Anda di halaman 1dari 7

PROCEEDING SIMPOSIUM NASIONAL IATMI 2001

Yogyakarta, 3-5 Oktober 2001

HUBUNGAN ANTARA POISSON’S RATIO DENGAN POROSITAS DAN DENSITAS


BATUAN PASIR PADA LAPANGAN MINYAK

Sudarmoyo, Herianto, R. Bobby Harsawan


Teknik Perminyakan UPN ”Veteran” Yogyakarta

Kata Kunci : Poisson’s Ratio, Porositas, Densitas, Batuan Pasir

ABSTRAK

Setiap formasi batuan mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karakteristik formasi
batuan terbagi menjadi dua yaitu, sifat fisik batuan dan sifat mekanik batuan. Sifat fisik batuan antara lain adalah porositas, densitas,
permeabilitas, dan transite time. Sedangkan sifat mekanik batuan antara lain adalah kuat tekan batuan, elastisitas batuan dan
Poisson’s Ratio. Dalam industri perminyakan besaran Poisson’s Ratio biasanya ditentukan apabila diperlukan saja. Besarnya nilai
Poisson’s Ratio dapat ditentukan melalui penelitian contoh batuan di laboratorium dan analisis logging. Pada penelitian ini dicoba
menganalisis bagaimana hubungan antara Poisson’s Ratio dengan porositas dan densitas batuan pasir.
Metode pendekatan yang digunakan untuk mengetahui hubungan antara Poisson’s Ratio dengan porositas dan densitas
batuan pasir adalah metode statisitik, yaitu analisis korelasi regresi. Dalam penelitian ini, parameter yang digunakan untuk sifat
mekanik batuan adalah Poissson’s Ratio, dan untuk sifat fisik batuan adalah transite time, porositas, dan densitas. Formasi yang
dianalisis adalah Formasi Talang Akar yang terdiri dari tiga lapisan. Pengukuran besarnya nilai Poisson’s Ratio dilakukan dengan
cara analisis Long Spaced Sonic Log (LSSL). Untuk pengukuran porositas dan densitas digunakan analisis log sonik, log densitas, dan
log neutron. Sedangkan untuk koreksi Vclay menggunakan log gamma ray. Analisis korelasi regresi ini menghasilkan suatu persamaan
regresi hubungan antara Poisson’s Ratio dengan porositas dan densitas batuan pasir. Persamaan regresi tersebut kemudian diuji
dengan menggunakan uji signifikansi. Setelah lolos uji signifikansi, selanjutnya persamaan regresi tersebut digunakan untuk ketiga
lapisan Formasi Talang Akar dan diusulkan menjadi persamaan prediksi.
Penelitian ini menghasilkan hubungan antara Poisson’s Ratio dengan porositas dan densitas batuan pasir sebagai suatu
bentuk hubungan non-linear dengan fungsi eksponensial untuk Formasi Talang Akar yang terdiri dari tiga lapisan. Hasil korelasi ini
diharapkan dapat digunakan untuk prediksi Poisson’s Ratio pada sumur-sumur tua, berdasarkan data porositas atau densitas batuan
pasir yang telah diperoleh dari data logging sebelumnya.

1. PENDAHULUAN 2. TINJAUAN PUSTAKA

Dalam pemboran harus diketahui formasi batuan yang akan 2.1. Sifat Batuan
ditembus. Setiap formasi batuan mempunyai karakteristik yang Sifat batuan yang dianalisis pada penelitian ini ada 4 yaitu :
berbeda satu dengan yang lain. Karakteristik formasi batuan Transite Time, Poisson’s Ratio, Densitas, dan Porositas.
terbagi menjadi dua yaitu, sifat fisik batuan dan sifat mekanik
batuan. Sifat fisik batuan terdiri dari porositas, densitas, Transite Time
saturasi, permeabilitas, dan transite time. Sedangkan sifat
mekanik batuan terdiri dari kuat tekan, kuat tarik, modulus Transite Time batuan diartikan sebagai lamanya waktu yang
elastisitas dan Poisson’s Ratio. dibutuhkan untuk merambatnya gelombang suara pada batuan
Dalam industri perminyakan, besarnya nilai Poisson’s Ratio, dalam tiap satu satuan jarak, dinyatakan dalam satuan µ sec/ft.
porositas, dan densitas sangat diperlukan. Umumnya parameter Transite Time suatu batuan dapat ditentukan secara matematis
tersebut ditentukan dari analisis laboratorium dengan biaya dengan persamaan sebagai berikut7) :
mahal. Oleh karena hal tersebut, dilakukan penelitian untuk
mendapatkan cara dalam menentukan Poisson’s Ratio dengan ∆tma = 1/Vma x 106 …….(3-1)
biaya yang murah. Penelitian yang dilakukan adalah dengan
cara mengkorelasikan antara Poisson’s Ratio dengan porositas dimana :
sonik koreksi, Poisson’s Ratio dengan porositas (densitas- ∆tma = transite time , µ sec/ft
neutron) koreksi dan Poisson’s Ratio dengan densitas.
Vma = kecepatan rambat gelombang suara dalam batuan
Dalam penelitian ini, permasalahannya adalah bagaimana ft/sec
menentukan nilai Poisson’s Ratio berdasarkan porositas sonik
koreksi, porositas (densitas-neutron) koreksi dan densitas Besar transite time batuan dapat juga ditentukan dari analisis
batuan pasir
kurva Long Spaced Sonic Log (LSSL). Dari defleksi kurva
Adapun contoh sumur yang dijadikan obyek penelitian ini pada Long Spaced Sonic Log (LSSL), diketahui besarnya nilai
adalah sumur W. E-10 pada lapangan W, yang lokasinya
atau harga ∆ts dan ∆tc. ∆ts adalah transite time gelombang
terletak di Laut Jawa, sebelah Tenggara Pulau Sumatra.
Pengeboran sumur ini menembus tiga lapisan pada Formasi shear , sedangkan ∆t c adalah transite time gelombang
Talang Akar. kompressional. Satuan dari transite time ini adalah µ sec/ft.

IATMI 2001-65
Hubungan Antara Poisson’s Ratio Dengan Porositas dan Densitas Batuan Pasir Pada Lapangan Minyak Sudarmoyo, Herianto, R. Bobby Harsawan

Poisson’s Ratio (saturated density). Dalam penentuan densitas di


laboratorium10) , digunakan persamaan-persamaan sebagai
Poisson‘s Ratio adalah ukuran perubahan bentuk geometri berikut :
yaitu perbandingan antara perubahan bentuk regangan lateral Wn
(lateral strain) dengan regangan axial (axial strain) yang ρ nat = .……….(3-4)
disebabkan oleh penekanan axial tertentu, yang dapat Ww − Ws
mengubah menjadi bentuk yang tidak terbatas. Poisson’s Ratio Wo
dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut 9) : ρ dry = .....…….(3-5)
W w −W s
lateral strain ε lateral
ν = =
……….(3-2)
Ws
axial strain ε ρ sat = …..…….(3-6)
axial
W w −W s
dimana :
ν = Poisson’s Ratio dimana :

ε lateral = regangan lateral ρ nat = bobot isi asli (natural density)


ε axial = regangan axial
ρ dry = bobot isi kering (dry density)

ρ sat
9)
Secara umum harga Poisson’s Ratio (ν) bervariasi antara 0,1 = bobot isi jenuh (saturated density)
hingga 0,5. Namun untuk batuan secara umum, nilai dari
Poisson’s Ratio (ν) diasumsikan rata-rata 0,25. Wn = berat contoh asli ( natural )

