Anda di halaman 1dari 60

http://educare.e-fkipunla.net/index.php?

option=com_content&task=view&id=40&Itemid=3
Penelitian Tentang Manfaat Tujuan Pembelajaran Khusus dalam Proses Belajar
Mengajar

Ditulis oleh Otong Kardisaputra
A. Latar belakang masalah

Sejak diberlakukannya Kurikulum 1975, yang waktu itu dikenal dengan sebutan
Pembakuan Kurikulum, para guru diwajibkan menggunakan tujuan instruksional
khusus (TIK) dalam melaksanakan tugasnya dari mulai perencanaan pengajaran,
pelaksanaan proses belajar-mengajar sampai evaluasi pengajaran. Kewajiban itu
merupakan implikasi dari penggunaan prinsip objective oriented sebagai salah satu
asas pengembangan kurikulum. Penerapan prinsip berorientasi pada tujuan ini
nampak pada Kurikulum 1975 dengan dicantumkannya berbagai jenis tujuan yang
tersusun secara hierarkhis, dari mulai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusional,
tujuan kurikuler sampai ke tujuan instruksional umum. Atas dasar tujuan-tujuan itu,
guru diwajibkan mengembangkan tujuan instruksional khusus untuk diusahakan
pencapaiannya pada proses belajar-mengajar yang diselenggarakannya. Tujuan
instruksional khusus itu menjadi tujuan antara untuk mencapai tujuan yang berada di
atasnya.

Sejak diimplementasikannya Kurikulum 1975 sampai dewasa ini para guru telah
terbiasa merumuskan tujuan instruksional khusus yang dewasa ini biasa disebut
tujuan pembelajaran khusus (TPK), sebagai bagian penting dari tugas menyusun
Program Satuan Pelajaran dan Rencana Pelajaran. Jika dihitung-hitung, penggunaan
TPK dalam pengajaran (proses belajar-mengajar) telah berlangsung selama lebih dari
seperempat abad. Artinya suatu jangka waktu yang cukup panjang dalam menerapkan
suatu gagasan, sehingga layak untuk diperiksa hasilnya, dengan mengajukan
pertanyaan: apa dampak dari penerapan ide ini? Persoalan lain yang tidak kurang
pentingnya adalah masalah: apakah gagasan itu telah diterapkan secara semestinya?
Suatu studi kecil yang dilakukan peneliti di kalangan guru yang mengikuti lanjutan
studi di IKIP Bandung (sekarang UPI) dan pada beberapa program penataran dengan
pengalaman kerja kebanyakan belasan tahun yang seluruhnya berjumlah 164 orang,
ternyata hanya 27, 43 % dari mereka mengaku senantiasa menginformasikan TPK
pada fase pembukaan pembelajarannya. Selebihnya mengaku hanya kadang-kadang
saja dan bahkan sebagian menyatakan tidak pernah sama sekali memberitahukan TPK
kepada para siswanya pada waktu mengajar. Informasi lain diperoleh dari Pengawas
(Dikbud) di wilayah Bogor, yang menyatakan bahwa kurang lebih 10% dari guru-
guru di wilayah itu yang terbiasa menginformasikan tujuan pembelajaran khusus
kepada para siswanya ketika mereka mengajar. Data dan informasi itu
mengindikasikan kekurang pahaman bagian terbesar dari mereka akan fungsi dan
manfaat TPK dalam pembelajaran. Itu sebabnya mereka tidak memperlakukan TPK
secara semestinya. Konsekuensinya TPK kehilangan fungsinya seperti digagaskan
oleh penggagasnya. Jadi apa yang diharapkan dapat dicapai dari penerapan suatu ide,
jika ide itu tidak diterapkan sebagaimana mestinya?

Persoalan lain adalah bahwa pengunaan prinsip objective oriented dalam
pengembangan kurikulum itu nampaknya tidak didahului oleh suatu kajian mendalam
dan luas mengenai keampuhan prinsip itu bila diterapkan di Indonesia. Boleh jadi

penerapan prinsip itu hanya didasarkan pada expert judgement semata. Bukankah
betapa pun bagusnya sebuah ide di lingkungan tertentu tidak akan serta merta bagus
pula untuk diterapkan di lingkungan lainnya. Aspek sosial, budaya, dan sumber daya
akan turut menentukan keberhasilan penerapan suatu gagasan. Apa lagi jika kita baca
beberapa literatur, ternyata di Amerika Serikat sindiri pun tempat lahirnya gagasan
perlunya TPK dalam pembelajaran, sempat menjadi sebuah isyu kontroversial di
antara para pakar. Beberapa pakar, misalnya L.T. Dawley dan H.H. Dawley (1974),
P.C. Duchastel dan B. Brown (1975), W.E. Hauck dan J.W. Thomas (1972), R.J.
Kibler (1977), dan lain-lain, melalui penelitiannya masing-masing menemukan
bahwa penggunaan TPK dalam proses belajar-mengajar ternyata dapat meningkatkan
keberhasilan siswa belajar. Tetapi sebaliknya H. Hausdorf (1965), R.L. Ebel (1970),
E.W. Eisner (1967) memandang penggunaan TPK dalam mengajar tidak jelas
manfaatnya. W.J. Popham menulis secara rinci dan mendalam yang esensinya
meragukan validitas sejumlah argumen yang diajukan sejumlah pakar mengenai
kekurang bermaknaan penggunaan TPK dalam pengajaran.

Fenomena yang mengindikasikan belum meratanya kematapan pemahaman guru-
guru akan fungsi dan kemanfaatan dan cara bagaimana memperlakukan TPK dalam
mengajar serta adanya inkonsistensi hasil penelitian dan pandangan yang saling
berbeda di antara sejumlah pakar di Amerika Serikat (R.J. Kibler, 1981; W. Dick dkk.
1985; R.I. Arends,1989) telah mendorong dilakukannya penelitian ini. Dengan
penelitian ini diharapkan diperoleh pengetahuan empiris mengenai manfaat TPK
dalam upaya meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar di sekolah.

A. Rumusan Masalah

Secara umum, masalah yang hendak diteliti dalam studi ini adalah manfaat
penggunaan tujuan pembelajaran khusus dalam proses belajar-mengajar. Secara lebih
khusus, masalah itu dapat dirumuskan sebagai berikut: “Apakah penggunaan tujuan
pembelajaran khusus meningkatkan efektifitas proses belajar-mengajar?”

Tujuan pembelajaran khusus dalam rumusan masalah itu didefinisikan sebagai:
“pernyataan yang menjelaskan apa yang diharapkan dapat dilakukan siswa setelah
mengikuti satu unit proses belajar-mengajar.” Satu unit proses belajar-mengajar di
sini dimaksudkan sebagai satu pertemuan kelas selama dua kali 45 menit dalam mana
berlangsung rangkaian hubungan edukatif antara guru dengan siswa dan interaksi
antara tindakan pembelajaran guru dengan perbuatan belajar siswa yang ditujukan
untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Dimaksudkan dengan kata-kata “penggunaan tujuan pembelajaran khusus” dalam
rumusan masalah tersebut adalah perlakuan guru terhadap rumusan tujuan-tujuan
pembelajaran khusus yang telah dikembangkan guru sebagaimana yang
dicantumkannya dalam program satuan pelajaran dan/atau rencana pelajaran yang
dibuatnya. Dalam penelitian ini ditetapkan dua kondisi sebagai berikut:

1. Tujuan pembelajaran khusus telah diperlakukan secara semestinya (benar)
apabila tujuan-tujuan pembelajaran khusus yang dibawa guru ke dalam kelas belajar
diinformasikan kepada siswa dengan jelas pada fase pembukaan proses belajar-
mengajar sehingga tujuan pembelajaran khusus menjadi fungsional;

2. Tujuan pembelajaran khusus diperlakukan secara tidak semestinya apabila

Pembentukan Pengetahuan Sains, Teknologoi dan Masyarakat dalam
Pandangan Pendidikan IPA
Ditulis oleh Reviandari Widyatiningtyas
A. Pembentukan Pengetahuan

Pengetahuan yang dimiliki seseorang pada dasarnya berupa konsep-konsep. Konsep-
konsep ini diproleh individu sebagai hasil berinteraksi dengan lingkungan. Dengan
konsep-konsep dapat disusun suatu prinsip, yang dapat digunakan sebagai landasan
dalam berpikir. Konsep didefinisikan oleh beberapa ahli sebagai berikut. Menurut
Good (1973: 124), konsep adalah gambaran dari ciri-ciri, yang dengan ciri-ciri itu
objek-objek dapat dibeda-bedakan. Menurut Yelon et al. (1971: 190), konsep adalah
elemen umum dari sekelompok objek, peristiwa atau proses. Sedangkan menurut
Kuslan dan Stone (1968: 79), konsep adalah sifat Khas yang diberikan pada sejumlah
objek, proses, fenomena, atau peristiwa, yang dapat dikelompokkan berdasarkan sifat
khas itu.

Rumusan definisi yang dikemukakan diatas mengandung makna yang sama, yaitu
konsep merupakan suatu abstraksi yang mengambarkan ciri-ciri umum dari
sekelompok objek, proses, peristiwa, atau fenomena lainnya.

Gagne (1985 ; III ) dan Gagne and Briggs (1974: 40) menyatakan bahwa konsep
dapat digolongkan kedalam dua golongan yaitu konsep konkrit dan konsep
terdefinisi. Konsep konkrit adalah konsep yang menunjukkan ciri-ciri atau atribut
dari suatu objek, yaitu relatif mudah dikenali dengan indra. Contoh konsep konkrit
misalnya konsep warna (merah, hijau), bentuk (bulat, datar), sifat (keras, lunak), dan
sebagainya.

Konsep terdefinisi adalah konsep yang dapat dikenali (dipahami) melalui definisi,
jadi sifatnya abstrak. Contoh konsep terdefinisi misalnya konsep: penduduk, fertilitas,
ovulasi, dan sebagainya.

Praget (dalam Dahar, 1989: 159) melalui penelitiannya tentang bagaimana anak
memperoleh konsep atau pengetahuan, berkesimpulan bahwa konsep atau
pengetahuan itu dibangun dalam pikiran anak. Hasil penelitiannya ini yang
menyebabkan ia dikenal sebagai konstruktivis pertama.

Guston et-al (dalam Poedjiadi, 1995: 15) menyatakan bahwa paham konstruktivisme
bertitik tolak dari mempelajari bagaimana individu belajar. Pandangan
konstruktivisme dalam belajar adalah bahwa individu membangun maknanya sendiri
apabila menerima input melalui sensornya.

Dalam pembentukan pengetahuan melibatkan kegiatan berpikir. Ada tiga aspek yang
diajukan Piaget (dalam Dahar, 1989: 110) dalam membahas berpikir pada anak, yaitu
isi, struktur dan fungsi. Isi ialah pola perilaku anak yang khas yang tercermin pada
respons yang diberikannya terhadap berbagai masalah atau situasi yang dihadapinya.
Jadi isi mengacu kepada tingkah laku yang nampak sebagai pencerminan dari
kegiatan intelektual. Kerana itu isi berbeda dari umur ke umur dan satu anak ke anak
lainnya. Isi ditentukan oleh struktur kognitif yang disebut skemata atau skema.
Struktur kognitif adalah berupa fakta-fakta, konsep-konsep dan generalisasi-

atau memahami sesuatu. menurut Titus (1959:78). Untuk memperjelas hal tersebut. Disamping itu ditegaskan pula bahwa sains merupakan suatu rangkaian konsep- . atau dari koordinasi kegiatan dan bukan bersumber dari onjek itu sendiri. Pengetahuan ini didasarkan pada perjanjian sosial. Pengatahuan fisik meliputi pengetahuan tentang benda-benda dan sifat-sifatnya. Proses terbentuknya pengetahuan pada individu sangat ditentukan oleh struktur kognitifnya. Struktuk mengacu pada sifat-sifat penataan (skemata) yang menjelaskan terjadinya tingkah laku tertentu. dapat diungkap melalui definisi-definisi yang dikemukakan oleh beberapa ahli. satuan besaran pokok. Kedua pengetahuan ini tidak dapat diteruskan dalam bentuk sudah jadi. dapat dipelajari secara langsung. setiap siswa harus membangun sendiri pengetahuan itu. Menurut Piaget (dalam Dahar. Pengetahuan logiko-matematik diabstraksikan dari kegiatan. Piaget (dalam Dahar.generalisasi yang ada dalam pikiran siswa. mengandung tiga definisi yaitu sebagai sejumlah disiplin ilmu. yang kemudian hasil-hasilnya disistematikan dengan proses organisasi sehingga dihasilkan struktur (skemata) baru. Namun pengetahuan fisik dan pengetahuan logiko-matematik tidak secara langsung dan utuh dipindahkan dari pikiran guru ke siswa. Penguasaan Pengetahuan Sains. yang berupa konsep-konsep yang ada dalam pikirannya. sumber pengetahuan logiko- matematik adalah proses berfikir dari individu itu sendiri. untuk melakukan operasi-operasi logis. Individu tidak mungkin memperoleh pengetahuan sosial tanpa berinteraksi dengan manusia lain. Dengan konsep- konsep yang ada tersebut. pengetahuan logiko-matematik. Pengetahuan sosial terjadi dari hasil interaksi manusia dengan manusia. Dengan stuktur ini akan dihasilkan pola prilaku yang nampak. Skemata merupakan dasar untuk berpikir. A. sebagai sekumpulan pengetahuan. hal ini dikarenakan satu sama lain saling berkaitan. Sedangkan proses pembentukan logiko-matematik ialah mengorganisasi tindakan menjadi pola tindakan yang lebih logis melalui modifikasi tindakan struktur kognitif. yaitu dari pikiran guru pindah ke pikiran siswa. Fungsi adalah cara yang digunakan organisme untuk membuat kemajuan intelektualnya. memungkinkan individu dapat memikirkan sesuatu dengan cara adaptasi (baik asimilasi maupun akomodasi). dan sebagai metode-metode. Sains. tanda atom unsur-unsur. dan pengetahuan sosial. 1989: 159) pengetahuan sosial seperti nama hari dalam seminggu. suatu perjanjian atau kebiasaan yang dibuat manusia. 1989: 159) membedakan tiga bentuk pengetahuan berdasarkan sumber utamanya dan penstrukturannya. Tiga bentuk pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisik. Teknologi dan Masysarakat Penguasaan pengetahuan sains dan teknologi akan dikaitkan dengan aspek sosial.

konsep. teknologi dan masyarakat satu sama lain saling berinteraksi. kebutuhan. misalnya dalam penemuan rumus-rumus. Menurut Poerwadarminta (1983).konsep yang berkaitan dan berkembang dari hasil eksperimen dan observasi. sains merupakan suatu tubuh pengetahuan (body of knowledge) dan proses penemuan pengetahuan. Produk sains meliputi fakta. Jadi pengembangan teknologi selalu dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat. cara memecahkan masalah. namun juga untuk aktivitas penemuan (invention). 1992: 4). Proses sains meliputi cara-cara memperoleh. Menurut Robert B. Sains melandasi perkembangan teknologi. to solve problems. teknologi merupakan suatu perangkat keras ataupun perangkat lunak yang digunakan untuk memecahkan masalah bagi pemenuhan kebutuhan manusia.. Sund (1973: 2). masyarakat adalah sekelompok manusia yang memiliki wilayah. sosial adalah segala sesuatu yang mengenai masyarakat. dan norma-norma sosial tertentu. resources. merupakan aplikasi sains yang terutama untuk kegiatan invention. Yager. pada hakekatnya sains merupakan suatu produk dan proses. 1994: 29). Sedangkan teknologi. secara ringkas dapat dikatakan bahwa. berupa alat-alat atau barang-barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.technology is the know-how and creative process that may utilize tools. terutama didasarkan atas pengamatan eksperimen dan induksi. Sains. menurut Aikenhead (dalam Mariana. Pengembangan sains ini tidak selalu dikaitkan dengan aspek kebutuhan masyarakat. teknologi dan masyarakat merupakan bagian yang tak terpisahkan (Poedjiadi. Jadi secara ringkas dapat dikatakan bahwa. teknologi adalah ilmu pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri atau ilmu pengetahuan tentang cara membuat sesuatu atau melakukan sesuatu. Sedangkan. adalah totalitas alat yang dikembangkan oleh masyarakat untuk memperoleh objek-objek materi bagi makanan dan kenyamanan manusia. to enhance control over the natural an man-made environment in endeavour to improve the human condition. cara berfikir. sains terutama digunakan untuk aktivitas discovery dalam upaya memperoleh penjelasan tentang objek dan fenomena alam. teknologi adalah sebagai berikut: ……. sedangkan menurut UNESCO (1983). prinsip. masyarakat adalah sehimpunan orang yang hidup bersama dalam suatu tempat dengan ikatan-ikatan dan aturan-aturan tertentu. sedangkan teknologi menunjang perkembangan sains. Sains dirumuskan secara sistematis. Menurut Poerwadarminta (1983). and systems. 1990 . Dengan demikian sains. Teknologi. menurut Fischer (1975). adalah suatu lingkungan pergaulan sosial dan kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat. Interaksi ini dapat digambarkan seperti gambar sebagai berikut: . teori dan hukum. Dengan demikian. Jadi. mengembangkan dan menerapkan pengetahuan yang mencakup cara kerja. Masyarakat . dan cara bersikap.

2. dan pengembangan nilai positif tentang hakekat sains melalui pembelajaran. 5. Pemahaman prinsip-prinsip sains dan teknologi yang terlibat dalam alat-alat teknologi yang dimamfaatkan masyarakat. 1992:87-88) B. teknologi. Pemahaman konsep sains dalam pengalaman kehidupan sehari-hari. Penggunaan proses-proses ilmiah dalam pemecahan masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. nutrisi. 1989: 136) menyarankan bahwa sains hendaknya merupakan akumulasi dari content. Evaluasi dalam STM meliputi ruang lingkup aspek: 1. atau hal-hal lain yang didasarkan pada konsep-konsep ilmiah. Sains pada hakekatnya merupakan ilmu dan pengetahuan tentang fenomena alam yang meliputi produk dan proses. . masyarakat). Evaluasi merupakan suatu pengukuran atau penilaian terhadap sesuatu prestasi atau hasil yang telah dicapai. Mengingat penguasaan sains dan teknologi dalam penelitian ini merupakan penguasaan sains dan teknologi yang berkaitan dengan aspek masyarakat. maka kriteria pengembangan evaluasinya dapat mengacu kepada pengembangan evaluasi dalam unit STS atau STM (sains. STM dan Literasi Sains dan Teknologi Pendidikan IPA atau pendidikan sains pada hakekatnya merupakan upaya pemahaman. Penerapan konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sains untuk masalah- masalah teknologi sehari-hari. 1992: 19-20). dapat dilakukan melalui suatu evaluasi. (Varella. 4. 3. SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT Untuk mengungkap penguasaan pengetahuan sains dan teknologi tersebut. yaitu untuk meningkatkan pengertian terhadap dunia alamiah (Amien. Untuk penyusunan materi pendidikan sains. Pembuatan keputusan-keputusan yang berhubungan dengan kesehatan. Pendidikan sains merupakan salah satu aspek pendidikan yang menggunakan sains sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan umumnya yakni tujuan pendidikan nasional dan tujuan pendidikan sains khususnya. process. Kirham (dalam Wellington. penyadaran.

prinsip. Strategi kedua. Context. Content. National Science Teacher Association atau NSTA. Melalui kegiatan eksperimen atau diskusi kelompok yang dirancang oleh guru akhirnya dibangun atau dikonstruktur pengetahuan pada peserta didik. Strategi ini mirip dengan stategi pendidikan IPA terpadu. konsep. Pada awal perubahan tiap topik. Process. serta perlu dapat mengantisipasi masalah-masalah sosial yang berkaitan dengan sains dan teknologi tersebut. berkaitan dengan metodologi atau keterampilan untuk memperoleh dan menemukan content. pengajaran sains dewasa ini perlu dikaitkan dengan aspek teknologi dan masyarakat. menyangkut kepada hal-hal yang berkaitan dengan fakta. menyusun topik-topik tertentu yang menyangkut konsep-konsep yang ingin ditanamkan pada peserta didik. mendefinisikan STS sebagai belajar/mengajar sains dan teknologi dalam konteks pengalaman manusia (Poedjiadi. sedangkan dalam IPA terpadu tidak mutlak harus dilaksanakan demikian. dalam hal ini pengetahuan yang berbentuk konsep- konsep . strategi pertama. selanjutnya dikembangkan pula di Inggris dan Australia. Perbedaannya ialah bahwa pada program STM. Anna Poedjiadi (1995: 4) mengemukakan hal sebagai berikut: Pelaksanaan pendekatan STM dapat dilakukan melalui tiga macam strategi. Pendekatan Science- Technology-Society atau STS ini pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat pada tahun 1980-an. Untuk kepentingan itu. model. Tantangan pendidikan sains dewasa ini adalah perlu sesuai dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.dan context. guru memperkenalkan atau menunjukkan kepada peserta didik adanya isu atau masalah dilingkungan peserta didik atu menunjukkan aplikasi sains atau suatu produk teknologi yang ada dilingkungan mereka. isu atau masalah harus diangkat pada awal pembahasan topik yang diajarkan. berkaitan dengan kepentingan sosial baik individu maupun masyarakat atau kepentingan-kepentingan lainnya yang berhubungan dengan perlunya pengembangan dan penyesuaian pendidikan sains untuk menghadapi tantangan kemajuan jaman sekarang ini. dan terminologi. menyajikan suatu topik yang relevan dengan konsep-konsep tertentu yang termasuk dalam GBPP. Masalah atau isu yang ada dilingkungan masyarakat dapat pula diusahakan agar ditemukan oleh peserta didik sendiri setelah guru membimbing dengan cara-cara tertentu. teori. Pengajaran yang mengkaitkan sains dengan teknologi dan masyarakat. dikenal dengan pengajaran dengan pendekatan STM atau STS. definisi. Berkenaan dengan strategi pelaksanaan pendekatan STM. 1994: 1). Pada saat membahas konsep-konsep tertentu suatu topik yang relevan telah dirancang sesuai strategi pertama dapat diterapakan dalam .

dapat diartikan sebagai pemahaman atas sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. dapat diartikan sebagai kemampuan menyelesaikan masalah dengan menggunakan konsep-konsep sains. teknologi. sadar akan efek hasil teknologi. (c) berpengatahuan luas tentang hasil-hasil riset. mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya. Adapun literasi sains dan teknologi (literasi sains dan teknologi untuk semua orang yang diusulkan untuk pendidikan dasar di Indonesia). Konsep ini dapat diwujudkan dalam bentuk pendekatan atau materi pelajaran. (e) mampu membuat hasil teknologi alternatif yang sederhana. Adapun individu yang literat teknologi menurut M. isu atau masalah sebaiknyadperkenalkan pada awal pokok bahasan tertentu untuk meningkatkan motivasi peserta didik mempelajari konsep-konsep selanjutnya atau mengarahkan perhatian peserta didik kepada materi yang akan dibahas sebagai apersepsi. Dengan demikian program STM merupakan suplemen dari kurikulum. mengajak peserta didik untuk berpikir dan menemukan aplikasi konsep sains dalam industri atau produk teknologi yang ada di masyarakat di sela- sela kegiatan belajar berlangsung. berpengaruh satu sama lain. Krakteristik individu yang memilki literasi ilmiah adalah sebagai berikut: (a) bersikap positif terhadap sains. (b) mampu menggunakan proses sains. atau kemampuan berkomunikasi melalui tulisan dan kata-kata. (d) memilki pengetahuan tentang konsep dan prinsip sains. (c) sadar tentang akibat teknologi terhadap masyarakat. kreatif membuat produk teknologi sederhana. Literasi teknologi. dan masyarakat secara terintegrasi. (b) sadar tentang proses dan prinsip teknologi. 1994: 34) . 1993: 428). dan mampu bersikap serta mampu menggunakan alat secara aman. Dengan demikian individu tersebut dapat menghargai sains dan teknologi dalam . efesien dan efektif. dapat diartikan sebagai kemampuan melaksanakan teknologi yang didasari kemampuan identifikasi. serta untuk meningkatkan kemampuan menggunakan pengetahuan didalam membuat keputusan. memiliki karakteristik: (a) tahu penggunaan dan pemeliharaan produk teknologi. masyarakat dan nilai-nilai manusia. (f) berkemampuan membuat keputusan dan terampil menganalisis nilai untuk pemecahan masalah-masalah masyarakat yang berhubungan dengan sains tersebut (Rubba. Literasi sains (scientific literasi). Dyrenfurth (dalam Poedjiadi. STM dikembangkan untuk meningkatkan literasi ilmiah individu agar mengerti bagaimana sains. STM merupakan salah satu alternatif konsep untuk penyempurnaan dan penyesuaian pendidikan sains dewasa ini. serta mampu menerapkannya dalam teknologi dan masyarakat. Pengajaran dengan pendekatan STM dapat meningkatkan literasi sains dan teknioplogi individu. contoh-contoh adanya aplikasi konsep sains. mengenal teknologi yang ada beserta dampaknya di sekitar. dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai. (d) mampu mengevaluasi proses dan produk teknologi. teknologi. Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) merupakan perekat yang mengkaitkan sains. tepat. Strategi ketiga. (e) memilki pengertian hubungan antara sains.J. teknologi dan masyarakat. Literasi dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis.pembelajaran.

Fischer. (1974). (1985). A. L. Rinehort and Winston. & Stone. R. Carin.L. Dictionary of Education. W. 17-19 Januari. Jakarta. Austin: Univercity of Texas. Jakarta: PN. . A. Teaching Children Science: An Inquiry Approach. dan mengerti keterbatasan-keterbatasannya (Yager. Bandung. (1985). (1980). Poedjiadi. “Kecenderungan Pendidikan Sains dan Teknologi dimasa yang Akan Datang.masyarakat.J. R. Taxonomy of Educational objectives The Classification of Educational Goal Handbook I Cognitive Domain. P. Disertai Doktor FPS IKIP. Merrill Publishing. (1979). Kamus Umum Bahasa Indonesia. Inc.I. Makalah dan Lokakarya tentang Reorientasi dan perubahan Kurikulum Pendidikan Menengah Umum”. Science.M. R.(1995). Maesuring Stage of Concern about The Innovation: A Manual foe use of the Sacial Questionnaire. New York: David Mc. Balai Pustaka. (Eds). _______. How Thorn Victoria Australia: Longman Australia Pty Limited. Gagne. New York: Rinehort and Winston.M. IKIP Bandung: tidak diterbitkan. C. Good. Kuslan. Teaching Science Through Discovery.. Poerwadarminta.J. Gordner.S. Kesiapan Guru Mengajarkan Sains di Sekolah Dasar Ditinjau Dari Pengembangan Keterampialan Proses Sains. “Partisipasi FPMIPA IKIP Bandung dalam Menunjang Perkembangan Pendidikan Sains dan Teknologi Dewasa ini “. New York: Holt. Teori-teori Belajar. New York: Mc Graw Hill Book Company. Principlesof Instructional Desig.H. (1971).W. 1998: 276). A.e. R. 3 Mei. (1989). L.B. Makalah Disajikan pada Seminar Staff FPMIPA IKIP Bandung.’lay Company. Dahar. DAFTAR PUSTAKA Bloom.. Man and Siciety. G. The Stucture of Science Education. & Sund.B. et al. (1975). R. et al.A. Jakarta: Erlangga. Gagne. Hall.V. Philadelphia: Saunders Co. (1968). The Condition of Learning and Theory of Instruction. Columbus: Charles E. (1990). (1983). (1973). (1971). _______. & Briggs. Belmount: Wadsworth Publishing Company.

Titus. namun retensinya berbeda signifikan. Communication of Innovation: Crosscultural Approach.M. A. New York: Free Press. Yager. Macam pertanyaan yang diajukan oleh guru secara lisan atau tulisan menentukan .F. Analisis di atas dipandang kurang terungkap padahal merupakan sesuatu yang perlu diketahui dan diteliti.E. (1992).A. Science Education. hendaknya tidak hanya dari penguasaan konsep saja. Living Issues In Philoshophy. Varella. ICASE YEARBOOK. 2-8. (1971). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil postes siswa dari kedua pembelajaran pada umumnya sangat baik demikian pula retensinya. Faktor retensi atau lekatnya konsep dalam ingatan kurang mendapat perhatian padahal dapat dijadikan indikator bermutunya hasil belajar atau pembelajaran. tetapi lebih jauh perlu dianalisis apakah konsep-konsep yang diajarkan dapat lekat dalam ingatan siswa ataukah cepat terlupakan karena pembelajaran yang dilakukan hanya berupa transfer hapalan belaka. Pendahuluan 1. 87-92. retensi siswa hasil pembelajaran dengan pertanyaan penuntun lebih baik dari pertanyaan biasa. Untuk mengetahui efektifnya model pembelajaran. P. eranan Pertanyaan Terhadap Kekuatan Retensi dalam Pembelajaran Sains pada Siswa SMU Ditulis oleh Taufik Rahman ABSTRAK Telah dilakukan penelitian tentang peranan pertanyaan terhadap retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU. Latar Belakang Masalah Keberhasilan belajar Sains di SMU umumnya diukur dari seberapa jauh siswa menguasai konsep yang diajarkan. “Greater Ability to Apply Concepts Using and Science/Technology/Sociaty Approach to Teaching Science”. Tes retensi dilakukan setelah tiga minggu dari pos tes. & Shoemaker. H. (1992). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen. (1993).Rogers. Hasil postes dari kedua pembelajaran tidak berbeda.H. R.F. E. G. “Science-Technology-Society as Reform”.(1959). New York: American Book Company. Rubba. F. Sampel diambil secara claster random yang meliputi satu kelas eksperimen menggunakan pertanyaan pengarah dan satu kelas kontrol dengan pertanyaan biasa tanpa pengarah dalam pembelajarannya. “Examination of Preservice and Inservice Secondary Science Teachers Beliefs about Science –Technology-Society Interactions”. ICASE YEARBOOK. 407-431.

2. Rumusan Dan Batasan Masalah a. Rumusan Masalah Masalah umum penelitian ini dirumuskan sebagai berikut. mendorong siswa berfikir. banyak hal yang telah disimpan dalam ingatan sulit untuk diproduksikan lagi. hal ini dikenal sebagai lupa (Abin Syamsudin. Peranan Pertanyaan Dan Retensi Dalam pembelajaran Sains 1. Pertanyaan biasa adalah pertanyaan- pertanyaan yang berdiri sendiri tanpa menghiraukan kaitannya dengan pertanyaan pokok. Namun.keberhasilan siswa dalam peningkatan berpikir dan penguasaan konsep (Dahar. Kemampuan untuk menyimpan dalam ingatan ini dikenal sebagai retensi. 1991: 97). Pertanyaan penuntun berupa rangkaian pertanyaan yang saling berkaitan untuk menjawab pertanyaan pokok. Batasan Masalah 1) Pertanyaan yang diteliti meliputi pertanyaan penuntun dan pertanyaan biasa atau tidak menuntun. Pada kenyataannya. dan untuk mengungkap gagasan siswa (Wynne Harlen. 1985:122).W. 3) Retensi adalah kemampuan mengingat konsep setelah selang waktu tiga minggu. Peranan Pertanyaan Dalam pembelajaran Sains Pertanyaan merupakan komponen yang amat diperlukan dalam pembelajaran sains. karena pertanyaan dapat menggali informasi dari ingatan (Winkel. 1996:458). Bagaimana peranan pertanyaan terhadap kuatnya retensi dalam pembelajaran sains pada siswa SMU? b. salah satunya dengan memberikan pertanyaan. Lupa bisa dikurangi dengan berbagai cara. Pertanyaan dalam pembelajaran antara lain digunakan untuk menguji daya ingat siswa. 2) Pembelajaran sains meliputi pembelajaran biologi konsep polusi air di satu SMUN di Bandung. Suatu pertanyaan yang diberikan secara tersusun dengan baik dapat . B. 1996:117). Kuatnya retensi ditentukan dengan perbandingan tes retensi (postes ke-2) dengan postes kali 100 persen. Konsep yang dipahami secara baik oleh siswa dari pembelajaran dapat disimpan dalam ingatan atau memori yang kemudian akan dipergunakan pada saat diperlukan. tentunya perlu dianalisis pertanyaan-pertanyaan yang bagai mana yang secara baik dapat menggali ingatan dan yang bagaimana pula yang secara baik dapat menguatkan ingatan. mengarahkan atau menuntun pada arah tertentu.. R.

2000: 75) Bentuk pertanyaan promting dapat dibedakan menjadi 3. pertanyaan retoris (rhetorical questions). dan dapat memusatkan perhatian siswa terhadap masalah yang sedang dibahas (Moh Uzer Usman. pertanyaan mengarahkan atau menuntun (promting question) dan pertanyaan menggali (probing questions) ( Moh. Dalam materi tersebut meliputi konsep konkret dan abstrak. Banyaknya pertanyaan yang diajukan dalam pembelajaran tidak menunjukkan bahwa pembelajaran tersebut lebih berkualitas (Wynne Harlen. dapat membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa terhadap masalah yang sedang dibahas. dapat menuntun proses berfikir siswa untuk menentukan jawaban yang baik. Dalam mempelajari sains biologi. mutu pertanyaan guru sebanding dengan jawaban yang akan diperoleh dari pertanyaan tersebut (E. (2) menanyakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang membawa mereka kembali pada pertanyaan semula. Retensi erat hubungannya dengan belajar. Dengan demikian aspek retensi sangatlah diperlukan. (3) memberikan suatu review informasi yang diberikan dan pertanyaan yang membantu murid untuk mengingat atau melihat jawabannya (E. 1996: 18). Pertanyaan konvergen dan pertanyaan divergen (Conny Semiawan. misalnya topik polusi.1999:4). dapat mengembangkan pola dan cara berfikir aktif siswa. baik secara tertulis dalam Lembar Kerja Siswa(LKS) maupun secara lisan oleh guru di kelas.1997: 43) 2. jenis pertanyaan biasa umumnya lebih mendominasi. 1995: 74) Berdasarkan karakteristiknya pertanyaan antara lain digolongkan sebagai berikut. Namun.memberikandampak positif sebagai berikut: Dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran.1987:72). 1991: 97). maka proses belajar siswa tidak berlangsung dengan baik dan sebaliknya jika tidak belajar maka tidak akan ada retensi. Dengan demikian salah satu bentuk promting adalah menanyakan pertanyaan lain yang lebih sederhana yang jawabannya dapat dipakai menuntun siswa untuk menemukan jawaban yang tepat (Suwandi dan Tjetjep S. banyak hal yang perlu dipahami dan diingat. yaitu: (1) mengubah susunan pertanyaan dengan kata-kata yang berbeda atau lebih sederhana yang disesuaikan dengan pengetahuan murid-muridnya. Dalam pembelajaran sains kedua jenis pertanyaan tersebut senantiasa dipergunakan. Pertanyaan biasa berupa pertanyaan tunggal untuk mengungkap penguasaan konsep.C. Namun. dalam Nuryani Rustaman. Uzer Usman. Hal ini didukung oleh pernyataan yang dikemukakan oleh James Dese (1959: 236) bahwa jika tidak ada retensi.Wrag dan George Brown 1997: 43). Bentuk pertanyaan Pengarah berbeda dari pertanyaan biasa.C. Peranan Retensi Dalam Pembelajaran Sains Retensi atau ingatan terhadap pengetahuan yang dipelajari merupakan faktor yang penting dalam suatu pembelajaran sains misalnya biologi. Pertanyaan produktif dan non produktif (Sheilla Jelly. Pertanyaan pengarah berupa pertanyaan berangkai (lebih dari satu pertanyaan yang satu sama lain berkaitan) yang ditujukan untuk menuntun siswa menguasai konsep. Wrag dan George Brown . Pertanyaan permintaan (compliance questions). Banyak penelitian yang telah dilakukan oleh para ahli pendidikan yang berkaitan .

kecuali bila informasi tersebut ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. Dan sebagaimana yang telah disebutkan oleh Winkel di atas informasi tersebut dapat ditahan lebih lama melalui proses penyimpanan. sedangkan lupa mengacu pada porsi ingatan yang hilang.. Semb dan Elis (1992) (dalam Semb dan Elis. 1993: 305) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi LTM tehadap pengetahuan yang telah dipelajari dalam kelas adalah tingkat dari materi yang dipelajari.dengan retensi. 1993: 305) diantaranya membuktikan bahwa kita menyimpan banyak ingatan terhadap apa yang telah dipelajari di sekolah. Kulik et.. Dalam tahap ini retensi merupakan proses penyimpanan pemahaman dan perilaku baru yang diperoleh setelah mengalami proses acquisition (fase menerima informasi). 1959: 236). Dalam tahap belajar terjadi proses internal dalam pikiran siswa. dan perbedaan individual. 5) pada saat diperlukan siswa menggali informasi yang telah dimasukkan dalam LTM untuk dimasukkan kembali ke dalam STM Dengan melihat proses internal yang terjadi dalam siswa. Hursh (1976). Oleh karena itu tidak mengherankan apabila banyak ilmuwan dibidang pendidikan menyatakan bahwa proses pembelajaran memegang peranan penting terhadap retensi siswa. Retensi dan lupa merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan. Retensi merupakan salah satu fase dalam tahapan belajar. 1959: 241). tidak diperlukan individu sehingga tidak . tugas yang harus dipelajari. 4) penampungan hasil pengolahan informasi yang berada dalam STM dan menyimpannya dalam ingatan jangka panjang (Long Term Memory / LTM) sebagai informasi yang siap pakai sewaktu-waktu pada saat diperlukan. 2) rangsang yang masuk ditampung dalam sensori register dan diseleksi. Tentu saja yang dimaksud dengan proses penyimpanan ini berkaitan dengan bagaimana informasi ini dapat diterima dan dikonstruksikan dan akhirnya disimpan dalam benak siswa. Sehingga dapat dikatakan bahwa jumlah yang dilupakan sama dengan jumlah yang telah dipelajari dikurangi dengan ingatan yang masih tersimpan (James Dese. menggambarkan tahapan proses tersebut terjadi dengan urutan sebagai berikut: 1) siswa menerima rangsang dari reseptor. dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Guskey & Gates (1985). metode pembelajaran. al. sehingga membentuk suatu kebulatan perseptual. (1978 & 1990) (dalam Semb et. Retensi mengacu pada tingkat dimana materi yang telah dipelajari masih melekat dalam ingatan. Ilmuwan yang pertama kali meneliti tentang retensi adalah Ebbinghaus pada tahun 1885. Winkel (1996: 305). maka fase ke 3 dan 4 dimana ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM dan kemudian dimasukkan ke dalam LTM merupakan proses yang amat penting bagi retensi. Lupa akan terjadi apabila materi yang dipelajari tidak menarik. Hasil dari penelitian yang dilakukan oleh Ebinghaus adalah kurva retensi yang menunjukkan bahwa retensi dapat berkurang dengan cepat setelah interval waktu tertentu dan lupa atau berkurangnya retensi ini dapat terjadi beberapa jam pertama setelah proses belajar berlangsung (James Dese. 3) pola perseptual tersebut masuk ke dalam ingatan jangka pendek (Short Term Memory / STM) dan tinggal disana selama 20 detik. al. Sedangkan dalam masalah lupa Winkel (1987: 297) menyatakan bahwa gejala lupa mudah terjadi pada pengetahuan kognitif bila individu tidak berhasil mengkonstruksi pengetahuannya sendiri atau tidak berhasil mengaitkan konsep-konsep yang dipelajarinya dengan konsep-konsep yang telah dimilikinya.

yang digambarkan dengan tabel sebagai berikut: Tabel 1. C. Penelitian yang dilakukan oleh Angelo (1991. 1994: 3) terhadap siswanya di Berkeley membuktikan bahwa dengan menggunakan metode pembelajaran secara tradisional dimana guru bertindak sebagai penyampai informasi dan siswa penerima informasi didapatkan hasil bahwa kurang dari 20% dari siswanya dapat mengingat apa yang telah disampaikan oleh guru. Desain penelitian yang digunakan adalah modifikasi Randomized Control Group Pre- test Post-test Desain. Pembelajaran yang menitik beratkan pada guru (teacher centered) dinilai telah gagal untuk mengembangkan pemahaman yang permanen. Disain Penelitian Kelompok Tes awal Perlakuan Tes akhir 1 Selang Waktu Tes akhir 2 Eksperimen T1 X1 T2(1) 3 minggu T2(2) Kontrol T1 X2 T2(1) T2(2) . Mereka terlalu sibuk mencatat dam memasukkan informasi tanpa melalui seleksi ke dalam ingatan mereka. Bila konsep-konsep tersebut terkait satu sama lain maka akan terbentuk pengetahuan yang bermakna yang tidak mudah untuk dilupakan. Dengan demikian dalam pembelajaran dipandang perlu untuk menitik beratkan pada aspek-aspek bernalar sehingga pembelajaran menjadi bermakna. Untuk memenuhi hal tersebut guru sedapat mungkin melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan demikian perlu diupayakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. salah satunya adalah dengan memberikan pertanyaan untuk memacu keterlibatan berpikir siswa sehingga siswa dapat menggunakan dan mengaitkan konsep-konsep yang telah dimilikinya. dalam Susan Hanley.dihiraukan. sehingga dengan demikian memungkinkan kuatnya retensi siswa terhadap konsep-konsep yang diajarkan. Metode dan Desain Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen untuk membandingkan dua perlakuan pembelajaran yang berbeda. yaitu pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah dan pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa tanpa pengarah. Pembelajaran yang banyak melibatkan panca indra dalam proses berpikir dapat memungkinkan pembelajaran menjadi lebih bermakna.

