Anda di halaman 1dari 16

BAB 4 : Standar Umum

Standar umum ini berkaitan dengan persyaratan kemampuan/keahlian staf,


independensi organisasi pemeriksa dan pemeriksa secara induvidual, pelaksanaan
kemahiran profesiobnal secara cermat dan seksama, dalam melaksanakan pekerjaan
maupun dalam penyusunan laporan, serta adanya pengendalian mutu hasil pekerjaan.

Untuk itu standar umum dalam pemeriksaan keuangan negara harus dilaksanakan
secara efektif dan efisien. Standar umum dibagi menjadi:
1. Persyaratan Kemampuan / Keahlian
Staf yang ditugasi untuk melaksanakan pmeriksaan harus secara kolektif memiliki
kecakapan profesional yang memadai untuk tugas yang disyaratkan.
Pemeriksa harus memiliki pengetahuan yang mendalam tentang pemeriksaan atas
pengenlolaan dan tanggung jawab keuangan negara, tentang kedaan kas yang
diperiksa, serta kaitannya dengan sifat dan jenis pemeriksaan yang dilaksanakan.

2. Indepedensi
Pemeriksa yang melaksanakan pekerjaan menurut standar pemeriksaan harus
memelihara kompetensinya melalui pendidikan profesional berkelanjutan.
Pendidikan profesional berkelajutan dimaksud agar mencakup topik, seperti:
perkembangan muktahir dalam metodologi dan standar pemeriksaan, prinsip
akuntansi, penilaian atas sistem pengendalian intern, prinsip manajemen atau
supervisi, pemeriksaan atas sistem informasi, sampling pemeriksaan, analisis
laporan keuangan, manajemen keuangan,statistik,disain evaluasi, dan analisis
data.
Tenaga intern dan ekstern yang membantu pelaksanaan tugas menurut standar
pemeriksaan harus memiliki kualifikasi dan sertifikasi yang diperlukan dan
berkewajiban untuk memelihara kompetensi profesional dalam bidang spesialisasi
mereka.
Pemeriksa perlu mempertimbangkan tiga macam gangguan terhadap
independensi, yaitu:
a. Gangguan yang bersifat pribadi
o Keluarga langsung atau anggota keluarga dekat yang
merupakan direktur atau pejabat entitas yang diperiksa
o Prasangka terhadap perorangan,kelompok, organisasi atau
tujuan suatu program
o Kecenderungan untuk memihak
o Memiliki kepentingan terkait dengan entitas yang diperiksa,
seperti dalam pengambilan keputusan, menyelenggarakan catatan
akuntansi resmi, dan sebagainya
o Kepentingan keuangan secara langsung atau keuangan yang
besar
o Mencari pekerjaan pada organisasi yang diperiksa
b. Gangguan yang bersifat ekstern
o Campur tangan atau pengaruh pihak ekstern yang membatasi
atau mengubah lingkup pemeriksaan dan penerapan prosedur pemeriksaan
o Pembatasan waktu yang tidak wajar untuk penyelesaian suatu
pemeriksaan

Resume Auditing 1
o Pembatasan terhadap sumber daya yang disediakan bagi
organisasi pemeriksa
o Ancaman penggantian petugas pemeriksa atas ketidaksetujuan
dengan isi hasil laporan pemeriksaan
o Pengaruh yang membahayakan kelangsungan pemeriksa
sebagai pegawai
c. Gangguan yang bersifat organisatoris

Organisasi pemeriksa intern pemerintah berada dalam kendali pejabat yang


terlibat dalam proses pengelolaan dan pertanggunjawaban keuangan negara.
Sedangkan pemeriksaan yang bersifat ekstern atau pemeriksaan terhadap entitas
lain para pemeriksa pemerintah dapat dianggap independen terhadap entitas yang
diperiksa, apabila tidak terdapat gangguan yang bersifat pribadi maupun yang
bersifat ekstren, dan apabila entitas yang diperiksa tersebut bukan merupakan
tempat tugas mereka

3. Penggunaan Kemahiran Profesional Secara Cermat dan Seksama


Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan laporannya, pemeriksa wajib
menggunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama.
Pemeriksa harus menggunakan kemahiran profesional secara cermat dan seksama
dalam menentukan jenis penugasan yang akan dilaksanakan dan standar yang
akan diterapkan terhadap pekerjaan, menentukan lingkup pekerjaan, memilih
metodologi, menentukan jenis dan jumlah bukti yang akan dikumpulkan dandalam
memilih pengujian dan prosedur untuk melaksanakan pekerjaan. Kemahiran
profesional menuntut pemeriksa untuk melaksanakan skeptisme profesional, yaitu
sikap yang mencakup pikiran yang selalu mempertanyakan dan melakukan
evaluasi secara kritis terhadap bukti pemeriksaan.
Dalam keadaan tertentu dapat terjadi bahwa pemeriksa tidak dapat mematuhi
standar pemeriksaan yang berlaku dan juga tidak dapat mengundurkan diri dari
penugasan pemeriksaan, dalam keadaan demikian pemeriksa harus
mengungkapkan masalah tersebut dalam laporan hasil pemeriksaannya, yaitu tidak
dipatuhinya standar pemeriksaan yang berlaku, alasan yang mendasarinya, dan
dampaknya terhadap hasil pemeriksaan.

4. Pengendalian Mutu
Setiap organisasi pemeriksa yang melaksakan pemeriksaan berdasarkan standar
pemeriksaan harus memiliki sistem pengendalian mutu yang memadai dan sistem
pengendalian mutu tersebut harus direviu oleh pihak lain yang kompeten
(pengendalian mutu ekstern).
Sistem pengendalian mutu yang disusun oleh organisasi pemeriksa harus dapat
memberikan keyakinan yang memadai bahwa organisasi tersebut:
a. telah menerapkan dan mematuhi standar pemeriksaan yang berlaku
b. telah menetapkan dan mematuhi kebijakan dan prosedur pemeriksaan
yang memadai
Menurut standar pemeriksaan, petugas yang bertugas untuk melakukan reviu
terhadap organisasi pemeriksa harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
o Petugas tersebut harus seorang ahli dalam reviu jenis
pemeriksaan dan mengerti serta mengetahui tentang standar pemeriksaan
yang berlaku.
o Petugas tersebut harus independen.

