6

K£AÞ£KAIAGAMAÞ
IAYAJI
“Keanekaragaman hayati terus
mengalami penyusutan. Hutan
tropika yang menjadi gudang
keanekaragaman hayati telah
menyusut lebih dari setengahnya.
Kecenderungan penyusutan ini
memerlukan perhatian khusus dan
penanganan yang lebih serius.”
Kerbau liar diantara pohon
nipah. Lokasi Cagar Alam
Tambling, Lampung Barat
Foto: Siswanto Suratmin KLH
ºº
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
KEANEKARAGAMAN hayati di ujung tanduk, begitu­
lah keadaan keanekaragaman hayati pada tingkatan
global di seluruh dunia. Tidak berbeda keadaannya
dengan di Indonesia. Bangsa di bagian dunia mana­
pun akan tergantung pada keanekaragaman hayati
untuk kelangsungan hidupnya. Keanekaragaman
hayati merupakan suatu fenomena alam mengenai
keberagaman makhluk hidup, dan komplek ekologi
yang menjadi tempat hidup bagi makhluk hidup. Ke­
anekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu
mencakup interaksi antara berbagai bentuk kehidupan
dengan lingkungannya, yang membuat bumi ini men­
jadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan
jumlah besar barang dan jasa bagi kehidupan dan ke­
sejahteraan manusia (Perhimpunan Biologi Indonesia,
2007).
Berdasarkan data dan fakta yang ada, terlihat bah­
wa keanekaragaman hayati terus menerus mengal­
ami penyusutan. Hutan tropika yang menjadi gudang
keanekaragaman hayati telah menyusut lebih dari
setengahnya. Kecenderungan penyusutan keanek­
aragaman hayati yang disebabkan oleh berbagai ka­
sus lingkungan memerlukan perhatian khusus dan
penanganan yang lebih serius. Perubahan status
dan/atau fungsi kawasan hutan untuk kegiatan lain
misalnya perkebunan kelapa sawit dan hutan tana­
man industri, penebangan ilegal, penambangan ilegal,
perburuan dan perdagangan satwa, serta introduksi
spesies asing adalah beberapa faktor yang dapat
menyebabkan ancaman terhadap keanekaragaman
hayati. Perubahan iklim, sebagai salah satu fenomena
perubahan alam yang juga dipicu oleh berbagai akti­
vitas manusia akan menjadi ancaman serius keaneka­
ragaman hayati di masa mendatang.
6.1. Kondisi Keanekaragaman Hayati
Indonesia dikenal sangat kaya akan keanekaragaman
hayatinya, baik di darat maupun di laut. Secara bio­
geografi, kawasan Indonesia berada dalam kawasan
Malesia (kawasan Asia Tenggara sampai dengan Pa­
pua sebelah barat) dengan dua pusat keanekaragaman
yaitu Borneo dan Papua serta tingkat endemisitas yang
sangat tinggi dan habitat yang unik. Sebagai contoh,
di kawasan Papua, tingkat endemisitas flora menca­
pai sekitar 60 ­ 70%. Di antara dua pusat keragaman
tersebut, terdapat kawasan transisi yang berada di
selat Makasar (Wallace’s line) dimana dapat ditemukan
flora ecotype.
Dipandang dari segi biodiversitas, posisi geografis
Indonesia sangat menguntungkan. Negara ini terdiri
dari beribu pulau yang berada di antara dua benua, ya­
itu Asia dan Australia, serta terletak di khatulistiwa.
Dengan posisi seperti ini, Indonesia merupakan salah
satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman
hayati terbesar di dunia. Dengan luas wilayah 1,3%
dari luas muka bumi, sebagai negara megabiodiversity,
keanekaragaman hayati Indonesia terdiri dari: mama­
lia 515 species (12 % dari jenis mamalia dunia), rep­
tilia 511 jenis (7,3 % dari jenis reptilia dunia), burung
1.531 jenis (17% dari jenis burung dunia), amphibi
270 jenis, binatang tak bertulang belakang 2.827 je­
nis dan tumbuhan sebanyak ± 38.000 jenis, di anta­
ranya 1.260 jenis yang bernilai medis.
6.1.1. Ekosistem
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk
oleh hubungan timbal­balik antara organisme (makh­
luk hidup) atau unsur biotik dengan lingkungannya
atau unsur abiotik. Ekosistem dapat dianggap sebagai
komunitas dari seluruh tumbuhan dan satwa terma­
suk lingkungan fisiknya yang secara bersama­sama
berfungsi sebagai satu unit yang tidak terpisahkan
atau saling bergantung satu sama lainnya. Kompo­
nen­komponen pembentuk ekosistem adalah kompo­
nen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik).
Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat
dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang
teratur.
Keanekaragaman ekosistem berkaitan dengan ke­
anekaragaman tipe habitat, komunitas biologis dan
proses­proses ekologis dimana keanekaragaman spe­
sies dan genetik terdapat di dalamnya. Sekitar 90 je­
nis ekosistem berada di Indonesia, mulai dari padang
salju tropis di Puncak Jayawijaya, hutan hujan dataran
rendah, hutan pantai, padang rumput, savana, lahan
basah sungai, danau, rawa, muara dan pesisir pan­
tai, mangrove, padang lamun, terumbu karang, hingga
perairan laut dalam. Mengingat keragaman yang tinggi,
maka sangat mungkin ditemukan dan dikembangkan
jenis­jenis yang berpotensi sebagai sumber pangan,
obat dan bahan dasar industri lainnya.
Laut Nusantara yang mempunyai luas sekitar 3,1
juta km2, terdiri atas laut teritorial 0,3 juta km
2
dan
laut pedalaman 2,8 juta km
2
, di samping perairan
ZEEI (Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia) seluas 2,7
juta km2. Selain itu, jumlah pulaunya yang lebih dari
17.000 mempunyai total panjang garis pantai lebih
dari 80.000 km. Data itu katanya, telah memberikan
informasi betapa luasnya dimensi ruang Laut Nusan­
tara sebagai tempat hunian bagi banyak biota laut,
di samping itu sekitar 60 persen penduduk Indonesia
bermukin di kawasan pesisir.
Laut Nusantara juga dikenal mempunyai keaneka­
ragaman hayati yang tinggi (marine megadiversity).
Rumput laut (makro alga) ada lebih dari 700 je­
nis, karang batu lebih dari 450 jenis, moluska lebih
dari 2.500 jenis, ekonodermata sekitar 1.400 jenis,
krustasea lebih dari 1.500 jenis dan ikan lebih dari
2.000 jenis. Kekayaan keanekaragaman hayati di per­
100
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
airan itu memberikan potensi yang tinggi pula untuk
pemanfaatannya, baik secara langsung ataupun tak
langsung.
Hingga saat ini masih banyak pulau kecil dan terpen­
cil yang belum dieksplorasi. Sebagai contoh telah di­
lakukan Ekspedisi Widya Nusantara Puslit Biologi­LIPI
tahun 2007 di Pulau Waigeo yang menjadi salah satu
dari empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat, Irian
Jaya Barat. Penetapan lokasi untuk kegiatan ekspe­
disi ini dengan pertimbangan adanya peluang mem­
peroleh temuan baru (new records, new finding, new
discoveries, new environment), serta mengingat kajian
wilayah tersebut belum pernah dilakukan atau infor­
masi ilmiahnya masih terbatas.
6.1.2. Spesies
Penyebaran tumbuhan Indonesia tercakup dalam ka­
wasan Malesia, yang juga meliputi Philipina, Malaysia
dan Papua Nugini. Kawasan ini ditentukan berdasar­
kan persebaran marga tumbuhan yang ditandai oleh 3
simpul demarkasi yaitu pertama, Simpul Selat Torres
menunjukkan bahwa 644 marga tumbuhan Irian Jaya
tidak bisa menyeberang ke Australia dan 340 mar­
ga tumbuhan Australia tidak dijumpai di Irian Jaya.
Kedua, Tanah Genting Kra di Semenanjung Malaya
merupakan batas penyebaran flora Malesia di Thai­
land. Demarkasi ini menyebabkan adanya 200 marga
tumbuhan Thailand yang tidak dapat menyebar ke ka­
wasan Malesia, dan 375 marga Malesia tidak dijumpai
di Thailand. Ketiga, simpul di sebelah selatan Taiwan
menjadi penghalang antara flora Malesia dan Flora
Taiwan. Adanya demarkasi ini menyebabkan 40%
marga flora Malesia tidak terdapat di luar kawasan
Malesia dan flora Malesia lebih banyak mengandung
unsur Asia dibanding unsur Australia.
Pecahnya benua selatan Gendawa pada 140 juta ta­
hun yang lalu menjadi Paparan Sunda (berasal dari
benua utara Laurasia) dan Paparan Sahul (berasal
dari Gondawa) menyebabkan penyebaran tumbuhan
yang terpusat di Paparan Sunda seperti jenis durian,
rotan, tusam dan artocarpus (Endarwati, 2005).
Pola penyebaran hewan di Indonesia diwarnai oleh
pola kelompok kawasan oriental di sebelah barat dan
kelompok kawasan Australia di sebelah timur. Kedua
kawasan ini sangat berbeda. Namun demikian kare­
na Indonesia terdiri dari deretan pulau yang sangat
berdekatan, maka migrasi fauna antar pulau memberi
peluang bercampurnya unsur dari dua kelompok ka­
wasan tersebut. Percampuran ini mengaburkan batas
antara kawasan oriental dan kawasan Australia.
Memperhatikan sifat hewan di Indonesia, Wallace
membagi kawasan penyebaran fauna menjadi dua
kelompok besar yaitu fauna bagian barat Indonesia
(Sumatera, Jawa, Bali, Madura, Kalimantan) dan fau­
na bagian timur yaitu Sulawesi dan pulau di sebelah
timurya. Dua kelompok fauna ini mempunyai ciri yang
berbeda dan dipisahkan oleh Garis Wallace (garis an­
tara Kalimantan dan Sulawesi, berlanjut antara Bali
dan Lombok).
6.1.2.1 Populasi Satwa dan Tumbuhan yang Dilind-
ungi
Sampai dengan akhir tahun 2007, Departemen Ke­
hutanan telah menetapkan jenis flora dan fauna yang
dilindungi yaitu mamalia (127 jenis), burung (382 je­
nis), reptilia (31 jenis), ikan (9 jenis), serangga (20
jenis), krustasea (2 jenis), anthozoa (1 jenis) dan bi­
valvia (12 jenis).
Tabel 6.1. Populasi Satwa yang Dilindungi 10 Tahun Terakhir
No Tahun
Kelas Satwa yang dilindungi
Mamalia Aves Reptilia Pisces Insecta Molusca Crustacea Anthozoa Bivalvia
1 1998/1999 126 382 31 8 20 12 3 ­ ­
2 1999/2000 127 382 31 8 20 ­ 2 1 12
3 2000 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
4 2001 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
5 2002 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
6 2003 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
7 2004 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
8 2005 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
9 2006 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
10 2007 127 382 31 9 20 ­ 2 1 12
Sumber: Departemen Kehutanan, 2008
101
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Tabel 6.2. Populasi Tumbuhan yang Dilindungi 10 Tahun Terakhir
No Tahun
Kelas Tumbuhan yang dilindungi
Palmae Rafflesia
Orchida-
ceae
Nephen-
taceae
Diptero-
carpacea
Araceae
Parasite
Plant
Apocy-
naceae
Cykas
1 1998/1999 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
2 1999/2000 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
3 2000 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
4 2001 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
5 2002 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
6 2003 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
7 2004 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
8 2005 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
9 2006 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
10 2007 12 11 29 8 13 2 ­ ­ ­
Sumber: Departemen Kehutanan, 2008
6.1.2.2. Ekspor Satwa Liar dan Tumbuhan
Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan, pada
tahun 2007, nilai ekspor satwa liar Indonesia yang
terdiri dari mamalia, amphibia, koral, buaya/kulit bua­
ya dan ikan, mencapai Rp 2,285 miliar. Nilai ekspor
terbesar diperoleh dari ekspor ikan arwana sebesar
Rp 1,280 miliar.
Ekspor beberapa jenis tumbuhan, di antaranya ang­
grek, gaharu, pakis dan ramin yang menghasilkan nilai
ekspor sebesar Rp 85,935 juta.
Tabel 6.3. Ekspor Satwa dan Nilai Ekspor 2007
No Kelas Satuan
Realisasi
Ekspor
Jumlah Surat
Angkut Satwa ke
Luar Negeri
Nilai Ekspor
(Rp)
Perkiraan
Devisa
(US$)
1 Mamalia ekor/lembar 43.993 3.055 609.126 1.129
2 Mamalia *1) ekor ­ 2.951 531.180 984
3 Amphibia ekor 228.720 118.541 7.285.950 13.493
4 Amphibi hidup ekor ­ 5.480 328.800 609
5 Kulit amphibi *1) lembar 144.000 ­ ­ ­
6 Primata ekor 4.922 37.440.000 69.333
7 Kulit amphibi lembar 144.000 ­ ­ ­
8 Kupu­kupu ekor ­ 116.155 15.836.700 29.327
9 Arthopoda ekor 237.147 14.492 1.432.569 2.653
10 Tanduk rusa kg 58.000 23.500 70.500.000 130.556
11 Reptil hidup ekor 574.173 232.365 84.161.000 155.854
12 Reptil hidup *1) ekor ­ 75.793 15.746.500 29.160
13 Kulit reptile lembar 1.424.930 1.165.323 54.284.439 100.527
14 Kulit buaya ekor/lembar 37.500 22.710 68.230.000 126.352
15 Daging Buaya *2) kg ­ 1.200 2.600.000 6.667
16 Daging Reptil *2) kg ­ 26.150 6.435.000 11.917
17 Ikan Arwana ekor ­ 40.590 1.279.854.000 2.370.100
18 Ikan Arwana Irian ekor ­ 42.590 102.000.000 188.889
19 Coral *1) buah 530.080 198.475 ­ 99.492
20 Coral buah/kg 2.137.050 2.105.100 478.367.904 885.866
21 Kuda laut ekor 37.000 18.408 3.314.440 6.136
22 Ikan Napoleon ekor 8.000 6.228 56.052.000 103.800
23 Kimia *1) ekor ­ 250 ­ 278
24 Burung App *1) ekor ­ 20 144.000 267
25
Sarang burung walet
*3)
kg ­ 145.819 ­ 162.021.111
Jumlah 2.285.153.608 166.354.497
Sumber: Departemen Kehutanan, 2008
102
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Tabel 6.4. Ekspor Tumbuhan dan Nilai Ekspor 2007
No Kelas Satuan
Realisasi
Ekspor
Jumlah Surat
Angkut Satwa ke
Luar Negeri
Nilai Ekspor
(Rp)
Perkiraan
Devisa
(US$)
1 Anggrek batang 4.000.000 550.928 40.427.700 74.866,11
2 Gaharu kg 30.000 ­ ­ ­
3 Kemedangan kg 30.000 17.695 ­ 39.322,22
4 Abu kg ­ 65.028 ­ 10.838,00
5 Stack kg ­ 87.488 ­ 14.581,33
6.
Gaharu Indonesia
Timur
kg 100.000 ­ ­ ­
7 Kemedangan kg 100.000 95.980 ­ 213.288,89
8 Pakis batang 1.000.500 505.642 45.507.780 84.273,67
9 Ramin M3 5.909 1.349.000 ­ 13.564,94
10 Abu kg ­ 225.293 ­ 37.548,83
11 Stack kg ­ 234.924,00 ­ 39.154,00
Jumlah 85.935.480 527.438
Sumber : Departemen Kehutanan, 2008
6.1.2.3. Penemuan Spesies Baru
a. Ekspedisi Widya Nusantara Puslit Biologi LIPI
Ekspedisi Widya Nusantara Puslit Biologi LIPI dilaku­
kan pada tahun 2007 di Pulau Waigeo yang menjadi
salah satu dari 4 pulau besar di Kepulauan Raja Am­
pat, Papua Barat. Penetapan lokasi untuk kegiatan
ekspedisi ini dengan pertimbangan adanya peluang
memperoleh temuan baru (new records, new finding,
new discoveries, new environment), serta mengingat
wilayah tersebut belum pernah dikaji atau informasi
ilmiahnya masih terbatas (Kotak 1).
Kotak 6.1
Keanekaragaman Hayati Pulau Waigeo,
Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat
Tim E-WIN Pusat Penelitian Biologi LIPI, Bogor
Hasil Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) Pusat Penelitian Biologi­LIPI menunjukkanl berbagai temuan baru berupa jenis
baru, rekaman baru, koleksi baru dan tambahan koleksi bagi MZB dan Herbarium Bogoriense. Hasil EWIN tersebut sebagai
berikut :Telah diteliti berbagai tipe vegetasi yang terdapat di Pulau Waigeo mulai dari kawasan pantai hingga ke kawasan
pegunungan. Terdapat 9 tipe vegetasi di Pulau Waigeo, antara lain : vegetasi hutan bakau (mangrove), vegetasi hutan rawa
air tawar dan hutan sagu (swamp forest vegetation and sago forest), vegetasi pantai (beach vegetation), vegetasi dataran
rendah (lowland vegetation), Vegetasi hutan sekunder (secondary forest vegetation), savana dan semak belukar (savanna
and schrubs), vegetasi bukit kapur dataran rendah (lowland forest on limestone vegetation), vegetasi ultra basic (lowland
ultrabasic vegetation), vegetasi kaki pegunungan (submotane vegetation).
Temuan kandidat jenis baru (new species) berjumlah 42 jenis, meliputi: (a) Tumbuhan 7 jenis (1 jenis pohon, 1 jenis Tapeino-
chilus, 3 jenis Piper, dan 2 jenis tumbuhan paku); (b) Jamur 7 jenis baru; (c) Herpetofauna 5 jenis (2 amphibi dan 3 reptil);
(d) Ichtyologi 4 jenis; (e) Kopepoda 1 jenis; (f). Insecta 10 jenis; (g). Amblypygi 1 jenis; dan (h) Bakteri 7 jenis.
Catatan baru/rekaman baru/new record: lebih dari 166 jenis, meliputi: (a) jenis Pandanaceae 13 jenis; (b) Jenis Piper 2 jenis;
(c) Jenis paku lebih dari 15 jenis; (d) Jenis jamur 9 jenis; (e) Jenis kelelawar 4 jenis; (f) herpetofauna 20 jenis; (g) kopepoda
45 jenis; (h) serangga 3 jenis; dan (i) krustasea 56 jenis.
Koleksi baru (new collection): (a) 20 jenis mamalia; (b) 8 jenis Herpetofauna; (c) 27 jenis burung; (d) Moluska terestrial; dan
(e) lebih dari 55 jenis tumbuhan.
10J
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Secara rinci temuan­temuan baru tersebut terangkum sebagai berikut:
1. Taksonomi tumbuhan telah dikumpulkan sebanyak lebih dari 650 spesimen meliputi tidak kurang dari 70 famili dan 400
jenis. Setelah dilakukan identifikasi ditemukan beberapa temuan baru, di antaranya adalah:
a. Dari jenis tumbuhan tingkat tinggi ditemukan kemungkinan jenis baru yaitu Osmoxylon sp. nov. (Araliaceae) dan Ta-
peinochilus sp. nov (Zingiberaceae).
b. Suku Pandanaceae terkoleksi 13 jenis dan kesemuanya merupakan rekaman baru (new record).
c. Suku Piperaceae, dari 48 nomor koleksi, 3 jenis diduga sebagai jenis baru (new species) yaitu Piper sp1. nov., Piper
sp2. nov., dan Piper sp3. nov.
d. Jenis Tumbuhan Paku : terkoleksi 164 nomor jenis paku­pakuan yang terdiri dari 23 suku dan 124 jenis. Dua jenis
tumbuhan paku diduga jenis baru yaitu Trigonospora sp. nov., dan Microsorium sp. nov.
e. Keanekaragaman jenis jamur : ditemukan 7 jenis yang diduga baru yaitu Boletus sp.nov., Tulostoma sp1.nov., Tulos-
toma sp2. nov., Oudenmansiella sp. nov., Xylaria sp.nov., Tectella sp.nov., dan Volvariella sp.nov.
2. Studi etnobiologi telah dideskripsi pengetahuan lokal masyarakat di kawasan Teluk Manyailibit, Pulau Waigeo, tercatat
lebih 250 jenis tumbuhan berguna di kawasan ini.
3. Studi ekologi: terdapat 9 tipe ekosistem di kawasan terestrial Pulau Waigeo dan masing­masing tipe ekosistem telah
dianalisis keanekaragaman jenis tumbuhannya.
4. Studi fitokimia: beberapa jenis tumbuhan, di antaranya adalah Pandanus polycephalus mengandung senyawa flavonoid
yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan dan immunomodulator.
5. Studi keanekaragaman jenis mamalia berhasil dikumpulkan sejumlah spesimen dan koleksi baru serta temuan­temuan
jenis baru, di antarnya adalah :
a. Jenis burung: terkoleksi 66 individu terdiri atas 28 jenis dan 7 jenis di antaranya adalah endemik, 27 jenis meru­
pakan koleksi baru MZB.
b. Mamalia: terkoleksi 124 spesimen terdiri atas 24 jenis (15 jenis bangsa Chiroptera, 3 jenis bangsa Marsupialia, 1
jenis bangsa Actiodactyla, dan 5 jenis bangsa Rodentia). 4 jenis bangsa kelelawar merupakan catatan baru (new
record), 1 koleksi kuskus waigeo (Spilocuscus papuensis) merupakan jenis endemik dan koleksi baru bagi MZB, dan
19 jenis merupakan koleksi baru yang barasal dari Waigeo.
c. Ikhtiologi (ikan): terkumpul 591 spesimen meliputi 60 jenis dan 29 suku. Sebanyak 23 jenis belum tuntas diidentifi­
kasi. Satu jenis Melanotaenia catherinae merupakan jenis endemik. Satu jenis yaitu Melanotaenia sp.nov., merupakan
jenis baru. Selain itu satu jenis ikan pipa (Syngnathidae) diduga merupakan jenis baru (new species), demikian juga
ditemukan satu jenis yang mirip dengan jenis Belobranchus belobranchus yang berukuran besar dan ada kemungkinan
sebagai jenis baru (new species), perlu studi lebih lanjut.
d. Herpetofauna: terkoleksi 194 spesimen meliputi 12 jenis amphibia dan 32 jenis reptilia. Dua jenis amphibi dan 3
jenis reptilia diduga sebagai jenis baru (new species). Untuk jenis amphibi yaitu Litoria sp.nov., dan Callulops sp.nov.,
dan untuk jenis reptilia yaitu dua jenis kadal (Emoia sp.nov., dan Spenomorphus sp.nov.) dan satu jenis ular yaitu
Stegonotus sp. nov.
e. Moluska: teridentifikasi sebanyak 24 jenis dan 6 suku. Semua jenis moluska terestrial merupakan koleksi baru bagi
MZB.
f. Krustacea kopepoda: terkumpul 38 nomor meliputi 4 ordo kopepoda. Ditemukan 1 jenis sebagai kandidat jenis baru
yaitu Pontella sp.nov.
104
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
g. Insekta: terkumpul 242 spesimen, 3 jenis baru dari sub famili Eulophine yaitu Euplectrus sp4.nov., Euplectrus sp3.
nov., dan Deutereulophus sp.nov., dan 3 jenis sebagai new record untuk kawasan ini. Dari jenis tungau, ditemukan 3
jenis kandidat jenis baru yaitu Macrocheles sp1. nov., Macrocheles sp2. nov., dan Macrocheles sp3. nov. Untuk jenis
lalat buah, teridentifikasi 4 jenis kandidat jenis baru yaitu jenis Bactrocera sp1. nov., Bactrocera sp2. nov., Bactrocera
sp3. nov., dan Bactrocera sp4. nov.
h. Krustacea dekapoda: terkumpul lebih dari 2000 spesimen, meliputi 18 suku, 31 marga dan 70 jenis. Kesemuanya
merupakan rekaman baru (new record). Tercatat pula 7 jenis udang dari marga Caridina merupakan new record untuk
kawasan Waigeo.
i. Gua dan faunanya: terdata 19 gua tersebar di kawasan teluk Manyailibit dan ditemukan 1 jenis kandidat jenis baru
(new species) yaitu Charinus sp.nov.
6. Studi mikrobiologi: untuk sementara dari 54 sampel yang diuji, ditemukan 7 jenis isolat sebagai kandidat jenis baru yaitu:
Streptomyces sp1. nov., Streptomyces sp2. nov., Streptomyces sp3. nov., Streptomyces sp4. nov., Actinoplanes sp1. nov.,
Actinoplanes sp2. nov., dan Actinoplanes sp3. Nov.
Sumber : Puslit Biologi-LIPI, 2007
b. Nusa Penida Marine Rapid Assessment Pro-
gram
Selama sepuluh hari, dari tanggal 20 – 30 Novem­
ber 2008, Conservation International Marine Program,
mengadakan Nusa Penida Marine Rapid Assessment
Program (MRAP) dengan mengikutsertakan Lembaga
Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Kementerian Ne­
gara Riset dan Teknologi (RISTEK), Balai Riset Ke­
lautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Kelautan
dan Perikanan. Kegiatan ini juga didukung oleh Ba­
lai Konservasi Laut Daerah (BKSDA), Southeast Asia
Center for Ocean Research and Monitoring (SEACORM),
Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten
Klungkung, Yayasan Bahtera Nusantara, Universitas
Udayana, dan Universitas Warmadewa.
Hasil identifikasi sementara menunjukkan, di sekitar
kawasan Nusa Penida terdapat 562 spesies ikan ka­
rang yang merupakan campuran dari spesies ikan di
Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Penelitian ini
juga berhasil menemukan 5 spesies ikan jenis baru.
Ikan tersebut antara lain Chromis sp., Priolepis 33 sp.,
Priolepis 11 sp., Pseudochromis sp., dan Trimma sp.
Selain ikan karang, tim ini juga mencatat setidaknya
ada sekitar 34 spesies ekinodermata dari jenis bin­
tang laut, bintang mengular, bulu babi dan timun laut.
Satu jenis bulu babi yang ditemukan belum bisa di­
identifikasi, dan diharapkan merupakan temuan spe­
sies baru.
Tim juga mengidentifikasi adanya 174 jenis moluska
yang terdiri dari 149 jenis gastropoda dan 25 jenis bi-
valvia atau kerang­kerangan. Dapat dikatakan bahwa
Nusa Penida memiliki keanekaragaman jenis moluska
yang tinggi. Hal menarik lainnya, sama seperti ikan ka­
rang, jenis ekinodermata dan moluska ini juga meru­
pakan gabungan dari spesies yang ada di Samudera
Hindia dan Samudera Pasifik.
Gambar 6.1. Spesies Ikan Jenis Baru yang Ditemukan di Kawasan Nusa Penida, Bali
Trimma sp Priolepis 11 sp
Priolepis 33 sp Pseudochromis sp
10S
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Foto­foto : Gerald Allen, CI
Sumber: Tropika, Edisi Oktober 2008
Pseudochromis sp
6.1.3. Sumber Daya Genetik
Keanekaragaman genetik merupakan keanekaragaman
sifat yang terdapat dalam satu jenis. Tidak ada satu
mahklukpun yang sama persis dalam penampakan­
nya. Matoa Pometia pinnata di Irian Jaya mempunyai
9 macam penampilan dari seluruh populasi yang ada.
Dengan kemampuan reproduksi baik vegetatif mau­
pun generatif, populasi sagu di Ambon mempunyai 6
macam pokok sagu yang berbeda. Berdasarkan jumlah
jenis durian liar yang tumbuh di Kalimantan yang jum­
lahnya mencapai 19 jenis, diduga Kalimantan meru­
