Anda di halaman 1dari 18

Pengaruh imigrasi terhadap

pembangunan ekonomi nasional

Disusun oleh :

Fandy Satria Nugraha

AKADEMI IMIGRASI XIV

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT atas segala


berkah dan karuniaNya yang telah diberikan kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pengaruh imigrasi
terhadap pembangunan ekonomi nasional”. Makalah ini disusun sebagai
tugas dari mata kuliah ekonomi.

Dengan dibuatnya makalah ini penulis berharap makalah ini dapat


bermanfaat bagi pembaca dan makalah ini dapat memenuhi nilai tugas
dari mata kuliah ekonomi.

Dalam mengerjakan makalah ini penulis banyak mendapat bantuan


dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih
kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam proses terbentuknya
makalah ini.

Dalam pembuatan makalah ini, masih banyak terdapat kekurangan.


Oleh karena itu, penulis mohon maaf bila terjadi kekurangan ataupun
kekeliruan dalam pembuatan makalah ini. Penulis mengharapkan kritik
dan saran untuk kemajuan dalam pembuatan makalah lainnya. Atas
perhatiannya penulis mengucapkan terima kasih.

Tangerang, November 2010

Penulis

2
DAFTAR ISI

HALAMAN
JUDUL............................................................................................................
..........1

KATA
PENGANTAR..................................................................................................
...................2

DAFTAR
ISI..................................................................................................................
...............3

BAB I PENDAHULUAN

a. Latar
Belakang..............................................................................................
.................4

BAB II PEMBAHASAN

a. Penghasilan negara bukan


pajak…….............................................................................6

1. Visa.................................................................................................
.........................7

2. Paspor……………………………………………………………………………
………………………………..9

b. Peran
imigrasi………………………………………………………………………………
……………………….11

3
BAB III PENUTUP

a. Kesimpulan…………………………………………………………………
……………..…………………………..15

b. Saran…………………………………………………………………………
……………………………………………15

DAFTAR
PUSTAKA……………………………………………………………………………………
………………………..16

BAB I PENDAHULUAN

4
a. Latar Belakang

Kenyataan bahwa pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan,


teknologi dan juga transportasi memudahkan orang untuk melakukan
perjalanan dari suatu negara ke negara lain. Keadaan ini harus
dipandang sebagai hal yang wajar tanpa menghilangkan kewaspadaan
karena tanpa disadari pasti akan membawa dampak permasalahan
terutama pada lalu lintas antar negara.

Dapat dipastikan tidak semua orang asing yang masuk ke Indonesia


memberikan manfaat seperti yang diharapkan dalam kebijaksanaan
pemerintah Negara Indonesia. Dengan demikian tugas Direktorat
Jenderal Imigrasi sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis
Departemen Kehakiman yang berubah menjadi Departemen Hukum dan
Hak Asasi Manusia (HAM) mempunyai peranan yang sangat penting
untuk mengatur lalu lintas orang asing antar negara dan
mengawasi kedatangan, keberadaan serta kegiatan orang asing sampai
meninggalkan wilayah Republik Indonesia, hal ini ditunjukan untuk
menjaga kelancaran dan pelaksanaan pengamanan pembangunan.
Suatu kenyataan di Indonesia, bahwa masih banyak terdapat
penyalahgunaan ijin kunjungan.

Dalam menghadapi lalu lintas orang asing setiap negara dimanapun


letaknya, demi menjaga keutuhan dan keamanannya, mengadakan
pengawasan terhadap orang asing dengan mengeluarkan ketentuan-
ketentuan yang mengatur keluar masuknya orang asing ke negara
tersebut atau yang mengatur orang asing yang hendaknya bertempat
tinggal di negara tersebut.

