Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Desalinasi Air laut


Beberapa metode desalinasi air laut diteliti dan dikembangkan untuk memperoleh air tawar dari
air laut yang asin karena mengandung garam. Membuang garam-garam yang terlarut dari dalam air
disebut desalinasi. Dewasa ini desalinasi merupakan salah satu masalah yang mendesak untuk mendapat
perhatian.  

Pertambahan penduduk, industri dan irigasi harus diimbangi tersedianya air tawar yang cukup.
Desalinasi dapat dilakukan dengan penyulingan, pembekuan, osmosis balik, elektrodialisis, dan
pertukaran ion. Metode desalinasi osmosis balik menjadi harapan sebagai metode yang ekonomis.  

Dalam proses ini, garam dipisahkan dengan tekanan pada membran semipermiabel yang
memisahkan sumber air (asin) dan produk air tawar. 

Dewasa ini osmosis balik telah diterapkan untuk menghilangkan garam dari air payau dan
menjadi harapan untuk desalinasi skala besar terhadap air payau maupun air laut .

Laju konsumsi air bersih di dunia meningkat dua kali lipat setiap 20 tahun, melebihi dua kali laju
pertumbuhan manusia. Beberapa pihak memperhitungkan bahwa pada tahun 2025, permintaan air bersih
akan melebihi persediaan hingga mencapai 56%. Kekurangan air bersih dapat berpengaruh terhadap
banyak hal, di antaranya dapat mengurangi pembangunan ekonomi dan menurunkan tingkat kehidupan.
Hal ini menunjukkan bahwa dunia membutuhkan suatu cara untuk meningkatkan persediaan air bersih.
Salah satu sumber yang berpotensi dijadikan sumber air bersih adalah air laut. Air laut dapat dijadikan air
bersih dengan proses desalinasi.
BAB II
ISI

2.1 Pengertian desalinasi


Desalinasi adalah proses pemisahan yang digunakan untuk mengurangi kandungan garam terlarut
dari air garam hingga level tertentu sehingga air dapat digunakan. Proses desalinasi melibatkan tiga aliran
cairan, yaitu umpan berupa air garam (misalnya air laut), produk bersalinitas rendah, dan konsentrat
bersalinitas tinggi. Produk proses desalinasi umumnya merupakan air dengan kandungan garam terlarut
kurang dari 500 mg/l, yang dapat digunakan untuk keperluan domestik, industri, dan pertanian. Hasil
sampingan dari proses desalinasi adalah brine. Brine adalah larutan garam berkonsentrasi tinggi (lebih
dari 35000 mg/l garam terlarut).
Distilasi merupakan metode desalinasi yang paling lama dan paling umum digunakan. Distilasi
adalah metode pemisahan dengan cara memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air, yang selanjutnya
dikondensasi untuk menghasilkan air bersih. Berbagai macam proses distilasi yang umum digunakan,
seperti multistage flash, multiple effect distillation, dan vapor compression umumnya menggunakan
prinsip mengurangi tekanan uap dari air agar pendidihan dapat terjadi pada temperatur yang lebih rendah,
tanpa menggunakan panas tambahan.
Metode lain desalinasi adalah dengan menggunakan membran. Terdapat dua tipe membran yang
dapat digunakan untuk proses desalinasi, yaitu reverse osmosis (RO) dan electrodialysis (ED). Pada
proses desalinasi menggunakan membran RO, air pada larutan garam dipisahkan dari garam terlarutnya
dengan mengalirkannya melalui membran water-permeable. Permeate dapat mengalir melalui membran
akibat adanya perbedaan tekanan yang diciptakan antara umpan bertekanan dan produk, yang memiliki
tekanan dekat dengan tekanan atmosfer. Sisa umpan selanjutnya akan terus mengalir melalui sisi reaktor
bertekanan sebagai brine. Proses ini tidak melalui tahap pemanasan ataupun perubahan fasa. Kebutuhan
energi utama adalah untuk memberi tekanan pada air umpan. Desalinasi air payau membutuhkan tekanan
operasi berkisar antara 250 hingga 400 psi, sedangkan desalinasi air laut memiliki kisaran tekanan operasi
antara 800 hingga 1000 psi.
Dalam praktiknya, umpan dipompa ke dalam container tertutup, pada membran, untuk
meningkatkan tekanan. Saat produk berupa air bersih dapat mengalir melalui membran, sisa umpan dan
larutan brine menjadi semakin terkonsentrasi. Untuk mengurangi konsentrasi garam terlarut pada larutan
sisa, sebagian larutan terkonsentrasi ini diambil dari container untuk mencegah konsentrasi garam terus
meningkat.
Sistem RO terdiri dari 4 proses utama, yaitu (1) pretreatment, (2) pressurization, (3) membrane
separation, (4) post teatment stabilization.

