P. 1
Hariman Dan Malari

Hariman Dan Malari

|Views: 2,613|Likes:
Dipublikasikan oleh larashati11

More info:

Published by: larashati11 on Jan 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

Sections

“Hariman Memahami Betul
Kondisi Kejiwaan Bangsa”

Saya masuk kuliah ketika kampus belum siuman benar

dari semaputnya, di pengujung tahun 1970­an. Orde Baru
belum terlalu lama—tahun 1978—memukulnya dengan
sangat keras: mengirim tank dan tentara masuk ke dalam
ruang­ruang akademis dan menggiring mahasiswa ke
penjara. Setahun berikutnya, terbit kebijakan bernama
Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi
Kemahasiswaan (NKK/BKK) yang diterbitkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan
Daoed Joesoef dan kampus benar­benar dibuat semaput. Tidak ada lagi politik dan
kritik dari kampus terhadap pemerintah.
Setahun setelah NKK/BKK itulah saya masuk ke Akademi Ilmu Statistik.
Kampusnya berada di jalan yang mulai ramai tetapi tak terlalu berisik, di Jalan Otto
Iskandar Dinata, dekat Kampung Melayu, Jakarta Timur. Selama empat tahun saya
belajar tentang mengitung pertumbuhan penduduk, mengukur indeks kualitas hidup,

mengira infasi, belajar mengenali berbagai parameter untuk kebutuhan penghitungan

kependudukan. Tapi, meski bicara tentang penduduk, yang berarti manusia, tak ada
‘manusia’ dalam ilmu statistik. Kemanusiaan—yang pada akhirnya berarti tentang
keadilan—absen dari semua mata kuliah kami.
Padahal, semasa SMA di Medan, saya membaca tentang dunia mahasiswa
yang penuh dinamika, protes dan aksi—sebuah dunia yang ‘berisik’. Saya mengingat
Gandhi: ‘Ilmu pengetahuan tanpa kemanusiaan, apa artinya?’ Semua tidak saya
dapati selama di bangku kuliah di Akademi Ilmu Statistik, sehingga memaksa saya

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 373

3/26/10 7:26:54 PM

~ ~

Hariman & Malari

mencarinya di tempat­tempat seperti Taman Ismail Marzuki. Tapi, di sini pun, sajak
seperti telah kehilangan kata, kecuali dari W.S. Rendra.
Pada akhirnya, saya masuk ke Universitas Nasional, Unas, di tahun 1984 dan
di sinilah saya memulai ikut memecah kesunyian. Bersama beberapa kawan, saya
mendirikan majalah kampus Politika dan menurunkan laporan yang tak semata­
mata berisi tentang tetek­bengek di dalam universitas, tapi mengangkat tema politik
pemerintahan. Sebagai Pemimpin Redaksi Politika itulah saya menugaskan beberapa
reporter mewawancarai tokoh mahasiswa yang oleh penguasa mau dikubur terus ke
kerak bumi: Hariman Siregar.

Suara Hariman bagi kami penting. Mahasiswa­mahasiswa tahun 1980­an
perlu mencari tali sambung ke gerakan sebelumnya sebelum benar­benar melakukan
perlawanan terhadap kekuasaan. Kami mau membangun kesan bahwa kelompok­
kelompok yang muncul pada kurun 1980­an ini ialah suatu gerak simultan dari
sebelumnya. Ada suatu jejaring, yang dengan demikian membuat penguasa berhitung
bila ingin memukul. Apalagi, ini suatu kemunculan baru di puncak kedigdayaan Orde
Baru. Selain dengan Hariman, kami mulai membangun kontak dengan W.S. Rendra
dan Arief Budiman. Kami pun sering datang ke kantor LBH lalu mengenal Mulyana
W. Kusumah, Hendardi, dan H.J.C. Princen.
Selain muncul di majalah Politika, Hariman kembali kami wawancarai di koran
terbitan Unas, Solidaritas, dua tahun berikutnya. Selama itu, meski telah berhubungan
secara tidak langsung, tak sekali pun saya bertatap muka dengan dia. Pertemuan
pertama dengan Hariman baru terjadi sesudah wawancara dengan Solidaritas terbit.
Saya datang mengantar beberapa aktivis mahasiswa dari Yogyakarta: Agus Edi
Santoso (Agus Lenon), Atta Mahmud, dan M. Yamin. Kami datang ke ‘markas’
Hariman di Jalan Lautze, Jakarta Pusat.
Jalan Lautze waktu itu menjadi seperti sarang ‘veteran perang’. Hariman
berkumpul bersama kawan­kawannya di sana. Selain dokter­dokter lulusan UI yang

pernah berjuang bersamanya di tahun 1974, ada pula alumni ITB, Jusman Syafi

Djamal, dengan rambut gondrong, lalu Rendra, dan Julius Usman.
Dari pertemuan pertama itu, saya dan kawan­kawan di Unas sepakat: Hariman
harus dibawa ke kampus. Sudah waktunya, universitas dibuat menjadi lebih berisik.
Depolitisasi kampus melalui NKK/BKK harus dilawan. Soeharto harus tahu bahwa ia
tak boleh enak­enak saja merampas tanah­tanah petani, berutang dari luar negeri guna
menimbun kekayaan keluarga dan kroninya sembari menggadaikan masa depan kita
sebagai agunan, dan sembarangan memberi cap subversif. Tidak! Kursi kekuasaan
Soeharto harus dirobohkan, bila belum mampu setidaknya digoyang­goyang sedikit
biar duduknya tak lagi nyaman.
Kami juga—walau baru beberapa kali bertemu—seperti tak sudi bila Hariman
hanya mengurusi Persija dan disayang­sayang oleh Gubernur Ali Sadikin dan Alamsjah
Ratuprawiranegara. Salah­salah dia—mengingat latar belakangnya yang pernah

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 374

3/26/10 7:26:54 PM

~ ~

bengal semasa sekolah—sekadar sibuk berurusan dengan Japto Soerjosoemarno1
yang mulai merajai night club di Jakarta.
Maka, Unas membuat pekan diskusi yang mengundang Hariman, Cosmas
Batubara, dan Rahman Tolleng. Tetapi yang terakhir disebut ini tidak datang karena

kami lupa mengonfrmasi kesediaannya tapi telanjur mengumumkan. Tema diskusi

adalah ‘Peran Politik Generasi Muda’. Dan ini sekaligus menjadi penampilan pertama
Hariman setelah gerakan 1978 dipukul Soeharto. Sambutan teman­teman mahasiswa
luar biasa. Unas ramai sekali karena juga dihadiri oleh teman­teman dari kampus lain.
Hariman sendiri membawa serta 30 orang temannya.
Kala itu, Unas seperti oase bagi aktivis di Jakarta. Teman­teman dari Bogor,
Bandung, Yogyakarta, Lampung, Solo, termasuk Universitas Indonesia kerap datang
pada diskusi­diskusi yang kami selenggarakan di Kampus Pejaten, Jakarta Selatan.
Ada Satrio Arismunandar dari FTUI, Kelompok Studi Proklamasi yang dikoordinasi

Denny J.A., Kelompok Studi Teknologi yang dikelola Taufk Razen dan Hamid

Dipopramono, Bambang Beathor Suryadi dari Universitas Pancasila, lalu Pramono
Anung dan Syahganda Nainggolan (Satuan Tugas Forum Komunikasi Himpunan dan
Jurusan ITB). Ciri gerakan 1980­an ditandai dengan munculnya kelompok­kelompok
diskusi. Selain yang dibentuk Denny J.A., di Bandung muncul kelompok diskusi
yang dikelola Dedi Triawan di ITB, Helmi Fauzi di Unpad, atau yang di luar kampus
seperti digagas mahasiswa Unpad, Hari Wibowo, dengan nama Kelompok Studi
Pojok Dago. Unas sendiri muncul dengan pers mahasiswa intra­kampus. Seluruhnya
berkomunikasi agar jaringan antar­aktivis mahasiswa kian kuat.
Puncak dari jaringan ini, menurut saya, ditandai dengan kedatangan Andreas
Harsono, aktivis Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga, Jawa Tengah,
ke ‘Rumah Kandang Sapi’, di Jalan Siaga, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, tempat
indekos saya bersama dua mahasiswa Unas lain: Imron Zein Rolas, Lolo Parulian
Panggabean, dan Nurdin Fadli. Belakangan hari, tempat indekos ini kami jadikan
Sekretariat Depot Kreasi Jakarta Forum. Kedatangan Andreas Harsono ialah meminta
Unas dan teman­teman di Jakarta membantu advokasi petani­petani di Surakarta yang
menjadi korban pembangunan waduk Kedung Ombo. Tak lama, terbentuklah Komite
Solidaritas Korban Pembangunan Kedung Ombo (KSKPKO) yang melibatkan
mahasiswa Salatiga, Yogyakarta, Solo, Jakarta, dan Bandung. Bersama­sama, kami
menggelar aksi serentak di tiga titik berbeda.
Sekali lagi, saya bertemu Hariman untuk keperluan ini. Spontan ia mengirimkan
obat­obatan dan berbagai vitamin. Bagi saya, bantuan itu biasa saja. Yang tidak
biasa adalah perkataan Hariman kala itu hingga membuat saya seperti tersentak
dari ketidaksadaran. Katanya, ‘Sekarang kalian sudah masuk wilayah politik, bukan
semata gerakan moral.’

Dari awal, karena niatnya memang membuat duduk Soeharto tidak nyaman,
kami menyadari risikonya. Mendengar pernyataan bahwa kami sudah berpolitik,

1

Japto S.Soerjosoemarno,KetuaUmumDPPPemudaPancasilasejak1980.
S. Soerjosoemarno, Ketua Umum DPP Pemuda Pancasila sejak 1980.

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 375

3/26/10 7:26:54 PM

~ ~

Hariman & Malari

tetap saja telinga jadi gatal­gatal. Kami merasa tetap sebagai gerakan moral. Tapi,
ada rasa gengsi juga untuk kaget, makanya saya bilang, ‘Memangnya kenapa, Bang?
Namanya melawan Soeharto, ya, harus dengan cara­cara politik.’
‘Mir, kalau sudah berpolitik, lu enggak bisa sekadar mengandalkan hati
nurani. Ada rasionalitas juga,’ tutur Hariman. Ia meminta saya bersiap menerima
kekalahan­kekalahan dan mulai berpikir tentang strategi dan taktik, termasuk
bagaimana menjadikan kekalahan sebagai modal membangun gerakan perlawanan
lebih besar lagi. Saya merekam perkataannya dalam ingatan sampai sekarang. Ketika
Soeharto tetap meresmikan Kedung Ombo dan air waduk masuk ke rumah­rumah
yang bertahan, saya jadi tahu arti ‘rasional’ yang dimaksud Hariman.2
Bulan Mei 1988, kawan­kawan di Yogyakarta—Bonar Tigor Naipospos,
Bambang Subono, dan Bambang Isti Nugroho—ditangkap, lalu dipenjara karena
dianggap menyebarkan ajaran komunisme marxisme/leninisme. Mereka sebetulnya
hanya mengedarkan buku roman karangan Pramoedya Ananta Toer. Tapi, Orde Baru
menganggap tindakan mereka berbahaya. Selama mendampingi Coki (panggilan
akrab Bonar Tigor), saya tinggal sementara di Yogyakarta. Komunikasi dengan
Hariman rutin dilakukan melalui Nuku Soleiman (almarhum) yang kemudian
dipenjara Soeharto karena stiker SDSB (Soeharto Dalang Segala Bencana).
Bila dihitung, meski telah berkenalan dan berkomunikasi dengan Hariman
selama lebih dari 20 tahun, intensitas perjumpaan—hampir setiap hari—terjalin
sejak 10 tahun terakhir. Pada masa pemerintah Habibie, saya dan Hariman malah
sempat ‘berseberangan’. Saya terang merasa kecewa ketika Hariman berada dalam
pemerintahan B.J. Habibie. ‘Ngapain Abang jadi anggota MPR segala?’
‘Gue cuma bantu Habibie, Mir. Dia teman gue.’
‘Teman apa? Sejak kapan jadi teman Habibie?’ Setahu saya, Hariman hanya
berteman dengan Fanny Habibie. Jadi, saya kira kala ituHariman tengah miring­
miring ke kekuasaan.

Hariman hanya diam tak menjawab pertanyaan saya itu. Tapi beberapa waktu
setelah itu, saya merasa betapa lugunya saya. Saya tak melihat Hariman sebagai
orang politik yang tengah mengambil ruang politik. Belakangan saya mendengar,
sikap saya kala itu sama seperti sikap Profesor Sarbini, mertuanya. Sarbini pun konon
marah mengetahui Hariman terlibat dalam pemerintah Habibie. Tapi, sesungguhnya,
Hariman tengah memanfaatkan celah pada ruang politik. Dengan demikian, saya
merasa, juga Prof. Sarbini, naif.
Pada fase ini, Hariman sepenuhnya sadar dengan risiko yang ia hadapi.
Banyak orang menuduh, bahkan mencela, ia tengah haus kekuasaan. Ada orang

2

Soeharto tetap memerintahkan pembangunan waduk dan pengairan terus berjalan, sehingga awal 1989 air mulai
menggenang. Saat itu masih ada 75 keluarga yang bertahan dan terpaksa lari ke tempat yang lebih tinggi. (Tempo, 27 April
1 1 – Mereka yang Bertahan di Kedungombo). Emha Ainun Nadjib membuat lirik yang dinyanyikan Franky Sahilatua
berjudul “Merah Putih dan Reruntuhan” (Album Perahu Retak, 1995): “Bendungan pembangunan namanya/ kami diusir
tanpa ditanya/ nasib kami ternyata milik mereka/ sehingga sudah ditentukan harga jualnya/ ke atap-atap perbukitan/ kami
mengungsi dan bertahan/ kami minum air hujan/ menanak bebatuan//”

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 376

3/26/10 7:26:55 PM

~ ~

yang menganggap dia oportunis. Dan Hariman diam saja terhadap tudingan itu.
Tapi, akhirnya saya memahami bahwa dia memberi manfaat positif. Betapapun,
sedikit banyak dengan keterlibatannya di inner circle Habibie, beberapa keputusan
pemerintah keluar, seperti pembebasan tahanan politik, kebebasan pers, juga tentang
Dwifungsi TNI, dan yang lebih penting ialah retooling orang­orang Soeharto oleh
Habibie di kabinet dan DPR. Ini sekaligus menjaga keseimbangan politik dalam
arti mengimbangi desakan kuat orang­orang ICMI yang meminta ‘jatah’ kekuasaan.
Keberadaan Hariman mengganjal ambisi ICMI ini. Islam­TNI­sisa Orba tik tak
bersama kekuatan reformasi. Dia setiap pagi diundang Habibie untuk sarapan dan
memberikan beberapa saran politik, termasuk paket Undang­Undang Politik tahun
1985 yang menjadi isu gerakan reformasi.
Mengapa dia sadar betul tentang risiko itu? Karena, terbukti, di satu sisi, dia
dianggap orang Habibie, namun ia tetap membantu gerakan anti­Habibie. Termasuk
anak­anak UI yang ingin mendemo Habibie.
‘Ini hitung­hitung premi asuransilah,’ candanya ketika membantu

mahasiswa.

Kami tak sehaluan tapi tetap saling memahami. Terbukti ketika ada teman yang
melapor ‘Amir ini anti­Habibie, Bang’, Hariman hanya menjawab, ‘Ah, sudahlah,
kau tahu apa.’

Memasuki usia 60 tahun, melewati berbagai fase politik sejak Orde Baru
hingga reformasi, pastilah membuat Hariman menjadi semakin matang melihat kondisi
Indonesia. Ia, misalnya, pernah mengalami pasang­surut kehidupan di republik ini—
bahkan pernah mengenyam yang namanya berada di ring kekuasaan. Ia tidak serta­
merta merasa frustrasi dengan keadaan sekarang yang sungguh membingungkan.
Kondisi sekarang, ketika demokrasi sebatas prosedural dan tidak menyentuh
substansi yang diamanatkan oleh reformasi, cenderung membuat orang frustrasi.
Hariman tidak. Ia tidak bertingkah seperti penguasa sekarang yang infantil, kekanak­
kanakan, bahkan ketika infantilisme itu sah saja dialami Hariman. Kita tahu, dalam

psikodinamika, kondisi psikologi orang kerap ditentukan oleh fksasi yang pernah ia

alami. Ketika seseorang menghadapi kesulitan atau kecemasan, mekanisme regresi
muncul, yang pada mulanya laten. Tapi, infantilisme laten itu sebatas termanifestasi
dalam guyon saja di antara kami: ketika keinginan­keinginan dari gagasannya tak
dijalankan oleh kami, ia ngambek. Bagi kami di Jalan Lautze, itu lebih terasa sebagai
keakraban ketimbang betulan ngambek.
Karenanya, saya bisa pastikan: ia satu dari sangat—harus ditegaskan sangat—
sedikit orang yang memahami betul kondisi kejiwaan bangsa Indonesia. Ia harus
didengar. Pada titik ini, saya—seperti pada awal 1980an—merasa tidak keliru ketika
membukakan ruang untuk Hariman berbicara. Dan bisa saya pastikan juga: suaranya
sangat keras.”
e

Mereka Bicara Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 377

3/26/10 7:26:55 PM

~ ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 378

3/26/10 7:26:56 PM

~ ~

Senarai Pemikiran

Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 379

3/26/10 7:26:58 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 380

3/26/10 7:26:58 PM

~ ~

i dalam kerangka acuan pertemuan ini, sub-

tema “Peranan Pemuda Mahasiswa” dikelompokkan
ke dalam tema “Harapan dan Peningkatan Partisipasi

Masyarakat”. Bahwa sebagai bagian dari anggota ma-
syarakat, pemuda dan mahasiswa diharapkan mening-
katkan partisipasi: turut berperan “memperbaiki ke-

adaan”. Ini istilah panitia.
Harapan itu bertolak dari pemahaman kesejarahan. Jika di masa lalu—seperti

terungkap dari banyak studi, antara lain yang dilakukan oleh Ben Anderson, Taufk

Abdullah, dan John Ingleson1

—pemuda dan mahasiswa dapat melaksanakan peranan
turut memperbaiki keadaan, pertanyaannya adalah mungkinkah peranannya yang
sama dapat mereka lakukan kembali di masa kini. Tampaknya jawaban atas pertanyaan
inilah yang diinginkan panitia di dalam sesi ini.

Dengan merujuk pada pengalaman yang terjadi pada tahun 1970-an dan 1980-
1990-an barangkali, panitia meminta kita semua yang hadir dalam kesempatan ini untuk

mengenali seberapa besar peluang dan tantangan guna mewujudkan kemungkinan
yang diinginkan panitia itu. Saya diminta panitia untuk khusus membahas periode
1974, yang ditandai dengan apa yang disebut sebagai Peristiwa Malari. Tapi, sebelum
saya tiba pada peristiwa 21 tahun lalu itu, dari sudut pandang saya sebagai mantan

Ketua Umum Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM-UI), 1973-1974, mung-

1

Lihat antara lain, B.R.O.G. Anderson, Java in a Time of Revolution (Ithaca: Cornell University, 1972). John Ingleson, Jalan

ke Pengasingan, terjemahan Zamakhsyari Dhofer (Jakarta: LP3ES, 1981). Juga, Taufk Abdullah, Schools and Politics: The

Kaum Muda Movement in West Sumatera 1927­1933 (Ithaca: Cornell University Monograph Series, 1971).

Gerakan Pemuda

Mahasiswa 1970-an

D

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 381

3/26/10 7:26:59 PM

~ ~

Hariman & Malari

kin ada baiknya apabila kita melihat terlebih dahulu rangkaian peristiwa yang terjadi
sebelumnya.

*****
Sebagai jawaban terhadap kebangkrutan ekonomi orde sebelumnya, orde

pasca-1965 menganut politik pembangunan yang mengutamakan strategi pertumbuhan

ekonomi. Dalam pelaksanaannya, strategi ini membutuhkan injeksi modal yang besar

untuk investasi, yang sulit dipenuhi dari dalam negeri. Karenanya, terbitlah UU No.

1/1967 tentang Penanaman Modal Asing (PMA).
PMA bersedia masuk jika ada jaminan stabilitas politik. Maka dilakukanlah
stabilisasi bidang politik, antara lain mengintegrasikan struktur komando ABRI, agar

tidak terjadi lagi persaingan antar-angkatan; menciptakan monoloyalitas pegawai

negeri sipil melalui Korpri (Permendagri No. 12/1969 dan PP No. 6/1970), sehingga

birokrasi sipil tidak menjadi ajang perebutan pengaruh partai-politik lagi. Kemudian,
atas nama konsensus nasional, dibakukan dalan UU No. 16/1969, diadakan sistem

pengangkatan (pembagian jatah kursi) bagi ABRI di DPR/MPR, guna mengimbangi
peran politisi sipil.

Dalam suasana keberhasilan berbagai upaya konsolidasi seperti itulah, yang
sesungguhnya merupakan upaya sistematis menuju sentralisasi kekuasaan, Rencana
Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I dilaksanakan. Teknokrat (Badan Perencanaan

Pembangunan Nasional, Bappenas) menyusun rencana; birokrasi sipil bertugas melak-

sanakan rencana yang disetujui presiden.

Dalam tempo relatif singkat, dilihat dari sudut ekonomi makro, memang ter-
lihat prestasi yang mengesankan. Infasi dapat ditekan, situasi moneter terkendali, dan
laju pertumbuhan ekonomi meninggi. Namun semua itu, menurut sejumlah penga-

mat, harus dibayar oleh masyarakat kecil karena kehidupan mereka menjadi lebih
berat2

. Ini terjadi, selain karena aspek pemerataan kurang mendapat perhatian, juga

akibat adanya arogansi sektoral yang menimbulkan ketimpangan antar-sektor dalam

pembangunan.

Yang paling terpukul adalah sektor pertanian. Kendati di dalam Garis-Garis

Besar Haluan Negara dan buku Repelita telah digariskan sektor pertanian menjadi

tulang-punggung sektor industri, kebijaksanaan pembangunan di sektor ini terkesan

sekenanya. Atas nama revolusi hijau, petani diharuskan menggunakan sarana produksi
modern yang mahal (misalnya traktor dan pupuk). Tapi, mekanisasi pertanian ini tidak
disertai perbaikan tingkat harga dan pola distribusi hasil produksi3

. Akibatnya, tidak
sedikit petani yang terpaksa menjual tanahnya. Status mereka kemudian berubah
menjadi buruh tani di bekas tanah mereka4

. Banyak pula di antara mereka yang

akhirnya melakukan urbanisasi ke kota, menjadi pekerja kasar.

2

Antara lain, Donald Hindley, Indonesia 1970, Asian Survey, Februari, 1971, hal. 115. Juga, Ingrid Palmer,
The Indonesian Economy Since 1965, Londres, 1978, hal. 196.

3

Gary Hansen, Indonesia Green Revolution, Asian Survey, Nopember 1972, hal. 932­946. Juga, R.S. Sinaga, Implications
of Agricultural Mechanization for Employment, dalam bulletin of Indonesian Economic Studies, No.2, Juli 1978.

4

Masri Singarimbun dan D.H. Penny (eds.), Penduduk dan Kemiskinan (Jakarta: Bharata, 1976).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 382

3/26/10 7:27:00 PM

~ ~

Di dalam sektor industri, ketimpangan bahkan terjadi lebih nyata lagi.
Banyak industri kecil dan menengah (antara lain batik dan kerajinan) yang padat
karya mati, karena perhatian lebih banyak tertuju pada pengembangan industri besar
(padat modal) demi apa yang disebut “subtitusi import”. Akibatnya, pengangguran
meningkat karena industri besar tidak bisa langsung menyerap tenaga kerja yang
berasal dari industri kecil, yang umumnya memang kurang terdidik. Muncul pula

ekses lain: merajalelanya korupsi (antara lain di Pertamina, Badan Urusan Logistik,

dan PT Berdikari

) serta misalokasi keuangan negara, seperti dalam proyek Taman

Mini Indonesia Indah (TMII).

*****
Menyaksikan dan mendengar berbagai permasalahan tersebut menggugah

saya dan mahasiswa lain, yang kurang memiliki latar belakang ilmu-ilmu sosial tapi

dapat merasakan apa yang sedang terjadi saat itu. Karenanya, saya dapat memahami
jika kemudian banyak reaksi yang muncul dari kalangan pemuda dan mahasiswa
ketika itu: ada aksi Mahasiswa Menggugat, Aksi Pelajar 70 , Komite Anti Korupsi,
Bandung Bergerak, Komite Anti Kelaparan, Anti TMII, dan sebagainya

. Asi-aksi

semacam ini lebih didorong oleh keprihatinan yang mendalam atas rasa keadilan
dan keberpihakan kepada rakyat banyak. Inilah salah satu yang membedakannya

dengan gerakan-gerakan mahasiswa 1965-1966, yang lebih berdasarkan perasaan

antikomunis dan Soekarno.

Boleh dikata, waktu itu, hampir tiada hari tanpa aksi. Hanya saja, yang menjadi

tanda-tanda di benak saya: mengapa efek dari berbagai aksi itu tidak pernah meluas.
Setelah mendiskusikan hal itu dengan teman-teman, kami tiba pada kesimpulan:

penyebabnya adalah, selain tidak adanya isu sentral yang konkret seperti Tritura,
juga tidak ada lembaga yang mampu mempersatukan berbagai potensi aksi setelah

bubarnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Karenanya, saya dan teman-

teman berpikir bagaimana memenuhi hal ini.

Setelah saya terpilih menjadi Ketua Umum DM-UI pada Agustus 1973, kami
memutuskan menjadikan DM-UI sebagai lembaga sentral untuk mempersatukan

semua potensi aksi yang ada di masyarakat. Saya berusaha memperkuatnya. Susunan

pengurus harian DM-UI, saya isi dengan mahasiswa UI yang juga merangkap men-
jadi aktivis dari berbagai organisasi ekstra (Himpunan Mahasiswa Islam, Gerakan

Mahasiswa Nasional Indonesia, Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia,

Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) sehingga DM-UI memiliki akses ke mereka.
Setelah itu dijalin kontak-kontak dengan berbagai pihak, baik ke sesama
dewan-dewan mahasiswa dari perguruan-perguruan tinggi lain maupun ke unsur-unsur
non-kampus, terutama dengan kalangan buruh dan kelompok-kelompok marginal

perkotaan lainnya. Banyak informasi yang berisi keluhan mengenai berbagai masalah

kemasyarakatan yang diterima DM-UI dari mereka.

5

Lihat, Harold Crouch, Militer dan politik di Indonesia, Terj. Th. Sumarthana (Jakarta: Sinar Harapan, 1986),
hal. 329, 354, 385.

6

Francois Raillon, Ideologi dan Politik Mahasiswa Indonesia, Terj. Nasir Tamara (Jakarta: LP3ES, 1988), hal. 80.

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 383

3/26/10 7:27:00 PM

~ ~

Hariman & Malari

Sosialisasi gagasan mengenai perlunya mempersoalkan strategi pertumbuhan
ekonomi yang bergantung pada modal asing dan melupakan aspek pemerataan
mendapat sambutan yang baik. Banyak mantan aktivis 1966, entah karena kesadaran

(umpamanya barisan Golongan Putih, Golput) atau hanya didorong rasa kecewa
karena tidak mendapat jatah dalam refreshing DPR-Gotong Royong (1967) atau yang
mendapat jatah tapi kemudian tersingkir ketika ada refreshing lagi pada tahun 1968.
Saat J.P. Pronk, Menteri Kerja Sama Bantuan Belanda yang merangkap Ketua

Intergovernmental Group on Indonesia (IGGI), tiba di Jakarta (11 November 1973)

langsung disambut demonstrasi oleh mahasiswa Jakarta. Adapun delegasi mahasiswa

Institut Teknologi Bandung mendatangi Bappenas dan mahasiswa Universitas

Padjadjaran serta Parahyangan berdemonstrasi di muka Kedutaan Besar Jepang. Ini
adalah awal dari aksi yang menyeluruh. Kemudian, 30 Nopember 1973, dilangsungkan

diskusi “Untung-Rugi Modal Asing” di Jakarta. Dalam kesempatan ini, sejumlah

intelektual (mantan Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) mulai bergabung. Mereka—

antara lain Adnan Buyung Nasution, Yap Thiam Hien, dan Mochtar Lubis—ikut

menandatangani sebuah manifesto, yang intinya “ingin mengembalikan kebanggaan
nasional yang sebagian telah dinodai oleh segelintir orang.”
Suasana semakin menghangat. Menyambut Tahun Baru 1974, 31 Desember

1973, diadakan malam tirakatan di Kampus UI Salemba. Selain wakil-wakil DM se-

Indonesia, hadir pula wakil buruh, tani dan tukang becak, serta para mantan aktivis
1966.7

Kegiatan ini memperoleh liputan yang luas dari media-media, mengalahkan

pemberitaan pidato tahunan presiden di DPR dalam menyambut awal Tahun Baru.
*****
Sementara itu, Asisten Presiden (Aspri) yang paling langsung diserang para
mahasiswa mulai merancang serangan balik. Mereka mulai mencoba memanipulasi

keresahan di kampus-kampus untuk kepentingan mereka. Ali Moertopo berhasil
melakukan kooptasi 10 fungsionaris anggota DM-UI dan menyuruh mengajukan
mosi tidak percaya terhadap saya selaku Ketua Umum DM-UI dengan tuduhan saya
telah menghianati cita-cita Oktober 1965 yang mengacu pada strategi partnership
mahasiswa-ABRI dan dimanfaatkan oleh partai-partai politik. Intrik Ali Moertopo ini
berhasil dipatahkan ketika DM-UI bersidang. Meski ada ancaman terselubung dari
pihak Aspri, tetap diputuskan untuk mengusir para pengaju mosi itu dari DM-UI.

Pada 11 Januari 1974, Presiden Soeharto mengajak mahasiswa berdialog.

Saya hadir bersama 34 DM perguruan tinggi se-Jawa. Dalam kesempatan ini,

kami menyampaikan Petisi 24 Oktober 1973, yang isinya, pertama, mengingatkan
kepada pemerintah, militer, intelektual, teknokrat, dan politisi agar meninjau kembali
strategi pembangunan, Sehingga di dalamnya terdapat keseimbangan bidang sosial,
politik, dan ekonomi yang antikemiskinan, kebobrokan, dan ketidakadilan; kedua,
meminta agar rakyat segera dibebaskan dari tekanan ketidakpastian dan pemerkosaan
hukum, merajalelanya korupsi dan penyelewengan kekuasaan, kenaikan harga,

7

Lihat, Hariman Siregar, Hatinurani Seorang Demonstran (Jakarta: Mantika,1994)

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 384

3/26/10 7:27:01 PM

~ ~

dan pengangguran; ketiga, lembaga penyalur pendapat masyarakat harus kuat dan
berfungsi serta masyarakat harus mendapatkan kesempatan yang seluas-luasnya

untuk berpendapat dan berbeda pendapat.

Pada pertemuan itu, beberapa wakil DM mahasiswa sempat memaki-maki
Presiden Soeharto dan mengecam habis para Aspri, yang bertindak melebihi pejabat-
pejabat resmi dan memperkaya diri secara tidak sah. Teman-teman kemudian mendesak
agar perjuangan terus dilanjutkan. Mereka meminta DM perguruan tinggi se-Jawa

membuat pernyataan politik menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakue
Tanaka.

Pada 12 Januari 1974, mahasiswa kembali melanjutkan demonstrasi anti-
dominasi ekonomi Jepang sekaligus anti-Aspri. Di Jakarta dan Bandung, boneka-

boneka yang menggambarkan diri Sudjono Hoemardhani dan Perdana Menteri
Jepang Kakue Tanaka dibakar.
Malam tanggal 14 Januari 1974, Perdana Menteri Tanaka datang ke Indonesia.

Jalan menuju Pelabuhan Udara Halim Perdana Kusuma diblokir mahasiswa. Menteri-

menteri yang datang untuk menjemput pun tidak diberi jalan, kecuali Menteri
Koordinator Kesejahteraan Rakyat Surono. Sementara itu, utusan DM perguruan

tinggi se-Jawa mengadakan rapat di UI untuk membahas undangan dialog dengan

Perdana Menteri Tanaka di istana (15 Januari 1974) dan memperbincangkan statemen
Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI M. Panggabean yang menyatakan
bahwa gerakan mahasiswa menjurus makar.

Apel pun direncanakan di Lapangan Monas, kemudian dialihkan ke Universitas
Trisakti (Grogol, Jakarta Barat). Massa yang semula hanya sekitar 200 orang mem-
bengkak menjadi 2.000-an orang. Setelah acara di Trisakti usai, apel bubar. Tapi,

saat itu, di tempat lain ternyata massa bergolak. Perusakan dan pembakaran terjadi

di mana-mana.

*****

Itulah catatan singkat gerakan pemuda mahasiswa pada tahun 1970-an. Tampak
sepanjang periode 1970-1974 selalu muncul kegiatan aksi pemuda dan mahasiswa
sebagai wujud peran-serta mereka untuk “memperbaiki keadaan” ketika itu. Ini
terbukti dari ruang lingkup isu yang disuarakan, mulai dari soal korupsi, kesewenang-
wenangan dalam penyelenggaraan pemilihan umum (Golput), sampai pemborosan
keuangan negara. Dengan berhasil dijadikannya DM-UI sebagai lembaga sentral

yang dapat mempersatukan kekuatan berbagai potensi aksi, isu yang dipersoalkan
pun semakin meluas ke masalah modal asing dan strategi pembangunan.
Di situlah letak strategisnya aksi atau gerakan pemuda dan mahasiswa dibanding
gerakan kaum buruh dan tani. Perjuangan mereka yang disebut belakangan umumnya
lebih tertuju kepada kepentingan mereka sendiri. Bagi kaum buruh, misalnya, isu
gerakan mereka biasanya seputar kebebasan berserikat, jaminan keamanan dan

keselamatan kerja, serta tuntutan kenaikan upah. Isu gerakan kaum tani selalu ber-

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 385

3/26/10 7:27:01 PM

~ ~

Hariman & Malari

kisar soal lahan (tanah), alat-alat produksi, dan tuntutan kenaikan harga hasil tani.
Akan halnya isu gerakan pemuda dan mahasiswa jauh lebih luas, bersifat lintas sek-
toral, karena umumnya tertuju pada upaya-upaya mengangkat masalah-masalah

publik, dengan maksud agar semua orang mengetahuinya serta turut memikirkan dan
menyelesaikannya.

Apa yang kami persoalkan pada tahun 1974 juga dalam kerangka itu. Sebab, dari
hasil serangkaian diskusi dengan para pakar ketika itu, kami sudah mengantisipasi, jika
strategi pembangunan seperti itu terus dilanjutkan, niscaya akan membawa sejumlah
akibat yang serius, seperti yang telah kita saksikan dewasa ini, yakni, pertama, hanya

segelintir orang yang dapat menikmati hasil pembangunan. Mereka paling-paling

terdiri dari elite militer, elite birokrasi sipil, para pengusaha yang berkolusi dengan
mereka, dan para komparador asingnya. Akibatnya, ketimpangan sosial semakin
menajam, yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan.

Kedua, atas nama stabilitas, represi politik di dalam negeri meningkat, hak-hak
sipil dan politik warga negara terabaikan. Tindakan-tindakan exclusionary politic8

—yang

secara sistematis merezimentasi organisasi sosial-politik, organisasi massa, pers, lembaga

kemahasiswaan—terus ilaksanakan. Akibatnya, semakin sulit bagi rakyat kebanyakan

untuk secara politik memperjuangkan hak-hak sahnya, termasuk hak-hak ekonomi.
Ketiga, ketergantungan pada pihak asing semakin meningkat. Negara-ne-
gara donor dan lembaga-lembaga keuangan internasional dapat dengan mudah

memaksakan kehendaknya, seperti terlihat dalam tender proyek telekomunikasi dan
beberapa paket deregulasi yang disodorkan Bank Dunia.

Keadaan tersebut tentu, tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Pemuda dan maha-

siswa sekarang seyogianya berusaha mengubahnya. Paradigma gerakan pemuda dan
mahasiswa adalah bertindak sebagai agen perubahan yang mampu mengagregasi

sekaligus mengartikulasi kepentingan publik di tengah-tengah tidak berfungsinya
lembaga-lembaga publik akibat rezimentasi politik, seperti terjadi sekarang ini.

Tapi, sebelum masuk ke soal teknis bagaimana mengubahnya, seberapa besar
peluang dan tantangan untuk mengubah keadaan itu? Sebaiknya kita diskusikan saja

nanti. Yang jelas, dari peristiwa yang terjadi pada tahun 1974 ada beberapa hal yang

dapat dijadikan acuan, yakni pemuda dan mahasiswa memang mampu menciptakan

isu yang memimpin untuk melakukan perubahan; perlu adanya lembaga sentral guna
mempersatukan berbagai potensi aksi yang ada; untuk sampai ke suatu gerakan
yang menyeluruh diperlukan waktu yang cukup panjang dan terus-menerus, serta;
dukungan media-massa sangat diperlukan. e

(Tulisan ini merupakan makalah pengantar diskusi dalam pertemuan
“Mengembangkan Wawasan Ke-2” yang diselenggarakan mahasiswa Indonesia
di Kanada dan Amerika Serikat, bertempat di Madison-Wisconsin, Amerika
Serikat, 4 Juni 1995.)

8

Untuk perbandingan dalam kasus semacam ini, antaralain lihat, Alfred Stephan, State and Society: Peru in Comparative
Perspective (Barkeley: University of California Press, 1978).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 386

3/26/10 7:27:02 PM

~ ~

elakangan isu “arus bawah” memang telah

menjadi wacana publik yang menarik. Berbagai pe-

ristiwa politik, seperti dinyatakan di dalam acuan

seminar ini (Demonstrasi SDSB; dukungan Megawati

dalam Kongres Luar Biasa dan Musywarah Nasional

Partai Demokrasi Indonesia; Pemilihan Gubernur

Kalimantan Tengah, dan proses pemilihan Bupati Deli

Serdang di Sumatra Utara) dianggap sebagai fenomena menguatnya arus bawah

dalam perpolitikan nasioanal. Setidaknya, inilah pertanda bahwa proses terbentuknya
people power sedang berlangsung di Indonesia.
Sejumlah pengamat, antara lain Arief Budiman (Editor, 7 Januari 1994),
mengaitkan munculnya arus bawah itu dengan friksi yang terjadi di arus atas—
khususnya karena adanya jarak antara sebagian ABRI dan penguasa. Menurut Arief,

“Tidak bisa arus bawah tiba-tiba muncul begitu saja tanpa ada kaitannya dengan arus

yang di atas.” Dengan kata lain, Arief melihat bahwa arus bawah sesungguhnya tak
lebih dari sekadar fungsi dari arus atas. Kalau logika berpikir ini diteruskan, apa yang
dimaksud Arief sebagai arus atas adalah arus penguasa. Akan halnya arus bawah
adalah arus massa.

Sepintas, pendekatan dikotomistis seperti itu tampak meyakinkan. Tapi,
soalnya menjadi lain manakala hakikat dasar keberadaannya (ontologi) digugat:
siapakah yang disebut massa, pemilik arus bawah itu. Apakah segerombolan buruh

yang berdemonstrasi mendukung Probosutedjo di dalam pemilihan Ketua Umum

Kamar Dagang dan Industri di Ancol tempo hari dapat disebut arus bawah? Begitu

Idealisme Arus Bawah

di Indonesia

B

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 387

3/26/10 7:27:03 PM

~ ~

Hariman & Malari

pula dengan beberapa demonstrasi yang diorganisasi oleh Komite Nasional Pemuda

Indonesia-Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia di Dili (Timor Timur) beberapa
tahun yang lalu, dalam menyambut kedatangan utusan-utusan Perserikatan Bangsa-
Bangsa atau beberapa peninjau dari lembaga-lembaga internasional lainnya, benar-

benar mencerminkan arus bawah? Dugaan saya: tidak.

Pendekatan seperti itu bukan hanya terlalu menyederhanakan persoalan (sim-
plistis), juga dapat menyesatkan. Untuk dapat mengidentifkasi siapa massa yang
disebut-sebut sebagai pemilik arus bawah jelas tidaklah semudah mengidentifkasi
arus atas yang terjadi di lingkaran elite penguasa. Akibatnya, muncul macam-macam

dugaan sekaligus prasangka: siapakah mereka, murnikah perjuangan mereka, dan
seterusnya. Dalam hubungan ini, saya dapat memahami dengan baik kebingungan
seorang Moerdiono dan Sudomo dalam menanggapi isu ini. Sebab, semua isu yang

berkaitan (atau dikait-kaitkan) dengan massa--termasuk isu arus bawah—pada

dasarnya selalu bersifat anomie, yang memungkinkan pembicaaan tentang isu itu diarik

ke sana- kemari, ke kiri dan ke kanan, tergantung pada siapa yang membicarakannya

dan untuk kepentingan apa dia membicarakan isu tersebut.
Karenanya, saya cenderung melihat arus bawah sebagai konsep yang berdiri
sendiri (tidak terikat pada kategori sosial tertentu), yakni arus pemikiran yang tidak
sejalan atau sepaham dengan mainstream pemikiran yang ada. Arus pemikiran seperti

ini dapat muncul di mana saja, baik dikalangan massa-rakyat, di dalam kelompok-

kelompok massa tertentu, maupun di lingkaran para elite strategis (pengusaha,

kelompok-kelompok profesi), dan elite penguasa.
Di lihat dari perspektif itu, idelisme arus bawah (yang Saudara-Saudara

minta saya bahas dalam diskusi hari ini) sesungguhnya tidak lain adalah: pemikiran
yang mengacu pada keinginan terciptanya ruang publik (public sphere) di kalangan
massa-rakyat yang memungkinkan berlangsungnya public discourse, yang bebas
dari intervensi dan hegemoni negara (lihat misalnya Vaclav Havel, “The Power of
Powerless
”, dalam J. Vladislav, eds., 1986:77). Dengan demikian, massa-rakyat
selaku warga negara punya akses sepenuhnya ke dalam semua kegiatan publik tan-
pa distorsi. Di dalamnya, massa-rakyat dapat terus-menerus secara merdeka me-

nyuarakan diri.

Sebagai prakondisinya setidak-tidaknya harus ada kebutuhan di tiga bidang
penting kehidupan massa-rakyat, yakni, pertama, bidang sosial politik, dengan

memulihkan kedaulatan rakyat untuk mengorganisasi diri, berserikat, berkumpul,

menyatakan pendapat baik secara lisan maupun tulisan; kedua, di bidang sosial-

ekonomi, mewujudkan keadilan sosial, dengan kebijaksanaan pembangunan yang

memihak kepada rakyat, agar rakyat bebas dari penderitaan hidup sehari-hari; ketiga,
di bidang sosial-budaya, menghindari terjadinya penyeragaman nilai-nilai melalui

strategi mobilisasi budaya tertentu, dan ekspresi serta potensi kreatif kalangan
budayawan tak disumbat, sehingga kemandulan budaya dan kegersangan kehidupan
tidak terjadi.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 388

3/26/10 7:27:03 PM

~ ~

Jika itu terjadi, kita boleh berharap, kemunculan arus bawah dalam proses

perpolitikan di Indonesia akan membawa akibat-akibat yang menentukan. Kalau

tidak, ya, selamanya hanya akan menjadi bahan diskusi seperti ini. e

(Tulisan ini merupakan makalah yang disampaikan pada “Seminar
Fenomena Menguatnya Arus Bawah dalam Dinamika Politik Nasional”, yang
diselenggarakan PP-PMKRI, Jakarta, 23 Februari 1994.)

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 389

3/26/10 7:27:04 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

ersoalan pokok yang diajukan di dalam
term of reference (TOR) diskusi ini adalah “untuk
memperoleh kembali kedaulatan rakyat, rakyat perlu
mengorganisasi diri”. Dalam rangka mengorganisasi
rakyat ini, peran mahasiswa menjadi penting karena
mahasiswa sebagai bagian dari komunitas intelektual
dianggap punya kemampuan lebih dibandingkan dengan
anggota masyarakat lain. Jika benar kemampuan lebih itu disadari oleh sebagian besar
mahasiswa peserta diskusi ini, bukan sekadar kesadaran dan obsesi si penulis TOR
sendiri, sesunggunya kita boleh merasa bangga bahwa masih banyak mahasiswa
Indonesia yang menyadari siapa dirinya.
Tadinya, saya sempat berprasangka: mahasiswa­mahasiwa sekarang sudah
lupa diri, sudah lupa tanggung jawab sosial dan sejarahnya. Saya pun lantas menduga­
duga apa gerangan penyebabnya. “Oh, mungkin banyak di antara mahasiswa se­
karang sudah telanjur merasa enak menikmati hasil­hasil pembangunan, terlalu
asyik menikmati berbagai fasilitas yang ada, sehingga lupa siapa dirinya dan hilang
kepekaan sosialnya.” Ternyata hari ini, di tempat ini, prasangka saya tadi keliru. Masih
ada mahasiswa yang berpikir untuk mengorganisasi rakyat, memperkuat posisi tawar­
menawar masyarakat terhadap negara, guna memperoleh kembali kedaulatan rakyat
yang diambil alih aparat negara (birokrasi negara, baik sipil maupun militer).
Pertanyaannya, mengapa kedaulatan itu sampai beralih dari rakyat (kedaulatan
rakyat) kepada aparat negara, sehingga menimbulkan kesan, di Indonesia, negaralah

Mengorganisasi Rakyat

Menentang Rezimentasi

P

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 390

3/26/10 7:27:05 PM

~ ~

yang berdaulat (kedaulatan negara), bukan rakyatnya sebagaimana diamanatkan
oleh konstitusi? Apa penyebab serta implikasinya dan seterusnya? Saya kira, ini­
lah pertanyaan yang perlu segera kita tuntaskan dulu sebelum membahas apa
dan bagaimana peran yang dapat dilakukan mahasiswa dalam mengorganisasi
masyarakat.

*****
Di dalam kepustakaan ilmu­ilmu sosial, khususnya yang berkaitan dengan
studi­studi tentang pembangunan (development studies) di Dunia Ketiga, sebetulnya
sudah sejak lama muncul perdebatan mengenai perlu­tidaknya peran serta masyarakat
dalam pembangunan. Ada sejumlah varian teoretis yang melibatkan beberapa disiplin
ilmu dalam perdebatan ini. Tapi, mengingat keterbatasan waktu dan tema diskusi kita,
saya sederhanakan saja perdebatan itu ke dalam dua kelompok pandangan. Pertama:
pandangan yang melihat keterlibatan masyarakat dalam pembangunan sebagai
mutlak perlu. Alasannya adalah tujuan pembangunan itu sendiri untuk rakyat, untuk
menyejahterakan seluruh anggota masyarakat, bangsa, dan negara. Bukan sekadar
untuk memenuhi kepentingan segelintir elite sipil dan militer yang menguasai
negara, para kolaborator lokal (konglomerat), dan komprador­komprador asingnya di
mancanegara (multi/trans national corporation).
Dengan terlibatnya secara aktif di dalam proses pembangunan, masyarakat
dapat lebih merasa memiliki sekaligus memandang hasil­hasil pembangunan sebagai
karya mereka sendiri. Prinsip­prinsip keswadayaan dan berdikari dapat dengan mudah
ditumbuhkembangkan. Dengan demikian, ketergantungan pada pihak­pihak asing
dapat dikurangi, ketahanan nasional akan menjadi semakin kukuh, dan kebanggaan
sebagai bangsa benar­benar dapat diwujudkan.
Kedua: pandangan yang melihat sebaliknya. Masyarakat tidak perlu diikut­
sertakan dalam proses pembangunan. Alasannya, karena sebagian masyarakat di Dunia
Ketiga masih miskin, bodoh, dan terbelakang, terlalu riskan untuk dilibatkan. Cukup
orang­orang tertentu atau kelompok­kelompok tertentu dari kalangan elite strategis di
dalam masyarakat saja yang terlibat. Mereka inilah yang disebut “golongan pelopor”,
yang kemudian menjelma menjadi teknokrat, birokrat sipil, birokrat militer yang
bekerja sama dengan elite penguasa memikirkan dan melaksanakan pembangunan.
Pembagian tugasnya: teknokrat membuat perencanaan, merumuskan program; elite
penguasa memutuskan program mana yang akan dilaksanakan; birokrat militer ber­
tugas mengamankan pelaksanaan keputusan dari program­program pembangunan
yang dijalankan.

Sekalipun tujuan pembangunan dalam pandangan ini tidak jauh berbeda
dengan pandangan pertama, yakni menyejahterakan rakyat, ukuran dari apa yang
disebut “sejahtera” dalam pandangan kedua identik dengan kesejahteraan yang telah
dicapai dan dinikmati masyarakat di negara­negara Eropa Barat dan Amerika Utara.
Seolah­olah inilah simbol kemajuan masyarakat modern. Untuk menjadi modern
harus dilakukan modernisasi dan program pembangunan secara linear harus menuju

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 391

3/26/10 7:27:05 PM

~ ~

Hariman & Malari

ke arah itu.

Karena yang dianggap sebagai lokomotif modernisasi adalah pembangunan
ekonomi, pertumbuhan ekonomi perlu dipacu setinggi­tingginya. Untuk itu perlu
investasi. Investasi perlu injeksi modal yang besar. Masalahnya sekarang, dari
mana modal didapat? Dari dalam negeri tidak mungkin, rakyat kebanyakan masih
miskin. Jangankan untuk membayar pajak, guna memperbesar tabungan nasional,
untuk memenuhi kebutuhannya sehari­hari, mereka sendiri saja sulit. Satu­satunya
sumber dana yang mungkin adalah dari pihak asing. Tapi, pihak asing hanya mau
menanamkan modalnya jika ada jaminan stabilitas, agar investasinya aman dan modal
serta keuntungannya dapat kembali.
Dalam rangka menegakkan stabilitas itulah banyak penguasa di negara­
negara Dunia Ketiga terkesan bertindak all out dengan melakukan serangkaian
rezimentasi politik, seperti membatasi jumlah partai politik; merekayasa hasil pemilu;
mengambangkan massa; melakukan penelitian khusus kepada calon­calon anggota
parlemen; melarang oposisi; memberangus pers; membatasi ruang gerak lembaga
swadaya masyarakat; mentranspolitisasi kehidupan kampus, dan sebagainya. Inilah
sebetulnya pangkal tolak munculnya otoriterisme dalam pembangunan.
*****
Pelaksanaan pembangunan di Indonesia pasca­1966 lebih mendekati sudut
pandang kedua tersebut. Karenanya dapat dimengerti jika, setelah mengalami
rezimentasi politik, guna menegakkan stabilitas, rakyat seperti kehilangan
kedaulatannya. Atas nama pembangunan, hak­hak sipil dan politik rakyat seolah­olah
habis untuk dikorbankan begitu saja. Padahal, belum tentu sebagian besar rakyat
memperoleh manfaat langsung dari hasil­hasil pembangunan. Bahkan, kenyataan
menunjukkan cukup banyak di antara mereka malah teralienasi dan termarginalisasi
dalam proses pembangunan.

Kondisi itu mesti diubah. Hak­hak sipil dan politik rakyat seyogianya segera
dipulihkan. Rakyat harus kembali berdaulat. Bagaimana mewujudkannya? Saya
kira paling tidak ada dua cara yang dapat ditempuh, yakni, pertama, pihak penguasa
sendiri yang mengambil prakarsa untuk mulai melonggarkan rezimentasi politik.
Ini adalah perubahan yang paling aman, karena sistem sendiri yang mengubah
watak kekuasaannya (change within the system). Tujuannya, di samping membantu
memperkuat posisi tawar anggota­anggota masyarakat terhadap negara, juga guna
mengantisipasi tuntutan perubahan kualitatif akibat perubahan kuantitatif yang
dihasilkan oleh pembangunan itu sendiri. Meningkatnya kondisi ekonomi dan status
sosial anggota masyarakat yang diuntungkan oleh pembangunan secara kualitatif
akan diikuti munculnya berbagai kebutuhan dan tuntutan baru, baik berupa persediaan
konsumsi yang lebih bermutu maupun tersedianya sarana dan prasarana sosial
yang lebih baik. Semua ini akhirnya akan bermuara pada terciptanya aspirasi untuk
mendapatkan kebebasan dalam segala bidang kehidupan, yang sering dirumuskan
dengan istilah demokrasi.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 392

3/26/10 7:27:05 PM

~ ~

Selain itu, urgensi lain yang mendorong perlu segera dilakukannya tindakan
de­rezimentasi politik oleh penguasa adalah kenyataan bahwa sumber­sumber
pembiayaan dari pihak asing tidak bisa lagi dijadikan sumber utama pembiayaan
pembangunan lantaran semakin banyak negara lain (baik Dunia Ketiga maupun bekas
negara­negara komunis di Eropa timur) yang juga membutuhkan. Dengan demikian,
penghimpunan sumber­sumber pembiayaan dari dalam negeri, terutama melalui sektor
pajak, menjadi sangat penting. Ini berarti, peran serta masyarakat dalam pembiayaan
pembangunan semakin diharapkan. Hal ini hanya mungkin terwujud bila ada suasana
keterbukaan. Rakyat tidak merasa takut, aspirasi rakyat tidak dikekang, dan rakyat
dapat secara bebas mempersoalkan penyelewengan, ketidakadilan, sekaligus meminta
pertanggungjawaban dari pejabat yang berwewenang.
Kedua: dengan cara melakukan perubahan dari luar sistem, seperti yang
dikemukakan di dalam TOR, yakni mengorganisasi kekuatan rakyat. Di sini memang
mahasiswa dapat banyak berperan, mulai dari sekadar melakukan penanaman
kesadaran (conscientization), bertindak sebagai agregator sekaligus artikulator
kepentingan publik sampai kepada aksi­aksi yang bersifat langsung (direct action).
Akan tetapi, saya ingin segera mengingatkan sebelum para mahasiswa
berperan lebih jauh dalam mengorganisasi rakyat, ada baiknya jika mahasiswa sendiri
terlebih dulu mempersiapkan diri melawan mata rantai rezimentasi yang terjadi di
kampus, baik dalam bentuk Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi
Kemahasiswaan maupun kebijakan transpolitisasi. Inilah perjuangan pertama yang
seyogianya para mahasiswa lakukan. Apabila perjuangan ini berhasil, saya percaya
langkah­langkah perjuangan selanjutnya dapat lebih mudah dilakukan. Tidak lain
karena basis perjuangan mahasiswa adalah kampus.
Dengan membebaskan kampus dari segala macam bentuk intervensi negara,
sehingga memungkinkan seluruh civitas akademika memacu segenap potensi diri
sekaligus dapat mengembangkan kreativitasnya, niscaya perjuangan para mahasiswa
ke luar kampus dapat lebih efektif. Karenanya, sebelum para mahasiswa bercita­cita
mengembalikan kedaulatan rakyat, seyogianya mahasiswa lebih dulu mencita­citakan
kembalinya kebebasan kampus, kembalikanlah kebebasan mimbar!
e

(Tulisan ini adalah makalah yang disampaikan pada diskusi “Mahasiswa,
Negara, dan Pengorganisasian Masyarakat”, diselenggarakan oleh Faktum
Fikom Unpad, Bandung, 17 Desember 1994.)

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 393

3/26/10 7:27:06 PM

~ ~

Hariman & Malari

Catatan Belakang

1. Untuk pembahasan yang menarik sekitar masalah ini, lihat Edward Shils. 1972. “The
Intellectuals in the Political Development”, dalam John H. Kautsky. Ed. Political Change in
Underdeveloped Countries. New York: Wiley
2. Lihat: Ketentuan Pasal 1 ayat 2 UUD 1945, berikut penjelasannya.
3. Studi­studi tentang pembangunan muncul bersamaan dengan lahirnya konsep pembangunan
(development) secara luas baru dikenal pada 1960­an, ketika PBB mencanangkan apa yang disebut The
First Development Decade untuk negara­negara Dunia Ketiga (terutama di Asia dan Afrika) yang
baru lepas dari cengkeraman penjajah tahun 1945­1950. PBB memakai sekaligus memasyarakatkan
konsep pembangunan dalam rangka menggantikan konsep yang sebelumnya telah dikenal luas, yakni
modernisasi, yang dinilai bersifat etno­sentris dari negara­negara bekas penjajah (Barat), bahwa
seolah­olah satu­satunya jalan yang mesti ditempuh oleh negara­negara Dunia Ketiga untuk maju
adalah melalui jalan yang pernah ditempuh negara­negara Barat—untuk memodernisasi dirinya,
Dunia Ketiga harus meniru apa yang ada di Barat, karenanya modernisasi kerap diidentikkan dengan
westernisasi. Lihat: James H. Weaver. Ed. 1973. Modern Political Economy: Radical and Ortodox
View on Crucial Issues. Boston: Allyn & Bacon. Juga, Norman T. Uphoff dan Waren F. Ilchman. Eds.
1972. The Political Economy of Development. Berkeley dan Los Angeles: University of California.
4. Sejumlah ilmuwan kiri mengklaim sudut pandang ini sebagai temuan yang berasal dari
pengalaman empiris Cina dan Kuba dalam melaksanakan pembangunan. Lihat, misalnya, Jack Gray.
1984. “The Chinese Model”, dalam Alec Nove dan D.M. Nuti. Eds. Socialist Economics. Middlesex:
Penguin Education.

5. Inilah yang antara lain kerap disebut model teknokratis dalam pembangunan atau model elitis
dalam pembangunan. Lihat: Denis Goulet. 1975. The Crucial Choice in the Theory of Development.
New York: Althenegin.

6. Wujud paling ekstrem dari konsep modernisasi adalah erosentrisme (eurocentrism), yakni
suatu pandangan sejarah yang memutlakkan berlakunya garis sejarah sukses Eropa bagi seluruh bangsa
di dunia. Isme ini, seperti halnya modernisasi, mengandung asumsi bahwa ada tahapan­tahapan sejarah
yang berbeda antara bangsa yang satu dengan bangsa­bangsa yang lain. Dalam tahapan ini, Dunia
Ketiga dianggap sekumpulan bangsa yang berada di tahap paling awal sejarah kemanusiaan, yakni
tahapan tradisional.

7. Ada juga yang menyebut hal ini sebagai “exclusionary politics”. Lihat: Guillermo O’Donnel.
1978. Bureaucratic Authoritarian State. Berkeley: Berkeley University Press.
8. Konsep ini mengacu pada upaya untuk belajar memahami sekaligus menghayati berbagai
kontradiksi (sosial, politik, ekonomi), kemudian mengambil tindakan untuk melawan unsur­unsur
yang menindas dari realitas yang ada. Lihat: Paulo Freire. 1972. Pedagogy of the Oppresed. New
York: Continuum Books.

9. Lihat: Barbara Epstein. 1991. Political Protest & Cultural Revolution: Nonviolent Direct
Action. Berkeley: University of California Press.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 394

3/26/10 7:27:06 PM

~ ~

i dalam kepustakaan ilmu­ilmu sosial,
intelektual (inteligensia) mengacu kepada sekelompok
orang yang dalam berkomunikasi dan berekspresi
secara relatif menggunakan lebih banyak simbol dan
abstraksi dibanding anggota masyarakat lain
1

. Mereka
adalah kelompok masyarakat yang paling mampu
menginterpretasikan berbagai simbol. Karena setiap peradaban memiliki orde
simbolisnya sendiri, di dalam peradaban tradisional pun dijumpai kaum intelektual.
Itulah sebabnya, Harry J. Benda mengategorikan kaum intelektual ke dalam dua

golongan2

. Pertama: yang “tradisional” (misalnya empu, pujangga), yang mengabdi
kepada raja di dalam kerajaan­kerajaan masa lalu. Kedua: intelektual “modern”, yang
umumnya menggalami sistem pendidikan Barat (antara lain kalangan akademis dan
ilmuwan).

Salah satu ciri khas kaum intelektual adalah kesadaran kritisnya. Hal ini
disebabkan mereka cenderung terlepas dari orde sosial yang berlaku (establishment)
serta menunjukan sikap tertentu terhadapnya. Sekalipun adakalanya seorang intlektual
terlibat sepenuhnya dalam praktik, kesadaran kritis tidak ditinggalkannya.
Adalah suatu kenyataan bahwa kaum intelektual selalu menghadapi dua
dimensi, yakni yang “ideal” dan yang “real”. Umumnya, dunia ideal jauh berbeda

1

Lihat Edward Shils, The Intelellectuals and Powers (Chicago: The University of Chicago Press, 1972), hal. 16.

2

Harry J. Benda, “non­Western Intellegentsias as Political Elites,” dalam The Australian Journal
of Politics and History, Nopember 1960, hal. 205­218.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->