Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

KATA PENGANTAR
Puji syukur Kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena hanya atas karunia-Nya, Kami dapat menyelesaikan pemantauan pelaksanaan RAD PK Kota Bandung pada Badan Publik yang ada di Kota Bandung m elalui metode Citizen Report Card Survey (CRC). Ada pun Badan Pubik yang dipilih pada pemantauan pelaksaan RAD PK Kota Bandung melalui Survey CRC di Tahun 2010, adalah: Dinas Pendidikan dan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) di Kota Bandung. Terimakasih sebesar-besarnya Kami sampaikan kepada pihak Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia dan Direktorat Hukum dan HAM Bappenas yang telah mempercayakan pelaksanaan kegiatan ini kepada lembaga Kami. Patut pula Kami sampaikan terimakasih dan penghargaan kepada Walikota dan Wakil Walikota Bandung beserta seluruh jajaran aparat di Pemerintah Kota Bandung, khususnya Sekretaris Daerah, Kepala Bappeda Kota Bandung dan Inspektorat Kota Bandung yang menyambut baik pelaksanaan Survey CRC ini. Ucapan terima kasih Kami sampaikan juga kepada pihak Dinas Pendidikan dan BPPT Kota Bandung, atas kesediaan dan kerjasama dalam pelaksanaan Survey CRC ini. Tidak lupa Kami sampaikan penghargaan kepada warga/masyarakat Kota Bandung yang telah bersedia menjadi responden dalam survey ini, karena sesungguhnya survey dengan metoda CRC lebih menempatkan warga/masyarakat sebagai narasumber utama dalam memberikan penilaian atas kualitas pelayanan yang telah mereka terima dari Badan Publik yang ada di Kota Bandung Kami menyadari bahwa Survey CRC masih terbatas dilakukan, sebagaimana kesepakatan awal yang dibangun antara Lembaga Advoksi Kerakyatan dengan Pemerintah Kota Bandung pada program SUCCES, bahwasanya Survey CRC akan difokuskan dulu pada dua (2) Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), yaitu: Dinas Pendidikan dan BPPT Kota Bandung. Oleh karena itu, Kami berharap, hasil Survey CRC ini dapat dijadikan masukan bagi upaya perubahan dan perbaikan dari layanan publik di Dinas Pendidikan dan BPPT Kota Bandung. Selanjutnya secara bertahap dan simultan, perlu diupayakan agar Survey CRC dapat dilaksanakan pada semua Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), khususnya SKPD pelaksana Rencana Aksi Daerah (RAD PK) Kota Bandung, sebagaimana yang tercantum di dalam Peraturan Walikota Bandung No. 891 Tahun 2009 tentang Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) Kota Bandung, Tahun 2009 2013. Dengan demikian secara bertahap dan terus menerus Pemerintah Kota Bandung beserta warga/masyarakatnya dapat bersama-sama mendorong pengembangan sistem integritas dalam upaya pencegahan korupsi pada Badan Publik yang ada di Kota Bandung. Bandung, 30 Desember 2010

Fridolin Berek Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

RINGKASAN EKSEKUTIF
Pada Tahun 2008, Kota Bandung telah dijadikan salah satu pilot project bersama-sama dengan lima (5) kabupaten/kota lainnya yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia oleh Direktorat Hukum dan HAM, Bappenas Republik Indonesia dan Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemerintahan di Indonesia untuk melaksanakan proses penyusunan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) dan Citizen Report Card Survey. Atas fasilitasi dari Kemitraan dan Bappenas dengan dibantu mitra lokal di Kota Bandung yakni Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK), Pemerintah Kota Bandung berhasil menyusun dan menetapkan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) ke dalam Peraturan Walikota Bandung No. 891 Tahun 2008 tentang Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Ko rupsi (RAD PK) Kota Bandung, Tahun 2009 - 2013. Setelah lewat dua tahun, maka dipandang perlu dilakukan evaluasi atas capaian pelaksanaan rencana aksi daerah tersebut. Oleh karena itu pada Tahun 2010, Kota Bandung dipilih lagi menjadi pilot project bersama-sama dua (2) daerah lain, yakni Kota Makasar dan Kota Denpasar, dalam pelaksanaan program SUCCES yang merupakan kerjasama antara Direktorat Hukum dan HAM Bappenas dan Kemitraan untuk Pembaharuan Tata Pemeritahan di Indonesia Salah satu kegiatan penting dalam skema pelaksanaan program SUCCES di Kota Bandung adalah pemantuan pelaksanaan Rencana Aksi Daerah (RAD PK) melalui metode Citizen Report Card Survey (CRC), pada beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) pelaksana dari RAD PK, sebagaimana termaktub dalam Peraturan Walikota No. 891 Tahun 2008. Atas kesepakatan bersama antara Kemitraan, Direktorat Hukum dan HAM Bappenas dan Pemerintah Kota Bandung, khususnya Bappeda dan Inspektorat Kota Bandung maka CRC difokuskan pada layanan publik pendidikan di Dinas Pendidikan dan layanan perizinan di Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung. Ada pun lembaga mitra lokal yang dipilih oleh Kemitraan, Direktorat Hukum dan HAM Bappenas dan Pemerintah Kota Bandung untuk melaksanakan Survey CRC ini adalah Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK), sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang memfokuskan diri pada upaya mendorong perbaikan tata pemerintahan di daerah, terutama dalam hal perbaikan pelayanan publik, pencegahan korupsi dan pemenuhan hak-hak dasar warga/masyarakat. Pelaksanaan Survey CRC di Dinas Pendidikan Kota Bandung, difokuskan pada layanan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, sebagaimana terlampir dalam Matriks Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) Kota Bandung. Sedangkan Survey CRC di BPPT Kota Bandung difokuskan pada layanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Survey CRC terhadap pelaksanaan atau penyaluran dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, dilakukan kepada dua kelompok responden, yaitu: pihak sekolah yang mendapatkan dana bantuan pendidikan dari program ini, sekaligus sebagai pengelola dana program dan orang tua siswa miskin yang putra-putrinya sebagai penerima dana bantuan pendidikan dari program ini. Secara umum, responden pihak sekolah maupun orang tua siswa miskin yang putra-putrinya mendapatakan dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, menyatakan puas terhadap layanan program

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

bantuan pendidikan ini. Meski pun begitu masih terdapat beberapa catatan untuk perbaikan kualitas layanan ke depan. Catatan pertama, berkenaan dengan proses sosialisasi kebijakan atau program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang dinilai masih belum optimal. Oleh karena itu, diusulkan sosialisasi yang lebih intensif dengan pilihan metode dan media yang lebih variatif dan aplikatif, serta dapat diakses warga/masyarakat Kota Bandung dengan lebih mudah. Catatan penting lainnya yang direkomendasikan untuk perbaikan kualitas layanan ke depan antara lain, adalah: y Mengenai metode verifikasi dan validasi data siswa miskin sebagai penerima dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Hal ini harus diawali dengan adanya kebijakan yang mengatur koordinasi antara Dinas Pendidikan Kota Bandung, pihak sekolah pada jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) dan level pemerintahan paling bawah di Kota Bandung (mulai dari tingkat RT/RW, kelurahan dan kecamatan). Juga diperlukan adanya metode standar verifikasi yang berlaku umum di setiap sekolah jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri dan Swata) yang ada di Kota Bandung. y Terkait dengan penentuan kuota siswa miskin penerima dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, masing-masing pihak sekolah jenjang pendidikan menengah yang ada di Kota Bandung perlu dilibatkan sejak awal. Selain itu Dinas Pendidikan Kota Bandung diharapkan membuat proyeksi jumlah siswa miskin berdasarkan data yang lebih terpadu dan bekerjasama dengan instansi terkait (BPS Kota Bandung, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bandung, BPPKB Kota Bandung, masing-masing pihak jenjang pendidikan wajib belajar Sembilan (9) tahun (SMP/MTs) yang ada di Kota Bandung, dan masing -masing pihak jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) yang ada di Kota Bandung) dan elemen warga/masyarakat pendidikan di Kota Bandung y Pengelolaan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, dinilai masih kurang transparan. Untuk itu diperlukan perbaikan khususnya pada penjadwalan pencairan dan keseluruhan proses pengelolaan dana bantuan pendidikan dari program ini. Survey CRC terhadap layanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dilakukan pada para pemohon IMB di Tahun 2009. Sebagian besar dari responden yang mengurus IMB di Tahun 2009 mengurus IMB untuk jenis rumah tinggal. Berdasarkan hasil survey CRC ini, terungkap bahwa sesungguhnya warga/masyarakat belum memahami secara utuh kebijakan layanan IMB. Hal ini dapat dilihat dari besarnya prosentase responden survey (representasi warga/masyarakat Kota Bandung) yang tidak mengetahui syarat, prosedur dan biaya pengurusan IMB dikarenakan banyaknya responden (representasi warga/masyarakat Kota Bandung) yang tidak pernah mendapatkan sosialisasi tentang kebijakan dan layanan IMB. Hal lain yang perlu menjadi catatan untuk dibahas lebih lanjut adalah kenyataan yang menunjukkan bahwa lebih dari 89% responden survey (sebagai representasi warga/masyarakat) memilih menggunakan jasa penghubung dalam mengurus IMB. Bahkan pihak penghubung yang paling banyak digunakan oleh

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

responden adalah pegawai BPPT Kota Bandung dan Dinas Cipta Karya (Distarcip) Kota Bandung. Sementara di pihak lain, pemohon (responden survey) yang mengurus IMB secara langsung menyatakan masih ada pungutan tidak resmi (liar) di hampir semua tahapan pengurusan IMB. Atas berbagai penilaian tentang layanan IMB yang diperoleh melalui survey ini, diusulkan beberapa agenda perbaikan sebagai berikut : y Perlu adanya peningkatan intensitas sosialisasi dengan pilihan metode dan media yang mudah diakses warga/masyarakat Kota Bandung secara keseluruhan. y Masih dibutuhkan peningkatan kompetensi petugas (front office) BPPT Kota Bandung, agar dapat memberikan penjelasan yang detail tentang layanan IMB. y Perlu dikembangkan mekanisme pemantuan yang efektif terhadap berbagai praktek pungutan tidak resmi (liar) dan percaloan, serta penindakan tegas terhadap pegawai/aparat yang melakukan praktek pungutan liar dan percaloan pada layanan IMB. Dalam rangka meningkatan pemahaman sekaligus partisipasi warga/masyarakat untuk perbaikan layanan IMB maka diusulkan untuk mengembangkan mekanisme pengaduan dan konsultasi. Melalui mekanisme pengaduan, kontrol atau pengawasan warga/masyarakat akan berjalan efektif. Sementara melalui proses konsultasi, diharapkan mampu meningkatkan pemahaman warga/masyarakat secara lengkap tentang perizinan dan manfaatnya bagi penataan ruang yang pro warga/masyarakat di Kota Bandung. Dengan demikian, pada gilirannya baik pihak penyelenggara maupun pemohon secara bersama-sama dapat mendorong pelaksanaan kebijakan publik secara lebih baik.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hakekatnya suatu Negara (dalam hal ini birokrasi di pemerintahan) merupakan representasi dari warga negara/masyarakat yang berada di dalam suatu sistem pemerintahan guna melaksanakan tugas-tugas administrasi, baik yang sifatnya ke dalam (untuk melayani kepentingan pemerintah itu sendiri), maupun ke luar (untuk melayani kepentingan warga/masyarakat). Dalam hal melayani kepentingan warga/masyarakat, posisi Negara adalah sebagai pelayan (servant) dan pemberi layanan. Sementara warga/masyarakat selaku pemberi mandat, memiliki hak atas layanan dan pelayanan yang disediakan oleh Negara. Ini dikarenakan warga/masyarakat, telah memenuhi kewajibannya sebagai warga Negara dengan membayar pajak, retribusi dan segala bentuk partisipasi lain dalam pelaksanaan pembangunan dan pemerintahan. Oleh karena itu, sudah seharusnya birokrasi pemerintahan menjadi abdi dari masyarakat. Akan tetapi, fakta menunjukkan, bahwa birokrasi pemerintahan (pusat maupun daerah) telah berubah menjadi alat kekuasaan atau sekedar alat untuk memperkaya diri dan kelompok. Terkait dengan fungsi layanan publik oleh birokrasi, terdapat beberapa permasalahaan krusial yang perlu diwaspadai, yaitu: 1. Fenomena munculnya konflik kepentingan dalam diri pejabat publi k, antara mengutamakan kepentingan umum atau mendahulukan kepentingan pribadi yang orientasinya hanya sebatas bagaimana memaksimalkan keuntungan 2. Monopoli pelayanan publi k oleh pemerintah, tanpa memberi ruang dan peluang bagi masyarakat untuk memilih alternatif lain 3. Adanya fenomena tunggal asimetri informasi dan asimet ri anggaran (birokrasi selalu mengetahui atau menganggap lebih banyak tahu tentang bagaimana mengalokasikan sumber daya publik)1 Secara lebih spesifik, Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3), menyebutkan bahwa ada 5 masalah terkait dengan pelayanan publik di Negara Kesatuan Republik Indonesia 2, yakni: 1. Rendahnya kualitas produk maupun jasa layanan yang disediakan. 2. Rendahnya kualitas penyelenggaraan layanan 3. Ketiadaan akses bagi kelompok rentan, penyandang cacat dan komunitas adat terpencil terhadap pelayanan publik 4. Ketiadaan mekanisme pengaduan, penyelesaian gugatan atau sengketa atas ketidakpuasan warga/masyarakat terhadap pelayanan publik 5. Ketiadaaan ruang partisipasi warga/masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
Sumber; Tabloid Lesung, III/04 November 2004. FPPM-Bandung 5 pokok masalah pelayanan publik di Indonesia dalam kertas Posisi Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3) ±Yappika. 2006
1

2

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Ketiadaan ruang partisipasi warga/masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik, disebabkan lemahnya kapasitas warga/masyarakat dalam mengontrol atau mengawasi, melakukan penilaian sekaligus memberikan masukan bagi perbaikan pelayanan publik. Di sisi lain, kerangka kebijakan formal telah dibuat untuk menjamin adanya kontrol dari masyarakat atas penyelenggaran pelayanan publik. Pasal 35 ayat 3 butir a, Undang - Undang No.25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik, menyebutkan bahwa pengawasan eksternal terhadap penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui berbagai cara, termasuk di dalamnya pengawasan oleh masyarakat. Pengawasan oleh masyarakat ini, berupa laporan atau pengaduan masyarakat terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Pasal tersebut dengan tegas menyatakan: bahwa, laporan pengaduan masyarakat merupakan instrumen penting bagi masyarakat dalam melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik. Faktanya, tidak banyak warga/masyarakat yang menyampaikan laporan atau pengaduan atas penyelenggaraan pelayanan publik yang diterima. Minimnya pengaduan warga/masyarakat, disebabkan oleh dua hal penting, yakni: 1. Kurangnya pemahaman tentang hak dan kewajiban warga/masyarakat atas pelayanan publik 2. Lemahnya kemampuan teknis warga/masyarakat dalam mengembangkan mekanisme pengawasan sampai dengan pengaduan yang efektif dan berpengaruh terhadap perbaikan dari penyelenggaraan pelayanan publik. Karena itu, dibutuhkan upaya pengua tan bagi warga/masyarakat agar mampu melakukan pengawasan sekaligus memberikan penilaian dan dorongan bagi perbaikan dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Salah satu metoda yang cocok untuk hal ini adalah dengan menggunakan Citizen Report Card Survey atau Kartu Penilaian Masyarakat. Melalui kartu penilaian, warga/masyarakat dapat memberikan informasi mengenai: 1. Kualitas jasa layanan publik 2. Kualitas interaksi petugas pelayanan publik dengan warga/masyarakat 3. Nilai atau bobot atas dasar kriteria tertentu, baik itu masalah pelayanan yang diterima maupun sejauh mana masalah yang ada dan timbul dapat diatasi oleh penyelenggaran pelayanan publik. Selain itu kartu penilaian masyarakat (citizen report card) dapat digunakan sebagai dasar untuk merumuskan strategi dalam meningkatkan kinerja dan kualitas dari penyelenggaraan pelayanan publik.

1.2 Tujuan dan Sasaran
Secara umum tujuan pelaksanaan survey dengan menggunakan Metode CRC, adalah untuk menilai dan mengukur kualitas pelayanan publik berdasarkan persepsi pengguna jasa layanan publik. Pada pelaksanaan pemantauan pelayanan publik di Kota Bandung kali ini, ditetapkan dua Badan Publik yang menjadi locus pelaksanaan survey dengan menggunakan metode CRC, yaitu: Dinas Pendidikan dan Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT). Penetapan dua Badan Publik yang menjadi locus Survey CRC di atas, merupakan kesepakatan bersama antara Lembaga Advokasi Kerakyatan (LAK)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

dengan Bappeda dan Inspektorat Kota Bandung dalam rangka pemantauan pelaksanaan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) Kota Bandung. Tujuan utama Survey CRC di Dinas Pendidikan dan Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung, adalah untuk menilai kualitas pelayanan di sektor pendidikan dan perizinan, didasarkan kepada persepsi masyarakat pengguna jasa layanan sektor pendidikan dan perizinan di Kota Bandung. Sebagaimana diketahui bahwa pada Tahun 2008, atas dukungan Kemitraan dan Direktorat Hukum dan HAM Bappenas, Pemerintah Kota Bandung telah menyusun dan menetapkan Peraturan Walikota Bandung No. 891 Tahun 2008 tentang Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) Kota Bandung Tahun 2009 - 2013. Dalam dokumen Peraturan Walikota tersebut, terdapat 10 SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) pelaksana Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) yang telah mengusulkan program dan kegiatan sebagai usulan aksi percepatan pemberantasan korupsi. Dengan demikian, Survey CRC ini sekaligus merupakan alat (tools) bagi pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan RAD PK di Kota Bandung. Sebagai langkah pemantauan atas pelaksanaan RAD PK, maka sasaran Survey CRC di Dinas Pendidikan dan BPPT Kota Bandung, diarahkan pada program dan kegiatan yang diusulkan oleh kedua SKPD tersebut sebagai program/kegiatan aksi. Sesuai program dan kegiatan dalam RAD PK, maka ditetapkan fokus Survey CRC di Dinas Pendidikan Kota Bandung adalah mengenai pelaksanaan Program/Kegiatan Bantuan Siswa Miskin atau yang lazim dikenal sebagai Program Bantuan Walikota Khusus (BAWAKU) untuk Sekolah. Sedangkan untuk fokus Survey CRC di BPPT Kota Bandung, dipilih satu jenis layanan pemanfaatan ruang dari 3 jenis layanan yang disediakan, yaitu layanan IMB (Izin Mendirikan Bangunan). Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung sendiri, menyediakan atau mengelola 30 jenis jasa layanan.

1.3 Keluaran dan Hasil
Keluaran utama Survey CRC terhadap penyelenggaraan pelayanan publik dari dua badan publik yang menjadi locus survey, adalah: penilaian terhadap kualitas layanan serta penyataan tingkat kepuasan atas pelaksanaan program Bantuan Siswa Miskin (BSM/Bawaku Sekolah) di Dinas Pendidikan Kota Bandung dan layanan ijin mendirikan bangunan (IMB) di BPPT Kota Bandung. Secara detail, hasil Survey CRC tentang pelaksanaan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau lazimnya disebut BAWAKU SEKOLAH, meliputi :  Tingkat pengetahuan warga/masyarakat miskin Kota Bandung yang mendapat bantuan pendidikan ini, tentang kebijakan, program dan kegiatan Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau BAWAKU Sekolah  Tingkat pemahaman dan penilaian warga/masyarakat miskin Kota Bandung yang mendapat bantuan pendidikan ini, tentang syarat, prosedur dan mekanisme pelaksanaan program/kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau BAWAKU Sekolah  Penilaian warga/masyarakat miskin Kota Bandung yang mendapat bantuan pendidikan ini, tentang kelembagaan pelaksanaan program/kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau BAWAKU Sekolah.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card 

Tanggapan dan penilaian warga/masyarakat miskin Kota Bandung yang mendapat bantuan pendidikan ini, tentang capaian serta dampak pelaksanaan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau BAWAKU Sekolah.  Hasil penilaian yang menyatakan tingkat kepuasan warga/masyarakat miskin Kota Bandung yang mendapatkan bantuan pendidikan ini, atas layanan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau BAWAKU Sekolah  Saran dan rekomendasi dari warga/masyarakat miskin Kota Bandung yang mendapat bantuan pendidikan ini, bagi peningkatan kualitas layanan program Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau BAWAKU Sekolah
Sedangkan hasil yang diharapkan dari pelaksanaan Survey CRC atas Layanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) di BPPT Kota Bandung, adalah:  Tingkat pemahaman warga/masyarakat Kota Bandung yang pernah mengurus IMB tentang kebijakan Izin Mendirikan Bangunan  Tingkat pemahaman dan penilaian warga/masyarakat Kota Bandung yang pernah mengurus IMB, tentang syarat, prosedur dan mekanisme pelaksanaan layanan IMB di BPPT Kota Bandung  Tanggapan dan atau penilaian warga/masyarakat Kota Bandung yang pernah mengurus IMB tentang proses penyelenggaraan layanan, khususnya perilaku petugas pemberi layanan di BPPT Kota Bandung  Tanggapan dan penilaian warga/masyarakat Kota Bandung yang pernah mengurus IMB tentang proses sosialisasi kebijakan dan tingkat transparansi  Tanggapan dan penilaian warga/masyarakat Kota Bandung yang pernah mengurus IMB tentang mekanisme pengaduan dan proses konsultasi dari pelayanan IMB di BPPT Kota Bandung

1.4 Kerangka Akademik
1.4.1 Pengertian Dasar
Secara sederhana, Metode Survey CRC dapat diibaratkan sebuah raport yang dibuat guru dan diberikan kepada orangtua siswa, baik per semester atau pun per catur wulan. Raport tersebut berisikan laporan tertulis dalam satu periode dari perkembangan pendidikan siswa. Sama halnya dengan Metode Survey CRC, warga/masyarakat kota atau penduduk dapat mengetahui perkembangan dan tingkat keberhasilan instansi atau lembaga pemerintah, maupun instansi atau lembaga non pemerintah. Baik raport siswa maupun CRC, keduanya memiliki fungsi yang sama, yaitu untuk menyajikan informasi mengenai suatu tingkat keberhasilan atau kemajuan. Metode CRC pertama kali diperkenalkan Samuel Paul pada Public Affair Center (PAC) untuk menilai layanan publik di Bengalore, India. (Untuk Kota Ba ndung sendiri, Metode CRC diperkenalkan pertama kali oleh BIGS ( Bandung Institute for Governance Studies) pada Tahun 2002 dan 2005 dengan melibatkan sedikitnya 400 responden yang merupakan warga/masyarakat atau penduduk Kota Bandung yang menerima langsung layanan dari badan publik di Kota Bandung. Aspek yang dinilai dari warga/masyarakat atau penduduk Kota Bandung sebagai penerima layanan publik dalam survey yang dilakukan Tahun 2002 dan 2005 oleh BIGS, adalah kualitas,

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

efisiensi dan permasalahan yang dihadapi ketika mengurus atau pun menerima suatu layanan dari penyelenggara layanan publik. Secara umum survey dengan Metode CRC di Kota Bandung yang dilakukan oleh BIGS Tahun 2002 dan 2005, memberikan gambaran tentang kepuasan dan ketidakpuasan konsumen terhadap layanan publik yang mereka terima). Citizen Report Card (CRC) sendiri bukanlah berbentuk opini, melainkan kenyataan atau fakta yang dihadapi warga dalam memenuhi kebutuhan dasar atau mendapatkan hak dasarnya melalui layanan jasa publik yang diberikan pemerintah, baik itu pemerintah pusat, provinsi maupun kabupaten/kota. Karena bukan opini, kepuasan dan keluhan yang diungkapkan warga sebagai konsumen perlu mendapatkan perhatian demi perbaikan layanan Dalam penentuan dan pelaksanaan kebijakan, Metode CRC dapat digunakan sebagai salah satu alat dalam memonitoring akuntabilitas. Oleh karena itu, CRC wajibnya dibuat secara berkala oleh institusi atau lembaga pemerintah agar dapat memperoleh umpan-balik dari masyarakat terhadap layanan yang mereka selenggarakan. Metode CRC ini dapat dijadikan baseline untuk mengukur kemajuan atau kemunduruan akuntabilitas layanan dari sisi konsumen. Selain itu hasil dari Metode CRC juga dapat digunakan sebagai alat perbandingan (bencmarking) kualitas layanan antara satu kota/kabupaten dengan kota/kabupaten lainnya.

1.4.2 Manfaat dan Kegunaan CRC
Metode CRC mampu menginformasikan umpan balik warga terhadap jasa layanan yang diberikan oleh penyedia layanan (provider) serta dapat memberikan gambaran tentang tingkat kepuasan masyarakat secara sederhana dan komunikatif. Manfaat Metode CRC juga tidak sebatas pada pengukuran kepuasan. Tetapi juga pada pembahasan aspek spesifik interaksi antara penyedia layanan dengan warga dan pengidentifikasian isu - isu terkait yang muncul. Dalam interkasi antara pemerintah dengan warga, CRC mampu menyediakan indikasi atau ukuran alternatif terkait penyelenggaraan layanan publik yang baik. CRC tidak saja dapat mengidentifikasi dan menginventarisasi umpan balik warga terhadap penyelenggaraan layanan publik, tetapi juga mampu menguji pilihan berbeda yang diharapkan warga dalam memecahkan suatu persoalan yang terkait dengan penyelenggaraan layanan publik. Adapun beberapa manfaaat dan kegunaan Metode CRC, seperti yang pernah dilakukan di beberapa kota, adalah: 3 1. Metode CRC dapat digunakan untuk mengetahui gambaran umum tentang penyelenggaraan layanan 2. Metode CRC menginformasikan umpan balik warga secara sederhana dalam mengindikasikan tingkat kepuasan layanan 3. Metode CRC merupakan ukuran kepuasan warga akan layanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah pusat, pemerintah provinsi maupun pemerintah kabupaten/kota

Hal. 3 - 4, Buku Pelayanan Publik Dalam Persepsi Masyarakat, Hasil Survey Persepsi Masyarakat Dengan Metode citizen Report Card di Lima Daerah Di Indonesia (Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Pemalang, Kota Magelang dan Kabupaten Indramayu) Tahun 2008
3

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

4. Metode CRC tidak berhenti pada mengukuran kepuasan, tetapi juga membahas aspek spesifik interkasi antara penyedia layanan dengan warga dan mengidentifikasi isu terkait yang muncul 5. Metode CRC mampu mengidentifikasi isu strategis yang terkait dengan kualitas layanan publik yang dinikmati oleh warga 6. Metode CRC mampu memberikan sudut pandang yang berbeda untuk mengidentifikasi potensi permasalahan dalam penyelenggaraan layanan publik 7. Metode CRC tidak hanya mampu mengumpulkan umpan balik dalam penyelenggaraan layanan publik, tetapi juga mampu mengidentifikasikan tindak lanjut atas umpan balik tersebut. 8. Metode CRC diselenggarakan guna menguji beberapa pilihan ber beda yang diharapkan warga, terkait upaya pemecahan masalah dalam penyelenggaraan layanan publik. 9. Metode CRC mampu menyediakan gambaran umpan balik warga secara komprehensif dan handal 10. Metode CRC dapat menilai kualitas, efisiensi, kecukupan dan masalah yang dihadapi warga ketika berinteraksi dengan institusi, badan atau lembaga penyelenggara layanan publik 11. Metode CRC juga dapat digunakan untuk membandingkan kualitas dan karateristik berbagai layanan jasa layanan publik yang diterima warga 12. Metode CRC dapat digunakan sebagi salah satu alat penting dalam memonitoring akuntabilitas badan, institusi atau lembaga penyelenggara jasa layanan publik 13. Metode CRC dapat dijadikan baseline untuk mengukur kemajuan atau kemunduran akuntabilitas layanan yang diberikan badan, institusi atau lembaga penyelenggara jasa layanan publik, dari sisi konsumen 14. Metode CRC dapat digunakan sebagai alat pembanding (benchmarking) kualitas layanan publik antara satu kota/kabupaten dengan kota/kabupaten lain Dalam konteks yang lebih luas dan lebih substantif, Metode CRC idealnya dapat digunakan untuk: 1. Memberikan masukan terhadap perubahan dalam perumusan kebijakan/aturan dan implementasinya 2. Memberikan masukan kepada pembuat kebijakan/aturan dan perangkat pelaksananya 3. Mengorganisasi opini dan partisipasi masyarakat 4. Memperjuangkan kepentingan masyarakat luas 5. Alat untuk mewujudkan demokrasi yang substantive

1.4.3 Kelebihan Metode CRC Dibandingkan dengan Metode Lain 4
Penelitian untuk menilai kinerja pelayanan publik atau kinerja pelayanan pemerintah sudah sering dilakukan dengan memanfaatkan berbagai metode. Hanya saja sebagian besar hasil penelitian tersebut bersifat opini atau penilaian dari para
Hal. 39, Buku Membangun Sistem Integritas Dalam Pemberantasan Korupsi Di Daerah (Catatan Atas Pengalaman Pengawalan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) dan Pelaksanaan Citizen Report Card (CRC) di Lima Daerah. Bappenas-Kemitraan.Desember 2008
4

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

pakar atau ahli yang lebih banyak menggambarkan dan menganalisis kualitas layanan dari sudut pandang yang sifatnya normatif. Sementara itu masih belum banyak dilakukan penelitian yang dapat menggambarkan fakta langsung yang diberikan oleh masyarakat sebagai pengguna langsung dari layanan publik secara empiris. Dengan kata lain, sebagian besar hasil penelitian tentang penyelenggaraan pelayanan publik merupakan persepsi responden terhadap layanan publik. Di sini penentuan indikator dan instrumen yang digunakan didasarkan atas teori, bukan fakta atau kebutuhan masyarakat. Sehingga hasil yang dirumuskannya pun didasarkan pada interpretasi seorang ahli dengan menggunakan bahasa ilmiah yang seringkali sulit dipahami dan sulit diimplementasikan untuk mempengaruhi kebijakan atau memperbaiki kualitas penyelenggaraan pelayanan publik. Sementara itu dalam prosesnya, penelitian tersebut tidak banyak melibatkan masyarakat secara partisipatif, khususnya yang mendapatkan atau merasakan langsung dari layanan publik yang disediakan oleh badan publik atau penyelenggara layanan publik. Oleh karena itu, dapat dimengerti apabila hasil penelitian tersebut kurang memberikan dampak secara langsung kepada masyarakat. Pada Metode CRC, penentuan indikator dan perumusan instrumen penelitian didasarkan atas kebutuhan masyarakat yang dilakukan melalui focus group discussion (FGD) atau survey pendahuluan terhadap layanan publik yang akan diteliti. Mengapa dilakukan hal demikian? Argumentasi sederhananya adalah bahwa layanan publik yang diberikan kepada masyarakat atau konsumen seharusnya mampu memberikan layanan terbaik sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai konsumen. Dengan demikian, kebutuhan masyarakat atau konsumen didasarkan atas prinsip partisipasi. Partisipasi ini mencakup keseluruhan proses pemanfaatan jasa layanan publik mulai dari informasi yang didapat (sosialisasi dan transparansi), prosedur yang harus dilakukan, persyaratan yang harus dipenuhi dan juga waktu serta biaya yang dibutuhkan. Oleh karenanya, hasil Survey CRC tidak hanya berupa persepsi dan interpretasi yang didasarkan pada teori, akan tetapi berupa gambaran atau fakta empiris yang diberikan oleh masyarakat sebagai konsumen langsung dari jasa layanan publik. Berikut adalah beberapa kelebihan dari Metode CRC, yaitu: 1. Metode CRC dapat menjadi alat ukur kualitas pelayanan publik secara berkala dan dapat digunakan juga untuk memperbandingkan antar jenis layanan dan antar waktu atau wilayah. Perbandingan ini berguna sebagai patokan (benchmark) dalam pengukuran kelayakan atau kualitas layanan publik yang disediakan oleh suatu pemerintahan daerah 2. Dengan pengukuran tersebut juga akan dapat ditentukan tingkat pencapaian atau keberhasilan pelayanan publik, sehingga dapat dipakai untuk meningkatkan kinerja pelayanan publik dari badan publik bersangkutan 3. Adanya tindakan dan pemeringkatan yang dibuat, dapat menjadi alat ukur bagi masyarakat selaku konsumen yang juga selaku pembayar pajak dan retribusi daerah untuk menilai layanan publik. Hasil pengukuran ini dapat dijadikan alat oleh masyarakat dalam melakukan komplain atau penuntutan atas kinerja pelayanan publik yang peringkatnya kurang baik

