Anda di halaman 1dari 18

HUMANIORA

VOLUME 18 No. 3 Oktober 2006 Halaman 213 – 225

FENOMENA SEKS DALAM NOVEL


INDONESIA
MUTAKHIR KARYA PENGARANG
PEREMPUAN:
KAJIAN KRITIK SASTRA FEMINIS
Wiyatmi"

ABSTRACT

This research is aimed at describing and understanding ( I ) homo-


sexuality phenomena in the current Indonesian novels, (2) the relationship
between homosexuality phenomena with the existence of homosexual community
in Indonesia, and(3) the relationship between homosexuality phenomena with
feminist school. To achieve these aims, six novels are analyzed. They are ( I )
Larung by Ayu Utami, (2) Supernova by Dee (Dewi) Lestari, (3) Mahadewi
Mahadewi (4) Garis Tepi Seorang Lesbian by Herlinatien, (5) Tabularasa by Ratih
Kumala, and (6) Dadaisme by Dewi Sartika.
The result of the research shows that ( I ) homosexuality phenomena in the
current Indonesian novels are reflected in theme and character problems, (2)
these phenomena are related to the existence of homosexual community in
Indonesia, whose members already demand that their existence be recog- - nixed
in society, and (3) these phenomena are related to feminism, especially
radical feminism that influences the authors' creativity.

Key words: homosexual, Indonesia novels, existence, feminism

PENGANTAR menulis Supernova 1, 11 (2001), Nova


Riyanti Yusuf yang menulis Maha Dewa
Salah satu fenomena menarik Maha Dewi (2003), Jenar Mahesa Ayu
dalam khazanah sastra Indonesia yang menulis Mereka Bilang Saya Monyet
akhir-akhir ini adalah munculnya (2002) dan Jangan Main-main dengan
sejumlah pengarang perempuan yang Kelaminmu (2004), Eliza V. Handayani
pada umumnya merupakan yang menulis Area X: Himne Angkasa Raya
generasi muda. Karya-karya (2000), dan Helinatiens menulis Garis
mereka mendapat sambutan yang Tepi Seorang Lesbian (2003).
menggembirakan dari publik
pembaca. Beberapa dari pengarang Lahirnya sejumlah sastrawan
tersebut adalah Ayu Utami yang perempuan tampaknya bukan
menulis Saman (2001) dan Larung suatu kebetulan, tetapi memiliki
(2003), Dee (Dewi Lestari) yang hubungan yang takterpisahkan dengan
Humaniora, Vol. 18, No. 3 Oktober 2006: 213-225

transformasi sosiokultural Indonesia yakni dalam hal mengangkat dan


yang antara lain merupakan hasil menggambarkan tema yang
perjuangan para feminis dan berhubungan dengan seks dan
emansipatoris wanita. Para feminis cinta. Pada karya-karya sastra
dan pejuang emansipasi wanita sebelumnya, baik yang ditulis oleh
ingin mendudukkan eksistensi sastrawan pria maupun perempuan,
perempuan dalam kesetaraan gen- ketika menggambarkan pengalaman
der. Di samping itu, ada fenomena seks cenderung metaforis dan
menarik pada beberapa karya para tersamar, seperti tampak pada
pengarang perempuan tersebut,

* Staf Pengajar Jurusan Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia, Universitas


Negeri Yogyakarta
HUMANIORA
VOLUME 18 No. 3 Oktober 2006 Halaman 213 – 225

karya Ahmat Tohari yang berjudul Ronggeng juga terungkap bahwa pasien yang datang ke
Dukuh Paruk (1982) atau Bekisar Merah Klinik Pasutri tercatat sekitar 18% remaja
(2000), Umar Kayam yang berjudul Para pernah melakukan hubungan seksual pranikah.
Priyayi (1992), Pramudya Ananta Toer yang Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam
berjudul Gadis Pantai dan Bumi Manusia penelitian ini akan dilihat dan dipahami fenomena
(2000), N.H. Dhini yang berjudul Jalan seks apa sajakah yang digambatkan dalam karya
Bandungan dan Tirai Menurun (1989), Marga (novel) para sastrawan perempuan, bagaimana
T. yang berjudul Karmila (1984), dan Mira W. mereka menggambarkan masalah seks,
yang berjudul Jangan Renggut Matahariku hubungan fenomena seks dengan unsur fiksi,
(2000). relasi perempuan dengan laki-laki dalam
hubungan seks, dan aliran feminisme yang
Beberapa sastrawan perempuan generasi mendasari pandangan mereka. Selanjutnya,
Ayu Utami ternyata lebih bebas dan berani masalah dalam penelitian ini adalah (a) fenomena
dalam mengungkapkan pengalaman seks. seks seperti apakah yang digambarkan pada
Seperti disampaikan oleh R. Sugiarti, seorang novel-novel Indonesia mutakhir karya para
relawan pada UNICEF Indonesia dan peng- pengarang perempuan, (b) bagimanakah cara
amat perempuan, di Sinar Harapan (2002), menggambarkan fenomena seks pada novel-
munculnya karya-karya Ayu Utami dkk. karena novel Indonesia mutakhir karya para pengarang
mereka benar-benar berani melawan tabu yang perempuan, (c) unsur fiksi apa sajakah yang
selama ini menjadi magma terpendam pada menggambarkan fenomena seks pada novel-
masyarakat dengan konvensi-konvensi novel Indonesia mutakhir karya para pengarang
budaya. Karya-karya mereka yang berwarna perempuan, (d) bagaimanakah relasi tokoh
seks tersebut menarik justru karena melanggar perempuan dengan laki-laki dalam novel-novel
norma masyarakat tradisional sehingga melalui Indonesia mutakhir karya para pengarang
perlawanan terhadap tabu tersebut mereka perempuan, dan (e) aliran feminisme apakah
meretas fenomena yang tersamar terhadap yang mendasari pandangan para sastrawan
perempuan, terutama dalam hal seks. Kehadiran perempuan mengenai seks pada novel-novel
karya-karya mereka, bahkan, dapat dianggap karyanya?
sebagai oase bagi masyarakat yang "kepanas-
an" oleh etika timer, tetapi tak berani melawannya
secara frontal.

