Perang Padri, Perang Diponegoro & Perang Aceh

Perang Padri merupakan peperangan yang pada awalnya akibat pertentangan dalam masalah agama. Peperangan ini dimulai dengan munculnya gerakan Kaum Padri (Kaum Ulama) dalam menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di kalangan masyarakat yang ada dalam kawasan Kerajaan Pagaruyung sekitarnya. Belanda berhasil mengirim tentara dari Batavia dipimpim oleh Letkol Raaf. Serangan tersebut berhasil merebut Batusangkar & mendirikan Benteng Fort Van der Capellen. Pada tahun 1825, di P.Jawa terjadi perlawanan dari Pangeran Diponegoro yang memecahkan perhatian Belanda menjadi 2 arah, untuk Jawwa & Sumatera. Untuk mengkonsentrasikan perhatiannya di Jaw, diadakan perjanjian kaum Padri /perjanjian Masang. Kedua pihak tetap menjaga diri & selalu siap apabila akan terjadi perang. Setelah tahun 1830, pertempuran di Sumatera Barat tidak dapat dihindari. Naskah perjanjian Masang dirobek Belanda. Meskipun pada tahun 1337, benteng Bonjol dapat dikuasai Belanda, dan Tuanku Imam Bonjol berhasil ditipu dan ditangkap, tetapi peperangan tersebut masih berlanjut sampai akhirnya benteng terakhir Kaum Padri, di Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai jatuh pada tahun 28 Desember 1838. Tuanku Tambusai terpaksa mundur, bersama sisa pengikutnya pindah ke Semenanjung Malaya, dan akhirnya peperangan ini dianggap selesai dan kemudian Kerajaan Pagaruyung ditetapkan menjadi bagian dari pax neerlandica dan menyatakan wilayah Padangse Bovenlanden berada di bawah pengawasan Belanda. Tuanku Imam Bonjol (1722-1864), diangkat sebagai pahlawan nasional adalah pemimpin utama Perang Paderi di Sumatera Barat (1803-1837) yang gigih melawan Belanda. Perang Diponegoro terjadi karena kekuasaan raja Mataram yang mengecil yang menyebabkan pemecahan wilayah menjadi Surakarta, Ngayogyakarta, Mangkunegara, & Paku Alaman. Juga karena penghasilan bangsawan yang diambil pemerintah, dan rakyat yang bekerja rodi dibebani orang Tionghoa. Sebab khususnya adalah karena pembuatan jalan yang melalui makam leluhur Pangeran Diponegoro di Tegal Rejo. Pada tahun 1827, Belanda melakukan penyerangan terhadap Diponegoro dengan menggunakan sistem benteng sehingga Pasukan Diponegoro terjepit. Pada tahun 1829, Kyai Mojo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap. Menyusul kemudian Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya Sentot Alibasya menyerah kepada Belanda. Akhirnya pada tanggal 28 Maret 1830, Jenderal De Kock berhasil menjepit pasukan Diponegoro di Magelang. Di sana, Pangeran Diponegoro menyatakan bersedia menyerahkan diri dengan syarat sisa anggota laskarnya dilepaskan. Maka, Pangeran Diponegoro ditangkap dan diasingkan ke Manado, kemudian dipindahkan ke Makassar hingga wafatnya di Benteng Rotterdam tanggal 8 Januari 1855.

Belanda berhasil menduduki Keraton Sultan. Beberapa ribu orang juga berdatangan dari Teunom. di bawah Jend. Perang keempat (1896-1910) adalah perang gerilya kelompok dan perorangan dengan perlawanan. Jan van Swieten. Pada Perang Aceh Kedua (1874-1880). dan langsung bisa menguasai Masjid Raya Baiturrahman. Kerajaan Aceh. 1848 Sumedang. sampai Lambada. Belanda menyatakan perang kepada Aceh. Lambhuk. Ada di Peukan Aceh. maka berakhirlah perang. Perang Aceh Pertama (1873-1874) dipimpin oleh Panglima Polim dan Sultan Mahmud Syah melawan Belanda yang dipimpin Köhler.000 jiwa. Pada 8 April 1873. perang dilanjutkan secara gerilya dan dikobarkan perang fi sabilillah. Indrapuri. Sulawesi Selatan. Yang paling besar saat merebut kembali Masjid Raya Baiturrahman. dimana Köhler sendiri tewas pada tanggal 14 April 1873. meskipun ibu kota negara berpindah-pindah ke Keumala Dalam. Pangeran Diponegoro ditangkap & ditawan di Batavia dan Makassar oleh Belanda. Dalam perang gerilya ini pasukan Aceh di bawah Teuku Umar bersama Panglima Polim dan Sultan. 8 Januari 1855 pada umur 69 tahun) Perang Aceh dimulai pada tanggal 26 Maret 1873. Dengan itu.000 orang. dimana pemerintah masih berjalan mapan. dan dijadikan sebagai pusat pertahanan Belanda. Total orang jawa yang meninggal.Colonel Cleerens mengadakan perundingan pada bulan Februari 1830 dan Maret 1830 dan dilaksanakan antara Pangeran Diponegoro dan Belanda. Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta. Padahal total penduduk Hindia Belanda waktu itu baru tujuh juta orang. perang berkecamuk di mana-mana. Sepuluh hari kemudian. Pidie. . 31 Januari 1874 Jenderal Van Swieten mengumumkan bahwa seluruh Aceh jadi bagian dari Kerajaan Belanda. Biaya perang 20 juta gulden. Korban perang Diponegoro: orang Eropa 8. 11 November 1785 meninggal di Makassar. Jawa Barat. sementara separuh penduduk Yogyakarta terbunuh. Perang pertama dan kedua ini adalah perang total dan frontal. penghadangan dan pembunuhan tanpa komando dari pusat pemerintahan Kesultanan. penyerbuan. Krueng Raya. Dimana sistem perang gerilya ini dilangsungkan sampai tahun 1904. 26 Januari 1874. Cut Nyak Dhien. Köhler dengan 3000 serdadunya dapat dipatahkan.000 jiwa. Lampadang. Tetapi Cut Nyak Dhien istri Teuku Umar kemudian tampil menjadi komandan perang gerilya.198 tentara. dan mulai melepaskan tembakan meriam ke daratan Aceh dari kapal perang Citadel van Antwerpen. dan tempat-tempat lain. orang pribumi yang di pihak Belanda 7. Pada tahun 1899 ketika terjadi serangan mendadak dari pihak Van der Dussen di Meulaboh. Perang ketiga (1881-1896). 6 November 1908 adalah seorang Pahlawan Nasional Indonesia dari Aceh yang berjuang melawan Belanda pada masa Perang Aceh. Teuku Umar gugur. dan beberapa beberapa wilayah lain. Sebanyak 168 di antaranya para perwira. yang dibantu oleh beberapa kelompok pasukan. Lampu'uk. Köhler saat itu membawa 3. Peusangan. baik rakyat jelata maupun pengikut Diponegoro 200. digantikan oleh Tuanku Muhammad Dawood yang dinobatkan sebagai Sultan di masjid Indragiri. Belanda mendarat di Pantai Ceureumen di bawah pimpinan Johan Harmen Rudolf Köhler.Ketika Sultan Machmud Syah wafat 26 Januari 1874. Peukan Bada.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful