Anda di halaman 1dari 108

i

PERSEPSI GURU SEKOLAH DASAR


TERHADAP PROGRAM SERTIFIKASI GURU
DI KECAMATAN JIWAN KABUPATEN MADIUN
SEBAGAI DASAR PENGUATAN KEBIJAKAN PEMERINTAH
TENTANG SERTIFIKASI GURU

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan


Untuk mencapai derajad Sarjana S-2
Program Studi Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan

Oleh
SUDARMAN
NIM 05370056

PROGRAM PASCA SARJANA


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2007
ii

HALAMAN PERSETUJUAN

Judul : Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap


Program Sertifikasi Guru di Kecamatan
Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar
Penguatan Program Pemerintah Tentang
Sertifikasi Guru.
Nama Mahasiswa : SUDARMAN
NIM : 05370056

Telah disetujui Oleh :

Pembimbing Utama

Dr. Arif Budi Wurianto, Drs,M.Si.

Pembimbing Pendamping

Dra. Siti Fatimah Sunaryo, M.Pd.

ii
iii

TESIS

Dipersiapkan dan disusun oleh


SUDARMAN
NIM : 05370056
Telah dipertahankan di depan Dewan Penguji
Pada tanggal 30 September 2007

SUSUNAN DEWAN PENGUJI


Pembimbing Utama Anggota Dewan Penguji,

Dr. ARIF BUDI WURIANTO, M.Si. Dr. DWI PRIYO UTOMO, M.Pd.
Pembimbing Pendamping,

Dra. SITI FATIMAH SUNARYO, M.Pd. Drs. HARTONO, M.Pd.

Tesis ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan


untuk mencapai derajat gelar Magister Pendidikan
Tanggal 30 September 2007

Dr. H. ACHMAD HABIB, MA


Direktur Program Pasca Sarjana

iii
iv

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini tidak terdapat karya yang pernah

diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan

sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah

ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam

naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Malang, 30 September 2007

SUDARMAN
NIM. 05370056

iv
v

MOTTO

” Bacalah atas nama Tuhanmu, gunakan hidupmu untuk terus membaca,


karena membaca adalah kunci dari segala kesuksesan hidup”

v
vi

HALAMAN PERSEMBAHAN

Tesis ini kupersembahkan untuk :

1. Istriku tercinta TIK SOEHINDRARTI EH, yang telah memberikan dukungan

untuk menyelesaikan Program Pasca Sarjanaku.

2. Anakku tercinta TYAR JATU ALMIRA dan ABHITAH NOVIAR JANITRA

yang telah ikut memberikan inspirasi dalam menyelesaikan kuliah.

vi
vii

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala limpahan

rahmat, taufiq serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tesis yang

berjudul ”Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program Sertifikasi Guru di

Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar Penguatan Program Pemerintah

Tentang Sertifikasi Guru” dengan lancar.

Dalam menyelesaikan tesis ini penulis banyak mendapatkan bantuan baik secara

moral maupun secara material yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu.

Untuk itu sebagai ungkapan rasa terima kasih yang setinggi-tingginya penulis

sampaikan kepada yang terhormat Bapak/Ibu :

1. Drs. H. Muhadjir Effendy, M.AP, selaku rektor Universitas Muhammadiyah

Malang

2. Dr. H. Achmad Habib, MA, sebagai Direktur Program Pasca Sarjana Universitas

Muhammadiyah Malang

3. Dr. Dwi Priyo Utomo, M.Pd, selaku Ketua Program Studi Kebijakan dan

Pengembangan Pendidikan Program Pasca Sarjana UMM Malang

4. Dr. Arif Budi Wurianto, Drs. M.Si, sebagai dosen pembimbing Utama

5. Dra. Siti Fatimah Sunaryo, M.Pd, sebagai pembimbing pendamping

6. Drs. Suwito, sebagai Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Jiwan

7. Seluruh Kepala Sekolah Dasar se Kecamatan Jiwan

vii
viii

8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian tesis ini yang tidak dapat

disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari dengan sepenuh hati, bahwa tesis ini masih jauh dari

kesempurnaan dan sudah barang tentu masih terdapat banyak kekurangan dan

kelemahan yang disebabkan oleh dangkalnya pengetahuan penulis dan keterbatasan

waktu. Untuk itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis

harapkan.

Mudah-mudahan tesis ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama para

pemerhati di bidang kebijakan dan pengembangan pendidikan.

Malang, September 2007

Penulis

viii
ix

DAFTAR ISI

Hal.
HALAMAN JUDUL .................................................................................. i

HALAMAN PERSETUJUAN .................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN .................................................................... iii

HALAMAN PERNYATAAN .................................................................... iv

HALAMAN MOTTO ................................................................................. v

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................. vi

KATA PENGANTAR ................................................................................ vii

DAFTAR ISI ............................................................................................... ix

DAFTAR TABEL ....................................................................................... xii

ABSTRAK .................................................................................................. xiii

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang …………………………………………... 1

B. Fokus Penelitian ………………………………………… 8

C. Tujuan Penelitian ……………………………………….. 9

D. Manfaat Penelitian ……………………………………… 9

1. Manfaat Teoritis ……………………………………. 9

2. Manfaat Praktis …………………………………….. 10

E. Penegasan Istilah ………………………………………... 10

ix
x

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka …………………………………………. 11

1. Penelitian Terdahulu ……………………………….. 11

2. Kebijakan Pemerintah ……………………………… 11

B. Landasan Teori …………………………………………. 13

1. Konsep Persepsi …………………………………… 13

2. Konsep Guru dan Peranannya …………………….. 19

3. Profesi Guru........................ ……………………….. 23

4. Sertifikasi Guru …………………………………….. 28

BAB III. METODE PENELITIAN

A. Rangcangan Penelitian ………………………………….. 41

B. Lokasi Penelitian dan Informan Penelitian ...................... 41

C. Teknik Penelitian ……………………………………….. 42

1. Teknik Pengumpulan Data …………………………. 42

2. Teknik Pengolahan Data …………………………… 43

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

A. Gambaran Umum Pendidikan di Kecamatan Jiwan ……. 47

B. Tanggapan Positif Guru Sekolah Dasar di Kecamatan


Jiwan Terhadap Program Sertifikasi …………................. 50

C. Tanggapan Negatif Guru Sekolah Dasar di Kecamatan


Jiwan Terhadap Program Sertifikasi ........……………….. 64

D. Temuan-Temuan Penelitian................................................ 69

x
xi

BAB V. PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................... 72

B. Saran ................................................................................. 73

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 75

LAMPIRAN……………………………………………………………… 77

xi
xii

DAFTAR TABEL

Hal.

Tabel 1. Daftar Guru dan Kualifikasi Akademik di Indonesia.............. 7

Tabel 2. Data Sekolah di Kecamatan Jiwan ………………………….. 47

Tabel 3. Data Penyebaran Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan ............ 48

Tabel 4. Data Guru, Kepala Sekolah dan Penjaga................................. 49

xii
xiii

ABSTRACT

Sudarman. 2007. The Elementary Teacher Perception on Teacher’s Certification in


Jiwan Sub district Madiun Regency the Strengthen Base of Government
Policy on Teacher’s Certification. The Education Development and Policy
Study Program. Post Graduate Program UMM Malang. Advisor (I) Dr.
Arif Budi Wurianto, Drs. M.Si, (II) Dra. Siti Fatimah, M,Pd.

This study aims at sharing informations both positive and negative


opinions of the Elementary Teacher in Jiwan Sub district on teacher’s certification
program and to get some findings which can explain the Elementary teacher’s
perception in Jiwan Sub district about teacher’s certification.

This study is designed and analyzed with qualitative method or


pospositivistic based on pospositivism philosophy. There are three kinds of data
collection held to support to each other, those are observation, questionnaire and
further interview of some respondents. The data analyzing of the study uses
Interactive Model of Miles and Huberman started by collecting, reducing, presenting
and verifying data.

Positive respond from the teachers of Elementary School in Jiwan


subdistrict to the program of teachers certification are (1) Fourteenth law, 2005 as a
basic of law to increase teachers quality, (2) Undergraduate Degree? Four – year
diploma prgram as the academic qualification is appropriate with nowadays period
and the progress of knowledge and technology, (3) Four of basic competence has to
be owned by teacher, (4) Portfolio model certification is good for teacher, (5)
Teachers conviction of professions subsidy.

Negative respond from the teachers of Elementary School in Jiwan


subdistrict to the program of teachers certification are (1) Fourteenth law, 2005 seems
hard to be realized, (2) Teacher should not has an academic qualification of
Undergraduate Degree / Four – year diploma, (3) Lack of socialization on portfolio
model certification, (4) Hard to get subsidy for profession.

Result of the research which are connect to the teachers certificaton are (1)
It needs much effort to get minimal score of governments requirement, (2) Deceit on
collecting documents, (3) Innappropriate in choosing participants of portfolio
certification.

xiii
xiv

ABSTRAKSI

Sudarman, 2007. Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program Sertifikasi


Guru di Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar Penguatan
Kebijakan Pemerintah Tentang Sertifikasi Guru. Program Studi Kebijakan
dan Pengembangan Pendidikan, Program Pasca Sarjana UMM Malang.
Pembimbing (I) Dr. Arif Budi Wurianto, Drs. M.Si, (II) Dra. Siti Fatimah,
M.Pd.

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan penjelasan tentang tanggapan


positif dan tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap
program sertifikasi guru dan memperoleh temuan-temuan yang dapat menjelaskan
persepsi guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap sertifikasi guru.

Penelitian ini dirancang dan dianalisis secara kualitatif atau postpositivistik


yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme. Pengumpulan data dilakukan
dengan tiga cara yang saling mendukung yaitu observasi, kuisioner dan wawancara
yang mendalam dengan sejumlah informan. Pengolahan data pada penelitian ini
menggunakan Model Interactive dari Miles and Huberman dimulai dari pengumpulan
data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data.

Tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap


program sertifikasi guru adalah (1) UU No.14 Tahun 2005 merupakan landasan
hukum dalam meningkatkan kualitas guru, (2) kualifikasi akademik Sarjana/D IV
bagi guru sudah sesuai dengan tuntutan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi, (3) Guru wajib memiliki empat kompetensi dasar, (4) sertifikasi model
portofolio sangat menguntungkan bagi guru, (5) tunjangan profesi diyakini guru akan
dapat terealisasi.

Tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap


program sertifikasi guru adalah (1) UU No. 14 Tahun 2005 hanya merupakan janji
yang sulit untuk terealisasi, (2) guru tidak harus berkualifikasi Sarjana/ D IV, (3)
sertifikasi model portofolio kurang sosialisasi, (4) tunjangan profesi guru tidak akan
dapat terealisasi.

Temuan-temuan dalam penelitian yang terkait dengan sertifikasi guru adalah


(1) Guru kurang yakin dapat mencapai skor minimal yang ditetapkan oleh
pemerintah, (2) masih ada guru yang bermoral kurang baik dalam melengkapi
dokumen, (3) penentuan peserta sertifikasi portofolio masih belum sesuai dengan
aturan yang berlaku.

.
xiv
1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dalam

pembangunan suatu bangsa. Berbagai kajian di banyak negara menunjukkan

kuatnya hubungan antara pendidikan dengan tingkat perkembangan bangsa-

bangsa tersebut yang ditunjukkan oleh berbagai indikator ekonomi dan sosial

budaya. Pendidikan yang mampu memfasilitasi perubahan adalah pendidikan

yang merata, bermutu, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Menyadari peran strategis pendidikan tersebut, pemerintah Indonesia

senantiasa mendukung ide yang menempatkan sektor pendidikan, khususnya

pendidikan dasar, sebagai prioritas dalam pembangunan nasional. Bahkan

dalam masa krisis ekonomi sekalipun, pendidikan tetap mendapatkan

perhatian meskipun fokusnya dibatasi pada upaya penanggulangan dampak

krisis ekonomi terhadap pendidikan.

Agar pembangunan pendidikan dapat berkontribusi terhadap

peningkatan kualitas sumber daya manusia, terdapat tiga syarat utama yang

harus diperhatikan yaitu : (1) sarana gedung, (2) buku yang memadai dan

berkualitas serta (3) guru dan tenaga kependidikan yang profesional (Mulyasa,

2005 : 3).

Pengaruh pendidikan dapat dilihat dan dirasakan secara langsung

dalam perkembangan serta kehidupan masyarakat, kehidupan kelompok dan

1
2

kehidupan setiap individu. Jika di bidang-bidang lain seperti ekonomi,

pertanian dan perindustrian berperan menciptakan sarana dan prasarana bagi

kepentingan manusia, maka pendidikan berurusan langsung dengan

pembentukan manusia. Pendidikan menentukan model manusia yang akan

dihasilkannya. Pendidikan juga memberikan kontribusi yang sangat besar

terhadap kemajuan suatu bangsa dan merupakan wahana dalam

menterjemahkan pesan-pesan konstitusi serta sarana dalam membangun watak

bangsa. Masyarakat yang cerdas akan memberikan nuansa kehidupan suatu

bangsa yang cerdas pula dan secara progresif akan membentuk kemandirian

dan kreatifitas.

Untuk mewujudkan masyarakat madani dalam Negara Kesatuan

Republik Indonesia yang lebih demokratis, transparan dan menjujung tinggi

hak azasi manusia hanya dapat dilakukan melalui pendidikan. Hanya melalui

pendidikan yang benar bangsa ini dapat membebaskan diri dari krisis

multidimensi yang berkepanjangan. Pendidikan yang berkualitas juga dapat

membebaskan masyarakat dari belenggu kemiskinan dan keterpurukan hidup.

Pendidikan yang benar dan berkualitas adalah pendidikan yang dapat

mengembangkan potensi masyarakat, mampu menumbuhkan kemauan, dapat

membangkitkan generasi muda untuk menggali potensi dan

mengembangkannya secara optimal bagi kepentingan pembangunan bangsa

(Mulyasa : 2005).

Undang-Undang Republik Indonesia No. 20 tahun 2003 tentang

Sistem Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa pendidikan nasional


3

bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang

beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,

sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang

demokratis serta bertanggungjawab dalam rangka mencerdaskan kehidupan

bangsa.

Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah telah menetapkan tiga

rencana strategis yaitu (1) perluasan dan peningkatan akses, (2) peningkatan

mutu, relevansi dan daya saing serta (3) peningkatan tata kelola pendidikan,

transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan pendidikan.

Salah satu komponen pendidikan yang sangat penting dalam rangka

pelaksanaan rencana strategis tersebut adalah guru. Guru merupakan

komponen pendidikan yang sangat menentukan dalam membentuk wajah

pendidikan di Indonesia. Ujung tombak dari semua kebijakan pendidikan

adalah guru. Gurulah yang akan membentuk watak dan jiwa bangsa, sehingga

baik dan buruknya bangsa ini sangat tergantung pada guru. Banyaknya

kejahatan, pencurian, kerusuhan, pengangguran disebabkan oleh guru yang

salah dalam menerapkan pendidikan. Demikian juga bangsa yang malas,

kurang kreatif, kurang berani mengambil resiko, kurang inovatif, culas,

berjiwa korup, sering meyalahkan orang lain, semua itu sangat ditentukan oleh

peran guru.

Karena peran guru yang begitu besar, maka diperlukan guru yang

profesional, kreatif, inovatif, mempunyai kemauan yang tinggi untuk terus


4

belajar, melek terhadap teknologi informasi, sehingga mampu mengikuti

perkembangan zaman.

Tuntutan profesionalisme guru terus didengungkan oleh berbagai

kalangan di masyarakat kita, termasuk kalangan guru sendiri melalui berbagai

organisasi guru yang ada, di samping tuntutan perbaikan taraf hidup guru.

Mereka berharap, untuk meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan di

Indonesia, diperlukan seorang guru yang profesional dalam mendidik siswa-

siswinya di sekolah.

Sejalan dengan tuntutan profesionalisme guru itulah, maka pemerintah

mengeluarkan Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan

Dosen. Dengan dikeluarkannya Undang-Undang tersebut guru diposisikan

sebagai suatu profesi sebagaimana profesi dokter, hakim, jaksa, akuntan dan

profesi-profesi lain yang akan mendapat penghargaan sepadan sesuai dengan

profesinya masing-masing.

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi

peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,

pendidikan dasar, dan pendidikan menengah (UU No. 14/2005 : pasal 1).

Guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang

pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada

jalur formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan (UU

No. 14/2005 : pasal 2). Pengakuan kedudukan guru sebagai tenaga


5

profesional seperti yang dimaksudkan di atas dibuktikan dengan sertifikasi

pendidik (UU No. 14/2005 : pasal 2).

Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang tentunya tidak

bisa dilakukan oleh sembarangan orang dan hanya bisa dilaksanakan oleh

orang-orang terdidik yang sudah disiapkan untuk menekuni bidang

pendidikan. Pekerjaan khusus tersebut dilaksanakan dengan prinsip-prinsip

(1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, (2) memiliki

komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan

akhlak mulia, (3) memiliki kualitas akademik dan latar belakang pendidikan

sesuai dengan bidang tugasnya, (4) memiliki kompetensi yang diperlukan

sesuai dengan bidang tugasnya, (5) memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan

tugas keprofesionalan, (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai

dengan prestasi kerja, (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan

keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8)

memiliki jaminan perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas

keprofesionalan dan (9) memilik organisasi profesi yang mempunyai

kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas profesi guru.

Sebagai profesi guru wajib memiliki kualifikasi akademik,

kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki

kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kualifikasi

akademik yang disyaratkan bagi guru adalah guru harus mempunyai

pendidikan sarjana atau diploma empat. Sedangkan kompetensi guru yang

dipersyaratkan adalah kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian,


6

kompetensi sosial dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui

pendidikan profesi.

Sertifikasi pendidik diperoleh melalui program pendidikan profesi

yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program

pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi dan ditetapkan oleh

pemerintah. Syarat dan materi sertifikasi ditetapkan dengan Peraturan

Pemerintah Tentang Guru yang saat ini masih menunggu verifikasi dan

pengesahan dari pemerintah.

Karena Peraturan Pemerintah Tentang Guru belum selesai dan

program sertifikasi guru sudah dicanangkan sejak tahun 2006, maka

pelaksanaan sertifikasi guru kemungkinan menggunakan Peraturan Menteri

Pendidikan Nasional (www.depdiknas.go.id diakses : 9 Pebruari 2007 ).

Menurut Mendiknas, sertifikasi guru pada APBN 2006 disediakan anggaran

sebesar 35,8 miliar untuk mensertifikasi 20.000 guru, sedangkan pada APBN

2007 disediakan anggaran sebesar 380,9 miliar untuk mensertifikasi 190.450

guru (www.depdiknas.go.id diakses : 9 Pebruari 2007 ). Pelaksanaan

sertifikasi akan mendahulukan 20.000 guru yang berasal dari kuota tahun 2006

yaitu 14.000 guru Sekolah Dasar (SD) dan 6.000 guru Sekolah Menengah

Pertama (SMP).

Menurut data dari Depdiknas tahun 2007 jumlah guru di Indonesia

sebanyak 2.224.721 orang guru dengan kualifikasi pendidikan seperti terlihat

dalam Tabel 1.
7

Tabel 1.
Data Guru dan Kualifikasi Akademik di Indonesia

Kualifikasi Pendidikan
No Jenjang Jumlah
S1 D3 D2 D1
1. TK 137.069 5.318 - 7.539 124.143
2. SLB 8.304 3.886 467 - 3.951
3. SD 1.234.927 103.116 26.798 495.700 609.189
4. SMP 466.748 197.621 117.154 999.557 52.416
5. SMA 230.114 168.167 55.043 4.349 2.531
6. SMK 147.559 95.161 44.533 2.641 5.297
Jumlah 2.224.721 573.269 243.995 609.786 797.527
Sumber : Depdiknas 2007

Dari data tersebut di atas menunjukkan bahwa jumlah guru Sekolah

Dasar menduduki peringkat pertama diantara jenjang pendidikan lainnya.

Dari 1.234.927 orang guru SD, hanya 103.116 (8,35 %) orang yang

berpendidikan Sarjana dan sebanyak 609.189 (49,33 %) orang guru yang

berpendidikan D1. Karena jumlahnya yang cukup banyak dan rata-rata

tingkat pendidikan guru rendah, maka guru SD mengahadapi permasalahan

yang sangat komplek.

Persepsi mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang

tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara ciri-ciri

fisik yang khas pada masing-masing rangsangan (Winkel 1996 : 249).

Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi yang menunjukkan

kesadaran akan hadirnya rangsangan (stimulus) dan perbedaan antara

rangsangan-rangsangan yang ada. Persepsi termasuk ranah psikomotorik

menurut klasifikasi Simpson, dengan kemampuan internal individu yaitu

menafsirkan suatu rangsangan, kepekaan terhadap suatu rangsangan dan

kemampuan untuk membedakan suatu rangsangan.


8

Kepekaan, penafsiran dan kemampuan membedakan terhadap

rangsang yang berupa informasi tentang aturan dan perundang-undangan

sangat diperlukan oleh guru, sehingga pada saat guru melaksanakan dan

menjalani aturan tersebut benar-benar paham sesuai dengan aturan yang

dikehendaki. Bearangkat dari situasi itulah maka persepsi terhadap program

sertifikasi guru sangat penting bagi setiap guru.

Di lain pihak belum semua guru di setiap jenjang pendidikan

memahami terhadap sertifikasi guru. Bagaimana aturan main dan

persyaratan sertifikasi guru, peraturan-peraturan yang melandasi sertifikasi

guru, Lembaga penyelenggara sertifikasi guru, belum banyak dimengerti oleh

guru. Apalagi guru-guru yang berada di daerah terpencil yang belum

terjangkau oleh arus informasi dan komunikasi.

Bertitik tolak dari hal tersebut di atas , maka penulis ingin melakukan

penelitian yang berjudul “Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program

Sertifikasi Guru Di Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun Sebagai Dasar

Penguatan Kebijakan Pemerintah Tentang Sertifikasi Guru”

B. Fokus Penelitian

Dalam pandangan penelitian kualitatif gejala dari suatu obyek bersifat

holistik (menyeluruh, tidak dapat dipisah-pisahkan), oleh karena itu perlu

ditetapkan suatu fokus. Fokus penelitian dalam penelitian kualitatif

merupakan batasan masalah. Dalam penelitian ini yang menjadi fokus

penelitian adalah sebagai berikut :


9

1. Bagaimanakah tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan

terhadap program sertifikasi ?

2. Bagaimanakah tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan

terhadap program sertifikasi ?

3. Temuan-temuan apakah yang dapat menjelaskan tanggapan positif dan

negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program

sertifikasi ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan penjelasan tentang :

1. Tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap

program sertifikasi.

2. Tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap

program sertifikasi.

3. Temuan-temuan yang dapat menjelaskan tanggapan positi dan negatif

guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap sertifikasi.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritik

a. Penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam pengembangan ilmu

pengetahuan terutama di bidang pengembangan kebijakan pendidikan.

b. Bagi para peneliti, penelitian ini dapat diajdikan referensi dalam penelitian

lanjutan di bidang pengembangan kebijakan pendidikan


10

2. Manfaat Praktis

a. Bagi sekolah, dapat memberikan gambaran dan masukan dalam rangka

pelaksanaan sertifikasi guru sekolah dasar di Kecamatan Jiwan Kabupaten

Madiun.

b. Bagi Dinas Pendidikan dan para pengambil kebijakan, penelitian ini dapat

dijadikan cermin tentang pelaksanaan sertifikasi guru sekolah dasar di

Kabupatren Madiun

E. Penegasan Istilah

1. Persepsi

Persepsi secara umum merupakan suatu tanggapan berdasarkan suatu evaluasi

yang ditujukan terhadap suatu obyek yang berupa program sertifikasi guru dan

dinyatakan secara verbal.

2. Tanggapan Positif

Tanggapan positif yaitu pandangan terhadap suatu obyek dan menuju pada

suatu keadaan dimana subyek yang memberikan tanggapan cenderung

menerima obyek (program sertifikasi guru) yang ditangkapnya sesuai dengan

pribadinya.

3. Tanggapan Negatif

Tanggapan negatif yaitu pandangan terhadap suatu obyek dan menunjukkan

pada keadaan dimana subyek yang memberikan tanggapan cenderung

menolak obyek (program sertifikasi guru) yang ditangkapnya karena tidak

sesuai dengan pribadinya.


11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Penelitian Terdahulu

Penelitian yang membahas tentang persepsi guru terhadap pelaksanaan

program sertifikasi belum banyak dilakukan oleh para peneliti, hal ini

disebabkan sertifikasi guru baru akan dilaksanakan oleh pemerintah di seluruh

Indonesia setelah dikeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Sertifikasi Guru.

Hasil penelitian yang agak relevan yaitu Basri ( 2002 ) menyatakan

bahwa pada umumnya belum ada kesamaan persepsi guru SMK Negeri di

Kotamadya Banjarmasin terhadap implementasi Pendidikan Sistem Ganda

(PSG). Demikian juga dengan Hendarman (2003) menyimpulkan dalam

penelitiannya yang berjudul Persepsi Guru dan Institusi Pasangan Tentang

Kendala-Kendala Implementasi Kurikulum Sekolah Menengah Kejuruan

Kelompok Pariwisata bahwa antara guru dan institusi pasangan mempunyai

persepsi yang berbeda terhadap implementasi kurikulum.

2. Kebijakan Pemerintah

Kebijakan pemerintah yang mendasari Sertifikasi Guru adalah

Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen. Di dalam

pasal 8 disebutkan bahwa guru wajib memiliki kualifikasi akademik,

kompetensi, sertifikasi pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki

kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

11
12

Sertifikasi pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi

persyaratan (UU No. 14 Tahun 2005 pasal 11). Sertifikasi pendidik diperoleh

melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruan

tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang

terakreditasi dan ditetapkan oleh pemerintah. Beban belajar pendidikan

profesi untuk guru pada satuan pendidikaan TK dan SD atau yang sederajat

adalah 18 sampai 20 satuan kredit semester. Sedangkan untuk satuan

pendidikan setingkat SMP dan SMA atau yang sederajat adalah 30 sampai 40

satuan kredit semester.

Muatan pendidikan profesi meliputi kompetensi pedagogik,

kepribadian, sosial dan profesional. Bobot muatan kompetensi disesuaikan

dengan latar belakang pendidikan yaitu untuk lulusan program sarjana (S1)

atai diploma empat (D-IV) kependidikan dititik beratkan pada penguatan

kompetensi profesional. Sedangkan untuk lulusan sarjana (S1) atau diploma

empat (D-IV) non-kependididkan dititik beratkan pengembangan kompetensi

pedagogik. Program sertifikasi profesi diakhiri dengan uji sertifikasi pendidik

yaitu melalui ujian tertulis dan ujian kinerja. Ujian kinerja dilaksanakan

secara holistik yang mencakup ujian kompetensi pedagogik, kepribadian,

sosial dan profesional. Sertifikat pendidik dianggap sah setelah mendapatkan

nomor registrasi unik dari Departemen Pendidikan Nasional


13

B. Landasan Teori

1. Konsep Persepsi

a. Pengertian Persepsi

Persepsi dalam Psikologi diartikan sebagai salah satu perangkat

psikologis yang menandai kemampuan seseorang untuk mengenal dan

memaknakan sesuatu objek yang ada di lingkungannya. Menurut Scheerer

persepsi adalah representasi phenomenal tentang objek distal sebagai hasil dari

pengorganisasian dari objek distal itu sendiri, medium dan rangsangan

proksinal. Dalam persepsi dibutuhkan adanya objek atau stimulus yang

mengenai alat indera dengan perantaraan syaraf sensorik, kemudian diteruskan

ke otak sebagai pusat kesadaran (proses psikologis). Selanjutnya, dalam otak

terjadilah sesuatu proses hingga individu itu dapat mengalami persepsi (proses

psikologis).

Persepsi merupakan suatu proses dimana seseorang

mengorganisasikan dalam pikirannya, menafsirkannya, mengalami, dan

mengelola pertanda atas segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya

(Hammer dan Morgan dalam Ibrahim, 1983 : 33). Sedangkan menurut Abizar

(1988 : 18) mengatakan bahwa persepsi adalah suatu proses dengan mana

seseorang individu memilih, mengevaluasi dan mengorganisasi stimulus dari

lingkungannya. Persepsi juga menentukan cara kita berperilaku terhadap

suatu obyek atau permasalahan, bagaimana segala sesuatu itu mempengaruhi

persepsi seseorang nantinya akan mempengaruhi perilaku yang dipilihnya.


14

Persepsi, menurut Jalaludin (1998: 51), adalah pengalaman tentang

objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan

menyimpulkan informasi dan menafslrkan pesan.

Menurut Ruch (1967: 300), persepsi adalah suatu proses tentang

petunjukpetunjuk inderawi (sensory) dan pengalaman masa lampau yang

relevan diorganisasikan untuk memberikan kepada kita gambaran yang

terstruktur dan bermakna pada suatu situasi tertentu. Senada dengan hal

tersebut Atkinson dan Hilgard (1991: 201) mengemukakan bahwa persepsi

adalah proses dimana kita menafsirkan dan mengorganisasikan pola stimulus

dalam lingkungan. Gibson dan Donely (1994: 53) menjelaskan bahwa

persepsi adalah proses pemberian arti terhadap lingkungan oleh seorang

individu.

Dikarenakan persepsi bertautan dengan cara mendapatkan pengetahuan

khusus tentang kejadian pada saat tertentu, maka persepsi terjadi kapan saja

stimulus menggerakkan indera. Dalam hal ini persepsi diartikan sebagai

proses mengetahui atau mengenali obyek dan kejadian obyektif dengan

bantuan indera (Chaplin, 1989: 358)

Sebagai cara pandang, persepsi timbul karena adanya respon terhadap

stimulus. Stimulus yang diterima seseorang sangat komplek, stimulus masuk

ke dalam otak, kernudian diartikan, ditafsirkan serta diberi makna melalui

proses yang rumit baru kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson dan Hilgard,

1991 : 209). Dalam hal ini, persepsi mencakup penerimaan stimulus (inputs),

pengorganisasian stimulus dan penerjemahan atau penafsiran stimulus yang


15

telah diorganisasi dengan cara yang dapat mempengaruhi perilaku dan

membentuk sikap, sehingga orang dapat cenderung menafsirkan perilaku

orang lain sesuai dengan keadaannya sendiri (Gibson, 1986: 54).

b. Pembentukan Persepsi dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Proses pembentukan persepsi sebagai pemaknaan hasil pengamatan

yang diawali dengan adanya stimuli. Setelah mendapat stimuli, pada tahap

selanjutnya terjadi seleksi yang berinteraksi dengan "interpretation", begitu

juga berinteraksi dengan "closure". Proses seleksi terjadi pada saat seseorang

memperoleh informasi, maka akan berlangsung proses penyeleksian pesan

tentang mana pesan yang dianggap penting dan tidak penting. Proses closure

terjadi ketika hasil seleksi tersebut akan disusun menjadi satu kesatuan yang

berurutan dan bermakna, sedangkan interpretasi berlangsung ketika yang

bersangkutan memberi tafsiran atau makna terhadap informasi tersebut secara

menyeluruh. Menurut Asngari (1984: 12-13) pada fase interpretasi ini,

pengalaman masa silam atau dahulu. memegang peranan yang penting.

Bagaimana seseorang melakukan persepsi serta bagaimana suatu

rangsangan dipersepsi banyak faktor yang mempengaruhinya. Suatu stimulus

yang sama bisa dipersepsi berbeda oleh orang lain yang berbeda juga.

Ada beberapa karakteristik yang mempengaruhi suatu persepsi

seseorang yaitu (1) faktor ciri khas dari obyek stimulus (2) faktor-faktor

pribadi (3) faktor pengaruh kelompok dan (4) faktor perbedaan latar belakang.
16

Faktor dari obyek stimulus terdiri dari (1) nilai dari stimulus (2) arti

emosional orang yang bersangkutan (3) familiaritas dan (4) intensitas yang

berhubungan dengan derajad kesadaran seseorang mengenai stimulus tersebut.

Termasuk di dalam faktor pribadi yaitu ciri khas individu seperti taraf

kecerdasan, minat, emosional dan sebagainya. Respon orang lain dapat

memberi kearah suatu tingkah laku konform. Studi Flamen (1961)

menemukan bahwa adanya kohesi dalam kelompok yang berpengaruh dapat

menyebabkan perubahan persepsi pada anggota. Perbedaan latar belakang

seseorang juga sangat berpengaruh terhadap persepsi seseorang terhadap suatu

stimulus.

Secara umum ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi yaitu :

1). Faktor-Faktor Fungsional

Faktor-faktor fungsional ini juga disebut sebagai faktor personal

atau perseptor, karena merupakan pengaruh-pengaruh di dalam individu

yang mengadakan persepsi seperti kebutuhan, pengalaman masa lalu dan

hal-hal lainnya. Berarti persepsi bersifat selektif secara fungsional

sehingga obyek-obyek yang mendapatkan tekanan dalam persepsi

biasanya obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan

persepsi.

Termasuk dalam faktor fungsional ini adalah pengaruh kebutuhan,

kesiapan mental, suasana emosional dan latar belakang sosial budaya. Jadi

yang menentukan persepsi bukan jenis atau bentuk stimulus tetapi

karakteristik orang menentukan respon atau stimulus.


17

2). Faktor-Faktor Struktural

Faktor struktural merupakan pengaruh yang berasal dari sifat

stimulus fisik dan efek-efek yang ditimbulkan pada sistem syaraf individu.

Prinsip yang bersifat struktural yaitu apabila kita mempersepsikan sesuatu,

maka kita akan mempersepsikan sebagian suatu keseluruhan. Jika kita

ingin memahami sutau peristiwa, kita tidak dapat meneliti faktor-faktor

yang terpisah, tetapi harus mendorongnya dalam hubungan keseluruhan.

Sebagai contoh dalam memahami seseorang kita harus melihat

masalah-masalah yang dihadapinya, konteksnya maupun lingkungan sosial

budayanya. Dalam mengorganisasi sesuatu, kita harus melihat

konteksnya. Walaupun stimulus yang kita terima tidak lengkap, kita akan

mengisinya dengan interpretasi yang konsisten dengan rangkaian stimulus

yang kita persepsi.

Oleh karena manusia selalu memandang stimulus dalam

konteksnya, maka manusia akan mencari struktur pada rangkaian stimulus

yang diperoleh dengan jalan mengelompokkan berdasarkan kedekatan atau

persamaan, sehingga dari prinsip ini berarti obyek atau peristiwa yang

berdekatan dalam ruang dan waktu atau menyerupai satu sama lain,

cenderung ditanggapi sebagai bagian dari struktur yang sama.

c. Bentuk-Bentuk Persepsi

Persepsi secara umum merupakan suatu tanggapan berdasarkan suatu

evaluasi yang ditujukan terhadap suatu obyek dan dinyatakan secara verbal,

sedangkan bentuk-bentuk persepsi merupakan pandangan yang berdasarkan


18

penilaian terhadap suatu obyek yang terjadi, kapan saja, dimana saja, jika

stimulus mempengaruhinya. Persepsi yang meliputi proses kognitif mencakup

proses penafsiran obyek, tanda dan orang dari sudut pengalaman yang

bersangkutan.

Oleh karena itu dalam menerima suatu stimulus kemampuan manusia

sangatlah terbatas, sehingga manusia tidak mampu memproses seluruh

stimulus yang ditangkapnya. Artinya meskipun sering disadari, stimulus yang

akan dipersepsi selalu dipilih suatu stimulus yang mempunyai relevansi dan

bermakna baginya. Dengan demikian dapat diketahui ada dua bentuk persepsi

yaitu yang bersifat positif dan negatif.

1). Persepsi Positif

Persepsi positif yaitu persepsi atau pandangan terhadap suatu

obyek dan menuju pada suatu keadaan dimana subyek yang

mempersepsikan cenderung menerima obyek yang ditangkap karena sesuai

dengan pribadinya.

2). Persepsi Negatif

Yaitu persepsi atau pandangan terhadap suatu obyek dan menunjuk

pada keadaan dimana subyek yang mempersepsi cenderung menolak

obyek yang ditangkap karena tidak sesuai dengan pribadinya.


19

2. Konsep Guru dan Peranannya

a. Pengertian Guru

Guru secara sederhana dapat diartikan sebagai orang yang memberikan

ilmu pengetahuan kepada anak didik (Anwar Q & Sagala S, 2004 : 120).

Karena tugasnya itulah, guru dapat menambah kewibawaannya dan

keberadaan guru sangat diperlukan masyarakat, mereka tidak meragukan lagi

akan urgensinya guru bagi anak didik.

Menurut Undang Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan

Dosen, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik,

mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi

peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,

pendidikan dasar dan pendidikan menengah.

b. Peran Guru

Menurut Manan dalam Mulyasa (2005) sedikitnya ada 19 peran guru

yaitu sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu,

model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreatifitas, pembangkit

pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor,

emansipator, evaluator, pengawet dan kulminator.

Sedangkan menurut Undang Undang No. 20 Tahun 2003 dan Undang

Undang No. 14 Tahun 2005 peran guru adalah sebagai pendidik, pengajar,

pembimbing, pengarah, pelatih, penilai dan pengevaluasi dari peserta didik.


20

1). Guru Sebagai Pendidik

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan

identifikasi bagi para peserta didik dan lingkungannya. Oleh karena itu

guru harus mempunyai standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup

tanggungjawab, wibawa, mandiri dan disiplin.

Guru harus memahami nilai-nilai, norma moral dan sosial, serta

berusaha berperilaku dan berbuat sesuai dengan nilai dan norma tersebut.

Guru juga harus bertanggung jawab terhadap tindakannya dalam proses

pembelajaran di sekolah.

Sebagai pendidik guru harus berani mengambil keputusan secara

mandiri berkaitan dengan pembelajaran dan pembentukan kompetensi,

serta bertindak sesuai dengan kondisi peserta didik dan lingkungan.

2). Guru Sebagai Pengajar

Di dalam tugasnya, guru membantu peserta didik yang sedang

berkembang untuk mempelajari sesuatu yang belum diketahuinya,

membentuk kompetensi dan memahami materi standar yang dipelajari.

Guru sebagai pengajar, harus terus mengikuti perkembangan teknologi,

sehinga apa yang disampaikan kepada peserta didik merupakan hal-hal

yang uptodate dan tidak ketinggalan jaman.

Perkembangan teknologi mengubah peran guru dari pengajar yang

bertugas menyampaikan materi pembelajaran menjadi fasilitator yang

bertugas memberikan kemudahan belajar. Hal itu dimungkinkan karena

perkembangan teknologi menimbulkan banyak buku dengan harga relatif


21

murah dan peserta didik dapat belajar melalui internet dengan tanpa

batasan waktu dan ruang, belajar melalui televisi, radio dan surat kabar

yang setiap saat hadir di hadapan kita.

Derasnya arus informasi, serta cepatnya perkembangan teknologi

dan ilmu pengetahuan telah memunculkan pertanyaan terhadap tugas guru

sebagai pengajar. Masihkah guru diperlukan mengajar di depan kelas

seorang diri , menginformasikan, menerangkan dan menjelaskan. Untuk

itu guru harus senantiasa mengembangkan profesinya secara profesional,

sehingga tugas dan peran guru sebagai pengajar masih tetap diperlukan

sepanjang hayat.