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

4. Penilaian yang dibuat dapat dijadikan alat diagnosis dalam mengidentifikasikan kelemahan dan kelebihan suatu jenis pelayanan publik tertentu. Oleh karena itu, report card (kartu penilaian) yang dihasilkan dari survey menggunakan Metode CRC ini dapat dipergunakan sebagai masukan bagi pembuat kebijakan dalam proses perumusan kebijakan atau aturan terkait penyelenggaraan pelayanan publik 5. Karena dapat dijadikan sebagai alat ukur kualitas, penelitian ini dapat dijadikan alat untuk melakukan advokasi dalam upaya mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya korupsi di sektor pelayanan publik. 5

1.4.4 Prinsip-prinsip Metode CRC
Akuntabilitas pelayanan publik ditentukan oleh dua faktor, yaitu: 1. Voice, yaitu seberapa besar sarana atau kesempatan bagi konsumen untuk melakukan komplain atau protes bila terjadi masalah atau ketidakpuasan dalam pelayanan publik. Makin besar sarana untuk melakukan voice, semakin mendorong penyedia layanan publik untuk meningkatkan kualitasnya. 2. Exit, yaitu kondisi didalamnya. Jika seorang konsumen atau pengguna suatu layanan publik tidak suka atau tidak puas atas layanan yang ada atau yang dia dapatkan, maka dia dapat memilih jenis layanan lain yang merupakan pengganti dari layanan tersebut. Misalnya, jika seseorang tidak menyukai atau tidak puas dengan layanan kereta api, maka ia dapat memilih untuk menggunakan jasa layanan bus antar kota atau menggunakan jasa penyewaan mobil. Sebaliknya untuk kondisi exit yang rendah, misalnya terjadi dalam penggunan jalan raya. Seseorang tidak dapat memilih alternatif lain jika dia merasa tidak puas atas kondisi jalan raya (misalnya karena macet), tetapi tetap terpaksa menggunakan jalan tersebut. Semakin tinggi kondisi exit pada suatu layanan publik, maka semakin tinggi akuntabilitas pelayanan tersebut. Sementara tingginya akuntabilitas pelayanan akan meningkatkan kualitas pelayanan publik yang ada. Konsepsi report card sendiri dikembangkan atas dasar keinginan untuk memperbaiki akuntabilitas penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan pemerintah untuk kepentingan masyarakat sebagai pengguna jasa layanan. Diharapkan dengan melakukan survey menggunakan Metode CRC, dapat terjadi proses timbal balik antara provider dalam hal ini pemerintah sebagai penyelenggara pelayanan publik dengan masyarakat sebagai konsumen dari jasa layanan publik. Untuk itu, dalam penyelenggaraan CRC perlu diperhatikan 9 faktor kritis yang dapat disebut sebagai 9 Prinsip CRC, yaitu: 1. Konteks Politik Konteks politik sebuah Negara akan menentukan tipe interaksi antara pemerintah dan warganya. Pola interaksi pemerintah dengan masyarakat sipil, media, kelompok bisnis dan warga pada umumnya sangat dipengaruhi oleh konteks politik. Jika warga dapat berpartisipasi dan
Hal. 40, Buku Membangun Sistem Integritas Dalam Pemberantasan Korupsi Di Daerah (Catatan Atas Pengalaman Pengawalan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) dan Pelaksanaan Citizen Report Card (CRC) di Lima Daerah
5

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

mempengaruhi suatu kebijakan pemerintah (pusat, provinsi maupun kabupaten/kota), maka CRC bisa menjadi mekanisme yang efektif untuk menyuarakan pengalaman warga ketika menjadi pengguna atau mendapatkan suatu layanan publik yang disediakan pemerintah. Jika sarana yang dimiliki warga untuk menyuarakan pendapat minim, baik melalui PEMILU, diskusi publik dan cara lainnya, maka institusi/lembaga dan proses politik biasanya minim juga untuk bisa mengakomodasikan usulan warga. Rintangan atau hambatan dalam melakukan survey dengan menggunakan Metode CRC berasal dari internal pemerintah (pusat, provinsi maupun kabupaten/kota). Jika memang sebuah pemerintahan terlihat akan merintangi pelaksanaan survey, maka sebaiknya melibatkan pemerintah sejak awal dalam proses pelaksanaan CRC, walaupun mungkin hasilnya nanti akan menimal, akan tetapi setidaknya pihak pemerintah dapat belajar memahami perspektif dari pelaksanaan CRC 2. Desentralisasi Prinsip kedua yang perlu diperhatikan adalah desentralisasi. Berdasarkan amanat UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, maka Pemerintah Pusat mendesentralisasikan beberapa kewenangan atau tanggungjawab penyelenggaraan layanan publik kepada daerah. Pada pasal 2, ayat 4 dari PP No. 38 Tahun 2007, menyebutkan ada 31 bidang urusan pemerintahan yang dibagi bersama antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan, meliputi: 1) Urusan Pendidikan 2) Urusan Kesehatan 3) Urusan Pekerjaan Umum 4) Urusan Perumahan 5) Urusan Penataan Ruang 6) Urusan Perencanaan Pembangunan 7) Urusan Perhubungan 8) Urusan Lingkungan Hidup 9) Urusan Pertanahan 10) Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil 11) Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 12) Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 13) Urusan Sosial 14) Urusan Ketenagakerjaan dan Ketransmigrasian 15) Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah 16) Urusan Penanaman Modal 17) Urusan Kebudayaan dan Pariwisata 18) Urusan Kepemudaan dan Olahraga 19) Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

20) Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Adminsitrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 21) Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 22) Urusan Statistik 23) Urusan Kearsipan 24) Urusan Perpustakaan 25) Urusan Komunikasi dan Informatika 26) Urusan Pertanian dan Ketahanan Pangan 27) Urusan Kehutanan 28) Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral 29) Urusan Kelautan dan Perikanan 30) Urusan Perdagangan 31) Urusan Industri Dari 31 urusan pemerintahan yang dibagi atau diserahkan kepada pemerintahan daerah (provinsi maupun kabupaten/kota), masing-masing urusan tersebut terdiri dari sub bidang dan setiap sub bidang terdiri dari sub-sub bidang (pasal 2 ayat 5 PP No. 38 Tahun 2007 ). Penyerahan ke 31 urusan pemerintahan kepada pemerintah daerah (provinsi maupun kabupaten/kota) disertai dengan sumber pendanaan, pengalihan sarana dan prasarana, serta kepegawaian (pasal 3 PP No. 38 Tahun 2007 ). Ketentuan lebih lanjut mengenai pengaturan teknis untuk masing -masing sub bidang atau sub-sub bidang dari 31 urusan pemerintahan yang diserahkan kepada pemerintah daerah (provinsi maupun kabupaten/kota), diatur dengan peraturan menteri/kepala lembaga pemerintahan non departemen yang membidangi urusan pemerintahan yang bersangkutan setelah berkoordinasi dengan Menteri Dalam Negeri (pasal 4 ayat 2 PP No. 38 Tahun 2007 ) Ketigapuluh satu urusan pemerintahan yang diserahkan kepada pemerintahan daerah (provinsi maupun kabupaten/kota), terbagi lagi menjadi dua, yaitu: urusan wajib dan urusan pilihan. Yang dimaksud dengan urusan wajib adalah: urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah provinsi dan pemerintah daerah kabupaten/kota, berkaitan dengan pelayanan dasar (pasal 7 ayat 1 PP No. 38 Tahun 2007), terdiri dari : 1) Urusan Pendidikan 2) Urusan Kesehatan 3) Urusan Lingkungan Hidup 4) Urusan Pekerjaan Umum 5) Urusan Penataan Ruang 6) Urusan Perencanaan Pembangunan 7) Urusan Perumahan 8) Urusan Kepemudaan dan Olahraga 9) Urusan Penanaman Modal 10) Urusan Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah 11) Urusan Kependudukan dan Catatan Sipil 12) Urusan Ketenagakerjaan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

13) Urusan Ketahanan Pangan 14) Urusan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 15) Urusan Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera 16) Urusan Perhubungan 17) Urusan Komunikasi dan Informatika 18) Urusan Pertanahan 19) Urusan Kesatuan Bangsa dan Politik Dalam Negeri 20) Urusan Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian 21) Urusan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa 22) Urusan Sosial 23) Urusan Kebudayaan 24) Urusan Statistik 25) Urusan Kearsipan 26) Urusan Perpustakaan Sedangkan yang dimaksud dengan urusan pilihan adalah urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah yangb bersangkutan (pasal 7 ayat 3 PP No. 38 Tahun 2007) . Urusan pilihan tersebut meliputi: 1) Urusan Kelautan dan Perikanan 2) Urusan Pertanian 3) Urusan Kehutanan 4) Urusan Energi dan Sumber Daya Mineral 5) Urusan Pariwisata 6) Urusan Industri 7) Urusan Perdagangan 8) Urusan Ketransmigrasian Penentuan urusan pilihan ditetapkan atau diserahkan kepada masing masing pemerintahan daerah (pasal 7 ayat 5 PP No. 38 Tahun 2007 ) Fakta yang terjadi di beberapa daerah, kualitas dari layanan publik khususnya layanan dasar membaik seiring dengan diberlakukannya desentralisasi. Di sisi lain, pemberlakuan desentralisasi juga telah meningkatkan penyalahgunaan dana dan memperlihatkan kegagalan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan layanan publik yang baik, khususnya untuk layanan dasar. Oleh karena itu, dalam konteks pelaksanaan survey dengan Metode CRC, penting adanya pemahaman terhadap dampak desentralisasi guna mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadap penyelenggaraan layanan publik. Sehingga nantinya, usaha-usaha yang akan dirintis guna memperbaiki layanan publik, tertuju langsung kepada institusi yang bersangkutan 3. Keamanan Keamanan yang dimaksud disini adalah jaminan kebebasan berbicara dalam proses tahapan-tahapan pelaksanaan survey dengan menggunakan Metode CRC, mulai dari pelaksanaan focus group discussion atau diskusi

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

terbuka untuk mengidentifikasikan masalah-masalah yang terjadi pada pelayanan publik, sampai dengan proses diseminasi temuan atau hasil survey. Jika perangkat institusi hukum dan perangkat dibawahnya tidak dapat menjamin adanya keamanan, maka proses pelaksanaan CRC akan menjadi sulit 4. Kebebasan Warga atau Masyarakat Untuk Menyuarakan Pengalaman Terkait dengan isu keamanan di atas, kebebasan untuk mengemukakan pendapat terhadap kebijakan publik yang dibuat pemerintah. Tanpa adanya jaminan kebebasan warga sebagai individu dalam mendiskusikan pengalaman mereka mengenai pelayanan publik yang mereka terima secara terbuka, maka pelaksanaan CRC tidak dapat dilakukan. Hal tersebut harus diputuskan terlebih dahulu, sebelum pelaksanaan CRC diputuskan. Pemanfaatan Metode CRC bisa lebih efektif jika warga secara individu dapat mengemukakan pendapatnya secara bebas terhadap kebijakan apapun yang dikeluarkan pemerintah tanpa perasaan takut. Jika warga takut untuk mengomentari atau memberikan masukan kepada pemerintah, maka realibilitas masukan yang dikemukakan warga sebagai responden menjadi tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga sebagai responden survey, sekaligus konsumen langsung dari suatu layanan publik pada akhirnya mungkin akan menjawab pertanyaan dengan tidak akurat atau bahkan menolak untuk diwawancara 5. Kehadiran Civil Society Organization (CSO) atau Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) Dibeberapa Negara, CSO memiliki peran yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Keaktifan CSO mengindikasikan tingginya inisiatif warga dan hal ini sangat penting dalam penyelenggaraan CRC. CSO dapat menyediakan beberapa layanan yang gagal disediakan pemerintah dan juga dapat mengadvokasikan revisi perundang-undangan, serta memberikan informasi penting kepada publik. Dengan demikian, dibutuhkan CSO yang terorganisir dengan baik, aktif dan netral untuk berpartisipasi dalam tahapan penyelenggaraan CRC 6. Kelompok atau NGO yang Profesional NGO yang professional, seharusnya adalah organisasi yang memilki keahlian-keahlian terkait dengan tahapan penyelenggaraan CRC terutama tahap metodologi. Kelompok akademisi atau kelompok peneliti independen dapat membantu pelaksanaan CRC dari sisi metodologi. Oleh karena itu untuk menjamin kualitas pengumpulan data sebuah lembaga yang melakukan CRC, sebaiknya: a) Memiliki keahlian dalam melakukan teknik survey ilmu-ilmu sosial b) Memiliki pengetahuan yang memadai mengenai layanan publik di daerah dimana CRC dilakukan c) Dapat mengembangkan desain sampling d) Berpengalaman dalam melakukan kerja-kerja lapangan Sementara untuk melengkapi analisis temuan, sebuah lembaga sebaiknya memiliki keahlian dalam mengumpulkan dan menginterpretasikan data. Sedangkan untuk mengejar dampak, sebuah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

lembaga sebaiknya memiliki ruang publikasi, komunikasi dan keahlian advokasi 7. Kualitas Media Sebuah media independen akan melakukan pengecekan alami, baik terhadap pemerintah, kelompok bisnis atau stakeholder lainnya yang ada di masyarakat. Selama tahap distribusi temuan CRC, peran media sangat penting, terlebih media independen yang mampu menjangkau audience yang lebih luas. Sedangkan media yang dikontrol ketat pemerintah mungkin tidak akan mendukung proses distribusi temuan dengan tepat 8. Orientasi Kepemimpinan Penyedia Layanan Efektifitas temuan CRC sangat bergantung pada orientasi kepemimpinan penyedia layanan. Temuan CRC akan efektif jika penyedia layanan terbuka terhadap masukan-masukan eksternal dan memiliki kemauan untuk memperbaiki layanan publik. Orientasi kepemimpinan penyedia layanan memperlihatkan kemauan untuk mendengarkan dan merespon aspirasi warga. 9. Kepentingan Pemerintah Dalam Mengusung Inisiatif Walaupun layanan publik yang menyentuh langsung warga berada ditingkat pemerintahan kabupaten/kota, akan tetapi pemerintahan yang lebih tinggi seperti pemerintah pusat dan provinsi bisa saja mempengaruhi pemerintah kabupaten/kota, baik secara financial atau lainnya untuk memulai memperbaiki layanan publik di tingkat daerah. Sementara jika pemerintahan yang lebih tinggi seperti pemerintah pusat dan provinsi tidak mendukung inisiatif daerah, maka pengimplementasian temuan CRC menjadi lebih su lit untuk dilakukan. Jika hal ini terjadi, maka dukungan keuangan untuk mengimplementasikan reformasi layanan publik mungkin menarik untuk dilakukan

1.4.5 Proses CRC
Untuk melakukan CRC, tahapan-tahapan yang harus dilakukan tidak jauh berbeda dengan penelitian survey lainnya. Yang perlu diperhatikan, agar proses survey kepada masyarakat dilakukan oleh surveyor yang memahami betul teknik penjaringan data dari masyarakat tanpa melakukan manipulasi, karena hasil survey report card harus benar-benar merupakan gambaran fakta yang dialami masyarakat pengguna dari provider jasa layanan publik. Beberapa tahapan dalam proses CRC adalah sebagai berikut: 1. Tahap persiapan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tahap persiapan, adalah: y Data dari masing-masing provider yang akan disurvey y Penentuan jenis jasa layanan yang akan disurvey y Mempersiapkan dan melaksanakan focus discussion group y Mendapatkan rumusan indikator penelitian y Membuat kisi-kisi instrumen Sedangkan tujuan dari diadakannya focus group discussion adalah: mengidentifikasikan kembali jenis dan ukuran pelayanan publik yang paling dibutuhkan atau paling penting bagi masyarakat dilihat dari sisi masyarakat maupun sisi pemerintah dan mempertemukan keinginan dari

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

masyarakat dengan keinginan dari pemerintah. Selain itu FGD dalam CRC ditujukan juga untuk mengidentifikasikan dan merumuskan indicator instrument penelitian yang akan digunakan dalam survey. Untuk itu FGD dapat dilakukan dengan 2 tahap, pertama FGD khusus untuk provider (penyedia jasa layanan) dan FGD khusus untuk customer (masyarakat pengguna jasa layanan). Pemisahan pelaksanaan FGD CRC ini dimaksudkan agar eksploitasi kebutuhan atau harapan dari masingmasing stakeholders dapat diakomodasikan secara maksimal FGD CRC dengan provider, dapat dilakukan untuk mengidentifikasi jenis jasa layanan yang diberikan, karateristik pelayanan, karateristik pelanggan atau konsumen jasa layanan, cakupan layanan, mekanisme serta tata laksana pelayanan. Sedangkan FGD dengan pelanggan atau konsumen, berfungsi untuk mengiden tifikasi kebutuhan atau harapan konsumen, masalah yang sering dialami konsumen dan lain-lain 2. Tahap pelaksanaan Keluaran yang diperoleh dari tahap pelaksanaan survey secara keseluruhan adalah: y Data tingkat penggunaan y Data tingkat kepuasan y Data peringkat tingkat penggunaan dan tingkat kepuasan y Masalah-masalah atau keluhan y Pemetaan data pada masing-masing wilayah survey 3. Tahap pelaporan dan Advokasi Keluaran yang diperoleh dari tahap pelaporan dan advokasi adalah dokumen laporan hasil penelitian lengkap berdasarkan hasil survey dan interpretasi hasil melalui proses diskusi dan wawancara mendalam. Pada tahap akhir ini, penting diperhatikan agar hasil CRC menjadi sebuah kerangka advokasi yang dilakukan secara sistematis, agar tujuan utama dilakukan CRC guna mendorong pemerintah sebagai penyedia jasa layanan publik, tercapai.

1.5 Metode Penelitian
1.5.1 Mapping Sampel
Mapping sampel dilakukan untuk mengetahui sebaran konsumen jasa layanan yang diberikan oleh Badan Publik yang ada di pemerintah kota pada setiap wilayah kota. Report card sendiri merupakan penelitian yang menggambarkan kualitas jasa layanan yang diberikan oleh penyedia jasa layanan publik melalui survey langsung kepada pengguna jasa layanan (masyarakat). Mapping sampel report card dapat dilakukan dengan menggunakan populasi penduduk kota serta sebarannya di tiap kecamatan, kelurahan dan satuan terkecil yaitu rumah tangga. Untuk penarikan sampel pada jenis penggunaan jasa layanan yang dipergunakan hampir seluruh masyarakat dan mapping sampel untuk penarikan sampel dari populasi pelanggan jasa layanan pada satu provider. Selanjutnya untuk menentukan besaran sampel penelitian, peneliti dapat menggunakan beberapa teknik penarikan sampel yang dianggap tepat atau memiliki tingkat kepercayaan (validitas) tinggi, sehingga sampel penelitian dapat menggambarkan populasi.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

1.5.2 Penarikan Sampel
A. Penarikan Sampel untuk Program Bawaku Sekolah Jumlah populasi yang diambil pada survey pendidikan adalah jumlah siswa tidak mampu (siswa miskin) tingkat SMA Negeri dan Swasta) dan SMK (Negeri dan Swasta) yang mendapatkan Bawaku Sekolah dari Pemerintah Kota Bandung sejak Tahun Ajaran 2007/2008 2009/2010. Berdasarkan data pada Tahun 2009 tercatat 5251 siswa SMA/MA yang tersebar di 84 sekolah (Negeri dan Swasta) dan 11925 siswa SMK yang tersebar di 94 SMK (Negeri dan Swasta). Berdasarkan data ini, total penerima Bawaku Sekolah pada Tahun Anggaran 2009 adalah 17.176 siswa. Dengan menggunakan rumus Slovin, dengan sampling error sebesar (E) 0,065, dihitung besar sampel sebagai berikut:
N n= 1 + N17.176 (E)
n=
2

17.176

=
1 + 17.176 (0,065)2

73,57

= 233, 47 = 234

B. Sebaran Sampel untuk Survey Bawaku Setelah dihitung jumlah sampel dan dibagi proporsinya di setiap kecamatan dan kelurahan, maka didapat sebaran sampel sebagai berikut:

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

C. Penarikan Sampel BPPT Jumlah populasi yang diambil pada survey pelayanan perijinan mendirikan bangunan, adalah 3.417 konsumen dan tersebar pada 6 wilayah pembangunan di Kota Bandung, sebaran konsumen di 6 wilayah tersebut, 574 konsumen tersebar di Wilayah Pembangunan Ujung Berung, 610 konsumen di Wilayah Pembangunan Tegalega, 364 konsumen di Wilayah Pembangunan Bojonegara, 527 konsumen di Wilayah Pembangunan Cibeunying, 557 konsumen di Wilayah Pembangunan Karees, serta 785 konsumen yang tersebar di Wilayah Pembangunan Gedeb age. Dengan menggunakan rumus Slovin, dengan sampling error sebesar (E) 0,065, dihitung besar sampel sebagai berikut:
n=
N

1 + N (E)2 3.417 15,437

=

3.417
1 + 3.417 (0,065)2

n=

= 221,354 = 221

Berdasarkan perhitungan sampel di atas, jumlah sampel yang dibutuhkan sebanyak 221 responden, namun dalam pelaksanaannya jumlah sampel yang digunakan sebanyak 250 responden. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga kualitas hasil survey, terutama dalam mengantisipasi kekurangan data lapangan. Berdasarkan penetapan total sampel 250 responden, maka dilakukan perhitungan proporsi sampel pada masing-masing daerah yang disurvey. Hasil perhitungan proporsi sampel ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

1.5.4 Teknik Pengumpulan Data
Data utama dari penelitian report card merupakan penilaian dari konsumen terhadap layanan publik yang diselenggarakan pemerintahan. Pengumpulan data dilakukan dengan melakukan survei kepada masyarakat (pengguna jasa layanan) yang dilakukan dengan cara tatap muka langsung (face to face interview). Dari data yang diberikan oleh responden (konsumen jasa layanan publik di Kota Bandung) akan dihasilkan kualitas dan peringkat layanan publik yang diperoleh dengan teknik Report Card (Kartu Penilaian). Dalam kartu penilaian, konsumen memberikan informasi mengenai kualitas, serta kecukupan dan masalah yang mereka hadapi ketika menggunakan atau berinteraksi dengan lembaga penyedia pelayanan publik.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

BAB II SASARAN PELAKSANAAN CITIZEN REPORT CARD SURVEY DI KOTA BANDUNG TAHUN 2010
Citizen report card (CRC) yang dilaksanakan di Kota Bandung pada Tahun 2010, mengambil locus penelitian di dua SKPD (Badan Publik) yang memberikan layanan publik bagi warga/masyarakat Kota Bandung. Kedua SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) tersebut adalah: Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) dan Dinas Pendidikan Kota Bandung. Berikut adalah gambaran mengenai kedua SKPD yang menjadi locus pelaksanaan Survey CRC di Kota Bandung Tahun 2010.

2.1 Badan Pelayanan Bandung
2.1.1 Sejarah Pembentukan

Perijinan

Terpadu

(BPPT)

Kota

Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kepada masyarakat, khususnya dalam urusan perijinan, maka pada Tahun 2002, Pemerintah Kota Bandung mengambil suatu kebijakan untuk membentuk Unit Pelayanan Satu Atap (Yantap) yang didasarkan pada Peraturan Daerah Kota Bandung No. 2 Tahun 2002. Unit ini dibentuk untuk menciptakan keseragaman pola dan langkah penyelenggaraan dan pelayanan aparatur pemerintah daerah Kota Bandung kepada masyarakat dalam hal proses pemberian perizinan maupun non perizinan. 6 Namun dalam perjalanannya, perkembangan dan keefektifan Unit Pelayanan Satu Atap (Yantap) masih dirasakan belum maksimal, guna memenuhi kebutuhan warga/masyarakat Kota Bandung. Oleh karena itu pada Tahun 2007, dibentuklah lembaga baru dengan nama Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) yang merupakan penggabungan dari dua unit kerja, yaitu: Kantor Penanaman Modal Daerah (KPMD) dan Unit Pelayanan Satu Atap (Yantap). Badan baru tersebut terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No. 12 Tahun 2007 tentang Pembentukan dan Susunan Lembaga Teknis Daerah. 7 Sesuai ketentuan dalam Peraturan Daerah Kota Bandung No. 12 Tahun 2007 , maka Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) mempunyai tugas pokok, yaitu: menyusun dan melaksanakan kebijakan daerah di bidang penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu . Sedangkan fungsi dari badan ini adalah: 1) Merumuskan kebijakan teknis bidang pelayanan penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu 2) Pembinaan dan pelaksanaan pengelolaan penanaman modal dan pelayanan perizinan terpadu yang meliputi penanaman modal, perizinan usaha, perizinan non usaha serta data dan sistem informasi
6 Hal. 1, Buku Selayang Pandang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Pada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung 7 Hal. 3, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung Tahun 2010

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

3) Melaksanakan pelayanan teknis administratif badan 4) Melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan fungsi dan tugasnya 8 Kemudian di Tahun 2009, berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung No. 12 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Kota Bandung No. 12 Tahun 2007 tentang Perubahan dan Susunan Organisasi Lembaga Teknis Daerah, khususnya terkait dengan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan daerah di bidang pelayanan perizinan terpadu, maka Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPMPPT) mengalami penyempurnaan menjadi Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT). Harapanny a dengan adanya penyempurnaan tersebut dapat melayani kepentingan masyarakat dalam mengurus perizinan dengan lebih baik yang didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan publik, yaitu: kesederhanaan, kejelasan, kepastian waktu, akurasi, keamanan, tanggung jaw ab, kelengkapan sarana dan prasarana, kemudahan akses, kedisiplinan, kesopanan dan keramahan serta kenyamanan sehingga dapat mempercepat terwujudnya visi Kota Bandung.

2.1.2 Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Kelembagaan
Sesuai dengan Perda Kota Bandung No. 12 Tahun 2009, tugas pokok dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) adalah: melaksanakan koordinasi dan menyelenggarakan pelayanan administrasi di bidang perijinan secara terpadu dengan prinsip koordinasi, integrasi, sinkronisasi, simplifikasi, keama nan dan kepastian. Sedangkan fungsi dari BPPT adalah: 1) Pelaksanaan penyusunan program 2) Penyelenggaraan pelayanan adminsitrasi perijinan 3) Pelaksanaan koordinasi proses pelayanan perijinan 4) Pelaksanaan administrasi pelayanan perijinan 5) Pemantauan dan evaluasi proses pemberian pelayanan perijinan 6) Pelaksanaan pelayanan teknis administratif Badan 7) Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Walikota sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya

8 Hal. 3 dan 4, Buku Selayang Pandang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Pada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Gambar. 2.1. Struktur Organisasi Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Sesuai Dengan Perda Kota Bandung No. 12 Tahun 2009
Kepala Badan Bagian Tata Usaha

Kelompok Jabatan Fungsional

Sub Bag Umum dan Kepegawaian

Sub Bag Keuangan dan Program

Sub Bag Informasi dan Pelayanan Pengaduan

Bidang Perijinan I

Bidang Perijinan II

Bidang Perijinan III

Bidang Perijinan IV

Tim Teknis

Tim Teknis

Tim Teknis

Tim Teknis

Adapun penjelasan tugas pokok dan fungsi dari masing-masing jabatan atau posisi yang ada pada struktur oraganisasi dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, adalah sebagai berikut: 1. Kepala Badan Tugas pokok dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu, adalah melaksanakan sebagian kewenangan daerah di bidang pelayanan perizinan. Oleh karena itu, untuk melaksanakan tugas pokok dari Badan, maka fungsi dari Kepala Badan adalah: a) Perumusan kebijakan teknis di bidang pelayanan perizinan terpadu b) Perencanaan, penyusunan, pengkoordinasian, pelaksanaan dan penyelenggaraan program dan kegiatan pelayanan dan pendaftaran perizinan c) Pelaksanaan pelayanan teknis dan ketatausahaan badan d) Pembinaan dalam upaya peningkatan kinerja sumber daya manusia di lingkungan BPPT 9 2. Kepala Bagian Tata Usaha Tugas pokok dari Kepala Bagian Tata Usaha, adalah: melaksanakan sebagian tugas Badan Pelayanan Perizinan Terpadu di bidang ketatausahaan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, maka Bagian Tata Usaha memiliki fungsi sebagai berikut: a) Pengkoordinasian tugas-tugas pelayanan admnistrasi tiap-tiap bidang beserta seluruh komponen yang ada di lingkungan Badan

9

Hal. 5, Dokumen Rencana Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung Tahun 2011

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Melaksanakan dan menyusun rencana pengelolaan ketatausahaan Badan c) Melaksanakan ketatausahaan Badan yang meliputi Administrasi Umum, Administrasi Kepegawaian, Administrasi Keuangan dan Penyusunan Program d) Menyusun laporan pertanggungjawaban (akuntabilitas) penyelenggaraan kegiatan Badan secara berkala e) Melaksanakan monitoring dan evaluasi dari laporan kegiatan ketatausahaan Badan 3. Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Tugas pokok dari Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian adalah: melaksanakan sebagian tugas ketatausahaan di bidang admnistrasi umum dan kepegawaian. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, maka Sub Bagian Umum dan Kepegawaian memiliki fungsi sebagai berikut: a) Melaksanakan dan menyusun rencana pengelolaan administrasi umum dan kepegawaian b) Melaksanakan pengelolaan administrasi umum yang meliputi kegiatan surat menyurat, pengagendaan dan penggandaan naskah dinas, kearsipan, kerumahtanggaan, kehumasan dan adminstrasi perjalanan dinas c) Melaksanakan pengelolaan administrasi perlengkapan yang meliputi: inventarisasi, pengadaan, pemeliharaan dan pengaturan penggunaan perlengkapan dinas d) Melaksanakan pengelolaan administrasi kepegawaian yang meliputi penyiapan bahan penyusunan rencana kebutuhan, mutasi, disiplin, pengembangan pegawai dan kesejahteraan pegawai e) Melaksanakan evaluasi dan pelaporan kegiatan Sub Bagian Umum dan Kepegawaian10 4. Kepala Sub Bagian Keuangan dan Program Tugas pokok Sub Bagian Keuangan dan Program adalah: melaksanakan sebagian tugas ketatausahaan di bidang administrasi keuangan dan penyusunan program. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut, maka Sub Bagian Keuangan dan Program mempunyai fungsi sebagai berikut: a) Melaksanakan dan menyusun rencana pengelolaan administrasi keuangan dan program b) Melaksanakan adminsitrasi keuangan yang meliputi penyiapan bahan penyusunan anggaran belanja langsung dan tidak langsung, perbendaharaan dan pembukuan, penerimaan dan pengeluaran anggaran, belanja langsung dan tidak langsung c) Mengelola administrasi rencana dan program yang meliputi pengumpulan dan penyiapan bahan program serta perencanaan dan pengkajian program untuk kegiatan badan

10

Hal. 6, Dokumen Rencana Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung Tahun 2011

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

d) Melakukan evaluasi dan pelaporan penyelenggaraan kegiatan Sub Bagian Keuangan dan Program 5. Kepala Sub Bagian Informasi dan Pengaduan Tugas pokok Sub Bagian Informasi dan Pengaduan adalah: melaksanakan sebagian tugas ketatausahaan di bidang pengelolaan data dan informasi. Sedangkan fungsi dari Sub Bagian Pelayanan Informasi dan Pengaduan, adalah: a) Pengumpulan dan penganalisaan data di bidang pelayanan informasi dan pengaduan sebagai bahan perumusan kebijakan b) Menyiapkan bahan petunjuk teknis di Pelayanan Informasi dan Pengaduan c) Melaksanakan pengolahan bidang pelayanan informasi dan pengaduan, yang meliputi: penyiapan bahan pelayanan informasi, pelatihan pelayanan perizinan terpadu, pemberian pelayanan informasi melalui media cetak, elektronik, website dan pemberian pelayanan pengaduan public d) Melakukan evaluasi dan pelaoran penyelenggaraan kegiatan Sub Bagian Pelayanan Informasi dan Pengaduan 11 6. Kepala Bidang I (Urusan Perdagangan, Industri, Kebudayaan dan Pariwisata) Tugas pokok dari Bidang I adalah: melaksanakan sebagian tugas BPPT di bidang pelayanan dan pendaftaran perizinan perdagangan, industry, kebudayaan dan pariwisata. Adapun fungsi dari Bidang I adalah: a) Merencanakan dan menyusun program di bidang perizinan perdagangan, industry, kebudayaan dan pariwisata b) Melaksanakan dan menyusun Petunjuk Teknis bidang perizinan perdagangan, industry, kebudayaan dan pariwisata c) Mengkoordinasi penyelenggaraan tugas-tugas di bidang perizinan perdagangan, industri, kebudayaan dan pariwisata d) Melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaran kegiatan bidang perizinan perdagangan, industri, kebudayaan dan pariwisata 7. Kepala Bidang II (Urusan Sub Bidang Bina Marga, Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup) Tugas pokok dari Bidang II adalah: melaksanakan sebagian tugas BPPT dalam pelayanan, pendaftaran, pengolahan dan penerbitan perizinan bidang Bina Marga, Sumber Daya Air dan Lingkungan Hidup. 12 Sedangkan fungsi dari Bidang II, adalah: a) Merencanakan dan menyusun program di bidang perizinan bidang bina marga, sumber daya air dan lingkungan hidup b) Menyusun petunjuk tenis bidang perizinan bidang bina marga, sumber daya air dan lingkungan hidup c) Pengkoordinasian penyelenggaraan tugas-tugas di bidang perizinan bidang bina marga, sumber daya air dan lingkungan hidup
11 12

Hal. 7, Dokumen Rencana Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung Tahun 2011 Hal. 8, Dokumen Rencana Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung Tahun 2011

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

d) Melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan kegiatan bidang perizinan bidang bina marga, sumber daya air dan lingkungan hidup 8. Kepala Bidang III (Urusan Penataan Ruang, Sub Bidang Bangunan, Sub Bidang Konstruksi dan Urusan Pertanahan) Tugas pokok dari Bidang III adalah: melaksanakan sebagian tugas BPPT dalam pelayanan, pendaftaran serta pengolahan dan penerbitan perizinan bidang penataan ruang, pekerjaan umum sub bidang bangunan, sub bidang konstruksi dan pertanahan. Untuk melaksanakan tugas pokok tersebut. Bidang III mempunyai fungsi adalah sebagai berikut: a) Merencanakan dan menyusun program di bidang penataan ruang, pekerjaan umum sub bidang bangunan, sub bidang konstruksi dan pertanahan b) Menyusun petunjuk teknis bidang penataan ruang, pekerjaan umum sub bidang bangunan, sub bidang konstruksi dan pertanahan c) Pengkoordinasian penyelenggaraan tugas-tugas di bidang penataan ruang, pekerjaan umum sub bidang bangunan, sub bidang konstruksi dan pertanahan d) Melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan kegiatan bidang penataan ruang, pekerjaan umum sub bidang bangunan, sub bidang konstruksi dan pertanahan 13 9. Kepala Bidang IV (Urusan Perhubungan, Komunikasi dan Informatika) Tugas pokok dari Bidang IV adalah: melaksanakan sebagian tugas BPPT di bidang pelayanan perizinan perhubungan, komunikasi dan informasi. Adapun fungsi dari Bidang IV, dalam melaksanakan tugas pokok tersebut, adalah: a) Merencanakan dan menyusun program di bidang pelayanan perizinan perhubungan, komunikasi dan informasi b) Menyusun petunjuk teknis bidang pelayanan perizinan perhubungan, komunikasi dan informasi c) Melakukan pengkoordinasian penyelenggaraan tugas-tugas di pelayanan perizinan perhubungan, komunikasi dan informasi d) Melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan kegiatan pelayanan perizinan perhubungan, komunikasi dan informasi 14 Ruang lingkup dari pelayanan perizinan yang disediakan oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu ini adalah: 1) Pemberian perizinan baru 2) Perubahan perizinan 3) Perpanjangan/herregistrasi/daftar ulang perizinan 4) Pemberian salinan perizinan 5) Pembatalan perizinan 6) Penolakan perizinan 7) Legalisasi perizinan
13 14

Hal. 9, Dokumen Rencana Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung Tahun 2011 Hal. 10, Dokumen Rencana Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung Tahun 2011

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Sedangkan jenis perizinan yang dilayani oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT), adalah: perizinan dalam pemanfaatan tata ruang, kebinamargaan, pengairan dan lingkungan hidup dan perizinan usaha. Perizinan dalam pemanfaatan tata ruang terdiri dari: 1) Izin Lokasi 2) Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT) 3) Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Perizinan dalam pemanfaatan tata ruang terdiri dari: 1) Izin Lokasi 2) Izin Peruntukan Penggunaan Tanah (IPPT) 3) Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Perizinan kebinamargaan, pengairan dan lingkungan hidup terdiri dari: 1) Izin Pemancangan Tiang Pancang Reklame, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) dan sejenisnya 2) Izin Pembuatan Jalan Masuk Pekarangan 3) Izin Pembuatan Jalan Masuk Di Dalam Kompleks Perumahan, Pertokoan dan Sejenisnya 4) Izin Penutupan/Penggunaan Trotoar, Berm dan Saluran 5) Izin Pematangan Lahan/Tanah 6) Izin Pengelolaan Air Bawah Tanah 7) Izin Penggalian Ruang Milik Jalan (RUMIJA) 8) Izin Pengambilan Air Permukaan 9) Izin Pembuangan Air Buangan ke Sumber Air 10) Izin Perubahan Alur, Bentuk, Dimensi da n Kemirinagn Dasar Saluran/Sungai 11) Izin Perubahan atau Pembuatan Bangunan dan Jaringan Pengairan serta Perkuatan Tanggul yang Dibangun Oleh Masyarakat 12) Izin Pembangunan Lintasan yang berada Di Bawah/Diatasnya 13) Izin Pemanfaatan Bangunan Pengairan dan Lahan Pada Daerah Sempadan dan Saluran/Sungai 14) Izin Pemanfaatan Lahan Mata Air dan Lahan Pengairan Lainnya Sedangkan perizinan usaha yang dilayani oleh BPPT teridiri dari: 1) Izin Undang-undang Gangguan (HO)/Izin Tempat Usaha 2) Tanda Daftar Perusahaan (TDP) 3) Izin Usaha Perdagangan (SIUP) 4) Tanda Daftar Gudang (TDG) 5) Tanda Daftar Industri (TDI) 6) Izin Usaha Industri (IUI) 7) Izin Usaha Kepariwisataan (IUK) 8) Izin Trayek 9) Izin Usaha Jasa Konstruksi (IUJK) 10) Izin Pengelolaan Tempat Parkir 11) Izin Jasa Titipan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

12) Izin Penyelenggaraan Reklame 13) Izin Angkutan Barang Ada pun prosedur atau tahapan pelayanan perizinan pada Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung, adalah: 1. Pendaftaran 1) Pemohon mendapatkan informasi dari petugas pelayanan tentang izin yang dimohon 2) Pemohon mengisi formulir permohonan yang telah disediakan dan melengkapi persyaratan yang ditetapkan 3) Petugas di loket pelayanan melakukan pemeriksaan berkas permohonan dan kelengkapan persyaratan perizinan 4) Berkas permohonan tidak lengkap, maka berkas dikembalikan kepada pemohon untu k dilengkapi sesuai ketentuan yang berlaku 2. Pengolahan 1) Petugas pelayanan dan pendaftaran melakukan pendataan dan mencetak tanda terima permohonan 2) Berkas permohonan diteruskan kepada petugas pengolahan dan penerbitan oleh petugas pendaftaran 3) Petugas pengolahan dan penerbitan berwenang menentukan proses berkas perizinan yang memerlukan kajian teknis atau dapat dilanjutkan tanpa melalui kajian teknis 3. Pengkajian Berkas A. Dalam hal berkas permohonan perizinan melakukan kajian dari Tim Teknis, ditempuh langkah-langkah operasional sebagai berikut: 1) Petugas pengolahan dan penerbitan menyampaikan permintaan tertulis kepada Tim Teknis untuk melakukan pemeriksaan teknis 2) Petugas administrasi Tim Teknis melakukan penjadwalan dan perencanaan untuk melakukan pemeriksaan lapangan 3) Tim Teknis melakukan pemeriksaan lapangan dan/atau pembahasan yang dilanjutkan dengan pembuatan berita acara pemeriksaan 4) Hasil pemeriksaan teknis yang dilakukan oleh Tim Teknis dituangkan dalam berita acara pemeriksaan dan direkomendasikan B. Jika hasil rekomendasi Tim Teknis menyatakan bahwa perizinan ditolak atau ditangguhkan prosesnya karena memerlukan penyesuaian persyaratan teknis, maka: 1) Petugas administrasi Tim Teknis menyampaikan kepada petugas pengolahan dan penerbitan bahwa perizinan yang domohonkan, ditolak atau ditangguhkan 2) Petugas pengolahan dan penerbitan membuat surat penolakan atau menangguhkan proses perizinan dan diteruskan kepada Sekretariat Badan untuk dilakukan penomoran dan pengarsipan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

3) Sekretariat Badan meneruskan surat penolakan atau penangguhan proses perizinan kepada petugas pengambilan berkas untuk disampaikan kepada pemohon 4. Penerbitan Izin 1) Dalam hal rekomendasi Tim Teknis menyatakan bahwa perizinan disetujui, maka permohonan dilanjutkan kepada petugas penerbitan dokumen perizinan 2) Petugas pengolahan dan penerbitan perizinan mencetak naskah perizinan SKRD dan/atau SKP Daerah untuk ditandatangani oleh Kepala Badan 3) Atas perizinan yang disetujui, petugas pengolahan dan penerbitan perizinan menginformasikan kepada pemohon bahwa perizinan telah selesai beserta ketetapan retribusi dan/atau pajak yang harus dibayarkan 4) Setiap dokumen perizinan yang dikeluarkan dibuat dalam 4 rangkap, terdiri dari lembar asli untuk diserahkan kepada pemohon, lembar kedua sebagai arsip Badan, lembar ketiga diserahkan kepada SKPD terkait, dan lembar keempat untuk kepentingan lainnya 5) Perizinan yang telah ditandatangani oleh Kepala Badan disampaikan kepada petugas Sekretariat Badan untuk dilakukan pengadministrasian dan pengarsipan 6) Petugas Sekretariat Badan menyampaikan dokumen perizinan kepada petugas penyerahan dokumen 7) Untuk perizinan yang terbebani retribusi atau pajak, pemohon mengambil SKRD dan/atau SKP Daerah dari petugas penyerahan dokumen dan melakukan pembayaran di Bank dan menyampaikan bukti pembayaran retribusi dan/atau pajak kepada petugas penyerahan dokumen 8) Petugas penyerahan dokumen menyampaikan dokumen perizinan kepada pemohon setelah pemohon menandatangani penerimaan dokumen 5. Pembayaran Retribusi dan Pajak 1) Setiap permohonan atas satu izin tertentu dan/atau beberapa izin secara paralel, pemohon wajib membayar retribusi atau pajak dan/atau retribusi dan pajak yang dikenakan sesuai ketentuan yang berlaku, dengan membayar ke kas daerah melalui bank yang ditunjuk 2) Besarnya jasa retribusi atau pajak dan/atau retribusi dan pajak yang harus dibayar pemohon sesuai dengan yang tercantum dalam SKRD atau SKP daerah dan/atau SKRD dan SKP daerah yang diterbitkan oleh Badan dalam rangkap 4 (empat) sebagai bukti pembayaran 3) Diterbitkannya Surat Tanda Setoran/STS Retribusi atau pajak dan/atau retribusi dan pajak yang telah disetor ke kas daerah Wewenang atau tugas dan tanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan kelapangan atas izin yang diajukan oleh seorang warga/masyarakat Kota Bandung selaku pemohon suatu layanan perizinan ada pada Tim Teknis, yang mana Tim Teknis ini terdiri dari pejabat struktural SKPD terkait yang mempunyai kompetensi dan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

kemampuan sesuai dengan bidang tugasnya (Dinas Cipta Karya dan Dinas Bina Marga Kota Bandung) Bagi masyarat atau warga Kota Bandung yang ingin melakukan pengaduan terhadap proses penyelenggaraan perizinan, dapat melalui loket pengaduan, baik secara lisan, tulisan dan media lain yang disediakan BPPT di loket. Badan Pelayanan Perijinan Terpadu Kota Bandung, akan menindaklanjuti pengaduan tersebut selambat-lambatnya 3 hari kerja sejak pengaduan diterima. Selain itu Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung juga menyediakan papan informasi yang berisikan rincian biaya, persyaratan dan prosedur yang harus ditempuh warga dalam mengurus perizinan di ruang tunggu Badan. Informasi biaya pengurusan izin, menjelaskan juga nilai atau nominal yang harus dibayarkan oleh warga ketika mengurus izin dan tata cara perhitungan dari biaya yang dikenakan. Untuk informasi persyaratan dan prosedur, selain disediakan di ruang tunggu, dapat juga di lihat di website BPPT, ya itu: www.boss.go.id, Di ruang tunggu Badan, selain disediakan papan informasi, juga disediakan komputer touch screen. Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung juga dilengakapi dengan mobile service, yang berfungsi untuk melakukan sosialisasi keliling terhadap jenis-jenis layanan dan prosedur pengurusan layanan perizinan yang disediakan Guna melakukan evaluasi dan control terhadap Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) yang di selenggarakan BPPT Kota Bandung, maka pihak Badan menyediakan akses bagi pemohon untuk memantau proses perizinan melalui website di: www.boss.go.id atau melalui sms gateway. Selain itu secara berkala BPPT Kota Bandung juga melakukan survey kepuasan pelanggan secara langsung lewat penyebaran angket/kuestioner, internet maupun sms gateway. Mengenai retribusi izin mendirikan bangunan sendiri di Kota Bandung, diatur oleh Peraturan Daerah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung No. 24 Tahun 1998 tentang Retribusi Izin Mendirikan Bangunan yang disempurnakan lagi melalui Peraturan Walikota Bandung No. 550 Tahun 2008 tentang Prosedur Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP). Dalam Perwal Bandung No. 550 Tahun 2008, pasal 1 ayat 27 , dijelaskan yang dimaksud dengan izin mendirikan bangunan yang selanjutnya disingkat IMB adalah izin yang diterbitkan untuk kegiatan mendirikan bangunan. Sasaran/objek dari IMB adalah: Setiap orang/badan hukum yang mendirikan bangunan dan atau bangun bangunan. Yang termasuk jenis bangun bangunan dari layanan ijin mendirikan bangunan, adala h: 15 y Pagar y Menara y Bangunan y Bangunan Reklame y SPBU y Kolam Renang y Lapangan Olahraga Terbuka y Instalasi Pengolahan Air
Hal. 30, Lampiran Peraturan Walikota Bandung No. 550 Tahun 2008 tentang Prosedur Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP)
15

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

y Perkerasan Halaman y Turap (tembok penahan tanah) y Sumur y Instalasi/Utilitas y Jembatan y Reservoar Sedangkan untuk masa berlaku dari izin mendirikan bangunan (IMB), adalah: selama bangunan berdiri dan tidak mengalami perubahan. Adapun persyaratan yang harus dipenuhi ketika akan mengurus izin mendirikan bangunan (IMB), adalah: 16 1. Untuk Bangunan Rumah Tinggal a. Mengisi dan menandatangani formulir permohonan b. Photocopy bukti kepemilikan tanah c. Salinan akta pendirian untuk pemohon Berbadan Hukum d. Surat pernyataan/perjanjian penggunaan tanah bagi pemohon yang menggunakan tanah bukan miliknya e. Surat kuasa pengurusan apabila dikuasakan f. Izin Peruntukkan Penggunaan Tanah (IPPT) g. Gambar rencana teknis bangunan skala 1 : 100 (4 rangkap) h. Gambar dan perhitungan konstruksi beton/baja apabila bertingkat (2 rangkap) i. Gambar instalasi listrik, air minum, air kotor, dan sebagainya j. Photo copy KTP pemohon izin k. Bukti pembayaran Pajak Bumi Bangunan (PBB) terakhir 2. Untuk Bangunan Bukan Rumah Tinggal a. Mengisi dan menandatangani formulir permohonan b. Photo copy bukti pemilikan tanah c. Salinan akta pendirian untuk pemohon Berbadan Hukum d. Surat pernyataan/perjanjian penggunaan tanah bagi pemohon yang menggunakan tanah bukan miliknya e. Surat kuasa pengurusan apabila dikuasakan f. Izin Peruntukkan Penggunaan Tanah (IPPT) g. Gambar rencana teknis bangunan skala 1 : 100 (4 rangkap) h. Gambar dan perhitungan konstruksi beton/baja apabila bertingkat (2 rangkap) i. Gambar instalasi listrik, air minum, air kotor dan sebagainya j. Hasil penelitian tanah untuk bangunan besar dan atau bertingkat 3 atau lebih dan/atau terletak di daerah yang struktur rawan bertingkat (3 rangkap) k. Photocopy KTP pemohon l. Bukti pelunasan pembayaran Pajak Bumi Bangunan (PBB) terakhir Untuk jangka waktu penyelesaian pengurusan izin mendirikan bangunan, sampai dengan izin terbit atau dikeluarkan, adalah sebagai berikut: 1) Bangunan Rumah Tinggal
Hal. 30, Lampiran Peraturan Walikota Bandung No. 550 Tahun 2008 tentang Prosedur Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP)
16

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bangunan sampai 2 lantai, selama 19 hari Bangunan yang memerlukan penelitian rencana arsitektur secara khusus, selama 30 hari y Bangunan lebih dari 2 lantai, selama 30 hari 2) Bangunan Bukan Rumah Tinggal y Bangunan sampai dengan 2 lantai, selama 19 hari y Bangunan dengan bentang atau lebar sampai dengan 18 meter, selama 19 hari 3) Bangunan Bertingkat 2 Lantai Yang Dibebaskan Dari Perhitungan Konstruksi, selama 36 hari 4) Bangunan Bertingkat atau Tidak Bertingkat Yang Memerlukan Rencana Konstruksi, selama 36 hari 5) Bangunan Yang Memerlukan Perlengkapan, selama 42 hari 6) Bangunan Bertingkat Diatas 3 Lantai, selama 50 hari 7) Bangunan Khusus/Tertentu, selama 60 hari 17 Berikut ini adalah perhitungan besaran tarif retribusi bangunan yang dikenakan, meliputi: 1) Bangunan satu (1) lantai : Luas x Tarif Dasar x 1% a. Perbaikan bangunan : Luas x Tarif Dasar x 0,5% b. Pembongkaran bangunan : Luas x Tarif Ongkos 2) Bangunan vertical (> 5M) dan dianggap dua (2) lantai, dengan koefisien lantai: a. Basement : 1,200 b. Lantai Dasar : 1,000 c. Lantai II : 0,090 d. Lantai III : 1,120 e. Lantai IV : 1,135 f. Lantai V : 1,162 g. Lantai VI : 1,197 h. Lantai VII : 1,236 i. Lantai VIII : 1,265 j. Selanjutnya ditambah 0,03 untuk setiap kenaikan satu (1) lantai y y

17

Hal. 31, Lampiran Peraturan Walikota Bandung No. 550 Tahun 2008 tentang Prosedur Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

2.2

Dinas Pendidikan Kota Bandung

2.2.1 Tugas Pokok, Fungsi dan Struktur Kelembagaan
Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, menyatakan bahwa, pendidikan merupakan salah satu urusan pemerintahan yang dibagi bersama dan wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah Kabupaten/Kota. Berkenaan dengan kewajiban tersebut, Pemerintah Kota Bandung telah menetapkan kewenangan daerah sebagai daerah otonom yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kota Bandung No. 2 Tahun 2001 tentang kewenangan daerah Kota Bandung sebagai daerah otonom. Dan untuk menyelenggarakan pemerintahan dan pelaksanaan pembangunan, telah ditetapkan pula Peraturan Daerah Kota Bandung No. 5 Tahun 2001 tentang pembentukan dan susunan organisasi dinas daerah Kota Bandung, yang merupakan Satuan Kerja Perangkat Daerah di Lingkungan Pemerintah Kota Bandung yang bertanggungjawab langsung kepada Walikota Bandung melalui Sekretaris Daerah Kota Bandung. 18 Atas dasar Peraturan Daerah Kota Bandung No. 5 Tahun 2001 itulah, Dinas Pendidikan Kota Bandung dibentuk. Adapun tugas pokok dari Dinas Pendidikan, sebagai bagian dari Satuan Kerja Perangkat Daerah yang dilimpahi kewenangan untuk mengurus urusan pemerintah daerah di bidang pendidikan, berdasarkan asas otonomi dan pembantuan. Sedangkan fungsi dari Dinas Pendidikan Kota Bandung: 1) Perumusan kebijakan teknis lingkup Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar (PTKSD), Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (PSMP), Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (PSMAK), Pendidikan Non Formal dan Informal 2) Menyelenggarakan urusan pemerintahan dan pelayanan umum di bidang pelaksanaan kegiatan teknis operasional bidang pendidikan, Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar (PTKSD), Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (PSMP), Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (PSMAK), Pendidikan Non Formal dan Informal 3) Pembinaan dan pelaksanaan tugas di bidang pendidikan, Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar (PTKSD), Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (PSMP), Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (PSMAK), Pendidikan Non Formal dan Informal 4) Melaksanakan tugas lain yang diberikan Walikota sesuai dengan tugas dan fungsinya 5) Pembinaan, monitoring, evaluasi dan menyusun laporan penyelenggaraan kegiatan dinas19 Sesuai dengan kewenangan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi sebagaimana telah diuraikan diatas, maka struktur organisasi Dinas Pendidikan yang berlaku sampai sekarang adalah sebagai berikut:

Hal. 1 dan 2, Dokumen Rencana Strategis Dinas Pendidikan Kota Bandung Tahun 2009 - 2013 19 Hal. ii, Dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan Kota Bandung Tahun 2009
18

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

a. Kepala Dinas b. Sekretariat, membawahi: 1. Sub Bagian Umum dan Kepegawaian 2. Sub Bagian Program 3. Sub Bagian Keuangan c. Bidang Pendidikan Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar (PTKSD), membawahi: 1. Seksi Manajemen dan Sarana Prasarana 2. Seksi Kurikulum dan Sistem Pengujian 3. Seksi Pengembangan Tenaga Pendidik dan Kesiswaan d. Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (PSMP), membawahi: 1. Seksi Manajemen dan Sarana Prasarana 2. Seksi Kurikulum dan Sistem Pengujian 3. Seksi Pengembangan Tenaga Pendidik dan Kesiswaan e. Bidang Pendidikan Sekolah Menengah Atas dan Kejuruan (PSMAK), membawahi: 1. Seksi Manajemen dan Sarana Prasarana 2. Seksi Kurikulum dan Sistem Pengujian 3. Seksi Pengembangan Tenaga Pendidik dan Kesiswaan f. Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal 1. Seksi Pendidikan Anak Usia Dini dan Kesetaraan 2. Seksi Kursus dan Kelembagaan 3. Seksi Pendidikan Masyarakat dan Seni Budaya g. Unit Pelayanan Teknis Dinas (UPTD) h. Kelompok Jabatan Fungsional 20

Hal. 2 dan 3, Dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan Kota Bandung Tahun 2009
20

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

2.2.2 Jenis Layanan Publik
Sebagaimana yang telah dijelaskan pada Tabel. 2.2, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Bandung Tahun 2009 2013, maka arah kebijakan dalam sektor pendidikan difokuskan pada upaya pemberian layanan bagi perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan bagi seluruh warga/masyarakat di Kota Bandung, meliputi: 1. Memberi bantuan biaya pendidikan untuk tingkat pendidikan dasar (SD/MI, SMP/MTs) dan bantuan biaya pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu (pra sejahtera I dan II) untuk menempuh pendidikan di jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) 2. Mengupayakan peningkatan kualitas dan kuantitas penyelenggaraan pendidikan 3. Mendorong peningkatan kualitas dan kuantitas infrastuktur dan sarana pendidikan 4. Mengupayakan peningkatan produktivitas kerja dan menciptakan pelayanan yang dapat memuaskan stakeholder pendidikan 5. Mendorong pengembangan kemampuan dan memberikan kesejahteraan kepada tenaga kependidikan dalam melaksanakan tugas 6. Mengupayakan peningkatan pengelolaan penyelenggaraan pendidikan secara efisien dan efektif sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi

2.2.3 Kerangka Kebijakan Program (BSM)/BAWAKU Sekolah

Bantuan

Siswa

Miskin

A. Peraturan Walikota Bandung No. 15 Tahun 2008 Perwal Bandung No. 177 Tahun 2010 tentang Petunjuk Pelaksanaan atau Tata Cara Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman Kanak-kanak/Raudhatul Athfal dan Sekolah/Madrasah Tahun Ajaran 2010 2011. Adapun tujuan penerimaan peserta didik baru pada Perwal Bandung No. 177 Tahun 2010, sesuai dengan pasal 2, adalah: 1) Tujuan penerimaan peserta didik yaitu memberi kesempatan seluasluasnya bagi warga daerah usia sekolah agar memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas sesuai dengan pilihannya 2) Memberikan kesempatan kepada masyarakat luas untuk mendapatkan layanan jasa pendidikan yang berkualitas di daerah 3) Memberikan kesempatan warga yang berasal atau berdomisili di luar daerah sesuai dengan kuotanya untuk tetap berkesempatan memperoleh layanan pendidikan Sementara pada pasal 3 dari Perwal Bandung No. 177 Tahun 2010, menerangkan tentang asas penerimaan peserta didik baru, adalah: a. Obyektivitas, bahwa penerimaan peserta didik, baik peserta didik baru maupun pindahan harus memenuhi ketentuan umum sesuai dengan peraturan perundang-undangan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b. Transparansi, dimana pelaksanaan penerimaan peserta didik bersifat terbuka dan dapat diketahui oleh masyarakat termasuk orangtua siswa, untuk menghindarkan penyimpangan-penyimpangan yang mungkin terjadi c. Akuntabilitas, artinya penerimaan peserta didik dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, baik prosedur maupun hasilnya d. Berkeadilan, artinya penerimaan peserta didik tidak membeda-bedakan suku, ras, agama dan status social ekonomi pendaftar dan harus memenuhi ketentuan umum serta sesuai dengan perundang -undangan Sedangkan sistem penerimaan peserta didik baru Tahun Ajaran 2010 2011, ditentukan dengan sistem kluster yang berbasis rayonisasi (pasal 4 ayat 1). Pasal 4 ayat 2, menerangkan yang dimaksud dengan sistem kluster sekolah berbasis rayonisasi adalah pengelompokkan sekolah pada SMP/MTs Negeri dan SMA/MA Negeri berdasarkan passing grade penerimaan peserta didik baru dan/atau hasil UN tahun sebelumnya, dengan pertimbangan lokasi/rayon sekolah, serta mutu proses/kinerja sekolah dan/atau pertimbangan lainnya. Untuk penetuan kelompok kluster, ditetapkan oleh Kepala Dinas Pendidikan ( pasal 4 ayat 3) Pada pasal 6 ayat 1 Perwal Bandung No. 177 Tahun 2010 , menyebutkan bahwasannya jalur seleksi untuk penerimaan peserta didik baru, meliputi: akademis dan non akademis. Pasal 6 ayat 2 menerangkan seleksi melalui jalur akademis, berupa tes tertulis atau pemeringkatan terhadap: a. Nilai UASBN, yaitu jumlah nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika dan IPA untuk SMP/MTs b. Nilai UN, yaitu jumlah nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika dan IPA untuk SMA c. Hasil pembobotan nilai UN dan UAS pada mata pelajaran yang disesuaikan dengan ciri khas program SMK serta tes khusus yang ditetapkan oleh Kepala Dinas Masih pada pasal yang sama, yaitu: pasal 6 ayat 3, menjelaskan mengenai seleksi melalui jalur non akademis, terbagi dua, yaitu: jalur prestasi/bakat istimewa dan peserta didik tidak mampu. Seleksi melalui jalur non akademis berdasarkan prestasi/bakat istimewa, dapat berupa pemeringkatan dan/atau pembobotan terhadap penghargaan dan sertifikasi peserta didik serta uji kompetensi (pasal 6 ayat 4). Untuk seleksi jalur non akademis, bagi peserta didik tidak mampu, dapat berupa pendataan terhadap keadaan social ekonomi orangtua peserta didik ( pasal 6 ayat 5) Perwal Bandung No. 177 Tahun 2010, juga mengatur mengenai kuota penerimaan peserta didik baru, meliputi: a. Kuota calon peserta didik yang berasal atau berdomisili di luar daerah (pasal 7, ayat 1, huruf a) b. Kuota calon peserta didik jalur non akademis yang ter diri atas jalur prestasi dan jalur khusu bagi yang tidak mampu (pasal 7, ayat 1, huruf b)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Penentuan persentase besaran angka kuota, merupakan hasil perbandingan jumlah daya tampung untuk jenjang pendidikan SMP/MTs Negeri dan SMA/MA/SMK Negeri sesuai dengan klusternya (pasal 7, ayat 2). Selain itu penerimaan jumlah calon peserta didik baru harus ditetapkan oleh satuan pendidikan masing-masing dengan memperhatikan kondisi sarana dan sumber daya serta kecenderungan pendaftar pada tahun-tahun sebelumnya (pasal 7, ayat 4) dan daya tampung calon peserta didik Tahun Pelajaran yang bersangkutan, harus disampaikan oleh Kepala Sekolah kepada Kepala Dinas paling lambat minggu kedua Bulan Juni di Tahun Pelajaran yang bersangkutan ( pasal 7, ayat 3) Untuk pembiayaan pendidikan bagi peserta didik baru yang orangtua dan/atau walinya tidak mampu secara ekonomi, Perwal Bandung No. 177 Tahun 2010 mengaturnya pada pasal 28:  Ayat 1: Calon peserta didik yang tidak mampu agar mendaftarkan ke Sekolah/Madrasah Negeri/Swasta yang terdekat dengan domisili tempat tinggal dalam satu kecamatan atau kecamatan yang berbatasan, dan/atau ke Sekolah/Madrasah gratis kecuali untuk calon peserta didik peminat sekolah kejuruan (SMK)  Ayat 2: Ketidakmampuan peserta didik sebagaimana dimaksud pada ayat 1, dinyatakan melalui Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Kelurahan dan Kecamatan tempat tinggal atau Daftar Penerima Bantuan Siswa Miskin (BSM) dari sekolah asal yang dikeluarkan Dinas  Ayat 3: Sekolah/Madrasah dapat melakukan kunjungan rumah (home visit) dan pengecekkan lapangan kepada calon peserta didik yang diterima sebagaiman dimaksud pada ayat 1, untuk melihat kebenaran/keabsahan ketidakmampuan social ekonomi sebelum memberikan keringanan dan/atau pembebasan biaya pendidikan  Ayat 4: Bagi peserta didik SD/MI dan SMP/MTS bebas dari biaya pendidikan, sedangkan bagi siswa SMA/MA dan SMK, pembebasan biaya pendidikan diberikan kepada Warga Daerah yang tidak mampu secara social ekonomi Adapun kuota jalur non akademsi untuk penerimaan peserta didik baru Tahun Pelajaran 2010/2011 tingkat SMA/MA/SMK, adalah 10% dari daya tampung, dengan ketentuan untuk jalur prestasi dan jalur tidak mampu prosentasenya sesuai dengan perbandingan jumlah pendaftar, sedangkan untuk SMA RSBI, kuota 10% tersebut dihitung dari jumlah peserta didik yang mengikuti kelas reguler 21

B. Peraturan Walikota Bandung No. 570 Tahun 2009
Peraturan Walikota Bandung No. 570 Tahun 2009, berisikan tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga Belajar Di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 Maksud pelaksanaan penyaluran/pemberian dana hibah kependidikan untuk siswa dan warga belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009, agar dapat

21

Hal 16 dan 21, Lampiran I Kep. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung No. 422.1/1209-Sekrt/2010 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Pada TK, Raudhatul Athfal, Sekolah dan Madrasah Tahun Pelajaran 2010/2011 Di Kota Bandung

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

terlaksananya program Pemerintah Kota Bandung dalam melaksanakan pembangunan di bidang pendidikan, dengan program kegiatan yang meliputi: 1. Penyediaan Bantuan Biaya Pendidikan bagi Warga Belajar Kejar Paket A/B/C 2. Penyediaan Beasiswa bagi Siswa Kurang Mampu tingakt SMA/MA/SMK 3. Penyediaan Beasiswa bagi Siswa Berprestasi tingakt SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK. 4. Penyediaan Bantuan Biaya Pendidikan bagi Siswa Berprestasi tingkat SMA/MA/SMK yang melanjutkan 22 Tujuan dari program pelaksanaan penyaluran/pemberian dana hibah kependidikan untuk siswa dan warga belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009, ialah: 1. Memberikan bantuan biaya pendidikan bagi warga belajar, agar memeroleh layanan pendidikan yang lebih bermutu 2. Membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu secara ekonomi dan meringankan bagi siswa yang lain, selain siswa penerima biaya operasional sekolah (BOS) agar memperoleh layanan pendidikan yang lebih bermutu bagi siswa pada jenjang pendidikan menengah tingkat SMA/MA/SMK 3. Memberikan bantuan beasiswa bagi siswa berprestasi di bidang akademik dan non akademik untuk menunjang pembiayaan dalam rangka pengembangan dan peningkatan prestasi siswa yang bersangkutan 4. Memberikan bantuan biaya pendidikan bagi lulusan berprestasi yang melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi Sasaran program kegiatan Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 ialah: 1. Penyediaan bantuan biaya pendidikan bagi warga belajar Kejar Paket A/B/C sebanyak 2000 orang 2. Penyediaan beasiswa bagi siswa kurang mampu secara ekonomi kepada 25000 siswa, terdiri dari: y Siswa kurang mampu dari SMA/MA sebanyak 10000 siswa, selain Penyelenggara Sekolah Gratis/Biaya Operasional Sekolah (BOS) y Siswa kurang mampu dari SMK sebanyak 15000 siswa, selain Penyelenggara Sekolah Gratis/Biaya Operasional Sekolah (BOS) 3. Penyediaan beasiswa bagi siswa berprestasi di bidang akademik dan non akademik sebanyak 300 siswa terdiri dari siswa SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK 4. Penyediaan bantuan biaya pendidikan bagi siswa berprestasi (SMA/MA/SMK) yang malanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi sebanyak 200 siswa 23

Hal. 3, Lampiran I dari Perwal Bandung No. 570 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009
22

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Adapun program pelaksanaan penyaluran/pemberian dana hibah kependidikan untuk siswa dan warga belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009, dialokasikan untuk kegiatan: 1. Penyediaan Bantuan Biaya Pendidikan bagi Warga Belajar Kejar Paket A/B/C Berupa: Penyediaan bantuan biaya pendidikan bagi warga belajar Kejar Paket A/B/C Tahun 2009 sebanyak 2000 warga belajar, sebesar Rp. 350.000/waraga belajar Kejar paket A/B/C/Tahun dan diserahkan kepada masing-masing Penyelenggara (Pusat kegiatan Belajar Masyarakat/PKBM) tempat warga belajar yang bersangkutan 2. Penyediaan Beasiswa bagi Siswa Kurang Mampu (SMA/MA/SMK) Berupa: Penyediaan beasiswa bagi siswa kurang mampu (SMA/MA/SMK) Tahun 2009, sebanyak: a. 10.000 siswa SMA/MA, sebesar Rp. 1.000.000/Siswa/Thn b. 15.000 siswa SMK, sebesar Rp. 1.500.000/Siswa/Thn 3. Penyediaan Beasiswa bagi Siswa Berprestasi (SD/MI, SMP/Mts dan SMA/MA/SMK) Berupa: Penyediaan beasiswa bagi siswa berprestasi (SD/MI, SMP/Mts dan SMA/MA/SMK) di bidang akademik dan non akademik Tahun 2009, sebanyak 300 siswa berprestasi untuk kategori: a. Kategori I sebanyak 100 siswa, sebesar Rp. 2.000.000/Siswa/Tahun b. Kategori II sebanyak 100 siswa, sebesar Rp. 1.750.000/Siswa/Tahun c. Kategori III sebanyak 100 siswa, sebesar Rp. 1.250.000/Siswa/Tahun Alokasi dana hibah kependidikan berupa penyediaan beasiswa bagi siswa berprestasi (SD/MI, SMP/MTs dan SMA/MA/SMK) di bidang akademik dan non akademik Tahun 2009 diserahkan atas nama siswa yang bersangkutan melalui orang tua/wali siswa 4. Penyediaan Bantuan Biaya Pendidikan bagi Siswa Berprestasi (SMA/MA/SMK) yang melanjutkan Berupa: Penyediaan bantuan biaya pendidikan bagi siswa berprestasi (SMA/MA/SMK) yang melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi pada Tahun 2009, sebanyak 200 siswa berprestasi, sebesar Rp. 2.500.000/Siswa/Tahun dan diserahkan kepada siswa yang 24 bersangkutan Kriteria dari penerima alokasi dana hibah kependidikan bagi siswa kurang mampu di tingkat SMA/MA/SMK harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 25 a. Siswa yang orangtuanya kurang mampu b. Warga Kota Bandung dan bersekolah di Kota Bandung
Hal. 5, Lampiran I dari Perwal Bandung No. 570 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 24 Hal. 5 dan 6, Lampiran I dari Perwal Bandung No. 570 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga B elajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 25 Hal. 9, Lampiran I dari Perwal Bandung No. 570 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009
23

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

c. Dibuktikan dengan kartu BAWAKU Sekolah Tahun 2008, Kartu Kendali Sekolah Anak (KKSA), dan/atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Lurah tempat domisili orang tua siswa d. Siswa yang dicalonkan menerima dana hibah kependidikan berupa Penyediaan Beasiswa bagi Siswa Kurang Mampu (SMA/MA/SMK) diusulkan dan ditetapkan sasaran penerimanya oleh Kepala Sekolah/Madrasah tempat siswa yang bersangkutan bersekolah/belajar sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan oleh Tim Pelaksana Penyalur/Pemberian Dana Hibah Kependidikan untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 yang dibentuk berdasarkan Kepwal Kota Bandung e. Pengusulan dan penetapan siswa penerima dana hibah kependidikan sebagaimana dimaksud pada huruf d, dilakukan setelah pihak Sekolah/Madrasah melakukan pemeriksaan kondisi dan tempat domisili orang tua/wali siswa calon penerima dana hibah kependidikan f. Siswa penerima BAWAKU Sekolah Tahun Anggaran 2008 dan/atau pemilik Kartu Kendali Sekolah Anak (KKSA) menjadi prioritas penerima dana hibah kependidikan untuk Sumbangan Peserta Didik Baru (SPDB) Sedangkan mekanisme pemberian dana hibah kependidikan bagi siswa kurang mampu di tingkat SMA/MA/SMK, adalah sebagai berikut: 1. Kepala Sekolah/Madrasah/Komite Sekolah/Majelis Madrasah melakukan pengajuan dan menetapkan daftar calon penerima dana hibah kependidikan sesuai kuota yang telah ditetapkan oleh Tim Pelaksana Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung tahun anggaran 2009 dilengkapi dengan kartu BAWAKU Sekolah tahun 2008, Kartu Kendali Sekolah Anak (KKSA) dan/atau Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari Lurah tempat domisili orang tua siswa 2. Kepala Sekolah/Madrasah/Komite Sekolah/Majelis Madrasah, dalam melakukan penetapan nama-nama siswa kurang mampu (SMA/MA/SMK) sebagai penerima dana hibah kependidikan, harus melengkapi berbagai persyaratan sebagai berikut: A. Surat Kuasa Pencairan, Pengelolaan dan Penggunaan dari orang tua/wali siswa kepada Penerima Dana Hibah Kependidikan, yaitu: a. Komite Sekolah/Majelis Madrasah bagi SMA/MA/SMK Negeri b. Pengurus Yayasan bagi SMA/MA/SMK Swasta dengan Kepala Sekolah berstatus PNS c. Kepala Sekolah bagi SMA/MA/SMK Swasta dengan Kepala Sekolah berstatus Non PNS B. Nomor Rekening Bank a. Bagi Sekolah/Madrasah Negeri atas nama Komite Sekolah/Majelis Madrasah b. Bagi Sekolah/Madrasah Swasta atas nama Kepala Sekolah/Madrasah/Pengurus Yayasan 3. Berdasarkan pengajuan dan penetapan dari Kepala Sekolah/Madrasah/Komite Sekolah/Majelis Madrasah sebagaimana

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

4.

5.

6.

7.

8.

kriteria dari penerima yang dimaksud pada huruf a dan b, Tim Pelaksana Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung tahun anggaran 2009 mengolah, menyusun daftar rekapitulasi siswa kurang mampu (SMA/MA/SMK) Penerima Dana Hibah Kependidikan untuk masingmasing Sekolah/Madrasah dan mempersiapkan Naskah Hibah Kependidikan sebagai bahan penyusunan Proposal Pencairan Dana Hibah Kependidikan untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 Ketua Tim Pelaksana Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahu n Anggaran 2009, menyampaikan Proposal Pencairan Dana Hibah Kependidikan untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung kepada Walikota Bandung melalui Sekretaris Daerah Kota Bandung untuk mendapatkan pertimbangan dan disposisi pencairan, disertai Naskah Perjanjian Hibah Kependidikan untuk ditandatangani antara Sekretaris Daerah Kota Bandung selaku Pengguna Anggaran dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama Pemerintah Kota Bandung dengan Kepala Sekolah/Madrasah/Komite Sekolah/Majelis Madrasah/Pengurus Yayasan selaku Penerima Kuasa atas Dana Hibah Kependidikan dan para saksi yang selanjutnya disampaikan kepada Bagian Tata Usaha pada Sekretaris Daerah Kota Bandung Setelah mendapat disposisi pencairan dan Naskah Perjanjian Hibah Kependidikan sebagaiman dimaksud pada huruf d, Bagian Tata Usaha pada Sekretariat Daerah Kota Bandung membuat Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) atas nama Penerima Dana Hibah Kependidikan yang ditujukan kepada Bagian Keuangan pada Sekretariat Daerah Kota Bandung Atas dasar Surat Permintaan Pembayaran Langsung (SPP-LS) adan Surat Perintah Membayar Langsung (SPM-LS) sebagaimana dimaksud pada huruf e, Bagian Keuangan pada Sekretariat Daerah Kota Bandung menerbitkan Surat Perintah pencairan Dana (SP2D) yang disampaikan kepada Bagian Tata Usaha pada Sekretariat Daerah Kota Bandung Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D) disampaikan kepada Sekretaris Daerah Kota Bandung selaku Pengguna Anggaran oleh Bagian Tata Usaha pada Sekretariat Daerah Kota Bandung untuk mendapatkan pengesahan Setelah pengesahan SP2D sebagaiman dimaksud pada huruf f, Bagian Tata Usaha pada Sekretaris Daerah Kota Bandung sesuai dengan kelengkapan persyaratan, menyalurkan dana hibah kependidikan melalui Kas Daerah atas nama Sekolah/Madrasah/Komite Sekolah/Majelis Madrasah/Pengurus Yayasan yang bersangkutan26

Hal. 13 s.d 15, Lampiran I dari Perwal Bandung No. 570 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009
26

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Berikut dibawah ini, adalah bagan alur penyaluran/pemberian dana hibah kependidikan bagi siswa jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) dan atau warga belajar (Paket C) di Kota Bandung, Tahun 2009.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

BAB III HASIL SURVEY TERHADAP PROGRAM DAN KEBIJAKAN BAWAKU SEKOLAH DAN PENGURUSAN IMB DI KOTA BANDUNG
3.1. SURVEY TERHADAP LAYANAN BANTUAN SISWA MISKIN (BAWAKU SEKOLAH) PADA DINAS PENDIDIKAN KOTA BANDUNG
3.1.1 SURVEY PADA SEKOLAH (PENDAPAT SEKOLAH)
A. Sebaran Responden Survei Survey CRC untuk program Bantuan Siswa Miskin (BSM) atau lebih dikenal dengan nama Bawaku Sekolah Dinas Pendidikan Kota Bandung, dilakukan terhadap 2 kelompok responden, yaitu: 1. Responden pertama, adalah dari pihak sekolah yang diwakili oleh kepala sekolah atau wakil kepala sekolah atau wali kelas dan/atau bagian tata usaha sekolah. 2. Responden kedua adalah orang tua siswa miskin (Keluarga Pra Sejahtera I dan II) yang anaknya menerima program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah. Hal ini dilakukan untuk mengungkap informasi yang lebih komprehensif tentang kualitas layanan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah dari pihak sekolah sebagai lembaga pengelola dana dan dari orang tua siswa miskin sebagai penerima manfaat dari program tersebut. Seperti yang sudah dijelaskan pada Bab I, sebaran responden dihitung dan diproporsikan sesuai dengan perhitungan sampel di masing-masing wilayah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.1 yang merupakan gambaran sebaran sekolah, sebagai responden survey di 6 wilayah. Tabel 3.1. Sebaran Sekolah Sebagai Responden Survey CRC Dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah Di 6 Wilayah NO WILAYAH JUMLAH SEKOLAH JUMLAH RESPONDEN 1 Ujung Berung 9 16 2 Tegalega 12 24 3 Bojonegara 10 19 4 Cibeunying 13 22 5 Karees 14 19 6 Gedebage 8 15 TOTAL 66 115

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

B. Hasil Survey 1. Identitas Responden Total responden yang disurvey berjumlah 115 orang, terdiri dari kepala sekolah/wakil kepala sekolah/bagian tata usaha sekolah/wali kelas. Adapun pembagian profil responden secara detail berdasarkan komposisi: jabatan/posisi di sekolah, tingkat pendidikan responden, dan pangkat/golongan a) Komposisi Responden Pihak Sekolah Berdasarkan Jabatan/Posisi Di Sekolah Responden dari pihak sekolah yang diwawancara terdiri dari kepala sekolah/wakil kepala sekolah/wali kelas/bagian tata usaha sekolah. Keempat unsur ini dianggap memiliki keterlibatan yang sangat penting dalam pelaksanaan dan pengelolaan dana dari program/kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah di masing-masing sekolah. Akan tetapi, dari beberapa sekolah yang disurvey, tidak semua kepala sekolah sebagai penanggung jawab utama dari pelaksanaan program/kebijakan dan pengelolaan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah bersedia diwawancara dan memberikan penjelasan yang lengkap mengenai pelaksanaan dan pengelolaan program/kebijakan ini. Sebagian kepala sekolah, merasa bukan sebagai penanggung jawab sehingga tidak memiliki informasi yang cukup untuk dapat menjelaskan mengenai pelaksanaan dan pengelolaan dana program/kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah. Tabel 3.2 menjelaskan hasil Survey CRC pada program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah, dimana dari 115 total sampel yang disurvey, 35% atau sekitar 40 orang responden yang mau diwawancara terkait dengan program/kebijakan ini, merupakan kepala sekolah. Gambaran lebih lanjut, dapat dilihat pada Tabel 3.2 dibawah ini. Tabel 3.2 Komposisi Responden Pihak Sekolah Berdasarkan Jabatan/Posisi di Sekolah Pada Survey CRC Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah JABATAN/ POSISI JUMLAH PERSENTASE Kepala Sekolah 40 35% Wakil Kepala Sekolah 24 21% Wali Kelas 25 22% Bagian Tata Usaha 21 18% Lainnya 5 4% TOTAL 115 100% b) Komposisi Responden Pihak Sekolah Berdasarkan Tingkat Pendidikan Kualifikasi pendidikan bagi seorang tenaga kependidikan merupakan prasyarat yang harus dipenuhi. Hal tersebut merupakan tuntutan profesionalisme tenaga kependidikan. Untuk jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK), kualifikasi minimal pendidikan seorang guru adalah sarjana (S-1) dengan latar belakang bidang studi dan latar belakang ilmu kependidikan dan keguruan. Bagan 3.1, menunjukkan jumlah dan prosentase tingkat pendidikan responden pihak sekolah pada Survey CRC program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah. Sebagian besar (73%) responden pihak sekolah merupakan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

lulusan S-1, 18% lulusan S-2. Artinya, dengan komposisi tersebut, secara kuantitatif, kualifikasi pendidikan responden sudah sesuai dengan tuntutan profesionalism e Bagan 3.1 Komposisi Responden Pihak Sekolah Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pada Survey CRC Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah .

c) Komposisi Responden Pihak Sekolah Berdasarkan Pangkat / Golongan Pangkat atau golongan dalam jenjang karir seorang guru/tenaga kependidikan menunjukkan masa kerja dan sekaligus tingkat kesejahteraannya, terlebih bagi mereka yang sudah tersertifikasi. Kenaikan pangkat atau golongan bagi setiap guru/tenaga kependidikan, khususnya sampai dengan Gol IVa relatif tidak banyak memberikan hambatan bagi guru karena biasanya berlangsung secara berkala. Namun biasanya banyak guru yang terhambat dari Gol IVa ke golongan berikutnya. Hal ini terkait dengan prasyarat wajib berupa karya tulis ilmiah yang harus dipenuhi dan hal tersebut menjadi kendala bagi sebagian guru. Sementara jenjang karir bagi kepala sekolah atau wakil kepala sekolah biasanya sudah pada Pangkat Pembina atau Pembina Ahli Madya. Bagan 3.2 menunjukkan sebanyak 37% dari responden pihak sekolah pada Survey CRC program Bantuan Siswa Miskin/Bawaku Sekolah, merupakan Pembina (Golongan Iva) dan hanya 17% saja yang sudah mencapai Pembina Ahli Madya (Golongan IVb). Sementara 31% responden pihak sekolah yang menjawab lainya adalah responden yang bertugas/menjadi guru di sekolah swasta. Artinya bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) sehingga penjengjangkariran tidak sama dengan guru yang berstatus PNS. Bagan 3.2 Komposisi Responden Pihak Sekolah Berdasarkan Pangkat/Golongan Pada Survey CRC Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

2. Informasi Umum mengenai Program dan Kebijakan BAWAKU Sekolah/Bantuan Siswa Miskin (BSM) a) Pengetahuan tentang Kebijakan dan Program Bawaku Sekolah Program dan kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah merupakan kebijakan Walikota Bandung yang diberlakukan sejak Tahun 2007 dan ditujukan untuk setiap jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK), baik swasta maupun negeri yang ada di Kota Bandung. Dan sudah seharusnya informasi mengenai program/kebijakan Bantuan Siswa Miskin/Bawaku Sekolah tersampaikan kepada seluruh sekolah, baik negeri maupun swasta. Tabel 3.3 menunjukkan, di mana seluruh responden pihak sekolah mengetahui kebijakan dan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah. Tabel 3.3 Tingkat Pengetahuan Responden Pihak Sekolah Mengenai Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah
KEBIJAKAN DAN PROGRAM BAWAKU Mengetahui Tidak Mengetahui TOTAL JUMLAH 115 0 115 PERSENTASE 100% 0% 100%

b) Tahun Ajaran Dimana Pihak Sekolah Menerima Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Sejak adanya program atau kebijakan Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah dari Pemerintah Kota Bandung, hampir seluruh SMA/MA dan SMK Negeri di Kota Bandung mendapat kuota menerima dana bantuan tersebut. Setidaknya sebagian siswa miskin yang bersekolah di SMA/MA dan SMK Negeri mendapatkan manfaat dari program tersebut. Namun berbeda halnya dengan sebagian besar sekolah swasta (SMA/SMK Swasta) yang banyak tersebar di pinggiran Kota Bandung, justru belum mendapatkan bantuan dana pendidikan bagi siswa miskin ini. Padahal tiap-tiap sekolah swasta (SMA/SMK Swasta) tersebut, telah mengajukan Daftar Nama Siswa Miskin yang bersekolah disekolah masing-masing kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung. Bagan 3.3, menunjukkan 58% responden pihak sekolah yang di survey pada Survey CRC program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah, sudah menerima manfaat dari program ini sejak Tahun Ajaran 2007 2008. Sementara 34% responden pihak sekolah, mendapat bantuan dana dari program ini sejak Tahun Ajaran 2008 2009. Sedangkan 8% responden pihak sekolah lainnya menjawab bahwasannya sekolah mereka baru menerima dana bantuan program ini di Tahun Ajaran 2009 - 2010. Bagan 3.3 Tahun Ajaran Dimana Pihak Sekolah Menerima Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

c) Keterlibatan Responden Survey CRC Pihak Sekolah Pada Pelaksanaan dan Pengelolaan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Seperti yang sudah dijelaskan pada komposisi responden berdasarkan posisi atau jabatan di sekolah, sebagian besar responden pihak sekolah yang disasar pada Survey CRC ini adalah kepala sekolah dan wakil kepala sekolah yang dianggap memiliki kewenangan dan tanggung jawab dalam pelaksanaan dan pengelolaan dana program Bantuan Siswa Miskin/Bawaku Sekolah di sekolahnya masing-masing. Beberapa proses pelaksanaan dan pengelolaan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, mulai dari sosialisasi progra m sampai pelaporan kegiatan akhir, harus dilakukan dengan melibatkan tim. Grafik 3.1, menunjukkan keterlibatan responden pihak sekolah dari Survey CRC pada program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Grafik 3.1 Keterlibatan Responden Pihak Sekolah Pada Pelaksanaan dan Pengelolaan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

3. Syarat, Prosedur dan Mekanisme a) Keberadaan Program atau Kebijakan Bantuan Lain Bagi Siswa Miskin Di Luar Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Biaya yang dibutuhkan tiap siswa SMA/SMK per tahunnya tidaklah sedikit, terlebih untuk ukuran siswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II). Keberadaan kebijakan/program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang dikeluarkan Pemerintah Kota Bandung pun tidak mampu menutupi kebutuhan biaya operasional siswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II), sehingga untuk menutupi kekurangan, beberapa sekolah juga menerima program dan bantuan dari berbagai macam sumber pendanaan lainnya. Dari berbagai jenis program atau kebijakan bantuan pendanaan pendidikan yang dikucurkan oleh pemerintah (pusat, provinsi dan kota/kabupaten), baru sebatas mampu menutupi kebutuhan minimal setiap sekolah, khususnya untuk membiayai biaya pendidikan bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II). Sementara angka kemiskinan di suatu Kota/Kabupaten terus meningkat setiap tahunnya. Hasil Survey CRC menunjukkan, sebagian besar sekolah menengah (SMA/MA/SMK) Negeri maupun Swasta masih belum (tidak) mendapat bantuan pendidikan dari berbagai jenis sumber pendanaan, seperti yang tertera dalam bagan di bawah ini.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Berbeda halnya dengan Sekolah Dasar (SD) dan SMP yang biaya operasional pendidikannya telah ditanggung sepenuhnya melalui program BOS, untuk tingkat SMA/MA/SMK, pembiayaan pendidikan sebagian besar masih dibebankan kepada orang tua siswa. Berdasarkan jawaban dari responden pihak sekolah pada Survey CRC sektor pendidikan di Kota Bandung kali ini, diperoleh informasi beberapa bantuan beasisw a lain yang diperuntukkan bagi siswa miskin, yaitu: 1. BKMM (Bantuan Khusus Murid Miskin) dari pemerintah pusat 2. BOMM (Bantuan Operasional Murid Miskin) dari pemerintah pusat 3. Beasiswa Gubernur Untuk Sekolah (BAGUS) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat 4. BOMM (Bantuan Operasional Murid Miskin) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat 5. Bantuan Alumni 6. Bantuan Alumni dan Komite Sekolah 7. Bantuan Dari Perusahaan Asuransi 8. Subsidi Silang 9. Beasiswa Berprestasi 10. BKSM 11. Beasiswa APBS 12. Block Grand/SSN 13. Beasiswa dari Bank Rakyat Indonesia (BRI) 14. Beasiswa Yayasan Cinta Peduli Pendidikan 15. Beasiswa Percikan Iman 16. Beasiswa Citra Pelajar Mandiri 17. Beasiswa SUPERSEMAR. Grafik 3.2 Keberadaan Program atau Kebijakan Lain Bantuan Pendidikan, Khususnya Bagi Siswa Yang Berasal Dari Keluarga Miskin (Pra Sejahtera I dan II)

b) Sosialisasi Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Implementasi program dan kebijakan pemerintah akan berjalan dengan baik jika semua prosesnya diterapkan secara komprehensif mulai dari proses sosialisasi

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

program sampai pada laporan pertanggungjawaban atau laporan akhir pelaksanaan. Menjadi kewajiban/kewenangan pemegang kebijakan untuk mensosialisasikan program sampai tingkat pelaksana teknis/lapangan di institusi -institusi terkait, sehingga dapat dipahami. Selain itu kewajiban untuk mensosialisasikan program atau kebijakan juga harus dilakukan sampai kepada warga/masyarakat sebagai penerima manfaat atau dampak dari dikeluarkannya program atau kebijakan tersebut. Banyak media yang dapat ditempuh untuk mensosialisasikan program/kebijakan agar tersampaikan secara efektif dan efisien, baik kepada institusi maupun invidu pelaksana teknis dilapangan dan warga/masyarakat yang menerima manfaat atau dampak dari program/kebijakan yang dikeluarkan. Pada hasil Survey CRC terhadap responden pihak sekolah, 91% responden menyatakan bahwa sosialisasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah mereka terima melalui rapat dengan Dinas Pendidikan Kota Bandung. Selain melalui rapat dengan Dinas Pendidikan Kota Bandu ng, sosialisasi juga dilakukan melalui Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung. Artinya selama ini sosialisasi terkait dengan adanya kebijakan/program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, sebatas dilakukan secara formal melalui rapat dinas dan surat edaran resmi hanya ada sebagian kecil responden pihak sekolah yang memberikan jawaban bahwa informasi mengenai kebijakan/program ini mereka terima lewat rekan sejawat, Musyawarah Kelompok Kepala Sekolah (MKKS) / K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), Pengawas yang datang ke sekolah, E-mail dari DIKNAS, SMS, pertemuan antar Tim Pengelola BAWAKU Sekolah, dan Koran / Surat Kabar. Grafik 3.3 Jenis Media Sosialisasi Yang Digunakan Bagi Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

c) Intensitas Sosialisasi Terhadap Kebijakan/Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang dilakukan Oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, selama ini pihak Dinas Pendidikan Kota Bandung melakukan sosialisasi terkait dengan kebijakan/program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah lebih sering dilakukan melalui rapat dinas.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Sementara intensitas sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung setiap tahunnya antara 1 sampai dengan 2 kali. Grafik 3.4, menunjukkan 43% responden pihak sekolah, menyatakan mendapatkan sosialisasi terkait dengan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah sebanyak 2 kali dalam setahun. Tiga puluh persen (30%) responden dari pihak sekolah mendapatkan sosialisasi mengenai program ini hany a 1 kali dalam setahun, sementara 11% responden pihak sekolah dari total sampel yang digunakan menyatakan mendapatkan sosialisasi terkait dengan program ini sebanyak 3 kali dalam setahun. Sedangkan persentase responden pihak sekolah yang menjawab mendapatkan sosialisasi lebih dari 3 kali dalam setahun adalah 15% dari total sampel yang digunakan (115 orang). Intensitas sosialisasi tentunya tidak sebatas pada sering atau tidaknya sosialisasi dilakukan, tetapi yang terpenting pada saat sosialisasi dilakukan, dinas pendidikan dapat menjelaskan seluruh program dan kebijakan Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah secara lengkap. Selain itu Dinas Pendidikan Kota Bandung juga berkewajiban untuk memastikan semua sekolah mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Sehingga tidak ada kesalahan dalam pengelolaan atau implementasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah di setiap sekolah. Grafik 3.4 Intensitas Sosialisasi Dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung ( Setahunnya)

d) Kejelasan Materi Sosialisasi Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya, selain intensitas sosialisasi dari Dinas Pendidikan Kota Bandung, hal yang lebih penting adalah bagaimana kejelasan dari materi (program dan kebijakan Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah) dapat dipahami oleh seluruh sekolah sehingga tidak ada kesalahan dalam pelaksanaannya. Dari 8 materi sosialisasi hampir sebagian besar responden menyatakan jelas terutama terkait dalam hal besaran dana, jadwal pelaksanaan, kriteria penerima program, prasyarat dan syarat penerima program, mekanisme penyaluran dana dari Pemerintah Kota Bandung, serta peruntukan/pemanfaatan dana .

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Namun demikian seperti yang terlihat pada table 3.4, beberapa materi masih dianggap oleh sebagian responden pihak sekolah tidak jelas, terutama dalam hal mekanisme penetapan kuota siswa miskin dan jadwal pencairan dana. Permasalahan yang sama juga terungkap dalam focus group discussion (FGD) dengan kepala-kepala sekolah tingkat pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri maupun Swasta) di Kota Bandung, sebelum pelaksanaan Suvey CRC dilakukan. Pada FGD tersebut, beberapa kepala sekolah mengemukakan ketidakjelasan alasan atau mekanisme yang digunakan Dinas Pendidikan Kota Bandung dalam menetapkan kuota siswa miskin yang akan mendapatkan bantuan dana pendidikan di masingmasing sekolah. Ini dikarenakan, antara kuota yang diajukan pihak sekolah dengan kuota yang disetujui oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung seringkali tidak memuaskan pihak sekolah. Misalnya: SMA Negeri A, mengajukan 100 nama siswa miskin sebagai penerima program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah di Tahun Anggaran 2010 2011 kepada Dinas Pendidikan Kota Bandung. Akan tetapi ketika penetapan kuota dan penetapan besaran dana bagi siswa miskin yang bersekolah di SMA Negeri A, Dinas Pendidikan kota Bandung hanya memberikan untuk 15 anak dan tanpa diiringi dengan penjelasan atau argumen kenapa hal tersebut bisa terjadi. Selain permasalahan kuota, ketidakjelasan lain yang dirasakan oleh responden pihak sekolah pada Survey CRC kali ini, terkait dengan ketidakpastian dari jadwal pencairan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Seringkali dana tersebut baru dicairkan kerekening sekolah setelah proses belajar mengajar berjalan lebih dari satu semester, bahkan beberapa sekolah baru dicairkan dana program tersebut ditahun ajaran berikutnya. Tabel 3.4 Jawaban Responden Pihak Sekolah Terkait Kejelasan Materi Sosialisasi Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah
NO A B C D E F G H MATERI SOSIALISASI BAWAKU DARI DIKNAS Besaran dana Jadwal pelaksanaan Kriteria penerima program Prasyarat dan syarat penerima program Mekanisme penyaluran dana dari Pemerintah Kota Mekanisme penetapan kuota siswa miskin Jadwal pencairan Peruntukkan atau pemanfaatan dana JELAS 113 87 113 108 104 66 61 113 PERSENTASE 98% 76% 98% 94% 90% 57% 53% 98% TIDAK JELAS 2 28 2 7 11 49 54 2 PERSENTASE 2% 24% 2% 6% 10% 43% 47% 2%

e) Tingkat Kepuasan Responden Pihak Sekolah Terhadap Informasi dan Sosialisasi Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Secara umum berdasarkan hasil Survey CRC terhadap total sampel sekolah penerima program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, 88% responden menyatakan puas terhadap informasi dan sosialisasi yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung terkait dengan program ini. Artinya meskipun ada beberapa yang masih dianggap tidak jelas tetapi informasi dan sosialisasi yang dilakukan Dinas Pendidikan Kota Bandung cukup baik dan dapat dipahami oleh pihak sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.4 Tingkat Kepuasan Responden Pihak Sekolah Terhadap Informasi dan Sosialisasi Dari Dinas Pendidikan Kota Bandung Akan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

4. Kuota Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah a) Pengetahuan Responden Pihak Sekolah Akan Penerapan Kuota 10% Saat Penerimaan Siswa Baru Melalui Jalur Non Akademik (Bagi Siswa Miskin/Siswa Tidak Mampu dan Siswa Berprestasi) Ketentuan kuota 10% penerimaan peserta didik baru melalui jalur non akademis (bagi siswa berprestasi dan siswa miskin, ditetapkan setiap tahunnya berdasarkan Peraturan Walikota tentang Tata Cara Penerimaan Siswa Baru Pada Taman Kanak-Kanak/Raudhatul Athfal dan Sekolah/Madrasah. Dan kemudian dijabarkan melalui Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Pada Taman KanakKanak/Raudhatul Atfal dan Sekolah/Madrasah Di Kota Bandung Pada Tiap-Tiap Tahun Ajarannya. Kebijakan ini merupakan upaya Pemerintah Kota Bandung untuk memberikan kesempatan bagi siswa yang memiliki bakat tertentu dalam hal olah raga atau kesenian serta bagi siswa yang berasal dari keluarga tidak mampu untuk mendapatkan akses melanjutkan pendidikannya ke jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK) Negeri di Kota Bandung. Dalam focus group discussion (FGD) yang dilakukan sebelum pelaksanaan Survey CRC, beberapa pihak sekolah yang hadir mengkritisi jalur penerimaan ini, dikarenakan seringkali ditemukan indikasi penyalahgunaan oleh oknum tertentu untuk memberikan peluang melalui jalur penerimaan ini, agar siswa didik yang sebenarnya bukanlah berasal dari keluarga tidak mampu, bisa lolos masuk untuk bersekolah di SMA Negeri Bagan 3.5 Pengetahuan Responden Pihak Sekolah Akan Penerapan Kuota 10% Bagi Penerimaan Siswa Didik Baru Melalui Jalur Non Akedemik (Bagi Siswa Berprestasi dan Siswa Miskin)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Kepemilikan Data Siswa Miskin (tidak mampu) Untuk membuktikan apakah sekolah benar-benar mengetahui kebijakan dan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, maka responden pihak sekolah ditanya tentang ada atau tidak adanya data siswa miskin di sekolah masingmasing. Sembilan puluh lima persen (95%) responden pihak sekolah mengatakan bahwa data tersebut tersedia. Meski tidak dapat dipungkiri bahwa data tersebut masih perlu diverifikasi. Hal ini terungkap juga dalam FGD perumusan indikator, dimana jumlah siswa yang mendaftar pada saat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan menggunakan jalur non akademik (jalur prestasi dan siswa miskin) melampaui kuota yang ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Hal inilah yang oleh pihak sekolah sempat dipertanyakan tentang bagaimana Dinas Pendidikan Kota Bandung dapat menentukan kuota. Walau demikian, data siswa miskin dapat diperoleh di tiap-tiap SMA/SMK/MA di Kota Bandung. Bagan 3.6 Kepemilikan Database Siswa Miskin (Berasal Dari Keluarga Tidak Mampu/Prasejahtera I dan II)

5. Implementasi Kebijakan atau Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah a) Pembentukan Tim Untuk Mendata Siswa Miskin (berasal dari keluarga miskin/pra sejahtera I dan II) Di Sekolah Hasil Survey CRC, menunjukkan seluruh sekolah yang menjadi sampel survey memiliki tim khusus untuk melakukan pendataan siswa miskin yang dilakukan setiap tahun ajaran. Tim khusus ini selain melakukan pendataan dari sebelum pembukaan proses Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), juga bertugas melakukan verifikasi atas data siswa miskin yang masuk atau telah mendaftar pada saat PPDB, guna memastikan ketepatan dalam penyaluran dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Bagan 3.7 Jawaban Responden Pihak Sekolah Terkait Pembentukan Tim Pendataan Siswa Miskin Di Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Hubungan Antara Kuota Siswa Miskin Dengan Penerimaan Program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah Semua sekolah-sekolah yang menjadi sampel Survey CRC, menerima kuota siswa miskin dan mendapatkan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Yang membedakan adalah jumlah siswa miskin yang menjadi penerima dana bantuan di masing-masing sekolah dan berapa frekuensi sekolah menerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Dalam focus group discussion (FGD) yang dilakukan sebelum pelaksanaan Survey CRC, terungkap bahwa masih banyak siswa miskin di SMA/MA/SMK di Kota Bandung yang belum menerima bantuan dana pendidikan melalui program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah, dikarenakan jumlah siswa miskin yang diusulkan tidak semua disetujui oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung, walaupun Pihak Sekolah telah melakukan verifikasi data terlebih dahulu. Bagan 3.8 Hubungan Antara Kuota Siswa Miskin Dengan Penerimaan Program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah

c) Penentuan Kuota/Jumlah Siswa Miskin Penerima Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Hasil Survey CRC menunjukkan delapan puluh sembilan persen (89%) responden dari pihak sekolah mengatakan bahwa kuota siswa miskin ditentukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Dan mekanisme penentuan kuota siswa miskin sebagai penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU oleh beberapa sekolah dianggap masih belum memenuhi harapan. Bagan 3.8 menjelaskan mengenai jawaban responden pihak sekolah mengenai pemegang kewenangan dalam menentukan kuota siswa miskin yang akan menerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Bagan 3.9 Jawaban Responden Pihak Sekolah Mengenai Penentuan Kuota Siswa Miskin Yang Akan Menerima Dana Program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

d) Jumlah Siswa Miskin Yang Menerima Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Di Kaitkan Dengan Jumlah Keseluruhan Siswa Miskin yang Bersekolah Di SMA/SMK Yang Menjadi Sampel Survey Meskipun penentuan kuota siswa miskin penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung, namun dari data survey 29% responden pihak sekolah menyatakan bahwa seluruh siswa miskin yang bersekolah disekolah mereka baik tingkat I, II dan III, mendapatkan dana bantuan pendidikan melalui program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Bagan 3.10 Jawaban Responden Akan Jumlah Siswa Miskin Yang Bersekolah Di Masing-masing Sekolah (Sampel Survey) Dengan Jumlah Siswa Miskin Penerima Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

e) Keberadaan Biaya Yang Harus Dikeluarkan Pihak Sekolah Dalam Mengurus/Mengajukan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Dari hasil Survey CRC yang dilakukan kepada 115 responden pihak sekolah yang menjadi sampel pada survey ini, ternyata sebanyak 16% nya menyatakan bahwasannya mereka masih harus mengeluarkan biaya saat mengajukan atau mengurus dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Untuk lebih jelasnya dapat melihat Bagan 3.10 Bagan 3.11 Jawaban Responden Pihak Sekolah Mengenai Ada/Tidaknya Biaya Yang Harus Dikeluarkan Saat Mengajukan/Mengurus Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

f) Tingkat Kepuasan Responden Pihak Sekolah Terhadap Kuota Siswa Miskin Penerima Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Yang Ditetapkan Oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung Sekolah merupakan pihak yang bertanggungjawab penuh dalam pengelolaan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, akan tetapi dengan adanya ketidakjelasan penetapan kuota siswa miskin yang akan menjadi penerima dana bantuan dari program ini, menyebabkan pihak sekolah harus mencari jalan lain atau alternatif lain untuk menutupi biaya operasional p endidikan dari siswa miskin yang bersekolah disekolah mereka dan tidak menjadi penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Bagan 3.12 Tingkat Kepuasan Responden Pihak Sekolah Terhadap Kuota Siswa Miskin Penerima Dana Program Bantuan Si swa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Yang Ditetapkan Oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung

g) Mekanisme Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Proses pencairan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dengan mentransfer langsung ke rekening sekolah (bagi SMA/MA/SMK negeri) dan/atau rekening pengurus yayasan (bagi SMA/MA/SMK swasta). Ketentuan tersebut diatur melalui Peraturan Walikota tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga Belajar Kota Bandung yang dikeluarkan setiap Tahun Ajaran . Hal tersebut dibuktikan juga oleh jawaban dari responden pihak sekolah yang menjadi sampel dari pelaksanaan Survey CRC ini, dimana 95% responden tahu jika dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah langsung masuk ke rekening sekolah (bagi SMA/MA/SMK Negeri) dan/atau rekening pengurus yayasan (bagi SMA/MA/SMK Swasta). Bagan 3.13 Tingkat Pengetahuan Responden Pihak Sekolah Terhadap Mekanisme Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

h) Tingkat Pengetahuan Responden Pihak Sekolah Mengenai Jadwal Tetap Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Meskipun pengajuan data siswa miskin yang sedang bersekolah dilakukan oleh pihak sekolah masing-masing ke Dinas Pendidikan Kota Bandung setiap awal Tahun Ajaran baru berjalan, akan tetapi proses pencairan dana oleh Pemerintah Kota Bandung tidak dilakukan langsung saat itu juga. Hal tersebut dipertegas juga oleh pendapat yang disampaikan beberapa orang perwakilan pihak sekolah dalam focus group discussion (FGD), sebelum pelaksanaan dari Survey CRC ini. Ketidakjelasan mengenai jadwal pencairan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah seringkali mengakibatkan pihak sekolah harus mengeluarkan dana talangan terlebih dahulu untuk menutupi biaya operasional dari siswa-siswa miskin yang sedang menempuh pendidikan disekolah mereka. Sementara disisi lain jumlah siswa miskin yang akan menerima bantuan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah belumlah tentu akan sama dengan jumlah siswa miskin yang diajukan oleh pihak sekolahSehingga ada beberapa sekolah yang dana talangannya lebih besar dari dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang dicairkan. Hasil Survey CRC yang dilakukan kepada responden pihak sekolah, menyatakan 66% responden tidak mengetahui jadwal tetap pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dan hanya 34% responden pihak sekolah yang mengetahui dengan pasti jadwal dari pencairan dana program tersebut. Bagan 3.14 Tingkat Pengetahuan Responden Pihak Sekolah Mengenai Jadwal Tetap Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

i) Ketepatan Waktu Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Selain jadwal tetap pencairan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang tidak diketahui oleh responden pihak sekolah, ketepatan waktu pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah pun tidak sesuai dengan waktu yang seharusnya. Bagan 3.15 Ketepatan Waktu Pencairan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

j) Keterlambatan Waktu Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Dari sisi waktu, keterlambatan proses pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah paling cepat dicairkan dan masuk rekening sekolah sekitar 3 bulan dari ketentuan yang seharusnya, yaitu: di Bulan Agustus September Tahun Ajaran berlangsung. Pernyataan dari responden pihak sekolah yang menjadi sampel Survey CRC, memperkuat hal barusan, di mana 59% responden menyatakan bahwasannya keterlambatan pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah antara 1 - 3 bulan dari waktu yang seharusnya (Bulan Agustus September). Sementara 31% responden pihak sekolah menyatakan keterlambatan pencairan dana bisa mencapai waktu antara 3 6 bulan dari waktu yang ditentukan.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Grafik 3.5 Jawaban Responden Pihak Sekolah Terhadap Lamanya Keterlambatan Waktu Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

k) Pernyataan Responden Pihak Sekolah Mengenai Alasan Keterlambatan Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah Sekitar 93% responden pihak sekolah menyatakan tidak mengetahui alasan penyebab keterlambatan pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah. Namun 7% responden pihak sekolah memberikan pernyataannya, dimana keterlambatan pencairan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah karena payung hukum yang tidak jelas dan tata administrasi pemerintahan di Pemerintah Kota Bandung yang rumit, panjang dan berbelit-belit. Tujuh persen (7%) responden pihak sekolah tersebut juga menyatakan keterlambatan pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah mungkin diakibatkan oleh persyaratan atau data siswa miskin yang diajukan pihak sekolah belum lengkap atau laporan pelaksanaan akhir program di Tahun Ajaran sebelumnya dari pihak sekolah belumlah masuk semua. Tabel 3.5 Jawaban Responden Survey CRC Mengenai Tahu/Tidaknya Alasan Keterlambatan Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah
NO a b Tahu Tidak Tahu TOTAL PENYEBAB KETERLAMBATAN JUMLAH 6 75 81 PERSENTASE 7% 93% 100%

l) Tingkat Kepuasan Responden Pihak Sekolah Terhadap Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Dari total responden pihak sekolah yang menjadi sampel Survey CRC, 72% menyatakan ketidakpuasannya terhadap proses pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Beberapa sebab yang mendasari responden pihak sekolah merasa tidak puas terhadap pencairan dana program telah diutarakan sebelumnya. Bagan 3.15, hanya menggambarkan persentase responden pihak sekolah yang merasa puas atau tidak puas terhadap pencairan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Bagan 3.16 Tingkat Kepuasan Responden Pihak Sekolah Terhadap Pencairan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

m) Alokasi Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Yang Diterapkan Pihak Sekolah Pada pasal 81, ayat 1 Peraturan Walikota Bandung No. 15 Tahun 2008 tentang penyelenggaraan pendidikan, disebutkan bahwasannya pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasional dan biaya personal. Sedangkan komponen dari biaya operasional sekolah itu sendiri (pasal 81, ayat 7 Peraturan Walikota Bandung No. 15 Tahun 2008 ), meliputi: a. Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji b. Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai c. Biaya operasional pendidikan tidak langsung, seperti daya listrik, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebainya Dari sekian banyak komponen biaya operasional sekolah, bantuan dana pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, faktanya tidak mampu menutupi seluruh kebutuhan biaya persiswa setiap tahunnya. Karena dana yang disediakan bagi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah persiswa setiap tahunnya berdasarkan Peraturan Walikota Bandung No. 570 Tahun 2009 tentang petunjuk pelaksana penyaluran/pemberian dana hibah kependidikan untuk warga belajar dan siswa di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 , hanyalah: a. Untuk jenjang pendidikan SMA/MA, dana yang disediakan pada program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah adalah: Rp. 1.000.000/siswa/tahun

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b. Untuk jenjang pendidikan SMK, dana yang disediakan pada program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah adalah: Rp. 1.500.000/siswa/tahun Dengan besaran dana seperti yang telah dijelaskan diatas, maka pengelolaan dan pemanfaatan dana disesuaikan oleh sekolah masing-masing. Sebagian besar sekolah mengalokasikan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah untuk Dana Sumbangan Pembangunan (DSP) dan Sumbangan Pelaksanaan Pendidikan (SPP). Grafik 3.6 Alokasi Dana Dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Yang Diterapkan Pihak Sekolah (Berdasarkan Jawaban Dari Responden Pihak Sekolah Pada Survey CRC)

n) Pernyataan Responden Pihak Sekolah Mengenai Ada/Tidaknya Pemotongan Dari Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Seluruh responden pihak sekolah yang menjadi sampel dari Survey CRC memastikan tidak adanya pemotongan terhadap dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Artinya jumlah dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang ditransfer ke rekening sekolah atau pengurus yayasan dan sesuai dengan kuota siswa miskin yang disetujui Dinas Pendidikan Kota Bandung, masuk seluruhnya tanpa ada pemotongan dari pihak manapun. Bagan 3.17 Jawaban Responden Pihak Sekolah Mengenai Ada/Tidaknya Pemotongan Dari Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

o) Kecukupan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Untuk Biaya Operasional Siswa Miskin Yang Bersekolah Di Masing -masing Sekolah (SMA/SMK Negeri maupun Swasta) Yang Menjadi Sampel Survey CRC

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang dikucurkan oleh Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Pendididkan Kota Bandung, merupakan dana bantuan pendidikan tambahan yang diperuntukkan membantu sebagian dari seluruh biaya sekolah yang harus ditanggung oleh orang tua dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II). Bagi siswa dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II) biaya pendidikan di sekolah yang harus dikeluarkan sangat memberatkan, terutama untuk siswa SMK. Seorang siswa yang bersekolah di SMK, selain biaya pendidikan yang umum harus dikeluarkan harus ditambah lagi dengan biaya praktikum. Bisa dikatakan biaya yang harus dikeluarkan seorang siswa yang bersekolah di SMK pertahun ajarannya sekitar 3 - 5 juta rupiah. Jelas sekali jika dana yang dialokasikan dari APBD Kota Bandung untuk program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah tidak mencukupi untuk menutupi seluruh komponen biaya pendidikan seorang siswa didik yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II). Bagan 3.18 Jawaban Responden Pihak Sekolah Mengenai Cukup/Tidaknya Dana Dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Untuk Menutupi Biaya Operasional Pendidikan Siswa Miskin Yang Bersekolah Di Sekolah Mereka

p) Usaha yang Dilakukan Sekolah untuk Menutupi Biaya Operasional Sekolah Dari Siswa Miskin Berbagai usaha atau cara ditempuh oleh pihak sekolah untuk mengatasi/menutupi biaya operasional sekolah dari siswa miskin, antara lain dengan melakukan subsidi silang. Subsidi silang bisa dilakukan atas pos pemasukan lain yang ada di APBS (Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah) atau dengan memungut kekurangan biaya sekolah dari siswa miskin yang ada di masing-masing sekolah dari siswa-siswa lain yang berasal dari keluarga mampu. Dalam focus group discussion (FGD) yang dilakukan dengan perwakilan dari pihak sekolah menengah yang ada di Kota Bandung (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta), sebelum pelaksanaan Survey CRC ada juga sekolah yang mengusahakan mencari sumber dana lain, berupa beasiswa dari beberapa instansi atau perusahaan. Grafik 3.7 Usaha atau Cara yang Dilakukan Sekolah untuk Menutupi Kekurangan Biaya Operasional Dari Siswa Miskin

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

5. Kelembagaan a) Jawaban Responden Pihak Sekolah Tentang Ada/Tidaknya Tim Khusus untuk Mengelola Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Sembilan puluh tiga persen (93%) responden pihak sekolah yang menjadi sampel dari Survey CRC menyatakan bahwa pihak sekolah mereka membentuk tim khusus untuk mengelola dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Pembentukan tim khusus bagi pengelolaan dana di tingkat sekolah dimaksudkan untuk mengorganisir kegiatan, mulai dari proses pendataan siswa miskin, verifikasi data, sosialisasi mengenai program ini kepada siswa dan orang tua, sampai dengan proses pelaporan akhir pelaksanaan program ke Dinas Pendidikan Kota Bandung. Bagan 3.19 Jawaban Responden Pihak Sekolah Tentang Ada/Tidaknya Tim Khusus untuk Mengelola Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Jawaban Responden Pihak Sekolah Tentang Ada/Tidaknya Persyaratan Dari Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk Membentuk Tim Khusus Pengelola Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Lima puluh tujuh persen (57%) responden pihak sekolah yang menjadi sampel dari Survey CRC menyatakan keberadaan tim khusus pengelola dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah di sekolah mereka, tidak disyaratkan atau didasarkan prasayarat yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Artinya keberadaan tim khusus pengelola dana program ini, dibeberapa sekolah yang menjadi sampel dari Survey CRC didasarkan kepada inisiatif dari pihak sekolah. Bagan 3.20 Jawaban Responden Pihak Sekola h Tentang Ada/Tidaknya Persyaratan Dari Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk Membentuk Tim Khusus Pengelola Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

c) Jawaban Responden Pihak Sekolah Tentang Pihak yang Menjadi Penanggung Jawab Utama Dalam Pengelolaan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Dari 115 responden pihak sekolah yang menjadi sampel dari Survey CRC tentang pelaksanaan penyaluran dana bantuan pendidikan melalui program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, 90% respon den menjawab bahwa yang menjadi penanggung jawab utama dalam pengelolaan dana dari program ini adalah kepala sekolah. Grafik 3.8 Penanggung Jawab Utama dalam Pengelolaan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Di Masing -masing Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

3.1.2. SURVEY PADA ORANG TUA SISWA (PENDAPAT ORANG TUA SISWA)
A. Hasil Survey 1. Profil Responden Responden dari Survey CRC program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah selain dari pihak sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, waki kepala sekolah, bagian tata usaha dan wali kelas, wawancara juga dilakukan kepada orang tua siswa miskin (orang tua siswa yang anaknya menerima bantuan dana pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Tujuan melibatkan orang tua siswa miskin sebagai responden dari Survey CRC ini adalah untuk mengkonfirmasi dan menggali informasi lebih dalam secara langsung dengan penerima manfaat dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Pembagian profil responden orang tua siswa miskin didasarkan kepada komposisi tingkat pendidikan dan pekerjaan atau mata pencaharian. a) Tingkat Pendidikan Responden Orang Tua Siswa Miskin Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah ditujukan bagi siswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II) yang bersekolah di SMA/MA/SMK Negeri maupun Swasta. Tiga puluh tujuh persen (37%) dari responden pihak orang tua siswa pada Survey CRC ini, berpindidikan tamat Sekolah Dasar (SD). Dua puluh empat persen (24%) responden orang tua siswa lainnya tamatan SMA/Sederajat. Dan hanya dua persen (2%) dari keseluruhan total responden orang tua siswa yang menjadi sampel Survey CRC yang berpendidikan akhir sarjana muda/diploma. Bagan 3.21 Tingkat Pendidikan Responden Orang Tua Siswa Pada Survey CRC Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Komposisi Responden Orang Tua Siswa Miskin Berdasarkan Pekerjaan Warga/masyarakat miskin di perkotaan atau biasa dikenal juga dengan istilah masyarakat urban, biasanya bekerja di sektor informal seperti pedagang, buruh lepas dan pekerjaan lain yang menjadi pengisi nafas kehidupan sebuah kota. Selain itu, banyak juga yang bekerja disektor formal sebagai buruh di pabrik atau pelayan toko. Dari Survey CRC yang dilakukan terhadap sampel orang tua siswa miskin penerima bantuan dana pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, 55% responden bekerja sebagai pedagangan asongan, sementara responden lainnya bekerja sebagai buruh bangunan, buruh tani, sopir dan lain-lain. Hanya 1% responden yang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) Bagi masyarakat kelompok ini dengan tingkat pendapatan bersih dibawah upah minimum Kota Bandung, kehidupan menjadi lebih berat manakala harus membiayai pendidikan putra-putrinya ke jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK). Bagan 3.22 Mata Pencaharian atau Pekerjaan dari Responden Orang Tua Siswa Miskin

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

2. Tanggapan/Penilaian Orang Tua Siswa tentang Kebijakan dan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Pada umumnya responden orang tua siswa miskin sebatas hanya mengetahui informasi mengenai program bantuan pendidikan, yaitu: program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Sementara mengenai program-program bantuan pendidikan lainnya yang disediakan oleh Pemerintah Kota Bandung hampir 88% responden orang tua siswa miskin tidak mengetahuinya. Hal ini dapat dipahami, dikarenakan kelompok-kelompok masyarakat miskin atau yang biasa dikenal dengan masyarakat urban di suatu daerah perkotaan, tidak memiliki banyak informasi dan pengetahuan mengenai kebijakan atau program-program bantuan yang disediakan, baik itu oleh pemerintah pusat, provinsi maupun kota. Kelompok-kelompok warga/masyarakat ini sedikit sekali dilibatkan dalam kegiatan sosialisasi terhadap suatu program bantuan, baik itu untuk sektor pendidikan, kesehatan atau kesejahteraan social. Grafik 3.9 Tingkat Pengetahuan Responden Orang Tua Siswa Miskin Terhadap Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dan Program -Program Bantuan Pendidikan Lainnya

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

a) Jawaban Responden Orang Tua Siswa Miskin Tentang Pernah/Tidak Pernahnya Responden Mendapatkan Informasi Lengkap Mengenai Program Bantuan siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Sudah merupakan kewajiban institusi-institusi atau lembaga-lembaga terkait dalam pelaksanaan dan penyaluran dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah memberikan informasi lengkap mengenai program kepada masing-masing orang tua siswa miskin yang anaknya bersekolah di jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta), atau orang tua siswa miskin yang akan mendaftarkan anaknya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) yang ada di Kota Bandung. Dari hasil Survey CRC yang dilakukan terhadap seluruh responden orang tua siswa miskin yang menerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, 96% menjawab pernah mendapatkan informasi mengenai program terkait dengan menjadi fokus dari Survey. Bagan 3.23 Jawaban Responden Orang Tua Siswa Miskin Tentang Pernah/Tidak Pernahnya Responden Mendapatkan Informasi Lengkap Mengenai Program Bantuan siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Jawaban Responden Orang Tua Siswa Miskin Mengenai Sumber Informasi Mengenai Adanya Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Informasi mengenai program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah seharusnya diterima secara lengkap oleh orang tua siswa miskin yang akan menjadi calon penerima dana bantuan dari program tersebut. Pihak sekolah wajib memberikan pemberitahuan resmi kepada orang tua siswa miskin yang akan menjadi calon penerima dana bantuan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, baik itu berupa surat maupun rapat antara pihak sekolah dengan seluruh orang tua siswa miskin yang anaknya bersekolah di sekolah yang bersangkutan. Dari beberapa jenis sumber informasi yang ditanyakan kepada pihak responden orang tua siswa miskin, 47% responden mengetahui informasi tentang program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah melalui surat pemberitahuan dari pihak sekolah. Tiga puluh lima persen (35%) responden orang tua siswa miskin lainnya mengetahui tentang informasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah lewat putra/putrinya yang bersekolah disekolah bersangkutan. Hanya 1% responden orang tua siswa miskin yang mendapat informasi mengenai program bantuan ini melalui media elektronik (TV/Radio) lokal. Artinya, Pemerintah Kota Bandung belum mempunyai niatan serius dalam menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance), dimana salah satu aspek yang harus dilaksanakan terkait dengan transparansi, dari mulai proses penyusunan kegiatan sampai dengan anggaran yang akan membiayai kegiatan bersangkutan, sampai dengan syarat atau prosedur yang harus dipenuhi oleh warga/masyarakat untuk bisa memperoleh program bantuan yang disediakan. Wujud dari transparansi untuk menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik, salah satu adalah melalui seberapa intens dan dalamnya Pemerintah Kota Bandung melakukan publikasi informasi terkait dengan kebijakan atau program yang disediakan bagi warga/masyarakat. Dan media informasi yang bisa diakses oleh warga/masyarakat secara luas adalah media massa (cetak maupun elektronik). Grafik 3.10 Jawaban Responden Orang Tua Siswa Miskin Mengenai Sumber Informasi Mengenai Adanya Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

c) Jenis Informasi Dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang Diterima Oleh Responden Orang Tua Siswa Miskin Dari beberapa jenis informasi terkait dengan implementasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, banyak jenis informasi dari program tersebut yang tidak diketahui oleh responden orang tua siswa miskin. Informasi yang lebih banyak diketahui responden orang tua siswa miskin akan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah antara lain terkait: a. Persyaratan untuk mendapatkan dana bantuan pendidikan dari rogram Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah b. Tujuan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah c. Besar dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah d. Sasaran atau peruntukkan dari dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah e. Syarat dan pelaksanaan proses verifikasi data siswa miskin yang didaftarkan sebagai calon penerima dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Sementara informasi lainnya, menyangkut pengelolaan dana, proses pencairan dana, sebagian besar responden orang tua siswa miskin yang menjadi sampel survey tidak pernah mengetahui atau mendapatkan penjelasannya. Grafik 3.11 Jawaban Responden Orang Tua Miskin Mengenai Jenis Informasi Yang mereka terima Terkait Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

d) Tingkat/Kelas Siswa yang Berasal dari Responden Orang Tua Miskin yang Menerima Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAK U Sekolah Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dimulai sejak Tahun 2007, artinya siswa miskin yang bersekolah di SMA/SMK Negeri/Swasta pada Tahun Ajaran 2007 2008 pada saat ini sudah menamatkan pendidikannya. Akan tetapi temuan dilapangan dari beberapa surveyor, masih tercatatnya nama siswa yang sudah lulus sebagai penerima dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah di Tahun Ajaran 2010 2011. Hal ini perlu diklarifikasi kembali apakah temuan tersebut hanya disebabkan murni oleh kesalahan manusia/SDM yang bertugas melakukan pendataan atau memang ada unsur kesengajaan memanipulasi data. Sementara hasil Survey CRC menyatakan 44% responden orang tua siswa miskin menjawab bahwasannya putra/putri mereka menerima dana bantuan program saat ini duduk di kelas XI (kelas II) SMA/SMK, artinya putra-putri mereka tersebut tercatat sebagai penerima dana bantuan di Tahun Ajaran 2009 2010. Tiga puluh dua persen (32%) dari responden orang tua miskin menyatakan kalau putra putrinya menerima dana bantuan saat ini duduk di kelas XII (kelas III), artinya putraputri mereka tercatat sebagai penerima dana bantuan di Tahun Ajaran 2008 2009. Dari seluruh responden orang tua siswa miskin yang diwawancarai sebagai sampel Survey CRC, hanya 22% saja yang anaknya menerima dana bantuan program pada Tahun Ajaran 2010 - 2011 (saat ini duduk di elas X/kelas I SMA/SMK). Grafik 3.12 Tingkat/Kelas Siswa yang Berasal dari Responden Orang Tua Miskin yang Menerima Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

3. Syarat dan Prosedur a) Cara/Proses yang Ditempuh Oleh Responden Orang Tua Miskin dalam Mengajukan Sebagai Penerima Pengajuan Bawaku Sekolah Sewajibnya pihak sekolah berperan lebih responsive terhadap program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dengan memilki data siswa miskin yang akurat serta up to date, memiliki mekanisme atau prosedur, tim dan jadwal yang transparan untuk melakukan verifikasi lapangan terhadap data siswa miskin yang ada dan jadwal tetap serta media sosialisasi mengenai program bantuan ini yang bisa diakses oleh seluruh guru, siswa, orang tua siswa dan masyarakat yang ada disekitar sekolah. Hasil Survey CRC kepada responden pihak orang tua siswa miskin, menyatakan 58% responden untuk mendapatkan dana bantuan pendidikan ini berasal dari tawaran pihak sekolah. Empat puluh persen (40%) responden lainnya mengajukan sendiri ketika ingin mendapatkan dana bantuan pendidikan dari program ini bagi putra/putrinya. Bagan 3.24 Cara/Proses yang Ditempuh Responden Orang Tua Siswa Untuk Mendapatkan Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Persyaratan yang Harus Dipenuhi Responden Orang Tua Siswa Miskin Menjadi Penerima Dana Bantuan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Grafik 3.13 Persyaratan yang Harus Dipenuhi Responden Orang Tua Siswa Miskin Menjadi Penerima Dana Bantuan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

c) Tingkat Kesulitan yang Dialami Responden Orang Tua Siswa Miskin dalam Memenuhi Persyaratan Sebagai Penerima Dana Bantuan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Dari sekian banyak persyaratan yang harus dipenuhi orang tua siswa miskin sebagai penerima dana bantuan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, secara umum responden menjawab tidak mengalami kesulitan untuk melengkapinya. Meskipun ada 29% responden menyatakan mengalami kesulitan mengurus SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) dari pemer intahan setempat (RT sampai dengan Kecamatan). Grafik 3.14 Tingkat Kesulitan yang Dialami Responden Orang Tua Siswa Miskin dalam Memenuhi Persyaratan Sebagai Penerima Dana Bantuan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

d) Waktu yang Dibutuhkan dalam Pengurusan Persyaratan Sebagai Penerima Dana Bantuan Pendidikan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Pernyataan tentang kesulitan orang tua siswa miskin memenuhi persyaratan diperdalam dengan pertanyaan mengenai waktu yang dibutuhkan untuk mengurus sekian banyak persyaratan bagi putra-putri responden untuk menjadi penerima dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Hasil Survey CRC menemukan adanya responden orang tua siswa miskin yang membutuhkan waktu 3 hari bahkan sampai dengan seminggu, untuk sekedar mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM). Sementara dalam FGD pra Survey CRC dengan pihak sekolah, beberapa sekolah menyatakan bahwa ada beberapa kendala dalam verifikasi data siswa miskin, salah satunya banyak siswa miskin yang mengalami kesulitan dalam mendapatkan SKTM atau yang SKTM nya belum selesai ketika verifikasi kelapangan dilakukan oleh pihak sekolah. Grafik 3.15 Waktu yang Dibutuhkan dalam Pengurusan Persyaratan Sebagai Penerima Dana Bantuan Pendidikan dari Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

e) Pengetahuan Orang Tua Siswa Miskin tentang Pencairan Dana Bantuan Pendidikan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Tidak banyak orang tua siswa miskin yang putra-putrinya penerima dana bantuan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

mengetahui informasi tentang pencairan dan pengelolaan dana tersebut secara detail. Karena sebagian besar dari orang tua tersebut hanya diberitahu sebatas bahwa anak mereka mendapat bantuan dana pendidikan dari program tersebut, sementara mengenai proses pencairan dan pengelolaannya sepenuhnya dilakukan oleh pihak sekolah. Bagan 3.25 Pengetahuan Orang Tua Siswa Miskin tentang Pencairan Dana Bantuan Pendidikan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

4. Pelaksanaan dan Pengelolaan Kebijakan dan Program Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah a) Pengetahuan Orang Tua Siswa Miskin tentang Pengelolaan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Khusus pada point ini, orang tua siswa miskin yang putra-putrinya terdata sebagai penerima dana bantuan pendidikan dari rogram Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, ditanyakan tentang pengetahuan dan keterlibatan mereka dalam pelaksanaan program dan kebijakan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Sebagian besar dari responden orang tua, menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui tentang bagaimana dana tersebut dikelola. Hal ini juga sejalan dengan beberapa catatan dari surveyor dilapangan, dimana bagi orang tua siswa yang penting adalah anak-anaknya dijamin mendapatkan dana bantuan tersebut; terlepas bagaimanapun mekanisme pengelolaannya. Bagan 3.26 Pengetahuan Orang Tua Siswa Miskin tentang Pengelolaan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Pengetahuan Orang Tua Siswa Miskin tentang Peruntukan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Walaupun pencairan dan pengelolaan Dana Bawaku Sekolah sepenuhnya dilakukan sekolah, orang tua siswa miskin yang putra-putrinya penerima dana program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah tahu bahwa dana bantuan tersebut diperuntukkan untuk membayarkan sebagian dari biaya SPP dan DSP putra-putri mereka. Hampir seluruh sekolah yang mendapatkan dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dari APBD Kota Bandung lewat Dinas Pendidikan Kota Bandung, mengalokasikan dana tersebut untuk SPP dan DSP dari siswa-siswa miskin yang bersekolah disekolah mereka masing-masing. Namun untuk biaya lainnya seperti: buku, LKS dan praktikum (bagi siswa SMK), masih harus dipenuhi orang tua. Grafik 3.16 Pengetahuan Orang Tua Siswa Miskin tentang Peruntukan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

c) Pernyataan Responden Orang Tua Siswa Miskin tentang Biaya yang Masih Harus Dikeluarkan Setelah Putra-Putrinya Mendapatkan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Karena besarnya biaya operasional sekolah yang harus dikeluarkan setiap siswa per tahunnya, dana bantuan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah besarannya Rp. 1.000.000/siswa/tahun untuk siswa miskin yang bersekolah di SMA (negeri/swasta) dan Rp. 1.500.000/siswa/tahun untuk siswa yang bersekolah di SMK (negeri/swasta), tidak dapat menutupi seluruh kebutuhan. Delapan puluh satu persen (81%) responden orang tua siswa miskin, menyatakan bahwa mereka masih harus mengeluarkan biaya meskipun sudah mendapatkan dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Dari hasil Survey CRC, adapun biaya-biaya yang masih harus dikeluarkan orang tua siswa miskin yang putra-putrinya menerima dana bantuan dari program tersebut antara lain: biaya daftar ulang, biaya praktikum, biaya kunjungan/praktik kerja lapangan di pabrik (bagi siswa SMK), biaya seragam, biaya UAS/UTS, biaya ekstrakurikuler berenang, biaya internet, biaya mata pelajaran/praktikum komputer dan tabungan.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.27 Pernyataan Responden Orang Tua Siswa Miskin tentang Biaya yang Masih Harus Dikeluarkan Setelah Putra-Putrinya Mendapatkan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

5. Masalah dan Pengaduan Orang Tua Siswa Miskin Terkait dengan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah a) Pernyataan Responden Orang Tua Siswa Miskin tentang Masalah yang Dihadapi dalam Pengurusan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Kecilnya keterlibatan orang tua siswa miskin yang putra-putrinya menerima dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, dimana orang tua siswa hanya sebatas diposisikan sebagai penerima yang pasif, mengakibatkan tidak banyak orang tua siswa miskin yang mengetahui proses pengelolaannya sehingga sedikit pula masalah yang mereka hadapi. Sembilan puluh satu persen (91%) responden orang tua siswa miskin, menyatakan mereka tidak pernah mengalami masalah dalam proses pengurusan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dan hanya 9% responden saja yang pernah mengalami masalah, seperti: ketidakjelasan persyaratan yang harus dipenuhi, banyak pertanyaan dari pihak sekolah (dalam proses verifikasi data), waktu yang disediakan bagi pengurusan persyaratan sebagai calon penerima dana bantuan yang terlalu pendek. Selain itu ditemukannya juga pernyataan dari beberapa orang tua siswa miskin yang menyatakan bahwa dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah tidak membantu mengurangi beban biaya SPP putra-putri mereka, sehingga putra-putri mereka tidak dapat melanjutkan sekolah, dikarenakan ketidakmampuan membayar biaya sekolah. Bagan 3.28 Pernyataan Responden Orang Tua Siswa Miskin tentang Masalah yang Dihadapi dalam Pengurusan Dana Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

b) Pernah/Tidaknya Responden Orang Tua Siswa Miskin Melakukan Pengaduan Terkait Permasalahan dari Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Pengaduan, kritik dan protes dari warga/masyarakat terkait suatu program dan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah merupakan hal penting yang dapat dijadikan sebagai salah satu indikator berhasil tidaknya program tersebut dalam pelaksanaannya. Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dalam pelaksanaannya tidak banyak melibatkan secara langsung pihak konsumen dari program tersebut, yaitu orang tua siswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II), sehingga konsumen tidak pernah tahu bagaimana proses pelaksanaan program dan terlibat dalam proses pengelolaannya. Orang tua siswa yang menjadi responden dalam Survey CRC ini, hanya tahu bahwa anaknya menerima dana bantuan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, sehingga putra-putri mereka dibebaskan dari biaya SPP dan DSP, selebihnya mereka tidak pernah mengetahui bagaimana proses pengelolaannya. Dikarenakan posisi orang tua siswa yang menjadi responden pada Survey CRC ini hanya sebagai konsumen pasif, sebagian besar d ari meraka tidak pernah melakukan pengaduan terkait program bantuan dana pendidikan ini.

Bagan 3.29 Pernah/Tidaknya Responden Orang Tua Siswa Miskin Melakukan Pengaduan Terkait Permasalahan dari Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

`

b) Media/Tempat Pengaduan Masalah Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Mekanisme pengaduan terhadap suatu layanan publik menjadi sangat penting bagi pengguna layanan, karena pengaduan pengguna layanan mempunyai fungsi kontrol terhadap kualitas layanan publik. Namun demikian, belum semua layanan publik memiliki mekanisme pengaduan yang memadai dan mudah diakses oleh warga/masyarakat, wujud partisipasi warga/masyarakat dari layanan yang warga/masyarakat terima.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Hanya sekitar 36% responden orang tuas siswa miskin yang putra-putrinya menerima dana bantuan program ini, pernah melakukan pengaduan akan masalah yang mereka hadapi terkait dengan program bantuan ini kepada kepala sekolah langsung. Tiga puluh enam persen (36%) responden lainnya, melakukan pen gaduan permasalahan terkait dengan dana bantuan dari program ini kepada wali kelas dimana putra-putri mereka bersekolah. Kecilnya persentase responden orang tua siswa miskin yang anaknya menerima dana bantuan program melakukan pengaduan, bukan berarti tidak ada masalah dalam proses penyaluran dan pengelolaan dana dari program ini . Ini dikarenakan tidak banyak orang tua siswa miskin yang terlibat secara langsung dari mulai proses awal penyaluran dana sampai dengan pengelolaan dari dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Lemahnya posisi dan akses warga/masyarakat terhadap berbagai kebijakan Pemerintah Kota Bandung, menyebabkan warga/masyarakat sebagai konsumen langsung dari layanan publik yang disediakan rentan dibodoh -bodohi, ditipu, dimanfaatkan oleh oknum dari birokrasi di Pemerintahan Kota Bandung . Grafik 3.17 Media/Tempat Pengaduan Masalah Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

c) Cara yang Dilakukan Responden Orang Tua Siswa Miskin dalam Mengadukan Masalah Terkait Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Grafik 3.18 Cara yang Dilakukan Responden Orang Tua Siswa Miskin dalam Mengadukan Masalah Terkait Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

d) Ada/Tidaknya Tanggapan yang Diberikan Pihak Sekolah atau Dinas Pendidikan Kota Bandung Atas Pengaduan Masalah yang Dilakukan Oleh Orang Tua Siswa Miskin Terhadap Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Besar kecilnya pengaduan atas permasalahan yang dilakukan oleh pengguna jasa layanan public, semestinya ditanggapi dan ada penyelesaiannya. Dari sebagian kecil responden orang tua siswa miskin yang pernah mengadukan masalah, hanya 22% saja yang mendapat tanggapan. Dalam wawancara mendalam yang dilakukan kepada orang tua siswa miskin, beberapa pengaduan masalah terkait dengan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, seperti: pengaduan terkait masalah SKTM yang untuk beberapa orang tua siswa mengalami hambatan, kemudian ada juga yang mengadukan masalah karena anaknya hanya mendapat dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah di kelas X (kelas I SMA/MA/SMK) saja, ketika naik tingkat ke kelas XI (kelas II SMA/MA/SMK) tidak lagi mendapatkan. Bagan 3.30 Ada/Tidaknya Tanggapan yang Diberikan Pihak Sekolah atau Dinas Pendidikan Kota Bandung Atas Pengaduan Masalah yang Dilakukan Oleh Orang Tua Siswa Miskin Terhadap Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

e) Tingkat Kepuasan Responden Orang Tua Siwa Miskin Terhadap Tanggapan dari Permasalahan Terkait Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah Kurangnya tanggapan atas pengaduan masalah, mengindikasikan masih belum pahamnya tugas dan kewajiban individu-individu di satuan pendidikan dan jajaran instansi di Pemerintah Kota Bandung sebagai pelayan warga/masyarakat. Selain itu juga mengindikasikan kelemahan dalam mekanisme pengaduan yang seharusnya dikelola dengan baik oleh pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kota Bandung. Hal ini ditunjukkan dari hasil Survey CRC, dimana masih adanya 44% responden yang melakukan pengaduan, tidak merasa puas atas tanggapan dan penyelesaian yang diberikan, baik oleh pihak sekolah maupun Dinas Pendidikan Kota Bandung.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.31 Tingkat Kepuasan Responden Orang Tua Siwa Miskin Terhadap Tanggapan dari Permasalahan Terkait Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah

3.2. SURVEY TERHADAP LAYANAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB) DI KOTA BANDUNG
Survey tentang Layanan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) di Kota Bandung dilakukan di 6 BWK (Bagian Wilayah Kota) atau dikenal juga dengan 6 Wilayah Pembangunan (WP), yaitu: Karees, Cibeunying, Ujung Berung, Gedebage, Bojonegoro dan Tegalega. Pembagian wilayah survey ini didasarkan pada data yang diperoleh dari BPPT (Badan Pelayanan Perizinan Terpadu) Kota Bandung. Berdasarkan data pemohon IMB pada Tahun 2008 - 2010, maka jumlah populasi dan sampel di 6 BWK tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel 3.6 Populasi dan Sampel Pemohon IMB Tahun 2008 Bandung
Wilayah Pembangunan Kecamatan Cibeunying Kaler Cidadap Bandung Wetan Coblong Cibeunying Kidul Sumur Bandung Bandung Kulon Babakan Ciparay Bojongloa Kidul Astana Anyar Bojongloa Kaler Bandung Kidul Bandung Kidul Buah Batu Rancasari Gede Bage Marga Cinta Sukajadi Andir Sukasari Cicendo Sastra Negara Pasir Kaliki Ciroyom

2010 di 6 BWK

Cibeunying

Tegalega

Gede Bage

Bojo Negara

Total Populasi Tahun 2009 77 47 111 102 85 105 160 83 187 101 68 11 241 248 262 29 5 88 92 61 120 1 1 1

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card
Wilayah Pembangunan Kecamatan Arcamanik Antapani Mandalajati Panyileukan Cibiru Cinambo Cicadas Ujung Berung Cisaranten Kulon Cipadung Kidul Kiara Condong Lengkong Batununggal Regol Cijaura Total Populasi Tahun 2009 175 208 31 46 27 31 2 52 1 1 89 246 80 141 1

Ujung Berung

Karees

3.2.1 PROFIL RESPONDEN
Berdasarkan teknik sampling yang telah ditetapkan maka total responden yang digunakan sebagai sampel dalam Survey CRC ini berjumlah 221 orang. Meski demikian, dalam pelaksanaannya jumlah responden yang disurvey melebihi total yang dibutuhkan, yakni mencapai 230 responden. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari kekurangan data dalam memenuhi prinsip-prinsip metode statistik yang digunakan dalam pelaksanaan survey. 1. Komposisi Responden IMB Berdasarkan Jenis Kelamin Secara umum, persentase responden laki-laki lebih besar dari responden perempuan, sebagaimana terlihat pada bagan 3.31. Berdasarkan catatan lapangan surveyor, fenomena ini disebabka n oleh karakter masyarakat yang masih menunjukkan dominasi penempatan peran lakilaki sebagai pemilik rumah atau yang lebih banyak tahu tentang urusan perijinan, khususnya izin mendirikan bangunan (IMB). Bagan 3.32 Komposisi Responden IMB Berdasarkan Jenis Kelamin

2. Komposisi Responden IMB Berdasarkan Wilayah Dilihat dari sebaran pemohon IMB data Tahun 2008 - 2010, maka prosentase terbesar berada di Wilayah Gedebage (22%) menyusul Tegalega (20%) dan Ujung Berung (18%). Besarnya prosentase permohonan IMB di Wilayah Gedebage dan Ujung Berung sejalan dengan arahan pengembangan Kota Bandung, sebagaimana

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

tertuang dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota, bahwa Wilayah Gedebage merupakan salah satu kutub pertumbuhan baru di Wilayah Timur Kota Bandung. Bagan 3.33 Komposisi Responden IMB Berdasarkan Wilayah

3. Komposisi Responden IMB Menurut Tingkat Pendidikan Berdasarkan data yang terkumpul, lebih dari 50% atau sekitar 129 responden dari total responden 230 orang, berpendidikan sarjana (S1) atau lebih tinggi. Hal ini dapat dipahami karena lokasi survey adalah di Kota Bandung dan kebanyakan warga Kota Bandung yang memiliki rumah sendiri, umumnya adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi atau setaranya Secara jelas dapat dilihat pada bagan 3.33. Bagan 3.34 Komposisi Responden IMB Menurut Tingkat Pendidika n

4. Komposisi Responden IMB Menurut Pekerjaan Berdasarkan jenis pekerjaan, jumlah responden IMB yang menjadi sampel survey, paling banyak adalah karyawan/pegawai swasta (88 orang), disusul pengusaha/pemilik toko (70 orang) dan jumlah terbesar ketiga adalah Pegawai Negeri Sipil (38 orang). Tiga kategori ini setidaknya menunjukkan mewakili gambaran komposisi warga Kota Bandung jika dilihat dari jenis pekerjaan atau mata pencaharian, sebagaimana ditampilkan dalam tabel 3.7

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Tabel 3.7 Komposisi Responden I MB Berdasarkan Pekerjaan No. Jenis Pekerjaan Jumlah % 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Petani/Buruh tani Sopir Angkot Peternak Buruh bangunan Pedagang kecil/Asongan PNS Karyawan/Pegawai swasta Pensiunan tentara/polisi Pengusaha/Pemilik toko Eksportir/pedagang besar Pemilik hotel/restoran/wisma/penginapan Pensiunan PNS Polisi/Tentara Ibu rumah tangga Dokter Wiraswasta Kepsek TK Tidak Menjawab Total 0 0 1 2 3 38 88 1 70 0 1 1 1 18 2 1 1 2 230 0 0 0,4 0,9 1,3 16,5 38,3 0,4 30,4 0 0,4 0,4 0,4 7,8 0,9 0,4 0,4 0,9 100

5. Komposisi Responden IMB Berdasarkan Rata-rata Penghasilan Per Bulan Dilihat dari jumlah penghasilan bulanan, kebanyakan responden tergolong mampu. Hal ini dilihat dari prosentase responden yang berpenghasilan di antara Rp.1.000.000 s/d Rp.5.000.000 mencapai 139 orang atau 60,4% dari total responden yang disurvey yakni 230 orang. Bagan 3.35 Komposisi Responden IMB Berdasarkan Rata -rata Penghasilan Per Bulan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

3.2.2.PERSEPSI MASYARAKAT TENTANG LAYANAN IMB DI KOTA BANDUNG
A. Pemahaman Masyaratkat Tentang Izin Mendirikan Bangunan (IMB) 1. Waktu Mengurus IMB Kebanyakan responden (77%) telah mengurus IMB lebih dari 1 tahun yang lalu dan hanya 10% kurang yang mengurus IMB dalam kurun waktu 3 bulan sebelum pelaksanaan survey ini dilakukan. Secara lengkap, prosentasi pengurusan IMB berdasarkan waktu (kapan) masyarakat mengurusnya ke Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung dapat dilihat pada bagan 3.35 Bagan 3.36 Waktu/Lamanya Responden Survey Mengurus IMB

2. Jenis IMB Kategori jenis IMB di Kota Bandung hanya diklasifikasikan menjadi dua jenis yaitu: IMB untuk Rumah Tinggal dan Non Rumah Tinggal. Dalam hal ini, hampir 90% responden (206 responden) dari total responden yang disurvey, menguruskan IMB untuk jenis Rumah Tinggal. Berdasarkan data hasil survey, jika diperbandingkan maka jumlah pengurusan IMB untuk Bangunan Non Rumah Tinggal dengan Rumah Tinggal adalah 1 : 9, sebagaimana ditunjukkan pada bagan 3.36 Bagan 3.37 Jenis IMB yang Diajukan/Diurus Oleh Responden Survey

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

3. Klasifikasi Bangunan Berdasarkan hasil survey, jenis bangunan yang diuruskan IMB nya oleh responden survey, terdiri dari Rumah, Kantor, Mini Market, Reklame, Sekolah dan RSG (Ruang Serba Guna). Klasifikasi bangunan yang paling banyak yang diuruskan IMB nya adalah bangunan rumah dengan luas bangunan antara 100 - 300m 2, sebanyak 136 bangunan (66,02%). Sedangkan klasifikasi yang paling sedikit adalah bangunan rumah dengan luas di atas 500m2 (0,49%) . Tabel 3.8 Klasifikasi Bangunan yang Diurusk an IMB nya Berdasarkan Jenis Bangunan dan Luas Bangunan
No. 3.1 3.2 3.3 3.4 Luas Bangunan < 100 m
2 2 2

Rumah Jml % 37 17,96 136 29 1 66,02 14,08 0,49

Kantor Jml % 0 0 2 2 0 8,33 8,33 0

Klasifikasi Bangunan Mini Market Reklame Jml % Jml % 3 12,5 1 4,2 5 0 1 20,83 0 4,2 0 0 0 0 0 0

Sekolah Jml % 0 0 0 0 1 0 0 4,2

100 300 m 300 500 m 2 > 500 m

RSG Jml % 0 0 8, 2 4 0 0 0 0

4. Tanggapan Responden tentang Penting/Tidaknya Mengurus IMB Secara umum dari hasil survey terlihat bahwa 97,4%, dari 230 total responden, mengatakan bahwa tetap penting untuk mengurus IMB. Hal ini diperlihatkan pada bagan 3.37 Bagan 3.38 Tanggapan Responden tentang Penting/Tidaknya Mengurus IMB

5. Alasan Responden Mengurus IMB Meski 97% responden mengatakan bahwa mengurus IMB itu penting, dalam kenyataannya 104 responden (45,2%) mengatakan bahwa alasan mereka mengurus IMB adalah hanya untuk memenuhi aturan yang berlaku. Sementara ada 13 orang (5,7%) yang mengatakan, alasan mereka mengurus IMB untuk memenuhi syarat pengajuan peminjaman dana. Bagan 3.39 Alasan Responden Mengurus IMB

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

6. Pengetahuan Responden Mengenai Syarat-Syarat Pengurusan IMB Berdasarkan hasil survey, dapat diketahui tingkat pengetahuan responden tentang syarat-syarat pengurusan IMB. Terdapat 0,4% responden tidak memberikan jawaban, 45,4% responden mengetahui syarat-syarat yang dibutuhkan untuk pengurusan IMB dan sebesar 54,3% responden menyatakan tidak tahu tentang syarat mengurus IMB .
Bagan 3.40 Pengetahuan Responden Mengenai Syarat-Syarat Pengurusan IMB

7. Pengetahuan Responden Mengenai Prosedur Pengurusan IMB Kurangnya pengetahuan tentang syarat pengurusan IMB, juga menunjukkan kurangnya tingkat pengetahuan responden akan prosedur pengurusan IMB. Dari 230 responden, 54,3% menyatakan tidak tahu tentang prosedur mengurus IMB. Sedangkan 4,8% responden tidak memberikan jawaban dan hanya 36,5% responden yang disurvey mengetahui prosedur pengurusan IMB. Bagan 3.41 Pengetahuan Responden Mengenai Prosedur Pengurusan IMB

8. Cara yang Digunakan Responden Mengurus IMB Hasil survey menunjukkan 97,4% responden mengatakan bahwa mengurus IMB itu penting, akan tetapi ternyata 89% responden (204 orang), memilih menggunakan jasa penghubung untuk mengurus IMB dan hanya 26 orang responden (11%) yang secara langsung mengurus sendiri.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.42 Cara yang Digunakan Responden Mengurus IMB

B. SYARAT, PROSEDUR & BIAYA PENGURUSAN IMB a) . Responden yang Mengurus IMB Sendiri 1. Waktu Mengurus IMB Dari 26 responden yang mengurus IMB secara langsung (mengurus sendiri) diketahui bahwa kebanyakan dari mereka (77%) menguruskan IMB sebelum membangun dan 7,7% menguruskan IMB setelah membangun dan 3,8% yang lain, menguruskan IMB bersamaan dengan proses membangun. Besarnya prosentasi mengurus IMB sebelum membangun ini di satu sisi menunjukkan bahwa sebagian besar responden yang mengurus IMB secara langsung, tahu tentang syarat dan prosedur mengurus IMB. Bagan 3.43 Waktu Mengurus IMB (bagi responden yang mengurus sendiri)

2. Kendala Pemenuhan Persyaratan Pengurusan IMB Dari 26 responden yang menguruskan IMB secara langsung, 38% menyatakan bahwa syarat yang sulit dipenuhi adalah Gambar Rencana Teknis. Lebih jelasnya dapat dilihat pada grafik 3.19

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Grafik 3.19 Kendala Pemenuhan Persyaratan Pengurusan IMB (bagi responden yang mengurus sendiri)

3. Sulit atau Mudahnya Mengurus Persyaratan Tahapan Proses Pengurusan IMB Walaupun kebanyakan responden menjawab bahwa syarat dan prosedur pengurusan IMB mudah dipenuhi, ternyata dari 9 tahapan pengurusan IMB, lebih dari 69,2% (124 responden) menjawab kesulitan dihadapi pada tahapan pembuatan gambar konstruksi. Hal ini sejalan dengan sulitnya memenuhi syarat pembuatan gambar teknis seperti yang bisa dilihat pada grafik sebelumnya. Grafik 3.20 Sulit atau Mudahnya Mengurus Persyaratan Tahapan Proses Pengurusan IMB

4. Kejelasan Informasi Mengenai Biaya Pengurusan IMB (mengurus sendiri) Dalam survey ini juga, responden ditanyakan tentang apakah cukup jelas/tidaknya informasi yang diberikan oleh BPPT tentang biaya pengurusan IMB. Hasil dari survey 62% responden yang mengurus sendiri IMB, menjawab jelas.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.44 Kejelasan Informasi Mengenai Biaya Pengurusan IMB (mengurus sendiri)

5. Komposisi Biaya yang Harus Dikeluarkan Responden Untuk Mengurus IMB (mengurus sendiri) Dari 26 responden yang menguruskan IMB s ecara langsung, 34,4% responden tidak menjawab saat ditanya masalah total biaya yang dikeluarkan untuk mengurus IMB. Tetapi terdapat 46,5% responden yang mengurus IMB sendiri menyatakan, rata-rata total biaya pengurusan IMB sebesar Rp.1.000.000 s/d Rp.5.000.000 . Grafik 3.21 Komposisi Biaya yang Harus Dikeluarkan Responden Untuk Mengurus IMB (mengurus sendiri)

6. Ada/Tidaknya Pungutan-Pungutan Lain yang Harus Dibayarkan Selain Biaya Resmi (mengurus sendiri) Pertanyaan tentang pungutan tidak resmi menjadi poin pertanyaan penting dalam survey ini, untuk mengukur sejauh mana transparansi atas biaya dan pengelolaan terhadap biaya yang ada ketika warga/masyarakat mengurus IMB. Dari hasil survey, 50% responden menjawab tidak ada pungutan tidak resmi yang dimintakan kepada mereka, 38% responden menjawab ada pungutan liar dan 12% responden memilih tidak memberikan jawaban.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.45 Jawaban Responden Tentang Ada/Tidaknya Pungutan -Pungutan yang Harus Dibayarkan Selain Biaya Resmi (mengurus sendiri)

7. Tahap/Waktu Terjadinya Responden Harus Membayarkan Pungutan Tidak Resmi (mengurus sendiri) Pada pertanyaan No.14, telah diuraikan bahwa ada 38,5% (10 responden) dari total 26 responden yang menguruskan IMB secara langsung, menyatakan masih ada pungutan tidak resmi dalam proses pengurusan IMB. Ketika ditanya pada saat mana pungutan tidak resmi paling sering terjadi, 80% responden dari total 26 orang yang mengurus IMB sendiri, mengatakan bahwa pungutan liar terjadi ketika pengecekan lapangan oleh petugas serta pembuatan gambar situasi dan gambar perencanaan bangunan. Enam puluh persen (60%) responden dari total 26 orang yang mengurus sendiri, menjawab bahwa pungutan liar terjadi ketika proses penetapan biaya retribusi (biaya resmi yang dikenakan). Empat puluh persen (40%) responden dari 26 orang yang mengurus IMB sendiri, menjawab bahwa pungutan liar terjadi saat pembayaran biaya penguru san, penetapan retribusi dan saat pengambilan SK IMB. Detailnya dapat dilihat pada grafik 3.22.

Grafik 3.22 Tahap/Waktu Terjadinya Responden Harus Membayarkan Pungutan Tidak Resmi (mengurus sendiri)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

8. Rata-Rata Pungutan Tidak Resmi yang Harus Dibayarkan Dalam Pengurusan IMB (mengurus sendiri) Meski hanya 10 orang yang menyatakan bahwa terjadi pungutan tidak resmi, ternyata ketika ditanya besaran pungutan tidak resmi tersebut, hanya 70% responden menjawab bahwa besaran biaya pungutan tidak resmi yang harus dibayarkan berkisar dari Rp.1.000.000 - Rp.5.000.000 . Dua puluh persen (20%) responden menjawab pungutan liar yang harus dibayarkan kurang dari Rp.1.000.000 dan terdapat 10% responden yang tidak mau memberikan jawaban. Bagan 3.46 Rata-Rata Pungutan Tidak Resmi yang Harus Dibayarkan Dalam Pengurusan IMB (mengurus sendiri)

9. Lamanya Pengurusan IMB (mengurus sendiri) Survey ini juga mempertanyakan berapa lama waktu pengurusan IMB bagi mereka yang mengurus IMB secara langsung (mengurus sendiri). Dari data responden, 23% menjawab lebih dari 14 hari, 46% menjawab kurang dari 14 hari, sedangkan yang menjawab pas 14 hari hanya sebesar 16% dan masih terdapat 15% responden yang tidak memberikan jawaban. Bagan 3.47 Lamanya Pengurusan IMB (mengurus sendiri)

10. Kepuasan Terhadap Semua Tahapan Pengurusan IMB (Mengurus Sendiri) Ketika ditanya tentang kepuasan responden tentang tahapan pengurusan IMB, sebesar 50% responden menjawab tidak puas , 35% menyatakan puas dan 15% responden tidak memberikan jawaban.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.47.a Pernyataan Kepuasan Responden yang Mengurus IMB Sendiri Terhadap Semua Tahapan Pengurusan IMB (mengurus sendiri)

Lebih lanjut lagi, dari 50% responden yang menyatakan tidak puas, 35% menyatakan ketidakpuasan mereka karena syarat dan proses sulit dipenuhi serta waktunya lama, 26% tidak puas dikarenakan biaya mahal dan terdapat 4% responden yang merasa tidak puas karena petugas tidak kompeten dan tidak ramah. Bagan 3.47.b Alasan Kepuasan dan Ketidakpuasan Responden yang Mengurus IMB Sendiri Terhadap Semua Tahapan Pengurusan IMB (mengurus sendiri)

b) Responden IMB yang Menggunakan Penghubung 1. Jasa Penghubung yang Digunakan Dalam Pengurusan IMB Ketika ditanya siapa penghubung yang digunakan, 37,3% responden menjawab menggunakan Biro Jasa, 24% menggunakan jasa saudara atau teman disusul jasa Pegawai BPPT sebesar 17,6%, Jasa Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya sebesar 13,2% dan penghubung lainnya.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Tabel 3.9 Penghubung yang Digunakan Jasanya Oleh Responden IMB (yang bukan mengurus sendiri)
No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Penghubung Biro Jasa Pegawai BPPT Pengawa Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Aparat Kelurahan/Kecamatan Teman atau Saudara Pengurus RT/RW Petugas Notaris Tidak Menjawab Total Jumlah 76 36 27 3 49 1 11 1 204 % 37,3 17,6 13,2 1,5 24 0,5 5,4 0,5 100

2. Alasan Menggunakan Jasa Penghubung Dari hasil survey terlihat, bahwa penggunaan jasa penghubung dalam mengurus IMB, menunjukkan hal yang umum. Sebagian besar menyampaikan bahwa alasan menggunakan jasa penghubung adalah karena lebih cepat dan murah (48%). Ada juga yang mengatakan karena tidak paham prosedur (26%). Sedangkan responden yang menjawab alasan mereka menggunakan jasa penghubung, karena tidak cukup waktu mengurus sendiri sebesar 24%. Dan yang tidak memberikan jawaban sama sekali atau tidak mau menjawab, sebesar 1%. Bagan 3.48 Alasan Responden Menggunakan Jasa Penghubung Dalam Mengurus IMB

3. Persyaratan yang Diminta Oleh Penghubung Untuk Mengurus IMB (yang bukan mengurus sendiri) Meski menggunakan penghubung, tetap saja berbagai syarat dalam proses pengurusan IMB harus dipenuhi. Syarat-sayarat tersebut dimintakan oleh penghubung kepada setiap responden. Ketika responden yang menggunakan penghubung ditanya berbagai persyaratan yang diminta penghubung, 201 responden (98,5%) menjawab bahwa syarat pertama yang paling tinggi diminta adalah fotocopy KTP pemohon yang masih berlaku, disusul fotocopy bukti kepemilikan tanah (160 orang atau 78,4%).

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Grafik 3.23 Persyaratan yang Diminta Oleh Penghubung Untuk Mengurus IMB (yang bukan mengurus sendiri)

4. Keterlibatan Responden yang Menggunakan Penghubung dalam Tahap Pengurusan IMB (yang bukan mengurus sendiri) Meskipun dari 230 responden, 89% responden (204 orang) mengurus IMB melalui penghubung, tetap saja mereka juga terlibat dalam tahap-tahap tertentu. Dari berbagai pertanyaan yang diajukan ke responden maka diperoleh jawaban bahwa pada semua tahapan proses pengurusan tersebut, responden paling banyak terlibat pada saat melengkapi syarat pengajuan (70%), selanjutnya pada saat pembayaran biaya retribusi (48%) dan pembuatan rencana teknis bangunan (43%). Sedangkan tahap-tahapan pengurusan IMB yang sangat sedikit membutuhkan keterlibatan responden adalah pada saat pengembalian formulir (16%), pengecekan lapangan oleh petugas maupun pembuatan gambar konstruksi untuk gedung bertingkat (26%). Grafik 3.24 Keterlibatan Responden yang Menggunakan Penghubung dalam Tahap Pengurusan IMB (yang bukan mengurus sendiri)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

5. Pengetahuan Responden Biaya yang Dikeluarkan Ketika Menggunakan Jasa Penghubung Hasil survey juga menunjukan bahwa 71% responden yang menggunakan jasa penghubung tidak tahu rincian biaya yang dikeluarkan dalam mengurus IMB dan hanya 28% responden yang tahu tentang rincian biaya dalam mengurus IMB, dan ada 1% responden yang tidak memberi jawaban Bagan 3.49 Pengetahuan Responden Biaya yang Dikeluarkan Ketika Menggunakan Jasa Penghubung

6. Biaya yang Dikeluarkan Ketika Menggunakan Jasa Penghubung Pertanyaan tentang besaran dana yang dikeluarkan oleh responden ketika menggunakan jasa penghubung, kurang banyak ditanggapi oleh responden. Hal ini bisa dilihat dari hasil survey yang menyatakan, 95% tidak menjawab ketika ditanyakan tentang biaya formulir, 94% tidak menjawab ketika ditanyakan tentang biaya retribusi, 88% tidak menjawab ketika ditanyakan tentang biaya adminisitrasi dan biaya gambar. Meski demikian terdapat data yang menyatakan bahwa 60% responden menjawab bahwa total biaya yang dikeluarkan berkisar antara Rp.1.000.0000 Rp.5.000.000. Hal yang menarik bahwa terdapat 1 responden menyatakan bahwa besaran biaya yang ia keluaran ketika mengurus IMB dengan menggunakan penghubung lebih besar dari Rp.20.000.000. Grafik 3.25 Biaya yang Dikeluarkan Ketika Menggunakan Jasa Penghubung

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

7. Lama Pengurusan IMB Ketika Menggunakan Jasa Penghubung Survey ini juga mempertanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan IMB bagi mereka yang mengurus IMB dengan menggunakan jasa penghubung. Dari data responden, tidak ada yang menjawab lebih dari 14 hari, sebaliknya 76% menjawab kurang dari 14 hari, sedangkan yang menjawab pas 14 hari sesuai dengan aturan BPPT, hanya 21% responden namun ada juga yang tidak memberi jawaban (3%). Bagan 3.50 Lama Pengurusan IMB Ketika Menggunakan Jasa Penghubung

8. Kepuasan Pengguna Jasa Penghubung Dalam Mengurus IMB Berdasarkan survey ini, 204 responden menggunakan jasa penghubung dalam mengurus IMB. Hasil survey menyatakan bahwa 76% dari 204 responden ini menyatakan puas ketika menggunakan jasa penghubung, 21% menyatakan tidak puas dan masih terdapat 3% yang tidak memberikan jawaban. Bagan 3.51.a Kepuasan Pengguna Jasa Penghubung Dalam Mengurus IMB

Lebih lanjut, ketika ditanyakan alasan kepuasan 60% menyatakan puas karena syarat dan proses mudah dipenuhi, 35% menyatakan puas karena tepat atau hemat waktu. Namun terdapat pula 37% yang menyatakan tidak puas karena biaya mahal.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.51.b Alasan Kepuasan dan Ketidakpuasan ketika menggunakan Jasa Penghubung

C. Kapasitas & Prilaku Petugas Menurut Responden yang mengurus IMB secara Langsung 1. Tanggapan atas keberadaan Petugas yang Memberi Formulir Permohonan IMB Sebagaimana diuraikan pada bagian awal bahwa terdapat 26 responden yang menguruskan IMB secara langsung. Ketika ditanyakan pengalaman dalam mengurus IMB secara langsung 50% responden menyatakan petugas pemberi formulir selalu berada di tempat, 38% menyatakan petugas pemberi formulir jarang berada di tempat, 12% tidak memberikan jawaban. Bagan 3.52 Tanggapan atas keberadaan Petugas yang Memberi Formulir Permohonan IMB

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

2. Tanggapan Responden Tentang Keramahan Petugas Pemberi dan Penerima Formulir (front office) Ketika ditanya tentang bagaimana sikap petugas front office dalam melayani pemohon, 46% menyatakan bahwa petugas front office menyambut pemohon dengan ramah, 39% menilai petugas front office kurang ramah dan 15% tidak memberikan jawaban. Bagan 3.53 Tanggapan Responden Tentang Keramahan Petugas Pemberi dan Penerima Formulir (front office)

3. Tanggapan tentang Kapasitas Petugas Layanan IMB (terutama front office) Berdasarkan pengalaman responden yang mengurus IMB secara langsung, didapatkan penilaian sebagai berikut 46% responden menyatakan bahwa petugas (terutama front office) kurang mampu memberikan penjelasan yang rinci tentang syarat, prosedur serta biaya dan waktu pengurusan IMB, 39% menilai sebaliknya dan 15% tidak memberikan jawaban. Bagan 3.54 Tanggapan tentang Kapasitas Petugas Layanan IMB (terutama front office)

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

4. Tanggapan atas Kinerja Para Petugas Layanan IMB Sama seperti penilaian tentang kapasitas petugas layanan IMB, para responden juga menilai bahwa kinerja petugas juga masih rendah. Ini terungkap dari hasil penilaian 46% responden yang mengatakan bahwa para petugas tidak dapat memenuhi ketentuan waktu proses pengurusan IMB yang telah ditetapkan hanya 14 hari, dan hanya 39% yang menilai bahwa para petugas dapat memenuhi target kerja 14 hari tersebut. Bagan 3.55 Tanggapan atas Kinerja Para Petugas Layanan IMB

5. Pernyataan Kepuasan Atas Kapasitas maupun Sikap/Perilaku Petugas Layanan IMB Terdapat 46% responden yang menilai bahwa kapasitas dan kinerja petugas masih kurang. Walau demikian ketika ditanya apakah responden puas dengan kualitas pelayanan yang diberikan, 62% tetap menyatakan puas, 19% menyatakan tidak puas dan tetap ada 19% responden tidak mau menyatakan pendapatnya. Bagan 3.56.a Pernyataan Kepuasan Atas Kapasitas maupun Sikap/Perilaku Petugas Layanan IMB

Selanjutnya ketika ditanyakan alasan puas atau tidaknya responden atas kualitas pelayanan IMB (terutama di front office), 52% menyatakan alasan utamanya adalah karena petugas ramah, 39% puas karena petugas dinilai punya kompetensi dalam melaksanakan tugas/pekerjaan tetapi ada pula 9% yang menyatakan puas karena berdasarkan pengalaman mereka, petugas tidak meminta biaya tambahan.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.56.b Pernyataan Kepuasan Atas Kapasitas maupun Sikap/Perilaku Petugas Layanan IMB

D. Sosialisasi (Transparansi) Informasi 1. Pengetahuan atas informasi pengurusan IMB Informasi penting tentang layanan IMB adalah menyangkut syarat, prosedur dan biaya pengurusan IMB. Dari 230 responden yang disurvey, 65,7% menyatakan bahwa mereka tidak tahu tentang syarat, mekanisme dan biaya pengurusan IMB, 33,9% menyatakan bahwa mereka tahu dan masih ada juga yang tidak memberikan jawaban. Grafik 3.26 Pengetahuan atas informasi pengurusan IMB

2. Pernah/Tidaknya Mendapatkan Informasi Tentang Syarat dan Prasyarat atau Mekanisme Pengurusan IMB Mengacu pada pertanyaan tentang pernah tidaknya responden mendapat informasi mengenai syarat dan atau mekanisme pengurusan IMB maka ada 79,1% atau sejumlah 182 responden menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi dan 19,6% menyatakan pernah mendapatkan informasi pengurusan IMB dan 1,3% tidak memberikan jawaban.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Grafik 3.27 Pernah/Tidaknya Mendapatkan Informasi Tentang Syarat dan Prasyarat atau Mekanisme Pengurusan IMB

3. Komposisi Menurut Petugas yang Memberikan Informasi Tentang Layanan Pengurusan IMB Berkaitan dengan pemberian informasi tentang layanan pengurusan IMB maka terlihat sumber informasi bagi warga sangat bervariasi. Dari 45 responden yang pernah mendapatkan informasi, 30,5% responden mengatakan bahwa informasi didapat dari pegawai BPPT, menyusul pegawai Distarcip sebesar 28,8%, selanjutnya aparat pemerintah (camat) sebesar 16,9%, dan lurah sebesar 8,5%, bahkan juga dari LSM sebesar 3,4%.
Grafik 3.28 Komposisi Menurut Petuga s yang Memberikan Informasi Tentang Layanan Pengurusan IMB

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

4.Media yang Menjadi Tempat Untuk Mendapatkan Informasi tentang IMB Hasil survey menunjukan pula bahwa dari 45 orang responden yang pernah mendapatkan informasi tentang IMB, 40,3% responden menyatakan media sosialisasi informasi tentang IMB yang popular adalah surat edaran. Selain itu juga 23,6% responden menyatakan bahwa media lain yang juga efektif adalah pengumuman, dan 11,1% responden menyatakan media yang dijadikan sumber informasi IMB adalah spanduk.
Grafik 3.29 Media yang Menjadi Tempat Untuk Mendapatkan Informasi tentang IMB

5. Intensitas Mendapatkan Informasi IMB Melalui Media Survey ini juga secara detail mengungkap intensitas perolehan informasi dari berbagai media. Menurut pengalaman mereka, informasi melalui surat edaran diterbitkan secara berkala, 42,2% responden menyatakan bahwa informasi melalui surat edaran hanya terbit 1x setahun, dan sebanyak 15,6% responden lainnya menyatakan bahwasanya surat edaran tentang IMB, dikeluarkan pemerintah setiap 6 bulan sekali. Dari 17 responden yang menyatakan informasi IMB mereka dapatkan melalui pengumuman, 13,3% menyatakan bahwa pengumuman tentang IMB hanya muncul 1 x setahun dan sebanyak 11,1% responden lainnya, menyatakan pengumuman tentang IMB dikeluarkan pemerintah setiap 6 bulan sekali. Dari 9 responden yang menyatakan informasi IMB mereka dapatkan lewat Koran lokal, hampir 9% nya menyatakan informasi IMB ada dikoran lokal 1 x setahun, dan 4,4% menyatakan informasi IMB dikoran lokal dimuat sebulan sekali Dari 8 responden yang menyatakan informasi IMB mereka dapatkan lewat spanduk, 6,7% menyatakan spanduk tersebut mereka dapatkan setiap 6 bulan sekali dan 8,9% menyatakan setahun sekali.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Grafik 3.30 Intensitas Mendapatkan Informasi IMB Melalui Media

6. Kelengkapan Informasi yang Disajikan dalam Media-Media Sosialisasi Salah satu problem penting dalam akses informasi adalah tentang kelengkapan informasi yang disampaikan. Seringkali isi berita dalam suatu media tidak cukup lengkap atau juga tidak memenuhi apa yang diharapkan pembaca. Hal ini terungkap juga dari survey. Saat responden ditanya mengenai lengkap tidaknya informasi yang didapat dari media yang merupakan sumber informasi tentang IMB, dari 25 orang yang mendapat informasi lewat surat edaran ternyata 51,1% responden menyatakan surat edaran tidak lengkap. Untuk 17 responden yang mendapatkan informasi dari pengumuman, 11,1% respondennya mengatakan lengkap, tetapi 22,2% menyatakan tidak lengkap. Sementara dari 9 responden yang mendapatkan informasi dari koran lokal, 15,6% respondennya menyatakan informasinya lengkap.
Grafik 3.31 Kelengkapan Informasi yang Disajikan dalam Media-Media Sosialisasi

7. Kepuasan Atas Informasi Yang Diberikan Pemerintah tentang Layanan IMB Dari 20% responden (45 orang) yang pernah mendapatkan informasi tentang layanan IMB, 8,9% menyatakan puas dengan alasan informasi tentang IMB yang mereka dapatkan lengkap dan mudah dipahami dan 71,1% responden menyatakan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

ketidakpuasannya, dikarenakan informasi IMB kurang lengkap, sulit dipahami dan sulit didapatkan Bagan 3.57.a Kepuasan Atas Informasi Yang Diberikan Pemerintah tentang Layanan IMB

Bagan 3.57.b Alasan Puas dan Tidak Puas Atas Informasi Yang Diberikan BPPT tentang Layanan IMB

8. Pendapat Responden Tentang Media Informasi Yang Efektif Untuk Penyebaran Informasi Tentang Layanan IMB Di sisi lain, baik responden yang pernah mendapatkan informasi maupun yang belum pernah mendapatkan informasi, tetap dimintakan pendapatnya tentang media informasi yang menurut mereka efektif untuk penyebaran informasi tentang layanan IMB. Ketika ditanya pendapat responden tentang media informasi yang paling efektif untuk penyebaran informasi tentang layanan IMB maka 80% responden (184 orang) memilih koran lokal sebagai media yang paling efektif, mobile service/drive through sebanyak 58,3% (134 orang), disusul radio lokal sebanyak 49,6% responden (114 orang) dan spanduk sebanyak 43,5% responden (100 orang) .

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Grafik 3.32 Pendapat Responden Tentang Medi a Informasi Yang Efektif Untuk Penyebaran Informasi Tentang Layanan IMB

E. Mekanisme Pengaduan Masyarakat 1. Pernah/Tidaknya Warga Memberikan Pengaduan Tentang Layanan IMB Hal menarik yang perlu menjadi perhatian dari hasil survey ini adalah tentang pernah tidaknya warga memberikan pengaduan tentang layanan IMB. Dari total 230 responden yang disurvey, ternyata hanya 8 orang (3%) yang pernah menyampaikan pengaduan tentang layanan IMB dan sebaliknya 93,5% responden (215 orang) tidak pernah menyampaikan pengaduan dan terdapat 3% responden yang tidak dapat memberikan jawaban tentang pernah atau tidak menyampaikan pengaduan. Bagan 3.58 Pernah/Tidaknya Warga Memberikan Pengaduan Tentang Layanan IMB

2. Pendapat Responden Tentang Tahapan Mana Saja Pengaduaan Layanan Pengurusan IMB Diajukan Meski hanya 8 orang yang pernah memberikan pengaduan tentang layanan IMB terpetakan bahwa pengaduan paling besar disampaikan pada tahapan melengkapi persyaratan pengajuan IMB, pengecekan lapangan oleh petugas dan saat pengambilan SK IMB, masing masing sebanyak 37,5% responden.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Grafik 3.33 Pendapat Responden Tentang Tahapan Mana Saja Pengaduaan Layanan Pengurusan IMB Diajukan

3. Jawaban Responden tentang Cara Menyampaikan Pengaduan yang Pernah Mereka Lakukan Dari semua responden yang mengatakan pernah menyampaikan pengaduan, hampir semuanya (75%) disampaikan secara langsung (lisan) kepada petugas perizinanan, selanjutnya 12,5 % responden menyampaikan melalui kotak saran, dan sisanya tidak memberikan jawaban. Hal ini juga menunjukkan bahwa hingga kini belum ada media pengaduan yang memudahkan masyarakat menyampaikan pengaduan.
Bagan 3.59 Jawaban Responden tentang Cara Menyampaikan Pengaduan yang Pernah Mereka Lakukan

4.Tingkat Penyelesaian Masalah Setelah Warga Menyampaikan Pengaduan. Ketika responden yang pernah menyampaikan pengaduan ditanya, apakah ada penyelesaian masalah yang diadukan, secara umum hampir semua pengaduan yang disampaikan tidak terselesaikan. Hanya sebagian kecil yang dapat diselesaikan, terutama pada tahap pengambilan SK IMB, 50% warga yang mengadukan masalah pada tahap ini menyatakan bahwa masalahnya terselesaikan. Sedangkan pada

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

tahapan-tahapan pengurusan IMB lainnya, lebih dari 50% menilai bahwa masalah yang diadukan tidak terpecahkan. Grafik 3.34 Tingkat Penyelesaian Masalah Setelah Warga Menyampaikan Pengaduan

5. Pengalaman tentang Lamanya Waktu Penyelesaian Masalah yang Diajukan Dalam Pengurusan IMB Kebanyakan responden (37,5%) yang pernah menyampaikan pengaduan menyatakan bahwa masalah yang diadukan baru terselesaikan, setelah mereka menunggu 1 - 3 bulan. 12,5% mengatakan permasalahan terselesaikan antara 3 - 6 bulan dan >1 tahun. Meski demikian ada 12,5% responden juga mengatakan kasus mereka terselesaikan dalam waktu kurang dari 1 bulan.
Bagan 3.60 Lamanya Waktu Penyelesaian Masalah yang Diajukan Dalam Pengurusan IMB

6. Kepuasan Atas Tanggapan Pengaduan Dari hasil survey juga terungkap bahwa walaupun hanya 3,5% responden yang memberikan pengaduan ada yang merasa puas dan ada juga yang merasa tidak puas. 50% responden mengatakan tidak puas karena tanggapan yang lambat, 37,5% mengatakan puas karena masalah mereka terselesaikan.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.61.a Kepuasan Atas Tanggapan Pengaduan

Bagan 3.61.b Alasan Puas dan Tidak Puas Atas Tanggapan Pengaduan F. Tambahan Selain pertanyaan-pertanyaan berdasarkan indikator yang telah dirumuskan bersama antara provider dan konsumen dalam penyelenggaraan layanan IMB, survey ini juga menambahkan beberapa pertanyaan seperti perlu - tidaknya persetujuan tetangga dalam mengurus IMB, perlu - tidaknya jasa konsultasi dalam pengurusan IMB, tercakup di dalamnya pada tahapan mana sebaiknya konsultasi dilakukan, bentuk dan tempat konsultasi serta pihak-pihak yang dapat dijadikan narasumber untuk konsultasi. Perlu/Tidaknya Persetujuan Tetangga Dalam Pengurusan IMB Berdasarkan hasil survey terungkap bahwa mayoritas responden (70% atau 162 responden) menyatakan perlu adanya persetujuan tetangga dalam pengurusan IMB, dan hanya 29% (66 orang) yang menyatakan tidak perlu persetujuan tetangga dalam pengurusan IMB. 1.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Bagan 3.62 Perlu/Tidaknya Persetujuan Tetangga Dalam Pengurusan IMB

Perlu/Tidaknya Jasa Konsultasi Pertanyaan tentang perlu atau tidak perlunya jasa konsultasi ini muncul karena dari hasil survey, terungkap pula bahwa masih ada warga (dalam hal ini responden) belum memahami syarat dan prosedur pengurusan IMB. Ketika ditanyakan apakah dibutuhkan jasa konsultasi, 70% atau sekitar 162 responden menyatakan tidak memerlukan jasa konsultasi dalam mengurus IMB, tetapi ada sekitar 28% (64 orang) menyatakan tetap perlu ada jasa konsultasi. Bagan 3.63 Perlu/Tidaknya Jasa Konsultasi

2.

3.

Pada Tahapan Mana Konsultasi Diperlukan 28% responden (64 orang) yang mengatakan perlu jasa konsultasi dalam mengurus IMB, menyampaikan pula tentang pada tahapan mana konsultasi dibutuhkan. Menurut para responden ini, konsultasi dibutuhkan hampir semua tahapan namun terdapat beberapa tahapan yang menurut mereka penting. Hal ini ditunjukkan dari banyaknya responden yang memilih pada tahapan mana konsultasi dibutuhkan. 81% membutuhkan konsultasi pada tahapan perhitungan d an penetapan biaya retribusi, 80% memilih tahapan pengecekan lapangan oleh petugas, 78% pada tahapan pembuatan gambar teknis, 77% pada tahap pembuatan gambar konstruksi baja/beton untuk gedung bertingkat, 70% pada tahap melengkapi persyaratan pengajuan, 58% pada tahapan pembayaran biaya pengurusan dan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

retribusi. Menurut para responden ini juga, tahapan yang tidak terlalu membutuhkan konsultasi adalah pada tahap pengambilan dan pengisian formulir maupun pada saat pengambilan SK IMB (31%). Secara lengkap dapat dilihat pada bagan berikut Grafik 3.35 Pada Tahapan Mana Konsultasi Diperlukan

Usulan Tentang Bentuk Konsultasi Ketika para responen ditanyakan tentang bentuk konsultasi seperti apa yang diharapkan, 67% responden memilih bentuk konsultasi tatap muka langsung dengan petugas, sementara 14,1% memilih konsultasi melalui surat, 3% memilih bentuk konsultasi melalui SMS/telepon dan sisanya tidak memberikan jawaban Bagan 3.64 Usulan Tentang Bentuk Konsultasi

4.

5.

Jasa Konsultasi yang Dapat Digunakan Berkenaan dengan jasa konsultasi dalam layanan pengurusan IMB ini, dari 64 responden yang menyatakan perlu ada konsultasi, kebanyakan dari mereka (56%) memilih pegawai BPPT sebagai narasumber yang tepat untuk berkonsultasi,

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

selebihnya 16% memilih pegawai tata ruang kota dan dinas cipta karya serta konsultan perumahan sebagai narasumber yang tepat untuk berkonsultasi. Bagan 3.65 Jasa Konsultasi yang Dapat Digunakan

6.

Pemilihan Tempat Konsultasi Selanjutnya ketika ditanyakan tentang tempat konsultasi, 56% responden memilih Kantor BPPT sebagai tempat konsultasi yang tepat, 16% menunjuk Kantor Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya, 9% menunjuk kantor kelurahan dan hanya 3% yang menunjuk kantor kecamatan sebagai tempat konsultasi IMB dan perijinan lain Bagan 3.66 Pemilihan Tempat Konsultasi

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

BAB IV PENINGKATAN KUALITAS LAYANAN PROGRAM BANTUAN SISWA MISKIN (BSM)/BAWAKU SEKOLAH DAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN (IMB)
4.1. Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah
Sebagaimana yang telah dikemukakan pada BAB I, bahwa Metode Survey CRC merupakan salah satu metode penelitian dengan tujuan mengukur kualitas layanan publik yang diselenggarakan oleh badan publik selaku penyedia layanan publik lewat wawancara langsung dengan warga/masyarakat yang mendapatkan atau pengguna langsung dari suatu layanan publik. Tujuan utama dari survey menggunakan Metode CRC, adalah memberi masukan kepada badan publik selaku penyedia layanan public bagi perbaikan kualitas layanan, sehingga warga/masyarakat yang mendapatkan atau pengguna layanan public meras puas atas layanan yang tersedia atau diterima mereka. Hasil survey menggunakan Metode CRC, merupakan diagnosa awal yang wajib ditindaklanjuti lewat intermediasi yang dilakukan peneliti dengan badan publik yang menjadi locus dari pada survey dan warga/masyarakat yang mendapatkan manfaat (benefit) atau pengguna langsung dari layanan publik. Hasil dari survey menggunakan Metode CRC, juga dapat dijadikan kerangka advokasi kebijakan dalam upaya perbaikan layanan publik. Survey Citizen Report Card (CRC) terhadap pelaksanaan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, dilakukan guna mengukur kualitas dan ketepat sasaran dari program yang merupakan kebijakan dari Pemerintah Kota Bandung sebagai upaya meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Bandung lewat Sektor Pendidikan (sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Bandung Tahun 2009 2013). Dikarenakan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah adalah kebijakan Pemerintah Kota Bandung, maka sumber pendanaan bagi program ini berasal dari alokasi dana pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bandung yang dikeluarkan tiap Tahun Anggaran. Dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, sifatnya merupakan dana hibah dengan tujuan membantu biaya pendidikan bagi siswasiswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II), yang akan melanjutkan pendidikan atau sedang mengikuti pendidikan pada jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) di Kota Bandung. Penyaluran dari dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung kepada SMA/MA/SMK Negeri/Swasta yang ada di Kota Bandung, sesuai dengan kuota siswa miskin yang telah ditetapkan oleh Dinas. Survey CRC terhadap pelaksanaan atau penyaluran dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, dilakukan kepada dua kelompok responden, yaitu: pihak sekolah yang mendapatkan dana bantuan pendidikan dari program ini sebagai pengelola dana dan orang tua siswa miskin sebagai penerima dana bantuan pendidikan dari program ini. Survey CRC kepada orang tua siswa

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

miskin yang putra-putrinya menerima dana bantuan pendidikan dari program, dilakukan untuk: 1. Mengkonfirmasi ulang jawaban-jawaban yang telah diberikan oleh responden pihak sekolah 2. Mengetahui sejauh mana pengetahuan dari responden pihak orang tua siswa miskin mengenai program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. 3. Mengetahui sejauh mana pihak responden orang tua siswa miskin dilibatkan dalam pengelolaan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. 4. Mengetahui seberapa besar manfaat yang dirasakan oleh responden orang tua siswa miskin akan dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, khususnya untuk mengurangi beban dari orang tua siswa miskin untuk pengeluaran pembiayaan pendidikan putra-putri mereka yang akan atau sedang menempuh pendidikan jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) Di Kota Bandung 5. Ada/Tidaknya potongan atau pungutan yang dilakukan pihak sekolah kepada responden orang tua siswa miskin terhadap dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Beberapa catatan dari rekan-rekan surveyor pada Survey CRC terhadap pelaksanaan dan penyaluran dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang dapat menjadi bahan untuk ditindaklanjuti, antara lain:

4.1.1. Beberapa Catatan dari Responden Pihak Sekolah
Pertama, secara umum responden pihak sekolah (kepala sekolah, wakil kepala sekolah, bagian tata usaha sekolah dan wali kelas) menunjukkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, terkait dengan pelaksanaan sosialisasi, penyampaian informasi, prosedur dan mekanisme program. Namun demikian, catatan penting untuk menjadi bahan perbaikan adalah pada aspek materi sosialisasi, di mana banyak responden pihak sekolah tidak pernah tahu, atas dasar apa Dinas Pendidikan Kota Ban dung menetapkan kuota siswa miskin penerima bantuan dana pendidikan, setiap tahunnya. Ketika beberapa pihak sekolah mencoba menanyakan hal tersebut, Dinas Pendidikan Kota Bandung tidak bisa memberikan penjelasan. Selain hal diatas, yang juga menjadi catatan penting terkait dengan materi sosialisasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, adalah mengenai jadwal pencairan dana dari program oleh pihak Dinas Pendidikan Kota Bandung. Dimana setiap pelaksanaan sosialisasi mengenai dana bantuan dari program ini yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung kepada pihak sekolah, baik lewat rapat maupun lewat surat edaran, tidak pernah tersampaikan atau tertuliskan jadwal pasti dari pencairan dana dari program ini Kedua, terkait dengan implementasi proses dan persyaratan siswa miskin penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, dimana beberapa responden pihak sekolah mengeluhkan tentang pendeknya jangka waktu yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung terkait pengajuan dan penyerahan proposal beserta syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pihak sekolah

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

untuk menerima bantuan dana pendidikan dari program ini. Hal tersebut khususnya sangat terasa pada saat pendataan siswa miskin yang baru masuk disaat Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) awal Tahun Ajaran. Sementara sesuai dengan Petunjuk Teknis mengenai Penyaluran Dana Hibah Pendidikan yang di keluarkan Dinas Pendidikan Kota Bandung (program Bantuan Siswa Miskin/BAWAKU Sekolah tercantum didalamnya), tiap -tiap sekolah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) diwajibkan menerima siswa miskin melalui jalur PPDB non akademik dan diwajibkan untuk melakukan verifikasi lapangan dari data siswa miskin yang mendaftar pada saat PPDB atau pun yang telah bersekolah, sebelum pihak sekolah mengajukan proposal untuk menerima dana bantuan pendidikan dari program ini. Ketiga, pada aspek kuota siswa miskin, mekanisme penentuan kuota siswa miskin merupakan kewenangan sepihak dinas pendidikan sehingga tidak mengherankan jika banyak responden sekolah yang menyatakan ketidakpuasannya terhadap kuota siswa miskin yang diberikan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Sebagian besar sekolah menyatakan bahwa hampir separuh dari siswa miskin yang bersekolah di sekolah mereka, tidak mendapatkan dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Ini dikarenakan tidak semua data siswa-siswa miskin yang diajukan pihak sekolah untuk mendapatkan dana bantuan program ini, disetujui oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung. Sementara ketika pelaksanaan focus group discussion (FGD) dengan pihak Dinas Pendidikan Kota Bandung, sebelum pelaksanaan Survey CRC ini, terungkap alasan yang menyebabkan kuota siswa miskin yang mendapat bantuan dana program ini, tiap tahunnya berbeda-beda, dikarenakan keterlambatan pihak sekolah dalam mengajukan data siswa miskin dan proposal permohonan sebagai penerima bantuan dana pendidikan dari program ini, ke Dinas Pendidikan Kota Bandung. Misalnya: peruntukan program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah bagi siswa-siwa SMA/MA Tahun Ajaran 2009 2010 sebanyak 10.000 siswa, sementara pada Tahun Ajaran tersebut dana yang terserap hanya kepada 6000 siswa. Maka pada Tahun Ajaran 2010 2011, terjadi pengurangan anggaran dari APBD Kota Bandung di tahun yang sama untuk alokasi dana bagi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Tentunya hal tersebut menjadi kontradiktif dengan kondisi sesungguhnya yang terjadi di setiap sekolah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta Kota Bandung), di mana jumlah siswa miskin yang bersekolah di hampr setiap sekolah bertambah dan masih masih banyaknya siswa miskin yang tidak tercover melalui dana bantuan pendidikan dari program ini. Keempat, terkait dengan ketidak jelasan/pastian jadwal pencairan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, setidaknya, ada dua implikasi yang memberikan peluang kesalahan dalam pengelolaan dana bantuan pendidikan dari program ini, yaitu: 1. Keterlambatan pencairan dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, mengakibatkan pihak sekolah tidak dapat mengelola dana tersebut sesuai dengan rencana anggaran kegiatan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

sekolah atau bahkan tidak dapat memasukkan dana tersebut ke dalam rencana anggaran. Akibatnya peruntukkan dan detail penggunaan dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, seringkali tidak tercatat. Sementara dalam sistem pengelolaan keuangan sebuah badan publik (termasuk sekolah), wajib semua komponen anggaran yang bersumber dari APBN/APBD atau langsung dari masyarakat sekalipun, tercatat/masuk dalam rencana anggaran dan kegiatan, sehingga akuntabilitas penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan Namun demikian, dalam Survey CRC sektor pendidikan kali ini, belum di kaji lebih jauh apakah dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah sudah tercatatkan/masuk pada Rencana Anggaran dan Kegiatan Sekolah (RAKS) dan Anggran Pendapatan dan Belanja Sekolah (APBS). 2. Dari wawancara mendalam dan FGD dengan perwakilan pihak sekolah pra survey, diperoleh informasi bahwa beberapa sekolah harus sudah menyelesaikan pelaporan keuangan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah pada Bulan Desember, meskipun dana tersebut baru cair. Bahkan ada beberapa sekolah yang harus sudah menyelesaikan pelaporan sebelum dananya cair. Jika demikian, indikasi ketidaksesuaian alokasi anggaran dengan penggunaan dan pelaporannya sangat mungkin terjadi, dan hal tersebut memberikan peluang terjadinya praktik manipulasi data. Kelima, terkait dengan adanya syarat melampirkan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM), sebagai syarat wajib bagi orang tua siswa miskin (keluarga pra sejahtera I dan II) yang ingin putra-putrinya terdaftar dalam daftar calon penerima dana bantuan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, beberapa responden pihak sekolah ketika melakukan verifikasi data siswa baru yang masuk lewat jalur non akademis (siswa miskin dan berprestasi), menemukan fakta beberapa data siswa miskin yang mendaftar dan menyerahkan SKTM, bukanlah berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II). Temuan tersebut terjadi, dikarenakan beberapa orang tua siswa melakukan suap kepada pihak RT atau RW tempat mereka berdomisili, agar mereka bisa mendapatkan persetujuan dari RT atau RW untuk mendapatkan SKTM. Cara tersebut ditempuh oleh beberapa orang tua siswa, agar putra-putri mereka bisa masuk SMA/MA/SMK Negeri tanpa harus melewati seleksi akademik

4.1.2. Beberapa Catatan dari Responden Orang Tua Siswa Penerima Dana Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah
Survey CRC yang dilakukan kepada orang tua siswa penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah didasarkan pada data yang dimiliki/tersedia di sekolah yang menjadi sampel penelitian. Dari masing-masing sampel sekolah, diambil 2 - 3 sampel orang tua siswa penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah untuk diwawancara responden terkait dengan program. Secara umum, responden orang tua siswa yang putra-putrinya menerima dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, menyatakan tidak mengalami

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

kesulitan terkait dengan pengurusan syarat untuk menerima dana dari program ini, mulai dari pengurusan Surat Keterengan Tidak Mampu (SKTM) sampai pada pencairan dana yang alokasi peruntukkannya kewenangan pihak sekolah. Namun demikian, ada beberapa catatan yang perlu mendapat kajian lebih jauh antara lain: Pertama, lebih dari 50% orang tua siswa yang putra-putrinya menerima dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, tidak dilibatkan secara langsung dari mulai tahap sosialisasi sampai dengan pengelolaan dan peruntukkan dana dari program bantuan pendidikan ini oleh pihak sekolah. Akibatnya lebih dari 50% responden orang tua siswa yang putra-putrinya mendapat dana bantuan dari program ini, tidak paham mengenai mekanisme atau proses penyaluran dana bantuan pendidikan dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Selama ini pihak sekolah hanya sebatas melibatkan pihak orang tua dari siswa miskin, disaat mereka harus mengurus SKTM dan syarat lain yang dibutuhkan agar anaknya terdaftar dalam daftar siswa miskin yang akan diajukan pihak sekolah untuk mendapatkan dana bantuan pendidikan da ri program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah. Bahkan beberapa responden dari orang tua siswa yang putra-putrinya mendapatkan bantuan dana dari program ini, dilibatkan pihak sekolah sebatas untuk menandatangani berkas (surat kuasa), ketika dana bantuan sudah cair (masuk rekening sekolah). Memang dalam petunjuk pengelolaan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, dijelaskan bahwa kewenangan pengelolaan dana berada di pihak sekolah dan tidak ada dana yang diberikan secara langsung kepada orang tua siswa. Namun, di sisi lain tanpa keterlibatan dan informasi yang memadai tentang penggunaan dana tersebut menimbulkan pertanyaan yang mengarah pada kecurigaan tentang penyalahgunaan/penyimpangan penggunaan dana dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah oleh pihak sekolah. Kedua. Memang tidak ada dari 50% lebih responden orang tua yang tidak paham atau memiliki pengetahuan dalam mengenai pengelolaan dan peruntukkan dana program bantuan ini yang mempermasalahkan kurangnya informasi dan keterlibatan mereka ke pihak sekolah. Akan tetapi ini menunjukkan rendahnya tingkat koordinasi dan komunikasi antara sekolah, komite sekolah dan orang tua siswa. Padahal sebagai salah satu kebijakan publik yang ditujukan bagi peningkatan pemerataan akses pendidikan bagi siswa miskin, seharusnya menjadi informasi terbuka yang dipahami oleh semua pihak terkait. Ketiga, 50% responden orang tua siswa miskin yang putra-putrinya mendapatkan dana bantuan program ini, menyatakan, bahwasannya dengan besaran dana Rp. 1000.000/siswa/tahun untuk tingkat SMA/MA dan Rp. 1.500.000/siswa/tahun untuk tingkat SMK, belumlah memberikan dampak berarti untuk mengurangi beban biaya pendidikan putra -putri mereka yang setahunnya bisa mencapai Rp. 2.400.000

4.2. Layanan Izin Mendirikan Bangunan (IMB)
Citizen Report Card (CRC) untuk menilai pelaksanaan kebijakan Izin Mendirikan Bangunan (IMKB) pada 9 WP/WB Kota Bandung, dengan responden adalah warga/masyarakat Kota Bandung yang mengajukan IMB pada Tahun 2009. Secara umum terdapat beberapa hal yang dapat dijadikan catatan ke depan.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pertama, mengenai pemahaman warga/masyarakat tentang layanan IMB. Berdasarkan hasil survey, meski hampir semua responden (97%) mengatakan bahwa mengurus IMB itu penting, namun pada kenyataaannya alasan terbesar warga/masyarakat mengurus IMB adalah hanya untuk memenuhi aturan yang berlaku guna menjamin keamanan bangunan atau karena harus memenuhi salah satu syarat, ketika ingin meminjam uang ke bank. Hanya sebagian kecil saja yang mengurus IMB atas kesadaran sendiri. Lebih jauh lagi, terungkap bahwa kebanyakan responden kurang mengetahui kebijakan layanan IMB, apalagi terkait dengan kebijakan atau aturan daerah mengenai Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) Kota Bandung. Kurangnya pemahaman warga/masyarakat tentang layanan IMB ini terlihat dari prosentasi pengetahuan warga/masyarakat tentang syarat dan prosedur menguruskan IMB. Hampir 60% responden menyatakan tidak tahu tentang syarat dan prosedur menguruskan IMB. Implikasinya banyak warga/masyarakat (89%), yang menggunakan jasa penghubung/calo dalam mengurus IMB. Hal menarik lain yang juga perlu diperhatikan terkait dengan memanfaatkan jasa penghubung/calo dalam mengurus IMB oleh responden Survey CRC, adalah mengenai komposisi pihak penghubung/calo yang digunakan. Secara berurutan, pihak penghubung/calo yang paling banyak dimintakan bantuan oleh warga/masyarakat dalam mengurus IMB, adalah biro jasa, teman atau saudara, pegawai Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung, serta pegawai Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya (Distarcip) Kota Bandung. Keberadaan pihak pegawai Badan Pelayanan Perijinan Terpadu (BPPT) dan Distarcip Kota Bandung sebagai penghubung menimbulkan pertanyaan tentang kejelasan tugas pokok dan fungi kedua lembaga ini. Kedua. Terkait dengan syarat dan prosedur menguruskan IMB. Penilaian tentang syarat dan prosedur mengurus IMB ini dibedakan menjadi dua sesuai dengan cara yang dipilih oleh responden, yakni mengurus sendiri atau menggunakan jasa penghubung. a) Penilaian Oleh Responden yang Mengurus IMB Secara Langsung (sendiri) Menurut responden yang mengurus IMB secara langsung, syarat dan tahapan yang sulit dalam mengurus IMB adalah syarat gambar teknis atau tahapan pembuatan gambar konstruksi. Dalam kesempatan FGD saat perumusan indikator untuk pertanyaan survey, pihak BPPT Kota Bandung menyatakan bahwa sesuai aturan yang telah ditetapkan, setiap pemohon IMB wajib melampirkan gambar teknis atau gambar konstruksi. Namun, pihak BPPT Kota Bandung tidak menyediakan layanan urusan gambar teknis, melainkan kewenangan ada pada Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung. Sementara untuk pengajuan permohonan mengurus IMB, pemohon harus terlebih dahulu menyelesaikan urusan gambar teknis di Distarcip Kota Bandung, sebelum semua berkas persyaratan diajukan ke BPPT Kota Bandung. Hal penting yang juga perlu diperhatikan adalah mengenai masih adanya pungutan tidak resmi yang berkisar antara Rp.1.000.000 Rp.5.000.000. Kenyataan ini perlu diantisipasi karena menurut responden yang mengurus IMB secara langsung, pungutan tidak resmi ini sering terjadi

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

pada beberapa tahapan proses pengurusan IMB terutama pada pengecekan lapangan oleh petugas, pembuatan gambar rencana teknis dan gambar konstruksi dan tahap melengkapi persyaratan pengajuan permohonan IMB. Berbagai penilaian oleh responden yang menguruskan IMB secara langsung, bermuara pada pernyataan kepuasan atas kualitas layanan IMB. Berdasarkan survey ini 50% responden yang menguruskan IMB secara langsung menyatakan tidak puas terhadap tahapan pengurusan IMB . b) Penilaian Oleh Responden yang Menguruskan IMB melalui Jasa Penghubung /Calo Alasan terbesar responden menggunakan jasa penghubung adalah karena lebih cepat dan murah (48%). Padahal hasil survey ini juga mengungkap bahwa biaya yang dikeluarkan oleh mereka yang menggunakan jasa penghubung, tidak jauh berbeda dengan mereka yang mengurus sendiri yakni berkisar dari Rp.1.000.000 - Rp.5.000.000. Di pihak lain, kebanyakan responden yang menggunakan jasa penghubung sama sekali tidak tahu tentang rincian biaya yang mereka keluarkan ketika menggunakan jasa penghubung. Bahkan ada salah seorang responden yang harus mengeluarkan biaya sebesar Rp.20.000.000 untuk pengurusan IMB tanpa ia mengetahui untuk apa saja dana tersebut digunakan oleh pihak penghubung. Meski demikian, rata-rata responden yang menggunakan jasa penghubung (76%) menyatakan puas atas kemudahan yang diperoleh ketika menggunakan penghubung dalam mengurus IMB. Perbedaan kepuasan antara responden yang mengurus sendiri dan yang menggunakan jasa penghubung menunjuk pada kenyataan bahwa responden yang mengurus sendiri lebih banyak mengalami kesulitan daripada yang menggunakan jasa penghubung. Hal ini patut mendapat catatan untuk arah perubahan ke depan. Bahwasanya penggunaan jasa penghubung di satu pihak bisa saja masih dibutuhkan, namun idealnya harus lebih banyak warga yang dapat mengurus IMB secara langsung. Dalam hal ini, meski banyak responden yang menggunakan jasa penghubung menyatakan puas tetapi sesungguhnya hal ini tidak bisa dijadikan ukuran kepuasan atas kualitas pelayanan dari BPPT Kota Bandung. Justru, pernyataan tidak puas dari 50% responden yang mengurus IMB secara langsung, harus menjadi titik awal untuk mendorong perubahan dan perbaikan atas proses pelayanan IMB di BPPT Kota Bandung. Ketiga. Sejalan dengan ketidakpuasan responden yang mengurus IMB secara langsung, kapasitas petugas layanan IMB (front office) di kantor BPPT Kota Bandung juga dinilai masih kurang mampu memberikan penjelasan yang rinci tentang syarat, prosedur, biaya dan waktu pengurusan IMB. Penilaian tentang kapasitas dan perilaku petugas (front office) ini, didasarkan pada tanggapan responden yang mengurus IMB secara langsung, dan sesuai dengan pengalaman mereka dalam mengurus IMB. Artinya, ke depan masih dibutuhkan upaya peningkatan kinerja petugas, terutama di front office Kantor BPPT Kota Bandung Keempat, terkait dengan sosialisasi kebijakan layanan IMB, terdapat beberapa catatan yang harus menjadi perhatian ke depan. Sejalan dengan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

penjelasan di bagian awal bahwa lebih dari 60% responden tidak tahu tentang syarat dan prosedur pengurusan IMB dan ternyata lebih dari 71% responden tidak pernah mendapatkan sosialisasi informasi tentang layanan IMB. Di sisi lain, dalam FGD perumusan indikator pertanyaan survey dengan pihak BPPT Kota Bandung, mereka menyampaikan bahwa sosialisasi tentang layanan IMB sudah sangat sering dilakukan. Pernyataan pihak BPPT ini bertolak belakang dengan hasil survey, dimana hanya 19% responden yang menyatakan pernah mendapatkan sosialisasi informasi. Sementara dari hasil survey tentang media sosialisasi yang paling sering digunakan oleh BPPT Kota Bandung adalah surat edaran. Sementara menurut para responden yang pernah mendapatkan sosialisasi informasi, surat edaran yang mereka terima tidak memuat seluruh informasi tentang layanan IMB secara lengkap. Hal ini diperkuat juga oleh tanggapan responden yang pernah mendapatkan sosialisasi tentang layanan IMB, ternyata 71% menyatakan tidak puas. Fenomena diatas, semestinya menjadi catatan untuk perbaikan kerangka proses sosialisasi kebijakan. Perbaikan harus mencakup pilihan media, kelengkapan materi sosialisasi dan intensitas sosialisasi. Kelima, terkait tentang mekanisme pengaduan dan kebutuhan konsultasi. Berdasarkan hasil survey ternyata dari total responden yang disurvey, hanya 3% yang pernah menyampaikan pengaduan tentang masalah layanan IMB. Minimnya pengaduan ini tentu disebabkan oleh banyak hal antara lain, belum tersedianya mekanisme pengaduan yang mudah bagi warga dan lemahnya pemahaman warga tentang pengaduan sebagai sebuah bentuk kontrol atas pelayanan yang diberikan oleh badan publik (BPPT Kota Bandung) . Pengembangan mekanisme pengaduan ini sejalan tuntutan kebijakan pokok tentang pelayanan publik. Dalam pasal 35 Undang-undang No. 25 Tahun 2008 tentang Pelayanan Publik, disebutkan bahwa pengawasan eksternal atas penyelenggaraan pelayanan publik dilakukan melalui berbagai cara, termasuk di dalamnya adalah pengawasan oleh masyarakat. Pengawasan oleh masyarakat, berupa laporan atau pengaduan masyarakat akan penyelenggaraan pelayanan publik. Sejalan dengan hal ini juga, hasil survey juga menunjuk pada adanya kebutuhan jasa konsultasi dalam mengurus IMB. Dari total responden yang disurvey, terdapat 28% (64 orang) yang menyatakan jasa konsultasi ini diperlukan warga agar pengurusan IMB bisa berjalan dengan lancar. Bahkan menurut mereka pula, pihakpihak yang dapat dijadikan sebagai tempat konsultasi antara lain pegawai BPPT, pegawai Distarcip dan konsultan ahli di bidang perumahan dan permukiman. Dalam hal ini pihak BPPT dan Distarcip dapat mengembangkan mekanisme pengaduan yang juga mengintegrasikan fungsi konsultasi. Dengan demikian, pegawai BPPT dan Distarcip tidak lagi menjadi penghubung tidak resmi/calo, tetapi sebaliknya dapat memberikan bantuan konsultasi dan penanganan pengaduan secara resmi.

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

BAB V KERANGKA ADVOKASI UNTUK PERBAIKAN PELAYANAN PROGRAM BANTUAN SISWA MISKIN (BSM)/BAWAKU SEKOLAH DAN IZIN MENDIRIKAN BANGUNAN DI KOTA BANDUNG
5.1. Pokok-Pokok Rekomendasi
5.1.1. Rekomendasi untuk Perbaikan Layanan Program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/Bawaku Sekolah
1. Intensitas dan frekuensi dari sosialisasi program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung kesetiap jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) di Kota Bandung perlu ditingkatkan, agar tidak terjadi perbedaan persepsi dalam pelaksanaan (implementasi) dan pengelolaan program dana bantuan pendidikan ini di masing-masing sekolah. 2. Media/cara yang digunakan untuk sosialisasi pun harus lebih variatif dan menjangkau semua pihak, termasuk warga/masyarakat di Kota Bandung. Sebaiknya sosialisasi tentang program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah (juga program-program bantuan pendidikan lainnya), bukan hanya lewat rapat antara Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan kepala sekolah/wakil kepala sekolah/perwakilan dari tiap-tiap jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) di Kota Bandung atau hanya dengan Surat Edaran Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung kepada masingmasing jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta). Akan tetapi Dinas Pendidikan Kota Bandung, bisa mengadakan pencetakan buku petunjuk teknis mengenai program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah (termasuk juga program bantuan pendidikan lainnya) dan mendistribusikannya ke masing-masing jenjang pendidikan menengah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) yang ada di Kota Bandung. Selain itu Dinas Pendidikan Kota Bandung bisa memanfaatkan kerjasama dengan media massa (cetak maupun elektronik) atau menampilkan penjelasan lengkap mengenai program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah (termasuk program bantuan pendidikan lainnya) di website Dinas Pendidikan Kota Bandung, sehingga informasi keberadaan program, mekanisme penyaluran dan peruntukkan dari Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah (termasuk program bantuan pendidikan lainnya) dapat diakses atau diketahui oleh seluruh warga/masyarakat Kota Bandung. 3. Intensitas dan frekuensi sosialisasi dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah (termasuk program bantuan pendidikan lainnya) wajib dilaksanakan oleh masing-masing pihak sekolah (SMA/MA/SMK Negeri/Swasta) yang ada di Kota Bandung kepada internal sekolah (wakil kepala sekolah, seluruh wali kelas dari tiap-tiap kelas/rombongan belajar dan bagian tata usaha sekolah), komite sekolah dan orang tua siswa. Khusus bagi orang tua siswa sosialisasi atau penjelasan dari pihak sekolah mengenai

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

4.

5.

6.

7.

program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah (termasuk program bantuan pendidikan lainnya) harus lengkap dan jelas, mulai dari prosedur/syarat untuk mendapatkan dana bantuan program, jangka waktu penyerahan syarat bagi orang tua siswa yang putra-putrinya akan mendapatkan bantuan dana program, besaran dana dari program, peruntukkan dana dari program yang nantinya akan dikelola oleh pihak sekolah dan jadwal pencairan dana program ke rekening sekolah/rekening yayasan Sekolah wajib melakukan verifikasi dan validitasi data siswa miskin, untuk menjaga keotentikan data. Sehingga tidak ada kesalahan dalam penyaluran dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM/BAWAKU Sekolah (termasuk dana bantuan pendidikan lainnya yang diperuntukkan bagi siswa dari keluarga miskin atau pra sejahtera I dan II). Verifikasi dan validasi data siswa miskin, wajib melibatkan kerjasama semua pihak, termasuk dengan RT sampai dengan kecamatan dimana SMA/MA/SMK Negeri/Swasta tersebut ada, maupun dimana siswa miskin tersebut berdomisili. Keterlibatan pihak RT sampai dengan Kecamatan, terkait dengan masalah kemudahan dalam pengurusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) bagi siswa miskin (berasal dari keluarga pra sejahtera I dan II), sampai dengan ketika proses pengecekan lapangan atas data siswa miskin yang ada dengan kondisi sebenarnya tingakt perekonomian dari keluarga siswa miskin. Karena dari hasil Survey CRC yang dilakukan, ditemukan beberapa kasus dimana responden orang tua siswa penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah yang kondisi sosial ekonominya tergolong mampu (tidak termasuk kriteria keluarga pra sejahtera I dan II). Pihak Dinas Pendidikan Kota Bandung wajib melakukan proyeksi jumlah siswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II) yang didasarkan kepada jumlah penduduk Kota Bandung, tingkat perekonomian warga/masyarakat Kota Bandung dan data siswa yang berasal dari keluarga miskin (pra sejahtera I dan II) di tahun sebelumnya. Proyeksi jumlah siswa miskin ini wajib dilakukan oleh Dinas Pendidikan Kota Bandung sebelum Tahun Ajaran Baru dimulai, agar tidak ada lagi ketimpangan antara kuota siswa miskin yang ditetapkan oleh Dinas dengan jumlah siswa miskin yang diajukan oleh tiap-tiap sekolah setiap Tahun Ajaran Baru. Masih terkait dengan penentuan kuota siswa miskin di tiap sekolah, perlu dibuat dan disepakati kembali mengenai mekanisme penentuan kuota melalui rapat dan koordinasi yang intensif antara pihak Dinas Pendidikan Kota Bandung dan tiap-tiap pihak sekolah, agar tidak ada penumpukkan kuota pada salah satu sekolah atau wilayah saja. Selain itu agar proporsi jumlah siswa miskin di tiap sekolah dengan siswa miskin penerima dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah di tiap sekolah berimbang atau setidaknya tidak terlalu jauh perbedaannya. Perlu kejelasan jadwal pencairan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah ke rekening sekolah/pengurus yayasan. Karena keterlambatan jadwal pencairan dana berpengaruh pada proses pengelolaan dan peruntukan dari dana program tersebut. Perlu dikaji ulang dan didiskusikan, agar penjadwalan pencairan dana dari program sesuai dengan

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

kalender pendidikan, sehingga dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah tercatat di dalam Rencana Anggaran dan Kegiatan Sekolah (RAKS) dan Anggaran Penerimaan dan Belanja Sekolah di masingmasing sekolah penerima dana program bantuan tersebut. 8. Perlu keterlibatan dan koordinasi semua pihak terkait, termasuk unsur masyarakat pendidikan akan keterbukaan informasi dari program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, mengenai mekanisme pengelolaan serta bagaimana pertanggungjawabannya kepada warga/masyarakat Kota Bandung secara keseluruhan. Orang tua siswa penerima dana program Bantuan Siswa Mskin (BSM)/BAWAKU Sekolah, jangan hanya dijadikan masyarakat pasif yang hanya menerima kebijakan tersebut. Akan tetapi wajib dibuatkan forum partisipatif terkait dengan pelaksanaan, penyeluran dan pengelolaan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah dan dana-dana bantuan pendidikan lainnya, baik di lingkungan sekolah maupun di tingkat kota. 9. Terkait dengan monitoring dan evaluasi pelaksanaan, penyaluran dan pengelolaan dana program Bantuan Siswa Miskin (BSM)/BAWAKU Sekolah (termasuk program-program bantuan pendidikan lainnya), pihak Dinas Pendidikan wajib melaksanakan riset/survey guna mengukur ketepatsasaran, kepuasan dan kebermanfaatan dari dana program bantuan tersebut kepada tiap-tiap pihak sekolah dan orang tua siswa yang menerima dana bantuan program. Riset/survey tersebut melibatkan pihak masyarakat sipil independen (LSM maupun konsultan), agar tidak memunculkan keberpihakan atau konflik kepentingan (conflict of interest). Hasil riset/survey tersebut menjadi acuan bagi Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk melakukan perbaikan kualitas dari program bantuan dana pendidikan

5.1.2. Rekomendasi untuk Bangunan (IMB)

Perbaikan

Layanan

Izin

Mendirikan

1. Peningkatan pemahaman warga/masyarakat tentang layanan IMB masih sangat dibutuhkan. Hal ini dimaksudkan untuk merub ah pandangan warga/masyarakat, bahwasannya pengurusan IMB tidak hanya semata-mata untuk memenuhi aturan, akan tetapi terkait dengan tanggungjawab bersama dalam penataan ruang dan wilayah kota. Perlu diperjelas di sini bahwa, kewajiban mengurus IMB adalah bagian dari pelaksanaan prosedur perizinan di bidang penataan ruang dan wilayah, sebagai bagian integral dari upaya pengendalian pemanfaatan ruang dan wilayah, agar fungsi-fungsi ruang yang telah diatur dalam Rencana Tata Ruang dan Wilayah Kota dapat dipahami oleh masyarakat secara lebih luas dan mendalam. 2. Untuk meningkatkan pemahaman warga sebagaimana direkomendasikan pada point No.1, maka sosialisasi harus dilakukan secara lebih intens. Hal ini, pertama-tama untuk menjawab hasil Survey CRC yang menyatakan bahwa lebih dari 71% responden (sebagai representasi publik/warga/masyarakat Kota Bandung) tidak pernah mendapatkan sosialisasi tentang layanan IMB. Lebih jauh lagi, sosialisasi tidak bisa sebatas menggunakan instrumen surat edaran atau pengumuman, melainkan dengan menggunakan berbagai media

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

3.

4.

5.

6.

7.

8.

maupun metode yang lebih dekat pada masyarakat. Untuk itu, pelibatan aparat kecamatan, kelurahan bahkan sampai tingkat RT/RW menjadi penting. Dalam hal ini, BPPT Kota Bandung diharapkan mampu mengembangkan berbagai metode dan media sosialisasi yang lebih aplikatif dan terjangkau oleh warga. Untuk itu, kerja sama dengan perguruan tinggi bahkan juga LSM ataupun pegiat lingkungan hidup dapat diciptakan untuk mengintesifkan proses sosialisasi kebijakan tentang IMB Hal ketiga yang juga perlu diperhatikan adalah mengenai kompetensi petugas, terutama di front office BPPT Kota Bandung. Peningkatan kapasitas petugas front office menjadi penting, karena hasil Survey CRC menyatakan bahwa petugas front office masih kurang mampu menjelaskan secara detail tentang syarat dan prosedur pengurusan IMB. Berkenaan dengan syarat dan prosedur, hasil survey menunjukkan bahwa terdapat syarat yang sulit dipenuhi yakni pembuatan gambar konstruksi atau gambar teknik. Dalam hal ini, tentu perlu dip ikirkan dan dikembangkan mekanisme yang memudahkan warga/masyarakat di satu pihak dan peluang kerja bagi sumber daya manusia yang memiliki keahlian di bidang gambar teknik dan konstruksi untuk diberdayakan di BPPT Kota Bandung Secara khusus mengenai prosedur pengurusan IMB, dinyatakan pula bahwa masih terjadi pungutan tidak resmi pada hampir semua tahapan proses pengurusan IMB. Masih terkait dengan prosedur pengurusan IMB, hasil Survey CRC menunjukkan lebih banyak responden (representasi warga/masyarakat Kota Bandung) yang memilih menggunakan jasa penghubung dalam mengurus IMB. Hal ini harus menjadi catatan bagi pihak BPPT Kota Bandung dalam mendorong perbaikan pelayanan. Apalagi disebutkan bahwa pihak penghubung yang paling banyak digunakan warga adalah pegawai BPPT Kota Bandung serta Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Kota Bandung. Salah satu hal penting juga yang diusulkan responden (representasi warga/masyarakat Kota Bandung), adalah mengenai kebutuhan layanan pengaduan dan konsultasi. Melalui mekanis me pengaduan konsultasi ini, warga/masyarakat pemohon layanan IMB dapat memberikan kontrol atau pengawasan langsung kepada pihak BPPT Kota Bandung dan Distarcip Kota Bandung sebagai provider atau penyedia jasa layanan yang terkait dengan layanan IMB. Sedangkan Manfaat lain melalui mekanisme konsultasi ini, warga/masyarakat akan semakin paham tentang syarat, prosedur dan biaya-biaya dalam pengurusan IMB. Dengan demikian, jika terdapat kesulitan ataupun masalah, pihak pemohon dapat menempuh jalur resmi baik u ntuk menyampaikan pengaduan maupun meminta penjelasan dan arahan teknis.

5.2. Desain Kerangka Advokasi
Advokasi secara umum dipahami sebagai sebuah upaya yang sistematik, terarah dan terpadu yang dilakukan secara sadar dan terus menerus untuk merubah dan/atau memperbaiki suatu keadaan dari yang tidak baik saat ini/sekarang, menjadi lebih baik kedepannya/masa mendatang. Sasaran advokasi, umumnya meliputi dua hal penting yakni:

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

1. Perubahan pada substansi atau materi kebijakan 2. Perubahan pada perilaku atau kebiasaan yang sudah ada27. Advokasi, sebagaimana yang telah dijelaskan teori dan praktek yang ada selama ini, terbagi dalam dua jalur besar yakni: 1. Advokasi Litigasi. Advokasi litigasi berkaitan dengan proses hukum atau kebijakan 2. Advokasi Non Litigasi. Advokasi non litigasi berkaitan dengan proses sosial atau politik.

27

Pelayanan Publik dalam Persepsi Masyarakat, Hasil Survey Persepsi Masyarakat dengan Metode CRC di 5 Daerah. Hal 210. Bappenas RI-Kemitraan, 2008

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

Pemantauan Pelayanan Publik Di Kota Bandung Dalam Rangka Pencegahan Korupsi Lewat Metode Survey Citizen Report Card

DAFTAR PUSTAKA
1. Tabloid Lesung, III/04 November, 2004, FPPM, Bandung 2. Kertas Posisi Masyarakat Peduli Pelayanan Publik (MP3), 2006, Yappika, Jakarta 3. Buku Pelayanan Publik Dalam Persepsi Masyarakat, Hasil Survey Persepsi Masyarakat Dengan Metode Citizen Report Card di Lima Daerah Di Indonesia (Kota Denpasar, Kabupaten Jembrana, Kabupaten Pemalang, Kota Magelang dan Kabupaten Indramayu), 2008, BAPPENAS - Kemitraan, Jakarta 4. Buku Membangun Sistem Integritas Dalam Pemberantasan Korupsi Di Daerah (Catatan Atas Pengalaman Pengawalan Rencana Aksi Daerah Pemberantasan Korupsi (RAD PK) dan Pelaksanaan Citizen Report Card (CRC) di Lima Daerah, Desember 2008, BAPPENAS Kemitraan, Jakarta 5. Buku Selayang Pandang Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu Pada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung 6. Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) dari Badan Pelayanan Perizinan Terpadu Kota Bandung, 2010, Bandung 7. Dokumen Rencana Kerja Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kota Bandung, 2011, Bandu ng 8. Lampiran Peraturan Walikota Bandung No. 550 Tahun 2008 tentang Prosedur Penyelenggaraan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) 9. Dokumen Rencana Strategis Dinas Pendidikan Kota Bandung Tahun 2009 2013 10. Dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Dinas Pendidikan Kota Bandung, 2009, Bandung 11. Lampiran I Kep. Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung No. 422.1/1209 Sekrt/2010 tentang Petunjuk Teknis Penerimaan Peserta Didik Baru Pada TK, Raudhatul Athfal, Sekolah dan Madrasah Tahun Pelajaran 2010/2011 Di Kota Bandung, 2010, Bandung 12. Lampiran I dari Perwal Bandung No. 570 Tahun 2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyaluran/Pemberian Dana Hibah Kependidikan Untuk Siswa dan Warga Belajar di Kota Bandung Tahun Anggaran 2009 13. Pelayanan Publik dalam Persepsi Masyarakat, Hasil Survey Persepsi Masyarakat dengan Metode CRC di 5 Daerah. Hal 210. Bappenas RI Kemitraan, 2008

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful