P. 1
Hariman Dan Malari

Hariman Dan Malari

|Views: 2,619|Likes:
Dipublikasikan oleh larashati11

More info:

Published by: larashati11 on Jan 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

“Penyalur Hati Nurani Rakyat”

T

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 226

3/26/10 7:25:13 PM

~ ~

Tentu saja, saya tak pernah bertemu dengan Ali Moertopo. Itu kelakar untuk
mereka yang pernah menjadi musuh Operasi Khusus alias Opsus pimpinan Ali
Moertopo. Mereka berdua lebih muda daripada saya, terutama Rizal Ramli, tapi
keduanya memberi kontribusi yang tidak kecil kepada bangsa ini.
Hariman Siregar juga lebih muda daripada saya, lebih muda daripada Sjahrir.
Tapi, ia memberi andil bagi negeri ini. Kontribusi terbesar Hariman, menurut saya,
ialah menjadi penyalur hati nurani, conscience, rakyat Indonesia. Ia telah memberikan
pandangan lain, memberikan kritik, dan menciptakan kontradiksi. Inilah yang saya
hargai. Karena, kritik dan kontradiksi sangat diperlukan oleh bangsa ini. Saya dosen
dan saya percaya bahwa kemajuan—seperti juga kalau kita sayang pada teman kita,
kepada mahasiswa kita—dibangun dengan kritik. Dengan kritik, orang akan semakin
sempurna dalam pekerjaannya.
Kritik dan kontradiksi merupakan kunci dari kemajuan. Jadi, jangan
memonopoli dengan bersikap, karena kita yang berkuasa, kitalah yang paling benar.
Saya sering bilang kepada mereka yang berkuasa, ‘Memangnya kalian ini nabi, Yesus
Kristus, Muhammad?’

Tidak ada kritik berarti juga tidak membuka ke­bhinneka­an. Kita lihat sistem
komunis, roboh sendiri. Sebab, sistem itu tidak membolehkan perbedaan, tidak
membolehkan kritik. Padahal, tanpa kritik, tanpa ada perbedaan, tidak akan ada
kreativitas. Amerika Serikat maju karena di sana apa saja boleh. Semboyan mereka
sesungguhnya sama dengan Indonesia: E pluribus unum,4

unity in diversity, ini sama
seperti bhinneka tunggal ika. Agama apa saja ada di sana. Kita tak percaya agama
pun boleh. Ini yang menyebabkan mereka maju, ilmuwannya banyak mendapatkan
hadiah Nobel.

Ini kontribusi Hariman. Ia telah mengkritik Soeharto secara terbuka. Sampai
Soeharto jatuh, bahkan sampai sekarang. Kritiknya terutama terhadap strategi
pembangunan yang meniadakan demokrasi dan tidak memberi kemakmuran bagi
rakyat. Waktu itu, sumber penerimaan negara cuma dua yang paling besar: pinjaman
luar negeri dari IGGI serta royalti minyak dan kayu. Maka, kita ingat sekali dulu apa
kata Pak Amirmachmud, ‘Tidak perlu rakyat.’ Karena, memang, duitnya dari IGGI
dan minyak. Siapa yang menambang minyak? Orang asing: Caltex, Shell, dan lain­
lain. Siapa yang menebang hutan? Orang Korea dan orang Jepang.
Di masa Orde Baru itu DPR tidak jalan. DPR memang memiliki hak bujet, tapi
menunggu dulu persetujuan negara donor, berapa mereka mau kasih, baru disahkan.
Ini semua sumber korupsi. Untuk apa uang itu dipakai? Itulah proyek­proyek yang
dianggap tidak bermanfaat bagi rakyat, termasuk proyek Taman Mini Indonesia
Indah.

Tahun 1966, saya adalah Ketua Task Force UI. Pada 10 Januari 1966 ada dua
kejadian penting. Yang pertama adalah awal demonstrasi di lapangan parkir perguruan­

4

One out of many.

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 227

3/26/10 7:25:13 PM

~ ~

Hariman & Malari

perguruan tinggi. Pada saat yang sama, kami menyelenggarakan seminar.5

Ada Sri
Sultan Hamengkubuwono IX, Frans Seda, Pak Jenderal A.H. Nasution bicara. Saat
itu, kami berbicara bagaimana membangun kembali perekonomian Indonesia kalau
terjadi pergantian rezim. Pada waktu itu, Bung Karno masih berkuasa. Ini bedanya
dengan reformasi 1998, yang tidak ada platform. Padahal, kalau ada perubahan politik,
harus ada platform. Soeharto dijatuhkan, lalu mau diapain?
Tahun­tahun sesudah 1966, mahasiswa memang mulai banyak yang menua
atau ikut masuk dalam rezim politik Orde Baru. Tapi, karena Soeharto kemudian
menerapkan kebijakan ekonomi yang tidak dirasakan rakyat, di situlah muncul tokoh­
tokoh baru, seperti Sjahrir, lalu Hariman, dengan membawa isu baru. Kalau diamati,
sebenarnya pemerintah waktu itu menipu saja. Disebut anggaran berimbang, padahal

utang yang mereka sebut penerimaan. Defsit anggaran ditutup dengan seratus persen

pinjaman luar negeri. Sungguh secara konseptual tidak benar.
Tapi itulah yang menjadi kebanggaan Orde Baru: anggaran pembangunan
yang berimbang dan dinamis. Di penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila, P4, dibodoh­bodohilah para mahasiswa itu. Ingat, kan? Pemerataan,
selaras, serasi, dan seimbang. Barulah setelah Orde Baru runtuh, kita tahu bahwa
pemerataan itu tidak ada. Siapa yang paling banyak menerima kredit dari perbankan?
Lihat laporan Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Sebagian besar adalah kroni­
kroni Soeharto. Jadi, bohonglah itu P4.
Ini yang pada awalnya dilontarkan dalam peristiwa­peristiwa yang berujung
pada Malari itu. Baru terbukti setelah Soeharto runtuh.
Menurut pengamatan saya, dari sebelum Malari hingga runtuhnya Soeharto,
Hariman tidak berubah. Kesetiaannya pada idealismelah yang saya kagumi dari
Hariman. Juga daya tahannya. Makanya, ketika saya datang dalam Perayaan Peristiwa
Malari, 15 Januari 2010,6

saya pikir tadinya itu peringatan Malari yang dihadiri
orang­orang tua. Paling­paling nanti hanya makan dan ngobrol di sudut di salah satu
restauran di situ. Ternyata tempatnya di ball room hotel dan penuh dengan anak muda
dari semua generasi. Kagum saya. Hariman ditokohkan oleh semua anak muda.
Dia pun bisa merangkul semua generasi dan semua tokoh. Lihat saja sampai

ada Pak Ali Yafe datang. Beliau ini orang yang punya integritas. Kalau Buyung

Nasution, Mulya Lubis, ya sama dengan saya, orang­orang lama yang kenal Hariman.
Tapi saya lihat, ada juga mantan Kepala Staf Angkatan Darat Tyasno Sudarto, ada
mantan Kapolda Metro Jaya Noegroho Djajoesman, ada orang Partai Amanat Nasional
seperti Hatta Taliwang, kemudian ada Bursah Zarnubi dari Partai Bintang Reformasi.
Padahal, Hariman bukan orang partai.
Mengapa orang seperti Hariman masih berperan? Saya kira, Hariman bisa
berperan karena partai politik kita tidak berperan sebagaimana mestinya. Tidak usah
jauh­jauh mengambil contoh, selama tiga bulan pemerintah Presiden Susilo Bambang

5

Kesimpulan seminar ini kemudian digunakan sebagai bahan Ketetapan MPRS No. 63/MPRS/1966.

6

Ulang tahun Indemo di Hotel Nikko, Jakarta.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 228