3). Guru Sebagai Pembimbing

Guru sebagai pembimbing dapat diibaratkan sebagai pembimbing

perjalanan yang berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya yang

bertanggungjawab. Sebagai pembimbing, guru harus merumuskan tujuan

secara jelas, menetapkan waktu perjalanan, menetapkan jalan yang harus

ditempuh, menggunakan petunjuk perjalanan serta menilai kelancarannya

sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik.

Sebagai pembimbing semua kegiatan yang dilakukan oleh guru

harus berdasarkan kerjasama yang baik antara guru dengan peserta didik.

Guru memiliki hak dan tanggungjawab dalam setiap perjalanan yang

direncanakan dan dilaksanakannya.


22

4). Guru Sebagai Pengarah

Guru adalah seorang pengarah bagi peserta didik, bahkan bagi

orang tua. Sebagai pengarah guru harus mampu mengarkan peserta didik

dalam memecahkan permasalahan-permasalahan yang dihadapi,

mengarahkan peserta didik dalam mengambil suatu keputusan dan

menemukan jati dirinya.

Guru juga dituntut untuk mengarahkan peserta didik dalam

mengembangkan potensi dirinya, sehingga peserta didik dapat

membangun karakter yang baik bagi dirinya dalam menghadapi kehidupan

nyata di masyarakat.

5). Guru Sebagai Pelatih

Proses pendidikan dan pembelajaran memerlukan latihan

ketrampilan, baik intelektual maupun motorik, sehingga menuntut guru

untuk bertindak sebagai pelatih, yang bertugas melatih peserta didik dalam

pembentukan kompetensi dasar sesuai dengan potensi masing-masing

peserta didik.

Pelatihan yang dilakukan, disamping harus memperhatikan

kompetensi dasar dan materi standar, juga harus mampu memperhatikan

perbedaan individual peserta didik dan lingkungannya. Untuk itu guru

harus banyak tahu, meskipun tidak mencakup semua hal dan tidak setiap

hal secara sempurna, karena hal itu tidaklah mungkin.


23

6). Guru Sebagai Penilai

Penilaian atau evalusi merupakan aspek pembelajaran yang paling

kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta

variabel lain yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks

yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian.

Tidak ada pembelajaran tanpa penilaian, karena penilaian merupakan

proses menetapkan kualitas hasil belajar, atau proses untuk menentukan

tingkat pencapaian tujuan pembelajaran peserta didik.

Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-

prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes atau non tes. Teknik

apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang

jelas, yang meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak

lanjut.

Mengingat kompleksnya proses penilaian, maka guru perlu

memiliki pengetahuan, ketrampilan dan sikap yang memadai. Guru harus

memahami teknik evaluasi, baik tes maupun non tes yang meliputi jenis

masing-masing teknik, karakteristik, prosedur pengembangan, serta cara

menentukan baik atau tidaknya ditinjau dari berbagai segi, validitas,

reliabilitas, daya beda dan tingkat kesukaran soal.

3. Profesi Guru

a. Pengertian Profesi

Pengertian profesi adalah suatu pernyataan atau suatu janji terbuka

(to profess artinya menyatakan), yang menyatakan bahwa seseorang itu


24

mengabdikan dirinya pada suatu jabatan atau pelayanan karena orang tersebut

merasa terpanggil untuk menjabat pekerjaan itu. (Sahertian, 1994 : 26)

Pengertian profesi menurut Hornby dalam Roestiyah (1982 : 176)

“accuption is one reguiring, advanced educational and special training “

Profesi adalah suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut dan latihan

khusus. Sutisna (1983 : 302) mengemukakan bahwa profesi adalah suatu

pekerjaan yang meminta pendidikan tertentu dalam liberal arts atau science

dan biasanya meliputi pekerjaan mental, seperti : mengajar, pekerja Sosial,

pengarang dan seterusnya terutama kedokteran, hukum / teologi.

Sejalan dengan itu, Ornstein dan Levine dalam Soetjipto dan Kosasi.

(1999:15) menyatakan bahwa profesi adalah jabatan yang mengandung

pengertian ; 1) melayani masyarakat, merupakan karier yang akan

dilaksanakan sepanjang hayat (tidak berganti-ganti pekerjaan), 2) memerlukan

bidang ilmu dan ketrampilan tertentu diluar jangkauan khalayak ramai (tidak

setiap orang dapat melakukannya) 3) menggunakan hasil penelitian dan

aplikasi dari teori ke praktek (teori baru di kembangkan dari hasil penelitian)

4) memerlukan latihan khusus dengan waktu yang panjang, 5) terkendali

berdasarkan lisensi baku dan/atau mempunyai persyaratan masuk (untuk

menduduki jabatan tersebut memerlukan izin tertentu atau persyaratan khusus

yang ditentukan untuk dapat mendudukinya), 6) otonomi dalam membuat

keputusan tentang ruang lingkup kerja tertentu atau adanya persyaratan

tertentu (tidak teratur orang lain), 7) menerima tanggung jawab terhadap

keputusan yang diambil dan unjuk kerja yang ditampilkan yang berhubungan
25

dengan layanan yang diberikan (langsung bertanggung jawab terhadap apa

yang diputuskannya, tidak pindah ke atasan atau instansi yang lebih tinggi).

Mempunyai sekumpulan untuk kerja yang baku, 8) mempunyai komitmen

terhadap jabatan dan klien; dengan penekanan terhadap layanan yang akan

diberikan, 9) menggunakan administrator untuk memindahkan profesinya;

relatif bebas dari supervisi dalam jabatan (misalnya: dokter memakai tenaga

administrator untuk mendata klien, sementara tidak ada supervisi dari luar

terhadap pekerjaan dokter itu sendiri), 10) mempunyai organisasi yang diatur

oleh anggota profesi sendiri, 11) mempunyai profesi dan atau kelompok elit

untuk mengetahui dan mengakui keberhasilan, 12) mempunyai kode etik

untuk menjelaskan hal-hal yang meragukan atau menyaksikan yang

berhubungan dengan layanan yang diberikan, 13) mempunyai kadar

kepercayaan yang tinggi dari publik kepercayaan diri setiap anggotanya

(anggota masyarakat selalu meyakini dokter lebih tahu tentang penyakit pasien

yang dilayani). 14) mempunyai status sosial dan ekonomi yang tinggi (bila di

banding dengan jabatan lainnya).

Pengertian jabatan profesional perlu dibedakan dari pekerjaan yang

menuntut dan dapat dipenuhi lewat pembiasaan melakukan ketrampilan

tertentu (magang, keterlibatan langsung dalam situasi kerja dilingkungannya,

dan ketrampilan kerja sebagai warisan orang tua atau pendahulunya). Seorang

pekerja profesional perlu dibedakan dari: pertama, seorang teknisi, kedua

(pekerja profesional dan teknisi) dapat saa tampil dengan unjuk kerja yang

sama (misalnya: menguasai tehnik kerja sama, menguasai prosedur yang


26

sama, dapat memecahkan masalah-masalah teknik dalam bidang kerjanya),

tetapi seorang yang profesional dituntut menguasai visi yang mendasari

ketrampilan yang menyangkut wawasan filosofis, pertimbangan rasional, dan

memiliki pola yang positif dalam melaksanakan serta mengembangkan mutu

karyanya ( Joni: 1980:6)

Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh

seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan

keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma

tertentu serta memerlukan pendidikan profesi (UU No. 14/2005).

b. Profesi Guru

Guru sebagai profesi, bukan lagi dianggap sebagai pekerjaan biasa,

tetapi suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan dan keahlian tertentu

yang tidak dapat dilakukan oleh sembarangan orang.

Guru mengemban tugas sebagaimana dinyatakan dalam Undang-

Undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 2003, dalam pasal 39 ayat 1.

Tenaga kependidikan bertugas melaksanakan administrasi, pengelolaan,

pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses

pendidikan pada satuan pendidikan. Sedangkan ayat 2 berbunyi pendidik

merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan

proses pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta

melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi

pendidik pada perguruan tinggi.


27

Di dalam Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen

pasal 1 menyebutkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas

utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan

mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan

formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Pengakuan guru sebagai

tenaga profesional dibuktikan dengan sertifikat pendidik.

c. Syarat – Syarat Menjadi Guru Profesional

Menjadi seorang guru bukanlah pekerjaan gampang, seperti yang

dibayangkan sebagian orang, dengan bermodal penguasaan materi dan

menyampaikannya kepada peserta didik, hal ini belum cukup untuk dikatakan

sebagi guru yang memiliki pekerjaan profesional. Guru harus memiliki

berbagai ketrampilan, kemampuan khusus, mencintai pekerjaannya dan

menjaga kode etik guru.

Menurut Oemar Hamalik dalam Yamin (2006 : 7) guru profesional

harus memiliki persyaratan yang meliputi (1) memiliki bakat sebagai guru, (2)

memiliki keahlian sebagai guru, (3) memiliki keahlian yang baik dan

terintegrasi, (4) memiliki mental yang sehat, (5) berbadan sehat, (6) memiliki

pengalaman dan pengetahuan yang luas, (7) berjiwa Pancasila, (8) merupakan

warga negara yang baik.

Sedangkan menurut Undang Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru

dan Dosen pasal 7, profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang

dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut : (1) memiliki bakat, minat,

panggilan jiwa dan idealisme, (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan


28

mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia, (3) memiliki

kualitas akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas,

(4) memilik kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas, (5)

memiliki tanggungjawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan, (6)

memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja, (7)

memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara

berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat, (8) memiliki jaminan

perlindungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan (9)

memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal

yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

4. Sertifikasi Guru

a. Pengertian Sertifikasi

Guru merupakan kunci dalam peningkatan mutu pendidikan dan

mereka berada di titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang

diarahkan pada perubahan-perubahan kualitatif. Setiap usaha peningkatan

mutu pendidikan seperti pembaharuan kurikulum, pengembangan metode-

metode mengajar, penyediaan sarana dan prasarana hanya akan berarti jika

melibatkan guru. Artinya titik total pembangunan pendidikan tergantung dari

bagaimana membangun mutu guru ke arah yang profesional.

Dalam kenyataannya mutu guru di Indonesia sangat beragam dan rata-

rata masih di bawah standar yang telah ditentukan. Banyak guru yang belum

memenuhi standar kualifikasi pendidikan dan belum mempunyai kompetensi

yang telah disyaratkan.


29

Sertitifikasi adalah pemberian sertifikat kompetensi atau surat

keterangan sebagai pengakuan terhadap kemampuan seseorang dalam

melakukan suatu pekerjaan setelah lulus uji kompetensi. Sertifikasi berasal

dari kata certification yang berarti diploma atau pengakuan secara resmi

kompetensi seseorang untuk memangku sesuatu jabatan profesional.

Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai surat bukti kemampuan mengajar

dalam mata pelajaran, jenjang dan bentuk pendidikan tertentu seperti yang

diterangkan dalam sertifikat kompetensi tersebut (depdiknas, 2003).

Dalam Undang Undang No. 14/2005 pasal 2, disebutkan bahwa

pengakuan guru sebagai tenaga yang profesional dibuktikan dengan sertifikasi

pendidik. Selanjutnya pasal 11 menjelaskan bahwa sertifikasi pendidik

diberikan kepada guru yang telah memenuhi persyaratan. Sertifikasi pendidik

diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan

tenaga kependidikan yang terakreditasi.

Menurut Samani (2006 : 8) sertifikat pendidik adalah bukti formal

dari pemenuhan dua syarat, yaitu kualifikasi akademik minimum dan

penguasaan kompetensi minimal sebagai guru. Sedangkan menurut Trianto

dan Tutik (2007 : 9) Sertifikat pendidik adalah surat keterangan yang

diberikan suatu lembaga pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi

sebagai bukti formal kelayakan profesi guru, yaitu memenuhi kualifikasi

pendidikan minimum dan menguasai kompetensi minimal sebagai agen

pembelajaran.
30

Sertifikasi guru dapat diartikan sebagai suatu proses pemeberian

pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan

pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah lulus uji

kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi (Mulyasa, 2007 :

34).

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Sertifikasi pendidik adalah

suatu bukti pengakuan sebagai tenaga profesional yang telah dimiliki oleh

seorang pendidik dalam melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan

pendidikan tertentu, setelah yang bersangkutan menempuh uji kompetensi

yang dilakukan oleh lembaga sertifikasi.

b. Tujuan dan Manfaat Sertifikasi

Menurut Wibowo dalam Mulyasa (2007 : 35) mengungkapkan bahwa

tujuan sertifikasi guru adalah (1) melindungi profesi pendidik dan tenaga

kependidikan, (2) melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak

kompeten, sehingga merusak citra pendidik dan tenaga kependidikan, (3)

membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan, dengan

menyediakan rambu-rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap

pelamar yang kompeten, (4) membangun citra masyarakat terhadap profesi

pendidik dan tenaga kependidikan, (5) memberikan solusi dalam rangka

meningkatkan mutu pendidikan dan tenaga kependidikan.

Sedangkan menurut Departemen Pendidikan Nasional mengungkapkan

bahwa tujuan sertifikasi guru adalah (1) menentukan kelayakan guru dalam

melaksanakan tugas sebagai agen pembelajaran, (2) meningkatkan


31

profesionalisme guru, (3) meningkatkan proses dan hasil pendidikan, (4)

mempercepat terwujudnya tujuan pendidikan nasional.

Manfaat sertifikasi pendidik dan kependidikan menurut Mulyasa

(2007: 35) yaitu untuk pengawasan dan penjaminan mutu tenaga kependidikan

dalam rangka pengembangan kompetensi, pengembangan karir tenaga

kependidikan secara berkelanjutan dan peningkatan program pelatihan yang

lebih bermutu.

c. Kerangka Sertifikasi

Sertifikasi guru merupakan amanat Undang-Undang Republik

Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sertifikasi dapat berbentuk ijazah dan sertifikat kompetensi, tetapi bukan

sertifikat yang diperoleh melalui pertemuan ilmiah seperti seminar, diskusi

panel, lokakarya dan simposium (UU RI No. 20/2003 pasal 61). Sertifikat

kompetensi diperoleh dari penyelenggara pendidikan dan lembaga pelatihan

setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh satuan pendidikan

yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi.

Sertifikasi guru dikenakan terhadap calon guru lulusan LPTK,

maupun yang berasal dari perguruan tinggi nonkependidikan bidang ilmu

tertentu yang ingin memilih guru sebagai profesi. Bagi lulusan dari perguruan

tinggi nonkependidikaan sebelum mengikuti uji sertifikasi dipersyaratkan

mengikuti program pembentukan kemampuan mengajar di LPTK.


32

Kerangka pelaksanaan sertifikasi kompetensi guru baik lulusan sarjana

kependidikan maupun lulusan sarjana nonkependidikan, menurut Mulyasa

(2007: 40) dapat dijelaskan sebagai berikut :

Pertama, lulusan program sarjana kependidikan sudah mengalami

pembentukan kompetensi menmgajar, sehingga mereka hanya memerlukan uji

kompetensi yang dilaksanakan oleh pendidikan tinggi yang memeliki Program

Pengadaan Tenaga Kependidikan (PPTK) terakreditasi dan ditunjuk oleh

Ditjen Dikti Departemen Pendidikan Nasional.

Kedua, lulusan program sarjana nonkependidikan harus terlebih dahulu

mengikuti proses pembentukan kompetensi mengajar pada perguruan tinggi

yang memiliki Program Pengadaan Tenaga Kependidikan (PPTK) secara

tersetruktur. Setelah dinyatakan lulus dalam pembentukan kompetensi

mengajar, baru mengikuti sertifikasi.

Ketiga, penyelenggara program Pembentukan Kompetensi Mengajar

dipersyaratkan adanya status lembaga LPTK yang terakreditasi. Sedangkan

untuk pelaksanaan uji kompetensi sebagai bentuk audit atau evaluasi

kompetensi mengajar guru harus dilaksanakan oleh LPTK terakreditasi yang

ditunjuk dan ditetapkan oleh Ditjen Dikti Depdiknas.

Keempat, peserta uji kompetensi yang telah dinyatakan lulus, baik

yang berasal dari lulusan program sarjana pendidikan maupun sarjana

nonkependidikan diberikan sertifikat kompetensi sebagai bukti yang

bersangkutan memiliki kewenangan untuk melakukan praktik dalam bidang

profesi guru pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.


33

Kelima, peserta uji kompetensi yang berasal dari guru yang sudah

melaksanakan tugas dalam interval waktu tertentu sebagai bentuk kegiatan

penyegaran dan pemutakhiran kembali sesuai dengan tuntutan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi serta persyaratan dunia kerja. Disamping itu uji

kompetensi juga diperlukan bagi yang tidak melakukan tugas profesinya

sebagai guru dalam jangka waktu tertentu.

d. Standar Kompetensi Guru dalam Sertifikasi

Menurut Broke and Stone dalam Mulyasa (2007 : 25) kompetensi

guru sebagai .. descriptive of qualitative nature of teacher behavior appears to

be entirely meaningful (kompetensi guru merupakan gambaran kualitatif

tentang hakekat perilaku guru yang penuh arti).

Menurut UU RI No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen,

dijelaskan bahwa kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan

dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen

dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Sedangkan menurut Mulyasa (2007 : 26) menyatakan bahwa

kompetensi mengacu pada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh

melalui pendidikan. Kompetensi guru menunjuk kepada performance dan

perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu di dalam

pelaksanaan tugas-tugas pendidikan.

Dari uraian di atas, nampak bahwa kompetensi guru merupakan

gambaran tentang kemampuan guru yang mencakup pengetahuan, ketrampilan


34

dan perilaku guru yang harus dikuasai agar dapat menjalankan tugas secara

profesional.

Kompetensi guru meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi

kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi profesional (UUGD No. 14

/2005 : pasal 10 ). Empat kompetensi guru seperti yang diamanatkan dalam

Undang-Undang tersebut merupakan standar kompetensi yang harus dikusai

oleh guru. Dengan kompetensi tersebut diharapkan guru dapat melaksanakan

tugas sebagai tenaga kependidikan yang profesioanal yaitu sebagai agen

pembelajaran.

Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan mengelola pembelajaran

peserta didik yang meliputi pemahaman terhadap peserta didik, perancangan

dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan

peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

Kompetensi kepribadian yaitu kemampuan kepribadian yang mantap,

stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan

berakhlak mulia. Guru dalam melaksanakan tugasnya harus bersikap terbuka,

kritis dan skeptis untuk mengaktualisasi penguasaan isi bidang studi.

Kompetensi sosial merupakan kemampuan pendidik sebagai bagian

dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan

peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta

didik, dan masyarakat sekitar.

Kompetensi profesional yaitu kemampuan penguasaan materi

pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkannya


35

membimbing peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan

dalam standar nasional pendidikan.

Keempat standar kompetensi guru tersebut dijabarkan dalam bentuk

kisi-kisi standar kompetensi guru dalam sertifikasi seperti terdapat dalam

Lampiran.

e. Sertifikasi Guru dengan Portofolio

Guru dalam jabatan atau guru yang sudah memiliki pengalaman

mengajar proses sertifikasi guru dilakukan dengan berlandaskan pada

Permendiknas No. 18 Tahun 2007. Uji kompetensi untuk memperoleh

sertifikat pendidik dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio. Portofolio

adalah bukti fisik (dokumen) yang menggambarkan pengalaman

berkarya/prestasi yang dicapai dalam menjalankan tugas profesi sebagai guru

dalam interval waktu tertentu. Dokumen ini terkait dengan unsur pengalaman,

karya dan prestasi selama guru yang bersangkutan menjalankan peran sebagai

agen pembelajaran (kompetensi kepribadian, pedagogik, profesional dan

sosial).

Dalam Permendiknas No. 18 Tahun 2007 tentang sertifikasi bagi guru

dalam jabatan komponen portofolio meliputi: (1) kualifikasi akademik, (2)

pendidikan dan pelatihan, (3) pengalaman mengajar, (4) perencanaan dan

pelaksanaan pembelajaran, (5) penilaian dari atasan dan pengawas, (6) prestasi

akademik, (7) karya pengembangan profesi, (8) keikutsertaan dalam forum

ilmiah, (9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial, serta

(10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.


