Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

SISTEM pemerintahan (politik) Islam sangat jauh berbeda dengan sistem politik, ideologi-
ideologi dan isme-isme akal manusia. Islam memiliki tafsiran dan bentuk yang khusus dan
istimewa tentang pemerintahan. Tafsirannya jauh lebih bijaksana dan adil daripada ajaran-ajaran
lainnya. Hal ini mungkin tidak jelas kalau kita bandingkan dengan pemerintahan umat Islam
yang ada di dunia hari ini. Sebab negara-negara umat Islam hari ini tidak menjalankan Islam
yang syumul (menyeluruh). Mereka tidak mengikuti jejak sejarah kegemilangan Islam di zaman
Rasul dan Khulafaur Rasyidin serta Salafussoleh.

Sistem pemerintahan Islam adalah sistem pemerintahan yang menggunakan Al Quran dan
Sunnah sebagai rujukan dalam semua aspek hidup, seperti dasar undang-undang, mahkamah
perundangan, pendidikan, dakwah dan perhubungan, kebajikan, ekonomi, sosial, kebudayaan
dan penulisan, kesehatan, pertanian, sain dan teknologi, penerangan dan peternakan. Dasar
negaranya adalah Al Quran dan Sunnah. Para pemimpin dan pegawai-pegawai pemerintahannya
adalah orang-orang baik, bertanggung jawab, jujur, amanah, adil, faham Islam, berakhlak mulia
dan bertakwa. Dasar pelajaran dan pendidikannya ialah dasar pendidikan Rasulullah, yang dapat
melahirkan orang dunia dan orang Akhirat, berwatak abid dan singa, bertugas sebagai hamba dan
khalifah ALLAH.

Sistem ekonominya bersih dan adil. Suci dari riba, monopoli, penindasan, penipuan dan
hal haram lainnya. Pembagiannya adil menurut keperluan untuk kemudahan, kewajiban,
kedudukan dan bidang seseorang. Sistem sosialnya bersih dari kemungkaran dan maksiat terang-
terangan. Setiap orang dihormati hak asasinya serta diberi peluang untuk melaksanakan hak-hak
asasi masing-masing sesuai dengan bakat dan kebolehannya. Sistem ketentaraan berjalan atas
disiplin Islam. Kebudayaan dan adat-istiadat dibenarkan berbagai asalkan semuanya tidak
bertentangan dengan Islam.
Pelantikan presiden ada caranya tersendiri, cara yang adil dan tepat. Berbeda dengan cara
demokrasi dan revolusi serta cara diktator. Sistem syura juga tersendiri, unik dan harmoni.
Segalanya jauh berbeda dengan apa yang terjadi dalam syura sekuler.

Demikianlah seterusnya dalam mengelola hal-hal pengobatan, rumah tangga, alat-alat


perhubungan, media cetak dan elektronik, jalan raya, pertanian dan segala-galanya adalah
mengikuti cara hidup Islam. Politik atau pemerintahan Islam sebenarnya bukan saja karena
orang-orangnya adalah Islam. Tetapi yang lebih utama dari itu adalah pengisiannya dengan
program-program yang bersifat Islam. Tanpa ciri-ciri ini, syariat ALLAH tidak akan muncul di
atas muka bumiNya walaupun nama dan slogan pemerintahan Islam diserukan.

Akan tetapim tidak bias dipungkiri juga bahwa kita saat ini hidup di Negara yang
berasaskan Pancasila dan juga menganut system pemerintahan Demokrasi.

Dengan dorongan tersebut, maka penulis terdorong untuk menyusun makalah yang
berjudul : ã 
   
 
    


£.£. Perumusan Masalah

Dengan melihat tujuan penulis tersebut, maka penulis tertarik untuk membahas beberapa
masalah, yaitu :

1. Apa definisi system pemerintahan ?

2. Apa sajakah macam-macam system pemerintahan ?

3. Apa keunggulan Sistem Pemerintahan Islam ?

4. Apa keunggulan Sistem Pemerintahan Demokrasi ?

£.3. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulis ialah :

1. Untuk mengetahui definisi system pemerintahan


2. Untuk mengetahui macam-macam system pemerintahan

3. Untuk mengetahui system pemerintahan islam

4. Untuk mengetahui keunggulan system pemerintahan demokrasi

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

£.3. Definisi Sistem Pemerintahan

 Definisi Sistem Pemerintahan Secara Luas

Secara luas berarti sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat ,menjaga
tingkah laku kaum mayoritas maupun minoritas , menjaga fondasi pemerintahan , menjaga
kekuatan politik , pertahanan , ekonomi , keamanan sehingga menjadi sistem pemerintihan yang
kontiny,Quo dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil dalam
pembangunan sistem pemerintahan tersebut.Hingga saat ini hanya sedikit negara yang bisa
mempraktekkan sistem pemerintahan itu.

 Definisi Sistem Pemerintahan Secara Sempit

Secara sempit,Sistem pemerintahan hanya sebagai sarana kelompok untuk menjalankan


roda pemerintahan guna menjaga kestabilan negara dalam waktu relatif lama dan mencegah
adanya perilaku reaksioner maupun radikal dari rakyatnya itu sendiri

BAB III

³STUDY PERBANDINGAN ANTARA SISTEM PEMERINTAHAN ISLAM dan


SISTEM PEMERINTAHAN DEMOKRASI´

Definisi Demokrasi
Demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatau Negara sebagai
suatu upaya mewujudkan kedaulatan rakyat atas Negara untuk dijalankan oleh pemerintahn
negara tersebut atau yang lebih dikenal sebagai pemerintahn ³dari rakyat,oleh rakyat,dan untuk
rakyat´.

Perbedaan yang paling mendasar antara konsep syura menurut islam dan demokrasi
menurut Yunani adalah musyawarah menurut islam merupakan system pemerintahan yang
segenap rakyat turut serta memerintah dengan perantara ulil amri dan segala urusan harus
dikembalikan kepada dasar dan sumber yang diturunkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh
Rasullah SAW .Adapun demokrasi adalah sistem pemerintahan yang segenap rakyat turut serta
memerintah secara langsung seperti referendum maupun dengan tidak langsung melalui
perantara wakilnya.Jadi konsep syura menurut adalah sistem pemerintahan dimana Allah SWT
yang berdaulat,sedangkan demokrasi dimana rakyat ±lah yang berdaulat.Pada konsep syura
segala urusan dalam sistem pemerintahan harus dikembalikan kepada wahyu Alllah(dalam hal
ini Al-Qur¶an) serta contoh dari Raullah SAW(hadist) ,

3.1. Bentuk dan Kelebihan Sistem Demokrasi

Dalam sejarah terdapat sedikitnya tiga bentuk demokrasi yang pernah dicoba: demokrasi
langsung (direct democracy/assembly democracy), demokrasi perwakilan (representative
democracy), demokrasi perwakilan (deliberative democracy). Berikut ini adalah gambaran
singkat tentang bentuk-bentuk demokrasi tersebut

a. Demokrasi Langsung

 Praktik demokrasi paling tua; praktik demokrasi pada asosiasi yang berukuran kecil

 Berdasarkan pada partisipasi langsung, tanpa perwakilan dan terus menerus dari warga
dewasa dalam membuat dan melaksankan keputusan bersama

 Tidak terdapat batas yang tegas antara pemerintah dan yang diperintah * semacam
system self-government * pemerintah dan yang diperintah adalah orang yang sama
 Sistem kelembagaan: pertemuan warga (mass meeting, town meeting, pertemuan
RT/RW, dll), referendum

b. Demokrasi Perwakilan

 Praktik demokrasi yang dating lebih belakangan sebagai jawaban terhadap beberapa
kelemahan demokrasi langsung; parktik demokrasi pada asosiasi yang berukuran
besar seperti Negara

 Berdasarkan pada partisipasi yang terbatas * partisipasi warga hanya dalam waktu yang
singkat dan hanya dilakukan beberapa kali dalam kurun waktu tertentu seperti dalam
bentuk keikutsertaan dalam pemilihan umum

 Berdasarkan pada partisipasi yang tidak langsung * masyarakat tidak mengoperasikan


kekuasaan sendiri tapi memilih wakil yang akan membuat kebijakan atas nama
masyarakat

 Pemerintah dan yang diperintah terpisah secara tegas * demokratis tidaknya demokrasi
bentuk ini tergantung pada kemempauan para wakil yang dipilih membangun dan
mempertahankan hubungan yang efektif antara pemerintah dan yang diperintah

 Sistem kelembagaan:

1) para wakil rakyat yang dipilh: parlemen

2) para pejabat Negara yang dipilih: kepala pemerintahan dan pembantu-


pembantunya, judikatif, dll.

3) Pemilihan umum yang adil, bebas dan berkala

4) Media massa yang membuka kesempatan bagi kebebasan berpendapat dan


kebebasan mendapatkan informasi dan pengetahuan

5) Sistem asosiasi yang bersifat otonom: partai politik, organisasi massa, dll
6) Hak pilih bagi semua orang dewasa dan hak untuk menduduki jabatan-jabatan
publik

c. Demokrasi Permusyawaratan

 Bentuk demokrasi paling kontemporer; dipraktikan pada masyarakat yang kompleks


dan berukuran besar * bentuk demokrasi yang menggabungkan aspek partisipasi
langsung dan bentuk demokrasi perwakilan

 Memberikan tekanan yang berbeda dalam memahami makna kedaulatan rakyat:


kedaulatan: kedaulatan berkaitan dengan keterlibatan masyarakat dalam
membicarakan, mendiskusikan dan mendebatkan isu-isu bersama atau dalam
menentukan apa yang pantas dianggap isu bersama * demokratis tidaknya sebuah
kebijakan tergantung pada apakah kebijakan tersebut sudah melalui proses
pembicaraan, diskusi dan perdebatan (baca: permusyawaratan) yang melibatkan
masyarakat luas

 Ada pemisahan yang tegas antara pemerintah dan yang diperintah. Tapi pemisahan
yang lebih penting adalah antara Negara dan masyarakat sipil. Negara merupakan
tempat menggodok dan melaksanakan kebijakan. Masyarakat sipil merupakan tempat
berlangsungnya ³permusyawaratan´

 Selain itu ada juga pemisahan antara wilayah public dan wilayah privat. Wilayah public
adalah wilayah ³permusyawaratan; wilayah privat adalah wilayah tenpat seseorang
memikirkan apa isu yang penting dan kenapa isu itu perlu dibicarakan, didiskusikan
dan didebatkan secara public

 Sistem kelembagaan:

1) Semua sistem kelembagaan demokrasi perwakilan

2) Debat public; lewat media massa, lewat pertemuan warga yang terjadi secara
spontan di tempat-tempat public, dst
3) Dialog

Kelebihan dan Kekurangan Bentuk-Bentuk Demokrasi

Demokrasi Langsung

KELEBIHAN KEKURANGAN
Menjamin kendali warganegara terhadap Sulit dioperasikan pada masyarakat yang
kekuasaan politik berukuran besar
Mendorong warganegara meningkatkan Menyita terlalu banyak waktu yang
kapasitas pribadinya; misalnya diperlukan warganegara untuk melakukan
meningkatkan kesadaran politik, hal-hal lain; dan karenanya bisa
meningkatkan pengetahuan pribadi dll menimbulkan apatisme
Membuat warganegara tidak tergantung Sulit menghindari bias kelompok dominan
pada politisi yang memiliki kepentingan
sempit
Masyarakat lebih mudah menerima Masyarakat lebih dekat dengan (konflik)
keputusan yang sudah dibuat politik dan karenanya berpotensi
melahirkan kehidupan bersama yang tidak
stabil

Demokrasi Perwakilan

KELEBIHAN KEKURANGAN
Lebih mudah diterapkan dalam amsyarakat Jarak yang jauh dari proses pembuatan
yang lebih kompleks kebijakan yang sesungguhnya bisa
membuat masyarakat bisa menolaknya
ketika hendak diterapkan
Mengurangi beban masyarakat dari tugas- Mudah terjebak dalam kepentingan para
tugas membuat, merumuskan dan wakil rakyat yang bertentangan dengan
melaksankan kebijakan bersama kepentingan masyarakat
Memungkinkan fungsi-fungsi Demokrasi perwakilan menghadapi
pemerintahan berada di tangan-tangan yang persoalan waktu dan jumlah seperti yang
lebih terlatih untuk itu\ dihadapi demokrasi langsung
Cenderung menciptakan politik yang stabil
karena menjauhkan masyarakat dari
(konflik) politik; dan karenanya
mendorong kompormi

Demokrasi Permusyawaratan

KELEBIHAN KEKURANGAN
Memberikan kesempatan yang lebih baik Dalam praktiknya permusyawaratan sulit
bagi masyarakat untuk terlibat dalam menghindari kecenderungan elitisme
proses pembuatan kebijakan; tanpa
mendekatkan mereka dengan (konflik)
politik
Mendorong warganegara untuk selalu Sulit mengharapkan setiap warga negara
memiliki kesadaran politik yang tinggi dan memiliki kepedulian politik yang sama dan
selalu memperkaya diri dengan setara
pengetahuan tentang perkembangan
masyaraktnya
Mendorong warganegara untuk selalu Memerlukan masyarakat dengan tingkat
memikirkan kepentingan bersama pendidikan yang tinggi dan sarana
komunikasi yang modern