3/26/10 7:25:14 PM

~ ~

Yudhoyono saja. Ingat, SBY itu menang telak. Tapi, sejak sebelum dilantik sudah ada
perkara. Sekarang ini Bank Century. Berarti partai politik tak berfungsi. Sebab, kalau
partai politik berfungsi tidak ada demo­demo yang hampir setiap hari berlangsung di
Bundaran Hotel Indonesia, DPR, atau istana. Harusnya ribut­ribut itu terjadi di DPR,
karena partai politik memang harus bisa menyerap aspirasi.
Menurut saya, ini akibat reformasi tidak memiliki blue print. Apa yang telah
kita lakukan setelah Soeharto jatuh? Satu, mengganti sistem politik dari tadinya otoriter
menjadi sistem demokrasi. Tapi, lembaga hukum belum kita perbaiki, padahal sudah
sepuluh tahun lebih. Demokrasi bukan hanya kebolehan membikin banyak partai.
Lah, lihat tahun 1958, Indonesia partai banyak, apa hasilnya? Korupsi jalan terus.
Lihat Pakistan, ada Nawaz Sharif, lalu Benazhir Butto yang berkuasa, apa hasilnya?
Korupsi jalan terus. Muncullah Mussaraf. Lihat di Thailand, Thaksin jadi perdana
menteri, apa hasilnya? Korupsi. Hingga muncul lagi tentara.
Secara teknis, kita mestinya membangun sistem keuangan negara ini tidak
pernah selesai. Membangun sistem itu penting sebagai upaya preventif mencegah
korupsi. Bukan hanya dengan cara bikin Komisi Pemberantasan Korupsi.
Kedua, kita berikan otonomi daerah. Mestinya, otonomi ini memberi
kemakmuran bagi rakyat. Nyatanya, enggak ada. Jangan lupa, setelah merdeka,
terhitung sejak tahun 1948, apa kerja kita? Perang saudara: DI/TII, PRRI/Permesta,
G30S. Apa yang terjadi pada keuangan negara? Penggunaan uang negara dan bantuan
luar negeri untuk berontak. PRRI dapat bantuan dari CIA, G30S dapat bantuan dari
Cina.

Otonomi daerah tanpa transparansi akan memunculkan saling curiga antar­
kabupaten, antara daerah dan pusat, terus­menerus. Maka, tak tahulah apakah PRRI
sudah selesai, Papua dengan matinya Kwalik berarti sudah selesai, Aceh dengan MOU
Helsinki berarti sudah beres? Bila keadilan, keterbukaan, belum dirasakan, saya kira
kita menyimpan api dalam sekam. Itu bahaya bagi negara kita yang bhinneka ini.
Ketika kita membuka ekonomi pada pasar bebas tanpa mengatur rakyat agar
siap masuk globalisasi, yang terjadi ribut seperti sekarang dengan AFTA. Buah yang
kita makan itu dari mana? Import. Sebentar lagi batik Cina pun masuk. Mestinya
rakyat diajari berproduksi, diajari membuka pasar, supaya bisa menjual ke luar negeri.
Bukan dibiarkan begitu saja.

Karena perubahan­perubahan tidak dirasakan rakyat, kemakmuran tidak
merata, partai tidak berperan, saya kira Hariman Siregar akan tetap berperan.
Karenanya, saya kagum dengan dia.”
e

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 229

3/26/10 7:25:14 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

ebenarnya saya belum lama kenal dekat Ha­
riman Siregar. Kami mulai menjadi teman dekat ketika
sama­sama menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu,
Panwaslu, Pusat saat di masa­masa akhir Presiden
Soeharto, yaitu Pemilihan Umum 1997. Kami menjadi
anggota Panwaslu bersama­sama dengan Dadang Hawari,
Zakiah Daradjat, dan tokoh­tokoh lain.
Nah, di Panwaslu itu kami sering malakukan kunjungan ke daerah­daerah
bersama­sama. Lewat aktivitas seperti itulah kita mulai menjadi dekat. Dan akhir­
akhir ini, kira kira setahun terakhir, kami menjadi lebih dekat lagi. Karena, sering
ketemu dan sering berbincang­bincang tentang berbagai masalah.
Saya menilai Hariman Siregar sebagai orang yang terbuka, bicaranya tidak
mengada­ada, selalu bicara apa adanya. Itu sikap dan karakter yang paling berharga
dan berkesan buat saya. Artinya, suatu sikap atau karakter yang bisa kita pegang
pembicaraannya. Dia pantas menjadi pemimpin karena memang dia punya bakat
kepemimpinan.

Dalam kehidupan demokrasi seperti sekarang ini, orang seperti Hariman
masih diperlukan, bahkan penting sekali! Karena, demokrasi tidak akan memiliki arti
kalau banyak orang yang mengada­ada. Karena, demokrasi itu harus dijelaskan apa
adanya, supaya orang­orang dapat merasakan adanya keadilan dari sistem demokrasi.
Sebaliknya, yang namanya manipulasi atau rekayasa itu kan semuanya penyakit
demokrasi sekarang ini.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->