Anda di halaman 1dari 129

Arti dan Fungsi Sarana Upakara

Berikut ini adalah tulisan tentang rangkuman pada buku arti dan fungsi sarana
upakara.

Salah satu bentuk pengamalan beragama Hindu adalah berbhakti kepada Ida Sang
Hyang Widhi Wasa. Disamping itu pelaksanaan agama juga di laksanakan dengan
Karma dan Jnyana. Bhakti, Karma dan Jnyana Marga dapat dibedakan dalam
pengertian saja, namun dalam pengamalannya ketiga hal itu luluh menjadi satu.
Upacara dilangsungkan dengan penuh rasa bhakti, tulus dan ikhlas. Untuk itu umat
bekerja mengorbankan tenaga, biaya, waktu dan itupun dilakukan dengan penuh
keikhlasan.

Untuk melaksanakan upacara dalam kitab suci sudah ada sastra-sastranya yang dalam
kitab agama disebut Yadnya Widhi yang artinya peraturan-peraturan beryadnya.
Puncak dari Karma dan Jnyana adalah Bhakti atau penyeraha diri. Segala kerja yang
kita lakukan pada akhirnya kita persembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dengan cara seperti itulah Karma dan Jnyana Marga akan mempunyai nilai yang
tinggi.

Kegiatan upacara ini banyak menggunakan simbul-simbul atau sarana. Simbul -


simbul itu semuanya penuh arti sesuai dengan fungsinya masing-masing. Berbhakti
pada Tuhan dalam ajaran Hindu ada dua tahapan, yaitu pemahaman agama dan
pertumbuhan rokhaninya belum begitu maju, dapat menggunakan cara Bhakti yang
disebut ”Apara Bhakti”. Sedangkan bagi mereka yang telah maju dapat menempuh
cara bhakti yang lebih tinggi yang disebut ”Para Bhakti”.

Apara Bhakti adalah bhakti yang masih banyak membutuhkan simbul-simbul dari
benda-benda tertentu. Sarana-sarana tersebut merupakan visualisasi dari ajaran-ajaran
agama yang tercantum dalam kitab suci. Menurut Bhagavadgita IX, 26 ada disebutkan
: sarana pokok yang wajib dipakai dasar untuk membuat persembahan antara lain:
- Pattram = daun-daunan,
- Puspam = bunga-bungaan,
- Phalam = buah-buahan,
- Toyam = air suci atau tirtha.
Dalam kitab-kitab yang lainnya disebutkan pula Api yang berwujud “dipa dan dhŭpa”
merupakan sarana pokok juga dalam setiap upacara Agama Hindu. Dari unsur-unsur
tersebut dibentuklah upakara atau sarana upacara yang telah berwujud tertentu dengan
fungsi tertentu pula. Meskipun unsur sarana yang dipergunakan dalam membuat
upakara adalah sama, namun bentuk-bentuk upakaranya adalah berbeda-beda dalam
fungsi yang berbeda-beda pula namun mempunyai satu tujuan sebagai sarana untuk
memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Arti dan Fungsi Bunga

Arti bunga dalam Lontar Yadnya Prakerti disebutkan sebagai ”... sekare pinako
katulusan pikayunan suci”. Artinya, bunga itu sebagai lambang ketulusikhlasan
pikiran yang suci. Bunga sebagai unsur salah satu persembahyangan yang digunakan
oleh Umat Hindu bukan dilakukan tanpa dasar kita suci.

Untuk fungsi bunga yang penting yaitu ada dua dalam upacara. Berfungsi sebagai
simbul, Bunga diletakkan tersembul pada puncak cakupan kedua belah telapak tangan
pada saat menyembah. Setelah selesai menyembah bunga tadi biasanya ditujukan di
atas kepala atau disumpangkan di telinga. Dan fungsi lainnya yaitu bunga sebagai
sarana persembahan, maka bunga itu dipakai untuk mengisi upakara atau sesajen yang
akan dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa ataupun roh suci leluhur.

Dari Bunga, buah dan daun di Bali dibuat suatu bentuk sarana persembahyangan
seperti : canang, kewangen, bhasma dan bija. Canang, kewangen, bhasma dan bija ini
adalah sarana persembahyangan yang berasal dari unsur bunga, daun, buah dan air.
Semua sarana persembahyangan tersebut memiliki arti dan makna yang dalam dan
merupakan perwujudan dari Tatwa Agama Hindu.

Adapun arti dari masing-masing sarana tersebut antara lain yaitu :

1. Canang

Canang ini merupakan upakara yang akan dipakai sarana persembahan kepada Ida
Sang Hyang Widhi Wasa atau Bhatara Bhatari leluhur. Unsur - unsur pokok daripada
canang tersebut adalah:

a. Porosan terdiri dari : pinang, kapur dibungkus dengan sirih.


Dalam lontar Yadnya Prakerti disebutkan : pinang, kapur dan sirih adalah lambang
pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Sang
Hyang Tri Murti.
b. Plawa yaitu daun-daunan yang merupakan lambang tumbuhnya pikiran yang
hening dan suci, seperti yang disebutkan dalam lontar Yadnya Prakerti.
c. Bunga lambang keikhlasan
d. Jejahitan, reringgitan dan tetuasan adalah lambang ketetapan dan kelanggengan
pikiran.
e. Urassari yaitu berbentuk garis silang yang menyerupai tampak dara yaitu bentuk
sederhana dari pada hiasan Swastika, sehingga menjadi bentuk lingkaran Cakra
setelah dihiasi.

2. Kewangen

Kewangen berasal dari bahasa Jawa Kuno, dari kata “Wangi” artinya harum. Kata
wangi mendapat awalan “ka” dan akhiran “an” sehingga menjadi “kewangian”, lalu
disandikan menjadi Kewangen, yang artinya keharuman. Dari arti kata kewangen ini
sudah ada gambaran bagi kita tentang fungsi kewangen untuk mengharumkan nama
Tuhan.

Arti dan makna unsur yang membentuk kewangen tersebut adalah Kewangen
lambang ”Omkara”. Kewangen disamping sebagai sarana pokok dalam
persembahyangan, juga dipergunakan dalam berbagai upacara Pancayadnya.
Kewangen sebagai salah satu sarana penting untuk melengkapi banten pedagingan
untuk mendasari suatu bangunan.
Demikian pula dalam upacara Pitra Yadnya, ketika dilangsungkan upacara
memandikan mayat, kewangen diletakkan di setiap persendian orang meninggal yang
jumlahnya sampai 22 buah kewangen, dimana fungsi kewangen disini adalah sebagai
lambang Pancadatu (lambang unsur-unsur alam) sendang fungsi Kawangen dalam
upacara memandikan mayat sebagai pengurip-urip.

3. Bunga sebagai Lambang, antara lain


a. Bunga lambang restu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa
b. Bunga lambang jiwa dan alam pikiran.
c. Bunga yang baik untuk sarana keagamaan.

Arti dan Fungsi Api Dhupa dan Dipa

Dalam persembahyangan Api itu diwujudkan dengan : Dhupa dan Dipa. Dhupa
adalah sejenis harum-haruman yang dibbakar sehingga berasap dan berbau harum.
Dhupa dengan nyala apinya lambang Dewa Agni yang berfungsi :

1. Sebagai pendeta pemimpin upacara


2. Sebagai perantara yang menghubungkan antara pemuja dengan yang dipuja
3. Sebagai pembasmi segala kotoran dan pengusir roh jahat
4. Sebagai saksi upacara dalam kehidupan.

Kalau kita hubungkan antara sumber-sumber kitab suci tentang penggunaan api
sebagai sarana persembahyangan dan sarana upacara keagamaan lainnya, memang
benar, sudah searah meskipun dalam bentuk yang berbeda. Disinilah letak keluwesan
ajaran Hindu yang tidak kaku itu, pada bentuk penampilannya tetapi yang diutamakan
dalam agama Hindu adalah masalah isi dalam bentuk arah, azas harus tetap konsisten
dengan isi kitab suci Weda. Karena itu merubah bentuk penampilan agama sesuai
dengan pertumbuhan zaman tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ia harus
mematuhi ketentuan-ketentuan sastra dresta dan loka drsta atau : desa, kala, patra dan
guna.

Arti dan Fungsi Tirtha

Air merupakan sarana persembahyangan yang penting. Ada dua jenis air yang dipakai
dalam persembahyangan yaitu : Air untuk membersihkan mulut dan tangan, kedua air
suci yang disebut Tirtha. Tirtha inipun ada dua macamnya yaitu: tirtha yang di dapat
dengan memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan Bhatara-bhatari dan
Tirtha dibuat oleh pendeta dengan puja.
Tirtha berfungsi untuk membersihkan diri dari kekotoran maupun kecemaran pikiran.
Adapun pemakaiannya adalah dipercikkan di kepala, diminum dan diusapkan pada
muka, simbolis pembersihan bayu, sabda, dan idep. Selain sarana itu, biasanya
dilengkapi juga dengan bija, dan bhasma yang disebut gandhaksta.

Tirtha bukanlah air biasa, tirtha adalah benda materi yang sakral dan mampu
menumbuhkan persanaan, pikiran yang suci. Untuk asal usul kata Tirtha
sesungguhnya berasal dari bahasa Sansekertha.

Macam - macam Tirtha untuk melakukan persembahyangan ada dua jenis yaitu tirtha
pembersihan dan tirtha wangsuhpada. Arti dan makna tirtha ditinjau dari segi
penggunaannya dapat dibedakan sebagai berikut :

a. Tirtha berfungsi sebagai lambang penyucian dan pembersihan


b. Tirtha berfungsi sebagai pengurip / penciptaan.
c. Tirtha berfungsi sebagai pemeliharaan

Dalam Rg Weda I, bagian kedua sukta 5, mantra 2 dan 5 dijelaskan Dewa Indra
sebagai pemberi air soma yang merupakan air suci. Mantra adalah Weda, sehingga
kitab Catur Weda disebut kitab Mantra, karena tersusun dalam bentuk syair-syair
pujaan. Mantra itu banyak macam dan ragamnya, ada mantra yang hanya terdiri dari
dua, tida atau lima suku kata seperti: Om Ang Ah, Ang Ung Mang, Sang Bang Tang
Ang Ing dan sebagainya. Mantra juga disebut ”Bija Mantra”. Suku kata yang
demikian itu dianggap mengandung sakti, disebut ”Wijaksara”.

Mantra yang digunakan sebagai pengantar upacara disebut : Brahma. Nama ini
kemudian digunakan untuk menyebutkan, Ia yang maha kuasa. Mantra yang ditujukan
kepada Tuhan dalam salah satu manifestasinya disebut ”Stawa” misalnya ”Siwastawa,
Barunastawa, Wisnustawa, Durghastawa, dan sebagainya.

Mantra pada umumnya memakai lagu dan irama, sehingga mantra juga disebut
”Stotra”. Dalam sekian banyak mantra, contoh dua buah mantra yaitu mantra ”Puja
Trisandhya” dan mantra ”Apsudewastawa” dapat diambil kesimpulan bahwa mantra
adalah sebagai sarana persembahyangan yang berwujud bukan benda (non material)
yang harus diucapkan dengan penuh keyakinan. Tanpa keyakinan semua sarana
persembahyangan itu akan sia-sia, untuk dapat menghubungkan diri dengan yang
dipuja.
Posted by Sapta at 9:39 PM
Labels: Hari Raya, Mantram, Sarana Upakara, Yadnya

0 comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.

Older Post Home


Subscribe to: Post Comments (Atom)

Kategori
• Bali (3)
• Bhagawadgita (1)
• Bhatara (1)
• Candi (1)
• Caru (1)
• Hari Raya (4)
• Jawa (1)
• Mantram (3)
• Mantram Gayatri (1)
• Meditasi (1)
• Nyepi (1)
• Padmasana (1)
• Pura (1)
• Renungan (4)
• Sarana Upakara (1)
• Sejarah Hindu (2)
• Spiritual (3)
• Tirtayatra (1)
• Tumpek (1)
• Weda (1)
• Yadnya (2)
• Zaman Kerajaan (2)

Archive
• ▼ 2009 (15)
o ▼ April (14)
 Arti dan Fungsi Sarana Upakara
 Mengurai Nyepi dan Saka
 Perlukah Kita Memantra ?
 Sebentuk cuplikan tentang Kepasrahan
 Belajarlah Menjadi Orang Bodoh
 Ilmu Pengetahuan Dan Spiritual
 Yadnya Dalam Bhagawadgita
 Mantram Gayatri
 Caru
 Padmasana
 Lahirnya Betara Kala
 Setiap Langkah adalah Anugerah
 Tirthayatra, Perjalanan Suci Atau Wisata ?
 Bangunan - Bangunan Kebesaran Hindu di Tanah Jawa
o ► March (1)
 Istilah Hindu dan Sejarah Hindu di India

Globe Trackr
Suksmaning Banten on Mon Apr 06, 2009 3:47 pm
dyayu

VISUDDHA

Number of posts: 3698


Reputation: 12
Registration date: 17.07.08
Olih I Ketut Wiana

Banten silih tunggil srana upacara yadnya manut Agama Hindu ring Bali. Banten
punika waluya basa mona. Basa mona tegesnyané basa sané siep tan pesu raos.
Nanging ring sajeroning Banten punika akéh pesan mrasidayang mesuang raos sané
madaging tutur utama. Unteng tatwa Agama Hinduné kasinahang ring Banten. Banten
punika basa Niyasa sané suci mangdané suksman tatwa Agama Hinduné punika
prasida neked tekén krama Hinduné makasami.

Lengkara upacara mawit saking basa Sansekerta sané maartos sayan paek. Yan ring
basa Indonésia mendekat. Malarapan upacara yadnya punika umat Hinduné sayan
marasa nampek kayune ring Ida Sanghyang Widhi, ring sajatma sami miwah ring
sarwa prani minakadi ring Stawira muang Janggama. Stawira punika sarwa tumuwuh,
Janggama punika sarwa buronné sami. Nampekang raga ring Sarwaprani madasar
antuk asih. Nampekang raga ring Sajatma sami madasar antuk Punia. Nampekan raga
ring Ida Sanghyang Widhi Wasa madasar antuk bakti. Asih, Punia, muang Bakti
kawastaning Tri Para Artha. Suksmannyané tetelu tetujon ngamargiang agama.

Punika mawinan suksman banten punika manut Lontar Yadnya Prakerti wénten tetelu.
Tetiga suksman banten manut Lontar Yadnya Prakerti inggih punika. Sahananing
Bebanten pinaka raganta tuwi,pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka Anda
Bhuwana. Artinné sami bantené punika waluya anggan i manusa, pinaka kawisésan
Ida Sanghyang Widhi Wasa, pinaka Bhuwana Agung. Dadosnyané malarapan antuk
banten punika i raga manusa nampekang déwék ring Ida Sanghyang Widhi malarapan
antuk bakti, nampekang raga ring sajatma sami malarapan antuk punia. Taler
nampekan raga ring sarwapraniné sami malarapan antuk asih. Banten punika taler
kawastanin upakara. Lengkara upakara mawit saking basa Sansekerta mateges
melayani manut ring basa Indonesia. Yan ring basa Bali mateges ngayah.

Wénten Subhasita Wéda utawi sané kasurat asapuniki Para upakara punyaya,papaya
para pidana. Tegesnyané sapa sira sané setata ring uripnyané ngayahin parajanané
jaga polih punia, sapa sira sané setata nyakitin parajanané (anaké siosan) jaga keni
papa neraka ring uripnyané. Punika mawinan ring tata laksana makarya upakara
banten sané jaga anggén ngamargiang upacara yadnya punika wénten sané masuksma
ngayah. Yan sampun untengnyané ngayah suksmannyané nénten wénten pamrih napi-
napi. Ri tatkala ngayah punika tatwa sané kasuksmaang inggih punika na asmita.
Asmita tegesnyané negehang déwék yan turah mangkin kawastanin égois. Yan
sampun ngayah sakadi mekarya banten sareng-sareng sikap égoismé punika
kaandapang. Yan sampun asmita utawi sikap égois punika mrasidayang ngandap
kasorang malarapan antuk ngayah makarya banten. Anaké sané asapunika kocap jaga
mrasidayang molihing paica wara nugraha saking Sanghyang Widhi Wasa.

Mungguing suksman banten sané tetiga punika yan sampun mrasidayang nelebang
ring sajroning kayun, selanturnyané jaga kapanggih ring wacana miwah laksana.
Manacika,Wacika, muang Kayikané jaga setata madasar asih, punia, muang bakti.
Tatwa Tri Para Arthané punika yan ngresepang nénten ja kéweh pesan. Nanging yan
sampun ngamargiang ring kauripan sadina-dina dahat sengka. Tatwa Tri Parartha
punika mangda dados kabiasaan silih tunggil nyuksmayang ngayah makarya banten.
Banten punika malakar aji sarwa tumuwuh miwah sara tumitah inggih punika entik-
entikan miwah sakancan buron.

Manut Manawa Dharmasastra V.40 kasurat sakancan sarwa entik-entikan miwah


sarwa buronné sané kaanggén srana upakara, ring tumitisnyané buin pidan jaga nincap
kawéntenanyané. Dasar kayunné ri tatkala nganggén srana upakara sahananing sarwa
praniné punika tresna sih utawai asih. Asih punika nénten ja sarwa praniné wantah
anggén srana Upakara kémanten, nanging kadulurin antuk ngwerdiang sarwa
tumuwuh miwah sarwa i buron punika ring sekala. Mangdané pula miwah ubuh sarwa
tumuwuh miwah sarwa i buron punika. Yan sampun lestari kawéntenannyané sami
wau dados anggén srana upakara.

Nyama braya sané kaajak ngayah makarya banten mangdané i nyama braya punika
polih galah ngayah malarapan antuk punia. Yan sampun asapunika dasar makarya
banten, nika waluya dasar ngamargiang bhakti ring Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Dadosnyané banten punika dahat teleb pesan suksmannyané.

Message [Halaman 1 dari 1]

BALI Forum & Emotion » ORTI BALI » Suksmaning Banten

Just another WordPress.com site


• Beranda
• About

ACARAAGAMAH I N D U I
13 September 2010
oleh pasraman

MATERI PERKULIAHAN

ACARA AGAMA HINDU I

Dosen pengajar : Dra. Nukning Sri Rahayu, M Si.


Tujuan kurikuler

Terbinanya mahasiswa Hindu yang bakti kepada Tuhan yang Maha Esa memiliki
pengetahuan yang luas dibidang Acara Agama Hindu, baik yang terkait dengan
masalah yajna, tempat pemujaan (pura) hari-hari suci keagamaan, pandita-pinandita,
sudi wadani, penyumpahan dan cuntaka, maupun yang berkaitan dengan ketrampilan
dalam berbagai hal yang merupakan bentuk-bentuk praktek kehidupan beragama
sehari-hari.

Garis Besar Pembahasan

Acara Agama Hindu I

1. Pendahuluan
2. Pengertian, peranan dan ruang lingkup Acara Agama Hindu
3. Pengertian, dasar, peranan dan tujuan Yajna
4. Jenis Yajna dan jenis sarana Yajna
5. Panca Yajna dan Yajna Sesa

Pendahuluan

Pelaksanaan keagamaan dalam Agama Hindu penuh dengan acara, upacara sebagai
salah satu kerangka Agama Hindu . Sangat penting bagi umat Hindu terutama kaum
intelektualnya untuk memahami tentang berbagai hal yang menyangkut acara, upacara
keagamaan agar dalam menghayati dan mengamalkan ajaran agama penuh kesadaran.

Pemahaman tentang acara dan upacara akan meningkatkan usaha melaksanakan


Panca Srada dan kemudian akan tercermin dalam susila dan meningkatkan
keyakinan dalam beragama Hindu. Untuk selanjutnya ada perubahan pikiran, sikap
dan perilaku yang bermanfaat baik bagi diri sendiri, masyarakat maupun kemanusiaan
pada umumnya.

ACARA AGAMA HINDU

1. Pengertian

1. 1. Acara

• Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama


• Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun
• Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan
• Dresta > kuna, purwa, loka, sastra
• Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat
• Lembaga

1. 2. Upacara

Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara
artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti
upacara adalah :
- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu yajna.

- Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara Atman


dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta manifestasinya.

1. 3. Upakara

Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya
perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang
berbentuk sesaji dan segala perlengkapannya.

1. Ruang lingkup Acara

1. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga


2. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis, kondisi
social

ekonomi.

1. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma, juga etika


umum
2. d. Jati acara

- Kebiasaan dalam satu golongan, kelompok

- Catur warna > pembagian berdasar profesi, pekerjaan, keahlian

Brahmana > kebijakan,pemikiran (pendeta, pendidik, guru, hakim, dokter dll.)

Ksatria > ketangkasan fisik ( tentara, polisi, hansip, satpam)

Waisya > keahlian bisnis ( pedagang, pengusaha, petani, nelayan,

peternak)

Sudra > mengandalkan fisik (buruh, pekerja, pembantu rumah tangga)

1. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara = yuris prodensi


2. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci= diksita(Mahareshi,

pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum.

1. Sumber Acara

Sumber Acara > sebagai sila

- Agama = diambil dari kitab suci

- Rta = hokum alam


Sumber Acara > sebagai dharma

1. 1. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi

- Mantra : catur Veda (Rg. Veda, Sama Veda, Yajur Veda dan Athrwa Veda)

- Brahmana : Aitareya, Satapatha, Tandya, Gopatha > Aitareya Araniyaka,


Satapatha A, Tandya Araniyaka, Gopatha Araniyaka.

- Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh, Upanisad Rg Veda 10 bh, Upanisad
Sama Veda 10 bh, Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla + 31 bh Krsna Yajur veda,
Upanisad Atharwa Veda 31 bh.

1. 2. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi

- Wedangga > enam buah (Sad Wedangga)

• Siksa = cara pengucapan mantra yang benar


• Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat
• Chanda = lagu, irama, tembang tentang isi veda.
• Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia
• Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra
= upacara besar, Grhya Sutra = berumah tangga, Dharma Sutra = menjalankan
pemerintahan, Sulwa Sutra = membuat bangunan, Silpasastra = asta bumi,
kosala kosali.)

- Upaveda : Itihasa, Purana, Artasastra, Ayurveda.

- Agama : Agama Saiwa, Waisnawa, Saktisme

1. 3. Acara (Sadacara) : Kebiasaan, tingkah laku ; peraturan tentang


baik buruk;

Tidak bertentangan dengan harga diri.

1. Sila : - Tingkah laku yang baik dari orang suci; perbuatan yang

Menyenangkan orang lain.

1. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani ; kepuasan diri sendiri.


2. Nibanda : ditulis Mahareshi, Reshi, cendekiawan Hindu seperti
Sarasamuscaya, Purwamimamsa, Brahmasutra, Wedantasutra, Wahya.

Pengertian dharma :

- Satya = kebenaran, kejujuran

- Rta = mengakui hokum alam

- Tapa = pengendalian diri


- Diksa = penyucian

- Brahman = Hyang Widhi

- Yajna = pengorbanan

1. Fungsi Acara

- Tertib hokum dan moral

- Jagadita – kesejahteraan manusia

Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk mencapai


bahagia

sejahtera

1. Dharma = kebajikan, pengetahuan untuk kebenaran dan kejujuran


2. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea.
3. Kama = keinginan, kesenangan
4. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi.

Catur marga : Bakti marga = hormat taat tekun,

Karma marga = kerja, aktif

Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi

Yoga Marga = disiplin, tekun

Panca dresta : lima adat kebiasaan

- Sastra dresta = hokum tertulis

- Desa dresta = peraturan desa

- Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu

- Loka dresta = adat istiadat setempat

- Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat.

Y A J N A

A. Pengertian

Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti
memuja, mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian
menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana :
* Yajna artinya :

Secara niskala yang tidak nampak:

- pengorbanan suci lahir batin, berkorban demi kebenaran (dharma)

- system persembahyangan, kebaktian > upacara, upakara, pemujaan, persembahan


atau

korban suci

- system penerapan dan pengembangan dalam mengamalkan ajaran agama

Secara sekala /yang nampak

- pengorbanan suci > menegakkan dharma( contoh menolong orang lain)

- menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara bhuana agung dengan


bhuana

alit, jagat raya dengan umat manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan)

- Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna

* Yajus artinya aturan tentang yajna

* Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna

Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. Ditinjau dari
sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan
Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua manifestasinya.

Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut ;

1. Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih

‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk


(Bhagawadgita III.10)

Artinya:

Sesungguhnya sejak dulu dikatakan, Tuhan setelah menciptakan manusia melalui


yajna, berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi perah
yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

1. Satyam brhadrtamugram diksa, tapo brahma yadnya


prthiwimdharayanti

(Atharwa Weda)
Artinya :

Sesungguhnya satya,rta, diksa, tapa, brahma dan yadnya yang menyangga dunia.

1. Yajna ngaraning manghanaken homa


(Wraspati Tattwa)

Artinya : Yajna artinya mengadakan homa

1. Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni


pinakadinya

(Agastya Parwa)

Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan
kepada Sang Hyang Siwa Agni.

Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan
“Agnihotra” dalam Agastya Parwa, yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni
antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila), madu kayu cendana (sri wrksa)
mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I.24-27.
Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa
minjak dan susu. Dengan yajna itu menimbulkan hujan, dari hujan timbul makanan,
dari makanan lahir mahkluk hidup. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita
III.14), yajna termasuk karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan
perbuatan.

Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya
pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. Agni berkedudukan sebagai perantara
manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Jadi kemudian Yajna
berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas
yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur.

Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada
upacara atau ritual semata, walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah
salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata.

Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak


dalam yajna :

• Karya (adanya perbuatan)


• Sreya (ketulus ihklasan)
• Budhi (kesadaran)
• Bhakti (persembahan)

Semua perbuatan yang berdasarkan dharma, dilakukan dengan tulus ihklas disebut
yajna seperti “

1. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi


2. Mengendalikan hawa nafsu
3. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup
4. Menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang susah dll.

Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna.

Bhagawadgita III.9 menyebutkan :

setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai yajna dan untuk yajna.

Bhagawadgita III.12 menyebutkan

Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Karena itu
manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan
yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan
bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau
yajna. Maka sebelum menikmati makanan, kita harus mempersembahkan makanan
itu pada Tuhan. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan
anugrah Tuhan.

Atharwa Weda XII.I menyebutkan :

“Satyam behad rtam ugram, diksa tapa brahma yadnyah, prthiwim dharayanti, sa no
bhutasya bhany asya patyanyurumlokam”

Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), tapa
brata, doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi, semoga bumi ini, ibu kami
sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami.

Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita
harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat
sesuatu. Dengan kemantapan srada, bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat
beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang
hidup dialam semesta ini.

B. Dasar dan peranan Yajna

Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda, Upanisad dan Bhagawadgita menjadi
dasar dalam pelaksanaan yajna, dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan
manusia.

Rg Weda X.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya.

Bhagawadgita III.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan
dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Jadi saling memelihara satu
sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan.

Bhagawadgita III.12 : Ia yang hanya suka dipel;ihara tidak mau memelihara maka
ia adalah pencuri.
Manawa Dharmasatra, VI.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet, ana
pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah”

Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan, kepada
leluhur, dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk
mencapai kebebasan terakhir, ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa
menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).

Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) :

1. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
2. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi
3. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur

C. TUJUAN YAJNA

1. Untuk mengamalkan ajaran Weda

Disebutkan dalam kitab Rg Weda X.71.11 :

“Ream tvah posagste pupusvam

Goyatram tvo gayati savavarisu

Brahmatvo vadati jatavidyam

Yadnyasyamatram vi mimita u tvah “

Artinya

Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda, seorang melakukan nyanyian-


nyanyian pujian dalam Sakwari, seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda,
mengajarkan isi Weda, yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci
(Yajna).

Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna.


Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa.Simbol-simbol ini untuk
mempermudah menghayati ajaran Weda.

Bhagawadgita VII.16 menyebutkan :

“Chaturvidha bhayante mam

Janah sukrtino ,rjuna

Arto jijnasur artharthi

Jnani ca bharatasabha”

Artinya
Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku, wahai Bharatasabha, mereka
yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar artha dan yang berbudi Arjuna.

Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati, untuk memuja Tuhan dapat dilakukan
dalam berbagai cara.

1. Untuk meningkatkan diri

Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu

- Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana)

- Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana)

- Manusia memiliki bayu, sabda dan idep (tri pramana)

Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna, dengan memiliki idep
atau disebut manu yaitu mental power, kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir
itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia, dapat
membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.

Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb.:

Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya, banyak yang dicita-citakan


terkadang berkeinginan, terkadang penuh keragu-raguan, demikianlah kenyataanya,
jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh
kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain.

Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. Dalam agama ada
ajaran pengendalian diri , manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat
mencapai apa yang dicita-citakan. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang
bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan
nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna.

3. Penyucian

Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari


pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. Pedudusan, caru, tawur,
prayascita, pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai
pebersihan atau penyucian.

Kitab Bhagawadgita XIV.16 menyebutkan :

“Karmanah sukrtasyah ,huh

Satvikam nirmalam phalam

Rajasas tu phalam duhkham

Ajnanam tamasah phalam”


Artinya :

Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala, sedangkan hasil
rajasa adalah

dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan.

Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna, Sattwika, Rajasa dan Tamasa. Masing-
masing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Bila manusia ingin
hidupbersih dan suci, hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan
tamasa. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus
didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya.

Kitab Manawa Dharmasastra V . 109 menyebutkan

“Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti,

Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti”

Artinya :

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran , jiwa manusia
dibersihkan

dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan pengetahuan
yang benar.

Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Maka setiap upacara agama
akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani, jasmani suci,
hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual

1. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan.

Yajna, upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan
Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Melaksanakan Yajna berarti
melaksanakan yoga. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua
masyarakat umumnya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri
Manggalaning Yajna yaitu :

1. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna


2. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten
3. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih).

Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga
yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh.
Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna, pikiran terpusat
pada Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat
dapat berhubungan dengan Tuhan ?