Post. X1= Pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah. Rekapitulasi Rata-rata Nilai Pre-tes. Keterangan: T1= Tes awal / pre-test.58 81. Pos-tes.Keterangan Konsep Kontrol & kel. Kontrol *dilakukan dengan uji t1 . Reten-si (Pos-tes test 2) ke-2) Polusi Air X 50.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Retensi 3.25 1.27 8. X2= pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan biasa.16 1. Tabel 1.7 Keterangan: X = rata-rata nilai.64 Z hit < Z tab Tidak berbeda secara signifikan Postes 1 1. T = nilai tertinggi.3 26 63 63 78. ngan atara Z Eksperimen hitung & Z tabel Polusi Air Pretes 1. dan Retensi siswa Konsep/su Nilai Kontrol Eksperimen b konsep Pre. Sd = standar deviasi. Hasil Penelitian Hasil penelitian dalam bab ini disajikan dalam bentuk tabel-tabel di bawah ini.) R 33 52 59 75.Pos-tes Retensi % test test Reten-si test 1 (Post.83 (LKS T 78 100 89 125 67 100 96 116.03 79 74.5 9.6 7.75 8.25 98.64 Z hit > Z tab Berbeda secara signifikan (Pos tes 2 (Postes 2) kel.48 1. Rekapitulasi hasil uji dua rata-rata (Uji kesamaan) Konsep/Sub Uji rata-rata kel.07 11. dan R = nilai terendah Tabel 2. T2(1)= Pos- tes.36 80.4 Eksp.98 50. Eksperimen > Pos tes 2 kel. dan T2(2)= Tes retensi (pos-test ke-2) D. Z hitung Z tabel Hasil perbandi.9 95.4 12.93 Sd 10.Retensi % Pre.58 8.

3%) 50 – 59 Kurang 3 . 3 .9%) (8.3%) Keterangan: K= kelompok kontrol.7%) (97.3%) (2. . Dari rata-rata hasil yang diperoleh terhadap retensi dapat disimpulkan bahwa siswa yang menggunakan pertanyaan pengarah dalam pembelajarannya berbeda secara signifikan dibanding siswa yang pembelajarannya menggunakan pertanyaan biasa / pertanyaan bukan pengarah.3%) (8.8%) 60 – 69 Sedang 4 4 5 3 - (11. Artinya bahwa hasil pembelajaran menggunakan pertanyaan pengarah unggul dalam hal retensi atau lebih kuat dapat diingat. Retensi.6%) (44.3%) (41.1%) (11. dan Retensi Konsep Polusi Air Batas Kriteria Pos tes 1 Pos tes 2 Retensi nilai K E K E K E 100-80 Sangat 19 21 12 15 33 35 baik (52.8%) (30. Pertanyaan baik berupa pertanyaan pengarah maupun pertanyaan biasa merupakan faktor ekstrinsik yang mempengaruhi minat. Rekapitulasi Predikat Penguasaan Siswa Pada pos test.Tabel 3. Peristiwa ini dapat .2%) 70 – 79 Baik 10 11 16 18 (50%) 3 1 (27.4%) (8. pembelajaran dengan menggunakan pertanyaan pengarah antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen dalamsub konsep polusi air tidak memiliki perbedaan secara signifikan pada pos tes . Dari hasil uji kesamaan dua rata-rata (tabel 2). sikap dan motivasi siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan mereka sehingga terbentuk konsepsi dan meningkatnya pemahaman siswa terhadap konsep yang mereka pelajari (Ratna Wilis Dahar. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan pertanyaan pengarah maupun dengan pertanyaan biasa (tanpa pertanyaan pengarah) sama-sama dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa. dan E = kelompok eksperimen E. - (8.3%) (33. Hasil retensi siswa kelompok eksperimen memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding siswa pada kelompok kontrol. namun berbeda signifikan pada retensi (pos tes ke-2).7%) (91.8%) (58.1%) (13. Pembahasan Dilihat dari hasi rata-rata nilai (tabel 1) terdapat peningkatan nilai rata-rata post tes dari pretes. 1989:159).

disimpulkan bahwa retensi siswa dengan pembelajaran yang menggunakan pertanyaan
pengarah pada lebih baik dibandingkan dengan retensi siswa yang pembelajarannya
menggunakan pertanyaan biasa/bukan pengarah. James Deese (1959:253)
mengemukakan bahwa salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi retensi
siswa adalah taraf belajar (level of learning) seseorang. Lebih jauh lagi Richard
Anderson dan Gerald Faust, (1973:460) berpendapat bahwa taraf belajar menjadi
faktor penentu bagi retensi siswa. Dalam hal ini pertanyaan yang sifatnya
mengarahkan telah menuntun siswa dalam menemukan jawaban yang tepat (Moh,
Uzer Usman, 2000:75). Pertanyaan yang sifatnya mengarahkan ini merupakan salah
satu jenis pertanyaan yang baik (Nuryani Rustaman, 1999:8) yang dirancang untuk
mendorong siswa agar terlibat secara aktif dalam pembelajaran sehingga siswa
dirangsang untuk berpikir dan melakukan kegiatan bermakna. Dalam proses belajar
yang bermakna ini terjadi proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep yang
relevan yang terdapat dalam struktur kognitif siswa. Melalui pertanyaan yang
mengarahkan, maka struktur kognitif siswa akan lebih terorganisasi, jelas dan stabil.
Menurut Slameto (1995:123) makin jelas, stabil serta terorganisasinya struktur
kognitif seseorang, maka proses belajar yang bermakna dan retensi akan mudah terjadi
pada orang tersebut, sebaliknya, pada struktur kognitif yang tidak stabil, kabur dan
tidak terorganisasi dengan baik cenderung merintangi proses belajar bermakna dan
retensi.

Dari tabel 3 dapat dilihat adanya penurunan rata-rata nilai tes dari postes 2 (retensi)
dibanding rata-rata nilai postes 1. Hal ini disebabkan karena terjadinya peristiwa lupa,
karena postes 2 dilaksanakan dalam selang waktu 3 minggu setelah pos tes 1
diberikan. Pelaksanaan pos tes 1 diberitahukan sebelumnya kepada siswa sehingga
siswa belajar terlebih dahulu menghadapi tes, sedangkan pos tes ke-2(tes retensi) tidak
diberi tahu, sehingga siswa kemungkinan tidak belajar lagi. Peristiwa Lupa merupakan
hal yang biasa terjadi pada manusia, seperti yang dikatakan oleh Robert Travers
(1982:1994) “forgetting is normal everyday and constant reminder of our
limitations”, lupa merupakan kejadian yang biasa karena keterbatan manusia dalam
mengingat. Dengan dilakukannya postes 2 dalam jangka selang waktu dimana siswa
telah mendapatkan materi yang baru, maka materi yang baru tersebut akan
mengganggu pemanggilan kembali materi yang sudah tersimpan dalam ingatan
(Muhibbin Syah, 1996:158). Selain itu Hilgard dan Bower, 1975 (dalam Muhibbin
Syah, 1996:160) mengatakan bahwa lupa dapat terjadi karena materi pelajaran yang
telah dikuasai tidak pernah digunakan/dihapalkan oleh siswa. Terutama penurunan ini
terjadi lebih banyak pada kelompok eksperiemen diabandingkan dengan kelompok
kontrol. Hal ini dapat diartikan bahwa semakin banyak siswa menguasai konsep
semakin banyak ia lupa.

Berdasarkan predikat skor pada postes 1, 2 dan persentase retensi (tabel 3), secara
umum jumlah siswa kelompok eksperimen lebih banyak yang menduduki peringkat
sangat baik, baik dan cukup dibandingkan dengan kelompok kontrol. Hal ini
menunjukkan adanya perbedaan penguasaan konsep dan terutama mengingat dengan
baik. Perbedaan ini disebabkan karena pembelajaran pada kelompok ekperimen
menggunakan LKS dengan pertanyaan pengarah yang dapat mempengaruhi proses
internal yang terjadi dalam siswa ketika ingatan dimasukkan dan ditahan dalam STM
yang kemudian dimasukkan ke dalam LTM (Winkel, 1996:305).

Dengan bantuan pertanyaan pengarah pada LKS eksperimen dapat mengembangkan
proses berfikir dan keterampilan proses, penggunaan memori, penemuan sendiri.
Selain itu juga pertanyaan yang mengarahkan ini mendorong siswa untuk terlibat
secara aktif dalam mengasimilasikan, mengakomodasikan, mengorganisasikan dan
mengkonstruksikan konsep-konsep dalam benak siswa. Sehingga pembelajaran
menjadi lebih bermakna dan berakibat pada baiknya retensi siswa (Wyne Harlen,
1996:102).

F. Kesimpulan Dan Saran

1. Kesimpulan

Pemberian pertanyaan baik pertanyaan penuntun atau pengarah maupun pertanyaan
biasa tanpa penuntun dalam pembelajaran sains (konsep polusi air) pada siswa SMU
sama-sama memberikan peranan yang signifikan terhadap kuatnya retensi siswa .
Hasil postes dari kedua pembelajaran variatif berkisar antara kurang dan sangat baik,
umumnya sangat baik dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara keduanya.
Dalam selang waktu tiga minggu, retensi siswa juga variatif berkisar antara baik dan
sangat baik, umumnya sangat baik. Namun, pembelajaran yang menggunakan
pertanyaan penuntun memberikan dampak terhadap retensi lebih kuat dari pada hasil
pembelajaran yang menggunakan pertanyaan biasa dan berbeda secara signifikan.

2. Saran

a. Agar hasil pembelajaran dapat memberi dampak retensi yang kuat, dalam
pembelajaran guru hendaknya terampil membuat LKS dan memberi pertanyaan
pertanyaan untuk siswanya terutama pertanyaan pengarah yang dapat menuntun siswa
memahami konsep dengan baik.

b. Mengingat retensi merupakan hal yang penting dari suatu pembelajaran, maka
penelitian yang berkaitan dengan retensi perlu dikembangkan misalnya yang berkaitan
dengan faktor internal siswa seperti intelegensi dan faktor eksternalnya seperti jenis
materi dan model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, R.C., 1973, Teaching and The Science of Learning, New York: Harper and
Row Publishers

Gagne, R.M. 1985. The condition of Learning and theory of Instruction. New York:
Holt, Renehart and Winston.

Gagne, R.M. and Briggs L,J. 1974. Principoles of Instructional Design. New York:
Renehart and Winston

George, B and Wragg, 1997, Bertanya, Jakarta: Gramedia

George J.M., 1967, Psychology for Effective Teaching, New York: Holt, Rinehart and
Winstron, Inc.

James Deese, 1959, The Psychology of Learning, London: Mc. Graw Hill Book Comp.

Jim Flower and Lou Cohen, 1990, Practical Statistics for Field Biology, Milton
Keyners: Open University Press

Mohamad Uzer Usman, 1995, Menjadi Guru Profesional, Bandung: Rosdakarya

Nuryani Rustaman, 1999, Pertanyaan, Teknik Bertanya dan Keterampilan Bertanya,
Handout Mta Kuliah SBM: Tidak diterbitkan

Osborne, J. 1993. Alternatives to Practical Work. School Science Research. 25. (271):
117-123.

Ratna Wilis Dahar, 1992, Dampak Pertanyaan dan Teknik Bertanya Guru Selama
PBM IPA Pada Berpikir Siswa, Laporan Penelitian: tidak diterbitkan.

Semb and Ellis, 1993, Long-term Memory For Knowledge Learned in School, Journal
of Education Psychology, vol.85, No.2: 305-316

Slameto, 1987, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, Jakarta: Rineka
Cipta

Susan Hanley, 1997, Constructivist Theory, Internet

Travers, R.M.W., 1982, Information, Processing and Learning, New York: Mc. Graw
Hill Book Comp.

Wang and Thomas, 1995, Effect of Keywords on Long-Term Retention: Help or
Hindrance?, Journal of Education Psychology vol. 87, No.3: 468-475

Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta: Gramedia.

Wragg, E.C., 1997, Keterampilan Mengajar di Sekolah Dasar, Jakarta: Rasindo

Wynne Harlen, 1992, The Teaching of Science, London: David Futton Publishers
Sikap Mengajar Guru Serta Pengaruhnya dalam
Pendidikan
Ditulis oleh Sungging Handoko
A. Pendahuluan

Sikap dari seorang guru adalah salah satu faktor yang menentukan bagi perkembangan
jiwa anak didik selanjutnya. Karena siikap seorang guru tidak hanya dilihat dalam
waktu mengajar saja, tetapi juga dilihat tingkah lakunya dalam kehidupan sehari-sehari
oleh anak didiknya.

yang mana semuanya ini bersifat memberi bantuan kepada anak dalam perkembangannya mencapai “tujuan . Pada dasarnya pendidikan ini sangat penting bagi umat manusia dalam mencapai taraf hidup yang mulia. Proses pendidikan berlangsung tidak tanpa alasan dan atau tujuan. Hanya soalnya tidak semua peristiwa belajar itu berlangsung secara sadar dan terarah. Karena dengan mencapai pendidikan yang tinggi manusia akan dihormati. bahwa di dalam peristiwa pendidikan. Memberi contoh mengenai suatu tindakkan sedang suatu hal yang lain dijauhkan dari alam sekitar anak. Sebab sifat yang khas pada seorang pendidik ialah bahwa setiap usaha. dan memeberi bantuan kepada anak tertuju kepada pendewasaan anak itu atau lebih cepat “membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas kehidupannya sendiri”. disegani dan dijunjung tinggi martabatnya di masyarakat. Memang ada juga pendidikan yang dilakukan oleh orang tua dengan anaknya dan itu terjadi di rumah. mempengaruhi. Hanya usaha mempengaruhi yang demikian saja yang dapat disebut “pendidik” dan “mendidik” ialah mempengaruhi dengan maksud mencapai tujuan yang bersesuaian dengan pembentukan pribadi anak. Bila mana ditinjau secara luas akan jelas nampak bahwa manusia yang hidup dan berkembang adalah manusia yang selalu berubah dan perubahan itu adalah hasil belajar. Sebab pendidikan ini sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Yakni membimbing perkembangan diri sesuai dengan tugas-tugas perkembangan tersebut.Mengingat pada saat ini banyak sikap dari seorang guru tidak lagi mencerminkan sikapnya sebagai seorang pendidik karena adanya berbagai faktor yang mestinya tidak terjadi dalam dunia pendidikan. Malahan pada dasarnya lebih banyak hal-hal yang dipelajari manusia dengan tak sadar dan terencana . karenanya masalah sikap guru dalam mengajar perlu mendapat perhatian kita semua. Walaupunn tidak semuanya dilakukannya menurut suatu rencana tertentu. belum tentu ia dapat disebut seorang pendidik. Dalam pada itu perlu ditegaskan. Bukanlah dengan mudah dapat dilihat bahwa pendidik mengingini atau menolak sesuatu. pendidik dan anak didik berlangsung pada ukuran. Hendaknya turut diperhatikan segala sesuatu yang mengandung arti bagi seorang pendidik atau suatu lingkungan pendidikan. Pendidikan menurut hakekatnya memang adalah suatu peristiwa yang mempunyai aspek normatif yang artinya. bahwa seseorang yang ingin mempengaruhi orang yang belum dewasa. pendidikan merupakan proses yang berfungsi membimbing pelajar didalam kehidupan. memperoleh/mengharuskan atau memberantas atau sikap tertentu. dalam mencukupi kebutuhan hidup baik sebagai individu maupun sebagi anggota masyarakat. Menyadari bahwa perubahan yang tak disadari dan tak diarahkan lebih banyak memberikan kemungkinan perubahan tingkah laku yang berada di luar titik tujuan. Karena dalam pendidikan ini biasanya dilakukan dalam keadaan sadar antara pendidik dan anak didik. norma atau nilai-nilai yang diyakini sebagai suatu yang baik. Namun dari sikap dan tindakkanya telah mungkin diperoleh suatu gambaran dari seorang pendidik tidak hanya cukup menguraikan tapi harus memperhatikan sifat lahirnya (bentuk).

A. dimana orang sering sempat berani dan bebas serta progresif dalam hal berpakaian. Sikap berpakaian. sederhana tetapi terpelihara. maka sikap itupun tergantung pada manusia itu sendiri bagaimana caranya manusia itu menggunakannya dalam kehidupannya sehari-hari. Sikap-sikap guru dalam mengajar serta pengaruhnya. Jadi bukan hanya bersama-sama pada suatu tempat.hidupnya”. Sebenarnya hal ini tidak perlu dibicarakan akan tetapi mengingat keadaan sekarang. Jadi sikap itu sangat berpengaruh dalam diri sesorang. Dalam sikap seseorang itu selalu terdapat suatu ketegangan antara milik pribadi yang tunduk pada sikapnya dengan perasaan bersatu dengan pemangku kesikapannya. itu sebabnya mengapa sikap itu tidak dapat dilepaskan dari diri/pribadi pemangku sikap itu. Sebaiknya seorang guru berpakaian hendaknya sopan. Adapun sikap itu muncul dalam hubungan antara manusia yang mempunyai hubungan. dan sikap adalah salah satu faktor yang terdapat di dalam diri seseorang. Sikap-sikap dan pengaruhnya dalam pendidikan Kalau kita tinjau pengertian sikap ini. Memang sikap adalah hak seseorang untuk menentukan sesuatu. Karena dengan sikap bahwa orang itu mempunyai yang dapat dipertanggung jawabkan. . Tak usah berpakaian yang gemerlapan atau dari bahan yang sangat mahal. antara murid dan guru dan dapat juga merupakan rasa kekeluargaan yang berdasarkan kepentingan bersama antara orang-orang yang menurut alamnya bukan satu keluarga dan banyak lagi bentuk lain. bisa sikap itu berubah bila sikapnya itu dianggap salah olehnya. Jangan bercelana Napoleon atau bergaun you can see di muka kelas. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang menggelisahkan dan meragukan hatinya dengan sendirinya ia tidak dapat menyatukan segala perhatiannya dan pikirannya pada pelajaran yang sedang ia berikan. Ingat bahwa seorang guru yang ganjil dalam berpakaian dapat menerbitkan geli hati dan celaan murid- murid. bahwa mulanya tidak dapat dilepaskan dari hadirnya pemangku sikap itu sendiri. Tetapi tidak dengan begitu saja ia akan merubh sikapnya itu tanpa ia mentelaah lagi kesalahan dari sikapnya itu. Karena mengingat sikap itu terdapat di dalam diri manusia. Ia makin bertambah bingung dan pelajaran menjadi kacau dan gagal sama sekali. B. maka pengertian itu relatif adanya. bahwa manusia bersama-sama dengan manusia lainnya yang memerlukannya. Perasaan bersatu itu dapat merupakan pengikat antara orang tua dan anak. padahal ia telah membuat persiapan dengan sungguh-sungguh. Sikap sesorang itu susah dipengaruhi oleh orang lain bila ia telah menentukan sikapnya. 1. Akibatnya seorang guru tidak dapat mengajar dengan tenang. maka hal ini kita bicarakan.

jangan berbicara terlalu keras dan jangan pula berbicara terlalu pelan atau lemah. Dalam kelas yang suasananya baik. Kalau masih ada murid-murid yang bercanda. mungkin guru. murid-murid dapat bekerja bersma-sama. Asas-asas didaktik teleh diprektekkan Ia mengajar dengan penuh kegembiraan dan enthousianisme. Ciptakan suasana kelas yang baik. Kerena itu peganglah teguh disiplin kelas. Kalau mereka belum tenang dan jangan mulai mengajar atau melanjutkan pelajaran. kalau guru ragu-ragu dan kelas menjadi tentang kalau guru bersikap tegas dan bijaksana. c. Usahakanlah murid-murid bekerja sendiri. kalau murid-murid belum tenang sungguh-sungguh. Anak-anak tidak selalu segera mengerti akan . kalau guru ribut kelas akan segera ribut pula. Sering suasana kelas dipengaruhi oleh sikap guru di muka kelas. Bergeraklah dengan tengan dan berbicaralah dengan suara yang sedang dan jangan ribut. Sikap di muka kelas. Bergembiralah selalu (sebagai seorang guru harus pandai bermain sandiwara). namun demikian hasilnya tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Berani memandang tiap-tiap murid. saling tolong menolong. sedang susah namun janganlah kesusahannya itu ditunjukkan kepada murid-murid. 3. Sikap sabar.2. d. cintailah murid- nurid seperti ibu bapak mencintai anak-anaknya. Bersikap tegas tidak sama dengan bersikap keras. matanya. Karena itu harap sabar. maka percakapan itu akan menjadi menjalar dan kelas akan menjadi gaduh. bahwa ia telah mengajar dengan baik dan sungguh-sungguh. Bagi seorang guru kita haris berani: a. Jangan mengajak murid-murid. mereka harus mengidahkan suruhannya. Jangan memberi hukuman badan. Tunjukkanlah semua pertanyaan kepada semua kelas seluruhnya dan baru kemudian tunjukkanlah seorang murid-murid menjawab. Mereka giat bekerja dan merasa suatu keluarga. karena hasil pengajaran dan pendidikan kita tidak selalu segera kelihatan oleh kita. f. Guru selalu kecewa dan kekecewaan yang terus menerus dapat menjadikan guru mudah putus asa. bersikap tegas berarti begini: kalau guru menyuruh murid-muridnya supaya tenang. jangan menggangap. Jangan bersikap putus asa. e. yaitu. Sering guru merasa. berbicaralah dengan tenang dan tegas. b. jangan terlalu banyak menggunakan gerak-gerak tangan waktu berbicara. bercakap-cakap dan guru terus melanjutkan mengajar. Kelas menjadi gaduh. Mengenai sikap di muka kelas perlu diperhatikan hal-hal yang lain.

untuk memberi hukuman badan. 7. bahwa hukuman itu satu-satunya obat yang manjur untuk memperbaiki murid. bertanggung jawab penuh atas tindakannya itu. . mencelanya. Guru yang banyak mengadakan larangan membuktukan bahwa perinta-perintahnya tidak dituruti oleh murid-muridnya. Dan kata-kata demikian ini secara paedagogis dan psychologis tidak dapat dipertanggung jawabkan. Sikap yang mengejek murid. bukan hak itu tidak jarang dilakukan. Memang masih ada guru-guru yang memberi hukuman badan. Sikap yang banyak memberi larangan. orang yang lekas marah mudah bertindak yang kurang baik. Menurut hemat penulis. Murid yang lebih kecil itu biasanya tidak berani melawan. guru dilarang memberi hukuman badan. Secara personlijk sesungguhnya tidak memberi larangan mutlak. Guru mudah marah menghukum anak. artinya: kalau ia sudah mempertimbangkan hukuman itu masak-masak. yang tolol. 4. hal ini sangat merugikan bagi perkembangan anak murid selanjutnya. yang kotor. dan hukuman yang diberikan sesungguhnya tidak begitu dipertimbangkan. dan tidak diberikan untuk membalas dendam. umpamanya: murid yang tidak sopan . yang selalu gaduh. guru boleh memberi hukuman badan. Dengan hukuman yang demikian itu murid dapat dirugikan/disakiti karenanya. menedang. atau ia menjadi takut kepada guru. 6. kalau ia sebagai orang tua terhadap anaknya. Sikap yang memberi hukuman badan. melempar dsb. Lebih berbahaya lagi kalau seorang murid dijadikan sasaran ejekan teman-temannya. 5. Dan itu membuktikan bahwa tidak ada ketertiban.maksud kita dan mengindahkan keinginan kita. Menurut peraturan sekolah. Memukul murid dengan tongkat kecil. memukulnya dan sebagainya. Seorang guru ilmu pasti pernah melemparkan kata-kata demikian kepada seorang murid “meskipun kamu bekajar 10 tahun lagi kamu tak akan mengerti juga”. mengejek. mengeluarkan kata-kata yang kasar yang dapat mematahkan semangat belajar murid. Jadi hukuman itu tidak diartikan pada waktu guru bernyala-nyala marahnya. umpamanya: memukul. Guru yang kecewa mudah berbuat hal-hal yang tidak baik umpamanya mengejek. dan kedua-duanya tidak baik. mencela. Janganlah guru lekas marah karena itu. kata-kata yang demikian dapat membuat murid-murid bersikap acuh tak acuh dan menjadi putus asa. Lagi pula kalau guru sudah sering atau biasa memberi hukuman badan ia tidak segan- segan memberi hukuman yang lebih berat lagi kepada murid. Banyak anak murid yang menjadi sakit hati dan tak mau berbuat lagi sesuatu. tetapi dalam hatinya timbul rasa tidak senang terhadap guru. dan sebagainya. Sikap yang lekas marah Banyak hal yang dapat mengecewakan guru.

Begitu pula keadaannya dengan tugas mengajar bila ditinjau sebagi tugas yang memperoleh gambaran mengenai jenis pengetahuan dan ketrampilan dasar yang dibutuhkan setiap orang yang mempersiapakan diri untuk terjun dalam bidang ini. 8. Dan mereka sendiri yang diperlakukan lebih manis itu merasa tidak senang akhirnya. jarang melarang. Yang kemudian dianalisa dan dikembangkan melalui sebuah masa pendidikan. seorang guru harus mempunyai rasa tanggung jawab yang dalam. Suasana kelas akan menjadi lebih buruk karena sikap guru yang demikian. apakah guru itu bertidak adil dan jujur. Sikap guru yang bertanggungjawab Sama halnya dengan dokter. ahli hukum. ini adalah suatu bahaya bagi mereka. mereka lekas-lekas mengecap gurunya dengan kata-kata: tidak adil. Larangan biasanya merupakan hal yang tidak menyenangkan bagi murid. Guru harus menjadi pembimbing dan penyuluh yang segar yang memelihara dan mengarahkan perkembangan pribadi dan keseimbangan mental murid-muridnya. karena itu jangan banyak melarang. bahwa guru memperlakukan mereka tidak sama. sebab biasanya perintahnya dituruti. gurupun membutuhkan sejumlah pengetahuan. ada pula pada syarat intelek. insinyur. Yang menyebabkan perbedaan-perbedaan jenis pekerjan itu adalah tuntutan yang terdapat pada setiap jenis pekerjaan.Guru yang baik. ada yang meminta lebih banyak syarat-syarat emosi. Karena dengan tidak adanya rasa tanggung jawab dari guru maka anak didik itu akan berbuat hal-hal yang tidak dibenarkan dalam pendidikan. Yang satu diperlakukan lebih manis dari pada yang lain. Larangan yang banyak dapat menimbulkan kemungkinan besar untuk melanggar peraturan tanpa disadari oleh murid-murid. mereka lekas melihat. Dan guru memjadi orang tua mereka di dalam mempelajari dan membangun sistem nilai yang dibutuhkan dalam masyarakat. pilih kasih dan sebagainya. Salah satu caranya ialah dengan mengamati dan menganalisa berbagai situasi pendidikan. Bersikap jujur dan adil. Memang kenyataan-kenyataan itu membenarkan teori didaktik yang meletakkan berbagai pertanggungan jawab pada pundak seorang guru disamping tugasnya mengajar suatu pengetahuan. Memang dalam mendidik. Murid-murid akan lekasa mengerti. montir. Dalam pendidikan hendaknya seorang guru harus dapat bertanggung jawab demi masa perkembangan anak didiknya. Bila seorang guru tidak mempunyai rasa tanggung jawab maka banyak pengaruhnya pada anak didik itu. metode dan kecakapan dasar lainya yang perlu dapat untuk melaksanakan tugasnya. sosial dan sebagainya. 9. serta menjadikan . Dengan tidak adany rasa tanggung jawab dari seorang guru maka tidak mustahil bila tujuan pendidikan yang akan dicapai akan tidak tercapai apa yang diharapkan oleh guru itu sendiri maupun oleh orang tua sekolah dan negara. Ada jenis pekerjaan yang lebih banyak menuntut syarat fisik. tidak jujur.

Semarang 1995. Majalah Mahasiswa No. Didaktik Metodik. Accelerated Learning: Pendekatan Baru Pembelajaran Ditulis oleh Eki Baihaki Dave Meier. Jakarta 1989. akarnya telah tertanam sejak zaman kuno. mengajak kita untuk memperbarui pendekatan kita terhadap pembelajaran untuk memenuhi tuntutan adanya dinamika kebudayaan yang bermetabolisme tinggi ini. Baru Jakarta 1996. standardisasi. Bambang Laksono. cv. organis bukan sekedar mekanis. kontrol luar. pengondisian behavioristis (hadiah dan hukuman). Toha Putra. yang diterbitkan oleh McGraw-Hill New York tahun 2000. dan tekanan pada format “Saya-bicara-kau-mendengar” (yang juga . Accelerated Learning (A. Dan perlu melakukan perubahan yang bersifat sistemis bukan bersifat kosmetik . diterjemajkan. Otang Kardi Saputra. Penutup Daripembahasan diatas ini. Metode-metode belajar konvensional. dituntut memiliki sikap yang tepat sesuai dengan tuntutan tugas profesionalnya sebagai seorang pendidik yang bertanggung jawab. Sebagai suatu gerakan modern yang mendobrak cara belajar di dalam pendidikan dan pelatihan terstruktur yang muncul kembali sebagai akibat adanya sejumlah pengaruh pada paro kedua abad ke-20. maka dapat diambill beberapa kesimpulan Bahwa pendidikan merupakan unsur yang terpenting dalam kehidupan manusia. VI Januari 1993 M. FKIP-UNLA 2000.J. cetakan ketiga. Winarno Surakhmad. A. Dasar Dan Teknik Instraksi Mengajar dan Belajar.33 Thn. C. Prof. Beknopte Theoretische Paedagogiek. Langevld. Daftar pustaka Abu Ahmad. I. P.. satu-ukuran-untuk-semua.L.) adalah cara belajar yang alamiah. Belajar dan Pembelajaran . Bandung 1993. Pedoman Mengajer Oleh Raga Pendidikan Di sekolah Dasar. cv. Mashoed. yang dilahirkan pada awal era ekonomi industri. Karena seringkali anak didik akan mencontoh apa-apa yang dilakukan oleh pendidiknya. DR.) telah dipraktikkan oleh setiap anak yang dilahirkan. penulis buku The Accelerated Learning Handbook. (A. Simanjuntak M.. fragmentasi. Bahwa sikap guru dalam mendidik memiliki pengaruh terhadap perkembangan jiwa anak didik sehinggaGuru. cenderung menyerupai bentuk dan gaya pabrik: mekanisasi. nasco.murid-muridnya menjadi manusia dewasa susial serta bertanggung jawab moral. Tarsito.L.

dan program belajar yang menyediakan lingkungan belajar yang kaya- pilihan dan cocok untuk seluruh gaya belajar. Kesulitannya sekarang adalah bahwa dunia semacam itu tidak ada lagi. dan program pelatihan sebagai proses jalur perakitan. Revolusi dalam Belajar Kepercayaan-kepercayaan abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh di Barat cenderung membuat pembelajaran muram. variasi dan keragaman dalam metode belajar. pada prestasi individu. belajar sebagai aktivitas seluruh pikiran/tubuh. lamban. belajar adalah bekerja untuk menemukan cara-cara mempercepat dan mengoptimalkan belajar . dan tidak efektif. dan dapat diramalkan. yaitu dunia tempat setiap orang harus mengerahkan seluruh kekuatan pikiran dan hati mereka sepenuhnya dan bertindak berdasarkan kreativitas yang penuh kesadaran . Landasan baru didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah kreator. adanya kegembiraan dan kesenangan dalam belajar. Alasannya? Belajar bukan lagi persiapan untuk bekerja. Tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk menghadapi dunia yang relatif sederhana. Bukannya menghasilkan manusia “fotokopi” seperti pada abad ke 19. statis. dan kita lamban menyadarinya. Landasan lama didasarkan pada anggapan bahwa pembelajar adalah konsumen. Dimana Kita merasa bahwa itulah satu-satunya cara untuk mempersiapkan pelajar menjalani kehidupan yang kering dan membosankan Idealnya Belajar ditandai dengan keterlibatan penuh pembelajar. Yang kita butuhkan adalah landasan yang benar-benar baru. Pendekatan belajar ini mengharuskan penumpulan diri seseorang sepenuhnya. kerja sama murni. agar dapat memperoleh hasil standar yang dapat diramalkan. pada kerja sama dan prestasi kelompok. bahwa pembelajaran terutama bersifat verbal dan kognitif. bukan sesuatu yang mudah diramalkan dan tidak membutuhkan pikiran. kontrol birokrasi terpusat. tugas pendidikan dan pelatihan adalah mempersiapkan orang untuk hidup di dunia yang pasang surut. dan integrasi belajar yang lebih menyeluruh ke dalam segenap kehidupan organisasi. Belajar pada Abad Kesembilan Belas Cita-cita pendidikan abad kesembilan belas (yang masih mempengaruhi pemikiran banyak orang sekarang ini) adalah melatih orang dalam perilaku lahiriah yang didefinisikan secara sempit. pelatih sebagai pelaksana program. Dan teknologi canggih atau “teknik-teknik” cerdas apapun yang dibangun di atas landasan lama ini tidak akan dapat membantu memperbaiki permasalahan. kini kita harus menghasilkan “tokoh orisinal” yang dapat mengerahkan sepenuhnya energi mereka yang potensial dan menjanjikan. Yang dicari: membuat perilaku sejalan dengan produksi dan pemikiran rutin. motivasi internal (dan bukan semata- mata eksternal). Belajar pada Abad Kedua Puluh Satu Kini. pengotak-ngotakan (orang dan pokok masalah). Kita harus membebaskan kecerdasan setiap orang yang unik dan bukan menindasnya atas nama staandardisasi . kesalingterkaitan.dikenal sebagai teknik membosankan).

kolaboratif.L. Dengan disponsori pemerintah Bulgaria. dan segenap kedalaman serta keluasaan pribadi (yang disebut oleh Lozanov “cadangan pikiran yang tersembunyi”). 3. Tumbangnya pandangan-dunia Newtonian (bahwa alam bekerja seperti mesin. Di setiap tingkatan. dan permainan kanak-kanak memungkinkan pelajar untuk belajar jauh lebih cepat dan jauh lebih efektif. Lozanov mendapati bahwa dengan menenangkan pasien psikiatri dengan musik barok dan memberi mereka sugesti positif mengenai kesembuhan mereka. Dia merasa telah menemukan cara untuk melangkah masuk ke dalam sesuatu jauh di lubuk jiwa yng lebih dalam daripada kesadaran rasional. dan “hidup”. Evolusi yang berlangsung lambat laun (namun tidak sempurna) dari kebudayaan yang didominasi pria menjadi kebudayaan yang menyeimbangkan perasaan pria dan wanita memungkinkan berkembangnya pendekatan yang leih lembut. dia mulai melakukan penelitian mengenai pengaruh musik dan sugesti positif pada pembelajaran. dan . 2. Lynn Schroeder dan Sheila Ostrander menerbitkan sebuah buku berjudul Superlearning yang mengemukakan karya psikiater Bulgaria. kita semua harus menjadi inovator. terutama penelitian mengenai otak dan belajar. Buku itu mengundang perhatian banyak pendidik dan guru yang sedang mencari pendekatan belajar yang lebih efektif. Lenyap sudah pendapat bahwa belajar itu semata-mata aktivitas verbal dan “kognitif”. diantaranya : 1. sugesti. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Accelarated Learning Banyak faktor lain telah memberikan sumbangan pada perkembangan yang mantap dan berlangsung terus-menerus dalam filosofi. Keadaan sudah tidak seperti dahulu lagi. seluruh tubuh. Penelitian mutakhir menunjukkan bahwa belajar yang paling baik melibatkan emosi.) Lozanov merasa metode ini juga dapat diterapkan pada pendidikan. banyak pasien tersebut mengalami kemajuan besar. metode. (Dia menyebut ini “cadangan pikiran yang tersembunyi”. Ini telah menantang secara serius gagasan kita mengenai pendidikan dan pelatihan formal sebagai proses jalur perakitan atau ban-berjalan. Georgi Lozanov. Penelitian tentang gaya belajar menunjukkan orang belajar dalam cara yang berbeda-beda dan satu jenis belum tentu tepat untuk semua orang. dengan menggunakan bahasa asing sebagai materi subjek. Dia mendapati bahwa kombinasi musik. semua indra. Ilmu kognitif modern. Pendekatan Lozanov Pada 1970-an. dan aplikasi A. linear. secara otomatis patuh pada proses yang mandiri. telah mempertanyakan banyak asumsi lama kita mengenai pembelajaran. Kabar mengenai temuannya menyulut imajinasi guru bahasa dan pendidik di mana-mana. 4.atau “budaya perusahaan”. nonmekanistis. langkah-demi-langkah) dan bangkitnya fisika kuantum telah memberi kita apresiasi baru terhadap kesalingterkaitan dari segala sesuatu dan terhadap hakikat realitas yang nonlinear. kreatif.

bersifat mengasuh pada aktivitas belajar. Yang juga berpengaruh besar adalah Sekolah Montessori yang didirikan oleh Maria Montessori. Hal-hal yang dipelari secara . 6. Belajar adalah Berkreasi. Pembelajaran terjadi ketika seorang pembelajar memadukan pengetahuan dan ketrampilan baru ke dalam struktur dirinya sendiri yang telah ada. Prinsip-prinsip Accelerated Learning. Belajar tidak hanya menggunakan “otak” (sadar. Pembelajaran yang baik melibatkan orang pada banyak tingkatan secara simultan (sadar dan bawah-sadar. 2. melainkan prosesor paralel. Kerja sama di antara mereka mempercepatnya. tetapi juga melibatkan seluruh tubuh/pikiran dengan segala emosi. Persaingan di antara pembelajar memperlambat pembelajaran. Beberapa gerakan paralel pada abad ke-20 telah mendukung hidupnya berbagai pendekatan pendidikan alternatif: Gerakan Sekolah Progresif yang dimulai pada 1920- an. Bagaimanapun juga. mental dan fisik) dan memanfaatkan seluruh saraf reseptor. Belajar Berasal dari Mengerjakan Pekerjaan Itu Sendiri (dengan Umpan Balik). Gerakan Pendidikan Confluent yang dimulai pada 1940-an. otak bukanlah prosesor berurutan. dan Gerakan Sekolah Bebas pada 1960-an. jalan dalam sistem total otak/tubuh seseorang. Belajar paling baik adalah dalam konteks. dan pola interaksi elektrokimia baru di dalam sistem otak/tubuh secara menyeluruh. dan gerakan Sekolah Summerhill di Inggris yang dipimpin oleh Alexander Sutherland Neill. 7. Kebudayaan dan keadaan di tempat kerja yang selalu berubah telah membuat banyak metode pendidikan dan pelatihan menjadi lamban dan usang dan telah membuka pintu bagi pendekatan alternatif. melainkan sesuatu yang diciptakan pembelajar. Gerakan Pendidikan Humanistis yang dimulai pada 1950-an. Pembelajaran Berlangsung pada Banyak Tingkatan secara Simultan. memakai “otak kiri”. Runtuhnya Behaviorisme sebagai psikologi yang dominan dalam pembelajaran telah mendorong timbulnya keyakinan-keyakinan dan praktik-praktik yang lebih manusiawi dan holistis. Belajar secara harfiah adalah menciptakan makna baru. Belajar bukan hanya menyerap satu hal kecil pada satu waktu secara linear. Kita biasanya belajar lebih banyak dengan berinteraksi dengan kawan-kawan daripada yang kita pelajari dengan cara lain manapun. indra. Semua usaha belajar yang baik mempunyai landasan sosial. 4. indra. jaringan saraf baru. dan sarafnya. dan otak akan berkembang pesat jika ia ditantang untuk melakukan banyak hal sekaligus 5. 5. 3. Sekolah Waldorf oleh Rudolph Steiner. rasional. dan verbal). 1. Suatu komunitas belajar selalu lebih baik hasilnya daripada beberapa individu yang belajar sendiri-sendiri. melainkan menyerap banyak hal sekaligus. Bukan Mengonsumsi. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang diserap oleh pembelajar. Belajar Melibatkan seluruh Pikiran dan Tubuh. Kerja Sama Membantu Proses Belajar.

Emosi Positif Sangat Membantu Pembelajaran. A. tidak selamanya pendidikan dianggap sebagai konsumsi atau pembiayaan. Sistem saraf manusia lebih merupakan prosesor citra darpada prosesor kata. Abstrak: Masalah pendidikan sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari masalah ekonomi. mendapatkan umpan balik. cara mengelola sesuatu dengan mengelolanya. merenung. 6. menyakitkan. cara menual dengan menjual. Pengalaman yang nyata dan konkret dapat menjadi guru yang jauh lebih baik daripada sesuatu yang hipotetis dan abstrak- asalkan di dalamnya tersedia peluang untuk terjun langsung secara total. jawaban atas pertanyaan tersebut dapat digambarkan berikut ini. Kita belajar berenang dengan berenang. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung).terpisah akan sulit diingat dan mudah menguap. Gambar konkret jauh lebih mudah ditangkap dan disimpan darpada abstraksi verbal. Perasaan positif mempercepatnya. kontribusi pendidikan terhadap ekonomi dan pembangunan harus diakui. cara bernyanyi dengan bernyanyi. dan cara memperhatikan kebutuhan konsumen dengan memperhatikan kebutuhannya. . pendidikan harus dipandang sebagai investasi. Otak-Citra Menyerap Informasi secara Langsung dan Otomatis.Pd. Perasaan negatif menghalangi belajar. dan menerjunkan diri kembali. Belajar yang penuh tekanan. dan bersuasana muram tidak dapat mengungguli hasil belajar yang menyenangkan. dan menarik hati. Baik secara langsung maupun tidak langsung. S. Aspek Ekonomi dalam Pendidikan Ditulis oleh Cucu Lisnawati Penulis: Cucu Lisnawati. 7. Perasaan menentukan kualitas dan juga kuantitas belajar seseorang. santai. Sudah saatnya. yang secara jangka panjang kontribusinya dapat dirasakan. Menerjemahkan abstraksi verbal menjadi berbagai jenis gambar konkret akan membuat abstraksi verbal itu bisa lebih cepat dipejari dan lebih mudah diingat. investasi dalam pendidikan. Dengan demikian. Kata Kunci: Ekonomi pendidikan. Ukuran-ukuran Kontribusi Pendidikan Terhadap Pembangunan dan Pertumbuhan Ekonomi Bagaimanakan keterkaitan pendidikan dan pertumbuhan ekonomi? Secara sederhana. pembiayaan dalam pendidikan.

Teori human capital mengasumsikan bahwa pendidikan formal merupakan instrumen terpenting untuk menghasilkan masyarakat yang memiliki produktifitas yang tinggi. Namun demikian pada kenyataannya . pendidikan menyiapkan tenaga-tenaga yang siap bekerja. Ahli-ahli ekonomi mengembangkan teori pembangunan yang didasari kepada kapasitas produksi tenaga manusia di dalam proses pembangunan. Adanya pemanfaatan teknologi tinggi secara efisien. yang kemudian dikenal dengan istilah Invesment in Human Capital. Hal inilah yang menyebabkan teori human capital percaya bahwa investasi dalam pendidikan sebagai investasi dalam meningkatkan produktivitas masyarakat. yaitu 1. Asumsi dasar yang melandasi keharusan adanya hubungan pendidikan dengan penyiapan tenaga kerja adalah bahwa pendidikan diselenggarakan untuk meningkatkan keterampilan dan pengatahuan untuk bekerja. Sumber daya manusis seperti itu dihasilkan melalui proses pendidikan. Menurut teori ini pertumbuhan dan pembangunan memiliki 2 syarat. kita tidak dapat melepaskan diri dari masalah pembangunan. Adannya sumber daya manusia yang dapat memanfaatkan teknologi yang ada. Teori ini didasari pertimbangan bahwa cara yang paling efisien dalam melakukan pembangunan nasional suatu negara terletak pada peningkatan kemampuan masyarakatnya. Dengan kata lain. dan 2.Untuk menjawab hal tersebut di atas. Konsep pembangunan dalam bidang sosial ekonomi sangat beragam tergantung konteks pengggunaanya. Selain itu dihipotesiskan pula bahwa faktor utama yang mendukung pembangunan adalah pendidikan masyarakat.

Kaitan antara pendidikan dengan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan seolah tidak terlihat karena pembangunan sangat diatur oleh negara. televisi Dengan demikian kriteria untuk menilai keberhasilan pembangunan: 4.tingat pengangguran di hampir seluruh negara bertambah sekitar 2 % setiap tahunnya (World Bank:1980) Terjadinya pengangguran bukan disebabkan tidak berhasilnya proses pendidikan. memiliki konteks yang berbeda dalam mengitepretasikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. . persentase pekerja yang bekerja di sektor industri sebesar 33 % dan di bidang jasa/service sebesar 66 %. pemakaian teknologi yang canggih. Negara Industri vs Non-Industri. 5. konsumsi energi yang lebih besar dibandingkan negara kurang berkembang. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP. 1. Pemerintah memiliki peranan di dalam mengontrol jalannya proses produksi dan pemasaran. Ekonomi di negara sosialis. Pola keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan berbeda sesuai dengan karakteristik khas setiap negara. Sekolah memang dapat menghasilkan tenaga kerja dengan keterampilan tertentu. Diantara ukuran-ukuran tersebut. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Di Meksiko persentase di sektor yang sama adalah 23 % dan 33 %. Ekonomi di negara kapitalis mengasumsikan bahwa model produksinya bebas dari intervensi pemerintah dan mensyaratkan adanya kompetisi terbuka di dalam pemasaran. Di negara maju. penduduknya memiliki pendapatan perkapita yang lebih tinggi. diantaranya: 1. tetapi sekolah bukan satu-satunya tempat dimana keterampilan itu dapat dicapai. Di Amerika Serikat yang sudah maju. 6. bukan ditentukan oleh masing-masing warga negara. Hubungan antara pendidikan dan pertumbuhan ekonomi sangat erat dan pendidikan merupakan suatu hal yang diperlukan. namun pendidikan tidak selalu harus menghasilkan lulusan dengan jenis pekerjaan tertentu. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat. Pendapatan per-kapita 2. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 3. telepon. Negara Kapitalis vs Negara Sosialis. Terdapat berbagai macam faktor untuk mengukur bagaimana pertumbuhan ekonomi diukur dengan baik. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas. Secara ringkas tampak berikut ini. 2. Di negara maju memiliki akumulasi modal yang lebih besar. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi seperti mobil.

Pendidikan. maka untuk mengetahui keterkaitan antara pendidikan dan pembangunan diperlukan data sebagai berikut. Metode yang sering dipakai dalam penelitian evaluasi adalahl linear regresion and the educational production. Jelas bagaimana pentingnya analisis kontribusi pendidikan dalam pembangunan. Peningkatan dalam efisiensi sistem produksi masyarakat yang diukur dengan GDP dan GNP 6. Sebenarnya konsep bagaimana pendidikan itu harus dievaluasi harus dikembangkan sejak tujuannya ditetapkan. Analisis terhadap pendidikan biasanya bersifat ex-post fakto. Berdasarkan ukuran tersebut di atas. 1. Berdasarkan hal tersebut di atas. 1. artinya data diperoleh dari kejadian-kejadian yang telah lampau. Hubungan antara pendidikan dan pembangunan di negara maju sangat jelas dilihat dari adanya perubahan karakteristik individu yang berkaitan dengan tingkat pertumbuhan ekonomi. perekonomiannya sangat tergantung kepada sektor pertanian sehingga persentase tenaga kerjanya lebih banyak yang bekerja di sektor non-industri. dengan memperhatikan kerangka berpikirnya dan metodologinya. maka dapatlah dirumuskan ukuran-ukuran sebagai berikut. Konsumsi energi atau pemakaian barang berteknologi tinggi 5. Dari uraian di atas. maupun Pendapatan Perkapita . Pendapatan Domestik Bruto. maka untuk membicarakan lebih lanjut kontribusi pendidikan terhadap pembangunan harus ditemukan kriteria-kriteria atau ukuran- ukuran pertumbuhan atau hasil pembangunan. Pendapatan nasional. yang meliputi partisipasi pendidikan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan 2. Salah satu alasan banyaknya kontroversi tentang kaitan antara pembangunan dan pendidikan disebabkan karena sedikit sekali kebijakan pendidikan yang dimonitor benar-benar dan juga dievaluasi hasilnya. Perubahan peta ketenagakerjaan dari pertanian ke industri 4. Teknologi tinggi dan sumberdaya yang mengoperasikannya 2. Kepuasaan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat 7. Pendapatan per-kapita 3. sehingga jumlah tabungan semakin lebih besar dan pada akhirnya akan diinvestasikan lagi pada sistem ekonomi yang telah berjalan.sebagai akibat dari kelebihan pendapatan setelah dikurangi kebutuhan konsumsi. baik dalam bentuk Pendapatan Nasional Bruto. Pencapaian tujuan-tujuan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat. Di negara non-industri. yang dikaitkan dengan penggunakan sumber daya yang terbatas.

2. Arrow (1962) mengemuikakan bahwa istilah investasi atau investment merupakan alokasi current resources yang mempunyai alternatif produktif yang berguna untuk pelaksanaan kegiatan yang dapat menambah keuntungan yang diperoleh di masa yang akan datang. Proses belajar mengajar menjamin masyarakat yang terbuka (yaitu masyarakat yang senantiasa beresedia untuk mempertimbangkan gagasan-gagasan dan harapan- harapan baru serta menerima sikap dan proses baru tanpa harus mengorbankan dirinya). sementara bentuk pendidikan formal. Pendidikan di sini dimaksud untuk meningkatkan martabat manusia agar mempunyai ketermapilan dan kemampuan sehinggan produktivitasnya meningkat. Dalam konteks ini pendidikan ini diapandang sebagai industri pembalajaran manusia. Sistem pendidikan menyiapkan landasan yang tepat bagai pembangunan dan hasil- hasil rises (jaminan melekat untuk pertumbuhan masyarakat modern yang berkesinambungan). Konsumsi energi A. Dengan demikian jelas bahwa investasi merupakan penanaman modal atau uang yang sengaja dilakukan untuk mendatangkan keuntungan melalui produk yang dihasilkan. terutama dalam hal-hal berikut: 1. Investasi dalam pendidikan merupakan penanaman modal dengan cara mengalokasikan biaya untuk penyelenggaraan pendidikan serta mengambil keuntungan dari sumber daya manusia yang dihasilkan melalui pendidikan itu. pendidikan non formal (luar sekolah) dan sebagainya hanya merupakan modus operandi dari proses pendidikan. Oleh sebab itu maka hasil pendidikan akan menjadi sumber daya manusia yang sangat berguna dalam pembangunan suatu negara. Dengan demikian maka investasi dalam pendidikan mempunyai jangka waktu yang panjang untuk dapat mengetahui hasilnya dan hasilnya itupun tidak dalam bentuk keuntungan lansung. kualitas manusia dan pendapatan nasional. melainkan keuntungan bagi pribagi yang menerima pendidikan dan bagi negara. baik berupa uang atau modal maupun dalam bentuk barang atau jasa. artinya melalaui pendidikan dihasilkan manusia-manusia yang mempunyai kemampuan dan keterampilan yang sangat diperlukan bagi perekonomian suatu negara untuk meningkatkan pendapatanindividu dan pendapatan nasional. Investasi pendidikan dapat mempertahankan keutuhan dan secara konstan menambah persediaan pengetahuan dan memungkinkan riset dan penemuan . dengan rentangan pertanian-jasa-industri 4.3. Sebagai fungsi investasi. Modal atau uang yang ditanamkan bertujuan untuk mendapatkan keuntungan. Hal ini berarti bahwa inti pendidikan itu adalah pembelajaran seumur hidup (life long learning). pendidikan memberikan sumbangan yang berarti dalam kenaikan tingkat kehidupan. Kenneth J. Perubahan peta ketenagakerjaan. Sementara itu pendidikan merupakan usaha manusia untuk membangun manusia itu sendiri dengan segala masalah dan spektrumnya yang terlepas dari dimensi waktu dan ruang. Konsep Investasi dalam Pendidikan Investasi berarti penanaman modal atau uang. Biaya atau cost suatu investasi merupakan keuntungan yang diperoleh dibagi dengan penggunaan sumber daya dalam berbagai kegiatan lain.

yang secara . untuk kemudian akan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup masyarakat berpendapatan rendah. Ace Suryadi (1991) mengungkapkan bahwa menurut teori human capital yang tercermin dalam keterampilan. 3. yang kemudia akanmeningkatakan pendapatannya. Jones melihat. Kemampuan tenaga kerja tersebut tidak dapat dipindahkan kepada orang lain. Backer. Dalam kaitan ini. Sementara itu Jones (1984) melihat pendidikan sebagai alat untuk menyiapkan tenaga kerja terdidik dan terlatih yang sangat dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Peningkatan pendapatan ini berpengaruh pula kepada pendapatan nasional negara yang bersangkutan. B. 1962) berkenaan dengan kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi real income masa yang akan datang melalui penempatan sumber daya dalam bentuk manusia. pengetahuan dan produktivitas kerjanya. Kualitas tenaga kerja sebagai suatu input produktif tidak dapat dibagi dan digunakan secara terpisah. Model ini merupakan metodologi yang sangat penting dalam melakukan analisis untuk investasi pendidikan dan dapat membantu pengambilan keputusan untuk memutuskan danmemilih diantara alternatif alokasi sumber-sumber pendidikan yang terbatas agar mampu memberikan kemampuan yang paling tinggi. 2. kecuali bila struktur sosial yang hidup dalam masyarakat tersebut tidak menguntungkan. Pendidikan dan Pertumbungan Ekonomi Mungkinkah ada intervensi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi? Pendidikan memiliki daya dukung yang representatif atas pertumbuhan ekonomi. 4. maka investasi dalam sektor pendidikan akan menaikan pendapatan perkapita dalam sektor tersebut. 1991: 14). Sistem pendidikan menciptakan dan mempertahankan penawaran ketermapilan manusia di pasar pemburuhan yang luwes dan mampu mengakomodasi dan beradaptasi dalam hubungannya dengan perubahan kebutuhan akan tenaga kerja dan masyarakat teknologi modern yang sedang berubah (Komaruddin. yaitu: 1. Model yang dimaksudkan adalah model analisis biaya dan keuntunganpendidikan (cost benefit analysis). bahwa pendidikan memiliki suatu kemampuan untuk menyiapkan siswa menjadi tenaga kerja potensial. dan menjadi lebih siap latih dalam pekerjaannya yang akan memacu tingkat produktivitas tenaga kerja. Investasi dalam pendidikan memusatkan perhatian pada manusia sebagai sumber daya yang akan menjadi modal (human capital) bagai capital (Gary S.metode serta teknik baru yang berkelanjutan. Human capital di sini merujuk pada tenaga kerja sebagai suatu faktor produksi yang menghubungkan aspek non-ekonomi pendidikan terhadap aspek ekonomi lainnya yang mempunya dua ciri esensial. Apabila dalam setiap sektor ekonomi kita dapatkan segala faktor yang dibutuhkan masyarakat kecuali tenaga kerja yang terampil. Lebih lanjut dikemukakannya bahwa ada model investasi dalam bentuk sumber daya manusia yang secara langsung atau tidak melakukan hubungan antara indikator pendidikan di satu pihak dan indikator ekonomi di lain pihak. Tyler (1977) mengungkapkan bahwa pendidikan dapat meningkatkan produktivitas kerja seseorang.

langsung akan meningkatakan pendapatan nasional. yaitu: 1. Oleh karena itu. Intervensi terhadap fungsi konsumsi dilakukan melalui peningkatan produktivitas kerja yang akan mendorong peningkatan pendapatan. korelasi antara pendidikan dengan pendapatan tampak lebih signifikan di negara yang sedang membngun. Tabungan ini akan menjadi investasi kapital yang tentunya akan lebih mempercepat laju pertumbuhan ekonomi suatu negara. dan low management. Investasi pendidikan diharapkan menghasilkan suatu peningkatan kesejahteraan . Ini harus menjadi dasar untuk perencanaan pendidikan. Pemikiran ini didasarkan pada anggapan bahwa pendidikan merupakan human capital. Di samping tenaga kerja. Peningkatan pendapatan ini akan mendorong pada peningkatan fungsi konsusmsi. karena pranata ekonomi membutuhkan tenaga-tenga terdidik dan terlatih. Intervensi pendidikan terhadap ekonomi merupakan upaya penyiapan pelaku-pelaku ekonomi dalam melasnakan fungsi-fungsi produksi. distribusi. Permasalahan yang dihadapai adalah jarang ada ekuivalensiyang kuat antara pekerjaan dan pendidikan yang dibutuhkan yang mengakibatkan munculnya pengangguran terdidik dant erlatih. Prediksi ketenagakerjaan sebagai dasar dalam perencanaan pendidikan harus mengikuti pertumbuhan ekonomi yang ada kaitannya dengan kebijaksanaan sosial ekonomi dari pemerintah. dan 2. Menurutnya. Sementra itu Vaizey (1962) melihat pendidikan menjdi sumber utama bakat-bakat terampil dan terlatih. Ia harus mampu memprediksi dan mengantisipasi kualifikasi pengetahuan dan keterampilan tenaga kerja. yang ditunjukan dengan meningkatnya jumlah tabuhan yang berasal dari pendapatan yang disisihkan. Pendidikan dan Pekerjaan Ukuran yang paling populer dalam melihat kontribusi pendidikan terhadap pertumbuhan ekonomi adalah mempertautkan antara pendidikan dengan pekerjaan. Pendidikan merupakan suatu bentuk investasi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan dalam pertumbuhan ekonomi modern. Pendidikan memegang peran penting dalam penyediddan tenaga kerja. dan konsumsi. juga pendidikan mengintervensi produksi untuk penyediaan entrepreneur tangguh yang mampu mengambil resiko dalam inovasi teknologi produksi. C. atau secara ekstrim tenagra kerja krah biru dan krah putih. Pemikiran ini muncul pada era industrialisasi dalam masayarkaat modern. Argumen ini memiliki dua sepek. midle. Bentuk intervensi lain yaitu menciptakan teknologi baru dan menyiapkan orang-orang yang menggunakannya. pendidikan perlu mengantisipasi kebutuhan. Intervensi terhadap fungsi distribusi adalah melalui pengembangan research and development produk yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atau konsumen. Intervensi terhadap fungsi produksi berupa penyediaan tenaga kerja untuk berbagai tingkatan yaitu top. Program-program perluasan produksi melalui intensifikasi dan rasionalisasi merupakan salah satu wujud nyata dari peran prangata pendidikan atas fungsi produksi ini.

yaitu: 1. Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius. pendidikan dalam keluarga. terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Pendidikan dan Konflik Sosial Ditulis oleh Elly Retnaningrum Penulis: Dra. baik di keluarga. M. Sambas. Elly Retnaningrum. tingkat pendalaman agama. Maraknya konflik sosial yang terjadi mengisyaratkan adanya sesuatu yang salah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara kita.dan kesempatan yang lebih luas dalam kehidupan nyata. Ini telah menjadi 'cara pemecahan masalah' bagi sebagian masyarakat di negeri yang sesungguhnya sangat menjunjung tinggi rasa kemanusiaan serta persatuan dan kesatuan bangsa. Menciptakan kekurangan pekerja berkeahlian rendah dengan konsekuensi mengingkatkan gaji pekerja golongan ini. tingkat pendidikan. dari perspektif . yang hingga saat ini nampaknya masih belum beranjak dari masa transisi. (dosen tetap pada Universitas Langlangbuana di Bandung). Sebagai ilustrasi. menginkatkan tingkat pendidikan pekerja berpenghasilan rendah akan memberikan tiga pengaruh positif. yang apabila dirunut lebih lanjut akan bermuara pada kegagalan praksis pendidikan dalam masyarakat. Tatkala kerusuhan bermunculan di pelbagai kawasan nusantara ini. Dan ini bisa dilakukan melalui pendidikan. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral.Pd. dan 3. sekolah maupun masyarakat. atau "perang" antarpelajar di Bogor belakangan ini telah menorehkan guratan luka psikologis-sosial dalam lintasan sejarah peradaban masyarakat Indonesia pasca Orde Baru. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Meningkatkan produktivitas kerja dan konsekuensinya terhadap pendapatan 2. Ini sungguh ironis terjadi dalam masyarakat yang berfalsafah hidup Pancasila. Meningkatakan suplai tenaga kerja dengan keahlian tinggi dan konsekuensinya terhadap rendahnya gaji mereka. Pertentangan antar kelompok masyarakat telah menjurus pada gejala-gejala disintegrasi bangsa. Hj. yang berujung pada bentrokan fisik dengan atau tanpa senjata. Konflik sosial yang telah mengorbankan nyawa dan harta benda seperti yang terjadi di Ambon. Kata Kunci: Konflik sosial. Abstrak: Sebagian dari akar permasalahan dari konflik sosial adalah kondisi sosial- ekonomi-politik.

Misalnya. menghilangkan nyawa orang lain. tingkat pendalaman agama yang lebih mengutamakan dimensi ritual seremonial telah menyebabkan kurang terinternalisasikannya nilai-nilai keagamaan dalam pribadi kolektif masyarakat. Kelima. bukankah jumlah orang yang menjalankan perintah agamanya masing-masing relatif lebih tinggi apabila dibandingkan dengan yang tidak? Apakah kegiatan spiritual yang selama ini marak tidak lebih dari seremonial ritual tanpa pendalaman hakikat? Tidak mudah memang menjawab sederet pertanyaan tersebut. Ketiga. Lebih jauh. dan semacamnya. Keempat. kondisi ini mengakibatkan munculnya fanatisme berlebihan atau justru fanatisme semu yang seolah-olah membela kepentingan agama tetapi sesungguhnya yang dibela adalah kepentingan diri sendiri yang jauh dari ajaran agama. masyarakat mudah sekali menghujat kesalahan orang lain hanya berdasarkan isu-isu bahwa tokoh yang bersangkutan adalah figur yang memang layak dihujat.dengan tingkat pendidikan masyarakat? Mengapa sebagian masyarakat mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak tidak dapat dijamin kesahihannya? Apakah ini bertemali erat dengan tingkat pendidikan masyarakat? Rasanya memang kita sulit untuk percaya semua itu dapat terjadi. lingkungan yang ada dalam masyarakat itu sendiri kurang kondusif untuk . Pertama. yang setiap saat dapat muncul dimana saja dan kapan saja. baik kepentingan yang berhubungan dengan karir atau petualangan politik maupun sekadar keuntungan ekonomi. merusak fasilitas umum. Hanya karena isu yang tidak jelas bisa menyulut gerakan massa yang menjurus pada perilaku destruktif yang merongrong kamtibmas. tingkat pendidikan sebagian masyarakat yang kurang menyebabkan mudah sekali tersulut isu-isu yang tidak bertanggung jawab dan provokasi-provokasi (baik yang terorganisir maupun yang spontan) dari pihak-pihak yang memanfaatkan situasi untuk memecah belah dan mengambil keuntungan politis dari situasi itu. Akar permasalahan Mencermati pelbagai konflik sosial yang merebak belakangan ini. Kedua.baik yang bernuansa SARA maupun tidak-. ketiga kondisi tersebut pada gilirannya menggiring ke arah terbentuknya mentalitas dan moralitas yang dilandasi ketidakdewasaan perilaku sosial psikologis. Tapi setidaknya kita dapat mengkaji kemungkinan yang memicu kejadian-kejadian yang mencoreng muka bangsa Indonesia di mata dunia internasional itu. Bukankah kegiatan-kegiatan yang sifatnya spiritual dapat dikatakan marak dan frekuensinya cukup tinggi? Apabila dilihat secara sepintas. kondisi sosial-ekonomi-politik yang sudah menjurus pada chaos telah membentuk sikap dan perilaku masyarakat yang sulit diduga.pendidikan selalu terlontar pertanyaan: adakah kaitan antara pelbagai pertentangan antarkelompok masyarakat itu-. beberapa asumsi dapat diketengahkan untuk lebih memahami akar permasalahannya. Apalagi ada pihak-pihak tertentu yang "mengobok-obok" dengan memancing di air keruh memanfaatkan situasi sesuai dengan kepentingan primordialnya. Ini mengisyaratkan perlunya penelusuran akar permasalahan yang mendasari peristiwa-peristiwa sejenis.

Standar ini dapat diajarkan dan dipelajari dalam pelbagai situasi. Fungsi guru dalam konteks ini adalah sebagai pendidik moral bagi murid-muridnya agar dapat berpihak pada kebenaran dan keharmonisan hidup antarsesama. Akibat lebih jauh adalah keengganan mengulurkan bantuan karena telah tumpulnya rasa solidaritas sosial serempak dengan makin mengedepannya pertimbangan untung-rugi. Mengendurnya kontrol sosial serta langkanya figur yang dapat dijadikan panutan perilaku yang berlandaskan pada kebenaran agaknya dapat dijadikan sebagai salah satu alasan untuk lebih mempedulikan pendidikan moral. sekolah. serta konflik sosial pada umumnya menunjukkan adanya persoalan moralitas yang cukup serius. Dan yang lebih mendasar. dan pemaksaan kehendak dari satu pihak ke pihak lain. Hal ini mengingat telah tergerusnya nilai-nilai kebenaran dengan pelbagai pertimbangan lain yang menyebabkan adanya ketakutan untuk menyuarakan kebenaran itu. Ini bisa diperkuat di sekolah. Kondisi seperti ini mengisyaratkan belum maksimalnya fungsi keluarga. perlu juga dibiasakan untuk secara langsung mempraktikkan kegiatan-kegiatan yang sifatnya sosial. Dalam situasi sehari-hari. memupuk keberanian untuk mengutarakan kebenaran dan mengulurkan tangan pada yang membutuhkan pertolongan agaknya perlu menjadi prioritas. secara langsung maupun tidak langsung. Salah satu aspek yang subtansial adalah pengenalan dan penanaman nilai-nilai kebenaran dan kesalahan atau kebaikan dan keburukan yang terdapat dalam suatu tindakan. Antisipasi Kondisi yang digambarkan tersebut menggiring ke arah perlunya mempedulikan persoalan moralitas secara lebih serius.memberikan ajaran moral kepada individu-individu yang menjadi anggotanya. Ini mengimplikasikan perlunya pembenahan yang serius pada wilayah moral. serta masyarakat. kekerasan. sekolah. di lingkungan keluarga para orang tua dan orang dewasa perlu memfungsikan dirinya untuk memupuk keberanian anak dengan mengkondisikannya pada situasi yang memungkinkan anak mengemukakan pendapatnya tanpa kendala hirarki yang berlebihan. Selain itu. yang tidak jarang memunculkan konflik kepentingan dan konflik sosial dalam arti luas. Untuk mengantisipasi kondisi itu. Guru terlibat dalam kegiatan pengajaran yang secara erat berkaitan dengan penanaman nilai-nilai moral yang sesuai dengan standar perilaku yang umum diakui sebagai kebenaran. Hal-hal apa saja yang dilakukan oleh seseorang tatkala menghadapi situasi tertentu pada hakikatnya sudah merupakan pertimbangan moral yang paling mendasar. lingkungan pendidikan membentuk perilaku peserta didik untuk melakukan sosialisasi di masyarakat agar dapat meminimalkan atau bahkan meniadakan terjadinya konflik sosial. maka penguatan landasan moral menjadi kebutuhan utama. Berbagai tindak penyimpangan. baik di lingkungan keluarga. dan masyarakat dalam menanamkan nilai-nilai moral. . banyak sekali standar perilaku yang dapat dijadikan sebagai pelajaran moral bagi siapa saja. Sejalan dengan perubahan yang sangat cepat dalam pelbagai dimensi kehidupan belakangan ini. Demikianlah. tidak saja dalam situasi pengajaran yang formal.

masih kurang memperhatikan ketercapaian kompetensi siswa. melalui partisipasi dalam setiap kegiatan pembelajaran. pelaksanaan pembelajaran di sekolah.Pd. life skill. Dengan belajar aktif. Ia sekaligus dapat dipergunakan sebagai instrumen untuk mengembangkan nilai moral dan etika sosial yang selaras dengan tuntutan perkembangan peradaban tetapi tetap mengacu pada nilai-nilai religi dan nilai-nilai kemasyarakatan. yang diperbaharui dengan Kurikulum 2006 (KTSP). dan ras dapat dihindarkan. yaitu dominan menggunakan metode ceramah-ekspositori. suasana belajar A. Model belajar akan membahas bagaimana cara siswa belajar. Ar. Hal ini tampak pada RPP yang dibuat oleh guru dan dari cara guru mengajar di kelas masih tetap menggunakan cara lama. telah berlaku selama 4 tahun dan semestinya dilaksanakan secara utuh pada setiap sekolah. akan terlatih dan terbentuk kompetensi yaitu kemampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang sifatnya positif yang pada akhirnya akan membentuk life skill sebagai bekal hidup dan penghidupannya. afektif. H. yaitu mengkondisikan siswa agar belajar aktif sehingga potensi dirinya (kognitif. Erman Suherman. Agar hal tersebut di atas dapat terwujud.Untuk itu. Kata Kunci: model belajar. Ini mengisyaratkan bahwa melalui pendidikan yang baik dapat dibentuk manusia-manusia yang setia pada rel moralitas religius yang dijadikan sebagai sandaran setiap perilaku serta tidak mudah terhasut desas-desus sehingga mengakibatkan konflik sosial. Drs. adalah dosen tetap pada FPMIPA Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung Abstrak: Tugas utama guru adalah membelajarkan siswa. pembenahan yang mendasar pada cara-cara dan juga materi pendidikan moral dalam lingkungan keluarga dan masyarakat merupakan kebutuhan mendesak yang semestinya mendapatkan prioritas untuk mengantisipasi perilaku masyarakat yang menyimpang dari nilai-nilai moral. Pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa praksis pendidikan amat menentukan dalam pembemntukan perilaku masyarakat. Manakala praksis pendidikan (tidak hanya di sekolah) dapat difungsikan untuk penanaman nilai moral yang menghargai keberadaan orang lain dapat diwujudkan dan etika sosial yang mengedepankan kewajiban dan tanggung jawab manusia selaku manusia yang saling mengasihi dapat terbina maka prasangka etnis. Pendahuluan Kurikulum 2004 berbasis kompetensi (KBK). guru seyogianya mengetahui bagaimana cara siswa belajar dan menguasai berbagai cara membelajarkan siswa. agama. MODEL BELAJAR DAN PEMBELAJARAN BERORIENTASI KOMPETENSI SISWA Ditulis oleh Erman S. potensi siswa. guru masih menjadi pemain dan siswa . kompetensi. Guru masih dominan dan siswa resisten. dan konatif) dapat berkembang dengan maksimal. sedangkan model pembelajaran akan membahas tentang bagaimana cara membelajarkan siswa dengan berbagai variasinya sehingga terhindar dari rasa bosan dan tercipta suasana belajar yang nyaman dan menyenangkan. M. Namun pada kenyataannya. model pembelajaran.

untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. sehingga misi KBK dapat terwujud. materi. B. tuntutan KBK. mengubah paradigma mengajar menjadi membelajarkan. paradigma mengajar masih tetap dipertahankan dan belum berubah menjadi peradigma membelajarkan siswa. jadi guru memfasilitasi aktivitas siswa dalam mengembangkan kompetensinya sehingga memiliki kecakapan hidup (life skill) untuk bekal hidup dan penghidupannya sebagai insan mandiri. mereka sangat sibuk untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Selain dari karena kebiasaan yang sudah melekat mendarah daging dan sukar diubah. Dengan demikian belajar tidak cukup hanya sampai mengetahui dan memahami. pada penyusunan RPP menggunakan istilah skenario pembelajaran untuk pelaksanaan pembelajaran di kelas. Paradigma lama masih melekat karena kebiasaan yang susah diubah. tetapi situasi dan kondisi kurang memungkinkan. Karena penghargaan terhadap profesi guru sangat minim. Tulisan ini membahas tentang kompetensi siswa sesuai tuntutan kurikulum untuk sekedar mengingatkan. boro-boro sempat waktu untuk membaca buku yang aktual. ini berarti bahwa guru sebagai sutradara dan siswa menjadi pemain. Tulisan sederhana ini sengaja dibuat untuk para guru. memaknai dan memanfaatkan materi pelajaran yang telah dipelajarinya. yang saya hormati dan saya banggakan.penonton. model-model belajar agar memahami benar bagaimana siswa belajar yang efektif. fasilitas. semoga dengan sajian sederhana ini dapat dijadikan bekal untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses dan hasil pembelajaran. Kompetensi siswa yang harus dimilki selama proses dan sesudah pembelajaran adalah kemampuan kognitif (pemahaman. Permasalahannya adalah bagaimana mengubah kebiasaan prilaku guru dalam kelas. Inilah hakikat pembelajaran. penalaran. Siswa yang telah memiliki kompetensi mengandung arti bahwa siswa telah memahami. yang pada tahap selanjutnya menjadi kecakapan hidup (life skill). observasi. karena kebiasaan menjadi penonton dalam kelas. identifikasi. dan guru itu sendiri. apalagi untuk membeli buku pembelajaran yang inovatif. dan model pembelajaran yang bisa dipilih dan digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi siswa. mudah-mudahan kebiasaan murid yang bersifat pasif sedikit demi sedikit akan berubah pula menjadi aktif. guru aktif dan siswa pasif. Kompetensi Siswa Kompetensi (competency) adalah kata baru dalam bahasa Indonesia yang artinya setara dengan kemampuan atau pangabisa dalam bahasa Sunda. mereka sudah merasa enjoy dengan kondisi menerima dan tidak biasa memberi. sehingga kualitas amal sholehnya melalui profesi guru menjadi meningkat pula. Demikian pula. pada pihak siswa. dan memang itu kewajiban utama. ia telah bisa melakukan (psikomotorik) sesuatu berdasarkan ilmu yang telah dimilikinya. analisis. karena ia telah memiliki komptensi. . kecakapan hidup. yaitu membekali siswa untuk bisa hidup mandiri kelak setelah ia dewasa tanpa tergantung pada orang lain. Dengan paradigma yang berubah. Dengan perkataan lain. kondisi ini kemungkinan disebabkan karena pengetahuan guru yang masih terbatas tentang bagaimana siswa belajar dan bagaimana cara membelajarkan siswa. aplikasi. Padahal. Mereka bukan tidak mau meningkatkan kualitas pemebelajaran.

generalisasi. eksplorasi. atau ke tokoh lain Oneng. kompetensi / kecakapan yang berkaitan dengan kemampuan profesional (akademik. tidak parsial terpisah satu sama lain dan tidak pula dalam bentuk narasi kalimat lengkap. pejabatnya. Bukankah pemberian harus diselaraskan dengan mereka yang akan menerima pemberian sehingga dapat bermanfaat secara optimal. kata kunci). inkuiri. sosialisasi. kreativitas. Dalam bidang studi keahlian anda. supir bajay. Sedangkan kompetensi lainnya yang berkenaan dengan afektif dan psikomotorik yang berkaitan dengan kemampuan kepribadian. baik di kelas ataupun dalam kehidupannya sehari-hari antar sesama temannya atau orang yang lebih tua. kemampuan afektif (pengendalian diri yang mencakup kesadaran diri. dosen-dosen dan staf administrasi. Istilah psikologi kontemporer. yang berkontribusi terhadap sukses individu sebesar 40 % . komunikasi. Demikian pula kata dalam pikiran kita terlintas FKIP Universitas Langlangbuana Bandung akan terkait alamatnya. meskipun dengan makna yang tidak berbeda. C. hipotesis. . misalnya ambil satu materi dalam pelajaran Matematika. empati). Agama. seperti gemuk. Akuntansi. Peta Pikiran Buzan (1993) mengemukakan bahwa otak manusia bekerja mengolah informasi melalui mengamati. pemecahan masalah). Sebagai contoh. diharapkan para guru (kita semua) dapat membelajarkan siswa secara efisien sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif. kocak. Model-model Belajar Uraian berikut ini adalah untuk menjawab pertanyaan. Ucup. Silakan buat (tulis-gambar) peta pikiran yang terlintas kemudian narasikan secara lisan. membaca. Suatu informasi yang sangat penting dan sekaligus peringatan bagi kita semua. Ada berbagai model belajar yang akan dibahas. motivasi aktivitas positif. pengelolaan suasana hati. guru (kita) bisa menyesuaikan pelaksanaan pembelajaran dengan kondisi siswa. konjektur. koneksi. atau yang lainnya. Silakan anda mencoba menuliskan / menggambarkan peta pikiran tentang Bajuri dan FKIP Unla di atas. sederhana. dan lain-lain dengan masing-masing karakternya.investigasi. dan kemampuan psikomotorik (sosialisasi dan kepribadian yang mencakup kemampuan argumentasi. kalau dalam pikiran kita ada kata (konsep) Bajuri. dan pengendalian diri disebut dengan soft skill. Ema. maka akan terkait dengan kata lain secara fungsional. Kalau dibuat narasinya akan ada perbedaan redaksi. terutama kognitif) disebut dengan hard skill. presentasi. Model-model belajar yang dimaksud pada judul di atas adalah berbagai cara-gaya belajar siswa dalam aktivitas pembelajaran. Hindun. dan besar penghargaan untuk perkuliahan per-sks. bagaimana siswa belajar? Dengan memahami uraian ini. yang berkontribusi sukses individu sebesar 60%. Dengan memahami model-model belajar ini. prilaku). dan tidak sebaliknya. Tulisan atau gambar peta pikiran tersebut dinamakan dengan peta konsep (concept map). pengendalian impulsi. yaitu: 1. atau mendengar tentang sesuatu hal berbentuk hubungan fungsional antar bagian (konsep.

kesadaran diri. Jika benar-benar dimanfaatkan secara optimal. linier. Penting untuk diketahui bahawa kecerdasan intelkektual berkontribusi untuk sukses individu sebesar 20% sedangkan kecerdasan emosional sebesar 40%. abstrak. misalnya berangan-angan. mengobrol atau bercanda tanpa makna. kelembutan. Sel syaraf pada otak kiri berfungsi sebagai alat kecerdasan yang sifatnya logis. Buzan mengemukakan bahwa kemampuan otak manusia dapat memproses informasi berupa bahasa sebanyak 600 – 800 kata permenit. intuitif. rasional. Kecerdasan Ganda Goldman (2005) mengemukakan bahwa struktur otak. holistic. di samping bahasa yang digunakan menggunakan gaya bahasa penulis. sajian guru dalam pembelajaran harus pula dikondisikan berupa sajian peta konsep. Yang produknya berupa peta konsep. guru membumbuinya dengan narasi yang kreatif. spasial. realitas. atau meditasi keheningan dengan prinsip kepasrahan kepada sang Pencipta. sekuensial. musik. emosional. Dengan kemampuan otak seperti itu dibandingkan dengan kemampuan komputer sangat tinggi. Hanya sayang banyak orang yang mengabaikannya atau digunakan untuk hal-hal yang kurang bermanfaat untuk peningkatan kualitas diri. kemudian dinarasikan dengan gaya bahasa masing-masing. suasana nyaman dan menyenangkan. verbal. menonton. inlah yang disebut dengan sia-sia atau mubadzir (at tubadziru minasy-syaithon). Kondisi ini akan bisa dinetralisir dengan relaksasi melalui penciptaan suasana kondusif. setiap kesempatan dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran diri dalam segala hal. mudah diingat dan dikembangkan pada konsep lainnya. Belajar dengan menghafalkan kalimat lengkap tidak akan efektif. dan simbolik. Kecerdasan intelektual mengalir-bergerak (flow) antara kebosanan bila tuntutan pemikiran rendah dan kecemasan bila terjadi tuntutan banyak. Sebaliknya jika tuntutan kerja otak tinggi akan terjadi kecemasan-kelelahan. Ary Ginanjar (2002) dan Jalaluddin Rahmat (2006) mengukakan kecerdasan ketiga. 2. misalnya keramahan. misal kenakalan atau lamunan.Selanjutnya Buzan mengemukakan bahwa cara belajar siswa yang alami (natural) adalah sesuai dengan cara kerja otak seperti di atas berupa pikiran. dan kreativitas. Sedangkan sela syaraf otak kanan berkaitan dengan kecerdasan yang sifatnya acak. Selanjutnya. yaitu Kecerdasan Spiritual (nurani-keyakinan) atau kecerdasan fitrah yang berkenaan . siswanya sebanyak 40% dipengaruhi oleh hal lainnya. Dengan demikian konsep mendapat retensi yang kuat dalam pikiran. Mengingat hal itu. teratur. ide. jika positif akan mengembangkan penalaran akan tetapi jika diisi dengan aktivitasa negatif. senyum-tertawa. Dengan demikian aktivitas otak kiri semestinya dibarengi dengan aktivitas otak kanan. Bila terjadi kebosanan otak akan mengisinya dengan aktivitas lain. terbagi dua menjadi kecerdasan intelektual pada otak kiri dan kecerdasan emosional pada otak kanan. Bagaimana dengan anda?. sebagai instrumen kecerdasan. Dengan demikian belajar akan efektif dengan cara membuat catatan kreatif yang merupakan peta konsep. sehingga setiap konsep utama yang dipelajari semuanya teridentifikasi tidak ada yang terlewat dan kaitan fungsionalnya jelas.

strategi. bantuan. 3. dan aplikasi. yaitu kondisi individu. bahwa seorang anak ayang masih polos-natural. dan evaluasi sebagai cikal bakal tumbuhkembangnya kemampuan inkuiri dan kreativitas. natural. berpikir tentang apa yang dipikirkan dan bagaimana proses berpikirnya. pengalaman. Komponen meta kognitif menurut Sharples & Mathew ada 7. prediksi. Komunikasi Siswa dalam belajar tidak akan lepas dari komunikasi antar siswa. ada do’a sebagai permintaan dan harapan. Linguistic-verbal. pengetahuan. siswa dengan fasilitas belajar. 4. dan ibadah lainnya. bukankah ada ikhtiar dan ada pula taqdir. dan regulasi. dkk. yaitu: refleksi kognitif. yaitu aktivitas individu untuk memikirkan kembali apa yang telah terpikir serta berpikir dampak sebagai akibat dari buah pikiran terdahulu. monitoring. kompleksitas. tidak hanya berpikir sepintas dengan makna yang dangkal.dengan nilai-nilai kehidupan beragama. manfaat. (2002) mengemukakan bahwa aktivitas metakognitif tergantung pada kesadaran individu. anak yang pada awalnya secara alami penuh . Body-kinestic. ada individu yang memiliki pribadi positif dan ada pula yang berkpribadian negatif. Sedangkan Holler berpendapat tentang komponen metakognitif. Oleh karena itu pelaksanaan pembelajaran semestinya membiasakan siswa untuk melatih kemampuan metakognitif ini. sintesis. Interpersonal- communication. tergantung dari variabel meta kognitif. Holler. Kemampuan komunikasi setiap individu akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang bersangkutan dan membentuk kepribadiannya. Sharples & Mathew (1998) mengemukakan pendapat bahwa metakognitrif dapat dimanfaatkan untuk menerapkan pola pikir pada situasi lain yang dihadapi. koneksi. Gardner (1983) mengemukakan tentang kecerdasan ganda yang sifatnya mulkti dengan akronim Slim n Bill. untuk kita simak dan renungkan. yaitu: kesadaran. pertanyaan. ataupun dengan guru. Akibatnya sungguh mengejutkan. Intrapersonal-reflective. Sebagai orang beragama. Bukankan ketentraman individu karena keyakinan beragama ini. Metakognitif bisa digolongkan pada kemampuan kognitif tinggi karena memuat unsure analisis. dan strategi berpikir. Logic-thinking-reasoning. Metakognitif Secara harfiah. setiap hari biasa menerima 460 komentar negatif dan 75 koentar positif dari oarng yang lebih tua dalam kehidupannya. Kemampuan metakognitif setiap individu akan berlainan. metakognitif bisa diterjemahkan secara bebas sebagai kesadaran berfikir. yaitu Spacial-visual . monitoring. Perhatikan hasil penelitian Jack Canfield (1992). Musical-rithmic. kita semestinya berkeyakinan tinggi terhadap kecerdasan ini. dan regulasi.

konstruksivis. Dengan perkataan lain. partisipatidf. ragu-ragu. sehingga dia tumbuh menjadi penakut. menyimpulkan. punya alternative. Dalam bahasa Sunda ada pepatah “pok-pek-prak” yang berarti bahwa belajar mempunya indikator berkata-pok (bertanya-menjawab-diskusi. mengerjakan. da belajar dengan melakukan dan mengkomunikasikan besa mencapai 90%. dan melaksanakan-prak (mengaplikasikan. dan jaga komunikasi non verbal (eksprsi wajah. mengkomunikasikan. Dampak selanjutnya pada waktu bwersekolah. ingin tahu dengan pengaruh komunikasi negatif yang lebih dominant dari orang sekelilingnya. Agar bermakna. bertanya. mengatakan-komunikasi mencapai 70 %. ingin mencoba. m\udah menyerah. Berbeda dengan individu yang memiliki pribadi positif. Drai uraian di atas implikasi terhadap pembelajaran adalah bahwa kegiatan pembelajaran identik dengan aktivitas siswa secara optimal. dan sosok panutan). menghindar. Tokoh pendidikan nasional Ki Hajar Dewantoro (1908) mengemukakan tiga prinsip pembelajaran ing ngarso sung tulodo (jadi pemimpin-guru jadilah teladan bagi siswanya). yaitu optimis. ing madyo mangun karso (dalam pembelajaran membangun ide siswa dengan aktivitas sehingga kompetensi siswa terbentuk). katakana “saya …. ternyata lama kelamaan keyakinannya terguncang dan rasa percaya dirinya menurun. 5. menjawab. tidak cukuop dengan mendengar dan melihat. Makin lama ia makin dewasa. seperti pesimis. menduga. meng-identifikasi. pembelajaran adalah solusi tepat untuk pelaksanaan kurikulum 2006. mendengar dan melihat 50%. mengembangkan). Mengapa demikian? Karena cara berkomunikasi akan langsung berkenaan dengan akal dan rasa.” bukan katanya. dan . menggunakan. Kebermaknaan Belajar Dalam belajar apapun. keberanian. gerak tubuh. pribadinya berpola negative. presentasi. berkomentar. ada kebebasan memilih. dan mau memperbaiki diri. tut wuri handayani (jadilah fasilitator kegiatan siswa dalam mengembangkan life skill sehingga mereka menjadi pribadi mandiri). dikendalikan keadaan .keyakinan. menemukan). tepai harus dengan hands-on. Selanjutnya. menimpakan kesalahan. dari melihat 30%. Mencoba- pek (menyelidiki. belajar efektif (sesuai tujuan) semestinya bermakna. membiarkan. prasangka. dan cemas. pemalu. tumbuhkan citra positif. tentunya akan berhadapan dengan siswa yang berkepribadian negative seperti di atas dan tentunya tidak untuk dibiarkan karena profesi guru adalah amanat. minds-on. Vernon A Madnesen (1983) san Peter Sheal (1989) mengemukakan bahwa kebermaknaan belajar tergantung bagaimana cbelajar. belajar menjadi beban dan rasa ercaya dirinya berkurang. mengendalikan keadaan. dari mendengar 20%. memanfaatkan. Sebagai guru.presentasi). dan sibuk dengan alasan. nada suara. bersikap mengajak dan bukan memerintah. Bagaimanakh menghadapi siswa dengan pola pribadi seperti irtu? Caranya anatar lain dengan cara tidak memvonis. jangan sungkan untuk apologi jika kesalahan. dan bukan dengan kegiatan mengajar. Jika belajar hanya dngan membaca kebermaknaan bisa mencapai 10%. suka tantangan. diskusi). yang selanjutnya mempengaruhi poses pembelajaran. pembenaran. belajar tidak cukup dengan hanya mendengar dan melihat tetapi harus dengan melakukan aktivitas (membaca.

mengeksplorasi. Siswa tidak lagi menerima paket-paket konsep atau aturan yang telah dikemas oleh guru. berupaya terlaksana. seperti kemampuan sosialisasi. mengabaikan kesempatan. empati dan pengendalian diri. guru menyajikan persoalan dan mendorong (encourage) siswa untuk mengidentifikasi. menggeneralisasi. keterpaduan. Sehingga jenis komunikasi yang dilakukan antara guru- siswa tidak lagi bersifat transmisi sehingga menimbulkan imposisi (pembebanan). dan sintaks (SOP). mengerjakan). melainkan siswa sendiri ang mengemasnya.daily life (kontekstual). Prinsip Belajar Aktif Ada dua jenis belajar. menggunakan kesempatan untuk meraih manfaat.diskusi. presentasi. maka prinsip belajar yang harus diterapkan adalah siswa harus sebaga subjek. Hal inilah yang disebut dengan konstruksivisme dalam pembelajaran. aksionmatik). Hal ini bisa terlatih melalui kerja individual-kelompok. ikut partisipasi dan tidak menghindar dari aktivitas pembelajaran. Sedangakan belajar reaktif indikatornya adalah tidak dapat melihat adanya kesempatan belajart. siswa yang satu dengan siswa lainnya berbeda. jadi harus dihargai karena hal itu cirinya ia sedang belajar. karena pembelajaran adalah aktivitas siswa yang sifatnbya proaktif dan reaktif dalam membangun pengetahuan. melainkan lebih bersifat negosiasi sehingga tumbuh suasana fasilitasi. justifikasi. belajar dengan melakukan-mengkomunikasikan sehingga kecerdasan emosionalnya dapat berkembang. berhipotesis. Prinsip belajar yang dikemuakan leh Treffers (1991) adalah memiliki indikatro mechanistic (latihan. tindak lanjut. . sesuai dengan pengertian kegiatan pembelajaran di atas. sitematik. kontinuitas historical. simbolisasi. 7. tanya-jawab. dan memang pembelajaran pada hakikatnya adalah konstruksivisme. atau mungkin terjadi eksalahan. refeleksi-eksplanasi. yaitu: konsistensi internal. Belajar secara aktif indikatornya adalah belajar pada setiap situasi. tidak melalui pemberitahuan oleh guru. Konstruksivisme Dalam paradigma pembelajaran. Keslahan siswa merupakan bagian dari belajar. dan partisipatif dalam setiap kegiatan. menghindar dari kegiatan. structuralistic (terstrutur. berkonjektur. kekonvergenan. Confrey (1990) menyarankan konstruksivisme secara utuh (powerfull constructivism). sehingga terpuku rasa tanggung jawab dan disiplin diri. yaitu belajar secara aktif dan secara reaktif (pasif). Siswa membangun sendiri konsep atau struktur materi yang dipelajarinya. Dalam kondisi tersebut suasana menjadi kondusif (tut wuri handayani) sehingga dalam belajar siswa bisa mengkonstruksi pengetahuan dan opengalaman yang diperolehnya dengan pemaknaan yang lebih baik. 6. dan inkuiri dengan cara mereka sendiri untuk menyelesaikan persoalan yang disajikan. Agar konstruksicvisme dapat terlaksana secara optimal. di sinilah tugas guru memberikan bantuan dan arahan (scalfolding) sebagai fasilitator dan pembimbing. membiarkan segalanya terjadi. koherensi. Mungkin saja kemasannya tidak akurat. Dari indikator belajar aktif.

belajar berkelompok secara koperatif. Dengan memanfaatkan kenyatan itu. fasilitas-media yang tersedia. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif). Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusis sebagai makhluq sosial yang penuh ketergantungan dengan otrang lain. untuk dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kjondisi yang dihadapi. presentasi hasil kelompok. Koperatif (CL. konstruksivis-inkuiri. Oleh karena itu. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup bermasyarakat. motivasi belajar muncul. negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling). siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan. Model-model Pembelajaran Untuk membelajarkan siswa sesuai dengan cara-gaya belajar mereka sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan optimal ada berbagai model pembelajaran. Kontekstual (CTL. pembegian tugas. dan suasana menjadi kondusif . dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.empiristic (pngelaman induktif-deduktif). 1. modifikasinya diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian. pengalaman. Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksu konsep. penulis yakin kreativitas para guru sangat tinggi. mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama. sifat materi bahan ajar. 2. melakukan-mengkomunikasikan. dan kondisi guru itu sendiri. dalam memilih model pembelajaran yang tepat haruslah memperhatikan kondisi siswa.nyaman dan menyenangkan. siswa melakukan dan mengalami. dan pelaporan. karekter). gender. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip. kita (guru) harus ingat bahwa tidak ada model pembelajaran yang paling tepat untuk segala situasi dan kondisi. Cooperative Learning). dunia pikiran siswa menjadi konkret. terbuka. atau inkuiri. siawa heterogen (kemampuan. tidak hanya menonton dan . tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang. dan realistic-human activity (aktivitas kehidupan nyata). Dalam prakteknya. kontekstual-trealistik. ada control dan fasilitasi. dan inklusif life skill. pengarahan-strategi. kerja kelompok. dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing- masing. Prisip tersebut akan terwujud dengan melaksanakan pembelajaran dengan memperhatikan keterlibatan intelektual-emosional. tanggung jawab. Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran. dan rasa senasib. menyelesaikan persoalan. Pensip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa. tugas. Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi. membentuk kelompok heterogen. Contextual Teaching and Learning) Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah. sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan. D.

informal ke formal). inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep). yaitu matematika horizontal (tools. Ada tujuh indokator pembelajarn kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya. motivasi. pengarahan-petunjuk. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif. interpretasi. rangkuman. 3. Realistik (RME. learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual. 4. pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi. negosiasi. identifikasi. konjektur. mengkonstruksi konsep-aturan. yaitu modeling (pemusatan perhatian. untuk merangsang kemamuan berpikir tingkat tinggi. penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa. generalisasi. mengarahkan. dan . penyampaian kompetensi- tujuan. fakta. Prinsip RME adalah aktivitas (doing) konstruksivis. minds-on. elaborasi (analisis). refleksi. 5. mencoba. Model pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari kehidupan aktual siswa. aturan uantuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan. menemukan). inquiry (identifikasi. Realistic Mathematics Education) Realistic Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola guided reinventiondalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of mathematization. latihan terbimbing. Problem Based Learning) Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. rambu-rambu. authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran. dan pengembangan kemampuan sosialisasi. menuntun. suasana nyaman dan menyenangkan agar siswa dap[at berpikir optimal. dan bimbingan (dari guru dalam penemuan). tindak lanjut). proses dunia empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia rasio. prinsip. terbuka. investigasi. eksplorasi. inkuiri. interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial. sajian informasi dan prosedur. sharing). mengembangkan. contoh). hands-on. induksi. pengemabngan mateastika). penilaian portofolio. generalisasi. Sintaknya adalah menyiapkan siswa. realitas (kebermaknaan proses- aplikasi). demokratis. generalisasi). dan evaluasi. reflection (reviu. algoritma. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi). penilaian seobjektif-objektifnya darei berbagai aspek dengan berbagai cara). analisis-sintesis). Pembelajaran Langsung (DL. konsep. sintesis.mencatat. Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif. constructivism (membangun pemahaman sendiri. mengerjakan). questioning (eksplorasi. hipotesis. Direct Learning) Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada ketrampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL. investigasi. konjektur. latihan mandiri. evaluasi. membimbing.

Justru problem solving adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola. fluency). kreativitas. diagram. Sintaknya adlaha menyajikan masalah. Selanjutnya siswa memngkonstruksiu konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru. Denga demikian model pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentiuk pola piker. Problem Posing Bentuk lain dari problem posing adaslah problem posing. . Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide. keterbukaan. menduga. Siswa dituntuk unrtuk berimprovisasi mengembangkan metode. mengeksplorasi. siswa berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau atuiran yang disajikan. Open Ended) Pembelajaran dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab. yaitu pemecahan masalah dngan melalui elaborasi. table). identifikasi kekeliruan. komunikasi-interaksi. 8. bimbingan dan pengarahan. dan akhirnya menemukan solusi. perhatikan dan catat reson siswa. keterpasuan. atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban.atau algoritma). dengan demikian pengetahuan baru tidak diberitahukan. menimalisasi tulisan-hitungan. kaitakkan dengan materui selanjutnya. 9.menginvestigasi. belum dikenal cara penyelesaiannya. cari alternative. cara. Problem Terbuka (OE. Sintaknya adalah: sajiakn permasalah yang memenuhi criteria di atas. kognitif tinggi. 7. Probing-prompting Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian petanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan engetahuan sisap siswa dan engalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari. membuat kesimpulan. menyusun soal- pertanyaan. kembangkan peremasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa. pengorganisasian pembelajaran. dan sosialisasi. sharing. . jalan keluar. yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami.inkuiri 6. Problem Solving Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin. jawaban siswa beragam. Selanjtynya siswa juda diinta untuk menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. keterbukaan. siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri). Sintaknya adalah: pemahaman. Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar. dan ragam berpikir. kritis. aturan. siswa mengidentifkasi.

TGT (Teams Games Tournament) Penerapan model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen. menggambar. berkelompok mengerjakan LKSD-modul. mengemukakan penndepat. menyimak. dan aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda. membaca. SAVI Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan semua alat indar yang dimiliki siswa. sehingga suasana menjadi nyaman. membaca-merangkum. presentasi. aktivitas fisik) di mana belajar dengan mengalami dan melakukan. menemukan. 12. Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran resiprokal. ia telah berpartisipasi 10. dan memotivasi diri. mencipta. Ada canda. setiap kelompok bekerja sama dalam bentuk kerja individual dan diskusi.Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif. representasi. suara menyejukkan. Auditory yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan melaluui mendengarkan. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning) Ramsey (1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus. argumentasi. Kemungkinan akan terjadi sausana tegang. senyum. Reciprocal Learning Weinstein & Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan empat hal. pengarahan. mulai dari eksplorasi (deskripsi). kemudian eksplanasi (empiric). dan mennaggapi. menyenangkan. yaitu bagaimana siswa belajar. tugas tiap kelompok bisa sama bis aberbeda. bertanya. Jangan lupa. memecahkan masalah. hipotesis. setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. mengkonstruksi. dan tertawa. 11. menggunbakan media dan alat peraga. namun demikian bisa dibiasakan. berpikir. yaitu: informasi. merangkum. dan ceria. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan dari: Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands-on. Visualization yang bermakna belajar haruslah menggunakan indra mata melallui mengamati. 13. eksplnasi berarti menghenalkan konsep baru dan alternative pemecahan. Sedangkan Resnik (1999) mwengemukan bhawa belajar efektif dengan cara membaca bermakna. dan diakhiri dengan aplikasi (aduktif). Usahakan dinamikia . guru hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah. mengingat. Eksplorasi berarti menggali pengetahuan rasyarat. Untuk mewujudkan belajar efektif. siswa tidak bisa menghindar dari prses pembelajaran. menyelidiki. berbicara. dan menerapkan. mendemonstrasikan. nada lembut. SDetelah memperoleh tugas. bahwa jawaban siswa yang salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar. dan Intellectualy yang bermakna bahawa belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) nbelajar haruslah dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar. mengidentifikasi. Untuk mngurang kondisi tersebut.

c. lembut.kelompok kohesif dan kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok. pemantapan dengan cara siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis. Istilah tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI. Jika waktunya memungkinkan TGT bisa dilaksanakan dalam beberapa pertemuan. Siswa pada tiap meja tunamen sesua dengan skor yang dip[erolehnay diberikan sebutan (gelar) superior. sehingga diperoleh skor turnamen untuk tiap individu dan sekaligus skor kelompok asal. dengan somatic ekuivalen dengan kinesthetic. Siswa bisda nmngerjakan lebbih dari satu soal dan hasilnya diperik\sa dan dinilai. Selanjutnya adalah opelaksanaan turnamen. meja I diisi oleh siswa dengan level tertinggi dari tiap kelompok dan seterusnya sampai meja ke-X ditepati oleh siswa yang levelnya paling rendah. Repetition) Model pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK. bedanya hanyalah pada Repetisi yaitu pengulangan yang bermakna pendalama. pada turnamen kedua ( begitu juga untuk turnamen ketiga- keempat dst. VAK (Visualization. AIR (Auditory. Bumping. dengan perkataan lain manfaatkanlah potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih. d. santun. Buat kelompok siswa heterogen 4 orang kemudian berikan informasi pokok materi dan \mekanisme kegiatan b. mengembangkannya. Sintaknya adalah sebagai berikut: a. Setelah selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehuingga terjadi diskusi kelas. e. ramah . very good. dan ada sajian bodoran. missal 10 meja dan untuk tiap meja ditempati 4 siswa yang berkemampuan setara. . begitu pula untuk meja turnamen yang lainnya diisi oleh siswa dengan gelar yang sama. Penentuan tiap siswa yang duduk pada meja tertentu adalah hasil kesewpakatan kelompok. medium. Siapkan meja turnamen secukupnya. 15. Setelah selesai hitunglah skor untuk tiap kelompok asal dan skor individual. Kinestetic) Model pebelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan memperhatikan ketiga hal tersebut di atas. setiap siswa mengambil kartu soal yang telah disediakan pada tiap meja dan mengerjakannya untuk jangka waktu terttentu (misal 3 menit). good. siswa superior dalam kelompok meja turnamen yang sama. Intellectualy. suasana diskuisi nyaman dan menyenangkan sepeti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru bersikap terbuka. perluasan. atau dalam rangak mengisi waktu sesudah UAS menjelang pembagian raport. 14. dilakukan pergeseran tempat duduk pada meja turnamen sesuai dengan sebutan gelar tadi. Auditory.). berikan penghargaan kelompok dan individual.

berikan persoalan materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama sesuai dengan nomor siswa. buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama sehingga terjadi kerja sama dan diskusi. 18. saling tukar jawaban. TAI (Team Assisted Individualy) Terjemahan bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK) dengan karateristirk bahwa (Driver. kembali ke kelompok aasal. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa. buat kelompok heterogen. STAD (Student Teams Achievement Division) STAD adalah salah sati model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. Sintaksi BidaK menurut Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar berupak modul. Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi dari guru.16. Jigsaw Model p[embeajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks sepeerti berikut ini. iformasi bahan ajar. 17. diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara kolabratif. (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes formatif. refleksi. pelaksnaa tutorial pada kelompok asal oleh anggotan kelompok ahli. kuis individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok. 19. berikan bahan ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam kelompok. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan imposisi-intruksi. tuiap kelompok bahan belajar sama. Pengarahan. 20. (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai anggota kelompok secara individual. umumkan rekor tim dan individual dan berikan reward. saling berbagi sehingga terjadi diskusi. kuis . presentasi kelompok dengan nomnor siswa yang sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas. 1980) tanggung jawab vbelajar adalah pada siswa. berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs). tiap anggota kelompok bertugas membahasa bagian tertentu. presentasi kelompok (share). tiasp siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang sama) kemudian bekerja kelompok. penyimpulan dan evaluasi. umumkan hasil kuis dan beri reward. sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas. buat kelompok heterogen (4-5 orang). buat kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu. NHT (Numbered Head Together) NHT adalah salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan. TPS (Think Pairs Share) Model pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan materi klasikal.

hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi. Extending) Sintaknya adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep. diskusi.individual. kembali ke kelompok asal. MEA (Means-Ends Analysis) Model pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis heuristic. kuis individual. buat skor perkem\angan siswa. kerja kelompok. umumkan hasil kuis dan berikan reward. Refleting. TTW (Think Talk Write) Pembelajaran ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak. mengkritisi. banyak guru dan staf sekolah). identifikasi permasalahan dan fokus-pilih. dua siswa bertamu ke kelompok lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari kelompok lain. pengoalahn data penyajian data hasi investigasi. susun sub-sub masalah sehingga terjadli koneksivitas. melaporkan. kerja kelompok. CPS (Creative Problem Solving) Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sinatknya adalah: informasi. dan menggali. (R) memikirkan kembali. buat kelompok heterogen dengan orientasi tugas. 21. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan. diskusi. dan kemudian buat laopran hasil presentasi. Organizing. mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi. elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana. laporan kelompok. tiap kelompok menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas. TS-TS (Two Stay – Two Stray) Pembelajaran model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan kelompok lain. misal mengukur tinggi pohon. mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah. 22. umumkan hasil kuis dan berikan reward. jenis dagangan dan keuntungan di kantin sekolah. CORE (Connecting. presentasi dan diskusi. rencanakan pelaksanaan investigasi. mendalami. 26. presentasi. GI (Group Investigation) Model koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan. 25. (E) . buat skor perkembangan tiap siswa. Sintaknya adalah kerja kelompok. pilih strategi solusi 23. (0) organisasi ide untuk memahami materi. identifikasi perbedaan. 24. dan alternative solusi). presentasi. kelompok (membaca-mencatatat-menandai).

29. (2) reconstruction melakukan fasilitasi pengalaan belajar. memperluas. Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar. Question. 1 untuk amost guest. SQ4R (Survey. Sertakan ingatan dan hafalkan kata kunci serta koneksinya. Ambil pemaknaan (mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai). DLPS (Double Loop Problem Solving) DPLS adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah. 27. dan menemukan. (3) production melalui ekspresi-apresiasi konsep 30. Read dengan membaca teks dan cari jawabanya. Recite.mengembangkan. Read. analisi pengalaman. 4 untuk almost certain. 32. Question. Kerangka pikir untuk sukses. 2 untuk not sure. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer. SQ3R (Survey. dan Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh 28. Reflect. Review) SQ4R adalah pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect. 3 untuk sure. Read. Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (cartat-bahas bersama). Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan yang terkait dengan pengalaman. dan konsep-ide. jadi berkenaan dengan jawaban untuk pertanyaan mengapa. KUASAI Pembelajaran akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini. 31. CRI (Certainly of Response Index) CRI digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan pengetahuan yang telah dimilikinya. Ajukan pengujian pemahaman. Review) Pembelajaran ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa. dn 5 untuk certain. darimana) tentang bahan bacaan (materi bahan ajar). dan Introspeksi melalui refleksi diri tentang gaya belajar. yaitu aktivitas memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang relevan. MID (Meaningful Instructionnal Design) Model ini adalah pembnelajaran yang mengutyamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual kognitif- konstruktivis. Selanutnya menyelesaikan masalah . Recite. Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana. menggunakan. dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat- menandai kata kunci. yaitu dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama- cermat.

34. solusi tentative. siswa yang berhadapan berbagi informasi secara bersamaan. identifikasi kausal utama. dan implementasi solusi utama. separuhnya lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam. Strategi ini cocok untuk bahan ajar yang memerlukan pertukartan pengalaman dan pengetahuan antar siswa. pendahuluan. menemukan kata kunci. 37. Langkah penyelesdai maslah sebagai berikurt: menuliskan pernyataan masalah awal. mengidentifikasui kausal. Artikulasi Artikulasi adlah mode pembelajaran dengan sintaks: penyampaian konpetensi. sajian . DMR (Diskursus Multy Reprecentacy) DMR adalah pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan. siswa yang berhadapan berbagi pengalkaman dan pengetahuan. dan rencana solusi yang terpilih. Tari Bambu Model pembelajaran ini memberuikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Sintaksnya adalah: persiapan. dan kembali berbagai informasi. and Composition) Terjemahan bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif –kelompok. mengelompokkan gejala. deteksi kausal. pengemabangan. siswa bekerja sama (membaca bergantian. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang.tersebut dengan cara menghilangkan gap uyang menyebabkan munculnya masalah tersebut. Sintaksnya adalah: Separu dari sjumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar. menemukan pilihan solusi utama. Sintaknya adalah: identifkasi. refleksi. dan penutup. deteksi kausal lain. 35. imoplementasi solusi. penggunaan. CIRC (Cooperative. menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi. dan seterusnya 36. 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan dengan pasangan yang berbeda dengan ssingkat dan teratur. siswa yang berdiri di ujung salah satui jajaran pindah ke ujunug lainnya pada jajarannya. IOC (Inside Outside Circle) IOC adalah mode pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer Kagan. 33. penerapan. presentasi hasil kelompok. siswa yang berada di lingkran luar berputar keudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya. dan pemanfaatan berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya adalah: Sebagian siswa berdiri berjajar di depoan kelas atau di sela bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa opertama. guru memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar. Reading. analisis kausal. pertimbangan solusi. memberikan tanggapan) terhadap wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya. Integrated.

tanya jawab untuk pemantapan. sajian materi. bekerja kelompok. membentuk kelompok. sajian presentasi hasil bacaan oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya begitu setrusnya secara bergantian. presentasi hasil kelompok. 43. refleksi. Debate Debat adalah model pembalajaranb dengan sisntaks: siswa menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan. bimbingan penimpoulan dan refleksi. siswa yang punya nomor sama dengan nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya. siswa mebaca materi lengkap pada wacana. guru membimbing siswa untuk menyimpulkan. bentuk kelompok berpasangan sebangku. kesimpulan dan evaluasi. kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon. 40.materi. siswa atau kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak. Role Playing Sintak dari model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran. kelompok lain menjawab secara bergantian. menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari scenario tersebut. guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi. refleksi dan evaluasi 42. 41. . Student Facilitator and Explaining Langkah-langkahnya adalah: informasi kompetensi. penyampaian kompetensi. 38. sajian materi pokok. penyuimpulan. guru membacakan soal yang nomornya dipilih acak. siswa membaca materi bahan ajar untuk dicermati oleh masing-masing kelompok. presentasi di depan hasil diskusinya. siswa mengembangkannya dan menjelaskan lagi ke siswa lainnya. pemanggilan ketua dan diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok. 39. salah satu siswa menyampaikan materi yang baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian. sajian materi. guru mengambil tongkat dan memberikan tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari guru. menunjuk siswa untuk melakonkan scenario yang telah dipelajarinya. tongkat diberikan kepad siswa lain dan guru memberikan petanyaan lagi dan seterusnya. guru membimbing membuat kesimpulan dan menambahkannya biola perlu. Talking Stick Suintak p[embelajana ini adalah: guru menyiapkan tongkat. Course Review Horay Langkah-langkahnya: informasi kompetensi. tiap kelompok menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain. Snowball Throwing Sintaknya adalah: Informasi materi secara umum. pembentukan kelompok siswa.

Explicit Instruction Pembelajaran ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma- prosedural. langkah demi langkah bertahap.pemberian reward. penyimpulan dan evaluasi. setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya siswa yang benar mendapat nilai-reward. refleksi. refleksi. evaluasi dan refleksi. penyimpulan dan evaluasi. 50. refleksi. refleksi. 47. siswa berkelompok untuk menanggapi dan membuat berbagai alternatiu jawababn. bertukar peran. penyimpulan dan evaluasi. membimbing pelatihan-penerapan. Demostration Pembelajaran ini khusu untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen. siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk jawaban yang cocok. penyimpulan dan evaluasi. Pair Checks Siswa berkelompok berpasangan sebangku. 49. Mind Mapping Pembelajara ni sangat cocok untuk mereviu pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah: informasi kompetensi. pengecekan kebenaran jawaban. sajian permasalahan terbuka. 45. 46. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi. Scramble Sintaknya adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar. sajian gambaran umum materi bahan ajar. presentasi hasuil diskusi kelompok. membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok. menunjuk siswa atau kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya. setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha menjawabnya. Make-A Match Guru menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi jawabannya. membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu jawaban. untuk badak berikutnya pembelaarn seperti babak pertama. siswa membuat ksimpulan dari hasil setiap kelompok. refleksi. mengecek pemahaman dan balikan. dikusi kelas. Examples Non Examples . kartu dikumpul lagi dan dikocok. penyimpulan dan evaluasi. salah seorang menyajikan persoalan dan temannya mengerjakan. Langkahnya adalah: informasi kompetensi. 48. mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan procedural. 44. buat kartu jawaban dengan diacak nomornya. sajikan materi.

atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi. valuasi dan refleksi. siswa mempelajari wacana dan membuat rangkuman. balikan-perbnaikan-pengayaan-interaksi. evaluasi dan refleksi. LAPS ( Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya. siswa latian dan bertanya. Reviewing and reducing difficulty. evaluasi. Practicing. Enrichment. bertukar peran. evaluasi dan refleksi. dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian. ranguman. dan refleksi 56. Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep. 52. siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa khusus. presentasi hasil kelompok. Picture and Picture Sajian informasi kompetensi. penyimpulan.Persiapkan gambar. 51. diagram. tantangan dan restruturisasi sajiankonsep. LAPS-Heuristik Heuristik adalah rangkaian pertanyaan yang bertisfat tuntunan dalam rangaka solusi masalah. solusi. pengungkapan ide-konsep awal. apakah bermanfaat. penyimpulan. Improve Improve singkatan dari Introducing new concept. Circuit Learning Pembelajaran ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah dan mengulang. Complette Sentence Pembelajaran dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintakas: sisapkan . Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan focus. 54. adakah alternative. Metakognitive questioning. rencana. diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi. Obtaining mastery. bimbingan penyimpulan. perlihatkan gambar kegiatan berkaitan dengan materi. Cooperative Script Buat kelompok berpasangan sebangku. apakah solusinya. Verivication. guru menanamkan konsep sesuai materi bahan ajar. dan pengecekan. 53. sajikan gambar ditempel atau pakai OHP. aplikasi. 55. Tanya jawab dan refleksi 57. dan bagaimana sebaiknya mengerjakannya. bagikan wacana materi bahan ajar. Sintaks: pemahaman masalah. siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik. Generatif Basi gneratif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi. sajian hasil diskusi oleh salah seorang dan yang lain menanggapi. sajian materi. guru mengkonfirmasi urutan gambar tersebut.

guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar. penggunaan ide kreatif-konflik internal-skill. evaluasi dan refleksi 61. Sintaks: keterbukaan-urun ide-penguatan. setelah selesai kupon dikembalikan. virtual workshop menggunakan computer-internet. sampaikan kompetensi. 60. dan hipotesis. Take and Give Model pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks. yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi informasi. Superitem Pembelajaran ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat- bertahap dari simpel ke kompleks.dan nama yang diberi. 1998) untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan sosial agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. kelompok-kerjasama. Concept Sentence Proseduirnya adalah poenyampaian kompetensi. siapkan kartu dengan yang berisi nama siswa . guru membentuk kelompok. Langkahnya adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi. tiap siswa diberi kupon bahan pembicaraan (1 menit). berupa opemecahan masalah. LKS dibagikan berupa paragraph yang kaliatnya belum lengkap. reward. presentasi. Treffinger Pembelajaran kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. integrasi. siswa berkelompok melengkapi. informasikan kompetensi. . siswa ditugaskan membaca wacana. siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan bahan pada kupon. 58. 62. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori. berikan sal tes bentuk super item. koperatif- inkuiri-solusi-workshop. Sintaksnya adalah ilustrasikan konsep konkret dan gunakan analogi. berikan latihan soal bertingkat. pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu. proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara mandiri melalui pemanasan-minat- kuriositi-tanya. kebebasan-terbuka. 63.bahan belajar . presentasi. sajian materi. Hibrid Model hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa mengadopsi konsep. dan seterusnya dengan siswa lain secara bergantian. Time Token Model ini digunakan (Arebds. tia kelompok membeuat kalimat berdasarkankata kunci. 59. sajian materi. membentuk kelompok heterogen.blanko isian berupa aparagraf yang kalimatnya belum lengkap.

sebaliknya akan terasa membosankan jika segalanya monoton tak berubah. The Constructivist Classroom Education in Profile. Manusia telah dibekali akal dan rasa untuk berkreasi. dan model pembelajaran yang inovatif. melainkan memnjadi kesadaran dan kebutuhan. Sintaksnya adalah: sajian konsep. Rumus quantum fisika asdalah E = mc2. dengan E = energi yang diartikan sukses. dalam suasana perasaan yang nyaman dan menyenangkan. Quantum Memandang pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Begitu pulal dalam pembelajaran. agar segalanya berubah ke arah yang lebih baik dengan ikhtiar mulai dari diri sendiri. tiap siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai. m = massa yaitu potensi diri (akal-rasa-fisik-religi). tidak lagi takut dalam berpartisipasi. jika keliru langsung dikembalikan untuk diperbaiki dan diperiksa lagi. partisipatif. Kumon Pembelajarn dengan mengaitkan antar konsep. Oleh karena itu penciptaan suasana kondusif perlu dilakukan sehingga dalam belajar siswa tidak lagi merasa cemas. Emotional Spritual Quotient (ESQ). optimalkan komunikasi + dengan aktivitas optimal. Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak. 65. penciptaan suasan kondusif perlu dilakukan. dan saling menghargai. interaktif. namai-buat generalisasi sampai konsep. ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman. L (1993). Daftar Pustaka Ary Ginanjar Agustian (2002). Perth: Edith . demonstrasikan melalui presentasi- komunikasi. kerja individual. alami-dengan dunia realitas siswa. c = communication. ketrampilan. Salah satu cara untuk menciptakan suasan yang nyaman dan menyenangkan sert terhndar dari kevbiosanan adalah dengan memahami dan melaksanakan model belajar yang dilakukan siswa. Penutup Kehidupan akan terasa indah ap[abila ada variasi. Perubahan kea rah perbaikan adalah tuntutan alamiah yang menjadi kebutuhan setiap insane dalam setiap kehidupan. konsep harus dialami. menciptakan inovasi. latihan.64. E. dan menjaga suasana nyaman-menyenangkan. tidak lagi dirasakan sebagai kewajiban. komunikasi positif yang efektif. dinamis. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna. dan rayakan dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan. karena unsur rasa dalam berpikir selalu turut serta dan tak bisa dipisahkan. Burton. Semoga. Guru harus menciptakan suasana kondusif. semua mempunyai tujuan. lima kali salah guru membimbing. Jakarta: Arga. tiap usaha siswa diberi reward. kohesif.

Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Frame of Mind: The Theory of Multiple Ilntelligences. New York: Basic Bools. Daniel (1995). New York: Bantam Books. (2002). CTL). 3rd ed. Jakarta. dkk. Emotional Intelligence. What is Contextual Learning. Tony (1989). De Porter. WWI Publishing Texas: Waco. Gardner. . Howard (1985). Ditdik SLTP (2002). Bobbi (1992). Goleman. Use Both Sides of Yoru Brain. Quantum Learning..Ar. Bandung: JICA-FPMIPA.:Depdiknas. Erman. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning. New York: Dell Publishing. Cord (2001).Cowan University. Buzan. New York: Penguin Books. S.