Anda di halaman 1dari 2

WARTA Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 11 No.

1, 2005

IKAN BANDENG POTENSIAL DIBUDIDAYAKAN DALAM


KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI LAUT

Daud S. Pongsapan dan Abdul Malik Tangko∗

PENDAHULUAN

Budidaya ikan Bandeng telah lama dikenal oleh petani dan saat ini
telah berkembang di hampir seluruh wilayah perairan Indonesia,
utamanya di daerah Sulawesi Selatan dengan pemanfaatkan perairan
payau dan pasang surut. Teknologi budidaya ikan ini juga telah
mengalami perkembangan yang begitu pesat mulai dari pemeliharaan
tradisional yang hanya mengandalkan pasok benih dari alam pada saat
pasang sampai ke teknologi intensif yang membutuhkan penyediaan
benih, pangelolaan air, dan pakan secara terencana. Ikan ini sangat
digemari oleh masyarakat utamanya Sulawesi Selatan dan banyak sekali
disajikan dalam bentuk ikan bakar di warung-warung makan untuk
konsumsi masyarakat yang berpenghasilan menengah kebawah. Harga
ikan ini relatif murah, dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat,
sehingga dapat memberikan andil yang cukup besar dalam meningkatkan
gizi masyarakat. Ikan Bandeng sebagai komoditas budidaya yang telah
mapan untuk tingkat petani tambak, upaya efisiensi budidayanya
merupakan tuntutan utama, sehingga dapat meningkatkan pendapatan
para petani dan nelayan.

Budidaya ikan Bandeng tidak hanya berkembang di air payau saja


Namun saat ini juga sedang berkembang di air tawar maupun laut dengan
sistem KJA. Ikan Bandeng sebagai comoditas budidaya mempunyai
beberapa kelebihan jika dibandingkan dengan beberapa komoditas
budidaya lainnya dalam hal:

1. Teknologi perbenihan telah dikuasai dengan baik sehingga pasok


tidak lagi tergantung pada musim dan benih dari alam
2. Teknologi budidaya baik di tambak maupun dalam KJA telah
dikuasai dengan baik, secara teknis mudah diaplikasikan dan secara
ekonomis menguntungkan
3. Mampu mentolerir perubahan salintas mulai dari 0-158 ppt
sehingga areal budidayanya cukup luas mulai dari perairan tawar
hingga ke perairan laut
4. Mampu hidup dalam kondisi yang padat di keramba jaring apung
(100-300 ekor/m3)
5. Pertumbuhannya cepat (1,6%/hari)
6. Efisien dalam memanfaatkan FCR 1,7-2,2 (Gambar 2)
7. Pakan komersial untuk ikan ini sudah tersedia dalam jumlah cukup
hingga ke pelosok desa
8. Jaminan pasar baik dalam maupun luar negeri masih terbuka

permintaan ikan ini dari tahun ke tahun selalu mengalami


peningkatan baik untuk tujuan konsumsi, umpan bagi industri perikanan
tuna cakalang maupun untuk pasar ekspor, sementara areal budidayanya
di darat semakin hari semakin menciut akibat banyaknya lahan tambak
WARTA Penelitian Perikanan Indonesia Vol. 11 No. 1, 2005

yang dikonversi untuk kebutuhan pembangunan lain seperti untuk


perumahan, industri dan pariwisata yang pada gilirannya akan berdampak
pada penurunan produksi.

Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan produksi


budidaya bandeng adalah dengan memanfaatkan perairan laut seperti
muara sungai, teluk, laguna, dan perairan yang semacamnya yang
memenuhi persyaratan secara teknis, sosial ekonomi, legalitas, maupun
lingkungannya. Hasil penelitian sebelumnya menunjukan bahwa perairan
seperti tersebut diatas layak untuk dijadikan lokasi budidaya dengan
sistem keramba jaring apung. Pengkajian tentang kelayakan lokasi, tata
letak dan disain keramba telah banyak dilakukan.

Pengguna keramba jaring untuk budidaya bandeng dilaut memiliki


beberapa kelebihan diantaranya:

1. Efisisen dalam penggunaan lahan


2. Mudah dalam pemanenan baik selektif maupun total
3. Mudah dipantau dan tidak memerlukan pengelolaan air yang
khusus seperti di tambak
4. Produktivitas tinggi (350-400 kg/keramba 6 m3/musim tanam 6
bulan)
5. Skala usaha dapat disesuaikan dengan kemampuan modal dengan
menggunakan bahan-bahan yang tersedia di lokasi budidaya

Demikian halnya dengan ikan bandeng yang diproduksi dalam


keramba jaring apung (gambar 3) dapat memiliki standar kualitas ekspor
yaitu:

1. Sisik bersih dan mengkilat


2. Tidak berbau lumpur
3. Kandungan asam lemak omega-3 relatif tinggi jika dibandingkan
dengan bandeng yang diproduksi pada tambak
4. Dagingnya kenyal dengan aroma yang khas sehingga sangat
digemari sebagai ikan bakar di warung-warung seafood
5. Ukurannya bisa mencapai 600-800 g/ekor sesuai dengan
permintaan pasar.


Balai Riset Perikananan Budidaya Air Payau, Maros