Kitab Rg Weda III .54.5 menyebutkan :


“Ko addha Veda ka iha pravocad, Dewam accha pathyaaka sameti

Dadrsra esamavamak sadamsi, paresu ya guhyesu wratesu “

Artinya :

Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang sesungguhnya
akan

mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang tampak hanyalah bagian


terbawah saja

dari sthana Sang Hyang Widhi yang bersemayam ditempat yang maha tinggi,
diwilayah rahasia

Kitab Bhagawadgita VII.8 memberi petunjuk sbb. :

“Raso ‘ham apsu kaunteya, prabha ‘smi sasisuryayoh,

Pranavah sarvavedeshu, sabdah khe paurusham nrisu”

Artinya :

Aku adalah rasa dalam air, Kunti putra, Aku adalah cahaya pada bulan dan matahari.
Aku adalah

huruf aum dalam kitab suci Weda, Aku adalah suara diether dan kemanusiaan pada
manusia.

Tuhan berada dimana-mana, pada seluruh ciptaannya. Beliau diair, di bulan di


matahari, huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Kekuatan-kekuatan yang ada pada
ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. Manusia telah dapat menikmati rasanya air, cahaya
bulan dan matahari, huruf-huruf kitab suci, getaran suara dan kemanusiaan dalam
hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta.

1. Untuk mencetuskan rasa terima kasih

Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Utamalah yang
dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong
dirinya sendiri, dapat berterima kasih pada Tuhan.

Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci seperti :

Kitab Sarasamucaya I. 4. menyebutkan

“Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe

Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih

Apan ikang dadi wwang uttama juga ya, nimittaning mangkana, wenang ya
Tinulung awaknyasangkeng sangsara, makasadanang subhakarma hinganing

kotamamaningdadi wwang ika

Artinya : Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat
menolong dirinya dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik, demikianlah
keistimewaan menjadi manusia.

Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ada tiga
macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam
kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu :

1. Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah
mencitakan alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan
untuk hidup. Hutang ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan
Bhuta Yajna.
2. Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan
pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk
mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. Hutang ini dibayar dengan
melaksanakan Rsi Yajna.
3. Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan,
memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. Hutang ini
dibayar dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna.

Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu
keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung, pupuh, wirama, sloka, palawakya.
Seni tabuh, seni tari dll ikut mendukungnya.

D. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna dalam kehidupan serta sarananya.

Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain :

1. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten)


2. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri)
3. Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas
4. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan).
5. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.:

“ye yatha mam prapadyante, tams tathai ‘va bhayamy aham,

Mam vartma .nuvartante, manushyah partha sarvasah”

Artinya

Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya Ku-


terima,

dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha.


Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi :

1. Nitya Yajna

Yajna yang dilaksanakan setiap hari

1. Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari, pagi sing dan sore
2. Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak
pada Hyang Widhi beserta manifestasinya, sebelum kita makan masakan itu.
3. Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan, pelaksanaannya adalah
proses belajar mengajar. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap
saat, setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal.

1. Naimitika Yajna

Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar
pelaksanaannya sbb.:

1. Dasar perhitungan wara seperti ;

- eka wara = Luang

- dwi wara = Menga, Pepet

- tri wara = Pasah, Beteng, Kajeng

- catur wara = Sri, Laba, Jaya, Menala

- panca wara = Pahing, Pon. Wage, Kliwon. Legi,

- sapta wara = Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu,

Redite, Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara,

Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara
kasih) untuk di Jawa, untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon
Dungulan hari Galungan.

1. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta, landep, Ukir, Kulantir, Tolu,


Gumbreg, Wariga, Warigadian, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan,
Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan,
Matal, Uye, Menail, Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kulawu, Dukut,
Watugunung.
2. Perhitungan sasih : Purnama, Tilem, Siwaratri, Nyepi, Equinok(matahari
diatas katulistiwa), Solstis (matahari diatas belahan bumi paling utara dan
paling sekatan).

1. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian


tertentu yang tidak terjadwal, dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna.
Sebagai contoh upacara melaspas, ngulapin orang jatuh, Sudi wadani dll.
Landasan pelaksanaan yajna

- Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada), ketulusan, kesucian hati.

- Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat), kala ( waktu),
dan patra (keadaan), hendaknya untuk menjamin kelancaran, keseimbangan dan
keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya.

Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan :

- Nista artinya yajna tingkatan kecil

- Madya artinya yajna tingkatan sedang

- Utama artinya yajna tingkatan besar.

Berdasar kualitas yajna maka dapat dibedakan :

- Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra,


mantra, kidung suci daksina dan srada

- Rajasika yajna adalah uajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan
hasilnya dan pamer kemewahan.

- Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha, lascarya, sastra
agama, daksina, mantra, gita annasewa dan nasmita.

Hal ini dapat dibaca dlam Bhagawadgita XVII.ii,12.

Supaya yajna berklualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah :

1. Sradha artinya yajna dilakukan dengan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha).
2. Daksina artinya pelaksanaannya memerlukan sarana upacara (benda dan uang)
3. Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci.
4. Annasewa artinya yajna dilaksanakan dengan persembahan jamuan makan
bagi para tamu.
5. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan
kemewahan dan kekayaan.

1. Pokok Ajaran Panca Yajna

Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu
kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Panca Yajna
dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna),
dalam hidup ini.

Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb :

1. Kitab Satapatha Brahmana


1. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta.
2. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan
yang ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia
3. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang
disebut swadha
4. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan
mempelajari pengucapan ayat-ayat suci Weda.
2. Kitab Bhagawadgita IV.28 menjelaskan tentang Panca Yajna sbb.:

“Dravya-Yajnas tapa-yajna, yoga-yajnas tathapare,

Svadhyaya, jnana yajnas ca yatayah samstia vratah

Artinya :

Ada yang mempersembahkan harta, ada tapa, ada yoga, dan yang lain pula pikirkan
yang terpusat dan sumpah berat, mempersembahkan ilmu dan pendidikan budi.

Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.:

1. Drvya Yajna yaitu persembahan yang dilakukan dengan berdana punia harta
benda
2. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria
3. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk
mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa
4. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar
langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
5. Jnana yajna yaitu melaksanakan persembahan berupa ilmu pengetahuan dan
pendidikan budi
6. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka yang menjelaskan tentang Panca
Yajna yaitu :

• Manawa Dharmasastra III.70

“Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam homodaiwa balbhaurto


nryajno’tithi pujanam”

Artinya

Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana, menghaturkan tarpana dan air
adalah korban untuk para leluhur, persembahan dengan minyak dan susu adalah
korban untuk para Dewa, persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta dan
penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.

Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.:

1. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan


mengajar secara penuh keikhlasan.
2. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada
para leluhur
3. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan
minyak dan susu kehadapan para Dewa.
4. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali
kepada para bhuta
5. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah.

• Manawa Dharmasastra I.74

“Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih

Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam

Artinya :

Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda, huta persembahyangan homa,

prahuta adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta,

Brahmahuta, yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah

menghaturkan kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah

persembahan terpana kepada para pitara.

Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut diatas dilaksanakan sbb.:

1. Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda


2. Huta adalah persembahan dengan api homa
3. Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta
4. Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana
5. Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara.

• Manawa Dharmasastra III.81

“Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. Pitrrn sraddhaisca

nrrnam nairbhutani balikarmana”

Artinya

Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap

Weda, kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar, kepada leluhur

dengan sradha, kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para

bhuta dengan upacara korban.

Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan :


1. Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru
suci,sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda
2. Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang
telah masak kehadapan para Dewa.
3. Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur
4. Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
5. Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta.

1. 4. Kitab Gautama Dharmasastra

Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 pembagian yajna sbb.:

1. Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya
2. Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan
para dewa penjaga pintu pekarangan, pintu rumah serta pintu tengah rumah.
3. Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.
4. 5. Lontar Korawa Srama

Dalam lontar ini dijelaskan tentang Panca Yajna sbb.:

1. Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen, mengucapkan Sruti dan


Stawa pada waktu bulan purnama
2. Rsi Yajna adalah persembahan punia, buah-buahan, makanan dan barang-
barang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi.
3. Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
4. Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali atau banten kepada leluhur
5. Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.
6. 6. Lontar Singhalanghyala

Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb.:

1. Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan


2. Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata
3. Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci
4. Brata Tapa Samadhi Yajna adalah persembahan dengan melaksanakan brata,
tapa dan Samadhi.
5. Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian
6. 7. Lontar Agastya Parwa

Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia,
mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb.:

1. Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa
dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa.
2. Rsi Yajna yaitu persembahan dengan menghormati pendeta dan membaca
kitab suci
3. Pitra Yajna yaitu upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai kealam
Siwa
4. Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan
dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma.
5. Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada
masyarakat.

Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana, karma dan bhakti
dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin
oleh pendeta atau pinandita.

Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna
yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa), sesungguhmya harus
ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat
Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri
sendiri. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa.

Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias
melakukan yajna. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk
kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung
nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita
kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

PANCA YAJNA

Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang
yang disebut dengan Tri Rna.

1. A. Dewa yajna
1. 1. Pengertian

Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta
manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran
sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci)

Wujud : Niskala > upacara, upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa, Batara

Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha)

1. 2. Tujuan Dewa Yajna


2. Mengamalkan ajaran- ajaran Weda
3. Meningkatkan kualitas diri
4. Untuk mensucikan diri
5. Sarana berhubungan dengan Tuhan
6. Untuk mencetuskan rasa terima kasih
7. 3. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna
8. a. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan
persembahyangan

Perlu diperhatikan, yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna :

- Simbol Brahma : Agni (dupa, kemenyan, ratus, lilin) sebagai saksi dan
pengantar persembahyangan
- Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk
mengucapkan terima kasih pada Hyang Widhi

- Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa.

Bhagawadgita IX.26 menyebutkan :

“Patram, puspham, phalam toyam, yo me bhaktya praya chchati,

Tad aham bhaktyu pahritam, Asnami prayatatmanah”

Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan setangkai

Daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air, aku terima

Sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati suci.

Setangkai daun, sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat

simbolik. Yang utama adalah hati suci, pikiran terpusatkan jiwa dalam

keseimbangan tertuju kepada Nya. Membuat banten sesuai dengan

kemampuan, tidak usah bermewah-mewah, jangan sampai menghaturkan

banten hatinya susah, marah, iri dengki dll.

1. b. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna

Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan, kenyamanan agar dalam


proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Disamping itu perlu penanaman
bunga, serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan,
sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu.

1. c. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta


malakukan pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra).

Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran


agama, disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten, latihan
tari, mekidung (nyekar dalam bhs. Jawa). Juga untuk latihan meditasi (raja yoga).

Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna

Tempat :

di Pura, atau dirumah (kamar suci/ altar, di luar rumah (pekarangan yang dibuat
tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap pantas
untuk melaksanakan Trisandya.

Sarana :
1. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi
2. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa, air, bunga bila ada buahbuahan,
3. c. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai
budaya setempat untuk menimbulkan kesucian.

Pelaksanaan :

1. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing.


2. Sulinggih/pendeta,pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat
yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas
untuk muput.
3. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian
4. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara

- Pemuput upacara duduk, asuci laksana, ngastawa genta, mohon pengaksama.

- Nglinggihang/ngantep banten taksu

- Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan

- Nganteb banten Byakala, Durmenggala dan Prayascita untuk banten

- Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa

- Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih


memakai puja “Utpatti”, puja “Sthiti”/Apadeku.

- Menghaturkan banten, ngantep segehan dan pengaksama jagatnata

- Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai
simbul sujud pada Hyang Widhi.

- Selama pemuput upacara memuja bhakti, umat menghaturkan kidung-kidung

- Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas.

- Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas.

- Ngantukan Betara, Prelina Genta kemudian penutup.

Upacara yang termasuk Dewa Yajna :

1. 1. Hari Purnama dan Tilem


2. 2. Hari berdasar pawukon

- Sinta Soma Pon = Soma Ribek > Dewi Sri di lumbung

- Sinta Anggara Wage = Sabuh Mas > Dewsa Mahadewa

- Sinta Buda Kliwon = Hari Pagerwesi > Sang Hyang Pramesti Guru
- Landep Saniscara KliwonTumpek Landep > Sang Hyang Pasupati

- Tumpek Uduh > Sang Hyang Sangaskara

- Sungsang Wraspati Wage = Sugihan Jawa > Bhuana Agung

- Sungsang Sukra Kliwon = Sugihan Bali > Bhuana Alit

- Penyekepan > Sang Kala Wisesa

- Penyajaan > Sang bhuta Galungan

- Dungulan Anggara Wage = Penampahan > Sang Kala Tiganing Galungan

- Dungulan Buda Kliwon = Hari Galungan > Ista Dewata & Dewa Pitara

- Kuningan Redite Wage = Ulihan > Dewa & Pitara kembali

- Kuningan Soma Kliwon = Pamacekan Agung > Sang Bhuta Galungan


kembali

- Kuningan Saniscara Kliwon = HariKuningan > Dewa & Pitara turun


kembali

- Uye Saniscara Kliwon = Tumpek Kandang > Sang Rare Angon

- Wayang Saninscara Kliwon Tumpek Wayang > Sang Hyang Iswara

- Klawu Buda Wage , > Buda Cemeng Klawu

- Klawu Sukra Kliwon > Wedalan Dewi Sri

- Watugunung Saniscara umanis Hari Saraswati > Sang Hyang Aji


Saraswati

- Sinta redite Pahing= Banyu Pinaruh > Mohon pengetahuan

1. 3. Hari berdasarkan Pancawara :

- Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah), Sang Bhuta Bucari (natar
merajan) dan Sang Dewi Durga pintu keluar.

- Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat

- Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara
Merta/kehidupan

1. 4. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya), Gerhana Bulan


Hyang Candra), panen (Dewi Sri), mendirikan bangunan suci, piodalan
pura/merajan, kahyangan dll.
1. B. PITRA YAJNA
1. 1. Pengertian

Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia.

Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang
ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. Ptra
Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik
dan layak kepada orang tua (ayah, ibu) serta memperlakukan dengan baik.

Wujud Niskala : Upacara, upakara untuk para pitara, orang yang sudah meninggal

Sekala : menghormati, tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan

sesudah meninggal

1. 2. Dasar

Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa
bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya.

Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna

- Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua
(ayah, ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa, mulaimemberi makan,
kesehatan, pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam)

1. 3. Tujuan

- Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan
menjalani masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap
Ida Sang Hyang Widhi (pada waktu meninggal).

- Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan
roh-roh leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah.

1. 4. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna

- Untuk orang tua yang masih hidup, titik beratnya pada susila, berbuat sesuatu
yang selalu membuat orang tua bahagia, ini sebetulnya kelihatan dalam cetusan
baktinya anak pada orang tua. Tentang materi yang dihaturkan sebatas kemampuan,
orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Anak yang hendaknya tanggap
akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra.

- Untuk orang tua yang sudah meninggal

Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah
kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi).

Tingkatan Pitra Yajna sbb.:


- Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali
kepada “Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng.

- Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan

- Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah , abu tulang-


tulangnya dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut.

- Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan


symbol saja.

- Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam
Hyang Widhi.

Pelaksanaan Pitra Yajna

• Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air


kungkuman bunga wangi. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan
kapas, dibungkus kain putih dan dinakar atau dikubur.
• Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran
jenasah (modern), dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau
sekedar syarat supaya wangi. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian
dihanyutkan kelaut atau sungai. Upacara selalu memakai sesaji terutama api
(dupa), bunga tirtha. Diantar sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada
pitara.
• Atma Wedana : Tempatnya dirumah, disanggah atau tempat lain yang
ditentukan. Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun
seperti badan manusia. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-
bungadiwujudkan dengan puja Atma Tatwa. Banten-banten juga disiapkan
untuk itu. Kemudian diantar puja praline Puspam Sarira dibakar dan
selanjutnya dihanyutkan kelaut.

Hembusan nafas terakhir

- Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan
menghembuskan nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina sbb.:

Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau

Murcahntu, swargantu, moksantu, angksama sampurna ya namah

swaha

RESI YAJNA

1. 1. Pengertian

Resi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi, para
Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu.
Wujud Niskala : Upacara, upakara kependetaan

Sekala : menghormati Sulinggih, Orang suci, belajar agama dll.

1. 2. Tujuan

Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi, Sulinggih, Pedanda, Pendeta, Sri
Empu, Pinandita, Wasi, Pemangku dll.

1. 3. Cara melaksanakan Rsi Yajna

• Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita, wasi, atau


pemangku).
• Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci
(Sulinggih).
• Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih
• Menghaturkan punia, Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih
• Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih
• Membantu tugas para Sulinggih
• Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih

Diksa artinya disucikan, sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali.

Syarat Calon Sulinggih

1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari


2. Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya)
3. Pasangan suami istri
4. Umur minimal 40 Tahun
5. Paham bahasa kawi, Sanskerta, dan bahasa Indonesia, memiliki pengetahuan
umum, mendalami intisari ajaran agama Hindu
6. Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana, berkelakuan baik dan tidak
pernah tersangkut perkara pidana
7. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan
8. Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali
bertugas keagamaan.

Syarat-Syarat Nabe

1. Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin


2. Mampu melepaskan diri dari keduniawian
3. Tenang dan bijaksana
4. Paham dan mengerti Catur Weda, dan selalu berpedoman Kitab suci Weda
5. Mampu membaca Sruti dan Smerti
6. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

Langkah pelaksanaan upacara Diksa

1. a. Upacara awal
• Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya
• Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu
• Mapinton = asucilaksana > disegara, gunung dan merajan nabe

1. b. Upacara Puncak.

• Amati raga = penyekepan, melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari


penuh sebelum mediksa.
• Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju
ke pemerajan untuk didiksa.

1. c. Upacara pokok

- Pedanda nabe memuja atau ngarga

- Calon diksita melakukan upacara mebyakaon, muspa dan luhur apari sudana
(ganti nama)

- Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar.

- Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe, digosok minyak kayu
putih, diasapi 3 kali, digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun

- Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning
pada tengen

- Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya

MANUSA YAJNA

1. 1. Pengertian

Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta
kesejahteraan manusia lainnya.

Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan

Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaan

1. 2. Tujuan

Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari
terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.

Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia, manusia dapat hidup selamat,


sejahtera, rukun, aman, damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia.

Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat
dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga
samadi secara tekun dan disiplin.
Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha
pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja, mantra Weda) oleh pendeta
atau pimpinan upacara. Pada umumnya orang yang jujur, berilmu dan bijaksana
adalah orang yang dianggap sesana beliau.

Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan :

Ad bhir gatrani cudhayanti, manah satyena sudhayanti, widhyatapo bhyam bhrtatma


buddhir jnanena cudhayanti.

Artinya:

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh dibersihkan
dengan ilmu dan tapa. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan.

1. 3. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna


1. a. Upacara mabyakala (mabyakaon)

Upakaranya disebut banten byakala atau byakaon.

Upacara ini berupa pemberian korban, suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud
agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan
meninggalkan tempat tersebut, dan malah merestui.

Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah, waktu natap banten diarahkan
kearah belakang dan samping.

Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa Yajna juga Panca Yajna.

1. b. Upacara melukat/mejaya-jaya

Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil), eteh eteh padudusan
alit (lebih besar), eteh-eteh padudusan agung (paling besar).

Tirtha pengelukatan dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara,
dilaksanakan disalah satu tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut.
Tujuan upacara untuk membersihkan diri manusia itu lahir dan batin.

1. c. Upacara Natab (ngayab)

Upakaranya disebut banten tataban (ayaban).

Banten-banten dipersembahkan kepada Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten


dan member restu. Kemudian banten diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati
jasmani orang yang diupacarai.

Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatan-


kekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti:

1. Hati ditempati oleh Dewa Brahma


2. Jantung ditempati oleh Dewa Iswara
3. Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu,
4. Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll.

Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada.

1. 4. Upacara muspa (bersembahyang)

Upacara ini dapat dilakukan dua macam :

1. setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang


Surya Raditya dan Hyang Guru
2. Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada
Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha.
3. 5. Jenis-jenis manusa Yajna

a. Mengadakan upacara selamatan pada waktu :

- Bayi dalam kandungan(3 bulan, 4 bulan, 5 bulan, 7bulan, procotan)

- Bayi baru lahir (nyambutin)

- Bayi puput puser (kepus pungset)

- Upacara ngelepas aon (12 hari)

- Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan)

- Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari)

- Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan)

- Tumbuh gigi, kemudian meketus.

- Anak meningkat dewasa (raja Sewala)

- Upacara potong gigi (mesangih/mepandes, mepangur)

- Mewinten

- Upacara perkawinan (pawiwahan).

b. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan , seni budaya, kesehatan,

moral/ budi pekerti dll.

c. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong

sesama manusia, seperti ramah tamah pada orang lain, menjamu tamu
menghormati hak orang lain (bersikap toleran), menjamu tamu, memberi

sedekah dengan tulus ihklas.

BHUTA YAJNA

1. Pengertian

Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta
atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak
kelihatan. Atau penyucian alam semesta beserta isinya

Upacaranya disebut mecaru, bantennya banten caru. Caru artinya mengharmoniskan.

Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru untuk Panca Maha
Bhuta

Sekala > menjaga, memelihara, melestarikan, mengharmoniskan jagat atau

alam semesta seisinya

1. Tujuan

Bhuta yajna dilaksanakan dengan tujuan menjaga keseimbangan, keselarasan,


keharmanonisan alam semesta seisinya untuk kesejahteraan umat manusia dan semua
makhluk.

1. Cara pelaksanaan

1. Dengan mengadakan korban (mecaru, mesegeh, tawur) dengan cara :

• Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap
habis masak ditungku, di sumber air dll (Yajna sesa.
• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata, Panca Kelut, Rsi Gana,
Balik Sumpah, Tabuh Getuh, Tawur Agung, Panca Wali Krama (10 Th.
Sekali), Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Sekali)

1. b. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup


bawahan antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-
baiknya. Di Bali untuk binatang ada tumpek kandang, dan untuk tumbuh-
tumbuhan tumpek pengatak. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat
Twam Asi” manusia merasa bersatu dengan alam, mencintai alam, tidak hanya
meminta dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan
kasih sayang.

PANCA MAHA YAJNA

Disamping Panca Yajna ada korban suci yang lebih besar disebit “Panca Maha Yajna”
yaitu :
1. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten, sajen, harta
benda, dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn, ini
menjadi Panca Yajna.
2. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan
menderita,meneguhkan iman, menghadapi segala godaan dengan menguatkan
jiwa menghadapi perjuangan hidup. Contoh mengendalikan indria.
3. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan
dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya.
Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi, Swadhyaya Yajna
mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh
tanggung jawab)
4. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan
jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman
dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan
kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti).
5. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada
sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut.

Bhagawad Gita VI. 33 menyebutkan :

“ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir, berkata dan berbuat demi untuk
kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia, segala hidupnya diabadikan serta
dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama; kehidupan serba damai karena ia
sendiri yang sangat cinta kepada perdamaian”.

YAJNA SESA

1. Pengertian

Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang
Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan.

Di India Yajna Sesa ini dengan istilah “Prasadam”

Dasar Bhagawad Gita III.13 menyebutkan :

• Yajna sishtasinah santo,

mucyante sarva kilbisaih,

bhunyate te tv agham papa,

ye pacaanty atma karamat”

Artinya

• Yang baik makan setelah bhakti, akan terlepas dari segala dosa,

Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri,


mereka ini sesungguhnya makan dosa.

Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan,
menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan , ngaturin kepada Tuhan
terlebih dahulu baru makan dan akan memperoleh kebahagiaan.

1. Tujuan

Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan
Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang
dilimpahkan kepada kita.

1. Pelaksanaan

Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan


dipersembahkan di altar pemujaan, baru kemudian menikmati hidangan.

Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan
punjung kehadapan leluhur.

Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk
leluhur.

Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan
daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. Sesaji yang dihaturkan
dalam Yajna Sesa sangat sederhana, yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan
diberi lauk atau garam saja, ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak, ditujukan
kepada Tuhan lewat Sarwa Prani.

Tempat Yajna sesa :

- Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan


untuk menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether

- Ditungku dipersembahkan untuk manifestasi Tuhan sebagai Dewa Brahma


atau Dewa Agni

- Ditempat air dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagai Dewa Wisnu


sumber air

- Dihalaman rumah dipersembahkan untuk menifestasi Tuhan sebagi Dewi


Pertiwi

- Ada juga yang member ditempat beras, dipintu pekarangan, ditempat


menumbuk padi dll

Yajna Sesa memiliki makna :

- Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya


- Belajar dan berlatih mengendalikan diri

- Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan

- Melatih tidak mementingkan diri sendiri

Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana
atau bhakti kepada Tuhan. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan
kepekaan perasaan. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan timbul
perasaan bahagia. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaanNya yang dalam
istilah Hindu “Sarwa prani hitangkarah” sudah dilaksanakan berabad-abad lamanya
oleh umat Hindu. Sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia materiil ini
antara Pencipta dan ciptaanNya (Kawula Gusti).

Para pebhakti/Penyembah senantiasa melatih rasa ketulus ikhlasan melalui Yajna Sesa
adalah jalan termudah yang dapat dilakukan oleh umat Hindu.

from → Uncategorized
← Hello world!
ACARA AGAMA III →
Like
Be the first to like this post.
Belum ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel anda tidak akan ditampilkan. Required fields are marked *

Nama *

Email *

Situs web

Komentar

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr
title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code>
<pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Beritahu saya mengenai komentar-komentar selanjutnya melalui surel.

Beritahu saya tulisan-tulisan baru melalui surel.

Blog pada WordPress.com.

Theme: Vigilance by The Theme Foundry.


BERITA HARI INI

BALI

NUSATENGGARA

NUSANTARA

MANCANEGARA

EKONOMI

PARIWISATA

BUDAYA

OLAHRAGA

RUBRIK

OPINI

SISIPAN

TOPIK

SURAT PEMBACA

DENPOST

harian warga kota Denpasar


Rabu Pon, 30 April 2008

Ajeg Bali

Pentingnya Manajemen Upacara

Kata ''upacara'' berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mendekat. Itu artinya upacara
yadnya pada intinya menuntun umat Hindu untuk mendekatkan diri pada alam lingkungan,
pada sesama umat manusia dan pada yang tertinggi yaitu Sang Hyang Widhi Wasa.
Mendekatkan diri pada tiga aspek itu berdasarkan yadnya. Ekspresi yadnya pada tiga
sasaran itu dengan melakukan asih pada alam lingkungan, punia pada sesama umat manusia
dan bhakti pada Hyang Widhi Wasa. Asih punia dan bhakti inilah yang disebut Tri Para
Artha. Dengan mendekatkan diri berdasarkan yadnya pada alam, sesama manusia dan pada
Hyang Widhi menyebabkan arti upakara banten juga ada tiga. Apakah sesungguhnya makna
upacara itu? Bagaimana cara mengelola upacara?

===========================================================

Menurut Lontar Yadnya Prakerti, banten itu ada tiga maknanya


yang dinyatakan sebagai berikut: Sehananing Bebanten pinaka
ragan ta twi, pinaka warna rupaning Ida Bhatara, pinaka anda
bhuwana. Artinya, semua upakara banten sebagai lambang diri
manusia, sebagai lambang kemahakuasaan Tuhan dan lambang
alam semesta. Demikian juga setiap upacara yadnya dan juga hari
raya Hindu menurut berbagai ketentuan pustaka suci Hindu
dilakukan dengan dua arah yaitu ke arah ke luar diri yang disebut Prawrti Marga dan ke arah
menuju dalam diri sendiri yang disebut Niwrti Marga.

Jalan Prawrti itu diwujudkan untuk mempersembahkan berbagai bentuk upacara


bebantenan di berbagai tempat pemujaan. Banten penuh arti karena sebagai perwujudan
nilai-nilai tatwa dan susila Hindu. Bakti dalam wujud ini disebut Arcanam dalam Pustaka
Bhagawata Purana. Ada juga wujud Prawrti Marga dengan melakukan tirthayatra berdana
punia, melayani sesama yang membutuhkan pelayanan seperti mereka yang miskin, bodoh,
sakit, sedih dan dalam keadaan menderita lainnya.

Sementara wujud pengamalan upacara yadnya untuk melakukan pendekatan spiritual


dengan jalan Niwrti Marga dilaksanakan dengan melakukan kontemplasi diri dalam wujud
penguasaan diri. Dalam Lontar Sundarigama, wujud pendekatan diri dengan Prawrti Marga
dengan melakukan widhi widhana. Sedangkan dalam wujud Nrwrti Marga dinyatakan dalam
Lontar Sundarigama : ...sang wruh ring Tattwa Janyana wenang mangadakaken tapa, brata,
yoga, semadi. Artinya, mereka yang paham akan ajaran tatwam Hindu wajib melakukan
tapa, brata, yoga dan semadi.

Nampaknya saat ada upacara besar atau kecil sekalipun di Pura Besakih, dua jalan
mengamalkan upacara yadnya ini diberikan tempatnya masing-masing. Umat yang sudah
paham dan mendalam tentang tatta pustaka suci diberikan tempat melakukan tapa, brata,
yoga dan samadhi di Pura Dukuh Sakti. Hal ini dapat kita lihat dari segi tempat Pura Dukuh
Sakti di tengah-tengah hutan pinus yang lebat. Letaknya amat sepi tetapi indah, sejuk amat
cocok untuk melakukan kontemplasi diri.

Lingkungan alam di Pura Dukuh Sakti ini bebas dari berbagai polusi alam maupun polusi
hiruk-pikuk sosial yang negatif. Dalam kondisi alam dan sosial budaya seperti itu akan
mempermudah mereka yang melakukan tapa brata, yoga, semadhi mencapai tujuan
menyucikan diri.

Dengan dua arah melakukan upacara yadnya itu termasuk di Pura Besakih sebagai pura yang
terbesar tentunya amat dibutuhkan penyelenggaraannya dengan sistem manajemen yang
selalu relevan dengan perkembangan zaman. Adanya Pura Catur Lawa yang menggambarkan
adanya fungsi yang berbeda-beda dalam mencapai tujuan yang satu yaitu tercapainya tiga
rasa dekat dengan pendekatan Asih, Punia dan Bhakti sebagai perwujudan yadnya dalam
melangsungkan upacara agama di Pura Besakih.

Empat Pura Catur Lawa ini sebagai nilai sakral yang dapat diimplementasikan ke dalam
sistem manajemen modern agar tujuan berbagai kegiatan di Pura Besakih itu terfasilitasi
dengan koordinasi yang sebaik-baiknya. Tujuan membangun sistem manajemen yang
relevan dengan perkembangan zaman dalam suatu penyelenggaraan upacara yadnya agar
dapat semakin terjamin terselenggaranya upacara yang Satvika Yadnya sebagaimana
diisyaratkan menurut Bhagawad Gita.