Resume Auditing 2
o Pemeriksa tersebut harus memiliki pengetahuan mengenai
bagaimana melaksanakan reviu atas pengendalian mutu pemeriksaan.
Sedangkan reviu yang dilakukan harus memenuhi beberapa syarat berikut:
o Pemeriksa tersebut harus menggunakan pertimbangan sehat dan
profesional.
o Reviu atas mutu pemeriksaan meliputi penilaian kebijakan dan
prosedur pengendalian mutu organisasi pemeriksa, termasuk pula prosedur
pengawasan terkait, pelaporan pemeriksaan, dokumentasi pemeriksaan
yang diperlukan, serta wawancara dengan staf profesional organisasi
pemeriksa.
o Reviu harus cukup komprehensif untuk memberikan dasar yang
memadai untuk menyimpulkan bahwa sistem pengendalian mutu
organisasi pemeriksa yang direviu telah dilaksanakan sesuai standar
profesional.
o Pemeriksa yang melakukan reviu terhadap pengendalian mutu
harus menyiapkan laporan tertulis untuk mengkomunikasikan hasil
reviunya.

BAB 5 : Standar Pekerjaan Lapangan Pemeriksaan Keuangan

Untuk pemeriksaan keuangan, standar pemeriksaan memasukkan tiga standar


pekerjaan lapangan profesi akuntan publik yang terdiri dari:
1. Pekerjaan harus direncanakan dengan sebaik-baiknya dan jika
digunakan tenaga asisten harus disupervisi dengan semestinya.
Perencanaan pemeriksaan meliputi pengembangan strategi menyeluruh
pelaksanaan dan lingkup pemeriksaan yang dilaksanakan. Dalam melaksanakan
perencanaan pemeriksaan, pemeriksa harus mempertimbangkan antara lain:
a. Masalah yang berkaitan dengan bisnis entitas
b. Kebijakan dan prosedur akuntansi
c. Metode yang digunakan
d. Tingkat resiko pengendalian
e. Pertimbangan awal tenteng tingkat materialitas
f. Pos laporan keuangan yang perlu penyesuaian
g. Kondisi yang mungkin memerlukan perluasan
h. Sifat laporan hasil pemeriksaan
Supervisi mencakup pemberian pengarahan atas pekerjaan asisten dalam
pencapain tujuan pemeriksaan dan penilaian apakah tujuan telah tercapai

2. Pemahaman yang memadai atas pengendalian intern harus


diperoleh untuk merencanakan audit dan menemukan sifat, saat, dan lingkup
pengujian yang akan dilakukan.
Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan pengawas,
manajemen, dan personil lainnya yang didesain untuk memberikan keyakinan
memadai untuk mencapai tujuan keandalan laporan keuangan, efektivitas dan
efisiensi operasi, kepatuhan terhadap ketentuan dan peraturan perudang-undangan.
Pengendalian intern terdiri dari lima komponen yang saling terkait berikut ini:
a. Lingkungan pengendalian
b. Penilaian risiko
c. Aktivitas pengendalian

Resume Auditing 3
d. Informasi dan komunikasi
e. Pemantauan
Pengendalian terhadap pengamanan aktiva berkaitan dengan (1) penyediaan
informasi kepada manajemen untuk melaksanakan tanggung jawab mereka dan (2)
mekanisme yang memungkinkan manajemen memantau kegiatan pengendalian
secara efektif dan efisien.
Lingkungan pengendalian terdiri dari:
a. Integritas dan nilai etika
b. Komitmen terhadap kompetensi
c. Partisipasi dewan komisaris
d. Struktur organisasi
e. Pemberian wewenang dan tanggung jawab
f. Kebijakan dan praktik sumber daya manusia
Penilain risiko entitas untuk tujuan pelaporan keuangan mencakup identifikasi,
analisis, dan pengelolaan risiko yang relevan dengan penysusunan laporan
keuangan sesuai prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Risiko dapat
timbul atau berubah karena:
a. Perubahan dalam lingkuangan operasi
b. Personel baru
c. Sistem informasi yang baru / diperbaiki
d. Teknologi baru
e. Produk baru
f. Restrukturisasi koorporasi
g. Operasi luar negeri
h. Standar akuntansi baru
Pengetahuan yang memadai tentang proses penilaian risiko mencakup pemahaman
tentang bagaimana manajemen mengidentifikasikan risiko, melakukan estimasi
seberapa signifikannya risiko, menaksir kemungkinan terjadinya, dan
menghubungkannya dengan pelaporan keuangan
Aktivitas pengendalian adalah kebijakan dan prosedur yang membantu
memastikan bahwa arahan manajemen telah dilaksanakan. Pemantauan
pengendalian intern adalah proses kinerja pengendalian intern secara
berkesinambungan.Dalam semua pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh
pemahaman atas masing-masing komponen pengendalian intern. Dalam
pemeriksaan keuangan pamahaman tersbut digunakan untuk:
a. Mengidentifikasi salah saji
b. Mempertimbangkan faktor-faktor yang berdampak terhadap risiko salah saji
c. Mendisain pengujian subtantif
Pemeriksa harus memperhatikan hal berikut ini, bila merencanakan dan
melaksanakan pengujian atas pengendalian:
a. Semakin tinggi penilain pemeriksa atas risiko, semakin banyak bukti yang
dibutuhkan
b. Pemeriksa dapat menggunakan kombinasi berbagai macam pengujian
pengendalian
c. Tidak cukup hanya dengan permintaan keterangan
d. Pengamatan memberikan bukti efektivitas hanya pada saat dilakukan
pengamatan
e. Pemeriksa dapat menggunakan bukti-bukti yang sudah ada, tetapi tetap harus
mendapatkan bukti tentang perluasan kebijakan

Resume Auditing 4
3. Bukti audit yang kompeten harus diperoleh melalui inspeksi,
pengamatan, pengajuan pertanyaa, dan konfirmasi sebagai dasar memadai untuk
menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diaudit.
Pemeriksaan yang dilakukan pemeriksa independen bertujuan untuk memperoleh
bukti pemeriksaan yang kompeten yang cukup untuk dipakai sebagai dasar yang
mamadai dalam merumuskan pendapatnya.
Konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal, baik secara individual atau
keseluruhan, adalah penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai
dengan prisnsip akuntansi umum yang berlaku di Indonesia.

Selain ketiga standar pekerjaan lapangan yang telah disebutkan di atas, terdapat
empat butir standar pemeriksaan tambahan, yaitu:
1. Komunikasi Pemeriksa

2. Penimbangan atas hasil pemeriksaan atau penugasan atestasi sebelumnya


Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya dan
tindak lanjut temuan dan rekomendasi yang signifikan yang berkaitan dengan
tujuan pemeriksaan yang sedang dilaksanakan.
3. Pengungkapan indikasi penyimpangan dari ketentuan dan peraturan perudang-
undangan, ketentuan dalam kontrak/perjanjian, kecurangan, dan
ketidakpatutan
Pemeriksa harus merancang pemeriksaan untuk memberikan keyakinan yang
memadai guna mendeteksi salah saji yang material.

4. Dokumentasi pemeriksaan
Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup, untuk
memungkinkan pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai
hubungan dengan pemeriksaan tersebut, dapat memastikan bahwa
dokumentasi pemeriksaan tersebut dapat dijadikan bukti yang mendukung
pertimbangan dan simpulan pemeriksa
Tiga manfaat utama dokumentasi pemeriksaan dengan tujuan tertentu yaitu:
o Memberikan dukungan utama terhadap laporan hasil
pemeriksaan
o Membantu pemeriksa dalam melaksanakan dan mengawasi
pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan tertentu
o Memungkinkan pemeriksa lain untuk mereviu kualitas
pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Dokumentasi pemeriksaan dengan tujuan tertentu harus memuat:
o Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan
o Dokumentasi pekerjaan yang dilakukan untuk mendukung
simpulan
o Bukti tentang supervisi
o Penjelasan pemeriksa mengenai standar yang tidak diterapkan

BAB 6: Standar Pelaporan Pemeriksaan Keuangan

Resume Auditing 5
Untuk pemeriksaan keuangan, Standar Pemeriksaan memberlakukan
empat standar pelaporan berikut ini:
a. Laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan disajikan sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia atau prinsip akuntansi yang lain yang
berlaku secara komprehensif.
b. Laporan auditor harus menunjukkan, jika ada, ketidakkonsistenan penerapan prinsip
akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan periode berjalan dibandingkan dengan
penerapan prinsip akuntansi tersebut dalam periode sebelumnya.
c. Pengungkapan informatif dalam laporan keuangan harus dipandang memadai, kecuali
dinyatakan lain dalam laporan audit.
d. Laporan auditor harus memuat suatu pernyataan pendapat mengenai laporan
keuangan secara keseluruhan atau suatu asersi bahwa pernyataan demikian tidak dapat
diberikan. Jika pendapat secara keseluruhan tidak dapat diberikan maka alasannya harus
dinyatakan. Dalam hal nama auditor dikaitkan dengan laporan keuangan, laporan auditor
harus memuat petunjuk yang jelas mengenai sifat pekerjaan audit yang dilaksanakan,
jika ada, dan tingkat tanggung jawab yang dipikul auditor.

IAI telah mengeluarkan PSA yang menjabarkan standar pelaporan tersebut.


Standar Pemeriksaan memberlakukan berbagai PSA tersebut dan menetapkan standar
tambahan mengenai hal-hal berikut ini:
1. Standar pelaporan tambahan pertama adalah:
Laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan bahwa pemeriksaan tersebut dilakukan
sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.
Jika pemeriksa tidak dapat mengikuti Standar Pemeriksaan, pemeriksa dilarang untuk
menyatakan demikian. Dalam situasi demikian, pemeriksa harus mengungkapkan alasan
tidak dapat diikutinya standar tersebut dan dampaknya terhadap hasil pemeriksaan
2. Standar pelaporan tambahan kedua adalah :
Laporan hasil pemeriksaan keuangan harus : (1) menjelaskan lingkup pengujian
pemeriksa atas kepatuhan terhadap ketentuan dan peraturan perundang-undangan,
ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian dan atas pengendalian intern yang berkaitan
dengan pelaporan keuangan serta menyajikan hasil pengujiannya, atau (2) mengacu kepada
laporan terpisah yang berisi informasi tersebut.
Jika pemeriksa membuat laporan terpisah, laporan hasil pemeriksaan tersebut harus
menyatakan bahwa ada laporan terpisah, dan menyatakan pula bahwa laporan terpisah
tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan laporan hasil pemeriksaan.
3. Standar pelaporan tambahan ketiga adalah:
Laporan hasil pemeriksaan keuangan kepada manajemen harus mengungkapkan: (1)
kelemahan dalam pengendalian intern yang dianggap sebagai “kondisi yang layak untuk
dilaporkan” seperti yang dirumuskan dalam SPAP, (2) semua kecurangan dan
penyimpangan dari ketentuan dan peraturan perundangundangan, dan (3) ketidakpatuhan
terhadap kontrak/perjanjian, serta (4) ketidakpatutan yang signifikan. Dalam kondisi
tertentu, pemeriksa, melalui organisasi pemeriksa, harus melaporkan secara langsung
kecurangan, penyimpangan dari ketentuan dan peraturan perundang-undangan,
ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian serta ketidakpatutan kepada pihak yang
berwenang sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundang- undangan yang berlaku.
Dalam melaporkan kelemahan pengendalian intern, pemeriksa harus mengidentifikasi
“kondisi yang layak untuk dilaporkan” yang secara sendiri-sendiri maupun secara
kumulatif merupakan kelemahan yang material. Untuk membantu manajemen atau pejabat
pengawas dari entitas yang diperiksa dalam memahami perlunya mengambil tindakan

Resume Auditing 6
perbaikan, pemeriksa dapat mengembangkan secara memadai temuan-temuan. Berikut ini
adalah pedoman dalam melaporkan unsur-unsur temuan:
a. Kondisi memberikan bukti mengenai hal-hal yang ditemukan
auditor di lapangan.
b. Kriteria memberikan informasi yang dapat digunakan oleh
pengguna laporan untuk menentukan keadaan seperti apa yang diharapkan oleh suatu
program atau kegiatan.
c. Akibat memberikan hubungan yang jelas dan logis untuk
menjelaskan pengaruh dari perbedaan antara apa yang ditemukan auditor (kondisi)
dan apa yang seharusnya (kriteria).
d. Sebab memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor
yang menjadi sumber perbedaan antara kondisi dan kriteria.
Apabila pemeriksa mendeteksi adanya kelemahan dalam pengendalian intern yang
merupakan “kondisi yang layak untuk dilaporkan” atau adanya kecurangan, pemeriksa
harus mengkomunikasikan secara tertulis kelemahan dan kecurangan tersebut kepada
entitas yang diperiksa melalui surat kepada manajemen (management letter).
Standar Pemeriksaan mengharuskan pemeriksa untuk mempertimbangkan dampak
kecurangan, penyimpangan dari ketentuan dan peraturan perundang-undangan,
ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian terhadap laporan hasil pemeriksaan dan
meyakinkan bahwa hal tersebut telah diinformasikan. Pemeriksa harus menempatkan
temuan tersebut dalam perspektif yang wajar untuk memberikan dasar bagi pengguna
laporan hasil pemeriksaan dalam mempertimbangkan kejadian dan konsekuensi kondisi
tersebut. Jika pemeriksa telah mengkomunikasikan temuan, dan pihak yang diperiksa
lalai melaporkannya, maka pemeriksa harus mengkomunikasikan kelalaian tersebut
kepada pimpinan tertinggi entitas yang diperiksa atau kepada pihak yang berwenang
sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
.
4. Standar pelaporan tambahan keempat adalah:
Apabila laporan hasil pemeriksaan menyebutkan adanya kelemahan dalam pengendalian
intern, kecurangan, penyimpangan dari ketentuan dan peraturan perundangundangan,
ketidakpatuhan terhadap kontrak/perjanjian, dan ketidakpatutan, pemeriksa harus
mendapatkan dan melaporkan tanggapan dari pejabat yang bertanggung jawab mengenai
temuan, simpulan dan rekomendasi, begitu juga dengan tindakan koreksi yang
direncanakan.
Cara yang paling efektif untuk menjamin bahwa suatu laporan telah dibuat secara wajar,
lengkap dan obyektif adalah dengan mendapatkan reviu dan komentar dari pejabat yang
bertanggung jawab dari entitas yang diperiksa.
5. Standar pelaporan tambahan kelima adalah:
Apabila informasi tertentu dilarang oleh ketentuan peraturan perundang-undangan untuk
diungkapkan kepada umum, laporan hasil pemeriksaan harus menyatakan sifat informasi
yang tidak dilaporkan tersebut dan ketentuan peraturan perundangundangan yang
menyebabkan tidak dilaporkannya informasi tersebut.
Dalam situasi tersebut, pemeriksa dapat mengeluarkan satu laporan yang resmi yang
berisi informasi di atas dan mendistribusikannya kepada pihak yang akan
menindaklanjuti rekomendasi pemeriksa.
6. Standar pelaporan tambahan keenam adalah:
Laporan hasil pemeriksaan diserahkan oleh pemeriksa kepada entitas yang diperiksa,
organisasi yang meminta atau mengatur pelaksanaan suatu pemeriksaan. Bagian dari
laporan hasil pemeriksaan yang relevan juga harus dikirimkan kepada pihak yang
mempunyai kewenangan mengatur entitas yang diperiksa dan yang bertanggung jawab

Resume Auditing 7
untuk melakukan tindak lanjut hasil pemeriksaan serta kepada pihak lain yang diberi
wewenang untuk menerima laporan hasil pemeriksaan tersebut. Pemeriksa harus
menjelaskan bahwa laporan bersifat terbuka untuk umum, kecuali apabila laporan
tersebut dibatasi oleh undang-undang atau peraturan, atau apabila mengandung
informasi khusus dan rahasia.
Laporan hasil pemeriksaan harus didistribusikan tepat waktu dan memadai. Apabila
suatu pemeriksaan dihentikan sebelum berakhir, namun pemeriksa tidak mengeluarkan
laporan hasil pemeriksaan tersebut, maka pemeriksa harus membuat catatan yang
mengikhtisarkan hasil pekerjaannya sampai tanggal penghentian dan menjelaskan alasan
penghentian tersebut. Pemeriksa juga harus mengkomunikasikan secara tertulis alasan
penghentian pekerjaan tersebut kepada manajemen entitas yang diperiksa, entitas yang
meminta pemeriksaan tersebut, atau pejabat lain yang tepat.

Resume Auditing 8
BAB 7 : Standar Pekerjaan Lapangan Pemeriksaan Kinerja

Standar pekerjaan lapangan untuk pemeriksaan kinerja ini meliputi :


1. Standar Perencanaan Pemeriksaan
Pekerjaan harus direncanakan secara memadai
Perencanaan harus terus berlanjut selama pemeriksaan dilaksanakan. Tujuan dan
lingkup pemeriksaan, serta metodologinya tidak ditentukan secara terpisah.
Dalam merencanakan suatu pemeriksan kinerja, pemeriksa harus:
a. Mempertimbangkan signifikansi masalah
Suatu masalah dianggap penting apabila masalah itu relatif penting bagi tujuan
pemeriksaan dan bagi calon pengguna laporan hasil pemeriksaan. Faktor
kualitatif dalam signifikansi maasalah adalah:
o Apakah program yang diperiksa bersifat sensitif dan menjadi
perhatian publik
o Apakah programnya masih baru atau adanya perubahan pada
kondisi program
o Apakah pemeriksaan yang dilaksanakan dapat berperan
menyediakan informasi yang dapat memperbaiki tanggung jawab
pemerintah dan pengambil keputusan
o Seberapa luasnya reviu atau bentuk lain pengawasan yang
independen
b. Memperoleh pemahaman atas program yang diperiksa
Dalam memahami suatu program pemeriksa herus mengerti unsur-unsur yang
terdapat dalam suatu program yang terdiri dari peraturan perundang-undangan,
maksud dan tujuan, input, operasi program, output, outcome, serta
pengendalian intern
c. Mempertimbangkan pengendalian intern
Tujuan-tujuan pengendalian intern dapat membantu pemeriksa dalam
memahami pengendalian intern dan menentukan signifikansi pengendalian
intern yang terdiri dari
o Efektivitas dan efisiensi operasional program
o Validitas dan keandalan data
o Ketaatan terhadap undang-undang dan regulasi serta kontrak-
kontrak maupun perjanjian-perjanjian
o Pengamanan sumber daya
d. Merancang pemeriksaan untuk mendeteksi terjadi penyimpangan
Pemeriksa dapat menggunakan pendeketan berikut ini:
o Mempersempit tujuan pemeriksaan pada asperk khusus
program yang diperiksa
o Mengidentifikasi ketentuan dan peraturan perudang-undangan
o Menentukan apakah signifkansi penyimpangan dapat
mempengaruhi rancangan kegiatan pemeriksa dalam mencapai tujuan
pemeriksaan
e. Mengidentifikasikan kriteria yang diperlukan
f. Mengidentifikasi temuan pemeriksaan dan rekomendasi yang signifikan
g. Mengidentifikasikan sumber data potensial
h. Mempertimbangkan apakah pekerjaan pemeriksa lainnya dapat digunakan
untuk mencapai tujuan pemeriksaan

Resume Auditing 9
i. Menyediakan pegawai atau staf yang cukup dan sumber daya lain untuk
melaksanakan pemeriksaan
j. Mengkomunikasikan informasi kepada manajemen dan pihak-pihak terkait
k. Mempersiapkan rencana pemeriksaan secara tertulis
2. Standar Supervisi terhadap Staf
Staf harus disupervisi dengan baik
Supervisi mencakup pengarahan kegiatan pemeriksa dan pihak lain seperti tenaga
spesialis yang terlibat dalam pemeriksaan untuk menentukan apakah tujuan
pemeriksaan dapat dicapai.
Reviu atas pekerjaan pemeriksaan harus didokumentasikan. Sifat dan luas dari
reviu tersebut dapat bervariasi tergantung pada sejumlah faktor seperti besarnya
organisasi pemeriksa, pentingnya pekerjaan, dan pengalaman staf

3. Standar untuk Mendapatkan Bukti-bukti yang Memadai, Kompeten,


dan Relevan
Bukti yang cukup, kompeten, dan relevan harus diperoleh untuk menjadi dasar
yang memadai bagi temuan dan simpulan pemeriksa
Bukti dapat digolongkan menjadi bukti fisik, dokumenter, kesaksian, dan analitis.
a. Bukti harus cukup untuk mendukung temuan pemeriksa
b. Bukti harus kompeten apabila bukti tersebut valid
c. Bukti harus relevan, yakni mempunyai hubungan yang logis dan arti penting
bagi temuan pemeriksaan yang bersangkutan
Bukti yang kompeten adalah bukati yang memiliki acuan sebagai berikut :
a. Bukti yang diperoleh dari pihak ketiga lebih kompeten dari bukti dari pihak
yang diperiksa
b. Bukti yang dikembangkan dari pengendalian intern yang efektif lebih
kompeten daripada yang diperoleh dari pengendalian intern yang lemah
c. Bukti yang diperoleh melalui pemeriksaan fisik, pengamatan, pemeriksaan,
dan inspeksi secara langsung lebih kompeten daripada bukti yang didapat
secara tidak langsung
d. Dokumen asli lebih kompeten daripada bukti fotokopi atau tembusannya
e. Bukti kesaksian dari orang yang bisa berbicara bebas lebih kompeten darpada
kesaksian orang yang dapat terjadi kompromi
f. Bukti kesaksian individu yang tidak memihak lebih kompeten daripada
kesaksian individu yang memihak
Apabila pengendalian intern dianggap tidak efektif oleh pemeriksa, pemeriksa
harus mencantumkan alasan-alasan mengapa rancangan atau pengendalian
operasional tidak efektif dan alasan-alasan mengapa tidak menguji pengendalian
tersebut.
Tujuan pemeriksaan biasanya terdiri dari unsur kondisi, kriteria, akibat, dan sebab.
Namun demikian, unsur yang dibutuhkan untuk sebuah temuan pemeriksaan
tergantung seluruhnya pada tujuan pemeriksaan tersebut. Jadi, sebuah temuan atau
sekelompok temuan pemeriksaan disebut lengkap sepanjang tujuan pemeriksaanya
telah dipenuhi dan laporannya secara jelas mengaitkan tujuan tersebut dengan
unsur temuan pemeriksaan

4. Standar untuk Mempersiapkan Dokumentasi Pemeriksaan


Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumen pemeriksaan.
Dokumentasi pemeriksaan yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan pemeriksaan harus berisi informasi yang cukup, untuk memungkinkan

Resume Auditing 10
pemeriksa yang berpengalaman, tetapi tidak mempunyai hubungan dengan
pemeriksaan tersebut, dapat memastikan bahwa dokumentasi pemeriksaan
tersebut dapat dijadikan bukti yang mendukung pertimbangan dan simpulan
pemeriksa

Tiga manfaat utama dokumentasi pemeriksaan dengan tujuan tertentu yaitu:


o Memberikan dukungan utama terhadap laporan hasil
pemeriksaan
o Membantu pemeriksa dalam melaksanakan dan mengawasi
pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan tertentu
o Memungkinkan pemeriksa lain untuk mereviu kualitas
pemeriksaan dengan tujuan tertentu
Dokumentasi pemeriksaan dengan tujuan tertentu harus memuat:
o Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan
o Dokumentasi pekerjaan yang dilakukan untuk mendukung
simpulan
o Bukti tentang supervisi
o Penjelasan pemeriksa mengenai standar yang tidak diterapkan

BAB 8 : Standar Pelaporan Pemeriksaan Kinerja

Standar pelaporan untuk pemeriksaan kinerja ini meliputi standar mengenai :


1. Bentuk
Pemeriksa harus membuat laporan hasil pemeriksaan untuk dapat
mengkomunikasikan setiap hasil pemeriksaan. Bentuk laporan harus sesuai
dengan tujuan penggunaannya dalam bentuk tertulis atau bentuk lainnya.Laporan
hasil pemeriksaan ini berfungsi untuk (1) mengkomunikasikan hasil pemeriksaan
kepada pejabat pemerintah yang berwenang berdasarkan peraturan perundang-
undangan yang berlaku, (2) membuat hasil pemeriksaan terhindar dari
kesalahpahaman, (3) membuat hasil pemeriksaan sebagai bahan untuk tindakan
perbaikan oleh instansi terkait, dan (4) memudahkan tindak lanjut untuk
menentukan apakah tindakan perbaikan yang semestinya telah dilakukan

2. Isi Laporan
a. Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan
Pemeriksa harus memuat tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan dalam
laporan hasil pemeriksaan yang berguna bagi pengguna laporan agar dapat
memahami maksud dan jenis pemeriksaan, serta memberikan perspektif
terhadap apa yang dilaporkan. Penjelasan mengenai apa yang harus dimuat
dalam laporan tersebut biasanya mencakuup pengidentifikasian obyek/sasaran
pemeriskaan, dan aspek kinerja yang diperiksa, pemberitahuan unsur temuan
yang dibahas, dan perumusan simpulan dan pemberian rekomendasi.
Pemeriksa sedapat mungkin, harus menjelaskan hubungan antar popoluasi dan
besarnya sample yang diperiksa, mengidentifikasi organisasi, lokasi geografis,
dan periode yang dicakup, melaporkan jenis dan sumber bukti, dan
menjelaskan kualitas masalah yang terdapat pada bukti tersebut.
b. Hasil pemeriksaan termasuk temuan pemeriksaan, simpulan, dan rekomendasi
yang tepat

Resume Auditing 11
Dalam melaporkan temuan, pemeriksa harus memasukkan informasi yang
cukup, kompeten, dan relevan sehingga bisa dipahami. Temuan biasanya
terdiri dari unsur kondisi, kriteria, sebab, dan akibat.
o Kondisi, memberikan bukti mengenai hal-hal yang ditemukan oleh
pemeriksa di lapangan
o Kriteria, memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna
laporan untuk menentukan keadaan seperti apa yang diharapakan suatu
program atau kegiatan
o Akibat, memberikan hubungan yang jelas dan logis untuk menjelaskan
pengaruh dari perbedaan antara apa yang ditemukan dan apa yang
seharusnya
o Sebab, memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor yang
menjadi sumber perbedaan antara kondisi dan kriteria
Laporan pemeriksaan harus menyajikan juga kelemahan pengendalian intern
yang signifikan, kecurangan, dan penyimpangan dari ketentuan dan peraturan
perundang-undangan. Dalam keadaan tertentu pemeriksa harus melaporkan
secara langsung kecurangan, penyimpangan dari ketentuan dan peraturan
perundang-undangan, ketidak patuhan terhadap kontrak, serta ketidakpatutan
kepada entitas yang diperiksa dan jika entitas tersebut lalai, pemeriksa harus
melaporkannya langsung kepada pimpinan tertinggi entitas tersebut. Dan jika
masih terjadi kelalaian juga, pemeriksa dapat melaporkannya kepada pihak
luar yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan.
Simpulan adalah penafsiran logis mengenai program yang didasarkan atas
temuan pemeriksa dan bukan merupakan ringkasan temuan. Pemeriksa juga
harus menyampaikan rekomendasi untuk melakukan tindakan perbaikan untuk
pengingkatan kinerja atas bidang yang bermasalah dan untuk meningkatkan
pelaksanaan kegiatan entitas yang diperiksa. Rekomendasi akan bersifat sangat
konstruktif apabila: (1) diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang
ditemukan, (2) berorientasi pada tindakan nyata dan spesifik, (3) ditujukan
kepada pihak yang mempunyai wewenang untuk bertindak, (4) dapat
dilaksanakan, dan (5) apabila dilaksanakan, biayanya memadai.
c. Pernyataan standar pemeriksaan
Pemeriksa harus melaporkan bahwa pemeriksaan dilaksanakan berdasarkan
standar pemeriksaan. Apabila pemeriksa tidak dapat mematuhi standar
pemeriksaan harus dilaporkan oleh pemeriksa dan menjelaskan alasan tidak
digunakannya standar pemeriksaan tersebut.
d. Tanggapan pejabat yang bertanggung jawab
Pemeriksa harus meminta tanggapan/pendapat secara tertulis dari pejabat yang
bertanggung jawab terhadap temuan, simpulan, dan rekomendasi. Tanggapan
pejabat yang bertanggung jawab harus secara obyektif dievaluasi dan
dipahami, serta disajikan secara memadai dalam laporan hasil pemeriksaan.
Apabila tanggapan tersebut bertentangan dengan temuan, simpulan, dan
rekomendasi dalam laporan hasil pemeriksaan, dan menurut pemeriksa
tanggapan tersebut tidak valid, maka pemeriksa dapat memilih untuk menolak
tanggapan tersebut dengan mengemukakan alasannya.
Pemeriksa harus mengkomunikasikan masalah-masalah yang signifikan, yang
memerlukan pemeriksaan lebih lanjut kepada penanggung jawab pemeriksaan
untuk perencanaan pemeriksaan di masa mendatang.
e. Informasi yang bersifat istimewa dan rahasia (jika memungkinkan)

Resume Auditing 12
Apabila informasi tertentu dilarang untuk diungkapkan untuk umum, laporan
hasil pemeriksaan harus mengungkapkan sifat informasi yang dihilangkan
tersebut dan ketentuan yang melarang pengungkapan informasi tersebut.
Informasi-informasi tersebut dapat dibuat dalam laporan terpisah dan
didistribusikan kepada pihak-pihak yang berhak menerimanya

3. Kualitas Laporan
Laporan harus tepat waktu, lengkap, akurat, obyektif, meyakinkan, serta jelas dan
ringkas sepanjang hal ini memungkinkan.
Agar laporan tersebut bermanfaat secaramaksimal, maka laporan tersebut harus
tepat waktu.. Laporan harus memuat semua informasi yang dibutuhkan untuk
memenuhi tujuan pemeriksaan, meningkatkan pemahaman yang benar dan
memadai atas hal yang dilaporkan, dan memenuhi persyaratan isi laporan.
Keakuratan mensyaratkan bahwa bukti yang disajikan benar dan temuan itu
digambarkan dengan tepat. Obyektivitas mensyaratkan bahwa penyajian seluruh
laporan harus seimbang dalam isi dan nada, Kredibilitas ditentukan oleh penyajian
bukti yang tidak memihak, sehingga pembaca dapat diyakinkan oleh fakta yang
disajikan. Agar meyakinkan, maka laporan harus dapat menjawab tujuan
pemeriksaan, menyajikan temuan, simpulan serta rekomendasi yang logis.
Laporan harus mudah dibaca dan dipahami serta tidak lebih panjang dari yang
diperlukan untuk menyampaikan dan mendukung pesan.
4. Penerbitan dan Pendistribusian Laporan
Laporan hasil pemeriksaan diserahkan oleh organisasi pemeriksa kepada : (1)
pejabat yang berwanang atau yang bertanggung jawab untuk menindaklanjuti
temuan dan rekomendasi pemeriksaan, (2) pejabat yang berwenang dalam entitas
yang diperiksa, (3) pejabat yang berwanang dalam organisasi yang meminta atau
mengatur pemeriksaan, termasuk organisasi luar yang memberikan dana, kecuali
dilarang oleh ketentuan dan peraturan perudang-undangan yang berlaku, dan (4)
pihak lain yang diberi wewenang oelh entitas yang diperiksa untuk menerima
laporan tersebut. Apabila suatu pemeriksaan dihentikan sebelum berakhir, namun
pemeriksa tidak emngeluarkan hasil pemeriksaan tersebut, maka organisasi
pemeriksa harus membuat catatan yang meikhtisarkan hasil pekerjaannya sampai
tanggal penghentian dan menjelaskan alasan penghentian tersebut.

BAB 9 : Standar Umum, Standar Pekerjaan Lapangan, dan Standar


Pelaporan Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu

Dalam suatu pemeriksaan dengan tujuan tertentu, pemeriksa mengeluarkan


laporan atas pemeriksaan (examination), reviu, atau atas prosedur yang disepakati
(agreed upon procedures) mengenai suatu asersi yang diperiksa, yang merupakan
tanggung jawab dari pihak lain. Tiga sifat pemeriksaan denga tujuan tertentu adalah:
a. Pemeriksaan (examination)
Pemeriksa melaksanakan pengujian yang memadai untuk menyatakan
pendapat mengenai keyakinan positif bahwa suatu masalah telah sesuai
dengan kriteria
b. Reviu (review)
Pemeriksa melaksanakan pengujian yang memadai untuk menyatakan
simpulan mengenai keyakinan negatif bahwa suatu informasi yang diperoleh

Resume Auditing 13
pemeriksa dari pekerjaan yang dilaksanakan menunjukkan bahwa pokok
masalah tidak didasari kriteria atau suatu asersi tidak disajikan dalam semua
hal yang material sesuai dengan kriteria.
c. Prosedur yang disepakati (agreed upon procedures)
Pemeriksa melaksanakan pengujian yang memadai untuk menerbitkan laporan
yang dilandasi oleh prosedur tertentu yang dilaksanakan terhadap suatu pokok
masalah.

Dalam pemeriksaan dengan tujuan tertentu terdapat lima standar umum, yaitu:
a. Penugasan harus dilaksanakan oleh pemeriksa yang memiliki keahlisan dan
pelatihan yang cukup dalam pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
b. Pemeriksaan dengan tujuan tertentu harus dilaksanakan oleh seorang
pemeriksa atau lebih yang memiliki pengentahuan cukup dalam bidang yang
bersangkutan dengan asersi.
c. Pemeriksa harus melaksakannya hanya jika ia memiliki alasan untuk
meyakinkan dirinya bahwa terdapat kondisi :
1.) Assersi dapat dinilai dengan kriteria rasional
2.) Asersi tersebut dapat diestimasi atau diukur secara konsisten
d. Sikap mental independen harus dipertahankan oleh pemeriksa
e. Kemahiran profesional harus selalu digunakan oleh pemeriksa mulai dari
tahap perencanaan sampai dengan pelaksanaan penugasan tersebut

Standar pemeriksaan menetapakan standar tambahan pekerjaan lapangan


pemeriksaan dengan tujuan tertentu, yaitu:
a. Komunikasi Pemeriksa
Pemeriksa harus mengkomunikasikan informasi yang berkaitan dengan sifat,
saat, dan lingkup pengujian dan pelaporan yang direncanakan atas asersi atau
hal yang akan dilakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu, dan tingkat
keyakinan yang diharapakn, kepada pejabat entitas yang diperiksa atau pihak
yang meminta pemeriksaan dengan tujuan tertentu tersebut.
b. Hasil Pemeriksaan Sebelumnya
Pemeriksa harus mempertimbangkan hasil pemeriksaan sebelumnya dan
tindak lanjut temuan dan rekomendasi yang signifikan yang berkatian dengan
hal atau asersi yang dilakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu.
c. Pengendalian Intern
Dalam merencanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu dalam bentuk
pemeriksaan, pemeriksa harus memperoleh pemahaman yang memadai
tentang pengendalian intern yang sifatnya material terhadap hal atau asersi
yang dilakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu, guna merencanakan dan
merancang proseduruntuk mencaai tujuan pemeriksaan dengan tujuan tertentu
tersebut.
d. Pengungkapan Indikasi Kecurangan (fraud), Ketidakpatuhan terhadap
Kontrak, serta Ketidakpatutan (abuse)
Pemeriksa harus menggunakan pertimbangan profesionalnya dalam
merencanakan pemeriksaan dengan tujuan tertentu dalam bentuk pemeriksaan
dengan cara memperoleh pemahaman mengenai dampak yang mungkin terjadi
dan peraturan perundang-undangan dan dapat mengidentifikasi serta menilai
resiko yang mungkin berdampak material. Pemeriksa harus dapat
mempertimbangkan mengenai faktor kuantitatif dan kualitatif dalam membuat

Resume Auditing 14
pertimbangan mengenai signifikan atau tidaknya ketidakpatutan yang mungkin
terjadi dan apakah pemeriksa perlu memperluas langkah dan prosedur.
e. Dokumentasi Pemeriksaan
Pemeriksa harus mempersiapkan dan memelihara dokumentasi pemeriksaan
dengan tujuan tertentu yang terkait dengan perencanaan, pelaksanaan, dan
pelaporan serta harus mendukung temuan, simpulan, dan rekomendasi.
Tiga manfaat utama dokumentasi pemeriksaan dengan tujuan tertentu yaitu:
o Memberikan dukungan utama terhadap laporan hasil pemeriksaan
o Membantu pemeriksa dalam melaksanakan dan mengawasi
pelaksanaan pemeriksaan dengan tujuan tertentu
o Memungkinkan pemeriksa lain untuk mereviu kualitas pemeriksaan
dengan tujuan tertentu
Dokumentasi pemeriksaan dengan tujuan tertentu harus memuat:
o Tujuan, lingkup, dan metodologi pemeriksaan
o Dokumentasi pekerjaan yang dilakukan untuk mendukung simpulan
o Bukti tentang supervisi
o Penjelasan pemeriksa mengenai standar yang tidak diterapkan

SPAP mengatur beberapa bentuk pelaporan menurut jenis jaminan yang akan
diberikan oleh pemeriksa. Selain itu terdapat standar pelaporan tembahan mengenai
hal-hal berikut:
a. Pelaporan tentang kepatuhan terhadap standar pemeriksaan
Laporan dengan tujuan tertentu harus menyatakan bahwa pemeriksaan dengan
tujuan tertentu dilaksanakan sesuai dengan standar pemeriksaan.
b. Pelaporan tentang kelemahan pengendalian intern, fraud, penyimpangan dan
peraturan perundang-undangan, ketidakpatuhan terhadap kontrak serta
ketidakpatutan
Dalam melaporakan hal-hal tersebut pemeriksa harus berpedoman terhadap
beberapa hal berikut, yaitu:
o Kondisi, memberikan bukti mengenai hal-hal yang ditemukan oleh
pemeriksa di lapangan
o Kriteria, memberikan informasi yang dapat digunakan oleh pengguna
laporan untuk menentukan keadaan seperti apa yang diharapakan suatu
program atau kegiatan
o Akibat, memberikan hubungan yang jelas dan logis untuk menjelaskan
pengaruh dari perbedaan antara apa yang ditemukan dan apa yang
seharusnya
o Sebab, memberikan bukti yang meyakinkan mengenai faktor yang
menjadi sumber perbedaan antara kondisi dan kriteria
c. Pelaporan tanggapan dari pejabat yang bertanggung jawab
Apabila laporan pemeriksaan dengan tujuan tertentu menyebutkan adanya
kelemahan dari entitas yang diperiksa dalam hasil laporannya, pemeriksa
harus mendapatkan dan melaporkan tanggapan dari pejabat yang bertanggung
jawab mengenai temuan, simpulan, dan rekomendasi, begitu juga dengan
tindakan koreksi yang direncanakan
d. Pelaporan informasi penting dan rahasia
Apabila informasi tertentu dilarang oleh ketentuan dan peraturan perudang-
undangan untuk diungkapkan kepada umum, laporan pemeriksaan dengan
tujuan tertentu harus menyatakan sifat informasi yang tidak dilaporkan tersbut

Resume Auditing 15
dan ketentuan peraturan perudang-undangan yang menyebabkan tidak
dilaporkannya informasi tersebut
e. Penerbitan dan pendistribusian laporan
Laporan pemeriksaan dengan tujuan tertentu diserahkan oleh pemriksa kepada
entitas yang menjadi obyek pemeriksaan dengan tujuan tertentu, organisasi
yang meminta atau mengatur pelaksanaan pemeriksaan tersebut.

Resume Auditing 16