36

Kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telah

dicapai sampai dengan guru mengikuti sertifikasi, baik pendidikan gelas ( S1,

S2 atau S3 ) maupun non gelas ( D4 atau Post Graduate diploma ), baik di

dalam maupun di luar negeri. Bukti fisik yang terkait dengan komponen ini

berupa ijazah atau sertifikat diploma.

Pendidikan dan Pelatihan yaitu pengalaman dalam mengikuti kegiatan

pendidik dan pelatihan dalam rangka pengembangan dan/atau peningkatan

kompetensi dalam melaksanakan tugas sebagai pendidikan, baik pada tingkat

kecamatan, kabupaten/kota, propinsi, nasional, maupun internasional. Bukti

fisik komponen ini dapat berupa sertifikat, piagam, atau surat keterangan dari

lembaga penyelnggara diklat.

Pengalaman mengajar yaitu masa kerja guru dalam melaksanakan

tugas sebagai pendidik pada satuan pendidikan tertentu sesuai dengan surat

tugas dari lembaga yang berwenang (dapat dari Pemerintah, dan/atau

kelompok masyarakat penyelenggara pendidikan). Bukti fisik dari komponen

ini dapat berupa surat keputusan / surat keterangan yang sah dari lembaga

yang berwenang.

Perencanaan Pembelajaran yaitu persiapan mengelola pembelajaran

yang akan dilaksanakan dalam kelas pada setiap tatap muka. Perencanaan

pembelajaran ini paling tidak memuat perumusan tujuan / kompetensi,

pemilihan dan pengorganisasian materi, pemilihan sumber / media

pembelajaran, skenario pembelajaran, dan penilaian hasil belajar. Bukti fisik


37

dari sub komponen ini berupa dokumen perencanaan pembelajaran ( RP / RPP

/ SP ) yang diketahui / disahkan oleh atasan.

Pelaksanaan pembelajaran yaitu kegiatan guru dalam mengelola

pembelajaran di kelas. Kegiatan ini mencakup tahapan pra pembelajaran (

pengecekan kesiapan kelas dan apersepsi ), kegiatan inti ( penguasaan materi,

strategi pembelajaran, pemanfaatan media / sumber belajar, evaluasi,

penggunaan bahasa), dan penutup ( refleksi, rangkuman, dan tindak lanjut ).

Bukti fisik yang dilampirkan berupa dokumen hasil penilaian oleh kepala

sekolah dan/atau pengawas tentang pelaksanaan pembelajaran yang dikelola

oleh guru.

Penilaian dari atasan dan pengawas yaitu penilaian atasan terhadap

kompetensi kepribadian dansosial, yang meliputi aspek-aspek ketaatan

menjalankan ajaran agama, tanggung jawab, kejujuran, kedisiplinan,

keteladanan, etos kerja, inovasi dan kreativitas, kemampuan menerima kritik

dan saran, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan bekerjasama dengan

menggunakan format penilaian.

Prestasi akademik yaitu prestasi yang dicapai guru, utamanya yang

terkait dengan bidang keahliannya yang mendapat pengakuan dari

lembaga/panitia penyelenggara, baik tingkat kecamatan, kabupaten/kota,

provinsi, nasional, maupun internasional. Komponen ini meliputi lomba dan

karya akademik ( juara lomba atau penemuan karya monumental di bidang

pendidikan atau non kependidikan ), dan pembimbingan teman sejawat

dan/atau siswa ( instruktur, guru inti, tutor atau pembimbing ). Bukti fisik
38

yang dilampirkan berupa surat penghargaan, surat keterangan atau sertifikat

yang dikeluarkan oleh lembaga/panitia penyelenggara.

Karya pengembangan profesi yaitu suatu karya yang menunjukkan

adanya upaya dan hasil pengembangan profesi yang dilakukan oleh guru.

Komponen ini meliputi buku yang dipublikasikan pada tingkat

kabupaten/kota, propinsi atau nasional; artiket yang dimuat dalam media

jurnal/majalah/buletin yang tidak terakreditasi, terakreditasi dan internasional

menjadi reviewer buku, penulis soal EBTANAS/UN; modul/buku cetak lokal

( Kabupaten / Kota ) yang minimal mencakup materi pembelajaran selama 1

(satu) semester ; media / ata pembelajaran dalam bidangnya; laporan

penelitian tindakan kelas ( individu / kelompok ); dan karya seni (patung,

rupa, tari, lukis, sastra, dll). Bukti fisik yang dilampirkan berupa surat

keterangan dari pejabat yang berwenang tentang hasil karya tersebut.

Keikutsertaan dalam forum ilmiah yaitu partisipasi dalam kegiatan

ilmiah yang relevan dengan bidang tugasnya pada tingkat kecamatan,

kabupaten / kota, provinsi, nasional atau internasional; baik sebagai

pemakalah maupun sebagai peserta. Bukti fisik yang dimapirkan berupa

makalah dan sertifikat / piagam bagi nara sumber, dan sertifikat / piagam bagi

peserta.

Pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial yaitu

pengalaman guru menjadi pengurus, dan bukan hanya sebagai anggota di

suatu organisasi kependidikan dan sosial. Pengurus organisasi di bidang

kependidikan antara lain pengawas, kepala sekolah, wakil kepala sekolah,


39

ketua jurusan, kepala lab, kelapa bengkel, kepala studio, ketua asosiasi guru

bidang studi, asosiasi profesi, dan pembina kegiatan ekstra kurikuler

(pramuka, drumband, mading, karya ilmiah remaja – KIR). Sedangkan

pengurus di bidang sosial anatara lain menjabat ketua RW, Ketua RT, Ketua

LMD, dan pembina kegiatan keagamaan. Bukti fisik yang dilampirkan adalah

surat keputusan atau surat keterangan dari pihak yang berwenang.

Penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan yaitu

penghargaan yang diperoleh karena guru menunjukkan dedikasi yang baik

dalam melaksanakan tugas dan memenuhi kriteria kuantitatif (lama waktu,

hasil, lokasi/geografis), kualitatif (komitmen, etos kerja), dan relevansi (dalam

bidang/rumpun bidang), baik pada tingkat kabupaten/kota, provinsi, nasional,

maupun internasional. Bukti fisik yang dilampirkan berupa fotocopy

sertifikat, piagam, atau surat keterangan.

Fungsi portofolio dalam sertifikasi guru (khususnya guru dalam

jabatan) untuk menilai kompetensi guru dalam menjalankan tugas dan

perannya sebagai agen pembelajaran. Kompetensi pedagogik dinilai antara

lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan,

pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

Kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial dinilai antara lain melalui

dokumen penilaian dari atasan dan pengawas. Kompetensi profesional dinilai

antara lain melalui dokumen kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatihan,

pengalaman mengajar, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan

prestasi akademik.
40

Portofolio juga berfungsi sebagai : (1) wahana guru untuk

menampilkan dan/atau membuktikan unjuk kinerjanya yang meliputi

produktivitas, kualitas, dan relevansi melalui karya-karya utama dan

pendukung, (2) informasi/data dalam memberikan pertimbangan tingkat

kelayakan kompetensi seorang guru, bila dibandingkan dengan standar yang

telah ditetapkan, (3) dasar menentukan kelulusan seorang guru yang mengikuti

sertifikasi (layak mendapatkan sertifikat pendidik atau belum) dan (4) dasar

memberikan rekomendasi bagi peserta yang belum lulus untuk menentukan

kegiatan lanjutan sebagai representasi kegiatan pembinaan dan pemberdayaan

guru.

f. Mekanisme Pengujian Sertifikasi

Pengujian sertifikasi terutama pengujian dengan portofolio dilakukan

dengan dua tahapan, yaitu harus menempuh tes tertulis dan tes kinerja yang

dipadukan dengan self appraisal, portofolio dan dilengkapi dengan peer

appraisal. Adapun materi tes tertulis dan tes kinerja, portofolio dan peer

appraisal didasarkan pada indikator esensial kompetensi guru sesuai dengan

tuntutan minimal sebagai agen pembelajaran.

Menurut Trianto dan Tutik (2007 : 83), mekanisme pengujian

sertifikasi guru mengikuti tiga alur yaitu : (1) para guru harus memenuhi

persyaratan administrasi yang telah ditetapkan dan baru menempuh ujian tulis;

(2) jika lulus dalam ujian tertulis, guru diwajibkan mengikuti uji kinerja; (3)

guru wajib mencatat dan mengumpulkan semua aktivitas yang dilakukan baik

saat pembelajaran maupun di luar pembelajaran dalam bentuk portofolio.


41

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Rangcangan Penelitian

Penelitian ini pada dasarnya akan memberikan penjelasan tentang

persepsi guru sekolah dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program sertifikasi

melalui kegiatan analisis secara kualitatif.

Penelitian ini dirancang dan dianalisis secara kualitatif, dimana realitas

dipandang sesuatu yang holistik, kompleks, dinamis, penuh makna dan dengan

menggunakan pola pikir yang induktif. Fokus penelitian kualitatif belum

begitu jelas dan akan berkembang pada waktu penelitian berlangsung.

Hubungan antara peneliti dengan yang diteliti bersifat interaktif dengan

sumber data supaya memperoleh makna.

Metode Penelitian kualitatif juga dinamakan metode postpositivistik

karena berlandaskan pada filsafat postpositivisme dan juga dinamakan metode

artistik karena bersifat seni, serta dinamakan metode alamiah atau natural

setting (Sugiyono, 2006 : 8).

B. Lokasi dan Informan Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sekolah Dasar se Kecamatan Jiwan

Kabupaten Madiun tahun 2007.

Informan dalam penelelitian kualitatif merupakan nara sumber atau

partisipan yang menjadi teman dan guru dalam penelitian. Informan dalam

penelitian ini adalah guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan Kabupaten

41
42

Madiun. Jumlah dan penentuan informan dilakukan dengan teknik Snowball

sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data yang pada awalnya

jumlahnya sedikit, lama-lama menjadi besar seperti bola salju yang

menggelinding

C. Teknik Penelitian

1. Teknik Pengumpulan Data

Teknik Pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis

dalam penelitian. Menurut Sugiyono (2006 : 253) pengumpulan data dapat

dilakukan dalam berbagai setting, berbagai sumber dan berbagai cara.

Ditinjau dari settingnya, pengumpulan data dapat dilakukan pada

setting alamiah (natural setting), pada laboratorium (eksperimen), pada suatu

seminar, di rumah dan dapat juga pada waktu diskusi. Berdasarkan sumber

data, pengumpulan data dapat menggunakan sumber primer dan sumber

skunder. Sedangkan ditinjau dari cara pengambilan data, pengumpulan data

dapat dilakukan dengan cara Observasi, interview, kuisioner dan dokumentasi.

Pada penelitian ini pengumpulan data dilakukan pada setting alamiah

dengan sumber data primer dan dengan cara kuisioner, dokumentasi, dan

wawancara.

a. Teknik Angket (kuesioner)

Angket digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi guru

terhadap program sertifikasi guru. Angket ini digunakan untuk memperoleh

data bagaimana persepsi guru terhadap program sertifikasi yang akan


43

dilaksanakan oleh pemerintah. Daftar pertanyaan yang ada dalam angket

bersifat terbuka dan dapat diisi sesuai dengan pendapat informan penelitian.

b. Teknik Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen

dapat berupa tulisan, gambar, atau karya monumental dari seseorang.

Dokumen yang berbentuk tulisan berupa catatan harian, cerita,

biografi,monografi, peraturan dan kebijakan.

Dokumen yang dikumpulkan dalam penelitian ini berbentuk dokumen

tulisan yang berupa monografi, peraturan dan kebijakan pemerintah.

c. Teknik Wawancara

Teknik pengumpulan data dengan wawancara dimaksudkan untuk

mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari informan. Wawancara

digunakan untuk memperoleh data yang lebih valid dari informan dan

memperkuat data yang sudah diperoleh dari hasil angket dan dokumentasi.

Wawancara terhadap informan dilakukan dengan semiterstruktur

(semistructure interview), dimana dalam pelaksanaan wawancara dilakukan

secara terbuka, bebas tetapi masih berpedoman pada pedoman wawancara

yang sudah disiapkan.

2. Teknik Pengolahan Data

Dalam penelitian kualitatif, data diperoleh dari berbagai sumber,

dengan menggunakan teknik pengumpulan data yang bermacam-macam

(triangulasi), dan dilakukan secara terus menerus sampai datanya jenuh.


44

Dengan pengamatan yang terus menerus tersebut mengakibatkan variasi data

tinggi sekali. Data yang diperoleh pada umumnya adalah data kualitatif

(walaupun tidak menolak data kuantitatif), sehingga teknik pengolahan data

yang digunakan belum ada polanya yang jelas. Oleh karena itu sering

mengalami kesulitan dalam melakukan pengolahan data.

Pengolahan data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum

memasuki lapangan, selama di lapangan, dan setelah selesai di lapangan.

Pengolahan data telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan masalah,

sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil

penelitian. Dalam penelitian kualitatif, pengolahan data lebih difokuskan

selama proses di lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.

Model pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan Model Interactive dari Miles and Huberman yaitu analisis data

dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai

pengumpulan data dalam periode tertentu. Aktivitas dalam analisis data

meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan verifikasi data

seperti dilukiskan pada Gambar 1.

Data Collection Data Disply

Data Reduction

Verifying

Gambar 1.
Pengolahan data Model Interactive ( Miles and Huberman )
45

a. Data Collection (Pengumpulan Data)

Data dikumpulkan dengan berbagai teknik pengumpulan data

(Triangulasi), yaitu merupakan penggabungan dari berbagai macam teknik

pengumpulan data baik wawancara, observasi maupun dengan menggunakan

angket. Semakin banyak data yang terkumpul, maka hasil penelitian yang

didapat semakin bagus.

b. Data Reduction (Reduksi Data)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu

maka data perlu dicatat secara teliti dan rinci. Kemudian data dirangkum,

dipilih hal-hal yang pokok, difokuskan pada hal-hal yang penting dan dicari

tema serta polanya.

Data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas

dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya,

dan mencari data berikutnya jika diperlukan. Data-data yang tidak terpakai

dibuang, sehingga peneliti lebih fokus pada data yang telah tereduksi.

Dalam penelitian ini data-data yang tereduksi adalah data-data yang

ada kaitannya dengan tujuan penelitian yaitu persepsi positif dan persepsi

negatif guru terhadap sertifikasi guru serta temuan-temuan di lapangan yang

ada kaitanya dengan sertifikasi guru. Data yang tidak ada kaitannya dengan

persepsi positif dan persepsi negatif guru terhadap sertifikasi guru dibuang.

Karena reduksi data merupakan proses berfikir sensitif yang

memerlukan kecerdasan dan keluasan serta kedalaman wawasan, maka

reduksi data dapat dilakukan dengan mendiskusikan pada teman atau orang
46

lain yang dipandang ahli, misalnya Kepala Cabang Dinas Pendidikan, Kepala

Dinas Pendidikan atau para Pengawas pada Dinas Pendidikan Kabupaten

Madiun. Dari hasil diskusi akan diperoleh data yang benar-benar penting dan

sesuai dengan tujuan.

c. Data display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah

mendispaykan data. Display data dapat dalam bentuk tabel, grafik, chard dan

sejenisnya. Melalui penyajian data dalam bentuk display, maka data dapat

terorganisir, tersusun dalam pola hubungan, sehingga akan semakin mudah

dipahami.

Display data dalam penelitian ini dilakukan dalam bentuk uraian

singkat, bagan, hubungan antar kategori dan flowchart. Penyajian data dengan

menggunakan teks yang bersifat naratif.

d. Verifying (Verifikasi)

Langkah berikutnya dalam analisis data adalah verifikasi yaitu

memverifikasi data dan menarik kesimpulan. Kesimpulan yang diambil harus

didukung oleh data-data yang valid dan konsisten, sehingga kesimpulan yang

dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel.

Kesimpulan yang diperoleh merupakan jawaban dari fokus penelitian

yang telah dirumuskan sejak awal dan dapat berkembang sesuai dengan

kondisi yang berada di lapangan. Kesimpulan yang diperoleh juga dapat

berupa temuan baru yang belum pernah ada sebelumnya.


47

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASANNYA

A. Gambaran Umum Pendidikan di Kecamatan Jiwan

Kecamatan Jiwan merupakan salah satu bagian dari lima belas

kecamatan yang ada di Kabupaten Madiun. Kecamatan Jiwan terletak di

sebelah barat daya wilayah Kabupaten Madiun. Batas wilayah Kecamatan

Jiwan yaitu sebelah timur Kota Madiun, sebelah barat dan selatan berbatasan

dengan Kabupaten Magetan dan disebelah utara berbatasan dengan

Kecamatan Sawahan.

Perkembangan pendidikan di Kecamatan Jiwan ditinjau dari kuantitas

menunjukkan perkembangan yang sangat pesat. Data jumlah sekolah di

Kecamatan Jiwan dapat di lihat pada Tabel 2.

Tabel 2.
Data Sekolah di Kecamatan Jiwan

No. Jenis Sekolah Jumlah

1. Sekolah Dasar (SD) 28


2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2
3. Sekolah Menengah Atas (SMA) 1
4. Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 2
5. Sekolah Luas Biasa (SLB) 1
6. Madrasah Tsanawiyah 1
Jumlah sekolah 35

47
48

Melihat jumlah sekolah yang ada di Kecamatan Jiwan sebenarnya

sudah sangat memadai, tetapi masyarakat Jiwan lebih banyak mengacu pada

perkembangan pendidikan yang ada di Kota Madiun. Masyarakat lebih

banyak menyekolahkan anaknya di Kota Madiun, bahkan sejak Sekolah Dasar

mereka menyekolahkan anaknya di kota. Apalagi sejak pendidikan di Kota

Madiun memberlakukan kuota anak luar kota yang bisa masuk hanya 10

persen, maka sebagian besar anak-anak Jiwan sejak Sekolah Dasar sudah

sekolah di kota.

Penyebaran Sekolah Dasar hampir merata di semua desa di Kecamatan

Jiwan. Data Penyebaran Sekolah Dasar berdasarkan wilayah seperti terlihat

pada Tabel 4.

Tabel 3.
Data Penyebaran Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan

Jumlah
Jumlah
No. Nama Desa Guru
SD
1. Jiwan 2 23
2. Sukolilo 2 19
3. Kwangsen 2 15
4. Bibrik 2 16
5. Teguhan 3 24
6. Grobogan 2 16
7. Klegen Serut 2 12
8. Ngetrep 1 9
9. Wayut 2 18
10. Sambirejo 2 19
11. Kincang 3 29
12. Bedoho 1 7
13. Bukur 2 18
14. Metesih 2 18
Jumlah sekolah 28 243
49

Potensi tenaga kependidikan pada Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan

seperti terlihat pada Tabel 4.

Tabel 4.
Data Guru, Kepala Sekolah dan Penjaga

Jenis Guru

Kepala Sekolah
Jumlah Guru

Penjaga
No. Nama Sekolah

Olah Raga
Kristen
Agama

Agama
Umum

1 Wayut 01 7 Islam
1 8 1
2 Wayut 03 7 1 1 9 0 2
3 Jiwan 01 10 1 1 12 1 1
4 Jiwan 02 7 1 1 1 10 1
5 Sukolilo 01 8 1 1 1 11 1 1
6 Sukolilo 03 7 1 1 9 1
7 Kincang 01 8 2 1 11 1 1
8 Kincang 02 6 1 1 1 9 1 1
9 Kincang 03 7 1 1 9 1
10 Metesih 01 8 1 1 10 1 1
11 Metesih 03 6 1 1 8 1 1
12 Teguhan 01 6 1 1 8 1 1
13 Teguhan 02 7 1 1 9 1 1
14 Teguhan 03 6 1 1 8 1
15 Kwangsen 01 6 1 7 1
16 Kwangsen 02 6 1 1 8 1
17 Ngetrep 6 2 8 1 1
18 Grobogan 01 5 1 1 7 1 1
19 Grobogan 02 6 2 1 9 0
20 Sambirejo 01 7 1 1 9 1
21 Sambirejo 02 8 1 1 10 1
22 Bukur 01 6 2 1 9 1
23 Bukur 02 6 2 1 9 1 1
24 Klagenserut 01 8 3 1 12 1 1
25 Klegenserut 02 0 0 1 1 0
26 Bibrik 01 6 1 7 1
27 Bibrik 02 6 2 1 9 1
28 Bedoho 6 1 8 1 1

182 35 3 23 243 25 15
Jumlah
50

B. Tanggapan Positif Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan Terhadap


Program Sertifikasi Guru

Undang-Undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005 dibentuk dan

dikeluarkan dengan berbagai pertimbangan yaitu (1) dalam rangka upaya

mencerdaskan kehidupan bangsa dan meningkatkan kualitas manusia

Indonesia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia serta menguasai ilmu

pengetahuan, teknologi, dan seni dalam mewujudkan masyarakat yang maju,

adil, makmur, dan beradab berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Negara Republik Indonesia Tahun 1945; (2) untuk menjamin perluasan dan

pemerataan akses, peningkatan mutu dan relevansi, serta tata pemerintahan

yang baik dan akuntabilitas pendidikan yang mampu menghadapi tantangan

sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global perlu

dilakukan pemberdayaan dan peningkatan mutu guru secara terencana, terarah

dan berkesinambungan; (3) bahwa guru mempunyai fungsi, peran, dan

kedudukan yang sangat strategis dalam pembangunan nasional dalam bidang

pendidikan, sehingga perlu dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat.

Pemberlakuan UU No. 14 Tahun 2005 merupakan komitmen

pemerintah dalam rangka mengangkat martabat profesi guru yang sekarang

berada di titik nadir yang ”hidup segan matipun tak mau”. Profesi guru akan

diposisikan sebagai sutau profesi sebagaimana halnya profesi dokter,

pengacara, akuntan. Tanggapan positif guru terhadap pemebrlakuan Undang-

Undang Guru dan Dosen sebagai berikut :


51

Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen


merupakan langkah maju pemerintah dalam meningkatkan kualitas
guru di Indonesia, sehingga akan berdampak pada peningkatan kualitas
pendidikan. Sebagaimana kita ketahui pak, bahwa peningkatan mutu
pendidikan tidak akan lepas dari peningkatan mutu guru. Kalau
menurut saya jika guru-guru kita bagus-bagus terutama guru SD, maka
kualitas pendidikan kita juga bagus. (Wiwik Widagti, S.Pd., guru SDN
Jiwan 01)

Dengan diberlakukannya Undang-Undang tersebut harapan


guru untuk meningkatkan kemampuannya sangat besar dan yang tidak
kalah menariknya adalah peningkatan kesejahteraan guru. Selama ini
kan guru-guru kita banyak yang ekonominya pas-pasan. (Eny Priyatin,
S.Pd, guru SDN Kincang 03)

Adanya Undang Undang tersebut dapat dikatakan bahwa guru


mempunyai landasan hukum yang sangat kuat dalam mengembangkan
dirinya. (Indyah Ayu TM, S.Pd., Kepala SDN Kincang 03)

Bahwa Undang Undang tersebut sangat penting dalam


mendukung pengembangan kompetensi guru. Saya sangat setuju,
karena pemberlakuan Undang Undang tersebut merupakan perjuangan
rekan-rekan pengurus PGRI. Dengan diberlakukannya Undang-
Undang tersebut merupakan angin segar bagi guru untuk memperoleh
penghasilan yang layak. (Koesbagyo, S.Pd, Kepala SDN Jiwan 02)

Dari paparan data hasil wawancara menunjukkan bahwa guru di

Kecamatan Jiwan sangat mendukung adanya pemberlakuan UU RI No.

14/2005. Keberanian pemerintah dalam memberlakukan Undang-Undang

tersebut merupakan langkah maju dalam rangka memperbaiki kualitas

pendidikan terutama di lihat dari segi perbaikan kualitas guru. Guru

merupakan kunci utama dalam peningkatan mutu pendidikan dan mereka

berada di titik sentral dari setiap usaha reformasi pendidikan yang diarahkan

pada perubahan-perubahan kualitattif. Setiap usaha peningkatan mutu

pendidikan seperti pembaharuan kurikulum, pengembangan metode


52

pengajaran, penyediaan sarana hanya akan mempunyai nilai tinggi jika

melibatkan guru.

Pemberlakuan Undang-Undang Guru dan Dosen sangat berdampak

pada peningkatan kesejahteraan guru. Seperti yang telah diamanatkan dalam

Undang-Undang tersebut bahwa jika seorang guru telah memiliki sertifikat

pendidik, maka guru tersebut berhak atas tunjangan profesi sebesar satu kali

gaji pokok.

Tingkat kesejahteraan guru di Indonesia tergolong rendah, bahkan

amat rendah, tidak setara dengan pengabdian yang diberikannya. Jumlah gaji

yang diterimanya jauh di bawah kebutuhan minimal untuk hidup guru bersama

keluarganya. Keadaan ini berlaku untuk semua guru di semua tingkat

pendidikan dan semua daerah, baik guru yang menyandang pegawai negeri

sipil apalagi guru yang berstatus honorer, guru tidak tetap dan juga guru

bantu. Kesejahteraan guru yang rendah berdampak tidak menguntungkan

terhadap motivasi guru, status sosial profesi keguruan dan dunia pendidikan

secara keseluruhan. Oleh karena itulah dengan diberlakukannya Undang-

Undang tersebut, maka memberikan harapan bagi guru untuk dapat

meningkatkan kesejahteraannya. Jika kesejahteraan guru meningkat, maka

akan berdampak positif terhadap peningkatan kinerja guru dan pada gilirannya

akan dapat meningkatkan kualitas pendidikan.

Landasan hukum sangat diperlukan bagi guru, karena dengan adanya

landasan hukum yang kuat, maka semua hak dan kewajiban guru akan dijamin

sepenuhnya oleh undang-undang. Hak-hak guru yang dijamin oleh undang-


53

undang meliputi (1) memperoleh penghasilan di atas kebutuhan hidup

minimum dan jaminan kesejahteraan sosial ; (2) mendapatkan promosi dan

penghargaan sesuai dengan tugas dan prestasi kerja ; (3) memperoleh

perlindungan dalam menghasilkan tugas dan hak atas kekayaan intelektual ;

(4) memperoleh kesempatan untuk meningkatkan kompetensi; (5)

memperoleh dan memanfaatkan sarana dan prasarana pembelajaran untuk

menunjang kelancaran tugas keprofesionalan ; (6) memiliki kebebasan dalam

memberikan penilaian dan ikut menentukan kelulusan, penghargaan dan atau

sanksi kepada peserta didik sesuai dengan kaidah pendidikan, kode etik guru

dan peraturan perundang-undangan; (7) memperoleh rasa aman dan jaminan

keselamatan dalam melaksanakan tugas; (8) memiliki kebebasan untuk

berserikat dalam organisasi profesi; (9) memiliki kesempatan untuk berperan

dalam penentuan kebijakan pendidikan; (10) memperoleh kesempatan untuk

mengembangkan dan meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi

serta; (11) memperoleh pelatihan dan pengembangan profesi dalam

bidangnya.

Sedangkan kewajiban guru yang harus dilaksanakan sesuai dengan

undang-undang adalah (1) merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses

pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil

pembelajaran; (2) meningkatkan dan mengembangkan kualifikasi akademik

dan kompetensi secara berkelanjutan sejalan dengan perkembangan ilmu

pengetahuan, teknologi dan seni; (3) bertindak obyektif dan tidak diskriminatif

atas dasar pertimbangan jenis kelamin, agama, suku, ras dan kondisi fisik
54

tertentu atau latar belakang keluarga dan status sosial ekonomi peserta didik

dalam pembelajaran; (4) menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan,

hukum dan kode etik guru serta nilai-nilai agama dan etika; (5) memelihara

dan memupuk persatuan dan kesatuan bangsa.

Undang-Undang Guru dan Dosen mensyaratkan bahwa guru harus

mempunyai kualifikasi akademik Sarjana atau Diploma IV. Dengan

pendidikan Sarjana atau Diploma IV, diharapkan setiap guru dari segi ilmu

sungguh kompeten untuk mengajar disekolah menengah ke bawah. Guru juga

diharapkan lebih menguasai bidang ilmunya, tidak salah konsep, dan tidak

akan menyebarkan salah konsep kepada siswa.

Kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas dari tenaga guru

yang mengasuh anak didiknya. Guru menjadi sumber ilmu bagi anak-anak

bangsa. Sebagai sumber ilmu guru harus senantiasa meningkatkan

kemampuannya dengan cara menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Guru

juga harus terus belajar, agar tidak merasa kekeringan dalam bidang ilmu

pengetahuan.

Informan yang diwawancarai menyatakan sangat setuju dengan syarat

kualifikasi akedemik seperti diamanatkan pada pasal 9 Undang-Undang

Republik Indonesia No. 14/2005. Guru harus terus mengikuti perkembangan

ilmu pengetahuan, oleh karena itu kualifikasi akademik Sarjana atau Diploma

IV merupakan sesuatu hal yang telah menjadi tuntutan jaman. Tanggapan

tentang kualifikasi akademik dalam sertifikasi guru disampaikan sebagai

berikut :
55

Saya sangat setuju dengan persyaratan seorang guru yang harus


mempunyai kualifikasi sarjana atau diploma IV. Sebab dengan adanya
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, guru mutlak harus
mempunyai kualifikasi akademik sarjana atau diploma IV. Kalau guru
diberi kesempatan untuk meningkatkan pendidikannya, pasti guru
tersebut akan menyelesaikannya dengan baik, walaupun hanya
serampangan. Saya sangat setuju guru sarjana dan juga harus
mempunyai kreatifitas yang tingggi. (Wiwik Widagti, S.Pd. guru SDN
Jiwan 01 )

Syarat guru harus sarjana atau diploma IV sudah sesuai dengan


kebutuhan dan perkembangan teknologi saat ini. Tetapi sebenarnya
yang terpenting adalah kemampuan guru dalam menguasai ilmu
pengetahuan dan teknologi, sebab banyak juga guru yang belum
sarjana atau diploma IV tetapi mempunyai kemampuan lebih
dibandingkan dengan guru-guru yang sudah sarjana.(Suyoto, S.Pd.
guru SD Grobogan 2)

Pasal 10 Undang-Undang Guru Dosen No.14/2005 menyebutkan

tentang kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yaitu : Kompetensi

Pedagogik, Kompetensi Kepribadian, Kompetensi Sosial dan Kompetensi

Profesional. Sebagian besar informan sangat setuju dengan persyaratan empat

kompetensi dasar tersebut. Sedangkan untuk membuktikan bahwa guru

mempunyai empat kompetensi dasar tersebut dilakukan pengujian dengan cara

sertifikasi guru. Tanggapan tentang persyaratan kompetensi dasar yang harus

dimiliki oleh guru disampaikan sebagai berikut :

Saya setuju dengan empat kompetensi dasar yang harus dikuasai


oleh para guru dan saya juga sangat setuju bila guru yang mempunyai
masa kerja lebih dari 20 tahun diutamakan dalam pelaksanaan
penilaian kinerja dan penilaian portofolio.
Sertifikasi guru dalam jabatan hendaknya dengan persyaratan
yang tidak memberatkan pribadi guru yang mana guru SD khususnya
pada saat ini usianya sudah rata-rata sekitar 50 tahun dan portofolio
hendaknya dilakukan oleh lembaga masing-masing.( Parminto, S.Pd,
Kepala SDN Jiwan 01 ).
56

Kompetensi merupakan komponen utama dari standar profesi guru

disamping kode etik sebagai regulasi perilaku profesi yang ditetapkan dalam

prosedur pengawasan. Kompetensi guru merupakan perpaduan antara

kemampuan personal, keilmuan, teknologi, sosial dan spiritual yang secara

kaffah membentuk kompetensi standar profesi guru.

Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola

pembelajaran peserta didik yang sekurang-kurangnya meliputi : (1)

pemahaman wawasan atau landasan kependidikan; (2) pemahaman terhadap

peserta didik; (3) pengembangan kurikulum; (4) perancangan pembelajaran;

(5) pelaksanaan pembelajaran; (6) pemanfaatan teknologi pembelajaran; (7)

pelaksanaan evaluasi belajar; (8) pengembangan peserta didik. Kemampuan-

kemampuan diatas merupakan kemampuan standar yang harus dimiliki oleh

semua guru.

Kompetensi Kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang

mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik

dan berakhlak mulia. Guru merupakan panutan yang harus ”digugu dan

ditiru”, oleh karena itu semua perilaku guru harus merupakan perilaku yang

baik dan menjadi teladan bagi semua peserta didik. Semua informan sangat

setuju dengan syarat kompetensi kerpibadian tersebut, tetapi sebagian

informan juga berharap bahwa pengembangan terhadap kompetensi

kepribadian ini juga perlu mendapat perhatian oleh pemerintah, agar

kepribadian guru lebih stabil dan tidak goyah oleh pengaruh lingkungan dan

perkembangan jaman seperti diungkapkan oleh informan berikut ini.


57

Saya sangat setuju dengan persyaratan kompetensi kepribadian


yang tertuang dalam UU No. 14/2005 tersebut, namun tolong
pemerintah memperhatikan kepribadian semua guru. Guru juga perlu
peningkatan kemampuan kepribadian sesuai dengan tuntutan jaman.
Agar menjadi arif dan berwibawa guru memerlukan pelatihan-
pelatihan khusus.( Hariyanto, S.Pd. guru SDN Teguhan 01).

Kompetensi profesional adalah kemampuan pengusaan materi

pembelajaran secara luas dan mendalam yang memungkinkan membimbing

peserta didik memenuhi standar kompetensi yang ditetapkan dalam Standar

Nasional Pendidikan. Penguasaan materi pembelajaran sangat diperlukan oleh

semua guru. Keberhasilan seorang guru dalam pembelajaran sangat

ditentukan oleh kemampuan guru dalam penguasaan materi pelajaran. Semua

informan juga sangat setuju dengan persyaratan kompetensi profesional

tersebut, seperti yang disampaikan oleh seorang guru SD Negeri Ngetrep

berikut ini :

Saya sangat setuju dengan persyaratan kompetensi dasar yaitu


kompetensi profesional. Guru yang profesional mestinya harus
menguasai materi pelajaran, hanya kami ini yang guru SD yang jauh
dari kota dan kemampuan ekonomi pas-pasan sulit untuk terus
meningkatkan kemampuan profesional. Apalagi guru kelas harus
menguasai semua mata pelajaran yang ada. Untuk itu pemerintah juga
harus memperhatikan peningkatan profesionalitas guru-guru SD.
( Baseno, S.Pd. guru SDN Ngetrep)

Kompetensi sosial adalah kemampuan guru sebagai bagian dari

masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta

didik, dan masyarakat sekitar. Kemampuan ini sekurang-kurangnya meliputi

(1) berkomunikasi secara lisan, tulisan dan isyarat; (2) menggunakan

teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional; (3) bergaul secara

efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua
58

peserta didik dan (4) bergaul secara santun dengan masyarakat. Tanggapan

tentang kompetensi sosial yang harus dimiliki oleh semua guru seperti

disampaikan oleh informan berikut ini .

Guru memang harus pandai berkomunikasi terutama adalah


bagaimana cara guru untuk menyampaikan materi pelajaran kepada
anak didiknya. Guru juga harus mampu menggunakan teknologi
komunikasi seperti menggunakan komputer dan alat-alat teknologi
lainnya. Pengusaan penggunaan komputer sangat diperlukan bagi
guru-guru SD saat ini agar kita dapat mengikuti terus perkembangan
jaman.(Koesbagyo, S.Pd. Kepala SDN Jiwan 02)

Di era globalisasi teknologi komunikasi, guru tidak hanya dituntut

mampu berkomunikasi dengan anak didik, sesama pendidik, masyarakat

disekitarnya, tetapi juga harus mampu berkomunikasi dengan masyarakat

dunia. Untuk itu guru harus mampu mengikuti perkembangan teknologi

komunikasi.

Guru menjadi tumpuan utama dan harapan dalam pengembangan dan

peningkatan kualitas pendidikan. Selain penguasaan kompetensi dasar, guru

juga dituntut melek angka (numerate), melek ilmu (science literacy), memiliki

kecerdasan spiritual (spiritual intelligence), kecerdasan emosi (emotional

intelligence) dan kecerdasan intelektual (intellectual intelligence), semua itu

berkaitan dengan perkembangan kemajuan sain dan teknologi.

Peran guru dewasa ini sangat penting ketika pola pembelajaran

mengalami pergeseran. Ini sebagai akibat dari perubahan kemajuan ilmu

pengetahuan dan teknologi yang sangat cepat. Perkembangan teknologi

informasi sudah tidak ditawar lagi keberadaannya. Segala macam informasi

yang menjadi sumber ilmu pengetahuan dapat diakses dimanapun berada.


59

Melalui teknologi informasi, setiap orang dapat merambah ke berbagai

pelosok penjuru dunia untuk memperoleh untuk memperoleh informasi

mengenai hal-hal yang diperlukan sebagai pengetahuan. Bahkan dengan

teknologi informasi kita bisa mengadakan transaksi untuk kepentingan

kehidupan. Dengan teknologi informasi ini kecepatan perolehan pengetahuan

tidak terhambat lagi oleh suatu sistem tradisional.

Sesuai dengan pasal 82 ayat (1) Undang-Undang Nomor 14 Tahun

2005 tentang Guru dan Dosen, pemerintah wajib mulai melaksanakan program

sertifikasi pendidik paling lama dalam waktu 12 bulan terhitung sejak

diberlakukannya Undang-Undang tersebut. Mengingat samapai saat ini

Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang sertifikasi guru juga belum

terbit, maka sebagai jalan pintas pemerintah melalui Menteri Pendidikan

Nasional mengeluarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor. 18

Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru dalam Jabatan.

Sertifikasi guru dalam jabatan adalah proses pemberian sertifikat

pendidik untuk guru dalam jabatan. Sertifikasi ini diberikan kepada guru yang

sudah lama mengabdi dan memenuhi kualifikasi akademik Sarjana (S1) atau

Diploma Empat (D-IV). Sertifikasi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui

uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik dalam bentuk penilaian

Portofolio. Portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional

guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang dimiliki oleh

guru. Sertifikasi model ini dimulai tahun 2007 atas jatah kuota tahun 2006
60

dan 2007. Berbagai pendapat tentang sertifikasi portofolio diungkapkan oleh

informan berikut ini.

Untuk sertifikasi model portofolio saya sangat mendukung,


terutama ini kan diperuntukkan bagi guru-guru yang mempunyai masa
kerja 20 tahun ke atas. Dengan portofolio pengalaman guru, diklat
guru, sertifikat dan prestasi akademik guru sangat dihargai oleh
pemerintah. Saya sangat optimis dengan model sertifikasi ini, karena
sangat menghargai guru yang sudah lama mengabdi.( Wiwik Widagti,
S.Pd. guru senior SDN Jiwan 01)

Sertifikasi model portofolio sangat menguntungkan guru-guru


terutama mereka yang sudah mempunyai pengalaman kerja di atas 20
tahun. Untuk itu saya berharap agar sertifikasi dengan portofolio ini
segera diwujudkan, sehingga keinginan pemerintah untuk
meningkatkan kesejahteraan guru dapat tercapai.( Suyoto, S.Pd. guru
senior SDN Grobogan 02)

Dokumen yang dinilai dalam sertifikasi guru model portofolio adalah

(1) kualifikasi akademik; (2) pendidikan dan pelatihan; (3) pengalaman

mengajar; (4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (5) penilaian dari

atasan dan pengawas; (6) prestasi akademik; (7) karya penembangan profesi;

(8) keikutsertaan dalam forum ilmiah; (9) pengalaman organisasi di bidang

kependidikan dan sosial; (10) penghargaan yang relevan dengan bidang

kependidikan.

