Anda di halaman 1dari 9

A.

Perbandingan hasil analisa Struktur Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB) dengan
Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK)
Daktilitas adalah kemampuan suatu struktur untuk mengalami simpangan pasca elastik
yang besar secara berulang kali dan bolak-balik akibat beban gempa yang menyebabkan
terjadinya pelelehan pertama, sambil mempertahankan kekuatan dan kekakuan yang cukup,
sehingga struktur itu tetap berdiri walaupun sudah berada dalam kondisi ambang keruntuhan.
Sistem rangka ruang di dalam komponen-komponen struktur dan join-joinnya menahan gaya-
gaya yang bekerja melalui aksi lentur, geser dan aksial disebut dengan Sistem Rangka
Pemikul Momen.
Faktor daktilitas suatu struktur gedung merupakan dasar bagi penentuan beban gempa
yang bekerja pada struktur gedung, karena itu tercapainya tingkat yang diharapkan harus
terjamin dengan baik. Hal ini dapat tercapai apabila batang-batang horizontal (balok) harus
leleh lebih dahulu sebelum terjadi kerusakan-kerusakan batang vertikal (kolom). Hal ini
berarti bahwa akibat pengaruh gempa rencana, sendi-sendi plastis di dalam struktur gedung
hanya pada ujung-ujung balok dan pada kaki-kaki kolom.
Sistem rangka psemikul momen dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Sistem Rangka Pemikul Momen Biasa (SRPMB) atau elastic penuh
Struktur yang memiliki daktilitas tingkat 1 dengan nilai faktor daktilitas sebesar 1.0 yang
harus direncanakan agar tetep berperilaku elastic saat terjadi gempa kuat dan hanya
dipakai untuk wilayah gempa 1 dan 2.
2. Sistem Rangka Pemikul Momen Menengah (SRPMM) atau Daktail Parsial
Seluruh tingkat daktilitas struktur gedung dengan nilai faktor daktilitas anta struktur
gedung yang elastik penuh 1.0 dan struktur gedung yang daktail penuh sebesar 5.3 dan
hanya digunakan pada wilayah gempa 3 dan 4.
3. Sistem Rangka Pemikul momen Khusus (SRPMK)
Pada dasarnya daktilitas dibagi atas beberapa jenis. Hal ini terjadi karena adanya
beberapa pengertian yang timbul. Pengertian daktilitas dapat ditinjau dari tiga jenis metode
perhitungan. Daktilitas dapat ditinjau dari segi tegangan (strain), Lengkungan (curvature),
dan Lendutan (displacement).
a. Daktilitas Tegangan (Strain Ductility)
Pengertian dasar dari daktilitas adalah kemampuan dari material/ struktur untuk menahan
tegangan plastis tanpa penurunan yang drastis dari tegangan. Daktilitas yang sangat
berpengaruh pada struktur dapat tercapai pada panjang tertentu pada salah satu bagian
dari struktur tersebut. Jika tegangan inelastik dibatasi dengan panjang yang sangat
pendek, maka akan terjadi penambahan yang besar pada daktilitas tegangan. Daktilitas
tegangan merupakan daktilitas yang dimiliki oleh material yang digunakan.
Namun dalam tugas ini, karena mutu material yang digunakan adalah sama, maka
daktilitas tegangan tidak dapat dibandingkan, sehingga perbandingan hasil daktilitas
tegangan tidak ditinjau.

b. Daktilitas Lengkungan (Curvature Ductility)


Pada umumnya sumber yang paling berpengaruh dari lendutan struktur inelastis adalah
rotasi pada sambungan plastis yang paling potensial. Sehingga, ini sangat berguna untuk
menghubungkan rotasi per unit panjang (curvature) dengan moment bending ujung.
Daktilitas lengkungan maksimum dapat ditunjukan sebagai berikut,

Dimana φm adalah lengkungan maksimum yang akan timbul, dan φy adalah lengkungan
pada saat leleh. Curvature ductility ini merupakan daktilitas yang diberikan oleh
penulangan struktur.
Dari hasil analisis diperoleh nilai Curvature ductility antara bangunan yang di desain
dengan SRPMB dan SRPMK sebagai berikut:
Daktilitas Lengkungan (Curvature Ductility)
Pengaruh (%)
Balok SRPMB (350/450) SRPMK (350/450)
Tumpu Tumpu Tumpu
Tumpua Lapanga Tumpu Lapanga Tumpu Lapanga
an an an
n Kiri n an Kiri n an Kiri n
Kanan Kanan Kanan
Balok
6,389 6,389 6,389 9,23 9,23 9,23 30,78 30,78 30,78
AB
Balok
6,389 8,14 6,389 9,23 9,23 9,23 30,78 11,81 30,78
BD
Balok
6,389 8,14 6,389 9,23 9,23 9,23 30,78 11,81 30,78
DF
Balok
3,668 3,668 3,668 6,937 6,937 6,937 47,12 47,12 47,12
GH
Balok
3,668 8,14 4,444 6,937 9,23 6,937 47,12 11,81 35,94
HJ
Balok JL 4,444 8,14 3,668 6,937 9,23 6,081 35,94 11,81 39,68
Balok
3,668 8,14 4,747 6,081 9,23 6,937 39,68 11,81 31,57
LN
Rata-rata 37,46 19,56 35,24
DAKTILITAS
As (mm2) PERSENTASE
KOLOM KURVATUR
(%)
SRPMB SRPMK SRPMB SRPMK
LANTAI
1,8172 2,372
1 4559,28 2411,52 23,4
LANTAI
1,8172 2,372
2 4559,28 2411,52 23,4

Dapat dilihat dari hasil analisis daktilitas lengkungan di atas bahwa pengaruh desain
menggunakan SRPMB dengan desain menggunakan SRPMK meningkatkan daktilitas
lengkungan sebesar 37, 46% pada daerah tumpuan kiri, 19, 56% pada daerah lapangan,
dan 35,24% pada daerah tumpuan kanan. Selain itu, daktilitas kolom juga mengalami
peningkatan sebesar 23,4% pada kolom lantai 1 maupun lantai 2. Dapat disimpulkan
desain menggunakan SRPMK sangat berpengaruh terhadap daktilitas lengkungan.

c. Daktilitas Lendutan (Displacement Ductility)


Daktilitas lendutan biasanya digunakan pada evaluasi struktur yang diberikan gaya
gempa. Daktilitas didefinisikan oleh rasio dari total lendutan yang terjadi Δ dengan
lendutan pada awal titik leleh (yield point) uy.

Pada struktur, ketika respon gempa yang terjadi melebihi beban rencana maka keadaan
deformasi inelastis harus tercapai. Ketika struktur mampu untuk merespon keadaan
inelastis tanpa penurunan kemampuan yang drastis, maka hal ini akan disebut dalam
keadaan daktail. Keadaan daktil yang sempurna terjadi pada saat ideal elastic/ perfectly
plastic (elastoplastic).
Dari hasil analisis diperoleh nilai daktilitas lendutan (displacement ductility) antara
bangunan yang di desain dengan SRPMB dan SRPMK sebagai berikut:
DAKTILITAS
As (mm2) PERSENTASE
KOLOM PERPINDAHAN
(%)
SRPMB SRPMK SRPMB SRPMK
LANTAI
1,273 1,456
1 4559,28 2411,52 12,57
LANTAI
1,309 1,561
2 4559,28 2411,52 16,14
Dari hasil analisis di atas, dapat dilihat terjadi bahwa dengan menggunakan desain
SRPMK terjadi peningkatan daktilitas perpindahan sebesar 12, 57% pada lantai 1 dan
16,14% pada lantai 2 bila dibandingkan dengan desain SRPMB. Dapat disimpulkan,
dilihat dari segi daktilitas perpindahan, struktur juga mengalami peningkatan daktailitas
dimana struktur yang di desain dengan SRPMK lebih daktail bila dilihat dari segi
daktilitas perpindahan.

Perbandingan pola keruntuhan hasil analisis pushover antara struktur yang di desain dengan
SRPMB dan SRPMK

Tabel Gaya Deser Dasar pada Struktur

SISTEM STRUKTUR KONDISI LELEH PERTAMA KONDISI ULTIMATE

BASE SHEAR (N) BASE SHEAR (N)


SRPMB 191110.34 -41464.94
SRPMK 218509.54 170355.27
Tabel Performance Level Struktur

SISTEM D H
D/H PERFOMANCE LEVEL
STRUKTUR (mm) (mm)
SRPMB 4.289 10100 0.0004 INMEDIATE OCCUPANCY
SRPMK 419.108 10100 0.0414 LIFE SEFETY

KINERJA BATAS LAYAN


Untuk memenuhi persyaratan kinerja batas layan struktur gedung, maka berdasarkan Pasal 8.1.2
SNI 03-1726-2002 dalam segala hal simpangan antar-tingkat yang dihitung dari simpangan
struktur gedung menurut Pasal 8.1.1 tidak boleh melampaui 0.03/R kali tinggi tingkat yang
bersangkutan atau 30 mm bergantung yang mana yang nilainya terkecil.

KINERJA BATAS ULTIMATE


Kinerja batas ultimit struktur gedung ditentukan oleh simpangan dan simpangan antar-tingkat
maksimum struktur gedung akibat pengaruh Gempa Rencana dalam kondisi struktur gedung di
ambang keruntuhan.
 Untuk Struktur Gedung beraturan ξ = 0.7 R
 Untuk Struktur Gedung Tidak beraturan ξ = (0.7 X R)/faktor skala

Tabel Kinerja Batas Layan Struktur


 Syarat drift = (0.03 / R) x h
SRPMB
Lantai ke- Hx (m) Δs Drift Δs (mm) Syarat drift Δs Keterangan
(mm) (mm)
Atap 10.5 5.91 3.948 14.12 Memenuhi
2 6.5 4.44 1.47 19.41 Memenuhi
1 1.5 0.492 0.492 5.29 Memenuhi
SRPMK
Atap 10.5 5.91 0.47 34.28 Memenuhi
2 6.5 4.44 3.948 47.14 Memenuhi
1 1.5 0.492 0.492 12.85 Memenuhi
Tabel Kinerja Batas Ultimate
(SRPMB)
 Untuk Struktur Gedung beraturan ξ = 0.7 R à 0.7 x 8.5 = 5.95

 Syarat drift = 0.02 x h


(SRPMK)
 Untuk Struktur Gedung beraturan ξ = 0.7 R à 0.7 x 3.5 = 2.45

 Syarat drift = 0.02 x h

SRPMB
Lantai ke- Hx (m) Drift Δs (mm) Drift Δm (mm) Syarat drift (mm) Keterangan

Atap 10.5 3.948 20.81 30 Memenuhi


2 6.5 1.47 8.74 110 Memenuhi
1 1.5 0.492 2.92 30 Memenuhi
SRPMK
Atap 10.5 4.53 11.1 30 Memenuhi
2 6.5 12.08 29.596 110 Memenuhi
1 1.5 1.23 3.01 30 Memenuhi

Tabel Daktilitas Struktur secara Global


DESAIN DISPLACEMENT DISPLACEMENT RASIO STATUS MENURUT
SAAT KONDISI SAAT KONDISI (B/A) SNI 03-1726-2002
LELEH PERTAMA ULTIMATE (mm)
(mm) (B)
(A)
SRPMB 2.476279 4.289 1.74 DAKTAIL PARSIAL
SRPMK 30.21 419.108 13.87 DAKTAIL PENUH!
B. Teknik-teknik untuk meningkatkan daktilitas struktur:
1. Dengan melakukan perkuatan struktur diantaranya adalah dengan menggunakan:
a. GFRP (Glass Fiber Reinforced Polymer) Composite merupakan salah satu solusi
perkuatan untuk struktur yang banyak dipakai pada saat ini di dunia. Walaupun
material ini cukup mahal namun banyak keuntungan yang dapat diberikan bila
menggunakan GFRP yaitu merupakan material yang tahan korosi, mempunyai kuat
tarik yang tinggi, superior dalam daktilitas, beratnya ringan sehingga tidak
memerlukan perlatan yang berat untuk membawanya ke lokasi, selain itu dalam
pelaksanaan tidak mengganggu aktifitas yang ada pada daerah perbaikan struktur
tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa perkuatan lentur dengan mengunakan
bahan GFRP dapat meningkatkan kapasitas beban lebih dari 50% jika dibandingkan
dengan balok tanpa perkuatan. Selain itu balok beton bertulang yang diperkuat
dengan 1,2, dan 3 lapis GFRP dapat meningkatkan daktilitas bila dibandingkan
dengan balok beton tanpa perkuatan.
b. CFRP (Carbon Fiber Reinforced Polymer), dari penelitian yang telah dilakukan,
CFRP dapat meningkatkan daktilitas kurvatur dan momen pada eksperimen balok
terkekang CFRP dua lapis dibandingkan dengan balok tanpa pengekang CFRP dari
analisa teoritis. Persentase peningkatan daktilitas kurvatur yang terjadi mencapai rata-
rata 265 persen, sedangkan peningkatan momen sebesar rata-rata 45 persen.

2. Meretrofit kolom tersebut dengan cara meliliti kolom menggunakan tulangan transversal
yang berfungsi sebagai tulangan pengekang, tulangan transversal sebagai tulangan
pengekang mungkin digantikan oleh Fine Mesh (FM). Fine mesh cukup efektif bilamana
digunakan sebagai tulangan pengekang pada kolom beton dalam arti meningkatkan
daktilitas beton. Ini dibuktikan fine mesh pada kolom beton terkekang tulangan spiral
yang dibungkus lagi oleh fine mesh (CCFMS) memberi efektifitas pengekangan yang
setara dengan kolom beton terkekang tulangan spiral BJTP (CCS) dengan perbedaan
rasio tulangan ρ s= 13,23 %, kuat tekan berbeda 5,94 %, regangan beton terkekang
berbeda 3,35 % dan regangan beton ultimit berbeda 2,68 %. Sebaiknya ε cu kolom
beton yang belum dirancang memikul beban gempa dapat diretrofit menggunakan fine
mesh, agar dapat meningkatkan daktilitas dari kolom tersebut. (Manaha, Yosimson
Petrus:2008)
3. Dengan menambahkan bracing pada struktur tersebut. Dengan menambahkan bracing
pada struktur, maka akan terjadi penigkatan perpindahan maksimum struktur, nilai
daktilitas struktur, maupun persentasi kenaikan kekuatan struktur terhadap gaya lateral,
dan dapat dibandingkan x-bracing dan spring yang lebih daktail dibandingkan portal
tanpa x-bracing. Dengan demikian dapat diketahui bahwa pemberian spring
mempengaruhi daktilitas pada struktur.
4. Memperbesar dimensi kolom (reinforcement concrete jacketing), dengan memperbesar
dimesi kolom dan menambahnya dengan tulangan, maka diharapkan kekuatan kolom
dalam menahan beban akan meningkat, dimana kekuatan kolom akan lebih besar
daripada kekuatan balok itu sendiri. Hal ini mengikuti konsep Sistem Rangka Pemikul
Momen Khusus yaitu “konsep balok lemah, kolom kuat”.
5. Untuk bangunan sampai lantai 20 penggunaan shear wall bisa jadi sebuah pilihan yang
baik. Untuk bangunan dengan lantai lebih dari 30 lantai, shear wall menjadi sangat
penting dengan perhitungan ekonomi dan kontrol lendutan lateral. Seperti yang sudah
diketahui bahwa kriteria dasar dari perancangan sebuah struktur adalah kekakuan,
kekuatan, dan daktilitas. Dinding struktur memiliki kemampuan yang baik dalam ketiga
kriteria tersebut. Keberadaan dinding struktur dapat meningkatkan kekakuan sistem
struktur. Hal ini dapat mereduksi lendutan yang terjadi akibat gaya gempa dengan arah
gerak yang sama dengan shear wall.