P. 1
Hariman Dan Malari

Hariman Dan Malari

|Views: 2,630|Likes:
Dipublikasikan oleh larashati11

More info:

Published by: larashati11 on Jan 27, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/08/2013

pdf

text

original

Sections

Q-Communicationdidirikanolehsejumlahwartawanyangsudahberpengalamandiduniajurnalistiksejaktahun2001.Secaraorganisatoris,
Q-CommunicationbernaungdibawahbenderaPTQuadratVisiKomunika,yangberdomisilidiJakarta.Q-Communicationterutamabergerak
dibidanglayanankonsultasikomunikasidanmedia,sepertiauditdanrisetkomunikasi,
publicrelations(hubunganmasyarakat);community
development,penerbitandaneventorganizer.LayanankonsultasiQ-Communicationmencakupasistensibagiinstansipemerintahdan
swastaataupuntokoh-tokohpublikuntukberkomunikasisecarabaikdanefektifdenganmasyarakatumum.

Q-Communication

GedungGajahUnitAPLt.3
Jl.Dr.Sahardjo,No.111,TebetBarat,Jakarta12810
Telp.021-83705656,Fax.021-8306568
Email:vehub@yahoo.com

Rekan-rekan sekalian,

Malam ini adalah malam yang istimewa bagi kita. Jika penutupan tahun-tahun lalu
kita hanya sekadar berpesta atau tinggal di rumah, malam ini kita merasa perlu berkumpul di
sini dan mencanangkan malam ini sebagai: “Malam Keprihatinan”. Tentu ada sebab-sebabnya.
Sebab yang paling nyata adalah tahun 1973 yang telah menimbulkan kebingungan-kebingungan
dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu perasaan kita. Tetapi yang terang
bagi kita, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, malam ini bukanlah malam pesta pora
dan peragaan kemewahan. Tetapi sebaliknya, malam ini justru merupakan kesempatan untuk
sejenak berhenti dari kesibukan kita sehari-hari dan merenungkan suasana prihatin yang kini
sedang mencekam kita dan rakyat Indonesia pada umumnya. Tetapi lebih dari itu adalah bahwa
protes kita terhadap keadaan yang tercermin dalam “Petisi 24 Oktober” ternyata menuntut
kita untuk lebih menegapkan langkah dan menjernihkan pikiran agar kehadiran kita dalam
masyarakat menjadi nyata dan berarti. Apalagi kalau kita bertekad untuk menanggung beban
sejarah. Karena sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan besar selalu diawali
oleh kibaran bendera Universitas.

Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah membebaskan
rakyat dari penderitaan hidup sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur
untuk mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang tidak menguntungkan
rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan sesama generasi muda memikirkan
masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian
rakyat untuk menyuarakan diri. Semua itu adalah beban yang tidak ringan—untuk tidak
mengatakan berat sekali. Namun pada akhirnya berat atau ringan beban itu tetap merupakan
beban kita. Sekali kita mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk
sejarah. Tetapi yang terpenting bagi kita adalah menghentikan kebisuan yang ditimbulkan oleh
himbauan kenikmatan yang dijanji-janjikan kepada kita. Dan juga kebisuan akibat feodalisme
yang mementingkan sikap nrimo, apatis dan antipartisipasi. Artinya, kita harus membebaskan
diri dari mitos-mitos yang menempatkan diri kita dalam posisi bisu dan terbelenggu. Misalnya,
mitos bahwa cinta kasih dan kemurahan hati kelompok-kelompok kecil penguasa jika mereka
berbuat baik adalah memang betul-betul dari hati yang tulus; mitos bahwa setiap ucapan dan
setiap tindakan penguasa adalah untuk kepentingan rakyat; mitos bahwa pemberontakan
terhadap nilai-nilai budaya feodal adalah berdosa untuk masyarakat.

Petikan Pidato Hariman Siregar saat acara “Malam Keprihatinan”,
31 Desember 1973.

Editor:

Amir Husin Daulay
Imran Hasibuan

Tim Penulis:

Imran Hasibuan
Airlambang
Yosef Rizal

Q-Communication

Jakarta, 2011

Hariman & Malari

Gelombang Aksi Mahasiswa
Menentang Modal Asing

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind1 1

3/26/10 6:54:47 PM

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Angin menderu lewat terali besi tingkap penjaramu.
Kau terbaring di atas lembaran-lembaran koran.
Dan rakyat di kampung yang kau bela
bersembahyang tasbih melewatkan malam.

Deru-deru hujan tiba
badai dan prahara tiba.
Semangat hidupmu adalah kali yang purba.
Selalu hadir dan mengalir.
Menghanyutkan gunung sampah ke samodra.
Dan samodra
sebagai pangkuan ibunda
selalu membasuh dosa-dosa manusia.

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Ketika tengah malam kau dibangunkan
dan dikawal ke kamar interogasi.
Wajahmu pucat tetapi matamu menyala
dan ibu-ibu di kampung yang kau bela
memasak rendang dan ketupat
untuk dikirim kepadamu.

Fajar akan muncul
menembus kabut yang menyelimuti pulau-pulau.
Matahari adalah kenyataan yang tak bisa dikhianati.
Engkau adalah putera matahari
kerna engkau melindungi kehidupan.

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Ketika di tengah panas terik siang hari
kau hadapi pengadilan yang sumpeg
dan jaksa menuntutmu
dengan undang-undang orang kulit putih
yang dipakai untuk menindas orang pribumi.

Guntur membelah udara
untuk menciptakan keseimbangan angkasa
kesabaran menyala menjadi semangat perjuangan
untuk membela keseimbangan kehidupan.
Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Ketika engkau dan para tahanan

Gita Durma

~ ii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind2 2

3/26/10 6:54:48 PM

berderet di muka barak penjara
untuk appel sore hari
sebelum tiga lapis pintu besi
digrendel untuk mengurungmu.
Dan para abang becak
akan bercerita kepada puteramu
bagaimana kau telah berdiri
dan merumuskan keadaan.

Ya, mata bayonet memang berkilat.
Raung sirene memang menerpa batin.
Dan para oportunis menuduhmu teatral dan sok pahlawan.
Ya, barangkali kau pun juga terkencing di celana
Tetapi kau menolak
untuk meletakkan hati nurani di atas sampah.
Kau menolak untuk menukar hukum dengan kekuasaan.
Dan aku, si penyair, memihak kepadamu.
Penyair bukan hakim.
Penyair adalah orang yang memberikan kesaksian.

Menguraikan simpul-simpul kelesuan dan kebisuan
akan terdengar alu-alu dipukulkan ke lesung penumbuk padi,
menjadi genderang bertalu untukmu.

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Di saat engkau bertapa
memasuki kesepian penjara?
Dari pulau ke pulau
dari ufuk ke ufuk
dari puncak-puncak gunung berapi
arwah leluhur telah bangkit
menanggapi tapamu.
Di tengah-tengah masa beratmu,
ketika kau memukuli tembok sel dengan buku-buku tanganmu,
kenangkanlah, saudaraku,
bahwa genderang langit telah dibunyikan
menyambut keprihatinan sang putera matahari.

Rendra
Depok, Oktober 1981

Sajak Gita Durma adalah satu dari dua sajak WS Rendra yang ditulis untuk
Hariman Siregar. Sajak Gita Durma dibacakan pertama kali di depan publik oleh
WS Rendra dalam acara Temu Sastra di Teater Arena Taman Ismail Marzuki,
16 Desember 1982.

~iii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind3 3

3/26/10 6:54:48 PM

Hariman & Malari

Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing

Editor

: Amir Husin Daulay & Imran Hasibuan

Tim Penulis

: Imran Hasibuan
Airlambang
Yosef Rizal

Pewawancara

: Saptono, M. Abriyanto, Rama Siregar,
Zainal, Acik Munasik, Toni Listianto
Fotografer/Riset Foto : Bodi CH/ Robby Surya
Penyunting Bahasa : Poerwadi Djunaedi
Desain Grafs

: Arief Cepu

Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Diterbitkan oleh Q Communication, Jakarta

Cetakan Pertama, 2011

Imran Hasibuan (eds.)
Hariman & Malari
Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing, Cet.1.
Jakarta : Q Communication, 2011
432 halaman ; 18 x 25 cm
ISBN 978-979-26-6213-9
1.Sejarah I. Judul
II. Malari, Hariman

~ iv ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind4 4

3/26/10 6:54:48 PM

Daftar Isi

Prakata Editor

ix

Prolog-Max Lane

1

Drama Kehidupan Hariman Siregar

11

Episode 1. Masa Terkelam

13

Episode 2. Metamorfosis Seorang Aktivis Mahasiswa

21

Episode 3. Jalan Menuju Malari

37

Episode 4. Ditengah Pusaran Peristiwa Malari

55

Episode 5. Pengadilan dan Penjara

71

Episode 6. Menjaga Ruh Gerakan Mahasiswa

77

Episode 7. Dalam Lingkaran Kekuasaan

101

Episode 8. Mengawal Transisi Demokrasi

109

Episode 9. Meluruskan Jalan Demokrasi

121

Galeri Foto

133

Mereka Bicara Hariman

151

a Siti Noor Rachma

153

a WS Rendra

158

a Sjahrir

164

a Prof. Dr. Mahar Mardjono (alm.)

170

a Jenderal Soemitro (alm.)

173

a Jenderal A.H. Nasution (alm.)

182

a Ali Sadikin (alm.)

185

a Poncke Princen (alm.)

188

a Adnan Buyung Nasution

192

a A. Rahman Tolleng

195

~v ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind5 5

3/26/10 6:54:49 PM

a Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti

199

a Junus Effendi Habibie

213

a Cosmas Batubara

216

a Akbar Tandjung

219

a Soegeng Sarjadi

222

a Prof. Dr. Anwar Nasution

226

a KH Prof. Dr. Ali Yafe

230

a KH Cholil Badawi

232

a Habib Husein Al Habsy

236

a Andi Mapetahang Fatwa

239

a Komjen Pol. (Purn) Noegroho Djajoesman

243

a Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan

245

a Letjen (Purn) Syamsir Siregar

248

a Jenderal TNI (Purn.) Tyasno Sudarto

250

a Letjen (Purn) Zacky Anwar Makarim

253

a Didi Dawis

256

a Gurmilang Kartasasmita

259

a Sylvia Tiwon

265

a Jopie Lasut

268

a Theo L. Sambuaga

274

a Judilherry Justam

280

a Eko Sudjatmiko

285

a Amir Hamzah

288

a Salim Hutajulu

294

a Rauf Arumsah

299

a Pollycarpus da Lopez

304

a Todung Mulya Lubis

311

a Christine Hakim

316

a Komaruddin

319

a Ahmad Fuad Afdal

323

a Fuad Bawazier

326

a Jusman Syafi Djamal

329

a Rizal Ramli

332

~ vi ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind6 6

3/26/10 6:54:49 PM

~ vii ~

a Prof. Dr. Akmal Taher

336

a Eggi Sudjana

338

a Burzah Zarnubi

341

a Syahganda Nainggolan

344

a Jumhur Hidayat

347

a Trimedya Pandjaitan

350

a Sukardi Rinakit

352

a Danial Indra Kusuma

354

a Max R. Lane

359

a Mulyana Wira Kusumah

363

a Fahri Hamzah

367

a Maiyasak Johan

371

a Amir Husin Daulay

373

Senarai Pemikiran Hariman Siregar

378

Gerakan Pemuda Mahasiswa 1970-an

381

Idealisme Arus Bawah di Indonesia

387

Mengorganisir Rakyat Menentang Regimentasi

390

Format Perjuangan Intelektual

395

Gerakan Mahasiswa & Nilai Universal

Perguruan Tinggi

398

Transisi Kedua Membayangi Pemilu 2004

408

Setelah Krisis Amerika Kita Mau Apa?

412

Pemilu dan Kredibilitas Partai Politik

415

Indeks

418

Tentang Editor

432

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind7 7

3/26/10 6:54:50 PM

Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban
kita adalah membebaskan rakyat dari penderitaan hidup sehari-
hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur
untuk mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan
ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita
adalah mengetatkan gandengan dengan sesama generasi muda
memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban
sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk
menyuarakan diri. Semua itu adalah beban yang tidak ringan—
untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun pada akhirnya
berat atau ringan beban itu tetap merupakan beban kita. Sekali
kita mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga
negara yang dikutuk sejarah. Tetapi yang terpenting bagi kita
adalah menghentikan kebisuan yang ditimbulkan oleh himbauan
kenikmatan yang dijanji-janjikan kepada kita. Dan juga
kebisuan akibat feodalisme yang mementingkan sikap nrimo,
apatis dan antipartisipasi. Artinya, kita harus membebaskan diri
dari mitos-mitos yang menempatkan diri kita dalam posisi bisu
dan terbelenggu.

Petikan Pidato yang dibacakan Hariman Siregar saat acara
Malam Keprihatinan, 31 Desember 1973
.

~ viii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind8 8

3/26/10 6:54:50 PM

“... Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk
mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samudra/
serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah
tugas/Bukannya demi surga atau neraka/Tetapi demi kehormatan seorang
manusia//Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu/meski kita telah reyot, tua
renta dan kelabu/Kita adalah kepribadian/dan harga kita adalah kehormatan
kita/Tolehlah lagi ke belakang/ke masa silam yang tak seorang pun kuasa
menghapusnya....”

emangat yang ada dalam petikan salah
satu puisi penyair besar Indonesia, WS Rendra, di
atas tampaknya tepat benar untuk menggambarkan
sikap Hariman Siregar dalam menjalani kehidupan.
Bukan sengaja dipas-paskan, tapi memang begitulah
adanya kalau kita membaca catatan sejarah,
penuturan kawan dekatnya, pandangan orang-orang
yang sempat berkenalan dengannya, termasuk dari
orang-orang yang berseberangan sikap politiknya
dengan Hariman, dan juga dari kisah yang disampaikan Hariman Siregar
sendiri dalam berbagai kesempatan.
Rendra sendiri sempat menulis dua puisi khusus untuk Hariman, tapi
bukan yang dikutip di atas. Dari sini saja sebenarnya bisa dilihat betapa Hariman
sebagai suatu kepribadian memiliki pesona, yang mampu mendatangkan
inspirasi bagi penyair sekaliber Rendra. Dan, pesona itu juga dirasakan oleh
banyak orang, terutama oleh para aktivis pergerakan penentang pemerintahan
yang zalim, korup, dan tidak berpihak kepada rakyat kecil.

Prakata Editor

S

~ ix ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind9 9

3/26/10 6:54:51 PM

Tentu saja, pesona itu bukan sesuatu yang datang begitu saja dari langit,
given. Tapi, hadir meraga sukma ke dalam diri Hariman karena aktivitasnya
dalam “mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit
dan samudra/serta mencipta dan mengukir dunia
”. Dan, semua itu dilakukan
Hariman bukan hanya dalam beberapa fase dalam hidupnya, terutama fase
yang membuat namanya menjadi bahan perbincangan banyak orang di Tanah
Air dan juga dunia internasional. Tapi, sampai sekarang, di usianya yang
sudah berkepala enam, Hariman masih setia memperjuangkan cita-citanya
untuk mencapai kehidupan demokrasi yang lebih baik di Indonesia dan
memperbaiki sistem politik, yang ia yakini akan berimbas pada meningkatnya
taraf kesejahteraan rakyat, terutama dari golongan rakyat jelata. Dan, sampai
sekarang pun Hariman tidak bergeser keyakinannya bahwa salah satu agen
perubahan sosial-politik yang memegang peran penting untuk mewujudkan
cita-cita itu adalah: mahasiswa.
Memang, dalam pergaulan politik nasional, Hariman Siregar dikenal
luas sebagai tokoh sentral gerakan mahasiswa pada tahun 1973-1974 yang
menentang strategi pembangunan yang dijalankan rezim Jenderal Soeharto,
yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Malari 1974. Hariman adalah ikon
Peristiwa Malari. Dan Peristiwa Malari sendiri merupakan tonggak penting
dalam gerakan perlawanan mahasiswa dan rakyat Indonesia terhadap kekuasaan
rezim Orde Baru dan belitan modal asing dalam strategi pembangunan negeri
ini. Demi menyegarkan kembali ingatan terhadap ikon dan tonggak penting
gerakan perlawanan mahasiswa itulah buku ini kami beri judul Hariman &
Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing.

Meskipun, buku ini tak melulu berkisah tentang Hariman dan Malari.
Sebab pasca-Peristiwa Malari pun, Hariman terus aktif bergerak dalam pentas
perpolitikan nasional. Meski tak penah masuk dalam partai politik mana
pun, jejak Hariman tetap terasa dalam berbagai episode sejarah perpolitikan
Indonesia. Mengapa bisa begitu? Bisa jadi, hal itu dikarenakan rentang pergaulan
politik Hariman Siregar yang sedemikian luas. Hampir tidak ada kalangan yang
tak tersentuh pergaulan politiknya: mulai aktivis mahasiswa, penggiat lembaga
swadaya masyarakat, militer, birokrasi pemerintah, pengusaha, seniman,
sampai pemuka agama. Singkat kata, jaringan sosial-politik yang luas itulah
salah satu kekuatan utama seorang Hariman Siregar.
Sebagai aktivis politik, Hariman selalu bersikap kritis terhadap situasi
perpolitikan negeri ini. Dan sikap itu tak hanya berhenti pada ucapan saja, tapi
juga dimanifestasikan dalam gerakan politik yang terbuka. Salah satu gerakan
kritis itu adalah saat Hariman menggalang dan memimpin “Pawai Rakyat Cabut
Mandat”, tanggal 15 Januari 2007, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Aksi

~ x ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind10 10

3/26/10 6:54:51 PM

ini merupakan simbol ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah. Aksi
tersebut diikuti sejumlah tokoh yang tergabung dalam Indonesian Democracy
Monitor (INDEMO) serta 52 elemen masyarakat, antara lain aktivis tahun 1974,
aktivis mahasiswa, buruh, nelayan, dan etnis Tionghoa. Ada 124 mobil pikap
ikut dalam pawai tersebut. “Kami sengaja menggelar dialog jalanan karena
kami tetap memegang tradisi bahwa, kalau saluran resmi kami anggap tidak
berfungsi, masyarakat harus berani menyatakan keinginannya,” kata Hariman
Siregar. Menurut Hariman, pemerintah SBY-JK tidak bisa menjalankan mandat
yang diberikan rakyat. “Kami merasa tidak puas dan kecewa. Maka, mandat
(Presiden SBY) itu harus dicabut,” ujarnya dengan berapi-api.
Ia juga kerap mengkritik proses reformasi yang telah berjalan lebih dari
sepuluh tahun tapi substansi dan arahnya tak jelas. “Bahkan, bisnis dan modal
semakin menelikung demokrasi menjadi sekadar transaksi bisnis dan politis,
yang kian jauh dari amanat rakyat,” kata Hariman, pertengahan Januari 2010.
Hariman menegaskan, demokrasi kita tidak memiliki visi-misi dan
program yang jelas untuk memberdayakan rakyat dan menyejahterakan
rakyat,sementara institusi-institusi politik dan negara nyaris bangkrut semua
dalam menegakkan kemaslahatan rakyat. “Anomali demokrasi ini sampai
kapan? Orang sudah mulai berbicara mengenai perlunya meninjau kembali
pelaksanaan demokrasi parlementer selama ini,” ujarnya. Hariman selalu
mengingatkan, kekuatan rakyat sebagai masyarakat sipil di luar institusi formal
tetap diperlukan untuk checks and balances agar demokrasi bisa berkualitas
dan substantif dalam melayani kepentingan rakyat.
Konsistensi Hariman tersebut tentunya sangat berharga untuk bahan
pembelajaran bagi para generasi baru aktivis politik negeri ini. Sebuah
dokumentasi tertulis tentang seorang aktivis yang senantiasa beroposisi—dan
tak menggunakan peluang bagi dirinya sendiri ketika sempat dekat dengan
kekuasaan masa Presiden B.J. Habibie--, seorang intelektual, seorang dokter,
seorang yang percaya kekuasaan tak bisa selamanya manipulatif. Akan selalu
hadir kelompok-kelompok yang mencoba mengoreksi kekuasaan, terutama
kalangan pemuda dan mahasiswa.
Itulah sebabnya, kami meminta Hariman agar berkenan memberi
kehormatan kepada kami untuk merekam jejak-langkah dan gagasan-
gagasannya tentang masalah-masalah negara-bangsa ini. Dan, sungguh
menggembirakan, ia menyetujui dan berkenan menceritakan banyak hal
dalam hidupnya, termasuk juga membantu kami menghubungi orang-orang
yang bisa kami jadikan narasumber untuk melengkapi kisahnya. Karena itu,
boleh dibilang, inilah buku pertama tentang Hariman Siregar yang cukup
komprehensif, karena ditulis dengan memanfaatkan berbagai literatur dan

~ xi ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind11 11

3/26/10 6:54:51 PM

mewawancarai sejumlah narasumber.
Lewat sosok Hariman, buku ini berupaya merekam sejarah politik
Indonesia sejak awal 1970-an hingga pascareformasi. Kami berupaya agar
buku ini juga dapat mengungkap berbagai sisi manusiawi dari Hariman—yang
tampak luarnya dikenal sebagai tokoh yang garang belaka kepada kekuasaan.
Pada akhirnya, ada sisi “biasa” dan “sehari-hari” dari tokoh besar mana pun.
Dan buku ini turut menghadirkan wajah “nonpolitis” Hariman dan catatan
tentang perasaannya pada berbagai peristiwa, baik peristiwa penting bagi
politik Indonesia maupun pergaulannya dengan kawan-kawannya, tentang
kenakalannya semasa remaja dan kesetiakawanan yang menjadi benang merah
dari gambaran umum tentang sosoknya.
Bisa jadi, berbagai kisah yang terpapar dalam buku ini telah diketahui
banyak orang lewat berbagai obrolan Hariman dan kawan-kawannya. Begitu
pula kesaksian kawan dan koleganya tentang Hariman, mungkin pernah pula
dituturkan dalam berbagai pembicaraan. Tapi, merupakan kebanggaan bagi
kami, bisa mendokumentasikan berbagai kisah dan kesaksian dalam buku ini.
Harapan kami kisah itu bisa berguna bagi khalayak pembaca, apapun bentuk
kemanfaatannya. Tapi, jika pun dalam penulisan berbagai kisah dan kesaksian
itu ada kekeliruan, kami tentunya terbuka untuk dikoreksi.
Akhirnya, kami perlu mengucapkan terima kasih kepada Hariman
Siregar dan berbagai pihak yang telah membantu penulisan dan penerbitan
buku ini, yang tak mungkin kami tuliskan namanya satu per satu. Dan, tentu
saja, bila ada kekurangan dan kesalahan dalam buku ini, sepenuhnya menjadi
tanggungjawab kami.

Jakarta, Januari 2011

Amir Husin Daulay
Imran Hasibuan

~ xii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind12 12

3/26/10 6:54:52 PM

~ ~

Prolog

Max Lane

Pengambilalihan kekuasaan oleh Jenderal Soe­

harto dan Orde Baru pada tahun 1965­1968 merupakan
peristiwa luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa
Indonesia sejak diproklamasikan sebagai nasion dan
negara merdeka tahun 1945. Sekali pukul, seluruh
kehidupan kebudayaan, politik, dan ekonomi di­
putarbalikkan. Indonesia “didirikan kembali” dengan
suatu paket nilai baru, yang meninggalkan sepenuhnya
paket nilai­nilai revolusioner dari perjuangan kemerdekaan. Menyembah kekuasaan
dengan budaya gila hormat, dan menyembah kekayaan dengan budaya mata duitan

menjadi defnisi “keindonesiaan” baru.

“Indonesia” yang baru ini berkuasa sampai sekarang, meski bentuk
pemerintahan kediktatoran yang menjaganya selama 32 tahun sudah dijatuhkan.
Sekarang digulirkan tidak lagi dengan kediktatoran, tapi lewat kombinasi menyuap
sebagian rakyat dengan hidangan hiburan di TV dan lain­lain dan kesibukan
pemilihan­pemilihan umum langsung, walau tanpa pilihan yang menarik. Tapi,
mungkin, faktor yang paling berperan membuat elite politik merasa aman adalah
belum munculnya secara matang sebuah pilihan politik yang meyakinkan buat
rakyat banyak, rakyat miskin.
Sebenarnya embrio­embrio alternatif dengan ide dan ideologi alternatifnya
ada dan pasti sedang dalam proses menuju lahir serta akan tumbuh. Selama Orde
Baru, perlawanan pertama—yang juga merupakan “rupture” (keputus­sambungan)
dengan Orde Baru—terjadi pada tahun 1973 dan awal 1974. Pada periode itu
muncul sebuah gerakan perlawanan terhadap kekuasaan yang bukan saja hampir
berhasil menjatuhkan Soeharto, tapi juga sekaligus mendirikan kerangka pemikiran
alternatif yang masih berlangsung sampai sekarang.

Prolog

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 1

3/26/10 7:20:30 PM

~ ~

Hariman & Malari

Embrio­embrio alternatif yang sedang bertumbuhan di masyarakat tidak
mungkin akan berkembang kecuali jika kembali mempelajari secara serius
pengalaman para pendobrak tahun 1973­1974. Memahami sejarah adalah sebuah
senjata politik yang ampuh. Dan gerakan perubahan tahun 1973­1974 merupakan
satu dari hanya dua atau tiga peristiwa politik paling penting selama Orde Baru.
Sedikit sekali pengupasan ilmiah oleh kaum akademisi tentang gerakan 1973­
1974 ini. Juga di kalangan aktivis, terlalu sedikit dipelajari dan dianalisis. Salah satu
sebab dari keadaan ini, saya kira, ialah karena gerakan 1973­1974 itu gagal merebut
kekuasaan. Karena, mental yang dominan adalah “yang penting langsung merebut
kekuasaan”, tanpa adanya kesadaran bahwa itu semua proses historis. Akibatnya,
gerakan 1973­1974 ini dianggap tidak penting untuk dipelajari.
Dalam esai pendek ini saya mau menjelaskan, meski gerakan itu tidak berhasil
merebut kekuasaan pada Januari 1974, dalam hal lain—dan hal sangat penting
pula—gerakan 1973­1974 yang berkembang dipimpin oleh Dewan Mahasiswa UI
serta ketuanya, Hariman Siregar, sebenarnya berhasil.

Lima Sifat Keputus-sambungan Gerakan 1973-1974

Tahun 1965­1968 merupakan keputus­sambungan dengan periode revolusi
nasional Indonesia yang berlangsung sejak berdirinya Sarekat Dagang Islam
sampai 29 September 1965, dengan segala kehebatannya dan kontradiksinya.
Periode 1965­1972 merupakan, dalam pandangan saya, periode kontrarevolusi.
Semua yang diperjuangkan sejak periode “zaman bergerak” tahun 1920­an sampai
1965 dihancurkan dan dibasmi. Kekuasaan kontrarevolusioner sebenarnya ber­
kuasa sampai sekarang (2010), tapi masa jayanya adalah tahun 1965­1972—pada
periode ini tak ada keretakan dalam dominasinya di segala bidang. Dominasi
ini yang sebenarnya dipatahkan oleh gerakan 1973­1974. Kalau 1965­1968 me­
mutuskan sambungan dengan revolusi nasional, 1973­1974 meretakkan dominasi
kontrarevolusi 1965­1972 dan ini merupakan sebuah keputus­sambungan lain
lagi. Kontrarevolusi tetap berkuasa, tapi juga embrio masa depan Indonesia yang
sebenarnya juga sudah diciptakan oleh gerakan tersebut.
Ada beberapa sifat daripada keputus­sambungan gerakan 1973­1974 ini.
Pertama, gerakan ini kembali ke tradisi machtvorming di jalan dengan mengorganisasi
demonstrasi­demonstrasi turun ke jalan. Meskipun belum ada usaha mengorganisasi
sektor selain mahasiswa, gerakan tetap mengambil panggung dan bicara ke sektor­
sektor selain mahasiswa. Buruh, rakyat miskin kota, dan orang desa pun tahu, kira­
kira, apa yang sedang dibicarakan oleh “mahasiswa”. Suara mahasiswa tersebar
lewat media massa. Juga dibantu dengan munculnya penyair gerakan 1973­1974,
Rendra. Sifat turun ke jalan ini—melakukan aksi—tercermin baik dalam aksi­
aksi kecil oleh berbagai komite yang muncul maupun oleh kegiatan­kegiatan
yang diselenggarakan Dewan Mahaiswa Universitas Indonesia, yang memelopori
kebangkitan gerakan ini, apalagi menjelang puncaknya pada Desember 1973­

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 2

3/26/10 7:20:30 PM

~ ~

Januari 1974.

Kedua, gerakan ini menolak menghormati atau bersikap sopan di depan
kekuasaan. Sebenarnya, sebelum 1973 juga ada beberapa protes dan kritik terhadap
korupsi. Bahkan juga sudah ada delegasi mahasiswa bertemu dengan Presiden
Soeharto. Tapi, gayanya selalu sopan sekali terhadap Pak Harto dan juga terhadap
tentara. Kewibawaan moral Soeharto dihormati dan diterima. Legitimasi yang
dimajukan adalah legitimasi “mau membantu pemerintah dengan kritik”.
Beda halnya dengan gaya perlawanan gerakan 1973, yang tidak memberi
penghormatan sama sekali kepada kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi dilihat sebagai
suatu kekuatan yang harus dibantu dengan mengoreksinya. Watak kekuasaan memang
digambarkan oleh mahasiswa 1973 sebagai kekuasaan kontrarevolusioner—meski
istilah ini tak dikenal generasi 1973­1974. Dalam pidato malam keprihatinannya,
Hariman Siregar menggambarkan kekuasaan yang tumbuh di bawah Soeharto pada
saat itu sebagai berikut.

“Setelah secara moral dan konstitusional Jenderal Soeharto menjadi presiden
di negeri ini, pembangunan ekonomi telah dijadikan alat legitimasi kekuasaan dan
mitos baru yang banyak menimbulkan harapan. Tetapi, ternyata, perkembangan
ekonomi telah menolak kemauan penguasa untuk menjadikan pembangunan
ekonomi sebagai alat legitimasi kekuasaan dan mitos politik semata­mata.…. Sikap
penguasa yang demikian itu akan selalu menghasilkan keputusan­keputusan yang
hanya menguntungkan kelompok yang ada di sekitar kekuasaan.”
Dalam pidato 31 Desember 1973 itu, Hariman Siregar sudah menyatakan
dengan jelas watak kekuasaan yang sedang berlangsung saat itu. Hubungan
kekuasaan dengan rakyat banyak juga sangat jelas dikemukakan.
“… kelompok kecil sekitar kekuasaan… terang berkepentingan untuk
mempertahankan keadaan dengan segala macam peralatan dan cara dalam politik.
Rakyat dengan demikian akan terus­menerus menjadi pelengkap penderita yang
dipaksa untuk diam dan tidak berdaya.”
Sikap penolakan terhadap kekuasaan juga tercerminkan dengan gaya
aksi yang sering dijalankan dan dengan sikap kepimpinan Dewan Mahasiswa
UI serta kelantangan pimpinannya, terutama ketua umumnya, Hariman Siregar.
Gaya menyindir tentara dan menolak sopan kepada kekuasaan berbeda sangat
tajam dengan gaya protes­protes 1970­1972. Gaya menyindir dan menolak ini
juga memelopori dan menciptakan suasana yang membuka kemungkinan untuk
memunculkan drama yang menjadikan pemerintah sebagai bahan lelucon oleh
penyair gerakan 1970­an, Rendra. Misalnya dalam “Kisah Perjuangan Suku Naga”,
yang menggambarkan kekuasaan sebagai aliansai kekuatan feodal rakus (Sri Ratu),
militer (Kolonel Serenggi), modal Amerika (Big Boss), dan pemerintah Amerika
(Mr. Joe), dengan didukung oleh sebuah kur “yes men”, anggota DPR. Tanpa
keberanian untuk bersikap tak sopan yang dilakukln gerakan 1973­1974, sindirian
seperti itu masih akan sulit diterima.

Prolog

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 3

3/26/10 7:20:31 PM

~ ~

Hariman & Malari

Ketiga, gerakan 1973­1974 ini yang bersikap menolak kekuasaan sekaligus
juga memutuskan diri dari sikap gerakan sebagai sekadar gerakan “moral”, dengan
terjun ke politik yang riil. Hal ini, sayangnya, sering dianggap sifat negatif dari
gerakan 1973­1974 dan ada kemungkinan anggapan ini juga merupakan sebuah faktor
yang mengakibatkan generasi aktivis berikutnya kurang mempelajari pengalaman
gerakan 1973­197i. Dalam perkembangannya, pada gerakan perlawanan ini selama
tahun 1973 mulai terlihat adanya sinkronisasi gerakan mahasiswa dengan manuver­
manuver politik Jenderal Soemitro, Panglima Kopkamtib.
Jenderal Soemitro mengumumkan bahwa tahun 1974 akan diselenggarakan
“pola kepimpinan baru”. Soemitro berkunjung ke Pulau Buru dan berjanji akan
membebaskan tahanan politik di sana. Soemitro juga mulai bertemu dengan
mahasiswa, termasuk dengan Hariman Siregar. Rendra juga bertemu dengan
Soemitro di Istana Kepresidenan di Yogyakarta. Semua ini berjalan terbuka se­
hingga seluruh masyarakat mulai membaca bahwa gerakan mulai berkembang,
bukan hanya sebagai suara yang meminta kekuasaan mengoreksi diri, tapi dengan
dinamika penggantian pemerintahan.
Dalam banyak percakapan dengan aktivis­aktivis, baik pada tahun 1970­
an, 1980­an, maupun 1990­an, aliansi de facto antara gerakan pemimpin Dewan
Mahasiswa UI dan Jenderal Soemitro ini sering dilihat sebagai suatu penodaan,
bersekutu dengan elite dan militer pula. Tapi, perjuangan perubahan adalah sebuah
usaha serius—dan akan mandul kalau tidak serius—memikirkan kesempatan­
kesempatan perbaikan situasi di tingkat pemerintahan. Sikap gerakan untuk
menghitung kemungkinan keretakan di dalam kekuasaan bisa menciptakan kondisi
pemerintahaan baru yang menguntungkan perjuangan demokrasi, biar sedikitpun.
Itu merupakan kemajuan dalam kesadaran melawan dan juga sebuah keputus­
sambungan lagi dengan protes­protes 1970­1972.
Adalah menarik juga untuk mengamati sikap penyair gerakan 1973­1974,
Rendra, dalam hal ini. Pada tahun 1973, Rendra mementaskan drama “Mastadon
dan Burung Kondor”. Drama ini, yang ditonton ribuan orang pada akhir tahun
1973, juga ikut meramaikan suasana melawan kekuasaan pada saat itu. Dramanya
menceritakan pemberontakan mahasiswa dan penyair terhadap sebuah kekuasaan
militer yang menindas rakyat miskin. Drama ini juga memberi peringatan kepada
mahasiswa untuk jangan main mata dan melakukan revolusi bersama tentara karena
akan melahirkan kekuasaan represif baru.
Dua tahun kemudian, Rendra mementaskan drama lagi, “Kisah Perjuangan
Suku Naga”. Pada saat ini, Hariman Siregar, Sjahrir, dan Aini Chalid masih
dipenjara. Drama ini menggambarkan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan,
tapi masih merupakan perlawanan kata­kata. Baru dengan pementasan lakon yang
disadur dari karya Schiller, “Perampok”, Rendra bahkan menggambarkan kebutuhan

pemberontakan secara fsik, termasuk pemberontakan bersenjata. Pada momen itu,

simbol pemberontakan di mata Rendra pindah dari si “empu” kepada “warok”.
Sebenarnya gerakan 1973­1974 sudah sejak awal berjiwa “warok”: konfrontatif dan

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 4

3/26/10 7:20:31 PM

~ ~

meledek kekuasaan serta mau mencapai perubahaan kekuasaan yang riil—bukan
revolusi, tapi sebuah perubahan yang juga berjalan di tingkat pemerintahan.
Sinkronisasi gerakan mahasiswa dengan manuver­manuver Jenderal
Soemitro memang gagal melahirkan pemerintahan baru. Di pihak Jenderal
Soemitro, dia rupanya kalah akal dan kalah tegas dengan kubu Soeharto dan Ali
Moertopo. Di pihak gerakan mahasiswa, kelemahannya ialah, meski sudah bicara
kepada masyarakat dan massa, belum berusaha mengorganisasi dan memimpin
masyarakat dan massa: belum ada strategi untuk membangun “movement” sejati,
yaitu movement yang multi­sektor.
Ini sebenarnya tidak mengherankan. Selama tahun 1965­1973, semua diskusi
tentang gerakan massa hilang dari perbincangan politik nasional dengan jayanya
konsep “foating mass”. Selain itu, sebagian besar pimpinan mahasiswa datang dari
latar belakang keluarga Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Majelis Sjuro Muslimin
Indonesia (Masjumi) lewat Himpunan Mahasiswa Islam yang alergi terhadap konsep

“gerakan aksi massa” karena konsep itu terlalu teridentifkasikan dengan Soekarno

dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang merupakan musuh lima dekade dari dua
aliran itu.

Sampai sekarang pun, perbincangan tentang apa itu dan bagaimana
membangun sebuah “movement” masih lemah. Tahun 1980­an terkuasai oleh
advokasi “civil society”, sesuatu yang masih kuat sampai sekarang. Pada tahun
2010 saja kesadaran tentang “movement” masih lemah, meskipun sejak tahun 1990­
an sudah ada kelompok yang mulai sadar tentang pentingnya “movement”—bukan
hanya lembaga swadaya masyarakat, tapi dibutuhkan gerakan. Pada 1973, politik
riil­nya masih belum sempat meluas ke sektor­sektor massa, terbatas pada sektor
mahasiwa dan intervensi ke dalam keretakan kekuasaan itu sendiri.
Keempat, gerakan 1973­1974 adalah gerakan pertama sejak sebelum tahun
1973 yang mengangkat (kembali) isu ketergantungan pada kekuatan ekonomi asing
(modal besar Amerika dan Jepang). Dalam pidatonya pada malam 31 Desember
1973, Hariman Siregar mengungkapkan analisisnya.
“Masalah saling ketergantungan [antarbangsa] terutama pada tingkat per­
adaban manusia sekarang adalah masalah yang tak bisa dihindarkan. Akan tetapi
sudah barang tentu saling ketergantungan ini meminta persyaratan­persyaratan.
Persyaratan utama adalah seberapa jauhkah ia membawa pihak­pihak yang terlibat
harus menjaga kemampuan kondisi dalam negerinya sendiri, agar mendapatkan
posisi yang sederadjat.”

Dalam menggambarkan situasi konkretnya, dia meneruskan dengan meng­
gambarkan bahwa perekonomian negara pada waktu itu ditopang lima sektor.
“Pertama adalah bantuan luar negeri; kedua modal asing; ketiga ekspor karet;
keempat, minyak bumi, dan; kelima adalah kayu. Sedangkan kita ketahui bahwa
peningkatan hasil­hasil karet, minyak bumi, dan kayu pun tidak mungkin tanpa

Prolog

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 5

3/26/10 7:20:31 PM

~ ~

Hariman & Malari

ditunjang oleh sumber­sumber luar tadi. Dengan ini jelaslah betapa memang batuan
luar negeri dan modal asing merupakan faktor pokok dalam perekonomian negara,
dan bukan faktor pelengkap sebagaimana sering kali dikemukan oleh para pejabat.
Betapapun memang ada kenaikan dari hasil ekspor kita secara keseluruhan, akan
tetapi ketergantungan tadi tetap faktor pokok, yang jelas dipertunjukkan misalnya
oleh kenaikan­kenaikan pinjaman lewat IGGI.”

Peristiwa Malari 1974.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 6

3/26/10 7:20:32 PM

~ ~

Pada tahun 1973, modal besar Jepang serta pinjaman lewat forum pemerintah­
pemerintah Barat, Jepang, serta Bank Dunia di IGGI yang paling berpengaruh.
Dalam pidatonya tahun 1973, Hariman Siregar dengan sendirinya lebih fokus pada
pengaruh Jepang.

Kritik terhadap tidak terpenuhinya persyaratan dalam perekonomian negara
seperti yang diuraikan di atas dan ketergantungan yang tidak menguntungkan rakyat
miskin merupakan juga sebuah keputus­sambungan dengan protes­protes tahun
1968­1972, yang fokus pada korupsi dan kemewahan saja. Ironisnya, terangkatnya
isu ini sangat mengingatkan kita kembali tentang sikap anti­nekolim yang disuarkan
gerakan soekanois dan gerakan komunis sebelum tahun 1965.
Kritik terhadap ketergantungan pada modal asing muncul lagi pada tahun
1978 ketika gerakan mahasiswa bangkit kembali, masih di bawah pengaruh pimpinan
gerakan 1973. Kemudian pada tahun 2000 ke atas muncul kritik terhadap “neo­
liberalisme” sebagai bentuk penjajahan kepentingan modal besar terhdap Indonesia
oleh kekuatan di luar Indonesia. Sementara ini, kritik­kritik terakhir itu merupakan
perkembangan lebih maju daripada tahun 1973 sekaligus sebuah kelemahan besar
dibanding gerakan tahun 1973.
Kemajuannya, mulai ada suara—biasanya oleh kaum aktivis golongan
radikal—untuk menuntut nasionalisasi sektor­sektor vital ekonomi dan di bawah
kontrol rakyat pula—sebagai pernyataan kalau dinasionalisasi jangan sampai dikorup
atau disalahgunakan. Kelemahannya, kritik terhadap ketergantungan ekonomi ini
belum disertai sebuah perdebatan serius tentang strategi ekonomi secara keseluruah,
selain ide “nasional harus dapat porsi lebih besar”—atau meminjam istilah dari
aktivis demokrasi dan keadilan sosial: rakyat harus dapat porsi lebih besar.
Kelima, gerakan 1973 disertai, disusul, dan mendorong sebuah diskusi serius
tentang strategi pembangunan alternatif. Ini pasti salah satu pengaruh dari adanya
interaksi pemikiran antara Profesor Sarbini Soemawinata dan pemimpin­pemimpin
gerakan, termasuk Hariman Siregar. Keterlibatan ekonom muda Sjahrir juga sebuah
cerminan dari hal ini.

Pemikiran­pemikiran ekonomi alternatif yang dicetuskan Profesor Sarbini
jauh lebih luas daripada hanya mempermasalahkan aspek “nasionalis”. Membereskan
tidak adanya persyaratan yang dibutuhkan dalam ketergantungan antarbangsa juga
dilihat sebagai masalah dalam menyusun kekuatan ekonomi dalam negeri, dengan
kebijakan yang lebih memprioritaskan peningkatan produktivitas tenaga kerja
dalam negeri. Sebenarnya, perdebatan ini sebagai bagian dari gerakan 1973­1974
tak sempat berkembang, meskipun juga ada sesi­sesi sidang pengadilan Hariman
Siregar dan Sjahrir yang juga mendiskusikan ide­idenya tentang ekonomi.
Dengan gerakan yang direpresi pada Januari 1974, ruang untuk mengam­
panyekan pemikiran ekonomi alternatif ini tidak sempat berkembang sebagai
bagian dari gerakan. Tapi, ternyata, selama sisa dekade 1970­an dan masuk
1980­an, berbagai isu yang berkaitan dengan pembangunan pedesaan, penerapan

Prolog

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 7

3/26/10 7:20:33 PM

~ ~

Hariman & Malari

teknologi tepat guna dan padat karya, serta soal distribusi kemakmuran dan
lain­lain sempat terus mengalir dalam terbitan­terbitan seperti majalah Prisma.
Sulit untuk membayangkan sebuah majalah Prisma bisa muncul kecuali adanya
perdebatan soal strategi pembangunan yang dibuka terlebih dulu oleh gerakan
1973. Tidak mengherankan jika cukup banyak orang yang terlibat dengan Prisma
juga tadinya menjadi bagian dari gerakan 1973, seperti juga salah satu editornya
yang berpengaruh, Daniel Dhakidae, yang aktif di Yogyakarta pada tahun 1973 dan
dekat dengan aktivis­aktivis 1973­1974 di Jakarta.
Perbincangan dan penulisan tentang strategi ekonomi tersebut agak unik
selama sejarah Indonesia merdeka. Masalahnya bukan tidak ada diskusi dan
analisis ekonomi yang serius di masa sebelum 1965. Bahkan, di masa 1960­1965
sebenarnya banyak tulisan dan analisis menarik. Tapi, pada masa itu, seluruh dunia
politik tergerakkan oleh pertanyaan “kekuatan mana yang akan kekuasa dan ke
arah mana negeri akan berkembang”. Dalam suasana pertarungan yang sedemikian
tajam, perdebatan tentang bagaimana penerapan sebuah strategi ekonomi—apa itu
sosialis atau kapitalis—tak sempat menjadi polemik utama. Polemik utamanya ialah:
kapitalis atau sosialis; Soekarno dan PKI atau bukan. Meskipun perdebatan yang
dibuka oleh gerakan 1973 dan oleh Profesor Sarbini mengandung bibit kontradiksi
sosialis atau kapitalis, pada saat 1973 tidak ada kekuatan politik pro­sosialis yang
mengancam. Pikiran alternatif sempat mendapatkan pengikut selama 1970­an dan
1980­an tanpa dianggap komunis atau sosialis. Selama periode itu, banyak sekali
artikel dan ide keluar yang memperkaya medan diskusi ekonomi. Tapi, proses itu
berakhir dengan munculnya ilusi bahwa industrialisi berhasil pada tahun 1980­
an dengan pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia, tanpa mencatat bahwa
pertumbuhan industri berat dan sedang hampir tidak ada.

*****
Gerakan 1973­1974, dengan pusatnya di Jakarta di bawah pimpinan Dewan
Mahasiswa UI—dengan medan kegiatan cukup kuat di Yogyakarta dan kota lain—
merupakan awal proses jatuhnya Orde Baru. Kelima sifat gerakan yang diuraikan di
atas merupakan komponen­komponen penting dari proses berkembangnya gerakan­
gerakan yang pada akhirnya menumbangkan Orde Baru. Sulit membayangkan
munculnya gerakan­gerakan yang kemudian terjadi tanpa pengawalan ini. Ironisnya,
banyak aktivis tahun 1990­an dan sekarang belum pernah serius mempelajari dan
menghayati pengalaman yang memelopori proses munculnya fenomena baru pasca­
1972 itu: perlawanan konfrontatif yang berpolitik riil (baik politik riil machtvorming
di sektor mahasiswa tahun 1970­an dan politik riil dalam melakukan intervensi pada
keretakan elite maupun politik riil mobilisasi massa buruh dan tani tahun 1990­an
oleh aktivis generasi baru.).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 8

3/26/10 7:20:33 PM

~ ~

Menuntaskan Keputus-sambungan 1973 pada Abad Ke-21

Masalah mempelajari dan menghayati pengalaman gerakan perlawanan
sebagai sebuah pengalaman bangsa Indonesia pada tahun 1973 bukan sebuah hal
yang penting karena sekadar menarik dan perlu diketahui. Gerakan 1973 memulai
sesuatu yang belum tuntas. Memang, kekuasaan Orde Baru sudah jatuh, tapi sebagian
gejala yang Hariman Siregar ungkapkan pada tahun 1973 masih berlangsung.
Rakyat tidak perlu lagi diam dan tak berdaya, meski belum serius memanfaatkan
kesempatan yang ada sekarang. Tetapi situasi “penguasa yang demikian itu akan
selalu menghasilkan keputusan­keputusan yang hanya menguntungkan kelompok
yang ada di sekitar kekuasaan” masih berlangsung. Situasi “ketergantunagn tadi
tetap faktor pokok” dalam bidang ekonomi juga masih berlaku.
Semua proses perubahan sosio­politik harus dilihat sebagai sebuah realitas
historis, bukan sebagai sesuatu yang dikhayal. Sebuah realitas historis bisa dikatakan
sebagai realitas yang historis karena memang punya sebuah awal, kemudian
berkembang melalui perjalanan yang sering tak terduga. Untuk mencapai tujuan
atau agar proses itu mencapai hasil yang paling bagus, awalnya harus dipelajari
supaya tahu apa yang sudah ada dan harus diperkuat, apa yang tadinya ada tapi
hilang dan harus direbut kembali, dan apa yang memang belum hadir. Gerakan
1973 adalah pembuka jalan dari semua proses perlawanan yang berkembang sejak
berdirinya Orde Baru.

