P. 1
Hariman Dan Malari

Hariman Dan Malari

|Views: 2,613|Likes:
Dipublikasikan oleh larashati11

More info:

Published by: larashati11 on Jan 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

“Hariman Memperkuat Daya Juang
Mahasiswa”

S

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 274

3/26/10 7:25:46 PM

~ ~

Pada akhirnya, saya dan teman­teman GMNI bergabung mendukung Hariman
dan bukan HMI. Selama kampanye ada Hariman bilang, ‘Selama ini HMI terus,
sekali­kali ganti dong. Sekarang ini waktunya.’
Walaupun HMI masih paling banyak di dewan mahasiswa, saya tertarik juga
dengan kampanye Hariman. Sekali­kali kami ingin melihat perubahan. Jadi, meski
saya maju sebagai calon, saya me­nol­kan suara saya sendiri dan mengalihkan ke
Hariman. Sebab, kalau saya memilih diri saya, kami sudah hitung waktu itu, Hariman
akan kalah.

Setelah Hariman menang, kami susun kabibet dewan. Hariman ketua umum,
Judilherry jadi sekretaris jenderal, saya wakil ketua umum I, dan Gurmilang Kar­
tasasmita jadi wakil ketua umum II. Judilherry dari HMI dirangkul menjadi sekretaris
jenderal, meski tadinya bertarung.
Uniknya, di perpolitikan mahasiswa waktu itu ada GDUI yang anti­Opsus.
GDUI dikomandoi Sjahrir yang sudah lulus dan menjadi asisten dosen. Mereka
mendukung Hariman, yang sebetulnya juga didukung Opsus. Jadi, semua bertemu di
situ. Saya sendiri lebih banyak didekati oleh grup Sjahrir, walaupun grup Opsus juga
mendekati, seperti Fredi Latumahina, dan Bung Abdul Gafur.1

Tapi, begitu Hariman
menjadi ketua umum, dia—katakanlah—membelot dari Opsus. Orang Opsus mungkin
ingin dia berterima kasih dan mereka pikir Hariman menjadi orangnya, tetapi dia
mbalelo. Hariman ternyata hanya memanfaatkan Opsus untuk bisa menang.
Pelantikan pengurus Dewan Mahasiswa UI dilakukan bulan Agustus 1973
oleh Profesor Slamet Imam Santoso yang mewakili Rektor Soemantri Brodjonegoro
yang sedang sakit. Tak lama setelah dilantik, kami langsung bikin kegiatan­kegiatan,
terutama yang paling monumental adalah Petisi 28 Oktober, tapi kami bikinnya
tanggal 24 Oktober. Waktu itu sudah banyak kritik dari masyarakat mengenai strategi
pembangunan. Pada Oktober itu, kami mengadakan peringatan Sumpah Pemuda di
Aula UI. Yang kami undang waktu itu—kebetulan saya moderatornya—sebagai
pembicara antara lain Emil Salim, Frans Seda, dan B.M. Diah.
Saya ikut merumuskan Petisi 24 Oktober itu bersama­sama dengan salah seorang
wakil sekretaris jenderal, Totok. Intinya, kami menggugat strategi pembangunan yang
menurut kami tidak memberikan pemerataan dan keadilan. Pembangunan hanya
mengejar pertumbuhan dan karenanya kami menuntut ditinjau kembali. Kedua, ada
kongkalingkong dan dominasi asing, kebetulan Jepang sebagai penanam modal asing
yang besar dan di dalam negeri juga ekonomi banyak dikuasai Cina.
Nah, itu semua Hariman yang pimpin, karena dia ketua dewan mahasiswa.
Ia mulai melakukan diskusi keliling antar­senat mahasiswa di lingkungan UI dan
diskusi antar­kampus, sampai ke ITB dan IAIN, yang nadanya mengkritik strategi
pembangunan pemerintah. Kami bahkan pernah berdiskusi di Puncak Pass dengan
seluruh dewan mahasiswa se­Indonesia. Tokohnya, ya, Hariman. Karena, selain dia
ketua dewan mahasiswa, orangnya sangat militan, berani.

1

Abdul Gafur.

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 275

3/26/10 7:25:47 PM

~ ~

Hariman & Malari

Lantas bergulir demonstrasi­demonstrasi dari berbagai kampus. Jadi, bukan
lagi dari UI, meskipun UI yang memelopori. Di Jakarta ada UKI, Jayabaya, Trisakti,
lalu di Bandung ada ITB, dari Yogya ada UGM. Selain dewan mahasiswa universitas,
juga ada grup­grup mahasiswa, seperti Mahasiswa Menuntut dan Mahasiswa
Antikorupsi. Semuanya berpuncak pada tanggal 31 Desember, pada malam tirakatan,
tengah malam persis, di Salemba UI. Saya sendiri tak hadir, karena malam old and
new biasanya saya kumpul dengan keluarga besar di rumah paman.
Pada malam tirakatan itu, yang berbicara selain Hariman adalah Sjahrir,
Dorodjatun, dan ada seorang tokoh buruh dari Tanjungpriok, Salim Kadar. Kehadiran
Salim Kadar ini membuat pemerintah mulai melihat bahwa mahasiswa telah bertemu
dengan gerakan non­mahasiswa. Begitu masuk bulan Januari, demonstrasi semakin
kencang di seluruh Indonesia, temanya tetap soal strategi pembangunan.
Tahun 1974 itu, kami menuntut bertemu dengan presiden. Akhirnya, delegasi
mahasiswa dari seluruh Indonesia diterima presiden di Bina Graha. Meskipun sudah
diterima presiden, demonstrasi masih juga bergolak. Presiden waktu itu bilang
menghormati unjuk rasa mahasiswa yang masih murni.
Hingga akhirnya datang Perdana Menteri Jepang Tanaka, tanggal 14 Januari.
Sebelumnya, kami sering kumpul dan mengadakan rapat di UI untuk menyusun
penyambutan kedatangan Tanaka. Waktu dia turun di Pelabuhan Udara Halim,
sayalah yang pimpin demo, Hariman tidak hadir. Karena didemo dan sulit keluar
pelabuhan udara, Tanaka ke istana naik helikopter. Malamnya, sekitar pukul 23.00,
seluruh pengurus dewan mahasiswa mengadakan rapat di UI. Kami merencanakan
apel di Trisakti.

Paginya, dari UI Salemba, kami berjalan kaki ke Trisakti. Baru sampai di
Trisakti, kami mendengar orang sudah bakar­membakar di Jalan Juanda, di kantor
Astra. Juga di Kota, yang tak ada hubunganya dengan mahasiswa.
Kami pikir ini pasti provokasi. Dari Trisakti, kami kembali ke UI. Malamnya,
Hariman datang ke TVRI bersama Ali Sadikin, berbicara menenangkan massa supaya
jangan ada anarki. Waktu itu sudah diberlakukan jam malam, UI pun sudah dikepung
tentara. Sebelumnya, tanggal 14 Januari malam, Hariman bilang besok terjadi sesuatu,
dia memminta saya melanjutkan Dewan Mahasiswa UI.
Akhirnya, pulang dari TVRI, Hariman ditahan. Kami mencari­cari di mana
Hariman ditahan. Tanggal 16 Januari siang, saya dan beberapa pengurus diundang
ke Kopkamtib. Waktu itu, Sudomolah yang pimpin rapat, bukan Jenderal Soemitro
yang sebetulnya Pangkopkamtib. Setelah usai rapat di kantor Kopkamtib—sekarang
di kantor Departemen Pertahanan—kami terus ditahan. Saya dibawa ke Laksusda
Tanah Abang—dulu di dekat Jalan Budi Kemuliaan­­teman­teman yang lain entah
dibawa kemana.

Di tahanan sudah ada Fahmi Idris dan Maher Algadri. Dua bulan kemudian
dipindah ke rumah tahanan militer di Gunung Sahari—sekarang kantor Departemen

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 276

3/26/10 7:25:47 PM

~ ~

Keuangan. Di situ kami kumpul semua, ada Hariman, Gurmilang, Judil, Eko Djatmiko,
Salim Hutajulu, Dorodjatun, Sjahrir, Yusuf A.R., Sarbini, dan senior lain, seperti Adnan
Buyung, Yap Tiam Hien, Soebadio, Rahman Tolleng, tokoh GMNI senior Lusian
Pahala Hutagaol, Profesor Sarbini, Mardianto; ada juga orang­orang PKI seperti Sjam
Kamaruzzaman, Munir, yang tokoh­tokoh politbiro; ada soekarnois seperti Mardanus,
juga keponakan Bung Karno, Komodor Laksamana R.S. Poegoeh.
Beberapa waktu di sana, tahanan soekarnois bebas. Mereka yang soekarnois
ini sudah lama ditahan tanpa kejelasan, mereka bukan PKI, melainkan cuma setia saja
sama Bung Karno. Salah seorang dari mereka, Armin Arjoso—belakangan dikenal
salah satu tokoh PDI—suatu siang berteriak­teriak, jalan keliling­keliling. Dia ini
orangnya pintar, tapi berlagak gila. Ia lakukan itu sewaktu ada peninjauan dari instansi
pemerintah supaya menarik perhatian. Akhirnya, mereka mendapat perhatian karena
sudah lama ditahan tanpa proses pengadilan.
Sebelum Hariman diadili, kami dipindahkan ke Pusdiklat Kejaksaan di
Ragunan. Begitu pengadilan Hariman selesai, kami dipindah ke tempat lain. Sebelum
bebas, saya juga pernah dipindahkan ke daerah Kebayoran Lama. Tapi, akhirnya, satu
tahun sebelum kami bebas, kami kumpul kembali di rumah tahanan militer, kecuali
Hariman dan Sjahrir. Saya bebas pada November 1975. Waktu itu, jaksa agungnya
Ali Said.

Hariman tak terlihat stres selama di penjara, walau saya tahu tekanan sangat
berat. Hariman waktu ditahan sudah menikah, istrinya yang melahirkan Reza syok
berat, hingga mengalami pendarahan sampai ke otak. Ayahnya juga meninggal.
Setelah semua keluar dari penjara, kami tetap menjaga hubungan. Malah punya
satu klub sepak bola, Betah, bekas tahanan. Kami rutin bermain di Stadion Kuningan,
bersama Julius Usman juga. Hariman memang senang bermain sepak bola sehingga
pernah jadi pengurus Persija Selatan. Kalau saya, sih, cuma ikut­ikutan.
Tahun 1976, saya sendiri tetap aktif di GMNI. Sewaktu kongres GMNI
di Ragunan, saya mau maju menjadi ketua umum, tapi akhirnya tak bisa karena
dianggap bekas Malari. Ketua Umum GMNI waktu itu Soeryadi. Saya dianjurkan
masuk KNPI. Sewaktu ada Kongres KNPI 1978, Hariman sudah keluar tahun 1977,
saya memutuskan untuk bergabung dengan KNPI. Dulu, kami di dewan mahasiswa
menolak keberadaan KNPI. Nah, tahun 1978, pada kongres KNPI pertama yang
akhirnya memilih Akbar Tandjung sebagai ketua umum, saya masuk diusulkan oleh
GMNI menjadi wakil sekretrais jenderal. Ini berarti ikut pemerintah, teman­teman
pun marah kepada saya.

Saya datang ke Betah, orang­orang sudah tak mau melihat. Hariman, Julius
Usman, dan teman­teman lain, semua tak suka. Mereka semua kan anti­pemerintah
dan tetap melanjutkan sikap kritis. Sementara itu, saya berdalih dan memberikan
argumenasi bahwa saya mau berjuang dari dalam. Tapi, saya bilang saya juga tetap
mau berteman dan tetap bersikap kritis dan vokal di dalam.

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 277

3/26/10 7:25:48 PM

~ ~

Hariman & Malari

Tahun 1982, saya diangkat menjadi anggota DPR dari kategori perwakilan
tiga­non. Waktu itu ada perwakilan dari non­ABRIi, non­massa, dan non­politik. Saya
dari organisasi fungsional, seperti guru, petani, buruh, dan pemuda. Saya diangkat
dari pemuda bersama Isyana Sadjarwo. Saya berusia 33 tahun dan Isyana berusia 28
tahun. Meski saya di parlemen, saya tetap membina hubungan dengan teman­teman
yang masih kritis.

Waktu itu, Hariman sudah punya markas di Jalan Lautze, saya sekali­kali masih
suka datang ke sana. Minimal setiap kali ada peringatan Malari, saya diundang, baik
informal maupun diskusi. Hariman, saya tahu, terus bergerak di underground, sambil
membuka Klinik Baruna di Cikini bersama Fanny Habibie. Teman­teman mahasiswa
baru mengidolakan dia.

Kami baru bertemu lagi secara intensif tahun 1998, waktu saya diangkat jadi
Menteri Tenaga Kerja dan B.J. Habibie menjadi wakil presiden. Kami sering bertemu
karena Hariman menjadi semacam staf khusus wakil presiden. Sewaktu MPR zaman
reformasi, Hariman menjadi anggota MPR dari wakil golongan yang biasanya
suaranya bergabung dengan Fraksi Karya Pembangunan. Waktu Habibie menjadi
presiden, saya tetap menjadi menteri dan akhirnya semakin dekat dengan Hariman.
Tapi, ia enggan bergabung dengan Golkar. Hariman memilih independen, meskipun
menjadi inner-circle Habibie yang tokoh Golkar.
Di MPR, Hariman aktif di Badan Pekerja Sidang Umum MPR untuk pertang­
gungjawaban presiden. Satu bulan sebelum Habibie kalah, saya mundur dari
jabatan menteri supaya bisa menjadi anggota MPR yang dipilih dari daerah pada
bulan September, bersama Fahmi Idris dan Tanri Abeng. Dengan demikian, waktu
Habibie memberikan pertanggungjawaban sebagai presiden, kami sudah ada di
MPR, maksudnya untuk membela posisi Habibie. Tapi, waktu itu terjadi pertarungan
di internal Golkar. Saya tidak punya bukti yang kuat, tapi banyak dugaan bahwa
Ginandjar, Akbar, dan Marzuki Darusman kompak untuk tidak mempertahankan
Habibie secara mati­matian.

Sejak dari mahasiswa hingga bertemu kembali secara intensif semasa B.J.
Habibie, saya tidak melihat perubahan dari diri Hariman. Fisiknya tetap sama, lincah
dan tetap teriak­teriak kalau bertemu. Kadang, dia dianggap agak kasar. Ia pun konsisten
memperjuangkan keadilan dan demokrasi. Itu terlihat lagi ketika aksi ‘Cabut Mandat’
tahun 2007. Hariman merasa, pembangunan sudah menunjukkan hasil yang tidak
adil. Pada waktu berada dalam inner-circle Habibie pun tetap kritis untuk soal­soal
yang berhubungan dengan keadilan ekonomi dan distribusi kemakmuran. Menteri­
menteri perokonomian dalam kabinet Habibie ada Ginandjar Kartasasmita, Muslimin
Nasution, dan Adi Sasono. Hariman tegas bicara soal keadilan kepada mereka. Ia pun
paling konsisten dalam perjuangannya menurunkan Soeharto. Untuk yang satu itu,
dia tidak pernah mau kompromi.
Saya kira dia­lah orang yang sanggup menjaga dan meyakinkan mahasiswa
bahwa mahasiswa adalah suatu kekuatan, kekuatan moral. Dari waktu ke waktu, orang

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 278

3/26/10 7:25:48 PM

~ ~

melihat Hariman sebagai simbol dalam perjuangan pergerakan mahasiswa. Saya kira
itulah sumbangan paling besarnya bagi demokrasi: membuat mahasiswa percaya
bahwa mahasiswa adalah sebuah kekuatan. Soal kekuatan ini berhasil merombak
atau tidak, itu soal lain. Dia memelihara dan memperkuat daya juang dan militansi
mahasiswa. Itu penting dalam demokrasi, apalagi rakyat percaya bila mahasiswalah
yang memelopori, meskipun kadang yang menikmati hasilnya adalah orang politik,
umpamanya tahun 1974 atau 1998.
Hariman pun, meski keras, sebetulnya luwes dalam politik. Meski paling
kesal dengan Opsus, ia sempat dikenal dekat dengan L.B. Moerdani. Mungkin karena
sering berkomunikasi dengan Hariman, Pak Beni belakangan mulai kritis kepada Pak
Harto.

Kalau soal solidaritas, memang dia itu orangnya. Waktu jadi Ketua Dewan
Mahasiswa UI, dia sudah punya mobil. Kami umunya enggak punya. Nah, teman­
teman kalau pulang rapat, dia antar satu per satu, apalagi kalau rapat sampai ke
Puncak yang angkutannya kalau sudah malam susah. Dia tinggi solidaritasnya. Kalau
ada orang kesusahan, dia bantu. Terakhir saya dengar dari Kartini, istri Sjahrir, waktu
suaminya sakit masih di Amerika, Hariman­lah yang pertama kali turun tangan.
Padahal, sebelum ‘Cabut Mandat’, Hariman sempat bersilang pendapat dengan
Sjahrir. Dia juga banyak menampung kawan­kawan mahasiswa yang bukan dari
angkatan kami, artinya dari mahasiswa yang belakangan, yang baru.”
e

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 279

3/26/10 7:25:48 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

aya masuk Universitas Indonesia setahun lebih
dulu dari Hariman. Bibit­bibit pemberontakan sudah
terlihat sejak masa masa prabakti mahasiswa. Saya
melihat bagaimana Hariman sebetulnya marah dengan
perintah­perintah dari senior yang kadang menjengkelkan
saat mapram. Ia sempat disenggol oleh senior dan sudah
kelihatan ingin melawan, tapi urung, sehingga yang
tampak hanya tampang gemas sembari meringis.
Setahu saya, ia pernah menjadi ketua tingkat. Di Fakultas Kedokteran UI
ketika itu, di tiap­tiap tingkatan ada ketuanya. Ia pun menjadi berhadapan dengan
calon dari HMI, Fahmi Alatas, dalam pemilihan Ketua Senat Mahasiswa FKUI.
Karena kedudukannya di senat itu, saya dan dia pergi ke Kongres Ikatan Mahasiswa
Kedokteran Indonesia, IMKI. Saya dan Hariman juga yang menjadi calon sekretaris
jenderalnya. Ada 13 fakultas kedokteran yang datang ke kongres dan berhak
memberikan suara. UI sendiri abstain suaranya. Alhasil, cuma ada 12 suara sah dan
perolehan ternyata imbang. Enam lawan enam.
Tapi, saya sudah memiliki rencana dari organisasi, HMI, untuk melaju ke senat
mahasiswa, sedangkan di IMKI tidak diperkenankan rangkap jabatan, maka saya
mengundurkan diri dan Hariman yang duduk di pucuk pimpinan IMKI. Kepentingan
membuat IMKI ini—belakangan diketahui—untuk menyeimbangkan dewan­dewan
mahasiswa yang ada. Dewan mahasiswa rata­rata tidak bisa dikendalikan pemerintah,
terlalu politis, sehingga mahasiswa perlu disibukkan dengan aktivitas profesinya
kelak. Ada sekretariat bersama yang dibentuk untuk IMKI.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->