Secara sederhana, seks didefinisikan


sebagai (1) jenis kelamin dan (2) hal yang
Yang periu dipahanni lebih lanjut adalah berhubungan dengan alat kelamin, seperti
korelasi antara keberanian para sastrawan senggama (hubungan seks) (Alwi dkk.,
perempuan dalam mengangkat masalah dan 2001:1014). Di kalangan feminis, pada umumnya
pengalaman seks pada karya-karya sastranya dibedakan antara istilah seks, jender, dan
tersebut dengan tren budaya yang secara dil seksualitas walaupun pada dasamya pemaham-
hidup dalam masyarakat Indonesia, khususnya an seksualitas bisa mencakup keduanya: seks
yang berhubungan dengan kebebasan seks pra dan jender (Munti, 2000:2). Di samping itu, seks
(di luar) nikah di kalangan generasi muda. atau seksual juga dapat berarti ganda. Di
Menurut beberapa peneliti, misalnya Boyke samping mengacu perbedaan jenis kelamin,
Dian Nugroho (2001), seorang dokter spesialis seks dapat juga mengacu hubungan intim atau
kebidanan dan kandungan, dari tahun ke tahun erotis antara dua jenis kelamin yang berlainan.
data remaja yang melakukan hubungan seks Seksualitas juga mencakup seluruh komplek-
bebas semakin meningkat. Dad sekitar 5% sitas emosi, perasaan, kepnbadian, dan sikap
tahun 1980-an menjadi 20% pada tahun 2000. atau watak sosial yang berkaitan dengan perilaku
Kisaran angka tersebut dikumpulkan dari ber- dan orientasi atau preferensi seksual.
bagai penelitian di beberapa kota besar di Indo Sementara itu, jender lebih mengacu pada
nesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu, dan
Banjarmasin. Dad penelitian Boyke tahun 1099
HUMANIORA
VOLUME 18 No. 3 Oktober 2006 Halaman 213 – 225

konsep maskulin, feminin, atau androgini (ada Hampir sama dengan yang dikemukakan
unsur maskulin dan feminin) sebagai hasil dari Hoerip, setelah mengamati munculnya feno-
suatu proses sosialisasi yang merumuskan mena seks dalam sastra Indonesia sebelum
peran-peran dan karakteristik-karakteristik yang 1980-an, Mohamad (1980) menyimpulkan
beraneka ragam dan cara-cara yang dipertukar- adanya tiga pola sikap dari sastra Indonesia
terhadap persoalan seks dan cara peng-
kan (Munti, 2000:2). Secara khusus, seks dalam
gambaran seks. Pola pertama adalah karya-
konteks ini mengacu kepada bagaimana hal-hal karya yang berusaha mempersoalkan seks,
yang berhubungan dengan organ-organ (alat) tetapi tidak berani menggambarkannya. Kedua
kelamin dan aktivitas, serta pengalaman adalah karya-karya yang mempersoalkan seks
hubungan kelamin yang dideskripsikan dalam dan menggambarkannya dengan cara me-
karya sastra. neriakkannya dengan keras-keras dan ada
Munculnya fenomena seks dalam karya kecenderungan menggambarkan peristiwa
sastra, khususnya sastra Indonesia, sebenar- erotis secara "berlebihan". Ketiga adalah karya-
nya bukanlah hal yang baru. Hal ini karena karya yang mempersoalkan seks sebagai
fenomena seks merupakan hal yang tidak dapat bagian dari kehidupan manusia yang wajar dan
menggambarkannya secara wajar pula. Untuk
dilepaskan dari kehidupan manusia secara rill.
karya jenis ketiga ini, Mohamad mencontohkan
Karena sastra senantiasa bersumber dari cerpen-cerpen Umar Kayam dan puisi-puisi
kehidupan manusia nil, seks pun juga mewamai Sitor Situmorang.
cerita dalam karya-karya sastra.
Dalam hal kehadiran fenomena seks dalam
karya sastra, sejumlah kritikus sastra telah Karya sastra di samping merupakan salah
banyak membicarakan. Dengan mendasarkan satu jenis karya seni yang memiliki nilai estetis
pada karya-karya sastra pada masa 1960-an, (keindahan) untuk memberikan hiburan, juga
ketika ulasan/kritik dibuat, Hoerip (1969:249- mengandung nilai yang bermanfaat bagi
kehidupan manusia. Berkaitan dengan fungsi
271) mengemukakan adanya perbedaan
sastra bagi kehidupan manusia secara nyata,
antara karya (cerpen) sastra dan nonsastra bahkan dapat dikatakan bahwa semua karya seni
dalam menggambarkan seks dalam karya (sastra) lahir dari konsepsi ideologis tentang dunia
sastranya. Pada cerita nonsastra (maksudnya (Eagleton, 2002:20). Kesusastraan tidaklah
karya sastra yang bernilai rendah—pen.), berarti apa-apa tanpa ideologi dalam bentuk
adegan seks acap kali dilukiskan dengan artistiktertentu atau bahwa karya sastra sering-
mendetail, bahkan begitu mendetail sehingga-- kali hanyalah ekspresi ideologis pada masanya
terutama bagi pecinta sastra—sering terasa (Eagleton, 2002:21). Yang lebih ekstrim Iagi,
memuakkan. Sebaliknya, dalam cerpen sastra sastra bahkan seringkali hanyalah menjadi alat
akan dijumpai tiga ciri yang akan membuat untuk menyampaikan ideologi tertentu sehingga
memahami karya sastra pada hakikatnya adalah
pembaca yang berharap memperoleh sensasi
memahami ideologi yang terefleksi dalam
seksual selagi membacanya akan kecewa. karya sastra.
Ketiga ciri tersebut adalah (1) adegan seks
pada cerpen sastra tidak dilukiskan urut
sebagaimana dalam realitas, dari awal hingga Yang dimaksud ideologi dalam konteks ini
berakhir, sehingga pelukisan lazim berhenti mengacu himpunan dari nilai, ide, norms,
pada tahap pengantar, sedangkan proses kepercayaan, dan keyakinan yang dimiliki oleh
berikutnya pembaca diminta mengerti sendiri, seseorang atau sekelompok orang yang men-
(2) seks dilukiskan secara subtil, sugestif, ter- jadi dasar dalam menentukan sikap terhadap
selubung, atau bahkan simbolik, dan (3) seks kejadian atau problem yang mereka hadapi (Alwi
(tak selalu dalam adegan terjadinya) hanyalah dkk., 2001:417). Dalam konteks ini, pandangan
suplementer belaka dari sekian faktor yang
adayang dalam totalitas cerpen itu justru faktor
lain itulah yang terbukti akan lebih dominan.
Wiyalmi, Fanomena Saks dalam Novel Indonesia Mutakhir Karya Pengarang Perempuan

