperti itu, tidak berlebihan jika Jakarta dijuluki "kota polusi" karena begitu
keluar dari rumah, penduduk Jakarta akan langsung berhadapan dengan polusi.

2. PEMBAHASAN

Penyebab paling signifikan dari polusi udara di Jakarta adalah kendaraan bermotor yang
menyumbang andil sebesar ±70 persen. Hal ini berkorelasi langsung dengan perbandingan
antara jumlah kendaraan bermotor, jumlah penduduk dan luas wilayah DKI Jakarta.
Berdasarkan data Komisi Kepolisian Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang
terdaftar di DKI Jakarta (tidak termasuk kendaraan milik TNI dan Polri) pada bulan Juni 2009
adalah 9.993.867 kendaraan, sedangkan jumlah penduduk DKI Jakarta pada bulan Maret 2009
adalah 8.513.385 jiwa. Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa kendaraan bermotor
di DKI Jakarta lebih banyak daripada penduduknya. Pertumbuhan jumlah kendaraan di DKI
Jakarta juga sangat tinggi, yaitu mencapai 10,9 persen per tahun. Angka-angka tersebut
menjadi sangat signifikan karena ketersediaan prasarana jalan di DKI Jakarta ternyata belum
memenuhi ketentuan ideal. Panjang jalan di DKI Jakarta hanya sekitar 7.650 kilometer dengan
luas 40,1 kilometer persegi atau hanya 6,26 persen dari luas wilayahnya. Padahal, perbandingan
ideal antara prasarana jalan dan luas wilayah adalah 14 persen. Dengan kondisi yang tidak ideal
tersebut, dapat dengan mudah dipahami apabila kemacetan makin sulit diatasi dan
pencemaran udara semakin meningkat.
Penyebab lain dari meningkatnya laju polusi di Jakarta adalah kurangnya ruang terbuka
hijau (RTH) kota. RTH kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah
perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna
mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota
tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan. RTH
kota memiliki banyak fungsi, di antaranya adalah sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara
(paru-paru kota), pengatur iklim mikro, peneduh, produsen oksigen, penyerap air hujan,
penyedia habitat satwa, penyerap polutan media udara, air dan tanah, serta penahan angin.
Kurangnya RTH kota akan mengakibatkan kurangnya kemampuan ekosistem kota untuk
menyerap polusi.

3. SOLUSI

Penanganan polusi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat. Pelaksanaan


kebijakan apapun tentu tidak akan mendatangkan hasil maksimal apabila hanya mengandalkan
peran Pemerintah. Sebagai contoh, aturan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk mencegah
polusi tidak akan banyak berarti tanpa kesadaran masyarakat. Oleh karena itu, partisipasi
masyarakat dan sinergi antara Pemerintah dan masyarakat dalam perbaikan lingkungan juga
perlu digalakkan. Pada dasarnya, banyak warga Jakarta yang telah memahami persoalan kota
mereka dan telah berinisiatif untuk ikut memperbaikinya. Gerakan "bike to work" (bersepeda
ke tempat kerja) adalah salah satu contoh bentuk kepedulian warga Jakarta untuk mengurangi
emisi kendaraan bermotor. Kepedulian dan partisipasi warga perlu terus dijaga sebagai aset
penting dalam pemeliharaan kesehatan lingkungan.
POLUSI UDARA DI JAKARTA

Polusi udara di Jakarta adalah yang terparah di seluruh Indonesia, sampai-sampai


sebagian warga Jakarta memberikan julukan "kota polusi" kepadanya. Munculnya julukan
tersebut tentu bukan tanpa alasan sama sekali. Data-data di bawah ini bisa memberikan
gambaran tentang parahnya polusi udara di Jakarta.

Pertama, dalam skala global, Jakarta adalah kota dengan tingkat polusi terburuk nomor 3 di
dunia (setelah kota di Meksiko dan Thailand). Kedua, masih dalam skala global, kadar partikel
debu (particulate matter) yang terkandung dalam udara Jakarta adalah yang tertinggi nomor 9
(yaitu 104 mikrogram per meter kubik) dari 111 kota dunia yang disurvei oleh Bank Dunia pada
tahun 2004. Sebagai perbandingan, Uni Eropa menetapkan angka 50 mikrogram per meter
kubik sebagai ambang batas tertinggi kadar partikel debu dalam udara. Ketiga, jumlah hari
dengan kualitas tidak sehat di Jakarta semakin meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun
2002, Jakarta dinyatakan sehat selama 22 hari, sedangkan pada tahun 2003, Jakarta dinyatakan
sehat hanya selama 7 hari. Lebih lanjut, berdasarkan penelitian Kelompok Kerja Udara Kaukus
Lingkungan Hidup, pada tahun 2004 dan 2005, jumlah hari dengan kualitas udara terburuk di
Jakarta jauh di bawah 50 hari. Namun pada tahun 2006, jumlahnya justru naik di atas 51 hari.
Dengan kondisi seperti itu, tidak berlebihan jika Jakarta dijuluki "kota polusi" karena begitu
keluar dari rumah, penduduk Jakarta akan langsung berhadapan dengan polusi.

Penyebab paling signifikan dari polusi udara di Jakarta adalah kendaraan bermotor yang
menyumbang andil sebesar ±70 persen. Hal ini berkorelasi langsung dengan perbandingan
antara jumlah kendaraan bermotor, jumlah penduduk dan luas wilayah DKI Jakarta.
Berdasarkan data Komisi Kepolisian Indonesia, jumlah kendaraan bermotor yang terdaftar di
DKI Jakarta (tidak termasuk kendaraan milik TNI dan Polri) pada bulan Juni 2009 adalah
9.993.867 kendaraan, sedangkan jumlah penduduk DKI Jakarta pada bulan Maret 2009 adalah
8.513.385 jiwa. Perbandingan data tersebut menunjukkan bahwa kendaraan bermotor di DKI
Jakarta lebih banyak daripada penduduknya. Pertumbuhan jumlah kendaraan di DKI Jakarta
juga sangat tinggi, yaitu mencapai 10,9 persen per tahun. Angka-angka tersebut menjadi sangat
signifikan karena ketersediaan prasarana jalan di DKI Jakarta ternyata belum memenuhi
ketentuan ideal. Panjang jalan di DKI Jakarta hanya sekitar 7.650 kilometer dengan luas 40,1
kilometer persegi atau hanya 6,26 persen dari luas wilayahnya. Padahal, perbandingan ideal
antara prasarana jalan dan luas wilayah adalah 14 persen. Dengan kondisi yang tidak ideal
tersebut, dapat dengan mudah dipahami apabila kemacetan makin sulit diatasi dan
pencemaran udara semakin meningkat.

Penyebab lain dari meningkatnya laju polusi di Jakarta adalah kurangnya ruang terbuka hijau
(RTH) kota. RTH kota adalah bagian dari ruang-ruang terbuka (open spaces) suatu wilayah
perkotaan yang diisi oleh tumbuhan, tanaman, dan vegetasi (endemik, introduksi) guna
mendukung manfaat langsung dan/atau tidak langsung yang dihasilkan oleh RTH dalam kota
tersebut yaitu keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan keindahan wilayah perkotaan. RTH
kota memiliki banyak fungsi, di antaranya adalah sebagai bagian dari sistem sirkulasi udara
(paru-paru kota), pengatur iklim mikro, peneduh, produsen oksigen, penyerap air hujan,
penyedia habitat satwa, penyerap polutan media udara, air dan tanah, serta penahan angin.
Kurangnya RTH kota akan mengakibatkan kurangnya kemampuan ekosistem kota untuk
menyerap polusi.

Berdasarkan perhitungan para ahli, luas RTH kota idealnya adalah minimal 30 persen dari luas
seluruh wilayah kota. Perhitungan ini telah diadopsi dalam Pasal 29 UU Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang. Sayangnya, dengan segala permasalahannya, Jakarta tampaknya
belum dapat memenuhi luas ideal RTH kota dalam waktu dekat. Hingga tahun 2009, RTH
Jakarta hanya 9 persen, sedangkan rencana RTH Jakarta pada tahun 2000-2010 hanya
ditetapkan sebesar 13,94 persen. Ketidakmampuan Jakarta untuk memenuhi luas ideal RTH
kota tentu akan berimbas pada memburuknya kadar polusi.

Buruknya kadar polusi udara di Jakarta menimbulkan banyak masalah sosial bagi penduduknya.
Masalah utamanya tentu saja adalah masalah kesehatan. Menurut data Rumah Sakit Cipto
Mangunkusumo, 46 persen penyakit di Jakarta disebabkan oleh pencemaran udara, di mana
penyakit-penyakit umumnya adalah infeksi saluran pernapasan, asma, dan kanker paru-paru.
Selain penyakit-penyakit itu, polusi juga berpotensi mengakibatkan perubahan fisiologis pada
manusia seperti: melemahkan fungsi paru-paru dan memengaruhi tekanan darah.

Dampak lanjutan dari menurunnya kualitas kesehatan masyarakat adalah meningkatnya biaya
untuk pengobatan. Jika masyarakat sakit-sakitan, tentu saja akan ada beban sosial pada
masyarakat yang akan memengaruhi GDP (Gross Domestic Product). Sebagai ilustrasi, biaya
untuk mengatasi masalah kesehatan yang diakibatkan oleh polusi udara pada tahun 1998
mencapai Rp 1,8 triliun. Apabila peningkatan kadar polusi tidak juga dicegah, biaya tersebut
akan terus meningkat dan bisa mencapai Rp 4,3 triliun pada tahun 2015.

Selain masalah kesehatan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat, polusi buruk juga
memengaruhi estetika kota. Tentu tidak nyaman melihat suasana kota yang udaranya hampir
terus-menerus dicemari kabut asap polusi dari kendaraan bermotor dan industri.

Untuk menghilangkan citra negatif Jakarta sebagai kota polusi, sudah semestinya apabila
masyarakat dan Pemerintah DKI Jakarta perlu menetapkan dan melaksanakan langkah-langkah
perbaikan yang tepat. Langkah-langkah yang tidak tepat atau tidak sesuai dengan aspirasi
masyarakat perlu diidentifikasi dan kemudian dihindari untuk mencegah resistansi
(perlawanan) dari masyarakat agar upaya perbaikan yang ditempuh tidak menjadi
kontraproduktif. Sebagai contoh, rencana pembatasan jumlah kendaraan bermotor untuk
membantu mengurangi polusi dan kemacetan menuai protes dari para pelaku industri otomotif
karena pembatasan tersebut dapat mengurangi produktivitas mereka dan berimbas pada
kehidupan dan pekerjaan para tenaga kerja sektor otomotif. Sebagai alternatif solusi,
Pemerintah perlu memperbaiki sektor transportasi dan fasilitas angkutan umum sehingga para
pengguna kendaraan pribadi tidak akan segan-segan untuk beralih ke kendaraan umum. Dalam
beberapa kasus (seperti pengoperasian busway), cara ini sudah menampakkan hasil yang
lumayan. Pemerintah perlu menyadari bahwa membludaknya penggunaan kendaraan pribadi di
Jakarta disebabkan terutama oleh buruknya fasilitas angkutan umum yang mengakibatkan
penumpang merasa tidak aman dan nyaman menggunakannya.

Pelaksanaan dan penegakan hukum memegang peran yang sangat krusial dalam mencegah laju
polusi, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di seluruh Indonesia. Fakta membuktikan bahwa
ketidaktegasan dalam pelaksanaan hukum menyumbang andil signifikan dalam peningkatan
polusi di Indonesia. Sebagai contoh, UU Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan
Angkutan Jalan telah memberlakukan kewajiban uji emisi kendaraan bermotor. Pasal 50 ayat
(1) dan ayat (2) UU tersebut menyatakan, "Untuk mencegah pencemaran udara dan kebisingan
suara kendaraan bermotor yang dapat mengganggu kelestarian lingkungan hidup, setiap
kendaraan bermotor wajib memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang dan tingkat
kebisingan. Setiap pemilik, pengusaha angkutan umum dan/atau pengemudi kendaraan
bermotor wajib mencegah terjadinya pencemaran udara dan kebisingan yang diakibatkan oleh
pengoperasian kendaraannya."

Orang yang melanggar ketentuan tersebut akan terkena sanksi pidana sebagaimana diatur
dalam Pasal 67 UU tersebut: "Barangsiapa mengemudikan kendaraan bermotor yang tidak
memenuhi persyaratan ambang batas emisi gas buang, atau tingkat kebisingan sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 50 ayat (1) dan ayat (2), dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2
(dua) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 2.000.000,- (dua juta rupiah)." Dalam kenyataan,
kita bisa melihat sendiri dengan sejelas-jelasnya banyak kendaraan bermotor di negara kita
yang bebas berlalu lalang di jalan umum dengan mengeluarkan asap hitam pekat dan suara
yang memekakkan telinga. Itulah salah satu contoh pahit penegakan hukum di Indonesia.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa penanganan polusi membutuhkan keterlibatan
seluruh masyarakat. Pelaksanaan kebijakan apapun tentu tidak akan mendatangkan hasil
maksimal apabila hanya mengandalkan peran Pemerintah. Sebagai contoh, aturan yang
ditetapkan oleh Pemerintah untuk mencegah polusi tidak akan banyak berarti tanpa kesadaran
masyarakat. Oleh karena itu, partisipasi masyarakat dan sinergi antara Pemerintah dan
masyarakat dalam perbaikan lingkungan juga perlu digalakkan. Pada dasarnya, banyak warga
Jakarta yang telah memahami persoalan kota mereka dan telah berinisiatif untuk ikut
memperbaikinya. Gerakan "bike to work" (bersepeda ke tempat kerja) adalah salah satu contoh
bentuk kepedulian warga Jakarta untuk mengurangi emisi kendaraan bermotor. Kepedulian dan
partisipasi warga perlu terus dijaga sebagai aset penting dalam pemeliharaan kesehatan
lingkungan. (*)

Penulis: Peserta Pelatihan Menulis Online HOKI (PMOH) Angkatan II, 2010
Sumber gambar: http://www.sinarharapan.co.id/feature/otomotif/2003/0828/oto01.jpg
Sumber:
http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&jd=Polusi+Udara+di+Jakarta&dn=20100304
125156

Anda mungkin juga menyukai