Penentuan besarnya nilai Poisson’s Ratio terbagi menjadi 2, Wo = berat contoh kering ( sesudah dimasukkan
yaitu : ke dalam oven selama 24 jam dengan
temperatur ± 90O C )
1. Penentuan Poisson’s Ratio di laboratorium
Pengujian di laboratorium untuk sifat mekanik batuan12) ,
Ww = berat contoh jenuh ( sesudah dijenuhkan
termasuk penentuan Poisson’s Ratio dilakukan dengan dengan
menggunakan metoda uniaxial compressive strength test dan air selama 24 jam)
triaxial compressive strength test Pengujian ini menggunakan Ws = berat contoh jenuh dalam air.
mesin tekan (compressive machine) untuk menekan sampel
batuan dengan tiga arah (triaxial). 2. Penentuan densitas dengan log sumuran.
Cara menentukan densitas batuan dari pembacaan log densitas
2. Penentuan Poisson’s Ratio dengan log sumuran. adalah dengan menganalisis defleksi kurva pada log densitas
Penentuan Poisson’s Ratio menggunakan log sumuran adalah dalam satuan gr/cc. Dari defleksi kurva pada log densitas itu
dengan cara analisis kurva Log Sonik (Long Spaced Sonic dapat diketahui besarnya bulk density masing-masing batuan.
Log). Dari defleksi kurva pada Log Sonik yang dianalisis,
diketahui besarnya nilai ∆ts dan ∆tc. Selanjutnya menghitung Porositas
nilai Poisson’s Ratio dihitung menggunakan persamaan
sebagai berikut13) : Porositas (φ) merupakan perbandingan antara ruang kosong
(pori-pori) dalam batuan dengan volume total batuan yang
 ∆ t 2 − 2∆ t 2  ……….(3-3) diekspresikan di dalam prosentase (%). Secara matematik,
ν = 0 . 5  s c 
 porositas dinyatakan sebagai berikut10) :
 ∆t 2 − ∆t 2
 s c 
dimana : Vp ………. (3-7)
ν = Poisson’s Ratio, fraksi φ =
Vb
x 100 %
∆ts = transite time gelombang shear, µ sec/ft atau
∆tc = transite time gelombang kompressional, µ sec/ft Vb − Vg ………. (3-8)
φ = x 100 %
Vb
Densitas
dimana :
Densitas batuan10) adalah berat jenis dari batuan yang φ = porositas batuan
dinyatakan dalam pound per cubic feet atau kilonewton per Vp = volume ruang pori-pori batuan
cubic meter. Specific gravity suatu padatan (SG) adalah
Vb = volume batuan total (bulk volume)
perbandingan densitas padatan dengan densitas air, yang
diperkirakan mendekati 1 gram-force/cm3 (9.8 kN/m3 atau 0.01 Vg = volume padatan batuan total (grain volume)
MN/m3).
Penentuan porositas dapat dibedakan menjadi dua cara yaitu :
Metode pengukuran densitas terbagi menjadi dua cara, yaitu : 1. Analisa secara langsung (analisa core)
1. Penentuan densitas di laboratorium. Besarnya nilai porositas dapat dicari dilaboratorium yang dapat
Densitas dibedakan menjadi 3, yaitu : bobot isi asli (natural ditentukan secara lebih teliti dengan menggunakan Porosimeter
density) dan bobot isi kering (dry density) dan bobot isi jenuh dan Mercury Injection Pump 10).

IATMI 2001-65
Hubungan Antara Poisson’s Ratio Dengan Porositas dan Densitas Batuan Pasir Pada Lapangan Minyak Sudarmoyo, Herianto, R. Bobby Harsawan

2. Analisa secara tidak langsung (analisa logging). Untuk menghitung besarnya Porositas Densitas Clay (koreksi
Untuk menentukan porositas secara tidak langsung (analisa dengan Vclay) dari analisis log densitas menggunakan
logging) ditentukan dengan menggunakan data log sumuran persamaan sebagai berikut7) :
yaitu menggunakan Log Sonik (untuk batuan keras dan ρ m a − ρ clay
unconsolidated atau kompak), Log Densitas (untuk semua φ Dclay = ..………(3-12)
formasi, tetapi pada prinsipnya dalam batuan yang kurang ρ ma − ρ f
unconsolidated dan batuan shaly) dan Neutron Log7).
dimana :
Untuk menghitung Porositas Sonik dari analisis log sonik
dengan menggunakan persamaan sebagai berikut7) :
φ Dclay = porositas densitas clay