Tentunya amat berbeda nuansa manajemen upacara yadnya untuk membangun nilai-nilai
spiritual lewat media ritual sakral untuk menguatkan jati diri manusia, baik sebagai
makhluk individual maupun sebagai makhluk sosial. Ciri suatu upacara yadnya berhasil kalau
upacara itu dapat membangun kecintaan dan kepedulian umat pada pelestarian alam
berdasarkan hukum Rta, membangun kepedulian umat pada nasib sesama atau sosial care
sesuai dengan dharma.

Semuanya itu muncul sebagai akibat umat melakukan bakti kepada


Tuhan. Meskipun, kegiatan bakti kepada Tuhan demikian semaraknya
kalau keadaan alam semakin rusak. Demikian dalam masyarakat
keadaannya semakin senjang. Apa itu kesenjangan ekonomi, hukum
semakin tidak tegak, birokrasi semakin tidak melayani, politik semakin
kehilangan prinsip untuk mengabdi pada mereka yang menderita.
Pendidikan tidak mengembangkan karakter mulia. Pengembangan ilmu
semakin meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan. Hal itu menyebabkan
kegiatan beragama kehilangan maknanya. Ini tentunya bukan berarti
kesalahan agama sebagai sabda Tuhan. Umat penganutlah yang keliru
memahami dan mengimplementasikan bentuk baktinya kepada Tuhan.

Pura Besakih adalah pura yang terbesar di Bali bahkan mungkin di Indonesia. Karena itu
amat memerlukan suatu sistem manajemen yang solid. Tentunya nuansa manajemen yang
diterapkan manajemen pelayanan spiritual yang mampu mengetuk hati nurani setiap orang
agar di Pura Besakih benar-benar dijadikan media untuk memotivasi umat dalam
menguatkan aspek spiritualnya dalam memajukan daya nalar intelektualnya untuk menjadi
landasan dalam membangun kepekaan emosionalnya yang halus.

Kegiatan beragama di Pura Besakih tentunya bisa saja menjadi media untuk mendatangkan
perputaran ekonomi, sepanjang dilakukan berdasarkan nilai-nilai suci agama Hindu itu
sendiri. Seperti menjadi daya tarik wisata, menimbulkan lapangan kerja seperti adanya
transaksi berbagai sarana keagamaan. Seperti adanya penjualan pakaian adat ke pura
berbagai sarana upacara lainnya. Sepanjang hal itu dilakukan dengan tidak melanggar moral
etika keagamaan tentunya bisa saja. Namun harus senantiasa diingat bahwa hal itu jangan
sampai mengesampingkan Pura Besakih sebagai media sakral spiritual Hindu. * wiana
CUACA

ACARA TV & RADIO

Radio Global FM 99,15 (LIVE)

Banten menurut Lontar Yadnya Prakerti


by Cu Deblag in Dharma Wacana
Sahananing bebanten pinaka raganta tuwi,

pinaka warna rupaning Ida Bhatara,

pinaka andha buwana.

Sekare pinaka kasucian katulusan kayunta mayadnya,

Reringgitan tatuwasan pinaka kalanggengan kayunta mayadnya.

Raka-raka pinaka widyadhara widyadhari.

(Dipetik dari Lontar Yadnya Prakerti).


i. Upacara Perkawinan.
Upacara perkawinan merupakan suatu persaksian, baik kehadapan
Hyang Widhi Wasa maupun kepada mayarakat luas, bahwa kedua
mempelai mengikat dan mengikrarkan diri sebagai pasangan suami
istri yang sah. Di samping itu, di tinju dari segi rohaniah, upacara
perkawinan ini merupakan pembersihan diri terhadap kedua orang
mempelai, terutama terhadap benih atau bibit baik laki maupun
perempuan ( Sukla dan Swanita ), apabila bertemu agar bebas dari
pengaruh-pengaruh buruk sehingga dapat di harapkan atman yang
akan menjelma adalah atman yang dapat memberi sinar dan
mempunyai kelahiran yang baik dan sempurna. Upacara
perkawinan, pada umumnya dapat di bagi atas dua bagian, yaitu
Upacara Makala-kalaan dan Natab. Upacara Makala-kalaan sebagai
rangkaian dari upacara perkawinan merupakan kebahagiaan
tersendiri, karena secara Samskara kedua mempelai ini di hadapkan
kepada Hyang Widhi mohon pembersihan dan persaksian atas
upacara yang di laksanakan. Sedangkan upacara Natab bertujuan
untuk meningkatkan pembersihan, memberi bimbingan hidup dan
menentukan status kedua mempelai.
Pasraman's Blog

Just another WordPress.com site


• Beranda
• About

ACARA AGAMA III


13 September 2010
oleh pasraman

ACARA AGAMA III

BAB I

PENDAHULUAN

1. A. Latar belakang

Acara agama Hindu merupakan bentuk pelaksanaan ajaran agama yang tercermin
dalam kegiatan praktis bagaimana menunjukkan rasa bhakti dan kasihnya kepada
Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, kepada leluhur/roh nenek moyang,
kepada sesama manusia dan kepada orang-orang suci kepada alam semesta seisinya

Bahwa pelaksanaan ajaran Agama Hindu mengacu pada tiga kerangka dasar yaitu
tatwa (fisafat), susila (etika) dan upacara (ritual). Yang akan dibicarakan disini nanti
adalah acara agama sebagai salah satu dari kerangka dasar Agama Hindu tersebut.

Atharwa Weda XXI.1.1 menyebutkan :

Satyambrihadh rtam ugram diksa tapo

Brahma yajna prithivim dharayanti

Artinya :

Kebenaran, hukum abadi yang agung dan penyucian diri pengendalian

diri, doa dan ritus (Yajna) inilah yang menegakkan bumi

1. B. Tujuan

Dalam masyarakat manusia, yang senantiasa mengalami perubahan dan


perkembangan sesuai tempat waktu dan keadaan maka cara-cara yang ditempuh
dalam menunjukkan rasa bhakti pada Hyang Widhi dansegala ciptaan-Nya makaperlu
memahami acara Agama Hindu. Demikian juga untuk menjaga keharmonisan alam
semesta inilah maka umat Hindu supaya betul-betul melaksanakan Tri hita karana
sesuai dengan ajaran agama.
Manusia dianugerahi pemikiran, perasaan dan daya karsa dan usaha, oleh karena itu
dalam rangka meningkatkan kualitasnya sebagai manusia perlu kiranya meningkatkan
pengetahuan tentang sradha bakti dan karmanya untuk mewujudkan tujuan beragama
Hindu yaitu Moksartham Jagadita ya ca iti Dharma.

C. Standar Kompetensi

Memahami pengertian, konsep, hakekat Acara Agama Hindu dan mampu


menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, serta mampu menyampaikan ajaran
tersebut kepada masyarakat

D. Kompetensi Dasar

Untuk mewujudkan Standar kompeetensi ini perlu pelaksanaan proses pembelajaran


agar memperoleh kemampuan (kompetensi dasar) yang diharapkan, maka
pembahasan mencakup materi pembelajaran sebagai berikut :

1. Acara Agama
2. Pengertian, tujuan dan peranan Yajna dalam Agama
3. Jenis-Jenis Yajna menurut Kitab Suci
4. Upakara /sarana upacara
5. Panca yajna dan Panca Maha Yajna
6. Tempat Suci
7. Pandita dan Pinandita
8. Sudi Wadani, Penyumpahan dan Cuntaka
9. Hari Suci

BAB II

ACARA AGAMA

A. Pengertian

1. 1. Acara

• Perilaku yang baik, perilaku yang diatur oleh ajaran agama


• Adat istiadat, tradisi atau kebiasaan yang turun temurun
• Hukum adat, yang mempunyai nilai moral dan kepercayaan
• Dresta > kuna, purwa, loka, sastra
• Aturan yang diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat
• Lembaga

1. 2. Upacara

Upacara berasal dari kata upa dan cara. Upa artinya berhubungan dengan, cara
artinya berserak kemudian mendapat akhiran a berarti gerakan. Selanjutnya arti
upacara adalah :

- gerakan (pelaksanaan) dari upakara-upakara pada pelaksanaan suatu


yajna.
- Serangkaian perilaku berupa cara cara melakukan hubungan antara
Atman dengan Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi beserta
manifestasinya.

1. 3. Upakara

Upakara berasal dari kata upa dan kara, Upa artinya berhubungan dengan, kara artinya
perbuatan atau pekerjaan. Upakara adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan
pekerjaan (perbuatan). Kemudian yang dimaksud adalah sarana keagamaan yang
berbentuk sesaji dan segala perlengkapan

B. Peranan Acara

- Tertib hokum dan moral

- Jagadita – kesejahteraan manusia

1. Catur Purushartha : empat tujuan(jalan) utama umat Hindu untuk

mencapai bahagia sejahtera

a. Dharma = kebajikan, pengetahuan( kebenaran &kejujuran)

b. Artha = kekayaan, materi, jer basuki mawa bea

c. Kama = keinginan, kesenangan

1. d. Moksa = kebahagiaan bebas dari ikatan duniawi.

2. Catur marga :

a. Bakti marga = hormat taat tekun,

b. Karma marga = kerja, aktif

c. Adjnana marga = menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi

d. Yoga Marga = samadi berserah diri, disiplin, tekun

3. Panca dresta : lima adat kebiasaan

- Sastra dresta = hokum tertulis

- Desa dresta = peraturan desa

- Purwa atau kuna dresta = kebiasaan yang dianut sejak dahulu

- Loka dresta = adat istiadat setempat

- Kula dresta = adat kebiasaan keluarga atau masyarakat


B. Ruang Lingkup Acara

1. Kula acara : adat kebiasaan dalam suatu keluarga

2. Desa Acara : Adat daerah tertentu (dipengaruhi oleh geografis,

kondisi social ekonomi.

3. Dharma acara : kebiasaan berdasarkan hokum agama/dharma,

4. Jati acara

- Kebiasaan dalam satu golongan, kelompok

- Catur warna > pembagian berdasar profesi, pekerjaan, keahlian

Brahmana > kebijakan, pemikiran (pendeta, pendidik, guru, dokter)

Ksatria > ketangkasan fisik ( tentara, polisi, hansip, satpam)

Waisya > keahlian bisnis ( pedagang, nelayan,petani)

Sudra > mengandalkan fisik (buruh, pekerja)

5. Wyawahara Acara : hokum acara > hokum Negara

6. Sista Acara : Kebiasaan yang sudah tingkat sista= suci=

diksita(Mahareshi, pendeta) kebiasaan ini bukan untuk umum.

C. Sumber Acara

Sumber Acara > sebagai sila

- Agama = diambil dari kita

- Rta = hokum alam

Sumber Acara > sebagai dharma

1. 1. Kitab Weda Sruti = berdasar pendengaran Mahareshi

- Mantra : catur Veda (Rg. Veda, Sama Veda, Yajur Veda dan

Athrwa Veda)

- Brahmana : Aitareya, Satapatha, Tandya, Gopatha > Aitareya

Araniyaka, Satapatha A, Tandya Araniyaka, Gopatha Araniyaka.


- Upanisad : Ulasan Catur Veda > 92 bh, Upanisad Rg Veda 10 bh,

- Upanisad Sama Veda 10 bh, Upanisad Yajur Veda 10 bh Sukla +

31 bh Krsna Yajur veda, Upanisad Atharwa Veda 31 bh.

2. Kitab Veda Smerti = berdasar ingatan Mahareshi

= Wedangga > enam buah (Sad Wedangga)

* Siksa = cara pengucapan mantra yang benar

* Wyakarana = tata bahasa > pemahaman terhadap Veda lebih tepat

* Chanda = lagu, irama, tembang tentang isi veda.

* Jyotisa = astronomi > letak tata surya sangat berpengaruh thd manusia

* Kalpa = pedoman hidup sehari-hari berupa kelompok kitab seperti srauta sutra =
upacara besar, Grhya Sutra = berumah tangga, Dharma Sutra = menjalankan
pemerintahan, Sulwa Sutra = membuat bangunan, Silpasastra = asta bumi, kosala
kosali.)

- Upaveda : Itihasa, Purana, Artasastra, Ayurveda.

3. Acara (Sadacara) : Kebiasaan, tingkah laku ; peraturan tentang

baik buruk; Tidak bertentangan dengan harga diri.

4. Sila : - Tingkah laku yang baik dari orang suci; perbuatan yang

menyenangkan orang lain.

5. Atmanastuti = priyatmana : hati nurani ; kepuasan diri sendiri.

6. Nibanda : ditulis Mahareshi, Resi seperti Sarasamuscaya,

Purwamimamsa, Brahmasutra, Wedantasutra, Wahya

Pengertian dharma :

- Satya = kebenaran, kejujuran

- Rta = mengakui hokum alam

- Tapa = pengendalian diri

- Diksa = penyucian

- Brahman = Hyang Widhi


- Yajna = pengorbanan

BAB III

Y A J N A

A. Pengertian

Secara etimologi kata yajna dari bahasa Sansekerta dari urat kata yaj yang berarti
memuja, mempersembahkan atau melakukan pengorbanan Dari kata Yaj kemudian
menjadi yajna atau yadnya dan timbul kata yajus dan yajamana :

1. Yajna artinya :

Secara niskala yang tidak nampak:

- pengorbanan suci lahir batin, demi kebenaran (dharma)

- sistem persembahyangan, kebaktian > upacara, upakara,

pemujaan, persembahan atau korban suci

- system penerapan dan mengamalkan ajaran agama

Secara sekala /yang nampak

- pengorbanan suci > menegakkan dharma( menolong orang)

- menyelaraskan dan mengharmoniskan hubungan antara

bhuana agung dengan bhuana alit, jagat raya dengan umat

manusia (contoh memelihara kelestarian lingkungan)

- Hyang widhi menciptakan jagat melalui yajna

2. Yajus artinya aturan tentang yajna

3. Yajamana artinya orang yang melaksanakan yajna

Yajna/upacara bagian ketiga dari kerangka dasar ajaran agama Hindu. Ditinjau dari
sudut filsafatnya yajna berarti cara melakukan hubungan antara Atman dengan
Paramatman, antara manusia dengan Hyang Widhi Wasa serta semua Agama :
Agama Saiwa, Waisnawa, Saktisme, manifestasinya.

Beberapa pernyataan mengenai yajna dalam kitab suci sebagai berikut ;

Saha yajnahprajah srstva purovacaprajapatih

‘anenaprasavisadhauam esa vo stu ista-kama dhuk


(Bhagawadgita III.10)

Artinya: Sesungguhnya sejak dulu dikatakan, Tuhan setelah menciptakan manusia


melalui yajna, berkata : dengan (cara) ini engkau akan berkembang, sebagaimana sapi
perah yang memenuhi keinginanmu (sendiri).

Satyam brhadrtamugram diksa, tapo brahma yadnya

Prthiwimdharayanti

(Atharwa Weda)

Artinya : Sesungguhnya satya,rta, diksa, tapa, brahma dan yadnya yang menyangga
dunia.

Yajna ngaraning manghanaken homa

(Wraspati Tattwa)

Artinya : Yajna artinya mengadakan homa

Yajna ngaranya “Agnihotradi” kapujan Sang Hyang Siwagni

pinakadinya (Agastya Parwa)

Artinya : Yajna artinya “Agnihotra” yang utama yaotu pemujaan atau persembahan
kepada Sang Hyang Siwa Agni.

Yang dimaksud dengan homa dalam Wraspati tattwa mempunyai makna sama dengan
“Agnihotra” dalam Agastya Parwa, yaitu pemujaan ayau persembahan kepada Agni
antara lain berupa minyak dari biji-bijian (kranatila), madu kayu cendana (sri wrksa)
mentega susu dan sebagainya seperti digambarkan dalam Kakawin Ramayana I.24-27.
Jadi pada prinsipnya semula pengertian yajna adalah pemujaan pada Agni berupa
minjak dan susu.

Dengan yajna itu menimbulkan hujan, dari hujan timbul makanan, dari makanan lahir
mahkluk hidup. Sedang yajna lahir dari karma (Bhagawadgita III.14), yajna termasuk
karma kanda atau karma sanyasa atau prawrti yaitu jalan perbuatan.

Pola pikir manusia semakin luas maka pengertian yajna kemudian tidak hanya
pemujaan pada Agni tapi juga pada Aspek lain. Agni berkedudukan sebagai perantara
manusia berhubungan dengan Tuhan dan dengan Dewa-Dewa. Jadi kemudian Yajna
berarti segala bentuk pemujaan dan persembahan dan pengorbanan yang tulus ikhlas
yang timbul dari hati yang suci demi maksud yang mulia dan luhur.

Masyarakat umum sering mempunyai pengertian bahwa yajna hanya berkisar pada
upacara atau ritual semata, walaupun itu tidak salah tapi sebetulnya upacara hanyalah
salah satu bentuk yajna yang tampak dengan nyata.
Dari Bhagawadgita dapat disimpulkan bahwa ada beberapa unsure mutlak dalam
yajna :

• Karya (adanya perbuatan)


• Sreya (ketulus ihklasan)
o Budhi (kesadaran)
o Bhakti (persembahan)

Semua perbuatan yang berdasarkan dharma, dilakukan dengan tulus ihklas disebut
yajna seperti “

1. Belajar mengajar dengan ihklas untuk memuja Hyang Widhi


2. Mengendalikan hawa nafsu
3. Saling mengasihi pada sesamamahkluk hidup
4. Menolong orang sakit, mengentaskan kemiskinan, menghibur orang susah dll.

Jadi upacara dan upakara merupakan bagian dari yajna.

Bhagawadgita III.9 menyebutkan :

Setiap melakukan pekerjaan hendaknya dilakukan sebagai

yajna dan untuk yajna.

Bhagawadgita III.12 menyebutkan

Para dewa akan memelihara manusia dengan memberikan kebahagiaan. Karena itu
manusia yang mendapatkan kebahagiaan bila tidak membalas pemberian itu dengan
yajna pada hakikatnya adalah pencuri. Kemudian seloka selanjutnya menyebutkan
bahwa orang yang terlepas dari dosa adalah orang yang makan sisa persembahan atau
yajna. Maka sebelum menikmati makanan, kita harus mempersembahkan makanan
itu pada Tuhan. Kita makan prasadam (lungsuran=bahasa Bali) artinya makan
anugrah Tuhan.

Atharwa Weda XII.I menyebutkan :

“Satyam behad rtam ugram, diksa tapa brahma yadnyah, prthiwim dharayanti,
sa no bhutasya bhany asya patyanyurumlokam”

Artinya : Kebenaran (satya) hokum yang agung, yang kokoh dan suci (rta), tapa
brata, doa dan yajna inilah yang menegakkan bumi, semoga bumi ini, ibu kami
sepanjang masa memberikan tempat yang melegakan bagi kami.

Jadi dari pernyataan dalam Atharwa Weda ini dapat kita tarik kesimpulan bahwa kita
harus menjalani hidup dan kehidupan yang benar suci hati tulus ihklas dalam berbuat
sesuatu. Dengan kemantapan srada, bhakti dan iman yajna dilaksanakan oleh umat
beragama untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan seluruh mahkluk yang
hidup dialam semesta ini.

B. Tujuan Yajna
1. 1. Untuk mengamalkan ajaran Weda

Disebutkan dalam kitab Rg Weda X.71.11 :

“Ream tvah posagste pupusvam Goyatram tvo gayati savavarisu

Brahmatvo vadati jatavidyam Yadnyasyamatram vi mimita u tvah

Artinya

Seorang bertugas mengucapkan seloka-seloka Weda, seorang melakukan nyanyian-


nyanyian pujian dalam Sakwari, seorang lagi yang menguasai pengetahuan Weda,
mengajarkan isi Weda, yang lain mengajarkan tata cara melaksanakan korban suci
(Yajna).

Demikianlah cara mengungkapkan ajaran Weda adalah dengan yajna.


Pengungkapannya dalam bentuk symbol-simbol atau niyasa.Simbol-simbol ini untuk
mempermudah menghayati ajaran Weda.

Bhagawadgita VII.16 menyebutkan :

“Chaturvidha bhayante mam Janah sukrtino ,rjuna

Arto jijnasur artharthi Jnani ca bharatasabha”

Artinya

Ada empat macam orang yang baik hati memuja padaku, wahai Bharatasabha,
mereka yang sengsara, yang mengejar ilmu, yang mengejar artha dan yang berbudi
Arjuna.

Orang yang memuja Tuhan dikatakan baik hati, untuk memuja Tuhan dapat dilakukan
dalam berbagai cara.

2. Untuk meningkatkan diri

Makhluk hidup didunia ini dikelompokkan tiga golongan yaitu

- Tumbuh-tumbuhan yang memiliki bayu (eka pramana)

- Binatang memiliki bayu dan sabda (dwi pramana)

- Manusia memiliki bayu, sabda dan idep (tri pramana)

Manusia diciptakan sebagai mahkluk yang paling sempurna, dengan memiliki idep
atau disebut manu yaitu mental power, kemampuan berpikir. Kemampuan berpikir
itulah dapat mengangkat harkat dan martabatnya sebagai manusia yang mulia, dapat
membebaskan dirinya dalam berbagai beban hidup.

Dalam kitab Sarasamucaya 81 disebutkan dalam terjemahannya sbb.:


Demikianlah hakikatnya pikiran tidak menentu jalannya, banyak yang dicita-citakan
terkadang berkeinginan, terkadang penuh keragu-raguan, demikianlah kenyataanya,
jika ada orang yang dapat mengendalikan pikiran pasti orang itu memperoleh
kebahagiaan baik sekarang maupun didunia lain.

Karena sifat pikiran demikian rumit maka manusia perlu beragama. Dalam agama ada
ajaran pengendalian diri , manusia perlu mengendalikan pikirannya agar dapat
mencapai apa yang dicita-citakan. Yajna sebagai salah satu ajaran agama yang
bertujuan untuk mengurangi rasa egois menghilangkan rasa keakuan dan dorongan
nafsu yang meledak-ledak untuk mencapai kebahagiaan yang lebih sempurna.

3. Penyucian

Berbagai macam upacara atau yajna pada bagian-bagian tertentu dari


pelaksanaannya mengandung tujuan dan makna pensucian. Pedudusan, caru, tawur,
prayascita, pelukatan disamping sebagai persembahan juga bermakna sebagai
pebersihan atau penyucian.

Kitab Bhagawadgita XIV.16 menyebutkan :

“Karmanah sukrtasyah ,huh Satvikam nirmalam phalam

Rajasas tu phalam duhkham Ajnanam tamasah phalam”

Artinya :

Hasil perbuatan satwika dikatakan kebajikan yang suci nirmala, sedangkan hasil
rajasa adalah dukha dan hasil dari tamasa adalah ketidaktahuan.

Ada tiga sifat manusia yang disebut Tri Guna, Sattwika, Rajasa dan Tamasa. Masing-
masing unsure Tri Guna ini berpengaruh pada gerak pikirannya. Bila manusia ingin
hidupbersih dan suci, hendaknya memposisikan Sattwika menguasai rajasa dan
tamasa. Setiap saat bila akan melaksanakan upacara agama kecil maupun besar harus
didahului dengan mensucikan diri maupun lingkungannya.

Kitab Manawa Dharmasastra V . 109 menyebutkan

“Adbhirgatrani suddhayanti manah satyena suddhayanti,

Widyatapobhyam bhutatma buddhir jnanena suddhayanti”

Artinya :

Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran , jiwa manusia
dibersihkan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dibersihkan dengan
pengetahuan yang benar.

Sastra agama selalu menjelaskan perlunya kesucian hati. Maka setiap upacara agama
akan berarti bila pelaksanaannya didasar kesiapan dan kesucian rohani, jasmani suci,
hati suci kehidupan suci sesuai ketentuan moral dan spiritual
4. Untuk sarana berhubungan dengan Tuhan.

Yajna, upacara dan upakara merupakan sarana untuk mengadakan hubungan dengan
Tuhan Yang Maha Esa beserta manifestasi Nya. Melaksanakan Yajna berarti
melaksanakan yoga. Yang melaksanakan yajna bukan hanya pendeta tetapi semua
masyarakat umumnya. Dalam pelaksanaan Yajna ada tiga unsure yang disebut Tri
Manggalaning Yajna yaitu :

a. Sang Yajamana adalah orang yang mempunyai atau melaksanakan yajna

b. Sang Widya/Pancagra adalah tukang banten

c. Sang Sadhaka adalah orang yang muput upacara (sulinggih).

Semua umat yang melaksanakan Yajna tanpa disadari adalah melaksanakan yoga
yaitu pemusatan diri pada Tuhan Yang Masha Esa dan pengendalian diri secara utuh.
Dari persiapan sampai puncak upacara dan akhirpelaksanaan yajna, pikiran terpusat
pada Tuhan Yang Maha Esa. Sekarang ada pertanyaan apakah dengan demikian umat
dapat berhubungan dengan Tuhan ?

Kitab Rg Weda III .54.5 menyebutkan :

“Ko addha Veda ka iha pravocad, Dewam accha

pathyaaka sameti

Dadrsra esamavamak sadamsi, paresu ya guhyesu wratesu “

Artinya :

Siapakah yang mengetahui dan yang akan mengatakan jalan mana yang
sesungguhnya akan mengantar bersama menuju Tuhan ? Sesungguhnya yang
tampak hanyalah bagian terbawah saja dari sthana Sang Hyang Widhi yang
bersemayam ditempat yang maha tinggi, diwilayah rahasia

Kitab Bhagawadgita VII.8 memberi petunjuk sbb. :

“Raso ‘ham apsu kaunteya, prabha ‘smi sasisuryayoh,

Pranavah sarvavedeshu, sabdah khe paurusham nrisu”

Artinya :

Aku adalah rasa dalam air, Kunti putra, Aku adalah cahaya pada bulan dan
matahari. Aku adalah huruf aum dalam kitab suci Weda, Aku adalah suara diether
dan kemanusiaan pada manusia.

Tuhan berada dimana-mana, pada seluruh ciptaannya. Beliau diair, di bulan di


matahari, huruf dan manusia adalah ciptaan-Nya. Kekuatan-kekuatan yang ada pada
ciptaan-Nya adalah pancaran-Nya. Manusia telah dapat menikmati rasanya air, cahaya
bulan dan matahari, huruf-huruf kitab suci, getaran suara dan kemanusiaan dalam
hidup ini merekalah yang mampu berhubungan dengan Sang Pencipta.

5. Untuk mencetuskan rasa terima kasih

Berterima kasih pada Tuhan adalah kewajiban sebagai manusia. Utamalah yang
dilahirkan sebagai manusia karena dengan diberinya pikiran manusia dapat menolong
dirinya sendiri, dapat berterima kasih pada Tuhan.

Tentang keutamaan lahir dan hidup manusia dijelaskan dalam kitab-kitab suci
seperti :Kitab Sarasamucaya I. 4. menyebutkan

“Iyam hi yonih prathma yonih prapya jagadipe

Atmanam sakyate tratum karmabhih sublalaksanaih

Apan ikang dadi wwang uttama juga ya, nimittaning

mangkana, wenang ya Tinulung awaknyasangkeng

sangsara, makasadanang subhakarma

Hinganina kotamamaningdadi wwang ika

Artinya :

Sebab menjadi manusia sungguh utama juga, karena itu, ia dapat menolong dirinya
dari keadaan sengsara dengan jalan karma yang baik, demikianlah keistimewaan
menjadi manusia.

Keberadaan manusia dialam semesta ini adalah saling ketergantungan. Ada tiga
macam jenis ketergantungan yang menimbulkan akibat timbale balik dalam
kehidupan manusia yaitu Tri Rna yang menimbulkan Panca Yajna yaitu :

* Dewa Rna adalah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah mencitakan
alam semesta dan memberikan pada manusia yang dibutuhkan untuk hidup. Hutang
ini harus dibayar dengan melaksanakan Dewa Yajna dan Bhuta Yajna.

* Rsi Rna adalah hutang jasa pada Rsi atau Maha Rsi yang telah memberikan
pengetahuan suci untuk membebaskan manusia dari kebodohandan untuk
mendapatkan kesejahteraan dunia akhirat. Hutang ini dibayar dengan melaksanakan
Rsi Yajna.

* Pitra Rna adalah hutang jasa pada para leluhur yang telah melahirkan,
memelihara/mengasuh melindungi dan membesarkan diri kita. Hutang ini dibayar
dengan melaksanakan Manusa Yajna dan Pitra Yajna.

Ungkapan terima kasih yang berujud yajna biasanya diiringi melantunkan lagu
keagamaan atau dharma gita dalam bentuk kidung, pupuh, wirama, sloka, palawakya.
Seni tabuh, seni tari dll ikut mendukungnya.
D. Dasar dan peranan Yajna

Konsepsi Yajna telah ada dalam kitab Rg Weda, Upanisad dan Bhagawadgita menjadi
dasar dalam pelaksanaan yajna, dan dijelaskan pula peranan yajna dalam kehidupan
manusia.

Rg Weda X.10 : Alam ini ada adalah berdasarkan yajna-Nya.

Bhagawadgita III.11 : Dengan yajna itu para dewa akan memelihara manusia dan
dengan yajna itu pula manusia memelihara para dewa. Jadi saling memelihara satu
sama lain maka manuis akan mencapai kebahagiaan.

Bhagawadgita III.12 : Ia yang hanya suka dipel;ihara tidak mau memelihara maka
ia adalah pencuri.

Manawa Dharmasatra, VI.35 : “Rinani trinyapakritya manomokse niwesayet, ana


pakritya moksam tu sewama no wrajatyadhah”

Artinya : Kalau ia telah membayar tiga macam hutangnya (kepada Tuhan, kepada
leluhur, dan kepada orang tua) hendaknya ia menunjukkan pikirannya untuk
mencapai kebebasan terakhir, ia yang mengejar kebebasan terakhir ini tanpa
menyelesaikan tiga macam hutangnya akan tenggelam kebawah (neraka).

Dari seloka diatas disimpulkan bahwa manusia memiliki tiga hutang (Tri Rna) :

1. 1. Dewa Rna ialah hutang pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa
2. 2. Rsi Rna ialah hutang kepada para Maha Rsi
3. 3. Pitri Rna ialah hutang kepada orang tua atau leluhur

BAB IV

JENIS YAJNA

A. Jenis-jenis dan bentuk-bentuk yajna

Ada bermacam-macam bentuk yajna antara lain :

1. Persembahan menggunakan sarana upakara ( sajen /banten)

2. Persembahan dalam bentuk pengorbankan diri (pengendalian diri)

3. Persembahan dalam bentuk mengorbankan segala aktifitas

4. Persembahan dalam bentukharta benda (kekayaan).

5. Persembahan dalam bentuk ilmu pengetahuan.

Sloka Bhagawadgita menjelaskan hal ini sbb.:

“ye yatha mam prapadyante, tams tathai ‘va bhayamy aham


Mam vartma .nuvartante, manushyah partha sarvasah”

Artinya

Dengan jalam manapun (beryajna) ditempuh manusia kearah-Ku, semuanya

Ku-terima dari mana-mana semua mereka menuju jalan-Ku oh Partha.