Ke depannya, untuk menuntaskan yang belum selesai tidak mungkin tanpa
mempelajari serta menghayati gerakan 1973­1974 ini, baik pencapaiannya maupun
kegagalannya, baik kelebihannya maupun kekurangannya, baik sebagai fenomena
sosial­politik maupun sebaga hasil pergulatan orang per orang yang memimpin
dan menjalankannya. Dalam menghayati gerakan 1973 sebagai bagian dari
membangun movement penuntasan ke depan, terutama harus mampu mencari jalan
untuk mengintegrasikan semua sifat keputus­sambungan yang terjadi pada waktu
itu: (1) aksi—tapi dengan tambahan tradisi 1990­an yang meluas ke semua sektor;
(2) tidak mengakui wibawa atau memberi hormat kepada kekuasaan yang ada; (3)
berpolitik riil dengan pengertian tidak puas hanya bergerak di tingkatan wacana; (4)
memperjuangkan persyaratan sederajat dalam saling ketergantungan antarbangsa;
(5) membangun perdebatan nasional yang serius dan mendalam tentang strategi
pembangunan ekonomi alternatif, di semua sektor, yang bisa menjamin kehidupan
yang layak buat seluruh rakyat.
Mungkin lima sifat gerakan yang dipelopori gerakan 1973 ini masih tidak
cukup sebagai apa yang harus dimiliki oleh sebuah movement perubahan yang
memperjuangkan keadilan sosial dan demokrasi. Perjuangan rakyat Indonesia
sudah panjang. Pasti juga ada pelajaran berguna dari pencapaian­pencapaian rakyat
Indonesia di periode sebelum 1973, apalagi di antara tahun 1900 dan 1965. Itu pun
harus diraih, saya kira.

Prolog

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 9

3/26/10 7:20:33 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Buku yang padat dengan berbagai materi yang menggambarkan banyak
aspek dari gerakan 1973 ini merupakan sebuah materi berharga dalam rangka
pembelajaran dan penghayatan yang diuraikan di atas. Buku ini juga padat dengan

materi tentang kegiatan dan pemikiran fgur sentral gerakan 1973, Hariman Siregar.

Memang ada hukum­hukum sejarah yang banyak menentukan bagaimana sejarah
berkembang, tapi sejarah juga dibuat oleh manusia sebagai pelakunya, termasuk
oleh mereka yang memimpin di tingkat nasional. Aspek kepimpinan ini pun perlu
dihayati.

Sebuah buku tinggal sebuah buku, yaitu sebuah masukan. Apakah penghayatan
yang terjadi akibat mempelajari buku tersebut membawa arti, tergantung pada apa
yang kita semua sanggup dan mampu perbuat. Dalam hal ini, saya kira tantangan
yang dilemparkan oleh Hariman Siregar pada ribuan mahasiswa yang kumpul
bersama pada tanggal 31 Desember 1973 masih berlaku.

“Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah
membebaskan rakyat dari penderitaan sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat
yang menganggur mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang
tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan
sesama generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban
sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri. Semua
ini adalah beban yang tidak ringan—untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun, pada
akhirnya, berat atau ringan itu tetap merupakan beban kita. Sekali kita mengelak, untuk
selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah.”

Saya kira tantangan tersebut berlaku buat semua orang; baik sebagai warga
negara Indonesia maupun bukan orang Indonesia, sebagai warga negara dunia.
e

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 10

3/26/10 7:20:34 PM

~ ~

Drama Kehidupan

Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 11

3/26/10 7:20:36 PM

~ ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 12

3/26/10 7:20:36 PM

~ ~

entari belum lagi menampakkan wajah­
nya. Subuh itu, sekitar pukul 05.00 pagi, Hariman
Siregar masih tertidur di selnya di Rumah Tahanan
Militer (RTM) Budi Utomo Jakarta. Sudah dua hari,
ia mendekam di salah satu sel Blok 5, salah satu blok
yang menyeramkan di RTM Budi Utomo karena
berpenghuni orang­orang yang akan dihukum
mati. Tak jauh dari tempat Hariman berbaring

Awan Gelap

dalam Kehidupan Hariman

terbujur dua sosok rekan satu selnya: Mayor Jenderal (Polisi) Soewarno yang mantan
Panglima Daerah Kepolisian Jakarta saat peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan
Mayor Jenderal Soeratmo yang mantan Komandan Komando Logistik Angkatan
Darat (Kologad). Kedua rekan satu sel Hariman itu adalah tahanan politik yang
dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).
Di keheningan subuh itu tiba­tiba pintu sel dibuka petugas RTM. Ketiga
penghuninya yang sedang terlelap mendadak terkesiap. Rupanya ada kabar untuk
Hariman: Sriyanti, istri Hariman, dalam kondisi mengkhawatirkan di Rumah Sakit
St. Carolus, Jakarta. Hariman diminta bergegas untuk menjenguk istrinya di rumah
sakit.

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, perasaan Hariman cemas dan
waswas. Saat ditinggal Hariman beberapa hari sebelumnya, Sriyanti memang dalam
keadaan hamil tua, mengandung anak kembar. Karena itu, Hariman mengkhawatirkan
keadaan Yanti dan anak­anak yang berada dalam rahim istrinya.
Setiba di Rumah Sakit St. Carolus, kecemasan Hariman menjadi kenyataan.
Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Kondisi istri tercintanya benar­benar
mengkhawatirkan. Dan, innalillahi wainna ilaihi rajiun, anak kembar yang baru saja
dilahirkan sang istri telah dipanggil kembali oleh Sang Mahapencipta.

ME p i s o d E 1

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 13

3/26/10 7:20:36 PM

~ ~

Hariman & Malari

Betapa berat derita dan duka yang menerpa Hariman. Sungguh wajar bila ia
tak kuasa menahan kesedihannya. Air mata mengalir di pipinya.
Namun, beberapa jenak kemudian, Hariman seakan menyadari bahwa dirinya
tak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Istrinya masih dirawat di rumah sakit. Ia
harus segera mengatasi kesedihannya.
Sore hari itu juga ia ikut mengantar jenazah anak kembarnya ke pemakaman
Karet Bivak. Dari sana, Hariman kembali ke rumah sakit untuk menunggui Yanti.
Tapi, pukul 03.00 dini hari, ia harus kembali ke RTM Budi Utomo, sesuai aturan yang
berlaku saat itu. Saat Hariman meninggalkan rumah sakit, kondisi Yanti masih dalam
keadaan sadar.

Namun, perasaan memang kerap memilih jalannya sendiri. Walau sudah
berusaha untuk tegar, Hariman di dalam selnya tetap saja tak bisa memejamkan mata.
Pikirannya tak tenang. Kesedihan kembali mendera perasaannya. Terbayang istrinya
yang terbaring lemah di rumah sakit. Ia juga teringat putra sulungnya, Reza, yang
ditinggal bersama mertuanya.

Ketika matahari memancarkan sinarnya, mata Hariman masih belum terpejam
sedikit pun. Sampai akhirnya, petugas RTM kembali membawa Hariman ke rumah
sakit. Rupanya kabar duka yang lain telah menanti di sana: sang istri koma. Hariman

Hariman Siregar bersama
istrinya, Sriyanti, dan putranya,
Reza, 1976.
[TEMPO/ GY Adicondro).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 14

3/26/10 7:20:37 PM

~ ~

pun diizinkan menunggui Yanti selama sepuluh hari penuh. “Tapi, kesehatannya tak
pulih lagi. Sejak itu, Yanti hilang ingatan,” kenang Hariman.1
Setelah izinnya habis, Hariman digiring kembali ke RTM Budi Utomo. Yang
kemudian menunggui Yanti adalah ayah Hariman sendiri, Kalisati Siregar. Tapi,
karena kecapekan dan usia tua, beberapa hari kemudian Kalisati jatuh sakit.
Sakit sang ayah ternyata cukup serius. Hariman pun kembali diizinkan
ke luar tahanan, untuk menunggui ayahnya di rumah sakit. Tapi, cobaan Tuhan
kembali mendera Hariman. Pada 29 September 1974, malam hari, Kalisati Siregar
mengembuskan napasnya yang terakhir. “Keesokan harinya, Ayah dimakamkan. Kota
Jakarta kala itu sedang dipenuhi kibaran bendera setengah tiang. Tentu saja, orang­
orang memasang bendera setengah tiang bukan untuk menghormati Ayah. Tapi, pada
30 September, bendera memang dikibarkan setengah tiang (untuk memperingati
Peristiwa Gerakan 30 September). Namun, itu semua saya anggap saja untuk
menghormati mendiang Ayah,” tutur Hariman.
Mendekam di penjara, kehilangan bayi kembar, sang istri yang hilang ingatan,
wafatnya sang ayah, serta mertua (Prof. Dr. Sarbini Soemawinata) yang juga dipenjara,
betapa masa ini merupakan fase kehidupan seorang Hariman yang sedang diliputi
awan gelap, bahkan bisa dikatakan inilah masa terkelam dalam perjalanan hidupnya.
Sebagaimana manusia biasa, rentetan peristiwa menyedihkan itu sempat
mengguncang jiwa Hariman Siregar. Dalam percakapan dengan siapa pun jarang
Hariman menyinggung masa­masa ini. Kalaupun mengisahkannya, selalu matanya
berkaca­kaca. “Kalau ingat masa itu, gue jengkel. Membicarakan ini rasanya tidak
menyenangkan. Bayarannya tidak imbang. Semuanya sudah habis,” tutur Hariman.2
Tapi, Hariman segera menyadari itulah konsekuensi yang harus ia tanggung
atas sikap kritisnya terhadap rezim Orde Baru. Semua kesedihan itu merupakan harga
yang harus ia bayar karena melawan suatu rezim otoriter dan represif. Sebagai ekspresi
kesedihan itu, selama di penjara, Hariman selalu menuangkannya dalam catatan
harian. “Namun, bila membaca kembali catatan harian itu, isinya hanya kecengengan
belaka, sekadar uraian perasaan dan pikiran yang mendatangkan kesedihan. Padahal,
gue enggak boleh lengah, apalagi kalah oleh kesedihan. Gue harus mampu membuat
diri gue sendiri menjadi kuat. Gue sedang melawan kekuasaan Soeharto, sampai mati
gue enggak boleh kalah. Kita mesti kuat, meskipun dia (Soeharto) terus menginjak­
nginjak kita, ” begitulah tekad Hariman.
Hariman bertekad tak mau kalah dalam menghadapi rezim Soeharto, meski
badannya mendekam di penjara. “Di penjara sebenarnya sedang berhadapan juga
dengan kekuasaan Soeharto dalam wujudnya yang lain. Di penjara, kekuasaan itu
dimanifestasikan melalui sipir penjara, prajurit penjaga, petugas pengawal, bahkan
lewat benda mati seperti tembok dan gembok! Kalau kita sudah dikunci di dalam sel,
kita tak bisa melawan kekuasaan tembok dan gembok. Kita tak bisa lagi melawan

1

Hariman Siregar. 1999. “Gue Dipenjara Soeharto”. Naskah tidak diterbitkan. Jakarta: Yayasan Biograf Indonesia,

halaman 3.

2

“Hariman Siregar: ‘Gue Masih Akan Turun’”, majalah Matra edisi Agustus 1992.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 15

3/26/10 7:20:38 PM

~ ~

Hariman & Malari

prajurit dan penjaga penjara yang mengunci sel.
Wujud kekuasaan kini berganti. Tidak lagi berupa sosok Soeharto, melainkan
bunyi ‘klik’ misterius ketika pintu sel digembok dari luar. Dan suara ‘klik’ itu sungguh
menimbulkan rasa kebencian yang amat sangat. Karena, kita secara telak menyadari
bahwa kita sangat tidak berdaya. Tidak memiliki kekuatan perlawanan apa pun,
kecuali kepasrahan.”

Bertahun­tahun, sekeluar dari penjara, Hariman tetap terlihat penuh semangat
dan berkobar­kobar ketika berbicara tentang kondisi negeri ini. Namun, tak
banyak orang yang tahu, betapa ia juga pada waktu bersamaan sebenarnya sedang
menyembunyikan kegalauan hatinya melihat kondisi istrinya tercinta, Yanti, yang
sedang menderita sakit berkepanjangan dan anak mereka yang masih kecil, Reza,
yang masih membutuhkan banyak perhatian. Untuk urusan ini, Hariman memang

seperti berjalan seorang diri, walau secara fsik ia tetap aktif menjalin hubungan

dengan jaringan temannya yang luas, termasuk kalangan aktivis mahasiswa dari
berbagai kampus. Ke manakah gerangan kegalauan hatinya itu akan dilabuhkan?
Pada suatu kesempatan, pertengahan tahun 1980­an, Hariman pun berkenalan
dengan Siti Noor Rachma, yang ketika itu masih bekerja sebagai public relations di
Hotel Mandarin, Jakarta. Hubungan mereka awalnya biasa saja. Malah, Noor sempat
tak suka dengan sikap Hariman, yang ia anggap tak beradab. “Gayanya itu jauh dari
beradab. Kalau datang ke Mandarin, begitu masuk lobi, ia sudah berteriak, ‘Nooriii....’
Saya sampai malu banget dan harus berkali­kali mengumpet di bawah meja agar tak
kelihatan Hariman,” tutur Noor.
Namun, setelah lama menghilang, Hariman datang ke Hotel Mandarin dan
berbicara dengan gaya berbeda kepada Noor. “Ia menyapa saya dengan lembut. ‘Hai,
Noori, apa kabar,’ katanya. Saya kaget juga, dari mana orang ini belajar sopan­santun

Hariman (depan memegang papan nama) bersama teman-teman sekelasnya di SMPN 13 Jakarta.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 16

3/26/10 7:20:39 PM

~ ~

peradaban? Nadanya lembut dan pelan,” kenang Noor.
Sejak itulah, hubungan yang lebih dekat terjalin di antara mereka. Empat
tahun setelah perkenalan pertama mereka, Hariman pun menikahi Siti Noor Rachma
pada 27 Mei 1989. “Ketika itu, Hariman mengatakan bahwa ia tak punya penghasilan
tetap. ‘Saya juga punya Yanti dan Reza, juga punya komitmen sama kelompok, jadi
tak bisa seperti suami­suami lain,’ ujarnya. Saya mendengarkan saja. Sejak awal, saya
tahu harus sharing dengan keluarga Hariman. Tapi, baru beberapa waktu kemudian,
saya memahami apa yang dimaksud sharing dengan kelompoknya, ketika A.M. Fatwa
ditangkap dan dipenjara,” tutur Noor.

*****
Apa yang dialami Hariman merupakan imbas dari Peristiwa 15 Januari 1974
atau yang lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Malari—sebuah aksi kritis mahasiswa
terhadap modal asing, yang berbuntut kerusuhan sosial di Jakarta. Sebelumnya, ia tak
pernah membayangkan hidupnya akan memasuki ruang sekelam itu.
Hariman Siregar lahir di Padang Sidempuan, sebuah kota kecil di wilayah
Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 1 Mei 1950. Ia dilahirkan sebagai anak keempat
dari tujuh bersaudara. Jadi, Hariman merupakan “anak tengah” pasangan Kalisati
Siregar dan Anibarsah Hutagalung.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman semasa SMP bersama seorang temannya.

Hariman semasa SMA bersama seorang temannya.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 17

3/26/10 7:20:51 PM

~ ~

Hariman & Malari

Ayahnya saat itu bertugas sebagai pejabat di kantor Jawatan Perdagangan
setempat. Sebagai pegawai negeri, gaji sang ayah tergolong pas­pasan untuk memenuhi
kehidupan keluarga sehari­hari. Tapi, sang ibu termasuk perempuan yang ulet dan
giat bekerja. Untuk membantu kebutuhan keluarga, sang ibu berdagang perhiasan
emas dan berlian. Dari penghasilan berdagang perhiasan itulah kebutuhan keluarga
bisa terpenuhi dengan cukup layak.
Layaknya seorang pegawai negeri, Kalisati Siregar harus siap dipindahtugaskan
ke kota­kota lain. Saat Hariman berumur lima tahun, sang ayah dipindahtugaskan ke
Medan. Di ibu kota Sumatra Utara ini, Kalisati Siregar tak lama bertugas. Tak sampai
setahun kemudian ia dipindahkan ke Palembang, sebagai Kepala Kantor Wilayah
Perdagangan Sumatra Bagian Selatan (yang meliputi wilayah Sumatra Selatan, Jambi,
Bengkulu, dan Lampung).

Di Palembang, Hariman masuk SD Metodist English School, yang
menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. “Hariman sangat pintar,
cepat menangkap pelajaran. Cuma kalau ngomong, dia suka melompat­lompat. Orang
pintar memang kalau ngomong melompat dari A langsung D. Kalau kita tak mengerti
‘b­c­d’, kita pasti menyangka dia orang gila,” kenang Dr. Amir Hamzah, yang pernah
sekelas dengan Hariman saat bersekolah di SD Methodist English School.
Menurut Aca (nama panggilan Dr. Amir Hamzah), di sekolah Hariman
termasuk nakal. “Saya ditunjuk guru untuk mencatat siapa saja yang ribut di kelas.
Posisi duduk saya di belakang. Nah, Hariman terus yang masuk dalam daftar saya.
Akibatnya, kaki dia sering kena pukulan rotan oleh guru kelas,” kata Aca. “Lama­lama
mungkin dia berpikir, siapa yang suka melaporkan? Akhirnya setelah tahu bahwa
saya yang disuruh membuat laporan, dia mendekati saya. Dari situ kami dekat.”
Di Palembang, ayah Hariman bertugas hanya sampai tahun 1959, lantas
dipindahkan ke Jakarta sebagai pejabat di Departemen Perdagangan. Saat tiba di
Jakarta, usia Hariman baru sembilan tahun. Di Jakartalah Hariman menamatkan
sekolah dasarnya. Ia kemudian masuk ke SMP XIII di Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan. Menurut Gurmilang Kartasasmita3

, saat di SMP Hariman termasuk murid
yang pandai dan cepat menangkap pelajaran, tapi juga berani dan ugal­ugalan.
“Fisiknya memang terbilang kecil saat itu. Tapi, dalam permainan yang membutuhkan

tekad, fsiknya yang kecil tidak menjadi penghalang. Dia justru tampil paling depan

dalam menunjukkan keberanian dan kekuatan. Misalnya dalam bermain sepakbola
dan juga berkelahi dengan anak­anak lain,” kata Gurmilang. Boleh jadi, sikap berani
Hariman itu tumbuh karena kakak­kakaknya, Oli dan Ma’ruf, yang terkenal sebagai
“jagoan” di kawasan Kebayoran.
Hariman juga termasuk pecinta alam. Masa pertengahan 1960­an itu, daerah
Blok A di Kebayoran dan juga Ciputat (“tetangga” Kebayoran yang kini masuk
wilayah Provinsi Banten) masih berupa hutan. “Di tempat­tempat itulah kami sering
berkemah. Menikmati pemandangan alam tanpa penerangan listrik. Main setan­

3

Gurmilang Kartasasmita merupakan sahabat Hariman Siregar sejak di bangku SMP, SMA, hingga sama­sama kuliah di
Fakultas Kedoketran Universitas Indonesia. Hingga kini pun mereka berdua masih bersahabat baik.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 18

3/26/10 7:20:51 PM

~ ~

setanan dan membakar ketela. Dan dalam kesempatan seperti itulah saya melihat lagi
keberanian Hariman,” kenang Gurmilang.
Setamat SMP, Hariman dan Gurmilang masuk ke SMA Negeri 3 di Jalan
Setiabudi, Jakarta. Di sini tingkah dan kelakukan Hariman belum berubah, masih suka
berkelahi. Namun, di masa itu pula, ia mulai ikut­ikutan demonstrasi Kesatuan Aksi
Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI) menyusul pecahnya Peristiwa G 30 S. Yang
mengajaknya ikut demonstrasi tak lain sahabatnya sendiri, Gurmilang Kartasasmita.
Saat itu, Gurmilang sudah menjadi Ketua KAPPI Rayon Setiabudi. “Di masa SMA,
saya lebih aktif berpolitik daripada Hariman. Tapi, setelah kuliah di FKUI, dia dengan
cepat menjadi seorang pemimpin,” kata Gurmilang.
Sesungguhnya, Hariman mulai belajar memahami soal­soal politik dari kedua

orangtuanya pula. Afliasi politik orangtuanya adalah Partai Sosialis Indonesia (PSI).

Bahkan, sang ibu cukup aktif di Gerakan Wanita Sosialis, salah satu onderbouw PSI.
“Sejak kecil, gue sudah memperoleh stereotipe bahwa PSI itu baik, sementara PKI
itu tidak beragama. Dan Presiden Soekarno akan runtuh oleh dirinya sendiri. Saat itu,
memang gue mendapat kesan keluarga kami anti­Soekarno. Bahkan, di rumah kami
tak ada gambar Soekarno satu pun, sebagaimana banyak terdapat di rumah­rumah
orang Indonesia lainnya,” kata Hariman.4
Karena itu, tak mengherankan jika pergaulan politik Hariman setelah menjadi
aktivis mahasiswa di kemudian hari terutama berkisar di kalangan para aktivis dan
simpatisan PSI. Bukanlah hal yang kebetulan pula, salah seorang mentor politiknya
adalah Prof. Dr. Sarbini Soemawinata, mertuanya sendiri. Dengan Sarbini, yang
dikenal sebagai seorang tokoh terkemua PSI, Hariman sering bertukar pikiran
mengenai soal­soal perpolitikan dan ekonomi­politik.
PSI sendiri merupakan penjelmaaan politik sosial­demokrasi di Indonesia.
Sebagai “partai kader”, PSI hanya punya sedikit pengikut di kalangan rakyat biasa.
Keanggotaannya lebih terbatas pada kalangan kelas menengah perkotaan yang
berpendidikan tinggi, sementara pengaruh politiknya tidak diperoleh melalui cara­
cara populer seperti rally politik atau mobilisasi massa. Tapi, di sisi lain, partai ini
memperlihatkan suatu kekhasan yang membedakannya dari partai politik lain, dalam
perhatian besar yang diberikan kepada kebebasan individual, keterbukaan yang
leluasa terhadap paham­paham intelektual di dunia, serta penolakan tegas terhadap
berbagai bentuk obskurantisme, chauvinisme, dan kultus pribadi.5
Meski tak pernah secara tegas mengaku sebagai penganut paham sosialisme,
sikap dan tindakan­tindakan politik Hariman memang menunjukkan warna kiri. Seperti
dikatakan Max Lane, “Selalu ada keyakinan bahwa tujuan Hariman pastilah untuk
memperbaiki nasib rakyat dan bangsanya. Selalu ada kesan bahwa itulah motivasi
utamanya…. Tapi tak pernah ada kesan bahwa tujuannya atau motivasi kegiatan
politiknya adalah hanya cari kedudukan dan uang. Selalu terkesan bahwa tujuaannya
adalah cari kekuasaan sebagai alat memperbaiki situasi negeri dan masyarakat.”

4

Hariman Siregar. 1999. Loc.Cit., halaman 124­125.

5

Herbert Feith & Lance Castles. Eds. 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1966. Jakarta: LP3ES

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 19

3/26/10 7:20:51 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 20

3/26/10 7:20:52 PM

~ ~

inggu, 21 Mei 1972, menjelang sore.
Sirkuit motor lintas alam milik Lapangan Kodam V
Jaya di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, telah sepi.
Tak ada lagi yang melintas di sirkuit sepanjang tiga
kilometer itu. Tak ada lagi napas yang berhenti
ketika para pembalap menikung di kelokan 90
derajat setelah 100 meter lepas dari garis start atau
180 derajat pada 100 meter berikutnya. Tak ada
lagi teriakan kagum ketika pembalap berhasil terbang dengan motornya di tanjakan
setinggi dua meter dengan sudut 60 meter, untuk kemudian seakan lenyap di sela­sela
pohon karet. Tak ada juga dukungan terhadap pembalap yang terjatuh di kubangan
lumpur selebar 200 meter.

Menjelang sore itu waktunya penyerahan trof bagi para pemenang. Mereka

bukan pembalap­pembalap profesional. Laga bernama Campus Motor Cross itu
diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Pesertanya tak
lain calon­calon dokter yang kuliah di sana. Mereka telah menghabiskan empat kali
putaran untuk kelas up to 100 cc dan enam kali putaran untuk free for all.
Pada kelas bebas yang diikuti 13 peserta, Indra Sukmana yang mengendarai
Yamaha Trail 125 cc ditetapkan menjadi pemenang dengan waktu 47 menit 15 detik.
Ia mendapat Piala Bergilir Gubernur DKI Jakarta ditambah uang Rp30 ribu. Tempat
kedua diduduki Tonny dengan Kawasaki tipe 90 SS dan juara ketiga adalah Untung
Subrata dengan Yamaha tipe L2G. Mereka masing­masing menerima uang tunai
sebesar Rp20 ribu dan Rp10 ribu.
Adapun juara­juara dalam kelas up to 100 cc yang diikuti 18 pembalap adalah
Ade dengan Suzuki tipe A 100 III, Hariman Siregar (Honda tipe 90 S), dan Damora
Lubis (Honda tipe 90 S). Mereka pulang dengan mengantongi hadiah Rp20 ribu,

Metamorfosis

Seorang Aktivis Mahasiswa

ME p i s o d E 2

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 21

3/26/10 7:20:52 PM

~ ~

Hariman & Malari

Rp15 ribu, dan Rp10 ribu. Tiga peserta terpilih sebagai pembalap favorit tanpa hadiah
adalah Bulganon (Honda tipe CB 100), Amal (Honda tipe 90 S), dan Judilherry
Justam (Honda tipe 90 S).1

“Masa itu aku memang lumayan sering ikut turnamen
balap motor, sekadar melanjutkan hobi semasa di SMA,” kenang Hariman.
Di awal tahun 1970­an itu, Hariman sudah tercatat sebagai mahasiwa FKUI.
Ia masuk FKUI tahun 1968. Sebelumnya, ia sempat mengikuti kegiatan masa
prabakti mahasiswa (mapram) di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tapi, baru dua
hari mapram berjalan, ayahnya memanggil ke Jakarta dan menganjurkan Hariman
menjadi dokter. Ia pun menurut.2
Meski hanya dua hari menjadi calon mahasiswa ITB, Hariman sempat
meninggalkan kesan “yang tak terlupakan”. Komarudin yang mantan Wakil Ketua
Dewan Mahasiswa ITB periode 1973­1974 mengisahkan peristiwa berkesan tersebut.
Mereka kebetulan satu rayon saat mapram itu. Komarudin bertutur, “Entah bagaimana
kejadiannya, saat perpeloncoan, Hariman kesal dan menyebut ‘ITB berengsek’

1

“Motor Tabib Melintas Alam”, Tempo edisi 3 Juni 1972.

2

Hariman Siregar. 1999. Loc.Cit.

Hariman memakai seragam Walawa (1968).

Bersama kawan-kawan FKUI (1971).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 22

3/26/10 7:20:57 PM

~ ~

sehingga membuat seorang mahasiswa ‘residivis’—istilah kami untuk mahasiswa
tahun sebelumnya yang belum ikut mapram—marah besar.”
Hariman dianggap sok jago dan keduanya nyaris baku pukul. Masing­masing
menyebut daerah asal untuk menggertak lawannya. Si lawan mengaku berasal dari
Komering, Sumatera Selatan, sedangkan Hariman langsung berteriak, “Gue anak
Batak. Lu mau apa?”

Tapi, sebelum perkelahian antara “anak Komering” dan “anak Batak” itu
pecah, keduanya segera dilerai para mahasiswa ITB. Belakangan, setelah ia menjadi
Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman baru tahu bahwa mahasiswa “residivis”itu
ternyata masih tetangganya saat tinggal di Palembang.
Bakat melawan Hariman kembali muncul saat mapram di kampus UI. “Saya
lebih senior satu tahun di FKUI dari Hariman dan melihat bagaimana dia sebetulnya
marah dengan perintah­perintah dari senior yang kadang menjengkelkan saat
mapram,” kisah Judilherry Justam.
Selain kerap melawan, Hariman juga terkenal jahil. Misalnya saat kegiatan
wajib latih mahasiswa (walawa)3

di awal masa­masa perkuliahan mahasiswa. “Selama
program walawa, Hariman selalu mengganggu teman­temannya. Saat walawa, kami
kan menggunakan seragam dan sepatu tentara. Nah, ketika kegiatan baris berbaris,
Hariman suka menarik­narik tali sepatu kawan­kawan hingga lepas. Akibatnya,
banyak kawan yang kena hukuman karena ketahuan enggak rapi. Sementara itu,
Hariman enggak pernah takut hukuman,” kenang Rauf Arumsyah, rekan seangkatan
Hariman yang berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UI.
Di masa itu, situasi politik Jakarta relatif mulai tenang. Sejak setahun sebe­
lumnya, di awal tahun 1967, sebagian mahasiswa yang terlibat dalam gegap gempita
menghalau komunis telah masuk dalam parlemen. Sejumlah tokoh Kesatuan Aksi
Mahasiswa Indonesia (KAMI) diundang masuk ke DPR Gotong Royong (DPR­
GR). Brigjen Alamsjah Ratuprawiranegara, salah seorang pembantu utama Presiden
Soeharto, menghimpun nama­nama mahasiswa itu. Masuklah antara lain Nono Anwar
Makarim (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia), Yozar Anwar, Firdaus Wajdi, Liem
Bian Koen (Sofyan Wanandi), Fahmi Idris (KAMI Jakarta Raya), Cosmas Batubara,
Muhammad Zamroni, David Napitupulu Mahasiswa Pancasila,4

Johny Simanjuntak,
dan Mar’ie Muhammad (KAMI Pusat). Ada pula mahasiswa dari Bandung seperti
Soegeng Sarjadi dan Rohali Sani (kemudian digantikan Rahman Tolleng) serta nama­
nama lain seperti Slamet Sukirnanto, T. Zulfadli, dan Salam Sumangat.5
Keberadaan mahasiswa di parlemen tidak serta­merta mulus. Suara tidak
setuju juga datang dari sesama mahasiswa. Yang menentang langkah masuk parlemen
itu berpendapat bahwa KAMI dan Angkatan ‘66 pada dasarnya adalah “kekuatan

3

Program walawa diperkenalkan pemerintah Orde Baru pada tahun 1968. Tujuannya untuk mengontrol aktivitas politik
mahasiswa yang mulai menunjukkan gejala melawan pemerintah. Program walawa diwajibkan terhadap semua mahasiswa
perguruan tinggi negeri. Tapi, program ini hanya berlangsung selama beberapa tahun saja.

4

Mahasiswa Pancasila merupakan organisasi sayap mahasiswa Pemuda Pancasila.

5

Sori Siregar. Ed. 2007. Cosmas Batubara: Sebuah Otobiograf Politik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 23

3/26/10 7:20:57 PM

~ ~

Hariman & Malari

moral” sehingga tak patut melibatkan diri dalam “politik praktis”. Kalau beberapa
tokoh terus berkeras memilih menjadi anggota parlemen, seharusnya tidak atas nama
KAMI, melainkan atas nama diri sendiri belaka. Sebaliknya, mereka yang memilih
menjadi anggota parlemen berpendapat bahwa saatnya sudah tiba untuk meneruskan
perjuangan KAMI “dari dalam”.6
Kritik paling keras terhadap para aktivis KAMI yang masuk parlemen itu
terutama disampaikan Soe Hok Gie, Marsillam Simandjuntak, dan Sjahrir. Menurut
mereka, mahasiswa yang masuk ke parlemen mestinya tidak lagi membawa nama
atau embel­embel mahasiswa karena mereka telah masuk ke dalam kekuasaan
(suprastruktur). Sebab, peran mahasiswa mestinya situasional, bukan permanen.7

Soe
Hok Gie bahkan sampai mengirimkan aneka­perlengkapan kecantikan perempuan,
seperti lipstik, cermin, jarum, dan benang sebagai sindiran kepada teman­temannya
itu. Barang­barang itu dikirimkan sejak pelantikan mereka pada 1 Februari 1967.
Soe Hok Gie begitu gusar melihat teman­temannya tersebut larut dan mabuk
dalam kursi kekuasaan. Orang­orang itu, menurut Soe Hok Gie, adalah orang­orang
yang mencatut perjuangan mahasiswa. “Sebagian dari pemimpin­pemimpin KAMI
adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut­ribut pesan mobil
dan tukang kecap pula,” tulisnya.8
Ujungnya, ya, itu tadi: pada 12 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama
beberapa temannya mengirimkan paket lipstik, cermin, jarum, dan benang kepada
mahasiswa yang duduk di DPR­GR. Bersama paket antaran itu diselipkan surat
bernada sindiran:

“Kami mahasiswa universitas di Jakarta, dengan penuh rasa hormat, bersama
ini kami kirimkan kepada Anda, ‘perwakilan mahasiswa’ di DPR­GR, paket Lebaran
dan Natal. Dalam suasana Lebaran dan Natal ini kami menghormati perjuangan yang
telah kalian lakukan selama berahun­tahun di lembaga ‘perwakilan’ rakyat ini.
Kondisi demokrasi Indonesia dan rule of the law saat ini jelas merupakan
hasil dari perjuangan kalian semua, mahasiswa yang tak kenal ampun dan tak
terkalahkan, yang tidak pernah menyerah, dan yang tidak kenal kompromi dengan apa
yang benar!

Bersama surat ini kami kirimkan kepada Anda hadiah kecil kosmetik dan
sebuah cermin kecil sehingga Anda, Saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri
kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan­rekan sejawat Anda di DPR­GR.
Bekerjalah dengan baik. Hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi Anda—tidurlah

nyenyak!

Teman-teman mahasiswa Anda di Jakarta dan eks-demonstran ’66.”

6

Parakitri Tahi Simbolon. 1977. “Dibalik Mitos Angkatan 66”, dalam Prisma edisi Desember 1977.

7

John Maxwell. 2005. Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Jakarta: Pustaka Utama Graftti.

8

Ibid.

9

Ibid.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 24

3/26/10 7:20:58 PM

~ ~

Hariman Siregar—yang telah masuk ke kampus pada masa perseteruan yang
terjadi sesama aktivis Angkatan ‘66 serta gerakan protes melalui surat kabar terhadap
cara pemerintah Soeharto mengelola negara—belum melibatkan diri secara aktif
dalam kegiatan politik, meski ketika masih pelajar sempat tergabung dalam KAPPI.
Tahun pertama di FKUI lebih banyak dihabiskan Hariman untuk belajar dan bermain­
main.

Amir Hamzah menuturkan, meski terlihat tidak terlampau rajin, prestasi
kuliah Hariman sangat bagus. Kemampuannya membaca dan menyerap bacaan
sangat baik. Malam hari sebelum perkuliahan biasanya ia telah membaca bab yang
akan diterangkan dosen esok harinya. “Jadi, ketika dosen bicara, kami baru dengar,
dia sudah pelajari,” tutur Amir Hamzah. Namun, ada jeleknya: di kelas kemudian
kerjanya hanya mengganggu temannya yang mau serius belajar.
Kelakuan Hariman yang suka iseng dan sering bikin ulah dibenarkan oleh
sahabatnya, Gurmilang Kartasasmita. “Sebagai mahasiswa, saya tetap melihat Hariman
sebagai orang yang riang gembira saja. Masih suka bermain dan kebetulan juga sudah
mulai berhubungan dengan Yanti, yang ia incar sejak SMA10

,” kata Gurmilang.
Hariman sendiri mengaku di masa­masa awal perkuliahan belum tertarik
dengan soal­soal politik. Kalaupun ia melakukan perlawanan, itu terutama karena
nuraninya tidak bisa melihat aturan atau sikap para dosen atau seniornya yang dinilai
tidak adil dan sewenang­wenang. “Aku memang paling enggak bisa melihat sikap
dan perlakuan yang tidak adil,” ujar Hariman.
Memasuki awal 1970­an konstelasi politik mulai berubah. Situasi tak lagi
bisa dibilang relatif tenang. Hubungan mesra mahasiswa­ABRI yang sempat terjalin
pada masa 1966 benar­benar retak. Para aktivis mahasiswa—terutama yang tidak ikut
masuk ke parlemen—mulai kecewa dengan pemimpin nasional, Jenderal Soeharto,
seiring terendusnya beberapa kasus korupsi di tingkat nasional, di antaranya di
Pertamina yang dipimpin Mayjen Ibnu Sutowo dan Bulog yang dikepalai Mayjen
Ahmad Tirtosudiro. Mahasiswa mulai menuduh pemerintah Orde Baru lebih tidak
becusnya dari pemerintah Soekarno. Aktivis­aktivis seperti Arief Budiman, Sjahrir,
Julius Usman, Ben Manoto, dan Harry Victor mencetuskan gerakan Mahasiswa
Menggugat. Mereka memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak yang mencapai
100 persen dan korupsi.11

Dalam beberapa hari, demonstrasi mahasiswa dalam jumlah besar mulai turun
ke jalan, menempelkan poster­poster di dinding dinding bangunan dan mobil­mobil
yang lewat. Walaupun subyek utamanya adalah kenaikan harga, demonstrasi secara
konstan dan terang­terangan mengacu pada korupsi.
Di saat yang bersamaan di Bandung, Petisi Keadilan ditandatangani oleh 66
tokoh mahasiswa, tokoh gerakan senior, dan intelektual. Mereka di antaranya dari
kelompok yang lebih senior, seperti Rahman Tolleng, Roedianto Ramelan, Awan

10

Di tahun 1972, Hariman Siregar menikahi Sriyanti, putri Prof. Dr. Sarbini Soemawinata, salah seorang ekonom
terkemuka Indonesia. Setahun kemudian lahir putra sulung mereka, Reza.

11

Francois Raillon. 1984. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia 1 66-1 74. Jakarta: LP3ES, halaman 79­80.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 25

3/26/10 7:20:58 PM

~ ~

Hariman & Malari

Karmawan Burhan, Chris Siner Keytimu, Rachmat Witoelar, Wimar Witoelar, Sarwono

Kusumaatmadja, Erna Walinono, dan Arifn Panigoro. Juga tokoh-tokoh mahasiswa

yang lebih yunior, seperti Paulus Tamzil, Paskah Suzetta, Rulianto Hadinoto, Noke
Kirojan, dan Tjupriono Priatna (beberapa di antaranya berasal dari Studi Group
Mahasiswa Indonesia, yang anggotanya adalah ketua­ketua dan pengurus dewan
mahasiswa di Bandung); kemudian dari kalangan intelektual ada nama­nama seperti
Dr. Midian Sirait, dr. M.M. Moeliono, Amartiwi Saleh, S.H., Ny. Otong Kosasih,
Djuchro Sumitradilaga. Ditambah lagi dengan Dedi Krishna, Alex Rumondor, Bonar
Siagian, Djoko Sudjatmiko, R.A.F. Mully, Bernard Mangunsong, Lili Asdjudiredja,
dan Sjahrir dari Jakarta.12

Petisi Keadilan menyoal tiga pokok masalah yang menjadi titik tolak
kegagalan usaha mengadakan pembaruan guna memperbaiki tingkat hidup rakyat.
Pertama, dalam hal pengumpulan, pemanfaatan, dan pengawasan atas pendapatan
dan kekayaan negara, seperti minyak bumi dan sebagainya, dirasakan banyak
kepincangannya. “Kekayaan berlimpah­limpah yang dinikmati sebagai hasil korupsi
segelintir oknum aparatur negara di satu pihak dan dimintanya pengorbanan lebih
banyak dari rakyat dengan antara lain menaikkan harga minyak bumi dan kurang
diperhatikannya kebutuhan­kebutuhan dunia pendidikan di lain pihak dengan jelas
memperlihatkan contoh kepincangan­kepincangan ini.”

12

Rum Aly. 2004. Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter: Gerakan Kritis Mahasiswa Bandung di Panggung Politik
Indonesia 1 70-1 74. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Hariman bersama rekan-rekan aktivis mahasiswa UI.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 26

3/26/10 7:21:00 PM

~ ~

Kedua, masih dirasakan banyaknya, bahkan makin meningkatnya, penye­
lewengan­penyelewengan dan pelanggaran­pelanggaran hukum yang dilakukan
terutama oleh oknum­oknum aparatur negara sendiri yang tidak ditindak secara
konsekuen “telah menimbulkan rasa ketidakpercayaan di kalangan masyarakat akan
iktikad pemerintah untuk menegakkan kekuasaan hukum”.
Ketiga, “Pandangan hari depan perkembangan politik tidak memperlihatkan
kemungkinan perubahan ke arah peningkatan kesadaran berpolitik seluruh rakyat
dengan dipertahankannya pola kehidupan politik lama, seperti diperlihatkan dalam
Undang­Undang Pemilihan Umum”. Petisi ini ditujukan kepada Presiden Soeharto
sebagai pimpinan Orde Baru dan para pemimpin masyarakat lainnya.
Reaksi pejabat pemerintahan menjadi mengeras ketika mahasiswa mulai
menyebut nama­nama para jenderal yang berada di lingkaran Presiden Soeharto. Pada
tanggal 24 Januari 1970, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban
(Kopkamtib) Jakarta Raya melarang semua demonstrasi. Dan, tanggal 27 Januari,
para pimpinan pemrotes ditangkapi. Walaupun kelompok­kelompok nonpermanen
(ad hoc) yang dibentuk beberapa minggu secara formal tetap ada untuk beberapa
lama, protes di jalanan sama sekali menghilang.13
Untuk merespons tuntutan mahasiswa itu, tanggal 2 Februari, Presiden
Soeharto membentuk komisi khusus pemberantasan korupsi, yang kemudian dikenal
dengan nama Komisi Empat. Disebut begitu karena anggotanya terdiri dari empat
orang: diketuai Wilopo, S.H., dengan anggota­anggotanya I.J. Kasimo, Prof. Ir.
Herman Johannes, dan Anwar Tjokroaminoto. Adapun sebagai sekretaris komisi
ditunjuk Mayjen Sutopo Juwono. Untuk menambah bobot kredibilitas dan mendapat
kepercayaan publik diangkat pula mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr.
Mohammad Hatta, sebagai penasihat presiden sekaligus penasihat Komisi Empat. Tapi,
setelah cukup lama ditunggu, hasil Komisi Empat tiada kunjung keluar. Mahasiswa
pun menyebut Komisi Empat tak lebih dari macan ompong belaka. Selain diisi oleh
orang yang sudah berusia tua, juga tak memiliki taring untuk menggusur koruptor.
Barulah lima bulan berikutnya, yakni pada 30 Juni 1970, para tokoh yang
tergabung dalam Komisi Empat menyampaikan hasil kerja dan pertimbangan­
pertimbangan kepada Presiden Soeharto. “Selama lima bulan, korupsi semakin
meluas,” ungkap Ketua Komisi Empat Wilopo, S.H. kepada pers sehari sesudahnya.
Komisi Empat menyampaikan tiga indikasi sebagai penyebab meluasnya korupsi:
faktor pendapatan atau gaji yang tidak mencukupi; penyalahgunaan kesempatan
untuk memperkaya diri, dan; penyalahgunaan kekuasaan untuk memperkaya diri.
Pertamina, Bulog, dan sektor perkayuan banyak mendapat perhatian Komisi Empat.
Kepada presiden disampaikan nota­nota pertimbangan khusus mengenai instansi­
instansi tersebut.

Menurut Wilopo, masalah Pertamina, Bulog dan Kehutanan merupakan
masalah yang meliputi uang bermiliar­miliar rupiah dan berjuta­juta dolar Amerika

13

Max Lane. 2007. Bangsa yang Belum Selesai: Indonesia sebelum dan sesudah Soeharto. Jakarta: Reform Institute,
halaman 59.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 27

3/26/10 7:21:00 PM

~ ~

Hariman & Malari

Serikat yang melewati tangan petugas­petugas. “Hendaknya jangan sampai Pertamina
yang merupakan bikinan pemerintah itu menjadi monster yang tidak bisa dikendalikan
oleh administrasi negara,” ujar Wilopo.
Tapi mahasiswa menyahut, “Tanpa Komisi Empat dan tanpa perlu menunggu
lima bulan, kami pun sudah tahu itu.” Hanya ucapan Mohammad Hatta yang
menyatakan “korupsi di Indonesia telah membudaya” yang mendapat sambutan luas
di masyarakat dan disepakati kebenarannya.
Aksi­aksi mahasiswa pun kian meningkat. Selain Jakarta dan Bandung,
mahasiswa di Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan ikut bergerak. Arief
Budiman yang memelopori Komite Anti Korupsi (KAK) merencanakan malam
tirakatan pada 15 Agustus 1970 di jalur hijau Jalan M.H. Thamrin. Tapi, rencana
itu dilarang oleh Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro. Larangan itu dilontarkan
Jenderal Soemitro seraya mengancam akan mengirim pasukan bila tirakatan tetap
dilaksanakan. Arief waktu itu tetap bersikeras, meskipun ada beberapa kawannya
yang agak gentar, sebab diperhitungkan akan terjadi bentrok.
Akhirnya, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mencoba menengahi. Ia
menawarkan mahasiswa agar melaksanakan malam tirakatan di rumah masing­
masing dan menjanjikan akan memadamkan lampu selama lima menit malam itu
di seluruh Jakarta. Dua hari sebelum tirakatan, KAK memutuskan menerima usul
Ali Sadikin tersebut. Namun, W.S. Rendra—penyair dari Yogyakarta—merasa bukan
warga Jakarta dan bukan anggota KAK, sehingga mengaku tidak terikat dengan
keputusan KAK. Ia tetap datang ke Jalan M.H. Thamrin pada pukul 21.00, tanggal
15 Agustus 1970, bersama beberapa rekannya sesama seniman: Azwar A.N., Nashar,
Djuffri Tanissan, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Hutasoit, J.E. Siahaan, dan
ekonom muda Drs. Dorodjatun Kuntjoro­Jakti. Mereka turun ke jalur hijau Jalan
M.H. Thamrin di depan Wisma Warta. Duduk dengan tenang di sana dalam suatu
lingkaran, kemudian berdoa, bertirakat.
Namun, tirakatan baru saja berlangsung kurang­lebih setengah jam datang
tentara dan langsung menangkap mereka. Rendra digiring ke mobil petugas, diikuti
Azwar dan Hutasoit, lalu dibawa ke Komando Distrik Militer (Kodim) Jakarta Pusat
sebelum dibawa ke Staf Komando Garnisun (Skogar). Beberapa teman tirakatannya
dan eksponen KAK, juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Akbar
Tandjung, menyusul ke Skogar. Tapi, para pengunjung itu malah juga ikut diperiksa.
Mereka dibebaskan pada pukul 02.30, kecuali Akbar Tandjung dan Dorodjatun yang
masih “diperlukan” dan ikut diinapkan semalam bersama Rendra. Mereka baru
dibebaskan keesokan siangnya pukul 15.00 WIB.14
Pada situasi seperti inilah—ketika mahasiswa “terpanggil” kembali mengoreksi
pemerintah dan masyarakat—Hariman berada di lingkup kampus. Pada era 1970­an
ini mahasiswa masih memiliki kekuatan yang amat diperhitungkan oleh penguasa.
Maklum, Soeharto naik ke kursi kekuasaan di antaranya juga buah dari aliansi bersama

14

Ibid.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 28

3/26/10 7:21:00 PM

~ ~

mahasiswa pada 1966. Di dunia kampus pun lazim berlangsung yang disebut sebagai
pemerintahan mahasiswa (student government). Kebijakan pemerintah yang dirasakan
bertentangan atau merugikan kepentingan rakyat akan dikoreksi dan dikritik habis.
“Bila petisi tidak didengar, jalanan adalah lanjutan”, begitulah slogan mereka.
*****
Hariman mulai terlibat secara intens dalam politik kampus ketika duduk di
tingkat tiga di FKUI. Ia masuk dewan perwakilan mahasiswa (DPM), sebagai anggota
legislatif dari fakultas kedokteran. Pada saat itu, mahasiswa umumnya terlibat dalam
suatu organisasi ekstra­kampus. Ada yang berhimpun di HMI, Gerakan Mahasiswa
Nasionalis Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI),
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan lain­lain. Di
luar itu biasanya disebut kelompok non­partisan. “Hariman termasuk yang non­
partisan, termasuk minoritas di fakultas kedokteran karena rata­rata mahasiswanya
anggota HMI, baru sedikit GMNI dan PMKRI,” ujar Didi Siswapranata dari Fakultas
Psikologi UI. Di fakultas psikologi petanya justru kebalikan, hampir semua aktivis
adalah non­partisan.

Di kalangan non­partisan, Hariman termasuk yang dianggap sebagai pentolan.
Juga Amir Hamzah dan Salim Hutadjulu dari fakultas ilmu­ilmu sosial.
Lantas, kapan Hariman mulai tampil sebagai pemimpin mahasiswa? “Pertama
kali saya lihat dia memimpin ketika kami study tour ke Pangandaran dan Palembang,”
jawab Gurmilang. Tempat­tempat itu diusulkan oleh Gurmilang dan Amir Hamzah.
Sebetulnya ada unsur “sekalian” dalam usulan tempat itu. Baik Gurmilang maupun
Amir Hamzah berniat sekalian menengok kampungnya dalam wisata studi itu.
Gurmilang berasal dari Pangandaran, Jawa Barat, sedangkan Amir Hamzah dari
Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Sejak itu, Hariman mulai menunjukkan
leadership setiap kali ada kegiatan di kampus FKUI.
Secara umum, di masa itu, UI sesungguhnya memiliki arti penting bagi
gerakan mahasiswa di Jakarta dan karenanya bisa disebut se­Indonesia. Kedudukan
Dewan Mahasiswa UI diperhitungkan betul oleh pemerintah. Tapi, Hariman melihat
tak banyak yang dilakukan Dewan Mahasiswa UI ketika dipimpin Hariadi Darmawan.
Dewan Mahasiswa UI baru mulai melawan pemerintah ketika posisi ketua umum
dipegang Yozar Azwar. Itu pun belum memainkan isu­isu yang sentral. Misalnya baru
isu mengenai pendidikan kedokteran dan pendidikan sekolah.15
Justru tokoh mahasiswa yang tidak terlibat di Dewan Mahasiswa UI seperti
Sjahrir dan beberapa aktivis lainnya yang memainkan tema­tema sentral. Sjahrir,
misalnya, aktif di KAK bersama Arief Budiman, yang selanjutnya mengusung tema
menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dewan Mahasiswa UI
pada isu itu mengambil posisi netral, tidak mau terlibat dan tidak mau ikut berperan.
Pada awal tahun 1970­an, Sjahrir dan 15 tokoh lainnya “menghidupkan”

15

Ibrahim Zakir dkk. Manuskrip tidak diterbitkan, tanpa keterangan judul dan angka tahun.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 29

3/26/10 7:21:01 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

kembali Grup Diskusi Universitas Indonesia (GDUI), yang telah berdiri sejak 1968.
GDUI memainkan peran penting dalam mengembangkan kebijakan gerakan protes.
Sebagai penasihat GDUI didapuk Billy Joedono, Dorojatun Kuntjoro­Jakti, dan
Juwono Sudarsono. Akan halnya motor utamanya adalah Sjahrir sendiri.16

Kegiatan
utama GDUI adalah diskusi, yang diselenggarakan hampir setiap minggu. Sejumlah
tokoh terkemuka—antara lain Mohammad Hatta, Wilopo, dan Jenderal T.B.
Simatupang—pernah berbicara dalam forum diskusi GDUI.
Selain itu ada juga semacam kuliah tentang masalah­masalah sosial­politik
dan ekonomi. Materi kuliah tentang ekonomi, misalnya, diberikan oleh Dorodjatun,
falsafah oleh Billy Joedono, dan politik luar negeri oleh Juwono Sudarsono. Setiap
semester, GDUI rajin merekrut anggota baru. Di masa itu, GDUI bahkan sempat
memiliki anggota aktif sekitar 200 mahasiswa dari berbagai fakultas di UI.
Hariman sendiri baru masuk GDUI pertengahan tahun 1972. Ia menjadi
sekretaris angkatan di kelompok diskusi ini. Meski begitu, ia tergolong tak terlalu
sering ikut diskusi. Hanya saja, setiap datang, ia dipastikan “meramaikan” diskusi­
diskusi yang digelar. “Sjahrir ketika itu bercerita kepada saya bahwa ada seorang
mahasiswa baru, seorang tokoh yang penuh harapan: pintar dan berani. Mahasiswa
baru ini diyakini dapat mewujudkan niat Sjahrir mengambil alih kepemimpinan
mahasiswa UI dari dominasi Hariadi Darmawan dkk., yang berasal dari HMI,” tutur
Rahman Tolleng.

Kesan yang sama tentang Hariman juga diungkapkan Dorodjatun Kuntjoro­
Jakti, yang kala itu masih seorang dosen muda UI sekaligus penasehat GDUI. “Kalau
dilihat dari kemampuannya membangkitkan semangat dengan kemampuan oratornya,
Hariman sulit ditandingi anak­anak GDUI lainnya. Bahkan, Sjahrir sekalipun enggak
bisa menandinginya. Menurut saya, sangatlah penting peran seorang orator di GDUI,
terutama untuk menghadapi massa. Hariman juga tidak mudah gentar, dia sangat
berani. Mungkin ini salah satu ciri generasi Hariman, enggak ada takutnya,” kata
Dorodjatun.

Pada perjalanannya, keberadaan GDUI memang memberikan warna lain
bagi UI yang organisasi mahasiswa intra­kampusnya saat itu didominasi para aktivis
HMI. Penguasaan HMI itu antara lain dengan terus­menerus memegang kursi Ketua
Umum Dewan Mahasiswa UI. Saat itu, Hariman juga telah menduduki kursi Ketua
Senat Mahasiswa FKUI. Ia terpilih pada tahun 1971. Dalam pemilihan Ketua Senat
FKUI itu, Hariman berhadapan dengan Fahmi Alatas (wakil dari HMI). Pada masa
kampanye pemilihan, Hariman yang sehari­harinya mengendarai Morris Cooper Mini
digambarkan dengan mobilnya itu melewati Fahmi Alatas yang dilukis mengenderai
unta. “Kemenangan Hariman ini menjadi tonggak penting bagi mahasiswa non­
partisan di UI,” ujar Didi Siswapranata.
Sejak itu, Hariman lebih lincah dalam melakukan manuver­manuver yang
bernuansa politis. “Fisiknya memang kuat dan mobilitasnya tinggi, sehingga ia tak

16

Saat itu Sjahrir telah menjadi asisten dosen Prof. Sarbini Soemawinata untuk mata kuliah strategi pembangunan.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 30

3/26/10 7:21:01 PM

~ ~

pernah lelah untuk sibuk dengan GDUI dan tetap konsentrasi dengan kuliah,” kata
Gurmilang.

Hariman pun mulai berinteraksi dengan orang­orang di luar kampus. Sebagai
pengurus organisasi kampus di UI, ia mulai bersinggungan dengan sejumlah elite
politik. Salah satunya saat rapat Ikatan Mahasiswa UI medio 1972 di Mega Mendung,
Bogor, Jawa Barat. Beberapa elite politik turut hadir, seperti Ali Moertopo, Liem Bian
Koen (Sofyan Wanandi), dan Mari’e Muhammad. Hariman mulai melihat betapa
dominannya peran Ali Moertopo dalam pemerintah.
Dalam pertemuan itu, Ali Moertopo mengingatkan tentang peran mahasiswa
Angkatan ‘66 sebagai titik tolak perubahan Indonesia. Ali Moertopo menginginkan
persatuan di antara Angkatan ‘66. Pada kenyataannya, keinginan Ali Moertopo itu
tidaklah sederhana. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang ia bentuk
kemudian untuk maksud penyatuan ini justru dianggap sebagai upaya pengendalian.
Pada awal 1970­an itu Soeharto bersama Ali Moertopo memang mulai giat
menjalankan politik pewadahtunggalan bagi kelompok­kelompok dan profesi
masyarakat: pemuda, wartawan, pegawai negeri, hingga istri pegawai negeri dan
militer. Untuk mahasiswa, Ali Moertopo telah menyiapkan satu wadah tunggal:
National Union Student (NUS). Anggota NUS diharapkan berasal dari dewan­dewan
mahasiswa universitas se­Indonesia. Tugas mewujudkan NUS diserahkan terutama
kepada salah seorang kepercayaan Ali Moertopo: Dr. Midian Sirait. Ia adalah orang
Golkar yang sebelumnya aktivis dan memiliki jaringan cukup kuat di Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Dikti
Depdikbud).

Strategi kemudian disusun. Kelompok Operasi Khusus (Opsus) merasa rencana
sudah cukup matang untuk menjalankan konsep NUS. Pemimpin NUS kelak adalah
mahasiswa yang bakal menjadi pemimpin pemuda Indonesia. Ada dua nama yang
digadang­gadang Opsus: Bambang Warih Kusumah (yang berasal dari Bandung)
dan Hariman Siregar. Pemimpin NUS kelak akan dijadikan kaki­tangan Opsus untuk
mengendalikan mahasiswa.

Tetapi, kandidat paling kuat jatuh pada Hariman. Menurut Gurmilang,
Dr. Midian Sirait turut berperan dalam pemilihan Hariman sebagai “pemimpin”
kaum muda itu. “Pilihan terhadap Hariman lebih karena kemampuannya dalam
berkomunikasi, personal approach­nya yang bagus, dan mobilitas Hariman yang
sangat tinggi,” kata Gurmilang.
Selanjutnya, kedekatan dengan Ali Moertopo membuat Hariman bisa diterima
kelompok Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga studi yang
dibentuk Ali Moertopo dan Sudjono Hoemardhani bersama sejumlah akademisi. Ia
mulai sering terlihat mondar­mandir di kantor CSIS di Jalan Tanah Abang III, Jakarta.
Bahkan, ia kemudian dianggap sebagai salah satu anak emas Tanah Abang III.
Kemampuan Hariman bergaul membuat ia bisa diterima di berbagai kelompok,
baik kawan maupun lawan Opsus. Kecerdasannya juga menjadi modal kuat untuk

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 31

3/26/10 7:21:02 PM

~ ~

Hariman & Malari

Hariman saat memimpin pertemuan Ikatan Mahasiswa Profesi di Puncak Bogor (1973).
Disebelah kirinya Marzuki Darusman.

Hariman saat memimpin pertemuan Ikatan Mahasiswa Profesi di Puncak Bogor (1973).
Disebelahnya Prof. Dr. Kusnadi Harjasumantri.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 32

3/26/10 7:21:14 PM

~ ~

kelak menjadi tokoh mahasiswa. Istilahnya, mendapatkan Hariman bagaikan men­
dapat berlian yang siap diasah.
Tapi, jalan pembentukan NUS tidak mulus. HMI menentang keras gagasan
tersebut. Wakil dari HMI, Awad Bahasoan, pada sidang pembentukan NUS di Istana
Bogor beranggapan pewadahtunggalan hanya akan membuat mahasiswa tidak bisa
lagi kritis. Menurut hemat Hariman, penolakan terhadap NUS sangat masuk akal. Ia
sendiri bukan bagian dari orang yang setuju dengan politik korporatisme yang bersifat
mengendalikan. Tapi, kedekatan yang tengah digalang dengan kelompok kekuasaan
ini merupakan babak yang harus dilewati hingga nanti memiliki barisan sendiri yang
lebih kuat.

Ali Moertopo pun mulai membuat pola baru. Ia ingin agar mahasiswa di­
ikat dalam organisasi berdasar keilmuan dan lebih berkutat di masalah­masalah
disiplin ilmu masing­masing. Hariman tetap diplot menjadi tokoh sentral. Ia terbang
ke Makassar bersama Judilherry Justam, yang berasal dari HMI. Di sana mereka
hadir dalam Kongres Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia (IMKI). “Ini juga
kepentingan Ali Moertopo,” kata Judilherry. Saat itu, nama Hariman dan Judilherry
merupakan kandidat kuat pimpinan IMKI.
Salah satu keputusan IMKI waktu itu adalah membuat sekretariat bersama.
Untuk itu perlu dipilih seorang sekretaris jenderal (sekjen). Dalam pemilihan, Hariman
bersaing ketat dengan Judilherry. Hasil pemilihan berakhir dengan angka seri: 6
lawan 6. Sebetulnya peserta kongres terdiri dari 13 perwakilan fakultas kedokteran
se­Indonesia, namun UI memutuskan abstain dalam pemungutan suara karena kedua
kandidat sekjen sama­sama berasal dari UI.
Sesampainya di Jakarta, tercapai kesepakatan antara Hariman dan Judilherrry.
“Judil mundur dari pemilihan kandidat Sekjen IMKI dan, sebagai konsesinya, dia
menggantikan saya sebagai Ketua Senat FKUI,” kata Hariman. Memang, Judilherry
kemudian mengumumkan mengundurkan diri sehingga tak diperlukan pemilihan
ulang. Maka, jadilah Hariman Siregar sebagai Sekjen IMKI. “IMKI dan ikatan
mahasiswa profesi lainnya ini memang dirancang untuk mewadahtunggalkan
mahasiswa,” tutur Gurmilang. Maksudnya, gagal masuk lewat penyatuan dewan­
dewan mahasiswa, Ali Moertopo mencoba untuk menyatukan mahasiswa lewat
organisasi formal lain yang ia bentuk. Kelak, demikian rancangan Ali, “ikatan­ikatan

mahasiswa profesi” itu akan berkumpul dan didorong melakukan unifkasi serupa

NUS yang telah gagal. Tapi, rencana merebut UI dari dominasi HMI dan organisasi
ekstra­kampus tetap digalang.

Pertengahan 1973, salah satu agenda penting mahasiswa UI adalah pemilihan
Ketua Dewan Mahasiswa UI. Hariman pun berkeinginan maju sebagai salah satu
kandidat. Menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI di masa itu, dalam perhitungan
Hariman, sebenarnya usaha yang cukup sulit. Sejarahnya, Ketua Dewan Mahasiswa
UI harus memiliki basis organisasi mahasiswa ekstra­kampus, seperti HMI, GMNI,
atau PMKRI. Akan halnya Hariman tak terlibat dalam organisasi­organisasi tersebut.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 33

3/26/10 7:21:15 PM

~ ~

Hariman & Malari

Ia hanya tercatat ikut dalam GDUI. Dan di dalam GDUI sendiri mulanya agak ragu.
Bahkan Sjahrir, motor utama GDUI, waktu itu sempat menyampaikan keraguan
Hariman bakal terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI.17
Tapi, bukan Hariman namanya kalau mundur begitu saja. Tantangan berat
justru membuat dirinya bersemangat untuk mengatasinya. Ia pun mulai mengatur
strategi dan melakukan pendekatan terhadap anggota Majelis Perwakilan Mahasiswa
(MPM) UI. Pelan tapi pasti, simpati mulai berdatangan. “Orang tertarik kepada
Hariman karena pendekatan kemanusiaannya. Personal approach­nya tinggi,” kata
Salim Hutadjulu, yang saat itu menjabat Ketua Senat FISIP UI. Aktivis mahasiswa
fakultas sastra, yang mayoritas merupakan mahasiswa independen, juga menyatakan
dukungan. Begitu pula beberapa organisasi mahasiswa profesi yang berada di UI,
seperti Mahasiswa Pencinta Alam.
Rekam jejak sebagai anggota DPM, Ketua Senat Mahasiswa FKUI, dan
Sekjen IMKI turut mendongkrak ketokohan Hariman sebagai kandidat Ketua Dewan
Mahasiswa UI. Saingan utama Hariman sebagai kandidat Ketua Dewan Mahasiswa
UI adalah Ismeth Abdullah, yang diusung oleh HMI.
Di atas kertas, kemenangan sudah hampir pasti diperoleh Ismeth Abdullah.
HMI memiliki 25 suara di MPM, sisa suara diperebutkan oleh Hariman dan kandidat
lain. “Saya sendiri mulanya mencalonkan diri,” kata Gurmilang. Ia dan beberapa calon
lain mengundurkan diri guna mendukung Hariman. Hingga akhirnya menjelang hari
pemilihan Ketua Dewan Mahasiswa UI tinggal tiga kandidat yang siap bertarung:
Hariman, Ismeth Abdullah, dan Theo L. Sambuaga yang diusung GMNI. Melihat peta
suara, posisi Theo karenanya menjadi penentu, bahkan bagi HMI bila ingin menang
telak dalam pemilihan.

Akbar Tandjung, yang kala itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI,
mengatakan sebetulnya HMI UI telah melakukan kesepakatan koalisi dengan GMNI.
“Kami meminta GMNI mendukung calon kami, Ismeth Abdullah,” ujarnya. Dengan
menang telak, HMI bakal menancapkan dominasinya di UI.
Ketika itu, Theo L. Sambuaga sempat memberi sinyalemen akan mengalihkan
suara GMNI ke HMI. Ia dijanjikan menjadi sekjen Dewan Mahasiswa UI bila kelak
Ismeth Abdullaj menjadi ketuanya. Di kubu Hariman, berbagai manuver pun dilakukan
dengan intensif. Pendekatan personal dilakukan satu per satu terhadap para anggota
MPM UI. Gurmilang, misalnya, mendekati kerabat di fakultas psikologi dan duduk
di MPM. Pendekatan itu sukses.
Namun, tetap saja di atas kertas suara untuk Hariman belum cukup. Lantas,
Theo Sambuaga yang menjadi memiliki posisi kunci juga dilobi secara intensif. “Dari
kelompok Hariman yang didukung GDUI datang melobi saya. Begitu juga dari HMI.
Prosesnya cukup panjang, sampai berbulan­bulan. Lobi sana­sini dan kampanye.
Tapi, tidak ada unsur uang. Pada akhirnya, saya dan teman­teman GMNI bergabung
mendukung Hariman,“ kenang Theo Sambuaga.

17

Ibrahim Zakir. Loc Cit.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 34

3/26/10 7:21:15 PM

~ ~

Hitung punya hitung, seandainya GMNI sepakat mengalihkan suaranya ke
Hariman, pertarungan HMI versus non­HMI akan menghasilkan suara berimbang
25:25. Peta suara di MPM yang cukup berimbang ini membuat tegang suasana
menjelang pemilihan. Selain dukungan dari GMNI yang memiliki jatah empat suara,
Hariman sudah mengantongi dukungan 21 suara dari PMKRI, GDUI, perwakilan
fakultas non­partisan, dan small group UI. Yang disebut terakhir ini adalah kelompok
Opsus di UI yang dibina oleh Letkol Utomo, ajudan Ali Moertopo. Kelompok ini
bermarkas di sebuah rumah di belakang Apotek Tunggal, yang letaknya persis
berseberangan dengan kampus UI di Jalan Salemba Raya. “Sampai menjelang hari
pemilihan, suara Theo masih ke HMI sebetulnya,” ujar Judilherry Justam yang kala
itu menjadi Ketua HMI UI.

Pendekatan yang dilakukan atas saran Akbar Tandjung adalah pembentukan
koalisi Islam­nasionalis. “Memang dari awal ada beberapa teman di HMI yang ragu
akan komitmen Theo, tapi saya kala itu percaya betul sama dia,” kata Akbar.
Faktanya, saat pemilihan, Theo dan GMNI mengalihkan suara kepada
Hariman. Mengapa bisa begitu? “Sewaktu kampanye, Hariman bilang: ‘Selama ini
HMI terus, sekali­kali gantian dong.’ Saya kira dia benar dan kami memang ingin
lihat ada perubahan,” tutur Theo L. Sambuaga tentang perubahan sikapnya. Dalam
pemilihan itu, Theo tetap maju menjadi kandidat, namun ia sudah menginstruksikan
semua suara GMNI diberikan ke Hariman.
Nah, saat penghitungan suara, perolehan suara Hariman dan Ismeth berkejaran.
Hasil akhir pemilihan mengejutkan semua pihak. Hariman unggul tipis, 26 lawan 24, dari
Ismeth. Dari mana satu suara untuk Hariman? “Rupanya ada anak HMI yang membelot,”
kata Gurmilang sambil terkekeh mengingat masa itu. Anggota HMI dari fakultas hukum
itu bermarga Hasibuan. Kepada Gurmilang dan kawan­kawan, ia mengungkapkan
alasannya mendukung Hariman: “Aku ini memang anggota HMI, tapi orang Batak. Jadi,
aku pilih si Hariman.” Agaknya ini teknik pendekatan lain dari Hariman. Ia berhasil
memainkan sentimen latar belakang kesukuan di anggota MPM.
Kemenangan Hariman tentu cukup mengejutkan kalangan HMI. Tak lama
beredar rumor bahwa kemenangan Hariman itu tak lepas dari campur­tangan orang­
orang Opsus. Benar begitu? Hariman sendiri tak mengelak bahwa ia didukung
oleh kelompok Ali Moertopo untuk merebut kursi Ketua Dewan Mahasiswa UI.
“Pendukung saya sebenarnya, ya, GMNI, PMKRI, GDUI, dan Pak Ali Moertopo,”
kata Hariman.18

Tapi, itu tak berarti Hariman bisa didikte begitu saja oleh Ali Moertopo dan
orang­orang Opsus. Terbukti kemudian, hanya beberapa hari setelah dilantik sebagai
Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman mulai menunjukkan jatidirinya. Ia, misalnya,
mengangkat sejumlah aktivis HMI menduduki posisi penting dalam kabinet Dewan
Mahasiswa UI.

18

“Malari: Apa yang Terjadi?”, Tempo edisi 48/XXI 25 Januari 1992.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 35

3/26/10 7:21:16 PM

~ ~

Hariman & Malari

Hariman juga menjadikan GDUI sebagai “dapur” Dewan Mahasiswa UI.
GDUI mengolah isu­isu, mempertajam masalah, dan menggariskan sikap yang akan
dilemparkan, khususnya kepada dunia kampus. Adapun pelaksana utama gerakan di
lapangan adalah Dewan Mahasiswa UI.
e

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 36

3/26/10 7:21:16 PM

~ ~

ak lama setelah terpilih sebagai Ketua
Dewan Mahasiswa UI, Hariman Siregar dilantik
oleh pihak Rektorat UI. Saat itu, ia masih tercatat
sebagai anggota Golkar. Menjelang pelantikan, ia
menyatakan mengundurkan diri dari keanggotaan
Golkar.1

“Saya dipilih oleh mahasiswa, bukan oleh

Golkar,” kata Hariman.
Pelantikan pengurus Dewan Mahasiswa UI dilakukan Penjabat Rektor UI,
Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso, awal Agustus 1973, yang mengggantikan sementara
Prof. Soemantri Brodjonegoro yang sedang sakit keras. Baru sebulan kemudian Prof.

Soemantri menominasikan calon tunggal untuk rektor defnitive, yaitu Prof. Mahar

Mardjono. Kurang dari sebulan setelah pelantikan itu pula Dewan Mahasiswa UI
langsung sibuk dengan berbagai aktivitas protes terhadap Orde Baru.
Saat penyusunan kabinet Dewan Mahasiswa UI, Hariman mulai menunjukkan
independensinya. Ia memilih Judilherry Justam, Ketua Komisariat HMI UI, sebagai
Sekjen Dewan Mahasiswa UI. Padahal, orang­orang Opsus sebelumnya sudah wanti­
wanti agar Hariman tidak melibatkan aktivis HMI. “Gara­gara Hariman memilih Judil
sebagai sekjen, bukan aktivis binaan Opsus, para petinggi Opsus marah besar,” tutur
Gurmilang Kartasasmita. Gurmilang sendiri kemudian ditunjuk sebagai wakil ketua
II dan Theo Sambuaga menjadi wakil ketua I. Beberapa anggota aktif GDUI juga
ditunjuk Hariman dalam kabinetnya, antara lain Darmin Nasution yang menduduki
posisi Ketua Departemen Pendidikan Dewan Mahasiswa UI.
Judilherry sendiri menilai keputusan Hariman memilih dirinya sebagai hal
yang sangat strategis. “Menurut saya, waktu itu Hariman telah menemukan dirinya
sendiri,” kata Judilherry Justam, “atau mungkin bagi Hariman, Opsus waktu itu hanya
sekutu taktis saja.”

1

C. Van Dijk. 2000. Pengadilan Hariman Siregar. Jakarta: TePLOK PRESS.

Jalan

Menuju Malari

TE p i s o d E 3

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 37

3/26/10 7:21:16 PM

~ ~

Hariman & Malari

Pendapat Judilherry diamini oleh mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI
kurun waktu itu, Akbar Tandjung. Menurut dia, “Hariman adalah orang yang tidak
bisa dikendalikan. Seusai terpilih menjadi Ketua DMUI, ia segera menggunakan
posisinya itu untuk memimpin gerakan mahasiswa menentang penguasa.”
Mantan Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro punya cerita sendiri. Suatu
malam tak lama setelah dilantik sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI, kata Soemitro,
Hariman datang ke kantor Kopkamtib bersama semua pengurus Dewan Mahasiswa
UI. Saat itu, Soemitro ditemani wakilnya, Laksamana Sudomo.
Kedatangan mahasiswa­mahasiswa itu mengenalkan diri dan melapor sebagai
pengurus Dewan Mahasiswa UI yang baru. “Tapi dalam laporannya Hariman me­
nutup dengan ucapan yang saya anggap aneh,” tulis Soemitro dalam memoarnya.
Ucapan yang dianggap aneh itu ialah “Kami ada hubungan dengan Tanah Abang
III.”2

Maksudnya adalah kantor CSIS, organisasi think thank yang didirikan oleh
tokoh­tokoh Opsus. “Tapi kelak waktu bergulir Hariman berubah 180 derajat,” imbuh
Soemitro.

Hariman mengaku sengaja memilih Judilherry sebagai Sekjen Dewan Ma­
hasiswa UI demi menjalankan misi besar: konsolidasi gerakan mahasiswa Indonesia.
Untuk itu, ia merangkul HMI yang notabene saat itu masih memiliki pengaruh besar
di kampus­kampus di seluruh Tanah Air. “Setelah saya terpilih menjadi Ketua DMUI
pada Agustus 1973, kami memutuskan menjadikan DMUI sebagai lembaga sentral
untuk mempersatukan semua potensi aksi yang ada di masyarakat. Saya berusaha
memperkuatnya. Susunan pengurus harian DMUI, saya isi dengan mahasiswa UI
yang juga merangkap menjadi aktivis dari berbagai organisasi ekstra—HMI, GMNI,
PMKRI, GMKI—sehingga DMUI memiliki akses ke organisasi mereka,” ungkap
Hariman.

Mengapa konsolidasi gerakan mahasiswa menjadi penting? Sebagaimana
diketahui, terhadap kebangkrutan ekonomi orde sebelumnya, Orde Baru menganut
politik pembangunan yang mengutamakan strategi pertumbuhan ekonomi. Dalam
pelaksanaannya, strategi ini membutuhkan injeksi modal yang besar untuk investasi,
yang sulit dipenuhi dari dalam negeri. Karenanya, terbitlah UU No. 1/1967 tentang
Penanaman Modal Asing (PMA).
PMA bersedia masuk jika ada jaminan stabilitas politik. Maka dilakukanlah
stabilisasi bidang politik, antara lain dengan mengintegrasikan struktur komando
ABRI, agar tidak terjadi lagi persaingan antar­angkatan; menciptakan monoloyalitas
pegawai negeri sipil melalui Korps Pegawai Republik Indonesia (Permendagri No.
12/1969 dan PP No. 6/1970), sehingga birokrasi sipil tidak menjadi ajang perebutan
pengaruh partai­politik lagi. Kemudian, atas nama konsensus nasional, dibakukan
dalam UU No. 16/1969, diadakan sistem pengangkatan (pembagian jatah kursi bagi
ABRI di DPR/MPR) guna mengimbangi peran politisi sipil.

2

Heru Cahyono. 1998. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 38

3/26/10 7:21:17 PM

~ ~

Dalam suasana keberhasilan berbagai upaya konsolidasi seperti itulah—yang
sesungguhnya merupakan upaya sistematis menuju sentralisasi kekuasaan—Rencana
Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I dilaksanakan. Kalangan teknokrat (yang
tergabung dalam Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bappenas) menyusun
rencana dan birokrasi sipil bertugas melaksanakan rencana yang disetujui presiden.
Dalam tempo yang relatif singkat, dilihat dari makro ekonomi di atas kertas,

terlihat prestasi yang mengesankan. Infasi dapat ditekan, situasi moneter terkendali,

dan laju pertumbuhan ekonomi meninggi. Namun, menurut Dorodjatun Kuntjoro­
Jakti, 80 persen biaya investasi pembangunan justru datang dari utang luar negeri.3
Keadaan utang luar negeri hingga akhir 1973 dari Inter­governmental Group on
Indonesia (IGGI) saja mencapai US$2,73 miliar. Ini tidak main­main, mengingat
Orde Baru baru berusia tujuh tahun, tapi sudah membukukan utang sebegitu besar.
Akibatnya sangat mahal, masyarakat kecil menjadi lebih berat kehidupannya.4
Ini terjadi, selain karena aspek pemerataan memang kurang mendapat
perhatian, juga akibat adanya arogansi sektoral yang menimbulkan ketimpangan
antar­sektor dalam pembangunan. Muncul pula ekses lain: merajalelanya korupsi,
antara lain di Pertamina, Bulog, serta PT Berdikari;
dan mislokasi keuangan negara
seperti dalam proyek TMII.5

3

Dikutip dari Eep Saefulloh Fatah. 2010. Konfik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru: Manajemen Konfik Malari,
Petisi 50, dan Tanjung Priok. Jakarta: Burung Merak Press.

4

Lihat Donald Hindley. 1971. “Indonesia 1970”, dalam Asian Survey, Februari, halaman 115. Juga Ingrid Palmer. 1978.
The Indonesian Economy since 1965: A Case Study of Political Economy. London: Frank Cass, Ltd., halaman 196.

5

Lihat Hariman Siregar. 1995. “Gerakan Mahasiswa 1970­an”, makalah pengantar diskusi dalam pertemuan
ÒMengembangkan Wawasan Ke­2Ó yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia di Kanada dan Amerika Serikat di
Madison­Wisconsin, Amerika Serikat, 4 Juni 1995.

Hariman saat memimpin rapat Dewan Mahasiswa UI.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 39

3/26/10 7:21:18 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Menyaksikan dan mendengar berbagai permasalahan tersebut, Hariman
dan aktivis mahasiswa lain yang dapat merasakan apa yang sedang terjadi saat itu
menjadi tergugah untuk bergerak. “Karenanya, saya dapat memahami jika kemudian
banyak reaksi yang muncul dari kalangan pemuda dan mahasiswa ketika itu: ada aksi
Mahasiswa Menggugat, Aksi Pelajar 70, Komite Anti Korupsi, Bandung Bergerak,
Komite Anti Kelaparan, Anti TMII, dan sebagainya
. Aksi­aksi semacam ini lebih
didorong oleh keprihatinan yang mendalam atas rasa keadilan dan keberpihakan
kepada rakyat banyak. Inilah salah satu yang membedakannya dengan gerakan
mahasiswa 1965­1966, yang lebih berdasarkan perasaan anti­komunis dan Sukarno,”
tutur Hariman.6

Boleh dikata, sepanjang awal tahun 1970an itu hampir tiada hari tanpa aksi. Ha­
nya saja yang menjadi tanda­tanya di benak Hariman: mengapa efek dari berbagai aksi
itu tidak pernah meluas. Setelah mendiskusikan soal itu, para aktivis mahasiswa tiba
pada kesimpulan: penyebabnya adalah, selain tidak adanya isu sentral yang konkret
seperti Tritura, juga tidak ada lembaga yang mampu mempersatukan berbagai potensi
aksi setelah bubarnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Sebuah diskusi bertema “28 Tahun Kemerdekaan Indonesia” kemudian digelar
GDUI pada 13­16 Agustus 1973. Pembicaranya adalah Soebadio Sastrosatomo,
Sjafruddin Prawiranegara, Ali Sastroamidjojo, dan T.B. Simatupang. Beberapa ke­
simpulan dari diskusi ini menyatakan: 1) perlunya praktik politik dan serangkaian
tindakan untuk menyelesaikan masalah dan bukan sekadar diskusi­diskusi; 2) di
kalangan generasi muda dan tua masih terdapat perbedaan gambaran mengenai
struktur politik serta lebih banyak kondisi obyektif dihadapi dalam merumuskan
strategi bersama bagi generasi muda; 3) ada dua pandangan dalam melihat praktik
kekuasaan, yaitu perlu bergerak di luar pemerintahan atau mengubahnya dari dalam.
Hariman menggarisbawahi kesimpulan “perlunya serangkaian tindakan” untuk
menyelesaikan masalah: suatu aksi yang terencana dan melibatkan massa. Menurut

Jusman Syafi Djamal, yang baru menjadi mahasiswa di ITB pasca-Malari, prinsip

Hariman menjadi aktivis memang “aksi” bagi rakyat. “Ia bilang kepada saya dalam
suatu perjalanan dari Bandung ke Jakarta: menjadi aktivis itu nyemplung saja dulu,
pemahaman dan teori akan muncul dari pengalaman bersentuhan dengan rakyat,”
kenang Jusman.

Setelah kabinet Dewan Mahasiswa UI terbentuk, Hariman menjalin kontak
dengan berbagai pihak, baik ke sesama dewan mahasiswa dari perguruan­perguruan
tinggi lain maupun ke unsur­unsur non­kampus, terutama dengan kalangan buruh
dan kelompok­kelompok marginal perkotaan lainnya. Banyak informasi yang
berisi keluhan mengenai berbagai masalah kemasyarakatan yang diterima Dewan
Mahasiswa UI dari kalangan rakyat kecil itu.
Sosialisasi gagasan mengenai perlunya mempersoalkan strategi pertumbuhan
ekonomi yang bergantung pada modal asing dan melupakan aspek pemerataan

6

Ibid.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 40

3/26/10 7:21:18 PM

~ ~

mendapat sambutan yang baik. Banyak mantan aktivis 1966—entah karena kesadaran
(umpamanya: barisan Golongan Putih, Golput) ataupun hanya di dorong rasa kecewa
karena tidak mendapat jatah dalam refreshing DPR­GR (1967) atau yang mendapat
jatah tapi kemudian tersingkir ketika ada refreshing lagi tahun 1968—ikut mendukung
gagasan kritis tersebut.

*****
Gelombang demonstrasi menentang pembangunan TMII menyurut pada
1973. Dua isu besar muncul sebagai tema utama aksi jalanan pada bulan­bulan akhir
1973: anti­RUU Perkawinan dan anti­modal asing. Yang pertama terutama digalang
oleh organisasi­organisasi massa Islam, menentang rancangan undang­undang yang
diajukan pemerintah ke DPR pada 31 Juli 1973. Akan halnya isu tentang dominasi
modal asing di Indonesia merebak dari komite­komite mahasiswa, aktivis anti­korupsi
(sebagian dimotori eks mahasiswa Angkatan 1966), grup­grup diskusi kampus, hingga
kemudian diusung oleh lembaga formal mahasiswa: dewan mahasiswa.
Bulan Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan dalam kalender Hijriah.
Artinya, siang hari kebanyakan umat Islam menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri akan
tiba bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Padahal, Dewan
Mahasiswa UI berencana menggunakan momentum Hari Sumpah Pemuda untuk
menyampaikan sikap mahasiswa mengenai situasi politik dan ekonomi nasional.
“Karena Hari Sumpah Pemuda bertepatan dengan Lebaran, kami mempercepat
aksi menjadi tanggal 24 Oktober,” kata Theo L. Sambuaga, Wakil Ketua Dewan
Mahasiswa UI kala itu.

Kegiatan dimulai dengan diskusi yang mengundang generasi dari berbagai
angkatan: Angkatan 1928, Angkatan 1945, dan Angkatan 1966. Diskusi tersebut
berlangsung di Student Centre UI. Diskusi malam hari itu dihadiri juga oleh Bung
Tomo yang datang dengan sarung dan peci, karena malam itu ia baru pulang dari salat
tarawih.

Adapun pembicara dalam diskusi penting itu adalah Sudiro (mantan Walikota
Jakarta, mewakili Angkatan 1928), Menteri Luar Negeri Adam Malik dan B.M. Diah
(mewakili Angkatan 1945), Cosmas Batubara (mewakili Angkatan 1966), dan Ketua
Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar. Pembicara lainnya ialah Emil Salim dan Frans
Seda. Isu­isu yang disinggung antara lain tentang generasi muda vs. generasi tua,
pembangunan yang tidak merata, dan Dwifungsi ABRI. Tampil sebagai moderator
adalah Theo L. Sambuaga.

Pada diskusi itu, Hariman menyatakan bahwa “pembinaan” terhadap generasi
muda merupakan penghinaan terhadap kaum muda. Adanya ganja, seks bebas, dan
kenakalan pemuda lainnya tidak boleh dijadikan alasan dilakukannya pembinaan
itu melalui organisasi­organisasi yang dibentuk oleh prakarsa pemerintah. Maka,
menurut dia, “Diperlukan gerakan­gerakan mahasiswa yang tidak terlibat dengan
lembaga­lembaga yang dibirokrasikan seperti sekarang.”

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 41

3/26/10 7:21:19 PM

~ ~

Hariman & Malari

Sudiro, yang mewakili Angkatan 1928, menunjukkan kalangan tua tidak
melihat adanya jurang antar­generasi: “Generasi muda selalu terlibat dalam masa
kini bangsanya, sebab generasi muda anti­sesuatu yang rutin.” Pernyataan Sudiro
itu disimpulkan B.M. Diah sebagai pekerjaan bagi generasi muda. Katanya, generasi
mudalah yang menentukan masa kini, bukan generasi tua.
Wakil dari Angkatan 1966 yang sudah duduk dalam kekuasaan Orde Baru,
Cosmas Batubara, mengungkapkan sebaliknya. Menurut dia, kondisi serta kestabilan
politik telah mendukung persiapan­persiapan bagi generasi muda untuk mengambil
alih kepemimpinan nasional. Tidak perlu mempertentangkan kedua generasi, juga tak
perlu menentang Dwifungsi ABRI. Menjawab pertanyaan mengenai perannya dalam
kekuasaan, Cosmas berujar bahwa ada saatnya “kita” ikut memengaruhi perumusan
kebijakan. “Demonstrasi saja tidak menyelesaikan masalah. Ngomong lebih mudah
daripada berbuat,” kata Cosmas.7
Kepada Hariman, Cosmas saat itu sempat mewanti­wanti, “Man, hati­hati
kalau bikin demonstrasi. Sekarang suasananya berbeda.” Menurut Cosmas, mahasiswa
saat itu tidak lagi homogen seperti pada tahun 1966. Begitu juga sistem politik, telah
betul­betul berubah, militer memiliki peran besar dalam politik.
“Ah, Bang, jangan takut. Saya bisa kendalikan mahasiswa,” jawab Hariman.
Usai diskusi, acara berlanjut dengan ziarah ke Taman Makam Pahlawan
Kalibata. Di sini, sebuah petisi yang kemudian dikenal dengan nama Petisi 24 Oktober
1973 dibacakan8
:

Kami, Pemuda­pemudi Indonesia, milik dan pemilik nusa dan bangsa tercinta,
dari tempat terbaringnya kusuma­kusuma bangsa yang telah memberikan milik mereka
yang paling berharga bagi kemerdekaan dan kekayaan bangsa Indonesia menyatakan
kecemasan kami atas kecenderungan keadaan ini yang menjurus pada keadaan yang
makin jauh dari apa yang menjadi harapan dan cita­cita seluruh bangsa.
Bahwa dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab di hari depan, yang
keadaannya akan sangat ditentukan oleh masa kini, di mana kami, sebahagian
daripadanya, merasa berkewajiban mengingatkan pemerintah, militer, intelektuil/
teknokrat, politisi untuk hal­hal sebagai berikut:
1. Meninjau kembali strategi pembangunan dan menyusun suatu strategi yang
di dalamnya terdapat keseimbangan di bidang­bidang sosial, politik, dan ekonomi
yang anti­kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan;
2. Segera membebaskan rakyat dari cekaman ketidakpastian dan pemerkosaan
hukum, merajalelanya korupsi dan penyelewengan kekuasaan, kenaikan harga, dan
pengangguran;

3. Lembaga­lembaga penyalur pendapat rakyat harus kuat dan berfungsi serta
pendapat masyarakat luas mendapat kesempatan dan tempat yang seluas­luasnya;
4. Yang paling berkepentingan akan masa depan adalah kami, oleh karena itu

7

Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution. 2008. Mengawal Nurani Bangsa, Jilid III: Bersama Mahasiswa ÒAset Utama Pejuang
NuraniÓ, Jakarta: Yayasan Kasih Adik bekerjasama dengan Disbintalad.

8

Ricardo Iwan Yatim, dkk.. 1994. Hati Nurani Seorang Demonstran: Hariman Siregar.
Jakarta: PT Mantika Media Utama Jakarta.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 42

3/26/10 7:21:19 PM

~ ~

penentuan masa depan—yang tidak terlepas dari keadaan kini—adalah juga hak dan
kewajiban kami.

Kiranya Tuhan Yang Maha Esa menyertai perjalanan Bangsa Indonesia.
Kalibata, Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1973
DEWAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

Setelah diskusi dan petisi, Hariman mulai sibuk dengan berbagai diskusi di
berbagai kota. Ia melakukan berbagai kunjungan ke dewan mahasiswa se­Jawa. Pada
awal November dan Desember, misalnya, Hariman ke Yogyakarta bertemu dengan
Dewan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga. Ia juga tampil
sebagai pembicara dalam suatu pertemuan mahasiswa, intelektual, dan seniman yang
disebut Pertemuan Ririungan di Bandung, 9 Desember 1973.
Setelah Petisi 24 Oktober 1974 keluar, berbagai kelompok mulai dibentuk, baik
di dalam maupun di luar kampus, antara lain Komite Kebanggaan Nasional, Komite
Kewaspadaan Nasional, Komite Anti­kemewahan, Generasi Pembayar Utang, dan
Kelompok Desember Hitam. Petisi itu juga memengaruhi kebangkitan pers dengan
sangat berarti.9

Sementara itu, pertengahan Oktober 1973, terjadi suatu peristiwa penting
di Thailand. Aksi­aksi mahasiswa berhasil menggulingkan Perdana Menteri
Marsekal Thanom Kittikachorn. Melihat itu, pemerintah Indonesia semakin
gencar mengupayakan meredam aksi mahasiswa Indonesia. Peristiwa di Thailand
dianggap bisa memberi inspirasi bagi mahasiswa di Tanah Air. Bawahan­bawahan
Presiden Soeharto, terutama Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo, bersaing untuk
mengendalikan mahasiswa. Soemitro rajin ke kampus­kampus bersama Kharis Suhud
dan Iwan Stamboel. Hanya UI yang tidak ia datangi.
Tapi, laporan­laporan media massa tentang cukongisme, korupsi, komisi 10
persen yang didapat oleh pejabat pemerintah atas proyek­proyek pembangunan, dan
konsolidasi di antara gerakan mahasiswa telanjur mulai menguat. Berbagai upaya
pendekatan yang dilakukan oleh otoritas keamanan itu hanya menjadi tempat untuk
debat antara mahasiswa dan “utusan” pemerintah. Diskusi­diskusi dan aksi di dalam
kampus atau ke jalan oleh mahasiswa tetap ramai berlangsung di berbagai kota:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Semarang, dan kota­kota lain.
Mahasiswa tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan momentum
berikutnya. Dua hari penting muncul di bulan November. Peringatan Hari Pahlawan
dimanfaatkan untuk mengumandangkan ikrar kesediaan berkorban untuk mencapai
masyarakat yang adil dan aman. Delapan dewan mahasiswa menandatanganai ikrar
itu, di antaranya Dewan Mahasiswa UI, ITB, dan Universitas Padjadjaran. Isi Ikrar
10 November 1973 itu10
:

9

Max Lane. Op.Cit., halaman 72.

10

Rum Aly. 2004. Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter: Gerakan Kritis Mahasiswa Bandung di Panggung Politik
Indonesia 1 70-1 74, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 43

3/26/10 7:21:19 PM

~ ~

Hariman & Malari

Kami, generasi muda Indonesia, setelah merenungkan sedalam­dalamnya
kenyataan yang terjadi dalam perkembangan kehidupan bangsa, yang semakin jauh
dari yang dicita­citakan, merasa terpanggil kesadaran tanggung jawab kami selaku
generasi pewaris hari depan bangsa untuk turut serta melibatkan diri dalam proses
kehidupan masyarakat, menyatakan:
Kesatu, meningkatkan solidaritas di antara sesama generasi muda dalam
menghadapi kenyataan­kenyataan, sebagai konsekuensi dari keterlibatan kami dalam
proses kehidupan kemasyarakatan;
Kedua, menyatakan satu tekad untuk mengadakan langkah­langkah perubahan
dalam usaha mewujudkan cita­cita kemerdekaan yang telah dirintis oleh para pahlawan
bangsa.

Kiranya Tuhan Yang Maha Esa menyertai perjuangan kami.

Momentum kedua datang keesokan harinya: Minggu, 11 November 1973. Hari
itu Menteri Kerja Sama Pembangunan Belanda yang juga Ketua IGGI, J.P. Pronk, tiba
di Bandara Kemayoran untuk memulai kunjungan ke Indonesia. Pronk masih muda
dan berambut agak gondrong. Demonstran yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa
Indonesia untuk Indonesia (GMII) menyambut Pronk dengan poster­poster protes.
Seorang mahasiswi UI berkacamata berhasil mendekati Pronk karena ia membawa
karangan bunga berwarna putih. Namun mahasiswi bernama Jajang Pamontjak ini
tidak hanya memberikan bunga sambutan, ia pun menyelipkan sebuah amplop berisi
memorandum berbahasa Inggris dan undangan untuk berdiskusi. Menteri Ekonomi
dan Industri/Kepala Bappenas Prof. Widjojo Nitisastro yang menjemput Pronk sempat
terkejut melihat itu. Petugas keamanan mencoba meminta amplop itu, namun Pronk
telanjur memasukkan ke dalam saku jasnya.11
Memorandum itu isinya menyesalkan terpelesetnya pemerintah Indonesia
yang menjadi sangat tergantung dan makin tergantung pada bantuan luar negeri dan
modal asing. Bantuan yang harusnya menjadi faktor pelengkap belaka menjadi faktor
substansial. Apabila salah arah itu dibiarkan, “Kami khawatir bahwa nanti bantuan
luar negeri dan modal asing akan dianggap tidak berguna.”
Selanjutnya, memorandum GMII itu menyebutkan: “Kami tak bangga kepada
bantuan asing yang hanya berarti lebih banyak gedung­gedung mentereng menjulang,
lebih banyak nightclub dan banjir Coca­cola, tetapi di lain pihak makin banyak rakyat
tak mendapat pekerjaan, kehilangan tanah, tak punya rumah, industri­industri kecil
mati, hutan­hutan menjadi gundul dan ladang­ladang minyak menjadi kering.”12
Pada pengadilan Sjahrir tampak bahwa sejumlah anggota GMII merupakan anggota
GDUI.13

“Padahal saya, atas perintah Hariman dan atas nama DMUI, telah melakukan
konferensi pers bahwa aksi yang di antaranya diikuti oleh Jajang dan Sylvia Tiwon itu

11

Ibid.

12

Ibid.

13

C. Van Dijk. 2000. Op.Cit.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 44

3/26/10 7:21:20 PM

~ ~

bukan DMUI,” ujar Gurmilang Kartasasmita. Pernyataan pers itu menyatakan Dewan
Mahasiswa UI tidak menggerakan aksi terhadap Pronk, tapi bisa mengerti aksi itu
sebagai suatu gerakan mahasiswa.
Saat berkunjung ke Yogyakarta, beberapa hari kemudian, Pronk juga disambut
demonstrasi mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa untuk Rakyat
Indonesia (Gemiri). Demonstrasi­demonstrasi itu bukan saja ditunjukkan kepada
Pronk. Para teknokrat Indonesia yang bertanggung jawab terhadap naskah rencana­

rencana pembangunan juga diserang. Dalam pamfetnya yang berjudul “Bantuan

Luar Negeri dan Pembangunan Kita”, Gemiri menyampaikan permasalahan bantuan
dan investasi asing dengan kata­kata sebagai berikut:

Bantuan luar negeri dapat memberikan pertolongan jangka pendek, tapi juga
akan membebani dalam jangka panjang…. Atau bahkan bisa menjadi senjata bagi
negara­negara besar untuk mengeruk bahan­bahan mentah produksinya dari negara­
negara berkembang.14

Demonstrasi di Yogyakarta juga dilakukan oleh mahasiswa IAIN. Dalam
pernyataan pemerintah yang berkaitan dengan kerusuhan Malari, demonstrasi itu
dihubungkan dengan kunjungan Hariman ke Yogyakarta sebelumnya.15
Kemudian, pada 30 November 1973 dilangsungkan diskusi tentang “Untung­

14

Max Lane. Op.Cit.

15

C. Van Dijk. Op.Cit.

Hariman memimpin pertemuan mahasiswa Indonesia dengan JP Pronk di Jakarta (1973).

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 45

3/26/10 7:21:21 PM

~ ~

Hariman & Malari

Rugi Modal Asing” di Balai Budaya Jakarta16

. Dalam kesempatan ini, sejumlah
intelektual (eks Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) mulai bergabung. Mereka antara lain
Adnan Buyung Nasution, Yap Thiam Hien, dan Mochtar Lubis menandatangani sebuah
manifesto bersama 152 orang yang hadir. Manifesto berjudul “Ikrar Warga Negara
Indonesia” itu dibacakan oleh Sylvia Tiwon, yang intinya: “Ingin mengembalikan
Kebanggaan Nasional yang sebagian telah dinodai oleh segelintir orang.”
Di akhir November itu juga demonstrasi­demonstrasi mulai mengarah ke­
pada dominasi Jepang dan peran Asisten Pribadi Presiden (Aspri), yaitu Sudjono
Hoemardani dan Ali Moertopo.17

Demonstrasi ini berlanjut pada bulan Desember.
Sejumlah kelompok aksi mengadakan demonstrasi menentang investasi Jepang dan
investasi asing lainnya. Mereka menentang Aspri dan Ibnu Sutowo (Presiden Direktur
Pertamina). Demonstran juga mengunjungi kantor Bappenas. Dewan Mahasiswa UI
mengorganisasi suatu acara pada malam yang memberikan kesempatan kepada setiap
orang untuk mendeklamasikan “puisi­puisi penyelewengan”. Tanggal 18 Desember,
Dewan Mahasiswa UI mengorganisasi pertemuan yang membuat para mahasiswa
bertekad berjuang bagi perubahan.
Di antara aksi­aksi itu, menurut catatan Rum Aly, ada yang menarik dan
unik, bahkan boleh dibilang lucu. Aksi dimaksud digerakkan oleh KNPI yang baru
dibentuk dengan sasaran kantor Sekretariat Negara, Bappenas, Kopkamtib, dan DPR.
Menjadi menarik karena tokoh­tokoh KNPI yang turun, terutama pada hari pertama
aksi, adalah anggota DPR/MPR yang juga anggota Dewan Pimpinan Pusat Golkar
David Napitupulu, anggota DPR Fraksi Demokrasi Indonesia Drs. Surjadi, anggota
DPR Fraksi Persatuan Pembangunan Drs. Zamroni, anggota DPR Fraksi Karya
Pembangunan Abdul Gafur dan Hatta Mustafa, Eko Cokroyogo, Hakim Simamora,
Nazaruddin, dan Letkol S. Utomo. Mereka merupakan sayap Ali Moertopo di Golkar.18
Letkol S. Utomo merupakan ajudan Ali Moertopo yang menggalang kekuatan untuk
menguasai Dewan Mahasiswa UI.
Di Bappenas, David Napitupulu menuding para teknokrat itu “kurang bersifat
terbuka dalam pelaksanaan tugasnya selama ini dan kurang responsif terhadap keadaan
masyarakat.” Koran Sinar Harapan menyindir aksi mereka itu dengan karikatur
sebagai “pahlawan kesiangan yang takut ketinggalan kereta.”
Di dalam Dewan Mahasiswa UI sendiri, tentangan kepada Hariman mulai

16

Balai Budaya kala itu menjadi tempat berkumpul aktivis, seniman, wartawan, dan juga mahasiswa (non­organisasi
kampus). Di antara yang aktif di tempat ini adalah Arief Budiman, Sjahrir, Jajang Pamontjak, Silvia Gunawan (keduanya
mahasiswi UI), Joppie Lasut (wartawan lepas), Jesse Arnold Monintja (KAPPI dan mahasiswa Trisakti), Jusuf Achya Rais
(Ketua KAPPI Jakarta 1966).

17

Aspri dibentuk Soeharto sejak bulan Juni 1968, dengan anggota para perwira Angkatan Darat yang loyal kepada dirinya:
Mayjen Surjo, Brigjen Ali Moertopo, Brigjen Sudjono Hoemardani, dan Kolonel Widya Latief. Pembentukan Aspri ini
setelah sebelumnya Spri (Staf Pribadi) ditentang oleh KAMI. Spri beranggotakan enam perwira Angkatan Darat dan
dua spesialis sipil yang bertugas memberi masukan bidang ekonomi dan politik: Mayjen Alamsjah Ratu Prawiranegara
(koordinator), Mayjen Surjo, Brigjen Yoga Soegama, Kolonel Ali Moertopo, dan Kolonel Sudjono Hoemardani. Spri
dibentuk pada bulan Agustus 1966, delapan bulan sebelum Soeharto diangkat sebagai pejabat presiden. Substansi kedua
lembaga itu sama, menjadi Òkabinet bayanganÓ yang hubungannya dengan presiden sangat personal dan lentur, tidak
dibatasi birokrasi dan memiliki kelonggaran dalam anggaran. Pada demonstrasi 1973, penentangan terhadap Aspri
bertambah kencang.

18

Rum Aly. 2004. Op.Cit.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 46

3/26/10 7:21:21 PM

~ ~

datang. Sepuluh fungsionaris—mahasiswa binaan Opsus—pada 28 Desember 1973
mengeluarkan mosi tidak percaya kepada kepemimpinan Hariman Siregar. Mereka
memperingatkan bahwa gerakan protes mahasiswa tidak boleh disalahgunakan.
Mereka mengatakan Hariman tidak pernah membuat agenda kegiatan dalam bulan
terakhir yang dieksekusi atas nama Dewan Mahasiswa UI. “Mosi itu jelas melanggar
aturan organisasi. Yang mengangkat mereka adalah saya, kok malah mereka mau
memecat saya,” kata Hariman.
Menghadapi mosi itu, Hariman dan para pengurus Dewan Mahasiswa UI
lainnya bertindak tegas. Hanya sehari kemudian, para pengusung mosi dipecat oleh
Hariman, selaku Ketua Dewan Mahasiswa UI.
Hariman tampaknya tidak mau membuang waktu mengurusi persoalan itu.
Dewan Mahasiswa UI tengah bersiap menyelenggarakan malam tirakatan pada 31
Desember 1973. Pada malam pergantian tahun itu hadir juga dosen dan perwakilan
dari berbagai dewan mahasiswa dari Jakarta, Bogor, dan Bandung. Selengkapnya
pidato yang diberi judul “Pidato Pernyataan Diri Mahasiswa”19

yang disampaikan

Hariman sebagai berikut:

Rekan­Rekan sekalian,
Malam ini adalah malam yang istimewa bagi kita. Jika penutupan tahun­
tahun lalu kita hanya sekadar berpesta atau tinggal di rumah, malam ini kita merasa
perlu berkumpul di sini dan mencanangkan malan ini sebagai “Malam Keprihatinan”.
Tentu ada sebab­sebabnya. Sebab yang paling nyata adalah tahun 1973 yang telah
menimbulkan kebingungan­kebingungan dan sejumlah pertanyaan­pertanyaan yang
mengganggu perasaan kita. Tetapi yang terang bagi kita, mahasiswa dan masyarakat
pada umumnya, malam ini bukanlah malam pesta pora dan peragaan kemewahan.
Tetapi sebaliknya, malam ini justru merupakan kesempatan untuk sejenak berhenti
dari kesibukan kita sehari­hari dan merenungkan suasana prihatin yang kini sedang
mencekam kita dan rakyat Indonesia pada umumnya. Tetapi lebih dari itu adalah
bahwa protes kita terhadap keadaan yang tercermin dalam Petisi 24 Oktober
ternyata menuntut kita untuk lebih menegapkan langkah dan menjernihkan pikiran
agar kehadiran kita dalam masyarakat menjadi nyata dan berarti, apalagi kalau kita
bertekad untuk menanggung beban sejarah. Karena, sejarah telah membuktikan bahwa
perubahan­perubahan besar selalu diawali oleh kibaran bendera universitas.
Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah
membebaskan rakyat dari penderitaan hidup sehari­hari. Beban kita adalah membuat
rakyat yang menganggur untuk mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan
ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan
dengan sesama generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya,
beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri.
Semua itu adalah beban yang tidak ringan—untuk tidak mengatakan berat sekali.
Namun pada akhirnya berat atau ringan beban itu tetap merupakan beban kita. Sekali
kita mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah.
Tetapi yang terpenting bagi kita adalah menghentikan kebisuan yang ditimbulkan

19

Ricardo Iwan Yatim, dkk. Op.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 47

3/26/10 7:21:22 PM

~ ~

Hariman & Malari

oleh imbauan kenikmatan yang dijanji­janjikan kepada kita. Dan juga kebisuan akibat
feodalisme yang mementingkan sikap nrimo, apatis, dan antipartisipasi. Artinya, kita
harus membebaskan diri dari mitos­mitos yang menempatkan diri kita dalam posisi
bisu dan terbelenggu. Misalnya mitos bahwa cinta kasih dan kemurahan hati kelompok­
kelompok kecil penguasa jika mereka berbuat baik adalah memang betul­betul dari
hati yang tulus; mitos bahwa setiap ucapan dan setiap tindakan penguasa adalah untuk
kepentingan rakyat; mitos bahwa pemberontakan terhadap nilai­nilai budaya feodal
adalah berdosa untuk masyarakat.
Untuk bisa menilai situasi masa kini dan meraba kemungkinan masa depan,
marilah kita teliti perkembangan yang terjadi di negara kita dalam bidang politik,
ekonomi, serta kaitannya dengan suasana internasional, yang satu sama lain sangat
erat sekali hubungannya. Perkembangan ekonomi yang sangat mengejutkan akhir­
akhir ini sudah tentu bukan hanya akibat dari suatu strategi pembangunan ekonomi
semata­mata, tetapi juga disebabkan oleh strategi politik yang dilancarkan sejak 1966.
Setelah secara moral dan konstitusional Jenderal Soeharto menjadi presiden di negeri
ini, pembangunan ekonomi telah dijadikan alat legitimasi kekuasaan dan mitos baru
yang banyak menimbulkan harapan. Tetapi ternyata perkembangan ekonomi telah
menolak kemauan penguasa untuk menjadikan pembangunan ekonomi sebagai alat
legitimasi kekuasaan dan mitos politik semata­mata. Hal ini disebabkan karena sikap
penguasa yang demikian itu akan selalu menghasilkan keputusan­keputusan yang
hanya menguntungkan kelompok yang ada di sekitar kekuasaan.
Akibatnya adalah bahwa kesibukan pembangunan dan pemerintah sendiri
menjadi sesuatu yang asing dari rakyat. Dan lebih dari itu, kini telah terkesan dalam
hati rakyat bahwa pembangunan ekonomi berarti penggusuran tanah, pemaksaan
penjualan beras kepada pemerintah, dan kehidupan yang semakin sulit di desa­
desa. Sebaliknya bagi kelompok kecil di sekitar kekuasaan, pembangunan ekonomi
merupakan saat yang memberi kesempatan kepada mereka untuk menumpuk
kekayaan dan memuaskan nafsu terhadap barang­barang mewah. Kelompok ini terang
berkepentingan untuk mempertahankan keadaan dengan segala macam peralatan
dan cara dalam politik. Rakyat dengan demikian akan terus­menerus menjadi
pelengkap penderita yang dipaksa untuk diam dan tidak berdaya. Bagi kita generasi
muda, kecenderungan ini merupakan bahaya yang mengancam pada saat ini dan di
masa depan. Ancaman itu berupa pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau
“mempersoalkan perkembangan masyarakat”, sehingga kita menjadi warga negara
yang tidak peka terhadap situasi sekitar; kita hanya boleh menyibukkan diri dengan
kegiatan yang menunjang pengukuhan politik dari segelintir orang yang menikmati
kehidupan enak dan mewah dalam pembangunan.
Hasil nyata dari pembangunan ekonomi menurut kami adalah bahwa
sejak Pelita hingga berakhir nanti 1974, walaupun bertumbuh tujuh persen setahun,
ketidakadilan sosial dan ekonomi semakin nyata. Ketidakadilan dan pengangguran
semakin terasa dibanding dengan waktu­waktu yang lalu. Ini disebabkan bersatunya
kekuatan­kekuatan ekonomi yang menguasai uang dan sumber­sumber ekonomi
dengan kekuasaan politik dalam bentuk populer berupa kerja sama antara kelompok
Cina dan jenderal­jenderal. Tidak mengherankan jika sebagian rakyat yang tidak
jenderal dan tidak Cina tidak menikmati pembangunan ekonomi seperti sekarang ini.
Terang bagi kita, sebagai unsur masyarakat dan universitas tidak mungkin menjadi
Cina dan jenderal sehingga alternatif pembangunan yang terbuka adalah menyadarkan
jenderal­jenderal dan Cina­Cina menjadi warga negara biasa seperti sebagian rakyat.
Kalau tidak, kemungkinan lain yang harus ditempuh. Pemerintah sering mendengung­

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 48

3/26/10 7:21:22 PM

~ ~

dengungkanpembangunan ekonomi dalam bentuk ditekannya infasi, meningkatnya

pertumbuhan ekonomi, berlangsungnya industri­industri barang­barang dan jasa­jasa
dalam kepesatan pertumbuhan yang fantastis. Tetapi kalau hasil­hasil itu dikuliti,
sesungguhnya isinya tidak lebih dari berlangsungnya sistem ekonomi kapitalis di
mana sebagian kecil masyarakat mengisap bagian terbesar rakyat. Ini bukan mengada­
ada, karena tidak kurang dari seorang Dr. Hatta, seorang konseptor ide pembangunan
ekonomi dalam UUD ’45, menyatakan demikian. Kalau seorang seperti Dr. Mohammad
Hatta yang punya tempat tersendiri dalam sejarah bangsa kita telah menyatakan
demikian, sulit bagi pemerintah untuk berdiam diri. Pada kesempatan ini kami ingin
mengajukan pertanyaann kepada pemerintah: apakah pembangunan ekonomi sudah
menyeleweng dari UUD ’45 atau tidak. Kalau memang benar dan kami yakin benar,
kami serukan kepada pemerintah untuk mengoreksi sistem ekonomi sekarang. Kalau
tidak, mari kita bersama­sama mengoreksi pemerintah.
Pada saat ini sering dikemukakan bahwa ekonomi Indonesia sangat ter­
gantung pada modal asing. Juga sering dikemukakan bahwa kekuatan ekonomi asing
hanya menguras sumber­sumber alam yang kita punyai dan sebaliknya atas jasa­
jasanya itu mereka membanjiri Indonesia dengan barang­barang mewah yang hanya
bisa dibeli oleh kelompok kecil yang berkuasa. Kami ingin mengajukan pertanyaan­
pertanyaan kepada rekan­rekan sekalian. Apakah kita perlu mengimpor tusuk gigi?
Apakah kita perlu berpuluh­puluh ribu mobil mewah setiap bulan? Apakah perlu
kita mengimpor pakaian­pakaian mewah dari rumah­rumah mode di Paris? Apakah
perlu kita mengimpor sepatu yang harganya lima belas kali dari harga sepatu dalam

negeri? Apakah kita perlu mengimpor flm-flm yang bertendens asosial? Bukankah

akan lebih baik kalau kita memikirkan usaha­usaha penggunaan produksi kita sendiri
yang mungkin kalah mentereng tetapi sama kegunaannya? Sehingga kita tidak perlu
membuang bermiliar­miliar rupiah untuk mengimpor barang­barang mewah tadi.
Kalau ini bisa dilakukan, ladang­ladang minyak yang akan habis nanti, hutan­hutan
kita yang akan gundul nanti, dan karet yang kegunaannya yang semakin menurun di
masa mendatang tidak menyebabkan Indonesia tenggelam bersamanya.
Sebaiknya marilah kita dengan kepala dingin meneliti secara mendalam
masalah­masalah yang kedengarannya mentereng, yaitu masalah internasional. Soal­
soal internasional ini betatapun besar pengaruhnya kepada kita dan seluruh rakyat
Indonesia.

Pemerintah Orde Baru telah memulai arah politik luar negerinya dengan
suatu kebijaksanaan yang jalin­menjalin dengan kepentingan perekonomian negara
pada saat itu, yang tercakup di dalam pernyataan pemerintah tertanggal 4 April 1966.
Kondisi perekonomian Indonesia yang telah membawa beban berat kepada rakyat
Indonesia pada masa Orde Lama telah sama kita ketahui. Kondisi perekonomian
demikian itulah yang menggariskan kebijaksanaan luar negeri yang menitikberatkan
kepada usaha­usaha penanggulangan dengan mencari sumber­sumber luar sebagai
suatu jalan keluarnya.

Masalah bantuan luar negeri dan modal asing merupakan gejala yang wajar,
suatu gejala yang menunjukkan adanya saling ketergantungan antarbangsa di dunia.
Masalah saling ketergantungan ini terutama pada tingkat peradaban dunia sekarang
adalah masalah yang tidak bisa dihindarkan. Akan tetapi sudah barang tentu saling
ketergantungan ini meminta persyaratan­persyaratan. Persyaratan utama adalah
seberapa jauhkah ia membawa keuntungan kepada masing­masing pihak yang terlibat.
Jadi diperlukan persyaratan yang kedua, yaitu bahwa pihak­pihak yang terlibat harus
menjaga kemampuan kondisi dalam negerinya sendiri, agar mendapatkan posisi yang

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 49

3/26/10 7:21:23 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

sederajat, dan demikian pula mencegah ketergantungan sepihak.
Demikianlah, maka pernyataan pemerintah 4 April 1966 itu telah berkembang
menjadi suatu keadaan di mana perekonomian negara ditopang oleh lima sektor.
Pertama adalah bantuan luar negeri; kedua, modal asing; ketiga adalah ekspor karet;
keempat, minyak bumi, dan; kelima adalah kayu. Sedangkan kita ketahui bahwa
peningkatan hasil­hasil ekspor karet, minyak bumi, dan kayu pun tidak mungkin tanpa
ditunjang oleh sumber­sumber luar tadi. Dengan ini jelaslah betapa memang bantuan
luar negeri dan modal asing merupakan faktor pokok dalam perekonomian negara dan
bukanlah faktor pelengkap sebagaimana sering kali dikemukakan oleh para pejabat.
Betapapun memang ada kenaikan dari hasil ekspor kita secara keseluruhan, akan tetapi
ketergantungan tadi tetap faktor pokok, yang jelas dipertunjukkan, misalnya oleh
kenaikan­kenaikan pinjaman lewat IGGI.
Sumber­sumber luar yang masuk ke Indonesia cenderung diusahakan dari
negara­negara Barat (termasuk Jepang) daripada negara­negara sosialis. Kondisi
obyektif kelihatan memperkeras kecenderungan tadi. Akan tetapi masalahnya
adalah timbul gejala­gejala yang membatasi aliran­aliran sumber tadi. Pembatasan­
pembatasan ini berasal dari dalam negeri berupa kecaman yang pedas dari masyarakat
terhadap bantuan luar negeri dan modal asing dari negaranya, berupa tuntutan pula
untuk lebih meningkatkan kondisi sosial ekonomi sendiri. Pembatasan yang berasal
dari perkembangan dunia internasional berupa keguncangan moneter dan yang terlebih
dirasakan adalah kelangkaan dari sumber­sumber alam (bahan mentah), yang sekaligus
menunjukkan betapa sebenarnya negara­negara menengah untuk memperjuangkan
kepentingannya bisa saja berperan dalam menghadapi negara­negara besar.
Oleh karena pembatasan­pembatasan yang datang dari negara­negara Barat,
maka semakin besarlah peranan Jepang dalam mengalirkan sumber­sumbernya
kepada negara­negara di Asia Tenggara. Dan sudah barang tentu hal ini pun dialami
oleh Indonesia.

Apabila kita kembalikan kepada masalah saling ketergantungan antara
bangsa, khususnya antara Jepang dan Indonesia, maka ada masalah yang akan timbul.
Dari Jepang sebagai suatu negara dengan tingkatan teknologi yang tinggi diharapkan
dapat memberikan modal, pengalihan teknologi dan industri, pengalihan keahlian
pengolahan dan penggalian sumber­sumber alam, dan lain­lain. Sedangkan dari
Indonesia diharapkan memberikan sumber­sumber alam bagi industru­industri Jepang
dan sebagai pasar dari barang­barang industri Jepang. Akan tetapi di balik semua
itu ada cerita tersendiri mengenai Jepang ini. Upah buruh yang terus menanjak dan
pengotoran udara memaksa pengalihan pabrik­pabrik padat karya ke negara­negara
lain, antara lain pabrik tekstril ke Indonesia. Sedangkan politik minyak bumi Arab telah
menunjukkan sebenarnya betapa lemah kekuatan ekonomi Jepang, pula menunjukkan
betapa sebenarnya Indonesia sebagai salah satu penghasil minyak bumi yang cukup
besar bisa bermain pula dalam hubungan saling ketergantungan ini.
Akan tetapi dan di sinilah letak masalahnya, kita tidak mempergunakan
kekuatan­kekuatan kita ini. Dalam masalah minyak saja, sistem ijon yang dibawa
dalam kontrak telah menempatkan Indonesia pada posisi yang “konyol” di saat harga­
harga minyak di dunia menanjak yang tidak kita nikmati. Keadaan itu pulalah yang
sekaligus menertawakan solidaritas negara­negara tetangga sebab kita pun tidak
bisa menolong sesama negara tetangga yang kekurangan bahan bakar, oleh karena
keterikatan dengan Jepang ini. Dalam usaha perkayuan (dan khusus untuk soal ini
marilah kita berdoa mudah­mudahan hutan kita tidak habis gundul, sebagai nasib yang
dialami oleh Filipina melalui kontrak dengan Jepang pula). Laporan Komisi Empat

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 50

3/26/10 7:21:23 PM

~ ~

telah menunjukkan betapa kerugian­kerugian berada di pihak kita dan betapa bisnis
perkayuan telah memberikan keuntungan besar bagi investor asing.
Hubungan Indonesia­Jepang telah semakin menempatkan Indonesia dalam
posisi ketergantungan dan sekaligus apabila dikaitkan pada sistem internasional, maka
kelemahan Indonesia telah semakin menempatkan negara ini sebagai tawanan dan
bukan sebagai peserta dari sistem internasional tersebut.
Kelemahan Indonesia dalam penggunaan kekuatan­kekuatannya sebenarnya
disebabkan oleh Indonesia sendiri. Di sinilah terletak kelemahan dari segi pengawasan
di dalam sistem kita sendiri. Jelas bahwa konstelasi politik dan kondisi­kondisi
ekonomi dan cara­cara elite penguasa untuk memperbesar porsi “posisi tukar”­nya di
dalam negeri telah mengintepretasikan dan mengambil bagian kepada kebijaksanaan
luar negeri Indonesia, dan kesemuanya ini tidak memberikan kesatuan dalam
kebijaksanaan tadi dan sudah barang tentu melemahkan posisi Indonesia dalam sistem
internasional ini.

Persoalannya terletak kepada kait­mengaitnya kepentingan dari elite penguasa
dalam kekuasaan dengan kepentingan­kepentingan ekonomi. Ini semua bahkan menjadi
suatu gejala yang membahayakan bagi kehidupan bernegara dari Indonesia, apalagi
apabila dihubungkan dengan pernyataan dari Bung Hatta di tahun 1970 bahwa korupsi
telah membudaya. Jadi, kepentingan dari elite penguasa dalam kompetisi kekuasaan
telah berkompetisi pula untuk memperoleh sumber­sumber politik (uang, informasi,
massa, dan lain­lain), yang kesemuanya mengeraskan kecenderungan korupsi. Apabila
kita kembalikan kepada sektor­sektor yang menunjang perekonomian negara, bantuan
luar negeri dan modal asing menjadi faktor pokok, malahan turut memperkeras
kompetisi korupsi dalam mendapatkan sumber­sumber politik, untuk mendapatkan
posisi tukar yang lebih baik dalam porsi kekuasaan.
Jadi baiklah kita menerima kenyataan pahit bahwa kenaikan bantuan luar
negeri dan modal asing adalah merugikan kepada Indonesia. Masalahnya adalah
bahwa sumber­sumber luar tadi tidak menguntungkan rakyat banyak, masalahnya
karena sumber­sumber luar tadi tidak sampai kepada rakyat banyak. Jelas bahwa elite
penguasa di Indonesia tidak mau bertanggung jawab untuk soal ini. Padahal, apabila
kita mempersoalkan nasib bangsa, ada pelajaran berharga dari sejarah.
Sejarah misalnya telah mencatat akibat hubungan saling ketergantungan
antara Amerika Serikat dan negara­negara sedang berkembang, terutama Amerika
Latin. Pada dekade tahun 1950­an, arus modal dari Amerika Serikat lebih banyak
diarahkan kepada negara­negara sedang berkembang, terutama negara­negara
Amerika Latin. Dalam hal ini Amerika Serikat menjual barang­barang industrinya dan
menanam modal di sana, sedangkan Amerika Latin menjual sumber­sumber alamnya.
Akan tetapi kecenderungan ini berubah. Pada dekade tahun 1960­an, arus modal
Amerika Serikat lebih banyak mengalir ke negara­negara maju, dalam hal ini terutama
Eropa Barat. Jadi yang terjadi selanjutnya adalah bahwa interdependensi dari negara
maju kepada negara sedang berkembang beralih menjadi interdependensi dari negara­
negara maju dengan negara­negara maju, sedangkan negara­negara yang sedang
berkembang (Amerika Latin) tadi malahan semakin tergantung pada Amerika Serikat
dalam teknologi dan industri, menjadi pasar barang­barang industri Amerika Serikat,
dan sementara itu sumber­sumber alamnya disedot dan diolah untuk kepentingan
Amerika Serikat.

Ini yang kami khawatirkan akan terjadi dalam hubungan antara Indonesia
dan Jepang. Apalagi, Jepang telah menunjukkan kebuasan dalam cara­cara mengeruk

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 51

3/26/10 7:21:24 PM

~ ~

Hariman & Malari

keuntungan. Dengan demikian, sebenarnya hubungan Indonesia dan Jepang bukan
saling ketergantungan, akan tetapi ketergantungan sepihak, yaitu dari Indonesia
terhadap Jepang. Dan apabila tidak ditinjau kembali, kami kira jangan­jangan nasib
Indonesia akan sama dengan nasib negara­negara Amerika Latin tersebut di atas.
Maka, Rekan­Rekan, kalau ini yang terjadi, tahun 1974 dan seterusnya
hanyalah pengulangan sejarah sebelum kemerdekaan kita dijajah Jepang. Sudah
tentu bentuknya berlainan karena bila dulu yang ada adalah Kempetai Jepang, maka
sekarang namanya menjadi Toyota, Mitsubishi, Mitsui, dan lain­lain. Kempetai atau
Mitsubishi tidak lain memunyai tugas mengisap bangsa, kekayaan alam, dan darah
rakyat Indonesia. Sebagaimana kita dulu menolak Kempetai, sekarang kita pun harus
bangkit melawan dominasi Jepang.
Rekan­Rekan sekalian,
Tibalah kami pada akhir pidato ini. Pidato ini saya tutup dengan mengemukakan
kesimpulan dan langkah lanjut dari perjuangan mahasiswa.
Tidak ada hasil yang diperoleh tanpa kerja keras, tanpa perjuangan, dan tanpa
keberanian. Karena, kalau kita tidak mau dikekang, diancam, baik oleh kekuasaan
maupun cecunguk­cecunguknya, maka kita mahasiswa harus berani bersikap dan
bergerak untuk mewujudkan pendapat­pendapat yang telah diperolehnya. Ingat, pada
akhirnya yang menentukan bukanlah analisis yang bagus­bagus yang ilmiah, tetapi
tindak nyata yang mengubah keadaan.
Kepada tukang becak, mari Abang­Abang, kita bergerak bersama untuk
membuka kesempatan kerja. Kepada para penganggur yang puluhan juta, yang
berada di desa­desa dan kota­kota untuk bergerak untuk kesejahteraan sosial; kepada
warga negara Indonesia yang bekerja pada perusahaan asing, mari kita bergerak
untuk menuntut persamaan hak dengan karyawan­karyawan asing. Dan akhirnya,
kepada para koruptor penjual bangsa, pencatut­pencatut sumber alam Indonesia yang
mengejar­ngejar komisi sepuluh persen, kami serukan bersiap­siaplah menghadapi
gerakan kami yang akan datang.

Akhirnya terima kasih atas kesediaan rekan­rekan yang bersedia mengorbankan
waktunya menghadiri malam tirakatan ini menjadi titik tolak kita yang penting dalam
proses peragian menuju perjuangan baru. Fajar telah menyingsing, horizon baru mulai
tampak.

Selamat tinggal 1973 dan selamat datang tahun baru 1974. Kita semua sudah

siap menjalaninya.
Terima kasih.

Jakarta, 31 Desember 1973
Ketua Umum Dewan Mahasiswa
Universitas Indonesia

Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 52

3/26/10 7:21:24 PM

~ ~

Pidato yang disampaikan Hariman ini kelak dituding sebagai seruan untuk
melakukan gerakan makar terhadap pemerintah. Apalagi, bagian akhir pidato ditujukan
juga kepada masyarakat lain di luar mahasiswa. “Kebetulan pula pada malam itu
hadir tokoh serikat buruh dari Tanjung Priok, Salim Kadar, dan beberapa aktivis non­
kampus lainnya20

,” ujar Theo L. Sambuaga.
Padahal, kata­kaca kunci yang menyerang strategi pembangunan pemerintah
dan juga keadaan rakyat telah menjadi bahasa umum dari kalangan kampus pada saat
itu. Jadi, tampak jelas sepanjang paro kedua tahun 1973 muncul berbagai kegiatan
aksi pemuda dan mahasiswa sebagai wujud peran­serta mereka untuk “memperbaiki
keadaan” ketika itu. Gerakan kaum muda saat itu, tegas Hariman, ingin menunjukkan
bahwa kaum muda bisa melakukan perubahan dan perbaikan keadaan negeri ini.
Betapapun, pidato Hariman di malam pergantian tahun itu sungguh
menggetarkan dan bersejarah. “Malam itu, di halaman depan kampus UI Salemba,
ia tampak lahir sebagai tokoh, sebagai hero. Gerak­geriknya yang seakan­akan selalu
tergesa­gesa, matanya yang menyorot tajam, dan katanya­katanya yang tak tajam,
semuanya menguatkan kesan heroik itu,” kenang Sylvia Tiwon, aktivis mahasiswi UI
yang ikut menyaksikan Peristiwa Malam Tirakatan di pergantian tahun tersebut.
e

20

Setelah Peristiwa Malari, Salim Kadar, Ketua I Serikat Buruh Maritim Indonesia, sempat ditangkap,
namun dilepaskan kembali.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 53

3/26/10 7:21:25 PM

~ ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 54

3/26/10 7:21:25 PM

~ ~

Di Tengah Pusaran

Peristiwa Malari

LE p i s o d E 4

anggal 15 Januari 1974. Siang itu, rapat dewan
mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kampus
Universitas Trisakti ditutup, dipercepat karena
embusan berita terjadinya kerusuhan di beberapa
wilayah Jakarta. Hariman Siregar, Ketua Dewan
Mahasiswa UI, segera memutuskan segera kembali
ke kampus UI di Salemba. Ia didampingi dua aktivis
mahasiswa UI lain: Sylvia Tiwon dan Ibrahim (Bram)
G. Zakir. Mereka mengendarai “mobil khusus DMUI”. Kenangan itu masih tertancap
kuat dalam ingatan Sylvia Tiwon:
“Hariman minta diantar secepatnya ke Salemba. Bertiga, dengan Bram
Zakir, kami meluncur ke kampus UI, masing­masing diam dengan bayangan sendiri,
mencoba memahami berita bahwa wilayah Senen sedang dilanda kerusuhan besar­
besaran, dengan massa yang entah datang dari mana, membakar mobil, merusak
gedung....

Hariman yang tak pernah menyukai atribut apa pun melepas jaket kuning dan
lencana Ketua DMUI. Di depan RSCM, Jalan Diponegoro, sudah dipenuhi massa
sehingga mobil tak dapat memasuki halaman kampus UI. Sebelum kami sempat
memutuskan untuk balik arah memasuki halaman parkir rumah sakit, Hariman
sudah lompat ke luar dan lari—sendiri—menuju perempatan Diponegoro­Salemba.
Barangkali imej Hariman inilah yang tak akan lepas dari ingatan: seorang anak muda
berdiri di tengah jalan, tangan melambai­lambai, berusaha menghentikan truk penuh
massa manusia yang mengalir ke arah Senen. Tak lama kemudian, ia hilang dari
penglihatan, tertelan jejalan orang yang semakin berbondong...”1
Ketika hari memasuki malam, ambulans dengan sirene yang terus meraung
bolak­balik dari berbagai lokasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Suara tembakan masih terdengar sampai pukul 20.00, terutama di sekitar Salemba

1

Lihat penuturan Sylvia Tiwon di buku ini, halaman...

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 55

3/26/10 7:21:25 PM

~ ~

Hariman & Malari

dan Senen. Jam malam sesungguhnya sudah diumumkan berlaku sejak pukul 18.00
hingga pukul 6.00 pagi.2

Tapi, massa masih memadati jalan sepanjang Matraman,

Salemba, dan Kramat Raya.

Selasa malam itu, 15 Januari 1974, dua orang lagi tewas di depan kantor
Departemen Pertanian. Mereka tertembak peluru aparat keamanan yang berupaya
membubarkan kerumuman massa. Baru sekitar pukul 01.00 dini hari kemudian
mayatnya bisa diangkut oleh ambulans ke kamar jenazah RSCM.
Jakarta terbakar, dua hari berturut­turut: sejak Selasa (15 Januari) hingga
Rabu (16 Januari). Asap mengepul di hampir setengah bagian kota, mulai dari Roxy
(wilayah Jakarta Pusat yang dekat dengan Jakarta Barat), Cempaka Putih dan Bypass
(di Jakarta Pusat), Glodok (Jakart Barat), hingga Jalan Sudirman (Jakarta Selatan) dan
Matraman (di Jakarta Timur). Api paling besar melahap pusat pertokoan di kawasan
Senen (Jakarta Pusat) yang dibangun tahun 1967 dengan dana Rp2,7 miliar. Dua
blok bangunannya yang berlantai empat berisi 700 toko, 3 bank (BBD, BNI 46, dan
BPD Jaya), satu klub malam, taman ria anak­anak, fasilitas sauna, tempat permainan
boling, dan unit perkantoran PT Pembangunan Jaya gosong dibelai si jago merah.
Menteri Pertahanan dan Keamanan /Panglima ABRI Jenderal Maraden Pang­
gabean kepada sidang pleno DPR yan digelar 21 Januari 1974 melaporkan, sebanyak
807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 buah gedung rusak atau

2

Jam malam dikeluarkan melalui pengumuman yang dikeluarkan oleh Laksus Pangkopkamtib Jaya No: Peng­002/PK/
I/1974 tanggal 15 Januari dan mulai berlaku hari itu juga, disusul oleh dua maklumat dari Laksus Pangkopkamtib Jaya
tentang larangan berkumpul lebih dari lima orang di luar rumah pada siang hari dan penutupan sekolah dari sekolah dasar
hingga perguruan tinggi mulai 16 Januari 1974.

Aksi demo mahasiswa saat Peristiwa Malari 1974.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 56

3/26/10 7:21:27 PM

~ ~

terbakar (termasuk pabrik Coca­cola), dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah
toko perhiasan.3

Dalam kerusuhan dua hari itu jatuh korban 11 orang meninggal,
177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap.4
Gubernur Jakarta Ali Sadikin saat memberi penjelasan di hadapan guru­guru se­
Jakarta yang juga dihadiri oleh Wakil Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo
serta Musyawarah Pimpinan Daerah Jakarta di gedung Jakarta Theater, 19 Januari,
menyebut angka­angka berbeda: 522 buah mobil dirusak dengan 269 di antaranya
dibakar, 137 buah motor dirusak (94 buah dibakar), 5 buah bangunan dibakar ludes,
termasuk 2 blok proyek Pasar Senen bertingkat 4 serta gedung milik PT Astra di Jalan
Sudirman, juga 113 buah bangunan lainnya dirusak.5
Mengenai pembakaran dan pengrusakan pada Peristiwa Malari itu, Hariman
Siregar mengatakan, “Berbagai aksi pembakaran dan pengrusakan oleh massa itu
sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya
sudah mikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa.”
Hari itu, 15 Januari 1974, sejak pagi hingga sore, mahasiswa Jakarta, Bogor,
dan Bandung didukung pelajar sibuk melakukan demonstrasi. Mereka berjalan dari
Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat, menuju Universitas Trisakti di
Grogol, Jakarta Barat. Sebagian tokohnya sudah kelelahan karena berdemonstrasi
menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka, pada Senin malam.
“Siangnya, karena capek, saya pulang bareng Djodi Wuryantoro naik motor. Baru
jam 4 sore saya ditelepon Hariman. Katanya ada bakar­bakaran,” kisah Gurmilang
Kartasasmita, salah satu pimpinan rombongan dari UI hari itu.
Mimbar bebas di Trisakti sebagai bagian dari apel mahasiswa belum usai
benar sesungguhnya ketika Gurmilang pulang. “Saya juga pulang duluan ke indekos
dekat kampus di Grogol, karena memang sudah ngantuk sekali,” ujar Jesse A.
Monintja, mantan aktivis KAPPI yang kala itu tercatat sebagai mahasiswa Fakultas
Psikologi Universitas Trisakti. Ia baru tahu adanya huru­hara setelah seorang
kawannya menggedor pintu kamar. Jesse bergegas menuju Balai Budaya, tempat
ia biasa berkumpul dengan aktivis lain, dan bertemu Fikri Jufri (wartawan Tempo).
Keduanya lalu berboncengan skuter melihat situasi. “Intinya, kami tidak tahu sama
sekali bagaimana kerusuhan bisa terjadi,” timpal Judilherry Justam, mantan Sekretaris
Jenderal Dewan Mahasiswa UI.
Judilherry adalah pemimpin rombongan paling depan dalam long march
UI–Trisakti. Ia bertahan mengikuti acara apel sampai betul­betul kelar. Menjelang
acara berakhir tersiar desas­desus tentang adanya kendaraan dirusak dan dibakar di
beberapa jalan. Situasi agak menegang di sebagian mahasiswa. Selewat tengah hari,
mahasiswa memutuskan kembali ke UI, menumpang truk­truk yang dihentikan.
Ketika tiba di jalan dekat Museum Nasional, jalan sudah ditutup tentara. Truk
lalu dibelokkan ke Harmoni dan Jalan Juanda. Namun, sepanjang Harmoni menuju

3

“Musibah bagi Golongan Menengah dan Atas”, Tempo edisi 26 Januari 1974.

4

B. Wiwoho dan Banjar Chaerudin. 1990. Memori Jenderal Yoga. Jakarta: PT Bina Reka Pariwara.

5

Tempo, Loc.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 57

3/26/10 7:21:28 PM

~ ~

Hariman & Malari

Senen waktu itu belum terjadi apa­apa. Setiba di kampus baru didengar kabar: Senen
dibakar. Mahasiswa pun memilih bertahan di kampus, seorang pun tidak diizinkan
keluar.

Menurut catatan mantan Rektor UI Prof. Mahar Mardjono, bakar­bakaran
sudah terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, saat mahasiswa dari berbagai universitas
masih melakukan apel akbar di Trisakti. “Sekelompok mahasiswa lain—yang diduga
mendapatkan janji­janji insentif material dan jabatan dari kelompok Ali Moertopo—
bersama sejumlah massa telah mulai melakukan sejumlah pengrusakan di bagian kota
lain, seperti Pasar Senen, Harmoni, dan Jalan Juanda,” tutur Mahar Mardjono.6
Persiapan apel akbar itu berlangsung sejak pagi. Sejak pukul 08.00 sudah
banyak mahasiswa berkumpul di halaman FKUI. Selain dari UI, mahasiswa yang
datang di antaranya dari Universitas Kristen Indonesia, Universitas Trisakti, Uni­
versitas Atma Jaya, Universitas Nasional, Universitas Jayabaya, IKIP Jakarta,
Universitas Pancasila, IAIN Syarif Hidayatullah, Universitas Krisnadwipayana, dan
Sekolah Tinggi Olahraga. Datang pula beberapa truk yang mengangkut pelajar yang
diorganisasi oleh Jusuf A.R. dan Jesse A. Monintja.
Mereka berasal dari lima rayon eks­pasukan gabungan KAPPI Jakarta Pusat.
Menjelang berangkat, upacara singkat dilakukan. Meja­meja ditumpuk menjadi
mimbar. “Saya pernah berseloroh kepada Hariman, kalau mahasiswa ‘74 mau buat
patung seperti mahasiswa ‘66, simbolnya meja yang ditumpuk,” kata Sugeng Sarjadi,
mantan mahasiswa ITB.

6

Antony Z. Abidin, dkk. 1997. Mahar: Pejuang, Pendidik dan Pendidik Pejuang. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan bekerja
sama dengan Ikatan Alumni UI.

Amuk massa saat Peristiwa Malari.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 58

3/26/10 7:21:37 PM

~ ~

Saat upacara menjelang berangkat, sebuah helikopter terbang rendah
berkeliling di atas kampus. Raungan suaranya ditimpali teriakan mahasiswa, “Kami
bukan makar.” Sementara itu, di luar pagar, polisi telah menjaga ketat.7
Lalu barisan mulai bergerak. Seluruhnya sekitar 500 orang dibagi dalam
beberapa barisan. Judilherry berada di barisan muka. Didahului oleh barisan yang
memakai tameng bergambar tengkorak, lalu saf berbendera Merah­Putih. Disusul
rombongan yang dipimpin oleh Gurmilang Kartasasmita. Hariman sendiri ada di
barisan ketiga bersama Eko Djatmiko dan Salim Hutadjulu. Paling belakang adalah
beberapa truk yang melaju dengan kecepatan rendah.
Bambang Sulistomo dengan pengeras suara berteriak, “Aksi mahasiswa
bukan makar.” Sementara itu, poster­poster dibentangkan, di antaranya bertulisan
“Get Out Japan”, “Menerima Tanaka = Menerima Kolonialis”, “Tolak Dominasi Eko­
nomi Jepang”, “Ganyang Antek­Antek Kolonialis Jepang”, “Menghimpun Kekuatan
Budak­Budak Kapitalis Jepang = Makar”, dan “Mahasiswa Militan, Tanaka You
Genit, deh. Bagero”.

Rute yang ditempuh: UI­Kramat Raya­Raden Saleh­Gedung LIA Cikini­
Tugu Tani­Merdeka Selatan. Di Jalan Merdeka Selatan, sebagian peserta long march
sempat menurunkan bendera Jepang yang berdampingan dengan Bendera Merah­
Putih. “Jangan dirusak, asalkan turun dan bawa saja,” seru pemimpin rombongan
melalui pengeras suara.

Tentara dari berbagai kesatuan lengkap dengan kendaraan lapis baja telah
menjaga ketat jalan menuju Monumen Nasional.8

Wakil Panglima Kopkamtib
Laksamana Sudomo telah menambah dua batalyon pasukan untuk menjaga
sekeliling istana.9

Penjagaan ketat juga dilakukan di kantor Wakil Presiden Sri Sultan
Hamengkubuwono. Mahasiswa gagal menurunkan bendera menjadi setengah tiang
di sini, tapi sukses di Balai Kota Gubernur DKI Jakarta, sehingga mereka bersorak
kegirangan.

Perjalanan berlanjut ke Jalan Merdeka Barat. Di jalan ini, Kopkamtib dan
Menteri Pertahanan berkantor. Di dalamnya tengah berlangsung rapat Dewan Jabatan
dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Pemimpin rapat adalah Ketua Wanjakti yang juga
Menteri Pertahanan dan Keamanan /Panglima ABRI Jenderal Maraden Panggabean.
Diikuti antara lain oleh wakilnya, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro, dan Jenderal
Soerono.10

Di depan kantor Markas Besar ABRI/Departemen Pertahanan dan Keamanan,
beberapa mahasiswa sempat beraksi. “Massa mahasiswa ketika itu berani­berani,
sampai ada yang nekat masuk halaman Mabes ABRI/Dephankam dan menurunkan

7

Rum Aly. 2004. Op.Cit.

8

Ibid.

9

Julius Pour. 1997. Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan. Jakarta: Gramedia Widiasarana.

10

Menurut catatan dalam biograf Jenderal Soemitro (Heru Cahyono. 1998. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan
Peristiwa 15 Januari 1 74. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), rapat ini salah waktu dan salah posisi. Jenderal Panggabean
pun tak mengizinkannya dan terus­menerus menahan Soemitro untuk bertahan di rapat dan menyerahkan penanganan
kepada Wakil Pangkopkamtib Laksamana Sudomo.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 59

3/26/10 7:21:37 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

bendera menjadi setengah tiang. Akibatnya, mereka dikejar­kejar tentara yang jaga,”
kata Jopie Lasut.

Dari Merdeka Barat, mereka belok ke kiri melalui Museum Nasional. “Di
sini, kalau jalan terus, menuju Jalan Tanah Abang II seperti rute yang ditetapkan, tapi
saya belokkan sebentar ke Tanah Abang III,” kisah Judilherry. Di Tanah Abang III ini
terdapat kantor Golkar. “Tidak ada polisi yang jaga. Pucat semua orang­orang di sana
ketika kami datang. Kami memaki­maki Golkar di situ,” tutur Judil.
Hanya beberapa menit di sana, sekadar bernyanyi “Aspri dan Komisi”,
rombongan besar itu menuju Cideng, kemudian Roxy, dan kira­kira pukul 10.30
sudah tiba di kampus Trisakti. Di sini, apel akbar digelar: orasi, puisi, bernyanyi, dan
memaki­maki boneka yang digambarkan sebagai Aspri Presiden Soeharto.
Manakala mahasiswa sudah kembali ke kampus masing­masing, asap tebal
sudah mengepul dari berbagai titik di pusat kota. Keletihan melanda Hariman. Jam
tidurnya telah berkurang banyak pada beberapa hari terakhir. Semalaman itu pun
matanya baru terlelap dua­tiga jam, karena memimpin rapat sampai tengah malam,
sebelum akhirnya dialihkan kepada Gurmilang. Menjelang terlelap, Hariman sudah
membayangkan peristiwa yang terjadi keesokan harinya.
Memang keesokan harinya Rabu, 16 Januari, kerusuhan masih berlanjut.
Larangan berkumpul di siang hari tidak ditaati massa. Pengumuman dan maklumat
yang dikeluarkan Laksus Kopkamtib Jaya tertanggal 15 Januari 1974 tumpul karena
massa tetap berkerumun di jalan. Beberapa rumah petinggi dikepung, di antaranya
rumah Ali Moertopo di Matraman dan rumah Sudjono Hoemardani. Beberapa
bangunan di Jalan Blora dibakar; gedung Pertamina di Kramat Raya diserbu massa,
isinya dikeluarkan dan dibakar, mobil­mobil yang ada di kantor gedung itu pun
dibakar.

Hampir seluruh petinggi ABRI pun turun ke jalan pada hari Rabu itu. Jenderal
Maraden Panggabean mendatangi kerumunan massa di Kramat Raya. Panglima
Kopkamtib Jenderal Soemitro juga beredar di jalanan. Begitu juga Kepala Kepolisian
Daerah Jakarta, Mayjen Polisi Widodo Budidarmo. Reaksi mereka seolah melengkapi
ketidakhadiran malam sebelumnya di Istana Merdeka, tempat jamuan makan malam
bersama Perdanan Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, diselenggarakan. Dari 68
undangan, makan malam itu hanya dihadiri oleh 17 orang.
Siang hari, Jenderal Soemitro memberikan keterangan pers didampingi oleh
Ali Moertopo, Sudjono Hoemardani, Wakil Pangkopkamtib Sudomo, dan petinggi­
petinggi ABRI lainnya. Ia mengumumkan akan dilakukannya sejumlah penangkapan.
“Keadaan telah memaksa kami yang telah sabar sampai batasnya terpaksa bertindak
keras dan di sana­sini dengan mempergunakan kekerasan,” ancam Soemitro, “siapa
pun dan kepada kekuatan sosial apa pun bentuknya, yang masih belum mengerti
keadaan sekarang dan membantu secara langsung maupun tidak langsung menambah
ketegangan yang ada, kami terpaksa akan bertindak tegas. Dan, hal ini sudah cukup
kami pertanggungjawabkan terhadap hati nurani kami.”

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 60

3/26/10 7:21:38 PM

~ ~

Serangkaian penangkapan memang betul­betul dilakukan. Hariman Siregar,
Gurmilang Kartasasmita, Theo L. Sambuaga, Bambang Sulistomo, Purnama
Munthe, dan Salim Hutadjulu merupakan nama­nama yang masuk dalam gelombang
penangkapan pertama. Lalu disusul Dorodjatun Kuntjoro­Jakti. Penangkapan
berikutnya dilakukan kepada Fahmi Idris, Sugeng Sarjadi11

, Marsillam Simandjuntak,
Adnan Buyung Nasution, H.J.C. Princen, Imam Waluyo, Jusuf A.R., Jesse A. Monintja,
dan Laksamana Muda Mardanus. Sejumlah tokoh yang dikaitkan dengan Partai
Sosialis Indonesia (PSI) pun ditangkap, yakni Prof. Sarbini Soemawinata (yang juga
mertua Hariman), Soebadio Sastrosatomo, dan Moerdianto. Gelombang berikutnya
adalah Sjahrir, Rahman Tolleng, Soemarno, dan Ramadi. Terakhir yang ditangkap
adalah Mochtar Lubis, pemimpin harian Indonesia Raya yang penerbitannya
kemudian ditutup selamanya oleh rezim Orde Baru.12
Menanggapi kerusuhan yang meluas tersebut, Hariman Siregar tampil ke depan.
Dalam pernyataan yang disiarkan langsung oleh TVRI, malam hari 16 Januari 1974,
Hariman mengatakan bahwa Dewan Mahasiswa UI mengutuk tindakan perusakan
dan huru­hara yang terjadi. Ia menjelaskan bahwa aspirasi Dewan Mahasiswa UI
sudah jelas. Dan ini bisa dibedakan dengan tindakan kerusuhan yang dilakukan
pemuda karena punya program. “Kami menyesalkan tindakan kerusuhan tersebut.
Karena, ekses­eksesnya mengaburkan perjuangan kami kepada pemerintah,” kata
Hariman.13

Setelah membacakan pernyataan itu, Hariman langsung ditahan oleh

aparat keamanan.

Sikap mahasiswa itu kembali ditegaskan lewat pernyataan Dewan Mahasiswa
se­Jakarta yang dikeluarkan sehari setelah kerusuhan terjadi. Dalam pernyataan itu
dinyatakan bahwa: 1) tindakan pengrusakan yang telah dilakukan massa adalah
tindakan destruktif, tidak bertanggung jawab, dan mengarah anarkis, dan nyata­nyata
merusak citra mahasiswa; 2) mahasiswa menyesalkan dan menyatakan prihatin atas
kejadian yang telah menyebabkan kerugian material dan moral itu; 3) diserukan
kepada seluruh mahasiswa untuk siaga di tempat, tetap memelihara ketertiban dan
tidak terpancing oleh provokasi; 4) diserukan kepada masyarakat agar mereka menjaga
ketertiban demi tercapainya aspirasi perjuangan mahasiswa yang murni.
*****
Di awal Januari 1974 suhu politik nasional memang makin memanas.
Melanjutkan pidato Hariman Siregar dalam malam tirakatan 31 Desember 1973,
para mahasiswa menggelar berbagai aksi. Tanggal 10 Januari 1974 dideklarasikan
“Tiga Tuntutan Rakyat” (Tritura) yang baru dirumuskan: pembubaran Dwifungsi
ABRI, penurunan harga­harga, dan pemberantasan korupsi. Dua hari kemudian, pada

11

Kepada Tim Penulis buku ini, Sugeng Sarjadi mengaku tidak pernah ditangkap karena Malari. Penyebutan namanya
muncul di koran yang terbit keesokan hari setelah pengumuman dari Laksus Kopkamtib. Yang ditangkap di lokasi dan pada
hari penangkapan Fahmi Idris adalah Nurcholish Madjid yang kemudian dikeluarkan pada hari itu juga.

12

Pada tanggal 6 Februari 1974, Jaksa Agung mengumumkan bahwa 45 orang yang dituduh terlibat dalam peristiwa politik
“Malapetaka 15 Januari” atau Malari telah ditahan. Pada hari­hari berikutnya, beberapa koran dan majalah terkemuka dila­
rang terbit dengan tuduhan telah memberitakan berbagai laporan yang memanas­manasi kerusuhan dan peristiwa­peristiwa
sebelumnya. Lihat: Max Lane. 2007: Op.Cit.

13

Hariman Siregar. Loc.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 61

3/26/10 7:21:38 PM

~ ~

Hariman & Malari

pertemuan mahasiswa yang diorganisasi oleh Universitas Kristen Indonesia (UKI)
Jakarta, patung­patung Sudjono Hoemardani, Ali Moertopo, Tanaka, dan Widodo
Budidarmo dibakar. Dewan mahasiswa dari berbagai kota, terutama Bandung dan
Bogor, berpartisipasi dalam demonstrasi yang terjadi di Jakarta.
Demonstrasi lain juga terjadi di Makassar. Akibatnya, dua anggota Angkatan
Muda Sulawesi (AMS) diajukan ke pengadilan: M. Zubair Bakri dan Drs. Yuus Teken.
Mereka dituduh memainkan peran penting dalam kegiatan­kegiatan yang ditujukan
untuk merongrong pemerintah yang sah.14
Aksi­aksi menentang Aspri dan Jepang juga marak. Di Jakarta dan Bandung,
boneka­boneka yang menggambarkan sosok Sudjono Hoemardani dan Kakuei Tanaka
dibakar massa­demonstran. Aksi ini merupakan “pemanasan” untuk menyambut
kunjungan Tanaka ke Indonesia sepanjang tanggal 14­16 Januari 1974 itu. “Kami
bahkan demo ke Istana Negara dan Jalan Cendana. Sejak itu, Opsus mulai marah dan
mengancam akan menjatuhkan gue,” kata Hariman. Toh, Hariman tidak takut dengan
ancaman­ancaman tersebut.

Karena berbagai aksi yang marak itu, Presiden Soeharto pun bersedia menerima
delegasi mahasiswa. Maka, pada 11 Januari 1974, tiga hari sebelum Tanaka datang,
Presiden Soeharto mengajak mahasiswa berdialog. Hariman selaku Ketua Dewan
Mahasiswa UI hadir bersama delegasi 34 dewan mahasiswa perguruan tinggi se­
Jawa. Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu, delegasi mahasiswa
yang hadir ada sekitar 100 orang.
Dalam kesempatan ini, Hariman menyampaikan Petisi 24 Oktober 1973, yang
isinya, pertama, mengingatkan kepada pemerintah, militer, intelektual, teknokrat,
dan politisi agar meninjau kembali strategi pembangunan, sehingga di dalamnya
terdapat keseimbangan bidang sosial, politik, dan ekonomi yang anti­kemiskinan,
kebobrokan, dan ketidakadilan. Kedua, meminta rakyat segera dibebaskan dari tekanan
ketidakpastian dan pemerkosaan hukum, merajalelanya korupsi dan penyelewengan
kekuasaan, kenaikan harga dan pengangguran. Ketiga, lembaga penyalur pendapat
masyarakat harus kuat dan berfungsi serta masyarakat harus mendapatkan kesempatan
yang seluas­luasnya untuk berpendapat dan berbeda pendapat.
Pada pertemuan di Istana Merdeka itu, beberapa wakil dewan mahasiswa
sempat memaki­maki Presiden Soeharto dan mengecam habis para Aspri Presiden,
yang bertindak melebihi pejabat­pejabat resmi dan memperkaya diri secara tidak sah.
“Soeharto, sih, senyum­senyum saja. Eh, menjelang pertemuan bubar, banyak aktivis
dewan mahasiswa yang minta foto bareng Soeharto. Ha­ha­ha....,” kenang Hariman.
Menjawab tuntutan mahasiswa itu, Soeharto tak menjanjikan apa pun. Ia hanya
mengucapkan akan memperhatikan aspirasi yang berkembang di kalangan mahasiswa
di masa depan. Respons Soeharto itu tentu saja tak memuaskan mahasiswa. “Teman­
teman kemudian mendesak agar perjuangan terus dilanjutkan. Mereka meminta
dewan mahasiswa perguruan tinggi se­Jawa membuat pernyataan politik menyambut

14

C. Van Dijk. 2000. Op.Cit.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 62

3/26/10 7:21:39 PM

~ ~

kedatangan Perdana Menteri Tanaka,” kata Hariman.
Pada 12 Januari 1974, mahasiswa kembali melanjutkan demonstrasi anti­
dominasi ekonomi Jepang sekaligus anti­Aspri. Boneka­boneka yang menggambarkan
diri Sudjono Hoemardani dan Perdana Menteri Jepang Kakue Tanaka kembali
dibakar.

Hariman (berjalan paling depan, ditengah) memimpin delegasi Dewan Mahasiswa se-Indonesia bertemu Presiden
Soeharto di Bina Graha (1974).

Hariman (duduk paling kiri) dan Delegasi Dewan Mahasiswa se-Indonesia sesaat sebelum bertemu Presiden
Soeharto di Bina Graha.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 63

3/26/10 7:21:42 PM

~ ~

Hariman & Malari

Tanggal 14 Januari 1974 malam, Perdana Menteri Tanaka datang ke Indonesia.
Jalan menuju Lapangan Udara Utama Halim Perdanakusuma diblokir mahasiswa.
Menteri­menteri yang datang untuk menjemput pun tidak diberi jalan, kecuali
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Soerono. Meski wilayah di sekitar Halim
Perdanakusuma dijaga ketat aparat keamanan, beberapa aktivis berhasil menerobos
sampai ke landasan pacu. Begitu Tanaka turun dari tangga pesawat, mereka
membentangkan poster­poster bernada protes. Melihat itu, aparat keamanan segera
mengamankan para aktivis mahasiswa tersebut.
Malam itu juga, dewan mahasiswa perguruan tinggi se­Jawa mengadakan rapat
di Student Centre UI, Salemba, untuk membahas undangan dialog dengan Tanaka di
Istana Negara, 15 Januari 1974. Mereka juga memperbincangkan pernyataan Jenderal
Maraden Panggabean yang menyatakan bahwa gerakan mahasiswa menjurus makar.
Selain para mahasiswa, sejumlah unsur non­kampus juga ikut dalam
rapat tersebut. Mereka antara lain Jesse A. Monintja, Jusuf A.R., dan Jopie Lasut.
Kedatangan unsur­non kampus itu berkaitan dengan usul untuk melakukan koordinasi
demonstrasi pelajar sekolah dan mahasiswa selama kunjungan Tanaka. Menurut
Jopie Lasut, usul itu terinspirasi oleh pernyatana Kepala Kepolisian Jakarta Widodo
Budidarmo, beberapa hari sebelumnya, bahwa demonstrasi terbagi dalam dua kategori:
demonstrasi mahasiswa adalah “bersih”, sedangkan demonstrasi di luar lingkungan
universitas adalah “demonstrasi liar”. Pernyataan Widodo diikuti pernyataannya pada
14 Januari di radio yang menyebutkan bahwa, setelah dipelajari, aksi­aksi tersebut
telah mencapai titik ketika mereka dapat berubah menjadi kegiatan subversif.
Yang mengajak Jusuf A.R., Jesse A. Monintja, dan Jopie Lasut ke Student
Center UI adalah Sjahrir. Sebelum ikut pertemuan, mereka menunggu di luar. Pada
pertengahan pertemuan, Theo L. Sambuaga terlihat ke luar ruangan. Setelah diberitahu
tentang rencana untuk melakukan koordinasi demonstrasi itu, Theo mengatakan
bahwa rencana semacam itu memerlukan persetujuan Hariman Siregar. Mereka lalu
menulis catatan untuk Hariman Siregar. Setelah membacanya, Hariman mengundang
mereka bergabung dalam pertemuan.
Usai pertemuan tersebut, diskusi pendek terjadi antara tiga perwakilan gerakan
pelajar dan John Pangemanan (Ketua Dewan Mahasiswa Sekolah Tinggi Olahraga),
Pataniari Siahaan (Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Trisakti), dan Hariman
Siregar. Disepakati, pelajar­pelajar sekolah akan berpartisipasi dalam rencana­rencana
para mahasiswa. Setelah itu, pertemuan terjadi dengan Eko Djatmiko.
Rapat yang dipimpin Hariman sendiri berlangsung alot. Tema yang dibicarakan
adalah apakah massa dalam aksi demo besoknya akan dilokalisasi di Monas atau
turun ke jalan­jalan. Sebagian peserta rapat bersikeras massa dilokalisasi di Monas
saja, tapi sebagian lagi ngotot agar massa turun ke jalan­jalan Ibu Kota. Akhirnya
dicapai kata sepakat: aksi akan dipusatkan di kampus Universitas Trisakti di kawasan
Grogol. Tapi, massa mahasiswa akan berjalan dari kampus­kampus di Jakarta, dengan
“titik­singgung” kawasan Monas. Maksudnya, massa mahasiswa yang berjalan akan

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 64

3/26/10 7:21:43 PM

~ ~

Showroom Toyota di jalan Sudirman, Jakarta, yang dibakar massa saat Peristiwa Malari.

Jenderal Soemitro berpidato di depan massa saat meletusnya Peristiwa Malari.

melewati kawasan Monas dan membawa massa di Monas ke kampus Trisakti.
Setelah dicapai kata sepakat, rapat dilanjutkan dengan membicarakan konsep
rute perjalanan massa dari kampus UI di Salemba menuju kampus Trisakti di kawasan
Grogol. Rapat ini dipimpin Gurmilang Kartasasmita. “Rute perjalanan saya susun
berdasarkan pengalaman memimpin demonstrasi sebagai Ketua KAPPI Rayon
Setiabudi di tahun 1967,” kata Gurmilang.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 65

3/26/10 7:21:44 PM

~ ~

Hariman & Malari

*****
Lantas, apa sesungguhnya Peristiwa Malari? Ada banyak versi yang diungkap

berbagai pengamat sosial-politik terhadap Peristiwa Malari: merupakan ekses konfik

internal di kalangan elite politik; ledakan ketidakpuasan kelompok kelas menengah
pribumi terhadap strategi pembangunan Orde Baru; sampai peristiwa yang didalangi
oleh oknum­oknum PSI dan Majelis Sjuro Muslimin Indonesia.
Hariman Siregar dianggap telah melakukan perbuatan melawan, merongrong
wibawa, bahkan berniat menjatuhkan kekuasaan pemerintahan yang ada. Subversi.
Hariman Siregar kemudian dianggap menjadi tokoh sentral gerakan Malari. Bukan
hanya pada tahun­tahun 1974­1975, namun terus hingga lebih dari 30 tahun berikutnya.
Nama Hariman Siregar lalu selalu dilekatkan dengan atribut “tokoh Malari”. Dan di
sinilah kesalahan mulai terjadi.
Faktanya, kerusuhan, pembakaran, pencurian, dan pengrusakan hingga lepasnya
11 nyawa merupakan suatu aksi terpisah dari gerakan mahasiswa yang memprotes
dominasi modal asing, mengkritik strategi pembangunan pemerintah Soeharto, dan
mengecam korupsi di pemerintahan. Aksi itu bukan dirancang dan digerakkan atau
dilakukan oleh gerakan mahasiswa yang di Jakarta dimotori oleh Dewan Mahasiswa
UI dengan ketua umumnya Hariman Siregar. Aksi kekerasan itu juga sulit disebut
sebagai inisiatif masyarakat yang setuju isi protes mahasiswa. Maka, menyebut
Hariman Siregar sebagai tokoh sentral gerakan Malari mengandaikan tuduhan yang
dibacakan jaksa penuntut umum di persidangan Hariman di Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, Agustus 1974, sebagai kebenaran mutlak. Pengandaian ini membenarkan
bahwa aksi­aksi kekerasan yang terjadi menyusul demonstrasi mahasiswa disponsori
atau setidaknya didukung oleh Dewan Mahasiswa UI.
Mantan Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro, melalui memoarnya,15
mengungkapkan bahwa kelompok Operasi Khusus (Opsus)16

yang bertanggung jawab
terhadap kerusuhan tersebut. Opsus merancang suatu operasi untuk menetralisasi
posisi Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, mahasiswa, dan golongan­golongan
yang dianggap bisa menghalangi ambisi politik Ali Moertopo. Operasi itu dilancarkan
dengan cara menunggangi rencana apel mahasiswa pada 15 Januari 1974 dengan
serangkaian aksi kerusuhan dan huru­hara. Sasaran kerusakan seperti mobil­mobil
Jepang, kantor Toyota Astra, dan Coca­cola sengaja ditentukan agar mengesankan
kerusuhan memang benar­benar dibuat mahasiswa. Soemitro menunjuk serangkaian
rapat dan pertemuan rahasia di Jalan Sabang, Jalan Salemba, dan Jalan Timor
(semuanya di Jakarta Pusat) guna mendukung kesimpulannya.
Sungguhpun begitu, menurut Hariman Siregar sendiri, yang merupakan tokoh
sentral gerakan itu, “Peristiwa Malari adalah puncak dari gerakan kritis terhadap
konsep pembangunan yang dilakukan pemerintah Orde Baru saat itu.” Gugatan
terhadap strategi pembangunan tersebut juga berkaitan dengan ekses­eksesnya
yang sudah terlihat jelas saat itu, seperti mis­manajemen pembangunan, korupsi,

15

Heru Cahyono. 1998. Op.Cit.

16

Dipimpin oleh Asisten Pribadi Presiden Soeharto, Ali Moertopo.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 66

3/26/10 7:21:44 PM

~ ~

kesenjangan sosial­ekonomi, dan dominasi modal asing.
Isu­isu tersebut berhasil digerakkan Dewan Mahasiswa UI yang berhasil
tampil sebagai lembaga sentral yang dapat mempersatukan kekuatan berbagai potensi
aksi. Di situlah letak strategisnya aksi atau gerakan pemuda dan mahasiswa dibanding
gerakan kaum buruh dan tani. Perjuangan mereka yang disebut belakangan umumnya
lebih tertuju kepada kepentingan mereka sendiri.
Bagi kaum buruh, misalnya, isu gerakan mereka biasanya seputar kebebasan
berserikat, jaminan keamanan dan keselamatan kerja, serta tuntutan kenaikan upah. Isu
gerakan kaum tani selalu berkisar soal lahan (tanah), alat­alat produksi, dan tuntutan
kenaikan harga hasil tani. Akan halnya isu gerakan pemuda dan mahasiswa jauh lebih
luas, bersifat lintas sektoral, karena umumnya tertuju pada upaya­upaya mengangkat
masalah­masalah publik, dengan maksud agar semua orang mengetahuinya serta turut
memikirkan dan menyelesaikannya.
Adnan Buyung Nasution juga menilai, “Gerakan mahasiswa itu saya yakini
merupakan gerakan yang murni, mandiri, dan independen, tidak mengekor siapa
pun. Yang dihantam adalah rezim Soeharto, baik Soehartonya, Ali Moertoponya,
maupun Soemitronya.... Saya heran kalau gerakan mahasiswa dan cendekiawan
disangkutpautkan dengan salah satu pihak. Tidak betul itu.”17
Yang jelas, dari Peristiwa Malari ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan,
yakni pemuda dan mahasiswa memang mampu menciptakan isu yang memimpin
untuk melakukan perubahan; perlu adanya lembaga sentral guna mempersatukan
berbagai potensi aksi yang ada; untuk sampai ke suatu gerakan yang menyeluruh
diperlukan waktu yang cukup panjang dan terus­menerus, dan; dukungan media­
massa sangat diperlukan.18

Soemitro menyebutkan, “para pemain” yang bertanggung jawab terdiri dari
“jaringan intel lepas” Opsus, CSIS yang berjaringan dengan Opsus, sejumlah tokoh
Gabungan Usaha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI)—organisasi massa Islam
yang direkrut Ali Moertopo untuk memenangkan Golkar dalam Pemilu 1971—dan
sejumlah massa binaan Ali Moertopo yang terdiri dari preman, tukang becak, dan
bekas­bekas Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Komando operasi pembakaran
dipimpin oleh anggota Opsus, Bambang Trisulo S.H., dengan didukung oleh
Freddy Latumahina, Leo Tomasoa (seorang preman), dan Aulia Rachman. Konsep
penunggangan ini dibahas oleh tokoh­tokoh CSIS19

pendukung Opsus, di antaranya
kakak beradik Liem Bian Koen (Sofyan Wanandi) dan Liem Bian Kie (Yusuf
Wanandi), serta Cosmas Batubara. Sementara itu, dana operasi disebutkan sebesar
Rp100 juta. Untuk dana operasi preman saja, Bambang Trisulo mengeluarkan uang
sebesar Rp30 juta. Angka ini tergolong amat besar pada masa itu, mengingat nilai

17

Lihat Ramadhan KH dan Nina Pane; Adnan Buyung Nasution: Dirumahkan Soekarno,
Dipecat Soeharto; 2004, Aksara Karunia.

18

Hariman Siregar; Gerakan Mahasiswa 1970­an; makalah pengantar diskusi dalam pertemuan “Mengembangkan
Wawasan ke­2” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia di Kanada dan Amerika Serikat, bertempat di Madison­
Wisconsin, USA, 4 Juni 1995.

19

Centre for Strategic and International Studies (CSIS) adalah lembaga think thank.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 67

3/26/10 7:21:45 PM

~ ~

Hariman & Malari

tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih di bawah Rp400 per US$1.
Peristiwa Malari juga berbuntut pada pembredelan 12 koran dan majalah di
Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Ke­12 penerbitan yang surat izin terbit
(SIT)­nya dicabut itu adalah Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, Harian KAMI,
Nusantara, Jakarta Times, Mingguan Wenang, Pemuda Indonesia, Majalah Ekspress
(Jakarta), Suluh Berita (Surabaya), Mingguan Mahasiswa Indonesia (Bandung), dan
Indonesia Pos (Ujungpandang). Di Jakarta, selain pencabutan SIT masih ditambah
pencabutan surat izin cetak (SIC) oleh Pelaksana Khusus Kopkamtib Jakarta Raya.
Mereka dianggap menerbitkan berita yang menjurus ke arah usaha­usaha
melemahkan sendi­sendi kehidupan nasional, dengan mengobarkan isu­isu seperti
modal asing, korupsi, Dwifungsi ABRI, kebobrokan aparat pemerintah, pertarungan
tingkat tinggi; merusak kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan nasional;
menghasut rakyat untuk bergerak mengganggu ketertiban dan keamanan negara;
menciptakan peluang untuk mematangkan situasi yang menjurus pada perbuatan
makar.20

Akibat Peristiwa 15 Januari 1974 selanjutnya adalah reorganisasi di tubuh
kekuasaan. Jenderal Soemitro mengundurkan diri dari jabatan Panglima Kopkamtib,
Presiden Soeharto menghapuskan jabatan Aspri yang disandang Ali Moertopo,
mengganti Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) yang dipegang oleh
Letjen Sutopo Juwono—dianggap orang dekat Soemitro—dengan Mayjen Yoga
Soegama.

Menyimak berbagai buntut peristiwa pasca­Malari, Eep Saefulloh Fatah
memilih melihat peristiwa ini sebagai keberhasilan Presiden Soeharto menerapkan

manajemen konfik dalam pemerintahannya. Tujuannya: (1) membentuk tertib politik

atau stabilitas dan (2) mewujudkan dan mengefektifkan kekuasaan. Secara umum,

stabilitas yang bisa tercipta dari manajemen konfik adalah stabilitas konsensual atau

stabilitas yang dibentuk berdasarkan konsensus antara negara dan masyarakat serta
dan stabilitas otokratis atau stabilitas yang diciptakan melalui pemaksaan, koersif,
represi, dan “menendang” semua pihak yang tidak sepakat dan sejalan dengan nilai
dan kepentingan negara.21

Kata “negara” pada aras politik bisa disamakan dengan
penguasa. Sengaja atau tidak, Presiden Soeharto menemukan satu momentum untuk
“meringankan” beban perseteruan dalam tubuh kekuasaan yang dipimpinnya melalui
Malari.22

Tapi, dalam pandangan Jopie Lasut (aktivis non­kampus yang terlibat
dalam Peristiwa Malari), Peristiwa Malari justru merupakan mometum awal yang
memanfaatkan kontradiksi di kalangan rezim militer Orde Baru. “Hariman dkk.
menggunakannya untuk mempertajam friksi antara kekuatan pro­status quo dan
kekuatan yang pro­perubahan demi kepentingan rakyat jelata. Dan, yang pasti,

20

Ignatius Haryanto. 1996. Pembredelan Pers di Indonesia: Kasus Koran Indonesia Raya.
Jakarta: LSPP.

21

Eep Saefulloh Fatah. 2010. Op.Cit.

22

Rum Aly. 2004. Op.Cit.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 68

3/26/10 7:21:45 PM

~ ~

Malari merupakan titik awal perlawanan terhadap Suharto secara besar­besaran,”
kata Jopie.

Bagi gerakan mahasiswa Indonesia sendiri, Malari merupakan suatu titik balik
atau anti­klimaks dari perannya sebagai pengontrol kekuasaan. Mahasiswa tak lagi
bebas memerankan student government melalui kampus, aktivitas politik mahasiswa
dilikuidasi, Tridharma Perguruan Tinggi yang salah satunya berbunyi pengabdian
masyarakat dibatasi pada aktivitas kerja bakti dan memberi bantuan ke desa­desa.
Akibatnya, konsolidasi dan aksi mahasiswa sebagai kekuatan politik yang mengontrol
pemerintah berlangsung dalam skala lebih kecil dibanding awal 1970­an.
Kendati demikian, dalam periode pasca­Malari mulai akhir 1970­an, periode
Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) 1980­an, gerakan mahasiswa 1990­an,
hingga gerakan tahun 1998 yang mengakibatkan jatuhnya kekuasaan Soeharto, nama
Hariman Siregar tetap lekat pada berbagai kegiatan konsolidasi dan protes mahasiswa.
Ia bagaikan menjadi ikon dari setiap gerakan kaum muda yang lahir sesudahnya.
Hal senada juga dikatakan Todung Mulya Lubis, tokoh pejuang hak asasi
manusia yang juga sempat terseret Peristiwa Malari. “Memang saat itu Hariman tidak
berhasil untuk menggulingkan Soeharto. Tapi, sebagai sebuah gerakan mahasiswa,
Peristiwa Malari adalah sebuah embrio dari suatu perlawanan yang terus berlanjut.
Bahwa dia tidak berhasil menggulingkan Soeharto itu soal lain. Tapi, Hariman telah
meletakkan embrio dari suatu perlawanan generasi muda terhadap kekuasaan yang
otoriter. Dari segi itu, saya lihat keberhasilan gerakan Malari,” kata Todung Mulya
Lubis.23

Bahkan, dalam pandangan Max Lane, seorang aktivis dan pengamat per­
politikan Indonesia, gerakan protes mahasiswa sepanjang 1973­1974 adalah awal
gerakan menjatuhkan Soeharto. Gerakan mahasiswa itu membuka agenda politik
baru. “Sebelumnya agenda protes terbatas pada isu korupsi. Mulai dengan gerakan
1973, ketika Hariman menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI, agenda dibuka sehingga
strategi pembangunan, peran pejabat militer, kesewenang­wenangan antidemokrasi,
dan peran modal asing, semuanya diperdebatkan,” tulis Max Lane. “Ketika Soeharto
melakukan represi pada tahun 1974, dan lagi pada tahun 1978, perdebatan itu mungkin
berlangsung di bawah tanah, tapi jalan terus.” 24

e

23

Wawancara dengan Todung Mulya Lubis.

24

Max Lane. 2007: Op.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 69

3/26/10 7:21:46 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 70

3/26/10 7:21:46 PM

~ ~

Pengadilan

dan Penjara

JE p i s o d E 5

alan masuknya hanya berupa tanah. Sempit
pula. Mobil akan sulit masuk dan, bila hujan, jangankan
roda kendaraan, langkah kaki pun kurang gagah karena
lumpur becek. Tetapi setelah menempuh jalan buruk
itu beberapa menit akan dijumpai tembok batu tinggi
dikelilingi persawahan yang membentengi beberapa
bangunan. Mereka yang hidup pada periode awal Orde
Baru mengenal—setidaknya pernah mendengar—nama
tempat ini: Penjara Nirbaya. “Dulu lokasi Nirbaya
terpencil di pinggir Jakarta. Untuk mencapainya, keluarga
para tahanan harus melalui jalan tanah, yang kalau musim hujan jadi becek dan
berlumpur,” kenang Hariman Siregar.
Sekarang mungkin orang hanya mengenal nama Nirbaya untuk menyebut
salah satu lembaga permasyarakatan (lapas) di Pulau Nusakambangan. Nirbaya yang
tempat mendekam Hariman Siregar, setelah di vonis pengadilan, tidaklah sejauh itu.
Letaknya hanya di pinggir Jakarta, di kawasan Pondok Gede, tidak jauh dari Taman
Mini Indonesia Indah. Namun, kini tak ada lagi bekas penjara itu. Tempatnya sudah
berganti dengan pemukiman yang dipadati penduduk. Hanya nama Jalan Nirbaya
yang masih mengingatkan penduduk lama di daerah itu bahwa dulu ada sebuah
penjara di tempat mereka. Lokasinya ada di sisi kanan jalan dari Terminal Pinang
Ranti menuju Asrama Haji.

Selama satu tahun delapan bulan, Hariman Siregar pernah menjadi salah satu
penghuni Nirbaya, setelah sebelumnya mendekam di sejumlah penjara lain. Menyusul
kemudian ke Nirbaya adalah Sjahrir dan Aini Chalid. Tokoh lain yang sempat diseret
kasus Malari oleh pemerintah dan ditempatkan di Nirbaya adalah Mochtar Lubis,
Adnan Buyung Nasution, dan Bung Tomo. Sebelum mereka telah ada tahanan dari
peristiwa Gerakan 30 September 1965.1

Mereka antara lain: Omar Dhani (Kepala Staf
Angkatan Udara di masa Soekarno), Soebandrio (mantan Wakil Perdana Menteri dan

1

Mochtar Lubis menggunakan istilah “tahanan Gestapu.” Lihat: Mochtar Lubis. 2008. Op.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 71

3/26/10 7:21:46 PM

~ ~

Hariman & Malari

Menteri Luar Negeri), dan sejumlah tokoh lainnya.
Penjara Nirbaya terdiri dari lima blok. Istilah yang digunakan untuk menamai
blok­blok itu bisa dibilang “dipaksakan”—untuk perspektif zaman pasca­Soeharto.
Masing­masing blok dinamai Amal, Bakti, Nusa, Ikhlas, dan Rela. Tidak diketahui
dari mana dan apa ide dasarnya—barangkali tidak penting juga dicari tahu—tapi
kemungkinan bersumber dari kebiasaan Orde Baru memberi stigma kepada lawan
politiknya. Mereka yang dimasukkan ke sini dinilai bukanlah orang­orang yang cocok
dengan istilah­istilah nama blok itu, tapi diharapkan kelak bisa cocok atau bertobat.
Nama resmi penjara ini sebenarnya adalah Instalasi Rehabilitasi (Inrehab)
Nirbaya. Tempat ini direncanakan dan didirikan pada era pemerintahan Soekarno,
dengan tujuan untuk tempat penampungan para tahanan politik terkemuka, yang
sebelumnya ditahan di penjara biasa di Madiun, Jawa Timur. Yang menarik, penjara
Nirbaya tak memiliki pintu gerbang masuk dan tidak ada dinding penyekat di antara
blok. Sayap kanan Nirbaya terdiri dari Blok Amal, Bakti, dan Nusa.
Di dalam Blok Amal terdapat rumah­rumah kecil yang berdiri sendiri. Penjaga
dan penghuni menyebutnya paviliun ayau bungalo. Tiap­tiap paviliun memiliki lahan
kosong di muka, kedua sisi dan belakang. Akan halnya blok lain hanya terdiri dari
barak­barak panjang dengan kamar­kamar lebih kecil. Tentu saja terdapat tempat
khusus untuk penjaga dan dapur umum. Blok Amal dianggap merupakan blok VIP di
Nirbaya. Setiap tahanan menempati paviliun berukuran 5 x 6 meter, dengan fasilitas
WC di dalam, jendela kaca dan pintu yang berkunci biasa. Paviliun itu dilengkapi

Hariman bersama para aktivis DMUI (Bambang Sulistomo, Gurmilang Kartasasmita, dan Eko Djatmiko) di
RTM Budi Utomo (1974).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 72

3/26/10 7:21:50 PM

~ ~

dengan tempat tidur, sofa, meja dan kursi makan, serta lemari pakaian. Dan tidak ada
terali besi.2

Di Blok Amal inilah mendekam Omar Dhani, Soebandrio, dan sejumlah
tahanan politik yang dulunya adalah para pejabat pemerintahan era Soekarno.
Di Nirbaya terdapat pula poliklinik. Di paviliun poliklinik inilah Hariman
ditempatkan. “Dibanding di penjara lain selama menjadi tahanan, di Nirbaya relatif
lebih baik,” kata Hariman. Di sini ia dibolehkan membaca berbagai buku, bukan
hanya novel­novel, dan bergaul dengan tahanan lain yang kebanyakan mantan pe­
tinggi Orde Lama. Sewaktu­waktu bisa juga berkunjung ke blok lain.
Seperti ditulis Mochtar Lubis, dalam catatan hariannya, Kamis, 13 Februari
1975, “Kemarin Hariman Siregar datang bertamu waktu jam main volley. Dia gembira
seperti biasa dan mengatakan padaku bahwa mahasiswa waktu demonstrasi terhadap
Tanaka sama sekali tidak merencanakan untuk menentang pemerintah Soeharto dan
bahwa kekerasan­kekerasan yang terjadi bukanlah dilakukan mahasiswa. Katanya,
dia dan kawan­kawannya telah berhasil mengenal mereka yang mengerahkan orang
untuk merampok dan membakari toko dan mobil.”
Tiap­tiap kamar atau paviliun tidak pernah dikunci sepanjang siang dan malam.
Hanya pintu masuk ke tiap blok yang dikunci. Dua pengawal tentara ditempatkan
secara bergantian untuk berjaga. Menurut catatan harian Mochtar Lubis, tentara
penjaga itu “prajurit­prajurit muda dan senantiasa bersikap ramah.”
Layaknya penjara, di tiap sudut tembok tinggi terdapat menara pengawalan.
Dari menara itu, selain bisa mengawasi kegiatan tahanan, juga bisa melihat suasana
sibuk di dekat tembok selatan, yakni pembangunan Taman Mini Indonesia Indah yang
tengah dikebut agar bisa diresmikan bulan April 1975.
Setelah melewati waktu enam bulan lebih, Sjahrir yang sudah divonis 6
tahun 6 bulan tahun pada pertengahan Juni 1975 dikirim juga ke Nirbaya. Kemudian
menyusul Mohammad Aini Chalid, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, yang
divonis dua tahun dua bulan. Mereka berkumpul di tempat ini. Hariman telah pula
menulis catatan­catatan hariannya.
Suatu sore, 4 Februari 1975, Mochtar Lubis dimasukkan juga ke Nirbaya. Ia
ditempatkan di Blok Amal Paviliun A2. Sama seperti ketika Hariman masuk, tak ada
perlengkapan di dalam paviliun itu. Hanya ada sebuah meja dan kursi tua, bufet,
tempat tidur dengan kasur busuk, tanpa bantal atau sprei. Hariman sempat meminta
dikirimi kasur dari rumah menggantikan yang disediakan Nirbaya.
Mochtar Lubis sempat mencatat menu yang disajikan setiap harinya. Makan
pagi adalah nasi dengan sepotong tahu atau tempe, siang hari makan dengan nasi
ditambah satu tempe dan sayur rebus, sedang makan malam diberi nasi lebih banyak
dengan sayur lodeh, perkedel, dan setengah telur asin. Menu ini berbeda dengan
tahanan Gerakan 30 September yang hanya diberi nasi, tahu/tempe, sayur rebus untuk
pagi, siang, dan malam. Pada siang hari pun menu untuk Hariman dan Mochtar Lubis

2

Lihat Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Soeparno. 2001. Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pleidoi
Omar Dani. Jakarta: ISAI, halaman 140­141.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 73

3/26/10 7:21:50 PM

~ ~

Hariman & Malari

(kelak nanti dengan Sjahrir dan Aini) masih ditambahi satu telur dadar atau sesekali
pada pagi hari diberi perkedel.
Tahanan yang telah lama menghuni Nirbaya memelihara kucing dan ayam.
Ada enam kucing saat itu yang dimaksudkan untuk menjaga agar ular dan tikus tidak
masuk ke paviliun. Maklum, ular belang dan ular sendok masih banyak di daerah itu.
“Untungnya tidak ada tikus masuk ke paviliun,” tulis Mochtar Lubis dalam catatan
hariannya. Di tengah blok ada taman dengan kolam ikan mujair dan bunga teratai.
Tahanan lama juga menanam singkong, pepaya, mangga, jambu klutuk, alpukat, dan
bunga­bunga.

*****
Acara masih dua setengah lagi berlangsung. Jam di Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat baru menunjukkan pukul 06.30 WIB. Sepagi itu, dua batalyon polisi lengkap
dengan brigade satwa yang menuntun anjing pelacak telah siaga.3

Pengunjung
pengadilan telah mulai membanjir. Mereka antre untuk mendapatkan tanda pengenal
khusus agar bisa masuk ke ruang persidangan. Satu di antaranya adalah Bung Tomo,
tokoh 10 November 1945. Ia termasuk pengunjung yang datang paling pagi.
Kamis pagi itu, 1 Agustus 1974, Hariman Siregar akan disidang. Ketua Dewan
Mahasiswa UI ini pertama kalinya akan kembali muncul di muka publik setelah
sejak pertengahan Januari ditahan berpindah­pindah. Ia telah lebih dulu datang ke
pengadilan dengan mobil tahanan dari RTM Budi Utomo.
Sebelum sidang betul­betul dimulai pukul 09.00 sudah ada dua ribuan orang,
yang sebagian besar mahasiswa. Rata­rata berjaket kuning. Tampak pula mahasiswa
dari Bandung dan Bogor, ditandai dengan jaket almamater yang mereka kenakan.
Di ruang sidang, di kursi pengunjung sudah ada Pembantu Rektor III UI Dr. Budi
Swasono, yang seorang menantu mantan Wakil Presiden Bung Hatta. Hadir juga
abang Hariman: Marhum Siregar.
Majelis Hakim dipimpin oleh B.H. Siburian, S.H., dengan anggota Bremi,
S.H. dan Hungudidojo, S.H. Jaksa dipimpin oleh Ph. Rompas, S.H. Terdakwa,
Hariman Siregar—mengenakan jaket almamaternya juga—duduk di tengah di muka
meja majelis hakim. Beberapa meter di sebelah kanannya, duduk empat pembelanya:
Suardi Tasrif, Jamaluddin Dt. Singomangkuto, Nusjirwan Kusumonegoro, dan Talas
Sianturi.

Sidang pertama ini agendanya mendengarkan dakwaan jaksa:

“… Hariman Siregar, baik bertindak atas nama Dewan Mahasiswa Universitas
Indonesia, organisasi lain, ataupun perseorangan, pada bulan Oktober, November,
Desember 1973, dan Januari 1974 setidak­tidaknya dalam waktu antara 1973 dan 1974,
di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau daerah lain di wilayah Republik Indonesia telah

3

Pasukan keamanan itu sebelumnya, 30 Juli 1974, mengikuti pelatihan bersandi Jaya Siaga III yang diikuti oleh berbagai
satuan ABRI, Wankamra, dan Hansip. Latihan selama enam setengah jam itu dipimpin oleh Panglima Pelaksana Khusus
Kopkamtin Jakarta Raya. Lihat: “Bab Sistem Pengamanan” dalam Tempo edisi 10 Agustus 1974.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 74

3/26/10 7:21:51 PM

~ ~

Pengunjung sidang berusaha mendekati Hariman Siregar yang akan masuk ke mobil tahanan, Jakarta, 1975.
[TEMPO/ Zulkify Lubi)

Sidang pengadilan peristiwa malari, Hariman Siregar di pengadilan negeri Jakarta Pusat, Jakarta, 1975.
[TEMPO/ Harun Musawa)

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 75

3/26/10 7:21:55 PM

~ ~

Hariman & Malari

melakukan serangkaian perbuatan dan maksud merongrong atau menyelewengkan
haluan negara, merongrong kekuasaan negara atau kewibawaan pemerintah yang
sah atau aparatur negara, menimbulkan kekacauan, kegoncangan, atau kegelisahan
di kalangan penduduk atau masyarakat luas, mengganggu, menghambat, atau
mengacaukan jalannya industri, produksi, distribusi, perdagangan, atau pengangkutan
yang diselenggarakan pemerintah, atau memunyai pengaruh luas terhadap rakyat,
perbuatan­perbuatan mana dilakukan dengan cara­cara sebagai berikut:
Pada tanggal 24 Oktober 1973 di Student Centre Universitas Indonesia,
Salemba Raya Jakarta, terdakwa telah mencetuskan dan menandatangani Petisi 24
Oktober. Untuk maksud itu, terdakwa telah melakukan serangkaian kegiatan antara
lain:

1. Pada tanggal 20 November 1973 di dalam pertemuan delapan dewan
mahasiswa yang diadakan di Universitas Padjadjaran, Bandung, terdakwa telah
mengucapkan antara lain:

• Pemerintah semakin lama semakin menyimpang dari tujuan semula.
• Perlu adanya perubahan struktur pemerintahan karena tidak menghasilkan

kemajuan.

2. Pada tanggal 24 November 1973 kira­kira jam 02.00 malam bertempat
di ruangan DMUI Jalan Salemba Raya Jakarta, di hadapan beberapa anggota DMUI,
terdakwa telah melontarkan kata­kata, ‘Setuju enggak kita ganti Soeharto dengan
Soemitro?’

3. Pada tanggal 9 Desember 1973 dalam pertemuan ‘reriungan’ antara tiga
golongan masyarakat, yaitu mahasiswa, cendekiawan, dan seniman yang diadakan di
Student Centre ITB, terdakwa telah mengatakan antara lain:
• Kultur penguasa yang jelas tidak menghasilkan perubahan.
• Tanpa mahasiswa bergerak mungkin akan ada kudeta dari pihak militer,
maka sebelum ini terjadi mari mulai sekarang juga.
• Sekarang tujuan kita merombak struktur pemerintahan, bila perlu secara
keseluruhan, dan bila perlu kita angkat senjata dan berkorban untuk cita­cita bersama.
4. Pada tanggal 12 Desember 1973 di kantor DM IAIN Sunan Kalijaga
di Yogyakarta dalam dialog dengan beberapa anggota DM IAIN, ketika anggota­
anggota DM tersebut menjelaskan bahwa maksud dari gerakan­gerakan mahasiswa
adalah melenyapkan ketimpangan­ketimpangan yang ada di negara ini, terdakwa telah
menyampaikan kata­kata ‘mengapa bukan Soeharto?’
5. Pada tanggal 14 Desember 1973 malam di rumah makan Siyo Jakarta,
sewaktu saksi­saksi Tisnaya Kartakusuma dan Togar Hutabarat menanyakan apa
maksudnya poster­poster yang sedang disiapkan oleh mahasiswa UI dan berisi
mendiskreditkan Aspri dan Kopkamtib, terdakwa menjelaskan, ‘Mau revolusi lebih
daripada yang terjadi di Muangthai dan Athena, caranya akan diadu antara Aspri dan
Pangkopkamtib agar Presiden Soeharto jatuh.’
6. Pada bulan Oktober 1973 sewaktu DMUI mendapat undangan dari
Presiden Soeharto ke Cendana pada Hari Raya Lebaran, terdakwa telah mengucapkan
kata­kata di antara kawan­kawan anggota DMUI sebagai berikut: ‘Kita bunuh saja
(Presiden) Soeharto sekarang, dia ini kacung Cina, sebentar­sebentar Cina­Cina pada
datang.’

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 76

3/26/10 7:21:55 PM

~ ~

7. Pada bulan Oktober atau November 1973 dalam acara perkenalan
DMUI yang baru dengan Gubernur Ali Sadikin, terdakwa telah melontarkan kata­
kata, ‘Bagaimana ini, Pak, mahasiswa akan mengadakan aksi secara besar­besaran,
bagaimana kalau kami dukung Bapak menjadi presiden?’
8. Pada tanggal 18 Desember 1973 di UI Salemba Jakarta, terdakwa
selaku Ketua Umum DMUI mengadakan apel kebulatan tekad dan antara lain telah
meneriakkan: ‘Bapak main golf, ibu sedang ngobyek.’
9. Pada suatu malam tirakatan, terdakwa telah mengajak rakyat untuk bergerak
maju mengikuti jejak mahasiswa dalam usaha mencapai tujuan yang tercantum dalam
tekad bulat mahasiswa.

10. Pada apel di UKI tanggal 12 Januari 1974, terdakwa telah menghasut
agar mahasiswa dalam menyambut kedatangan PM Tanaka dari Jepang meneriakkan,
‘Bahwa Indonesia masih punya kebanggaan nasional.’ Dan dalam perjalanan
menyambut PM tersebut, terdakwa menganjurkan mahasiswa agar menurunkan
bendera­bendera menjadi setengah tiang.
11. Pada tanggal 15 Januari 1975, di depan Fakultas Kedokteran UI, terdakwa
memberikan instruksi kepada para pimpinan rombongan yang akan berangkat
bergerak, agar mengambil rute Salemba (UI) – Kramat Raya – RS Cikini – Menteng
Raya – Jalan Tanah Abang III – terus ke Universitas Trisakti dengan garis singgung
Monas.

Dalam long march tersebut, pemimpin barisan depan adalah Judilherry,
barisan tengah dipimpin langsung Hariman, dan barisan belakang dipimpin mahasiswa
lainnya. Pada sepanjang jalan yang dilalui, barisan harus menurunkan bendera­bendera
yang dipasang penuh menjadi setengah tiang dan ban­ban mobil agar dikempiskan.
Dengan cara­cara ini, terdakwa bermaksud merongrong kewibawaan
pemerintah, menimbulkan kekacauan, mengganggu ketertiban umum, dan menim­
bulkan hambatan terhadap perkembangan industri, sedangkan pemerintah sedang giat­
giatnya melaksanakan pembangunan nasional dalam segala bidang.
Maka, terdakwa telah melanggar Pasal 1 ayat 1 sub a, b, c, d Undang­Undang
No. 11/PNPS/1963 dalam tuduhan primer, sedangkan dalam subsider telah melanggar
Pasal 107 ayat 1 dan 2 KUHP, Pasal 2 UU No. 5/PNPS/1958 (bermaksud mengadakan
makar hendak menggulingkan pemerintah yang sah)….”4

Setelah setengah jam dakwaan dibacakan, Ketua Majelis Hakim B.H. Siburian
bertanya kepada Hariman. “Saudara mengerti tuduhan yang baru saja dibacakan?”
“Tidak,” jawab Hariman.
“Mengerti bahasa Indonesia?” tanya Hakim lagi.
“Mengerti. Tapi saya tidak dapat memahami segi­segi hukumnya,” kata

Hariman.

“Ada yang Saudara mohon kepada Majelis Hakim?”
“Ada. Kalau boleh supaya sidang yang memeriksa saya ditunda satu bulan

4

Hariman Siregar. 1999. Op.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 77

3/26/10 7:21:56 PM

~ ~

Hariman & Malari

agar saya dapat berhubungan dengan para pembela saya. Karena Bapak­Bapak ini
(seraya menoleh kepada Tim Pembela) baru bertemu dengan saya pagi ini di sidang,”
kata Hariman. “Waktu saya ditangkap, istilahnya diamankan, tidak disebut­sebut
untuk dibawa ke pengadilan.”

Suardi Tasrif mengajukan pernyataan senada: “Kami menyayangkan bahwa
sepanjang pengetahuan kami, selama berada dalam tahanan, tersangka tidak
pernah mendapat kesempatan untuk menghubungi dan meminta bantuan penasihat
hukum, sekalipun hal itu adalah haknya berdasar Pasal 36 UU Pokok Kekuasaan
Kehakiman.”5

Mereka lalu meminta agar sidang ditunda selama satu bulan ke depan. Tapi,
hakim beranggapan sebulan terlalu lama. Akhirnya, sidang berikutnya ditunda kurang
dari dua pekan, yakni 12 Agustus.
Pada dasarnya, sidang terhadap Hariman merupakan sidang pesanan. Pada
masa Orde Baru, sidang model begini biasanya vonis “bersalah” dan harus menjalani
hukuman penjara yang sudah ditetapkan sebelum persidangan itu sendiri dimulai.
Maka, ketika eksepsi disampaikan kepada sidang kedua oleh tim pembela, majelis
hakim menyatakan menolak dan menyatakan bahwa Hariman harus diperiksa
pengadilan. Sidang­sidang setelah putusan sela hakim itu tentunya memeriksa
keterangan saksi­saksi.

Seluruhnya ada 35 saksi yang diajukan oleh jaksa. Mereka ialah Theo L.
Sambuaga, Gurmilang Kartasasmita, Judilherry Justam, Jessy A. Moninca, Slamet

Rahardjo, Pataniari, John Pangemanan, Eko Djatmiko, Arifn Simanjuntak, Nasrun

Yasabari, Dorodjatun Kuntjoro­Jakti, Juwono Sudarsono, Joppie Lasut, Jusuf A.R.,
Carpus da Lopez, Abdul Salim Hutadjulu, Sani Hutadjulu, Djarot Santoso, Harjuna
Ganes Siahaan, Hatta Albanik, Rum Aly, Leo Tomasoa, Postdam Hutasoit, Sarwoko,
Tisnaya Kartakusuma, Slamet Effendy Yusuf, Togar Hutabarat, Remy Leimena,
Muslim Tampubolon, Benny Sudiro, Mangirim Simare­mare, Ashadi Siregar, Firdaus
Basuni, Yusuf Muhammad, dan Sjahrir.
Sebenarnya ada satu saksi lain yang diajukan jaksa: Razak Manan, wartawan
mingguan Mahasiswa Indonesia, terbitan Bandung. Namun, kesaksian Razak Manan
dibatalkan hakim karena dianggap “membuat ulah”. Sebelum memberi kesaksian—
seperti biasa—saksi disumpah berdasarkan kitab suci agamanya. Razak menolak
disumpah sebelum ia dibolehkan memeriksa apakah Alquran yang digunakan untuk
menyumpah benar­benar asli atau tidak. Ia pun kemudian menangis tersedu sedan
untuk melengkapi protesnya di pengadilan.6
Rata­rata agenda sidang yang menghadirkan saksi­saksi memang berisi kisah
menarik yang mengundang senyum, kadang tertawa dan tepuk tangan. Misal saja,
Theo L. Sambuaga, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI, bertanya lebih dulu kepada
majelis hakim sebelum ia diperiksa. “Mengapa saya, sebagai pengurus DMUI, tidak

5

“Hari Pertama untuk Hariman”, Tempo edisi 10 Agustus 1974.

6

Rum Aly. 2004. Op.Cit.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 78

3/26/10 7:21:56 PM

~ ~

diajukan bersama­sama dengan ketua saya?”
Setelah diberitahu oleh hakim bahwa ia dihadirkan hanya sebagai saksi, Theo
langsung menyergah, “Kalau hanya sebagai saksi saja, yang harus memberi keterangan
obyektif, mengapa ditahan? Saksi memerlukan suasana yang bebas. Dan kalau saya
ditahan, tentu akan ada kelanjutannya, diadili. Kalau diadili, mengapa tidak bersama­
sama dengan semua pengurus DM­UI?”
Akhirnya, hakim ketua menyatakan mungkin jaksa telah menyiapkan suatu
perkara tersendiri bagi Theo. “Urusan membawa ke persidangan adalah wewenang
jaksa. yang menentukan siapa yang akan diajukan lebih dulu sesuai dengan
keperluannya,” kata B.H. Siburian.
Kepada Theo, hakim menanyakan seputar Petisi 24 Oktober 1973, Ikrar 10
November 1973, dan juga tentang acara Malam Tirakatan. Soal protes terhadap modal
Jepang, hakim bertanya, “Kenapa ketidakpuasan kepada Jepang tidak disampaikan
pada pertemuan dengan presiden?”
Dijawab Theo singkat, “Waktu itu tidak terpikir.”
“Kenapa pembacaan memorandum direncanakan di Monas? Apa supaya
banyak mahasiswa yang tertampung? Apa dengan pembacaan di Monas itu lantas
bisa didengar Tanaka?” Pertanyaan ini menyambung keterangan Theo bahwa
memorandum yang dibacakan di Universitas Trisakti, 15 Januari 1974, mulanya mau
dibacakan di Monas.

Menjawab serentetan pertanyaan hakim ini, Theo lagi­lagi menjawab singkat,
“Hemat saya, Monas sebagai lambang Jakarta dan merupakan daerah netral.”

Hariman bersama para pengacaranya, Suardi Tasrif dan T. Mulya Lubis, di halaman PN Jakarta Pusat (1983).

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 79

3/26/10 7:22:00 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Ketika hakim menyoal tentang Malam Tirakatan, setelah memberitahu bahwa
itu pertama kali diadakan di UI, Theo langsung menukas cepat, “Maaf, Pak, saya haus
sekali.” Akhirnya, hakim menunda sidang sampai beberapa hari berikutnya.7
Aksi saksi­saksi di pengadilan tak berhenti. Beberapa saksi menggunakan
acara sidang untuk mengungkapkan pelanggaran yang terjadi selama mereka ditahan.
Sebagian malah menarik keterangan dalam berita acara yang dibuat sebelumnya
dengan alasan dipaksa dan diancam.
Jusuf A.R., Salim Hutadjulu, Eko Djatmiko, dan Joppie Lasut meminta agar
hak­hak tahanan untuk menerima pengunjung dipenuhi. Mereka meminta agar izin
dari hakim yang menjamin mereka bisa menerima pengunjung dibuat tertulis. Soal
ini disanggupi oleh majelis hakim. tapi Jusuf A.R. tetap menolak memberi kesaksian
sebab sampai sepekan kemudian janji izin tertulis itu belum keluar. Ketika dipanggil
ke pengadilan, 6 September 1974, ia mengaku tak siap secara mental untuk memberi
kesaksian. Pada hari itu, Jessy A. Moninca juga mengaku tidak berada dalam kondisi
yang mantap karena tengah menderita sakit gigi.
Juwono Sudarsono menarik keterangan dalam berita acara karena melihat
bahwa pengadilan terhadap Hariman merupakan pengadilan politik yang bertujuan
mengesahkan sebuah hukuman yang telah ditentukan. Eko Djatmiko pun mencabut
pernyataan yang ia buat ketika diinterogasi. Alasan Djatmiko, waktu diperisa ia
dalam keadaan tidak sadar dan merasa terancam. Ia pun mengaku pernah dipukul.
Jaksa mengakui insiden itu, namun menurut jaksa tidak ada kaitan dengan interogasi,
melainkan perselisihan Eko Djatmiko dengan penjaga belaka.
Saksi lain yang mencabut berita acara adalah Jopie Lasut dan Bambang
Sulistomo. Jopie mengaku tidak merasa aman selama interogasi. “Saya diancam,”
katanya di depan pengadilan. Jopie Lasut mengungkapkan bahwa ia telah dipaksa
untuk menyebutkan sejumlah pejabat penting pemerintah seperti Jaksa Agung Ali
Said, Panglima Kopkamtib Soemitro, dan Wakil Panglima Kopkamtib Sudomo.8
Alasan Bambang Sulistomo menarik keterangan dalam berita acara karena dia
diberitahu bahwa interogasi yang telah dilakukan tidak ada terkait dengan pengadilan
Hariman.9

Protes serupa Bambang Sulistomo diajukan saksi­saksi dari Bandung, Hatta
Albanik dan Rum Aly. Secara tertulis, mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa
Universitas Padjadjaran Hatta Albanik memprotes berita­berita yang menyebutkan ia
pernah memberi kesaksian tertulis mengenai Hariman. “Keterangan yang pernah saya
berikan dalam pemeriksaan­pemeriksaan tidak untuk pengadilan perkara Saudara
Hariman Siregar,” tulis Hatta dalam surat protesnya kepada hakim. “Paling tidak
saya tidak pernah secara jelas diberitahukan untuk apa keterangan­ketrangan tersebut
dimintakan dari saya.”

7

“Masih Soal Petisi”, Tempo edisi 31 Agustus 1974.

8

Setelah Soemitro mengundurkan diri, jabatan Panglima Kopkamtib diambil alih langsung oleh
Presiden Soeharto. Sudomo pun menjadi Kepala Staf Kopkamtib.

9

C. Van Dijk. 2000. Op.Cit.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 80

3/26/10 7:22:00 PM

~ ~

Akan halnya menurut catatan Rum Aly10

, protes dilakukan karena hakim ketua
dalam suatu persidangan pernah mengatakan “kita akan memanggil pemimpin koran
(Mahasiswa Indonesia) itu untuk mendengarkan penjelasan mengenai beritanya,
apakah sekadar modal dengkul.” Rum Aly memberitahu apa itu Mahasiswa Indo-
nesia dan mengenai terbitannya yang berskala nasional.11
Secara keseluruhan, jaksa gagal membuktikan dakwaan makar oleh Hariman.
Ia lebih banyak menggunakan keterangan dan informasi intelijen dengan sedikit
pembuktian hukum. Beberapa saksi yang memberatkan Hariman dari kalangan
Opsus—Leonard Tomasoa, Sarwoko, Djarot Santoso, Postdam Hutasoit, dan Tisnaya
Kartakusuma—tampil dengan keterangan­keterangan yang kontroversial, namun
tidak dikejar hakim untuk didalami. Pada dasarnya, sepanjang keterangan mereka
bisa memberatkan Hariman, selesai sudah.
Keterangan Leo, misalnya, menyebut Hariman adalah otak peristiwa Malari.
Ia menyimpulkan setelah bertemu massa yang dikenali sebagai tukang becak pada 16
Januari 1974. Ketika Leo bertanya apa yang sedang dilakukan mereka di depan UI,
mereka menjawab, “Menunggu komando Bang Hariman.”
Sontak Hariman keberatan. “Itu analisis, bukan keterangan.”
Namun, hakim kala itu berpihak kepada Leo. “Majelislah yang akan
memutuskan apakah analisis itu benar atau tidak,” kata B.H. Siburian.12
Secara keseluruhan, Hariman Siregar menolak dakwaan yang disampaikan
jaksa. Ia menolak berbagai keterangan yang disampaikan saksi memberatkan (saksi a
charge). Hariman menyatakan tidak pernah berbicara tentang perubahan­perubahan
yang harus dilakukan dalam struktur pemerintahan dan tentang kudeta. Ia menolak
telah menyebutkan tentang “revolusi yang lebih keras dari yang terjadi di Athena dan
Muangthai” yang dapat dicapai dengan jalan mengadu domba Aspri dan Opsus.
Meski kadang keras dalam persidangan, terutama pada pemeriksaan saksi­
saksi memberatkan, pledoi Hariman terkesan lebih lembut. Ia pun tak mengajukan
argumen­argumen hukum. Isi pledoinya singkat saja:

Bapak Majelis Hakim yang terhormat,
Kami telah siap menunggu keputusan Bapak Majelis Hakim mengenai
segala kegiatan kami. Hanya, sekali lagi, kami ingin menegaskan pendirian kami:
generasi muda Indonesia yakin perjuangan selama ini bukan untuk memenangkan
pribad­pribadi, golongan­golongan, atau kekuasaan. Lebih lagi untuk menggulingkan
pemerintah dan pimpinan nasional yang sah! Tapi, perjuangan kami adalah untuk
menegaskan prinsip­prinsip yang kita ciptakan bersama. Karena, pribadi­pribadi bisa
mati, golongan­golongan silih berganti, kekuasaan dapat menyeleweng, tetapi prinsip­
prinsip akan tetap abadi.

10

Mantan Pemimpin Redaksi Mingguan Mahasiswa Indonesia, terbitan Bandung,
dibreidel setelah Malari.

11

Rum Aly. 2004. Op.Cit.

12

Hariman Siregar. 1999. Op.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 81

3/26/10 7:22:00 PM

~ ~

Hariman & Malari

Kami yakin prinsip yang paling langgeng adalah prinsip yang kami
perjuangkan, yakni yang termaktub dalam UUD 45 dan Pancasila.
Jiwa patriotisme kami, kecintaan kami kepada nusa dan bangsa, serta
penghayatan kami pada prinsip­prinsip yang terdapat dalam UUD ‘45 dan Pancasila
tak akan pernah luntur, walaupun ditukar dengan harta ataupun karena dipenjarakan
dan menderita.

Pada akhirnya, kami mendoakan selalu agar Bapak Majelis Hakim yang
terhormat dapat melakukan tugasnya sebaik­baiknya berdasarkan hukum yang berlaku,
dan dengan penuh keberanian mengatasi setiap rintangan yang dapat menghambat
tegaknya kebenaran dan keadilan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membimbingnya
selalu.

Kami juga menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Majelis
Hakim yang terhormat, yang bertugas selama ini di persidangan. Kepada Bapak
Jaksa, kami sampaikan ucapan yang sama. Ucapan terima kasih yang mendalam kami
sampaikan kepada Bapak Tasrif, Bapak Jamaluddin, Bapak Nursjiwan, dan Kak Talas
Sianturi yang telah mendampingi kami selama di persidangan ini.
Kepada rekan­rekan kami dan majelis hadirin serta petugas dan wartawan
dan kepada mereka yang telah memberikan bantuan moril dan simpati, baik selama
ini maupun selama kami ditahan dan menerima sebagai musibah, kami ucapkan
diperbanyak terima kasih. Khusus kepada orangtua saya yang telah memberikan arti
tanggung jawab dan arti kesetiaan kepada saya, juga saya ucapkan terima kasih.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati dan memberi balas yang

setimpal kepada kita semua.

Jakarta, 18 November 1974
Hariman Siregar

Tim pembelanya membacakan pembelaan pada sidang ke­50 setebal 150
halaman. Tim yang dipimpin Suardi Tasrif begitu meyakinkan membacakan naskah
pembelaan. Isinya melibatkan sejumlah fakta berita, keterangan saksi, kutipan para
ahli—termasuk buku­buku yang ditulis oleh ahli dari Barat, puisi yang di antaranya
dari W.S. Rendra, hingga lirik lagu Bob Dylan.13
Beberapa bagian yang dibacakan sempat membuat hadirin tertegun, terutama
ketika Tasrif membacakan bagian penutup pembelaan. Ada empat perkara yang
sedang dipertaruhkan oleh pengadilan ini, menurut pembela. Yang pertama adalah
generasi muda Indonesia sedang diadili.
“Melalui perkara terdakwa Hariman Siregar ini, sesungguhnya the young
generation in Indonesia is on trial. Sejarah akan mencatat dan memberikan penilaian,
apakah dalam tahun 1974 ini pengadilan di Indonesia benar­benar dapat menghayati
dan menyelami aspirasi­aspirasi generasi mudanya melalui keputusan pengadilan
dalam perkara terdakwa Hariman Siregar,” ujar Tasrif.

13

Ricardo Iwan Yatim, dkk. 1994. Hati Nurani Seorang Demonstran: Hariman Siregar,
Jakarta: PT Mantika Media Utama Jakarta.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 82

3/26/10 7:22:01 PM

~ ~

Yang kedua: kebebasan mimbar sedang diuji. Perihal ketiga adalah kepercayaan
antar­mahasiswa dalam bahaya. Menurut pembela, selama pengadilan ada beberapa
saksi yang menyatakan Hariman telah mengucapkan berbagai kata pada berbagai
kesempatan yang sifatnya menghasut. Padahal, kata­kata itu diucapkan saat Hariman
sedang makan­makan, bersenda gurai, berkumpul sambil berkelakar, dan sebagainya.
“Kami terus terang merasa risi apabila omong­omong senda gurau antar­mahasiswa
sampai­sampai secara serius dijadikan kesaksian dalam perkara ini, sekalipun
kesaksian­kesaksian itu telah disangkal secara tegas kebenarannya oleh saksi­saksi
lain.

“Apakah kecurigaan di dalam kampus tidak akan merajalela apabila sesudah
ini mahasiswa yang satu menganggap yang lainnya menjadi ‘spion Melayu’?” ungkap
Tasrif. Lebih luas lagi hal itu akan berakibat bahwa para dosen dan guru besar dalam
memberi kuliah diliputi rasa khawatir. Jangan­jangan ada mahasiswanya yang akan
melaporkan isi kuliah yang dianggap di luar konteks, seperti peristiwa yang pernah
dialami Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H. pada zaman Orde Lama.14
Sampai di sini, suasana sidang langsung sepi. Pengunjung terdiam. Tasrif
berhenti membaca. Ketika melanjutkan membaca, suaranya tersendat karena haru.
Hariman pun tak kuasa menahan air matanya.15
Taruhan keempat dari pengadilan ini ialah tantangan bagi pengadilan di zaman
Orde Baru. “Selama ini telah banyak perkara penting yang diadili oleh pengadilan
dalam suasana Orde Baru, namun menurut hemat kami tidak ada satu perkara selama
ini yang lebih berat untuk diputus daripada perkara sekarang ini, oleh karena perkara
ini menyangkut persoalan­persoalan politik yang sangat peka.”
Sebenarnya, Hariman sudah divonis “bersalah” sebelum pengadilan dimulai.
Pada 21 Desember 1974, ia dijatuhi hukuman enam tahun penjara. Ia dianggap
terbukti telah melakukan tindak pidana subversi: merongrong haluan negara. Hakim
mendasarkan putusan pada tiga rangkaian tindakan yang dilakukan Hariman. Pertama:
Petisi 24 Oktober 1974. Petisi ini, menurut majelis hakim, tidak sekadar menunjukkan
rasa tidak puas terhadap keadaan negara, berbeda dengan keluh kesah pegawai di atas
bus kota mengenai kenaikan harga. “Jika rasa tidak puas itu disalurkan lewat pidato,
itu punya latar belakang dan tujuan politik,” demikian kata majelis hakim.
Bagian pertama petisi menyebut “meninjau kembali strategi pembangunan”,
yang menurut majelis hakim sama dengan meninjau Garis­Garis Besar Haluan Negara
(GBHN) dan membuat GBHN baru. Soal itu dipidatokan lagi dalam acara Malam
Tirakatan sebagai tindakan Hariman yang kedua. Adapun tindakan ketiga adalah
demonstrasi menyambut Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka.
Meski tidak terbukti menjadi penggerak kerusuhan, menurut majelis hakim,
Hariman mestinya tahu bahwa pada triwulan terakhir tahun 1973 dan awal 1974
Jakarta dilanda aksi­aksi demonstrasi. Karena kelalaian Hariman, terjadilah aksi

14

Ricardo Iwan Yatim, dkk. 1994. Ibid.

15

“Dimulai: ‘Spion Melayu’”, Tempo edisi 30 November 1974.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 83

3/26/10 7:22:01 PM

~ ~

Hariman & Malari

pembakaran dan pengrusakan. “Kelalaian ini sama seperti kelalaian seseorang yang
membeli arloji di pinggir jalan, padahal tahu di Jakarta sering ada penjambretan,”
begitu alasan majelis hakim.

Logika kacau ini diulangi majelis hakim untuk menampik argumentasi tim
pembela yang menyamakan perkara Hariman ini dengan perkara Bung Karno dan
Bung Hatta pada zaman penjajahan. Majelis tegas menyebut berbeda. Mengapa? Ja­
wabannya: “Zaman penjajahan tentu belum ada undang­undang subversi.” Sampai di
sini Hariman tidak dapat menahan tawanya.16
Sepuluh hari sebelum vonis untuk Hariman, terdakwa lain kasus Malari
mulai disidang: Sjahrir. Jaksa mendakwanya untuk kegiatan subversi. Ia dianggap
menggalang kekuatan makar sejak 1970 hingga 1972 dan tahun 1973­1974.
Rangkaian perbuatan subversi itu berupa aksi demonstrasi, diskusi, dialog dalam
berbagai pembicaraan bersama anggota GDUI, mahasiswa, pemuda, pelajar, dan
masyarakat lainnya. Perbuatan ini ia lakukan selaku pribadi dan selaku asisten pribadi
Prof. Sarbini Soemawinata dan Sekretaris GDUI. Bila Hariman didakwa sebagai
penggerak lapangan Malari, Sjahrir diarahkan sebagai otak gerakan.
Sama seperti kepada Hariman, jaksa pun mengutip beberapa pernyataan
Sjahrir untuk menjeratnya, seperti “political culture saat ini harus dicairkan, sehingga
tercapai warna politik baru yang disebut sebagai kultur elite politik.” Juga “untuk
menciptakan warna politik baru tersebut perlu adanya suatu mobilisasi politik yang
dimulai oleh elite politik.”

Saat pledoi, 7 April 1975, Sjahrir menyatakan bahwa apa yang terjadi padanya
tidak lebih dari suatu permainan. Ia hanyalah seorang warga negara biasa yang diseret
dan dipaksa untuk ikut berperan dalam cerita yang ia tak pahami ini. Sidang atas
dirinya tak lebih dari skenario politik yang serampangan dan absurd dengan latar
belakang gerakan subversif dan konspirasi politik.
“Selama berbulan­bulan majelis hakim, penuntut umum, pembela, dan saya
sendiri telah berusaha memainkan peran masing­masing dengan sebaik­baiknya.
Namun, sayalah seorang pemain yang menyadari bahwa tidak ada penonton yang
memedulikan permainan ini. Ada beberapa hal yang boleh jadi menyebabkan mereka
tidak tertarik kepada permainan ini: mungkin pembagian peran tidak cocok, saya
tidak terbiasa dengan peran yang seberat dan sebesar ini. Barangkali seseorang di luar
tahanan dan di luar persidangan ini selayaknya menjalankan peran saya. Mungkin
alur ceritanya kelewat dibuat­buat sehingga para penonton melihat permainan ini
kurang wajar. Tetapi, mungkin juga para penonton telah bosan setelah tiga puluh tahun
merdeka, mereka kini muak dengan segala macam permainan,” ungkap Sjahrir.
Toh, lagi­lagi, seperti juga terjadi pada Hariman sesungguhnya Sjahrir pun
telah dinyatakan “bersalah” sebelum sidang dibuka hakim. Maka, pada Kamis
malam, 12 Juni 1975, majelis hakim yang terdiri dari Anton Abdurrahman Putera,
Indra Malaon, dan D. Suwandono menjatuhkan palu hukuman selama 6 tahun lebih

16

“Vonis, Senyum, Naik Banding”, Tempo edisi 28 Desember 1974.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 84

3/26/10 7:22:02 PM

~ ~

6 bulan bagi Sjahrir.

Sidang ketiga untuk perkara Malari digelar dengan terdakwa Mohammad Aini
Chalid, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, 23 Juni 1975. Aini menolak didampingi
pembela. Sidang yang intinya sama saja dengan sidang Hariman dan Sjahrir ini lebih
singkat. Meski pada persidangan Aini Chalid ini disebut juga siapa yang membakar
Senen dan menggerakan massa, yakni Ramadi. Namun, majelis hakim kelihatannya
kurang berminat untuk mendalami, sama seperti pada persidangan dengan dua
terdakwa lain. Maka, kurang dari sebulan kemudian, jaksa sudah menyampaikan
tuntutan penjara selama 10 tahun dan beberapa pekan kemudian vonis bisa dijatuhkan:
2 tahun lebih 2 bulan penjara.

Aini Chalid lalu dikirim ke Penjara Nirbaya, menyusul dua rekannya yang
telah dikirim ke sana lebih dulu: Hariman Siregar dan Sjahrir.
*****
Penjara dan penderitaan hidup tak membuat Hariman Siregar patah semangat.
Mochtar Lubis, yang masuk ke Nirbaya belakangan, menulis dalam catatan harianya:
“Aku senang dengan Hariman. Semangatnya baik sekali. Rasa keadilan sosialnya
besar, apalagi untuk anak muda zaman sekarang. Terutama pula dia dari keluarga
yang berkecukupan.”17

Masa mendekam di penjara dipakai Hariman untuk membaca banyak buku.
Ia terutama sangat menyukai novel­novel berlatar belakang politik. Novel­novel
itulah yang memberinya semangat, memberi banyak inspirasi untuk tidak menyerah.
Perjuangan, kata Hariman, tidak boleh berhenti di tembok penjara. Penjara tak boleh
membuat orang jera untuk berjuang.
Salah satu penulis favoritnya saat itu adalah Alexander Solzhenitsyn,
sastrawan Rusia yang pernah mendapat Hadiah Nobel untuk Bidang Sastra. Satu
novel ringkasnya pernah membekas begitu dalam bagi Hariman Siregar adalah One
Day in the Life of Ivan Denisovich. Ini satu dari dua karyanya yang dianggap terbaik.
Satu lagi berjudul The Gulag Archipelago.
Solzhenitsyn sesungguhnya seorang komunis loyal dan pernah bergabung
dengan pasukan artileri demi Uni Soviet. Namun, sebuah surat yang ia kirim kepada
sahabatnya bocor ke tangan intelijen dan jadilah ia tahanan negara. Isi surat itu biasa
saja, namun ia menyebut Stalin sebagai “pria bermisai”. Kata­kata yang biasa saja,
tapi dianggap penghinaan terhadap penguasa Uni Soviet kala itu. Dari pengalaman
dipindah­pindah ke berbagai kamp tahanan Soviet, Solzhenitsyn menuliskan dalam
satu hari pengalaman seorang tokoh rekaannya: Ivan Denisovich, yang akrab disapa
Shukov.

Kata­kata biasa juga yang menyeret Hariman Siregar dan kawan­kawannya ke
penjara. Kata­kata yang sesungguhnya—seperti dalam pledoi Hariman—bersumber
dari “jiwa patriotisme, kecintaan kepada nusa dan bangsa, serta penghayatan pada

17

Mochtar Lubis. Op.Cit., halaman 88.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 85

3/26/10 7:22:02 PM

~ ~

Hariman & Malari

prinsip­prinsip yang terdapat dalam UUD ‘45 dan Pancasila.” Isinya memang
kritik kepada pemerintah dan strategi pembangunannya, tapi kata­kata itu buah dari
kecintaan tadi.

“Kritik dan kontradiksi sangat diperlukan oleh bangsa ini. Saya dosen dan
saya percaya bahwa kemajuan—seperti juga kalau kita sayang kepada teman kita,
kepada mahasiswa kita—kritiklah. Dengan begitu ia akan semakin sempurna dalam
pekerjaannya,” ujar Guru Besar Ekonomi UI, Anwar Nasution, menanggapi kisah
pemenjaraan Hariman.

Ganjaran rasa cinta kepada nusa dan bangsa dari tiga loyalis negeri ini—
Hariman, Sjahrir, dan Aini Chalid—ternyata adalah mendekam di Penjara Nirbaya.
Kisah Shukov dalam novel Solzhenitsyn dibaca Hariman ketika mendekam
di Nirbaya. Ia mengaku novel ini membuat dirinya menjadi lebih kuat menerima
perlakukan penguasa Orde Baru. Karya Solzhenitsyn lain yang sempat ia baca adalah
The Firs Circle. Ia juga banyak membaca novel Indonesia. Kawan Hariman, Husin
Sasongko, sempat mengirimkan Max Havelaar karya Multatuli. Berbagai bacaan itu
dimanfaatkan Hariman untuk membangkitkan perasaan, menghidupkan percakapan
batin, dan mengembangkan imajinasi.
Diakui Hariman, “ Masa dua tahun sembilan bulan di penjara memberi banyak
waktu untuk membaca ketimbang 23 tahun ketika di luar penjara.” Ketika dimasukkan
ke Penjara Nirbaya, bacaannya tidak terbatas pada novel. Di Nirbaya, ia dibolehkan
membaca buku apa pun, boleh membaca koran, boleh mendengar radio, dan boleh
menonton televisi. Di sini pula ia menggali berbagai peristiwa yang pernah terjadi
pada masa lalu di Indonesia dari saksi­saksi dan pelaku sejarah yang hidup.
Umum diketahui, Nirbaya dihuni oleh banyak pejabat pemerintah Soekarno
yang oleh pemerintah Soeharto dikaitkan dengan peristiwa Gerakan 30 September
1965, di antaranya Soebandrio. Omar Dhani, Oei Tjoe Tat (mantan Menteri Negara
Diperbantukan kepada Presiden RI), Astrawinata (mantan Menteri Kehakiman),
dan Jenderal Pranoto Reksosamudro. Nama yang disebut terakhir ini adalah mantan
Kepala Staf Angkatan Darat yang sempat diangkat Soekarno menjadi Pemangku
Komando Angkatan Darat menggantikan Ahmad Yani yang kemudian ditolak oleh
Soeharto secara langsung.

Beberapa tokoh PKI juga sempat ditemui Hariman di Nirbaya, antara lain
tokoh Politbiro PKI Asep Suratma dan Sjam Kamaruzzaman yang disebut­sebut
sebagai tokoh Biro Khusus PKI. Beberapa waktu setelah Hariman masuk Nirbaya,
Sjam Kamaruzzaman dikabarkan dieksekusi mati. “Blok kami memang blok paling
sial. Sedikit penghuninya, tapi untuk orang­orang yang dihukum mati,” kenang
Hariman.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 86

3/26/10 7:22:03 PM

~ ~

Hariman (tanda X) bersama tahanan politik lainnya di Tahanan Pusdiklat Kejaksaan Agung, Ragunan (1976).

Hariman bersama jaksa penuntut umum perkaranya, Mambo (kiri) dan Ph. Rompas (kedua dari kiri) di Tahanan
Pusdiklat Kejaksaan Agung, Ragunan (1974).

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 87

3/26/10 7:22:06 PM

~ ~

Hariman & Malari

Tapi, dari Nirbaya dan para penghuninya pula Hariman banyak belajar makna
kehidupan dan konsekuensi atas pilihan­pilihan politik yang diambil dalam hidup
manusia. Pelajaran itu sangat membekas dalam jiwa Hariman dan menjadi bekal bagi
dirinya untuk mengarungi jalan kehidupan selanjutnya.
e

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 88

3/26/10 7:22:06 PM

~ ~

Menjaga Ruh

Gerakan Mahasiswa

P

E p i s o d E 6

asca-Peristiwa Malari, situasi po­
litik Indonesia adem ayem. Tapi, menjelang
pertengahan 1977 hingga awal 1978, suasana
politik mulai memanas lagi. Panggungnya tak lain
adalah Pemilu 1977 dan Sidang Umum Majelis
Permusyawaratan Rakyat (MPR) 1978. Situasi
mulai menegang baik di gedung parlemen maupun
jalanan. Di parlemen, misalnya, Rapat Panitia Ad
Hoc II Badan Pekerja MPR tentang Naskah Rancangan Eka Prasetya Pancakarsa
(Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila, P4) yang disodorkan Presiden
Soeharto berakhir dead-lock alias macet. Rapat yang berlangsung dari 7 November
sampai 18 Desember 1977 gagal mencapai kesepakatan tentang butir­butir tafsir
Pancasila itu.

Sehari menjelang tutup tahun 1977, seorang guru besar hukum tata negara yang
juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia diperiksa oleh Kodim 0505 Jakarta
Timur. Sang guru besar, Prof. Dr. H. Ismail Suny S.H., M.C.L., diinterogasi lantaran
pernyataannya pada diskusi di kampus IKIP Rawamangun: “Di sini (Indonesia) ada
pejabat yang memiliki simpanan uang Rp140 miliar di bank.” Akibatnya, seharian ia
berhadapan dengan mesin keamanan Orde Baru: militer.
Gerakan mahasiswa pun bagaikan mendapat suntikan darah baru. Bahkan, isu
yang dilontarkan lebih berani: kini Presiden Soeharto sendiri yang menjadi sasaran
serangan. Aksi­aksi yang dilakukan di kampus­kampus mencemooh korupsi serta
keserakahan pejabat negara, terutama keluarga Presiden Soeharto. Para pemimpin
mahasiswa mengkritisi seluruh basis strategi pembangunan presiden.1

1

David Jenkins. 2010. Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1 75-1 83. Depok: Komunitas

Bambu, halaman 94.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 89

3/26/10 7:22:07 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Pertengahan tahun 1977, Dipo Alam yang mantan Ketua Dewan Mahasiswa
UI mengejek pemerintah Soeharto secara terbuka dengan cara “mencalonkan” mantan
Gubernur Jakarta Ali Sadikin sebagai presiden. Singkat kata, iklim perpolitikan
nasional sudah memanas lagi.

Di tengah suasana politik itulah, tanggal 2 Januari 1978, seorang mahasiswa
ITB bertandang ke sebuah rumah di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Jalanan yang
dikawal pepohonan itu sepi seperti biasa—apalagi lalu lintas Jakarta belum sepadat
sekarang. Angin bertiup tak terlalu kencang. Di dalam rumah, sang tamu mengenalkan

diri: Jusman Syafi Djamal, Wakil Ketua Bidang Kemasyarakatan Dewan Mahasiswa

ITB. Ini perjumpaan pertama mereka setelah sebelumnya berbicara lewat telepon.
Pemuda yang menyambut sudah mulai menebak­nebak maksud kedatangan
mahasiswa ITB. Si pemuda, yang tak lain adalah Hariman Siregar, belum terlalu lama
bebas dari penjara, sejak 11 Agustus 1976. Istrinya sedang sakit akibat pendarahan
di otak ketika melahirkan putra kembar mereka. Rumah tempat pertemuan itu tak
lain milik mertua Hariman yang seorang guru besar ilmu ekonomi, Profesor Sarbini
Soemawinata.

“Ketua Umum DM ITB Heri Akhmadi mengutus saya sendirian untuk
menemui Hariman hari itu,” Jusman mengenang perjumpaan pertamanya dengan si
pemuda di Jalan Brawijaya itu. “Terus terang, sebagai mahasiswa dan aktivis yang

Hariman Siregar berpidato didepan massa pada peringatan sumpah pemuda oleh dewan mahasiswa dan senat
mahasiswa se Jakarta di kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, 1980. [TEMPO/ Ali Said).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 90

3/26/10 7:22:09 PM

~ ~

lebih yunior, saya senang mendapat tugas ini.”
Bertemu Hariman Siregar, seorang legenda gerakan mahasiswa, di rumahnya,
dengan sebuah misi. Mata Jusman bersinar dan bibirnya mengulum senyum
mengenang pertemuan yang telah lewat 32 tahun itu. Kepada Hariman, ia menuturkan
niat mahasiswa ITB menyampaikan ikrar menuntut Sidang Istimewa MPR bagi
Soeharto. Tuan rumah langsung menyambut.
“Kalian sudah mau langsung hantam Soeharto?” tanya Hariman.
“Ya, tapi kami di ITB paling hanya 10 orang nanti yang menandatangani

ikrar,” jawab Jusman.

“Hebat itu. Dulu gue paling cuma berdua,” imbuh Hariman menyemangati.
“Berarti kami cukup banyak,” kata Jusman mantap. Ia lalu menyampaikan
undangan kepada Hariman untuk berpidato di ITB pada 15 Januari 1978.
Hariman terkekeh. “Gila lu, gue baru keluar penjara sudah diundang.” Nadanya

seolah keberatan.

Faktanya, hari Minggu 15 Januari, Hariman memasuki pagar kampus ITB
bersama Gurmilang Kartasasmita dan Rahman Tolleng. Hariman bicara di depan
mahasiswa dan 21 ketua dewan mahasiswa di ITB, yang dihadiri juga oleh Rektor
ITB Iskandar Alisjahbana. Gurmilang dan Rahman Tolleng juga bicara. Sekali lagi—
seperti ketika 1973­1974—Hariman menerangkan kekeliruan strategi pembangungan
Soeharto: “Pembangunan Soeharto ini berorientasi hanya kepada pertumbuhan di atas
kertas dan tidak mengutamakan pemerataan.”
Ia juga membantah kabar yang menyebut demonstrasi 15 Januari 1974 adalah
ciptaan Jenderal Soemitro yang bermusuhan dengan Ali Moertopo. “Itu sepenuhnya
inisiatif mahasiswa, tapi tanpa tujuan pembakaran,” ungkap Hariman kala itu.
Belajar dari Malari, ia mengingatkan, “Kalau kalian tak suka kekerasan,
jangan berdemonstrasi di jalan, diam saja di kampus.” Maksudnya, jika turun ke
jalan, risiko kekerasan itu pasti ada, apakah datang dari aparat keamanan langsung
atau diprovokasi intel.

Usai bicara, Hariman tak langsung pulang ke Jakarta. Pengurus Dewan
Mahasiswa ITB melakukan rapat sore itu. Jusman menghampiri Hariman,
menyampaikan rencana apel akbar ITB dan peluncuran Buku Putih Gerakan
Mahasiswa 1 78: “Man, besok kami mau bikin pernyataan sikap.”
“Apa isinya?” tanya Hariman.
“Menolak Soeharto,” jawab Jusman
“Gila lu. Baru bicara sehari sudah menolak Soeharto,” canda Hariman.
“Kata lu, dua atau 10 orang cukup. Ini kita 21 orang, pengurus DM ITB,”

Jusman menimpali.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 91

3/26/10 7:22:09 PM

~ ~

Hariman & Malari

*****
Berbagai aksi memang telah bersemi kembali sejak pertengahan 1977. Dewan­
dewan mahasiswa dan senat mahasiswa telah siuman setelah dihajar Kopkamtib
dan perangkat kerasnya. Pada November 1977, Presiden Soeharto sendiri menjadi
sasaran kritik tajam mahasiswa terhadap dugaan bahwa keluarganya membelanjakan
uang sebesar US$9,6 juta. Uang tersebut direncanakan untuk membangun sebuah
pemakaman di bukit pemakaman raja­raja di Jawa Tengah.
Dalam sebuah rapat terbuka mahasiswa untuk memperingati Hari Pahlawan
di Jakarta, pasukan anti­kerusuhan merampas puluhan umbul­umbul dan spanduk
dengan alasan “tidak sesuai dengan semangat peringatan Hari Pahlawan”. Memang
tulisan­tulisan dalam spanduk mengkritik dan menyindir para penguasa. Antara
lain tertulis “Rakyat tidak makan, Bos membangun makam”. Pada peringatan yang
sama di Bandung, sebuah poster menyatakan: “Bukan cita­cita pahlawan membeli
gunung”.2

Momentum peringatan Tritura, 10 Januari 1978, juga digunakan mahasiswa
untuk menyampaikan pernyataan­pernyataan bernada kritik. Berbagai dewan
mahasiswa di Indonesia memprotes pemerintah Soeharto berkaitan dengan soal
cukongisme, penyediaan fasilitas bagi keluarga istana untuk berbisnis, dan ujungnya
mengingatkan MPR hasil Pemilu 1977 untuk tidak melahirkan calon tunggal dalam
sidang pemilihan presiden.

Mantan Ketua MPRS yang mengangkat Soeharto menjadi presiden, Jenderal
(Purn.) Abdul Haris Nasution, mengirim pernyataan ke Dewan Mahasiswa UI
yang dimuat koran Salemba, 10 Januari itu: “Peringatan dan ziarah Tritura ini
mengingatkan kita kembali kepada kepeloporan generasi muda dalam situasi dan
kondisi mobilitas generasi tua 12 tahun yang lalu. Kepeloporan pendobrakan status
quo dengan spontanitas Tritura sebagai aksi yang pertama untuk berani dan jujur
mengoreksi Pemimpin Revolusi. Kini 12 tahun telah berlalu, kembali kita banyak
berbicara tentang penyelewengan dan pembaruan. Memang masih jauh juga rasanya
cita­cita kebenaran dan keadilan, cita­cita murni dan konsekuen kepada UUD 45,
cita­cita Ampera.”3

Jumat malam sebelum Hariman datang ke ITB, mantan Panglima Siliwangi
Letjen Hartono Rekso Dharsono berbicara di Gedung Julius Usman di Jalan Lembang,
Bandung. Ia menyatakan ada penyimpangan perjuangan Orde Baru. “Kepada siapa
pun yang nanti terpilih dalam MPR sebagai pimpinan nasional, saya meminta
agar memperhatikan keresahan masyarakat. Teriakan dari bawah jangan diartikan
merongrong, tapi sebagai peringatan.”4
Pada peringatan Tritura di UI Jakarta, Letjen Kemal Idris berpidato keras,
“Cita­cita Orde Baru kini makin menjauh. Cita­cita itu kini ternyata tidak dilaksanakan

2

Ibid., halaman 96.

3

Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution. 2008. Op.Cit.

4

Majalah Tempo edisi 21 Januari 1978.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 92

3/26/10 7:22:10 PM

~ ~

oleh beberapa rekan generasi saya.”5
ITB di tahun 1978 seperti mengambil peran UI di tahun 1974: menjadi motor
gerakan mahasiswa. Di kampus ITB, 20 Oktober 1977, diselenggarakan pertemuan
68 senat dan dewan mahasiswa se­Indonesia. Mereka mencetuskan Ikrar Mahasiswa
Indonesia, yang isinya mendesak MPR menggelar sidang istimewa untuk meminta
pertanggungjawaban Presiden RI tentang penyelewengan­penyelewengan dalam
pelaksanaan UUD 1945 dan Pancasila.
Senin, 16 Januari 1978, informasi dari Jusman betul­betul dilaksanakan. Siang
hari itu, sekitar 3.000 mahasiswa berkumpul di kampus ITB. Orasi dan teriakan
mahasiswa senada dengan bunyi spanduk merah yang terbentang di pintu masuk
kampus. “Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Soeharto kembali sebagai
Presiden Republik Indonesia.” Mahasiswa menuntut MPR memunculkan tokoh­
tokoh nasional sebagai calon presiden: jangan calon tunggal.
Tekad para mahasiswa itu sungguh bulat. Ditandai dengan pernyataan Ketua
Dewan Mahasiswa ITB Heri Akhmadi, “Kalau semua fungsionaris ITB ditangkap,
masih ada 8.000 mahasiswa yang akan melanjutkan perjuangan. Maka rapatkan
barisan.”

Dalam aksi itu beredar juga Buku Putih yang telah dilansir dua hari sebelumnya.
Buku Putih menyoroti pemusatan kekuasaan di tangan Soeharto. Partai politik dan
Golkar tidak dapat membawa suara hati rakyat karena tidak punya kekuatan nyata.
Gaya hidup keluarga Soeharto juga dikritik pedas. Pemberian fasilitas kepada anak­
anak Soeharto dituding memicu perilaku korup gubernur, bulati, walikota, camat, dan
lurah. “Adakah Bung Karno yang bertahun­tahun ‘disekap’ dalam penjara menuntut
kekayaan yang berlimpah untuk tebusan perjuangannya? Bung Hatta, Bung Sjahrir,
dan pemimpin sejati rakyat lainnya, walaupun telah bertahun­tahun disekap dalam
penjara, diasingkan, dan dikejar­kejar, tidak menuntut imbalan kekayaan yang
berlimpah,” demikian antara lain isi Buku Putih.6
Pada hari­hari itu, kampus­kampus di Indonesia, terutama di Jakarta, Bandung,
Yogyakarta, Surabaya, Palembang, dan Medan, kembali bergolak. Upaya mahasiswa
menyampaikan penolakan terhadap Soeharto secara langsung, 18 Januar 1978i, gagal.
Mereka akhirnya hanya diterima oleh Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Jenderal Alamsjah Ratuprawiranegara. Utusan dewan mahasiswa se­Indonesia yang
dipimpin Lukman Hakim dari Dewan Mahasiswa UI itu meminta DPA menasihati
Soeharto agar tidak mencalonkan diri lagi. “Ini demi kepentingan pribadi beliau
sendiri agar kelak tidak sampai dipaksa mundur oleh rakyat,” kata Lukman Hakim.
Akibat aksi­aksi tersebut, Presiden Soeharto menurunkan tangan keras. Mulai
20 Januari 1978 dilakukan aksi operasi penangkapan terhadap mahasiswa. Militer
memasuki kampus, menggeledah dan menangkap tokoh­tokoh dewan mahasiswa
dari Medan hingga Surabaya. Hariman Siregar termasuk yang ditangkap, bersama

5

Ibid.

6

Pada tahun­tahun ini Soeharto telah memiliki Tapos untuk perkebunan dan Mangadeg yang bakal dijadikan tempat
pemakaman dia dan keluarganya kelak. Buku Putih juga menyoroti kedua properti Soeharto itu.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 93

3/26/10 7:22:10 PM

~ ~

Hariman & Malari

tokoh non­kampus lain. Namun, Hariman kemudian dilepaskan. “Tapi, ia termasuk
yang banyak membantu kami yang ditangkap, memberikan bantuan politik, logistic,
dan mengupayakan bantuan hukum melalui Bang Buyung Nasution,” ujar Heri
Akhmadi.

Andi Mapetahang Fatwa, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jakarta dan
pegawai negeri pada Pemerintah Daerah DKI Jakarta, turut ditangkap Pelaksana
Khusus Daerah Jakarta pada 23 Januari 1978. Bersama Fatwa ikut ditangkap Muslim
Dahlan dan Charles Killian dari HMI Jakarta. Penggerebekan dilakukan bukan hanya
ke kampus, beberapa kantor organisasi massa juga digeruduk tentara, di antaranya
kantor Pemuda Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya 58, Gerakan Pemuda Islam,
dan Pelajar Islam Indonesia.

Kopkamtib menuding mereka semua merongrong kekuasaan negara
atau kewibawaan pemerintah yang sah, menimbulkan permusuhan, perpecahan,
pertentangan, serta kegelisahan dalam masyarakat. Apabila dibiarkan berlangsung
akan dapat menimbulkan kekacauan. “Kegiatan­kegiatan tersebut secara hukum

sudah termasuk dalam klasifkasi perbuatan subversi yang harus ditindak,” demikian

pernyataan Kepala Staf Kopkamtib Laksamana Sudomo dalam keterangan persnya,
23 Januari 1978.

“Meski tidak terlibat langsung sebagai penggerak 1978, Hariman berperan
besar membantu gerakan kami,” ujar A.M. Fatwa. Ia berterus terang mulanya tidak
sejalan dengan Hariman yang pada tahun 1973 menjadi Ketua Dewan Mahasiswa
UI dengan bantuan antara lain dari Operasi Khusus Ali Moertopo. Fatwa yang alum­
ni HMI tentu saja mendukung Ismeth Abdullah. Namun, pandangannya terhadap
Hariman berubah setelah Peristiwa Malari.

Hariman bersama Adnan Buyung Nasution dan WS Rendra tampil di panggung aksi mahasiswa ITB (1978).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 94

3/26/10 7:22:13 PM

~ ~

Ketika aktivis mahasiswa dan non­mahasiswa itu dipenjara, Hariman modar
mandir memberikan bantuan tahanan. “Dia sangat memperhatikan kesehatan kami,
banyak teman dokternya dibawa ke penjara untuk memeriksa kesehatan tahanan dan
menyediakan kebutuhan lain,” papar A.M. Fatwa.
Selepas dari penjara, Hariman Siregar memang lebih banyak menjadi pendorong
gerakan perlawanan—terutama—mahasiswa. Ia memberikan dukungan baik secara
materi maupun semangat dan pikiran kepada berbagai aksi yang mengoreksi kepe­
mimpinan Soeharto. Andilnya itu menjadikan Hariman sebagai benang merah dari
setiap gerakan mahasiswa pada berbagai periode, hingga ia turun sendiri pada aksi
cabut mandat terhadap kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada
tahun 2007.

“Saya kira dia­lah orang yang sanggup menjaga dan meyakinkan mahasiswa
bahwa mahasiswa adalah suatu kekuatan, kekuatan moral,” kata Theo L. Sambuaga,
politisi Golkar yang sempat bersama Hariman Siregar memimpin Dewan Mahasiswa
UI. Hariman memelihara dan memperkuat daya juang dan militansi mahasiswa.
Sumbangan paling besar Hariman bagi demokrasi, menurut Theo, adalah membuat
mahasiswa percaya bahwa mahasiswa adalah sebuah kekuatan. “Soal kekuatan ini
berhasil merombak atau tidak, itu soal lain.”
Hariman di mata teman­temannya adalah orang yang sangat memercayai
kekuatan mahasiswa sebagai penentu perubahan. “Masa depan itu milik anak muda,”
kata Komarudin, mantan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa ITB, menirukan ucapan
Hariman.

Berkali­kali dalam berbagai diskusi, Hariman menyampaikan bahwa anak
muda yang harus memperjuangkan perubahan dan meraihnya. Kalau situasi normal,
anak muda harus menjadi motor dari kemajuan dan kalau krisis, anak muda yang
harus pertama melawan. Mahasiswa yang menjadi bagian dari kaum muda terpelajar
karenanya harus memenuhi panggilan sejarah ini. Dalam bahasa Hariman, panggilan
sejarah itu merupakan “kutukan” yang harus dijawab dan dipenuhi.
Keyakinannya ini berdasarkan pada berbagai fakta empiris. “Sebagaimana
‘kutukan’ sejarah pada umumnya, kaum muda terutama mahasiswa di negara­negara
dunia ketiga pasca­kolonial—ketika tata kehidupan berbangsa dan bernegara belum
menemukan bentuknya yang demokratis sekaligus adil—telah menjadi tumpuan dan
harapan rakyat,” kata Hariman.7
Berdasar fakta sejarah pula biasanya di seberang gerakan mahasiswa selalu
ada penguasa yang lalim, birokrasi yang korup, dan tak jarang militer yang sekadar
menjadi anjing penjaga penguasa. Rezim berkuasa senantiasa merasa perlu mengawasi
setiap langkah dan gerak mahasiswa. Amat perlu merasa untuk mengendalikannya,
seperti terjadi pada upaya Ali Moertopo “menyatukan” mahasiswa dalam NUS
dan “menyatukan” pemuda dalam KNPI. “Penyatuan” yang tak lain sebagai upaya
pengendalian sistematis.

7

Hariman Siregar. 2001. Gerakan Mahasiswa Pilar Ke-5 Demokrasi, Jakarta: TePLOK Press

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 95

3/26/10 7:22:14 PM

~ ~

Hariman & Malari

Diharapkan elite organisasi pemuda yang telah masuk ke dalam KNPI
dapat memengaruhi organisasinya masing­masing. Alhasil, visi organisasinya tak
bertentangan dengan KNPI dan bersedia menerima kehadiran KNPI sebagai satu­
satunya wadah “pembinaan” generasi muda. Ini adalah bagian dari politik kekaryaan
yang menghendaki dilakukannya profesionalisasi dan fungsionalisasi terhadap
seluruh lembaga yang ada di masyarakat.8
Sebagai indikasi dari betapa sungguh­sungguhnya ruling elite melakukan
pembinaan melalui wadah tunggal, sejak 1978 diangkat seorang menteri negara untuk
membidanginya. Pada tahun 1979 dibentuk pula Badan Koordinasi Penyelenggaraan
Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda di bawah Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan. Badan ini dibentuk menyusul diberlakukannya konsep normalisasi
kehidupan kampus (NKK) di universitas setelah aksi mahasiswa 1978.
Di muka Pengurus Pusat KNPI saat dilakukan dialog nasional yang
diselenggarakan KNPI, 27 Desember 1995, Hariman tak kehilangan taringnya untuk
mengkritik langsung. Katanya, “KNPI seolah­olah menjadi kepanjangan tangan
birokrasi negara semata. Apa yang dinilai terbaik oleh negara seolah­olah itulah
yang terbaik bagi pemuda. Daya kritis dan pemikiran­pemikiran alternatif sulit
berkembang.”

KNPI tak lebih dari kendaraan politik bagi elite generasi muda yang telah
terkooptasi untuk meraih posisi politik di parlemen dan pemerintahan. Pragmatisme
pun berkembang. Dengan begitu, menurut Hariman, alih­alih mempersatukan, KNPI
malam memecah belah pemuda menjadi “yang kebagian dan yang tak kebagian.”
Upaya rezim Orde Baru lainnya untuk mengebiri peran sosial­politik mahasiswa
adalah menerapkan konsep NKK. Berdasarkan konsep ini, dewan mahasiswa

8

Hariman Siregar. 1995. “Pemuda dan Tantangan masa Depan”, makalah pada Dialog Nasional “Pemuda Menatap Masa
Depan Indonesia” yang diselenggarakan DPP­KNPI di Jakarta, 27 Desember 1995.

Hariman Siregar (kanan), Lukman Hakim (kedua dari kanan), Chudori Hamid (kiri) pada diskusi KM UI tentang
demokrasi setelah 35 tahun merdeka, Jakarta, 1980. [TEMPO/ Najib Salim).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 96

3/26/10 7:22:16 PM

~ ~

dilarang di semua kampus. NKK sejajar dengan konsep Ali Moertopo tentang “massa
mengambang”, yang kini diterapkan dalam di arena kehidupan kampus. Mahasiswa
aktivitasnya hanya untuk belajar, selesai, dan sebagai massa mengambang yang
sekadar menyibukkan dirinya dalam usaha pembangunan. Setelah dua gelombang
penindasan, di tahun 1974 dan tahun 1978, NKK sedikit banyak terbukti efektif dalam
menghentikan politik mobilisasi di dalam dan di luar kampus untuk satu dasawarsa
ke depan.9

Tapi, Hariman tak merasa khawatir terhadap upaya kooptasi dari penguasa
kepada mahasaiswa dan kaum muda. Sebab, seperti terjadi sepanjang sejarah, akan
selalu ada kaum muda—terutama mahasiswa—yang percaya dengan kekuatannya dan
sadar bahwa keberadaannya adalah untuk menyuarakan nurani rakyat. Ini berangkat
dari karakter gerakan mahasiswa sendiri. Karakter gerakan mahasiswa, menurut
Hariman, meliputi empat kata kunci: berani, kreatif, spontan, dan konsisten.
Keberanian, tulis Hariman, sangat dibutuhkan untuk mendobrak kesumpekan
situasi politik yang terasa menindas, mengimpit, hingga meremukkan tulang.10
Keberanian diperlukan untuk melakukan perubahan. Dan, “keberanian praktis
dimiliki—kalau tidak hendak disebut dimonopoli—oleh kaum muda.” Mahasiswa
sebagai bagian kaum muda yang terpelajar merupakan perpaduan antara emosi dan
pemikiran. Kekerasan dan tindakan brutal dari aparat keamanan adalah risiko.

9

Max Lane. 2007. Op.Cit, halaman 91.

10

Hariman Siregar. 1995. Loc.Cit.

Hariman Siregar, Bambang Sulistomo pada diskusi tentang peranan politik mahasiswa dengan tokoh tokoh
Universitas Indonesia di Asrama PGT Universitas Indonesia, Jakarta, 1991. [TEMPO/ Donny Metri).

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 97

3/26/10 7:22:18 PM

~ ~

Hariman & Malari

“Seperti masa saya mahasiswa. Substansinya bukan pada persoalan ada yang
merekayasa peristiwa Malari atau menjadikan para pelakunya sebagai tokoh. Sebab
ini berkaitan dengan soal leadership. Artinya, sebelum saya berdiskusi di kampus,
semua orang merasakan situasi yang kritis dan masyarakat resah, cuma tidak ada orang
yang berani bertanggung jawab. Tak ada yang berani maju. Ketika menjadi Ketua
Dewan Mahasiswa UI, saya mengambil alih isu yang berkembang di masyarakat.
Jadi, bukan berarti saya hanya menggunakan momentum saat itu, melainkan saya

Hariman berpidato memberikan dukungan untuk aksi keprihatinan mahasiswa di kampus Trisakti, 13 Mei 1998.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 98

3/26/10 7:22:20 PM

~ ~

berani memimpin,” ujar Hariman.
Selain berani, mahasiswa harus memiliki kreativitas agar gerakannya tidak
monolitik dan gampang dihancurkan. Faktor kreativitas memegang peran penting
dalam pemilihan isu, opini, dan bentuk aksi yang memungkinkan diraihnya simpati
dan dukungan publik secara luas.
Kata kunci ketiga adalah spontanitas. Gerakan mahasiswa bergerak sesuai
momentum berdasarkan solidaritas dan isu yang dirasakan bersama. Tapi bukan
berarti gerakan mahasiswa sama sekali tak terorganisasi atau tanpa pemimpin.
Keempat ialah konsistensi. Sekali gerakan mahasiswa bergulir, gerakan ini
tak bisa dan tak boleh dikooptasi oleh kekuatan dan kepentingan politik mana pun.
“Tokoh mahasiswa bisa saja dikendalikan, namun pasti akan lahir tokoh lainnya
yang segera menggantikannya,” yakin Hariman, “baik karena telah berakhir sta­
tus kemahasiswaannya maupun karena dinamika internal gerakan yang akan
menyingkirkan tokoh yang telah terkooptasi itu.”
Meski terkesan gerakan mahasiswa selalu menyerempet wilayah politik,
Hariman menolak bahwa gerakan mahasiswa bersifat politik. Sejatinya, gerakan
mahasiswa dapat berdiri sendiri dan memiliki konstituennya sendiri di luar lingkup
politik. Bahwa gerakan itu dapat menimbulkan implikasi politik, mengubah konstelasi
politik, bahkan menumbangkan kekuasaan, memang bisa terjadi.11
“Tetapi bukan itu misi gerakan mahasiswa,” ujar Hariman. Misi utama gerakan
mahasiswa lebih bersifat sosial (social movement) dengan isu lintas sektoral, tidak
terbatas pada isu politik atau kekuasaan semata. Faktor pertama penyebab munculnya
gerakan mahasiswa sebetulnya tidak terlepas dari subyektivitas kedirian mahasiswa.
Sebagai kaum muda yang penuh gejolak idealisme, mahasiswa adalah kelompok
sosial paling spontan, responsif, dan artikulatif. Pada gilirannya, aspek­aspek psikis
ini membuat mereka lebih peka terhadap seruan yang bersifat populis dan egaliter.

Sebagai seorang dokter, agaknya Hariman memahami betul keadaan fsik dan

psikis manusia, terutama orang muda. Ia pun memaparkan prinsip yang sesungguhnya
menjadi alasan seseorang menjadi mahasiswa. Ia menyebutnya sebagai faktor so­
siologis yang memunculkan gerakan mahasiswa.
“Benar bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar dan belajar (man of
analys) seperti pernah dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed
Joesoef,” tutur Hariman. Dengan mengutip Daoed Joesoef, ia tentu bukan sedang
mengagumi menteri periode 1977­1982 yang menyusun konsep NKK/Badan
Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) ini. “Cobalah sejenak direnungkan: untuk apa
sebenarnya mahasiswa itu belajar dan menuntut ilmu tinggi­tinggi?” kata Hariman.
Menurut dia, jawaban pertanyaan itu sangat jelas. Bukan hanya untuk
memenuhi ambisi pribadi atau menjadi alat reproduksi kapitalisme semata (masuk ke

11

Hariman Siregar. 1994. “Dimensi Sosial Gerakan Mahasiswa”, pokok­pokok pikiran yang disampaikan pada studium
generale acara pembukaan Konferensi Ke­44 Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta, 10 Agustus 1994.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 99

3/26/10 7:22:20 PM

~ 00 ~

Hariman & Malari

dalam jaringan teknostruktur), melainkan juga guna menolong orang lain. Jawaban
ini, kata Hariman, “selanjutnya melahirkan apa yang disebut sebagai obligasi moral
(amarma’ruf nahi munkar).”12
Kepercayaan tinggi kepada kekuatan mahasiswa dan kemampuan menyerap
suara yang muncul di masyarakat ini, menurut mantan aktivis KAPPI Jesse A.
Monintja, membuat Hariman bukan saja menjadi pemimpin gerakan mahasiswa
pada masanya. “Hariman itu pemimpin rakyat,” kata Jesse. “Ia adalah pemimpin
pergerakan yang benar­benar tahu membawa diri dan mengerti posisi dia di antara
elite dan rakyat.” Hariman, tambah Jesse, dengan sadar menempatkan diri sebagai
pemimpin rakyat, bukan pemimpin elite. “Terlepas bahwa dia datang dari pergerakan
elite kampus,” tutur Jesse.

Jalan yang ditempuhnya di mata sahabatnya yang lain, Christine Hakim,
merupakan pelaksanaan dari kata­katanya. “Jalannya dia itu penuh risiko, dari dulu
dia tahu, tapi itu pilihan hidup.” Christine melihat Hariman tak berhenti berjuang. Tak
mengherankan jika ia kini telah mencapai titik tertentu yang tak mudah dijangkau
oleh orang lain. “Ia punya posisi tersendiri dalam politik Indonesia, tanpa harus betul­
betul memegang tampuk kekuasaan politik formal,” ujar Christine.
Kepercayaan dan keyakinan Hariman terhadap mahasiswa bukan khayalan di
udara yang mudah menguap. Ia sendiri dengan konsisten mengambil peran menjaga
ruh gerakan mahasiswa di generasi­generasi 1980­an dan 1990­an. Hampir semua
aktivis mahasiswa di masa­masa ini, dari berbagai kelompok, pernah bersentuhan
dengan Hariman Siregar. “Dia adalah orang yang banyak memberi dorongan dan
inspirasi kepada anak­anak muda. Dia member inspirasi bahwa berpikir lain di luar
ilmu yang diajarkan di sekolah atau kampus adalah hal yang penting juga. Dalam
arti memikirkan masyarakat, negara, demokrasi, dan sebagainya adalah penting bagi
mahasiwa,” kata Jumhur Hidayat, aktivis mahasiswa 1980­an.
Hal senada juga dilontarkan Fahri Hamzah, aktivis mahasiswa 1990­an.
“Sebagai fasilitator pikiran yang berbeda­beda, akhirnya Hariman menjadi fasilitator
posisi yang berbeda pula, termasuk bagi mahasiswa angkatan yang lebih baru,” kata
Fachri. “Warisan yang paling berharga dari Hariman Siregar adalah dirinya sendiri. Ia
senantiasa menjadi aktivis dan menjadi bahan belajar terus­menerus bagi kaum muda
bangsa.”

Keyakinan Hariman akan peran sentral mahasiwa dan kaum muda itu terbukti
kemudian ketika, di tahun 1998, gerakan mahasiswa—bekerja sama dengan komponen
lain—berhasil menumbangkan rezim yang dilawan mahasiswa sejak tahun 1970­an,
penguasa yang dilawan saban hari oleh Hariman sejak 1974: Soeharto dan rezim
politiknya.
e

12

Ibid..

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 100

3/26/10 7:22:20 PM

~ 0 ~

Dalam Lingkaran

Kekuasaan

T

E p i s o d E 7

anggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto resmi
mengundurkan diri. Soeharto lengser akibat tekanan
publik yang luar biasa dahsyatnya, yang ditunjukkan
melalui gelombang unjuk rasa massif yang tak pernah
henti hingga berujung pada pendudukan Gedung MPR/
DPR RI. Lengsernya penguasa Orde Baru ini juga
disebabkan karena dirinya merasa sudah tidak mendapat
dukungan lagi dari elite politik.
Yang paling mengejutkan—atas desakan demonstran—Ketua MPR H. Harmoko
menuntut agar Soeharto menanggalkan jabatan yang telah disandang selama 32 tahun.
Tuntutan Harmoko itu mengejutkan. Maklum, sebelumnya Harmoko dianggap sebagai
“penyambung lidah” Soeharto yang paling setia. Sebelum pembelotan Harmoko,
sebanyak 14 menteri menolak diikutsertakan dalam “Komite Reformasi” yang akan
dibentuk oleh Soeharto untuk merespons tuntutan para demonstran.
Bacharuddin Jusuf Habibie, yang ketika itu menjabat Wakil Presiden RI,
pun naik jabatan menggantikan Soeharto. Indonesia masuk dalam proses transisi
demokrasi. Naiknya Habibie sebagai Presiden RI membuat kekuatan pro­demokrasi
yang sebelumnya solid dalam gerakan penglengseran Soeharto menjadi terbelah: antara
yang pro dan kontra Habibie.

Kelompok masyarakat yang menolak Habibie berpendapat, bagaimanapun
Habibie adalah “murid kesayangan” Soeharto. Bahwa Soeharto adalah guru sekaligus
orang yang begitu dihormati Habibie, ini sudah menjadi rahasia umum. Hal ini pun
diungkapkan sendiri oleh Habibie dalam sejumlah kesempatan. Dengan background
seperti itu, menurut para oposan, bagaimana mungkin Habibie bisa diharapkan
mengemban amanat reformasi, yang salah satu tuntutannya adalah mengadili Soeharto
dan kroni­kroninya.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 101

3/26/10 7:22:21 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Apatisme para oposan terhadap kemauan Habibie untuk mengadili Soeharto,
yang tidak lain adalah guru politik dan orang yang dia hormati itu, dalam batas­batas
tertentu kiranya benar adanya. Habibie, seperti diungkapkan dalam memoarnya,
memang mengakui kalau dirinya dihadapkan pada dilema yang sulit dalam proses
hukum terhadap penguasa Orde Baru tersebut.1
Pemerintahan Habibie—yang hanya bertahan sekitar satu setengah tahun—
memang tidak sanggup menggelar pengadilan yang memuaskan publik. Setelah melalui
jalan yang berliku dan didasari berbagai argument, baik dari perspektif medis maupun
hukum, kasus Soeharto akhirnya dinyatakan tidak dapat dilanjutkan. Soeharto dianggap
tidak bisa menghadapi persidangan karena mengalami gangguan memori otaknya. Surat
Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) pun dikeluarkan oleh Pejabat Sementara Jaksa
Agung Ismudjoko.

Rumitnya penuntasan kasus Soeharto ini menjadi amunisi bagi kelompok anti­
Habibie untuk terus menyudutkan sang presiden. Kebijakan SP3 atas kasus Soeharto ini
juga yang di kemudian hari dijadikan salah satu senjata oleh lawan­lawan politiknya,
selain kasus lepasnya Timor Timor, untuk menjegal Habibie dalam pemilihan presiden
tahun 1999. Mereka menolak laporan pertanggungjawaban Habibie yang dibacakan
dalam Sidang Umum MPR. Ketika itu pemilihan presiden dan wakil presiden masih
dilakukan oleh MPR.

Naiknya Habibie sebagai Presiden RI membuat Hariman Siregar masuk dalam

1

Bacharuddin Jusuf Habibie. 2006. Detik­Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Jakarta:
The Habibie Centre Mandiri

Hariman bersama Presiden BJ Habibie serta Fanny Habibie dan Timmy Habibie (1998).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 102

3/26/10 7:22:24 PM

~ 0 ~

pusat pusaran kekuasaan. Menurut Amir Husin Daulay, tokoh aktivis mahasiswa 1980­
an, Hariman sangat percaya diri bahwa keberadaannya dalam pusat pusaran kekuasaan
adalah posisi yang tepat untuk mengelola transisi politik.2

Meski Habbie merupakan
murid kesayangan Soeharto, Hariman yakin betul bahwa Habibie memiliki komitmen
yang kuat terhadap demokrasi. Karenanya, Hariman berupaya keras untuk mengadvokasi
dan mendampingi Habibie dalam mengelola fase transisi politik yang begitu keras dari
rezim otoriter ke arah rezim demokratis tersebut. Hariman bekerja keras, tidak mengenal
waktu. Masa­masa itu, waktu kerjanya boleh dibilang hampir 24 jam.
Hariman memang sudah lama dekat dengan B.J. Habibie. Kedekatan itu berkat
hubungannya dengan Junus Effendi (Fanny) Habibie,3

adik B.J. Habibie. Kedekatan
personal itulah yang kiranya melahirkan keyakinan dalam diri Hariman bahwa Habibie
memiliki komitmen terhadap demokrasi dan inilah yang mendorongnya masuk dalam
pusat pusaran kekuasaan di era Habibie.
Meski tidak memiliki jabatan resmi dalam struktur formal pemerintahan,
Hariman dianggap memainkan peran penting dalam pemerintahan Habibie. Dia banyak
memainkan peran dalam menentukan sirkulasi para elite di sekitar Habibie. Juga ber­
bagai kebijakan penting yang diambil semasa pemerintahan Habibie. Hariman berperan
layaknya seorang penasihat politik Presiden Habibie. “Hampir setiap pagi, kami
berdua (Fanny dan Hariman) bertemu Rudy (nama panggilan B.J. Habibie) untuk
memberikan masukan­masukan. Ada masukan yang didengar dan dilaksanakan
Rudy, tapi banyak pula yang tidak. Seandainya saja, Rudy lebih banyak mendengar
masukan dari saya dan Hariman, mungkin sejarah politik akan menjadi lain,” tutur
Fanny Habibie.

Menyangkut kekuasaan, Hariman memang dikenal sebagai aktivis politik yang
unik. Kepada kawan­kawan dekatnya, Hariman kerap berseloroh bahwa memiliki
kekuasaan formal itu tidak enak. Kekuasaan itu penuh dengan risiko. “Yang asyik itu,
kita tidak berkuasa tapi dekat atau menjadi teman penguasa. Menjadi penguasa atau
seorang pejabat itu penuh risiko,” demikian ucapan yang sering dilontarkan Hariman,
setengah berseloroh.

Orang boleh menafsirkan macam­macam seloroh Hariman itu. Bisa jadi, dari
seloroh itu orang akan menyimpulkan bahwa Hariman tergolong orang yang mau ikut
menikmati kue kekuasaan, tapi emoh menanggung risikonya. Yang lain mungkin saja
menyimpulkan bahwa Hariman bukanlah orang yang haus kekuasaan.
Sebagai aktivis yang sebagian besar usianya dihabiskan untuk melawan kekuasaan
otoriter rezim Orde Baru, Hariman merasa perlu untuk terus mengawal, mendampingi,
dan mengadvokasi transisi demokrasi pasca­lengsernya Soeharto. Transisi demokrasi
memang sebuah proses yang tak pernah mudah di negara mana pun.
Hariman meyakini bahwa Habibie memiliki komitmen untuk membawa proses
transisi demokrasi ke arah yang dicita­citakan seperti yang dikehendaki oleh kekuatan

2

Wawancara dengan Amir Husin Daulay.

3

Kedekatan Hariman dengan Fanny Habibie telah dirajut sejak akhir 1970­an. Ketika Fanny Habibie menjabat Direktur
Jenderal Perhubungan Laut, Hariman difasilitasi untuk mendirikan Klinik Baruna.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 103

3/26/10 7:22:25 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

reformis. Dia menganggap Habibie sebagai fgur yang mampu memimpin proses transisi

ini. Karena itu, dia merasa perlu untuk mem­back up­nya.
Keyakinan Hariman terhadap komitmen Habibie untuk menegakkan nilai­nilai
demokrasi dan mengemban amanat reformasi pasca­tumbangnya Soeharto tidaklah
keliru. Dalam derasnya tuntutan dan sikap pesimistis sebagian kelompok masyarakat
terhadap dirinya, Habibie merasa harus berlari sprint untuk menunjukkan bahwa dirinya
bersungguh­sungguh dalam melaksanakan proses transisi demokrasi.
Tidak lama setelah menjadi orang nomor satu di republik ini, sejumlah gebrakan
dibuat oleh Habibie. Tahanan politik dibebaskan, termasuk tokoh­tokoh PKI yang telah
berpuluh­puluh tahun dikurung dalam terali besi oleh Orde Baru Soeharto. Habibie juga
dianggap sebagai peletak dasar­dasar kebebasan berserikat, kebebasan mengeluarkan
pendapat, kebebasan berbicara, kebebasan berunjuk rasa, serta kebebasan pers pasca­
lengsernya Soeharto.

“Dalam hal ini saya juga terkesan oleh beberapa—jelas tidak semua—
tingkah laku B.J. Habibie ketika jadi presiden. Saya tahu pada waktu itu Hariman
adalah salah seorang penasihat dekat Habibie. Entah benar atau tidak, saya melihat
bahwa sangat mungkin ada pengaruh Hariman dalam beberapa hal positif dari

Habibie. Pertama, Habibie cepat sekali meratifkasi beberapa peraturan yang

lebih demokratis dalam hal perburuhan. Kedua, sampai sekarang pun B.J. Habibie
adalah satu­satunya presiden yang duduk di MPR mendengarkan kritik terhadap
kepresidenannya, lalu menjawabnya,” kata Max Lane, salah seorang tokoh kiri
yang juga pengamat perpolitikan Indonesia dari Australia.

Toh, berbagai gebrakan yang dibuat Habibie tersebut belum cukup meyakinkan
para kaum oposan akan komitmen Habibie untuk melaksanakan amanat reformasi.
Kaum oposan menilai, Presiden Habibie sebagai orang yang sengaja dipasang Soeharto
untuk mengamankan keluarga Cendana dan kroninya pasca­lengsernya Soeharto.
Habibie adalah personifkasi dari kekuatan pro-status quo.
Salah satu yang pesimistis terhadap pemerintahan Habibie tak lain adalah Prof.
Sarbini Soemawinata, mertua sekaligus mentor politik Hariman. Menurut Sarbini,
“Perjuangan reformasi yang didengungkan sampai sekarang masih memakai sistem
Orba, belum mencapai tujuan dan berhadapan dengan tembok…. Reformasi ini sudah
mengalami salah target perjuangan. Sebenarnya, target reformasi adalah perubahan
rezim Orba. Nyatanya, setelah reformasi, rezimnya toh masih sama.”4
Dengan dasar itulah para aktivis pro­demokrasi menuntut Presiden Habibie
agar menggelar pemilihan umum dalam tempo tiga bulan sejak ia menjadi presiden
menggantikan Soeharto. Tuntutan ini ditolak Habibie. Dalam memoarnya, Habibie
menjelaskan alasan kenapa dia menolak tuntutan dipercepatnya pemilu.
Pemilu multipartai memang telah menjadi agenda politik Habibie sejak awal dia
menggantikan Soeharto. Namun, Habibie berpandangan, tidak adil bila pemilu digelar

4

Lihat wawancara Prof. Sarbini Soemawinata dengan Tempo Interaktif, 11 Agustus 2001.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 104

3/26/10 7:22:25 PM

~ 0 ~

sebelum rakyat diberi kesempatan membentuk partai­partai yang membawa aspirasi
dan wawasan baru. Menurut Habibie, pemilu baru bisa digelar satu tahun ke depan.
Pembentukan partai­partai baru membutuhkan waktu.5

Seperti kita ketahui, Pemilu
1999 akhirnya digelar dan diikuti tak kurang dari 48 partai. Inilah pesta demokrasi
rakyat yang disebut­disebut sebagai pemilu paling demokratis yang pernah digelar
setelah Pemilu 1955.

Posisi Hariman saat itu cukup sentral, berada dalam lingkaran dalam kekuasan
(inner circle) pemerintahan Habibie, termasuk dalam memengaruhi sirkulasi elite di
sekitar Habibie. Hal itu membawa ia semakin banyak berkenalan dengan para elite di
republik ini. Tapi, itu tak berarti melupakan kaum aktivis, terutama kalangan aktivis
mahasiswa.

Hariman memang dekat dengan para aktivis. Sebagai mantan Ketua Dewan
Mahasiswa UI dan tokoh sentral Peristiwa Malari 1974, ia kerap diundang sebagai
pembicara dalam seminar­seminar di kampus hingga diskusi­diskusi klandestein yang
digelar aktivis­aktivis mahasiswa anti­Soeharto. Selain menjadi tempat untuk sharing,

dia juga banyak membantu kegiatan-kegiatan mahasiswa dari segi fnancial, mulai

dari biaya diskusi, seminar, unjuk rasa, hingga urusan­urusan pribadi aktivis, seperti
membantu biaya kuliah dan bayar uang indekos. Bagi aktivis mahasiswa era 1980­an
dan 1990­an, Hariman menjadi magnet tempat bertemunya para aktivis dari berbagai
kampus, golongan dan aliran politik. Sejumlah aktivis mahasiswa anti­Soeharto bahkan
menjadikan Hariman sebagai panutan dan kiblat dalam melawan Soeharto.6
Ketika Hariman masuk dalam inner circle kekuasaan Presiden Habibie, ia pun
mengajak tokoh­tokoh aktivis mahasiswa yang selama ini dekat dengan dirinya. Sebut
saja misalnya Amir Husin Daulay (tokoh aktivis Pijar Indonesia/Universitas Nasional),
Eggi Sudjana dan Bursah Zarnubi (keduanya mantan aktivis HMI), dan Syahganda
Nainggolan (mantan aktivis ITB).
Para aktivis ini antara lain berperan besar dalam menjalankan pos­pos komando
pemenangan Habibie yang dibentuk Hariman menjelang Sidang Umum MPR tahun
1999. Para tokoh aktivis ini berada di garda depan dalam memobilisasi dukungan
massa akar rumput. Eggi Sudjana, misalnya, namanya sering disebut­sebut sebagai
mobilisator kekuatan massa dari kelompok Islam, termasuk kelompok yang disebut
Pasukan Pengamanan Masyarakat (Pam) Swakarsa. Presiden Habibie sebagai pendiri
dan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ketika itu memang banyak
mendapat dukungan dari kelompok dan organisasi massa Islam.
Tapi, yang menarik, Hariman tak hanya memperhatikan para aktivis yang pro­
Habibie, tapi juga yang kontra­Habibie. Malah, banyak kalangan aktivis yang notabene
secara terbuka menentang Habibie diberi bantuan dana oleh Hariman. “Sewaktu
bertemu di Hotel Aston, saya sempat diberi Rp5 juta. Dia sambil bercanda bilang, ‘Ini
money politics.’ Itulah dia. Walau berada di lingkungan Habibie, tetap kasih duit juga
buat orang yang melawan Habibie.” kata Daniel Indra Kusuma, pendiri Partai Rakyat

5

Bacharuddin Jusuf Habibie. Op.Cit.

6

Lihat wawancara dengan Syahganda Nainggolan, Trimedya Pandjaitan, dan Jumhur Hidayat di buku ini.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 105

3/26/10 7:22:26 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Demokratik (PRD), yang termasuk kelompok penentang Habibie.
Nama Hariman sebagai “orang” Habibie semakin santer terdengar oleh
masyarakat menjelang digelarnya Sidang Umum MPR tahun 1999. Media massa
antara lain menyebut Hariman sebagai motor penggerak “Tim Siluman”, sebuah tim
tidak resmi pemenangan Habibie. Rencananya, dalam sidang umum yang digelar bulan
Oktober 1999 itu, Habibie akan maju mencalonkan kembali sebagai Presiden RI. Ia
akan maju sebagai representasi dari Partai Golkar.
Hariman pun melakukan pendekatan ke berbagai kelompok dan kekuatan politik,
terutama kekuatan politik di parlemen untuk memobilisasi dukungan bagi Habibie.
Untuk memobilisasi dukungan massa akar rumput, Hariman menugaskan sejumlah
pentolan aktivis mahasiswa yang dipercaya bisa menggerakkan massa. Akan halnya
Hariman sendiri lebih berkonsentrasi pada upaya­upaya lobi terhadap kekuatan politik
di parlemen.

Ketika Sidang Umum MPR digelar, Hariman begitu yakin mayoritas anggota
parlemen akan mendukung Habibie. Keyakinan Hariman ini beralasan karena dia sudah
melakukan pendekatan kepada mayoritas anggota parlemen dan memperoleh komitmen
dari mereka bahwa mereka akan mendukung Habibie. Di luar dugaan, sebelum Habibie
secara resmi dicalonkan dalam Sidang Umum MPR, lewat mekanisme voting, mayoritas

Hariman berbincang dengan Presiden BJ Habibie.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 106

3/26/10 7:22:30 PM

~ 0 ~

anggota MPR menolak laporan pertanggungjawaban Habibie. Selisih antara yang
menolak dan yang menerima hanya 27 suara.
Belakangan, Hariman menengarai telah terjadi pengkhianatan komitmen dan
pembelotan oleh sejumlah anggota parlemen yang sebelumnya telah menjanjikan akan
mendukung Habibie. Dari selisih 27 suara yang menolak, Hariman menduga 17 di
antaranya adalah anggota parlemen dari Fraksi Golkar. Pembelotan ke­17 anggota Fraksi
Golkar ini dipimpin oleh seorang tokoh pimpinan Golkar yang merasa kecewa dengan
Habibie. Tokoh pimpinan Golkar tersebut kecewa karena tak kunjung jua diangkat
sebagai Menteri Sekretaris Negara oleh Habibie, hingga presiden membacakan laporan
pertanggungjawabannya di Sidang Umum MPR. Padahal, Habibie telah menjanjikan
jabatan tersebut kepada dirinya.
Tentu saja, Hariman Siregar sangat kecewa dengan hasil proses politik di Sidang
Umum MPR tersebut. Dia merasa dikhianati dan ditohok dari belakang. Meski demikian,
Hariman tetap mendesak Habibie untuk tetap maju dalam pencalonan sebagai presiden.
Alasannya, tidak ada satu pun ketentuan perundangan yang melarang seorang presiden
yang laporan pertanggungjawabannya ditolak untuk ikut kembali dalam pemilihan
presiden.

Namun, B.J. Habibie lebih memilih untuk tidak meneruskan pencalonannya.
Menurut Habibie, seperti dijelaskan dalam memoarnya, dengan tidak ngoyo
mencalonkan kembali sebagai presiden, ia ingin menjaga etika berdemokrasi yang
tengah dia perjuangkan setelah sekian lama rakyat di bawah represi Orde Baru.7

e

7

Bacharuddin Jusuf Habibie. Op.Cit.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 107

3/26/10 7:22:31 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 108

3/26/10 7:22:31 PM

~ 0 ~

Mengawal

Transisi Demokrasi

M

E p i s o d E 8

eski kecewa karena B.J. Habibie—

orang yang diyakini Hariman sebagai fgur yang

pas untuk memimpin proses transisi demokrasi—
dikhianati, peristiwa tersebut memberikan sejumlah
pelajaran berharga bagi Hariman. Ia semakin
menyadari bahwa transisi politik dari rezim otoriter
menuju sistem politik demokratis tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Selain memerlukan
adanya perubahan pada aras politik, juga dibutuhkan perubahan pada tataran kultural
dan sosiologis.

Hariman menilai, pengkhianatan yang dilakukan oleh sejumlah anggota parlemen
terhadap Habibie sebagai cerminan belum matangnya budaya politik demokratis bangsa
Indonesia setelah berpuluh­puluh tahun berada dalam cengkeraman penguasaan rezim
otoriter. Kesimpulan Hariman ini, selain sebagai hasil dari kontemplasi pribadi, juga
merupakan akumulasi pemikiran dari hasil diskusi antara dirinya dengan sejumlah tokoh
cendekiawan. Mereka antara lain Prof. Sarbini Soemawinata (almarhum), Prof. Malik
Fajar (Rektor Universitas Muhammadiyah Malang yang diangkat sebagai Menteri
Agama di pemerintahan Presiden B.J. Habibie), Dr. Adnan Buyung Nasution, dan Dr.
Moeslim Abdurrahman.

Diskusi­diskusi tersebut berlangsung sepanjang Desember 1999 atau satu
bulan sebelum peringatan Peristiwa Malari, 15 Januari 2000. Hariman bersama para
tokoh tersebut berkesimpulan serupa: diperlukan upaya lain untuk mengawal transisi
demokrasi yang sedang berlangsung, yaitu melakukan pendidikan politik demokrasi
kepada masyarakat. Pendidikan politik masyarakat diperlukan sebagai prasyarat
terjadinya perubahan pada aras kultural dan sosiologis. Para tokoh tersebut menyarankan
Hariman untuk mendirikan sebuah wadah atau organisasi sebagai wahana pendidikan
politik rakyat.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 109

3/26/10 7:22:31 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Prof. Malik Fajar, misalnya, tahu kalau selama ini Hariman kerap memperingati
Peristiwa Malari secara terbatas, hanya bersama dengan rekan­rekannya sesama pelaku
sejarah tersebut. Menurut Malik Fajar, “semangat Malari” bisa dijadikan media untuk
melakukan pendidikan politik kepada rakyat, seperti yang mereka diskusikan. Memang,
selama ini, Hariman bersama rekan­rekannya yang terlibat dalam Peristiwa Malari selalu
memperingati kejadian tersebut terbatas untuk kalangan mereka semata. Kalaupun ada

Hariman bersama Prof. Dr. Mahar Mardjono dan Wahyu Sardono ( Dono Warkop) berorasi di depan
kampus UI Salemba (1998).

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 110

3/26/10 7:22:33 PM

~ ~

yang diundang, jumlahnya sedikit.
Peringatan Malari di masa itu kiranya tidak lebih sebagai ajang untuk memelihara
elan perjuangan di antara para pelakunya semata. Meski yang mereka peringati adalah
salah satu peristiwa politik paling monumental di Indonesia, hajatan tersebut jauh dari
nuansa politis. Tidak pernah ada statemen politik apa pun yang lahir dari sana. Juga
tidak ada liputan media massa.

Peringatan Malari dengan peserta yang terbatas itu selalu dirayakan di Putri
Duyung Cottage, Ancol, Jakarta Utara. Di situlah Hariman dkk. melakukan kumpul­
kumpul untuk mengenang perjuangan mereka semasa Malari. Di lokasi yang sama pula,
ulang tahun Hariman selalu dirayakan. Menurut Amir Husin Daulay, aktivis mahasiswa
1980­an, dirinya memang pernah beberapa kali ikut dalam peringatan Malari di Putri
Duyung Cottage. Tapi, belakangan dia menolak untuk hadir dalam acara tersebut karena
merasa tidak sreg dengan acara yang terkesan hanya senang­senang belaka. Tidak ada
statemen politik apa pun yang ditelurkan dari peringatan di cottage yang terletak di
Pantai Teluk Jakarta itu.

Belakangan, dari diskusi dengan para tokoh tersebut, Hariman kemudian
terdorong untuk mendirikan semacam lembaga swadaya masyarakat, yang akan
berupaya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Hariman merasa “ter­
sengat” dengan usul para tokoh masyarakat tersebut. Ia kemudian menghubungi
kolega­koleganya untuk membicarakan persiapan teknis pembentukan organisasi itu.
Salah seorang yang dihubungi pertama kali adalah Amir Husin Daulay. Setelah terjadi
titik temu pemikiran, Amir pun mengajak beberapa aktivis lain, seperti Mulyana W.
Kusumah dan Agus Edi Santoso, yang akrab disapa dengan panggilan Agus Lenon.
Tak berapa lama kemudian Indonesian Democracy Monitor (Indemo) pun
lahir. Mulyana W Kusumahlah yang memberikan nama untuk organisasi baru tersebut.
Mulyana pula yang didaulat menjadi Ketua Presidium Indemo. Peringatan Malari
pada tanggal 15 Januari 2000 dijadikan momentum deklarasi kelahiran Indemo. Untuk
pertama kalinya, peringatan salah satu gerakan mahasiswa paling monumental itu
digelar secara besar­besaran dan terbuka untuk publik.
Gelaran deklarasi berdirinya Indemo ini dikemas dalam seminar dengan tajuk
“Dialog Nasional: Penguatan Peran Oposisi”. Seminar yang dilangsungkan di Graha
Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, itu menghadirkan narasumber
Prof. Sarbini Soemawinata, Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Prof. Dr. Ong Hok Ham, W.S.
Rendra, Mulyana W. Kusumah, dan tentu saja Hariman Siregar sendiri.
Melalui seminar tersebut, jelas terlihat Indemo memosisikan dirinya sebagai
oposan terhadap pemerintahan Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang berkuasa saat itu.
Dan, label Indemo sebagai organisasi sipil yang oposan terhadap penguasa bukan saja
terjadi terhadap pemerintahan Gus Dur. Peran ini tetap konsisten dimainkan Indemo
terhadap rezim­rezim setelah Gus Dur, mulai dari pemerintahan Megawati Soekarnoputri
hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui peran sebagai kelompok sipil yang oposan
itu, Indemo hendak mengajarkan kepada masyarakat Indonesia agar senantiasa kritis

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 111

3/26/10 7:22:34 PM

~ ~

Hariman & Malari

terhadap jalannya roda pemerintahan.
Usai seminar itu, ketegangan sempat timbul antara Indemo dengan Gus Dur.
Ketegangan terutama dipicu oleh statemen Prof. Sarbini dan Hariman yang mencuat
dalam seminar tersebut. Sarbini mencela Gus Dur sebagai presiden yang menggunakan
manajemen pesantren. Sementara itu, Hariman mengingatkan Gus Dur untuk tidak
sapenake dhewek dalam mengelola negara ini. Senada dengan Sarbini, menurut
Hariman, budaya pesantren sangat kuat meresap dalam diri Gus Dur. Corak dan gaya
kepemiminan Gus Dur tak pelak juga sangat dipengaruhi oleh kultur pesantren, kultur
yang sebenarnya tidak bisa diterapkan dalam mengelola negara.
Sebagai upaya sosialisasi berdirinya Indemo, sejumlah seminar pun digelar
di beberapa kota di Indonesia pasca­deklarasi di Taman Ismail Marzuki. Pada 9 Mei

Hariman sedang bercanda dengan Rizal Ramli dan Adhie Masardi dalam sebuah diskusi.

Hariman bersama Gus Dur (kiri), dan bersama Taufq Kiemas (kanan) dalam suatu pesta pernikahan.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 112

3/26/10 7:22:38 PM

~ ~

2000, misalnya, diselenggarakan dialog nasional dengan tema “Kontrol Politik Menuju
Demokrasi”. Dalam seminar yang digelar di Balairung Kampus Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta itu tampil sebagai pembicara Prof. Dr. Ichlasul Amal, Sri Sultan
Hamengkubuwono X, Dr. Bambang Cipto, Hariman Siregar, dan Mulyana Kusumah.
Pada tanggal 17 Oktober 2000, Indemo kembali menyelenggarakan dialog publik di
Jakarta dengan tema “Kontrol Politik dalam Transisi Demokrasi”. Seminar serupa juga
diselenggarakan di Makassar dan Medan.
Karena Indemo dideklarasikan pada tanggal 15 Januari, dalam perjalanannya,
peringatan hari jadinya kerap diidentikan dengan peringatan Peristiwa Malari. Dari
tahun ke tahun, acara peringatan dikemas dalam bentuk yang sebisa mungkin berbeda.
Entah itu dalam bentuk seminar atau orasi politik dari para tokoh masyarakat. Meski
demikian, melalui acara tersebut, Indemo selalu menegaskan posisinya sebagai watch
dog atas jalannya pemerintahan dan tata kelola negara ini.
Peringatan hari jadi Indemo yang sangat berbeda dari biasanya dan sempat
menggemparkan jagad perpolitikan di Tanah Air terjadi pada tahun 2007. Jika biasanya
acara digelar di dalam gedung dan dikemas dalam bentuk diskusi atau orasi politik, kali
ini Indemo merayakan kelahirannya di jalanan dengan menggelar “Pawai Rakyat Cabut
Mandat”.

Sebagai organisai masyarakat sipil mungkin ada sebagian pihak yang menilai
Indemo sebagai organisasi yang memiliki struktur organisasi yang rigid dan keanggotaan
yang ketat. Pandangan ini sungguh tidak tepat. Dalam booklet dan terbitan Indemo
lainnya, kita dapati penjelasan bahwa Indemo adalah organisasi yang mengandalkan
kerja berdasarkan “kultur organisasi jaringan”.1
Pola organisasi berkultur jaringan di sini janganlah dipahami bahwa Indemo
memiliki karakter sentralisme seperti Politbiro, sistim sel tertutup yang kaku, tidak
saling mengenal antarsel, hidup penuh kode, serta mengandalkan mekanisme intelijen.
Indemo adalah organisasi yang bersifat terbuka. Dengan pola organisasi berkultur
jaringan, Indemo menganggap seluruh sumber daya insani yang dimiliki bangsa ini,
selama memiliki visi yang sama, adalah mitra untuk mencapai visi dan misi organisasi.
Seminar hanyalah salah bentuk perwujudan visi Indemo dalam melakukan
pendidikan politik kepada rakyat dalam bentuk pengembangan dan reproduksi wacana.
Reproduksi wacana melalui diskusi yang lebih intensif dilakukan Indemo lewat diskusi
rutin yang diadakan setiap hari Rabu sore. Mengacu pada hari diselenggarakannya
diskusi, acara di sekretariat Indemo di Jalan Lautze, Jakarta Pusat, ini di kalangan
aktivis lebih dikenal dengan sebutan “Diskusi Reboan”. Diskusi Reboan boleh dibilang
sebagai salah satu diskusi berkala yang paling konsisten dilaksanakan oleh organisasi
madani di Indonesia sampai saat ini.
Peserta Diskusi Reboan begitu beragam, mulai dari aktivis mahasiswa, aktivis
buruh, petani, aktivis partai politik, anggota legislatif, hingga pejabat. Siapa saja

1

Jusman Sjafi Djamal merupakan perumus dasar konsep pola organisasi berkultur jaringan yang diterapkan oleh Indemo.

Konsep dasar dari Jusman ini kemudian disempurnakan dan dibakukan dalam Rapat Kerja Indemo yang bertema “Strategic
Option and Decision Alternative: Toward Global Democracy” di Bandung, 27­29 Juli 2009.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 113

3/26/10 7:22:39 PM

~ ~

Hariman & Malari

boleh hadir dalam diskusi ini. Tak mengherankan jika selalu ada wajah baru. Sesekali,
diskusi mengangkat sebuah tema dengan pembicara yang sengaja diundang sebagai
narasumbernya. Lebih sering, Diskusi Reboan mengalir begitu saja tanpa tema yang
telah dipersiapkan sebelumnya. Siapa saja bisa mengemukakan pengalaman, pikiran,
dan unek­uneknya. Diskusi Reboan benar­benar sebuah forum demokratis tempat setiap
orang bebas berbicara, mengemukakan pikiran dan pendapatnya.
Berdasarkan konsep pola organisasi berkultur jaringan, mereka yang hadir
dalam Diskusi Reboan sudah bisa dikategorikan sebagai jaringan Indemo. Jaringan­
jaringan ini setiap saat bisa “diberdayakan” manakala dibutuhkan. Konsep ini cukup
efektif, misalnya ketika Indemo menggelar “Pawai Rakyat Cabut Mandat” pada 15
Januari 2007 yang menggemparkan itu. Peserta pawai adalah para aktivis yang kerap
atau setidaknya pernah hadir dalam Diskusi Reboan.
Bagi Hariman sendiri, Diskusi Reboan bak sebuah pusaka penting yang harus
terus dirawat dan dijaga. Amir Husin Daulay yang sering dijuluki sebagai penjaga
gawang Diskusi Reboan mengemukakan, sesibuk apa pun Hariman, selagi dia bisa
menyempatkan diri hadir dalam Diskusi Reboan, Hariman pasti akan datang. Tak
bisa dimungkiri, Hariman memang magnet Indemo. Dialah pusat gravitasi yang bisa
menarik minat aktivis dari berbagai latar belakang organisasi dan aliran politik untuk
hadir dalam Diskusi Reboan.

Dalam sejarahnya, Diskusi Reboan pernah membuat geger masyarakat
Indonesia, bahkan dunia internasional. Kegegeran berawal dari tudingan Presiden Gus
Dur bahwa sejumlah jenderal berkumpul di Jalan Lautze dan hendak membuat gerakan
kudeta terhadap dirinya. Isu rencana kudeta militer ini dilontarkan Gus Dur saat dirinya
melakukan lawatan ke sejumlah negara Eropa yang dimulai pada paro kedua Januari
hingga awal Februari 2000.

Atmosfer perpolitikan saat itu memang sangat diwarnai konfik antara Gus Dur

dan barisan pendukungnya dengan militer, khususnya klik Menteri Koordinator Politik
Keamanan Jenderal Wiranto. Sejumlah elemen masyarakat menolak keberadaan Jenderal
Wiranto dalam kabinet Gus Dur. Wiranto dianggap sebagai representasi kekuatan
pro­status quo yang sengaja dipasang untuk mengamankan Soeharto dan kroninya.
Tuntutan agar Wiranto dipecat dari kabinet semakin gencar ketika Komisi Penyelidik
Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM) yang menyelidiki kasus pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur
menengarai keterlibatan Wiranto dalam pelanggaran hak asasi di sana pasca­penentuan
jajak pendapat. KPP HAM dan Komnas HAM dalam laporannya memang kemudian
membuat rekomendasi bahwa Wiranto bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi
di Timor Timur pasca­penentuan jajak pendapat.2
Polemik semakin berlarut­larut akibat keragu­keraguan Gus Dur untuk memecat
Wiranto, seperti yang dituntut oleh sebagian kelompok masyarakat. Keragu­keraguan
sikap Gus Dur misalnya tercermin dalam permintaannya kepada Wiranto agar sang

2

Dikutip dari www.angelfre.com.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 114

3/26/10 7:22:39 PM

~ ~

jenderal mengundurkan diri. Gus Dur sampai beberapa kali melontarkan permintaan ini.
Namun, Wiranto bergeming. Padahal, sebagai presiden, tanpa perlu meminta mundur,
Gus Dur memiliki hak prerogatif untuk memecat Wiranto.

Diskusi banyak digelar oleh berbagai kelompok masyarakat seputar konfik Gus

Dur dan militer tersebut. Indemo pun tak terlepas dari ketertarikan untuk mendiskusikan
isu yang sedang mendapat perhatian besar dari publik ini. Dalam obrolan tidak santai
sejumlah pengurus dan aktivis Indemo, menurut penuturan Amir terlontarkan usul agar
sejumlah jenderal aktif dan yang sudah pensiun seperti Wiranto dan Laksamana (Purn.)
Sudomo diundang sebagai narasumber dalam Diskusi Reboan yang akan membahas

masalah konfik Gus Dur dan militer.

Keputusan menghadirkan Wiranto dan Sudomo sebagai narasumber diskusi

belum fnal. Namun, menurut penjelasan Amir, tanpa sepengetahuan aktivis Indemo

yang lain, Agus Lenon sudah mengundang adik Gus Dur, Hasyim Wahid (Gus Im),
untuk hadir dalam diskusi. Kepada Gus Im, Agus Lenon mengatakan bahwa diskusi
tersebut akan menghadirkan Wiranto, Sudomo, dan beberapa jenderal lainnya sebagai
pembicara. Selama ini, Agus Lenon memang dikenal berteman dekat dengan Gus Im.
Statusnya sebagai aktivis Indemo yang memosisikan dirinya sebagai oposan terhadap
Gus Dur tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk tetap bersahabat dengan Gus
Im.

Diduga, informasi ini kemudian disampaikan oleh Gus Im kepada Gus Dur.
Berdasarkan informasi dari adiknya inilah Gus Dur melontarkan tudingan bahwa para
jenderal berkumpul di Jalan Lautze, yang tak lain Sekretariat Indemo, dan merencanakan
kudeta terhadap dirinya.3

Hariman secara tegas membantah isu tersebut. Tidak benar
Indemo menjadi fasilitator perencanaan kudeta militer oleh TNI. Acara tanggal 3
Februari 2000 tersebut tidak lebih dari diskusi biasa dengan pembicara Adnan Buyung
Nasution. Diskusi yang digelar kurang dari sebulan sejak Indemo dideklarasikan itu
sedang coba dibangun oleh Indemo menjadi tradisi. Diskusi inilah embrio dari Diskusi
Reboan yang sampai saat ini masih tetap bertahan.
Jenderal Wirantolah yang paling kebakaran jenggot dengan isu tersebut. Ia pun
mendatangi Gus Dur dan memberi garansi bahwa tak akan ada kudeta militer oleh
TNI. Karena jaminan Wiranto inilah, untuk sementara waktu posisi Wiranto sebagai
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Namun, tidak lama kemudian, tepatnya
hari Minggu, tanggal 13 Februari 2000, menjelang tengah malam, Gus Dur menekan
keputusan yang menonaktifkan Wiranto.4
Entah Gus Im atau Gus Dur yang memelesetkan informasi soal rencana kehadiran
para petinggi dan mantan petinggi TNI di diskusi Indemo tersebut. Masyarakat di dalam
negeri dan dunia internasional sempat percaya akan adanya rencana kudeta militer
ini. Amerika Serikat, misalnya, mengancam TNI untuk tidak coba­coba mengudeta
pemerintah sipil di bawah pimpinan cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.5

3

Majalah Xpose edisi No. 04/III/6­12 Februari 2000

4

http://www.angelfre.com/assalam/assalam091.html.

5

MajalahXposeNo.02/III/22­30Januari2000.
Majalah Xpose No. 02/III/22­30 Januari 2000.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 115

3/26/10 7:22:40 PM

~ ~

Hariman & Malari

Tapi, isu kudeta itu tak pernah terbukti. Setelah lebih dari dua pekan polemik ini
menghiasi media massa, saling tuding di antara pendukung Gus Dur pun menyeruak.
Mereka menuduh Gus Dur telah dibisiki informasi yang salah. Lembaga intelijen
seperti Bakin dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) sama­sama mengelak kalau mereka
telah memberikan informasi kepada Gus Dur soal rencana kudeta militer oleh TNI,
khususnya oleh klik Wiranto.6

Cabut Mandat SBY-JK

Gegeran politik lain yang dibuat Indemo terjadi saat peringatan ulang tahun
Indemo yang keenam, 15 Januari 2007. Lebih dari sebulan (pra dan pasca­“Pawai Cabut
Mandat”), isu cabut mandat menjadi polemik yang menghiasi pemberitaan di media
massa, baik cetak maupun elektronik. Pihak Istana gerah dan geram. Hariman Siregar
dituding mau makar, hendak menggulingkan pemerintahan yang sah, hingga diancam
akan ditangkap.7

Bergulirnya gerakan cabut mandat tidak lahir dengan serta­merta. Ada sebuah
proses yang cukup panjang. Gerakan ini bermula dari serangkaian kegiatan yang
diselenggarakan Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR). Hariman banyak
terlibat dalam rangkaian kegiatan GKIR, seperti seminar. GKIR sendiri dideklarasikan
pada 17 September 2004 oleh Hariman dan sejumlah tokoh lainnya.
Dalam dokumen deklarasinya, GKIR menyatakan bangsa Indonesia sedang
mengalami krisis multidimensi yang mengancam kedaulatan, jatidiri, harkat, dan
martabat sebagai bangsa merdeka. Krisis ideologi telah menyebabkan jatidiri bangsa
goyah, persatuan dan kesatuan terkoyak­koyak, kemandirian ekonomi tergadaikan,
korupsi merajalela, tata nilai dan budaya bangsa tergusur arus globalisasi, sumber daya
alam terkuras, lingkungan hidup rusak parah.8
GKIR diprakarsai oleh sejumlah lembaga atau organisasi, antara lain Aliansi
Penyelamatan Indonesia (API), Indemo, Barisan Kebangkitan Indonesia Raya, Forum
Rektor Indonesia, Front Pembela Proklamasi ’45, Gerakan Jalan Lurus, Forum
Komunikan, Badan Kerjasama Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia,
Gerakan Rakyat untuk Demokrasi, Jaringan Aktivis Prodem, Ikatan Alumni UI­Jakarta,
Jaringan Aliansi Masyarakat Madani dan Pro Demokrasi, Jaringan Kader Muda
Nahdlatul Ulama, Jaringan Kader Mahasiswa Islam, Komite Independen Pemantau
Pemilu Indonesia, Yayasan Jatidiri Bangsa, dan Persatuan Wartawan Indonesia.9
Rapat­rapat GKIR banyak dilaksanakan di Sekretariat Front Pembela Proklamasi
’45 di Gedung Cawang Kencana, yang tidak jauh dari Markas Besar Komando Daerah
Militer V/Jayakarta, Jakarta Timur. Selain Hariman, ada sederet nama beken lain
yang kerap terlibat dalam kegiatan­kegiatan GKIR. Mereka antara lain mantan Wakil

6

MajalahXposeNo.05/III/13­19Februari2000.
Majalah Xpose No. 05/III/13­19Februari2000.
3­19 Februari 2000.

7

Rakyat Merdeka, 12 Januari 2007.

8

Yop Pandie. 2007. Polemik Cabut Mandat SBY: Suatu Transformasi dari Masyarakat Nrimo ke Masyarakat Peduli Nasib
Bangsa. Cetakan 1. Jakarta: PT Bina Rena Pariwara, halaman 53.

9

Ibid., halaman 54.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 116

3/26/10 7:22:40 PM

~ ~

Presiden Try Sutrisno, Saiful Sulun (mantan Wakil Ketua MPR/DPR), cendekiawan

muslim Prof. K.H. Ali Yafe, Frans Seda, Mohammad Cholil Badawi (veteran pejuang

kemerdekaan yang pernah menjadi Ketua Badan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia), K.H. Moehammad Zain, Monang Siburian (purnawiran perwira tinggi
TNI bidang intelijen), dan Bambang Wiwoho. Adik Gus Dur yang juga anggota DPR
dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Lily Wahid, juga banyak terlibat aktif dalam

Hariman memimpin aksi cabut mandat SBY-JK di
Bundaran HI Jakarta (2007). Tampak antara lain
: Rendra, Julius Usman, Eggi Sudjana, Moeslim
Abdurrahman.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 117

3/26/10 7:22:44 PM

~ ~

Hariman & Malari

GKIR. Selain Try Sutrisno, Saiful Sulun, dan Monang Siburian, di GKIR masih ada
sederet purnawiran lain yang kerap hadir dalam rapat­rapat GKIR di Gedung Cawang
Kencana.

Pada 23 November 2006, GKIR menyelenggarakan dialog publik. Dialog yang
dikemas dalam acara halal bihalal ini mengambil tempat di Aula Gedung Cawang
Kencana. Dialog terutama banyak membicarakan tentang mandat rakyat, lemahnya
kepemimpinan SBY, semakin memburuknya kondisi kehidupan rakyat, dan juga
dampak dari amandemen UUD 1945.
Secara umum, peserta dialog yang berjumlah sekitar 300 orang itu sepakat
bahwa memburuknya situasi nasional dikarenakan lemahnya kepimpinan SBY. Mereka
juga kecewa dengan pengelolaan negara di bawah kepemimpinan SBY. Dalam acara
itulah untuk pertama kalinya wacana pencabutan mandat SBY mulai mengemuka.10
Isu pencabutan mandat SBY menjadi wacana yang mendominasi dialog publik. Slogan
“cabut mandatnya” tak henti­hentinya diteriakan peserta dialog.
Hasil dialog publik kemudian disampaikan GKIR ke DPR pada 19 Desember
2006. Delegasi GKIR yang datang bertepatan dengan Hari Bela Negara itu dipimpin
oleh Try Sutrisno. Mereka diterima langsung oleh Ketua DPR H.R. Agung Laksono.
Tuntutan cabut mandat BSY pun ditegaskan oleh GKIR dalam pertemuannya dengan
pimpinan legislatif tersebut.

Sejak pertemuan itulah wacana pencabutan mandat SBY terus bergulir. Try
Sustrisno, Hariman, dan kawan­kawan dianggap inkonstitusional dan dituduh hendak
berbuat makar. Di antara para tokoh GKIR, Harimanlah terutama yang paling kencang
menyerukan cabut mandat SBY.
Pihak Cikeas menuduh Try Sutrisno dkk. hanyalah sekumpulan orang­orang
yang tak sabar ingin menduduki kursi kepresidenan.11

Para pendukung SBY juga
menyebut para sesepuh ini sebagai kaum “jompo moral”, sebuah sebutan yang mengacu
kepada Try Sutrisno dan tokoh GKIR lainnya yang pernah menduduki jabatan formal di
masa lalu.12

SBY bahkan sempat mengumpulkan para sesepuh dan petinggi TNI untuk
membahas isu cabut mandat ini sekaligus mencari dukungan dari TNI.
Selain dalam rapat­rapat GKIR di Gedung Cawang Kencana, wacana cabut
mandat SBY juga menjadi tema diskusi yang hangat dalam Diskusi Reboan di Indemo.
Wacana cabut mandat terus menggelinding dan semakin mengkristal. Pada tanggal 10
Januari 2007, bertepatan dengan peringatan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat, 10 Januari
1966), GKIR kembali menyelenggarakan dialog publik.
Dialog publik dengan tema “Tantangan dan Harapan 2007” itu dilangsungkan di
Kampus Universitas Atma Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Try Sutrisno,
Frans Seda, Moehammad Cholil Badawi, Hariman Siregar, dan Moeslim Abdurrahman
sebagai pembicaranya. Hadir juga pengamat politik Sukardi Rinakit serta pengamat

10

Ibid., halaman 75.

11

Ibid., halaman 79

12

Warta Kota, Sabtu, 13 Januari 2007.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 118

3/26/10 7:22:45 PM

~ ~

ekonomi Hendri Saparini dan Ichsanuddin Noorsy. Sekali lagi, para pembicara mendesak
SBY untuk mundur terkait semakin terpuruknya kondisi bangsa. Seruan cabut mandat
SBY pun kembali ditegaskan dalam dialog publik ini.
Moeslim Abdurrahman menyerukan SBY agar “lempar handuk” saja daripada
terjadi chaos di mana­mana. “Buat apa pemimpin yang mendatangkan mudarat daripada
manfaat. Jadi, sebetulnya dia itu sudah batal. Lebih baik dia mundur dan diganti yang
lain,” kata Moeslim.13

Ketika isu cabut mandat semakin matang dan mengkristal, para tokoh GKIR
semakin yakin bahwa gerakan pencabutan mandat SBY harus diwujudkan dalam gerakan
yang lebih konkret. Keberhasilan sebuah gerakan, selain menuntut adanya soliditas
gerakan itu sendiri, juga membutuhkan momentum yang pas. Hari ulang tahun keenam
Indemo pada 15 Januari 2000 dianggap momentum yang tepat untuk melaksanakan
gerakan pencabutan mandat SBY. Terlebih lagi, di antara para tokoh GKIR, Harimanlah
yang selama ini paling getol dan lantang menyerukan pencabutan mandat SBY. Tak
mengherankan jika isu cabut mandat sangat identik dengan Hariman.
Pada 12 Januari 2007, Indemo menggelar konferensi pers dan secara resmi
mengumumkan akan menggelar “Pawai Rakyat Cabut Mandat SBY­JK” pada tanggal
15 Januari. Konferensi pers digelar di Hotel Harris, Jalan Dr. Saharjo, Jakarta Selatan.
Hariman, Moeslim Abdurrahman, dan Amir Husin Daulay secara bergantian menjelaskan
rencana besar Indemo tersebut.
Atmosfer Jakarta semakin tegang sejak konferensi di Hotel Harris itu.
Sebelumnya, ketegangan memang selalu menghantui Jakarta sejak mencuatnya wacana
gerakan cabut mandat yang akan dipimpin Hariman bergulir. Ketegangan ini tidak
terlepas dari pemberitaan bombastis media massa yang mengidentikan Hariman dengan
huru­hara Malari tahun 1974. Dengan pemberitaan yang bombastis, media massa telah
menggiring memori kolektif masyarakat pada huru­hara di Jakarta tahun 1974. Harian
Batak Pos, misalnya, menulis dengan judul “Hariman Siregar Ancam ‘Malarikan’ SBY­
JK”.14

Senin pagi, 15 Januari 2007, seribu lebih massa bergerak dari Bundaran Hotel
Indonesia menuju Istana Negara. Mereka terdiri dari aktivis mahasiswa, buruh petani,
hingga nelayan. Sepanjang jalan, massa dari 52 elemen tersebut meneriakan yel­yel
cabut mandat SBY. Di depan istana negara, Hariman Siregar, W.S. Rendra, dan sejumlah
tokoh lain, bergantian berorasi mendesak SBY mundur atau dicabut mandatnya. “Pawai
Rakyat Cabut Mandat” berlangsung aman dan damai, tidak seperti yang digembar­
gemborkan media massa. SBY tetap bertahan sebagai presiden. Meski demikian, di
mata Indemo, SBY telah kehilangan legitimasi moralnya.
e

13

Ibid.

14

BatakPos,11Januari2000.
Batak Pos, 11 Januari 2000.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 119

3/26/10 7:22:45 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 120

3/26/10 7:22:45 PM

~ ~

Meluruskan

Jalan Demokrasi

DE p i s o d E 9

emokrasi dianggap meng­ada dalam suatu
negara antara lain dengan dua ciri: kebebasan mendirikan
partai politik dan sistem pemilihan umum yang langsung,
umum, dan bebas. Perebutan kekuasaan dimungkinkan
melalui pemilihan umum yang diikuti oleh kader­kader
partai politik. Perubahan politik karenanya terbuka lebar
untuk diperjuangkan dengan cara mengikuti pemilihan
umum.
Tapi, Hariman Siregar menolak terlibat dalam partai dan pesimistis bahwa
pemilihan umum bisa menghasilkan perubahan. “Hariman lebih percaya kepada
mahasiswa sebagai motor perubahan dan demokrasi,” kata Mulyana Wira Kusumah,
Sekretaris Jenderal pertama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP).
Sejak puluhan tahun lampau hingga sekarang, Hariman Siregar meyakini masa
depan sesungguhnya dimiliki oleh anak muda dan karenanya harus diperjuangkan
pada masa kini oleh komponen terkuat dari anak muda: mahasiswa. Ia tak begitu
percaya—kalau tak bisa dibilang “tak percaya sama sekali”—lembaga­lembaga
formal dalam demokrasi, semisal partai politik.
Keyakinan diri Hariman ini menjawab pertanyaan mengapa ia tak memimpin,
mendirikan, atau setidaknya bergabung dengan partai politik. Padahal, bila mengingat
jejaring yang telah ia rajut sejak memimpin Dewan Mahasiswa UI hingga sekarang,
Hariman memiliki sumber daya manusia dan logistik yang cukup untuk melibatkan
diri dalam partai politik. Bukan tak sedikit kelompok­kelompok atau individu yang
mendorong Hariman mendirikan partai politik setelah sistem multipartai dimulai lagi
di Indonesia pasca­1998. Tapi, melihat dan mengalami—sejak masa awal Orde Baru
hingga sekarang—bagaimana perilaku partai politik di Indonesia, Hariman memilih
untuk memercayakan perubahan pada cara lain: ekstraparlementer. Ketidakpercayaan

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 121

3/26/10 7:22:46 PM

~ ~

Hariman & Malari

Hariman kepada partai berdasar sejumlah alasan yang berangkat dari kenyataan.
“Partai politik dibentuk untuk building block kekuasaan semata, bukan untuk
memajukan kesejahteraan rakyat, karena partai hanya berfungsi lima tahun sekali
untuk mengantarkan (orang) ke kekuasaan,” papar Hariman. Praktik kepartaian
semacam ini membuahkan tradisi jual­beli (transaksional). Di dalam partai, beberapa
hal diatur, tapi tidak bisa atau jangan menjadi “yang tidak mau”. Sebab, seperti dalam
halnya rumus jual beli, yang tidak mau adalah yang ditinggalkan.
Ia menunjuk pemilihan kepala daerah (pilkada) sebagai contoh kasus. Partai­

Hariman Siregar : Sang Rajawali Politik Indonesia.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 122

3/26/10 7:22:50 PM

~ ~

partai jelas “berjualan” dalam pilkada. Beberapa kali pimpinan­pimpinan partai di
wilayah berniat mencalonkan diri menjadi gubernur atau bupati, namun ditentang
oleh pengurus pusat partai. Alasannya? “Ada calon lain dari luar partai yang lebih
patut didukung.” Kepatutan yang dimaksud bukan berbasis kompetensi, melainkan
lantaran si calon bersepakat dengan elite partai pendukung melalui komitmen berbasis
transaksi: uang.

Tidaklah heran bila, menjelang pilkada, partai­partai politik bukannya sibuk
membuat konvensi internal partai untuk menjaring kader terbaik, tapi sibuk berjalan­

jalan melobi fgur yang sekiranya potensial untuk “diatur” atau mau terlibat transaksi.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 123

3/26/10 7:22:56 PM

~ ~

Hariman & Malari

Perjalanan itu tidak terbatas kepada tokoh­tokoh publik di lingkungan sosial politik,
tapi merambah ke dunia lebih luas: entertainment. Kalangan artis ditawari untuk
maju menjadi calon bupati/wakil bupati atau gubernur/wakil gubernur dari partainya.
“Ini hal yang rancu. Partai mengkhianati hakikat partai itu sendiri, karena kekuasaan
diberikan kepada orang lain,” ujar Hariman. “Itu namanya calo penjual suara. Partai
menjadi calo kekuasaan karena kemenangan diperjualbelikan. Kasihan rakyat yang
memilih karena berpikir bahwa si calon akan mewakili dirinya, padahal bakal dijual
lagi. Rakyat jadinya ditipu oleh partai.”
Di tingkat nasional, partai­partai politik tak menunjukkan tanggung jawab
atas kondisi bangsa yang terpuruk. Mereka justru menyandera proses demokrasi
secara substansial. Mereka membuat prosedur­prosedur formal yang mendorong
keadaan negara justru menjadi sakit. Mereka kreatif menciptakan mekanisme untuk
memperoleh berbagai fasilitas dari negara, justru ketika anggaran untuk rakyat
terbilang kecil. “Jiwa­jiwa demokrasi sudah mati dalam orientasi mereka. Mereka
tidak percaya lagi vox populi vox Dei. Mereka lebih percaya bahwa kekuasaan itu
lampu Aladin yang dalam tempo seketika dapat mengubah gubuk menjadi istana,
sepeda motor tahun 1970­an menjadi BMW seri terbaru,” kata Hariman gusar.
Salah satu penyebabnya adalah proses pemilihan umum yang gagal merekrut
(atau sengaja tidak berupaya melahirkan) calon­calon wakil rakyat yang pro­rakyat.
Proses pemilihan umum yang memakan dana besar ditambah kegagalan dalam proses
rekrutmen membuat anggota parlemen kemudian berpikir tentang cara mengembalikan
modal yang telah dikeluarkan untuk menyetor kepada partai dan ongkos kampanye.
Syukur­syukur bisa untung selama lima tahun duduk di kursi parlemen.
Kegagalan pemilihan umum melahirkan pemimpin atau wakil rakyat yang
pro­rakyat bersebab pula dari kondisi partai politik. Alih­alih melakukan kaderisasi,

partai cenderung mengutamakan fgur populer untuk meraih suara. Dari tokoh

politik betulan hingga artis atau pelawak ditawari masuk ke partai menjelang musim
pemilihan umum berlangsung. Dianggaplah bila partai diisi oleh tokoh yang sudah
dikenal publik serta­merta publik akan memilih sang tokoh tersebut. “Budiman
Sudjatmiko (mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik), misalnya, bukan dari
kader PDI Perjuangan tapi bisa langsung menjadi calon anggota legislatif nomor
urut satu dan bisa duduk menjadi pengurus pusat partai. Pada akhirnya nanti mantan
petinggi tentara dan polisi atau mantan pejabat pemerintahan direkrut untuk menjadi
petinggi partai,” kata Hariman.
Hariman menyetujui pendapat Rocky Gerung1

yang mengkritik partai sebagai

penyebab defsit intelektualitas dalam praktik politik Indonesia. Partai politik berdiri

tanpa didasarkan pada suatu gagasan sosial yang kuat—yang biasa disebut sebagai
ideologi. Ini melemahkan partai dalam melakukan kaderisasi. Padahal, kaderisasi
memerlukan visi ideologis yang kuat, yaitu prinsip pengatur orientasi kebijakan sosial
partai. Dengan visi ideologis itulah sang kader bertarung dalam politik. Distingsi
ideologis memerlukan kejernihan konseptualisasi intelektual, karena persaingan

1 Rocky Gerung. 2009. “Intelektual dan Kondisi Politik”, dalam Prisma No.1 Volume 28, Juni 2009.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 124

3/26/10 7:22:56 PM

~ ~

politik adalah persaingan nilai­nilai publik yang harus diselenggarakan untuk
mempertahankan kondisi kemajemukan demokrasi. Ketiadaan persaingan ideologis
membuat politik menjadi urusan transaksional rutin, dalam arti tidak menimbulkan
imajinasi perubahan dan inspirasi konseptual.
Menjelang Pemilu 1999, sebenarnya suatu harapan besar sempat muncul. Pada
masa itu, partai­partai politik bebas didirikan dengan berbagai ideologi yang mereka
yakini. Ada 48 partai politik yang dinyatakan memenuhi syarat mengikuti Pemilu
1999. Indonesia pasca­Pemilu 1999 keruan diidamkan memiliki wajah demokrasi
dan sistem politik yang lebih sehat ketimbang sebelumnya. Kebebasan tiap­tiap
partai memiliki ideologi dan memopulerkannya menjadi salah satu alasan wajar dari
munculnya harapan. Karena, ideologi yang dipercaya oleh partai politik dianggap
akan memaksa aktor­aktornya bekerja mewujudkan cita­cita berdasar ideologi tadi.
Tapi, pasca­pemilihan umum, kenyataan berbicara lain. Ketika memasuki proses
pembentukan pemerintahan, persaingan antarpartai berlatar ideologi terhenti.
Kata kunci berubah dari “persaingan” menjadi “kompromi”. Isi kabinet kemudian
mengungkapkan hasil dari kompromi itu: Kabinet Persatuan Nasional, yang terdiri
dari beragama latar partai, dari partai Islam hingga partai sekuler.
Situasi pasca­Pemilu 2004 tak berbeda jauh. Meski keluar sebagai pemenang
pemilihan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla hanya menempatkan
dua orang dari Partai Demokrat dan dua orang dari Golkar dalam kabinet atau 11
persen dari keseluruhan 36 kursi kabinet. Sebanyak 15 kursi diberikan kepada
kalangan profesional dan 4 kursi kepada TNI. Sisanya dibagi­bagi kepada partai yang
mau diajak berkoalisi.

Pilihan membentuk koalisi dalam pemerintahan menguatkan watak percaloan
dalam kekuasaan di Indonesia, kendati diberi nama Kabinet Persatuan Nasional atau
Kabinet Indonesia Bersatu yang telah memasuki seri kedua setelah Susilo Bambang
Yudhoyono terpilih kembali sebagai presiden. Kuskridho Ambardi menyebut
percaloan ini sebagai kartel. Partai­partai politik di Indonesia, katanya, cenderung
berpraktik kartel ketimbang kompetitif.2
Menurut Ambardi, pembentukan kartel itu berangkat dari lima ciri yang terjadi
dalam kepartaian Indonesia: 1) hilangnya peran ideologi partai sebagai faktor penentu
perilaku koalisi partai; 2) sikap permisif dalam pembentukan koalisi; 3) tiadanya
oposisi; 4) hasil­hasil pemilihan umum hampir tidak berpengaruh dalam menentukan
perilaku partai politik, dan; 5) kuatnya kecenderungan partai untuk bertindak
secara kolektif sebagai satu kelompok. Pengertian kelima ini bukan merujuk “satu
kelompok” dalam pengertian “satu partai”, melainkan sebagai “satu kelompok elite”
yang berangkat dari berbagai partai.
Ambardi menunjuk kepentingan tiap­tiap partai untuk bertahan hidup
sebagai alasan mereka membentuk kartel. Sumber keuangan partai yang berasal
dari pemerintah harus dijaga bersama. Bila dianggap tidak cukup, mereka mencoba

2

Kuskrido Ambardi. 2009. Mengungkap Politik Kartel. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 125

3/26/10 7:22:57 PM

~ ~

Hariman & Malari

menggali dari sumber­sumber lain, yakni dari badan­badan usaha milik negara
maupun sumber yang hanya bisa dikelola atau diciptakan apabila wakil­wakil partai
menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Lazim diketahui bahwa pengurusan
perizinan atau perlindungan bisa dilakukan oleh pejabat pemerintah berimbal uang.
Perilaku partai politik semacam ini dinamakan partai pemburu rente (rent seeking).
Ketika PDI Perjuangan berkuasa dengan Megawati Soekarnoputri sebagai
presiden, badan­badan usaha milik negara yang berada di bawah pengawasan kader
PDI­Perjuangan, Laksamana Sukardi, menjadi lahan pendulang uang partai. Praktik
ini diteruskan oleh partai pemenang berikutnya: Partai Demokrat. Sejumlah nama
yang dianggap berjasa menaikkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden
diupahi dengan posisi komisaris dalam badan usaha milik negara. Tanpa diketahui
di mana pernah belajar tentang manajemen perusahaan, Andi Arief diangkat menjadi
komisaris PT Pos dan Giro Indonesia. Jabatan­jabatan tinggi di badan usaha milik
negara atau birokrasi yang dipastikan dapat memberi sumbangan kepada partai
diberikan pula kepada partai­partai koalisi. Syaratnya gampang: beri jalan terbuka
di parlemen untuk semua usul pemerintah. Dengan demikian, yang terjadi bukanlah
kontrol atau check and balances oleh parlemen terhadap pemerintah, keduanya malah
terlibat kongkalikong dan patgulipat dengan tujuan “sama­sama enak”.
“Semangat kongkalikong dan patgulipat segerombolan elite ini pula yang
melahirkan berbagai jenis kebijakan penjualan aset milik negara yang bagus­bagus
ke tangan orang asing,” kata Hariman. “Mereka telah menjadi jongos kepentingan
asing dalam arti yang sesungguhnya.”
Hariman membandingkan penanganan krisis yang dilakukan Indonesia dengan
Thailand, Korea Selatan, dan Filipina. Ketiga negara yang disebut terakhir telah
melewati stadium kritis dengan baik karena dipimpin oleh nakhoda yang memiliki
konsepsi yang jelas tentang bagaimana mengatasi krisis. Beda sekali dengan elite politik
Indonesia. Elite Indonesia justru melakukan tindakan yang menghina akal sehat. Dari
seharusnya menggalang solidaritas supaya putra­putri terbaik bangsa mau bekerja
keras, menghidupkan sektor pertanian tempat bergantung 80 persen rakyat pedesaan,
elite Indonesia malah mencabut subsidi dan proteksi hasil bumi. “Akibatnya, orang­
orang yang hidup dari sektor pertanian semakin terimpit nasibnya,” ujar Hariman.
Akhirnya harus dibilang bahwa tidak ada perubahan atau kemajuan yang
dicapai dari perilaku demokrasi yang berorientasi pada perburuan rente. “Bangsa ini
seakan­akan sudah memasuki alam demokrasi yang advanced dan terkonsolidasi,”
ujar Hariman Siregar. “Suksesi kepemimpinan nasional dua atau tiga kali yang
berjalan tanpa kekerasan sudah dianggap demokrasi. Jika hanya itu ukurannya, itu
adalah demokrasi semu.”

Demokrasi semu atau demokrasi seolah­olah ini pernah terjadi selama
pemerintahan Orde Baru. Soeharto menciptakan pemilihan umum dan partai­partai
guna memenuhi syarat agar dianggap berkuasa melalui proses demokrasi. Pemilihan
umum lima tahunan selalu dilaksanakan dan diikuti oleh partai politik (yang jumlahnya

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 126

3/26/10 7:22:57 PM

~ ~

dibatasi hanya dua ditambah satu Golongan Karya (Golkar) melalui kebijakan fusi
dengan alasan agar menampung golongan nasionalis dan agama ke dalam masing­
masing satu wadah saja). Terhadap kedua partai—Partai Demokrasi Indonesia dan
Partai Persatuan Pembangunan—dilakukan pengawasan ketat dan dikerdilkan terus­
menerus agar tidak berkembang luas, sedangkan Golongan Karya dibuat menjadi
pemenang terus­menerus dalam pemilihan umum. Rekor juara bertahan oleh Golkar
ini dimungkinkan karena perangkat pemerintah, tentara, dan intelijen dikerahkan
untuk memenangkan semata­mata Golkar dengan dukungan dana tak terbatas.
Golongan yang mayoritas di Majelis Permusyarawaratan Rakyat itu kemudian
memilih Soeharto sebagai presiden berkali­kali. Kedua partai yang ada pun ikut serta
memilih. Sebab, bila bersuara berbeda akan ditekan. Jadilah, Soeharto selalu menang
mutlak. Secara prosedur, tak ada yang salah dengan mekanisme yang diberlakukan
oleh Soeharto. Undang­undang tentang partai memang berbunyi demikian; undang­
undang tentang pemilihan umum juga mengatur bahwa peserta pemilihan umum
adalah dua partai politik dan satu Golongan Karya; undang­undang tentang susunan
dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD juga menetapkan tentang kursi gratis yang
diberikan kepada ABRI sebagai “penjaga demokrasi” Indonesia. Tak ada yang salah
secara prosedural menurut prosedur Soeharto, tapi demokrasi yang sesungguhnya
dipasung karena tidak ada kebebasan berpendapat, boro­boro lagi kebebasan memilih.
Hasil akhir dari tiap pemilihan umum telah ditentukan sebelumnya dan diterapkan
melalui berbagai operasi yang kerap dijalankan oleh perangkat intelijen.
Bila dibandingkan sekarang, dana demokrasi seolah­olah pada masa Soeharto
terbilang malah lebih kecil. Pada masa ini, orang dapat saja menjadi pihak yang
berkuasa tergantung pada kemampuannya memberikan atau menjanjikan bakal
memberi berbagai fasilitas kepada partai politik (yang telah berubah menjadi calo
kekuasaan). Selain kasus pilkada, pencalonan menjadi anggota DPR melalui
mekanisme yang sama. Maka, dana yang dipertaruhkan pada masa demokrasi semu
yang semata­mata prosedural ini semakin besar karena dikeluarkan oleh orang per
orang yang ingin duduk di kursi kekuasaan.
Pola semacam ini mengundang celah bagi kembalinya kekuatan­kekuatan lama
untuk berkuasa, karena pada dasarnya kelompok lama masih menguasai aset ekonomi
yang besar. Dana dari kelompok lama ini bahkan kerap digunakan untuk menopang
naiknya orang­orang baru dalam kekuasaan. Kondisi ini sedikit menjelaskan mengapa
orang­orang yang terindikasi berpraktik kolusi, korupsi, dan nepotisme pada masa
lalu tetap dapat bebas hingga empat presiden setelah Soeharto, sebagian malah ikut
duduk di kekuasaan.

Pada gilirannya, demokrasi semu yang dimotori oleh partai politik berpraktik
calo ini melahirkan golongan otoriter baru. Mereka ini pada dasarnya sama dengan
kelas otoriter masa lalu (karena sebagian berasal dari kelas berkuasa di masa lalu)
yang gemar mendiktekan keinginan kepada rakyat dan bukannya mendengarkan
keinginan rakyat. Bedanya: otoritarianisme jenis baru menggunakan prosedur formal
untuk mematikan kritik.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 127

3/26/10 7:22:58 PM

~ ~

Hariman & Malari

Menurut Eggi Sudjana, berdasar kacamata Hariman, kondisi saat ini
menunjukkan ke arah sana. Bedanya, otoritarianisme sekarang dibungkus lebih soft
dengan berbagai pencitraan. Justru ini yang lebih berbahaya karena rakyat ibarat
dininabobokan dalam gendongan, dibelai, tetapi juga ditusuk dari belakang. “Ruang­
ruang demokrasi dan berpendapat secara bebas memang tersedia, tapi itu hanya
prosedural karena kenyataannya banyak aktivis yang digebuki, rakyat digusur, kritik
masyarakat dibalas dengan reaksi yang berlebihan dari pemerintah,” papar Eggi.
“Hal tersebut jelas tidak menghargai perbedaan dan kebebasaan menurut demokrasi.
Rakyat hanya dijadikan obyek demokrasi, bukan sebagai subyek yang menikmati
demokrasi serta ikut berpartisipasi.”
Berbeda dengan perilaku pemerintah, Hariman di mata Eggi Sudjana justru
membuka ruang perbedaan pendapat. Ia, misalnya, sering tidak setuju dengan pendapat
Eggi dan kawan­kawannya, termasuk pilihan mereka memasuki partai politik.
“Misalnya soal aksi cabut mandat, saya selaku orang partai agak berbeda pendapat
karena, menurut saya, mencabut mandat itu harus melalui saluran yang resmi, yaitu
pemilihan umum,” ujar Eggi, “tapi, menurut Hariman, cabut mandat dilakukan justru
karena saluran­saluran resmi tidak berjalan normal.”
Ada dua hal yang tak boleh dilupakan mengenai demokrasi prosedural. Dua
hal itu merupakan bahaya yang terkandung di dalamnya. Pertama, bagi demokrasi
prosedural, yang benar dan dapat diterima hanyalah yang sesuai atau berdasarkan
prosedur yang berlaku. Ketidakpuasan atau kritik hanya didengar dan dianggap
benar apabila disalurkan melalui prosedur yang berlaku dan diakui. Protes terbuka
dari staf atau bawahan kepada atasannya—terutama dalam lembaga negara atau
institusi pemerintah—menjadi tidak benar apabila dilontarkan secara terbuka kepada

Hariman saat tampil sebagai pembicara dalam sebuah diskusi politik.

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 128

3/26/10 7:23:03 PM

~ ~

publik. Protes terbuka dianggap sama dengan mengungkap keburukan bersama
dan menyebabkan rakyat hilang kepercayaan kepada lembaga atau institusi yang
diungkap kebobrokannya. Penganut demokrasi prosedural percaya bahwa citra suatu
lembaga atau institusi harus dijaga tetap bersih di mata publik. Demonstrasi pun hanya
dibenarkan bila mengikuti tata krama yang telah diatur oleh prosedur menyatakan
pendapat. Akhirnya, segala sesuatu yang di luar prosedur dianggap tidak demokratis,
bahkan disebut anarkis.

Kedua, karena prosedur ditetapkan oleh segelintir elite, isi demokrasi akhirnya
ditentukan oleh elite. Mereka yang memegang wewenang membentuk peraturan

(pemerintah dan DPR) menganggap paling berhak mendefnisikan perbuatan-

perbuatan demokratis dan perbuatan­perbuatan tidak demokratis. Improvisasi
berdasar daya kreatif rakyat sepanjang belum diakui sebagai perbuatan demokratis
oleh pemerintah tetap digolongkan sebagai “bukan bagian demokrasi kita”, persis
argumentasi pemerintah Orde Baru tentang hak asasi manusia dan pemilihan langsung:
tidak sesuai dengan jiwa dan kebudayaan kita.
Praktik semacam ini menyebabkan demokrasi bukan lagi suatu pemerintahan
rakyat (government of the people), melainkan menjadi pemerintahan para politisi
(government of the politicians). “Kenyataannya memang seperti itu,” timpal Prof. Dr.
Anwar Nasution, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia. “Perubahan­perubahan
tidak dirasakan rakyat, kemakmuran tidak merata, partai tidak berperan, (maka) saya
kira Hariman Siregar akan tetap berperan.”
Lalu, apa ukuran demokrasi menurut Hariman? “Sederhana saja, selain
seperti yang sudah dinyatakan oleh para ahli, kita pakai deep feeling,” kata Hariman.
Rasa yang paling dalam dari nurani bakal mengingatkan kita bahwa suatu proses
kekuasaan berjalan baik atau menyimpang dari cita­cita semula atau tidak. “Sekarang
orang kebanyakan bilang, ‘Sudahlah begini saja masih bisa makan.’ Maka, niscaya
Indonesia yang diramalkan sejumlah ilmuwan memiliki bakat sebagai negara gagal,
state failure, akan menjadi kenyataan,” ujarnya.
Ciri negara gagal, menurut Hariman, ada pemerintah tapi tidak ada
pemerintah (ungovernable). “Ini kan sudah bisa kita deteksi dengan semakin tidak
berdayanya pemerintah menghadapi tekanan fundamentalisme pasar yang terbukti
menyengsarakan rakyat,” ujarnya.
Dalam salah satu pidatonya, Hariman mengingatkan: “Bila Anda seorang
pialang saham atau emiten di bursa saham, mungkin kekayaan Anda terus bertambah.
Tapi, Anda mesti ingat, berapa orang yang mati kelaparan pada setiap transaksi
penjualan saham yang nilainya terus bertambah dan otomatis pula kekayaan
Anda terus meningkat tanpa mengucurkan keringat. Berapa juta penganggur yang
dihasilkan oleh bergeraknya ekonomi duit makan duit, fnance make it self fnance,
itu?”3

Pemerintah, partai politik, sistem pemilihan umum, dan—secara keseluruhan—
demokrasi Indonesia gagal menjawab gugatan Hariman Siregar itu.

3

Hariman Siregar. 2008. Kembalikan Kedaulatan Rakyat, Jangan Bajak Demokrasi. Jakarta: Indemo.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 129

3/26/10 7:23:03 PM

~ 0 ~

Hariman & Malari

Demokrasi sebagai suatu cara hidup (bukan hanya cara memerintah) pada
hakikatnya mengembalikan segala sesuatu kepada rakyat. Keingingan rakyat
sejak lama ialah mencapai taraf hidup yang sejahtera dan adil. Maka, demokrasi
sesungguhnya adalah suatu cara bagaimana rakyat—secara keseluruhan—dapat
menikmati kesejahteraan dan keadilan. Bila dua indikator tersebut gagal dicapai oleh
mekanisme demokrasi, dengan mudah bisa dibilang ada kesalahan dalam menjalankan
mekanisme tersebut. Dalam bahasa Fareed Zakaria4

, “Bila memahami teori demokrasi

secara salah, praktiknya akan salah pula.”
Berdasarkan teori, demokrasi memberi penghargaan besar kepada kebebasan
individu. Namun, makna demokrasi pada pengertian ini bukan berarti setiap orang
dapat mengungguli dirinya atas orang lain secara bebas, semena­mena, dan akal­
akalan. Justru menghargai kebebasan individu berarti tiap­tiap orang harus memberi
penghargaan kepada orang lain.
Dengan demikian, pemerintahan yang demokratis adalah pemerintahan
yang mendengarkan dan menghargai orang di luar dirinya: yang diperintah, yang
memilihnya, yang tak lain adalah rakyat. Pemerintah harus banyak mendengarkan
suara dan pendapat rakyat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Bukan berdasar
pikiran­pikirannya sendiri. Pada pengertian ini, prosedur demokrasi berarti suatu cara
untuk menjaring suara dan pendapat rakyat dalam mengambil keputusan. “Mandat
rakyat yang diberikan saat pemilihan lima tahun sekali itu bukan mandat sekali lalu
selesai,” kata Hariman. “Bukan berarti setelah terpilih semau­maunya pemerintah
yang dipilih.”

Lebih parah lagi, pemerintah yang telah dipilih itu ketahuan tidak bisa berbuat
banyak untuk mengatasi memburuknya nasib rakyat kebanyakan. Hariman bercerita,
situasi kebangsaan yang tidak normal telah menyebabkan satu keluarga bunuh diri
karena gamang menatap hidup yang semakin buas dan kejam. Seorang Ibu di Malang,
Jawa Timur, September 2008, tega membunuh ketiga orang anaknya sebelum dia
sendiri bunuh diri. Rupanya ibu yang bernama Juanina Mercy itu stres menghadapi
semakin sulitnya menggapai sumber penghidupan. “Pikirkan juga data yang dilansir
Litbang Departemen Kesehatan yang menyebutkan bahwa 264 di antara seribu
anggota rumah tangga menderita gangguan kesehatan jiwa,” kata Hariman.
Bila angka itu benar, seperempat orang Indonesia terkena gangguan jiwa.
“Nah, bagaimana para petinggi republik bisa mengklaim everything it’s okay bila
separo penduduknya miskin dan seperempat penduduknya mengidap sakit jiwa?”
protes Hariman.

Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah mendengarkan suara rakyat setelah
terpilih sejak pertama dan kedua kali. Ia lebih mengundang pimpinan partai­partai
politik untuk merundingkan isi kabinet karena, menurut dia, secara prosedur memang
demikian: rakyat telah memberikan suaranya kepada partai ketika pemilihan umum. Di
sinilah kesalahan Yudhoyono paling pertama, menganggap suara partai adalah suara

4

Fareed Zakaria. 2003. The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad. New York:
W.W. Norton & Company

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 130

3/26/10 7:23:04 PM

~ ~

rakyat. Ia, misalnya, menyampingkan suara­suara yang menginginkan agar politik
Indonesia membuka peluang kepada oposisi yang kuat. Bila menjelang pemilihan ia
seolah­olah percaya kepada hasil survei tentang elektabilitas seorang calon, berbagai
survei itu dipinggirkan setelah terpilih. Padahal, beberapa bunyi survei menunjukkan
keinginan rakyat. Yudhoyono menganggap oposisi bakal menjadi sandungan bagi
pemerintahannya. Saat terpilih untuk kedua kalinya, Yudhoyono menggarisbawahi
tentang pentingnya stabilitas dalam pemerintahan sehingga agenda­agenda politik
bisa dijalankan tanpa gangguan. Kata kunci “stabilitas” ini terang mengingatkan
kepada watak pemerintah Soeharto di masa lalu. Yudhoyono menyampingkan bahwa
oposisi dalam suatu demokrasi sesungguhnya merupakan bentuk partisipasi aktif.
Prosedur demokrasi liberal pun mengacu pada tiga nilai penting: kontestasi
(kompetisi), liberalisasi, dan partisipasi. Setiap individu bebas mengikuti kompetisi
memperebutkan jabatan­jabatan publik melalui pemilihan umum; orang pun bebas
untuk menentukan pilihannya (partisipasi); karenanya dibuat suatu jaminan hukum
agar proses itu bisa diikuti secara luas (liberalisasi). Artinya, menutup partisipasi
publik dalam pengambilan keputusan pemerintah, sama artinya dengan mengkhianati
demokrasi itu sendiri, bahkan dalam pengertian paling liberal sekalipun.
Jika diringkas, keengganan Hariman terlibat atau mendirikan partai politik
adalah karena praktik kepartaian yang transaksional atau berpraktik kartel. Selain itu,
partai tidak melakukan kaderisasi, tidak melahirkan kepemimpinan yang berdasarkan
kompetisi, melainkan memuja tokoh, dan tidak memiliki ideologi yang sistemis.
Pertanyaannya, mengapa Hariman tidak melahirkan partai politik yang berpe­
rilaku serba­kebalikan dari keadaan partai sekarang? “Partai semacam itu akan
kalah bersaing,” jawab Hariman, dengan kata “bersaing” bukan mengacu kepada
“persaingan” yang seyogianya terjadi dalam demokrasi, karena persaingan itu sudah
diberangus oleh kompromi pada saat membentuk pemerintahan. Persaingan yang
dimaksud adalah “tidak bisa mendapat tempat” dan akan terus­menerus kalah karena
menolak masuk dalam pusaran permainan yang telah disepakati. Partai yang serba­
kebalikan itu akan berhasil melahirkan kader­kader yang bagus, pemimpin dengan
karakter yang kuat, tapi terseok­seok untuk masuk ke kekuasaan—atau parlemen—
karena ketiadaan logistik.

Partai yang serba­kebalikan itu akan tumbuh dengan baik dalam sistem
demokrasi yang secara substansial berorientasi pada kesejahteraan dan keadilan rakyat.
“Makanya, pemerintahan seperti sekarang harus diubah. Sebab, bila pemerintahan
seperti sekarang diteruskan, siapa pun yang akan memimpin republik yang kita cintai
ini akan sulit mengatasi persoalan,” kata Hariman seraya menambahkan bahwa
persoalan utama bangsa ini adalah kemiskinan dan pengangguran.
Ketimbang mengandalkan partai politik dan sistem pemilihan umum yang
berisi transaksi, Hariman lebih percaya pada kekuatan rakyat. Kekuasaan yang direbut
(kembali) oleh rakyat akan meluruskan jalan demokrasi Indonesia kepada cita­cita
semula, seperti diikrarkan pendiri republik: masyarakat yang adil dan sejahtera.

Drama Kehidupan Hariman Siregar

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 131

3/26/10 7:23:04 PM

~ ~

Hariman & Malari

“Demokrasi yang ingin kami perjuangankan adalah bagaimana membangun partisipasi
lebih luas dengan meruntuhkan oligarki dan feodalisme yang telah menduduki
partai­partai politik sebagai instrumen pelanggeng kekuasannya. Demokrasi yang
kami perjuangkan adalah tempat persemaian yang subur bagi hadirnya calon­calon
pemimpin yang lebih mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik,” ujar
Hariman.

Hariman berkeyakinan masa demokrasi substansial itu akan datang kelak.
Hanya saja, proses menuju demokrasi itu harus diperjuangkan dan dikelola secara
lebih baik, tidak dilakukan secara tergesa­gesa seperti terjadi di masa reformasi yang
salah arah.
e

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 132

3/26/10 7:23:05 PM

~ ~

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->