∆ t log − ∆ t ma ρ ma
= densitas matrik batuan, g/cc
φs = ……….(3-9)
∆ t f − ∆ t ma ρ clay = densitas clay, g/cc

dimana :
ρ f
= densitas fluida, g/cc

∆ tlog = transite time gelombang kompresional yang


Untuk menghitung besarnya Porositas Densitas Koreksi
diperoleh dari pembacaan defleksi kurva sonic log (koreksi dengan Vclay) dari analisis log densitas menggunakan
untuk setiap interval kedalaman, µ sec/ft persamaan sebagai berikut7) :
∆tm a = transite time matriks batuan, µ sec/ft
∆ t f = transite time fluida, µ sec/ft φ DCorr = φ D − ( VClay x φ DClay) …….(3-13)

Untuk menghitung besarnya Porositas Sonik Koreksi (koreksi dimana :


dengan Vclay) menggunakan persamaan sebagai berikut7) : φ DCorr = Porositas Densitas Koreksi

( )
 ∆tlog − ∆tma   100  (
 ∆tshale − ∆tma  )
φD
VClay
= Porositas Densitas
= Volume Clay
φ SonicCorr = 
( x
∆t − ∆tma  ∆tshale
 f 
)
 − Vclay
 ∆t f − ∆tma 

( ) φ D Clay = Porositas Densitas Clay
……….(3-10)
dimana : Untuk menghitung besarnya Porositas Neutron dari analisis log
φ Sonic Corr = porositas sonik koreksi, % neutron menggunakan persamaan sebagai berikut 7) :

∆ tlog = transite time gelombang kompressional yang


φ N = 1.02 x ( φ NLog ) + 0.0425 ……….(3-14)
diperoleh dari pembacaan defleksi kurva log
sonik untuk setiap interval dimana :
kedalaman, µ sec/ft φN = Porositas Neutron
∆ tma = transite time matriks batuan, µ sec/ft φ NLog = Porositas Neutron yang terbaca
∆tf = transite time fluida, µ sec/ft Untuk menghitung besarnya Porositas Neutron Koreksi
∆ t shale = ∆tlog pada formasi shale yang terdekat, yang
(koreksi dengan Vclay) dari analisis log neutron menggunakan
persamaan sebagai berikut 7) :
berada diatas lapisan produktif.
Vclay = volume clay φ N Correction = φ N - ( VClay x φ NClay ) ……….(3-15)

Untuk menghitung besarnya Porositas Densitas dari analisis dimana:


log densitas menggunakan persamaan sebagai berikut7) : φ N Correction = Porositas Neutron Koreksi
ρ ma − ρ b φN = Porositas Neutron
φD = ...……….(3-11) VClay = Volume Clay
ρ ma − ρ f
φ NClay = Porositas Neutron clay / shale.
dimana :
Setelah harga φ DCorrection dan φ NCorrection ditentukan,
φ D = porositas densitas kemudian harga keduanya digabungkan untuk mendapatkan
ρ ma = densitas matrik batuan, g/cc harga Porositas (Densitas-Neutron) Koreksi. Untuk
menentukan Porositas (Densitas-Neutron) Koreksi secara
ρb = densitas bulk yang terbaca pada kurva density log matematis dijelaskan dengan menggunakan persamaan sebagai
g/cc berikut 7) :
ρ = densitas fluida, g/cc  ( 2 x φ N Correction) + ( 7 x φ DCorrection ) 
f φ D − N Correction =  
 9 

……….(3-16)