mengenai seks pada sejumlah novel karya para "Perempuan dan Seks dalam Cerpen-cerpen
pengarang perempuan Indonesia mutakhirakan Djenar Maesa Ayu (Mereka Bilang, Saya Mon
dipahami dalam hubungannya dengan yet!): Ekspresi Erotisme dalam Sastra" oleh
kemungkinan ideologi feminisme yang dianggap Wiyatmi (2004); (2) "Sastra Seksual dalam
mendasarinya. Perspektif Studi Budaya," karya Murniah (2005);
Feminisme merupakan sebuah ideologi (3) "Perempuan: Seks dan Teks Sastra yang
yang berangkat dari suatu kesadaran akan suatu Berbicara" karya Amirudin (2004); (4)
penindasan terhadap perempuan dan pemerasan "Ketika Perempuan Menulis" karya Budiman
terhadap perempuan dalam masyarakat, di (2005); dan (5) "Kiprah Perempuan Pengarang di
tempat kerja dan dalam masyarakat, serta Indonesia pascaSaman" karya Wahyudi
tindakan sadar oleh perempuan maupun laki-laki (2005).
untuk mengubah keadaan tersebut (Gnevey, via
Dzuhayatin, 1998:16). Waiaupun dalam per- Dari sebuah penelitian dan sejumlah esai
kembangan selanjutnya terdapat berbagai aliran yang membahas fenomena seks dalam sastra
feminisme, seperti feminisme liberal, feminisme karya sastrawan perempuan, tampak adanya
radikal, feminisme Marxis, dan feminisme sosialis dua kelompok, yaitu kelompok yang menyambut
yang masing-masing didasarkan pada teori dan balk (positif) dan kelompok yang menganggap
ideologi yang beragam, tetapi ada satu gagasan rendah (negatif) munculnya karya-karya tersebut.
besar yang menyamakan, yaitu mereka berang- Penelitian ini menggunakan metode yang
kat dari suatu kesadaran akan suatu penindasan bersifat deskripstif kualitatif. Dalam penelitian
dan pemerasan terhadap perempuan dalam ini, metode tersebut digunakan untuk meng-
masyarakat, di tempat kerja dan dalam masyara- gambarkan secara cermat pandangan para
kat, serta tindakan sadar oleh perempuan sastrawan perempuan dalam karya-karya
maupun laki-laki untuk mengubah keadaan sastranya mengenai masalah seks dan cinta,
tersebut (Bhasin dan Khan via Bainar, 1998:16). ideologi yang melatarbelakangi pandangan
tersebut, serta hubungannya dengan realitas
sosial historis yang secara riil hidup dalam
Kritik sastra feminis adalah salah satu masyarakat. Untuk mencapai tujuan penelitian,
kajian karya sastra yang mendasarkan pada
digunakan teknik analisis isi (content analysis).
pandangan feminisme yang menginginkan
Analisis isi adalah suatu teknik penelitian untuk
adanya keadilan dalam memandang eksistensi
perempuan, balk sebagai penulis maupun membuat inferensi-inferensi yang replicable
dalam karya sastra-karya sastranya. Gerakan (dapat ditiru) dan data yang sahih dengan mem-
feminisme berdampak sangat luas. Salah satu perhatikan konteksnya (Krippendroff, 1991:17).
dampaknya adalah munculnya kritik sastra
feminis. Dalam perkembangannya, ada bebe-
rapa ragam kritik sastra feminis, yaitu (1) kritik Subjek penelitian ini adalah novel-novel
sastra feminis ideologis, (2) kritik sastra feminis Indonesia mutakhir karya pengarang perempuan
ginokritik, (3) kritik sastra feminis Marxis, (4) yang terbit pada tahun 2000-an. Masa tersebut
kritik sastra feminis psikoanalitik, (5) kritik dipilih berhubungan dengan tahun terbitnya
sastra feminis lesbian (radikal), (6) kritik sastra novel Saman karya Ayu Utami yang dianggap
feminis ras/etnik (Djajanegara, 2000: 28-38). sebagai pelopor munculnya karya sastra yang
menggambarkan fenomena seks secara
berani. Berhubung pada masa tersebut cukup
Dari kajian pustaka yang telah dilakukan, banyak diterbitkan novel dengan berbagai
ditemukan sebuah penelitian dan sejumlah ragam tema penelitian ini hanya memfokuskan
artikel (esai) yang membahas persoalan seks pada novel-novel yang secara purposive
dalam karya-karya sastrawan perempuan. menggambarkan fenomena seks secara
Penelitian tersebut, misalnya, berjudul ''Perem- intens. Dari pengamatan terhadap novel-novel
puan & Sastra Seksual" karya Lukito (2003). tersebut diambil sepuluh buah novel sebagai
Beberapa esai yang membahas subjek penelitian, yaitu (1) Saman (Sm) dan
masalahtersebut, antara lain adalah (1)
Humaniora, Vol. 18, No. 3 Oktober 2006: 213-225

(2) Larung (L)karyaAyu Utami, (3) Supernova Rie, hubungan tersebut dipisahkan karena Rie
(Sn) karya Dee (Dewi) Lestari, (4) Jendela- dipaksa menikah dengan laki-laki pilihan
jendela (JJ) karya Fira Basuki, (5) Mahadewa keluarganya, Renne. Sejak perpisahan ter-
Mahadewi (MM) dan (6) lmipraime (Ip) karya sebut, keduanya tidak pernah dapat bertemu
Nova Riyanti Yusuf, (7) Garis Tepi Seorang sehingga menimbulkan penderitaan
Lesbian (GTSL) karya Herlinatien, (8) Wajah yang sangat dalam pada diri Paria.
Sebuah Vagina (WSV) karya Naning Pranoto, Penderitaan Paria pun semakin bertambah
berat ketika Paria pun oleh orang tuanya
9)Tabularasa (Tr) karya Ratih Kumala, dan dipaksa menikah dengan Mas Wiryo. Di
0)Dadaisme (D) karya Dewi Sartika. tengah frustasi dan kegalauannya antara
tetap mempertahankan diri sebagai seorang
PENGGAMBARAN lesbian ataukah harus mengikuti tuntutan
FENOMENA SEKS PADA keluarganya, Paria sempat berpura-pura
NOVEL-NOVEL INDONESIA menjalin hubungan cinta denga seorang laki-
MUTAKHIR KARYA laki, Mahendra. Pada akhirnya, Paria
PENGARANG PEREMPUAN meninggalkan Mahendra, yang hampir
Dari hasil penelitian, tampak bahwa feno- dinikahinya, setelah mendapatkan surat dari
mena seks yang digambarkan dalam novel Rie yang berada di Prancis dan telah meng-
Indonesia mutakhir karya sastrawan perempuan akhiri hubungannya dengan Renne.
secara berturut-turut didominasi oleh fenomena
homoseksual (31 dari 88 data), hubungan seks
Dalam GTSL hubungan homoseks antara
di luar nikah (28), perselingkuhan (20), hubungan
Paria dengan Rie, misalnya, tampak pada
seks dengan pelacur (5), hubungan suami istri
paparan berikut:
(3), dan inces (1).
Detik-setik menjadi sangat cepat.
Berikut secara berturut-turut dibahas fena- Menggapai sesuatu yang tergapai dalam saat.
mena tersebut. Fenomena homoseksual, secara Aku meracau. Pedih dalam damai.
intents, terdapat dalam enam buah judul novel, Pengingkaran cinta atas namanya. Tuhan
yaitu GTSL, Tr, D, MM, Sn, L. Dalam GTSL sekali ini maafkanlah aku
homoseksual, khususnya lesbian, menjadi Sampai aku mengenal Rie Shiva Ashvagosha,
tema dan problem sentral tokoh. Dalam novel saat
tersebut digambarkan bagaimana tokoh Tak tahu bagaimana prosesnya, tiba-tiba
Asmora Paria yang memiliki hubungan lesbi aku sudah tenang berada dalam dekapan
dengan Rie Shiva Ashvagosha. Oleh keluarga dadanya. Merasakan getaran hebat. Pertama
kali sepanjang hidupku

label 1. Penggambaran Fenomena Seks pada Novel-novel Indonesia Mutakhir Karya Pengarang Perempuan

