Anda di halaman 1dari 445

Rekan-rekan sekalian,

Malam ini adalah malam yang istimewa bagi kita. Jika penutupan tahun-tahun lalu
kita hanya sekadar berpesta atau tinggal di rumah, malam ini kita merasa perlu berkumpul di
sini dan mencanangkan malam ini sebagai: “Malam Keprihatinan”. Tentu ada sebab-sebabnya.
Sebab yang paling nyata adalah tahun 1973 yang telah menimbulkan kebingungan-kebingungan
dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang mengganggu perasaan kita. Tetapi yang terang
bagi kita, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya, malam ini bukanlah malam pesta pora
dan peragaan kemewahan. Tetapi sebaliknya, malam ini justru merupakan kesempatan untuk
sejenak berhenti dari kesibukan kita sehari-hari dan merenungkan suasana prihatin yang kini
sedang mencekam kita dan rakyat Indonesia pada umumnya. Tetapi lebih dari itu adalah bahwa
protes kita terhadap keadaan yang tercermin dalam “Petisi 24 Oktober” ternyata menuntut
kita untuk lebih menegapkan langkah dan menjernihkan pikiran agar kehadiran kita dalam
masyarakat menjadi nyata dan berarti. Apalagi kalau kita bertekad untuk menanggung beban
sejarah. Karena sejarah telah membuktikan bahwa perubahan-perubahan besar selalu diawali
oleh kibaran bendera Universitas.
Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah membebaskan
rakyat dari penderitaan hidup sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur
untuk mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang tidak menguntungkan
rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan sesama generasi muda memikirkan
masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian
rakyat untuk menyuarakan diri. Semua itu adalah beban yang tidak ringan—untuk tidak
mengatakan berat sekali. Namun pada akhirnya berat atau ringan beban itu tetap merupakan
beban kita. Sekali kita mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk
sejarah. Tetapi yang terpenting bagi kita adalah menghentikan kebisuan yang ditimbulkan oleh
himbauan kenikmatan yang dijanji-janjikan kepada kita. Dan juga kebisuan akibat feodalisme
yang mementingkan sikap nrimo, apatis dan antipartisipasi. Artinya, kita harus membebaskan
diri dari mitos-mitos yang menempatkan diri kita dalam posisi bisu dan terbelenggu. Misalnya,
mitos bahwa cinta kasih dan kemurahan hati kelompok-kelompok kecil penguasa jika mereka
berbuat baik adalah memang betul-betul dari hati yang tulus; mitos bahwa setiap ucapan dan
setiap tindakan penguasa adalah untuk kepentingan rakyat; mitos bahwa pemberontakan
terhadap nilai-nilai budaya feodal adalah berdosa untuk masyarakat.

Petikan Pidato Hariman Siregar saat acara “Malam Keprihatinan”,


31 Desember 1973.

Q-Communication didirikan oleh sejumlah wartawan yang sudah berpengalaman di dunia jurnalistik sejak tahun 2001. Secara organisatoris,
Q-Communication bernaung di bawah bendera PT Quadrat Visi Komunika,yang berdomisili di Jakarta. Q-Communication terutama bergerak
di bidang layanan konsultasi komunikasi dan media, seperti audit dan riset komunikasi, public relations (hubungan masyarakat); community
development, penerbitan dan event organizer. Layanan konsultasi Q-Communication mencakup asistensi bagi instansi pemerintah dan
swasta ataupun tokoh-tokoh publik untuk berkomunikasi secara baik dan efektif dengan masyarakat umum.

Q-Communication
Gedung Gajah Unit AP Lt.3
Jl. Dr. Sahardjo, No. 111, Tebet Barat, Jakarta 12810
Telp. 021-83705656, Fax. 021-8306568
Email : vehub@yahoo.com
Hariman & Malari
Gelombang Aksi Mahasiswa
Menentang Modal Asing

Editor:
Amir Husin Daulay
Imran Hasibuan

Tim Penulis:
Imran Hasibuan
Airlambang
Yosef Rizal

Q-Communication
Jakarta, 2011

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind1 1 3/26/10 6:54:47 PM


Gita Durma
Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Angin menderu lewat terali besi tingkap penjaramu.
Kau terbaring di atas lembaran-lembaran koran.
Dan rakyat di kampung yang kau bela
bersembahyang tasbih melewatkan malam.

Deru-deru hujan tiba


badai dan prahara tiba.
Semangat hidupmu adalah kali yang purba.
Selalu hadir dan mengalir.
Menghanyutkan gunung sampah ke samodra.
Dan samodra
sebagai pangkuan ibunda
selalu membasuh dosa-dosa manusia.

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?


Ketika tengah malam kau dibangunkan
dan dikawal ke kamar interogasi.
Wajahmu pucat tetapi matamu menyala
dan ibu-ibu di kampung yang kau bela
memasak rendang dan ketupat
untuk dikirim kepadamu.

Fajar akan muncul


menembus kabut yang menyelimuti pulau-pulau.
Matahari adalah kenyataan yang tak bisa dikhianati.
Engkau adalah putera matahari
kerna engkau melindungi kehidupan.

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?


Ketika di tengah panas terik siang hari
kau hadapi pengadilan yang sumpeg
dan jaksa menuntutmu
dengan undang-undang orang kulit putih
yang dipakai untuk menindas orang pribumi.

Guntur membelah udara


untuk menciptakan keseimbangan angkasa
kesabaran menyala menjadi semangat perjuangan
untuk membela keseimbangan kehidupan.
Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?
Ketika engkau dan para tahanan

~ ii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind2 2 3/26/10 6:54:48 PM


berderet di muka barak penjara
untuk appel sore hari
sebelum tiga lapis pintu besi
digrendel untuk mengurungmu.
Dan para abang becak
akan bercerita kepada puteramu
bagaimana kau telah berdiri
dan merumuskan keadaan.

Ya, mata bayonet memang berkilat.


Raung sirene memang menerpa batin.
Dan para oportunis menuduhmu teatral dan sok pahlawan.
Ya, barangkali kau pun juga terkencing di celana
Tetapi kau menolak
untuk meletakkan hati nurani di atas sampah.
Kau menolak untuk menukar hukum dengan kekuasaan.
Dan aku, si penyair, memihak kepadamu.
Penyair bukan hakim.
Penyair adalah orang yang memberikan kesaksian.

Menguraikan simpul-simpul kelesuan dan kebisuan


akan terdengar alu-alu dipukulkan ke lesung penumbuk padi,
menjadi genderang bertalu untukmu.

Kau dengarkah genderang bertalu, saudaraku?


Di saat engkau bertapa
memasuki kesepian penjara?
Dari pulau ke pulau
dari ufuk ke ufuk
dari puncak-puncak gunung berapi
arwah leluhur telah bangkit
menanggapi tapamu.
Di tengah-tengah masa beratmu,
ketika kau memukuli tembok sel dengan buku-buku tanganmu,
kenangkanlah, saudaraku,
bahwa genderang langit telah dibunyikan
menyambut keprihatinan sang putera matahari.

Rendra
Depok, Oktober 1981

Sajak Gita Durma adalah satu dari dua sajak WS Rendra yang ditulis untuk
Hariman Siregar. Sajak Gita Durma dibacakan pertama kali di depan publik oleh
WS Rendra dalam acara Temu Sastra di Teater Arena Taman Ismail Marzuki,
16 Desember 1982.

~iii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind3 3 3/26/10 6:54:48 PM


Imran Hasibuan (eds.)
Hariman & Malari
Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing, Cet.1.
Jakarta : Q Communication, 2011
432 halaman ; 18 x 25 cm
ISBN 978-979-26-6213-9
1.Sejarah I. Judul
II. Malari, Hariman

Hariman & Malari


Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing

Editor : Amir Husin Daulay & Imran Hasibuan


Tim Penulis : Imran Hasibuan
Airlambang
Yosef Rizal

Pewawancara : Saptono, M. Abriyanto, Rama Siregar,


Zainal, Acik Munasik, Toni Listianto
Fotografer/Riset Foto : Bodi CH/ Robby Surya
Penyunting Bahasa : Poerwadi Djunaedi
Desain Grafis : Arief Cepu

Hak cipta dilindungi Undang-Undang


Diterbitkan oleh Q Communication, Jakarta

Cetakan Pertama, 2011

~ iv ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind4 4 3/26/10 6:54:48 PM


Daftar Isi
Prakata Editor ix
Prolog-Max Lane 1

Drama Kehidupan Hariman Siregar 11


Episode 1. Masa Terkelam 13
Episode 2. Metamorfosis Seorang Aktivis Mahasiswa 21
Episode 3. Jalan Menuju Malari 37
Episode 4. Ditengah Pusaran Peristiwa Malari 55
Episode 5. Pengadilan dan Penjara 71
Episode 6. Menjaga Ruh Gerakan Mahasiswa 77
Episode 7. Dalam Lingkaran Kekuasaan 101
Episode 8. Mengawal Transisi Demokrasi 109
Episode 9. Meluruskan Jalan Demokrasi 121
Galeri Foto 133

Mereka Bicara Hariman 151
a Siti Noor Rachma 153
a WS Rendra 158
a Sjahrir 164
a Prof. Dr. Mahar Mardjono (alm.) 170
a Jenderal Soemitro (alm.) 173
a Jenderal A.H. Nasution (alm.) 182
a Ali Sadikin (alm.) 185
a Poncke Princen (alm.) 188
a Adnan Buyung Nasution 192
a A. Rahman Tolleng 195

~v ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind5 5 3/26/10 6:54:49 PM


a Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti 199
a Junus Effendi Habibie 213
a Cosmas Batubara 216
a Akbar Tandjung 219
a Soegeng Sarjadi 222
a Prof. Dr. Anwar Nasution 226
a KH Prof. Dr. Ali Yafie 230
a KH Cholil Badawi 232
a Habib Husein Al Habsy 236
a Andi Mapetahang Fatwa 239
a Komjen Pol. (Purn) Noegroho Djajoesman 243
a Jenderal (Purn) Luhut Panjaitan 245
a Letjen (Purn) Syamsir Siregar 248
a Jenderal TNI (Purn.) Tyasno Sudarto 250
a Letjen (Purn) Zacky Anwar Makarim 253
a Didi Dawis 256
a Gurmilang Kartasasmita 259
a Sylvia Tiwon 265
a Jopie Lasut 268
a Theo L. Sambuaga 274
a Judilherry Justam 280
a Eko Sudjatmiko 285
a Amir Hamzah 288
a Salim Hutajulu 294
a Rauf Arumsah 299
a Pollycarpus da Lopez 304
a Todung Mulya Lubis 311
a Christine Hakim 316
a Komaruddin 319
a Ahmad Fuad Afdal 323
a Fuad Bawazier 326
a Jusman Syafii Djamal 329
a Rizal Ramli 332

~ vi ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind6 6 3/26/10 6:54:49 PM


a Prof. Dr. Akmal Taher 336
a Eggi Sudjana 338
a Burzah Zarnubi 341
a Syahganda Nainggolan 344
a Jumhur Hidayat 347
a Trimedya Pandjaitan 350
a Sukardi Rinakit 352
a Danial Indra Kusuma 354
a Max R. Lane 359
a Mulyana Wira Kusumah 363
a Fahri Hamzah 367
a Maiyasak Johan 371
a Amir Husin Daulay 373

Senarai Pemikiran Hariman Siregar 378


Gerakan Pemuda Mahasiswa 1970-an 381
Idealisme Arus Bawah di Indonesia 387
Mengorganisir Rakyat Menentang Regimentasi 390
Format Perjuangan Intelektual 395
Gerakan Mahasiswa & Nilai Universal
Perguruan Tinggi 398
Transisi Kedua Membayangi Pemilu 2004 408
Setelah Krisis Amerika Kita Mau Apa? 412
Pemilu dan Kredibilitas Partai Politik 415

Indeks 418
Tentang Editor 432

~ vii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind7 7 3/26/10 6:54:50 PM


Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban
kita adalah membebaskan rakyat dari penderitaan hidup sehari-
hari. Beban kita adalah membuat rakyat yang menganggur
untuk mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan
ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita
adalah mengetatkan gandengan dengan sesama generasi muda
memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban
sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk
menyuarakan diri. Semua itu adalah beban yang tidak ringan—
untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun pada akhirnya
berat atau ringan beban itu tetap merupakan beban kita. Sekali
kita mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga
negara yang dikutuk sejarah. Tetapi yang terpenting bagi kita
adalah menghentikan kebisuan yang ditimbulkan oleh himbauan
kenikmatan yang dijanji-janjikan kepada kita. Dan juga
kebisuan akibat feodalisme yang mementingkan sikap nrimo,
apatis dan antipartisipasi. Artinya, kita harus membebaskan diri
dari mitos-mitos yang menempatkan diri kita dalam posisi bisu
dan terbelenggu.

Petikan Pidato yang dibacakan Hariman Siregar saat acara


Malam Keprihatinan, 31 Desember 1973.

~ viii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind8 8 3/26/10 6:54:50 PM


Prakata Editor

“... Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh/Hidup adalah untuk


mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit dan samudra/
serta mencipta dan mengukir dunia/Kita menyandang tugas/kerna tugas adalah
tugas/Bukannya demi surga atau neraka/Tetapi demi kehormatan seorang
manusia//Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu/meski kita telah reyot, tua
renta dan kelabu/Kita adalah kepribadian/dan harga kita adalah kehormatan
kita/Tolehlah lagi ke belakang/ke masa silam yang tak seorang pun kuasa
menghapusnya....”

S
emangat yang ada dalam petikan salah
satu puisi penyair besar Indonesia, WS Rendra, di
atas tampaknya tepat benar untuk menggambarkan
sikap Hariman Siregar dalam menjalani kehidupan.
Bukan sengaja dipas-paskan, tapi memang begitulah
adanya kalau kita membaca catatan sejarah,
penuturan kawan dekatnya, pandangan orang-orang
yang sempat berkenalan dengannya, termasuk dari
orang-orang yang berseberangan sikap politiknya
dengan Hariman, dan juga dari kisah yang disampaikan Hariman Siregar
sendiri dalam berbagai kesempatan.
Rendra sendiri sempat menulis dua puisi khusus untuk Hariman, tapi
bukan yang dikutip di atas. Dari sini saja sebenarnya bisa dilihat betapa Hariman
sebagai suatu kepribadian memiliki pesona, yang mampu mendatangkan
inspirasi bagi penyair sekaliber Rendra. Dan, pesona itu juga dirasakan oleh
banyak orang, terutama oleh para aktivis pergerakan penentang pemerintahan
yang zalim, korup, dan tidak berpihak kepada rakyat kecil.

~ ix ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind9 9 3/26/10 6:54:51 PM


Tentu saja, pesona itu bukan sesuatu yang datang begitu saja dari langit,
given. Tapi, hadir meraga sukma ke dalam diri Hariman karena aktivitasnya
dalam “mengolah hidup/bekerja membalik tanah/memasuki rahasia langit
dan samudra/serta mencipta dan mengukir dunia”. Dan, semua itu dilakukan
Hariman bukan hanya dalam beberapa fase dalam hidupnya, terutama fase
yang membuat namanya menjadi bahan perbincangan banyak orang di Tanah
Air dan juga dunia internasional. Tapi, sampai sekarang, di usianya yang
sudah berkepala enam, Hariman masih setia memperjuangkan cita-citanya
untuk mencapai kehidupan demokrasi yang lebih baik di Indonesia dan
memperbaiki sistem politik, yang ia yakini akan berimbas pada meningkatnya
taraf kesejahteraan rakyat, terutama dari golongan rakyat jelata. Dan, sampai
sekarang pun Hariman tidak bergeser keyakinannya bahwa salah satu agen
perubahan sosial-politik yang memegang peran penting untuk mewujudkan
cita-cita itu adalah: mahasiswa.
Memang, dalam pergaulan politik nasional, Hariman Siregar dikenal
luas sebagai tokoh sentral gerakan mahasiswa pada tahun 1973-1974 yang
menentang strategi pembangunan yang dijalankan rezim Jenderal Soeharto,
yang kemudian dikenal sebagai Peristiwa Malari 1974. Hariman adalah ikon
Peristiwa Malari. Dan Peristiwa Malari sendiri merupakan tonggak penting
dalam gerakan perlawanan mahasiswa dan rakyat Indonesia terhadap kekuasaan
rezim Orde Baru dan belitan modal asing dalam strategi pembangunan negeri
ini. Demi menyegarkan kembali ingatan terhadap ikon dan tonggak penting
gerakan perlawanan mahasiswa itulah buku ini kami beri judul Hariman &
Malari: Gelombang Aksi Mahasiswa Menentang Modal Asing.
Meskipun, buku ini tak melulu berkisah tentang Hariman dan Malari.
Sebab pasca-Peristiwa Malari pun, Hariman terus aktif bergerak dalam pentas
perpolitikan nasional. Meski tak penah masuk dalam partai politik mana
pun, jejak Hariman tetap terasa dalam berbagai episode sejarah perpolitikan
Indonesia. Mengapa bisa begitu? Bisa jadi, hal itu dikarenakan rentang pergaulan
politik Hariman Siregar yang sedemikian luas. Hampir tidak ada kalangan yang
tak tersentuh pergaulan politiknya: mulai aktivis mahasiswa, penggiat lembaga
swadaya masyarakat, militer, birokrasi pemerintah, pengusaha, seniman,
sampai pemuka agama. Singkat kata, jaringan sosial-politik yang luas itulah
salah satu kekuatan utama seorang Hariman Siregar.
Sebagai aktivis politik, Hariman selalu bersikap kritis terhadap situasi
perpolitikan negeri ini. Dan sikap itu tak hanya berhenti pada ucapan saja, tapi
juga dimanifestasikan dalam gerakan politik yang terbuka. Salah satu gerakan
kritis itu adalah saat Hariman menggalang dan memimpin “Pawai Rakyat Cabut
Mandat”, tanggal 15 Januari 2007, di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Aksi
~x~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind10 10 3/26/10 6:54:51 PM


ini merupakan simbol ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah. Aksi
tersebut diikuti sejumlah tokoh yang tergabung dalam Indonesian Democracy
Monitor (INDEMO) serta 52 elemen masyarakat, antara lain aktivis tahun 1974,
aktivis mahasiswa, buruh, nelayan, dan etnis Tionghoa. Ada 124 mobil pikap
ikut dalam pawai tersebut. “Kami sengaja menggelar dialog jalanan karena
kami tetap memegang tradisi bahwa, kalau saluran resmi kami anggap tidak
berfungsi, masyarakat harus berani menyatakan keinginannya,” kata Hariman
Siregar. Menurut Hariman, pemerintah SBY-JK tidak bisa menjalankan mandat
yang diberikan rakyat. “Kami merasa tidak puas dan kecewa. Maka, mandat
(Presiden SBY) itu harus dicabut,” ujarnya dengan berapi-api.
Ia juga kerap mengkritik proses reformasi yang telah berjalan lebih dari
sepuluh tahun tapi substansi dan arahnya tak jelas. “Bahkan, bisnis dan modal
semakin menelikung demokrasi menjadi sekadar transaksi bisnis dan politis,
yang kian jauh dari amanat rakyat,” kata Hariman, pertengahan Januari 2010.
Hariman menegaskan, demokrasi kita tidak memiliki visi-misi dan
program yang jelas untuk memberdayakan rakyat dan menyejahterakan
rakyat,sementara institusi-institusi politik dan negara nyaris bangkrut semua
dalam menegakkan kemaslahatan rakyat. “Anomali demokrasi ini sampai
kapan? Orang sudah mulai berbicara mengenai perlunya meninjau kembali
pelaksanaan demokrasi parlementer selama ini,” ujarnya. Hariman selalu
mengingatkan, kekuatan rakyat sebagai masyarakat sipil di luar institusi formal
tetap diperlukan untuk checks and balances agar demokrasi bisa berkualitas
dan substantif dalam melayani kepentingan rakyat.
Konsistensi Hariman tersebut tentunya sangat berharga untuk bahan
pembelajaran bagi para generasi baru aktivis politik negeri ini. Sebuah
dokumentasi tertulis tentang seorang aktivis yang senantiasa beroposisi—dan
tak menggunakan peluang bagi dirinya sendiri ketika sempat dekat dengan
kekuasaan masa Presiden B.J. Habibie--, seorang intelektual, seorang dokter,
seorang yang percaya kekuasaan tak bisa selamanya manipulatif. Akan selalu
hadir kelompok-kelompok yang mencoba mengoreksi kekuasaan, terutama
kalangan pemuda dan mahasiswa.
Itulah sebabnya, kami meminta Hariman agar berkenan memberi
kehormatan kepada kami untuk merekam jejak-langkah dan gagasan-
gagasannya tentang masalah-masalah negara-bangsa ini. Dan, sungguh
menggembirakan, ia menyetujui dan berkenan menceritakan banyak hal
dalam hidupnya, termasuk juga membantu kami menghubungi orang-orang
yang bisa kami jadikan narasumber untuk melengkapi kisahnya. Karena itu,
boleh dibilang, inilah buku pertama tentang Hariman Siregar yang cukup
komprehensif, karena ditulis dengan memanfaatkan berbagai literatur dan
~ xi ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind11 11 3/26/10 6:54:51 PM


mewawancarai sejumlah narasumber.
Lewat sosok Hariman, buku ini berupaya merekam sejarah politik
Indonesia sejak awal 1970-an hingga pascareformasi. Kami berupaya agar
buku ini juga dapat mengungkap berbagai sisi manusiawi dari Hariman—yang
tampak luarnya dikenal sebagai tokoh yang garang belaka kepada kekuasaan.
Pada akhirnya, ada sisi “biasa” dan “sehari-hari” dari tokoh besar mana pun.
Dan buku ini turut menghadirkan wajah “nonpolitis” Hariman dan catatan
tentang perasaannya pada berbagai peristiwa, baik peristiwa penting bagi
politik Indonesia maupun pergaulannya dengan kawan-kawannya, tentang
kenakalannya semasa remaja dan kesetiakawanan yang menjadi benang merah
dari gambaran umum tentang sosoknya.
Bisa jadi, berbagai kisah yang terpapar dalam buku ini telah diketahui
banyak orang lewat berbagai obrolan Hariman dan kawan-kawannya. Begitu
pula kesaksian kawan dan koleganya tentang Hariman, mungkin pernah pula
dituturkan dalam berbagai pembicaraan. Tapi, merupakan kebanggaan bagi
kami, bisa mendokumentasikan berbagai kisah dan kesaksian dalam buku ini.
Harapan kami kisah itu bisa berguna bagi khalayak pembaca, apapun bentuk
kemanfaatannya. Tapi, jika pun dalam penulisan berbagai kisah dan kesaksian
itu ada kekeliruan, kami tentunya terbuka untuk dikoreksi.
Akhirnya, kami perlu mengucapkan terima kasih kepada Hariman
Siregar dan berbagai pihak yang telah membantu penulisan dan penerbitan
buku ini, yang tak mungkin kami tuliskan namanya satu per satu. Dan, tentu
saja, bila ada kekurangan dan kesalahan dalam buku ini, sepenuhnya menjadi
tanggungjawab kami.

Jakarta, Januari 2011

Amir Husin Daulay


Imran Hasibuan

~ xii ~

Buku Hariman Dafis 18x25 Fix.ind12 12 3/26/10 6:54:52 PM


Prolog

Prolog
Max Lane

P engambilalihan kekuasaan oleh Jenderal Soe­


harto dan Orde Baru pada tahun 1965-1968 merupakan
peristiwa luar biasa dalam perjalanan sejarah bangsa
Indonesia sejak diproklamasikan sebagai nasion dan
negara merdeka tahun 1945. Sekali pukul, se­luruh
kehidupan kebudayaan, politik, dan ekonomi di­
putarbalikkan. Indonesia “didirikan kembali” dengan
suatu paket nilai baru, yang meninggalkan sepenuhnya
paket nilai-nilai revolusioner dari perjuangan kemerdekaan. Menyembah kekuasaan
dengan budaya gila hormat, dan menyembah kekayaan dengan budaya mata duitan
menjadi definisi “keindonesiaan” baru.
“Indonesia” yang baru ini berkuasa sampai sekarang, meski bentuk
pemerintahan kediktatoran yang menjaganya selama 32 tahun sudah dijatuhkan.
Sekarang digulirkan tidak lagi dengan kediktatoran, tapi lewat kombinasi menyuap
sebagian rakyat dengan hidangan hiburan di TV dan lain-lain dan kesibukan
pemilihan-pemilihan umum langsung, walau tanpa pilihan yang menarik. Tapi,
mungkin, faktor yang paling berperan membuat elite politik merasa aman adalah
belum munculnya secara matang sebuah pilihan politik yang meyakinkan buat
rakyat banyak, rakyat miskin.
Sebenarnya embrio-embrio alternatif dengan ide dan ideologi alternatifnya
ada dan pasti sedang dalam proses menuju lahir serta akan tumbuh. Selama Orde
Baru, perlawanan pertama—yang juga merupakan “rupture” (keputus-sambungan)
dengan Orde Baru—terjadi pada tahun 1973 dan awal 1974. Pada periode itu
muncul sebuah gerakan perlawanan terhadap kekuasaan yang bukan saja hampir
berhasil menjatuhkan Soeharto, tapi juga sekaligus mendirikan kerangka pemikiran
alternatif yang masih berlangsung sampai sekarang.

~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 1 3/26/10 7:20:30 PM


Hariman & Malari
Embrio-embrio alternatif yang sedang bertumbuhan di masyarakat tidak
mungkin akan berkembang kecuali jika kembali mempelajari secara serius
pengalaman para pendobrak tahun 1973-1974. Memahami sejarah adalah sebuah
senjata politik yang ampuh. Dan gerakan perubahan tahun 1973-1974 merupakan
satu dari hanya dua atau tiga peristiwa politik paling penting selama Orde Baru.
Sedikit sekali pengupasan ilmiah oleh kaum akademisi tentang gerakan 1973-
1974 ini. Juga di kalangan aktivis, terlalu sedikit dipelajari dan dianalisis. Salah satu
sebab dari keadaan ini, saya kira, ialah karena gerakan 1973-1974 itu gagal merebut
kekuasaan. Karena, mental yang dominan adalah “yang penting langsung merebut
kekuasaan”, tanpa adanya kesadaran bahwa itu semua proses historis. Akibatnya,
gerakan 1973-1974 ini dianggap tidak penting untuk dipelajari.
Dalam esai pendek ini saya mau menjelaskan, meski gerakan itu tidak berhasil
merebut kekuasaan pada Januari 1974, dalam hal lain—dan hal sangat penting
pula—gerakan 1973-1974 yang berkembang dipimpin oleh Dewan Mahasiswa UI
serta ketuanya, Hariman Siregar, sebenarnya berhasil.

Lima Sifat Keputus-sambungan Gerakan 1973-1974


Tahun 1965-1968 merupakan keputus-sambungan dengan periode revolusi
nasional Indonesia yang berlangsung sejak berdirinya Sarekat Dagang Islam
sampai 29 September 1965, dengan segala kehebatannya dan kontradiksinya.
Periode 1965-1972 merupakan, dalam pandangan saya, periode kontrarevolusi.
Semua yang diperjuangkan sejak periode “zaman bergerak” tahun 1920-an sampai
1965 dihancurkan dan dibasmi. Kekuasaan kontrarevolusioner sebenarnya ber­
kuasa sampai sekarang (2010), tapi masa jayanya adalah tahun 1965-1972—pada
periode ini tak ada keretakan dalam dominasinya di segala bidang. Dominasi
ini yang sebenarnya dipatahkan oleh gerakan 1973-1974. Kalau 1965-1968 me­
mutuskan sambungan dengan revolusi nasional, 1973-1974 meretakkan do­minasi
kontrarevolusi 1965-1972 dan ini merupakan sebuah keputus-sambungan lain
lagi. Kontrarevolusi tetap berkuasa, tapi juga embrio masa depan Indonesia yang
sebenarnya juga sudah diciptakan oleh gerakan tersebut.
Ada beberapa sifat daripada keputus-sambungan gerakan 1973-1974 ini.
Pertama, gerakan ini kembali ke tradisi machtvorming di jalan dengan mengorganisasi
demonstrasi-demonstrasi turun ke jalan. Meskipun belum ada usaha mengorganisasi
sektor selain mahasiswa, gerakan tetap mengambil panggung dan bicara ke sektor-
sektor selain mahasiswa. Buruh, rakyat miskin kota, dan orang desa pun tahu, kira-
kira, apa yang sedang dibicarakan oleh “mahasiswa”. Suara mahasiswa tersebar
lewat media massa. Juga dibantu dengan munculnya penyair gerakan 1973-1974,
Rendra. Sifat turun ke jalan ini—melakukan aksi—tercermin baik dalam aksi-
aksi kecil oleh berbagai komite yang muncul maupun oleh kegiatan-kegiatan
yang diselenggarakan Dewan Mahaiswa Universitas Indonesia, yang memelopori
kebangkitan gerakan ini, apalagi menjelang puncaknya pada Desember 1973-
~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 2 3/26/10 7:20:30 PM


Prolog
Januari 1974.
Kedua, gerakan ini menolak menghormati atau bersikap sopan di depan
kekuasaan. Sebenarnya, sebelum 1973 juga ada beberapa protes dan kritik terhadap
korupsi. Bahkan juga sudah ada delegasi mahasiswa bertemu dengan Presiden
Soeharto. Tapi, gayanya selalu sopan sekali terhadap Pak Harto dan juga terhadap
tentara. Kewibawaan moral Soeharto dihormati dan diterima. Legitimasi yang
dimajukan adalah legitimasi “mau membantu pemerintah dengan kritik”.
Beda halnya dengan gaya perlawanan gerakan 1973, yang tidak memberi
penghormatan sama sekali kepada kekuasaan. Kekuasaan tidak lagi dilihat sebagai
suatu kekuatan yang harus dibantu dengan mengoreksinya. Watak kekuasaan memang
digambarkan oleh mahasiswa 1973 sebagai kekuasaan kontrarevolusioner—meski
istilah ini tak dikenal generasi 1973-1974. Dalam pidato malam keprihatinannya,
Hariman Siregar menggambarkan kekuasaan yang tumbuh di bawah Soeharto pada
saat itu sebagai berikut.
“Setelah secara moral dan konstitusional Jenderal Soeharto menjadi presiden
di negeri ini, pembangunan ekonomi telah dijadikan alat legitimasi kekuasaan dan
mitos baru yang banyak menimbulkan harapan. Tetapi, ternyata, perkembangan
ekonomi telah menolak kemauan penguasa untuk menjadikan pembangunan
ekonomi sebagai alat legitimasi kekuasaan dan mitos politik semata-mata.…. Sikap
penguasa yang demikian itu akan selalu menghasilkan keputusan-keputusan yang
hanya menguntungkan kelompok yang ada di sekitar kekuasaan.”
Dalam pidato 31 Desember 1973 itu, Hariman Siregar sudah menyatakan
dengan jelas watak kekuasaan yang sedang berlangsung saat itu. Hubungan
kekuasaan dengan rakyat banyak juga sangat jelas dikemukakan.
“… kelompok kecil sekitar kekuasaan… terang berkepentingan untuk
mempertahankan keadaan dengan segala macam peralatan dan cara dalam politik.
Rakyat dengan demikian akan terus-menerus menjadi pelengkap penderita yang
dipaksa untuk diam dan tidak berdaya.”
Sikap penolakan terhadap kekuasaan juga tercerminkan dengan gaya
aksi yang sering dijalankan dan dengan sikap kepimpinan Dewan Mahasiswa
UI serta kelantangan pimpinannya, terutama ketua umumnya, Hariman Siregar.
Gaya menyindir tentara dan menolak sopan kepada kekuasaan berbeda sangat
tajam dengan gaya protes-protes 1970-1972. Gaya menyindir dan menolak ini
juga memelopori dan menciptakan suasana yang membuka kemungkinan untuk
memunculkan drama yang menjadikan pemerintah sebagai bahan lelucon oleh
penyair gerakan 1970-an, Rendra. Misalnya dalam “Kisah Perjuangan Suku Naga”,
yang menggambarkan kekuasaan sebagai aliansai kekuatan feodal rakus (Sri Ratu),
militer (Kolonel Serenggi), modal Amerika (Big Boss), dan pemerintah Amerika
(Mr. Joe), dengan didukung oleh sebuah kur “yes men”, anggota DPR. Tanpa
keberanian untuk bersikap tak sopan yang dilakukln gerakan 1973-1974, sindirian
seperti itu masih akan sulit diterima.
~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 3 3/26/10 7:20:31 PM


Hariman & Malari
Ketiga, gerakan 1973-1974 ini yang bersikap menolak kekuasaan sekaligus
juga memutuskan diri dari sikap gerakan sebagai sekadar gerakan “moral”, dengan
terjun ke politik yang riil. Hal ini, sayangnya, sering dianggap sifat negatif dari
gerakan 1973-1974 dan ada kemungkinan anggapan ini juga merupakan sebuah faktor
yang mengakibatkan generasi aktivis berikutnya kurang mempelajari pengalaman
gerakan 1973-197i. Dalam perkembangannya, pada gerakan perlawanan ini selama
tahun 1973 mulai terlihat adanya sinkronisasi gerakan mahasiswa dengan manuver-
manuver politik Jenderal Soemitro, Panglima Kopkamtib.
Jenderal Soemitro mengumumkan bahwa tahun 1974 akan diselenggarakan
“pola kepimpinan baru”. Soemitro berkunjung ke Pulau Buru dan berjanji akan
membebaskan tahanan politik di sana. Soemitro juga mulai bertemu dengan
mahasiswa, termasuk dengan Hariman Siregar. Rendra juga bertemu dengan
Soemitro di Istana Kepresidenan di Yogyakarta. Semua ini berjalan terbuka se­
hingga seluruh masyarakat mulai membaca bahwa gerakan mulai berkembang,
bukan hanya sebagai suara yang meminta kekuasaan mengoreksi diri, tapi dengan
dinamika penggantian pemerintahan.
Dalam banyak percakapan dengan aktivis-aktivis, baik pada tahun 1970-
an, 1980-an, maupun 1990-an, aliansi de facto antara gerakan pemimpin Dewan
Mahasiswa UI dan Jenderal Soemitro ini sering dilihat sebagai suatu penodaan,
bersekutu dengan elite dan militer pula. Tapi, perjuangan perubahan adalah sebuah
usaha serius—dan akan mandul kalau tidak serius—memikirkan kesempatan-
kesempatan perbaikan situasi di tingkat pemerintahan. Sikap gerakan untuk
menghitung kemungkinan keretakan di dalam kekuasaan bisa menciptakan kondisi
pemerintahaan baru yang menguntungkan perjuangan demokrasi, biar sedikitpun.
Itu merupakan kemajuan dalam kesadaran melawan dan juga sebuah keputus-
sambungan lagi dengan protes-protes 1970-1972.
Adalah menarik juga untuk mengamati sikap penyair gerakan 1973-1974,
Rendra, dalam hal ini. Pada tahun 1973, Rendra mementaskan drama “Mastadon
dan Burung Kondor”. Drama ini, yang ditonton ribuan orang pada akhir tahun
1973, juga ikut meramaikan suasana melawan kekuasaan pada saat itu. Dramanya
menceritakan pemberontakan mahasiswa dan penyair terhadap sebuah kekuasaan
militer yang menindas rakyat miskin. Drama ini juga memberi peringatan kepada
mahasiswa untuk jangan main mata dan melakukan revolusi bersama tentara karena
akan melahirkan kekuasaan represif baru.
Dua tahun kemudian, Rendra mementaskan drama lagi, “Kisah Perjuangan
Suku Naga”. Pada saat ini, Hariman Siregar, Sjahrir, dan Aini Chalid masih
dipenjara. Drama ini menggambarkan perlawanan rakyat terhadap kekuasaan,
tapi masih merupakan perlawanan kata-kata. Baru dengan pementasan lakon yang
disadur dari karya Schiller, “Perampok”, Rendra bahkan menggambarkan kebutuhan
pemberontakan secara fisik, termasuk pemberontakan bersenjata. Pada momen itu,
simbol pemberontakan di mata Rendra pindah dari si “empu” kepada “warok”.
Sebenarnya gerakan 1973-1974 sudah sejak awal berjiwa “warok”: konfrontatif dan
~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 4 3/26/10 7:20:31 PM


Prolog
meledek kekuasaan serta mau mencapai perubahaan kekuasaan yang riil—bukan
revolusi, tapi sebuah perubahan yang juga berjalan di tingkat pemerintahan.
Sinkronisasi gerakan mahasiswa dengan manuver-manuver Jenderal
Soemitro memang gagal melahirkan pemerintahan baru. Di pihak Jenderal
Soemitro, dia rupanya kalah akal dan kalah tegas dengan kubu Soeharto dan Ali
Moertopo. Di pihak gerakan mahasiswa, kelemahannya ialah, meski sudah bicara
kepada masyarakat dan massa, belum berusaha mengorganisasi dan memimpin
masyarakat dan massa: belum ada strategi untuk membangun “movement” sejati,
yaitu movement yang multi-sektor.
Ini sebenarnya tidak mengherankan. Selama tahun 1965-1973, semua diskusi
tentang gerakan massa hilang dari perbincangan politik nasional dengan jayanya
konsep “floating mass”. Selain itu, sebagian besar pimpinan mahasiswa datang dari
latar belakang keluarga Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Majelis Sjuro Muslimin
Indonesia (Masjumi) lewat Himpunan Mahasiswa Islam yang alergi terhadap konsep
“gerakan aksi massa” karena konsep itu terlalu teridentifikasikan dengan Soekarno
dan Partai Komunis Indonesia (PKI), yang merupakan musuh lima dekade dari dua
aliran itu.
Sampai sekarang pun, perbincangan tentang apa itu dan bagaimana
membangun sebuah “movement” masih lemah. Tahun 1980-an terkuasai oleh
advokasi “civil society”, sesuatu yang masih kuat sampai sekarang. Pada tahun
2010 saja kesadaran tentang “movement” masih lemah, meskipun sejak tahun 1990-
an sudah ada kelompok yang mulai sadar tentang pentingnya “movement”—bukan
hanya lembaga swadaya masyarakat, tapi dibutuhkan gerakan. Pada 1973, politik
riil-nya masih belum sempat meluas ke sektor-sektor massa, terbatas pada sektor
mahasiwa dan intervensi ke dalam keretakan kekuasaan itu sendiri.
Keempat, gerakan 1973-1974 adalah gerakan pertama sejak sebelum tahun
1973 yang mengangkat (kembali) isu ketergantungan pada kekuatan ekonomi asing
(modal besar Amerika dan Jepang). Dalam pidatonya pada malam 31 Desember
1973, Hariman Siregar mengungkapkan analisisnya.
“Masalah saling ketergantungan [antarbangsa] terutama pada tingkat per­
adaban manusia sekarang adalah masalah yang tak bisa dihindarkan. Akan tetapi
sudah barang tentu saling ketergantungan ini meminta persyaratan-persyaratan.
Persyaratan utama adalah seberapa jauhkah ia membawa pihak-pihak yang terlibat
harus menjaga kemampuan kondisi dalam negerinya sendiri, agar mendapatkan
posisi yang sederadjat.”
Dalam menggambarkan situasi konkretnya, dia meneruskan dengan meng­
gambarkan bahwa perekonomian negara pada waktu itu ditopang lima sektor.
“Pertama adalah bantuan luar negeri; kedua modal asing; ketiga ekspor karet;
keempat, minyak bumi, dan; kelima adalah kayu. Sedangkan kita ketahui bahwa
peningkatan hasil-hasil karet, minyak bumi, dan kayu pun tidak mungkin tanpa

~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 5 3/26/10 7:20:31 PM


Hariman & Malari

Peristiwa Malari 1974.

ditunjang oleh sumber-sumber luar tadi. Dengan ini jelaslah betapa memang batuan
luar negeri dan modal asing merupakan faktor pokok dalam perekonomian negara,
dan bukan faktor pelengkap sebagaimana sering kali dikemukan oleh para pejabat.
Betapapun memang ada kenaikan dari hasil ekspor kita secara keseluruhan, akan
tetapi ketergantungan tadi tetap faktor pokok, yang jelas dipertunjukkan misalnya
oleh kenaikan-kenaikan pinjaman lewat IGGI.”

~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 6 3/26/10 7:20:32 PM


Prolog
Pada tahun 1973, modal besar Jepang serta pinjaman lewat forum pemerintah-
pemerintah Barat, Jepang, serta Bank Dunia di IGGI yang paling berpengaruh.
Dalam pidatonya tahun 1973, Hariman Siregar dengan sendirinya lebih fokus pada
pengaruh Jepang.
Kritik terhadap tidak terpenuhinya persyaratan dalam perekonomian negara
seperti yang diuraikan di atas dan ketergantungan yang tidak menguntungkan rakyat
miskin merupakan juga sebuah keputus-sambungan dengan protes-protes tahun
1968-1972, yang fokus pada korupsi dan kemewahan saja. Ironisnya, terangkatnya
isu ini sangat mengingatkan kita kembali tentang sikap anti-nekolim yang disuarkan
gerakan soekanois dan gerakan komunis sebelum tahun 1965.
Kritik terhadap ketergantungan pada modal asing muncul lagi pada tahun
1978 ketika gerakan mahasiswa bangkit kembali, masih di bawah pengaruh pimpinan
gerakan 1973. Kemudian pada tahun 2000 ke atas muncul kritik terhadap “neo-
liberalisme” sebagai bentuk penjajahan kepentingan modal besar terhdap Indonesia
oleh kekuatan di luar Indonesia. Sementara ini, kritik-kritik terakhir itu merupakan
perkembangan lebih maju daripada tahun 1973 sekaligus sebuah kelemahan besar
dibanding gerakan tahun 1973.
Kemajuannya, mulai ada suara—biasanya oleh kaum aktivis golongan
radikal—untuk menuntut nasionalisasi sektor-sektor vital ekonomi dan di bawah
kontrol rakyat pula—sebagai pernyataan kalau dinasionalisasi jangan sampai dikorup
atau disalahgunakan. Kelemahannya, kritik terhadap ketergantungan ekonomi ini
belum disertai sebuah perdebatan serius tentang strategi ekonomi secara keseluruah,
selain ide “nasional harus dapat porsi lebih besar”—atau meminjam istilah dari
aktivis demokrasi dan keadilan sosial: rakyat harus dapat porsi lebih besar.
Kelima, gerakan 1973 disertai, disusul, dan mendorong sebuah diskusi serius
tentang strategi pembangunan alternatif. Ini pasti salah satu pengaruh dari adanya
interaksi pemikiran antara Profesor Sarbini Soemawinata dan pemimpin-pemimpin
gerakan, termasuk Hariman Siregar. Keterlibatan ekonom muda Sjahrir juga sebuah
cerminan dari hal ini.
Pemikiran-pemikiran ekonomi alternatif yang dicetuskan Profesor Sarbini
jauh lebih luas daripada hanya mempermasalahkan aspek “nasionalis”. Membereskan
tidak adanya persyaratan yang dibutuhkan dalam ketergantungan antarbangsa juga
dilihat sebagai masalah dalam menyusun kekuatan ekonomi dalam negeri, dengan
kebijakan yang lebih memprioritaskan peningkatan produktivitas tenaga kerja
dalam negeri. Sebenarnya, perdebatan ini sebagai bagian dari gerakan 1973-1974
tak sempat berkembang, meskipun juga ada sesi-sesi sidang pengadilan Hariman
Siregar dan Sjahrir yang juga mendiskusikan ide-idenya tentang ekonomi.
Dengan gerakan yang direpresi pada Januari 1974, ruang untuk mengam­
panyekan pemikiran ekonomi alternatif ini tidak sempat berkembang sebagai
bagian dari gerakan. Tapi, ternyata, selama sisa dekade 1970-an dan masuk
1980-an, berbagai isu yang berkaitan dengan pembangunan pedesaan, penerapan
~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 7 3/26/10 7:20:33 PM


Hariman & Malari
teknologi tepat guna dan padat karya, serta soal distribusi kemakmuran dan
lain-lain sempat terus mengalir dalam terbitan-terbitan seperti majalah Prisma.
Sulit untuk membayangkan sebuah majalah Prisma bisa muncul kecuali adanya
perdebatan soal strategi pembangunan yang dibuka terlebih dulu oleh gerakan
1973. Tidak mengherankan jika cukup banyak orang yang terlibat dengan Prisma
juga tadinya menjadi bagian dari gerakan 1973, seperti juga salah satu editornya
yang berpengaruh, Daniel Dhakidae, yang aktif di Yogyakarta pada tahun 1973 dan
dekat dengan aktivis-aktivis 1973-1974 di Jakarta.
Perbincangan dan penulisan tentang strategi ekonomi tersebut agak unik
selama sejarah Indonesia merdeka. Masalahnya bukan tidak ada diskusi dan
analisis ekonomi yang serius di masa sebelum 1965. Bahkan, di masa 1960-1965
sebenarnya banyak tulisan dan analisis menarik. Tapi, pada masa itu, seluruh dunia
politik tergerakkan oleh pertanyaan “kekuatan mana yang akan kekuasa dan ke
arah mana negeri akan berkembang”. Dalam suasana pertarungan yang sedemikian
tajam, perdebatan tentang bagaimana penerapan sebuah strategi ekonomi—apa itu
sosialis atau kapitalis—tak sempat menjadi polemik utama. Polemik utamanya ialah:
kapitalis atau sosialis; Soekarno dan PKI atau bukan. Meskipun perdebatan yang
dibuka oleh gerakan 1973 dan oleh Profesor Sarbini mengandung bibit kontradiksi
sosialis atau kapitalis, pada saat 1973 tidak ada kekuatan politik pro-sosialis yang
mengancam. Pikiran alternatif sempat mendapatkan pengikut selama 1970-an dan
1980-an tanpa dianggap komunis atau sosialis. Selama periode itu, banyak sekali
artikel dan ide keluar yang memperkaya medan diskusi ekonomi. Tapi, proses itu
berakhir dengan munculnya ilusi bahwa industrialisi berhasil pada tahun 1980-
an dengan pertumbuhan sektor manufaktur di Indonesia, tanpa mencatat bahwa
pertumbuhan industri berat dan sedang hampir tidak ada.

*****
Gerakan 1973-1974, dengan pusatnya di Jakarta di bawah pimpinan Dewan
Mahasiswa UI—dengan medan kegiatan cukup kuat di Yogyakarta dan kota lain—
merupakan awal proses jatuhnya Orde Baru. Kelima sifat gerakan yang diuraikan di
atas merupakan komponen-komponen penting dari proses berkembangnya gerakan-
gerakan yang pada akhirnya menumbangkan Orde Baru. Sulit membayangkan
munculnya gerakan-gerakan yang kemudian terjadi tanpa pengawalan ini. Ironisnya,
banyak aktivis tahun 1990-an dan sekarang belum pernah serius mempelajari dan
menghayati pengalaman yang memelopori proses munculnya fenomena baru pasca-
1972 itu: perlawanan konfrontatif yang berpolitik riil (baik politik riil machtvorming
di sektor mahasiswa tahun 1970-an dan politik riil dalam melakukan intervensi pada
keretakan elite maupun politik riil mobilisasi massa buruh dan tani tahun 1990-an
oleh aktivis generasi baru.).

~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 8 3/26/10 7:20:33 PM


Prolog

Menuntaskan Keputus-sambungan 1973 pada Abad Ke-21


Masalah mempelajari dan menghayati pengalaman gerakan perlawanan
sebagai sebuah pengalaman bangsa Indonesia pada tahun 1973 bukan sebuah hal
yang penting karena sekadar menarik dan perlu diketahui. Gerakan 1973 memulai
sesuatu yang belum tuntas. Memang, kekuasaan Orde Baru sudah jatuh, tapi sebagian
gejala yang Hariman Siregar ungkapkan pada tahun 1973 masih berlangsung.
Rakyat tidak perlu lagi diam dan tak berdaya, meski belum serius memanfaatkan
kesempatan yang ada sekarang. Tetapi situasi “penguasa yang demikian itu akan
selalu menghasilkan keputusan-keputusan yang hanya menguntungkan kelompok
yang ada di sekitar kekuasaan” masih berlangsung. Situasi “ketergantunagn tadi
tetap faktor pokok” dalam bidang ekonomi juga masih berlaku.
Semua proses perubahan sosio-politik harus dilihat sebagai sebuah realitas
historis, bukan sebagai sesuatu yang dikhayal. Sebuah realitas historis bisa dikatakan
sebagai realitas yang historis karena memang punya sebuah awal, kemudian
berkembang melalui perjalanan yang sering tak terduga. Untuk mencapai tujuan
atau agar proses itu mencapai hasil yang paling bagus, awalnya harus dipelajari
supaya tahu apa yang sudah ada dan harus diperkuat, apa yang tadinya ada tapi
hilang dan harus direbut kembali, dan apa yang memang belum hadir. Gerakan
1973 adalah pembuka jalan dari semua proses perlawanan yang berkembang sejak
berdirinya Orde Baru.
Ke depannya, untuk menuntaskan yang belum selesai tidak mungkin tanpa
mempelajari serta menghayati gerakan 1973-1974 ini, baik pencapaiannya maupun
kegagalannya, baik kelebihannya maupun kekurangannya, baik sebagai fenomena
sosial-politik maupun sebaga hasil pergulatan orang per orang yang memimpin
dan menjalankannya. Dalam menghayati gerakan 1973 sebagai bagian dari
membangun movement penuntasan ke depan, terutama harus mampu mencari jalan
untuk mengintegrasikan semua sifat keputus-sambungan yang terjadi pada waktu
itu: (1) aksi—tapi dengan tambahan tradisi 1990-an yang meluas ke semua sektor;
(2) tidak mengakui wibawa atau memberi hormat kepada kekuasaan yang ada; (3)
berpolitik riil dengan pengertian tidak puas hanya bergerak di tingkatan wacana; (4)
memperjuangkan persyaratan sederajat dalam saling ketergantungan antarbangsa;
(5) membangun perdebatan nasional yang serius dan mendalam tentang strategi
pembangunan ekonomi alternatif, di semua sektor, yang bisa menjamin kehidupan
yang layak buat seluruh rakyat.
Mungkin lima sifat gerakan yang dipelopori gerakan 1973 ini masih tidak
cukup sebagai apa yang harus dimiliki oleh sebuah movement perubahan yang
memperjuangkan keadilan sosial dan demokrasi. Perjuangan rakyat Indonesia
sudah panjang. Pasti juga ada pelajaran berguna dari pencapaian-pencapaian rakyat
Indonesia di periode sebelum 1973, apalagi di antara tahun 1900 dan 1965. Itu pun
harus diraih, saya kira.

~~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 9 3/26/10 7:20:33 PM


Hariman & Malari
Buku yang padat dengan berbagai materi yang menggambarkan banyak
aspek dari gerakan 1973 ini merupakan sebuah materi berharga dalam rangka
pembelajaran dan penghayatan yang diuraikan di atas. Buku ini juga padat dengan
materi tentang kegiatan dan pemikiran figur sentral gerakan 1973, Hariman Siregar.
Memang ada hukum-hukum sejarah yang banyak menentukan bagaimana sejarah
berkembang, tapi sejarah juga dibuat oleh manusia sebagai pelakunya, termasuk
oleh mereka yang memimpin di tingkat nasional. Aspek kepimpinan ini pun perlu
dihayati.
Sebuah buku tinggal sebuah buku, yaitu sebuah masukan. Apakah penghayatan
yang terjadi akibat mempelajari buku tersebut membawa arti, tergantung pada apa
yang kita semua sanggup dan mampu perbuat. Dalam hal ini, saya kira tantangan
yang dilemparkan oleh Hariman Siregar pada ribuan mahasiswa yang kumpul
bersama pada tanggal 31 Desember 1973 masih berlaku.
“Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah
membebaskan rakyat dari penderitaan sehari-hari. Beban kita adalah membuat rakyat
yang menganggur mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan ekonomi yang
tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan dengan
sesama generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya, beban
sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri. Semua
ini adalah beban yang tidak ringan—untuk tidak mengatakan berat sekali. Namun, pada
akhirnya, berat atau ringan itu tetap merupakan beban kita. Sekali kita mengelak, untuk
selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah.”

Saya kira tantangan tersebut berlaku buat semua orang; baik sebagai warga
negara Indonesia maupun bukan orang Indonesia, sebagai warga negara dunia. e

~ 10 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 10 3/26/10 7:20:34 PM


Drama Kehidupan
Hariman Siregar

~ 11 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 11 3/26/10 7:20:36 PM


Hariman & Malari

~ 12 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 12 3/26/10 7:20:36 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 1

Awan Gelap
dalam Kehidupan Hariman

M
entari belum lagi menampakkan wajah­
nya. Subuh itu, sekitar pukul 05.00 pagi, Hariman
Siregar masih tertidur di selnya di Rumah Tahanan
Militer (RTM) Budi Utomo Jakarta. Sudah dua hari,
ia mendekam di salah satu sel Blok 5, salah satu blok
yang menyeramkan di RTM Budi Utomo karena
berpenghuni orang-orang yang akan dihukum
mati. Tak jauh dari tempat Hariman berbaring
terbujur dua sosok rekan satu selnya: Mayor Jenderal (Polisi) Soewarno yang mantan
Panglima Daerah Kepolisian Jakarta saat peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan
Mayor Jenderal Soeratmo yang mantan Komandan Komando Logistik Angkatan
Darat (Kologad). Kedua rekan satu sel Hariman itu adalah tahanan politik yang
dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI).
Di keheningan subuh itu tiba-tiba pintu sel dibuka petugas RTM. Ketiga
penghuninya yang sedang terlelap mendadak terkesiap. Rupanya ada kabar untuk
Hariman: Sriyanti, istri Hariman, dalam kondisi mengkhawatirkan di Rumah Sakit
St. Carolus, Jakarta. Hariman diminta bergegas untuk menjenguk istrinya di rumah
sakit.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, perasaan Hariman cemas dan
waswas. Saat ditinggal Hariman beberapa hari sebelumnya, Sriyanti memang dalam
keadaan hamil tua, mengandung anak kembar. Karena itu, Hariman mengkhawatirkan
keadaan Yanti dan anak-anak yang berada dalam rahim istrinya.
Setiba di Rumah Sakit St. Carolus, kecemasan Hariman menjadi kenyataan.
Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak. Kondisi istri tercintanya benar-benar
mengkhawatirkan. Dan, innalillahi wainna ilaihi rajiun, anak kembar yang baru saja
dilahirkan sang istri telah dipanggil kembali oleh Sang Mahapencipta.

~ 13 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 13 3/26/10 7:20:36 PM


Hariman & Malari

Hariman Siregar bersama


istrinya, Sriyanti, dan putranya,
Reza, 1976.
[TEMPO/ GY Adicondro).

Betapa berat derita dan duka yang menerpa Hariman. Sungguh wajar bila ia
tak kuasa menahan kesedihannya. Air mata mengalir di pipinya.
Namun, beberapa jenak kemudian, Hariman seakan menyadari bahwa dirinya
tak boleh terlalu larut dalam kesedihan. Istrinya masih dirawat di rumah sakit. Ia
harus segera mengatasi kesedihannya.
Sore hari itu juga ia ikut mengantar jenazah anak kembarnya ke pemakaman
Karet Bivak. Dari sana, Hariman kembali ke rumah sakit untuk menunggui Yanti.
Tapi, pukul 03.00 dini hari, ia harus kembali ke RTM Budi Utomo, sesuai aturan yang
berlaku saat itu. Saat Hariman meninggalkan rumah sakit, kondisi Yanti masih dalam
keadaan sadar.
Namun, perasaan memang kerap memilih jalannya sendiri. Walau sudah
berusaha untuk tegar, Hariman di dalam selnya tetap saja tak bisa memejamkan mata.
Pikirannya tak tenang. Kesedihan kembali mendera perasaannya. Terbayang istrinya
yang terbaring lemah di rumah sakit. Ia juga teringat putra sulungnya, Reza, yang
ditinggal bersama mertuanya.
Ketika matahari memancarkan sinarnya, mata Hariman masih belum terpejam
sedikit pun. Sampai akhirnya, petugas RTM kembali membawa Hariman ke rumah
sakit. Rupanya kabar duka yang lain telah menanti di sana: sang istri koma. Hariman

~ 14 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 14 3/26/10 7:20:37 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
pun diizinkan menunggui Yanti selama sepuluh hari penuh. “Tapi, kesehatannya tak
pulih lagi. Sejak itu, Yanti hilang ingatan,” kenang Hariman.
Setelah izinnya habis, Hariman digiring kembali ke RTM Budi Utomo. Yang
kemudian menunggui Yanti adalah ayah Hariman sendiri, Kalisati Siregar. Tapi,
karena kecapekan dan usia tua, beberapa hari kemudian Kalisati jatuh sakit.
Sakit sang ayah ternyata cukup serius. Hariman pun kembali diizinkan
ke luar tahanan, untuk menunggui ayahnya di rumah sakit. Tapi, cobaan Tuhan
kembali mendera Hariman. Pada 29 September 1974, malam hari, Kalisati Siregar
mengembuskan napasnya yang terakhir. “Keesokan harinya, Ayah dimakamkan. Kota
Jakarta kala itu sedang dipenuhi kibaran bendera setengah tiang. Tentu saja, orang-
orang memasang bendera setengah tiang bukan untuk menghormati Ayah. Tapi, pada
30 September, bendera memang dikibarkan setengah tiang (untuk memperingati
Peristiwa Gerakan 30 September). Namun, itu semua saya anggap saja untuk
menghormati mendiang Ayah,” tutur Hariman.
Mendekam di penjara, kehilangan bayi kembar, sang istri yang hilang ingatan,
wafatnya sang ayah, serta mertua (Prof. Dr. Sarbini Soemawinata) yang juga dipenjara,
betapa masa ini merupakan fase kehidupan seorang Hariman yang sedang diliputi
awan gelap, bahkan bisa dikatakan inilah masa terkelam dalam perjalanan hidupnya.
Sebagaimana manusia biasa, rentetan peristiwa menyedihkan itu sempat
mengguncang jiwa Hariman Siregar. Dalam percakapan dengan siapa pun jarang
Hariman menyinggung masa-masa ini. Kalaupun mengisahkannya, selalu matanya
berkaca-kaca. “Kalau ingat masa itu, gue jengkel. Membicarakan ini rasanya tidak
menyenangkan. Bayarannya tidak imbang. Semuanya sudah habis,” tutur Hariman.
Tapi, Hariman segera menyadari itulah konsekuensi yang harus ia tanggung
atas sikap kritisnya terhadap rezim Orde Baru. Semua kesedihan itu merupakan harga
yang harus ia bayar karena melawan suatu rezim otoriter dan represif. Sebagai ekspresi
kesedihan itu, selama di penjara, Hariman selalu menuangkannya dalam catatan
harian. “Namun, bila membaca kembali catatan harian itu, isinya hanya kecengengan
belaka, sekadar uraian perasaan dan pikiran yang mendatangkan kesedihan. Padahal,
gue enggak boleh lengah, apalagi kalah oleh kesedihan. Gue harus mampu membuat
diri gue sendiri menjadi kuat. Gue sedang melawan kekuasaan Soeharto, sampai mati
gue enggak boleh kalah. Kita mesti kuat, meskipun dia (Soeharto) terus menginjak-
nginjak kita, ” begitulah tekad Hariman.
Hariman bertekad tak mau kalah dalam menghadapi rezim Soeharto, meski
badannya mendekam di penjara. “Di penjara sebenarnya sedang berhadapan juga
dengan kekuasaan Soeharto dalam wujudnya yang lain. Di penjara, kekuasaan itu
dimanifestasikan melalui sipir penjara, prajurit penjaga, petugas pengawal, bahkan
lewat benda mati seperti tembok dan gembok! Kalau kita sudah dikunci di dalam sel,
kita tak bisa melawan kekuasaan tembok dan gembok. Kita tak bisa lagi melawan

Hariman Siregar. 1999. “Gue Dipenjara Soeharto”. Naskah tidak diterbitkan. Jakarta: Yayasan Biografi Indonesia,
halaman 3.

“Hariman Siregar: ‘Gue Masih Akan Turun’”, majalah Matra edisi Agustus 1992.

~ 15 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 15 3/26/10 7:20:38 PM


Hariman & Malari

Hariman (depan memegang papan nama) bersama teman-teman sekelasnya di SMPN 13 Jakarta.

prajurit dan penjaga penjara yang mengunci sel.


Wujud kekuasaan kini berganti. Tidak lagi berupa sosok Soeharto, melainkan
bunyi ‘klik’ misterius ketika pintu sel digembok dari luar. Dan suara ‘klik’ itu sungguh
menimbulkan rasa kebencian yang amat sangat. Karena, kita secara telak menyadari
bahwa kita sangat tidak berdaya. Tidak memiliki kekuatan perlawanan apa pun,
kecuali kepasrahan.”
Bertahun-tahun, sekeluar dari penjara, Hariman tetap terlihat penuh semangat
dan berkobar-kobar ketika berbicara tentang kondisi negeri ini. Namun, tak
banyak orang yang tahu, betapa ia juga pada waktu bersamaan sebenarnya sedang
menyembunyikan kegalauan hatinya melihat kondisi istrinya tercinta, Yanti, yang
sedang menderita sakit berkepanjangan dan anak mereka yang masih kecil, Reza,
yang masih membutuhkan banyak perhatian. Untuk urusan ini, Hariman memang
seperti berjalan seorang diri, walau secara fisik ia tetap aktif menjalin hubungan
dengan jaringan temannya yang luas, termasuk kalangan aktivis mahasiswa dari
berbagai kampus. Ke manakah gerangan kegalauan hatinya itu akan dilabuhkan?
Pada suatu kesempatan, pertengahan tahun 1980-an, Hariman pun berkenalan
dengan Siti Noor Rachma, yang ketika itu masih bekerja sebagai public relations di
Hotel Mandarin, Jakarta. Hubungan mereka awalnya biasa saja. Malah, Noor sempat
tak suka dengan sikap Hariman, yang ia anggap tak beradab. “Gayanya itu jauh dari
beradab. Kalau datang ke Mandarin, begitu masuk lobi, ia sudah berteriak, ‘Nooriii....’
Saya sampai malu banget dan harus berkali-kali mengumpet di bawah meja agar tak
kelihatan Hariman,” tutur Noor.
Namun, setelah lama menghilang, Hariman datang ke Hotel Mandarin dan
berbicara dengan gaya berbeda kepada Noor. “Ia menyapa saya dengan lembut. ‘Hai,
Noori, apa kabar,’ katanya. Saya kaget juga, dari mana orang ini belajar sopan-santun

~ 16 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 16 3/26/10 7:20:39 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman semasa SMA bersama seorang temannya.

Hariman semasa SMP bersama seorang temannya.

peradaban? Nadanya lembut dan pelan,” kenang Noor.


Sejak itulah, hubungan yang lebih dekat terjalin di antara mereka. Empat
tahun setelah perkenalan pertama mereka, Hariman pun menikahi Siti Noor Rachma
pada 27 Mei 1989. “Ketika itu, Hariman mengatakan bahwa ia tak punya penghasilan
tetap. ‘Saya juga punya Yanti dan Reza, juga punya komitmen sama kelompok, jadi
tak bisa seperti suami-suami lain,’ ujarnya. Saya mendengarkan saja. Sejak awal, saya
tahu harus sharing dengan keluarga Hariman. Tapi, baru beberapa waktu kemudian,
saya memahami apa yang dimaksud sharing dengan kelompoknya, ketika A.M. Fatwa
ditangkap dan dipenjara,” tutur Noor.
*****
Apa yang dialami Hariman merupakan imbas dari Peristiwa 15 Januari 1974
atau yang lebih dikenal dengan sebutan Peristiwa Malari—sebuah aksi kritis mahasiswa
terhadap modal asing, yang berbuntut kerusuhan sosial di Jakarta. Sebelumnya, ia tak
pernah membayangkan hidupnya akan memasuki ruang sekelam itu.
Hariman Siregar lahir di Padang Sidempuan, sebuah kota kecil di wilayah
Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, 1 Mei 1950. Ia dilahirkan sebagai anak keempat
dari tujuh bersaudara. Jadi, Hariman merupakan “anak tengah” pasangan Kalisati
Siregar dan Anibarsah Hutagalung.

~ 17 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 17 3/26/10 7:20:51 PM


Hariman & Malari
Ayahnya saat itu bertugas sebagai pejabat di kantor Jawatan Perdagangan
setempat. Sebagai pegawai negeri, gaji sang ayah tergolong pas-pasan untuk memenuhi
kehidupan keluarga sehari-hari. Tapi, sang ibu termasuk perempuan yang ulet dan
giat bekerja. Untuk membantu kebutuhan keluarga, sang ibu berdagang perhiasan
emas dan berlian. Dari penghasilan berdagang perhiasan itulah kebutuhan keluarga
bisa terpenuhi dengan cukup layak.
Layaknya seorang pegawai negeri, Kalisati Siregar harus siap dipindahtugaskan
ke kota-kota lain. Saat Hariman berumur lima tahun, sang ayah dipindahtugaskan ke
Medan. Di ibu kota Sumatra Utara ini, Kalisati Siregar tak lama bertugas. Tak sampai
setahun kemudian ia dipindahkan ke Palembang, sebagai Kepala Kantor Wilayah
Perdagangan Sumatra Bagian Selatan (yang meliputi wilayah Sumatra Selatan, Jambi,
Bengkulu, dan Lampung).
Di Palembang, Hariman masuk SD Metodist English School, yang
menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. “Hariman sangat pintar,
cepat menangkap pelajaran. Cuma kalau ngomong, dia suka melompat-lompat. Orang
pintar memang kalau ngomong melompat dari A langsung D. Kalau kita tak mengerti
‘b-c-d’, kita pasti menyangka dia orang gila,” kenang Dr. Amir Hamzah, yang pernah
sekelas dengan Hariman saat bersekolah di SD Methodist English School.
Menurut Aca (nama panggilan Dr. Amir Hamzah), di sekolah Hariman
termasuk nakal. “Saya ditunjuk guru untuk mencatat siapa saja yang ribut di kelas.
Posisi duduk saya di belakang. Nah, Hariman terus yang masuk dalam daftar saya.
Akibatnya, kaki dia sering kena pukulan rotan oleh guru kelas,” kata Aca. “Lama-lama
mungkin dia berpikir, siapa yang suka melaporkan? Akhirnya setelah tahu bahwa
saya yang disuruh membuat laporan, dia mendekati saya. Dari situ kami dekat.”
Di Palembang, ayah Hariman bertugas hanya sampai tahun 1959, lantas
dipindahkan ke Jakarta sebagai pejabat di Departemen Perdagangan. Saat tiba di
Jakarta, usia Hariman baru sembilan tahun. Di Jakartalah Hariman menamatkan
sekolah dasarnya. Ia kemudian masuk ke SMP XIII di Kebayoran Baru, Jakarta
Selatan. Menurut Gurmilang Kartasasmita, saat di SMP Hariman termasuk murid
yang pandai dan cepat menangkap pelajaran, tapi juga berani dan ugal-ugalan.
“Fisiknya memang terbilang kecil saat itu. Tapi, dalam permainan yang membutuhkan
tekad, fisiknya yang kecil tidak menjadi penghalang. Dia justru tampil paling depan
dalam menunjukkan keberanian dan kekuatan. Misalnya dalam bermain sepakbola
dan juga berkelahi dengan anak-anak lain,” kata Gurmilang. Boleh jadi, sikap berani
Hariman itu tumbuh karena kakak-kakaknya, Oli dan Ma’ruf, yang terkenal sebagai
“jagoan” di kawasan Kebayoran.
Hariman juga termasuk pecinta alam. Masa pertengahan 1960-an itu, daerah
Blok A di Kebayoran dan juga Ciputat (“tetangga” Kebayoran yang kini masuk
wilayah Provinsi Banten) masih berupa hutan. “Di tempat-tempat itulah kami sering
berkemah. Menikmati pemandangan alam tanpa penerangan listrik. Main setan-

Gurmilang Kartasasmita merupakan sahabat Hariman Siregar sejak di bangku SMP, SMA, hingga sama-sama kuliah di
Fakultas Kedoketran Universitas Indonesia. Hingga kini pun mereka berdua masih bersahabat baik.

~ 18 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 18 3/26/10 7:20:51 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
setanan dan membakar ketela. Dan dalam kesempatan seperti itulah saya melihat lagi
keberanian Hariman,” kenang Gurmilang.
Setamat SMP, Hariman dan Gurmilang masuk ke SMA Negeri 3 di Jalan
Setiabudi, Jakarta. Di sini tingkah dan kelakukan Hariman belum berubah, masih suka
berkelahi. Namun, di masa itu pula, ia mulai ikut-ikutan demonstrasi Kesatuan Aksi
Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI) menyusul pecahnya Peristiwa G 30 S. Yang
mengajaknya ikut demonstrasi tak lain sahabatnya sendiri, Gurmilang Kartasasmita.
Saat itu, Gurmilang sudah menjadi Ketua KAPPI Rayon Setiabudi. “Di masa SMA,
saya lebih aktif berpolitik daripada Hariman. Tapi, setelah kuliah di FKUI, dia dengan
cepat menjadi seorang pemimpin,” kata Gurmilang.
Sesungguhnya, Hariman mulai belajar memahami soal-soal politik dari kedua
orangtuanya pula. Afiliasi politik orangtuanya adalah Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Bahkan, sang ibu cukup aktif di Gerakan Wanita Sosialis, salah satu onderbouw PSI.
“Sejak kecil, gue sudah memperoleh stereotipe bahwa PSI itu baik, sementara PKI
itu tidak beragama. Dan Presiden Soekarno akan runtuh oleh dirinya sendiri. Saat itu,
memang gue mendapat kesan keluarga kami anti-Soekarno. Bahkan, di rumah kami
tak ada gambar Soekarno satu pun, sebagaimana banyak terdapat di rumah-rumah
orang Indonesia lainnya,” kata Hariman.
Karena itu, tak mengherankan jika pergaulan politik Hariman setelah menjadi
aktivis mahasiswa di kemudian hari terutama berkisar di kalangan para aktivis dan
simpatisan PSI. Bukanlah hal yang kebetulan pula, salah seorang mentor politiknya
adalah Prof. Dr. Sarbini Soemawinata, mertuanya sendiri. Dengan Sarbini, yang
dikenal sebagai seorang tokoh terkemua PSI, Hariman sering bertukar pikiran
mengenai soal-soal perpolitikan dan ekonomi-politik.
PSI sendiri merupakan penjelmaaan politik sosial-demokrasi di Indonesia.
Sebagai “partai kader”, PSI hanya punya sedikit pengikut di kalangan rakyat biasa.
Keanggotaannya lebih terbatas pada kalangan kelas menengah perkotaan yang
berpendidikan tinggi, sementara pengaruh politiknya tidak diperoleh melalui cara-
cara populer seperti rally politik atau mobilisasi massa. Tapi, di sisi lain, partai ini
memperlihatkan suatu kekhasan yang membedakannya dari partai politik lain, dalam
perhatian besar yang diberikan kepada kebebasan individual, keterbukaan yang
leluasa terhadap paham-paham intelektual di dunia, serta penolakan tegas terhadap
berbagai bentuk obskurantisme, chauvinisme, dan kultus pribadi.
Meski tak pernah secara tegas mengaku sebagai penganut paham sosialisme,
sikap dan tindakan-tindakan politik Hariman memang menunjukkan warna kiri. Seperti
dikatakan Max Lane, “Selalu ada keyakinan bahwa tujuan Hariman pastilah untuk
memperbaiki nasib rakyat dan bangsanya. Selalu ada kesan bahwa itulah motivasi
utamanya…. Tapi tak pernah ada kesan bahwa tujuannya atau motivasi kegiatan
politiknya adalah hanya cari kedudukan dan uang. Selalu terkesan bahwa tujuaannya
adalah cari kekuasaan sebagai alat memperbaiki situasi negeri dan masyarakat.”

Hariman Siregar. 1999. Loc.Cit., halaman 124-125.

Herbert Feith & Lance Castles. Eds. 1988. Pemikiran Politik Indonesia 1945-1966. Jakarta: LP3ES

~ 19 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 19 3/26/10 7:20:51 PM


Hariman & Malari

~ 20 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 20 3/26/10 7:20:52 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 2

Metamorfosis
Seorang Aktivis Mahasiswa

M
inggu, 21 Mei 1972, menjelang sore.
Sirkuit motor lintas alam milik Lapangan Ko­dam V
Jaya di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, telah sepi.
Tak ada lagi yang melintas di sirkuit sepanjang tiga
kilometer itu. Tak ada lagi napas yang berhenti
ketika para pembalap menikung di kelokan 90
derajat setelah 100 meter lepas dari garis start atau
180 derajat pada 100 meter berikutnya. Tak ada
lagi teriakan kagum ketika pembalap berhasil terbang dengan motornya di tanjakan
setinggi dua meter dengan sudut 60 meter, untuk kemudian seakan lenyap di sela-sela
pohon karet. Tak ada juga dukungan terhadap pembalap yang terjatuh di kubangan
lumpur selebar 200 meter.
Menjelang sore itu waktunya penyerahan trofi bagi para pemenang. Mereka
bukan pembalap-pembalap profesional. La­ga bernama Campus Motor Cross itu
diselenggarakan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Pesertanya tak
lain calon-calon dokter yang kuliah di sana. Mereka telah menghabiskan empat kali
putaran untuk kelas up to 100 cc dan enam kali putaran untuk free for all.
Pada kelas bebas yang diikuti 13 peserta, Indra Sukmana yang mengendarai
Yamaha Trail 125 cc ditetapkan menjadi pe­menang dengan waktu 47 menit 15 detik.
Ia mendapat Piala Bergilir Gubernur DKI Jakarta ditambah uang Rp30 ribu. Tempat
kedua diduduki Tonny dengan Kawasaki tipe 90 SS dan juara ketiga adalah Untung
Subrata dengan Yamaha tipe L2G. Mereka masing-masing menerima uang tunai
sebesar Rp20 ribu dan Rp10 ribu.
Adapun juara-juara dalam kelas up to 100 cc yang diikuti 18 pembalap adalah
Ade dengan Suzuki tipe A 100 III, Hariman Si­regar (Honda tipe 90 S), dan Damora
Lubis (Honda tipe 90 S). Mereka pulang dengan mengantongi hadiah Rp20 ribu,

~ 21 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 21 3/26/10 7:20:52 PM


Hariman & Malari

Bersama kawan-kawan FKUI (1971).

Hariman memakai seragam Walawa (1968).

Rp15 ribu, dan Rp10 ribu. Tiga peserta terpilih sebagai pembalap fa­vorit tanpa hadiah
adalah Bulganon (Honda tipe CB 100), Amal (Honda tipe 90 S), dan Judilherry
Justam (Honda tipe 90 S). “Masa itu aku memang lumayan sering ikut turnamen
balap motor, sekadar melanjutkan hobi semasa di SMA,” kenang Hariman.
Di awal tahun 1970-an itu, Hariman sudah tercatat sebagai mahasiwa FKUI.
Ia masuk FKUI tahun 1968. Sebelumnya, ia sempat mengikuti kegiatan masa
prabakti mahasiswa (mapram) di Institut Teknologi Bandung (ITB). Tapi, baru dua
hari mapram berjalan, ayahnya me­manggil ke Jakarta dan menganjurkan Hariman
menjadi dok­ter. Ia pun menurut.
Meski hanya dua hari menjadi calon mahasiswa ITB, Hariman sempat
meninggalkan kesan “yang tak terlupakan”. Komarudin yang mantan Wakil Ketua
Dewan Mahasiswa ITB periode 1973-1974 mengisahkan peristiwa berkesan tersebut.
Mereka kebetulan satu rayon saat mapram itu. Komarudin bertutur, “Entah bagaimana
kejadiannya, saat perpeloncoan, Hariman kesal dan menyebut ‘ITB berengsek’

“Motor Tabib Melintas Alam”, Tempo edisi 3 Juni 1972.

Hariman Siregar. 1999. Loc.Cit.

~ 22 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 22 3/26/10 7:20:57 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
sehingga membuat seorang mahasiswa ‘residivis’—istilah kami untuk mahasiswa
tahun sebelumnya yang belum ikut mapram—marah besar.”
Hariman dianggap sok jago dan keduanya nyaris baku pu­kul. Masing-masing
menyebut daerah asal untuk menggertak lawannya. Si lawan mengaku berasal dari
Komering, Sumatera Se­latan, sedangkan Hariman langsung berteriak, “Gue anak
Batak. Lu mau apa?”
Tapi, sebelum perkelahian antara “anak Komering” dan “anak Batak” itu
pecah, keduanya segera dilerai para mahasiswa ITB. Belakangan, setelah ia menjadi
Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman baru tahu bahwa mahasiswa “residivis”itu
ternyata masih tetangganya saat tinggal di Palembang.
Bakat melawan Hariman kembali muncul saat mapram di kampus UI. “Saya
lebih senior satu tahun di FKUI dari Hariman dan melihat bagaimana dia sebetulnya
marah dengan perintah-perintah dari senior yang kadang menjengkelkan saat
mapram,” kisah Judilherry Justam.
Selain kerap melawan, Hariman juga terkenal jahil. Misalnya saat kegiatan
wajib latih mahasiswa (walawa) di awal masa-masa perkuliahan mahasiswa. “Selama
program walawa, Hariman selalu mengganggu teman-temannya. Saat walawa, kami
kan menggunakan seragam dan sepatu tentara. Nah, ketika kegiatan baris berbaris,
Hariman suka menarik-narik tali sepatu kawan-kawan hingga lepas. Akibatnya,
banyak kawan yang kena hukuman karena ketahuan enggak rapi. Sementara itu,
Hariman enggak pernah takut hukuman,” kenang Rauf Arumsyah, rekan seangkatan
Hariman yang berasal dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UI.
Di masa itu, situasi politik Jakarta relatif mulai tenang. Sejak setahun sebe­
lumnya, di awal tahun 1967, sebagian maha­siswa yang terlibat dalam gegap gempita
menghalau komunis telah masuk dalam parlemen. Sejumlah tokoh Kesatuan Aksi
Ma­hasiswa Indonesia (KAMI) diundang masuk ke DPR Gotong Royong (DPR-
GR). Brigjen Alamsjah Ratuprawiranegara, salah seorang pembantu utama Presiden
Soeharto, menghimpun nama-nama mahasiswa itu. Masuklah antara lain Nono Anwar
Makarim (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia), Yozar Anwar, Firdaus Wajdi, Liem
Bian Koen (Sofyan Wanandi), Fahmi Idris (KAMI Jakarta Raya), Cosmas Batubara,
Muhammad Zamroni, David Napitupulu Mahasiswa Pancasila, Johny Simanjuntak,
dan Mar’ie Muhammad (KAMI Pusat). Ada pula mahasiswa dari Bandung seperti
Soegeng Sarjadi dan Rohali Sani (kemudian digantikan Rahman Tolleng) serta nama-
nama lain seperti Slamet Sukirnanto, T. Zulfadli, dan Salam Sumangat.
Keberadaan mahasiswa di parlemen tidak serta-merta mulus. Suara tidak
setuju juga datang dari sesama mahasiswa. Yang menentang langkah masuk parlemen
itu berpendapat bahwa KAMI dan Angkatan ‘66 pada dasarnya adalah “kekuatan

Program walawa diperkenalkan pemerintah Orde Baru pada tahun 1968. Tujuannya untuk mengontrol aktivitas politik
mahasiswa yang mulai menunjukkan gejala melawan pemerintah. Program walawa diwajibkan terhadap semua mahasiswa
perguruan tinggi negeri. Tapi, program ini hanya berlangsung selama beberapa tahun saja.

Mahasiswa Pancasila merupakan organisasi sayap mahasiswa Pemuda Pancasila.

Sori Siregar. Ed. 2007. Cosmas Batubara: Sebuah Otobiografi Politik. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

~ 23 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 23 3/26/10 7:20:57 PM


Hariman & Malari
moral” sehingga tak patut melibatkan diri dalam “politik praktis”. Kalau beberapa
tokoh terus berkeras memilih menjadi anggota parlemen, seharusnya tidak atas nama
KAMI, melainkan atas nama diri sendiri belaka. Sebaliknya, mereka yang memilih
men­jadi anggota parlemen berpendapat bahwa saatnya sudah tiba untuk meneruskan
perjuangan KAMI “dari dalam”.
Kritik paling keras terhadap para aktivis KAMI yang masuk parlemen itu
terutama disampaikan Soe Hok Gie, Marsillam Simandjuntak, dan Sjahrir. Menurut
mereka, mahasiswa yang masuk ke parlemen mestinya tidak lagi membawa nama
atau em­bel-embel mahasiswa karena mereka telah masuk ke dalam kekuasaan
(suprastruktur). Sebab, peran mahasiswa mestinya si­tuasional, bukan permanen. Soe
Hok Gie bahkan sampai meng­irimkan aneka-perlengkapan kecantikan perempuan,
seperti lipstik, cermin, jarum, dan benang sebagai sindiran kepada teman-temannya
itu. Barang-barang itu dikirimkan sejak pelantikan mereka pada 1 Februari 1967.
Soe Hok Gie begitu gusar melihat teman-temannya tersebut larut dan mabuk
dalam kursi kekuasaan. Orang-orang itu, menurut Soe Hok Gie, adalah orang-orang
yang mencatut perjuangan mahasiswa. “Sebagian dari pemimpin-pemimpin KAMI
adalah maling juga. Mereka korupsi, mereka berebut kursi, ribut-ribut pesan mobil
dan tukang kecap pula,” tulisnya.
Ujungnya, ya, itu tadi: pada 12 Desember 1969, Soe Hok Gie bersama
beberapa temannya mengirimkan paket lipstik, cermin, jarum, dan benang kepada
maha­siswa yang duduk di DPR-GR. Bersama paket antaran itu diselipkan surat
bernada sindiran:

“Kami mahasiswa universitas di Jakarta, dengan penuh rasa hormat, bersama


ini kami kirimkan kepada Anda, ‘perwakilan mahasiswa’ di DPR-GR, paket Lebaran
dan Natal. Dalam suasana Lebaran dan Natal ini kami menghormati perjuangan yang
telah kalian lakukan selama berahun-tahun di lembaga ‘perwakilan’ rakyat ini.
Kondisi demokrasi Indonesia dan rule of the law saat ini jelas merupakan
hasil dari perjuangan kalian semua, mahasiswa yang tak kenal ampun dan tak
terkalahkan, yang tidak pernah menyerah, dan yang tidak kenal kompromi dengan apa
yang benar!
Bersama surat ini kami kirimkan kepada Anda hadiah kecil kosmetik dan
sebuah cermin kecil sehingga Anda, Saudara kami yang terhormat, dapat membuat diri
kalian lebih menarik di mata penguasa dan rekan-rekan sejawat Anda di DPR-GR.
Bekerjalah dengan baik. Hidup Orde Baru! Nikmatilah kursi Anda—tidurlah
nyenyak!
Teman-teman mahasiswa Anda di Jakarta dan eks-de­monstran ’66.”


Parakitri Tahi Simbolon. 1977. “Dibalik Mitos Angkatan 66”, dalam Prisma edisi Desember 1977.

John Maxwell. 2005. Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.
Jakarta: Pustaka Utama Grafitti.

Ibid.

Ibid.

~ 24 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 24 3/26/10 7:20:58 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Hariman Siregar—yang telah masuk ke kampus pada masa perseteruan yang
terjadi sesama aktivis Angkatan ‘66 serta gerakan protes melalui surat kabar terhadap
cara pemerintah Soeharto mengelola negara—belum melibatkan diri secara aktif
dalam kegiatan politik, meski ketika masih pelajar sempat tergabung dalam KAPPI.
Tahun pertama di FKUI lebih banyak dihabiskan Hariman untuk belajar dan bermain-
main.
Amir Hamzah menuturkan, meski terlihat tidak terlampau rajin, prestasi
kuliah Hariman sangat bagus. Kemampuannya membaca dan menyerap bacaan
sangat baik. Malam hari sebelum perkuliahan biasanya ia telah membaca bab yang
akan diterangkan dosen esok harinya. “Jadi, ketika dosen bicara, kami baru dengar,
dia sudah pelajari,” tutur Amir Hamzah. Namun, ada jeleknya: di kelas kemudian
kerjanya hanya mengganggu temannya yang mau serius belajar.
Kelakuan Hariman yang suka iseng dan sering bikin ulah dibenarkan oleh
sahabatnya, Gurmilang Kartasasmita. “Sebagai mahasiswa, saya tetap melihat Hariman
sebagai orang yang riang gembira saja. Masih suka bermain dan kebetulan juga sudah
mulai berhubungan dengan Yanti, yang ia incar sejak SMA10,” kata Gurmilang.
Hariman sendiri mengaku di masa-masa awal perkuliahan belum tertarik
dengan soal-soal politik. Kalaupun ia melakukan perlawanan, itu terutama karena
nuraninya tidak bisa melihat aturan atau sikap para dosen atau seniornya yang dinilai
tidak adil dan sewenang-wenang. “Aku memang paling enggak bisa melihat sikap
dan perlakuan yang tidak adil,” ujar Hariman.
Memasuki awal 1970-an konstelasi politik mulai berubah. Situasi tak lagi
bisa dibilang relatif tenang. Hubungan mesra mahasiswa-ABRI yang sempat terjalin
pada masa 1966 benar-benar retak. Para aktivis mahasiswa—terutama yang tidak ikut
masuk ke parlemen—mulai kecewa dengan pemimpin nasional, Jenderal Soeharto,
seiring terendusnya beberapa kasus korupsi di tingkat nasional, di antaranya di
Pertamina yang dipimpin Mayjen Ibnu Sutowo dan Bulog yang dikepalai Mayjen
Ahmad Tirtosudiro. Mahasiswa mulai menuduh pemerintah Orde Baru lebih tidak
becusnya dari pemerintah Soekarno. Aktivis-aktivis seperti Arief Budiman, Sjahrir,
Julius Usman, Ben Manoto, dan Harry Victor mencetuskan gerakan Mahasiswa
Menggugat. Mereka memprotes kenaikan harga bahan bakar minyak yang mencapai
100 persen dan korupsi.11
Dalam beberapa hari, demonstrasi mahasiswa dalam jumlah besar mulai turun
ke jalan, menempelkan poster-poster di dinding dinding bangunan dan mobil-mobil
yang lewat. Walaupun subyek utamanya adalah kenaikan harga, demonstrasi secara
konstan dan terang-terangan mengacu pada korupsi.
Di saat yang bersamaan di Bandung, Petisi Keadilan ditandatangani oleh 66
tokoh mahasiswa, tokoh gerakan senior, dan intelektual. Mereka di antaranya dari
kelompok yang lebih senior, seperti Rahman Tolleng, Roedianto Ramelan, Awan
10
Di tahun 1972, Hariman Siregar menikahi Sriyanti, putri Prof. Dr. Sarbini Soemawinata, salah seorang ekonom
terkemuka Indonesia. Setahun kemudian lahir putra sulung mereka, Reza.
11
Francois Raillon. 1984. Politik dan Ideologi Mahasiswa Indonesia 1966-1974. Jakarta: LP3ES, halaman 79-80.

~ 25 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 25 3/26/10 7:20:58 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama rekan-rekan aktivis mahasiswa UI.

Karmawan Burhan, Chris Siner Keytimu, Rachmat Witoelar, Wimar Wi­toelar, Sarwono
Kusumaatmadja, Erna Walinono, dan Arifin Panigoro. Juga tokoh-tokoh mahasiswa
yang lebih yunior, seperti Paulus Tamzil, Paskah Suzetta, Rulianto Hadinoto, Noke
Kirojan, dan Tjupriono Priatna (beberapa di antaranya berasal dari Studi Group
Mahasiswa Indonesia, yang anggotanya adalah ketua-ketua dan pengurus dewan
mahasiswa di Bandung); kemudian dari kalangan inte­lektual ada nama-nama seperti
Dr. Midian Sirait, dr. M.M. Moeliono, Amartiwi Saleh, S.H., Ny. Otong Kosasih,
Djuchro Sumitradilaga. Ditambah lagi dengan Dedi Krishna, Alex Rumondor, Bonar
Siagian, Djoko Sudjatmiko, R.A.F. Mully, Bernard Mangunsong, Lili Asdjudiredja,
dan Sjahrir dari Jakarta.12
Petisi Keadilan menyoal tiga pokok masalah yang men­jadi titik tolak
kegagalan usaha mengadakan pembaruan guna memperbaiki tingkat hidup rakyat.
Pertama, dalam hal pengum­pulan, pemanfaatan, dan pengawasan atas pendapatan
dan ke­kayaan negara, seperti minyak bumi dan sebagainya, dirasakan banyak
kepincangannya. “Kekayaan berlimpah-limpah yang di­nik­mati sebagai hasil korupsi
segelintir oknum aparatur negara di satu pihak dan dimintanya pengorbanan lebih
banyak dari rakyat dengan antara lain menaikkan harga minyak bumi dan kurang
diperhatikannya kebutuhan-kebutuhan dunia pendidikan di lain pihak dengan jelas
memperlihatkan contoh kepincangan-kepincangan ini.”
12
Rum Aly. 2004. Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter: Gerakan Kritis Mahasiswa Bandung di Panggung Politik
Indonesia 1970-1974. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

~ 26 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 26 3/26/10 7:21:00 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Kedua, masih dirasakan banyaknya, bahkan makin me­ningkatnya, penye­
lewengan-penyelewengan dan pelanggaran-pelanggaran hukum yang dilakukan
terutama oleh oknum-oknum aparatur negara sendiri yang tidak ditindak secara
konsekuen “telah menimbulkan rasa ketidakpercayaan di kalangan masyarakat akan
iktikad pemerintah untuk menegakkan kekuasaan hukum”.
Ketiga, “Pandangan hari depan perkembangan politik tidak memperlihatkan
kemungkinan perubahan ke arah peningkatan kesadaran berpolitik seluruh rakyat
dengan dipertahankannya pola kehidupan politik lama, seperti diperlihatkan dalam
Undang-Undang Pemilihan Umum”. Petisi ini ditujukan kepada Presiden Soeharto
sebagai pimpinan Orde Baru dan para pemimpin ma­syarakat lainnya.
Reaksi pejabat pemerintahan menjadi mengeras ketika mahasiswa mulai
menyebut nama-nama para jenderal yang berada di lingkaran Presiden Soeharto. Pada
tanggal 24 Januari 1970, Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban
(Kopkamtib) Jakarta Raya melarang semua demonstrasi. Dan, tanggal 27 Januari,
para pimpinan pemrotes ditangkapi. Walaupun kelompok-kelompok nonpermanen
(ad hoc) yang dibentuk beberapa minggu secara formal tetap ada untuk beberapa
lama, protes di jalanan sama sekali menghilang.13
Untuk merespons tuntutan mahasiswa itu, tanggal 2 Februari, Presiden
Soeharto membentuk komisi khusus pemberantasan korupsi, yang kemudian dikenal
dengan nama Komisi Empat. Disebut begitu karena anggotanya terdiri dari empat
orang: diketuai Wilopo, S.H., dengan anggota-anggotanya I.J. Kasimo, Prof. Ir.
Herman Johannes, dan Anwar Tjokroaminoto. Adapun sebagai sekretaris komisi
ditunjuk Mayjen Sutopo Juwono. Untuk menambah bobot kredibilitas dan mendapat
ke­percayaan publik diangkat pula mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, Dr.
Mohammad Hatta, sebagai penasihat presiden sekaligus pe­nasihat Komisi Empat. Tapi,
setelah cukup lama ditunggu, hasil Komisi Empat tiada kunjung keluar. Mahasiswa
pun menyebut Komisi Empat tak lebih dari macan ompong belaka. Selain diisi oleh
orang yang sudah berusia tua, juga tak memiliki taring untuk menggusur koruptor.
Barulah lima bulan berikutnya, yakni pada 30 Juni 1970, para tokoh yang
tergabung dalam Komisi Empat menyam­paikan hasil kerja dan pertimbangan-
pertimbangan kepada Pre­siden Soeharto. “Selama lima bulan, korupsi semakin
meluas,” ungkap Ke­tua Komisi Empat Wilopo, S.H. kepada pers sehari sesudahnya.
Komisi Empat menyampaikan tiga indikasi sebagai penyebab meluas­nya korupsi:
faktor pendapatan atau gaji yang tidak mencukupi; penyalahgunaan kesempatan
untuk memperkaya diri, dan; penyalah­gunaan kekuasaan untuk mem­perkaya diri.
Pertamina, Bulog, dan sektor perkayuan banyak mendapat perhatian Komisi Empat.
Kepada presiden disampaikan nota-nota pertimbangan khusus mengenai instansi-
instansi tersebut.
Menurut Wilopo, masalah Pertamina, Bulog dan Kehu­tanan merupakan
masalah yang meliputi uang bermiliar-miliar rupiah dan berjuta-juta dolar Amerika
13
Max Lane. 2007. Bangsa yang Belum Selesai: Indonesia sebelum dan sesudah Soeharto. Jakarta: Reform Institute,
halaman 59.

~ 27 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 27 3/26/10 7:21:00 PM


Hariman & Malari
Serikat yang melewati tangan petugas-petugas. “Hendaknya jangan sampai Pertamina
yang merupakan bikinan pemerintah itu menjadi monster yang tidak bisa diken­dalikan
oleh administrasi negara,” ujar Wilopo.
Tapi mahasiswa menyahut, “Tanpa Komisi Empat dan tan­pa perlu menunggu
lima bulan, kami pun sudah tahu itu.” Hanya ucapan Mohammad Hatta yang
menyatakan “korupsi di In­donesia telah membudaya” yang mendapat sambutan luas
di masyarakat dan disepakati kebenarannya.
Aksi-aksi mahasiswa pun kian meningkat. Selain Jakarta dan Bandung,
mahasiswa di Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan ikut bergerak. Arief
Budiman yang memelopori Komite Anti Korupsi (KAK) merencanakan malam
tirakatan pada 15 Agustus 1970 di jalur hijau Jalan M.H. Thamrin. Tapi, rencana
itu dilarang oleh Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro. Larangan itu dilontarkan
Jenderal Soemitro seraya mengancam akan me­ngirim pasukan bila tirakatan tetap
dilaksanakan. Arief waktu itu tetap bersikeras, meskipun ada beberapa kawannya
yang agak gentar, sebab diperhitungkan akan terjadi bentrok.
Akhirnya, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin mencoba menengahi. Ia
menawarkan mahasiswa agar melaksanakan ma­lam tirakatan di rumah masing-
masing dan menjanjikan akan memadamkan lampu selama lima menit malam itu
di seluruh Jakarta. Dua hari sebelum tirakatan, KAK me­mutuskan menerima usul
Ali Sadikin tersebut. Namun, W.S. Rendra—penyair dari Yogyakarta—merasa bukan
warga Jakarta dan bukan anggota KAK, sehingga mengaku tidak terikat dengan
keputusan KAK. Ia tetap datang ke Jalan M.H. Thamrin pada pukul 21.00, tanggal
15 Agustus 1970, bersama beberapa rekannya sesama seniman: Azwar A.N., Nashar,
Djuffri Tanissan, Goenawan Mohamad, Bur Rasuanto, Hutasoit, J.E. Siahaan, dan
ekonom muda Drs. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Mereka turun ke jalur hijau Jalan
M.H. Thamrin di depan Wisma Warta. Duduk dengan tenang di sana dalam suatu
lingkaran, kemudian berdoa, bertirakat.
Namun, tirakatan baru saja berlangsung kurang-lebih setengah jam datang
tentara dan langsung menangkap mereka. Rendra digiring ke mobil petugas, diikuti
Azwar dan Hutasoit, lalu dibawa ke Komando Distrik Militer (Kodim) Jakarta Pusat
sebelum dibawa ke Staf Komando Garnisun (Skogar). Beberapa teman tirakatannya
dan eksponen KAK, juga Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Akbar
Tandjung, menyusul ke Skogar. Tapi, para pengunjung itu malah juga ikut diperiksa.
Mereka dibebaskan pada pukul 02.30, kecuali Akbar Tandjung dan Dorodjatun yang
masih “diperlukan” dan ikut diinapkan semalam bersama Rendra. Mereka baru
dibebaskan keesokan siangnya pukul 15.00 WIB.14
Pada situasi seperti inilah—ketika mahasiswa “terpanggil” kembali mengoreksi
pemerintah dan masyarakat—Hariman berada di lingkup kampus. Pada era 1970-an
ini mahasiswa masih memiliki kekuatan yang amat diperhitungkan oleh penguasa.
Maklum, Soeharto naik ke kursi kekuasaan di antaranya juga buah dari aliansi bersama
14
Ibid.

~ 28 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 28 3/26/10 7:21:00 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
mahasiswa pada 1966. Di dunia kampus pun lazim berlangsung yang disebut sebagai
pemerintahan mahasiswa (student government). Kebijakan pemerintah yang dirasakan
ber­tentangan atau merugikan kepentingan rakyat akan dikoreksi dan dikritik habis.
“Bila petisi tidak didengar, jalanan adalah lanjutan”, begitulah slogan mereka.
*****
Hariman mulai terlibat secara intens dalam politik kampus ketika duduk di
tingkat tiga di FKUI. Ia masuk dewan perwakilan mahasiswa (DPM), sebagai anggota
legislatif dari fakultas kedokteran. Pada saat itu, mahasiswa umumnya terlibat dalam
suatu organisasi ekstra-kampus. Ada yang berhimpun di HMI, Gerakan Mahasiswa
Nasionalis Indonesia (GMNI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI),
Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), dan lain-lain. Di
luar itu biasanya disebut kelompok non-partisan. “Hariman termasuk yang non-
partisan, termasuk minoritas di fakultas kedokteran karena rata-rata mahasiswanya
anggota HMI, baru sedikit GMNI dan PMKRI,” ujar Didi Siswapranata dari Fakultas
Psikologi UI. Di fakultas psikologi petanya justru kebalikan, hampir semua aktivis
adalah non-partisan.
Di kalangan non-partisan, Hariman termasuk yang di­anggap sebagai pentolan.
Juga Amir Hamzah dan Salim Hutadjulu dari fakultas ilmu-ilmu sosial.
Lantas, kapan Hariman mulai tampil sebagai pemimpin mahasiswa? “Pertama
kali saya lihat dia memimpin ketika kami study tour ke Pangandaran dan Palembang,”
jawab Gurmilang. Tempat-tempat itu diusulkan oleh Gurmilang dan Amir Hamzah.
Sebetulnya ada unsur “sekalian” dalam usulan tempat itu. Baik Gurmilang maupun
Amir Hamzah berniat sekalian menengok kampungnya dalam wisata studi itu.
Gurmilang berasal dari Pa­ngandaran, Jawa Barat, sedangkan Amir Hamzah dari
Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatra Selatan. Sejak itu, Hariman mulai menunjukkan
leadership setiap kali ada kegiatan di kampus FKUI.
Secara umum, di masa itu, UI sesungguhnya me­­mi­liki arti penting bagi
gerakan mahasiswa di Jakarta dan ka­renanya bisa disebut se-Indonesia. Kedudukan
Dewan Ma­hasiswa UI diperhitungkan betul oleh peme­rintah. Tapi, Hariman melihat
tak banyak yang dila­kukan Dewan Ma­hasiswa UI ketika dipimpin Hariadi Darmawan.
Dewan Ma­hasiswa UI baru mulai melawan pemerintah ketika posisi ketua umum
dipegang Yozar Azwar. Itu pun belum memainkan isu-isu yang sentral. Misalnya baru
isu mengenai pendidikan kedokteran dan pen­didikan se­kolah.15
Justru tokoh mahasiswa yang tidak terlibat di Dewan Ma­hasiswa UI seperti
Sjahrir dan beberapa aktivis lainnya yang memainkan tema-tema sentral. Sjahrir,
misalnya, aktif di KAK bersama Arief Budiman, yang selanjutnya mengusung tema
menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Dewan Ma­hasiswa UI
pada isu itu mengambil posisi netral, tidak mau terlibat dan tidak mau ikut berperan.
Pada awal tahun 1970-an, Sjahrir dan 15 tokoh lainnya “meng­hidupkan”
15
Ibrahim Zakir dkk. Manuskrip tidak diterbitkan, tanpa keterangan judul dan angka tahun.

~ 29 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 29 3/26/10 7:21:01 PM


Hariman & Malari
kembali Grup Diskusi Universitas Indonesia (GDUI), yang telah berdiri sejak 1968.
GDUI memainkan peran penting dalam mengembangkan kebijakan gerakan protes.
Sebagai penasihat GDUI didapuk Billy Joedono, Dorojatun Kuntjoro-Jakti, dan
Juwono Sudarsono. Akan halnya motor utamanya adalah Sjahrir sendiri.16 Kegiatan
utama GDUI adalah diskusi, yang diselenggarakan hampir setiap minggu. Sejumlah
tokoh terkemuka—antara lain Mohammad Hatta, Wilopo, dan Jenderal T.B.
Simatupang—pernah berbicara dalam forum diskusi GDUI.
Selain itu ada juga semacam kuliah tentang masalah-masalah sosial-politik
dan ekonomi. Materi kuliah tentang ekonomi, misalnya, diberikan oleh Dorodjatun,
falsafah oleh Billy Joedono, dan politik luar negeri oleh Juwono Sudarsono. Setiap
semester, GDUI rajin merekrut anggota baru. Di masa itu, GDUI bahkan sempat
memiliki anggota aktif sekitar 200 mahasiswa dari berbagai fakultas di UI.
Hariman sendiri baru masuk GDUI pertengahan tahun 1972. Ia menjadi
sekretaris angkatan di kelompok diskusi ini. Meski begitu, ia tergolong tak terlalu
sering ikut diskusi. Hanya saja, setiap datang, ia dipastikan “meramaikan” diskusi-
diskusi yang digelar. “Sjahrir ketika itu bercerita kepada saya bahwa ada seorang
mahasiswa baru, seorang tokoh yang penuh harapan: pintar dan berani. Mahasiswa
baru ini diyakini dapat mewujudkan niat Sjahrir mengambil alih kepemimpinan
mahasiswa UI dari dominasi Hariadi Darmawan dkk., yang berasal dari HMI,” tutur
Rahman Tolleng.
Kesan yang sama tentang Hariman juga diungkapkan Dorodjatun Kuntjoro-
Jakti, yang kala itu masih seorang dosen muda UI sekaligus penasehat GDUI. “Kalau
dilihat dari kemampuannya membangkitkan semangat dengan kemampuan oratornya,
Hariman sulit ditandingi anak-anak GDUI lainnya. Bahkan, Sjahrir sekalipun enggak
bisa menandinginya. Menurut saya, sangatlah penting peran seorang orator di GDUI,
terutama untuk menghadapi massa. Hariman juga tidak mudah gentar, dia sangat
berani. Mungkin ini salah satu ciri generasi Hariman, enggak ada takutnya,” kata
Dorodjatun.
Pada perjalanannya, keberadaan GDUI memang memberikan warna lain
bagi UI yang organisasi mahasiswa intra-kampusnya saat itu didominasi para aktivis
HMI. Penguasaan HMI itu antara lain dengan terus-menerus memegang kursi Ketua
Umum Dewan Mahasiswa UI. Saat itu, Hariman juga telah menduduki kursi Ketua
Senat Mahasiswa FKUI. Ia terpilih pada tahun 1971. Dalam pemilihan Ketua Senat
FKUI itu, Hariman berhadapan dengan Fahmi Alatas (wakil dari HMI). Pada masa
kampanye pemilihan, Hariman yang sehari-harinya mengendarai Morris Cooper Mini
digambarkan dengan mobilnya itu melewati Fahmi Alatas yang dilukis mengenderai
unta. “Kemenangan Hariman ini menjadi tonggak penting bagi mahasiswa non-
partisan di UI,” ujar Didi Siswapranata.
Sejak itu, Hariman lebih lincah dalam melakukan manuver-manuver yang
bernuansa politis. “Fisiknya memang kuat dan mobilitasnya tinggi, sehingga ia tak
16
Saat itu Sjahrir telah menjadi asisten dosen Prof. Sarbini Soemawinata untuk mata kuliah strategi pembangunan.

~ 30 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 30 3/26/10 7:21:01 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
pernah lelah untuk sibuk dengan GDUI dan tetap konsentrasi dengan kuliah,” kata
Gurmilang.
Hariman pun mulai berinteraksi dengan orang-orang di luar kampus. Sebagai
pengurus organisasi kampus di UI, ia mulai bersinggungan dengan sejumlah elite
politik. Salah satunya saat rapat Ikatan Mahasiswa UI medio 1972 di Mega Mendung,
Bogor, Jawa Barat. Beberapa elite politik turut hadir, seperti Ali Moertopo, Liem Bian
Koen (Sofyan Wanandi), dan Mari’e Muhammad. Hariman mulai melihat betapa
dominannya peran Ali Moertopo dalam pemerintah.
Dalam pertemuan itu, Ali Moertopo mengingatkan tentang peran mahasiswa
Angkatan ‘66 sebagai titik tolak perubahan Indonesia. Ali Moertopo menginginkan
persatuan di antara Angkatan ‘66. Pada kenyataannya, keinginan Ali Moertopo itu
tidaklah sederhana. Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) yang ia bentuk
kemudian untuk maksud penyatuan ini justru di­anggap sebagai upaya pengendalian.
Pada awal 1970-an itu Soeharto bersama Ali Moertopo memang mulai giat
menjalankan politik pewadahtunggalan bagi kelompok-kelompok dan profesi
masyarakat: pemuda, wartawan, pegawai negeri, hingga istri pegawai negeri dan
militer. Untuk mahasiswa, Ali Moertopo telah menyiapkan satu wadah tunggal:
National Union Student (NUS). Anggota NUS diharapkan berasal dari dewan-dewan
mahasiswa universitas se-Indonesia. Tugas mewujudkan NUS diserahkan terutama
kepada salah seorang kepercayaan Ali Moertopo: Dr. Midian Sirait. Ia adalah orang
Golkar yang sebelumnya aktivis dan memiliki jaringan cukup kuat di Direktorat
Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Dikti
Depdikbud).
Strategi kemudian disusun. Kelompok Operasi Khusus (Opsus) merasa rencana
sudah cukup matang untuk menjalankan konsep NUS. Pemimpin NUS kelak adalah
ma­hasiswa yang bakal menjadi pemimpin pemuda Indonesia. Ada dua nama yang
digadang-gadang Opsus: Bambang Warih Kusumah (yang berasal dari Bandung)
dan Hariman Siregar. Pemimpin NUS kelak akan dijadikan kaki-tangan Opsus untuk
mengendalikan mahasiswa.
Tetapi, kandidat paling kuat jatuh pada Hariman. Menurut Gurmilang,
Dr. Midian Sirait turut berperan dalam pemilihan Hariman sebagai “pemimpin”
kaum muda itu. “Pilihan terhadap Hariman lebih karena kemampuannya dalam
berkomunikasi, personal approach-nya yang bagus, dan mobilitas Hariman yang
sangat tinggi,” kata Gurmilang.
Selanjutnya, kedekatan dengan Ali Moertopo membuat Hariman bisa diterima
kelompok Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga studi yang
di­bentuk Ali Moertopo dan Sudjono Hoemardhani bersama se­jumlah akademisi. Ia
mulai sering terlihat mondar-mandir di kantor CSIS di Jalan Tanah Abang III, Jakarta.
Bahkan, ia kemudian dianggap sebagai salah satu anak emas Tanah Abang III.
Kemampuan Hariman bergaul membuat ia bisa diterima di berbagai kelompok,
baik kawan maupun lawan Opsus. Kecerdasannya juga menjadi modal kuat untuk
~ 31 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 31 3/26/10 7:21:02 PM


Hariman & Malari

Hariman saat memimpin pertemuan Ikatan Mahasiswa Profesi di Puncak Bogor (1973).
Disebelah kirinya Marzuki Darusman.

Hariman saat memimpin pertemuan Ikatan Mahasiswa Profesi di Puncak Bogor (1973).
Disebelahnya Prof. Dr. Kusnadi Harjasumantri.

~ 32 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 32 3/26/10 7:21:14 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
kelak menjadi tokoh mahasiswa. Istilahnya, mendapatkan Hariman bagaikan men­
dapat berlian yang siap diasah.
Tapi, jalan pembentukan NUS tidak mulus. HMI menentang keras gagasan
tersebut. Wakil dari HMI, Awad Bahasoan, pada sidang pembentukan NUS di Istana
Bogor beranggapan pewadahtunggalan hanya akan membuat mahasiswa tidak bisa
lagi kritis. Menurut hemat Hariman, penolakan terhadap NUS sangat masuk akal. Ia
sendiri bukan bagian dari orang yang setuju dengan politik korporatisme yang bersifat
mengendalikan. Tapi, kedekatan yang tengah digalang dengan kelompok ke­kuasaan
ini merupakan babak yang harus dilewati hingga nanti memiliki barisan sendiri yang
lebih kuat.
Ali Moertopo pun mulai membuat pola baru. Ia ingin agar maha­siswa di­
ikat dalam organisasi berdasar keilmuan dan lebih berkutat di masalah-masalah
disiplin ilmu masing-masing. Hariman tetap diplot menjadi tokoh sentral. Ia terbang
ke Makassar bersama Judilherry Justam, yang berasal dari HMI. Di sana mereka
hadir dalam Kongres Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia (IMKI). “Ini juga
kepentingan Ali Moertopo,” kata Judilherry. Saat itu, nama Hariman dan Judilherry
merupakan kandidat kuat pimpinan IMKI.
Salah satu keputusan IMKI waktu itu adalah membuat sekretariat bersama.
Untuk itu perlu dipilih seorang sekretaris jenderal (sekjen). Dalam pemilihan, Hariman
bersaing ketat dengan Judilherry. Hasil pemilihan berakhir dengan angka seri: 6
lawan 6. Sebetulnya peserta kongres terdiri dari 13 perwakilan fakultas kedokteran
se-Indonesia, namun UI memutuskan abs­tain dalam pemungutan suara karena kedua
kandidat sekjen sama-sama berasal dari UI.
Sesampainya di Jakarta, tercapai kesepakatan antara Ha­riman dan Judilherrry.
“Judil mundur dari pemilihan kandidat Sekjen IMKI dan, sebagai konsesinya, dia
menggantikan saya sebagai Ketua Senat FKUI,” kata Hariman. Memang, Judilherry
kemudian mengumumkan mengundurkan diri sehingga tak diperlukan pemilihan
ulang. Maka, jadilah Hariman Siregar sebagai Sekjen IMKI. “IMKI dan ikatan
mahasiswa profesi lainnya ini memang dirancang untuk mewadahtunggalkan
mahasiswa,” tutur Gur­milang. Maksudnya, gagal masuk lewat penyatuan dewan-
dewan mahasiswa, Ali Moertopo mencoba untuk menyatukan mahasiswa lewat
organisasi formal lain yang ia bentuk. Kelak, demikian rancangan Ali, “ikatan-ikatan
mahasiswa profesi” itu akan berkumpul dan didorong melakukan unifikasi serupa
NUS yang telah gagal. Tapi, rencana merebut UI dari dominasi HMI dan organisasi
ekstra-kampus tetap digalang.
Pertengahan 1973, salah satu agenda penting mahasiswa UI adalah pemilihan
Ketua Dewan Mahasiswa UI. Hariman pun berkeinginan maju sebagai salah satu
kandidat. Menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI di masa itu, dalam perhitungan
Hariman, sebenarnya usaha yang cukup sulit. Sejarahnya, Ketua Dewan Mahasiswa
UI harus memiliki basis organisasi mahasiswa ekstra-kampus, seperti HMI, GMNI,
atau PMKRI. Akan halnya Hariman tak terlibat dalam organisasi-organisasi tersebut.

~ 33 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 33 3/26/10 7:21:15 PM


Hariman & Malari
Ia hanya tercatat ikut dalam GDUI. Dan di dalam GDUI sendiri mulanya agak ragu.
Bahkan Sjahrir, motor utama GDUI, waktu itu sempat menyampaikan keraguan
Hariman bakal terpilih sebagai Ketua Dewan Mahasiswa UI.17
Tapi, bukan Hariman namanya kalau mundur begitu saja. Tantangan berat
justru membuat dirinya bersemangat untuk mengatasinya. Ia pun mulai mengatur
strategi dan melakukan pendekatan terhadap anggota Majelis Perwakilan Mahasiswa
(MPM) UI. Pelan tapi pasti, simpati mulai berdatangan. “Orang tertarik kepada
Hariman karena pendekatan kemanusiaannya. Personal approach-nya tinggi,” kata
Salim Hutadjulu, yang saat itu menjabat Ketua Senat FISIP UI. Aktivis mahasiswa
fakultas sastra, yang mayoritas merupakan mahasiswa independen, juga menyatakan
dukungan. Begitu pula beberapa organisasi mahasiswa profesi yang berada di UI,
seperti Mahasiswa Pencinta Alam.
Rekam jejak sebagai anggota DPM, Ketua Senat Mahasiswa FKUI, dan
Sekjen IMKI turut mendongkrak ketokohan Hariman sebagai kandidat Ketua Dewan
Mahasiswa UI. Saingan utama Hariman sebagai kandidat Ketua Dewan Mahasiswa
UI adalah Ismeth Abdullah, yang diusung oleh HMI.
Di atas kertas, kemenangan sudah hampir pasti diperoleh Ismeth Abdullah.
HMI memiliki 25 suara di MPM, sisa suara diperebutkan oleh Hariman dan kandidat
lain. “Saya sendiri mulanya mencalonkan diri,” kata Gurmilang. Ia dan beberapa calon
lain mengundurkan diri guna mendukung Hariman. Hingga akhirnya menjelang hari
pemilihan Ketua Dewan Mahasiswa UI tinggal tiga kandidat yang siap bertarung:
Hariman, Ismeth Abdullah, dan Theo L. Sambuaga yang diusung GMNI. Melihat peta
suara, posisi Theo karenanya menjadi penentu, bahkan bagi HMI bila ingin menang
telak dalam pemilihan.
Akbar Tandjung, yang kala itu menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI,
mengatakan sebetulnya HMI UI telah melakukan kesepakatan koalisi dengan GMNI.
“Kami meminta GMNI mendukung calon kami, Ismeth Abdullah,” ujarnya. Dengan
menang telak, HMI bakal menancapkan dominasinya di UI.
Ketika itu, Theo L. Sambuaga sempat memberi sinyalemen akan mengalihkan
suara GMNI ke HMI. Ia dijanjikan menjadi sekjen Dewan Mahasiswa UI bila kelak
Ismeth Abdullaj menjadi ketuanya. Di kubu Hariman, berbagai manuver pun dilakukan
dengan intensif. Pendekatan personal dilakukan satu per satu terhadap para anggota
MPM UI. Gurmilang, misalnya, mendekati kerabat di fakultas psikologi dan duduk
di MPM. Pendekatan itu sukses.
Namun, tetap saja di atas kertas suara untuk Hariman belum cukup. Lantas,
Theo Sambuaga yang menjadi memiliki posisi kunci juga dilobi secara intensif. “Dari
kelompok Hariman yang didukung GDUI datang melobi saya. Begitu juga dari HMI.
Prosesnya cukup panjang, sampai berbulan-bulan. Lobi sana-sini dan kampanye.
Tapi, tidak ada unsur uang. Pada akhirnya, saya dan teman-teman GMNI bergabung
mendukung Hariman,“ kenang Theo Sambuaga.
17
Ibrahim Zakir. Loc Cit.

~ 34 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 34 3/26/10 7:21:15 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Hitung punya hitung, seandainya GMNI sepakat mengalihkan suaranya ke
Hariman, pertarungan HMI versus non-HMI akan menghasilkan suara berimbang
25:25. Peta suara di MPM yang cukup berimbang ini membuat tegang suasana
menjelang pemilihan. Selain dukungan dari GMNI yang memiliki jatah empat suara,
Hariman sudah mengantongi dukungan 21 suara dari PMKRI, GDUI, perwakilan
fakultas non-partisan, dan small group UI. Yang disebut terakhir ini adalah kelompok
Opsus di UI yang dibina oleh Letkol Utomo, ajudan Ali Moertopo. Kelompok ini
bermarkas di sebuah rumah di belakang Apotek Tunggal, yang letaknya persis
berseberangan dengan kampus UI di Jalan Salemba Raya. “Sampai menjelang hari
pemilihan, suara Theo masih ke HMI sebetulnya,” ujar Judilherry Justam yang kala
itu menjadi Ketua HMI UI.
Pendekatan yang dilakukan atas saran Akbar Tandjung adalah pembentukan
koalisi Islam-nasionalis. “Memang dari awal ada beberapa teman di HMI yang ragu
akan komitmen Theo, tapi saya kala itu percaya betul sama dia,” kata Akbar.
Faktanya, saat pemilihan, Theo dan GMNI mengalihkan suara kepada
Hariman. Mengapa bisa begitu? “Sewaktu kampanye, Hariman bilang: ‘Selama ini
HMI terus, sekali-kali gantian dong.’ Saya kira dia benar dan kami memang ingin
lihat ada perubahan,” tutur Theo L. Sambuaga tentang perubahan sikapnya. Dalam
pemilihan itu, Theo tetap maju menjadi kandidat, namun ia sudah menginstruksikan
semua suara GMNI diberikan ke Hariman.
Nah, saat penghitungan suara, perolehan suara Hariman dan Ismeth berkejaran.
Hasil akhir pemilihan mengejutkan semua pihak. Ha­riman unggul tipis, 26 lawan 24, dari
Ismeth. Dari mana satu suara untuk Hariman? “Rupanya ada anak HMI yang membelot,”
kata Gurmilang sambil terkekeh mengingat masa itu. Anggota HMI dari fakultas hukum
itu bermarga Hasi­buan. Kepada Gurmilang dan kawan-kawan, ia mengungkapkan
alasannya mendukung Hariman: “Aku ini memang anggota HMI, tapi orang Batak. Jadi,
aku pilih si Hariman.” Agaknya ini teknik pendekatan lain dari Hariman. Ia berhasil
memainkan sentimen latar belakang kesukuan di anggota MPM.
Kemenangan Hariman tentu cukup mengejutkan kalangan HMI. Tak lama
beredar rumor bahwa kemenangan Hariman itu tak lepas dari campur-tangan orang-
orang Opsus. Benar begitu? Hariman sendiri tak mengelak bahwa ia didukung
oleh kelompok Ali Moertopo untuk merebut kursi Ketua Dewan Mahasiswa UI.
“Pendukung saya sebenarnya, ya, GMNI, PMKRI, GDUI, dan Pak Ali Moertopo,”
kata Hariman.18
Tapi, itu tak berarti Hariman bisa didikte begitu saja oleh Ali Moertopo dan
orang-orang Opsus. Terbukti kemudian, hanya beberapa hari setelah dilantik sebagai
Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman mulai menunjukkan jatidirinya. Ia, misalnya,
mengangkat se­jumlah aktivis HMI menduduki posisi penting dalam kabinet Dewan
Mahasiswa UI.
18
“Malari: Apa yang Terjadi?”, Tempo edisi 48/XXI 25 Januari 1992.

~ 35 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 35 3/26/10 7:21:16 PM


Hariman & Malari
Hariman juga menjadikan GDUI sebagai “dapur” Dewan Mahasiswa UI.
GDUI mengolah isu-isu, mempertajam masalah, dan menggariskan sikap yang akan
dilemparkan, khususnya kepada dunia kampus. Adapun pelaksana utama gerakan di
lapangan adalah Dewan Mahasiswa UI. e

~ 36 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 36 3/26/10 7:21:16 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 3

Jalan
Menuju Malari

T
ak lama setelah terpilih sebagai Ketua
Dewan Ma­hasiswa UI, Hariman Siregar dilantik
oleh pihak Rek­torat UI. Saat itu, ia masih ter­catat
sebagai anggota Golkar. Menjelang pelantikan, ia
menyatakan mengundurkan diri dari keanggotaan
Golkar. “Saya dipilih oleh mahasiswa, bukan oleh
Golkar,” kata Hariman.
Pelantikan pengurus Dewan Ma­hasiswa UI dilakukan Penjabat Rektor UI,
Prof. Dr. R. Slamet Iman Santoso, awal Agustus 1973, yang mengggantikan se­mentara
Prof. Soemantri Brodjonegoro yang sedang sakit keras. Baru sebulan kemudian Prof.
Soemantri menominasikan calon tunggal untuk rektor definitive, yaitu Prof. Mahar
Mardjono. Kurang dari sebulan setelah pelantikan itu pula Dewan Ma­hasiswa UI
langsung sibuk dengan berbagai aktivitas protes terhadap Orde Baru.
Saat penyusunan kabinet Dewan Ma­hasiswa UI, Hariman mulai menunjukkan
inde­pendensinya. Ia memilih Judilherry Justam, Ketua Komisariat HMI UI, sebagai
Sekjen Dewan Ma­hasiswa UI. Padahal, orang-orang Opsus sebelumnya sudah wanti-
wanti agar Hariman tidak melibatkan aktivis HMI. “Gara-gara Hariman memilih Judil
sebagai sekjen, bukan aktivis binaan Opsus, para petinggi Opsus marah besar,” tutur
Gurmilang Kartasasmita. Gurmilang sendiri kemudian ditunjuk sebagai wakil ketua
II dan Theo Sambuaga menjadi wakil ketua I. Beberapa anggota aktif GDUI juga
ditunjuk Hariman dalam kabinetnya, antara lain Darmin Nasution yang menduduki
posisi Ketua Departemen Pendidikan Dewan Ma­hasiswa UI.
Judilherry sendiri menilai keputusan Hariman memilih dirinya sebagai hal
yang sangat strategis. “Menurut saya, waktu itu Hariman telah menemukan dirinya
sendiri,” kata Judilherry Justam, “atau mungkin bagi Hariman, Opsus waktu itu hanya
sekutu taktis saja.”

C. Van Dijk. 2000. Pengadilan Hariman Siregar. Jakarta: TePLOK PRESS.

~ 37 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 37 3/26/10 7:21:16 PM


Hariman & Malari
Pendapat Judilherry diamini oleh mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI
kurun waktu itu, Akbar Tandjung. Menurut dia, “Hariman adalah orang yang tidak
bisa dikendalikan. Seusai terpilih menjadi Ketua DMUI, ia segera menggunakan
posisinya itu untuk memimpin gerakan mahasiswa menentang penguasa.”
Mantan Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro punya cerita sendiri. Suatu
malam tak lama setelah dilantik sebagai Ketua Dewan Ma­hasiswa UI, kata Soemitro,
Hariman datang ke kantor Kopkamtib bersama semua pengurus Dewan Ma­hasiswa
UI. Saat itu, Soemitro ditemani wakilnya, Laksamana Sudomo.
Kedatangan mahasiswa-mahasiswa itu mengenalkan diri dan melapor sebagai
pengurus Dewan Ma­hasiswa UI yang baru. “Tapi dalam laporannya Hariman me­
nutup dengan ucapan yang saya anggap aneh,” tulis Soemitro dalam memoarnya.
Ucapan yang dianggap aneh itu ialah “Kami ada hubungan dengan Tanah Abang
III.” Maksudnya adalah kantor CSIS, organisasi think thank yang didirikan oleh
tokoh-tokoh Opsus. “Tapi kelak waktu bergulir Hariman berubah 180 derajat,” imbuh
Soemitro.
Hariman mengaku sengaja memilih Judilherry sebagai Sekjen Dewan Ma­
hasiswa UI demi menjalankan misi besar: konsolidasi gerakan mahasiswa Indo­nesia.
Untuk itu, ia merangkul HMI yang notabene saat itu masih memiliki pengaruh besar
di kampus-kampus di seluruh Tanah Air. “Setelah saya terpilih menjadi Ketua DMUI
pada Agustus 1973, kami memutuskan menjadikan DMUI sebagai lembaga sentral
untuk mempersatukan semua potensi aksi yang ada di masyarakat. Saya berusaha
memperkuatnya. Susunan pengurus harian DMUI, saya isi dengan mahasiswa UI
yang juga merangkap menjadi aktivis dari berbagai organisasi ekstra—HMI, GMNI,
PMKRI, GMKI—sehingga DMUI memiliki akses ke organisasi mereka,” ungkap
Hariman.
Mengapa konsolidasi gerakan mahasiswa menjadi penting? Sebagaimana
diketahui, terhadap kebangkrutan ekonomi orde sebelumnya, Orde Baru menganut
politik pembangunan yang mengutamakan strategi pertumbuhan ekonomi. Dalam
pelak­sanaannya, strategi ini membutuhkan injeksi modal yang besar untuk investasi,
yang sulit dipenuhi dari dalam negeri. Karenanya, terbit­lah UU No. 1/1967 tentang
Penanaman Modal Asing (PMA).
PMA bersedia masuk jika ada jaminan stabilitas politik. Maka dilakukanlah
stabilisasi bidang politik, antara lain dengan mengintegrasikan struktur komando
ABRI, agar tidak terjadi lagi persaingan antar-angkatan; menciptakan monoloyalitas
pe­gawai negeri sipil melalui Korps Pegawai Republik Indonesia (Permendagri No.
12/1969 dan PP No. 6/1970), sehingga birokrasi sipil tidak menjadi ajang perebutan
pengaruh partai-politik lagi. Kemudian, atas nama konsensus nasional, dibakukan
dalam UU No. 16/1969, diadakan sistem pengangkatan (pembagian jatah kursi bagi
ABRI di DPR/MPR) guna mengimbangi peran politisi sipil.

Heru Cahyono. 1998. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan Peristiwa 15 Januari ’74.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

~ 38 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 38 3/26/10 7:21:17 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman saat memimpin rapat Dewan Mahasiswa UI.

Dalam suasana keberhasilan berbagai upaya konsolidasi seperti itulah—yang


sesungguhnya merupakan upaya sistematis menuju sentralisasi kekuasaan—Rencana
Pembangunan Lima Tahun (Repelita) I dilaksanakan. Kalangan tekno­krat (yang
tergabung dalam Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, Bappenas) menyusun
rencana dan birokrasi sipil bertugas me­laksanakan rencana yang disetujui presiden.
Dalam tempo yang relatif singkat, dilihat dari makro ekonomi di atas kertas,
terlihat prestasi yang mengesankan. Inflasi dapat ditekan, situasi moneter terkendali,
dan laju pertumbuhan ekonomi meninggi. Namun, menurut Dorodjatun Kuntjoro-
Jakti, 80 persen biaya investasi pembangunan justru datang dari utang luar negeri.
Keadaan utang luar negeri hingga akhir 1973 dari Inter-governmental Group on
Indonesia (IGGI) saja mencapai US$2,73 miliar. Ini tidak main-main, mengingat
Orde Baru baru berusia tujuh tahun, tapi sudah membukukan utang sebegitu besar.
Akibatnya sangat mahal, masyarakat kecil menjadi lebih berat kehidupannya.
Ini terjadi, selain karena aspek pemerataan memang kurang mendapat
perhatian, juga akibat adanya arogansi sektoral yang menimbulkan ketimpangan
antar-sektor dalam pembangunan. Muncul pula ekses lain: merajalelanya korupsi,
antara lain di Pertamina, Bulog, serta PT Berdikari; dan mislokasi keuangan negara
seperti dalam proyek TMII.

Dikutip dari Eep Saefulloh Fatah. 2010. Konflik, Manipulasi dan Kebangkrutan Orde Baru: Manajemen Konflik Malari,
Petisi 50, dan Tanjung Priok. Jakarta: Burung Merak Press.

Lihat Donald Hindley. 1971. “Indonesia 1970”, dalam Asian Survey, Februari, halaman 115. Juga Ingrid Palmer. 1978.
The Indonesian Economy since 1965: A Case Study of Political Economy. London: Frank Cass, Ltd., halaman 196.

Lihat Hariman Siregar. 1995. “Gerakan Mahasiswa 1970-an”, makalah pengantar diskusi dalam pertemuan
ÒMengembangkan Wawasan Ke-2Ó yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia di Kanada dan Amerika Serikat di
Madison-Wisconsin, Amerika Serikat, 4 Juni 1995.

~ 39 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 39 3/26/10 7:21:18 PM


Hariman & Malari
Menyaksikan dan mendengar berbagai permasalahan ter­sebut, Hariman
dan aktivis mahasiswa lain yang dapat merasakan apa yang sedang terjadi saat itu
menjadi tergugah untuk bergerak. “Karenanya, saya dapat memahami jika kemudian
banyak reaksi yang muncul dari kalangan pemuda dan mahasiswa ketika itu: ada aksi
Mahasiswa Menggugat, Aksi Pelajar 70, Komite Anti Korupsi, Bandung Bergerak,
Komite Anti Kelaparan, Anti TMII, dan sebagainya. Aksi-aksi semacam ini lebih
didorong oleh keprihatinan yang mendalam atas rasa keadilan dan keberpihakan
kepada rakyat banyak. Inilah salah satu yang membedakannya dengan gerakan
mahasiswa 1965-1966, yang lebih berdasarkan perasaan anti-komunis dan Sukarno,”
tutur Hariman.
Boleh dikata, sepanjang awal tahun 1970an itu hampir tiada hari tanpa aksi. Ha­
nya saja yang menjadi tanda-tanya di benak Hariman: me­nga­pa efek dari berbagai aksi
itu tidak pernah meluas. Se­telah mendiskusikan soal itu, para aktivis mahasiswa tiba
pada kesimpulan: penyebabnya adalah, selain tidak adanya isu sentral yang konkret
seperti Tritura, juga tidak ada lembaga yang mampu mempersatukan berbagai potensi
aksi setelah bubarnya Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI).
Sebuah diskusi bertema “28 Tahun Kemerdekaan Indo­nesia” kemudian digelar
GDUI pada 13-16 Agustus 1973. Pembicaranya adalah Soebadio Sastrosatomo,
Sjafruddin Prawi­ranegara, Ali Sastroamidjojo, dan T.B. Simatupang. Beberapa ke­
simpulan dari diskusi ini menyatakan: 1) perlunya praktik politik dan serangkaian
tindakan untuk menyelesaikan masalah dan bukan sekadar diskusi-diskusi; 2) di
kalangan generasi muda dan tua masih terdapat perbedaan gambaran mengenai
struktur politik serta lebih banyak kondisi obyektif dihadapi dalam merumuskan
strategi bersama bagi generasi muda; 3) ada dua pandangan dalam melihat praktik
kekuasaan, yaitu perlu bergerak di luar pemerintahan atau mengubahnya dari dalam.
Hariman menggarisbawahi kesimpulan “perlunya serang­kaian tindakan” untuk
menyelesaikan masalah: suatu aksi yang terencana dan melibatkan massa. Me­nurut
Jusman Syafii Djamal, yang baru menjadi mahasiswa di ITB pasca-Malari, prinsip
Hariman menjadi aktivis memang “aksi” bagi rakyat. “Ia bilang kepada saya dalam
suatu perjalanan dari Bandung ke Jakarta: menjadi aktivis itu nyemplung saja dulu,
pemahaman dan teori akan muncul dari pengalaman bersentuhan dengan rakyat,”
kenang Jusman.
Setelah kabinet Dewan Mahasiswa UI terbentuk, Hariman menjalin kon­tak
dengan berbagai pihak, baik ke sesama dewan mahasiswa dari perguruan-perguruan
tinggi lain maupun ke unsur-unsur non-kampus, terutama dengan kalangan buruh
dan kelompok-kelompok marginal perkotaan lainnya. Banyak informasi yang
berisi keluhan mengenai berbagai masalah kemasyarakatan yang diterima Dewan
Mahasiswa UI dari kalangan rakyat kecil itu.
Sosialisasi gagasan mengenai perlunya mempersoalkan strategi pertumbuhan
ekonomi yang bergantung pada modal asing dan melupakan aspek pemerataan

Ibid.

~ 40 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 40 3/26/10 7:21:18 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
mendapat sambutan yang baik. Banyak mantan aktivis 1966—entah karena kesadaran
(umpamanya: barisan Golongan Putih, Golput) ataupun hanya di dorong rasa kecewa
karena tidak mendapat jatah dalam refreshing DPR-GR (1967) atau yang mendapat
jatah tapi kemudian tersingkir ketika ada refreshing lagi tahun 1968—ikut mendukung
gagasan kritis tersebut.
*****
Gelombang demonstrasi menentang pembangunan TMII menyurut pada
1973. Dua isu besar muncul sebagai tema utama aksi jalanan pada bulan-bulan akhir
1973: anti-RUU Perkawinan dan anti-modal asing. Yang pertama terutama digalang
oleh organisasi-organisasi massa Islam, menentang rancangan undang-undang yang
diajukan pemerintah ke DPR pada 31 Juli 1973. Akan halnya isu tentang dominasi
modal asing di Indonesia merebak dari komite-komite mahasiswa, aktivis anti-korupsi
(sebagian dimotori eks mahasiswa Angkatan 1966), grup-grup diskusi kampus, hingga
kemudian diusung oleh lembaga formal mahasiswa: dewan mahasiswa.
Bulan Oktober 1973 bertepatan dengan Ramadan dalam kalender Hijriah.
Artinya, siang hari kebanyakan umat Islam menjalankan ibadah puasa. Idul Fitri akan
tiba bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober. Padahal, Dewan
Mahasiswa UI be­rencana menggunakan momentum Hari Sumpah Pemuda untuk
menyampaikan sikap mahasiswa mengenai situasi politik dan ekonomi nasional.
“Karena Hari Sumpah Pemuda bertepatan dengan Lebaran, kami mempercepat
aksi menjadi tanggal 24 Oktober,” kata Theo L. Sambuaga, Wakil Ketua Dewan
Mahasiswa UI kala itu.
Kegiatan dimulai dengan diskusi yang mengundang generasi dari berbagai
angkatan: Angkatan 1928, Angkatan 1945, dan Angkatan 1966. Diskusi tersebut
berlangsung di Student Centre UI. Diskusi malam hari itu dihadiri juga oleh Bung
Tomo yang datang dengan sarung dan peci, karena malam itu ia baru pulang dari salat
tarawih.
Adapun pembicara dalam diskusi penting itu adalah Sudiro (mantan Walikota
Jakarta, mewakili Angkatan 1928), Menteri Luar Ne­geri Adam Malik dan B.M. Diah
(mewakili Angkatan 1945), Cosmas Batubara (mewakili Angkatan 1966), dan Ketua
Dewan Mahasiswa UI Hariman Siregar. Pembicara lainnya ialah Emil Salim dan Frans
Seda. Isu-isu yang disinggung antara lain tentang generasi muda vs. generasi tua,
pembangunan yang tidak merata, dan Dwifungsi ABRI. Tampil sebagai moderator
adalah Theo L. Sambuaga.
Pada diskusi itu, Hariman menyatakan bahwa “pembinaan” terhadap generasi
muda merupakan penghinaan terhadap kaum muda. Adanya ganja, seks bebas, dan
kenakalan pemuda lainnya tidak boleh dijadikan alasan dilakukannya pembinaan
itu melalui organisasi-organisasi yang dibentuk oleh prakarsa pemerintah. Maka,
menurut dia, “Diperlukan gerakan-gerakan mahasiswa yang tidak terlibat dengan
lembaga-lembaga yang dibirokrasikan seperti sekarang.”

~ 41 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 41 3/26/10 7:21:19 PM


Hariman & Malari
Sudiro, yang mewakili Angkatan 1928, me­nunjukkan kalangan tua tidak
melihat adanya jurang antar-ge­nerasi: “Generasi muda selalu terlibat dalam masa
kini bangsanya, sebab generasi muda anti-sesuatu yang rutin.” Pernyataan Sudiro
itu disimpulkan B.M. Diah sebagai pekerjaan bagi generasi muda. Katanya, generasi
mudalah yang menentukan masa kini, bukan generasi tua.
Wakil dari Angkatan 1966 yang sudah duduk dalam kekuasaan Orde Baru,
Cosmas Batubara, mengungkapkan sebaliknya. Me­nurut dia, kondisi serta kestabilan
politik telah mendukung per­siapan-persiapan bagi generasi muda untuk mengambil
alih kepemimpinan nasional. Tidak perlu mempertentangkan kedua generasi, juga tak
perlu menentang Dwifungsi ABRI. Menjawab pertanyaan mengenai perannya dalam
kekuasaan, Cosmas berujar bahwa ada saatnya “kita” ikut memengaruhi perumusan
kebijakan. “Demonstrasi saja tidak menyelesaikan masalah. Ngomong lebih mudah
daripada berbuat,” kata Cosmas.
Kepada Hariman, Cosmas saat itu sempat mewanti-wanti, “Man, hati-hati
kalau bikin demonstrasi. Sekarang suasananya berbeda.” Menurut Cosmas, mahasiswa
saat itu tidak lagi homogen seperti pada tahun 1966. Begitu juga sistem politik, telah
betul-betul berubah, militer memiliki peran besar dalam politik.
“Ah, Bang, jangan takut. Saya bisa kendalikan mahasiswa,” jawab Hariman.
Usai diskusi, acara berlanjut dengan ziarah ke Taman Makam Pahlawan
Kalibata. Di sini, sebuah petisi yang kemudian dikenal dengan nama Petisi 24 Oktober
1973 dibacakan:
Kami, Pemuda-pemudi Indonesia, milik dan pemilik nusa dan bangsa tercinta,
dari tempat terbaringnya kusuma-kusuma bangsa yang telah memberikan milik mereka
yang paling berharga bagi kemerdekaan dan kekayaan bangsa Indonesia menyatakan
kecemasan kami atas kecenderungan keadaan ini yang menjurus pada keadaan yang
makin jauh dari apa yang menjadi harapan dan cita-cita seluruh bangsa.
Bahwa dengan kesadaran penuh akan tanggung jawab di hari depan, yang
keadaannya akan sangat ditentukan oleh masa kini, di mana kami, sebahagian
daripadanya, merasa berkewajiban mengingatkan pemerintah, militer, intelektuil/
teknokrat, politisi untuk hal-hal sebagai berikut:
1. Meninjau kembali strategi pembangunan dan menyusun suatu strategi yang
di dalamnya terdapat keseimbangan di bidang-bidang sosial, politik, dan ekonomi
yang anti-kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan;
2. Segera membebaskan rakyat dari cekaman ketidakpastian dan pemerkosaan
hukum, merajalelanya korupsi dan penye­lewengan kekuasaan, kenaikan harga, dan
pengangguran;
3. Lembaga-lembaga penyalur pendapat rakyat harus kuat dan berfungsi serta
pendapat masyarakat luas mendapat ke­sempatan dan tempat yang seluas-luasnya;
4. Yang paling berkepentingan akan masa depan adalah kami, oleh karena itu

Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution. 2008. Mengawal Nurani Bangsa, Jilid III: Bersama Mahasiswa ÒAset Utama Pejuang
NuraniÓ, Jakarta: Yayasan Kasih Adik bekerjasama dengan Disbintalad.

Ricardo Iwan Yatim, dkk.. 1994. Hati Nurani Seorang Demonstran: Hariman Siregar.
Jakarta: PT Mantika Media Utama Jakarta.

~ 42 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 42 3/26/10 7:21:19 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
penentuan masa depan—yang tidak terlepas dari keadaan kini—adalah juga hak dan
kewajiban kami.
Kiranya Tuhan Yang Maha Esa menyertai perjalanan Bangsa Indonesia.
Kalibata, Peringatan Sumpah Pemuda tahun 1973
DEWAN MAHASISWA UNIVERSITAS INDONESIA

Setelah diskusi dan petisi, Hariman mulai sibuk dengan berbagai diskusi di
berbagai kota. Ia melakukan berbagai kunjungan ke dewan mahasiswa se-Jawa. Pada
awal November dan Desember, misalnya, Hariman ke Yogyakarta bertemu dengan
Dewan Mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga. Ia juga tampil
sebagai pembicara dalam suatu pertemuan mahasiswa, intelektual, dan seniman yang
disebut Pertemuan Ririungan di Bandung, 9 Desember 1973.
Setelah Petisi 24 Oktober 1974 keluar, berbagai kelompok mulai dibentuk, baik
di dalam maupun di luar kampus, antara lain Komite Kebanggaan Nasional, Komite
Kewaspadaan Nasional, Komite Anti-kemewahan, Generasi Pembayar Utang, dan
Kelompok Desember Hitam. Petisi itu juga memengaruhi kebangkitan pers dengan
sangat berarti.
Sementara itu, pertengahan Oktober 1973, terjadi suatu peristiwa penting
di Thailand. Aksi-aksi mahasiswa berhasil menggulingkan Perdana Menteri
Marsekal Thanom Kittikachorn. Melihat itu, pemerintah Indonesia semakin
gencar mengupayakan meredam aksi mahasiswa Indonesia. Peristiwa di Thailand
dianggap bisa memberi inspirasi bagi mahasiswa di Tanah Air. Bawahan-bawahan
Presiden Soeharto, terutama Jenderal Soemitro dan Ali Moertopo, bersaing untuk
mengendalikan mahasiswa. Soemitro rajin ke kampus-kampus bersama Kharis Suhud
dan Iwan Stamboel. Hanya UI yang tidak ia datangi.
Tapi, laporan-laporan media massa tentang cukongisme, korupsi, komisi 10
persen yang didapat oleh pejabat pemerintah atas proyek-proyek pembangunan, dan
konsolidasi di antara gerakan mahasiswa telanjur mulai menguat. Berbagai upaya
pen­dekatan yang dilakukan oleh otoritas keamanan itu hanya menjadi tempat untuk
debat antara mahasiswa dan “utusan” pemerintah. Diskusi-diskusi dan aksi di dalam
kampus atau ke jalan oleh mahasiswa tetap ramai berlangsung di berbagai kota:
Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Makassar, Semarang, dan kota-kota lain.
Mahasiswa tak perlu menunggu terlalu lama untuk mendapatkan momentum
berikutnya. Dua hari penting muncul di bulan November. Peringatan Hari Pahlawan
dimanfaatkan untuk mengumandangkan ikrar kesediaan berkorban untuk mencapai
masyarakat yang adil dan aman. Delapan dewan mahasiswa menandatanganai ikrar
itu, di antaranya Dewan Mahasiswa UI, ITB, dan Universitas Padjadjaran. Isi Ikrar
10 November 1973 itu10:

Max Lane. Op.Cit., halaman 72.
10
Rum Aly. 2004. Menyilang Jalan Kekuasaan Militer Otoriter: Gerakan Kritis Mahasiswa Bandung di Panggung Politik
Indonesia 1970-1974, Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

~ 43 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 43 3/26/10 7:21:19 PM


Hariman & Malari
Kami, generasi muda Indonesia, setelah merenungkan sedalam-dalamnya
kenyataan yang terjadi dalam perkembangan kehidupan bangsa, yang semakin jauh
dari yang dicita-citakan, merasa terpanggil kesadaran tanggung jawab kami selaku
generasi pewaris hari depan bangsa untuk turut serta melibatkan diri dalam proses
kehidupan masyarakat, menyatakan:
Kesatu, meningkatkan solidaritas di antara sesama generasi muda dalam
menghadapi kenyataan-kenyataan, sebagai konsekuensi dari keterlibatan kami dalam
proses kehidupan kemasyarakatan;
Kedua, menyatakan satu tekad untuk mengadakan langkah-langkah perubahan
dalam usaha mewujudkan cita-cita kemerdekaan yang telah dirintis oleh para pahlawan
bangsa.
Kiranya Tuhan Yang Maha Esa menyertai perjuangan kami.

Momentum kedua datang keesokan harinya: Minggu, 11 No­vember 1973. Hari


itu Menteri Kerja Sama Pembangunan Belanda yang juga Ketua IGGI, J.P. Pronk, tiba
di Bandara Kemayoran untuk memulai kunjungan ke Indonesia. Pronk masih muda
dan berambut agak gondrong. Demonstran yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa
Indonesia untuk Indonesia (GMII) menyambut Pronk dengan poster-poster protes.
Se­orang mahasiswi UI berkacamata berhasil mendekati Pronk karena ia membawa
karangan bunga berwarna putih. Namun mahasiswi bernama Jajang Pamontjak ini
tidak hanya memberikan bunga sambutan, ia pun menyelipkan sebuah amplop berisi
memorandum berbahasa Inggris dan undangan untuk berdiskusi. Menteri Ekonomi
dan Industri/Kepala Bappenas Prof. Widjojo Nitisastro yang menjemput Pronk sempat
terkejut melihat itu. Petugas keamanan mencoba me­minta amplop itu, namun Pronk
telanjur memasukkan ke dalam saku jasnya.11
Memorandum itu isinya menyesalkan terpelesetnya peme­rintah Indonesia
yang menjadi sangat tergantung dan makin tergantung pada bantuan luar negeri dan
modal asing. Bantuan yang harusnya menjadi faktor pelengkap belaka menjadi faktor
substansial. Apabila salah arah itu dibiarkan, “Kami khawatir bahwa nanti bantuan
luar negeri dan modal asing akan dianggap tidak berguna.”
Selanjutnya, memorandum GMII itu menyebutkan: “Kami tak bangga kepada
bantuan asing yang hanya berarti lebih banyak gedung-gedung mentereng menjulang,
lebih banyak nightclub dan banjir Coca-cola, tetapi di lain pihak makin banyak rakyat
tak mendapat pekerjaan, kehilangan tanah, tak punya rumah, industri-industri kecil
mati, hutan-hutan menjadi gundul dan ladang-ladang minyak menjadi kering.”12
Pada pengadilan Sjahrir tampak bahwa sejumlah ang­gota GMII merupakan anggota
GDUI.13
“Padahal saya, atas perintah Hariman dan atas nama DMUI, telah melakukan
konferensi pers bahwa aksi yang di antaranya diikuti oleh Jajang dan Sylvia Tiwon itu
11
Ibid.
12
Ibid.
13
C. Van Dijk. 2000. Op.Cit.

~ 44 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 44 3/26/10 7:21:20 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman memimpin pertemuan mahasiswa Indonesia dengan JP Pronk di Jakarta (1973).

bukan DMUI,” ujar Gurmilang Kartasasmita. Pernyataan pers itu menyatakan Dewan
Mahasiswa UI tidak menggerakan aksi terhadap Pronk, tapi bisa mengerti aksi itu
sebagai suatu gerakan mahasiswa.
Saat berkunjung ke Yogyakarta, beberapa hari kemudian, Pronk juga disambut
de­monstrasi mahasiswa yang menamakan diri Gerakan Mahasiswa untuk Rakyat
Indonesia (Gemiri). Demonstrasi-de­monstrasi itu bukan saja ditunjukkan kepada
Pronk. Para tek­nokrat Indonesia yang bertanggung jawab terhadap naskah rencana-
rencana pembangunan juga diserang. Dalam pamfletnya yang berjudul “Bantuan
Luar Negeri dan Pembangunan Kita”, Gemiri menyampaikan permasalahan bantuan
dan investasi asing dengan kata-kata sebagai berikut:

Bantuan luar negeri dapat memberikan pertolongan jangka pendek, tapi juga
akan membebani dalam jangka panjang…. Atau bahkan bisa menjadi senjata bagi
negara-negara besar untuk mengeruk bahan-bahan mentah produksinya dari negara-
negara berkembang.14

Demonstrasi di Yogyakarta juga dilakukan oleh mahasiswa IAIN. Dalam


per­nyataan pemerintah yang berkaitan dengan kerusuhan Malari, demonstrasi itu
dihubungkan dengan kunjungan Hariman ke Yogyakarta sebelumnya.15
Kemudian, pada 30 November 1973 dilangsungkan diskusi ten­tang “Untung-

14
Max Lane. Op.Cit.
15
C. Van Dijk. Op.Cit.

~ 45 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 45 3/26/10 7:21:21 PM


Hariman & Malari
Rugi Modal Asing” di Balai Budaya Jakarta16. Dalam kesempatan ini, sejumlah
intelektual (eks Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia) mulai ber­gabung. Mereka antara lain
Adnan Buyung Nasution, Yap Thiam Hien, dan Mochtar Lubis menandatangani sebuah
manifesto bersama 152 orang yang hadir. Manifesto berjudul “Ikrar Warga Negara
Indonesia” itu dibacakan oleh Sylvia Tiwon, yang intinya: “Ingin mengembalikan
Kebanggaan Nasional yang sebagian telah dinodai oleh segelintir orang.”
Di akhir November itu juga demonstrasi-demonstrasi mulai me­ng­arah ke­
pada dominasi Jepang dan peran Asisten Pribadi Presiden (Aspri), yaitu Sudjono
Hoemardani dan Ali Moertopo.17 Demonstrasi ini berlanjut pada bulan Desember.
Sejumlah ke­lompok aksi mengadakan demonstrasi menentang investasi Jepang dan
investasi asing lainnya. Mereka menentang Aspri dan Ibnu Sutowo (Presiden Direktur
Pertamina). Demonstran juga mengunjungi kantor Bappenas. Dewan Mahasiswa UI
mengorganisasi suatu acara pada malam yang memberikan kesempatan kepada setiap
orang untuk mendeklamasikan “puisi-puisi penyelewengan”. Tanggal 18 Desember,
Dewan Mahasiswa UI mengorganisasi pertemuan yang membuat para mahasiswa
bertekad berjuang bagi perubahan.
Di antara aksi-aksi itu, menurut catatan Rum Aly, ada yang menarik dan
unik, bahkan boleh dibilang lucu. Aksi di­maksud digerakkan oleh KNPI yang baru
dibentuk dengan sasaran kantor Sekretariat Negara, Bappenas, Kopkamtib, dan DPR.
Menjadi menarik karena tokoh-tokoh KNPI yang turun, terutama pada hari pertama
aksi, adalah anggota DPR/MPR yang juga anggota Dewan Pimpinan Pusat Golkar
David Napitupulu, anggota DPR Fraksi Demokrasi Indonesia Drs. Surjadi, anggota
DPR Fraksi Persatuan Pembangunan Drs. Zamroni, anggota DPR Fraksi Karya
Pembangunan Abdul Gafur dan Hatta Mustafa, Eko Cokroyogo, Hakim Simamora,
Naza­ruddin, dan Letkol S. Utomo. Mereka merupakan sayap Ali Moertopo di Golkar.18
Letkol S. Utomo merupakan ajudan Ali Moer­topo yang menggalang kekuatan untuk
menguasai Dewan Mahasiswa UI.
Di Bappenas, David Napitupulu menuding para teknokrat itu “kurang bersifat
terbuka dalam pelaksanaan tugasnya selama ini dan kurang responsif terhadap keadaan
masyarakat.” Koran Sinar Harapan menyindir aksi mereka itu dengan karikatur
sebagai “pahlawan kesiangan yang takut ketinggalan kereta.”
Di dalam Dewan Mahasiswa UI sendiri, tentangan kepada Hariman mulai
16
Balai Budaya kala itu menjadi tempat berkumpul aktivis, seniman, wartawan, dan juga mahasiswa (non-organisasi
kampus). Di antara yang aktif di tempat ini adalah Arief Budiman, Sjahrir, Jajang Pamontjak, Silvia Gunawan (keduanya
mahasiswi UI), Joppie Lasut (wartawan lepas), Jesse Arnold Monintja (KAPPI dan mahasiswa Trisakti), Jusuf Achya Rais
(Ketua KAPPI Jakarta 1966).
17
Aspri dibentuk Soeharto sejak bulan Juni 1968, dengan anggota para perwira Angkatan Darat yang loyal kepada dirinya:
Mayjen Surjo, Brigjen Ali Moertopo, Brigjen Sudjono Hoemardani, dan Kolonel Widya Latief. Pembentukan Aspri ini
setelah sebelumnya Spri (Staf Pribadi) ditentang oleh KAMI. Spri beranggotakan enam perwira Angkatan Darat dan
dua spesialis sipil yang bertugas memberi masukan bidang ekonomi dan politik: Mayjen Alamsjah Ratu Prawiranegara
(koordinator), Mayjen Surjo, Brigjen Yoga Soegama, Kolonel Ali Moertopo, dan Kolonel Sudjono Hoemardani. Spri
dibentuk pada bulan Agustus 1966, delapan bulan sebelum Soeharto diangkat sebagai pejabat presiden. Substansi kedua
lembaga itu sama, menjadi Òkabinet bayanganÓ yang hubungannya dengan presiden sangat personal dan lentur, tidak
dibatasi birokrasi dan memiliki kelonggaran dalam anggaran. Pada demonstrasi 1973, penentangan terhadap Aspri
bertambah kencang.
18
Rum Aly. 2004. Op.Cit.

~ 46 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 46 3/26/10 7:21:21 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
datang. Sepuluh fungsionaris—mahasiswa binaan Opsus—pada 28 Desember 1973
mengeluarkan mosi tidak percaya kepada kepe­mimpinan Hariman Siregar. Mereka
memperingatkan bahwa gerakan protes mahasiswa tidak boleh disalahgunakan.
Mereka mengatakan Hariman tidak pernah membuat agenda kegiatan dalam bulan
terakhir yang dieksekusi atas nama Dewan Mahasiswa UI. “Mosi itu jelas melanggar
aturan organisasi. Yang mengangkat mereka adalah saya, kok malah mereka mau
memecat saya,” kata Hariman.
Menghadapi mosi itu, Hariman dan para pengurus Dewan Mahasiswa UI
lainnya bertindak tegas. Hanya sehari kemudian, para pengusung mosi dipecat oleh
Hariman, selaku Ketua Dewan Mahasiswa UI.
Hariman tampaknya tidak mau membuang waktu mengu­rusi persoalan itu.
Dewan Mahasiswa UI tengah bersiap menyelenggarakan ma­lam tirakatan pada 31
Desember 1973. Pada malam pergantian tahun itu hadir juga dosen dan perwakilan
dari berbagai dewan mahasiswa dari Jakarta, Bogor, dan Bandung. Selengkapnya
pidato yang diberi judul “Pidato Pernyataan Diri Mahasiswa”19 yang disampaikan
Hariman sebagai berikut:

Rekan-Rekan sekalian,
Malam ini adalah malam yang istimewa bagi kita. Jika penutupan tahun-
tahun lalu kita hanya sekadar berpesta atau tinggal di rumah, malam ini kita merasa
perlu berkumpul di sini dan mencanangkan malan ini sebagai “Malam Keprihatinan”.
Tentu ada sebab-sebabnya. Sebab yang paling nyata adalah tahun 1973 yang telah
menimbulkan kebingungan-kebingungan dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang
mengganggu perasaan kita. Tetapi yang terang bagi kita, mahasiswa dan masyarakat
pada umumnya, malam ini bukanlah malam pesta pora dan peragaan kemewahan.
Tetapi sebaliknya, malam ini justru merupakan kesempatan untuk sejenak berhenti
dari kesibukan kita sehari-hari dan merenungkan suasana prihatin yang kini sedang
mencekam kita dan rakyat Indonesia pada umumnya. Tetapi lebih dari itu adalah
bahwa protes kita terhadap keadaan yang tercermin dalam Petisi 24 Oktober
ternyata menuntut kita untuk lebih menegapkan langkah dan menjernihkan pikiran
agar kehadiran kita dalam masyarakat menjadi nyata dan berarti, apalagi kalau kita
bertekad untuk menanggung beban sejarah. Karena, sejarah telah membuktikan bahwa
perubahan-perubahan besar selalu diawali oleh kibaran bendera universitas.
Mari kita baca beban sejarah yang ada di depan kita. Beban kita adalah
membebaskan rakyat dari penderitaan hidup sehari-hari. Beban kita adalah membuat
rakyat yang menganggur untuk mempersoalkan kesempatan kerja dan pembangunan
ekonomi yang tidak menguntungkan rakyat. Beban kita adalah mengetatkan gandengan
dengan sesama generasi muda memikirkan masa kini dan masa depan. Ringkasnya,
beban sejarah kita adalah menggalakkan keberanian rakyat untuk menyuarakan diri.
Semua itu adalah beban yang tidak ringan—untuk tidak mengatakan berat sekali.
Namun pada akhirnya berat atau ringan beban itu tetap merupakan beban kita. Sekali
kita mengelak, untuk selamanya kita akan menjadi warga negara yang dikutuk sejarah.
Tetapi yang terpenting bagi kita adalah menghentikan kebisuan yang ditimbulkan
19
Ricardo Iwan Yatim, dkk. Op.Cit.

~ 47 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 47 3/26/10 7:21:22 PM


Hariman & Malari
oleh imbauan kenikmatan yang dijanji-janjikan kepada kita. Dan juga kebisuan akibat
feodalisme yang mementingkan sikap nrimo, apatis, dan antipartisipasi. Artinya, kita
harus membebaskan diri dari mitos-mitos yang menempatkan diri kita dalam posisi
bisu dan terbelenggu. Misalnya mitos bahwa cinta kasih dan kemurahan hati kelompok-
kelompok kecil penguasa jika mereka berbuat baik adalah memang betul-betul dari
hati yang tulus; mitos bahwa setiap ucapan dan setiap tindakan penguasa adalah untuk
kepentingan rakyat; mitos bahwa pemberontakan terhadap nilai-nilai budaya feodal
adalah berdosa untuk masyarakat.
Untuk bisa menilai situasi masa kini dan meraba ke­mungkinan masa depan,
marilah kita teliti perkembangan yang terjadi di negara kita dalam bidang politik,
ekonomi, serta kaitannya dengan suasana internasional, yang satu sama lain sangat
erat sekali hubungannya. Perkembangan ekonomi yang sangat mengejutkan akhir-
akhir ini sudah tentu bukan hanya akibat dari suatu strategi pembangunan ekonomi
semata-mata, tetapi juga disebabkan oleh strategi politik yang dilancarkan sejak 1966.
Setelah secara moral dan konstitusional Jenderal Soeharto menjadi presiden di negeri
ini, pembangunan ekonomi telah dijadikan alat legitimasi kekuasaan dan mitos baru
yang banyak menimbulkan harapan. Tetapi ternyata perkembangan ekonomi telah
menolak kemauan penguasa untuk menjadikan pembangunan ekonomi sebagai alat
legitimasi kekuasaan dan mitos politik semata-mata. Hal ini disebabkan karena sikap
penguasa yang demikian itu akan selalu menghasilkan keputusan-keputusan yang
hanya menguntungkan kelompok yang ada di sekitar kekuasaan.
Akibatnya adalah bahwa kesibukan pembangunan dan pemerintah sendiri
menjadi sesuatu yang asing dari rakyat. Dan lebih dari itu, kini telah terkesan dalam
hati rakyat bahwa pembangunan ekonomi berarti penggusuran tanah, pemaksaan
penjualan beras kepada pemerintah, dan kehidupan yang semakin sulit di desa-
desa. Sebaliknya bagi kelompok kecil di sekitar kekuasaan, pembangunan ekonomi
merupakan saat yang memberi kesempatan kepada mereka untuk menumpuk
kekayaan dan memuaskan nafsu terhadap barang-barang mewah. Kelompok ini terang
berkepentingan untuk mempertahankan keadaan dengan segala macam peralatan
dan cara dalam politik. Rakyat dengan demikian akan terus-menerus menjadi
pelengkap penderita yang dipaksa untuk diam dan tidak berdaya. Bagi kita generasi
muda, kecenderungan ini merupakan bahaya yang mengancam pada saat ini dan di
masa depan. Ancaman itu berupa pelarangan terhadap segala kegiatan yang berbau
“mempersoalkan perkembangan masyarakat”, sehingga kita menjadi warga negara
yang tidak peka terhadap situasi sekitar; kita hanya boleh menyibukkan diri dengan
kegiatan yang menunjang pengukuhan politik dari segelintir orang yang menikmati
kehidupan enak dan mewah dalam pembangunan.
Hasil nyata dari pembangunan ekonomi menurut kami adalah bahwa
sejak Pelita hingga berakhir nanti 1974, walaupun bertumbuh tujuh persen setahun,
ketidakadilan sosial dan ekonomi semakin nyata. Ketidakadilan dan pengangguran
semakin terasa dibanding dengan waktu-waktu yang lalu. Ini disebabkan bersatunya
kekuatan-kekuatan ekonomi yang menguasai uang dan sumber-sumber ekonomi
dengan kekuasaan politik dalam bentuk populer berupa kerja sama antara kelompok
Cina dan jenderal-jenderal. Tidak mengherankan jika sebagian rakyat yang tidak
jenderal dan tidak Cina tidak menikmati pembangunan ekonomi seperti sekarang ini.
Terang bagi kita, sebagai unsur masyarakat dan universitas tidak mungkin menjadi
Cina dan jenderal sehingga alternatif pembangunan yang terbuka adalah menyadarkan
jenderal-jenderal dan Cina-Cina menjadi warga negara biasa seperti sebagian rakyat.
Kalau tidak, kemungkinan lain yang harus ditempuh. Pemerintah sering mendengung-

~ 48 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 48 3/26/10 7:21:22 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
dengungkanpembangunan ekonomi dalam bentuk ditekannya inflasi, me­ningkatnya
pertumbuhan ekonomi, berlangsungnya industri-industri barang-barang dan jasa-jasa
dalam kepesatan pertumbuhan yang fantastis. Tetapi kalau hasil-hasil itu dikuliti,
sesungguhnya isinya tidak lebih dari berlangsungnya sistem ekonomi kapitalis di
mana sebagian kecil masyarakat mengisap bagian terbesar rakyat. Ini bukan mengada-
ada, karena tidak kurang dari seorang Dr. Hatta, seorang konseptor ide pembangunan
ekonomi dalam UUD ’45, menyatakan demikian. Kalau seorang seperti Dr. Mohammad
Hatta yang punya tempat tersendiri dalam sejarah bangsa kita telah menyatakan
demikian, sulit bagi pemerintah untuk berdiam diri. Pada kesempatan ini kami ingin
mengajukan pertanyaann kepada pemerintah: apakah pembangunan ekonomi sudah
menyeleweng dari UUD ’45 atau tidak. Kalau memang benar dan kami yakin benar,
kami serukan kepada pemerintah untuk mengoreksi sistem ekonomi sekarang. Kalau
tidak, mari kita bersama-sama mengoreksi pemerintah.
Pada saat ini sering dikemukakan bahwa ekonomi In­do­nesia sangat ter­
gantung pada modal asing. Juga sering dikemukakan bahwa kekuatan ekonomi asing
hanya menguras sumber-sumber alam yang kita punyai dan sebaliknya atas jasa-
jasanya itu mereka membanjiri Indonesia dengan barang-barang mewah yang hanya
bisa dibeli oleh kelompok kecil yang berkuasa. Kami ingin mengajukan pertanyaan-
pertanyaan kepada rekan-rekan sekalian. Apakah kita perlu mengimpor tusuk gigi?
Apakah kita perlu berpuluh-puluh ribu mobil mewah setiap bulan? Apakah perlu
kita mengimpor pakaian-pakaian mewah dari rumah-rumah mode di Paris? Apakah
perlu kita mengimpor sepatu yang harganya lima belas kali dari harga sepatu dalam
negeri? Apakah kita perlu mengimpor film-film yang bertendens asosial? Bukankah
akan lebih baik kalau kita memikirkan usaha-usaha penggunaan produksi kita sendiri
yang mungkin kalah mentereng tetapi sama kegunaannya? Sehingga kita tidak perlu
membuang bermiliar-miliar rupiah untuk mengimpor barang-barang mewah tadi.
Kalau ini bisa dilakukan, ladang-ladang minyak yang akan habis nanti, hutan-hutan
kita yang akan gundul nanti, dan karet yang kegunaannya yang semakin menurun di
masa mendatang tidak menyebabkan Indonesia tenggelam bersamanya.
Sebaiknya marilah kita dengan kepala dingin meneliti secara mendalam
masalah-masalah yang kedengarannya mentereng, yaitu masalah internasional. Soal-
soal internasional ini betatapun besar pengaruhnya kepada kita dan seluruh rakyat
Indonesia.
Pemerintah Orde Baru telah memulai arah politik luar negerinya dengan
suatu kebijaksanaan yang jalin-menjalin dengan kepentingan perekonomian negara
pada saat itu, yang tercakup di dalam pernyataan pemerintah tertanggal 4 April 1966.
Kondisi perekonomian Indonesia yang telah membawa beban berat kepada rakyat
Indonesia pada masa Orde Lama telah sama kita ketahui. Kondisi perekonomian
demikian itulah yang menggariskan kebijaksanaan luar negeri yang menitikberatkan
kepada usaha-usaha penanggulangan dengan mencari sumber-sumber luar sebagai
suatu jalan keluarnya.
Masalah bantuan luar negeri dan modal asing merupakan gejala yang wajar,
suatu gejala yang menunjukkan adanya saling ketergantungan antarbangsa di dunia.
Masalah saling ke­tergantungan ini terutama pada tingkat peradaban dunia sekarang
adalah masalah yang tidak bisa dihindarkan. Akan tetapi sudah barang tentu saling
ketergantungan ini meminta persyaratan-persyaratan. Persyaratan utama adalah
seberapa jauhkah ia mem­bawa keuntungan kepada masing-masing pihak yang terlibat.
Jadi diperlukan persyaratan yang kedua, yaitu bahwa pihak-pihak yang terlibat harus
menjaga kemampuan kondisi dalam negerinya sendiri, agar mendapatkan posisi yang

~ 49 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 49 3/26/10 7:21:23 PM


Hariman & Malari
sederajat, dan demikian pula mencegah ketergantungan sepihak.
Demikianlah, maka pernyataan pemerintah 4 April 1966 itu telah berkembang
menjadi suatu keadaan di mana per­ekonomian negara ditopang oleh lima sektor.
Pertama adalah bantuan luar negeri; kedua, modal asing; ketiga adalah ekspor karet;
keempat, minyak bumi, dan; kelima adalah kayu. Sedangkan kita ketahui bahwa
peningkatan hasil-hasil ekspor karet, minyak bumi, dan kayu pun tidak mungkin tanpa
ditunjang oleh sumber-sumber luar tadi. Dengan ini jelaslah betapa memang bantuan
luar negeri dan modal asing merupakan faktor pokok dalam perekonomian negara dan
bukanlah faktor pelengkap sebagaimana sering kali dikemukakan oleh para pejabat.
Betapapun memang ada kenaikan dari hasil ekspor kita secara keseluruhan, akan tetapi
ketergantungan tadi tetap faktor pokok, yang jelas dipertunjukkan, misalnya oleh
kenaikan-kenaikan pinjaman lewat IGGI.
Sumber-sumber luar yang masuk ke Indonesia cenderung diusahakan dari
negara-negara Barat (termasuk Jepang) daripada negara-negara sosialis. Kondisi
obyektif kelihatan memperkeras kecenderungan tadi. Akan tetapi masalahnya
adalah timbul gejala-gejala yang membatasi aliran-aliran sumber tadi. Pembatasan-
pembatasan ini berasal dari dalam negeri berupa kecaman yang pedas dari masyarakat
terhadap bantuan luar negeri dan modal asing dari negaranya, berupa tuntutan pula
untuk lebih meningkatkan kondisi sosial ekonomi sendiri. Pembatasan yang berasal
dari perkembangan dunia internasional berupa keguncangan moneter dan yang terlebih
dirasakan adalah kelangkaan dari sumber-sumber alam (bahan mentah), yang sekaligus
menunjukkan betapa sebenarnya negara-negara menengah untuk memperjuangkan
kepentingannya bisa saja berperan dalam menghadapi negara-negara besar.
Oleh karena pembatasan-pembatasan yang datang dari negara-negara Barat,
maka semakin besarlah peranan Jepang dalam mengalirkan sumber-sumbernya
kepada negara-negara di Asia Tenggara. Dan sudah barang tentu hal ini pun dialami
oleh Indonesia.
Apabila kita kembalikan kepada masalah saling keter­gantungan antara
bangsa, khususnya antara Jepang dan Indonesia, maka ada masalah yang akan timbul.
Dari Jepang sebagai suatu negara dengan tingkatan teknologi yang tinggi diharapkan
dapat memberikan modal, pengalihan teknologi dan industri, pengalihan keahlian
pengolahan dan penggalian sumber-sumber alam, dan lain-lain. Sedangkan dari
Indonesia diharapkan memberikan sumber-sumber alam bagi industru-industri Jepang
dan sebagai pasar dari barang-barang industri Jepang. Akan tetapi di balik semua
itu ada cerita tersendiri mengenai Jepang ini. Upah buruh yang terus menanjak dan
pengotoran udara memaksa pengalihan pabrik-pabrik padat karya ke negara-negara
lain, antara lain pabrik tekstril ke Indonesia. Sedangkan politik minyak bumi Arab telah
menunjukkan sebenarnya betapa lemah kekuatan ekonomi Jepang, pula menunjukkan
betapa sebenarnya Indonesia sebagai salah satu penghasil minyak bumi yang cukup
besar bisa bermain pula dalam hubungan saling ketergantungan ini.
Akan tetapi dan di sinilah letak masalahnya, kita tidak mempergunakan
kekuatan-kekuatan kita ini. Dalam masalah minyak saja, sistem ijon yang dibawa
dalam kontrak telah me­nempatkan Indonesia pada posisi yang “konyol” di saat harga-
harga minyak di dunia menanjak yang tidak kita nikmati. Keadaan itu pulalah yang
sekaligus menertawakan solidaritas negara-negara tetangga sebab kita pun tidak
bisa menolong sesama negara tetangga yang kekurangan bahan bakar, oleh karena
keterikatan dengan Jepang ini. Dalam usaha perkayuan (dan khusus untuk soal ini
marilah kita berdoa mudah-mudahan hutan kita tidak habis gundul, sebagai nasib yang
dialami oleh Filipina melalui kontrak dengan Jepang pula). Laporan Komisi Empat

~ 50 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 50 3/26/10 7:21:23 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
telah menunjukkan betapa kerugian-kerugian berada di pihak kita dan betapa bisnis
perkayuan telah memberikan keuntungan besar bagi investor asing.
Hubungan Indonesia-Jepang telah semakin menempatkan Indonesia dalam
posisi ketergantungan dan sekaligus apabila dikaitkan pada sistem internasional, maka
kelemahan Indonesia telah semakin menempatkan negara ini sebagai tawanan dan
bukan sebagai peserta dari sistem internasional tersebut.
Kelemahan Indonesia dalam penggunaan kekuatan-ke­kuatannya sebenarnya
disebabkan oleh Indonesia sendiri. Di sinilah terletak kelemahan dari segi pengawasan
di dalam sistem kita sendiri. Jelas bahwa konstelasi politik dan kondisi-kondisi
ekonomi dan cara-cara elite penguasa untuk memperbesar porsi “posisi tukar”-nya di
dalam negeri telah mengintepretasikan dan mengambil bagian kepada kebijaksanaan
luar negeri Indonesia, dan kesemuanya ini tidak memberikan kesatuan dalam
kebijaksanaan tadi dan sudah barang tentu melemahkan posisi Indonesia dalam sistem
internasional ini.
Persoalannya terletak kepada kait-mengaitnya kepentingan dari elite penguasa
dalam kekuasaan dengan ke­pentingan-kepentingan ekonomi. Ini semua bahkan menjadi
suatu gejala yang membahayakan bagi kehidupan bernegara dari Indonesia, apalagi
apabila dihubungkan dengan pernyataan dari Bung Hatta di tahun 1970 bahwa korupsi
telah membudaya. Jadi, kepentingan dari elite penguasa dalam kompetisi kekuasaan
telah berkompetisi pula untuk memperoleh sumber-sumber politik (uang, informasi,
massa, dan lain-lain), yang kesemuanya mengeraskan kecenderungan korupsi. Apabila
kita kembalikan kepada sektor-sektor yang menunjang perekonomian negara, bantuan
luar negeri dan modal asing menjadi faktor pokok, malahan turut memperkeras
kompetisi korupsi dalam mendapatkan sumber-sumber politik, untuk mendapatkan
posisi tukar yang lebih baik dalam porsi kekuasaan.
Jadi baiklah kita menerima kenyataan pahit bahwa kenaikan bantuan luar
negeri dan modal asing adalah merugikan kepada Indonesia. Masalahnya adalah
bahwa sumber-sumber luar tadi tidak menguntungkan rakyat banyak, masalahnya
karena sumber-sumber luar tadi tidak sampai kepada rakyat banyak. Jelas bahwa elite
penguasa di Indonesia tidak mau bertanggung jawab untuk soal ini. Padahal, apabila
kita mempersoalkan nasib bangsa, ada pelajaran berharga dari sejarah.
Sejarah misalnya telah mencatat akibat hubungan saling ke­tergantungan
antara Amerika Serikat dan negara-negara sedang berkembang, terutama Amerika
Latin. Pada dekade tahun 1950-an, arus modal dari Amerika Serikat lebih banyak
diarahkan kepada negara-negara sedang berkembang, terutama negara-negara
Amerika Latin. Dalam hal ini Amerika Serikat menjual barang-barang industrinya dan
menanam modal di sana, sedangkan Amerika Latin menjual sumber-sumber alamnya.
Akan tetapi kecenderungan ini berubah. Pada dekade tahun 1960-an, arus modal
Amerika Serikat lebih banyak mengalir ke negara-negara maju, dalam hal ini terutama
Eropa Barat. Jadi yang terjadi selanjutnya adalah bahwa interdependensi dari negara
maju kepada negara sedang berkembang beralih menjadi interdependensi dari negara-
negara maju dengan negara-negara maju, sedangkan negara-negara yang sedang
berkembang (Amerika Latin) tadi malahan semakin tergantung pada Amerika Serikat
dalam teknologi dan industri, menjadi pasar barang-barang industri Amerika Serikat,
dan sementara itu sumber-sumber alamnya disedot dan diolah untuk kepentingan
Amerika Serikat.
Ini yang kami khawatirkan akan terjadi dalam hubungan antara Indonesia
dan Jepang. Apalagi, Jepang telah menunjukkan kebuasan dalam cara-cara mengeruk

~ 51 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 51 3/26/10 7:21:24 PM


Hariman & Malari
keuntungan. Dengan demi­kian, sebenarnya hubungan Indonesia dan Jepang bukan
saling ketergantungan, akan tetapi ketergantungan sepihak, yaitu dari Indonesia
terhadap Jepang. Dan apabila tidak ditinjau kembali, kami kira jangan-jangan nasib
Indonesia akan sama dengan nasib negara-negara Amerika Latin tersebut di atas.
Maka, Rekan-Rekan, kalau ini yang terjadi, tahun 1974 dan seterusnya
hanyalah pengulangan sejarah sebelum kemerdekaan kita dijajah Jepang. Sudah
tentu bentuknya berlainan karena bila dulu yang ada adalah Kempetai Jepang, maka
sekarang namanya menjadi Toyota, Mitsubishi, Mitsui, dan lain-lain. Kempetai atau
Mitsubishi tidak lain memunyai tugas mengisap bangsa, kekayaan alam, dan darah
rakyat Indonesia. Sebagaimana kita dulu menolak Kempetai, sekarang kita pun harus
bangkit melawan dominasi Jepang.
Rekan-Rekan sekalian,
Tibalah kami pada akhir pidato ini. Pidato ini saya tutup dengan mengemukakan
kesimpulan dan langkah lanjut dari perjuangan mahasiswa.
Tidak ada hasil yang diperoleh tanpa kerja keras, tanpa perjuangan, dan tanpa
keberanian. Karena, kalau kita tidak mau dikekang, diancam, baik oleh kekuasaan
maupun cecunguk-cecunguknya, maka kita mahasiswa harus berani bersikap dan
bergerak untuk mewujudkan pendapat-pendapat yang telah diperolehnya. Ingat, pada
akhirnya yang menentukan bukanlah analisis yang bagus-bagus yang ilmiah, tetapi
tindak nyata yang mengubah keadaan.
Kepada tukang becak, mari Abang-Abang, kita bergerak bersama untuk
membuka kesempatan kerja. Kepada para penganggur yang puluhan juta, yang
berada di desa-desa dan kota-kota untuk bergerak untuk kesejahteraan sosial; kepada
warga negara Indonesia yang bekerja pada perusahaan asing, mari kita bergerak
untuk menuntut persamaan hak dengan karyawan-karyawan asing. Dan akhirnya,
kepada para koruptor penjual bangsa, pencatut-pencatut sumber alam Indonesia yang
mengejar-ngejar komisi sepuluh persen, kami serukan bersiap-siaplah menghadapi
gerakan kami yang akan datang.
Akhirnya terima kasih atas kesediaan rekan-rekan yang bersedia mengorbankan
waktunya menghadiri malam tirakatan ini menjadi titik tolak kita yang penting dalam
proses peragian menuju perjuangan baru. Fajar telah menyingsing, horizon baru mulai
tampak.
Selamat tinggal 1973 dan selamat datang tahun baru 1974. Kita semua sudah
siap menjalaninya.
Terima kasih.