desalinasi dengan RO

Pretreatment: Air umpan pada tahap pretreatment disesuaikan dengan membran dengan cara


memisahkan padatan tersuspensi, menyesuaikan pH, dan menambahkan inhibitor untuk
mengontrolscaling yang dapat disebabkan oleh senyawa tetentu, seperti kalsium sulfat.
Pressurization: Pompa akan meningkatkan tekanan dari umpan yang sudah melalui
prosespretreatment hingga tekanan operasi yang sesuai dengan membran dan salinitas air umpan.
Separation: Membran permeable akan menghalangi aliran garam terlarut, sementara membran
akan memperbolehkan air produk terdesalinasi melewatinya. Efek permeabilitas membran ini akan
menyebabkan terdapatnya dua aliran, yaitu aliran produk air bersih, dan aliran brine terkonsentrasi.
Karena tidak ada membran yang sempurna pada proses pemisahan ini, sedikit garam dapat mengalir
melewati membran dan tersisa pada air produk. Membran RO memiliki berbaga jenis konfigurasi, antara
lain spiral wound dan hollow fine fiber membranes.
tipe membran RO

Stabilization: Air produk hasil pemisahan dengan membran biasanya membutuhkan penyesuaian pH
sebelum dialirkan ke sistem distribusi untuk dapat digunakan sebagai air minum. Produk mengalir
melalui kolom aerasi dimana pH akan ditingkatkan dari sekitar 5 hingga mendekati 7.
Sumber:

2.2 KRISIS AIR DI INDONESIA

Penyediaan kebutuhan air bersih di Indonesia saat ini masih minim. Di kota-kota besar pelayanan
penyediaan air bersih baru mencapai 45 persen, sedangkan di pedesaan juga baru sebesar 10 persen. Ini
membuktikan terjadinya krisis air bersih di Indonesia.

Air merupakan unsur yang vital dalam kehidupan manusia. Seseorang tidak dapat bertahan hidup
tanpa air, karena itulah air merupakan salah satu penopang hidup bagi manusia. Ketersediaan air di
dunia ini begitu melimpah ruah, namun yang dapat dikonsumsi oleh manusia untuk keperluan air minum
sangatlah sedikit. Dari total jumlah air yang ada, hanya lima persen saja yang tersedia sebagai air
minum, sedangkan sisanya adalah air laut. Selain itu, kecenderungan yang terjadi sekarang ini adalah
berkurangnya ketersediaan air bersih itu dari hari ke hari. Semakin meningkatnya populasi, semakin
besar pula kebutuhan akan air minum. Sehingga ketersediaan air bersih pun semakin berkurang. Seperti
yang disampaikan Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), saat
ini penggunaan air di dunia naik dua kali lipat lebih dibandingkan dengan seabad silam, namun
ketersediaannya justru menurun. Akibatnya, terjadi kelangkaan air yang harus ditanggung oleh lebih dari
40 persen penduduk bumi. Kondisi ini akan kian parah menjelang tahun 2025 karena 1,8 miliar orang
akan tinggal di kawasan yang mengalami kelangkaan air secara absolut. Kekurangan air telah berdampak
negatif terhadap semua sektor, termasuk kesehatan. Tanpa akses air minum yang higienis
mengakibatkan 3.800 anak meninggal tiap hari oleh penyakit. Begitu peliknya masalah ini sehingga para
ahli berpendapat bahwa pada suatu saat nanti, akan terjadi “pertarungan” untuk memperbuatkan air
bersih ini. Sama halnya dengan pertarungan untuk memperebutkan sumber energi minyak dan gas
bumi.

Di Indonesia sendiri, dengan jumlah penduduk mencapai lebih 200 juta, kebutuhan air bersih
menjadi semakin mendesak. Kecenderungan konsumsi air diperkirakan terus naik hingga 15-35 persen
per kapita per tahun. Sedangkan ketersediaan air bersih cenderung melambat (berkurang) akibat
kerusakan alam dan pencemaran.

Sekitar 119 juta rakyat Indonesia belum memiliki akses terhadap air bersih (Suara Pembaruan - 23
Maret 2007). Penduduk Indonesia yang bisa mengakses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, baru
mencapai 20 persen dari total penduduk Indonesia. Itupun yang dominan adalah akses untuk
perkotaaan. Artinya masih ada 82 persen rakyat Indonesia terpaksa mempergunakan air yang tak layak
secara kesehatan. Untuk persentase akses daerah pedesaan terhadap sumber air di Indonesia lebih
rendah daripada beberapa negara tetangga seperti Malaysia. Di Malaysia, tingkat akses sumber air di
pedesaan mencapai 94 persen. Di negara Indonesia yang kaya sumber daya air ini, angka akses
pedesaan terhadap air bersih hanya menyentuh level 69 persen, lebih rendah dari Vietnam yang telah
mencapai 72 persen. Pada akhir PJP II (2019) diperkirakan jumlah penduduk perkotaan mencapai 150,2
juta jiwa dengan konsumsi per kapita sebesar 125 liter, sehingga kebutuhan air akan mencapai 18,775
miliar liter per hari. Menurut LIPI, kebutuhan air untuk industri akan melonjak sebesar 700% pada 2025.
Untuk perumahan naik rata-rata 65% dan untuk produksi pangan naik 100%. Pada tahun 2000, untuk
berbagai keperluan di Pulau Jawa diperlukan setidaknya 83,378 miliar meter kubik air bersih. Sedangkan
potensi ketersediaan air, baik air tanah maupun air permukaan hanya 30,569 miliar meter kubik. Ia
mengingatkan, pada tahun 2015 krisis air di Pulau Jawa akan jauh lebih parah karena diperkirakan
kebutuhan air akan melonjak menjadi 164,671 miliar meter kubik. Sedangkan potensi ketersediaannya
cenderung menurun. Di daerah perkotaan seperti Jakarta saja, masih banyak warga yang belum
mendapatkan fasilitas air bersih. Jakarta dialiri 13 sungai, terletak di dataran rendah dan berbatasan
langsung dengan Laut Jawa. Seiring dengan pertumbuhan penduduk Jakarta yang sangat pesat, berkisar
hampir 9 juta jiwa, maka penyediaan air bersih menjadi permasalahan yang rumit. Dengan asumsi
tingkat konsumsi maksimal 175 liter per orang, dibutuhkan 1,5 juta meter kubik air dalam satu hari.
Neraca Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2003 menunjukkan, Perusahaan Daerah Air
Minum (PDAM) diperkirakan baru mampu menyuplai sekitar 52,13 persen kebutuhan air bersih untuk
warga Jakarta. (Kompas, 20 Juni 2005).

Pengaruhnya dengan kesehatan, air merupakan zat yang selalu digunakan dalam kehidupan manusia.
Dan suatu sarana utama untuk menigkatkan derajat kesehatan masyarakat, karena air merupakan salah
satu media dari berbagai macam penularan. Tiap hari manusia membutuhkan air untuk mandi, mencuci,
minum,dll. Kebutuhan air untuk dugunakan sangatlah krusial karena harus air yang baik, bersih, dan
menyehatkan. Peningkatan kualitas dan kuantitas air dengan jalan mengadakan pengelolaan terhadap
air yang baik akan membantu masyarakat dalam pemanfaatan air.

Berangkat dari hal itu, pengolahan pengadaaan air dalam skala besar sangatlah penting sehingga
akan membantu masyarakat dalam mengelola air. Sebenarnya pengolahan air dengan desalinasi
merupakan cara lama untuk mendatangkan air dalam skala besar namun untuk memperbaiki cara
desalinasi konvensional diperlukan cara khusus dan modern, tidak hanya itu juga cara tersebut harus
murah dan tahan lama. Ada beberapa metode untuk menangani kelangkaan air tersebut. Salah satunya
dengan “desalinasi air laut dengan metode reverse osmosis”

2.3 Desalinasi: Menguapkan Air Laut Menjadi Air Bersih

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Memiliki luas wilayah 5.193.252 km2
dua per tiga luas wilayahnya merupakan lautan, yaitu sekitar 3.288.683 km2. Sehingga Indonesia juga
memiliki julukan sebagai benua maritim.Ironinya–di tengah kepungan air laut itu–ternyata masih ada
beberapa tempat yang mengalami kekurangan air, terutama mengenai ketersedian air bersih.

Akibatnya, di tempat seperti itu air menjadi barang eksklusif. Masyarakatnya harus membeli
untuk mendapatkan air bersih.Ironi inilah yang menimpa masyarakat Kepulauan Seribu. Di kepulauan
yang berada di utara kota Jakarta itu air bersih menjadi barang langka. Bupati Kepulauan Seribu, Kamil
Abdul Kadir beberapa waktu yang lalu menuturkan bahwa ketersediaan air bersih adalah masalah utama
bagi daerahnya. Setidaknya, untuk mendapatkan satu liter air bersih, masyarakat harus membayar Rp 50
sampai Rp 75.”Air bersih memang masih menjadi masalah.

Selama ini, untuk memperoleh air bersih tersebut kita mendapatkannya dari 5 instalasi Reverse
Osmosis (RO) yang terdapat di lima pulau berpenghuni,” ujarnya. Sementara pulau berpenghuni itu
jumlahnya sebanyak 11 pulau dengan jumlah penduduk 18 ribu jiwa.Melihat kondisi itulah Badan
Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) tertarik mengembangkan teknologi untuk mengatasi krisis
air. Setelah melakukan serangkaian kajian, BPPT mengembangkan teknologi desalinisasi di kabupaten
yang masuk wilayah propinsi DKI Jakarta ini.Menurut Rohmadi Ridlo dari tim desalinasi BPPT
memaparkan bahwa desalinasi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan proses destilasi dan
Reverse Osmosis. Secara prinsip, menurut Ridlo, proses destilasi merupakan perubahan fase cair menjadi
fase uap.

Dimana pada tahap akhir, air laut akan mengalami kondensasi menjadi air murni.Sementara, pada
proses RO–air yang selama ini dimanfaatkan oleh masyarakat Kepulauan Seribu–dalam prosesnya tidak
ada perubahan fase. ”Pada proses RO yang terjadi hanya fase cair saja. Dimana untuk memisahkan air
tawar dengan air laut di dapat dari adanya perbedaan tekanan yang menggunakan membran semi
permeablenya saja.”Namun, Ridlo mengakui bahwa masing-masing teknologi pemisahan air tawar
dengan air laut itu memiliki keunggulan dan kelemahan masing-masing. Kelemahan pada proses
desalinasi yang menggunakan teknologi RO diantaranya adalah adanya kemungkinan penyumbatan pada
selaput Selain itu, pemanfaatan teknologi RO untuk menghasilkan air tawar di Indonesia pun masih
menghadapi beberapa kendala. Diantaranya, mengenai bahan baku air laut yang sudah relatif kotor.
Sehingga, jika penggunaaan bahan baku semacam ini dipaksakan tentu akan berpotensi untuk menyumbat
membran.

Menurut Ridlo ada beberapa peralatan yang mendukung proses destilasi ini. Ia menyebutkan
antara lain adalah heater, kondensor, ejektor air, pompa ejektor, pompa kondensat, indikator salinitas, dan
peralatan kontrol.Proses kerja destilasi ini mulanya air laut dihisap oleh pompa ejektor yang terdapat
dipantai. Kemudian, air laut tersebut dimasukan ke dalam alat penukar gas (heat exchanger). Pada tahap
ini, air laut dipanasi oleh air panas dari panas buang diesel atau boiler limbah biomassa pada suhu 80
derajat C. Selanjutnya, air tersebut divakumkan pada tekanan udara kurang dari 1 atm.

Pada kondisi hampa udara (vakum) yang tinggi dan suhu rendah itulah, jelasnya lagi, sebagian
dari air laut menguap. Dimana, uap bertekanan rendah dari tempat lain mendapat pendinginan dari air laut
yang dimasukkan dari cerobong terpisah. Pada saat itulah, uap berkondensasi menjadi air tawar.

Lebih lanjut Ridlo menjelaskan, air laut yang sudah hangat akan mengalir dari saluran keluar
pendingin. Dan selanjutnya akan masuk ke dalam heat exchanger sebagai air umpan. Uap tekanan rendah
yang timbul di dalam heat exchanger mengalir masuk ke dalam evaporator. Begitu pula dengan air sisa
buangan yang kental.Selanjutnya, uap air itu didinginkan oleh air laut dan berkondensasi menjadi air
tawar. Hasil air tawar di kondensor itu kemudian dipompa keluar oleh condensate pump. Kemudian, air
tersebut dialirkan ke tangki persedian air tawar. Sementara sisa air buangan dikeluarkan secara teratur
oleh water ejector.Sedangkan mengenai kadar garam dari air destilat (air yang dihasilkan dari proses
destilasi ini–red) secara terus menerus dipantau oleh salinity indicator. Sebuah solenoid valve dipasang
pada saluran keluar pompa air destilasi.”Nah untuk menentukan kadar garam air destilatnya kita bisa
mensetnya,” kata Ridlo. Diungkapkan pula umumnya kadar garam yang dimiliki oleh air destilat ini
maksimal sebesar 10 ppm.

Artinya, kualitas air yang dihasilkan dari proses ini sangat bagus.Menurut Ketua Pelaksana
Program Desalinasi-BBPT Bambang Gambiro air tawar yang dihasilkan dari mesin diesel bertenaga
2×250 Kw dan 2×500 Kw mampu menghasilkan 5.000 liter air dalam 24 jam. ”Tetapi sebenarnya kita
masih bisa memaksimalkannya lagi hingga 15 ribu liter,” ujarnya dengan nada yakin.Mengenai kualitas
air tawar yang dihasilkan dari proses destilasi ini, Bambang mengatakan,”Kualitasnya sudah terjamin.”
Jadi, katanya, setelah proses destilasi usai, air tawar yang dihasilkan telah siap untuk diminum. Ini
disebabkan karena air tawar ini sudah memenuhi standar air bersih yang ditetapkan oleh Lembaga
Kesehatan Dunia (WHO).Berdasarkan hasil penelitian, air destilasi ini memiliki pH 8,5 pada suhu 25
derajat. Selain itu, tingkat alkalinitasnya sekitar 3 CaCO3 miligram per liter. Kemampuan daya hantar
listriknya sebesar 4,1 mg/l.

Kandungan ion klorida, ion besi masing-masing sebanyak kurang dari 2 mg/l Cl- dan kurang dari
0,05 mg/l Fe.Sementara itu kualitas air yang ditetapkan WHO, pH yang baik berkisar antara 5,8-
8,6. Kemampuan daya hantar listriknya sebesar kurang dari 700 mg/l. Kandungan ion klorida kurang dari
200 mg/l Cl-. Dan kandungan ion besinya adalah kurang dari 0,3 mg/l Fe. ”Jadi jelas air ini memang
berkualitas,” tandasnya optimis.Selama ini, kata Bambang, pemanfaatan teknologi desalinasi ini banyak
digunakan pada kapal-kapal tanker. Keberadaan desalinasi disana, untuk menyuplai air bersih bagi awak
kapalnya. ”Namun, hingga saat ini di Indonesia pemanfaatan desalinasi untuk keperluan di darat masih
belum ada,” tukasnya.Ia berharap desalinasi di Kepulauan Seribu itu nantinya dapat bermanfaat bagi
masyarakat sekitar.

Bambang mengungkapkan pula pilot project yang akan dilakukan di Pulau Pramuka yang
memiliki kepadatan penduduk sekitar 1.500 jiwa ini akan dilakukan selama dua tahun. Sedangkan dana
yang dianggarkan untuk pilot project ini jumlahnya sebesar Rp 260 juta yang didapat dari Daftar Isian
Proyek Anggaran Pendapatan Belanja Negara (DIK-APBN) 2002.Selain itu Bambang juga mengatakan
bahwa pihak BPPT dalam melaksanakan pilot porjectnya di Kepulauan Seribu ini menggandeng pihak
produsen desalinasi dari PT Sasakura, Jepang. ”Dan saat ini Italia dan Korea juga tertarik untuk ikut serta
mengembangkan teknologi desalinasi ini.” tandas Bambang. C10
2.4 Desalinasi Memanfaatkan Air Laut untuk Minum

Desalinasi untuk memanfaatkan air laut sebagai air minum, kenapa tidak?.
Desalinasi (desalinization) merupakan untuk menghilangkan kadar garam berlebih pada air
untuk menghasilkan air yang dapat dikonsumsi manusia, hewan ataupun tumbuhan.
Dalam desalinasi selain menghasilkan air yang layak minum, proses ini dapat juga
menghasilkan garam dapur ataupun air berkadar garam tinggi yang dapat dimanfaatkan sebagai
kolam apung sebagai mana salah satu wahana di Taman Impian Jaya Ancol.

Solusi Krisis Air Bersih. Desalinasi yang memproses air laut dengan tingkat kadar
garam yang tinggi sehingga tidak layak konsumsi menjadi air tawar yang dapat dikonsumsi
merupakan salah satu alternatif mengatasi krisis ketersediaan air bersih yang sering kali terjadi
di Indonesia.

instalasi desalinasi dengan metode reverse osmosis di Barcelona

Dengan memanfaatkan air laut dan mengolahnya sebagai air minum berarti juga
mengurangi pemakaian air bawah tanah yang diyakini sebagai penyebab utama penurunan
tanah di berbagai tempat terutama di Jakarta. Bahkan, tingkat penurunan tanah akibat
eksploitasi air tanah yang berlebihan di Jakarta, membuat kita was-was akan bahaya
tenggelamnya ibu kota negara kita dalam beberapa puluh tahun kedepan.

Teknologi desalinasi bukan sesuatu yang mustahil dan tidak mungkin. Dalam


penanganan bencana tsunami di Aceh, Australia telah membuktikan penerapan teknologi ini
dengan mengolah air laut menjadi air minum yang layak konsumsi bagi korban bencana alam.
Indonesia juga telah menerapkan teknologi desalinasi ini. PT Pembangunan Jaya Ancol,
pengelola Taman Impian Jaya Ancol menggunakan teknologi desalinasi guna menghasilkan air
tawar untuk memenuhi kebutuhan tempat rekreasi tersebut sekaligus menghasilkan air
berkadar garam sangat tinggi sebagai hasil sampingan. Air berkadar garam sangat tinggi ini
dialirkan dalam Kolam Apung Wahana Atlantis Ancol.
Berbagai negara juga telah menerapkan teknologi desalinasi ini, seperti:

 Amerika Serikat (el Paso, Texas; memproduksi 104 ribu meter kubik air/hari)
 Uni Emirat Arab (mempunyai 3 lokasi, salah satunya Fujairah F2 yang memproduksi
492 juta liter/hari)
 Inggris, Israel, Trinidad, Cyprus dan beberapa negara lainnya.

Proses desalinasi. Terdapat beberapa cara dan metode desalinasi diantaranya yang
tradisonal adalah dengan menggunakan metode vacuum distillation. Prinsipnya yaitu dengan
memanaskan air laut untuk menghasilkan uap air, yang selanjutnya dikondensasi untuk
menghasilkan air bersih.

Cara yang paling umum adalah menggunakan metode osmosis terbalik (reverse osmosisatau
RO). Osmosis terbalik dianggap yang paling efektif dalam melakukan desalinasi dalam skala
besar. Prinsip kerja metode ini adalah dengan mendesak air laut melewati membran-membran
semi-permeabel untuk menyaring kandungan garamnya.

Dengan metode osmosis terbalik (reverse osmosis) Taman Impian Jaya Ancol mampu
menyulap 7.000 meter kubik air laut menjadi 5.000 m kubik air tawar dan 2.000 m kubik air
berkadar garam sangat tinggi. Untuk menghasilkan air bersih dari air laut ini dibutuhkan energi
listrik sebesar 4,72 kilowatt jam per meter kubik. Dengan rata-rata tarif listrik yang Rp. 1000
/kw, untuk memproduksi 1 liter air bersih melalui desalinasi membutuhkan biaya sekitar Rp.
4.700. Jauh lebih murah dari harga air bersih yang mencapai Rp. 12.000 meter perkubik.
Sepertinya sudah saatnya pemerintah melalui PDAM melirik teknologi desalinasi ini sebagai
salah satu upaya untuk mencukupi kebutuhan air bersih sekaligus menghentikan laju
penurunan tanah.

Mesin SWRO Betaqua kami dibuat untuk tahan lama. Fabrikasi mesin RO kami lakukan
di workshop kami dan penggunaannya dapat diaplikasikan pada proyek power plant, dipasang
dalam kapal, bahkan di pulau terpencil. Untuk daerah dengan daya pembangkit listrik rendah,
sistem RO dapat di buat supaya menggunakan Energy Recovery Device, dan akan dapat
mengurangi kebutuhan daya listrik sampai 65 persen. Berbekal pengalaman mulai dari kepulauan
Seribu hingga desalinasi air laut untuk pembangkit listrik di daerah Sulawesi, BetaQua SWRO
sangat handal dan dibangun dengan pengalaman penuh.
Berikut beberapa pengalaman kerja Beta Pramesti :

 PLN Amurang, Desalinasi Air Laut untuk pembangkit listrik dua train dengan


penggunaan mixed bed untuk menghasilkan > 10MOhm air.

 Total EP, Desalinasi Air Laut menggunakan UltraFiltrasi dan SWRO untuk produksi air
bersih.
 PLN Ende, Desalinasi Air Laut untuk pembangkit listrik tenaga uap
 PLN Bima, Desalinasi Air Laut untuk pembangkit listrik tenaga uap

2.5 AIR LAUT

Perbedaan antara air laut dan air tawar darat adalah pada segi kuantitas dan kualitas
garamnya. Garam-garaman utama yang terdapat dalam air laut adalah klorida (55%), natrium
(31%), sulfat (8%), magnesium (4%), kalsium (1%), potasium (1%) dan sisanya (kurang dari 1%)
teridiri dari bikarbonat, bromida, asam borak, strontium dan florida.

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran air alami sangat kecil
sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air tawar. Kandungan garam sebenarnya pada
air ini, secara definisi, kurang dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau
atau menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut brine.
Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam sekitar 3,5%. Beberapa
danau garam di daratan dan beberapa lautan memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut
umumnya. Sebagai contoh, Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%.

Istilah teknik untuk keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida
—terutama klorida—adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen terlarut. Dalam
oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen tetapi dalam “bagian perseribu”
(parts per thousand , ppt) atau permil (‰), kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk
setiap liter larutan. (Wikipedia)

Air laut dengan jumlah terbesar di bumi ini, sebesar 97.5% dari air keseluruhan perlu diolah
agar dapat dikonsumsi. Namun, permasalahannya adalah kandungan garam terlarut
menyebabkan diperlukannya treatment khusus sehingga air tersebut dapat di konsumsi oleh
masyarakat. Salah satu treatmennya adalah dengan menggunakan filter membrane reverse
osmosis.

2.7 DESALINASI DENGAN MEMBRAN RESERVE OSMOSIS

Pada dekade terakhir, proses membran berkembang dengan sangat cepat dan kebanyakan
fasilitas baru menggunakan teknologi reverse osmosis. Proses membran menggunakan membran semi
permeabel dan tekanan untuk memisahkan garam dari air. Sistem membran menggunakan energi yang
lebih sedikit dibandingkan distilasi termal.

Membrane separation yaitu suatu teknik pemisahan campuran 2 atau lebih komponen tanpa
menggunakan panas. Komponen-komponen akan terpisah berdasarkan ukuran dan bentuknya, dengan
bantuan tekanan dan selaput semi-permeable. Hasil pemisahan berupa retentate (bagian dari campuran
yang tidak melewati membran) dan permeate (bagian dari campuran yang melewati membran).

Sweep (berupa cairan atau gas) digunakan untuk membawa permeate hasil pemisahan. Sweep
(berupa cairan atau gas)

Membran osmosis balik (reverse osmosis atau hyperfitration) telah menjadi perhatian dalam industri
sejak tahun 1960-an, karena kemampuannya untuk memisahkan zat terlarut berukuran sangat kecil (di
bawah 10 A) dari larutan padat-cair. Teknik ini banyak digunakan untuk berbagai keperluan, seperti
desalinasi air 18lJt dan air payau yang banyak dikembangkan oleh Qffice of Saline Water, U.S.
Departement of the Interior [HARRIS, 1976], pengolahan air limbah industri-industri pertanian, biokimia,
kimia, elektrokimia, makanan, farmasi, petrokimia, pulp dan kertas. Bahan membran yang digunakan
biasanya adalah selulosa asetat, komposit, poliamida, dan lain-lain, dengan modul tubular, spiral wound,
flat sheet, atau hollow fiber [OHY A, 1976].

Pada peristiwa reverse osmosis, pada sisi larutan dengan konsentrasi tinggi diberikan tekanan untuk
mendorong molekul air melewati membran menuju sisi larutan air. Proses pemisahan ini akan
memisahkan antara zat terlarut pada salah satu sisi membran dan pelarut murni di sisi yang lain.