Frekuensi Persentasi
No. Fenomena Seks Judul Novel (%)
Data
1 Hubungan seks suami istri secara D, Ip 3 2,64
. sah (hukum formal)
2 Hubungan seks di luar nikah Tr, MM, rp, Sm , L 28 24,64
.
3. Hubungan seks dengan sesama GTSL, Tr, D, Tr, MM, 31 27,28
jenis (homoseksual: lesbian dan Sn,
gay)
4 Hubungan seks dengan pelacur Sn 5 4.40
5 Perselingkuhan JJ, D, Sm, L 20 17,60
6. Hubungan seks dengan saudara D 1 0,88
. kandung (inses)
Jumlah 88 100
Wiyalmi, Fanomena Saks dalam Novel Indonesia Mutakhir Karya Pengarang Perempuan

Tanpa berkata apa-apa aku sangatpercaya maupun gay. Walaupun MM, D, dan Sn juga
akan cintanya. Entah bagaimana, tapi ada menggambarkan hubungan homoseksual
semacam pohon, pohon yang menarikku untuk (gay), keberadaannya tidak ideologis, apalagi
lebih erat memeluk tubuh yang menimbulkan kedua novel tersebut dapat dikatakan lebih
andrenalinku orgasme. (GTSL, hal. 91- banyak menggambarkan hubungan seks
92). heteroseksual.

Pada kutipan tersebut tampak bagaimana Digambarkannya hubungan homoseksual


kedua orang perempuan (Paria dan Rie) merasa- yang terdapat dalam GTSL, Tr, dan L dapat
kan kenikmatan hubungan seks sesama jenis. dianggap merefleksikan pandangan feminisme
Setelah pengalaman pertama tersebut, berlanjut radikal. Feminisme radikal rnendasarkan pada
suatu tesis bahwa penindasan terhadap
dengan hubungan selanjutnya. Meskipun tidak
perempuan berakar pada ideologi patriarki
menjadi tema sentral seperti dalam GTSL, sebagai tata nilai dan otoritas utama yang
hubungan homoseks antara Raras dengan Vio- mengatur hubungan laki-laki dan perempuan
let dalam novel Trmenyebabkan hubungan cinta secara umum, yang menjadi akar penindasan
heteroseks antara Galih dengan Raras berakhir perempuan. Perhatian utama aliran ini adalah
karena Raras memendam hasrat cinta dengan kampanye menentang "kekerasan seksual"
Vi, teman perempuannya. Keputusan Raras eksploitasi perempuan secara seksual dari
untuk meninggalkan Galih yang telah menjadi dalam pornografi. Di samping itu, aliran ini juga
kekasih dan menghamilinya juga diperkuat oleh menganjurkan gays hidup lesbian karena
keberanian sahabat Raras, seorang gay yang dengan cara ini perempuan dapat terlepas dari
penindasan kaumlaki-laki (Dzuhayatin, 1998:
memutuskan menikahi pasangan gaynya (Tr,
16-17).
h.80) .
Dalam L, adegan seks antara kedua orang
perempuan dilakukan oleh tokoh Shakuntala
dengan Laila (hal. 132 dan 152-153). Dalam
Keberadaan kaum homoseksual di Indo-
novel tersebut, Laila yang sangat mencintai
nesia tidak dapat dilepaskan dengan adanya
Sihar mengalami frustasi karena rencana organisasi (paguyuban) yang menghimpun
kencan dengan Sihar yang sudah ditunggu- kaum lesbian dan gay di Indonesia. Seperti
tunggu dan dipersiapkan dengan penuh gairah diuraikan oleh Oetomo (2003:46), salah
gaga! dilaksanakan karena ternyata Sihar seorang pendiri paguyuban gay Indonesia
datang ke Amerika dengan dilkuti istrinya. pertama, Lambda Indonesia (LI) dan sekarang
Hubungan homoseksual dalam D dilakukan menjadi anggota Dewan Pembina Yayasan
antara tokoh Jing dengan Ken. Dalam hal ini, Gaya Nusantara, paguyuban gay pertama kali
sebelum mengenal Jing, Ken sedang menunggu didirikan 1 Maret 1982 dengan nama Lambda
Indonesia (LI) dengan buletinnya G: Gaya
hail pernikahannya dengan kekasihnya (D, hal.
Hidup Ceria, yang terbit hingga akhir 1984.
205, 207. Hubungan homoseksual dalam MM,
Selanjutnya, awal tahun 1985 di Yogyakarta
dilakukan antara tokoh Gangga dengan muncul Persaudaraan Gay Yogyakarta (PGY),
Prasetyo (MM, hal. 60). Dalam Sn diceritakan yang memiliki buletin Jaka, yang khusus untuk
sepasang laki-laki homo, Dhimas dan Ruben, laki-laki. Pada tahun 1988, persaudaraan itu
sedang terlibat dalam proyek bersama menulis bubar dan memperluas ruang lingkupnya
sebuah novel (Sn, hal. 2,8). secara nasional dengan nama Indonesian Gay
Dari enam buah novel yang menggambar- Society (GS). Pada November 1987 muncul
kan hubungan homoseksual, tiga buah memiliki Kelompok Kerja Lesbian dan Gay Nusantara
kecenderungan memandang homoseksual (KKLGN) yang menerbitkan buku Gaya
sebagai hal yang penting untuk diakui Nusantara. Sebagai organisasi dengan anggota
komunitas tertentu, eksistensi mereka didukung
eksistensinya, GTSL, Tr, dan L. GTSL dan L
dapat dikatakan mendukung gagasan lesbian-
isme, sementara Tr menclukung lesbianisme
Humaniora, Vol. 18, No. 3 Oktober 2006: 213-225