Masing-masing dokumen dinilai sesuai dengan ketentuan yang telah

ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Kualifikasi akademik guru

untuk ijazah Sarjana (S1) yang sesuai dengan bidang studi atau mata pelajaran

yang diasuh diberikan skor 150, sedangkan ijazah Pasca Sarjana yang sesuai

dengan bidang studi diberikan skor 175. Nilai untuk pendidikan dan pelatihan

disesuaian dengan lama diklat, tingkatan penyelenggaraan diklat dan relevansi


61

terhadap bidang tugasnya. Untuk diklat yang lebih dari 640 jam pelatihan

tingkat nasional dan relevan dengan bidang tugasnya diberikan skor nilai 50,

sedangkan diklat 8- 29 jam pelatihan tingkat kecamatan dan relevan dengan

bidang tugasnya diberikan skor nilai 10.

Pengalaman mengajar guru dihitung dan diberikan skor sesuai dengan

masa kerjanya. Guru yang mempunyai pengalaman mengajar lebih dari 25

tahun mendapat skor nilai 160, sedangkan pengalaman mengajar yang paling

rendah yaitu 2 – 4 tahun diberikan skor nilai 40.

Perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dinilai berdasarkan

dokumen perangkat mengajar yang dikumpulkan oleh guru dan penilaian

pembelajaran dilakukan oleh Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah. Skor

maksimal yang dapat diperoleh oleh guru dalam membuat perencanaan

pembelajaran adalah 40, sedangkan penilaian oleh kepala sekolah memperoleh

skor maksimal 120. Penilaian dari atasan dilakukan oleh Kepala Sekolah

masing-masing, sedangkan komponen portofolio lainnya dinilai berdasarkan

sertifikat yang dimilik oleh guru yang bersangkutan.

Seorang guru dapat lulus sertifikasi dan memperoleh sertifikat

pendidik jika guru tersebut mampu mengumpulkan skor nilai minimal 850.

Nilai tersebut dikumpulkan dari hasil penskoran 10 dokumen yang telah

dikumpulkannya. Dari seluruh guru di Kecamatan Jiwan yang diwawancarai

menyatakan tidak akan mencapai nilai tersebut, baik guru tersebut berasal dari

sekolah inti dan terletak jalur utama ataupun guru yang berasal dari sekolah

yang berada di dalam dan jauh dari jalur utama.


62

Tanggapan guru tersebut di atas menunjukkan bahwa sertifikasi

dengan model portofolio sangat menguntungkan terutama guru-guru yang

sudah mempunyai pengalaman mengajar lebih dari 20 tahun. Wiwik widagti,

S.Pd. maupun Suyoto, S.Pd merupakan guru senior yang mempunyai

pengalaman mengajar lebih dari 26 tahun, sehingga skor untuk pengalaman

mengajar kedua guru tersebut mendapatkan penilaian 160.

Tanggapan positif juga diungkapkan oleh berbagai pimpinan sekolah

dan lembaga pendidikan di Kecamatan Jiwan, seperti terangkum dalam hasil

wawancara sebagai berikut.

Saya sangat mendukung sertifikasi guru dalam jabatan dengan


portofolio, karena sertifikasi model ini sangat menghargai prestasi
guru di masa lalu dan juga menghargai pengalaman mengajar yang
dimiliki oleh guru. Guru yang sudah mengajar di atas 25 tahun akan
diberikan skor 160, dimana skor tersebut melebihi skor nilai kualifikasi
akademik.(Drs. Suwito, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan
Jiwan)

Kalau menurut saya, model portofolio sudah bagus karena model


ini guru tidak perlu tes tulis dan tes kemampuan lainnya. Guru hanya
mengumpulkan berkas-berkas yang sudah dimiliki di masa yang lalu,
kemudian diberikan skor nilai sesuai dengan ketentuan yang
berlaku.(Kusbagyo, S.Pd. Kepala SDN Jiwan 02)

Kepala Cabang Dinas, sebagai pejabat struktural merupakan

kepanjangan tangan dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Oleh

karena itu sudah sangat wajar bahwa pendapatnya harus sejalan dengan

kebijakan pemerintah. Demikian juga dengan Kusbagyo, S.Pd. merupakan

kepala sekolah dan merangkap menjadi pengurus Persatuan Guru Republik

Indonesia (PGRI) Cabang Kecamatan Jiwan, sehingga apa yang disampaikan

juga sangat mendukung dengan program-program pemerintah.


63

Undang-Undang Guru dan Dosen No.14 Tahun 2005, pasal 16 dan

Permenidknas No. 18 tahun 2007 pasal 6 yang menyatakan bahwa guru

Pegawai Negeri Sipil yang diangkat oleh Pemerintah Daerah yang telah

memiliki sertifikasi pendidik, nomor registrasi guru dari Departemen

Pendidikan Nasional dan melaksanakan tugas dengan beban mengajar

sekurang-kurangnya 24 jam tatap muka dalam satu minggu berhak atas

tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok yang dibayarkan

melalui Dana Alokasi Umum terhitung mulai bulan Januari pada tahun

berikutnya setelah memperoleh sertifikasi pendidik. Demikian juga guru

Pegawai Negeri Sipil yang diangkat oleh Pemerintah yang telah memiliki

sertifikat pendidik, nomor registrasi guru dari Departemen Pendidikan

Nasional dan melaksanakan beban kerja guru sekurang-kurangnya 24 jam

tatap muka dalam satu minggu berhak atas tunjangan profesi pendidik sebesar

satu gaji pokok yang dibayarkan melalui APBN terhitung mulai bulan Januari

pada tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat pendidik. Untuk guru

non PNS yang telah memperoleh sertifikat pendidik akan diberikan tunjangan

profesi setara dengan satu kali gaji pokok guru PNS dibayarkan melalui dana

Dekonsentrasi terhitung mulai bulan Januari tahun berikutnya setelah

memperoleh sertifikat pendidik. Ada beberapa informan yang yakin bahwa

janji pemerintah tersebut akan terealisasi seperti terungkap dalam hasil

wawancara sebagai berikut.

Saya kira akan terealisasi pak, wong itu kan sudah dianggarkan
oleh pemerintah. Untuk angkatan saya yang menggunakan kuota
sertifikasi tahun 2006, nanti tunjangan profesi sebesar satu kali gaji
64

pokok akan diberikan bulan Oktober 2007.( Wiwik Widagti, S.Pd,


guru SDN Jiwan 01)

Keyakinan guru akan terealisasinya tunjangan profesi karena dalam

Permendiknas No. 18 Tahun 2007 pasal 7 menyatakan bahwa guru yang

terdaftar sebagai calon peserta sertifikasi guru pada tahun 2006 dan telah

memiliki sertifikat pendidik dan nomor registrasi guru dari Departemen

Penidikan Nasional sebelum Oktober 2007 akan memperoleh tunjangan

profesi pendidik terhitung mulai 1 Oktober 2007. Disamping itu gencarnya

pemberitaan media yang menyatakan bahwa anggaran untuk tunjangan profesi

guru sudah tersedia sejak tahun 2006 yang lalu. Untuk sertifikasi guru kuota

tahun 2006 jika guru sudah mendapatkan sertifikat pendidik maka tunjangan

profesi akan diberikan bulan Oktober 2007 dan untuk kuota 2007 tunjangan

profesi akan diberikan mulai bulan Januari 2008. Keyakinan akan

terealisasinya tunjangan profesi guru juga dipengaruhi oleh adanya janji-janji

pejabat provinsi dalam sosialisasi sertifikasi guru, terlepas apakah janji

tersebut ada kaitannya dengan politik atau tidak, guru-guru di daerah sangat

yakin bahwa tunjangan profesi guru akan terealisasi. Menjelang pemilihan

Gubernur Jawa Timur Tahun 2008, maka banyak pejabat propinsi yang

memberikan sosialisai sambil mengadakan kampanye.

C. Tanggapan Negatif Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan Terhadap


Program Sertifikasi Guru

Undang-Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005, dihadirkan

ditengah-tengah dunia pendidikan yang sedang berada pada titik nadir.

Kualitas pendidikan secara terus menerus menurun, kesejahteraan guru saat ini
65

masih di bawah rata-rata. Berbagai tanggapan negatif tentang hadirnya

Undang-Undang tersebut seperti terungkap sebagai berikut:

Saat ini sebenarnya yang dibutuhkan adalah bagaimana


meningkatkan kesejahteraan guru, bukan hanya iming-iming atau janji-
janji seperti dikeluarkannya UU No. 14/2005.(Suyoto. Guru SDN
Grobogan 02)

Saya sangat pesimis dengan dikeluarkannya Undang-Undang


tersebut apakah apa yang termuat dalam undang-undang tersebut dapat
terlaksana. Kalau misalnya terlaksana program sertifikasi apakah
pemerintah dapat memenuhi janjinya dengan mengeluarkan tunjangan
satu kali gaji pokok. (Eny Priyatin. Guru SDN Kincang 03)

Dari bebarapa tanggapan tersebut di atas guru di Kecamatan Jiwan

masih menanggapi pesimis dengan adanya Undang-Undang Guru dan Dosen.

Pemerintah hanya memberikan janji-janji seperti yang sudah dilakukan

terhadap guru sebelumnya. Disamping itu guru yang belum dipersiapkan

untuk sertifikasi juga bertanya-tanya apakah pemerintah mampu memberikan

tunjangan guru sesuai dengan amanat Undang-Undang tersebut.

Pengembangan profesi guru sebagai mana profesi dokter, akuntan, jaksa dan

profesi-profesi lainnya yang bermartabat sesuai amanat Undang-Undang

tersebut masih belum diyakini oleh semua guru akan keberhasilannya.

Kualifikasi pendidikan minimal guru menurut Undang-Undang Guru

dan Dosen adalah Sarjana (S1) atau Diploma-IV (D-IV). Persyaratan tersebut

ditanggapi oleh berbagai guru sebagai berikut :

Syarat sarjana memang diperlukan terutama sebagai bukti


administratif, tetapi yang penting adalah bagaimana guru
meningkatkan pengetahuan, sehingga mempunyai kemampuan seperti
seorang sarjana. Jadi sebenarnya tidak harus sarjana secara tertulis,
tetapi sarjana secara kemampuan. Guru yang berpendidikan Sarjana
(S1) belum tentu mempunyai kemampuan yang lebih dibandingkan
66

dengan guru yang tidak sarjana tetapi mempunyai kreatifitas yang


tinggi.(Sumini. Guru SDN Grobogan 02)

Kalau menurut saya pak, sebenarnya guru SD itu tidak perlu


harus sarjana. Lha wong Presiden saja syaratnya hanya SMA koq ini
guru harus sarjana. Bagi kita guru-guru SD ini yang penting
mempunyai loyalitas dan dedikasi yang tinggi sebagai seorang guru
dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana kecintaan kita
terhadap profesi guru. Kalau kita sudah mencintai profesi ini maka
kita akan berusaha untuk mengembangkan diri, agar anak-anak kita
juga dapat berkembang dengan baik.(Lilik. Guru SDN Sukolilo 03)

Sebagai mana kita ketahui bahwa guru Sekolah Dasar di Indonesia

rata-rata pendidikannya masih belum memenuhi standar yang diinginkan

sesuai dengan Undang-Undang Guru dan Dosen. Dari 1.234.927 guru

Sekolah Dasar di Indonesia hanya 103.116 orang guru yang sudah

berpendidikan Sarjana (S1) atau hanya 8,35 % dari jumlah yang ada. Hal ini

akan menjadi tugas berat pemerintah untuk meningkatkan kualifikasi guru

Sekolah Dasar menjadi seorang Sarjana atau Diploma IV.

Guru Sekolah Dasar masih menunggu pelaksanaan sertifikasi guru,

jika sertifikasi guru berhasil dan janji pemerintah untuk memberikan

tunjangan profesi juga terealisasi, maka akan menjadi pendorong bagi guru-

guru yang saat ini belum memenuhi kualifikasi akademiknya untuk berlomba-

lomba mencapai tingkat Sarjana atau Diploma IV. Sertifikasi guru dalam

jabatan dengan model portofolio dan penilaian kinerja ditanggapi negatif oleh

guru sebagai berikut :

Sertifikasi dengan portofolio kurang sosialisasi, sehingga saya


sangat sulit untuk melengkapi berkas-berkas atau dokumen yang
diminta, karena sebagian dokumen yang saya miliki banyak yang
belum ketemu.(Baseno.Guru SDN Ngetrep)
67

Saya itu mengabdi menjadi guru sudah lebih dari 25 tahun,


mengapa harus pakai portofolio lagi. Apakah dengan pengabdian saya
tidaklah cukup untuk mendapat sertifikat. Bagai saya sebenarnya tidak
memerlukan sertifikasi portofolio, yang penting gaji guru dinaikkan
sudah cukup.(Daryanto. Guru SDN Sambirejo)

Saya itu guru SD pak, dan saya juga ndak tahu kalau piagam dan
surat-surat keterangan yang saya miliki dihargai dalam portofolio.
Piaga dan surat keterangan yang saya dapatkan puluhan tahun lalu
sudah hilang, ndak tahu dimana rimbanya. Nanti kalau saya terlalu
repot dengan ngurusi sertifikasi, lalu kapan saya dapat membimbing
anak-anak untuk maju.(Hariyanto. Guru SDN Teguhan 01)

Program sertifikasi guru dalam jabatan tahun 2007 di seluruh

Indonesia melibatkan 190.450 orang guru dan untuk kuota Propinsi Jawa

Timur sebanyak 29.625 orang guru, sedangkan kuota Kabupaten Madiun

sebanyak 601 orang guru. Dari jatah 601 orang guru untuk Kabupaten

Madiun dibagi lagi dalam kelompok-kelompok berdasarkan tingkat satuan

pendidikan yaitu Sekolah Dasar, Sekolah Luar Biasa, Sekolah Menengah

Pertama, Sekolah Menengah Atas dan Sekolah Menengah Kejuruan.

Sertifkasi guru dalam jabatan menghadapi banyak kendala terutama

adalah bagaimana guru melengkapi dokumen-dokumen yang telah bertahun-

tahun diperolehnya. Banyak diantara guru-guru yang mempunyai banyak

sertifikat, piagam tetapi karena merasa tidak banyak bermanfaat, maka guru

kurang tertib dalam mendokumenkan sertifikat dan piagam tersebut.

Guru dalam jabatan yang lulus penilaian portofolio mendapatkan

sertifikat, sedangkan yang tidak lulus dapat melakukan kegiatan untuk

melengkapi dokumen portofolio atau mengikuti pendidikan dan pelatihan

profesi guru yang diakhiri dengan ujian. Untuk lulus dalam penilaian

portofolio, guru dalam jabatan harus mampu mengumpulkan skor penilaian


68

850. Dari beberapa informan yang diwawancarai menyatakan bahwa mustahil

guru-guru dapat mencapai nilai 850 seperti terekam berikut ini.

Saya koq ndak yakin dapat mencapai skor nilai sebesar itu, kalau
menurut perhitungan saya hanya sekitar 500 sampai 600. Perkiraan ini
saya asumsikan nilai yang saya peroleh maksimal dan diakui oleh para
asesor. Kalau banyak yang tidak diakui ya nanti nilaianya berkurang
lagi.(Wiwik Widagti,S.Pd., guru SDN Jiwan 01)

Kalau menurut saya skor nilai itu koq berat banget to pak.
Mudah-mudahan pemerintah dpat menurunkan syarat nilai 850. saya
setuju kalau diturunkan menjadi 500 – 550 saja, sehingga mayoritas
guru yang mengajukan sertifikasi dapat memenuhinya.( Endang Suci,
S.Pd., guru SDN Teguhan 03)

Skor nilai portofolio 850 memang dirasakan sangat berat bagi guru

Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan. Persyaratan yang wajar dan dapat dicapai

oleh mayoritas guru adalah 550 – 600. Walaupun sebenarnya bagi guru-guru

yang tidak lulus dapat mengikuti portofolio ulang atau dapat mengikuti

pendidikan profesi guru yang dilaksanakan oleh pemerintah. Kalau sebagian

besar guru harus mengikuti pendidikan profesi guru, berapa besar biaya yang

harus dikeluarkan oleh pemerintah, disamping itu guru juga harus

meninggalkan tempat kerjanya.

Guru Pegawai Negeri Sipil yang telah lulus dan memiliki sertifikat

pendidik, dijanjikan oleh pemerintah yang termuat dalam Permendiknas No.

18 Tahun 2007 akan diberikan tunjangan jabatan sebesar satu kali gaji pokok.

Berbagai pendapat muncul dalam penelitian ini seperti terangkum sebagai

berikut :

Saya koq belum yakin pak, kalau tunjangan profesi dapat


direalisasikan, apalagi kalau melihat kemampuan uang negara saat ini.
Uang makan yang jumlahnya tidak seberapa saja tidak dapat
terealisasi, apalagi ini jumlahnya satu kali gaji pokok. Janji itu
69

sebenarnya angan-angan belaka untuk menina bobokkan guru.


(Endang Suci, M. S.Pd, guru SDN Teguhan 03)

Sebaiknya pemerintah jangan memberi janji yang muluk-muluk


bagi guru. Satu kali gaji pokok itu suatu jumlah yang tidak sedikit
bagi guru, seperti saya ini. Karena jumlahnya terlalu besar, maka
hampir semua guru di sini koq nggak yakin kalau pemerintah mampu
membayar tunjangan profesi guru. (Yuli Astutik, guru SDN Jiwan
02).

Peningkatan gaji guru yang luar biasa besarnya, justru ditanggapi

negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan, karena selama ini bebarapa

tunjangan yang dijanjikan oleh pemerintah yang jumlahnya sebenarnya tidak

terlalu besar belum dapat direalisasikan oleh pemerintah. Kondisi inilah yang

menyebabkan guru bersikap apatis, apalagi setelah era otonomi daerah dengan

program desentralisasi termasuk masalah keuangan. Banyak program-

program yang telah diluncurkan oleh pemerintah pusat, tetapi setelah sampai

di daerah tidak dapat terlaksana dengan berbagai alasan.

D. Temuan-Temuan Penelitian

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No.18 Tahun 2007 tentang

sertifikasi guru dalam jabatan, dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio.

Penilaian portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru

dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang meliputi kualifikasi

akademik, pendidikan dan pelatihan, pengalaman mengajar, perencanaan dan

pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan pengawas, prestasi

akademiki, kerya pengembangan profesi, keikut sertaan dalam forum ilmiah,

pengalaman organisasi dan penghargaan.


70

Aspek-aspek tersebut harus dipenuhi dengan cara mengumpulkan

dokumen keprofesiannya yang disusun dengan sistematika sebagaimana diatur

dalam Panduan Penyusunan Portofolio yang diterbitkan oleh Ditjen Dikti

Depdiknas. Bobot skor untuk setiap aspek telah ditetapkan dengan rentang

nilai kelulusan berada pada kisaran nilai 850. Guru yang memperoleh nilai

dibawah dari batas kelulusan, ada tiga kemungkinan yang harus di tempuh

yaitu (1) melengkapi kembali dokumennya, (2) mengikuti fase diklat profesi

guru dan (3) mengikuti pendidikan profesi pendidik.

Tanggapan guru Sekolah Dasar terhadap nilai standar kelulusan

sertifikasi model Portofolio adalah sebagai berikut :

Saya tidak yakin dapat mencapai skor nilai 850 pak, kalau saya
analisa nilai maksimal yang bisa saya peroleh maksimal 600 (Wiwik
W, guru SDN Jiwan 01)
Skor nilai 850 saya rasa sangat berat bagi guru Sekolah Dasar,
skor yang dapat saya capai, jika semua berkas dinilai secara maksimal
perkiraan nialai yang dapat saya peroleh sekitar 500 - 600 (Endang S,
guru SDN Teguhan 03)

Temuan yang diperoleh dilapangan menunjukkan, bahwa batas nilai

kelulusan sertifikasi guru dalam jabatan dirasakan oleh guru sangat berat.

Hasil perhitungan skor nilai secara kasar dan diasumsikan mendapatkan

penilaian maksimal, perolehan skor nilai antara 500 – 600. Dari hasil

pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa rendahnya perolehan skor nilai

yang dicapai oleh guru disebabkan oleh rendahnya kinerja guru. Hal ini

dibuktikan dengan rendahnya guru dalam membuah karya ilmiah dan

kurangnya guru dalam membuat prestasi di bidang kependidikan. .


71

Dari hasil pengamatan di lapangan juga menunjukkan bahwa masih

ada guru dan kepala sekolah yang bermoral kurang terpuji. Hal ini

ditunjukkan adanya pengumpulan kelengkapan dokumen portofolio yang tidak

asli atau terjadi penggadaan dokumen-dokumen yang mestinya tidak berhak

dimiliki oleh guru yang bersangkutan. Guru cukup memfotocopy dokumen,

lalu diganti identitasnya dan dilegalisir oleh Kepala Sekolah. Demikian juga

dengan nilai yang diperoleh dari penilai Kepala Sekolah dan penilaian

Pengawas lebih banyak yang menguntungkan guru. Oleh karena itu perlu

adanya uji validasi terhadap dokumen-dokumen yang telah dikumpulkan oleh

guru, sehingga diperoleh dokumen yang benar-benar valid sesuai dengan

aslinya.

Mengingat kuota pesrta sertifikasi tiap tahun terbatas dan jumlah guru

yang memenuhi persyaratan kualifikasi akademik bervariasi, maka Dinas

Pendidikan Provinsi dan Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota

mempertimbangkan (1) masa kerja/pengalaman mengajar, (2) usia, (3)

pangkat/golongan (bagi PNS), (4) beban mengajar, (5) jabatan/tugas tambahan

dan (6) prestasi kerja. Temuan di lapangan terdapat penyimpangan prosedur

standar operasional yang telah ditetapkan oleh pemerintah.


72

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian pada analisis data pada Bab IV dan fokus penelitian

dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Tanggapan positif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program

sertifikasi guru adalah sebagai berikut :

a. Undang – Undang No. 14 Tahun 2005 merupakan landasan hukum bagi

guru dalam meningkatkan kualitas guru, meningkatkan kompetensi guru

dan meningkatkan kesejahteraan guru.

b. Kualifikasi akademik Sarjana/D IV bagi guru sudah sangat tepat, hal ini

sesuai dengan tuntutan jaman dan perkembangan ilmu serta teknologi.

c. Guru harus memiliki empat kompetensi dasar yaitu kompetensi

pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi

profesional.

d. Sertifikasi Portofolio bagi guru dalam jabatan sangat menguntungkan,

karena model ini menghargai masa kerja guru, kualifikasi akademik,

pendidikan dan pelatihan, kepribadian guru, kinerja guru dan prestasi guru

di masa lalu.

e. Tunjangan profesi bagi pendidik akan dapat terealisasi setelah guru dalam

jabatan memperoleh sertifikat pendidik.

72
73

2. Tanggapan negatif guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan terhadap program

sertifikasi guru adalah sebagai berikut :

a. Undang-Undang No. 14 tahun 2005 hanya merupakan janji pemerintah

yang tidak mungkin dapat terealisasi.

b. Guru tidak harus berkualifikasi Sarjana/D IV, tetapi yang penting adalah

kreatifitas, loyalitas dan kecintaan guru terhadap profesinya.

c. Dalam pelaksanaannya sertifikasi model portofolio kurang sosialisasi,

sehingga banyak dokumen yang dimiliki oleh guru tidak dapat disertakan

dalam sertifikasi, karena rata-rata guru tidak menyimpannya secara rapi.

d. Guru kurang yakin terhadap realisasi tunjangan profesi guru sesuai dengan

undang-undang.

3. Temuan-temuan dalam penelitian yang masih terkait dengan sertifikasi guru

adalah sebagai berikut :

a. Guru di Kecamatan Jiwan kurang yakin dapat mencapai skor 850 sesuai

yang ditentukan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

b. Masih ada guru yang bermoral kurang baik dalam melengkapi dokumen

sertifikasi, yaitu dengan cara menggandakan dokumen milik orang lain.

c. Penentuan peserta sertifikasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan,

masih terdapat beberapa peserta yang tidak sesuai dengan aturan yang

ditetapkan.

B. Saran

1. Bagi guru Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan dalam mengumpulkan

dokumen hendaknya benar-benar dokumen yang asli.


74

2. Bagi Kepala Sekolah Dasar di Kecamatan Jiwan, tanggapan positif

maupun tanggapan negatif yang diberikan guru Sekolah Dasar, dapat

dijadikan pijakan dalam mempersiapkan guru untuk menghadapi

sertifikasi guru dalam jabatan. Kepala sekolah juga harus terus

mendorong para guru agar mempersiapkan dokumen-dokumen yang

dibutuhkan dalam sertifikasi.

3. Bagi Kepala Cabang Dinas Pendidikan Kecamatan Jiwan, sosialisasi

tentang sertifikasi harus lebih ditingkatkan, sehingga pemahaman guru

terhadap sertifikasi guru dalam jabatan lebih meningkat.


75

DAFTAR PUSTAKA

Abizar. 1988. Kemiskinan Organisasi. Dirjen Dikti Depdikbud. Jakarta.

__________. 2006. Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan


Dosen.

Anwar Q dan Syaiful S. 2004. Profesi Jabatan Kependidikan dan Guru Sebagai
UpayaMenjamin Kualitas Pembelajaran.

Atkinson, R. C., dan E.R. Hilgar. 1991 Pengantar psikologi, diterjemahkan oleh
NurjanahTaufik dan Rukmini. Barhana. Erlangga. Jakarta.

Basri Djapri. 2002. Persepsi Guru Terhadap Implementasi Pendidikan Sistem


Ganda di Kotamadya Banjarmasin.

Bimo Walgito. 1994. Pengantar Psikologi Umum. Andi Offset. Yogyakarta.

Chaplin, C.P. 1989. Kamus Lengkap Psikologi. Penerjemah Kartini Kartono,


RajawaliPress. Jakarta.

Depdiknas. 2004. Pedoman Sertifikasi Kompetensi Pendidik. Depdiknas.


Jakarta.

Gibson, James. 1986. Organisasi Prilaku, Struktur dan Proses. Diterjemah oleh
Djoerban Wahid. Erlangga. Jakarta

Gunarsah. D. Singgih. 1995. Psikologi Untuk Membimbing. Gunung Mulia.

Hamid, Dedi. 2003. UU No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan


Nasional.Asokadikta. Jakarta.

Hendarman. 2002. Persepsi Guru dan Institusi Pasangan Tentang Kendala-


Kendala Implementasi Kurikulum SMK Kelompok Pariwisata.

Ibrahim, Abdul Syukur. 1983. Kapita Selekta Sosio Linguistik. Usaha Nasional.
Surabaya.

Jalal F dan Supriadi D. 2001. Reformasi Pendidikan Dalam Konteks Otonomi


DaerahAdicita Karya Nusa. Yogjakarta.

Jalaluddin Rahmat. 1998. Psikologi Kumunikasi. PT Rosdakarya. Bandung

Joni Raka TS. 1981. Wawasan Kependidikan. Depdikbud. Jakarta


75
76

Mulyasa. E. 2005. Menjadi Guru Profesional. Remaja Rosdakarya. Bandung.

Mulyasa. E. 2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru. Rosda. Bandung.

Nurdin M. 2004. Kiat Menjadi Guru Profesional. Prismasophie. Jogjakarta.

Oteng Sutisna. 1983. Psikologi Manajemen. Alumni. Bandung

Roestiyah, NK. 1982. Strategi Belajar Mengajar. Rajawali Press. Jakarta.

Ruch, Floyd L. 1967. Psychology and Life, 7 Edt. Scott. Foresman and Company.
Atlanta.

Sahertian. 1994. Dimensi-Dimensi Administrasi Pendidikan di Sekolah.


Mataram MudaMalang.

Soetjipto dan Raflis Kosasi. 2000. Profesi Keguruan. Rineka Cipta. Jakarta.

Sudarwan D. 2000. Pengantar Studi Penelitian Kebijakan. Bumi Aksara. Jakarta

Sudjana, Nana. 1989. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Sinar Baru.


Bandung.

Sudjana, Nana. 1989. Penelitian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja


Rosdakarya. Bandung.

Suharsimi Arikunto. 1985. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Bina


Aksara. Jakarta.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D. Alfabeta.


Bandung.

Tilaar H.A.R. 2000. Paradikma Baru Pendidikan Nasional. Rineka Cipta.


Jakarta.

Trianto dan Tutik TT. 2007. Sertifikasi Guru dan Upaya Peningkatan Kulifikasi
Kompetensi dan Kesejahteraan. Prestasi Pustaka. Jakarta

Umar T. Dan La Sula. 1995. Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta. Jakarta.

Winkel. 1996. Psikologi Pengajaran. Gramedia Widiasarana Indonesia. Jakarta.

Yamin M. 2006. Profesionalisasi Guru dan Implementas Kurikulum Berbasis


Kompetensi. Gaung Persada Pers. Jakarta.
77

Lampiran 1. Instrumen Penelitian

Kepada Yth :
Sdr./Bpk./Ibu ...........................................
Guru/Kepala SDN ...................................
Di Jiwan.

Dengan hormat,
Dengan ini perkenankan kami mengajukan pertanyaan di bawah ini sebagai
bahan untuk melakukan penelitian dalam rangka menyelesaikan studi Program
Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Nama : SUDARMAN
NIM : 05370056
Program Studi : Kebijakan dan Pengembangan Pendidikan (KPP)
Judul Tesis : Persepsi Guru Sekolah Dasar Terhadap Program
Sertifikasi Guru di Kecamatan Jiwan Kabupaten
Madiun Sebagai Dasar Penguatan Kebijakan
Pemerintah Tentang Sertifikasi Guru
Atas perhatian dan partisipasinya dalam memberikan jawaban dalam penelitian
ini, kami haturkan terima kasih.

No. Informan : ....................................................................


Tgl. Wawancara : ....................................................................
A. Pribadi
1. N a m a : ...................................................................
2. N I P : ...................................................................
3. Pangkat/Gol. : ..................................................................
4. Tempat Tgl. Lahir : ...................................................................
5. Pendidikan/Jurusan : ......................./..........................................
6. Mengajar Bid.Studi : ..................................................................
7. Masa Kerja : ..................................................................
B. Lembaga
1. Nama Sekolah : SDN .........................................................
2. Alamat : ..................................................................
3. Jumlah Guru : ..................................................................
78

DAFTAR PERTANYAAN

1. Bapak/Ibu sudah pernah membaca/mendengar tentang UUGD No.14/2005


tentang guru dan dosen ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

2. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang Undang Undang Guru dan Dosen


tersebut ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

3. Dalam UUGD No. 14/2005, pasal 9 guru wajib mempunyai kualifikasi


akademik minimal Sarjana atau Diploma IV, bagaimana tanggapan Bapak/Ibu
tentang persyaratan tersebut ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

4. Pasal 10 UUGD No.14/2005 menyebutkan tentang kompetensi yang harus


dimiliki oleh seorang guru yaitu : Kompetensi Pedagogik, Kompetensi
Kepribadian, Kompetensi Sosial dan Kompetensi Profesional. Bagaimana
tanggapan Bapak/Ibu tentang persyaratan tersebut ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
79

5. Untuk membuktikan penguasaan kompetensi tersebut guru diwajibkan


mengikuti sertifikasi. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang sertifikasi guru
tersebut ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

6. Sesuai dengan Permendiknas No. 18 tahun 2007 tentang pelaksanaan


sertifikasi guru. Bagi guru yang telah bekerja dan mempunyai pengalaman
mengajar, sertifikasi guru dilakukan dengan jalan PENILAIAN KINERJA dan
PENILAI PORTOFOLIO, bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang kedua
jenis tes tersebut ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

7. Penilaian Kinerja Guru meliputi 2 komponen yaitu :


a. Persiapan guru dalam mengelola Pembelajaran
b. Pelaksanaan pembelajaran di kelas
Bagaimana menurut pendapat Bapak/Ibu dengan kedua komponen penilaian
kinerja guru tersebut ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

8. Penilaian yang menyangkut dengan persiapan pembelajaran dituangkan ke


dalam Instrumen Penilaian Kinerja Guru I ( IPKG I ) yang terdiri dari 5 aspek
dan 17 sub aspek, bagaimana menurut pendapat Bapak/Ibu tentang aspek-
aspek penilaian Kinerja Guru ( IPKG I ) ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
80

9. Penilaian yang menyangkut dengan pelaksanaan pembelajaran di kelas secara


real dituangkan ke dalam Instrumen Penilaian Kinerja Guru 2 (IPKG 2), yang
terdiri dari 4 aspek dan 27 sub aspek penialaian, bagaimana pendapat
Bapak/Ibu mengenai aspek-aspek penilaian kinerja guru tersebut ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

10. Bagaimana pendapat Bapak/Ibu tentang penilaian Portofolio yang


dipadu/disertai dengan Penilaian Diri/Self Appraisal ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

11. Penilaian Portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru


dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendiskripsikan
tentang 10 aspek dokumen. Bagaimana tanggapan Bapak/Ibu tentang
dokumen-dokumen yang dipersyaratkan dalam Permendiknas No. 18 /2007 ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

12. Untuk lulus Portofolio guru harus mampu mengumpulkan nilai sebesar 850,
bagaimana menurut pendapat Bapak/Ibu ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
81

13. Guru yang tidak lulus penilain Portofolio dikelompokkan menjadi 3 kelompok
yaitu : 800 - 849 = mengikuti Portofolio Ulang, 600 - 799 = mengikuti diklat
Tipe A, di bawah 600 = mengikuti diklat tipe B, Bagaimana menurut pendapat
Bapak/Ibu ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

14. Guru PNS yang diangkat oleh Pemerintah Daerah yang telah memiliki
sertifikast pendidik, nomor registrasi guru dari Departemen Pendidikan
Nasional, dan melaksanakan beban kerja sekurang-kurangnya 24 jam tatap
muka dalam satu minggu berhak atas tunjangan profesi pendidik sebesar satu
kali gaji pokok yang dibayarkan melalui Dana Alokasi Umum terhitung mulai
bulan Januari tahun berikutnya setelah memperoleh sertifikat Pendidik.
Bagaimana pendapat Ibu/Bapak ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................

15. Jika Uji Kompetensi Guru dengan Penilaian Portofolio dilaksanakan sekarang,
yakinkah Bapak/Ibu dapat lulus sertifikasi ?
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
..............................................................................................................................
82

Lampiran 2.
Standar Kompetensi Guru Kelas SD/MI (Permen Diknas No. 16/2007)

No. Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Kelas SD/MI


1. Menguasai karakteristik 1.1 Memahami karakteristik peserta didik usia
peserta didik dari aspek sekolah dasar yang berkaitan dengan aspek
fisik, moral, sosial, fisik, intelektual, sosial-emosional, moral,
kultural, emosional, dan spiritual, dan latar belakang sosial-budaya.
intelektual. 1.2 Mengidentifikasi potensi peserta didik usia
sekolah dasar dalam lima mata pelajaran
SD/MI.
1.3 Mengidentifikasi kemampuan awal peserta
didik usia sekolah dasar dalam lima mata
pelajaran SD/MI.
1.4 Mengidentifikasi kesulitan peserta belajar
usia sekolah dasar dalam lima mata
pelajaran SD/MI.

2. Menguasai teori belajar 2.1 Memahami berbagai teori belajar dan


dan prinsip-prinsip prinsip-prinsip pembelajaran yang
pembelajaran yang mendidik terkait dengan lima mata
mendidik pelajaran SD/MI.
2.2 Menerapkan berbagai pendekatan, strategi,
metode dan teknik pembelajaran yang
mendidik secara kreatif dalam lima mata
pelajaran SD/MI
2.3 Menerapkan pendekatan pembelajaran
tematis, khususnya di kelas-kelas awal
SD/MI

3. Mengembangkan 3.1 Memahami prinsip-prinsip pengembangan


kurikulum yang terkait kurikulum
dengan mata 3.2 Menentukan tujuan lima mata pelajaran
pelajaran/bidang SD/MI
pengembangan yang 3.3 Menentukan pengalaman belajar yang
diampu. sesuai untuk mencapai tujuan lima mta
pelajaran SD/MI
3.4 Memilih materi lima mata pelajaran SD/MI
yang terkait dengan pengalaman belajar
dan tujuan pembelajaran
3.5 Menata materi pembelajaran secara benar
sesuai dengan pendekatan yang dipilih dan
karakteristik peserta didik usia SD/MI
3.6 Mengembangkan indikator dan instrumen
penilaian
83

No. Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Kelas SD/MI


4. Menyelenggarakan 4.1 Memahami prinsip-prinsip perancangan
pembelajaran yang pembelajaran yang menidik
mendidik 4.2 Mengembangkan komponen-komponen
rancangan pembelajaran
4.3 Menyusun rancangan pembelajaran yang
lengkap, baik untuk kegiatan di dalam
kelas, laboratorium, maupun lapangan.
4.4 Melaksanakan pembelajaran yang
mendidik di kelas, laboratorium, dan
lapangan
4.5 Menggunakan media pembelajaran sesuai
dengan karakteristik peserta didik dan lima
mata pelajaran SD/MI untuk mencapai
tujuan pembelajaran secara utuh.
4.6 Mengambil keputusan transaksional dalam
lima mata pelajaran SD/MI sesuai dengan
situasi yang berkembang.

5. Memanfaatkan teknologi 5.1 Memahami teknologi informasi dan


informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
komunikasi untuk
kepentingan
pembelajaran
6. Memfasilitasi 6.1 Menyediakan berbagai kegiatan
pengembangan potensi pembelajaran untuk mendorong peserta
peserta didik untuk didik mencapai prestasi belajar secara
mengaktualisasikan optimal.
berbagai potensi yang 6.2 Menyediakan berbagai kegiatan
dimiliki pembelajaran untuk mengaktualisasikan
potensi peserta didik, termasuk
kreativitasnya.
7. Berkomunikasi secara 7.1 Memahami berbagai strategi
efektif, empatik, dan berkomunikasi yang efektif, empatik dan
santun dengan peserta santun, baik secara lisan maupun tulisan.
didik 7.2 Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan
santun dengan peserta didik dengan bahasa
yang khas dalam interaksi pembelajaran
yang terbangun secara siklikal dari (a)
penyiapan kondisi psikologis peserta didik,
(b) memberikan pertanyaan atau tugas
sebagai undangan kepada peserta didik
untuk merspons, (c) respons peserta didik,
(d) reaksi guru terhadap respons peserta
didik, dan seterusnya.
84

No. Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Kelas SD/MI


8 Menyelenggarakan 8.1 Memahami prinsip-prinsip penilaian dan
penilaian dan evaluasi evaluasi proses dan hasil belajar sesuai
proses dan hasil belajar dengan karakteristik lima mata pelajaran
SD/MI.
8.2 Menentukan aspek-aspek proses dan hasil
belajar yang penting untuk dinilai dan
dievaluasi sesuai dengan karakteristik lima
mata pelajaran SD/MI
8.3 Menentukan prosedur penilaian dan
evaluasi proses dan hasil belajar.
8.4 Mengembangkan instrumen penilaian dan
evaluasi proses dan hasil belajar.
8.5 Mengandministrasikan penilaian proses
dan hasil belajar secara berkesinambung-
an dengan menggunakan berbagai
instrumen.
8.6 Menganalisis hasil penilaian proses dan
hasil belajar untuk berbagai tujuan.
8.7 Melakukan evaluasi proses dan hasil
belajar
9. Memanfaatkan hasil 9.1 Menggunakan informasi hasil penilaian
penilaian dan evaluasi dan evaluasi untuk menentukan ketuntasan
untuk kepentingan belajar
pembelajaran 9.2 Menggunakan informasi hasil penilaian
dan evaluasi untuk merancang program
remedial dan pengayaan.
9.3 Mengkomunikasikan hasil penilain dan
evaluasi kepada pemangku kepentingan.
9.4 Memanfaatkan informasi hasil penilaian
dan evaluasi pembelajaran untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran
10. Melakukan tindakan 10.1 Melakukan refleksi terhadap pembelajaran
refleksi untuk peningkat- yang telah dilaksanakan.
an kualitas pembelajaran 10.2 Memanfaatkan hasil refleksi untuk
perbaikan dan pengembangan lima mata
pelajaran SD/MI.
10.3 Melakukan penelitian tindakan kelas untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran lima
mata pelajaran SD/MI
Kompetensi Kepribadian
11. Bertindak sesuai dengan 11.1 Menghargai peserta didik tanpa
norma agama, hukum, membedakan keyakinan yang dianut, suku,
sosial dan kebudayaan adat-istiadat, daerah asal, dan gender.
nasional Indonesia
85

No. Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Kelas SD/MI


11.2 Bersikap sesuai dengan norma agama yang
dianut, hukum dan norma agama yang
berlaku dalam masyarakat, serta
kebudayaan nasional Indonesia yang
beragam.
12. Menampilkan diri 12.1 Berperilaku jujur, tegas dan manusiawi.
sebagai pribadi yang 12.2 Berperilaku yang mencerminkan
jujur, berakhlak mulia, ketakwaan dan akhlak mulia.
dan teladan bagi peserta 12.3 Berperilaku yang dapat diteladani oleh
didik dan masyarakat peserta didik dan anggota masyarakat di
sekitarnya.
13. Menampilkan diri 13.1 Menampilkan diri sebagai pribadi yang
sebagai pribadi yang mantap dan stabil.
mantap, stabil, dewasa, 13.2 Menampilkan diri sebagai pribadi yang
arif, dan berwibawa dewasa, arif dan berwibawa.
14. Menunjukkan etos kerja, 14.1 Menunjukan etos kerja dan tanggung
tanggung jawab yang jawab yang tinggi.
tinggi, rasa bangga 14.2 Bangga menjadi guru dan percaya pada diri
menjadi guru, dan rasa sendiri.
percaya diri. 14.3 Bekerja mandiri secara profesional
15. Menjunjung tinggi kode 15.1 Memahami kode etik profesi guru.
etik profesi guru 15.2 Menerapkan kode etik profesi guru.
15.3 Berperilaku sesuai dengan kode etik guru.
Kompetensi Sosial
16. Bersikap inklusif, 16.1 Bersikap inklusif dan objektif terhadap
bertindak objektif, serta peserta didik, teman sejawat dan
tidak diskriminatif lingkungan sekitar dalam melaksanakan
karena pertimbangan pembelajaran.
jenis kelamin, agama, 16.2 Tidak bersikap diskriminatif terhadap
ras, kondisi fisik, latar peserta didik, teman sejawat, orang tua
belakang keluarga, dan peserta didik dan lingkungan sekolah
status sosial ekonomi karena perbedaan agama, suku, jenis
kelamin, latar belakang keluarga, dan
status sosial-ekonomi.
17. Berkomunikasi secara 17.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat dan
efektif, empatik, dan komunitas ilmiah lainnya secara santun,
santun dengan sesama empatik dan efektif.
pendidik, tenaga 17.2 Berkomunikasi dengan orang tua peserta
kependidikan, orang tua, didik dan masyarakat secara santun,
dan masyuarakat. empatik dan efektif tentang program
pembelajaran dan kemajuan peserta didik.
86

No. Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Kelas SD/MI


17.3 Mengikutsertakan orang tua peserta didik
dan masyarakat dalam program
pembelajaran dan dalam mengatasi
kesulitan belajar peserta didik
18. Beradaptasi di tempat 18.1 Beradaptasi dengan lingkungan tempat
bertugas di seluruh bekerja dalam rangka meningkatkan
wilayah Republik efektivitas sebagai pendidik, termasuk
Indonesia yang memiliki memahami bahasa daerah setempat.
keragaman sosial budaya 18.2 Melaksanakan berbagai program dalam
lingkungan kerja untuk mengembangkan
dan meningkatkan kualitas pendidikan di
daerah yang bersangkutan.
19. Berkomunikasi dengan 19.1 Berkomunikasi dengan teman sejawat,
komunitas profesi sendiri profesi ilmiah, dan komunikasi ilmiah
dan profesi lain secara lainnya melalui berbagai media dalam
lisan dan tulisan atau rangka meningkatkan kualitas pendidikan.
bentuk lain. 19.2 Mengkomunikasiukan hasil-hasil inovasi
pembelajaran kepada komunikasi profesi
sendiri secara lisan dan tulisan atau bentuk
lain.
Kompetensi Profesional
20. Menguasai materi, Bahasa Indonesia
struktur, konsep, dan 20.1 Memahami hakikat bahasa dan
pola pikir keilmuan yang pemerolehan bahasa.
mendukung mata 20.2 Memahami kedudukan, fungsi, dan
pelajaran yang diampu. ragam bahasa Indonesia.
20.3 Menguasai dasar-dasar dan kaidah
bahasa Indonesia sebagai rujukan
penggunaan Bahasa Indonesia yang baik
dan benar.
20.4 Memiliki keterampilan berbahasa
Indonesia (menyimak, berbicara,
membaca dan menulis)
20.5 Memahami teori dan genre sastra
Indonesia
20.6 Mampu mengapresiasi karya sastra
Indonesia, secara reseptif dan produktif.

Matematika
20.7 Menguasai pengetahuan konseptual dan
prosedural serta keterkaitan keduanya
dalam konteks materi aritmatika, alja-
bar, geometri, trigonometri, pengukur-
an, statistika dan logika matematika.
87

No. Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Kelas SD/MI


20.8 Mampu menggunakan matematisasi
horizontal dan vertikal untuk
menyelesaikan masalah matematika dan
masalah dalam dunia nyata.
20.9 Mampu menggunakan pengetahuan
konseptual, prosedural, dan keterkaitan
keduanya dalam pemecahan masalah
matematika, serta penerapannya dalam
kehidupan sehari-hari.
20.10 Mampu menggunakan alat peraga, alat
ukur, alat hitung, dan piranti lunak
komputer.

IPA
20.11 Mampu melakukan observasi gejala
alam baik secara langsung maupun tidak
langsung.
20.12 Memanfaatkan konsep-konsep dan
hukum-hukum ilmu pengetahuan alam
dalam berbagai situasi kehidupan
sehari-hari.
20.13 Memahami struktur ilmu pengetahuan
alam, termasuk hubungan fungsional
antar konsep, yang berhubungan dengan
mata pelajaran IPA.

IPS
20.14 Menguasai materi keilmuan yang
meliputi dimensi pengetahuan, nilai dan
keterampilan IPS.
20.15 Mengembangkan materi, struktur dan
konsep keilmuan IPS.
20.16 Memahami cita-cita, nilai, konsep dan
prinsip-prinsip pokok ilmu-ilmu sosial
dalam konteks kebhinnekaan masyara-
kat Indonesia dan dinamika kehidupan
global.
20.17 Memahami fenomena interaksi perkem-
bangan ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, kehidupan agama, dan perkem-
bangan masyarakat serta saling keter-
gantungan global.
88

No. Kompetensi Inti Guru Kompetensi Guru Kelas SD/MI


PKn
20.18 Menguasai materi keilmuan yang
meliputi dimensi pengetahuan, sikap,
nilai dan perilaku yang mendukung
kegiatan pembelajaran PKn.
20.19 Menguasai konsep dan prinsip kepriba-
dian nasional dan demokrasi konstitu-
sional Indonesia, semangat kebangsaan
dan cinta tanah air serta bela negara.
20.20 Menguasai konsep dan prinsip
perlindungan, pemajuan HAM, serta
penegakan hukum secara adil dan benar.
20.21 Menguasai konsep, prinsip, nilai, moral,
dan norma kewarganegaraan Indonesia
yang demokratis dalam konteks
kewargaan negara dan dunia.
21. Menguasai standar 21.1 Memahami standar kompetensi lima mata
kompetensi dan pelajaran SD/MI.
kompetensi dasar mata 21.2 Memahami kompetensi dasar lima mata
pelajaran/bidang pelajaran SD/MI.
pengembangan yang 21.3 Memahami tujuan pembelajaran lima mata
diampu. pelajaran SD/MI.
22. Mengembangkan materi 22.1 Memilih materi lima mata pelajaran SD/MI
pembelajaran yang yang sesuai dengan tingkat perkembangan
diampu secara kreatif. peserta didik.
22.2 Mengolah materi lima mata pelajaran
SD/MI secara integratif dan kreatif sesuai
dengan tingkat perkembangan peserta didik
23. Mengembangkan 23.1 Melakukan refleksi terhadap kinerja sendiri
keprofesionalan secara secara terus menerus.
berkelanjutan dengan 23.2 Memanfaatkan hasil refleksi dalam rangka
melakukan tindakan peningkatan keprofesionalan.
refleksi. 23.3 Melakukan penelitian tindakan kelas untuk
peningkatan keprofesionalan.
23.4 Mengikuti kemajuan zaman dengan belajar
dari berbagai sumber.
24. Memanfaatkan teknologi 24.1 Memanfaatkan teknologi informasi dan
informasi dan komunikasi dalam berkomunikasi.
komunikasi untuk 24.2 Memanfaatkan teknologi informasi dan
berkomunikasi dan komunikasi untuk pengembangan diri
mengembangkan diri
89

Lampiran 3. Kisi-Kisi Kompetensi dalam Sertifikasi Guru

KISI-KISI KOMPETENSI GURU


SESUAI DENGAN UU NO. 14/2005 PASAL 10

No Kompetensi Sub Kompetensi Indikator

1. Kompeten 1. Memahami a. Mengkaji Karakteristik peserta didik dari aspek fisik, sosial, moral, kultural,
si Pedago Karakteristik Peserta emosional dan intelektual berdasarkan penelusuran dari berbagai sumber.
gik didik dari aspek fisik, b. Berlatih mengumpulkan dan menganalisis data tentang karakteristik peserta
sosial, moral, didik melalui teknik yang relevan
kultural, emosional c. Berlatih menerapkan cara-cara memahami perilaku peserta didik sesuai
dan intelektual. dengan perkembangan peserta didik.
d. Berlatih merancang stimulasi berfikir sesuai dengan tahap perkembangan
kognitif peserta didik.
e. Mengidentifikasi perilaku anak yang memiliki kelainan fisik, gangguan
emosional dan intelektual berdasarkan data yang dikumpulkan.
f. Mengkaji karakterisitik perilaku anak yang berbakat.
g. Mengkaji berbagai faktor yang menyebabkan masalah psikologis peserta
didik dengan berbagai tekni yang relevan.
h. Berlatih memberikan bantuan/bimbingan kepada peserta didik yang
mengalami masalah psikologis
i. Berlatih mengembangkan kegiatan pengayaan bagi peserta didik berbakat.
j. Berlatih merancang kegiatan untuk peserta didik dengan kebutuhan khusus.
90

No Kompetensi Sub Kompetensi Indikator

2. Memahami latar a. Mengkaji latar belakang keluarga, masyarakat dan kebutuhan belajar peserta
belakang keluarga didik dalam konteks kebhinekaan budaya.
dan masyarakat b. Berlatih menganalisis situasi dan kondisi keluarga dalam kaitannya dengan
peserta didik dan proses pembelajaran.
kebutuhan belajar c. Berlatih melakukan survei lingkungan keluarga dan masyarakat.
dalam konteks
kebhinekaan budaya.
3 Memahami gaya a. Mengkaji berbagai gaya belajar peserta didik
belajar dan kesulitan b. Berlatih mengidentifikasi gaya belajar peserta didik
belajar peserta didik c. Berlatih mengindetifikasi gejala-gejala kesulitan belajar peserta didik.
d. Berlatih mendiagnosa kesulitan belajar dan perilaku anak yang mengalami
kesulitan belajar.
e. Berlatih menentukan alternatif pemecahan masalah berdasarkan diagnosis.
f. Berlatih mengembangkan pembelajaran remedial dan pengayaan
g. Berlatih melaksanakan bimbingan
h. Mengembangkan strategi belajar peserta didik.
4. Memfasiliatasi a. Mengkaji dan mengidentifikasi potensi peserta didik
pengembangan b. Berlatih merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi program
potensi peserta didik. pemberdayaan potensi peserta didik.
c. Mengoptimalkan pemberdayaan sumber belajar untuk pengembangan
potensi peserta didik.
5. Menguasai teori dan a. Mengkaji landasan filosofis pembelajaran
prinsip belajar serta b. Mengkaji teori dan prinsip pembelajaran.
pembelajaran yang c. Mengkaji prinsip-prinsip perencanaan kurikulum dan pembelajaran
mendidik d. Mengkaji berbagai model pembelajaran inovatif
e. Mengkaji dan berlatih menggunakan berbagai model pendekatan, strategi,
metode dan teknik pembelajaran.
91

No Kompetensi Sub Kompetensi Indikator


6. Mengembangkan a. Berlatih menganalisis kurikulum
kurikulum yang b. Berlatih mengembangkan bahan ajar sesuai dengan kebutuhan peserta didik
mendorong secara konstekstual.
keterlibatan peserta c. Berlatih mengembangkan berbagai media pembelajaran kontekstual.
didik dalam
pembelajaran.
7. Merancang a. Mengkaji teori, prinsip dan model rancangan pembelajaran
pembelajaran yang b. Berlatih menyusun, melaksanakan, mengevaluasi berbagai model rancangan
mendidik. pembelajaran.
8. Melaksanakan a. Berlatih menerapkan ketrampilan dasar mengajar
pembelajaran yang b. Berlatih menciptakan lingkungan belajar yang kondusif
mendidik. c. Berlatih melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik
peserta didik dan mata pelajaran.
d. Berlatih melakukan penyesuaian transaksional dalam pembelajaran
e. Berlatih menerapkan model-model pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan.
f. Berlatih memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai laboratorium
pembelajaran
g. Berlatih memberikan bantuan belajar secara individual sesuai dengan
kebutuhan peserta didik
h. Berlatih mengelola kelas dengan memanfaatkan potensi yang ada peserta
didik
9. Mengevaluasi proses a. Mengkaji teori, jenis dan prosedur evaluasi proses dan hasil pembelajaran
dan hasil b. Berlatih mengembangkan berbagai instrumen evaluasi proses dan hasil
pembelajaran. pembelajaran
c. Berlatih melaksanakan evaluasi proses dan hasil pembelajaran
d. Berlatih menganalisis evaluasi proses dan hasil pembelajaran
92

No Kompetensi Sub Kompetensi Indikator

2. Kompeten 1. Menampilkan diri a. Berlatih membiasakan diri untuk menerima dan memberikan kritik dan
si Kepriba sebagai pribadi yang saran
dian mantap, stabil, b. Berlatih membiasakan diri mentaati peraturan
dewasa, arif dan c. Berlatih membiasakan diri bersikap dan bertindak secara konsisten
berwibawa. d. Berlatih mengendalikan diri
e. Berlatih membiasakan diri menempatkan persoalan secara proporsional
f. Berlatih membiasakan diri melaksanakan tugas secara mandiri dan
bertanggungjawab

2. Menampilkan diri a. Berlatih membiasakan diri berperilaku santun


sebagai pribadi yang b. Berlatih membiasakan diri berperilaku yang mencerminkan keimanan dan
berakhlak mulia dan ketaqwaan.
sebagai teladan bagi c. Berlatih membiasakan diri berperilaku yang dapat diteladani oleh peserta
peserta didik dan didik dan masyarakat.
masyarakat.
3. Mengevaluasi kinerja a. Berlatih mengevaluasi kekuatan dan kelemahan diri sendiri
b. Berlatih mengevaluasi kinerja sendiri
c. Berlatih menerima kritik dan saran dari peserta didik
4. Mengembangkan diri a. Berlatih memanfaatkan berbagai sumber belajar untuk meningkatkan
secara berkelanjutan pengetahuan, ketrampilan dan kepribadian.
b. Mengikuti berbagai kegiatan yang menunjang pengembangan profesi guru
c. Berlatih mengembangkan dan menyelenggarakan kegiatan yang menunjang
profesi.
93

No Kompetensi Sub Kompetensi Indikator


3. Kompeten 1. Berkomunikasi secara a. Mengkaji hakekat dan prinsip-prinsip komunikasi yang efektif dan empatik.
si Sosial efektif dan emfirik b. Berlatih berkomunikasi secara efektif dan empatik
dengan peserta didik, c. Berlatih mengevaluasi komunikasi yang efektif dan empatik.
orang tua peserta
didik, sesama
pendidik, tenaga
kependidikan
2. Berkontribusi 1. Berlatih merancang berbagai program untuk mengembangkan pendidikan di
terhadap sekitar sekolah dan lingkungan sekitarnya.
pengembangan 2. Berlatih berberan serta dalam penyelenggaraan berbagai berbagai program
pendidikan di sekolah di sekolah dan lingkungan sekitarnya.
dan masyarakat

3. Berkonstribusi a. Berlatih mengindetifikasi dan menganalisis masalah-masalah pendidikan


terhadap pada tataran lokal, regional, nasional dan global.
pengembangan b. Berlatih mengembangkan alternatif pemecahan masalah-masalah
pendidikan di tingkat pendidikan pada tataran lokal, regional dan nasional
lokal, regional, c. Berlatih merancang program pendidikan pada tataran lokal, regional dan
nasional dan global. nasional
4. Memanfaatkan a. Mengkaji berbagai perangkat ICT
teknologi informasi b. Berlatih mengoperasikan berbagai peralatan ICT untuk berkomunikasi
dan komunikasi (ICT) c. Berlatih memanfaatkan ICT untuk berkmunikasi dan mengembangkan
untuk berkomunikasi kemampuan profesional
dan mengembangkan
diri.
94

No Kompetensi Sub Kompetensi Indikator


4 Kompeten 1. Menguasai subtansi a. Mengkaji substansi bidang studi
si bidang studi dan b. Mengkaji metodologi keilmuan bidang studi
Profesional metodologi
keilmuannya

2. Menguasai struktur a. Mengkaji struktur kurikulum bidang studi


dan materi kurikulum b. Mengkaji materi bidang studi dalam kurikulum
bidang studi c. Mengkaji bahan ajar bidang studi
d. Berlatih mengembangkan bahan ajar bidang studi

3. Menguasai dan a. Mengkaji berbagai jenis teknologi informasi dan kamunikasi dalam
memanfaatkan pembelajaran
teknologi informasi b. Memilih berbagai jenis teknologi informasi dan kamunikasi dalam
dan komunikasi pembelajaran secara kontekstual
dalam pembelajaran c. Berlatih menggunakan dan memanfaatkan berbagai jenis teknologi
informasi dan komunikasi dalam pembelajaran
4. Mengorganisasikan a. Berlatih memilih subtansi, cakupan dan tata urut materi pembelajaran secara
materi kurikulum kontekstual
bidang studi b. Berlatih mengidentifikasi subtansi materi bidang studi yang sesuai dengan
perkembangan dan potensi peserta didik
5. Meningkatkan a. Mengkaji hakekat penelitian tindakan kelas
kwalitas b. Berlatih mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan pembelajaran
pembelajaran melalui c. Berlatih menyusun rancangan penelitian tindakan kelas
penelitian tindakan d. Berlatih melaksanakan penelitian tindakan kelas
kelas e. Berlatih merancang upaya-upaya peningkatan kwalitas pembelajaran