IATMI 2001-65
Hubungan Antara Poisson’s Ratio Dengan Porositas dan Densitas Batuan Pasir Pada Lapangan Minyak Sudarmoyo, Herianto, R. Bobby Harsawan

dimana : regresi menunjukkan pola hubungan (the pattern of


relationship ) antara variabel dependen dengan variabel
φ D − N Correction = Porositas (Densitas-Neutron) Koreksi independen. Analisis korelasi dapat digunakan untuk
mengetahui seberapa baik suatu persamaan regresi dapat
φ N Correction = Porositas Neutron Koreksi digunakan untuk menjelaskan hubungan antar variabel
tersebut.
φ DCorrection = Porositas Densitas Koreksi
3. PENGOLAHAN DATA
2.2. Metode Pendekatan
3.1. Pengolahan Data Log Sumuran
Metode pendekatan yang digunakan adalah metode statistik
yang terdiri dari dua jenis yaitu analisis korelasi dan analisis Log sumuran yang diolah pada sumur W lapangan minyak
regresi. berupa log sonik (LSSL), log densitas, log neutron dan log
gamma ray. Analisa log sonik (LSSL) menghasilkan Transite
Analisis Korelasi Time yang digunakan untuk menentukan nilai Poisson’s Ratio
dan porositas sonik. Analisa log densitas menghasilkan nilai
Analisis korelasi2) adalah alat statistik yang dapat digunakan densitas batuan untuk menentukan porositas densitas
untuk mengetahui derajat hubungan linear antara suatu variabel sedangkan analisa log neutron menghasilkan nilai neutron
dengan variabel yang lain. Biasanya analisis korelasi batuan untuk menentukan porositas neutron. Analisa log
digunakan dalam hubungannya dengan analisis regresi untuk gamma ray menghasilkan nilai gamma ray maksimum dan
mengukur ketepatan garis regresi dalam menjelaskan minimum untuk menentukan Vclay. Parameter inilah yang akan
(explaining) variasi nilai variabel dependen. Ukuran statistik diolah dalam penelitian ini.
yang dapat menggambarkan hubungan antara suatu variabel
dengan variabel lain adalah koefisien determinasi (r2) dan Analisis Korelasi dan Regresi
koefisien korelasi (r).
Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode
a. Koefisien Determinasi (r2) statistika 2), yaitu analisis korelasi analisis regresi.
Langkah pertama adalah menentukan besarnya nilai Transite
Koefisien determinasi2) adalah salah satu nilai statistik yang Time dari defleksi log sonik (LSSL). Kemudian menghitung
dapat digunakan untuk mengetahui apakah ada hubungan besarnya nilai Poisson’s Ratio dan porositas sonik koreksi,
pengaruh antara dua variabel. Nilai koefisien determinasi dari Transite Time tersebut. Selanjutnya menghitung nilai
menunjukkan persentasi variasi nilai variabel dependen yang densitas batuan dari log densitas dan nilai neutron dari log
dapat dijelaskan oleh persamaan regresi yang dihasilkan. neutron. Dari nilai densitas dan neutron ditentukan nilai
porositas (densitas–neutron) koreksi. Untuk nilai koreksi Vclay
b. Koefisien Korelasi (r) ditentukan dari analisis log gamma ray. Koreksi ini dilakukan
untuk nilai Vclay kurang dari 50%, karena jika nilai Vclay lebih
Koefisien korelasi2) merupakan ukuran yang kedua yang dapat dari 50% maka sudah dianggap sebagai batuan shale atau
digunakan untuk mengetahui bagaimana keeratan clay. Dalam penelitian ini, batuan yang digunakan dibatasi
hubungan antara suatu variabel dengan variabel lain. hanya clean sand hingga shaly sand. Langkah kedua,
Jika koefisien korelasi berhubungan dengan sampel yang mengkorelasikan Poisson’s Ratio dengan porositas (sonik dan
digunakan, maka koefisien korelasi (diberi simbol r) besarnya densitas-neutron) koreksi dan Poisson’s Ratio dengan densitas
adalah akar koefisien determinasi batuan. Data yang digunakan adalah data gabungan dari
ketiga lapisan pada Formasi Talang Akar. Kemudian dengan
Analisis Regresi menggunakan analisis korelasi didapatkan suatu tingkat
keeratan dari dua variabel tersebut Digabungkannya ketiga
Analisis regresi2) merupakan suatu model matematis yang lapisan batuan pasir tersebut, adalah agar persamaan yang
dapat digunakan untuk mengetahui pola hubungan antara dua dihasilkan, nantinya dapat digunakan pada semua lapisan
atau lebih variabel. Tujuan utama analisis regresi adalah untuk batuan pasir yang ada di Formasi Talang Akar. Selanjutnya
membuat perkiraan nilai suatu variabel (variabel dependen), dilakukan analisis regresi. Dari hasil analisis regresi diperoleh
jika nilai variabel yang lain yang berhubungan dengannya hubungan non-linier dengan fungsi eksponensial. Hal ini
(variabel independen) sudah ditentukan /diketahui. dapat dilihat pada Gambar-1.2. untuk hubungan Poisson’s
Analisis regresi digunakan untuk membuat perkiraan nilai Ratio dengan porositas sonik koreksi Gambar-1.3. untuk
suatu variabel dengan menggunakan satu atau beberapa hubungan Poisson’s Ratio dengan porositas (densitas-neutron)
variabel lain yang berhubungan dengan variabel tersebut. koreksi dan Gambar-1.4. untuk hubungan Poisson’s Ratio
Dalam analisis regresi, untuk mengetahui hubungan antara dengan densitas batuan. Persamaan regresi itu lalu diuji
variabel satu dengan variabel yang lain menggunakan suatu signifikansinya. Jika memenuhi syarat, maka persamaan
persamaan regresi. regresi itu signifikan.