Yajna dilihat dari waktu pelaksanaan dibedakan menjadi :

1. Nitya Yajna

Yajna yang dilaksanakan setiap hari

2. Naimitika Yajna

• Tri Sandhya ialah sembahyang 3 kali sehari, pagi sing dan sore
• Yajna sesa atau ngejot ialah membersembahkan dulu apa yang kita masak
pada Hyang Widhi beserta manifestasinya, sebelum kita makan masakan itu.
• Jnana Yajna adalah yajna dalam bentuk pengetahuan, pelaksanaannya adalah
proses belajar mengajar. Proses pembelajaran hendaknya dilaksanakan setiap
saat, setiap hari baik dalam bentuk pendidikan formal maupun non formal.

Yajna yang dilaksanakan pada waktu-waktu tertentu yang sudah terjadwal Dasar
pelaksanaannya sbb.:

a. Dasar perhitungan wara seperti ;

- eka wara = Luang

- dwi wara = Menga, Pepet

- tri wara = Pasah, Beteng, Kajeng

- catur wara = Sri, Laba, Jaya, Menala

- panca wara = Pahing, Pon. Wage, Kliwon. Legi,

- sapta wara = Minggu, Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu,

Redite, Soma, Anggara, Buda, Wraspati, Sukra, Saniscara,

Kemudian perpaduan Panca wara dengan Sapta wara seperti Selasa Kliwon (Anggara
kasih) untuk di Jawa, untuk di Bali ditambah dengan wuku contoh Rabu Kliwon
Dungulan hari Galungan.

1. Perhitungan berdasarkan wuku yaitu : Sinta, landep, Ukir, Kulantir, Tolu,


Gumbreg, Wariga, Warigadian, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan,
Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan,
Matal, Uye, Menail, Perangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kulawu, Dukut,
Watugunung.
1. Perhitungan sasih : Purnama, Tilem, Siwaratri, Nyepi,
Equinok(matahari diatas katulistiwa), Solstis (matahari diatas belahan
bumi paling utara dan paling sekatan).

3. Insidental adalah yajna yang dilaksanakan atas dasar kejadian-kejadian tertentu


yang tidak terjadwal, dan dipandang perlu untuk melaksanakan yajna. Sebagai contoh
upacara melaspas, ngulapin orang jatuh, Sudi wadani dll.

B. Landasan pelaksanaan yajna

Prinsip moral berdasar keyakinan (Panca Srada), ketulusan, kesucian hati.


Pelaksanaan upacara dan upakara sesuai dengan desa (tempat), kala ( waktu), dan
patra (keadaan), hendaknya untuk menjamin kelancaran, keseimbangan dan
keharmonisan perlu menyesuaikan kemampuan umatnya.

Berdasar kuantitas yajna maka dapat dibedakan :

- Nista artinya yajna tingkatan kecil

- Madya artinya yajna tingkatan sedang

- Utama artinya yajna tingkatan besar.

Berdasar kualitas yajna (Bhagawadgita XVII 12 ) maka dapat dibedakan :

- Tamasika yajna adlah yajna yang dilaksanakan tanpa mengindahkan sastra,


mantra, kidung suci daksina dan srada

- Rajasika yajna adalah yajna yang dilaksanakan dengan penuh harapan akan hasilnya
dan pamer kemewahan.

- Satwika yajna adalah yajna yang dilaksanakan berdasar sradha, lascarya, sastra
agama, daksina, mantra, gita annasewa dan nasmi

Supaya yajna berkualitas Satwika maka syarat yang wajib adalah :

1. Sradha artinya yajna dilakukan penuh keyakinan (ingat Panca Sradha).


2. Daksina artinya pelaksanaannya perlu sarana upacara (benda dan uang)
3. Mantra dan Gita artinya pelaksanaan dengan melantunkan lagu-lagu suci.
4. Annasewa : yajna dilaksanakan persembahan jamuan makan para tamu.
5. Nasmita artinya yajna yang dilaksanakn bukan untuk memamerkan
kemewahan dan kekayaan.

Panca yajna adalah lima macam korban suci yang dipersembahkan umat Hindu
kepadapan Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasinya. Panca Yajna
dilaksanakan sebagai perwujudan manusia membayar hutang-hutangnya (Tri Rna),
dalam hidup ini.
Penjelasan tentang Panca Yajna dari kitab Suci sbb :

1. Kitab Satapatha Brahmana

1. Bhuta Yajna adalah yajna yang dipersembahkan pada para bhuta.


2. Manusa Yajna adalah yajna yang dipersembahkan berupa makanan yang
ditujukan kepada orang lain atau sesame manusia
3. Pitra Yajna adalah yajna yang ditujukan kepada para leluhur yang disebut
swadha
4. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan mempelajari
pengucapan ayat-ayat suci Weda.

2. Kitab Bhagawadgita IV.28 sbb.:

“Dravya-Yajnas tapa-yajna, yoga-yajnas tathapare,

Svadhyaya, jnana yajnas ca yatayah samstia vratah

Artinya :

Ada yang mempersembahkan harta, ada tapa, ada yoga, dan yang lain pula
pikirkan yang terpusat dan sumpah berat, mempersembahkan ilmu dan
pendidikan budi.

Dalam sloka in Panca Yajna dijelaskan sbb.:

1. Drvya Yajna yaitu persembahan dilakukan dengan berdana punia harta benda
2. Tapa yajna yaitu persembahan berupa pantangan untuk mengendalikan indria
3. Yoga yajna yaitu persembahan dengan melakukan astangga yoga untuk
mencapai hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa
4. Swadhyaya yajna yaitu persembahan brupa pengendalian diri dengan belajar
langsung kehadapan Tuhan Yang Maha Esa
5. Jnana yajna : persembahan berupa ilmu pengetahuan dan pendidikan budi

3. Kitab Manawa Dharmasastra ada 3 seloka :

* Manawa Dharmasastra III.70

“Adhyapanam brahma yadnyah pitr yadnyastu tarpanam

homodaiwa balbhaurto nryajno’tithi pujanam”

Artinya :

Mengajar dan belajar adalah yajna bagi brahmana, menghaturkan tarpana dan air
adalah korban untuk para leluhur, persembahan dengan minyak dan susu adalah
korban untuk para Dewa, persembahan dengan bali adlah korban untuk para bhuta
dan penerimaan tamu dengan ramah adalah korban untuk manusia.

Penjelasan sloka tersebut diatas ialah sbb.:


1. Brahma Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan belajar dan
mengajar secara penuh keikhlasan.
2. Pitra Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan terpana dan air kepada
para leluhur
3. Dewa Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan menghaturkan
minyak dan susu kehadapan para Dewa.
4. Bhuta Yajna adalah persembahan yang dilaksanakan dengan upacara bali
kepada para bhuta
5. Nara Yajna adalah yajna yang berupa penerimaan tamu dengan ramah tamah

* Manawa Dharmasastra I.74

“Japa ‘huto huto homah prahuto bhautiko balih

Brahmayam hutam dwijagryarcaprasitam pitr tarpanam

Artinya :

Ahuta adalah pengucapan dari doa Weda, huta persembahyangan homa, prahuta
adalah upacara bali yang dihaturkan diatas tanah kepada para bhuta,

Brahmahuta, yaitu menerimatetap Brahmana secara hormat seolah-olah menghaturkan


kepada api yang ada dalam tubuh Brahmana dan prasita adalah persembahan terpana
kepada para pitara.

Panca Yadnya yang berdasarkan seloka tersebut dilaksanakan sbb.:

Ahuta yaitu persembahanan mengucapkan doa-doa suci Weda

1. Huta adalah persembahan dengan api homa


2. Prahuta adalah persembahan berupa upacara bali kehadapan para bhuta
3. Brahmahuta adalah yajna dengan menghormati Brahmana
4. Prasita adalah yajna dengan mempersembahkan tarpana kepada para pitara.

* Manawa Dharmasastra III.81

“Swadhyayanarcayetsamsimnhomair dewanyathawidhi. Pitrrn

Sraddhaisca nrrnam nairbhutani balikarmana”

Artinya

Hendaknya ia sembahyang menurut peraturan kepada Rsi dengan mengucap


Weda, kepada Dewa dengan persembahan yang dibakar, kepada leluhur dengan
sradha, kepada manusia dengan pemberian makanan dan kepada para bhuta dengan
upacara korban.

Panca Yajna berdasar seloka diatas maka dapat dilaksanakan dengan:


• Swadhyaya Yajna adalah persembahan berupa pengabdian kepada guru
suci,sembahyang kepada Rsi dengan mengucapkan Weda
• Dewa Yajna adalah persembahan dengan menghaturkan buah-buahan yang
telah masak kehadapan para Dewa.
• Pitra Yajna adalah menghaturkan persembahan upacara srada kepada leluhur
• Nara Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
• Bhuta yajna adalah menghaturkan upacara bali karma kepada para bhuta.

4. Kitab Gautama Dharmasastra

Dalam kitab Gautama Dharmasastra ini dijelaskan ada 3 macam yajna:

• Dewa Yajna adalah persembahan kepada Hyang Agni dan Dewa Amodaya
• Bhuta Yajna adalah persembahan kehadapan Lokapala (Dewa Pelindung) dan
para dewa penjaga pintu pekarangan, pintu rumah serta pintu tengah rumah.
• Brahma Yajna adalah persembahan dengan pembacaan ayat-ayat suci Weda.

5. Lontar Korawa Srama Panca Yajna sbb.:

• Dewa yajna adalah persembahan dengan sesajen, mengucapkan Sruti dan


Stawa pada waktu bulan purnama
• Rsi Yajna adalah persembahan punia, buah-buahan, makanan dan barang-
barang yang tidak rusak kepada para Maha Rsi.
• Manusa Yajna adalah memberikan makanan kepada masyarakat
• Pitra yajna adalah mempersembahkan puja dan bali/banten kepada leluhur
• Bhuta Yajna adalah mempersembahkan puja dan caru kepada para bhuta.

6. Lontar Singhalanghyala

Dalam lontar ini dijelaskan mengenai Panca Yajna sbb.:

• Bojana Patra Yajna adalah persembahan dengan menghidangkan makanan


• Kanaka Ratna Yajna adalah persembahan berupa mas dan permata
• Kanya Yajna adalah persembahan berupa gadis suci
• Brata Tapa Samadhi Yajna : persembahan dengan brata, tapa dan Samadhi.
• Samya Jnana Yajna adalah persembahan dengan keseimbangan dan keserasian

7. Lontar Agastya Parwa

Dari lontar Agastya Parwa ini yang paling sesuai penerapannya di Indonesia,
mengenai Panca Yajna dijelaskan sbb.:

• Dewa Yajna yaitu persembahan minyak dan biji-bijian kehadapan Dewa Siwa
dan Dewa Agni ditempat pemujaan Dewa.
• Rsi Yajna : persembahan dengan menghormati pendeta & membaca kitab suci
• Pitra Yajna : upacara kematian agar roh yang meninggal mencapai alam Siwa
• Bhuta Yajna yaitu persembahan dengan mensejahterakan tumbuh-tumbuhan
dan menyelenggarakan upacara tawur serta upacara panca wali karma.
• Manusa Yajna yaitu persembahan dengan memberi makanan kepada
masyarakat.
BAB V

UPAKARA

1. A. Pengertian

Upakara berasal dari kata ”upa” yang artinya perantara (jalaran) dan ”kara” artinya
sembah. Jadi upakara adalah sarana perantara dari sembah bhakti umat Hindu
kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Untuk di Bali ucapan upakara yang lebih mentradisi dengan sebutan ”banten”

Banten berasal dari kata ”Bang” yang diartikan Brahma dan ”enten” yang artinya
ingat atau dibuat sadar.

Di Jawa upakara bisa disebut sesaji yang artinya sesuatu yang disajikan atau
dihidangkan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Kemampuan umat Hindu bermacam-macam ada yang hanya hanya mampu


melakukan pekerjaan mama akan mengambil jalan Karma Yoga, ada yang mampu
dengan melaksanakan persembahyangan, ada yang memiliki kekuatan jnana yoga
yang tinggi, juga ada yang lebih dari itu mampu menjalani margasampai tingkat Raja
Yoga.

Dari uraian singkat diatas menunjukkan bahwa sebetulnya dengan adanya upakara
sebagai perantara atau sesuatu yang disajikan kepada Hyang Widhi akan mendidik
umat agar selalu ingat kepada-Nya.

Dalam lontar ”Tutur Tapeni” disebutkan bahwa upakara itu merupakan simbol-
simbol yang mengandung nilai-nilai magis dan memiliki bagian-bagian seperti dalam
Tri angga antara lain :

• Semua bentuk daksina merupakan simbol kepala (hulu sebagai sumber


kekuatan atau sumber pengatur
• Seemua bentuk ayaban seperti pengambeyan, dapetan adalah simbol badan
dan jerimpen simbol tangan semua bentuk tebasan dansesayut adalah perut.
• Semua bentuk lealaban seperti caru, segehan adalah simbol pantat.

Petikan Tutur Tapeni :

Hana pewarah mami ri para areringgit ikang yadnya weruha rumuhun peluta muang
akutu kang yadnya apan ikang yadnya pinaka widhi, arupa gama anuntun kang
manusa anyembah Widhi meraga Widhi widana apan upa ngaran jalaran, kara
ngaran sembah, upakara ngaran bhakti ring Widhi, nimitaning samangkana
pagehakna ikang yadnya, apan eidhine araga ika sami apan pelutan ikang
reringgitan ra ngaran raditya, ringgit ngara, patemon, patemon Sang Hyang Raditya
lawan manusa, ngaran pesaksi, sahananing dasa guna parekrama ring manusa
Apan Widhi widana juga ngaran banten, kang ngaran Sang hyang Prajapati (Widhi),
anten ngaran inget, ngaran eling, ling ngaran tunggal, ngaran kimanusa anunggal
lawan Widhi.

Iki paribasa Aidhining yadnya, luiripun, yadnya adruwe prabu (hulu), tangan dafda
muah suku manut manista, madya, motama. Daksina pinaka huluia, jerimpen karo
pinaka asta karo sehananing banten ring areping widhine pinaka angga, sahananing
palelabanan pinaka suku.

Dalam beryajna ada gerak kendali yang memiliki dua kecernderungan :

1. Daiwi Sampad

Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu kedewataan serta mutu ini
tercermin kedalam persembahan sebagai simbol

2. Asuri Sampad

Adalah suatu kecenderungan buddhi yang memiliki mutu keraksasaan serta mutu ini
akan tercermin kedalam persembahan sebagai simbol.

B. Makna simbol dalam Upakara

1. Banten Canang

a. Pengertian

Kata ”Canang” berasal dari bahasa Jawa kuno yang mulanya berarti sirih yang
dihidangkan kepada para tamu yang sangat dihormati. Kebiasaan makan sirih jaman
dulu merupakan tradisi yang sangat terhormat

Kekawin Nitisastra menjelaskan :

” Masepi tikang waktra tan amucang wang”

Artinya

” Sepi rasanya bila mulut kita tidak makan sirih”

Jadi Siri merupakan sarana yang benar-benar memiliki nilai tinggi, apalagi dengan
banyak penelitian mengenai manfaat daun sirih bagi pengobatan dan pemeliharaan
kesehatan. Kebiasaan makan sirih kiranya sudah membudaya diseluruh Nusantara,
terbukti bila ada upacara adat pasti ada suguhan makan sirih (kinang untuk bahasa
Jawa).

Dalam persembahyangan untuk di Jawa ada sesaji yang bernama Gedang Ayu Suruh
Ayu Kembang wangi ( Bahasa Jawa, artinya Pisang yang cantih, sirih yang cantih
dan bunga harum). Setelah Agama Hindu berkembang di Bali, daun sirih menjadi
unsur penting dalam setiap sesajian, yang menjadi unsur pokok dalam apa yang
disebut banten canang. Rangkaian sirih itu kemudian disebut porosan.
b. Bahan Banten Canang

* Porosan

Porosan dibuat dari daun sirih, kapur dan buah pinang (jambe dalam Bahasa Jawa)
dijepit atau dibungkus dengan potongan janur dibentuk lancip Porosan dimaknai
pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi dalam manifestasi Tri Murti (buah pinang
sebagai lambang Brahma, sirih sebagai lambang Wisnu, dan kapur sebagai lambang
Siwa.

* Plawa

Plawa adalam daun dari tumbuh-tumbuhan. Berdasar lontar Yajna Prakerti bahwa
plawa melambangkan tumbuhnya pikiran yang hening dan suci, maksudnya dalam
memuja Hyang Wdhi hendaknya berusaha dengan pikiran hening dan suci.

* Bunga

Bunga dalam canang melambangkan keihklasan. Memuja Tuhan Yang Maha Esa
berlandaskan keihklasan

Dalam Bhagawadgita, VII.1 disebutkan

Sribhagavan uvacha : mayy asaktamanah partha, yogam yunjan

madarasyah, asamsayam samagram mam, yatha jnasyasi tach chhrinu

Artinya

Dengarkan kini oh Partha, melaksanakan yoga, Dengan pikiranmu terpaku


kepadaku, Dengan aku sebagai pelindungmu, Tanpa ragu kau akan mengenal Aku
sepenuhnya. Manusia yang tidak mengihklaskan hidupnya akan selalu mengalami
keresahan dalam hidupnya. Seseorang yang resah tidak pernah memiliki perasaan
tenang apalagi hening dan suci.

* Tetuesaan, Reringgitan dan jejahitan

Tetuesan, reringgitan dan jejahitan melambangkan keteguhan hati untuk menuju


kebaikan dan kebenaran

* Urassari

Urassari dibuat darijejahitan, tetuesan dan reringgitan pertama dibuat garis silang
menyerupai tapak dara yaitu bentuk sederhana dari Swastika. Kemudian disusun
sedemikian rupa menjadi bentuk lingkaran yang menyerupai Padma Astadala,
lambang stana Hyang Widhi dengan delapan penjuru mata anginnya

Berdasarkan ajaran Agama Hindu penciptaan alam semesta ini oleh Hyang Widhi
melalui tiga proses
- Srasti adalah proses penciptaan alam semesta beserta isinya melalui evolusi dua
unsur purusa dan perdana

- Swastika adalah proses ketika alam semesta seisinya mencapai puncak


keseombangan yang bersifat dinamis, kondisi ini dilambangkan dengan jejahitan
dengan bentuk tapak dara dan kemudian menjadi Padma Astadala Padma Astadala
adalah lambang perputaran alam yang dinamis dan seimbang sebagai sumber
kebahagiaan.

-. Pralaya adalah proses alam semesta lebur keeembali keasalnya yaitu Tuhan Yang
Maha Esa.

Kitab Bhagawadgita III.24 menyebutkan

Utsideyur ime loka na kuryam karma ched aham

samkarasya cha karta syamupahanyam imah prajah

Artinya

Jika Aku berhenti bekerja, dunia akan hancur lebur dan

Aku jadi pencipta keruntuhan memusnahkan manusia ini semu

1. a. Makna Canang

- Lambang perjuangan hidup manusia dengan memohon perlindungannya

- Lambang menumbuhkan keteguhan, kelanggengan dan kesucian pikiran

- manusia berlandaskan yajna kehadapan Hyang Widhi

- Sebagai lambang suatu usaha umat manusia untuk mevisualisasikan ajaran


Agama

- Hindu dalam bentuk banten memberi keterangan dan arti dan makna hidup ini

2. Kewangen

a. Pengertian

Bentuk persembahan yang dipakai untuk menyembah Ista Dewata yaitu aspek Tuhan
yang dimohon hadir dalam persembahyangan tersebut untuk menerima persembahan
atau bbbhati para pemujanya.

b. Cara memakainya

Karena Kewangen simbol Tuhan maka memakainya hendaknya sedemikian rupa


sehingga muka kewangen berhadapan muka dengan pemakainya atau penyembahnya.
Yang merupakan muka adalah uang kepeng, bila tidak ada uang kepeng dapat
diganti dengan uang logam.

c. Bahan

Kewangen dibuat, tempatnya dari daun pisang atau janur yang dibentuk kojong. Isi
kewangen, daun-daunan (plawa), bunga, uang kepeng dan porosan silih asih. Adapun
yang disebut porosan silih asih adalah dua helei daun sirih yang diisi kapur, gambir
dan buah pinang, diatur sehingga bila digulung kelihatan bolak-balik baik bagian
perut maupun punggungnya.

3. Daksina

a. Pengertian

Kata Daksina menngandung arti Brahma dan Brahma menjadi Brahman yaitu Sang
Hyang Widhi. Daksina dibuat sebagai simbol manifestasi dari Brahman sendiri atau
Hyang Widhi.

b. Bahan-bahan, isi dan makna simbol dalam Daksina :

Kalau melihat banyaknya isi dari daksina dan makna yang terkandung dalam tersebut,
sebetulnya merupakan permohonan pada Ida Sang Hyang Widhi. Mengenai telor
kenapa harus telor itik, karena itik siwatnya baik, dapat membedakan yang kotor dan
yang bersih, tidak mau bertengkar. Jadi kalau memakai telor itik seolah-olah
persembahan itu permohonan agar kita dianugerahi kebijaksanaan oleh Hyang Widhi.

4. Segehan

a. Pengertian

Upacara mesegeh adalah upacara Dewa Yajna yang dilaksanakan pada

- Kajeng kliwon : Sang Kala Bucari = halaman rumah

Sang Bhuta Bucari = halaman merajan

Sang Dewi Durga = dipintu luar

b. Bahan segehan

- Nasi (sega) ditaruh dalam tangkih (alas dari janur berbentuk segitiga)

- untuk dihalaman rumah 4 warna (putih, merah, kuning dan hitam)

- masing-masing dalam tangkih ditaruh di 4 arah mata angin

- untuk di merajan/sanggah : 5 warna masing-masing ditaruh ditangkih

- (putih, merah, kuning, hitam dan ditengah pancawarna/brumbun)


- - untuk didepan pintu keluar halaman pekarangan 1 warna putih

- dalam 9 tangkih (8 mata angin 1 ditengah)

- beras, uang kepeng (2bh) base (sirih), benang putih dalam 1 tangkih

- bawang (merah), jahe (putih) dan garam areng (hitam) dalam 1 tangkih

- canang yasa atau plaus sampian tangas dan bunga.

- api takep atau dupa

- air (tirtha) dan bunga dalam batil (tiap tampat disediakan 1 batil tirtha.

Bahan ini semua ditaruh dalam tamas, sehingga perlu 3 buah tamas banten segehan,
juga api takep/dupa dan tirtha masing-masing harus ada.

c. Etika Religius masegeh

• Waktu : kajeng kliwon (seminggu sebelum Purnama/dan tilem)


• Tempat/menaruh dengfan urutan:
o
 dihalaman rumah,
 dihalaman pemerajan,
 didepan pintu pekarangan

* Tata cara menghaturkan segehan

• Tamas berisi segehan, api dan tirta dibawa dengan tangan setinggi
bahuditaruh ditempat seperti diatas, letak segehan sesuai dengan warnanya,
putih timur, merah selatan, kuning barat dan hitam utara begitu pula yang
lain.
• Api takep diletakkan disebelah kanan tamas, batil sebelah kiri.
• Upacara mesegeh dimulai dari halaman rumah, merajan terakir diluar.
• Segehan dipersiki tirtha pelukatan tiga kali
• Berdoa sesuai dengan bahasa sehari-hari, pemujaan atau mantra.
• Memercikkan tirtha pengayaban 3 kali
• Ayaban tangan 4 kali dihalaman rumah, 5 kali untuk dimerajan, 9 kali untuk
didepan pintu prkarangan
• Berdoa atau memantra
• Memercikkan tirtha (pamuput) 3 kali
• Matabuh dengan air (tirtha) dituang mengelilingi tamas dari kiri kanan 3 kali.
• Bila ini upacara besar dapat diiringi gamelan, kidung tarian atau wayang

5. Prayascita

a.Pengertian :
Prayascita adalah banten yang termasuk kelompok yang berfungsi pembersihan
(penyucian) yang merupakan simbol yang mengandung nilai religius sebagai kekuatan
Siwa Guru.

b. Bahan Prayascita

• Tamas Gede sebagai simbol Windhu dan memiliki makna sebagai


• kekuatan pawitra (penyucian)
• 5 buah tulung sebagai simbol panca indria memiliki makna sebagai
permohonan kehadapan Hyang Widhi agar panca indria dapat disucikan untuk
menjadi Panca Dewata.
• 5 buah tipat burung kukur sebagai simbol angin memiliki makna kekuatan
penyucian seperti sebutir debu ditiup angin sehingga betul betul suci.
• 5 buah tumpeng simbol manca giri dan bermakna kekuatan Panca Dewata.
• Nasi Soda simbolpredana tattwa berarti Sang Hyang Ayu bermakna
memohon kerahayuan kehadapan Hyang Siwa.
• Sampian nagasari bermakna memohon sarining mertha
• Lis dari kata”les’ artinya inti permohonan kesucian
• 5 buah kewangen simbol Ongkara waliang bermakna kekuatan Sang Hyang
Siwa Guru.
• Dua tanda usehan satu sebagai simbol ubun-ubun (kekuatan Hyang
Suniatma) dan satu lagi simbol pabahan ( Sang Siwatma)
• Ceper berisi tepung tawar, pengresikan dan pengelelenga sebagai simbol tri
pramana bermakna sabda (tepung tawar), bayu (pengresikan), dan idep
(pengelelenga). Pengresikan terbuat dari arang jajan yang ditumbuk halus,
pengelelenga terbuat dari minyak wangi.
• Bungkak kelapa gading sebagai simbol toya (air) sukla bermakna kekuatan
tirtha maha mertha (siwa tirtha)
• Jajan pisang tebu dan porosan kacang saur dan sambal serta garam
mengandung makna permohonan

1. 6. Yajna Sesa

a. Pengertian

Yajna Sesa adalah yajna atau korban suci yang dipersembahkan kehadapan Hyang
Widhi beserta manifestasiNya sesudah masak atau sebelum menikmati makanan,
(prasadham istilah India)

Dasar Bhagawad Gita III.13 menyebutkan :

Yajna sishtasinah santo, mucyante sarva kilbisaih,

bhunyate te tv agham papa, ye pacaanty atma karamat”

Artinya

Yang baik makan setelah bhakti, akan terlepas dari segala dosa,

Tetapi menyediakan makanan lezat hanya bagi dirinya sendiri


mereka ini sesungguhnya makan dosa.

Jadi intinya orang yang baik akan makan setelah melakukan persembahyangan,
menghaturkan terima kasih terlebih dahulu pada Tuhan, akan memperoleh
kebahagiaan.

1.Tujuan

Tujuan Yajna Sesa adalah menyampaikan rasa sukur atau terima kasih kehadapan
Sang hyang Widhi Wasa dengan segala manifestasi Nya atas anugrah yang
dilimpahkan kepada kita.

2.Pelaksanaan

Di India biasanya mempersembahkan makanan tersaji dalam bokor dan


dipersembahkan di altar pemujaan, baru kemudian menikmati hidangan.

Di Bali Yajna Sesa selain berupa “jotan” (sajen sederhana) juga menghaturkan
punjung kehadapan leluhur.

Di Jawa terdapat budaya memberikan sajen untuk yang dibawah dan “pancen” untuk
leluhur.

Yajna Sesa yang berupa “Jotan” dilaksanakan sesudah masak mula-mula disiapkan
daun-daun sebagai alas sejumlah yang akan diberi sesaji. Sesaji yang dihaturkan
dalam Yajna Sesa sangat sederhana, yaitu nasi sedikit ditaruh diatas daun dengan
diberi lauk atau garam saja, ini dihaturkan setiap pagi sesudah masak, ditujukan
kepada Tuhan lewat Sarwa Prani.Tempat Yajna sesa :

* Diatas atap rumah atau diatas tempat tidur (pelangkiran) dipersembahkan untuk
menifestasi Tuhan dalam prabawanya sebagai Akasa dan Ether

* Ditungku dipersembahkan untuk Dewa Brahma atau Dewa Agni

* Ditempat air dipersembahkan untuk Dewa Wisnu sumber air * Dihalaman


rumah dipersembahkan untuk Dewi Pertiwi

* Ada juga yang member ditempat beras, dipintu pekarangan, ditempat menumbuk
padi dll

3. Makna

Yajna Sesa memiliki makna :

* Mengucapkan terima kasih pada Tuhan lewat ciptaanNya.

* Belajar dan berlatih mengendalikan diri

* Melatih kepekaan perasaan peduli terhadap lingkungan


Yajna Sesa ini merupakan latihan spiritual tahap pertama dan perwujudan sadhana
atau bhakti kepada Tuhan. Yajna ini sangat erat hubungannya dengan latihan
kepekaan perasaan. Orang melaksanakan yajna dengan tulus ikhlas akan
menimbulkan perasaan bahagia. Kasih sayang terhadap semua mahkluk ciptaan-Nya
yang dalam istilah Hindu ‘Sarwa prani hitangkarah’ sudah dilaksanakan berabad abad
lamanya oleh umat Hindu, sehingga dengan demikian tercipta keseimbangan dunia
materiil antara Pencipta dan ciptaan-Nya (Kawula-Gusti)

BAB VI

PANCA YAJNA DAN MAHA YAJNA

A. Pengertian

Dalam pelaksanaan Panca Yajna hendaknya dilandasi dengan jnana, karma dan bhakti
dan pelaksanaannya dijabarkan dalam upacara-upacara keagamaan yang dipimpin
oleh pendeta atau pinandita.

Sampai saat ini pelaksanaan agama masih berkisar pada pelaksanaan Panca Yajna
yang dapat membangkitkan rasa keagamaan (Brahman Rasa), sesungguhmya harus
ditingkatkan pada Brahman Hredaya.Dharma sedana merupakan suatu upaya umat
Hindu untuk mewujudkan kesucian Ida Sang Hyang Widhi Wasa berada dalam diri
sendiri. Brahman Hredaya perlu diwujudkan melalui Brahman Rasa.