pakan pusat keanekaragaman genetik durian.
Dengan teknik budidaya, semakin banyak jenis tum­
buhan hasil rekayasa genetik seperti padi, jagung, ke­
tela, semangka tanpa biji, jenis­jenis anggrek, salak
pondoh, dan lain­lain. Keanekaragaman plasma nut­
fah di Indonesia tampak pada berbagai hewan piara­
an. Ternak penghasil pangan yang telah diusahakan
adalah 5 jenis hewan ternak yaitu sapi biasa, sapi Bali,
kerbau, kambing, domba dan babi. Lalu 7 jenis ung­
gas yaitu ayam, itik, entok, angsa, puyuh, merpati dan
kalkun serta hewan piaraan yang lain seperti cucak
rowo, ayam bekisar, dan lain­lain. Keanekaragaman
genetik hewan ini tidak semunya berasal dari negeri
sendiri. Namun demikian melalui proses persilangan,
jenis­jenis hewan ini memperbanyak khasanah ke­
anekaragaman genetik di Indonesia.
Plasma nutfah pada lembaga penelitian telah diman­
faatkan sejak puluhan tahun yang lalu. Penggunaan
plasma nutfah sebagai sumber persilangan dalam
pengembangan varietas telah menghasilkan varie­
tas unggul pertanian. Varietas unggul ini telah ber­
kembang luas dan meningkatkan pendapatan petani.
Tabel 6.5. Jenis Tanaman dan Manfaatnya
Spesies Nama Tanaman Daerah Asal Nilai dan Manfaat
Colocasia esculenta Taro India Pangan
Ananas comosus Nenas Amerika Selatan Vitamin, seni
Camellia sinensis The Asia Tengah Minuman & eksport
Carica papaya Pepaya Amerika Tengah Sumber vitamin
Beta vulgaris Gula Bit Eropa Gula
Spinacia oleracea Bayam Asia Barat Daya Sayuran
Carthamus tinctorius Safflower Near East Minyak
Helianthus annuus Bunga matahari USA bagian Tengah Minyak/bahan kosmetika
Luctuca sativa Selada Mediterranean Sayuran
Ipomoea batatas Ubi Jalar
Amerika Tengah dan
Amerika Selatan
Karbohidrat
Manihot esculenta Ubi Kayu In the wild state Karbohidrat/pati
Brassica oleracea / B.rapa Kol Eropa Sayuran
Brassica napus, B. rapa Rape Not exist in the wild Sayuran/minyak
Citrullus lanatus Melon Afrika Selatan
Cucumis sativus Mentimun India Sayuran
Cucurbite maxima Labu Amerika Sayuran
Dioscorea spp Ubi Kelapa
Asia, Afrika, tropical
Amerika
Karbohidrat pangan/pati
D. hispida Gadung Asia/Indonesia Karbohidrat pangan/pati
D. esculenta Gembili Asia/Indonesia Karbohidrat pangan/pati
Canna edulis Ganyong Asia/Indonesia Pangan/bahan kosemtika
Marantha arundinaceae Garut Asia/Indonesia
Pangan, emping, pati (sebagai
peluang export) dan pakan
Xanthosoma Kimpul Asia/Indonesia Pangan/kripik
106
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Tabel 6.5. Jenis Tanaman dan Manfaatnya (lanjutan)
Spesies Nama Tanaman Daerah Asal Nilai dan manfaat
Amorphophalus sp. Iles­oiles Asia/Indonesia
Pangan, pati, bahan
kosmetika
Suweg Asia/Indonesia
Oryza glaberrima, O.sativa Padi
O.sativa: tidak pasti
O.glaberrima: Nigeria Utara
Karbohidrat
Saccarhum officinarum Tebu New Guinea Gula
Secale cereal Rye Asia Barat Daya Karbohidrat
Sorghum bicolor Sorgum Afrika
Triticum aestivum, T.turgidum Gandum Mediterranean, Near East Karbohidrat
Zea mays Jagung Meksiko, Amerika Tengah Karbohidrat/minyak/pakan
Persea americaca Alpukat Amerika Tengah Buah­buahan
Arachis hypogaea Kacang Tanah Amerika Selatan Protein/minyak goreng
Phaseolus vulgaris Kacang buncis
Amerika Tengah dan
Selatan
Sayuran
Cajanus cajan Kacang Gude India Protein
Glycine max Kedelai China Protein/pangan/pakan
Pisum sativum Kacang Polong
Ethiopia, Mediterranean,
Asia Tengah
Protein
Vigna unguiculata Kacang tunggak Ethiopia Protein
Allium cepa : Allium fistulosum Bawang Merah Asia Tengah Protein
Allium sativum Bawang Putih Asia Tengah Bumbu
Gossypium barbadense
G.hirsutum
Kapas Biji Amerika Selatan Pakan/minyak kapas
Musa acuminate; M.x
paradisiaca
Pisang Malay peninsula/Indonesia Vitamin/buah segar
Cocos nucifera Kelapa
Afrika, Indian coasts, Indian
Ocean, Asia Tenggara and
Pasific
Vitamin/buah segar/obat
tradisional mengurangi
kerontokan rambut
Elaeis guineensis Kelapa Sawit Afrika Barat Minyak goreng
Piper ningrum Lada Malabar,Baratdaya India Bumbu
Cucumis melo Melon Eastern, Afrika Buah segar
Mangifera indica Mangga India Timur Laut Pangan/Vitamin/buah
Fragaria x ananassa Strawberi
Bersilang di Eropa pada
abad ke 18
Buah­buahan
Malus pumila Apel Asia Tengah, Himalayan Buah segar/ sirup
Sumber : BB-Biogen, Badan Litbang Pertanian, 2007
6.2. Ancaman Keanekaragaman Hayati
Ancaman terhadap keanekaragaman hayati di Indone­
sia umumnya disebabkan oleh kerusakan dan peman­
faatan yang berlebihan. Fenomena perubahan iklim
akhir­akhir ini juga merupakan suatu ancaman serius
bagi keberlangsungan hidup keanekaragaman hayati
di Indonesia. Dengan naiknya suhu global rata­rata
permukaan bumi sebesar 1,5 – 2,5
o
C risiko kepunahan
tumbuhan dan hewan akan meningkat menjadi sebe­
sar 20 – 30 %.
6.2.1. Perubahan Ekosistem
Ancaman yang paling utama dalam pelestarian eko­
sistem hutan adalah kebakaran hutan dan lahan, il-
legal logging, pemanfaatan sumber daya hayati yang
berlebihan, perambahan kawasan hutan, dan eksploi­
tasi yang bersifat destruktif turut memberikan andil
besar dalam proses deforestasi dan degradasi ling­
kungan yang dapat mengancam keseimbangan eko­
sistem secara keseluruhan.
Pada tahun 2007, luas kawasan hutan di Indonesia
yang terbakar mencapai 6.974,62 hektar (ha). Dari
luasan hutan yang terbakar itu, 228 ha adalah hutan
lindung, 349,6 ha merupakan hutan suaka alam, 40
ha taman wisata alam, 4 ha taman hutan raya, 86
ha taman buru dan 5.256,42 ha merupakan taman
nasional.
Selama tahun 2007 pula, tercatat berbagai gangguan
yang mengancam eksistensi dan kondisi kawasan hu­
tan. Gangguan berupa penyerobotan kawasan hutan
oleh masyarakat mencapai luasan 32.678,39 ha, se­
dangkan gangguan terhadap tegakan hutan berupa
penebangan ilegal diperkirakan telah mengakibatkan
kehilangan kayu sebanyak 3.650,59 m
3
kayu bulat.
Untuk lebih jelasnya mengenai kerusakan hutan dapat
dilihat pada Bab 4 Lahan dan Hutan.
107
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
6.2.2. Perburuan dan Perdagangan Ilegal Satwa Liar
Perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar meru­
pakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa
tersebut. Tingginya harga barang­barang kerajinan
yang berasal dari bagian tubuh satwa liar merupakan
pemicu peningkatan perburuan dan perdagangan ile­
gal satwa liar.
Kuota tangkap monyet ekor panjang kembali naik.
Untuk tahun 2008, berdasarkan rekomendasi dari
LIPI, kuota tangkap keseluruhan adalah 5.100 ekor,
dengan rincian 2.000 ekor untuk induk penangkaran,
3.000 untuk riset biofarma, dan 100 ekor untuk PS
IPB. Kuota tangkap ini belum disahkan oleh Departe­
men Kehutanan atau masih dalam proses. Pada tahun
2007, kuota tangkap monyet ekor panjang 4.100. Se­
dangkan pada tahun 2006, kuota tangkap dari alam
untuk monyet ekor panjang adalah 2.000 ekor yang
dimanfaatkan hanya untuk pengganti induk tangkar
(Kotak 2).
Jika rekomendasi LIPI tersebut disahkan, tentunya
mengancam keberadaan monyet ekor panjang di alam.
Belum lagi pada banyak kasus, kuota tangkap banyak
disalahgunakan untuk penangkapan dengan tujuan
perdagangan ilegal. Kuota tangkap dari alam yang
dikontrol pemerintah secara resmi pada tahun 2007
hanya 4.100 ekor. Akan tetapi berdasarkan pantauan,
penangkapan dari alam yang dijual bebas di pasar bu­
rung di Pulau Jawa dan Bali pada tahun 2007 tidak
kurang dari 5.000 ekor. Belum lagi di pulau­pulau lain
yang masih banyak eksplotasi monyet ekor panjang
ini.
Kotak 6.2
Kuota Monyet Ekor Panjang Terus Meningkat
Berdasarkan rekomendasi dari LIPI, kuota tangkap monyet ekor panjang kembali naik.
Untuk tahun 2008, kuota tangkap keseluruhan adalah 5.100 ekor, dengan rincian
2.000 ekor untuk induk penangkaran, 3.000 ekor untuk riset biofarma, dan 100 ekor
untuk PS IPB. Pada tahun 2007, kuota tangkap monyet ekor panjang adalah 4.100. Se­
dangkan pada tahun 2006, kuota tangkap dari alam untuk monyet ekor panjang adalah
sebanyak 2.000 ekor dan hanya dimanfaatkan untuk pengganti induk tangkar.
Di Indonesia, monyet ekor panjang belum termasuk jenis satwa dilindungi secara hukum. Peningkatan kuota
penangkapan ini akan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup monyet ekor panjang di alam. Dalam
beberapa kasus, kuota tangkap banyak disalahgunakan untuk penangkapan dengan tujuan perdagangan ilegal.
Dengan eksploitasi yang dilakukan secara terus­menerus, tentunya akan mempengaruhi jumlah monyet ekor
panjang di alam, selain penyebaran monyet ekor panjang yang tidak merata di setiap daerah, dan hilangnya
habitat monyet ekor panjang akibat meningkatnya kegiatan pembangunan di semua sektor. Habitat monyet ekor
panjang telah hilang 70 % dari luas habitat semula 217.981 km2 menjadi 73.371 km2 dan di dalam kawasan
konservasi menempati areal 7.525 km2.
Perdagangan Ilegal Terus Berjalan
Kuota tangkap dari alam yang dikontrol pemerintah secara resmi untuk tahun 2007 hanya 4.100 ekor. Namun
demikian, berdasarkan pantauan ProFauna Indonesia, penangkapan dari alam yang dijual bebas di pasar burung
di Jawa dan Bali pada tahun 2007 tidak kurang dari 5.000 ekor. Belum lagi di pulau­pulau lain yang masih
mengeksplotasi monyet ekor panjang ini.
Pemanfaatan monyet ekor panjang untuk penelitian penyakit dan penelitian biofarma hendaknya segera digan­
tikan dengan alternatif bukan satwa. Selain itu, kuota tangkap monyet ekor panjang dari alam diharapkan dapat
diturunkan bahkan ditiadakan karena indikasi berkurangnya populasi di alam yang disebabkan hilangnya habitat.
Penurunan jumlah kuota tangkap sampai nihil untuk monyet ekor panjang adalah upaya perlindungan maksimal
yang seharusnya bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi ancaman kepunahan satwa ini.
Sumber: Profauna Indonesia, 2007
Foto: www.detik.com
108
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Dalam laporan utama newsletter Satwa Liar Volume
5 Tahun III September 2008 dipaparkan bahwa pada
tahun 2003 terdapat 56 kasus pidana pelanggaran
perundangan lingkungan hidup (penebangan liar, per­
buruan satwa dilindungi, perambahan dan perusakan
hutan serta pembakaran hutan) di Taman Nasional
Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur,
Lampung. Kemudian di tahun 2004 kasus itu turun
menjadi 36 kasus, tahun 2005 sebanyak 15 kasus,
2006 sebanyak 9 kasus dan di tahun 2007 juga se­
banyak 9 kasus. Pada tahun 2008 masih terdapat 5
kasus.
Kotak 6.3
Tiap Tahun 500 Orang Utan Diperjualbelikan
Lebih dari 500 ekor orang utan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) beredar di
pasaran setiap tahun, padahal satwa ini tercantum dalam Appendix I CITES
atau spesies sangat langka dan dilindungi. Orang utan yang diperjualbelikan
adalah orang utan bayi, sehingga untuk menangkap bayi orang utan, induknya
harus dibunuh. Jika kondisi tersebut tidak diperbaiki, dalam 50 tahun ke de­
pan, orang utan Kalimantan akan punah, apa lagi karena habitat orang utan
terus berkurang dengan kecepatan sampai 3 km
2
per tahun.
Sejak adanya UU No 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan
Ekosistemnya, orang utan sebenarnya sudah dimasukkan dalam daftar satwa
yang dilindungi dan bagi pemeliharanya merupakan pelanggaran hukum. Dengan adanya UU tersebut banyak
yang kemudian menyerahkan satwa liar peliharaannya kepada Balai Konservasi Sumber daya Alam.
Namun dikarenakan adanya izin memelihara satwa liar yang sampai saat ini masih berlaku, setiap orang utan
yang ditemukan dipelihara dengan ilegal tidak dimasukkan dalam dokumen penyitaan dan hanya dimasukkan
dalam dokumen penyerahan.
Pihak­pihak yang menyerahkan satwa ini ke pusat rehabilitasi banyak disebabkan karena orang utan yang
dipelihara sudah berumur lebih dari tiga tahun. Hal ini merupakan beban bagi si pemelihara karena biaya
pemeliharaan yang harus dikeluarkan semakin besar.
Permasalahan lain karena kapasitas pusat­pusat rehabilitasipun sudah tak lagi mampu menampung orang
utan yang ingin diserahkan pemiliknya dan adanya pihak­pihak yang kebal hukum memperdagangkannya
secara ilegal. Menurut pakar orang utan dari LIPI, ada empat spesies kera besar di dunia, tiga di antaranya
ada di Afrika dan satu spesies hanya ada di Indonesia dan Malaysia yakni orang utan. Populasi orang utan
Kalimantan (Pongo pygmaeus) saat ini tinggal 50.000 ekor dan orang utan Sumatera (Pongo abelii) tinggal
6.650 ekor serta telah dimasukkan dalam daftar merah sedang terancam punah. Jumlah populasi kedua jenis
satwa langka ini merupakan separuh dari jumlah populasi 20 tahun lalu.
Sumber : Antara, 10 Februari 2009
6.2.3. Konflik Manusia dan Satwa
Konflik antara manusia dan satwa liar cenderung se­
makin meningkat. Konflik ini terjadi karena aktivitas
manusia di sekitar habitat satwa liar semakin tinggi
yang mengganggu ketersediaan air, satwa mangsa
dan ruang jelajah bagi satwa liar tersebut. Kerusakan
tanaman pertanian dan perkebunan serta ternak
sering terjadi akibat konflik antara manusia dan satwa
liar. Namun pada akhirnya seringkali satwa liar yang
berkonflik dengan manusia ini yang menjadi korban.
Berdasarkan hasil patroli Wildlife Response Unit di
sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, pada
sekitar bulan Maret dan April 2008 telah terjadi kon­
flik antara manusia dan harimau yang mengakibatkan
kerugian 5 ekor kambing, 3 ekor anjing dan 1 orang
korban jiwa serta 1 ekor harimau.
10º
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Gambar 6.2 Konflik Antara Manusia dan Satwa
Konflik antara manusia dan gajah di Ulu Semong,
Lampung
Konflik antara manusia dan harimau di sekitar
Taman Nasional Bukit Barisan Selatan
Sumber: http://www.wildlifecrimesunit.com/
6.2.4. Sumber Daya Genetik
Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya ge­
netik (SDG) belum memanfaatkan SDG asli Indonesia
secara optimal. Banyak SDG yang dibudidayakan dan
dimanfaatkan di Indonesia berasal dari negara lain.
Sebaliknya, negara lain sudah banyak memanfaatkan
SDG yang berada di Indonesia. Banyak SDG Indonesia
diteliti dan dimanfaatkan negara lain untuk dijadikan
obat komersial dan dipatenkan. Apabila pemanfaatan
SDG Indonesia ini terus dibiarkan, kondisi ini akan
menjadi ancaman bagi kelestarian keanekaragaman
hayati Indonesia.
Penggunaan varietas unggul secara monokultur, juga
akan menggusur varietas lokal dan mempersempit
basis genetis tanaman pertanian yang akhirnya ber­
potensi terhadap kepunahan varietas lokal tersebut.
6.3. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati
6.3.1. Kebijakan dan Program
6.3.1.1. Pengendalian Kerusakan Keanekaragaman
Hayati
1) Penanaman 12.000 bibit karet dan 4.000 bibit
tanaman buah dan tanaman hutan di kawasan
seluas 30 ha pada awal tahun 2008 dalam
rangka rehabilitasi lahan kritis di daerah pe­
nyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh.
2) Peresmian Taman Keanekaragaman Haya­
ti Jawa Tengah pada 27 November 2008.
Dalam Taman Keanekaragaman Hayati juga
ditanam 15.000 tanaman yang terdiri dari 39
jenis tanaman lokal Jawa Tengah.
6.3.1.2. Pengembangan Kebijakan Pemanfaatan
Sumber Daya Genetik
Pada pasal 15 Konvensi Keanekaragaman Hayati
telah diamanatkan mengenai pengaturan sumber daya
genetik, khususnya akses terhadap sumber daya ge­
netik dan pembagian keuntungan dari pemanfaatan­
nya. Pembagian keuntungan secara adil dan merata
dari pemanfaatan sumber daya genetik tersebut juga
diamanatkan dalam tujuan ketiga KKH.
Mengacu pada pasal 15 KKH tersebut, masing­masing
negara pihak memiliki mandat untuk mengatur akses
pada kekayaan sumber daya hayati yang berada di
wilayah kedaulatannya dengan penerapan pengaturan
nasional yang sesuai. Namun demikian, masih banyak
permasalahan yang harus diupayakan penyelesaiannya
agar pengaturan tersebut dapat diimplementasikan,
yang meliputi cakupan wilayah pengaturan sumber
daya genetik, konsep kepemilikan dari sumber daya
genetik dan pengetahuan tradisional, cakupan wilayah
akses, prosedur perijinan akses, kelembagaan dan
perlindungan hak kekayaan intelektual atas peman­
faatan sumber daya genetik.
Mengingat isu yang terkait dengan perlindungan hak
kekayaan intelektual atas pemanfaatan sumber daya
genetik terkait dengan rejim hak kekayaan intelek­
tual, maka dalam proses penyusunan pengaturan isu
tersebut perlu dilakukan pembahasan khusus dengan
instansi yang memiliki kewenangan dalam pengaturan
perijinan perlindungan hak kekayaan intelektual. Se­
bagai anggota negara pihak pada Patent Cooperation
Treaty (PCT)-WIPO dan WTO, pengaturan perlindungan
hak kekayaan intelektual yang ada masih mengadopsi
penuh aturan yang ada pada TRIPs Agreement pada
WTO. Sedangkan prinsip pengaturan perlindungan
110
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
yang ada pada TRIPs Agreement-WTO bertentangan
dengan prinsip pengaturan yang ada pada CBD.
Pada CBD terdapat ketentuan yang mengatur me­
ngenai pembagian keuntungan dari pemanfaatan sum­
ber daya genetik dan mengakui kedaulatan negara
untuk mengatur sumber daya alam yang dimilikinya,
termasuk sumber daya genetik. Sedangkan pada
TRIPs Agreement tidak ada ketentuan yang mengatur
mengenai pembagian keuntungan dari pemanfaatan
sumber daya genetik yang telah diberikan hak perlind­
ungan kekayaan intelektualnya dan dikomersialisasi­
kan. Pada TRIPs Agreement tidak ada ketentuan yang
mengharuskan proses pemberian perlindungan hak
kekayaan intelektual memperhatikan kedaulatan ne­
gara asal sumber daya genetik sehingga perlindungan
hak kekayaan intelektual yang diberikan terkadang ti­
dak sesuai dengan aturan nasional asal sumber daya
genetik tersebut.
Indonesia, sebagai salah satu negara megabiodiver-
sity harus mempersiapkan posisi atas isu tersebut
agar dapat memperoleh manfaat dengan adanya
pengaturan tersebut. Gambaran sikap Indonesia
pada tingkat internasional tersebut merefleksikan
bagaimana pengaturan nasional akan diformulasikan
dan diimplementasikan, seperti yang akan dituang­
kan dalam penyempurnaan subtansi RUU Pengelolaan
Sumber Daya Genetik.
Seiring dengan hal tersebut, Indonesia harus mem­
persiapkan pula database SDG dan pengetahuan tradi­
sional yang terkait dengan SDG, mengingat database
ini merupakan hal yang sangat penting terkait dengan
dasar atau bukti kepemilikan SDG dan pengetahuan
tradisional bagi Indonesia apabila pengaturan interna­
sional akan diimplementasikan. Selain itu, dokumen­
tasi secara lengkap mengenai sumber daya genetik
sangat diperlukan guna mendukung upaya pengelolaan
sumber daya genetik secara berkelanjutan dan men­
dukung upaya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual.
Dokumentasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai
informasi pendukung oleh pengambil keputusan dalam
proses akses dan pembagian keuntungan atas peman­
faatannya.
6.3.1.3. Implementasi Kerangka Kerja Keamanan
Hayati
1) Pembentukan Komisi Keamanan Hayati.
2) Penyusunan manual pengkajian risiko dan
pengelolaan risiko produk rekayasa genetik.
3) Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Ke­
anekaragaman Hayati Nasional.
6.3.1.4. Implementasi Perangkat Konservasi Ke-
anekaragaman Hayati
Indonesia telah meratifikasi Konvensi Keaneka­
ragaman Hayati (KKH) melalui Undang­Undang No.5
Tahun 1994 dengan National Focal Point (NFP) adalah
Deputi III Bidang Peningkatan SDA dan Pengenda­
lian Kerusakan Lingkungan­KLH. Sebagai NFP KKH,
Deputi III­KLH berfungsi sebagai koordinator dalam
pelaksanaan pasal­pasal KKH dan agenda kerja na­
sional dari pelaksanaan keputusan Conference of the
Parties (COP).
A. Penyusunan Posisi Delri pada Pertemuan Subsid-
iary Body on Scientific, Technical and Technological
Advice (SBSTTA)
Pertemuan SBSTTA telah dilaksanakan di Roma, Italia
pada tanggal 18­22 Februari 2008 dengan dihadiri
oleh wakil dari LIPI sebagai salah satu NFP SBSTTA.
Tujuan pertemuan ini adalah membahas beberapa isu
sebagai bahan masukan pada pertemuan COP­9 dari
segi teknis dan ilmiah berdasarkan hasil riset dan stu­
di ilmiah terhadap isu­isu yang terkait dengan CBD.
Beberapa isu yang dibahas pada pertemuan tersebut,
antara lain :
1) Agricultural biodiversity
2) Forest biodiversity
3) Marine and coastal biodiversity
4) Invasive alien species
5) Climate change
6) New and emerging isues relating to the conserva­
tion and sustainable use of biodiversity
Hal penting yang perlu dicermati dan ditindaklanjuti
adalah isu pemanfaatan energi alternatif, khususnya
biofuel. Perlu dilakukan penjajakan mengenai kemung­
kinan pembahasan sumber energi alternatif selain
minyak kelapa sawit, seperti jarak, singkong, tebu,
palem­paleman dan kacang­kacangan lainnya sebagai
energi alternatif. Isu lain yang perlu mendapat perha­
tian pada sektor kehutanan adalah istilah illegal logging
dalam draf rekomendasi konvensi yang dirubah men­
jadi illegal and unathorized harvesting. Istilah ini akan
menguntungkan bagi Indonesia, karena tidak melihat
hanya dari sisi penghasil kayu saja tetapi perlu dilihat
dari sisi penerima kayu dimana pihak penerima atau
konsumen juga memiliki tanggung jawab untuk tidak
menggunakan kayu yang diperoleh secara ilegal.
B. Penyusunan Posisi Delri pada Conference of the
Parties (COP) Convention on Biological Biodiversity
(CBD) yang ke-9
Pertemuan COP­9 telah dilaksanakan di Bonn, Jer­
man pada tanggal 18­30 Mei 2008. Pertemuan bertu­
juan untuk membahas implementasi pasal­pasal yang
111
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
ada pada KKH serta menjalin kerjasama antar pihak
dalam melaksanakan KKH. Beberapa isu yang diba­
has, antara lain :
1) Agriculture biodiversity
2) Forest biodiversity
3) Protected areas
4) Access and benefit sharing
5) Article 8(j) and related provisions (traditional knowl-
edge)
6) Biodiversity in marine and coastal areas
7) Global Taxonomy Initiative (GTI)
8) Global Strategy for Plant Conservation (GSPC)
9) Biodiversity and Climate Change
10) Financial resources and financial mechanism
Isu yang menjadi perhatian utama Delegasi Republik
Indonesia (Delri) antara lain:
1) Agriculture biodiversity and biofuel
Indonesia menekankan perlunya melakukan upa­
ya­upaya untuk meningkatkan manfaat positif
dan mengurangi dampak negatif dari produksi dan
penggunaan biofuel secara berkelanjutan.
2) Access and benefit sharing (ABS)
Delri menyampaikan pentingnya negara pihak un­
tuk dapat segera menyelesaikan pembahasan ABS
serta mencapai kesepakatan mengenai rejim in­
ternasional ABS sebelum COP­10 pada tahun
2010. Pada COP­9 telah berhasil disepakati Bonn
Roadmap dalam menyelesaikan perundingan bagi
pembentukan rezim internasional mengenai ac-
cess and benefit sharing (ABS) yang harus selesai
sebelum COP­10 tahun 2010.
3) Protected areas
Coral Triangle Initiative (CTI) yang merupakan ini­
siatif Pemerintah Indonesia, Philipina, Papua dalam
konservasi laut.
4) Climate Change.
Delri menyampaikan perlu adanya sinergi antara
ketiga konvensi, yaitu KKH, UNFCC dan UNCCD.
Beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti dari COP­9
antara lain :
1. Untuk membentuk rezim internasional mengenai
ABS, Indonesia perlu melaksanakan lokakarya na­
sional dengan melibatkan berbagai pakar hukum
internasional yang memahami isu ABS. Para pakar
ini diharapkan dapat memberikan analisis hukum
dan rekomendasi atas komponen­komponen dari
rancangan rezim internasional ABS yang akan di­
negosiasikan melalui Ad Hoc Open-Ended Working
Group on ABS mulai tahun 2009. Hal ini telah
ditindaklanjuti yaitu dengan melibatkan pakar hu­
kum internasional.
2. Indonesia perlu mengadakan lokakarya nasional
dan kajian sustainable production and use of bio-
fuels untuk meningkatkan manfaat dan mengurangi
dampak negatifnya.
C. Sosialisasi KKH dan Hasil COP-9 CBD kepada
Stakeholder
KKH telah disosialisasikan ke berbagai stakeholder
baik di pusat maupun di daerah (Yogyakarta dan
Makasar). Pada sosialisasi tersebut disampaikan pro­
gram kerja yang ada pada KKH dan menyampaikan
informasi tentang agenda pertemuan pakar maupun
working group yang diterima dari Sekretariat KKH.
Pada bulan Juni 2008, KLH sebagai NFP KKH me­
ngadakan sosialisasi ke berbagai stakeholder tentang
hasil COP­9. Pada pertemuan tersebut disampaikan
beberapa hal antara lain :
1. Masing­masing sektor akan menindaklanjuti kepu­
tusan­keputusan COP­9 sesuai dengan tupoksi
masing­masing sektor.
2. Isu pemanfaatan komponen kehati sebagai sumber
energi alternatif (biofuel) perlu mendapat perha­
tian besar, karena isu ini merupakan isu penting
yang dibahas pada COP­9. Hal ini didasari adanya
indikasi praktik pembukaan hutan dan kawasan
gambut untuk penanaman tanaman sumber alter­
natif energi (kelapa sawit dan jarak) yang menye­
babkan kemerosotan keanekaragaman hayati.
3. Sebelum menetapkan rezim internasional untuk
ABS di COP­10 pada tahun 2010, Indonesia perlu
melakukan kajian hukum serta manfaat bagi In­
donesia dan bagaimana konsekuensi terhadap
aturan nasional.
6.3.2. Konservasi In-Situ
Konservasi in-situ merupakan metode dan alat untuk
melindungi jenis, variasi genetik dan habitat dalam
ekosistem aslinya. Pendekatan in-situ meliputi pene­
tapan dan pengelolaan kawasan lindung seperti : cagar
alam, suaka margasatwa, taman nasional, taman wi­
sata alam, hutan lindung, sempadan sungai, kawasan
plasma nutfah dan kawasan bergambut.
Di bidang kehutanan dan pertanian, pendekatan in-
situ juga digunakan untuk melindungi keanekaragaman
genetik tanaman di habitat aslinya serta penetapan
spesies dilindungi tanpa menspesifikasikan habitat­
nya. Pendekatan in-situ juga termasuk pengelolaan
satwa liar dan strategi perlindungan sumber daya di
luar kawasan lindung.
112
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Tabel 6.6. Jumlah dan Luas Kawasan Konservasi Tahun 2007
No
Fungsi Kawasan
Konservasi
Daratan Perairan
Jumlah Daratan dan
Perairan
Unit Luas (Ha) Unit Luas (Ha) Unit Luas (Ha)
1. Cagar alam 236 4.588.665,44 8 273.515,10 244 4.862.180,54
2. Suaka Margasatwa 75 5.099.849,06 6 338.940,00 81 5.438.789,06
3. Taman Nasional 50 12.298.216,34 7 4.043.541,30 57 16.341.757,64
4. Taman Wisata Alam 105 257.316,53 19 767.120,70 124 1.024.437,23
5. Taman Hutan Raya 21 343.454,91 ­ ­ 21 343.454,91
6. Taman Buru 14 224.816,04 ­ ­ 14 224.816,04
Jumlah Kawasan Konservasi 501 22.812.318,32 40 5.423.117,10 541 28.235.435,42
Sumber: Departemen Kehutanan, 2008
Pada tahun 2007, terdapat 236 unit Cagar Alam Da­
rat dengan total luas 4.588.665,44 ha, dan 8 unit
Cagar Alam perairan dengan luas sekitar 273.515,00
ha. Sedangkan Suaka Margasatwa darat sebanyak 75
unit dengan luas 5.099.849,06 ha serta 6 unit Suaka
Margasatwa perairan dengan luas sekitar 338.940,00
ha.
6.3.3. Konservasi Ex-Situ
Konservasi ex-situ bertujuan untuk melindungi jenis
tanaman, satwa liar dan organisme mikro serta va­
rietas genetik di luar habitat atau ekosistem aslinya.
Kegiatan yang umum dilakukan antara lain penang­
karan, penyimpanan atau pengklonan karena alasan:
(1) habitat mengalami kerusakan akibat konversi; (2)
materi tersebut dapat digunakan untuk penelitian,
percobaan, pengembangan produk baru atau pendi­
dikan lingkungan. Dalam metode tersebut termasuk:
pembangunan kebun raya, koleksi mikologi, museum,
bank biji, koleksi kultur jaringan dan kebun binatang.
Mengingat bahwa organisme dikelola dalam lingkung­
an buatan, metode ek-situ mengisolasi jenis dari pro­
ses­proses evolusi.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Ta­
hun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa,
pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa di luar habi­
tatnya (ex-situ) dilaksanakan untuk menyelamatkan
sumber daya genetik dan populasi jenis tumbuhan dan
satwa. Upaya ini meliputi juga koleksi jenis tumbuhan
dan satwa di lembaga konservasi.
6.3.4. Konservasi Plasma Nutfah
Konservasi plasma nutfah pada dasarnya dilakukan
dengan dua cara, yaitu konservasi in-situ dan ex-situ
dan akhir­akhir ini berkembang dengan pelestarian
lekat lahan (on-farm conservation) untuk tanaman
ekonomis. Program pelestarian in-situ dilakukan di
habitatnya (tempat tumbuh aslinya), yaitu di dalam
kawasan suaka alam (cagar alam), kawasan pelestari­
an alam (taman nasional, hutan rawa), cagar biosver.
Bahkan akhir­akhir ini telah ditetapkan “Kawasan
Pelestarian Plasma Nutfah“ di setiap Areal Hak Pe­
ngusahaan Hutan (HPH) seluas minimal 300 ha, dan
telah tersedia pula pedoman pengelolaannya (Komisi
Nasional Plasma Nutfah, 1997). Sedangkan pelestari­
an ex-situ dilakukan dengan memindahkan individu
dari tempat tumbuh alaminya dan dilestarikan di tem­
pat lain seperti: di Bank Gen, kebun koleksi, arbore­
tum, kebun plasma nutfah, kebun botani dan koleksi
biak.
Program pelestarian ex-situ merupakan salah satu
butir yang tertuang dalam konvensi tentang keaneka­
ragaman hayati. Di dalam dokumen itu disebutkan pula
bahwa terutama di negara­negara asal komponen
keanekaragaman hayati berada perlu dikembangkan
konservasi ex-situ. Termasuk di sini adalah plasma
nutfah nabati dan jasad renik.
Walaupun program pelestarian plasma nutfah dalam
dasawarsa terakhir semakin meningkat, tetapi perlu
pula disebutkan bahwa tindakan pelestarian tersebut
telah pula dilakukan jauh sebelum Konvensi tentang
Keanekaragaman Hayati dicanangkan, seperti yang
dilaporkan oleh KPPNN (1982). Kegiatan pelestarian
plasma nutfah tumbuhan dan tanaman telah lama di­
lakukan oleh berbagai pihak seperti lembaga peneli­
tian, perguruan tinggi, LSM, petani dan masyarakat
tradisional, namun pelestarian mikroba (jasad renik)
secara ex-situ masih terbatas pada lembaga peneli­
tian.
11J
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
a. Kegiatan pelestarian ex-situ
1). Eksplorasi dan pengumpulan yang dilakukan ham­
pir di seluruh provinsi di Indonesia, walaupun hasil
yang diperoleh masih jauh dari mencukupi karena
terbatasnya dana dan tenaga. Provinsi­provinsi
yang pernah dieksplorasi adalah:
• Aceh (padi dari seluruh kabupaten), buah­buah­
an, kacang­kacangan, ubi­ubian, Pinus merkusii).
• Sumatera Utara (padi dan palawija, Pinus
merkusii, pisang, anggrek).
• Sumatera Barat (padi, pisang, ubi­ubian).
• Sumatera Selatan (padi, buah­buahan, ubi­
ubian, kacang­kacangan).
• Jambi dan Bengkulu (padi dan palawija).
• Lampung (padi dan palawija).
• Seluruh Pulau Jawa (padi dan palawija, buah­
buahan, ubi­ubian, sayur­sayuran).
• Kalimantan Tengah (padi).
• Kalimantan Timur (padi, anggrek, buah­buahan,
Dipterocarpaceae).
• Kalimantan Barat (padi dan palawija, buah­bua­
han, ubi­ubian).
• Kalimantan Selatan (padi, Pericopsis, rotan).
• Bali (padi, anggrek, kedelai).
• Nusa Tenggara Barat (padi, kacang­kacangan).
• Nusa Tenggara Timur (padi, ubi­ubian, kacang­
kacangan, Eucalyptus).
• Sulawesi Utara (padi, kelapa).
• Sulawesi Tenggara (buah­buahan, ubi­ubian,
tanaman hias).
• Sulawesi Tengah (padi dan palawija).
• Sulawesi Selatan (padi dan palawija).
• Maluku (padi dan palawija, tebu, anggrek, ubi­
ubian).
• Irian Jaya (padi liar) (Merauke dan Taman Na­
sional), tebu, pisang, anggrek.
Pengumpulan dilakukan dalam bentuk biji, tumbuhan
hidup, dan spesimen herbarium dari tumbuhan liar
maupun tanaman budidaya.
2). Karakterisasi dan evaluasi sifat.
3). Pendokumentasian koleksi (database).
4). Pemonitoran erosi dari koleksi.
Jumlah koleksi plasma nutfah pertanian yang telah
dikumpulkan di Badan Litbang tertera dalam Tabel
6.7, 6.8, dan 6.9 dikonservasi di Bank Gen (Cold Stor-
age dan Koleksi Lapang).
Tabel 6.7. Koleksi Plasma Nutfah Padi dan Palawija
No. Jenis Tanaman Total Koleksi
1.
Padi ( O. sativa)
Padi liar (wild rice spp.)
3583 (aksesi)
90
2. Jagung 875
3. Sorgum 209
4. Kacang kedelai 750
5. Kacang hijau 917
6. Kacang tanah 1194
7. Kacang potensial 180
8. Ubi jalar 1767
9. Ubi kayu 560
10. Ubi­ubian potensial 190
11. Talas 220
Sumber: BB-Biogen, 2007
114
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Tabel 6.8 Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Hortikultura, Rempah dan Obat 2007
Komoditas Lokasi Jumlah
Rempah dan obat Balitro­Bogor 274 jenis
Sayuran Balitsa­Lembang 1507 aksesi
Buah­buahan BPTP, Subang 52 jenis
Balitbu, Solok (Sumbar) 190 klon pisang dan 22 jenis buah lainnya
BPTP Sumut (Gurgur) 73 jenis
BPTP Sukarami 5 jenis
Sukarami 5 jenis
Tanaman hias (mawar) Cipanas 33 jenis
Segunung 23 jenis
Ps. Minggu 25 jenis
Sumber: BB-Biogen, 2007
Tabel 6.9 Plasma Nutfah Tanaman Serat dan Perkebunan 2007
Komoditas Lokasi Jumlah aksesi
Tanaman serat Balit Tembakau dan 43 jenis
­ Kapas Tanaman Serat, Malang 678
­ Tembakau 1335
­ Rami
­ Kenaf
­ Wijen
­ Jarak Kepyar (untuk
pelumas)
70
­ Jarak Pagar(untuk
Biofuel)
194
­ Rosella 1527
­ Kapuk
­ Abaca 54
­ Linum 28
Karet Medan 9130
Kina Balit Teh dan Kina, Gambung 600
Teh Balit Teh dan Kina, Gambung 870
Kopi Balit Kopi dan Kakao, Jember 1292
Kakao Balit Kopi dan Kakao, Jember 570
Kelapa sawit PPKS, Medan 7788
Kelapa Balitka, Manado 64
Pinang Balitka, Manado 33
Sagu Balitka, Manado 7
Aren Balitka, Manado 15
Tebu Pasuruan 6009 aksesi
Sumber: BB-Biogen, 2007
Pengelolaan operasional plasma nutfah tanaman se­
bagaian besar dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan
Balai Penelitian Komoditas Pertanian, di bawah Badan
Litbang Pertanian. Pusat atau Balai Penelitian komo­
ditas mengelola koleksi plasma nutfah komoditi yang
menjadi tanggung jawabnya. Koleksi plasma nutfah ini
pada dasarnya dimaksudkan untuk mendukung pro­
gram pemuliaan, sehingga sifat koleksi lebih sebagai
“Koleksi material kerja” (working collection).
b. Koleksi Plasma Nutfah oleh LIPI
Kegiatan pelestarian keragaman plasma nutfah tana­
man di lingkup institusi LIPI merupakan bagian dari
koleksi spesies tanaman (keragaman hayati flora)
dalam bentuk kebun raya, cagar alam, kebun kolek­
si spesies. Koleksi plasma nutfah tanaman dilaku­
kan terhadap spesies anggrek, bambu, dan beberapa
tanaman lainnya seperti (koleksi ubi­ubian: Colocasia,
11S
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Dioscorea, Xanthosoma, Alocasia, Amorphophallus; ka­
cang­kacangan: Phosphocarpus, Vigna, Cajanus, Gly-
cine, Mucuna, jenis kacang lain; buah­buahan: pisang,
buah­buahan lain; sayur­sayuran: Amaranthus; tana­
man industri: tanaman obat, anggrek, tebu; lain­lain:
koleksi kebun raya, biak jasa renik) – biji simpan aktif,
tanaman hidup.
c. Koleksi Plasma Nutfah pada Lembaga Non Pe-
merintah
LSM dan Lembaga kemasyarakatan seperti PKK, Ka­
rang Taruna banyak memiliki kebun koleksi spesies
(koleksi keragaman hayati), masing­masing spesies
terdiri dari beberapa “varietas”. Pada koleksi spesies
yang berupa koleksi keragaman hayati, status koleksi
plasma nutfahnya minimal. LSM pelestari padi yakni :
SPTN – HPS (DIY); Yayasan Padi di Kalimantan Timur;
dan LSM di Kalimantan Barat.
d. Koleksi Plasma Nutfah oleh Pengusaha
Perorangan, koperasi, atau perusahaan yang berkai­
tan dengan usaha­komersial tanaman hias, sering
mempunyai koleksi plasma nutfah dari spesies ter­
tentu, seperti anggrek, palem, mawar, dan lain­lain,
tetapi koleksinya terbatas pada plasma nutfah yang
memiliki keunikan sifat hiasan. Koleksi tanaman hias
merupakan komoditas penting dalam perdagangan in­
ternasional, namun konservasinya belum optimum.
e. Koleksi Plasma Nutfah di Fakultas Pertanian
Secara terbatas, beberapa Fakultas Pertanian memi­
liki koleksi plasma nutfah tanaman. Sebagai contoh:
Institut Pertanian Bogor (koleksi rambutan, durian,
alpukat, mangga, nangka, kentang dan ubi­ubian),
Fakultas Pertanian UGM memiliki koleksi ganyong,
kacang­kacangan, padi gogo; Fakultas Pertanian
Univ. Jember koleksi tembakau, pisang dan kede­
lai; Fakultas Pertanian UNPAD koleksi kedelai, cabe
merah; Fakultas Pertanian UNIBRAW koleksi pisang,
Universitas Udayana (jeruk), Universitas Sebelas Ma­
ret (koleksi mangga); Universitas Mulawarman (koleksi
padi).
Mengingat pentingnya plasma nutfah sebagai bahan
pembelajaran bagi mahasiswa, pemeliharaan koleksi
plasma nutfah di Fakultas Pertanian perlu lebih di­
tingkatkan.
f. Koleksi Plasma Nutfah pada Petani di Pedesaan
Plasma nutfah tanaman yang berupa varietas lokal
banyak dipelihara petani dan dimanfaatkan sebagai
bahan pangan dan usaha budidaya. Walaupun setiap
petani mungkin hanya memiliki satu­dua varietas lokal
alamiah, tetapi dengan banyaknya petani di seluruh
Indonesia, maka total koleksi plasma nutfah varietas
lokal untuk komoditi tertentu sangat besar. Contoh
: Petani Tradisional Dayak melestarikan : padi, paku
danum; Padi spesifik di daerah masing­masing (Mentik
dan Rojolele di Jawa Tengah, Padi Sikodok, Siramos,
Arias di Sumatera Utara, Padi Mayas di Kalimantan
Timur).
g. Plasma Nutfah di Habitat Asli (in-situ)
Plasma nutfah yang terdapat di habitat asli terutama
adalah plasma nutfah spesies asli Indonesia, seperti
durian, salak, tebu, palem, rambutan, umbi­umbian
(yam/Dioscorea), pisang, anggrek, rotan dan kemung­
kinan masih banyak spesies tanaman lain yang plasma
nutfahnya cukup banyak yang belum teridentifikasi.
Pelestarian plasma nutfah secara in-situ ini sangat ra­
wan kerusakan, karena eksploitasi dan konversi hutan
yang kurang bersifat konservatif. Kebijakan pelestari­
an plasma nutfah secara in-situ kita masih lemah.
6.3.5. Penangkaran dan Budidaya
Agar tidak mengalami kepunahan, pemerintah telah
mendorong pengembangan berbagai kegiatan penang­
karan flora dan fauna. Kegiatan ini terutama dilaku­
kan untuk menyelamatkan spesies flora dan fauna
yang terancam punah, membantu re-stocking populasi
hidupan liar yang ada di alam, meneliti, dan memenuhi
kebutuhan permintaan pasar baik domestik maupun
ekspor.
Penangkaran untuk tujuan pemanfaatan jenis tum­
buhan dan satwa liar dilakukan melalui kegiatan
pengembangbiakan satwa atau perbanyakan tumbuh­
an secara buatan dalam lingkungan yang terkontrol
dan penetasan telur dan atau pembesaran anakan
yang diambil dari alam (Tabel 6.10).
116
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Tabel 6.10 Jumlah Penangkaran Satwa dan Tumbuhan 2006 dan 2007
NO Provinsi
Jumlah Perusahaan Penangkar
Tumbuhan dan Satwa Liar yang
Dilindungi
Tumbuhan dan Satwa Liar yang Tidak
Dilindungi
2006 2007 2006 2007
A. Tumbuhan
1 Sumatera Utara ­ 1
2 Jawa Barat ­ 5
3 Jawa Timur ­ 1
4 Sulawesi Selatan ­ 1
Jumlah A ­ 8
B. Satwa
1 Nangroe Aceh Darussalam ­ ­
2 Sumatera Utara 5 ­
3 Sumatera Barat ­ ­
4 Riau 8 7
5 Jambi ­ ­
6 Bengkulu ­ ­
7 Sumatera Selatan 4 ­
8 Lampung ­ 1
9 DKI Jakarta 14 7
10 Jawa Barat 26 16
11 Jawa Tengah 2 2
12 DI Yogyakarta 1 1
13 Jawa Timur 1 2
14 Bali 7 17
15 Nusa Tenggara Barat 2 ­
16 Nusa Tenggara Timur 2 2
17 Kalimantan Barat 69 ­
18 Kalimantan Tengah 1 ­
19 Kalimatan Selatan 2 ­
20 Kalimatan Timur 3 ­
21 Sulawesi Utara 5 ­
22 Sulawesi Tengah ­ 1
23 Sulawesi Selatan 5 1
24 Sulawesi Tenggara ­ ­
25 Maluku 56 ­
26 Papua ­
Jumlah B 213 57
Sumber: Departemen Kehutanan, 2008
117
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang
Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budi­
daya pohon penghasil gaharu dengan baik, mulai dari
perbenihan, persemaian, penanaman, hingga pemeli­
haraannya. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu
hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia
telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis. Pene­
litian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat
isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan
mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat.
Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah
menunjukkan tanda­tanda keberhasilan hanya dalam
waktu satu bulan. Uji coba telah dilakukan di Kaliman­
tan Selatan, Kalimantan Barat, Jawa Barat (Sukabumi
dan Darmaga), dan Banten (Carita).
Untuk mengantisipasi kemungkinan punahnya pohon
penghasil gaharu jenis­jenis langka sekaligus peman­
faatannya secara lestari, Badan Litbang Kehutanan
melakukan upaya konservasi dan budidaya serta
rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu den­
gan teknologi induksi atau inokulasi.
Secara teknis, garis besar tahapan rekayasa produksi
gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang
diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan
ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan.
Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar tak­
sonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining
untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan
respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis po­
hon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal.
Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pem­
bentuk gaharu tadi, kemudian induksi, dan terakhir
pemanenan.
Di pasar dalam negeri, kualitas gaharu dikelompokkan
menjadi 6 kelas mutu, yaitu Super (Super King, Super,
Super AB), Tanggung, Kacangan (Kacangan A, B, dan
C), Teri (Teri A, B, C, Teri Kulit A, B), Kemedangan
(A, B, C) dan Suloan. Klasifikasi mutu tersebut ber­
beda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang
membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal,
Kemedangan, dan Klas Abu. Perbedaan klasifikasi
tersebut sering merugikan pencari gaharu karena ti­
dak didasari dengan kriteria yang jelas (Pusat Peneli­
tian dan Pengembangan Kehutanan, Bogor).
6.3.6. Kemitraan
Pengelolaan atau konservasi keanekaragaman hayati
merupakan tanggung jawab pemerintah serta semua
pihak terkait seperti organisasi non pemerintah, ka­
langan akademi, lembaga penelitian serta masyarakat
yang diwujudkan melalui konsep pengelolaan sumber
daya alam secara terpadu dengan memasukkan prin­
sip pendekatan ekosistem.
Pada tingkat lokal, peran pemerintah daerah dan ma­
syarakatnya sangat penting dalam menilai keberadaan
kenakeragaman hayati sebagai aset pembangunan.
Kerjasama di tingkat lokal ini bertujuan utama un­
tuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di
kawasan lokal. Sejarah ekologi di kawasan tertentu
sudah dimiliki masyarakat lokal dengan melakukan
pemanfaatan berdasarkan pengetahuan tradisional.
Pola pemanfaatan tradisional yang berkelanjutan dapat
dijadikan pertimbangan dalam penyusunan perenca­
naan pembangunan daerah. Keberhasilan kerjasama
mitra konservasi dapat ditentukan dengan melihat
tingkat kesejahteraan masyarakat dan pemerintah
serta tingkat kerusakan ekosistem.
a. Penanaman Pohon di TWA Gunung Pancar
Aksi penanaman dan pemeliharaan pohon ini dilaku­
kan dalam lanjutan rangkaian acara Hari Ulang Ta­
hun (HUT) KORPRI ke 37 tanggal 29 November 2008,
dalam kegiatan Bhakti Lingkungan. Diharapkan keg­
iatan ini dapat memicu dan memotivasi seluruh ang­
gota KORPRI baik di pusat maupun di daerah yang
jumlahnya lebih dari 4 juta orang, untuk ikut berpar­
tisipasi mensukseskan gerakan penanaman 100 juta
pohon pada Bulan Desember sebagai Bulan Menanam
Pohon Nasional.
Gambar 6.3. Gerakan Menanam
118
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Mengingat KORPRI sebagai bagian dari elite masyara­
kat yang dapat menjadi pelopor, pemrakarsa, dan
pendorong pembaharuan maupun kegiatan pada ma­
syarakat, maka sangat strategis peran KORPRI untuk
menjadi pelopor, penggerak, contoh dan teladan dalam
upaya rehabilitasi lahan dan hutan serta perbaikan
lingkungan melalui upaya penanaman dan pemeli­
haraan pohon.
Pada Aksi Penanaman dan Pemeliharaan Pohon di
TWA Gunung Pancar ini, ditanam lebih dari 400 po­
hon, dengan jenis kayu­kayuan dan Multi Purpose
Trees Spesies (MPTS) oleh Para Ketua dan Anggota
Unit Nasional KORPRI. Bibit jenis kayu­kayuan antara
lain Mahoni, Sengon, Filisium, Bungur, Acacia mangi-
um, Bintaro, Flamboyan. Sedangkan jenis MPTS an­
tara lain Mangga, Rambutan dan Lengkeng. Kepada
Para Ketua Unit Nasional KORPRI, Menteri Kehutanan
akan menyerahkan bibit jenis unggul Kelengkeng Bola
Pingpong, untuk ditanam di lingkungan kantor mas­
ing­masing.
Taman Wisata Alam Gunung Pancar merupakan Ka­
wasan Pelestarian Alam seluas 447,5 ha yang me­
miliki nilai strategis. Selain berada di dekat wilayah
perkotaan yaitu Jakarta dan Bogor, hutan di Kawasan
Gunung Pancar ini menjadi salah satu sumber air bagi
pemukiman penduduk di Kecamatan Babakan Madang
dan perumahan Bukit Sentul serta menjadi sumber air
bagi DAS Cikeas. Kawasan Gunung Pancar ini juga
mempunyai potensi alam yang sangat menarik untuk
kegiatan wisata alam seperti hiking, tracking, berke­
mah, bersepeda, outbond, dan pemandian air panas
bebas belerang dengan suhu 600
o
C.
b. Aksi Penanaman Pohon Serentak di Desa Ciuyah,
Lebak, Banten
Gerakan Aksi Penanaman Pohon di Desa Ciuyah yang
dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla akan diikuti
antara lain oleh Menteri Kehutanan, Panglima TNI,
beberapa menteri kabinet Indonesia Bersatu, serta
gubernur dan muspida Banten. Sususan acara ger­
akan aksi penanaman pohon adalah, yang pertama
sambutan selamat datang oleh Gubernur Banten, Ibu
Ratu Atut Chosiah, dilanjutkan sambutan Panglima
TNI, Menteri Kehutanan dan Wakil Presiden RI. Kemu­
dian doa dilanjutkan dengan penanaman pohon secara
serentak yang dipimpin oleh Wakil Presiden RI.
Aksi penanaman pohon ini menanami areal seluas 10
ha dengan berbagai jenis tanaman kayu­kayuan dan
tanaman serbaguna antara lain nyamplung, damar,
mahoni, salam, sengon, pulai, buni, puspa, suren, ke­
mang, mangga, sukun, durian, dan pala. Sebelumnya,
pada bulan November sampai dengan Desember 2008
telah ditanami pohon turus jalan sepanjang 26,5 km
berawal dari kota Serang sampai dengan lokasi aksi
penanaman di Desa Ciuyah, yang merupakan parti­
sipasi dari APHI, Forum Reklamasi Bekas Tambang,
PLN, Pemda Lebak, dan TNI. Kegiatan penanaman
pohon pengembangan hutan rakyat juga dilakukan di
Desa Mekarsari seluas 25 ha oleh masyarakat setem­
pat beserta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabu­
paten Lebak.
Keberhasilan rakyat Indonesia dalam Gerakan Pena­
naman dan Pemeliharaan Pohon, sangat bermanfaat
untuk merehabilitasi hutan, lahan, dan perbaikan ling­
kungan. Manfaat penanaman dan pemeliharaan pohon
ini antara lain : mencegah pemanasan global dan pe­
rubahan iklim secara ekstrem, menghindari berbagai
bencana alam banjir dan tanah longsor di musim hu­
jan, serta mengatasi kekeringan dan kekurangan air
bersih di musim kemarau.
Gambar 6.4. Menanam pohon
11º
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008
K£AÞ£KAIAGAMAÞ IAYAJI
Gambar 6.3. Kebakaran hutan mengahancurkan keanekaragaman hayati
Foto: Dok PPLH Reg Sumatera
11º
STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008

Keanekaragaman Hayati

KEANEKARAGAMAN hayati di ujung tanduk, begitu­ lah keadaan keanekaragaman hayati pada tingkatan global di seluruh dunia. Tidak berbeda keadaannya dengan di Indonesia. Bangsa di bagian dunia mana­ pun akan tergantung pada keanekaragaman hayati untuk kelangsungan hidupnya. Keanekaragaman hayati merupakan suatu fenomena alam mengenai keberagaman makhluk hidup, dan komplek ekologi yang menjadi tempat hidup bagi makhluk hidup. Ke­ anekaragaman hayati dengan pengertian seperti itu mencakup interaksi antara berbagai bentuk kehidupan dengan lingkungannya, yang membuat bumi ini men­ jadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan jumlah besar barang dan jasa bagi kehidupan dan ke­ sejahteraan manusia (Perhimpunan Biologi Indonesia, 2007). Berdasarkan data dan fakta yang ada, terlihat bah­ wa keanekaragaman hayati terus menerus mengal­ ami penyusutan. Hutan tropika yang menjadi gudang keanekaragaman hayati telah menyusut lebih dari setengahnya. Kecenderungan penyusutan keanek­ aragaman hayati yang disebabkan oleh berbagai ka­ sus lingkungan memerlukan perhatian khusus dan penanganan yang lebih serius. Perubahan status dan/atau fungsi kawasan hutan untuk kegiatan lain misalnya perkebunan kelapa sawit dan hutan tana­ man industri, penebangan ilegal, penambangan ilegal, perburuan dan perdagangan satwa, serta introduksi spesies asing adalah beberapa faktor yang dapat menyebabkan ancaman terhadap keanekaragaman hayati. Perubahan iklim, sebagai salah satu fenomena perubahan alam yang juga dipicu oleh berbagai akti­ vitas manusia akan menjadi ancaman serius keaneka­ ragaman hayati di masa mendatang. 6.1. Kondisi Keanekaragaman Hayati

dari luas muka bumi, sebagai negara megabiodiversity, keanekaragaman hayati Indonesia terdiri dari: mama­ lia 515 species (12 % dari jenis mamalia dunia), rep­ tilia 511 jenis (7,3 % dari jenis reptilia dunia), burung 1.531 jenis (17% dari jenis burung dunia), amphibi 270 jenis, binatang tak bertulang belakang 2.827 je­ nis dan tumbuhan sebanyak ± 38.000 jenis, di anta­ ranya 1.260 jenis yang bernilai medis. 6.1.1. Ekosistem Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal­balik antara organisme (makh­ luk hidup) atau unsur biotik dengan lingkungannya atau unsur abiotik. Ekosistem dapat dianggap sebagai komunitas dari seluruh tumbuhan dan satwa terma­ suk lingkungan fisiknya yang secara bersama­sama berfungsi sebagai satu unit yang tidak terpisahkan atau saling bergantung satu sama lainnya. Kompo­ nen­komponen pembentuk ekosistem adalah kompo­ nen hidup (biotik) dan komponen tak hidup (abiotik). Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keanekaragaman ekosistem berkaitan dengan ke­ anekaragaman tipe habitat, komunitas biologis dan proses­proses ekologis dimana keanekaragaman spe­ sies dan genetik terdapat di dalamnya. Sekitar 90 je­ nis ekosistem berada di Indonesia, mulai dari padang salju tropis di Puncak Jayawijaya, hutan hujan dataran rendah, hutan pantai, padang rumput, savana, lahan basah sungai, danau, rawa, muara dan pesisir pan­ tai, mangrove, padang lamun, terumbu karang, hingga perairan laut dalam. Mengingat keragaman yang tinggi, maka sangat mungkin ditemukan dan dikembangkan jenis­jenis yang berpotensi sebagai sumber pangan, obat dan bahan dasar industri lainnya. Laut Nusantara yang mempunyai luas sekitar 3,1 juta km2, terdiri atas laut teritorial 0,3 juta km2 dan laut pedalaman 2,8 juta km2, di samping perairan ZEEI (Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia) seluas 2,7 juta km2. Selain itu, jumlah pulaunya yang lebih dari 17.000 mempunyai total panjang garis pantai lebih dari 80.000 km. Data itu katanya, telah memberikan informasi betapa luasnya dimensi ruang Laut Nusan­ tara sebagai tempat hunian bagi banyak biota laut, di samping itu sekitar 60 persen penduduk Indonesia bermukin di kawasan pesisir. Laut Nusantara juga dikenal mempunyai keaneka­ ragaman hayati yang tinggi (marine megadiversity). Rumput laut (makro alga) ada lebih dari 700 je­ nis, karang batu lebih dari 450 jenis, moluska lebih dari 2.500 jenis, ekonodermata sekitar 1.400 jenis, krustasea lebih dari 1.500 jenis dan ikan lebih dari 2.000 jenis. Kekayaan keanekaragaman hayati di per­

Indonesia dikenal sangat kaya akan keanekaragaman hayatinya, baik di darat maupun di laut. Secara bio­ geografi, kawasan Indonesia berada dalam kawasan Malesia (kawasan Asia Tenggara sampai dengan Pa­ pua sebelah barat) dengan dua pusat keanekaragaman yaitu Borneo dan Papua serta tingkat endemisitas yang sangat tinggi dan habitat yang unik. Sebagai contoh, di kawasan Papua, tingkat endemisitas flora menca­ pai sekitar 60 ­ 70%. Di antara dua pusat keragaman tersebut, terdapat kawasan transisi yang berada di selat Makasar (Wallace’s line) dimana dapat ditemukan flora ecotype. Dipandang dari segi biodiversitas, posisi geografis Indonesia sangat menguntungkan. Negara ini terdiri dari beribu pulau yang berada di antara dua benua, ya­ itu Asia dan Australia, serta terletak di khatulistiwa. Dengan posisi seperti ini, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Dengan luas wilayah 1,3%

STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 

2. ikan (9 jenis). Pola penyebaran hewan di Indonesia diwarnai oleh pola kelompok kawasan oriental di sebelah barat dan kelompok kawasan Australia di sebelah timur.1. Irian Jaya Barat. dan 375 marga Malesia tidak dijumpai di Thailand. anthozoa (1 jenis) dan bi­ valvia (12 jenis). Memperhatikan sifat hewan di Indonesia. Dua kelompok fauna ini mempunyai ciri yang berbeda dan dipisahkan oleh Garis Wallace (garis an­ tara Kalimantan dan Sulawesi. reptilia (31 jenis). Demarkasi ini menyebabkan adanya 200 marga tumbuhan Thailand yang tidak dapat menyebar ke ka­ wasan Malesia. Madura.2. new environment). Simpul Selat Torres menunjukkan bahwa 644 marga tumbuhan Irian Jaya tidak bisa menyeberang ke Australia dan 340 mar­ ga tumbuhan Australia tidak dijumpai di Irian Jaya. Kalimantan) dan fau­ na bagian timur yaitu Sulawesi dan pulau di sebelah timurya. Wallace membagi kawasan penyebaran fauna menjadi dua kelompok besar yaitu fauna bagian barat Indonesia (Sumatera. 6. baik secara langsung ataupun tak langsung. Malaysia dan Papua Nugini. Kedua kawasan ini sangat berbeda. Spesies Pecahnya benua selatan Gendawa pada 140 juta ta­ hun yang lalu menjadi Paparan Sunda (berasal dari benua utara Laurasia) dan Paparan Sahul (berasal dari Gondawa) menyebabkan penyebaran tumbuhan yang terpusat di Paparan Sunda seperti jenis durian. Hingga saat ini masih banyak pulau kecil dan terpen­ cil yang belum dieksplorasi.1 Populasi Satwa dan Tumbuhan yang Dilindungi Sampai dengan akhir tahun 2007. Ketiga. new discoveries. Tabel 6. yang juga meliputi Philipina. Sebagai contoh telah di­ lakukan Ekspedisi Widya Nusantara Puslit Biologi­LIPI tahun 2007 di Pulau Waigeo yang menjadi salah satu dari empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat. maka migrasi fauna antar pulau memberi peluang bercampurnya unsur dari dua kelompok ka­ wasan tersebut.Keanekaragaman Hayati airan itu memberikan potensi yang tinggi pula untuk pemanfaatannya. simpul di sebelah selatan Taiwan menjadi penghalang antara flora Malesia dan Flora Taiwan. rotan. 6. Bali. Kawasan ini ditentukan berdasar­ kan persebaran marga tumbuhan yang ditandai oleh 3 simpul demarkasi yaitu pertama. Departemen Ke­ hutanan telah menetapkan jenis flora dan fauna yang dilindungi yaitu mamalia (127 jenis).1. Percampuran ini mengaburkan batas antara kawasan oriental dan kawasan Australia. Penetapan lokasi untuk kegiatan ekspe­ disi ini dengan pertimbangan adanya peluang mem­ peroleh temuan baru (new records. serangga (20 jenis). Populasi Satwa yang Dilindungi 10 Tahun Terakhir Kelas Satwa yang dilindungi Mamalia 126 127 127 127 127 127 127 127 127 127 Aves 382 382 382 382 382 382 382 382 382 382 Reptilia 31 31 31 31 31 31 31 31 31 31 Pisces 8 8 9 9 9 9 9 9 9 9 Insecta 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 Molusca 12 ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ Crustacea 3 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Anthozoa ­ 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Bivalvia ­ 12 12 12 12 12 12 12 12 12 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 1998/1999 1999/2000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Sumber: Departemen Kehutanan. Penyebaran tumbuhan Indonesia tercakup dalam ka­ wasan Malesia. 2008 00 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . Adanya demarkasi ini menyebabkan 40% marga flora Malesia tidak terdapat di luar kawasan Malesia dan flora Malesia lebih banyak mengandung unsur Asia dibanding unsur Australia. Tanah Genting Kra di Semenanjung Malaya merupakan batas penyebaran flora Malesia di Thai­ land. Jawa. berlanjut antara Bali dan Lombok).1. Kedua. krustasea (2 jenis). Namun demikian kare­ na Indonesia terdiri dari deretan pulau yang sangat berdekatan. burung (382 je­ nis). tusam dan artocarpus (Endarwati. 2005). serta mengingat kajian wilayah tersebut belum pernah dilakukan atau infor­ masi ilmiahnya masih terbatas. new finding.

720 ­ 144.153.000 ­ 2.590 42.105.497 Sumber: Departemen Kehutanan.608 Perkiraan Devisa (US$) 1.2.793 1.889 99.500 232. nilai ekspor satwa liar Indonesia yang terdiri dari mamalia.800 ­ 37.800 278 267 162.Keanekaragaman Hayati Tabel 6.000 ­ ­ ­ Jumlah Surat Angkut Satwa ke Luar Negeri 3.228 250 20 145.370.600.055 2.280 miliar.200 26.500 ­ ­ ­ ­ 530.590 198.367.904 3.432. pada tahun 2007. gaharu.527 126.480 ­ 4.500 54.100 18.279.492 23.111 166.2.050 37. amphibia.180 7.3.935 juta.000 1.951 118.352 6.000 102. koral.000 ­ 15.667 11.866 6.000 84.173 ­ 1.493 609 ­ 69.284.327 2.653 130.080 2. mencapai Rp 2.000 144.710 1. Nilai ekspor Tabel 6. Populasi Tumbuhan yang Dilindungi 10 Tahun Terakhir Kelas Tumbuhan yang dilindungi No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahun 1998/1999 1999/2000 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 Palmae 12 12 12 12 12 12 12 12 12 12 Rafflesia 11 11 11 11 11 11 11 11 11 11 Orchidaceae 29 29 29 29 29 29 29 29 29 29 Nephentaceae 8 8 8 8 8 8 8 8 8 8 Dipterocarpacea 13 13 13 13 13 13 13 13 13 13 Araceae 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 Parasite Plant ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ Apocynaceae ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ Cykas ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ ­ Sumber: Departemen Kehutanan.836.917 2.323 22.746.285. Ekspor beberapa jenis tumbuhan.569 70.155 14.230.854 29.700 1.1.500.137.147 58.354.435.492 885.000 2.052. 2008 6. di antaranya ang­ grek.2.475 2.000 574.440 56.100 188.930 37.408 6.150 40.165.000 ­ 144. pakis dan ramin yang menghasilkan nilai ekspor sebesar Rp 85.922 ­ 116.854. Berdasarkan data dari Departemen Kehutanan.000 15.333 ­ 29.993 ­ 228.950 328. Ekspor Satwa dan Nilai Ekspor 2007 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Kelas Mamalia Mamalia *1) Amphibia Amphibi hidup Kulit amphibi *1) Primata Kulit amphibi Kupu­kupu Arthopoda Tanduk rusa Reptil hidup Reptil hidup *1) Kulit reptile Kulit buaya Daging Buaya *2) Daging Reptil *2) Ikan Arwana Ikan Arwana Irian Coral *1) Coral Kuda laut Ikan Napoleon Kimia *1) Burung App *1) Sarang burung walet *3) Jumlah Satuan ekor/lembar ekor ekor ekor lembar ekor lembar ekor ekor kg ekor ekor lembar ekor/lembar kg kg ekor ekor buah buah/kg ekor ekor ekor ekor kg Realisasi Ekspor 43.000 ­ 237.541 5.556 155.365 75.000. buaya/kulit bua­ ya dan ikan.440.161.000 6.424.285. 2008 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 0 .126 531.136 103.021.000 ­ 478.439 68.160 100. Ekspor Satwa Liar dan Tumbuhan terbesar diperoleh dari ekspor ikan arwana sebesar Rp 1.819 Nilai Ekspor (Rp) 609.285 miliar.129 984 13.000 8.314.

Hasil EWIN tersebut sebagai berikut :Telah diteliti berbagai tipe vegetasi yang terdapat di Pulau Waigeo mulai dari kawasan pantai hingga ke kawasan pegunungan. Ekspedisi Widya Nusantara Puslit Biologi LIPI Ekspedisi Widya Nusantara Puslit Biologi LIPI dilaku­ kan pada tahun 2007 di Pulau Waigeo yang menjadi salah satu dari 4 pulau besar di Kepulauan Raja Am­ pat. vegetasi bukit kapur dataran rendah (lowland forest on limestone vegetation). Kabupaten Raja Ampat. dan (e) lebih dari 55 jenis tumbuhan.866.000 225.00 527.293 234.2.000 100.000 ­ ­ 100.89 84.507. (e) Jenis kelelawar 4 jenis.581.028 87. 7 8 9 10 11 Anggrek Gaharu Kemedangan Abu Stack Gaharu Indonesia Timur Kemedangan Pakis Ramin Abu Stack Jumlah Sumber : Departemen Kehutanan.780 ­ ­ ­ Perkiraan Devisa (US$) 74. Penemuan Spesies Baru a.838. 2008 Kelas Satuan batang kg kg kg kg kg kg batang M3 kg kg Realisasi Ekspor 4.500 5. 3 jenis Piper.700 ­ ­ ­ ­ ­ ­ 45. Amblypygi 1 jenis.928 ­ 17. Penetapan lokasi untuk kegiatan ekspedisi ini dengan pertimbangan adanya peluang memperoleh temuan baru (new records. (b) Jenis Piper 2 jenis. (f) herpetofauna 20 jenis.488 ­ 95.Keanekaragaman Hayati Tabel 6.349. meliputi: (a) Tumbuhan 7 jenis (1 jenis pohon.67 13. Terdapat 9 tipe vegetasi di Pulau Waigeo. (g) kopepoda 45 jenis. vegetasi ultra basic (lowland ultrabasic vegetation). new finding. new discoveries.980 505. dan (i) krustasea 56 jenis. Ekspor Tumbuhan dan Nilai Ekspor 2007 No 1 2 3 4 5 6.000 30. Bogor Hasil Ekspedisi Widya Nusantara (EWIN) Pusat Penelitian Biologi­LIPI menunjukkanl berbagai temuan baru berupa jenis baru. 1 jenis Tapeinochilus.000.564.33 ­ 213. Insecta 10 jenis. Koleksi baru (new collection): (a) 20 jenis mamalia. (c) 27 jenis burung.94 37.909 ­ ­ Jumlah Surat Angkut Satwa ke Luar Negeri 550. dan 2 jenis tumbuhan paku). Catatan baru/rekaman baru/new record: lebih dari 166 jenis. Temuan kandidat jenis baru (new species) berjumlah 42 jenis.000 30.3. (b) 8 jenis Herpetofauna. koleksi baru dan tambahan koleksi bagi MZB dan Herbarium Bogoriense. meliputi: (a) jenis Pandanaceae 13 jenis.000.1 Keanekaragaman Hayati Pulau Waigeo.427.1.000 1.4.438 6. (c) Jenis paku lebih dari 15 jenis. (g). antara lain : vegetasi hutan bakau (mangrove).695 65.273. (h) serangga 3 jenis.11 ­ 39. 0 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . Vegetasi hutan sekunder (secondary forest vegetation). Papua Barat. vegetasi hutan rawa air tawar dan hutan sagu (swamp forest vegetation and sago forest). rekaman baru. (e) Kopepoda 1 jenis.924. Papua Barat Tim E-WIN Pusat Penelitian Biologi LIPI. new environment). savana dan semak belukar (savanna and schrubs).642 1.288.22 10.83 39. vegetasi dataran rendah (lowland vegetation).480 Nilai Ekspor (Rp) 40. (d) Ichtyologi 4 jenis. Kotak 6.322. (c) Herpetofauna 5 jenis (2 amphibi dan 3 reptil). (f).00 85.548. (b) Jamur 7 jenis baru. serta mengingat wilayah tersebut belum pernah dikaji atau informasi ilmiahnya masih terbatas (Kotak 1).154. vegetasi kaki pegunungan (submotane vegetation). (d) Moluska terestrial.935.00 14. vegetasi pantai (beach vegetation). (d) Jenis jamur 9 jenis. dan (h) Bakteri 7 jenis.

27 jenis meru­ pakan koleksi baru MZB. Untuk jenis amphibi yaitu Litoria sp. Studi ekologi: terdapat 9 tipe ekosistem di kawasan terestrial Pulau Waigeo dan masing­masing tipe ekosistem telah dianalisis keanekaragaman jenis tumbuhannya. Moluska: teridentifikasi sebanyak 24 jenis dan 6 suku.. Pulau Waigeo.. f. dan untuk jenis reptilia yaitu dua jenis kadal (Emoia sp. Tulostoma sp1. nov.nov. d..nov. c. Krustacea kopepoda: terkumpul 38 nomor meliputi 4 ordo kopepoda. 3. 5. Mamalia: terkoleksi 124 spesimen terdiri atas 24 jenis (15 jenis bangsa Chiroptera.. nov.Keanekaragaman Hayati Secara rinci temuan­temuan baru tersebut terangkum sebagai berikut: 1. Dari jenis tumbuhan tingkat tinggi ditemukan kemungkinan jenis baru yaitu Osmoxylon sp. Suku Piperaceae..nov. Studi fitokimia: beberapa jenis tumbuhan. dan Piper sp3. e. tercatat lebih 250 jenis tumbuhan berguna di kawasan ini. di antaranya adalah: a. dari 48 nomor koleksi.nov.nov.. Suku Pandanaceae terkoleksi 13 jenis dan kesemuanya merupakan rekaman baru (new record). Satu jenis Melanotaenia catherinae merupakan jenis endemik. 4.. Piper sp2. nov. b. Tulostoma sp2. nov. perlu studi lebih lanjut..nov. e. 3 jenis diduga sebagai jenis baru (new species) yaitu Piper sp1.nov. 3 jenis bangsa Marsupialia.. Studi keanekaragaman jenis mamalia berhasil dikumpulkan sejumlah spesimen dan koleksi baru serta temuan­temuan jenis baru. Jenis burung: terkoleksi 66 individu terdiri atas 28 jenis dan 7 jenis di antaranya adalah endemik. dan Callulops sp. Studi etnobiologi telah dideskripsi pengetahuan lokal masyarakat di kawasan Teluk Manyailibit. 4 jenis bangsa kelelawar merupakan catatan baru (new record). d. Ikhtiologi (ikan): terkumpul 591 spesimen meliputi 60 jenis dan 29 suku.. b.. Satu jenis yaitu Melanotaenia sp. di antarnya adalah : a. nov. dan 5 jenis bangsa Rodentia). Semua jenis moluska terestrial merupakan koleksi baru bagi MZB. 2.. 1 jenis bangsa Actiodactyla. Keanekaragaman jenis jamur : ditemukan 7 jenis yang diduga baru yaitu Boletus sp. dan Microsorium sp. Dua jenis tumbuhan paku diduga jenis baru yaitu Trigonospora sp.nov. dan Volvariella sp.. demikian juga ditemukan satu jenis yang mirip dengan jenis Belobranchus belobranchus yang berukuran besar dan ada kemungkinan sebagai jenis baru (new species). Xylaria sp. c. 1 koleksi kuskus waigeo (Spilocuscus papuensis) merupakan jenis endemik dan koleksi baru bagi MZB. Sebanyak 23 jenis belum tuntas diidentifi­ kasi. nov. merupakan jenis baru. Dua jenis amphibi dan 3 jenis reptilia diduga sebagai jenis baru (new species). Jenis Tumbuhan Paku : terkoleksi 164 nomor jenis paku­pakuan yang terdiri dari 23 suku dan 124 jenis. Herpetofauna: terkoleksi 194 spesimen meliputi 12 jenis amphibia dan 32 jenis reptilia.) dan satu jenis ular yaitu Stegonotus sp.nov. nov (Zingiberaceae). STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 0 . Selain itu satu jenis ikan pipa (Syngnathidae) diduga merupakan jenis baru (new species).nov. nov. Tectella sp. Taksonomi tumbuhan telah dikumpulkan sebanyak lebih dari 650 spesimen meliputi tidak kurang dari 70 famili dan 400 jenis. di antaranya adalah Pandanus polycephalus mengandung senyawa flavonoid yang mempunyai aktivitas sebagai antioksidan dan immunomodulator. nov. dan Spenomorphus sp.nov. dan 19 jenis merupakan koleksi baru yang barasal dari Waigeo. Setelah dilakukan identifikasi ditemukan beberapa temuan baru. Oudenmansiella sp. (Araliaceae) dan Tapeinochilus sp. nov. Ditemukan 1 jenis sebagai kandidat jenis baru yaitu Pontella sp.

Nov..1. mengadakan Nusa Penida Marine Rapid Assessment Program (MRAP) dengan mengikutsertakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).. nov.. dan Trimma sp. bintang mengular. nov. Pseudochromis sp. sama seperti ikan ka­ rang. dan 3 jenis sebagai new record untuk kawasan ini. 31 marga dan 70 jenis. Conservation International Marine Program. teridentifikasi 4 jenis kandidat jenis baru yaitu jenis Bactrocera sp1. nov. nov. nov.. nov.. di sekitar kawasan Nusa Penida terdapat 562 spesies ikan ka­ rang yang merupakan campuran dari spesies ikan di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Ikan tersebut antara lain Chromis sp... h. nov.. Dari jenis tungau. Kegiatan ini juga didukung oleh Ba­ lai Konservasi Laut Daerah (BKSDA). Dapat dikatakan bahwa Nusa Penida memiliki keanekaragaman jenis moluska yang tinggi. nov. Streptomyces sp2.nov. Kesemuanya merupakan rekaman baru (new record). Hasil identifikasi sementara menunjukkan.. Gua dan faunanya: terdata 19 gua tersebar di kawasan teluk Manyailibit dan ditemukan 1 jenis kandidat jenis baru (new species) yaitu Charinus sp.. Streptomyces sp3. Tim juga mengidentifikasi adanya 174 jenis moluska yang terdiri dari 149 jenis gastropoda dan 25 jenis bivalvia atau kerang­kerangan. Macrocheles sp2. Bactrocera sp2. dan diharapkan merupakan temuan spe­ sies baru. nov. Priolepis 11 sp. Streptomyces sp4. Sumber : Puslit Biologi-LIPI..nov... bulu babi dan timun laut. 6. Insekta: terkumpul 242 spesimen. Bactrocera sp3. Untuk jenis lalat buah. dan Bactrocera sp4. meliputi 18 suku. Studi mikrobiologi: untuk sementara dari 54 sampel yang diuji. dan Macrocheles sp3. Tercatat pula 7 jenis udang dari marga Caridina merupakan new record untuk kawasan Waigeo. Nusa Penida Marine Rapid Assessment Program Selama sepuluh hari. Satu jenis bulu babi yang ditemukan belum bisa di­ identifikasi. dari tanggal 20 – 30 Novem­ ber 2008. Balai Riset Ke­ lautan dan Perikanan (BRKP) Departemen Kelautan dan Perikanan. Spesies Ikan Jenis Baru yang Ditemukan di Kawasan Nusa Penida. dan Deutereulophus sp.. dan Actinoplanes sp3. Priolepis 33 sp. Yayasan Bahtera Nusantara. ditemukan 3 jenis kandidat jenis baru yaitu Macrocheles sp1. Pemerintah Kabupaten Klungkung. Krustacea dekapoda: terkumpul lebih dari 2000 spesimen. Hal menarik lainnya. i.. Actinoplanes sp1. ditemukan 7 jenis isolat sebagai kandidat jenis baru yaitu: Streptomyces sp1. Gambar 6. Euplectrus sp3. nov. tim ini juga mencatat setidaknya ada sekitar 34 spesies ekinodermata dari jenis bin­ tang laut. nov.nov. Bali Trimma sp Priolepis 11 sp Priolepis 33 sp Pseudochromis sp 0 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . 3 jenis baru dari sub famili Eulophine yaitu Euplectrus sp4. nov. Pemerintah Provinsi Bali. 2007 b. dan Universitas Warmadewa. Actinoplanes sp2. Selain ikan karang.Keanekaragaman Hayati g. Southeast Asia Center for Ocean Research and Monitoring (SEACORM).. Kementerian Ne­ gara Riset dan Teknologi (RISTEK). nov. Universitas Udayana. Penelitian ini juga berhasil menemukan 5 spesies ikan jenis baru.. nov.. jenis ekinodermata dan moluska ini juga meru­ pakan gabungan dari spesies yang ada di Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Berdasarkan jumlah jenis durian liar yang tumbuh di Kalimantan yang jum­ lahnya mencapai 19 jenis. hispida D.1. puyuh. Jenis Tanaman dan Manfaatnya Spesies Colocasia esculenta Ananas comosus Camellia sinensis Carica papaya Beta vulgaris Spinacia oleracea Carthamus tinctorius Helianthus annuus Luctuca sativa Ipomoea batatas Manihot esculenta Brassica oleracea / B. tropical Amerika Asia/Indonesia Asia/Indonesia Asia/Indonesia Asia/Indonesia Asia/Indonesia Nilai dan Manfaat Pangan Vitamin. semangka tanpa biji. Varietas unggul ini telah ber­ kembang luas dan meningkatkan pendapatan petani. seni Minuman & eksport Sumber vitamin Gula Sayuran Minyak Minyak/bahan kosmetika Sayuran Karbohidrat Karbohidrat/pati Sayuran Sayuran/minyak Sayuran Sayuran Karbohidrat pangan/pati Karbohidrat pangan/pati Karbohidrat pangan/pati Pangan/bahan kosemtika Pangan. Namun demikian melalui proses persilangan.3. ke­ tela. Tabel 6. semakin banyak jenis tum­ buhan hasil rekayasa genetik seperti padi.Keanekaragaman Hayati Pseudochromis sp Foto­foto : Gerald Allen. sapi Bali. Afrika. esculenta Canna edulis Marantha arundinaceae Xanthosoma Nama Tanaman Taro Nenas The Pepaya Gula Bit Bayam Safflower Bunga matahari Selada Ubi Jalar Ubi Kayu Kol Rape Melon Mentimun Labu Ubi Kelapa Gadung Gembili Ganyong Garut Kimpul Daerah Asal India Amerika Selatan Asia Tengah Amerika Tengah Eropa Asia Barat Daya Near East USA bagian Tengah Mediterranean Amerika Tengah dan Amerika Selatan In the wild state Eropa Not exist in the wild Afrika Selatan India Amerika Asia. diduga Kalimantan meru­ pakan pusat keanekaragaman genetik durian. Plasma nutfah pada lembaga penelitian telah diman­ faatkan sejak puluhan tahun yang lalu. rapa Citrullus lanatus Cucumis sativus Cucurbite maxima Dioscorea spp D. Keanekaragaman plasma nut­ fah di Indonesia tampak pada berbagai hewan piara­ an. merpati dan kalkun serta hewan piaraan yang lain seperti cucak rowo. entok. Ternak penghasil pangan yang telah diusahakan adalah 5 jenis hewan ternak yaitu sapi biasa. CI Sumber: Tropika. Edisi Oktober 2008 6. Lalu 7 jenis ung­ gas yaitu ayam.rapa Brassica napus. jagung. domba dan babi. ayam bekisar. emping. Tidak ada satu mahklukpun yang sama persis dalam penampakan­ nya. jenis­jenis hewan ini memperbanyak khasanah ke­ anekaragaman genetik di Indonesia. pati (sebagai peluang export) dan pakan Pangan/kripik STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 0 . B. dan lain­lain. dan lain­lain. populasi sagu di Ambon mempunyai 6 macam pokok sagu yang berbeda. angsa. Dengan teknik budidaya.5. Matoa Pometia pinnata di Irian Jaya mempunyai 9 macam penampilan dari seluruh populasi yang ada. kambing. itik. jenis­jenis anggrek. Keanekaragaman genetik hewan ini tidak semunya berasal dari negeri sendiri. salak pondoh. Dengan kemampuan reproduksi baik vegetatif mau­ pun generatif. Sumber Daya Genetik Keanekaragaman genetik merupakan keanekaragaman sifat yang terdapat dalam satu jenis. Penggunaan plasma nutfah sebagai sumber persilangan dalam pengembangan varietas telah menghasilkan varie­ tas unggul pertanian. kerbau.

Untuk lebih jelasnya mengenai kerusakan hutan dapat dilihat pada Bab 4 Lahan dan Hutan. T. 228 ha adalah hutan lindung. luas kawasan hutan di Indonesia yang terbakar mencapai 6.39 ha. 2007 6.2. 86 ha taman buru dan 5. Asia Tenggara and Pasific Afrika Barat Malabar.turgidum Zea mays Persea americaca Arachis hypogaea Phaseolus vulgaris Cajanus cajan Glycine max Pisum sativum Vigna unguiculata Allium cepa : Allium fistulosum Allium sativum Gossypium barbadense G.42 ha merupakan taman nasional.glaberrima: Nigeria Utara New Guinea Asia Barat Daya Afrika Mediterranean. 6. perambahan kawasan hutan.974.5oC risiko kepunahan tumbuhan dan hewan akan meningkat menjadi sebe­ sar 20 – 30 %. Dengan naiknya suhu global rata­rata permukaan bumi sebesar 1. tercatat berbagai gangguan yang mengancam eksistensi dan kondisi kawasan hu­ tan.Keanekaragaman Hayati Tabel 6. O. Perubahan Ekosistem Ancaman yang paling utama dalam pelestarian eko­ sistem hutan adalah kebakaran hutan dan lahan. Fenomena perubahan iklim akhir­akhir ini juga merupakan suatu ancaman serius bagi keberlangsungan hidup keanekaragaman hayati di Indonesia. 349.59 m3 kayu bulat. Badan Litbang Pertanian. Ancaman terhadap keanekaragaman hayati di Indone­ sia umumnya disebabkan oleh kerusakan dan peman­ faatan yang berlebihan. pemanfaatan sumber daya hayati yang berlebihan. bahan kosmetika Karbohidrat Gula Karbohidrat Karbohidrat Karbohidrat/minyak/pakan Buah­buahan Protein/minyak goreng Sayuran Protein Protein/pangan/pakan Protein Protein Protein Bumbu Pakan/minyak kapas Vitamin/buah segar Vitamin/buah segar/obat tradisional mengurangi kerontokan rambut Minyak goreng Bumbu Buah segar Pangan/Vitamin/buah Buah­buahan Buah segar/ sirup Sumber : BB-Biogen. Himalayan Nilai dan manfaat Pangan. Near East Meksiko. Gangguan berupa penyerobotan kawasan hutan oleh masyarakat mencapai luasan 32. Indian Ocean. pati. Ancaman Keanekaragaman Hayati kungan yang dapat mengancam keseimbangan eko­ sistem secara keseluruhan. illegal logging. se­ dangkan gangguan terhadap tegakan hutan berupa penebangan ilegal diperkirakan telah mengakibatkan kehilangan kayu sebanyak 3. dan eksploi­ tasi yang bersifat destruktif turut memberikan andil besar dalam proses deforestasi dan degradasi ling­ 0 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 .sativa: tidak pasti O.5 – 2. Jenis Tanaman dan Manfaatnya (lanjutan) Spesies Amorphophalus sp.256. Amerika Tengah Amerika Tengah Amerika Selatan Amerika Tengah dan Selatan India China Ethiopia. 4 ha taman hutan raya.sativa Saccarhum officinarum Secale cereal Sorghum bicolor Triticum aestivum.x paradisiaca Cocos nucifera Elaeis guineensis Piper ningrum Cucumis melo Mangifera indica Fragaria x ananassa Malus pumila Nama Tanaman Iles­oiles Suweg Padi Tebu Rye Sorgum Gandum Jagung Alpukat Kacang Tanah Kacang buncis Kacang Gude Kedelai Kacang Polong Kacang tunggak Bawang Merah Bawang Putih Kapas Biji Pisang Kelapa Kelapa Sawit Lada Melon Mangga Strawberi Apel Daerah Asal Asia/Indonesia Asia/Indonesia O. Asia Tengah Ethiopia Asia Tengah Asia Tengah Amerika Selatan Malay peninsula/Indonesia Afrika.6 ha merupakan hutan suaka alam. Mediterranean.62 hektar (ha).Baratdaya India Eastern. M. Pada tahun 2007.2. Indian coasts.1. Dari luasan hutan yang terbakar itu.5. 40 ha taman wisata alam. Selama tahun 2007 pula. Afrika India Timur Laut Bersilang di Eropa pada abad ke 18 Asia Tengah. Oryza glaberrima.650.hirsutum Musa acuminate.678.

100. Belum lagi di pulau­pulau lain yang masih banyak eksplotasi monyet ekor panjang ini. dan 100 ekor untuk PS IPB.371 km2 dan di dalam kawasan konservasi menempati areal 7. monyet ekor panjang belum termasuk jenis satwa dilindungi secara hukum. berdasarkan pantauan ProFauna Indonesia.100 ekor. Pada tahun 2007. Selain itu. 3. Kuota tangkap ini belum disahkan oleh Departe­ men Kehutanan atau masih dalam proses.com STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 0 .Keanekaragaman Hayati 6. Namun demikian. Akan tetapi berdasarkan pantauan.100 ekor. Sumber: Profauna Indonesia.detik. Belum lagi pada banyak kasus. kuota tangkap keseluruhan adalah 5.2. kuota tangkap banyak disalahgunakan untuk penangkapan dengan tujuan perdagangan ilegal. kuota tangkap monyet ekor panjang dari alam diharapkan dapat diturunkan bahkan ditiadakan karena indikasi berkurangnya populasi di alam yang disebabkan hilangnya habitat. Pemanfaatan monyet ekor panjang untuk penelitian penyakit dan penelitian biofarma hendaknya segera digan­ tikan dengan alternatif bukan satwa. Kuota tangkap dari alam yang dikontrol pemerintah secara resmi pada tahun 2007 hanya 4. Tingginya harga barang­barang kerajinan yang berasal dari bagian tubuh satwa liar merupakan pemicu peningkatan perburuan dan perdagangan ile­ gal satwa liar. dengan rincian 2. kuota tangkap monyet ekor panjang adalah 4.000 ekor untuk riset biofarma. Peningkatan kuota penangkapan ini akan mengancam keberadaan dan kelangsungan hidup monyet ekor panjang di alam. Dalam beberapa kasus. kuota tangkap monyet ekor panjang 4. Habitat monyet ekor panjang telah hilang 70 % dari luas habitat semula 217.2. Jika rekomendasi LIPI tersebut disahkan.100 ekor.981 km2 menjadi 73. Se­ dangkan pada tahun 2006. tentunya mengancam keberadaan monyet ekor panjang di alam. 2007 Foto: www. Belum lagi di pulau­pulau lain yang masih mengeksplotasi monyet ekor panjang ini. dengan rincian 2. kuota tangkap monyet ekor panjang kembali naik.000 ekor yang dimanfaatkan hanya untuk pengganti induk tangkar (Kotak 2). kuota tangkap dari alam untuk monyet ekor panjang adalah sebanyak 2. tentunya akan mempengaruhi jumlah monyet ekor panjang di alam.000 ekor.000 ekor untuk induk penangkaran. penangkapan dari alam yang dijual bebas di pasar burung di Jawa dan Bali pada tahun 2007 tidak kurang dari 5. dan hilangnya habitat monyet ekor panjang akibat meningkatnya kegiatan pembangunan di semua sektor.000 ekor dan hanya dimanfaatkan untuk pengganti induk tangkar.000 untuk riset biofarma.100.525 km2. penangkapan dari alam yang dijual bebas di pasar bu­ rung di Pulau Jawa dan Bali pada tahun 2007 tidak kurang dari 5.100 ekor. Untuk tahun 2008. 3. kuota tangkap keseluruhan adalah 5. Pada tahun 2007. Dengan eksploitasi yang dilakukan secara terus­menerus. berdasarkan rekomendasi dari LIPI.000 ekor untuk induk penangkaran.000 ekor. Perdagangan Ilegal Terus Berjalan Kuota tangkap dari alam yang dikontrol pemerintah secara resmi untuk tahun 2007 hanya 4. Untuk tahun 2008. Kotak 6. Penurunan jumlah kuota tangkap sampai nihil untuk monyet ekor panjang adalah upaya perlindungan maksimal yang seharusnya bisa dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk mengatasi ancaman kepunahan satwa ini. selain penyebaran monyet ekor panjang yang tidak merata di setiap daerah. Di Indonesia.2 Kuota Monyet Ekor Panjang Terus Meningkat Berdasarkan rekomendasi dari LIPI. kuota tangkap dari alam untuk monyet ekor panjang adalah 2. Kuota tangkap monyet ekor panjang kembali naik. Perburuan dan Perdagangan Ilegal Satwa Liar Perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar meru­ pakan ancaman serius bagi kelangsungan hidup satwa tersebut. kuota tangkap banyak disalahgunakan untuk penangkapan dengan tujuan perdagangan ilegal. dan 100 ekor untuk PS IPB. Se­ dangkan pada tahun 2006.

padahal satwa ini tercantum dalam Appendix I CITES atau spesies sangat langka dan dilindungi.2. perambahan dan perusakan hutan serta pembakaran hutan) di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Kabupaten Lampung Timur.650 ekor serta telah dimasukkan dalam daftar merah sedang terancam punah. Jika kondisi tersebut tidak diperbaiki. Konflik ini terjadi karena aktivitas manusia di sekitar habitat satwa liar semakin tinggi yang mengganggu ketersediaan air. 08 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . dalam 50 tahun ke de­ pan. orang utan sebenarnya sudah dimasukkan dalam daftar satwa yang dilindungi dan bagi pemeliharanya merupakan pelanggaran hukum. Lampung. Sumber : Antara. Pihak­pihak yang menyerahkan satwa ini ke pusat rehabilitasi banyak disebabkan karena orang utan yang dipelihara sudah berumur lebih dari tiga tahun. sehingga untuk menangkap bayi orang utan. induknya harus dibunuh. Sejak adanya UU No 5 Tahun 1990 tentang Keanekaragaman Hayati dan Ekosistemnya. 3 ekor anjing dan 1 orang korban jiwa serta 1 ekor harimau. Dengan adanya UU tersebut banyak yang kemudian menyerahkan satwa liar peliharaannya kepada Balai Konservasi Sumber daya Alam. 10 Februari 2009 6. apa lagi karena habitat orang utan terus berkurang dengan kecepatan sampai 3 km2 per tahun. tiga di antaranya ada di Afrika dan satu spesies hanya ada di Indonesia dan Malaysia yakni orang utan. per­ buruan satwa dilindungi. Kemudian di tahun 2004 kasus itu turun menjadi 36 kasus. 2006 sebanyak 9 kasus dan di tahun 2007 juga se­ banyak 9 kasus. Jumlah populasi kedua jenis satwa langka ini merupakan separuh dari jumlah populasi 20 tahun lalu. Permasalahan lain karena kapasitas pusat­pusat rehabilitasipun sudah tak lagi mampu menampung orang utan yang ingin diserahkan pemiliknya dan adanya pihak­pihak yang kebal hukum memperdagangkannya secara ilegal. Pada tahun 2008 masih terdapat 5 kasus. setiap orang utan yang ditemukan dipelihara dengan ilegal tidak dimasukkan dalam dokumen penyitaan dan hanya dimasukkan dalam dokumen penyerahan. Namun dikarenakan adanya izin memelihara satwa liar yang sampai saat ini masih berlaku. Hal ini merupakan beban bagi si pemelihara karena biaya pemeliharaan yang harus dikeluarkan semakin besar. Kerusakan tanaman pertanian dan perkebunan serta ternak sering terjadi akibat konflik antara manusia dan satwa liar. Orang utan yang diperjualbelikan adalah orang utan bayi. pada sekitar bulan Maret dan April 2008 telah terjadi kon­ flik antara manusia dan harimau yang mengakibatkan kerugian 5 ekor kambing. satwa mangsa dan ruang jelajah bagi satwa liar tersebut. Namun pada akhirnya seringkali satwa liar yang berkonflik dengan manusia ini yang menjadi korban. Konflik Manusia dan Satwa Konflik antara manusia dan satwa liar cenderung se­ makin meningkat. tahun 2005 sebanyak 15 kasus. Menurut pakar orang utan dari LIPI.3 Tiap Tahun 500 Orang Utan Diperjualbelikan Lebih dari 500 ekor orang utan Kalimantan (Pongo Pygmaeus) beredar di pasaran setiap tahun. Berdasarkan hasil patroli Wildlife Response Unit di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan.3.000 ekor dan orang utan Sumatera (Pongo abelii) tinggal 6. orang utan Kalimantan akan punah. Populasi orang utan Kalimantan (Pongo pygmaeus) saat ini tinggal 50.Keanekaragaman Hayati Dalam laporan utama newsletter Satwa Liar Volume 5 Tahun III September 2008 dipaparkan bahwa pada tahun 2003 terdapat 56 kasus pidana pelanggaran perundangan lingkungan hidup (penebangan liar. Kotak 6. ada empat spesies kera besar di dunia.

negara lain sudah banyak memanfaatkan SDG yang berada di Indonesia.1. Banyak SDG Indonesia diteliti dan dimanfaatkan negara lain untuk dijadikan obat komersial dan dipatenkan. Banyak SDG yang dibudidayakan dan dimanfaatkan di Indonesia berasal dari negara lain. Dalam Taman Keanekaragaman Hayati juga ditanam 15.2. STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 0 .1.2 Konflik Antara Manusia dan Satwa Konflik antara manusia dan gajah di Ulu Semong. kondisi ini akan menjadi ancaman bagi kelestarian keanekaragaman hayati Indonesia.3.3. prosedur perijinan akses.wildlifecrimesunit. masih banyak permasalahan yang harus diupayakan penyelesaiannya agar pengaturan tersebut dapat diimplementasikan. 6.3.1. Apabila pemanfaatan SDG Indonesia ini terus dibiarkan. Sumber Daya Genetik Indonesia yang sangat kaya dengan sumber daya ge­ netik (SDG) belum memanfaatkan SDG asli Indonesia secara optimal.3. Namun demikian. Sebaliknya.Keanekaragaman Hayati Gambar 6. masing­masing negara pihak memiliki mandat untuk mengatur akses pada kekayaan sumber daya hayati yang berada di wilayah kedaulatannya dengan penerapan pengaturan nasional yang sesuai. 6. Sedangkan prinsip pengaturan perlindungan 6. konsep kepemilikan dari sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional. khususnya akses terhadap sumber daya ge­ netik dan pembagian keuntungan dari pemanfaatan­ nya. Pengendalian Kerusakan Keanekaragaman Hayati 1) Penanaman 12.000 bibit karet dan 4. Lampung Konflik antara manusia dan harimau di sekitar Taman Nasional Bukit Barisan Selatan Sumber: http://www. 2) Peresmian Taman Keanekaragaman Haya­ ti Jawa Tengah pada 27 November 2008. Se­ bagai anggota negara pihak pada Patent Cooperation Treaty (PCT)-WIPO dan WTO. maka dalam proses penyusunan pengaturan isu tersebut perlu dilakukan pembahasan khusus dengan instansi yang memiliki kewenangan dalam pengaturan perijinan perlindungan hak kekayaan intelektual.com/ 6. Mengacu pada pasal 15 KKH tersebut.4.000 tanaman yang terdiri dari 39 jenis tanaman lokal Jawa Tengah.000 bibit tanaman buah dan tanaman hutan di kawasan seluas 30 ha pada awal tahun 2008 dalam rangka rehabilitasi lahan kritis di daerah pe­ nyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. pengaturan perlindungan hak kekayaan intelektual yang ada masih mengadopsi penuh aturan yang ada pada TRIPs Agreement pada WTO. Pengembangan Kebijakan Pemanfaatan Sumber Daya Genetik Pada pasal 15 Konvensi Keanekaragaman Hayati telah diamanatkan mengenai pengaturan sumber daya genetik.2. cakupan wilayah akses. Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Kebijakan dan Program 6. Penggunaan varietas unggul secara monokultur. juga akan menggusur varietas lokal dan mempersempit basis genetis tanaman pertanian yang akhirnya ber­ potensi terhadap kepunahan varietas lokal tersebut. yang meliputi cakupan wilayah pengaturan sumber daya genetik. kelembagaan dan perlindungan hak kekayaan intelektual atas peman­ faatan sumber daya genetik. Mengingat isu yang terkait dengan perlindungan hak kekayaan intelektual atas pemanfaatan sumber daya genetik terkait dengan rejim hak kekayaan intelek­ tual. Pembagian keuntungan secara adil dan merata dari pemanfaatan sumber daya genetik tersebut juga diamanatkan dalam tujuan ketiga KKH.1.

3. Penyusunan Posisi Delri pada Conference of the Parties (COP) Convention on Biological Biodiversity (CBD) yang ke-9 Pertemuan COP­9 telah dilaksanakan di Bonn. Isu lain yang perlu mendapat perha­ tian pada sektor kehutanan adalah istilah illegal logging dalam draf rekomendasi konvensi yang dirubah men­ jadi illegal and unathorized harvesting. seperti yang akan dituang­ kan dalam penyempurnaan subtansi RUU Pengelolaan Sumber Daya Genetik. Perlu dilakukan penjajakan mengenai kemung­ kinan pembahasan sumber energi alternatif selain minyak kelapa sawit.1. seperti jarak. Indonesia. dokumen­ tasi secara lengkap mengenai sumber daya genetik sangat diperlukan guna mendukung upaya pengelolaan sumber daya genetik secara berkelanjutan dan men­ dukung upaya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual. karena tidak melihat hanya dari sisi penghasil kayu saja tetapi perlu dilihat dari sisi penerima kayu dimana pihak penerima atau konsumen juga memiliki tanggung jawab untuk tidak menggunakan kayu yang diperoleh secara ilegal. 6. A. termasuk sumber daya genetik. Beberapa isu yang dibahas pada pertemuan tersebut. Pada CBD terdapat ketentuan yang mengatur me­ ngenai pembagian keuntungan dari pemanfaatan sum­ ber daya genetik dan mengakui kedaulatan negara untuk mengatur sumber daya alam yang dimilikinya. palem­paleman dan kacang­kacangan lainnya sebagai energi alternatif. Sedangkan pada TRIPs Agreement tidak ada ketentuan yang mengatur mengenai pembagian keuntungan dari pemanfaatan sumber daya genetik yang telah diberikan hak perlind­ ungan kekayaan intelektualnya dan dikomersialisasi­ kan. Technical and Technological Advice (SBSTTA) Pertemuan SBSTTA telah dilaksanakan di Roma.Keanekaragaman Hayati yang ada pada TRIPs Agreement-WTO bertentangan dengan prinsip pengaturan yang ada pada CBD. Istilah ini akan menguntungkan bagi Indonesia. Pada TRIPs Agreement tidak ada ketentuan yang mengharuskan proses pemberian perlindungan hak kekayaan intelektual memperhatikan kedaulatan ne­ gara asal sumber daya genetik sehingga perlindungan hak kekayaan intelektual yang diberikan terkadang ti­ dak sesuai dengan aturan nasional asal sumber daya genetik tersebut. B. Pertemuan bertu­ juan untuk membahas implementasi pasal­pasal yang 0 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 .3. Implementasi Perangkat Konservasi Keanekaragaman Hayati Indonesia telah meratifikasi Konvensi Keaneka­ ragaman Hayati (KKH) melalui Undang­Undang No. Indonesia harus mem­ persiapkan pula database SDG dan pengetahuan tradi­ sional yang terkait dengan SDG. mengingat database ini merupakan hal yang sangat penting terkait dengan dasar atau bukti kepemilikan SDG dan pengetahuan tradisional bagi Indonesia apabila pengaturan interna­ sional akan diimplementasikan. khususnya biofuel. sebagai salah satu negara megabiodiversity harus mempersiapkan posisi atas isu tersebut agar dapat memperoleh manfaat dengan adanya pengaturan tersebut. Deputi III­KLH berfungsi sebagai koordinator dalam pelaksanaan pasal­pasal KKH dan agenda kerja na­ sional dari pelaksanaan keputusan Conference of the Parties (COP).3. Implementasi Kerangka Kerja Keamanan Hayati 1) Pembentukan Komisi Keamanan Hayati. Tujuan pertemuan ini adalah membahas beberapa isu sebagai bahan masukan pada pertemuan COP­9 dari segi teknis dan ilmiah berdasarkan hasil riset dan stu­ di ilmiah terhadap isu­isu yang terkait dengan CBD.4. Seiring dengan hal tersebut. singkong.5 Tahun 1994 dengan National Focal Point (NFP) adalah Deputi III Bidang Peningkatan SDA dan Pengenda­ lian Kerusakan Lingkungan­KLH. Dokumentasi ini diharapkan dapat digunakan sebagai informasi pendukung oleh pengambil keputusan dalam proses akses dan pembagian keuntungan atas peman­ faatannya. Gambaran sikap Indonesia pada tingkat internasional tersebut merefleksikan bagaimana pengaturan nasional akan diformulasikan dan diimplementasikan. Italia pada tanggal 18­22 Februari 2008 dengan dihadiri oleh wakil dari LIPI sebagai salah satu NFP SBSTTA. 2) Penyusunan manual pengkajian risiko dan pengelolaan risiko produk rekayasa genetik. 3) Penyusunan Strategi dan Rencana Aksi Ke­ anekaragaman Hayati Nasional. antara lain : 1) 2) 3) 4) 5) 6) Agricultural biodiversity Forest biodiversity Marine and coastal biodiversity Invasive alien species Climate change New and emerging isues relating to the conserva­ tion and sustainable use of biodiversity Hal penting yang perlu dicermati dan ditindaklanjuti adalah isu pemanfaatan energi alternatif. tebu. Sebagai NFP KKH. Jer­ man pada tanggal 18­30 Mei 2008. 6.1. Selain itu. Penyusunan Posisi Delri pada Pertemuan Subsidiary Body on Scientific.

Indonesia perlu melaksanakan lokakarya na­ sional dengan melibatkan berbagai pakar hukum internasional yang memahami isu ABS. 3) Protected areas Coral Triangle Initiative (CTI) yang merupakan ini­ siatif Pemerintah Indonesia. Di bidang kehutanan dan pertanian. 2. karena isu ini merupakan isu penting yang dibahas pada COP­9. Pada COP­9 telah berhasil disepakati Bonn Roadmap dalam menyelesaikan perundingan bagi pembentukan rezim internasional mengenai access and benefit sharing (ABS) yang harus selesai sebelum COP­10 tahun 2010. Pada pertemuan tersebut disampaikan beberapa hal antara lain : 1. Indonesia perlu melakukan kajian hukum serta manfaat bagi In­ donesia dan bagaimana konsekuensi terhadap aturan nasional. Beberapa isu yang diba­ has. hutan lindung. Indonesia perlu mengadakan lokakarya nasional dan kajian sustainable production and use of biofuels untuk meningkatkan manfaat dan mengurangi dampak negatifnya. 3. Isu pemanfaatan komponen kehati sebagai sumber energi alternatif (biofuel) perlu mendapat perha­ tian besar.3. kawasan plasma nutfah dan kawasan bergambut. Delri menyampaikan perlu adanya sinergi antara ketiga konvensi. variasi genetik dan habitat dalam ekosistem aslinya. taman wi­ sata alam. 2) Access and benefit sharing (ABS) Delri menyampaikan pentingnya negara pihak un­ tuk dapat segera menyelesaikan pembahasan ABS serta mencapai kesepakatan mengenai rejim in­ ternasional ABS sebelum COP­10 pada tahun 2010. Papua dalam konservasi laut.2. 6. Untuk membentuk rezim internasional mengenai ABS. Pendekatan in-situ juga termasuk pengelolaan satwa liar dan strategi perlindungan sumber daya di luar kawasan lindung. Pada bulan Juni 2008. UNFCC dan UNCCD. sempadan sungai. yaitu KKH. C. 2. Pada sosialisasi tersebut disampaikan pro­ gram kerja yang ada pada KKH dan menyampaikan informasi tentang agenda pertemuan pakar maupun working group yang diterima dari Sekretariat KKH. 4) Climate Change. Hal ini telah ditindaklanjuti yaitu dengan melibatkan pakar hu­ 1) 2) 3) 4) 5) kum internasional. suaka margasatwa. antara lain : Agriculture biodiversity Forest biodiversity Protected areas Access and benefit sharing Article 8(j) and related provisions (traditional knowledge) 6) Biodiversity in marine and coastal areas 7) Global Taxonomy Initiative (GTI) 8) Global Strategy for Plant Conservation (GSPC) 9) Biodiversity and Climate Change 10)Financial resources and financial mechanism Isu yang menjadi perhatian utama Delegasi Republik Indonesia (Delri) antara lain: 1) Agriculture biodiversity and biofuel Indonesia menekankan perlunya melakukan upa­ ya­upaya untuk meningkatkan manfaat positif dan mengurangi dampak negatif dari produksi dan penggunaan biofuel secara berkelanjutan. pendekatan insitu juga digunakan untuk melindungi keanekaragaman genetik tanaman di habitat aslinya serta penetapan spesies dilindungi tanpa menspesifikasikan habitat­ nya. Hal ini didasari adanya indikasi praktik pembukaan hutan dan kawasan gambut untuk penanaman tanaman sumber alter­ natif energi (kelapa sawit dan jarak) yang menye­ babkan kemerosotan keanekaragaman hayati. Sebelum menetapkan rezim internasional untuk ABS di COP­10 pada tahun 2010. Konservasi In-Situ Konservasi in-situ merupakan metode dan alat untuk melindungi jenis. Beberapa hal yang perlu ditindaklanjuti dari COP­9 antara lain : 1. Para pakar ini diharapkan dapat memberikan analisis hukum dan rekomendasi atas komponen­komponen dari rancangan rezim internasional ABS yang akan di­ negosiasikan melalui Ad Hoc Open-Ended Working Group on ABS mulai tahun 2009.Keanekaragaman Hayati ada pada KKH serta menjalin kerjasama antar pihak dalam melaksanakan KKH. Masing­masing sektor akan menindaklanjuti kepu­ tusan­keputusan COP­9 sesuai dengan tupoksi masing­masing sektor. Philipina. KLH sebagai NFP KKH me­ ngadakan sosialisasi ke berbagai stakeholder tentang hasil COP­9. Sosialisasi KKH dan Hasil COP-9 CBD kepada Stakeholder KKH telah disosialisasikan ke berbagai stakeholder baik di pusat maupun di daerah (Yogyakarta dan Makasar). Pendekatan in-situ meliputi pene­ tapan dan pengelolaan kawasan lindung seperti : cagar alam. taman nasional. STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008  .

00 4.30 767.32 Unit 8 6 7 19 ­ ­ 40 Perairan Luas (Ha) 273.64 1.44 5. bank biji.816.6. percobaan.816. Konservasi Plasma Nutfah dan akhir­akhir ini berkembang dengan pelestarian lekat lahan (on-farm conservation) untuk tanaman ekonomis. Termasuk di sini adalah plasma nutfah nabati dan jasad renik.34 257.42 No 1. dan 8 unit Cagar Alam perairan dengan luas sekitar 273.298.318.316. dan telah tersedia pula pedoman pengelolaannya (Komisi Nasional Plasma Nutfah.54 5.04 28.515. kebun plasma nutfah. kebun koleksi. perguruan tinggi.06 16. Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Ta­ hun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa.44 ha.789.91 224.099.341. Bahkan akhir­akhir ini telah ditetapkan “Kawasan Pelestarian Plasma Nutfah“ di setiap Areal Hak Pe­ ngusahaan Hutan (HPH) seluas minimal 300 ha.Keanekaragaman Hayati Tabel 6. cagar biosver. 3.541.70 ­ ­ 5. Program pelestarian in-situ dilakukan di habitatnya (tempat tumbuh aslinya). 2. pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa di luar habi­ tatnya (ex-situ) dilaksanakan untuk menyelamatkan sumber daya genetik dan populasi jenis tumbuhan dan satwa. seperti yang dilaporkan oleh KPPNN (1982).120. satwa liar dan organisme mikro serta va­ rietas genetik di luar habitat atau ekosistem aslinya. Sedangkan Suaka Margasatwa darat sebanyak 75 unit dengan luas 5.23 343. Program pelestarian ex-situ merupakan salah satu butir yang tertuang dalam konvensi tentang keaneka­ ragaman hayati.3. Dalam metode tersebut termasuk: pembangunan kebun raya. metode ek-situ mengisolasi jenis dari pro­ ses­proses evolusi. 1997).117. yaitu konservasi in-situ dan ex-situ  STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . 5. 6. 2008 Pada tahun 2007.180.588. penyimpanan atau pengklonan karena alasan: (1) habitat mengalami kerusakan akibat konversi.588.437. 4.423. Di dalam dokumen itu disebutkan pula bahwa terutama di negara­negara asal komponen keanekaragaman hayati berada perlu dikembangkan konservasi ex-situ. arbore­ tum. Jumlah dan Luas Kawasan Konservasi Tahun 2007 Daratan Unit 236 75 50 105 21 14 501 Luas (Ha) 4. kawasan pelestari­ an alam (taman nasional. koleksi kultur jaringan dan kebun binatang. tetapi perlu pula disebutkan bahwa tindakan pelestarian tersebut telah pula dilakukan jauh sebelum Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati dicanangkan.812.515. 6.454. (2) materi tersebut dapat digunakan untuk penelitian.3.438.53 343. museum. namun pelestarian mikroba (jasad renik) secara ex-situ masih terbatas pada lembaga peneli­ tian. Sedangkan pelestari­ an ex-situ dilakukan dengan memindahkan individu dari tempat tumbuh alaminya dan dilestarikan di tem­ pat lain seperti: di Bank Gen.00 ha. yaitu di dalam kawasan suaka alam (cagar alam).940.862.043. 6.099.216. terdapat 236 unit Cagar Alam Da­ rat dengan total luas 4. Upaya ini meliputi juga koleksi jenis tumbuhan dan satwa di lembaga konservasi. Konservasi Ex-Situ Konservasi ex-situ bertujuan untuk melindungi jenis tanaman. Walaupun program pelestarian plasma nutfah dalam dasawarsa terakhir semakin meningkat.665.3.849.849.91 224. hutan rawa).00 ha.454.4.024. petani dan masyarakat tradisional. koleksi mikologi. LSM. Kegiatan yang umum dilakukan antara lain penang­ karan.10 Jumlah Daratan dan Perairan Unit 244 81 57 124 21 14 541 Luas (Ha) 4.04 22.235.06 12. Konservasi plasma nutfah pada dasarnya dilakukan dengan dua cara. Kegiatan pelestarian plasma nutfah tumbuhan dan tanaman telah lama di­ lakukan oleh berbagai pihak seperti lembaga peneli­ tian. Mengingat bahwa organisme dikelola dalam lingkung­ an buatan.10 338.06 ha serta 6 unit Suaka Margasatwa perairan dengan luas sekitar 338.940.435. kebun botani dan koleksi biak. Fungsi Kawasan Konservasi Cagar alam Suaka Margasatwa Taman Nasional Taman Wisata Alam Taman Hutan Raya Taman Buru Jumlah Kawasan Konservasi Sumber: Departemen Kehutanan.757.665. pengembangan produk baru atau pendi­ dikan lingkungan.

buah­bua­ han. • Nusa Tenggara Barat (padi. 6. • Irian Jaya (padi liar) (Merauke dan Taman Na­ sional). anggrek). pisang. 2007 Total Koleksi 3583 (aksesi) 90 875 209 750 917 1194 180 1767 560 190 220 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008  . buah­ buahan. • Sumatera Selatan (padi. 3. ubi­ubian). 2). • Maluku (padi dan palawija. • Kalimantan Tengah (padi). 9. 5.7. Jenis Tanaman Padi ( O. • Sulawesi Tenggara (buah­buahan. • Sulawesi Selatan (padi dan palawija). ubi­ubian. Pendokumentasian koleksi (database). kelapa). 4. 8. ubi­ubian. 4). kacang­kacangan). walaupun hasil yang diperoleh masih jauh dari mencukupi karena terbatasnya dana dan tenaga. • Sulawesi Tengah (padi dan palawija). • Kalimantan Selatan (padi. pisang. 6. tanaman hias). pisang. ubi­ ubian). Jumlah koleksi plasma nutfah pertanian yang telah dikumpulkan di Badan Litbang tertera dalam Tabel 6. kacang­ kacangan. Dipterocarpaceae). tumbuhan hidup. ubi­ubian.7. Provinsi­provinsi yang pernah dieksplorasi adalah: • Aceh (padi dari seluruh kabupaten). 7. dan 6. buah­buahan. ubi­ubian). anggrek. 1. dan spesimen herbarium dari tumbuhan liar maupun tanaman budidaya.Keanekaragaman Hayati a. Eksplorasi dan pengumpulan yang dilakukan ham­ pir di seluruh provinsi di Indonesia.9 dikonservasi di Bank Gen (Cold Storage dan Koleksi Lapang). tebu. • Nusa Tenggara Timur (padi. anggrek. • Sumatera Barat (padi. Kegiatan pelestarian ex-situ 1). Pinus merkusii. ubi­ ubian. 10. • Sumatera Utara (padi dan palawija. anggrek. buah­buahan. • Kalimantan Barat (padi dan palawija. 3).) Jagung Sorgum Kacang kedelai Kacang hijau Kacang tanah Kacang potensial Ubi jalar Ubi kayu Ubi­ubian potensial Talas Sumber: BB-Biogen. Pemonitoran erosi dari koleksi. kacang­kacangan. 11. • Kalimantan Timur (padi.8. • Bali (padi. sayur­sayuran). kedelai). • Seluruh Pulau Jawa (padi dan palawija. • Jambi dan Bengkulu (padi dan palawija). buah­buah­ an. Eucalyptus). Koleksi Plasma Nutfah Padi dan Palawija No. anggrek. ubi­ubian. Tabel 6. tebu. kacang­kacangan). • Lampung (padi dan palawija). • Sulawesi Utara (padi. rotan). Karakterisasi dan evaluasi sifat. Pinus merkusii). sativa) Padi liar (wild rice spp. Pengumpulan dilakukan dalam bentuk biji. 2. Pericopsis.

kebun kolek­ si spesies.Keanekaragaman Hayati Tabel 6. Koleksi plasma nutfah ini pada dasarnya dimaksudkan untuk mendukung pro­ gram pemuliaan. sehingga sifat koleksi lebih sebagai “Koleksi material kerja” (working collection). 2007 Pengelolaan operasional plasma nutfah tanaman se­ bagaian besar dilaksanakan oleh Pusat Penelitian dan Balai Penelitian Komoditas Pertanian. Solok (Sumbar) BPTP Sumut (Gurgur) BPTP Sukarami Sukarami Cipanas Segunung Ps. Jember Balit Kopi dan Kakao. Medan Balitka. cagar alam. Subang Balitbu. Koleksi Plasma Nutfah oleh LIPI Kegiatan pelestarian keragaman plasma nutfah tana­ man di lingkup institusi LIPI merupakan bagian dari koleksi spesies tanaman (keragaman hayati flora) dalam bentuk kebun raya. Minggu Jumlah 274 jenis 1507 aksesi 52 jenis 190 klon pisang dan 22 jenis buah lainnya 73 jenis 5 jenis 5 jenis 33 jenis 23 jenis 25 jenis Tanaman hias (mawar) Sumber: BB-Biogen. Gambung Balit Teh dan Kina. Pusat atau Balai Penelitian komo­ ditas mengelola koleksi plasma nutfah komoditi yang menjadi tanggung jawabnya. bambu. Manado Pasuruan Sumber: BB-Biogen. b. Gambung Balit Kopi dan Kakao. dan beberapa tanaman lainnya seperti (koleksi ubi­ubian: Colocasia.  STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . Manado Balitka. Manado Balitka. Koleksi plasma nutfah tanaman dilaku­ kan terhadap spesies anggrek. Manado Balitka. Rempah dan Obat 2007 Komoditas Rempah dan obat Sayuran Buah­buahan Lokasi Balitro­Bogor Balitsa­Lembang BPTP. Jember PPKS.9 Plasma Nutfah Tanaman Serat dan Perkebunan 2007 Komoditas Tanaman serat ­ Kapas ­ Tembakau ­ Rami ­ Kenaf ­ Wijen ­ Jarak Kepyar (untuk pelumas) ­ Jarak Pagar(untuk Biofuel) ­ Rosella ­ Kapuk ­ Abaca ­ Linum Karet Kina Teh Kopi Kakao Kelapa sawit Kelapa Pinang Sagu Aren Tebu Lokasi Balit Tembakau dan Tanaman Serat.8 Koleksi Plasma Nutfah Tanaman Hortikultura. Malang Jumlah aksesi 43 jenis 678 1335 70 194 1527 54 28 9130 600 870 1292 570 7788 64 33 7 15 6009 aksesi Medan Balit Teh dan Kina. 2007 Tabel 6. di bawah Badan Litbang Pertanian.

mangga. buah­buahan: pisang. ka­ cang­kacangan: Phosphocarpus. STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008  . seperti durian. atau perusahaan yang berkai­ tan dengan usaha­komersial tanaman hias. meneliti. Xanthosoma. membantu re-stocking populasi hidupan liar yang ada di alam. Universitas Udayana (jeruk). palem. anggrek. Padi Mayas di Kalimantan Timur). Universitas Mulawarman (koleksi padi). kacang­kacangan. Sebagai contoh: Institut Pertanian Bogor (koleksi rambutan. umbi­umbian (yam/Dioscorea). Fakultas Pertanian UNIBRAW koleksi pisang. Fakultas Pertanian Univ. karena eksploitasi dan konversi hutan yang kurang bersifat konservatif.3. paku danum. Mengingat pentingnya plasma nutfah sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa. pemerintah telah mendorong pengembangan berbagai kegiatan penang­ karan flora dan fauna. rotan dan kemung­ kinan masih banyak spesies tanaman lain yang plasma nutfahnya cukup banyak yang belum teridentifikasi. Siramos. Cajanus. Jember koleksi tembakau. Walaupun setiap petani mungkin hanya memiliki satu­dua varietas lokal alamiah. koperasi. c. tana­ man industri: tanaman obat. Ka­ rang Taruna banyak memiliki kebun koleksi spesies (koleksi keragaman hayati). Arias di Sumatera Utara. padi gogo. buah­buahan lain. 6. seperti anggrek. sayur­sayuran: Amaranthus. salak.5. nangka. kentang dan ubi­ubian). dan LSM di Kalimantan Barat. status koleksi plasma nutfahnya minimal. g. tebu. sering mempunyai koleksi plasma nutfah dari spesies ter­ tentu. d. Fakultas Pertanian UNPAD koleksi kedelai. Kegiatan ini terutama dilaku­ kan untuk menyelamatkan spesies flora dan fauna yang terancam punah. Yayasan Padi di Kalimantan Timur. Padi spesifik di daerah masing­masing (Mentik dan Rojolele di Jawa Tengah.Keanekaragaman Hayati Dioscorea.10). pemeliharaan koleksi plasma nutfah di Fakultas Pertanian perlu lebih di­ tingkatkan. Koleksi Plasma Nutfah pada Petani di Pedesaan Plasma nutfah tanaman yang berupa varietas lokal banyak dipelihara petani dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan dan usaha budidaya. maka total koleksi plasma nutfah varietas lokal untuk komoditi tertentu sangat besar. dan lain­lain. Plasma Nutfah di Habitat Asli (in-situ) Plasma nutfah yang terdapat di habitat asli terutama adalah plasma nutfah spesies asli Indonesia. Koleksi Plasma Nutfah di Fakultas Pertanian Secara terbatas. pisang. Pelestarian plasma nutfah secara in-situ ini sangat ra­ wan kerusakan. mawar. rambutan. e. biak jasa renik) – biji simpan aktif. masing­masing spesies terdiri dari beberapa “varietas”. Pada koleksi spesies yang berupa koleksi keragaman hayati. jenis kacang lain. cabe merah. Penangkaran dan Budidaya Agar tidak mengalami kepunahan. Koleksi tanaman hias merupakan komoditas penting dalam perdagangan in­ ternasional. f. alpukat. tebu. tetapi dengan banyaknya petani di seluruh Indonesia. durian. dan memenuhi kebutuhan permintaan pasar baik domestik maupun ekspor. Kebijakan pelestari­ an plasma nutfah secara in-situ kita masih lemah. tetapi koleksinya terbatas pada plasma nutfah yang memiliki keunikan sifat hiasan. palem. Koleksi Plasma Nutfah oleh Pengusaha Perorangan. LSM pelestari padi yakni : SPTN – HPS (DIY). Contoh : Petani Tradisional Dayak melestarikan : padi. Fakultas Pertanian UGM memiliki koleksi ganyong. tanaman hidup. pisang dan kede­ lai. Glycine. anggrek. Koleksi Plasma Nutfah pada Lembaga Non Pemerintah LSM dan Lembaga kemasyarakatan seperti PKK. namun konservasinya belum optimum. lain­lain: koleksi kebun raya. Penangkaran untuk tujuan pemanfaatan jenis tum­ buhan dan satwa liar dilakukan melalui kegiatan pengembangbiakan satwa atau perbanyakan tumbuh­ an secara buatan dalam lingkungan yang terkontrol dan penetasan telur dan atau pembesaran anakan yang diambil dari alam (Tabel 6. Padi Sikodok. Amorphophallus. beberapa Fakultas Pertanian memi­ liki koleksi plasma nutfah tanaman. Mucuna. Universitas Sebelas Ma­ ret (koleksi mangga). Vigna. Alocasia.

2008  STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . Satwa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Nangroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Bengkulu Sumatera Selatan Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimatan Selatan Kalimatan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Maluku Papua Jumlah B 213 ­ 5 ­ 8 ­ ­ 4 ­ 14 26 2 1 1 7 2 2 69 1 2 3 5 ­ 5 ­ 56 ­ ­ ­ 7 ­ ­ ­ 1 7 16 2 1 2 17 ­ 2 ­ ­ ­ ­ ­ 1 1 ­ ­ ­ 57 ­ ­ ­ ­ ­ 1 5 1 1 8 2007 Tumbuhan dan Satwa Liar yang Tidak Dilindungi 2006 2007 Sumber: Departemen Kehutanan. Tumbuhan 1 2 3 4 Sumatera Utara Jawa Barat Jawa Timur Sulawesi Selatan Jumlah A B.10 Jumlah Penangkaran Satwa dan Tumbuhan 2006 dan 2007 Jumlah Perusahaan Penangkar NO Provinsi Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi 2006 A.Keanekaragaman Hayati Tabel 6.

Kemedangan. Isolat tersebut kemudian diidentifikasi berdasar tak­ STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008  . Kemedangan (A. dan Klas Abu. Sejarah ekologi di kawasan tertentu sudah dimiliki masyarakat lokal dengan melakukan pemanfaatan berdasarkan pengetahuan tradisional. Pene­ litian yang dilakukan juga telah menghasilkan empat isolat jamur pembentuk gaharu yang telah teruji dan mampu membentuk infeksi gaharu dengan cepat. Inokulasi menggunakan isolat jamur tersebut telah menunjukkan tanda­tanda keberhasilan hanya dalam waktu satu bulan. yaitu Super (Super King. Kalimantan Barat. 6. Secara teknis. Klasifikasi mutu tersebut ber­ beda dengan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang membagi mutu gaharu menjadi 3 yaitu Klas Gubal. Badan Litbang Kehutanan melakukan upaya konservasi dan budidaya serta rekayasa untuk mempercepat produksi gaharu den­ gan teknologi induksi atau inokulasi.Keanekaragaman Hayati sonomi dan morfologi lalu dilakukan proses skrining untuk memastikan bahwa jamur yang memberikan respon pembentukan gaharu sesuai dengan jenis po­ hon penghasil gaharu agar memberikan hasil optimal. C. Kacangan (Kacangan A. Penanaman Pohon di TWA Gunung Pancar Aksi penanaman dan pemeliharaan pohon ini dilaku­ kan dalam lanjutan rangkaian acara Hari Ulang Ta­ hun (HUT) KORPRI ke 37 tanggal 29 November 2008. Di pasar dalam negeri. a. Diharapkan keg­ iatan ini dapat memicu dan memotivasi seluruh ang­ gota KORPRI baik di pusat maupun di daerah yang jumlahnya lebih dari 4 juta orang. Perbedaan klasifikasi tersebut sering merugikan pencari gaharu karena ti­ dak didasari dengan kriteria yang jelas (Pusat Peneli­ tian dan Pengembangan Kehutanan. Tahap selanjutnya adalah perbanyakan jamur pem­ bentuk gaharu tadi. dan terakhir pemanenan. persemaian. dan C). dan Banten (Carita). Pola pemanfaatan tradisional yang berkelanjutan dapat dijadikan pertimbangan dalam penyusunan perenca­ naan pembangunan daerah.3. hingga pemeli­ haraannya. Gerakan Menanam Pengelolaan atau konservasi keanekaragaman hayati merupakan tanggung jawab pemerintah serta semua pihak terkait seperti organisasi non pemerintah. kualitas gaharu dikelompokkan menjadi 6 kelas mutu. Tanggung. B. Untuk mengantisipasi kemungkinan punahnya pohon penghasil gaharu jenis­jenis langka sekaligus peman­ faatannya secara lestari. B. peran pemerintah daerah dan ma­ syarakatnya sangat penting dalam menilai keberadaan kenakeragaman hayati sebagai aset pembangunan. penanaman. dalam kegiatan Bhakti Lingkungan. Super AB). untuk ikut berpar­ tisipasi mensukseskan gerakan penanaman 100 juta pohon pada Bulan Desember sebagai Bulan Menanam Pohon Nasional. kemudian induksi. Pada tingkat lokal. Teri (Teri A. Keberhasilan kerjasama mitra konservasi dapat ditentukan dengan melihat tingkat kesejahteraan masyarakat dan pemerintah serta tingkat kerusakan ekosistem.3. Bogor). ka­ langan akademi. garis besar tahapan rekayasa produksi gaharu dimulai dengan isolasi jamur pembentuk yang diambil dari pohon penghasil gaharu sesuai jenis dan ekologi sebaran tumbuh pohon yang dibudidayakan. Teri Kulit A. Serangkaian penelitian yang dilakukan Badan Litbang Kehutanan saat ini telah menghasilkan teknik budi­ daya pohon penghasil gaharu dengan baik.6. C) dan Suloan. Kerjasama di tingkat lokal ini bertujuan utama un­ tuk menjaga kelestarian keanekaragaman hayati di kawasan lokal. Uji coba telah dilakukan di Kaliman­ tan Selatan. B). Kemitraan Gambar 6. Jawa Barat (Sukabumi dan Darmaga). Super. mulai dari perbenihan. B. lembaga penelitian serta masyarakat yang diwujudkan melalui konsep pengelolaan sumber daya alam secara terpadu dengan memasukkan prin­ sip pendekatan ekosistem. Sejumlah isolat jamur pembentuk gaharu hasil eksplorasi dari berbagai daerah di Indonesia telah teridentifikasi berdasar ciri morfologis.

yang pertama sambutan selamat datang oleh Gubernur Banten. ditanam lebih dari 400 po­ hon. salam.4. tracking. Banten Gerakan Aksi Penanaman Pohon di Desa Ciuyah yang dipimpin oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla akan diikuti antara lain oleh Menteri Kehutanan. dan perbaikan ling­ kungan. Pemda Lebak. Aksi Penanaman Pohon Serentak di Desa Ciuyah. Sengon. Sedangkan jenis MPTS an­ tara lain Mangga. PLN. sangat bermanfaat untuk merehabilitasi hutan. durian. serta gubernur dan muspida Banten. Panglima TNI. Forum Reklamasi Bekas Tambang. Aksi penanaman pohon ini menanami areal seluas 10 ha dengan berbagai jenis tanaman kayu­kayuan dan tanaman serbaguna antara lain nyamplung. Flamboyan. Pada Aksi Penanaman dan Pemeliharaan Pohon di TWA Gunung Pancar ini. 8 STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008 . Menteri Kehutanan akan menyerahkan bibit jenis unggul Kelengkeng Bola Pingpong. Taman Wisata Alam Gunung Pancar merupakan Ka­ wasan Pelestarian Alam seluas 447. contoh dan teladan dalam upaya rehabilitasi lahan dan hutan serta perbaikan lingkungan melalui upaya penanaman dan pemeli­ haraan pohon. buni.Keanekaragaman Hayati Gambar 6. Kepada Para Ketua Unit Nasional KORPRI. serta mengatasi kekeringan dan kekurangan air bersih di musim kemarau. Bintaro. beberapa menteri kabinet Indonesia Bersatu. Bibit jenis kayu­kayuan antara lain Mahoni. ke­ mang. mangga. Selain berada di dekat wilayah perkotaan yaitu Jakarta dan Bogor. dan TNI. Menteri Kehutanan dan Wakil Presiden RI. Sebelumnya. outbond. sengon. Kegiatan penanaman pohon pengembangan hutan rakyat juga dilakukan di Desa Mekarsari seluas 25 ha oleh masyarakat setem­ pat beserta Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabu­ paten Lebak. Filisium. Sususan acara ger­ akan aksi penanaman pohon adalah. dilanjutkan sambutan Panglima TNI. Bungur. berke­ mah.5 km berawal dari kota Serang sampai dengan lokasi aksi penanaman di Desa Ciuyah. Lebak. Keberhasilan rakyat Indonesia dalam Gerakan Pena­ naman dan Pemeliharaan Pohon. Kemu­ dian doa dilanjutkan dengan penanaman pohon secara serentak yang dipimpin oleh Wakil Presiden RI. dan pendorong pembaharuan maupun kegiatan pada ma­ syarakat. pulai. suren. pada bulan November sampai dengan Desember 2008 telah ditanami pohon turus jalan sepanjang 26. Menanam pohon Mengingat KORPRI sebagai bagian dari elite masyara­ kat yang dapat menjadi pelopor. Ibu Ratu Atut Chosiah.5 ha yang me­ miliki nilai strategis. puspa. Kawasan Gunung Pancar ini juga mempunyai potensi alam yang sangat menarik untuk kegiatan wisata alam seperti hiking. lahan. damar. maka sangat strategis peran KORPRI untuk menjadi pelopor. bersepeda. Rambutan dan Lengkeng. pemrakarsa. mahoni. Manfaat penanaman dan pemeliharaan pohon ini antara lain : mencegah pemanasan global dan pe­ rubahan iklim secara ekstrem. b. menghindari berbagai bencana alam banjir dan tanah longsor di musim hu­ jan. untuk ditanam di lingkungan kantor mas­ ing­masing. dan pala. sukun. Acacia mangium. dengan jenis kayu­kayuan dan Multi Purpose Trees Spesies (MPTS) oleh Para Ketua dan Anggota Unit Nasional KORPRI. hutan di Kawasan Gunung Pancar ini menjadi salah satu sumber air bagi pemukiman penduduk di Kecamatan Babakan Madang dan perumahan Bukit Sentul serta menjadi sumber air bagi DAS Cikeas. yang merupakan parti­ sipasi dari APHI. penggerak. dan pemandian air panas bebas belerang dengan suhu 600oC.

Kebakaran hutan mengahancurkan keanekaragaman hayati Foto: Dok PPLH Reg Sumatera STATUS LINGKUNGAN HIDUP INDONESIA 2008  .3.Keanekaragaman Hayati Gambar 6.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful