Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANALITIK

Nama : Eugenia Natasha


NRP : 6103009090 Kelompok : D-2
Acara Praktikum : Polarimetri
Tanggal Praktikum : 29 April 2010

I. Tujuan Praktikum
* Umum  : Mahasiswa mengetahui cara penentuan kadar suatu zat dengan
metode polarimetri
* Khusus :  Mahasiswa dapat menentukan kadar suatu zat dengan metode
polarimetri

II. Alat dan Bahan


Alat Bahan
1. Labu takar 100 mL 11. Botol semprot 1. Glukosa
2. Kaca Arloji 12. Kertas Timbang 2. Ammonia pekat
3. Beaker glass 100 mL 13. Kertas Saring 3. Sampel D-II (Glukosa)
4. Corong 4. Akuades
5. Pipet tetes
7. Botol timbang
8. Batang Pengaduk
9. Polarimeter
10. Neraca analitis

III. Dasar Teori


Polarimeter adalah alat untuk mengukur besarnya putaran berkas cahaya
terpolarisasi oleh suatu zat optis aktif. Zat yang bersifat optis aktif adalah zat
yang memiliki struktur transparan dan tidak simetris sehingga mampu memutar
bidang polarisasi radiasi. Materi yang bersifat optis aktif contohnya adalah
kuarsa, gula, dan sebagainya. Pemutaran dapat berupa dextrorotatory (+) bila
arahnya sesuai dengan arah putar jarum jam ataupun laevo-rotatory bila arahnya
berlawanan dengan jarum jam. Rotasi spesifik didefinisikan sebagai:

Keterangan:
α = sudut pada bidang cahaya terpolarisasi
c = konsentrasi larutan yang digunakan (gram zat terlarut per mL larutan)
l = panjang bejana yang digunakan (dm)
[α ]20
D = rotasi spesifik

(Kolthoff, I.M. 1958. Hal 655)


Derajat rotasi perputaran bidang polarisasi bergantung pada :
1) Struktur molekul
2) Temperatur
3) Panjang gelombang
4) Konsentrasi
5) Panjang tabung polarimeter
6) Banyaknya molekul pada jalan cahaya
7) Pelarut
(http://www.scribd.com/doc/5006057/4-BAB)

Gambar 1. Skema Kerja Polarimeter

Skema kerja polarimeter adalah cahaya dinyalakan dan tabung sampel


kosong, prisma penganalisis diputar sehingga berkas cahaya yang terpolarisasi
oleh prisma pemolarisasi benar-benar terhalangi dan bidang pandang menjadi
gelap. Pada saat ini sumbu prisma dari prisma pemolarisasi dan prisma
penganalisis tegak lurus satu dengan lainnya. Sekarang sampel diletakkan pada
tabung sampel. Jika zat bersifat inaktif (tidak aktif) optis (optically inactive),
tidak ada perubahan yang terjadi. Bidang pandang tetap gelap. Akan tetapi, jika
zat bersifat aktif optis (optical active) diletakkan pada tabung, zat memutar
bidang polarisasi, dan sebagian cahaya akan melewati penganalisis ke arah
pengamat. Dengan memutar prisma penganalisis searah jarum jam atau
berlawanan jarum jam, pengamat akan sekali lagi menghalangi cahaya dan
mengembalikan medan yang gelap.

(Hart Harold E. Craine leslie. 2003. Hal 170)

Polarisasi adalah peristiwa perubahan arah getar gelombang cahaya yang


acak menjadi satu arah getar, sedangkan polarisasi optik adalah salah satu sifat
cahaya yakni jika cahaya itu bergerak beroscillasi dengan arah tertentu.
Terjadi akibat peristiwa berikut :
1. Polarisasi dapat diakibatkan oleh pemantulan Brewster
2. Polarisator karena penyerapan selektif
3. Polarisasi karena pembiasan ganda, terjadi pada hablur kolkspat (CaCO3),
kuarsa, mike, kristal gula, topaz, dan es.
Polarisasi cahaya adalah penguraian cahaya, gambar arah cahayanya merambat
lurus.
(http://makalah-artikel-online.blogspot.com/2009/04/spektrum-gelombang-
elektromagnetik.html)

Cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan sodium lamp (lampu


natrium) dimana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna kuning.
Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak
sekali. Bila dihayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang
datar. Bidang getar yang banyak sekali ini secara mekanik dapat dipisahkan
menjadi dua bidang getar yang saling tegak lurus.
(http://labdasar.unlam.ac.id/modul_praktikum/fisika/polarimeter.doc)

Tabel 1. Rotasi Spesifik Beberapa Senyawa Optis Aktif


Senyawa Pelarut Temperatur ˚C Rotasi spesifik
Champhor Alkohol 25 + 43,8˚
Sukrosa Air 20 + 66,5˚
D-glukosa Air 20 +52,5˚
L-fruktosa Air 20 - 93,0˚
Laktosa Air 15 + 56,0˚
Maltosa Air 20 +136,9˚
Asam tartarat Air 20 +13,4˚
(Ewing, Galen W. 1960. Hal 151)
Karbohidrat bersifat optis aktif sehingga dapat dianalisa secara polarimetri.
Hal ini disebabkan karena molekul penyusun karbohidrat mempunyai susunan
yang simetris sehingga mempunyai kemampuan untuk memutar bidang sinar
terpolarisasi.
Untuk memperoleh hasil yang teliti harus diperhatikan:
 Larutan harus jernih dan tidak berwarna
 Larutan tidak mengandung bahan asing yang bersifat optis aktif sehingga perlu
penjernihan sebelumnya
 Konsentrasi sampel pada daerah yang optimum untuk alat yang bersangkutan,
tidak terlalu pekat ataupun encer.
(Sudarmaji, Slamet. 1989. Hal 89)

Gambar Polarimeter
(Burgoyne, E. Edward. 1979. Hal 328)
IV. Skema Kerja
Penentuan Rotasi Spesifik Larutan Penentuan Kadar Glukosa dalam
Glukosa Sampel
Glukosa ditimbang secara analitis Sampel D-II ditimbang secara analitis
(± 2 gram) (± 4 gram)
 
Dimasukkan ke dalam beaker glass Ditambahkan 0,2 mL ammonia encer
 
Ditambahkan 0,2 mL amonia encer Diencerkan dengan akuades dalam
(375 mL ammonia pekat diencerkan labu takar 100 mL hingga tepat 100
hingga 1 lt) mL
 
Diencerkan dengan akuades dalam Dihomogenkan
labu takar sampai tepat 100 mL 
 Didiamkan selama 30 menit
Dihomogenkan 
 Rotasi optik larutan sampel ditentukan
Didiamkan 30 menit dengan alat polarimeter
 
Rotasi spesifik glukosa dihitung Kadar glukosa dalam sampel dihitung
dengan rumus dengan rumus
(α)τ D = (α . 100) / (l . c) c = (α . 100) / (l . (α)τ D)

Penentuan Rotasi Spesifik Larutan Pembuatan Amonia Encer


dengan Polarimeter
Polarimeter dinyalakan 3,75 mL ammonia pekat dimasukkan
↓ ke dalam beaker glass
Larutan dimasukkan ke dalam tabung ↓
polarimeter sampai penuh Akuades ditambahkan sampai tepat
↓ 10 mL
Tabung polarimeter ditutup dengan ↓
lensa dan penutupnya (Jangan sampai Dihomogenkan
ada gelembung udara)

Tabung dibersihkan dengan kain
bersih sedangkan lensa dibersihkan
dengan kertas lensa

Tabung polarimeter dimasukkan ke
polarimeter

Objek dilihat lalu skala diatur dan
memutar cycle drive control whell
untuk mengatur bayangan yang
terlihat

Skala yang ada pada polarimeter
dibaca

V. Hasil Percobaan
a. Penimbangan Larutan Glukosa
Berat zat standar hasil penimbangan kasar = 2,0600 g
Berat botol timbang hasil penimbangan analitik = 13,0412 g
Berat botol timbang + zat standar hasil penimbangan analitik = 15,0529 g
Berat zat hasil penimbangan analitik = 2,0117 g
Perhitungan Cara Pembuatan
Range 10% = 1,98 g – 2,02 g Glukosa ditimbang secara analitis
(± 2 gram)
15,0529 – 13,0412 = 2,0117 g 
Dimasukkan ke dalam beaker glass

Ditambahkan 0,2 mL amonia encer
(375 mL ammonia pekat diencerkan
hingga 1 lt)

Diencerkan dengan akuades dalam
labu takar sampai tepat 100 mL

Dihomogenkan

Didiamkan 30 menit

Rotasi spesifik glukosa dihitung
dengan rumus
(α)τ D = (α . 100) / (l . c)
Pengukuran rotasi spesifik larutan glukosa

Pengukuran ke  glukosa (α)τ D


b. Penimbangan Sampel D-II
(α)τ D = (α . 100) / (l . c)
1 1,85 = (1,85 . 100) / (2 . 2,0117)
= 45,98°
τ
(α) D = (α . 100) / (l . c)
2 1,85 = (1,85 . 100) / (2 . 2,0117)
= 45,98°

Berat sampel analitik dengan menggunakan kaca arloji = 4,9061 g


Pembuatan Larutan Sampel Perhitungan

Sampel D-II ditimbang secara analitis Range 10% = 3,96 g – 4,04 g


(± 4 gram)

Ditambahkan 0,2 mL ammonia encer

Diencerkan dengan akuades dalam
labu takar 100 mL hingga tepat 100
mL

Dihomogenkan

Didiamkan selama 30 menit

Rotasi optik larutan sampel ditentukan
dengan alat polarimeter

Kadar glukosa dalam sampel dihitung
dengan rumus
c = (α . 100) / (l . (α)τ D)

Pengukuran rotasi optik larutan sampel D-II


Pengukuran ke  sampel Konsentrasi sampel
c = (α . 100) / (l . (α)τ D)
1 1,10 = (1,10 . 100) / (2 . 45,98)
= 1,1962 g/100 mL
c = (α . 100) / (l . (α)τ D)
2 1,05 = (1,05 . 100) / (2 . 45,98)
= 1,1418 g/100 mL

Kadar dari pengukuran pertama Kadar dari pengukuran kedua


1,1962 1,1418
%= . 100 % %= . 100 %
4,9061 4,9061
% = 24,38% % = 23,27%
24 , 38 %+23 ,27%
Rata – rata = 2
= 23,83%

VI. Kesimpulan
 Rotasi spesifik glukosa = 45,98°
 Kadar glukosa dalam sampel D-II = 23,83%
 Larutan yang digunakan pada percobaan ini harus jernih dan tidak berwarna,
bersifat optis aktif.

VII. Daftar Pustaka


 Burgoyne, E. Edward. 1979. A Short Course In Organic Chemistry.
Singapore: Mc Graw Hill Book, Inc. (Hal 328)
 Ewing, Galen W. 1960. Instrumental Methods of Chemical Analysis.
New York: Mc Graw Hill Book Company, Inc. (Hal 151)
 Hart Harold, E. Craine leslie. 2003. Kimia Organik Edisi Sebelas. Jakarta:
Erlangga. (Hal 170)
 Kolthoff, I.M. 1958. Textbook of Quantitative Inorganic Analysis 3rd Edition.
New York: The Macmillan Company. (Hal 655)
 Sudarmaji, Slamet. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian.
Yogyakarta: Liberty. (Hal 89)
 http://labdasar.unlam.ac.id/modul_praktikum/fisika/polarimeter.doc
 http://makalah-artikel-online.blogspot.com/2009/04/spektrum-gelombang-
elektromagnetik.html
 http://www.scribd.com/doc/5006057/4-BAB

Mengetahui,
                                                                                         Asisten Praktikum
http://makalah-artikel-online.blogspot.com/2009/04/spektrum-gelombang-
elektromagnetik.html

SPEKTRUM GELOMBANG ELEKTROMAGNETIK

C. POLARISASI CAHAYA
Polarisasi adalah peristiwa perubahan arah getar gelombang cahaya yang acak menjadi satu
arah getar.
atau polarisasi optik adalah salah satu sifat cahaya yakni jika cahaya itu bergerak beroscillasi
dengan arah tertentu.
Terjadi akibat peristiwa berikut :
1. Polarisasi dapat diakibatkan oleh pemantulan Brewster
2. Polarisator karena penyerapan selektif
3.Polarisasi karena pembiasan ganda, terjadi pada hablur kolkspat
(CaCO3),kuarsa,mike,kristal gula,topaz,dan es.
Polarisasi cahaya adalah penguraian cahaya,gambar arah cahayanya merambat lurus.
http://www.scribd.com/doc/5006057/4-BAB

3.2.3 Penentuan Derajat Polarisasi Gula Kristal Mentah


Dalam bahan yang kemurniannya tinggi seperti gula polarisasi (pol) dapat dianggap
sebagai kadar sukrosa, meskipun dalam gula mungkin masih terdapat gula reduksi yang
juga memutar bidang polarisasi. Namun dalam bahan yang kemurniannya rendah
seperti tetes, pol tidak dapat dikatakan sebagai kadar sukrosa karena pol merupakan
resultan sukrosa dan gula reduksi. Pengukuran kadar pol dilakukan dengan alat ukur
polarimeter.
Polarimeter adalah alat yang didesain untuk mempolarisasikan cahaya dan kemudian
mengukur sudut rotasi bidang polarisasi cahaya oleh suatu senyawa aktif optis yang
prinsip kerjanya berdasarkan pada pemutaran bidang polarisasi. Besarnya perputaran
itu bergantung pada:
1) Struktur molekul,
2) Temperatur,
3) Panjang gelombang,
4) Konsentrasi,
5) Panjangnya pipa polarimeter,
6) Banyaknya molekul pada jalan cahaya, dan
7) Pelarut.
http://labdasar.unlam.ac.id/modul_praktikum/fisika/polarimeter.doc

POLARIMETER

Dalam hubungan dengan polarimeter cahaya, maka cahaya dinyatakan sebagai gelombang
elektromagnetik tang transversal (tegak lurus dengan arah rambatnya). Cahaya umumnya
mempunyai bermacam-macam panjang gelombang, dimana bila dibiaskan melalui prisma
kaca akan terurai menjadi beberapa warna cahaya yang dikenal sebagai spectrum. Itu tiap-
tiap warna cahaya disebut sebagai cahaya monokromatik.

Dalam alat polarimeter ini cahaya monokromatik dihasilkan dengan menggunakan sodium
lamp (lampu natrium) dimana gas natrium pijar akan menghasilkan lampu warna kuning.
Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yang banyak sekali. Bila
dihayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus pada bidang datar. Bidang getar yang
banyak sekali ini secara mekanik dapat dipisahkan menjadi dua bidang getar yang saling
tegak lurus.

Pada polarimeter terdapat polarisator dan analisator. Polarimeter adalah Polaroid yang dapat
mempolarisasi cahaya, sedangkan anlisator adalah Polaroid yang dapat
menganalisa/mempolarisasikan cahaya.

Apabila cahaya melalui polarisator maka bidang getar polarisator akan diserap atau
dipadamkan sehingga cahaya yang dapat melalui polarisator adalah cahaya yang mempunyai
bidang getar polarimeter. Sebaliknya cahaya yang melalui analisator maka bidang getar
polarisator akan dipadamkan dan yang tinggal hanyalah cahaya yang mempunyai bidang
getar analisator.

Larutan yang akan diperiksa diletakkan antara polarisator dan analisator. Larutan optis aktif
adalah larutan yang dapat memutar bidang polarisasi.