Persamaan Regresi Langkah-langkah penelitian untuk penentuan hubungan


Poisson’s Ratio dengan porositas (sonik dan densitas-neutron)
Persamaan regresi2) adalah suatu formula matematis yang koreksi dan Poisson’s Ratio dengan densitas batuan dapat
menunjukkan hubungan keterkaitan antara satu atau beberapa dijelaskan secara berurutan sebagai berikut :
variabel yang nilainya sudah diketahui (known variable) • Lakukan analisis log (LSSL, densitas, neutron, gamma
dengan satu variabel yang nilainya belum diketahui (unknown ray) dengan cara pembacaan defleksi kurva log, untuk
variable). Persamaan regresi yang diperoleh dari analisis menentukan nilai transite time.

IATMI 2001-65
Hubungan Antara Poisson’s Ratio Dengan Porositas dan Densitas Batuan Pasir Pada Lapangan Minyak Sudarmoyo, Herianto, R. Bobby Harsawan

• Masukkan nilai transite time gelombang geser dan neutron) koreksi dan densitas batuan pasir. Digunakannya
gelombang kompressional ke dalam persamaan untuk porositas (sonik dan densitas-neutron) koreksi dan densitas
menentukan nilai Poisson’s Ratio. batuan pasir, karena biasanya pada sumur-sumur tua memiliki
• Menentukan nilai porositas (sonik dan densitas-neutron) data porositas dan densitas dari log sumuran yang telah ada.
koreksi dengan menggunakan persamaan porositas Dengan menggunakan persamaan Poisson’s Ratio terhadap
berdasarkan data log (LSSL, densitas, neutron, gamma porositas (sonik dan densitas-neutron) koreksi dan densitas
ray). batuan pasir ini maka dapat ditentukan nilai Poisson’s Ratio
• Korelasikan Poisson’s Ratio dengan porositas (sonik dan dengan biaya yang relatif murah. Selain itu, persamaan ini
densitas-neutron) koreksi dan Poisson’s Ratio dengan juga bermanfaat untuk stimulasi resevoir yaitu untuk hidraulic
densitas batuan. fracturing, acidizing, dan sand control.
• Setelah analisis korelasi, lakukan analisis regresi. Hasil
yang diperoleh adalah persamaan regresi yang representatif 5. KESIMPULAN
dengan mempertimbangkan nilai r2 yang besar.
• Lakukan uji signifikansi dengan cara membandingkan 1. Analisis korelasi antara porositas dan densitas Sandstone
besar nilai r2 dengan r2k. Jika r2 > r2k , berarti persamaan terhadap Poisson’s Ratio pada lapangan minyak dengan
tersebut signifikan tiga lapisan di Formasi Talang Akar, mempunyai
Alur pemikiran dalam penentuan persamaan regresi Poisson’s kecenderungan hubungan non-linier dengan fungsi
Ratio terhadap porositas dan densitas batuan pasir dapat eksponensial, serta memberikan hasil yang signifikan.
dilihat pada Gambar 1.1.
2. Persamaan usulan Poisson’s Ratio (y) terhadap porositas
Analisis regresi Poisson’s Ratio dengan porositas (sonik dan sonik koreksi (x) adalah sebagai berikut :
densitas-neutron) koreksi menghasilkan persamaan regresi
dengan nilai koefisien determinasi (r2). y = 0.400 e – 0.853 x

Persamaan regresi Poisson’s Ratio (y) terhadap porositas sonik Nilai koefisien determinasi (r2) = 0,665.
koreksi (x) adalah sebagai berikut :
Persamaan usulan Poisson’s Ratio (y) terhadap porositas
y = 0.400 e – 0.853 x …….(3-17) (densitas-neutron) koreksi (x) adalah sebagai berikut :

Nilai koefisien determinasi (r2) = 0,665. y = 0.468 e – 1.512 x

Persamaan regresi Poisson’s Ratio (y) terhadap porositas Nilai koefisien determinasi (r2) = 0,642.
(densitas-neutron) koreksi (x) adalah sebagai berikut :
Sedangkan persamaan usulan Poisson’s Ratio (y) terhadap
y = 0.468 e – 1.512 x …….(3-18) densitas batuan (x) adalah sebagai berikut :

Besar nilai koefisien determinasi (r2) = 0,642 y = 0.024 e 1.188 x


Sedangkan persamaan regresi Poisson’s Ratio (y) terhadap Besar nilai koefisien determinasi (r2) = 0,507
densitas batuan (x) adalah sebagai berikut :
3. Prediksi nilai Poisson’s Ratio, hasil dari persamaan
y = 0.024 e 1.188 x …….(3-19) Poisson’s Ratio terhadap porositas, dan densitas batuan
dapat digunakan untuk menentukan Poisson’s Ratio pada
Besar nilai koefisien determinasi (r2) = 0,507. sumur-sumur tua yang memiliki data porositas dan densitas
dari log sumuran yang telah ada.
Persamaan regresi yang dihasilkan tersebut kemudian diuji
signifikansinya, dengan cara membandingkan nilai r2 terhadap DAFTAR PUSTAKA
r2K. Karena persamaan regresi tersebut mempunyai nilai r2 >
r2K maka persamaan tersebut dikatakan signifikan. 1. Adams, N.J., “Drilling Engineering, A Complete Well
Planning Approach”, Penn Well Publishing Company,
4. PEMBAHASAN Tulsa, Oklahoma, 1985.
Dalam industri perminyakan, besarnya nilai Poisson’s Ratio, 2. Algifari.,”Analisis Regresi ; Teori, Kasus, dan Solusi”.
porositas, dan densitas sangat diperlukan. Umumnya BPFE , Yogyakarta, 1997.
parameter tersebut ditentukan dari analisis laboratorium
dengan biaya mahal. Oleh karena hal tersebut, dilakukan 3. Bourgoyne Jr., Adam T., “Applied Drilling
penelitian untuk mendapatkan cara dalam menentukan Engineering”, First Printing, Society Of Petroleum
Poisson’s Ratio dengan biaya relatif murah. Engineering. Richardson, Texas, 1986.
Untuk penentuan Poisson’s Ratio pada sumur-sumur tua
biasanya sangat sulit dan mahal, karena tidak dimungkinkan 4. Dewan, John T., “Essentials Of Modern Open Hole Log
untuk dilakukan dari analisis core ataupun dengan logging Interpretation”, PennWell Publishing Company, Tulsa,
yang biayanya mahal. Oleh karenanya penentuan Poisson’s Oklahoma, 1983.
Ratio dilakukan dengan cara menggunakan persamaan usulan
Poisson’s Ratio terhadap porositas (sonik dan densitas-