Pelaksanaan Yajna harus disesuaikan dengan kemampuan sehingga setiap umat bias
melakukan yajna. Pelaksanaan Yajna ini mengandung nilai yang bias membentuk
kepribadian umat dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pelaksanaan Yajna terkandung
nilai etika dan moral yang tinggi yang pada hakikatnya akan mengantarkan kita
kepada tujuan yang kita cita-citakan yaitu Moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

Telah kita ketahui Panca Yajna karena manusia merasa memiliki hutang-hutang
yang disebut dengan Tri Rna.

B. PANCA YAJNA

Dewa yajna

1. Pengertian

Dewa Yajna ialah korban suci dan tulus ikhlas kehadapan Hyang Widhi beserta
manifestasinya dengan jalan sujud bakti memuja mengikuti segala ajaran-ajaran
sucinya serta melakukan Tirtha Yatra (kunjungan ke tempat suci)

Wujud : Niskala > upacara, upakara untuk Hyang Widhi dan Dewa-Dewa, Batara

Sekala > melaksanakan ajaran agama didunia (Tri kaya Parisudha)

2. Tujuan Dewa Yajna

a. Mengamalkan ajaran- ajaran Weda


b. Meningkatkan kualitas diri

c. Untuk mensucikan diri

d. Sarana berhubungan dengan Tuhan

e. Untuk mencetuskan rasa terima kasih

3. Jenis pelaksanaan Dewa Yajna

a. Dengan memhaturkan sajen (banten) dan melakukan persembahyangan

Perlu diperhatikan, yang penting dalam membuat sajen dan harus ada dalam yajna :

- Simbol Brahma : Agni (dupa, kemenyan, ratus, lilin) sebagai saksi dan pengantar
persembahyangan

- Simbol Siwa : bunga segar dan harum sebagai sarinya bumi untuk mengucapkan
terima kasih pada Hyang Widhi

- Simbol Wisnu : tirtha sebagai alat pembersihan dan penyucian jiwa.

Bhagawadgita IX.26 menyebutkan :

“Patram, puspham, phalam toyam, yo me bhaktya praya

chchati, Tad aham bhaktyu pahritam,

Asnami prayatatmanah”

Artinya : Siapa yang sujud kepada Ku dengan mempersembahkan Setangkai


daun, sekuntum bunga, sebiji buah-buahan atau seteguk air, aku terima sebagai bakti
persembahan dari orang yang berhati suci.

Setangkai daun, sekuntum bunga sebiji buah-buahan atau seteguk air bersifat
simbolik. Yang utama adalah hati suci, pikiran terpusatkan jiwa dalam keseimbangan
tertuju kepada Nya. Membuat banten sesuai dengan kemampuan, tidak usah
bermewah-mewah, jangan sampai menghaturkan banten hatinya susah, marah, iri
dengki dll.

b. Memelihara bangunan suci tempat kita melakukan yajna

Tempat untuk sembahyang harus dipelihara kebersihan, kenyamanan agar dalam


proses pelaksanaan persembahyangan berjalan lancar. Disamping itu perlu penanaman
bunga, serta daun-daun yang diperlukan untuk upacara dan menambah keindahan,
sehingga umat akan kerasan berada di pura atau tempat suci itu.

c. Mempelajari dan mengamalkan ajaran-ajaran suci Nya serta malakukan


pensucian diri lahir batin (Sauca dan Tira yatra).
Di pura perlu ada perpustakaan untuk meningkatkan pemahaman tentang ajaran
agama, disamping itu juga perlu ada tempat untuk latihan pembuatan banten, latihan
tari, mekidung (nyekar dalam bhs. Jawa). Juga untuk latihan meditasi (raja yoga).

4. Tata cara pelaksanaan Dewa Yajna

Tempat : di Pura, atau dirumah (kamar suci/ altar, di luar rumah (pekarangan yang
dibuat tempat suci untuk sembahyang) atau suatu tempat yang bersih yang dianggap
pantas untuk melaksanakan Trisandya.

Sarana :

1. Ada Sanggar Surya bila tidak ada Padmasana tempat stana Hyang Widhi
2. Ada sesaji ( banten) terutama api/dupa, air, bunga bila ada buahbuahan,
3. c. Ada tempat untuk menghaturkan sesaji (banten) yang dihias indah sesuai
budaya setempat untuk menimbulkan kesucian.

Pelaksanaan :

1. Banten telah disiapkan dan ditempatkan pada tempatnya masing-masing.


2. Sulinggih/pendeta,pinandita/ pemangku siap untuk memuja bhakti ditempat
yang sudah disediakan dibantu oleh pamangku yang lain yang tidak bertugas
untuk muput.
3. Pelinggih (padmasana/sanggar Surya/ Patung) diberi upacara penyucian

d. Sulinggih/pendeta/pinandita/pemangku muput/melaksanakan upacara

- Pemuput upacara duduk, asuci laksana, ngastawa genta, mohon pengaksama.

- Nglinggihang/ngantep banten taksu

- Memohon tirtha untuk diri sendiri dilanjutkan tirtha pelukatan pebersihan

- Nganteb banten Byakala, Durmenggala dan Prayascita untuk banten

- Ngastawa banten dilanjutkan Surya Stawa dan Pertiwi Stawa

- Memohon Hyang Widhi beserta manifestasiNya turun berstana di pelinggih


memakai puja “Utpatti”, puja “Sthiti”/Apadeku.

- Menghaturkan banten, ngantep segehan dan pengaksama jagatnata

- Menghaturkan puja wali sesuai dengan tingkat atau macam upacara sebagai
simbul sujud pada Hyang Widhi.

- Selama pemuput upacara memuja bhakti, umat menghaturkan kidung-kidung

- Umat melaksanakan persembahyangan diantar oleh pemangku yang bertugas.

- Umat nunas tirtha dilayani oleh pemangku-pemangku yang bertugas.


- Ngantukan Betara, Prelina Genta kemudian penutup.

5. Upacara yang termasuk Dewa Yajna :

1. a. Hari Purnama dan Tilem


2. b. Hari berdasar pawukon (contoh Budha Kliwon Sinta = Hari
Pagerwesi)
3. c. Hari berdasarkan Pancawara :

Kajeng Kliwon : Sang Kala Bucari(natar rumah), Sang Bhuta Bucari (natar merajan)
dan Sang Dewi Durga pintu keluar.

Anggara Kasih > Dewa Rudra menghilangkan kekotoran jagat

Buda Cemeng > Betari Manik Galih turunnya Sang Hyang Ongkara

Merta/kehidupan

1. d. Hari-hari tertentu : Gerhana Matahari (Hyang Surya), Gerhana Bulan


Hyang Candra), panen (Dewi Sri), mendirikan bangunan suci, piodalan
pura/merajan, kahyangan dll.

PITRA YAJNA

1. Pengertian

Pitra (Pitara) artinya orang tua atau roh leluhur yang sudah meninggal dunia.

Pitra Yajna berarti upacara pemujaandengan hati yang tulus ikhlas dan suci yang
ditujukan pada pitara untuk menghormati roh-roh leluhur yang sudah meninggal. Ptra
Yajna juga berarti penghormatan dan pemeliharaan atau pemberian suatu yang baik
dan layak kepada orang tua (ayah, ibu) serta memperlakukan dengan baik.

Wujud Niskala : Upacara, upakara untuk para pitara, orang yang sudah meninggal

Sekala : menghormati, tidak membuat susah orang tua yang masih hidup dan
sesudah meninggal

2. Dasar

Pelaksanaan Pitra Yajna adalah merupakan tanda penghormatan dan kelanjutan rasa
bhakti seorang putra yang baik kepada orang tua dan leluhurnya.

Dasar-dasar pokok pelaksanaan Pitra Yajna

Kesadaran seorang anak manusia merasa mempunyai hutang pada orang tua (ayah,
ibu) yang memelihara dari kecil sampai dewasa, mulaimemberi makan, kesehatan,
pendidikan sampai kesejahteraan lahir dan batin (Pitra Rnam)

3. Tujuan
Bila orang tua masih hidup untuk menyenangkan hati supaya orang tuan menjalani
masa tuanya dengan baik dalam rangka mencari bekal dalam menghadap Ida Sang
Hyang Widhi (pada waktu meninggal).

Bila orang tua sudah meninggal Pitra Yajna dilaksanakan untuk mensucikan roh-roh
leluhur dengan memberi punia-punia dan sedekah-sedekah.

4. Tata cara pelaksanaan Pitra yajna

Untuk orang tua yang masih hidup, titik beratnya pada susila,

berbuat sesuatu yang selalu membuat orang tua bahagia, ini sebetulnya kelihatan
dalam cetusan baktinya anak pada orang tua. Tentang materi yang dihaturkan sebatas
kemampuan, orang tua yang baik tidak banyak menuntut pada anak. Anak yang
hendaknya tanggap akan keperluan orang tuan agar menjadi suputra.

Untuk orang tua yang sudah meninggal

Pitra yajna ini kebanyakan berupa simbolis yang hakekatnya harapan agar jenasah
kembali ke Panca Maha Bhuta dan jiwatman kembali ke paramatman (Hyang Widhi).

Tingkatan Pitra Yajna sbb.:

Sawa Preteka ialah : usaha menyelenggarakan agar sawa (jenasah) kembali kepada
“Panca Maha Bhuta” dengan jalan dikubur atau dibakar/digeseng.

Sawa Wedana adalah pembakaran jenasah yang dapat diketemukan

Asti Wedana adalah upacara setelah pembakaran jenasah , abu tulang-tulangnya


dihanyutkan kelaut atau sungai yang bermuara kelaut.

Swasta adalah pembakaran jenasah yang tidak diketemukan hanya dibuatkan symbol
saja.

Atma Wedana ialah upacara pengembalian atma dari alam pitara kealam Hyang
Widhi.

Pelaksanaan Pitra Yajna

Sawa Preteka : Jenasah dimandikan dengan air bersih kemudia air kungkuman
bunga wangi. Sesudah itu semua lubang tubuh ditutup dengan kapas, dibungkus kain
putih dan dinakar atau dikubur.

Sawa Wedana : membakar jenasah di kuburan atau di tempat pembakaran jenasah


(modern), dengan kayu api yang dianggap suci cendana atau maje gau sekedar syarat
supaya wangi. Abunya ditaruh di buah kelapa kemudian dihanyutkan kelaut atau
sungai. Upacara selalu memakai sesaji terutama api (dupa), bunga tirtha. Diantar
sembah oleh sanak keluarga terakhir sujud pada pitara.
Atma Wedana : Tempatnya dirumah, disanggah atau tempat lain yang ditentukan.
Dibuat simbur atme dari bunga (puspa sarira) yaitu bunga disusun seperti badan
manusia. Toyam Sarira dibuat dari air suci ditambah bunga-bungadiwujudkan dengan
puja Atma Tatwa. Banten-banten juga disiapkan untuk itu. Kemudian diantar puja
praline Puspam Sarira dibakar dan selanjutnya dihanyutkan kelaut

Hembusan nafas terakhir

Bila menunggui orang tua yang sakit hendaknya pada waktu akan menghembuskan
nafas terakhir hendaknya dibisikkan Puja Pralina :

Om a ta sa ba I wasi mana ya mang ang ong atau

Murcahntu, swargantu, moksantu, angksama sampurna ya namah swaha

RESI YAJNA

1. Pengertian

Rsi yajna adalah korban suci yang tulus ikhlas dipersembahkan pada Maharsi, para
Rsi atau orang yang berjiwa suci dan berjasa dalam pengajaran agama Hindu.

Wujud Niskala : Upacara, upakara kependetaan

Sekala : menghormati Sulinggih, Orang suci, belajar agama

2. Tujuan

Untuk mewujudkan kesejahteraan bagi para Rsi, Sulinggih, Pedanda, Pendeta, Sri
Empu, Pinandita, Wasi, Pemangku dll.

3. Cara melaksanakan Rsi Yajna

Melaksanan upacara mewinten ( mensucikan calon pinandita, wasi, atau pemangku).

Menobatkan calon Sulinggih (mediksa/medwijati) menjadi orang suci (Sulinggih).

Membangunkan tempat pemujaan bagi para sulinggih

Menghaturkan punia, Rsi Bojana (santapan) kepada para Sulinggih

Mengadakan pendidikan bagi calon Sulinggih

Membantu tugas para Sulinggih

Mentaati dan mengamalkan ajaran dari para Sulinggih

Diksa artinya disucikan, sedang dwijati adalah lahir yang kedua kali.

Syarat Calon Sulinggih


- Laki-laki yang sudah kawin dan yang nyukla brahmacari

- Wanita yang sudah kawin dan yang tidak kawin (kanya)

- Pasangan suami istri

- Umur minimal 40 Tahun

- Paham bahasa kawi, Sanskerta, dan bahasa Indonesia, memiliki pengetahuan


umum, mendalami intisari ajaran agama Hindu

- Sehat lahir batin dan berbudi luhur sesuai sesana, berkelakuan baik dan tidak
pernah tersangkut perkara pidana

- Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang mensucikan

- Tidak terikat pekerjaan sebagai pegawai negeri maupun swasta kecuali


bertugas keagamaan.

Syarat-Syarat Nabe

1. a. Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin


2. b. Mampu melepaskan diri dari keduniawian
3. c. Tenang dan bijaksana
4. d. Paham dan mengerti Catur Weda, dan selalu berpedoman Kitab suci Weda
5. e. Mampu membaca Sruti dan Smerti
6. f. Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

Langkah pelaksanaan upacara Diksa

1. a. Upacara awal

• Mejauman > berkunjung kegria nabe + upakaranya


• Sembah pamitan kepada keluarga mohon doa restu
• Mapinton = asucilaksana > disegara, gunung dan merajan nabe

1. b. Upacara Puncak.

• Amati raga = penyekepan, melakukan yoga (monabrata dan upawasa) sehari


penuh sebelum mediksa.
• Calon diksita dimandikan oleh guru saksi & sanak keluarga kemudian menuju
ke pemerajan untuk didiksa.

1. c. Upacara pokok

• Pedanda nabe memuja atau ngarga


• Calon diksita melakukan upacara mebyakaon, muspa dan luhur apari sudana
(ganti nama)
• Calon diksita menghadap guru nabe metepung tawar.
• Calon diksita membersihkan kaki kanan guru nabe, digosok minyak kayu
putih, diasapi 3 kali, digosok minyak dan ditaruh diubun-ubun
• Guru nabe memberikan kekuatan gaib kepada sisya dengan anilat empuning
pada tengen
• Anuwun pada ( Guru nabe napak calon diksita dan seterusnya

MANUSA YAJNA

1. Pengertian

Manusa Yajna adalah korban suci tulus ikhlas untuk keselamatan keturunanserta
kesejahteraan manusia lainnya.

Wujud : Niskala > upacara & upakara kemanusiaan

Sekala > monolong & berkorban untuk kemansiaa

2. Tujuan

Untuk memelihara hidup dan membersihkan lahir dan batin manusia dari
terwujudnya jasmani dalam kandungan sampai akhir hidup manusia.

Untuk meningkatan kesempurnaan hidup manusia, manusia dapat hidup selamat,


sejahtera, rukun, aman, damai di bumi ini dan yajna bagi sesame manusia.

Bagi mereka yang sudah tinggi kekuatan batinnya sudah tentu pembersihan itu dapat
dilakukan sendiri tanpa alat atau bantuan orang lain yaitu dengan melakukan yoga
samadi secara tekun dan disiplin.

Intinya unsure pembersihan dalam manusa yajna perlu adanya “Tirtha


pelukat/pebersihan” yang dipujai (dibuat melalui puja, mantra Weda) oleh pendeta
atau pimpinan upacara. Pada umumnya orang yang jujur, berilmu dan bijaksana
adalah orang yang dianggap sesana beliau.

Buku Tilakrama (hlm 90) menyebutkan :

Ad bhir gatrani cudhayanti, manah satyena sudhayanti,

widhyatapo bhyam bhrtatma buddhir jnanena cudhayanti.

Artinya: Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, roh
dibersihkan dengan ilmu dan tapa. Akal dibersihkan dengan kebijahsanaan.

3. Tata cara pelaksanaan upacara manusa Yajna

a. Upacara mabyakala (mabyakaon)

Upacara ini berupa pemberian korban, suguhan kepada “Bhuta kala” dengan maksud
agar setelah disuguhi tidak mengganggu keselamatan dan ketentraman seseorang dan
meninggalkan tempat tersebut, dan malah merestui. Upakaranya disebut banten
byakala atau byakaon.

Tempat upacara dihalaman menghadap kepintu rumah, waktu natap banten diarahkan
kearah belakang dan samping. Sebetulnya upacara ini tidak hanya untuk manusa
Yajna juga Panca Yajna.

b. Upacara melukat/mejaya-jaya

Upacara ini ada 3 tingkatan yaitu : Eteh-eteh pengelukat (Kecil), eteh eteh padudusan
alit (lebih besar), eteh-eteh padudusan agung (paling besar). Tirtha pengelukatan
dibuat melalui puja-puja dan mantra oleh pimpinan upacara, dilaksanakan disalah satu
tempat dipemerajan atau bagian dari rumah orang tersebut. Tujuan upacara untuk
membersihkan diri manusia itu lahir dan batin.

c. Upacara Natab (ngayab)

Upakaranya disebut banten tataban (ayaban). Banten-banten dipersembahkan kepada


Dewa-Dewa agar berkenan menempati banten dan member restu. Kemudian banten
diayab agar Dewa-Dewa tersebut menempati jasmani orang yang diupacarai.

Lontar Anggas Tyaprana menyebutkan bahwa jasmani manusia ditempati kekuatan-


kekuatan dari dewa-dewa tertentu seperti:

* Hati ditempati oleh Dewa Brahma

* Jantung ditempati oleh Dewa Iswara

* Empedu ditempati oleh Dewa Wisnu,

* Usus ditempati oleh Dewa Rudra dll.

Maka waktu ngayab telapak tangan dihadapkan kedada.

d. Upacara muspa (bersembahyang)

Upacara ini dapat dilakukan dua macam :

- Setelah mebyakala untuk memohon waranugraha ditujukan kepada Hyang Surya


Raditya dan Hyang Guru

- Setelah natab tujuannya untuk menghubungkan diri/dan memohon restu pada


Hyang Widhi kemudian dilanjutkan nunas tirtha.

4, Jenis-jenis manusa Yajna

a. Mengadakan upacara selamatan pada waktu :

- Bayi dalam kandungan (3 , 4 , 5 , 7bulan, procotan)


- Bayi baru lahir (nyambutin)

- Bayi puput puser (kepus pungset)

- Upacara ngelepas aon (12 hari)

- Bayi berumur 42 hari (tutug kambuhan)

- Bayi berumur 3 bulan Bali (3 lapan = 3 x 35 hari)

- Bayi berumur 6 bulan Bali (6 lapan)= wetonan)

- Tumbuh gigi, kemudian meketus.

- Anak meningkat dewasa (raja Sewala)

- Upacara potong gigi (mesangih/mepandes)

- Upacara perkawinan (pawiwahan).

b. Peningkatan kualitas kemanusiaan : pendidikan , seni

budaya, kesehatan, moral/ budi pekerti dll.

c. Peningkatan jiwa sosial/ kemasyarakatan : Menghormati dan menolong


sesama manusia, seperti ramah tamah pada orang.

BHUTA YAJNA

1. 1. Pengertian

Bhuta yajna adalah korban suci tulus ikhlas yang ditujukan kepada Panca Maha Bhuta
atau semua makhluk dibawah manusia baik yang kelihatan maupun yang tidak
kelihatan. Atau penyucian alam semesta beserta isinya

Upacaranya disebut mecaru, bantennya banten caru. Caru artinya mengharmoniskan.

Wujud : niskala > melaksanakan upacara & upakara mecaru ( Panca Maha Bhuta)\\\

Sekala > melestarikan, mengharmoniskan jagat/alam seisinya

1. 2. Tujuan

Bhuta yajna dilaksanakan dengannya menjaga keseimbangan, keselarasan,


keharmanonisan alam semesta seisinya, kesejahteraan semua makhluk.

a. dengan cara :

• Nitya Karma (setiap saat/setiap hari) seperti saiban atau banten jotan setiap
habis masak ditungku, di sumber air dll (Yajna sesa.
• Naimiyika karma (waktu tertentu missal : Panca sata, Panca Kelut, Rsi Gana,
Balik Sumpah, Tabuh Getuh, Tawur Agung, Panca Wali Krama (10 Th.
Sekali), Eka Dasa Rudra ( 100 Th. Sekali)

1. Dengan menjaga dan menyelenggarakan kehidupan mahkluk hidup bawahan


antara lain binatang peliharaan serta tumbuh-tumbuhan sebaik-baiknya. Di
Bali untuk binatang ada tumpek kandang, dan untuk tumbuh-tumbuhan
tumpek pengatak. Inilah sebetulnya sebagai realisasi dari “Tat Twam Asi”
manusia merasa bersatu dengan alam, mencintai alam, tidak hanya meminta
dari alam tapi juga dengan pikirannya dia harus memberi dengan kasih saying
1. C. PANCA MAHA YAJNA

Korban suci yang lebih besar dari Panca Yajna : “Panca Maha Yajna” yaitu :

1. 1. Drewiya Yajna ialah korban suci yang dilakukan melalui banten, sajen,
harta benda, dn material lainnya milik orang yang menyelenggarakan yajn, ini
menjadi Panca Yajna.
2. 2. Tapa Yajna ialah korban suci dengan jalan tapa yaitu dengan jalan tahan
menderita,meneguhkan iman, menghadapi segala godaan dengan menguatkan
jiwa menghadapi perjuangan hidup.( mengendalikan indria.)
3. Swadhyaya Yajna ialah korban suci yang berupa kebajikan yang diamalkan
dengan mempergunakan diri pribadi sebagai alat atau dana pengorbannanya.
Kalau Panca Yajna (Drewiya Yajna) mengorbankan materi, Swadhyaya Yajna
mengerbankan diri pribadi (contoh mempelajari kitab suci dengan penuh
tanggung jawab)
4. Yoga Yajna ialah korban suci melalui pemujaan kepada Hyang Widhi dengan
jalan Yoga yaitu menyatukan pikiran guna dapat menunggalkan Atman
dengan Paramatman (Hyang Widhi) sehingga mencapai kebebasan dan
kebahagiaan abadi atau kealam nirwana (mukti).
5. Jenyana Yajna ialah korban suci dengan mengamalkan pengetahuan kepada
sesame mahkluk untuk kesempurnaan mahkluk hidup tersebut.

Bhagawad Gita VI. 33 menyebutkan :

“ Jelasnya seorang pelaksana Jenyana Yajna berpikir, berkata dan berbuat demi untuk
kesejahteraan dan kesentausaan alam dunia, segala hidupnya diabadikan serta sendiri
yang sangat cinta kepada perdamaian”.lain, menjamu tamu menghormati hak orang
lain (bersikap toleran), menjamu tamu, memberi sedekah dengan tulus
ihklas.dicurahkan untuk kepentingan kehidupan bersama; kehidupan yang serba
damai.

PANCA YAJNA BUDAYA JAWA

A. Pengertian

Agama Hindu mengajarkan empat jalan untuk mendekatkan diri pada Tuhan yaitu
Karma Marga (jalan perbuatan), Bhakti Marga (jalan kebaktian), Jnana Marga (jalan
pengetahuan ) dan Yoga Marga (jalan yoga/menghubungkan diri kepada Tuhan).
Upacara persembahyangan, berdoa, memantra termasuk Bhakti Marga, jalan ini yang
sering dilaksanakan karena jalan ini mudah dan sederhana.
Yajna (Upacara persembayangan/ritual) yang diambil sebagai contoh adalah Dewa
Yajna dan Bhuta Yajna dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura, Piodalan pura lain
di Jawa, Mahisa Lawung di Alas Krenda Wahono, Upacara di Candi Menggung.

Manusa Yajna, Pitri Yajna dilaksanakan ditempat keluarga yang melaksanakan


Yajna, sedang Rsi Yajna pernah juga dilaksanakan di Pura dekat Gunung Bromo.

Adapun Yajna tersebut antara lain :

1. Dewa yajna : Upacara Agni Hotra, Upacara Malem Rabu Pon, Malem
Jum’at Legi, Upacara Tawur Kesanga, Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura,
upacara Mahisa Lawung dll.
2. Manusa yajna : upacara bayi dalam kandungan, bayi lahir, wetonan naik
dewasa, perkawinan.
3. Pitri Yajna : Geblak (hari meninggalnya), peringatan kematian 3 hari, 7
hari, 40 hari, 100 hari, pendak pisan, Pendak pindo,dan Nyewu (100 hari).
(dilaksanakan dirumah duka umat)
4. Bhuta Yajnya : Tawur Kesanga, odalan pura dan setiap ada yajna

Upacara Rsi Yadnya belum pernah dilaksanakan di Pura Sahasra Adhi Pura. Semua
upacara pada umumnya berdasar apa yang ditetapkan oleh Parisadha Hindu Dharma
Indonesia hanya pelaksanaannya menggunakan desa kala patra. Baik sajen, karawitan
serta pakaian umat memakai adat Jawa, tapi tidak tertutup bagi yang menggunakan
adat lain.

B. Dewa Yajna

1. Upacara Agni Hotra

Ritual Agni Hotra ini termasuk Dewa Yajna seperti diungkap dalam Kitab
Mahabharata yang menyatakan :

Seperti raja diantara umat manusia, seperti Gayatri dalam semua

mantra, Demikianlah sangat utamanya Agni Hotra diantara semua

upacara Yajna dalam Kitab Suci Weda “

Agni Hotra diungkap dalam Kitab Suci Manawa Dharmasastra (Buku III.75,76)
yang diterjemahkan oleh G. Pudja MA dan Tjokorde Rai Sudharta MA dinyatakan :

Hendaknya setiap orang yang menjadi kepala rumah tangga setiap

harinya menghaturkan mantra suci Weda dan juga melakuk upacara pada para
Dewa karena ia yang rajin dalam melakukan korban pada hakekatnya membantu
kehidupan ciptaan Tuhan yang bergerak maupun yang tidak bergerak

Persembahan yang dijatuhkan kedalam api akan mencapai


matahari, dari matahari turunlah hujan, dari hujan timbulah makanan dari mana
mahkluk hidup mendapatkan hidupnya.

Upacara Agni Hotra dalam perkembangannya muncullah pemujaan kepada para


dewata dengan menggunakan sarana Arca ( Titib 2003: 297). Upacara Agni Hotra
dilaksanakan didepan Arca Ganeshya. Ganeshya (Ganapati dikenal juga dengan nama
Vinayaka) adalah Dewa yang paling populer secara universal dipuja dimana saja,
karena lambang pengetahuan duniawi, spiritual dan sains sekaligus menggambarkan
manusia dengan segala perikemanusiaan, peri kebinatangan peri kedewataan secara
utuh.

Berbagai mantram-mantram yang menyiratkan Ganeshya pada awalnya telah hadir di


Rig-Weda (2.23.1 dan 10.112.9). \Konsep paling dini kemudian berkembang
menjadi Ganeshya masa kini, ganapati-Brahmanaspati (Rig-Weda) lambat laun
mengalami evolusi spiritual dan menjadigajavadana-Ganeshya- Veghneswara. Di Rig-
Weda beliau juga disebut Brhaspati & Vasaspati (wujud Cahaya).

Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Agama Hindu yang dapat dimulai tanpa
memuja Dewa Ganeshya lebih dulu, karena oleh Tuhan Yang Maha Esa mewakilkan
Ganeshya menjaga kelestarian jagat raya ini. Beliau juga adalaaaah Vighneswara
(penetralisir) dan Vighnaharja (pengusir bala dan bencana).

Ganeshya adalah simbol vidya dan avidya (gading sempurna dan tak
sempurna/patah),tiada pengetahuan didunia ini yang sempurna. Dari istri-istrinya
sebagai simbol dharma dan adharma, ilmu hitam dan ilmu putih tapi lebih dikenal
dharmanya. Beliau adalah tuntunan ke Kesadaran yang Tertinggi dan berupa simbol
buana alit (Sukmananda) dan buana agung (brahmananda). Kepala beliau lambang
Makro kosmos, badan melambangkan mikro kosmos. Ganeshya menyiratkan inti sari
Tat Twam Asi begitu kata Resi Upanishad (Mohan, 2003 : 9).

Waktu pelaksanakan : tiap hari Senin dan Kamis sore dimulai jam 16.00
Pengikut Ritual : Kelompok Meditasi yang ada di Pura Sahasra Adhi Pura
Pelaksanaan : api di dibuat tempat Agni Hotra (didepan) Ganeshya, pengikut
upacara mengucapkan Puja Bhakti Mantra “Om Sri Ganesha ya namah, ridhi,
sidhi, budhi “ sebanyak 108 kali.

Salah satu pengikut membawa genitri untuk menghitung mantra itu sampai selesai
(108 butir). Pada waktu mengucapkan mantra sampai kata namah, sambil
menaburkan bunga kedalam api, biji-bijan. Setelah Puja Mantra selesai dilanjutkan
meditasi selama 45 menit

2. Upacara Persembahyangan Malem Rabu Pon

Maksud dan tujuan Ritual

Rabu Pon adalah hari kelahiran Dewa Wisnu, maka termasuk Dewa Yajna

Waktu pelaksanaan : Selasa Paing jam 19.00 (jam tujuh malam

Pengikut Upacara : Umat Hindu dari sekitar pura atau lain daerah.
Pakaian : Pengikut upacara biasanya berpakaian adat Jawa, baik laki-laki maupun
perempuan bawah batik dengan baju hitam, menurut tradisi Jawa sejak dulu umumnya
menganut Waisnawa (pemuja Wisnu = warna hitam)

Upakara atau sesaji untuk Malem Rabu Pon.

1. Sesaji : 13 ekor ayam jago dimasak ingkung/utuh (jantan, lancur) , bulu

dan cakar ditanam ditanah, selesai upacara ayam dapat dimakan.

Dihaturkan : Sang Hyang Dharma-Djaka (Sanatkumara, Sanadana,Sanaka,

Sanaatana = Sang Hyang Langgeng).

Bunga : Teratai (merah 9 biji) dan (putih 9 biji)

2. Sesaji : Tumpeng Buddha Mitra (Tumpeng 9 warna ditata melingkar

putih (timur), dadu Tenggara), merah (Selatan), jingga

(barat daya), kuning (barat), hijau (timur laut), hitam (utara),

Biru (timur laut), berbagai macam warna (tengah).

