Anda di halaman 1dari 10

Aplikasi Perangkat Lunak Electronics Workbench

pada Alat Elektronik Analog (Samuel H. Tirtamihardja)

MAKALAH ELEKTRONIKA DASAR

DISUSUNOLEH

151

Jurnal Teknologi Industri Vol. Tirtamihardja ABSTRAK Untuk menganalisa dan merancang suatu rangkaian elektronika kita tidak harus membuat rangkaian tersebut baru kemudian kita coba amati rangkaian tersebut dengan mempergunakan multimeter ataupun osiloskop.158 APLIKASI PERANGKAT LUNAK ELECTRONICS WORKBENCH PADA ALAT ELEKTRONIK ANALOG Samuel H. 3 Juli 2000 : 151 . Sekarang kita dapat mempergunakan 152 . IV No.

Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki keakuratan respons yang diperoleh dari simulasi EWB dibandingkan dengan respons secara fisik dan teoritis dari alat elektronik yang dipilih. dan pengubah tegangan ke arus. tingkat filter lolos bawah 20 kHz orde-4. dirancang dan dianalisa hanya secara teoritis berdasarkan literatur yang ada. tingkat penguat tegangan tak membalik 2-tingkat. Dalam hal ini diteliti mengenai seberapa akurat respons yang diperoleh dari simulasi EWB dibandingkan dengan respons dari beberapa alat elektronik real dan juga seberapa banyak jenis alat elektronik yang dapat disimulasikan atau seberapa banyak jenis komponen atau rangkaian terintegrasi yang terdapat dalam EWB. Penelitian ini dibatasi dengan menguji coba alat elektronik analog. 153 . penguat instrumentasi. yang dirancang dan dianalisa oleh mahasiswa Jurusan Teknik Elektro untuk mata ajaran Analisa dan Perancangan. Software yang paling umum dipergunakan adalah Electronics Workbench ( EWB ). Transmitter vibrasi ini menggunakan suatu transduser vibrasi yang disebut akselerometer piezoelektrik / AP (piezoelectric accelerometer) dan terdiri dari penguat depan muatan. Pembuktian dengan komponen-komponen dan rangkaian-rangkaian terintegrasi fisik selain membutuhkan biaya pengadaan yang tinggi (untuk jenis dan jumlah besar). filter lolos pita. alat-alat elektronik yang dijadikan objek dalam karya tulis ilmiah sebagai syarat kelulusan dan bahan penilaian untuk mata ajaran Analisa dan Perancangan. tingkat pengubah tegangan-ke-arus dan tingkat catu daya. 2.. filter lolos bawah. 1. Sampai saat ini. di sini catu daya tidak digambarkan. Tirtamihardja) software elektronika untuk menganalisa dan merancang suatu rangkaian elektronika. Dalam penelitian ini perangkat lunak Electronics Workbench (EWB) diteliti untuk diaplikasikan sebagai program simulasi bagi alat-alat elektronik yang dirancang. yakni suatu alat elektronik analog dan berapa banyak jenis komponen atau rangkaian terintegrasi yang terdapat dalam EWB. rangkaian listrik real dapat disimulasikan dengan menggunakan program komputer sehingga pada layar komputer dapat dilihat respons seperti apa yang dikehendaki pada rangkaian elektronik real- nya. PENDAHULUAN Di zaman komputerisasi ini. Aplikasi EWB ini diharapkan dapat menjembatani kesenjangan antara teori dan praktek seperti disebut di atas. juga sering terjadi kerusakan pada komponen-komponen fisik tersebut. Catu daya yang digunakan adalah sumber tegangan searah +15V dan -15V yang dikonversi dari sumber tegangan bolak-balik PLN.Aplikasi Perangkat Lunak Electronics Workbench pada Alat Elektronik Analog (Samuel H. penguat tegangan tak membalik dua tingkat. Diagram Blok dan Cara Kerja Alat Secara keseluruhan diagram blok dari transmitter vibrasi dapat dilihat pada Gambar 1. REALISASI RANGKAIAN DAN CARA KERJA ALAT Sistem lengkap dari transmitter vibrasi berturut-turut terdiri dari tingkat penguat depan muatan. tingkat penguat instrumentasi. Penggunaan EWB dapat mengatasi kelemahan-kelemahan perangkat keras di atas dan membangkitkan kepercayaan diri para mahasiswa bahwa alat elektronik yang dirancang dapat bekerja seperti yang dikehendaki. seperti di dalam bidang Teknik Elektro. Penelitian ini menganalisis hasil pengujian baik secara fisik maupun simulasi dari Transmitter Vibrasi (analog). Transmitter vibrasi adalah alat yang dapat mengukur level dan komponen frekuensi dari vibrasi mesin secara elektronik serta dapat mengirimkan data-data itu ke ruang pemantauan sejauh 100 m dari alat tersebut.1. tingkat filter lolos pita 3-tingkat orde-2. Biasanya pada suatu karya tulis ilmiah mengenai perancangan dan penganalisaan suatu alat elektronik hanyalah didasarkan pada studi literatur dan tidak melalui suatu pembuktian praktis. 2.

250 Hz. BPF terdiri dari tiga tingkat pilihan dimana masing-masing tingkat memiliki frekuensi tengah yang dapat diatur dalam jangkauan tertentu. Diagram blok transmitter vibrasi.158 A k s e le r o m e te r Penguat D epan P enguat LPF P ie z o e le k tr ik M u a ta n In s tr u m e n ta s i O r d e -4 (1 p C /m s -2 ) (1 m V /p C ) (A v o 6 -3 1 k a li) (0 -2 0 k H z ) K a b e l T e le p o n 100m Pengubah Beban T e g a n g a n -k e -A r u s (1 m A /V ) BPF BPF BPF T in g k a t-1 T in g k a t-2 T in g k a t-3 (5 -2 5 H z ) (2 5 -1 0 0 H z ) (1 0 0 -2 5 0 H z ) Penguat Tegangan Tak M e m b a lik D u a T in g k a t (A vo = 1 0 0 k a li) Gambar 1. 3 Juli 2000 : 151 . Sinyal yang dihasilkan LPF diteruskan ke salah satu tingkat filter lolos pita / BPF. Vibrasi mesin dideteksi dengan menggunakan akselerometer piezoelektrik / AP. yaitu 1 pC/ms-2. Tegangan keluaran dari penguat depan muatan mempunyai level yang rendah (dalam orde mV). Penguatan ini dimaksudkan untuk memperoleh level tegangan yang cukup tinggi sehingga dapat direspons dengan baik oleh filter lolos bawah. Tegangan yang telah dimiliki level yang cukup tinggi itu lalu dimasukkan ke rangkaian filter lolos bawah / LPF. Selanjutnya sinyal dari salah satu BPF dihubungkan ke penguat tegangan tak membalik untuk mendapatkan penguatan lebih tinggi. Penguat tegangan tak membalik terdiri dari dua 154 . Penguat depan muatan ini didesain agar memberikan impedansi masukan sangat tinggi dan menghasilkan tegangan keluaran yang sebanding dengan muatan masukannya ( 1 mV/pC). yaitu cuma frekuensi tertentu yang dilewatkan BPF tersebut. Di sini digunakan teori bahwa setiap mesin bergetar pada saat bekerja.Jurnal Teknologi Industri Vol. dimana getaran atau vibrasi yang dihasilkan sebanding dengan kecepatan putaran mesin. BPF kedua melewatkan frekuensi tengah 25 . Karena itu tegangan ini diteruskan ke penguat yang cocok untuk memperkuat sinyal level rendah yaitu penguat instrumentasi. Transduser ini mengkonversi sinyal percepatan getaran (besaran mekanik) menjadi muatan listrik (besaran listrik). Sinyal keluaran penguat instrumentasi akan mengalami penyaringan frekuensi pada saat melewati LPF. Hal ini dilakukan dengan mengubah frekuensi tengah dari BPF yakni dengan memutar potensiometer yang terdapat pada rangkaian BPF itu sehingga frekuensi yang dilewatkan memberikan indikasi mengenai kecepatan putaran mesin yang dianalisis. Sinyal keluaran dari AP diberikan pada rangkaian penguat depan muatan. Penguatan tegangan dari penguat instrumentasi dapat diatur dengan memutar resistor variabel sesuai dengan nilai yang dikehendaki antara 6 .100 Hz dan BPF ketiga melalukan frekuensi tengah 100 . Sinyal masukan pada salah satu BPF diseleksi frekuensinya. Pemilihan BPF dengan frekuensi tengah yang dikehendaki dapat dilakukan dengan mengatur selektor pada BPF yang dimaksud.31 kali. IV No. LPF didesain untuk meredam derau frekuensi tinggi (lebih dari 20 kHz) dan penurunan tegangan pada pita stop sebesar 80 dB/dekade (orde-4). Hanya sinyal berfrekuensi di bawah frekuensi pancung dari filter ini yang dilewatkan. BPF pertama dapat melewatkan frekuensi tengah 5 Hz sampai 25 Hz.

2. Akselerometer Piezoelektrik Transduser akselerometer piezoelektrik yang merupakan transduser yang dibuat oleh pabrik dan digunakan sebagai alat bantu untuk mendapatkan sinyal listrik yaitu muatan listrik dari percepatan getaran. 2. dimana tegangan ini menunjukkan level getaran yang dihasilkan mesin. berarti kondisi mesin itu masih baik. Pengiriman arus dimaksudkan agar redaman yang dialami lebih kecil daripada yang dialami tegangan melalui jarak yang jauh.100 Hz dan potensiometer pada BPF terpilih digeser sampai diperoleh tegangan keluaran alat yang memiliki level yang terbesar.4. Tirtamihardja) tingkat dengan penguatan tegangan setiap tingkat sebesar 10 kali (total 100 kali).Aplikasi Perangkat Lunak Electronics Workbench pada Alat Elektronik Analog (Samuel H. Tegangan keluaran yang diperoleh cukup besar sehingga dapat dikonversi menjadi arus yang memadai untuk dikirimkan. yaitu pada frekuensi 60 Hz. Penguat Instrumentasi 155 . Di sini sinyal masukan berupa tegangan diubah menjadi arus yang sebanding dengan tegangan tersebut (1 mA/V). jika hasil yang diperoleh sama dengan hasil pengukuran pada saat kondisi baru dan baik. Kemudian level getaran mesin tersebut diamati. 2. Penguat depan ini didesain agar dapat meresponsi keluaran dari transduser berupa muatan listrik dan agar panjang kabel dari akselerometer ke penguat ini tidak mempengaruhi tegangan keluaran penguat depan. Tegangan jatuh pada resistor ini diukur dengan osiloskop. Jika hasil pengukuran yang diperoleh menyimpang jauh. Di tujuan. arus itu dideteksi dengan menggunakan sebuah resistor sehingga dihasilkan tegangan pada kedua ujung resistor itu. Penguat depan muatan yang dipakai. maka selektor diatur pada posisi BPF yang meloloskan frekuensi tengah 25 . Penguat Depan Muatan Penguat depan jenis muatan dipakai sebagai gerbang pertama masuknya sinyal listrik. Bagian selanjutnya dari diagram blok adalah pengubah tegangan-ke-arus. akselerometer ini memiliki sensitivitas 1 pC/ms-2.3.mesin tersebut harus diperbaiki. R 1 =10M Ω C 1 =1 nF +15V 2 _ 4 vi 1 3 v o + IC 1 a 11 LF 444 -1 5 V Gambar 2. Arus listrik dari pengubah tegangan-ke-arus dikirimkan melalui kabel ke tempat yang berjarak 100 meter dari pengubah tegangan-ke-arus. Dari spesifikasi yang dikeluarkan pabrik pembuatnya. Misalkan terdapat mesin yang akan dianalisis dengan kecepatan putaran 3600 rpm.2.

Penguat instrumentasi yang digunakan ditunjukkan oleh Gambar 3. Rangkaian LPF orde-4 ditunjukkan oleh Gambar 4. Penguat instrumentasi dari alat. dimana terlihat IC op-amp yang digunakan adalah LF 353. penguatan berkurang sebesar 80 dB/dekade untuk filter orde-4 yang dipakai.Jurnal Teknologi Industri Vol.158 Penguat instrumentasi yang digunakan sebagai penguat tegangan sinyal dari rangkaian penguat depan muatan karena penguat instrumentasi memiliki karakteristik yang baik. yakni impedansi masukan tinggi.. CMRR cukup tinggi dan penguatannya dapat diatur dengan sebuah potensiometer P1.5. impedansi keluaran rendah. 156 . Filter Lolos Bawah Penguatan tegangan filter lolos bawah / LPF adalah konstan sebesar Avo dari 0 Hz sampai frekuensi pancung dimana penguatan berkurang sebesar 3 dB dari Avo. 4 2. v o 15 kΩ 13 R . IV No. 3 Juli 2000 : 151 . sehingga penguat ini cocok untuk memperkuat tegangan dengan level rendah sekali seperti yang diperlukan oleh sinyal dari penguat depan muatan. Di atas frekuensi pancung. fc. -1 5 V 10 11 R R + 8 5 6 v in 9 . dimana IC op-amp yang dipakai adalah 3 tingkat LF 444. 14 7 12 + IC 1 d 10 kΩ R 8 10 kΩ IC 1 = L F 4 44 Gambar 3. IC 1 c 10 kΩ 10 kΩ R 2 R 3 5 IC 1 b 15 kΩ + 7 P 1 1 kΩ 6 5 kΩ R 4 .

Filter Lolos Pita Filter lolos pita / BPF dibuat dengan maksud untuk hanya melewatkan sinyal dengan frekuensi tertentu dan meredam frekuensi-frekuensi lain.3 n F +15V R 9 R 10 3 IC 2 a IC 2 b + 1 R 13 R 14 5 v in 2 .Aplikasi Perangkat Lunak Electronics Workbench pada Alat Elektronik Analog (Samuel H. 4 2 . Tirtamihardja) C 3 C 5 3 . Gambar 5. Filter lolos bawah orde empat. Kemudian dijelaskan mengenai penguat tegangan tak membalik yang terdiri dari dua tingkat dengan tujuan agar didapat penguatan yang lebih stabil daripada penguatan oleh penguat tegangan satu tingkat untuk harga Avo yang sama.8 k Ω R 17 Gambar 4.3 n F 3 .4 k Ω 2 .4 k Ω 2 + 8 7 .5 k Ω 6 . 2. BPF pertama melewatkan frekuensi tengah 5 – 25 Hz.9 k Ω 3 .4 9 k Ω C 4 R -1 5 V 15 6 . 157 . Pada alat digunakan selektor untuk memilih BPF mana yang akan digunakan.3 n F R 16 R 12 3 6 . menunjukkan rangkaian BPF yang didesain terdiri dari tiga tingkat pilihan berorde dua. Rangkaian penguat tegangan tak membalik dua tingkat dapat dilihat pada Gambar 6. filter kedua 25 –100 Hz.3 n F 3 .4 k Ω 2 . Setiap tingkat dari penguat tegangan tak membalik memiliki penguatan tegangan Avo sebesar 10 kali. dan filter ketiga 25 – 100 Hz.6. v o R 11 5 .4 k Ω 6 C 2 .

Selanjutnya tegangan dari diagram blok penguat tegangan akan diubah ke dalam bentuk arus dan dapat dilihat pada Gambar 7.1 fc : 5 -2 5 H z C 9 1 µF R 23 1 2 .2 k Ω 3 0 .Jurnal Teknologi Industri Vol.3 µ F R 20 1 9 . IC 4 b 2 L F353 .1 k Ω R24 C 10 2 IC 4 a v .3 k Ω 220 nF 3 R 25 + IC 4 a 174 Ω 4 L F353 P3 -1 5 V 1 k Ω T in g k a t -3 fc : 1 0 0 -2 5 0 H z Gambar 5.1 k Ω R18 C 6 2 v in . 3 Juli 2000 : 151 . 7 in 6 . +15V 5 8 -1 5 V + 7 3 4 v in 6 + 1 . 158 .3 µ F 3 R 19 + 4 IC 3 a 196 Ω L F353 P2a -1 5 V 10 kΩ T in g k a t . IC 5 a vo R 28 L M 358 R 30 9 k Ω R 29 1 k Ω 9 k Ω R 31 1 k Ω Gambar 6.3 4 k Ω 1 µF 5 + IC 3 b v R 22 200 Ω 8 o LF353 +15V P2b 10 kΩ T in g k a t . Penguat tegangan tak membalik dua tingkat.4 k Ω R 21 C 8 6 v .158 C 7 3 . Filter lolos pita tiga tingkat.5 3 k Ω 3 .2 fc : 2 5 -1 0 0 H z C 11 220 nF R 26 R 27 1 8 . IV No. 1 9 . 1 in 2 4 .

Gambar tersebut mengilustrasikan sinyal keluaran yang diperoleh dengan menggunakan arus berfrekuensi 50 Hz. Hasil pengujian transmitter vibrasi. Kemudian simulasi diulangi untuk frekuensi arus 50 Hz dan 150 Hz. keluaran penguat instrumentasi (T2). Pengujian rangkaian transmitter vibrasi keseluruhan dilakukan tiga kali yaitu dengan memberikan arus sebesar 1 mA dengan frekuensi diubah-ubah sebesar 15. keluaran penguat tegangan tak membalik dua tingkat (T6) dan keluaran pengubah tegangan-ke-arus (T7 / tegangan beban pada R33). 3'). Prosedur pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut. Arus ini diberikan pada masukan transmitter vibrasi (T0 ). sedangkan keluarannya (T7) diberikan pada osiloskop. Gambar 8. Sumber arus AC diatur sehingga keluarannya adalah arus 1 mA 15 Hz. dan 150 Hz. Hasil simulasi pengujian transmitter vibrasi dapat dilihat pada gambar 8 di bawah ini. HASIL SIMULASI DAN PEMBAHASAN Pengujian rangkaian ini dilakukan secara simulasi terhadap beberapa titik uji yaitu keluaran penguat muatan (T1). Karena komponen transduser tidak terdapat dalam model komponen dari EWB. Sinyal keluaran yang tampak pada osiloskop diamati dan direkam. 50. Tirtamihardja) +15V 5 8 iB + 7 v in 6 . keluaran setiap filter lolos pita / BPF orde-2 (1'. IC 5 b K ab el + T e le p o n R 33 v LM 358 B 100 m 1 k Ω _ R 32 1 k Ω Gambar 7. maka digunakan sumber arus bolak-balik untuk menggantikannya. 3. 2'.Aplikasi Perangkat Lunak Electronics Workbench pada Alat Elektronik Analog (Samuel H. Pengubah tegangan-ke-arus dengan arus yang dikirim. 159 . keluaran filter lolos bawah / LPF orde-4 (T3).

. Dalam perangkat lunak EWB terdapat suatu instrumen tes istimewa yang tidak ada di dalam dunia real / fisik.. penguat tegangan tak membalik dua tingkat. Ontario. Larry dan A. Brüel & Kjær. Denmark. Sinyal keluaran Transmitter Vibrasi yang diperoleh dengan EWB berupa sinyal sinus yang terpancung dan berayun. Jones. filter lolos bawah orde-4. John dan Marc Spiwak. Malvino. 1993. Edisi ke-5. Foster Chin. Electronic Devices and Circuit Theory. Englewood Cliffs. Englewood Cliffs. yang berfungsi untuk memberikan tanggapan frekuensi lengkap dari suatu rangkaian jika masukan suatu rangkaian diberi sinyal sinus dengan amplitudo dan frekuensi tertentu. Piezoelectric Accelerometer and Vibration Preamplifier Handbook. Serridge. 160 . 1996. DAFTAR PUSTAKA Boylestad. Interactive Image Technologies Ltd. Licht. yakni Bode Plotter. 1996. New Jersey. McGraw-Hill Co. yang terbatas sehingga jumlah peralatan elektronik yang dapat diuji terbatas pula sesuai dengan ketersediaan model-model komponen pada EWB.12 Educational Edition (EWB). 5. New Jersey. Alat Ukur Vibrasi Jarak Jauh. maka dapat diambil beberapa kesimpulan. baik analog maupun digital. 3. dan frekuensi tengah dari filter lolos pita 3-tingkat. Hal ini menunjukkan bahwa transmitter vibrasi yang dirancang kurang sempurna. Universitas Trisakti. Michael. Toronto. Yacono.. 1986. Prentice Hall International Inc. Electronic Principles. dan Torben R. 1996. pengubah tegangan-ke-arus. 4. 1995. Professional Edition. Mark. 1983. 3 Juli 2000 : 151 . disarankan untuk menggunakan Electronics Workbench. Kelemahan dari transmitter vibrasi yang dibuat terutama adalah rangkaian penguat depan muatan kurang meresponsi sinyal masukan yang sangat kecil dan slope tanggapan frekuensi yang dihasilkan masing–masing tingkat BPF tidak mencukupi untuk menyaring sinyal dengan baik. Toronto. sebagai berikut: 1. Albert Paul. John Wiley & Sons Inc. Jakarta. yang menunjukkan bahwa Transmitter Vibrasi yang dirancang kurang sempurna. Hugeng. Ontario..5 % dibandingkan pengujian secara fisik untuk blok-blok penguat depan muatan.5. Edisi ke-6.12. Interactive Image Technologies Ltd.Jurnal Teknologi Industri Vol. New York. Edisi ke-2. Tugas Akhir. Sedangkan untuk pengujian penguat tegangan dan lebar pita frekuensi dari filter lolos pita menghasilkan perbedaan yang cukup signifikan. 1993. J. Educational Edition mempunyai kumpulan model komponen. IV No.. Applications and Design with Analog Integrated Circuit.5. Singapore.. Electronics Workbench: Technical Reference.158 Tampak dari gambar di atas bahwa sinyal keluaran transmitter vibrasi berupa sinyal sinus yang terpancung dan berayun. Pengujian secara simulasi terhadap Transmitter Vibrasi dengan EWB memberikan perbedaan hanya sampai dengan 2. Electronics Workbench: User's Guide. Electronics Workbench v. Electronics Experimenter’s Handbook. Electronic Instrumentation and Measurement. 4. Kelemahan dari transmitter vibrasi yang dibuat terutama adalah rangkaian penguat depan muatan kurang meresponsi sinyal masukan yang sangat kecil dan slope tanggapan frekuensi yang dihasilkan masing–masing tingkat BPF tidak mencukupi untuk menyaring sinyal dengan baik. 2. Robert dan Louis Nashelsky. Untuk kumpulan model komponen yang lebih banyak. Winter 1994. Prentice Hall International Inc. Jacob. KESIMPULAN Dari hasil percobaan terhadap penelitian yang disimulasikan dengan menggunakan Electronics Workbench v. penguat instrumentasi.