Anda di halaman 1dari 3

Cap Go Meh melambangkan hari ke-15 dan hari terakhir dari masa perayaan Imlek

bagi komunitas kaum migran Tionghoa yang tinggal di luar Cina. Istilah ini berasal dari
dialek Hokkien dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama.

Saat itu juga merupakan bulan penuh pertama dalam Tahun Baru tersebut.

Perayaan ini dirayakan dengan jamuan besar dan berbagai kegiatan. Di Taiwan ia
dirayakan sebagai Festival Lampion. Di Asia Tenggara ia dikenal sebagai hari Valentine
Tionghoa, masa ketika wanita-wanita yang belum menikah berkumpul bersama dan
melemparkan jeruk ke dalam laut - suatu adat yang berasal dari Penang, Malaysia.

Cap Go Meh di Singkawang


Perayaan Cap Goh Meh di Singkawang biasanya ditandai dengan arak-arakan para
Tatung menuju vihara atau klenteng. Perayaan dipercaya sudah dilaksanakan turun
temurun sejak 200 tahun yang lalu. Para tatung berasal dari berbagai vihara yang
tersebar di seluruh Singkawang, oleh karena itu tak heran kalau Singkawang juga
mendapat julukan kota seribu kuil. Dalam 1 vihara atau klenteng kadang terdiri lebih
dari 1 orang Tatung. Pagi hari di hari ke 15 ini, para Tatung akan berkumpul untuk
melakukan sembahyang kepada Langit di altar yang sudah disiapkan. Perjalanan para
Tatung di tandu dengan menggunakan tandu yang beralaskan pedang tajam atau paku
tajam, sambil memamerkan kekebalan tubuhnya. Ada juga yang naik tangga pedang,
biasanya terdiri dari 36 atau 72 pundak/tangga. Semakin bisa naik ke atas maka artinya
semakin kuat juga ilmu Tatung tersebut. Kegiatan ini telah mulai dikembangkan sebagai
objek pariwisata untuk menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
Cap Go Meh di Makassar
Perayaan Cap go Meh di Makassar diadakan tiap setahun sekali. Hal ini sudah
menjadi kalender rutin kota Makassar. Pada hari perayaan Cap Go Meh, daerah
pecinaan kota Makassar akan ditutup untuk kendaraan sejak pukul 10.00 WITA
pagi, namun prosesi perarakan Cap Go Meh atau yang biasa disebut Karnival
Budaya Nusantara akan dimulai pukul 14.00 WITA dengan dilepaskannya puluhan
ekor burung oleh Walikotamadya Makassar. Setelah itu, Perarakan Cap Go Meh
telah dimulai diawali dengan rombongan Bhineka Tunggal Ika yang antara lain
terdiri atas berbagai tokoh agama dan masyarakat serta juga diikuti oleh para Dara
dan Daeng Makassar, lalu Kelenteng Kwang Kong, masyarakat Kajang dari
Bulukumba, Vihara Dharma Loka, kelompok adat Aluk Tudolo dari Tana Toraja,
Kelenteng Xian Ma, kelompok adat Kabupaten Bone, Kelenteng Pan Ku Ong dari
Galesong Kabupaten Takalar, Vihara Dharma Agung, Komunitas Bissu dari Segeri,
Kabupaten Pangkep, Mapanbumi, Kelompok Adat Mappasili Pallawa serta Vihara
Girinaga. Di barisan terakhir ditutup oleh Yayasan Budha Tzu Chi yang antara lain
membersihkan sampah yang memenuhi sepanjang jalan yang dilalui rombongan
prosesi tersebut. Hampir setiap klenteng mengarak dewa dan dewi. Seperti
Klenteng Kwan Kong yang mengarak Dewa Kwan Kong sebagai dewa perang dan
dewi Kwan Im sebagai pembawa cinta kasih. Vihara Dharma Loka mengarak Dewa
Cho Sua Kong atau dewa pengobatan, dan Klenteng Xian Ma yang membawa Dewi
Xian Ma. Karnival ini berakhir sekitar pukul 16.30 WITA. Tidak hanya sampai disitu,
sebagai akhir dari perayaan Tahun Baru Imlek, pada hari yang sama pukul 19.00
diadakannya Pasar Malam yang menyediakan kurang lebih 50 stan yang
menyediakan dan menjual berbagia macam makanan, minuman, hingga produk-
produk-produk seperti kembang api, asuransi, dll. Dan juga kegiatan yang dilakukan
sepanjang jalan Sulawesi, mulai dari perempatan jalan Sangir hingga ke ujung Jalan
Ahmad Yani, ditutup untuk kendaraan sehingga para pejalan kaki leluasa, baik
untuk melakukan ibadah persembahan kepada para Dewa di Kelenteng-Kelenteng
yang ada di sepanjang jalan tersebut (Kelenteng Locia – di perempatan Jalan Serui
dan Sulawesi, Kelenteng Xian Ma – di pertigaan jalan Bali dan Sulawesi serta
Kelenteng Kwang Kong) maupun sekedar untuk menikmati malam penutupan
Tahun Baru Imlek tersebut. Tidak hanya itu, tetapi juga ada tiga panggung hiburan
yang disiapkan yang diisi dengan aneka hiburan, baik tarian maupun aneka musik
lainnya. Acara ini berakhir pukul 24.00.

Cap Go Meh di tahun 1880-an di masa Hindia Belanda (litografi berdasarkan lukisan
oleh Josias Cornelis Rappard)

SUMBER http://id.wikipedia.org/wiki/Cap_Go_Meh