Anda di halaman 1dari 11

ERISIPELAS DAN SELULITIS

Meutia Arini Yasrizal


Pembimbing : Prof.dr.Suroso Adi Nugroho, Sp.KK (K)
Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
RSUP Mohammad Hoesin Palembang

PENDAHULUAN
Penyakit kulit karena infeksi bakteri yang sering diterjadi disebut pioderma.
Pioderma disebabkan oleh bakteri gram positif staphyllococcus, terutama S. aureus dan
streptococcus atau keduanya. Faktor predisposisinya yaitu higiene yang kurang,
menurunnya daya tahan tubuh (mengidap penyakit menahun, kurang gizi,
keganasan/kanker dan sebagainya) dan adanya penyakit lain di kulit yang menyebabkan
fungsi perlindungan kulit terganggu.1
Erisipelas dan Selulitis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh
bakteri,yang menyerang jaringan subkutis dan daerah superficial (epidermis dan dermis).
Faktor resiko untuk terjadinya infeksi ini adalah trauma lokal (robekan kulit), luka terbuka di
kulit atau gangguan pada pembuluh vena maupun pembuluh getah bening. Angka kejadian
infeksi kulit ini kira-kira mencapai 10% pasien yang dirawat di rumah sakit.2
Daerah predilesi yang sering terkena yaitu wajah, badan, genitalia dan ekstremitas atas
dan bawah. Sekitar 85% kasus erysipelas dan selulitis terjadi pada kaki daripada wajah, dan
pada individu dari semua ras dan kedua jenis kelamin.3 Permulaan erysipelas dan selulitis
didahului oleh gejala prodormal, seperti demam dan malaise, kemudian diikuti dengan tanda-
tanda peradangan yaitu bengkak, nyeri, dan kemerahan. Diagnosis penyakit ini dapat
ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis. Penanganannya perlu memperhatikan
faktor predisposisi dan komplikasi yang ada.
Dari referat ini diharapkan agar pembaca dapat mendiagnosis dan memberikan terapi
yang sesuai terhadap pasien erisipelas dan selulitis yang akan ditemui pada praktik
kedokteran.

1
ERISIPELAS
DEFINISI
Erisipelas merupakan bentuk selulitis superfisial yang mengenai pembuluh limfe dan
disebabkan oleh Streptokokus betahemolitikus grup A ( Jarang ditemukan streptococcus grup
C dan G) dan jarang yang disebabkan oleh S.aureus.2 Erisipelas dapat terjadi pada semua usia
dan semua bangsa atau ras , namun paling sering terjadi pada bayi, anak dan usia lanjut.
Sekitar 85 % Erysipelas terjadi di kaki dan wajah, sedangkan sebagian kecil dapat terjadi di
tangan, perut dan leher serta tempat lainnya.3

ETIOLOGI
Streptococcus adalah penyebab utama erisipelas. Sebagian besar infeksi erysipelas
wajah disebabkan oleh streptokokus grup A, sedangkan infeksi erysipelas pada ekstrimitas
atas dan bawah disebabkan oleh non-kelompok streptokokus A (streptococcus G atau C).
Racun streptococcus ini diperkirakan berkontribusi terjadinya peradangan cepat yang
menjadikan pathognomonic infeksi ini. Baru-baru ini, bentuk atipikal dilaporkan telah
disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, Klebsiella pneumoniae, Haemophilus influenzae,
enterocolitica Yersinia, dan spesies Moraxella.3

FAKTOR PREDISPOSISI
Erysipelas terjadi oleh penyebaran infeksi yang diawali dengan berbagai kondisi yang
berpotensi timbulnya kolonisasi bekteri, misalnya: luka, koreng, infeksi penyakit kulit lain,
luka operasi dan sejenisnya, serta kurang bagusnya hygiene. Selain itu, Erisipelas dapat terjadi
pada seseorang yang mengalami penurunan daya tahan tubuh, misalnya: diabetes millitus,
malnutrisi (kurang gizi), dan lain-lain.3

GEJALA KLINIS
Erisipelas pada umumnya diawali dengan gejala-gejala prodormal, yaitu panas,
menggigil, sakit kepala, nyeri sendi, muntah dan rasa lemah. Pada kulit nampak kemerahan,
berbatas tegas dengan bagian tepi meninggi, nyeri dan teraba panas pada area tersebut. Di
permukaan kulit adakalanya dijumpai gelembung kulit (bula) yang berisi cairan kekuningan
(seropurulen). Pada keadaan yang berat, kulit nampak melepuh dan kadang timbul erosi (kulit
2
mengelupas).4 Biasanya menyerang wajah, ekstremitas atas atau bawah, badan dan genitalia.
Kelenjar getah bening di sekitar daerah yang terinfeksi, sering membesar dan terasa nyeri.1

DIAGNOSA BANDING
• Selulitis
Pada penyakit ini terdapat infiltrat yang difus pada subkutan dengan tanda-tanda
radang akut
• Urtikaria
Pada urtikaria warna merah akan hilang dengan penekanan
• Furunkulosis
Biasanya nyeri, berbentuk seprti kerucut dan berbatas tegas.5

KOMPLIKASI
Bila tidak diobati atau dosis tidak adekuat, maka kuman penyebab erisipelas akan
menyebar melalui aliran limfe sehingga terjadi abses subkutan, septikemi dan infeksi ke organ
lain (nefritis). Pengobatan dini dan adekuat dapat mencegah terjadinya komplikasi supuratif
dan non supuratif. Pada bayi dan penderita usia lanjut yang lemah, serta penderita yang
sementara mendapat pengobatan dengan kortikosteroid, erisipelas dapat progresif bahkan bisa
terjadi kematian (mortalitas pada bayi bisa mencapai 50%). 6
Erisipelas cenderung rekuren pada lokasi yang sama, mungkin disebabkan oleh
kelainan imunologis, tetapi faktor predisposisi yang berperan pada serangan pertama harus
dipertimbangkan sebagai penyebab misalnya obstruksi limfatik akibat mastektomi radikal
(merupakan faktor predisposisi erisipelas rekuren).2

PENGOBATAN
Penisilin merupakan obat pilihan untuk erisipelas. Biasanya digunakan Procaine
Penicilline G 600.000-1200000 IU IM atau dengan pengobatan secara oral dengan penisilin V
500mg setiap 6 jam, selama 10-14 hari. Pada anak-anak Penisilin G prokain,untuk berat badan
<30 kg: 300,000 U/d , sedangkan >30kg: dosis seperti pada orang dewasa . Untuk Penicillin

3
VK: <12 years: 25-50 mg/kg/hr PO dibagi tid / qid; tidak melebihi 3 g /hr, sedangkan >12
tahun: dosis seperti pada orang dewasa.3 Perbaikan secara umum terjadi dalam 24-48 jam
tetapi penyembuhan lesi kulit memerlukan beberapa hari. Pengobatan yang adekuat minimal
selama 10 hari.2 Pada penderita yang alergi terhadap penisilin diberikan eritomisin (dewasa
250-500 gram peroral; anak-anak: 30-50 mg/kgbb/ hari tiap 6 jam) selama 10 hari. Dapat juga
digunakan klindamisin (dewasa 300-450 mg/hr PO; anak-anak 16-20 mg/kgbb/hari setiap 6-
8jam).3
Penderita dianjurkan istirahat (masuk rumah sakit) atau bed rest total dirumah. Bila
lokasi lesi pada tungkai bawah dan kaki, maka bagian yang terserang ini ditinggikan. Secara
lokal, dapat diberikan kompres terbuka yaitu kompres dingin untuk mengurangi rasa sakit.2
Bila terdapat vesikula atau bulla dapat dikompres dulu dengan rivanol 1%, setelah cairan
mengering dilanjutkan dengan pemberian topikal antibiotika seperti kombinasi basitrasin dan
polimiksin B atau framisetin sulfat.6

SELULITIS
DEFINISI
Selulitis merupakan peradangan akut jaringan subkutis dapat disebabkan oleh
Streptokokus betahemolitikus, Stapilokokus aureus dan pada anak oleh Hemophilus influenza.7

FAKTOR PREDISPOSISI
Faktor predisposisi untuk terjadi selulitis ini merupakan keadaan yang dapat
menurunkan daya tahan tubuh terutama bila disertai higiene yang jelek; diabetes mellitus,
alkoholisme, dan malnutrisi. Selain itu umumnya terjadi akibat komplikasi suatu luka/ulkus
atau lesi kulit yang lain, namun dapat terjadi secara mendadak pada kulit yang normal.8

GEJALA KLINIS
Gambaran kliniknya tergantung akut atau tidaknya infeksi. Umumnya pada semua
bentuk ditandai dengan kemerahan dengan batas tidak jelas, nyeri tekan dan bengkak.
Penyebaran perluasan kemerahan dapat timbul secara cepat di sekitar luka/ulkus. Disertai
dengan demam dan lesu. Pada keadaan akut, kadang-kadang timbul bula. Dapat dijumpai

4
limfadenopati limfangitis. Tanpa pengobatan yang efektif dapat terjadi supurasi lokal
(flegmon, nekrosis atau gangren).4

PATOGENESIS

DIAGNOSA
Untuk menegakkan diagnose antara erysipelas dan selulitis cukup sulit, karena hampir
mempunyai keluhan dan gambaran klinis yang sama, ada beberapa perbedaan antara
erysipelas dan selulitis.

5
Gejala dan Tanda Erisipelas Selulitis
Gejala Prodormal Demam, malaise, nyeri sendi Demam, malaise, nyeri sendi
dan menggigil dan menggigil
Daerah Predileksi Ekstrimitas atas dan bawah, Ekstrimitas atas dan bawah,
wajah, badan dan genitalia wajah, badan dan genitalia
Makula eritematous Eritema terang, seperti buah Eritema cerah
cerry “red cerry”
Tepi Batas tegas Batas tidak tegas
Penonjolan Ada penonjolan Tidak terlalu menonjol
Vesikel atau Bula Biasanya disertai dengan Biasanya disertai dengan
vesikel atau bula vesikel atau bula
Edema Edema Edema
Hangat Hangat Tidak terlalu hangat
Fluktuasi - Fluktuasi
Tabel 1. Perbedaan Erisipelas dan Selulitis 2
Dapat disertai limfangitis dan limfadenitis. Penderita biasanya demam dan dapat
menjadi septikemi. Selulitis yang disebabkan oleh H. influenza, lesi kulit berwarna merah
keabu-abuan, merah kebiru-biruan atau merah keunguan. Lesi kebiru-biruan atau keunguan
dapat juga ditemukan pada selulitis yang disebabkan oleh Streptokokus pneumonia. Anak
dengan selulitis yang disebabkan oleh H. influenza tampak sakit berat dan toksik dan sering
disertai gejala infeksi traktus respiratonius bagian atas, bakteriemi dan septikemi. Pada
pemeriksaan darah tepi selulitis terdapat leukositosis dengan hitung jenis bergeser ke kiri.

KOMPLIKASI
Pada anak dan orang dewasa yang immunocompromised, penyulit pada selulitis dapat
berupa gangren, metastasis, abses dan sepsis yang berat.3 Selulitis pada wajah merupakan
indikator dini terjadinya bakterimia stafilokokus betahemolitikus grup A.Selulitis pada wajah
dapat menyebabkan penyulit intra kranial berupa meningitis.

PENATALAKSANAAN
Pada selulitis karena H. influenza diberikan untuk anak (3bln-12thn) 100-200 mg/kg/d
(150-300mg), >12 tahun seperti dosis dewasa. Selulitis karena streptokokus diberi penisilin

6
prokain G 600.000-2.000.000 IU IM selama 6 hari atau dengan pengobatan secara oral dengan
penisilin V 500mg setiap 6 jam, selama 10-14 hari
Pada selulitis yang ternyata penyebabnya bukan S.aureus penghasil penisilinase (non
SAPP) dapat diberi penisilin. Pada yang alergi terhadap penisilin, sebagai alternatif digunakan
eritromisin (dewasa 250-500 gram peroral; anak-anak: 30-50 mg/kgbb/ hari tiap 6 jam) selama
10 hari. Dapat juga digunakan klindamisin (dewasa 300-450 mg/hr PO; anak-anak 16-20
mg/kgbb/hari setiap 6-8jam).3 Pada yang penyebabnya SAPP selain eritnomisin dan
klindamisin, juga dapat diberikan dikloksasilin 500mg/hari secara oral selama 7-10 hari.
Pada pasien ini dilakukan insisi atau drainase, jika pasien selulitis ini telah terjadi
supurasi.4

PENCEGAHAN
Untuk mencegah terjadinya selulitis maka hal-hal di bawah ini perlu dilakukan:
Menjaga kebersihan tubuh dengan mandi teratur dan menggunakan sabun atau shampo yang
mengandung antiseptik, agar kuman patogen secepatnya hilang dan kulit. Mengatasi faktor
predisposisi. Mengusahakan tidak terjadinya kerusakan kulit atau bila telah terjadi kerusakan
kulit berupa luka kecil maka segera dirawat atau diobati.

KESIMPULAN
Erisipelas dan Selulitis merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri
Streptococcus dan S.aureus , yang menyerang jaringan subkutis dan daerah superficial
(epidermis dan dermis). Erisipelas adalah bentuk selulitis superfisial yang mengenai pembuluh
limfe. Selulitis merupakan peradangan akut jaringan subkutis. 1 Faktor resiko untuk terjadinya
infeksi ini adalah trauma lokal (robekan kulit), luka terbuka di kulit atau gangguan pada
pembuluh balik (vena) maupun pembuluh getah bening.2 Daerah predilesi yang sering terkena
yaitu wajah, badan, genitalia dan ekstremitas atas dan bawah. Pada pemeriksaan klinis
erisipelas, didapatkan adanya makula eritematous yang agak meninggi, berbatas jelas, teraba
panas dan terasa nyeri. Di atas macula eritematous dapat dijumpai vesikel dan demam
.Sedangkan pada pemeriksaan klinis selulitis : adanya makula eritematous, tepi tidak
meninggi, batas tidak jelas, edema, infiltrat dan teraba panas. Diagnosis penyakit ini dapat

7
ditegakkan berdasarkan anamnesis, gambaran klinis. Penanganan perlu memperhatikan faktor
predisposisi dan komplikasi yang ada.

DISKUSI REFERAT

8
1. Bagaimana membedakan antara erisipelas dan selulitis ?
Perbedaan antara erysipelas dan selulitis hanya dapat dilihat dari gambaran klinis,
dapat dilihat tabel dibawah ini 2:

Gejala dan Tanda Erisipelas Selulitis


Gejala Prodormal Demam, malaise, nyeri sendi Demam, malaise, nyeri sendi
dan menggigil dan menggigil
Daerah Predileksi Ekstrimitas atas dan bawah, Ekstrimitas atas dan bawah,
wajah, badan dan genitalia wajah, badan dan genitalia
Makula eritematous Eritema terang, seperti buah Eritema cerah
cerry “red cerry”
Tepi Batas tegas Batas tidak tegas
Penonjolan Ada penonjolan Tidak terlalu menonjol
Vesikel atau Bula Biasanya disertai dengan Biasanya disertai dengan
vesikel atau bula vesikel atau bula
Edema Edema Edema
Hangat Hangat Tidak terlalu hangat
Fluktuasi - Fluktuasi

2. Bagaimanakah pengobatan erisipelas dan selulitis, secara sistemik dan topikal ?


Erisipelas
• Sistemik : Antibiotik  Prokain Penisilin G 600.000 IU IM 2kali sehari, atau
Penisilin V 500mg/po/setiap 6 jam, , jika resisten diganti dengan pemberian
eritromisin 4 x 250-500 mg peroral. atau Dicloxacilin 500mg setiap 6jam.
Istirahat total dan jika terkena ditungkai, ditinggikan.2
• Topikal : Kompres terbuka, dapat dilakukan dengan kompres yang bersifat
antiseptic, seperti Asam salisilat 1‰, povidone iodine, PK, rivanol 1% dan
kemudian dapat diberikan Asam Fusidat 2%.
Selulitis
• Sistemik :
• Untuk H.influenza  Ampicilin, untuk anak (3bln-12thn) 100-200
mg/kg/d (150-300mg), >12 tahun seperti dosis dewasa.

9
• Untuk Streptococcus  penisilin prokain G 600.000-2.000.000 IU IM
selama 6 hari atau dengan pengobatan secara oral dengan penisilin V
500mg setiap 6 jam, selama 10-14 hari
• Untuk staphylococcus  dikloksasilin 500mg/hari secara oral selama 7-10
hari.
• Topikal :
• Kompres terbuka, dapat dilakukan dengan kompres yang bersifat
antiseptic, seperti Asam salisilat 1‰, povidone iodine, PK, rivanol 1% dan
kemudian dapat diberikan Asam Fusidat 2%.
• Insisi  jika pasien selulitis ini telah terjadi supurasi.4

3. Bagaimanakah terjadinya thrombosis sinus kavernosus dari selulitis?


Penyebaran selulitis ini dapat terjadi secara limfogen dan hematogen, sehingga dapat
terjadinya thrombosis sinus kavernosus.4

4. Berdasarkan etiologi antara erysipelas dan selulitis, apakah h.influenza dapat dijadikan
sebagai perbedaan antara erysipelas dan selulitis?
Tidak, karena selulitis itu merupakan tindak lanjut dari erisipelas, sehingga kedua
penyakit ini dapat disebabkan oleh h.influenza.2

DAFTAR PUSTAKA

1. Djuanda, Adhi . Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ketujuh. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2008

10
2. Fitzpatrick, Thomas B. Dermatology in General Medicine, Seventh Edition. New
York: McGrawHill: 2008.
3. Loretta Davis, MD, Professor. Erysipelas. Department of Internal Medicine, Division
of Dermatology, Medical College of Georgia. Available at:
http://emedicine.medscape.com /article/1052445-overview. Diakses pada tanggal 11
januari 2010.
4. Arnold HL, Odom RB, James WD. Andrew's Diseases of the Skin, Clinical
Dermatology 8th. Philadelphia, London, Toronto: WB Saunders Co, 1990 : 27778
5. Eaglestein WH, AndrophyE. Erisipelas. In Current Dermatology Therapy Stuard
Maddin (ed). Philadelphia: WB Saunders Co. 1982: 15356.
6. Moschella SL, Hurley HJ Dermatology, Vol. 1, 2nd ed. Philadelphia: Saunders Co,
1985 : 61819. Cermin Dunia Kedokteran No. 117, 1997
7. Bleehen, S.S. Anstey, A.V. Disorders of Skin colour. In; Burns T, Breathnach S, Cox
N, Griffith S. Rook’s Textbook of Dermatology. Seventh Edition. Vol II.
Massachussets: Blackwell Science: 2004. p: 39.53-39.57.
8. Giuseppe Micali, MD, Head, Professor. Cellulitis. Department of Dermatology,
University of Catania School of Medicine, Italy. Available at:
http://emedicine.medscape.com /article/1053686-overview. Diakses pada tanggal 5
mei 2010.

11