Anda di halaman 1dari 11

Keuntungan dari menggunakan superkonduktor:

1. Tidak ada energi yang terbuang ketika superkonduktor ini menghantar arus listrik.
Milyaran rupiah bisa kita selamatkan dengan menggunakan superkonduktor daripada
konduktor biasa.
2. Karena tidak ada resistansi dalam superkonduktor, sirkuit yang menggunakan
superkonduktor tidak akan menjadi panas dan jadi, semakin banyak sirkuit yang bisa kita
kompres per centimeter kubiknya. Kalau kita menggunakan konduktor biasa, sirkuit itu
bisa terbakar jika kita mau mengkompres semakin banyak material karena panas yang
terakumulasi dari resistansi material tersebut.
3. superkonduktor ini bisa berfungsi sebagai transistor (sejenis komponen sirkuit yang bisa
mengamplifikasi signal listrik dan digunakan di semua peralatan modern yang
menggunakan listrik) tetapi bisa berfungsi 100 kali lebih cepat. Ini juga dikenal sebagai
Josephson Junctions dan kalau dua Josephson Junctions ini kita gabung dengan tepat,
mereka bisa mendeteksi medan magnet yang sangat kecil.

Superkonduktor menjanjikan banyak hal bagi kita, misalnya, transmisi listrik yang efisien
(tak ada lagi kehilangan energi selama transmisi). Memang saat ini penggunaan superkonduktor
belum praktis, dikarenakan masalah perlunya pendinginan. Suhu kritis superkonduktor masih
jauh di bawah suhu kamar. Tulisan singkat berikut mengajak kaum muda mengenal lebih jauh
superkonduktor.Superkonduktor adalah suatu material yang tidak memiliki hambatan di bawah
suatu nilai suhu tertentu. Suatu superkonduktor dapat saja berupa suatu konduktor,
semikonduktor ataupun suatu insulator pada keadaan ruang. Suhu di mana terjadi perubahan sifat
konduktivitas menjadi superkonduktor disebut dengan temperaturkritis(Tc).
Fisikawan asal Belanda ini melakukan eksperimen pengukuran resistansi air raksa murni
yang didinginkan dengan helium cair pada suhu 4 K (Kelvin) atau -269 C (Celcius). Dari
experiment tersebut, Onnes mengambil kesimpulan bahwa hambatan suatu logam akan turun
(bahkan hilang sama sekali) ketika mendinginkan logam tersebut dibawah suhu ruang (suhu yang
sangat dingin) atau setidaknya lebih rendah dari suhu kritis (critical temperature, Tc) logam
tersebut.
Suhu kritis yang dimiliki tiap material untuk mencapai sifat superkonduktifitas-nya a-
beda. Lalu apa yang terjadi bila bahan dapat didinginkan hingga mencapai suhu nol mutlak?
Salah satu ilmuwan, William Kelvin sendiri memperkirakan bahwa ketika dicapai suhu nol
mutlak (0 K) maka elektron akan berhenti mengalir (arus statis).
Yang menarik adalah ketika ditemukan material keramik yang ternyata dapat diubah menjadi
bahan superkonduktor. Bahan keramik yang seyogyanya dikenal sebagai isolator karena tidak
bisa menghantarkan listrik sama sekali pada suhu ruang, ternyata pada tahun 1986-1987 berhasil
didobrak oleh Alex Miller dan George Bednorz, peneliti di Laboratorium Riset IBM di
Rischlikon, Switzerland. Mereka membuat suatu keramik yang terdiri dari unsur Lanthanum,
Barium Tembaga dan oksigen yang berhasil menciptakan material bersifat superkonduktor pada
suhu tinggi, dengan menggunakan nitrogen cair sebagai pendinginnya.
Suhu kritis tertinggi dari bahan superkonduktor sampai saat ini adalah 138 K yang
ditemukan pada tahun 1993 dengan rumus kimia Hg0.8Tl0.2Ba2Ca2Cu3O8.33
Namun ada satu masalah disini, ketika efisiensi bisa dicapai setinggi-tingginya oleh bahan
superkonduktor ini hingga bisa mencapai 100%. Namun perlu diingat bahwa untuk mencapai
sifat superkonduktifitas ini diperlukan energi untuk pendinginan yang tidak kalah besarnya. Oleh
sebab itulah, sejak penemuan Onnes ini dipublikasikan, hingga kini para ilmuwan masih
berupaya mencari material superkonduktor yang bisa beroperasi pada suhu ruang (sehingga tidak
diperlukan lagi pendingin).
Superkonduktor pertama kali ditemukan oleh seorang fisikawan Belanda, Heike
Kamerlingh Onnes, dari Universitas Leiden pada tahun 1911. Pada tanggal 10 Juli 1908, Onnes
berhasil mencairkan helium dengan cara mendinginkan hingga 4 K atau -269OC. Kemudian
pada tahun 1911, Onnes mulai mempelajari sifat-sifat listrik dari logam pada suhu yang sangat
dingin. Pada waktu itu telah diketahui bahwa hambatan suatu logam akan turun ketika
didinginkan di bawah suhu ruang, tetapi belum ada yang dapat mengetahui berapa batas bawah
hambatan yang dicapai ketika temperatur logam mendekati 0 K atau nol mutlak.
Penemuan lainnya yang berkaitan dengan superkonduktor terjadi pada tahun 1933.
Walter Meissner dan Robert Ochsenfeld menemukan bahwa suatu superkonduktor akan menolak
medan magnet. Sebagaimana diketahui, apabila suatu konduktor digerakkan dalam medan
magnet, suatu arus induksi akan mengalir dalam konduktor tersebut. Prinsip inilah yang
kemudian diterapkan dalam generator. Akan tetapi, dalam superkonduktor arus yang dihasilkan
tepat berlawanan dengan medan tersebut sehingga medan tersebut tidak dapat menembus
material superkonduktor tersebut. Hal ini akan menyebabkan magnet tersebut ditolak. Fenomena
ini dikenal dengan istilah diamagnetisme dan efek ini kemudian dikenal dengan efek Meissner.
Efek Meissner ini sedemikian kuatnya sehingga sebuah magnet dapat melayang karena ditolak
oleh superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar. Apabila medan
magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan material akan kehilangan sifat
superkonduktivitasnya. Dengan berlalunya waktu, ditemukan juga superkonduktor-
superkonduktor lainnya. Selain merkuri, ternyata beberapa unsur-unsur lainnya juga
menunjukkan sifat superkonduktor dengan harga Tc yang berbeda. Sebagai contoh, karbon juga
bersifat superkonduktor dengan Tc 15 K. Hal yang ironis adalah logam emas, tembaga, dan
perak, yang merupakan logam konduktor terbaik bukanlah suatu superkonduktor
Penemuan demi penemuan di bidang superkonduktor kini masih saja dilakukan oleh para
peneliti di dunia. Penemuan lainnya yang juga fenomenal adalah berhasil disintesisnya suatu
bahan organik yang bersifat superkonduktor, yaitu (TMTSF)2PF6. Titik kritis senyawa organik
ini masih sangat rendah yaitu 1,2 K. ditemukan suatu keramik yang bersifat superkonduktor pada
suhu 90 K. Penemuan ini menjadi penting karena dengan demikian dapat digunakan nitrogen cair
sebagai pendinginnya. Karena, suhunya cukup tinggi dibandingkan dengan material
superkonduktor yang lain, maka material-material tersebut diberi nama superkonduktor suhu
tinggi. Suhu tertinggi suatu bahan menjadi superkonduktor hingga saat ini adalah 138 K, yaitu
untuk suatu bahan yangmemilikirumusHg0.8Tl0.2Ba2Ca2Cu3O8.33.
Penemuan lainnya yang berkaitan dengan superkonduktor terjadi pada tahun 1933.
Walter Meissner dan Robert Ochsenfeld menemukan bahwa suatu superkonduktor akan menolak
medan magnet. Sebagaimana diketahui, apabila suatu konduktor digerakkan dalam medan
magnet, suatu arus induksi akan mengalir dalam konduktor tersebut. Prinsip inilah yang
kemudian diterapkan dalam generator. Akan tetapi, dalam superkonduktor arus yang dihasilkan
tepat berlawanan dengan medan tersebut sehingga medan tersebut tidak dapat menembus
material superkonduktor tersebut. Hal ini akan menyebabkan magnet tersebut ditolak. Fenomena
ini dikenal dengan istilah diamagnetisme dan efek ini kemudian dikenal dengan efek Meissner.
Efek Meissner ini sedemikian kuatnya sehingga sebuah magnet dapat melayang karena ditolak
oleh superkonduktor. Medan magnet ini juga tidak boleh terlalu besar. Apabila medan
magnetnya terlalu besar, maka efek Meissner ini akan hilang dan material akan kehilangan sifat
superkonduktivitasnya.
Dengan berlalunya waktu, ditemukan juga superkonduktor-superkonduktor lainnya. Selain
merkuri, ternyata beberapa unsur-unsur lainnya juga menunjukkan sifat superkonduktor dengan
harga Tc yang berbeda. Sebagai contoh, karbon juga bersifat superkonduktor dengan Tc 15 K.
Hal yang ironis adalah logam emas, tembaga, dan perak, yang merupakan logam konduktor
terbaik bukanlah suatu superkonduktor.
Pada tahun 1986 terjadi sebuah terobosan baru di bidang superkonduktivitas. Alex Müller
and Georg Bednorz, peneliti di Laboratorium Riset IBM di R|schlikon, Switzerland, berhasil
membuat suatu keramik yang terdiri dari unsur Lanthanum, Barium, Tembaga, dan Oksigen,
yang bersifat superkonduktor pada suhu tertinggi pada waktu itu, 30 K. Penemuan ini menjadi
spektakuler karena keramik selama ini dikenal sebagai isolator. Keramik tidak mengantarkan
listrik sama sekali pada suhu ruang. Hal ini menyebabkan para peneliti pada waktu itu tidak
memperhitungkan bahwa keramik dapat menjadi superkonduktor. Penemuan ini membuat
keduanya diberi penghargaan hadiah Nobel setahun kemudian.
Penemuan demi penemuan di bidang superkonduktor kini masih saja dilakukan oleh para peneliti
di dunia. Penemuan lainnya yang juga fenomenal adalah berhasil disintesisnya suatu bahan
organik yang bersifat superkonduktor, yaitu (TMTSF)2PF6. Titik kritis senyawa organik ini
masih sangat rendah yaitu 1,2 K.
Pada bulan Februari 1987, ditemukan suatu keramik yang bersifat superkonduktor pada
suhu 90 K. Penemuan ini menjadi penting karena dengan demikian dapat digunakan nitrogen cair
sebagai pendinginnya. Karena, suhunya cukup tinggi dibandingkan dengan material
superkonduktor yang lain, maka material-material tersebut diberi nama superkonduktor suhu
tinggi. Suhu tertinggi suatu bahan menjadi superkonduktor hingga saat ini adalah 138 K, yaitu
untuk suatu bahan yang memiliki rumus Hg0.8Tl0.2Ba2Ca2Cu3O8.33.
Superkonduktor kini telah banyak digunakan dalam berbagai bidang. Hambatan tidak
disukai karena dengan adanya hambatan maka arus akan terbuang menjadi panas. Apabila
hambatan menjadi nol, maka tidak ada energi yang hilang pada saat arus mengalir. Penggunaan
superkonduktor di bidang transportasi memanfaatkan efek Meissner, yaitu pengangkatan magnet
oleh superkonduktor. Hal ini diterapkan pada kereta api supercepat di Jepang yang diberi nama
The Yamanashi MLX01 MagLev train (Lihat foto). Kereta api ini melayang di atas magnet
superkonduktor. Dengan melayang, maka gesekan antara roda dengan rel dapat dihilangkan dan
akibatnya kereta dapat berjalan dengan sangat cepat, 343 mph atau sekitar 550 km per jam.

