Anda di halaman 1dari 3

Step Drilling process

Step Drilling process

A. Rig Selection and Positioning:

Pengeboran lepas pantai bisa dilakukan dengan 3 jenis "kendaraan" atau drilling rig,
tergantung pada kedalaman air di tempat tsb:

a. Untuk kedalaman 7 - 15 ft (laut dangkal) biasanya dipakai rig jenis "swamp barge".
Caranya yaitu dengan memobilisasi rig ke lokasi sumur, setelah itu rig "ditenggelamkan"
dengan cara mengisi ballast tanksnya dengan air. Setelah rig "duduk" di dasar dan "spud can"
nya nancep di dasar laut, baru proses pengeboran bisa dimulai. Untuk mencegah rig terdesak
arus laut yang kadang2 kuat, biasanya posisi rig distabilkan dulu dengan cara mengikatkan
rig pada tiang2 pancang di sekitarnya, sebab apabila tidak stabil dan posisi rig tergeser oleh
arus, hal ini bisa bikin problem yang serius, terutama sumur.

b. Untuk kedalaman 15 - 250 ft, biasanya digunakan jack-up rig (biasanya berkaki 3 atau 4,
dan ada yang type independent legs dengan spud can di masing2 leg atau ada juga yang non-
independent leg dengan type "mat foundation" seperti fondasi telapak). Kaki rig dengan type
mat foundation ini biasanya dipakai di daerah2 laut yang mempunyai soft seabed (dasar laut
yang empuk sehingga dengan kaki rig type mat amblesnya tidak terlalu dalam).

Rig type jack up bisa digunakan untuk ngebor sumur2 explorasi maupun development
(pengembangan).

Tahapan yang paling critical adalah pada saat rig move-in mendekati platform, karena rig
harus mendekati platform pada jarak tertentu. Kalau kebablasan, rig bisa nabrak platform dan
bisa menyebabkan kerusakan yang significant. Jarak antara rig dan platform sudah ditentukan
sesuai design agar rig floor dan derrick yang berada di cantilever deck itu bisa di geser2
(skidding) sehingga mencapai semua well slot yang ada di platform tsb.

Satu platform bisa berisi 4, 6, 9, 12 atau lebih well slots tergantung besarnya platform. Untuk
approaching platform tsb biasanya rig dipandu oleh 2 atau 3 towing boats, dan di-support
dengan 2 atau 4 anchor yang ada di rig.

Setelah rig dikunci pada final position, barulah kaki2 rig diturunkan dan diberi "beban awal"
atau preload dengan cara mengisi tanki2 dengan air. Rig hull nya sendiri hanya dinaikkan
sedikit di atas muka laut sampai kaki2 rig itu tidak ambles lagi pada saat 100% preload.
Biasanya setelah 3 jam preload test dan rig stabil, "beban awal" itu dibuang dan rig bisa di
jack-up sampai pada ketinggian tertentu untuk drilling mode position di atas platform.

Di area BP West Java, leg penetration berkisar antara 25 - 50 ft untuk Arjuna dan Arimbi
Field, akan tetapi di Bima Field (daerah Zulu dan sekitar kepulauan Seribu), leg
penetrationnya bisa > 100ft karena seabednya yang sangat soft (empuk). Pada kasus deep leg
penetration, sering repotnya nanti pada saat rig mau demobilisasi, karena kaki rig itu
terperosok sedemikian dalam sehingga it takes time to get them out (biasanya lalu dibantu
dengan jetting untuk "membebaskan kaki2 rig tsb).

c. Untuk laut dalam (>250 ft), digunakan drillships (floater) atau semi-submersible.
Drilling rig type floaters biasanya dipakai untuk ngebor sumur2 explorasi karena praktis rig
jenis ini gak bisa "nempel" di platform untuk ngebor sumur2 development. Untuk rig jenis
ini, biasanya dilengkapi dengan 8 anchor / jangkar, yang tersebar di sekeliling rig. Setelah rig
berada di posisi sumur, semua jangkar di-deployed dan di "pretension" sampai dengan
300,000lbs untuk setiap jangkar. Bila jangkar tsb slip pada saat pretension, bisa ditambahkan
"piggy back anchor" di belakang jangkar utama. Sama halnya dengan 'preloading' pada type
rig jack up, 'pretension' selama mooring operations inipun sangat penting di lakukan pada rig
jenis floaters agar nantinya rig benar2 stabil pada saat drilling mode.

Selain itu, rig juga dilengkapi dengan "motion compensator" system untuk mengatasi
masalah heave, pitch dan roll pada rig jenis floaters, sehingga posisi rig floor relative stabil
terhadap lubang sumur at all times. Bahkan di rig2 modern dewasa ini, rig positioning sudah
diatur secara computerized agar tetap stabil on position. Setelah semua urusan moving-in ini
selesai, barulah Inul, eh...., rig siap untuk ngebor.

B. Selanjutnya: "Offshore" Drilling Operations:

1. Conductor Pipe / Structure:

Biasanya berukuran 26" atau 30". Masangnya bisa di drive (ditumbuk pake hammer) atau di
bor, dipasang dan disemen.

Untuk sumur2 development di platform, conductor2 itu umumnya udah di drive duluan oleh
Construction Company di well slots yang ada, sehingga pada saat jack up rig datang tinggal
ngebor aja.

a. Untuk type 30" driven pipe / conductor (1" wall thickness):

Biasanya di drive / ditumbuk sampai mentok @ 350 BPF (blows/ft) --> Angka ini dibatasi
agar conductor tidak collapse akibat over-driven. Kalau seabed nya keras, ya penetrasinya
gak dalam, tapi kalo soft seabed, penetrasinya bisa sampe >150 ft (kayak di Bima field).
Untuk ARCO, mereka dulu prefer pake type D-22 Delmag hammer.

Setelah itu, surface BOP (diverter mode) dipasang untuk ngebor lobang berikutnya.

b. Untuk 30" conductor casing for floater:

Biasanya lobang 36" dib or duluan, terus casing 30" dipasang sampai ke bottom, lalu di
semen seperti prosedur biasa. Ngebornya pun mungkin pake 26" bit dulu, terus lobang dibuka
ke 36" pake underreamer.

Setelah itu dipasang sub-sea BOP stack (diverter mode) sebelum ngebor hole section
berikutnya.

Dari point ini sampai terus ke bawah, prosedurnya sama dengan pemboran di darat (On-shore
drilling) sebagai bagian dari hasil casing design dan drilling program:

2. Surface Casing:
Ukurannya biasanya 20" atau 18 5/8" atau 13 3/8". Gunanya untuk memprotect "aquifer" dan
mencapai casing point dengan formation integrity yang lebih kuat agar bisa tutup BOP bila
terjadi well kick. Lobang bisa dibor pake bit

17 1/2" lalu dilebarkan dengan pake 24" hole opener atau underreamer. Lalu casing dipasang
sampai bottom dan disemen kayak biasa.

3. Intermediate atau Protective Casing:

Ukurannya biasanya 13 3/8" atau 9 5/8", bahkan kadang2 dipake juga 16" liner bila perlu.
Casing ini biasanya dipakai untuk memprotect lobang dari macam2 drilling problems, seperti
loss circulation, sloughing shale, caving coal, dan atau abnormal pressure zone. Lobang bisa
dibor pake bit 17 1/2" atau 12-1/4". Lalu casing dipasang sampai bottom dan disemen kayak
biasa.

4. Production Casing atau Liner:

Biasanya berukuran 9 5/8", 7" atau 5" dan dipakai sebagai selubung terakhir untuk
memproduksikan hydrocarbon yang terdapat di belakangnya. Lobang bisa dibor pake bit 12-
1/4" atau 8 1/2". Setelah dilakukan logging dan dinyatakan sumur mengandung hydrocarbon,
lalu casing atau liner dipasang sampai bottom dan disemen kayak biasa, untuk selanjutnya
masuk ke fase testing (Drill Stem Testing) dan atau completion untuk production.