oleh keterlibatan kaum gay dan lesbian dalam Dalam JJ perselingkuhan terjadi antara June
mengikuti dan menyelenggarakan konferensi dan dengan Dean, sahabat suaminya, juga June
konggres gay dan lesbian dalam lingkup nasional dengan Dani, teman kerjanya. Dalam D,
maupun transnasional, seperti Konferensi Re- perselingkuhan terjadi antara Tresna dengan
gionalAsia ILGA II di Tokyo 19-20 November 1988, mantan pacarnya, juga antara Isabela dengan
Konggres Lesbian dan Gay Indonesia (KLGI) I mantan pacarnya (Asril), sementara dalam Sm
(1983), LGI II (1985), KLGI III (1997) (Oetomo, dan L, perselingkuhan terjadi antara Sihar
2003:283). Di samping itu, terbitnya buku dengan Laila, juga Yasmin dengan Saman.
Member/ Suara pada yang Bisu (2001 dan Dalam JJ June berselingkuh dengan Dean
mengalami cetak ulang 2003) karya Dede dan Dani karena suaminya, Jigme terlalu sibuk
Oetomo yang memuat sejumlah artikel dan bekerja, sehingga June kesepian. Pada saat
hasil kajiannya tentang kehidupan homoseksual seperti itu June sering bertemu dengan Dean.
menunjukkan fenomena dan eksistensi kaum Sementara hubungan dengan Dani terjadi
homoseksual Indonesia yang tidak dapat ketika keduanya sedang meliput acara di Bali.
dipandang dengan sebelah mata. Lingkungan Bali yang bernuansa seks bebas
Hubungan seks antartokoh di luar nikah mendorong keduanya untuk berselingkuh.
dalam novel yang dikaji menduduki urutan Perselingkuhan yang dilakukan oleh Tresna
kedua. Ada lima judul novel yang menggambar- dan Isabela dalam D dapat dikatakan untuk
kan hubungan seks tokoh di luar pernikahan, mengritik hubungan perkawinan yang tidak
yaitu Tr MM, IP, Sm, dan L. Tokoh-tokoh utama dilandasi cinta. Isabela yang sudah memiliki
dalam kelima novel tersebut merupakan para kekasihAsril oleh orang tuanya dipaksa menikah
lajang. Walaupun mereka berstatus lajang, dengan Rendi, sementara Tresna yang merupa-
tetapi sebagian besar dari mereka telah kan istri kedua Asril tidak dapat memiliki anak
melakukan hubungan seks dengan lawan jenis. dengan suaminya sehingga kembalilah menjalin
Aktivitas seks bebas, terutama yang terjadi hubungan dengan mantan kekasihnya.
di kota-kota besar seperti Jakarta pada saat Perselingkuhan antara Sihar dengan Laila
ini dapat dikatakan cukup memprihatinkan. dan Yasmin dengan Saman dapat dikatakan
Seperti pernah dikemukakan oleh Emka (2004) untuk menunjukkan rentannya hubungan per-
dalam bukunya Jakarta Undercover Sex'n the kawinan. Siharyang sudah menikah, tetapi belum
City, kehidupan malam di kota metropolitan memiliki anak, dengan mudah dapat jatuh cinta
Jakarta diwamai dengan aneka wama kesenangan kembali pada seorang perempuan yang men-
hidup yang dapat ditemukan di sejumlah cintainya. Sementara hubungan antara Yasmin,
tempat hiburan yang berhubungan dengan seorang pengacara yang sudah bersuami,
kegiatan seks bebas. Di Jakarta, seperti dengan Saman, yang waktu itu masih seorang
dikemukakan Emka (2004), dapat ditemukan pastor muda, dalam kasus tersebut dapat dipa-
sejumlah klub, kafe, salon, dan komunitas yang hami sebagai "kekurangajaran pengarang" untuk
memiliki aktivitas di seputar sex-industry.' mengritik institusi kepastoran yang menganut
hidup selibat.
Perselingkuhan adalah hubungan yang Kasus perselingkuhan yang digambarkan
terjadi ketika salah satu atau kedua-duanya dari
dalam novel dan realitas yang banyak terjadi
pasangan selingkuh tersebut telah terikat hubungan
pernikahan dengan orang lain. Hubungan dalam masyarakat tidak dapat dipisahkan
tersebut dikatakan sebagai perselingkuhan dengan kasus sebelumnya. Seks bebas (di
karena pada umumnya pasangan luar pernikahan) yang sama-sama memper-
resminya tidak menetahui hal tersebut. Dalam tanyakan kembali lembaga perkawinan sering
novel yang diteliti, hubungan perselingkuhan kali tidak dapat dinikmati oleh mereka yang
digambarkan dalam empat buah novel yaitu terikat dalam lembaga tersebut.
JJ, D, Sm, dan L.
Wiyalmi, Fanomena Saks dalam Novel Indonesia Mutakhir Karya Pengarang Perempuan

Dalam Sn digambarkan seorang tokoh CARA PENGGAMBARAN


pelacur, Diva. Di samping menjadi pelacur FENOMENA SEKS
dengan pelanggan orang-orang kaya dan Seperti yang tampak pada tabel 2, feno-
berpendidikan, Diva juga seorang peragawati mena seks dalam novel Indonesia mutakhir
dan konsultan psikologi di sebuah situs internet. yang ditulis oleh para sastrawan perempuan
Dalam Sn digambarkan hubungan seks antara sebagian besar (51 dari 88 butir data) digambar-
Diva dengan seorang pengusaha, Nanda dan kan melalui rangkaian kaiimat yang bersifat
seorang guru besar, Margo. konotatif yang disampaikan nnelalui metafora
Dari perspektif fern inisme, meskipun (28), sinekdoks, pars pro foto (13), simile (9),
seorang pelacur, Diva memunjukkan otoritas dan metonimia (1).
dan eksistensinya sebagai perempuan, Contoh penggunaan metafora, misalnya,
Meskipun Nanda dan Margo membayar untuk tampak pada kutipan berikut.
dapat berkencan dengan Diva, keduanya tidak
dapat mempertakukan Diva sebagai objek Kukurung mereka berdua di bungalowku di
Pekanbaru sefama dua ma'am. Dan ternyata,
seks. Keduanya, malah menunjukkan kelemah-
kejadian. Mereka bercinta. Hahaha. Lebih
annya. Nanda merasa bersalah, sementara gampang daripada mengawinkan anjing ras.
Margo impoten (Sn, hal. 47, 49). Malah, Yasmin meninggalkan cupang-cupang
Berkebalikan dengan hubungan seks di di haler fekaki itu. Hohoho. Sekarang
luar nikah dan perselingkuhan yang cukup kedudukan kita seri, Yasmin. au nggak iebih
dominan pada novel yang diteliti, hubungan suci daripada gue. (L, hal. 87)
seks antarsuarni istri tidak banyak digambar-
kan. Hanya dua buah novel yang menggambar- Penggunaan metafora dalam L, yang
kannya, D dan Ip. Dalam D dan Ip digambarkan menyamakan Yasmin dan Saman sebagai
hewan (pada ungkapan kukurung mereka),
hubungan seks antara Isabela dengan suaminya,
Rendi, sementara dalam Ip antara Gradina menunjukkan bahwa keduanya berada dalam
dengan suaminya Fadillah. kekuasaan orang lain, dalam hal ini Cok.
Penyamaan dengan hewan juga tepat karena
Hubungan inces digambarkan dalam novel keduanya ternyata tidak mampu menghindari
D, terjadi antara Aleda dengan kakaknya, dorongan nafsu seksnya sehingga terjadilah
Magnos. Hubungan tersebut melahirkan anak hubungan seks yang bagi Yasmin berarti
laki-laki yang bemama Jing. Dalam masa perselingkuhan, sementara bagi Saman berarti
dewasanya, Jing berniat membunuh ibunya pelanggaran atas janjinya untuk hidup selibat.
(balas dendam) dan menjadi seorang homo- sementara itu, penggunaan metafora dalam
seks. GTSL, Ranjang tempat kita bersenyawa menjadi

Tabe12. Cara Penggambaran Fenomena Seks


Frekuensi Persentasi
No. Cara Varian Judul Novel
Data (%)
1. Langsung MM, Sn, JJ, D, 1p, Sm, 37 30,80
(denotatif) L
2. Metafora MM, Sn, JJ, D, WSV, Tr, 28 24,64
Sm, GTS, ip, L
Tak Sinekdoks 13 11,44
(pars pro MM, D, Tr, SM, GTSL,IP
toto)
Simile MM, WSV SM GTSL, 9 7,92
Metonimia IP 1 0,88
Jumlah 88 100
Humaniora, Vol. 18, No. 3 Oktober 2006: 213-225

dingin, Langan-Langan halusmu lama sudah tak melekatpada unsur tokoh (90,42%), yaitu dalam
menyentuhnya. Dan aku beku di dalamnya bentuk perilaku tokoh (39%), pikiran tokoh
menunjukkan kosong (hampa)nya perasaan (26%), monolog tokoh (14%), hasrat seks tokoh yang
tokoh Paria setelah ditinggalkan pasanganiesbi disampaikan melalui e-mail (5,28%), serta
yang dicintainya. Penggambaran fenomena seks kenangan tokoh (4,40%). Di samping itu,
secara tidak langsung tersebut berfungsi sebagian kecil disampaikan oleh narator
memperhalus ungkapan sehingga tidak ter- (9,68%). Dan temuan tersebut tampak bahwa
kesan vulgar. Pemahaman pembaca bahwa fenomena seks merupakan hal yang dialami
yang diungkapkan adalah fenomena seks dan dirasakan oleh para tokoh dalam novel yang
didukung oleh imajinasi yang ditimbulkan dari dikaji.
ungkapan tersebut.
Lima buah novel yang menggarnbarkan
Di samping pengungkapan melalui cara fenomena seks dalam hubungannya dengan
konotatif, dalam karya yang dikaji juga ditemu- perilaku tokoh adalah MM, JJ, WSV, Tr, Sm.
kan pengungkapan secara langsung (deno- Dalam MM, tokoh yang terlibat hubungan seks
tatif). Penggambaran fenomena seks secara antara lain Yukako dengan Reno, Leo, dan
denotatif ditemukan dalam tujuh buah novel, Dayat dalam hubungan heteroseksual, serta
yaitu MM, Sn, JJ, D, ip, Sm, dan L Cara seperti
Gangga dan Prasetyo dalam hubungan homo-
itulah yang kemudian menimbulkan penilaian seksual. Dari beberapa buah data yang ter-
negatif dan kemarahan pembaca terhadap
ungkap, digambarkan bagaimana Yukako
karya-karya tersebut. Contoh data tersebut adalah seorang perempuan lajang yang selalu
antara lain adalah
dapat menikmati hubungan seksnya dengan
laki-laki. Temuan tersebut menunjukkan bahwa
Reno menatap kedua mata Kako clan melumat- fenomena seks dalam novel-novel yang dikaji
nya dalam pandangan yang berbinar-binar, merupakan bagian yang tak terpisahkan dari
seperti anak laki-laki puber yang kagum ketika
unsur fiksi.Artinya, masalah tersebut merupakan
melihat gambar-gambar wanita telanjang untuk
pertama kalinya.
unsur yang membangun struktur novel, bukan
sekedar tempelan. Dalam hal ini fenomena
"Setiap mukosa di tubuh saya sudah pernah seks merupakan masalah yang dihadapi,
disentuh „, oleh jari-jari bibir Iidah dan
gigitan kecil ,..."
dialami, dan dirasakan Glen tokoh-tokoh dalam
Semua itu sesuai kemauan kamu ,..?"
novel-novel tersebut. Dan perspektif kritik sastra
"Tidak semua sesuai kemauan saya." feminis, khususnya feminisme psikoanalitik
(MM, hal. 33) gambaran tersebut menunjukkan tokoh-tokoh
perempuan dalam novel yang mengalami
Walaupun cara penggambaran fenomena berbagai pengalaman dan masalah seksualitas
seks secara denotatif lebih sedikitdari pada cara dapat dianggap sebagai cermin pandangan
konotatif, tampak mencolok karena kekasaran- penciptanya (sastrawan perempuan) dalam
nya. Akibatnya, tanggapan, bahkan hujatan dari memandang masalah seksualitas. Dalam
masyarakat pembaca terhadap karya-karya memandang masalah seksualitas, perempuan
tersebut cukup banyak, seperti sudah dipapar- diharapkan juga dapat menikmati dirinya
kan pada iatar belakang masalah dan penelitian sebagai subjek, sejajar dengan posisi laki-laki.
yang relevan.

PENGGAMBARAN UNSUR
FIKSI FENOMENA SEKS PADA RELASI TOKOH PEREMPUAN
DENGAN LAKI-LAKI DALAM
NOVEL-NOVEL INDONESIA NOVEL-NOVEL INDONESIA
MUTAKHIR KARYA MUTAKHIR KARYA
PENGARANG PEREMPUAN PENGARANG PEREMPUAN
Dan hasil penelitian, seperti
Fenomena seks pada novel-novel yang
dikaji sebagian besar hadir secara ditampilkan dalam tabel 4, tampak
Wiyalmi, Fanomena Saks dalam Novel Indonesia Mutakhir Karya Pengarang Perempuan

bahwa sebagian besar


HUMANIORA
VOLUME 18 No. 3 Oktober 2006 Halaman 213 – 225

Tabel 3. Penggambaran Unsur Fiksi Fenornena Saks pada Novel-novel Indonesia


Mutakhir Karya Pengarang Perempuan
Unsur Frekuensi Persentasi
No. Varian Judul Novel
Fiksi Data
1. Tokoh Perilaku tokoh MM, JJ, WSV, Tr, Sm 45 39,60
Monolog tokoh GTSL 16 14,08
Pikiran tokoh Sm 3 26,40
Hasrat seks tokoh 5,28
yang disampaikan Sm, L 6
lewat e-mail
Kenangan tokoh Sm, GTSL 5 4,40
2. Deskripsi D 11 9,68
narator
Jumlah 88 100

(39%) data menunjukkan adanya relasi tokoh menginginkan hubungan gay (8%) pada novel
perempuan dengan laki-laki yang sejajar. Hal Tr, 0, dan Sn.
itu ditemukan dalam empat buah novel, yaitu
MM, JJ, 1p, dan Sn, Sementara itu, data Dan perspektif kritik sastra feminis, posisi
yang menunjukkan posisi perempuan yang sejajar antara perempuan dan laki-laki
mendominasi laki-laki sebanyak 10% pada dalam sektor publik dan domestik sesuai
novel Sm dan L, dan perempuan didominasi dengan pandangan feminisme liberal. Tokoh-
laki-laki 6% pada novel WSV. Di samping itu, tokoh perempuan seperti Yukako dan June
jugs ditemukan tokoh perempuan yang digambarkan sebagai sosok perempuan yang
menolak hubungan heteroseksual dan memiliki karier di sektor publik. Yukako seorang
menginginkan hubungan lesbianisme (16%) calon dokter spesialis kejiwaan, sementara
pada novel GTSL dan L dan laki-laki yang June seorang reporter dan penyiar radio di
menolak heteroseksual dengan Singapura. Sementara Gardina, walaupun

Tabel 4. Relasi Tokoh Perempuan dengan Laki-laki dalam Novel-novel Indonesia


Mutakhir Karya Para Pengarang Perempuan

Relasi Tokoh Frekuensi


No. Perempuan dengan Varian Judul Persentasi
Laki-laki Novel Data CA)
Laki-laki SM, L 10 8,80
1. Perempuan mendominasi menjadi objek
laki-laki seks perempuan
0. Perempuan didominasi Perempuan WSV 6 5,20
laki-laki menjadi objek dan
korban kekerasan
laki-laki
1. Sejajar Perempuan dan MM, JJ, 45 39,60
mempunyai 1p, Sn
hak dan
kedudukan
yang sama
2. Menolak Hubungan Lesbian GTSL, L 16 14,08
Heteroseksual
Gay Tr, D, Sn 8 7,04
Jumlah 88 100
Wiyatrni, Fenomena Seks dalam Novel Indonesia Mutakhir ;Lao/a Pengarang Perempuan

sebagai perempuan simpanan karyanya dilandasi oleh


pejabat, digambarkan memiliki pandanganfeminisme radikal
kecerdasan dan kewibawaan di (51%) yang tampak pada novel Sm,
hadapan laki-laki yang dilayaninya. L, Tr, GTSL, WSV dan feminisrne liberal
Dernikian pula Diva, meskipun pada novel MM, Ip, JJ, Sn, dan D.
memiliki profesi sebagai seorang Sesuai dengan ciri feminisme
pelacur dan peragawati, is memiliki radikal yang melakukan perlawanan
kecerdasan dan eksistensi di terhadap patriarki, kampanye
hadapan para laki-laki yang menentang kekerasan seksual,
membayarnya. Relasi yang serta mendukung lesbianisme,
sejajar antara perempuan dengan Sm, L, Tr, GTSL, dan WSV memiliki
laki-laki dalarn sejumlah novel ciri-ciri tersebut. Perlawanan
tersebut menunjukkan bahwa terhadap patriarki, misalnya
dalam kehidupan sosial laki-laki dan sangat jelas pada Sm dan L,
perempuan saling melengkapi seperti tampak pada kutipan
dan dapat bekerja sama. berikut.
Sementara itu, posisi
Barangkali saya memang menentang kejantan-
perempuan yang dominan dari annya, dan itu berarti membuktikan bahwa is
pada laki-laki dalam Sm dan L bisa ditaklukkan (atau ditegakkan, menurut
menunjukkan kecenderungan istilah salah seorang Leman, Cok (Sm, hal. 27).
pandangan feminisme radikal yang Saman,
menolak dominasi lakilaki dengan Tahukah kamu, malam itu yang aku inginkan
adalah menjamah tubuhrnu, dan menikmati
cara melawannya dan berusaha wajahmu ketika ejakulasi. Aku ingin datang ke
mendominasi laki-laki, seperti sana. Aku ajari kamu. Aku perkosa kamu.
ditemukan dalam WSV. Pandangan (Sm, hal. 195).
inilah yang kemudian juga Dan beberapakutipan tersebut
melahirkan keberpihakan pada tampak bahwa tokoh-tokoh
hubungan homoseksual, yang perempuan, seperti
juga ditemukan dalam novel Shakuntala, Yasmin, dan Oak, ada
GTSL, L, D, Tr, dan Sn. kecende-
rungan melawan ideologi dan
ALIRAN FEMINISME YANG budaya patriarki dan ingin
MENDASARI PANDANGAN menjadikan laki-laki sebagai objek
SASTRAWAN PEREMPUAN yang harus ditaklukkan. Perlawanan
MENGENAI SEKS PADA
NOVEL-NOVEL terhadap kekuasaan patriarki yang
KA RYA N YA dilakukan Cok dalam L antara lain
rrienyebabkan dia menjadi
Seperti ditunjukkan di tabel 5,
seorang lesbi dan mengajak Laila
pandangan sastrawan perempuan
menikmati hubungan seks
mengenai seks pada karya-
dengannya. (L, hal. 153).

Tabel 5. Aliran Feminisme yang Mendasari Pandangan Sastrawan Perempuan Mengenai Seks
pada Novel-novel Karyanya

No
M
Karakteristik Jud Frekuens Persenta
Aliran ul i si
Feminisme Nov Data (%)
Humaniora, Vol. 18, No. 3 Oktober 2006: 213-225

Perlawanan terhadap 44,80


1. Sm, L 51
patriarki
T r,
Lesbianisme
Kampanye menentang
kekerasan seksual
Menuntut persamaan hak
an ta ra pe re mp ua n MM, 32,56
37
dengan laki-laki di segala i p JJ,
Feminisme bidang CI,
Liberal Mendukung industrialisasi
dan modemisasi
Jumlah 88 100
Perlawanan terhadap patriarki dan memilih dengan pelacur (4,40%), hubungan suami
hubungan lesbi juga ditemukan dalam GTSL. istri 2,64%), dan inses (0,88%). Fenomena
Setelah mendapat surat dari pasangan tersebut sebagian besar (60,20%)
lesbinya yang bermukim di Perancis, maka digambarkan secara konotatif melalui
Pane pun segera meninggalkan keluarganya metafora, sinekdoks pars pro toto, simile,
dan menyusul ke perancis dengan mengucap- dan metonimia, dan juga.denotatif (30,80%).
kan pamitan kepada ayahnya. '`Dalam wangsul
Bapak, pergi kerumah tempat saya merasakan Penggambaran fenomena seks melekat pada
cinta dan senyuman yang tutus. Nyuwun unsur tokoh, yaitu dalam bentuk perilaku tokoh,
pangapunten Bapak (h.308). Demiklan juga, pikiran tokoh, monolog tokoh, hasrat seks
tokoh Raras dalam Tr meninggalkan Galih yang tokoh yang disampaikan melalui e-mail, serta
mencintainya karena dia sangat mencintai teman kenangan tokoh. Di samping itu, sebagian kecil
perempuannya yang telah meninggal. Dalam disampaikan oleh narator. Hal ini
WSV pandangan feminisme radikal tampak pada menunjukkan bahwa fenomena seks
sikap Bu Sepuh yang menolong dan merawat merupakan hal yang dialami dan dirasakan oleh
Mira yang menjadi korban kekerasan seksual
para tokoh, khususnya perempuan dalam
Mulder dan teman-temannya (WSV, h. 75).
novel yang dikaji. Relasi perempuan dengan laki-
laki sebagian besar adalah adanya kesejajaran
Dari berbagal temuan yang terungkap (39%), disusul dengan perempuaan mendomi-
tampak bahwa sejumlah pengarang perempuan niasi laki-laki (10%), laki-laki mendominasi
yang karyanya diteliti menunjukkan untuk perempuan (6%), dan menginginkan hubungan
mengangkat berbagai permasalahan yang lesbianisme (16%) dan gay (8%). Fenomena
berhubungan dengan fenomena seks yang tersebut dilandasi oleh pandangan feminisme
dialami dan dihayati tokoh-tokoh perempuan radikal dan liberal yang ditandai dengan
dalam karya-karyanya. Karena terra yang menentang patriarki dan kekerasan seksual,
dominan berhubungan dengan homoseksual menganjurkan lesbianisme, dan menuntut
dan seks bebas, baru disusul perselingkuhan, persamaan hak antara perempuan dengan laki-
dapat ditafsirkan bahwa pada umumnya para laki, termasuk dalam hubungannya dengan
pengarang tersebut mencoba melakukan persoalan seksualitas.
pemberontakan atau perlawanan terhadap
norma-norma yang berlaku dalam,masyarakat,
DARAR RUJUKAN
khususnya Indonesia yang menafikan kebera-
daan kelompok homoseksual. Masyarakat A1wi, Hasan dkk. 2001. Kamus Besot
Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
pada umumnya menganggap mereka sebagai
Amirudin, Maria. 2004. "Perempuan, seks
orang-orang yang mengalami penyimpangan dan Teks 5astra
seksual. Di samping itu, mereka juga cenderung yang Bicara," dalam Media Indonesia, 4
melakukan pemberontakan terhadap lembaga Januari.
perkawinan. Pandangan tersebut sesuai Bainar, Ed. 1998. Wacana Perempuan dalam
dengan aliran feminisme radikal dan liberal. Keindonesiaan
dan Kemodernan. Jakarta: Pustaka
Cidesindo bekerja
SIMPULAN sama clengan Universitas Islam Indonesia dan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Yayasan
IPPSDM.
fenomena seks yang digambarkan dalam novel
Budiman, Manneke. 2005. "Ketika
Indonesia mutakhir karya sastrawan perem- Perempuan Menulis,"
puan secara berturut-turut didominasi oleh dalam Erintil: Media perempuan
fenomena homoseksual (27,28%), hubungan Multikultural. No. 8. Dee. 2001. Supernova.
seks di luar nikah (24%), Bandung: Trueede Books.
perselingkuhan(17,60%), hubungan seks Dhini, N h. 1989.folan Bondungon, Tirai
Humaniora, Vol. 18, No. 3 Oktober 2006: 213-225

Menurun. Jakarta:
Djam batan.
Diajanegara, Soenarjati. 2000. Kritik Sastra
Feminis: Sebuah Pengantar. Jakarta:
Gramedia.
Dzuhayatin, Siti Nuraini. 1998. "Ideolagi
Pembebasan Perempuan: Perspektif
Feminisme dan Islam," dalam Bainar, Ed.
Wacana Perempuan dalam
Keindonesiaan
HUMANIORA
VOLUME 18 No. 3 Oktober 2006 Halaman 213 – 225

Wiyatmi, Fenomena Seks dalam Novel Indonesia Mulakhir Karya Pengarang Perempuan

dun Kemodernan. Jakarta: Pustaka Keiaminmu.


Cidesindo bekerja sama dengan Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Universitas Islam Indonesia dan Yayasan Marga T. 1984. Karmila, Jakarta: Gramedia.
IPPSDM. Mira W. 2000 Jangan Renggut
Eagleton, Terry. 2002. Marxisme dan Kritik Matahariku. Jakarta: Gramedia.
Sastra. Diterjemahkan dalam Bahasa Mohamad, Goenawan. 1980. Seks, Sastra,
Indonesia oleh Roza Muliati dkk. Kita. Jakarta: Sinar Harapan.
Yogyakarta: Sumbu.
Munti, Ratna Batara, 2000. "Seksualitas dan
Emka, Moammar.2004. Jakarta Undercover, Perempuan," dalam Suara Apik: untuk
Sex 'n the City. Kebebasan dan Keadilan. Jakarta: LBH-
Yogyakarta: Galang Press. Cetakan APIK.
ke-29. Goldmann, Lucien. 1977. Towards A
Murniah, Dad. 2005. "Sastra Seksual dalam
Sociology of Literature.
Perspektif Studi Budaya," dalam
England: Basil Blackwell Publisher. Republika, 15 Mei.
Handayani, Eliza V. 2000. Area X: Himne Nugroho, Boyke Dian. 2001. "Waspadai
Angkasa Royo. Bandung: Dar Mizan. Seks Bebas
Herlinatiens. 2003. Canis Tepi Seorang Kalangar Remaja," dalam Majalah Gemari,
Lesbian. Yogyakarta: Galang Press. September. Oetomo, Dede. 2003. Memberi
Hoerip, Satyagraha. 1969. 'Megan Seks Suara pada yang Bisu.
dalam Cerpen Sastra Kita," dalam Yogyakarta: Pustaka Marwa. Cetakan ke-
Satyagraha Hoerip, Ed. Sejumfah Masalah 2.
Sastra. Jakarta: Sinar Harapan Tim Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Kayam, Umar. 1969. "Percabulan dalam Bahasa. 2001.
Kesusastraan," dalam Satyagraha Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Hoerip, Ed. Sejumlah Masafah Sastra. Balai Pustaka. Toer, Pramudya Ananta. 2000.
Jakarta: Sinar Harapan. Gadis Pantai. Jakarta: Hasta
. 1992. Para Priyayr. Jakarta: Grafiti. Mitra.
Krippendorff, Klaus. 1991. Analisis 1st: Tohari, Ahmat. 1992. Ronggeng Dukuh
Pengantar Teoridan Metodologi. Jakarta: Paruk. Jakarta: Gramedia.
Rajawali Press. _________. 2000. BekisarMerah. . Jakarta:
Maesa Ayu, Djenar. 2002. Mereka &long Gramedia.
Saya Monyet. Jakarta: Gramedia Pustaka Utarni, Ayu. 2003. Soman. Jakarta:
Utama. Kepustakaan Populer
. 2004. Jangan Main-main dengan
Humaniora, Vol. 18, No. 3 Oktober 2006: 213-225

Gramedia. Cat. Ke-22 (Cat. Pertama, 1998).


_________. 2001. Larung. Jakarta:
Kepustakaan Populer
Gramedia.
Yusuf, Nova Riyanti. 2003. Mahadewa-
mahadewi. Jakarta: Sentra Kreasi Intl.
_________. 2004. Imipramine. Jakarta:
Gramedia.
VVahyucli, lbnu. 2005. "Kiprah Perempuan
Pengarang di
Indonesia Pasca-Saman,"dalam Erintil:
Media
Perempuan Multikulturat. No. 8.
Wiyatnni, 2004. ""Perempuan dan Seks dalam
Cerpen-cerpen Djenar Maesa Ayu (Mereka
Bilang, Saya Monyet!): Ekspresi Erotisme
Dalann Sastra" d isampailcan dalam
Seminar Sehari Ekspresi Erotisme dalam
Bahasa, Sastra, dan Psikologi di Fakultas
Bahasa dan Seni Universitas Negeri
Yogyakarta, 29 Okteber 2004.