C. Efisiensi superkonduktor
Penggunaan superkonduktor yang sangat luas tentu saja dibidang listrik. Generator yang
dibuat dari superkonduktor memiliki efisiensi sebesar 99 persen dan ukurannya jauh lebih kecil
dibandingkan dengan generator yang menggunakan kawat tembaga. Suatu perusahaan Amerika,
American Superconductor Corp diminta untuk memasang suatu sistem penstabil listrik yang
diberi nama Distributed Superconducting Magnetic Energy Storage System (D-SMES). Satu unit
D-SMES dapat menyimpan energi listrik sebesar 3 juta Watt yang dapat digunakan untuk
menstabilkan listrik apabila terjadi gangguan listrik.
Untuk transmisi listrik, Pemerintah Amerika Serikat dan Jepang berencana untuk
menggunakan kabel superkonduktor dengan pendingin nitrogen untuk menggantikan kabel listrik
bawah tanah yang terbuat dari tembaga. Dengan menggunakan kabel superkonduktor, arus yang
dapat ditransmisikan akan jauh meningkat. 250 pon kabel superkonduktor dapat menggantikan
18.000 pon kabel tembaga mengakibat efisiensi sebesar 7.000 persen dari segi tempat.
Di bidang komputer, superkonduktor digunakan untuk membuat suatu superkomputer
dengan kemampuan berhitung yang fantastis. Di bidang militer, HTS-SQUID digunakan untuk
mendeteksi kapal selam dan ranjau laut. Superkonduktor juga digunakan untuk membuat suatu
motor listrik dengan tenaga 5.000 tenaga kuda.

Berdasarkan perkiraan yang kasar, perdagangan superkonduktor di dunia diproyeksikan akan


berkembang senilai 90 trilyun dollar AS pada tahun 2010 dan 200 trilyun dollar AS pada tahun
2020. Perkiraan ini tentu saja didasarkan pada asumsi pertumbuhan yang linear. Apabila
superkonduktor baru dengan suhu kritis yang lebih tinggi telah ditemukan, pertumbuhan di
bidang superkonduktor akan terjadi secara luar biasa.
Penggunaan superkonduktor yang sangat luas tentu saja dibidang listrik. Generator yang
dibuat dari superkonduktor memiliki efisiensi sebesar 99 an ukurannya jauh lebih kecil
dibandingkan dengan generator yang menggunakan kawat tembaga. Suatu perusahaan amerika,
American Superconductor Corp. diminta untuk memasang suatu sistem penstabil listrik yang
diberi nama Distributed Superconducting Magnetic Energy Storage System (D-SMES). Satu unit
D-SMES dapat menyimpan energi listrik sebesar 3 juta Watt yang dapat digunakan untuk
menstabilkan listrik apabila terjadi gangguan listrik. Untuk transmisi listrik, pemerintah Amerika
Serikat dan Jepang berencana untuk menggunakan kabel superkonduktor dengan pendingin
nitrogen untuk menggantikan kabel listrik bawah tanah yang terbuat dari tembaga. Dengan
menggunakan kabel superkonduktor, arus yang dapat ditransmisikan akan jauh meningkat. 250
pon kabel superkonduktor dapat menggantikan 18.000 pon kabel tembaga mengakibat efisiensi
sebesar 7000 dari segi tempatnya.
Dibidang komputer, superkonduktor digunakan untuk membuat suatu superkomputer
dengan kemampuan berhitung yang fantastis. Di bidang militer, HTS-SQUID digunakan untuk
mendeteksi kapal selam dan ranjau laut. Superkonduktor juga digunakan untuk membuat suatu
motor listrik dengan tenaga 5000 tenaga kuda. Berdasarkan perkiraan yang kasar, perdagangan
superkonduktor di dunia diproyeksikan untuk berkembang senilai $90 trilyun pada tahun 2010
dan $200 trilyun pada tahun 2020. Perkiraan ini tentu saja didasarkan pada asumsi pertumbuhan
yang linear. Apabila superkonduktor baru dengan suhu kritis yang lebih tinggi telah ditemukan,
pertumbuhan dibidang superkonduktor akan terjadi secara luar biasa.

D. Plastik Superkonduktor

Kita pasti tidak asing lagi dengan plastik, material sintetik yang dapat dilelehkan dan
dibentuk menjadi bermacam-macam bentuk. Plastik telah digunakan dalam semua bidang.
Sebagai contoh, plastik digunakan sebagai pembungkus kabel tembaga (karena sifat
insulatornya) yang melindungi manusia dari sengatan listrik. Kata plastik sendiri berasal dari
bahasa Latin plasticus, yang artinya mudah dibentuk. Plastik dibuat dari polimer organik, yakni
molekul raksasa yang dibangun dari pengulangan atom-atom karbon (monomer karbon).

Di tahun 1970-an, Alan J Heeger, Alan G McDiarmid, dan Hideki Shirakawa (pemenang
Nobel Kimia 2000) berhasil mentransformasikan plastik dari berupa insulator menjadi konduktor
(pengantar listrik). Mereka menggunakan plastik yang terbuat dari polimer organik terkonjugasi
(polimer organik yang ikatan ganda-duanya berselang-seling dengan ikatan tunggalnya) dan
menambahkan pengotor kimia untuk mengubah sifat listrik plastik tersebut. Sejak itu, penelitian
terhadap sifat kelistrikan plastik (dari material organik terkonjugasi) berkembang pesat. Plastik-
plastik konduktor dan atau semikonduktor telah berhasil dibuat dan digunakan sebagai material
alternatif untuk logam dan semikonduktor anorganik konvensional. Jendela "pintar" yang secara
otomatis dapat menjaga kesejukan gedung dari panasnya sinar Matahari, dioda emisi cahaya
(LED), dan sel surya merupakan contoh barang-barang elektronik yang memanfaatkan plastik-
plastik tersebut. Meskipun konduktivitas dan semikonduktivitas material plastik telah
diinvestigasi secara ekstensif, namun superkonduktivitas material ini belum pernah dilaporkan.

Pembuatan plastik superkonduktor yaitu plastik yang tidak memiliki hambatan di bawah
suatu nilai tertentu, ternyata jauh lebih sulit. Tantangan utama dalam pembuatan plastik
superkonduktor adalah mengatasi keacakan struktur inheren plastik-mirip dengan keacakan
untaian mi yang telah dimasak-yang mencegah interaksi-interaksi elektronik yang penting untuk
superkonduktivitas. Setelah dua puluh tahun, barulah tantangan tersebut dapat diatasi oleh Dr
Bertram Batlogg dan koleganya dari Bell Laboratories di Murray Hill, New Jersey, Amerika
Serikat. Mereka mampu mengatasi tantangan itu melalui pembuatan larutan yang mengandung
plastik, politiofena. Politiofena adalah salah satu jenis polimer organik terkonjugasi yang berupa
semikonduktor pada suhu ruang sehingga telah digunakan dalam pembuatan komponen
optoelektronik terintegrasi dan sirkuit terintegrasi (IC). Dengan metode penataan sendiri (self-
organization), mereka mampu membuat tumpukan film (lapisan tipis) politiofena yang luar biasa
rapi (remarkably well-ordered), mirip dengan tumpukan untaian mi yang belum dimasak.
Sebagai pengganti pengotor kimia (yang diketahui dapat merusak kerapian film politiofena),
mereka menempatkan film politiofena pada lapisan aluminium oksida dan elektroda-elektroda
emas pada peralatan elektronik yang dikenal sebagai field-effect transistor. Transistor tersebut
menghasilkan medan listrik yang dapat mengeluarkan elektron dari film politiofena, sehingga
elektron tersisa lebih mudah bergerak dan mengantarkan listrik. Pada suhu minus 455 derajat
Fahrenheit (2,35 K), plastik politiofena tersebut bersifat superkonduktor. Mereka
mempublikasikan temuannya dalam jurnal Nature pada tanggal 8 Maret 2001. Plastik
superkonduktor tersebut termasuk dalam Chemistry Highlight 2001 menurut Chemical &
Engineering News volume 79, 10 Desember 2001.

Dibandingkan dengan material superkonduktor lain, plastik superkonduktor tersebut


termasuk superkonduktor lemah dan suhu kritisnya (suhu di mana material menjadi
superkonduktor) jauh di bawah suhu tinggi. Superkonduktor suhu tinggi bekerja pada suhu
sampai minus 200 derajat Fahrenheit (sekitar 145 K). Walaupun demikian, plastik
superkonduktor diyakini lebih murah dan lebih mudah dibuat serta dibentuk daripada material
superkonduktor lain. Untuk itu, Batlogg dan kawan-kawan optimistis dapat meningkatkan suhu
kritis plastik superkonduktor tersebut dengan cara mengubah struktur molekuler plastik itu.
Bahkan, Zhenan Bao, kimiawan yang terlibat dalam penelitian tersebut, mengklaim bahwa
metode yang mereka kembangkan dapat membuat material organik lain menjadi superkonduktor.
Di akhir artikelnya, para peneliti Bell Labs tersebut mencatat bahwa plastik superkonduktor
pertama yang telah mereka temukan memungkinkan diaplikasikan dalam bidang elektronika
superkonduksi dan komputer masa depan yang menggunakan kalkulasi mekanika kuantum.
Walaupun usia plastik superkonduktor baru sekitar satu tahunan dan belum diaplikasikan, namun
yang pasti pencapaian ini merupakan terobosan yang membuka cakrawala baru
ilmu dan teknologi superkonduktor.

E. Superkonduktor Berparitas Ganjil

Superkonduktor juga memiliki berbagai aplikasi praktis. Aplikasi-aplikasi


superkonduktor termasuk magnet superkonduktor yang telah memungkinkan pengembangan
MRI resolusi tinggi yang penting untuk dunia medis dan kawat superkonduktor yang nantinya
memungkinkan distribusi daya listrik ke rumah-rumah bebas kehilangan daya di perjalanan.
Berdasarkan teori yang sampai saat ini diterima, bahan menjadi superkonduktor saat elektron-
elektron dalam bahan membentuk pasangan yang disebut pasangan Cooper. Pasangan-pasangan
elektron yang terbentuk ini seperti pasangan-pasangan di lantai dansa yang akan bergerak
seirama musik yang mengiringi. Gerakan seirama ini yang menghasilkan penghantaran arus
listrik bebas hambatan yang disebut keadaan superkonduktor.

Setiap pasangan Cooper dapat dianggap seolah memiliki jam internal yang menandai
waktu atau fasa pasangan tersebut. Bila sesuatu yang dapat dianalogikan dengan jarum jam
pasangan Cooper menunjukkan angka 12, fasa pasangan Cooper bernilai 0o, bila menunjuk jam 6
fasanya 180o. Berdasarkan karakteristik fasa ini fisikawan mengategorikan superkonduktor: bila
beda fasa antara dua pasangan Cooper yang bergerak berlawanan 0o superkonduktor berparitas
genap, dan bila beda fasanya 180o dihasilkan superkonduktor berparitas ganjil. Superkonduktor
yang ditemukan selama ini, baik superkonduktor di unsur, paduan logam, maupun
superkonduktor senyawa-senyawa oksida tembaga merupakan superkonduktor berparitas genap.

Superkonduktor dalam SrRu2O4 yang sejak awal ditemukan oleh Yoshiteru Maeno di
Jepang pada tahun 1994, telah memberi kejutan karena merupakan superkonduktor oksida
pertama yang tidak mengandung tembaga, kini kembali memberi kejutan. Superkonduktor
SrRu2O4 ternyata juga berparitas ganjil. Sebenarnya paritas ganjil dalam SrRu2O4 telah
diramalkan oleh Maurice Rice dan Manfred Sigrist di Switzerland, dan secara terpisah oleh G
Baskaran di India.

Superkonduktor berparitas ganjil akan berperi laku berbeda dengan superkonduktor


berparitas genap. Superkonduktor berparitas ganjil selain akan memperluas spektrum kegunaan
superkonduktor, dibayangkan ke depan mungkin akan digunakan untuk aplikasi khusus,
misalnya dalam riset untuk mengembangkan komputer kuantum.

F. Jenis superkonduktor suhu-tinggi

Superkonduktor suhu-tinggi umumnya adalah hal yang mempertunjukkan


superkonduktivitas pada suhu di atas suhu nitrogen cair, atau −196 °C (77 K), karena ini
merupakan suhu cryogenik yang mudah dicapai. Superkonduktor konvensional membutuhkan
suhu tidak lebih dari beberapa derajat di atas nol mutlak (−273.15 °C atau −459.67 °F). Material
paling terkenal adalah Tc-tinggi yang disebut cuprate, seperti La1.85Ba0.15CuO4, YBCO (Yttrium-
Barium-Copper-Oxide) dan bahan sejenis. Seluruh superkonduktor Tc-tinggi disebut
superkonduktor tipe-II. Superkonduktor tipe-II mengijinkan medan magnet untuk menembus
bagian dalamnya dalam satuan flux quanta, menghasilkan 'lubang' (atau tabung) wilayah metalik
normal dalam kumpulan superkonduksi. Sifat ini membuat superkonduktor Tc-tinggi mampu
bertahan di medan magnet yang jauh lebih tinggi.

Contoh kecil superkonduktor suhu tinggi BSCCO-2223. 2 jalur di belakang terpisah 1 mm. Salah
satu masalah tak terselesaikan dalam fisika modern adalah pertanyaan bagaimana
superkonduktivitas dapat terjadi dalam material tersebut, yaitu, mekanika apa yang menyebabkan
elektron dalam kristal tersebut dapat membentuk pasangan.

Meskipun riset yang giat telah dilakukan dan banyak menghasilkan petunjuk, namun jawabannya
masih membingungkan ilmuwan. Salah satu alasannya adalah material yang dipertanyakan
sangat rumit, kristal banyak-lapisan (contohnya, BSCCO), membuat pemodelan teoritis sulit.
Namun dengan penemuan baru dan penting dalam bidang ini, banyak peneliti optimis bahwa
pemahaman lengkap terhadap proses ini dapat terjadi dalam satu dekade mendatang.