Jakarta, 31 Desember 1973


Ketua Umum Dewan Mahasiswa
Universitas Indonesia

Hariman Siregar

~ 52 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 52 3/26/10 7:21:24 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Pidato yang disampaikan Hariman ini kelak dituding se­bagai seruan untuk
melakukan gerakan makar terhadap pe­merintah. Apalagi, bagian akhir pidato ditujukan
juga kepada masyarakat lain di luar mahasiswa. “Kebetulan pula pada malam itu
hadir tokoh serikat buruh dari Tanjung Priok, Salim Kadar, dan beberapa aktivis non-
kampus lainnya20,” ujar Theo L. Sambuaga.
Padahal, kata-kaca kunci yang menyerang strategi pembangunan pemerintah
dan juga keadaan rakyat telah menjadi bahasa umum dari kalangan kampus pada saat
itu. Jadi, tampak jelas sepanjang paro kedua tahun 1973 muncul berbagai kegiatan
aksi pemuda dan mahasiswa sebagai wujud peran-serta mereka untuk “memperbaiki
keadaan” ketika itu. Gerakan kaum muda saat itu, tegas Hariman, ingin menunjukkan
bahwa kaum muda bisa melakukan perubahan dan perbaikan keadaan negeri ini.
Betapapun, pidato Hariman di malam pergantian tahun itu sungguh
menggetarkan dan bersejarah. “Malam itu, di halaman depan kampus UI Salemba,
ia tampak lahir sebagai tokoh, sebagai hero. Gerak-geriknya yang seakan-akan selalu
tergesa-gesa, matanya yang menyorot tajam, dan katanya-katanya yang tak tajam,
semuanya menguatkan kesan heroik itu,” kenang Sylvia Tiwon, aktivis mahasiswi UI
yang ikut menyaksikan Peristiwa Malam Tirakatan di pergantian tahun tersebut.e

20
Setelah Peristiwa Malari, Salim Kadar, Ketua I Serikat Buruh Maritim Indonesia, sempat ditangkap,
namun dilepaskan kembali.

~ 53 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 53 3/26/10 7:21:25 PM


Hariman & Malari

~ 54 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 54 3/26/10 7:21:25 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 4

Di Tengah Pusaran
Peristiwa Malari

L
anggal 15 Januari 1974. Siang itu, rapat dewan
mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di kampus
Universitas Trisakti ditutup, dipercepat karena
embusan berita terjadinya kerusuhan di beberapa
wilayah Jakarta. Hariman Siregar, Ketua Dewan
Mahasiswa UI, segera memutuskan segera kembali
ke kampus UI di Salemba. Ia didampingi dua aktivis
mahasiswa UI lain: Sylvia Tiwon dan Ibrahim (Bram)
G. Zakir. Mereka mengendarai “mobil khusus DMUI”. Kenangan itu masih tertancap
kuat dalam ingatan Sylvia Tiwon:
“Hariman minta diantar secepatnya ke Salemba. Bertiga, dengan Bram
Zakir, kami meluncur ke kampus UI, masing-masing diam dengan bayangan sendiri,
mencoba memahami berita bahwa wilayah Senen sedang dilanda kerusuhan besar-
besaran, dengan massa yang entah datang dari mana, membakar mobil, merusak
gedung....
Hariman yang tak pernah menyukai atribut apa pun melepas jaket kuning dan
lencana Ketua DMUI. Di depan RSCM, Jalan Diponegoro, sudah dipenuhi massa
sehingga mobil tak dapat memasuki halaman kampus UI. Sebelum kami sempat
memutuskan untuk balik arah memasuki halaman parkir rumah sakit, Hariman
sudah lompat ke luar dan lari—sendiri—menuju perempatan Diponegoro-Salemba.
Barangkali imej Hariman inilah yang tak akan lepas dari ingatan: seorang anak muda
berdiri di tengah jalan, tangan melambai-lambai, berusaha menghentikan truk penuh
massa manusia yang mengalir ke arah Senen. Tak lama kemudian, ia hilang dari
penglihatan, tertelan jejalan orang yang semakin berbondong...”
Ketika hari memasuki malam, ambulans dengan sirene yang terus meraung
bolak-balik dari berbagai lokasi ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RS­CM).
Suara tembakan masih ter­­­dengar sampai pukul 20.00, ter­utama di sekitar Salemba

Lihat penuturan Sylvia Tiwon di buku ini, halaman...

~ 55 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 55 3/26/10 7:21:25 PM


Hariman & Malari

Aksi demo mahasiswa saat Peristiwa Malari 1974.

dan Se­nen. Jam malam sesungguhnya sudah diumumkan berlaku sejak pukul 18.00
hingga pukul 6.00 pagi. Tapi, massa masih memadati jalan sepanjang Matraman,
Salemba, dan Kramat Raya.
Selasa malam itu, 15 Januari 1974, dua orang lagi tewas di depan kantor
Departemen Pertanian. Mereka tertembak peluru aparat keamanan yang berupaya
membubarkan kerumuman massa. Baru sekitar pukul 01.00 dini hari kemudian
mayatnya bisa diangkut oleh ambulans ke kamar jenazah RSCM.
Jakarta terbakar, dua hari berturut-turut: sejak Selasa (15 Januari) hingga
Rabu (16 Januari). Asap mengepul di hampir setengah bagian kota, mulai dari Roxy
(wilayah Jakarta Pusat yang dekat dengan Jakarta Barat), Cempaka Putih dan Bypass
(di Jakarta Pusat), Glodok (Jakart Barat), hingga Jalan Sudirman (Jakarta Selatan) dan
Matraman (di Jakarta Timur). Api paling besar melahap pusat pertokoan di kawasan
Senen (Jakarta Pusat) yang dibangun tahun 1967 dengan dana Rp2,7 miliar. Dua
blok bangunannya yang berlantai empat berisi 700 toko, 3 bank (BBD, BNI 46, dan
BPD Jaya), satu klub malam, taman ria anak-anak, fasilitas sauna, tempat permainan
boling, dan unit perkantoran PT Pem­bangunan Jaya gosong dibelai si jago merah.
Menteri Pertahanan dan Keamanan /Panglima ABRI Jenderal Maraden Pang­
gabean ke­pada sidang pleno DPR yan digelar 21 Januari 1974 melaporkan, sebanyak
807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 buah gedung rusak atau

Jam malam dikeluarkan melalui pengumuman yang dikeluarkan oleh Laksus Pangkopkamtib Jaya No: Peng-002/PK/
I/1974 tanggal 15 Januari dan mulai berlaku hari itu juga, disusul oleh dua maklumat dari Laksus Pangkopkamtib Jaya
tentang larangan berkumpul lebih dari lima orang di luar rumah pada siang hari dan penutupan sekolah dari sekolah dasar
hingga perguruan tinggi mulai 16 Januari 1974.

~ 56 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 56 3/26/10 7:21:27 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
terbakar (termasuk pabrik Coca-cola), dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah
toko perhiasan. Dalam kerusuhan dua hari itu jatuh korban 11 orang meninggal,
177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap.
Gubernur Jakarta Ali Sadikin saat memberi penjelasan di hadapan guru-guru se-
Jakarta yang juga dihadiri oleh Wakil Panglima Kopkamtib Laksamana Sudomo
serta Musyawarah Pimpinan Daerah Jakarta di gedung Jakarta Theater, 19 Januari,
menyebut angka-angka berbeda: 522 buah mobil dirusak dengan 269 di antaranya
dibakar, 137 buah motor dirusak (94 buah dibakar), 5 buah bangunan dibakar ludes,
termasuk 2 blok proyek Pasar Senen bertingkat 4 serta gedung milik PT Astra di Jalan
Sudirman, juga 113 buah bangunan lainnya dirusak.
Mengenai pembakaran dan pengrusakan pada Peristiwa Malari itu, Hariman
Siregar mengatakan, “Berbagai aksi pemba­karan dan pengrusakan oleh massa itu
sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya
sudah mikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa.”
Hari itu, 15 Januari 1974, sejak pagi hingga sore, mahasiswa Jakarta, Bogor,
dan Bandung didukung pelajar sibuk melakukan demonstrasi. Mereka berjalan dari
Universitas Indonesia di Salemba, Jakarta Pusat, menuju Universitas Trisakti di
Grogol, Jakarta Barat. Sebagian tokohnya sudah kelelahan karena ber­demonstrasi
menyambut kedatangan Perdana Menteri Jepang, Tanaka, pada Senin malam.
“Siangnya, karena capek, saya pulang bareng Djodi Wuryantoro naik motor. Baru
jam 4 sore saya ditelepon Hariman. Katanya ada bakar-bakaran,” kisah Gurmilang
Kartasasmita, salah satu pimpinan rombongan dari UI hari itu.
Mimbar bebas di Trisakti sebagai bagian dari apel mahasiswa belum usai
benar sesungguhnya ketika Gurmilang pulang. “Saya juga pulang duluan ke indekos
dekat kampus di Grogol, ka­rena memang sudah ngantuk sekali,” ujar Jesse A.
Monintja, mantan aktivis KAPPI yang kala itu tercatat sebagai mahasiswa Fakultas
Psikologi Universitas Trisakti. Ia baru tahu adanya huru-hara sete­lah seorang
kawannya menggedor pintu kamar. Jesse bergegas menuju Balai Budaya, tempat
ia biasa berkumpul dengan aktivis lain, dan bertemu Fikri Jufri (wartawan Tempo).
Keduanya lalu berboncengan skuter melihat situasi. “Intinya, kami tidak tahu sama
sekali bagaimana kerusuhan bisa terjadi,” timpal Judilherry Justam, mantan Sekretaris
Jenderal Dewan Mahasiswa UI.
Judilherry adalah pemimpin rombongan paling depan dalam long march
UI–Trisakti. Ia bertahan mengikuti acara apel sampai betul-betul kelar. Menjelang
acara berakhir tersiar desas-desus tentang adanya kendaraan dirusak dan dibakar di
beberapa jalan. Situasi agak menegang di sebagian mahasiswa. Selewat tengah hari,
ma­hasiswa memutuskan kembali ke UI, menumpang truk-truk yang dihentikan.
Ketika tiba di jalan dekat Museum Nasional, jalan sudah ditutup tentara. Truk
lalu dibelokkan ke Harmoni dan Jalan Juanda. Namun, sepanjang Harmoni menuju

“Musibah bagi Golongan Menengah dan Atas”, Tempo edisi 26 Januari 1974.

B. Wiwoho dan Banjar Chaerudin. 1990. Memori Jenderal Yoga. Jakarta: PT Bina Reka Pariwara.

Tempo, Loc.Cit.

~ 57 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 57 3/26/10 7:21:28 PM


Hariman & Malari

Amuk massa saat Peristiwa Malari.

Senen waktu itu belum terjadi apa-apa. Setiba di kampus baru didengar kabar: Senen
dibakar. Mahasiswa pun memilih bertahan di kampus, seorang pun tidak diizinkan
keluar.
Menurut catatan mantan Rektor UI Prof. Mahar Mar­djono, bakar-bakaran
sudah terjadi sekitar pukul 11.00 WIB, saat mahasiswa dari berbagai universitas
masih melakukan apel akbar di Trisakti. “Sekelompok mahasiswa lain—yang diduga
mendapatkan janji-janji insentif material dan jabatan dari kelompok Ali Moertopo—
bersama sejumlah massa telah mulai melakukan se­jumlah pengrusakan di bagian kota
lain, seperti Pasar Senen, Harmoni, dan Jalan Juanda,” tutur Mahar Mardjono.
Persiapan apel akbar itu berlangsung sejak pagi. Sejak pukul 08.00 sudah
banyak mahasiswa berkumpul di halaman FKUI. Selain dari UI, mahasiswa yang
datang di antaranya dari Universitas Kristen Indonesia, Universitas Trisakti, Uni­
versitas Atma Jaya, Universitas Nasional, Universitas Jayabaya, IKIP Jakarta,
Universitas Pancasila, IAIN Syarif Hidayatullah, Universitas Krisnadwipayana, dan
Sekolah Tinggi Olahraga. Datang pula beberapa truk yang mengangkut pelajar yang
diorganisasi oleh Jusuf A.R. dan Jesse A. Monintja.
Mereka berasal dari lima rayon eks-pasukan gabungan KAPPI Jakarta Pusat.
Menjelang berangkat, upacara singkat dilakukan. Meja-meja ditumpuk menjadi
mimbar. “Saya pernah berseloroh kepada Hariman, kalau mahasiswa ‘74 mau buat
patung seperti mahasiswa ‘66, simbolnya meja yang ditumpuk,” kata Sugeng Sarjadi,
mantan mahasiswa ITB.

Antony Z. Abidin, dkk. 1997. Mahar: Pejuang, Pendidik dan Pendidik Pejuang. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan bekerja
sama dengan Ikatan Alumni UI.

~ 58 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 58 3/26/10 7:21:37 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Saat upacara menjelang berangkat, sebuah helikopter terbang rendah
berkeliling di atas kampus. Raungan suaranya ditimpali teriakan mahasiswa, “Kami
bukan makar.” Sementara itu, di luar pagar, polisi telah menjaga ketat.
Lalu barisan mulai bergerak. Seluruhnya sekitar 500 orang dibagi dalam
beberapa barisan. Judilherry berada di barisan muka. Didahului oleh barisan yang
memakai tameng bergambar tengkorak, lalu saf berbendera Merah-Putih. Disusul
rombongan yang dipimpin oleh Gurmilang Kartasasmita. Hariman sendiri ada di
barisan ketiga bersama Eko Djatmiko dan Salim Hutadjulu. Paling belakang adalah
beberapa truk yang melaju dengan kecepatan rendah.
Bambang Sulistomo dengan pengeras suara berteriak, “Aksi mahasiswa
bukan makar.” Sementara itu, poster-poster dibentangkan, di antaranya bertulisan
“Get Out Japan”, “Mene­rima Ta­naka = Menerima Kolonialis”, “Tolak Dominasi Eko­
nomi Jepang”, “Ganyang Antek-Antek Kolonialis Jepang”, “Meng­himpun Ke­kuatan
Budak-Budak Kapitalis Jepang = Makar”, dan “Mahasiswa Militan, Tanaka You
Genit, deh. Bagero”.
Rute yang ditempuh: UI-Kramat Raya-Raden Saleh-Gedung LIA Cikini-
Tugu Tani-Merdeka Selatan. Di Jalan Merdeka Selatan, sebagian peserta long march
sempat menurunkan ben­dera Jepang yang berdampingan dengan Bendera Merah-
Putih. “Jangan dirusak, asalkan turun dan bawa saja,” seru pemimpin rom­bongan
melalui pengeras suara.
Tentara dari berbagai kesatuan lengkap dengan kendaraan lapis baja telah
menjaga ketat jalan menuju Monumen Nasional. Wakil Panglima Kopkamtib
Laksamana Sudomo telah menam­bah dua batalyon pasukan untuk menjaga
sekeliling istana. Pen­­­jagaan ketat juga dilakukan di kantor Wakil Presiden Sri Sultan
Hamengkubuwono. Mahasiswa gagal menurunkan bendera men­jadi setengah tiang
di sini, tapi sukses di Balai Kota Gubernur DKI Jakarta, sehingga mereka bersorak
kegirangan.
Perjalanan berlanjut ke Jalan Merdeka Barat. Di jalan ini, Kopkamtib dan
Menteri Pertahanan berkantor. Di dalamnya tengah berlangsung rapat Dewan Jabatan
dan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti). Pemimpin rapat adalah Ketua Wanjakti yang juga
Menteri Pertahanan dan Keamanan /Panglima ABRI Jenderal Maraden Panggabean.
Diikuti antara lain oleh wakilnya, Pangkopkamtib Jenderal Soemitro, dan Jenderal
Soerono.10
Di depan kantor Markas Besar ABRI/Departemen Pertahanan dan Keamanan,
beberapa mahasiswa sempat beraksi. “Massa mahasiswa ketika itu berani-berani,
sampai ada yang nekat masuk halaman Mabes ABRI/Dephankam dan menurunkan

Rum Aly. 2004. Op.Cit.

Ibid.

Julius Pour. 1997. Laksamana Sudomo: Mengatasi Gelombang Kehidupan. Jakarta: Gramedia Widiasarana.
10
Menurut catatan dalam biografi Jenderal Soemitro (Heru Cahyono. 1998. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro dan
Peristiwa 15 Januari 1974. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), rapat ini salah waktu dan salah posisi. Jenderal Panggabean
pun tak mengizinkannya dan terus-menerus menahan Soemitro untuk bertahan di rapat dan menyerahkan penanganan
kepada Wakil Pangkopkamtib Laksamana Sudomo.

~ 59 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 59 3/26/10 7:21:37 PM


Hariman & Malari
bendera menjadi setengah tiang. Akibatnya, mereka dikejar-kejar tentara yang jaga,”
kata Jopie Lasut.
Dari Merdeka Barat, mereka belok ke kiri melalui Museum Nasional. “Di
sini, kalau jalan terus, menuju Jalan Tanah Abang II seperti rute yang ditetapkan, tapi
saya belokkan sebentar ke Tanah Abang III,” kisah Judilherry. Di Tanah Abang III ini
terdapat kantor Golkar. “Tidak ada polisi yang jaga. Pucat semua orang-orang di sana
ketika kami datang. Kami memaki-maki Golkar di situ,” tutur Judil.
Hanya beberapa menit di sana, sekadar bernyanyi “Aspri dan Komisi”,
rombongan besar itu menuju Cideng, kemudian Roxy, dan kira-kira pukul 10.30
sudah tiba di kampus Trisakti. Di sini, apel akbar digelar: orasi, puisi, bernyanyi, dan
memaki-maki boneka yang digambarkan sebagai Aspri Presiden Soeharto.
Manakala mahasiswa sudah kembali ke kampus masing-masing, asap tebal
sudah mengepul dari berbagai titik di pusat kota. Keletihan melanda Hariman. Jam
tidurnya telah berkurang banyak pada beberapa hari terakhir. Semalaman itu pun
matanya baru terlelap dua-tiga jam, karena memimpin rapat sampai tengah malam,
sebelum akhirnya dialihkan kepada Gurmilang. Menjelang terlelap, Hariman sudah
membayangkan peristiwa yang terjadi keesokan harinya.
Memang keesokan harinya Rabu, 16 Januari, kerusuhan masih berlanjut.
Larangan berkumpul di siang hari tidak ditaati massa. Pengumuman dan maklumat
yang dikeluarkan Laksus Kopkamtib Jaya tertanggal 15 Januari 1974 tumpul karena
massa tetap berkerumun di jalan. Beberapa rumah petinggi dikepung, di antaranya
rumah Ali Moertopo di Matraman dan rumah Su­djono Hoemardani. Beberapa
bangunan di Jalan Blora dibakar; gedung Pertamina di Kramat Raya diserbu massa,
isinya dikeluarkan dan dibakar, mobil-mobil yang ada di kantor gedung itu pun
dibakar.
Hampir seluruh petinggi ABRI pun turun ke jalan pada hari Rabu itu. Jenderal
Maraden Panggabean mendatangi kerumunan massa di Kramat Raya. Panglima
Kopkamtib Jenderal Soemitro juga beredar di jalanan. Begitu juga Kepala Kepolisian
Daerah Jakarta, Mayjen Polisi Widodo Budidarmo. Reaksi mereka seolah melengkapi
ketidakhadiran malam sebelumnya di Istana Merdeka, tempat jamuan makan malam
bersama Perdanan Menteri Jepang, Kakuei Tanaka, diselenggarakan. Dari 68
undangan, makan malam itu hanya dihadiri oleh 17 orang.
Siang hari, Jenderal Soemitro memberikan keterangan pers di­dampingi oleh
Ali Moertopo, Sudjono Hoemardani, Wakil Pangkopkamtib Sudomo, dan petinggi-
petinggi ABRI lainnya. Ia mengumumkan akan dilakukannya sejumlah penangkapan.
“Keadaan telah memaksa kami yang telah sabar sampai batasnya terpaksa bertindak
keras dan di sana-sini dengan mempergunakan kekerasan,” ancam Soemitro, “siapa
pun dan kepada kekuatan so­sial apa pun bentuknya, yang masih belum mengerti
keadaan se­karang dan membantu secara langsung maupun tidak langsung menambah
ketegangan yang ada, kami terpaksa akan bertindak tegas. Dan, hal ini sudah cukup
kami pertanggungjawabkan ter­hadap hati nurani kami.”
~ 60 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 60 3/26/10 7:21:38 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Serangkaian penangkapan memang betul-betul dilakukan. Hari­man Siregar,
Gurmilang Kartasasmita, Theo L. Sambuaga, Bambang Su­listomo, Purnama
Munthe, dan Salim Hutadjulu merupakan nama-nama yang masuk dalam gelombang
penangkapan pertama. Lalu disusul Dorodjatun Kuntjoro-Jakti. Penangkapan
berikutnya dilakukan kepada Fahmi Idris, Sugeng Sarjadi11, Marsillam Si­mandjuntak,
Adnan Buyung Nasution, H.J.C. Princen, Imam Waluyo, Jusuf A.R., Jesse A. Monintja,
dan Laksamana Muda Mardanus. Sejumlah tokoh yang dikaitkan dengan Partai
Sosialis Indonesia (PSI) pun ditangkap, yakni Prof. Sarbini Soemawinata (yang juga
mertua Hariman), Soebadio Sastrosatomo, dan Moerdianto. Gelombang berikutnya
adalah Sjahrir, Rahman Tolleng, Soemarno, dan Ramadi. Terakhir yang ditangkap
adalah Mochtar Lubis, pemimpin harian Indonesia Raya yang penerbitannya
kemudian ditutup selamanya oleh rezim Orde Baru.12
Menanggapi kerusuhan yang meluas tersebut, Hariman Siregar tampil ke depan.
Dalam pernyataan yang disiarkan lang­sung oleh TVRI, malam hari 16 Januari 1974,
Hariman mengatakan bahwa Dewan Mahasiswa UI me­ngu­tuk tindakan perusakan
dan huru-hara yang terjadi. Ia men­jelaskan bahwa aspirasi Dewan Mahasiswa UI
sudah jelas. Dan ini bisa dibedakan dengan tindakan kerusuhan yang dilakukan
pemuda karena punya program. “Kami menyesalkan tindakan kerusuhan tersebut.
Ka­rena, ekses-eksesnya mengaburkan perjuangan kami kepada pe­merintah,” kata
Hariman.13 Setelah membacakan pernyataan itu, Hariman langsung ditahan oleh
aparat keamanan.
Sikap mahasiswa itu kembali ditegaskan lewat pernyataan Dewan Mahasiswa
se-Jakarta yang dikeluarkan sehari setelah kerusuhan terjadi. Dalam pernyataan itu
dinyatakan bahwa: 1) tindakan pengrusakan yang telah dilakukan massa adalah
tindakan destruktif, tidak bertanggung jawab, dan mengarah anarkis, dan nyata-nyata
merusak citra mahasiswa; 2) mahasiswa menyesalkan dan menyatakan prihatin atas
kejadian yang telah menyebabkan kerugian material dan moral itu; 3) diserukan
kepada seluruh mahasiswa untuk siaga di tempat, tetap memelihara ketertiban dan
tidak terpancing oleh provokasi; 4) diserukan kepada ma­syarakat agar mereka menjaga
ketertiban demi tercapainya aspirasi perjuangan mahasiswa yang murni.
*****
Di awal Januari 1974 suhu politik nasional memang makin memanas.
Melanjutkan pidato Hariman Siregar dalam malam tirakatan 31 Desember 1973,
para mahasiswa menggelar berbagai aksi. Tanggal 10 Januari 1974 dideklarasikan
“Tiga Tuntutan Rakyat” (Tritura) yang baru dirumuskan: pembubaran Dwifungsi
ABRI, penurunan harga-harga, dan pemberantasan ko­rupsi. Dua hari kemudian, pada
11
Kepada Tim Penulis buku ini, Sugeng Sarjadi mengaku tidak pernah ditangkap karena Malari. Penyebutan namanya
muncul di koran yang terbit keesokan hari setelah pengumuman dari Laksus Kopkamtib. Yang ditangkap di lokasi dan pada
hari penangkapan Fahmi Idris adalah Nurcholish Madjid yang kemudian dikeluarkan pada hari itu juga.
12
Pada tanggal 6 Februari 1974, Jaksa Agung mengumumkan bahwa 45 orang yang dituduh terlibat dalam peristiwa politik
“Malapetaka 15 Januari” atau Malari telah ditahan. Pada hari-hari berikutnya, beberapa koran dan majalah terkemuka dila­
rang terbit dengan tuduhan telah memberitakan berbagai laporan yang memanas-manasi kerusuhan dan peristiwa-peristiwa
sebelumnya. Lihat: Max Lane. 2007: Op.Cit.
13
Hariman Siregar. Loc.Cit.

~ 61 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 61 3/26/10 7:21:38 PM


Hariman & Malari
pertemuan mahasiswa yang diorganisasi oleh Universitas Kristen Indonesia (UKI)
Jakarta, patung-patung Sudjono Hoemardani, Ali Moertopo, Tanaka, dan Widodo
Budidarmo dibakar. Dewan mahasiswa dari berbagai kota, terutama Bandung dan
Bogor, berpartisipasi dalam demonstrasi yang terjadi di Jakarta.
Demonstrasi lain juga terjadi di Makassar. Akibatnya, dua anggota Angkatan
Muda Sulawesi (AMS) diajukan ke pengadilan: M. Zubair Bakri dan Drs. Yuus Teken.
Mereka dituduh memainkan peran penting dalam kegiatan-kegiatan yang ditujukan
untuk merongrong pemerintah yang sah.14
Aksi-aksi menentang Aspri dan Jepang juga marak. Di Jakarta dan Bandung,
boneka-boneka yang menggambarkan sosok Sudjono Hoemardani dan Kakuei Tanaka
dibakar massa-demonstran. Aksi ini merupakan “pe­manasan” untuk menyambut
kunjungan Tanaka ke Indonesia sepanjang tanggal 14-16 Januari 1974 itu. “Kami
bahkan demo ke Istana Negara dan Jalan Cendana. Sejak itu, Opsus mulai marah dan
mengancam akan menjatuhkan gue,” kata Hariman. Toh, Hariman tidak takut dengan
ancaman-ancaman tersebut.
Karena berbagai aksi yang marak itu, Presiden Soeharto pun bersedia menerima
delegasi mahasiswa. Maka, pada 11 Januari 1974, tiga hari sebelum Tanaka datang,
Presiden Soeharto mengajak mahasiswa berdialog. Hariman selaku Ketua Dewan
Mahasiswa UI hadir bersama delegasi 34 dewan mahasiswa perguruan tinggi se-
Jawa. Dalam pertemuan yang berlangsung selama dua jam itu, delegasi mahasiswa
yang hadir ada sekitar 100 orang.
Dalam kesempatan ini, Hariman menyampaikan Petisi 24 Oktober 1973, yang
isinya, pertama, mengingatkan kepada pemerintah, militer, intelektual, teknokrat,
dan politisi agar meninjau kembali strategi pembangunan, sehingga di dalamnya
terdapat keseimbangan bidang sosial, politik, dan ekonomi yang anti-kemiskinan,
kebobrokan, dan ketidakadilan. Kedua, meminta rakyat segera dibebaskan dari tekanan
ketidakpastian dan pemerkosaan hukum, merajalelanya korupsi dan penyelewengan
kekuasaan, kenaikan harga dan pengangguran. Ketiga, lembaga penyalur pendapat
masyarakat harus kuat dan berfungsi serta masyarakat harus mendapatkan kesempatan
yang seluas-luasnya untuk berpendapat dan berbeda pendapat.
Pada pertemuan di Istana Merdeka itu, beberapa wakil dewan mahasiswa
sempat memaki-maki Presiden Soeharto dan mengecam habis para Aspri Presiden,
yang bertindak melebihi pejabat-pejabat resmi dan memperkaya diri secara tidak sah.
“Soe­harto, sih, senyum-senyum saja. Eh, menjelang pertemuan bubar, banyak aktivis
dewan mahasiswa yang minta foto bareng Soeharto. Ha-ha-ha....,” kenang Hariman.
Menjawab tuntutan mahasiswa itu, Soeharto tak menjan­jikan apa pun. Ia hanya
mengucapkan akan memperhatikan as­­pirasi yang berkembang di kalangan mahasiswa
di masa depan. Respons Soeharto itu tentu saja tak memuaskan mahasiswa. “Teman-
teman kemudian mendesak agar perjuangan terus dilanjutkan. Mereka meminta
dewan mahasiswa perguruan tinggi se-Jawa membuat pernyataan politik menyambut
14
C. Van Dijk. 2000. Op.Cit.

~ 62 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 62 3/26/10 7:21:39 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman (berjalan paling depan, ditengah) memimpin delegasi Dewan Mahasiswa se-Indonesia bertemu Presiden
Soeharto di Bina Graha (1974).

Hariman (duduk paling kiri) dan Delegasi Dewan Mahasiswa se-Indonesia sesaat sebelum bertemu Presiden
Soeharto di Bina Graha.

kedatangan Perdana Menteri Tanaka,” kata Hariman.


Pada 12 Januari 1974, mahasiswa kembali melanjutkan demonstrasi anti-
dominasi ekonomi Jepang sekaligus anti-Aspri. Boneka-boneka yang menggambarkan
diri Sudjono Hoemardani dan Perdana Menteri Jepang Kakue Tanaka kembali
dibakar.

~ 63 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 63 3/26/10 7:21:42 PM


Hariman & Malari
Tanggal 14 Januari 1974 malam, Perdana Menteri Tanaka datang ke Indonesia.
Jalan menuju Lapangan Udara Utama Halim Perdanakusuma diblokir mahasiswa.
Menteri-menteri yang datang untuk men­jemput pun tidak diberi jalan, kecuali
Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Soerono. Meski wilayah di sekitar Halim
Perdanakusuma dijaga ketat apa­rat keamanan, beberapa aktivis berhasil menerobos
sampai ke landasan pacu. Begitu Tanaka turun dari tangga pesawat, mereka
membentangkan poster-poster bernada protes. Melihat itu, aparat keamanan segera
mengamankan para aktivis mahasiswa tersebut.
Malam itu juga, dewan mahasiswa perguruan tinggi se-Jawa mengadakan rapat
di Student Centre UI, Salemba, untuk membahas undangan dialog dengan Tanaka di
Istana Negara, 15 Januari 1974. Mereka juga memperbincangkan pernyataan Jenderal
Maraden Panggabean yang menyatakan bahwa gerakan mahasiswa menjurus makar.
Selain para mahasiswa, sejumlah unsur non-kampus juga ikut dalam
rapat tersebut. Mereka antara lain Jesse A. Monintja, Jusuf A.R., dan Jopie Lasut.
Kedatangan unsur-non kampus itu ber­kaitan dengan usul untuk melakukan koordinasi
demonstrasi pelajar sekolah dan mahasiswa selama kunjungan Tanaka. Menurut
Jopie Lasut, usul itu terinspirasi oleh pernyatana Kepala Kepolisian Jakarta Widodo
Budidarmo, beberapa hari sebelumnya, bahwa demonstrasi terbagi dalam dua kategori:
demonstrasi mahasiswa adalah “bersih”, sedangkan demonstrasi di luar lingkungan
uni­versitas adalah “demonstrasi liar”. Pernyataan Widodo diikuti per­nyataannya pada
14 Januari di radio yang menyebutkan bahwa, setelah dipelajari, aksi-aksi tersebut
telah mencapai titik ketika mereka dapat berubah menjadi kegiatan subversif.
Yang mengajak Jusuf A.R., Jesse A. Monintja, dan Jopie Lasut ke Student
Center UI adalah Sjahrir. Sebelum ikut pertemuan, mereka menunggu di luar. Pada
pertengahan pertemuan, Theo L. Sambuaga terlihat ke luar ruangan. Setelah diberitahu
tentang rencana untuk melakukan koordinasi demonstrasi itu, Theo mengatakan
bahwa rencana semacam itu memerlukan persetujuan Hariman Siregar. Mereka lalu
menulis catatan untuk Hariman Siregar. Se­telah membacanya, Hariman mengundang
mereka bergabung dalam pertemuan.
Usai pertemuan tersebut, diskusi pendek terjadi antara tiga perwakilan gerakan
pelajar dan John Pangemanan (Ketua Dewan Mahasiswa Sekolah Tinggi Olahraga),
Pataniari Siahaan (Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Trisakti), dan Hariman
Siregar. Disepakati, pelajar-pelajar sekolah akan berpartisipasi dalam rencana-rencana
para mahasiswa. Setelah itu, pertemuan terjadi dengan Eko Djatmiko.
Rapat yang dipimpin Hariman sendiri berlangsung alot. Tema yang dibicarakan
adalah apakah massa dalam aksi demo besoknya akan dilokalisasi di Monas atau
turun ke jalan-jalan. Sebagian peserta rapat bersikeras massa dilokalisasi di Monas
saja, tapi sebagian lagi ngotot agar massa turun ke jalan-jalan Ibu Kota. Akhirnya
dicapai kata sepakat: aksi akan dipusatkan di kampus Universitas Trisakti di kawasan
Grogol. Tapi, massa mahasiswa akan berjalan dari kampus-kampus di Jakarta, dengan
“titik-singgung” kawasan Monas. Maksudnya, massa mahasiswa yang berjalan akan

~ 64 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 64 3/26/10 7:21:43 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Showroom Toyota di jalan Sudirman, Jakarta, yang dibakar massa saat Peristiwa Malari.

Jenderal Soemitro berpidato di depan massa saat meletusnya Peristiwa Malari.

melewati kawasan Monas dan membawa massa di Monas ke kampus Trisakti.


Setelah dicapai kata sepakat, rapat dilanjutkan dengan membicarakan konsep
rute perjalanan massa dari kampus UI di Salemba menuju kampus Trisakti di kawasan
Grogol. Rapat ini dipimpin Gurmilang Kartasasmita. “Rute perjalanan saya susun
berdasarkan pengalaman memimpin demonstrasi sebagai Ketua KAPPI Rayon
Setiabudi di tahun 1967,” kata Gurmilang.

~ 65 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 65 3/26/10 7:21:44 PM


Hariman & Malari
*****
Lantas, apa sesungguhnya Peristiwa Malari? Ada banyak versi yang diungkap
berbagai pengamat sosial-politik terhadap Peristiwa Malari: merupakan ekses konflik
internal di kalangan elite politik; ledakan ketidakpuasan kelompok kelas menengah
pribumi terhadap strategi pembangunan Orde Baru; sampai peristiwa yang didalangi
oleh oknum-oknum PSI dan Majelis Sjuro Muslimin Indonesia.
Hariman Siregar dianggap telah melakukan perbuatan melawan, merongrong
wibawa, bahkan berniat menjatuhkan kekuasaan pemerintahan yang ada. Subversi.
Hariman Siregar ke­mudian dianggap menjadi tokoh sentral gerakan Malari. Bukan
hanya pada tahun-tahun 1974-1975, namun terus hingga lebih dari 30 tahun berikutnya.
Nama Hariman Siregar lalu selalu di­lekatkan dengan atribut “tokoh Malari”. Dan di
sinilah kesalahan mulai terjadi.
Faktanya, kerusuhan, pembakaran, pencurian, dan pengrusak­an hingga lepasnya
11 nyawa merupakan suatu aksi terpisah dari gerakan mahasiswa yang memprotes
dominasi modal asing, mengkritik strategi pembangunan pemerintah Soeharto, dan
me­ngecam korupsi di pemerintahan. Aksi itu bukan dirancang dan digerakkan atau
dilakukan oleh gerakan mahasiswa yang di Jakarta dimotori oleh Dewan Mahasiswa
UI dengan ketua umumnya Hariman Siregar. Aksi kekerasan itu juga sulit disebut
sebagai inisiatif masyarakat yang setuju isi protes mahasiswa. Maka, menyebut
Hariman Siregar sebagai tokoh sentral gerakan Malari mengandaikan tuduhan yang
dibacakan jaksa penuntut umum di persidangan Hariman di Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, Agustus 1974, sebagai kebenaran mutlak. Pengandaian ini membenarkan
bahwa aksi-aksi kekerasan yang terjadi menyusul demonstrasi mahasiswa disponsori
atau setidaknya didukung oleh Dewan Mahasiswa UI.
Mantan Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro, melalui me­moarnya,15
mengungkapkan bahwa kelompok Operasi Khusus (Opsus)16 yang ber­tanggung jawab
terhadap kerusuhan tersebut. Opsus merancang suatu operasi untuk menetralisasi
posisi Soemitro sebagai Panglima Kopkamtib, ma­hasiswa, dan golongan-golongan
yang dianggap bisa menghalangi ambisi politik Ali Moertopo. Ope­rasi itu dilancarkan
dengan cara menunggangi rencana apel mahasiswa pada 15 Januari 1974 dengan
serangkaian aksi kerusuhan dan huru-hara. Sasaran kerusakan seperti mobil-mobil
Jepang, kantor Toyota Astra, dan Coca-cola sengaja ditentukan agar mengesankan
kerusuhan memang benar-benar dibuat mahasiswa. Soemitro menunjuk serangkaian
rapat dan pertemuan rahasia di Jalan Sabang, Jalan Salemba, dan Jalan Timor
(semuanya di Jakarta Pusat) guna mendukung kesimpulannya.
Sungguhpun begitu, menurut Hariman Siregar sendiri, yang merupakan tokoh
sentral gerakan itu, “Peristiwa Malari adalah puncak dari gerakan kritis terhadap
konsep pembangunan yang dilakukan pemerintah Orde Baru saat itu.” Gugatan
terhadap strategi pem­bangunan tersebut juga berkaitan dengan ekses-eksesnya
yang sudah terlihat jelas saat itu, seperti mis-manajemen pembangunan, korupsi,
15
Heru Cahyono. 1998. Op.Cit.
16
Dipimpin oleh Asisten Pribadi Presiden Soeharto, Ali Moertopo.

~ 66 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 66 3/26/10 7:21:44 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
kesenjangan sosial-ekonomi, dan dominasi modal asing.
Isu-isu tersebut berhasil digerakkan Dewan Mahasiswa UI yang berhasil
tampil sebagai lembaga sentral yang dapat mempersatukan ke­kuatan berbagai potensi
aksi. Di situlah letak strategisnya aksi atau gerakan pemuda dan mahasiswa dibanding
gerakan kaum buruh dan tani. Perjuangan mereka yang disebut belakangan umumnya
lebih tertuju kepada kepentingan mereka sendiri.
Bagi kaum buruh, misalnya, isu gerakan mereka biasa­nya seputar kebebasan
berserikat, jaminan keamanan dan kese­lamatan kerja, serta tuntutan kenaikan upah. Isu
gerakan kaum tani selalu berkisar soal lahan (tanah), alat-alat produksi, dan tun­tutan
kenaikan harga hasil tani. Akan halnya isu gerakan pe­muda dan mahasiswa jauh lebih
luas, bersifat lintas sektoral, ka­rena umumnya tertuju pada upaya-upaya mengangkat
masalah-masalah publik, dengan maksud agar semua orang mengetahuinya serta turut
memikirkan dan menyelesaikannya.
Adnan Buyung Nasution juga menilai, “Gerakan mahasiswa itu saya yakini
merupakan gerakan yang murni, mandiri, dan independen, tidak mengekor siapa
pun. Yang dihantam adalah rezim Soeharto, baik Soehartonya, Ali Moertoponya,
maupun Soemitronya.... Saya heran kalau gerakan mahasiswa dan cendekiawan
disangkutpautkan dengan salah satu pihak. Tidak betul itu.”17
Yang jelas, dari Peristiwa Malari ada beberapa hal yang dapat dijadikan acuan,
yakni pemuda dan mahasiswa me­mang mampu menciptakan isu yang memimpin
untuk melakukan peru­bahan; perlu adanya lembaga sentral guna mempersatukan
berbagai potensi aksi yang ada; untuk sampai ke suatu gerakan yang menyeluruh
diperlukan waktu yang cukup panjang dan terus-menerus, dan; dukungan media-
massa sangat diperlukan.18
Soemitro menyebutkan, “para pemain” yang bertanggung jawab terdiri dari
“jaringan intel lepas” Opsus, CSIS yang ber­jaringan dengan Opsus, sejumlah tokoh
Gabungan Usa­ha Pembaharuan Pendidikan Islam (GUPPI)—organisasi massa Islam
yang direkrut Ali Moertopo untuk memenangkan Golkar dalam Pemilu 1971—dan
sejumlah massa binaan Ali Moertopo yang terdiri dari preman, tukang becak, dan
bekas-bekas Darul Islam/Tentara Islam Indonesia. Komando operasi pembakaran
dipimpin oleh anggota Opsus, Bambang Trisulo S.H., dengan didukung oleh
Freddy Latumahina, Leo To­masoa (seorang preman), dan Aulia Rachman. Konsep
penunggangan ini dibahas oleh tokoh-tokoh CSIS19 pendukung Opsus, di antaranya
kakak beradik Liem Bian Koen (Sofyan Wanandi) dan Liem Bian Kie (Yusuf
Wanandi), serta Cosmas Batubara. Sementara itu, dana operasi disebutkan sebesar
Rp100 juta. Untuk dana operasi preman saja, Bambang Trisulo mengeluarkan uang
sebesar Rp30 juta. Angka ini tergolong amat besar pada masa itu, mengingat nilai
17
Lihat Ramadhan KH dan Nina Pane; Adnan Buyung Nasution: Dirumahkan Soekarno,
Dipecat Soeharto; 2004, Aksara Karunia.
18
Hariman Siregar; Gerakan Mahasiswa 1970-an; makalah pengantar diskusi dalam pertemuan “Mengembangkan
Wawasan ke-2” yang diselenggarakan oleh mahasiswa Indonesia di Kanada dan Amerika Serikat, bertempat di Madison-
Wisconsin, USA, 4 Juni 1995.
19
Centre for Strategic and International Studies (CSIS) adalah lembaga think thank.

~ 67 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 67 3/26/10 7:21:45 PM


Hariman & Malari
tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat masih di bawah Rp400 per US$1.
Peristiwa Malari juga berbuntut pada pembredelan 12 koran dan majalah di
Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Makassar. Ke-12 penerbitan yang surat izin terbit
(SIT)-nya dicabut itu adalah Indonesia Raya, Pedoman, Abadi, Harian KAMI,
Nusantara, Jakarta Times, Mingguan Wenang, Pemuda Indonesia, Majalah Ekspress
(Jakarta), Suluh Berita (Surabaya), Mingguan Mahasiswa Indonesia (Ban­dung), dan
Indonesia Pos (Ujungpandang). Di Jakarta, se­lain pencabutan SIT masih ditambah
pencabutan surat izin cetak (SIC) oleh Pelaksana Khusus Kopkamtib Jakarta Raya.
Mereka dianggap menerbitkan berita yang menjurus ke arah usaha-usaha
melemahkan sendi-sendi kehidupan nasional, dengan mengobarkan isu-isu seperti
modal asing, korupsi, Dwifungsi ABRI, kebobrokan aparat pemerintah, pertarungan
tingkat tinggi; merusak kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan nasional;
menghasut rakyat untuk bergerak mengganggu ketertiban dan keamanan negara;
menciptakan peluang untuk mematangkan situasi yang menjurus pada perbuatan
makar.20
Akibat Peristiwa 15 Januari 1974 selanjutnya adalah reorga­nisasi di tubuh
kekuasaan. Jenderal Soemitro mengundurkan diri dari jabatan Panglima Kopkamtib,
Presiden Soeharto menghapuskan jabatan Aspri yang disandang Ali Moertopo,
mengganti Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin) yang dipegang oleh
Letjen Sutopo Juwono—dianggap orang dekat Soemitro—dengan Mayjen Yoga
Soegama.
Menyimak berbagai buntut peristiwa pasca-Malari, Eep Saefulloh Fatah
memilih melihat peristiwa ini sebagai keberhasilan Presiden Soeharto menerapkan
manajemen konflik dalam pemerintahannya. Tujuannya: (1) membentuk tertib politik
atau sta­bilitas dan (2) mewujudkan dan mengefektifkan kekuasaan. Secara umum,
stabilitas yang bisa tercipta dari manajemen konflik adalah stabilitas konsensual atau
stabilitas yang dibentuk berdasarkan konsensus antara negara dan masyarakat serta
dan stabilitas otokratis atau stabilitas yang diciptakan melalui pemaksaan, koersif,
represi, dan “menendang” semua pihak yang tidak sepakat dan sejalan dengan nilai
dan kepentingan negara.21 Kata “negara” pada aras politik bisa disamakan dengan
penguasa. Sengaja atau tidak, Presiden Soeharto menemukan satu momentum untuk
“meringankan” beban perseteruan dalam tubuh kekuasaan yang dipimpinnya melalui
Malari.22
Tapi, dalam pandangan Jopie Lasut (aktivis non-kampus yang terlibat
dalam Peristiwa Malari), Peristiwa Malari justru merupakan mometum awal yang
memanfaatkan kontradiksi di kalangan rezim militer Orde Baru. “Hariman dkk.
menggunakannya untuk mempertajam friksi antara kekuatan pro-status quo dan
kekuatan yang pro-perubahan demi kepentingan rakyat jelata. Dan, yang pasti,
20
Ignatius Haryanto. 1996. Pembredelan Pers di Indonesia: Kasus Koran Indonesia Raya.
Jakarta: LSPP.
21
Eep Saefulloh Fatah. 2010. Op.Cit.
22
Rum Aly. 2004. Op.Cit.

~ 68 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 68 3/26/10 7:21:45 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Malari merupakan titik awal perlawanan terhadap Suharto secara besar-besaran,”
kata Jopie.
Bagi gerakan mahasiswa Indonesia sendiri, Malari merupakan suatu titik balik
atau anti-klimaks dari perannya sebagai pengon­trol kekuasaan. Mahasiswa tak lagi
bebas memerankan student government melalui kampus, aktivitas politik mahasiswa
dilikuidasi, Tridharma Perguruan Tinggi yang salah satunya berbunyi pengabdian
masyarakat dibatasi pada aktivitas kerja bakti dan mem­beri bantuan ke desa-desa.
Akibatnya, konsolidasi dan aksi mahasiswa sebagai kekuatan politik yang mengontrol
pemerintah berlangsung dalam skala lebih kecil dibanding awal 1970-an.
Kendati demikian, dalam periode pasca-Malari mulai akhir 1970-an, periode
Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK) 1980-an, gerakan mahasiswa 1990-an,
hingga gerakan tahun 1998 yang mengakibatkan jatuhnya kekuasaan Soeharto, nama
Hariman Siregar tetap lekat pada berbagai kegiatan kon­solidasi dan protes mahasiswa.
Ia bagaikan menjadi ikon dari setiap gerakan kaum muda yang lahir sesudahnya.
Hal senada juga dikatakan Todung Mulya Lubis, tokoh pejuang hak asasi
manusia yang juga sempat terseret Peristiwa Malari. “Memang saat itu Hariman tidak
berhasil untuk menggulingkan Soeharto. Tapi, sebagai sebuah gerakan mahasiswa,
Peristiwa Malari adalah sebuah embrio dari suatu perlawanan yang terus berlanjut.
Bahwa dia tidak berhasil menggulingkan Soeharto itu soal lain. Tapi, Hariman telah
meletakkan embrio dari suatu perlawanan generasi muda terhadap kekuasaan yang
otoriter. Dari segi itu, saya lihat keberhasilan gerakan Malari,” kata Todung Mulya
Lubis.23
Bahkan, dalam pandangan Max Lane, seorang aktivis dan pengamat per­
politikan Indonesia, gerakan protes mahasiswa sepanjang 1973-1974 adalah awal
gerakan menjatuhkan Soeharto. Gerakan mahasiswa itu membuka agenda politik
baru. “Sebelumnya agenda protes terbatas pada isu korupsi. Mulai dengan gerakan
1973, ketika Hariman menjadi Ketua Dewan Mahasiswa UI, agenda dibuka sehingga
strategi pembangunan, peran pejabat militer, kesewenang-wenangan antidemokrasi,
dan peran modal asing, semuanya diperdebatkan,” tulis Max Lane. “Ketika Soeharto
melakukan represi pada tahun 1974, dan lagi pada tahun 1978, perdebatan itu mungkin
berlangsung di bawah tanah, tapi jalan terus.” 24 e

23
Wawancara dengan Todung Mulya Lubis.
24
Max Lane. 2007: Op.Cit.

~ 69 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 69 3/26/10 7:21:46 PM


Hariman & Malari

~ 70 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 70 3/26/10 7:21:46 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 5

Pengadilan
dan Penjara

J
alan masuknya hanya be­rupa tanah. Sempit
pula. Mobil akan sulit masuk dan, bila hujan, jangankan
roda kendaraan, langkah kaki pun kurang gagah karena
lumpur becek. Tetapi setelah menempuh jalan buruk
itu beberapa menit akan dijumpai tembok batu tinggi
dikelilingi persawahan yang membentengi beberapa
bangunan. Mereka yang hidup pada periode awal Orde
Baru mengenal—setidaknya pernah mendengar—nama
tempat ini: Penjara Nirbaya. “Dulu lokasi Nirbaya
terpencil di pinggir Jakarta. Untuk mencapainya, keluarga
para tahanan harus melalui jalan tanah, yang kalau musim hujan jadi becek dan
berlumpur,” kenang Hariman Siregar.
Sekarang mungkin orang hanya mengenal nama Nirbaya untuk menyebut
salah satu lembaga permasyarakatan (lapas) di Pulau Nusakambangan. Nirbaya yang
tempat mendekam Hariman Siregar, setelah di vonis pengadilan, tidaklah sejauh itu.
Letaknya hanya di pinggir Jakarta, di kawasan Pondok Gede, tidak jauh dari Taman
Mini Indonesia Indah. Namun, kini tak ada lagi bekas penjara itu. Tempatnya sudah
berganti dengan pemukiman yang dipadati penduduk. Hanya nama Jalan Nirbaya
yang masih mengingatkan pen­duduk lama di daerah itu bahwa dulu ada sebuah
penjara di tempat mereka. Lokasinya ada di sisi kanan jalan dari Terminal Pinang
Ranti menuju Asrama Haji.
Selama satu tahun delapan bulan, Hariman Siregar pernah menjadi salah satu
penghuni Nirbaya, setelah sebelumnya mendekam di sejumlah penjara lain. Menyusul
kemudian ke Nirbaya adalah Sjahrir dan Aini Chalid. Tokoh lain yang sempat diseret
kasus Malari oleh pemerintah dan ditempatkan di Nirbaya adalah Mochtar Lubis,
Adnan Buyung Nasution, dan Bung Tomo. Sebelum mereka telah ada tahanan dari
peristiwa Gerakan 30 September 1965. Mereka antara lain: Omar Dhani (Kepala Staf
Angkatan Udara di masa Soekarno), Soebandrio (mantan Wakil Perdana Menteri dan

Mochtar Lubis menggunakan istilah “tahanan Gestapu.” Lihat: Mochtar Lubis. 2008. Op.Cit.

~ 71 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 71 3/26/10 7:21:46 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama para aktivis DMUI (Bambang Sulistomo, Gurmilang Kartasasmita, dan Eko Djatmiko) di
RTM Budi Utomo (1974).

Menteri Luar Negeri), dan sejumlah tokoh lainnya.


Penjara Nirbaya terdiri dari lima blok. Istilah yang digu­nakan untuk menamai
blok-blok itu bisa dibilang “dipak­sakan”—untuk perspektif zaman pasca-Soeharto.
Masing-masing blok dinamai Amal, Bakti, Nusa, Ikhlas, dan Rela. Tidak diketahui
dari mana dan apa ide dasarnya—barangkali tidak penting juga di­cari tahu—tapi
kemungkinan bersumber dari kebiasaan Orde Baru memberi stigma kepada lawan
politiknya. Mereka yang dimasukkan ke sini dinilai bukanlah orang-orang yang cocok
dengan istilah-istilah nama blok itu, tapi diharapkan kelak bisa cocok atau bertobat.
Nama resmi penjara ini sebenarnya adalah Instalasi Rehabilitasi (Inrehab)
Nirbaya. Tempat ini direncanakan dan didirikan pada era pemerintahan Soekarno,
dengan tujuan untuk tempat penampungan para tahanan politik terkemuka, yang
sebelumnya ditahan di penjara biasa di Madiun, Jawa Timur. Yang menarik, penjara
Nirbaya tak memiliki pintu gerbang masuk dan tidak ada dinding penyekat di antara
blok. Sayap kanan Nirbaya terdiri dari Blok Amal, Bakti, dan Nusa.
Di dalam Blok Amal terdapat rumah-rumah kecil yang berdiri sendiri. Penjaga
dan penghuni menyebutnya paviliun ayau bungalo. Tiap-tiap paviliun memiliki lahan
kosong di muka, kedua sisi dan belakang. Akan halnya blok lain hanya terdiri dari
barak-barak panjang dengan kamar-kamar lebih kecil. Tentu saja terdapat tempat
khusus untuk penjaga dan dapur umum. Blok Amal dianggap merupakan blok VIP di
Nirbaya. Setiap tahanan menempati paviliun berukuran 5 x 6 meter, dengan fasilitas
WC di dalam, jendela kaca dan pintu yang berkunci biasa. Paviliun itu dilengkapi
~ 72 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 72 3/26/10 7:21:50 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
dengan tempat tidur, sofa, meja dan kursi makan, serta lemari pakaian. Dan tidak ada
terali besi. Di Blok Amal inilah mendekam Omar Dhani, Soebandrio, dan sejumlah
tahanan politik yang dulunya adalah para pejabat pemerintahan era Soekarno.
Di Nirbaya terdapat pula poliklinik. Di paviliun poliklinik inilah Hariman
ditempatkan. “Dibanding di penjara lain selama menjadi ta­hanan, di Nirbaya relatif
lebih baik,” kata Hariman. Di sini ia dibolehkan membaca berbagai buku, bukan
hanya novel-novel, dan bergaul dengan tahanan lain yang kebanyakan mantan pe­
tinggi Orde Lama. Sewaktu-waktu bisa juga berkunjung ke blok lain.
Seperti ditulis Mochtar Lubis, dalam catatan hariannya, Kamis, 13 Februari
1975, “Kemarin Hariman Siregar datang ber­tamu waktu jam main volley. Dia gembira
seperti biasa dan mengatakan padaku bahwa mahasiswa waktu demonstrasi terhadap
Tanaka sama sekali tidak merencanakan untuk menentang pemerintah Soeharto dan
bahwa kekerasan-kekerasan yang terjadi bukanlah dilakukan mahasiswa. Katanya,
dia dan kawan-kawannya telah berhasil mengenal mereka yang mengerahkan orang
untuk merampok dan membakari toko dan mobil.”
Tiap-tiap kamar atau paviliun tidak pernah dikunci se­panjang siang dan malam.
Hanya pintu masuk ke tiap blok yang dikunci. Dua pengawal tentara ditempatkan
secara bergantian untuk berjaga. Menurut catatan harian Mochtar Lubis, tentara
penjaga itu “prajurit-prajurit muda dan senantiasa bersikap ramah.”
Layaknya penjara, di tiap sudut tembok tinggi terdapat menara pengawalan.
Dari menara itu, selain bisa mengawasi kegiatan tahanan, juga bisa melihat suasana
sibuk di dekat tembok selatan, yakni pembangunan Taman Mini Indonesia Indah yang
tengah dikebut agar bisa diresmikan bulan April 1975.
Setelah melewati waktu enam bulan lebih, Sjahrir yang sudah divonis 6
tahun 6 bulan tahun pada pertengahan Juni 1975 dikirim juga ke Nirbaya. Kemudian
menyusul Mohammad Aini Chalid, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, yang
divonis dua tahun dua bulan. Mereka berkumpul di tempat ini. Hariman telah pula
menulis catatan-catatan hariannya.
Suatu sore, 4 Februari 1975, Mochtar Lubis dimasukkan juga ke Nirbaya. Ia
ditempatkan di Blok Amal Paviliun A2. Sama seperti ketika Hariman masuk, tak ada
perlengkapan di dalam paviliun itu. Hanya ada sebuah meja dan kursi tua, bufet,
tempat tidur dengan kasur busuk, tanpa bantal atau sprei. Hariman sempat meminta
dikirimi kasur dari rumah menggantikan yang disediakan Nirbaya.
Mochtar Lubis sempat mencatat menu yang disajikan setiap harinya. Makan
pagi adalah nasi dengan sepotong tahu atau tempe, siang hari makan dengan nasi
ditambah satu tempe dan sayur rebus, sedang makan malam diberi nasi lebih banyak
dengan sayur lodeh, perkedel, dan setengah telur asin. Menu ini berbeda dengan
tahanan Gerakan 30 September yang hanya diberi nasi, tahu/tempe, sayur rebus untuk
pagi, siang, dan malam. Pada siang hari pun menu untuk Hariman dan Mochtar Lubis

Lihat Benedicta A. Surodjo dan J.M.V. Soeparno. 2001. Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, dan Tanganku: Pleidoi
Omar Dani. Jakarta: ISAI, halaman 140-141.

~ 73 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 73 3/26/10 7:21:50 PM


Hariman & Malari
(kelak nanti dengan Sjahrir dan Aini) masih ditambahi satu telur dadar atau sesekali
pada pagi hari diberi perkedel.
Tahanan yang telah lama menghuni Nirbaya memelihara kucing dan ayam.
Ada enam kucing saat itu yang dimaksudkan untuk menjaga agar ular dan tikus tidak
masuk ke paviliun. Maklum, ular belang dan ular sendok masih banyak di daerah itu.
“Untungnya tidak ada tikus masuk ke paviliun,” tulis Mochtar Lubis dalam catatan
hariannya. Di tengah blok ada taman dengan kolam ikan mujair dan bunga teratai.
Tahanan lama juga menanam singkong, pepaya, mangga, jambu klutuk, alpukat, dan
bunga-bunga.
*****
Acara masih dua setengah lagi berlangsung. Jam di Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat baru menunjukkan pukul 06.30 WIB. Sepagi itu, dua batalyon polisi lengkap
dengan brigade satwa yang menuntun anjing pelacak telah siaga. Pengunjung
pengadilan telah mulai membanjir. Mereka antre untuk mendapatkan tanda pengenal
khusus agar bisa masuk ke ruang persidangan. Satu di antaranya adalah Bung Tomo,
tokoh 10 November 1945. Ia termasuk pengunjung yang datang paling pagi.
Kamis pagi itu, 1 Agustus 1974, Hariman Siregar akan di­sidang. Ketua Dewan
Mahasiswa UI ini per­tama kalinya akan kembali muncul di muka publik setelah
sejak pertengahan Januari ditahan berpindah-pindah. Ia telah lebih dulu datang ke
pengadilan dengan mobil tahanan dari RTM Budi Utomo.
Sebelum sidang betul-betul dimulai pukul 09.00 sudah ada dua ribuan orang,
yang sebagian besar mahasiswa. Rata-rata berjaket kuning. Tampak pula mahasiswa
dari Bandung dan Bogor, ditandai dengan jaket almamater yang mereka kenakan.
Di ruang sidang, di kursi pengunjung sudah ada Pembantu Rektor III UI Dr. Budi
Swasono, yang seorang menantu mantan Wakil Presiden Bung Hatta. Hadir juga
abang Hariman: Marhum Siregar.
Majelis Hakim dipimpin oleh B.H. Siburian, S.H., dengan anggota Bremi,
S.H. dan Hungudidojo, S.H. Jaksa dipimpin oleh Ph. Rompas, S.H. Terdakwa,
Hariman Siregar—mengenakan jaket almamaternya juga—duduk di tengah di muka
meja majelis hakim. Beberapa meter di sebelah kanannya, duduk empat pembelanya:
Suardi Tasrif, Jamaluddin Dt. Singomangkuto, Nusjirwan Kusumonegoro, dan Talas
Sianturi.
Sidang pertama ini agendanya mendengarkan dakwaan jaksa:

“… Hariman Siregar, baik bertindak atas nama Dewan Ma­ha­siswa Universitas


Indonesia, organisasi lain, ataupun per­seorangan, pada bulan Oktober, November,
Desember 1973, dan Januari 1974 setidak-tidaknya dalam waktu antara 1973 dan 1974,
di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, atau daerah lain di wilayah Republik Indonesia telah

Pasukan keamanan itu sebelumnya, 30 Juli 1974, mengikuti pelatihan bersandi Jaya Siaga III yang diikuti oleh berbagai
satuan ABRI, Wankamra, dan Hansip. Latihan selama enam setengah jam itu dipimpin oleh Panglima Pelaksana Khusus
Kopkamtin Jakarta Raya. Lihat: “Bab Sistem Pengamanan” dalam Tempo edisi 10 Agustus 1974.

~ 74 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 74 3/26/10 7:21:51 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Sidang pengadilan peristiwa malari, Hariman Siregar di pengadilan negeri Jakarta Pusat, Jakarta, 1975.
[TEMPO/ Harun Musawa)

Pengunjung sidang berusaha mendekati Hariman Siregar yang akan masuk ke mobil tahanan, Jakarta, 1975.
[TEMPO/ Zulkifly Lubi)

~ 75 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 75 3/26/10 7:21:55 PM


Hariman & Malari
melakukan serangkaian perbuatan dan maksud merongrong atau menyelewengkan
haluan negara, merongrong kekuasaan negara atau kewibawaan pemerintah yang
sah atau aparatur negara, menimbulkan kekacauan, kegoncangan, atau kegelisahan
di kalangan penduduk atau masyarakat luas, mengganggu, menghambat, atau
mengacaukan jalannya industri, produksi, distribusi, perdagangan, atau pengangkutan
yang diseleng­garakan pemerintah, atau memunyai pengaruh luas terhadap rakyat,
perbuatan-perbuatan mana dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
Pada tanggal 24 Oktober 1973 di Student Centre Uni­versitas Indonesia,
Salemba Raya Jakarta, terdakwa telah mencetuskan dan menandatangani Petisi 24
Oktober. Untuk maksud itu, terdakwa telah melakukan serangkaian kegiatan antara
lain:
1. Pada tanggal 20 November 1973 di dalam pertemuan delapan dewan
mahasiswa yang diadakan di Universitas Padja­djaran, Bandung, terdakwa telah
mengucapkan antara lain:
• Pemerintah semakin lama semakin menyimpang dari tujuan semula.
• Perlu adanya perubahan struktur pemerintahan karena tidak menghasilkan
kemajuan.
2. Pada tanggal 24 November 1973 kira-kira jam 02.00 malam bertempat
di ruangan DMUI Jalan Salemba Raya Jakarta, di hadapan beberapa anggota DMUI,
terdakwa telah melontarkan kata-kata, ‘Setuju enggak kita ganti Soeharto dengan
Soemitro?’
3. Pada tanggal 9 Desember 1973 dalam pertemuan ‘re­riungan’ antara tiga
golongan masyarakat, yaitu mahasiswa, cen­dekiawan, dan seniman yang diadakan di
Student Centre ITB, terdakwa telah mengatakan antara lain:
• Kultur penguasa yang jelas tidak menghasilkan peru­bahan.
• Tanpa mahasiswa bergerak mungkin akan ada kudeta dari pihak militer,
maka sebelum ini terjadi mari mulai sekarang juga.
• Sekarang tujuan kita merombak struktur pemerintahan, bila perlu secara
keseluruhan, dan bila perlu kita angkat senjata dan berkorban untuk cita-cita bersama.
4. Pada tanggal 12 Desember 1973 di kantor DM IAIN Sunan Kalijaga
di Yogyakarta dalam dialog dengan beberapa anggota DM IAIN, ketika anggota-
anggota DM tersebut menjelaskan bahwa maksud dari gerakan-gerakan mahasiswa
adalah melenyapkan ke­timpangan-ketimpangan yang ada di negara ini, terdakwa telah
menyampaikan kata-kata ‘mengapa bukan Soeharto?’
5. Pada tanggal 14 Desember 1973 malam di rumah makan Siyo Jakarta,
sewaktu saksi-saksi Tisnaya Kartakusuma dan Togar Hutabarat menanyakan apa
maksudnya poster-poster yang sedang disiapkan oleh mahasiswa UI dan berisi
mendiskreditkan Aspri dan Kopkamtib, terdakwa menjelaskan, ‘Mau revolusi lebih
daripada yang terjadi di Muangthai dan Athena, caranya akan diadu antara Aspri dan
Pangkopkamtib agar Presiden Soeharto jatuh.’
6. Pada bulan Oktober 1973 sewaktu DMUI mendapat undangan dari
Presiden Soeharto ke Cendana pada Hari Raya Lebaran, terdakwa telah mengucapkan
kata-kata di antara kawan-kawan anggota DMUI sebagai berikut: ‘Kita bunuh saja
(Presiden) Soeharto sekarang, dia ini kacung Cina, sebentar-sebentar Cina-Cina pada
datang.’

~ 76 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 76 3/26/10 7:21:55 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
7. Pada bulan Oktober atau November 1973 dalam acara perkenalan
DMUI yang baru dengan Gubernur Ali Sadikin, terdakwa telah melontarkan kata-
kata, ‘Bagaimana ini, Pak, mahasiswa akan mengadakan aksi secara besar-besaran,
bagaimana kalau kami dukung Bapak menjadi presiden?’
8. Pada tanggal 18 Desember 1973 di UI Salemba Jakarta, terdakwa
selaku Ketua Umum DMUI mengadakan apel kebulatan tekad dan antara lain telah
meneriakkan: ‘Bapak main golf, ibu sedang ngobyek.’
9. Pada suatu malam tirakatan, terdakwa telah mengajak rakyat untuk bergerak
maju mengikuti jejak mahasiswa dalam usaha mencapai tujuan yang tercantum dalam
tekad bulat ma­hasiswa.
10. Pada apel di UKI tanggal 12 Januari 1974, terdakwa telah menghasut
agar mahasiswa dalam menyambut kedatangan PM Tanaka dari Jepang meneriakkan,
‘Bahwa Indonesia masih punya kebanggaan nasional.’ Dan dalam perjalanan
menyambut PM tersebut, terdakwa menganjurkan mahasiswa agar menurunkan
bendera-bendera menjadi setengah tiang.
11. Pada tanggal 15 Januari 1975, di depan Fakultas Kedokteran UI, terdakwa
memberikan instruksi kepada para pimpinan rombongan yang akan berangkat
bergerak, agar mengambil rute Salemba (UI) – Kramat Raya – RS Cikini – Menteng
Raya – Jalan Tanah Abang III – terus ke Universitas Trisakti dengan garis singgung
Monas.
Dalam long march tersebut, pemimpin barisan depan adalah Judilherry,
barisan tengah dipimpin langsung Hariman, dan barisan belakang dipimpin mahasiswa
lainnya. Pada sepanjang jalan yang dilalui, barisan harus menurunkan bendera-bendera
yang dipasang penuh menjadi setengah tiang dan ban-ban mobil agar dikempiskan.
Dengan cara-cara ini, terdakwa bermaksud merongrong ke­wiba­waan
pemerintah, menimbulkan kekacauan, mengganggu ketertiban umum, dan menim­
bulkan hambatan terhadap perkem­bangan industri, sedangkan pemerintah sedang giat-
giatnya melak­sanakan pembangunan nasional dalam segala bidang.
Maka, terdakwa telah melanggar Pasal 1 ayat 1 sub a, b, c, d Undang-Undang
No. 11/PNPS/1963 dalam tuduhan primer, sedangkan dalam subsider telah melanggar
Pasal 107 ayat 1 dan 2 KUHP, Pasal 2 UU No. 5/PNPS/1958 (bermaksud mengadakan
makar hendak menggulingkan pemerintah yang sah)….”

Setelah setengah jam dakwaan dibacakan, Ketua Majelis Hakim B.H. Siburian
bertanya kepada Hariman. “Saudara mengerti tuduhan yang baru saja dibacakan?”
“Tidak,” jawab Hariman.
“Mengerti bahasa Indonesia?” tanya Hakim lagi.
“Mengerti. Tapi saya tidak dapat memahami segi-segi hukumnya,” kata
Hariman.
“Ada yang Saudara mohon kepada Majelis Hakim?”
“Ada. Kalau boleh supaya sidang yang memeriksa saya ditunda satu bulan

Hariman Siregar. 1999. Op.Cit.

~ 77 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 77 3/26/10 7:21:56 PM


Hariman & Malari
agar saya dapat berhubungan dengan para pembela saya. Karena Bapak-Bapak ini
(seraya menoleh kepada Tim Pembela) baru bertemu dengan saya pagi ini di sidang,”
kata Hariman. “Waktu saya ditangkap, istilahnya diamankan, tidak di­sebut-sebut
untuk dibawa ke pengadilan.”
Suardi Tasrif mengajukan pernyataan senada: “Kami me­nyayangkan bahwa
sepanjang pengetahuan kami, selama berada dalam tahanan, tersangka tidak
pernah mendapat kesempatan untuk menghubungi dan meminta bantuan penasihat
hukum, sekalipun hal itu adalah haknya berdasar Pasal 36 UU Pokok Kekuasaan
Kehakiman.”
Mereka lalu meminta agar sidang ditunda selama satu bulan ke depan. Tapi,
hakim beranggapan sebulan terlalu lama. Akhirnya, sidang berikutnya ditunda kurang
dari dua pekan, yakni 12 Agustus.
Pada dasarnya, sidang terhadap Hariman merupakan sidang pesanan. Pada
masa Orde Baru, sidang model begini biasanya vonis “bersalah” dan harus menjalani
hukuman penjara yang sudah ditetapkan sebelum persidangan itu sendiri dimulai.
Maka, ketika eksepsi disampaikan kepada sidang kedua oleh tim pembela, majelis
hakim menyatakan menolak dan menyatakan bahwa Hariman harus diperiksa
pengadilan. Sidang-sidang setelah putusan sela hakim itu tentunya memeriksa
keterangan saksi-saksi.
Seluruhnya ada 35 saksi yang diajukan oleh jaksa. Mereka ialah Theo L.
Sambuaga, Gurmilang Kartasasmita, Judilherry Justam, Jessy A. Moninca, Slamet
Rahardjo, Pataniari, John Pangemanan, Eko Djatmiko, Arifin Simanjuntak, Nasrun
Yasa­bari, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Juwono Sudarsono, Joppie Lasut, Jusuf A.R.,
Carpus da Lopez, Abdul Salim Hutadjulu, Sani Hutadjulu, Djarot Santoso, Harjuna
Ganes Siahaan, Hatta Albanik, Rum Aly, Leo Tomasoa, Postdam Hutasoit, Sarwoko,
Tisnaya Kartakusuma, Slamet Effendy Yusuf, Togar Hutabarat, Remy Leimena,
Muslim Tampubolon, Benny Sudiro, Mangirim Simare-mare, Ashadi Siregar, Firdaus
Basuni, Yusuf Muhammad, dan Sjahrir.
Sebenarnya ada satu saksi lain yang diajukan jaksa: Razak Manan, wartawan
mingguan Mahasiswa Indonesia, terbitan Bandung. Namun, kesaksian Razak Manan
dibatalkan hakim karena dianggap “membuat ulah”. Sebelum memberi kesaksian—
seperti biasa—saksi disumpah berdasarkan kitab suci agamanya. Razak menolak
disumpah sebelum ia dibolehkan memeriksa apakah Alquran yang digunakan untuk
menyumpah benar-benar asli atau tidak. Ia pun kemudian menangis tersedu sedan
untuk melengkapi protesnya di pengadilan.
Rata-rata agenda sidang yang menghadirkan saksi-saksi memang berisi kisah
menarik yang mengundang senyum, kadang tertawa dan tepuk tangan. Misal saja,
Theo L. Sambuaga, Wakil Ketua Dewan Mahasiswa UI, bertanya lebih dulu kepada
majelis hakim sebelum ia diperiksa. “Mengapa saya, sebagai pengurus DMUI, tidak

“Hari Pertama untuk Hariman”, Tempo edisi 10 Agustus 1974.

Rum Aly. 2004. Op.Cit.

~ 78 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 78 3/26/10 7:21:56 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman bersama para pengacaranya, Suardi Tasrif dan T. Mulya Lubis, di halaman PN Jakarta Pusat (1983).

diajukan bersama-sama dengan ketua saya?”


Setelah diberitahu oleh hakim bahwa ia dihadirkan hanya sebagai saksi, Theo
langsung menyergah, “Kalau hanya sebagai saksi saja, yang harus memberi keterangan
obyektif, mengapa ditahan? Saksi memerlukan suasana yang bebas. Dan kalau saya
ditahan, tentu akan ada kelanjutannya, diadili. Kalau diadili, me­ngapa tidak bersama-
sama dengan semua pengurus DM-UI?”
Akhirnya, hakim ketua menyatakan mungkin jaksa telah menyiapkan suatu
perkara tersendiri bagi Theo. “Urusan mem­bawa ke persidangan adalah wewenang
jaksa. yang menentukan siapa yang akan diajukan lebih dulu sesuai dengan
keperluannya,” kata B.H. Siburian.
Kepada Theo, hakim menanyakan seputar Petisi 24 Oktober 1973, Ikrar 10
November 1973, dan juga tentang acara Malam Tirakatan. Soal protes terhadap modal
Jepang, hakim bertanya, “Kenapa ketidakpuasan kepada Jepang tidak disampaikan
pada pertemuan dengan presiden?”
Dijawab Theo singkat, “Waktu itu tidak terpikir.”
“Kenapa pembacaan memorandum direncanakan di Monas? Apa supaya
banyak mahasiswa yang tertampung? Apa dengan pembacaan di Monas itu lantas
bisa didengar Tanaka?” Pertanyaan ini menyambung keterangan Theo bahwa
memorandum yang dibacakan di Universitas Trisakti, 15 Januari 1974, mulanya mau
dibacakan di Monas.
Menjawab serentetan pertanyaan hakim ini, Theo lagi-lagi menjawab singkat,
“Hemat saya, Monas sebagai lambang Jakarta dan merupakan daerah netral.”
~ 79 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 79 3/26/10 7:22:00 PM


Hariman & Malari
Ketika hakim menyoal tentang Malam Tirakatan, setelah memberitahu bahwa
itu pertama kali diadakan di UI, Theo langsung menukas cepat, “Maaf, Pak, saya haus
sekali.” Akhirnya, hakim menunda sidang sampai beberapa hari berikutnya.
Aksi saksi-saksi di pengadilan tak berhenti. Beberapa saksi menggunakan
acara sidang untuk mengungkapkan pelanggaran yang ter­jadi selama mereka ditahan.
Sebagian malah menarik ke­te­rangan dalam berita acara yang dibuat sebelumnya
dengan alasan dipaksa dan diancam.
Jusuf A.R., Salim Hutadjulu, Eko Djatmiko, dan Joppie Lasut meminta agar
hak-hak tahanan untuk menerima pengun­jung dipenuhi. Mereka meminta agar izin
dari hakim yang menjamin mereka bisa menerima pengunjung dibuat tertulis. Soal
ini disanggupi oleh majelis hakim. tapi Jusuf A.R. tetap menolak memberi kesaksian
sebab sampai sepekan kemudian janji izin tertulis itu belum keluar. Ketika dipanggil
ke pengadilan, 6 September 1974, ia mengaku tak siap secara mental untuk memberi
kesaksian. Pada hari itu, Jessy A. Moninca juga mengaku tidak berada dalam kondisi
yang mantap karena tengah menderita sakit gigi.
Juwono Sudarsono menarik keterangan dalam berita acara karena melihat
bahwa pengadilan terhadap Hariman merupakan pengadilan politik yang bertujuan
mengesahkan sebuah hukuman yang telah ditentukan. Eko Djatmiko pun mencabut
pernyataan yang ia buat ketika diinterogasi. Alasan Djatmiko, waktu diperisa ia
dalam keadaan tidak sadar dan merasa terancam. Ia pun mengaku pernah dipukul.
Jaksa mengakui insiden itu, namun menurut jaksa tidak ada kaitan dengan interogasi,
melainkan perselisihan Eko Djatmiko dengan penjaga belaka.
Saksi lain yang mencabut berita acara adalah Jopie Lasut dan Bambang
Sulistomo. Jopie mengaku tidak merasa aman selama interogasi. “Saya diancam,”
katanya di depan pengadilan. Jopie Lasut mengungkapkan bahwa ia telah dipaksa
untuk menyebutkan sejumlah pejabat penting pemerintah seperti Jaksa Agung Ali
Said, Panglima Kopkamtib Soemitro, dan Wakil Panglima Kopkamtib Sudomo.
Alasan Bambang Sulistomo menarik keterangan dalam berita acara karena dia
diberitahu bahwa interogasi yang telah dilakukan tidak ada terkait dengan pengadilan
Hariman.
Protes serupa Bambang Sulistomo diajukan saksi-saksi dari Bandung, Hatta
Albanik dan Rum Aly. Secara tertulis, mantan Ketua Umum Dewan Mahasiswa
Universitas Padjadjaran Hatta Albanik mem­­protes berita-berita yang menyebutkan ia
pernah memberi ke­saksian tertulis mengenai Hariman. “Keterangan yang pernah saya
berikan dalam pemeriksaan-pemeriksaan tidak untuk peng­adilan perkara Saudara
Hariman Siregar,” tulis Hatta dalam surat protesnya kepada hakim. “Paling tidak
saya tidak pernah secara jelas diberitahukan untuk apa keterangan-ketrangan ter­sebut
dimintakan dari saya.”

“Masih Soal Petisi”, Tempo edisi 31 Agustus 1974.

Setelah Soemitro mengundurkan diri, jabatan Panglima Kopkamtib diambil alih langsung oleh
Presiden Soeharto. Sudomo pun menjadi Kepala Staf Kopkamtib.

C. Van Dijk. 2000. Op.Cit.

~ 80 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 80 3/26/10 7:22:00 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Akan halnya menurut catatan Rum Aly10, protes dilakukan karena hakim ketua
dalam suatu persidangan pernah mengatakan “kita akan memanggil pemimpin koran
(Mahasiswa Indonesia) itu untuk mendengarkan penjelasan mengenai beritanya,
apakah sekadar modal dengkul.” Rum Aly memberitahu apa itu Mahasiswa Indo­
nesia dan mengenai terbitannya yang berskala nasional.11
Secara keseluruhan, jaksa gagal membuktikan dakwaan makar oleh Hariman.
Ia lebih banyak menggunakan keterangan dan informasi intelijen dengan sedikit
pembuktian hukum. Beberapa saksi yang memberatkan Hariman dari kalangan
Opsus—Leonard Tomasoa, Sarwoko, Djarot Santoso, Postdam Hutasoit, dan Tisnaya
Kartakusuma—tampil dengan keterangan-keterangan yang kontroversial, namun
tidak dikejar hakim untuk didalami. Pada dasarnya, sepanjang keterangan mereka
bisa memberatkan Hariman, selesai sudah.
Keterangan Leo, misalnya, menyebut Hariman adalah otak peristiwa Malari.
Ia menyimpulkan setelah bertemu massa yang dikenali sebagai tukang becak pada 16
Januari 1974. Ketika Leo bertanya apa yang sedang dilakukan mereka di depan UI,
mereka menjawab, “Menunggu komando Bang Hariman.”
Sontak Hariman keberatan. “Itu analisis, bukan kete­rangan.”
Namun, hakim kala itu berpihak kepada Leo. “Majelislah yang akan
memutuskan apakah analisis itu benar atau tidak,” kata B.H. Siburian.12
Secara keseluruhan, Hariman Siregar menolak dakwaan yang disampaikan
jaksa. Ia menolak berbagai keterangan yang disampaikan saksi memberatkan (saksi a
charge). Hariman me­nyatakan tidak pernah berbicara tentang perubahan-perubahan
yang harus dilakukan dalam struktur pemerintahan dan tentang kudeta. Ia menolak
telah menyebutkan tentang “revolusi yang lebih keras dari yang terjadi di Athena dan
Muangthai” yang dapat dicapai dengan jalan mengadu domba Aspri dan Opsus.
Meski kadang keras dalam persidangan, terutama pada pemeriksaan saksi-
saksi memberatkan, pledoi Hariman terkesan lebih lembut. Ia pun tak mengajukan
argumen-argumen hukum. Isi pledoinya singkat saja:

Bapak Majelis Hakim yang terhormat,


Kami telah siap menunggu keputusan Bapak Majelis Hakim mengenai
segala kegiatan kami. Hanya, sekali lagi, kami ingin menegaskan pendirian kami:
generasi muda Indonesia yakin perjuangan selama ini bukan untuk memenangkan
pribad-pribadi, golongan-golongan, atau kekuasaan. Lebih lagi untuk menggulingkan
pemerintah dan pimpinan nasional yang sah! Tapi, perjuangan kami adalah untuk
menegaskan prinsip-prinsip yang kita ciptakan bersama. Karena, pribadi-pribadi bisa
mati, golongan-golongan silih berganti, kekuasaan dapat menyeleweng, tetapi prinsip-
prinsip akan tetap abadi.
10
Mantan Pemimpin Redaksi Mingguan Mahasiswa Indonesia, terbitan Bandung,
dibreidel setelah Malari.
11
Rum Aly. 2004. Op.Cit.
12
Hariman Siregar. 1999. Op.Cit.

