Anda di halaman 1dari 6

ASEAN ECONOMIC COMMUNITY (AEC)

BAB I
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Terbentuknya ASEAN menjadi proses penanda telah terbentuk pula
regionalisme di Kawasan Asia Tenggara. Pembentukan ASEAN ini pada awalnya
digagas untuk memberikan perdamaian, kebebasan, dan kesejahteraan bagi negara-
negara di Asia tenggara. Cita- cita tersebut digambarkan dalam visi ASEAN dalam
Deklarasi Bangkok yang memberikan nilai sejarah tersendiri bagi proses
pembentukan ASEAN sendiri. Deklarasi bangkok yang ditanda tangani oleh 5 Mentri
Luar Negri sebagai founding fathers dari ASEAN sendiri, yaitu Singapura, Indonesia,
Thailand, Filipina, dan Malaysia.
Dengan terbentuknya ASEAN telah menjadi suatu hal yang penting bagi
proses regionalisme di Asia Tenggara dan dengan cita – cita ASEAN untuk
memberikan perdamaian, kebebasan, dan kesejahteraan bagi negara-negara Asia
Tenggara, tercermin bagaimana ASEAN juga bertujuan untuk mewujudkan integritas
di Asia Tenggara sehingga proses regionaslisme terus berjalan dengan meluasnya
keanggotaan di dalam ASEAN menjadi sepuluh negara (Laos, Malaysia, Filipina,
Singapura, Indonesia, Kamboja, Thailand, Myanmar, Brunei, Vietnam).
Sejalan dengan perluasan keanggotaan ASEAN, perkembangan ASEAN pun
juga semakin pesat dengan berkembang pula dinamika hubungan internasional.
Dengan dasar visi ASEAN untuk memberikan perdamaian, kebebasan, dan
kesejahteraan bagi negra-negara Asia Tenggara, kemudian terbentuklah ‘Visi ASEAN
2020’ yang digagas di Kuala Lumpur tahun 1997. Digambarkan pada ‘Visi ASEAN
2020’ ini bahwa negara-negara di Asia Tenggara diharapkan mampu bekerja sama
secara intensif karena terikat dalam satu kemitraan pembangunan yang dinamis.
Kerjasama ASEAN kembali mengalami perkembangan dengan terbentuknya
ASEAN COMMUNITY dan ASEAN Charter. Pembentukan ASEAN Community
diawali dengan komitmen para pemimpin ASEAN dengan ditandatanganinya ‘Visi
ASEAN 2020’ yang mencita-citakan ASEAN sebagai suatu satuan komunitas yang

1
berpandangan maju kedepan, hidup dalam lingkungab yang damai. stabi. dan
makmur, yang dipersatukan oleh hubungan kemitraandalam pembangunan yang
dinamis dan masyarakat yang saling peduli.1 Sedangkan ASEAN Charter sebagai
konstitusi dari ASEAN sendiri yang memuat prinsip-prinsip pokok yang harus
ditegakkan oleh anggota. ASEAN Charter menjadi fondasi dari pilar komunitas
keamanan dan politik, yang sekaligus menaungi dua pilar lainnya yaitu komunitas
ekonomi dan sosial budaya.
Pembentukan komunitas ekonomi ASEAN sebenarnya secara tidak langsung
telah digambarkan dalam pembentukan AFTA (ASEAN Free Trade Area) di tahun
1992. Selanjutnya sebagai wujud dari cita-cita ASEAN untuk menjaga stabilitas
regionalnya maka tercetuslah ide pembentukan ASEAN Economic Community
(AEC) oleh Perdana Mentri Singapura, Goh Chok Tong. Pembentukan AEC ini
akhirnya terealisasi dengan terbentuknya ASEAN Community pada KTT ke-9
ASEAN di Bali pada tahun 2003 sengan ditandatanganinya Bali Concord II, yang
mengaskan bahwa ASEAN akan menjadi sebuah komunitas yang aman , damai, stabil
dan sejahtera pada tahun 2020. ASEAN Community ini terdiri dari 3 Pilar, yaitu
ASEAN Economic Community (AEC), ASEAN Security Community (ASC),
ASEAN Socio-Cultural Community (ASCC).
Kesepakatan ASEAN Summit pada Januari 2007 memperbaharui apa yang
telah disepakati dengan dipercepatnya visi ASEAN pada tahun 2020 menjadi tahun
2015. Sehingga apa saja yang berkaitan dengan cita-cita integrasi ASEAN ini banyak
mengalami perkembangan. Dalam perwujudan integrasi ekonomi di Asia Tenggara
ini, AEC menjadi salah satu instrumen penting dalam proses yang berlangsung.
Tingginya kompetisi regional serta pertumbuhan ekonomi di negara-negara seperti
China menjadi pertimbangan mengapa terjadi dipercepatnya target integrasi ASEAN
pada 2015.
Semua pilar dalam ASEAN Community didasarkan pada prinsip penyatuan
perbedaan kepentingan negara-negara Asia Tenggara untuk mencapa ‘Visi ASEAN
2015’. Begitu pula dengan AEC, integrasi ekonomi yang akan diwujudkan nantinya
akan membentuk ASEAN sebagai pasar tunggal serta basis produksi, sehingga AEC
akan menjadi jalan untuk mencapai integrasi yang dimaksud. Dalam AEC, komitmen

1
Diakses pada ASEAN Selayang Pandang, http://209.85.175.104/search?
q=cache:waQmji44b3YJ:www.deplu.go.id/download/asean-selayang-
pandang2007.pdf+kerjasama+ASEAN+kini+menuju+tahapan+baru+yang+lebih+integratif&hl=id&ct
&cd=4&gl=id&client=firefox-a pada tanggal 2 Februari 2010 pkl 16.32 wib

2
negara anggota ASEAN dituangkan dalam AEC Blueprint yang memuat aspek-aspek
ekonomi dan keuangan untuk mewujudkan integrasi ekonomi tahun 2015.
Dengan adanya AEC khususnya AEC Blueprint sebagai pedoman persiapan
bagi negara-negara anggota ASEAN ini, muncul pertanyaan mengenai kesiapan
negara anggota dalam menghadapi visi integrasi yang akan berlangsung. Dalam hal
ini, Indonesia yang menjadi salah satu driving force ASEAN, tetapi masih memiliki
berbagai permasalahan ekonomi khususnya pada aspek perdagangan bebas yang
tentunya akan menjadi aspek utama dalam perwujudan integrasi ekonomi ASEAN ini
nantinya.

I.2 Rumusan Permasalahan


Pada kenyataannya, tak semua negara anggota ASEAN memiliki kemampuan
ekonomi yang relatif setara, maka langkah awal liberalisasi menuju AEC dimotori
oleh enam negara, yaitu Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Indonesia, dan
Brunei. Sedangkan, Kamboja, Laos, Vietnam dan Myanmar dilibatkan belakangan
setelah segala sesuatunya memadai. Untuk mewujudkan AEC 2015 ini maka disusun
AEC Blueprint yang memuat karakteristik, elemen, rencana aksi prioritas, target dan
jadwal atau timeline pencapaiannya di bahas dalam KTT Asean di Cebu, Filipina,
Januari 2007 lalu.
Cetak biru tersebut memuat empat kerangka utama AEC, yaitu single market
and production base, competitive economic region, equitable economic development,
serta full integration into global economy. Dengan pendeklarasian AEC Blueprint, 10
negara anggota ASEAN harus mampu mengsinergikan kebijakan ekonominya,
khususnya terkait dengan kebijakan perdagangan dan jasa, kebijakan investasi serta
kebijakan ketenagakerjaan yang mengacu pada cetak biru tersebut.
AEC ini juga menjadi momentum sendirir bagi Indonesia, terlebih lagi
Indonesia pun juga terlibat aktif dalam proses pebentukan AEC serta AEC Blueprint,
sehingga Indonesia harus mampu menjaga komitmen yang ada. Tetapi dengan
berbagai permasalahan domestik, dan kondisi ekonomi yang tidak stabil,
bagaimanakah dampak berlangsungnya AEC bagi Indonesia ?

3
BAB II
PEMBAHASAN

II.1 Perwujudan Integrasi Ekonomi ASEAN dalam ASEAN Economic


Community
ASEAN Economic Community (AEC) adalah salah satu dari 3 pilar konsep
integrasi ASEAN yang telah disetujui bersama oleh Kepala Negara dari 10 negara
anggota ASEAN dalam pertemuan di Bali tahun 2003 yang dikukuhkan lewat
Declaration of ASEAN Concord II atau yang dikenal dengan BALI Concord II.
Konsep utama dari AEC adalah menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal
dan kesatuan basis produksi dimana terjadi free flow atas barang, jasa, faktor
produksi, investasi dan modal serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara
ASEAN yang kemudian diharapkan dapat mengurangi kemiskinan dan kesenjangan
ekonomi diantara negara-negara anggotanya melalui sejumlah kerjasama yang saling
menguntungkan.2 .
Melalui terwujudnya AEC, yang utama posisi tawar ASEAN di perekonomian
global menjadi lebih kuat. Kemudian kesempaatan lainnya yang melihat dari tujuan
AEC yang dideklarasikan melalui Bali Concord II yaitu terciptanya wilayah ekonomi
ASEAN yang stabil, makmur, dan sangat kompetitif dimana terjadi aliran bebas atas
barang, jasa, investasi dan modal, pembangunan ekonomi yang merata dan
mengurangi kesenjangan sosial ekonomi di tahun 2020.
Untuk mewujudkan AEC 2015 ini maka disusun AEC Blueprint yang memuat
karakteristik, elemen, rencana aksi prioritas, target dan jadwal atau timeline
pencapaiannya di bahas dalam KTT Asean di Cebu, Filipina, Januari 2007 lalu.
ASEAN Economic Community Blueprint (AEC Blueprint) dirancang untuk
transformasi ASEAN kepada “a single market and production base, a highly
competitive economic region, a region of equitable economic development, and a
region fully integrated into global economy”.3 AEC Blue Print memuat 4 kerangka
utama AEC dengan elemennya masing-masing sebagai berikut:4
a. Menuju single market dan production base,
2
3
Diakses dari http://ditjenkpi.depdag.go.id/website_kpi/Umum/Blueprint.pdf). pada tanggal 1 Februari
2010 pkl 12.43 wib
4
Diakses dari http://suar.okezone.com/read/2007/11/27/58/63978/asean-single-market pada tanggal2
februari 2010 pkl 13.21 wib

4
b. Menuju penciptaan kawasan regional ekonomi yang berdaya saing tinggi,
c. Menuju suatu kawasan dengan pembangunan ekonomi merata melalui
pengembangan UKM dan program-program Initiative for ASEAN Integration,
dan
d. Menuju integrasi penuh pada ekonomi global
Inti dari AEC blueprint ini adalah transformasi ASEAN ke dalam sebuah pasar
tunggal sekaligus menjadi tempat basis produksi, kawasan yang mempunyai
keunggulan kompetitif tinggi, kawasan yang memiliki kesetaraan dalam
pembangunan ekonomi, dan kawasan yang sepenuhnya terintegrasi ke dalam ekonomi
global.
Pembentukan Komunitas Ekonomi Asean akan memberikan peluang bagi
negara – negara anggota ASEAN untuk memperluas cakupan skala ekonomi,
mengurangi kemiskinan dan kesenjangan sosial ekonomi, meningkatkan daya tarik
sebagai tujuan bagi investor dan wisatawan, mengurangi biaya transaksi perdagangan
dan memperbaiki fasilitas perdagangan dan bisnis. Disamping itu, pembentukan
Komunitas Ekonomi Asean juga akan memberikan kemudahan dan peningkatan akses
pasar intra-ASEAN serta meningkatkan transparansi dan mempercepat penyesuaian
peraturan- peraturan dan standarisasi domestik.

II.2 Perkembangan ASEAN Economic Community


Keberadaan AEC diharapkan dapat menuntun semua negara ASEAN
mewujudkan sebuah Komunitas Ekonomi ASEAN yang terbuka, terlebih dengan
peluang kerjasama ekonomi di lingkungan ASEAN akhir-akhir ini menunjukkan
peningkatan, terlihat dari Foreign direct investment (FDI) ke kawasan ASEAN pada
tahun 2006 mengalami kenaikan sebesar 27%, yakni dari sekitar US$ 41 milyar
menjadi US$ 52,4 milyar. Sementara itu untuk kuartal pertama tahun 2007, FDI ke
ASEAN telah mencapai US$ 14 miliar atau meningkat 9% dibanding periode yang
sama tahun lalu.
ASEAN juga berhasil mempertahankan kinerja ekspornya tahun lalu dengan
mencatat kenaikan sebesar 16,5% dibanding tahun 2005, yakni dari US$ 650,63
milyar di tahun 2005 menjadi US$ 758,04 milyar di tahun 2006. Ekspor ASEAN pada

5
kuartal pertama 2007 ini juga meningkat sebesar 10,1% dibanding periode yang sama
tahun 2006.5

5
Diakses dari http://kelana-tambora.blogspot.com/2009/11/aec-kemajuan-dan-tantangannya.html pada
tanggal 2 Februari 2010 pkl 15.24 wib