Anda di halaman 1dari 5

NOVITA DEWI ANJARSARI_PS 05623

REVIU ARTIKEL

INFORMASI TENTANG ARTIKEL


McCain, N.L., Gray, D.P., Elswick Jr., R.K., Robins, J.W., Tuck, I., Walter, J.M.,
Rousch, S.M., Ketchum, J.M.(2008). A randomized clinical trial of alternative
stress management interventions in persons with HIV infection. Journal of
Consulting and Clinical Psychology. Vol. 76 (3), 431-441. American
Psychological Association

SUMMARY
Penelitian ini membahas tentang intervensi-intervensi alternatif berbasis
paradigma psychoneuroimmunology (PNI), yang juga terintegrasi ke dalam
cognitive-transactional model, yang dapat digunakan untuk mengelola stress pada
orang-orang yang terinfeksi HIV. Dari hasil peneltian terkait dengan PNI ini
menunjukkan bahwa immunosupression yang dihubungkan dengan penyebab
stres, dimungkinkan memberi kontribusi dalam perkembangan virus pada orang-
orang yang terinfeksi HIV. Adanya hasil penelitian tersebut mengindikasikan
bahwa stress management interventions akan meningkatkan fungsi imun,
sehingga dapat menghambat perkembangan virus. Namun, pe ndekatan alternatif
ini belum banyak diteliti.
Berdasarkan latar belakang tersebut, kedelapan peneliti ini mendesain
penelitian terhadap penderita HIV kronis, dikhususkan mengenai intervensi
individu yang mengalami stress dalam taraf yang tinggi.
Strategi intervensi yang diteliti antara lain intervensi dengan pendekatan
cognitive-behavioral stress management yang difokuskan pada coping skills dan
relaxation training (RLXN), serta tai chi training (TCHI) dan spiritual growth
groups (SPRT) yang merupakan intervensi-intervensi berbasis PNI. Efektivitas
penggunaan ketiga strategi coping tersebut dibandingkan dengan kelompok
kontrol (CTRL), yang tidak diberi perlakuan, merupakan hal yang ingin diketahui.
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode eksperimenta l (randomized
clinical trial).
NOVITA DEWI ANJARSARI_PS 05623

Cognitive-Behavioral Stress Management diyakini dapat mengurangi


tingkat stress dan meningkatkan fungsi psikologis penderita HIV dengan cara
memodifikasi persepsinya. Disamping itu, intervensi ini menggunakan strategi
coping yang lebih efektif karena memasukkan relaksasi dan pelatihan
penyelesaian masalah secara efektif dalam intervensinya. Untuk Tai Chi Training
memfokuskan pada hubungan antara tubuh dan pikiran seseorang melalui
pernapasan, relaksasi, dan gerakan (movement). Merangkum hasil dari beberapa
penelitian, efek yang timbul dari pelatihan ini adalah berkurangnya kecemasan,
stress, rasa sakit, meningkatkan keseimbangan, meningkatkan dan memperbaiki
kondisi psikologis penderita, dan sebagainya. Sedangkan untuk manajeme n stres
secara spiritual, juga dapat mengurangi depresi dan kecemasan, meskipun baru
sedikit hasil penelitian yang melaporkannya.
Disintesis dari kerangka teori PNI, dalam desain penelitian ini, terdapat
beberapa indikator yang diukur, yaitu
1. Psychological distress yang diukur menggunakan IES (Impact of Event
Scale).
2. Efektivitas strategi penyelesaian masalah (mengukur tingkat stress dan
pola penyelesaian masalahnya), yang diukur dengan menggunakan DIS
(Dealing with Illness Scale). Reliabilitas alat ukur in i cukup tinggi, yaitu a
= 0.83 untuk subskala stress, dan a = 0.80 – 0.87 untuk subskala coping.
3. Kualitas hidup yang diukur dengan menggunakan FAHI Scale (Functional
Assessment of HIV Infection Scale). Alat ukur multidimensional ini juga
memiliki reliabilitas yang cukup tinggi, yaitu a = 0.85 – 0.92
4. Stress-related neuroendocrine mediation yang dapat dilihat dari salivary
cortisol-nya,
5. Immunological dysfunction yang ditunjukkan dengan tingkat
keberfungsian lymphocyte proliferative,
6. Kondisi kesehatan secara spesifik.
Jumlah partisipan dalam penelitian ini adalah 252 subjek yang terinfeksi
HIV. Kemudian subjek dibagi ke dalam kelompok intervensi (RLXN, TCHI,
SPRT) dan kelompok kontrol (CTRL) secara random. Intervensi dilakukan secara
NOVITA DEWI ANJARSARI_PS 05623

kelompok, yang terdiri dari 6-10 partisipan yang dipertemukan di ruang


konferensi dalam sesi 90 menit setiap minggunya selama 10 minggu (8-10 kali
pertemuan). Dengan menggunakan rancangan repeated measured mixed
modeling, peneliti membandingkan hasil terapi pada kelompok intervensi dengan
kelompok kontrol (CTRL). Untuk menguji efektivitas ketiga model intervensi
manajemen stress dibanding dengan kelompok kontrol, peneliti menggunakan
pretest-posttest design, dimana perubahan atau efek yang tampak dicatat dalam
tiga kategori : (a) sebelum hingga setelah intervensi (immediate effects), (b) post-
intervention hingga 6 bulan follow-up (maintenance effects), dan (c) pre-
intervention hingga 6 bulan follow-up (total effects).
Pada saat pelaksanaan intervensi dengan Cognitive-Behavioral Relaxation
Training (RLXN), yang dipimpin oleh fasilitator ahli dan terlatih, subjek dilatih
melakukan relaksasi fisik dan mental. Relaksasi ini memfokuskan pada kombinasi
dari teknik-teknik relaksasi, termasuk penggunaan guided imagery, yang dapat
membantu mengelola stress. Dari proses latihan ini, partisipan diharapkan dapat
melakukan relaksasi secara rutin selama mengikuti intervensi dan meneruskan
proses terapi pasca intervensi. Frekuensi latihan juga dicatat setiap minggunya.
Setiap partisipan diberi 1 set dari 8 audiotape berdurasi 30 menit, yang secara
khusus diproduksi untuk penelitian ini.
Untuk Tai Chi Training (TCHI), proses terapi difokuskan pada formasi
pendek dari tai chi yang melibatkan delapan gerakan, yang dimulai dengan fokus
pada pernapasan dan keseimbangan, yang merupakan elemen kunci dalam tai chi
training . Videotape pelatihan diberikan kepada partisipan setiap minggunya agar
partisipan dapat mempraktikkan teknik ini.
Spiritual Growth (SPRT) didesain untuk memfasilitasi pencarian
spiritualitas individu, meningkatkan spiritualitas diri dan dan subjek menyadari
pemaknaan dan pengekspresian spiritualitas yang dimiliki. Setiap sesi melibatkan
proses intelektual (kognitif) yang dikaitkan dengan pengalaman spiritual yang
dialami. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan awareness dan
mengintegrasikan pengalaman spiritualnya ke dalam kehidupan sehari-hari. Untuk
NOVITA DEWI ANJARSARI_PS 05623

mengukur hasil terapi digunakan Spiritual Well-Being Scale (SWBS) dengan


reliabilitas alat ukur sebesar a = 0.78 – 0.96.
Intervensi yang dilakukan juga memperhatikan faktor -faktor yang dapat
menjadi confounding, yaitu gender, umur, dan kondisi kesehatan. Untuk
mencegah adanya confounding ini peneliti menggunakan strategi eliminasi dan
data dianalisis menggunakan F test.
Dari penelitian tersebut, 65 orang berhasil menyelesaikan cognitive-
behavioral stress management (RLXN), 62 orang tai chi training (TCHI), 68
orang spiritual growth (SPRT), dan 57 orang sebagai kelompok kontrol (CTRL).
Hasil penelitian yang ditemukan adalah:
1. pada kelompok RLXN dan TCHI terjadi penurunan penggunaan emotion-
focused coping, yang diubah ke dalam emotional well-being.
2. semua perlakuan (RLXN, TCHI, SPRT) dapat meningkatkan fungsi
limfosit proliferatif, yang dapat mencegah adanya immunological
dysfunction
Intervensi-intervensi alternatif ini juga memberikan dampak pada
peningkatan imun pada fungsi psikososialnya, yang merupakan implikasi penting
dalam pengobatan, terutama pada individu dengan immune-mediated -nya
terinfeksi.

KOMENTAR
Hasil penelitian ini cocok untuk diterapkan di Indonesia, terutama dalam
hal mengurangi emotion-focused coping pada penderita HIV. Terlebih hingga
detik ini orang-orang yang terinfeksi HIV sempat meningkat drastis. Namun, di
sisi lain, perlu adanya penelitian lanjut yang membahas intervensi ini dengan
menggunakan metode ataupun rancangan eksperimen yang berbeda, agar hasil
penelitiannya benar-benar dapat digeneralisasi.
Terkait dengan rancangan eksperimennya, saya sedikit kurang setuju.
Menurut saya, sebaiknya penelitian ini menggunakan random assignment atau
true experimental design agar semua subjek mendapat perlakuan yang sama.
Dengan adanya perlakuan yang sama dan berlaku bagi seluruh partisipan (semua
NOVITA DEWI ANJARSARI_PS 05623

partisipan mengalami perlakuan) , maka dapat terlihat dinamika keefektivan proses


terapi bagi masing-masing individu secara komprehensif (data hasil penelitian
akan semakin kaya) sehingga sampel yang digunakan lebih representatif, terlebih
jika berhubungan dengan dampak subjektif dalam kehidupan orang-orang yang
terinfeksi HIV terkait dengan tingkat stress dan pola penyelesaian masalahnya.