Dihaturkan : semua dewa

3. Sesaji : Tumpeng katul (kulit ari beras) 21 biji selesai upacara dibuang

Dihaturkan : Bandung (Jaka Pengalasan) Bunga : Mawar Putih.

4. Sesaji : Tumpaeng bangun tapa 1 biji, wujudnya tumpeng putih

pucuknya warna biru ditancapi cabe merah 1 biji dasarnya

telur dadar (telur jantan). Sesudah upacara dimakan.

Dihaturkan : Ki Lurah Semar

Bunga : 7 warna, mawar, mlati, kantil, kenanga, gambir, cempaka,

dewandaru.

5. Sesaji : Tumpeng Sabdopalon 1 biji wujudnya tumpeng hitam mulus

(luar dalam) dan 12 nasi golong putih serta daging mentah (selain sapi).

Dihaturkan : Sang Hyang Sabdopalon sekeluarga (Pamong Tanah

Jawa).
Bunga : 9 macam selesai upacara ditaruh diperempatan.

6. Sesaji : Ayam jago putih mulus dipanggang dan nasi liwet tanpa

Garam dan 1 takir kecambah sesudah upacara dimakan.

Dihaturkan : Sang Hyang Dharma Bunga : Mawar putih

7. Sesaji : 10 butir nasi golong putih dan 1 ingkung ayam bulunya walik

dimasak tanpa garam.

Dihaturkan : Ki Lurah Badranaya (Klampisireng)

Bunga : Sekar Boreh komplit

8. Sesaji : Tumpeng Rajapati : 4 tumpeng pucuknya merah bawah putih

Dihaturkan : Jenggespati

Bunga : 4 mawar mwrah sesudah upacara dibuang ke perempatan.

9. Sesaji : Nasi diliwet dikendil sesudah masak ditancapi lidi satu

Dihaturkan : Dewi Sri (Rara Jonggrang)

Bunga : Campur, sesudah upacara nasi dimakan.

10. Sesaji : Es batu pecahan (2 piring)

Dihaturkan : Ratu Kutub Utara & Kutub Selatan Bunga : Dewandaru/Teratai

11. Sesaji : Bunga mawar merah jambu Dihaturkan : Dewi Ismayawati.

(Brosur DPP Sadharmapan tanpa tanggal ).

Biasanya selain upakara/ sajen tersebut diatas ditambah dengan : Daksina, Pisang Ayu
Suruh Ayu, Jajan Pasar, Nasi liwet beserta lauknya.

* Pelaksanaan Upacara

Setelah Upakara/sesaji diletakkan dan diatur dialtar pemujaan, dinyalakan lilin 18


batang melingkari sesaji dan membakar kemenyan kemudian dimulailah upacara.
Acara upacara itu berturut-turut yaitu : Dharma Wacana, Mantram Budha
Pengayoman Pemujaan oleh Pinandita, yang memuja dan menghaturkan semua
sesajian, yang diiringi dengan kidung Jawa oleh umat beserta alunan gamelan Jawa
lengkap. Bila ada umat Hindu dari Bali ingin menghaturkan kidung dapat
dilaksanakan setelah selesai kidungan Jawa tadi. Persembahyangan Gayatri Tri
Sandya dilanjutkan Panca Sembah kemudian meditasi. Metirtha yang dilayani oleh
pinandita-pinandita yang ada didalam persembahyangan itu, dengan diringi kidung
turun tirtha oleh umat lengkap dengan iringan gamelan. Sesudah Parama Santi,
sajian disurut untuk makan bersama.

* Mantram Buda Pengayoman Olah Negara.

- Buddha Pengayoman Olah Negara

- OM shanno PARAMA SHIWA

- shanno IISMAYA - BUDDHA MaiTeRA AMITABHA - sham

BRHASPATIH

- shanno BHAWADVARIYYAMA - KALKI AVATAR

- SANATKUMARA - SANANDHANA SANAKA - SANAATANA

- SHRII ERLANGGA - SABDHAPALON - MANU WISWAWATA

- SHIVA MAHADEVA - SURYA - INDRA - CANDRA - KUWERA

– NILA - AGNI - YAMA - WARUNA

- shanno PERTIWI - TAARAA - SHRII RADHA - KWAN IM

- KALI - IISMAYAWATI - SHRII BHAIRAWA BHAGAWATI

- shanno DHARMA - ISWARAH - BRAHMA - RUDRA - WISNU urukramah.

Mantram ini diucapkan 9 kali

Mantram Pinandita selanjutnya sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh
Parisadha Hindu Dharma Indonesia ditambah mantra dalam bahasa Jawa.

Mantram Gayatri Trisandya dalam Bahasa Jawa

Duh Gusti asta kawula kasucekna

Duh Gusti sanget kasucekna asta kawula

Duh Gusti ingkang nyipta sarta nguwaosi TRILOKA (Bhur-Bhuah-Swah Loka )

Ingkang acahya cumlorong pinuji.

Duh Gusti ingkang Maha Kuwaos, anugrahana kawula ambuka cahya Paduka

sumunar Maha Suci ing budhi manah kawula.

Duh Gusti kawula puja Paduka, seestunipin sadaya punika; ingkang sampun wonten,
ingkang bade wonten namung saking Narayana (dasaring sadaya wonten).
Duh Pangeran Tunggal, datan wonten sanes Pangeran Ingkang Suci, mboten
kalahiraken, Ingkang wonten sakjawining pepeteng, mboten kasad mripat.

Duh Gusti saestunipun Paduka punika Siwah, inggih Mahadewa, Iswarah


Parameswarah, Brahma lan Wisnu saha Rudra. Tuking sadaya gesang, bibitipun
sadaya dumados.

Duh Gusti kawula tiang dosa sadaya pandamel kawula nestapa, jiwatman kawula
nestapa, dosa wiwit dumados

Duh Gusti Pangeran Siwah, paringana pitulung angayomi nuceaken jiwa raga
kawula.

Duh Hyang Maha Agung mugi paring pangaksama sadhaya titah gesang, kabegjakna
sirna sadaya dosanipun.

Duh Gusti Pangeran Maha Langgeng mugi paring pangayoman.

Duh Gusti ingapuntena dosa kawula, ingkang saking tindak tanduk, ingapuntena
wicara kawula, ingapuntena dosa memanahan kawula, kawula nyuwun pangaksama
anggen kawula weya lan sembrana

Duh Gusti amaringana hayu bagya turut runtut tentrem Duh Gusti mugi tentrem
ing salajengipun

* Puja sebelum Panca sembah (berupa kidung)

Duh Hyang Agung, sinembah umat sedarum, dahat sru nalangsa, ngaturake sembah
bekti, hamemuji, mugi-mugi, Hyang Widhi paring nugraha.

Pembukaan sesudah Pinandita menyalakan dupa

Wus kumelun, kukusing dupa keluhur,

Ganda arum, merwawangi,

Saking pra jalma sadarum

Sumedya hangesthi Widhi

Haminta sih mring Hyang Manon

Contoh Kidung Jawa yang mengiringi Pinandita memantra

* Kinanti Trisandya.

Duh Gusti Kang Maha Agung

Pangeraning jagat katri


Acahya suci gumilang

Dahat ulun sun pepuji

Anglunturna sih nugraha 2X

Sumunaring cahyo wening

Tumandhuk ing manah ulun

Manter amadangi budhi

Dadosa jalaranira

Rahayu mulya sayekti

Gesang wonten madya pada 2 X

Dumugi delahan nenggih

Hyang Tunggal ugi sinebut

Narayana dedasaring

Kang tumitah sakbuwana

Ingkang sampun, ingkang wingking

Tanpa purwa, tan wasana 2X

Datan wujud datan lahir

Pepeteng datan manaput

Netra kang wening umeksi

Satuhu sucining Dewa

Narayana datan kalih

Datan wonten nimbangana 2 X

Ingkang uning saget tunggil

Paduka ugi sinebut

Hyang Siwah Maha Dewa Di

Iswara Parameswara
Brahma wisnu Rudra nenggih

Purusah parikirtitah 2X

Asmo yutan eko yekti

Kawula rumaos estu

Tiyang dosa langkung nistib

Karma jiwa sarwa dosa

Dosa wiwit duk dumadi

Maha suci asih mirah 2 X

Nucekna jiwangga mami

Maha Dewa amba nyuwun

Sih nugrahaning aksami

Sagung gesang kabegjakna

Luwar saking dosa sisip

Mugi Sang Hyang Sadha Siwa 2 X

Karsa tansah angayomi

Dosa saking tindak tanduk

Pangucap myang muna-muni

Dosa saklebeting manah

Sembrana myang weya mami

Gusti ngluberna haksama 2 X

Manunggaling tur sesant)

3. Upacara Siwaratri

Pelaksanaan Upacara Siwaratri : jam 21.00 (jam 9 malam)

Sajen : Daksina, Pisang Raja, Ingkung nasi liwet beserta lauknya dan jajan pasar.

Pengikut upacara : umat Hindu dan orang-orang di sekitar Pura Sahasra Adhi Pura.
Kesepakatan Umat Hindu diwilayah Surakarta, pelaksanakan Upacara Siwaratri
dipusatkan di Pura Mandira Seta Kraton Surakarta, maka sebagian umat yang dari
Pura Sahasra Adhi Pura mengikuti Upacara Siwaratri di Pura Mandira Seta Kraton
Surakarta jam 19.00 malam sampai satu setengah jam. Sesudah selesai kembali ke
Sonosewu untuk mengikuti upacara Siwaratri dan dilanjutkan tirakat atau meditasi
sesuai kemampuan. (Cleo, wawancara tgl. 15 Pebruari 2006).

4. Upacara Tawur Kesanga/Ngerupuk menjelang Hari Nyepi

Upacara Tawur Kesanga termasuk Bhuta Yajna. Pelaksanaan upacara tersebut di Pura
Sahasra Adhi Pura, setelah selesai dilaksanakan Tawur kesanga yang biasanya di
Jawa Tengah dipusatkan di sekitar Candi Prambanan. Dilaksanakan upacara
ngerupuk/mebuu-buu di Pura Sahasra Adhi Pura pada menjelang matahari terbenam.

Sesaji untuk yang dibawah :

* Sesaji pencok bakal lima buah , ditaruh di lima tempat, empat pojok lokasi

pura dan yang satu ditaruh ditengah.

* Ayam mentah utuh beserta pencok bakal ditaruh dibawah Arca Bathara Kala.

Sesaji yang diatas meja :

* Daksina, Tumpeng Pengyoman, Pisang Ayu Setangkep, suruh ayu dan

bunga, Jajan Pasar, Ingkung, Nasi Liwet beserta lauknya.

Pelaksanaan Upacara.

* Pada jam 15.00 (jam tiga ) dimulai dengan nunas Tirtha yang diambil dari
Petirthan didekat Arca Bagong oleh Pinandita, kemudian membuat Titha Suci.

* Menghaturkan sesaji pencok bakal di lima tempat (pajupat kalima pancer) dengan
diberi dupa dan air suci, diperuntukan bhutakala yaitu makhluk yang lebih rendah
(jin, dedemit, gandarwa dll.) yang menimbulkan malapetaka.

* Menghaturkan sesaji ayam mentah diberi tirtha dan dupa dibawah Arca Sang
Hyang Bethara Kala dengan memohon supaya menyuruh pergi bhutakala tadi.

* Dilanjutkan dengan upacara persembahyangan Trisandya.

* Tepat waktu senjakala dilaksanakan ngerupuk/mebuu-buu dengan membentuk


barisan mengelilingi lokasi Pura Sahasra Adhi Pura, dimulai dengan yang membawa
anglo (perapian yang diberi menyan) kemudian yang membawa dupa, yang membawa
Nyala api (Oncor Jawa dari bambu), Tirtha suci, bunga, dan lainnya membawa
bunyi-bunyian apa saja sambil meneriakkan supaya bhutakala pergi ketempatnya
jangan mengganggu manusia.

* Mengambil pencok bakal dan ayam caru dibuang kesungai.


* Setelah nyurut sesaji mulailah mebrata bagi yang mampu, tidak bicara, tidak
bekerja, tidak makan satu hari satu malam pada tanggal 1 Tahun Saka, besuk paginya
ngembak api artinya menyalakan api, boleh beraktivitas lagi.

5. Upacara Piodalan Pura Sahasra Adhi Pura

Waktu : Diadakan tiap tahun sekali yaitu tiap Purnama Kedasa

Upakara : Seperti Upacara Malem Rabu Pon, Nasi kuning beserta lauknya.

* Pisang Ayu, Suruh Ayu dan bunga, jajan pasar

* Pencok bakal lima dan ayam mentah (caru).

* Tiap pelinggih/arca diberi sesaji bunga dan pisang serta jajan , kurang lebih ada
150 Pelinggih/Pesimpangan.

Pelaksanaan

* Pertama kali mohon Air Suci oleh Pinandita Pendamping kemudian diserahkan
pada Pinandita Utama untuk dipuja menjadi Tirtha Suci.

* Menghaturkan pencok bakal dan ayam mentah seperti Upacara menjelang Nyepi.

* Menghaturkan sesaji untuk semua Dewa di Pelinggih/Pesimpangan Nya.

* Diadakan Upacara Persembahyangan seperti Upacara Rabu Pon

* Para Pamong Desa dan Pejabat Kecamatan Majalaban, diundang menghadiri


Upacara Persembahyangan.

6. Upacara Hari Wetonan Sang Hyang Semar ( Sang Hyang Ismaya)

Waktu pelaksanaan :

Kamis sore (Malem Jum’at Legi ), Jam 16.00, tiap 35 hari seka

Upakara/sesaji

Seperti Sesaji Budha Pon (Ingkungnya hanya satu saja), Pisang Ayu Suruh Ayu
Bunga, Jajan Pasar , Nasi Kuning dengan rangkaian lauknya.

Pelaksanaan :

Upacara seperti Upacara Malem Rabu Pon, dengan fokus Sang hyang Semar. Setelah
upacara, makan surudan bersama.

C. Manusa yajna
Upacara Manusa Yajna ini biasanya dinamakan selamatan/wilujengan, umum juga
mengatakan bancakan (yang artinya sajen itu dibagi untuk yang hadir). Sajen untuk
Manusa Yajna umumnya berwujud nasi gudangan atau nasi kuning, sedang untuk
Pitri Yadnya biasanya nasi liwet, ingkung dan nasi asahan. Cara membuat nasi-nasi
tersebut :

1. Nasi kuning beserta lauknya

Nasi kuning : beras dikukus, sesudah 10 menit beras yang telah dikukus tadi
dimasukkan kesantan kuning (diberi kunir, sere, salam/daun pandan, garamdan daun
jeruk wangi) yang telah mendidih. Kira-kira 10 menit lagi nasi yang telah kuning tadi
dikukus sampai matang (30 menit).

Lauk nasi kuning ialah : tempe/kentang dibuat sambel goreng kering, bregedel,
srundeng, sambel goreng basah, irisan telur dadar, irisan timun.

2. Nasi Gudangan beserta lauknya

Nasi kukus biasa sedang lauknya ialah : gudangan (sayur urap), bongko, pelas,
gereh petek, bubuk dele, botok, lodeh keluwih yang cara membuat lauk sebagai
berikut :

* Gudangan : sayuran direbus, biasanya kangkung, kenikir, bayam, kacang panjang


tidak dipotong, kecambah kacang hijau. Sayuran ini diberi samba kelapa (Kelapa
parut, cabe,bawang putih, kencur, terasi, garam, daun jerut purut, gula Jawa

* Bongko: dibuat dari kacang merah/tolo ditumbuk tidak terlalu halus, kelapa muda
diparut ditambah garam, ketumbar, bawangputih bawang merah, kencur, gula Jawa,
salam, laos. Semuanya diaduk, dibungkus dengan daun pisang dan dikukus sampai
matang.(3) Pelas : sama seperti diatas hanya bahan dasarnya kedeleai hitam

* Gereh petek: atau ikan kering yang tipis dibakar.

* Bubuk dele : Kedelai digoreng tanpa minyak ditumbuk sampai halus.

* Botok : bahan dasar kelapa muda parut dan daun melinjo, biji lamtoro yang muda
diberi sambel (cabe, garam, tempe bosok/yang sudah 3 hari, gula Jawa, salam laos,
kencur, terasi) diaduk dibungkus daun pisang dan dikukus sampai matang.

* Sayur lodeh keluwih : keluwih dipotong kecil-kecil/disuwir diberi bumbu garam,


bawang putih, bawang merah, ketumbar, tempe bosok, salam laos, gula Jawa dimasak
diberi santan.

3. Jajan pasar, isinya buah-buahan sad rasa, ada jambu, salak, jeruk, pisang, apel,
mangga, pala kependem seperti ketela rebus, kacang rebus, kentang hitam, ubi-ubian,
dapat ditambah dawet, jadah, ketan hitam diberi bunga lima macam mawar merah
jambu, kenanga kantil putih kantil kuning, kenanga dan melati.dll.
4. Intuk-intuk : tempatnya batok bolu = tempurung kelapa yang berisi matanya
diberi tumpeng, diatasnya bawang merah dan cabe merah, telur ayam, kluwak
kemiri(pakai kulit)

5. Nasi Liwet atau nasi uduk atau nasi gurih beserta ingkung ayam

* Nasi liwet/Nasi gurih : beras dikukus 10 menit, kemudian dimasukkan disantan


yang diberi garam dan daun pandan/salam yang sedang mendidih 10 menit, sesudah
itu dikukus sampai matang (30 menit).

* Ingkung ayam : Ayam utuh jerohannya dimasukkan diperut dimasukkan diair


mendidih diberi garam, brambang, daun salam dimasak sampai matang.

* Sambel goreng jepan/labu jepan, jepan diiris kecil-kecil panjang dimasak dengan
bumbu diiris boleh ditumbuk boleh, garam, cabe merah, bawang putih, bawang
merah, ebi/udang kering, daun salam, laos, santan dimasak sampai matang

6. Nasi Asahan : Nasi biasa dialasi samir/daun pisang digunting bulat diatasnya
juga diberi samir lagi, diatas samir diberi lauknya melingkar, ditengah lauk yang
kering seperti srundeng, rempeyek kacang/teri, krupuk. Diluar lauk basah misal tahu
terik, daging ayam terik atau apa saja.

Upacara Manusa Yajna

1. Upacara untuk Bayi dalam kandungan

a. Bayi dalam kandungan 1 sampai 3 bulan dengan bancakan ”ebor-eboran”.

Sajen/upakara bubur sumsum ditaruh ditakir. Bubur sumsum dibuat dari tepung

beras diberi garam, santan dan dimasak. Sesudah matang ditaruh ditakir dituangi

gula Jawa cair. Maksud upacara ini agar ibu dan bayi dalam kandungan sehat.

b. Bayi dalam kandungan 4 bulan dengan bancakan rujak dan ketupat.

Rujak, dibuat dari buah-buahan seperti mangga mentah, bangkuang, pepaya

setengah matang, kedondong, pisang klutuk mentah dll. diberi saus rujak (gula,

cabe, terasi garam dan asam air sedikit, diuleg/digilas) Ketupat, beras dimasukkan

diselongsong ketupat dimasak sampai matang.

c. Bayi dalam kandungan 5 bulan. Sajennya Nasi kuning berta lauknya ditaruh di

layah(piring dari tanah liat) alasnya daun pisang digunting bulat (samir)

d. Bayi dalam kandungan 6 bulan Sajennya Nasi gudangan.


e. Bayi dalam kandungan 7 bulan (mitoni/tingkepan).

Sajen/upakara : 7 buah Tumpeng Gudangan,7 buah Pontang/takir (Nasi kuning


beserta lauk srundeng, irisan telur dadar, bregedel, sambel goreng, ditambah lele dan
udang goreng), 7 buah ketupat, 7 takir rujak, 7 takir butiran ketan 5 warna ( putih,
merah, kuning, hijau dan tengahnya coklat/enten-enten ini dibuat dari kelapa parut
ditambah gula Jawa/gula merah dimasak), 7 buah nasi layah.

Upacara mitoni begitu unik :,

* mohon doa restu para orang tua

* siraman, disirami dengan diiringi doa oleh 7 orang-orang tua

* Kelapa gading yang digambari Kamajaya dan Kamaratih, satu dibelah sekalitebas
supaya terbelah oleh suami yang mengandung.

* Ganti pakaian baik kain maupun kebayak sampai tujuh kali yang terakhir oleh
hadirin mengatakan pantas memakai kain lurik baju lurik itu yang sangat sederhana.

* Kain-kain yang tertumpuk dipakai oleh ibu yang mengandung itu untuk mengeram
.

* Kelapa yang belum terbelah dimasukkan kain seakan-akan ibu itu melahirkan
lancar dan diterima suami/ ayah bayi yang akan keluar. Doa bersama

f. Bayi dalam kandungan 9 bulan : Bancakan procotan dengan sajen :

- bubur procotan, bubur sumsum diberi pisan raja rebus yang utuh.

Maksudnya biar lahir procot atau lancar dan selamat.

- Bubur merah putih : bubur merah (gula Jawa) ditakir diberi satu

sendok bubur putih)

- Jongkong : (singkong diparut diberi gula merah) dikukus

- Intil : katul dibuat butiran dan dikukus.

2. Upacara bayi lahir

a. Pada hari lahirnya bayi (Sambutan Bhs. Bali)

Sajennya : Nasi gudangan, Jajan pasar, Intuk-intuk (uraian tersebut diatas)

Pada hari lahirnya ini dicatat sebagai weton/ wedalan atau tingalan bahasa halusnya,
setiap 35 hari ketemu weton/tingalan sajen seperti diatas.

b. Hari kelima = Sepasaran Bayi


Sajen sama seperti diatas waktu itu diumumkan nama si bayi, biasanya diadakan
bancakan(pesta) untuk anak-anak balita.

c. Puput puser = lepasnya ikatan puser

Sajen sama, bayi dijaga seharian, kadang-kadang bayi sering menangis.

d. Wetonan = 35 hari = selapanan bayi Sajen sama tiap weton

e. Tedak siti = 7 lapan = 7 X 35 hari ini bancakan/pesta khusus

Saat bayi belajar menapakkan kaki di bumi/siti/pertiwi, sesajinya :

- Nasi gudangan, jajan pasar dan intuk-intuk

- Tangga dari tebu wulung dengan lima anak tangga

- Jadah lempengan 7 buah 7 warna : putih, merah, kuning, hitam, hijau, biru dan
coklat(gula jawa), ini untuk menapak kaki bayi sebelum naik ke tangga tebu wulung.

- Kurungan ayam berisi ayam dan barang mainan untuk bayi.

Pelaksanaan upacara : bayi dibimbing untuk berjalan menapaki jadah satu persatu
kemudian naik tangga satu persatu anak tangga. Kurungan diberi ayam, secara
bergiliran ayam dikeluarkan diganti bayi tersebut 3 X berturut-turut, terakhir didalam
kurungan ada bayi yang diberi mainannya. Dan ayam dipelihara oleh ibu si bayi.

3. Upacara sewindu anak (8 tahun Jawa)

Sajen sama dengan wetonan, biasanya ada pesta kecil.

4. Upacara anak naik dewasa :

Anak perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama kali. Sajen seperti wetonan.
Si anak diberi minum jamu wejah (daun-daunan) didalam jaum dimasukkan batu yang
dibakar dengan maksud supaya segar dan badannya tetap langsing.

5. Upacara Perkawinan/Pawiwahan

Upacara perkawinan untuk di Jawa biasanya dilakukan dirumah calon pengantin


wanita. Dilaksanakan upacara siraman, midodareni dan panggih. Secara garis besar
yang dibicarakan disini adalah sesajinya.

* Siraman dengan sajen : Nasi Gudangan, Jajan pasar, Ingkung panggang

* Midodareni dengan sajen nasi liwet dengan lauknya dengan maksud mohon
turunnya bidadari memberi berkah pada pengantin.

* Upacara pewiwahan/perkawinan ke Surya, daksina, nasi liwet, ingkung, gedang


ayu suruh ayu bunga. Sedang untuk Pertiwi = guwakan/buangan yang ditaruh
ditanah : (a) pencok bakal satu takir, (b) daging/ati mentah dengan bumbu mentah
satu takir dan (c) tumpeng kecil kluwak kemiri telor mentah

PITRA YAJNA

1. Hari meninggalnya seseorang

Bedah Bumi/gali lubang kubur: Sajen jenang lebu gula jawa jajan pasar

Selamatan Geblak/hari meninggalnya : sajen Tumpeng ungkur2an, nas gudangan


tanpa cabe, nasi liwet dan ingkung sebagai nasi untuk permintaan maaf, nasi
asahan, nasi golong sati, lauk ayam goreng, tempe goreng, ditaruh pinggir
melingkar maksudnya supaya golong bulat kembali kepadaNya, nasi iber-iber.

Pelaksanaan persembahyangan, dilaksanakan semua umat, untuk penghormatan


(sembah) pada Pitri dilaksanakan oleh anggota keluarganya.

2. Slametan/Wilujengan :

Wilujengan/slametan untuk 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, pendak (1 tahun Jawa).
Pendak pindo (2 tahun Jawa ) dan 1000 hari sama sajennya, selalu dengan nasi liwet
dengan ingkung, pisang ayu suruh ayu. Untuk selamatan 1000 hari orang meninggal
ini diadakan upacara khusus. Sajennya sama hanya dikurangi nasi golong, ungkur-
ungkuran dan nasi iber-iber. Sajen ditambah dengan ketan kukus, kolak dan apem,
ketiga jenis sajen ini suatu pasangan sesaji untuk leluhur.

Butha Yajna

Butha Yajna adalah korban suci tulus ikhlas kepada sekalian mahkluk bawahan baik
yang kelihatan maupun yang tidak keluhatan untuk memelihara kesejahteraan dan
ketentraman alam semesta.

Di Jawa untuk melaksanakan Butha Yajna ini yang diberikan pada mahkluk yang
tidak kelihatan biasanya disebut guwakan, yang wujudnya bahan-bahan mentah
disebut pencok bakal. Bila dilaksanakan untuk dirumah ditaruh 4 sudut rumah
ditambah yang ditengah. Bila untuk perjalanan maka dibuang disungai (Jembatan),
perempatan dll.

Salah satu Pungawa Kraton mengatakan tradisi Kraton Surakarta dulu selain
membuat guwakan, untuk menjaga kelestarian hidup binatang seperti burung, semut,
tikus dll. Raja mempekerjakan seseorang untuk memberi makan binatang-binatang
itu. Untuk makanan burung diberi buah-buahan ditaruh diatas pohon, untuk semut
diberi gula dipojok Bangunan Kraton.

BAB VII

TEMPAT SUCI

A. Pengertian
Yang dimaksud tempat suci atau /tempat pemujaan adalah tempat untuk melakukan
persembahyangan, tempat untuk bersujud, berbakti, menyembah lahir maupun batin
kehadapan Hyang Widhi Wasa secara tulus ikhlas.

Tempat umat Hindu bersembahyang dalam berbagai istilah dalam bahasa Sankerta
antara lain mandira, dharmashala, devalaya, devagriha, devabhawana, Ssivalaya dll.
Tempat itu dikatakan tempat suci karena sebelum dipakai disucikan dan tempat itu
untuk mensucikan diri lahir maupun batin.

B. Fungsi tempat suci/tempat pemujaan

1. Tempat Suci berfungsi sebagai

- tempat pemujaan pada Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya

- tempat mengabdi dan berbakti kepada-Nya.

- tempat memohon tuntunan dalam hidup

- tempat memohon pertolongan

- tempat untuk memohon ampunan

- tempat untuk mengucapkan puji sukur terhadap anugrah-Nya

- tempat untuk menyatukan diri pada Idan Sang Hyang Widhi Wasa.

2. Dibagian lain dari tempat suci tersebut dapat berfungsi sebagai :

- sarana pendidikan agama (perpustakaan, pesantian),

- pelatihan sosia, seni, budaya & agama seperti dharma wacana, dharma tula,

sarasehan, pelatihan pembuatan upakara (banten,sesaji), dll.

C. Jenis dan bentuk-bentuk Tempat Suci Agama Hindu

Tempat suci umat Agama Hindu dinamakan Pura. Disamping istilah Pura, Candi juga
nama tempat suci baik umat agama Hindu maupun umat Agama Budha.

1. Gunung

Oleh umat Hindu, gunung dipandang dan diyakini sebagai tempat atau linggih Ida
Sang Hyang Widhi Wasa beserta Ista dewata dan roh leluhur yang telah suci. Di India
gunung Maha Meru, di Jawa gunung Semeru, di Bali gunung Agung adalah simbol
alam semesta sehingga puncakknya simbol tempat bersemayamnya Tuhan beserta
segala manifestasinya. dipercaya sebagai tempat bersemayamnya Ida Sang Hyang
Widhi Wasa beserta segala manifestasinya. Bagian bawah gunung alam Bhur, bagian
tengah alam Bhuah dan puncaknya Swah disama dianggah Bhatara Siwa bersemayam
Dalam kitab kakawin Dharma Sunya menyebutkan :

” Bhatara Siwa = suwung

Sipat ipun ikang kasar a wijud donya kanggep wangun ndi, yen karingkes

dados meru ndi Himalaya, yen karingkes malih dados meru kadi ring

tanah Bali, yen karingkes malih dados tiyang

Artinya

” Bhatara Siwa = suwung

Sifat kasarnya berbentuk dunia, dianggap berbangun gunung, jika

diringkas lagi menjadi Meru (gunung Himalaya), kalau diringkas lagi

menjadi Meru seperti di Bali, makin diringkas lagi menjadi manusia.

Uraian tersebutpenggambaran tentang hakikat Bhatara Siwa atau Tuhan Yang Maha
Esa dalam perwujudan kasar Sedang wujud beliau yang halus sbb.:

”Bhatara Siwa = suwung

Sipat ipun ikang halus, inggih punika alusing donia, yen karingkes dados

alusing ndi meru, yen karingkes dados alusing meru, yen karingkes malih

dados alusing manusya”

Uraian diatas barangkali dipakai alasan mengapa tempat tempat suci di Bali umumnya
dibangun dekat dengan gunung, orang bersembahyang menghadap gunung.

2. Lingga

Lingga adalah lambang Siwa. Lingga adalah simbol gunung sebagai tempat
bersemayamnya Ida Sang Hyang Widhi berserta manifestasinya.

Kitab Bhagawad Gita IV ; 11 menyebutkan

”Ye yatha mem prapadyante tams tahthai ’va bhayamy aham mama vartma

’nuvartante manusyah partha sarvasah”


Artinya

Jalan manapun ditempuh manusia kearah-Ku semuanya Ku-terima, dari mana-

mana semua mereka menuju jalan-Ku oh partha”


Berdasar bahan yang dipaki untuk membuat lingga maka dapat dibedakan :

1. Lingga phala (lingga yang terbuat dari batu)


2. Kanaka Lingga ( lingga yang terbuat dari emas)
3. Spata Lingga ( lingga yang terbuat dari permata)
4. Gomaya lingga (lingga yang terbuat dari tahi sapi dan susu, terdapat di India)
5. Lingga cala (lingga sebagai gunung)
6. f. Lingga (dewa dewwi) terbuat dari banten yang terdapat di Bali.

Bentuk suatu lingga

1. Bagian puncak berbentuk bulat disebut Siwabhaga lingga, merupakan simbol


stana atau linggih Bethara Siwa
2. Bagian tengah berbentuk segi delapan disebut Wisnubhaga merupakan simbol
stana atau linggih Hyang Wisnu.
3. Bagianbawah lingga berbentuk segi empat disebut Brahmabhaga merupakan
simbol stana atau linggih Bhatara Brahma.
4. Dasar lingga berbentuk segi empat dan pada salah satu sisinya terdapat sebuah
saluran menyerupai mulut adalah tempat dimana air yang dialirkan seperti
pancuran. Dasar lingga disebut Yoni

Siwabhaga, Wisnubhaga dan Nrahmabhaga sebagai bagian lingga melambangkan


Purusa sedang dasar lingga yang disebut Yoni melambangkan Pradana . Pertemuan
Purusan danPradana disebut pertemuan akasan dan Pertiwi mengakibatkan terjadinya
kesuburan. Kesuburan dianugerahkan oleh Tuhan pada manusia sebagai sumber
kemakmuran..

3. Candi

Menurut Dr. Soekmono dalam Pengeantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilit II kata
Candi berasal dari kata Candika. Candika merupakan salah satu nama lain dari nama
Dewi Durga sebagai sakti (istri) Ciwa. Candi dimaksud adalah rumah Dewi Durga
atau tempat pemujaan Dewi Durga. Dalam perkembangan selanjutnya Candi tidak
hanya digunakan untuk pemujaan Dewi Durga tetapi digunakan juga untuk tempat
pemujaan semua Dewa dan Sang Hyang Widhi Wasa.

Candi bagi umat Hindu diyakini sebagai tempat sementara bagi Dewa merupakan
bangunan tiruan dari tempat Dewa (Gunung Mahameru). Hiasan Candi sesuai dengan
alam gunung, ada bidadari-bidadari, bunga-bunga teratai, daun-daun dan sebagainya
(Soekmono, 1973:84). Nama lain dari Candi adalah Prasada, Sudharma dan Mandira.

Dr. Soekmono mengatakan fungsi Candi seperti :

a. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada Hyang Widhi dan manifestasi-Nya :

Candi Dieng, Candi Prambanan, Candi Penataran dll.

b. Candi yang berfungsi tempat pemujaan pada roh suci :

candi Kidal, Candi Jago, Candi Singosari, Candi Simping dll


c. Candi yang berfungsi sebagai tempat semedi :

Candi Borobudur, Candi Pawon, Candi Mendut, Candi sewu, Candi Kalasan, Candi

Sari dll.

4. Meru

Meru merupakan simbol atau lambang andha bhuwana (alam semesta tingkat atapnya
melambangkan lapisan alam besar dan alm kecil (macrocosmos dan microcosmos)

DalamLontar Andhabhuana lembar ke14 menyebutkan :

“ Matang nyan meru mateges, me ngaran meme, ngran bapak ngaran ibu, ngaran

pradana tattwa, mwah ru ngaran guru ngaran bapa, ngaran purusa tattwa

panunggalannya meru ngaran batur kalawasan petak Meru ngaran pratimbha

anda bhuwana tumpangnya pawakan patalaning bhuwana agung alit.

Artinya

Oleh karena itu, meru berarti me mermakna meme bermakna ibu, bermakna

pradana tattwa dan ru bermakna guru bermakna bapa, bermakna purusa tattwa,

penggabungan meru bermakna batur kalawasan petak ( cikal bakal/leluhur)

Tingkatan atap meru merupakan simbol penggabungan Dasaksara, Dasaksara adalah


simbol berupa huruf sebagai jiwa seluruh baian dari alam semesta (hurip bhuwana).

Kesepuluh huruf itu ialah (1) Sa bertempat di arah timur

(2) Ba bertempat di arah selatan

(3) Ta bertempat di arah barat

(4) A bertempat di arah utara

(5) I bertempat ditengah

(6) Na bertempat diarah tenggara

(7) Ma bertempat diarah barat daya

(8) Si bertempat di arah barah laut

(9) Wa bertempat diarah timur laut


(10) Ya bertempat ditengah.

Penggabungan 10 huruf itu menghasilkan satu huruf suci Om (Ongkara).

4. Pura

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi kedua yang disusun oleh Tim
Penyusun Kamus Dep.Dik Bud. RI tahun 1995 Pura artinya kota, negeri atau istana..
Contoh penggunaan kata pura seperti Pura Mangkunegara di Surakarta. Selain itu
artinya juga tempat untuk persembahyangan umat Agama Hindu.

Bapak Sri Jangkung (Dosen STHD Klaten) menjelaskan Pura berasal dari kata Pur
(bahasa Sanskrta) yang artinya pagar atau benteng, tempat yang dibuat khusus dengan
dipagari tembok atau benteng untuk mengadakan kontak dengan kekuatan suci. Pura
berfungsi tempat suci untuk memuja Hyang Widhi Wasa dalam segala prabhawa Nya
dan Atma Sidha Devata (roh suci leluhur). Selain istilah Pura untuk tempat suci atau
tempat pemujaan dipergunakan juga istilah Kahyangan atau Parahyangan, Candi, Kuil
dan sebagainya.

Buku Purana Sumber Ajaran Agama Hindu Komprehensip yang disusun oleh Dr.
Made Titip tahun 2003 menjelaskan mengenai pura. Disebutkan dalam buku tersebut
pura seperti halnya meru atau candi merupakan simbol kosmos atau alam sorga
(kahyangan). Titib juga mengungkap dari Kitab Suci Weda sebagai sumber ajaran
Agama Hindu sampai dengan Susastra tentang kahyangan, pura atau mandira a. l. :

Prasabam vacchiva saktyatmakam

Tacchktyantaih syadvisudhadyaistu tatvaih

Saivi murtih khalu devalayakhyattyasmad

Dhyeya prathamam cabhipujya

Isanasivagurudevapaddhati III. 12. 16

Terjemahan :

” Pura dibangun untuk memohon kehadiran Sang Hyang Siva dan Sakti dan

kekuatan/Prinsip dasar dan segala manifestasi atau wujud-Nya, dari elemen

hakekat yang pokok, Prthivi sampai dengan sakti-Nya. Wujud konkrit (materi)

Sang Hyang Siva merupakan Sthana Sang Hyang Widhi. Hendaknya seseorang

melakukan perenungan dan memuja-Nya.”

Dijelaskan pula oleh Titib mengenai persembahyangan Agama Hindu seperti Upacara
Piodalan (istilah Bali) atau Abhiseka (untuk India) dimulai dengan memohon kepada
para Devata turun ke bumi atau nedunan Ida Bethara (dalam bahasa Bali). Setelah
upacara persembahyangan berakhir mengembalikan ke Kahyangan Sthana-Nya yang
abadi, hal ini menunjukkan bahwa pura adalah reprika kahyangan atau sorga (titp,
2003 : 291-293).

3. Kuil, Mandir

Kuil adalah tempat suci umat Hindu dari keturunan India Tamil. Fungsi Kuil adalah
tempat suci untuk memuja manifestasi Tuhan (Deva) yang dikagumi.

Mandir adalah tempat suci umat Hindu keturunan India Tamil. Mandir berfungsi
tempat suci untuk memuja Tuhan dengan segala manifestasi-Nya.

4. Balai Antang

Balai antang adalah tempat suci umat agama Hindu dari Kaharingan. Balai Antang ini
terbuat dari kayu yang dirangkai sehingga bentuknya seperti pelangkiran di Bali.
Fungsi Balai Antang adalah tempat distanakan roh leluhur yang sudah disucikan yang
bersifat sementara.

5. Balai Kaharingan

Balai Kaharingan adalah tempat suci umat Hindu dari Kaharingan. Bentuk hampir
mirip bangunan rumah dan ruangan diletakkan sebuah tiang besar sebagai penyangga.
Atapnya bersusun tiga, semakin keatas semakin kecil. Fungsi Balai Kaharingan
adalah untuk menstanakan Hyang Widhi dengan berbagai manifestasi-Nya. Balai
Kaharingan dibangun dtengah wilayah masyarakat atau pada tempat yang mudah
dijangkau oleh umat Hindu Kaharingan unauk melaksanakan persembahyangan.

6. Sandung

Sandung adalah tempat suci umat Kaharingan. Sandung terbuat dari kayu dirangkai
berbentuk pelinggih rong satu. Bentuk atapnya segitiga sama kaki dan memakai satu
tiang sebagai penyangga. Sandung diletakkan diluar rumah dan pekarangan. Fungsi
Sandung adalah sebagai stana roh leluhur yang telah disucikan (ditiwahkan).

7. Inan Kepemalaran Pak Buaran

Inan Kepemalaran Pak Buaran adalah tempat suci umat Hindu Tanah Toraja dengan
ciri-cirinya terdapat lingga/batu besar pohon cendana dan pohon andong. Pak
Buaran merupakan tempat sembahyang yang digunakan dalam lingkungan satu desa
(seperti Pura Desa di Bali).

8. Inan Kepemalaran Pedatuan

Ini adalah tempat suci umat Hindu di Tanah Toraja dengan ciri-cirinya terdapat
lingga/batu besar, pohon cendana dan pohon andong. Pedatuan ini merupakan tempat
sembahyang yang digunakan dalam beberapa lingkungan keluarga (seperti banjar di
Bali) Pedatuan biasanya terdapat dilereng gunung.

9. Inan Kepemalaran Pak Pesungan


Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu di Tanah Toraja yang digunakan untuk
lingkungan rumah tangga (seperti pemerajan di Bali).

10. Sanggar

Ini adalah salah satu bentuk tempat persembahyangan umat Hindu di Jawa. Sanggar
ini merupakan tempat suci yang ukuran ruangnya kecil yang berisikan satu buah
Padmasana untuk tempat persembahyangan yang bersifat umum.

11. Payuh-Payuhan

Ini adalah tempat persembahyangan umat Hindu Batak Karo. Payuh-Payuhan terbuat
dari kayu yang dirangkai berbentuk segi empat, biasanya dibangin didekat mata air
dan untuk persembahyangan bersifat umum. Fungsinya stana roh leluhur yang telah
disucikan.

12. Cubal-cubalan

Ini adalah tempat sembahyang umat Hindu Batak Karo. Bentuknya seperti
pelangkiran di Bali yang diletakkan di dalam rumah. Tujuannya untuk melakukan
persembahyangan dan yadnya yang ditujukan pada roh leluhur dan Hyang Widhi.

D. Pendirian Tempat Suci / tempat pemujaan

1. Syarat pendirian Tempat Suci (Pura)

1. Keputusan Bersama Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama

N0. 01/BER/mdn/mag/1989 dan Keputusan Menteri Dalam Negeri

No. SK.556/DJA/1986 isinya ………..

2. Weda, Lontar, Awig-Awig, Bhisama, Keput. Mahasabha ke VI 13 Desember

1991 di Jakarta a l :

2. Prosedur mendirikan tempat suci

a. Persiapan

*. Membuat Yayasan yang bertanggung-jawab terhadap pendirian dan

pengelolaan tempat suci yang akan didirikan.

*. Menyiapkan tanah yang cocok dan menguntungkan

*. Tanah tidak dalam keadaan sengketa

*. Status tanah bersertifikat


b. Pengurusan sertifikat

*. Pengurusan sertifikat tanah

*. Pengurusan ijin lokasi untuk bangunan tempat ibadah

*. Melampirkan denah

3. Denah Pura

Secara umum Pura (Tempat suci) terbagi menjadi 3 baguan (Tri Mandala) :

*. Utama Mandala (jeroan) tempat bangunan suci

* Madya Mandala (halaman tengah) untuk penunjang uapacara keagamaan

* Kanista Mandala (halaman luar) tempat untuk upacara keagamaan.

Masing-masing ruang (halaman dipagari tembok, untuk masuk halaman pertama


melewati gapura, halaman pertama ini biasanya kosong. Untuk masuk halaman kedua
melewati gapura yang beratap dinamai Gapura Paduraksa dan kemudian ada bintang
aling (aling-baling) didepan gapura (untuk masuk harus lewat kiri kanan bintang
aling). Apabila akan masung di Utama Masndala maka melewati gapura (seperti candi
terbelah/ tanpa atap) disebut Candi Bentar.

Tiga Mandala melambangkan bhur loka, bhuah loka dan swah loka. Apa bila tanah
nya hanya memungkin membuat dua ruang maka ini melambangkan alam atas atau
akasa dan pertiwi atau alam bawah. Bila hanya satu halaman melambangkan Eka
bhuana. Bila tanah yang tersedia luas ruang dapat dibagi dalam 7 halaman yang
melambangkan Sapta Loka, Bhur, Bhuah Swah, Maha, Jana, Tapa dan Satya Loka..
Candi Ceto terdiri 13 halaman.

E. Bentuk-bentuk Bangunan suci yang biasanya ada di Jeroan.

1. Prasada

Bentuknya seperti tugu, terdiri dari tiga bagian, dasar, badan dan atap memakai
gelung seperti mahkota. Fungsi Prasada pemujaan Hyang Widhi. Prasada ini terdapat
di Pura Prasada desa Kapal (Badung), Candi Margarana, Pura Maos Pahit Desa
Tatasan Badung.

2. Meru

Bangunan Meru ini biasanya beratap ijuk, ada meru atap satu atap dua, atap tiga, lima
tujuh, sembilan dan sebelas. Bagian dasar biasanya dari batu alam dan badan meru
terbuat dari kayu. Fung si Meru tempat memuja Hyang Widhi dengan segala
manifestasi-Nya.

3. Gedong
Bangunan ini berbentuk segi empat atau bujur sangkar, terdiri tiga bagian dasar,
badan dan puncak atau atap. Bagian dasar terbuat dari batu bata, padas, bagian badan
terbuat dari batu bata atau dari kayu, bagian ini kadan diukir gambaran tentang deva.
Atap terbuat dari ijuk/alang-alang/ genteng.

4. Rong Tiga

Bangunan Rong Tiga ini hampir seperti Gedong tapi ada tiga ruang letaknya sejajar.
Fungsi Rong Tiga ini untuk memuja Tri Murti dan Roh Leluhur yang telah disucikan.

5. Tugu

Tugu hampir seperti Prasada namun ukurannya lebih kecil. Fungsi Tugu adalah
tempat bersemayamnya bhuta diberi sesaji agar tidak mengganggu bila dilaksanakan
upacara. Letaknya diluar halaman pura.

6. Padmasana

Bangunan Padmasana ini pertama kali diperkenalkan oleh Dang Hyang Nirarta di
Bali abad ke 16 Masehi. Di Jawa, Padmasana berbentuk bunga Teratai sebagai
simbol stana Hyang Widhi. Padmasana di Bali bibangun seperti singgasana/kursi
Raja .

Jenis Padmasana : Padmasana, Padmasari, Padma Capah, Padma kurung

Jenis Padmasana berdasar arah pengider-ider :

1. a. Padma kencana berada di timur menghadap kebarat stana hyang iswara


2. Padmasana berada di selatan menghadap keutara stana Deva Brahma
3. c. Padmasari berada di barat menghadap ketimur stana Deva Maheswara
4. Padmasana Lingga di utara menghadap keselatan adalah stana Deva Wisnu
5. e. Padma saji di timur laut menghadap kebarat daya adalah stana Deva
Sambhu
6. f. Padma Asta Sedana di tenggara menghadap ke barat laut Stana Deva
Mahesora
1. Padmonoja di barat daya menghadap ke timur laut stana DevA
Mahadeva
2. Padmokaro di barat laut menghadap ke tenggara adalah stana Deva
Sangkara
3. Padma Kurung ditengah beruang tiga menghadap kearah depan adalah
stana Trimurt

Jenis Padmasana berdasar ruang dan tingkatannya :

1. Padma anglayang beruang tiga mempergunakan Bedawang Nala (kura-kura)


dengan Palih tujuh
2. Padma Agung, beruang tiga dan mempergunakan Bedawang Nala dengan
Palih lima
3. Padmasari tidak menggunakan Bedawang Nala dan naga fungsi penyawangan
4. Padma Capah mirip Padmasari tapi lebih rendah ini diperuntukkan makhluk
yang lebih rendah dari manusia.

BAB VIII

PANDITA DAN PINANDITA

A. Pandita

Mengenai Pandita atau Sulinggih adalah yang telah memasuki golongan Brahmana.

Manawa Dharmasastra I.96 menyebutkan :

Bhutanam paninah sresthah praninam bhddhijiwinam

Buddhihmastu narah srestha narestu brahmana smrtih

Artinya

Diantara ciptaanNya, mahkluk hidup yang paling tinggi. Diantara mahkluk hidup
yang punya pikiranadalah yang paling tinggi. Diantara yang punya pikiran
manusialah yang paling tinggi. Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi

Manawa Dharmasastra I. 97 menyebutkan :

Brahmanestu ca widwamco widwamco widwastu krta buddhayah

Krtsbuddhistu kartarah kartrsu bhrahmawedinah

Artinya : Diantara para Brahmana, yang ahli Weda adalah yang tertinggi. Diantara
yang ahli Weda, yang mengetahui makna dan cara-cara melaksanakan tugas yang
tertinggi, Diantara yang mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang telah
ditentukan, yang melaksanakan adalah yang tertinggi. Diantara yang melaksanakan
upacara, yang mengetahui Brahman adalah yang tertinggi

Bangsa Indonesia terbentuk dari latar belakang keanekaragaman budaya, bahasa dan
kemampuan daerah. Walaupun ada rambu-rambu aturan mengenai kepinanditaan,
pinandita dan lain-lain bukan tidak mungkin dalam praktek upacara pensudhian,
ekajati maupun upacara dwijati, masuk budaya daerah setempah yang bermacam-
macam begitu pula tentang jenis upakaranya.

1. Pengertian

Pandita, wiku, Sadhaka atau Acharya termasuk Sulinggih adalah umat yang telah
mendapatkan upacara penyucian (Diksa/Padiksan atau medwijati) yang dilakukan
oleh seorang Nabe. Sedang abhiseka (nama) Kawikon masing-masing sesuai dresta
warganya ialah Ida Pedanda, Ida Rsi Bhujangga, Rsi, Ida Pandhita, Ida Sri Empu, Ida
Bhagawan, Dukuh.
Mereka yang tergolong sebagai Pandita atau Sulinggih telah memasuki golongan yang
disebut Brahmana. Brahmana bukan karena kelahiran namun Brahmana dari
pelaksanaan tugas kesehariannya. Pad dasarnya sebagai seorang brahmana berat
hukumnya, sehingga tidak sembarang orang dapat digolongkan sebagai seorang
Brahmana. Brahmana sejati sangat mulia dihadapan Tuhan.

Manawa Dharmasastra I.96 menyebutkan

Bhutanam paninah,sresthah praninam buddhijiwinam

Buddhimatsu narah srestha naresu brahmanah smrtah

Artinya

Diantara semua ciptaanNya, makhluk hidup adalah yang paling tinggi.

Diantara makhluk hidup yang punya pikiran yang paling tinggi.

Diantara yang punya pikiran, manusialah yang paling tinggi.

Diantara manusia Brahmanalah yang paling tinggi.

Manawa Dharmasastra I.97 menyebutkan

Brahmanesu ca widwamso widwastu krta buddhayah

Krtabuddhisu kartarah kartrsu brahmawedinah

Artinya

Diantara Brahmana, yang ahli weda adalah yang tertinggi. Diantara ahli weda, yang
mengetahui makna dan cara melaksanakan tugas yang tertinggi. Diantara yang
mengeatahui makna dan cara cara tugas yang ditentukan, yang melaksanakan
upacara adalah yang tertinggi. Diantara yang melaksanakan upacara, yang
mengetahui Brahman adalah yang tertinggi. Inilah yang disebut Brahmana sejati.

2. Sesana Pandita

Menurut Lontar Siwa Sasana umat Hindu yang ingin mrnjadi Pandita atau Sulinggih
harus memenuhi syarat untuk mediksa yaitu :

Umat Hindu yang boleh didiksa :

1. Laki-laki yang sudah kawin dan yang tidak kawin (Nyukla Brahmacari)
2. Wanita yang sudah kawin atau yang tidak kawin (Kanya)
3. Pasangan suami istri
4. Umum minimal 40 tahun
5. Paham dalam bahasa Kawi, Sanskerta, Indonesia, memiliki pengetahuan
umum, pendalaman intisari ajaran agama
6. Sehat lahir batin dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan sasana
7. Berkelakuan baik, tidak pernah tersangkut perkara pidana
8. Mendapat tanda kesediaan dari pendeta calon nabenya yang akan meensucikan
9. i. Sebaiknya tidak terikat akan pekerjaan sebagai pegawai negeri ataupun
swasta, kecuali bertugas untuk hal keagamaan.

Sifat-sifat Calon Sulinggih

1. Bersifat sosial
2. Bijaksana
3. Setia pada ucapan
4. Memiliki kesusilaan
5. Teguh pada dharma tanpa noda
6. Keturunan orang baik-baik
7. Pandai dalam ilmu
8. Berjiwa besar
9. Tegas dalam siasat
10. Kuat menahan suka dan duka
11. Setia dan hormat pada catur guru
12. Suka melaksanakan ajaran Dharma
13. Teguh melakukan tapa

Orang yang tidak patut didiksa

• Orang-orang kotor, orang yang wangsanya turun sebagai walaka, cacat


tubuhnya, orang yang sangat mendertita
o Cuntaka Janma, orang yang dijadikan sesaji, Asti Widhana, pencuci
mayat, orang pemakan darah, penadah barang kotor
o Patita Walaka yaitu penyembah orang hina, penyembah orang cuntaka
o Sadigawe yaitu otang segala yang sudra, candala mleca, wulu-wulu
o Chandala berarti menjagal, melempar, memukul
o Manusia kuci yaitu manusia cacat ( bungkuk belang dll)
o Maha dhuka yaitu orang yang sangat menderita.

Perilaku yang baik dan benar harus dipersiapkan calon diksika sesuai deng

Tri Kaya Parisudha

• Kayika Parisudha artinya berperilaku yang baik


• Wacika Parisudha artinya berbbicara yang baik
• Manacika Parisudha artinya bepikir yang baik dan benar

Panca Yama Brata

• Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti mahklul lain


• Brahmacari artinya belajar dan menuntut ilmu
• Satya artinya tidak menipu atau berbuat bebar/jujur
• Awyawaharika artinya tidak suka bertengkar, membebaskan diri dari
kehidupan keduniawian, tidak bermewah-mewah (tidak ngumbar hawa nafsu.
• Asteya artinya tidak mencuri, tidak mengingini milik orang lain
Panca Niyama Brata

• Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan


• Guru Susrusa artinya berbakti pada Guru
• Sauca artinya bersih lahir batin dan selalu melakukan Japa
• Aharalagawa artinya tidak banyak makan
• Apramada artinya tidak lalai

Dasa Dharma atau Dasa Sila

• Drti artinya pikiran bersih


• Ksama artinya suka mengampuni
• Dama artinya kuat mengendalikan pikiran
• Asteya artinya tidak mencuri
• Sauca artinya bersih lahir dan batin
• Indrayanigraha artinya mengendalikan gerak pancaindra
• Hrih artinya memiliki sifat malu
• Widya artinya rajin menuntut ilmu
• Satya artinya jujur dan setia pada ucapan
• Akroda artinya sabar tidak dikuasai kemarahan.

Perilaku yang salah atau tidak boleh dilakukan oleh calon diksita antara lain

a.Tri Mala

• Mithya hrdya artinya berperasaan atau berpikiran buruk.


• Mithya wacana artinya berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji
• Mithya laksana artinya berbuat kurang ajar, merugikan orang lain

b. Sad ripu

• Kama artinya hawa nafsu yang tak terkendali


• Lobha artinya kelobaan tingin selalu mendapatkan lebih
• Kroda artinya kemarahan yang melampaui batas
• Mada artinya kemabukan yang membawa kegelapan
• Moha artinya kebingungan artinya kurang mampu konsentrasi
• Matsarya artinya irihati atau dengki yang menyebabkan permusuhan

c. Sad Atatayi

• Agnida artinya membakar milik orang lain


• Atharwa artinya melakukan ilmu hiram
• Dratikrama artinyaaa memperkosa
• Rajapisuna artinya memfitnah
• Sastraghna artinya mengamuk
• Wisada artinya meracun

d.Sapta Timira (tujuh macam kegelapan

• Dana artinya sombong karena kekayaan


• Guna artinya sombong karena kepandaian
• Kasuran artinya sombong karena kemenangan
• Kulina artinya sombong karena keturunan (kebangsawanan)
• Sura artinya minum-minuman keras
• Surupa artinya sombong karena rupa yang tampan atau cantik
• Yowana artinya sombong karena merasa masih remaja /muda

3. Guru Nabe

a. Syarat-Syarat Nabe

• Seorang yang selalu dalam bersih, sehat lahir batin


• Mampu melepaskan diri dari keduniawian
• Tenang dan bijaksana
• Paham dan mengerti Catur Weda, dan berpedoman Kitab suci Weda
• Mampu membaca Sruti dan Smerti
• Teguh melaksanakan sadhana (sering berbuat amal, jasa dan kebajikan).

b. Sadhaka yang tidak patut dijadikan Nabe

• Sadhaka yang sombong, suka marah, benci melihat sisya. Sadhaka yang
demikian disebut Sadkaka kroda.
• Sadhaka yang ingin memiliki benda kepunyaansisya (Sadkala lobha)
• Sadhaka yang suka memukul (Sadhaka Capala Tangan)
• Sadhaka yang menyebabkan telinga sakit, menyebar fitnah, iri, dengki,
(Sadhaka Capala Wus Wus)
• Sadhaka yang membahayakan sisyanya (Sadhaka Drodhi)
• Sadhaka yang suka mabuk, menipu, pikiran kotor (Sadhaka Murka)
• Sadhaka yang memuaskan hawa nafasu (Sadhaka Raga)
• Sadhaka yang berusaha mencelakakan sisya (Sadhaka Dwesa)
• Sadhaka yangkurang memahami sastra (Sadhaka Dungu)
• Sadhaka yang menyimpang ajaran dharma (Sadhaka Duryusa)

c. Kewajiban seorang Guru Nabe

1. Guru Nabe berwenang untuk memberikan upacara Diksa


2. Memberi peringatan kepada para sisya tingkah laku yang benar dan salah
3. Menuntun para sisya menuju kejalan yang benar sesuai sastra agama
4. Mengajarkan tentang dosa

Prosedur administrasi untuk melakukan Diksa

1. Calon Diksa mengajukan permohonan untuk didiksa pada PHDI yang


dilampiri keterangan sebagai syarat calon diksika
2. Permohonan juga ditembuskan pada pemerintah (Depag)
3. PHDI mengadakan testing
4. PHDI menentukan sikap ditolak atau diterima
5. Pendeta kemudia didiksa kala diterima
6. Parisada mengumumkan tentang Lokapalasraya.
B. Pinandita

1. Pengertian

• Pinandita atau pemangku adalah rohaniwan tingkat Ekajati


• Pinandita adalah Duta Dharma yang mengutamakan penjabaran ajaran Agama
Hindu pada masyarakat
• Pinandita adalah rohaniwan yang bertugas sebagai pemup[ut wali (banten)
dalam upacara agama/adat, dapat ngolapalasrayaseraya sebatas
ijin/panugrahan dari Nabe/Guru.
• Upakara pewintenan Ekajati dan agem-ageman seorang pamangku/pinandita
disesuaikan dengan tingkat Pura yang diemongnya

2. Tingkatan Pamangku


o Pamangku tapakan Widhi : pada Sad Kahyangan, Dang Kahyangan,
 Kahyangan Tiga, Paibon, Panti, Padharman, Merajan, Gede
dll.
o Pamangku Dalang

3. Sasana Pamangku

a. Gegelaran Pamangku

* Gegelaran/Agem-agem Pamangku sesuai dengan rontal Kusuma Dewa,

Sangkul Putih disesuaikan dengan tingkat Pura yang diamongnya.

* Gegelaran/Agem-agem Pamangku Dalang sesuai dengan Dharmaning

Padalangan, Panyudamalan dan Nyapu Leger

b. Hak seorang Pemangku/Pinandita

*. Bebas dari ayah-ayahan/tugas desa/banten

* Dapat menerima pembagian sesari

* Bila pemangku meninggal dunia upacara/upakara ditanggung umat Pura

c. Wewenang Pamangku

* Nganteb Upakara/Upacara pada Kahyangan yang diamongnya

* Meloka pala sraya sampai tingkat madudus alit, sesuai tingkat

pewintenannya, dan juga atas panygrahan nabe.

* Waktu melaksanakan tugas agar berpakaian serba putih dandanan rambut :


wenang agotra, berambut panjang, anyondong, memakai destar.

4.. Bebratan Pemangku

a. Tri Kaya Parisudha : Manacika, Wacika dan Manacika

b. Catur Paramita : - Metria (kasih sayang pada semua mahkluk)


o

 Karuna (welas asih pada semua mahkluk)
 Rasa simpati terhadap sesama dalam suka dan duka
 Upeksa teliti, waspada tidak gegabah dalam kejadian

c. Yama Brata : Ahimsa, Brahmacari, Awyawahara, Satya, Asteya

Niyama Brata : Akroda, Gurususruca, Sauca, Aharalagawa, Apramada

5. Kegiatan yang harus dilakukan Pemangku sehubungan dharmanya

1. Membicarakan tentang pemujaan kepada para Dewa

2. Mendiskusikan pengetahuan, filsafat dan agama.

3. Mempelajari dan merapal mantra-mantra Weda

4. Selalu jujur, tidak menyakiti hati dan tidak kasar dalam berkata-kata,

5. Tidak memfitnah, berbohong dan menghina, mencerca pemangku lain

BAB VIII

SUDI WADANI PENYUMPAHAN DAN CUNTAKA

A. SUDI WADANI

1. Pengertian

Sudi artinya penyucian, wadani artinya ucapan/pernyataan/kata-kata.

Sudi Wadani artinya penyucian perkataan

Upacara Sudi Wadani adalah upacara penyucian untuk menjadi umat Hindu.

2. Tata Cara Upacara Sudi Wadani

a. Membuat surat pernyataan penyucian yang sah.

b. Melaksanakan upacara
- Utama : mempergunakan banten biyakala, prayascita, tataban .

-. Madya : mempergunakan Bhasma air cendana

- Nista : mempergunakan air , bunga, bija.

c. Pelaksanaannya selalu disertai dengan api.

3. Mantra Om Sa, Ba, Ta, A, I, Na, Ma, Si, Wa, Ya, Ang Ung Mang

B. P E N Y U M P A H A N

1. Pengertian

Penyumpahan atau disebut dengan Upasaksi adalah pernyataan kesaksian ke hadapan


Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa yang bertujuan untuk menyatakan kebenaran
perbyuatan seseorang baik yang telah lalumaupun yang akan datang.

2. Bentuk Upacara Upasaksi

a. Upasaksi Sumpah Jabatan adalah upasaksi dalam hubungan dengan sumpah


jabatan yang akan dipangku oleh ABRI maupun sipil.

b. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan adalah sumpah berhubungan dengan perkara di


Pengadilan.

c. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor (penguatan pengakuan) adalah sumpah yang


mempergunakan mantram Aricandani.

3. Pelaksanaan Upasaksi

a. Upasaksi Sumpah Jabatan

* Pengambilan sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk

* Yang akan disumpah berpakaian dinas

* Sikap yang akan disumpah

- untuk sipil sikap tangan *Dewa Prestistha” memegang dupa

- Anggota ABRI sikap sempurna

* Saksi Pendamping (Rohaniwan/pejabat yang ditunjuk), dengan sikap tangan

”Dewa Prestistha”

Mantram : Om atah paramawisesa, saya bersumpah ….. sesuai ketentuan.

Bila memungkinkan dengan sarana Daksina, canang sari dan air suci.
b. Upasaksi/Sumpah di Pengadilan

* Pengambilan Sumpah oleh Pejabat yang ditunjuk

* Yang disumpah berpakaian sopan.

* Sikap yang akan disumpah

- Sikap tangan ”Dewa Prastistha” untuk sipil dan memegang dupa

- Anggota ABRI sikap sempurna

* Sikap pendamping (rohaniawan) berdiri dengan sikap ”Dewa Prastistha”

c. Upasaksi/Sumpah dalam bentuk cor :

* Pengambilan Sumpah oleh rohaniwan yang ditunjuk

* Tempat pelaksanaan di Tempat Suci

* Yang disumpah berpakaian putih atau pakaian adat setempat

* Sarana upacara sesuai kondisi setempat (Air suci hanya dipercikkan

C. CUNTAKA

1. Pengertian

Cuntaka adalah suatu keadaan tidak suci menurut pandangan agama Hindu

2.Penyebab Cuntaka (sebel –istilah Bali)

1. Sebel karena kematian


2. Sebel karena haid
3. Sebel karena wanita keguguran kandungan
4. Sebel karena sakit (kelainan)
5. Sebel karena perkawinan
6. Sebel karena gamia gamana
7. Sebel karena wanita hamil tanpa byakaon
8. Sebel karena salah timpal (bersetubuh dengan binatang)
9. Sebel karena orang lahir dari kehamilan tanpa upacara

10. Sebel karena melakukan Sad Tatayi.

3.Ruang Lingkup, dan batas waktu Cuntaka(sebel):

1. Kematian : keluarga terdekat serta orang-orang yang ikut mengantar jenasah,


sesuai Loka dresta dan Sastra Dresta.
2. Haid : diri pribadi serta kamar tidurnya, sampai bersih darah dan
membersihkan diri.
3. wanita bersalin : diri pribadi, suaminya danrumah yang ditempatinya, sampai
kepus puser (putus pusernya)
4. keguguran : diri pribadi, suaminya dan rumah yang ditempatinya, 42 hari dan
mendapat tirtha pebersihan.
5. Perkawinan : diri pribadi dan kamar tidurnya, smpai mendapat tirtha
pebyakaonan.
6. Karena sakit : Pribadi dan pakaiannya.
7. Gamia gamana : diri pribadi dan desa tempat tinggalnya, sampai diceraikan,
diadakan upacara pebersihan baik diri pribadi dan desa adat.
8. Wanita hamil tanpa byakaon : diri pribadi dan kamar tidurnya, sampai
diadakan upacara byakaon
9. Mitra ngalang : diri pribadi dan kamar tidurnya, sampai upacara byalaon

10. orang lahir dari kehamilan tanpa upacara perkawinan : diri pribadi. Anak dan
rumah yang ditempati, sampai ada yang memeras (mengangkat anak dengan upacara
agama)

11. Orang yang pernah melakukan Sad Tatayi : diri pribadi, sampai diprayascita dan
selamanya tidak boleh menjadi rohaniwan.

1. 3. Larangan bagi yang cuntaka (sebel)

Seseorang yang sedang dalam keadaan sebel atau cuntaka tidak diperkenankan
memasuki tempat suci ataupun melaksanakan pekerjaan yang dianggap suci.

BAB IX

HARI SUCI AGAMA HINDU

A. Pengertian Hari Suci

Hari Suci pada umumnya disebut Hari Besar atau Hari Raya (rerainan dalam bhs.
Bali) adalah hari yang diistimewakan, dirayakan atau diperingati berdasarkan
keyakinan hari itu memiliki nilai-nilai yang berpengaruh dalam kehidupan.

B. Hari Suci Agama Hindu

1. Dasar perhitungan Hari Suci

Selain hari suci yang bersifat haarian, asa pula tata cara pelaksanaan upacar hari suci
rutin yang disesuaikan dengan sistem perhitungan hari antara lain :

1. a. Sistem Wara yaitu perhitungan yang berdasarkan atas nilai hari, nama yang
dikuasai oleh berbagai macam jenis kekuatan yang berbeda-beda seperti Eka
wara (luang), Dwi Wara (menga, pepet) Tri Wara (pasah beteng, kajeng),
Panca Wara (Pon,, Wage, Kliwon, Legi, Pahing), Sapta Wara (Senin, Selasa,
Rabu, Kamis, Jum’at dan Sabtu)
2. b. Sistem Tithi yaitu perhitungan hari suci yang dihubungkan dengan hari
bulan (Lunar), seperti Hari Purnama dan Tilem , Panglong atau penanggal.
3. c. Sistem Naksatra yaitu hari suci yang dirayakan berdasarkan pada
perhitungan musim atau musiman.
4. d. Sistem Yoga yaitu hari suci yang dirayakan menurut perhitungan letak
tatasurya atau plenet-planet karena sebagaimana kita ketahui bahwa planet-
planet itu berpengaruh sangat besar terhadap diri manusia.
5. Sistem Karana yaitu hari suci yang dirayakan erdasarkan perhitungan
pertemuan antara bulan dan matahari

Pelaksanaan upacara yajna pada hari suci sangat dipengaruhi oleh dasar-dasar
pengertian ajaran astronomi karena setiap planet merupakan wilayah kekuasaan dari
para dewa tertentu dan mempunyai arti yang berbeda-beda. Karena itu tiap upacara
harus mengingat dasar dan sistem kekuatan yang ada

Dari kitab Purana, Upanisad dan Aranyaka mengemukakan sbb.:

1. Hari Minggu (Redite atau Rawi Wara) merupakan hari suci yang menurut
mitologi dikuasai oleh Aditya atau Surya. Surya dalam bahasa Inggris Sun
maka nama harinya Sunday.
2. Hari Senin (Soma atau Soma Wara) adalah hari suci untuk Dewa Soma
atau Candra atau bulan. Candra sering dihubungkan dengan tilak dalam
bentuk ”ardha candra”, bulan sabit didahi Dewa Siwa. Bulan dalam bahasa
Inggris Moon jadi harinya Monday.
3. Hari Selasa (Anggara atau Manggala Wara) adalah hari suci untuk Planet
Mars menurut mitologi untuk Kertikeya atau Dewa Kumara
4. Hari Rabu (Budha Wara) adalah hari suci untuk Planet Budha (Mercuri)
ynag dihubungkan dengan Brhaspati(Yupiter yang berasal dari Tara (Bintang).
5. Hari Kamis (Wrhaspati atau Brhaspati) disebut juga Guru Wara atau hari
suci Dewa Wrhaspati (Yupiter).
6. Hari Jum’at (Sukra atau Sukra Wara) hari suci Dewa Sukra(Venus) yang
dianggap leluhur para asura
7. Hari Sabtu (Saniscara atau Sani Wara) adalah hari suci untuk Sani
(Saturnus) dianggap paling kuasa atas ilmu hitam, dipuji untuk menjauhkan
pengaruh ilmu hitam. Dalam bahasa Inggris menjadi Saturday

Dari uraian diatas berarti tiap hari merupakan hari suci, hanya nilai-nilai dan
tujuannya saja yang dapat berbeda-beda dalam pemujaannya.

1. 2. Jenis Hari Suci Rerahinan


2. Nitya Karma adalah upacara yang dilaksanakan pada hari suci yang rutin dan
berlain umum untuk umat Hindu yaitu :

• Yajna kecil ”Ngejot atau Yjna Sesa” yaitu mempersembahkan makanan pada
Tuhan dalam manifestasinya di dapur, sumber air, pemerajan, sanggah dll.
• Upacara Trisandya yaitu doa tiga kali sehari

1. b. Naimitika Karma adalah upacara yang bersifat relatif, dilaksanakan


menurut tujuan secara khusus oleh siapa saja tanta terikat waktu, seperti Dewa
Yajna, Manusa Yajna dll.

3. Prinsip-Prinsip pokok Hari Suci Keagamaan


Dalam lontar Sundhari Gama disebutkan :

Iki Kadrstyaning pakrittigama lumaksakna ling ira Sang Hyang Suksma Licin, ri
sawateking purohita kabek, maka drstaning praja mandhala, wnang warah-warah
kramanya ri sira kawisesang rat, wnang kalaksanan dening wwang sapraja mandhala
kabeh, nimittaning drsta prajanira sri haji, tkeng kajagatanika, apan parikramaning
dahat suksma uttama, iki tinarimapuja gamanya de watek dewata kabeh, wiyoga dera
Sang Hyang Tiga Wisesa, Brahma Wisnu Iswara pinuja dening watek maharsing
langit, winastu de ra Sanghyang Siwa Dharma, andhyata kalinganya nahanta ling
bhatara. Om ranak sira purohita makabehan siwa soghata, rengen warahkwa ri
kitanaku, an linging aji sundhari gama

Artinya :

Inilah kebiasaan pada hari-hari tertentu akan melaksanakan upacara keagamaan,


sabda beliau Sang Hyang Suksma Licin, kepada Para Purohita, demi untuk
kesejahteraan jagat raya, agar disampaikan sabda peraturan-peraturan-Nya kepada
beliau yang memegang tampuk pemerintahan didunia, harus dilaksanakan oleh semua
orang yang ada dibawah kekuasaannya supaya aman wilayah sang raja, sehingga
mencapai masyarakat makmur sejahtera, karena melaksanakan hal-hal yang utama. Ini
semua diterima oleh para dewa, demikian pula oleh Sanghyang Tiga Wisesa, Brahma
Wisnu Iswara yang juga diutus oleh Sang Hyang Widhi Wasa (Siwa) untuk
melaksanakan dharma; demikian perintah-Ku sabda Bhatara, Om putra-putraku semua
purohita Siwa Sogata (orang-orang suci Siwa dan Budha) dengalah sabdaku, begitu
tersebut dalam sastra Sundhari Gama.

Pemujaan atau penghormatan kepada Sang Hyang Widhi Wasa dengan segala
manifestasinya diselenggarakan dengan Yajna. Pelaksanaannya memiliki ketentuan
pada hari-hari tertentu dalam lontar Sundhari Gama diatur menjadi 5 bagian yaitu :

1) Hari Raya/yajna dilakukan sehari-hari

Pemujaan dilakukan setiap hari(Yajna Sesa) : Surya sewana (pemujaan pada Hyang
Surya waktu matahari terbit), persembahyangan Trisandya, Tapa Yajna, Yoga Yajna,
Swadhyaya Yajna, Dhyana Yajna dll.

2) Hari Raya berdasar pertemuan Tri Wara dengan Panca Wara

1. Pemujaan pada tiaphari Kliwon pada Hyang Siwa (beliau sedang bersemedi)
2. Pemujaan patiap Kajeng Kliwon (15 hari sekali)pada Hyang Siwa dan
segehan pada Sang Hyang Durga Dewi.

3) Hari Raya berdasar pertemuan Sapta Wara dengan Panca Wara

1. Anggora Kliwon (Anggoro Kasih) hari beryoganya Hyang Ayu, Hyang Ludra
2. Budha Wage (Budha Cemeng) hari beryoganya Sang Hyang Manik Galih
menurunkan Sang Hyang Ongkara Amertha dibumi. Yajna untuk Sanggah
Kemulan Pada Sang Hyang Sri Nini untu kemakmuran dunia.
3. Budha Kliwon untuk Sang Hyang nirmala Jati Sang Hyang Ayu
4. Saniscara Kliwon ditujukan pada Hyang Parameswara.
5. Untuk di Jawa Jum’at Kliwon (Sukra Kliwon) malam sebelumnya biasa untuk
tirakat.

4) Hari Raya berdasar pawukon

1. Sinta

* Soma Ribek (Soma Pon Sinta) utk Hyang Tri Murti (Hyang Tri Pramana)

* Sabuh Mas (Anggara Wage Sinta) penyucian Dewa Mahadewa

* Pagerwesi (Budha Kliwon Sinta) Peyogaan Hyang Pramesti Guru disertai

Dewata Nawa Sangga

b. Landep

Tumpek Landep (Saniscara Kliwon Landep) penghormatan pada senjata Sang

Hyang Pasopati

c. Ukir

Radite Umanis persembahan pada Bhatara Guru di Sanggal Kemulan

d. Kulantir

Anggara Kliwon Kulantir persembahan pada Bhatara Mahadewa

e. Wariga

Saniscara Kliwon Wariga, Tumpek Penguduh atau Pengatag, Pengarah

Bubuh, untuk kemakmuran, persembahan kepada Sang Hyang Sangkara dan

menghormati tumbuh-tumbuhan

f. Warigadian

Saniscara Pahing adalah penyucian Hyang Brahma

g. Sungsang

* Wrhaspati Wage (Pererebuan) turunnya semua Bhatara kedunia (Sugihan

Jawa) Upacara pebersihan Bhuana Agung)

* Sukra Kliwon (Sugihan Bali) manusia mohon pebersihan pada Bathara

(Bhuana alit)
h. Dungulan

Budha Kliwon Dungulan (Hari Galungan) peringatan tercintanya alam

semesta seisinya dan kemenangan dharma melawan adharma.

i. Kuningan

* Redite Wage Kuningan (Ulihan) kembalinya bethara ke kahyangan

* Soma Kliwon Kuningan (Soma Pemacekan Agung ) segehan agung pada

Bhutakala

* Budha Pahing Kuningan puja pada Hyang Wisnu

* Saniscara Kliwon Kuningan (Hari Raya Kuningan)

j. Pahang

Budha Kliwon Pahang (Pegatwakan memuja para Dewa dan Hyang Tunggal

k. Merakih

Budha Wage Merakih (budha Cemeng Merakih) pemujaan kepada Bethara

Rambut Sedhana penguasa artha, mas perak permata.

1. Uye

Saniscara Uye (Tumpek kandang) penghormatan pada binatang pemujaan Sang


Hyang Rare Angon

m. Wayang

Saniscara Kliwon Wayang (Tumpek Wayang) pemujaan pada Beethara Iswara

1. Watugunung

Saniscara Kliwon Watugunung (Hari Saraswati) memuja Bethari Saraswati

1. Sinta

Redite Pahing Sinta(Banyu Pinaruh)mohon air suci pengetahuan(D Saraswati)

5) Hari Raya berdasar Pasasihan

a. Purnama Tilem

Pada bulan purnama Hyang Candra beryoga, pada waktu tilem Hyang Surya
beryoga, jadi purnama tileeem pensucian Sang Hyang Rwa Bhineda. Pada

waktu gerhana bulan pujalah dengan Candrastawa, waktu gerhana matahari

dengan Suryacakra Bhuanastawa.

b. Sasih Kapat

Purnama Kapat, Hyang Bhatara Paramaeswara (Sang Hyang Purusangkara)

Beryoga diiringi para dewa maka pemujaan pada para Dewa.

c. Sasih Kapitu

Purwaning Tilem Kapitu hari Siwaratri, beryoganya Sang Hyang Siwa, umat

Hindu dapat melaksanakan brata Siwaratri, mona brata, jagra dan upawasa

d. Sasih Kesanga

Tilem kesanga pensucian para Dewata dilakukan Bhuta Yajna yaitu Tawur

Agung Kesanga sebagai tutup tahun Saka

e. Sasih Kedasa

Penanggal 1 atau bulan terang pertama Sasih Kedasa sebagai Hari Nyepi atau

Tahun Baru Saka, turunnya Sang Hyang Dharma.

Purnama Sasih Kedasa beryogalah Sang Hyang Sunya Amerta pada Sad

Kahyangan Wisesa .

1. Sasih Sadha : Purnama Sadha memuja Bhatara Kawitan di Sanggah Kemulan

TABEL DAFTAR HARI RAYA BERDASAR PAWUKONN0


Wuku
Sapta wara
Panca Wara
Hari Raya

1.
Sinta
Radite
Soma

Anggara

Buda
Pahing
Pon

Wage

Kliwon

Banyu Pinaruh
Soma ribek

Sabuh Mas

Pagerwesi

2.
Landep
Saniscara
Kliwon
Tumpek Landep

3
Ukir
Radite

Buda

Umanis

Wage

Persembahan Bhatara Guru

Buda Cemeng Ukir

4.
Kulantir
Anggara
Kliwon
Anggara Kasih Kulantir

5
Tolu

6.
Gumbreg
7.
Wariga

8.
Warigadian
Budha
Wage
Budha Ceemeng Warigadian

9.
Julungwangi
Anggara
Kliwon
Anggara Kasih Julungwangi

10.
Sungsang
Wraspati
Wage
Sugihan Jawa/Parerebuan

11.

Sukra
Kliwon
Sugihan Bali

12.
Dungulan
Anggara
Wage
Penampahan Galungan

Budha
Kliwon
Galungan

13.
Kuningan
Radite

Soma
Sukra

Saniscara

Wage

Kliwon

Wage

Kliwon

Ulihan

Pemacekan Agung

Penampahan Kuningan

Kuningan

14.
Medangsia
Anggara
Kliwon
Anggara Kasih Medangsia

15.
Pujut

16.
Pahang
Budha
Kliwon
Pegatwakan

17.
Krulut
Saniscara
Kliwon
Tumpek Krulut

18.
Merakih
Budha
Wage
Budha Cemeng Merakih
19.
Tambir
Anggara
Kliwon
Anggara Kasih Tambir

20.
Medangkungan

21.
Matal
Budha
Kliwon
Budha Kliwon Matal

22.
Uye
Saniscara
Kliwon
Tumpek Kandang

23.
Menail
Budha
Wage
Budha Cemeng Menail

24
Prangbakat
Anggara
Kliwon
Anggara Kasih Prangbakat

25
Bala

26.
Ugu
Budha
Kliwon
Budha Kliwon Ugu

27.
Wayang
Saniscara
Kliwon
Tumpek Wayang

28.

29.

30.

Klawu

Dukut

Watugunung

Budha

Sukra

Anggara

Saniscara

Wage

Umanis

Kliwon

Umanis

Budha Cemeng Klawu

Wedalan Bhatara Sri

Anggara Kasih Dukut

Saraswati

C. Proses Perayaan Hari Raya /Hari Suci Oleh Umat Hindu di Indonesia

1. 1. Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka

Hari Raya Nyepi atau Tahun Baru Saka sekarang dijadikan Hari Besar Nasional
keagamaan seperti halnya Tahun Baru Masehi, tahun Baru Imlek, Tahun Baru
Muharam. Hari Raya Nyepi dilaksanakan setahun sekali pada setiap Tilem IX
(kesanga) atau bulan mati sekitar bulan Maret, ini merupakan pergantian tahun
Icaka(Icaka Warsa).
Perkataan “Nyepi” artinya sunyi atau diam, yang maksudnya berdiam diri,
menenangkan dirimembersihkan diri lahir batin untuk menyambut tahun baru
berikutnya. Proses pelaksanaan Hari Raya Nyepi sebagai berikut :

1. a. Melasti

Waktu : Melasti dilaksanakan tiga atau empat hari sebelum hari Nyepi.

Makna : Melasti atau Melis atau Mekiyis mempunyai makna pensucian

Tujuan : Mensucikan diri, mensucikan kembali symbol-simbol suci

keagamaan sebelum menyambut hari Nyepi.

Tempat : Melasti untuk melaksanakn dilaut, danau atau mata air yang

Laut, danau atau mata air dianggap tempat Tirtha Amerta,

Tempat Bethara Baruna sebagai manifestasi Hyang Widhi

dalam aspek sebagai pelebur dosa malapetaka dan bencana.

Pelaksanaan: semua Arca, Pratima, Nyasa atau Pralingga yang merupakan

wujud atau Stana Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya

diusung kelaut atau danau atau mata air untuk dihadapkan pada

Hyang Baruna untuk disucikan Disamping itu juga memohon

tirtha amertha untuk pensucian alam semesta seisinya, serta

memohon dilinpah sari-sari kemakmuran supaya dilimpahkan

.kepada umat manusia.

b. Pecaruan (Bhuta Yajna)

Waktu : pagi hari, sehari sebelum hari Nyepi

Makna : menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan bhuta kala

Tujuan : Agar bhuta kala tidak menggaggu ketentraman manusia.

Tempat : diperempatan jalan atau didepan rumah.

Pelaksanaan: memberi makanan kepada bhutakala ditanah depan rumah

kemudian dibawa keperempatan atau pertigaan jalan


c. Pengrupukan

Waktu : Malam hari setelah pecaruan

Makna : mengusir bhutakala ( kekuatan) yang membawa malapetaka

Tujuan : Agar tidak ada gangguan dari bhuta kala dalam me-brata

Nyepi dan supaya tentra sejahtera ditahun yang akan datang

Tempat : mengelilingi rumah atau kampong

Pelaksanaan: dengan membawa dupa, obor, mesui, tirtha pelukatan, sapu,

tabu-tabuhan yang digunakan untuk mengusir dan bhuta kala

membersihkan lokasi dan diantarkan sampai perempatan jalan.

d. Nyepi

Waktu : Tgl. 1 Icaka pada saat matahari terbit selama 24 jam.

Tempat : Dirumah atau mencari tempat sepi

Makna : Menyepikan diri, memadamkan api hawa nafsu.

Tujuan : Agar dapat mengendalikan diri, untuk mendapatkan

ketenangan, kedamaian dan kebahagian.

Pelaksanaan : Melaksanakan catur brata

• Amati Agni (mati geni) : berpuasa dan tidak menyalakan api


• Amati Karya : tidak bekerja dapat dialihkan dengan baca kitab suci
• Amati Lelanguan : langu artinya indah, tidak menikmati keindahan
• Amati Lelungan : tidak bepergian.

e. Ngembak api

Sehari setelah Hari Nyepi disebuk Ngembak api, artinya menyalakan api kembali, ini
juga disebut labuh brata, atau lebar puasa. Pada waktu ngembak api dapat
dilaksanakan acara saling berkunjung ke sanak keluarga yang dengan atau tetangga
untuk saling memaafkan. Selain itu dapat dilaksanakan Dharma Santi baik itu daerah
atau secara nasional.

2. Hari Siwa Ratri

Siwa Ratri adalah malam renungan suci atau malam peleburan dosa untuk
memperoleh pengampunan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Hari Raya ini
dirayakan setahun sekali yaitu tiap “Punamaning Kapitu” (sekitar bulan Januari) yaitu
sehari sebelum bulan mati (tilem).

Pada hari Siwa Ratri ini umat Hindu hendaknya melaksanakn “Yoga Samadhi”
semalam suntuk dengan tidak tidur, berpuasa semalam dan mempelajari Pustaka sici.

Umat Hindu meyakini bahwa dengan mempelajari ajaran-ajaran suci dan taat
melaksanakan akan mendapat pengampunan segala dosanya dari Tuhan Yang Maha
Esa. Cerita mengenai hari Siwa Ratri terdapat dalam Pustaka “Lubdaka” karangan
Empu Tanakung.

3. Hari Saraswati

Saraswati adalah hari raya untuk memuja Sang Hyang Widhi dalam kekuatannya
menciptakan ilmu pengetahuan dan ilmu kesucian.

Hari ini dirayakan tiap 210 hari sekali jatuh pada hari Sabtu Umanis Watugunung.
Kekuatan Ida Sang Hyang Widhi sebagai pencipta ilmu pengetahuan ini
dilambangkan dengan seorang “Dewi Saraswati” yang cantik, penuh keindahan,
kelembutan, menarik, dan mulia inilah sifat ilmu pengetahuan dan sang “Dewi”
membawa :

1. kecapi (alat musik) simbol seni budaya yang agung


2. genitri, simbol kekekalan
3. c. pustaka suci : simbol sumber ilmu pengetahuan
4. d. duduk diatas bunga teratai symbol kesucian
5. dihadap oleh angsa symbol kebijaksanaan yang membedakan baik dan buruk
6. dan burung merak symbol kewibawaan

Pada hari ini umat Hindu menghormati pustaka (baik pengetahuan maupun pustaka
suci) baik berupa membersihkan merapikan maupun membuat sesaji untuk Dewi
Saraswati. Sehari sesudah itu pergi kemata air dengan mandi yang disebut banyu
pinaruh (symbol weruh atau mendapat pengetahuan)

4. Hari Pagerwesi

Hari Pagerwesai adalah hari pemujaan pada Sang Hyang Widhi dengan prabawa-
Nya sebagai Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang beryoga untuk kesentaosaan
alam ciptaan-Nya diiringi oleh para Dewa. Umat Hindu hendaknya waktu ini
menyucikan diri dan sembahyang untuk menerima sinar suci dari peyogaan itu demi
kebahagiaan dan kesentaosaan hidup.

Hari Pagerwesi jatuh pada hari Rabu Kliwon Sinta tiap 6 bulan/lapan (210 hari)
sekali.. Umat Hindu pada saat ini dapat melakukan persembahyangan bersama atpun
yang sudah mampu dapat melaksanakan yoga samadi.

5. Hari Raya Galungan

Hari Galungan adalah hari pawedalan jagat /diciptakannya alam semesta seisinya oleh
Ida Sang Hyang WIdhi. Hari Galungan juga dapat diartikan hari kemenangan dalam
perjuangan antara dharma (kebenaran melawan adharma(ketidakbenaran). Dirayakan
pada tiap Rabu Kliwon Dungulan (tiap 210 hari/6 bulan Bali/6 weton), dengan
menghaturkan puja bhakti, menghaturkan terima kasih pada Tuhan beserta
manifestasi-Nya

Pelaksanaan perayaan hari Galungan, melaksanakan persembahyangan dengan


menghaturkan sesaji sebagai ungkapan terima kasih pada Ida Sang Hyang Widhi
beserta manifestasinya, bertempat di Pura atau dirumah.

Sehari sesudah hari Galungan, umat bersama-sama menikmati sisa sesajian kemudian
saling mengunjungi untuk beramah-tamah saling mendoakan keselamatan.

6. Hari Kuningan

Hari Kuningan datangnya tiap 210 hari sekali, setiap hari Sabtu Kiwon Kuningan
yaitu 10 hari setelah Hari Galungan. Hari ini merayakan kembalinya para Dewa,
Betara-Betari setelah menyaksikan dan menerima puja bakti umat yang menghaturkan
terima kasih atas limpahan kasih Ida Sang Hyang Widhi berupa diciptakannya alam
semesta seisinya.

Umat Hindu pada Hari Kuningan dapan merayakan besama di Pura maupun dapat
bersembahyang di tempat suci keluarga masing-masing dengan menghaturkan sesaji
nasi kuning.

DAFTAR PUSTAKA

Bangli, IB. Putu, 2004, Agama Tirtha & Upakara, Surabaya : Paramita.

Bimas Hindu dan Budha, Dirjen, 2000, Manggala Upacara, Jakarta epartemen
Agama RI

Nala, Ngurah, 2005. Acara, Denpasar :. Program Magister Ilmu Agama dan
Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia

———————– Etika Hindu : Program Studi Magister Ilmu Agama dan


Kebudayaan Program Pascasarjana Universitas Hindu Indonesia.

Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda, 2003, Agem-Ageman Kepemangkuan,


Surabaya : Paramita.

Pendit, Nyoman S., Bhagawadgita, Denpasar : Dharma Bhakti.

Puja, Gde, MA SH, 1973 Manawa Dharmasastra (Weda Smerti)

Parisada Hindhu Dharma, 2002, Upadesa Tentang Ajaran Agama Hindu Denpasar.

Sudirga Ida Bagus, dkk. 2007 Widya Dharma Agama Hindu, Ganesa Exact.

Sudharta, Tjok Rai, 1993, Manusia Hindu Dari Kandungan Sampai Perkawinan,
Denpasar : Yayasan Dharma Naradha.
Sanatana Dharmasrama, Yayasan, 2003, Intisari Ajaran Agama Hindu,

Surabaya : Paramita.

Sudarsana, IB. Putu, Drs. MBA. MM., 1998, Filsafat Yadnya, Denpasar

Panakom Publishing.

Sri Rahayu, Nukning Dra, Msi, 2006, Kajian Struktur Pura Sahasra Adhi Pura ,
Sonosewu Majalaban Sukoharjo (Teses), Denpasar : UNHI

Tambang Raras, Niken, 2005, Yajna Sesa, Surabaya : Paramita.

Wijaya, Gede, 1981. Upacara-Yadnya Agama-Hindu, Denpasar : Setia Kawan.