Anda di halaman 1dari 3

MPR Setelah Amandemen UUD 1945

9 November 2009 15:35 WIB

Tujuan dari perubahan UUD 1945 adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan
negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, kesejahteraan sosial, eksistensi
negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan
perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa.
Tujuan dari perubahan UUD 1945 adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanan
negara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, kesejahteraan sosial, eksistensi
negara demokrasi dan negara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan
perkembangan aspirasi dan kebutuhan bangsa

Demikian diungkapkan AM. Fatwa, Wakil Ketua MPR RI saat berdialog bersama M.
Rizal, Kepala Biro Hubungan Masyarakat MPR dan Mutamminul’ula, anggota Tim
Sosialisasi Putusan MPR RI di TVRI Jakarta. Acara yang disiarkan secara langsung pada
akhir Maret 2009 dengan tema “MPR” diselenggarakan atas kerjasama TVRI Jakarta
dengan Sekretariat Jenderal MPR RI

“Salah satu tuntutan reformasi tahun 1998 adalah dilakukannya perubahan terhadap UUD
1945. Latar belakang tuntutan reformasi tersebut menginginkan adanya perubahan UUD
1945 antara lain karena pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR RI
(Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia) terlalu besar dan pada
kenyataannya bukan di tangan rakyat, “ ungkap Fatwa

Penyebab kekuasaan yang sangat besar di tangan Presiden karena adanya pasal-pasal
yang terlalu "luwes" sehingga dapat menimbulkan multitafsir. Kenyataannya, rumusan
UUD 1945 yang memuat semangat penyelenggara negara belum cukup didukung oleh
konstitusi. Akibatnya, praktik ketatanegaraan tidak sesuai dengan jiwa Pembukaan UUD
1945, karena pengaturan lembaga Negara juga dilakukan oleh Presiden melalui
pengajuan UU

Namun, perubahan UUD 1945 mempunyai kesepakatan dasar diantaranya tidak


mengubah Pembukaan UUD 1945, dan tetap mempertahankan susunan kenegaraan
kesatuan atau selanjutnya dikenal Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta
mempertegas sistem pemerintahan presidensiil

Selain itu, penjelasan UUD 1945 memuat hal-hal yang normatif yang akan dimasukkan
ke dalam pasal-pasal (batang tubuh) dan perubahan tersebut dilakukan dengan cara
“addendum”.
Namun, seiring dengan perubahan UUD 1945, ada banyak hal yang penting terjadi. Salah
satu perubahan Pasal 1 ayat (2) yang semula berbunyi: Kedaulatan adalah di tangan
rakyat, dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Setelah
perubahan Pasal 1 ayat (2) itu kemudian berbunyi: “Kedaulatan berada di tangan rakyat
dan dilaksanakan menurut UUD”

Ternyata perubahan tersebut membawa implikasi terhadap kedudukan, tugas dan


wewenang MPR, sehingga kegiatan MPR sekarang hanya mengubah dan menetapkan
UUD 1945, melantik Presiden dan Wakil Presiden berdasarkan hasil pemilihan umum,
memutuskan usul DPR berdasarkan putusan (Mahkamah Konstitusi) untuk
memberhentikan Presiden/Wakil Presiden dalam masa jabatannya, melantik Wakil
Presiden menjadi Presiden apabila Presiden mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak
dapat melaksanakan kewajibannya dalam masa jabatannya

Selain itu, MPR mempunyai tugas memilih Wakil Presiden dari dua calon yang diajukan
Presiden apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden dalam masa jabatannya, dan
memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila keduanya berhenti secara bersamaan dalam
masa jabatannya. Dan saat ini, menurut UU Susduk yang berlaku, salah satu kegiatan
MPR adalah mensosialisasikan atau memasyarakatkan putusan-putusan MPR setelah
terjadi perubahan

Sementara Mutamminul’ula menjelaskan seputar kedudukan MPR. Dahulu, sebelum ada


perubahan UUD 1945, kedudukan MPR berdasarkan UUD 1945 merupakan lembaga
tertinggi negara dan sebagai pemegang dan pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat.
Seperti yang tercantum dalam Pasal 1 ayat (2) UUD NRI Tahun 1945 bahwa kedaulatan
di tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh MPR. Artinya, kekuasaan dilakukan
sepenuhnya oleh MPR sehingga tidak terjadi check and balances

Setelah perbuhan UUD, MPR juga tidak lagi memiliki kewenangan menetapkan GBHN
dan tidak lagi mengeluarkan Ketetapan MPR (TAP MPR), kecuali berkenaan dengan
menetapkan Wapres menjadi Presiden, memilih Wapres apabila terjadi kekosongan
Wapres, atau memilih Presiden dan Wakil Presiden apabila Presiden dan Wakil Presiden
mangkat, berhenti, diberhentikan, atau tidak dapat melakukan kewajibannya dalam masa
jabatannya secara bersama-sama

Hal ini berimplikasi pada materi dan status hukum Ketetapan MPRS/MPR yang telah
dihasilkan sejak tahun 1960 sampai tahun 2002. “Yang patut diketahui saat ini Ketetapan
MPR (TAP MPR) tidak lagi menjadi bagian dari hierarkhi Peraturan Perundang-
undangan, “ jelas Mutammimul ‘Ula
“Pada kenyataannya, perubahan UUD 1945 membawa implikasi terhadap kedudukan,
tugas, dan wewenang MPR. Kini, MPR berkedudukan sebagai lembaga negara yang
setara dengan lembaga negara lainnya seperti Lembaga Kepresidenan, DPR, DPD, BPK,
MA, dan MK, “ jelasnya Kepala Biro Humas Setjen MPR RI (Muhammad Rizal, S.H.,
M.Si., Telp: 021-5789 5049, Email: humas@mpr.go.id)
Copyright © Sekretariat Jenderal MPR-RI didukung oleh PT. Telekomunikasi Indonesia,
Tbk