Anda di halaman 1dari 194

KALIMAT

KALIMAT (KATA) DAN JUMLAH (KALIMAT)


Kalimat dalam bahasa Indonesia disebut kata. Sedangkan jumlah
dalam bahasa Indonesia adalah kalimat. Lebih jelasnya
sebagaimana contoh berikut:
Contoh kalimat:
‫( خرج‬keluar) : kalimat
‫من‬ (dari) : kalimat
‫( مسجد‬masjid) : kalimat

Contoh jumlah:
‫( خرجت من المسجد‬saya keluar dari masjid): jumlah
Tiap lafaz dari ‫ مسخخجد‬, ‫ مخخن‬,‫ خخخرج‬disebut kalimat. Sedangkan
gabungan dari tiga kalimat tersebut (‫ )خرجخخت مخخن المسخخجد‬disebut
jumlah.

Kalimat ada tiga macam:


kalimat isim (kata benda). Contoh: ‫مسجد‬ (masjid)
kalimat fi’il (kata kerja). Contoh: ‫خرج‬ (keluar)
kalimat huruf (kata sambung). Contoh: ‫( من‬dari)

Tabel pembagian kalimat:

N kalimat contoh
o
1 isim (kata benda). ‫( مسجد‬masjid)
2 fi’il (kata kerja). ‫( خرج‬keluar)
3 Huruf (kata sambung) ‫( من‬dari)

ISIM
Definisi
Isim dalam bahasa Indonesia disebut kata benda. Yaitu kata yang
menunjukkan benda. Menurut istilah, isim adalah kata yang
menunjukkan makna mandiri dan tidak cocok diikat dengan
waktu. Contohnya adalah ‫(رجل‬seorang laki-laki), ‫(ماء‬air), ‫( هو‬dia),
dan contoh-contoh yang lain. Contoh-contoh tersebut disebut
isim karena mempunyai makna mandiri dalam arti tidak
tergantung pada kata lain. ‫ماء‬, menunjukkan kata benda, yaitu
air. Begitu juga ‫ ماء‬disebut kata benda karena tidak cocok diikat
dengan waktu, seperti ungkapan sedang air, akan air, atau telah
air. Ikatan waktu itu (sedang, akan, dan telah) tidak cocok
disandingkan dengan kata ‫( ماء‬air), maka ‫ ماء‬disebut kata benda.
Begitu juga pada contoh-contoh isim yang lain.

1
Tanda-Tanda Isim
Untuk menunjukkan isim, ada tanda-tanda yang pantas
disandingkan dengan isim. Tanda-tanda tersebut adalah setiap
kata yang pantas:
Bertanwin ( ً ). Tanwin adalah nun mati tambahan yang berada
pada akhir kalimat isim dalam ucapan saja tanpa ada
tulisannya ( ً ). Contoh: ‫( طاهر مطهر‬suci dan mensucikan)
Dimasuki ‫ ال‬. Contoh: ‫( ماء السماء‬air hujan)
Dimasuki huruf jer. Ada beberapa huruf jer yang penjelasannya
pada bab berikutnya. Contoh: ‫( من الثلج‬air salju)
Dalam keadaan jer. Artinya kalimat tersebut dalam keadaan i’rob
jer, baik dengan huruf jer, dengan mudlof ilaih, atau dengan
tawabi’ (yang ikut pada kalimat sebelumnya). Contoh ‫في البئر‬
(di dalam sumur).

Table tanda kalimat isim:

N TANDA ISIM CONTOH


O
Tanwin ( ً ) ‫طاهر مطهر‬
1

2 Dimasuki ‫ ال‬. Contoh: (air hujan) ‫ماء السماء‬


Dimasuki huruf jer. Ada beberapa ‫من الثلج‬
3 huruf jer yang penjelasannya
pada bab berikutnya
Dalam keadaan jer ‫في البئر‬
4

Keterangan
Pada kalimat isim, ada tiga hal yang tidak mungkin bertemu
dalam satu kalimat secara bersamaan, yaitu mudhof, al ( ‫) ال‬,
dan tanwin. Rinciannya sebagai berikut:
Jika kalimat isim menjadi mudlof, maka kalimat isim tersebut
tidak ada al ( ‫ ) ال‬dan tidak ada tanwin ( ).
Jika kalimat isim ada al ( ‫) ال‬, maka kalimat isim tersebut tidak
ada tanwin dan tidak menjadi mudlof.
Jika kalimat isim ada tanwin ( ), maka kalimat isim
tersebut tidak ada al ( ‫ ) ال‬dan tidak menjadi mudlof.
Contohnya adalah: ‫( صلة الجماعخخة سخخنة‬sholat jama’ah itu sunnah).
Pada contoh ini, mudhof, al ( ‫) ال‬, dan tanwin tidak bertemu
dalam satu kalimat. Penjeasannya adalah:
Lafadz ‫ صلة‬adalah kalimat isim yang menjadi mudlof (mudlof
ilaihnya adalah ‫)الجماعة‬, maka lafadz ‫ صلة‬tidak ada al ( ‫) ال‬
dan tidak ada tanwin.
Lafadz ‫ الجماعة‬adalah kalimat isim yang ada al ( ‫) ال‬, maka ‫الجماعة‬
tidak ada tanwin dan tidak menjadi mudlof.
Lafadz ‫ سنة‬adalah kalimat isim yang ada tanwinnya, maka ‫سنة‬
tidak ada al ( ‫ ) ال‬dan tidak menjadi mudlof.

Pembagian Isim
Ada beberapa pembagian isim
Dilihat dari segi jenis kelaminnya
Dilihat dari segi jumlahnya
Dilihat dari segi bertanwin atau tidaknya
Dilihat dari segi tertentu atau tidaknya
Rinciannya sebagai berikut:

Dilihat dari segi jenis kelamin dibagi dua:


Mudzakkar (laki-laki). Yaitu isim yang menunjukkan laki-laki
dan pantas disandingkan dengan kata ‫هذا‬, contoh: ‫هذا رجل‬
ini seorang laki-laki), ‫( هخخخذا كلخخخب‬ini anjing) ‫( هخخخذا المخخخاء‬ini
air).Mudzakkar ada dua macam:
Hakiki, yaitu, kata yang menunjukkan jenis laki-laki, baik
manusia ataupun hewan. Contoh: ‫( رجخخل‬seorang laki-
laki), ‫( صبي‬anak laki-laki),‫( أسد‬singa jantan)
Majazi, yaitu kata yang dianggap menjadi jenis laki-laki,
tapi bukan manusia atau hewan. Contoh: ‫(السواك‬siwak),
‫( ليل‬malam)
Muannas (perempuan). Yaitu isim yang menunjukkan kata
perempuan dan pantas disandingkan dengan kata ‫هخخذه‬.
Contoh ‫( هذه أمرأة‬ini seorang perempuan), ‫( شمس‬matahari).
Ada beberapa tanda yang menunjukkan kata muannas,
yaitu:
Pantas dimasuki ta’ marbuthoh ( ‫) ة‬. Yaitu ta’ yang
membedakan antara laki-laki dan perempuan. Contoh:
‫( مسلم‬muslim laki-laki), ‫( مسلمة‬muslim perempuan)
Pantas dimasuki alif ta’nis maqsuroh (‫)ى‬, yaitu alif
berbentuk ya’ tanpa titik yang menunjukkan
perempuan. Contoh: ‫( سلمى‬salma)
Pantas dimasuki alif mamdudah ( ‫) ا‬, yaitu alif yang berada
sebelum hamzah dan menunjukkan perempuan. Contoh
‫( حسناء‬beberapa perempuan yang baik)

Muannas (perempuan) ada dua macam:


Hakiki, yaitu kata yang menunjukkan arti perempuan, baik
manusia ataupun hewan. Contoh: ‫( إمخخخخرأة‬seorang
perempuan), ‫( ناقة‬unta betina)
Majazi, yaitu kata yang dianggap menjadi jenis perempuan,
tapi bukan manusia atau hewan. Contoh: ‫شخخخمس‬
(matahari), ‫(عين‬mata).

Tabel pembagian isim dilihat dari segi jenis


kelaminnya:

3
N CONTOH
ISIM
O
Muzakkar Hakiki ‫رجل‬
1
Majazi ‫السواك‬
Muannas Hakiki ‫إمرأة‬
2
Majazi ‫شمس‬

Tambahan
Termasuk dari muannas adalah setiap jama’ taksir . Jadi,
setiap jama’ taksir (kata kerja yang bermakna banyak)
hukumnya adalah muannas. Contoh: ‫( المياه‬beberapa air).
Bentuk tunggalnya adalah ‫( الماء‬air).
Untuk mengetahui tentang muannas majazi, harus
dilihat syiyaqul kalamnya (konteks kalimat), baik
melihat kalimat sebelum atau sesudahnya, atau melihat
arti yang ditunjukkan oleh konteks kaimat. Contoh: ‫الشمس‬
‫( الكخخبيرة‬matahari yang besar). Pada contoh ini, lafadz
‫ الشخخمس‬adalah muannas majazi karena melihat konteks
kalimatnnya, yaitu setelahnya ada kalimat yang menjadi
sifat (‫)الكخخخبيرة‬. Sedangkan sifat harus sama jenisnya
dengan yang disifati. Sifatnya (‫ )الكبيرة‬adalah muannas,
maka ‫( الشمس‬yang disifati) pasti juga muannas.

Dilihat dari segi jumlahnya, isim dibagi menjadi tiga:


Isim mufrod, yaitu isim yang menunjukkan arti satu/tunggal
(singular) dan tidak ada tambahan alif dan nun ( ‫) ا ن‬, ya’
dan nun ( ‫) ي ن‬, wawu dan nun (‫ ) و ن‬atau alif dan ta’ ( ‫) ا ت‬.
Contoh: ‫( الخنزير‬satu babi), ‫( الشجرة‬satu pohon). Contoh yang
lain: ‫( سخختة‬enam). Meskipun artinya adalah enam, tetap
dikatakan isim mufrod karena tidak ada tambahan.
Isim tasniyah, yaitu isim yang menunjukkan arti dua dengan
mendapatkan tambahan alif dan nun (‫ )ا ن‬dalam keadaan
rofa’ dan tambahan ya’ dan nun (‫ )ي ن‬dalam keadaan
nashob dan jer. Contoh: ‫( المسخخلمان‬dua orang muslim),‫مخخن‬
‫( السبيلين‬dua jalan/lobang). Bentuk mufrodnya adalah ‫المسلم‬
dan ‫ السبيل‬.
Jadi, seperti lafadz ‫ عثمخخان‬, tetap dikatakan isim mufrod
karena mempunyai arti satu (satu usman), dan ‫ ان‬pada
lafadz ‫ عثمخخخخان‬adalah asli, bukan tambahan yang
menunjukkan arti dua.
Isim jama’, yaitu isim yang menunjukkan arti banyak (lebih
dari dua). Isim jama’ ada tiga macam:
Jama’ mudzakkar salim, yaitu isim yang menunjukkan arti
banyak (lebih dari dua) khusus untuk laki-laki, yang
mendapatkan tambahan wawu dan nun (‫ )و ن‬dalam
keadaan rofa’ dan tambahan ya’ dan nun (‫ )ي ن‬dalam
keadaan nashob dan jer. Contoh: ‫( الصخخالحون‬beberapa
orang sholeh). Bentuk mufrodnya ‫( صالح‬satu orang yang
sholeh). ‫( للمسخخافرين‬bagi orang-orang yang bepergian).
Bentuk mufrodnya, ‫مسافر‬.
Jadi, seperti lafadz ‫( المجنخخون‬orang gila), tetap disebut
isim mufrod karena mempunyai arti satu (satu orang
gila), dan ‫ ون‬pada lafadz ‫ المجنخخون‬adalah asli, bukan
tambahan yang menunjukkan arti banyak.
Jama’ muannas salim, yaitu isim yang menunjukkan arti
banyak (lebih dari dua) khusus untuk perempuan yang
diakhir kalimatnya mendapatkan tambahan alif dan ta’ (
‫)ا ت‬. Contoh: ‫( المسخخخخخلمات‬beberapa orang muslim
perempuan), bentuk mufrodnya, ‫( مسخخخلمة‬satu orang
muslim perempuan)
Jama’ taksir, yaitu isim yang menunjukkan arti banyak
(lebih dari dua) yang bentuknya berubah dari bentuk
mufrodnya. Bentuk jama’ taksir ini biasanya mengikuti
salah satu dari wazan: , ‫ مفاعل‬,‫ فعل‬,‫ فعول‬, ‫ فعال أفعال‬Contoh:
‫( فروض الوضوء‬fardu-fardunya wudu’). Bentuk mufrodnya
adalah ‫ ثلثة أشياء‬.‫( فرض‬tiga perkara). Bentuk mufrodnya
‫( شيء‬satu perkara)

Tabel pembagian isim dilihat dari segi jumlahnya:

N CONTOH
ISIM TAMBAHAN
O
1 Mufrod ‫صالح‬
‫ ا ن‬: Rofa’ ‫المسلمان‬
2 Tasniyah ‫ي ن‬: Nashob dan jer ‫السبيلين‬
Muzakkar ‫ و ن‬: Rofa’ ‫الصالحون‬
3 Jama’ salim ‫ي ن‬: Nashob dan jer ‫مسافرين‬
Muannas alif dan ta’ ( ‫) ا ت‬ ‫المسلمات‬
salim
Jama’ taksir Biasanya mengikuti ‫فروض‬
wazan:
, ,‫ فعل‬,‫ فعول‬, ‫فعال أفعال‬
‫مفاعل‬

Keterangan
Untuk mengetahui apakah suatu kalimat isim adalah isim

5
mufrod atau jama’ taksir, maka caranya adalah langsung
melihat di kamus. Contohnya adalah lafadz ‫ خسخخوف‬dan
‫ فخخخروض‬. untuk membedakan kedua kalimat ini, maka
caranya adalah langsung lihat dikamus. Setelah lihat
dikamus, lafadz ‫ خسخخوف‬adalah isim mufrod yang artinya
gerhana bulan. Sedangkan lafadz ‫ فخخخروض‬adalah jama’
taksir yang artinya adalah beberapa fardlu. Bentuk
mufrodnya adalah ‫ فرض‬.
Jika ada kalimat isim mendapat tambahan ya’ dan nun ( ‫)ي ن‬,
maka kalimat isim tersebut ada dua kemungkinan.
Adakalnya isim tasniyah, adakalanya jama’ mudzakkar
salim. Untuk membedakan keduanya adalah dengan
melihat syiyaqul kalam (konteks kalimat) pada kalimat
sebelumnya atau sesudahnya, dan juga melihat konteks
arti yang ditunjukkan dalam suatu susunan kalimat.
Contoh: ‫ غسخخل اليخخدين‬. Pada contoh ini, lafadz ‫( اليخخد‬tangan)
mendapatkan tambahan (‫)ي ن‬, yiatu menjadi ‫اليدين‬. Lafadz
‫ اليخخدين‬mempunya dua kemungkinan (isim tasniyah atau
jama’ mudzakkar salim). Setelah dilihat konteks
kalimatnya, lafadz ‫ اليخخخدين‬adalah isim tasniyah, karena
tangan manusia secara umum hanya ada dua.
Disamping melihat syiyaqul kalam, cara membedakannya
juga dengan melihat harokatnnya.
Pada isim tasniyah, harokat sebelum ya ( ‫ ) ي‬adalah
fathah, harokat nun adalah kasroh ( ‫) ن‬. Contoh: ‫مسخخافرين‬
(dua orang yang bepergian)
Pada jama’ mudzakkar salim, harokat sebelum ya ( ‫) ي‬
adalah kasroh, harokat nun adalah fathah ( ‫) ن‬. Contoh:
‫( مسافرين‬beberapa orang yang bepergian).

Dilihat dari segi bertanwin atau tidaknya, dibagi menjadi


dua
Isim munshorif, yaitu isim yang bisa bertanwin. Contoh, ‫رأس‬
(kepala), ‫( مسخخنونة‬beberapa hal yang disunnahkan). Isim
munshorif ini ada dua macam:
Asli munshorif. Artinya, kalimat isim tersebut tidak ada
illatnya. Contoh: ‫( رأس‬kepala)
Aslinya adalah isim ghoiru munshorif (karena ada illat),
akan tetapi isim ghoiru munshorif tersebut didahului
oleh al (‫)ا ل‬, atau menjadi mudlof. Contoh: ‫فرائض الغسخخل‬
(fardlu-fardlunya mandi). Lafadz ‫ فخخرائض‬asalnya adalah
isim ghoiru munshorif karena ada satu illat, yaitu
shighot muntahal jumu’. Akan tetapi karena ‫فخخخرائض‬
menjadi mudlof (mudlof ilaihnya adalah ‫ )الغسخخل‬maka
menjadi isim munshorif.
Isim ghoiru munshorif, isim yang tidak bisa bertanwin karena
disebabkan oleh beberapa illat (penyakit/pencegah). Illat
(pencegah) yang mencegah isim untuk bertanwin dibagi
menjadi dua:
Satu illat yang kekuatannya sama dengan dua illat. Satu
illat ada 3 macam:
Alif ta’nis maqsuroh, yaitu alif yang berbentuk ya’ tanpa
titik (‫ )ى‬dan setelahnya tidak ada hamzah, yang
merupakan tanda dari isim muannas (perempuan).
Contoh: ‫( يمنى‬yang kanan)
Alif ta’nis mamdudah, alif ( ‫ ) ا‬yang setelahnya terdapat
hamzah yang merupakan tanda dari isim muannas
(perempuan). Contoh: ‫( صحراء‬padang sahara)
Sighot muntahal jumu’:yaitu bentuk dari jama taksir
yang mengikuti wazan (bentuk) ‫ مفاعخخل‬atau ‫مفاعيخخل‬.
Contoh: ‫( فرائض‬fardu-fardu). ‫( مساجد‬beberapa masjid).
Dua illat. Dua illat yang menjadi pencegah isim tidak bisa
bertanwin dibagi menjadi dua:
Illat pertama, ada dua macam: ‫( وصفية‬berbentuk sifat)
dan ‫( علمية‬berbentuk nama)
Illat kedua. Ada dua macam:
Jika illat pertama berupa ‫( وصخخفية‬berbentuk sifat),
maka illat kedua berupa:
‫عدل‬, yaitu perpindahan bentuk isim kepada bentuk
lain tanpa melakukan proses I’lal. Contoh: ‫مثنى‬
‫( وثلث وربخخخع‬dua-dua, tiga-tiga, empat-empat).
Bentuk asalnya adalah ‫ أربعخة‬, ‫ثلثخخة ثلثخة‬,‫إثنين إثنين‬
‫أربعة‬
‫وزن فعل‬, yaitu isim yang mengikuti wazan (bentuk)
‫ أفعل‬yang bentuk muannasnya mengikuti wazan
‫فعلء‬. Contoh ‫( أسود‬yang hitam(laki-laki)), bentuk
muannasnya ‫( سوداء‬yang hitam (perempuan))
Tambahan alif dan nun (‫)ا ن‬, yaitu isim yang
mendapatkan tambahan alif dan nun yang
mengikuti wazan ‫ فعلن‬dan bentuk muannasnya
adalah ‫فعلى‬. Contoh: ‫( عطشان‬laki-laki yang haus),
bentuk muannasnya ‫( عطشخخى‬perempuan yang
haus)
Jika illat pertama berupa ‫( علميخخة‬berbentuk nama),
maka illat kedua berupa:
‫عدل‬, yaitu perpindahan bentuk isim kepada bentuk
lain tanpa melakukan proses. Contoh ‫عمخخخر‬
( umar). Bentuk asalnya adalah ‫عمرو‬
‫وزن فعل‬, yaitu isim yang mengikuti wazan (bentuk)
‫ أفعل‬yang bentuk muannasnya mengikuti wazan
‫فعلء‬. Contoh: ‫أحمد‬

7
Tambahan alif dan nun (‫)ا ن‬, yaitu isim yang
mendapatkan tambahan alif dan nun yang
mengikuti wazan ‫ فعلن‬dan bentuk muannasnya
adalah ‫فعلى‬. Contoh: ‫عثمان‬
Tarkib mazji, yaitu susunan dari dua buah kalimat
yang dijadikan satu dan menjadi sebuah nama
atau istilah. Contoh ‫( حضخخر مخخوت‬nama sebuah
kota). Bentuk asalnya adalah ‫( حضر‬hadir) dan
‫( موت‬mati)
Ajamiyah, yaitu nama yang bukan berasal dari
bahasa arab dan tidak mempunyai arti. Contoh
‫ إبراهيم‬,‫إسماعيل‬
Muannas selain alif, yaitu isim yang ada tanda
ta’nis (perempuan) selain alif, akan tetapi
menggunakan dengan ta’ marbuthoh ( ‫) ة‬.
Contoh: ‫‘عائشة‬
Keterangan
Isim ghoiru munshorif, jika bersambung dengan al ( ‫ ) ال‬atau
menjadi mudlof, maka menjadi munshorif.
Contoh yang bersambung dengan al ( ‫الحمخخخر‬:( ‫( ال‬yang
merah). Lafadz ‫ الحمخخر‬pada asalnya adalah isim ghoiru
munshorif karena ada dua illat, yaitu wasfiyah dan wazan
fi’il. Akan tetapi karena isim ghoiru munshorif tersebut
bersambung dengan al ( ‫) ال‬, maka ‫ الحمخخخر‬menjadi isim
munshorif.
Contoh yang menjadi mudlof:‫( فخخرائض الغسخخل‬fardliu-fardlunya
wudlu’). Lafadz ‫ فخخرائض‬pada asalnya adalah isim ghoiru
munshorif karena ada satu illat, yaitu berupa shighot
muntahal jumu’. Akan tetapi isim ghoiru tersebut menajadi
mudlof (mudlof ilaihnya adalah ‫) الغسل‬, maka ‫ فرائض‬menjadi
isim munshorif.

Tabel pembagian isim dilihat dari segi bertanwin


atau tidaknya:

N CONTOH
ISIM
O
Munshor Asli munshorif ‫رأس‬
1.
if
Aslinya isim ghoiru munshorif ‫فرائض الغسل‬
(karena ada illat), akan tetapi
menjadi isim munshorif karena
didahului oleh al
(‫)ا ل‬, atau menjadi mudlof
Ghoiru Alif ta’nis maqsuroh (‫)ى‬ ‫يمنى‬
2. munsho 1 illat
rif
Alif ta’nis mamdudah, alif ‫صحراء‬
(‫)ا‬
Sighot muntahal jumu’ ‫فرائض‬

2 illat Wasfiyah ‫عدل‬ ‫وثلث‬


‫وزن فعل‬ ‫أسود‬
Tambahan alif ‫عطشان‬
dan nun (‫)ا ن‬
Alamiyah ‫عدل‬ ‫عمر‬
‫وزن فعل‬ ‫أحمد‬
Tambahan alif ‫عثمان‬
dan nun (‫)ا ن‬
Tarkib mazji ‫حضر موت‬
Ajamiyah ‫إبراهيم‬
Muannas selain ‫عائشة‬
alif

Dilihat dari segi tertentu atau tidaknya dibagi menjadi


dua:
Isim nakiroh, yaitu isim yang menunjukkan makna umum
(tidak tertentu). Selain isim nakiroh disebut isim ma’rifat.
Contoh. ‫( ذهخخب‬emas). Kata ‫ ذهخخب‬disini tidak tertentu pada
emas manapun. Isim nakiroh mempunyai dua pengertian:
Isim yang bisa dimasuki al ta’rif ( ‫ال‬: yaitu al yang
menunjukkan arti tertentu/khusus) yang menjadikan
isim tersebut menjadi ma’rifah (tertentu) setelah
kemasukan al ta’rif tersebut. Contoh: ‫( فضة‬perak), ‫ميتخخة‬
(bangkai). Kata ‫ فضة‬dan ‫ ميتة‬itu bisa dimasuki al ta’rif,
sehingga menjadi ‫( الفضة‬perak itu) dan ‫( الميتة‬bangkai itu).
Isim yang lafadznya tidak bisa dimasuki al-ta’rif akan
tetepi artinya sama dengan isim yang bisa dimasuki al
ta’rif. Contoh: ‫( مخخا‬sesuatu), sama artinya dengan kata
‫( شيء‬sesuatu). ‫( من‬seseorang) sama artinya dengan kata
‫( شخس‬seseorang)

Isim ma’rifat. Yaitu isim yang menunjukkan arti khusus


(tertentu). Contoh: ‫( الطهارة‬bersesuci yang itu). ‫( الرجل‬laki-
laki itu).
Isim ma’rifat ada 6 macam, yaitu: isim dlomir, isim alam,
isim isyarah, isim maushul, isim nakirah yang dimasuki al

9
ta’rif, dan isim nakirah yang dimudlofkan kepada isim
ma’rofat. Rinciannya sebagai berikut:
Isim Dlomir, secara arti bahasa sama dengan kata ganti.
Secara istilah yaitu isim yang dipergunakan untuk
kinayah (menyindir) dan sebagai kata ganti dari isim
dzohir (isim yang langsung menyebutkan nama atau
kedudukan suatu benda). Isim dlomir ini pasti kembali
kepada isim dzohir yang berada sebelum isim dlomir.
Contoh: ‫( إل جلد الكلب والخنزيخخر ومخخا تولخخد منهمخخا‬kecuali kulitnya
anjing dan babi, dan yang terlahir dari keduanya). ‫هما‬
(keduanya) adalah isim dlomir yang kembali kepada
isim dzohir yang berada sebelumnya, yaitu ‫ الكلب والخنزير‬.
Jadi, yang dimaksud keduanya adalah anjing dan babi.

Pembagian dlomir
Ada dua pembagian isim dlomir:
Dilihat dari segi subjeknya dibagi jadi 3:
Ghoib/ghoibah, yaitu kata ganti orang ketiga (yang
dibicarakan). Contoh ‫( هخخو‬dia laki-laki), ‫( هخخي‬dia
perempuan)
Mukhotob/mukhotobah, yaitu kata ganti orang kedua
(yang diajak bicara). Contoh, ‫( أنت‬kamu laki-laki),
‫( أنت‬kamu perempuan)
Mutakallim wahdah/mutakallim ma’al ghoir, yaitu
kata ganti orang pertama (yang berbicara).
Contoh: ‫( انا‬saya), ‫( نحن‬kami)
Dilihat dari bersambung atau tidaknya dibagi menjadi 2,
dlomir muttashil dan munfashil. Rinciannya sebagai
berikut:
Dlomir muttasil (dlomir yang bersambung dengan
kalimat fi’il), yaitu isim dlomir yang tidak bisa
dijadikan permulaan kalam (kalimat) dan tidak
bisa jatuh setelah lafaz ‫إل‬. Contoh: ‫ ت‬pada kata
‫( ضربت‬saya memukul).
Dlomir muttasil dibagi dua, bariz dan mustatir.
Rinciannya sebagai berikut:
Bariz (dlomir yang tampak), yaitu dlomir yang
tampak/kelihatan bentuk dan lafaznya: contoh
‫ ت‬pada kata ‫( غسخخخلت‬saya membasuh/mandi).
kata ‫ ت‬kelihatan bentuk dan lafaznya. Rincian
dlomir muttasil bariz sebagai berikut:

I’rob Rofa’ , I’rob Nashob, I’rob Jer, karena:


sebagai: sebagai: Menjadi mudlof
Fa’il Maf’ul bih ilaih
Naibul fa’il Isim amil Huruf jer
Isim amil nawasikh nawasikh
Fi’il Mad}i ‫(ه‬dia satu laki-laki) ‫( ه‬dia satu laki-laki).
‫(ا‬dia dua laki-laki). . Contoh : ‫(ضربه‬dia Contoh: ‫ به‬,‫منه‬
Contoh: ‫( فعل‬dia dua memukul dia satu (darinya satu laki-
laki-laki telah bekerja) laki-laki)
laki, dengannya
satu laki-laki)

‫(و‬mereka banyak ‫(هممما‬dia dua laki- ‫( هما‬dia dua laki-laki)


laki-laki). Contoh: ‫ فعلوا‬laki) . Contoh: . Contoh: ‫منهما بهما‬
‫ضربهما‬
‫(ا‬dia dua ‫(هم‬mereka banyak ‫( هم‬mereka banyak
perempuan). Contoh: laki-laki) . Contoh: laki-laki) . Contoh:
‫فعلتا‬ ‫ضربهم‬ ‫منهم بهم‬
‫(ن‬mereka banyak ‫(هممما‬dia satu ‫(ها‬dia satu
perempuan). Contoh: perempuan) . perempuan) .
‫فعلن‬ Contoh: ‫ضربها‬ Contoh: ‫منها‬

‫(ت‬kamu satu laki- ‫(همممما‬dia dua ‫(هما‬dia dua


laki). Contoh: ‫فعلت‬ perempuan) ‫ضربهما‬ perempuan) .
Contoh: ‫منهما‬

‫(تممما‬kamu dua laki- ‫(هممممن‬mereka ‫(هن‬mereka


laki/perempuan). banyak banyak perempuan)
Contoh: ‫فعلتما‬ perempuan) .
. Contoh: ‫منهن‬
Contoh: ‫ضربهن‬
‫(تم‬kamu banyak laki- ‫(ك‬kamu satu laki- ‫(ك‬kamu satu
laki). Contoh: ‫فعلتم‬ laki) ‫ضربك‬ laki-laki) . Contoh:
‫منك‬
‫(ت‬kamu satu ‫(كما‬kamu dua laki- ‫(كما‬kamu dua laki-
perempuan). Contoh: laki) . Contoh: laki) . Contoh: ‫منكما‬
‫فعلت‬ ‫ضربكما‬
‫(تمممن‬kamu banyak ‫(كم‬kamu banyak ‫(كم‬kamu banyak
perempuan). Contoh: laki-laki) . Contoh: laki-laki) . Contoh:
‫فعلتن‬ ‫ضربكم‬ ‫منكم‬
‫(ت‬saya). Contoh: ‫(ك‬kamu satu ‫(ك‬kamu satu
‫فعلت‬ perempuan) . perempuan) .
Contoh: ‫ضربك‬ Contoh: ‫منك‬.

‫(نمما‬kami). Contoh: ‫(كمممما‬kamu dua ‫(كما‬kamu dua


‫فعلنا‬ perempuan) . perempuan) .
Contoh: ‫ضربكما‬ Contoh: ‫منكما‬
Fi’il Mudori’ ‫(كممن‬kamu banyak ‫(كن‬kamu banyak

11
‫(ا‬dia dua laki-laki). perempuan) . perempuan) .
Contoh: ‫يفعلن‬ Contoh: ‫ضربكن‬ Contoh: ‫منكن‬
‫(و‬mereka laki-laki). ‫( ني‬saya) . Contoh: ‫( نخخخي‬saya) .
Contoh: ‫يفعلون‬ ‫ضربني‬ Contoh: ‫مني‬

‫(ا‬dia dua ‫(نا‬kami) . Contoh: ‫(نا‬kami) . Contoh:


perempuan). Contoh: ‫ضربنا‬ ‫منا‬
‫تفعلن‬
‫(ن‬mereka banyak
perempuan). Contoh:
‫يفعلن‬
‫(ا‬kamu dua laki-
laki/perempuan).
Contoh: ‫تفعلن‬
‫(و‬kamu banyak laki-
laki). Contoh: ‫تفعلون‬
‫( ي‬kamu satu
perempuan). Contoh:
‫تفعلين‬
‫(ن‬kamu banyak
perempuan). Contoh:
‫تفعلن‬
Fi’il Amr
‫(ا‬kamu dua laki-
laki/perempuan).
Contoh: ‫أفعل‬
‫(و‬kamu banyak laki-
laki). Contoh: ‫أفعلوا‬
‫(ي‬kamu satu laki-
laki). Contoh: ‫أفعلي‬
‫(ن‬kamu banyak
perempuan). Contoh:
‫أفعلن‬

Mustatir (yang tersembunyi/tidak tampak), yaitu


dlomir yang tidak tampak/tidak kelihatan bentuk
dan lafaznya. Contoh: ‫( زيد يمسح رأسه‬zaid membasuh
kepalanya). Pada kata ‫( يمسح‬membasuh), ada isim
dhomir yang tersimpan yaitu ‫( هخخخو‬dia), yang
mengganti kata ‫زيد‬. Dlomir mustatir ini selamanya
dalam kedudukan i’rob rofa’ (menjadi fa’il, naibul
fa’il, bersama fi’il-fi’il istisna’, bersama fi’il
ta’ajjub). Rincian dlomir mustatir adalah:
‫هو‬ tersimpan pada ‫فعل‬
‫هي‬ tersimpan pada ‫فعلت‬
‫هو‬ tersimpan pada ‫يفعل‬
‫هي‬ tersimpan pada ‫تفعل‬
‫أنت‬ tersimpan pada ‫تفعل‬
‫أنت‬ tersimpan pada ‫تفعلين‬
‫أنا‬ tersimpan pada ‫أفعل‬
‫نحن‬ tersimpan pada ‫نفعل‬
‫أنت‬ tersimpan pada ‫أفعل‬

Dlomir munfashil (dlomir yang terpisah dari kalimat fi’il),


yaitu isim dlomir yang bisa dijadikan permulaan
kalam (kalimat) dan bisa jatuh setelah lafaz ‫إل‬.
Contoh kata ‫( إياك‬kamu perempuan) pada kalimat ‫ما‬
‫( أحببخخخت إل إيخخخاك‬saya tidak mencintai kecuali hanya
kepadamu). Rincian dlomir munfasil sebagai berikut:

I’rob Rofa’, sebagai: I’rob Nashob, sebagai:


Mubtada’ Maf’ul bih
Badal
athof
‫( هو‬dia satu laki-laki) ‫إياه‬ (dia satu laki-laki)

‫( هما‬dia dua laki-laki) ‫إياهما‬ (dia dua laki-laki)

‫هم‬ (mereka laki-laki) ‫إياهم‬ (mereka laki-laki)

‫( هي‬dia satu perempuan) ‫إياها‬ (dia satu


perempuan)

‫( هما‬dia dua perempuan) ‫إياهم‬ (dia dua perempuan)

‫( هن‬mereka perempuan) ‫إياهن‬ (mereka


perempuan)

‫( أنت‬kamu satu laki-laki) ‫إياك‬ (kamu satu laki-laki)

‫( أنتما‬kamu dua laki-laki) ‫إياكما‬ (kamu dua laki-laki)

‫( أنتمممم‬kamu banyak laki- ‫إياكم‬ (kamu banyak laki-


laki) laki)

‫( أنممممممممممممت‬kamu satu ‫إياك‬ (kamu satu


perempuan) perempuan)

‫( أنتمممممممممممممما‬kamu dua ‫إياكما‬ (kamu dua


perempuan) perempuan)

‫( أنتمممممممممن‬kamu banyak ‫إياكن‬ (kamu banyak

13
perempuan) perempuan)

‫أنا‬ (saya) ‫إياي‬ (saya)

‫( نحن‬kami) ‫إيانا‬ (kami)

Isim ‘alam (nama), yaitu isim yang menunjukkan arti nama


secara mutlak, baik nama asli atau nama gelar. Contoh:
‫( عفيخخف‬nama orang) ‫( مكخخة‬nama kota). Isim ‘alam dibagi
menjadi 3:
Isim ‘alam kunyah (nama gelar), yaitu nama yang dijadikan
julukan / gelar dari sesuatu yang didahului lafadz ‫أب‬
atau ‫أم‬. Contoh: ‫ أم المؤمنين‬,‫ابو بكر‬
Isim alam laqob (nama gelar), yaitu nama yang dijadikan
julukan / gelar dari sesuatu, baik berupa pujian ataupun
celaan, dan tidak didahului oleh kata ‫ اب‬dan ‫ام‬. Contoh:
‫( الميخخن‬gelar bagi orang yang dapat dipercaya). ‫السخخمين‬
(gelar bagi orang yang gemuk)
Isim alam isim (nama asli), yaitu nama asli yang tidak
dijadikan gelar dari sesuatu sekalipun mengandung
makna gelar, dan bisa didahului kata ‫ اب‬dan ‫ام‬. Contoh:
‫( خليل الرحمن‬nama asli)

Isim isyaroh (kata petunjuk), yaitu isim yang mengandung


arti petunjuk. Contoh: ‫( ذالك‬itu). ‫( هنا‬disini). Isim isyaroh ada
dua macam:
Menunjukkan keberadaan suatu benda. Contoh: ‫( هذه حجرة‬ini
sebuah batu). Macam yang ini dibagi menjadi 3:
Menunjukkan benda berjarak dekat, yaitu:
‫ هذا‬/ ‫ذا‬ (ini) : mufrod mudzakkar
‫ ذي‬,‫ تي‬,‫ تا‬,‫ ذه‬,‫ته‬ (ini) : mufrod muannas
‫ هذان‬/ ‫ذان‬ (ini) : tasniyah mudzakkar (rofa’)
‫ هذين‬/ ‫ذين‬ (ini) : tasniyah mudzakkar
(nashob / jer)
‫ هاتان‬/ ‫تان‬ (ini) : tasniyah muannas (rofa’)
‫ هتين‬/ ‫تين‬ (ini) : tasniyah muannas (nashob /
jer)
‫ هؤلء‬,‫ أولء‬,‫أولى‬ (ini) : jama’ mudzakkar / muannas
Menunjukkan benda berjarak sedang, yaitu:
‫ هذاك‬/ ‫ذاك‬ (itu) : mufrod mudzakkar
‫ذانك‬ (itu) : tasniyah muannas (rofa’)
‫ذينك‬ (itu) : tasniyah muannas (nashob / jer)
‫ذيك تيك تاك‬ (itu) : mufrod muannas
‫تانك‬ (itu) : tasniyah muannas (rofa’)
‫تينك‬ (itu) : tasniyah muannas (nashob / jer)
‫أولئك‬ (itu) : jama’ mudzakkar / muannas
Menunjukkan benda berjarak jauh, yaitu:
‫ذلك‬ (itu) : mufrod mudzakkar
‫ذانك‬ (itu) : tasniyah mudzakkar (rofa’)
‫ذينك‬ (itu) : tasniyah mudzakkar (nashob / jer)
‫تلك‬ (itu) : mufrod muannas
‫تانك‬ (itu) : tasniyah muannas (rofa’)
‫تينك‬ (itu) : tasniyah muannas (nashob / jer)
‫أولئك‬ (itu) : jama’ mudzakkar / muannas

menunjukkan keberadaan suatu tempat. Macam yang ini


juga dibagi 3:
Menunjukkan tempat berjarak jauh, yaitu:
‫ هنا‬,‫ههنا‬ (disini)
Menunjukkan tempat berjarak sedang, yaitu:
‫ هناك‬,‫( ههناك‬disana)
Menunjukkan tempat berjarak jauh, yaitu:
‫ هنالك‬,‫ هنا‬,‫ هنا‬,‫ ثم‬,‫ ثمت‬,‫( هنت‬disana)

Isim maushul (kata sambung), yaitu isim yang pasti


membutuhkan shilah dan aid
Keterangan
S}ilah : Sambungan isim maushul yang berupa jumlah,
baik fi’liyah[berupa susunan fi’il dan fa’il] ataupun ismiyah
[berupa susunan mubtada’ dan khobar]
’aid : dlomir yang kembali pada isim maushul dan dlomir
tersebut harus sesuai dengan isim maushul dari segi
jumlahnya, baik mufrod, tasniyah, dan jama’ dan sama dari
segi jenisnya) Mudzakkar atau muannas).
Contoh: ‫( جاء زيد الذي هو جميل‬zaid yang ganteng itu datang).
‫ الذي‬adalah isim maushul yang butuh pada shilah dan ‘aid.
‫ هخخخو جميخخخل‬adalah shilah, yaitu berupa susunan jumlah
mubtada’ dan khobar. ‫ هخخو‬adalah ‘aid, yaitu berupa isim
dlomir yang kembali kepada isim maushul ‫الخخذي‬. Isim
maushul dibagi 2:
Khos / mukhtash (khusus), yaitu isim maushul yang hanya
digunakan untuk satu arti / penggunaan saja. Contoh:
‫( الخخخخخذي‬yang), kata ini hanya digunakan untuk
menunjukkan mufrod mudzakkar (laki-laki satu) dan
tidak bisa digunakan untuk arti yang lain. Rinciannya
sebagai berikut:
‫( الذي‬yang), untuk mufrod mudzakkar (satu laki-laki)
‫( الممذان‬yang), utnuk tasniyah mudzakkar (dua laki-laki)
dalam keadaan rofa’
‫( الذين‬yang), untuk tasniyah mudzakkar dalam keadaan

15
nashob atau jer
‫ الذين‬,‫( الولى‬yang) untuk jama’ mudzakkar (banyak laki-
laki)
‫( التي‬yang), untuk mufrod muannas (satu perempuan)
‫( اللتان‬yang), untuk tasniyah muannas (dua perempuan)
dalam keadaan rofa’
‫( اللتين‬yang), untuk tasniyah muannas (dua perempuan)
dalam keadaan nashob atau jer
‫ اللء )اللئي‬,(‫)اللت )اللتممي‬, untuk jama’ muannas (banyak
perempuan)
Musytarok (tidak khusus), yaitu isim maushul yang bisa
digunakan untuk beberapa arti / penggunaan. Contoh ‫من‬
(seseorang). Kata ini bisa digunakan untuk beberapa arti
/ penggunaan. Kata ‫ من‬bisa untuk arti satu orang, dua
orang, atau tiga orang, baik laki-laki atau perempuan.
Isim maushul yang musytarok ini ada 6. Rinciannya
sebagaimana berikut:
‫( من‬orang/siapapun)
‫( ما‬sesuatu/apapun).
‫( أي‬apapun).
‫( ال‬yang).
‫( ذو‬yang mempunyai)
‫ ذا‬, dengan syarat hatus didahului ‫ مخخا‬istifham (‫ مخخا‬yang
berarti pertanyaan) atau ‫ من‬istifham (‫ من‬yang berarti
pertanyaan).

Isim nakiroh yang dimasuki al ta’rif(‫ )ال‬. Yaitu isim yang


awalnya adalah isim nakiroh lalu dimasuki al ta’rif(‫ )ال‬.
Maka isim tersebut menjadi ma’rifat (tertentu). Contoh:
‫(مجنون‬seseorang yang gila) menjadi ‫( المجنون‬orang yang gila
itu)

Isim nakiroh yang menjadi ma’rifat karena dimudofkan


(disandarkan) pada salah satu dari isim-isim ma’rifat yang
lima. Yaitu isim yang awalnya nakiroh (tidak tertentu) lalu
menjadi isim ma’rifat sebab disandarkan (mudhof) pada
isim-isim ma’rifat yang lainnya. Contoh:
‫( رجخخل‬kaki) menjadi ‫( رجلخخي‬kakiku). ‫ رجخخل‬menjadi ma’rifat
Karena disandarkan pada isim dhomir (‫)ي‬
‫( رجخخخخل زيخخخخد‬kaki zaid). ‫ رجخخخخل‬menjadi ma’rifat karena
disandarkan pada isim alam (‫)زيد‬
‫( رجخخل ذي‬kakinya orang ini). ‫ رجخخل‬menjadi ma’rifat karena
disandarkan pada isim isyaroh (‫)ذي‬
‫( رجل الذي ضربته‬kakinya orang yang aku pukul). ‫ رجل‬menjadi
ma’rifat karena disandarkan pada isim maushul (‫)الذي‬
‫( رجل النائم‬kakinya orang yang tidur). ‫ رجخخل‬menjadi ma’rifat
karena disandarkan pada isim yang dimasuki ‫)ال )النائم‬

Tabel isim nakirah dan ma’rifat:

CONTO
N
ISIM H
O
Nakira Isim yang bisa dimasuki al ta’rif ( ‫ال‬ ‫فضة‬
1
h )
Isim yang lafadznya tidak bisa ‫ما‬
dimasuki al-ta’rif akan tetepi
artinya sama dengan isim yang
bisa dimasuki al ta’rif
Ma’rif Isim dlamir (kata ganti) ‫هو‬
2
at
Isim ‘alam (nama) ‫عفيف‬
Isim isyaroh (kata petunjuk) ‫ذالك‬
Isim maushul (kata sambung) ‫الذي‬
Isim nakiroh yang dimasuki al ta’rif ( ‫المجنون‬
‫)ال‬
Isim nakiroh yang menjadi ma’rifat ‫رجل زيد‬
karena dimudofkan

FI’IL (KATA KERJA)


Fiil adalah kalimat yang memiliki arti mandiri dan pantas diikat
dengan salah satu dari waktu yang tiga, yaitu mad}i (lampau /
telah) haal (sedang), istiqbal (akan datang). Contoh: kata ‫أطلب‬
pada ‫( أطلب الماء‬saya sedang mencari air). ‫( إستعملت التراب‬saya telah
menggunakan debu).

Tanda-tanda Fi’il
Tanda-tanda yang bisa masuk pada fi’il adalah:
Dimasuki ‫( قخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخد‬sungguh-sungguh/hampir/kadang-
kadang/seringkali). Arti ‫ قد‬dibagi dua:
Jika masuk pada fi’il mad}i (kata kerja lampau), artinya dua:
Sungguh-sungguh terjadi (‫)تحقيخخق‬. Contoh: ‫قخخد نقخخض وضخخوءك‬
(wudu’mu sungguh-sungguh batal)
Hampir terjadi (‫)تقريخخب‬. Contoh: ‫( قخخد قخخامت الصخخلة‬sholat akan
segera dilaksanakan)
Jika masuk pada fi’il mudhori’, artinya ada dua:
Kadang-kadang (‫)تقليل‬. Contoh: ‫( قد أسافر إلى المدينة‬saya kadang-
kadang pergi ke kota)
Seringkali terjadi (‫)تكخخخثير‬. Contoh: ‫( قخخخد أصخخخلي جماعخخخة‬saya
seringkali sholat jama’ah)

17
Dimasuki huruf tanfis, yaitu ‫( س‬akan segera dilakukan) dan ‫سوف‬
(akan; tidak segera dilakukan). Tanda ini hanya bisa masuk
pada kata kerja (fi’il) bermakna akan datang (‫)استقبال‬. Contoh:
‫( سنخرج من البيت‬saya akan segera keluar rumah), ‫سوف أستعمل السيارة‬
(saya akan menggunakan mobil)
Bersambung dengan ta’ ta’nis sakinah (‫)ت‬, yaitu ta’ sukun yang
menunjukkan bahwa pelakunya adalah perempuan. Tanda ini
hanya masuk pada fi’il mad}i. Contoh: ‫( فاطمة طهرت ثوبها‬Fatimah
mensucikan bajunya)
Bersambung dengan ta’ fa’il (‫)ت‬, yaitu ta’ yang bermakna
sebagai pelaku (subyek). Tanda ini hanya masuk pada fi’il
mad}i. Contoh: ‫( دخلت إلى المسجد‬kamu perempuan masuk masjid)
Bersambung dengan nun taukid (‫)ن‬, yaitu nun yang berfungsi
untuk menguatkan perkataan. Tanda ini masuk pada fi’il
mudlori’ (kata kerja bermakna sedang/akan) dan fi’il amr
(kata kerja perintah). Contoh: ‫( هو يزيلن النجاسة‬dia akan benar-
benar menghilangkan najis). ‫( اطلبن الطراب‬sungguh-sungguhlah
mencari debu)
Bersambung dengan ya’ muannas mukhotobah (‫)ي‬, yaitu ya’
yang berfungsi sebagai tanda bahwa orang yang diajak bicara
adalah perempuan. Tanda ini masuk pada fi’il mudlori’ dan fi’il
amr. Contoh: ‫( أنت تمرضين‬kamu perempuan sakit), ‫( أتبعي‬ikutlah
kamu perempuan)

Tabel tanda-tanda fi’il:

N TANDA FI’IL CONTOH


O
1 Dimasuki ‫قد‬ ‫قد قامت الصلة‬
2 Dimasuki huruf tanfis ( ‫ س‬dan ‫) سوف‬ ‫سنخرج من البيت‬
3 Bersambung dengan ta’ ta’nis sakinah ( ‫فاطمة طهرت ثوبه‬
‫)ت‬
4 Bersambung dengan ta’ fa’il (‫)ت‬ ‫دخلت إلى المسجد‬
5 Bersambung dengan nun taukid (‫)ن‬ ‫هو يزيلن النجاسة‬
6 Bersambung dengan ya’ muannas ‫أنت تمرضين‬
mukhotobah (‫)ي‬

Pembagian Fi’il
Ada beberapa pembagian fi’il, yaitu:
Dilihat dari segi waktunya
Dilihat dari segi sehat dan sakitnya (ada huruf illat atau tidak)
Dilihat dari segi ada tambahan pada bentuk fi’ilny atau tidak
Dilihat dari segi ada atau tidaknya objek suatu pekerjaan
Dilihat dari segi adanya pelaku suatu pekerjaan atau tidaknya
Rinciannya sebagai berikut:

Dilihat dari segi waktunya, dibagi menjadi 3:


Fi’il mad}i (kata kerja lampau). Yaitu kata kerja yang
bermakna lampau (telah terjadi). Contoh: ‫( أكلت الطعخخام‬saya
telah makan makanan). Bentuk Tashrif (perubahan) dari
fi’il mad}i adalah:
‫( فعل‬dia satu laki-laki telah bekerja)
‫( فعل‬dia dua laki-laki telah bekerja)
‫( فعلوا‬mereka laki-laki telah bekerja)
‫( فعلت‬dia satu perempuan telah bekerja)
‫( فعلتا‬dia dua perempuan telah bekerja)
‫( فعلن‬mereka perempuan telah bekerja)
‫( فعلت‬kamu satu laki-laki telah bekerja)
‫( فعلتما‬kamu dua laki-laki telah bekerja)
‫( فعلتم‬kamu banyak laki-laki telah bekerja)
‫( فعلت‬kamu satu perempuan telah bekerja)
‫( فعلتما‬kamu dua perempuan telah bekerja)
‫( فعلتن‬kamu banyak perempuan telah bekerja)
‫( فعلت‬saya telah bekerja)
‫( فعلنا‬kami telah bekerja)

Fi’il mudlori’ (kata kerja bermakna sedang/akan). Fi’il mudhori’


selalu didahului oleh salah satu dari huruf mudhoroah yaitu
‫ت )أنيخخت‬, ‫ي‬, ‫ن‬, ‫)أ‬. Fi’il mudhori’ adalah kata kerja yang
mengandung makna sedang atau akan melakukan sesuatu.
Contoh: ‫( هي تتولد‬dia perempuan akan melahirkan). Bentuk
Tashrifannya sebagai berikut:

‫يفعل‬ (dia satu laki-laki sedang/akan bekerja)


‫يفعلن‬ (dia dua laki-laki sedang/akan bekerja)
‫يفعلون‬ (mereka laki-laki sedang/akan bekerja)
‫تفعل‬ (dia satu perempuan sedang/akan bekerja)
‫تفعلن‬ (dia dua perempuan sedang/akan bekerja)
‫يفعلن‬ (mereka perempuan sedang/akan bekerja)
‫تفعل‬ (kamu satu laki-laki sedang/akan bekerja)
‫تفعلن‬ (kamu dua laki-laki sedang/akan bekerja)
‫تفعلون‬ (kamu banyak laki-laki sedang/akan bekerja)
‫تفعلين‬ (kamu satu perempuan sedang/akan bekerja)
‫تفعلن‬ (kamu dua perempuan sedang/akan bekerja)
‫تفعلن‬ (kamu banyak perempuan sedang/akan bekerja)
‫أفعل‬ (saya sedang/akan bekerja)
‫نفعل‬ (kami sedang/akan bekerja)

Fi’il amr (kata kerja perintah), yaitu kata kerja yang

19
mengandung arti perintah. Contoh: ‫( توضخخأ‬berwudu’lah).
Tashrifannya sebagai berikut:
‫( أفعل‬bekerjalah kamu satu laki-laki)
‫( أفعل‬bekerjalah kamu dua laki-laki)
‫( أفعلوا‬bekerjalah kamu banyak laki-laki)
‫( أفعلي‬bekerjalah kamu satu perempuan)
‫( أفعل‬bekerjalah kamu dua perempuan)
‫( أفعلن‬bekerjalah kamu banyak perempuan)

Tabel pembagian fi’il dilihat dari segi waktunya:

N CONTOH
FI’IL WAKTU
O
1 Fi’il mad}i Lampau (telah ‫أكل‬
terjadi)
2 Fi’il mudlori’ Sedang/akan terjadi ‫تتولد‬
3 Fi’il amr Perintah (akan ‫توضأ‬
terjadi)

Dilihat dari segi sehat atau sakitnya (ada huruf illat atau
tidaknya), dibagi menjadi 2:
Fi’il shohih (sehat), yaitu kata kerja yang bentuk lafaz aslinya
terdiri dari huruf-huruf yang sehat (salah satu hurufnya
tidak berupa huruf illat / penyakit yang tiga, yaitu ya’, alif,
wawu / ‫ و‬,‫ا‬/ ‫ى‬,‫)ي‬. Contoh, ‫( ستر العورة‬dia menutupi aurot).
Salah satu huruf pada ‫ ستر‬bukan ‫ و‬,‫ا‬/ ‫ى‬,‫ ي‬.
Fi’il shohih ini dibagi menjadi 3 macam:
Salim (selamat), yaitu kata kerja (fi’il) yang salah satu
hurufnya bukan berupa huruf illat, hamzah (‫)ء‬, mudoaf
(ganda). Contoh: ‫( ترك‬meninggalkan / membelakangi)
Mahmuz (berhamzah), yaitu kata kerja (fi’il) yang salah
satu huruf aslinyanya adalah berupa hamzah ( ‫) أ‬.
Contoh: ‫(قرأ‬membaca).
Mudho’af (ganda), yaitu kata kerja (fi’il) yang salah satu
huruf aslinya diulang / ganda. Contoh: ‫( مر‬lewat). Bentuk
tashrifnya adalah:

‫مر‬ (dia satu laki-laki telah lewat)


‫مرا‬ (dia dua laki-laki telah lewat)
‫مروا‬ (mereka laki-laki telah lewat)
‫مرت‬ (dia satu perempuan telah lewat)
‫مرتا‬ (dia dua perempuan telah lewat)
‫مررن‬ (mereka perempuan telah lewat)
‫مررت‬ (kamu satu laki-laki telah lewat)
‫مررتما‬ (kamu dua laki-laki telah lewat)
‫مررتم‬ (kamu banyak laki-laki telah lewat)
‫مررت‬ (kamu satu perempuan telah lewat)
‫مررتما‬ (kamu dua perempuan telah lewat)
‫مررتن‬ (kamu banyak perempuan telah lewat)
‫مررت‬ (saya telah lewat)
‫مررن‬ (kami telah lewat)

Fi’il mu’tal. Yaitu kata kerja yang salah satu huruf aslinya
berupa huruf illat / penyakit berupa ya’, alif, wawu (,‫ا‬/ ‫ى‬,‫ي‬
‫)و‬. Contoh: ‫( جاز‬boleh). Pada kata ‫ جاز‬ada huruf illat alif ( ‫) ا‬.
Tashrifnya adalah:
‫غزا‬ (dia satu laki-laki telah berperang)
‫( غزوا‬dia dua laki-laki telah berperang)
‫( غزوا‬mereka laki-laki telah berperang)
‫( غزت‬dia satu perempuan telah berperang)
‫( غزتا‬dia dua perempuan telah berperang)
‫( غزون‬mereka perempuan telah berperang)
‫( غزوت‬kamu satu laki-laki telah berperang)
‫( غزوتما‬kamu dua laki-laki telah berperang)
‫( غزوتم‬kamu banyak laki-laki telah berperang)
‫( غزوت‬kamu satu perempuan telah berperang)
‫( غزوتما‬kamu dua perempuan telah berperang)
‫( غزوتن‬kamu banyak perempuan telah berperang)
‫( غزوت‬saya telah berperang)
‫( غزونا‬kami telah berperang)
Keterangan:
Pada kata ‫فعل‬.
‫ ف‬: disebut fa’ fi’il
‫ ع‬: disebut ‘ain fi’il
‫ ل‬: disebut lam fi’il
Pada Fi’il mu’tal, adakalnya terdapat huruf illat pada:
Fa’ fi’ilnya, contoh: ‫( ورث‬mewarisi)
‘ain fi’ilnya, contoh: ‫( باع‬menjual)
Lam fi’ilnya, contoh: ‫( رضي‬rela)
dua huruf illat sekaligus, contoh: ‫( وفى‬memenuhi)
Jika kalimat fi’il ada huruf illat alif pada ‘ain fi’ilnya, maka
asal dari alif itu adalah wawu atau ya’. Contoh: ‫ قال‬. huruf
illat pada lafadz ‫ قال‬ini asalnya adalah:
wawu, yaitu ‫ قول‬. tashrifnya adalah ‫ قال – يقول – قول‬, artinya
berkata
ya’, yaitu ‫ قيخخل‬. tashrifnya adalah ‫ قخخال – يقيخخل – قيل‬, artinya
tidur tengah hari.
Jadi, lafadz ‫ قخخال‬mempunyai dua arti, adakalnya berarti
“berkata”, adakalnya berarti “tidur tengah hari”. Untuk
mengetahui apakah lafadz ‫ قخخال‬berarti “berkata” atau
21
“tidur tengah hari”, maka harus lihat syiyaqul kalam,
yaitu melihat konteks kalimat arti mana yang lebih pas
dalam suatu susunan kalimat.

Tabel pembagian fi’il shahih dan mu’tal:

NO FI’IL CONTOH
Salim ‫ترك‬
1 Fi’il shohih
Mahmuz ‫قرأ‬
Mudho’af ‫مر‬
Fa’ fi’ilnya ‫ورث‬
2 Fi’il mu’tal
‘ain fi’ilnya ‫باع‬
Lam fi’ilnya ‫رضي‬

Dilihat dari segi ada tambahan atau tidaknya bentuk fi’il,


dibagi menjadi 2, fi’il mujarrod dan mazid. Rinciannya
sebagai berikut:
Fi’il Mujarrod (sendiri / tidak ada tambahan), yaitu kata kerja
yang huruf pada fi’il mad}inya adalah asli tanpa ada
tambahan huruf. Contoh: ‫( حدث‬berhadas).
Fi’il mujarrod ini dibagi menjadi 2, tsulasi dan ruba’i.
Rinciannya sebagai berikut:
Tsulasi (tiga huruf), yaitu kata kerja (fi’il) yang fi’il
mad}inya terdiri dari tiga huruf asli tanpa ada tambahan
huruf lain. Contoh: ‫( وجب‬wajib). Fi’il tsulasi ini ada enam
wazan:
Wazan yang pertama adalah:

N Wazan / Jenis Kalimat Artinya


o Ukuran
1 ‫فعل‬ Fi’il madly Telah bekerja

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’ Sedang/akan bekerja

3 ‫فعل‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan


mim ( ‫)م‬
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar dengan Pekerjaan
mim ( ‫)م‬
5 ‫فهو‬ Isim dlomir Dia laki-laki

6 ‫فاعل‬ Isim fa’il (Orang/sesuatu) Yang


bekerja

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh Itu


8 ‫مفعول‬ Isim maf’ul (Orang/sesuatu)Yang
dikerjakan

9 ‫أفعل‬ Fi’il amr Bekerjalah

1 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi Jangan bekerja


0
1 2× ‫مفعل‬ Isim zaman/makan Waktu/tempat bekerja
1
1 ‫مفعل‬ Isim alat Alat bekerja
2

Wazan yang kedua adalah:

No Wazan / Jenis Kalimat Artinya


Ukuran
1 ‫فعل‬ Fi’il madly Telah bekerja

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’ Sedang/akan bekerja

3 ‫فعل‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan


mim
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar dengan Pekerjaan
mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir Dia laki-laki

6 ‫فاعل‬ Isim fa’il (Orang/sesuatu) Yang


bekerja

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh Itu

8 ‫مفعول‬ Isim maf’ul (Orang/sesuatu)Yang


dikerjakan

9 ‫أفعل‬ Fi’il amr Bekerjalah

10 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi Jangan bekerja

11 2× ‫مفعل‬ Isim zaman/makan Waktu/tempat bekerja

12 ‫مفعل‬ Isim alat Alat bekerja

Wazan yang ketiga adalah:

No Wazan / Jenis Kalimat Artinya


Ukuran
1 ‫فعل‬ Fi’il madly Telah bekerja

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’ Sedang/akan bekerja

23
3 ‫فعل‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan
mim
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar dengan Pekerjaan
mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir Dia laki-laki

6 ‫فاعل‬ Isim fa’il (Orang/sesuatu) Yang


bekerja

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh Itu

8 ‫مفعول‬ Isim maf’ul (Orang/sesuatu)Yang


dikerjakan

9 ‫أفعل‬ Fi’il amr Bekerjalah

10 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi Jangan bekerja

11 2× ‫مفعل‬ Isim zaman/makan Waktu/tempat bekerja

12 ‫مفعال‬ Isim alat Alat bekerja

Wazan yang keempat adalah:

No Wazan / Jenis Kalimat Artinya


Ukuran
1 ‫فعل‬ Fi’il madly Telah bekerja

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’ Sedang/akan bekerja

3 ‫فعل‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan


mim
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar dengan Pekerjaan
mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir Dia laki-laki

6 ‫فاعل‬ Isim fa’il (Orang/sesuatu) Yang


bekerja

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh Itu

8 ‫مفعول‬ Isim maf’ul (Orang/sesuatu)Yang


dikerjakan

9 ‫أفعل‬ Fi’il amr Bekerjalah

10 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi Jangan bekerja

11 2× ‫مفعل‬ Isim zaman/makan Waktu/tempat bekerja


Wazan yang kelima adalah:

No Wazan / Jenis Kalimat Artinya


Ukuran
1 ‫فعل‬ Fi’il madly Telah bekerja

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’ Sedang/akan bekerja

3 ‫فعل‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan


mim
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar dengan Pekerjaan
mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir Dia laki-laki

6 ‫فعل‬ Sifat mushabihat (Orang/sesuatu) Yang


bekerja

7 ‫أفعل‬ Fi’il amr Bekerjalah

8 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi Jangan bekerja

9 2× ‫مفعل‬ Isim zaman/makan Waktu/tempat bekerja

Wazan yang keenam adalah:

No Wazan / Jenis Kalimat Artinya


Ukuran
1 ‫فعل‬ Fi’il madly Telah bekerja

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’ Sedang/akan bekerja

3 ‫فعلنا‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan


mim
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar dengan Pekerjaan
mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir Dia laki-laki

6 ‫فاعل‬ Isim fa’il (Orang/sesuatu) Yang


bekerja

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh Itu

8 ‫مفعول‬ Isim maf’ul (Orang/sesuatu)Yang


dikerjakan

9 ‫إفعل‬ Fi’il amr Bekerjalah

10 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi Jangan bekerja

11 2× ‫مفعل‬ Isim zaman/makan Waktu/tempat bekerja

25
Ruba’I (empat huruf), yaitu kata kerja (fi’il) yang fi’il
mad}inya terdiri dari empat huruf tanpa ada tambahan
huruf lain. Contoh: ‫( جلبخخب‬memakai jilbab). Wazan fi’il
ruba’I hanya 1:

N Wazan / Jenis Kalimat Artinya


o Ukuran
1 ‫فعلل‬ Fi’il madly Telah bekerja

2 ‫يفعلل‬ Fi’il mudlori’ Sedang/akan bekerja

3 ‫فعللة‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan


mim
4 ‫وفعلل‬ Isim masdar tanpa Pekerjaan
mim
5 ‫ومفعلل‬ Isim masdar dengan Pekerjaan
mim
6 ‫فهو‬ Isim dlomir Dia laki-laki

7 ‫مفعلل‬ Isim fa’il (Orang/sesuatu) Yang


bekerja

8 ‫وذاك‬ Isim isyaroh Itu

9 ‫مفعلل‬ Isim maf’ul (Orang/sesuatu)Yang


dikerjakan

1 ‫فعلل‬ Fi’il amr Bekerjalah


0
1 ‫لتفعلل‬ Fi’il nahi Jangan bekerja
1
1 ‫مفعلل‬ Isim zaman/makan Waktu/tempat bekerja
2

Fi’il Mazid (ada tambahan huruf), yaitu kata kerja (fi’il) yang
huruf asli pada fi’il mad}inya terdiri lebih dari tiga huruf
(ada tambahan huruf). Huruf-huruf tambahan ada sepuluh (
‫) س أ ل ت م و ن ي ه ا‬. Contoh: ‫( تخلل‬bercampur). Fi’il mazid ada
dua macam, tsulasi dan ruba’i. Rinciannya sebagai berikut:
Mazid tsulasi (lebih dari tiga huruf asal), yaitu kata kerja
(fi’il) yang fi’il mad}inya lebih dari tiga huruf asal karena
ada tambahan huruf lain, baik tambahannya 1 huruf
(contoh: ‫أبطخخل‬: membatalkan), 2 huruf (contoh: ‫انطلخخق‬
:berangkat), atau 3 huruf (contoh: ‫ اسخخخخختعمل‬:
menggunakan). Mazid sulasi ini ada 12 wazan:
Wazan pertama:
No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf
Ukuran
1 ‫فعل‬ Fi’il madly Ta’diyah (menunjukkan arti
pekerjaan yang butuh
pada objek). Contoh: ‫فرح‬
‫( زيخخخخخخخخخخخد عمخخخخخخخخخخخرا‬zaid
membahagiakan amr)
Memperbanyak suatu
pekerjaan. Contoh: ‫زيخخد‬
‫( قطخخخخخخخخخخخخخع الحبخخخخخخخخخخخخخل‬zaid
memotong-motong tali)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫تفعيل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫تفعلة‬ Isim masdar tanpa
mim
5 ‫تفعال‬ Isim masdar tanpa
mim
6 ‫تفعال‬ Isim masdar tanpa
mim
7 ‫مفعل‬ Isim masdar
dengan mim
8 ‫فهو‬ Isim dlomir

9 ‫مفعل‬ Isim fa’il

10 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

11 ‫مفعل‬ Isim maf’ul

12 ‫فعل‬ Fi’il amr

13 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi

14 2× ‫مفعل‬ Isim zaman/makan

Wazan kedua:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫فاعل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti saling
melakukan suatu

27
pekerjaan bersamaan.
Contoh: ‫ضخخارب زيخخد عمخخرا‬
(zaid dan amr saling
memukul)
Memperbanyak suatu
pekerjaan. Contoh:
‫( ضخخخخخخخخاعف الخخخخخخخخخ‬mudah-
mudahan Allah
melipatgandakan)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفاعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫مفاعلة‬ Isim masdar


dengan mim
4 ‫وفعال‬ Isim masdar tanpa
mim
5 ‫وفيعال‬ Isim masdar tanpa
mim
6 ‫فهو‬ Isim dlomir

7 ‫مفاعل‬ Isim fa’il

8 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

9 ‫مفاعل‬ Isim maf’ul

10 ‫فاعل‬ Fi’il amr

11 ‫لتفاعل‬ Fi’il nahi

12 ‫مفاعل‬ Isim zaman

13 ‫مفاعل‬ Isim makan

Wazan ketiga:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫أفعل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti
pekerjaan yang butuh
pada objek. Contoh: ‫أكرم‬
‫( ت زيخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخدا‬saya
memulyakan zaid)
Masuk pada suatu hal.
Contoh: ‫أمسخخخخخخخخى المسخخخخخخخخافر‬
(musafir itu masuk
waktu sore)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفعال‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مفعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مفعل‬ Isim maf’ul

9 ‫أفعل‬ Fi’il amr

10 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi

11 ‫مفعل‬ Isim zaman

12 ‫مفعل‬ Isim makan

Wazan keempat:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫تفاعل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti dua
orang atau lebih saling
melakukan pekerjaan
yang sama. Contoh:
‫( تصخخخخخالح القخخخخخوم‬kaum itu
saling berdamai)
Arti pura-pura (bukan
kenyataan). Contoh:
‫( تمارض زيد‬zaid pura-pura
sakit)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يتفاعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫تفاعل‬ Isim masdar tanpa

29
mim
4 ‫ومتفاعل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫متفاعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫متفاعل‬ Isim maf’ul

9 ‫تفاعل‬ Fi’il amr

10 ‫لتتفاعل‬ Fi’il nahi

11 ‫متفاعل‬ Isim zaman

12 ‫متفاعل‬ Isim makan

Wazan kelima:

N Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


o Ukuran
1 ‫تفعل‬ Fi’il madly MMenunjukkan arti hasil dari
suatu pekerjaan. Contoh:
‫ فتكسخخخر‬,‫( كسخخخرت الزجخخخاج‬saya
memecahkan kaca, maka
kaca itu terpecah)
mMembebankan diri untuk
menghasilkan suatu
pekerjaan. Contoh: ‫تشخخجع‬
‫( زيخخخخخخخخخد‬zaid berusaha
menjadi berani)
fFaidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يتفعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫تفعل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومتفعل‬ Isim masdar dengan
mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫متفعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫متفعل‬ Isim maf’ul


9 ‫تفعل‬ Fi’il amr

1 ‫ل تتفعل‬ Fi’il nahi


0
1 ‫متفعل‬ Isim zaman
1
1 ‫متفعل‬ Isim makan
2

Wazan keenam:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إفتعل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti hasil dari
suatu pekerjaan.
Contoh: ‫ فخاجتمع‬,‫جمعت البخخل‬
(saya mengumpulkan
unta, maka unta itu
berkumpul)
Menggunakan atau
mengambil sesuatu.
Contoh: ‫( اختخخخبز زيخخخد‬zaid
mengambil roti)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفتعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفتعال‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومفتعل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مفتعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مفتعل‬ Isim maf’ul

9 ‫إفتعل‬ Fi’il amr

10 ‫لتفتعل‬ Fi’il nahi

11 ‫مفتعل‬ Isim zaman

12 ‫مفتعل‬ Isim makan

Wazan ketujuh:

31
No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf
Ukuran
1 ‫إنفعل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti hasil dari
suatu pekerjaan.
Contoh: ,‫كسخخخخرت الزجخخخخاج‬
‫( فانكسخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخر‬saya
memecahkan kaca,
maka kaca itu terpecah)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫ينفعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إنفعال‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومنفعل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫منفعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫منفعل‬ Isim maf’ul

9 ‫إنفعل‬ Fi’il amr

10 ‫لتنفعل‬ Fi’il nahi

11 ‫منفعل‬ Isim zaman

12 ‫منفعل‬ Isim makan

Wazan kedelapan:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إفعل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti masuk
pada sifat tertentu.
Contoh: ‫احمخخخخخخر وجههخخخخخخا‬
(wajahnya menjadi
merah)
Mempersangat suatu sifat
atau pekerjaan. Contoh:
‫( اسود الليخخل‬malam sangan
gelap/hitam)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفعلل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومفعل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مفعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مفعل‬ Isim maf’ul

9 ‫إفعل‬ Fi’il amr

10 ‫لتفعل‬ Fi’il nahi

11 ‫مفعل‬ Isim zaman

12 ‫مفعل‬ Isim makan

Wazan kesembilan:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إستفعل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti meminta
suatu pekerjaan.
Contoh: ‫( اسخختغفر الخخ‬saya
meminta ampun kepada
Allah)
Menemukan /
mendapatkan sifat
tertentu. Contoh: ‫استحسنت‬
‫( شخخخيئا‬saya menganggap
baik/mendapatkan hal
yang baik pada sesuatu
itu)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يستفعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إستفعال‬ Isim masdar tanpa

33
mim
4 ‫ومستفعل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مستفعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مستفعل‬ Isim maf’ul

9 ‫إستفعل‬ Fi’il amr

10 ‫لتستفعل‬ Fi’il nahi

11 ‫مستفعل‬ Isim zaman

12 ‫مستفعل‬ Isim makan

Wazan kesepuluh:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إفعوعل‬ Fi’il madly Mempersangat suatu
pekerjaan. Contoh:
‫( احخخدودب زيخخد‬zaid menjadi
sangat bungkuk)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفعوعل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفعيلل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومفعوعل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مفعوعل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مفعوعل‬ Isim maf’ul

9 ‫إفعوعل‬ Fi’il amr

10 ‫لتفعوعل‬ Fi’il nahi

11 ‫مفعوعل‬ Isim zaman


12 ‫مفعوعل‬ Isim makan

Wazan kesebelas

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إفعال‬ Fi’il madly Mempersangat suatu sifat
tertentu. Contoh: ‫اصخخفار‬
‫( المخخوز‬pisang itu sangat
kuning)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفعال‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفعيلل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫و مفعال‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مفعال‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مفعال‬ Isim maf’ul

9 ‫إفعال‬ Fi’il amr

10 ‫لتفعال‬ Fi’il nahi

11 ‫مفعال‬ Isim zaman

12 ‫مفعال‬ Isim makan

Wazan keduabelas

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إفعول‬ Fi’il madly Mempersangat suatu hal.
Contoh: ‫( اكبور البيت‬rumah
itu sangat besar)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

35
2 ‫يفعول‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفعوال‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫مفعول‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مفعول‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مفعول‬ Isim maf’ul

9 ‫إفعول‬ Fi’il amr

10 ‫لتفعول‬ Fi’il nahi

11 ‫مفعول‬ Isim zaman


12 ‫مفعول‬ Isim makan

Mazid Rubai (lebih dari empat huruf asal), yaitu kata kerja
(fi’il) yang fi’il mad}inya lebih dari empat huruf asal
karena ada tambahan huruf lain, baik tambahannya
satu huruf (contoh: ‫تيمخخخخم‬: bertayammum), atau
tambahannya 2 huruf (contoh: ‫ إحرنجم‬: ).
mazid ruba’I ini ada tiga wazan:

Wazan pertama:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫تفعلل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti hasil dari
suatu pekerjaan.
Contoh: ,‫دحرجخخخخت الحجخخخخر‬
‫( فتخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخخدحرج‬saya
mengguling-gulingkan
batu, maka batu itu
terguling)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يتفعلل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫تفعلل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومتفعلل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫متفعلل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫متفعلل‬ Isim maf’ul

9 ‫تفعلل‬ Fi’il amr

10 ‫لتتفعلل‬ Fi’il nahi

11 ‫متفعلل‬ Isim zaman

12 ‫متفعلل‬ Isim makan

Wazan kedua:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إفعنلل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti hasil dari
suatu pekerjaan.
Contoh: ‫حرجمخخت البخخل‬
‫فاحرنجم‬ (

)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفعنلل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفعنلل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫ومفعنلل‬ Isim masdar
dengan mim
5 ‫فهو‬ Isim dlomir

6 ‫مفعنلل‬ Isim fa’il

7 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

8 ‫مفعنلل‬ Isim maf’ul

9 ‫إفعنلل‬ Fi’il amr

10 ‫لتفعنلل‬ Fi’il nahi

11 ‫مفعنلل‬ Isim zaman

12 ‫مفعنلل‬ Isim makan

37
Wazan ketiga:

No Wazan / Jenis Kalimat Faidah Tambahan Huruf


Ukuran
1 ‫إفعلل‬ Fi’il madly Menunjukkan arti
mempersangat suatu
pekerjaan. Contoh: ‫اطمأن‬
‫( زيد‬zaid sangat tenang)
Faidah-faidah lain yang
lebih jelasnya, langsung
lihat di kamus

2 ‫يفعلل‬ Fi’il mudlori’

3 ‫إفعلل‬ Isim masdar tanpa


mim
4 ‫وفعيليلة‬ Isim masdar tanpa
mim
5 ‫ومفعلل‬ Isim masdar
dengan mim
6 ‫فهو‬ Isim dlomir

7 ‫مفعلل‬ Isim fa’il

8 ‫وذاك‬ Isim isyaroh

9 ‫مفعلل‬ Isim maf’ul

10 ‫إفعلل‬ Fi’il amr

11 ‫لتفعلل‬ Fi’il nahi

12 ‫مفعلل‬ Isim zaman

13 ‫مفعلل‬ Isim makan

Keterangan:
Fi’il mad}i: yaitu kata kerja yang bermakna lampau (telah
dikerjakan). Contoh: ‫( نصر‬dia telah menolong). Penjelasan lebih
rinci telah dijelakan pada pembahasan sebelumnya.
Fi’il mudlori’. Yaitu kata kerja yang bermakna sedang / akan
melakukan suatu pekerjaan. Contoh: ‫( يضرب‬dia sedang / akan
memukul). Penjelasan lebih rinci telah dijelaskan pada
pembahasan sebelumnya.
Isim masdar tanpa mim ( ‫ )م‬: yaitu kata benda yang huruf awalnya
tidak berupa mim, yang menunjukkan arti suatu peristiwa /
kejadian dan tidak bersamaan dengan waktu. bentuk wazan /
ukuran lafadz dari isim masdar ini dibagi menjadi dua:
Jika berupa tsulasi mujarrod (huruf aslinya tiga), maka bentuk
wazannya adalah sama’I (lafaz-lafaznya sudah ditentukan dari
orang arab dan tidak bisa disamakan dalam satu atau dua
wazan tertentu. Contoh: jika fi’il mad}inya ‫ فعل‬maka bentuk
isim masdarnya tidak pasti mengikuti wazan ‫)فعل‬. Jadi, untuk
mencari bentuk lafaznya bisa melihat langsung di kamus-
kamus bahasa arab-indonesia. Contoh: ‫( القيخخخام‬berdiri) fi’il
mad}inya adalah ‫( قخخام‬telah berdiri). ‫ القيخخام‬ini tidak mengikuti
wazan isim masdar, yaitu ‫فعل‬
Jika berupa selain tsulasi mujarrod, maka hukumnya qiyasi
(lafaznya bisa disamakan dengan wazan tertentu. Contoh: jika
wazan fi’il mad}inya adalah ‫ أفعخخل‬, maka bentuk lafaz isim
masdarnya pasti mengikuti wazan ‫)إفعخخخال‬. Contoh: ‫إكخخخخرام‬
(pemulyaan / memulyakan), fi’il mad}linya adalah ‫أكخخخخرم‬
(memulyakan). ‫ إكخخرام‬ini mengikuti wazan isim masdar, yaitu
‫إفعال‬
Isim masdar dengan mim ( ‫ )م‬: yaitu kata benda yang huruf awalnya
berupa mim, yang menunjukkan arti suatu peristiwa / kejadian
dan tidak bersamaan dengan waktu. bentuk wazan dari isim
masdar dengan mim ini hukumnya qiyasi (lafadznya bisa
disamakan dengan wazan tertentu). Contoh: ‫( منصر‬pertolongan),
fi’il mad}inya adalah ‫( نصر‬telah menolong). ‫ منصر‬ini mengikuti
wazan isim masdar, yaitu: ‫مفعل‬
Isim dlomir. yaitu isim yang dipergunakan untuk kinayah
(menyindir) dan sebagai kata ganti dari isim dzohir (isim yang
langsung menyebutkan nama atau kedudukan suatu benda).
Contoh: ‫( هو‬dia)
Isim isyaroh. yaitu isim yang mengandung arti petunjuk. Contoh: ‫ذالك‬
(itu). ‫( هنا‬disini).
Isim fa’il. Secara sederhana isim fa’il adalah subyek atau pelaku dari
suatu pekerjaan. Secara istilah, isim fa’il adalah sifat yang bentuk
lafadznya diambil dari fi’il mabni ma’lum (kata kerja yang
pelakunya ada/diketahui) untuk menunjukkan suatu arti yang
ada pada sesuatu yang disifati (maushuf). Sifat yang melekat
pada sesuatu yang disifati ini bersifat sementara sesuai
perubahan waktu. Contoh: ‫( ناصخخخر‬orang yang menolong),
mengikuti wazan ‫ فاعخخل‬, fi’il mad}inya adalah ‫( نصخخر‬dia telah
menolong). Jadi, sifat menolong ini tidak selamanya melekat
pada seseorang dan bisa terlepas darinya. Ketika seseorang
tidak lagi menolong, maka dia bukan lagi Orang yang menolong.
Jadi sifat menolong ini bisa dilepas dari seseorang.
Wazan dari isim fa’il hukumnya qiyasi (lafaznya bisa disamakan
dengan wazan-wazan tertentu). Tashrif dari isim fa’il adalah:
‫ فاعل‬: orang / sesuatu (satu laki-laki) yang bekerja
‫ فاعلن‬: orang / sesuatu (dua laki-laki) yang bekerja
‫ فاعلون‬: orang / sesuatu (banyak laki-laki) yang bekerja

39
‫ وفعال‬: orang / sesuatu (banyak laki-laki) yang bekerja
‫ وفعل‬: orang / sesuatu (banyak laki-laki) yang bekerja
‫ وفعلة‬: orang / sesuatu (banyak laki-laki) yang bekerja

‫ فاعلة‬: orang / sesuatu (satu perempuan) yang bekerja


‫ فاعلتان‬: orang / sesuatu (dua perempuan) yang bekerja
‫ فاعلت‬: orang / sesuatu (banyak) perempuan yang bekerja

‫ وفواعل‬: orang / sesuatu (banyak) perempuan yang bekerja

Shighot mubalaghoh, yaitu lafadz yang menunjukkan makna isim


fa’il yang dipersangat. Wazan shighot mubalaghoh ada 11, yaitu:
‫ فعال‬. contoh: ‫( جبار‬yang sangat / maha memaksa)
‫ مفعال‬. contoh:‫( مفضال‬yang sangat utama)
‫ فعيل‬. contoh:‫( صديق‬yang sangat jujur / terpercaya)
‫ فعالة‬. contoh:‫( فهامة‬yang sangat paham)
‫ مفعيل‬. contoh:‫( مسكين‬yang sangat miskin)
‫ فعول‬. contoh:‫( شروب‬yang banyak minum)
‫ فعيل‬. contoh:‫( عليم‬yang sangat tahu)
‫ فعل‬. contoh:‫( حذر‬yang maha mengawasi)
‫ فعال‬. contoh:‫( كبار‬yang sangat besar)
‫ فعول‬. contoh:‫( قدوس‬yang sangat / maha suci)
‫ فيعول‬. contoh:‫( قيوم‬yang maha berdiri dengan sendirinya)
Wazan-wazan shighot mubalaghoh ini sifatnya sama’i. artinya
tidak semua isim fa’il bisa langsung dicocokkan dengan salah
satu dari wazan ini. Untuk mengetahui apakah isim fa’il adalah
berupa sighot mubalaghoh, maka harus melihat langsung di
kamus.
Sifat Mushabihat. Yaitu sifat yang bentuk lafadznya diambil dari fi’il
mabni ma’lum (kata kerja yang pelakunya ada/diketahui) untuk
menunjukkan suatu arti yang ada pada sesuatu yang disifati
(maushuf). Sifat yang melekat pada sesuatu yang disifati ini
bersifat permanen (tetap). Contoh: ‫( حسن‬yang bagus / ganteng).
Maka, sifat ganteng yang melekat pada seseorang tidak bisa
terlepas darinya.
Isim Maf’ul. Secara sederhana isim maf’ul adalah objek dari suatu
pekerjaan, yang bentuk lafadznya diambil dari fi’il madly.
Contoh: ‫( مضروب‬orang / sesuatu yang dipukul) mengikuti wazan
‫ مفعول‬, bentuk fi’il mad}inya adalah ‫( ضخرب‬dia telah memukul).
tashrif dari isim maf’ul adalah:

‫ مفعول‬: orang / sesuatu (satu laki-laki) yang dikerjakan


‫مفعولن‬: orang / sesuatu (dua laki-laki) yang dikerjakan
‫مفعولون‬ : orang / sesuatu (banyak laki-laki) yang dikerjakan
‫ ومفاعل‬: orang / sesuatu (banyak) yang dikerjakan
‫ مفعولة‬: orang / sesuatu (satu) perempuan yang dikerjakan
‫مفعولتا ن‬ : orang / sesuatu (dua perempuan) yang dikerjakan
‫مفعولت‬ : orang / sesuatu (banyak) perempuan yang
dikerjakan

Fi’il amr. Yaitu kata kerja yang menunjukkan arti perintah. Contoh:
‫( أنصر‬tolonglah), mengikuti wazan ‫أفعل‬, fi’il mad}inya adalah ‫نصر‬
(dia telah menolong). Pembahasan lebih rinci dijelaskan pada
pembahasan fi’il amr
Fi’il nahi. Yaitu kata kerja yang menunjukkan arti larangan
melakukan suatu pekerjaan. Contoh: ‫( لتضخخخرب‬jangan kamu
pukul), mengikuti wazan ‫لتفعل‬, bentuk fi’il mad}inya adalah ‫ضرب‬
(dia telah memukul). Tashrif fi’il nahi adalah:

‫ ل يفعل‬: Jangan bekerja (dia satu laki-laki)


‫ ل يفعل‬: Jangan bekerja (dia dua laki-laki)
‫ل يفعلوا‬: Jangan bekerja (mereka laki-laki)
‫ ل تفعل‬: Jangan bekerja (dia satu perempuan)
‫ ل تفعل‬: Jangan bekerja (dia dua perempuan)
‫ ل يفعلن‬: Jangan bekerja (mereka perempuan)
‫ ل تفعل‬: Jangan bekerja (kamu satu laki-laki)
‫ ل تفعل‬: Jangan bekerja (kamu dua laki-laki)
‫ل تفعلوا‬: Jangan bekerja (kamu banyak laki-laki)
‫ ل تفعلي‬: Jangan bekerja (kamu satu perempuan)
‫ ل تفعل‬: Jangan bekerja (kamu dua perempuan)
‫ ل تفعلن‬: Jangan bekerja (kamu banyak perempuan)

Isim zaman. Yaitu isim yang menunjukkan arti waktu terjadinya


suatu pekerjaan, yang bentuk lafadznya diambil dari bentuk fi’il
mad}i. Contoh: ‫( مغخخرب‬waktu terbenam / maghrib), mengikuti
wazan ‫مفعل‬, fi’il mad}inya adalah ‫( غرب‬telah terbenam). Tashrif
isim zaman adalah:

‫ مفعل‬: (satu) waktu bekerja


‫ مفعلن‬: (dua) waktu bekerja
‫ مفاعل‬: (banyak/beberapa) waktu bekerja

Isim makan. Yaitu isim yang menunjukkan arti tempat terjadinya


suatu pekerjaan, yang bentuk lafadznya diambil dari bentuk fi’il
madly. Contoh: ‫( مسجد‬tempat sujud / masjid), mengikuti wazan
‫مفعل‬, fi’il mad}inya adalah ‫( سجد‬dia telah sujud)

‫مفعل‬ : (satu) tempat bekerja


41
‫ مفعلن‬: (dua) tempat bekerja
‫ مفاعل‬: (banyak/beberapa) tempat bekerja
Isim alat. Yaitu isim yang menunjukkan arti alat untuk bekerja, yang
bentuk lafadznya diambil dari fi’il madly. Contoh: ‫( مكنسخخة‬alat
untuk menyapu / sapu) mengikuti wazan ‫مفعلخخة‬, fi’il madlynya
adalah ‫( كنس‬dia telah menyapu). Tashrif isim alat adalah:

‫ مفعل‬: (satu) alat untuk bekerja


‫ مفعلن‬: (dua) alat untuk bekerja
‫ مفاعل‬: (banyak/beberapa) alat untuk bekerja
Isim tafdlil, yaitu sifat yang diambil dari fi’il untuk menunjukkan
bahwa ada dua hal yang mempunyai sifat yang sama, akan
tetapi salah satunya mempunyai sifat yang lebih dari yang lain.
Wazan dari isim tafdil adalah ‫( أفعل‬untuk mudzakkar) dan ‫فعلخخى‬
(untuk muannas). Contoh: ‫( خليل أعلم من سعيد‬kholil lebih alim dari
sa’id). ‫( عائشة علمى من زينب‬fatimah lebih alim dari zainab)
Hamzah pada wazan ‫ أفعل‬dibuang pada tiga lafadz, yaitu ‫خيخخر‬
(lebih baik), ‫( شر‬lebih jelek), ‫( حب‬lebih senang).
Fi’il ta’ajjub, yaitu fi’il yang menunjukkan rasa heran atau kagum
terhadap sesuatu. Fi’il ta’ajjub adakalnya:
Dengan shighot / bentuk fi’il tertentu, yaitu ada dua:
‫ مخخخخا أفعخخخخل‬. contoh: ‫( مخخخخا أحسخخخخن هخخخخذا المنظخخخخر‬betapa indahnya
pemandangan ini)
‫ أفعل ب‬. contoh:‫( أقبح بخلقه‬betapa jelek akhlaknya)
dengan lafadz-lafadz yang menunjukkan makna keheranan atau
kekaguman. Contoh: ‫( كيف تكفرون بال وكنتم أمواتا فأحياكم‬bagaimana
mungkin kalian mengingkari Allah padahal kalian mati
kemudian Allah hidupkan…???)

Keterangan lain:
Yang dimaksud tashrif adalah perubahan kalimat dari satu
bentuk ke bentuk yang lain karena adanya perbedaan arti,
seperti fi’il madly yang berubah ke fi’il mudlori’, isim masdar,
isim fa’il, isim maf’ul, fi’il amr, isim zaman dan makan, dan
isim alat. Adanya perubahan ini menghasilkan arti yang
berbeda. Contoh: ‫( فعل‬fi’il mad}i) artinya telah bekerja, lalu
berubah kepada bentuk ‫( فاعخخل‬isim fa’il) artinya orang yang
bekerja. Perubahan ‫( فعل‬fi’il mad}i) ke ‫( فاعل‬isim fa’il) inilah
yang disebut tashrif.
Untuk mengetahui jenis dari suatu kalimat (fi’il madly, fi’il
mudlori’, isim masdar tanpa mim, isim masdar dengan mim,
isim fa’il, sifat musyabihat, isim maf’ul, fi’il amr, isim zaman,
isim makan, atau isim alat), maka harus dilihat bentuk
wazannya dan harus melihat syiyaqul kalam (konteks
perkataan).
Contoh: ‫( وهخخخو المخخخاء المسخخختعمل‬air itu adalah air yang telah
digunakan). Jenis kalimat dari lafadz ‫ المستعمل‬mempunyai 5
kemungkinan, yaitu:
Masdar dengan mim, artinya penggunaan
Isim fa’il, artinya yang menggunakan
Isim maf’ul, artinya yang digunakan
Isim zaman, artinya waktu menggunakan
Isim makan, artinya tempat menggunakan
Melihat konteks perkataannya, jenis kalimat yang cocok
pada lafadz ‫ المستعمل‬adalah isim maf’ul (yang digunakan).
Jadi arti dari contoh itu adalah air yang digunakan.
Contoh:‫( غسل الوجه‬membasuh muka). Jenis kalimat dari lafadz
‫ غسل‬mempunyai 2 kemungkinan, yaitu fi’il madly dan isim
masdar tanpa mim. Melihat konteksnya, lafadz ‫ غسل‬adalah
isim masdar tanpa mim karena ‫ غسل الخوجه‬adalah susunan
mudlof (‫ )غسل‬dan mudlof ilaih (‫)الخخوجه‬. Sedangkan mudlof
dan mudlof ilaih harus sama-sama berupa isim.
Dilihat dari segi ada tashrif atau tidaknya, isim dibagi menjadi
dua:
Isim musytaq, yaitu isim yang bentukknya diambil dari fi’il
madly. Isim musytaq ini ada 10, yaitu:
Isim fa’il. Contoh: ‫( مطهر‬yang mensucikan). Fi’il mad}inya
adalah ‫طهر‬
Isim maf’ul. Contoh:‫( مسخخخخختعمل‬yang digunakan). Fi’il
mad}inya adalah ‫استعمل‬
Sifat musyabihat. Contoh:‫( حسن‬yang bagus). Fi’il mad}inya
adalah ‫حسن‬
Sighot mubalaghoh ‫( علمخخخخة‬yang sangat alim). Fi’il
mad}inya adalah ‫علم‬
Isim tafdlil. Contoh: ‫( أفضخخخل‬lebih utama). Fi’il mad}inya
adalah ‫فضل‬
Isim zaman. Contoh:‫( مغرب‬waktu terbenam). Fi’il mad}inya
adalah ‫غرب‬
Isim makan. Contoh:‫( مسخخجد‬tempat sujud). Fi’il mad}inya
adalah ‫سجد‬
Masdar dengan mim. Contoh: ‫( مكخخخرم‬pemulyaan). Fi’il
mad}inya adalah ‫أكرم‬
Masdar fi’il dari selain fi’il tsulatsi mujarrod. Contoh: ‫استنجاء‬
(istinja’ / bersesuci). Fi’il mad}inya adalah ‫استنجى‬
Isim alat. Contoh:‫( مكنسخخخة‬alat menyapu). Fi’il mad}inya
adalah ‫كنس‬
Isim jamid, yaitu kalimat isim yang bentuknya tidak diambil
dari fi’il madly. Contoh: ‫( حجر‬batu). Lafadz ‫ حجر‬adalah isim
jamid karena bentuknya tidak diambil dari fi’il madly.
Termasuk dari isim jamid adalah bentuk masdar dari fi’il
tsulasi mujarrod. Contoh: ‫( قراءة‬membaca).

43
‫‪Tabel fi’il mujarrad dan mazid:‬‬

‫‪N‬‬ ‫‪CONTOH‬‬
‫‪FI’IL‬‬ ‫‪WAZAN‬‬
‫‪O‬‬
‫‪Fi’il‬‬ ‫‪Tsulasi (tiga‬‬ ‫يفعل ‪ -‬فعل‬ ‫نصر ‪ -‬ينصر‬
‫‪1.‬‬
‫‪Mujarrod‬‬ ‫)‪huruf‬‬
‫يفعل ‪ -‬فعل‬ ‫ضرب ‪ -‬يضرب‬
‫يفعل ‪ -‬فعل‬ ‫فتح ‪ -‬يفتح‬
‫يفعل ‪ -‬فعل‬ ‫علم ‪ -‬يعلم‬
‫يفعل ‪ -‬فعل‬ ‫حسن ‪ -‬يحسن‬
‫يفعل ‪ -‬فعل‬ ‫حسب ‪ -‬يحسب‬
‫فعلل ‪Ruba’i (empat‬‬ ‫جلبب‬
‫)‪huruf‬‬
‫‪Tsulasi (tiga‬‬ ‫فعل‬ ‫فرح‬
‫‪2.‬‬ ‫‪Fi’il Mazid‬‬
‫)‪huruf‬‬
‫فاعل‬ ‫ضارب‬
‫أفعل‬ ‫أكرم‬
‫تفاعل‬ ‫تصالح‬
‫تفعل‬ ‫تكسر‬
‫إفتعل‬ ‫اجتمع‬
‫إنفعل‬ ‫انكسر‬
‫إفعل‬ ‫احمر‬
‫إستفعل‬ ‫استغفر‬
‫إفعوعل‬ ‫احدودب‬
‫إفعال‬ ‫اصفار‬
‫إفعول‬ ‫اكبور‬
‫تفعلل ‪Ruba’i (empat‬‬ ‫تدحرج‬
‫)‪huruf‬‬
‫إفعنلل‬ ‫احرنجم‬
‫إفعلل‬ ‫اطمأن‬

‫‪Dilihat dari segi ada atau tidaknya objek suatu pekerjaan,‬‬


‫‪dibagi menjadi dua:‬‬
Fi’il lazim, yaitu fi’il yang tidak butuh pada objek (intransitiv).
Jadi fi’il lazim hanya terdiri dari fi’il (kata kerja) dan fa’ilnya
(pelaku). Contoh: ‫( طهر الماء‬air itu suci). Lafadz ‫( طهر‬suci)
disebut fi’il lazim karena tidak butuh pada objek. jadi yang
ada hanya fi’il (‫ )طهر‬dan fa’ilnya (‫) الماء‬
Fi’il muta’addi, yaitu fi’il yang butuh pada objek (transitiv).
jadi fi’il muta’addi terdiri dari fi’il (kata kerja), fa’il (pelaku),
dan maf’ul (objek). contoh: ‫( طهر زيد الثوب‬zaid mensucikan
baju). Lafadz ‫( طهخخخر‬mensucikan) disebut fi’il muta’addi
karena butuh pada objek, yaitu ‫( الثخوب‬baju). Jadi, orang
yang mensucikan, pasti ada sesuatu yang menjadi objek
untuk disucikan, dalam hal ini adalah baju. Pada contoh ini
terdiri dari fi’il (‫)طهر‬, fa’il (‫) زيد‬, dan maf’ul (‫) الثوب‬.
Bentuk fi’il muta’addi ada 5 macam, yaitu:
Berupa fi’il mujarrod (tidak ada tambahan huruf). Contoh:
‫( نقض النوم الوضوء‬tidur itu membatalkan wudlu’). Jadi, ‫نقض‬
(membatalkan) adalah fi’il muta’addi yang berupa fi’il
mujarrod. Walaupun tidak ada tambahan huruf, lafadz
‫ نقض‬dengan sendirinya sudah menjadi muta’addi.
Untuk mengetahui apakah fi’il mujarrod menunjukkan
fi’il lazim atau muta’addi, harus langsung lihat di kamus.
Ada hamzah ( ‫ ) أ‬awal kalimat. Contoh:‫أوجخخب الحيخخض الغسخخل‬
(haidl itu mewajibkan mandi). Jadi, ‫( أوجخب‬mewajibkan)
adalah fi’il muta’addi karena didahului oleh hamzah ( ‫) أ‬
di awalnya. Jika hamzah ( ‫ ) أ‬tersebut dibuang, maka
menjadi fi’il lazim (‫ وجب‬: wajib).
Ada tadl’if (huruf ganda) di ‘ain fi’ilnya. Contoh: ‫طهر زيد الثوب‬
(zaid mensucikan baju). Jadi, ‫( طهر‬mensucikan) adalah
fi’il muta’addi karena ‘ain fi’ilnya ( ‫ ) ه‬berupa tadl’if (
‫)طهر‬. Jika tadl’if tersebut tidak ada, maka menjadi fi’il
lazim (‫ طهر‬: suci)
Dengan perantara huruf jer. Contoh:‫( زيخخد رغخب فخي العلخخم‬zaid
menyenangi ilmu). Jadi, ‫ رغخخخب‬adalah fi’il muta’addi
karena ada perantara huruf jer ( ‫) في‬
Dengan perantara dzorof. Contoh: ‫جلخخخس الرجخخخل تحخخخت الشخخخجرة‬
(seseorang duduk dibawah pohon). Jadi, ‫ جلس‬adalah fi’il
muta’addi dengan perantara dzaraf (‫)تحت‬

Keterangan
Untuk mengetahui apakah kalimat fi’il adalah fi’il lazim
atau fi’il muta’addi, harus melihat syiyaqul kalam (konteks
perkataan).
Contoh: ‫( جلود الميتة تطهر بالدباغ‬kulit bangkai bisa suci dengan
cara disamak). lafadz ‫ تطهخخر‬adalah fi’il lazim karena
dilihat dari konteks perkataannya, ‫ تطهر‬menunjukkan fi’il

45
lazim, yaitu berarti “suci” (tidak butuh pada objek).
Contoh: ‫( الدباغ يطهر جلود الميتة‬samak itu bisa mensucikan kulit
bangkai). Lafadz ‫ يطهخخخر‬adalah fi’il muta’addi karena
dilihat dari konteks perkataannyanya, ‫ يطهر‬menunjukkan
arti fi’il muta’addi, yaitu berarti “mensucikan” (butuh
pada objek).

Table fi’il lazim dan muta’addi:

N CONTOH
FI’IL
O
1 ‫طهر الماء‬
Fi’il lazim
Fi’il Berupa fi’il mujarrod ‫نقض النوم الوضوء‬
2
muta’addi
Ada hamzah ( ‫ ) أ‬awal ‫أوجب الحيض الغسل‬
kalimat
Ada tadl’if (huruf ganda) di ‫طهر زيد الثوب‬
‘ain fi’ilnya
Dengan perantara huruf jer ‫زيد رغب في العلم‬
Dengan perantara dzorof ‫جلس الرجل تحت‬
‫الشجرة‬

Dilihat dari segi ada atau tidaknya pelaku suatu


pekerjaan, dibagi menjadi dua:
Mabni ma’lum (kata kerja aktif). Fi’il mabni ma’lum adalah
kata kerja yang pelaku / subyeknya disebutkan dalam
sebuah perkataan. Dalam bahasa Indonesia, fi’il mabni
ma’lum disebut kata kerja aktif. Contoh: ‫( نصر زيد محمدا‬zaid
telah menolong muhammad). Palaku / subyek (fa’il) dari
kalimat ‫( نصر‬menolong) disebutkan, yaitu kata ‫زيد‬. Jadi, ‫زيد‬
adalah pelaku / subyek dari ‫نصر‬. Subyek / pelaku dari fi’il
mabni ma’lum ini disebut Fa’il. Wazan dari Fi’il mabni
ma’lum ini telah dijelaskan pada pembahasan fi’il mad}i
dan fi’il mudlori’
Mabni majhul (kata kerja pasif). Fi’il mabni majhul adalah kata
kerja yang pelaku / subyeknya tidak disebutkan dalam
suatu perkataan, akan tetapi objeknyalah yang disebutkan
sebagai ganti dari subyek. Contoh: ‫( نصر محمخخد‬Muhammad
telah ditolong). Pelaku / subyek dari kata ‫ نصخخخر‬tidak
disebutkan. Justru yang disebutkan adalah obyek dari ‫نصر‬,
yaitu ‫محمد‬. Kata ‫ محمد‬ini adalah obyek yang menggantikan
subyek / pelaku yang tidak disebutkan. Asalnya adalah ‫زيد‬
‫( محمخخدا نصخخر‬zaid telah menolong muhammad). Kata ‫زيخخد‬
sebagai subyek inilah yang tidak disebutkan, lalu diganti
oleh kata ‫ محمد‬. Subyek dari fi’il mabni majhul ini disebut
naibul fa’il.
Ada beberapa alasan kenapa subyek / pelaku tidak
disebutkan dalam suatu perkataan (kalam). Alasan-alasan
tersebut diantaranya:
Untuk meringkas sebuah perkataan
Karena subyek / pelakunya telah diketahui
Karena subyek / pelakunya tidak diketahui
Karena takut untuk menyebut subyek / pelaku
Untuk meremehkan subyek / pelaku
Untuk mengagungkan subyek / pelaku
Untuk mengkaburkan identitas subyek / pelaku
Dan lain-lain

Wazan Fi’il Mabni Majhul


Wazan dari fi’il mabni majhul ini adalah sebagai berikut:
Fi’il mad}i.
Jika berupa fi’il madly yang ‘ain fi’ilnya tidak berupa
huruf illat (ya’, alif, wawu / ‫ و‬,‫ا‬/ ‫ى‬,‫)ي‬, maka wazan
fi’il mabni majhulnya adalah “ huruf pertama
berharokat dlommah ( ُ ) dan huruf sebelum akhir
berharokat kasroh ( ِ )”. Contoh:
‫( نصر‬dia telah menolong) : mabni ma’lum
Menjadi ‫( نصر‬dia telah ditolong) : mabni majhul
‫نصر‬, huruf pertama berharokat dlommah (‫)ن‬, huruf
sebelum akhir berharokat kasroh (‫)ص‬.
Jika fi’il mad}inya ada tambahan huruf ta’ (‫)ت‬
diawalnya, maka wazan fi’il mabni majhulnya adalah
“ huruf pertama dan kedua berharokat dlommah ( ُ )
dan huruf sebelum akhir berharokat kasroh ( ِ )”.
Contoh:
‫( تعلم‬dia telah belajar) : mabni ma’lum
Menjadi ‫( تعلم‬telah dipelajari) : mabni majhul
‫تعلم‬, huruf pertama dan kedua berharokat dlommah (
‫ ت‬dan ‫)ع‬, huruf sebelum akhir berharokat kasroh (‫) ل‬
Jika fi’il mad}inya ada tambahan huruf hamzah washol
(hamzah yang ketika didahului oleh kalimat lain,
maka hamzah tersebut tidak dibaca) diawalnya,
maka wazan fi’il mabni majhulnya adalah ” huruf
pertama dan ketiga berharokat dlommah ( ُ ) dan
huruf sebelum akhir berharokat kasroh ( ِ ) . contoh:

‫( استعمل‬dia telah memakai) : mabni ma’lum


Menjadi ‫( استعمل‬telah dipakai) : mabni majhul
‫اسخخخختعمل‬, huruf pertama dan ketiga berharokat
dlommah (‫ ا‬dan ‫) ت‬, huruf sebelum akhir berharokat
kasroh (‫)م‬

47
Jika fi’il madly tsulasi mujarrod yang ‘ain fi’ilnya berupa
huruf illat, maka wazan fi’il mabni majhulnya adalah
“ huruf pertama berharokat kasroh ( ِ ) dan alif ( ‫) ا‬
yang berada pada ‘ain fi’ilnya diganti dengan ya (‫)ي‬.
Contoh:
‫( قال‬dia telah berkata) : mabni ma’lum
Menjadi ‫( قيل‬telah dikatakan) : mabni majhul
‫قيل‬, huruf pertama berharokat kasroh (‫)ق‬, huruf alif ( ‫ا‬
) diganti dengan ya’ (‫)ي‬
Fi’il mudlori’.
Jika berupa fi’il mudlori’ yang ‘ain fi’ilnya tidak berupa
huruf illat, maka wazan fi’il mabni majhulnya adalah
“ huruf pertama berharokat dlommah ( ُ ) dan huruf
sebelum akhir berharokat fathah ( َ )
‫( ينصر‬dia sedang/akan menolong) : mabni
ma’lum
Menjadi ‫( ينصر‬dia sedang/akan ditolong) : mabni
majhul
‫ينصخخر‬, huruf pertama berharokat dlommah (‫)ي‬, dan
huruf sebelum akhir berharokat fathah (‫)ص‬
Jika berupa fi’il mudlori yang ‘ain fi’ilnya berupa huruf
illat, maka wazan fi’il mabni majhulnya adalah “
huruf pertama berharokat dlommah ( ُ ) dan huruf
sebelum akhir berharokat fathah ( َ ), serta
mengganti huruf illat dengan alif ( ‫) ا‬. Contoh:
‫( يقول‬dia sedang/akan berkata) : mabni
ma’lum
Menjadi ‫( يقال‬sedang/akan dikatakan) : mabni
majhul
‫يقال‬, huruf pertama berharokat dlommah (‫) ي‬, huruf
sebelum akhir berharokat fathah (‫)ق‬, serta
mengganti wawu (‫ )و‬dengan alif ( ‫) ا‬

Keterangan
Untuk mengetahui apakah kalimat fi’il adalah fi’il ma’lum atau
fi’il majhul, harus melihat syiyaqul kalam (konteks perkataan).
Contoh: ‫( والخخذي يخخوجب الغسخخل سخختة أشخخياء‬sesuatu yang mewajibkan
mandi ada 6 hal). Lafadz ‫ يوجب‬adalah fi’il mabni ma’lum
karena dilihat dari konteks perkatannya, lafadz ‫يخخخوجب‬
mempunyai fa’il berupa isim dlomir yang tersimpan (‫)هو‬.
Buktinya, Pada contoh ini ada isim mauhsul ( ‫ )الخخذي‬yang
pasti butuh pada shilah dan ‘aid. Shilahnya berupa jumlah
fi’liyah, yaitu fi’il (‫ ) يخخوجب‬dan fa’il (‫ هخخو‬yang tersimpan).
‘aidnya adalah isim dlomir yang kembali kepada isim
maushul, yaitu ‫ هو‬yang tersimpan. Jadi secara pasti lafadz
‫ يخخوجب‬adalah fi’il mabni ma’lum. Jadi, pelaku (fa’il) yang
mewajibkan mandi adalah “sesuatu”
Contoh: ‫( يخخوجب الغسخخل فخخي سخختة أشخخياء‬mandi itu diwajibkan dalam
enam hal). Lafadz ‫ يخخوجب‬adalah fi’il mabni majhul karena
dilihat dari konteks perkataannya, lafadz ‫ يخخخوجب‬tidak
mempunyai fa’il (pelaku). Jadi pelaku (fa’il) yang
mewajibkan mandi tidak disebutkan. Justru yang
disebutkan adalah na’ibul fa’il (pengganti fa’il) yang
asalnya adalah objek (‫)الغسل‬

Table fi’il ma’lum dan majhul:

N CONTOH
FI’IL WAZAN
O
1 Ma’lum ‫نصر‬
ain fi’ilnya huruf pertama: ‫نصر‬,
tidak dlommah ( ُ )
menjadi
berupa huruf sebelum
Majhu Fi’il huruf illat akhir: kasroh ( ِ ‫نصر‬
2
l mad}i (ya’, alif, )
wawu / ‫ى‬,‫ي‬
‫ و‬,‫ا‬/)
ada tambahan huruf pertama dan ‫تعلم‬,
huruf ta’ ( kedua :
menjadi
‫)ت‬ dlommah ( ُ )
diawalnya huruf sebelum ‫تعلم‬
akhir: kasroh ( ِ )
ada tambahan huruf pertama dan ‫استعمل‬,
huruf ketiga :
menjadi
hamzah dlommah ( ُ )
washol huruf sebelum akhir ‫استعمل‬
: kasroh ( ِ )
fi’il madly huruf pertama: ‫قال‬,
tsulasi kasroh ( ِ )
menjadi
mujarrod alif ( ‫ ) ا‬yang
yang ‘ain berada pada ‘ain ‫قيل‬
fi’ilnya fi’il: diganti
berupa
dengan ya (‫)ي‬
huruf illat
‘ain fi’ilnya huruf pertama: ‫ينصر‬,
Fi’il tidak dlommah ( ُ )
mudla menjadi
berupa huruf sebelum
ri’ huruf illat, akhir: fathah ( َ ) ‫ينصر‬
‘ain fi’ilnya huruf pertama: ‫يقول‬,
berupa dlommah ( ُ )
menjadi
huruf illat huruf sebelum
akhir: fathah ( َ ) ‫يقال‬
mengganti huruf
illat dengan alif (
‫)ا‬

49
HURUF (KATA SAMBUNG / PENGHUBUNG)
Huruf adalah kalimat (kata) yang tidak memiliki kata yang
sempurna sebelum bersambung dengan kalimat yang lain (isim
atau fi’il). Contoh: ‫( إلى‬ke), ‫( و‬dan), ‫( إذا‬jika). Contoh dalam bentuk
jumlah (kalimat), ‫ذهبت إلى المسجد‬. (saya pergi ke masjid). Kata ‫إلى‬
(ke) sebelum bersambung dengan kata yang lain ( ‫)ذهبت الى المسجد‬
tidak bisa dipahami.
Tanda dari huruf adalah tidak bisa dimasuki tanda-tanda dari
isim atau tanda-tanda fi’il. Jadi tanda huruf adalah ketidakbisaan
huruf untuk dimasuki tanda-tanda yang dimiliki oleh isim dan fi’il.

Pembagian Huruf
Huruf dibagi menjadi dua:
Huruf mabani (tidak ada maknanya), yaitu huruf yang tidak
mempunyai arti apapun. Contoh: ‫ ط‬,‫ ج‬, ‫ث‬
Huruf ma’ani (ada maknanya/artinya), yaitu huruf yang
mempunyai arti. Contoh: huruf jer seperti ‫( علخخى‬atas), ‫فخخي‬
(di/didalam). Huruf ma’ani ada dua macam:
Athil (tidak ada amal/pengaruh), yaitu huruf yang tidak
mempengaruhi perubahan (i’rob) akhir kalimat isim dan
fi’il. Contoh adalah kata ‫( هل‬apakah) pada kalimat ‫هل الخنزير‬
‫( نجس‬apakah babi itu najis)? kata ‫ الخنزير‬sebelum dimasuki
‫ هل‬juga berharokat dommah (‫)الخنزير‬, setelah kemasukan ‫هل‬
pun tetap berharokat dommah (‫)هل الخنزير‬. Jadi Kata ‫ هل‬ini
tidak mempengaruhi keadaan i’rob (perubahan) dari kata
‫الخنزير‬.
Amil (beramal / berpengaruh), yaitu huruf yang
mempengaruhi perubahan (I’rob) akhir kalimat isim dan
fi’il. Contoh: kata ‫( إن‬sesungguhnya) pada ‫إن كلبخخخا نجخخخس‬
(sesungguhnya anjing adalah najis). Kata ‫ كلبخخا‬sebelum
dimasuki ‫ إن‬berharokat dommah (‫)الكلخخب‬. setelah ada ‫إن‬
maka berharokat fathah (‫)كلبخخخا‬. Jadi ‫ إن‬mempengaruhi
perubahan akhir kata ‫كلبا‬.
Huruf ‘amil ini ada 7 macam yang rincian penjelasannya
dibahas panjang lebar di babnya masing-masing:
Huruf jer (huruf yang mengjerkan isim), yaitu huruf yang
menjadikan isim yang jatuh setelahnya berada dalam
keadaan I’rob jer. contoh: kata ‫( من‬dari) pada ‫رجعت مخن‬
‫( المسجد‬saya pulang dari masjid)
Huruf naskh (merusak), yaitu huruf yang merusak susunan
mubtada’ (subjek) dan khobar (predikat). Contoh kata ‫إن‬
(sesungguhnya) pada ‫( إن الشمس كبيرة‬matahari itu besar).
Huruf nida, (panggilan), yaitu huruf yang berfungsi untuk
memanggil. Contoh: kata ‫( يخخا‬wahai) pada ‫يخخا رسخخول ال خ‬
(wahai rosulullah)
Huruf istisna’ (pengecualian), yaitu huruf yang berfungsi
untuk mengecualikan atau mengeluarkan hukum kata
yang jatuh setelah huruf istisna’ dari kata sebelum
huruf istisna’. Contoh: kata ‫ إل‬pada ‫دخخخل الطلب إل محمخخدا‬
(semua siswa masuk kecuali muahammad)
Huruf jazm (huruf yang mengjazmkan fi’il), yaitu huruf
yang berfungsi untuk menjadikan fi’il yang jatuh
setelahnya berada dalam keadaan I’rob jazm. Contoh:
kata ‫( لم‬tidak) pada ‫( أنا لخخم التخخق أسخختاذي‬saya tidak bertemu
guruku).
Huruf nashob (huruf yang menashobkan fi’il) yaitu huruf
yang berfungsi untuk menjadikan fi’il yang jatuh
setelahnya berada dalam keadaan I’rob nashob. Contoh:
kata ‫( لخخن‬tidak akan) pada ‫( لخخن أرتخخد أبخخدا‬saya tidak akan
murtad selamanya)
Huruf athof (huruf sambung), yaitu huruf yang
menyambungkan satu kata dengan kata yang lain.
Contoh: ‫( او‬atau) pada kata ‫( كسخخخوف او خسخخخوف‬gerhana
matahari atau bulan)

Penjelasan lebih rinci dari masing-masing 7 macam huruf itu


akan dibahas pada babny tersendiri.

Table pembagian huruf:

N CONTOH
HURUF
O
1 Huruf mabani ‫ ط‬,‫ ج‬, ‫ث‬
Huruf Athil ‫هل الخنزير نجس‬
2
ma’ani
Huruf jer ‫رجعت من السجد‬
Amil
Huruf naskh ‫إن الشمس كبيرة‬
Huruf nida ‫يا رسول ال‬
Huruf istisna’ ‫دخل الطلب إل محمدا‬
Huruf jazm ‫أنا لم التق أستاذي‬
Huruf nashob ‫لن أرتد أبدا‬
Huruf athof ‫كسوف او خسوف‬

ISIM FI’IL (KATA BENDA YANG BERMAKNA KATA KERJA)


Isim fi’il adalah kalimat isim yang mempunyai arti kata kerja
(fi’il). Disebut isim karena lafadz kalimat tersebut bisa menerima

51
tanda-tandanya isim dan tidak bisa menerima tandanya fi’il.
Disebut fi’il karena mempunyai arti kata kerja yang bisa
disandingkan dengan waktu (sedang, akan, telah). Jadi lafaznya
adalah isim sedangkan artinya adalah fi’il.

Isim fi’il dibagi menjadi 3:


Isim fi’il mad}i, yaitu isim yang punya arti kata kerja lampau.
Contoh:‫( هيهات‬telah jauh)
Isim fi’il mudlori, yaitu isim yang punya arti kata kerja sedang /
akan. Contoh: ‫( أف‬saya sedang bosan)
Isim fi’il amr, yaitu isim yang punya arti kata kerja perintah.
Contoh: ‫( أمين‬kabulkanlah)

Table pembagian isim fi’il:

NO ISIM FI’IL CONTOH

1 Isim fi’il mad}i ‫هيهات‬


2 Isim fi’il mudlori ‫أف‬
3 Isim fi’il amr ‫أمين‬

MABNI dan MU’ROB


MABNI (TETAP) DAN MU’ROB (YANG BERUBAH)
Mabni adalah kalimat (kata) yang keadaan akhirnya tetap dan
tidak berubah sekalipun dimasuki oleh amil (penyuruh). Contoh:
‫( أسخخلم‬masuk islam). Selamanya huruf mim (‫ ) م‬pada kata ‫أسخخلم‬
berharokat fathah (‫) م‬. Meskipun didahului oleh kalimat yang lain
maka huruf mim ( ‫ ) م‬pada kata ‫ أسلم‬tidak akan berubah harokat.
Contoh: ‫( قد أسلم أمس‬dia telah masuk islam kemaren).
Mu’rob adalah kalimat yang keadaan akhirnya berubah karena
ada amil (penyuruh), baik dalam keadaan rofa’, nashob, jer, atau
jazm. Contoh: kata ‫ القمر‬pada ‫( القمر جميل‬bulan itu indah). ‫رأيت القمر‬
(saya melihat bulan). ‫( وجهك كالقمر‬wajahmu seperti bulan). Harokat
ro’ (‫) ر‬selalu berubah pada tiga contoh tersebut. yang pertama
berharokat dommah (‫)ر‬, yang kedua berharokat fathah (‫)ر‬, yang
ketiga berharokat kasroh (‫)ر‬. Kalimat yang akhirnya selalu
berubah inilah yang disebut mu’rob.

Amil dan Pembagiannya


Yang dimaksud Amil adalah kalimat yang memerintah kalimat
lain agar berada dalam I’rob / keadaan tertentu. Sedangkan
ma’mul adalah kalimat yang diperintah oleh ‘amil agar berada
dalam I’rob / keadaan tertentu.
Contoh: ‫( طلعخخخت الشخخخمس‬matahari terbit). ‫ طلعخخخت‬adalah mil yang
memerintah ‫ الشمس‬beri’rob rofa’
‫( رأيخخخت الشخخخمس‬saya melihat matahari). ‫ رأيخخخت‬adalah amil yang
memerintah ‫ الشمس‬beri’rob nashob.
‫( يطير إلى الشمس‬dia akan terbang ke matahari). ‫ إلى‬adalah amil yang
memerintah ‫ الشمس‬beri’rob jer.

Amil dibagi menjadi 2:


‘Amil lafdzi (amil secara lafadz). Yaitu amil yang lafaznya tampak
/ jelas. Seperti kalimat fi’il (kata kerja) yang merofa’kan
fa’ilnya (pelaku). Contoh: ‫طلعت الشمس‬. Kalimat ‫ طلعت‬adalah fi’il
yang merofa’kan ‫( الشمس‬fa’il)
‘Amil ma’nawi (amil secara makna). Yaitu amil yang lafaznya
tidak tampak akan tetapi amil itu ada karena sebab-sebab
tertentu. Amil ma’nawi ini dibagi 2:
Amil ma’nawi tajarrudi (sepi). Yaitu amil yang memerintah fi’il
mudlori’ -yang tidak didahului (sepi) amil nashob atau amil
jazm - agar beri’rob rofa’. Contoh: ‫( يستقبل المسلمون القبلة‬orang-
orang muslim menghadap qiblat). Kalimat ‫( يسخختقبل‬sebagai
ma’mul) I’robnya rofa’ karena ada amil yang memerintah.
Amil tersebut disebut ma’nawi karena lafaznya tidak
tampak.
Amil ma’nawi ibtida’i (permulaan). Yaitu amil yang
memerintah mubtada’ untuk beri’rob rofa’. Contoh: ‫شروط‬
‫الصخخلة البلخخوغ‬. (syaratny sholat adalah balig). Kalimat ‫شخخروط‬
(sebagai ma’mul) I’robnya rofa’ karena ada amil yang
memerintah. Amil tersebut disebut ma’nawi karena
lafaznya tidak tampak.

Kalimat yang Mabni dan Mu’rab


Mu’rob dan mabni ini merupakan hukum dari tiga kalimat (isim,
fi’il, huruf). Rinciannya sebagi berikut:
Fi’il (kata kerja). Rinciannya sebagai berikut:
Fi’il mad}i (kata kerja lampau). Hukum dari fi’il mad}i adalah
mabni (tetap). Artinya akhir kalimat fi’il mad}i selamanya
tidak akan berubah sekalipun ada amil (penyuruh) atau
bersambung dengan kalimat lain. Kemabnian fi’il mad}i
ada 3:
Fi’il mad}i yang bersambung dengan wawu jama’ (‫ و‬:
wawu yang menunjukkan bahwa pelakunya adalah laki-
laki banyak), maka hukumnya adalah mabni dlommah (
). Contoh:

53
‫( فعلوا‬mereka laki-laki telah bekerja).
Jadi, ‫ ل‬pada contoh diatas tetap berharokat dlommah (‫)ل‬
dan tidak akan berubah sekalipun sudah dimasuki oleh
amil (penyuruh) atau didahului oleh kalimat lain.
Fi’il mad}i yang bersambung dengan dlomir rofa’
mutaharrik [dlomir yang berharokat yang berada dalam
keadaan I’rob rofa’ sebab menjadi fail (subyek/pelaku)
atau naibul fa’il (pengganti subjek)], maka hukumnya
mabni sukun ( ْ ). Contoh:
‫( فعلن‬mereka perempuan telah bekerja)
‫( فعلت‬kamu satu laki-laki telah bekerja)
‫( فعلتما‬kamu dua laki-laki telah bekerja)
‫( فعلتم‬kamu banyak laki-laki telah bekerja)
‫( فعلت‬kamu satu perempuan telah bekerja)
‫( فعلتما‬kamu dua perempuan telah bekerja)
‫( فعلتن‬kamu banyak perempuan telah bekerja)
‫( فعلت‬saya telah bekerja)
‫( فعلنا‬kami telah bekerja)

Jadi, ‫ ل‬pada contoh diatas tetap berharokat sukun (‫)ل‬


dan tidak akan berubah sekalipun sudah dimasuki oleh
amil (penyuruh) atau didahului oleh kalimat lain.
Fi’il mad}i yang tidak bersambung dengan wawu jama’( ‫) و‬
atau dlomir rofa’ mutaharrik ( ‫ ت‬dan lainnya), maka
hukumnya mabni fathah ( َ ). Contoh:
‫( فعل‬dia satu laki-laki telah bekerja)
‫( فعل‬dia dua laki-laki telah bekerja)
‫( فعلت‬dia satu perempuan telah bekerja)
‫( فعلتا‬dia dua perempuan telah bekerja)
Jadi ‫ ل‬pada contoh diatas tetap berharokat fathah (‫)ل‬
dan tidak akan berubah sekalipun sudah dimasuki oleh
amil (penyuruh) atau didahului oleh kalimat lain.

Fi’il amr (kata kerja perintah). Fi’il amr hukumnya mabni.


Kemabnian fi’il amr ada 3:
Fi’il amr yang bersambung dengan alif tasniah (‫ ا‬: alif yang
menunjukkan arti dua), wawu jama (‫ و‬: wawu yang
menunjukkan arti banyak), atau ya’ muannas
mukhotobah (‫ي‬: ya’ yang menunjukkan arti perempuan
yang diajak bicara), maka hukumnya adalah mabni
membuang nun (‫)ن‬. Contoh:

‫أفعل‬ (bekerjalah kamu dua orang laki-laki) asalnya


‫أفعلن‬
‫( أفعلوا‬bekerjalah kamu banyak laki-laki) asalnya
‫أفعلون‬
‫( أفعلي‬bekerjalah kamu satu perempuan) asalnnya
‫أفعلين‬
‫( أفعل‬bekerjalah kamu dua orang laki-laki / perempuan)
asalnya ‫ن أفعل‬

Jadi, ‫ن‬pada contoh diatas tetap dibuang selamanya (‫)ن‬


dan tidak mungkin berubah (nunnya kembali lagi)
sekalipun sudah dimasuki oleh amil (penyuruh) atau
didahului oleh kalimat lain.
Fi’il amr yang berupa fi’il amar shohih akhir (huruf akhir
tidak berupa huruf illat yang 3, alif, wawu, ya’ / ,‫ و‬,\‫ى ا‬
‫ )ي‬dan tidak bersambung dengan alif tasniyah ‫) )ا‬,
wawu jama(‫)و‬, dan ya’ muannas mukhotobah (‫ )ي‬,
maka hukumnya mabni sukun (ْ ). Contoh:

‫( أفعل‬bekerjalah kamu satu orang laki-laki)


‫( أفعلن‬bekerjalah kamu banyak perempuan)
Jadi, ‫ ل‬pada contoh diatas tetap berharokat sukun (‫)ل‬
dan tidak mungkin berubah sekalipun sudah dimasuki
oleh amil (penyuruh) atau didahului oleh kalimat lain
Fi’il amr yang berupa fi’il amar mu’tal akhir (huruf akhir
berupa salah satu huruf illat yang tiga, alif, wawu, ya’ /
‫ ي‬,‫ و‬,\‫ )ى ا‬dan tidak bersambung dengan alif tasniyah ‫)ا‬
), wawu jama (‫)و‬, dan ya’ muannas mukhotobah (‫)ي‬,
maka hukumnya mabni membuang huruf illat. Contoh:
‫( إسع‬berjalanlah) asalnya ‫إسعى‬
‫( أدع‬ajaklah) asalnya ‫أدعو‬
‫إرم‬ (lemparlah) asalnya ‫إرمي‬
Jadi ketiga huruf illat (alif, wawu, ya’ / ‫ ي‬,‫ و‬,\‫ )ى ا‬pada
tiga contoh diatas tetap dibuang dan tidak bisa berubah
(ditampakkan kembali) sekalipun sudah dimasuki oleh
amil (penyuruh) atau didahului oleh kalimat lain.
Fi’il mudlori’ (kata kerja yang bermakna sedang/akan). Hukum
asal dan hukum fi’il mudlori secara umum adalah mu’rob.
Akan tetapi dalam keadaan tertentu hukumnya menjadi
mabni. Rinciannya sebagi berikut:
Fi’il mudlori’ yang bersambung dengan nun taukid (‫ ن‬:nun
yang bermakna kesungguhan/penguat), maka
hukumnya mabni fathah ( َ ). Contoh:

‫تفعلن‬ (kamu benar-benar akan bekerja),


I’rob rofa’
‫لن تفعلن‬ (kamu benar-benar tidak akan bekerja),
I’rob nashob
‫لم تفعلن‬ (kamu benar-benar tidak akan bekerja),

55
I’rob jazm
jadi, ‫ ل‬pada ketiga contoh diatas tetap berharokat
fathah (‫ )ل‬dan tidak bisa berubah sekalipun sudah
dimasuki amil (penyuruh) atau didahului oleh kalimat
lain.
Fi’il mudlori’ yang bersambung dengan nun jama’ inas (‫ ن‬:
nun yang menunjukkan arti perempuan banyak), maka
hukumnya menjadi mabni sukun ( ْ ). Contoh:
‫يفعلن‬ (dia perempuan akan bekerja),
I’rob rofa’
‫لن يفعلن‬ (dia perempuan tidak akan bekerja),
I’rob nashob
‫لم يفعلن‬ (dia perempuan akan bekerja),
I’rob jazm
Jadi, ‫ ل‬pada ketiga contoh diatas tetap berharokat
sukun (‫ )ل‬dan tidak bisa berubah sekalipun sudah
dimasuki amil (penyuruh) atau didahului oleh kalimat
lain.
Fi’il mudlori’ yang tidak bersambung dengan nun taukid
atau nun niswah, maka hukumnya adalah mu’rob.
Contoh:
‫يفعل‬ (dia satu laki-laki sedang bekerja),
I’rob rofa’
‫لن يفعل‬ (dia satu laki-laki tidak akan bekerja),
I’rob nashob
‫لم يفعل‬ (dia satu laki-laki tidak bekerja),
I’rob jazm
Jadi, ‫ ل‬pada ketiga contoh diatas tidak tetap dan selalu
berubah sesuai dengan tuntutan amil (penyuruh). Ketika
tidak ada ‫ لن‬dan ‫لم‬, harokat ‫ ل‬adalah dlommah (‫)ل‬. Tapi
ketika didahului ‫ لن‬maka harokat lam adalah fathah (‫)ل‬.
Ketika didahului ‫لم‬, maka harokat lam adalah sukun (‫)ل‬.

Huruf (kata sambung). Hukum huruf adalah mabni selamanya.


contoh: ‫( عن‬dari). Harokat ‫ ن‬selamanya tetap sukun (‫ )ن‬dan
tidak akan berubah sekalipun dimasuki oleh amil (penyuruh)
atau didahului oleh kalimat lain.

Isim (kata benda). Hukum asal dan hukum isim secara umum
adalah mu’rob. Akan tetapi dalam keadaan tertentu hukium
isim menjadi mabni. rinciannya sebagi berikut:
Isim yang menyerupai huruf hukumnya mabni. Keserupaan
isim dengan huruf (yang menyebabkan isim menjadi
mabni) ada dalam 4 hal:
Dari segi bentuknya. Jumlah huruf hujaiyah pada kalimat
huruf paling banyak adalah 2 huruf. Sedangkan jumlah
huruf hijaiyah pada kalimat isim paling sedikitnya
adalah 3 huruf. Jika ada kalimat isim yang jumlah huruf
asalnya kurang dari 3 huruf (1 atau 2 huruf), maka
kalimat isim itu hukumnya mabni, karena menyerupai
huruf. Contoh: ‫( ت‬saya). ‫ ت‬adalah isim dlomir yang
bentuknya menyerupai bentuk huruf (seperti ‫ب‬
(dengan), yaitu kalimat huruf yang hanya satu huruf). ‫ت‬
selamanya tidak akan berubah. Tapi jika ada kalimat
isim yang huruf asalnya adalah 3 huruf, lalu dibuang 1
huruf karena alasan tertentu sehingga menjadi 2 huruf,
maka isim tersebut hukumnya I’rob. Contoh: ‫( يد‬tangan).
Asalnya ‫يدي‬
Dari segi artinya. Setiap huruf memiliki maknanya masing-
masing, seperti hal ‫(هل‬apakah) yang bermakna istifham
(pertanyaan). Jika ada kalimat isim yang mempunyai
makna sama dengan huruf, maka isim tersebut
hukumnya mabni. Seperti isim syarat (kata syarat),
isim istifham (kata pertanyaan), isim isyaroh (kata
petunjuk). Contoh: ‫( كم‬berapa). ‫ كخخم‬adalah isim istifham
yang menyerupai huruf istifham yaitu ‫ أ‬/ hamzah
(apakah). Oleh karena itu ‫ كخخم‬selamanya tidak akan
berubah.
Dari segi butuh pada kalimat yang lain, seperti isim
maushul (kata sambung) dan isim dzorof (kata
keterangan waktu/tempat). Contoh: ‫( الخخذي‬yang). ‫الخخذي‬
adalah isim maushul yang butuh pada shilah dan ‘aid.
‫ الذي‬ini menyerupai huruf yang butuh pada kalimat lain
agar bisa dipahami secara sempurna. Kata ‫الخخخذي‬
selamanya tidak akan berubah
Dari segi penggunaanya, yaitu bisa memerintah (menjadi
amil) atapi tidak bias diperintah (menjadi ma’mul),
seperti isim fi’il (isim yang bermakna fi’il). Contoh: ‫صه‬.
(diamlah). ‫ صخخخخخه‬ini adalah isim fi’il. ‫ صخخخخخه‬bisa
mempengaruhi keadaan I’rob kalimat isim,sedangkan
kalimat lain tidak bisa mempengaruhi kalimat ‫ صه‬. ‫صه‬
ini sama dengan huruf seperti kalimat ‫ إلى‬yang bisa
menjadikan kalimat isim setelahnya beri’rob jer.
Sedamgkan kalimat lain tidakbisa merubah kaliamt ‫إلى‬.

Macam Isim Mabni


Kesimpulannya adalah bahwa isim-isim yang mabni ada 6
macam:
Isim dlomir (kata ganti). Contoh: ‫ت‬
Isim isyaroh (kata petunjuk). Contoh: ‫ذلك‬
Isim syarat (kata syarat). Contoh: ‫من‬
Isim fi’il (kata benda bermakna kerja). Contoh: ‫صه‬
Isim maushul (kata sambung). Contoh: ‫الذي‬

57
Isim istifham (kata tanya). Contoh: ‫كم‬
Isim yang tidak menyerupai huruf hukumnya mu’rob. Selain 6
macam isim mabni diatas hukumnya adalah mu’rob.
Contoh:
‫( قام زيد‬zaid berdiri) : i’rob rofa’
‫رأيت زيدا‬ (saya melihat zaid) : i’rob nashob
‫( مررت بزيد‬saya bertemu zaid) : i’rob jer
Jadi, harokat ‫ د‬pada ‫ زيد‬di 3 contoh diatas selalu berubah
sesuai amil yang memerintah. Dalam keadaan I’rob rofa’
berharokat dlommah (‫)د‬, dalam keadaan I’rob nashob
berharokat fathah (‫)د‬, dalam keadaan I’rob jer berharokat
kasroh (‫)د‬.

Tabel kalimat yang mabni dan mu’rab sebagai


berikut:

N KALIMAT RINCIAN HUKUM CONTO


O H

Bersambung dengan mabni


1 Fi’il Mad}i wawu jama’ (‫)و‬ dlommah ‫فعلوا‬
(ُ)
Bersambung dengan mabni sukun ‫فعلن‬
dlomir rofa’
(ْ)
mutaharrik
Tidak bersambung
dengan wawu jama’ mabni fathah ‫فعل‬
& d}amir rofa’ ( َ)
mutaharrik
Bersambung dengan
alif tasniah, wawu mabni
Amr jama, atau ya’ membuang ‫أفعل‬
muannas nun (‫)ن‬
mukhatabah
Shohih akhir dan
tidak bersambung
dengan alif tasniyah, mabni sukun (ْ ‫أفعل‬
wawu jama, ya’ )
muannas
mukhotobah.
Mu’tal akhir dan
tidak bersambung
mabni
dengan alif tasniyah, ‫إسع‬
membuang
wawu jama, ya’ huruf illat
muannas
mukhotobah.
Bersambung dengan mabni fathah ‫تفعلن‬
Mud}ari’
nun taukid ( َ)
Bersambung dengan mabni sukun (ْ ‫يفعلن‬
nun jama’ inas )
Tidak bersambung
dengan nun taukid mu’rab ‫يفعل‬
atau nun niswah.
2 Huruf Mabni ‫عن‬
Yang serupa dengan
huruf (ada 6: isim
3 Isim d}amir, isyarah, Mabni ‫ت‬
syarat, maus}ul, fi’il,
istifham,)
Tidak serupa dengan ‫زيد‬
Mu’rab
huruf (selain yang 6)

Dari keterangan diatas dapat disimpulkan bahwa kalimat


dibagi menjadi dua:
Kalimat mabni, yaitu:
Semua fi’il mad}i
Semua fi’il amr
Fi’il mudlori’ yang bersambung dengan nun taukid atau
bersambung dengan nun niswah
Semua kalimat huruf
Kalimat isim yang serupa dengan kalimat huruf

59
Kalimat mu’rob, yaitu:
Kalimat fi’il mudlori’ yang tidak bersambung dengan nun
taukid atau bersambung dengan nun niswah
Kalimat isim yang tidak serupa dengan huruf
I’ROB (PERUBAHAN)
I’rob adalah berubahnya akhir kalimat (baik harokat atau
hurufnya yang berubah) yang disebabkan oleh masuknya amil-
amil yang berbeda-beda, baik perubahan itu tampak atau tidak
tidak tampak (kira-kira). Contoh:
Contoh perubahan yang tampak berupa harokat:
‫بلغ عفيف‬ (afif sudah balig). I’rob rofa’
‫( إخترت عفيفا كالرئيس‬saya memilih afif sebagai ketua). I’rob
nashob
‫مررت بعفيف‬ (saya bertemu afif). I’rob jer
Harokat ‫ ف‬diakhir kalimat pada kata ‫ عفيخخف‬selalu berubah
sesuai dengan perintah amil. (‫ب‬/‫ إخترت‬/ ‫)بلغ‬. Pada I’rob rofa’
berharokat dlommah(‫)ف‬, pada I’rob nashob berharokat
nashob (‫)فا‬, pada I’rob jer berharokat kasroh (‫) ف‬
Contoh perubahan yang tampak berupa huruf
‫( تصلي المرأتان‬dua orang perempuan sedang sholat), I’rob rofa’
‫( رأيت المرأتين‬saya melihat dua orang perempuan), I’rob
nashob
‫مررت با المرأتين‬ (saya bertemu dengan dua orang
perempuan), I’rob Jer
Pada ketiga contoh diatas, keadaan akhir kalimat ‫المرأتخخان‬
mengalami perubahan huruf yang tampak. Pada I’rob rofa’
menggunakan alif (‫)المرأتخخخان‬, pada I’rob nashob dan jer
menggunakan ya (‫)المرأتين‬
Contoh perubahan yang tidak tampak (kira-kira):
‫جاء مصطفى‬ (mustofa datang), I’rob rofa’
‫طلبت مصطفى‬ (saya mencari musthofa), I’rob nashob
‫تيممت مع مصطفى‬ (saya berteyammum bersama mustofa),
I’rob jer
Pada ketiga contoh diatas, keadaan akhir kalimat ‫مصخخطفى‬
secara tampak tidak mengalami perubahan (tetap). Akan
tetapi sebenarnya keadaan akhir kalimat ‫ مصطفى‬itu berubah
secara kira-kira saja. Jadi, keadaan akhir kalimat ‫مصخخطفى‬
berubah sesuai dengan tuntutan amil.

Macam Kalimat Mu’rob


Kesimpulannya, bahwa kalimat mu’rob (kalimat yang akhirnya
bisa berubah) adalah:
Semua kalimat isim (yang tidak serupa dengan huruf)
Fi’il mudlori’ (yang tidak bersambung dengan nun taukid atau
nun niswah).
Akan tetapi perubahan itu dibagi menjadi dua, adakalnya secara
tampak dan adakalnya hanya secara kira-kira. Rinciannya
sebagai berikut:
61
Jika huruf akhir kalimat mu’rob (isim dan fi’il mudlori’) berupa
huruf illat alif (‫ى‬/ ‫)ا‬, maka semua tanda I’robnya
(perubahannya) tidak tampak dan harus dikira-kira pada alif ( ‫ا‬
‫ى‬/). contoh:
‫جاءمصطفي‬ (mustofa datang), I’rob rofa’
‫طلبت مصطفى‬ (saya mencari musthofa), I’rob nashob
‫تيممت مع مصطفى‬ (saya bertayammum bersama mustofa),
I’rob jer
Pada ketiga contoh diatas, keadaan akhir kalimat ‫مصخخطفى‬
secara tampak tidak mengalami perubahan (tetap). Akan
tetapi sebenarnya keadaan akhir kalimat musthofa itu
berubah secara kira-kira saja, yaitu dengan tanda alif (‫)ى‬.
Hal ini dikecualikan pada fi’il mudlori’ pada waktu I’rob jazm,
maka tanda I’robnya tidak dikira-kira, tapi tampak yaitu
membuang hurur illat. Contoh:
‫( لن يخش‬dia tidak takut) asalnya ‫لن يخشي‬
Jika huruf akhir kalimat mu’rob berupa huruf illat wawu atau ya’ /
‫ ي‬,‫و‬, maka tanda I’robnya maka:
Dalam keadaan I’rob rofa’ dan jer tandanya adalah dikira-kira
pada huruf wawu atau ya’ / ‫ ي‬,‫و‬. Contoh: ‫( هو ينوي الصلة‬dia
berniat sholat). Kata ‫ ينوي‬tanda I’rob rofa’nya dikira-kira
pada ya’ (‫)ي‬
Dalam keadaan I’rob nashob, tandanya adalah tampak (tidak
dikira-kira), yaitu dengan fathah ( َ ) . Contoh: ‫أن ينوي الصلة‬
(harus berniat sholat). Kata ‫ينخخوي‬, tanda I’robnya tampak
yaitu dengan fathah ( ‫) ينوي‬
Jika huruf akhir kalimat mu’rob berupa ya’ mutakallim (‫ي‬: ya’
yang menunjukkan kepemilikan saya), maka tanda I’rob rofa’,
nashob, dan jernya tidak tampak, tapi dikira-kira pada huruf
sebelum ya’ mutakallim yang berharokat kasroh. Contoh:
‫( مسخخحت شخخعري‬saya mengusap rambutku). Kata ‫ شخخعري‬tanda
I’robnya dikira-kira pada pada kasroh ( ‫) ر‬
Semua kalimat mu’rob yang huruf akhirnya bukan merupakan
huruf illat (alif, wawu, ya’ / ‫ ي‬,‫ و‬,\‫ )ى ا‬atau bukan berupa ya’
mutakallim sebagaimana keterangan diatas, maka tanda
I’robnya adalah tampak. Contoh: ‫( سخخخمعت قخخخارئ القخخخرأن‬saya
mendengan orang yang membaca alqur’an). Kata ‫قخخخارئ‬
tandanya adalah tampak, yaitu menggunakan fathah (‫)ئ‬

Macam-Macam I’rob dan Tandanya


I’rob ada empat macam:
Rofa’ (tinggi)
Tanda-tanda I’rob rofa’ ada 4, yaitu:
Dlommah ( ُ ). Contoh: ‫( يركخخع محمخخد‬Muhammad sedang ruku’).
‫محمد‬, tanda I’rob rofa’nya adalah dlommah ( ‫) د‬
Wawu ( ‫) و‬. Contoh: ‫( يسجد المسلمون‬orang-orang muslim sedang
bersujud). ‫المسلمون‬, tanda I’rob rofa’ nya dengan wawu (‫)و‬
Alif ( ‫ يكخخبر المسخخلمان‬.( ‫( ا‬dua orang muslim sedang bertakbir).
‫المسلمان‬, tanda I’rob rofa’nya adalah alif ( ‫) ا‬
Tetapnya nun (‫ هخخم يجلسخخون‬.(‫( ن‬mereka sedang duduk). ‫يجلسخخون‬,
tanda I’rob rofa’nya dengan nun yang tetap dan tidak
dibuang (‫)ن‬

Nashob (lurus)
Tanda-tanda I’rob nashob ada 5, yaitu:
Fathah ( َ ). Contoh: ‫( هي تسخختر العخخورة‬dia perempuan menutupi
aurotnya). ‫العورة‬, tanda I’rob nashobnya dengan fathah (‫) ة‬
Alif ( ‫) ا‬. Contoh: ‫( هو يضرب أخاك‬dia memukul saudaramu). ‫أخاك‬,
tanda I’rob nashobnya dengan alif ( ‫) ا‬
Kasroh (ِ ). Contoh: ‫( رأيخخت مسخخلمات‬saya melihat para wanita
muslim). ‫مسلمات‬, tanda I’rob nashobnnya dengan kasroh ( ‫ت‬
)
Ya’ (‫)ي‬. Contoh: ‫( صليت ركعتين‬saya sholat dua roka’at). ‫ ركعتين‬,
tanda I’rob nashobnya dengan ya’ (‫)ي‬
Terbuangnnya nun (‫) ن‬. Contoh: ‫( المسخخافرون لخخم يصخخوموا‬orang-
orang yang bepergian itu tidak berpuasa). ‫يصخخوموا‬, tanda
I’rob nashobnya adalah membuang huruf ‫ن‬, asalnya
‫يصومون‬.

Jer / khofad (rendah)


Tanda-tanda I’rob jer ada 3:
Kasroh ( ِ ). Contoh: ‫( خمسة أوقات‬lima waktu). ‫أوقات‬, tanda I’rob
jernya dengan kasroh (‫ )ت‬.
Ya’ (‫)ي‬. Contoh: ‫( مررت بالمسخخلمين‬saya bertemu dengan orang-
orang muslim). ‫المسلمين‬, tanda I’rob jernya dengan ya’ (‫)ي‬
Fathah ( َ ). Contoh: ‫( مخخررت بأحمخخد‬saya bertemu dengan
ahmad). ‫أحمد‬, tanda I’rob jernya dengan fathah ( ‫) د‬

Jazm (putus)
Tanda-tanda I’robnya ada 3
Sukun ( ْ ). Contoh: ‫( هخو لخم يجهخر صخوته‬dia tidak mengeraskan
suaranya).
Membuang huruf illat (wawu ‫و‬, alif ‫ ا\ى‬, ya’‫)ي‬. Contoh: ‫هو لم يزك‬
(dia tidak berzakat). ‫يخخزك‬, tanda I’rob jazmnya adalah
membuang huruf illat (ya’‫)ي‬. Asal dari ‫ يزك‬adalah ‫يزكي‬
Membuang nun ‫ ن‬. Contoh: ‫( هم لم يدعوا‬mereka tidak berdoa).
‫يخخخدعوا‬, tanda I’rob jernya dengan membuang nun ‫ ن‬.
Asalnya adalah ‫يدعون‬.

Tabel pembagian i’rab dan tandanya:

63
N I’RAB TANDA CONTOH
O
Dlommah ( ُ ) ‫يركع محمد‬
1 Rafa’
Wawu ( ‫) و‬ ‫يسجد المسلمون‬
Alif ( ‫) ا‬ ‫يكبر المسلمان‬
Tetapnya nun (‫)ن‬ ‫هم يجلسون‬
Fathah ( َ ) ‫هي تستر العورة‬
2 Nashab
Alif ( ‫) ا‬. ‫هو يضرب أخاك‬
Kasroh (ِ ) ‫رأيت مسلمات‬
Ya’ (‫)ي‬ ‫صليت ركعتين‬
Terbuangnnya nun (‫ن‬ ‫المسافرون لم‬
) ‫يصوموا‬
Kasroh ( ِ ) ‫خمسة أوقات‬
3 Jer / khafad}
Ya’ (‫)ي‬ ‫مررت بالمسلمين‬
Fathah ( َ ) ‫مررت بأحمد‬
Sukun ( ْ ) ‫هو لم يجهر صوته‬
4 Jazm
Membuang huruf illat ‫هو لم يزك‬
(wawu ‫و‬, alif ‫ ا\ى‬, ya’
‫)ي‬
Membuang nun ‫ن‬ ‫هم لم يدعوا‬

Tanda I’rob Fi’il Mud}a>ri’


Rinciannya sebagaimana berikut:
Fi’il mudlori’ yang tidak bersambung dengan nun taukid (‫ن‬: Nun
yang berfungsi mengokohkan) dan nun niswah (‫ن‬: Nun yang
menunjukkan perempuan). Fi’il mudlori ini masuk pada I’rob
rofa’, nashob, dan jazm. Tanda-tanda I’robnya sebagai berikut:
Af’alul khomsah (fi’il-fi’il yang lima), yaitu fi’il mudlori’ yang
bersambung dengan alif tasniyah (‫ ا‬: alif yang bermakna dua),
wawu jama’ (‫ و‬: wawu yang bermakna laki-laki banyak), atau
ya’ muannas mukhotobah (‫ ي‬: ya’ yang bermakna perempuan
yang diajak bicara), maka tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah tetapnya nun (‫)ن‬. Contoh:
‫( هم ينظفون المسجد‬mereka laki-laki membersihkan masjid)
‫( هما ينظفان المسجد‬mereka berdua membersihkan masjid)
‫( أنت تنظفين المسجد‬kamu perempuan membersihkan masjid)
‫ ن‬diakhir kata ‫تنظفيخخن‬, ‫ ينظفان‬,‫ينظفون‬, di tiga contoh diatas
tetap ada dan tidak dibuang. Tetapnya nun (‫ )ن‬inilah yang
menjadi tanda af’alul khomsah
Nashob, tandanya adalah dibuangnya nun (‫)ن‬. Contoh: ‫هم لن‬
‫( ينظفخخوا المسخخجد‬mereka tidak akan membersihkan masjid).
Asalnya adalah ‫ينظفون‬. Lalu dalam keadaan nashob nunnya
dibuang (‫ )ن‬sebagai tanda I’rob
Jazm, tandanya adalah dibuangnya nun (‫)ن‬. Contoh: ‫هم لم ينظفوا‬
‫( المسجد‬mereka tidak membersihkan masjid). Asalnya adalah
‫ينظفخخون‬. Lalu dalam keadaan jazm nunnya dibuang (‫) ن‬
sebagai tanda I’rob

Fi’il mudlori’ shohih akhir (yaitu fi’il mudlori’ yang huruf


akhirnya tidak berupa salah satu huruf illat yang tiga,
wawu (‫) و‬, alif (‫)ا\ى‬, ya (‫ ))’ ي‬yang tidak berupa af’alul
khomsah (fi’il-fi’il yang lima). Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah ( ُ ) yang tampak. Contoh:
‫( يرتفع‬naik)
Nashob, tandanya adalah fathah ( َ ) yang tampak. Contoh: ‫لن‬
‫( يأمر‬tidak memerintah)
Jazm, tandanya adalah sukun ( ْ ) yang tampak Contoh: ‫لم يخالف‬
( dia tidak membelakangi)

Fi’il mudlori’ mu’tal akhir bilalif (yaitu fi’il mudlori’ yang


huruf akhirnya berupa huruf illat alif ) yang tidak
berupa af’alul khomsah. Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah ( ُ ) yang dikira-kira pada alif
(‫) ا\ى‬. Contoh: ‫( يخشى‬dia takut)
Nashob, tandanya adalah fathah ( َ ) yang dikira-kira pada alif
(‫) ا\ى‬. Contoh: ‫ ( لن يخشى‬dia tidak akan takut)
Jazm, tandanya adalah membuang huruf illat alif (‫) ا\ى‬.
Contoh: ‫( لم يخش‬tidak takut). Asalnya adalah ‫يخشى‬

65
Fi’il mudlori’ mu’tal akhir bil wawu (yaitu fi’il mudlori’
yang huruf akhirnya berupa huruf illat wawu ) yang
tidak berupa af’alul khomsah. Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah ( ُ ) yang dikira-kira pada
wawu (‫) و‬. Contoh: ‫( يدعو‬berdoa/memanggil)
Nashob, tandanya adalah fathah ( َ ) yang tampak. Contoh: ‫لن‬
‫( يدعو‬tidak akan berdoa)
Jazm, tandanya adalah membuang huruf illat wawu. Contoh: ‫لم‬
‫( يدع‬tidak berdoa). Asalnya adalah lam ‫يدعو‬

Fi’il mudlori’ mu’tal akhir bilya’ (yaitu fi’il mudlori yang


huruf akhirnya berupa huruf illat ya’‫ )ي‬yang tidak
berupa af’alul khomsah. Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah ( ُ ) yang dikira-kira pada ‫ي‬.
Contoh: ‫( يكفي‬cukup)
Nashob, tandanya adalah fathah yang tampak ( َ ). Contoh: ‫لن‬
‫( يكفي‬tidak akan cukup)
Jazm, tandanya adalah membuang huruf illat ya (‫)ي‬. Contoh:
‫( لم يكف‬tidak cukup). Asalnya ‫يكفي‬.

Tabel tanda i’rab fi’il mud}ari’ sebagai berikut:

N JENIS FI’IL TANDA I’RAB


O MUD}ARI’
Rafa’ Nas}ab Jazm

1 Af’alul khomsah tetapnya nun dibuangnya dibuangnya


(contoh: nun nun (contoh: ‫لم‬
‫)ينظفون‬ (contoh:‫لخخخخخخخخخخن‬
‫)ينظفوا‬
‫)ينظفوا‬
2 Shohih akhir dan da}mmah ( fathah ( َ ) sukun ( ْ )
tidak berupa af’alul ) (contoh: ‫لخخخخخن‬ (contoh: ‫لخخخخخم‬
khomsah (contoh: ‫)يأمر‬ ‫)يخالف‬
‫)يرتفع‬
3 Mu’tal akhir bil alif dlommah ( ُ ) fathah ( َ ) membuang
dan tidak berupa yang dikira- yang dikira- huruf illat alif
af’alul khomsah kira pada alif kira pada alif
(‫) ا\ى‬.
(contoh: (contoh: ‫لخخخخخن‬
‫)يخشى‬ (contoh: ‫لم‬
‫)يخشى‬
‫)يخش‬
4 Mu’tal akhir bil dlommah ( ُ ) fathah ( َ ) membuang
wawu dan tidak yang dikira- (contoh:‫ لن يخخدعو‬huruf illat
berupa af’alul kira pada ) wawu.
khomsah wawu .
(contoh:‫) يدعو‬ (contoh: ‫لم يخخدع‬
)
5 Mu’tal akhir bil ya’ dlommah ( ُ ) fathah ( َ ). membuang
dan tidak berupa yang dikira- (contoh: ‫ لخخخخخن‬huruf illat ya (
af’alul khomsah kira pada ya’ ‫)يكفي‬
(contoh: ‫)يكفي‬
‫)ي‬. (contoh: ‫لم‬
‫) يكف‬

Tanda I’rab Isim


Isim yang tidak serupa dengan huruf. Isim ini masuk pada I’rob
rofa, nashob, dan jer. Tanda-tanda I’robnya sebagai berikut:
Isim ghoiru munshorif (kata benda yang tidak bisa
bertanwin). Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah yang tampak ( ُ ). Contoh:
‫( يخطب أحمد‬ahmad sedang berkhutbah)
Nashob, tandanya adalah fathah yang tampak ( َ ). Contoh: ‫رأيت‬
‫ أحمد‬ahmada (saya melihat ahmad)
Jer, tandanya adalah fathah yang tampak ( َ ) . Contoh ‫مررت‬
‫( بأحمد‬saya bertemu ahmad)

Isim mufrod yang munshorif (kata benda tunggal yang


bisa bertanwin / isim mufrod selain isim ghoiru
munshorif). Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah yang tampak ( ُ ). Contoh: ‫نزل‬
‫( غيث‬hujan turun)
Nashob, tandanya adalah fathah yang tampak ( َ ). Contoh:
‫( رأيت غيثا‬saya melihat hujan)
Jer, tandanya adalah kasroh yang tampak ( ِ ). Contoh: ‫مسست‬
‫( قطرالغيث‬saya menyentuh tetesan hujan)

Isim tasniyah (kata benda bermakna dua). Tanda I’robnya


adalah:
Rofa’, tandanya adalah alif ( ‫) ا‬. Contoh: ‫( يصوم المسلمان‬dua orang
muslim itu sedang berpuasa)
Nashob, tandanya adalah ya (‫)ي‬. Contoh: ‫( أمخخرت المسخخلمين‬saya
memerintah dua orang muslim)
Jer, tandanya adalah ya’ (‫)ي‬. Contoh: ‫( مخخررت بالمسخخلمين‬saya
bertemu dengan dua orang muslim)

Jama’mudzakkar salim (kata benda yang bermakna laki-


laki banyak). Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah wawu ( ‫) و‬. Contoh: ‫( قام الحاضرون‬orang-
orang hadir itu berdiri)
Nashob, tandanya adalah ya’ (‫)ي‬. Contoh: ‫( رأيت الحاضرين‬saya
melihat orang-orang yang hadir)

67
Jer, tandanya adalah ya’ (‫)ي‬. Contoh: ‫( مخخررت بالحاضخخرين‬saya
bertemu dengan orang-orang yang hadir)

Jama’ muannas salim (kata benda banyak yang bermakna


perempuan banyak). Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah yang tampak ( ُ ). Contoh:
‫( تستقبل المسلمات القبلة‬para muslimah itu menghadap qiblat).
Nashob, tandanya adalah kasroh yang tampak ( ِ ). Contoh.
‫( تركت المسلمات في المسجد‬saya meninggalkan para muslimah di
masjid).
Jer, tandanya adalah kasroh yang tampak (ِ ) . Contoh: ‫مررت‬
‫( بالمسلمات‬saya bertemu dengan para muslimah)

Jama’ taksir munshorif (kata benda bermakna banyak


yang bisa menerima tanwin / selain isim ghoiru
munshori). Tandanya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah yang tampak ( ُ ). Contoh:
‫( فروض الوضوء ستة‬fardlu-fardlunya wudu’ ada 6)
Nashob, tandanya adalah fathah yang tampak ( َ ). Contoh: ‫أحفظ‬
‫( فروض الوضوء‬saya sedang menghafal fardu-fardunya wudu’)
Jer, tandanya adalah kasroh yang tampak ( ِ ). Contoh: ‫النية من‬
‫( فروض الوضوء‬niat termasuk fardu-fardunya wudu’)

Isim maqshur (kalimat isim yang huruf akhirnya berupa


huruf illat alif (‫)ا\ى‬. Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah ( ُ ) yang dikira-kira pada alif
(‫)ا \ ى‬. Contoh: ‫( اليد اليمنى‬tangan yang kanan)
Nashob, tandanya adalah fathah ( َ ) yang dikira-kira pada alif (
‫)ا \ى‬. Contoh: ‫( قدمت اليد اليمنى‬saya mendahulukan tangan yang
kanan)
Jer, tandanya adalah kasroh ( ِ ) yang dikira-kira pada alif ( \ ‫ا‬
‫)ى‬. Contoh:‫( خيخخر مخخن اليخخد السخخفلى‬lebih baik dari tangan yang
bawah)

Isim manqus (kalimat isim yang huruf akhirnya berupa


huruf illat ya’ (‫))ي‬. Tandanya I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah dlommah ( ُ ) yang dikira-kira pada ya’ (
‫)ي‬. Contoh: ‫( الصبي يبكى‬bayi itu menangis)
Nashob, tandanya adalah fathah yang tampak ( َ ). Contoh:
‫( رأيت الصبي‬saya melihat bayi)
Jer, tandanya adalah kasroh yang dikira-kira pada ya’ (‫)ي‬.
Contoh: ‫( بول الصبي نجس‬kencing bayi itu najis)

Asma’ul khomsah (isim-isim yang lima), yaitu lafaz ‫أب‬


(ayah), ‫( أخ‬saudara laki-laki), ‫( حم‬paman), ‫( فممم‬mulut), ‫ذو‬
(yang mempunyai). Tanda I’robnya adalah:
Rofa’, tandanya adalah wawu (‫)و‬. Contoh: ‫( يأكل أبوك الرز‬ayahmu
makan nasi)
Nashob, tandanya adalah dengan alif ( ‫) ا‬. Contoh: ‫إن أباك يشرب‬
‫( الماء‬sesungguhnya ayahmu minum air)
Jer, tandanya adalah ya’(‫)ي‬. Contoh: ‫( أذهخخب إلخخى إدارة أبيخخك‬saya
pergi ke kantor ayahmu).

Keterangan: tidak semua isim-isim yang lima diatas di’irob


menggunkan tanda wawu (‫ )و‬ketika rofa, alif ( ‫ ) ا‬ketika
nashob, ya’(‫ )ي‬ketika jer. Akan tetapi ada syarat-syarat yang
harus terpenuhi agar isim-isim yang lima dii’rob dengan
menggunakan tanda wawu (‫)و‬ketika rofa, alif ( ‫ ) ا‬ketika
nashob, ya’ (‫)ي‬ketika jer sebagaimana keterangan diatas.
Syaratnya adalah:
Asma’ul khomsah harus berbentuk mufrod (tidak boleh
berbentuk tasniyah atau jama’)
Asma’ul khomsah harus dimudlofkan
(disandarkan/disambungkan) dengan kalimat lain selain ya’
mutakallim (‫ي‬: ya’ yang bermakna milik saya)
Asma’ul khomsah tidak boleh dishighot tasghir (dibentuk
kecil), yaitu tidak mengikuti wazan ‫ فعيعيل‬/ ‫فعيعل‬/ ‫فعيل‬.
Khusus asma’ul khomsah berupa ‫ م‬,‫ فم‬lafad ‫ فم‬harus dibuang.
Contoh: ‫( فوك‬mulutmu)
Khusus asma’ul khomsah berupa ‫ذو‬, harus bermakna yang
memiliki.

Jika salah satu dari syarat ini tidak dipenuhi, maka tanda
I’robnya tidak menggunkan wawu (‫ ) و‬ketika rofa’, alif ( ‫) ا‬
ketika nashob, ya’ (‫ ) ي‬ketika jer. Akan tetapi tandanya sesuai
dengan bentuk kalimatnya, seperti jika berupa isim mufrod,
maka tandanya adalah dlommah ( ُ ) ketika rofa’, fathah ( َ )
ketika nashob, kasroh ( ِ ) ketika jer. Begitu juga bentuk
kalimat yang lain. Contoh. ‫( جاء الب‬seorang ayah itu datang).
‫ الب‬adalah salah satu dari asma’ul khomsah. Tapi tandanya
adalah dlommah yang tampak (‫ )ب‬, bukan wawu (‫) و‬, Karena
kata ‫ الب‬tidak disandarkan pada kalimat yang lain.

Tabel tanda i’rab isim sebagai berikut:

JENIS
N TANDA I’RAB
KALIMAT
O
ISIM
Rafa’ Nas}ab Jer

1 Isim ghairu dlommah ( ُ ). Fathah ( َ ). fathah ( َ ) .


muns}arif Contoh: ‫ يخطخخخب‬Contoh: ‫ رأيخخخخت‬Contoh ‫مخخخررت‬

69
‫أحمد‬ ‫أحمد‬ ‫بأحمد‬
2 mufrod yang dlommah ( ُ ). fathah ( َ ). kasroh ( ِ ).
munshorif Contoh: ‫ نزل غيث‬Contoh: ‫ رأيت غيثا‬Contoh: ‫مسسخخت‬
‫قطرالغيث‬
3 Isim tasniyah alif ( ‫) ا‬. ya (‫)ي‬. Contoh: ya’ (‫)ي‬.
Contoh: ‫أمرت المسلمين يصخخخخوم‬ Contoh: ‫مررت‬
‫المسلمان‬ ‫بالمسلمين‬
4 Jama’mudzak Wawu (‫)و‬. ya’ (‫)ي‬. Contoh: ya’ (‫)ي‬.
kar salim Contoh: ‫رأيت الحاضرين قخخخخخخام‬ Contoh: ‫مررت‬
‫الحاضرون‬ ‫بالحاضرين‬
5 Jama’ dlommah ( ُ ). kasroh ( ِ ). Kasroh (ِ) .
muannas Contoh: ‫ تسخخختقبل‬Contoh. ‫ تركخخخخت‬Contoh: ‫مررت‬
salim ‫المسلمات القبلة‬ ‫المسلمات في المسجد‬ ‫بالمسلمات‬
6 Jama’ taksir dlommah ( ُ ). fathah ( َ ). kasroh ( ِ ).
munshorif Contoh: ‫ فخخخروض‬Contoh: ‫ أحفخخخخظ‬Contoh: ‫النية من‬
‫الوضوء ستة‬ ‫فروض الوضوء‬ ‫فروض الوضوء‬
7 Isim maqshur dlommah ( ُ ) fathah ( َ ) yang kasroh ( ِ )
yang dikira-kira dikira-kira pada yang dikira-
pada alif (‫)ا \ ى‬. alif (‫)ا \ى‬. kira pada alif (
Contoh: ‫اليد اليمنى‬ Contoh: ‫قدمت اليد‬ ‫)ا \ ى‬. Contoh:
‫اليمنى‬ ‫خير من اليد السفلى‬
8 Isim manqus dlommah ( ُ ) fathah ( َ ). kasroh yang
yang dikira-kira Contoh: ‫ رأيخخخخت‬dikira-kira
pada ya’ (‫)ي‬. ‫الصبي‬ pada ya’ (‫)ي‬.
Contoh: ‫الصخخخبي‬
Contoh: ‫بخخخخول‬
‫يبكى‬
‫الصبي نجس‬
9 Asma’ul wawu (‫)و‬. alif ( ‫ا‬ ). ya’(‫)ي‬.
khomsah Contoh: ‫ يأكل أبوك‬Contoh: Contoh: ‫أذهب‬
‫الرز‬ ‫إن أباك يشرب الماء‬
‫إلى إدارة أبيك‬
71
I’RAB ISIM

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa mu’rab


(kalimat yang bisa di i’rab) ada dua, yaitu:
Kalimat fi’il mud}ari’ (yang tidak bersambung dengan nun taukid
atau nun niswah) dan kalimat isim (yang tidak serupa dengan
huruf). I’rab yang masuk pada fi’il mud}ari’ ada 3, i’rab rafa’,
nashab, dan jazm. Amil-amil yang memerintah fi’il mud}ari’
untuk beri’rab rafa’, nashab, atau jazm sudah dibahas pada bab
i’rab fi’il mud}ari’.
Kalimat isim (yang tidak serupa dengan huruf). I’rab yang masuk
pada kalimat isim ada 3, i’rab rafa’, nashab, dan jer. Rinciannya
sebagaimana berikut:
Isim akan beri’rab rafa’ jika kedudukannya menjadi salah satu
dari marfuat al-asma’ (isim-isim yang dibaca rofa)
Isim akan beri’rab nashab jika kedudukannya menjadi salah satu
dari mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca nashab)
Isim akan beri’rab jer jika kedudukan isim menjadi salah satu dari
mahfud}at al-asma’ (isim-isim yang dibaca jer)

Tabel i’rab isim:

N I’RAB ISIM RINCIAN CONTOH


O
1) fa’il. 2) naibul fa’il.
3) mubtada’. 4)
khabar. 5) isim ‫كخخخان‬
Marfuat al- dan saudaranya. 6)
asma’ (isim- khabar ‫ أن‬dan ‫السواك مستحب‬
1
isim yang saudaranya. 7) isim
dibaca rofa) yang ikut pada isim
yang dibaca rafa’
(Tawabi’)

2 Mansubat al- 1) dua maf’ul 2 .‫)ظن‬ ‫والذي يوجب الغسل‬


asma’ (isim- khabar ‫ كان‬dan
isim yang saudara-saudaranya.
dibaca
3) isim ‫إن‬. Dan
nashab)
saudara-saudaranya.
4) maf’ul bih. 5)
maf’ul ma’ah. 6)
maf’ul liajlih. 7)
masdar. 8) haal. 9)
tamyiz. 10) zaraf. 11)
Mustasna. 12. isim .‫ل‬
13) munada. 14) isim
yang ikut pada isim
yang dibaca nashab
(Tawabi’)
1) isim yang dijerkan
Mahfud}at al- oleh huruf jer. 2)
asma’ (isim- mud}af ilaih. 3) isim ‫أركان الصلة‬
3 isim yang yang ikut pada isim ‫ثمانية عشر ركنا‬
dibaca jer) yang dibaca jer
(Tawabi’)

73
MARFUAT AL-ASMA’ (ISIM-ISIM YANG BERI’RAB RAFA’)

Marfu’at al-asma’ adalah kalimat isim yang keadaannya


beri’rab rafa’. Jadi jika ada kalimat isim yang kedudukannya menjadi
salah satu dari marfuat al-asma’ ini, maka kalimat isim tersebut
pasti beri’rab rafa’.
Marfuat al-asma’ ada 7 macam, yaitu: 1) fa’il. 2) naibul fa’il. 3)
mubtada’. 4) khabar. 5) isim ‫ كان‬dan saudaranya. 6) khabar ‫ أن‬dan
saudaranya. 7) isim yang ikut pada isim yang dibaca rafa’ (Tawabi’)
Contoh: ‫( السواك مستحب‬bersiwak itu disunnahkan). Lafaz ‫ السواك‬beri’rab
rafa’ karena kedudukannya menjadi salah satu dari marfu’at al-
asma’, yaitu menjadi mubtada’. Kalimat isim yang kedudukannya
menjadi mubtada’, maka kalimat isim tersebut pasti beri’rab rafa’.
‫ السخخخواك‬adalah isim mufrad, maka tanda i’rab rafa’nya adalah
dlommah (lihat penjelasan tentang tanda-tanda i’rab). Maka cara
membacanya ‫السواك‬, huruf akhirnya berharokat dlommah (‫)ك‬.
Rincian 7 macam marfuat al-asma’, sebagaimana berikut:

FA’IL (PELAKU)
Ciri-Ciri Fa’il:
Cocok bermakna “siapa” atau “apa”
Sebagai pelaku dari suatu pekerjaan
Berada setelah fi’il ma’lum dan sebagai kalimat pokok
Berupa isim zahir / dlomir / fi’il yang di dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬
Contoh: ‫( ال نصر جاء إذا و‬apabila datang pertolongan Allah).

Penjelasan
Fa’il adalah isim yang dibaca rafa’ yang berada setelah fi’il
mabni ma’lum atau setelah isim yang bisa beramal seperti fi’il
mabni ma’lum. Jadi fa’il ini adalah pelaku (subyek) dari suatu
pekerjaan . Contoh:
contoh fa’il yang jatuh setelah fi’il mabni ma'lum:
‫( يعتكف الصائم‬orang yang berpuasa itu sedang beri’tikaf). ‫الصائم‬
kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari fi’il mabni ma’lum,
yaitu ‫ يعتكف‬. lafaz ‫ الصائم‬i’rabnya rafa’ karena kedudukannya
menjadi fa’il. Tanda fa’ilnya adalah dlommah karena ‫الصخخائم‬
adalah isim mufrad.
‫ الصائم‬adalah fa’il : sebagai ma’mul (yang
diperintah)
‫ يعتكف‬adalah fi’il mabni ma’lum : sebagai amil (yang
memerintah)
contoh fa’il yang jatuh setelah isim yang bisa beramal seperti fi’il
mabni ma’lum:
‫( هل طاهر الماء‬apakah air itu suci?). ‫ الماء‬kedudukannya sebagai
fa’il (pelaku) dari isim yang bisa beramal seperti fi’il mabni
ma’lum, yaitu ‫طخخخخاهر‬. Lafaz ‫ المخخخخاء‬i’rabnya rafa’ karena
kedudukannya menjadi fa’il. Tanda fa’ilnya adalah dlommah
karena ‫ الماء‬adalah isim mufrad.
Keterangan: isim yang bisa beramal seperti fi’il mabni ma’lum
ada 6, yaitu:
Isim masdar (isim yang menunjukkan arti suatu peristiwa /
kejadian dan tidak bersamaan dengan waktu). Contoh:
‫( يفرحني قيام الصلة الطلب‬para murid yang mengerjakan sholat
itu membuat saya bahagia).
Jadi, ‫ الطلب‬kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari isim
masdar, yaitu ‫قيام‬
Isim fa’il (subyek atau pelaku dari suatu pekerjaan). Contoh:
‫( أصائم صديقك‬apakah temanmu itu berpuasa?)
Jadi, ‫ صخخديق‬kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari isim
fa’il, yaitu: ‫صائم‬
Isim sifat musyabbihat (sifat yang bentuk lafaznya diambil
dari fi’il mabni ma’lum (kata kerja yang pelakunya
ada/diketahui) untuk menunjukkan suatu arti yang ada
pada sesuatu yang disifati (maushuf). Contoh: ‫محمخخد حسخخنة‬
‫( اخلقه‬muhammad itu baik akhlaknya).
Jadi, ‫ اخلق‬kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari isim
fa’il, yaitu: ‫حسنة‬
Mubalaghoh isim fa’il (isim fa’il yang dipersangat). Contoh: ‫ما‬
‫( كسول الطالب‬betapa malasnya murid itu)
Jadi, ‫ الطخخالب‬kedudukannya sebagai fa’il dari mubalaghoh
isim fa’il, yaitu: ‫كسول‬
Isim tafdlil (isim yang bermkana paling / lebih). Contoh: ‫رأيت‬
‫( رجل أحسخخخن شخخخعره‬saya melihat laki-laki yang rambutnya
sangat bagus)
Jadi, ‫ شعر‬kedudukannya sebagai fa’il dari isim tafdlil, yaitu:
‫أحسن‬
Isim fi’il (isim yang bermakna pekerjaan). Contoh: ‫هيهات الخنزير‬
(babi itu sudah jauh.
Jadi, ‫ الخنزير‬kedudukannya sebagai fa’il dari isim fi’il, yaitu:
‫هيهات‬

Macam-Macam Fa’il
Ada dua pembagian fa’il, yaitu:
Dilihat dari segi bentuknya, fa’il ada dua macam:
fa’il muawwal (dita’wil / ditafsirkan)
Yaitu fa’il yang berupa kalimat yang dita’wil masdar.
Contoh: ‫( يجخخخخوز أن يقتصرالسخخختنجاء علخخخى المخخخاء‬seseorang boleh
beristinjak dengan air saja)
jadi, ‫ أن يقتصر‬kedudukannya sebagai fa’il dari fi’il, yaitu ‫يجوز‬.
Lafaz ‫ أن يقتصر‬adalah fa’il berupa kalimat fi’il mud}ari’ yang

75
dita’wil masdar. Takwil dari ‫ أن يقتصر‬adalah ‫( القتصار‬bentuk
isim masdar dari ‫)يقتصر‬.
Fa’il sarih (jelas)
Yaitu fa’il yang bukan berupa kalimat yang dita’wil masdar.
Contoh: ‫( يتوضأ زيد‬zaid sedang berwudlu’).
Jadi, ‫ زيد‬kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari kata kerja
‫يتوضأ‬. Lafaz ‫ زيد‬adalah kalimat isim asli dan bukan kalimat
yang dita’wil masdar. ‫ زيخخد‬i’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya manjadi fa’il. Tanda i’rabnya adalah
dlommah karena ‫ زيد‬adalah isim mufrad.
Dilihat dari segi jelas atau tidaknya, fa’il ada dua macam:
Fa’il Isim zahir (isim yang tampak/bukan kata ganti)
yaitu fa’il yang berupa isim zahir (isim yang tampak /
bukan isim dlomir). Contoh: ‫( أسلم الكافر‬orang kafir itu masuk
islam)
‫ الكخخافر‬kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari fi’il (kata
kerja) ‫ أسلم‬. lafaz ‫ الكافر‬adalah fa’il berupa isim zahir (bukan
isim dlomir). ‫ الكخخخخخافر‬i’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya manjadi fa’il. Tanda i’rabnya adalah
dlommah karena ‫ الكافر‬adalah isim mufrad
Isim dlomir (kata ganti)
Yaitu fa’il yang berupa isim dlomir (kata ganti). Contoh:
‫( تكلمت‬saya telah berbicara).
‫ ت‬adalah fa’il (pelaku) dari fi’il (kata kerja) ‫تكلخخم‬. Lafaz ‫ت‬
adalah fa’il berupa isim dlomir. Berbeda dengan fa’il isim
zahir diatas, fa’il isim dlomir ini hukumnya mabni (huruf
akhirnya tidak bisa berubah). Jadi selamanya harokat ‫ت‬
adalah dlommah, tidak akan bisa berubah.
Isim dlomir yang kedudukannya menjadi fa’il ini dibagi
menjadi 2, yaitu:
Fa’il isim dlomir muttasil (bersambung)
yaitu fa’il yang berupa isim dlomir yang bersambung
dengan fi’ilnya. Contoh: ‫( سميت‬saya membaca bismillah).
Jadi, ‫ ت‬kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari fi’il
(kata kerja) ‫سمي‬. Lafaz ‫ ت‬adalah fa’il berupa isim dlomir
muttasil karena ‫ ت‬tersebut bersambung langsung
dengan fi’ilnya (‫)سمي‬
Rincian isim dlomir muttasil sebagai berikut:

Fi’il Mad}i Mabni Fa’il isim dlomir Arti isim dlomir


Ma’lum mutashil mutashil

‫( فعل‬telah bekerja) ‫ هو‬yang dikira-kira dia satu laki-laki

‫فعل‬ ‫( ا‬alif) Dia dua laki-laki

‫فعلوا‬ ‫( و‬wawu) Mereka laki-laki


‫فعلت‬ ‫( هي‬yang dikira-kira) Dia satu perempuan

‫فعلتا‬ ‫( ا‬alif) Dia dua perempuan

‫فعلن‬ ‫( ن‬nun) Mereka perempuan

‫فعلت‬ ‫( ت‬ta’) Kamu satu laki-laki

‫فعلتما‬ ‫( ت‬ta’) Kamu dua laki-laki

‫فعلتم‬ ‫( ت‬ta’) Kamu banyak laki-


laki

‫فعلت‬ ‫( ت‬ta’) Kamu satu


perempuan

‫فعلتما‬ ‫( ت‬ta’) Kamu dua


perempuan

‫فعلتن‬ ‫( ت‬ta’) Kamu banyak


perempuan

‫فعلت‬ ‫( ت‬ta’) Saya

‫فعلنا‬ ‫( ن‬nun) kami

Fi’il Fa’il isim dlomir Arti isim dlomir


mud}ari’mabni muttasil mutashil
ma’lum
‫( يفعخخخل‬sedang / akan ‫ هو‬yang dikira-kira Dia satu laki-laki
bekerja)
‫يفعلن‬ ‫( ا‬alif) Dia dua laki-laki

‫يفعلون‬ ‫( و‬wawu) Mereka laki-laki

‫تفعل‬ ‫ هى‬yang dikira-kira Dia satu perempuan

‫تفعلن‬ ‫( ا‬alif) Dia dua perempuan

‫يفعلن‬ ‫( ن‬nun) Mereka perempuan

‫تفعل‬ ‫ أنت‬yang dikira-kira Kamu satu laki-laki

‫تفعلن‬ ‫( ا‬alif) Kamu dua laki-laki

‫تفعلون‬ ‫( و‬wawu) Kamu banyak laki-


laki

‫تفعلين‬ ‫( ي‬ya’) Kamu satu

77
perempuan

‫تفعلن‬ ‫( ا‬alif) Kamu dua


perempuan

‫تفعلن‬ ‫( ن‬nun) Kamu banyak


perempuan

‫افعل‬ ‫ أنا‬yang dikira-kira Saya laki-laki /


perempuan

‫نفعل‬ ‫ نحن‬yang dikira-kira Kami laki-laki /


perempuan

Fi’il amr Fa’il isim dlomir Arti isim dlomir


muttasil mutashil

‫( أفعل‬bekerjalah) ‫ أنت‬yang dikira-kira Kamu satu laki-laki

‫أفعل‬ ‫( ا‬alif) Kamu dua laki-laki

‫أفعلوا‬ ‫( و‬wawu) Kamu banyak laki-


laki

‫أفعلي‬ ‫( ي‬ya’) Kamu satu


perempuan

‫أفعل‬ ‫( ا‬alif) Kamu dua


perempuan

‫أفعلن‬ ‫( ن‬nun) Kamu banyak


perempuan

Fa’il isim dlomir munfasil (berpisah)


yaitu fa’il yang berupa isim dlomir yang berpisah (tidak
bersambung langsung) dengan fi’ilnya. Contoh: ‫لم ينم إل‬
‫( أنت‬tidak tidur kecuali kamu)
jadi, ‫ أنخخت‬kedudukannya sebagai fa’il (pelaku) dari fi’il
(kata kerja) ‫ينم‬. Lafaz ‫ أنت‬adalah fa’il berupa isim dlomir
munfasil karena ‫ أنت‬tersebut terpisah (tidak bersambung
langsung) dengan fi’ilnya (‫)ينم‬.
Rincian isim dlomir munfasil sebagaimana berikut:

Fa’il isim dlomir Arti isim dlomir Contoh


munfasil munfasil
‫هو‬ Dia satu laki-laki ‫( لم يفعل إل هو‬tidak ada
yang bekerja kecuali
dia satu laki-laki)

‫هما‬ Dia dua laki-laki ‫لم يفعل إل هما‬


‫هم‬ Mereka laki-laki ‫لم يفعل إل هم‬
‫هي‬ Dia satu perempuan ‫لم يفعل إل هي‬
‫هما‬ Dia dua perempuan ‫لم يفعل إل هما‬
‫هن‬ Mereka perempuan ‫لم يفعل إل هن‬
‫أنت‬ Kamu satu laki-laki ‫لم يفعل إل أنت‬
‫أنتما‬ Kamu dua laki-laki ‫لم يفعل إل أنتما‬
‫أنتم‬ Kamu banyak laki- ‫لم يفعل إل أنتم‬
laki
‫أنت‬ Kamu satu ‫لم يفعل إل أنت‬
perempuan
‫أنتما‬ Kamu dua ‫لم يفعل إل أنتما‬
perempuan
‫أنتن‬ Kamu banyak ‫لم يفعل إل أنتن‬
perempuan
‫أنا‬ Saya laki-laki / ‫لم يفعل إل أنا‬
perempuan
‫نحن‬ Kami laki-laki / ‫لم يفعل إل نحن‬
perempuan

KETERANGAN
Setiap fi’il (kata kerja), pasti ada fa’ilnya,
Baik fa’ilnya tampak (berupa isim zahir atau dlomir bariz muttasil
/ munfasil), contoh: ‫( صخخخام زيخخخد‬zaid berpuasa). ‫( صخخخام‬fi’il)
mempunyai fa’il, yaitu ‫زيد‬. Jadi ‫ زيد‬kedudukannya sebagai fa’il
yang tampak (kelihatan lafaznya), atau
Fa’ilnya tidak tampak (berupa dlomir mustatir), contoh: ‫زيد صام‬
(zaid berpuasa). ‫ صام‬mempunya fa’il yang tidak tampak, tapi
tersimpan. Fa’il yang tesimpan itu kira-kiranya adalah ‫هو‬.
Fa’il harus berada setelah kalimat fi’il. Contoh: ‫( صخخخام زيخخخد‬zaid
berpuasa). ‫( زيد‬fa’il) berada setelah ‫( صخخام‬kalimat fi’il). Jika ada
kalimat isim yang seakan-akan menjadi fa’il yang didahulukan
dari fi’ilnya, maka kalimat tersebut bukan fa’il, akan tetapi
kedudukannya menjadi mubtada’. Sedangkan fa’il dari fi’ilnya
adalah berupa dlomir muttasil yang tersimpan.
Contoh: ‫( زيد صام‬zaid berpuasa) . lafaz ‫ زيد‬kedudukannya adalah
mubtada’, bukan fa’il. Sedangkan fa’il dari ‫ صام‬adalah berupa
dlomir muttshil yang tersimpan kira-kiranya adalah ‫( هو‬dia laki-
laki)
Antara fi’il dan fa’ilnya harus sama dari segi muzakkar dan

79
muannasnya. Jadi, jika fi’ilnya muzakkar, maka fa’ilnya juga
mudzkkar. Jika fi’ilnya muannas, maka fa’ilnya juga muannas.
Sedangkan dari segi jumlahnya, fi’il dan fa’il tidak harus sesuai.
Jadi, jika fi’ilnya adalah mufrad, maka fa’ilnya bisa saja mufrad,
tasniyah atau jama’. Contoh:

FI’IL FA’IL JENIS / JUMLAH

‫صام‬ ‫المسلم‬ Muzakkar / mufrad

‫صام‬ ‫المسلمان‬ Muzakkar / tasniyah

‫صام‬ ‫المسلمون‬ Muzakkar / jama’

‫صامت‬ ‫المسلمة‬ Muannas / mufrad

‫صامت‬ ‫المسلمتان‬ Muannas / tasniyah

‫صامت‬ ‫المسلمات‬ Muannas / jama’

Pada fi’il muta’addi (kata kerja yang butuh pada objek), pada
dasarnya maf’ul (objek) itu berada setelah kalimat fi’il. Contoh:
‫( نعبد إياك‬kami menyembah kepada-MU). ‫ إياك‬adalah maf’ul (objek).
Lafaz ‫ إياك‬berada setelah fi’ilnya, yaitu ‫نعبد‬.
Akan tetapi, maf’ul bisa saja berada sebelum fi’ilnya. Contoh: ‫نعبد‬
‫( إيخخاك‬hanya kepada-MU kami menyembah) . lafaz ‫ إيخخاك‬sebagai
maf’ul berada sebelum fi’ilnya, yaitu ‫نعبد‬

NAIBUL FA’IL (PENGGANTI FA’IL)


Ciri-Ciri Naibul fa’il
Cocok bermakna “siapa” atau “apa”
Sebagai objek yang menempati posisinya subjek
Berada setelah fi’il majhul dan sebagai kalimat pokok
Berupa isim zahir / dlomir / fi’il yang di dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬
Contoh: ‫( كفروا الذين لعن‬orang-orang yang kafir itu dilaknat).

Penjelasan
Naibul fail adalah isim yang dibaca rafa’, yang berada setelah fi’il
mabni majhul / kata kerja pasif (fi’il yang tidak disebut fa’ilnya;
penejelasan lebih rinci telah dibahas pada bab tentang
pembagian kalimat fi’il) atau berada setelah isim yang bisa
beramal seperti fi’il mabni majhul, yang mana isim ini mengganti
kedudukan dari fa’il yang tidak disebutkan karena alasan-alasan
tertentu. ‫( أكخخل الطعخخام‬makanan itu telah dimakan). Lafaz ‫الطعخخام‬
kedudukannya sebaga naibul fa’il karena berada setelah fi’il
mabni majhul, yaitu: ‫أكخخل‬. Dan lafaz ‫ الطعخخام‬disebut naibul fa’il
karena kedudukan asalnya adalah maf’ul, lalu mengganti
kedudukan fa’il yang tidak disebutkan.
Asal dari ‫ أكخخل الطعخخام‬adalah ‫( أكخخل الرجخخل طعامخخا‬laki-laki itu makan
makanan). Jadi ‫ الطعام‬yang kedudukannya sebagai naibul fa’il ini,
asalnya berkedudukan sebagai maf’ul (objek) dari fi’il (‫)أكل‬. Lalu
lafaz ‫ الرجل‬sebagai fa’il dibuang / tidak disebutkan dan diganti
dengan lafaz ‫الطعام‬. Jadi ‫ الطعخخام‬yang asalnya adalah maf’ul, lalu
menjadi na’ibul fa’il setelah fa’ilnya dibuang.
‫ الطعام‬: adalah naibul fa’il : sebagai ma’mul (yang
diperintah)
‫أكل‬ : adalah fi’il mabni majhul : sebagai amil (yang
memerintah)

Lafaz / Kedudukan Yang Bisa Menjadi Naibul fa’il


Sebagaimana penjelasan diatas, bahwa naibul fa’il adalah
kalimat isim yang mengganti kedudukan fa’il. Ada 4 lafaz yang
bisa menjadi naibul fa’il, yang mengganti tempatnya fa’il yang
dibuang, yaitu:
Maf’ul bih (objek). Contoh: ‫( خولط الماء‬air itu dicampuri). Asalnya
adalah ‫( خالطت النجاسة الماء‬benda najis itu mencampuri air). Jadi,
‫ المخخخاء‬yang kedudukan asalnya sebagai maf’ul bih, lalu
menggantikan kedudukan ‫ النجاسخخخخة‬sebagai fa’il sehingga
kedudukan ‫ الماء‬menjadi naibul fa’il
Masdar (peristiwa). Contoh: ‫( احتفل احتفال عظيم‬perayaan yang besar
itu telah dirayakan). Asalnya adalah ‫احتفخخل الشخخخص احتفخخال عظيمخخا‬
(seseorang telah merayakan perayaan yang besar). Jadi, ‫احتفال‬
yang kedudukan asalnya sebagai masdar, lalu menggantikan
kedudukan dari ‫ الشخص‬sebagai fa’il sehingga kedudukan ‫احتفال‬
menjadi na’ibul fa’il
Zaraf (keterangan waktu / tempat). Contoh: ‫( رمضخخان صخخيم‬bulan
romadlon telah dipuasai). Asalnya adalah ‫صام الشخخخص رمضخخان‬
(seseorang telah berpuasa romadlon). Jadi, ‫ رمضخخخان‬yang
kedudukan asalnya sebagai zaraf, lalu menggantikan
kedudukan ‫ الشخخخص‬sebagai fa’il sehingga kedudukan ‫رمضخخان‬
menjadi na’ibul fa’il
Jar majrur. Contoh: ‫( ابتهخخج فخخي هخخذا اللقخخاء‬dirasakan kegembiraan
dipertemuan ini). Asalnya adalah ‫ابتهخخخج الشخخخخص فخخخي هخخخذا اللقخخخاء‬
(seseorang merasakan kegembiaraan di pertemuan ini). Jadi,
‫ في هخخذا اللقخخاء‬adalah jar majrur yang menggantikan kedudukan
‫ الشخخخص‬sebagai fa’il sehingga kedudukan ‫ فخخي هخخذا اللقخخاء‬menjadi
naibul fa’il

81
Keterangan
Jika dalam suatu susunan kalimat ada keempat lafaz diatas
(maf’ul bih, masdar, zaraf, jar majrur), maka yang menjadi
naibul fa’il adalah maf’ul bih, bukan lafaz ketiga lafaz lainnya
(masdar, zaraf, jar majrur). Contoh: ‫لطم زيد يوم السبت في البيت لطما‬
‫( شديدا‬zaid telah ditampar pada hari jum’at di rumah itu dengan
pukulan yang keras).
Pada susunan kalimat ini ada kempat lafaz yang bisa menjadi
naibul fa’il, yaitu maf’ul bih ( ‫)زيد‬, zaraf (‫)يوم السبت‬, jar majrur (
‫)فخخي الخخبيت‬, masdar (‫)لطمخخا‬. Dari keempat lafaz diatas, yang
kedudukannya sebagai naibul fa’il adalah maf’ul bih (‫)زيد‬
Akan tetapi jika dalam susunan kalimat tidak terdapat maf’ul bih,
akan tetapi yang ada ketiga lafaz lainnya (masdar, zaraf, jar
majrur), maka yang menjadi naibul fa’il adalah salah satu dari
ketiga lafaz tersebut (bisa masdar, zaraf, atau jar majrur).
Contoh: ‫( صخخيم رمضخخان تضخخرعا لخخ تعخخالى‬bulan romadlon itu telah
dipuasai dengan mengharap ridlo Allah SWT).
Pada susunan kalimat ini tidak ada maf’ul bih, yang ada
adalah ketiga lafaz lainnya, yaitu zaraf (‫)رمضخخان‬, masdar (
‫)تضخخخرعا‬, jar majrur (‫)لخخخ‬. Dari ketiga lafaz diatas, yang
kedudukannya sebagai naibul fa’il adalah salah satu dari
ketiganya, dalam susunan kalimat ini adalah zaraf (‫)رمضان‬

Macam-Macam Naibul fa’il


Sebagaimana fa’il, ada dua pembagian naibul fa’il:
Dilihat dari segi bentuknya, naibul fa’il ada 2 macam:
Naibul fa’il muawwal (dita’wil / ditafsirkan)
Yaitu naibul fa’il yang berupa kalimat yang dita’wil masdar.
Contoh: ‫( يسن أن يمسح الذنين في الوضوء‬disunnahkan mengusap
kedua telinga ketika wudlu’).
Jadi, ‫ أن يمسخخح‬kedudukannya sebagai naibul fa’il dari fi’il
mabni majhul, yaitu ‫يسخن‬. Lafaz ‫ أن يمسخح‬adalah naibul fa’il
berupa kalimat fi’il mud}ari’ yang dita’wil masdar. Takwil
dari ‫ أن يمسح‬adalah ‫( المسح‬bentuk isim masdar dari ‫)يمسح‬.
Naibul fa’il sarih (jelas)
Yaitu naibul fa’il yang bukan berupa kalimat yang dita’wil
masdar. Contoh: ‫( يغسل الكفان‬dua telapak tangan itu sedang
dibasuh).
Jadi, ‫ الكفان‬kedudukannya sebagai naibul fa’il dari fi’il mabni
majhul, yaitu ‫يغسل‬. Lafaz ‫ الكفان‬adalah kalimat isim asli dan
bukan kalimat yang dita’wil masdar. ‫ الكفان‬i’rabnya adalah
rafa’ karena kedudukannya manjadi naibul fa’il. Tanda
i’rabnya adalah alif karena ‫ الكفان‬adalah isim tasniyah.

Dilihat dari segi jelas atau tidaknya, naibul fa’il ada 2 macam:
Naibul fa’il isim zahir (isim yang tampak/bukan kata ganti)
yaitu naibul fa’il yang berupa isim zahir (isim yang
tampak / bukan isim dlomir). Contoh: ‫تخلخخخل اللحيخخخة الكثيفخخخة‬
(jenggot yang tebal itu disela-selai)
‫ اللحيخخة‬kedudukannya sebagai naibul fa’il dari fi’il mabni
majhul, yaitu ‫ تخلخخل‬. lafaz ‫ اللحيخخة‬adalah naibul fa’il berupa
isim zahir (bukan isim dlomir). ‫ اللحية‬i’rabnya adalah rafa’
karena kedudukannya manjadi naibul fa’il. Tanda i’rabnya
adalah dlommah karena ‫ اللحية‬adalah isim mufrad
Naibul fa’il isim dlomir (kata ganti)
Yaitu naibul fa’il yang berupa isim dlomir (kata ganti).
Contoh: ‫( نصرت‬saya telah ditolong).
‫ ت‬adalah naibul fa’il dari fi’il mabni majhul, yaitu ‫نصر‬. Lafaz
‫ ت‬adalah naibul fa’il berupa isim dlomir. Berbeda dengan
fa’il isim zahir diatas, naibul fa’il isim dlomir ini hukumnya
mabni (huruf akhirnya tidak bisa berubah). Jadi selamanya
harokat ‫ ت‬adalah dlommah, tidak akan bisa berubah.
Sebagaimana fa’il, Isim dlomir yang kedudukannya menjadi
naibul fa’il ini dibagi menjadi 2, yaitu:
Naibul fa’il isim dlomir muttasil (bersambung)
yaitu naibul fa’il yang berupa isim dlomir yang
bersambung dengan fi’ilnya. Contoh: ‫( ضربت‬saya telah
dipukul). Jadi, ‫ ت‬kedudukannya sebagai naibul fa’il dari
fi’il mabni majhul, yaitu ‫ ضخخرب‬. Lafaz ‫ ت‬adalah naibul
fa’il berupa isim dlomir muttasil karena ‫ ت‬tersebut
bersambung langsung dengan fi’ilnya (‫)ضرب‬
Rincian naibul fail berupa isim dlomir muttasil sebagai
berikut:

Fi’il Mad}i Mabni Naibul fa’il isim Arti isim dlomir


Majhul dlomir mutashil mutashil

‫( ضرب‬telah dipukul) ‫ هو‬yang dikira-kira Dia satu laki-laki

‫ضربا‬ ‫( ا‬alif) Dia dua laki-laki

‫ضربوا‬ ‫( و‬wawu) Mereka laki-laki

‫ضربت‬ ‫( هي‬yang dikira-kira) Dia satu perempuan

‫ضربتا‬ ‫( ا‬alif) Dia dua perempuan

‫ضربن‬ ‫( ن‬nun) Mereka perempuan

‫ضربت‬ ‫( ت‬ta’) Kamu satu laki-laki

‫ضربتما‬ ‫( ت‬ta’) Kamu dua laki-laki

‫ضربتم‬ ‫( ت‬ta’) Kamu banyak laki-

83
laki

‫ضربت‬ ‫( ت‬ta’) Kamu satu


perempuan

‫ضربتما‬ ‫( ت‬ta’) Kamu dua


perempuan

‫ضربتن‬ ‫( ت‬ta’) Kamu banyak


perempuan

‫ضربت‬ ‫( ت‬ta’) Saya

‫ضربنا‬ ‫( ن‬nun) kami

Fi’il mud}ari’ Naibul fa’il isim Arti isim dlomir


mabni majhul dlomir muttasil mutashil

‫( يضرب‬sedang / akan ‫ هو‬yang dikira-kira Dia satu laki-laki


dipukul)
‫يضربان‬ ‫( ا‬alif) Dia dua laki-laki

‫يضربون‬ ‫( و‬wawu) Mereka laki-laki

‫تضرب‬ ‫ هى‬yang dikira-kira Dia satu perempuan

‫تضربان‬ ‫( ا‬alif) Dia dua perempuan

‫يضربن‬ ‫( ن‬nun) Mereka perempuan

‫تضرب‬ ‫ أنت‬yang dikira-kira Kamu satu laki-laki

‫تضربان‬ ‫( ا‬alif) Kamu dua laki-laki

‫تضربون‬ ‫( و‬wawu) Kamu banyak laki-


laki

‫تضربين‬ ‫( ي‬ya’) Kamu satu


perempuan

‫تضربان‬ ‫( ا‬alif) Kamu dua


perempuan

‫تضربن‬ ‫( ن‬nun) Kamu banyak


perempuan

‫اضرب‬ ‫ أنا‬yang dikira-kira Saya laki-laki /


perempuan

‫نضرب‬ ‫ نحن‬yang dikira-kira Kami laki-laki /


perempuan

Naibul fa’il isim dlomir munfasil (berpisah)


yaitu naibul fa’il yang berupa isim dlomir yang berpisah
(tidak bersambung langsung) dengan fi’ilnya. Contoh: ‫لخخم‬
‫( يضرب إل أنت‬tidak dipukul kecuali kamu)
Jadi, ‫ أنت‬kedudukannya sebagai naibul fa’il (pelaku) dari fi’il
mabni majhul, yaitu ‫لم يضرب‬. Lafaz ‫ أنت‬adalah naibul fa’il
berupa isim dlomir munfasil karena ‫ أنت‬tersebut terpisah
(tidak bersambung langsung) dengan fi’ilnya (‫)لم يضرب‬.
Rincian naibul fa’il berupa isim dlomir munfasil
sebagaimana berikut:

Naibul fa’il isim Arti isim dlomir Contoh


dlomir munfasil munfasil
‫هو‬ Dia satu laki-laki ‫( لخخخم يضخخخرب إل همممو‬tidak
dipukul kecuali dia
satu laki-laki)

‫هما‬ Dia dua laki-laki ‫لم يضرب إل هما‬


‫هم‬ Mereka laki-laki ‫لم يضرب إل هم‬
‫هي‬ Dia satu perempuan ‫لم يضرب إل هي‬
‫هما‬ Dia dua perempuan ‫لم يضرب إل هما‬
‫هن‬ Mereka perempuan ‫لم يضرب إل هن‬
‫أنت‬ Kamu satu laki-laki ‫لم يضرب إل أنت‬
‫أنتما‬ Kamu dua laki-laki ‫لم يضرب إل أنتما‬
‫أنتم‬ Kamu banyak laki- ‫لم يضرب إل أنتم‬
laki
‫أنت‬ Kamu satu ‫لم يضرب إل أنت‬
perempuan
‫أنتما‬ Kamu dua ‫لم يضرب إل أنتما‬
perempuan
‫أنتن‬ Kamu banyak ‫لم يضرب إل أنتن‬
perempuan
‫أنا‬ Saya laki-laki / ‫لم يضرب إل أنا‬
perempuan
‫نحن‬ Kami laki-laki / ‫لم يضرب إل نحن‬
perempuan

85
KETERANGAN
Naibul fa’il adakalnya tampak lafaznya adakalnya tidak tampak,
contoh:
Naibul fa’il yang tampak lafaznya (berupa isim zahir atau dlomir
bariz muttasil / munfasil), contoh: ‫( زيخخد يضخخرب‬zaid dipukul).
‫( يضخخخرب‬fi’il) mempunyai naibul fa’il, yaitu ‫زيخخخد‬. Jadi ‫زيخخخد‬
kedudukannya sebagai naibul fa’il yang tampak (kelihatan
lafaznya)’
Naibul fa’il yang tidak tampak lafaznya (berupa dlomir mustatir),
contoh: ‫( زيد يضرب‬zaid dipukul). ‫ يضرب‬mempunya naibul fa’il,
akan tetapi naibul fa’ilnya tidak tampak, akan tetapi
tersimpan. Naibul fa’il yang tesimpan itu kira-kiranya adalah
‫هخخو‬. Jadi, ‫ هخخو‬kedudukannya sebagai naibul fa’il yang tidak
tampak

MUBTADA’ DAN KHABAR (SUBYEK DAN PREDIKAT)


Mubtada’ (subyek / permulaan)
Ciri-Ciri Mubtada’
Cocok bermakna “adapun”
Berada di awal perkataan dan sebagai kalimat pokok
Berupa isim zahir / dlomir / fi’il mud}ari’ yang di dahului ‫أن‬
Biasanya berupa isim ma’rifat
Contoh: ‫( سميع ال و‬Allah adalah Zat yang maha mendengar).

Penjelasan
Mubtada’ adalah isim yang beri’rab rafa’ yang menjadi
permulaan dari suatu perkataan, yang tidak didahului oleh
amil lafzi (yang tampak lafaznya). Jadi, Amil yang memerintah
mubtada’ untuk beri’rab rafa’ bukan berupa amil lafzi, tapi
amil ma’nawi ibtida’i (amil yang tidak tampak yang
memerintah mubtada’ untuk beri’rab rafa’). Contoh: ‫السخخواك‬
‫( مستحب‬bersiwak itu adalah disunnahkan).
‫السواك‬ : mubtada’ : i’rabnya rafa’
‫مستحب‬ : khabar : i’rabnya rafa’
Jadi, ‫ السواك‬kedudukannya sebagai mubtada’ karena menjadi
permulaan dari suatu perkataan. Lafaz ‫ السخخواك‬i’rabnya rafa’
karena kedudukannya menjadi mubtada’. Tanda i’rabnya
adalah dlommah karena ‫ السواك‬berupa isim mufrad. Amil yang
memerintah ‫ السخخخواك‬sebagai mubtada’ ini bukan amil lafzi
(amilnya tidak tampak), akan tetapi amilnya adalah amil yang
tidak tampak (amil ma’nawi ibtida’). Amil ma’nawi ibtida’i
inilah yang memerintah lafaz ‫ السواك‬untuk beri’rab rafa’ karena
kedudukannya sebagai mubtada’
Khabar adalah isim yang dibaca rafa’, yang disandarkan
kepada mubtada’ dan berfungsi sebagai penyempurna makna
bagi mubtada’. Contoh: ‫( السخخخخخواك مسخخخخختحب‬bersiwak itu
disunnahkan).
‫( السواك‬bersiwak) : Mubtada’ / subyek
‫( مستحب‬disunnahkan) : khabar / predikat
Amil mubtada’nya tidak tampak, karena amilnya berupa amil
ma’nawi ibtida’i

Macam-Macam Mubtada’
Ada dua pembagian mubtada’, yaitu:
Dilihat dari segi bentuknya, ada 2:
Mubtada’ muawwal (ditakwil / ditafsirkan)
Yaitu mubtada’ yang berupa kalimat yang dita’wil
masdar. Contoh: ‫( وأن تصخخوموا خيخخر لكخخم‬puasanya kamu itu
lebih baik)
Jadi, ‫ أن تصخخخخخوموا‬kedudukannya sebagai mubtada’,
khabarnya adalah ‫خير‬. Lafaz ‫ أن تصوموا‬adalah mubtada’
berupa kalimat fi’il mud}ari’ yang dita’wil masdar.
Takwil dari ‫ أن تصوموا‬adalah ‫( صومكم‬bentuk isim masdar
dari ‫) أن تصومو ا‬.
Lafaz ‫ أن تصخخخوموا‬i’rabnya adalah rafa’ secara mahalli
(kedudukannya). Artinya ‫ أن تصوموا‬i’rabnya adalah rafa’
karena kedudukannya sebagai mubtada’. Tapi secara
lafaz, ‫ أن تصخخوموا‬i’rabnya adalah nashab karena berupa
fi’il mud}ari’ yang didahului oleh amil nashab, yaitu ‫أن‬
Mubtada’ sarih
Yaitu mubtada’ yang bukan berupa kalimat yang dita’wil
masdar. Contoh: ‫( فخخخروض الوضخخخوء سخخختة‬fardlu-fardlunya
wudlu’ ada 6).
Jadi, ‫ فروض‬kedudukannya sebagai mubtada’. Khabarnya
adalah ‫ ستة‬. Lafaz ‫ فخخروض‬adalah kalimat isim asli dan
bukan kalimat yang dita’wil masdar. ‫ فخخروض‬i’rabnya
adalah rafa’ karena kedudukannya manjadi mubtada’.
Tanda i’rabnya adalah dlommah karena ‫ فخخروض‬adalah
jamak taksir.
Dilihat dari segi jelas atau tidaknya, ada 2, isim zahir dan isim
d}amir. Rinciannya sebagai berikut:
Mubtada’ isim zahir (isim yang tampak/bukan kata ganti)
yaitu mubtada’ yang berupa isim zahir (isim yang
tampak / bukan isim d}amir). Contoh: ‫السخختنجاء واجخخب‬
(beristinja’ itu wajib)
‫ السخختنجاء‬kedudukannya sebagai mubtada’, khabarnya
adalah ‫واجب‬. lafaz ‫ الستنجاء‬adalah mubtada’ berupa isim
zahir (bukan isim d}amir). ‫ الستنجاء‬i’rabnya adalah rafa’
karena kedudukannya manjadi mubtada’. Tanda
i’rabnya adalah dlommah karena ‫ السخختنجاء‬adalah isim
mufrad.

87
Mubtada’ isim zahir ada 2 macam, yaitu:
Mubtada’ yang punya khabar. Contoh: ‫السخختنجاء واجخخب‬
(beristinja’ itu wajib). ‫ الستنجاء‬adalah mubtada’. ‫واجب‬
adalah khabar. Jadi, mubtada’ (‫ )السخخخختنجاء‬disini
mempunyai khabar, yaitu ‫واجب‬.
Mubtada’ yang tidak punya khabar, tapi punya isim
yang dirafa’kan (sebagai fa’il / naibul fa’il) yang
menempati kedudukannya khabar. Syarat dari
mubtada’ ini harus berupa isim sifat (isim fa’il, isim
maf’ul, isim sifat musyabihat, atau S}ighat
mubalaghah) yang didahului oleh:
Nafi (peniadaan, seperti ‫) ما‬. Contoh: ‫ما مستعمل زيد مخخاء‬
‫( النجس‬zaid tidak menggunakan air najis)
‫ مسخختعمل‬adalah mubtada’ berupa isim fa’il, ‫زيخخد‬
adalah fa’il. Jadi, ‫ مستعمل‬ini adalah mubtada’ yang
tidak ada khabarnya, akan tetapi mempunyai isim
yang dibaca rafa’, yaitu ‫ زيخخد‬yang kedudukannya
sebagai fa’il, yang mengganti kedudukannya
khabar.
Nahi (petanyaan, seperti ‫) هل‬. Contoh: ‫هل متنجخس المخاء‬
(apakah air itu dijatuhi najis)
‫ متنجخخخخس‬adalah mubtada’ berupa berupa isim
maf’ul, ‫ المخخاء‬adalah naibul fa’il. Jadi ‫ متنجخخس‬ini
adalah mubtada’ yang tidak ada khabarnya, akan
tetapi mempunyai isim yang dibaca rafa’, yaitu
‫ الماء‬yang keudukannya sebagai naibul fa’il, yang
menggantikan kedudukannya khabar
Mubtada’ isim d}amir
Yaitu mubtada’ yang berupa isim d}amir (kata ganti).
Contoh: ‫( هخخي صخخائمة‬dia perempuan adalah orang yang
berpuasa)
‫ هي‬adalah mubtada, khabarnya adalah ‫صائمة‬. Lafaz ‫هي‬
adalah mubtada’ berupa isim d}amir. Berbeda dengan
mubtada’ isim zahir diatas, mubtada’ isim d}amir ini
hukumnya mabni (huruf akhirnya tidak bisa berubah).
Jadi selamanya harokat huruf akhir ‫ هي‬adalah fathah,
tidak akan bisa berubah.
Yang perlu digarisbawahi disini, isim d}amir yang
berupa isim d}amir muttasil (bersambung dengan
fi’ilnya seperti ‫ )ت‬tidak bisa menjadi mubtada’. Yang
bisa menjadi mubtada’ adalah isim d}amir munfasil
(terpisah), seperti contoh diatas: ‫( هخخخخي صخخخخائمة‬dia
perempuan adalah orang yang berpuasa). ‫ هي‬ini adalah
mubtada’ berupa isim d}amir munfasil.
Rincian mubtada’ berupa isim d}amir munfasil sebagai
berikut:
Arti Isim d}amir
Mubtada’ Isim
Khabar Mubtada’ Munfasil
d}amir Munfasil
‫هو‬ ‫( صخخخخخخخائم‬orang yang Dia satu laki-laki
berpuasa)
‫هما‬ ‫صائمان‬ Dia dua laki-laki

‫هم‬ ‫صائمون‬ Mereka laki-laki

‫هي‬ ‫صائمة‬ Dia satu perempuan

‫هما‬ ‫صائمتان‬ Dia dua perempuan

‫هن‬ ‫صائمات‬ Mereka perempuan

‫أنت‬ ‫صائم‬ Kamu satu laki-laki

‫أنتما‬ ‫صائمان‬ Kamu dua laki-laki

‫أنتم‬ ‫صائمون‬ Kamu banyak laki-


laki

‫أنت‬ ‫صائمة‬ Kamu satu


perempuan

‫أنتما‬ ‫صائمتان‬ Kamu dua


perempuan

‫أنتن‬ ‫صائمات‬ Kamu banyak


perempuan

‫أنا‬ ‫صائم \ صائمة‬ Saya laki-laki /


perempuan

‫نحن‬ ‫صائمون \ صائمات‬ Kami laki-laki /


perempuan

89
KETERANGAN
Mubtada’ pasti beri’rab rafa’. Contoh: ‫( السخختنجاء واجخخب‬beristinja’ itu
wajib). ‫ السخخختنجاء‬kedudukannya sebagai mubtada’, khabarnya
adalah ‫ الستنجاء‬.‫ واجب‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya
manjadi mubtada’. Tanda i’rabnya adalah dlommah karena
‫ الستنجاء‬adalah isim mufrad
Akan tetapi adakalanya mubtada’ beri’rab jer jika didahului oleh
huruf jer, yaitu:
Huruf jer ba’ (‫)ب‬, contoh: ‫( بحسبك ال‬cukuplah bagimu pertolongan
Allah). ‫ بحسبك‬kedudukannya sbagai mubtada’. Pada dasarnya
mubtada’ beri’rab rafa’. Tapi lafaz ‫ بحسخخخخبك‬ini, walaupun
kedudukannya sebagai mubtada’, i’rabnya adalah jer karena
didahului oleh huruf jer ba’ (‫)ب‬
huruf jer ‫ من‬. Contoh: ‫( هل من خالق غيخخر الخ يرزقكخخم‬adakah pencipta
selain Allah yang mencukupi rizkimu). ‫ خخخخالق‬kedudukannya
sebagai mubtada’. Pada dasarnya mubtada’ beri’rab rafa’.
Tapi lafaz ‫ خخخخالق‬ini , walaupun kedudukannya mubtada’,
i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf jer (‫) من‬
‫ رب‬. contoh: ‫( يا رب كاسية في الدنيا عارية يوم القيامة‬betapa banyak orang
yang berpakaian di dunia tapi telanjang di hari kiamat). ‫كاسية‬
kedudukannya sebagai mubtada’. Pada dasarnya mubtada’
beri’rab rafa’. Tapi lafaz ‫ كاسخخية‬ini, walaupun kedudukannya
mubtada’, i’rabnya adalah jer karena didahului oleh ‫ رب‬.
Mubtada’ harus berupa isim ma’rifat. Contoh: ‫وجلود الميتة تطهخر بالخدباغ‬
(kulit bangkai itu bisa suci dengan cara disamak). ‫وجلخخخود‬
kedudukannya sebagai mubtada’, khabarnya adalah ‫تطهر‬. Lafaz
‫ جلود‬adalah mubtada’ berupa isim ma’rifat, yaitu ma’rifat berupa
isim yang dimulofkan kepada isim ma’rifat dengan al (‫)الميتة‬.
Akan tetapi, adakalnya mubtada’ bisa berupa isim nakirah
dengan syarat tersebut harus bisa memberi faidah, diantaranya:
Mubtada’ berupa isim nakirah yang dimud}afkan kepada isim
nakirah yang lain. Contoh: ‫( خمس صلوات كتبهن ال‬lima sholat itu
dicatat oleh Allah). ‫ خمخخس‬kedudukannya sebagai mubtada’
berupa isim nakirah yang dimud}afkan kepada isim nakirh
yang lain, yaitu ‫صلوات‬
Mubtada’ berupa isim nakirah yang disifati oleh kalimat yang
lain. Contoh: ‫( لعبخخد مخخؤمن خيخخر مخخن مشخخرك‬budak yang beriman itu
lebih baik dari pada orang musyrik). ‫ عبخخخد‬kedudukannya
sebagai mubtada’ berupa isim nakirah yang disifati oleh
kalimat yang lain, yaitu: ‫مؤمن‬
Khabar mubtada’nya berupa susunan zaraf atau jer majrur yang
berada sebelum mubtada’. Contoh: ‫( فخخي الخخبيت ميتخخة‬dirumah itu
ada bangkai). ‫ ميتخخة‬kedudukannya sebagai mubtada’ berupa
isim nakirah karena khabarnya berupa susunan jer majrur (‫في‬
‫ )البيت‬yang berada sebelum mubtada’
Mubtada’ tersebut berada setelah nafi (peniadaan, seperti: ‫مخخا‬:
apakah), atau setelah nahi (pertanyaan, seperti: ‫هل‬: apakah),
atau setelah ‫( لول‬andaikan tidak/bukan), atau setelah ‫( إذا‬tiba-
tiba). Contoh: ‫( أإله مع ال‬apakah ada tuhan lain yang menyertai
Allah). ‫ إله‬adalah mubtada’ berupa isim nakirah yang didahului
oleh nahi, yaitu alif (‫أ‬: apakah)
Dan lain-lain

KHABAR (PREDIKAT / BERITA)


Ciri-Ciri Khabar
Cocok bermakna “adalah”
Menjadi pelengkap dari mubtada’ dan sebagai kalimat pokok
Berupa mufrad / jumlahismiyah/ jumlahFi’liyah / jer majrur /
zaraf
Contoh: ‫( سميع ال و‬Allah adalah Zat yang maha mendengar).

Penjelasan
Khabar adalah isim yang dibaca rafa’, yang disandarkan
kepada mubtada’ dan berfungsi sebagai penyempurna makna
bagi mubtada’. Contoh: ‫( السخخواك مسخختحب‬bersiwak itu adalah
disunnahkan).
‫ مسخختحب‬adalah khabar, ‫ السخخواك‬adalah mubtada’. Jadi, ‫مسخختحب‬
adalah khabar yang menyempurnakan makna ‫ السواك‬sebagai
mubtada’. ‫ مستحب‬i’rabnya rafa’ karena kedudukannya menjadi
khabar. Tanda khabarnya adalah dlommah karena ‫مسخختحب‬
adalah isim mufrad.
Jadi, Ketika ada mubtada’ tanpa ada khabarnya, maka makna
mubtada’ ini tidak sempurna. Contoh ‫( السخخواك‬bersiwak itu
adalah....). lafaz ‫ السخخواك‬ini adalah mubtada’, tapi tidak ada
khabar atau pengganti khabarnya. Maka makna mubtada’ ini
tidak sempurna.
Tapi ketika mubtada’ ini ada khabarnya, maka makna
mubtada’ ini menjadi sempurna, contoh: ‫السخخخخواك مسخخخختحب‬
(bersiwak itu adalah disunnahkan).
‫( السواك‬bersiwak) : Mubtada’ / subyek : sebagai amil (yang
memerintah)
‫( مستحب‬disunnahkan) : khabar / predikat : sebagai
ma’mul (yang diperintah)

Macam-Macam Khabar
Khabar ada 2 macam, yaitu:
Khabar mufrad (tunggal / bukan jumlah).
Yaitu khabar yang tidak terdiri dari jumlahatau syibhul
jumlah, seperti contoh-contoh diatas. Contoh: ‫السواك مستحب‬

91
(bersiwak itu adalah disunnahkan). Lafaz ‫ السخخواك‬adalah
mubtada’. ‫ مسخختحب‬adalah khabar berupa khabar mufrad
karena tidak terdiri dari jumlahatau syibhul jumlah. ‫مستحب‬
i’rabnya rafa’ karena kedudukannya menjadi khabar. Tanda
i’rab rafa’nya adalah dlommah karena ‫ مستحب‬adalah isim
mufrad.
Khabar ghairu mufrad (jumlah)
Yaitu khabar yang terdiri dari jumlahatau syibhul jumlah.
Contoh ‫( محمخخد أكخخل الخخخبز‬Muhammad telah makan roti). ‫محمخخد‬
adalah mubtada’. Khabarnya adalah ‫أكل‬. jadi, ‫ أكخخل‬adalah
khabar berupa ghoiru mufrad karena terdiri dari
jumlahFi’liyah, dalam hal ini berupa susunan fi’il (‫ )أكل‬dan
fa’il ‫ هو‬, yaitu d}amir mustatir yang tersimpan pada lafad
‫ أكخخل‬. Susunan ‫ أكخخل‬I’rabnya adalah rafa’ secara mahalli
(kedudukannya) saja. Artinya, ‫ أكخخل‬I’rabnya adalah rafa’
karena kedudukannya sebagai khabar. tapi secara lafaz
adalah mabni karena ‫ أكل‬adalah fi’il mad}i.
Khabar ghoiru mufrad ini dibagi menjadi 2, yaitu:
Jumlah, yaitu khabar yang terdiri dari susunan kalimat.
Khabar jumlah ini ada macam, yaitu:
Ismiyah (mubtada’ & khabar)
Yaitu khabar berupa susunan mubtada dan khabar.
Contoh: ‫زيد ابوه عليم‬
(zaid adalah ayahnya yang alim). Lafaz ‫ زيخخد‬adalah
mubtada. Khabarnya adalah ‫ عليخخم ابخخوه‬. jadi, ‫عليخخم ابخخوه‬
adalah khabar yang berupa jumlahismiyah, yaitu
khabar berupa susunan mubtada’ (‫ )ابوه‬dan khabar (
‫)عليم‬.
‫زيد‬ : mubtada’
‫ عليم ابوه‬: khabar, yang berupa jumlah ismiyah
{khabar berupa susunan mubtada’ (‫)ابخخوه‬
dan khabar khabar (‫})عليم‬
Fi’liyah (fi’il & fa’il)
Yaitu khabar berupa susunan fi’il dan fa’il . contoh:
‫( محمد أكل الخبز‬muhammad telah makan roti) Lafaz ‫محمد‬
adalah mubtada’. Khabarnya adalah ‫أكخخل‬. Jadi, ‫أكخخل‬
adalah khabar yang berupa jumlah Fi’liyah, yaitu
khabar berupa susunan fi’il (‫ )أكل‬dan fa’il (‫ هو‬, yaitu
d}amir mustatir yang tersimpan pada lafad ‫)أكل‬.
Susunan ‫ أكخخخخخخل‬I’rabnya rafa’ secara mahalli
(kedudukannya) karena kedudukannya menjadi
khabar. Tapi secara lafaz, ‫ أكل‬adalah mabni karena
‫ أكل‬adalah fi’il mad}i dan ‫( هو‬yaitu d}amir mustatir
yang tersimpan pada lafad ‫ ) أكل‬I’rabnya rafa’ karena
menjadi fa’il.
‫ محمد‬: mubtada’
‫ أكل الخبز‬: khabar, yang berupa jumlahFi’liyah {
khabar berupa susunan fi’il (‫ )أكل‬dan fa’il (‫هو‬
, yaitu d}amir mustatir yang tersimpan pada
lafad ‫) أكل‬.
Syibhul jumlah (serupa dengan jumlah)
Zaraf (kata keterangan)
yaitu khabar berupa susunan zaraf (keterangan), baik
keterangan waktu atau keterangan tempat. Contoh:
‫(الستاذ امام البيت‬ustadz itu ada di depan rumah) . lafaz
‫ الستاذ‬adalah mubtada’. Khabarnya adalah ‫ امخخام الخخبيت‬.
jadi, ‫ امخخام الخخبيت‬adalah khabar yang berupa susunan
zaraf. Susunan ‫ امام البيت‬i’rabnya adalah rafa’ secara
mahalli (kedudukannya) karena kedudukannya
menjadi khabar. Tapi secara lafaz, ‫ امخخخام‬i’rabnya
nashab karena menjadi zaraf dan ‫ الخخبيت‬i’rabnya jer
karena menjadi mud}af ilaih .
‫ الستاذ‬: mubtada’
‫امام البيت‬ : khabar berupa zaraf
Jer majrur (huruf jer dan isim yang dijerkan)
yaitu khabar yang terdiri dari huruf jer dan isim yang
dibaca jer. Contoh: ‫(المسلم فخخي المسخخجد‬seorang muslim
ada di masjid). Lafaz ‫ المسخخخخلم‬adalah mubtada’.
Khabarnya adalah ‫ فخخي المسخخجد‬. jadi, ‫ فخخي المسخخجد‬adalah
khabar berupa susunan jer (‫ )في‬dan majrur (‫)المسجد‬.
Susunan ‫ فخخخي المسخخخجد‬i’rabnya rafa’ secara mahalli
(kedudukannya) karena kedudukannya menjadi
khabar. Tapi secara lafaz, ‫ في‬adalah mabni karena ‫في‬
adalah kalimat huruf dan ‫ المسخخجد‬i’rabnya jer karena
didahului huruf jer.
‫المسلم‬ : mubtada’
‫في المسجد‬ : khabar berupa susunan jer (‫ )في‬dan
majrur (‫)المسجد‬

KETERANGAN
Khabar harus sesuai dengan mubtada’ dalam hal jenis (muzakkar &
muannas) dan jumlahnya (mufrad, tasniyah, & jama’). Contoh:
‫( السخخواك مسخختحب‬bersiwak itu adalah disunnahkan). ‫ مسخختحب‬adalah
khabar. Mubtada’nya adalah ‫السواك‬. Lafaz ‫ مستحب‬sebagai khabar
harus sesuai dengan ‫ السواك‬sebagai mubtada’ dari segi jenis dan
jumlahnya.
‫ السواك‬: mufrad muzakkar
‫ مستحب‬: mufrad muzakkar
Jadi, pada ‫السواك مستحب‬, khabar sudah sesuai dengan mubtada’nya
dari segi jenis (muzakkar) dan jumlahnya (mufrad). Contoh lain:

93
MUBTADA’ KHABAR

‫المسلم‬ ‫صائم‬
(Mufrad muzakkar) (Mufrad muzakkar)

‫المسلمان‬ ‫صائمان‬
(Tasniyah muzakkar) (Tasniyah muzakkar)

‫المسلمون‬ ‫صائمون‬
(Jama’ muzakkar) (Jama’ muzakkar)

‫المسلمة‬ ‫صائمة‬
(mufrad muannas) (mufrad muannas)

‫المسلمتان‬ ‫صائمتان‬
(tasniyah muannas) (tasniyah muannas)

‫المسلمات‬ ‫صائمات‬
(jama’ muannas) (jama’ muannas)

Pada asalnya, khabar berada setelah mubtada’. Contoh: ‫السواك مستحب‬


(bersiwak itu adalah disunnahkan). ‫ السخخواك‬adalah mubtada’ .
‫ مسخختحب‬adalah khabar. Lafaz ‫ مسخختحب‬sebagai khabar ini berada
setelah mubtada’ (‫)السواك‬.
Akan tetapi khabar boleh berada sebelum mubtada’. Contoh: ‫في‬
‫( أبصخخخارهم غشخخخاوة‬di mata mereka ada penutup). ‫ غشخخخاوة‬adalah
mubtada’. ‫ فخخي أبصخخارهم‬adalah khabar. Lafaz ‫ فخخي أبصخخارهم‬sebagai
khabar ini berada sebelum mubtada’ (‫)غشاوة‬

ISIM ‫ كان‬DAN SAUDARA-SAUDARANYA


Termasuk dari isim yang beri’rab rafa’ adalah isim ‫ كخخان‬dan
saudara-saudaranya. Sebelum membahas isim ‫ كان‬dan saudara-
saudaranya, akan dibahas penjelasannya mengenai amil-amil
nawasikh (amil yang merusak). Yang disebut amil nawasikh
adalah amil yang merusak keadaan susunan mubtada’ dan
khabar. Pada dasarnya, mubtada’ dan khabar i’rabnya adalah
rafa’. Contoh: ‫( زيد قائم‬zaid berdiri)
‫ زيد‬: mubtada’ : i’rabnya rafa’
‫ قائم‬: khabar : i’rabnya rafa’
Akan tetapi, setelah ada amil nawasikh, maka i’rabnya berubah.
Dan mubtada’nya diganti dengan sebutan isim amil nawasikh,
khabarnya diganti dengan sebutan khabar amil nawasikh.
Contoh: ‫( كان زيد قائما‬zaid berdiri).
‫كان‬ : amil nawasikh
‫زيد‬ : isim ‫( كان‬asalnya mubtada’) : i’rabnya
rafa’
‫قائما‬ : khabar ‫( كان‬asalnya khabar) : i’rabnya nashab.

Macam-Macam Amil Nawasikh


Amil nawasikh ini ada 3 macam, yaitu:
Amil yang merafa’kan mubtada’ dan menashabkan khabar, yaitu
‫ كان‬dan saudara-saudaranya. Contoh: ‫( كان زيد قائما‬zaid berdiri).
‫كان‬ : amil nawasikh
‫زيد‬ : isim ‫( كان‬asalnya mubtada’) :
i’rabnya rafa’
‫قائما‬ : khabar ‫( كان‬asalnya khabar) : i’rabnya nashab.

Amil yang menashabkan mubtada’ dan merafa’kan khabarnya,


yaitu ‫ إن‬dan saudara-saudaranya. Contoh: ‫إن زيخخخخدا قخخخخائم‬
(sesunnguhnya zaid berdiri)
‫إن‬ : amil nawasikh
‫ زيدا‬: isim ‫إن‬ (asalnya mubtada’) : i’rabnya nashab
‫ قائم‬: khabar ‫( إن‬asalnya khabar) : i’rabnya rafa’
Amil yang menashabkan mubtada’ dan khabarnya secara
bersamaan, yaitu ‫ ظن‬dan saudara-saudaranya. Contoh: ‫ظننت‬
‫( زيدا قائما‬saya menyangka zaid berdiri).
‫ ظن‬: amil nawasikh
‫ زيدا‬: maf’ul pertama ‫( ظن‬asalnya mubtada’) : i’rabnya
nashab
‫ قائما‬: maf’ul kedua ‫ظن‬ (asalnya khabar) : i’rabnya
nashab

Isim ‫ كان‬Dan Saudara-Saudaranya

Pada pembahasan kali ini, yang akan dijelaskan pertama kali


adalah pembahasan ‫ كخخخان‬dan saudara-saudaranya. Amalnya
adalah merafa’kan mubtada’ sebagai isim ‫ كان‬dan menashabkan
khabar ‫ كان‬.
Jadi, yang termasuk marfu’at al-asma’ (isim-isim yang dirafa’kan)
adalah isim ‫ كان‬dan saudara-saudaranya. Contoh: ‫كانت صلة الجماعة‬
‫( سنة مؤكدة‬sholat jamaah itu adalah sunnah muakkad)
‫ كانت‬: amil nawasikh
‫ صلة‬: isim ‫( كانت‬asalnya mubtada’) : i’rabnya rafa’
‫سنة‬ : khabar ‫كانت‬ (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ صلة‬i’rabnnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
isim ‫كانت‬. Tanda i’rabnya adalah dlommah karena ‫ صخخلة‬adalah
isim mufrad.

Saudara-Saudara ‫كان‬
Saudara-saudara ‫ كان‬yang juga beramal seperti ‫( كان‬merafa’kan

95
mubtada’ sebagai isim dan menasobkan khabar) ada dua belas
yang dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
Bisa beramal tanpa syarat, yaitu:
‫( كان‬ada) dan tas}rifnya. Contoh:‫( صلة الستسقاء مسنونة كانت‬sholat
minta hujan itu disunnahkan).
‫ كانت‬: amil nawasikh
‫ صلة‬: isim ‫كانت‬ : i’rabnya rafa’
‫مسنونة‬ : khabar ‫كانت‬ : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ صخخلة‬i’rabnnya adalah rafa’ karena kedudukannya
sebagai isim ‫كانت‬. Tanda i’rabnya adalah dlommah karena
‫ صلة‬adalah isim mufrad.
‫( أضحى‬menjadi / masuk waktu dluha) dan tas}rifnya. contoh:
‫( أضحى زيد بالغا‬zaid menjadi baligh). Jadi, ‫ زيد‬i’rabnya adalah
rafa’ karena kedudukannya sebagai isim ‫أضحى‬
‫( ظل‬menjadi) dan tas}rifnya. Contoh: ‫( ظل زيد صالحا‬zaid menjadi
orang yang sholeh). Jadi, ‫ زيد‬i’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai isim ‫ظل‬
‫( بات‬menjadi / bermalam) dan tas}rifnya. Contoh: ‫بخخات المسخخافر‬
‫( مصليا‬musafir itu semalaman sholat). Jadi, ‫ المسافر‬i’rabnya
adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai isim ‫بات‬
‫( أمسخخى‬menjadi / masuk waktu sore) dan tas}rifnya. Contoh:
‫( أمسخخت الشخخمس غاربخخة‬matahari itu terbenam sore hari). Jadi,
‫ الشمس‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
isim ‫أمست‬
‫( أصخخبح‬menjadi / masuk waktu pagi) dan tas}rifnya. Contoh:
‫( أصخخخبح إبراهيخخخم نخخخبي الخخخ‬ibrohim menjadi nabi Allah) dan
tas}rifnya. Jadi, ‫ إبراهيخخخخم‬i’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai isim ‫أصبح‬.
‫( صخخار‬menjadi) dan tas}rifnya. Contoh: ‫صخخار محمخخد رسخخول الخخ‬
(muhammad menjadi rosulullah). Jadi, ‫ محمد‬i’rabnya adalah
rafa’ karena kedudukannya sebagai isim ‫ صار‬.
‫( ليس‬tidak ada / bukan) dan tas}rifnya. ‫( الماء المستعمل نجسا ليس‬air
musta’mal itu bukan najis). Jadi, ‫ الماء‬i’rabnya adalah rafa’
karena kedudukannya sebagai isim ‫ليس‬.
Bisa beramal dengan syarat harus didahului oleh nafi
(peniadaan) atau nahi (larangan)
‫( فتئ‬selalu / senantiasa) dan tas}rifnya. Contoh: ‫ما فتئت الشخخمس‬
‫( طالعة من الشرقية‬matahari selalu terbit dari timur). Jadi, ‫الشمس‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai isim
‫فتئت‬. Amil ‫ فتئت‬ini bisa beramal seperti amalnya ‫ كان‬karena
didahului oleh nafi, yaitu ‫ما‬.
‫( انفك‬selalu / senantiasa) dan tas}rifnya. Contoh: ‫ما انفكت الشمس‬
‫( غاربخخة الخخى الغربيخخة‬matahari selalu terbenam ke barat). Jadi,
‫ الشمس‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
isim ‫انفكت‬. Amil ‫ انفكت‬ini bisa beramal seperti amalnya ‫كان‬
karena didahului oleh nafi, yaitu ‫ما‬.
‫( زال‬masih) dan tas}rifnya. Contoh: ‫( ما زال زيد نائمخخا‬zaid masih
tidur). Jadi, ‫ زيد‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya
sebagai isim ‫زال‬. Amil ‫ زال‬ini bisa beramal seperti amalnya
‫ كان‬karena didahului oleh nafi, yaitu ‫ما‬.
‫( برح‬masih) dan tas}rifnya. Contoh: ‫( ما برحخخت زينخخب باكيخخة‬zainab
masih menangis). Jadi, ‫ زينخخب‬i’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai isim ‫برحخخخت‬. Amil ‫ برحخخخت‬ini bisa
beramal seperti amalnya ‫ كخخان‬karena didahului oleh nafi,
yaitu ‫ما‬.
Bisa beramal dengan syarat harus didahului oleh ‫ما المصدرية الظرفية‬
, yaitu ‫ مخخا‬yang menta’wil masdar kalimat fi’il yang jatuh
setelahnya dan sebagai ganti dari zaraf.
Saudara ‫ كان‬yang masuk pada macam ketiga ini adalah ‫دام‬
(selama) dan tas}rifnya. Contoh: ‫احبك ما دام خلقك حسنا‬. Jadi, ‫خلخخق‬
i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai isim ‫دام‬.
Amil ‫ دام‬bisa beramal seperti amalnya ‫ كان‬karena didahului oleh
‫)ما )ما المصدرية الظرفية‬

KETERANGAN
Tas}rif dari ‫ كان‬dan saudara-saudaranya adalah sebagai berikut:
‫كان‬
‫كن ل تكن‬ ‫كائن‬ ‫هو‬ ‫وكينونة‬ ‫كونا‬ ‫يكون‬ ‫كان‬ WAZAN

Fi’il Fi’il Isim Isim Isim Isim Fi’il Fi’il JENIS


nahi ama fa’il d}a masd masd mud} mad KALIMA
r mir ar ar ari’ }i T

‫صار‬
‫صر ل تصر‬ ‫صائر‬ ‫هو‬ ‫صيرا وصيرورة‬ ‫يصير‬ ‫صار‬ WAZAN

Fi’il Fi’il Isim Isim Isim Isim Fi’il Fi’il JENIS


nahi am fa’il d}a masda masd mud} mad KALIMA
ar mir r ar ari’ }i T

‫أضحى‬
‫أضح ل تضح‬ ‫مضح‬ ‫هو‬ ‫إضحاء‬ ‫يضحي‬ ‫أضحي‬ WAZAN

Fi’il Fi’il Isim Isim Isim Fi’il Fi’il JENIS


nahi amar fa’il d}ami masda mud}a mad}i KALIMA
r r ri’ T

‫ظل‬
97
‫ل تظل‬ ‫ظل‬ ‫ظال‬ ‫هو‬ ‫ظلول‬ ‫يظل‬ ‫ظل‬ WAZAN

Fi’il Fi’il Isim Isim Isim Fi’il Fi’il JENIS


nahi amar fa’il d}ami masda mud}a mad}i KALIMA
r r ri’ T

‫بات‬
‫ل تبت‬ ‫بت‬ ‫بائت‬ ‫هو‬ ‫بياتا‬ ‫يبيت‬ ‫بات‬ WAZAN

Fi’il Fi’il Isim Isim Isim Fi’il Fi’il JENIS


nahi amar fa’il d}ami masda mud}a mad}i KALIMA
r r ri’ T

‫أمسى‬
‫أمس ل تمس‬ ‫ممس‬ ‫هو‬ ‫إمساء‬ ‫يمسي‬ ‫أمسى‬ WAZAN

Fi’il Fi’il Isim Isim Isim Fi’il Fi’il JENIS


nahi amar fa’il d}ami masda mud}a mad}i KALIMA
r r ri’ T

‫أصبح‬
‫أصبح ل تصبح‬ ‫مصبح‬ ‫هو‬ ‫صباحا‬ ‫يصبح‬ ‫أصبح‬ WAZAN

Fi’il Fi’il Isim Isim Isim Fi’il Fi’il JENIS


nahi amar fa’il d}ami masda mud} mad}i KALIMA
r r ari’ T

‫فتئ‬
‫فاتئ‬ ‫هو‬ ‫يفتئ‬ ‫فتئ‬ WAZAN

Isim fa’il Isim d}amir Fi’il Fi’il JENIS


mud}ari’ KALIMAT

‫انفك‬
‫منفك‬ ‫هو‬ ‫ينفك‬ ‫انفك‬ WAZAN

Isim fa’il Isim d}amir Fi’il Fi’il mad}i JENIS


mud}ari’ KALIMAT

‫زال‬
‫زائل‬ ‫هو‬ ‫يزال‬ ‫زال‬ WAZAN

Isim fa’il Isim d}amir Fi’il Fi’il mad}i JENIS


mud}ari’ KALIMAT
‫برح‬
‫بارح‬ ‫هو‬ ‫يبرح‬ ‫برح‬ WAZAN

Isim fa’il Isim d}amir Fi’il Fi’il mad}i JENIS


mud}ari’ KALIMAT

‫ دام‬. amil ini hanya mempunyai fi’il mad}i saja dan tidak ada
tasrifannya.
‫ ليس‬. amil ini hanya mempunyai fi’il mad}i saja dan tidak ada
tasrifannya.

Semua tas}rif dari ‫ كان‬dan saudara-saudaranya, juga bisa beramal


seperti ‫كخخان‬, yaitu merafa’kan mubtada’ sebagai isim ‫كخخان‬, dan
menashabkan khabarnya. Contoh:
Berupa fi’il mudlori: ‫( يكون الماء متغيرا‬air itu berubah).
‫ يكون‬: amil nawasikh berupa fi’il mud}ari’
‫ الماء‬: isim ‫ كان‬berupa fi’il madlori’ (‫ )يكون‬: i’rabnya rafa’
‫ متغيرا‬: khabar ‫ كان‬berupa fi’il madlori’ (‫)يكون‬ : i’rabnya
nashab
Berupa isim masdar: ‫( أعجبنخخي كخخون زيخخد كسخخلنا‬saya heran zaid jadi
pemalas)
‫ كون‬: amil nawasikh berupa isim masdar
‫ زيد‬: isim ‫ كان‬berupa isim masdar (‫)كون‬ : i’rabnya rafa’
secara mahalli, tapi secara lafaz i’rabnya jer
‫ كسلنا‬: khabar ‫ كان‬berupa isim masdar (‫)كون‬ : i’rabnya
nashab
berupa isim fa’il: ‫( زيد كائن مؤلفا‬zaid menjadi seorang pengarang)
‫ كائن‬: amil nawasikh berupa isim fa’il
‫( هو‬d}amir yang tersimpan dalam ‫ )كائن‬: isim ‫ كان‬berupa
isim fa’il (‫)كائن‬. I’rabnya rafa’ secara mahalli, tapi secara lafaz
adalah mabni
‫ مؤلفا‬: khabar ‫ كان‬berupa isim fa’il (‫)كائن‬ : i’rabnya
nashab
berupa isim maf’ul: ‫( محمد مكون فيه رئيس الفصل‬muhammad dijadikan
ketua kelas)
‫ مكون‬: amil nawasikh berupa isim maf’ul
‫( هو‬d}amir yang tersimpan dalam ‫)مكون‬ : isim ‫كان‬
berupa isim maf’ul (‫)مكون‬. I’rabnya rafa’ secara mahalli, tapi
secara lafaz adalah mabni
‫ رئيس‬: khabar ‫ كان‬berupa isim maf’ul (‫)مكون‬ : i’rabnya
nashab
berupa fi’il amr: ‫( كن صديقا‬jadilah teman sejati)
‫كن‬ : amil nawasikh berupa fi’il amr
‫( أنت‬d}amir yang tersimpan pada ‫ ) كن‬: isim ‫ كان‬berupa fi’il amr
99
(‫)كن‬. I’rabnya rafa’ secara mahalli, tapi secara lafaz adalah
mabni
‫ صديقا‬: khabar ‫ كان‬berupa fi’il amr (‫)كن‬ : i’rabnya
nashab

KHABAR ‫ إن‬DAN SAUDARA-SAUDARANYA


Termasuk dari isim yang beri’rab rafa’ adalah khabar ‫ إن‬dan
saudara-saudaranya. Amal dari ‫ إن‬dan saudara-saudaranya
adalah menashabkan mubtada’ dan merafa’kan khabarnya.
Contoh: ‫( إن الستنجاء واجب‬sesungguhnya beristinja’ itu wajib)
‫إن‬ : amil nawasikh
‫الستنجاء‬ : isim ‫( إن‬asalnya mubtada’) : i’rabnya nashab
‫ واجب‬: khabar ‫( إن‬asalnya khabar) : i’rabnya rafa’
Jadi, yang termasuk dari isim-isim yang beri’rab rafa’ adalah
khabar ‫ إن‬dan saudara-sauranya.
Saudara-saudara ‫ إن‬yang bisa beramal seperti amalnya ‫ إن‬adalah
sebagai berikut:
‫ إن‬dan ‫(أن‬sesungguhnya). Makna ‫ إن‬dan ‫ أن‬adalah taukid, yaitu
mengokohkan suatu hal. Contoh: ‫إن السخخخخخختنجاء واجخخخخخخب‬
(sesungguhnya beristinja’ itu wajib)
‫إن‬ : amil nawasikh
‫الستنجاء‬ : isim ‫( إن‬asalnya mubtada’) : i’rabnya nashab
‫واجب‬ : khabar ‫( إن‬asalnya khabar) : i’rabnya rafa’
Jadi, ‫ واجب‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
khabar ‫إن‬. Amil ‫ إن‬mengokohkan / menguatkan bahwa istinja’
itu benar-benar wajib.
‫( ليت‬andaikan). Makna ‫ ليت‬adalah ‫ تمني‬, yaitu mengharapkan suatu
kejadian yang tidak mungkin terjadi karena mustahil atau
karena jarang terjadi. Contoh: ‫( ليت الناس طائر‬andaikan manusia
bisa terbang). Jadi, ‫ طائر‬i’rabnya adalah rafa’ karena menjadi
khabar ‫ ليت‬. amil ‫ ليت‬pada contoh ini ini bermakna ‫ تمني‬karena
mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, yaitu
manusia bisa terbang.
‫( لعخخل‬semoga). Makna ‫ لعخخل‬adalah ‫( تراجخخى‬yaitu mengharapkan
sesuatu yang diinginkan / disenangi dan mungkin terjadi) dan
‫( توقخخخخع‬yaitu mengharapkan sesuatu yang dibenci yang
mungkin terjadi). Contoh: ‫( لعخل زيخدا حاضخر‬semoga zaid hadir).
Jadi, ‫ حاضر‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
khabar ‫لعل‬. Amil ‫ لعخخل‬pada contoh ini bermkna ‫ تراجخخى‬karena
mengharapkan sesuatu yang mungkin terjadi, yaitu
mengharapkan kehadiran zaid.
‫( كخخأن‬bagaikan). Makna ‫ كخخأن‬adalah ‫ مؤكخخد تشخخبيه‬, yaitu menguatkan
keserupaan sesuatu dengan sesuatu lainnya. Contoh: ‫كأن زيدا‬
‫( اسد‬zaid sungguh bagaikan singa). Jadi, ‫ اسخخد‬i’rabnya adalah
rafa’ karena kedudukannya sebagai khabar ‫كأن‬. Amil ‫ كأن‬pada
contoh ini bermakna menyerupakan, karena ‫كخخخخخخأن‬
menyerupakan zaid dengan singa.
‫( لكن‬tetapi). Makna ‫ لكخخن‬adalah ‫ اسخختدراك‬, yaitu meniadakan suatu
pengertian yang diduga ada sebelumnya, atau menetapkan
adanya suatu pengertian yang diduga tidak ada sebelumnya.
Contoh: ‫( زيخخد غنخخي لكنخخه بخيخخل‬zaid adalah orang kaya, tetapi dia
kikir). Jadi, ‫ بخيل‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya
sebagai khabar ‫ لكن‬. Amil ‫ لكن‬pada contoh ini bermakna ‫استدراك‬
karena meniadakan suatu pengertian yang diduga ada
sebelumnya, yaitu pada awalnya seseorang akan menduga
bahwa zaid itu adalah orang dermawan karena dia adalah
orang kaya. Akan tetapi kedermawanan itu ditiadakan, karena
justru zaid adalah orang yang kikir

KETERANGAN
Hamzah pada lafaz ‫ أن‬/ ‫ إن‬bisa dibaca 3 harokat:
Dibaca kasroh ketika hamzahnya berada dibawah (‫)إن‬, yaitu
ketika:
Berada dipermulaan perkataan, contoh: ‫إنخخخخخخا أنزلنخخخخخخاه‬
(sesungguhnya kami menurunkannya). Hamzah ‫ إن‬pada
contoh ini dibaca kasroh karena berada di permulaan
perkataan.
Berada setelah lafaz ‫ أل‬yang berfungsi memulai / membuka
suatu perkataan. Contoh:‫( أل إن أولياء ال ل خخخوف عليهخخم‬ingatlah
sesungguhnya wali Allah itu tidak pernah takut terhadap
mereka). hamzah ‫ إن‬pada contoh ini dibaca kasroh karena
berada setelah ‫أل‬
Berada setelah lafaz ‫ حيخخث‬, contoh: ‫( جئت حيخخث إن زيخخدا قخخائم‬saya
datang sekiranya zaid sedang berdiri). Hamzah ‫ إن‬pada
contoh ini dibaca kasroh karena berada setelah lafaz ‫حيث‬
Berada setelah qosam (sumpah), contoh: ‫والكتخخاب المخخبين إنخخا أنزلنخخاه‬
(demi kitab yang nyata, sesungguhnya kami
menurunkannya). hamzah ‫ إن‬pada contoh ini dibaca kasroh
karena berada setelah qosam, yaitu ‫ والكتاب‬.
Berada setelah lafaz ‫ قال‬dan tas}rifannya, contoh: ‫قال إني عبد ال‬
(dia berkata sesungguhnya saya adalah hamba Allah).
Hamzah ‫ إن‬pada contoh ini dibaca kasroh karena berada
setelah ‫ قال‬.
Jika ada huruf lam (‫ )ل‬pada khabar ‫إن‬, contoh: ‫وال يعلم إنك لرسوله‬
(Allah tahu bahwa kamu adalah utusan Allah). hamzah ‫إن‬
pada contoh ini dibaca kasroh karena khabar ‫ إن‬ada lam (
‫)ل‬, yaitu ‫لرسوله‬

Dibaca fathah ketika hamzahnya berada di atas(‫)أن‬, yaitu ketika:


Jika kedudukannya sebagai fa’il, contoh: ‫اولخخم يكفيهخخم أنخخا أنزلنخخا‬

101
(apakah tidak mencukupi bahwa sesungguhnya kami telah
menurunkan). Hamzah ‫ أن‬pada contoh ini dibaca fathah
karena kedudukannya sebagai fa’il dari dari fi’il mabni
ma’lum (‫)يكفي‬
Jika kedudukannya sebagai naibul fa’il, contoh: ‫قل أوحي الي أنه‬
‫( استمع نفر من الجن‬katakanlah, saya telah diwahyukan bahwa
sesungguhnya seseorang dari jin). Hamzah ‫ أن‬pada contoh
ini dibaca fathah karena kedudukannya sebagai naibul fa’il
dari dari fi’il mabni majhul (‫)أوحي‬
Jika kedudukannya sebagai maf’ul (objek), contoh: ‫ول تخافون أنكم‬
‫( أشخخركتم بخخال‬kamu tidak takut bahwa kamu mensekutukan
Allah). Hamzah ‫ أن‬pada contoh ini dibaca fathah karena
kedudukannya sebagai maf’ul
Jika kedudukannya sebagai mubtada’, contoh:‫ومن اياته أنخخك تخخرى‬
‫( الرض خاشعة‬termasuk tanda-tanda kebesaran Allah adalah
kamu melihat bumi yang tunduk). Hamzah ‫ أن‬pada contoh
ini dibaca fathah karena kedudukannya sebagai mubtada’
yang diakhirkan, sedangkan khabarnya didahulukan (‫ومخخن‬
‫)اياته‬
Jika didahului oleh jer, contoh:‫( ذلك بأن ال هو الحق‬hal itu karena
Allah adalah maha benar). Hamzah ‫ أن‬pada contoh ini
dibaca fathah karena didahului oleh huruf jer (‫) ب‬.
Bisa dibaca kasroh (‫ )إن‬atau dibaca fathah (‫)أن‬
Berada setelah fa’ jawab (‫)ف‬, contoh: ‫ فانه غفور‬.....‫من عمل منكم سوء‬
‫( رحيخخخم‬barang siapa yang melakukan kejelekan.....maka
sesungguhnya Allah adalah maha pengampun dan maha
penyayang). Hamzah ‫ ان‬pada contoh ini bisa dibaca kasroh
(‫ )إن‬atau bisa dibaca fathah (‫ )أن‬karena berada setelah fa’
jawab (‫)ف‬
Berada setelah lafaz ‫ إذا‬yang bermakna tiba-tiba, contoh:‫جئت‬
‫( فإذا ان زيدا جالس‬saya datang, tiba-tiba zaid duduk). Hamzah
‫ ان‬pada contoh ini bisa dibaca kasroh (‫ )إن‬atau bisa dibaca
fathah (‫ )أن‬karena berada setelah ‫ إذا‬.
Jika kedudukannya menjadi alasan, contoh: ‫ندعوه انه هوالبر الرحيم‬
(kami berdoa kepada-NYA karena DIA adalah maha baik
dan maha penyayang). Hamzah ‫ ان‬pada contoh ini bisa
dibaca kasroh (‫ )إن‬atau bisa dibaca fathah (‫ )أن‬karena
menajdi alasan, yaitu alasan mengapa kami berdoa
kepadaNYA

Jika ‫ إن‬dan saudara-saudaranya itu bersambung dengan ‫ما الزائدة )ما‬


tambahan yang tidak ada artinya), maka amal ‫ إن‬dan saudara-
saudaranya tidak beramal lagi sebagai amil nawasikh. Jadi ‫ إن‬dan
saudara-saudaranya ketika bersambung dengan ‫ مخخا‬tambahan,
maka mubtada’ dan khabarnya tetap beri’rab rafa’. Contoh: ‫إنما ال‬
‫( الخخه واحخخد‬sesungguhnya Allah adalah tuhan yang satu). ‫ إن‬pada
contoh ini tidak lagi beramal karena bersambung dengan ‫مخخا‬
tambahan (‫)إنما‬
‫إنما‬ : amil nawasikh yang bersambung dengan ‫ما‬
tambahan
‫ال‬ : mubtada’ : i’rabnya rafa’
‫اله‬ : khabar : i’rabbnya rafa’
Hal ini dikecualikan pada ‫ ليت‬. maka jika ‫ ليت‬bersambung dengan
‫ ما‬tambahan, maka ‫ ليت‬bisa beramal dan bisa juga tidak beramal.
‫ ليتما زيدا طائر )ليت‬beramal menashabkan isimnya, ‫)زيدا‬. Atau ‫ليتما زيد‬
‫ طائر )ليت‬tidak beramal, ‫ زيد‬tetap beri’rab rafa’)
Jika ‫ إن‬tidak bertasydid (‫)إن‬, maka ada dua hukum, yaitu:
Lebih sering tidak beramal (tidak menashabkan mubtada’ dan
tidak merafa’kan khabar), contoh: ‫( إن كل نفس لما عليها حافظ‬setiap
jiwa pasti ada yang menjaga). Jadi, ‫ إن‬yang tidak bertasydid itu
tidak beramal. Jadi mubtada’ (‫ )كل‬dan khabarnya (‫ ) حافظ‬tetap
beri’rab rafa’.
‫إن‬ : amil nawasikh
‫كل‬ : mubtada’ : i’rabnya rafa’
‫ حافظ‬: khabar : i’rabnya rafa’
Kadang bisa beramal, contoh: ‫( إن كل لمخخخا ليخخخوفينهم‬sesungguhnya
mereka akan berselisih). Jadi, ‫ إن‬yang tidak bertasydid itu
tetap beramal. Jadi mubtada’ / isimnya beri’rab nashab (‫)كل‬
dan khabarnya (‫ )ليوفين‬beri’rab rafa’

F. ISIM YANG IKUT PADA ISIM YANG DIBACA NASHAB


(TAWABI’)
Tawabi’ ada 4 macam, yaitu na’at, athof, taukid, dan badal.
Penjelasan lebih rinci dibahas pada pembahasan Tawabi’.
Contoh: ‫( جاء زيد النشيط‬zaid yang rajin itu datang).
‫زيد‬ : i’rabnya rafa’ sebagai fa’il
‫ النشيط‬: i’rabnya rafa’ karena ikut pada ‫ زيد‬yang i’rabnya rafa’

Tabel Marfu’at Al-Asma’:

N MARFUAT CONTOH
CIRI-CIRI
O AL-ASMA’
1 Fa’il (Pelaku) Cocok bermakna “siapa” ‫ال نصر جاء و إذا‬
atau “apa” (apabila datang
Sebagai pelaku dari suatu
pertolongan
pekerjaan
Berada setelah fi’il Allah)
ma’lum dan sebagai
kalimat pokok
Berupa isim zahir /

103
dlomir / fi’il yang di
dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬
Cocok bermakna “siapa”
atau “apa”
Sebagai objek yang
menempati posisinya
subjek ‫كفروا لعن الذين‬
Naibul Fa’il
Berada setelah fi’il majhul (orang-orang
(Pengganti
2 dan sebagai kalimat yang kafir itu
Fa’il)
pokok
dilaknat).
Berupa isim zahir /
dlomir / fi’il yang di
dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬

Cocok bermakna “adapun”


Berada di awal perkataan
Mubtada’ dan sebagai kalimat ‫( سميع ال و‬Allah
(subyek / pokok
permulaan) Berupa isim zahir / dlomir / adalah Zat
3 fi’il mud}ari’ yang di yang maha
dahului ‫أن‬ mendengar).
Biasanya berupa isim
ma’rifat

Cocok bermakna “adalah”


Menjadi pelengkap dari
Khabar mubtada’ dan sebagai ‫( سميع ال و‬Allah
(Predikat / kalimat pokok adalah Zat
4 Berita) Berupa mufrad / yang maha
jumlahismiyah/
mendengar).
jumlahFi’liyah / jer
majrur / zaraf

Asalnya adalah mubtada’,


lalu ada amil nawasikh ‫كانت صلة الستسقاء‬
Isim ‫ كان‬dan berupa ‫ كان‬dan saudara-
Saudara-
‫( مسنونة‬sholat
5 saudaranya (,‫ ظل‬,‫أضحى‬
Saudaranya minta hujan itu
‫ ما‬,‫ ليس‬,‫ صار‬,‫ أصبح‬,‫ أمسى‬,‫بات‬ disunnahkan)
‫ ما‬,‫ ما برح‬,‫ ما زال‬,‫ ما انفك‬,‫فتئ‬
‫)دام‬
Asalnya adalah khabar ‫إن الستنجاء واجب‬
Khabar ‫ إن‬dan mubtada’, lalu ada amil (sesungguhnya
6 saudara- nawasikh berupa ‫ إن‬dan
saudaranya beristinja’ itu
saudara-saudaranya (,‫ليت‬ wajib)
‫ لكن‬,‫ كأن‬,‫)لعل‬
7 Tawabi’ Dijelaskan pada bab ‫جاء زيد النشيط‬
tawabi’
(zaid yang rajin
itu datang).

