Anda di halaman 1dari 2

Ayah Juga Lupa

Jul.20, 2010 in Articles

Dengar, Nak : Ayah mengatakan ini pada saat kau terbaring tidur, sebelah tangan kecil
merayap di bawah pipimu dan rambutmu yang keriting pirang lengket pada dahimu yang
lembab. Ayah menyelinap masuk seorang diri ke kamarmu. Baru beberapa menit yang lalu,
ketika Ayah sedang membaca koran di ruang perpustakaan, satu sapuan sesal yang amat
dalam menerpa. Dengan perasaan bersalah Ayah datang masuk menghampiri
pembaringanmu.

Ada hal-hal yang ayah pikirkan, Nak : Ayah selama ini bersikap kasar kepadamu. Ayah
membentakmu ketika kau sedang berpakaian hendak pergi ke sekolah karena kau cuma
menyeka mukamu sekilas dengan handuk. Lalu Ayah lihat kau tidak membersihkan
sepatumu. Ayah berteriak marah tatkala kau melempar beberapa barangmu ke lantai.

Saat makan pagi Ayah juga menemukan kesalahan. Kau meludahkan makananmu. Kau
menelan terburu-buru makananmu. Kau meletakkan sikutmu di atas meja. Kau mengoleskan
mentega terlalu tebal di rotimu. Dan begitu kau baru mulai bermain dan Ayah berangkat
mengejar kereta api, kau berpaling dan melambaikan tangan sambil berseru, “Selamat jalan,
ayah!”, dan Ayah mengerutkan dahi, lalu menjawab : “Tegakkan bahumu!”

Kemudian semua itu berulang lagi pada sore hari. Begitu Ayah muncul dari jalan, Ayah
segera mengamatimu dengan cermat, memandang hingga lutut, memandangmu yang sedang
bermain kelereng. Ada lubang-lubang pada kaus kakimu. Ayah menghinamu di depan
kawan-kawanmu, lalu menggiringmu untuk pulang ke rumah. “Kaus kaki mahal dan kalau
kau yang harus membelinya, kau akan lebih berhati-hati!”. Bayangkan itu, Nak, itu keluar
dari pikiran seorang ayah!

Apakah kau ingat, nantinya, ketika Ayah sedang membaca di ruang perpustakaan, bagaimana
kau datang dengan perasaan takut, dengan rasa terluka dalam matamu? Ketika Ayah terus
memandang koran, tidak sabar karena gangguanmu, kau jadi ragu-ragu di depan pintu. “Kau
mau apa?”, semprot Ayah.

Kau tidak berkata sepatah pun, melainkan berlari melintas dan melompat ke arah Ayah, kau
melemparkan tanganmu melingkari leher saya dan mencium Ayah, tangan-tanganmu yang
kecil semakin erat memeluk dengan hangat, kehangatan yang telah Tuhan tetapkan untuk
mekar di hatimu dan yang bahkan pengabaian sekali pun tidak akan mampu melemahkannya.
Dan kemudian kau pergi, bergegas menaiki tangga.

Nah, Nak, sesaat setelah itu koran jatuh dari tangan Ayah, dan satu rasa takut yang
menyakitkan menerpa Ayah. Kebiasaan apa yang sudah Ayah lakukan? Kebiasaan dalam
menemukan kesalahan, dalam mencerca, ini adalah hadiah Ayah untukmu sebagai seorang
anak lelaki. Bukan berarti Ayah tidak mencintaimu; Ayah lakukan ini karena Ayah berharap
terlalu banyak dari masa muda. Ayah sedang mengukurmu dengan kayu pengukur dari tahun-
tahun Ayah sendiri.

Dan sebenarnya begitu banyak hal yang baik dan benar dalam sifatmu. Hati mungil milikmu
sama besarnya dengan fajar yang memayungi bukit-bukit luas. Semua ini kau tunjukkan
dengan sikap spontanmu saat kau menghambur masuk dan mencium Ayah sambil
mengucapkan selamat tidur. Tidak ada masalah lagi malam ini, Nak. Ayah sudah datang ke
tepi pembaringanmu dalam kegelapan, dan Ayah sudah berlutut di sana, dengan rasa malu!

Ini adalah sebuah rasa tobat yang lemah;  Ayah tahu kau tidak akan mengerti hal-hal seperti
ini kalau Ayah sampaikan padamu saat kau terjaga. Tapi esok hari Ayah akan menjadi Ayah
sejati! Ayah akan bersahabat karib denganmu, dan ikut menderita bila kau menderita, dan
tertawa bila kau tertawa. Ayah akan menggigit lidah Ayah kalau kata-kata tidak sabar keluar
dari mulut Ayah. Ayah akan terus mengucapkannya kata ini seolah-olah sebuah ritual :  Dia
cuma seorang anak kecil , anak lelaki kecil!

Ayah khawatir sudah membayangkanmu sebagai seorang lelaki. Namun, saat Ayah
memandangmu sekarang, Nak, meringkuk terbaring dan letih dalam tempat tidurmu, Ayah
lihat bahwa kau masih seorang bayi. Kemarin kau masih dalam gendongan ibumu, kepalamu
berada di bahu ibumu. Ayah sudah meminta terlalu banyak, sungguh terlalu banyak.