~ 81 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 81 3/26/10 7:22:00 PM


Hariman & Malari
Kami yakin prinsip yang paling langgeng adalah prinsip yang kami
perjuangkan, yakni yang termaktub dalam UUD 45 dan Pancasila.
Jiwa patriotisme kami, kecintaan kami kepada nusa dan bangsa, serta
penghayatan kami pada prinsip-prinsip yang terdapat dalam UUD ‘45 dan Pancasila
tak akan pernah luntur, walaupun ditukar dengan harta ataupun karena dipenjarakan
dan menderita.
Pada akhirnya, kami mendoakan selalu agar Bapak Majelis Hakim yang
terhormat dapat melakukan tugasnya sebaik-baiknya berdasarkan hukum yang berlaku,
dan dengan penuh keberanian mengatasi setiap rintangan yang dapat menghambat
tegaknya kebenaran dan keadilan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membimbingnya
selalu.
Kami juga menyampaikan terima kasih yang tak terhingga kepada Majelis
Hakim yang terhormat, yang bertugas selama ini di persidangan. Kepada Bapak
Jaksa, kami sampaikan ucapan yang sama. Ucapan terima kasih yang mendalam kami
sampaikan kepada Bapak Tasrif, Bapak Jamaluddin, Bapak Nursjiwan, dan Kak Talas
Sianturi yang telah mendampingi kami selama di persidangan ini.
Kepada rekan-rekan kami dan majelis hadirin serta petugas dan wartawan
dan kepada mereka yang telah memberikan bantuan moril dan simpati, baik selama
ini maupun selama kami ditahan dan menerima sebagai musibah, kami ucapkan
diperbanyak terima kasih. Khusus kepada orangtua saya yang telah memberikan arti
tanggung jawab dan arti kesetiaan kepada saya, juga saya ucapkan terima kasih.
Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberkati dan memberi balas yang
setimpal kepada kita semua.

Jakarta, 18 November 1974


Hariman Siregar

Tim pembelanya membacakan pembelaan pada sidang ke-50 setebal 150


halaman. Tim yang dipimpin Suardi Tasrif begitu meyakinkan membacakan naskah
pembelaan. Isinya melibatkan sejumlah fakta berita, keterangan saksi, kutipan para
ahli—termasuk buku-buku yang ditulis oleh ahli dari Barat, puisi yang di antaranya
dari W.S. Rendra, hingga lirik lagu Bob Dylan.13
Beberapa bagian yang dibacakan sempat membuat hadirin tertegun, terutama
ketika Tasrif membacakan bagian penutup pembelaan. Ada empat perkara yang
sedang dipertaruhkan oleh pengadilan ini, menurut pembela. Yang pertama adalah
generasi muda Indonesia sedang diadili.
“Melalui perkara terdakwa Hariman Siregar ini, sesungguhnya the young
generation in Indonesia is on trial. Sejarah akan mencatat dan memberikan penilaian,
apakah dalam tahun 1974 ini pengadilan di Indonesia benar-benar dapat menghayati
dan menyelami aspirasi-aspirasi generasi mudanya melalui ke­putusan pengadilan
dalam perkara terdakwa Hariman Siregar,” ujar Tasrif.
13
Ricardo Iwan Yatim, dkk. 1994. Hati Nurani Seorang Demonstran: Hariman Siregar,
Jakarta: PT Mantika Media Utama Jakarta.
~ 82 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 82 3/26/10 7:22:01 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Yang kedua: kebebasan mimbar sedang diuji. Perihal ketiga adalah kepercayaan
antar-mahasiswa dalam bahaya. Menurut pembela, selama pengadilan ada beberapa
saksi yang menyatakan Hariman telah mengucapkan berbagai kata pada berbagai
kesempatan yang sifatnya menghasut. Padahal, kata-kata itu diucapkan saat Hariman
sedang makan-makan, bersenda gurai, berkumpul sambil berkelakar, dan sebagainya.
“Kami terus terang merasa risi apabila omong-omong senda gurau antar-mahasiswa
sampai-sampai secara serius dijadikan kesaksian dalam perkara ini, sekalipun
kesaksian-kesaksian itu telah disangkal secara tegas kebenarannya oleh saksi-saksi
lain.
“Apakah kecurigaan di dalam kampus tidak akan mera­jalela apabila sesudah
ini mahasiswa yang satu menganggap yang lainnya menjadi ‘spion Melayu’?” ungkap
Tasrif. Lebih luas lagi hal itu akan berakibat bahwa para dosen dan guru besar da­lam
memberi kuliah diliputi rasa khawatir. Jangan-jangan ada mahasiswanya yang akan
melaporkan isi kuliah yang dianggap di luar konteks, seperti peristiwa yang pernah
dialami Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, S.H. pada zaman Orde Lama.14
Sampai di sini, suasana sidang langsung sepi. Pengunjung terdiam. Tasrif
berhenti membaca. Ketika melanjutkan membaca, suaranya tersendat karena haru.
Hariman pun tak kuasa menahan air matanya.15
Taruhan keempat dari pengadilan ini ialah tantangan bagi pengadilan di zaman
Orde Baru. “Selama ini telah banyak perkara penting yang diadili oleh pengadilan
dalam suasana Orde Baru, namun menurut hemat kami tidak ada satu perkara selama
ini yang lebih berat untuk diputus daripada perkara sekarang ini, oleh karena perkara
ini menyangkut persoalan-persoalan politik yang sangat peka.”
Sebenarnya, Hariman sudah divonis “bersalah” sebelum pengadilan dimulai.
Pada 21 Desember 1974, ia dijatuhi hukuman enam tahun penjara. Ia dianggap
terbukti telah melakukan tindak pidana subversi: merongrong haluan negara. Hakim
mendasarkan putusan pada tiga rangkaian tindakan yang dilakukan Hariman. Pertama:
Petisi 24 Oktober 1974. Petisi ini, menurut majelis hakim, tidak sekadar menunjukkan
rasa tidak puas terhadap keadaan negara, berbeda dengan keluh kesah pegawai di atas
bus kota mengenai kenaikan harga. “Jika rasa tidak puas itu disalurkan lewat pidato,
itu punya latar belakang dan tujuan politik,” demikian kata majelis hakim.
Bagian pertama petisi menyebut “meninjau kembali strategi pembangunan”,
yang menurut majelis hakim sama dengan meninjau Garis-Garis Besar Haluan Negara
(GBHN) dan membuat GBHN baru. Soal itu dipidatokan lagi dalam acara Malam
Tirakatan sebagai tindakan Hariman yang kedua. Adapun tindakan ketiga adalah
demonstrasi menyambut Perdana Menteri Jepang, Kakuei Tanaka.
Meski tidak terbukti menjadi penggerak kerusuhan, menurut majelis hakim,
Hariman mestinya tahu bahwa pada triwulan terakhir tahun 1973 dan awal 1974
Jakarta dilanda aksi-aksi demonstrasi. Karena kelalaian Hariman, terjadilah aksi
14
Ricardo Iwan Yatim, dkk. 1994. Ibid.
15
“Dimulai: ‘Spion Melayu’”, Tempo edisi 30 November 1974.

~ 83 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 83 3/26/10 7:22:01 PM


Hariman & Malari
pembakaran dan pengrusakan. “Kelalaian ini sama seperti kelalaian seseorang yang
membeli arloji di pinggir jalan, padahal tahu di Jakarta sering ada penjambretan,”
begitu alasan majelis hakim.
Logika kacau ini diulangi majelis hakim untuk menampik argumentasi tim
pembela yang menyamakan perkara Hariman ini dengan perkara Bung Karno dan
Bung Hatta pada zaman penjajahan. Majelis tegas menyebut berbeda. Mengapa? Ja­­
wabannya: “Zaman penjajahan tentu belum ada undang-un­dang subversi.” Sampai di
sini Hariman tidak dapat menahan tawanya.16
Sepuluh hari sebelum vonis untuk Hariman, terdakwa lain kasus Malari
mulai disidang: Sjahrir. Jaksa mendakwanya untuk kegiatan subversi. Ia dianggap
menggalang kekuatan makar sejak 1970 hingga 1972 dan tahun 1973-1974.
Rangkaian perbuatan subversi itu berupa aksi demonstrasi, diskusi, dialog dalam
berbagai pembicaraan bersama anggota GDUI, mahasiswa, pemuda, pelajar, dan
masyarakat lainnya. Perbuatan ini ia lakukan selaku pribadi dan selaku asisten pribadi
Prof. Sarbini Soemawinata dan Sekretaris GDUI. Bila Hariman didakwa sebagai
penggerak lapangan Malari, Sjahrir diarahkan sebagai otak gerakan.
Sama seperti kepada Hariman, jaksa pun mengutip beberapa pernyataan
Sjahrir untuk menjeratnya, seperti “political culture saat ini harus dicairkan, sehingga
tercapai warna politik baru yang disebut sebagai kultur elite politik.” Juga “untuk
menciptakan warna politik baru tersebut perlu adanya suatu mobilisasi politik yang
dimulai oleh elite politik.”
Saat pledoi, 7 April 1975, Sjahrir menyatakan bahwa apa yang terjadi padanya
tidak lebih dari suatu permainan. Ia hanyalah seorang warga negara biasa yang diseret
dan dipaksa untuk ikut berperan dalam cerita yang ia tak pahami ini. Sidang atas
dirinya tak lebih dari skenario politik yang serampangan dan absurd dengan latar
belakang gerakan subversif dan konspirasi politik.
“Selama berbulan-bulan majelis hakim, penuntut umum, pembela, dan saya
sendiri telah berusaha memainkan peran masing-masing dengan sebaik-baiknya.
Namun, sayalah seorang pemain yang menyadari bahwa tidak ada penonton yang
memedulikan permainan ini. Ada beberapa hal yang boleh jadi menyebabkan mereka
tidak tertarik kepada permainan ini: mungkin pembagian peran tidak cocok, saya
tidak terbiasa dengan peran yang seberat dan sebesar ini. Barangkali seseorang di luar
tahanan dan di luar persidangan ini selayaknya menjalankan peran saya. Mungkin
alur ceritanya kelewat dibuat-buat sehingga para penonton melihat permainan ini
kurang wajar. Tetapi, mungkin juga para penonton telah bosan setelah tiga puluh tahun
merdeka, mereka kini muak dengan segala macam permainan,” ungkap Sjahrir.
Toh, lagi-lagi, seperti juga terjadi pada Hariman sesung­guhnya Sjahrir pun
telah dinyatakan “bersalah” sebelum sidang dibuka hakim. Maka, pada Kamis
malam, 12 Juni 1975, majelis hakim yang terdiri dari Anton Abdurrahman Putera,
Indra Malaon, dan D. Suwandono menjatuhkan palu hukuman selama 6 tahun lebih
16
“Vonis, Senyum, Naik Banding”, Tempo edisi 28 Desember 1974.

~ 84 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 84 3/26/10 7:22:02 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
6 bulan bagi Sjahrir.
Sidang ketiga untuk perkara Malari digelar dengan terdakwa Mohammad Aini
Chalid, mahasiswa Universitas Gadjah Mada, 23 Juni 1975. Aini menolak didampingi
pembela. Sidang yang intinya sama saja dengan sidang Hariman dan Sjahrir ini lebih
singkat. Meski pada persidangan Aini Chalid ini disebut juga siapa yang membakar
Senen dan menggerakan massa, yakni Ramadi. Namun, majelis hakim kelihatannya
kurang berminat untuk mendalami, sama seperti pada persidangan dengan dua
terdakwa lain. Maka, kurang dari sebulan kemudian, jaksa sudah menyampaikan
tuntutan penjara selama 10 tahun dan beberapa pekan kemudian vonis bisa dijatuhkan:
2 tahun lebih 2 bulan penjara.
Aini Chalid lalu dikirim ke Penjara Nirbaya, menyusul dua rekannya yang
telah dikirim ke sana lebih dulu: Hariman Siregar dan Sjahrir.
*****
Penjara dan penderitaan hidup tak membuat Hariman Siregar patah semangat.
Mochtar Lubis, yang masuk ke Nirbaya belakangan, menulis dalam catatan harianya:
“Aku senang dengan Hariman. Semangatnya baik sekali. Rasa keadilan sosialnya
besar, apalagi untuk anak muda zaman sekarang. Terutama pula dia dari keluarga
yang berkecukupan.”17
Masa mendekam di penjara dipakai Hariman untuk membaca banyak buku.
Ia terutama sangat menyukai novel-novel berlatar belakang politik. Novel-novel
itulah yang memberinya semangat, memberi banyak inspirasi untuk tidak menyerah.
Perjuangan, kata Hariman, tidak boleh berhenti di tembok penjara. Penjara tak boleh
membuat orang jera untuk berjuang.
Salah satu penulis favoritnya saat itu adalah Alexander Solzhenitsyn,
sastrawan Rusia yang pernah mendapat Hadiah Nobel untuk Bidang Sastra. Satu
novel ringkasnya pernah membekas begitu dalam bagi Hariman Siregar adalah One
Day in the Life of Ivan Denisovich. Ini satu dari dua karyanya yang dianggap terbaik.
Satu lagi berjudul The Gulag Archipelago.
Solzhenitsyn sesungguhnya seorang komunis loyal dan pernah bergabung
dengan pasukan artileri demi Uni Soviet. Namun, sebuah surat yang ia kirim kepada
sahabatnya bocor ke tangan intelijen dan jadilah ia tahanan negara. Isi surat itu biasa
saja, namun ia menyebut Stalin sebagai “pria bermisai”. Kata-kata yang biasa saja,
tapi dianggap penghinaan terhadap penguasa Uni Soviet kala itu. Dari pengalaman
dipindah-pindah ke berbagai kamp tahanan Soviet, Solzhenitsyn menuliskan dalam
satu hari pengalaman seorang tokoh rekaannya: Ivan Denisovich, yang akrab disapa
Shukov.
Kata-kata biasa juga yang menyeret Hariman Siregar dan kawan-kawannya ke
penjara. Kata-kata yang sesungguhnya—seperti dalam pledoi Hariman—bersumber
dari “jiwa patriotisme, kecintaan kepada nusa dan bangsa, serta penghayatan pada
17
Mochtar Lubis. Op.Cit., halaman 88.

~ 85 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 85 3/26/10 7:22:02 PM


Hariman & Malari
prinsip-prinsip yang terdapat dalam UUD ‘45 dan Pancasila.” Isinya memang
kritik kepada pemerintah dan strategi pembangunannya, tapi kata-kata itu buah dari
kecintaan tadi.
“Kritik dan kontradiksi sangat diperlukan oleh bangsa ini. Saya dosen dan
saya percaya bahwa kemajuan—seperti juga kalau kita sayang kepada teman kita,
kepada mahasiswa kita—kritiklah. Dengan begitu ia akan semakin sempurna dalam
pekerjaannya,” ujar Guru Besar Ekonomi UI, Anwar Nasution, menanggapi kisah
pemenjaraan Hariman.
Ganjaran rasa cinta kepada nusa dan bangsa dari tiga loyalis negeri ini—
Hariman, Sjahrir, dan Aini Chalid—ternyata adalah mendekam di Penjara Nirbaya.
Kisah Shukov dalam novel Solzhenitsyn dibaca Hariman ketika mendekam
di Nirbaya. Ia mengaku novel ini membuat dirinya menjadi lebih kuat menerima
perlakukan penguasa Orde Baru. Karya Solzhenitsyn lain yang sempat ia baca adalah
The Firs Circle. Ia juga banyak membaca novel Indonesia. Kawan Hariman, Husin
Sasongko, sempat mengirimkan Max Havelaar karya Multatuli. Berbagai bacaan itu
dimanfaatkan Hariman untuk membangkitkan perasaan, menghidupkan percakapan
batin, dan mengembangkan imajinasi.
Diakui Hariman, “ Masa dua tahun sembilan bulan di penjara memberi banyak
waktu untuk membaca ketimbang 23 tahun ketika di luar penjara.” Ketika dimasukkan
ke Penjara Nirbaya, bacaannya tidak terbatas pada novel. Di Nirbaya, ia dibolehkan
membaca buku apa pun, boleh membaca koran, boleh mendengar radio, dan boleh
menonton televisi. Di sini pula ia menggali berbagai peristiwa yang pernah terjadi
pada masa lalu di Indonesia dari saksi-saksi dan pelaku sejarah yang hidup.
Umum diketahui, Nirbaya dihuni oleh banyak pejabat pemerintah Soekarno
yang oleh pemerintah Soeharto dikaitkan dengan peristiwa Gerakan 30 September
1965, di antaranya Soebandrio. Omar Dhani, Oei Tjoe Tat (mantan Menteri Negara
Diperbantukan kepada Presiden RI), Astrawinata (mantan Menteri Kehakiman),
dan Jenderal Pranoto Reksosamudro. Nama yang disebut terakhir ini adalah mantan
Kepala Staf Angkatan Darat yang sempat di­angkat Soekarno menjadi Pemangku
Komando Angkatan Darat menggantikan Ahmad Yani yang kemudian ditolak oleh
Soeharto secara langsung.
Beberapa tokoh PKI juga sempat ditemui Hariman di Nirbaya, antara lain
tokoh Politbiro PKI Asep Suratma dan Sjam Kamaruzzaman yang disebut-sebut
sebagai tokoh Biro Khusus PKI. Beberapa waktu setelah Hariman masuk Nirbaya,
Sjam Kamaruzzaman dikabarkan dieksekusi mati. “Blok kami memang blok paling
sial. Sedikit penghuninya, tapi untuk orang-orang yang dihukum mati,” kenang
Hariman.

~ 86 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 86 3/26/10 7:22:03 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman (tanda X) bersama tahanan politik lainnya di Tahanan Pusdiklat Kejaksaan Agung, Ragunan (1976).

Hariman bersama jaksa penuntut umum perkaranya, Mambo (kiri) dan Ph. Rompas (kedua dari kiri) di Tahanan
Pusdiklat Kejaksaan Agung, Ragunan (1974).

~ 87 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 87 3/26/10 7:22:06 PM


Hariman & Malari
Tapi, dari Nirbaya dan para penghuninya pula Hariman banyak belajar makna
kehidupan dan konsekuensi atas pilihan-pilihan politik yang diambil dalam hidup
manusia. Pelajaran itu sangat membekas dalam jiwa Hariman dan menjadi bekal bagi
dirinya untuk mengarungi jalan kehidupan selanjutnya. e

~ 88 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 88 3/26/10 7:22:06 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 6

Menjaga Ruh
Gerakan Mahasiswa

P
asca-Peristiwa Malari, situasi po­
litik Indonesia adem ayem. Tapi, menjelang
pertengahan 1977 hingga awal 1978, suasana
politik mulai memanas lagi. Panggungnya tak lain
adalah Pemilu 1977 dan Sidang Umum Majelis
Permusyawaratan Rak­yat (MPR) 1978. Situasi
mulai me­negang baik di gedung parlemen maupun
ja­lanan. Di parlemen, misalnya, Rapat Panitia Ad
Hoc II Ba­dan Pekerja MPR tentang Naskah Ran­cangan Eka Prasetya Pancakarsa
(Pedoman Penghayatan dan Peng­amalan Pancasila, P4) yang disodorkan Presiden
Soeharto berakhir dead-lock alias macet. Rapat yang berlangsung dari 7 November
sampai 18 Desember 1977 gagal mencapai kesepakatan tentang butir-butir tafsir
Pancasila itu.
Sehari menjelang tutup tahun 1977, seorang guru besar hukum tata negara yang
juga Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia diperiksa oleh Kodim 0505 Jakarta
Timur. Sang guru besar, Prof. Dr. H. Ismail Suny S.H., M.C.L., diinterogasi lantaran
pernyataannya pada diskusi di kampus IKIP Rawamangun: “Di sini (Indonesia) ada
pejabat yang memiliki simpanan uang Rp140 miliar di bank.” Akibatnya, seharian ia
berhadapan dengan mesin keamanan Orde Baru: militer.
Gerakan mahasiswa pun bagaikan mendapat suntikan darah baru. Bahkan, isu
yang dilontarkan lebih berani: kini Presiden Soeharto sendiri yang menjadi sasaran
serangan. Aksi-aksi yang dilakukan di kampus-kampus mencemooh korupsi serta
keserakahan pejabat negara, terutama keluarga Presiden Soeharto. Para pemimpin
mahasiswa mengkritisi seluruh basis strategi pembangunan presiden.

David Jenkins. 2010. Soeharto dan Barisan Jenderal Orba: Rezim Militer Indonesia 1975-1983. Depok: Komunitas
Bambu, halaman 94.

~ 89 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 89 3/26/10 7:22:07 PM


Hariman & Malari

Hariman Siregar berpidato didepan massa pada peringatan sumpah pemuda oleh dewan mahasiswa dan senat
mahasiswa se Jakarta di kampus Universitas Indonesia, Salemba, Jakarta, 1980. [TEMPO/ Ali Said).

Pertengahan tahun 1977, Dipo Alam yang mantan Ketua Dewan Mahasiswa
UI mengejek pemerintah Soeharto secara terbuka dengan cara “mencalonkan” mantan
Gubernur Jakarta Ali Sadikin sebagai presiden. Singkat kata, iklim perpolitikan
nasional sudah memanas lagi.
Di tengah suasana politik itulah, tanggal 2 Januari 1978, seorang mahasiswa
ITB bertandang ke sebuah rumah di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. Jalanan yang
dikawal pepohonan itu sepi seperti biasa—apalagi lalu lintas Jakarta belum sepadat
sekarang. Angin bertiup tak terlalu kencang. Di dalam rumah, sang tamu mengenalkan
diri: Jusman Syafii Djamal, Wakil Ketua Bidang Kemasyarakatan Dewan Mahasiswa
ITB. Ini perjumpaan pertama mereka setelah sebelumnya berbicara lewat telepon.
Pemuda yang menyambut sudah mulai menebak-nebak maksud kedatangan
mahasiswa ITB. Si pemuda, yang tak lain adalah Hariman Siregar, belum terlalu lama
bebas dari penjara, sejak 11 Agustus 1976. Istrinya sedang sakit akibat pendarahan
di otak ketika melahirkan putra kembar mereka. Rumah tempat pertemuan itu tak
lain milik mertua Hariman yang seorang guru besar ilmu ekonomi, Profesor Sarbini
Soemawinata.
“Ketua Umum DM ITB Heri Akhmadi mengutus saya sendirian untuk
menemui Hariman hari itu,” Jusman mengenang perjumpaan pertamanya dengan si
pemuda di Jalan Brawijaya itu. “Terus terang, sebagai mahasiswa dan aktivis yang

~ 90 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 90 3/26/10 7:22:09 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
lebih yunior, saya senang mendapat tugas ini.”
Bertemu Hariman Siregar, seorang legenda gerakan mahasiswa, di rumahnya,
dengan sebuah misi. Mata Jusman bersinar dan bibirnya mengulum senyum
mengenang pertemuan yang telah lewat 32 tahun itu. Kepada Hariman, ia menuturkan
niat mahasiswa ITB me­nyampaikan ikrar menuntut Sidang Istimewa MPR bagi
Soeharto. Tuan rumah langsung menyambut.
“Kalian sudah mau langsung hantam Soeharto?” tanya Hariman.
“Ya, tapi kami di ITB paling hanya 10 orang nanti yang menandatangani
ikrar,” jawab Jusman.
“Hebat itu. Dulu gue paling cuma berdua,” imbuh Hariman menyemangati.
“Berarti kami cukup banyak,” kata Jusman mantap. Ia lalu menyam­paikan
undangan kepada Hariman untuk berpidato di ITB pada 15 Januari 1978.
Hariman terkekeh. “Gila lu, gue baru keluar penjara sudah diundang.” Nadanya
seolah keberatan.
Faktanya, hari Minggu 15 Januari, Hariman memasuki pagar kampus ITB
bersama Gurmilang Kartasasmita dan Rahman Tolleng. Hariman bicara di depan
mahasiswa dan 21 ketua dewan mahasiswa di ITB, yang dihadiri juga oleh Rektor
ITB Iskandar Alisjahbana. Gurmilang dan Rahman Tolleng juga bicara. Sekali lagi—
seperti ketika 1973-1974—Hariman menerangkan kekeliruan strategi pembangungan
Soeharto: “Pembangunan Soeharto ini berorientasi hanya kepada pertumbuhan di atas
kertas dan tidak mengutamakan pemerataan.”
Ia juga membantah kabar yang menyebut demonstrasi 15 Januari 1974 adalah
ciptaan Jenderal Soemitro yang bermusuhan dengan Ali Moertopo. “Itu sepenuhnya
inisiatif mahasiswa, tapi tanpa tujuan pembakaran,” ungkap Hariman kala itu.
Belajar dari Malari, ia mengingatkan, “Kalau kalian tak suka kekerasan,
jangan berdemonstrasi di jalan, diam saja di kampus.” Maksudnya, jika turun ke
jalan, risiko kekerasan itu pasti ada, apakah datang dari aparat keamanan langsung
atau diprovokasi intel.
Usai bicara, Hariman tak langsung pulang ke Jakarta. Pe­ngurus Dewan
Mahasiswa ITB melakukan rapat sore itu. Jusman menghampiri Hariman,
menyampaikan rencana apel akbar ITB dan peluncuran Buku Putih Gerakan
Mahasiswa 1978: “Man, besok kami mau bikin pernyataan sikap.”
“Apa isinya?” tanya Hariman.
“Menolak Soeharto,” jawab Jusman
“Gila lu. Baru bicara sehari sudah menolak Soeharto,” canda Hariman.
“Kata lu, dua atau 10 orang cukup. Ini kita 21 orang, pengurus DM ITB,”
Jusman menimpali.

~ 91 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 91 3/26/10 7:22:09 PM


Hariman & Malari
*****
Berbagai aksi memang telah bersemi kembali sejak pertengahan 1977. Dewan-
dewan mahasiswa dan senat mahasiswa telah siuman setelah dihajar Kopkamtib
dan perangkat kerasnya. Pada November 1977, Presiden Soeharto sendiri menjadi
sasaran kritik tajam mahasiswa terhadap dugaan bahwa keluarganya membelanjakan
uang sebesar US$9,6 juta. Uang tersebut direncanakan untuk membangun sebuah
pemakaman di bukit pemakaman raja-raja di Jawa Tengah.
Dalam sebuah rapat terbuka mahasiswa untuk memperingati Hari Pahlawan
di Jakarta, pasukan anti-kerusuhan merampas puluhan umbul-umbul dan spanduk
dengan alasan “tidak sesuai dengan semangat peringatan Hari Pahlawan”. Memang
tulisan-tulisan dalam spanduk mengkritik dan menyindir para penguasa. Antara
lain tertulis “Rakyat tidak makan, Bos membangun makam”. Pada peringatan yang
sama di Bandung, sebuah poster menyatakan: “Bukan cita-cita pahlawan membeli
gunung”.
Momentum peringatan Tritura, 10 Januari 1978, juga digunakan mahasiswa
untuk menyampaikan pernyataan-pernyataan bernada kritik. Berbagai dewan
mahasiswa di Indonesia memprotes pemerintah Soeharto berkaitan dengan soal
cukongisme, penyediaan fasilitas bagi keluarga istana untuk berbisnis, dan ujungnya
mengingatkan MPR hasil Pemilu 1977 untuk tidak melahirkan calon tunggal dalam
sidang pemilihan presiden.
Mantan Ketua MPRS yang mengangkat Soeharto menjadi presiden, Jenderal
(Purn.) Abdul Haris Nasution, mengirim pernyataan ke Dewan Mahasiswa UI
yang dimuat koran Salemba, 10 Januari itu: “Peringatan dan ziarah Tritura ini
mengingatkan kita kembali kepada kepeloporan generasi muda dalam situasi dan
kondisi mobilitas generasi tua 12 tahun yang lalu. Kepeloporan pendobrakan status
quo dengan spontanitas Tritura sebagai aksi yang pertama untuk berani dan jujur
mengoreksi Pemimpin Revolusi. Kini 12 tahun telah berlalu, kembali kita banyak
berbicara tentang penyelewengan dan pembaruan. Memang masih jauh juga rasanya
cita-cita kebenaran dan keadilan, cita-cita murni dan konsekuen kepada UUD 45,
cita-cita Ampera.”
Jumat malam sebelum Hariman datang ke ITB, mantan Panglima Siliwangi
Letjen Hartono Rekso Dharsono berbicara di Gedung Julius Usman di Jalan Lembang,
Bandung. Ia menyatakan ada penyimpangan perjuangan Orde Baru. “Kepada siapa
pun yang nanti terpilih dalam MPR sebagai pimpinan nasional, saya meminta
agar memperhatikan keresahan masyarakat. Teriakan dari bawah jangan diartikan
merongrong, tapi sebagai peringatan.”
Pada peringatan Tritura di UI Jakarta, Letjen Kemal Idris berpidato keras,
“Cita-cita Orde Baru kini makin menjauh. Cita-cita itu kini ternyata tidak dilaksanakan


Ibid., halaman 96.

Jenderal Besar Dr. A.H. Nasution. 2008. Op.Cit.

Majalah Tempo edisi 21 Januari 1978.

~ 92 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 92 3/26/10 7:22:10 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
oleh beberapa rekan generasi saya.”
ITB di tahun 1978 seperti mengambil peran UI di tahun 1974: menjadi motor
gerakan mahasiswa. Di kampus ITB, 20 Oktober 1977, diselenggarakan pertemuan
68 senat dan dewan mahasiswa se-Indonesia. Mereka mencetuskan Ikrar Mahasiswa
Indonesia, yang isinya mendesak MPR menggelar sidang istimewa untuk meminta
pertanggungjawaban Presiden RI tentang penyelewengan-penyelewengan dalam
pelaksanaan UUD 1945 dan Pancasila.
Senin, 16 Januari 1978, informasi dari Jusman betul-betul dilaksanakan. Siang
hari itu, sekitar 3.000 mahasiswa berkumpul di kampus ITB. Orasi dan teriakan
mahasiswa senada dengan bunyi spanduk merah yang terbentang di pintu masuk
kampus. “Tidak mempercayai dan tidak menginginkan Soeharto kembali sebagai
Presiden Republik Indonesia.” Mahasiswa menuntut MPR memunculkan tokoh-
tokoh nasional sebagai calon presiden: jangan calon tunggal.
Tekad para mahasiswa itu sungguh bulat. Ditandai dengan pernyataan Ketua
Dewan Mahasiswa ITB Heri Akhmadi, “Kalau semua fungsionaris ITB ditangkap,
masih ada 8.000 mahasiswa yang akan melanjutkan perjuangan. Maka rapatkan
barisan.”
Dalam aksi itu beredar juga Buku Putih yang telah dilansir dua hari sebelumnya.
Buku Putih menyoroti pemusatan kekuasaan di tangan Soeharto. Partai politik dan
Golkar tidak dapat membawa suara hati rakyat karena tidak punya kekuatan nyata.
Gaya hidup keluarga Soeharto juga dikritik pedas. Pemberian fasilitas kepada anak-
anak Soeharto dituding memicu perilaku korup gubernur, bulati, walikota, camat, dan
lurah. “Adakah Bung Karno yang bertahun-tahun ‘disekap’ dalam penjara menuntut
kekayaan yang berlimpah untuk tebusan perjuangannya? Bung Hatta, Bung Sjahrir,
dan pemimpin sejati rakyat lainnya, walaupun telah bertahun-tahun disekap dalam
penjara, diasingkan, dan dikejar-kejar, tidak menuntut imbalan kekayaan yang
berlimpah,” demikian antara lain isi Buku Putih.
Pada hari-hari itu, kampus-kampus di Indonesia, terutama di Jakarta, Bandung,
Yogyakarta, Surabaya, Palembang, dan Me­dan, kembali bergolak. Upaya mahasiswa
menyampaikan pe­no­lakan terhadap Soeharto secara langsung, 18 Januar 1978i, gagal.
Mereka akhirnya hanya diterima oleh Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA)
Jenderal Alamsjah Ratuprawiranegara. Utusan dewan mahasiswa se-Indonesia yang
dipimpin Lukman Hakim dari Dewan Mahasiswa UI itu meminta DPA menasihati
Soeharto agar tidak mencalonkan diri lagi. “Ini demi kepentingan pribadi beliau
sendiri agar kelak tidak sampai dipaksa mundur oleh rakyat,” kata Lukman Hakim.
Akibat aksi-aksi tersebut, Presiden Soeharto menurunkan tangan keras. Mulai
20 Januari 1978 dilakukan aksi operasi penangkapan terhadap mahasiswa. Militer
memasuki kampus, menggeledah dan menangkap tokoh-tokoh dewan mahasiswa
dari Medan hingga Surabaya. Hariman Siregar termasuk yang ditangkap, bersama

Ibid.

Pada tahun-tahun ini Soeharto telah memiliki Tapos untuk perkebunan dan Mangadeg yang bakal dijadikan tempat
pemakaman dia dan keluarganya kelak. Buku Putih juga menyoroti kedua properti Soeharto itu.

~ 93 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 93 3/26/10 7:22:10 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama Adnan Buyung Nasution dan WS Rendra tampil di panggung aksi mahasiswa ITB (1978).

tokoh non-kampus lain. Namun, Hariman kemudian dilepaskan. “Tapi, ia termasuk


yang banyak membantu kami yang di­tangkap, memberikan bantuan politik, logistic,
dan meng­upayakan bantuan hukum melalui Bang Buyung Nasution,” ujar Heri
Akhmadi.
Andi Mapetahang Fatwa, Sekretaris Majelis Ulama Indonesia Jakarta dan
pegawai negeri pada Pemerintah Daerah DKI Jakarta, turut ditangkap Pelaksana
Khusus Daerah Jakarta pada 23 Januari 1978. Bersama Fatwa ikut ditangkap Muslim
Dahlan dan Charles Killian dari HMI Jakarta. Penggerebekan dilakukan bukan hanya
ke kampus, beberapa kantor organisasi massa juga digeruduk tentara, di antaranya
kantor Pemuda Muhammadiyah di Jalan Menteng Raya 58, Gerakan Pemuda Islam,
dan Pelajar Islam Indonesia.
Kopkamtib menuding mereka semua merongrong kekuasaan negara
atau kewibawaan pemerintah yang sah, menimbulkan permusuhan, perpecahan,
pertentangan, serta kegelisahan da­lam masyarakat. Apabila dibiarkan berlangsung
akan dapat me­nimbulkan kekacauan. “Kegiatan-kegiatan tersebut secara hukum
sudah termasuk dalam klasifikasi perbuatan subversi yang harus ditindak,” demikian
pernyataan Kepala Staf Kopkamtib Laksamana Sudomo dalam keterangan persnya,
23 Januari 1978.
“Meski tidak terlibat langsung sebagai penggerak 1978, Hariman berperan
besar membantu gerakan kami,” ujar A.M. Fatwa. Ia berterus terang mulanya tidak
sejalan dengan Hariman yang pada tahun 1973 menjadi Ketua Dewan Mahasiswa
UI dengan bantuan antara lain dari Operasi Khusus Ali Moertopo. Fatwa yang alum­
ni HMI tentu saja mendukung Ismeth Abdullah. Namun, pandangannya terhadap
Hariman berubah setelah Peristiwa Malari.

~ 94 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 94 3/26/10 7:22:13 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
Ketika aktivis mahasiswa dan non-mahasiswa itu dipenjara, Hariman modar
mandir memberikan bantuan tahanan. “Dia sangat memperhatikan kesehatan kami,
banyak teman dokternya dibawa ke penjara untuk memeriksa kesehatan tahanan dan
menyediakan kebutuhan lain,” papar A.M. Fatwa.
Selepas dari penjara, Hariman Siregar memang lebih ba­nyak menjadi pendorong
gerakan perlawanan—terutama—ma­ha­siswa. Ia memberikan dukungan baik secara
materi maupun se­mangat dan pikiran kepada berbagai aksi yang mengoreksi kepe­
mimpinan Soeharto. Andilnya itu menjadikan Hariman sebagai benang merah dari
setiap gerakan mahasiswa pada berbagai periode, hingga ia turun sendiri pada aksi
cabut mandat terhadap kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada
tahun 2007.
“Saya kira dia-lah orang yang sanggup menjaga dan meyakinkan mahasiswa
bahwa mahasiswa adalah suatu kekuatan, kekuatan moral,” kata Theo L. Sambuaga,
politisi Golkar yang sempat bersama Hariman Siregar memimpin Dewan Mahasiswa
UI. Hariman memelihara dan memperkuat daya juang dan militansi mahasiswa.
Sumbangan paling besar Hariman bagi demokrasi, menurut Theo, adalah membuat
mahasiswa percaya bahwa mahasiswa adalah sebuah kekuatan. “Soal kekuatan ini
berhasil merombak atau tidak, itu soal lain.”
Hariman di mata teman-temannya adalah orang yang sangat memercayai
kekuatan mahasiswa sebagai penentu peru­bahan. “Masa depan itu milik anak muda,”
kata Komarudin, mantan Wakil Ketua Dewan Mahasiswa ITB, menirukan ucapan
Hariman.
Berkali-kali dalam berbagai diskusi, Hariman menyam­pai­kan bahwa anak
muda yang harus memperjuangkan perubahan dan meraihnya. Kalau situasi normal,
anak muda harus menjadi motor dari kemajuan dan kalau krisis, anak muda yang
harus pertama melawan. Mahasiswa yang menjadi bagian dari kaum muda terpelajar
karenanya harus memenuhi panggilan sejarah ini. Dalam bahasa Hariman, panggilan
sejarah itu merupakan “kutukan” yang harus dijawab dan dipenuhi.
Keyakinannya ini berdasarkan pada berbagai fakta em­piris. “Sebagaimana
‘kutukan’ sejarah pada umumnya, kaum muda terutama mahasiswa di negara-negara
dunia ketiga pasca-kolonial—ketika tata kehidupan berbangsa dan bernegara belum
menemukan bentuknya yang demokratis sekaligus adil—telah menjadi tumpuan dan
harapan rakyat,” kata Hariman.
Berdasar fakta sejarah pula biasanya di seberang gerakan mahasiswa selalu
ada penguasa yang lalim, birokrasi yang korup, dan tak jarang militer yang sekadar
menjadi anjing penjaga penguasa. Rezim berkuasa senantiasa merasa perlu mengawasi
setiap langkah dan gerak mahasiswa. Amat perlu merasa untuk mengendalikannya,
seperti terjadi pada upaya Ali Moertopo “menyatukan” mahasiswa dalam NUS
dan “menyatukan” pemuda dalam KNPI. “Penyatuan” yang tak lain sebagai upaya
pengendalian sistematis.

Hariman Siregar. 2001. Gerakan Mahasiswa Pilar Ke-5 Demokrasi, Jakarta: TePLOK Press

~ 95 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 95 3/26/10 7:22:14 PM


Hariman & Malari

Hariman Siregar (kanan), Lukman Hakim (kedua dari kanan), Chudori Hamid (kiri) pada diskusi KM UI tentang
demokrasi setelah 35 tahun merdeka, Jakarta, 1980. [TEMPO/ Najib Salim).

Diharapkan elite organisasi pemuda yang telah masuk ke dalam KNPI


dapat memengaruhi organisasinya masing-masing. Alhasil, visi organisasinya tak
bertentangan dengan KNPI dan bersedia menerima kehadiran KNPI sebagai satu-
satunya wadah “pembinaan” generasi muda. Ini adalah bagian dari politik kekaryaan
yang menghendaki dilakukannya profesionalisasi dan fungsionalisasi terhadap
seluruh lembaga yang ada di ma­syarakat.
Sebagai indikasi dari betapa sungguh-sungguhnya ruling elite melakukan
pembinaan melalui wadah tunggal, sejak 1978 diangkat seorang menteri negara untuk
membidanginya. Pada tahun 1979 dibentuk pula Badan Koordinasi Penyelenggaraan
Pembinaan dan Pengembangan Generasi Muda di bawah Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan. Badan ini dibentuk menyusul diberlakukannya konsep normalisasi
kehidupan kampus (NKK) di universitas setelah aksi mahasiswa 1978.
Di muka Pengurus Pusat KNPI saat dilakukan dialog nasional yang
diselenggarakan KNPI, 27 Desember 1995, Hariman tak kehilangan taringnya untuk
mengkritik langsung. Katanya, “KNPI seolah-olah menjadi kepanjangan tangan
birokrasi negara semata. Apa yang dinilai terbaik oleh negara seolah-olah itulah
yang terbaik bagi pemuda. Daya kritis dan pemikiran-pemikiran alternatif sulit
berkembang.”
KNPI tak lebih dari kendaraan politik bagi elite generasi muda yang telah
terkooptasi untuk meraih posisi politik di parlemen dan pemerintahan. Pragmatisme
pun berkembang. Dengan begitu, menurut Hariman, alih-alih mempersatukan, KNPI
malam memecah belah pemuda menjadi “yang kebagian dan yang tak kebagian.”
Upaya rezim Orde Baru lainnya untuk mengebiri peran sosial-politik mahasiswa
adalah menerapkan konsep NKK. Berdasarkan konsep ini, dewan mahasiswa

Hariman Siregar. 1995. “Pemuda dan Tantangan masa Depan”, makalah pada Dialog Nasional “Pemuda Menatap Masa
Depan Indonesia” yang diselenggarakan DPP-KNPI di Jakarta, 27 Desember 1995.

~ 96 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 96 3/26/10 7:22:16 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman Siregar, Bambang Sulistomo pada diskusi tentang peranan politik mahasiswa dengan tokoh tokoh
Universitas Indonesia di Asrama PGT Universitas Indonesia, Jakarta, 1991. [TEMPO/ Donny Metri).

dilarang di semua kampus. NKK sejajar dengan konsep Ali Moertopo tentang “massa
mengambang”, yang kini diterapkan dalam di arena kehidupan kampus. Mahasiswa
aktivitasnya hanya untuk belajar, selesai, dan sebagai massa mengambang yang
sekadar menyibukkan dirinya dalam usaha pembangunan. Setelah dua gelombang
penindasan, di tahun 1974 dan tahun 1978, NKK sedikit banyak terbukti efektif dalam
menghentikan politik mobilisasi di dalam dan di luar kampus untuk satu dasawarsa
ke depan.
Tapi, Hariman tak merasa khawatir terhadap upaya kooptasi dari penguasa
kepada mahasaiswa dan kaum muda. Sebab, seperti terjadi sepanjang sejarah, akan
selalu ada kaum muda—terutama mahasiswa—yang percaya dengan kekuatannya dan
sadar bahwa keberadaannya adalah untuk menyuarakan nurani rakyat. Ini berangkat
dari karakter gerakan mahasiswa sendiri. Karakter gerakan mahasiswa, menurut
Hariman, meliputi empat kata kunci: berani, kreatif, spontan, dan konsisten.
Keberanian, tulis Hariman, sangat dibutuhkan untuk mendobrak kesumpekan
situasi politik yang terasa menindas, mengimpit, hingga meremukkan tulang.10
Keberanian diperlukan untuk melakukan perubahan. Dan, “keberanian praktis
dimiliki—kalau tidak hendak di­sebut dimonopoli—oleh kaum muda.” Mahasiswa
sebagai bagian kaum muda yang terpelajar merupakan perpaduan antara emosi dan
pemikiran. Kekerasan dan tindakan brutal dari aparat keamanan adalah risiko.

Max Lane. 2007. Op.Cit, halaman 91.
10
Hariman Siregar. 1995. Loc.Cit.

~ 97 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 97 3/26/10 7:22:18 PM


Hariman & Malari

Hariman berpidato memberikan dukungan untuk aksi keprihatinan mahasiswa di kampus Trisakti, 13 Mei 1998.

“Seperti masa saya mahasiswa. Substansinya bukan pada persoalan ada yang
merekayasa peristiwa Malari atau menjadikan para pelakunya sebagai tokoh. Sebab
ini berkaitan dengan soal leadership. Artinya, sebelum saya berdiskusi di kampus,
semua orang merasakan situasi yang kritis dan masyarakat resah, cuma tidak ada orang
yang berani bertanggung jawab. Tak ada yang berani maju. Ketika menjadi Ketua
Dewan Mahasiswa UI, saya mengambil alih isu yang berkembang di masyarakat.
Jadi, bukan berarti saya hanya menggunakan momentum saat itu, melainkan saya
~ 98 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 98 3/26/10 7:22:20 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
berani memimpin,” ujar Hariman.
Selain berani, mahasiswa harus memiliki kreativitas agar gerakannya tidak
monolitik dan gampang dihancurkan. Faktor kreativitas memegang peran penting
dalam pemilihan isu, opini, dan bentuk aksi yang memungkinkan diraihnya simpati
dan dukungan publik secara luas.
Kata kunci ketiga adalah spontanitas. Gerakan mahasiswa bergerak sesuai
momentum berdasarkan solidaritas dan isu yang dirasakan bersama. Tapi bukan
berarti gerakan mahasiswa sama sekali tak terorganisasi atau tanpa pemimpin.
Keempat ialah konsistensi. Sekali gerakan mahasiswa ber­­­gulir, gerakan ini
tak bisa dan tak boleh dikooptasi oleh kekuatan dan ke­pentingan politik mana pun.
“Tokoh mahasiswa bisa saja di­ken­­dalikan, namun pasti akan lahir tokoh lainnya
yang segera menggantikannya,” yakin Hariman, “baik karena telah berakhir sta­­
tus kemahasiswaannya maupun karena dinamika internal ge­rak­­an yang akan
menyingkirkan tokoh yang telah terkooptasi itu.”
Meski terkesan gerakan mahasiswa selalu menyerempet wilayah politik,
Hariman menolak bahwa gerakan mahasiswa bersifat politik. Sejatinya, gerakan
mahasiswa dapat berdiri sendiri dan memiliki konstituennya sendiri di luar lingkup
politik. Bahwa gerakan itu dapat menimbulkan implikasi politik, mengubah konstelasi
politik, bahkan menumbangkan kekuasaan, memang bisa terjadi.11
“Tetapi bukan itu misi gerakan mahasiswa,” ujar Ha­riman. Misi utama gerakan
mahasiswa lebih bersifat sosial (so­cial movement) dengan isu lintas sektoral, tidak
terbatas pada isu politik atau kekuasaan semata. Faktor pertama penyebab munculnya
gerakan mahasiswa sebetulnya tidak terlepas dari subyektivitas kedirian mahasiswa.
Sebagai kaum muda yang pe­nuh gejolak idealisme, mahasiswa adalah kelompok
sosial paling spontan, responsif, dan artikulatif. Pada gilirannya, aspek-aspek psikis
ini membuat mereka lebih peka terhadap seruan yang ber­sifat populis dan egaliter.
Sebagai seorang dokter, agaknya Hariman memahami betul keadaan fisik dan
psikis manusia, terutama orang muda. Ia pun memaparkan prinsip yang sesungguhnya
menjadi alasan seseorang menjadi mahasiswa. Ia menyebutnya sebagai faktor so­
siologis yang memunculkan gerakan mahasiswa.
“Benar bahwa tugas utama mahasiswa adalah belajar dan belajar (man of
analys) seperti pernah dikatakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Daoed
Joesoef,” tutur Hariman. Dengan mengutip Daoed Joesoef, ia tentu bukan sedang
mengagumi menteri periode 1977-1982 yang menyusun konsep NKK/Badan
Koordinasi Kemahasiswaan (BKK) ini. “Cobalah sejenak direnungkan: untuk apa
sebenarnya mahasiswa itu belajar dan menuntut ilmu tinggi-tinggi?” kata Hariman.
Menurut dia, jawaban pertanyaan itu sangat jelas. Bukan hanya untuk
memenuhi ambisi pribadi atau menjadi alat reproduksi kapitalisme semata (masuk ke
11
Hariman Siregar. 1994. “Dimensi Sosial Gerakan Mahasiswa”, pokok-pokok pikiran yang disampaikan pada studium
generale acara pembukaan Konferensi Ke-44 Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Yogyakarta, 10 Agustus 1994.

~ 99 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 99 3/26/10 7:22:20 PM


Hariman & Malari
dalam jaringan teknostruktur), melain­kan juga guna menolong orang lain. Jawaban
ini, kata Ha­riman, “selanjutnya melahirkan apa yang disebut sebagai obli­gasi moral
(amarma’ruf nahi munkar).”12
Kepercayaan tinggi kepada kekuatan mahasiswa dan ke­mampuan menyerap
suara yang muncul di masyarakat ini, me­nurut mantan aktivis KAPPI Jesse A.
Monintja, membuat Hariman bu­kan saja menjadi pemimpin gerakan mahasiswa
pada masanya. “Hariman itu pemimpin rakyat,” kata Jesse. “Ia adalah pemimpin
pergerakan yang benar-benar tahu membawa diri dan mengerti posisi dia di antara
elite dan rakyat.” Hariman, tambah Jesse, dengan sadar menempatkan diri sebagai
pemimpin rakyat, bukan pemimpin elite. “Terlepas bahwa dia datang dari pergerakan
elite kampus,” tutur Jesse.
Jalan yang ditempuhnya di mata sahabatnya yang lain, Christine Hakim,
merupakan pelaksanaan dari kata-katanya. “Jalannya dia itu penuh risiko, dari dulu
dia tahu, tapi itu pilihan hidup.” Christine melihat Hariman tak berhenti berjuang. Tak
mengherankan jika ia kini telah mencapai titik tertentu yang tak mudah di­jangkau
oleh orang lain. “Ia punya posisi tersendiri dalam politik Indonesia, tanpa harus betul-
betul memegang tampuk kekuasaan politik formal,” ujar Christine.
Kepercayaan dan keyakinan Hariman terhadap mahasiswa bukan khayalan di
udara yang mudah menguap. Ia sendiri dengan konsisten mengambil peran menjaga
ruh gerakan mahasiswa di generasi-generasi 1980-an dan 1990-an. Hampir semua
aktivis mahasiswa di masa-masa ini, dari berbagai kelompok, pernah bersentuhan
dengan Hariman Siregar. “Dia adalah orang yang banyak memberi dorongan dan
inspirasi kepada anak-anak muda. Dia member inspirasi bahwa berpikir lain di luar
ilmu yang diajarkan di sekolah atau kampus adalah hal yang penting juga. Dalam
arti memikirkan masyarakat, negara, demokrasi, dan sebagainya adalah penting bagi
mahasiwa,” kata Jumhur Hidayat, aktivis mahasiswa 1980-an.
Hal senada juga dilontarkan Fahri Hamzah, aktivis mahasiswa 1990-an.
“Sebagai fasilitator pikiran yang berbeda-beda, akhirnya Hariman menjadi fasilitator
posisi yang berbeda pula, termasuk bagi mahasiswa angkatan yang lebih baru,” kata
Fachri. “Warisan yang paling berharga dari Hariman Siregar adalah dirinya sendiri. Ia
senantiasa menjadi aktivis dan menjadi bahan belajar terus-menerus bagi kaum muda
bangsa.”
Keyakinan Hariman akan peran sentral mahasiwa dan kaum muda itu terbukti
kemudian ketika, di tahun 1998, gerakan mahasiswa—bekerja sama dengan komponen
lain—berhasil menumbangkan rezim yang dilawan mahasiswa sejak tahun 1970-an,
penguasa yang dilawan saban hari oleh Hariman sejak 1974: Soeharto dan rezim
politiknya. e

12
Ibid..

~ 100 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 100 3/26/10 7:22:20 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 7

Dalam Lingkaran
Kekuasaan

T
anggal 21 Mei 1998, Presiden Soeharto resmi
mengundurkan diri. Soeharto lengser akibat tekanan
publik yang luar biasa dahsyatnya, yang ditunjukkan
melalui gelombang unjuk rasa massif yang tak pernah
henti hingga berujung pada pendudukan Gedung MPR/
DPR RI. Lengsernya penguasa Orde Baru ini juga
disebabkan karena dirinya merasa sudah tidak mendapat
dukungan lagi dari elite politik.
Yang paling mengejutkan—atas desakan demonstran—Ketua MPR H. Harmoko
menuntut agar Soeharto menanggalkan jabatan yang telah disandang selama 32 tahun.
Tuntutan Harmoko itu mengejutkan. Maklum, sebelumnya Harmoko dianggap sebagai
“penyambung lidah” Soeharto yang paling setia. Sebelum pembelotan Harmoko,
sebanyak 14 menteri menolak diikutsertakan dalam “Komite Reformasi” yang akan
dibentuk oleh Soeharto untuk merespons tuntutan para demonstran.
Bacharuddin Jusuf Habibie, yang ketika itu menjabat Wakil Presiden RI,
pun naik jabatan menggantikan Soeharto. Indonesia masuk dalam proses transisi
demokrasi. Naiknya Habibie sebagai Presiden RI membuat kekuatan pro-demokrasi
yang sebelumnya solid dalam gerakan penglengseran Soeharto menjadi terbelah: antara
yang pro dan kontra Habibie.
Kelompok masyarakat yang menolak Habibie berpendapat, bagaimanapun
Habibie adalah “murid kesayangan” Soeharto. Bahwa Soeharto adalah guru sekaligus
orang yang begitu di­hormati Habibie, ini sudah menjadi rahasia umum. Hal ini pun
diungkapkan sendiri oleh Habibie dalam sejumlah kesempatan. Dengan background
seperti itu, menurut para oposan, bagaimana mungkin Habibie bisa diharapkan
mengemban amanat reformasi, yang salah satu tuntutannya adalah mengadili Soeharto
dan kroni-kroninya.
~ 101 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 101 3/26/10 7:22:21 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama Presiden BJ Habibie serta Fanny Habibie dan Timmy Habibie (1998).

Apatisme para oposan terhadap kemauan Habibie untuk mengadili Soeharto,


yang tidak lain adalah guru politik dan orang yang dia hormati itu, dalam batas-batas
tertentu kiranya benar adanya. Habibie, seperti diungkapkan dalam memoarnya,
memang mengakui kalau dirinya dihadapkan pada dilema yang sulit dalam proses
hukum terhadap penguasa Orde Baru tersebut.
Pemerintahan Habibie—yang hanya bertahan sekitar satu setengah tahun—
memang tidak sanggup menggelar pengadilan yang me­muaskan publik. Setelah melalui
jalan yang berliku dan didasari berbagai argument, baik dari perspektif medis maupun
hukum, kasus Soeharto akhirnya dinyatakan tidak dapat dilanjutkan. Soeharto dianggap
tidak bisa menghadapi persidangan karena mengalami gangguan memori otaknya. Surat
Penghentian Penyidikan Perkara (SP3) pun dikeluarkan oleh Pejabat Sementara Jaksa
Agung Ismudjoko.
Rumitnya penuntasan kasus Soeharto ini menjadi amunisi bagi kelompok anti-
Habibie untuk terus menyudutkan sang presiden. Kebijakan SP3 atas kasus Soeharto ini
juga yang di kemudian hari dijadikan salah satu senjata oleh lawan-lawan politiknya,
selain kasus lepasnya Timor Timor, untuk menjegal Habibie dalam pemilihan presiden
tahun 1999. Mereka menolak laporan pertanggungjawaban Habibie yang dibacakan
dalam Sidang Umum MPR. Ketika itu pe­mi­lihan presiden dan wakil presiden masih
dilakukan oleh MPR.
Naiknya Habibie sebagai Presiden RI membuat Hariman Siregar masuk dalam

Bacharuddin Jusuf Habibie. 2006. Detik-Detik yang Menentukan: Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi. Jakarta:
The Habibie Centre Mandiri

~ 102 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 102 3/26/10 7:22:24 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
pusat pusaran kekuasaan. Menurut Amir Husin Daulay, tokoh aktivis mahasiswa 1980-
an, Hariman sangat percaya diri bahwa keberadaannya dalam pusat pusaran kekuasaan
adalah posisi yang tepat untuk mengelola transisi politik. Meski Habbie merupakan
murid kesayangan Soeharto, Hariman yakin betul bahwa Habibie memiliki komitmen
yang kuat terhadap demokrasi. Karenanya, Hariman berupaya keras untuk mengadvokasi
dan mendampingi Habibie dalam mengelola fase transisi politik yang begitu keras dari
rezim otoriter ke arah rezim demokratis tersebut. Hariman bekerja keras, tidak mengenal
waktu. Masa-masa itu, waktu kerjanya boleh dibilang hampir 24 jam.
Hariman memang sudah lama dekat dengan B.J. Habibie. Kedekatan itu berkat
hubungannya dengan Junus Effendi (Fanny) Habibie, adik B.J. Habibie. Kedekatan
personal itulah yang kiranya melahirkan keyakinan dalam diri Hariman bahwa Habibie
memiliki komitmen terhadap demokrasi dan inilah yang mendorongnya masuk dalam
pusat pusaran kekuasaan di era Habibie.
Meski tidak memiliki jabatan resmi dalam struktur formal pemerintahan,
Hariman dianggap memainkan peran penting dalam pemerintahan Habibie. Dia banyak
memainkan peran dalam menentukan sirkulasi para elite di sekitar Habibie. Juga ber­
bagai kebijakan penting yang diambil semasa pemerintahan Habibie. Hariman berperan
layaknya seorang penasihat politik Presiden Habibie. “Hampir setiap pagi, kami
berdua (Fanny dan Hariman) bertemu Rudy (nama panggilan B.J. Habibie) untuk
memberikan masukan-masukan. Ada masukan yang didengar dan dilaksanakan
Rudy, tapi banyak pula yang tidak. Seandainya saja, Rudy lebih banyak mendengar
masukan dari saya dan Hariman, mungkin sejarah politik akan menjadi lain,” tutur
Fanny Habibie.
Menyangkut kekuasaan, Hariman memang dikenal se­bagai aktivis politik yang
unik. Kepada kawan-kawan dekatnya, Hariman kerap berseloroh bahwa memiliki
kekuasaan formal itu tidak enak. Kekuasaan itu penuh dengan risiko. “Yang asyik itu,
kita tidak berkuasa tapi dekat atau menjadi teman penguasa. Menjadi penguasa atau
seorang pejabat itu penuh risiko,” demikian ucapan yang sering dilontarkan Hariman,
setengah berseloroh.
Orang boleh menafsirkan macam-macam seloroh Hari­man itu. Bisa jadi, dari
seloroh itu orang akan menyimpulkan bahwa Hariman tergolong orang yang mau ikut
menikmati kue kekuasaan, tapi emoh menanggung risikonya. Yang lain mungkin saja
menyimpulkan bahwa Hariman bukanlah orang yang haus kekuasaan.
Sebagai aktivis yang sebagian besar usianya dihabiskan untuk melawan kekuasaan
otoriter rezim Orde Baru, Hariman merasa perlu untuk terus mengawal, mendampingi,
dan meng­advokasi transisi demokrasi pasca-lengsernya Soeharto. Transisi de­mo­krasi
memang sebuah proses yang tak pernah mudah di ne­gara mana pun.
Hariman meyakini bahwa Habibie memiliki komitmen untuk membawa proses
transisi demokrasi ke arah yang dicita-citakan seperti yang dikehendaki oleh kekuatan

Wawancara dengan Amir Husin Daulay.

Kedekatan Hariman dengan Fanny Habibie telah dirajut sejak akhir 1970-an. Ketika Fanny Habibie menjabat Direktur
Jenderal Perhubungan Laut, Hariman difasilitasi untuk mendirikan Klinik Baruna.

~ 103 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 103 3/26/10 7:22:25 PM


Hariman & Malari
reformis. Dia menganggap Habibie sebagai figur yang mampu memimpin proses transisi
ini. Karena itu, dia merasa perlu untuk mem-back up-nya.
Keyakinan Hariman terhadap komitmen Habibie untuk menegakkan nilai-nilai
demokrasi dan mengemban amanat reformasi pasca-tumbangnya Soeharto tidaklah
keliru. Dalam deras­nya tuntutan dan sikap pesimistis sebagian kelompok ma­syarakat
terhadap dirinya, Habibie merasa harus berlari sprint untuk menunjukkan bahwa dirinya
bersungguh-sungguh dalam melaksanakan proses transisi demokrasi.
Tidak lama setelah menjadi orang nomor satu di republik ini, sejumlah gebrakan
dibuat oleh Habibie. Tahanan politik di­bebaskan, termasuk tokoh-tokoh PKI yang telah
berpuluh-puluh tahun dikurung dalam terali besi oleh Orde Baru Soeharto. Ha­bibie juga
dianggap sebagai peletak dasar-dasar kebebasan berserikat, kebebasan mengeluarkan
pendapat, kebebasan ber­bicara, kebebasan berunjuk rasa, serta kebebasan pers pasca-
lengsernya Soeharto.
“Dalam hal ini saya juga terkesan oleh beberapa—jelas tidak semua—
tingkah laku B.J. Habibie ketika jadi presiden. Saya tahu pada waktu itu Hariman
adalah salah seorang penasihat dekat Habibie. Entah benar atau tidak, saya melihat
bahwa sangat mungkin ada pengaruh Hariman dalam beberapa hal positif dari
Habibie. Pertama, Habibie cepat sekali meratifikasi beberapa peraturan yang
lebih demokratis dalam hal perburuhan. Kedua, sampai sekarang pun B.J. Habibie
adalah satu-satunya presiden yang duduk di MPR mendengarkan kritik terhadap
kepresidenannya, lalu menjawabnya,” kata Max Lane, salah seorang tokoh kiri
yang juga pengamat perpolitikan Indonesia dari Australia.
Toh, berbagai gebrakan yang dibuat Habibie tersebut belum cukup meyakinkan
para kaum oposan akan komitmen Habibie untuk melaksanakan amanat reformasi.
Kaum oposan menilai, Presiden Habibie sebagai orang yang sengaja dipasang Soeharto
untuk mengamankan keluarga Cendana dan kroninya pasca-lengsernya Soeharto.
Habibie adalah personifikasi dari kekuatan pro-status quo.
Salah satu yang pesimistis terhadap pemerintahan Habibie tak lain adalah Prof.
Sarbini Soemawinata, mertua sekaligus mentor politik Hariman. Menurut Sarbini,
“Perjuangan reformasi yang didengungkan sampai sekarang masih memakai sistem
Orba, belum mencapai tujuan dan berhadapan dengan tembok…. Reformasi ini sudah
mengalami salah target perjuangan. Sebenarnya, target reformasi adalah perubahan
rezim Orba. Nyatanya, setelah reformasi, rezimnya toh masih sama.”
Dengan dasar itulah para aktivis pro-demokrasi menuntut Presiden Habibie
agar meng­gelar pemilihan umum dalam tempo tiga bulan sejak ia menjadi presiden
menggantikan Soeharto. Tuntutan ini ditolak Habibie. Dalam memoarnya, Habibie
menjelaskan alasan kenapa dia menolak tuntutan dipercepatnya pemilu.
Pemilu multipartai memang telah menjadi agenda politik Habibie sejak awal dia
menggantikan Soeharto. Namun, Habibie berpandangan, tidak adil bila pemilu digelar

Lihat wawancara Prof. Sarbini Soemawinata dengan Tempo Interaktif, 11 Agustus 2001.

~ 104 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 104 3/26/10 7:22:25 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
sebelum rakyat diberi kesempatan mem­bentuk partai-partai yang membawa aspirasi
dan wawasan baru. Menurut Habibie, pemilu baru bisa digelar satu tahun ke depan.
Pembentukan partai-partai baru membutuhkan waktu. Seperti kita ketahui, Pemilu
1999 akhirnya digelar dan diikuti tak kurang dari 48 partai. Inilah pesta demokrasi
rakyat yang disebut-disebut sebagai pemilu paling demokratis yang pernah digelar
setelah Pemilu 1955.
Posisi Hariman saat itu cukup sentral, berada dalam lingkaran dalam ke­kuasan
(inner circle) pemerintahan Habibie, termasuk dalam memengaruhi sirkulasi elite di
sekitar Habibie. Hal itu membawa ia semakin banyak berkenalan dengan para elite di
republik ini. Tapi, itu tak berarti melupakan kaum aktivis, terutama kalangan aktivis
mahasiswa.
Hariman memang dekat dengan para aktivis. Sebagai mantan Ketua Dewan
Mahasiswa UI dan tokoh sentral Peristiwa Malari 1974, ia kerap diundang sebagai
pembicara dalam seminar-seminar di kampus hingga diskusi-diskusi klandestein yang
digelar aktivis-aktivis mahasiswa anti-Soeharto. Selain menjadi tempat untuk sharing,
dia juga banyak membantu kegiatan-ke­giatan mahasiswa dari segi financial, mulai
dari biaya diskusi, seminar, unjuk rasa, hingga urusan-urusan pribadi aktivis, seperti
membantu biaya kuliah dan bayar uang indekos. Bagi aktivis mahasiswa era 1980-an
dan 1990-an, Hariman menjadi magnet tempat bertemunya para aktivis dari berbagai
kampus, golongan dan aliran politik. Sejumlah aktivis mahasiswa anti-Soeharto bahkan
menjadikan Hariman sebagai panutan dan kiblat dalam melawan Soeharto.
Ketika Hariman masuk dalam inner circle kekuasaan Presiden Habibie, ia pun
mengajak tokoh-tokoh aktivis mahasiswa yang selama ini dekat dengan dirinya. Sebut
saja misalnya Amir Husin Daulay (tokoh aktivis Pijar Indonesia/Universitas Nasional),
Eggi Sudjana dan Bursah Zarnubi (keduanya mantan aktivis HMI), dan Syahganda
Nainggolan (mantan aktivis ITB).
Para aktivis ini antara lain berperan besar dalam men­jalan­kan pos-pos komando
pemenangan Habibie yang dibentuk Hariman menjelang Sidang Umum MPR tahun
1999. Para tokoh aktivis ini berada di garda depan dalam memobilisasi dukungan
massa akar rumput. Eggi Sudjana, misalnya, namanya sering disebut-sebut sebagai
mobilisator kekuatan massa dari kelompok Islam, termasuk kelompok yang disebut
Pasukan Pengamanan Masyarakat (Pam) Swakarsa. Presiden Habibie sebagai pendiri
dan Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) ketika itu memang banyak
mendapat dukungan dari kelompok dan organisasi massa Islam.
Tapi, yang menarik, Hariman tak hanya memperhatikan para aktivis yang pro-
Habibie, tapi juga yang kontra-Habibie. Malah, banyak kalangan aktivis yang notabene
secara terbuka menentang Habibie diberi bantuan dana oleh Hariman. “Sewaktu
bertemu di Hotel Aston, saya sempat diberi Rp5 juta. Dia sambil bercanda bilang, ‘Ini
money politics.’ Itulah dia. Walau berada di lingkungan Habibie, tetap kasih duit juga
buat orang yang melawan Habibie.” kata Daniel Indra Kusuma, pendiri Partai Rakyat

Bacharuddin Jusuf Habibie. Op.Cit.

Lihat wawancara dengan Syahganda Nainggolan, Trimedya Pandjaitan, dan Jumhur Hidayat di buku ini.

~ 105 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 105 3/26/10 7:22:26 PM


Hariman & Malari

Hariman berbincang dengan Presiden BJ Habibie.

Demokratik (PRD), yang termasuk kelompok penentang Habibie.


Nama Hariman sebagai “orang” Habibie semakin santer terdengar oleh
masyarakat menjelang digelarnya Sidang Umum MPR tahun 1999. Media massa
antara lain menyebut Hariman sebagai motor penggerak “Tim Siluman”, sebuah tim
tidak resmi pemenangan Habibie. Rencananya, dalam sidang umum yang digelar bulan
Oktober 1999 itu, Habibie akan maju mencalonkan kembali sebagai Presiden RI. Ia
akan maju sebagai representasi dari Partai Golkar.
Hariman pun melakukan pendekatan ke berbagai kelompok dan kekuatan politik,
terutama kekuatan politik di parlemen untuk memobilisasi dukungan bagi Habibie.
Untuk memobilisasi dukungan massa akar rumput, Hariman menugaskan sejumlah
pen­tolan aktivis mahasiswa yang dipercaya bisa menggerakkan massa. Akan halnya
Hariman sendiri lebih berkonsentrasi pada upaya-upaya lobi terhadap kekuatan politik
di parlemen.
Ketika Sidang Umum MPR digelar, Hariman begitu yakin mayoritas anggota
parlemen akan mendukung Habibie. Keyakinan Hariman ini beralasan karena dia sudah
melakukan pendekatan kepada mayoritas anggota parlemen dan memperoleh komitmen
dari mereka bahwa mereka akan mendukung Habibie. Di luar dugaan, sebelum Habibie
secara resmi dicalonkan dalam Sidang Umum MPR, lewat mekanisme voting, mayoritas
~ 106 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 106 3/26/10 7:22:30 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
anggota MPR menolak laporan pertanggungjawaban Habibie. Selisih antara yang
menolak dan yang menerima hanya 27 suara.
Belakangan, Hariman menengarai telah terjadi pengkhia­natan komitmen dan
pembelotan oleh sejumlah anggota par­lemen yang sebelumnya telah menjanjikan akan
mendukung Habibie. Dari selisih 27 suara yang menolak, Hariman menduga 17 di
antaranya adalah anggota parlemen dari Fraksi Golkar. Pembelotan ke-17 anggota Fraksi
Golkar ini dipimpin oleh seorang tokoh pimpinan Golkar yang merasa kecewa dengan
Habibie. Tokoh pimpinan Golkar tersebut kecewa karena tak kunjung jua diangkat
sebagai Menteri Sekretaris Negara oleh Habibie, hing­ga presiden membacakan laporan
pertanggungjawabannya di Sidang Umum MPR. Padahal, Habibie telah menjanjikan
jabatan tersebut kepada dirinya.
Tentu saja, Hariman Siregar sangat kecewa dengan hasil proses politik di Sidang
Umum MPR tersebut. Dia merasa dikhianati dan ditohok dari belakang. Meski demikian,
Hariman tetap mendesak Habibie untuk tetap maju dalam pencalonan sebagai presiden.
Alasannya, tidak ada satu pun ketentuan perundangan yang mela­rang seorang presiden
yang laporan pertanggungjawabannya ditolak untuk ikut kembali dalam pemilihan
presiden.
Namun, B.J. Habibie lebih memilih untuk tidak mene­rus­kan pencalonannya.
Menurut Habibie, seperti dijelaskan dalam memoarnya, dengan tidak ngoyo
mencalonkan kembali sebagai presiden, ia ingin menjaga etika berdemokrasi yang
tengah dia perjuangkan setelah sekian lama rakyat di bawah represi Orde Baru. e


Bacharuddin Jusuf Habibie. Op.Cit.

~ 107 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 107 3/26/10 7:22:31 PM


Hariman & Malari

~ 108 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 108 3/26/10 7:22:31 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 8

Mengawal
Transisi Demokrasi

M
eski kecewa karena B.J. Ha­bibie—
orang yang diyakini Ha­­riman sebagai figur yang
pas un­tuk memimpin proses transisi de­­mokrasi—
dikhianati, peris­tiwa tersebut memberikan sejumlah
pelajaran berharga bagi Hariman. Ia semakin
menyadari bah­wa transisi politik dari rezim otoriter
menuju sistem politik demokratis tidaklah semudah
membalikkan telapak tangan. Selain memerlukan
adanya peru­bahan pada aras politik, juga dibutuhkan perubahan pada tataran kultural
dan sosiologis.
Hariman menilai, pengkhianatan yang dilakukan oleh sejumlah anggota parlemen
terhadap Habibie sebagai cerminan belum matangnya budaya politik demokratis bangsa
Indonesia setelah berpuluh-puluh tahun berada dalam cengkeraman penguasaan rezim
otoriter. Kesimpulan Hariman ini, selain sebagai hasil dari kon­templasi pribadi, juga
merupakan akumulasi pemikiran dari hasil diskusi antara dirinya dengan sejumlah tokoh
cendekiawan. Mereka antara lain Prof. Sarbini Soemawinata (almarhum), Prof. Malik
Fajar (Rektor Universitas Muhammadiyah Malang yang diangkat sebagai Menteri
Agama di pemerintahan Presiden B.J. Habibie), Dr. Adnan Buyung Nasution, dan Dr.
Moeslim Abdurrahman.
Diskusi-diskusi tersebut berlangsung sepanjang Desember 1999 atau satu
bulan sebelum peringatan Peristiwa Malari, 15 Januari 2000. Hariman bersama para
tokoh tersebut berkesimpulan serupa: diperlukan upaya lain untuk mengawal transisi
demokrasi yang sedang berlangsung, yaitu melakukan pendidikan politik demokrasi
kepada masyarakat. Pendidikan politik masyarakat diperlukan sebagai prasyarat
terjadinya perubahan pada aras kultural dan sosiologis. Para tokoh tersebut menyarankan
Hariman untuk mendirikan sebuah wadah atau organisasi sebagai wahana pendidikan
politik rakyat.
~ 109 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 109 3/26/10 7:22:31 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama Prof. Dr. Mahar Mardjono dan Wahyu Sardono ( Dono Warkop) berorasi di depan
kampus UI Salemba (1998).

Prof. Malik Fajar, misalnya, tahu kalau selama ini Hariman kerap memperingati
Peristiwa Malari secara terbatas, hanya ber­sama dengan rekan-rekannya sesama pelaku
sejarah tersebut. Menurut Malik Fajar, “semangat Malari” bisa dijadikan media untuk
melakukan pendidikan politik kepada rakyat, seperti yang mereka diskusikan. Memang,
selama ini, Hariman bersama rekan-rekannya yang terlibat dalam Peristiwa Malari selalu
memperingati kejadian tersebut terbatas untuk kalangan mereka semata. Kalaupun ada
~ 110 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 110 3/26/10 7:22:33 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
yang diundang, jumlahnya sedikit.
Peringatan Malari di masa itu kiranya tidak lebih sebagai ajang untuk memelihara
elan perjuangan di antara para pelakunya semata. Meski yang mereka peringati adalah
salah satu peristiwa politik paling monumental di Indonesia, hajatan tersebut jauh dari
nuansa politis. Tidak pernah ada statemen politik apa pun yang lahir dari sana. Juga
tidak ada liputan media massa.
Peringatan Malari dengan peserta yang terbatas itu selalu dirayakan di Putri
Duyung Cottage, Ancol, Jakarta Utara. Di situlah Hariman dkk. melakukan kumpul-
kumpul untuk mengenang perjuangan mereka semasa Malari. Di lokasi yang sama pula,
ulang tahun Hariman selalu dirayakan. Menurut Amir Husin Daulay, aktivis mahasiswa
1980-an, dirinya memang pernah beberapa kali ikut dalam peringatan Malari di Putri
Duyung Cottage. Tapi, belakangan dia menolak untuk hadir dalam acara tersebut karena
merasa tidak sreg dengan acara yang terkesan hanya senang-senang belaka. Tidak ada
statemen politik apa pun yang ditelurkan dari peringatan di cottage yang terletak di
Pantai Teluk Jakarta itu.
Belakangan, dari diskusi dengan para tokoh tersebut, Ha­riman kemudian
terdorong untuk mendirikan semacam lembaga swadaya masyarakat, yang akan
berupaya memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Hariman merasa “ter­
sengat” dengan usul para tokoh masyarakat tersebut. Ia kemudian menghubungi
kolega-koleganya untuk membicarakan persiapan teknis pemben­tukan organisasi itu.
Salah seorang yang dihubungi pertama kali adalah Amir Husin Daulay. Setelah terjadi
titik temu pemikiran, Amir pun mengajak beberapa aktivis lain, seperti Mulyana W.
Kusumah dan Agus Edi Santoso, yang akrab disapa dengan panggilan Agus Lenon.
Tak berapa lama kemudian Indonesian Democracy Monitor (Indemo) pun
lahir. Mulyana W Kusumahlah yang memberikan nama untuk organisasi baru tersebut.
Mulyana pula yang didaulat menjadi Ketua Presidium Indemo. Peringatan Malari
pada tanggal 15 Januari 2000 dijadikan momentum deklarasi kelahiran Indemo. Untuk
pertama kalinya, peringatan salah satu gerakan mahasiswa paling monumental itu
digelar secara besar-besaran dan terbuka untuk publik.
Gelaran deklarasi berdirinya Indemo ini dikemas dalam seminar dengan tajuk
“Dialog Nasional: Penguatan Peran Oposisi”. Seminar yang dilangsungkan di Graha
Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, itu menghadirkan narasumber
Prof. Sarbini Soemawinata, Prof. Dr. Nurcholis Madjid, Prof. Dr. Ong Hok Ham, W.S.
Rendra, Mulyana W. Kusumah, dan tentu saja Hariman Siregar sendiri.
Melalui seminar tersebut, jelas terlihat Indemo memosisikan dirinya sebagai
oposan terhadap pemerintahan Ab­durrahman Wahid (Gus Dur) yang berkuasa saat itu.
Dan, label Indemo sebagai organisasi sipil yang oposan terhadap penguasa bukan saja
terjadi terhadap pemerintahan Gus Dur. Peran ini tetap konsisten dimainkan Indemo
terhadap rezim-rezim setelah Gus Dur, mulai dari pemerintahan Megawati Soekarnoputri
hingga Susilo Bambang Yudhoyono. Melalui peran sebagai kelompok sipil yang oposan
itu, Indemo hendak mengajarkan kepada ma­syarakat Indonesia agar senantiasa kritis
~ 111 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 111 3/26/10 7:22:34 PM


Hariman & Malari

Hariman sedang bercanda dengan Rizal Ramli dan Adhie Masardi dalam sebuah diskusi.

Hariman bersama Gus Dur (kiri), dan bersama Taufiq Kiemas (kanan) dalam suatu pesta pernikahan.

terhadap jalannya roda pemerintahan.


Usai seminar itu, ketegangan sempat timbul antara Indemo dengan Gus Dur.
Ketegangan terutama dipicu oleh statemen Prof. Sarbini dan Hariman yang mencuat
dalam seminar tersebut. Sarbini mencela Gus Dur sebagai presiden yang menggunakan
manajemen pesantren. Sementara itu, Hariman mengingatkan Gus Dur untuk tidak
sapenake dhewek dalam mengelola negara ini. Senada dengan Sarbini, menurut
Hariman, budaya pesantren sangat kuat meresap dalam diri Gus Dur. Corak dan gaya
kepemiminan Gus Dur tak pelak juga sangat dipengaruhi oleh kultur pesantren, kultur
yang sebenarnya tidak bisa diterapkan dalam mengelola negara.
Sebagai upaya sosialisasi berdirinya Indemo, sejumlah seminar pun digelar
di beberapa kota di Indonesia pasca-deklarasi di Taman Ismail Marzuki. Pada 9 Mei
~ 112 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 112 3/26/10 7:22:38 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
2000, misalnya, diselenggarakan dialog nasional dengan tema “Kontrol Politik Menuju
Demokrasi”. Dalam seminar yang digelar di Balairung Kampus Universitas Gadjah
Mada Yogyakarta itu tampil sebagai pembicara Prof. Dr. Ichlasul Amal, Sri Sultan
Hamengkubuwono X, Dr. Bambang Cipto, Hariman Siregar, dan Mulyana Kusumah.
Pada tanggal 17 Oktober 2000, Indemo kembali menyelenggarakan dialog publik di
Jakarta dengan tema “Kontrol Politik dalam Transisi Demokrasi”. Seminar serupa juga
diselenggarakan di Makassar dan Medan.
Karena Indemo dideklarasikan pada tanggal 15 Januari, dalam perjalanannya,
peringatan hari jadinya kerap diidentikan dengan peringatan Peristiwa Malari. Dari
tahun ke tahun, acara peringatan dikemas dalam bentuk yang sebisa mungkin berbeda.
Entah itu dalam bentuk seminar atau orasi politik dari para tokoh masyarakat. Meski
demikian, melalui acara tersebut, Indemo selalu menegaskan posisinya sebagai watch
dog atas jalannya pemerintahan dan tata kelola negara ini.
Peringatan hari jadi Indemo yang sangat berbeda dari biasanya dan sempat
menggemparkan jagad perpolitikan di Tanah Air terjadi pada tahun 2007. Jika biasanya
acara digelar di dalam gedung dan dikemas dalam bentuk diskusi atau orasi politik, kali
ini Indemo merayakan kelahirannya di jalanan dengan menggelar “Pawai Rakyat Cabut
Mandat”.
Sebagai organisai masyarakat sipil mungkin ada sebagian pihak yang menilai
Indemo sebagai organisasi yang memiliki struktur organisasi yang rigid dan keanggotaan
yang ketat. Pandangan ini sungguh tidak tepat. Dalam booklet dan terbitan Indemo
lainnya, kita dapati penjelasan bahwa Indemo adalah organisasi yang mengandalkan
kerja berdasarkan “kultur organisasi jaringan”.
Pola organisasi berkultur jaringan di sini janganlah di­pahami bahwa Indemo
memiliki karakter sentralisme seperti Politbiro, sistim sel tertutup yang kaku, tidak
saling mengenal antarsel, hidup penuh kode, serta mengandalkan mekanisme intelijen.
Indemo adalah organisasi yang bersifat terbuka. Dengan pola organisasi berkultur
jaringan, Indemo menganggap seluruh sumber daya insani yang dimiliki bangsa ini,
selama memiliki visi yang sama, adalah mitra untuk mencapai visi dan misi organisasi.
Seminar hanyalah salah bentuk perwujudan visi Indemo dalam melakukan
pendidikan politik kepada rakyat dalam bentuk pengembangan dan reproduksi wacana.
Reproduksi wacana melalui diskusi yang lebih intensif dilakukan Indemo lewat diskusi
rutin yang diadakan setiap hari Rabu sore. Mengacu pada hari diselenggarakannya
diskusi, acara di sekretariat Indemo di Jalan Lautze, Jakarta Pusat, ini di kalangan
aktivis lebih dikenal dengan sebutan “Diskusi Reboan”. Diskusi Reboan boleh dibilang
sebagai salah satu diskusi berkala yang paling konsisten dilaksanakan oleh organisasi
madani di Indonesia sampai saat ini.
Peserta Diskusi Reboan begitu beragam, mulai dari aktivis mahasiswa, aktivis
buruh, petani, aktivis partai politik, anggota legislatif, hingga pejabat. Siapa saja

Jusman Sjafii Djamal merupakan perumus dasar konsep pola organisasi berkultur jaringan yang diterapkan oleh Indemo.
Konsep dasar dari Jusman ini kemudian disempurnakan dan dibakukan dalam Rapat Kerja Indemo yang bertema “Strategic
Option and Decision Alternative: Toward Global Democracy” di Bandung, 27-29 Juli 2009.

~ 113 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 113 3/26/10 7:22:39 PM


Hariman & Malari
boleh hadir dalam diskusi ini. Tak mengherankan jika selalu ada wajah baru. Sesekali,
diskusi mengangkat sebuah tema dengan pembicara yang sengaja diundang sebagai
narasumbernya. Lebih sering, Diskusi Reboan mengalir begitu saja tanpa tema yang
telah dipersiapkan sebelumnya. Siapa saja bisa mengemukakan pengalaman, pikiran,
dan unek-uneknya. Diskusi Reboan benar-benar sebuah forum demokratis tempat setiap
orang bebas berbicara, mengemukakan pikiran dan pendapatnya.
Berdasarkan konsep pola organisasi berkultur jaringan, mereka yang hadir
dalam Diskusi Reboan sudah bisa dikategorikan sebagai jaringan Indemo. Jaringan-
jaringan ini setiap saat bisa “diberdayakan” manakala dibutuhkan. Konsep ini cukup
efektif, misalnya ketika Indemo menggelar “Pawai Rakyat Cabut Mandat” pada 15
Januari 2007 yang menggemparkan itu. Peserta pawai adalah para aktivis yang kerap
atau setidaknya pernah hadir dalam Diskusi Reboan.
Bagi Hariman sendiri, Diskusi Reboan bak sebuah pu­saka penting yang harus
terus dirawat dan dijaga. Amir Husin Daulay yang sering dijuluki sebagai penjaga
gawang Diskusi Reboan mengemukakan, sesibuk apa pun Hariman, selagi dia bisa
menyempatkan diri hadir dalam Diskusi Reboan, Hariman pasti akan datang. Tak
bisa dimungkiri, Hariman memang magnet Indemo. Dialah pusat gravitasi yang bisa
menarik minat aktivis dari berbagai latar belakang organisasi dan aliran politik untuk
hadir dalam Diskusi Reboan.
Dalam sejarahnya, Diskusi Reboan pernah membuat geger masyarakat
Indonesia, bahkan dunia internasional. Kegegeran berawal dari tudingan Presiden Gus
Dur bahwa sejumlah jenderal berkumpul di Jalan Lautze dan hendak membuat gerakan
kudeta terhadap dirinya. Isu rencana kudeta militer ini dilontarkan Gus Dur saat dirinya
melakukan lawatan ke sejumlah negara Eropa yang dimulai pada paro kedua Januari
hingga awal Februari 2000.
Atmosfer perpolitikan saat itu memang sangat diwarnai konflik antara Gus Dur
dan barisan pendukungnya dengan militer, khususnya klik Menteri Koordinator Politik
Keamanan Jenderal Wiranto. Sejumlah elemen masyarakat menolak keberadaan Jenderal
Wiranto dalam kabinet Gus Dur. Wiranto dianggap sebagai representasi kekuatan
pro-status quo yang sengaja dipasang untuk mengamankan Soeharto dan kroninya.
Tuntutan agar Wiranto dipecat dari kabinet semakin gencar ketika Komisi Penyelidik
Pelanggaran Hak Asasi Manusia (KPP HAM) dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia
(Komnas HAM) yang menyelidiki kasus pelanggaran hak asasi manusia di Timor Timur
menengarai keterlibatan Wiranto dalam pelanggaran hak asasi di sana pasca-penentuan
jajak pendapat. KPP HAM dan Komnas HAM dalam laporannya memang kemudian
membuat rekomendasi bahwa Wiranto bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi
di Timor Timur pasca-penentuan jajak pendapat.
Polemik semakin berlarut-larut akibat keragu-keraguan Gus Dur untuk memecat
Wiranto, seperti yang dituntut oleh se­ba­gian kelompok masyarakat. Keragu-keraguan
sikap Gus Dur misalnya tercermin dalam permintaannya kepada Wiranto agar sang

Dikutip dari www.angelfire.com.

~ 114 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 114 3/26/10 7:22:39 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
jenderal mengundurkan diri. Gus Dur sampai beberapa kali melontarkan permintaan ini.
Namun, Wiranto bergeming. Padahal, sebagai presiden, tanpa perlu meminta mundur,
Gus Dur memiliki hak prerogatif untuk memecat Wiranto.
Diskusi banyak digelar oleh berbagai kelompok masyarakat seputar konflik Gus
Dur dan militer tersebut. Indemo pun tak terlepas dari ketertarikan untuk mendiskusikan
isu yang sedang mendapat perhatian besar dari publik ini. Dalam obrolan tidak santai
sejumlah pengurus dan aktivis Indemo, menurut penuturan Amir terlontarkan usul agar
sejumlah jenderal aktif dan yang sudah pensiun seperti Wiranto dan Laksamana (Purn.)
Sudomo diundang sebagai narasumber dalam Diskusi Reboan yang akan membahas
masalah konflik Gus Dur dan militer.
Keputusan menghadirkan Wiranto dan Sudomo sebagai nara­sumber diskusi
belum final. Namun, menurut penjelasan Amir, tanpa sepengetahuan aktivis Indemo
yang lain, Agus Lenon sudah mengundang adik Gus Dur, Hasyim Wahid (Gus Im),
untuk hadir dalam diskusi. Kepada Gus Im, Agus Lenon mengatakan bahwa diskusi
tersebut akan menghadirkan Wiranto, Sudomo, dan beberapa jenderal lainnya sebagai
pembicara. Selama ini, Agus Lenon memang dikenal berteman dekat dengan Gus Im.
Statusnya sebagai aktivis Indemo yang memosisikan dirinya sebagai oposan terhadap
Gus Dur tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk tetap bersahabat dengan Gus
Im.
Diduga, informasi ini kemudian disampaikan oleh Gus Im kepada Gus Dur.
Berdasarkan informasi dari adiknya inilah Gus Dur melontarkan tudingan bahwa para
jenderal berkumpul di Jalan Lautze, yang tak lain Sekretariat Indemo, dan merencanakan
kudeta terhadap dirinya. Hariman secara tegas membantah isu tersebut. Tidak benar
Indemo menjadi fasilitator perencanaan kudeta militer oleh TNI. Acara tanggal 3
Februari 2000 tersebut tidak lebih dari diskusi biasa dengan pembicara Adnan Buyung
Nasution. Diskusi yang digelar kurang dari sebulan sejak Indemo dideklarasikan itu
sedang coba dibangun oleh Indemo menjadi tradisi. Diskusi inilah embrio dari Diskusi
Reboan yang sampai saat ini masih tetap bertahan.
Jenderal Wirantolah yang paling kebakaran jenggot dengan isu tersebut. Ia pun
mendatangi Gus Dur dan memberi garansi bahwa tak akan ada kudeta militer oleh
TNI. Karena jaminan Wiranto inilah, untuk sementara waktu posisi Wiranto sebagai
Menteri Koordinator Politik dan Keamanan. Namun, tidak lama kemudian, tepatnya
hari Minggu, tanggal 13 Februari 2000, menjelang tengah malam, Gus Dur menekan
keputusan yang menonaktifkan Wiranto.
Entah Gus Im atau Gus Dur yang memelesetkan informasi soal rencana kehadiran
para petinggi dan mantan petinggi TNI di diskusi Indemo tersebut. Masyarakat di dalam
negeri dan dunia internasional sempat percaya akan adanya rencana kudeta militer
ini. Amerika Serikat, misalnya, mengancam TNI untuk tidak coba-coba mengudeta
pemerintah sipil di bawah pimpinan cucu pendiri Nahdlatul Ulama tersebut.

Majalah Xpose edisi No. 04/III/6-12 Februari 2000

http://www.angelfire.com/assalam/assalam091.html.

Majalah Xpose No. 02/III/22-30 Januari 2000.
��������������������������������������������

~ 115 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 115 3/26/10 7:22:40 PM


Hariman & Malari
Tapi, isu kudeta itu tak pernah terbukti. Setelah lebih dari dua pekan polemik ini
menghiasi media massa, saling tuding di antara pendukung Gus Dur pun menyeruak.
Mereka menuduh Gus Dur telah dibisiki informasi yang salah. Lembaga intelijen
seperti Bakin dan Badan Intelijen Strategis (BAIS) sama-sama mengelak kalau mereka
telah memberikan informasi kepada Gus Dur soal rencana kudeta militer oleh TNI,
khususnya oleh klik Wiranto.

Cabut Mandat SBY-JK


Gegeran politik lain yang dibuat Indemo terjadi saat peringatan ulang tahun
Indemo yang keenam, 15 Januari 2007. Lebih dari sebulan (pra dan pasca-“Pawai Cabut
Mandat”), isu cabut mandat menjadi polemik yang menghiasi pemberitaan di media
massa, baik cetak maupun elektronik. Pihak Istana gerah dan geram. Hariman Siregar
dituding mau makar, hendak menggulingkan pemerintahan yang sah, hingga diancam
akan ditangkap.
Bergulirnya gerakan cabut mandat tidak lahir dengan serta-merta. Ada sebuah
proses yang cukup panjang. Gerakan ini bermula dari serangkaian kegiatan yang
diselenggarakan Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya (GKIR). Hariman banyak
terlibat dalam rangkaian kegiatan GKIR, seperti seminar. GKIR sendiri dideklarasikan
pada 17 September 2004 oleh Hariman dan sejumlah tokoh lainnya.
Dalam dokumen deklarasinya, GKIR menyatakan bangsa Indonesia sedang
mengalami krisis multidimensi yang mengancam kedaulatan, jatidiri, harkat, dan
martabat sebagai bangsa merdeka. Krisis ideologi telah menyebabkan jatidiri bangsa
goyah, persatuan dan kesatuan terkoyak-koyak, kemandirian ekonomi tergadaikan,
korupsi merajalela, tata nilai dan budaya bangsa tergusur arus globalisasi, sumber daya
alam terkuras, lingkungan hidup rusak parah.
GKIR diprakarsai oleh sejumlah lembaga atau organisasi, antara lain Aliansi
Penyelamatan Indonesia (API), Indemo, Barisan Kebangkitan Indonesia Raya, Forum
Rektor Indonesia, Front Pembela Proklamasi ’45, Gerakan Jalan Lurus, Forum
Komunikan, Badan Kerjasama Ikatan Alumni Perguruan Tinggi Seluruh Indonesia,
Gerakan Rakyat untuk Demokrasi, Jaringan Aktivis Prodem, Ikatan Alumni UI-Jakarta,
Jaringan Aliansi Masyarakat Madani dan Pro Demokrasi, Jaringan Kader Muda
Nahdlatul Ulama, Jaringan Kader Mahasiswa Islam, Komite Independen Pemantau
Pemilu Indonesia, Yayasan Jatidiri Bangsa, dan Persatuan Wartawan Indonesia.
Rapat-rapat GKIR banyak dilaksanakan di Sekretariat Front Pembela Proklamasi
’45 di Gedung Cawang Kencana, yang tidak jauh dari Markas Besar Komando Daerah
Militer V/Jayakarta, Jakarta Timur. Selain Hariman, ada sederet nama beken lain
yang kerap terlibat dalam kegiatan-kegiatan GKIR. Mereka antara lain mantan Wakil

���������������������������������������������
Majalah Xpose No. 05/III/1�������������������
3-19 Februari 2000.

Rakyat Merdeka, 12 Januari 2007.

Yop Pandie. 2007. Polemik Cabut Mandat SBY: Suatu Transformasi dari Masyarakat Nrimo ke Masyarakat Peduli Nasib
Bangsa. Cetakan 1. Jakarta: PT Bina Rena Pariwara, halaman 53.

Ibid., halaman 54.

~ 116 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 116 3/26/10 7:22:40 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

Hariman memimpin aksi cabut mandat SBY-JK di


Bundaran HI Jakarta (2007). Tampak antara lain
: Rendra, Julius Usman, Eggi Sudjana, Moeslim
Abdurrahman.

Presiden Try Sutrisno, Saiful Sulun (mantan Wakil Ketua MPR/DPR), cendekiawan
muslim Prof. K.H. Ali Yafie, Frans Seda, Mohammad Cholil Badawi (veteran pejuang
kemerdekaan yang pernah menjadi Ketua Badan Pembina Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia), K.H. Moehammad Zain, Monang Siburian (purnawiran perwira tinggi
TNI bidang intelijen), dan Bambang Wiwoho. Adik Gus Dur yang juga anggota DPR
dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Lily Wahid, juga banyak terlibat aktif dalam
~ 117 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 117 3/26/10 7:22:44 PM


Hariman & Malari
GKIR. Selain Try Sutrisno, Saiful Sulun, dan Monang Siburian, di GKIR masih ada
sederet purnawiran lain yang kerap hadir dalam rapat-rapat GKIR di Gedung Cawang
Kencana.
Pada 23 November 2006, GKIR menyelenggarakan dialog publik. Dialog yang
dikemas dalam acara halal bihalal ini mengambil tempat di Aula Gedung Cawang
Kencana. Dialog terutama banyak membicarakan tentang mandat rakyat, lemahnya
kepemimpinan SBY, semakin memburuknya kondisi kehidupan rakyat, dan juga
dampak dari amandemen UUD 1945.
Secara umum, peserta dialog yang berjumlah sekitar 300 orang itu sepakat
bahwa memburuknya situasi nasional dikarenakan lemahnya kepimpinan SBY. Mereka
juga kecewa dengan pengelolaan negara di bawah kepemimpinan SBY. Dalam acara
itulah untuk pertama kalinya wacana pencabutan mandat SBY mulai mengemuka.10
Isu pencabutan mandat SBY menjadi wacana yang mendominasi dialog publik. Slogan
“cabut mandatnya” tak henti-hentinya diteriakan peserta dialog.
Hasil dialog publik kemudian disampaikan GKIR ke DPR pada 19 Desember
2006. Delegasi GKIR yang datang bertepatan dengan Hari Bela Negara itu dipimpin
oleh Try Sutrisno. Mereka diterima langsung oleh Ketua DPR H.R. Agung Laksono.
Tun­tutan cabut mandat BSY pun ditegaskan oleh GKIR dalam per­temuannya dengan
pimpinan legislatif tersebut.
Sejak pertemuan itulah wacana pencabutan mandat SBY terus bergulir. Try
Sustrisno, Hariman, dan kawan-kawan dianggap inkonstitusional dan dituduh hendak
berbuat makar. Di antara para tokoh GKIR, Harimanlah terutama yang paling kencang
menyerukan cabut mandat SBY.
Pihak Cikeas menuduh Try Sutrisno dkk. hanyalah sekum­pulan orang-orang
yang tak sabar ingin menduduki kursi kepresidenan.11 Para pendukung SBY juga
menyebut para sesepuh ini sebagai kaum “jompo moral”, sebuah sebutan yang mengacu
kepada Try Sutrisno dan tokoh GKIR lainnya yang pernah menduduki jabatan formal di
masa lalu.12 SBY bahkan sempat mengumpulkan para sesepuh dan petinggi TNI untuk
membahas isu cabut mandat ini sekaligus mencari dukungan dari TNI.
Selain dalam rapat-rapat GKIR di Gedung Cawang Ken­cana, wacana cabut
mandat SBY juga menjadi tema diskusi yang hangat dalam Diskusi Reboan di Indemo.
Wacana cabut mandat terus menggelinding dan semakin mengkristal. Pada tanggal 10
Januari 2007, bertepatan dengan peringatan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat, 10 Januari
1966), GKIR kembali menyelenggarakan dialog publik.
Dialog publik dengan tema “Tantangan dan Harapan 2007” itu dilangsungkan di
Kampus Universitas Atma Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan. Try Sutrisno,
Frans Seda, Moehammad Cholil Ba­dawi, Hariman Siregar, dan Moeslim Abdurrahman
sebagai pem­bicaranya. Hadir juga pengamat politik Sukardi Rinakit serta pengamat
10
Ibid., halaman 75.
11
Ibid., halaman 79
12
Warta Kota, Sabtu, 13 Januari 2007.

~ 118 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 118 3/26/10 7:22:45 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
ekonomi Hendri Saparini dan Ichsanuddin Noorsy. Sekali lagi, para pembicara mendesak
SBY untuk mundur terkait semakin terpuruknya kondisi bangsa. Seruan cabut mandat
SBY pun kembali ditegaskan dalam dialog publik ini.
Moeslim Abdurrahman menyerukan SBY agar “lempar handuk” saja daripada
terjadi chaos di mana-mana. “Buat apa pemimpin yang mendatangkan mudarat daripada
manfaat. Jadi, sebetulnya dia itu sudah batal. Lebih baik dia mundur dan diganti yang
lain,” kata Moeslim.13
Ketika isu cabut mandat semakin matang dan mengkristal, para tokoh GKIR
semakin yakin bahwa gerakan pencabutan mandat SBY harus diwujudkan dalam gerakan
yang lebih konkret. Keberhasilan sebuah gerakan, selain menuntut adanya soliditas
gerakan itu sendiri, juga membutuhkan momentum yang pas. Hari ulang tahun keenam
Indemo pada 15 Januari 2000 dianggap momentum yang tepat untuk melaksanakan
gerakan pencabutan mandat SBY. Terlebih lagi, di antara para tokoh GKIR, Harimanlah
yang selama ini paling getol dan lantang menyerukan pencabutan mandat SBY. Tak
mengherankan jika isu cabut mandat sangat identik dengan Hariman.
Pada 12 Januari 2007, Indemo menggelar konferensi pers dan secara resmi
mengumumkan akan menggelar “Pawai Rakyat Cabut Mandat SBY-JK” pada tanggal
15 Januari. Konferensi pers digelar di Hotel Harris, Jalan Dr. Saharjo, Jakarta Selatan.
Hariman, Moeslim Abdurrahman, dan Amir Husin Daulay secara bergantian menjelaskan
rencana besar Indemo tersebut.
Atmosfer Jakarta semakin tegang sejak konferensi di Hotel Harris itu.
Sebelumnya, ketegangan memang selalu menghantui Jakarta sejak mencuatnya wacana
gerakan cabut mandat yang akan dipimpin Hariman bergulir. Ketegangan ini tidak
terlepas dari pemberitaan bombastis media massa yang mengidentikan Hariman dengan
huru-hara Malari tahun 1974. Dengan pemberitaan yang bombastis, media massa telah
menggiring memori kolektif masyarakat pada huru-hara di Jakarta tahun 1974. Harian
Batak Pos, misalnya, menulis dengan judul “Hariman Siregar Ancam ‘Malarikan’ SBY-
JK”.14
Senin pagi, 15 Januari 2007, seribu lebih massa bergerak dari Bundaran Hotel
Indonesia menuju Istana Negara. Mereka terdiri dari aktivis mahasiswa, buruh petani,
hingga nelayan. Sepanjang jalan, massa dari 52 elemen tersebut meneriakan yel-yel
cabut mandat SBY. Di depan istana negara, Hariman Siregar, W.S. Rendra, dan sejumlah
tokoh lain, bergantian berorasi mendesak SBY mundur atau dicabut mandatnya. “Pawai
Rakyat Cabut Mandat” berlangsung aman dan damai, tidak seperti yang digembar-
gemborkan media massa. SBY tetap bertahan sebagai presiden. Meski demikian, di
mata Indemo, SBY telah kehilangan legitimasi moralnya. e

13
Ibid.
14
���������������������������
Batak Pos, 11 Januari 2000.

~ 119 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 119 3/26/10 7:22:45 PM


Hariman & Malari

~ 120 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 120 3/26/10 7:22:45 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

E p i s o d e 9

Meluruskan
Jalan Demokrasi

D
emokrasi dianggap meng-­ada dalam suatu
negara antara lain dengan dua ciri: kebebasan men­dirikan
partai po­litik dan sis­tem pemilihan umum yang langsung,
umum, dan bebas. Pere­butan kekuasaan dimungkinkan
melalui pemilihan umum yang diikuti oleh kader-kader
partai politik. Perubahan politik karenanya terbuka lebar
untuk diperjuangkan dengan cara mengikuti pemilihan
umum.
Tapi, Hariman Siregar menolak terlibat dalam partai dan pesimistis bahwa
pemilihan umum bisa menghasilkan perubahan. “Hariman lebih percaya kepada
mahasiswa sebagai motor perubahan dan demokrasi,” kata Mulyana Wira Kusumah,
Sekretaris Jenderal pertama Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP).
Sejak puluhan tahun lampau hingga sekarang, Hariman Siregar meyakini masa
depan sesungguhnya dimiliki oleh anak muda dan karenanya harus diperjuangkan
pada masa kini oleh komponen terkuat dari anak muda: mahasiswa. Ia tak begitu
percaya—kalau tak bisa dibilang “tak percaya sama sekali”—lembaga-lembaga
formal dalam demokrasi, semisal partai politik.
Keyakinan diri Hariman ini menjawab pertanyaan mengapa ia tak memimpin,
mendirikan, atau setidaknya bergabung dengan partai politik. Padahal, bila mengingat
jejaring yang telah ia rajut sejak memimpin Dewan Mahasiswa UI hingga sekarang,
Hariman memiliki sumber daya manusia dan logistik yang cukup untuk melibatkan
diri dalam partai politik. Bukan tak sedikit kelompok-kelompok atau individu yang
mendorong Hariman mendirikan partai politik setelah sistem multipartai dimulai lagi
di Indonesia pasca-1998. Tapi, melihat dan mengalami—sejak masa awal Orde Baru
hingga sekarang—bagaimana perilaku partai politik di Indonesia, Hariman memilih
untuk memercayakan perubahan pada cara lain: ekstraparlementer. Ketidakpercayaan

~ 121 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 121 3/26/10 7:22:46 PM


Hariman & Malari

Hariman Siregar : Sang Rajawali Politik Indonesia.

Hariman kepada partai berdasar sejumlah alasan yang berangkat dari kenyataan.
“Partai politik dibentuk untuk building block kekuasaan semata, bukan untuk
memajukan kesejahteraan rakyat, karena partai hanya berfungsi lima tahun sekali
untuk mengantarkan (orang) ke kekuasaan,” papar Hariman. Praktik kepartaian
semacam ini membuahkan tradisi jual-beli (transaksional). Di dalam partai, beberapa
hal diatur, tapi tidak bisa atau jangan menjadi “yang tidak mau”. Sebab, seperti dalam
halnya rumus jual beli, yang tidak mau adalah yang ditinggalkan.
Ia menunjuk pemilihan kepala daerah (pilkada) sebagai contoh kasus. Partai-

~ 122 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 122 3/26/10 7:22:50 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar

partai jelas “berjualan” dalam pilkada. Beberapa kali pimpinan-pimpinan partai di


wilayah berniat mencalonkan diri menjadi gubernur atau bupati, namun ditentang
oleh pengurus pusat partai. Alasannya? “Ada calon lain dari luar partai yang lebih
patut didukung.” Kepatutan yang dimaksud bukan berbasis kompetensi, melainkan
lantaran si calon bersepakat dengan elite partai pendukung melalui komitmen berbasis
transaksi: uang.
Tidaklah heran bila, menjelang pilkada, partai-partai politik bukannya sibuk
membuat konvensi internal partai untuk menjaring kader terbaik, tapi sibuk berjalan-
jalan melobi figur yang sekiranya potensial untuk “diatur” atau mau terlibat transaksi.
~ 123 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 123 3/26/10 7:22:56 PM


Hariman & Malari
Perjalanan itu tidak terbatas kepada tokoh-tokoh publik di lingkungan sosial politik,
tapi merambah ke dunia lebih luas: entertainment. Kalangan artis ditawari untuk
maju menjadi calon bupati/wakil bupati atau gubernur/wakil gubernur dari partainya.
“Ini hal yang rancu. Partai mengkhianati hakikat partai itu sendiri, karena kekuasaan
diberikan kepada orang lain,” ujar Hariman. “Itu namanya calo penjual suara. Partai
menjadi calo kekuasaan karena kemenangan diperjualbelikan. Kasihan rakyat yang
memilih karena berpikir bahwa si calon akan mewakili dirinya, padahal bakal dijual
lagi. Rakyat jadinya ditipu oleh partai.”
Di tingkat nasional, partai-partai politik tak menunjukkan tanggung jawab
atas kondisi bangsa yang terpuruk. Mereka justru menyandera proses demokrasi
secara substansial. Mereka membuat prosedur-prosedur formal yang mendorong
keadaan negara justru menjadi sakit. Mereka kreatif menciptakan mekanisme untuk
memperoleh berbagai fasilitas dari negara, justru ketika anggaran untuk rakyat
terbilang kecil. “Jiwa-jiwa demokrasi sudah mati dalam orientasi mereka. Mereka
tidak percaya lagi vox populi vox Dei. Mereka lebih percaya bahwa kekuasaan itu
lampu Aladin yang dalam tempo seketika dapat mengubah gubuk menjadi istana,
sepeda motor tahun 1970-an menjadi BMW seri terbaru,” kata Hariman gusar.
Salah satu penyebabnya adalah proses pemilihan umum yang gagal merekrut
(atau sengaja tidak berupaya melahirkan) calon-calon wakil rakyat yang pro-rakyat.
Proses pemilihan umum yang memakan dana besar ditambah kegagalan dalam proses
rekrutmen membuat anggota parlemen kemudian berpikir tentang cara mengembalikan
modal yang telah dikeluarkan untuk menyetor kepada partai dan ongkos kampanye.
Syukur-syukur bisa untung selama lima tahun duduk di kursi parlemen.
Kegagalan pemilihan umum melahirkan pemimpin atau wakil rakyat yang
pro-rakyat bersebab pula dari kondisi partai politik. Alih-alih melakukan kaderisasi,
partai cenderung mengutamakan figur populer untuk meraih suara. Dari tokoh
politik betulan hingga artis atau pelawak ditawari masuk ke partai menjelang musim
pemilihan umum berlangsung. Dianggaplah bila partai diisi oleh tokoh yang sudah
dikenal publik serta-merta publik akan memilih sang tokoh tersebut. “Budiman
Sudjatmiko (mantan Ketua Umum Partai Rakyat Demokratik), misalnya, bukan dari
kader PDI Perjuangan tapi bisa langsung menjadi calon anggota legislatif nomor
urut satu dan bisa duduk menjadi pengurus pusat partai. Pada akhirnya nanti mantan
petinggi tentara dan polisi atau mantan pejabat pemerintahan direkrut untuk menjadi
petinggi partai,” kata Hariman.
Hariman menyetujui pendapat Rocky Gerung yang mengkritik partai sebagai
penyebab defisit intelektualitas dalam praktik politik Indonesia. Partai politik berdiri
tanpa didasarkan pada suatu gagasan sosial yang kuat—yang biasa disebut sebagai
ideologi. Ini melemahkan partai dalam melakukan kaderisasi. Padahal, kaderisasi
memerlukan visi ideologis yang kuat, yaitu prinsip pengatur orientasi kebijakan sosial
partai. Dengan visi ideologis itulah sang kader bertarung dalam politik. Distingsi
ideologis memerlukan kejernihan konseptualisasi intelektual, karena persaingan
 Rocky Gerung. 2009. “Intelektual dan Kondisi Politik”, dalam Prisma No.1 Volume 28, Juni 2009.

~ 124 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 124 3/26/10 7:22:56 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
politik adalah persaingan nilai-nilai publik yang harus diselenggarakan untuk
mempertahankan kondisi kemajemukan demokrasi. Ketiadaan persaingan ideologis
membuat politik menjadi urusan transaksional rutin, dalam arti tidak menimbulkan
imajinasi perubahan dan inspirasi konseptual.
Menjelang Pemilu 1999, sebenarnya suatu harapan besar sempat muncul. Pada
masa itu, partai-partai politik bebas didirikan dengan berbagai ideologi yang mereka
yakini. Ada 48 partai politik yang dinyatakan memenuhi syarat mengikuti Pemilu
1999. Indonesia pasca-Pemilu 1999 keruan diidamkan memiliki wajah demokrasi
dan sistem politik yang lebih sehat ketimbang sebelumnya. Kebebasan tiap-tiap
partai memiliki ideologi dan memopulerkannya menjadi salah satu alasan wajar dari
munculnya harapan. Karena, ideologi yang dipercaya oleh partai politik dianggap
akan memaksa aktor-aktornya bekerja mewujudkan cita-cita berdasar ideologi tadi.
Tapi, pasca-pemilihan umum, kenyataan berbicara lain. Ketika memasuki proses
pembentukan pemerintahan, persaingan antarpartai berlatar ideologi terhenti.
Kata kunci berubah dari “persaingan” menjadi “kompromi”. Isi kabinet kemudian
mengungkapkan hasil dari kompromi itu: Kabinet Persatuan Nasional, yang terdiri
dari beragama latar partai, dari partai Islam hingga partai sekuler.
Situasi pasca-Pemilu 2004 tak berbeda jauh. Meski keluar sebagai pemenang
pemilihan presiden, Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla hanya menempatkan
dua orang dari Partai Demokrat dan dua orang dari Golkar dalam kabinet atau 11
persen dari keseluruhan 36 kursi kabinet. Sebanyak 15 kursi diberikan kepada
kalangan profesional dan 4 kursi kepada TNI. Sisanya dibagi-bagi kepada partai yang
mau diajak berkoalisi.
Pilihan membentuk koalisi dalam pemerintahan me­nguatkan watak percaloan
dalam kekuasaan di Indonesia, kendati diberi nama Kabinet Persatuan Nasional atau
Kabinet Indonesia Bersatu yang telah memasuki seri kedua setelah Susilo Bambang
Yudhoyono terpilih kembali sebagai presiden. Kuskridho Ambardi menyebut
percaloan ini sebagai kartel. Partai-partai politik di Indonesia, katanya, cenderung
berpraktik kartel ketimbang kompetitif.
Menurut Ambardi, pembentukan kartel itu berangkat dari lima ciri yang terjadi
dalam kepartaian Indonesia: 1) hilangnya peran ideologi partai sebagai faktor penentu
perilaku koalisi partai; 2) sikap permisif dalam pembentukan koalisi; 3) tiadanya
oposisi; 4) hasil-hasil pemilihan umum hampir tidak berpengaruh dalam menentukan
perilaku partai politik, dan; 5) kuatnya kecenderungan partai untuk bertindak
secara kolektif sebagai satu kelompok. Pengertian kelima ini bukan merujuk “satu
kelompok” dalam pengertian “satu partai”, melainkan sebagai “satu kelompok elite”
yang berangkat dari berbagai partai.
Ambardi menunjuk kepentingan tiap-tiap partai untuk bertahan hidup
sebagai alasan mereka membentuk kartel. Sumber keuangan partai yang berasal
dari pemerintah harus dijaga bersama. Bila dianggap tidak cukup, mereka mencoba

Kuskrido Ambardi. 2009. Mengungkap Politik Kartel. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

~ 125 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 125 3/26/10 7:22:57 PM


Hariman & Malari
menggali dari sumber-sumber lain, yakni dari badan-badan usaha milik negara
maupun sumber yang hanya bisa dikelola atau diciptakan apabila wakil-wakil partai
menduduki posisi penting dalam pemerintahan. Lazim diketahui bahwa pengurusan
perizinan atau perlindungan bisa dilakukan oleh pejabat pemerintah berimbal uang.
Perilaku partai politik semacam ini dinamakan partai pemburu rente (rent seeking).
Ketika PDI Perjuangan berkuasa dengan Megawati Soe­karnoputri sebagai
presiden, badan-badan usaha milik negara yang berada di bawah pengawasan kader
PDI-Perjuangan, Laksamana Sukardi, menjadi lahan pendulang uang partai. Praktik
ini diteruskan oleh partai pemenang berikutnya: Partai Demokrat. Sejumlah nama
yang dianggap berjasa menaikkan Susilo Bambang Yudhoyono menjadi presiden
diupahi dengan posisi komisaris dalam badan usaha milik negara. Tanpa diketahui
di mana pernah belajar tentang manajemen perusahaan, Andi Arief diangkat menjadi
komisaris PT Pos dan Giro Indonesia. Jabatan-jabatan tinggi di badan usaha milik
negara atau birokrasi yang dipastikan dapat memberi sumbangan kepada partai
diberikan pula kepada partai-partai koalisi. Syaratnya gampang: beri jalan terbuka
di parlemen untuk semua usul pemerintah. Dengan demikian, yang terjadi bukanlah
kontrol atau check and balances oleh parlemen terhadap pemerintah, keduanya malah
terlibat kongkalikong dan patgulipat dengan tujuan “sama-sama enak”.
“Semangat kongkalikong dan patgulipat segerombolan elite ini pula yang
melahirkan berbagai jenis kebijakan penjualan aset milik negara yang bagus-bagus
ke tangan orang asing,” kata Hariman. “Mereka telah menjadi jongos kepentingan
asing dalam arti yang sesungguhnya.”
Hariman membandingkan penanganan krisis yang dilakukan Indonesia dengan
Thailand, Korea Selatan, dan Filipina. Ketiga negara yang disebut terakhir telah
melewati stadium kritis dengan baik karena dipimpin oleh nakhoda yang memiliki
konsepsi yang jelas tentang bagaimana mengatasi krisis. Beda sekali dengan elite politik
Indonesia. Elite Indonesia justru melakukan tindakan yang menghina akal sehat. Dari
seharusnya menggalang solidaritas supaya putra-putri terbaik bangsa mau bekerja
keras, menghidupkan sektor pertanian tempat bergantung 80 persen rakyat pedesaan,
elite Indonesia malah mencabut subsidi dan proteksi hasil bumi. “Akibatnya, orang-
orang yang hidup dari sektor pertanian semakin terimpit nasibnya,” ujar Hariman.
Akhirnya harus dibilang bahwa tidak ada perubahan atau kemajuan yang
dicapai dari perilaku demokrasi yang berorientasi pada perburuan rente. “Bangsa ini
seakan-akan sudah memasuki alam demokrasi yang advanced dan terkonsolidasi,”
ujar Hariman Siregar. “Suksesi kepemimpinan nasional dua atau tiga kali yang
berjalan tanpa kekerasan sudah dianggap demokrasi. Jika hanya itu ukurannya, itu
adalah demokrasi semu.”
Demokrasi semu atau demokrasi seolah-olah ini pernah terjadi selama
pemerintahan Orde Baru. Soeharto menciptakan pemilihan umum dan partai-partai
guna memenuhi syarat agar dianggap berkuasa melalui proses demokrasi. Pemilihan
umum lima tahunan selalu dilaksanakan dan diikuti oleh partai politik (yang jumlahnya

~ 126 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 126 3/26/10 7:22:57 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
dibatasi hanya dua ditambah satu Golongan Karya (Golkar) melalui kebijakan fusi
dengan alasan agar menampung golongan nasionalis dan agama ke dalam masing-
masing satu wadah saja). Terhadap kedua partai—Partai Demokrasi Indonesia dan
Partai Persatuan Pembangunan—dilakukan pengawasan ketat dan dikerdilkan terus-
menerus agar tidak berkembang luas, sedangkan Golongan Karya dibuat menjadi
pemenang terus-menerus dalam pemilihan umum. Rekor juara bertahan oleh Golkar
ini dimungkinkan karena perangkat pemerintah, tentara, dan intelijen dikerahkan
untuk memenangkan semata-mata Golkar dengan dukungan dana tak terbatas.
Golongan yang mayoritas di Majelis Permusyarawaratan Rakyat itu kemudian
memilih Soeharto sebagai presiden berkali-kali. Kedua partai yang ada pun ikut serta
memilih. Sebab, bila bersuara berbeda akan ditekan. Jadilah, Soeharto selalu menang
mutlak. Secara prosedur, tak ada yang salah dengan mekanisme yang diberlakukan
oleh Soeharto. Undang-undang tentang partai memang berbunyi demikian; undang-
undang tentang pemilihan umum juga mengatur bahwa peserta pemilihan umum
adalah dua partai politik dan satu Golongan Karya; undang-undang tentang susunan
dan kedudukan MPR, DPR, dan DPRD juga menetapkan tentang kursi gratis yang
diberikan kepada ABRI sebagai “penjaga demokrasi” Indonesia. Tak ada yang salah
secara prosedural menurut prosedur Soeharto, tapi demokrasi yang sesungguhnya
dipasung karena tidak ada kebebasan berpendapat, boro-boro lagi kebebasan memilih.
Hasil akhir dari tiap pemilihan umum telah ditentukan sebelumnya dan diterapkan
melalui berbagai operasi yang kerap dijalankan oleh perangkat intelijen.
Bila dibandingkan sekarang, dana demokrasi seolah-olah pada masa Soeharto
terbilang malah lebih kecil. Pada masa ini, orang dapat saja menjadi pihak yang
berkuasa tergantung pada kemampuannya memberikan atau menjanjikan bakal
memberi berbagai fasilitas kepada partai politik (yang telah berubah menjadi calo
kekuasaan). Selain kasus pilkada, pencalonan menjadi anggota DPR melalui
mekanisme yang sama. Maka, dana yang dipertaruhkan pada masa demokrasi semu
yang semata-mata prosedural ini semakin besar karena dikeluarkan oleh orang per
orang yang ingin duduk di kursi kekuasaan.
Pola semacam ini mengundang celah bagi kembalinya kekuatan-kekuatan lama
untuk berkuasa, karena pada dasarnya kelompok lama masih menguasai aset ekonomi
yang besar. Dana dari kelompok lama ini bahkan kerap digunakan untuk menopang
naiknya orang-orang baru dalam kekuasaan. Kondisi ini sedikit menjelaskan mengapa
orang-orang yang terindikasi berpraktik kolusi, korupsi, dan nepotisme pada masa
lalu tetap dapat bebas hingga empat presiden setelah Soeharto, sebagian malah ikut
duduk di kekuasaan.
Pada gilirannya, demokrasi semu yang dimotori oleh partai politik berpraktik
calo ini melahirkan golongan otoriter baru. Mereka ini pada dasarnya sama dengan
kelas otoriter masa lalu (karena sebagian berasal dari kelas berkuasa di masa lalu)
yang gemar mendiktekan keinginan kepada rakyat dan bukannya mendengarkan
keinginan rakyat. Bedanya: otoritarianisme jenis baru menggunakan prosedur formal
untuk mematikan kritik.
~ 127 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 127 3/26/10 7:22:58 PM


Hariman & Malari

Hariman saat tampil sebagai pembicara dalam sebuah diskusi politik.

Menurut Eggi Sudjana, berdasar kacamata Hariman, kondisi saat ini


menunjukkan ke arah sana. Bedanya, otoritarianisme sekarang dibungkus lebih soft
dengan berbagai pencitraan. Justru ini yang lebih berbahaya karena rakyat ibarat
dininabobokan dalam gendongan, dibelai, tetapi juga ditusuk dari belakang. “Ruang-
ruang demokrasi dan berpendapat secara bebas memang tersedia, tapi itu hanya
prosedural karena kenyataannya banyak aktivis yang digebuki, rakyat digusur, kritik
masyarakat dibalas dengan reaksi yang berlebihan dari pemerintah,” papar Eggi.
“Hal tersebut jelas tidak menghargai perbedaan dan kebebasaan menurut demokrasi.
Rakyat hanya dijadikan obyek demokrasi, bukan sebagai subyek yang menikmati
demokrasi serta ikut berpartisipasi.”
Berbeda dengan perilaku pemerintah, Hariman di mata Eggi Sudjana justru
membuka ruang perbedaan pendapat. Ia, misalnya, sering tidak setuju dengan pendapat
Eggi dan kawan-kawannya, termasuk pilihan mereka memasuki partai politik.
“Misalnya soal aksi cabut mandat, saya selaku orang partai agak berbeda pendapat
karena, menurut saya, mencabut mandat itu harus melalui saluran yang resmi, yaitu
pemilihan umum,” ujar Eggi, “tapi, menurut Hariman, cabut mandat dilakukan justru
karena saluran-saluran resmi tidak berjalan normal.”
Ada dua hal yang tak boleh dilupakan mengenai demokrasi prosedural. Dua
hal itu merupakan bahaya yang terkandung di dalamnya. Pertama, bagi demokrasi
prosedural, yang benar dan dapat diterima hanyalah yang sesuai atau berdasarkan
prosedur yang berlaku. Ketidakpuasan atau kritik hanya didengar dan dianggap
benar apabila disalurkan melalui prosedur yang berlaku dan diakui. Protes terbuka
dari staf atau bawahan kepada atasannya—terutama dalam lembaga negara atau
institusi pemerintah—menjadi tidak benar apabila dilontarkan secara terbuka kepada

~ 128 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 128 3/26/10 7:23:03 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
publik. Protes terbuka dianggap sama dengan mengungkap keburukan bersama
dan menyebabkan rakyat hilang kepercayaan kepada lembaga atau institusi yang
diungkap kebobrokannya. Penganut demokrasi prosedural percaya bahwa citra suatu
lembaga atau institusi harus dijaga tetap bersih di mata publik. Demonstrasi pun hanya
dibenarkan bila mengikuti tata krama yang telah diatur oleh prosedur menyatakan
pendapat. Akhirnya, segala sesuatu yang di luar prosedur dianggap tidak demokratis,
bahkan disebut anarkis.
Kedua, karena prosedur ditetapkan oleh segelintir elite, isi demokrasi akhirnya
ditentukan oleh elite. Mereka yang memegang wewenang membentuk peraturan
(pemerintah dan DPR) menganggap paling berhak mendefinisikan perbuatan-
perbuatan demokratis dan perbuatan-perbuatan tidak demokratis. Improvisasi
berdasar daya kreatif rakyat sepanjang belum diakui sebagai perbuatan demokratis
oleh pemerintah tetap digolongkan sebagai “bukan bagian demokrasi kita”, persis
argumentasi pemerintah Orde Baru tentang hak asasi manusia dan pemilihan langsung:
tidak sesuai dengan jiwa dan kebudayaan kita.
Praktik semacam ini menyebabkan demokrasi bukan lagi suatu pemerintahan
rakyat (government of the people), melainkan menjadi pemerintahan para politisi
(government of the politicians). “Kenyataannya memang seperti itu,” timpal Prof. Dr.
Anwar Nasution, Guru Besar Ekonomi Universitas Indonesia. “Perubahan-perubahan
tidak dirasakan rakyat, kemakmuran tidak merata, partai tidak berperan, (maka) saya
kira Hariman Siregar akan tetap berperan.”
Lalu, apa ukuran demokrasi menurut Hariman? “Sederhana saja, selain
seperti yang sudah dinyatakan oleh para ahli, kita pakai deep feeling,” kata Hariman.
Rasa yang paling dalam dari nurani bakal mengingatkan kita bahwa suatu proses
kekuasaan berjalan baik atau menyimpang dari cita-cita semula atau tidak. “Sekarang
orang kebanyakan bilang, ‘Sudahlah begini saja masih bisa makan.’ Maka, niscaya
Indonesia yang diramalkan sejumlah ilmuwan memiliki bakat sebagai negara gagal,
state failure, akan menjadi kenyataan,” ujarnya.
Ciri negara gagal, menurut Hariman, ada pemerintah tapi tidak ada
pemerintah (ungovernable). “Ini kan sudah bisa kita deteksi dengan semakin tidak
berdayanya pemerintah menghadapi tekanan fundamentalisme pasar yang terbukti
menyengsarakan rakyat,” ujarnya.
Dalam salah satu pidatonya, Hariman mengingatkan: “Bila Anda seorang
pialang saham atau emiten di bursa saham, mungkin kekayaan Anda terus bertambah.
Tapi, Anda mesti ingat, berapa orang yang mati kelaparan pada setiap transaksi
penjualan saham yang nilainya terus bertambah dan otomatis pula kekayaan
Anda terus meningkat tanpa mengucurkan keringat. Berapa juta penganggur yang
dihasilkan oleh bergeraknya ekonomi duit makan duit, finance make it self finance,
itu?” Pemerintah, partai politik, sistem pemilihan umum, dan—secara keseluruhan—
demokrasi Indonesia gagal menjawab gugatan Hariman Siregar itu.

Hariman Siregar. 2008. Kembalikan Kedaulatan Rakyat, Jangan Bajak Demokrasi. Jakarta: Indemo.

~ 129 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 129 3/26/10 7:23:03 PM


Hariman & Malari
Demokrasi sebagai suatu cara hidup (bukan hanya cara memerintah) pada
hakikatnya mengembalikan segala sesuatu kepada rakyat. Keingingan rakyat
sejak lama ialah mencapai taraf hidup yang sejahtera dan adil. Maka, demokrasi
sesungguhnya adalah suatu cara bagaimana rakyat—secara keseluruhan—dapat
menikmati kesejahteraan dan keadilan. Bila dua indikator tersebut gagal dicapai oleh
mekanisme demokrasi, dengan mudah bisa dibilang ada kesalahan dalam menjalankan
mekanisme tersebut. Dalam bahasa Fareed Zakaria, “Bila memahami teori demokrasi
secara salah, praktiknya akan salah pula.”
Berdasarkan teori, demokrasi memberi penghargaan besar kepada kebebasan
individu. Namun, makna demokrasi pada pengertian ini bukan berarti setiap orang
dapat mengungguli dirinya atas orang lain secara bebas, semena-mena, dan akal-
akalan. Justru menghargai kebebasan individu berarti tiap-tiap orang harus memberi
penghargaan kepada orang lain.
Dengan demikian, pemerintahan yang demokratis adalah pemerintahan
yang mendengarkan dan menghargai orang di luar dirinya: yang diperintah, yang
memilihnya, yang tak lain adalah rakyat. Pemerintah harus banyak mendengarkan
suara dan pendapat rakyat dalam bertindak dan mengambil keputusan. Bukan berdasar
pikiran-pikirannya sendiri. Pada pengertian ini, prosedur demokrasi berarti suatu cara
untuk menjaring suara dan pendapat rakyat dalam mengambil keputusan. “Mandat
rakyat yang diberikan saat pemilihan lima tahun sekali itu bukan mandat sekali lalu
selesai,” kata Hariman. “Bukan berarti setelah terpilih semau-maunya pemerintah
yang dipilih.”
Lebih parah lagi, pemerintah yang telah dipilih itu ketahuan tidak bisa berbuat
banyak untuk mengatasi memburuknya nasib rakyat kebanyakan. Hariman bercerita,
situasi kebangsaan yang tidak normal telah menyebabkan satu keluarga bunuh diri
karena gamang menatap hidup yang semakin buas dan kejam. Seorang Ibu di Malang,
Jawa Timur, September 2008, tega membunuh ketiga orang anaknya sebelum dia
sendiri bunuh diri. Rupanya ibu yang bernama Juanina Mercy itu stres menghadapi
semakin sulitnya menggapai sumber penghidupan. “Pikirkan juga data yang dilansir
Litbang Departemen Kesehatan yang menyebutkan bahwa 264 di antara seribu
anggota rumah tangga menderita gangguan kesehatan jiwa,” kata Hariman.
Bila angka itu benar, seperempat orang Indonesia terkena gangguan jiwa.
“Nah, bagaimana para petinggi republik bisa mengklaim everything it’s okay bila
separo penduduknya miskin dan seperempat penduduknya mengidap sakit jiwa?”
protes Hariman.
Susilo Bambang Yudhoyono tidak pernah mendengarkan suara rakyat setelah
terpilih sejak pertama dan kedua kali. Ia lebih mengundang pimpinan partai-partai
politik untuk merundingkan isi kabinet karena, menurut dia, secara prosedur memang
demikian: rakyat telah memberikan suaranya kepada partai ketika pemilihan umum. Di
sinilah kesalahan Yudhoyono paling pertama, menganggap suara partai adalah suara

Fareed Zakaria. 2003. The Future of Freedom: Illiberal Democracy at Home and Abroad. New York:
W.W. Norton & Company

~ 130 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 130 3/26/10 7:23:04 PM


Drama Kehidupan Hariman Siregar
rakyat. Ia, misalnya, menyampingkan suara-suara yang menginginkan agar politik
Indonesia membuka peluang kepada oposisi yang kuat. Bila menjelang pemilihan ia
seolah-olah percaya kepada hasil survei tentang elektabilitas seorang calon, berbagai
survei itu dipinggirkan setelah terpilih. Padahal, beberapa bunyi survei menunjukkan
keinginan rakyat. Yudhoyono menganggap oposisi bakal menjadi sandungan bagi
pemerintahannya. Saat terpilih untuk kedua kalinya, Yudhoyono menggarisbawahi
tentang pentingnya stabilitas dalam pemerintahan sehingga agenda-agenda politik
bisa dijalankan tanpa gangguan. Kata kunci “stabilitas” ini terang mengingatkan
kepada watak pemerintah Soeharto di masa lalu. Yudhoyono menyampingkan bahwa
oposisi dalam suatu demokrasi sesungguhnya merupakan bentuk partisipasi aktif.
Prosedur demokrasi liberal pun mengacu pada tiga nilai penting: kontestasi
(kompetisi), liberalisasi, dan partisipasi. Setiap individu bebas mengikuti kompetisi
memperebutkan jabatan-jabatan publik melalui pemilihan umum; orang pun bebas
untuk menentukan pilihannya (partisipasi); karenanya dibuat suatu jaminan hukum
agar proses itu bisa diikuti secara luas (liberalisasi). Artinya, menutup partisipasi
publik dalam pengambilan keputusan pemerintah, sama artinya dengan mengkhianati
demokrasi itu sendiri, bahkan dalam pengertian paling liberal sekalipun.
Jika diringkas, keengganan Hariman terlibat atau men­dirikan partai politik
adalah karena praktik kepartaian yang transaksional atau berpraktik kartel. Selain itu,
partai tidak melakukan kaderisasi, tidak melahirkan kepemimpinan yang ber­dasarkan
kompetisi, melainkan memuja tokoh, dan tidak memiliki ideologi yang sistemis.
Pertanyaannya, mengapa Hariman tidak melahirkan partai politik yang berpe­
rilaku serba-kebalikan dari keadaan partai sekarang? “Partai semacam itu akan
kalah bersaing,” jawab Hariman, dengan kata “bersaing” bukan mengacu kepada
“persaingan” yang seyogianya terjadi dalam demokrasi, karena persaingan itu sudah
diberangus oleh kompromi pada saat membentuk pemerintahan. Persaingan yang
dimaksud adalah “tidak bisa mendapat tempat” dan akan terus-menerus kalah karena
menolak masuk dalam pusaran permainan yang telah disepakati. Partai yang serba-
kebalikan itu akan berhasil melahirkan kader-kader yang bagus, pemimpin dengan
karakter yang kuat, tapi terseok-seok untuk masuk ke kekuasaan—atau parlemen—
karena ketiadaan logistik.
Partai yang serba-kebalikan itu akan tumbuh dengan baik dalam sistem
demokrasi yang secara substansial berorientasi pada kesejahteraan dan keadilan rakyat.
“Makanya, pemerintahan se­perti sekarang harus diubah. Sebab, bila pemerintahan
seperti sekarang diteruskan, siapa pun yang akan memimpin republik yang kita cintai
ini akan sulit mengatasi persoalan,” kata Hariman seraya menambahkan bahwa
persoalan utama bangsa ini adalah kemiskinan dan pengangguran.
Ketimbang mengandalkan partai politik dan sistem pemilihan umum yang
berisi transaksi, Hariman lebih percaya pada kekuatan rakyat. Kekuasaan yang direbut
(kembali) oleh rakyat akan meluruskan jalan demokrasi Indonesia kepada cita-cita
semula, seperti di­ikrarkan pendiri republik: masyarakat yang adil dan sejahtera.

~ 131 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 131 3/26/10 7:23:04 PM


Hariman & Malari
“Demokrasi yang ingin kami perjuangankan adalah bagaimana membangun partisipasi
lebih luas dengan meruntuhkan oligarki dan feodalisme yang telah menduduki
partai-partai politik sebagai instrumen pelanggeng kekuasannya. Demokrasi yang
kami perjuangkan adalah tempat persemaian yang subur bagi hadirnya calon-calon
pemimpin yang lebih mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik,” ujar
Hariman.
Hariman berkeyakinan masa demokrasi substansial itu akan datang kelak.
Hanya saja, proses menuju demokrasi itu harus diperjuangkan dan dikelola secara
lebih baik, tidak dilakukan secara tergesa-gesa seperti terjadi di masa reformasi yang
salah arah. e

~ 132 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 132 3/26/10 7:23:05 PM


Galeri Foto

Hariman Siregar
d a r i M a s a k e M a s a

~ 133 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 133 3/26/10 7:23:08 PM


Hariman & Malari

Hariman diapit ibu dan adiknya, saat selesai diwisuda di UI (1977).

Hariman saat menunaikan ibadah haji (1977).

~ 134 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 134 3/26/10 7:23:10 PM


Galeri Foto

Hariman dengan seragam Persija Selatan.

~ 135 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 135 3/26/10 7:23:13 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama sang istri tercinta, Siti Noor Rachma.

~ 136 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 136 3/26/10 7:23:15 PM


Galeri Foto

Hariman bercengkrama dengan Reza dan


kawan-kawannya.

Hariman bersama putranya, Reza, saat cuti dari


penjara (1974).

~ 137 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 137 3/26/10 7:23:17 PM


Hariman & Malari

Hariman saat memimpin pertemuan Ikatan Mahasiswa Profesi se-Indonesia (1973).

~ 138 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 138 3/26/10 7:23:21 PM


Galeri Foto

Hariman bersama Luhut NP Pangaribuan, Indro


Cahyono, dan Syahganda Nainggolan di Universitas
Harvard AS (1994).

Hariman saat mengunjungi perpustakaan John F. Kennedy


di Boston, AS (1986).

~ 139 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 139 3/26/10 7:23:23 PM


Hariman & Malari

Hariman dalam sebuah acara makan malam bersama Dorodjatun Kuntjoro -Jakti, Bambang Sulistomo
dan Adnan Buyung Nasution. Acara ini merupakan pertemuan rutin sesama bekas tahanan Malari.

Hariman bersama Jusman S.D. dan Gurmilang Kartasasmita.

~ 140 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 140 3/26/10 7:23:30 PM


Galeri Foto

Hariman mendampingi Fanny Habibie saat berkunjung ke Makassar.

Harimanmendampingi Menteri Kesehatan Adhyatma saat peresmian Klinik Baruna.

~ 141 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 141 3/26/10 7:23:35 PM


Hariman & Malari

Hariman berbincang serius dengan seorang Rincophe (Budha hidup dari Nepal).

Hariman bersama Didi Dawis (ketiga dari kiri) saat menjadi tamu Rinpoche, di Nepal.

~ 142 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 142 3/26/10 7:23:44 PM


Galeri Foto

Hariman bersama WS Rendra dan K.H. Cholil Badawi di Magelang (2006).

Hariman dalam sebuah acara di Solo bersama Mudrick Sangidoe dan Sri Bintang Pamungkas (2003).

~ 143 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 143 3/26/10 7:23:49 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama Presiden BJ Habibie, Fanny Habibie, dan Timmy Habibie (1998).

Hariman bersama Adnan Buyung Nasution dan para aktivis politik (2004).

~ 144 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 144 3/26/10 7:23:55 PM


Galeri Foto

Hariman bersama sahabatnya, Fanny Habibie.

~ 145 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 145 3/26/10 7:23:57 PM


Hariman & Malari

Hariman bermain golf bersama Jenderal Polisi (Purn) Sutanto, Jenderal Polisi (Purn) Widodo Budi-
darmo, dan Komjenpol (Purn) Noegroho Djajoesman.

~ 146 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 146 3/26/10 7:24:03 PM


Galeri Foto

Hariman bersama para aktivis Gerakan Rakyat Demokratik (GRD) : Mangadang, Asep dan Brigjen Purnawan (alm).

Hariman bersama Ridwan Saidi dan B. Wiwoho.

~ 147 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 147 3/26/10 7:24:08 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama Aristides Kattopo dan (alm.) HJC Princen.

Hariman bersama Agung Laksono, dan (alm.) Maniwanen Marimutu, dalam sebuah acara resepsi pernikahan.

~ 148 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 148 3/26/10 7:24:17 PM


Galeri Foto

Hariman meninjau kolam lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo.

~ 149 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 149 3/26/10 7:24:19 PM


Hariman & Malari

Hariman bersama istri dan menantu saat wisuda


pasca sarjana Reza.

Hariman bersama rekan-


rekannya sesama alumni FK
UI (2007).

~ 150 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 150 3/26/10 7:24:24 PM


Mereka Bicara
Hariman Siregar

~ 151 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 151 3/26/10 7:24:26 PM


Hariman & Malari

~ 152 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 152 3/26/10 7:24:26 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Siti Noor Rachma


“Hari-Hari Kami Penuh Diskusi”

O
rang di luar kebanyakan melihat Hariman sangat santai
dan banyak humor. Hari-harinya paling hanya diisi dengan
pikiran tentang politik negara: apa yang terjadi di Papua
atau Tanah Toraja, misalnya. Memang, di rumah pun kami
banyak berdiskusi soal-soal politik. Saya kadang dimarahi
bila tak memahami masalah dasarnya. Sebab, Hariman
kerap memperlakukan lawan bicara seolah sudah selesai
dengan hal-hal elementer tentang suatu topik.
Tapi, pembicaraan sebetulnya tidak melulu soal politik. Kami sering berdebat
keras tentang satu lema dalam bahasa Inggirs. Ia ngotot mengartikan berbeda dengan
saya. Karena saya lulusan sastra Inggris, terang saya merasa lebih tahu dari dia. Saya
misalnya memancing dengan ‘mengejek’ karya Mas Willy, W.S. Rendra, yang tengah
ia baca: ‘Ah, bisanya cuma menyadur.’ Lalu, dia langsung bergeser dari bukunya
dan keberatan. ‘Jangan salah, Noor, Mas Willy ini bukan cuma baca Shakespeare,
dia baca juga Ronggowarsito, dia mendalami kebatinan. Dia juga membaca sastra
Melayu lama. Ini orang pujangga, Noor.’
Pancingan saya kena dan pembicaraan kami lalu melebar ke soal-soal sastra
lainnya. Dia akan berbicara juga tentang roman-roman Rusia, Amerika Latin, dan
penulis-penulis besar Eropa. Jarang orang paham bahwa pengetahuan sastra dan
sejarah seni Hariman cukup mendalam. Sewaktu kami ke Museum Louvre di Paris,
ia menerangkan sebagian isinya seolah sudah pernah ke sana sebelumnya atau seperti
seorang kurator museum.

~ 153 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 153 3/26/10 7:24:28 PM


Hariman & Malari
Hari-hari kami dipenuhi diskusi, juga perbedaan pemikiran. Betul-betul
colourful. Kadang, kami pergi selama dua minggu ke suatu tempat atau sekadar naik
kapal, untuk baca buku. Kalau ke sebuah kota atau mendarat di suatu pelabuhan, kami
pergi ke toko buku, tenggelam di sana selama tiga sampai empat jam.
Sewaktu kami ke Amerika, di tempat John F. Kennedy pernah berpidato dia
bercerita: ‘Di sini dulu Kennedy bilang begini-begini, Noor.’ Itu bisa ia lakukan karena
hasil bacaannya sudah nyantol di kepala dan ketika ia lihat tempatnya langsung bisa
segera menyampaikan kembali.
Ia pun sesungguhnya memperhatikan penampilan. Fashionable malah.
Memang, ia sengaja memilih pakaian yang tak lekang oleh musim.
Saya semakin memahami dia terutama setelah menikah. Pernikahan kami pada
27 Mei 1989, menurut saya, berlangsung sepi. Sepi untuk orang seperti Hariman yang
temannya banyak dan sudah dikenal sejak muda sebagai tokoh publik. Fanny Habibie
menjadi saksi pernikahan kami dengan dihadiri oleh teman-temannya yang sama-
sama bergerak di tahun 1974. Ada Rauf, Miang, dan beberapa dokter yang kemudian
bergabung di Klinik Baruna.
Selama berumah tangga, saya memberi kepercayaan penuh kepada dia. Saya
tak pernah menelepon sedang berada di mana dan akan berapa lama. Baru belakangan
ini saja saya agak sering menelepon, karena kesehatannya pun harus dijaga. Ibu saya
yang menasihati, ‘Jangan begitu. Percaya, ya, percaya, tapi menanyakan kabar ketika
dia di luar rumah itu bentuk perhatian.’
Pertemuan pertama kami berlangsung empat tahun sebelum pernikahan, saat
saya bekerja sebagai public relations di Hotel Mandarin, Jakarta. Mula-mula saya
tak menaksir dia sama sekali. Lah, gayanya itu jauh dari beradab! Kalau datang ke
Mandarin, begitu masuk lobi sudah teriak, ‘Nooriii….’ Saya sampai malu banget dan
harus berkali-kali ngumpet ke bawah meja agar tak kelihatan Hariman.
Suatu sore ia datang bersama Todung Mulya Lubis, setelah untuk waktu yang
sangat lama tak pernah muncul. Ia menyapa dengan lembut, ‘Hai Noori, apa kabar?’
Saya kaget juga, dari mana orang ini belajar sopan santun peradaban. Nadanya lembut
dan pelan. Akhirnya hari itu kami ngobrol dari jam 4 sore hingga jam 8 malam.
Setelah perjumpaan itu, ia kembali sering menyambangi saya di Hotel Mandarin
dan mengutarakan niatnya melamar saya. Ia sudah dinasihati oleh beberapa orang,
termasuk Profesor Mahar Mardjono, untuk menikah lagi. Saya tak bisa langsung
memberi jawaban. Ia sendiri sangat gigih. Kalau ia tak bisa datang, dikirimlah kawan-
kawannya untuk ‘mengawasi’ saya. Kadang, dia ‘mengirim’ Eko Djatmiko, lalu lain
hari Salim Hutadjulu, juga Gurmilang, kemudian Sani Hutadjulu. Begitu terus setiap
hari.
Akhirnya saya—yang memang makin menyukainya—menyerah dan bilang
kepada ibu saya. Ini tak mudah, karena keluarga saya mengenal siapa Hariman yang
berlatar belakang sama sekali berbeda dengan keadaan keluarga saya. Bayangkan,
~ 154 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 154 3/26/10 7:24:28 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
kakak saya adalah Letjen Sudibyo, bekerja sebagai Wakil Kepala Bakin. Om saya
Letjen Soegiarto, pernah menjabat Menteri Transmigrasi, dan dua kakak saya yang
lain juga bekerja di Bakin dan Kostrad. Jadi, ibu saya khawatir. Tapi, saya yakin
Hariman orang baik, meski pencemburu berat. Pernah suatu hari dia datang ke Hotel
Mandarin, saya baru bicara dengan Pri Sulisto, ipar Arifin Siregar. Pri lalu didatangi
Hariman, dipelototin, dilihatin terus mukanya.
Sewaktu kami sudah menikah, ada tetangga namanya Manda. Pembantu saya
bilang, Manda kalau pagi suka mengintip ke rumah kami. Saya cerita ke Hariman,
lalu ia datangi rumah Manda dan gedor-gedor rumah itu. ‘Mandaaa… keluar lu,’
teriak Hariman. Tentu saja, yang keluar bukan cuma Manda, tapi seluruh tetangga.
‘Jangan macam-macam lu. Lu kira gue enggak tahu apa yang lu buat? Gue colok
mata lu kalau ngintip-ngintip lagi.’ Hariman bicara begitu sambil mencekik leher si
Manda dan di angkat ke atas. Asal tahu saja, tubuh Manda ini lebih tinggi dan lebih
besar dari Hariman.
Waktu baru menikah, Hariman pernah bilang, ‘Saya ini tak punya penghasilan
tetap. Saya juga punya Yanti dan Reza, juga punya komitmen sama kelompok, jadi
tak bisa seperti suami-suami yang lain.’
Saya mendengarkan saja. Dari awal, saya tahu saya harus sharing dalam
beberapa hal dengan keluarga Hariman. Tapi, beberapa waktu kemudian saya menjadi
tahu apa yang dimaksud sharing dengan kelompoknya. Rumah kami waktu itu baru
punya televisi kecil. Suatu hari Hariman pulang dan tanya di mana kardus TV. Saya
pikir ada apa ia menanyakan itu. Begitu diberitahu tempatnya, ia langsung mengambil
dan membungkus TV kami. Saya tanya, ‘Mau dibawa ke mana?’
‘Si Fatwa enggak punya TV di penjara. Kasihan dia enggak ada hiburan dan
enggak bisa dapat informasi.’
‘Itu TV satu-satunya,’ kata saya agak keberatan.
‘Ya, tapi kamu kan masih bisa menonton di sebelah atau di rumah Ibu,’ jawab
Hariman enteng. ‘Si Fatwa itu tetangganya juga enggak punya TV.’
Saya cuma mesem, semakin mengerti, ini yang dimaksud sharing dengan
kelompok. Beberapa hari sebelumnya, saat A.M. Fatwa baru ditangkap, saya baru
dapat uang bulanan dari Hariman. Belum sehari uang itu ada di tas saya, dia sudah
tanya, ‘Yang, kemarin itu dibagi dua, ya, buat besuk Fatwa.’ Dan sekarang TV kami
juga harus diikhlaskan untuk Fatwa.
Hari-hari Hariman begitu terus. Bergerak bersama teman-temannya, bicara di
berbagai kampus, forum, rapat-rapat, diskusi yang mengundang atau ia gelar sendiri.
Kalau kepergiannya lebih dari sehari-semalam, biasanya saya ikut. Misalnya waktu

Pemilik grup media (radio dan televisi) dan konsultan politik dan Chairman of the Pasific Association of Political
Consultants (APAPC). Juga pernah menjadi Wakil Komisaris Utama SCTV pada akhir masa pemerintah Soeharto dan
Habibie.

Sriyanti Sarbini Soemawinata, istri Hariman yang ia nikahi saat masih mahasiswa. Yanti menderita sakit saat Hariman
dipenjara karena Peristiwa Malari.

Putra Hariman dari pernikahan dengan Yanti.

~ 155 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 155 3/26/10 7:24:29 PM


Hariman & Malari
pergi ke Bandung bersama Jusman. Kami berangkat pukul 10 malam dari Jakarta.
Besoknya Hariman bicara di ITB, lalu malamnya dengan berbagai kelompok yang
jumlahnya lebih terbatas, besoknya begitu lagi sampai siang dan sore baru pulang ke
Jakarta.
Banyak orang menyarankan dia untuk menjadi calon presiden, tapi selama
ini Hariman tak pernah mau. Saya kira karena ia tahu banyak tentang karakter orang
Indonesia. Sebetulnya, orang yang seperti ini yang pantasnya memimpin bangsa ini,
karena lebih dapat menyelami perasaan rakyat. Tapi, Hariman percaya kalau pengaruh
Jawa masih terlalu kuat sehingga presiden itu masih harus dari Jawa.
Kalau sekarang, menurut Hariman, keadaan malah lebih kacau lagi. Sistem
sekarang hanya memberi ruang kepada orang yang memiliki banyak uang. ‘Gila nih
demokrasi kayak begini, orang enggak capable, enggak punya root ke bawah, asal
ada uang bisa jadi pemimpin,’ begitu Hariman marah-marah.
Sementara untuk jabatan lain, Hariman pernah menolak. Pada masa Habibie,
misalnya, sempat ditawari jadi menteri tapi ia mengelak halus. Katanya, ‘Kalau saya
menteri Mas Rudy, nanti kalau mau ketemu Mas Rudy harus izin lewat Ota, lewat
Firman, staf protokoler Habibie, baru bisa masuk. Saya lebih suka seperti sekarang,
Mas. Bisa bertemu kapan saja sebagai kawan.’
Pada dasarnya, Hariman memang tak suka memiliki atasan. Sepanjang
hidupnya ia belum pernah bekerja dengan memiliki atasan. Ia pun tak mau hidup
diatur protokol dan lebih suka bebas dari aturan birokrasi.
Rumah tangga kami tentu pernah mengalami masa sulit, terutama ketika
baru menikah. Saya pikir, ini orang dokter tapi pekerjaannya tidak seperti dokter
kebanyakan dan lebih banyak mengurusi politik. Belakangan saya maklum karena
memang ia dari kecil sudah besar di lingkungan yang kritis terhadap politik negeri
kita. Ia sering mendengar bapaknya mengkritik Soekarno, lalu bacaannya di rumah
juga buku-buku politik, terus begitu sampai mahasiswa.
Kesulitan saya bertambah karena saya juga baru mengerti bahwa Hariman,
meski beristri Yanti, selalu sendirian­—mengingat kondisi Yanti yang sangat sakit.
Saya kira 12 tahun lamanya sebelum menikah dengan saya, Hariman cenderung
tidak berbagi perasaan dengan orang lain, sehingga ketika menikah pun ia sempat
tidak tahu harus cerita apa kepada saya, kecuali soal-soal keadaan sosial dan politik
Indonesia. Sudah begitu, kalau bicara pun seolah-olah saya sudah tahu masalah
dan kenal orangnya. Bukan dari awal soal, tapi tahu-tahu pada kekesalannya atau
kesimpulannya. Nada bicaranya selalu tinggi dan kadang teriak-teriak, sedangkan
saya dididik dengan cara Jawa yang nada bicara itu diatur dan enggak pakai teriak.
Saya kira ada lima tahun atau lebih kami meliwati masa-masa yang bagi saya
cukup sulit itu. Akhirnya, saya dan juga anak-anak pun bisa menyesuaikan. Pernah
setelah Peristiwa 27 Juli 1996, kami tengah menonton film, lalu Hariman diberitahu
tentang penangkapan aktivis. Dia lalu meninggalkan saya. ‘Kamu nanti pulang naik

Kedua anak mereka: Tondi Mirzano Siregar dan Nadira Noorzalika Saraswati Siregar.

~ 156 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 156 3/26/10 7:24:29 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
taksi saja, ya.’ Saya sudah maklum.
Kelihatannya memang kalau diskusi dengan dia, orang hanya merasa mendapat
satu hal: kerja. Dia memang sering lompat begitu. Bagi dia, kalau mau berjuang
memang langsung saja berjuang, teori itu nanti didapat sendiri. Makanya, dia sering
marah kalau ada mahasiswa atau orang yang lebih muda terlalu meributkan soal-
soal teori ketika mau berjuang. Tapi, dia akan terlihat sangat keras berdiskusi dengan
orang-orang seperti Ci’il (Dr. Sjahrir), Gus Dur (Abdurrahman Wahid)—keduanya
kini almarhum—Syafi’i Maarif, Wiranto, juga Noegroho Djajoesman. Ia juga tak
kelihatan marahnya, karena memang ia sopan dengan orang yang lebih tua. Dengan
Yoga Soegama, Soedibyo, atau Wiwoho juga ia kerap berdebat. Sebagai politisi, saya
kira ia sudah sublim.
Saya melihat pada dasarnya hati Hariman itu sangat sensitif. Ia tak mau
melukai perasaan orang. Kalau dari bahasa tubuhnya saja orang itu dia melihat sudah
menampakkan rasa tak enak hati, Hariman langsung berubah lembut. Ini mungkin
karena dia dokter dan mendalami juga soal psikologi.
Di sisi lain juga ditambah dengan pengalamannya yang memang panjang dan
luas. Tak mengherankan, kalau ia menyimak pernyataan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono di media, dia bisa menebak maunya presiden itu apa, meski kalimat itu
tak diucapkan SBY. ‘Ini ketahuan, Noor, maunya dia apa. Cuma enggak sensitif aja
anak buahnya.’
Perkara tak sensitif itu, menurut Hariman, juga dimiliki SBY. Menurut dia,
SBY salah melakukan pendekatan kepada Presiden Amerika Serikat Barrack Obama,
dengan terus meneruskan menonjolkan masa lalu Obama yang pernah tinggal di
Menteng, Jakarta. Ini menandakan SBY tidak sensitif. Sebab, sebagai presiden di
negara seperti Amerika Serikat, Obama tetap merasa perlu meninggalkan sedikit
beberapa pengalaman masa lalunya. ‘Ini malah di­sorong-sorong terus tentang masa
kecil Obama di sini,’ kata Hariman.” e

~ 157 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 157 3/26/10 7:24:30 PM


Hariman & Malari

WS Rendra
“Rajawali Politik Indonesia”

Sebuah sangkar besi


tak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri.

Rajawali adalah pacar langit.


Dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti.

Langit tanpa rajawali


adalah keluasan dan kebebasan
tanpa sukma.
Tujuh langit, tujuh rajawali.
Tujuh cakrawala, tujuh pengembara.

Rajawali terbang tinggi


memasuki sepi
memandang dunia.
Rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya.

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan


yang terjadi dari keringat matahari.


Dituturkan Ken Zuraida, istri Rendra, dan Edi Haryono, senior Bengkel Teater Rendra.

~ 158 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 158 3/26/10 7:24:31 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat fatamorgana.

Rajawali terbang tinggi


membela langit dengan setia.
Dan ia akan mematuk kedua matamu,
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka!

Depok, Agustus 1981

S
ajak “Rajawali” dipersembahkan Rendra
bagi dua nama: Hariman Siregar dan—bertahun-tahun
kemudian tatkala dibacakan di Malaysia—bagi Anwar
Ibrahim. Rendra menyampaikannya langsung ketika
membacakan “Rajawali” pada acara Temu Sastra di
Teater Arena Taman Ismail Marzuki, 1982. “Ini buat
Hariman Siregar,” katanya.
Ada 600 orang malam itu, 16 Desember 1982.
Rendra tampak lebih muda dari usianya yang kala itu 47 tahun. Rambutnya disemir
hitam. Selain membawakan sajak protes, sajak cinta untuk Ken Zuraida, lalu untuk
Hariman: “Hariman, aku penyair. Tapi, engkau lebih tahu sastra daripadaku. Bacaanmu
banyak, koleksi lukisanmu banyak dan mengikuti zaman,” ujar Rendra.
“Saya mendengar kata ‘Rajawali’ untuk Hariman dari Mas Willy (panggilan
Rendra) pertama kali tahun 1978,” kisah Ken Zuraida, istri Rendra. “Tapi saya diam
dan belum menanyakan maksudnya saat itu juga. Saya masih mencari sendiri, apa
maksud ucapan Mas Willy tentang Hariman.”
Ketiganya—Rendra, Hariman, dan Ida—bertemu pada suatu hari di kurun
1970-an dalam situasi dan tempat yang, menurut Ken Zuraida, “saya telah berjanji
untuk tidak mengungkapkannya.”
Rendra adalah pembaptis “kaum urakan” sebagai pembaharu dan Hariman
adalah bagian utama dari kaum urakan. Pertemuan keduanya menjadi semacam
pertemuan yin dan yang, padu. Istilah kaum urakan dilembagakan Rendra sejak tahun
1971 dan dikukuhkan dalam lakon Mastodon dan Burung Kondor (1973). Kolomnis
Mahbub Junaidi menyamakan Jose Carosta—juru bicara kaum urakan, tokoh dalam
Mastodon—dengan Arief Budiman. Jose Carosta penyair radikal tapi anti-revolusi,
anti-lembaga yang menyalahkan pemberontak dan yang diberontak. “Revolusi adalah
pekerjaan tak senonoh, gila kuasa, tak lebih jenjang kaum revolusioner menobatkan
diri jadi tiran baru,” kata Carosta.
Mastodon selesai ditulis Rendra bulan Maret 1973. Tetapi, pementasan yang

Rendra menuliskan dua puisi untuk Hariman: Sajak Rajawali (Agustus 1981) dan Gita Durma (Oktober 1981).

Mahbub Junaidi. 1974. “Pabila Burung Kondor Berevolusi”, Tempo edisi 5 Januari 1974.

~ 159 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 159 3/26/10 7:24:32 PM


Hariman & Malari

Acara Ulang Tahun WS Rendra ke 50 tahun, 1987.

rencananya digelar di Universitas Gadjah Mada dan dimainkan oleh mahasiswa


Fakultas Ekonomi UGM urung digelar. Rektor UGM, Sukaji, melarang pementasan
karena tekanan aparat polisi. Pangkopkamtib Jenderal Soemitro sampai datang ke
Yogyakarta untuk menemui Rendra dan bicara tentang apa isi drama yang rencananya
akan dipentaskan pada 11 November 1973 itu.
Tapi, mulanya Rendra menolak berbicara dengan Soemitro yang
mengundangnya datang ke Gedung Negara, Jalan Malioboro, Yogyakarta. “Saya
tak mau datang ke Gedung Negara, sebab berdialog di tempat resmi akan percuma.”
Bila akhirnya Rendra mau, itu setelah ada penjelasan bahwa pertemuan di gedung
resmi terpaksa dilakukan karena Soemitro tak punya rumah pribadi di Yogyakarta.
Pertemuan pun berlangsung selama dua jam antara Rendra dan Soemitro yang
didampingi Pangkowilhan Jenderal Makmun Murod, Pangdam Diponegoro Yasil
Hadibrata, Kepala Daerah Kepolisian Yogyakarta, dan beberapa perwira militer.
Jadi juga akhirnya Mastodon dipentaskan di Yogyakarta. Tapi bukan di kampus,
melainkan di gedung olahraga Kridasana, 24 November 1973, karena ternyata ditolak
juga. Penolakan untuk kedua kalinya dengan alasan tak ada izin polisi. Dari Yogya,
Mastodon tampil di Istora Senayan Jakarta, bulan Desember 1973, atas sponsor
Soemitro dan berlanjut ke Bandung.
“Mastodon adalah rekaman peristiwa sosial politik yang terjadi tahun 1970
yang ternyata kemudian berpuncak pada Malari,” tutur Ken Zuraida. Dalam Mastodon
memang ada sejumlah mahasiswa radikal yang bangkit melawan rezim. “Mas Willy
sendiri memberikan beberapa jalan keluar (dari) masalah dalam Mastodon.”

“Burung, Sukaji, Soemitro”, Tempo edisi 24 November 1973.

~ 160 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 160 3/26/10 7:24:33 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Ketika bertemu Soemitro, ia menjelaskan sari drama yang akan dipentaskan.
“Pada pokoknya Mastodon cocok untuk keadaan sekarang. Ia menjernihkan persoalan,
ia anti-perubahan dengan kekerasan, ia bukan datang sebagai pahlawan yang ingin
membakar massa, tapi justru ingin mengundang pahlawan,” kata Rendra kepada
Soemitro.
Hariman yang rajawali belum disampaikan Rendra kala itu. Mereka sempat
bertemu di akhir Desember 1973 ketika Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia
berniat membawa Mastodon ke UI. Hingga akhirnya Ken Zuraida menanyakan
maksud ‘rajawali’ bagi Hariman, Rendra menjelaskan begini: “Rajawali itu memiliki
stamina tinggi, memandang masalah tidak hanya dari satu sudut pandang, ia besar hati
dan tenang.” Dan menurut Rendra, semua ciri itu ada pada Hariman, bagian utama
dari kaum urakan.
Bila Bengkel Teater berdiskusi masalah sosial politik, lalu menemui satu fakta
yang tak bisa digali partisipan diskusi, Rendra akan berujar, “Saya tilpun Hariman
dulu, cari tahu.”
Kepercayaan Rendra kepada Hariman sangat tinggi. Tak mengherankan, ketika
Hariman berada di lingkar dalam pemerintah B.J. Habibie—meski Rendra memilih
menjaga jarak—Rendra berpesan kepada anggota Bengkel, “Jangan menyimpulkan
apa pun.”
Ia percaya Hariman memiliki alasan yang kuat dan masuk akal terhadap
pilihannya. Mengambil kesimpulan tanpa menunggu penjelasan Hariman sama
artinya dengan menuduh tanpa fakta. “Tapi, Mas Willy sendiri tak pernah bertanya
kepada Hariman, hingga akhirnya Hariman datang ke Bengkel dan mereka berdua
berbicara. Beberapa jam kemudian, mereka keluar dan kami sudah melihat mereka
tertawa-tawa,” kenang Ken Zuraida dan Edi Haryono.
Kekariban dua tokoh ini bukan semata memiliki sebab kejengkelan yang
sama: Orde Baru, wabilkhusus Soeharto. “Bagi saya keduanya memang orang-orang
khusus di bidang masing-masing,” ujar Ken Zuraida.
Rendra sendiri, menurut Ken Zuraida, mengagumi Hariman bukan semata ka­
rena ia tokoh mahasiswa yang berani. “Hariman itu sangat suka dengan buku-buku.
Buku yang dia baca lebih banyak dari saya. Kerap kali dia lebih dulu memiliki dan
membaca buku sastra, lalu saya dibelikan,” kata Rendra ditirukan Ken Zuraida.
Pernah suatu kali pulang dari luar negeri, Hariman membawakan buku karya
Oriana Fallaci, A Man, untuk Rendra. “Saya pikir, gila dia ini, kok sempat membaca

Oriana Fallaci, wartawati Italia yang mewawancarai banyak pemimpin dan seniman besar dunia, diantaranya: Sheikh
Mujibur Rahman, Dalai Lama, Henry Kissinge, the Shah of Iran, Ayatollah Khomeini, Deng Xiaoping, Willy Brandt,
Zulfikar Ali Bhutto, Walter Cronkite, Muammar al-Gaddafi, Federico Fellini, Sammy Davis Jr, Nguyen Cao Ky, Yasir
Arafat, Indira Gandhi,Alexandros Panagoulis, Archbishop Makarios III, Golda Meir, Nguyen Van Thieu, Haile Selassie,
Sean Connery dan Lech Walesa. Karyanya setelah pensiun, kritik terhadap Islam radikal, mengundang kontroversi karena
ia antara lain berbicara bahwa Eropa terlalu toleran terhadap kaum muslim. Fallaci meninggal 15 September 2006.

A Man (Un Uomo), 1979, merupakan novel yang ditulis berdasarkan kehidupan Alexandros Panagoulis, penyair dan
politikus Yunani yang dipenjara dan disiksa oleh Junta Militer Yunani, Georgios Papadopoulos. Fallaci mewawancarai
Panagoulis tahun 1970-an. Panagoulis tewas dalam suatu kecelakaan lalu lintas tahun 1976. Kematian ini mengundang
kontroversi dan diduga sebagai kecelakaan yang disengaja.

~ 161 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 161 3/26/10 7:24:33 PM


Hariman & Malari
Fallaci dan mengingat bahwa Mas Willy pun pasti senang kalau dibelikan. Kerjaan
dia kan sudah rumit banget,” ujar Ken Zuraida.
Bila Rendra datang ke Jalan Lautze, mereka akan berbicara politik. Tetapi,
bila Rendra datang ke rumah Hariman, biasanya mereka hanya mendengar musik
bersama dan bicara tentang kesenian. “Seni membuat Hariman menjadi peka, seni
membuatnya menjadi lebih lentur,” kata Rendra.
Kendati begitu, kata Ken, pembawaan Hariman tetap saja urakan. “Terutama
kalau bawa mobil, bikin jantung yang menumpang seperti mau copot.” Sebabnya
bukan cuma Hariman sering mengebut. Sewaktu muda, Hariman akan menyalip
mobil menteri yang dibawa sang sopir tanpa pengawalan. Sesampai di lampu merah,
dia buka kaca jendela lalu melempari mobil menteri dengan korek. Saat sang sopir
membuka kaca, Hariman akan teriak, “Bilang Hariman yang lempar.” Nanti, bila
parkir di Hotel Mandarin, ia akan mengambil tempat VVIP begitu saja.
Kecerdasan dan gaya Hariman membawa Rendra pada suatu kesimpulan
lain. Ceritanya, setelah tahun 1978, Rendra sudah susah untuk main film. Pentas pun
dilarang. Sjumanjaya, sutradara film, berniat membuat film tentang Chairil Anwar. Ia
meminta Rendra melakukan riset tentang penyair Angkatan ‘45 itu. Selama hampir
dua tahun Rendra melakukan riset dan mewawancarai puluhan orang yang pernah
dekat dengan Chairil. (Hasilnya adalah sebuah buku Aku Binatang Jalang.)
Setelah selesai, Sjumanjaya bertanya, “Seperti apa kira-kira karakter Chairil
ini bila nanti diperankan dalam film?”
Rendra menjawab singkat, “Kalau mau tahu Chairil sekarang, lihat
Hariman.”

Di tengah-tengah masa beratmu,


ketika kau memukuli tembok sel dengan buku-buku tanganmu,
kenangkanlah, saudaraku,
bahwa genderang langit telah dibunyikan
menyambut keprihatian sang putera matahari.

(“Gita Durma”, Depok – Oktober 1981)

Rendra mengetahui Hariman tak pernah menerima perlakuan rezim Soeharto


yang memenjarakannya. Kritik tak semestinya dijawab dengan penjara. Apalagi,
semua orang tahu, kritik mahasiswa yang dipimpin Hariman justru karena kecintaan
kepada tanah airnya. Kebencian Hariman terhadap Soeharto mengental sejak keluar
dari penjara.
“Sampai-sampai saat dia jadi dokter puskesmas, pasiennya sering dia tanya,
‘Percaya sama Soeharto enggak? Kalau masih percaya, susah sembuh.’ Ha-ha-ha…,”
~ 162 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 162 3/26/10 7:24:34 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
kisah Ken Zuraida.
Sebagai dokter, kata Ken, Hariman sangat pandai. Ken Zuraida diberitahu
oleh dokter tentang penyakitnya, diberi penjelasan tentang bagaimana menjaga tubuh
agar penyakitnya tak tambah parah. Ia mengaku kebingungan. Tak mengerti apa
yang dijelaskan dan jenis penyakitnya. Kepada Hariman, ia memberitahu keluhan-
keluhannya. Hariman tekun mendengarkan, memeriksa, lalu berkata, “Gila. Lu tahu
penyakit lu, Da?”
Ken Zuraida menggeleng. Hariman lalu memberitahu tentang penyakit yang
dialami Ken. “Penjelasan dia lebih clear buat saya.”
Ken menyaksikan, seperti Rendra pernah menyaksikan, bahwa Hariman se­
sungguhnya kesepian. Sebab, Hariman terlalu jauh di depan. “Tak banyak yang se­
perti dia,” kata Rendra kepada Ken.
Cinta Rendra kepada Hariman telah ditanamkan sejak lama. Rendra tak ingin
sendirian tanpa Hariman. Di sebidang tanah di Bengkel Teater, ketika hidup, Rendra
telah memasang tiga patok kayu saling bersisian. “Di tengah nanti saya,” kata Rendra
kepada Ken. “Kamu di sisi kanan.”
“Kiri siapa? Kamu mau kawin lagi?” canda Ken kepada Rendra.
Sang Burung Merak menggeleng. “Bukan, itu untuk Hariman.” e

~ 163 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 163 3/26/10 7:24:34 PM


Hariman & Malari

Sjahrir 1
“Kisah Persahabatan Dua Aktivis”

P
eristiwa ini terjadi kapan persisnya tak
diketahui, tapi yang jelas beberapa hari menjelang
peringatan Malari—juga tak diketahui kapan tahun­
nya. Hari itu, Hariman Siregar yang oleh sahabat-
sahabatnya biasa dipanggil Harun dan Sjahrir di­
panggil Ci’il masih berada di antara “masa diam”.
Berkatalah Ci’il kepada istrinya, Kartini Panjaitan
(Ker): “Si Harun itu ‘jualannya’ cuma Malari.”
“Apa salahnya?” ujar Kartini.
“Itu masa lampau, kita harus ke depan,” tutur Sjahrir. “Satu lagi, Harun ini
hanya hidup dan eksis jika keadaan tidak stabil dan dalam suasana revolusi. Dia akan
hidup sekali.”
Dua kalimat ini sesungguhnya memuat dua prinsip yang bertolak belakang:
makian dan pujian. Hari-hari itu—atau tepatnya kurun beberapa tahun itu—adalah
masa ketika Hariman dan Sjahrir yang sudah bersahabat sejak awal 1970 berpolah
seperti bocah-bocah nan lucu. Tak ada tegur sapa, tak ada senyum, tapi tak ada saling
mencelakai. Sjahrir akan berbicara buruk tentang Hariman kepada siapa saja, seperti
juga Hariman berbicara buruk tentang Sjahrir kepada siapa saja.
Tapi, Sjahrir juga memuji Hariman di depan Ker dengan menggarisbawahi
1
Seperti dituturkan Kartini Sjahrir (Dr. Nurmala Kartini Sjahrir Panjaitan).

~ 164 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 164 3/26/10 7:24:35 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
eksistensi Hariman dalam suasana revolusi. Apa sebab? Menurut Kartini, Sjahrir
menganggap Hariman sebagai orang yang selalu dalam keadaan gelisah. “Ia tak suka
kemapanan, tak suka aturan yang baku, against the mainstream,” tutur Kartini.
Pujian itu berasal dari sesuatu yang jauh dan berumur cukup lama: perkawanan
di tengah hiruk-pikuk perlawanan terhadap kebijakan pembangunan Orde Baru;
perkawanan dalam perlawanan yang berujung penjara bagi keduanya. Bila hubungan
mereka sempat diisi oleh masa diam, tak bertegur sapa, Kartini tetap menganggap
hubungan batin antara Hariman dan Sjahrir tak pernah ikut lenyap. “Hubungan
keduanya unik,” kata Kartini lagi.
Kartini mengenal Hariman setelah bertemu Sjahrir. Kartini kuliah di Fakultas
Sastra UI dan lebih akrab dengan Soe Hok Gie ketimbang Hariman yang masuk ke
UI belakangan. Perkenalan lebih dalam baru berlangsung setelah Kartini menikahi
Sjahrir, seniornya, pada tahun 1977.
“Mula-mulasaya sangat tidak suka dengan Hariman,” kenang Kartini. Pe­
nyebabnya, Hariman terlalu posesif terhadap Sjahrir dan tak peduli bahwa sahabatnya
itu tengah dalam masa pengantin baru. Tanpa tedeng aling-aling, misalnya, Hariman
akan bicara kepada Kartini, “Ker, lu kenapa enggak mati saja, sih? Lu itu ikut Ci’il
aja ke mana-mana.”
Orang lain yang mendengar dan “kenal” Hariman akan tertawa. Pertanyaan
yang lebih mirip pernyataan itu dipastikan semata bercanda. Tapi, Kartini telanjur
kesal sehingga menanggapi dengan ketus: “Lu aja yang mati.”
Belum lagi kalau Hariman bilang kepada semua orang, seperti ini: “Heran gue
sama si Ker, mau-maunya dia sama Ci’il, pemuda tampan berwajah babi itu.”
Tapi, Sjahrir tahu Hariman tak merasa bahwa bahasanya itu melukai orang
lain. Sjahrir malah bilang, “Sial itu si Harun bilang gue berwajah babi, tapi mirip-
mirip juga, ya?”
Mereka memang berhubungan amat karib, tapi tak henti saling mengkritik
satu sama lain. Dari luar, keduanya tampak seolah-olah saling membenci. Padahal,
seperti dituturkan Kartini, yang satu tak bisa “hidup” tanpa ada yang satu lainnya.
Sjahrir bisa mengkritik Hariman habis-habisan, begitu juga sebaliknya. Tapi, bila ada
orang lain yang mengkritik Hariman, Sjahrir akan marah. “Jangan ikut-ikut, yang
boleh kritik Hariman itu cuma gue,” kata Sjahrir.
Hingga tiba mereka pada suatu periode sangat kritis. Tak bertegur sapa selama
delapan tahun. “Apa persoalannya, saya sudah tidak jelas lagi, apalagi karena banyak
pula yang memanas-manasi,” tutur Kartini.
Itu terjadi kira-kira tahun 1993. Kartini memastikan angka tahun ini setelah
mengingat bahwa pada ulang tahun Sjahrir tahun 1995 yang dirayakan agak lebih
besar, Hariman sudah tidak datang lagi. Akibat aksi diam dua orang itu, semua teman
mereka terpecah menjadi tiga kubu: kubu Hariman, kubu Sjahrir, dan yang di tengah-

~ 165 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 165 3/26/10 7:24:36 PM


Hariman & Malari
tengah. Kubu yang terakhir ini sering pusing karena, menurut mereka, Sjahrir dan
Hariman adalah dua orang yang bila dipersatukan sangat baik bagi Indonesia.
Sepanjang ingatan Kartini, salah satu penyebab ketegangan Hariman dan
Sjahrir menyoal perbedaan pandangan keduanya menafsirkan konglomerasi. Hariman
menuduh Sjahrir terlalu dekat dan mengakomodasi konglomerat. Sebaliknya, Sjahrir
menganggap Hariman sebagai “Kapitan Cina”. 2
Di sisi lain, Hariman menganggap Sjahrir terlalu mapan, sesuatu yang sama
sekali tak disukai Hariman. Kendati Sjahrir beralasan, perubahan juga sebaiknya
diupayakan dari dalam. Adapun revolusi yang diangankan Hariman, menurut Sjahrir,
sulit berlangsung dalam keadaan seolah-olah demokrasi seperti yang sedang terjadi
di Indonesia: pemilihan umum sesuai standar demokrasi (meski prosedural belaka),
kontrol parlemen terhadap eksekutif berjalan (meski sesekali terjadi transaksi), pers
terbuka (meski kerap kali berhasil dikalahkan oleh kepentingan pemilik modal dalam
perusahaan pers), dan masyarakat sipil bebas berorganisasi (meski melahirkan pula
kecenderungan organisasi nonpemerintah dapat menjadi alat legitimasi kebijakan).
Pada masa Presiden B.J. Habibie, Hariman pernah memerintahkan agar Sjahrir
ditangkap. Kartini tengah berada di Amerika ketika peristiwa itu berlangsung. Sjahrir
meneleponnya, “Gila si Harun itu, ia main-main sama Noegroho (Kapolda Metro
Jaya kala itu) dan Rudi (Presiden B.J. Habibie). Masak, gue mau ditangkap?”
Kartini yang menerima telepon itu langsung cemas. Ia menawarkan diri untuk
pulang segera. Semua keluarga pun sudah diberitahu, termasuk ipar Sjahrir, Luhut
Panjaitan, dan sang mertua, ibu Kartini. Tapi, Kartini mendengar nada suara Sjahrir
baik-baik saja dan seperti menceritakan sesuatu peristiwa yang membikin geli, lucu,
atau dalam istilah Sjahrir sendiri, “Gue dikerjain si Harun.” Ia pun melarang Kartini
untuk pulang dan menyatakan semua baik-baik saja.
Masa delapan tahun sepi tanpa Hariman akhirnya berakhir, dipicu oleh
kekesalan Sjahrir kepada pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. “Capek
gue lihat negeri ini, gue jadi penasihat tapi yang dinasihati enggak mau dengar. Seluruh
PIB (Partai Indonesia Baru) siaga satu, ikut Hariman.” Beberapa saat sebelumnya,
Sjahrir sempat terjatuh dari kursi roda ketika berada di kamar mandi.
Di depan orang-orang PIB, Sjahrir pun menyatakan, “Di mana pun PIB berada,
harus bersama Hariman.”

2
Istilah Kapitan Cina tidak berarti suatu pangkat dalam militer. Istilah ini digunakan pertama kali oleh Portugis di wilayah
jajahannya kepada seseorang Tionghoa di kantung komunitas Tionghoa. Sang Kapitan (Cina) ini ditetapkan menjadi ‘per­
wakilan’ orang-orang Tionghoa di wilayah itu untuk berhubungan dengan Portugis—dan dengan demikian memudahkan
pengaturan terhadap mereka. Istilah Kapitan Cina digunakan juga oleh Belanda setelah Portugis hengkang dari Indonesia.
Tugas Kapitan adalah mengurus masalah kesentausaan dan keamanan dalam komunitasnya. Meski sebetulnya ini jabatan
sipil, Portugis dan Belanda menerapkan juga untuk fungsi kemiliteran secara tituler. Apalagi karena rumusan tugas sangat
longgar, sehingga Kapitan Cina juga melakukan tugas-tugas polisional, seperti penangkapan. “Kepangkatan” tertinggi yang
pernah diraih oleh orang Tionghoa adalah mayor tituler, diberikan kepada Tan Tjin Kie, pengusaha gula kaya raya asal
Cirebon.Sjahrir menggunakan istilah untuk mengejek Hariman yang dianggapnya “mengatur urusan-urusan orang-orang
kaya Cina di Indonesia”.

~ 166 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 166 3/26/10 7:24:36 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Ia mendengar Hariman tengah menyiapkan aksi “cabut mandat” terhadap
pemerintahan SBY. Pada harinya, Sjahrir mengajak 200-an kader PIB berjalan kaki
dari Jalan Cik di Tiro, Menteng, Jakarta Pusat menuju Bundaran Hotel Indonesia.
Mereka bergerak diiringi arakan ondel-ondel. Di Bundaran HI, barisan PIB bertemu
dengan barisan Hariman yang datang dari arah Sarinah. Keduanya bertemu dan
berpelukan. Itulah rekonsiliasi dua sahabat yang telah rapat sejak lebih dari 30 tahun
lalu.
Usai berbaikan, keduanya menjadi seperti tak pernah putus lagi. “Seperti ada
keinginan untuk mengejar masa-masa yang telah lewat. Saya sampai bilang kepada
Ci’il, ‘Beh,3 mengapa Hariman enggak sekalian aja indekos di sini?” ungkap Kartini.
Itu karena saking seringnya mereka bertemu dan berbicara.
“Mengapa? Kamu enggak suka, ya?” tanya Sjahrir.
“Bukan, biar enggak repot-repot nelepon. Biar dari pagi sampai pagi lagi
kalian ngomong.”
“Lu kenapa, sih? Hariman baik-baik saja. Dari dulu begitu.”
Pertemuan keduanya, menurut Kartini, adalah pada soal eradikasi
(memberantas) korupsi. Pada topik inilah Sjahrir bersedia menjadi penasihat SBY.
Karena, mulanya, ia menganggap bahwa SBY bersungguh-sungguh memberantas
korupsi. Namun, menurut Hariman, topik itu hanya dijadikan kosmetik saja oleh
SBY.
Hariman sangat percaya kepada “rakyat”. Namun, Sjahrir menganggap konsep
tentang rakyat itu harus didedah lagi karena kenyataannya korupsi telah menjangkit
hingga ke tubuh rakyat. “Saya menyesal tak mendokumentasikan percakapan mutakhir
mereka tentang rakyat,” kenang Kartini.
Saat Hariman ulang tahun di Ancol, Sjahrir bilang, “Lain kali, tahun depan,
ultah lu biar gue yang urus makannya. Pesta kok enggak ada sop kaki, enggak ada
makanan enak.”
Meski sudah lekat kembali, keduanya tetap bertempur soal gagasan. Makanya,
Kartini kerap melempar kritik: “Coba kalian bandingkan diri kalian dengan anak-anak
HMI itu. Mereka tak hebat-hebat amat, tapi akhirnya mereka juga yang mengatur.
Kalian ini menghabiskan waktu untuk saling mengkritik satu sama lain.”
Ker sendiri berharap mestinya Hariman ada di PIB. Tapi, ia tahu, Hariman tak
pernah percaya partai politik. Akan halnya Ci’il menganggap partai dapat mempercepat
terjadinya perubahan. Sampai waktu yang cukup lama Ker mengaku terus berharap—
meski Hariman tetap tak mau—karena pemikiran-pemikirannya sangat bagus. “Peran
Hariman dan keunikan hubungannya dengan Sjahrir sesuatu yang luar biasa. Sahabat-
sahabat mereka susah memahami keadaan ini,” tutur Kartini.

3
Babeh, panggilan ayah bagi orang Betawi.

~ 167 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 167 3/26/10 7:24:37 PM


Hariman & Malari
Hariman sangat anti-kemapanan sehingga ia tidak bisa terlibat dalam partai
politik. Partai cenderung memiliki kepentingan-kepentingan dan disiplin yang kerap
menghalangi daya kritis. Keadaan ini tentu berbenturan dengan Hariman yang
cenderung bebas dan kritis. Ia percaya kemurnian berpikir hanya dapat dilakukan jika
bebas dari institusi-institusi. Pada satu sisi, pola perjuangan seperti Hariman akan
membutuhkan waktu lebih lama, namun di sisi lain partai cenderung out of date.
Hariman dan Sjahrir adalah orang-orang yang menghargai dan mengakui
kekuatan ide. “Perubahan itu dari ide, Ker. Percayalah, ide itu ada kakinya,” kata
Sjahrir.
Kartini sendiri akhirnya mengetahui, perubahan tak selalu harus dinikmati
para penggagasnya. Ia tahu, Hariman dan Sjahrir semata meyakini tentang perubahan
yang bakal terjadi dan tidak penting lagi siapa yang kelak menikmati. Institusi
kekuasaan karenanya tidak nyaman dengan kecenderungan seperti Hariman dan
kawan-kawannya itu.
“Lihatlah ulang tahun Hariman yang selalu ramai didatangi oleh banyak
orang dari banyak kalangan. Itu bukan karena ia kaya, pejabat, atau berkuasa, tapi
karena Hariman memiliki ide perubahan dan otak yang brilian,” tutur Kartini. “Ada
kenyamanan dari orang-orang yang datang kepadanya, kenyamanan pikiran. Semua
hubungan persahabatan Hariman dibentuk oleh ‘ide-ide yang memiliki kaki itu’.”
Mungkin tepat bila dibilang Hariman adalah pendobrak. Keadaan ini
berlangsung terus-menerus dalam hidupnya.

*****
Juni 2008, Sjahrir dan Kartini menggelar acara mantu di Amerika Serikat. Bakal
besan mereka meminta agar acara pernikahan berlangsung di sana. Sjahrir meminta
sahabatnya menjadi saksi pernikahan putra pertamanya, Pandu Patria. Hariman pun
terbang ke Washington bersama istri dan anaknya, hadir dari mulai proses lamaran
hingga upacara perkawinan.
Hari-hari itu kondisi kesehatan Sjahrir kian memburuk. Rumah Sakit Mount
Elizabeth, Singapura, mendiagnosis Sjahrir terkenan kanker paru-paru. Usai resepsi,
kondisi Sjahrir kian memburuk. Hariman memutuskan untuk membawanya ke sebuah
rumah sakit di New York, 30 Juni 2008. Untuk pertama kalinya setelah 30 tahun lebih,
Hariman tampak murung dan cemas. Ia sangat memerhatikan kondisi fisik Sjahrir.
Kepada Kartini, ia berujar, “Harapan hidup si Ci’il sudah sangat tipis.”
Hariman bertahan di New York menemani perawatan Sjahrir. Toh, keduanya
masih seru berdebat masalah politik dan saling lempar ejekan, kendati Sjahrir meladeni
dengan napas tersengal-sengal. “Saya menangkap bahasa persahabatan yang dalam
sekali di antara mereka,” kenang Kartini.
Ekonom kritis Indonesia itu dirawat di New York hingga 4 Juli 2008. Sjahrir

~ 168 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 168 3/26/10 7:24:37 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
ingin pulang ke Indonesia. Namun, Hariman memutuskan agar ia kembali dirawat
di Mount Elizabeth. Ketika mau meninggalkan New York, maskapai penerbangan
menolak membawa Sjahrir karena kondisi kesehatannya sangat buruk. Tapi, Sjahrir
berkeras dan Hariman pun menegaskan bahwa ia yang menjamin bila terjadi sesuatu
atas diri Sjahrir.
Di pesawat, Hariman menangis melihat kondisi temannya. Tapi, dari mulutnya
keluar ejekan-ejekan satir. “Sial lu, Gendut. Masak lu mau mati.”
Sjahrir yang megap-megap menjawab, “Monyet lu, Run. Masak lu bilang gue
mau mati.”
Kartini tersenyum menyaksikan kedua sahabat itu saling mengejek. Lalu,
lampu-lampu di kabin pesawat padam. Ketiganya terdiam. Singapura masih 13 jam di
muka, negara kota yang kelak menjadi tempat terakhir Sjahrir mengembuskan nafas,
28 Juli 2008. e

~ 169 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 169 3/26/10 7:24:37 PM


Hariman & Malari

Prof. Dr. Mahar Mardjono (Almarhum)


“ H a r i m a n , Tu n j u k k a n S i k a p
Le a d e r s h i p K a m u”

S
uatu sore menjelang Peristiwa Malari, seke­
lompok mahasiswa menemui Mahar Mardjono, yang saat
itu menjabat Rektor UI, untuk menyampaikan informasi
bahwa Hariman dkk. merencanakan demonstrasi
menyambut Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka di
Lapangan Udara Utama Halim Perdanakusuma. Gerakan
antidominasi modal Jepang saat itu memang sedang
merebak di sejumlah negara Asia Tenggara. Demonstrasi anti-Jepang juga terjadi di
beberapa negara ASEAN, termasuk di Bangkok dan Jakarta. Sehari setelah Tanaka
datang, terjadi pengrusakan dan pembakaran-pembakaran di berbagai sudut Kota
Jakarta, seperti di Jalan Jenderal Sudirman persis di depan gedung Toyota Astra
Motor, di Jalan Juanda, dan Proyek Senen.
Mahar ketika itu langsung bertanya kepada Hariman dkk. tentang apa yang
sedang terjadi dan apakah para mahasiswa turun ke jalan dan melakukan pengrusakan.
Mereka jawab tidak. Justru, menurut Hariman dkk., karena ada demonstrasi itu,
mahasiswa mengonsolidasikan diri di Kampus Trisakti, di bilangan Grogol. Jadi,
mahasiswa kelompok Hariman tidak turun ke jalan dan melakukan pengrusakan.
Karena itu, Mahar sampai pada kesimpulan bahwa yang melakukan pengrusakan dan
pembakaran bukan mahasiswa dan kelompok Hariman.
Mahar lalu mengatakan kepada mahasiswa, “Oke, kalau memang kalian merasa
tidak bersalah, kita harus tunjukkan bahwa kerusuhan itu bukan kita yang melakukan.
Bahwa ternyata akhirnya ada yang meninggal, perampokan, dan pembakaran, itu
~ 170 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 170 3/26/10 7:24:38 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
bukan perbuatan kalian.” Tapi, akhirnya para mahasiswa diciduk juga, diadili, dan
ditahan selama tiga tahun.
Setelah Hariman dkk. diciduk, Mahar datang ke Gubernur DKI Jakarta Ali
Sadikin. Selanjutnya, Mahar bersama Ali Sadikin ke kantor Kopkamtib. Saat itu,
Panglima Kopkamtib Jenderal Soemitro rupanya sudah tidak aktif lagi. Setelah
Peristiwa Malari, yang memegang kendali operasi adalah Laksamana Sudomo. Mahar
menemukan Sudomo sedang bermain biliar.
Sudomo bertanya kepada Mahar, “Siapa itu di belakang semuanya.”
Mahar menjawab: “Saya tidak tahu apa-apa. Pak Domo kan lebih tahu dari
saya. Jangan tanya saya.”
Sudomo diam saja.
Mahar kemudian menanyakan kepada Sudomo, “Berapa lama anak-anak akan
ditahan?”
Jawab Sudomo, “Wah, saya tidak tahu. Saya akan lihat satu-dua bulan ini.
Keadaannya kan belum selesai.”
Ternyata masalah itu berlarut-larut sampai Mahar selesai jadi Rektor UI.

*****
Setelah Peristiwa Malari, Mahar terus-menerus berusaha mengeluarkan
mahasiswa UI yang ditahan. Pendekatan-pendekatan dilakukan Mahar bukan saja
terhadap pejabat tinggi militer, tapi juga kepada pejabat tinggi pemerintah lainnya.
Mahar juga bicara kepada Jaksa Agung Ali Said. Ali Said bisa mengerti kondisi
mahasiswa, tapi beliau tidak bisa melepaskan mereka. Lalu, Mahar bertanya, apa
mereka bisa ikut ujian.
Ali Said menjawab, “Boleh!”
Jadi, selama di penjara, mereka bisa ikut ujian dan kuliah. Hariman kemudian
bisa menjadi dokter dan Salim Hutajulu bisa menjadi sarjana dari FISIP.
Untuk membela para mahasiswanya, Mahar mengatakan kepada Ali Said:
“Mereka kan mahasiswa. Kalau mereka mengkritik, kan kritiknya bisa salah, bisa
benar. Kita juga tidak tahu apa mereka dipakai secara tak sadar, ikut nimbrung orang
lain atau orang lain yang justru nimbrung gerakan mereka. Kita tidak tahu.” Akhirnya
Hariman, Judil Herry, dan lain-lain, setelah diadili dan ditahan dilepas juga. Sjahrir
juga semula tak bisa ke luar negeri. Tapi, atas jaminan Mahar, ia bisa ke luar negeri
asalkan mau mengajar di UI.
Dalam peristiwa Malari ada orang yang meninggal. Saat mau dikebumikan,
orang-orang dari Senen dan sekitarnya datang ke kampus UI. Mereka menunggu
sampai jenazah dibawa ke luar. Mahar kemudian memanggil Hariman yang kebetulan

~ 171 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 171 3/26/10 7:24:39 PM


Hariman & Malari
juga berada di Salemba. “Hariman, tunjukkan leadership kamu,” kata Mahar. Hariman
pun siap. Untuk mengalihkan perhatian massa yang telah berkumpul di Salemba,
Hariman mengajak para pengunjung untuk menyanyikan lagu-lagu perjuangan
sampai mereka lelah dan keluar satu per satu. e

(Tulisan ini disadur dari buku Antony Z. Abidin dkk. 1997. Mahar: Pejuang,
Pendidik, dan Pendidik Pejuang. Jakarta: Sinar Harapan)

~ 172 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 172 3/26/10 7:24:39 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Jenderal Soemitro (Almarhum)


“ I a H a r u s B e r t a n g g u n g J a w a b”

S ekitar hari-hari pertama bulan Januari 1974,


kantor Kopkamtib kedatangan rombongan mahasiswa
pimpinan Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa
UI, yang di dalamnya termasuk pula mahasiswa dari
universitas lain, seperti dari Universitas Trisakti. Suhu
politik sendiri sudah semakin panas, laksana sedang
digarang. Menurut informasi Jenderal Kharis suhud,
mahasiswa mau menghadap saya. Tapi, mereka mampir dulu di ruangan Kharis Suhud.
Di sana, mahasiswa sempat menjelaskan akan mengadakan demonstrasi menyambut
kedatangan Perdana Menteri Jepang, Kakue Tanaka.
Dari penampilan mereka sudah terlihat sekali semangat anti-Jepang. Dalam
percakapan-percakapan, mereka sebut, ‘Apa-apa kok Jepang, mobil Jepang, kulkas
Jepang, kipas angin Jepang, segala macam Jepang. Apalagi coba? Sekarang Wisma
Nusantara namanya bukan itu lagi sebab di atasnya ada papan reklame besar sekali,
Jepang lagi. Bukan Wisma Nusantara-nya lagi yang menonjol, melainkan reklame
Jepang itu.’
Lalu, mereka mengutarakan keinginan untuk mengdakan aksi. ‘Kami
mau mengeluarkan statemen-statemen dan kumpulan-kumpulan di UI. Ya, cuma
mengadakan api unggun, sandiwara, statemen, pokoknya untuk menanggapi perbuatan
Jepang di Indonesia supaya jangan terlalu kebangetan,’ ujar mereka.
Kharis Suhud memperingatkan bahwa demonstrasi dilarang.

~ 173 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 173 3/26/10 7:24:41 PM


Hariman & Malari
Jawab mereka, ‘Tidak, Pak, kami tidak akan ke luar. Jadi cuma api unggun,
rame-rame, baca puisi, statement.’
Sesudah berbicara dengan Jenderal Kharis Suhud, mereka diantar ke ruangan
saya. Kepada mahasiswa, saya hanya menegaskan bahwa demonstrasi jalanan
dilarang. Tidak boleh ada demonstrasi ke luar. Kemudian ada berita melalui wakil
saya, Laksamana Sudomo, bahwa Dewan Mahasiswa UI meminta berdialog dengan
Tanaka. ‘Baik, saya atur,’ jawab saya menyanggupi.
Kemudian, saya panggil charge d’affair, pejabat paling senior di Kedutaan
Besar Jepang. Kesempatan ini saya guanakan pula untuk menyampaikan pendapat
kami mengenai perilaku orang-orang Jepang di Indonesia. Saya minta disampaikan
kepada duta besar dan perdana menteri bahwa para mahasiswa meminta waktu untuk
berdialog dengan Perdana Menteri Tanaka. ‘Tolong sampaikan kepada Perdana
Menteri Tanaka bahwa Dewan Mahasiswa UI, kampus-kampus, mahasiswa resah
karena praktik-praktik Jepang di Thailand. Dan mereka ingin berdialog dengan
Tanaka.’ Melalui proses pembicaraan hilir-mudik, akhirnya rencana dialog disetujui.
Tapi apa jawaban yang kami dari mahasiswa, dialog diganti dengan dialog jalanan.
‘Pak Mitro, dialog diganti dengan dialog jalanan, Pak,’ kata Pak
Domo mengutip jawaban Hariman Siregar. Mendengar jawaban itu, saya tersentak
dan marah! Kesal. Maunya Dewan Mahasiswa UI ini apa, tanya saya dalam hati.
Kepada Pak Domo, saya kasih tahu dan pertegas lagi bahwa demonstrasi masih
dilarang karena nanti ada akibatnya, niscaya akan ditunggangi dan akan ada looter,
penjarahan, perampokan.
Hari-hari menjelang ramai-ramainya, Sudjono Hoemardhani saban malam
tidur di kantor saya, Kopkamtib, di kamar saya. Kami tidur sama-sama di bawah.
Tiap malam begitu. Ia menemani saya.
Sementara itu, Ali Moertopo setiap hari datang ke kantor Kopkamtib. Saya
merasa sekali bahwa Ali Moertopo sangat membantu saya. Tapi, setelah saya
mendengar laporan-laporan yang masuk setelah saya pensiun, sadarlah saya bahwa
ternyata mereka hanya mengelabui saya! Djono tidur di Kopkamtib dengan tujuan
tertentu dan mengawasi saya, sekali-kali bukan menemani saya; sedangkan Ali
memberi kesan bahwa ia membantu saya dalam menghadapi situasi krisis.”
*****
“Hari ini tanggal lima belas Januari tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh
empat. Hari ini saya mengikuti rapat Wanjakti, yang Jenderal Panggabean bertindak
sebagai ketua dan saya wakilnya. Tapi, sementara rapat berlangsung, wakil saya
Laksamana Sudomo bolak-balik memberikan surat kepada saya yang menyebutkan
bahwa menurut laporan Brigjen Herman Sarens, keadaan Ibu Kota mulai gawat.
Suhu politik semakin panas. Menurut laporan tersebut sudah mulai terjadi
pembakaran.

~ 174 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 174 3/26/10 7:24:41 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Saya masih mengikuti rapat, tapi laporan dari Laksamana Sudomo terus
masuk. Kemudian Herman Sarens melaporkan secara tertulis mengenai terjadinya
pembakaran di muka Kedutaaan Besar Jepang di Jalan Thamrin. Dikabarkan pula
terjadinya perampokan di Glodok dan gejala serupa agaknya bakal terjadi di Pasar
Senen. Bahkan, ada laporan rencana pembakaran Blok M.
Suasana rusuh mulai terasa. Teringat saya bahwa pengalaman Sudomo
menghadapai kejadian semacam ini masih kurang. Saya lantas minta izin ke luar
ruangan.
‘Saya mau keluar dulu,’ kata saya seraya hendak bangkit.
Tapi, Jenderal Panggabean menahan saya, sehingga saya duduk lagi. Rapat
terus berlangsung, tapi perasaan saya sudah cemas sekali terhadap keadaan di luar.
Lalu, saya akan bangkit lagi mau ke luar sidang. Eh, Panggabean menahan lagi. Lo,
kok, aneh betul Panggabean, setiap kali saya akan keluar ruangan, dia menahan terus.
Sebentar, Mit, tunggu dulu, tunggu dulu. Jangan pergi dulu.’
Jadi, berkali-kali Panggabean menahan saya setiap kali saya hendak ke luar
ruangan. Sampai selesai rapat baru saya bisa ke luar ruangan dan langsung menemui
Sudomo di pos komando yang ada di teras muka Kopkamtib.
Sudomo melapor kepada saya mengenai peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Dari pos komando, kami bisa mengadakan hubungan radio ke mana-mana. Bahkan
kemudian ada laporan masuk lagi mengenai terjadinya kerusuhan dan perampokan
yang akan terjadi di Blok M. Saya perintahkan Domo, ‘Jangan ada satu demonstrasi
pun sempat masuk ke Monas atau melintasi sungai belakang istana!’
‘Jangan sampai demonstrasri masuk ke istana!’ saya ulangi dengan nada lebih
keras. Sebab, bila itu terjadi, para petugas keamanan tidak akan mampu lagi menahan
gelombang massa demonstran atau akan meletus tembakan dan massa bisa masuk
ke istana. Dan kalau itu terjadi, berarti menghina kepala negara—siapa pun kepala
negara itu—walaupun sasarannya mungkin Perdana Menteri Jepang Tanaka.
‘Kalau itu terjadi, bagi saya sebagai penanggung jawab security berarti suatu
penghinaan.’ Tapi, intuisi saya mengatakan bahwa sasarannya bukan semata-mata
Tanaka, melainkan Presiden Soeharto.
Demonstrasi harus dicegah jangan sampai masuk istana, karena itu berarti
akan terdengar tembakan. Ini karena saya teringat pula pesan Pak Harto yang sangat
bijaksana agar tidak sampai keluar satu peluru pun.
Kemudian ada laporan bahwa massa akan berdemonstrasi dan akan memasuki
rumah Sudjono Hoemardhani dan Ali Moertopo. Langsung saya perintahkan kepada
Domo dan Herman Sarens untuk mengirim masing-masing satu regu ke rumah mereka
masing-masing. Cegah jangan sampai ada demonstrasi masuk ke rumah Soedjono
dan Ali. Waktu masuk berita bahwa rumahnya mau diserbu demonstran, Soedjono
ada di tempat saya.

~ 175 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 175 3/26/10 7:24:41 PM


Hariman & Malari
Saya tambahkan kepada Sudomo dan Herman Sarens, ‘Kalau mereka salah,
kita bertindak terhadap mereka. Tapi tidak boleh massa berbuat sesuatu terhadap
mereka.’ Sekali massa berbuat, integritas ABRI akan hancur, citranya akan hancur,
sudah tidak ada artinya ABRI. Ini yang saya jaga, karena saya seorang prajurit.
Teringat oleh saya Peristiwa Jengkol dan Bandar Betsi di zaman PKI dulu. Saya tidak
terima itu. Prinsip saya, jangan sampai TNI menjadi bulan-bulanan massa. Adalah
fatal bila wibawa ABRI dirusak.
Segera kemudian masuk laporan ke saya bahwa akan ada demonstrasi-
demonstrasi. Kemudian saya tanya Sudomo, ‘ Apa kesukaran Pak Sudomo. Apa yang
dibutuhkan?’ Saya tidak lagi sempat menanyakan yang kecil-kecil, sebab urusan
Kota Jakarta sudah saya percayakan kepada Sudomo. Lagi pula, sebagai pegangan
umum, saya tidak ingin mencampuri urusan-urusan kecil, sebab saya percaya itu akan
lebih membantu. Saya hanya menetapkan garis besar seperti menetapkan sasaran dan
tanggal sekian masalah harus selesai.
‘Saya butuh tambahan pasukan,’ jawabnya.
‘Berapa yang dibutuhkan?’
‘Dua batalyon, Pak,’ jawabnya.
Langsung saat itu juga di depan Pak Domo, dari pos komando, saya menelepon
ke Brawijaya dan meminta bicara dengan Panglima Jawa Timur Jenderal Wijoyo
Suyono. Saya minta dikirim satu batalyon. Lalu, saya mengontak Panglima Jawa
Tengah Jenderal Yasir Hadibroto, minta dikirimi satu batalyon juga.
Keduanya menyanggupi dan, sesuai permintaan saya, mereka menjanjikan
pasukan sudah tiba di Jakarta dalam tempo 24 jam. Saya tidak minta bantuan kepada
Siliwangi. Pertimbangan saya, pasukan mereka masih banyak yang berada di Jakarta
Raya.
Selesai sudah saya menelepon. Tapi, saya lihat kok Panggabean ada di situ.
Juga Sudharmono. Curiga saya, ada apa mereka, tidak ada tugasnya mengapa mereka
di sini. Namun saya tidak sempat berpikir lagi.
Baru saja saya meletakkan gagang telepon selesai bicara dengan kedua
panglima, ada laporan masuk bahwa ada demonstrasi-demontrasi masuk ke Jalan
Thamrin mendekati air mancur. Saya langsung, tanpa berpikir panjang, melompat
ke atas jip yang selalu siap di sana. Saya pergi dengan pengawal di belakang saya.
Yang mengikuti saya waktu itu Brigadir Jenderal Herman Sarens, Komandan Korps
Markas Hankam.
Tak sempat terpikir apa-apa oleh saya selain harus segera mendatangi para
demonstran yang datang dari jurusan Thamrin, karena perintah utama saya adalah
tidak boleh sekali-kali demonstran masuk ke Monas. Sekali masuk Monas, terus gagal
dihalangi, dan akhirnya masuk ke istana, seorang Presiden RI akan dihina di muka
tamu asing. Kalalu sampai terjadi, Soemitro harus digantung! Kalau orang Jepang,

~ 176 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 176 3/26/10 7:24:42 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
saya harus hara-kiri. Jadi, itu tidak boleh terjadi, terlepas siapa pun presidennya.
Sesampainya di Jalan Budi Kemuliaan, di sebelah kanan pojok, saya lihat
banyak orang berkerumun dan ada bus berhenti di bawah pohon asem di muka
kompleks perumahan Hankam, dekat Wanhankamnas. Belum sempat sampai di Jalan
Thamrin, saya lihat ada orang bawa batu besar sekali dan melemparkannya ke dalam
bus. Saya loncat dari kendaraan, saya kejar orang itu. Ia lari di tengah kerumunan dan
menghilang. Selamat dia. Wah, PKI itu! Pasti dia PKI, begitu pikir saya.
Saya kemudian menuju ke arah demonstran yang hendak menuju air mancur
dan ke Monas, saya turun, saya setop. Mereka umumnya anak-anak kecil, anak-anak
SD, SMP, atau paling besar SMA. Di belakang mereka kelihatan seorang bertampang
mahasiswa naik skuter. Melihat saya, ia kaget, lalu lari ngebut dengan skuternya
dan segera lenyap dari hadapan saya. Dan anehnya pada saat itu terdengar teriakan-
teriakan ‘Hidup Pak Mitro, hidup Pak Mitro.’
Saya tanya, ‘Mau ke mana?’
Mereka menjawab, tapi tak jelas persis apa jawaban mereka dan segera saya
sambung, ‘Ayo kembali, demonstrasi masih dilarang, tidak boleh. Ayo, kembali. Ayo
ikut saya, kita jalan sama-sama ke Kebayoran.’ Maksud saya, akan saya buat tujuan
massa menjadi menyimpang, supaya jangan sampai ke arah Monas.
Anak-anak itu ternyata patuh, mereka balik kanan dan jalan bersama-sama
saya menuju Kebayoran. Di kiri-kanan jalan yang saya lalui masih ada orang-orang
berdiri di atas bangunan-bangunan yang belum selesai. Saya teriak, ‘Itu yang di atas,
saya perintahkan ayo turun, turun.’
Sampai di depan Sarinah, saya berhenti, jalanan macet, tidak bisa ditembus
karena tertutup ada demonstrasi di depan Kedutaan Besar Jepang. Di sana ada
kendaraan terbakar. Kami tidak bisa terus. Kami naik jip lagi dan dengan pengeras
suara saya bicara di depan Sarinah untuk menenangkan massa. Saya mendengar
massa berteriak menyebut-nyebut nama Tanaka.
Saya bilang, ‘Itu akan kita selesaikan. Saya mengerti aspirasi Saudara-
Saudara,’ kata saya, ‘saya mengerti unek-unek kalian. Tapi, percayakan soal itu
kepada pemerintah kita. Kalian percaya atau tidak kepada saya?’
‘Percaya,’ teriak mereka.
‘Nah, kalau begitu pulang. Pulang!’ perintah saya.
Massa patuh. Mereka beringsut. Bubar. Saya telah berhasil menahan
demonstrasi tidak sampai ke Monas. Lalu, saya kembali ke kantor menunggu Domo.
Di sana, saya memonitor laporan-laporan yang masuk dari Domo yang menyebutkan
bahwa Gubernur Ali Sadikin berada di kampus.
‘Ada apa lagi ini?’ kaget saya. Saya segera meminta Ali Sadikin datang.
Segera! ‘Jenderal Ali,’ kata saya, ‘keadaan lagi kacau, krisis, Saudara mengerti. Tidak
boleh bertindak sendiri-sendiri. Maka, kalau ada apa-apa, silakan bicara dengan Pak
~ 177 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 177 3/26/10 7:24:42 PM


Hariman & Malari
Domo, kolega Pak Ali dan sama-sama dari Angkatan Laut. Jangan bertindak sendiri.
Ada apa ke kampus?’
Ali Sadikin tidak menjawab pertanyaan saya, tapi ia segera bertemu dengan
Sudomo. Entah apa yang ia bicarakan dengan Domo, saya tidak tahu. Sewaktu
Ali Sadikin menjadi Menteri Perhubungan Laut, pembantu utamanya, sekretaris
jenderalnya, adalah Sudomo.
Sayangnya, baru belakangan setelah saya pensiun Ali Sadikin memberitahu
kepada saya bahwa ia ada di UI untuk menginformasikan kepada Hariman bahwa massa
di Pasar Senen akan digerakkan oleh kelompok tertentu ke UI untuk menghancurkan
mahasiswa di sana, menghancurkan Dewan Mahasiswa UI. Mendengar itu, Hariman
Siregar bergegas lari ke TVRI untuk mengeluarkan perintah call off, menghentikan,
demonstrasi.
Esok harinya, saya dengar laporan lagi bahwa Panggabean pergi ke Senen,
entah dengan siapa lagi. Saya sendiri tidak ke sana, saya berkeliling ke tempat lain.
‘Wah, Panggabean pergi ke Senen, mau apa dia bagaikan pahlawan kesiangan,’ umpat
saya dalam hati.
Itu bukan urusannya pula. Bukankah Pasar Senen sudah ada yang bertanggung
jawab, yakni panglima kodam-nya dan yang lain-lain. Yang saya amankan hanyalah
wilayah kritis tertentu yang ada di sekitar istana. Jangan sampai demonstrasi masuk
ke wilayah itu. Lainnya tidak saya persoalkan.
Lagi pula, saya pikir, saya tidak perlu mencampuri urusan Laksusda Jakarta.
Para laksus itu jenderal sudah berpengalaman dan tahu persis apa yang harus
dikerjakan.
Saya masih belum mengerti untuk apa Panggabean ke Senen segala macam.
Itu bukan urusan dia. Tapi, sudahlah, saya lupakan.”

*****
“Setelah kami sama-sama pensiun, Kharis Suhud mengutarakan satu pertanyaan
yang sampai sekarang masih mengusik pikirannya mengenai kejadian di tanggal 15
Januari 1974. Ia bertanya-tanya, mengapa mahasiswa ke luar areal kampus, padahal
semula mereka hanya kumpul-kumpul berbentuk api unggun di dalam kampus. Siapa
yang mula-mula mendorong mereka untuk ke luar kampus, sehingga mereka ke luar
kampus gampang ditunggangi massa.
Setelah berada di jalanan, Hariman Siregar sendiri—menurut pengakuannya
setelah ditangkap—mengakui bahwa ia tidak bisa lagi mengendalikan mahasiswa.
Semula, menurut Kharis Suhud, para mahasiswa telah berjanji di hadapannya untuk
tidak mengadakan aksi keluar. Ini yang menimbulkan pertanyaan, mengapa kemudian
para mahasiswa ingkar janji.
Pertanyaan Kharis Suhud itu saya hubung-hubungkan dengan cerita Ali
~ 178 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 178 3/26/10 7:24:43 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Sadikin setelah saya pensiun bahwa demonstrasi di Senen waktu itu akan diarahkan
ke UI untuk mengadakan pressure terhadap mahasiswa di UI. Kedua, mengapa
peristiwa 15 Januari sampai terjadi? Mungkin benar kalau dikatakan bahwa anak-anak
muda seperti Hariman karena kurang pengalaman hidupnya lantas bertindak dengan
melampaui estimasi-nya. Padahal, kami semua sudah memperingatkan, ‘Hati-hati.
Sampai di sini saja. Sebab, kalau massa sudah di atas ini, kamu tidak akan sanggup
mengendalikan yang begitu besar.’
Setelah peristiwa kerusuhan meletus, kami disalahkan oleh orang-orang
yang berpendapat demokrasi harus clean. Tidak boleh ada demonstrasi. Mereka
mengatakan, semestinya jauh-jauh hari para mahasiswa langsung ‘dipotong saja’.
Jangan cuma dinasehati. Pak Harto termasuk yang maunya supaya clean, sementara
saya sebenarnya tergolong yang berpendapat tidak harus clean. Artinya, demonstrasi
boleh-boleh saja, asalkan jangan di jalanan.
Pada dasarnya, saya senang terhadap para pemuda, karena masa depan kita
ada di pundak mereka. Mengenai adanya laporan kepada saya tentang kegiatan-
kegiatan diskusi dari Imada, HMI, dari GMNI, saya senang. Karena itu adalah cara
untuk meningkatkan kemampuan intelektual dari para kader penerus bangsa.
Saya tak sependapat dengan cara represif dengan cara main ‘potong’. Saya
justru senang dengan kritik-kritik yang dilontarkan para mahasiswa, sebab itu
artinya mereka dinamis dan memikirkan pula nasib dan arah perkembangan bangsa
ini. Masalahnya hanyalah bagaimana mengarahkan agar aksi-aksi mereka tetap
mengikuti aturan yang ada dan tidak melampaui batas-batas kemampuaan mereka
untuk menyelesaikannya. Karena itulah saya teguh mengatakan demonstrasi jalanan
tetap dilarang. Sebab, saya tahu akibatnya, demonstrsi jalanan pasti akan ditunggangi
oleh pihak lain, para pencoleng, penjarah, looters, yang memakai kesempatan adanya
demonstrasi itu. Ternyata di Glodok terjadi penjarahan, malahan mereka saat itu
membakar Blok M, itu saya dengar juga.
Jenderal Sutopo Juwono, menurut penuturannya, juga sudah sering
memperingatkan,’Hei, Hariman jangan, bahaya ini. Kamu enggak pengalaman.
Nanti kalau kamu sudah jalan, yang mengendalikan bukan lagi kamu, tapi pencoleng-
pencoleng di Senen itu yang mengendalikan. Kamu mau apa?’
Tapi, para mahasiswa itu berpendapat, ‘Ah, gampang. Itu bisa dikendalikan.’
Kesalahan mahasiswa adalah mereka ‘mempermainkan’ massa, sehingga
massa tidak bisa dikendalikan dan akhirnya jalan sendiri dan yang mengendalikan
orang lain. Ibaratnya, Hariman mulai menggerakkan, tapi baru maju beberapa langkah
ia sudah kehilangan kontrol terhadap massa. Diperintahkan ngalor tapi kok bergerak
ngidul, sebab yang yang memerintahkan ngidul itu sudah orang lain lagi. Kalau kita
teliti, saat itu para mahasiswa bergeraknya ke arah Halim, langsung dengan tujuan
hendak menyambut Tanaka. Tapi, massa GUPPI, tukang-tukang becak, preman-
preman Kramat, atas suruhan Opsus justru begerak ke arah Senen. Terbakarlah Senen,
huru-hara meledak di sana.
~ 179 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 179 3/26/10 7:24:43 PM


Hariman & Malari
Jadi, ini salah mahasiswa juga tidak nggugu petunjuk kami dan jalan sendiri.
Mereka terlampau gegabah. Ini agaknya karena didorong jiwa muda mereka, sehingga
belum matang dalam membuat perhitungan. Jiwa muda Hariman jelas kelihatan
manakala kita saksikan bahwa yang ia serang bukan hanya aspri, tapi juga presiden.
Semua dia hantam. Ada perasaan semacam itu bahwa semua dihadapi, presiden pun
dibidik. Mereka terinspirasi pula dengan fenomena Angkatan ‘66. Ada perasaan ingin
menyamakan dengan tahun 1966. Tahun 1966 bisa, mengapa sekarang tidak bisa?
Begitu mungkin pikir mereka. Baru terakhir Hariman menyesal setelah mengetahui
aksinya ditunggangi pihak lain, apalagi sampai ada korban yang meninggal, 11
orang.
Saya senantiasa menentang ide kudeta. Memang begitulah adanya. Tahun
1966-1967, sewaktu saya Panglima Jawa Timur, saya katakan, kalau sampai sempat
kudeta di Jakarta, Jakarta akan menjadi pusat instability di kawasan Asia, seperti
di Afrika dan di Amerika Latin. Kup, kup, terus-menerus. Yang akan jadi makanan
empuk pasti ABRI, ABRI diperalat terus. Itu sudah kelihatan sejak zaman Demokrasi
Liberal. Semua mendekati ABRI. ABRI ditarik ke sana-kemari. Padahal, ABRI itu
harus utuh dan kompak.
Perkara mau menjatuhkan Pak Harto, suara dari mahasiswa memang ingin Pak
Harto jatuh. Mengenai hal ini ada baiknya dikemukakan kembali kata-kata Hariman
yang saya kutip di awal tulisan ini, ‘Mengapa Pak Mitro berhenti?’
‘Saya berhenti karena ulah kalian!’
‘Kami mendukung Pak Mitro.’
Mereka ternyata keliru, sebab saya tidak ada keinginan sama sekali untuk itu,
apalagi menjegal Pak Harto melalui cara-cara inkonstitusional. Inilah pula kiranya
mengapa mati-matian saya cegah demonstrasi jagan sampai masuk ke Monas, jangan
sempat menyeberang jembatan di belakang istana. Sebab, by instinct/by intuition,
saya mengatakan bahwa sasarannya pada akhirnya adalah kepala negara, Pak Harto.
Setelah terjadi kerusuhan-kerusuhan, looters, penjarahan, dan pembakaran-
pembakaran, saya panggil Sudomo. Saya meminta pertanggungjawaban Dewan
Mahasiswa UI atas adanya pembakran-pembakaran itu. ‘Pak, tolong kasih tahu
siapa yang bertanggung jawab terhadap pembakaran dan looters ini kepada Dewan
Mahasiswa UI.’
Tapi, menurut laporan Sudomo, dengan entengnya Hariman menjawab,
‘Bukan itu tujuan saya.’
Marah besar saya mendengar keterangan itu! Teringat oleh saya bahwa ketika
Dewan Mahasiswa UI meminta berdialog dengan Tanaka telah saya usahakan dan si
Tanaka bersedia berdialog dengn Dewan Mahasiswa UI, tanggalnya telah ditentukan
pada tanggal 16 Januari 1974, mereka sendiri mengubahnya secara sepihak dengan
dialog jalanan, dengan demonstrasi. Dengan begitu, saya perlu menegaskan kembali
melalui Laksamana Sudomo bahwa demonstrasi masih dilarang karena nanti akan
~ 180 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 180 3/26/10 7:24:44 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
ada akibatnya. Nah, sekarang terjadi looter, penjarahan, perampokan, di mana-mana,
di jalan yang ke jurusan Glodok, Jalan Hayam Wuruk dan Jalan Gajah Mada, maka
saya minta pertanggung jawaban Dewan Mahasiswa UI, eh, ternyata mereka lari dari
tanggung jawab. Marah saya.
Pada saat itu juga saya perintahkan kepada Pak Domo, ‘Tangkap DMUI
sekarang juga!’
Pak Domo masih membela, ‘Jangan, Pak, jangan dulu.’
‘Tidak ada nanti-nanti, sekarang juga harus ditangkap! Mereka harus saya beri
pelajaran.’
Perintah pengkapan hanya kepada Dewan Mahasiswa UI. Tidak pernah saya
perintahkan penangkapan terhadap yang lain. Pak Domo kelihatan masih ragu-ragu,
saya beri penjelasan tambahan, ‘Mereka bukan anak kecil. Tidak bisa mereka sekarang
cuci tangan. Mereka harus mengerti tanggung jawab.’
Saya bermaksud mendidik mahasiswa untuk mengerti tanggung jawab atas
sesuatu yang ternyata ada akibatnya, karena mereka sudah duduk di tingkat akhir
di UI mestinya sudah mengerti masalah sosial-politik. Tidak boleh sekarang mereka
cuci tangan, seorang calon sarjana harus mengerti risiko adanya kegiatan-kegiatan
yang mereka lancarkan.
Penahanan Hariman rencana sebenarnya hanya sementara, setelah itu saya
bermaksud mengeluarkan mereka. Saya berniat hanya memberi pelajaran, saya
ajar, bahasa Jawanya nyeneni kepada anaknya. Sebagai seorang pemimpin, ia harus
mengerti tanggung jawab. Dan, tanggung jawab itu bukan pada keadaan enak atau
senang, tapi ketika gagal pun, walau kalah, ia harus bertanggung jawab.
Tapi memang, di Indonesia ini lain, mengundurkan diri justru dikatakan bukan
watak bangsa Indonesia. Lo, itu jadi malah di baliknya sehingga mengajarkan orang
untuk tidak bertanggung jawab, tidak kesatria, tidak punya harga diri. Akibatnya,
orang yang berbuat salah akan menjadi kurang ajar atau jadi rai gedek, tebal muka,
tak tahu malu. Sebab, dia pikir, kalaupun berbuat salah akan dilindungi.” e

~ 181 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 181 3/26/10 7:24:44 PM


Hariman & Malari

Jenderal A.H. Nasution (Almarhum)


“ K i t a Ta k B i s a D u d u k d i A t a s B a y o n e t ”

D emikianlah, pada awal Januari 1974, saya


berkali-kali didatangi oleh kelompok-kelompok, to­
koh-tokoh mahasiswa dari Jakarta, Bandung dan
kota-kota lain. Tujuan mereka menemui saya hampir
sama, yakni meminta penjelasan tentang keadaan
internal ABRI dan meminta pendapat bagaimana
mengubah keadaan. Kepada tokoh-tokoh mahasiswa
UI, seperti Hariman Siregar dan kawan-kawan, saya mengingatkan bahwa, menurut
ilmu sosiologi, proses perubahan keadaan di negara yang belum demokratis akan
terpaksa dilakukan melalui cara-cara pendobrakan.
Karena itu, saya mengingatkan kepada mereka, hendaknya sarana inti
kaum pengubah (agent of change/agen perubahan) ialah untuk dapat menegakkan
pelaksanaan demokrasi yang konsisten dan hukum menurut UUD 1945. Inilah satu
tujuan yang tidak bias dibantah oleh siapa pun, kecuali mereka yang tidak berniat
baik dengan konstitusi kita. Khususnya TNI, pada prinsipnya tak mungkin mereka
menolaknya. UUD 1945 adalah asas dan politik tentara.
Saya menyatakan, sebagai TNI, saya menyokong segala usaha untuk
menegakkan UUD dan semestinya ikut melawan siapa pun yang membela kealpaan
dan penyimpangan terhadap konstitusi. Disiplin sosial dan disiplin hukum tak bisa
ditegakkan kalau tidak ada disiplin konstitusi. Korupsi adalah penyalahgunaan
wewenang hukum, terutama wewenang konstitusional. Keadilan akan ditegakkan
jika semua aparatur pemerintah menghayati isi Sumpah Presiden yang berbunyi:
~ 182 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 182 3/26/10 7:24:45 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
‘Memegang teguh UUD dan menjalankan segala undang-undang dan peraturannya
dengan selurus-lurusnya.’
Dari sudut pandang sosiologis, saya berpendapat bahwa perubahan konstelasi
politik tidak bisa terus-menerus ditunda. Besok atau lusa pasti akan terjadi ledakan
sosial karena semakin rentannya kondisi sosial yang dipicu oleh semakin banyaknya
ketegangan dan sengketa sosial dan politik dan karena tertundanya perubahan dan
terhalangnya dinamika masyarakat. Semakin luas ketegangan dan sengketa-sengketa
semakin banyak kemungkinan terjadinya penjebolan-penjebolan. Saya melihat,
semakin lama semakin banyak orang yang menginginkan perubahan. Namun,
motivasinya berbeda-beda. Ada yang karena ‘tidak kebagian’; karena ‘tidak dalam
sirkulasi lagi’; karena vested interest, dan lain-lain yang dengan itu melibatkan unsur
kepetualangan. Karena itu, yang amat penting ialah agar semakin banyak kaum idealis
yang ikut serta, agar perubahan tidak menjadi seperti yang sering disebut mahasiswa,
sebagai pengalaman mereka, ‘dari mulut macan jatuh ke mulut buaya’. Di sinilah posisi
pemuda dan mahasiswa yang bukan saja menjadi pelopor pembaruan, melainkan juga
pengemban idealisme.
Saya kerap meminta mahasiswa untuk mengambil pelajaran dari peristiwa
tahun 1966, yang akhirnya membentuk konstelasi kecurigaan dan permusuhann
terhadap mahasiswa, padahal mahasiswalah yang menjadi pelopor Tritura dan Tritura
pula yang mencetuskan perubahan mendasar. Begitu banyak erosi dialami kalangan
angkatan 66, yang membuat idealis angkatan ini berangsur-angsur pudar dan akhirnya
tunduk pada pemberian fasilitas dan jabatan.
Perubahan-perubahan yang fundamental tak akan terjadi tanpa didorong oleh
kehendak rakyat banyak. Sikap rakyatlah yang menentukan. Itulah sebabnya kami
pada tahun 1945 membuat republik de-facto sebagai modal dasar bagi perjuangan
politik kita. Sikap rakyat mendukung de-facto tidak bisa dipaksakan. Sebaliknya,
jika rakyat banyak tidak mendukung, tak akan mungkin suatu kekuasaan terus tegak
bertahan. Bisa dikatakan demikian: ‘kekuasaan bisa direbut dengan bayonet, tapi kita
tak bisa duduk di atas bayonet’.
Saya juga sering memberikan contoh sejarah yang lain yang membuktikan
betapa dukungan de-facto rakyatlah yang menentukan pihak mana yang akan diakui
sebagai pemerintah, sebagaimana dulu terjadi pada dewan buruh dan prajurit dalam
sejarah Rusia. Demikian pula Komite Nasional Indonesia di berbagai tempat di
Indonesia pada tahun 1945, karena aparat resmi pemerintah sudah tidak berwibawa
lagi, karena sebelumnya mereka telah dikenal sebagai aparat kolonial.

*****
Tokoh mahasiswa yang juga saya terima di rumah tak lama sebelum kejadian
14-15 Januari 1974 adalah Hariman Siregar, Ketua Dewan Mahasiswa UI, yang waktu
itu menjadi terkenal sekali. Sebagaimana biasa, kami berbicara tentang keadaan sosial

~ 183 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 183 3/26/10 7:24:46 PM


Hariman & Malari
dan politik masa itu. Tentang keadaan dewasa itu, saya berpendapat bahwa tidak
tersedia syarat-syarat yang kondusif untuk terjadinya perubahan strategis. Pemimpin
ABRI sama-sama mendukung kepemimpinan Jenderal Soeharto. Sungguhpun ada
pertentangan dan persaingan di antara mereka, saya menilai mereka tetap ‘dalam
satu kutub’ yang berkepentingan mempertahankan sistem kekuasaan yang nyata ada
dewasa itu.
Saya menilai mahasiswa terlalu mengharapkan di antara para jenderal yang
berkuasa itu ada yang terinspirasi untuk menggerakkan perubahan. Sebagai contoh
soal “pola kepemimpinan baru” yang dikumandangkan oleh Jenderal Soemitro
di mana-mana, yang telah membuka harapan terlalu bessar kepada para pemuda
pemburu. Ternyata, setelah menghadap presiden, yang dimaksud olehnya tidak lain
adalah apa yang pernah dipidatokan presiden. Memang, sistem politik yang berlaku
sebagai konstelasi darurat transisi belumlah menuruti UUD 1945 secara konsisten.
Misalnya, hanya 39% anggota MPR yang dipilih dari hasil pemilu, selebihnya adalah
hasil pengangkatan dan penunjukan. Selain itu masih berlaku keadaan darurat keras
dengan kewenangan pada Pangkopkamtib. Karena itu, tidaklah bisa cepat terjadi
perubahan politik. Alih-alih, keadaan seperti itu berfungsi memantapkan konstelasi
yang ada.
Saya diundang pula untuk menjadi khatib salat Idul Adha di kampus IAIN
Jakarta. Menurut Hariman Siregar, akan hadir dewan mahasiswa dan senat mahasiswa
se-Jawa Barat dan Jakarta. Ketua Dewan Mahasiswa IAIN datang mengurus
perhelatan ini. Memang, saya pun sependapat bahwa salah satu hikmah Idul Adha
ialah mengingatkan kita bahwa tiada keberhasilan dan kemuliaan tanpa pengorbanan
untuk memperjuangkannya, suatu hikmah yang besar nilai pendidikannya bagi para
mahasiswa. Namun, saya telah punya rencana untuk pergi ke Jawa Timur pada hari-
hari itu sehingga, walaupun telah diumumkan saya menjadi khatib di lingkungan
kediaman Kolonel Isa Edrism, saya minta digantikan oleh dia.
Saya meminta kepada mereka agar terhadap perbedaan-perbedaan pendapat
hendaklah diamalkan ikrar kesetiakawanan dewan-dewan mahasiswa pada 10
November 1973 di Bandung dulu itu. Saya melihat adanya perbedaan pendapat
dengan Dewan Mahaiswa ITB tentang gerakan mahasiswa waktu itu. Dalam dialog
dengan tokoh-tokoh mahasiswa tampak jelas adanya harapan yang tinggi terhadap
usaha pembaruan kepemimpinan oleh Jenderal Soemitro sebagai penguasa darurat
Pangkopkamtib. Akan tetapi, ada pula perbedaan pendapat tentang apa yang mesti
diperbarui, apakah terhadap strategi pembangunan, berarti terhadap teknokrat-
teknokrat, ataukah terhadap pelaksanaan, yang berarti terhadap aparat, khususnya
ABRI, yang menduduki posisi-posisi aparatur penting di pusat dan daerah, seperti
sekretaris jenderal, direktur jenderal, gubernur, bupati, walikota, dan terutama
terhadap aspri-aspri presiden.” e
(Tulisan ini dikutip dari buku Mengawal Nurani Bangsa: Jenderal Besar Dr.
A.H. Nasution, Jilid III: Bersama Mahasiswa, 2008.)

~ 184 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 184 3/26/10 7:24:46 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Ali Sadikin (Almarhum)


“ S a y a S e l a l u M e m b e s a r k a n H a t i n y a”

S
etelah Proyek Senen dibakar, timbulah per­
tanyaan kepada saya, siapa yang membakarnya. Masak
mereka bertindak begitu jauh? Selama saya menjadi
gubernur, saya tidak tahu siapa yang membakar Pro­
yek Senen itu. Saya mendengar kabar-kabar burung
siapa sebenarnya yang melakukannya, siapa yang
memerintahkannya.
Nah, kalau sudah begitu, pikir saya, keadaan tidak bisa dibiarkan. Payah!
Dan mungkin saja keadaan akan merembet ke tempat lain. Bisa jadi korban akan
bertambah, terutama mahasiswa. Maka berhubunganlah saya dengan Mayjen Mantik,
Pangdam V Jaya. Kami bertemu di Skogar, malam hari. Lalu disarankan agar saya
mengadakan pertemuan dengan para mahasiswa.
Esok harinya, siang-siang, saya pergi seorang diri, ke kompleks UI. Saya masuk
dari belakang, dari rumah sakit. Maka bertemulah saya dengan para mahasiswa. Di
sana saya jelaskan bahwa keadaan tidak bisa berlanjut seperti itu. Keadaan sudah
memuncak. Sudah banyak korban yang jatuh.
Waktu itu belum terjadi penangkapan. Yang saya takutkan kalau-kalau
kampus sampai diserbu. Kalau itu terjadi akan tambah banyak korban, terutama para
mahasiswa. Rupanya kedatangan saya ke kampus itu diketahui oleh Pangkopkamtib
Jenderal Soemitro. Maka dipanggillah saya oleh Soemitro dan ditanya mengapa saya
mendatangi para mahasiswa.
~ 185 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 185 3/26/10 7:24:48 PM


Hariman & Malari
Saya terangkan bahwa saya mesti menyelamatkan anak-anak saya, para
mahasiswa itu, supaya tidak timbul korban yang lebih banyak. Waktu itu di situ ada
Sudjono Hoemardhani. Soemitro lalu mengatakan, ‘Cobalah teruskan. Usahakan
supaya para mahasiswa itu reda dan mengumumkan bahwa persoalan ini sudah
selesai.’
‘Jadi saya sebaiknya menghubungi mereka lagi?’ tanya saya.
‘Ya,’ kata Soemitro, ‘sebaiknya begitu.’
Maka, saya malam itu juga menghubungi para mahasiswa lagi. Saya bicarakan
soalnya dengan mereka. Saya ajak mereka untuk berpikir, kalau diteruskan begitu,
korban dari pihak mahasiswa akan bertambah dan kerugian kita akan bertambah juga.
Para mahasiswa ternyata membenarkan pikiran saya.
Lalu saya mengajak Hariman Siregar, pemimpin mahasiswa, ke TVRI. Saya
tinggalkan dia di sana. Saya tidak ikut mendorongnya lagi. Ia pun sudah maklum
dan sudah punya pikiran sendiri. Maka bicaralah Hariman Siregar di depan TVRI
mengumumkan bahwa persoalan yang mereka hadapi sudah selesai.
Itu yang saya kerjakan. Alhamdulillah, setelah itu, sedikitnya di mata saya
keadaan menjadi tenang. Keadaan saya anggap sama dengan gerakan Arief Budiman
waktu ia melancarkan Golput.
Langkah saya menemui para mahasiswa di kampus UI dengan segera itu
mendapat penghargaan dari para mahasiswa, seperti bisa saya baca di koran mereka,
sebagai tajuknya. Tindakan saya itu, kata harian itu, ‘menggugah simpati kita’.
Alhamdulillah, alhamdulillah.
Yang dihargai antara lain keinginan saya untuk membuka dialog dengan para
mahasiswa dan pelajar serta pemuda itu, dengan mendatangi mereka. Dan itulah
yang dikehendaki oleh para pemuda, pelajar, dan mahasiswa. Kedua adalah respons
saya dalam menanggapi situasi Ibu Kota yang menjadi tanggung jawab saya, sikap
keberanian untuk dikoreksi, sikap terbuka yang katanya belum mereka temukan dari
pemimpin-pemimpin di tingkat nasional waktu itu, bahkan juga tidak pada saya pada
hari-hari sebelumnya. Barangkali ini momentum yang bagus yang memang secara
patut saya temukan.
Kepercayaan luar negeri terhadap Indonesia sempat terguncang akibat
kerusuhan itu. Banyak kalangan luar negeri yang bertanya-tanya mengenai masa
depan investasi mereka di Indonesia. Pikiran orang bisa dimaklum bahwa kalau
kali ini Jepang yang menjadi sasaran, bukan tidak mungkin negara lain menyusul
kemudian.
Mereka di pusat yang menelaah kejadian ini menilai peristiwa itu merupakan
puncak aksi-aksi ekstra-parlementer dari para mahasiswa dan kaum muda lainnya, yang
memberi kesan cenderung menjurus pada perbuatan makar terhadap kepemimpinan
nasional (serta untuk mengubah UUD 1945).

~ 186 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 186 3/26/10 7:24:48 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Kelanjutan dari malapetaka pertengahan Januari itu terjadilah pemberangusan,
pembreidelan, atas beberapa surat kabar. Saya merasa rugi dengan tindakan breidel
itu. Saya tidak mendapat informasi mengenai keadaan Kota Jakarta khususnya yang
amat saya perlukan. Disebabkan tindakan pusat itu boleh dikata saya kehilangan
pendengaran.
Saya berpikir, amat salah tindakan pemberangusan itu. Itu bukan tindakan
kekuasaan yang beradab.Tidak patut. Jika ada yang salah dalam soal melancarkan tulisan,
hedaknya yang bersalah dibawa saja ke pengadilan untuk mempertanggungjawabkan
perbuatannya. Jika salah, tindaklah orang yang bersalah, tapi jangan menyebabkan
orang-orang yang tidak bersalah harus menanggung juga kesalahan orang lain.
Pemberangusan itu menyebabkan sekian banyak orang mengalami kesulitan, sekian
banyak mulut orang tak bisa makan.
Kemudian terjadi penangkapan atas sejumlah mahasiswa dan tokoh-tokoh
masyarakat yang dinilai oleh yang berkuasa di pusat terlibat dalam malapetaka itu.
Pengadilan pun dilaksanakan atas beberapa mahasiswa. Hariman Siregar, kalau tidak
salah, dihukum 6 tahun. Tapi, ia tidak segera masuk tahanan.
Sekian waktu kemudian, di tahun akhir jabatan saya, Hariman menyelesaikan
studinya sebagai dokter. Dan sementara ia ada di luar, saya sering bertemu dengan
dia. Saya membesarkan hatinya dalam kesempatan bicara dengannya. Setelah para
mahasiswa itu dikeluarkan dari tahanan, saya menerima mereka di Balai Agung, di
kantor saya. Saya menganggap mereka sebagai anggota masyarakat Jakarta, sebagai
anak saya yang mesti saya layani.” e

(Tulisan ini dikutip dari buku Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977. Cetakan
pertama, 1992.)

~ 187 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 187 3/26/10 7:24:48 PM


Hariman & Malari

Poncke Princen (Almarhum)


“Kami Menjadi Korban dari
Provokasi Besar”

A
ku sudah kembali di Jakarta yang kotor
dan semrawut, dengan panasnya yang menyesakkan
dan kerumunan manusianya yang membikin kota ini
sumpek dan pengap. Aku pun sudah kembali terbiasa
dengan kehidupan Ibu Kota ini. Yang pertama aku
kerjakan ialah menyervis skuterku, yaitu kendaraan
yang sangat aku perlukan untuk menyelesaikan
berbagai urusan. Aku kembali tinggal di Priok, di rumah kakak Kenny, Sri. Pada
jendela kamarku, aku pasang kasa nyamuk dan di kamar itu aku tempatkan meja kecil
untuk bekerja.
Tidak lagi sebagai wartawan, tapi sekarang khusus sebagai pembela hak-
hak asasi manusia, bermotivasi ganda karena aku baru menjadi korban dari tidak
adanya keadilan. Aku temui lagi teman-teman yang sepaham. Aku terus memelihara
hubungan dengan kelompok-kelompok pemuda, Julius Usman, Jusuf A.R, dan Sjahrir.
Pada malam hari, kami sering bertemu di Balai Pustaka, yang punya ruang pameran
dan ruang baca. Di tempat ini, aku juga berkenalan dengan Salim Kadar, pemimpin
buruh pelabuhan di Priok. Rencana pergi ke Austalia menjadi terbengkalai karena
keterlibatanku dalam berbagai kelompok yang berjuang untuk demokrasi.
Karena pengalaman dan umurku, aku dianggap sebagai seorang yang ahli
dalam masalah protes yang legal. Pada malam akhir tahun 1973, aku dan Kadar
bersama para pemimpin pemuda, yang dikomandoi Hariman Siregar, diundang
menghadiri suatu malam renungan dan berbicara di depan ratusan mahasiswa, yang
berkumpul di lapangan Universitas Indonesia.
~ 188 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 188 3/26/10 7:24:50 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Pada bulan-bulan sebelumnya telah semakin gencar kritik dilancarkan terhadap
pimpinan tentara, tidak saja dari pers dan para mahasiswa, tapi juga dari kalangan
militer sendiri. Korupsi yang semakin meluas seolah diperkenankan. Dan perwira-
perwira Angkatan Perang yang sejak nasionalisasi perusahaan asing telah mendapat
kesempatan ikut berperan dalam perdagangan tidak ingin mengurangi kekayaan
mereka. Apa yang disebut ‘jenderal-jenderal finansial’ yang bekerja sama dengan
pengusaha Cina menumpuk kekayaan yang tidak sedikit, antara lain disebut nama Ali
Moertopo dan Sudjono Hoemardhani, yang menjadi asisten-asisten Presiden Soeharto
dan pimpinan dari dapur pemikir yang didirikan pada tahun 1970 dan fungsinya
menetapkan garis-garis strategi Orde Baru. Mereka dituding telah menarik investasi
luar negeri dengan mengorbankan perusahaan-perusahaan Indonesia. Pasar benar-
benar dibanjiri barang-barang Jepang, sedangkan pengembangan produksi barang
sendiri diterlantarkan.
Aksi-aksi anti-Jepang terjadi. Di Bandung pecah kerusuhan anti-Cina, yang
merusak ratusan toko dan rumah. Kecaman terhadap Soeharto semakin tajam. Ketika
pada bulan Jnauari 1974 diumumkan kunjungan resmi Perdana Menteri Jepang,
Kakuei Tanaka, para pemimpin mahasiswa memutuskan melancarkan demonstrasi.
Tanggal 13 Januari, seorang teman mengatakan kepadaku: ‘Tahukah Anda
jam dua belas siang ini ada rapat di percetakan Mochtar Lubis?’
‘Tidak, tapi aku akan lihat ke sana,’ jawabku.
Aku kenal para pengasuh surat kabar mahasiswa KAMI, yang dicetak di
percetakan itu. Kantornya merupakan tempat berkumpul mereka yang tidak puas
terhadap perkembangan ekonomi dan politik.
Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai aksi untuk tanggal 15 Januari.
Dengan nama Malari akan dilakukan demonstrasi besar menentang kenaikan harga,
korupsi, dan dominasi kapitalis baru. Ribuan mahasiswa akan ikut dan secara massal
bergerak ke istana.
Tanggal 15 Januari, aku pergi ke kantor Kami untuk menunggu terjadinya
peristiwa itu. Kantor itu merupakan pusat informasi yang memberitakan setiap menit
tentang jalannya demonstrasi. Pada siang hari diketahui demonstrasi itu telah lepas
kendali. Sejumlah orang luar yang bukan mahasiswa rupanya telah ikut masuk dalam
barisan demonstrasi. Di Kramat dan Senen, ratusan mobil dibakar, termasuk ruang
pamer Toyota. Ketika aku mendengar gerombolan pemuda merampoki toko-toko
Cina, aku langsung ke Priok meneriaki para pedagang Cina untuk menutup toko-toko
mereka. Kemudian, aku menjemput Kenny dan kami kembali ke Senen.
Di mana-mana terlihat tentara. Pangkopkamtib Soemitro berkeliling mengen­
darai kendaraan tebuka, menganjurkan untuk tenang dan tidak dilakukan tindakan
secara luas. Menjelang sore, aku dengar jam malam diberlakukan. Kami tidak bisa
pulang dan menginap di rumah teman dr. Iwan Ranti.
Keesokan harinya keributan masih berjalan terus dan tentara jelas mendapat
~ 189 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 189 3/26/10 7:24:51 PM


Hariman & Malari
perintah menggunakan kekerasan untuk menghentikan tindakan perusakan. Soemitro
yang tidak senang dengan pengaruh Moertopo dan Hoemardhani rupanya telah
menginfiltarasi demonstrasi Malari itu. Pemerintah sudah tentu sangat dipermalukan
oleh keributan ini justru ketika tamu luar negeri penting sedang berkunjung. Dalam
keributan ini sejumlah orang yang melakukan perampokan mati tertembak dan di
samping itu terdapat sejumlah orang lagi yang luka-luka.
Ketika aku dan Kenny dengan skuterku sampai di Priok, aku lihat dari jauh
ada tiga truk penuh berisi tentara berada di depan rumahku. Terdengar seseorang
berteriak, ‘Itu dia!’ Rupanya yang dimaksud adalah aku. Aku turun dari skuter dan
segera anggota-anggota tentara itu berloncatan dari truk-truk dan mengepung rumah
kami. Mereka menggeledah rumah, tapi tidak menghasilkan apa pun. Namun, aku
ditangkap dan dibawa ke Kementerian Pertahanan. Hari itu ada kira-kira 300 orang
yang ditangkap, dituduh mengadakan kegiatan menghasut. Di antara mereka terdapat
para pemimpin mahasiswa dan para pengacara dari lembaga hak-hak asasi manusia,
termasuk Yap Thiam Hien.
Melihat koordinasi yang begitu lancar dan pelaksanaan penahanan yang
efisien, menjadi jelas bahwa tentara sudah lama sebelumnya mengetahui akan adanya
demonstrasi. Dan kami lagi-lagi menjadi korban dari suatu provokasi besar. Peristiwa
Malari ini membikin semakin diperketatnya kebebasan menyatakan pendapat,
ditutupnya 12 surat kabar, dan ditangkapnya beberapa wartawan terkemuka, di
antaranya Mochtar Lubis. Universitas-universitas diberitahukan bahwa politik harus
dijauhkan dan dalam angkatan bersenjata tak ada lagi yang berani menyatakan
pendiriannya menentang pemerintah. Soemitro dibebaskan dari tugasnya.
Lagi-lagi, kami mengalami pemeriksaan berjam-jam yang tak ada gunanya
oleh orang-orang yang tidak punya pengertian mengenai apa yang menggerakkan
kami. Aku dituduh menggerakkan kelompok-kelompok yang berkumpul di depan
istana. Terang omong kosong, karena aku sama sekali tidak berada di sekitar istana,
walau memang aku secara teratur hadir dalam diskusi-diskusi dengan para pemimpin
mahasiswa dan buruh.
Kemudian, mereka mengungkit pidato tutup tahun yang aku ucapkan di
unversitas. Aku memang menentang adanya Kopkamtib, Komando Operasional
Keamanan dan Ketertiban. Aku menganggapnya sebagai lembaga yang menakutkan.
Kopkamtib, yang didirikan pemerintah itu, adalah korps penguberan dan mengusut
orang-orang yang punya pikiran yang tidak disukai dan menahan atau menyingkirkan
mereka secara sewenang-wenang.
Aku katakan, ‘Kopkamtib itu dibentuk secara tidak sah dan didasarkan atas asas
totaliter.’ Aku berusaha meyakinkan para pemeriksa itu bahwa sejarah itu berulang:
‘Pada mulanya kalian tidak menghendaki kekuasaan kolonial, tapi sekarang kalian
menerima bentuk kekuasaan yang lebih berbahaya, dilakukan orang-orang kalian
sendiri.’ Pendapatku ini menyebabkan aku dihukum dua setengah tahun.
Beberapa orang di antara kami dihukum empat tahun, yang terbanyak dihukum
~ 190 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 190 3/26/10 7:24:51 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
lebih ringan. Satu-satunya yang menghibur kami adalah bahwa kami ditahan karena
cita-cita yang sama—yang membuat rasa kebersamaan kami semakin kuat.
Kehidupan penjara tak pernah membuat orang betah, terutama para tahanan
dari luar Jakarta. Mereka tak pernah mendapat kunjungan dan harus makan apa yang
disediakan oleh penjara. Sering para istri tahanan yang tinggal di Jakarta membawa
makanan ekstra untuk mereka. Kenny datang hampir setiap hari dengan rantang tiga
susun yang isinya kemudian dibagi-bagikan. Setengah tahun kemudian, aku mendapat
izin dari Jaksa Agung untuk menikah dengan Kenny di penjara. Kenny pintar memasak
dan bersama kakak dan teman-temannya mereka menyediakan makanan yang enak
sehingga bagi para hukuman peristiwa itu menjadi pesta yang menggembirakan.
Pada bulan Juni 1976, seorang pegawai membawa seberkas surat untukku yang
menyatakan bahwa aku dibebaskan dari penjara. Aku menolak menandatanganinya.
‘Kalian telah menghukum kami tanpa surat, bebaskan aku sekarang tanpa surat-
surat itu,’ kataku. Aku akhirnya bebas juga. Sekali lagi, aku tak punya apa-apa, tak
punya penghasilan. Yang pertama harus aku lakukan ialah menyervis skuterku dan
mencari Mulya Lubis, seorang sarjana hukum, dan sama-sama ditahan dengan aku.
Dia mengajak aku mendirikan sebuah kantor pengacara.” e

~ 191 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 191 3/26/10 7:24:51 PM


Hariman & Malari

Adnan Buyung Nasution


“Dia Tak Pernah Lari”

S
aya mengenalnya saat awal sekali, zaman-zaman
aksi, persisnya saya sudah lupa. Saya tidak ingat, pada tahun
1966, apakah Hariman sudah di sini atau masih di Palembang.
Yang saya kenal Julius Usman, Hari Dangka, Yusuf A.R., ya,
tokoh-tokoh KAPPI. Nah, Hariman belum masuk di KAPPI
dan di KAMI pada waktu itu. Saya bertemu dengan Hariman
di UI sebelum Malari.
Lalu, terjadilah Peristiwa Malari. Saya ikut ditangkap. Tapi, kalau dibilang
ikut demonstrasi Malari, saya tidak ikut. Saya tidak tahu apa-apa mengenai aksi
itu. Karena, ketika peristiwanya terjadi, saya sedang makan siang dengan tamu dari
Jepang. Setelah selesai makan siang, sekitar jam 15.00-16.00 WIB, saya sedang di
kantor yang bertempat di Wisma Nusantara, tiba-tiba orang-orang lari ke jendela.
Saya bertanya, ‘Ada apa?’
‘Kebakaran di mana-mana,’ mereka bilang.
Saya melihat api sudah membara di daerah Senen, setelah itu di Jalan Blora.
Tidak tahunya Hariman yang berdemonstrasi. Tapi, sebelum itu, dalam pertemuan-
pertemuan, baik di dalam dan di luar UI, saya selalu bertemu Hariman. Ada juga empat
orang tokoh PSI: saya, Rahman Tolleng, Marsillam Simandjuntak, dan Dorodjatun.
Nah, kami berempat inilah memang yang menjadi guru dalam kelompok mahasiswa
yang tergabung dalam Dewan Mahasiswa UI.
Kami tahu adanya sepak terjang aspri presiden di bawah Ali Moertopo yang

~ 192 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 192 3/26/10 7:24:53 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
menyimpang. Aspri ini kan merupakan kabinet bayangan. Nah, merekalah yang
bermain sama Jepang ini. Mereka bermain di belakang semua, adanya korupsi itu dari
situ. Jadi, itu salah satu sasaran kami. Saya bermain terbuka, saya selalu membakar
semangat mahasiswa. Sampai pada demonstrasi, saya berorasi bahwa Kopkambtib
itu inkonstitusional, bubarkan Kopkamtib. Saya bilang, mau menembak nyamuk,
kok, pakai meriam. Berapa kali saya mau ditangkap. Aspri itu juga tidak sah, aspri
merupakan kabinet bayangan, jadi harus dibubarkan.
Saya membantah kalau ada yang mengatakan gerakan mahasiswa saat
Malari ditunggangi. Itu analisis orang saja. Kami, tokoh-tokoh yang empat orang
itu, tidak pernah berhubungan dengan Soemitro dan Ali Moertopo. Yang dijadikan
alasan sama orang-orang karena Hariman suka bercanda dengan orang-orang tua
itu. Sama jenderal-jenderal itu, Hariman bisa berkomunikasi. Itu karena dia lincah.
Sampai sekarang juga masih begitu. Itu satu fakta. Yang kedua adalah memang terjadi
ketegangan antara Soemitro dan Ali Moertopo. Nah, yang orang pikir, dia bisa ke
sana-kemari, lalu dipikir Hariman yang mengadu domba, padahal tidak sama sekali.
Tidak ada yang mau menjadi anak buah Soemitro dan Ali Moertopo. Yang berperan itu
murni mahasiswa. Saya hanya mendukung mereka dan memberi masukan, termasuk
Mochtar Lubis dan lain-lain. Tapi, kami tidak mendalangi demonstrasi itu, terserah
mereka kalau itu maunya mereka.
Yang pasti, hubungan saya dengan Hariman sangat dekat. Bisa dikatakan,
seluruh kegiatan saya waktu itu tidak lepas dari Hariman. Dalam berbagai episode itu,
Hariman ada dalam bagiannya. Ia merupakan anak muda yang memberikan semangat
kepada saya. Sampai waktu reformasi dan saya diusulkan untuk masuk ke KPU, saya
juga tanya kepada Hariman dan teman-teman lain.
‘Masuk, Bang, ini kan pertama kali pemilu. Kami kan mau membangun
demokrasi, jadi Abang harus ikut dan harus menjadi pimpinan,’ begitulah kata
Hariman. Semua teman kumpul dan bilang saya harus ikut. Mereka semua bilang
masuk. Karena, kalau saya masuk, itu semua untuk pengabdian bangsa dan negara.
Karena, dalam pikiran saya, kalau saya masuk dalam jabatan itu merupakan tugas
besar untuk membangun negara ini maju. Bukan seperti yang lain, ketika mendapat
jabatan langsung sujud syukur, menganggap bahwa ini adalah anugerah besar.
Pada saat sidang pemilihan Ketua KPU, saya terpilih menjadi Ketu KPU
secara aklamasi. Tapi, tiba-tiba saya mendapat telepon dari Menteri Dalam Negeri
Syarwan Hamid dan Menteri Otonomi Daerah Ryas Rasyid bahwa Ketua KPU harus
dari partai. Ini ada dalam undang-undang. Urutan kedua saat voting pemilihan ketua
adalah Rudini yang mewaili partai kecil. Akhirnya saya serahkan pimpinan itu ke
Rudini.
Saya sering sekali berdiskusi dengan Hariman. Apa pun yang saya katakan dan
saya nasihatkan baik itu empat mata atau bersama teman-teman, dia terima dengan
ikhlas. Dan memang dia dekat sama saya. Dan dia merasa harus selalu mendengar
dulu pendapat dari saya. Dan apa yang saya katakan itu selalu menjadi acuan buat dia,

~ 193 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 193 3/26/10 7:24:53 PM


Hariman & Malari
walaupun tanpa dia bilang bahwa ini dari saya. Sampai dia bilang di luar sana, dalam
berdebat juga dia selalu bilang pokoknya kalau sudah kata saya pasti sudah benar.
Dia pernah bilang ke saya, ‘Bang, Abang kan senior kami, bahkan saya anggap
sebagai guru. Abang tidak usah ke bawahlah, live it to me. Abang tidak perlu lagi
turun.’ Demikian saat kantor PDI diserang. Waktu saya mau turun, Hariman melarang.
Jadi, saya hanya menelepon Menkopolkam Soesilo Soedarman) untuk menjaga LBH
yang saat itu menjadi tempat persembunyian para aktivis.
Begitupun ketika saya dihubungi untuk menjadi Dewan Pertimbangan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tahun 2004. Ketika itu saya sedang checkup di
Singapura. Hariman ikut serta. Saat staf SBY menelepon untuk saya masuk kedalam
Dewan Pertimbangan Presiden, saya tidak langsung menerimanya. Saya bilang,
SBY harus bertemu empat mata dulu. Hariman juga setuju dengan permintaan saya.
Akhirnya, SBY menelpon saya langsung dan bersedia bertemu empat mata. Hariman
tahu semua tentang ini.
Yang jelas, dia tipe pemimpin yang mempunyai kharisma, karena saya pernah
pelajari dia di saat kami di dalam penjara. Kami sayang sama dia. Karena, kalau
kami analisis, dia punya jiwa pemimpin. Memimpin dengan gayanya sendiri, caranya
sendiri. Walaupun gaya berbicaranya kasar, semua orang dikasari sama dia. Tapi,
bagi anak muda sekarang, caranya memimpin itu diterima dan didengar. Memang
bakatnya ada dan otaknya cerdas. Cepat menangkap situasi dan pintar menguasai
keadaan, dan sangat cepat merespons. Itu merupakan bakat pemimpin yang baik.
Tanggung jawabnya juga bagus, tidak pernah lari.” e

~ 194 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 194 3/26/10 7:24:54 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

A. Rahman Tolleng
“Hariman Memberi Kebaruan
Gerakan Mahasiswa”

J
auh sebelum Peristiwa Malari meletus, saya telah
dekat dengan Dr. Sjahrir, Ci’il. Sejak awal, ia bercerita
tentang adanya seorang mahasiswa baru, seorang tokoh baru,
di UI, yang ‘penuh harapan’: pintar dan berani. Mahasiswa
baru ini diyakini dapat mewujudkan niat Sjahrir mengambil
alih kepemimpinan mahasiswa UI dari dominasi Hariadi
Darmawan dkk.
Hariadi Darmawan semula orang Ali Moertopo,
tetapi berbalik ke kubu Hankam. Di UI, ia menerbitkan
Pemuda Mahasiswa yang sempat terbit dua kali. Hariadi menyerang Hariman
melalui karikatur di Pemuda Mahasiswa. Digambarkan Hariman tunduk kepada Ali
Moertopo. Ini karena kedekatan Hariman dengan kelompok Tanah Abang III.
Di Bandung, saya telah mendirikan Studi Klub Mahasiswa Indonesia,
November 1968. Sedangkan di Jakarta muncul Grup Diskusi UI, yang kemudian
dipimpin Sjahrir. Kami sudah banyak bekerja sama dalam aktivitas politik. Leaflet
mengenai GDUI kebetulan saya pula yang diminta mencetaknya. Sewaktu Hariman
mulai bergerak, saya telah menjadi Wakil Pemimpin Redaksi Harian Suara Karya,
organ Golkar, dan berkantor di Tanah Abang III. Suatu kali, ketika sudah menjadi
Ketua Dewan Mahasiswa UI, Hariman muncul di depan ruang kerja saya dan langsung
menyapa. Itulah pertemuan fisik saya pertama dengan Hariman Siregar. Meski belum

Kubu Hankam direpresentasikan oleh Pangkopkamtib Jenderal Soemitro yang berseberangan dengan kubu Tanah Abang
(aspri) pimpinan Ali Moertopo.

Kantor Golkar.

~ 195 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 195 3/26/10 7:24:55 PM


Hariman & Malari
pernah bertemu, kami tentu telah saling mengetahui dan mendengar satu sama lain.
Sejak muda, Hariman adalah seorang politikus yang bernaluri tajam. Peng­
angkatan Judilherry Justam sebagai Sekretaris Jenderal Dewan Mahasiswa UI
menunjukkan ketajamannya. Judil yang berasal dari HMI, betapapun, semula
merupakan lawan politik. Bila ternyata Judil yang diangkat, berarti Hariman
menginginkan kestabilan dalam kepemimpinannya.
Naiknya Hariman sebenarnya bagian dari rencana restrukturisasi kampus
yang digagas oleh Golkar. Motornya adalah dr. Midian Sirait, yang mengoordinasi
pemuda-mahasiswa-cendekiawan, pemacen. Guna mengimbangi dewan mahasiswa
dan kelak merestrukturisasi lembaga kampus itu, Midian Sirait mengaktifkan asosiasi
mahasiswa jurusan. Ikatan Mahasiswa Kedokteran Indonesia, IMKI, yang kemudian
dipimpin Hariman menjadi proyek percontohan. Saya tidak bisa menyebut bahwa
restrukturisasi ini merupakan proyek Operasi Khusus Ali Moertopo. Namun, Ali
Moertopo mengetahui rencana ini dan tidak melarang.
Sudah tentu, Hariman sering datang ke Tanah Abang III. Ia mengenal semua
fungsionaris Golkar, terutama yang berkaitan dengan bidang pemuda dan mahasiswa.
Jusuf A.R juga sering datang ke kantor Golkar. Di elite Golkar malah ada persaingan
antara Midian Sirait, Pitut Soeharto, dan David Napitupulu yang saling meng-klaim
bahwa Hariman adalah ‘orang-nya’. Bagi mereka, mendapatkan Hariman ibarat
mendapatkan berlian.
Walaupun Hariman kemudian menjadi menantu Profesor Sarbini Soemawinata,
bukan serta-merta ia menjadi kader PSI. Cap PSI yang dikenakan pada dirinya setelah
Malari oleh Orde Baru lebih karena ia pintar dan independen. Rata-rata tokoh yang
pintar dan independen kala itu dicap PSI. Hariman pintar, independen, dan kebetulan
menantu Profesor Sarbini, jadi dengan sendirinya cap PSI melekat pada dirinya. Saya
sendiri sesungguhnya bukan anggota PSI, tapi karena punya afinitate dengan Gerakan
Mahasiswa Sosialis, Gemsos, ya dianggap PSI. Kalau melihat geng­ Hariman di UI,
kelihatan sekali mereka bukan orang-orang PSI, bahkan tidak dekat dengan tokoh-
tokoh PSI. Memang pernah GDUI mengundang Soebadio Sastrosatomo berbicara
dalam suatu diskusi mereka. Tapi, ada campur tangan dari pemerintah yang melarang
Soebadio muncul bicara. Hariman sendiri kala itu tengah pergi ke India.
Diskusi-diskusi GDUI lebih menyoroti tentang strategi pembangunan Orde
Baru yang dianggap meminggirkan paham kerakyatan. Banyak investasi asing mulai
masuk: ada Coca-cola, ada mesin cetak batik. Ide paham kerakyatan yang dianut
Profesor Sarbini diserap Ci’il dengan GDUI-nya. Petisi yang dikeluarkan mahasiswa
UI pada 24 Oktober 1973 menyampaikan kritik terhadap strategi pembangunan itu.
Mulanya tidak ada suara keras dari Tanah Abang III mengenai petisi itu. Hingga
pada suatu pertemuan dengan para jenderal, Soeharto menyampaikan kegusarannya.
‘Kok mereka menyalahkan strategi pembangunan? Strategi pembangunan itu

Tokoh Partai Sosialis Indonesia, PSI.

Juga tokoh PSI.

~ 196 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 196 3/26/10 7:24:56 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
dituangkan dalam GBHN. Menyalahkan strategi pembangunan berarti menyalahkan
GBHN dan itu inkonstitusional.’
Ali Moertopo lalu mengumpulkan orang-orangnya di Tanah Abang III. Saya
tak hadir dalam pertemuan itu, tapi mendengar bahwa Ali Moertopo menyampaikan
kabar bahwa Pak Harto marah. ‘Saya sendiri menyampaikan kepada Pak Harto bahwa
yang dikritik bukan strateginya tapi cara melaksanakan strategi. Tapi, saya menangkap
Pak Harto marah besar. Karena itu, cari Hariman dan minta dia menghadap,’ kata Ali
Moertopo.
Nada pernyataan dan perintah Ali Moertopo ini menandakan ia sesungguhnya
tidak marah kepada Hariman. Setelah Ali mengeluarkan perintah, semua elite Golkar
berlomba mencari Hariman. Tapi, Hariman sangat cerdik. Ia tak pernah muncul lagi
ke Tanah Abang III atau tak pernah menampakkan muka di hadapan orang-orang
Midian Sirait dan David Napitupulu.
Ada satu kesan yang harus saya ungkapkan ketika akhirnya mahasiswa
bertemu Soeharto di Bina Graha, beberapa hari menjelang Malari. Harus saya
sampaikan bahwa Hariman ‘cukup jinak’ dan lebih memerankan sebagai moderator
dalam pertemuan tersebut. Banyak suara kecewa juga dengan pertemuan itu, apalagi
pulangnya Pak Harto malah membagi-bagikan buku Repelita yang tebal.
Meletusnya Peristiwa Malari—meski berakibat dengan penahanan dan
pemberangusan gerakan mahasiswa—sangat mempermalukan Soeharto. Selama
beberapa hari, Soeharto tak berbicara saking kesal dan malunya karena terjadi persis
ketika tamu negara datang berkunjung. Di sisi lain, kasus itu juga digunakan oleh
elite Orde Baru di luar Soeharto untuk saling mendongkel satu sama lain. Salah satu
yang terdongkel adalah Jenderal Soemitro. Tudingan kemudian diarahkan kepada
‘Kelompok Kelinci’, sebutan bagi kelompok PSI. Kemudian dibuka juga keterlibatan
kelompok Islam: ‘Kembang Sepatu’, yang terutama berafiliasi dengan Gabungan
Usaha Perbaikan Pendidikan Islam, GUPPI.
Saya sendiri ditahan selama 16 bulan di Rumah Tahanan Militer Boedi
Oetomo. Sewaktu diperiksa untuk kedua kalinya, pemeriksaan untuk proses tuntutan,
ada kejadian yang membuat saya tertawa bila mengingatnya. Saat itu pemeriksa
bertanya apakah saya mengenal Hariman. Saya jawab, ‘Tidak, saya tidak tahu.’
Pemeriksaan itu berlangsung di ruangan depan RTM, sehingga bila ada orang
masuk-keluar masuk bisa saling melihat. Persis waktu saya baru jawab ‘tidak tahu’,
Hariman lewat. Ia baru pulang dari rumah sakit—maklum, ini cara untuk bisa keluar
sebentar dari penjara. Melihat saya tengah diperiksa, Hariman langsung teriak,
‘Bos…!’
Ha-ha-ha…, gila sekali dia. Makanya, pada suatu acara ulang tahun Malari,
saya sempat berkelakar, ‘Hariman ini pintar. Tapi orang pintar itu sering kali beda-

Rencana Pembangunan Lima Tahun

Tokoh GUPPI disebut Soemitro merupakan binaan Ali Moertopo untuk beberapa proyek intelijen Opsus.

Panggilan “bos” kepada Rahman Tolleng ini pertama kalinya. Sejak itu, ia akrab disapa “bos” oleh teman-teman dekatnya.

~ 197 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 197 3/26/10 7:24:56 PM


Hariman & Malari
beda tipis dengan gila.’ Hadirin tertawa mendengar kelakar itu.
Hariman memang ‘gila’. Ada kegilaan dia yang lain: seringkali kalau saya
menumpang mobilnya, di tengah laju, dia keluar dari ruang kemudi dan membiarkan
mobil berjalan tanpa supir sementara dia berlari-lari di sampingnya. Di dalam tentu
saja saya teriak-teriak dan dia tertawa-tawa saja. Suatu waktu yang lain, ketika ada
diskusi di Cibulan, Jenderal T.B. Simatupang sedang berbicara serius. Hariman,
bukannya menyimak, malah lempar-lemparan kacang dengan temannya. Ia baru
berhenti setelah ditegur Simatupang. Tapi, sebentar kemudian melanjutkan lagi aksi
lempar-lemparan kacang.
Tahun 1978 kami—Hariman, Sjahrir, saya, dan teman-teman lain—
serombongan datang ke ITB. Saya dan Hariman berbicara. Sjahrir tidak mau, karena
ia akan bersekolah ke luar negeri. Saya bilang, ‘Kalau gerakan mahasiswa sekarang
inkonstitusional, Orde Baru yang dimenangkan oleh gerakan mahasiswa adalah
produk inkonstitusional.’ Esoknya, Wimar Witoelar mengulangi ucapan itu ketika
orasi di panggung.
Sebagai pemimpin mahasiswa, Hariman memberi kebaruan bagi gerakan
mahasiswa. Gerakan mahasiswa sebelumnya lebih banyak digerakkan oleh organisasi-
organisasi massa. Aktivis Bandung memang memulai lebih dulu untuk membasiskan
gerakan mahasiswa di kampus. Tapi, Harimanlah yang membuat mahasiswa menjadi
suatu gerakan kampus. Dengan demikian, gerakan mahasiswa betul-betul murni,
meski tentu saja ada kelemahan, yakni kekuasaan yang kelak dimenangkan oleh
gerakan mahasiswa harus diserahkan kepada politikus.
Saya kira Hariman mengetahui itu. Tapi, ia tetap mendorong mahasiswa untuk
tetap melancarkan kritik terhadap praktik penyimpangan kekuasaan. Ini seperti laku
Sishypus yang harus terus-menerus dilakukan mahasiswa. Orang seperti Hariman—
seperti juga saya—melekat sekali karakter aktivisme. Artinya, bila ada yang bobrok
atau salah dengan pengelolaan negara ini, segera tergugah. Ini lantaran partai politik
tidak bisa digunakan sebagai saluran politik yang jernih.
Hariman selama bertahun-tahun tergugah untuk bergerak tanpa partai. Saya
kira juga karena ia tak percaya kepada partai. Atau karena independensinya yang
kuat, ia enggan bergabung dengan partai. Sebab, bila bergabung dengan partai, orang
harus menyerahkan sebagian kebebasannya, sedikit apa pun. Dengan pilihan cara ini,
efektivitas partisipasi dalam politik dengan sendirinya menjadi terbatas.
Saya lebih banyak menjalankan politik nilai, dalam arti supaya nilai-nilai yang
bagus dalam demokrasi ditegakkan. Saya tak tahu suasana batin Hariman. Setidaknya
banyak situasi sekarang merupakan produk kami juga. Reformasi berjalan, namun
bukan kemenangan kaum reformis. Di situlah sialnya: situasi dikendalikan oleh
orang-orang yang tak reformis.” e

~ 198 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 198 3/26/10 7:24:57 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Prof. Dr. Dorodjatun Kuntjoro-Jakti


“Saya Tidak Pernah Lupa Melihat Wajah Hariman
yang Kecut dan Putus Asa ”

M
 alam sekitar jam 12.00, saya diciduk
oleh sebuah tim sweeping Pomad Para atau Polisi
Militer Angkatan Darat Para, yang merupakan
satuan khusus POM yang telah dilatih terjun payung
dan pertempuran khas, yang dipimpin oleh seorang
kapten Angkatan Darat. Kedatangan sebanyak dua
jip tim tersebut ke Kompleks Dosen UI di wilayah
Asrama Putri UI Wismarini, Jatinegara, tempat saya
tinggal, terjadi pada 16 Januari 1974, saya kira sekitar empat jam sesudah Hariman
Siregar yang Ketua Dewan Mahasiswa UI dan Gubernur DKI Ali Sadikin muncul
di TVRI. Mereka berdua mencoba menghentikan aksi-aksi pembakaran segala yang
merupakan produk dan bangunan milik Jepang; yang berkecamuk sejak siang hari 15
Januari 1974 di hampir segenap penjuru Ibu Kota RI, yang membuntuti demo besar
menolak Perdana Menteri Tanaka yang berpusat di Kampus Trisakti.
Sejak siang 15 Januari 1974 sampai malam 16 Januari 1974, saya menyaksikan
sendiri spontanitas massa rakyat Jakarta yang tumplek di hampir semua jalan utama
di wilayah Salemba sampai dengan Jatinegara dan siap membakar mobil dan
sepeda motor ‘Made in Japan’. Pada sore hari 15 Januari 1974 itu saya mencoba
pulang menembus puluhan ribu massa tersebut, dari Kampus UI Salemba sampai
ke Kompleks Wismarini. Untung saya naik sepeda motor jenis skuter buatan Italia,
Vespa, dibonceng oleh Drs. Kuta Ginting, staf peneliti dari LM Fakultas Ekonomi
UI. Kami perlu dua jam untuk menempuh jarak yang cuma sekitar tujuh kilometer
tersebut, di tengah kobaran api mobil-mobil dan sepeda-sepeda motor buatan Jepang
~ 199 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 199 3/26/10 7:24:58 PM


Hariman & Malari
yang dibakar massa yang beringas.
Tanggal 16 Januari 1974 pagi sampai dengan siang, saya berkeliling ke Kampus
UI di Salemba dan di Rawamangun, untuk mengecek sendiri dari civitas akademika
UI tentang peristiwa yang hampir tidak terkendali itu. Saya juga memerlukan mampir
menengok teman Grup Diskusi UI, Juwono Sudarsono, yang Dosen FH-IPK UI, di
rumah orangtuanya di Utankayu. Dari Yuwono pertama kali saya mendapat informasi
dan analisis bahwa demonstrasi mahasiswa se-Jakarta di Kampus Trisakti ‘telah
diprovokasi’ oleh sekelompok kekuatan tertentu untuk memicu demo mahasiswa
anti-kunjungan kenegaraan PM Tanaka dari Jepang tersebut menjadi aksi anarkis
pembakaran semua produk dan bahkan semua kantor perusahaan Jepang. Provokasi
itu dilakukan untuk mendiskreditkan gerakan dewan mahasiswa di seluruh Indonesia
sekaligus mematahkan oposisi terhadap pemerintah Soeharto yang mulai sarat kolusi,
korupsi, dan nepotisme model percukongan itu.
Memang, sejak siang 15 Januari 1974 sampai menjelang penangkapan saya
dan kawan-kawan dari UI dan beberapa perguruan tinggi swasta di Jakarta, puluhan
truk dari luar kota yang mengangkut massa rakyat yang tidak jelas organisasinya
melaju ke lokasi-lokasi pembakaran tersebut. Hariman sendiri bercerita tentang hal
itu sewaktu menemui saya di LPEM FEUI pada tengah hari 15 Januari 1974, sepulang
saya dari memberikan ceramah di dalam LTC PMKRI di lokasi Retret Kelender.
Sejak dari pagi sampai jam 11.00, saya ada di sana. Saya tidak pernah lupa melihat
wajah Hariman yang kecut dan putus asa dan mengatakan: ‘Mas Djatun, we have lost
everything. Kita dikerjain orang-orang liar.’
Dengan sikap hormat kapten Angkatan Darat tersebut menyampaikan sehelai
surat dalam bentuk stensilan, yang isinya memuat perintah Panglima Kopkamtib
untuk penahanan saya, yang ditandatangani—dalam tulisan stensilan juga—oleh
Jenderal TNI/AD Soemitro (almarhum). Sang kapten tadinya cuma mengatakan,
‘Bapak dipanggil Jenderal Soemitro untuk menghadap ke Mabes Kopkamtib di
Medan Merdeka Barat.’ Saya meminta surat perintahnya dan barulah dari stensilan itu
saya tahu bahwa saya ditahan. Saya menenangkan istri saya, Emiwaty, yang sedang
hamil besar bayi kami yang pertama, sambil mengepak sekadar baju dalam di ransel
dan memakai jas hujan saya.
Selewat Jalan Medan Merdeka Timur, ketika kedua jip berbelok ke arah
Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng—di tengah suasana yang sepi mencekam
yang diliputi asap tebal dari kebakaran besar dari arah kompleks Pasar Senen—saya
baru tahu bahwa saya tidak dibawa ke Mabes Kopkamtib. Iringan jip ini akhirnya
masuk ke Jalan Boedi Oetomo, lewat sekolah saya sewaktu di SMA, yaitu SMA B
Boedi Oetomo, lalu berhenti pas di sebelahnya, di depan Rumah Tahanan Militer
Boedi Oetomo (yang waktu itu saya perhatikan sudah diganti namanya menjadi
Inrehab Boedi Oetomo, institut rehabilitasi). Di ruang depan penjara militer tersebut
saya diproses buat ditahan, antara lain sesudah digeledah seluruh badan saya, saya
diminta melepas ikat pinggang, sepatu, arloji, dan menyerahkan dompet serta ransel
baju dalam saya. Semua itu dikumpulkan di meja di depan saya untuk dibuatkan
~ 200 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 200 3/26/10 7:24:59 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
catatannya. Seorang juru ketik mengambil semua identitas saya ke dalam formulir
yang siap diisi.
Nah, cerita berikut ini barulah yang hebat buat kenangan saya! Sambil berjalan
dengan tegang masuk ke gedung dan ruang tahanan saya, melewati dua panser yang
diparkir serta sebuah gerbang jeriji besi-baja, belasan sel saya lewati juga di kegelapan
penjara yang diterangi lampu-lampu yang redup 25 watt dan yang pengap diliputi
bau obat nyamuk dan semprotan DDT. Bersamaan dengan bunyi derap sepatu lars
sipir penjara dan pengawal tentara terdengar suara-suara mengejek dari dalam sel-
sel tersebut: ‘Raiders Orde baru masuk!’ Suara-suara itu diiringi dentangan gembok-
gembok ke jeruji sel-sel tersebut. Ratusan nyamuk menyerbu sel yang disiapkan buat
saya, yang cuma memiliki selembar tikar baru, bantal baru yang tidak empuk, dan
sebuah piring panci, mug aluminium, serta sendok-garpu. Semua itu jelas baru dibeli
di pasar, barangkali beberapa hari sebelumnya. Heran! Karena sudah sekitar jam
2 pagi barangkali, saya bisa tidur pulas berselimut jas hujan. Sekitar subuh, bukan
cuma azan yang saya dengar, tapi juga kedatangan pembawa ransum pagi RTM yang
memakai pikulan, membagikan kepada para tapol dan saya: ‘nasi goreng’, dari beras
kualitas rendah kecokelatan dan bau apek yang ada batu-batunya dan digoreng dengan
sedikit kecap serta berbau besi wajan; ‘sup’, yang bersaus seperti bekas mencuci
tahu dan tempe plus potongan-potongan kangkung dan bawang merah sekadarnya,
dan; segelas ‘air minum panas’. Tapi, para tapol menyambut pembagian-pembagian
ransum itu ramai betul, tidak ubahnya seperti menyambut makanan pagi yang lezat.
(Sampai pertengahan April 1976, jadwal pagi ini pun terus saya alami tidak ubahnya
seperti sebuah ritual.)
Pagi itulah saya baru tahu bahwa saya dilempar ke penjara tapol-tapol Gestapu
dari berbagai latar belakang dan yang sebagian besar sudah menjadi penghuni-
penghuni RTM sejak tahun 1966. Pantas mereka mencemoohkan saya sebagai
‘Raiders Orde Baru’. Di penjara yang mengitari sel sempit ukuran 2,5 m x 3 m x 3
m yang saya huni dari tanggal 17 Januari 1974 sampai pertengahan April 1976 itu
ternyata isinya tapol Gestapu yang berasal dari militer dan sipil, mulai dari prajurit
TNI dan Polri dan anggauta serikat buruh onderbouw PKI sampai ke perwira-perwira
tinggi dan anggota Central Comite dan CDB PKI.
Rupanya arsitek penahanan tapol Malari—begitu sebutan buat saya dan
kawan-kawan—mau meruntuhkan semangat dan harga diri saya dan kawan-kawan
dengan mencampakkan kami dengan segala kebencian ke lingkungan tapol Gestapu
itu. Saya kira ‘pesan’ yang ingin disampaikan adalah ‘Biarpun kamu-kamu dulu
adalah bekas pelopor KAMI/KAPPI/KASI, sekarang sebagai pengkhianat yang mau
makar terhadap Orde Baru, kamu-kamu tidak lebih dari PKI serta antek-anteknya’.
Sikap angkuh seperti itu ditunjukan pula oleh hampir semua interogator yang berasal
dari TNI AD/AL/AU dan Polri serta Kejaksaan Agung. Tampak, mereka sudah dititipi
untuk bersikap seperti itu, karena kami sudah menjadi musuh Orde Baru. Sekitar
tiga puluhan interogasi yang dilakukan kepada saya oleh Tim Teperpu selama dua
tahun itu, kemudian menunjukkan secara gamblang adanya sikap tersebut. Kami

~ 201 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 201 3/26/10 7:24:59 PM


Hariman & Malari
diperlakukan sebagai pengkhianat Orde baru, yang menggerakkan aksi ‘subversi’
buat menjatuhkan Presiden Soeharto. Kami diancam hukuman penjara dari lima
tahun sampai hukuman seumur hidup atau hukuman mati atas dasar Undang-Undang
Subversi Tahun 1961.
Pada hari-hari, minggu-minggu, bulan-bulan, dan tahun-tahun berikutnya,
tapol-tapol Malari yang ditangani Tim Kelinci, kelompok nasionalis yang ditangani
Tim Anjing Geladak, dan yang dituduh terlibat dan berasal dari kelompok GUPPI yang
ditangani Tim Kembang Sepatu menjalani interogasi di ruang-ruang bersebelahan
dengan ruang tempat interogasi masih terus berlangsung terhadap tapol Gestapu dan
tapol PKI. Interogasi itu dilakukan kapan saja: subuh, tengah malam, siang. Dan
dilakukan oleh dua orang atau lebih serta berlangsung tiga jam atau lebih. Pokoknya:
semau merekalah. Kata mereka yang dari tapol PKI dan tapol Gestapu, ‘Interogasi
dengan berbagai teknik kekerasan yang kejam tidak lagi dilakukan di RTM Boedi
Oetomo, tapi di tempat-tempat interogasi yang tersebar di seluruh penjuru Jakarta.
Dan Anda akan ‘dibon’ buat dipinjam tim-tim khusus yang ahli kekerasan di lokasi-
lokasi tersebut.’ Yap Thiam Hien dan Bang Buyung Nasution, yang juga sama-sama
tapol Malari, pernah khusus beberapa kali mendatangi saya di sel pada larut malam
buat memberi semangat serta pesan-pesan tentang hak-hak saya sebagai Warga
Negara RI di hadapan tantangan interogasi Teperpu itu. (Untuk melakukan itu,
kedua beliau harus melewati sekitar dua pintu gerbang besi yang dijaga tentara, yang
membatasi blok-blok penjara RTM. Saya heran, bagaimana caranya mereka berhasil
melakukannya?)
Secara bertahap, antara lain lewat informasi-informasi yang disampaikan para
tapol Gestapu, saya tahu bahwa puluhan cendekiawan dan aktivis mahasiswa dari
sejumlah dewan mahasiswa di sejumlah kota ditangkap atau diinterograsi karena
terlibat dalam Peristiwa Malari. (Istilah ‘Malari’ yang berasal dari ‘Malam Limabelas
Januari’ dicetak oleh rezim Orde Baru; khususnya pihak intelnya, tampaknya diilhami
oleh istilah ‘Gestapu’ yang berasal dari ‘Gerakan September Tigapuluh’.) Menurut
info-info yang saya dengar pada minggu-minggu pertama di RTM Boedi Oetomo,
para aktivis mahasiswa di Jakarta disekap di RTM Tanah Abang, RTM Jalan Guntur,
dan sebagainya, supaya terpisah total dari tapol Malari yang senior yang disekap di
RTM Boedi Oetomo. Dari obrolan dengan beberapa interogator yang cukup terbuka,
saya mendapat gambaran, yang ditangkap mayoritas berasal dari GDUI, lalu Dewan
Mahasiswa UI, dan beberapa dari dewan mahasiswa yang ikut turun rapat umum di
kampus Universitas Trisakti pada pagi hari 15 Januari 1974. ‘Mereka kan bukan PSI!’
kata seseorang dari mereka sambil bercanda.
Pada sekitar akhir 1974, tanpa terduga, seluruh aktivis mahasiswa itu diambil
dari lokasi-lokasi yang tersebar tersebut dan dikumpulkan dengan tokoh-tokoh senior
‘dari PSI’ di RTM Boedi Oetomo. Saya masih ingat bagaimana mereka berteriak-
teriak gembira memanggil-manggil saya, ketika masuk ke Blok A dan Blok B.
Demikianlah pada akhirnya saya terkumpul di kedua blok tersebut dengan Aini Chalid,
Rahman Tolleng, Jusuf A.R., Gurmilang Kartasasmita, Remy Leimena, Judilherry,

~ 202 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 202 3/26/10 7:25:00 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Bambang Sulistomo, Jessy Monintja, Eko Djatmiko, dan Marsillam Simandjuntak.
Saya langsung tahu bahwa itu adalah tanda akan mulai dilaksanakannya pengadilan
subversi oleh Teperpu terhadap Hariman dan Sjahrir. Maklum, Hariman diberi sel
khusus yang dijuluki ‘Kandang Macan’, yang di RTM Boedi Oetomo katanya hanya
akan dipakai bagi beberapa mereka yang akan diadili. Lokasinya memang paling dekat
dengan tempat interograsi dan terpisah jauh dari seluruh RTM, berada berdampingan
dengan tempat parkir kedua panser—dari jenis Seracen dan Ferret yang berfungsi
sebagai pengangkut personel TNI bersenjata berat. Lokasi ‘Kandang Macan’ yang
berkerangkeng tinggi di seluruh bagiannya itu juga yang paling dekat dengan pintu
gerbang utama.
Dengan keberadaan generasi muda Hariman Siregar ini, arus lalu-lintas info
menjadi semakin lancar, sampai menjangkau ke kota-kota Bandung, Yogyakarta,
Surabaya, dan Medan, tempat banyak cendekiawan serta aktivis mahasiswa ditangkap
atau diinterograsi. Lakon yang mau ditayangkan rezim Orde Baru itu rupanya adalah
‘Malari didalangi PSI untuk melakukan makar terhadap Soeharto’, yang serupa
Gestapu pada tahun 1965 berusaha mengobarkan anarki jenis ‘Perang Kelas’ di Kota
Jakarta, yang dalam hal ini diilhami oleh Gerakan Kiri Baru (New Left) di Barat.
Dengan keyakinan kuat dan rasa percaya diri yang berbatasan dengan keangkuhan,
para interogator itu berusaha mengumpulkan bukti-bukti yang mendukung lakon
imajiner tersebut. Jelas mereka langsung bertabrakan dengan Hariman-Sjahrir dkk.
yang tak ada takutnya itu, yang menantang setiap percobaan Tim Teperpu untuk
mengubah hasil-hasil interogasi tersebut ke bukti-bukti perkara, supaya lakon aneh
itu bisa ditayangkan ke publik. Tapi, kita semua tahu bahwa membuktikan adanya
‘konspirasi subversi sekelas makar di tengah Ibu Kota RI’ ini hanya bisa dicapai kalau
tapol Malari dapat dibuktikan telah melakukan hal serupa yang dilakukan oleh tapol
Gestapu, dalam hal ini melakukan anarki pada 15-16 Januari 1974. Itu yang jelas
bukan kani yang melakukan.
Demikianlah, bersejajaran dengan interogasi oleh Teperpu yang tak henti-
hentinya, perjalanan hidup tapol Malari makin terbaur ke arus kehidupan masyarakat
tapol Gestapu, terutama pada bawahannya. Sesudah beberapa bulan berjalan mulailah
muncul kesempatan buat ngobrol dengan tokoh-tokoh PKI dan anggota-anggotanya
dan tapol Gestapu yang bukan PKI, yang dilakukan dalam suasana santai saat
berolahraga badminton dan pingpong di aula terbuka RTM atau waktu acara ‘nonton
bareng’ buat hiburan-hiburan TVRI yang diizinkan—bahkan sesudah sembahyang
subuh dan isya berjamaah, yang juga diikuti oleh sejumlah tapol PKI. Meskipun saya
sering diperingatkan Pak Soebadio Sastrosatomo, Pak Moerdianto, dan Pak Mardanus
yang mantan Menteri Maritim era Bung Karno (yang semuanya sekarang sudah
almarhum) tentang risiko berdebat dengan orang-orang PKI, saya tetap membandel.
Tapi, larangan sangat keras dari mereka untuk tidak ngobrol dengan tokoh Gestapu/
PKI Sjam, yang meng-otak-i kegiatan-kegiatan operasional Biro Khusus, saya ikuti,
antara lain karena teman-teman Malari juga melarang itu. Karena itu, peran Sjam
yang sesungguhnya di dalam Gestapu tetap merupakan misteri buat saya. Cuma,
saya ingat, bahkan tapol-tapol PKI dan Gestapu tampak menghindari bergaul dengan
~ 203 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 203 3/26/10 7:25:00 PM


Hariman & Malari
Sjam. Ajaib.
Menarik sekali ngobrol dan debat dengan tokoh PKI, Munir, yang simpatik
dan selalu senyum—yang sudah dieksekusi pada akhir 1970-an. Setiap saya mencoba
mengorek tentang peristiwa Gestapu dan peran PKI di situ, ia secara konsisten
menyatakan dengan tegas: ‘Itu urusan Aidit dan Biro Khusus yang dibentuknya
bersama Sjam dan Pono. Di luar mereka, kami cuma tahu garis-garis besarnya secara
samar-samar saja.’ Sewaktu saya ngobrol soal tuduhan tentang adanya peran Partai
Komunis Cina dalam menggerakkan Gestapu, Munir menerangkan bahwa, pada
dasarnya, PKI yakin bisa menang lewat pemilu, seperti yang sudah terbukti waktu
Pemilu 1955 dan 1957 ketika PKI meraih peringkat keeempat. ‘Jadi, tidak perlu
merebut kekuasaan,’ katanya. Seperti diketahui, pada periode pasca-Gestapu, barulah
Munir dan kawan-kawannya pada akhirnya mencoba melakukan perang gerilya model
Mao Ze Dong dan Viet Cong di wilayah Blitar Selatan, Jawa Timur, yang bermedan
berat. Percobaan ini habis ditumpas Operasi Trisula dari Divisi Brawijaya dengan
bantuan sistem ‘pagar betis’ rakyat setempat. Pada waktu itulah, pada tahun 1967,
Munir dan kawan-kawannya berhasil ditangkap TNI. Yang aneh, Munir dan Ruslan
dari Central Comite PKI sama-sama bersikeras bahwa perpecahan di antara Partai
Komunis Cina dan Partai Komunis Rusia (Uni Sovyet) itu tidak ada dan pengamatan
serta analisis itu cuma ‘ciptaan analis dan intel Blok Barat’. Tentu, saya pun tidak
mau kalah dan menyatakan bahwa ‘skisme ideologi’ itu sungguh-sungguh ada dan
bahkan telah semakin mendalam sejak 1960-an. Saya juga menyatakan, ‘PKI yang
makin miring ke Partai Komunis Cina jelas disabot Partai Komunis Rusia. Maka itu,
Gestapu/PKI dituduh sebagai petualangan kiri kekanak-kanakan (leftist infantilism)
oleh Partai Komunis Rusia.’
Di lapisan bawah dari para tapol PKI terdeteksi oleh saya tentang minimnya
pemahaman mereka tentang teori-teori marxisme, yang menjadi landasan ideologi
PKI; apalagi liku-liku ke arah misalnya paham-paham Trotsky atau titoisme; juga
tentang gejala munculnya ‘Kelas Baru’ dari ‘kediktatoran proletar’, yaitu yang tesisnya
dibangun oleh Milovan Djilas, lawan Tito. Waktu itu, saya balik ke ingatan-ingatan
saya, yakni pada periode 1962-1964 dari ‘Sosialisme Indonesia’ Bung Karno, ketika
para pakar FEUI gencar membangun dan menawarkan paham sosialisme Indonesia
yang diilhami oleh pengalaman-pengalaman negara-negara Skandinavia yang sosial-
demokrat dan model serta pengalaman Yugoslavia serta Polandia yang merevisi model
Uni Sovyet yang kaku, sebagai upaya melawan interpretasi marxisme–leninisme
yang ortodoks dari PKI c.q. Aidit yang tampak makin miring ke Partai Komunis Cina
Mao itu. Di lingkungan akademi, FEUI gencar menyatakan bahwa pembentukan
masyarakat sosialisme Indonesia adalah ‘bentuk akhir’ yang divisikan Bung Karno di
dalam ajaran-ajarannya dan bukan sekadar ‘tahapan antara’ menuju ke pembentukan
sebuah masyarakat komunisme di Indonesia, seperti yang dinyatakan secara resmi
oleh PKI.
Dengan mengambil posisi ideologis ofensif tersebut, para ekonom pada
Musyawarah Besar Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia tahun 1964 diarahkan para

~ 204 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 204 3/26/10 7:25:00 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
pakar FEUI untuk melawan garis ideologi PKI. Saya dan beberapa asisten pengajar
dan peneliti FEUI yang masih berumur 20 tahunan dikawal para senior FEUI duduk
dan berdebat melawan delegasi Himpunan Sarjana Indonesia, yang onderbouw PKI,
di setiap kesempatan mubes itu. Akibat dari gerakan dosen-dosen FEUI tersebut, PKI
dan kalangan ‘radikal kekiri-kirian’ di Pemerintah Demokrasi Terpimpin kemudian
menuntut kepada Komando Operasi Tertinggi RetoolingAparatur Revolusi (KOTRAR)
yang dipimpin Wakil Perdana Menteri Soebandrio supaya FEUI dibubarkan sebagai
kelompok ‘kontrarevolusi’ atau ‘kontrev’.
Di RTM Boedi Oetomo itulah saya menyaksikan bagaimana lapisan bawah
PKI yang makin terbuka kepada saya cuma tampak sebagai sebuah kelompok radikal
yang dogmatis dan yang sangat membenci Blok Barat dan gaya hidup Barat; terutama
Amerika Serikat. Dan sebagai ‘true believer’—mengikuti tesis Eric Hoffer—yang
dogmatis tidak mampu lagi berpikir terbuka dan kritis. Tidak mampu lagi memisahkan
antara retorika dan realisme. Yang ada cuma slogan-slogan seperti ‘Nekolim’, ‘Tujuh
Setan Desa’, ‘Lima Setan Kota’, ‘Kapbir’, dan ‘Borjuis Nasional’. Semua tampak ikut
‘garis partai’ atau ‘garis Aidit’supaya lebih tepat. Maka itu, mereka yang di lapisan
bawah PKI tampak seperti bingung setiap saya ajak ngobrol tentang apa yang saya kira
telah terjadi di dalam pemikiran strategi Aidit dan Biro Khusus sampai berprakarsa
menggerakkan Gestapu pada periode singkat 30 September–2 Oktober 1965 tersebut.
Lapisan bawah PKI atau simpatisan-simpatisannya lebih banyak tidak tahunya soal
Gestapu dalam perinciannya, apalagi tentang Biro Khusus.
Perdebatan politik yang serius di RTM Boedi Oetomo yang saya jalani
itulah yang kemudian mengungkapkan kepada saya, betapa masih minimnya proses
pendidikan politik di PKI—seperti juga di partai-partai politik Indonesia sampai
saat ini. Waktu itulah saya menyaksikan bagaimana sebagian terbesar masyarakat
Indonesia yang terbawa atau masuk ke pertarungan politik sering cuma terkecoh/
dikecoh tokoh-tokoh politik, lewat teknik-teknik penyederhanaan proses olah pikir
atau lewat penggunaan propaganda-propaganda yang menjurus ke pemanfaatan
slogan-slogan yang ditujukan untuk membangunkan semangat, yang kemudian oleh
para tokoh diarahkan untuk melakukan pengerahan massa buat mendukung intrik-
intrik tingkat tinggi mereka.
Perlu saya ceritakan, saat peristiwa Gestapu/PKI terjadi, saya berada di
University of California di Berkeley, Amerika Serikat, memasuki tahun kedua tugas
belajar dari FEUI. Sampai kini tetap menjadi misteri bagi saya, mengapa Bung Karno
mengizinkan sekitar 50 dosen dari FEUI, ITB, dan IPB meninggalkan Indonesia
untuk tugas belajar di berbagai universitas di Amerika Serikat, justru di tengah-tengah
gelombang ‘Nasakomisasi’ yang sedang dipacu secara intensif oleh pimpinan PKI.
Lebih heran lagi, mengapa paspor dinas kami ditandatangani oleh Wakil Perdana
Menteri Leimena dan bukan oleh Soebandrio yang adalah juga Menteri Luar Negeri
waktu itu? Saya juga heran, mengapa Bung Karno mengizinkan kami didanai beasiswa
Ford Foundation atau USAID. Juga mengapa kami tidak dipanggil pulang ketika
pertentangan makin menjadi-jadi terhadap Amerika Serikat, yaitu ketika ‘Go to Hell

~ 205 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 205 3/26/10 7:25:01 PM


Hariman & Malari
with your Aid’ diserukan, dibarengi Indonesia keluar dari IMF dan dari PBB?
Berita tentang peristiwa Gestapu itu saya sendiri dengar lewat radio gelombang
pendek yang canggih untuk waktu itu, yang saya beli di Hong Kong dalam perjalanan
terbang dengan Pan Am dari Jakarta ke San Francisco. Di sekitar subuh, saya
dibangunkan Sutrisno (Prof. Dr. Ir. Sutrisno) dari ITB, teman se-apartemen saya.
‘Tun, ada kup di Jakarta,’ katanya.
Sambil ngantuk, saya teriak dari kamar, ‘Tiap hari di Jakarta ada kuplah, biarin
aja!’ Besoknya saya ditelepon—suatu hal yang tidak mudah waktu itu—oleh kakak
saya, Boy, dari Jakarta. Ia bekerja sebagai Staf Pribadi Menteri Perindustrian Rakyat,
Brigjen TNI/AD Dr. Azis Saleh.
‘Tadi malam Om Haryono dan Om Soetoyo diculik pasukan Tjakrabirawa.
Om Haryono ditembak dan gugur di rumahnya. Kamu jangan pulang. Ini pesan
kami. Usahakan terus di Amerika Serikat, biarpun harus cari dana sendiri,’ ujarnya.
(Memang, Mayjen TNI/AD M.T. Haryono adalah tetangga dekat keluarga saya di
Jalan Prambanan. Akan halnya Mayjen TNI/AD Soetoyo dulu juga tetangga dekat
sebelum mereka pindah ke daerah Menteng.)
Sejak itu, tiap pagi saya dan Sutrisno mendengarkan siaran RRI yang direlai
lewat RRI Ambon ke wilayah timur Indonesia. Siaran itu penuh gangguan statik.
Saya lalu menyebarkan berita-berita itu ke semua cabang Persatuan Mahasiswa
Indonesia se-Amerika Serikat lewat buletin ‘Permias Wilayah Barat’, yang saya
adalah ketuanya.
Di RTM Boedi Oetomo itulah cerita tentang peristiwa Gestapu/PKI dengan
segala makna serta hikmahnya pada akhirnya dan secara tidak sengaja boleh dikatakan
menjadi lebih lengkap buat saya. Dari teman-teman Malari, saya mendapat tanggapan-
tanggapan, utamanya dari Aini Chalid (almarhum), tokoh Dewan Mahasiswa UGM,
dan dari Sjahrir, selain dari Pak Badio, Pak Anto, dan Om Mardanus—yang kini
semua sudah almarhum. Tapi, mereka selalu mengingatkan, ‘Hati-hati, Tun, kalau
ketahuan Teperpu, bisa-bisa kamu dipindah ke penjara lain.’ Saya tetap saja berdebat
dengan tapol-tapol PKI, karena saya tidak pernah merasa menyerah meskipun
kalah oleh rezim Orde Baru. Saya punya hak sebagai warga negara Indonesia untuk
berbicara dan menyatakan pendapat. Ketika kami kumpul-kumpul untuk merayakan
‘ulang tahun’ Malari—entah yang ke berapa—di sebuah vila Putri Duyung di Ancol,
pada saat Orde Baru sedang merajalela, sambil ketawa-ketawa Princen (almarhum)
memeluk bahu saya dan mengatakan dengan logat Belanda yang kental, ‘Tun, kita
betul orang-orang kalah, tapi belon menyerah!’
Mengenang debat dengan tapol PKI di RTM Boedi Oetomo itu, saya sampai
kepada penilaian bahwa PKI kaya retorika radikal, tapi lemah di dalam kemampuan
berorganisasi operasional; juga di dalam mengenali situasi kondisi nyata di lapangan.
Struktur tersentralisasi PKI telah menciptakan semacam oligarki central comite
yang didominasi Aidit sebagai pimpinan sekaligus pakar. Pengalaman kemenangan

~ 206 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 206 3/26/10 7:25:01 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
PKI di Pemilu 1955 dan 1957 serta gegap gempitanya upacara Ulang Tahun Ke-
45 PKI di Stadion Utama Senayan pada tahun 1965 tampaknya telah menimbulkan
penggelembungan rasa percaya diri yang menuju ke mitos bahwa sejarah ada di pihak
PKI. Yang hebat sekaligus naif: PKI seperti yakin bahwa Gestapu di Jakarta akan
mampu memicu spontanitas ‘Revolusi Sosial’ yang luas di mana-mana, yang akan
mampu menghabisi lawan-lawannya, termasuk TNI. Memang ironis bahwa Aidit
dkk. malah memprakarsai gerakan kup lewat perjudian politik Biro Khusus untuk
merebut kekuasaan dari pemerintah RI dan bukannya mengandalkan kekuatan jutaan
massa yang katanya mereka miliki untuk memicu pemberontakan. Inilah yang saya
peroleh dari para tapol PKI di RTM Boedi Oetomo pada periode medio 1974 sampai
dengan awal 1976.
Kalau menengok ke perkembangan-perkembangan modernisasi serta
industrialisasi yang berlangsung cepat di RRC sejak dekade terakhir dan yang mirip
‘westernisasi’, saya tidak heran kalau saja PKI masih ada pasti mereka akan kaget,
apalagi kalau menyaksikan bagaimana ‘Glasnost dan Perestroika’ Gorbachev telah
membubarkan Partai Komunis Rusia, selain menimbulkan perubahan-perubahan cepat
yang mengakhiri sistem dan ideologi marxisme-leninisme di Blok Timur. Uni Sovyet
bubar dan menimbulkan gerakan-gerakan pemisahan dari Rusia di mana-mana—di
Ukraina, wilayah negara-negara Baltik, Asia Tengah, di Georgia, dan sebagainya.
Kesemua peristiwa ini telah menjadi bukti yang nyata tentang bagaimana
sebuah ideologi yang dogmatis akan sulit bertahan di depan perubahan-perubahan
cepat yang digelindingkan oleh proses-proses nyata di lapangan. Dogmatisme
membuat penganut-penganutnya kehilangan kemampuan untuk memahami secara
realistis kenyataan-kenyataan yang ada di lapangan, di dalam kehidupan sehari-hari.
Itulah sebabnya, dogmatisme mudah membangkitkan fanatisme atau radikalisme,
utamanya di lapisan bawah. Dengan dogma-dogma, bangunan konsep pun diandalkan
mereka untuk melakukan gebrakan, terobosan politik. Peristiwa Gestapu menunjukkan
bagaimana ‘Sayap Kiri’ Indonesia c.q. PKI telah termakan oleh mitos-mitos yang
diciptakannya sendiri. Untuk itu, ratusan ribu kehilangan nyawa, dijebloskan ke
dalam penjara-penjara tanpa diadili, belasan ribu dibuang ke Pulau Buru. Kebetulan,
sebagai tapol Malari, saya dicampakkan ke tengah-tengah tapol Gestapu/PKI selama
27 bulan. Dan dari obrolan serta perdebatan-perdebatan dengan tapol-tapol PKI dan
Gestapu itulah sejarah Indonesia ‘menjadi hidup’ buat saya. Suatu pengalaman yang
mahal bayarannya bagi saya dan keluarga, tapi saya yakin, buat kita semua yang
mencari makna serta hikmah dari Peristiwa Gestapu 1965 mungkin cerita karikaturis
ini ada gunanya.
Hikmah Peristiwa Gestapu/PKI, saya kira, adalah: dogmatisme yang elitis
hanya bisa dan harus dilawan oleh sistem demokrasi yang semakin berkualitas
dan meluas, yang memberikan pendidikan politik secara nyata dan praktis kepada
masyarakat luas. Hanyalah sistem yang demokratis yang akan bisa mengerem
petualangan elite politik, yang berasal dari jurusan politik dan ideologi mana pun,
yang seolah-olah ‘menjanjikan’ masuk surga tanpa harus mati.

~ 207 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 207 3/26/10 7:25:02 PM


Hariman & Malari
Berlainan sekali dengan yang dikejar oleh PKI dan para pendukungnya,
generasi saya dan generasi Hariman sebetulnya hanya ingin melihat agar demokrasi
ditegakkan di Indonesia, di bawah pimpinan sebuah pemerintah yang bersih, yang
sungguh-sungguh berupaya memenuhi janji-janji yang dengan demikian indahnya
ditulis di dalam Mukadimah UUD 1945. Menurut kami waktu itu, pemerintah Orde
Baru telah menyeleweng dan itu kami lihat cuma beberapa tahun sesudah pemerintah
Orde Baru itu jalan. Mungkin saja, dalam mengetengahkan konstatasi itu, kami berada
terlalu jauh—sejauh 24 tahun—di depan sejarah Indonesia.
Tak heran, oleh klik di sekitar Presiden Soeharto, kami dicemoohkan sebagai
‘radikal Orde Baru’. Menurut klik politik tersebut, Indonesia merupakan contoh dari
ulah partai-partai politik dalam melakukan intrik-intrik yang menjurus ke konflik-
konflik model DI/TII, PRRI-Permesta, Gestapu, dan Malari. Itulah sebabnya,
demokrasi tidak dapat digunakan di Indonesia. Kata mereka: pembangunan yang
dilaksanakan hanya akan berhasil kalau ada partai negara yang kuat; apalagi yang
berstatus partai tunggal. Indonesia butuh sebuah ‘strong government’, yang kalau
perlu bersikap represif terhadap kekuatan-kekuatan oposisi. Selanjutnya: model
Nippon Inc. perlu ditiru Orde Baru, serupa yang dilakukan di Korsel, Taiwan,
Malaysia, dan Singapura. Demikianlah, dengan kekalahan ‘Radikal Orde Baru’ pada
peristiwa Malari 1974, pemerintah Orde Baru berhasil mendominasi selama 32 tahun
lamanya, pada periode Indonesia Inc. Tapi, dominasi yang hampir mutlak itu telah
mengembangbiakkan virus kolusi, korupsi, dan nepotisme yang ganas, yang nyaris
menimbulkan kehancuran total pada NKRI saat krisis multidimensi 1997-2000.”  

*****
“Saya mengenal Hariman karena dikenalkan oleh Sjahrir, karena tidak ada
satu pun yang masuk di GDUI yang tidak dikenalkan. Saat masuk, dia langsung dapat
kuliah mengenai ekonomi politik oleh saya, falsafah oleh Billy Judono, dan politik
luar negeri oleh Juwono Sudarsono. Selain itu, kami juga mengundang tokoh-tokoh
dari luar kampus. Selama GDUI berdiri dari tahun 1970-an, kami sudah mendengar
pembicaraan dari Muhammad Hatta, Wilopo, Jenderal Simatupang, dan banyak tokoh
lain. Hampir semua tokoh di republik ini kami datangkan untuk berdialog tentang apa
yang sebetulnya dikehendaki oleh mereka dulu dan mengapa sampai terjadi kondisi
yang seperti sekarang ini. Saya pernah bertemu beberapa kali dengan Pak A.H.
Nasution di rumahnya, juga dengan Sarwo Edi dan H.R. Darsono.
Hariman waktu itu belum terlibat aktif di GDUI. Tapi, kalau dilihat dari
kemampuannya untuk membangkitkan semangat dengan kemampuan oratornya sulit
ditandingi, bahkan Sjahrir tidak sanggup untuk menandinginya, menurut saya, sangat
penting peran orator di GDUI, untuk menghadapi massa. Hariman juga tidak mudah
gentar. Dia sangat berani. Rata-rata, yang saya lihat di GDUI itu memang berani.
Mungkin ini salah satu ciri dari generasi Hariman, enggak ada takutnya. Juga saya
mengalami waktu di dalam penjara, mereka itu tidak ada takutnya, tapi juga bukan

~ 208 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 208 3/26/10 7:25:02 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
nekat. Mungkin mereka punya suatu keyakinan yang kuat, tapi yang jelas bukan
ideologi. Sampai hari ini saya lihat Hariman enggak ada takutnya.
Keterlibatan Hariman di GDUI sebetulnya termasuk belakangan, menjelang
Peristiwa Malari. Waktu itu, GDUI sempat beranggotakan 200 orang, karena setiap
semester kami rekrut anggota baru. Cukup banyak anggota GDUi yang sekarang
berada dalam posisi di atas. Tidak ada satu pun yang tidak lulus S1 dan kalau tidak
salah sekitar 40 orang melanjutkan ke program doktor sampai selesai.
Kami juga melakukan beberapa variasi dengan mengadakan hubungan ke
kelompok diskusi yang lain, seperti kelompok Diskusi Cibulan yang diprakarsai
Jenderal Simatupang. Kemudian ada diskusi di antara semua organisasi ekstra-
universitas, seperti PMKRI, GMNI, dan HMI. Itu betul-betul berlangsung intens,
bahkan saya dan Sjahrir sempat berkeliling ke beberapa kota, seperti Yogyakarta,
Bandung, dan Surabaya, untuk mengadakan hubungan-hubungan yang lebih formal
dengan dewan-dewan mahasiswa yang kemudian juga membangun kelompok-
kelompok diskusi serupa. Di Yogyakarta, kami bertemu dengan Aini Chalid. Di
Surabaya bahkan Rektor Universitas Airlangga, Ari Sudewo, turun tangan sendiri. Di
Bandung bertemu Arifin Panigoro, Rahman Tolleng, dan lain-lain.
Tapi, kami dari GDUI tidak pernah menyangka bahwa akan terpaksa untuk
melanjutkan pergulatan pemikiran itu dengan demontrasi. Kami pikir tadinya demo
itu sudah selesai, yang harus kami lakukan adalah menyalurkan semua generasi muda
ini keluar dari gerakan untuk tidak menimbulkan lagi gejolak yang di timbulkan
oleh mereka yang berbakat untuk melanjutkan kegiatan secara facistis itu—istilah
yang saya pakai dengan Soe Hoek Gie. Tapi, melihat perkembangan di pemerintahan
Soeharto, terpaksa kami melanjutkan pilihan lewat demonstrasi itu. Padahal, sewaktu
masih di Berkeley, pembicaraan seperti ini tidak pernah ada sama sekali. Terus
terang saja, Nono Anwar Makarim dengan Harian KAMI-nya melihat bahwa lebih
baik kalau kami melakukan oposisi loyal. Karena, bagaimanapun, kami jugalah
yang membangun Orde Baru itu pada awalnya. Dia gencar mengajak saya bicara
dan membawa gagasan ini ke bentuk pelembagaan dan akhirnya jadilah LP3ES
itu. Karena, kemungkinan suatu saat akan muncul tubrukan yang secara fisik dan
berhadapan dengan anasir-anasir di rezim Orde Baru yang sifatnya sangat represif.
Mereka sudah berusaha melakukan apa yang diinginkan Soe Hoek Gie, tapi kedaan
menjadi berlainan. Nah, dari situ kemudian demo semakin marak.
Waktu itu, saya sering dikritik: seharusnya saya sudah masuk pemerintahan
dan mencoba melakukan koreksi dari dalam dan tidak melawannya dari luar. Tapi,
saya melihat perkembangan percukongan yang menjalar begitu cepat. Dan itu saya
lihat sendiri, saat baru pulang ke Indonesia, bagaimana Soeharto bekerja sama dengan
‘konglomerat hitam’. Jadi, bakat-bakatnya sudah kelihatan waktu itu. Banyak sekali
dokumen yang bocor kepada kami, yang berasal dari pemerintah, yang menunjukkan
bahwa peristiwa itu mulai terjadi. Saya ingat betul bahwa proses yang sama juga terjadi
di Amerika Latin, Pakistan, dan Thailand, yaitu kerja sama di antara rezim militer,
teknokrat, dengan sekompok konglomerat. Saya perhatikan model ini muncul dengan
~ 209 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 209 3/26/10 7:25:03 PM


Hariman & Malari
alasan melakukan pembangunan secara tersentral lewat kepemimpinan sektor negara.
Kemudian bank-bank digunakan untuk membiayai sebagian dari swasta yang tadi
masuk dalam suatu kerangka berpikir yang mereka sebut waktu itu sebagai ‘Nippon
Incorporated’. Nah ini ditiru di sini, namanya ‘Indonesia Incorporated’, yaitu kerja
sama militer, teknokrasi dan swasta, yang sama dengan di Korea Selatan.
Kondisi yang seperti ini membuat demo semakin menggelinding terus. Mau
tidak mau seluruh dewan mahasiswa yang dekat dengan kami dan punya kelompok
diskusi akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa koreksi dari dalam semakin lama
semakin sirna, apalagi sesudah mereka menyingkirkan apa yang mereka sebut sebagai
‘Kaum Radikal Orde Baru’, seperti Jenderal H.R. Darsono dan Kemal Idris, yang
menghendaki benar-benar proses demokratisasi dilakukan pada sistem Pemilihan
Umum 1971.
Sementara itu, Soeharto melihat yang menyebabkan kemelut di Indonesia
sampai menimbulkan peristiwa PRRI, Permesta, dan Gestapu adalah partai politik.
Jadi, merekalah yang harus dilibas pertama. Nah, saya melihat ini sebagai bibit
facisme, bukan dalam arti marxis-leninis. Kami melihat gejala ini terjadi di seluruh
dunia sebagai antidemokrasi dan mereka sering memakai tameng ini demi melawan
komunisme. Padahal, yang kami lihat dalam operasinya adalah proses pengayaan diri
yang kami sebut sebagai ‘ekonomi rente’.
Jadi, saat itu kami memang tidak punya pilihan lain. Nah, dalam suasana
seperti itulah saya ketemu dengan Hariman yang dibawa oleh Sjahrir, karena GDUI
selalu merekrut mahasiswa yang berbakat dalam mengembangkan kecendekiawanan
dalam berorganisasi. Kami tidak peduli latar belakang mereka, pokoknya kami
rangkul. Fokus kami semua waktu itu adalah menyerukan tentara back to barack dan
mahasiswa back to campus dan memilih moral force.
Saya terlibat dalam banyak diskusi di Bentara Budaya dengan kelompok Arief
Budiman, yang awalnya tidak berniat untuk terlibat dalam demonstrasi. Kami ingin
mulai kehidupan demokratisasi di Indonesia, kami akan bertindak sebagai oposisi
loyal, sebagi moral force. Betul-betul hanya itu awalnya. Banyak yang terlibat
dalam pembicaraan itu, seperti Rendra. Berpuluh kali kami melakukan diskusi itu di
Bentara Budaya dan di Taman Ismail Marzuki. Karena, saya ingin turut serta untuk
membangun suatu masyarakat baru—yang akhirnya baru terwujud sesudah reformasi
tahun 1998, setelah 32 tahun tertunda.
Dalam gerakan inilah Hariman terlibat, karena dia menjabat sebagai Ketua
Dewan Mahasiswa UI. Jadi, pemerintah berusaha untuk mematahkan Dewan Maha­
siswa UI dengan membentuk ikatan mahasiswa profesi, yang akhirnya saya juga ikut
karena tidak bisa menghindar dengan membangun Ikatan Mahasiswa Ekonomi. Tapi,
penyertaan diskusi dari Hariman belum begitu jauh sebetulnya jika dibandingkan
dengan Bambang Sulistomo atau yang lain. Sjahrir berperan besar meyakinkan saya
untuk menerima calon-calon yang baru.
Saya melihat Hariman adalah seorang aktivis yang sangat cerdas dalam gerakan
~ 210 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 210 3/26/10 7:25:03 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
operasional di lapangan, sementara Sjahrir adalah seorang ahli strategi. Sjahrir tahu
betul situasi dan saya selalu kaget terhadap gagasan-gagasan Sjahrir sampai akhirnya
pecah Peristiwa Malari, bahkan sesudahnya. Dia selalu keluar dengan analisis-
analisis yang tajam dan kemudian mencoba untuk melakukan tindakan-tindakan. Dia
selalu bisa meyakinkan orang, itu hebatnya dia, termasuk kepada yang muda-muda.
Tapi, kalau untuk teknik di lapangan, Harimanlah jagonya, bersama teman-teman
segenerasinya. Padahal. sewaktu KAMI bergerak, mereka masih kelas berapa? Atau
mungkin dari mereka ada yang tergabung dalam KAPPI?
Saya sendiri tidak pernah terlibat langsung dalam demonstrasi yang diadakan
mahasiswa. Tapi, dalam setiap persiapan, saya tahu karena mahasiswa selalu
menyertakan saya untuk memberikan analisis tentang mengapa suatu kejadian tidak
bisa diterima atau yang serupa itu. Jadi, kami juga memilih, tidak semua kami demo:
tokoh yang mana yang harus kami kritik, peristiwa mana yang harus kami perhatikan,
sistem mana yang harus kami tolak. Tapi, semua masih dalam sikap oposisi loyal,
karena kami masih berhubungan dengan Soeharto. Malah, saya suka dipanggil beliau.
Kami juga diajak ngobrol sama Pangkopkamtib. Awalnya masih biasa saja, tapi makin
lama tidak ada pilihan lain selain melakukan oposisi dari luar.
Pada akhirnya, setelah Peristiwa Malari, kami yang mengkritik pemerintah
dari luar ditangkap, seperti Adnan Buyung Nasution, Yap Thiam Hien, Mochtar Lubis,
bahkan Soedjatmoko pun diinterogasi waktu itu. Surat kabar dan majalah ditutup.
Mereka melontarkan bahwa ini adalah konspirasi yang didalangi oleh PSI. Karena
itu, yang ditangkap, yang seniornya kebanyakan dari PSI, sementara yang muda dari
dewan mahasiswa semua yang kena. Saya dianggap sebagai jembatan di antara yang
senior dengan yang muda ini.
Kalau di lihat dari liku-liku yang saya hadapi, jam per jamnya waktu itu,
tidak semudah itu Metamorfosis sampai kemudian menjadi sebuah gerakan. Tidak
sama sekali direncanakan sejauh yang mereka tuduhkan. Waktu itu, intel menuduh
bahwa saya membawa pemikiran-pemikiran ‘Kiri Baru’. Bahkan dikatakan, saya
mencoba membangkitkan perang gerilya kota, seperti di Amerika Latin. Saya bilang
itu tuduhan gila. Karena, apa yang terjadi sebenarnya adalah karena kami terpaksa.
Karena, awalnya, kami sudah setuju dalam pembicaraan-pembicaraan dengan
kalangan budayawan dan sebagainya bahwa kami akan back to campus. Kewajiban
kami adalah merampungkan tataran konseptual itu dan kami ingin munculkan suatu
kebudayaan yang baru setelah trauma dengan otoritarianisme yang hampir membawa
kita lebih jauh ke bagian kiri dari dimensi kehidupan politik di Indonesia.
Jadi, pertemuan saya dengan Hariman kebanyakan di dalam situasi yang sudah
memanas karena rencana demo menyambut Tanaka, yang bersamaan dengan demo
yang terjadi di Bangkok, kemudian menyebar ke Kuala Lumpur dan Manila. Pihak
intel melihat saya pernah jalan-jalan ke tempat itu semua dan bertemu dengan tokoh-
tokoh muda di sana yang tidak menghendaki adanya semacam dominasi ekonomi
yang terselubung yang mengantikan peran Barat. Yang kami inginkan betul-betul
suatu pembangunan yang dimulai dari bakat-bakat yang ada di dalam sistem kita
~ 211 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 211 3/26/10 7:25:04 PM


Hariman & Malari
sendiri. Waktu itu, kami membuat rencana untuk menyambut kedatangan dia dan
saya setuju. Tapi, yang lebih keras menentang berasal dari grup dewan mahasiswa di
Jakarta waktu itu, untuk menolak kedatangan Tanaka sebagai tanda protes terhadap
praktik yang dibawa oleh pihak Jepang ke Asia Tengara.
Banyak keserupaan apa yang dikritisi dulu dengan situasi sekarang, tapi
suasana sudah sangat jauh berubah. Kalau sekarang dengan pendidikan politik yang
telah dijalani oleh masyarakat Indonesia hampir 65 tahun ini, saya kira tidak bisa
lagi pemerintah bermain-main. Dengan pesatnya perkembangan internet, bisa enggak
mereka meredamnya? Pemerintah Cina saja kewalahan menghadapi itu. Internet ini
telah menimbulkan demokratisasi yang luar biasa di seluruh dunia. Hampir terjadi
instant referendum setiap hari, misalnya dalam kasus Bibit-Chandra dan kasus Prita,
itu kan sudah kelihatan. Jadi, tidak bisa dibandingkan kondisi politik dulu dengan
sekarang, karena kan dulu majalah dan surat kabar masih sangat sedikit, orang yang
berani masih sedikit, masyarakat Indonesia yang tinggal di pedesaan masih 80 persen.
Sekarang, masyarakat tahu kalau dikibuli, sedangkan dulu kami harus memberitahu
mereka bahwa mereka dikibuli.
Setiap zaman menimbulkan tokohnya yang paling cerdas untuk menerjemahkan
apa yang sedang terjadi, sebagai sebuah pertanda zaman. Jadi, tidak sama antara
Generasi 1928 dan Generasi 1945 atau Angkatan 1966, karena ada perubahan struktur
masyarakat yang sangat signifikan. Menurut saya, demokratisasi yang kami dulu pikir
bisa dimulai nyatanya belum bisa. Mungkin dari sisi ini, kami bisa dibilang prematur.
Karena kan 80 persen masyarakat masih tingal di pedesaaan, partai politik juga belum
melakukan pembaruan. Tanpa partai politik waktu itu sangat sulit untuk melakukan
perubahan, karena belum ada organisasi seperti lembaga swadaya masyakat atau pers
yang kuat.
Saya tetap senang dengan sikap blak-blakan Hariman dan sampai sekarang dia
tetap enggak ada takutnya. Itu ciri khas dia yang enggak bisa dibantah dan tidak ada
yang bisa meniru. Kadang, saya suka kaget sendiri kalau ketemu dia di restoran, dia
langsung teriak. Tapi, ya, sudahlah, kita terima dia apa adanya, karena kita semua kan
pasti punya kekurangan.
Pendekatan yang dilakukan Hariman, seperti ‘Cabut Mandat’, pada dasarnya
kan kita sudah harus lebih tahu. Saat ini sebenarnya yang muncul di masyarakat
itu adalah rasa, insting, intuisi bahwa ada sesuatu yang tidak adil dan menyentuh.
Memang belum diorganisasi. Tapi, kalau dilihat dari perkembangan di masyarakat,
soal rasa ini sangat peka sekali. Tidak ada sebuah sistem politik apa pun di dunia ini
yang bisa bertahan kalau dia tidak memenuhi dua hal, yakni sense of justice dan sense
of equality.” e

~ 212 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 212 3/26/10 7:25:04 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Junus Effendi Habibie


“ T i a d a H a r i t a n p a H a r i m a n”

S
uatu hari di tahun 1978, saya mendapat telepon
dari Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Isinya meminta
saya membantu Hariman Siregar, aktivis Peristiwa
Malari yang baru saja keluar dari penjara. ‘Fanny, tolong
kamu bantu mereka, ya. Kamu tahu kan susahnya orang
yang baru keluar dari penjara, seperti nasib kamu dulu,’
kata Bang Ali.
Mendengar perintah Bang Ali tersebut, saya pun menjawab tegas, ‘Siap Pak.
Suruh saja mereka datang ke kantor saya.’ Saat itu saya bertugas sebagai Administratur
Pelabuhan Tanjung Priok. Akan halnya nama Hariman Siregar baru saya dengar-
dengar saja, tapi belum pernah bertemu orangnya.
Beberapa hari kemudian, datanglah Hariman dan beberapa kawannya ke kantor
saya di Tanjung Priok. Dalam pertemuan pertama kali itu, dia langsung memaki-maki
dan ngoceh soal pejabat negara yang kerja enggak benar dan melakukan korupsi.
Mendengar ocehannya itu, saya pun naik darah. ‘Saudara Hariman, Anda enggak usah
maki-maki di sini. Besok Anda datang lagi kemari pagi-pagi, lalu lihat bagaimana
saya bekerja sepanjang hari,’ tantang saya.
Mendengar tantangan saya itu, Hariman dan kawan-kawannya kaget juga. Tapi,
keesokan harinya mereka datang juga dan melihat saya bekerja seharian di kantor.
Hal itu berlangsung selama berhari-hari. Saat itu, selaku Adpel Tanjung Priok, saya

Fanny Habibie pernah ditahan gara-gara Peristiwa Gerakan Perwira Progresif Revolusioner (GPPR) di tahun 1966. Akibat
GPPR ia dan sejumlah perwira muda TNI-AL dikeluarkan dari kesatuan Angkatan Laut.

~ 213 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 213 3/26/10 7:25:05 PM


Hariman & Malari
sedang gencar melakukan ‘Operasi Sapu Bersih’, yang justru memberantas berbagai
pungutan liar di pelabuhan. Sampai suatu kali, Hariman mengakui hasil kerja saya
tersebut.
Sejak itulah hubungan kami berdua menjadi dekat. Hampir setiap hari, saya
ketemu Hariman. Kalau tidak di kantor, ya, di coffee shop Hotel Aryaduta—tempat
kami biasa nongkrong. Itu berlangsung hingga saya naik jabatan menjadi Sekretaris
Direktur Jenderal Perhubungan Laut, 1978-1984; kemudian menjadi Direktur Jenderal
Perhubungan Laut, 1984-1991). Pokoknya, di masa-masa itu, tiada hari tanpa ketemu
Hariman.
Pada masa-masa itulah, hubungan saya dengan Hariman berproses menjadi
sangat dekat, bahkan seakan sudah menyatu. Meskipun karakter kami sama-sama
keras, chemistry kami benar-benar cocok. Kami bagaikan dua kutub yang kemudian
melakukan kompromi-kompromi, hingga kemudian menyatu. Bagi saya sendiri,
Hariman bukan sekadar sahabat, tapi sudah seperti adik sendiri. Sampai kini,
hubungan itu tak pernah surut. Memang, sebagaimana layaknya hubungan sesama
manusia, ada saat-saat kami berbeda pendapat, tapi tak sampai meretakkan hubungan
kami. Seberapa besar pun perbedaan pendapat itu, tak akan sampai membuat Hariman
mengkhianati saya. Begitu pula sebaliknya, saya tak akan pernah bisa mengkhianati
Hariman.
Dalam pandangan saya, Hariman merupakan seorang ‘idealis-radikal’, dalam
arti ia selalu berusaha memperjuangkan dan konsekuen terhadap cita-citanya dan ingin
cita-cita itu terwujud dalam waktu singkat. Dalam memperjuangkan idealismenya itu,
dia kurang bersikap pragmatis. Padahal, dalam banyak hal, masyakat itu enggak bisa
langsung mengikuti apa maunya kita, tanpa terlebih dahulu diberi pemahaman yang
jelas.
Sedemikian kuatnya persahabatan kami, sampai yang berkaitan dengan hal-hal
yang bersifat sangat pribadi. Sebagai sahabat, Hariman selalu ada untuk membantu
saya di saat-saat kritis. Pernah suatu kali, Rudy atau B.J. Habibie kebingungan karena
pernikahan anaknya, Ilham Habibie, enggak mendapat restu dari ibu kami. Pasalnya,
hingga saat menjelang pernikahan, Rudy enggak memberi tahu dan meminta restu
Ibu. Akhirnya, Rudy meminta tolong saya untuk meminta restu Ibu. Jam 11 malam,
saya menelepon Hariman, ‘Man, sekarang saya baru berangkat ke Bandung menemui
Ibu. Kamu ikut, ya.’ Tak sampai sepuluh menit, ia sudah sampai di rumah saya. Maka,
malam itu juga kami berangkat ke Bandung bersama Ilham. Singkat cerita, misi minta
restu itu akhirnya berhasil dengan baik.
Saat Ibu saya wafat, Hariman pula yang membantu mencarikan makam yang
baik di Tanah Kusir. Ketika saya operasi by pass jantung beberapa kali, Hariman
ikut mendampingi hingga saya diperbolehkan pulang. Pokoknya, dalam banyak hal
yang berkaitan dengan keluarga saya, Hariman terlibat membantu. Begitu pula, saya
selalu siap membantu Hariman. Saya merupakan salah satu wali pernikahan Hariman
dengan Nuri.

~ 214 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 214 3/26/10 7:25:06 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Dalam beberapa hal, Hariman kerap tak menyetujui sikap dan tindakan saya.
Tapi, setelah diputuskan, ia kemudian mendukung saya sepenuhnya. Hal itu, misalnya,
terjadi saat saya memutuskan mengundurkan diri sebagai Ketua Otorita Batam.
Mula-mula, dia menentang keras keputusan saya itu. Bahkan, setelah mendengar
argumen saya, dia tetap tak setuju. Tapi, saya tetap memutuskan mengundurkan diri.
Mendengar keputusan saya itu, Hariman malah kemudian membantu merumuskan
konsep surat pengunduran diri tersebut.
Dalam soal-soal politik, saya juga banyak berkonsultasi dengan Hariman.
Saya ini pada dasarnya enggak suka politik, sebab hal itu bertentangan dengan doktrin
yang saya terima saat berdinas di Angkatan Laut dulu. Dalam hal politik, saya menilai
Hariman orang hebat. Networking-nya sangat luas, mulai dari aktivis mahasiswa
sampai menteri. Ibaratnya, kita punya 50 informan, dia punya 5.000 informan. Jadi,
informasi yang ia peroleh jauh lebih banyak. Nah, dari informasi itulah dia kemudian
mampu memetakan situasi perpolitikan nasional. Selain itu, ia juga bisa memadukan
informasi aktual tersebut dengan teori-teori politik yang dibacanya dari buku-buku
dan referensi lain.
Karena itu, ketika Rudy diangkat menjadi Presiden RI menggantikan Soeharto,
saya langsung meminta Hariman untuk membantu. Hampir setiap pagi, kami berdua
bertemu Rudy untuk memberikan masukan-masukan. Ada masukan yang didengar
dan dilaksanakan Rudy, tapi banyak pula yang tidak. Seandainya saja Rudy lebih
banyak mendengar masukan dari saya dan Hariman, mungkin sejarah politik akan
menjadi lain.
Selama 35 tahun menjalin persahabatan dengan Hariman, tak pernah seujung
rambut pun saya merasa sakit hati, meski kami sering saling menggunakan kata-
kata kasar dalam percakapan sehari-hari. Karena itu, banyak orang yang sering salah
paham tentang soal ini. Misalnya, sering ada orang yang mengadu kepada saya bahwa
saya dijelek-jelekkan Hariman dengan kata-kata kasar. Mendengar pengaduan itu,
saya hanya menjawab, ‘Biar sajalah. Hariman memang begitu.’
Tentunya sebagai manusia, Hariman juga punya kelemahan-kelemahan. Salah
satunya, menurut saya, dia seakan-akan masih merasa situasi sekarang masih sama
dengan masa Malari. Hariman menganggap para aktivis yang sudah jadi menteri,
anggota parlemen, pemimpin partai politik, ataupun jenderal, masih anak buahnya
atau ‘anak kecil’. Tapi, belakangan ini, saya melihat sudah ada perubahan atas
sikapnya ini. Dia sudah mulai bisa menghargai mereka yang sudah menjadi pejabat
tersebut.” e

~ 215 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 215 3/26/10 7:25:06 PM


Hariman & Malari

Cosmas Batubara
“ D a y a K r i t i s n y a Ta k Pe r n a h Tu m p u l ”

P
ersetuhan saya dengan Hariman sebetulnya
sudah lama. Saya ikut hadir ketika Dewan Mahasiswa
UI menyelenggarakan seminar di UI. Saya sempat
bicara juga di forum itu. Saya memiliki pengalaman
sebagai aktivis mahasiswa 1966 dan juga anggota
DPR Gotong Royong. Dengan begitu, saya waktu
itu memberitahu Hariman juga, yang giat membikin
unjuk rasa.
‘Man, hati-hati kalau bikin demonstrasi. Sekarang suasananya berbeda,’
ujar saya kepada Hariman, hari itu. Menurut saya, mahasiswa tidak lagi homogen
seperti pada tahun 1966. Begitu juga sistem politik, telah betul-betul berubah,
militer memiliki peran besar dalam politik.
‘Ah, Bang, jangan takut. Saya bisa kendalikan mahasiswa,’ jawab Ha­
riman.
Tapi, kita lihat persitiwa berikutnya: Malari. Dengan demikian, citra yang
terbentuk ialah gerakan yang ia buat menimbulkan kerusuhan dan juga brutal.
Dewan Mahasiswa Universitas muncul setelah era Kesatuan Aksi Mahasiswa
Indonesia, KAMI. Dewan mahasiswa ini menjadi ladang perebutan banyak organisasi
ekstra-kampus, terutama HMI dan GMNI serta elemen organisasi berkarakter
nasionalis. Makanya, sering muncul istilah ‘HMI Vs. nasionalis’ dalam perebutan

~ 216 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 216 3/26/10 7:25:07 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
kursi ketua dewan mahasiswa. Hariman pun menjadikan dewan mahasiswa untuk
kiprahnya mewujudkan pikirannya.
Mengenai kabar kedekatannya dengan Ali Moertopo untuk memenangkan
kursi Dewan Mahasiswa UI, saya kira bukan satu-satunya. Faktor utamanya:
Hariman memang memiliki kemampuan sebagai pemimpin. HMI punya anggota
lebih banyak. Logikanya, yang banyak itulah yang menang. Dan, Ali Moertopo
bukan tak senang dengan HMI, tapi Hariman Siregar memang lebih meyakinkan.
Saya sendiri didukung oleh Opsus. Misalnya ketika di KNPI, kalau mau pergi ke
luar negeri untuk kegiatan KNPI, tinggal meminta dari Opsus.
Dalam perjalanannya terbukti Hariman bukan penurut kepada Ali Moertopo.
Ia mengikuti kata hatinya sendiri. Makanya, saya ikut memperingati ketika usai
mengikuti seminar di UI itu. Presiden Soeharto tidak senang dengan gerakan
yang membikin ribut. Kalau Soeharto tidak senang, Golkar sebagai pendukung
pemerintah tentu ikut tidak senang.
Setelah Malari, saya banyak berkomunikasi dengan Hariman. Satu hal yang
saya catat tentang dia adalah idealisme-nya yang tak pernah padam. Ia pun terus
memperjuangkan idealisme itu. Memang, kalau dari kacamata politik praktis,
pilihannya itu tidak menguntungkan. Hingga sekarang pun saya lihat ia masih setia
dengan idealisme dan gigih memperjuangkan pikiran-pikirannya, baik itu lewat
petisi maupun tirakatan-tirakatan. Intinya, ia mengisi kekosongan yang tak bisa
diisi oleh partai politik.
Harus diakui, gerakan Malari itu bukan gagal. Hariman dan kawan-kawannya
cukup berhasil memengaruhi strategi pembangunan. Buktinya, pembangunan lima
tahun berikutnya mengedepankan pemerataan. Ini seperti yang dituntut mahasiswa
dalam unjuk rasa mereka, agar pembangunan merata bagi semua rakyat. Dalam
membangun jalan, misalnya, pemerintah pun tidak melihat apakah jalan itu perlu
atau tidak, tapi dimaksudkan untuk mendorong pembangunan di daerah tersebut.
Contohnya pembangunan jalan trans Flores. Kalau bukan karena berdasar asas
pemerataan, saat itu belum perlu dibangun jalan lintas yang lebar di daerah Nusa
Tenggara Timur. Tapi, itu guna mendorong ekonomi di daerah tersebut, agar hasil
pembangunan bisa dirasakan merata.
Pada akhirnya, pembangunan lima tahun memang akan mengarah ke
pemerataan. Bila mulanya kita lebih mengutamakan pertumbuhan ekonomi, karena
kondisi negara kita waktu itu sangat miskin, tingkat inflasi tinggi, dengan angka
devisa kecil. Kalau korupsi seperti dikritik mahasiswa, sejak zaman Soekarno juga
korupsi sudah menjadi persoalan. Profesor Widjojo Nitisastro sebagai Ketua Badan

Selanjutnya Cosmas Batubara menerangkan, kegiatan Operasi Khusus sesungguhnya telah ada sejak Mayor Jenderal
Soeharto memimpin Operasi Mandala, mulai Desember 1961. Operasi ini dimaksudkan untuk merencanakan, menyiapkan,
dan menyelenggarakan operasi militer menggabungkan Papua Barat ke dalam wilayah Indonesia. Operasi ke Malaysia juga
memiliki Opsus yang juga mengikutkan Des Alwi, Ramli, dan L.B. Moerdani. Pemulangan Prof. Soemitro dari Amerika
Serikat juga menggunakan jasa Opsus. Setelah lembaga asisten pribadi (aspri) presiden dibubarkan, Opsus tetap jalan terus.
Apalagi, Ali Moertopo menjadi Wakil Kepala Bakin. Tahun 1978, sewaktu Ali Moertopo menjadi Menteri Penerangan,
Opsus mulai berkurang.

~ 217 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 217 3/26/10 7:25:08 PM


Hariman & Malari
Perencanaan Pembangunan Nasional sudah pula berbicara soal pemerataan.
Dalam pergaulan kami, saya bisa membedakan posisi saya sebagai menteri
dengan hubungan pribadi. Saya melihat segi positifnya saja. Karena, berteman
dengan Hariman memang banyak sisi positifnya. Apalagi, dalam perjalanan
selanjutnya, Hariman tak pernah mengidentikkan saya dengan Golkar. Hariman
pun tetap ingat daerah asal: Sumatra Utara. Ia mendukung rencana pembangunan
Tapanuli Selatan, terutama untuk pendidikan anak-anak.
Hariman adalah putra Indonesia yang berpikiran plural dan mengutamakan
persatuan Indonesia. Saya banyak mendapat masukan tentang kebangsaan. Ia
mencoba membangun jejaring dengan berbagai kalangan. Buktinya, kami bertemu
di Persatuan Golf Alumni Atma Jaya walaupun Hariman bukan alumni Universitas
Atma Jaya.
Ketika menjadi Menteri Tenaga Kerja, 1988-1993, saya meresmikan Klinik
Baruna yang dipimpin Hariman. Saya terus terang memberi apresiasi tinggi kepada
kegiatannya ini. Ternyata, ia memiliki perhatian tinggi kepada kesehatan para
pelaut. Klinik ini ia dirikan bersama Fanny Habibie, yang mantan Direktur Jenderal
Perhubungan Laut.
Daya kritisnya tak pernah tumpul. Aksi ‘Cabut Mandat’ terhadap pemerintah
Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2007 membuktikan daya kritisnya yang
terus hidup.” e

~ 218 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 218 3/26/10 7:25:08 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Akbar Tandjung
“ D i a Ta k B i s a D i k e n d a l i k a n”

H
ariman Siregar adalah tokoh mahasiswa
yang saya kenal waktu saya juga masih aktif di dalam
organisasi kemahasiswaan memimpin Himpunan
Mahasiswa Islam, HMI. Hariman muncul dalam
pemilihan Ketua Dewan Mahasiswa Universitas
Indonesia, DM-UI, tahun 1973. Calon-calonnya ada
tiga waktu itu. Satu orang berafiliasi dengan HMI dan
yang dua—termasuk Hariman—dari luar HMI.
Sebetulnya, HMI mengadakan koalisi dengan calon dari GMNI. Maksudnya
agar memberikan dukungan kepada calon HMI menjadi Ketua Umum DMUI. Calon
HMI waktu itu adalah Ismeth Abdulah, yang sekarang menjadi Gubernur Kepulauan
Riau. Calon GMNI yang mestinya memilih Ismeth ternyata cenderung memberikan
suara kepada Hariman sehingga ia yang terpilih menjadi ketua umum. Beda suaranya
tipis saja, cuma satu atau dua suara.
Hariman waktu itu sebetulnya memiliki hubungan yang dekat dengan
penguasa. Dia dekat dengan kelompok Operasi Khusus, Opsus. Mungkin dalam
rangka memenangkan pertarungan menjadi Ketua Umum DMUI. Katakanlah koalisi
atau aliansi dengan tokoh-tokoh yang ada dalam kekuasaan sehingga dia terpilih
sebagai ketua umum.
Tapi, Hariman adalah orang yang tidak bisa dikendalikan. Seusai menjadi ketua
umum, ia menggunakan posisinya itu untuk memimpin gerakan mahasiswa menentang
penguasa. Awalnya menentang kedatangan Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka,
~ 219 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 219 3/26/10 7:25:09 PM


Hariman & Malari
menentang kekuatan modal-modal asing sehingga terjadinya Peristiwa Malari yang
mengakibatkan kerusakan, huru-hara, yang sudah tidak lagi diketahui dari mana itu
sumbernya. Ada orang yang menggunakan momentum gerakan mahasiswa untuk
melakukan gerakan-gerakan dalam rangka mendiskreditkan gerakan mahasiswa itu
sendiri.
Sebetulnya, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh gerakan yang dipimpin
Hariman itu tampak sekali mengarah kepada delegitimasi kepemimpinan nasional,
yaitu Presiden Soeharto. Hingga tahun 1974, gerakan itu sudah menjadi sangat
kuat. HMI sebagai organisasi mahasiswa yang independen tapi juga cukup politis
tidak melibatkan diri, karena gerakan itu sudah dianggap terlalu kuat kepentingan-
kepentingan politik praktisnya. HMI sebagai organisasi mahasiswa harus menjaga
posisinya sebagai satu organisasi yang independen dan tidak punya kepentingan-
kepentingan dari sisi politik praktis. Itu posisi HMI. Tapi tokoh-tokoh, kader-kader
HMI, juga banyak aktif ikut demo masuk dalam gerakan-gerakan itu. Misalnya,
saya tahu Fahmi Idris masuk dalam gerakan itu. Tapi, sebagai Ketua Umum HMI
waktu itu, saya secara formal tidak menyerukan terjun dalam gerakan-gerakan yang
menimbulkan dukungan kepada politik praktis tersebut.
Hingga akhirnya Fahmi Idris pun harus berhadapan dengan kekuatan penguasa,
kami tentunya memberikan dukungan kepada mereka. Saya juga mendatangi waktu
ia ditahan. Ya, memperlihatkanlah kalau kami juga punya empati terhadap mereka.
Memang, pembelaan secara formal tidak melibatkan institusi HMI. Karena, pada
waktu itu juga HMI belum memiliki perangkat yang bisa melakukan pembelaan
hukum.
Secara pribadi, saya dan Hariman menjalin hubungan komunikasi cukup
baik. Memang, dari segi usia, saya lebih tua 4 atau 5 tahun dari Hariman, tapi kami
banyak berkomunikasi dalam berbagai kegiatan dan bertemu dalam berbagai event.
Setiap bertemu di forum apa saja, kami berdiskusi politik. Memang tidak terencana
dan terorganisasi, tapi komunikasi itu saya bangun dengan Hariman, terutama di era
reformasi.
Sebelum era reformasi memang hampir tidak pernah. Karena, saya tahun
1980-an kan sudah memasuki dunia formal pemerintahan. Tahun 1988, saya sudah
menjadi menteri sampai tahun 1999. Tahun 1999, saya menjadi Ketua Umum Golkar.
Jadi, sudah terlibat dalam kegiatan-kegiatan formal yang terkait dengan tugas-tugas
pemerintahan dan tugas-tugas politik, khususnya Golkar.
Di era kepemimpinan Presiden B.J. Habibie, jelas sekali Hariman itu sangat
dekat kekuasaan. Saya tentu sering berkomunikasi dengan Habibie di rumahnya,
bahkan berangkat bersama dari rumah beliau ke istana. Di sana, saya sering menemukan
Hariman sedang makan pagi satu meja dengan Habibie. Hariman memberikan saran-
saran dan masukan kepada presiden. Saya lihat, ia memang memiliki kedekatan
cukup khusus dengan presiden. Mungkin dimulai dengan kedekatan Hariman dengan
Fanny Habibie. Tapi sejauh mana Hariman ikut memengaruhi kebijakan-kebijakan

~ 220 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 220 3/26/10 7:25:10 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
presiden? Saya melihat Habibie tetap memutuskan berbagai kebijakan berdasarkan
mekanisme yang formal, melalui rapat-rapat kabinet dan rapat-rapat tim. Kalau soal
masukan, presiden tentu menerima masukan dari berbagai kalangan, bukan hanya
dari Hariman, tapi pengambilan keputusan tetap harus melalui mekanisme formal
yang ditetapkan presiden sendiri.
Hariman, misalnya, sering menyampaikan pikiran-pikiran yang keras dan
radikal. Biasanya yang disampaikan Hariman lebih banyak masalah politik dalam
negeri. Tapi, Habibie tidak menerima begitu saja. Presiden tetap selektif. Misalnya,
kita tahu bahwa kritik Hariman sejak mahasiswa adalah kepada kepemimpinan
Soeharto. Tapi, Habibie tetap menghormati Soeharto. Dengan begitu, ketika opini
begitu kuat untuk membuat Ketetapan MPR khusus untuk mantan Presiden Soeharto,
Presiden B.J. Habibie sebetulnya meminta Ketetapan MPR semacam itu tidak ada.
Saya sempat bertemu dengan B.J. Habibie dan mengatakan, ‘Sudah tak
mungkin kita hindari lagi penyebutan nama Pak Harto karena sudah begitu kuat
opininya.’ Akhirnya, kami buat redaksional yang tidak secara eksplisit menyudutkan
Soeharto.
B.J. Habibie memang sangat menghormati Soeharto. Saya tahu benar. Karena,
selama satu tahun, saya mendampingi beliau. Ia memiliki keinginan sangat tinggi
untuk berkomunikasi dengan Soeharto. Saya pernah datang ke Cendana dalam rangka
menyampaikan rencana pemberian penghargaan negara sebagai mantan kepala negara
dalam bentuk pemberian rumah. Waktu itu, saya menitipkan salam dari B.J. Habibie
dan niatnya bertamu ke rumah Soeharto. Tapi, secara halus, Soeharto mengatakan,
‘Nanti kita carikan waktu yang tepat.’” e

~ 221 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 221 3/26/10 7:25:10 PM


Hariman & Malari

Soegeng Sarjadi
“Hariman Sudah Betul”

B
anyak teman yang membuat buku dan tim
penulisnya meminta saya memberi komentar tentang
mereka. Saya tidak pernah mau. Tapi, sekarang ini, buat
Hariman, saya mau. Ini yang pertama dan mungkin
satu-satunya. Mungkin karena ada karakter saya yang
sama dengan Hariman.
Selama puluhan tahun, saya belum pernah
berteman dengan Hariman. Baru di usia tua, sejak beberapa tahun lalu, saya baru
berkawan dekat dengan dia. Dan saya menikmati sekali kedekatan ini. Ia pun saya
anggap dokter saya. Bagaimanapun, Hariman memang dokter, kan? Sementara itu,
saya yang sudah tua mulai banyak gangguan pada tubuh. Jadi, saya sering menelepon
dia untuk berkonsultasi tentang kondisi saya. Jam berapa pun saya menelepon,
dia selalu menerima. Ketika saya tanya soal gangguan ini dan itu, kelihatan sekali
kedokterannya.
Saya juga pernah ke kliniknya di Cikini. Padahal, saya jarang ke klinik, terakhir
saja ke klinik lain, ya, waktu saya mau dioperasi teroid. Tapi, itu pun saya konsultasikan
dulu dengan Hariman. Saya bilang, bagaimana ini saya mau dioperasi. Dia bilang,
‘Ya, pergi saja.’ Tapi, meski belum saling kenal, saya tentu sudah mengetahui tentang
Hariman. Waktu dengar namanya tahun 1974 itu, saya yang mantan aktivis mahasiswa
juga—KAMI 1966 dari Bandung—bertanya-tanya, ‘Siapa anak itu?’
Karena penasaran, waktu apel di UI, 15 Januari 1974, saya datang bersama
Fahmi Idris. Saya dan Fahmi yang aktif di KAMI Jakarta 1966 sudah berbisnis waktu
~ 222 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 222 3/26/10 7:25:11 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
itu. Saya baru saja membeli VW Kodok bekas kala itu. Kami datang dan melihat
Hariman berpidato di atas meja yang ditumpuk-tumpuk di halaman UI Salemba.
Makanya, saya pernah berseloroh kepada Hariman, kalau mahasiswa 1974 mau buat
patung seperti Angkatan ‘66, simbolnya meja yang ditumpuk.
Saya melihatnya pidato berapi-api di podium tumpukan meja, ‘Boleh juga
anak ini.’ Sewaktu duduk mengikuti apel itu, kami dipotret oleh orang yang—saya
kira—George Junus Aditjondro. Bila tidak salah, karena ini ingatan sudah lama. Dari
UI, saya ajak Fahmi pergi ke Jalan Sambas, Kebayoran. Ini kantornya Adi Sasono.
Sepanjang jalan, saya melirik ke spion dan melihat bahwa kami diikuti. Saya beritahu
Fahmi tentang penguntit itu.
‘Biarkan saja,’ kata Fahmi.
Di tempat Adi Sasono, rupanya sudah berkumpul anak-anak HMI, Nurcholis
Madjid, Ekky Syachrudin. Sepuluh menit setelah kami masuk, tiba-tiba, ‘braaak’.
Beberapa orang berpakaian militer masuk. Kantor rupanya sudah dikepung tentara.
Seseorang yang tampaknya pimpinan langsung menunjuk dua orang: ‘Kamu ikut, kamu
ikut.’ Yang ditunjuk adalah Fahmi Idris dan Nurcholish Madjid. Keduanya diangkut
dengan truk. Kami dengar ada bakar-bakaran setelah mahasiswa meninggalkan UI
dan kami dari UI. Lalu, apakah ada hubungan dengan semua peristiwa itu? Saya
dan Fahmi memang aktivis, tapi tahun itu sudah menjadi kontraktor. Kami tengah
membangun gedung Pertamina di Tanah Abang. Makanya, saya bisa membeli VW
Kodok bekas.
Sebelum diangkut, Fahmi sempat berpesan dengan memberi kode. ‘Selamatkan
yang ada di bawah jok saya tadi.’
Besok, baru saya tahu apa yang terjadi. Ketika membaca Kompas, ada 13
nama yang disebut ditangkap karena peristiwa demonstrasi 15 Januari. Di antara
13 nama itu ada Fahmi Idris dan: Soegeng Sarjadi. Nama Nurcholish Madjid malah
tidak ada. Belakangan kami analisis, mungkin waktu itu perintah dari atasan si
tentara adalah tangkap yang berkumis dan berkacamata. Saya dan Nurcholish Madjid
memang berkacamata. Untung besoknya ia dibebaskan. Sampai sekarang, kesalahan
itu belum dikoreksi. Saya tidak pernah ditangkap karena peristiwa Malari dan Fahmi
Idris ditangkap juga bukan karena tahu atau terlibat unjuk rasa Malari. Semata salah
tangkap. Fahmi pun bukan tokoh di belakang Malari.
Kalau sekarang, ini lucu sekali, true story saya tentang Hariman Siregar.
Bertahun-tahun, saya dianggap salah satu tokoh yang terlibat Malari. Padahal, kenal
dengan tokoh benerannya itu baru beberapa tahun lalu. Juga sekarang lucu buat
Fahmi, karena ia harus ditahan selama setahun tanpa diadili. Lebih konyol lagi, saat
itu, saya masih punya tagihan pekerjaan yang harus dicairkan ke Pertamina. Kantor
Pertamina waktu itu dekat RRI. Saat saya ke Pertama, di loker kasirnya bilang, ‘Lo
bukannya Anda ditahan?’

Kala itu wartawan Tempo.

~ 223 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 223 3/26/10 7:25:11 PM


Hariman & Malari
Kasirnya kan kenal saya dan baca koran. Saya bilang kepadanya, ‘Tolong
diurus tagihan pekerjaan saya, buat makan.’ Tapi, untuk mencairkan dibutuhkan
tanda tangan Fahmi juga. Alhasil, saya harus pergi ke markas Laksus di Tanah Abang,
mencari-cari kesempatan bertemu Fahmi. Dia sempat melihat dan dengan gerak bibir
serta tangan ia memberi isarat, ‘Pulang, pulang.’ Saya kasih kode bahwa ia harus
tanda tangan untuk cairkan uang. Terakhir, saya harus menyuap petugas untuk bisa
bertemu Fahmi dan tandan tangan beres.
Hari itu, saya ingat pesan Fahmi kemarin untuk menyelamatkan barang di
bawah jok. Saya periksa mobil, rupanya sepucuk pistol. Aduh, ini kalau ketahuan waktu
digerebek di tempat Adi Sasono, mati kami. Saya pun bingung mau diselamatkan ke
mana. Saya tak pernah bermain pistol. Saya juga bingung dari mana Fahmi dapat
itu barang. Cepat-cepat saya ingat, kami kenal Syarnubi Said yang punya teman
Amran Zamzani, rumahnya di Pulogadung. Saya menelepon dia, memberitahu mau
datang ke rumahnya. Baru di rumahnya, saya bilang Fahmi diangkut tentara, tapi ia
meninggalkan pistol di mobil saya.
‘Saya mau titip pistol Fahmi di sini,’ ujar saya. ‘Tolong disimpan.’ Saya tak
tahu apa Fahmi sudah meminta lagi itu pistol atau belum. Malamnya, saya menelepon
Dahlan Ranuwihardjo. Saya tanya bagaimana baiknya bila dalam posisi seperti ini,
di mana-mana sudah banyak penjagaan dan pemeriksaan. Untung saya menggunakan
kendaraan pribadi sehingga lolos. Dia menganjurkan saya berputar-putar kota dulu
untuk melihat kemungkinan jalan ke luar kota. Akhirnya, saya ke luar Jakarta lewat
Parung dan kembali ke Bandung.
Di rumah, saya menceritakan apa yang terjadi di Jakarta. Dia tanya, ‘Kamu
salah enggak? Kalau enggak salah, mengapa pulang. Balik lagi aja.”
Dari Bandung, saya kembali ke Jakarta dan menginap di Hotel Ambara. Eh,
ternyata teman saya eks-KAMI Bandung, Sukri Suaedi, datang ke kamar. Tidak tahu
saya dari mana dia mengetahui. Katanya, ia membaca nama saya di Kompas. Saya
pernah ceritakan soal ini ke Hariman dan dia tertawa terbahak-bahak. Bagaimana bisa
saya dan Fahmi Idris dimasukkan dalam daftar tokoh Malari. Ha-ha-ha.…
Saya baru bertemu Hariman lagi sekitar tiga tahun lalu di Lapangan Golf
Matoa. Oh, ini Hariman yang dulu itu. Lucunya, kami berdua bertemu di lapangan
golf tempat Bob Hasan. Jadi, ini tempat Soeharto juga. Ketika dia pawai ‘Cabut
Mandat’ tahun 2007, kami sudah berteman. Saya datang sebagai wartawan dari Q TV,
lengkap dengan kru saya. Celaka saya, mana sudah tua, saya ikut jalan dari Bundaran
HI sampai ke bekas kantor Departemen Penerangan.
Waktu saya jalan, saya merasakan betapa pengap dan panasnya kehidupan
rakyat kecil serta para pedagang kaki lima. Inilah yang para elite tak pernah tahu dan
seharusnya dibela. Kritik saya kepada pemerintah yang sudah merasa membangun
itu, membangun apa? Jalan tol? Itu untuk orang kaya. Mana yang buat rakyat kecil?
Sering tema ini menjadi bahan diskusi saya dengan Hariman yang punya pendirian
politik yang sama dengan saya. Termasuk Malari, pendirian politik saya tetap sama
~ 224 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 224 3/26/10 7:25:12 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
seperti ketika 1966.
Hariman juga saya lihat tetap sama. Kami pernah bertemu di Klinik Baruna
bersama Rahman Tolleng yang tengah berobat. Saya lupa siapa yang mengatakan
tapi bunyinya begini, ‘Orang-orang seperti kita ini hanya akan berperan kalau situasi
krisis.’
Makanya, sebetulnya kami tidak cocok di partai politik. Saya dan Rahman
pernah di Golkar, kemudian saya pindah ke PDI. Tapi, Hariman sudah betul. Ia tak
masuk partai mana pun. Kami ini cuma ada ketika krisis terjadi. Kalau tidak, ya,
tenang-tenang saja. Tapi, keadaan sepertinya krisis terus. Dulu sepertinya dia seperti
asing dari saya, mungkin dia juga merasa asing ke saya. Sekarang, ia menganggap
saya ‘just human’, tanpa embel-embel apa-apa. Saya suka itu. Saya berteman dengan
dia bukan karena dia tokoh Malari, begitu sebaliknya. Saya lebih senang persahabatan
yang seperti ini.” e

~ 225 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 225 3/26/10 7:25:12 PM


Hariman & Malari

Prof. Dr. Anwar Nasution


“ Pe n y a l u r H a t i N u r a n i R a k y a t ”

T
ahun 1973, saya baru pulang dari Harvard
University, Amerika Serikat, dan saya kehilangan
pekerjaan karena ikut Hariman. Padahal, saya bukan
hanya mengajar di Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia, FEUI, waktu itu, tapi juga menjabat kepala
dinas di Departemen Keuangan. Sejak tahun1968,
saya menjadi tenaga perbantuan di Direktorat Jenderal
Moneter Departemen Keuangan. Sebelum saya tamat,
Pak Ali Wardhana yang Menteri Keuangan dan Pak Subroto yang Menteri Perdagangan
meminta saya membantu mereka.
Kira-kira tahun 1974 atau awal 1975, saya diminta mundur dari Departemen
Keuangan. Kemudian, saya bersekolah lagi dan tak pernah lagi bekerja di pemerintahan.
Mulai dari situ, saya melanglang buana. Cari makan di Singapura, berbicara di
berbagai universitas di luar negeri, bersekolah lagi di Amerika, sampai bertemu lagi
dengan beberapa mantan tokoh gerakan mahasiswa.
Waktu itu awal 1980-an. Saya bertemu dengan Sjahrir dan Rizal Ramli.
Saya pulang dengan bangga. Bayangkan, satu tas saya ditenteng oleh tokoh Malari
(Sjahrir), satu lagi oleh tokoh ‘Buku Putih’ (Rizal Ramli). Saya bilang, ‘Ayo, foto…,
foto, nanti saya tunjukkan sama Ali Moertopo. Ha-ha-ha…’

Tahun 1973, Anwar Nasution lulus sebagai Master in Public Administration dari the Kennedy School of Government,
Harvard University, Cambridge, Massachusetts, USA.

Tahun 1976, ia menyelesaikan studi di Tax Administration, University of Southern California, Los Angeles. Lalu Ph.D in
Economics dari Tufts University, Medford, Massachusetts, USA tahun 1982.

Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978 yang berisikan platform perjuangan mahasiswa yang menuntut agar Soeharto
tidak dipilih lagi sebagai Presiden RI. Rizal Ramli yang memotori kala itu Ketua Dewan Mahasiswa ITB.

~ 226 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 226 3/26/10 7:25:13 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Tentu saja, saya tak pernah bertemu dengan Ali Moertopo. Itu kelakar untuk
mereka yang pernah menjadi musuh Operasi Khusus alias Opsus pimpinan Ali
Moertopo. Mereka berdua lebih muda daripada saya, terutama Rizal Ramli, tapi
keduanya memberi kontribusi yang tidak kecil kepada bangsa ini.
Hariman Siregar juga lebih muda daripada saya, lebih muda daripada Sjahrir.
Tapi, ia memberi andil bagi negeri ini. Kontribusi terbesar Hariman, menurut saya,
ialah menjadi penyalur hati nurani, conscience, rakyat Indonesia. Ia telah memberikan
pandangan lain, memberikan kritik, dan menciptakan kontradiksi. Inilah yang saya
hargai. Karena, kritik dan kontradiksi sangat diperlukan oleh bangsa ini. Saya dosen
dan saya percaya bahwa kemajuan—seperti juga kalau kita sayang pada teman kita,
kepada mahasiswa kita—dibangun dengan kritik. Dengan kritik, orang akan semakin
sempurna dalam pekerjaannya.
Kritik dan kontradiksi merupakan kunci dari kemajuan. Jadi, jangan
memonopoli dengan bersikap, karena kita yang berkuasa, kitalah yang paling benar.
Saya sering bilang kepada mereka yang berkuasa, ‘Memangnya kalian ini nabi, Yesus
Kristus, Muhammad?’
Tidak ada kritik berarti juga tidak membuka ke-bhinneka-an. Kita lihat sistem
komunis, roboh sendiri. Sebab, sistem itu tidak membolehkan perbedaan, tidak
membolehkan kritik. Padahal, tanpa kritik, tanpa ada perbedaan, tidak akan ada
kreativitas. Amerika Serikat maju karena di sana apa saja boleh. Semboyan mereka
sesungguhnya sama dengan Indonesia: E pluribus unum, unity in diversity, ini sama
seperti bhinneka tunggal ika. Agama apa saja ada di sana. Kita tak percaya agama
pun boleh. Ini yang menyebabkan mereka maju, ilmuwannya banyak mendapatkan
hadiah Nobel.
Ini kontribusi Hariman. Ia telah mengkritik Soeharto secara terbuka. Sampai
Soeharto jatuh, bahkan sampai sekarang. Kritiknya terutama terhadap strategi
pembangunan yang meniadakan demokrasi dan tidak memberi kemakmuran bagi
rakyat. Waktu itu, sumber penerimaan negara cuma dua yang paling besar: pinjaman
luar negeri dari IGGI serta royalti minyak dan kayu. Maka, kita ingat sekali dulu apa
kata Pak Amirmachmud, ‘Tidak perlu rakyat.’ Karena, memang, duitnya dari IGGI
dan minyak. Siapa yang menambang minyak? Orang asing: Caltex, Shell, dan lain-
lain. Siapa yang menebang hutan? Orang Korea dan orang Jepang.
Di masa Orde Baru itu DPR tidak jalan. DPR memang memiliki hak bujet, tapi
menunggu dulu persetujuan negara donor, berapa mereka mau kasih, baru disahkan.
Ini semua sumber korupsi. Untuk apa uang itu dipakai? Itulah proyek-proyek yang
dianggap tidak bermanfaat bagi rakyat, termasuk proyek Taman Mini Indonesia
Indah.
Tahun 1966, saya adalah Ketua Task Force UI. Pada 10 Januari 1966 ada dua
kejadian penting. Yang pertama adalah awal demonstrasi di lapangan parkir perguruan-

One out of many.

~ 227 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 227 3/26/10 7:25:13 PM


Hariman & Malari
perguruan tinggi. Pada saat yang sama, kami menyelenggarakan seminar. Ada Sri
Sultan Hamengkubuwono IX, Frans Seda, Pak Jenderal A.H. Nasution bicara. Saat
itu, kami berbicara bagaimana membangun kembali perekonomian Indonesia kalau
terjadi pergantian rezim. Pada waktu itu, Bung Karno masih berkuasa. Ini bedanya
dengan reformasi 1998, yang tidak ada platform. Padahal, kalau ada perubahan politik,
harus ada platform. Soeharto dijatuhkan, lalu mau diapain?
Tahun-tahun sesudah 1966, mahasiswa memang mulai banyak yang menua
atau ikut masuk dalam rezim politik Orde Baru. Tapi, karena Soeharto kemudian
menerapkan kebijakan ekonomi yang tidak dirasakan rakyat, di situlah muncul tokoh-
tokoh baru, seperti Sjahrir, lalu Hariman, dengan membawa isu baru. Kalau diamati,
sebenarnya pemerintah waktu itu menipu saja. Disebut anggaran berimbang, padahal
utang yang mereka sebut penerimaan. Defisit anggaran ditutup dengan seratus persen
pinjaman luar negeri. Sungguh secara konseptual tidak benar.
Tapi itulah yang menjadi kebanggaan Orde Baru: anggaran pembangunan
yang berimbang dan dinamis. Di penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan
Pancasila, P4, dibodoh-bodohilah para mahasiswa itu. Ingat, kan? Pemerataan,
selaras, serasi, dan seimbang. Barulah setelah Orde Baru runtuh, kita tahu bahwa
pemerataan itu tidak ada. Siapa yang paling banyak menerima kredit dari perbankan?
Lihat laporan Badan Penyehatan Perbankan Nasional. Sebagian besar adalah kroni-
kroni Soeharto. Jadi, bohonglah itu P4.
Ini yang pada awalnya dilontarkan dalam peristiwa-peristiwa yang berujung
pada Malari itu. Baru terbukti setelah Soeharto runtuh.
Menurut pengamatan saya, dari sebelum Malari hingga runtuhnya Soeharto,
Hariman tidak berubah. Kesetiaannya pada idealismelah yang saya kagumi dari
Hariman. Juga daya tahannya. Makanya, ketika saya datang dalam Perayaan Peristiwa
Malari, 15 Januari 2010, saya pikir tadinya itu peringatan Malari yang dihadiri
orang-orang tua. Paling-paling nanti hanya makan dan ngobrol di sudut di salah satu
restauran di situ. Ternyata tempatnya di ball room hotel dan penuh dengan anak muda
dari semua generasi. Kagum saya. Hariman ditokohkan oleh semua anak muda.
Dia pun bisa merangkul semua generasi dan semua tokoh. Lihat saja sampai
ada Pak Ali Yafie datang. Beliau ini orang yang punya integritas. Kalau Buyung
Nasution, Mulya Lubis, ya sama dengan saya, orang-orang lama yang kenal Hariman.
Tapi saya lihat, ada juga mantan Kepala Staf Angkatan Darat Tyasno Sudarto, ada
mantan Kapolda Metro Jaya Noegroho Djajoesman, ada orang Partai Amanat Nasional
seperti Hatta Taliwang, kemudian ada Bursah Zarnubi dari Partai Bintang Reformasi.
Padahal, Hariman bukan orang partai.
Mengapa orang seperti Hariman masih berperan? Saya kira, Hariman bisa
berperan karena partai politik kita tidak berperan sebagaimana mestinya. Tidak usah
jauh-jauh mengambil contoh, selama tiga bulan pemerintah Presiden Susilo Bambang

Kesimpulan seminar ini kemudian digunakan sebagai bahan Ketetapan MPRS No. 63/MPRS/1966.

Ulang tahun Indemo di Hotel Nikko, Jakarta.

~ 228 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 228 3/26/10 7:25:14 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Yudhoyono saja. Ingat, SBY itu menang telak. Tapi, sejak sebelum dilantik sudah ada
perkara. Sekarang ini Bank Century. Berarti partai politik tak berfungsi. Sebab, kalau
partai politik berfungsi tidak ada demo-demo yang hampir setiap hari berlangsung di
Bundaran Hotel Indonesia, DPR, atau istana. Harusnya ribut-ribut itu terjadi di DPR,
karena partai politik memang harus bisa menyerap aspirasi.
Menurut saya, ini akibat reformasi tidak memiliki blue print. Apa yang telah
kita lakukan setelah Soeharto jatuh? Satu, mengganti sistem politik dari tadinya otoriter
menjadi sistem demokrasi. Tapi, lembaga hukum belum kita perbaiki, padahal sudah
sepuluh tahun lebih. Demokrasi bukan hanya kebolehan membikin banyak partai.
Lah, lihat tahun 1958, Indonesia partai banyak, apa hasilnya? Korupsi jalan terus.
Lihat Pakistan, ada Nawaz Sharif, lalu Benazhir Butto yang berkuasa, apa hasilnya?
Korupsi jalan terus. Muncullah Mussaraf. Lihat di Thailand, Thaksin jadi perdana
menteri, apa hasilnya? Korupsi. Hingga muncul lagi tentara.
Secara teknis, kita mestinya membangun sistem keuangan negara ini tidak
pernah selesai. Membangun sistem itu penting sebagai upaya preventif mencegah
korupsi. Bukan hanya dengan cara bikin Komisi Pemberantasan Korupsi.
Kedua, kita berikan otonomi daerah. Mestinya, otonomi ini memberi
kemakmuran bagi rakyat. Nyatanya, enggak ada. Jangan lupa, setelah merdeka,
terhitung sejak tahun 1948, apa kerja kita? Perang saudara: DI/TII, PRRI/Permesta,
G30S. Apa yang terjadi pada keuangan negara? Penggunaan uang negara dan bantuan
luar negeri untuk berontak. PRRI dapat bantuan dari CIA, G30S dapat bantuan dari
Cina.
Otonomi daerah tanpa transparansi akan memunculkan saling curiga antar-
kabupaten, antara daerah dan pusat, terus-menerus. Maka, tak tahulah apakah PRRI
sudah selesai, Papua dengan matinya Kwalik berarti sudah selesai, Aceh dengan MOU
Helsinki berarti sudah beres? Bila keadilan, keterbukaan, belum dirasakan, saya kira
kita menyimpan api dalam sekam. Itu bahaya bagi negara kita yang bhinneka ini.
Ketika kita membuka ekonomi pada pasar bebas tanpa mengatur rakyat agar
siap masuk globalisasi, yang terjadi ribut seperti sekarang dengan AFTA. Buah yang
kita makan itu dari mana? Import. Sebentar lagi batik Cina pun masuk. Mestinya
rakyat diajari berproduksi, diajari membuka pasar, supaya bisa menjual ke luar negeri.
Bukan dibiarkan begitu saja.
Karena perubahan-perubahan tidak dirasakan rakyat, kemakmuran tidak
merata, partai tidak berperan, saya kira Hariman Siregar akan tetap berperan.
Karenanya, saya kagum dengan dia.” e

~ 229 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 229 3/26/10 7:25:14 PM


Hariman & Malari

K.H. Prof. Dr. Ali Yafie


“ B i c a r a n y a T i d a k M e n g a d a - a d a”

S
ebenarnya saya belum lama kenal dekat Ha­
riman Siregar. Kami mulai menjadi teman dekat ketika
sama-sama menjadi anggota Panitia Pengawas Pemilu,
Panwaslu, Pusat saat di masa-masa akhir Presiden
Soeharto, yaitu Pemilihan Umum 1997. Kami menjadi
anggota Panwaslu bersama-sama dengan Dadang Hawari,
Zakiah Daradjat, dan tokoh-tokoh lain.
Nah, di Panwaslu itu kami sering malakukan kunjungan ke daerah-daerah
bersama-sama. Lewat aktivitas seperti itulah kita mulai menjadi dekat. Dan akhir-
akhir ini, kira kira setahun terakhir, kami menjadi lebih dekat lagi. Karena, sering
ketemu dan sering berbincang-bincang tentang berbagai masalah.
Saya menilai Hariman Siregar sebagai orang yang terbuka, bicaranya tidak
mengada-ada, selalu bicara apa adanya. Itu sikap dan karakter yang paling berharga
dan berkesan buat saya. Artinya, suatu sikap atau karakter yang bisa kita pegang
pembicaraannya. Dia pantas menjadi pemimpin karena memang dia punya bakat
kepemimpinan.
Dalam kehidupan demokrasi seperti sekarang ini, orang seperti Hariman
masih diperlukan, bahkan penting sekali! Karena, demokrasi tidak akan memiliki arti
kalau banyak orang yang mengada-ada. Karena, demokrasi itu harus dijelaskan apa
adanya, supaya orang-orang dapat merasakan adanya keadilan dari sistem demokrasi.
Sebaliknya, yang namanya manipulasi atau rekayasa itu kan semuanya penyakit
demokrasi sekarang ini.
~ 230 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 230 3/26/10 7:25:15 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Sikap kritis Hariman itu bahasa agamanya adalah amar ma’ruf nahi mungkar.
Dan sikap kritis itu sebenarnya membantu siapa pun yang jadi pemimpin. Artinya,
siapa pun yang jadi pemimpin, kalau didampingi oleh orang yang seperti itu, dia akan
sukses. Tapi, sebaliknya sekarang, banyak pemimpin hanya mencari orang-orang
yang pintar memuji-muji dia saja, yang asal bapak senang.
Orang seperti Hariman sangat layak dijadikan sahabat. Karena, yang namanya
sahabat itu harus punya kesetiaan, ada kepedulian, dan menghormati orang lain. Sifat-
sifat seperti itu menonjol pada diri Hariman dan itu tidak dibuat-buat, apa adanya.
Banyak orang yang bersikap dibuat-buat, tapi Hariman tidak. Dia juga punya prinsip
dan tidak ikut-ikutan.
Yang menggembirakan saya, ternyata respons Hariman tentang masalah
agama juga bagus. Dua minggu yang lalu, kami bertemu di rumah Pak Muhammad
Zein, berdiskusi tentang berbagai macam masalah kerakyatan, lantas kami sama-
sama salat zuhur berjamaah di masjid dekat rumah Pak Zein. Tentu, yang namanya
kesalehan itu bisa dilihat dari berbagai pandangan orang. Ada orang yang mengukur
dari pandangan lahirnya saja, tapi juga orang yang mengukur dari mata batinnya. Jadi,
kita tidak bisa mengatakan, kalau ada orang yang salatnya kurang-kurang, misalnya,
lalu kita terus menjatuhkan vonis bahwa itu orang tidak beragama. Penilaian seperti
itu tidak pada tempatnya. Cara orang beribadah tidak semuanya sama. Bersikap kritis
terhadap kondisi bangsa yang ada dan menyampaikan kebenaran, itu kan juga bagian
dari ibadah. Walaupun memang harus kita akui bahwa ada ibadah utama, seperti salat
dan puasa, masih banyak ibadah lain yang perlu melengkapi ibadah salat dan puasa.
Terakhir, saya berharap Hariman diberikan umur panjang oleh Allah, supaya
lebih bisa menyertai perjuangan yang dibutuhkan oleh rakyat untuk menegakkan
keadilan dan kebenaran.” e

~ 231 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 231 3/26/10 7:25:16 PM


Hariman & Malari

K.H. Cholil Badawi


“S aya Tak Bisa Memahami
G aya Hidupnya”

S
aya mengenal Hariman belum terlalu lama, tapi
kami cepat akrab. Mungkin karena kami sama-sama berlatar
belakang aktivis politik, meski berbeda kelompok: saya dari
kelompok Islam dan Hariman konon dari sosialis. Tetapi,
bagi saya, Hariman merupakan teman yang punya idealisme
dalam kehidupan berbangsa. Dia selalu mengemukakan
visinya terhadap kehidupan bangsa ini. Dia juga berharap
dan sekaligus prihatin pada nasib bangsa. Hal ini terus dikemukakan dalam setiap
pertemuan. Saya juga sangat terkesan pada sifat solidaritas Hariman terhadap teman-
temannya. Saya pikir ini yang menyebabkan Hariman punya banyak teman.
Dalam pergaulan sehari-hari, Hariman menempatkan saya sebagai orang tua
sekaligus teman. Saya lupa di mana pertama kali mengenal Hariman, tapi yang jelas
dalam sebuah forum diskusi politik, sekitar tahun 1999, pada masa Presiden Habibie.
Saat itu, saya masih di PPP dan menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Dakwah
Islamiyah, periode pimpinan Anwar Haryono. Jadi, sebagai salah satu pemuka
kelompok Islam di Jakarta, waktu itu banyak kegiatan yang saya hadiri. Biasanya
pembicaran berkisar pada perkembangan politik yang terjadi di Tanah Air, terutama
gejolak di kalangan elite. Setelah itu, saya sering ketemu dia saat ada diskusi-diskusi
di Jakarta.
 Di tahun 1999 itu, posisi saya semacam koordinator kegiatan umat Islam
di Jakarta. Saya mengenal orang-orang lapangan seperti Jumhur Hidayat dan Aam
Sapulete, tapi tidak tahu apa dan siapa mereka. Belakangan saya baru tahu warna
~ 232 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 232 3/26/10 7:25:17 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
politik mereka. Ternyata mereka tidak punya idealisme politik. Mereka hanya mencari
kekuasaan. Ini beda jauh dengan Hariman, yang memiliki idealisme politik yang
tinggi. Dia sebenarnya mampu untuk memperoleh kekuasaan, tapi dia tidak mau.
 Meskipun waktu itu Hariman dekat dengan Presiden Habibie, dia tidak
sombong dan aji mumpung. Dia tetap menjaga hubungan dengan semua teman.
Bayangkan, orang sekelas Hariman masih mau berkomunikasi dengan orang tua
seperti saya, juga dengan K.H. Ali Yafie. Ini sesuatu yang langka bagi saya.Beda
sekali dengan para aktivis muda yang berubah saat mendapat kekuasaan. Makanya,
saya sempat mempertanyakan kepada para politisi senior, kenapa kok mereka mau
menerima orang seperti Andi Arief untuk melobi mereka dalam kasus Century.
Walaupun Sudi Silalahi bilang itu dilakukan tanpa sepengetahuan SBY, bagi saya itu
bohong. Bagi saya, itu semacam pelecehan dari SBY.
 Pada tahun 2007, saya sedang di Magelang dan kena serangan jantung.
Kemudian dibawa ke Yogyakarta. Rumah sakit di sana memberitahu saya untuk di
operasi by-pass jantung. Banyak teman menyarankan saya untuk operasi di Penang
atau Singapura. Saya masih bimbang. Kemudian saya menelepon Hariman. Dia
menyarankan saya untuk operasi di Rumah Saskit Harapan Kita di Jakarta saja,
supaya mudah perawatan dan pengurusannya, karena kan nanti pasti banyak teman
yang ingin membesuk. Saya setuju dengan sarannya dan langsung berangkat.
Sebetulnya dia mau menjemput di Bandar Udara Soekarno-Hatta, saya tolak
karena takut merepotkan dia. Tapi, rupanya Hariman sudah menunggu di Rumah
Sakit Harapan Kita, mempersiapkan dan mengurus semua keperluan administrasinya.
Saya tinggal masuk saja dan langsung ditangani oleh dokter senior di rumah sakit itu,
yang kebetulan teman seangkatan Hariman di Fakultas Kedokteran UI. Karena ruang
perawatan sedang penuh, dia menunggui saya di rumah sakit sampai malam. Dia
selalu menelepon dan beberapa kali membesuk saya selama dua minggu opname di
sana.
 Setelah pulang dari Rumah Sakit Harapan Kita, saya disarankan dokter dan
Hariman untuk beristirahat. Saya pulang ke Magelang dan beristirahat selama enam
bulan untuk memulihkan kondisi badan. Soalnya ada teman saya sehabis operasi by-
pass tidak mengindahkan nasihat dokter kemudian kambuh dan meninggal. Hariman
selalu mengingatkan hal itu. Di sinilah saya melihat dan merasakan betul bagaimana
perhatian seorang Hariman terhadap diri saya.”
 
*****
“Waktu Peristiwa Malari, saya tidak tahu persis persoalanya. Karena, sebagai
Sekretaris Fraksi PPP di DPR saat itu, saya disibukkan dengan masalah internal.
Aktivitas politik saya saat itu terbatas di lingkungan umat Islam. Meskipun begitu,
saya merasakan juga bahwa Soeharto sudah mulai menyeleweng. Saya mencoba
bersikap kritis walau dalam koridor DPR. Saya sempat ditekan oleh H.J. Naro,

~ 233 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 233 3/26/10 7:25:17 PM


Hariman & Malari
Ketua Umum PPP masa itu, agar bersikap lunak terhadap pemerintah. Mereka tidak
berhasil, karena PPP walk out saat dewan membahas masalah Pedoman Penghayatan
dan Pengamalan Pancasila.
 Ketika telah mengenal Hariman, saya berharap ia mau tampil di depan,
jangan hanya di belakang layar saja seperti sekarang. Padahal, waktu itu, dari segi
usia dan posisi sangat mendukung. Tapi, dia tidak pernah menjawab harapan saya.
Inilah susahnya, sepertinya dia tidak punya keinginan untuk berkuasa, meskipun saya
selalu mendorongnya. Tapi, perkembangan politik sekarang mungkin akan memaksa
orang seperti Hariman untuk mengambil posisi.
 Saya melihat salah satu problem bangsa ini adalah tidak adanya kaderisasi
kepemimpinan bangsa. Yang ada sekarang hanya pemimpin kelompok yang tidak
punya kemampuan yang andal. Nah, orang seperti Hariman sebenarnya mampu
dan punya karakter untuk menjadi pemimpin. Coba lihat bagaimana dia mampu
memanggil orang, terus cara dia berkomunikasi yang enak dan menyentuh emosi
semua kalangan. Ini yang menyebabkan dia punya ‘daya panggil’. Ini semua tidak
bisa diraih tanpa pendirian yang kuat.
Saya melihat juga dia dihormati oleh teman sepergaulanya. Sebagai contoh
Fahri Hamzah, politisi PKS, yang dikenal Hariman saat masih menjadi Ketua Kesatuan
Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Meski sekarang sudah menjadi anggota DPR,
Fachri masih terus berkomunikasi dengan Hariman. Bila diundang ke acara yang di
adakan oleh Hariman, dia masih mau datang. Hal ini kan tidak mungkin terjadi kalau
tanpa adanya hubungan batin yang kuat.
Hariman juga sangat mengetahui situasi politik yang terbaru dan sesuatu yang
terjadi di balik berita. Dalam hal ini, saya kalah jauh. Dia juga orang yang pandai
dan berani, terbukti pada usia muda sebagai Ketua Dewan Mahasiswa  UI berani
melakukan perlawanan terhadap rezim Soeharto yang begitu kuat. Ini kan sesuatu
yang luar biasa.
 Sampai sekarang, kalau ke Jakarta, saya masih kontak dengan Hariman.
Biasanya, dia mengajak saya sarapan atau makan siang di restoran sambil berdiskusi
dengan teman-teman aktivis yang lain. Dan tempat pertemuanya selalu berpindah-
pindah, tergantung pada situasinya.
Terus terang, saya tidak tahu secara persis latar belakang Hariman seperti apa,
karena saya kenalnya kan belakangan. Bagi orang yang sudah tahu Hariman, kadang
menilainya agak negatif. Ada yang mengatakan dia kan cuma ‘preman politik’.
Tapi, saya pikir, penilaian orang kan bisa berbeda, jadi saya tidak terpengaruh sama
penilaian mereka. Saya melihat Hariman seperti apa yang saya kenal saja. Mungkin
saja penilian orang itu ada benarnya, tapi bagaimana mainnya, saya kan enggak
tahu.
 Saya hanya tahu dia begitu luas komunikasinya dengan pihak-pihak yang
berlawanan dengan pemerintah dan dengan orang dalam pemerintahan, bahkan

~ 234 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 234 3/26/10 7:25:18 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
dengan orang kecil di jalanan. Sebagai seorang yang dibesarkan di Masjumi, saya
agak heran melihat orang seperti Hariman. Sebab, saya jarang ketemu orang seperti
dia yang pergaulannya sangat luas, seperti pergaulannya dengan kalangan tentara.
Dalam sebuah kesempatan, saya melihat dia sangat akrab bicara dengan Edi Budianto.
Saya kaget. Kok bisa? Padahal, saya sudah kenal Edi sejak masih mayor, tapi saya
enggak pernah tahu bahwa dia mengenal Hariman. Dia juga dekat dengan Syafrie
Syamsudin. Sebaliknya, Hariman juga kaget melihat saya dekat dengan Syafrie.
 Saya ini kan memang dekat dengan tentara sejak mereka masih taruna. Anak
saya enam orang dan semuanya perempuan, jadi banyak taruna yang sering main
ke rumah di Magelang. Taruna kan waktu itu ingin punya tempat istirahat, ketemu
keluarga dalam lingkungan keluarga yang normal. Saya terbuka kepada mereka.
Kalau mau datang main atau mau makan, saya persilakan. Saya menjadi seperti
orang tua buat mereka. Banyak di antara taruna yang lama tidak bertemu dan waktu
bertemu kembali sudah menjadi kapten, mayor, atau jenderal. Tapi, mereka masih
ingat kepada saya.
 Saya enggak pernah secara khusus bicara masalah religius dengan Hariman.
Orang tahunya kan Hariman itu kelompok sosialis. Tapi, paling tidak, Hariman sangat
menghormati pandangan yang religius dan tidak alergi bergaul dengan orang dari
kalangan religius, seperti K.H. Ali Yafie dan saya.
 Saya kadang bingung melihat gaya hidup Hariman. Otak saya enggak sampai
untuk bisa memahaminya gaya hidupnya yang bermain golf, bertemu orang dari satu
lobi hotel ke hotel yang lain. Makan bersama teman dari satu restoran ke restoran
yang lain. Itu kan luar biasa sekali. Saya juga melihat para aktivis yang datang ke
dia meminta uang, seperti anak-anak PRD, Jumhur, Aam, dan lainya waktu zaman
maraknya demo dulu. Saya enggak habis pikir, uang dari mana yang dia bagikan.
Tapi kan saya enggak mungkin bertanya ke dia soal itu. Sebab, sebagai orang tua,
saya merasa pertanyaan itu tidak etis.” e

~ 235 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 235 3/26/10 7:25:18 PM


Hariman & Malari

Habib Husein Al Habsy


“D ia S eorang Pluralis
tapi Tidak Menyakiti Mayoritas”

S
aya mengikuti pemberitaan tentang Hariman
Siregar dari koran ketika terjadi Peristiwa Malari. Saya
masih ingat, hakim ketua yang mengadili Hariman bernama
Siburian, S.H. Ketika itu, saya masih duduk di bangku SMA.
Saya juga ingat bagaimana hakim Siburian mengingatkan
Hariman kalau sebentar lagi mau Bulan Puasa, karena itu
dia minta supaya Hariman jangan sampai berbelit-belit di
persidangan.
Dari pembacaan lewat koran itulah mulai tumbuh rasa simpati saya kepada
Hariman. Dari peristiwa itu saya menilai, Hariman menghadapi suatu kekuasaan,
seperti apa yang dikatakan Bernard Shaw, yang berkaok-kaok menuntut keadilan
kambing, yang menentukan macan. Itulah yang dihadapi oleh Hariman.
Hariman persis seperti orang yang menabrakkan kepalanya di tembok. Meski
tahu tembok itu tidak akan runtuh, dia tetap lakukan itu. Saya melihat yang dilakukan
Hariman seperti apa yang dikatakan Imam Ali: hancurkan kebatilan walau Anda binasa
dan kebatilan itu tetap jalan. Itulah Hariman. Allah tidak melihat suatu perjuangan
dari hasilnya, tapi yang dilihat oleh Allah adalah kemauanmu, keikhlasanmu dalam
berbuat.
Saya yakin Hariman bukanlah seorang pengkhayal bahwa suatu saat nanti
dirinya bisa menggulingkan kekuasaan Soeharto. Tapi, setidaknya, dia sudah mencubit
rezim tersebut. Dia sudah berbuat sesuatu. Walaupun itu sama dengan sebotol kecap
yang kita tuangkan ke dalam samudra yang luas, yang terpenting kita sudah berbuat.
~ 236 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 236 3/26/10 7:25:20 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
Saya teringat dengan kata-kata Shakespeare: ‘Janganlah Anda terlalu royal dalam
mengkhayalkan sesuatu atau dalam memberi harga, memberi isi sesuatu. Prediksikan
atau nilai sesuatu itu sesuai dengan kurs, pasar yang sebenarnya.’
Saya mulai intensif berkenalan dengan Hariman sekeluarnya dari penjara, yang
saya jalani selama 9 tahun 4 bulan. Saya bertemu dia di forum-forum seminar atau
diskusi. Kebetulan, sekeluarnya dari penjara, saya sering diminta menjadi narasumber
di berbagai forum seminar.
Yang unik dari sosok Hariman Siregar adalah, ketika zaman Presiden
B.J. Habibie, dia menempatkan dirinya sebagai orang yang sangat dekat dengan
kekuasaan. Dia memberikan pandangan-pandangan kepada Habibie. Namun, di
setiap pemerintahan yang lain, dia tampil menjadi kritikus politik yang baik. Kita lihat
misalnya bagaimana di zaman Soeharto, Peristiwa Malari yang dipimpin Hariman itu
sampai sekarang begitu terkenal. Kita juga bisa lihat dia sangat kritis dan luar biasa
dalam menghadapi Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, dan SBY. Hariman
adalah orang yang bisa menempatkan dirinya kapan harus dekat dengan kekuasaan
dan kapan harus menjadi kritikus politik.
Pertanyaannya, kenapa Hariman bisa dekat dengan Habibie, sementara dengan
penguasa yang lain tidak? Saya melihat Hariman adalah orang yang sangat menghargai
knowledge, ilmu pengetahuan. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan Alquran: ‘Apakah
sama orang-orang yang memiliki pengetahuan dengan orang yang awam?’ Nah,
Habibie punya satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh yang lain, yaitu pengetahuan
di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Saya melihat ada penghargaan yang tinggi
dalam diri Hariman kepada intelektualitas, penghargaan terhadap knowledge.
Satu hal lain yang saya kagumi dari Hariman adalah, meski dia seorang aktivis
politik, dia memiliki pekerjaan. Dia seorang dokter, dia memiliki sebuah klinik, saya
pernah beberapa kali datang ke kliniknya. Saya senang dengan pejuang-pejuang
seperti itu. Artinya apa? Dia tidak menggantungkan harapan, tidak memanfaatkan
momentum-momentum politik untuk kepentingan nafkahnya. Sekarang ini kita bisa
menyaksikan, begitu banyak orang yang memanfaatkan perjuangan, bahkan agama,
untuk kepentingan dirinya.
Kelebihan lain dari Hariman adalah dia seorang pluralis tapi tidak menyakiti
mayoritas. Meski begitu, Hariman saya nilai tidak pintar mengambil hati kelompok
mayoritas. Sebaliknya, kelompok mayoritas juga tidak pandai merangkul Hariman.
Kelompok mayoritas menganggap Hariman itu seperti belut dalam oli dan Hariman
juga menganggap kelompok mayoritas demikian.
Memang, setiap Bulan Puasa misalnya, Indemo yang dipimpin Hariman
selalu menggelar acara buka puasa bersama, tapi tetap saja saya kira Hariman tidak
bisa merangkul mayoritas. Dan, kelompok mayoritas tidak bisa berbuat apa-apa
terhadap Hariman. Saya kira, dari kelompok mayoritas, satu-satunya orang yang
bisa sangat dekat dengan Hariman adalah saya. Saya sering berteleponan dengan
dia, mendiskusikan berbagai persoalan sosial kemasyarakatan. Setiap saat, saya
~ 237 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 237 3/26/10 7:25:21 PM


Hariman & Malari
berkomunikasi dengan dia.
Bagaimana orang yang tidak bisa melihat seperti saya bisa dekat dengan
Hariman? Alhamdulillah, meski saya buta, saya yakin feeling atau mata batin saya
tidak pernah membohongi diri saya. Misalnya begini, jika ada perempuan duduk
dekat saya, saya tidak tahu bagaimana rupa perempuan itu. Tapi, begitu perempuan
tersebut berbicara satu atau dua kalimat, kalkulator saya bisa langsung bekerja. ‘Oh,
ini perempuan kalau dilihat dari depan mobil Mercy; kalau dari belakang, trotoar.’
Begitulah mata batin saya menilai Hariman, sehingga saya bisa dekat dengan dia.
Banyak orang yang melihat sosok Hariman sebagai orang yang keras, kasar,
dan menggebu-gebu. Menurut saya, orang itu kurang pintar saja dalam merangkul
Hariman. Saya sendiri dalam bergaul dengan Hariman berpegang pada suatu filsafat
yang mengatakan: ‘Macan itu kalau kita bisa buat baik, dia bisa jadi sirkus. Disuruh
joget, joget itu macan. Disuruh menari, mau menari itu macan.’ Itu macan betulan,
apalagi ‘macan’ Hariman. Ini hanya soal kepintaran kita saja. Setiap orang punya
karakter, tingkah, dan cara masing-masing.
Saya sering berdiskusi dengan Hariman yang dalam diskusi itu saya sering
mengutip ucapan Deng Xiaoping, yang mengatakan, ‘Jangan lihat kucing dari
warnanya, yang penting kucing itu bisa makan tikus.’ Jangan mempersolkan ini
mayoritas, itu minoritas. Saya selalu berpegang pada prinsip: saya tidak setuju
dengan pendapat Anda, tapi saya akan bela hak Anda dengan sepenuh jiwa raga untuk
kebenaran. Artinya, harus ada fleksibilitas. Kalau hal seperti ini bisa dimiliki oleh para
ulama, oleh tokoh-tokoh masyarakat seperti Hariman, ini akan sangat bagus sekali.
Dalam kesempatan ini, saya ingin katakan satu hal, tidak bisa kita berjuang
tanpa ada satu tokoh spiritual. Itu tidak mungkin. Harus ada tokoh spiritual yang tidak
‘melihat kucing dari warnanya, yang penting kucing itu bisa makan tikus’. Harus ada
Kardinal Shin yang menggulingkan Presiden Ferdinand Marcos dan Joseph Estrada
di Filipina. Harus ada Imam Khomeini untuk menggulingkan Shan Iran. Harus ada
Napoleon Bonaparte yang muncul dengan slogan liberte, parternite, dan egalite-
nya.
Tokoh spiritual ini anggap saja dibutuhkan tidak untuk selama-lamanya, tapi
hanya dalam satu momentum saja. Misalnya dalam kasus perampokan dana Bank
Century. Yang terpenting, tokoh tersebut tidak ‘kursiolog’ dan tidak ‘fulusiolog’.
Ini bukan berarti dia harus sempurna, tidak memiliki kelemahan. Setiap orang pasti
punya kelemahan. Shakespeare dalam sebuah puisinya mengatakan: ‘Lautan tidak
ada gelombangnya seperti bak air di kamar mandi.’
Kenapa perjuangan kita mesti ada tokoh spiritual? Tanpa ada tokoh spiritual,
perjuangan itu tidak ada harganya. Kenapa demikian? Masyarakat kita tidak semuanya
menghormati intelektual. Indonesia bukanlah Eropa. Di Eropa, kita boleh saja muncul
dengan ide-ide, meski demikian tokoh-tokoh kharismatik masih tetap dibutuhkan dan
memainkan peran yang besar.” e

~ 238 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 238 3/26/10 7:25:21 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Andi Mapetahang Fatwa


“Hariman Tidak Nyaman dengan
Establishment ”

S
aya sungguh ingin melihat Hariman lebih teratur
salat. Sahabatnya, Fanny Habibie, saya dengar mulai
teratur salatnya, setelah istrinya meninggal. Hariman itu
solidaritasnya, pengabdian sosialnya, tinggi sekali. Tak ada
yang meragukan. Ketika saya ditahan, dialah yang paling
banyak memperhatikan saya. Salah seorang anak saya, Ikrar,
banyak dibantu biaya kuliahnya.
Cuma kan ada perbedaan antara pengabdian sosial dan ibadah sosial.
Pengabdian sosial bisa siapa saja melakukanya, asalkan mengabdi kepada kepentingan
masyarakat. Tapi, yang disebut ibadah sosial itu berbeda, karena setiap aktivitas sosial
yang kita lakukan harus dikaitkan kepada Allah. Ini yang akan bernilai ibadah dan
punya nilai di akhirat.
Memang, ini urusan pribadi, kata orang liberal. Saya cenderung tidak
memisahkan garis perbedaan ‘ini liberal’ atau ‘itu bukan liberal’ dalam sistem sosial.
Karena, saya menjalankan sistem politik dan demokrasi, sementara keduanya anak
kandung sistem liberal. Demokrasi melahirkan partai-partai dan saya orang berpartai.
Jadi, saya tidak perlu memusuhi itu. Tapi, Hariman menjadi lebih religius adalah
harapan saya.
Usia kami berbeda sepuluh tahunan, seharusnya sudah beda generasi. Tapi,
baik saya maupun dia seperti merasa masih satu generasi saja. Mungkin karena saya
senang dengan kegiatan-kegiatan orang muda dan Hariman pun sangat fleksibel,
~ 239 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 239 3/26/10 7:25:23 PM


Hariman & Malari
bebas bergaul dengan siapa saja.
Kami mulai kenal awal tahun 1970-an, sebelum Peristiwa Malari meletus.
Waktu itu ada persaingan memperebutkan posisi Ketua Dewan Mahasiswa UI.
Hariman bersaing dengan Ismeth Abdullah dari HMI. Ismeth mendatangi saya sebagai
alumni HMI yang sudah bekerja di Pemda DKI di bawah Gubernur Ali Sadikin. Secara
emosional, saya berpihak kepada Ismeth. Tambahan lagi ada persepsi saya yang agak
negatif kepada Hariman yang berkembang didukung oleh Ali Moertopo.
Meskipun pegawai negeri, saya tidak suka dengan kerja-kerja Ali Moertopo.
Keterlibatan Ali Moertopo dalam politik terus berlanjut dengan keterlibatanya
mengintervensi organisasi-organisasi massa dan juga partai-partai.
Persepsi saya tentang Hariman berubah ketika meletus Peristiwa Malari.
Kebakaran di Senen menurut informasi yang sempat berkembang adalah perbuatan
Ali Moertopo. Hariman yang dijemput Gubernur Ali Sadikin kemudian berbicara
di TVRI, berusaha menenangkan massa untuk tidak melakukan aksi-aksi anarkis.
Timbul rasa simpati dan penghargaan saya.
Hariman itu ternyata seorang yang berani bertanggung jawab. Dia pun rupanya
bisa diajak bicara. Berpangkal dari situ, tambahan dia akrab dengan Ali Sadikin—
sedangkan saya anak buah Ali Sadikin—kami kian dekatlah.
Latar belakang kami, tentu semua orang tahu, sangat berbeda. Mentor-mentor
politiknya juga berbeda. Meskipun demikian, kami bisa sama-sama bicara. Ini karena
memang pembawaan saya yang inklusif. Semua orang pun bisa berhubungan dengan
Hariman. Jadi, di sini persamaan kami, sama-sama terbuka, jelas posisinya: siapa
Anda dan siapa saya.
Saya sendiri kemudian ikut terlibat—berkolaborasi—dalam aksi-aksi
mahasiswa tahun 1977-1978. Saya yang berada dalam birokrasi memfasilitasi
beberapa rapat mahasiswa. Waktu itu dari UI ada Dipo Alam dan Lukman Hakim,
lalu dari IKIP ada Hamid dan Sulaeman Hamzah, juga ada mahasiswa dari IAIN
Jakarta. Di samping jabatan struktural, saya juga mengetuai organisasi-organisasi
ekstra-struktural di DKI Jakarta, seperti KODI, MUI, dan MTQ. Pendek kata, saya
punya jaringan dengan titik-titik massa dan organisasi-organisasi mass. Mahasiswa
melihat saya sebagai salah satu titik kontak yang ada dalam birokrasi. Kebetulan pula
ada persamaan visi. Pada titik itulah saya terbawa dalam aksi-aksi mahasiswa tahun
1978. Mahasiswa tidak peduli bahwa saya pegawai negeri. Sebagaimana Hariman
juga memiliki hubungan pribadi dengan orang-orang pemerintahan masa awal 1970-
an.
Saya kemudian ditahan sembilan bulan tanpa diadili karena melakukan apel
besar umat Islam di Senayan, Desember 1977. Persis ketika Sudjono Hoemardhani
menggelar perayaan Satu Suro, besoknya saya mengerahkan massa untuk perayaan 1
Muharam. Ini kan beda jauh, antara 1 Muharam dan 1 Suro. Saya waktu itu Sekretaris
Majelis Ulama DKI Jakarta dan anggota Komisi Ukhuwah Islamiyah MUI Pusat. Isu

~ 240 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 240 3/26/10 7:25:23 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
pokok dalam apel besar itu adalah menolak aliran kepercayaan masuk GBHN. Untuk
hal yang seperti ini, Hariman tidak sama pandangannya dengan saya. Tapi dalam aksi
menghadapi sikap politik Soeharto, kami punya kesamaan. Karenanya tetap ada titik
singgung.
Hariman memberikan simpati kepada mereka yang ditahan, seperti senior-
senior: Mahbub Junaedi, Bung Tomo, Ismail Sunny, Imaduddin, dan Syarifuddin
Prawiranegara. Selain mereka, ditangkap pula pengurus dewan-dewan mahasiswa,
dari kalangan Katolik ada Lopez dan Chris Siner Keytimu. Hariman mondar-mandir
memberikan bantuan kepada kami yang ada di tahanan. Dia sangat memperhatikan
kesehatan kami. Banyak teman dokternya dibawa ke penjara untuk memeriksa
kesehatan tahanan dan menyediakan kebutuhan lain.
Setelah keluar penjara, saya dan anak saya lama berobat gratis di kliniknya,
Baruna. Saya pernah pula berkantor di Jalan Lautze, selepas dari pemenjaraan yang
kedua kalinya. Setelah Ali Sadikin lengser dari jabatan Gubernur DKI Jakarta,
tak lama kemudian saya dipecat oleh Menteri Dalam Negeri Amir Machmud dari
Pemda DKI, tahun 1979. Akibatnya, masa itu saya agak luntang-lantung. Ali Sadikin
memang memperhatikan saya, tapi tentu ada segi-segi lain seperti urusan kesehatan
yang banyak dibantu Hariman. Pada tahun 1980, Ali Sadikin dan beberapa tokoh
membentuk Petisi 50 dan saya duduk sebagai Sekretaris Kelompok Kerja Petisi 50.
Saat itu, saya dan Hariman masih sering bertemu dan saling tukar pemikiran.
Komunikasi kami agak berkurang setelah saya secara formal aktif dalam partai
politik, yaitu mendirikan Partai Amanat Nasional bersama Amien Rais, lantas masuk
parlemen. Hariman tak begitu suka dengan partai dan sesuatu yang sifatnya formal.
Kalau saya, formal oke, yang informal juga oke. Hariman tak suka jabatan, sedangkan
saya masuk penjara atau masuk istana sama saja, tergantung pada tujuannya. Kalau
ada jabatan yang berguna untuk kepentingan rakyat banyak, saya suka saja. Hariman
selalu apriori dengan istana kepresidenan. Waktu Adnan Buyung Nasution masuk
istana, dia mengkritik, meski Buyung adalah seniornya. Saya juga kerap dikritik
Hariman. Bagi saya, itu wajar karena saya memang berada dalam sistem.
Sampai sekarang tak ada yang berubah dari Hariman. Dia selalu tidak nyaman
dengan establishment. Itu sudah menjadi pandangan hidupnya. Sampai tua pun begitu.
Bila pada zaman Presiden B.J. Habibie, dia masuk MPR, itu lebih banyak karena
terbawa-bawa perkawanannya dengan Fanny Habibie.
Fanny sendiri sejak di Akademi Militer sudah banyak bikin ulah, sering
dihukum. Sewaktu jadi perwira, dia memimpin suatu gerakan yang buat kalangan
militer saat itu tidak cocok. Dia sama ‘tidak tertibnya’ dengan Hariman. Saya sempat
mengkritik Hariman waktu dia berada di lingkar dalam pemerintah Habibie. Kedekatan
dengan Fanny itu bisa merusak citra Habibie sebagai presiden. Cuma kritik, bukan
menegur.
Meski sekarang jarang bertemu Hariman, saya tak mungkin lupa pada
kebesaran jiwa dan segala bantuannya selama saya di penjara dan setelah bebas.
~ 241 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 241 3/26/10 7:25:23 PM


Hariman & Malari
Kritik saya ke dia: ini orang kok sampai tua seperti tidak menata diri untuk hidup
secara tertib. Mestinya periodesasi usia berbeda dong. Tidak usah jiwanya berubah,
tapi jenis akivitasnya harus agak berubah. Saya bayangkan kalau tenaganya masih
kuat, mungkin dia sudah teriak-teriak di jalan.” e

~ 242 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 242 3/26/10 7:25:24 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Komjen (Purn.) Noegroho Djajoesman


“ S a y a B e l a j a r Po l i t i k d a r i H a r i m a n”

N
ama Hariman Siregar telah saya dengar
saat Peristiwa Malari meletus tanggal 15 Januari
1974. Saat itu, saya bertugas di Bagian Reserse
Polres Jakarta Pusat. Hanya saja, kami tak sempat
berkenalan atau bertemu, karena aksi pengamanan
pasca-Peristiwa Malari sepenuhnya ditangani pihak
TNI. Polisi enggak ikut-ikutan sama sekali.
Kesempatan berkenalan justru baru terjadi sekitar dua puluh tahun kemudian.
Suatu hari, selaku Kapolres Jakarta Selatan, saya mendapat laporan dari polisi yang
bertugas di lapangan, ada keributan di rumah Hariman Siregar, di kawasan Kalibata.
Mendengar itu, saya langsung berangkat ke lokasi. Sesampainya di rumah Hariman,
saya tanya apa masalahnya, kok, sampai ribut-ribut. Ternyata, keributan itu berkaitan
dengan masalah pribadi Hariman. Maka, saya pun langsung menginstruksikan agar
anak-buah saya balik ke kantor. Biar urusan itu diselesaikan secara internal keluarga
saja.
Sejak itu, beberapa kali saya bertemu Hariman. Kebetulan, dia dekat dengan
Bang Buyung Nasution, yang masih kerabat keluarga saya. Lagi pula, saya merasa
cocok berteman dengan dia. Mungkin karena karakter kami yang hampir sama.
Ketika saya menjabat Kapolda Metro Jaya, pasca-kerusuhan Mei 1998 dan
lengsernya Presiden Soeharto, hubungan kami semakin dekat. Ketika itu, Hariman
menjadi semacam penasehat politik Presiden B.J. Habibie, yang menggantikan Soe­

~ 243 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 243 3/26/10 7:25:26 PM


Hariman & Malari
harto. Saat itu, kami cukup intens berhubungan. Hampir setiap hari kami bertemu,
bahkan di tengah kesibukan saya menangani situasi keamanan dan ketertiban di
Jakarta yang penuh gejolak politik saat itu.
Karena intensnya hubungan tersebut, saya semakin mengenal Hariman.
Di masa itulah saya mengetahui bagaimana luasnya jaringan politiknya. Hampir
di semua kalangan—mahasiswa, politisi, tokoh agama, tentara, polisi, birokrat,
akademisi, sampai preman—ia punya simpul-simpul yang bisa diakses setiap saat.
Berkat jaringannya yang luas itu, saya sedikit banyak terbantu dalam menjalankan
tugas berat yang saya emban saat itu.
Sejak itu pula saya cukup mengagumi konsistensinya dalam memperjuangkan
idealismenya. Hariman tak sungkan mengkritik secara terbuka mengenai hal-hal
yang tidak sejalan dengan idealisme dan prinsip hidupnya, bahkan terhadap penguasa
sekalipun. Dalam masalah politik, saya akui cukup banyak belajar dari Hariman.
Hariman juga selalu setia dan solider dalam berkawan. Sikap ini pernah saya
rasakan sendir, saat saya mendapat mendapat ‘cobaan’ dalam urusan dinas. Setelah
menjabat Kapolda Metro Jaya, saya dimutasi menjadi Kepala Sespim Polri oleh
Kapolri Rusdihardjo. Mutasi itu semacam hukuman kepada saya, karena jabatan
Kepala Sespim Polri lazimnya merupakan ‘jatah’ untuk mayor jenderal yunior.
Padahal, saya merasa telah maksimal menjalankan tugas sebagai Kapolda Metro
Jaya, kok malah tidak dipromosikan.
Saat itu, saya merasa karir saya akan habis. Sempat terpikir juga saya akan
mengundurkan diri dari Polri. Nah, di saat-saat itulah, Hariman tampil sebagai salah
seorang yang selalu membesarkan hati saya. Dan memang tak lama kemudian cobaan
itu bisa saya lewati. Saat Kapolri dijabat Surojo Bimantoro, saya pun dipromosikan
menjadi Deputi Kapolri Bidang Pendidikan Latihan dan pangkat saya dinaikkan
menjadi komisaris jenderal polisi alias bintang tiga.” e

~ 244 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 244 3/26/10 7:25:27 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Jenderal (Purn.) Luhut Panjaitan


“Pribadinya Penuh dengan Paradoks ”

S
aya kenal Hariman tidak lama setelah Peristiwa
Malari. Kemudian, saya menjadi dekat dengan dia karena dia
juga kan kebetulan sahabat ipar saya, Dr. Sjahrir, Ci’il. Adik
saya, Kartini, istri almarhum Dr. Sjahrir, juga cukup dekat
dengan Hariman. Lewat Kartini dan Ci’il inilah sebenarnya
saya lebih banyak mengenal sosok Hariman.
Semangat Hariman memperbaiki sistem sangat ba­
gus. Tapi, untuk itu, dia tidak bisa berada di luar sistem terus. Hariman harus masuk
ke dalam sistem. Mengkritik dari luar itu gampang, tapi realitas yang ada di dalam
sistem itu tidak sesederhana yang kita bayangkan. Saya mengalami bagaimana
sulitnya ketika saya menjadi menteri.
Ketika pertama kali diangkat menjadi Menteri Perindustrian di masa pe­
merintahan Presiden Abdurrahman Wahid, saya berpikir semua masalah bisa
diselesaikan. Ternyata, realitasnya tidak sesederhana seperti yang dibayangkan.
Karena saya paham betul bagaimana kompleksnya permasalahan di dalam sistem,
saya pun tidak pernah mau mengkritik pemerintah secara terbuka. Saya sampaikan
kritik itu dalam ruang tertutup. Sementara itu Hariman, karena tidak pernah berada di
dalam sistem, seenak perutnya saja mengkritik. Dia bawa kritiknya ke jalanan.
Bahwa Hariman orang pintar, itu benar adanya. Tapi, yang perlu juga dicatat
adalah: solidaritasnya yang tinggi kepada kawan. Dia setia kepada kawan. Saya tahu
betul bagaimana perhatiannya ketika mendampingi Ci’il saat berobat ke New York,

~ 245 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 245 3/26/10 7:25:28 PM


Hariman & Malari
sampai Ci’il kemudian meninggal dunia. Dia tetap setia menunggui Ci’il di rumah
sakit, padahal udara di New York saat itu dingin sekali. Dari New York, Ci’il dibawa
ke Singapura dan Hariman tetap setia mendampinginya.
Di tengah-tengah Ci’il sakit dan menjelang ajalnya itulah Hariman masih
seenaknya ngomong ceplas-ceplos. Kepada Ci’il, dia bilang, ‘Il, menurut gue, lu
sudah selesai. Jadi, lu mau milih mati di sini (Singapura) apa di Indonesia?’
Itulah ceplas-ceplosnya Hariman. Di saat orang mau mengembuskan napasnya,
dia masih sanggup ngomong seperti itu. Kalau kita, mana mungkin bisa ngomong
seperti itu? Tapi, semua itu diucapkan dengan ketulusan hati.
Menurut saya, Hariman adalah pribadi yang penuh dengan paradoks. Sifat
perkawanan Hariman yang sangat baik, saya kira, satu hal yang patut kita contoh. Ini
juga salah satu hal yang paling saya senangi dari dia. Dalam hidup ini, perkawanan
adalah hal yang paling penting dan nomor satu. Yang lain-lain mungkin bisa kita beli
dengan uang, tapi perkawanan tidak.
Dalam konteks perannya sebagai aktivis politik, saya menilai Hariman
menikmati perannya seperti sekarang ini dan dia sadar betul akan hal itu. Ini yang
membuat orang ‘takut’ kepada dia, termasuk Presiden SBY. Setidak-tidaknya SBY
berhitunglah kalau berurusan dengan Hariman. SBY tahu betul bagaimana mulut
Hariman kalau sudah ngomong dan juga gerakannya. Dia senang mengkritik. Bahwa
kritiknya didengar atau tidak oleh yang dikritik, itu bukan urusan dia. Didengar bagus,
tidak didengar masa bodoh. Karena itu, menurut saya, Hariman terlalu pintar untuk
masuk dalam struktur kekuasaan. Ia tahu betul betapa kompleksnya masuk dalam
struktur kekuasaan.
Tokoh pengritik seperti Hariman sangatlah diperlukan oleh bangsa ini,
terutama untuk mengoreksi jalannya pemerintah. Soal berapa persen kritiknya yang
benar, itu urusan lain. Yang menjadi penggerak atau energi bagi Hariman untuk terus
melakukan kritik tidak lain daripada kecintaannya kepada negeri ini. Dia sangat
mencintai Indonesia.
Terlepas dari ‘kegilaannya’ yang kadang-kadang muncul, saya sangat senang
berkawan dengan Hariman Siregar. Dari auranya, saya bisa menilai Hariman orang
yang asyik untuk diajak berkawan. Di usianya yang ke-60 tahun ini, saya ingin
katakan kepada Hariman: be your self saja. Karena, sifat ‘kegilaan’ Hariman itu tidak
mungkin bisa diubah meski dia sudah berumur 60 tahun. Dan, tidak ada yang perlu
kita minta dari Hariman untuk diubah.
Meski Hariman ngomongnya seenaknya menurut dia sendiri, saya kira tidak
ada orang yang memusuhi dia. Coba tunjukkan siapa yang memusuhi dia? Semua
orang tahu siapa Hariman. Kalau Hariman ngomong sesukanya dia, orang paling
akan bilang, ‘Oh, Hariman memang begitu.’ Dan, urusan selesai. Lain halnya, kalau
misalnya saya yang bicara, orang mungkin akan bilang, ‘Sialan tuh si Luhut.’
Lagi pula, saya melihat apa yang dilakukan Hariman itu tidak ada yang
~ 246 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 246 3/26/10 7:25:28 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
destruktif. Hariman bisa mengerem sampai pada titik mana gerakannya itu harus
dia setop. Dalam istilah militer, inilah yang disebut dengan ‘batas gerak maju’. Nah,
Hariman tahu batas gerak maju dari gerakannya.
Dalam sistem politik, orang-orang seperti Hariman merupakan pelengkap
dari elemen-elemen dalam sistem. Dalam sistem politik sekarang ini, partai politik
memainkan peran besar. Meski demikian, elemen-elemen seperti Hariman tetap perlu
didengar suaranya karena dia bisa memengaruhi orang banyak. Dia bisa membawa
atau menyuarakan suara-suara independen.
Bagaimanapun, Hariman adalah seorang opinion maker. Tapi, seiring usia
dan berjalannya waktu, perannya sebagai opinion maker akan semakin redup, apalagi
banyak bermunculan orang-orang baru. Yang penting, menurut saya, kita harus tahu
kapan waktunya kita harus mulai mundur dari arena. Orang terjangkit postpower
syndrome itu karena dia tidak tahu kapan waktunya dia harus mundur.
Seorang presiden atau pemimpin tidak perlu takut menghadapi sosok seperti
Hariman. Yang penting, didengar, dilihat, dan di-crosscheck kritiknya itu. Seorang
pemimpin atau presiden sudah memiliki institusi untuk melakukan hal seperti ini.
Dia memiliki Badan Intelijen Nasional, Polri, kejaksaan, dan lainnya. Segala macam
manusia dengan beragam keahlian ada di institusi-institusi tersebut. Artinya, kalau
seorang presiden itu hebat dan pandai, dia memiliki semua elemen yang mendukung
dirinya untuk sukses menjadi seorang pemimpin, asalkan semua elemen tersebut dia
manfaatkan dengan baik dan benar.” e

~ 247 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 247 3/26/10 7:25:29 PM


Hariman & Malari

Letjen (Purn.) Syamsir Siregar


“Subyektivitasnya Sangat Kuat ”

K
etika terjadi Peristiwa Malari tahun 1974,
saya berdinas di Brigade Infanteri 17 Kodam Jaya dengan
pangkat kapten. Saya baru mengenal Hariman Siregar
setelah dia keluar dari penjara. Perkenalan saya dengan
dia dalam kapasitas pribadi, tidak dalam kerangka tugas
sebagai prajurit Angkatan Darat. Ketika itu, saya tertarik
untuk mengenal lebih jauh Hariman Siregar antara lain
karena alasan sama-sama bermarga Siregar saja. ‘Siapa si pemberontak ini?’ pikir
saya. Ternyata, asal-usul keluarga kami sama: berasal dari Sipirok, Tapanuli Selatan.
Karena keingintahuan itu, saya sempat tanya sana-sini kepada kawan-kawan
yang kebetulan menangani perkara Hariman. Dari kawan-kawan yang menangani
perkara Hariman inilah saya tahu cukup banyak informasi tentang sosok dan aktivitas
Hariman. Dan saat bertemu secara pribadi, saya tanyakan banyak hal kepadanya.
Dalam percakapan itu, intinya, Hariman mengatakan semua hal yang dituduhkan
kepadanya tidak benar. Itulah yang membuat dia protes. Saya sendiri menilai, Hariman
ketika itu dimanfaatkan oleh orang lain tapi tidak ia sadari. Hal itu saya kemukakan
langsung kepada dia saat pertemuan tersebut. Tentu saja, dia membantah kalau dirinya
digunakan oleh orang lain.
Belakangan ini, saya sering menasihati Hariman. Saya katakan kepada dia,
‘Sudahlah, Hariman, sekarang kau sudah tua. Perhatikan anak-istrimu. Cari makan
yang betul. Sudah habis masamu. Kau punya keahlian, tapi tidak pernah digunakan.
Kau dokter, tapi kau dokter bagian demo saja. Kalau kau masuk penjara lagi sekarang,
tidak akan ada yang menolong kau sekarang ini. Sekali-kali kau pulanglah ke kampung

~ 248 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 248 3/26/10 7:25:30 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
halaman. Di kampungmu itu jembatan pun tidak ada.
Terlepas dari itu, menurut penilaian saya, Hariman adalah orang yang
konsekuen dengan apa yang dia yakini. Dia berani bertanggung jawab. Tapi, ada satu
hal yang saya kadang kurang sreg dengan dia: selalu merasa pendapatnya sendiri
yang paling benar. Orang lain semua salah. Coba saja perhatikan, era pemerintahan
mana yang tidak dia salahkan, kecuali pemerintahan Presiden B.J. Habibie. Dia tidak
menyalahkan pemerintahan Habibie karena dia dekat Habibie. Hariman orang yang
memiliki subyektivitas yang sangat kuat sekali. Ini yang tidak saya setujui dari dia.
Sebelum dipenjara dalam Peristiwa Malari, Hariman selalu tampil di depan
memimpin. Tapi, pengalaman di penjara rupanya membuat Hariman mengambil
pelajaran. Setelah keluar dari penjara, dalam melakukan gerakan, orang lainlah yang
dia sorong maju di depan, sementara dia sendiri mengambil posisi di belakang layar.
Karakter Hariman seperti yang saya katakan tadi, dalam konteks perpolitikan di
Indonesia, saya kira sulit untuk bisa diterima.
Saya banyak bertanya kepada orang-orang yang kenal dekat dengan Hariman
tentang latar belakangnya. Menurut mereka, Hariman itu pelajar yang pintar di
sekolahnya. Dia orang yang tidak mau dipimpin, tapi maunya memimpin. Sangat
sulit orang seperti Hariman kalau jadi pemimpin, sementara dia tidak mau menerima
saran dan pendapat orang lain. Hanya pendapatnya saja yang dianggap paling benar.
Mana bisa orang seperti itu jadi pemimpin?
Hariman harus mau melihat realitas dan perkembangan yang ada. Dia jangan
melulu menengok kepada zamannya ketika semua orang dia anggap bisa diatur seperti
dulu. Sekarang makin banyak orang yang lebih pintar dan berpengalaman di bidang
politik. Kalau dia benar-benar mau berpolitik, kenapa dia tidak mau masuk partai
politik?
Dalam pandangan saya, Hariman tidak mau masuk partai karena semua partai
yang ada dia anggap tidak benar. Kalau dia mau memperbaiki partai, dia harus masuk
ke partai dan memperbaiki dari dalam. Dia mau memperbaiki, tapi dia sendiri berada
di luar, sudah tentu tidak akan dianggap oleh orang lain. Menurut saya, memperbaiki
itu lebih mudah kita lakukan kalau kita berada di dalam ketimbang kita berada di luar
sistem.
Dalam berpolitik, saya kira, Hariman tidak pernah ingin menjadi presiden.
Hariman, saya kira, menyadari sekali kemampuannya sampai di mana. Dia menyadari
betul akan hal itu. Hariman hanya menginginkan agar negara ini beranjak lebih baik.
Tapi, baik di sini menurut pikiran dan ukuran dia sendiri, tanpa mau memedulikan
pandangan orang lain. Inilah yang susah.” e

~ 249 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 249 3/26/10 7:25:30 PM


Hariman & Malari

Jenderal TNI (Purn.) Tyasno Sudarto


“Sosok yang Tak Pernah
Berhenti Berjuang ”

K
ita tentu masih ingat Peristiwa 15 Januari
1974 yang dikenal dengan nama Malari (Malapetaka
Lima Belas Januari). Malari adalah peristiwa demonstrasi
mahasiswa dan kerusuhan sosial yang terjadi pada 15
Januari 1974 di Jakarta. Di hari yang mencekam itu,
pusat pertokoan yang letaknya tidak jauh dari istana dan
dikenal dengan Proyek Senen dibakar orang, peristiwa
yang bisa dikatakan ‘hari anti-Jepang’. Peristiwa itu terjadi selama kunjungan tiga hari
Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka di Jakarta (14-17 Januari 1974). Kedatangan
Ketua IGGI, J.P. Pronk, dijadikan momentum untuk demonstrasi antimodal asing.
Klimaksnya, kedatangan Tanaka pada Januari 1974 disertai demonstrasi dan
kerusuhan, yang membuat situasi Kota Jakarta saat itu mencekam. Ratusan bangunan,
mobil, dan motor produksi asal Jepang dibakar/dirusak. Ratusan kilogram emas hilang
dari beberapa toko perhiasan. Bahkan, mengakibatkan ratusan orang mengalami luka-
luka berat dan ringan serta banyaknya korban jiwa Peristiwa 15 Januari 1974 dapat
disebut sebagai salah satu tonggak sejarah kekerasan Orde Baru.
Lumpuhnya potensi oposisi dan kekuatan kritis lain seiring kukuhnya kekuasaan
rezim Soeharto ternyata tidak mematikan gerakan perlawanan di Indonesia. Berbagai
bentuk perlawanan muncul, baik di kalangan rakyat kebanyakan maupun intelektual,
tidak terkecuali mahasiswa. Salah satu bentuk perlawanan yang fenomenal dan muncul
secara terbuka (konfrontatif) terjadi sejak 1973-an. Kemudian, tahun 1974, rezim
Soeharto dihadapkan pada perlawanan masif dan berskala nasional yang diprakarsai
gerakan mahasiswa, khususnya dewan mahasiswa, yang berpuncak pada peristiwa

~ 250 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 250 3/26/10 7:25:31 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar
yang populer dengan nama Malari tersebut.
Bila kita mengingat Peristiwa Malari, kita akan teringat pula dengan sejumlah
tokoh yang dianggap motor penggerak dalam peristiwa tersebut. Salah satunya
adalah Hariman Siregar. Bila orang menyebut peristiwa tersebut, selalu terkait
dengan Hariman Siregar dan peristiwa itu pun tidak akan terjadi jika Hariman Siregar
bergerak sendiri dan jika tidak bekerja sama dengan yang lain,
Hariman Siregar adalah salah satu tokoh utama aksi mahasiswa pada 15 Januari
1974. Akibat sepak terjangnya itu, Hariman sempat mendekam di penjara dan namanya
selalu dikait-kaitkan dengan setiap gerakan mahasiswa. Hariman Siregar merupakan
sosok yang kerap mengeluarkan langkah yang kontroversial. Ketika Peristiwa Malari
terjadi, Hariman Siregar masih berusia muda, tapi sudah memiliki karakter, cerdas,
visioner, dan teguh terhadap komitmen. Hariman Siregar memang sudah dilahirkan
menjadi pejuang demokrasi, berpikir cerdas, gigih, dan tertanam dalam dirinya sifat
‘gila kerja’, tidak bisa diam melihat penderitaan rakyat. Perjuangannya diwujudkan
dalam bentuk memimpin gerakan mahasiswa. Ia membuat Jakarta geger dengan
Peristiwa Malari
Dalam masa-masa selanjutnya, Hariman Siregar tetap selalu menjadi sosok
yang kritis. Dalam lintasan sejarah selalu ada orang yang berpegang teguh pada
landasan moral yang diyakininya dengan sepenuh hati, mengabdi demi kepentingan
rakyat, dan terus-menerus mengawal perjalanan demokrasi Indonesia, seperti Hariman
Siregar.
Bila kita melihat perjalanan demokrasi di Indonesia, setidaknya telah dilalui
empat masa demokrasi dengan berbagai versi. Pertama adalah demokrasi liberal di
masa awal kemerdekaan. Kedua adalah demokrasi terpimpin, ketika Presiden Soekarno
membubarkan konstituante dan mendeklarasikan demokrasi terpimpin. Ketiga
adalah demokrasi Pancasila yang dimulai sejak pemerintahan Presiden Soeharto.
Keempat adalah demokrasi yang saat ini masih dalam masa transisi. Demokrasi
dikatakan mengalami kemajuan karena pemilihan umum diikuti oleh banyak partai
dan pemilihan presiden secara langsung yang juga diikuti oleh pemilihan kepala
daerah. Jika diasumsikan pemilihan langsung akan menghasilkan pemimpin yang
mampu membawa masyarakat kepada kehidupan yang lebih baik, seharusnya dalam
beberapa tahun ke depan Indonesia akan mengalami peningkatan taraf kesejahteraan
masyarakat. Namun, sayangnya, hal ini belum terjadi secara signifikan. Hal ini sebagai
akibat masih terlalu kuatnya kelompok yang pro-korupsi, kolusi, dan nepotisme serta
anti-perbaikan, Pemimpin bangsa saat ini telah banyak membohongi rakyat dengan
melegalkan sistem yang penuh korupsi.
Keruntuhan Soeharto pada 1998 diyakini para aktivis pergerakan akan
membawa kebaikan bagi seluruh rakyat Indonesia. Sumbatan-sumbatan demokrasi
diharapkan bisa terbuka, yang memberikan kesempatan besar bagi rakyat untuk
menyuarakan hak-haknya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Bank Century
dibobol, korupsi merajalela, kemewahan dipertontonkan oleh elite, dan kemiskinan

~ 251 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 251 3/26/10 7:25:32 PM


Hariman & Malari
tak teratasi. Bisa dibilang sampai sekarang pemerintah belum mengeluarkan satu
pun kebijakan politik atau ekonomi karena masih sibuk mengurusi hal lain. Padahal,
ancamannya sekarang jelas, seperti membanjirnya barang-barang Cina akibat pasar
bebas. Bagaimana bisa diklaim kinerjanya memuaskan? 
Yang punya negara ini adalah rakyat. Rakyat harus ambil kembali kedaulatannya.
Negara ini dimerdekakan untuk menyejahterakan rakyat. Kita membutuhkan revolusi
nurani, kita membutuhkan lahirnya ‘Hariman-Hariman’ baru, yang  punya  pemikiran-
pemikiran kritis, yang siap memperjuangkan kepentingan rakyat.
Meskipun pernah mendekam di dalam penjara, tidaklah membuat Hariman
Siregar jera melanjutkan perjuangannya. Demi kepentingan rakyat, ia bersama
kawan-kawannya mendirikan sebuah jaringan yang memfasilitasi pengembangan
wacana dan sumber daya kekuatan demokratis, dengan nama Indemo, Indonesian
Democracy Monitor. Di lembaga ini, ia bergabung dengan kawan-kawan aktivisnya
dan kelompok lain untuk melanjutkan cita-cita dan idealismenya. Tak pelak lagi,
Hariman adalah sosok yang tidak pernah berhenti berjuang.”e

~ 252 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 252 3/26/10 7:25:32 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar

Letjen (Purn.) Zacky Anwar Makarim


“Dia Mampu Berkomunikasi dengan
Intelijen ABRI”

B
erbicara tentang Hariman Siregar, H.S.,
se­lalu dikaitkan dengan Peristiwa Malari 1974.
Terus terang, saat itu bukan periode saya. Yang
bertugas menangani peristiwa tersebut adalah hampir
seluruhnya jenderal-jenderal senior Angkatan ‘45,
seperti Jenderal Soemitro, Sudomo, Ali Moertopo, dan
Sutopo Yuwono.
Di dalam komunitas intelijen, biasa terjadi tukar-menukar atau penyebaran
informasi sesama aparat intelijen. Kaitannya tentang H.S. adalah ia dikategorikan
sebagai tokoh yang mampu mengerakkan massa, provokator yang dapat membentuk
opini, cerdas melihat masalah, dan memiliki keberanian yang luar biasa dan tidak
terukur.
H.S. tipikal orang yang sulit untuk dikendalikan oleh siapa pun, termasuk
oleh kawan-kawan dekatnya dan oleh penguasa, yang saat itu Kopkamtib dengan
kekuasaannya luar biasa. Sasaran gerakanya tidak terbatas, bukan hanya konsep
pembangunan ekonomi Orde Baru, tapi sudah melebar sampai ke arah kepemimpinan
nasional, misalnya tentang suksesi Presiden Soeharto. Kadang, kata-katanya sangat
kasar dalam memaki pemimpin. Disebutkan juga bahwa H.S. memiliki konsep-
konsep ekonomi yang berbasiskan ekonomi kerakyatan dan menganggap setting
politik ekonomi Orde Baru yang menekankan pada investasi modal asing, khususnya
peran Jepang, yang berlebi-lebihan adalah tidak sesuai.
Dalam catatan tersebut juga disebutkan cara berpikir atau ide-ide H.S. banyak
~ 253 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 253 3/26/10 7:25:33 PM


Hariman & Malari
dipengaruhi oleh pemikiran Partai Sosialis Indonesia. Hal ini diperkuat karena
kebetulan ia pernah menjadi menantu dari Profesor Sarbini, salah seorang tokoh PSI.
Popularitas H.S. lalu menurun, baik di mata aparat keamanan maupun pendukungnya
karena aksi protes yang tadinya hanya berpusat di dalam kampus seperti yang
diizinkan oleh aparat keamanan mendadak menjadi aksi demo jalanan yang tidak
terkendali dan berakhir dengan kerusuhan yang memakan korban jiwa.
Ada beberapa pendapat dalam catatan tersebut: demo jalanan memang
sudah direncanakan oleh H.S.; koordinasi dengan aparat keamanan hanya tipuan,
dan; ada pendapat yang menyebutkan H.S. surprise, menyesal, dan tidak mampu
mengendalikan massa lagi.
Saya kira H.S. menyadari, ide untuk melakukan perubahan tidak akan berhasil
tanpa dukungan ABRI. Sukses Angkatan ‘66 melakukan perubahan dengan dukungan
ABRI ada dalam pemikirannya. Dan, ia punya kemampuan membina komunikasi
yang baik dan luas dengan pihak ABRI, khususnya aparat intelijen.
H.S. terbiasa berkomunikasi langsung dengan tokoh-tokoh teras militer
saat itu, seperti Sutopo Yuwono, Ali Moertopo, Soemitro, Kharis Suhud, Nicklany,
dan Sudomo sebagai Wapang Kopkamtib. Aparat intelijen daerah banyak menjadi
kawannya. Beberapa perwira-perwira muda, saya tahu, cukup dekat dengan dia. Saya
sendiri sewaktu menjabat As Intel Kodam Jaya tahun 1993 pernah diajak Hariman
makan malam dengan Bang Buyung Nasution di Blok M. Kata-katanya saya masih
ingat bahwa kita tidak perlu sependapat soal demokrasi, tapi komunikasi tidak boleh
terputus. Kami membahas soal kepemimpinan Soeharto yang telah mengkristal
menjadi suatu sistem. Soeharto sendiri telah menjelma menjadi suatu ‘sistem’.
Kedekatan H.S. dengan ABRI memang sangat terlihat. Kawan-kawannya
banyak mencurigai dia, karena dia bisa menjual informasi ke intelijen untuk
menangkapi kelompok lain yang berbeda. Pendapat saya, H.S. lebih percaya kepada
ABRI daripada kepada partai politik atau kelompok masyarakat lain. Dia tidak
suka radikal kiri ataupun kanan. Dia takut negara jatuh ke tangan kelompok Islam
yang dapat membawa ke arah negara Islam. Dia juga berkomitmen dengan Negara
Kesatuan Republik Indonesia yang sudah final.
Teringat saya tahun 1990, sewaktu bertugas operasi di Aceh, H.S. datang
ke posko saya. Banyak sarannya yang sangat rasional tentang masalah Aceh yang
menuntut keadilan. Terlalu lama Aceh ditelantarkan oleh pemerintah pusat. Aceh
adalah salah satu provinsi termiskin di Indonesia padahal Aceh adalah daerah ‘modal’
bagi republik pada awal kemerdekaan..
Juga sewaktu saat-saat terakhir di Timor Timur pada tahun 1999, sewaktu
jajak pendapat, ia banyak memberikan dukungan kepada masyarakat Timor Timur
yang saat itu menjadi pengungsi akibat provokasi pihak Barat yang prokemerdekaan.
Dia mengingatkan proveksi Barat—Amerika Serikat-Australia—soal kemerdekaan
Timor Timur.

~ 254 ~

Buku Hariman 18x25 Fix.indd 254 3/26/10 7:25:34 PM


Mereka Bicara Hariman Siregar