105
MANSUBAT AL-ASMA’ (ISIM-ISIM YANG DIBACA NASHAB)

Yang dimaksud dengan mansubat al-asma’ adalah kalimat isim yang


keadaannya beri’rab nashab. Jadi jika ada kalimat isim yang
kedudukannya menjadi salah satu dari mansubat al-asma’ ini, maka
kalimat isim tersebut pasti beri’rab nahsob. mansubat al-asma’ ada
14 macam, yaitu: 1) dua maf’ul 2 .‫ )ظن‬khabar ‫ كخخان‬dan saudara-
saudaranya. 3) isim ‫إن‬. Dan saudara-saudaranya. 4) maf’ul bih. 5)
maf’ul ma’ah. 6) maf’ul liajlih. 7) masdar. 8) haal. 9) tamyiz. 10)
zaraf. 11) Mustasna. 12. isim 13 .‫ )ل‬munada. 14) isim yang ikut
pada isim yang dibaca nashab (Tawabi’)
Contoh: ‫( والذي يوجب الغسخخل‬sesuatu yang membatalkan wudu’). Lafaz
‫ الغسخخل‬beri’rab rafa’ karena kedudukannya menjadi salah satu dari
mansubat al-asma’, yaitu menjadi maf’ul bih. Kalimat isim yang
kedudukannya menjadi maf’ul bih, maka kalimat isim tersebut pasti
beri’rab nashab. ‫ الغسخخخل‬adalah isim mufrad, maka tanda i’rab
nashabnya adalah fathah (lihat penjelasan tentang tanda-tanda
i’rab). Maka cara membacanya ‫الغسخخل‬, huruf akhirnya berharokat
fathah (‫)ل‬.
Rincian 14 macam mansubat al-asma’, sebagaimana berikut:

DUA MAF’UL ‫ظن‬


Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan tentang amil
nawasikh, yaitu ‫ كخخخان‬dan saudara-saudaranya, dan ‫ إن‬dan
saudara-saudaranya. Pada pembahasan kali ini akan dijelaskan
tentang amil nawasikh yang ke tiga, yaitu ‫ ظمممن‬dan saudara-
saudaranya. Amal dari ‫ ظممممن‬dan saudara-saudaranya adalah
menashabkan mubtada’ dan khabarnya (sebagai dua maf’ul)
secara bersamaan. Contoh: ‫( ظن زيد الماء مستعمل‬zaid menyangka air
itu musta’mal / sudah digunakan).
‫ظن‬ : Amil nawasikh
‫زيد‬ : Fa’il
‫ الماء‬: Maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya nashab
‫مستعمل‬: Maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Jadi, yang termasuk mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca
nashab) adalah dua maf’ul ‫ظن‬, yaitu ‫( الماء‬maf’ul pertama) dan
‫( مسخختعمل‬maf’ul kedua). Tanda i’rabnya adalah fathah karena
keduanya adalah isim mufrad
Saudara-saudara ‫ ظن‬adalah dibagi menjadi dua:
‫( أفعال القلوب‬saudara ‫ ظن‬berupa fi’il-fi’il yang bermakna pekerjaan
hati)
‫( ظخخن‬menyangka / yakin). Contoh: ‫( ظخخن زيخخد المخخاء مسخختعمل‬zaid
menyangka air itu musta’mal / sudah digunakan). Jadi, ‫الماء‬
(maf’ul pertama) dan ‫( مستعمل‬maf’ul kedua) i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫ظن‬.
‫ظن‬ : amil nawasikh
‫زيد‬ : fa’il
‫ الماء‬: maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya
nashab
‫مستعمل‬: maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab

‫( حسب‬menyangka / yakin). ‫( حسبت الماء نجسا‬saya menyangka air


itu najis). Jadi, ‫( المخخاء‬maf’ul pertama) ‫( نجسخخا‬najis) I’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫حسب‬.
‫( خخخال‬menyangka / yakin). Contoh: ‫( خخخال زيخخد المخخاء طخخاهرا‬zaid
menyangka air itu suci). Jadi, ‫( المخخاء‬maf’ul pertama) dan
‫( طخخخاهرا‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫ خال‬.
‫( رأى‬yakin / menyangka). Contoh: ‫رأى محمخخخخد المخخخخاء مطهخخخخرا‬
(Muhammad yakin air itu mensucikan). Jadi, ‫( المخخاء‬maf’ul
pertama) dan ‫( مطهرا‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫رأى‬
‫( علم‬yakin / menyangka ). Contoh: ‫( علم إبراهيم الماء مشمسا‬ibrohim
yakin air itu dipanasi dengan matahari). Jadi, ‫( الماء‬maf’ul
pertama) dan ‫( مشمسا‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫علم‬.
‫( زعخخم‬menyangka). Contoh: ‫( زعخخم الطخخالب السخختاذ غائبخخا‬murid itu
menyangka gurunya tidak hadir). Jadi, ‫( السخخختاذ‬maf’ul
pertama) dan ‫( غائبا‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫زعم‬
‫( جعخخل‬menyangka). Contoh: ‫جعلخخت النسخخوة يوسخخف ملكخخا نخخزل مخخن السخخماء‬
(wanita-wanita itu menyangka nabi yusuf adalah seorang
malaikat yang turun dari langit). Jadi, ‫( يوسخخخف‬maf’ul
pertama) ‫( ملكا‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫جعل‬.
‫( حجا‬menyangka). Contoh: ‫( حجا الطلب السخختاذ حاضخخرا‬murid-murid
itu menyangka gurunya hadir). Jadi, ‫( الستاذ‬maf’ul pertama)
dan ‫ حاضخخرا‬I’rabnya adalah nashab karena kedudukannya
sebagai maf’ul ‫حجا‬.
‫( عد‬menyangka). Contoh: ‫( عددت المرأة حائضخخا‬kamu menyangka
perempuan itu sedang haid). Jadi, ‫( المخخرأة‬maf’ul pertama)
dan ‫( حائضخخا‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫ عد‬.
‫( هخخخخخب‬menyangka). Contoh: ‫( هخخخخخب المنظخخخخخر جميل‬sangkalah
pemandangan itu indah). Jadi, ‫( المنظر‬maf’ul pertama) dan
‫( جميل‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫هب‬

107
‫( وجد‬yakin). Contoh: ‫( وجدت جلود الميتة طاهرة بالدباغ‬saya yakin kulit
bangkai itu bisa suci dengan disamak). Jadi, ‫( جلخخود‬maf’ul
pertama) dan ‫( طاهرة‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫ وجد‬.
‫( ألفى‬yakin). Contoh: ‫( ألفوا ابخخاءهم ضخخالين‬mereka yakin ayah-ayah
mereka adalah orang yang tersesat). Jadi, ‫( ابخخخاء‬maf’ul
pertama) dan ‫( ضالين‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫ ألفى‬.
‫( درى‬yakin). Contoh: ‫( دريخخت فخخروض الوضخخوء سخختة أشخخياء‬saya yakin
fardu-fardunya wudu’ itu ada enam perkara). Jadi, ‫فخروض‬
(maf’ul pertama) dan ‫( سخختة‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫ درى‬.
‫( تعلخخم‬yakin). Contoh: ‫( تعلخخم السخخلم دينخخا حقخخا‬yakinlah islam adalah
agama yang benar). Jadi, ‫( السلم‬maf’ul pertama) dan ‫دينخا‬
(maf’ul kedua) I’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫ تعلم‬.

‫( أفعال التصيير‬saudara ‫ ظن‬berupa fi’il-fi’il yang bermkana merubah


sesuatu kepada sesuatu lain)
‫( جعل‬menjadikan). Contoh: ‫( فجعلناه هباء منثورا‬maka kami (Allah)
menjadikan amal itu debu yang berterbangan). Jadi, ‫ه‬
(maf’ul pertama) dan ‫( هباء‬maf’ul kedua) I’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫ جعل‬.
‫( اتخذ‬menjadikan). Contoh: ‫( واتخذ ال إبراهيم خليل‬Allah menjadikan
nabi ibrohim sebagai kekasih). Jadi, ‫( إبراهيم‬maf’ul pertama)
‫( خليل‬maf’ul kedua) ) I’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫ اتخذ‬.
‫( رد‬menjadikan). Contoh: ‫( فخخخرد شخخخعورهن اسخخخود بيضخخخا‬hinngga
menjadikan rambut mereka yang hitam itu menjadi putih).
Jadi, ‫( شعور‬maf’ul pertama) dan ‫( بيضا‬maf’ul kedua) i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul ‫ رد‬.
‫( صير‬menjadikan). Contoh: ‫( صيرت الثوب حائل‬saya menjadikan
baju itu sebagai penghalang). Jadi, ‫( الثوب‬maf’ul pertama)
dan ‫( حخخائل‬maf’ul kedua) i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫ صير‬.
‫( وهب‬menjadikan). Contoh: ‫( وهبني الخ فخخداءك‬Allah menjadikanku
sebagai tebusanmu). Jadi, ‫( نخخي‬maf’ul pertama) dan ‫فخخداء‬
(maf’ul kedua) i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ‫ وهب‬.

KETERANGAN
Tas}rif dari ‫ ظخخن‬dan saudara-saudaranya juga bisa beramal, yaitu
berupa fi’il mad}i, fi’il mud}ari’, isim masdar, isim fa’il, isim
maf’ul dan fi’il amr. Contoh:
Berupa fi’il mad}i. Contoh: ‫( ظن زيد الماء مستعمل‬zaid menyangka air
itu musta’mal / sudah digunakan).
‫ ظن‬: amil nawasikh berupa fi’il mad}i
‫ زيد‬: fa’il
‫ الماء‬: maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya
nashab
‫مستعمل‬: maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Berupa fi’il mud}ari’. Contoh:‫نظممن‬ ‫المحاضممر علمممة‬ (kami menyangka
dosen itu sangat pintar).

‫نظن‬ : amil nawasikh berupa fi’il mud}ari’


‫المحاضر‬ : maf’ul pertama (asalnya mubtada’) :
i’rabnya nashab
‫علمة‬ : maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya
nashab
Berupa isim masdar. Contoh: ‫ظنخخخخخك زيخخخخخدا مخخخخخاهرا أعجبنخخخخخي‬
(mengherankanku persangkaanmu bahwa zaid itu pintar).
‫ ظن‬: amil nawasikh berupa isim masdar
‫ زيدا‬: maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya
nashab
‫ ماهرا‬: maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Berupa isim fa’il. Contoh: ‫( هو ظان عفيفا نشيطا‬dia menyangka afif itu
rajin)
‫ ظان‬: amil nawasikh berupa isim fa’il
‫ غفيفا‬: maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya
nashab
‫ نشيطا‬: maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Berupa isim maf’ul. Contoh: ‫( محمد مظنون اماما‬Muhammad disangka
sebagai pemimpin)
‫ مظنون‬: amil nawasikh berupa isim maf’ul
‫ اماما‬: maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
(maf’ul pertama tidak disebutkan)
Berupa fi’il amr. Contoh: ‫( ظن زيدا قائدا صالحا‬sangkalah bahwa zaid
adalah pemimpin yang sholeh)
‫ ظن‬: amil nawasikh berupa fi’il amr
‫ زيدا‬: maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya
nashab
‫ قائدا‬: maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Khusus ‫ هب‬dan ‫ تعلخخم‬, hanya mempunyai bentuk fi’il amr saja dan
tidak ada tas}rifnya. Contoh: ‫( هخخخخب المنظخخخخر جميل‬sangkalah
pemandangan itu indah). Contoh lain: ‫( تعلم السلم دينا حقا‬yakinlah
islam adalah agama yang benar)
‫هب‬ : amil nawasikh yang hanya punya bentuk fi’il amr
‫ المنظر‬: maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya nashab
‫ جميل‬: maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab

109
‫تعلم‬ : amil nawasikh yang hanya punya bentuk fi’il amr
‫ السلم‬: maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya nashab
‫دينا‬ : maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Khusus ‫ وهب‬, hanya mempunyai bentuk fi’il madly saja dan tidak
ada tas}rifnya. Contoh: ‫( وهبني ال فداءك‬Allah menjadikanku sebagai
tebusanmu).
‫ وهب‬: amil nawasikh yang hanya punya bentuk fi’il madly (tidak
ada tas}rifnya)
‫ني‬ : maf’ul pertama (asalnya mubtada’) : i’rabnya
nashab
‫فداء‬ : maf’ul kedua (asalnya khabar) : i’rabnya nashab

KHABAR ‫كان‬ DAN SAUDARA-SAUDARANYA


Pada pembahasan marfu’at ‫ كخخخخان‬dan saudara-
al-asma’,
saudaranya sudah dibahas panjang lebar. Amal ‫ كان‬dan saudara-
saudaranya adalah merafa’kan mubtada’ sebagai isimnya dan
menashabkan khabarnya. Jadi yang termasuk dari mansubat al-
asma’ (isim-isim yang dibaca nashab) adalah khabar ‫ كخخان‬dan
saudara-saudaranya. Contoh: ‫( كخخانت صخخلة الجماعخخة سخخنة مؤكخخدة‬sholat
jamaah itu adalah sunnah muakkad)
‫ كانت‬: amil nawasikh
‫ صلة‬: isim ‫( كانت‬asalnya mubtada’) : i’rabnya rafa’
‫سنة‬ : khabar ‫كانت‬ (asalnya khabar) : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ سنة‬i’rabnnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
khabar ‫كخخانت‬. Tanda i’rab nashabnya adalah fathah karena ‫سخخنة‬
adalah isim mufrad.

ISIM ‫ إن‬DAN SAUDARA-SAUDARANYA


Pada pembahasan marfu’at al-asma’ juga telah dibahas ‫ إن‬dan
saudara-saudaranya. Amal ‫ إن‬dan saudara-saudaranya adalah
menashabkan mubtada’ sebagai isimnya dan merafa’kan
khabarnya. Jadi, yang termsuk mansubat al-asma’ (isim-isim
yang dibaca nashab) adalah isim ‫ إن‬dan saudara-saudaranya.
Contoh: ‫( إن الستنجاء واجب‬sesungguhnya beristinja’ itu wajib)
‫إن‬ : amil nawasikh
‫الستنجاء‬ : isim ‫( إن‬asalnya mubtada’) : i’rabnya nashab
‫ واجب‬: khabar ‫( إن‬asalnya khabar) : i’rabnya rafa’
Jadi, ‫ السخخختنجاء‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya
sebagai isim ‫ إن‬. tanda i’rab nashabnya adalah fathah karena
‫ الستنجاء‬adalah isim mufrad

MAF’UL BIH (OBJEK)


Ciri-Ciri Maf’ul Bih
Cocok bermakna “kepada”
Sebagai objek dari pekerjaannya fa’il
Berada setelah fi’il muta’addi
Berupa isim zahir / d}amir / fi’il yang di dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬
contoh: ‫( النسان خلقنا لقد‬sungguh kami menciptakan manusia)

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca
nashab) adalah maf’ul bih. Secara sederhana, maf’ul bih adalah
objek dari suatu pekerjaan. Menurut istilah, maf’ul bih adalah
isim yang dibaca nashab yang menjadi sasaran / objek dari
pekerjaan fa’il (pelaku) . contoh: ‫( ضربت زيدا‬saya memukul zaid).
‫ ضرب‬: fi’il / kata kerja (sebagai amil) : mabni fathah
‫ت‬ : fa’il / pelaku : i’rabnya rafa’
secara mahalli
‫زيدا‬ : maf’ul bih / objek (sebagai ma’mul): i’rabnya
nashab
Jadi, ‫ زيدا‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
maf’ul bih. Tanda nashabnya adalah fathah karena ‫ زيخدا‬adalah
isim mufrad. Lafaz ‫ زيدا‬disebut nahsob karena menjadi objek /
sasaran dari pekerjaan fa’il, yaitu saya memukul (‫)ضربت‬
Ada dua pembagian isim maf’ul, yaitu:
Maf’ul bih sarih (jelas)
Yaitu maf’ul bih yang jelas (tidak berupa ta’wil masdar,
jumlah, jar majrur). Maf’ul bih sarih ini ada dua macam, yaitu:
Isim zahir (isim asli dan bukan kata ganti). Contoh: ‫والذي يوجب‬
‫( الغسل ستة أشياء‬sesuatu yang mewajibkan mandi ada 6 hal).
Jadi, ‫ الغسل‬i’rabnya nashab karena kedudukannya sebagai
maf’ul bih berupa isim zahir. Tanda i’rabnya adalah fathah
karena ‫ الغسل‬adalah isim mufrad.
Isim d}amir (kata ganti). Contoh: ‫( نصخخخخرتك‬saya telah
menolongmu). Jadi, ‫ ك‬I’rabnya adalah nashab secara
mahalli. Artinya ‫ ك‬beri’rab nashab karena kedudukannya
sebagai maf’ul bih. Secara lafaz, ‫ ك‬adalah mabni karena ‫ك‬
adalah termasuk dari isim mabni, yaitu isim d}amir.
Maf’ul bih isim d}amir ini ada dua macam, muttas}il dan
munfas}il. Rinciannya sebagai berikut:
D}amir muttasil (bersambung). Contoh: ‫( نصرتك‬saya telah
menolongmu). Jadi, ‫ ك‬I’rabnya adalah nashab secara
mahalli. Artinya ‫ ك‬beri’rab nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul bih. Secara lafaz, ‫ك‬
adalah mabni karena ‫ ك‬adalah termasuk dari isim
mabni, yaitu isim d}amir.
Rincian maf’ul bih d}amir muttasil adalah sebagai
berikut:

111
D}AMIR CONTOH
ARTINYA
MUTASHIL
‫( نصره‬dia menolong
‫ه‬ Dia satu laki-laki dia satu laki-laki)

Dia dua laki-laki / ‫نصرهما‬


‫هما‬ perempuan
‫هم‬ Mereka laki-laki ‫نصرهم‬

‫ها‬ Dia satu perempuan ‫نصرها‬

‫هن‬ Mereka perempuan ‫نصرهن‬

‫ك‬ Kamu satu laki-laki ‫نصرك‬


Kamu dua laki-laki / ‫نصركما‬
‫كما‬ perempuan
‫كم‬ Kalian laki-laki ‫نصركم‬
Kamu satu ‫نصرك‬
‫ك‬ perempuan
‫كن‬ Kalian perempuan ‫نصركن‬

‫ني‬ Saya ‫نصرني‬

‫نا‬ kami ‫نصرنا‬

D}amir munfasil (berpisah). Contoh: ‫( إياك نعبد‬hanya kepada-


MU kami menyembah). Jadi, ‫ إياك‬I’rabnya adalah nashab
secara mahalli. Artinya ‫ ك‬beri’rab nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul bih. Secara lafaz, ‫إيخخاك‬
adalah mabni karena ‫ إيخخخاك‬adalah termsuk dari isim
mabni, yaitu isim d}amir.
Rincian maf’ul bih d}amir munfasil adalah sebagai
berikut:

D}AMIR CONTOH
ARTINYA
MUNFASIL
‫( إياه نصر‬hanya
‫إياه‬ Dia satu laki-laki kepadanya satu laki-
laki dia menolong)

Dia dua laki-laki / ‫إياهما نصر‬


‫إياهما‬ perempuan
‫إياهم‬ Mereka laki-laki ‫إياهم نصر‬

‫إياها‬ Dia satu perempuan ‫إياها نصر‬


‫إياهن‬ Mereka perempuan ‫إياهن نصر‬

‫إياك‬ Kamu satu laki-laki ‫إياك نصر‬


Kamu dua laki-laki / ‫إياكما نصر‬
‫إياكما‬ perempuan
‫إياكم‬ Kalian laki-laki ‫إياكم نصر‬
Kamu satu ‫إياك نصر‬
‫إياك‬ perempuan
‫إياكن‬ Kalian perempuan ‫إياكن نصر‬

‫إياي‬ Saya ‫إياي نصر‬

‫إيانا‬ kami ‫إيانا نصر‬

Maf’ul bih ghoiru sarih (tidak jelas), yaitu ada tiga macam:
Berupa kalimat yang dita’wil (dirubah) masdar setelah adanya
huruf yang menta’wil masdar (seperti ‫)أن‬. Contoh: ‫علمت أنك‬
‫( مجتهخخخخد‬saya tahu bahwa kamu bersungguh-sungguh).
Susunan ‫ أنخك مجتهخد‬adalah maf’ul bih berupa kalimat yang
dita’wil masdar karena ada huruf masdarnya, yaitu ‫ أن‬.
ta’wil dari ‫ أنك مجتهد‬adalah ‫( اجتهادك‬kesungguhanmu).
Jadi, ‫ أنخخخك مجتهخخخد‬I’rabnya adalah nashab secara mahalli.
Artinya ‫ أنخخك مجتهخخد‬beri’rab nashab karena kedudukannya
sebagai maf’ul bih.
Akan tetapi secara lafaz, ‫ أن‬adalah huruf, hukumnya mabni.
‫ ك‬hukumnya mabni karena isim d}amir. ‫ مجتهخخخد‬I’rabnya
adaah rafa’ karena kedudukannya sebagai khabar ‫ أن‬.
Berupa jumlah (susunan kata) yang yang dita’wil mufrad.
Contoh: ‫( ظننتخخخك تجتهخخخد‬saya menyangkamu bersungguh-
sungguh). Lafaz ‫ تجتهخخد‬adalah maf’ul bih berupa jumlah
(berupa susunan fi’il dan fa’il). ‫ تجتهخخد‬ini adalah jumlah
yang dita’wil mufrad. Ta’wil ‫ تجتهخخد‬adalah ‫( مجتهخخد‬yang
bersungguh-sungguh)
Jadi, ‫ تجتهد‬I’rabnya adalah nashab secara mahalli. Artinya
‫ تجتهخخخد‬beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai
maf’ul kedua dari ‫ ظن‬.
Akan tetapi secara lafaz, ‫ تجتهخخخد‬I’rabnya adalah rafa’
karena berupa fi’il mud}ari’ yang tidak didahului oleh amil
nashab dan amil jazm
Berupa jer majrur (huruf jer dan isim yang dijerkan). Contoh:
‫( أمسكت بيدك‬saya memegang tanganmu). ‫ بيدك‬adalah maf’ul
bih berupa jer majrur.
Jadi, ‫ بيخخدك‬I’rabnya adalah nashab secara mahalli. Artinya
‫ بيدك‬beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul

113
bih.
Akan tetapi secara lafaz, ‫ ب‬adalah mabni karena berupa
isim d}amir. ‫ يدك‬I’rabnya jer karena didahului oleh huruf jer
(‫)ب‬
KETERANGAN
Pada dasarnya maf’ul bih berada setelah fi’il dan fa’il. Contoh: ‫ضربت‬
‫( زيدا‬saya memukul zaid). ‫ زيدا‬kedudukannya sebagai maf’ul bih
berupa isim zahir. Lafaz ‫ زيدا‬sebagai maf’ul berada setelah fi’il (
‫ )ضرب‬dan fa’il (‫)ت‬
akan tetapi adakalnya:
Maf’ul berada setelah fi’il tapi sebelum fa’il (fi’il + maf’ul + fa’il),
yaitu dalam tiga keadaan:
Jika fa’ilnya bersambung dengan isim d}amir yang kembali
kepada maf’ul bih. Contoh: ‫( أكخخخرم سخخخعيدا غلمخخخه‬anaknya
memulyakan sa’id). ‫ سعيدا‬kedudukannya sebagai maf’ul bih
berupa isim zahir. Lafaz ‫ سخخعيدا‬sebagai maf’ul bih berada
setalah fi’il (‫ )أكرم‬akan tetapi berada sebelum fa’il (‫)غلم‬
karena fa’ilnya bersambung dengan isim d}amir yang
kembali kepada maf’ul (‫) غلمخخه‬. D}amir ‫ ه‬kembali
kepada maf’ul bih (‫)سعيدا‬
Jika fa’ilnya berupa isim zahir dan maf’ul bih berupa isim
d}amir muttasil. contoh: ‫( ضخخربني زيخخد‬zaid memukulku). ‫نخخي‬
kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim d}amir.
Lafaz ‫ ني‬sebagai maf’ul bih berada setelah fi’il (‫ )ضرب‬tapi
berada sebelum fa’il (‫ ) زيد‬karena maf’ul bih berupa isim
d}amir muttasil (‫ )ني‬sedangkan fa’ilnya berupa isim zahir (
‫) زيد‬
Jika fa’ilnya berupa lafaz yang dikecualikan (Mustasna).
Contoh: ‫مخخا أكخخرم سخخعيدا إل خالخخد‬. (tidak ada yang memulyakan
sa’id kecuali kholid). ‫ سعيدا‬kedudukannya sebagai maf’ul bih
berupa isim zahir. Lafaz ‫ سخخعيدا‬sebagai maf’ul bih berada
setealah fi’il (‫ )أكرم‬tapi sebelum fa’il (‫)خالد‬, karena fa’ilnya (
‫ )خالد‬berupa lafaz yang dikecualikan.
Maf’ul berada sebelum fi’il dan fa’il (maf’ul + fi’il + fa’il). Yaitu
dalam beberapa keadaan, yaitu:
Maf’ul bih berupa isim syarat (isim yang butuh pada jawab).
Contoh: ‫( مخخن يضخخلل ال خ فمخخا لخخه مخخن هخخاد‬barang siapa yang Allah
sesatkan, maka dia tidak akan mendapatkan petunjuk). ‫من‬
kedudukannya maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz ‫مخخن‬
sebagai maf’ul bih berada sebelum fi’il (‫ )يضلل‬dan fa’il (‫)ال‬,
karena maf’ul bih berupa isim syarat (‫)من‬
Maf’ul bih berupa isim isim nahi (pertanyaan). Contoh: ‫فأي ايات‬
‫( الخخخ تنكخخخرون‬maka ayat yang mana yang kamu kalian
ingkari?). ‫ أي‬kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim
zahir. Lafaz ‫ أي‬sebagai maf’ul bih berada sebelum fi’il (
‫ )تنكرون‬dan fa’il (d}amir yang tersimpan, yaitu ‫)هم‬, karena
maf’ul bih berupa isim nahi (‫)أي‬
Maf’ul bih berupa ‫ كم‬atau ‫ كأين‬yang bermakna berita (bukan
pertanyaan). Contoh: ‫( كم كتاب ملكت‬banyak kitab yang saya
punya). ‫ كم‬kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim
zahir. Lafaz ‫ كم‬sebagai maf’ul berada sebelum fi’il (‫ )ملك‬dan
fa’il (‫)ت‬, karena berupa ‫ كم‬.
Berupa maf’ul bih yang dinashabkan oleh jawab ‫ أما‬. contoh:
‫( فأما اليتيم فل تقهر‬maka janganlah memaksa anak yatim). ‫اليتيم‬
kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim zahir. Lafaz
‫ اليخختيم‬berada sebelum fi’il (‫ )تقهخخر‬dan fa’il (d}amir yang
tersimpan, yaitu ‫)أنت‬
Maf’ul bih yang didahulukan karena tujuan mengkhususkan.
Contoh: ‫( إياك نعبد‬hanya kepadaMU kami menyembah). ‫إياك‬
kedudukannya sebagai maf’ul bih berupa isim d}amir.
Lafaz ‫ إياك‬berada sebelum fi’il (‫ ) نعبد‬dan fa’il (isim d}amir
yang tersimpan, yaitu ‫)نحخخخخخخن‬, karena bertujuan
menghususkan maf’ul bih
Pada dasarnya fi’il dari maf’ul bih disebutkan. Contoh: ‫ضخخربت زيخخدا‬
(saya memukul zaid). ‫ زيخخدا‬kedudukannya sebagai maf’ul bih
berupa isim zahir. Lafaz ‫ زيدا‬sebagai maf’ul bih disebutkan dalam
perkataan.
Akan tetapi adakalnya maf’ul bih tidak disebut dalam suatu
perkataan. Contoh: ‫( ماذا أنزل ربكم؟ قالوا خيرا‬apa yang Allah turunkan
padamu? Mereka berkata, kebaikan). ‫ خيرا‬kedudukannya sebagai
maf’il bih berupa isim zahir. Fi’il dari maf’ul bih dibuang. Asalnya
adalah ‫ خيرا أنزل‬. lafaz ‫ أنزل‬adalah fi’il yang tidak disebutkan

MAF’UL MUTLAQ / MASDAR


Ciri-Ciri Masdar
Cocok bermakna “dengan”
Berupa isim masdar
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Sebagai penegas / penjelas macam pekerjaan / penjelas hitungan
pekerjaan
Didahului oleh amil (fi’il dll) yang sama arti / bentuk dengan isim
masdar
Contoh: ‫( شقا الرض شققنا ثم‬kemudian kami memecah bumi dengan
benar-benar memecah)

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca
nashab) adalah masdar, atau juga diebut maf’ul mutlaq. Masdar
menurut istilah adalah isim yang dibaca nashab, yang
menunjukkan suatu pekerjaan / peristiwa tanpa terikat oleh
waktu. Dalam tas}rif, masdar berada pada urutan ketiga.

115
Contoh: ‫ قياما قام – يقوم‬- . Jadi yang disebut masdar adalah yang
berada pada urutan ketiga, yaitu ‫ قياما‬. contoh: ‫وكلم ال موسى تكليما‬
(Allah berfirman kepada nabi musa dengan sebenar-benarnya
firman).
‫كلم‬ : fi’il mad}i (seabagai amil) : mabni fathah
‫ال‬ : fa’il : i’rabnya rafa’
‫ موسى‬: maf’ul : i’rabnya nashab
‫ تكليما‬: masdar (sebagai ma’mul) : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ تكليما‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
masdar. Tanda i’rab nashabnya adalah fathah karena ‫ تكليما‬adalah
isim mufrad.
Pada contoh diatas, ‫( كلم‬fi’il mad}i) adalah amil yang memerintah
‫ تكليما‬agar beri’rab nashab.

Amil Yang Menas}abkan Masdar


Ada lima amil yang bisa menashabkan masdar, yaitu:
Fi’il (kata kerja). Contoh: ‫( وكلم ال موسى تكليما‬Allah berfirman kepada
nabi musa dengan sebenar-benarnya firman). Jadi, ‫تكليمخخخا‬
i’rabnya nashab karena kedudukannya sebagai masdar. ‫كلخخم‬
adalah amil berupa fi’il yang menashabkan masdar (‫)تكليما‬.
Isim masdar (pekerjaan / peristiwa). Contoh: ‫إن جهنخخم جزائكخخم جخخزاء‬
‫( موفورا‬sesungguhnya neraka jahannam adalah balasan bagi
kalian (iblis) sebagai balasan yang cukup). Jadi, ‫ جزاء‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai masdar. ‫جزائكم‬
adalah amil berupa isim masdar yang menashabkan masdar (
‫)جزاء‬.
Isim fa’il (pelaku). Contoh ‫( أنخخا مسخختعمل مخخاء العيخخن اسخختعمال كخخثيرا‬saya
banyak sekali menggunakan air sumber ). Jadi, ‫ استعمال‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai masdar. ‫مستعمل‬
adalah amil berupa isim fa’il yang menashabkan masdar (
‫)استعمال‬.
Isim maf’ul (objek). Contoh: ‫( الطلق مكروه كراهة شديدة‬thalaq adalah
hal yang sangat dibenci). Jadi, ‫ كراهة‬i’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai masdar. ‫ مكخخخروه‬adalah amil
berupa isim maf’ul yang menashabkan masdar.
Sifat mushabihat (sifat). Contoh:‫( انخخت حسخخن الشخخعر حسخخنا‬rambutmu
sangat bagus). Jadi, ‫ حسخخنا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai masdar. ‫ حسن‬adalah amil berupa sifat
mushabihat yang menashabkan masdar (‫) حسنا‬.

Macam-Macam Masdar
Masdar mempunyai dua pembagian, yaitu:
Dilihat dari segi bentuknya, ada dua macam:
Masdar lafzi, yaitu masdar yang lafaz dan ma’nanya sama
dengan amilnya (fi’il / isim masdar / isim fa’il / isim maf’ul /
sifat mushabihat). Contoh: Contoh: ‫( وكلم ال موسى تكليمخخا‬Allah
berfirman kepada nabi musa dengan sebenar-benarnya
firman). Jadi, ‫ تكليما‬i’rabnya nashab karena kedudukannya
sebagai masdar. ‫ تكليما‬adalah masdar lafzi karena lafaz dan
makna ‫( تكليما‬berfirman) sama dengan amilnya, yaitu ‫كلخخم‬
(berfirman)
Masdar ma’nawi, yaitu masdar yang maknanya sama dengan
amilnya (fi’il / isim masdar / isim fa’il / isim maf’ul / sifat
mushabihat), tapi lafaznya tidak sama. Contoh: ‫جلس زيد قعودا‬
(zaid benar-benar wudlu’). Jadi, ‫ قعخخخودا‬i’rabnya nashab
karena kedudukannya sebagai masdar. ‫ قعودا‬adalah masdar
ma’nawi, karena maknaya saja yang sama dengan
amilnya, yaitu ‫ قعودا‬sebagai masdar bermakna duduk, dan
‫ جلخخخس‬sebagai amil juga bermakna duduk. Akan tetapi
lafaznya berbeda, yaitu masdarnya adalah ‫ قعخخخودا‬, dan
amilnya adalah ‫جلس‬

Dilihat dari segi fungsinya, ada tiga macam:


Berfungsi menguatkan / mengokohkan arti yang terkandung
pada amilnya. Contoh: ‫( وكلخخم ال خ موسخخى تكليمخخا‬Allah berfirman
kepada nabi musa dengan sebenar-benarnya firman). Jadi,
‫ تكليمخخخخا‬i’rabnya nashab karena kedudukannya sebagai
masdar. ‫ تكليما‬sebagai masdar ini berfungsi menguatkan /
mengokohkan arti yang terkandung pada ‫ وكلخخخم‬sebagai
amilnya. Jadi pada contoh ini masdar berarti menguatkan /
mengokohkan firman Allah kepada nabi musa.
Berfungsi menjelaskan macam arti yang terkandung pada
amilnya. Contoh: ‫( فأخخخخذناهم أخخخخذ عزيخخخز‬maka kami (Allah)
menyiksa mereka dengan siksa yang besar). ‫ أخذ‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai masdar. ‫أخذ‬
sebagai masdar berfungsi menjelaskan macam arti yang
terkandung pada ‫ أخخخذ‬sebagai amil. Jadi pada contoh ini
masdar berfungsi menjelaskan macam dari siksaan, yaitu
siksaan yang besar.
Keterangan: pada masdar ini, setelah masdar ada
sandaran yang menunjukkan macam pekerjaan yang
dilakukan, baik sandaran itu berupa mud}af ilaih, atau
berupa na’at. Contoh: ‫ أخذ عزيز‬. setelah masdar (‫ )أخخذ‬ada
sandaran berupa mud}af ilaih, yaitu ‫عزيز‬.
Berfungsi menjelaskan hitungan arti yang terkandung pada
amilnya. Contoh: ‫( وحملخخخت الرض والجبخخخال فخخخدكتا دكخخخة واحخخخدة‬dan
diangkatlah bumi dan gunung, lalu dibenturkan satu kali
benturan). ‫ دكخخخخخخخة‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai masdar. ‫ دكخخخخة‬sebagai masdar

117
berfungsi menjelaskan hitungan arti yang terkandung pada
‫ دكت‬sebagai amil. Jadi pada contoh ini masdar menjeskan
berapa hitungan benturan, yaitu satu kali benturan.
Keterangan: pada masdar ini, setelah masdar ada ta’
marbutoh (‫ )ة‬yang disebut ta’ murroh. Contoh: ‫ دكة‬. setelah
masdar (‫ )دك‬ada ta’ marbutoh.

HAAL (KEADAAN)
Ciri-Ciri Haal
Cocok bermakna “ dalam keadaan”
Sebagai penjelas keadaan dari sahibul hal
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Biasanya berupa sifat (isim fa’il / isim maf’ul / sifat musyabihat)
Berupa isim nakirah
Contoh: ‫( مؤمنا بيختي دخخل لمخن‬bagi orang yang masuk ke rumahku
dalam keadaan beriman)

Penjelasan
Termasuk mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca nashab)
adalah haal. Yang dimaksud haal adalah isim sifat yang dibaca
nashab yang menjelaskan keadaan / tingkah laku yang samar
dari shohibul hal (isim yang dijelaskan keadaannya). Contoh: ‫جاء‬
‫(زيد فارحا‬zaid datang dalam keadaan senang).
‫جاء‬ : fi’il mad}i (sebagai amil) : mabni fathah
‫زيد‬ : fa’il (shohibul hal) : i’rabya rafa’
‫ فارحا‬: haal : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ فارحا‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
haal. Tanda i’rabnya adalah nashab karena ‫ فارحخخا‬adalah isim
mufrad. Yang menashabkan ‫ فارحخخا‬sebagai haal adalah amil
berupa fi’il mad}i (‫)جخخاء‬. Lafaz ‫ فارحخخا‬sebagai haal menjelaskan
keadaan ‫ زيد‬sebagai sahibul hal yang belum jelas keadaannya.
Jadi pada contoh ini, ‫( فارحا‬senang) menjelaskan keadaan zaid,
yaitu dia datang dalam keadaan senang.

Amil Yang Menashabkan Haal


Amil yang bisa menashabkan haal ada tiga macam:
Berupa fi’il (kata kerja). Contoh: ‫( طلعت الشمس صخخافية‬matahari itu
terbit dalam keadaan berseri-seri). ‫ صخخافية‬I’rabnya nashab
karena kedudukannya sebagai haal. ‫ طلخخخع‬adalah amil haal
berupa fi’il mad}i
Berupa kalimat yang serupa dengan fi’il. Yaitu sifat-sifat yang
ditas}rif dari fi’il, seperti isim fa’il. Contoh: ‫ما مسخافر خليخل ماشخخيا‬
(kholil pergi dalam keadaan tidak berjalan kaki). ‫ ماشيا‬I’rabnya
nashab karena kedudukannya sebagai haal. ‫ مسافر‬adalah haal
berupa isim fi’il. Bentuk fi’il mad}inya adalah ‫سافر‬
Berupa kalimat yang satu makna dengan fi’il. Yaitu: 1) isim fi’il
(isim yang bermkana fi’il, seperti ‫ نخخزال‬: turunlah). 2) isim
isyaroh (kata petunjuk, seperti ‫ تلك‬: itu). 3) adat tashbih (alat
untuk menyerupakan, seperti ‫كخخأن‬: seakan-akan). 4) adat
tamanni dan tarojji (alat untuk berandai-andai dan alat untuk
pengharapan, seperti ‫ ليت‬: andaikan). 5) huruf tanbih (huruf
untuk memperingatkan, contoh 6 .( ‫ )هخخا‬jer majrur (huruf jer
dan isim yang dijerkan, seperti ‫لك‬: bagimu). 7) adat nahi (alat
untuk bertanya, seperti ‫ كيخخخخف‬: bagaimana). 8) zaraf
(keterangan waktu / tempat, seperti ‫ لدى‬: diantara). 9) huruf
nida’ (huruf untuk memanggil, seperti ‫ ياأيها‬: wahai).
Contohnya adalah: ‫( فتلك بيوتهم خاوية بما ظلموا‬maka itulah rumah-
rumah mereka (kaum tsamud) dalam keadaan runtuh
disebabkan kedzoliman mereka)

Kalimat / Kedudukan Yang Menjadi Sahibul Haal


Shohibul hal adalah kalimat yang dijelaskan keadaannya oleh
haal. Kalimat isim yang bisa menjadi shohibul hal adalah sebagai
berikut:
Kedudukan isim sebagai fa’il (pelaku). Contoh: ‫( خرج زيد متبسما‬zaid
keluar dalam keadaan tersenyum).‫ متبسخخخما‬i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai haal. Sedangkan
sahibul halnya adalah ‫ زيخخد‬yang kedudukannya sebagai fa’il.
Jadi pada contoh ini, keadaan zaid ( ‫ زيد‬: sahibul hal) ketika
keluar adalah tersenyum (‫ متبسما‬: haal)
Kedudukan isim sebagai naibul fa’il (pengganti pelaku). Contoh:
‫( تأكل الفاكهخخة ناضخجة‬buah itu dimakan dalam keadaan matang).
‫ ناضجة‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
haal. Sedangkan sahibul halnya adalah ‫ الفاكهخخخخخة‬yang
kedudukannya sebagai na’ibul fa’il. Jadi pada contoh ini,
keadaan buah (‫ الفاكهخخة‬: sahibul hal) ketika dimakan adalah
matang (‫ ناضجة‬: haal)
Kedudukan isim sebagai mubtada’ . Contoh: ‫( أنت مجتهدا صائم‬kamu
dalam keadaan bersungguh-sungguh adalah berpuasa). ‫مجتهدا‬
i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai haal.
Sedangkan sahibul halnya adalah ‫ أنخخت‬yang kedudukannya
sebagai mubtada’. Jadi pada contoh ini, keadaanmu (‫ أنخخت‬:
sahibul hal) ketika berpuasa adalah bersungguh-sungguh (
‫ مجتهدا‬: haal)
Kedudukan isim sebagai khabar (berita). Contoh: ‫( هذا الهلل طالعا‬ini
adalah bulan sabit dalam keadaan terbit). ‫ طالعخخخا‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai haal.
Sedangkan sahibul halnya adalah ‫ الهلل‬yang kedudukannya
sebagai khabar. Jadi pada contoh ini, keadaan bulan sabit (
‫ الهلل‬: sahibul hal) ini adalah terbit (‫ طالعا‬: haal)
Kedudukan isim sebagai maf’ul bih (objek). Contoh:‫ركبخخت الفخخرس‬

119
‫( مسخخرجا‬saya menunggangi kuda dalam keadaan berpelana).
‫ مسرجا‬i’rabnya nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul
bih. Sedangkan sahibul halnya adalah ‫ الفخخخخخرس‬yang
kedudukannya sebagai maf’ul bih. Jadi pada contoh ini,
keadaan kuda (‫ الفخخرس‬: sahibul hal) ketika saya tunggangi
adalah berpelana (‫ مسرجا‬: haal)
Kedudukan isim sebagai masdar. Contoh: ‫( سخرت سخيري حثيثخا‬saya
berjalan dengan cepat). ‫ حثيثا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai haal. Sedangkan sahibul hal nya
adalah ‫ سيري‬yang kedudukannya sebagai masdar. Jadi pada
contoh ini, keadaaan berjalanku (‫ سخخيري‬: sahibul hal) adalah
cepat (‫ حثيثا‬: haal)
Kedudukan isim sebagai zaraf (keterangan waktu atau tempat).
Contoh: ‫( سخخافرت الليخخل مظلمخخا‬saya pergi di malam hari dalam
keadaan gelap). ‫ مظلمخخخخا‬I’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai haal. Sedangkan sahibul halnya adalah
‫ الليل‬yang kedudukannya sebagai zaraf. Jadi pada contoh ini,
keadaan malam hari (‫ الليخخل‬: sahibul hal) ketika saya pergi
adalah gelap (‫ مظلما‬: haal)
Kedudukannya sebagai maf’ul liajlih (alasan). Contoh: ‫إفعل الخير محبة‬
‫( الخير مجردة عن الرياء‬kerjakanlah kebaikan karena senang pada
kebaikan, dengan keadaan terhindar dari riya’). ‫ مجردة‬I’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai haal.
Sedangkan sahibul halnya adalah ‫ محبخخة‬yang kedudukannya
sebagai maf’ul liajlih. Jadi pada contoh ini, keadaan senang
pada kebaikan (‫ محبخخة‬: sahibul hal) itu adalah terhindar dari
riya’ (‫ مجردة‬: haal)
Kedudukannya sebagai maf’ul ma’ah (bersama). Contoh: ‫ل تسر‬
‫( والمطخخخر نخخخازل‬jangan berjalan bersamaan dengan turunnya
hujan). ‫ نخخازل‬I’rabnya adalah nashab karena kedudukannya
sebagai haal. Sedangkan sahibul halnya adalah ‫ والمطخخر‬yang
kedudukannya sebagai maf’ul ma’ah. Pada contoh ini,
keadaan hujan (‫ والمطر‬: sahibul hal) adalah turun (‫ نازل‬: haal)

Macam-Macam Haal
Haal dibagi menjadi dua, mufrad dan ghairu mufrad. Rinciannya
sebagai berikut:
Mufrad (bukan jumlah/ syibhul jumlah).
Yaitu haal yang tidak berupa jumlah (Fi’liyah dan ismiyah) dan
tidak berupa syibhul jumlah(jer majrur dan zaraf). Haal ini ada
dua macam:
Berupa isim musytaq (ada tas}rifnya)
Yaitu haal berupa kalimat isim yang ada tas}rifnya, yaitu:
Isim fa’il. Contoh: ‫( جاء محمد ماشيا على القدام‬zaid datang dalam
keadaan jalan kaki). ‫ ماشيا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai haal. ‫ ماشخخيا‬adalah haal berupa
isim fa’il. Bentuk fi’il mad}inya adalah ‫مشي‬
Isim maf’ul. Contoh: ‫( رجخخع الطخخالب مسخخرورا‬murid itu datang
dalam keadaan senang). ‫ مسرورا‬i’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai haal. ‫ مسرورا‬adalah haal
berupa isim maf’ul. Bentuk fi’il mad}inya adalah ‫ سر‬.
Isim sifat mushabihat. Contoh:‫( رأيخخت المخخرأة حسخخنة وجههخخا‬saya
melihat wanita yang cantik parasnya). ‫ حسخخنة‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai haal. ‫حسنة‬
adalah haal berupa sifat mushabihat. Fi’il mad}inya
adalah ‫ حسن‬.
S}ighat mubalaghah. Contoh: ‫( جخخخاء زيخخخد نصخخخار السخخخلم‬zaid
datang dalam keadaan sebagai orang yang sangat
menolong islam). ‫ نصخخار‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai haal. ‫ نصخخار‬adalah haal berupa
S}ighat mubalaghah. Bentuk fi’il mad}inya adalah ‫ نصر‬.
Berupa isim jamid (tidak ada tas}rifnya) yang dita’wil isim
musytaq
Yaitu haal berupa kalimat isim yang tidak ada tas}rifnya,
yang dita’wil menjadi isim sifat musytaq, yaitu:
Lafaz yang menunjukkan arti menyerupakan. Contoh: ‫كر زيد‬
‫( عخخدوه أسخخدا‬zaid menyerang musuhnya dengan berani
seperti singa). ‫ أسخخخدا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai haal. ‫ أسخخدا‬adalah haal berupa
isim jamid. Ta’wilnya adalah : ‫( شجاعا كالسد‬berani seperti
singa)
Lafaz yang menunjukkan arti tertib. Contoh: ‫قرأت الكتاب بابا بابا‬
(saya membaca kitab berurutan satu bab-satu bab). ‫بابا‬
i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
haal. ‫ بابخخخا‬adalah haal berupa isim jamid. Ta’wilnya
adalah: ‫( مترتبا‬berurutan)
Lafaz yang menunujukkan arti persekutuan. Contoh: ‫كلمته فاها‬
‫( الخخخخى فخخخخاه‬saya berkata kepaanya secara langsung
berhadap-hadapan). ‫ فاها‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai haal. ‫ فاها‬adalah haal berupa isim
jamid. Ta’wilnya adalah: ‫( متشافهين‬berhadapan langsung)
Lafaz yang menunjukkan arti harga. Contoh: ‫بعت القمح جرامخخا‬
‫( بألف ربية‬saya menjual gandum ini setiap gram seribu
rupiah). ‫ جرامخخخخخخا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai haal. ‫ جرامخخا‬adalah haal berupa
isim jamid. Ta’wilnya adalah:‫( مسعرا كل جرام‬dihargai tiap
gram)
Lafaz berupa masdar nakirah. Contoh: ‫جخخخاء مصخخخطفى بغتخخخة‬
(mustofa datang secara tiba-tiba). ‫ بغتة‬i’rabnya adalah

121
nashab karena kedudukannya sebagai haal. ‫ بغتة‬adalah
haal berupa isim jamid. Ta’wilnya adalah: ‫( باغتا‬tiba-tiba)

Ghoiru mufrad (berupa jumlah/ syibhul jumlah)


Yaitu haal yang berupa jumlah (Fi’liyah dan ismiyah) atau
berupa syibhul jumlah (jer majrur dan zaraf). Yaitu:
Berupa jumlah (susunan kalimat). Ada dua:
Fi’liyah (fi’il dan fa’il). Contoh: ‫جخخخاء محمخخخد يركخخخب السخخخيارة‬
(Muhammad datang dalam keadaan mengendarai
mobil). Susunan ‫ يركخخخب السخخخيارة‬I’rabnya adalah nashab
secara mahalli, artinya beri’rab nashab karena
kedudukannya sebagai haal. Sedangkan secara lafaz,
‫ يركب‬I’rabnya adalah rafa’ karena tidak didahului oleh
amil nashab dan amil jazm.
‫ يركخخخب السخخخيارة‬adalah haal berupa jumlahFi’liyah, yaitu
berupa susunan fi’il (‫ )يركخخخب‬dan fa’il (d}amir yang
tersimpan, yaitu ‫)هو‬
Ismiyah (mubtada’ dan khabar). Contoh: ‫يصلي زيد وهو جخخالس‬
(zaid sedang sholat dalam keadaan duduk). Susunan ‫وهو‬
‫ جخخالس‬i’rabnya adalah nashab secara mahalli, artinya
beri’rab nashab karena kedudukannya sebagai haal.
Tapi secara lafaz, ‫ هو‬adalah mabni karena berupa isim
d}amir. ‫ جخخخخخخالس‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai khabar.
‫ وهو جالس‬adalah haal berupa jumlahismiyah, yaitu berupa
susunan mubtada’ (‫ )وهو‬dan khabar (‫) جالس‬
Syibhul jumlah (menyerupai susunan kalimat). Ada dua:
Jer majrur (huruf jer dan isim yang dijerkan). Contoh: ‫فخرج‬
‫( على قومه في زينته‬maka keluarlah qorun kepada kaumnya
dalam keadaan kemegahannya). Susunan ‫فخخخي زينتخخخه‬
I’rabnya adalah nashab secara mahalli, artinya beri’rab
nashab karena kedudukannya sebagai haal. Tapi secara
lafaz, ‫ فخخي‬adalah mabni karena berupa huruf jer. ‫زين خة‬
i’rabnya jer karena didahului oleh huruf jer.
‫ في زينته‬adalah haal berupa susunan jer (‫ )في‬dan majrur (
‫)زينة‬
Zaraf (keterangan waktu / tempat). Contoh: ‫رأيت الهلل بيخخن‬
‫( السحاب‬saya melihat bulan sabit berada diantara awan).
Susunan ‫ بيخخخن السخخخحاب‬I’rabnya adalah nashab secara
mahalli, artinya beri’rab nashab karena kedudukannya
sebagai haal. Tapi secara lafaz, ‫ بيخخن‬I’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai zaraf. ‫السخخخحاب‬
I’rabnya adalah jer karena kedudukannya sebagai
mud}af ilaih.
‫ بين السحاب‬adalah haal berupa zaraf (‫)بين‬
KETERANGAN
Haal harus sama dengan sahibul halnya dalam segi jumlah (mufrad,
tasniyah dan jama’) dan jenisnya (muzakkar dan muannas).
Contoh: ‫( جاء زيد فارحا‬zaid datang dalam keadaan senang).
‫جاء‬ : fi’il mad}i (sebagai amil) : mabni fathah
‫زيد‬ : fa’il (shohibul hal) : mufrad muzakkar
‫ فارحا‬: haal : mufrad muzakkar
Jadi, ‫ فارحا‬sebagai haal sama dengan ‫ زيد‬sebagai sahibul hal dari
segi jumlah (sama-sama mufrad) dan jenisnya (sama-sama
muzakkar)
Haal harus berupa isim nakirah. Contoh: ‫( جاء زيد فارحخخا‬zaid datang
dalam keadaan senang). ‫ فارحخخخخخا‬i’rabnya nashab karena
kedudukannya sebagai haal. ‫ فارحخخا‬sebagai haal berupa isim
nakirah.
Tapi adakalanya haal berupa isim ma’rifat yang dita’wil menjadi
isim nakirah. Contoh: ‫( جاء زيخخد وحخخده‬zaid datang dalam keadaan
sendiri). ‫ وحخخده‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya
sebagai haal. ‫ وحخخده‬sebagai haal adalah berupa isim ma’rifat
yang dita’wil menjadi isim nakirah, yaitu dita’wil menjadi ‫منفردا‬
(sendirian)
Pada dasarnya, haal harus berada setelah amil dan sahibul hal.
Contoh: ‫( جاء زيد فارحا‬zaid datang dalam keadaan senang). ‫فارحخخا‬
I’rabnya nashab karena kedudukannya sebagai haal. ‫فارحخخا‬
sebagai haal berada setelah amil (‫ )جاء‬dan sahibul hal (‫)زيد‬. Tapi
kadang-kadang:
Haal berada setelah amil dan sahibul hal. Contoh: ‫متأخرا دخل التلميذ‬
‫( الكسخخلن الفصخخل‬murid yang malas itu datang dalam keadaan
terlambat). ‫ متخخخأخرا‬i’rabnya nahsob karena kedudukannya
sebagai haal. ‫ متأخرا‬sebagai haal berada sebelum amil (‫)دخل‬
dan sahibul hal (‫)التلميذ‬
Haal berada setelah amil tapi sebelum sahibul hal. Contoh:‫قخخام‬
‫( مجتهخخدا محمخخد بهخخذه الوظيفخخة‬Muhammad melaksanakan tugas ini
dalam keadaan bersungguh-sungguhh). ‫ مجتهدا‬i’rabnya nashab
karena kedudukannya sebagai haal. ‫ مجتهدا‬sebagai haal berada
setelah amil (‫ )قام‬tapi berada sebelum sahibul hal (‫)محمد‬.
Sahibul hal harus berupa isim ma’rifat. Contoh: ‫( جخخاء زيخخد فارحخخا‬zaid
datang dalam keadaan senang). ‫ فارحخخا‬i’rabnya nashab karena
kedudukannya sebagai haal. ‫ زيد‬adalah sahibul hal , yaitu berupa
isim ma’rifat (berupa ‘alam / nama).
Tapi adakalnya sahibul hal berupa isim nakirah, yaitu dalam
empat keadaan:
Ketika sahibul hal berada setelah haal. Contoh: ‫يصلي خاشخخعا مسخخلم‬
(seorang muslim sholat dalam keadaan khusyu’). ‫ مسلم‬adalah
sahibul hal berupa isim nakirah karena berada setelah haal (

123
‫)خاشعا‬
Ketika haal didahului oleh nafi (peniadaan, seperti ‫) ما‬. Contoh: ‫ما‬
‫( فخخي المسخخجد صخخائم نائمخخا‬tidak ada seorangpun yang berpuasa di
masjid dalam keadaan tidur). ‫ صائم‬adalah sahibul hal berupa
isim nakirah karena haal didahului oleh nafi (‫)ما‬
Ketika sahibul hal disifati dengan isim nakirah yang lain. Contoh:
‫( جخخائت مسخخلمة صخخالحة متبسخخمة‬seorang muslimah yang sholihah itu
datang dalam keadaan tersenyum). ‫ مسلمة‬adalah sahibul hal
berupa isim nakirah karena disifati dengan isim nakirah yang
lain (‫)صالحة‬.
Ketika haal berupa jumlah yang didahului wawu haaliyah (‫ و‬yang
bermakna keadaan). Contoh: ‫( جاء طالب وهخخو بخخاك‬seorang murid
datang dalam keadaan menangis). ‫ طخخالب‬adalah sahibul hal
berupa isim nakirah karena haalnya berupa jumlahyang
didahului wawu haaliyah (‫)وهو باك‬
TAMYIZ
Ciri-Ciri Tamyiz
Cocok bermakna “apanya”
Sebagai penjelas dari kalimat yang samar pada kalimat
sebelumnya
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Berupa isim masdar / isim jamid
Biasanya berada setelah isim tafdlil atau setelah bilangan 11 – 99
Contoh: ‫( تأويل أحسخخن و خيخخر ذلخخك‬hal itu lebih baik dan lebih bagus
penafsirannya)

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca
nashab) adalah tamyiz. Secara istilah, tamyiz adalah isim nakirah
yang dibaca nashab, yang mengandung makna ‫ مخخخن‬, yang
berfungsi untuk menjelaskan nisbat atau zat dari suatu jenis
yang masih samar. Contoh: ‫( حسخخن عفيخخف خلقخخا‬afif itu bagus budi
pekertinya)
‫ حسن‬: fi’il mad}i (sebagai amil)
‫ عفيف‬: fa’il : i’rabnya rafa’
‫خلقا‬ : tamyiz (sebagai ma’mul) : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ خلقا‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
tamyiz. Jadi, ‫ خلقا‬sebagai tamyiz ini menjelaskan nisbat dari ‫حسن‬
yang masih samar (tidak jelas).

Macam-Macam Tamyiz
Tamyiz ada dua macam, zat dan nisbat. Rinciannya sebagai
berikut:
Tamyiz zat / mufrad, yaitu tamyiz yang berfungsi untuk
menghilangkan kesamaran yang ada pada kalimat isim
sebelumnya. Tamyiz zat / mufrad empat macam:
Tamyiz ‘adad (hitungan). Yaitu tamyiz yang berfungsi
menjelaskan barang yang dihitung, sebab barang tersebut
belum diketahui. Contoh: ‫( رأيت أحد عشر كوكبا‬saya melihat 11
bintang). ‫ كوكبخخخخخخخا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu berupa tamyiz adad.
‫( كوكبخخا‬bintang) sebagai tamyiz menjelaskan benda yang
dihitung, yaitu hitungan 11 (‫)أحد عشر‬. Jadi pada contoh ini
ada pertanyaan, “apanya yang 11”? Maka tamyiz ( ‫)كوكبا‬
berfungsi menjelaskan, “yang 11 adalah bintangnya”
Tamyiz miqdar (ukuran). Yaitu tamyiz yang berfungsi
menjelaskan barang yang mempunyai kadar, sebab barang
tersebut belum diketahui. Kadar tersebut berupa:
‫(مساحة‬ukuran). Contoh:‫( اشتريت هكتارا عقارا‬saya membeli satu
hektar tanah). ‫ عقخخارا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu tamyiz berupa
ukuran. ‫( عقخخخارا‬tanah) sebagai tamyiz menjelaskan
ukuran, yaitu barang satu hektar (‫ )هكتخخارا‬yang belum
diketahui. Jadi pada contoh ini ada pertanyaan, “ apanya
yang satu hektar?” maka tamyiz (‫ عقخخخارا‬: tanah)
berfungsi menjelaskan, “ yang satu hektar adalah
tanahnya”
‫(وزن‬timbangan). Contoh: ‫( اشخختريت كيلخخوين ارزا‬saya membeli
dua kg beras). ‫ ارزا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu berupa ukuran
timbangan. ‫( ارزا‬beras) sebagai tamyiz menjelaskan
timbangan, yaitu barang dua kilo gram (‫ )كيلخخوين‬yang
belum diketahui. Jadi pada contoh ini ada pertanyaan, “
apanya yang dua kilo gram?”. Maka tamyiz (‫ ارزا‬: beras)
berfungsi menjelaskan, “ yang dua kg adalah berasnya”
‫(كيل‬takaran). Contoh:‫( املك صاعا قمحخا‬saya mempunyai satu
sak gandum). ‫ قمحخخخخا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu berupa ukuran
takaran. ‫( قمحخخا‬gandum) sebagai tamyiz menjelaskan
takaran, yaitu satu sak (‫ )صاعا‬yang belum diketahui. Jadi
pada contoh ini ada pertanyaan, “ apanya yang satu
sak?” maka tamyiz (‫ قمحا‬: gandum) menjelaskan, “ yang
satu sak adalah gandumnya”
Tamyiz syibhu al-miqdar (menyerupai ukuran). Yaitu tamyiz
yang berfungsi menjelaskan sesuatu yang menyerupai
kadar, sebab sesuatu itu kadarnya tidak diketahui dengan
pasti dan tidak dapat diukur dengan alat tertentu (seperti
tamyiz miqdar). Keserupaan itu antara lain:
Menyerupai ukuran. Contoh: ‫( عنخخخخدي مخخخخد البصخخخخر أرضخخخا‬saya
mempunyai tanah sejauh pandangan mata). ‫أرضخخخا‬
i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
tamyiz, yaitu berupa sesuatu yang menyerupai ukuran.

125
‫( أرضا‬tanah) sebagai tamyiz menjelaskan sesuatu yang
menyerupai kadar, yaitu sejauh pandangan mata (‫مخخد‬
‫ )البصر‬yang belum diketahui. Jadi pada contoh ini ada
pertanyaan, “ apanya yang sejauh pandangan mata?”
maka tamyiz (‫ أرضا‬: tanah) menjelaskan, “ yang sejauh
pandangan mata adalah tanahnya”
Menyerupai timbangan. Contoh: ‫فمخخن يعمخخل مثقخخال ذرة خيخخرا يخخره‬
(barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat biji
dzarrohpun, maka niscaya dia akan melihat
balasannya). ‫ خيخخخخرا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu berupa sesuatu
yang menyerupai timbangan. ‫( خيخخرا‬kebaikan) sebagai
tamyiz menjelaskan sesuatu yang menyerupai
timbangan, yaitu seberat biji dzarroh (‫ )مثقخخال ذرة‬yang
belum diketahui. Jadi pada contoh ini ada pertanyaan, “
apanya yang seberat biji dzarroh?” maka tamyiz (‫ خيرا‬:
kebaikan) menjelaskan, “ yang seberat biji dzarroh
adalah kebaikannya”
Menyerupai takaran. Contoh: ‫( عنخخخخخخخدي جيخخخخخخخس ارزا‬saya
mempunyai sekarung beras). ‫ ارزا‬i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu
berupa sesuatu yang menyerupai takaran. ‫( ارزا‬beras)
sebagai tamyiz menjelaskan sesuatu yang menyerupai
takaran, yaitu sekarung (‫ )جيخخخس‬barang yang belum
diketahui. Jadi pada contoh ini ada pertanyaan, “ apanya
yang sekarung?” maka tamyiz (‫ ارزا‬: beras)
menjelaskan, “ yang sekarung adalah berasnya”
Tamyiz yang yang diberlakukan seperti miqdar (ukuran), yaitu
jika shohib al-tamyiz (lafaz yang dijelaskan) berupa isim
mubham (isim yang butuh pada penjelas dan perinci).
Contoh: ‫( ولخخخخخو جئنخخخخخا بمثلخخخخخه مخخخخخددا‬sekalipun kamai (Allah)
mendatangkan tambahan sebanyak itu). ‫ مخخخددا‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu
berupa isim mubham. ‫( مخخددا‬tambahan) sebagai tamyiz
menjelaskan isim mubham, yaitu sebanyak itu (‫ )بمثله‬yang
belum diketahui. Jadi pada contoh ini ada pertanyaan,
“apanya yang sebanyak itu?” maka tamyiz (‫ مخخخددا‬:
tambahan) menjelaskan, “yang sebanyak itu adalah
tambahannya”

Tamyiz nisbat / jumlah, yaitu tamyiz yang berfungsi


menghilangkan kesamaran yang terdapat pada jumlah.
Tamyiz nisbat / jumlahada dua:
Muhawwal (dipindah), yaitu tamyiz yang merupakan pindahan
bentuk dari kedudukan kalimat yang lain. Pindahan
tersebut adakalnya:
Berasal dari fa’il. Contoh: ‫( واشخخختعل الخخخرأس شخخخيبا‬kepalanya
bersinar, ubannya). ‫ شيبا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu berupa muhawwal
dari fa’il. Asalnya adalah ‫( اشخختعل شخخيب الخخرأس‬uban kepala
bersinar). Jadi, ‫ شيب‬kedudukan asalnya adalah sebagai
fa’il dari fi’il (‫)اشخختعل‬, lalu dipindah / dirubah menjadi
tamyiz (‫) شيبا‬.
Berasal dari maf’ul bih. Contoh:‫( وفجرنا الرض عيونا‬dan kami
memancarkan bumi, mata airnya). ‫ عيونا‬i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu
berupa muhawwal dari maf’ul bih. Asalnya adalah ‫وفجرنا‬
‫( عيون الرض‬dan kami memancarkan mata air bumi). Jadi
‫ عيخخخخون‬kedudukan asalnya adalah maf’ul bih, lalu
dipindah / dirubah menjadi tamyiz (‫) عيونا‬
Berasal dari mubtada’. Contoh: ‫( أنخخا أكخخثر منخخك مخخال‬saya lebih
banyak darimu, hartanya). ‫ مال‬i’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu berupa
muhawwal dari mubtada’. Asalnya adalah ‫مخخالي أكخخثر منخخك‬
(hartaku lebih banyak darimu). Jadi, ‫ مخخخال‬kedudukan
asalnya adalah mubtada’, lalu dipindah / dirubah
menjadi tamyiz (‫) مال‬
Ghoiru muhawwal (bukan pindahan), yaitu tamyiz yang bukan
merupakan pindahan dari sesuatu apapun. Contoh: ‫امتل الناء‬
‫( ماء‬wadah itu penuh, airnya). ‫ ماء‬i’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai tamyiz, yaitu berupa ghoiru
muhawwal. Jadi, ‫ مخخاء‬kedudukan aslinya adalah tamyiz,
bukan pindahan bentuk apapun.

KETERANGAN
Amil yang menashabkan tamyiz dibagi menjadi dua:
Jika berupa tamyiz zat / mufrad, maka amilnya adalah shohib al-
tamyiz (lafaz yang dijelaskan). Contoh: ‫( رأيت أحد عشر كوكبا‬saya
melihat 11 bintang). ‫ كوكبخخا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz. Amil yang menashabkan
tamyiz adalah shohib al-tamyiz, yaitu: 11) ‫)أحد عشر‬
Jika berupa tamyiz nisbat / jumlah, maka amilnya adalah fi’il atau
yang serupa dengan fi’il yang berada sebelum tamyiz. Contoh:
‫( واشخختعل الخخرأس شخخيبا‬kepalanya bersinar, ubannya). ‫ شخخيبا‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai tamyiz. Amil
yang menashabkan tamyiz adalah ‫( اشتعل‬bersinar)
Tamyiz harus berupa isim nakirah, dan harus berada setelah shohib
al-tamyiz (lafaz yang dijelaskan). Contoh: ‫( رأيت أحد عشر كوكبا‬saya
melihat 11 bintang). ‫ كوكبخخخا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai tamyiz. ‫ كوكبخخخا‬sebagai tamyiz adalah
berupa isim nakirah dan berada setelah shohib al-tamyiz (‫أحخخد‬

127
‫)عشر‬.

ZARAF (KETERANGAN WAKTU / TEMPAT)


Ciri-Ciri Zaraf
Cocok bermakna “di” / “di dalam” / “pada”
Menjelaskan keterangan waktu / tempat
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Contoh: ‫( يوما لبثت قال‬salah satu penghuni gua itu berkata, saya
tinggal selama satu hari)

Penjelasan
Termasuk mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca nas}ab)
adalah zaraf. Secara istilah, zaraf adalah isim yang dibaca
nashab yang menunjukkan arti keterangan waktu atau tempat,
yang mengandung makna ‫( في‬di, didalam, pada). Contoh: ‫أصلي‬
‫( التهجد ليل‬saya sholat tahajjud dimalam hari).
‫ أصلي‬: fi’il mud}ari’ (sebagai amil) : i’rabnya rafa’
‫ التهجد‬: maf’ul bih : i’rabnya nashab
‫ليل‬ : zaraf (sebagai ma’mul) : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ ليل‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
zaraf, yaitu menunjukkan arti waktu. Tanda i’rabnya adalah
fathah karena ‫ ليل‬adalah isim mufrad. ‫ ليل‬mengandung makna ‫في‬
. jadi kalau ditampakkan menjadi ‫( في الليل‬dimalam hari)

Amil Yang Menas}abkan Zaraf


Amil yang menashabkan zaraf ada tiga, yaitu:
Fi’il. Contoh: ‫( أصلي التهجخخد ليل‬saya sholat tahajjud dimalam hari).
Jadi, ‫ ليل‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
zaraf. Amil yang menashabkan ‫ ليل‬sebagai zaraf adalah fi’il (
‫)أصلي‬
Isim masdar. Contoh: ‫( يسرني جلوسك عند العلماء‬dudukmu disamping
ulama’ membuatku bahagia). Jadi, ‫ عند‬i’rabnya adalah nashab
karena kedudukannya sebagai zaraf. Amil yang menashabkan
‫ عند‬sebagai zaraf adalah isim masdar (‫)جلوس‬
Isim fa’il. Contoh: ‫( الطخخخخالب جخخخخالس وراء السخخخختاذ‬murid itu duduk
dibelakang guru). Jadi, ‫ وراء‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai zaraf. Amil yang menashabkan ‫وراء‬
sebagai zaraf adalah isim fa’il (‫)جالس‬

Macam-Macam Zaraf
Zaraf dibagi menjadi dua, yaitu:
Zaraf zaman (keterangan waktu). Zaraf zaman dibagi menjadi
tiga:
Zaraf zaman mukhtas} (tertentu). Yaitu zaraf yang
menunjukkan kadar waktu yang ditentukan, dan menjadi
jawaban dari dari lafaz ‫( متى‬kapan). Contoh:‫تيممت يوم الجمعخخة‬
(saya bertayammum hari jum’at). ‫ يخخخوم‬i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai zaraf. ‫ يخخوم‬adalah
zaraf zaman mukhtas} karena waktunya ditentukan yaitu
hari jumat, dan menjadi jawaban dari ‫( متى‬kapan). Jadi pada
contoh ini ada pertanyaan, “ kapan saya berpuasa?”
jawabannya adalah “hari jum’at (‫”) يوم الجمعة‬
Zaraf zaman ma’dud (terhitung). Yaitu zaraf yang
menunjukkan kadar waktu yang bisa dihitung, dan menjadi
jawaban dari lafaz ‫( كخخم‬berapa). Contoh:‫( صخخمت شخخهرا‬saya
berpuasa satu bulan). ‫ شهرا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai zaraf. ‫ شخخهرا‬adalah zaraf zaman
ma’dud karena waktunya bisa dihitung yaitu satu bulan,
dan menjadi jawaban dari ‫( كم‬berapa). Jadi pada contoh ini
ada pertanyaan, “ berapa lama saya berpuasa?”
jawabannya adalah “satu bulan(‫”) شهرا‬
Zaraf zaman mubham (samar). Yaitu zaraf yang menunjukkan
kadar waktu yang tidak ditentukan, dan tidak menjadi
jawaban dari apapun. Contoh:‫( جمعخخت الصخخلة أحيانخخا‬kadang-
kadang saya menjama’ / menggabungkan sholat). ‫أحيانخخا‬
i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
zaraf. ‫ أحيانا‬adalah zaraf zaman mubham karena waktunya
tidak bisa ditentukan.

Keterangan
I’rab zaraf zaman dibagi menjadi dua:
Jika zaraf zaman mengandung makna ‫( في‬di, didalam, pada),
maka zaraf zaman (mukhtash, ma’dud, mubham) ber’irob
nashab. Contoh: ‫( تيممت يوم الجمعة‬saya bertayammum pada
hari jum’at). ‫ يخخخخخوم‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai zaraf. ‫ يوم‬beri’rab nashab sebagai
zaraf karena mengandung makna ‫فخخخخي‬. Jadi kalau
ditampakkan menjadi ‫( يوم في‬pada hari)
Jika zaraf zaman tidak mengandung makan ‫( في‬di, didalam,
pada), maka zaraf zaman ber’irob sesuai dengan tuntutan
amil. Contoh: ‫( جاء يخخوم الجمعخخة‬hari jum’at tiba). ‫ يخخوم‬i’rabnya
adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai fa’il. ‫ يوم‬pada
contoh ini tidak mengandung makna ‫ فخخي‬, jadi artinya
adalah hari jum’at.
Zaraf makan (keterangan tempat). Zaraf makan dibagi menjadi
dua, yaitu:
Zaraf makan mubham (samar). Yaitu zaraf yang menunjukkan
kadar tempat yang tidak ditentukan (artinya bentuknya
tidak bisa dilihat oleh panca indra dan bentuknya tidak ada
batasan tertentu). Termasuk zaraf makan mubham adalah:
Isim yang menunjukkan arah, seperti. contoh: ‫المأموم يصلي‬
‫( جماعة وراء المخام‬ma’mum itu sholat jama’ah dibelakang
129
imam). ‫ وراء‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannnya sebagai zaraf. ‫( وراء‬dibelakang) adalah
zaraf makan mubham bentuk dibelakang itu tidak bisa
dilihat dengan panca indra dan tidak ada batasan yang
jelas.
Isim yang menunjukkan ukuran tempat, seperti. contoh:
‫( سرت ميل‬saya berjalan satu mil). ‫ ميل‬i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai zaraf. ‫( ميل‬satu
mil) adalah zaraf mubham karena bentuk satu mil itu
tidak bisa dilihat dengan panca indra.
Zaraf makan mukhtash (tertentu). Yaitu zaraf yang
menunjukkan tempat yang ditentukan (artinya bentuknya
tertentu dan ada batasannya). Contoh: ‫زيخخد يصخخلي فخخي المسخخجد‬
(zaid sholat di masjid). ‫ المسجد‬i’rabnya jer karena didahului
oleh huruf jer (‫)فخخي‬. Lafaz ‫( المسخخجد‬masjid) adalah zaraf
makan mukhtash karena bntuknya bisa dilihat dengan
panca indra dan bentuknya mempunyai batasan tertentu.
Keterangan
Zaraf makan wajib beri’rab nashab dalam tiga keadaan, yaitu:
Berupa zaraf makan mubham (menunjukkan arah dan
menunjukkan ukuran tempat) yang mengandung makna ‫فخخي‬
(di, di dalam, pada). Contoh: ‫المخخخأموم يصخخخلي جماعخخخة وراء المخخخام‬
(ma’mum itu sholat jama’ah dibelakang imam). ‫ وراء‬i’rabnya
adalah nshob karena kedudukannya sebagai zaraf. ‫وراء‬
beri’rab nashab sebagai zaraf karena mengandung makan ‫ في‬.
jadi kalau ditampakkan menjadi ‫( وراء في‬dibelakang)
Jika zaraf makan mubham itu tidak mengandung makna ‫ في‬,
maka maka zaraf zaman ber’irob sesuai dengan tuntutan
amil. Contoh: ‫( الكلومتر الف متر‬satu kilo meter itu adalah seribu
meter). ‫ الكلومخختر‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya
sebagai mubtada’. Jadi ‫ الكلومخختر‬tidak beri’rab nashab karena
tidak mengandung makna ‫في‬. Begitu juga lafaz ‫ مختر‬i’rabnya
adalah jer karena kedudukannya sebagai mud}af ilaih. ‫مخختر‬
tidak beri’rab nashab karena tidak mengandung makna ‫ في‬.
Berupa zaraf yang lafaznya ditas}rif dari amilnya, baik zaraf
makan mubham atau mukhtash. Contoh: ‫( جلست مجلس العلماء‬saya
duduk di tempat berkumpulnya ulama’). ‫ مجلس‬i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai zaraf. ‫( مجلخخس‬tempat
duduk / berkumpul) sebagai zaraf beri’rab nashab karena
lafaznya ditas}rif dari amilnya, yaitu ‫( جلس‬duduk)

KETERANGAN
Kalimat isim zaman yang bisa dijadikan zaraf zaman (selain lafaz
‫ ) أشهر‬adalah:
Zaraf zaman Artinya Zaraf zaman Artinya

‫ليلة‬ Semalam ‫سحرا‬ Waktu sahur

‫يوما‬ Sehari ‫غدوة‬ Pagi-pagi

‫سنين‬ Beberapa ‫بكرة‬ Waktu pagi


tahun
‫مدة‬ Sesaat ‫ليلة الثنين‬ Malam senin

‫جمعة‬ Hari jum’at ‫يوم الحد‬ Hari ahad

‫حينا‬ Sesaat ‫غدا‬ Besok

‫صباحا‬ Waktu subuh ‫سرمدا‬ Selama-


selamanya

‫مساء‬ Waktu sore ‫أبدا‬ Selama-


selamanya

Kalimat isim makan mubham yang bisa dijadikan zaraf makan


(selain lafaz ‫ ) ميل‬adalah:

Zaraf Artinya Zaraf Artinya


makan makan
‫أمام‬ Didepan ‫حذاء‬ Di depan

‫خلف‬ Di belakang ‫عند‬ Di sisi-sisi

‫وراء‬ Di belakang ‫دون‬ Di arahnya /


di bawah

‫قدام‬ Di depan ‫قبل‬ Sebelum

‫يمين‬ Di sebelah ‫بعد‬ Sesudah


kanan
‫شمال‬ Di sebelah ‫هناك‬ Di sana
kiri
‫تلقاء‬ Di depan ‫ثم‬ Di sana

‫فوق‬ Di atas ‫فرسخا‬ Satu farsakh

‫تحت‬ Di bawah ‫بريدا‬ Satu barid

‫إزاء‬ Di depan ‫ههنا‬ Di sini

‫مع‬ Bersama ‫هناك‬ Di sana

Catatan
131
1 mil = 4000 langkah
1 farsakh = 3 mil = 12.000 langkah
1 barid = 4 farsakh = 12 mil = 48.000 langkah

MUSTASNA (YANG DIKECUALIKAN)


Ciri-Ciri Mustasna
Berada setelah adat istisna’
Sebagai kalimat yang dikecualikan
contoh: ‫( إبليس إل فسجدوا‬kemudian para malaikat itu sujud kecuali
iblis).

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca
nashab) adalah Mustasna. Secara istilah, Mustasna adalah isim
yang berada setelah adat istisna’ (lafaz untuk mengecualikan),
yang dikeluarkan dari hukum lafaz yang berada sebelum adat
istisna’ . Contoh: ‫( وجلود الميتة تطهر بالدباغ إل جلد الكلب والخنزير‬kulit-kulit
bangkai itu bisa menjadi suci dengan cara disamak, kecuali
bangkai anjing dan babi).
‫ وجلود الميتة‬: Mustasna minhu (yang mempunyai hukum)
‫ تطهر بالدباغ‬: Hukum
‫إل‬ : Adat istisna’
‫جلد‬ : Mustasna (yang dikecualikan)
Jadi, ‫ جلد‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
Mustasna. Tanda i’rabnya adalah fathah karena ‫ جلد‬adalah isim
mufrad. Lafaz ‫ جلد‬disebut Mustasna karena merupakan lafaz yang
berada setelah adat istisna’ (‫)إل‬, yang mana lafaz ‫( جلد‬kulit) itu
dikeluarkan dari hukum (‫ )تطهر بالدباغ‬lafaz yang berada sebelum
adat istisna’ (‫)وجلود الميتة‬.
Jadi pada contoh tersebut, semua kulit bangkai bisa disucikan
dengan cara disamak. Tapi kulit anjing dan babi ( ‫ جلد الكلب والخنزير‬:
sebagai Mustasna) dikeluarkan / dikecualikan dari hukum bisa
suci itu. Maka kulit anjing dan babi itu tidak bisa disucikan walau
sudah disamak.

Istilah-Istilah Dalam Istisna’


Ada beberapa istilah dalam Mustasna ini yang perlu diperhatikan
untuk mempermudah pemahaman tentang i’rab istisna’ (proses
pengecualian), yaitu dibagi dalam dua bagian:
Istilah-istilah yang terdapat pada rukun istisna’ :
Hukum: yaitu suatu peristiwa / kejadian yang dimiliki pada
Mustasna minhu
Adat istisna’ : yaitu lafaz yang berfungsi mengeluarkan /
mengecualikan Mustasna dari hukum yang dimiliki
Mustasna minhu . Adat istisna’ dibagi menjadi empat,
yaitu:
Berupa huruf : ‫إل‬
Berupa isim:‫ غير‬,‫ سواء‬,‫ سوي‬,‫سوي‬
Berupa fi’il:‫ ل يكون‬,‫ليس‬
Berupa huruf / fi’il:‫ خل‬,‫ عدا‬,‫ حاشا‬/ ‫ حاش‬/ ‫حشا‬
Mustasna minhu : yaitu lafaz yang berada sebelum adat
istisna’ , yang memiliki hukum tertentu, yang mana
Mustasna dikeluarkan / dikecualikan dari hukum yang
dimiliki oleh Mustasna minhu .
Mustasna: yaitu lafaz yang berada setelah adat istisna’ , yang
dikeluarkan / dikecualikan dari hukum yang dimiliki oleh
Mustasna minhu
Contoh dari istilah-istilah itu adalah: ‫( حضر الطلب إل زيدا‬murid-
murid hadir kecuali zaid).

‫( حضر‬hadir) : hukum
‫( الطلب‬murid-murid) : Mustasna minhu
‫إل‬ (kecuali) : adat istisna’
‫( زيدا‬zaid) : Mustasna
‫ حضر‬disebut hukum karena merupakan peristiwa (yaitu hadir)
yang dimiliki oleh murid-murid (‫ الطلب‬: Mustasna minhu ).
Jadi peristiwa yang dimiliki oleh murid-murid adalah hadir (
‫)حضر‬.
‫ إل‬disebut istisna’ karena berfungsi mengecualikan zaid ( ‫ زيدا‬:
Mustasna) dari peristiwa datang (‫ حضخخخر‬: hukum) yang
dimiliki oleh murid-murid (‫ الطلب‬: Mustasna minhu )
‫ الطلب‬disebut Mustasna minhu karena berada sebelum ‫إل‬
(adat istisna’ ), dan memiliki peristiwa hadir (‫ حضخخر‬:
hukum). Jadi, yang hadir adalah murid-murid (‫)الطلب‬
‫ زيدا‬disebut Mustasna karena berada setelah ‫( إل‬adat istisna’
), dan merupakan lafaz yang dikecualikan dari peristiwa
hadir (‫ حضر‬: hukum) yang dimiliki oleh murid-murid (‫الطلب‬
: Mustasna minhu ). Jadi, semua murid itu hadir, kecuali
zaid (‫ ) زيدا‬yang tidak hadir.
Istilah-istilah yang terdapat pada susunan kalimat istisna’ :
Kalam Tam: yaitu susunan kalam istisna’ yang Mustasna
minhu nya disebutkan. Contoh: ‫( حضخخر الطلب إل زيخخدا‬murid-
murid hadir kecuali zaid). Jadi, susunan istisna’ ini disebut
kalam tam karena Mustasna minhu nya disebutkan (‫)الطلب‬
Kalam naqis: yaitu susunan kalam istisna’ yang Mustasna
minhu nya tidak disebutkan. Contoh: ‫( ما حضخخر إل زيخخد‬tidak
ada yang hadir kecuali zaid). Susunan istisna’ ini disebut
kalam naqis karena Mustasna minhu nya tidak disebutkan.
Kalam mujab: susunan kalam istisna’ yang tidak didahului
oleh nafi (peniadaan, seperti ‫ ) ما‬atau yang menyerupai
nafi {nahi (larangan, seperti ‫ ) ل‬dan nahi (pertanyaan,

133
seperti ‫}) هل‬. Contoh: ‫( حضر الطلب إل زيدا‬murid-murid hadir
kecuali zaid). Susunan istisna’ ini disebut kalam mujab
karena tidak didahului oleh nafi atau yang menyerupai nafi
(‫)حضر‬.
Kalam ghoiru mujab / kalam manfi: yaitu susunan kalam
istisna’ yang didahului oleh nafi atau yang menyerupai
nafi (nahi dan nahi) ‫( مخخا حضخخر إل زيخخد‬tidak ada yang hadir
kecuali zaid). Susunan istisna’ ini disebut kalam ghoiru
mujab karena didahului oleh nafi (‫)ما حضر‬
Istisna’ muttasil: yaitu susunan kalam istisna’ yang
mustananya sejenis dengan Mustasna minhu nya. Contoh:
‫( حضر الطلب إل زيدا‬murid-murid hadir kecuali zaid). Susunan
istisna’ ini disebut istisna’ muttasil karena Mustasnanya (
‫ ) زيدا‬sejenis dengan Mustasna minhu nya (‫)الطلب‬. Jadi, zaid
(‫ ) زيدا‬adalah sejenis dan merupakan bagian dari murid-
murid (‫)الطلب‬
Istisna’ munqoti’ / munfasil: yaitu susunan kalam istisna’
yang mustasnya tidak sejenis dengan Mustasna minhu nya.
Contoh: ‫( حضر الطلب إل كتبهم‬murid-murid hadir kecuali buku-
buku mereka). Susunan istisna’ ini disebut istisna’
munqoti’ karena Mustasnanya (‫ )كتب‬tidak sejenis dengan
Mustasna minhu nya (‫)الطلب‬. Jadi, kitab-kitab (‫ )كتخب‬tidak
sejenis dan bukan merupan bagian dari murid (‫)الطلب‬

I’rab Mustasna
I’rab Mustasna ada 4 macam:
Jika adat istisna’ nya berupa ‫ إل‬, maka I’rab mustasna sebagai
berikut:
Jika berupa kalam tam mujab, maka mustasna beri’rab
nashab, baik berupa istisna’ muttasil atau munqoti’.
Contoh yang berupa istisna’ muttasil: ‫حضخخر الطلب إل زيخخدا‬
(murid-murid hadir kecuali zaid). ‫ زيدا‬i’rabnya nashab
karena kedudukannya sebagai Mustasna dari kalam tam
mujab.
Disebut tam karena Mustasna minhu nya disebutkan (
‫)الطلب‬. Disebut mujab karena tidak didahului oleh nafi
atau yang menyerupai nafi (‫)حضخخر‬. Disebut muttasil
karena Mustasna (‫ ) زيدا‬sejenis dengan Mustasna minhu
(‫)الطلب‬
Contoh berupa istisna’ munqoti’: ‫( حضر الطلب إل كتبهم‬murid-
murid hadir kecuali buku-buku mereka). ‫ كتخخب‬i’rabnya
nashab karena kedudukannya sebagai Mustasna dari
kalam tam mujab.
Disebut tam karena Mustasna minhu nya disebutkan (
‫)الطلب‬. Disebut mujab karena tidak didahului oleh nafi
atau yang menyerupai nafi (‫)حضخخر‬. Disebut munqoti’
karena Mustasna (‫ )كتب‬tidak sejenis dengan Mustasna
minhu (‫)الطلب‬
Jika berupa kalam tam manfi, maka I’rab Mustasna dibagi
menjadi dua:
Jika berupa istisna’ muttasil, maka lebih baik Mustasna
kedudukannya menjadi badal (pengganti) dan I’rabnya
sesuai dengan kalimat yang diganti. Contoh: ‫مخخخخا‬
‫( حضرالطلب إل زيد‬tidak ada yang hadir kecuali zaid). ‫زيد‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
badal (pengganti) dari ‫ الطلب‬yang I’rabnya juga rafa’
karena menjadi fa’il.
Disebut tam karena Mustasna minhu nya disebutkan (
‫)الطلب‬. Disebut manfi karena didahului oleh nafi atau
yang menyerupai nafi (‫)ما حضر‬. Disebut muttasil karena
Mustasna (‫ ) زيدا‬sejenis dengan Mustasna minhu (‫)الطلب‬
Jika berupa istisna’ munqoti’, maka I’rab Mustasna adalah
nashab. Contoh: ‫( حضر الطلب إل كتبهم ما‬murid-murid tidak
ada yang hadir kecuali kitab-kitab mereka). ‫ كتب‬I’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya menjadi
mustatsna berupa tam manfi munqoti’.
Disebut tam karena Mustasna minhu nya disebutkan (
‫)الطلب‬. Disebut manfi karena didahului oleh nafi atau
yang menyerupai nafi (‫)ما حضر‬. Disebut muttasil karena
Mustasna (‫ )كتب‬tidak sejenis dengan Mustasna minhu (
‫)الطلب‬
Jika berupa kalam naqis}, maka adat istisna’ ‫ إل‬tidak
difungsikan. Oleh karena itu I’rab mustatsna adalah sesuai
dengan tuntutan amil.
Contoh: ‫( ما حضر إل زيد‬tidak ada yang hadir kecuali zaid). ‫زيد‬
i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai fa’il
(pelaku) dari fi’il (‫)حضر‬. Sedangkan adat istitsna’ ‫ إل‬tidak
difungsikan. Disebut naqis karena Mustasna minhu tidak
disebutkan.
Contoh lain: ‫( مخخا رأى عفيخخف إل مخخرأة‬afif tidak melihat kecuali
kepada perempuan). ‫ مرأة‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul bih (objek). Sedangkan adat
istitsna’ ‫ إل‬tidak difungsikan. Disebut naqis karena
Mustasna minhu tidak disebutkan
Jika adat istisna’ nya berupa ‫ غيخر‬,‫ سخواء‬,‫ سخوي‬,‫سخوي‬, maka i’rab
Mustasna adalah jer sebagai mud}af ilaih. Contoh: ‫حضر الطلب‬
‫( غير زيد‬murid-murid hadir selain zaid). ‫( زيد‬Mustasna) i’rabnya
adalah jer karena kedudukannya sebagai mud}af ilaih.
jika adat istisna’ nya berupa ‫ ل يكون‬,‫ ليس‬, maka i’rab Mustasna
adalah nashab sebagai khabar dari ‫ ل يكون‬,‫ ليس‬. contoh: ‫حضر‬
‫( الطلب ليسوا زيدا‬murid-murid hadir selain zaid). ‫( زيدا‬Mustasna)

135
i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai khabar
‫ ليس‬.
Jika adat istisna’ nya berupa ‫ خل‬,‫ عدا‬,‫ حاشا‬/ ‫ حاش‬/ ‫ حشا‬, maka i’rab
Mustasna adalah jer sebagai majrur (isim yang dijerkan oleh
huruf jer). Contoh: ‫( حضر الطلب عدا زيد‬murid-murid hadir selain
zaid). ‫( زيد‬Mustasna) i’rabnya adalah jer karena kedudukannya
sebagai majrur (isim yang dijerkan oleh huruf jer)

KETERANGAN
I’rab / mabni adat istisna’ adalah sebagai berikut:
Jika berupa ‫ إل‬, maka hukumnya mabni karena ‫ إل‬adalah huruf .
Jadi selamanya lam berharokat fathah (‫)إل‬
Jika berupa isim (‫ غير‬,‫ سواء‬,‫ سوي‬,‫)سوي‬, maka i’rabnya adalah sama
seperti i’rab Mustasna yang berada setelah adat istisna’ ‫ إل‬.
rinciannya sebagai berikut:
Jika berada pada kalam tam mujab, maka wajib beri’rab
nashab. Contoh: ‫( حضر الطلب غير زيد‬murid-murid hadir selain
zaid). ‫ غير‬i’rabnya nashab karena berupa kalam tam mujab.
Jika berada pada kalam manfi muttasil, maka lebih baik
menjadi badal (pengganti) dan i’rabnya sama dengan
kalimat yang diganti. Contoh: ‫( ما حضخخرالطلب غيخخر زيخخد‬murid-
murid tidak hadir selain zaid). ‫( غير‬sebagai badal) i’rabnya
rafa’ karena berupa kalam manfi muttasil.
Jika berada pada kalam manfi munqoti’, maka lebih baik
beri’rab nashab. Contoh: ‫( حضر الطلب غير كتبهم ما‬murid-murid
tidak hadir selain buku-buku mereka). ‫ غير‬i’rabnya nashab
karena berupa kalam manfi munqoti’.
Jika berada pada kalam naqis, maka i’rabnya sesuai dengan
tuntutan amil. Contoh: ‫( ما رأى عفيف غير مرأة‬afif tidak melihat
selain kepada seorang perempuan). ‫( غير‬sebagai maf’ul
bih) i’rabnya adalah nashab karena berupa kalam naqis.
Khusus adat istisna’ berupa ‫ سواء‬,‫ سوي‬,‫ سوي‬, tanda i’rabnya
adalah seperti isim maqshur, yaitu tanda i’rabanya adalah
dengan harokat yang dikira-kira pada alif.
Jika berupa ‫ خل‬,‫ عخخدا‬,‫ حاشخخا‬/ ‫ حخخاش‬/ ‫ حشخخا‬, maka hukumnya mabni
karena berupa huruf atau fi’il. jadi selamanya keaadaan huruf
akhirnya tetap dan tidak berubah.
Jika adat istisna’ ‫ خل‬,‫ عدا‬,‫ حاشا‬/ ‫ حاش‬/ ‫ حشا‬didahului oleh ‫ما المصدرية‬
(maka menjadi ‫ خل مخخا‬,‫ مخا عخدا‬,‫ مخا حاشخا‬/ ‫ ما حخخاش‬/ ‫)ما حشا‬, maka i’rab
Mustasnanya adalah nashab sebagai maf’ul bih. Contoh: ‫حضخخر‬
‫( الطلب مخخا خل زيخخدا‬murid-murid hadir selain zaid). ‫ زيخخدا‬i’rabnya
adalah nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul bih’

J. ISIM ‫ل‬
Termasuk dari mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca
nashab) adalah isim ‫ ل‬. yang dimaksud dengan ‫ ل‬disini adalah ‫ل‬
‫ لنفخخي الجنخخس‬, yaitu ‫ ل‬berfungsi menghilangkan segala jenis dan
beramal seperti amalnya ‫ إن‬, yaitu menashabkan isimnya dan
merafa’kan khabarnya.
Akan tetapi, ‫ ل‬tersebut bisa beramal seperti amalnya ‫إن‬
(menashabkan isimnya dan merafa’kan khabarnya) dengan
syarat sebagai berikut:
Isim dan khabar ‫ ل‬harus berupa isim nakirah
Isim ‫ ل‬harus berupa mud}af atau yang menyerupai mud}af
Antara ‫ ل‬dan isim ‫ ل‬harus bersambung tanpa ada pemisah
Harus berurutan, yaitu mendahulukan isim ‫ ل‬dan mengakhirkan
khabar ‫ ل‬.
Contohnya adalah: ‫( ل طخخالب مدرسخخة حاضخخر اليخخوم‬tidak ada satupun
murid yang masuk hari ini).
‫ل‬ ‫ ل لنفخخخي الجنخخخس‬: yang beramal seperti amalnya ‫إن‬
(sebagai amil)
‫ طالب‬: isim ‫( ل‬mud}af) : i’rabnya nashab (sebagai ma’mul)
‫ مدرسة‬: mud}af ilaih : i’rabnya jer
‫ حاضر‬: khabar ‫ل‬ : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ طالب‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
isim ‫ ل‬yang beramal seperti amalnya ‫ إن‬. tanda i’rabnya adalah
fathah karena ‫ طالب‬adalah isim mufrad.
‫ ل‬pada contoh ini bisa beramal seperti amalnya ‫ إن‬karena sudah
memenuhi 4 syarat, yaitu:
Isim ‫ )ل )طالب‬dan khabar ‫ )ل )حاضر‬adalah isim nakirah
Isim ‫ ل‬berupa mud}af (‫)طالب‬. Mud}af ilaihnya adalah ‫مدرسة‬
‫ ل‬dan ‫( طالب‬isim ‫ ) ل‬bersambung tanpa ada pemisah: (‫)ل طالب‬
Isim ‫ )ل )طالب‬didahulukan dan khabar ‫ )ل )حاضر‬diakhirkan.
Contoh lain: ‫( ل طالبا العلم مجتمع اليوم‬tidak ada satupun pencari ilmu
yang hadir hari ini).
‫ل‬ ‫ ل لنفي الجنس‬: yang beramal seperti amalnya ‫إن‬
‫ طالبا‬: isim ‫( ل‬menyerupai mud}af) : i’rabnya nashab
‫ العلم‬: maf’ul bih : i’rabnya nashab
‫ مجتمع‬: khabar ‫ل‬ : i’rabnya nashab
‫ ل‬pada contoh ini bisa beramal seperti amalnya ‫ إن‬karena sudah
memenuhi 4 syarat, yaitu:
Isim ‫ )ل )طالبا‬dan khabar ‫ )ل )مجتمع‬adalah isim nakirah
Isim ‫ )ل )طالبا‬berupa susunan yang menyerupai mud}af: ‫طالبا العلم‬
‫ ل‬dan ‫( طالبا‬isim ‫ ) ل‬bersambung tanpa ada pemisah: (‫)ل طالبا‬
Isim ‫ )ل )طالبا‬didahulukan dan khabar ‫ )ل )مجتمع‬diakhirkan.

‫ ل‬Diulang-Ulang
Jika ‫ ل‬tersebut sudah memenuhi 4 syarat diatas, lalu ‫ ل‬tersebut
diulang-ulang (disebut dua kali), maka ‫ ل‬mempunyai dua
keadaan:

137
‫ ل‬tetap beramal seperti amalnya ‫ إن‬, yaitu menashabkan isimnya
dan merafa’kan khabarnya. Contoh: ‫ل طالب مدرسة ول معلم مدرسخخة‬
‫( حاضخخران‬tidak ada satupun murid sekolah dan tidak ada
satupun guru sekolah yang hadir).
‫ طخخالب‬I’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
isim ‫ ل‬yang pertama. ‫ معلخخخم‬I’rabnya juga nashab karena
kedudukannya sebagai isim ‫ ل‬yang kedua. ‫ حاضخخران‬I’rabnya
adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai khabar ‫ ل‬.
‫ ل‬tidak beramal seperti amalnya ‫إن‬. Jadi kalimat isim yang berada
setelah ‫ ل‬beri’rab rafa’ sebagai mubtada’. Contoh: ‫ل طالب مدرسة‬
‫( ول معلم مدرسة حاضران‬tidak ada satupun murid sekolah dan tidak
ada satupun guru sekolah yang hadir).
‫ طخخخالب‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
mubtada’. ‫ معلم‬I’rabnya adalah rafa’ karena athof kepada ‫طالب‬
yang beri’rab rafa’. ‫ حاضخخران‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai khabar mubtada’ .

‫ ل‬Yang Tidak Terpenuhi Salah Satu Syaratnya


Jika salah satu dari empat syarat ini tidak terpenuhi, maka ‫ل‬
tidak lagi beramal seperti amalnya ‫ إن‬, dengan rincian sebagai
berikut:
Jika isim ‫ ل‬berupa mufrad (tidak berupa mud}af atau yang
menyerupai mud}af), maka isim ‫ ل‬harus dimabnikan menurut
tanda nashabnya dan tanpa tanwin. Rinciannya sebagai
berikut:
Jika isim ‫ ل‬berupa isim mufrad / jama’ taksir, maka
dimabnikan dengan tanda fathah tanpa tanwin. Contoh: ‫ل‬
‫( طلب حاضرون اليوم‬tidak ada satupun murid-murid yang hadir
hari ini).
‫ ل‬pada contoh ini tidak beramal seperti amalnya ‫ إن‬karena
isimnya berupa mufrad (‫)طلب‬. Maka isim ‫ ل‬pada contoh ini
dimabnikan menurut tanda nashabnya, yaitu fathah tanpa
tanwin karena ‫ طلب‬adalah jama’ taksir.
Jika isim ‫ ل‬berupa jama’ muannas salim, maka dimabnikan
dengan tanda kasroh tanpa tanwin. Contoh: ‫ل طالبات حاضرات‬
‫( اليوم‬tidak ada satupun murid-murid perempuan yang hadir
hari ini).
‫ ل‬pada contoh ini tidak beramal seperti amalnya ‫ إن‬karena
isimnya berupa mufrad (‫)طالبات‬. Maka isim ‫ ل‬pada contoh ini
dimabnikan menurut tanda nashabnya, yaitu kasroh tanpa
tanwin karena ‫ طالبات‬adalah jama’ muannas salim.
Jika isim ‫ ل‬berupa isim tasniah / jama’ muzakkar salim, maka
dimabnikan dengan tanda ya’ (‫)ي‬. Contoh: ‫ل طالبين حاضران‬
‫( اليوم‬tidak ada satupun dari dua murid laki-laki yang hadir
hari ini)
‫ ل‬pada contoh ini tidak beramal seperti amalnya ‫ إن‬karena
isimnya berupa mufrad (‫)طالبين‬. Maka isim ‫ ل‬pada contoh ini
dimabnikan menurut tanda nashabnya, yaitu ya’ (‫ )ي‬karena
‫ طالبين‬adalah isim tasniah.
Jika isim ‫ ل‬berupa mufrad (tidak berupa mud}af atau yang
menyerupai mud}af) dan diathofi oleh mufrad yang lain, serta
‫ ل‬tersebut diulang-ulang (disebut dua kali), maka isim ‫ ل‬yang
pertama mempunyai dua bacaan, yaitu:
Isim ‫ ل‬yang pertama beri’rab rafa’, lalu isim ‫ ل‬yang kedua
bisa dibaca dua keadaan, yaitu:
Isim ‫ ل‬kedua beri’rab rafa’. Contoh:‫( ل حول ول قوة إل بال‬tidak
ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali milik Allah).
Isim ‫ ل‬pertama i’rabnya rafa’ (‫)حول‬, isim ‫ ل‬yang kedua
i’rabnya juga rafa’ (‫)قوة‬
Isim ‫ ل‬kedua dimabnikan atas tanda nashab (tanpa
tanwin). Contoh: ‫( ل حول ول قوة إل بال‬tidak ada daya dan
tidak ada kekuatan kecuali milik Allah).
Isim ‫ ل‬pertama i’rabnya rafa’ (‫)حخخخول‬, isim ‫ ل‬kedua
dimabnikan atas tanda nashab tanpa tanwin (‫)قوة‬
Isim ‫ ل‬yang pertama dimabnikan atas tanda nashab (tanpa
tanwin), lalu isim ‫ ل‬yang kedua bisa dibaca tiga keadaan,
yaitu:
Isim ‫ ل‬kedua beri’rab rafa’. Contoh: ‫( ل حول ول قوة إل بال‬tidak
ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali milik Allah).
Isim ‫ ل‬pertama dimabnikan atas tanda nashab tanpa
tanwin (‫)حول‬, isim ‫ ل‬kedua beri’rab rafa’ (‫)قوة‬
Isim ‫ ل‬kedua beri’rab nashab. Contoh: ‫ل حخخول ول قخخوة إل بخخال‬
(tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali milik
Allah).
Isim ‫ ل‬pertama dimabnikan atas tanda nashab tanpa
tanwin (‫)حول‬, isim ‫ ل‬kedua beri’rab nashab (‫)قوة‬
Isim ‫ ل‬kedua dimabnikan atas tanda nashab (tanpa
tanwin). Contoh: ‫( ل حول ول قوة إل بال‬tidak ada daya dan
tidak ada kekuatan kecuali milik Allah).
Isim ‫ ل‬pertama dimabnikan atas tanda nashab tanpa
tanwin (‫)حخخخول‬, isim ‫ ل‬kedua dimabnikan atas tanda
nashab tanpa tanwin (‫)قوة‬
Jika isim ‫ ل‬berupa isim ma’rifat (bukan isim nakirah), maka isim ‫ل‬
harus beri’rab rafa’ sebagai mubtada’, dan ‫ ل‬harus di ulang-
ulang (disebut dua kali). Contoh:‫( ل زيد حاضر ول محمد‬tidak ada
satupun zaid yang hadir dan tidak ada satupun muhammad
yang hadir).
‫ حاضخخر‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
mubtada’. ‫ محمخخخد‬i’rabnya juga rafa’ karena kedudukannya
sebagai mubtada’.
139
‫ ل‬pada contoh ini tidak beramal seperti amalnya ‫ إن‬karena
isimnya berupa isim ma’rifat (‫ زيد‬dan ‫)محمد‬, yaitu berupa alam
(nama)
Jika antara ‫ ل‬dan isim ‫ ل‬ada pemisah (tidak bersambung), maka
isim ‫ ل‬harus beri’rab rafa’ sebagai mubtada’, dan ‫ ل‬harus
diulang-ulang (disebut dua kali). Contoh:‫( ل لنا مال ول لنا جاه‬kami
tidak memiliki harta apapun dan tidak memiliki kedudukan
apapun).
‫ مخخخال‬i’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
mubtada. ‫ جخخخاه‬i’rabnya juga rafa’ karena kedudukannya
sebagai mubtada’.
‫ ل‬pada contoh ini tidak beramal seperti amalnya ‫ إن‬karena
antara ‫ ل‬dan isim ‫ ل‬ada pemisah (‫)لنا‬

K. MUNADA
Termasuk mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca nashab)
adalah munada. Secara istilah, munada adalah isim yang berada
setelah huruf nida’, dan statusnya adalah sebagai orang /
sesuatu yang dipanggil. Contoh:‫( يا عبد ال‬wahai hamba Allah)
‫يا‬ : huruf nida’ (sebagai amil)
‫ عبد‬: munada (sebagai mud}af) : i’rabnya nashab (sebagai
ma’mul)
‫ ال‬: mud}af ilaih : I’rabnya jer
Jadi, ‫ عبد‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
munada, yaitu sebagai orang yang dipanggil. Tanda nashabnya
adalah fathah karena ‫ عبد‬adalah isim mufrad.

Huruf Nida’
Huruf nida’ adalah huruf yang berfungsi untuk memanggil. Ada 7
huruf nida’, yang dibagi menjadi 3 macam:
‫ أ‬dan ‫( أي‬wahai) : digunakan untuk munada yang dekat
‫ أيا‬,‫ هيا‬,‫( ا‬wahai) : digunakan untuk munada yang jauh
‫ وا‬dan ‫( يخخا‬wahai) : digunakan untuk munada yang dekat /
sedang / jauh

Macam Macam Munada


Munada itu dibagi menjadi 5 macam, yaitu:
Munada mufrad alam. Yaitu munada yang berupa mufrad (bukan
mud}af atau yang menyerupai mud}af) dan berupa isim
ma’rifat yang isim alam (nama). Maka hukumnya adalah
munada harus dimabnikan atas tanda rafa’ tanpa tanwin.
Rinciannya sebagai berikut:
Jika berupa dari isim mufrad / jamak taksir / jama’ muannas
salim, maka dimabnikan dommah tanpa tanwin. Contoh: ‫يا‬
‫( زيد‬wahai zaid). Jadi, ‫ زيد‬hukumnya adalah dimabnikan
dlommah karena berupa munada mufrad alam yang isim
mufrad.
Jika berupa isim tasniyah, maka dimabnikan alif ( ‫) ا‬. Contoh:‫يا‬
‫( زيخخخدان‬wahai dua zaid). Jadi, ‫ زيخخخدان‬hukumnya adalah
dimabnikan alif karena berupa munada mufrad alam yang
isim tasniyah..
Jika berupa jama’ muzakkar salim, maka dimabnikan wawu ( ‫و‬
). Contoh:‫( يخخخا زيخخخدون‬wahai beberapa zaid). Jadi, ‫زيخخخدون‬
hukumnya adalah dimabnikan wawu karena berupa
munada mufrad alam yang jama’ muzakkar salim.
Munada mufrad nakirah maqsudah. Yaitu munada yang berupa
mufrad (bukan mud}af atau yang menyerupai mulof), yang
berupa isim nakirah, yang ditentukan oleh orang yang
memanggil.
Hukumnya adalah munada harus dimabnikan atas tanda rafa’
tanpa tanwin. Rinciannya sebagai berikut
Jika berupa dari isim mufrad / jamak taksir / jama’ muannas
salim, maka dimabnikan dommah tanpa tanwin. Seperti
panggilan kepada orang yang ada didepannya. contoh: ‫يخخا‬
‫( رجخخل تعخخال‬wahai seorang laki-laki, kemarilah!). jadi, ‫رجخخل‬
hukumnya adalah dimabnikan dlommah karena berupa
munada mufrad nakirah maqsudah yang isim mufrad.
Jika berupa isim tasniyah, maka dimabnikan alif ( ‫) ا‬. Contoh:‫يا‬
‫( رجلن تعخخال‬wahai dua orang laki-laki, kemarilah!). jadi,
‫ رجلن‬hukumnya adalah dimabnikan alif karena berupa
munada mufrad nakirah maqsudah yang isim tasniah.
Jika berupa jama’ muzakkar salim, maka dimabnikan wawu ( ‫و‬
). Contoh:‫( يخخخا مسخخخلمون تعخخخال‬wahai orang-orang muslim,
kemarilah!). jadi, ‫ مسخخخلمون‬hukimnya adalah dimabnikan
wawu karena berupa mufrad nakirah maqsudah yang jama’
muzakkar salim.
Munada nakirah ghoiru maqsudah. Yaitu munada yang berupa
(bukan mud}af atau yang menyerupai mud}af), yang berupa
isim nakirah yang tidak ditentukan oleh orang yang
memanggil.
Hukumnya adalah munada harus beri’rab nashab. Seperti
panggilan kepada orang yang ada disekelilingnya. Contoh:‫يا‬
‫( رجل خخخذي بيخخدي‬wahai seorang laki-laki, tuntunlah aku). Jadi,
‫ رجل‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
munada berupa nakirah ghoiru maqsudah.
Munada mud}af. Yaitu munadla yang berupa susunan mud}af
dan mud}af ilaih. Maka hukumnya adalah munada harus
beri’rab nashab. Contoh:‫( يا طالب الحب‬wahai pencari cinta). Jadi,
‫ طخخالب‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
munada mud}af. ‫ طخخخالب‬adalah mud}af dan ‫ الحخخخب‬adalah
mud}af ilaih.
Munada syibhul mud}af. Yaitu munada yang berupa kalimat isim
yang menyerupai susunan mud}af dan mud}af ilaih. Maka

141
hukumnya adalah munada harus beri’rab nashab. Contoh:‫يخخا‬
‫( راغبا في العلم‬wahai orang yang senang kepada ilmu). Jadi, ‫راغبا‬
i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
munada berupa syibhul mud}af / menyerupai mud}af (‫راغبا في‬
‫)العلم‬.

KETERANGAN
Jika munada didahului oleh ‫ ال‬, maka munada tersebut harus
didahului oleh:
‫ أيها‬, jika munada berupa isim muzakkar . Contoh: ‫( يا أيها المدثر‬wahai
orang yang berselimut). ‫ المدثر‬adalah munada yang didahului ‫ ال‬,
maka didahului oleh ‫ أيها‬karena ‫ المدثر‬adalah munada berupa isim
muzakkar.
‫ أيتها‬, jika munada berupa isim muannas. Contoh:‫يا أيتها النفخخس المطمئنخخة‬
(wahai jiwa yang tenang). ‫ النفس‬adalah munada yang didahului
oleh ‫ ال‬, maka didahului oleh ‫ أيتها‬karena ‫ النفس‬adalah munada
berupa isim muannas.

L. MAF’UL LIAJLIH
Ciri-Ciri Maf’ul Liajlih
Cocok bermakna “karena”
Sebagai alasan terjadinya pekerjaan
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Berupa masdar qalbi (pekerjaan hati)
Contoh: ‫( الخخخ مرضخخخات ابتغخخخاء أمخخخوالهم ينفقخخخون‬mereka menafkahkan
hartanya karena mengharap ridlo Allah)

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’ (isim-isim yang dibaca nashab)
maf’ul liajlih. Secara istilah, maf’ul liajlih adalah isim masdar
yang dibaca nashab yang berfungsi untuk menjelaskan sebab /
alasan suatu pekerjaan yang dilakukan sebelumnya.

Syarat Maf’ul Liajlih Bisa Beri’rab Nashab


Maf’ul liajlih harus beri’rab nashab jika memenuhi 5 syarat, yaitu:
Harus berupa isim masdar.
Harus berupa masdar qalbi (yaitu masdar yang menunjukkan
pekerjaan hati, jiwa atau perasaan).
Masdar qalbi dan fi’ilnya (sebagai amil) dilakukan dalam waktu
yang sama.
Masdar qalbi dan fi’ilnya (sebagai amil) mempunyai fa’il (pelaku)
yang sama.
Masdar qalbi yang sama waktu dan pelakunya dengan fi’il ini,
harus merupakan suatu alasan terjadinya suatu pekerjaan
yang dilakukan.
Contoh maf’ul liajlih yang memenuhi syarat adalah: ‫ينفقون أموالهم‬
‫( ابتغخخخخخاء مرضخخخخخات الخخخخخ‬mereka menafkahkan hartanya karena
mengharap ridlo Allah).
‫ ينفقون‬: fi’il mud}ari’ (sebagai amil)
‫ ابتغاء‬: maf’ul liajlih (sebagai ma’mul) : i’rabnya nashab
‫هم‬ : fa’il berupa d}amir yang tersimpan dalam lafaz
‫ينفقون‬
Jadi, ‫ ابتغاء‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
maf’ul liajlih. Tanda i’rabnya adalah fathah karena ‫ ابتغاء‬adalah
isim mufrad.
Lafaz ‫ ابتغاء‬sebagai maf’ul liajlih ini beri’rab nahsob karena telah
memenuhi 5 syarat, yaitu:
‫ ابتغاء‬adalah isim masdar. Fi’il mad}inya adalah ‫ ابتغي‬.
‫( ابتغاء‬mengharap) adalah pekerjaan hati (masdar qalbi)
‫( ابتغاء‬mengharap; sebagai masdar qalbi) dan ‫( ينفقون‬menafkahkan;
sebagai fi’il / amil) dilakukan dalam waktu yang sama. Artinya,
ketika mereka menafkahkan hartanya, ketika itu pula mereka
mengharap ridlo Allah.
‫( ابتغاء‬mengharap; sebagai masdar qalbi) dan ‫( ينفقون‬menafkahkan;
sebagai fi’il / amil) mempunyai fa’il (pelaku) yang sama, yaitu
mereka. Artinya, orang yang menafkahkan hartanya adalah
mereka. Orang yang berharap ridlo Allah juga mereka.
‫( ابتغاء‬mengharap; sebagai masdar qalbi) itu adalah alasan dari
‫( ينفقخخخون‬menafkahkan; sebagai fi’il / amil). Artinya, alasan
mereka menafkahkan hartanya adalah karena mengharap
ridlo Allah.

Maf’ul Liajlih Yang Tidak Memenuhi Syarat


Jika ada isim masdar (memenuhi syarat ke-1) yang menjelaskan
alasan dari suatu pekerjaan yang dilakukan (memenuhi syarat
ke-5), akan tetapi tidak memenuhi salah satu syarat yang lain,
maka isim masdar tersebut harus dii’rab jer dengan huruf jer
yang berfaidah ta’lil (sebagai alasan, seperti ‫ ل‬,‫ من‬,‫) في‬. Contoh:
Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-2, yaitu masdar bukan
masdar qalbi: ‫( جئت للكخخل‬saya datang karena untuk makan).
Jadi, ‫ أكخخل‬dijerkan dengan huruf jer (‫ )ل‬karena ‫ أكخخل‬bukan
pekerjaan hati, melainkan pekerjaan tubuh yang tampak.
Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-3, yaitu masdar dan
fi’ilnya dilakukan dalam waktu yang tidak sama:‫ذهب مجيد لطلب‬
‫( العلم غدا‬majid telah pergi karena untuk mencari ilmu besok).
Jadi, ‫ طلب‬dijerkan dengan huruf jer (‫ )ل‬karena ‫( طلب‬masdar)
dan ‫( ذهب‬fi’il) dilakukan dalam waktu yang tidak sama. ‫ذهب‬
(pergi; sebagai fi’il / amil) dilakukan pada waktu lampau /
mad}i. Sedangkan ‫( طلب‬mencari; sebagai fi’il / amil) dilakukan
pada waktu yang yang akan datang / istiqbal, yaitu besok (‫غدا‬
)
Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-4, yaitu masdar dan
fi’ilnya tidak mempunyai fa’il (pelaku) yang sama:‫أحببتك لتعظيمك‬

143
‫( الستاذ‬saya suka padamu karena kamu memulyakan ustadz).
Jadi, ‫ تعظيم‬dijerkan dengan huruf jer ( ‫ ) ل‬karena ‫( تعظيم‬masdar)
dan ‫( أحب‬fi’il) tidak mempunyai fa’il yang sama. Pelaku dari
‫( أحخخب‬suka; sebagai masdar) adalah saya ( ‫) ت‬. Sedangkan
pelaku dari ‫( تعظيخخم‬memulyakan; sebagai fi’il / amil) adalah
kamu ( ‫) ك‬

M. MAF’UL MA’AH
Ciri-Ciri Maf’ul Ma’ah
Cocok bermakna “bersama”
Berada setelah wawu ma’ah (wawu yang bermakna bersama)
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Contoh: ‫( والجيخخش الميخخر جخخاء‬pemimpin itu datang bersama bala
tentaranya)

Penjelasan
Termasuk dari mansubat al-asma’ adalah maf’ul ma’ah. Secara
istilah, maf’ul ma’ah adalah isim yang dibaca nashab yang
berada setelah wawu ma’iyah (yaitu ‫ و‬yang menunjukkan arti
bersama).

Syarat-Syarat Maf’ul Ma’ah


Kalimat isim yang berada setelah wawu ( ‫ ) و‬itu harus
dinashabkan sebagai maf’ul ma’ah jika memenuhi 3 syarat,
yaitu:
Kalimat isim yang berada setelah wawu ( ‫ ) و‬itu harus merupakan
fudlah (yaitu kalimat tambahan, yang mana susunan kalimat
sudah dianggap sah / lengkap pengertiannya meskipun tanpa
adanya kalimat tambahan tersebut)
Sebelum wawu ( ‫ ) و‬harus berupa jumlah, baik jumlahFi’liyah
(susunan fi’il dan fa’il) atau jumlahismiyah (susunan mubtada’
khabar).
Wawu ( ‫ ) و‬yang berada sebelum kalimat isim itu harus
bermakna ‫( مع‬bersama).
Contoh maf’ul ma’ah yang sudah memenuhi 3 syarat adalah: ‫جاء‬
‫( المير والجيش‬raja itu datang bersama prajurit).
‫جاء‬ : fi’il mad}i (sebagai amil) : mabni fathah
‫ المير‬: fa’il : i’rabnya rafa’
‫و‬ : wawu ma’iyah : mabni
‫ الجيش‬: maf’ul ma’ah (sebagai ma’mul) : i’rabnya nashab
Jadi, ‫ الجيش‬i’rabnya adalah nashab karena kedudukannya sebagai
maf’ul ma’ah. Tanda i’rabnya adalah fathah karena ‫ الجيش‬adalah
isim mufrad.
Lafaz ‫ الجيش‬beri’rab nashab sebagai maf’ul ma’ah karena telah
memenuhi 3 syarat diatas, yaitu:
‫( الجيش‬prajurit) adalah fudlah. Artinya, tanpa lafaz fudlah tersebut
(‫)الجيش‬, susunan ‫( جاء المير‬raja itu datang) sudah mempunyai
pengertian yang lengkap. Jadi, ketika ada perkataan ‫جاء المير‬
(raja itu datang), maka perkataan ini sudah mempunyai
pengertian yang lengkap, yaitu bahwa raja telah datang.
Sedangkan ‫( الجيش‬lafaz fudlah) hanya sebagai tambahan saja.
Sebelum wawu (‫ ) و‬adalah berupa jumlahFi’liyah, yaitu susunan
fi’il (‫ )جاء‬dan fa’il (‫)المير‬
Wawu (‫ ) و‬bermakna ‫( مخخع‬bersama). Pada contoh diatas, raja
datang bersama prajurit.

Contoh Yang Tidak Memenuhi Syarat


Jika salah satu dari 3 syarat tersebut tidak terpenuhi, maka isim
yang berada setelah wawu (‫ ) و‬itu tidak beri’rab nashab sebagai
maf’ul ma’ah. Contoh:
Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-1, yaitu ketika isim yang
berada setelah wawu (‫ ) و‬itu bukan fudlah, tapi umdah (yaitu
kalimat pokok yang harus ada dalam suatu susunan kalimat,
dan susunan kalimat itu tidak lengkap pengertiannya tanpa
adanya kalimat pokok tersebut): ‫( يتضخخارب زيخخد و سخخعيد‬zaid dan
sa’id saling memukul).
‫ سخخعيد‬i’rabnya adalah rafa’ karena athof kepada isim yang
dibaca rafa’, yaitu ‫زيخخد‬. Lafaz ‫ سخخعيد‬tidak beri’rab nashab
sebagai maf’ul ma’ah karena ‫ سخخعيد‬adalah umdah (kalimat
pokok). Artinya, tanpa ada lafaz ‫ سخخعيد‬itu, maka susunan
kalimat ‫( يتضخخخارب زيخخخد‬zaid saling memukul) tidak memiliki
pengertian yang lengkap, karena ‫( يتضارب‬saling memukul) itu
seharusnya mempunyai dua pelaku yang saling memukul.
Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-2, yaitu ketika sebelum
wawu (‫ ) و‬bukan jumlah, tapi mufrad:‫زيخخد و نجيخخب يقصخخران الصخخلة‬
(zaid dan najib sedang mengqasar / meringkas sholat).
‫ نجيخخب‬i’rabnya adalah rafa’ karena athof kepada isim yang
dibaca rafa’, yaitu ‫ زيخخد‬. lafaz ‫ نجيخخب‬tidak beri’rab nashab
sebagai maf’ul ma’ah karena sebelum wawu (‫ ) و‬bukan
jumlah, tapi mufrad (‫)زيد‬
Contoh yang tidak memenuhi syarat ke-3, yaitu ketika wawu (‫) و‬
tidak bermakna ‫( مع‬bersama): ‫( جاء زيد وبرهان بعده‬zaid datang dan
burhan datang setelahnya).
‫ برهخخان‬i’rabnya adalah rafa’ karena athaf kepada isim yang
dibaca rafa’, yaitu ‫ زيخخد‬. lafaz ‫ برهخخان‬tidak beri’rab nashab
sebagai maf’ul ma’ah karena wawu (‫ ) و‬pada contoh ini tidak
bermakna ‫( مخخع‬bersama), karena ‫ برهخخان‬dan ‫ زيخخد‬tidak datang
bersamaan. ‫ زيد‬datang terlebih dahulu, kemudian ‫ برهان‬datang
setelah ‫ زيد‬.

KETERANGAN

145
Amil yang menashabkan maf’ul ma’ah adalah:
Berupa fi’il yang berada sebelum maf’ul ma’ah. Contoh: ‫جاء الميخخر‬
‫( والجيش‬raja itu datang bersama prajurit). ‫ الجيش‬i’rabnya adalah
nashab karena kedudukannya sebagai maf’ul ma’ah. Amil yang
menashabkan ‫ الجيخخش‬sebagai maf’ul ma’ah adalah ‫( جخخاء‬berupa
fi’il)
Berupa isim yang menyerupai fi’il (isim masdar, isim fa’il, isim
maf’ul, sifat mushabihat, S}ighat mubalaghah), yang berada
sebelum maf’ul ma’ah. Contoh: ‫( أنخخخا حخخخاج و زيخخخدا‬saya berhaji
bersama zaid). ‫ زيخخخخخدا‬i’rabnya adalah nashab karena
kedudukannya sebagai maf’ul ma’ah. Amil yang menashabkan
‫ زيدا‬sebagai maf’ul ma’ah adalah ‫( حاج‬berupa isim fa’il) .

N. ISIM YANG IKUT PADA ISIM YANG DIBACA NASHAB


(TAWABI’)
Tawabi’ ada 4 macam, yaitu na’at, athof, taukid, dan badal.
Penjelasan lebih rinci dibahas pada pembahasan Tawabi’.
Contoh: ‫( رأيت زيدا النشيط‬saya melihat zaid yang rajin).
‫زيدا‬ : i’rabnya nashab sebagai maf’ul bih
‫ النشيط‬: i’rabnya nashab karena ikut pada ‫ زيدا‬yang i’rabnya
nashab

Tabel mansubat al-asma’:

N MANSUBAT CONTOH
CIRI-CIRI
O AL-ASMA’
Asalnya adalah
mubtada’dan khabar, lalu ‫ظن زيد الماء مستعمل‬
Dua maf’ul ‫ظن‬ ada amil nawasikh berupa
(zaid
1 dan saudara- ‫ ظن‬dan saudara-saudaranya
saudaranya menyangka air
(,‫ جعل‬,‫ زعم‬,‫ علم‬,‫ رأى‬,‫ خال‬,‫حسب‬
itu musta’mal)
,‫ درى‬,‫ ألفى‬,‫ وجد‬,‫ هب‬,‫ عد‬,‫حجا‬
‫ وهب‬,‫ صير‬,‫ رد‬,‫ اتخذ‬,‫ جعل‬,‫)تعلم‬
Asalnya adalah khabar
mubtada’, lalu ada amil ‫كانت صلة الستسقاء‬
Khabar ‫ كان‬dan nawasikh berupa ‫ كان‬dan
Saudara- ‫( مسنونة‬sholat
2 saudara-saudaranya (,‫أضحى‬
Saudaranya minta hujan itu
,‫ ليس‬,‫ صار‬,‫ أصبح‬,‫ أمسى‬,‫ بات‬,‫ظل‬ disunnahkan)
‫ ما‬,‫ ما برح‬,‫ ما زال‬,‫ ما انفك‬,‫ما فتئ‬
‫)دام‬
3 Isim ‫ إن‬dan Asalnya adalah mubtada’, ‫إن الستنجاء واجب‬
saudara- lalu ada amil nawasikh (sesungguhnya
saudaranya berupa ‫ إن‬dan saudara- beristinja’ itu
saudaranya (,‫ كأن‬,‫ لعل‬,‫ليت‬
‫)لكن‬ wajib)

Cocok bermakna “kepada”


Sebagai objek dari
‫النسان خلقنا لقد‬
pekerjaannya fa’il
Maf’ul Bih
Berada setelah fi’il (sungguh kami
4 (objek) menciptakan
muta’addi
Berupa isim zahir / d}amir / manusia)
fi’il yang di dahului ‫ أن‬/
kata yang didahului ‫أن‬
Cocok bermakna “dengan”
Berupa isim masdar
Berada setelah sempurna ‫شقا الرض شققنا ثم‬
jumlah (sebagai (kemudian kami
pelengkap) memecah bumi
Masdar / Maf’ul Sebagai penegas / penjelas dengan benar-
5
mutlaq macam pekerjaan / benar
penjelas hitungan memecah)
pekerjaan
Didahului oleh amil (fi’il dll)
yang sama arti / bentuk
dengan isim masdar
Cocok bermakna “ dalam
keadaan”
Sebagai penjelas keadaan ‫مؤمنا بيتي دخل لمن‬
dari sahibul hal (bagi orang
Berada setelah sempurna yang masuk ke
6 Haal (keadaan) jumlah (sebagai rumahku dalam
pelengkap)
keadaan
Biasanya berupa sifat (isim
fa’il / isim maf’ul / sifat beriman)
musyabihat)
Berupa isim nakirah
Cocok bermakna “apanya”
Sebagai penjelas dari
kalimat yang samar pada
kalimat sebelumnya ‫تأويل أحسن و خير‬
Berada setelah sempurna ‫( ذلك‬hal itu lebih
jumlah (sebagai baik dan lebih
7 Tamyiz
pelengkap)
bagus
Berupa isim masdar / isim
jamid penafsirannya)
Biasanya berada setelah
isim tafdlil atau setelah
bilangan 11 – 99
8 Zaraf Cocok bermakna “di” / “di ‫يوما لبثت قال‬
(keterangan dalam” / “pada” (salah satu
waktu / Menjelaskan keterangan
penghuni gua
tempat) waktu / tempat
Berada setelah sempurna itu berkata,

147
jumlah (sebagai saya tinggal
pelengkap) selama satu
hari)

Berada setelah adat ‫إبليس إل فسجدوا‬


istisna’ (kemudian para
Mustasna Sebagai kalimat yang
9 (yang malaikat itu
dikecualikan
dikecualikan) sujud kecuali
iblis

‫ ل‬tersebut bisa beramal


seperti amalnya ‫إن‬
(menashabkan isimnya dan
merafa’kan khabarnya)
dengan syarat sebagai
berikut:
Isim dan khabar ‫ ل‬harus ‫ل طالب مدرسة‬
berupa isim nakirah ‫( حاضر اليوم‬tidak
Isim ‫ ل‬harus berupa mud}af ada satupun
10 Isim ‫ل‬ atau yang menyerupai murid yang
mud}af
masuk hari ini).
Antara ‫ ل‬dan isim ‫ ل‬harus
bersambung tanpa ada
pemisah
Harus berurutan, yaitu
mendahulukan isim ‫ل‬
dan mengakhirkan
khabar ‫ل‬
Isim yang berada setelah
huruf nida’, dan statusnya ‫( يا عبد ال‬wahai
11 Munada hamba Allah)
adalah sebagai orang /
sesuatu yang dipanggil
Cocok bermakna “karena” ‫أموالهم ينفقون‬
Sebagai alasan terjadinya ‫مرضات‬ ‫ال‬
pekerjaan
Berada setelah sempurna ‫( ابتغاء‬mereka
jumlah (sebagai menafkahkan
12 Maf’ul Liajlih hartanya
pelengkap)
Berupa masdar qalbi karena
(pekerjaan hati) mengharap
ridlo Allah)

13 Maf’ul Ma’ah Cocok bermakna “bersama” ‫والجيس المير جاء‬


Berada setelah wawu ma’ah (pemimpin itu
(wawu yang bermakna datang
bersama) bersama bala
Berada setelah sempurna tentaranya)
jumlah (sebagai
pelengkap)

Dijelaskan pada bab tawabi’ ‫رأيت زيدا النشيط‬


14 Tawabi’ (saya melihat
zaid yang rajin)

MAHFUD{AT AL-ASMA’ (ISIM-ISIM YANG BERI’RAB JER)

Yang dimaksud dengan mahfud}at al-asma’ adalah kalimat isim


yang keadaannya beri’rab jer. Jadi jika ada kalimat isim yang
kedudukannya menjadi salah satu dari mahfud}at al-asma’ ini,
maka kalimat isim tersebut pasti beri’rab jer. Mahfud}at al-asma’
ada 2 macam, yaitu: 1) isim yang dijerkan oleh huruf jer. 2) mud}af
ilaih. 3) isim yang ikut pada isim yang dibaca jer (Tawabi’)
Contoh: ‫( أركخخان الصخخلة ثمانيخخة عشخخر ركنخخا‬rukun-rukun islam itu ada 18
rukun). Lafaz ‫ الصلة‬beri’rab jer karena kedudukannya menjadi salah
satu dari mahfud}at al-asma’ , yaitu menjadi mud}af ilaih. Kalimat
isim yang kedudukannya menjadi mud}af ilaih, maka kalimat isim
tersebut pasti beri’rab rafa’. ‫ الصلة‬adalah isim mufrad, maka tanda
i’rab jernya adalah kasroh (lihat penjelasan tentang tanda-tanda

149
i’rab). Maka cara membacanya ‫ الصلة‬, huruf akhirnya berharokat
kasrah ( ‫) ة‬.
Rincian 3 macam marfuat al-asma’, sebagaimana berikut:

ISIM YANG DIJERKAN OLEH HURUF JER


Termasuk dari mahfud}at al-asma’ (isim-isim yang dibaca jer)
adalah isim yang dijerkan oleh huruf jer. Jadi, isim tersebut
dibaca jer karena didahului oleh huruf jer. Contoh: ‫طهارة العضاء من‬
‫( الحدث‬sucinya anggota badan dari hadas).
‫من‬ : huruf jer (sebagai amil)
‫ الحدث‬: isim yang dijerkan oleh huruf jer (sebagai ma’mul)
Jadi, ‫ الحدث‬i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu
‫ مخخن‬. tanda i’rab jernya adalah kasroh karena ‫ الحخخدث‬adalah isim
mufrad.
Huruf jer adalah huruf yang memerintah kalimat isim yang
berada setelahnya untuk beri’rab jer. Huruf jer ada lima belas,
yaitu:
‫( من‬dari / sebagian dari / sebagai ganti dari / berupa/ di / sebab
dari / tentang). Contoh: ‫( عند القيام من النوم‬ketika bangun dari tidur).
‫ النوم‬i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu ‫من‬
(dari)
‫( إلى‬hingga / beserta). Contoh:‫( إلى غروب الشمس‬hingga terbenamnya
matahari). ‫ غخخروب‬i’rabnya adalah jer karena didahului oleh
huruf jer, yaitu ‫( إلى‬hingga)
‫( ب‬bertemu dengan / dengan / sebab / kepada / di / beserta /
sebagian dari / tentang / atas ). Contoh:‫وجخخود العخخذر بسخخفر او مخخرض‬
(adanya udzur / halangan sebab perjalanan atau sakit). ‫سخخفر‬
i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu ‫ب‬
(sebab)
‫( ك‬seperti / karena / pada). Contoh:‫التعلخخم فخخي الصخخغر كخخالنقش علخخى الحجخخر‬
(belajar di waktu kecil seperti mengukir di atas batu). ‫النقخخش‬
i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu ‫ك‬
(seperti)
‫( فخخخي‬di / pada / di dalam / sebab / bersama / di atas /
dibandingkan / pada). Contoh:‫( ويجتنخخخب البخخخول فخخخي المخخخاء الراكخخخد‬dan
menghindari berkencing di air yang tidak mengalir). ‫المخخخاء‬
i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu ‫فخي‬
(di).
‫( ل‬milik / bagi/ kepada / untuk / hingga / atas / pada). Contoh:
‫( ولخخدخول مكخخة‬dan untuk masuk kota mekkah). ‫ دخخخول‬i’rabnya
adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu ‫( ل‬untuk)
‫( عخخن‬melewati / setelah / terhadap / untuk / dari / ganti dari).
Contoh: ‫( ول يعفى عن شيئ من النجاسات إل اليسخير النخوم‬dan tidak dima’fu dari
sesuatu berupa benda-benda najis kecuali yang sedikit ). ‫شيئ‬
i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu ‫عن‬
(dari)
‫( على‬diatas / di dalam / sebab / beserta / dari / dengan / meskipun
demikian). Contoh:‫( والنخخوم علخخى غيخخر هيئة المتمكخخن‬dan tidur dari selain
keadaannya orang yang duduknya tenang). ‫ غيخخخر‬i’rabnya
adalah jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu (dari).
‫ واو قسم )و‬yang menunjukkan makna sumpah; demi). Contoh:‫والعصر‬
(demi masa) ‫ العصخخر‬i’rabnya adalah jer karena didahului oleh
huruf jer, yaitu ‫( و‬demi)
‫ تخخاء قسخخم )ت‬yang menunjukkan makna sumpah; demi). Contoh:‫تخخال‬
‫( لكيخخخدن أصخخخنامكم‬demi Allah, saya akan melakukan tipu daya
kepada berhala-berhala kalian). ‫ ال‬i’rabnya adalah jer karena
didahului oleh huruf jer, yaitu ‫( ت‬demi)
‫ باء قسم )ب‬yang menunjukkan makna sumpah; demi). Contoh:‫أقسم بال‬
(saya bersumpah demi Allah). ‫ ال خ‬i’rabnya adalah jer karena
didahului oleh huruf jer, yaitu ‫( ب‬demi)
‫( مخخخذ‬sejak / di / pada). Contoh:‫( مخخخا رأيتخخخك مخخخذ يخخخوم الجمعخخخة‬saya tidak
melihatmu sejak hari jum’at). ‫ يوم‬i’rabnya adalah jer karena
didahului oleh huruf jer, yaitu ‫( مذ‬sejak)
‫( منخخذ‬sejak / di / pada). Contoh: ‫( مخخا رأيتخخك منخخذ يخخوم الجمعخخة‬saya tidak
melihatmu sejak hari jum’at). ‫ يوم‬i’rabnya adalah jer karena
didahului oleh huruf jer, yaitu ‫( منذ‬sejak)
‫( رب‬sedikit / banyak). Contoh:‫( أل رب مولخخخود فليخخخس لخخخه أب‬perhatikan,
sedikit anak yang tidak mempunya ayah). ‫ مولود‬i’rabnya adalah
jer karena didahului oleh huruf jer, yaitu ‫( رب‬sedikit)
‫ واو رب )و‬yang menunjukkan makna ‫ ; رب‬sedikit / banyak). Contoh:
‫( و قائم العماق خاوي المخترقن‬dan banyak jalan yang hitam dan gelap
karena debu yang berterbangan yang sunyi jalan luasnya (dari
lalu lalang)). ‫ قائم‬i’rabnya adalah jer karena didahului oleh huruf
jer, yaitu (banyak). Asalnya adalah ‫قائم العماق رب‬

MUD}AF ILAIH
Termasuk dari mahfud}at al-asma’ (isim-isim yang dibaca jer)
adalah mud}af ilaih. Secara istilah, mud}af ilaih adalah isim yang
berada setelah mud}af.
Mud}af adalah isim yang disandarkan kepada isim yang berada
setelahnya. Mud}af ilaih adalah isim yang disandari oleh mud}af.
Sedangkan susunan mud}af dan mud}af ilaih disebut id}afah.
Contoh: ‫( وشرائط التيمم خمسة أشياء‬syarat-syarat tayammum ada lima
hal)
‫ وشرائط‬: mud}af (sebagai amil) : i’rabnya sesuai
tuntutan amil
‫ التيمم‬:mud}af ilaih (sebagai ma’mul) : i’rabnya jer
‫( وشخخرائط‬mud}af) i’rabnya adalah sesuai dengan tuntutan amil.
Pada contoh ini kedudukannya sebagai mubtada’ karena berada
dipermulaan perkataan, amilnya adalah amil ma’nawi ibtida’i
(amil yang tidak tampak yang berada dipermulaan perkataan).
Maka ‫ وشرائط‬i’rabnya adalah rafa’ karena menjadi mubtada’.
‫ التيمم‬i’rabnya adalah jer karena kedudukannya sebagai mud}af
ilaih. Tanda i’rab jernya adalah kasroh karena ‫ التيمم‬adalah isim
mufrad. Disebut mud}af ilaih karena lafaz ‫( الخختيمم‬mud}af ilaih)
berada setelah ‫( وشرائط‬mud}af). Jadi, susunan ‫( وشرائط التيمم‬syarat-
syarat tayammum) disebut id}afah.

151
Susunan mud}af dan mud}af ilaih tidak hanya terdiri dari dua
kalimat seperti contoh diatas ‫ وشرائط الخختيمم‬, tapi susunan mud}af
dan mud}af ilaih bisa lebih dari dua kalimat, contoh: ‫غسل جميع‬
‫( الرأس‬membasuh semua bagian kepala).
‫ غسل‬: mud}af : i’rabnya sesuai tuntutan
amil
‫ جميع‬: mud}af ilaih / juga sebagai mud}af : i’rabnya jer
‫ الرأس‬: mud}af ilaih : i’rabnya jer
‫ جميع‬i’rabnya jer karena kedudukannya sebagai mud}af ilaih, dan
juga menjadi mud}af. ‫ الخخخخرأس‬i’rabnya adalah jer karena
kedudukannya sebagai mud}af ilaih.

Perkiraan Huruf Jer Antara Mud}af Dan Mud}af Ilaih


Antara mud}af dan mud}af ilaih, mengira-ngira huruf jer, yaitu:
Mengira-ngira huruf jer ‫( في‬di / pada), yaitu ketika mud}af ilaih
merupakan tempat / waktu dari mud}af. Contoh:‫يا صاحبي السجن‬
(wahai dua penghuni penjara). ‫ السخخجن‬i’rabnya adalah jer
karena kedudukannya sebagai mud}af ilaih. Antara ‫صخخاحبي‬
(mud}af) dan ‫السجن‬ (mud}af ilaih) mengira-ngira huruf jer ‫في‬
(di), karena ‫السجن‬ (penjara) adalah tempat dari ‫( صاحبي‬dua
penghuni). Jadi, penjara adalah tempat dua penghuni. Ketika
ditampakkan menjadi ‫(يا صاحبين فخي السخجن‬wahai dua penghuni
didalam penjara)
Mengira-ngira huruf jer ‫( ل‬bagi / milik), yaitu ketika mud}af
adalah milik dari mud}af ilaih. Contoh: ‫أركان السلم ثمانية عشر ركنا‬
(rukun-rukun islam ada). ‫ السخخلم‬i’rabnya adalah jer karena
kedudukannya sebagai mud}af ilaih. Antara ‫( أركخخان‬mud}af)
dan ‫( السخخلم‬mud}af ilaih) mengira-ngira huruf jer ‫( ل‬bagi /
milik), karena ‫( أركخخان‬rukun-rukun) adalah milik bagi ‫السخخلم‬
(mud}af ilaih). Ketika ditampakkan menjadi ‫الركخخخان للسخخخلم‬
(rukun-rukun bagi islam)
Mengira-ngira huruf jer ‫( مخخن‬dari), yaitu ketika mud}af adalah
jenis dari mud}af ilaih, yaitu mud}af tersebut adalah bagian
dari mud}af ilaih. Contoh: ‫( هذا إناء زجاج‬ini adalah wadah dari
kaca). ‫ زجخخخاج‬i’rabnya adalah jer karena kedudukannya
sebagai mud}af ilaih. Antara ‫( إناء‬mud}af) dan ‫( زجاج‬mud}af
ilaih) mengira-ngira huruf jer ‫( من‬dari), karena ‫( إنخخاء‬wadah)
adalah bagian dari ‫( زجاج‬kaca). Ketika ditampakkan menjadi
‫( إناء من زجاج‬wadah dari kaca).

ISIM YANG IKUT PADA ISIM YANG DIBACA JER (TAWABI’)


Tawabi’ ada 4 macam, yaitu na’at, athof, taukid, dan badal.
Penjelasan lebih rinci dibahas pada pembahasan Tawabi’.
Contoh: ‫( مررت بزيد النشيط‬saya bertemu dengan zaid yang rajin).
‫زيد‬ : i’rabnya jer oleh huruf jer ‫ب‬
‫ النشيط‬: i’rabnya jer karena ikut pada ‫ زيد‬yang i’rabnya jer
Tabel Mahfud{at al-asma’:

N MAHFUD{AT CONTOH
KETERANGAN
O AL-ASMA’
Isim yang Huruf jer: ,‫ ل‬,‫ في‬,‫ ك‬,‫ ب‬,‫ إلى‬,‫من‬ ‫طهارة العضاء من‬
1 dijerkan oleh ,‫ باء قسم‬,‫ تاء قسم‬,‫ واو قسم‬,‫ على‬,‫عن‬ ‫الحدث‬
huruf jer. ‫ واو رب‬,‫ رب‬,‫ منذ‬,‫مذ‬
isim yang berada setelah ‫وشرائط التيمم خمسة‬
2 Mud}af ilaih mud}af
‫أشياء‬
Dijelaskan pada bab tawabi’ ‫مررت بزيد النشيط‬
3 Tawabi’
I’RAB FI’IL MUD}ARI’

Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa mu’rab


(kalimat yang bisa di i’rab) ada dua, yaitu:
Kalimat isim (yang tidak serupa dengan huruf). I’rab yang masuk
pada kalimat isim ada 3, i’rab rafa’, nashab, dan jer.
Kalimat fi’il mud}ari’ (yang tidak bersambung dengan nun taukid
atau nun niswah) dan kalimat isim (yang tidak serupa dengan
huruf).
Jadi, fi’il mudlori hukumnya mu’rab (bisa berubah-rubah) jika
fi’il mud}ari’ tersebut tidak bersambung dengan nun taukid atau
nun niswah. I’rab yang masuk pada fi’il mud}ari’ ada tiga,
yaitu I’rab rafa’, nas}ab, dan jazm.
Sedangkan sesuatu yang memerintah atau menyebabkan fi’il
mud}ari’ beri’rab rafa’, nas}ab, dan jer disebut Amil (yang
memrintah). Pembahasan definisi dan pembagian Amil dijelaskan
secara rinci dalam pembahasan mabni mu’rab

Amil Fi’il Mud}ari’


Ada beberapa Amil yang memerintahkan fi’il mud}ari’ untuk
beri’rab rafa’, nas}ab, dan jazm.
Jika ada amil rafa’ masuk pada fi’il mud}ari’, maka fi’il mud}ari’
pasti beri’rab rafa’.
Jika ada amil nas}ab masuk pada fi’il mud}ari’, maka fi’il
mud}ari’ pasti beri’rab nas}ab,
Jika ada amil jazm masuk pada fi’il mud}ari’, maka fi’il mud}ari’
beri’rab jazm.
Penjelasannya sebagaimana berikut:

Amil rafa’ fi’il mud}ari’. (Fi’il mud}ari’ beri’rab rafa’)


Fi’il mud}ari’ beri’rab rafa’ jika ada amil rafa’ yang masuk
pada fi’il mud}ari’. Amil rafa’ tersebut adalah amil ma’nawi
tajarrudi (sepi). Yaitu amil yang sepi (tidak ada) dari amil
nas}ab atau amil jazm, yang memerintah fi’il mud}ari’ agar
beri’rab rafa’.

153
Secara sederhana disimpulkan, fi’il mud}ari’ pasti beri’rab
rafa’ jika fi’il mud}ari’ tidak didahului oleh amil nas}ab atau
ada amil jazm.
Contoh: ‫( القبلخخة المسخخلمون يسخختقبل‬orang-orang muslim menghadap
qiblat). Kalimat ‫( يستقبل‬sebagai ma’mul ) I’rabnya rafa’ karena
ada amil yang memerintah. Amil yang memerintah tersebut
disebut amil ma’nawi tajarrudi, yaitu pada kalimat ‫ يستقبل‬tidak
didahului oleh amil nas}ab atau amil jazm. Pembahasan
tentang amil nas}ab dan amil jazm akan dijelaskan pada
pembahasan berikutnya.

Amil nas}ab fi’il mud}ari’. (Fi’il mud}ari’ beri’rab


nas}ab)
Fi’il mud}ari’ pasti beri’rab nas}ab jika Fi’il mud}ari’
didahului oleh amil nas}ab. Contoh: ‫( يطهر لن‬tidak akan suci).
‫ يطهر‬adalah fi’il mud}ari’
‫ لن‬adalah amil nas}ab
‫ يطهر‬adalah fi’il mudlori yang beri’rab nas}ab karena didahului
oleh amil nas}ab, yaitu ‫لن‬.

Amil-amil nas}ab yang menas}abkan fi’il mud}ari’ ada


sepuluh (10), yaitu:
‫أن‬, contoh: ‫( يتغيراللون أن‬warna itu berubah)
‫ يتغيخخر‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫أن‬
‫( لخخخخن‬tidak akan). Contoh: ‫( يسخخخختنجي لخخخخن‬dia tidak akan
beristinja’/bersesuci)
‫ يسخختنجي‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫لن‬
‫( كخخي‬supaya/untuk/agar). Contoh: ‫( الكلم يقتصخخر كخخي‬supaya dia
meringkas perkataannya).
‫ يقتصخخر‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫كي‬
‫( إذن‬jadi/kalau begitu). Contoh: ‫( الن أتكلم إذن‬kalau begitu saya
akan berbicara sekarang).
‫ أتكلخخم‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫إذن‬.
Catatan: Amil ‫ إذن‬ini bisa menas}abkan fi’il mud}ari’ jika
terpenuhi 3 syarat:
‫ إذن‬ada dipermulaan jawab
Fi’il mud}ari’ yang dinas}abkan itu harus bermakna akan /
istiqbal (bukan bermakna sedang)
‫ إذن‬harus bertemu langsung dengan Fi’il mud}ari’ tanpa
ada pemisah

Contoh: ‫( الن أتكلخخخم إذن‬kalau begitu saya akan berbicara


sekarang). Jumlah ini (‫ )الن أتكلم إذن‬sebagai jawab bagi orang
lain yang berkata:
‫( جوابك سأنتظر‬saya akan menunggu jawabanmu).
Jadi, ‫ إذن‬ini adalah amil yang bisa menas}abkan fi’il
mud}ari’ karena ketiga syarat diatas sudah dipenuhi, yaitu:
‫ إذن‬menjadi permulaan jawab (‫)الن أتكلم إذن‬
Fi’il mud}ari’ yang dinas}abkan bermakna akan, yaitu ‫أتكلم‬
(akan berbicara)
Antara ‫ إذن‬dan ‫ أتكلم‬bertemu langsung tanpa ada pemisah
‫ل )لم كخخي‬: untuk/sebab), yaitu lam (‫ )ل‬yang menunjukkan
bahwa kalimat yang jatuh setelah lam (‫ )ل‬adalah alasan
bagi kalimat sebelum lam (‫)ل‬. Contoh: ‫( لجتنبك سخأذهب‬saya
akan pergi untuk bisa menjauhimu).
Jadi, ‫اجتنخخب‬, adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab
karena didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫)ل )لم كي‬.
‫ ل‬pada lafaz ‫ لجتنب‬disebut ‫ كخخي لم‬karena ‫( اجتنخخب‬saya akan
menjauhi: lafaz yang jatuh setelah ‫ )ل‬adalah alasan dari
‫( سخخخاذهب‬saya akan pergi: lafaz sebelum ‫)ل‬. Jadi, alasan
kenapa saya pergi adalah agar saya bisa menjauhimu.
‫)ل )جحود لم‬, yaitu ‫ ل‬yang bermakna meniadakan dan berada
setelah lafaz ‫ كان ما‬atau ‫لم يكن‬. Contoh: ‫فيهم وأنت ليعذبهم ال كان‬
‫( ومخخا‬dan sekali-kali Allah tidak akan menyiksa mereka
sedangkan kamu berada diantara mereka).
Jadi, ‫ يعذب‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫)ل )جحود لم‬
‫ ل‬pada lafaz ‫ ليعخخخذبهم‬disebut ‫ جحخخخود لم‬karena ‫ ل‬tersebut
bermakna meniadakan dan berada setelah lafaz ‫كان ما‬.
‫( حخختى‬hingga / agar). Contoh: ‫( الرسخخالة اصخخيل حخختى تخخذهب ل‬jangan
pergi hingga saya menyampaikan surat ini).
Jadi, ‫ اصيل‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫حتى‬
‫( او‬hingga / kecuali). Contoh: ‫( بولك تنقي أو تذهب ل‬jangan pergi
hingga kamu membersihkan kotoranmu). Contoh lain: ‫يسلم‬
‫( أو الكافر لقتلن‬saya akan membunuh orang kafir kecuali dia
masuk islam).
Jadi, lafaz ‫ تذهب‬dan ‫ يسلم‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab
nas}ab karena didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫او‬
‫و )واو معية‬: bersama / serta), yaitu wawu (‫ ) و‬yang bermakna
serta/bersama dan berada setelah lafaz nafi (peniadaan,
contoh: ‫ )لخخخخخخم‬atau berada setelah lafaz talab
(permintaan/perintah, contoh: ‫)ل‬.
Contoh: ‫( التعخخخخخخب وتخخخخخخترك علمخخخخخخا تخخخخخخرم ل‬janganlah kamu
mengharapkan ilmu serta/sedangkan kamu tidak mau
lelah)

155
Jadi, ‫ تترك‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫)و )واو معية‬
‫ و‬tersebut disebut ‫ واو معيخخخخخخخخخة‬karena bermakna
membersamakan lafaz ‫ تترك‬dan ‫ترم‬
‫ سخخببية فخخاء‬/ ‫ف )جخخواب فخخاء‬: sebab / karena), yaitu fa’ (‫ )ف‬yang
menunjukkan bahwa kalimat yang jatuh setelah fa (‫)ف‬
adalah sebab dari kalimat yang jatuh setelah fa’ ( ‫)ف‬,
dengan syarat fa’ (‫ )ف‬tersebut harus jatuh setelah nafi
(peniadaan, contoh: ‫ )لخخم‬atau tolab (permintaan/perintah,
contoh: ‫)ل‬. Contoh: ‫( وضوئك فينقض تنم ل‬jangan tidur, maka
wudu’mu akan batal)
Jadi, ‫ ينقض‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab nas}ab karena
didahului oleh amil nas}ab, yaitu ‫ ف‬.
‫ ف‬disebut ‫ سببية فاء‬/ ‫ جواب فاء‬karena ‫( ينقض‬lafaz yang berada
setelah ‫ )ف‬adalah jawab dari ‫( تنخخم‬lafaz yang berada
sebelum ‫)ف‬

Amil jazm fi’il mud}ari’. (Fi’il mud}ari’ beri’rab jazm)


Fi’il mud}ari’ pasti beri’rab jazm jika fi’il mud}ari’ didahului
oleh amil jazm. Contoh: ‫( يطهر لم‬tidak suci).
‫ يطهر‬adalah fi’il mud}ari’
‫ لم‬adalah amil jazm
‫ يطهر‬adalah fi’il mudlori yang beri’rab jazm karena didahului
oleh amil jazm, yaitu ‫لم‬.
Amil-amil jazm yang menjazmkan fi’il mud}ari’ dibagi menjadi
dua, yaitu:
amil jazm yang menjazmkan satu fi’il mud}ari’ jer, yaitu ada
6:
‫( لم‬tidak). Contoh: ‫( الماء يتغير لم‬air itu tidak berubah).
Jadi, ‫ يتغير‬adalah fi’il mud}ari’ yang beri’rab jazm karena
didahului oleh amil jazm, yaitu ‫لم‬
‫( ألخخم‬tidakkah/apakah tidak). Contoh: ‫( بالصخخخلة تقخخخم ألخخخم‬apakah
kamu tidak akan mengerjakan sholat?)
Jadi, ‫ ألخخم‬adalah fi’il mudlori yang beri’rab jazm karena
didahului oleh amil jazm, yaitu ‫ألم‬
‫( لمخخخا‬belum). Contoh: ‫( الشخخخمس تخخخزل لمخخخا‬matahari itu belum
tergelincir).
Jadi, ‫ تزل‬adalah fi’il mudlori yang beri’rab jazm karena
didahului oleh amil jazm, yaitu ‫لما‬
‫( ألما‬belumkah/apakah belum). Contoh: ‫( وظيفتك تعمل ألما‬apakah
kamu belum mengerjakan tugasmu)
Jadi, ‫ تعمل‬adalah fi’il mudlori yang beri’rab jazm karena
didahului oleh amil jazm, yaitu ‫ألما‬
‫ لم الخخدعاء‬/ ‫ل )المر لم‬: hendaklah/mudah-mudahan), yaitu ‫ل‬
yang bermakna perintah / permohonan. Contoh: ‫المتعلم مع‬
‫( المعلم ليقرب‬guru itu hendaklah dekat dengan mudridnya).
Contoh lain: ‫( الخخ ليحفظنخخا‬mudah-mudahan Allah menjaga
kita semua).
Jadi, ‫ يقرب‬dan ‫ يحفظ‬adalah fi’il mudlori yang beri’rab jazm
karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫ لم‬/ ‫)المر لم‬ ‫ل‬
‫)الدعاء‬
‫ الخخدعاء نهخخي ل‬/ ‫ل )الناهيخخة ل‬: jangan), yaitu ‫ ل‬yang bermakna
larangan. Contoh: ‫( الصخخخلة عنخخخد القبلخخخة تجتنخخخب ل‬jangan
memblakangi kiblat ketika sholat).
Jadi, ‫ تجتنب‬adalah fi’il mudlori yang beri’rab jazm karena
didahului oleh amil jazm, yaitu ‫)ل )ل الناهية‬

Amil jazm yang menjazmkan dua fi’il mud}ari’ jer. Fi’il yang
pertama disebut fi’il syarat, fi’il yang kedua disebut jawab
syarat.
Contoh: ‫( ينصخخركم ال خ تنصخخروا إن‬jika kalian menolong agama
Allah, maka Allah akan menolong kalian).
‫ تنصروا‬dan ‫ ينصر‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab jazm
karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫إن‬.
‫تنصروا‬ (fi’il yang pertama) :disebut fi’il syarat
‫( ينصر‬fi’il yang kedua) :disebut jawab syarat
Amil jazm yang menjazmkan dua fi’il mud}ari’ ini ada 12,
yaitu:
‫( إن‬jika). Contoh: ‫( ينصركم الخ تنصخخروا إن‬jika kalian menolong
agama Allah, maka Allah akan menolong kalian).
‫ تنصروا‬dan ‫ ينصر‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab
jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫إن‬.
‫( مخخا‬apapun). Contoh: ‫( اعمخخل تعمخخل مخخا‬apapun yang kamu
kerjakan akan aku kerjakan juga)
jadi, ‫ تعمخخخل‬dan ‫ اعمخخخل‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang
beri’rab jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫ما‬
‫( من‬siapapun). Contoh: ‫( ينجح اجتماعنا فخخي يشخخترك مخخن‬siapapun /
barang siapa yang bergabung dengan perkumpulan
kami maka dia akan sukses).
Jadi, ‫ يشخخخترك‬dan ‫ ينجخخخح‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang
beri’rab jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫من‬
‫( إذما‬kapanpun). Contoh: ‫( اتبعك تسافر إذما‬kapanpun kamu akan
pergi, saya akan ikut kamu)
Jadi, ‫ تسافر‬dan ‫ اتبع‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab
jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫إذما‬
‫( أي‬apapun). Contoh: ‫( استعمل تسختعمل أيخا‬apapun yang kamu
pakai, saya akan pakai).
jadi, ‫ تسخخختعمل‬dan ‫ اسخخختعمل‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang
beri’rab jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫أي‬
‫( مخختي‬kapanpun). Contoh: ‫( لخخك أدفخخع تأكخخل مخختى‬kapanpun kamu

157
akan makan, saya akan membayarnya).
Jadi, ‫ تأكل‬dan ‫ أدفع‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab
jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫متي‬
‫( أيخخان‬kapanpun). Contoh: ‫( تصخخح تصخخم أيخخان‬kapanpun kamu
puasa, maka kamu akan sehat)
Jadi, ‫ تصم‬dan ‫ تصح‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab
jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫أيان‬
‫ أينمخخا‬/ ‫( أيخخن‬dimanapun). Contoh: ‫( الخخ يخخر تقخخم أينمخخا‬dimanapun
kamu bermukim, Allah akan selalu melihatmu)
Jadi, ‫ تقم‬dan ‫ يخخر‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab
jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫أينما‬
‫( مهما‬kapanpun). ‫( اطهخخر احخخدث مهمخخا‬kapanpun saya berhadas,
saya akan bersesuci)
Jadi, ‫ احخخخدث‬dan ‫ اطهخخخر‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang
beri’rab jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫مهما‬
‫( حيثما‬dimanapun). Conotoh: ‫( أطهرها نجاسة تقع حيثما‬dimanapun
ada najis, saya akan mensucikannya)
Jadi, ‫ تقع‬dan ‫ أطهر‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab
jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫حيثما‬
‫( كيفمخخخا‬bagaimanapun). Contoh: ‫اجتنبهخخخا الخمخخخرة تتخلخخخل كيفمخخخا‬
(bagaimanapun khomer itu menjadi cuka, saya akan
menjauhinya / tidak akan menggunkannya)
Jadi, ‫ تتخلخخل‬dan ‫ اجتنخخب‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang
beri’rab jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫كيفما‬
‫( أنى‬dimanapun / bagaimanapun). Contoh: ‫معخك اقخم تقخم أنخى‬
(dimanapun kamu bermukim, saya akan bermukim
bersamamu)
Jadi, ‫ تقم‬dan ‫ اقخخم‬adalah dua fi’il mud}ari’ yang beri’rab
jazm karena didahului oleh amil jazm, yaitu ‫أنى‬
Tabel I’rab Fi’il Mud}ari’

I’RAB
N CONTOH
FI’IL AMIL
O
MUD}ARI’
Amil ma’nawi tajarrudi (sepi), ‫القبلة المسلمون يستقبل‬
yaitu amil yang sepi (tidak ada) (orang-orang
dari amil nas}ab atau amil jazm
1 Rafa’ muslim
menghadap
qiblat).

,‫ حتى‬,‫ جحود لم‬,‫ لم كي‬,‫ إذن‬,‫ كي‬,‫ لن‬,‫( يتغيراللون أن أن‬warna


2 Nas}ab
‫ جواب فاء‬, ‫ و‬,‫او‬ itu berubah)

Menjazmkan 1 fi’il mud}ari’ (,‫ألم‬ ,‫لم‬ ‫( يطهر لم‬tidak


‫ الناهية‬,‫ لم الدعاء‬/ ‫ المر لم‬,‫ ألما‬,‫لما‬ suci),
‫ الدعاء نهي ل‬/ ‫)ل‬ ‫ينصركم ال تنصروا إن‬
Menjazmkan 2 fi’il mud}ari’ (,‫ ما‬,‫إن‬ (jika kalian
3 Jazm menolong agama
,‫ أينما‬/ ‫ أين‬,‫ أيان‬,‫ متي‬,‫ أي‬,‫ إذما‬,‫من‬
‫ أنى‬,‫ كيفما‬,‫ حيثما‬,‫)مهما‬ Allah, maka Allah
akan menolong
kalian).

159
TAWABI’
Pada pembahasan marfu’at al-asma’, mansubat al-asma’, dan
mahfud}at al-asma’ telah disinggung tentang tawabi’. Secara
istilah, tawabi’ adalah kalimat yang I’rabnya ikut pada kalimat yang
diikuti. Contoh:
Contoh yang ikut pada pada kalimat yang i’rabnya rafa’: ‫خمخخس‬
‫( المفروضخخة الصخخلة‬sholat yang diwajibkan itu ada lima). ‫المفروضخخة‬
termasuk dari tawabi’. Artinya, I’rab ‫ المفروضخخة‬ikut pada kalimat
yang diikuti, yaitu ‫ الصخخخلة‬yang I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai mubtada’. Jadi ‫ المفروضة‬I’rabnya juga rafa’
karena ikut pada ‫ الصلة‬yang I’rabnya rafa’
Contoh yang ikut pada kalimat yang I’rabnya nas}ab: ‫المفروضة الصلة‬
‫( اترك لن‬saya tidak akan meninggalkan sholat yang diwajibkan ).
‫ المفروضخخة‬termasuk dari tawabi’. Artinya, I’rab ‫ المفروضخخة‬ikut pada
kalimat yang diikuti, yaitu ‫ الصخخلة‬yang I’rabnya adalah nas}ab
karena kedudukannya sebagai maf’ul bih. Jadi ‫ المفروضخخة‬I’rabnya
juga nas}ab karena ikut pada ‫ الصلة‬yang I’rabnya nas}ab’
Contoh yang ikut pada kalimat yang I’rabnya jer: ‫المفروضة بالصلة قمت‬
(saya melaksanakan sholat yang diwajibkan). ‫ المفروضخخة‬termasuk
dari tawabi’. Artinya, I’rab ‫ المفروضة‬ikut pada kalimat yang diikuti,
yaitu ‫ الصلة‬yang I’rabnya adalah jer karena dijerkan oleh huruf jer
(‫)ب‬. Jadi ‫ المفروضخخة‬I’rabnya juga jer karena ikut pada ‫ الصخخلة‬yang
I’rabnya jer.

Tawabi’ ada 4 macam,1) na’at. 2) at}af. 3) taukid. 4) badal.


Rinciannya sebagai berikut:
NAAT (SIFAT)
Na’at adalah kalimat yang ikut dan menjelaskan sifat-sifat
kalimat yang diikuti itu, atau menjelaskan sifat kalimat lain yang
masih berhubungan dengannya (man’ut). Contoh: ‫خمس المفروضة‬
‫( الصلة‬sholat yang diwajibkan itu ada lima)
‫ الصلة‬: mubtada’ (sebagai man’ut / yang disifati) : rafa’
‫المفروضة‬ : na’at (yang mensifati) : rafa’
Lafaz ‫ المفروضخخخة‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya
sebagai na’at, yaitu sifat yang I’rabnya mengikuti man’utnya
(yang disifati), yaitu ‫ الصخخلة‬yang I’rabnya adalah rafa’ sebagai
mubtada’. Jadi, ‫ المفروضة‬I’rabnya adalah rafa’ karena ikut pada
pada kalimat yang diikuti, yaitu ‫ الصلة‬yang I’rabnya adalah rafa’.
Tanda rafa’nya adalah dommah karena ‫ المفروضخخة‬adalah isim
mufrad.
‫ المفروضخخة‬adalah na’at, yaitu menjelaskan sifat dari man’utnya
(yang disifati), yaitu ‫ الصلة‬.

Penjelasan
Lafaz-lafaz yang bisa menjadi na’at dibagi menjadi dua, yaitu:
Isim musytaq (isim yang ada tasrifnya), yaitu berupa:
Isim fa’il. Contoh: ‫( النشيط التلميذ جاء‬murid yang rajin itu datang).
‫ النشيط‬adalah na’at berupa isim fa’il. Fi’il mad}inya adalah
‫ نشخخخخط‬. lafaz ‫ النشخخخخيط‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya mengikuti
man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ التلميخخذ‬yang I’rabnya rafa’
karena menjadi fa’il.
Isim maf’ul. Contoh: ‫( المحبوبة فاطمخخة رأيخخت‬saya melihat fatimah
tercinta). ‫ المحبوبخخة‬adalah na’at berupa isim maf’ul. Fi’il
mad}inya adalah ‫حب‬. lafaz ‫ المحبوبة‬I’rabnya adalah nas}ab
karena kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya
mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ فاطمخخخة‬yang
I’rabnya nas}ab karena menjadi maf’ul.
Isim sifat mushabihat. Contoh: ‫( خلقخخه حسخخن رجخخل هخخذا‬ini adalah
seorang laki-laki yang bagus akhlaknya). ‫ حسخخخن‬adalah
na’at berupa sifat mushabihat. ‫ حسن‬I’rabnya adalah rafa’
karena kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya
mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ رجخخخل‬yang
I’rabnya rafa’ karena menjadi khabar.
Isim tafd}il. Contoh: ‫( غيره من أمهر تلميذ سعيد‬sa’id adalah murid
yang lebih pandai dari pada yang lainnya). ‫ أمهخخر‬na’at
berupa isim tafdil. ‫ أمهخخخر‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya mengikuti
man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ تلميخخذ‬yang I’rabnya rafa’
karena menjadi khabar.

Muawwal bil musytaq (yang disamakan dengan musytaq), yaitu


berupa:
Isim masdar. Contoh: ‫( ثقة رجل أحمد‬ahmad adalah orang yang
terpercaya). ‫ ثقخخة‬adalah na’at berupa isim masdar. ‫ثقخخة‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai na’at,
yang I’rabnya mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu
‫ رجل‬yang I’rabnya rafa’ karena menjadi khabar.
Isim isyaroh. Contoh: ‫( هذا المعلم أكرم‬mulyakanlah guru yang ini).
‫ هذا‬adalah na’at berupa isim isyaroh. ‫ هذا‬I’rabnya adalah
nas}ab secara mahalli karena kedudukannya sebagai
na’at, yang I’rabnya mengikuti man’utnya (yang disifati),
yaitu ‫ المعلم‬yang I’rabnya nas}ab karena menjadi maf’ul bih.
Tapi secara lafaz, ‫هذا‬ adalah mabni karena berupa isim
isyaroh
‫ ذات‬/ ‫ ذو‬yang bermakna yang mempunyai. Contoh: ‫علم ذو رجل‬
‫( جاء‬orang yang punya ilmu itu datang). ‫ ذو‬adalah na’at. ‫ذو‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai na’at,
yang I’rabnya mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu
‫ رجل‬yang I’rabnya rafa’ karena menjadi fa’il.

161
Isim maus}ul. Contoh: ‫( إجتهد الذي الرجل جاء‬sorang laki-laki yang
bersungguh-sungguh itu datang). ‫ الذي‬adalah na’at berupa
isim maus}ul. ‫ الخخذي‬I’rabnya adalah rafa’ secara mahalli
karena kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya
mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ الرجخخخل‬yang
I’rabnya rafa’ karena menjadi fa’il. Tapi secara lafaz ‫الذي‬
adalah mabni karena berupa isim maushul.
Isim yang bersambung dengan ya nisbat (ya’ yang
menunjukkan arti bangsa). Contoh: ‫( إندونيسي بسالم مررت‬saya
bertemu dengan salim yang berbangsa indonesia). ‫إندونيسي‬
adalah na’at berupa Isim yang bersambung dengan ya
nisbat. ‫إندونيسي‬ I’rabnya adalah jer karena kedudukannya
sebagai na’at, yang I’rabnya mengikuti man’utnya (yang
disifati), yaitu ‫ سالم‬yang dijerkan oleh huruf jer (‫)ب‬.
Jumlah ismiyah (susunan mubtada’ dan khabar).
Contoh: ‫( كخخثير مخخاله رجل رأيخخت‬saya melihat laki-laki yang
banyak hartanya). Susunan ‫ كثير ماله‬adalah na’at berupa
jumlah ismiyah, yaitu susunan mubtada’ (‫ )ماله‬dan khabar (
‫) كخخثير‬. Susunan ‫ كخخثير مخخاله‬I’rabnya adalah nas}ab secara
mahalli karena kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya
mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ رجل‬yang
I’rabnya nas}ab karena menjadi maf’ul bih. Tapi secara
lafaz, ‫ ماله‬I’rabnya adalah rafa’ karena menjadi mubtada’,
‫ كثير‬I’rabnya adalah rafa’ karena menjadi khabar.
Jumlah fi’liyah (susunan fi’il dan fa’il). Contoh: ‫القرأن يحمل برجل‬
‫( أجلخخس‬saya duduk dengan seseorang yang membawa al-
Qur’an) . ‫ يحمخخل‬adalah na’at berupa jumlah fi’liyah, yaitu
susunan fi’il (‫ )يحمل‬dan fa’il (d}amir yang tersimpan, yaitu
‫)هخخو‬. Susunan fi’il dan fa’il pada ‫ يحمخخل‬I’rabnya adalah jer
secara mahalli karena kedudukannya sebagai na’at, yang
I’rabnya mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu ‫رجخخل‬
yang dijerkan oleh huruf jer (‫)ب‬. Tapi secara lafaz, ‫يحمل‬
I’rabnya adalah rafa’karena tidak ada amil nas}ab dan jer.
Jar majrur (huruf jer dan isim yangdijerkan). Contoh: ‫ال من مؤمن‬
‫( رجخخخل قخخخال فرعخخخون‬seseorang mu’min yang berasal dari
keluarga fir’aun itu berkata) . ‫ ال من‬adalah na’at berupa
jer majrur. Susunan ‫ ال مخخن‬I’rabnya adalah rafa’ secara
mahalli karena kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya
mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ رجخخخل‬yang
I’rabnya rafa’ karena menjadi fa’il. Tapi secara lafaz, ‫مخخن‬
adalah mabni. ‫ ال‬dijerkan oleh huruf jer ‫ من‬.
Zaraf (keterangan waktu / tempat) Contoh: ‫المسجد أمام رجل قام‬
(seseorang yang ada didepan masjid itu berdiri). ‫أمخخام‬
adalah na’at berupa zaraf. ‫ أمام‬I’rabnya adalah rafa’ secara
mahalli karena kedudukannya sebagai na’at, yang I’rabnya
mengikuti man’utnya (yang disifati), yaitu ‫ رجخخخل‬yang
I’rabnya rafa’ karena menjadi khabar. Tapi secara lafaz ‫أمام‬
I’rabnya adalah nas}ab karena menjadi zaraf.

Macam-Macam Na’at
Na’at dibagi menjadi dua, hakiki dan sababi. Rinciannya yaitu:
Na’at hakiki, yaitu na’at yang merafa’kan isim d}amir mustatir
(tidak tampak) yang kembali kepada man’utnya (yang
disifati).
Na’at hakiki harus sesuai dengan man’utnya (yang disifati)
dalam 4 hal, yaitu:
Dalam segi i’rabnya (rafa’, nas}ab, jer)
Da#lam segi jumlahnya (mufrad, tasniyah, jama’)
Dalam segi jenisnya (muzakkar atau muannas)
Dalam segi tertentu atau tidaknya (nakirah atau ma’rifat)
Contoh: ‫( مطهخخخخر طخخخخاهر وهخخخخو‬air itu adalah air suci yang
menyucikan). ‫ مطهر‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya
sebagai na’at, yaitu mengikuti man’utnya (‫ )طاهر‬yang I’rabnya
adalah rafa’ sebagai khabar.
‫ مطهر‬adalah na’at hakiki, yaitu lafaz ‫( مطهر‬na’at) merafa’kan
isim d}amir mustatir (d}amir yang tersimpan, yaitu ‫)هخخو‬.
D}amir ‫ هخخو‬yang tersimpan ini kembalinya kepada man’ut (
‫)طاهر‬.
‫( مطهر‬na’at / sifat) sesuai dengan ‫( طاهر‬man’ut / yang disifati)
dalam 4 hal, yaitu:
‫ مطهر‬i’rabnya rafa’, ‫ طاهر‬I’rabnya nas}ab
‫ مطهر‬adalah isim mufrad, ‫ طاهر‬adalah isim mufrad
‫ مطهر‬adalah muzakkar, ‫ طاهر‬adalah muzakkar
‫ مطهر‬adalah nakirah, ‫ طاهر‬adalah nakirah

Na’at sababi, yaitu na’at yang merafa’kan isim zahir yang


bersambung dengan d}amir bariz (tampak) yang kembali
pada man’utnya. Ada beberapa hukum pada na’at sababi,
yaitu:
Na’at harus harus berbentuk mufrad sekalipun man’utnya
berbentuk isim tasniyah atau jama’
Na’at harus sesuai dengan man’utnya dalam 2 hal, yaitu:
Dalam segi i’rabnya (rafa’, nas}ab, jer)
Dalam segi tertentu atau tidaknya (nakirah atau ma’rifat)
Na’at harus sesuai dengan isim zahir yang dirafa’kan dalam
segi jenisnya (muzakkar atau muannasts).
D}amir bariz yang bersambung dengan isim zahir harus
sesuai dengan man’utnya dalam 2 hal, yaitu:
Jumlahnya (mufrad, tasniyah, jama’)
Jenisnya (muzakkar atau muannas)
Contoh: ‫( استعماله مكروه مطهر طاهر وهو‬air itu adalah air suci yang

163
menyucikan yang dimakruhkan penggunaannya). ‫مكخخخخروه‬
I’rabnya adalah rafa’ karena karena kedudukannya sebagai
na’at, yaitu mengikuti man’utnya (‫ )طاهر‬yang i’rabnya rafa’
sebagai khabar.
‫ مكخخروه‬adalah na’at sababi karena merafa’kan ‫( اسخختعمال‬isim
zahir) yang bersambung dengan ‫( ه‬d}amir bariz) yang
kembali kepada ‫( طاهر‬man’ut).
Na’at sababi pada contoh ini sudah sesuai dengan hukumnya,
yaitu:
‫( مكروه‬na’at) adalah isim mufrad
‫( مكروه‬na’at) sesuai dengan ‫( طاهر‬man’ut) dalam 2 hal, yaitu:
‫ مكروه‬I’rabnya rafa’, ‫ طاهر‬I’rabnya rafa’
‫ مكروه‬adalah nakirah, ‫ طاهر‬adalah nakirah
‫( مكخخروه‬na’at) adalah muzakkar, ‫( اسخختعمال‬isim zahir) adalah
muzakkar
‫( ه‬d}amir bariz) sesuai dengan ‫( طخخاهر‬man’ut) dalam 2 hal,
yaitu:
‫ ه‬adalah mufrad, ‫ طاهر‬adalah mufrad
‫ ه‬adalah muzakkar, ‫ طاهر‬adalah muzakkar

AT}AF
At}af adalah kalimat yang mengikuti kalimat sebelumnya
(ma’tuf alaih), yang antara keduanya ada huruf at}af.
At}af harus sesuai dengan ma’tuf alaih dalam 2 hal, yaitu:
Semua i’rab (rafa’, nas}ab, jer, jazm)
Jenis kalimat (isim atau fi’il)
Contohnya adalah: ‫( واجخخخب والوراث البخخخوال جميخخخع غسخخخل‬membasuh
semua jenis kencing dan semua kotoran itu wajib).
‫ البوال‬: ma’tuf alaih (yang diikuti) : I’rabnya jer (sesuai tuntutan
amil)
‫و‬ : huruf at}af : mabni
‫الوراث‬ : at}af : I’rabnya jer, ikut pada
I’rabnya ma’tuf alaih
Jadi, ‫ الوراث‬I’rabnya jer karena kedudukannya sebagai at}af,
yaitu ikut pada ma’tuf alaihnya (‫ )البوال‬yang I’rabnya jer sebagai
mud}af ilaih. Tanda I’rab jernya adalah kasroh karena ‫الوراث‬
adalah jama’ taksir. Antara ‫( البوال‬ma’tuf alaih) dan ‫( الوراث‬at}af)
ada huruf at}af, yaitu ‫ و‬.
Pada contoh ini, ‫( الوراث‬at}af) sesuai dengan ‫( البوال‬ma’tuf alaih)
dalam 2 hal, yaitu:
‫ البوال‬I’rabnya jer, ‫ الوراث‬I’rabnya jer
‫ البوال‬adalah kalimat isim, ‫ الوراث‬adalah kalimat isim

Huruf-Huruf At}af
Huruf jer ada 10, yaitu:
‫( و‬dan). Fungsi dari ‫ و‬ini adalah mutlaq al-jam’i (menunjukkan
adanya kesatuan hukum antara ma’tuf alaih dan at}af).
Contoh: ‫( وإزالةالنجاسة النية أشياء ثلثخخة الغسخخل فخخرائض‬fardu-fardlunya
wudlu’ ada tiga, yaitu niat, dan menghilangkan najis). ‫إزالخخة‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai at}af,
yaitu ikut pada ma’tuf alaih (kalimat yang diikuti), yaitu ‫النية‬
yang I’rabnya adalah rafa’ sebagai mubtada’. Huruf at}afnya
adalah ‫ و‬.
‫( ف‬kemudian). Fungsinya adalah tarti>b (menunjukkan bahwa
hukum / peristiwa yang terjadi berlangsung secara berurutan
dengan tidak ada tenggang waktu) dan ta’qib (akibat dari
suatu pekerjaan). Contoh: ‫( فعمرو زيد جاء‬zaid datang kemudian
amr). ‫ عمخخخرو‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya
sebagai at}af, yaitu ikut pada ma’tuf alaih (kalimat yang
diikuti), yaitu ‫ زيخخد‬yang I’rabnya adalah rafa’ sebagai fa’il.
Huruf at}afnya adalah ‫ف‬
‫( ثخخم‬kemudian). Fungsinya adalah tartib dan tarakhi (adanya
tenggang waktu). Contoh: ‫( أحفظه ثم الخخدرس أقخخرأ‬saya membaca
pelajaran lalu menghafalnya). ‫ أحفخخخظ‬I’rabnya adalah rafa’
karena kedudukannya sebagai at}af, yaitu ikut pada ma’tuf
alaih (kalimat yang diikuti), yaitu ‫ أقخخرأ‬yang I’rabnya adalah
rafa’ karena tidak ada amil nas}ab dan jazm. Huruf at}afnya
adalah ‫ثم‬
‫( أو‬atau). Fungsinya dibagi menjadi dua:
Jika ‫ أو‬berada setelah t}alab (tuntutan / permintaan),
fungsinya adalah takhyir (memberi pemilihan) dan ibahah
(membolehkan melakukan terhadap salah satu atau
kesemuanya). Contoh: ‫( صديقته أو هنخخدا تخخزوج‬nikahilah hindun
atau temannya). ‫ صخخخديقة‬i’rabnya adalah nas}ab karena
kedudukannya sebagai at}af, yaitu ikut pada ma’tuf alaih
(kalimat yang diikuti), yaitu ‫ هنخخدا‬yang I’rabnya adalah
nas}ab sebagai maf’ul bih. Huruf at}afnya adalah ‫أو‬
Jika ‫ أو‬berada setelah khabar (berita), fungsinya adalah
taqsim (membagi) dan ibham (menyembunyikan maksud
yang sebenarnya). Contoh: ‫( بعض يوم أو يوما لبثنا‬kita tidur satu
hari atau setengah hari?). ‫ بعض‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai at}af, yaitu ikut pada ma’tuf alaih
(kalimat yang diikuti), yaitu ‫ يومخخا‬yang I’rabnya adalah
nas}ab sebagai zaraf. Huruf at}afnya adalah ‫أو‬
‫( أم‬atau), fungsinya adalah menuntut adanya penentuan.
Contoh: ‫( يشخخرب أم زيخخد أيأكخخل‬zaid makan atau minum?). ‫يشخخرب‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai at}af,
yaitu ikut pada ma’tuf alaih (kalimat yang diikuti), yaitu ‫يأكل‬
yang I’rabnya adalah rafa’ karena tidak ada amil nas}ab dan
jazm. Huruf at}afnya adalah ‫أم‬

165
‫( حتى‬sampai). Fungsinya adalah ghayah (sampainya sesuatu pada
sesuatu yang dianggap puncak). Syaratnya adalah ‘at}af
harus berupa mufrad (bukan jumlah) dan at}af harus
mempunyai kelebihan dari ma’tufnya, baik lebih baik atau
lebih buruk. Contoh: ‫( رأسخخها حخختى السخخمكة أكلخخت‬saya makan ikan
sampai kepalanya). ‫ رأس‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai at}af, yaitu ikut pada ma’tuf alaih
(kalimat yang diikuti), yaitu ‫ السخخخمكة‬yang I’rabnya adalah
nahsob sebagai maf’ul bih. Huruf at}afnya adalah ‫حتى‬
‫( بل‬tapi / bukan). Fungsinya ada dua, yaitu:
Jika tidak didahului nafi (peniadaan, seperti ‫ )مخخا‬atau nahi
(larangan, seperti ‫ ) ل‬atau amr (perintah), maka fungsinya
adalah id}rab (mencabut hukum ma’tuf alaih dan
menetapkan hukum bagi at}af).
Contoh: ‫( سخخخعيد بخخخل زيخخخد قخخخام‬zaid berdiri, bukan sa’id).‫سخخخعيد‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai at}af,
yaitu ikut pada ma’tuf alaih (kalimat yang diikuti), yaitu ‫زيد‬
yang I’rabnya adalah rafa’ sebagai fa’il. Huruf at}afnya
adalah ‫بل‬
Jika didahului oleh nafi atau nahi, maka fungsinya adalah
istidrak (menetapkan hukum nafi atau nahi pada ma’thuf
alaih dan meniadakan hukum pada at}af). Contoh: ‫المؤمن بل‬
‫( الكافر الجنة يدخل ل‬orang kafir tidak akan masuk surga, akan
tetapi orang mu’min).‫ المخخؤمن‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai at}af, yaitu ikut pada ma’tuf alaih
(kalimat yang diikuti), yaitu ‫ الكخخافر‬yang I’rabnya adalah
rafa’ sebagai fa’il. Huruf at}afnya adalah ‫بل‬
‫( ل‬tidak). Fungsinya adalah menetapkan hukum pada ma’tuf
alaih, dan meniadakan hukum pada at}af. Contoh: ‫زيد ل القرأن‬
‫( محمخخخد يقخخخرأ‬Muhammad membaca al-Qur’an, tidak zaid).‫زيخخخد‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai at}af,
yaitu ikut pada ma’tuf alaih (kalimat yang diikuti), yaitu ‫محمد‬
yang I’rabnya adalah rafa’ sebagai fa’il. Huruf at}afnya adalah
‫ل‬
‫( لكخخن‬tetapi). Fungsinya adalah (menetapkan hukum nafi atau
nahi pada ma’thuf alaih dan meniadakan hukum pada at}af).
Syaratnya adalah at}af harus berbentuk mufrad (bukan
jumlah). Contoh: ‫( طالخخخح لكخخخن صخخخالح برجخخخل مخخخررت‬saya bertemu
dengan seorang laki-laki yang sholih, akan tetapi jahat). ‫طالح‬
I’rabnya adalah jer karena kedudukannya sebagai at}af, yaitu
ikut pada ma’tuf alaih (kalimat yang diikuti), yaitu ‫ صالح‬yang
I’rabnya adalah jer. Huruf at}afnya adalah ‫لكن‬
‫( إمخخخا‬adakalnya). Fungsinya adalah syak (ragu) atau ibham
(samar / tidak jelas). Contoh: ‫( زينب وإما رملة إما جائتني‬adakalnya
romlah datang kepadaku, adakalanya zainab). ‫ زينخخب‬I’rabnya
adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai at}af, yaitu ikut
pada ma’tuf alaih (kalimat yang diikuti), yaitu ‫ رملخخة‬yang
I’rabnya adalah rafa’ sebagai fa’il. Huruf at}afnya adalah ‫إما‬

Macam-Macam At}af
At}af dibagi menjadi dua, yaitu:
At}af nasaq, susunan at}af yang antara at}af dan ma’tuf
alaihnya ada huruf at}af. Contoh: ‫واجب والوراث البوال جميع غسل‬
(membasuh semua jenis kencing dan semua kotoran itu
wajib). ‫ الوراث‬I’rabnya adalah jer karena kedudukannya
sebagai at}af, yaitu ikut pada ma’tuf alaih (kalimat yang
diat}afi), yaitu ‫ البوال‬. antara ‫( الوراث‬at}af) dan ‫( البوال‬ma’tuf
alaih) ada huruf jer ‫ و‬.
At}af bayan, yaitu at}af berupa isim jamid (tidak ada tashrifnya)
yang berfungsi menjelaskan ma’tuf alaih (jika berupa isim
ma’rifat).
Contoh: ‫( إبرهيم زيد أبو جاء‬ayahnya zaid, ibrohim datang). ‫إبرهيم‬
I’rabnya adalah jerk arena kedudukannya sebagai at}af, yaitu
ikut pada ma’thuf alaih (kalimat yang diat}afi), yaitu ‫ أبخخو‬.
antara ‫إبرهيم‬ (at}af) dan ‫( أبو‬ma’thuf alaih) tidak ada huruf
jer.
‫( إبرهيم‬at}af) menjelaskan ‫( أبو‬ma’thuf alaih).
TAUKID
Taukid secara bahasa adalah menguatkan / mengokohkan.
Secara istilah, taukid adalah kalimat yang mengokohkan kalimat
lain. Taukid / muakkid (kalimat yang mengokohkan) ini harus
sesuai dengan muakkad (kalimat yang dikokohkan) dalam dua
hal, yaitu;
Dari segi i’rabnya (rofa, nas}ab, jer, jazm)
Dari segi tertentu atau tidaknya (yaitu harus berupa isim
ma’rifat)
Contoh: ‫( ثوبا يلبس نفسه زيدا رأيت‬saya melihat zaid, dirinya memakai
baju)
‫ رأيت‬: susunan fi’iliyah (fi’il dan fa’il)
‫زيدا‬ : maf’ul bih : I’rabnya nas}ab
‫ نفسه‬: taukid : I’rabnya nas}ab karena ikut pada ‫ زيدا‬yang
I’rabnya nahsob
Jadi, ‫ نفس‬i’rabnya adalah nas}ab karena kedudukannya sebagai
taukid, yaitu ikut pada muakkad (zaidun) yang I’rabnya juga
nas}ab sebagai maf’ul bih. Tanda nas}abnya adalah fathah
karena ‫ نفس‬itu isim mufrad.
Lafaz ‫ نفس‬disebut taukid karena mengokohkan ‫( زيدا‬muakkad ).
Jadi yang memakai baju itu adalah diri zaid yang sebenarnya,
bukan orang lain.
Lafaz ‫( نفس‬taukid) sesuai dengan ‫( زيخخدا‬muakkad ) dalam 2 hal,
yaitu:

167
‫ زيدا‬i’rabnya adalah nas}ab, ‫ نفس‬i’rabnya juga nas}ab
‫ زيخخدا‬adalah isim ma’rifat (berupa alam), ‫ نفخخس‬juga isim ma’rifat
(berupa isim yang dimud}afkan kepada isim ma’rifat)
Macam-Macam Taukid
Taukid dibagi menjadi dua, yaitu:
Taukid ma’nawi (secara ma’na), yaitu mengokohkan kalimat
dengan menggunakan lafaz-lafaz tertentu. Lafaz-lafaz terebut
dibagi menjadi dua:
Lafaz yang biasa digunakan dan berdiri sendiri, yaitu ada
empat lafaz:
‫نفس‬: untuk mufrad ( ‫ نفسين‬/ :‫نفسان‬: tasniyah, ‫أنفس‬: tasniyah
atau jama’). Funsinya adalah menghilangkan
kemungkinan untuk diartikan secara majaz atau untuk
menghilangkan keragu-raguan. Contoh:‫رأيت ثوبا يلبس نفسخخه‬
‫( زيدا‬saya melihat zaid, dirinya memakai baju).
‫ نفس‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya adalah
taukid, yaitu ikut pada muakkad nya ( ‫ ) زيخخدا‬yang
I’rabnya adalah rafa’ sebagai mubtada’.
Dilihat dari fungsi lafaz ‫نفس‬, Maksud dari contoh ini, yang
memakai baju adalah diri zaid sendiri, bukan selain zaid.
‫عين‬: untuk murrod (‫ عينين‬/ ‫ عينان‬: tasniyah, ‫أعين‬: tasniyah
atau jama’). Fungsinya adalah menghilangkan
kemungkinan untuk diartikan secara majaz atau untuk
menghilangkan keragu-raguan. Contoh: ‫أعينهخخم بالمسخخلمين‬
‫( مخخررت‬saya bertemu dengan orang-orang muslim, diri
mereka sendiri)
‫ أعين‬I’rabnya adalah jer karena kedudukannya sebagai
taukid, yaitu ikut pada muakkad nya ( ‫ ) المسخخلمين‬yang
dijerkan oleh huruf jer ‫ب‬.
Dilihat dari fungsi lafaz ‫أعين‬, maksud dari contoh ini,
saya benar-benar bertemu dengan orang-orang muslim,
bukan selain orang-orang muslim.
‫كل‬: untuk mufrad / jama’ (‫ كلي‬/ ‫كل‬: tasniah muzakkar, /‫كلتا‬
‫كلتي‬: tasniyah muannas). Fungsinya adalah menunjukkan
tercakupnya semua unsur yang ada pada muakkad
secara merata. Contoh: ‫يصلي السنة في العيدين كلهم القريخخة أهخخل‬
(penduduk desa itu, semuanya sholat hari raya idzul fitri
dan idul adha dalam satu tahun).
‫ كل‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai
taukid, yaitu ikut pada muakkad nya ( ‫ )أهل‬yang I’rabnya
adalah rafa’ sebagai fa’il.
Dilihat dari fungsi lafaz ‫كخخل‬, maksud dari contoh ini
adalah semua penduduk desa itu tanpa terkecuali
satupun, semuanya sholat hari raya idul adha dan idul
fitri dalam satu tahun.
‫أجمع‬: untuk mufrad mudzkkar ( ‫ جمعاء‬: mufrad muannas,
‫ أجمعيخخن‬/ ‫أجمعخخون‬: jama’ muzakkar, ‫ جمعخخاء‬/ ‫جمعخخوات‬: jama’
muannas). Fungsinya adalah menunjukkan tercakupnya
semua unsure yang ada pada muakkad secara merata.
Contoh: ‫( وعلخخي ألخخه و صخخحبه أجمعيخخن‬dan atas keluarga nabi
dan sahabat nabi, semuanya).
‫ أجمعين‬I’rabnya adalah jer karena kedudukannya sebagai
taukid, yaitu ikut pada muakkad nya ( ‫ ) صخخحب‬yang
I’rabnjya jer.
Dilihat dari fungsi lafaz ‫أجمعين‬, maksud dari contoh ini
adalah, mudah-mudahan sholawat juga diberikan
kepada semua sahabat-sahabat nabi tanpa terkecuali
satupun.
Lafaz yang harus berada setelah lafaz ‫أجمع‬, yaitu ada tiga, ‫أبتع‬
‫ أبصع‬,‫ أكتع‬,. contoh: ‫( وعلخي ألخه و صخحبه أجمعيخن أبتعيخن‬dan atas
keluarga nabi dan sahabat nabi, semuanya). ‫أبتعيخخخخن‬
I’rabnya jer karena kedudukannya sebagai taukid, yaitu
ikut pada muakkad nya (‫ )صحب‬yang I’rabnya juga jer. Lafaz
‫ أبتعين‬berada setelah lafaz ‫أجمعين‬

Taukid lafzi (secara lafaz), yaitu mengokohkan kalimat dengan


cara mengulang kalimat yang dikokohkan (muakkad ), baik
berupa:
Kalimat isim, contoh: ‫ الصائم زيد‬، ‫( الصائم‬zaid adalah orang yang
berpuasa, orang yang berpuasa). ‫ الصائم‬yang kedua irobnya
adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai taukid, yaitu
ikut pada muakkad nya ( ‫ الصخخخائم‬yang pertama) yang
I’rabnya adalah rafa’ sebagai khabar.
Kalimat fi’il, contoh: ‫( الستسخخقاء صخخلة زيخخد يصخخل يصخخل لخخم‬zaid tidak
sholat, sholat istisqo’ / sholat minta hujan). ‫ يصخخل‬yang
kedua i’rabnya adalah jazm karena kedudukannya sebagai
taukid, yaitu ikut pada muakkad nya ( ‫ يصل‬yang pertama)
yang I’rabnya adalah jazm karena didahului oleh amil jazm
‫ لم‬.
Kalimat huruf, contoh: ‫( النجاسة تأكخل ل ل‬jangan, jangan makan
benda najis). ‫ ل‬yang kedua adalah taukid (pengokoh) bagi
‫ ل‬yang pertama. ‫ ل‬hukumnmya mabni karena berupa
huruf, yaitu huruf nahi (larangan)
Jumlah, contoh: ‫( صخخائم زيخخد صخخائم زيخخد‬zaid adalah orang yang
berpuasa, zaid adalah orang yang berpuasa). ‫ صائم زيد‬yang
kedua adalah taukid (pengokoh) bagi ‫ صخخخائم زيخخخد‬yang
pertama. Susunan ‫ صائم زيد‬adalah jumlah ismiyah (berupa
susunan mubtada’ ( ‫ ) زيد‬dan khabar ( ‫)) صائم‬.

Jika muakkad nya (kalimat yang dikokohkan) berupa isim


d}amir muttas}il dalam keadaan rafa, nas}ab atau jer, maka
taukidnya adalah dengan isim d}amir munfas{il yang dalam
169
keadaan rafa’. Contoh: ‫( أنخخا صخخمت‬saya, saya berpuasa). ‫أنخخا‬
(d}amir munfas}il dalm keadaan rafa’) adalah taukid, ‫ت‬
adalah muakkad (d}amir muttashil dalm keadaan rafa’).
Contoh lain: ‫( الجنة زوجك و أنت أسخخكن‬diamlah kamu, kamu dan
istrimu disurga). ‫( أنت‬d}amir munfas}il dalm keadaan rafa’)
adalah taukid, d}amir mustatir yang tersimpan dalam lafaz
‫ أسكن‬adalah muakkad .

BADAL
Badal secara bahasa adalah pengganti. Secara istilah, badal
adalah kalimat yang mengganti kalimat sebelumnya (mubdal
minhu / kalimat yang diganti) tanpa ditengah-tengahi oleh huruf
at}af, dan mengambil alih hukum / peristiwa yang dimiliki oleh
kalimat sebelumnya (mubdal minhu).
Badal (pengganti) harus sesuai dengan mubdal minhu) dalam
dua hal, yaitu:
Dari segi i’rabnya (rafa’, nas}ab, jer, jazm)
Dari segi jenis kalimatnya (isim atau fi’il)
Contohnya adalah: ‫( الخوف صلة الخ عبخخد إبخخن زيخخد يصخخلي‬zaid, anaknya
Abdullah itu sholat khauf / sholat dalam keadaan takut).
‫ يصلي‬: fi’il mudloi’ : I’rabnya rafa’
‫زيد‬ : fa’il (mubdal minhu) : Irobnya rafa’
‫إبن‬ : badal : I’rabnya rafa’ karena ikut
pada ‫ زيد‬yang I’rabnya rafa’
‫ إبخخن‬I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai badal,
yaitu ikut pada mubdal minhu (‫ )زيد‬yang I’rabnya adalah rafa’
sebagai fa’il. Tanda I’rabnya adalah dommah karena ‫ إبن‬adalah
isim mufod.
Lafaz ‫ إبن‬disebut badal karena mengganti ‫( زيد‬mubdal minhu) .
J#adi, yang sholat khouf adalah anaknya Abdullah.
‫( إبن‬badal) sesuai dengan ‫( زيد‬mubdal minhu) dalam dua hal:
‫ زيد‬I’rabnya adalah rafa’, ‫ إبن‬I’rabnya juga rafa’
‫ زيد‬adalah kalimat isim, ‫ إبن‬adalah kalimat isim

Macam-Macam Badal
Badal ada 5 macam, yaitu:
Badal kul min kul (keseluruhan), yaitu mengganti seluruh kalimat
dengan kalimat lain yang maknanya sama. Contoh:
Berupa isim: ‫( الخخخوف صخخلة الخخ عبخخد إبخخن زيخخد يصخخلي‬zaid, anaknya
‘abdullah sholat khouf / sholat dalam keadaan takut). ‫إبن‬
I’rabnya adalah rafa’ karena kedudukannya sebagai badal,
yaitu ikut pada mubdal minhu (‫ )زيد‬yang I’rabnya adalah
rafa’ sebagai fa’il.
‫ إبن‬adalah badal kul min kul karena mengganti seluruh ‫زيد‬
tapi makna keduanya sama.
Berupa fi’il: ‫( تعب فيها ينل لم جنانخا يخدخل يثخخب يخؤمن مخن‬barang siapa
yang beriman, maka dia diberi pahala, dimasukkan ke
surga yang di dalamnya tidak mengenal payah). ‫يخخدخل‬
I’rabnya adalah jazm karena kedudukannya sebagai badal,
yaitu ikut pada mubdal minhu (‫ )يؤمن‬yang I’rabnya jazm
karena didahului amil jazm ‫لم‬.
‫ يخخدخل‬adalah badal kul min kul karena mengganti seluruh
makna dari ‫ يثب‬tapi makna keduanya tetap sama,
Badal ba’adl minkul (sebagian), yaitu mengganti kalimat dengan
sebagian dari kalimat itu. Contoh:
Berupa isim: ‫( النية أشياء ثلثة الغسل وفرائض‬fardlu-fardlunya mandi
ada tiga perkara, niat). ‫النية‬ I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai badal, yaitu ikut pada mubdal
minhu (‫ )ثلثة‬yang I’rabnya adalah rafa’ sebagai khabar.
‫( النية‬niat) adalah badal ba’ad min kul karena mengganti
kalimat ‫ ثلثخخة‬secara sebagian. Jadi, ‫( النيخخة‬niat) adalah
bagian dari ‫ ثلثة‬, bukan keseluruhan dari ‫( ثلثة‬tiga).
Berupa fi’il: ‫( يرحمخخك لخخ تسخخجد تصخخل إن‬jika kamu sholat, sujud
kepada Allah maka kamu akan memberi rahmat
kepadamu). ‫ تسخخخخخخجد‬I’rabnya adalah jazm karena
kedudukannya sebagai badal, yaitu ikut pada mubdal
minhu (‫ )تصل‬yang I’rabnya jazm oleh huruf jazm ‫ إن‬.
‫ تسجد‬adalah badal ba’adl min kul karena mengganti kalimat
‫ تصخخل‬secara sebagian. Jadi, ‫( تسخخجد‬bersujud) adalah bagian
dari ‫( تصل‬sholat)
Badal isytimal (kandungan), yaitu mengganti kalimat dengan
sesuatu yang terkandung dari kalimat tersebut, tapi bukan
merupakan bagian dari kalimat tersebut. Contoh:
Berupa isim: ‫( علمه زيدا نلخخت‬saya mendapatkan zaid, ilmunya).
‫ علم‬I’rabnya adalah nas}ab karena kedudukannya sebagai
badal, yaitu ikut pada mubdal minhu (‫ )زيدا‬yang I’rabnya
adalah nas}ab sebagai maf’ul bih.
‫ علم‬adalah badal isytimal karena merupakan sesuatu yang
terkandung dalam ‫ زيدا‬, tapi bukan bagian dari ‫ زيدا‬.
Berupa fi’il: ‫( يعن بنا يستعن إلينا يصل من‬barang siapa yang sampai
kepada kami, minta tolong pada kami, maka dia akan
ditolong). ‫ يستعن‬I’rabnya adalah jazm karena kedudukannya
sebagai badal, yaitu ikut pada mubdal minhu (‫ )يصل‬yang
I’rabnya adalah jazm oleh huruf jazm ‫ من‬.
‫( يسخخخختعن‬minta tolong) adalah badal isytimal karena
merupakan sesuatu yang terkandung dalam ‫( يصل‬sampai),
tapi bukan bagian dari ‫( يصل‬sampai).
Badal ghalat (salah tanpa sengaja), yaitu mengganti kalimat
yang dianggap salah tanpa sengaja dengan kalimat yang
dianggap benar. Contoh:

171
Berupa isim: ‫( الخخزروع المواشخخي يزكخخي الفلح‬petani itu berzakat
binatang ternak, hasil tanaman). ‫ الخخزروع‬I’obnya adalah
nas}ab karena kedudukannya sebagai badal, yaitu ikut
pada mubdal minhu (‫ )المواشي‬yang I’rabnya adalah nas}ab
sebagai maf’ul bih.
‫( الخخخزروع‬hasil pertanian) adalah badal ghalat karena
dianggap kalimat yang benar dan mengganti kalimat ‫المواشي‬
(binatang ternak) yang dianggap salah. Karena biasanya
petani itu berzakat hasil pertanian.
Berupa fi’il: ‫( يكفنخخخه الميخخخت يخخخدفن هخخخو‬dia mengkafani mayat,
mengkafani). ‫ يكفخخخخخخن‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai badal, yaitu ikut pada mubdal
minhu (‫ )يخخخدفن‬yang I’rabnya adalah rafa’ karena tidak
didahului oleh amil nas}ab atau jazm.
‫( يكفخخن‬mengkafani) adalah badal ghalat karena dianggap
kalimat yang benar dan mengganti kalimat ‫يخخخخدفن‬
(menguburkan) yang dianggap salah tanpa sengaja.
Karena biasanya lebih dulu mengkafani mayat, lalu
menguburkannya.
Badal id}rab (salah dengan sengaja), yaitu mengganti kalimat
yang salah dengan sengaja, dengan kalimat yang benar
(kalimat yang dimaksudkan). Contoh:
Berupa isim: ‫( الغنخخم البخخل زك‬hendaklah kamu berzakat unta,
kambing). ‫ الغنخخخخخخم‬I’rabnya adalah nas}ab karena
kedudukannya sebagai badal, yaitu ikut pada mubdal
minhu (‫ )البل‬yang I’rabnya adalah nas}ab sebagai maf’ul
bih.
‫ الغنخخم‬adalah badal id}rab karena dianggap kalimat yang
benar (yang dimaksudkan) dan mengganti kalimat ‫البخخل‬
yang dianggap salah secara sengaja.
Berupa fi’il: ‫( رمضان أصوم أزكي‬saya zakat, saya berpuasa di
bulan romadon’). ‫ أصخخخوم‬I’rabnya adalah rafa’ karena
kedudukannya sebagai badal, yaitu ikut pada mubdal
minhu (‫ )أزكخخي‬yang I’rabnya adalah rafa’ karena tidak
didahului amil nas}ab atau jazm.
‫ أصوم‬adalah badal id}rab karena dianggap kalimat yang
benar (yang dimaksudkan) dan mengganti kalimat ‫أزكخخي‬
yang dianggap salah secara sengaja.

KETERANGAN
Antara badal dan at}af bayan ada persamaannya, yaitu sama -
sama menjelaskan kalimat yang diikuti dan tidak ada huruf at}af.
Akan tetapi antara badal dan at}af tersebut ada perbedaannya,
yaitu:
Dilihat dari maksud utama dari hukum / peristiwa:
Badal: yang menjadi maksud / sasaran utama dari suatu
hukum / peristiwa yang ada adalah badal itu sendiri.
Contoh: ‫( نصخخفها البيضخخة أكلخخت‬saya makan telur, separuhnya).
Yang menjadi sasaran utama dari hukum / peristiwa
(makan telur) adalah separuh telur (‫ ; نصخخفها‬badal). Jadi
maksud dari contoh ini adalah, saya makan separuh telur,
bukan seluruhnya.
At}af bayan: yang menjadi maksud / sasaran utama dari
suatu hukum / peistiwa yang ada adalah ma’tuf alaih (yang
diikuti).
Contoh: ‫( زيد الرجل جاء‬seorang laki-laki, zaid datang). Yang
menjadi sasaran utama dari hukum / peristiwa (datang)
adalah seorang laki-laki (‫ ; الرجل‬ma’tuf alaih). Sedangkan
zaid (‫ ; زيد‬at}af bayan) hanya menjelaskan nama laki-laki
itu.
Dilihat dari segi mana yang lebih jelas:
Badal: badal tidak lebih jelas dari mubdal minhu (kalimat yang
diikuti). Contoh: ‫( الرجخخخل زيخخخد جخخخاء‬zaid, seorang laki-laki
datang). ‫( الرجل‬badal) tidak lebih jelas dari mubdal minhu
(‫)زيد‬
At}af bayan: at}af bayan lebih jelas dari ma’tuf alaih (kalimat
yang diikuti). Contoh: ‫( زيد الرجخل جخاء‬seorang laki-laki, zaid
datang). ‫( زيخخد‬at}af bayan) lebih jelas dari ‫( الرجخخل‬ma’tuf
alaih) karena zaid itu menjelaskan nama dari seorang laki-
laki itu

Tabel macam-macam tawabi’:

N CONTOH
TAWABI’ KETERANGAN
O
Na’at hakiki ‫مطهر طاهر وهو‬
1 Na’at
Na’at sababi ‫طاهر وهو‬
‫استعماله مكروه مطهر‬
Huruf At}af: ,‫ أم‬, ‫ أو‬,‫ ثم‬,‫ ف‬,‫و‬ ‫البوال جميع غسل‬
2 At}af ‫ إما‬,‫ لكن‬,‫ ل‬,‫ بل‬,‫حتى‬ ‫واجب والوراث‬
Taukid ma’nawi (,‫ كل‬,‫ عين‬,‫نفس‬ ‫نفسه زيدا رأيت‬
3 Taukid
‫ أبصع‬,‫ أكتع‬,‫ )أبتع‬,( ‫)أجمع‬
Taukid lafzi ‫ الصائم زيد‬، ‫الصائم‬
Badal kul min kul ‫ال عبد إبن زيد يصلي‬
4 Badal (keseluruhan)
‫الخوف صلة‬
Badal ba’adl minkul (sebagian) ‫الغسل وفرائض‬
‫النية أشياء ثلثة‬

173
Badal isytimal (kandungan) ‫علمه زيدا نلت‬
Badal ghalat (salah tanpa ‫يزكي الفلح‬
sengaja)
‫الزروع المواشي‬

Badal id}rab (salah dengan ‫الغنم البل زك‬


sengaja)

HUKUM ‘ADAD DAN MA’DUD


Yang dimaksud ‘adad adalah hitungan bilangan. Sedangkan ma’dud
adalah yang dihitung. Hukum ‘adad dan ma’dud adalah:
Jika ‘adad berupa bilangan 1 – 2, maka ‘‘adad harus mengikuti
ma’dudnya dalam segi jenisnya (muzakkar , muannas), dan
kedudukan ‘adad sebagai na’at (sifat) bagi ma’dudnya.
Sedangkan ma’dudnya sebagai man’ut (yang disifati) yang
I’rabnya sesuai tuntutan amil. Contoh:
Artinya ‘adad Ma’dud
(sebagai na’at) (sebagai man’ut)

Murid (laki) yang ‫واحد‬ ‫تلميذ‬


satu Muzakkar muzakkar

Murid (perempuan) ‫واحدة‬ ‫تلميذة‬


yang satu - muannas - muannas

Murid (laki) yang dua ‫إثنان‬ ‫تلميذان‬


- muzakkar - muzakkar

Murid (perempuan) ‫إثنتان‬ ‫تلميذتان‬


yang dua - muannas - muannas

Jika ‘adad berupa ‫ إحخخدي‬/ ‫ أحخخد‬, maka ma’dud harus berbentuk


jama’ dan I’rabnya jer sebagai mud}af ilaih. Sedangkan ‘adad
sebagai mud}af yang I’rabnya sesuai tuntutan amil. Contoh:

Artinya Ma’dud ‘adad


(sebagai mud}af (sebagai mud}af)
ilaih)
Salah satu murid- ‫التلميذ‬ ‫أحد‬
murid laki muzakkar - muzakkar
jama’
Salah satu murid- ‫التلميذات‬ ‫إحدى‬
murid perempuan muannas - muannas
jama’

Jika ‘adad berupa bilangan 3 – 10, maka ‘‘adad harus berlawanan


jenis (muzakkar, muannas) dengan ma’dudnya. Ma’dud harus
berbentuk jama’ dan I’rabnya jer sebagai mud}af ilaih.
Sedangkan ‘‘adad sebagai mud}af yang I’rabnya sesuai tuntutan
amil. Contoh:

Artinya Ma’dud ‘adad


(sebagai mud}af (mud}af)
ilaih)
Tiga beberapa ‫أشياء‬ ‫ثلثة‬
perkara Muzakkar Muannas
Jama’
Empat beberapa ‫ركعات‬ ‫أربع‬
roka’at Muannas - muzakkar
Jama’

Jika ‘adad berupa bilangan 11 – 12, maka bilangan satuan dan


puluhan harus sama jenisnya (muzakkar, muannas) dengan
ma’dudnya. Ma’dud harus berbentuk mufrad dan I’rabnya adalah
nas}ab sebagai tamyiz. Sedangkan ‘adad hukumnya mabni atas
tanda nas}ab tanpa tanwin. Contoh:
Artinya Ma’dud Bilangan Bilangan
(sebagai puluhan satuan
tamyiz)
11 bintang ‫كوكبا‬ ‫عشر‬ ‫أحد‬
Muzakkar Muzakkar Muzakkar
Mufrad Mabni fathah Mabni fathah

12 papan tulis ‫سبورة‬ ‫عشرة‬ ‫إثنتا‬


Muannas Muannas Muannas
Mufrad Mabni fathah Mabni alif

Jika ‘adad berupa bilangan 13 – 19, maka bilangan satuan harus


berlawanan jenis (muzakkar, muannas) dengan ma’dudnya,
sedangkan bilangan puluhan harus sama jenisnya (muzakkar,
muannas) dengan ma’dudunya. Ma’dud harus berbentuk mufrad
dan I’rabnya adalah nas}ab sebagai tamyiz. Sedangkan ‘adad
hukumnya mabni atas tanda nas}ab tanpa tanwin. Contoh:
Artinya Ma’dud Bilangan Bilangan
(sebagai puluhan satuan
tamyiz)
17 rukun ‫غسل‬ ‫عشر‬ ‫سبعة‬
Muzakkar Muzakkar Muannas
Mufrad Mabni fathah Mabni fathah

16 peci ‫قلنسوة‬ ‫عشرة‬ ‫ست‬


Muannas Muannas Muzakkar
Mufrad Mabni fathah Mabni fathah

175
Jika berupa bilangan tingkatan yang mengikuti wazan ‫فاعل‬, maka
‘adad harus mengikuti ma’dudnya dalam segi jenisnya
(muzakkar, muannas), dan kedudukan ‘adad sebagai na’at (sifat)
bagi ma’dudnya. Sedangkan ma’dud sebagai man’ut (yang
disifati) yang I’rabnya sesuai tuntutan amil. Contoh:
Artinya ‘adad Ma’dud
(sebagai ‘‘adad) (sebagai man’ut)

Rukun yang ke- ‫الرابع‬ ‫الركن‬


empat - muzakkar - muzakkar

Rokaat yang ke-tiga ‫الثالثة‬ ‫الركعة‬


- muannas - muannas
Harokat syin ( ‫ ) ش‬pada ‫ عشر‬/ ‫ عشرة‬:
Jika ma’dudnya muzakkar, maka harokat syin adalah fathah.
Contoh:
Artinya Ma’dud ‘adad

10 laki-laki ‫رجال‬ ‫عشرة‬


11 laki-laki ‫رجل‬ ‫أحد عشر‬

Jika ma’dudnya muannas, maka harokat syin adalah sukun.


Contoh:
Artinya Ma’dud ‘‘adad

10 perempuan ‫نساء‬ ‫عشر‬


11 perempuan ‫إمرأة‬ ‫إحدى عشرة‬

TANAZU’ FI AL-‘AMAL
Yang dimaksud tanazu’ adalah dua amil atau lebih yang
memerintah satu ma’mul (yang diperintah) atau lebih yang berada
setelah amil. Contoh: ‫( زيد يصوم و يصلي‬zaid sedang sholat dan sedang
puasa).
‫ يصلي‬: fi’il mud}ari’ (amil pertama) : I’rabnya rafa’
‫ يصوم‬: fi’il mud}ari’ (amil kedua) : I’rabnya rafa’
‫ زيد‬: fa’il (ma’mul ) : I’rabnya rafa’
Pada contoh ini terjadi tanazu’, yaitu ada dua amil (‫ يصلي‬dan ‫)يصوم‬
yang merafa’kan ‫( زيد‬ma’mul ) sebagai fa’il.
Menurut ulama’ bashroh, yang beramal adalah amil terkahir karena
lebih dekat dengan ma’mul . Jadi, yang merafa’kan ‫( زيد‬ma’mul )
adalah ‫( يصوم‬amil terakhir) karena lebih dekat dengan ma’mul nya.
Sedangkan menurut ulama’ kufah, yang beramal adalah amil yang
pertama karena berada di awal. Jadi, yang merafa’kan ‫( زيد‬ma’mul )
adalah ‫( يصلي‬amil pertama) karena berada di awal. Masing-masing
dari dua pendapat ini mempunyai hukum masing-masing.
Rinciannya sebagai berikut:
Jika yang beramal adalah amil yang pertama, maka amil yang
terakhir beramal kepada isim d}amir yang kembali kepada
ma’mul .
Contoh: ‫( المسلمان يتيممان و يتوضأ‬dua orang muslim berwudlu’ dan
bertayammum).
‫( يتوضأ‬amil pertama) beramal, yaitu merafa’kan ‫( المسلمان‬ma’mul )
sebagai fa’il
‫( يتيممخخخان‬amil terakhir) beramal kepada isim d}amir ( ‫ ; ا‬alif
tasniyah) yang kembali kepada ‫( المسلمان‬ma’mul )

177
Jika yang beramal adalah amil yang terakhir, maka:
Jika amil yang pertama merafa’kan ma’mul berupa isim d}amir,
maka isim d}amir tersebut tampak. Contoh: ‫المسخخلمان يخختيمم و‬
‫( يتوضأن‬dua orang muslim berwudlu’ dan bertayammum)
‫( يتيمم‬amil terakhir) beramal, yaitu merafa’kan ‫( المسلمان‬ma’mul
) sebagai fa’il
‫( يتوضخخأن‬amil pertama) merafa’kan isim d}amir sebagai fa’il,
dan d}amir tersebut tampak ( ‫ ; ا‬alif tasniyah).
Jika amil yang pertama menas}abkan ma’mul berupa isim
d}amir, maka isim d}amir tersebut dibuang. Contoh: ‫زيخخد‬
‫( ضربني و لطمت‬saya menempeleng zaid dan zaid memukulku).
‫( ضرب‬amil terakhir) beramal, yaitu merafa’kan ‫( زيد‬ma’mul )
sebagai fa’il
‫( لطم‬amil kedua) menas}abkan isim d}amir ( ‫) ه‬, tapi d}amir
tersebut dibuang. Asalnya adalah ‫زيد لطمته و ضربني‬
Jika amil yang pertama menjerkan ma’mul berupa isim d}amir,
maka isim d}amir tersebut dibuang. Contoh: ‫محمد على وسلم وبارك‬
‫( صخخل‬berikanlah sholawat, salam, dan berkah kepada nabi
Muhammad SAW).
‫( بارك‬amil terakhir) beramal, yaitu menjerkan ‫( محمد‬ma’mul )
dengan huruf jer. Karena ‫ بارك‬adalah fi’il muta’addi dengan
huruf jer
‫( صخخل‬amil pertama) menjerkan isim d}amir ( ‫) ه‬, tapi isim
d}amir tersebut dibuang. Begitu juga ‫( سخخلم‬amil kedua)
menjerkan isim d}amir ( ‫) ه‬, tapi isim d}amir tersebut
dibuang. Asalnya adalah ‫محمد على وبارك عليه وسلم عليه صل‬

ISYTIGHOL
Isytighol secara bahasa sibuk. Secara istilah isytighol adalah ketika
ada kalimat isim yang mendahului amil (berupa fi’il atau isim) dan
amil tersebut bersambung dengan d}amir yang kembali kepada
kalimat isim tersebut. Contoh: ‫( أحبهخا عائشخخة‬saya mencintai aisyah).
Pada contoh ini terjadi isytighol, yaitu ‫( عائشة‬isim) mendahului ‫أحب‬
(amil berupa fi’il) yang bersambung dengan ‫( هخخخا‬d}amir) yang
kembali kepada ‫ عائشخخخة‬. disebut isytighol karena ‫( أحخخخب‬amil)
menas}abkan ‫ عائشة‬sekaligus menas}abkan ‫ ها‬. Jadi terjadi isytighol
karena ‫( أحب‬amil) dianggap sibuk karena menas}abkan dua kalimat
isim sekaligus (‫ عائشة‬dan ‫)ها‬.
I’rab kalimat isim yang mendahului amil tersebut (seperti lafaz ‫عائشة‬
pada contoh ‫ )عائشة أحبها‬ada dua kemungkinan:
Lebih utama beri’rab rafa’ sebagai mubtada’. Contoh: ‫أحبهخخا عائشخخة‬
(saya mencintai aisyah). ‫ عائشخخة‬I’rabnya adalah rafa’ sebagai
mubtada’. Tanda I’rabnya adalah dlommah karena ‫ عائشة‬adalah
isim mufrad.
Nas}ab sebagai maf’ul bih. Contoh: ‫( أحبهخخا عائشخخة‬saya mencintai
aisyah). ‫ عائشة‬I’rabnya adalah nas}ab sebagai maf’ul bih. Tanda
I’rabnya adalah fathah karena ‫ عائشة‬adalah isim mufrad.

Akan tetapi, kalimat isim yang mendahului amil tersebut adakalnya:


Wajib beri’rab rafa’ sebagai mubtada’ (tidak boleh beri’rab nas}ab)
dalam tiga keadaan:
Berada setelah ‫ الفجائية إذا )إذا‬yang bermakna tiba-tiba). Contoh:
‫( زيخخد فخخإذا خرجخخت فريخخد ضخخربه‬saya keluar, tiba-tiba farid memukul
zaid). ‫ زيد‬I’rabnya wajib rafa’ sebagai mubtada’ (tidak boleh
nas}ab) karena berada setelah ‫) إذا )الفجائية إذا‬
Berada setelah ‫ الحال واو ) و‬yang bermakana keadaan). Contoh:
‫( والسخخيارة جئت زيخخد يركبهخخا‬saya datang ketika keadaan mobil itu
dinaiki zaid). ‫ السخخيارة‬I’rabnya wajib rafa’ sebagai ‘ mubtada’
(tidak boleh nas}ab) karena berada setelah ‫) و )واو الحال‬
Berada sebelum 1) Adat istifham (alat untuk bertanya, seperti ‫هل‬
2 .() syarat (seperti ‫( تخضيض‬3 .( ‫( إن‬ajakan, seperti ‫( النافية‬4 .( ‫هل‬
‫ مخخخا ) مخخخا‬yang bermakna peniadaan). 5) ‫ البتخخخداء لم )ل‬yang
menjadi permulaan). 6) ‫ التعجبيخخخخة مخخخخا ) مخخخخا‬yang bermakna
keterkejutan). 7) ‫ الخبرية كم ) كم‬yang berupa berita). 8) ‫ إن‬dan
saudara-saudaranya.
Contoh: ‫( فعلته مخخا الشخخر‬saya tidak melakukan perbuatan jelek).
‫ الشر‬I’rabnya wajib rafa’ sebagai ‘ mubtada’ (tidak boleh nas}ab)
karena berada setelah ‫) النافية ما‬ ‫) ما‬
Lebih utama ber’irob nas}ab sebagai maf’ul bih (boleh juga beri’rab
rafa’) dalam 5 keadaan:
Berada sebelum fi’il amr (perintah). Contoh: ‫أكرمخخخخه خالخخخخدا‬
(mulyakanlah kholid). ‫ خالخخخدا‬i’rabnya lebih utama beri’rab
nas}ab sebagai maf’ul bih (boleh juga rafa’) karena berada
sebelum ‫( أكرم‬fi’il amr).
Berada sebelum fi’il nahi (larangan). Contoh: ‫تعبخخخده ل الشخخخيطان‬
(janganlah menyembah syetan). ‫ الشيطان‬i’rabnya lebih utama
beri’rab nas}ab sebagai maf’ul bih (boleh juga rafa’) karena
berada sebelum ‫( تعبد ل‬fi’il nahi)
Berada sebelum fi’il yang bermakna doa. Contoh: ‫يسره أمري أللهم‬
(ya allah, mudah-mudahan engkau memudahkan urusanku).
‫ أمري‬i’rabnya lebih utama beri’rab nas}ab sebagai maf’ul bih
(boleh juga rafa’) karena berada sebelum ‫( يسخخر‬fi’il yang
bermakna doa)
Berada setelah hamzah istifham. Contoh: ‫( تزكيخخه ثمخخارا أ‬apakah
kamu berzakat buah-buahan). ‫ ثمخخخارا‬i’rabnya lebih utama
beri’rab nas}ab sebagai maf’ul bih (boleh juga rafa’) karena
berada setelah ‫( أ‬hamzah istifham)
Menjadi jawaban dalam keadaan nas}ab dari pertanyaan yang
dibuang. Contoh: ‫( أكرمتخخخه عليخخخا‬saya memuyakan ali). ‫عليخخخا‬
I’rabnya lebih utama beri’rab nas}ab sebagai maf’ul bih

179
(boleh juga rafa’) karena menjadi jawaban dari pertanyaan
yang dibuang, yaitu ‫( أكرمته من ؟‬siapa yang kamu mulyakan).

CIRI-CIRI UMUM KEDUDUKAN / POSISI DALAM SUSUNAN


KALIMAT

Mubtada’
Cocok bermakna “adapun”
Berada di awal perkataan dan sebagai kalimat pokok
Berupa isim zahir / d}amir / fi’il mud}ari’ yang di dahului ‫أن‬
Biasanya berupa isim ma’rifat
Contoh: ‫( سميع ال و‬Allah adalah Dzat yang maha melihat).
Khabar
Cocok bermakna “adalah”
Menjadi pelengkap dari mubtada’ dan sebagai kalimat pokok
Berupa mufrad / jumlah ismiyah/ jumlah fi’liyah / jer majrur /
zaraf
Contoh: ‫( سميع ال و‬Allah adalah Dzat yang maha melihat).
Fa’il
Cocok bermakna “siapa” atau “apa”
Sebagai pelaku dari suatu pekerjaan
Berada setelah fi’il ma’lum dan sebagai kalimat pokok
Berupa isim zahir / d}amir / fi’il yang di dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬
Contoh: ‫( ال نصر جاء إذا و‬apabila datang pertolongan Allah)
Naibul fa’il
Cocok bermakna “siapa” atau “apa”
Sebagai objek yang menempati posisinya subjek
Berada setelah fi’il majhul dan sebagai kalimat pokok
Berupa isim zahir / d}amir / fi’il yang di dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬
Contoh: ‫( كفروا الذين لعن‬orang-orang yang kafir itu dilaknat).
Maf’ul bih
Cocok bermakna “kepada”
Sebagai objek dari pekerjaannya fa’il
Berada setelah fi’il muta’addi
Berupa isim zahir / d}amir / fi’il yang di dahului ‫ أن‬/ kata yang
didahului ‫أن‬
Contoh: ‫( النسان خلقنا لقد‬sungguh kami menciptakan manusia)
Masdar
Cocok bermakna “dengan”
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Sebagai penegas / penjelas macam pekerjaan / penjelas hitungan
pekerjaan
Berupa isim masdar
Didahului oleh amil (fi’il dll) yang sama arti / bentuk dengan isim
masdar
Contoh: ‫( شقا الرض شققنا ثم‬kemudian kami memecah bumi dengan
benar-benar memecah)

Haal
Cocok bermakna “ dalam keadaan”
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Sebagai penjelas keadaan dari shohibul haal
Biasanya berupa sifat (isim fa’il / isim maf’ul / sifat mushabihat)
Berupa isim nakirah
Contoh: ‫( مؤمنخخا بيخختي دخخخل لمخخن‬bagi orang yang masuk ke rumahku
dalam keadaan beriman)
Tamyiz
Cocok bermakna “apanya”
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Sebagai penjelas dari kalimat yang samar pada kalimat
sebelumnya
Berupa isim masdar / isim jamid
Biasanya berada setelah isim tafd}il atau setelah bilangan 11 –
99
Contoh: ‫( تأويل أحسخخن و خيخخر ذلخخك‬hal itu lebih baik dan lebih bagus
penafsirannya)
Dzaraf
Cocok bermakna “di” / “di dalam” / “pada”
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Menjelaskan keterangan waktu / tempat
Contoh: ‫( يوما لبثت قال‬salah satu penghuni gua itu berkata, saya
tinggal selama satu hari)
Mustatsna
Berada setelah adat istitsna’

181
Sebagai kalimat yang dikecualikan
Contoh: ‫( إبليس إل فسجدوا‬kemudian para malaikat itu sujud kecuali
iblis).
Maf’ul li ajlih
Cocok bermakna “karena”
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Sebagai alasan terjadinya pekerjaan
Berupa masdar qolby
Contoh: ‫( الخخخ مرضخخخات ابتغخخخاء أمخخخوالهم ينفقخخخون‬mereka menafkahkan
hartanya karena mengharap ridlo Allah)
Maf’ul ma’ah
Cocok bermakna “bersama”
Berada setelah wawu ma’ah (wawu yang bermakna bersama)
Berada setelah sempurna jumlah (sebagai pelengkap)
Contoh: ‫( والجيخخس الميخخر جخخاء‬pemimpin itu datang bersama bala
tentaranya)
SUSUNAN KALIMAT DALAM BAHASA ARAB

MUBTADA’ + KHABAR
Mubtada’ adalah subjek.
Khabar adalah predikat.
Contoh: ‫( سميع ال و‬Allah adalah Dzat yang maha melihat). ‫ال و‬:
mubtada’. ‫ سميع‬: khabar
Kadang susunannya dibalik, yaitu Khabar + mubtada’. Contoh:
‫( أبصارهم في غشاوة‬pada beberapa mata mereka ada penutup).
‫أبصارهم في‬: khabar. ‫ غشاوة‬: mubtada’
Kemungkinan susunan kalimat yang terjadi pada susunan
mubtada’ dan khabar, yaitu:
Mubtada’ + khabar + pelengkap
Contoh: ‫( بالعبخخخاد بصخخخير الخخخ و‬Allah adalah melihat hamba-
hambanya).
‫ ال‬: mubtada’. ‫ بصير‬: khabar. ‫ بالعباد‬: pelengkap
Mubtada’ + pelengkap + khabar
Contoh: ‫( خخخبير تعملخخون بمخخا ال خ و‬Allah mengetahui apa yang
kamu kerjakan).
‫ ال‬: mubtada’. ‫تعملون بما‬: pelengkap. ‫ خبير‬: khabar
Amil nawasikh (\ ‫ ان‬, ‫ )كان‬dan saudaranya + mubtada’ (isim) +
khabar
Contoh: ‫( عليمخخخا الخخخ وكخخخان‬Allah adalah Dzat yang maha
mengetahui).
‫ كان‬: amil nawasikh. ‫ ال‬: mubtada’ (isim). ‫ عليما‬: khabar
Amil nawasikh (‫ ان‬, ‫ )كان‬dan saudaranya + khabar + mubtada’
(isim)
Contoh: ‫( شخخخخيئ كمثلخخخخه ليخخخخس‬tidak ada sesuatupun yang
menyerupai Allah).
‫ ليس‬: amil nawasikh. ‫ كمثله‬: khabar. ‫ شيئ‬: mubtada’ (isim)
Amil nawasikh (‫ ان‬, ‫ )كان‬dan saudaranya + mubtada’ (isim) +
pelengkap + khabar .
Contoh: ‫( قدير شيئ كخخل علخخى الخ إن‬sesungguhnya Allah mampu
terhadap setiap sesuatu).
‫ إن‬: amil nawasikh. ‫ الخخ‬: mubtada’ (isim). ‫شخخيئ كخخل علخخى‬:
pelengkap. ‫ قدير‬: khabar

Pelengkap biasanya mengiringi susunan mubtada’ dan khabar


adalah jer majrur. Contoh: ‫( بالعباد بصير ال و‬Allah adalah melihat
hamba-hambanya)
‫ ال خ‬: mubtada’. ‫ بصخخير‬: khabar. ‫ بالعبخخاد‬: pelengkap berupa jer
majrur
Pelengkap mubtada’ dan khabar juga bisa berupa pelengkap
yang biasanya mengiringi susunan fi’il dan fa’il

183
(pembahasannya akan dibahas setelah ini). Contoh: ‫تأويل أحسن‬
‫( و خير ذلك‬hal itu lebih baik dan lebih bagus penafsirannya)
‫ ذلك‬: mubtada’. ‫ خير‬: khabar. ‫ تأويل‬: pelengkap berupa tamyiz
Kadang pelengkap tidak hanya satu saja. Pada susunan kalimat
kadang mempunyai dua pelengkap atau lebih, contoh: ‫إستحبابا‬
‫( أشخخد مواضخخع ثلثخخة فخخي وهخخو‬siwak itu dalam tiga keadaan lebih
sangat kesunnahannya)
‫ وهو‬: mubtada’. ‫ مواضع ثلثة في‬: pelengkap berupa jer majrur. ‫أشد‬
: khabar. ‫ إستحبابا‬: pelengkap berupa tamyiz.

FI’IL + FA’IL / FI’IL + NAIBUL FA’IL


Fi’il adalah kata kerja
Fa’il adalah pelaku, berada setelah kata kerja aktif
Naibul Fa’il adalah objek yang menempati posisi subjek karena
berada setelah kata kerja pasif
Contoh: ‫( ال نصر جاء إذا و‬apabila datang pertolongan Allah) , ‫كفروا‬
‫( الذين لعن‬orang-orang yang kafir itu dilaknat).
‫ جاء‬: fi’il ma’lum. ‫ نصر‬: fa’il. ‫ لعن‬: fi’il majhul. ‫ الذين‬: na’ibul fa’il
Kemungkinan susunan kalimat yang terjadi pada susunan
mubtada’ dan khabar, yaitu:
Fi’il + fa’il / naibul fa’il+ pelengkap
Contoh: ‫( بنخخخورهم الخخخ ذهخخخب‬Allah menghilangkan cahaya
mereka) , ‫( للناس وضع‬diletakkan untuk manusia)
‫ ذهب‬: fi’il ma’lum. ‫ ال‬: fa’il. ‫ بنورهم‬: pelengkap.
‫ وضع‬: fi’il majhul. ‫( هو‬d}amir yang tersimpan) : fa’il. ‫ للناس‬:
pelengkap
Fi’il + pelengkap + fa’il / naibul fa’il
Contoh: ‫( إعراضهم عليك كبر كان إن و‬jika penentangan mereka
besar terhadapmu) , ‫( الصخيام عليكخم كتخب‬diwajibkan puasa
kepadamu)
‫ كبر‬: fi’il ma’lum. ‫ عليك‬: pelengkap. ‫ إعراضهم‬: fa’il
‫ كتب‬: fi’il majhul. ‫ عليكم‬: pelengkap. ‫ الصيام‬: naibul fa’il
Pelengkap + fi’il + fa’il / naibul fa’il
Contoh: ‫( نعبد إياك‬hanya kepadamu kami menyembah) ,
‫( زيد ضرب البيت امام‬zaid dipukul di depan rumah)
‫ إيخخاك‬: pelengkap. ‫ نعبخخد‬: fi’il ma’lum. ‫( نحخخن‬d}amir yang
tersimpan) : fa’il
‫ امام‬: pelengkap. ‫ ضرب‬: fi’il majhul. ‫ زيد‬: naibul fa’il

Pelengkap yang biasanya mengiringi susunan fi’il dan fa’il /


naibul fa’il, yaitu:
Jer majrur. Contoh: ‫( الكتاب أهل من طائفة وقالت‬satu golongan dari
ahli kitab berkata)
‫ قالت‬: fi’il ma’lum. ‫ طائفة‬: fa’il. ‫ الكتاب أهل من‬: jer majrur
Maf’ul bih. Contoh: ‫( النسان خلقنا لقد‬sungguh kami menciptakan
manusia)
‫ خلق‬: fi’il ma’lum. ‫ نا‬: fa’il. ‫ النسان‬: maf’ul bih
Dua maf’ul ‫ ظخخن‬dan saudaranya. Contoh: ‫خليل إبراهيخخم ال خ واتخخخذ‬
(Allah menjadikan nabi Ibrahim sebagai kekasih)
‫ واتخذ‬: amil nawasikh (saudara ‫ ال‬.(‫ ظن‬: fa’il. ‫ إبراهيم‬: maf’ul
pertama. ‫خليل‬: maf’ul kedua
Masdar. Contoh: ‫( شقا الرض شخخققنا ثخخم‬kemudian kami memecah
bumi dengan benar-benar memecah)
‫ شق‬: fi’il ma’lum. ‫ نا‬: fa’il. ‫ الرض‬: maf’ul. ‫ شقا‬: masdar
Haal. Contoh: ‫( مؤمنخخا بيخختي دخخخل لمخخن‬bagi orang yang masuk ke
rumahku dalam keadaan beriman)
‫ دخل‬: fi’il ma’lum. ‫( هو‬d}amir yang tersimpan) : fa’il. ‫ مؤمنا‬:
haal
Tamyiz. Contoh: ‫( شيبا الرأس واشتعل‬uban rambutnya bersinar)
‫ اشتعل‬: fi’il ma’lum. ‫ الرأس‬: fa’il. ‫ شيبا‬: tamyiz
Zaraf. Contoh: ‫( يومخخا لبثخخت قخخال‬salah satu penghuni gua itu
berkata, saya tinggal selama satu hari)
‫ لبث‬: fi’il ma’lum. ‫ ت‬: fa’il. ‫ يوما‬: Zaraf
Mustasna. Contoh: ‫( إبليس إل فسجدوا‬kemudian para malaikat itu
sujud kecuali iblis).
‫ سجد‬: fi’il ma’lum. ‫( و‬wawu jama’): fa’il. ‫ إبليس‬: mustasna
Catatan: mustasna biasanya menjadi pelengkap jika
berupa Kalam Tam (mustasna minhu disebutkan)
Maf’ul li ajlih. Contoh: ‫( ال خ مرضخخات ابتغخخاء أمخخوالهم ينفقخخون‬mereka
menafkahkan hartanya karena mengharap ridlo Allah)
‫ ينفق‬: fi’il ma’lum. ‫( و‬wawu jama’): fa’il. ‫ أموالهم‬: maf’ul bih.
‫ ابتغاء‬: maf’ul li ajlih
Maf’ul ma’ah. Contoh: ‫( والجيس المير جخخاء‬pemimpin itu datang
bersama bala tentaranya)
‫ جاء‬: fi’il ma’lum. ‫ المير‬: fa’il. ‫ الجيس‬: maf’ul ma’ah
Kadang pelengkap tidak hanya satu saja. Pada susunan
kalimat kadang mempunyai dua pelengkap atau lebih,
contoh: ‫( مبشرين النبيين ال فبعث‬kemudian Allah mengutus para
nabi dalam keadaan sebagai orang yang memberi kabar
gembira)
‫ بعث‬: fi’il ma’lum. ‫ ال‬: fa’il. ‫ النبيين‬: maf’ul bih. ‫ مبشرين‬: haal

Tabel susunan kalimat dalam bahasa arab:

N SUSUNAN RINCIAN SUSUNAN CONTOH


O KALIMAT KALIMAT
MUBTADA’ Mubtada’ + khabar +
1 + KHABAR pelengkap ‫بالعباد بصير ال و‬

Mubtada’ + pelengkap + ‫خبير تعملون بما ال و‬


khabar
Amil nawasikh (\ ‫ ان‬, ‫)كان‬ ‫عليما ال وكان‬

185
dan saudaranya +
mubtada’ (isim) +
khabar
Amil nawasikh (‫ ان‬, ‫)كمممان‬
dan saudaranya + ‫شيئ كمثله ليس‬
khabar + mubtada’
(isim)
Amil nawasikh (‫ ان‬, ‫)كمممان‬ ‫قدير شيئ كل على ال إن‬
dan saudaranya +
mubtada’ (isim) +
pelengkap + khabar
FI’IL + Fi’il + fa’il / naibul fa’il+
FA’IL / pelengkap ‫ بنورهم ال ذهب‬,
2 FI’IL + ‫للناس وضع‬
NAIBUL
FA’IL
Fi’il + pelengkap + fa’il / ‫إعراضهم عليك كبر كان إن‬
naibul fa’il
‫و‬,
‫الصيام عليكم كتب‬
Pelengkap + fi’il + fa’il / ‫ نعبد إياك‬,
naibul fa’il
‫زيد ضرب البيت امام‬

Tabel pelengkap:

N PELENGKAP CONTOH
O
1 Jer majrur ‫الكتاب أهل من طائفة وقالت‬
2 Maf’ul bih ‫النسان خلقنا لقد‬
3 Dua maf’ul ‫ ظن‬dan saudaranya ‫خليل إبراهيم ال واتخذ‬
4 Masdar ‫شقا الرض شققنا ثم‬
5 Haal ‫مؤمنا بيتي دخل لمن‬
6 Tamyiz ‫شيبا الرأس واشتعل‬
7 Zaraf ‫يوما لبثت قال‬
8 Mustasna ‫إبليس إل فسجدوا‬
9 Maf’ul li ajlih ‫ال مرضات ابتغاء أموالهم ينفقون‬
10 Maf’ul ma’ah ‫والجيس المير جاء‬
Kadang pelengkap tidak hanya ‫مبشرين النبيين ال فبعث‬
satu saja. Pada susunan kalimat
kadang mempunyai dua
pelengkap atau lebih, contoh:

CATATAN I
Ada 4 posisi / kedudukan yang biasanya mengikuti mubtada’ /
khabar / fi’il / fa’il / na’ibul fa’il / pelengkap, yang disebut
Tawabi’, yaitu:
Na’at (sifat). Seperti susunan Fi’il + fa’il + pelengkap + na’at.
Contoh: ‫( الرجيم الشيطان من بال أعوذ‬saya berlindung kepada Allah
dari godaan syaitan yang terkutuk)
‫ أعوذ‬: fi’il ma’lum. ‫( أنا‬d}amir yang tersimpan) : fa’il. ‫الشيطان من‬:
pelengkap. ‫ الرجيم‬: na’at
At}af (kata sambung). Seperti susunan fi’il + pelengkap + fa’il +
at}af.
Contoh: ‫( نخخوم ول سخخنة تأخخخذه ل‬Allah tidak pernah ngantuk dan
tidur)
‫ تأخذ‬: fi’il ma’lum. ‫ ه‬: pelengkap. ‫ سنة‬: fa’il. ‫ نوم‬: at}af
Taukid (penegas). Seperti susunan amil nawasikh (‫ ) إن‬+
mubtada’ (isim) + taukid + khabar.
Contoh: ‫( ل خ كلخخه المخخر إن قخخل‬katakanlah, sesungguhnya semua
urusan itu adalah milik Allah)
‫ إن‬: amil nawasikh. ‫ المر‬: mubtada’ (isim). ‫ كله‬: taukid. ‫ لخ‬:
khabar
Badal (pengganti). Seperti susunan mubtada’ + khabar + badal.
Contoh: ‫( العالمين رب ل الحمد‬segala puji adalah milik Allah, tuhan
semesta alam)
‫ الحمد‬: mubtada’. ‫ ل‬: khabar. ‫العالمين رب‬: badal

CATATAN II
Ada 5 kalimat isim yang beramal seperti fi’il, yaitu:
Isim masdar. Seperti susunan isim masdar + fa’il + pelengkap.
Contoh: ‫( أبخخخاك إكرامخخخك أحخخخب‬saya senang kamu memulyakan
ayahmu)
‫ إكرام‬: isim masdar. ‫ ك‬: fa’il. ‫ أباك‬: pelengkap
Isim fa’il. Seperti susunan isim fa’il + fa’il + pelengkap.
Contoh: ‫( ضخخخخيوفه سخخخخعيد مكخخخخرم هخخخخل‬apakah said orang yang
menghormati para tamunya?)
‫ مكرم‬: isim fa’il. ‫ سعيد‬: fa’il. ‫ ضيوفه‬: pelengkap
Isim maf’ul. Seperti susunan isim maf’ul + naibul fa’il.
Contoh: ‫( استعماله مكروه‬yang dimakruhkan penggunaannya)
‫ مكروه‬: isim maf’ul. ‫ استعماله‬: naibul fa’ik
Sifat mushabihat. Seperti susunan sifat mushabihat + fa’il.
Contoh: ‫( خلقه حسن علي‬ali itu bagus tingkah lakunya)
‫ حسن‬: sifat mushabihat. ‫ خلقه‬: fa’il
Isim tafd}il. Seperti susunan isim tafd}il + fa’il.
Contoh: ‫( سعيد من أشجع خالد‬kholid lebih berani dari pada said)

187
‫ أشجع‬: isim tafd}il. ‫( هو‬d}amir yang tersimpan) : fa’il

LANGKAH-LANGKAH MEMBACA KITAB KUNING

Mengetahui arti tiap kalimat (kata) dengan melihat di


kamus. Langkah-langkahnya:
Jika berupa fi’il:
Menentukan fi’il mad}i dan wazannya : sebelum lihat di
kamus
Menentukan fi’il mujarradnya (jika berupa fi’il mazid), lalu
mencari di kamus
Menentukan jenis kalimatnya (secara tashrifnya) : untuk
mengetahui arti kalimat yang dimaksud
Jika berupa isim (jamid / musytaq):
Berupa isim musytaq:
Menentukan isim mufradnya
Menentukan fi’il mad}i dan wazannya (jika berupa isim
musytaq)
Menentukan fi’il mujarradnya (jika berupa isim musytaq),
lalu mencari di kamus
Menentukan jenis kalimatnya (jika berupa isim musytaq) :
untuk mengetahui arti kalimat yang dimaksud
Berupa isim jamid: langsung mencari di kamus
Jika berupa huruf: langsung mencari di kamus

Membaca akhir kalimat. Langkah-langkahnya:


Menentukan jenis kalimat (fi’il / isim / huruf)
Menentukan mabni dan mu’rabnya;
Jika berupa mabni:
Jika berupa fi’il mad}i: kemabniannya dengan apa
Jika berupa fi’il amr: kemabniannya dengan apa
Jika berupa fi’il mud}ari’: kemabniannya dengan apa
Jika berupa huruf: kemabniannya langsung lihat di kamus
Jika berupa isim: kemabniannya sesuai jenis isim yang
mabni
Jika berupa mu’rab:
Jika berupa isim:
Menentukan kedudukan dan i’rabnya
Menentukan jenis kalimat dan tanda i’rabnya
Jika berupa fi’il mud}ari’:
Melihat amil (nas}ab atau jazm) yang masuk dan
i’rabnya
Menentukan jenis kalimat dan tanda i’rabnya

Memahami susunan kalimat dalam bahasa arab


Berupa fi’il + fa’il dan juga pelengkapnya
Berupa mubtada’ + khabar dan pelengkapnya
Langkah ini dilakukan setelah mengetahui arti dari tiap-tiap
kalimat.

Keterangan:
Langkah ke-2 dan ke-3 ini sangat berkaitan dan bisa dilakukan
secara bersamaan. Langkah ke-2 lebih ditekankan untuk
mengetahui susunan kalimat bahasa arab. Sedangkan langkah
ke-3 lebih fokus pada membaca akhir kalimat.
Dalam membaca kitab juga perlu diperhatikan Syiyaqul kalam,
yaitu melihat konteks perkataan, baik melihat kalimat sebelum
atau sesudahnya, atau melihat arti yang pas untuk suatu
kalimat.
Syiayaqul kalam ini untuk menetukan beberapa kemungkinan
yang dimiliki oleh satu jenis kalimat. Jadi untuk menentukan apa
jenis ataupun hukum yang dimiliki oleh suatu kalimat, maka
harus melihat syiyaqul kalam (konteks perkataan)
Atau juga untuk melihat arti yang pas ketika mencari arti kalimat
di kamus, maka dengan melihat konteks perkataannya.

CONTOH PRAKTEK: ‫ينطلقون ثم أكل المسافرون رزا‬

MENGETAHUI ARTI TIAP KALIMAT


‫أكل‬
Mengetahui arti tiap kalimat.
Lafaz ‫ أكل‬adalah fi’il. Maka langkah-langkahnya:
Fi’il mad}inya adalah ‫ أكل‬, wazannya ‫فعل – يفعل‬
Fi’il mujarradnya adalah ‫ أكل‬. Maka lafaz ‫ أكل‬ini yang dicari
di kamus. Setelah dilihat di kamus, artinya ” makan ”
Jenis kalimat ‫ أكخخل‬adalah fi’il mad}i. Maka artinya adalah
”telah makan”
Membaca akhir kalimat
lafaz ‫ أكل‬adalah fi’il

189
Lafaz ‫ أكل‬adalah fi’il mad}i, maka hukumnya mabni
Lafaz ‫ أكل‬adalah fi’il mad}i yang tidak bersambung dengan
wawu jama’ ( ‫) و‬, dan atau tidak bersambung dengan
d}amir rafa’ mutaharrik, maka mabni dengan fathah.
Maka membaca huruf akhirnya adalah ‫أكل‬

‫المسافرون‬
Mengetahui arti tiap kalimat.
Lafaz ‫ المسخخخخافرون‬adalah isim musytaq. Maka langkah-
langkahnya adalah:
Isim mufrad lafaz ‫ المسافرون‬adalah ‫المسافر‬
Fi’il mad}i lafaz ‫ المسافرون‬adalah ‫ سافر‬, wazannya adalah ‫فاعل‬
Fi’il mujarrad lafaz ‫ سافر‬adalah ‫سفر‬. Maka lafaz ‫ سفر‬ini yang
dicari di kamus. Setelah ketemu lafaz ‫ سخخفر‬, langsung
mencari lafaz ‫ سخخافر‬atau langsung pada lafaz ‫ المسخخافر‬.
Artinya adalah ” berjalan” atau ” bepergian”
Jenis kalimat dari lafaz ‫ المسخخافرون‬adalah isim fa’il. Maka
artinya adalah ”orang yang berjalan” atau ”orang yang
bepergian”.
Membaca akhir kalimat
Lafaz ‫ المسافرون‬adalah kalimat isim
Lafaz ‫ المسخخخافرون‬adalah kalimat isim yang tidak serupa
dengan huruf, maka hukumnya mu’rab.
Lafaz ‫ المسافرون‬adalah isim, maka:
Kedudukannya adalah sebagai fa’il (pelaku), i’rabnya
adalah rafa’
Jenis kalimatnya adalah jama’ muzakkar salim, maka
tanda i’rabnya ketika rafa’ adalah wawu ( ‫) و‬
‫رزا‬
Mengetahui arti tiap kalimat.
Lafaz ‫ رزا‬adalah isim jamid. Maka langkahnya adalah
cukup mencari isim mufradnya, yaitu lafaz ‫ رز‬. sedangkan
alif ( ‫ ) ا‬adalah tambahan untuk mencocokkan dengan
harokat fathah. Maka lafaz ‫ رز‬ini yang dicari di kamus.
Artinya adalah ” nasi”
Membaca akhir
lafaz ‫ رزا‬adalah kalimat isim
Lafaz ‫ رزا‬adalah kalimat isim yang tidak serupa dengan
huruf, maka hukumnya mu’rab.
Lafaz ‫ رزا‬adalah isim, maka:
Kedudukannya adalah sebagai maf’ul bih (objek),
i’rabnya adalah nas}ab
Jenis kalimatnya adalah isim mufrad, maka tanda
i’rabnya ketika nas}ab adalah fathah, maka cara
membacanya ‫ رزا‬.
‫ثم‬
Membaca perhuruf dari tiap kalimat (sampai sebelum akhir) &
mengetahui arti per kalimat.
Lafaz ‫ ثخخم‬adalah kalimat huruf. Maka langkahnya adalah
langsung mencari lafaz ‫ ثم‬di kamus.
Membaca akhir kalimat & dan memahami maksud dari
perkataan.
lafaz ‫ ثم‬adalah kalimat huruf
Lafaz ‫ ثخخم‬adalah kalimat huruf, maka hukumnya adalah
mabni
Lafaz ‫ ثخخخم‬adalah kalimat huruf, maka kemabniannya
langsung lihat di kamus.

‫ينطلقون‬
Mengetahui arti tiap kalimat
Lafaz ‫ ينطلقون‬adalah fi’il. Maka langkah-langkahnya adalah:
Fi’il mad}i lafaz ‫ ينطلقون‬adalah ‫ انطلق‬, wazannya adalah ‫انفعل‬
Fi’il mujarrad lafaz ‫ انطلق‬adalah ‫ طلق‬. Maka lafaz ‫ طلق‬ini yang
dicari di kamus. Setelah ketemu lafaz ‫ طلخخق‬, langsung
mencari lafaz ‫ انطلق‬. Artinya adalah ” berangkat”
Jenis kalimat dari lafaz ‫ ينطلقون‬adalah fi’il mud}ari’ . Maka
artinya adalah ”akan / sedang berangkat”.
Membaca akhir kalimat
lafaz ‫ ينطلقون‬adalah kalimat fi’il
Lafaz ‫ينطلقون‬ adalah kalimat fi’il yang tidak bersambung
dengan nun taukid dan atau nun jama’ inats, maka
hukumnya mu’rab.
Lafaz ‫ ينطلقون‬adalah fi’il mud}ari’ jer, maka:
Tidak ada amil nas}ab dan jazm, maka i’rabnya adalah
rafa’
jenis kalimatnya adalah af’alul khomsah, maka tanda
i’rabnya adalah tetapnya nun.

MENGETAHUI SUSUNAN KALIMAT


Setelah mengetahui arti tiap-tiap kalimat pada contoh diatas,
maka selanjutnya adalah mengetahui susunan kalimatnya. Pada
contoh ‫ينطلقون ثم أكل المسافرون رزا‬, susunan kalimatnya adalah fi’il
+ fa’il dan pelengkap. Rinciannya adalah:
‫أكل‬ (telah makan) : Fi’il (kata kerja)
‫المسافرون‬ (para musafir) : Fa’il (pelaku)
‫رزا‬ (nasi) : Maf’ul bih (objek)
‫ثم‬ (kemudian) : Huruf ‘at}af (penghubung)
‫ينطلقون‬ (berangkat) : Fi’il mud}ari’. Fa’ilnya adalah d}amir ( ‫و‬
)

Keterangan terkait syiyaqul kalam

191
Lafaz ‫أكل‬
Lafaz ‫ أكل‬ada dua kemungkinan, bisa saja berupa fi’il mad}i, bisa
saja berupa isim masdar. Tapi setelah dilihat dari konteks
perkataannya, lafaz ‫ أكل‬lebih pas berupa fi’il mad}i, karena lafaz
‫ أكل‬mempunyai fa’il, yaitu lafaz ‫ المسافرون‬.
Kalau lafaz ‫ أكل‬berupa isim masdar, seharusnya kedudukannya
menjadi mubtada’ karena berada di awal perkataan. Sedangkan
pada contoh di atas tidak ada khabarnya. Maka tidak pas jika
lafaz ‫ أكخخل‬berupa isim masdar. Maka yang lebih pas, lafaz ‫أكخخل‬
adalah fi’il mad}i

Lafaz ‫المسافرون‬.
Dilihat dari tashrifnya, jenis kalimat lafaz ‫ المسخخخافرون‬ada 5
kemungkinan:
Isim masdar ( ‫) المسافر‬, artinya perjalanan
Isim fa’il ( ‫) المسافر‬, artinya orang yang berjalan
Isim maf’ul ( ‫) المسافر‬, artinya yang dijalankan
Isim zaman ( ‫) المسافر‬, waktu berjalan
Isim makan ( ‫) المسافر‬, tempat berjalan
Setelah dilihat konteksnya, maka jenis kalimat yang lebih pas
adalah isim fa’il ( ‫) المسخافر‬, yang artinya orang yang berjalan /
bepergian karena berkaitan dengan kata kerja ‫( أكل‬makan). Maka
artinya adalah orang-orang yang bepergian itu telah makan
Lafaz ‫ثم‬
Lafaz ‫ ثخخم‬ada beberapa kemungkinan, diantaranya: bisa berupa
kalimat huruf ( ‫ ثم‬: kemudian), bisa berupa kalimat isim dzaraf ( ‫ثم‬
: di sana). Tapi setelah dilihat dari konteksnya, lafaz ‫ ثم‬lebih pas
berupa kalimat huruf ( ‫ ثم‬: kemudian). Maka arti dari contoh itu
adalah, orang-orang yang bepergian itu telah makan, kemudian
akan berangkat.
Lafaz ‫ينطلقون‬
Dilihat dari tashrifnya, jenis kalimat lafaz ‫ ينطلقخخون‬, adakalanya
berupa fi’il mabni ma’lum, ada kalanya berupa fi’il mabni majhul.
Tapi dilihat dari konteks perkataannya, maka lafaz ‫ ينطلقون‬lebih
pas berupa fi’il mabni ma’lum, karena fa’ilnya ada, yaitu berupa
d}amir wawu (‫ ) و‬, yang kembali kepada lafaz ‫المسافرون‬
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, al-Fawakih al-Janiyah, Surabaya, al-Hidayah, tt

Abi hasan ‘ali, Kailani, surabaya, al-Hidayah, tt

Ahmad bin zaini dahlan, matn al-jurmiyah, Surabaya, al-Hidayah, tt

Hasyim isma’i, Jadwal al-Nahwi, Jeddah, al-Haramain, tt

Hasyim isma’i, Jadwal al-Sharfi, Jeddah, al-Haramain, tt

Ibnu aqil, Ibnu Aqil, surabaya, al-Hidayah, tt

Jamaluddin muhammad, Alfiyah,

Muhammad ma’shum, al-Amsilah al-Tashrifiyah, Surabaya, Salim

Nabhan, tt

193
Muhammad mahmudi syah, Al-bayan

Mustafa al-gholayaini, Jami’ Al-Durus Al-‘Arabiyah, Beirut, al-


Maktabah al-‘Ashriyah, 2000
Syarifuddin yahya, al-‘Imriti,