3.£. Keunggulan Sistem Politik Islam

Sistem politik Islam merupakan sistem politik yang khas dan diyakini merupakan sistem
politik yang unggul. Hal ini terkait dengan Islam itu sendiri. ³Islam itu unggul dan tidak ada
yang dapat mengunggulinya (Al Islâmu ya¶lu wa lâ yu¶la µalaihi),´ kata Nabi.
Berbicara tentang sistem politik berarti berbicara tentang proses, struktur, dan fungsi.
Proses adalah pola-pola yang mengatur hubungan antar manusia satu sama lain. Struktur
mencakup lembaga-lembaga formal dan informal seperti majelis umat, partai politik, khalifah,
dan jaringan komunikasi. Adapun fungsi dalam sistem politik menyangkut pembuatan berbagai
keputusan kebijakan yang mengikat alokasi nilai. Keputusan kebijakan ini diarahkan pada
tercapainya kepentingan masyarakat. Proses, struktur, dan fungsi dalam sistem politik Islam
semuanya berdasarkan pada ajaran Islam yang bersumber dari wahyu. Karena itu, sistem politik
Islam, termasuk konsep kenegaraannya, menjadi sistem yang unggul karena bersumber dari
Allah Swt., Zat Yang Mahaagung. Di antara keunggulan sistem politik Islam adalah:
1. Istiqamah.
Sistem politik Islam memiliki karakter istiqamah; artinya bersifat langgeng, kontinu, dan
lestari di jalannya yang lurus. Dalam sistem demokrasi, misalnya, sistem politik bergantung pada
kehendak manusia. Perubahan nilai dan inkonsistensi pun terjadi. Hal yang sama bisa berlaku
untuk orang lain, tetapi tidak untuk negara tertentu. Misalnya, Iran tidak boleh memiliki nuklir,
tetapi AS dan Israel tidak mengapa; setiap negara tidak boleh mencampuri urusan negara lain,
kecuali AS dan sekutunya yang dapat menerapkan pre emptive. Sistem seperti ini tidaklah
istiqamah. Betapa tidak; semuanya bergantung pada kehendak dan tolok ukur manusia yang
senantiasa berubah-ubah, bahkan dapat saling bertolak belakang. Sekarang benar, nanti salah;
atau sekarang terpuji lain waktu tercela.
Berbeda dengan itu, sistem politik Islam berdiri tegar tak lekang ditelan zaman. Ini
karena sistem politik Islam bukan lahir dari logika dan kepentingan sesaat manusia, namun jalan
lurus yang berasal dari Allah Swt. untuk kemaslahatan manusia. (Lihat: QS al-An¶am [6]:153).
Dalam konteks kenegaraan, sistem politik Islam dibangun di atas landasan yang
istiqamah, yakni:
(a) kedaulatan ada di tangan syariah;
(b) kekuasaan ada di tangan rakyat;
(c) wajib hanya memiliki satu kepemimpinan dunia; dan
(d) hanya khalifah yang berhak melegalisasi perundang-undangan dengan bersumber dari
Islam berdasarkan ijtihad. Jika terdapat perselisihan di antara negara dengan rakyat
atau antar pelaku politik maka harus dikembalikan tolok ukurnya kepada Allah dan
Rasul; kepada al-Quran dan as-Sunnah. Inilah tolok ukur sekaligus landasan yang
tetap, tidak berubah. Ini pulalah yang menjamin keistiqamahan sistem politik Islam.
£. Mewujudkan ketenteraman secara kontinu.
Di antara fungsi sistem politik adalah mewujudkan ketenteraman. Setiap warga negara
harus terjamin ketenteramannya. Tanpa ketenteraman, kehidupan tak akan nyaman.
Ketenteraman merupakan syarat mutlak (conditio sine qua non) bagi keberlangsungan kehidupan
masyarakat.
Islam sangat memperhatikan hal ini. Salah satu ajaran penting Islam adalah mewujudkan
keamanan di tengah-tengah masyarakat. Sejarah menunjukkan bagaimana saat Islam diterapkan,
warga negaranya, baik Muslim maupun non-Muslim, hidup dalam keamanan. Hal ini terwujud
melalui pendekatan multidimensi.
Pertama: sistem politik Islam mengaitkan aspek keamanan dengan aspek ruhiah. Rasul berkali-
kali menegaskan bahwa di antara ciri Muslim yang baik adalah Muslim yang tetangganya
selamat dari lisan dan tangannya. Bahkan, siapa saja yang menyakiti kafir zimmi diibaratkannya
sebagai menyakiti beliau. Penjagaan keamanan dikaitkan dengan pahala dan siksa. Akibatnya,
muncullah dorongan takwa dalam diri individu untuk senantiasa mewujudkan keamanan, baik
bagi diri, masyarakat, maupun negara. Kekuatan internal inilah yang mengokohkan terwujudnya
keamanan. Landasan ruhiah seperti ini tidak ditemukan pada sistem lain. Sistem selain Islam
hanya menyandarkan aspek keamanan pada kepentingan.
Kedua: mengharuskan masyarakat untuk menjaga keamanan dan bersikap keras kepada perusak
keamanan. Setiap kemungkaran yang ada, termasuk gangguan tehadap keamanan, diperintahkan
untuk dihilangkan oleh siapapun yang melihatnya; baik dengan kekuatan, lisan, ataupun dengan
hati melalui sikap penolakan. Bahkan, membiarkan kerusakan yang ada diumpakan Nabi saw.
sebagai menenggelam-kan seluruh masyarakat. Masyarakat diibaratkan Rasul sebagai
sekumpulan orang yang sedang menumpangi kapal di lautan. Jika sebagian mereka melakukan
kejahatan dengan melobangi kapal tersebut tanpa dicegah, maka semua penumpangnya akan
karam. Bahkan, mati mempertahankan keamanan harta, kehormatan, dan nyawa dari para
perusak keamanan dipandang sebagai syahid. Hal demikian tidak dimiliki oleh sistem di luar
Islam.
Ketiga: makna kebahagiaan yang khas. Allah Swt. telah menetapkan makna kebahagiaan adalah
tercapainya ridha Allah. Berbagai limpahan materi hanyalah kepedihan jika jauh dari ridha
Allah. Untuk apa memiliki kekuasaan jika digunakan untuk menjauhkan diri dan masyarakat dari
ridha Allah. Walhasil, mafhûm kebahagiaan demikian mendorong setiap orang untuk mengejar
ridha Allah dengan menaati-Nya. Salah satunya adalah memberikan keamanan bagi orang lain.
Keempat: menutup pintu kriminal. Salah satu pintu datangnya gangguan keamanan adalah tindak
kriminal. Dalam konteks ini, Islam mencegahnya dengan jitu. Allah Swt. melarang tindak
kriminal dengan motif apapun, termasuk untuk kepentingan politik. Sistem politik Islam tidak
mengenal paham machiavelis (menghalalkan segala cara). Siapapun diharamkan mencuri,
merampok, membunuh, merampok harta negara, korupsi, mengintimidasi rakyat, dll. Islam juga
mengharamkan zina dan perkosaan. Tidak ada cerita dalam Islam yang mentoleransi
menggunakan perempuan sebagai umpan dan modal dalam transaksi ekonomi maupun
bargaining politik. Hal ini berbeda secara diametral dengan sistem politik sekular.
Penutupan pintu kriminal tersebut ditempuh dengan landasan ruhiah, dengan
menanamkan mafhûm qanâ¶ah dan ridha. Setiap orang menerima dan ridha terhadap rezeki yang
diberikan Allah, sedikit ataupun banyak. Selain itu, sistem Islam memiliki seperangkat aturan
yang menjamin pemenuhan kebutuhan pokok dan kebutuhan seksual. Nabi saw. mencontohkan
bahwa kebutuhan pokok setiap warga dijamin oleh negara. Adapun pemenuhan kebutuhan
sekunder dan tersier diserahkan kepada produktivitas dan kemampuan masing-masing. Negara
hanya memfasilitasi siapapun hingga memiliki peluang untuk mendapatkan sumberdaya
informasi, dana, dan kesempatan. Ketika kondisi keamanan telah diciptakan, jaminan kebutuhan
pokok pun dijamin, maka jika masih tetap ada pihak yang melakukan tindak kriminal, hukum
Islam pun ditegakkan pada mereka. Hukum Islam menghasilkan efek jera. Siapa yang tidak akan
jera dengan adanya aneka ragam jenis hukum seperti denda, penjara, pengasingan, cambuk,
potong tangan, bahkan hukuman mati. Jelaslah, mulai dari keyakinan, kondisi sosial, dan hukum
diatur oleh Islam untuk mencegah tindak kriminal. Silakan, telaah sistem sekular apakah punya
sistem handal seperti Islam? Jawabannya: Tidak!
Selain melalui pendekatan keamanan, ketenteraman pun ditempuh melalui jaminan
pemenuhan kebutuhan pokok secara kontinu dan sempurna. Sering alasan ketidakstabilan
masyarakat adalah masalah ekonomi. Lagi-lagi, Rasulullah saw. mencontohkan jaminan
kebutuhan pokok ini dilakukan secara kontinu dan sempurna. Masyarakat tenang dan tenteram
karena ada jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok individual (sandang, pangan, dan papan),
serta kebutuhan pokok kolektif (pendidikan, keamanan, dan kesehatan).
Ketentraman akan terganggu ketika rasa keadilan terusik. Di situlah Islam menempatkan
keadilan sebagai salah satu pilar ketakwaan. Bahkan, adil selalu merupakan syarat seseorang
diterima kesaksian dan kelayakan penguasa. (Lihat: QS al-Maidah [5]:8).
Allah Pencipta alam memuji dan memerintahkan bersikap adil. Siapapun harus adil.
Bukan sekadar sikap, Allah menjelaskan realitas bahwa semua orang dibawah payung Islam
kedudukannya sama, tidak ada diskriminasi atas dasar suku, etnis, golongan, bahkan agama.
Semua warga negara dalam sistem politik Islam berkedudukan sama. Betapa melekat dalam
benak setiap Muslim penuturan Nabi saw. bahwa tidak ada kelebihan orang Arab atas non Arab,
juga tidak ada kelebihan orang non-Arab atas Arab kecuali karena ketakwaannya. Pada saat
Allah memerintahkan adil, dan saat yang sama manusia itu berkedudukan sama di sisi Allah,
maka hanya ada satu pilihan: bersikap adil.
Di samping memerintahkan adil, Allah Swt. melarang kezaliman. Penggusuran tanah
milik, perampasan hak, ataupun perlakuan sewenang-wenang merupakan sebagian penampakan
kezaliman. Pelaku kezaliman tidak akan ditunjuki oleh Allah Swt. (Lihat: QS al-Jumuah: 5), dan
di dunia dikenai sanksi hukum sesuai dengan kezaliman yang dilakukannya.
Lebih dari itu, hubungan antara rakyat dan penguasa dalam Islam harus didasarkan pada
keadilan, bukan kezaliman. Rasulullah Saw. bersabda:
Tidak akan seorang pemimpin kaum Muslim mati dalam keadaan menipu rakyatnya, kecuali
diharamkan baginya masuk surga. (HR al-Bukhari dan Muslim).
Sesungguhnya pemimpin yang paling jahat adalah pemimpin yang lalim. Karena itu,
janganlah kamu termasuk golongan mereka (HR al-Bukhari dan Muslim).
Terlihat, tegaknya keadilan dalam Islam lahir dari keyakinan akan perintah Allah Swt.,
pandangan kesejajaran manusia sesuai dengan realita, dan metode implementasinya berupa
sanksi hukum bagi pelanggarnya. Tentu, sistem politik yang dibangun di atas landasan seperti ini
merupakan sistem politik yang unggul.
3. Menciptakan hubungan ideologis penguasa dengan rakyat.
Hubungan penguasa dengan rakyat dalam sistem politik Islam adalah hubungan
ideologis. Kedua belah pihak saling berakad dalam baiat untuk menerapkan syariat Islam.
Penguasa bertanggung jawab dalam penegakkannya. Sebaliknya, rakyat membantu penguasa
sekuat tenaga, taat kepadanya, selama tidak menyimpang dari Islam. Berdasarkan hubungan
ideologis inilah penguasa akan melakukan pengurusan (ri¶âyah) terhadap umatnya melalui: (a)
penerapan sistem Islam secara baik: (b) selalu memperhatikan kemajuan masyarakat di segala
bidang; dan (c) melindungi rakyat dari ancaman. Nabi saw. bersabda (yang artinya):
Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu merupakan pelindung. Dia bersama pengikutnya
memerangi orang kafir dan orang zalim serta memberi perlindungan kepada orang-orang Islam
(HR al-Bukhari).
Pada sisi lain, rakyat tidaklah tinggal diam. Di pundak mereka terdapat kewajiban
terhadap pemimpin dan negaranya sesuai dengan akad baiat. Karenanya, rakyat berperan untuk:
(a) melaksanakan kebijakan penguasa yang sesuai dengan syariat demi kepentingan rakyat; (b)
menjaga kelangsungan pemerintahan dan semua urusan secara syar¶î (larangan keluar dari
penguasa, perintah memerangi bughât, dsb); dan (c) memberikan masukan kepada penguasa;
mengontrol dan mengoreksi penguasa. Dengan adanya hak sekaligus kewajiban warga negara
untuk memberikan nasihat, pelurusan (tashîh), dan koreksi terhadap penguasa (muhâsabah al-
hukkâm) akan terjamin penerapan sistem Islam secara baik di dalam negeri.
Merujuk pada hal tersebut, hubungan rakyat dengan penguasa dalam sistem politik Islam
adalah hubungan antara sesama hamba Allah Swt. yang sama-sama menerapkan kewajibannya
dalam fungsi yang berbeda. Hubungan antara keduanya merupakan hubungan sinergis, fokus,
dan saling mengokohkan untuk penerapan syariah demi kemaslahatan rakyat. Sungguh,
pemandangan demikian amat sulit ditemukan dalam sistem politik selain selain Islam.
è. Mendorong kemajuan terus-menerus dalam pemikiran, sains teknologi, dan
kesejahteraan hidup.
Sejarah telah membuktikan hal ini. Kemajuan sains, teknologi, dan pemikiran merupakan
keniscayaan dalam Islam karena:
a. Islam mendorong umat untuk terus berpikir, merenung untuk menguatkan iman dan
menambah pengetahuan tentang makhluk. Ada 43 ayat al-Quran yang memerintahkan
berpikir.
b. Melebihkan ulama daripada orang jahil (Lihat: QS al-Mujadilah: 11).
c. Allah telah menundukkan alam untuk manusia agar diambil manfaatnya. Realitas ini
mengharuskan umat untuk mengkaji alam itu. Artinya, realitas menuntut umat untuk
mengembangkan sains dan teknologi.
d. Islam mendorong inovasi dan penemuan. Dalam masalah jihad, misalnya, Rasulullah saw.
mengembangkan persenjataan dabâbah saat itu. Kini, berarti umat harus mengungguli
sains dan teknologi negara besar. Begitu juga ijtihad; harus terus dikembangkan. Betapa
tidak, banyak sekali perkara baru bermunculan, padahal dulu belum dibahas oleh para
ulama.
Bukan hanya itu, kemajuan ekonomi pun akan tercapai karena:
a) ada konsep kepemilikan dan pengelolaannya secara jelas;
b) kewajiban ri¶âyah mengharuskan adanya perhatian secara terus menerus atas urusan dan
kemajuan;
c) perlindungan terhadap milik pribadi dan pemanfaatannya dalam batas syariat; dan
d) adanya pengumpulan harta untuk kaum miskin dan lemah. Konsekuensi dari hal ini
bukanlah sebatas dana menetes ke bawah (tricle down effect), melainkan menggelontor ke
segala penjuru. Hal ini berbeda dengan sistem Kapitalisme yang membiarkan manusia
menjadi serigala bagi manusia lainnya (homo homini lupus).

BAB IV

KESIMPULAN
Dari pembahasan tersebut diatas dapat penulis ambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Sistem pemerintahan itu menjaga kestabilan masyarakat ,menjaga tingkah laku kaum
mayoritas maupun minoritas , menjaga fondasi pemerintahan , menjaga kekuatan
politik , pertahanan , ekonomi , keamanan sehingga menjadi sistem pemerintihan
yang kontiny,Quo dan demokrasi dimana seharusnya masyarakat bisa ikut turut andil
dalam pembangunan sistem pemerintahan tersebut.

2. Keunggulan system pemerintahan islam

a. Istiqamah.
b. Mewujudkan ketenteraman secara kontinu.
c. Menciptakan hubungan ideologis penguasa dengan rakyat.
d. Mendorong kemajuan terus-menerus dalam pemikiran, sains teknologi, dan
kesejahteraan hidup.
3. Keunggulan Sistem Pemerintahan Demokrasi, terdiri dari :
a. Dempkrasi Langsung. Diantara keunggulannya adalah : Menjamin kendali warga
Negara terhadap kekuasaan politik.
b. Demokrasi Perwakilan. Diantara keunggulannya adalah : Lebih mudah diterapkan
dalam masyarakat yang lebih kompleks.
c. Demokrasi Permusyawaratan. Diantar keunggulannya adalah : Mendorong warga
Negara untuk selalu memikirkan kepentingan bersama.
DAFTAR PUSTAKA

Saeful Mujani, `
   
  
 

   

 
rramedia Pustaka Utama 2007. ISBN : 979-22-2749-0

Ellyasa KH Dharwis, M. Iman Aziz, M. Jadul Maula    


   .
rramedia Pustaka Utama. 1993. ISBN : 979-511-775-0
Komaruddin Hidayat dan M. Yudhie Haryono, `    !"
   

     #. Jalasutra. Tanpa Tahun.
Ali Munhanif, Hendro Prasetyo, 
   $     . rramedia Pustaka Utama.
2002. ISBN : 979-686-668-4

Olivier Roy, %


    , Serambi, 2002

Srijanti, A. Rahman, Purwanto S. K. E &#   


&  !  Salemba, 2006. ISBN : 979-691-318-6

Banyak kalangan sarjana Islam yang kembali mengkaji akar dan khazanah Islam dan secara
meyakinkan berkesimpulan bahwa Islam dan demokrasi tidak hanya kompatibel; sebaliknya,
asosiasi keduanya tak terhindarkan, karena sistem politik Islam adalah berdasarkan pada Syura
(musyawarah). Khaled Abou el-Fadl, Ziauddin Sardar, Rachid
rhannoushi, Hasan Turabi, Khurshid Ahmad, Fathi Osman dan Shaikh Yusuf Qardawi serta
sejumlah intelektual dan sarjana Islam lain yang bersusah payah berusaha mencari titik temu
antara dunia Islam dan Barat menuju saling pengertian yang lebih baik berkenaan dengan
hubungan antara Islam dan demokrasi. Karena, kebanyakan diskursus
yang ada tampak terlalu tergantung dan terpancang pada label yang dipakai secara stereotipe
oleh sejumlah kalangan.

Menurut Merriam, Webster Dictionary, demokrasi dapat didefinisikan sebagai ³pemerintahan


oleh rakyat; khususnya, oleh mayoritas; pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi tetap pada
rakyat dandilakukan oleh mereka baik langsung atau tidak langsung melalui sebuah sistem
perwakilan yang biasanya dilakukan dengan cara mengadakan pemilu bebas yang diadakan
secara periodik; rakyat umum khususnya untuk mengangkat sumber otoritas politik; tiadanya
distingsi kelas atau privelese berdasarkan keturunan atau kesewenang-wenangan.

Realitasnya adalah bahwa Islam tidak hanya kompatibel dengan aspek- aspek definisi atau
gambaran demokrasi di atas, tetapi yang lebih penting lagi, aspek-aspek tersebut sangat esensial
bagi Islam. Apabila kita dapat melepaskan diri dari ikatan label dan semantik, maka akan kita
dapatkan bahwa pemerintahan Islam, apabila disaring
dari semua aspek yang korelatif, memiliki setidaknya tiga unsure pokok, yang berdasarkan pada
petunjuk dan visi Alquran di satu sisi dan preseden Nabi dan empat Khalifah sesudahnya
(Khulafa al-Rasyidin) di sisi lain.

Pertama, konstitusional. Pemerintahan Islam esensinya merupakan sebuah pemerintahan yang


`¶konstitusional´, di mana konstitusi mewakili kesepakatan rakyat (the governed) untuk diatur
oleh sebuah kerangka hak dan kewajiban yang ditentukan dan disepakati. Bagi Muslim, sumber
konstitusi adalah Alquran, Sunnah, dan lain-lain yang dianggap relevan, efektif dan tidak
bertentangan dengan Islam. Tidak ada otoritas, kecuali rakyat, yang memiliki hak untuk
membuang atau mengubah konstitusi. Dengan demikian, pemerintahan Islam tidak dapat
berbentuk pemerintahan otokratik, monarki atau militer. Sistem pemerintahan semacam itu
adalah pada dasarnya egalitarian, dan egalitarianisme merupakan salah satu ciri tipikal Islam.
Secara luas diakui bahwa awal pemerintahan Islam di Madinah adalah berdasarkan kerangka
fondasi konstitusional dan pluralistik yang juga melibatkan non-muslim.

Kedua, partisipatoris. Sistem politik Islam adalah partisipatoris. Dari pembentukan struktur
pemerintahan institusional sampai tahap implementasinya, sistem ini bersifat partisipatoris. Ini
berarti bahwa kepemimpinan dan kebijakan akan dilakukan dengan basis partisipasi rakyat
secara penuh melalui proses pemilihan populer. Umat Islam dapat memanfaatkan kreativitas
mereka dengan berdasarkan petunjuk Islam dan preseden sebelumnya untuk melembagakan dan
memperbaiki proses-proses itu. Aspek partisipatoris ini disebut proses Syura dalam Islam.

Ketiga, akuntabilitas. Poin ini menjadi akibat wajar esensial bagi sistem
konstitusional/partisipatoris. Kepemimpinan dan pemegang otoritas bertanggung jawab pada
rakyat dalam kerangka Islam. Kerangka Islam di sini bermakna bahwa semua umat Islam secara
teologis bertanggung jawab pada Allah dan wahyu-Nya. Sementara dalam tataran praksis
akuntabilitas berkaitan dengan rakyat. Oleh karena itu, khalifah sebagai kepala negara
bertanggung jawab pada dan berfungsi sebagai Khalifah al-Rasul (representatif rasul) dan
Khalifah al-Muslimin (representatif umat Islam) sekaligus.

Poin ini memerlukan kajian lebih lanjut karena adanya mispersepsi tentang kedaulatan
(sovereignty): bahwa kedaulatan Islam adalah milik Tuhan (teokrasi) sedangkan kedaulatan
dalam demokrasi adalah milik rakyat. Anggapan atau interpretasi ini jelas naif dan salah.
Memang, Tuhan merupakan kedaulatan tertinggi atas kebenaran, tetapi Dia telah memberikan
kebebasan dan tanggung jawab pada umat manusia di dunia.
Tuhan memutuskan untuk tidak berfungsi sebagai Yang Berdaulat di dunia. Dia telah
menganugerahi manusia dengan wahyu dan petunjuk esensial. Umat Islam diharapkan untuk
membentuk diri dan berperilaku, secara individual dan kolektif, menurut petunjuk itu. Sekalipun
esensinya petunjuk ini berdasarkan pada wahyu, tetapi interpretasi
dan implementasinya adalah profan.

Apakah akan memilih jalan ke surga atau neraka adalah murni keputusan manusia. Apakah akan
memilih Islam atau keyakinan lain juga keputusan manusiawi. Apakah akan memilih untuk
mengorganisir kehidupan kita berdasarkan pada Islam atau tidak juga terserah kita. Begitu juga,
apakah umat Islam hendak memilih bentuk pemerintahan Islam atau sekuler. Tidak ada paksaan
dalam agama.

Apabila terjadi konflik antara masyarakat dan pemimpin, seperti mayoritas masyarakat tidak
menginginkan sistem Islam, maka kalangan pimpinan tidak dapat memaksakan sesuatu yang
tidak dikehendaki oleh masyarakat. Tidak ada paksaan atau tekanan dalam Islam. Karena
tekanan dan paksaan tidak akan menghasilkan hasil yang diinginkan dan
fondasi Islam tidak dapat didasarkan pada paksaan atau tekanan.

Pada karakter fundamental yang didasarkan pada poin-poin di atas, tidak ada konflik antara
demokrasi dan sistem politik Islam, kecuali bahwa dalam sistem politik Islam orang tidak dapat
mengklaim dirinya Islami apabila tindak tanduknya bertentangan dengan Islam. Itulah mengapa
umat Islam hendaknya tidak menganggap demokrasi dalam artian umum bertentangan dengan
Islam; sebaliknya, umat harus menyambut
sistem demokrasi. Seperti yang dikatakan oleh Dr Fathi Osman, salah satu intelektual muslim
kontemporer terkemuka, `¶demokrasi merupakan aplikasi terbaik dari Syura´.[]

A Fatih Syuhud, mahasiswa Pasca-Sarjana Ilmu Politik, Agra


University, India

DIarsipkan di bawah: Artikel Opini

« Islam, Relativisme Budaya dan Toleransi Beragama Terorisme Internasional dan Perdagangan Global »

è Responses to ³Islam dan Demokrasi´

›c

ï    , di/pada April 3rd, 2007 pada ›0:45 am Dikatakan:

selamat sore..
maaf, saya seorang mahasiswi ingin mengcopy artikel ini untuk referensi tugas
saya.apakah boleh?

2c

ÿ   
 , di/pada Nopember ›3th, 2008 pada 3:24 am Dikatakan:

p6xiljwt0pw1czbu

3c

ð , di/pada Januari 3rd, 2009 pada 8:3› am Dikatakan:


saudara Al Fatih««.. prinsip2 demokrasi yang anda berikan masih belum lengkap«..
salah satunya adalah prinsip kebebasan yang tidak ada dalam islam, kebebasan membuat
aturan yang menjadi fundamental demokrasi sedangkan pembuat hukum adalah Allah
saja, dan manusia memahaminya dan berijtihat seperti yang dilakukan para sahabat««..
mari ditelaah lagi lebih dalam«.. jangan hanya takut dibilang islam tidak demokratis
sehingga kita mencari celah agar islam demokratis«. sudah sangat jelas demokrasi tidak
ada dalam islam, dan demokrasi yang menjerumuskan umat manusia dalam
keterpurukan«««. mari kita lihat bagaimana kehancuran masyarakat dunia karena
demokrasi«««.

4c