Peran imigrasi sangat berpengaruh dalam mengatur aktivitas


tersebut, dalam aktivitastersebut tentunya banyak yang terlibat dan
dilibatkan. Ketika seseorang pergi dan datang dari dalam dan luar negeri

5
pastinya membutuhkan visa dan paspor, itu merupakan kewajiban yang
harus dilaksanakan bagi orang yang yang akan melakukan perjalanan
dari dan keluar negeri. Visa dan paspor masuk dalam penghasilan
negara bukan pajak. PNBP merupakan lingkup keuangan negara yang
dikelola dan dipertanggungjawabkan sehingga Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) sebagai lembaga audit yang bebas dan mandiri turut
melakukan pemeriksaan atas komponen yang mempengaruhi pendapatan
negara dan merupakan penerimaan negara sesuai dengan undang-
undang.

Dalam makalah ini akan dibahas tentang peran imigrasi dalam


pembangunan ekonomi nasional, imigrasi mengurus visa, paspor yang
merupakan penghasilan negara bukan pajak. Dalam makalah ini akan
dibahas secara rinci mengenai visa dan paspor yang termasuk
penghasilan bukan pajak dan merupakan peran imigrasi dalam
pembangunan ekonomi nasional. Dari aspek regular dimaksudkan bahwa
Penerimaan Negara Bukan Pajak mampu dipergunakan sebagai sarana
untuk mengatur kebijakan pemerintah dalam berbagai aspek dalam
rangka menggerakkan roda pembangunan. Peranan Penerimaan Negara
Bukan Pajak dalam menopang pembiayaan pembangunan di negara kita.

6
BAB II PEMBAHASAN

a. Penghasilan negara bukan pajak

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) adalah seluruh


penerimaanPemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan
perpajakan (Pasal 1angka 1 UU No. 20 Tahun 1997). Pengertian
Penerimaan Negara Bukan Pajak mencakup semua penerimaan dengan
nama dan bentuk apapun yang dapat dinilai dengan uang, baik yang
diterima di dalam negeri, maupun luar negeri, diluar penerimaan
perpajakan (termasuk bea cukai) serta penerimaan minyak dan gas bumi
(migas).

Penerimaan ini dalam garis besarnya dikelompokkan menjadi dua


golongan yaitu Penerimaan Umum dan Penerimaan Fungsional.
Penerimaan umum adalah yang secara umum terdapat pada setiap
Departemen/Lembaga. Misalnya, sewa rumah dinas, hasil penjualan
kenderaan dinas dan penerimaan Jasa Lembaga Keuangan (Jasa giro) dan
lain-lain.

Sedangkan penerimaan fungsional adalah jenis-jenis penerimaan


yang diperoleh sebagai hasil penjualan atau pemberian pelayanan yang
diberikan oleh Departemen/ Lembaga sesuai dengan fungsinya atau yang
secara spesifik berada pada Departemen/ Lembaga.

PNBP dalam UU No. 20 Tahun 1997 dapat dikelompokkan meliputi :


• penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana
Pemerintah;
• penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam;

7
• penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan Negara yang
dipisahkan;
• penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan
Pemerintah;
• penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari
pengenaan denda administrasi;
• penerimaan berupa hibah yang merupakan hak Pemerintah; dan
• penerimaan lainnya yang diatur dalam Undang-undang tersendiri.

PNBP dipungut atau ditagih oleh Instansi Pemerintah (Departemen


dan Lembaga Non Departemen) sesuai dengan perintah UU atau PP atau
penunjukan dari Menteri Keuangan, berdasarkan Rencana PNBP4 yang
dibuat oleh Pejabat Instansi Pemerintah5 tersebut. PNBP yang telah
dipungut atau ditagih tersebut wajib dilaporkan secara tertulis oleh
Pejabat Instansi Pemerintah kepada Menteri Keuangan dalam bentuk
Laporan Realisasi PNBP Triwulan yang disampaikan paling lambat 1(satu)
bulan setelah triwulan tersebut berakhir.
Pada dasarnya Penerimaan Negara Bukan Pajak merupakan sumber
Penerimaan Negara yang diperoleh karena pemberian pelayanan jasa
atau penjualan barang milik negara oleh Departemen/Lembaga negara
kepada masyarakat. Dan penerimaan ini dapat pula berasal dari pungutan
dalam bentuk iuran, retribusi, sumbangan atau pungutan. Selain berfungsi
sebagai salah satu sumber penerimaan negara, PNBP dapat pula
berfungsi sebagai alat pengaturan (regulasi) misalnya dalam kebijakan
penentuan tarif dan penyesuaian-penyesuaian.
Dalam Imigrasi yang termasuk penerimaan bukan pajak yaitu visa
dan paspor. Berikut ini keterangan mengenai visa dan paspor :
1. Visa

Setiap orang asing yang masuk ke wilayah Indonesia wajib memiliki


visa. Visa adalah salah satu bentuk Surat Perjalanan. Berdasarkan Pasal 1
ayat (7) Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian
dirumuskan pengertian visa yakni suatu izin tertulis yang diberikan oleh

8
pejabat berwenang pada Perwakilan Republik Indonesia atau di tempat
lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia yang
memuat persetujuan bagi orang asing untuk masuk dan melakukan
perjalanan ke wilayah Negara Republik Indonesia.

Berikut dibawah ini adalah jenis-jenis visa, antara lain:

1. Visa diplomat, diberikan kepada orang asing pemegang paspor


diplomatik
2. Visa dinas, diberikan kepada orang asing pemegang paspor dinas
yang hendak berpergian ke Indonesia untuk menjalankan tugas
resmi dari pemerintah asing atau diutus PBB yang tidak tugas
diplomatik.
3. Visa transit, diberikan kepada orang asing yang dalam
perjalanannya perlu singgah di Indonesia untuk pindah ke kapal laut
atau pesawat terbang untuk melanjutkan perjalanan atau kembali
ke negara asal.
4. Visa kunjungan wisata, diberikan kepada orang asing yang hendak
berkunjung ke Indonesia dengan tujuan wisata, dan visa ini berlaku
selama 30 (tiga puluh) hari setelah yang bersangkutan berada di
Indonesia.
5. Visa kunjungan usaha, diberikan kepada orang yang hendak
berkunjung ke Indonesia dengan maksud untuk melakukan usaha
dibidang perdagangan, pertanian, perikanan dan sebagainya
dengan maksud untuk bekerja menurut ketentuan hukum yang
berlaku, dan visa ini berlaku selama 3 (tiga) bulan.
6. Visa kunjungan sosial budaya, diberikan kepada orang asing yang
hendak berkunjung ke Indonesia untuk keperluan kunjungan sosial
budaya, visa ini berlaku selama 60 (enam puluh) hari sejak ijin
diberikan, bila secara kolektif berlaku untuk minimal 5 orang dan
maksimal 25 orang, visa ini tidak termasuk kunjungan wisata atau
usaha.
7. Visa berdiam sementara/ Visa tinggal terbatas, diberikan kepada :

9
o Orang asing tenaga ahli dengan tujuan bekerja beserta isteri
dan anak-anaknya yang sah dan anggota keluarga yang
kehidupannya menjadi tangggung jawab yang bersangkutan.
Visa ini berlaku selama 1 (satu) tahun.
o Orang asing yang akan mengikuti pendidikan dan pelatihan
atau melakukan penelitian ilmiah. Visa berlaku selama 1
(satu) tahun.
o Wanita asing dan anak dibawah umur (dibawah 16 tahun)
yang akan menyertainya dengan suami/ ayah seorang warga
negara Indonesia. Visa ini berlaku selama 6 (enam) bulan.
o Seorang bekas Warga Negara Indonesia yang kehilangan
kewarganegaraannya berdasarkan undang-undang
kewarganegaraan. Visa ini berlaku selama 6 (enam) bulan.

Bentuk visa dapat berupa sebagai berikut ini :

1. Cap dinas;
2. Lembaran yang dilekatkan pada paspor;
3. Kartu biasa; atau
4. Kartu elektronik.

Visa Republik Indonesia dikeluarkan dalam bentuk stiker yang


dicantumkan ke dalam paspor pemohon. Masa berlaku visa yang sudah
dikeluarkan adalah 90 dari tanggal pengeluaran. Izin tinggal diberikan
maksimum 60 hari dan mulai berlaku pada saat izin masuk diberikan oleh
pihak imigrasi di tempat pemeriksaan keimigrasian pada saat
kedatangan. Visa yang telah diberikan harus dipergunakan dalam waktu
90 (sembilan puluh) hari terhitung sejak tanggal visa diterbitkan. Dalam
jangka waktu 90 hari terlampaui, maka visa tersebut habis masa berlaku
dan kepada orang asing atau yang dikuasakan harus mengajukan
kembali.

Visa diberikan berdasarkan permintaan, dan permohonan visa ini


ditujukan kepada Kepala Perwakilan Republik Indonesia di luar negeri atau

10
kepada Pejabat Republik Indonesia di tempat lain yang ditetapkan oleh
pemerintah Republik Indonesia dan visa ini diberikan kepada orang asing
yang maksud dan tujuan kedatangannya di Indonesia bermanfaat serta
tidak akan menimbulkan gangguan terhadap ketertiban dan keamanan
nasional.

Adapun orang asing yang dikecualikan tidak harus memiliki visa untuk
masuk ke wilayah Indonesia adalah sebagai berikut:

1. Warga Negara Asing dari negara-negara yang berdasarkan


Keputusan Presiden tidak diwajibkan untuk memiliki visa.
2. Orang asing yang memiliki izin masuk kembali.
3. Kapten atau nahkoda dan awak yang bertugas pada alat angkut
yang berlabuh di pelabuhan atau mendarat di bandar udara wilayah
Indonesia.
4. Penumpang transit di pelabuhan atau bandar udara di wilayah
Indonesia sepanjang tidak ke luar dari tempat transit yang berada di
daerah Tempat Pemeriksaan Imigrasi.

Paspor

Paspor adalah dokumen resmi yang dikeluarkan oleh pejabat yang


berwenang, memuat identitas pemegangnya dan berlaku untuk
melakukan perjalanan antar negara. Pasal 3 Undang-Undang No. 9 Tahun
1992 tentang Keimigrasian menyatakan bahwa setiap orang yang masuk
ke atau keluar dari wilayah Indonesia wajib memiliki Surat Perjalanan.

Jenis-Jenis Paspor

Ada beragam paspor yang dikenal. Masyarakat awam yang hendak


berangkat ke luar negeri pada umumnya harus mengurus paspor biasa.
Paspor biasa terdiri dua jenis, yaitu yang 48 halaman diberikan kepada
warga umum dengan masa berlaku 5 tahun, dan paspor 24 halaman yang
lazim dipakai Tenaga Kerja Indonesia (TKI).

11
Orang-orang yang secara resmi ditunjuk mewakili Indonesia di luar
negeri seperti duta besar, atase, dan konsul menggunakan paspor
diplomatik. Sementara pejabat pemerintahan seperti Menteri yang
berkunjung ke luar negeri umumnya menggunakan paspor dinas. Ada
juga yang disebut paspor haji, yakni paspor yang khusus dipakai jamaah
haji. Selain itu ada pula yang disebut (i) Surat Perjalanan Laksana Paspor
untuk WNI; (ii) Surat Perjalanan Laksana Paspor untuk Orang Asing; dan
(iii) Surat Perjalanan Laksana Paspor Dinas.

Syarat-Syarat Mengurus Paspor

Untuk mendapatkan paspor melalui Kantor Imigrasi, seseorang harus


membawa bukti. Yang harus Anda siapkan adalah Bukti Domisili seperti
kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK); dan Bukti Diri
seperti Akte Kelahiran, ijazah, surat nikah. Bagi Pegawai negeri yang
hendak bersekolah keluar negeri misalnya perlu mengikutsertakan
rekomendasi dari atasan.

Selain kedua bukti tadi, bagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) masih
dibebani syarat tambahan yaitu Kartu Identitas sebagai TKI yang
dikeluarkan kantor Dinas Tenaga Kerja dan daftar nama-nama nominasi
calon TKI yang akan membuat paspor.

Regulasi Kemudahan Pemberian Paspor

Sejalan dengan perkembangan masyarakat dunia dimana batas-


batas negara semakin kabur atau yang lazim disebut borderless world,
kunjungan antar negara sudah lazim dilakukan. Frekuensinya pun cepat.
Ratusan ribu hingga jutaan orang asing berkunjung ke Indonesia setiap
tahun, demikian pula sebaliknya. Oleh karena itu, Pemerintah berusaha
mempermudah pemberian fasilitas paspor.

Dirjen Imigrasi pernah menerbitkan Peraturan No. F.083.PL.01.10


Tahun 2006 tentang Penerapan Sistem Foto Terpadu Berbasis Biometrik
pada Surat Perjalanan Republik Indonesia. Penggunaan teknologi

12
biometrik dimaksudkan untuk mencegah pemalsuan dan sekaligus
mempercepat pelayanan.

Tahun 2006, Dirjen Imigrasi menerbitkan Instruksi tentang


Pelaksanaan Inpres No. 6 Tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem
Penempatan dan Perlindungan TKI. Berdasarkan Surat Edaran ini,
pengurusan paspor TKI diselesaikan dalam waktu tiga hari kerja, fungsi
verifikasi dokumen keberangkatan di Terminal Pemberangkatan
ditiadakan, pembentukan konter khusus TKI di imigrasi, dan memberantas
percaloan.

Peraturan Dirjen Imigrasi No. F-960.IZ.03.02 Tahun 2006


menegaskan bahwa paspor RI dapat diberikan dimana saja tanpa dibatasi
aspek domisili yang tertera di dalam KTP pemohon paspor.

Pemalsuan Paspor

Direktorat Imigrasi mencium adanya pemalsuan paspor. Meskipun


sulit dilacak, pemalsuan bisa saja terjadi. Penggunaan foto biometrik
antara lain dimaksudkan untuk mencegah pemalsuan tersebut.

Salah satu kasus yang belakangan terungkap adalah dugaan


pemalsuan paspor yang dilakukan Vincentius Amin Sutanto, terpidana 11
tahun penjara dalam kasus pembobolan Bank Fortis Singapura. Ketika
melarikan diri keluar negeri dari kejaran aparat hukum, ia diduga
menggunakan paspor palsu. Vincent sudah dinyatakan tersangka dalam
kasus ini.

b. Peranan imigrasi

Pengaturan bidang keimigrasian (lalu lintas keluar masuk) suatu


negara berdasarkan hukum internasional merupakan hak dan wewenang
suatu negara. Dengan perkataan lain, merupakan salah satu indikator
kedaulatan suatu negara. Negara yang berdaulat adalah negara yang
secara hukum internasional diakui keberadaannya, baik secara de jure

13
maupun de facto.Karena itulah kebijakan dibidang keimigrasian suatu
negara jajahan berada ditangan negara penjajah dan sesuai dengan
kepentingan negara penjajajah, yang menempatkan negara jajahan
sebagai proyek ekonominya. Indonesia pernah bersatatus negara jajahan,
baik di zaman Belanda maupun di Zaman Jepang. Itulah sebabnya
mengapa Imigrasi di Indonesia yang diakui secara internasional hingga
tahun 1949 hanyalah imigrasi pemerintah Hindia Belanda. Dapat
dikatakan bahwa kebijakan keimigrasian dalam suatu negara merupakan
cerminan kebijakan pertahana,keamanan, dan ekonomi dari negara
tersebut.

Keimigrasian adalah bidang yang amat vital sekaligus rawan.


Keimigrasian merupakan bagian dari rangkaian kehidupan ,peranan inilah
yang menempatkan Imigrasi sebagai sebagai sektor yang vital karena
keterkaitannya dengan kepentingan dan keamanan suatu bangsa .
Berimigrasinya pelarian kriminal, kelompok/pelaku teroris ke suatu negara
tentulah tidak diharapkan, maka pertama-tama orang/kelompok tersebut
harus berhadapan dengan Pejabat Imigrasi yang berada di batas-batas
negara baik itu yang berada di dalam wilayah kedaulatan negara
(Bandara, dan Pelabuhan Laut) maupun yang berada di perbatasan
negara langsung (Pelabuhan darat , banyak terdapat di Kalimantan), yang
berhak membolehkan atau menolak ia memasuki negara tersebut
hanyalah seorang Pejabat Imigrasi.Besarnya Peranan, kewenangan dan
tanggung jawab yang di emban oleh seorang Pejabat Imigrasi kurang
disadari oleh pemerintah dan kurang diperhatikan.

Keberadaan aparatur keimigrasian sebagai salah satu titik strategis


di tengah berlangsungnya dinamika politik, ekonomi, sosial kebudayaan
dan keamanan. Karena itu kebijakan Imigrasi bisa menimbulkan efek baik
yang positif maupun yang negatif. “Fungsi keimigrasian yang mengatur
serta mengawasi keberadaan orang asing akan memiliki peran yang
signifikan. Secara lintas instasi imigrasi dapat menjadi vocal point dari
pengawasan orang asing.Kebijakan keimigrasian untuk mengatasi
kejahatan terorganisir lintas negara, harus dapat menjangkau juga bidang

14
lain seperti politik, ekonomi, sosial masyarakat, dan kebudayaan, baik
berskala nasional, regional maupun internasional. Oleh karena itu
kebijakan keimigrasian mempunyai keterkaitan substansial yang
berdampak beruntun.

Pada dasarnya fungsi dan peranan keimigrasian bersifat universal,


yaitu melaksanakan pengaturan lalu lintas orang masuk dan keluar
wilayah suatu negara. Lazimnya dilaksanakan berdasarkan suatu politik
imigrasi, yaitu kebijakan negara yang telah ditetapkan digariskan oleh
pemerintahnya sesuai dengan ketentuan hukum, peraturan perundang-
undangan yang berlaku. Secara operasional, peranan keimigrasian di
Indonesia selalu mengandung tiga fungsi :

• Fungsi Pelayanan Masyarakat

Fungsi Pelayanan masyarakat dapat dilihat dalam proses pemberian


SPRI dan pemberian VISA

• Fungsi Penegakan Hukum dan Keamanan

Fungsi Penegakan Hukum dan Keamanan dapat dilihat dalam


pemberian izin masuk&keluar bagi WNA yang dianggap tidak
membahayakan bagi pertahanan dan keamanan Indonesia serta
menindak WNA melakukan kegiatanyang tidak sesuai dengan
perizinannya.

• Fungsi Fasilitator pembangunan ekonomi.

Fungsi Fasilitator pembangunan ekonomi dapat dilihat dari


pemberian izin tinggal, bila WNA tersebut mendatangkan manfaat bagi
pembangunan ekonomi maka WNA tersebut dapat diberikan izin tinggal
dalam waktu yang agak lama (ITAS/ITAP).

Imigrasi adalah instansi pemerintah yang mengatur masuk dan


keluarnya WNI dan WNA dari dan ke wilayah NKRI, hal ini sesuai dengan

15
UU nomor 9 tahun 1992. begitu hebatnya kewenangan yang dimiliki oleh
Imigrasi meskipun tidak bersenjata seperti TNI-POLRI. Imigrasi tidak hanya
mengatur lalu lintas WNI dan WNA tapi juga melakukan pengawasan
terhadap kegiatan dan keberadaan WNA yang berada di NKRI hal ini
tertuang dalam UU nomor 9 tahun 1992.

Salah satu fungsi Keimigrasian adalah pengawasan terhadap WNA.


Dengan begitu maka Imigrasi dapat menjadi ujung tombak terhadap
pengawasan orang asing karena yang berhak untuk memeriksa dokumen
WNA hanyalah Imigrasi. Sekarang ini banyak instansi yang terlibat dalam
pertahanan dan keamanan belum secara sadar akan peranan imigrasi.
Imigrasi dapat digunakan sebagai bungkus operasi inteligen, operasi
terhadap pengamanan perbatasan-perbatasan RI, Operasi kontra teroris.

Salah satu fungsi fasilitator bidang ekonomi adalah pelayanan


terhadap WNI dan WNA. Pelayanan terhadap WNI dapat meningkatkan
APBN dan devisa Negara. APBN dan Devisa Negara didapat dari TKI yang
ada diluar negeri karena Imigrasi masuk dalam system TKI tetapi imigrasi
tidak terlibat dalam penempatan TKI diluar negeri. Imigrasi hanya sebagai
instansi yang member dokumen dan memberangkatan TKI yang mengatur
akan teknis penempatan TKI adalah Departemen Tenaga Kerja dan
BNP2TKI. APBN juga didapat dari pelayanan keimigrasian bagi WNA dalam
hal izin masuk (visa), izin tinggal (ITK,ITAS,ITAP), Re entry permit (izin
masuk kembali bagi WNA yang memiliki izin tinggal).

Imigrasi dapat berperan dalam memajukan industry pariwisata


karena Imigrasi mengeluarkan fasilitas visa on arrival bagi WNA yang
termasuk dalam Inpres yang mempunyai maksud dan tujuan untuk
pariwisata. Imigrasi dapat berperan dalam pengembangan dunia
pendidikan karena yang mempunyai data tentang pekerjaan WNA yang
memiliki izin tinggal. Informasi tentang pekerjaan yang dilakukan oleh
WNA dapat menjadi masukkan untuk pembukaan disiplin ilmu yang bisa
dipelajari oleh pelajar-pelajar local sehingga nantinya pekerjaan tersebut
dapat dilaksanakan oleh WNI.

16
BAB III PENUTUP

a. Kesimpulan

Dari keterangan-keterangan di atas dan dari data yang diperoleh


dapat kita simpulkan bahwa peranan imigrasi cukup berpengaruh dalam
pembangunan ekonomi nasional. Hasil yang dikelola oleh imigrasi berupa
visa dan paspor yang merupakan penghasilan bukan pajak, membantu
menopang pergerakkan perekonomian di Indonesia.

Besarnya peranan Imigrasi seperti yang tertulis diatas maka sudah


sewajarnya Pemerintah menyadari akan peranan Imgrasi sebagai salah
satu instansi penting pemerintah sehingga dapat lebih
memberdayakannya dan merperhatiankannya. Bila hal ini tidak juga
dilakukan bagaimana Imigrasi dapat memberikan kontribusi yang penting
dan besar dalam Negara yang kita cintai ini. Semoga tulisan ini dapat
membuka pemikiran dan pemahaman pembaca akan peranan Imigrasi
sebagai salah satu institusi penting dalam Negara yang kita cintai.

b. Saran

17
Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan dapat
dimengerti oleh pembaca tentang bagaimana sisi penting imigrasi dalam
pembangunan ekonomi nasional melalui penghasilan negara bukan pajak,
dimana di bidang imigrasi ini yang termasuk PNBP adalah visa dan
paspor.

DAFTAR PUSTAKA

www.google.com

www.wikipedia.com

www.imigrasi.go.id

18