Membran semipermeabel yang digunakan pada reverse osmosis disebut membran reverse
osmosis (membran RO). Membran RO memiliki ukuran pori < 1 nm. Karena ukuran porinya yang sangat
kecil, membran RO disebut juga membran tidak berpori. Membran RO biasanya digunakan untuk
pengolahan air, seperti pengolahan air minum, desalinasi air laut, dan pengolahan limbah cair. Saat ini
membran RO juga banyak digunakan pada proses pengolahan air isi ulang.
Pada pengolahan air minum, seperti pengolahan air isi ulang, membran RO didesain untuk dapat
melewatkan molekul-molekul air dan menahan solid, seperti ion-ion garam. Membran RO dapat
memisahkan dan menyisihkan zat terlarut, zat organik, pirogen, koloid, virus, dan bakteri dari air baku.
Efisiensi penyisisihan membran RO untuk zat terlarut total (TDS) dan bakteri masing-masing adalah 95-
99% dan 99% sehingga pada akhir proses akan dihasilkan air yang murni.

Efisiensi penyisihan membran RO yang tinggi menyebabkan terjadinya penyisihan mineral-mineral


alami pada air baku. Mineral-mineral alami ini tidak hanya memberikan rasa yang enak pada air tetapi
juga membantu fungsi vital sistem tubuh. Air minum akan kurang sehat bagi tubuh apabila kurang
mengandung mineral-mineral ini
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Krisis air yang terjadi di Indonesia dapat segera di atasi dengan metode desalinasi terutama
membran reserve osmosis dengan membran. Metode ini sangat cocok untuk diterapkan di wilayah
Indonesia yang sering kesulitan air bersih baik karena kondisi geografisnya seperti pulau Batam,
Irian Barat, dan wilayah-wilayah gersang maupun yang disebabkan musim kemarau panjang dan
bencana alam. Teknologi membran merupakan solusi terbaik mengingat praktisnya alat tersebut
untuk dipindahkantempatkan.

3.2 SARAN

1. Pemerintah sebaiknya segera menerapkan dan mengenalkan teknologi membran kepada


masyarakat yang membutuhkan khususnya untuk wilayah gersang dan langka air bersih.

2. Pemerintah sebaiknya memberikan kesempatan lembaga terkait untuk mengembangkan


teknologi membran

3. Pemerintah sebaiknya membuka luas iklim persaingan bisnis air sehingga harga air semakin
kompetitif.

4. Swasta sebaiknya dapat memanfaatkan teknologi membran sebagai salah satu solusi tanggap
kebutuhan masyarakat dengan menghadirkan RO sebagai peralatan rumah yang portable.


DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Nuruddin.2008. “Tarif Air akan Naik 10%”. Forum Kompas. Juni 2008. Jakarta

Anita, Hendranugraha. 2004. ”Tarif Air Minum di Jakarta dinilai Mahal”. http://detik-detik.com Jakarta
Sabtu, 28 Agustus 2004

Hanif, Abdul. 2007. ”Atasi Krisis Air Toilet diolah Jadi Air Minum”. Radar Sulteng. Jumat, 30 November
2007

Surya. 2007. Hadapi Krisis Air, Tiongkok Bangun 21 Desalinasi 24 Persen Minum Air Laut . Tuesday, 26
June 2007. Ningbo

Tambunan, Binsar. 2008. “Cukupkah Stok Sumber Air Bersih Kita?” Selasa, 3 Juni 2008. Otoria Batam

Tim redaksi. 2008. “Newater Impian Singapura 38 Tahun Lalu Melepas Haus Dengan Air Limbah”.
Posmetro Batam. Sabtu,19 Juli 2008

Tim Redaksi. 2005. Salinitas Air Laut. OSEANOGRAFI Awal Kehidupan Berawal Dari Laut. Tuesday, 19 July
2005

Winduwati S., Yohan, Rifaid M. Nur. 2000. “Karakteristik Osmosis Balik Membran Spiral Wound”. Pusat
Pengembangan Pengelolaan limbah Radioaktif.

Zakaria, Anang. 2008. “Kualitas Air Surabaya tak Layak Minum”.Tempointeraktif. Kamis 18 Desember
2008