Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

Allah memiliki 99 nama-nama yang baik dan indah yang disebut Asma al-

Husna (‫)اﺳﻤﺎءاﻟﺤﺴﻨﻲ‬. Asma al-husna ini banyak ditafsirkan oleh para ulama sejak

zaman dahulu. Meskipun para ulama itu berbeda pendapat tentang arti, makna,

serta penafsirannya, yang jelas kita tidak musyrik dalam mempergunakan dan

menyebut nama Allah. Firman Allah dalam surat al-A’rof (7) ayat 180:

tb÷rt“ôfã‹y™ 4 ¾ÏmÍ´¯»yJó™r& þ’Îû šcr߉Åsù=ムtûïÏ%©!$# (#râ‘sŒur ( $pkÍ5 çnqãã÷Š$$sù 4Óo_ó¡çtø:$# âä!$oÿôœF{$# ¬!ur

ÇÊÑÉÈ tbqè=yJ÷ètƒ (#qçR%x. $tB

“Hanya milik Allah asma al-husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan

menyebut asma ul-husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang

dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat

Balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.”

Asma al-Husna secara harfiah ialah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang

baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan

mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan

kehebatan milik Allah.

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 4


Nama-nama Allah yang baik itu hendaklah dipergunakan dengan penggunaan

yang wajar. Karena dibalik nama-nama Allah itu terkandung kebesaran Allah Swt.

Dalam kehidupan pun kita tidak boleh memisalkan Allah dengan sesuatu yang

lain. Firman Allah dalam surat al-Ikhlas (112) ayat 1-4:

¼ã&©! `ä3tƒ öNs9ur ÇÌÈ ô‰s9qムöNs9ur ô$Î#tƒ öNs9 ÇËÈ ß‰yJ¢Á9$# ª!$# ÇÊÈ î‰ymr& ª!$# uqèd ö@è%

ÇÍÈ 7‰ymr& #·qàÿà2


Katakanlah: "Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang

bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula

diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 5


BAB II

ASMA AL-HUSNA KE-31

AL-KHABIR (YANG MAHA MENGETAHUI)

A. Pengertian al-Khabir

Allah Swt mempunyai nama indah Al-Khabir. Kata al-Khabīr berasal dari

kata khabara (‫ )ﺧﺒﺮ‬yang dirangkai oleh khuruf kha (‫)خ‬, ba (‫)ب‬, dan ra (‫)ر‬.

Maknanya yaitu pengetahuan dan kelemahlembutan. Dari segi bahasa khabir

berarti “yang mengetahui” dan juga “tumbuhan yang lunak”.

Menurut Imam Al-Ghazali, al-Khabir adalah yang tidak tersembunyi bagi-

Nya hal-hal yang sangat dalam dan yang disembunyikan. Tidak terjadi sesuatu

pun dalam kerajaan-Nya yang di dunia maupun di alam raya kecuali diketahui-

Nya. Tidak bergerak satu zarrah (atom) atau diam, tidak bergejolak jiwa, tidak

juga tenang, kecuali ada beritanya di sisi-Nya.

Firman Allah surat Luqman (31) ayat 16:

’Îû ÷rr& ÏNºuq»yJ¡¡9$# ’Îû ÷rr& >ot•÷‚|¹ ’Îû `ä3tFsù 5AyŠö•yz ô`ÏiB 7p¬6ym tA$s)÷WÏB à7s? bÎ) !$pk¨XÎ) ¢Óo_ç6»tƒ

ÇÊÏÈ ×Ž•Î7yz ì#‹ÏÜs9 ©!$# ¨bÎ) 4 ª!$# $pkÍ5 ÏNù'tƒ ÇÚö‘F{$#


(Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)

seberat zarrah (atom), dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi,

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 6


niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah

Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Al-Khabir mempunyai perbedaan makna dengan al-Alim. Perbedaannya

adalah al-Alim mencakup pengetahuan Allah tentang sesuatu dari sisi-Nya,

sedangkan al-Khabir adalah Dia yang pengetahuannya menjangkau sesuatu yang

diketahui. Jadi penekannya bukan pada yang mengetahui, tetapi pada sesuatu yang

diketahui.

Dalam al-Qur’an terdapat lima puluh kata al-Khabir. Ada yang berdiri

sendiri, dan ada pula yang dirangkaikan dengan nama Allah yang lain. Kemudian

terdapat tiga ayat yang merangkaikan al-Khobir dengan al-Alim. Konteks

ketiganya adalah hal-hal yang mustahil, atau amat sulit diketahui manusia.

Pertama, tentang tempat kematian, dalam surat Luqman (31) ayat 34:

ÇÌÍÈ 7Ž•Î6yz íOŠÎ=tæ ©!$# ¨bÎ) 4 ßNqßJs? <Úö‘r& Äd“r'Î/ 6§øÿtR “Í‘ô‰s? $tBur…
“…dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Kedua, tentang kualitas kemuliaan taqwa sesorang, dalam surat al-Hujurat

(49) ayat 13:

ÇÊÌÈ ×Ž•Î7yz îLìÎ=tã ©!$# ¨bÎ) 4 öNä39s)ø?r& «!$# y‰YÏã ö/ä3tBt•ò2r& ¨bÎ)…
“… Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah

orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui

lagi Maha Mengenal.”

Ketiga, tentang sesuatu yang dipendam, dalam surat at-Tahrim (66) ayat 3:

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 7


t$¡•tã Ïmø‹n=tã ª!$# çnt•ygøßr&ur ¾ÏmÎ/ ôNr'¬7tR $£Jn=sù $ZVƒÏ‰tn ¾ÏmÅ_ºurø—r& ÇÙ÷èt/ 4’n<Î) •ÓÉ<¨Z9$# §Ž| r& øŒÎ)ur

u’ÎTr'¬7tR tA$s% ( #x‹»yd x8r't7/Rr& ô`tB ôMs9$s% ¾ÏmÎ/ $ydr'¬6tR $£Jn=sù ( <Ù÷èt/ .`tã uÚ{•ôãr&ur ¼çmŸÒ÷èt/

ÇÌÈ çŽ•Î6y‚ø9$# ÞOŠÎ=yèø9$#


“Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang

isterinya (Hafsah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafsah) menceritakan

Peristiwa itu (kepada Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (pembicaraan

Hafsah dan Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan

sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan Menyembunyikan sebagian

yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan

pembicaraan (antara Hafsah dan Aisyah) lalu (Hafsah) bertanya: "Siapakah yang

telah memberitahukan hal ini kepadamu?" Nabi menjawab: "Telah diberitahukan

kepadaku oleh Allah yang Maha mengetahui lagi Maha Mengenal."

B. Meneladani Asma Allah al-Khabir

Ada dua tindakan yang dapat dilakukan untuk meneladani asma Allah al-

Khabir ini:

1. Dalam Hubungan Dengan Makhluk Lain

Kita sadar bahwa pengetahuan kita sangat terbatas. Kita tidak

mengetahui isi hati dan kepala orang lain dan kita pun tidak banyak

mengetahui tentang maksud-maksud di balik penciptaan makhluk di sekitar

kita. Maka dari itu, aklak yang patut kita lakukan adalah berbaik sangka.

Selalu berbaik sangka kepada Allah dan kepada sesamanya.

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 8


Bila kita melihat orang yang cacat, seperti pincang, buta atau lumpuh,

janganlah mencela tetapi berbaik sangkalah. Karena kita tidah tahu apa

dibalik orang yang cacat itu. Boleh jadi, cacat itu hanya pada fisiknya,

sedangkan batinnya penuh kemuliaan dan kesempurnaan karena rido

menerima ketentuan Allah. Bila kita mencela, maka kitalah yang sebenarnya

cacat. Cacat hati karena tidak mampu melihat hikmah Allah, cacat adab

karena merendahkan makhluk Allah dan cacat akhlak karena baru bisa

mencela dan tidak mampu berbuat ataupun menolong.

2. Terhadap Diri Kita Sendiri

Jika kita ingin meneladani asma Allah al-Khabir, maka kenalilah jasad

ini dan hubungkan dengan kekuasaan Allah. Kemudian kenalilah kekurangan-

kekurangan kita dalam ilmu, sikap, dan perilaku dan hubungkanlah dengan

pengawasan Allah. Serta kenalilah tujuan hidup ini dan selaraskan dengan

keinginan Allah.

Bila kita perhatikan jasad ini, maka sadarlah kepada hakikat kita, dari

mana asal kita dan siapakah kita, berasal dari setetes air yang hina, kemana-

mana membawa kotoran dan jika sudah mati menjadi bangkai, itulah jasad

ini. Ketika kita tahu seperti itu, maka kita janganlah menyombongkan diri kita

di muka bumi.

Kita hendaklah bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan kepada

kita dengan taat beribadah kepada-Nya. Serta selalu berada di jalan Allah

agar mengetahui jalan menuju rido Allah Swt.

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 9


BAB III

PENUTUP

Banyak hal yang perlu kita ketahui tentang asma al-husna ini. Diantaranya

mengetahui asma Allah ke-31 yaitu al-Khabir yang telah dibahas dalam paragraf-

paragraf di atas.

Semoga dengan mengetahui pengertian dari asma-asma Allah ini, kita

semakin dekat kepada-Nya, serta dapat meneladani asma-asma-Nya ini dalam

kehidupan sehari-hari. Dan kita memohon doa kepada Allah, agar kita tetap di

jalan yang diridoi-Nya. Amin.

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 10


DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Asma%27ul_husna

http://skismadapare.wordpress.com/2008/12/10/distribusi-harta-shadaqah-di-

masa-khalifah-%e2%80%98umar/

Shihab, M. Quraish. 1999. Mengungkap Tabir Ilahi: Asma’ul Husna dalam

Perspektif Al-Qur’an. Jakarta: Lentera Hati.

Asma al-Husna Ke-31: al-Khabir (Yang Maha Mengetahui) 11