P. 1
Survey CRC pada Layanan IMB di BPPT Kt.Bdg dan Dana Hibah Pendidikan Disdik Kt.Bdg

Survey CRC pada Layanan IMB di BPPT Kt.Bdg dan Dana Hibah Pendidikan Disdik Kt.Bdg

|Views: 1,861|Likes:
Dipublikasikan oleh Muhammad Taufik Rahmat
Pelaksanaan Survey CRC di Dinas Pendidikan Kota Bandung, difokuskan pada layanan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, sebagaimana terlampir dalam Matriks Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) Kota Bandung. Sedangkan Survey CRC di BPPT Kota Bandung difokuskan pada layanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Dan hasilnya meeeeengggggggEEEzuuuTTTkan, masih banyak pungli, percaloan dan ketidaktepatsasaran
Pelaksanaan Survey CRC di Dinas Pendidikan Kota Bandung, difokuskan pada layanan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, sebagaimana terlampir dalam Matriks Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) Kota Bandung. Sedangkan Survey CRC di BPPT Kota Bandung difokuskan pada layanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Dan hasilnya meeeeengggggggEEEzuuuTTTkan, masih banyak pungli, percaloan dan ketidaktepatsasaran

More info:

Published by: Muhammad Taufik Rahmat on Jan 31, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2013

pdf

Citizen Report Card (CRC) untuk menilai pelaksanaan kebijakan Izin

Mendirikan Bangunan (IMKB) pada 9 WP/WB Kota Bandung, dengan responden

adalah warga/masyarakat Kota Bandung yang mengajukan IMB pada Tahun 2009.

Secara umum terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan catatan ke depan.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi

Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pertama, mengenai pemahaman warga/masyarakat tentang layanan IMB.

Berdasarkan hasil survey, meski hampir semua responden (97%) mengatakan bahwa

mengurus IMB itu penting, namun pada kenyataaannya alasan terbesar

warga/masyarakat mengurus IMB adalah hanya untuk memenuhi aturan yang

berlaku guna menjamin keamanan bangunan atau karena harus memenuhi salah

satu syarat, ketika ingin meminjam uang ke bank. Hanya sebagian kecil saja yang

mengurus IMB atas kesadaran sendiri. Lebih jauh lagi, terungkap bahwa kebanyakan

responden kurang mengetahui kebijakan layanan IMB, apalagi terkait dengan

kebijakan atau aturan daerah mengenai Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW)

Kota Bandung.

Kurangnya pemahaman warga/masyarakat tentang layanan IMB ini terlihat

dari prosentasi pengetahuan warga/masyarakat tentang syarat dan prosedur

menguruskan IMB. Hampir 60% responden menyatakan tidak tahu tentang syarat

dan prosedur menguruskan IMB. Implikasinya banyak warga/masyarakat (89%),

yang menggunakan jasa penghubung/calo dalam mengurus IMB.

Hal menarik lain yang juga perlu diperhatikan terkait dengan memanfaatkan

jasa penghubung/calo dalam mengurus IMB oleh responden Survey CRC, adalah

mengenai komposisi pihak penghubung/calo yang digunakan. Secara berurutan,

pihak penghubung/calo yang paling banyak dimintakan bantuan oleh

warga/masyarakat dalam mengurus IMB, adalah biro jasa, teman atau saudara,

pegawai Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung, serta pegawai

Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip) Kota Bandung. Keberadaan pihak

pegawai Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) dan Distarcip Kota Bandung

sebagai penghubung menimbulkan pertanyaan tentang kejelasan tugas pokok dan

fungi kedua lembaga ini.

Kedua. Terkait dengan syarat dan prosedur menguruskan IMB. Penilaian

tentang syarat dan prosedur mengurus IMB ini dibedakan menjadi dua sesuai dengan

cara yang dipilih oleh responden, yakni mengurus sendiri atau menggunakan jasa

penghubung.

a) Penilaian Oleh Responden yang Mengurus IMB Secara Langsung (sendiri)

Menurut responden yang mengurus IMB secara langsung, syarat dan

tahapan yang sulit dalam mengurus IMB adalah syarat gambar teknis atau

tahapan pembuatan gambar konstruksi. Dalam kesempatan FGD saat

perumusan indikator untuk pertanyaan survey, pihak BPPT Kota Bandung

menyatakan bahwa sesuai aturan yang telah ditetapkan, setiap pemohon

IMB wajib melampirkan gambar teknis atau gambar konstruksi. Namun,

pihak BPPT Kota Bandung tidak menyediakan layanan urusan gambar

teknis, melainkan kewenangan ada pada Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya

Kota Bandung. Sementara untuk pengajuan permohonan mengurus IMB,

pemohon harus terlebih dahulu menyelesaikan urusan gambar teknis di

Distarcip Kota Bandung, sebelum semua berkas persyaratan diajukan ke BPPT

Kota Bandung.

Hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah mengenai masih

adanya pungutan tidak resmi yang berkisar antara Rp.1.000.000

Rp.5.000.000. Kenyataan ini perlu diantisipasi karena menurut responden

yang mengurus IMB secara langsung, pungutan tidak resmi ini sering terjadi

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi

Lewat Metode Survey Citizen Report Card

pada beberapa tahapan proses pengurusan IMB terutama pada pengecekan

lapangan oleh petugas, pembuatan gambar rencana teknis dan gambar

konstruksi dan tahap melengkapi persyaratan pengajuan permohonan IMB.

Berbagai penilaian oleh responden yang menguruskan IMB secara

langsung, bermuara pada pernyataan kepuasan atas kualitas layanan IMB.

Berdasarkan survey ini 50% responden yang menguruskan IMB secara

langsung menyatakan tidak puas terhadap tahapan pengurusan IMB.

b) Penilaian Oleh Responden yang Menguruskan IMB melalui Jasa

Penghubung/Calo

Alasan terbesar responden menggunakan jasa penghubung adalah

karena lebih cepat dan murah (48%). Padahal hasil survey ini juga

mengungkap bahwa biaya yang dikeluarkan oleh mereka yang

menggunakan jasa penghubung, tidak jauh berbeda dengan mereka yang

mengurus sendiri yakni berkisar dari Rp.1.000.000 - Rp.5.000.000. Di pihak

lain, kebanyakan responden yang menggunakan jasa penghubung sama sekali

tidak tahu tentang rincian biaya yang mereka keluarkan ketika menggunakan

jasa penghubung. Bahkan ada salah seorang responden yang harus

mengeluarkan biaya sebesar Rp.20.000.000 untuk pengurusan IMB tanpa ia

mengetahui untuk apa saja dana tersebut digunakan oleh pihak

penghubung. Meski demikian, rata-rata responden yang menggunakan jasa

penghubung (76%) menyatakan puas atas kemudahan yang diperoleh

ketika menggunakan penghubung dalam mengurus IMB.

Perbedaan kepuasan antara responden yang mengurus sendiri dan

yang menggunakan jasa penghubung menunjuk pada kenyataan bahwa

responden yang mengurus sendiri lebih banyak mengalami kesulitan

daripada yang menggunakan jasa penghubung. Hal ini patut mendapat

catatan untuk arah perubahan ke depan. Bahwasanya penggunaan jasa

penghubung di satu pihak bisa saja masih dibutuhkan, namun idealnya

harus lebih banyak warga yang dapat mengurus IMB secara langsung. Dalam

hal ini, meski banyak responden yang menggunakan jasa penghubung

menyatakan puas tetapi sesungguhnya hal ini tidak bisa dijadikan ukuran

kepuasan atas kualitas pelayanan dari BPPT Kota Bandung. Justru,

pernyataan tidak puas dari 50% responden yang mengurus IMB secara

langsung, harus menjadi titik awal untuk mendorong perubahan dan

perbaikan atas proses pelayanan IMB di BPPT Kota Bandung.

Ketiga. Sejalan dengan ketidakpuasan responden yang mengurus IMB secara

langsung, kapasitas petugas layanan IMB (front office) di kantor BPPT Kota

Bandung juga dinilai masih kurang mampu memberikan penjelasan yang rinci

tentang syarat, prosedur, biaya dan waktu pengurusan IMB. Penilaian tentang

kapasitas dan perilaku petugas (front office) ini, didasarkan pada tanggapan

responden yang mengurus IMB secara langsung, dan sesuai dengan pengalaman

mereka dalam mengurus IMB. Artinya, ke depan masih dibutuhkan upaya

peningkatan kinerja petugas, terutama di front office Kantor BPPT Kota Bandung

Keempat, terkait dengan sosialisasi kebijakan layanan IMB, terdapat

beberapa catatan yang harus menjadi perhatian ke depan. Sejalan dengan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi

Lewat Metode Survey Citizen Report Card

penjelasan di bagian awal bahwa lebih dari 60% responden tidak tahu tentang syarat

dan prosedur pengurusan IMB dan ternyata lebih dari 71% responden tidak pernah

mendapatkan sosialisasi informasi tentang layanan IMB. Di sisi lain, dalam FGD

perumusan indikator pertanyaan survey dengan pihak BPPT Kota Bandung, mereka

menyampaikan bahwa sosialisasi tentang layanan IMB sudah sangat sering

dilakukan. Pernyataan pihak BPPT ini bertolak belakang dengan hasil survey,

dimana hanya 19% responden yang menyatakan pernah mendapatkan sosialisasi

informasi.

Sementara dari hasil survey tentang media sosialisasi yang paling sering

digunakan oleh BPPT Kota Bandung adalah surat edaran. Sementara menurut para

responden yang pernah mendapatkan sosialisasi informasi, surat edaran yang

mereka terima tidak memuat seluruh informasi tentang layanan IMB secara

lengkap. Hal ini diperkuat juga oleh tanggapan responden yang pernah mendapatkan

sosialisasi tentang layanan IMB, ternyata 71% menyatakan tidak puas.

Fenomena diatas, semestinya menjadi catatan untuk perbaikan kerangka

proses sosialisasi kebijakan. Perbaikan harus mencakup pilihan media, kelengkapan

materi sosialisasi dan intensitas sosialisasi.

Kelima, terkait tentang mekanisme pengaduan dan kebutuhan konsultasi.

Berdasarkan hasil survey ternyata dari total responden yang disurvey, hanya 3% yang

pernah menyampaikan pengaduan tentang masalah layanan IMB. Minimnya

pengaduan ini tentu disebabkan oleh banyak hal antara lain, belum tersedianya

mekanisme pengaduan yang mudah bagi warga dan lemahnya pemahaman warga

tentang pengaduan sebagai sebuah bentuk kontrol atas pelayanan yang diberikan

oleh badan publik (BPPT Kota Bandung).

Pengembangan mekanisme pengaduan ini sejalan tuntutan kebijakan pokok

tentang pelayanan publik. Dalam pasal 35 Undang-undang No. 25 Tahun 2008

tentang Pelayanan Publik, disebutkan bahwa pengawasan eksternal atas

penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui berbagai cara, termasuk di

dalamnya adalah pengawasan oleh masyarakat. Pengawasan oleh masyarakat,

berupa laporan atau pengaduan masyarakat akan penyelenggaraan pelayanan

publik.

Sejalan dengan hal ini juga, hasil survey juga menunjuk pada adanya

kebutuhan jasa konsultasi dalam mengurus IMB. Dari total responden yang disurvey,

terdapat 28% (64 orang) yang menyatakan jasa konsultasi ini diperlukan warga agar

pengurusan IMB bisa berjalan dengan lancar. Bahkan menurut mereka pula, pihak-

pihak yang dapat dijadikan sebagai tempat konsultasi antara lain pegawai BPPT,

pegawai Distarcip dan konsultan ahli di bidang perumahan dan permukiman. Dalam

hal ini pihak BPPT dan Distarcip dapat mengembangkan mekanisme pengaduan

yang juga mengintegrasikan fungsi konsultasi. Dengan demikian, pegawai BPPT dan

Distarcip tidak lagi menjadi penghubung tidak resmi/calo, tetapi sebaliknya dapat

memberikan bantuan konsultasi dan penanganan pengaduan secara resmi.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi

Lewat Metode Survey Citizen Report Card

BAB V

KERANGKA ADVOKASI UNTUK PERBAIKAN PELAYANAN

PROGRAM BANTUAN SISWA MISKIN (BSM)/BAWAKU

SEKOLAH DAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN

DI KOTA BANDUNG

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->