IATMI 2001-65
Hubungan Antara Poisson’s Ratio Dengan Porositas dan Densitas Batuan Pasir Pada Lapangan Minyak Sudarmoyo, Herianto, R. Bobby Harsawan

5. Dietrich, Richard V, Brian J Skinner., “Rock and Rock


0,400
Minerals” John Wiley and Sons, New York, 1979.
0,380
6. Goodman, Richard.E., “Introduction To Rock
Mechanics”, John Wiley & Sons, New York, 1980. 0,360

7. Harsono Adi, “Teknik Evaluasi Log”, IATMI, 1994. 0,340

Poisson's Ratio
8. Kristanto, Dedy.,”Logging Sumur”, Diktat Kuliah, 0,320
Jurusan Teknik Perminyakan UPN “Veteran” Yogyakarta,
1997. 0,300

9. Kumar, J., “The Effect of Poisson’s Ratio on Rock 0,280


Properties”, Member SPE-AIME, Associated Regulatory
Consultans, Inc. Paper SPE , 1976. 0,260

0,240
10. Laboratorium Analisa Inti Batuan, “ Buku Petunjuk -0,853x
y = 0,400e
Praktikum Analisa Inti Batuan “ Jurusan Teknik 0,220 2
Perminyakan Fakultas Teknologi Mineral UPN “Veteran” R = 0,665
Yogyakarta, 1995. 0,200

11. Makridakis, Spyros, Steven C. Wheelwright, dan Vior E 0,000 0,100 0,200 0,300 0,400 0,500
Mc.Gee., “Metode dan Aplikasi Peramalan” , (alih Porositas Sonik Koreksi
bahasa oleh Untung S Andriyanto dan Abdul Basith),
Data Expon. (Data)
Edisi Kedua, Jilid 1, Erlangga, 1995.

12. Rubiandini, Rudi.,R.S.,DR-ING.Ir., “Teknik Pemboran I” Gambar-1.2


Diktat Kuliah, Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Hubungan Poisson’s Ratio Vs Porositas Sonik Koreksi
Teknologi Mineral UPN “Veteran” Yogyakarta, 1998.

13. Sethi, Darshan K., “Well Log Application in Rock


Mechanics”, Dresser Atlas, Dresser Industries, Inc. Paper
SPE, 1981.

0,450

0,425
y = 0,468e-1,512x
0,400
R2 = 0,642
0,375
Poisson's Ratio

0,350

0,325

0,300

0,275

0,250

0,225

0,200
0,100 0,200 0,300 0,400 0,500
Porositas Densitas Netron Koreksi
Data Expon. (Data)

Gambar-1.1 Gambar-1.3
Alur Penentuan Prediksi Poisson’s Ratio Berdasarkan Hubungan Poisson’s Ratio Vs Porositas (Densitas – Neutron)
Porositas dan Densitas Batuan Pasir Koreksi

IATMI 2001-65
Hubungan Antara Poisson’s Ratio Dengan Porositas dan Densitas Batuan Pasir Pada Lapangan Minyak Sudarmoyo, Herianto, R. Bobby Harsawan

0,450

0,425 y = 0,024e 1,188x


2
0,400 R = 0,507

0,375
Poisson's Ratio

0,350

0,325

0,300

0,275

0,250

0,225

0,200
1,900 2,000 2,100 2,200 2,300 2,400

Densitas Batuan
Data Expon. (Data)

Gambar-1.4
Hubungan Poisson’s Ratio Vs Densitas Batuan

IATMI 2001-65