Anda di halaman 1dari 19

Laporan Kasus

Labioschicis Unilateral Complete Sinistra

OLEH :

Chairul Anhar
H1A 004 010

PEMBIMBING :
Dr. Arif Zuhan Sp.B

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


DI LAB/SMF BEDAH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
RUMAH SAKIT UMUM PROVINSI NTB
2011
HALAMAN PENGESAHAN

Judul Referat : Labioschicis Unilateral Complete Sinistra

Nama Mahasiswa : Chairul Anhar

NIM : H1A 004 010

Fakultas : Kedokteran

Laporan kasus ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian Kepaniteraan Klinik
Madya pada Bagian/SMF Bedah Rumah Sakit Umum Propinsi Nusa Tenggara Barat/ Fakultas
Kedokteran Universitas Mataram

Mataram, 15 Januari 2011

Dosen Pembimbing

dr. Arif Zuhan, Sp.B

1
KASUS

I. Identitas Pasien
Nama : An. A.A
Umur : 8 bulan
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Kecamatan Seteluk-Kabupaten Sumbawa Barat
Masuk Rumah Sakit : 29 Desember 2010
Tanggal pemeriksaan : 03 Januari 2011

II. Anamnesis (Allow anamnesis)


 Keluhan utama :
Bibir sumbing sejak lahir

 Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dikeluhkan bibir sumbing pada bagian kiri sejak lahir. Delapan bulan
yang lalu (SMRS) pasie dilahirkan dari seorang Ibu yang berumur 28 tahun. Ibu
pasien mengatakan bahwa kelainan pada bibir pasien tidak mengganggu asupan ASI
yang diberikan. Makan minum lancar. Keluhan demam (-), batuk (-) sesak napas (-),
susah makan (+). BAB (+), konsistensi kenyal, warna kekuningan, darah(-), 3-4 kali
per hari. BAK (+), konsistensi cair, berwarna putih kekuningan, 5-6 kali per hari

 Riwayat ANC:
o Ibu pasien mengaku pasien adalah anak pertamanya dan sebelumnya tidak
pernah keguguran .
o Selama masa kehamilan ibu pasien mengaku riwayat konsumsi minuman
beralkohol (-), merokok (-), narkotika (-), konsumsi obat dalam jangka waktu
lama (-), jamu-jamuan (-), rontgen (-).
o Riwayat menderita penyakit sistemik yang berat selama masa kehamilan (-),
kencing manis (-), tekanan darah tinggi (-), riwayat penyakit kelamin (-), riwayat
pemakaian KB hormonal (-).
o Kontrol kehamilan dilakukan ibu pasien rutin di puskesmas. Selama kontrol
kehamilannya ibu pasien mengaku tidak pernah ditemukan adanya kelainan
(kelainan letak janin (-), gemeli (-), perdarahan pervaginam (-), hiperemesis
gravidarum (-), anemia dalam kehamilan (-), panggul sempit (-)) dan biasa
mendapatkan vitamin (vitamin penambah darah) dari puskesmas. Namun ibu

2
pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi vitamin-vitamin tersebut dengan
alasan tidak berani minum obat. Kebiasaan ini tetap dilakukan ibu pasien sampai
pasien lahir.
o Pola makan ibu pasien selama kehahilan: makan 3-4x/hari, 1x makan habis 1
piring nasi beserta lauk pauk dan sayuran. Ibu pasien juga mengkonsumsi buah-
buahan.

 Riwayat persalinan:
Ibu pasien mengatakan bahwa proses persalinan dibantu bidan di RSUD Sumbawa
Besar. Pasien lahir per vaginam dengan dirangsang dengan obat (induksi oxytosin).
Pasien lahir dengan berat 3 kilo gram, cukup bulan dengan kelainan bawaan bibir
sumbing(+), kelainan lain (-).

 Riwayat tumbuh kembang:


Tengkurap umur 6 bulan, pasien belum bisa mengucapkan kata

 Riwayat Penyakit Dahulu :


Asma (-), penyakit kuning (-)

 Riwayat Penyakit Keluarga :


Orang tua pasien mengaku tidak ada anggota keluarga baik dari keturunan ibu
ataupun ayah pasien yang pernah menderita bibir sumbing.

 Riwayat Alergi :
Pasien disangkal adanya alergi terhadap obat atau makanan tertentu.

 Riwayat sosial:
Ibu pasien berumur 28 tahun dan ayah pasien berumur 27 tahun. Pekerjan kedua
orang tua pasien adalah petani dengan penghasilan yang tak tentu.

 Riwayat Pengobatan:
Pada saat pasien dilahirkan orang tua pasien dianjurkan oleh dokter untuk
mengoperasi bibir sumbing pasien setelah pasien berumur lebih dari 3 bulan. Namun,
karena masalah biaya orangtua pasien baru bisa melaksanakannya sekarang. Pertama
kali pasien diperiksakan ke PKM Seteluk-KSB pada tanggal 15 november 2010 dan
langsung dirujuk ke RSUP NTB. Setelah selesai pengurusan JAMKESDA pasien

3
dibawa orangtuanya dating ke mataram dan memeriksakan pasien di poliklinik bedah
pertama pada tanggal 22 November 2010. Kemudian dokter poliklinik bedah
menganjurkan bahwa pasien harus di operasi. Pasien baru biasa masuk bangsal seruni
tanggal 29 Desember 2010.

III. Pemeriksaan Fisik


a. Status present :
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : CM
Tanda vital :
- Nadi : 132 x/menit
- Pernafasan : 28 x/menit
- Suhu axilla : 37,6 °C
- Berat badan(BB) : 7 kg
- Tinggi badan(TB): 63 cm
- Z Score BB/TB: 0.73 SD
- Status gizi Normal (rentang normal >-2 SD sampai +2 SD)
b. Pemeriksaan fisik umum :
1. Kepala – Leher
- Kepala : Normochepali, deformitas (-)
- Mata : Konjungtiva palpebra anemis -/-, sklera ikterus -/-, pupil isokor
diameter 2 mm/2mm, refleks pupil (+/+)
- THT :
- Telinga: bentuk telinga kanan/kiri normal, infeksi telinga -/-
- Hidung: deviasi (+) sedikit kearah kanan, deformitas os nasal (-), sadle nose
(-).
- Mulut: labium superior sinistra tampak celah sepanjang 2 cm kearah nares
nasi sinistra, celah palatum durum (-)
- Leher : massa (-), tidak terdapat pembesaran KGB

2. Thoraks – Kardiovaskuler
- Inspeksi : tampak pergerakan dinding thoraks simetris, retraksi (-), iktus
kordis tidak tampak.
- Palpasi : Teraba pergerakan dinding thorak simetris,
- Perkusi :
Paru : sonor pada daerah dinding thorak sinistra dan dekstra
4
Jantung : pekak dengan batas kanan atas ICS II parasternalis dekstra, batas
kiri atas pada ICS II parasternalis sinistra, batas kiri bawah pada ICS V
midclavicular line.
- Auskultasi :
Jantung : suara jantung S1 S2 reguler tunggal, murmur -/-, gallop -/-.
Paru : Suara napas terdengar vesikuler +/+, rhonki -/-, wheezing -/-.

3. Abdomen
- Inspeksi : kulit tampak normal, dinding abdomen tidak tampak distensi, tidak
terdapat jaringan sikatrik, tidak tampak massa.
- Auskultasi : terdengar bising usus pada semua lapang abdomen jumlah
normal,
- Perkusi : timpani pada semua lapang abdomen
- Palpasi : dinding perut supel, nyeri tekan (-) pada seluruh area abdomen,
4. Urogenital
Suprapubis : massa (-), nyeri tekan (-)
Genitalia : kedua testis (+), kelainan bawaan (-)
5. Anal – perianal
Anus (+)
6. Ekstrimitas atas – Axilla
- Inspeksi : Edema -/-, deformitas -/-
- Palpasi : nyeri tekan (-) motorik dan sensibilitas baik
Pembesaran KGB -/-
7. Ekstrimitas bawah
- Inspeksi : Edema -/-, deformitas -/-
- Palpasi : nyeri tekan (-) motorik baik

5
Status lokalis :

Deviasi sedikit
kearah dextra

Celah di labium labium


superior sinistra ± 2 cm

Celah palatum
durum (-)

6
IV. Resume
a. Anamnesis
Laki-laki, 8 bulan, dikeluhkan bibir sumbing pada bagian kiri sejak lahir. Ibu yang
berumur 27 tahun. Ibu pasien mengatakan bahwa kelainan pada bibir pasien tidak
mengganggu asupan ASI yang diberikan. Makan minum lancar. Keluhan demam (-),
batuk (-) sesak napas (-), susah makan (+). BAB (+), konsistensi kenyal, warna
kekuningan, darah(-), 3-4 kali per hari. BAK (+), konsistensi cair, berwarna putih
kekuningan, 5-6 kali per hari
 Riwayat ANC:
o Ibu pasien mengaku pasien adalah anak pertamanya dan sebelumnya tidak pernah
keguguran .
o Selama masa kehamilan ibu pasien mengaku riwayat konsumsi minuman
beralkohol (-), merokok (-), narkotika (-), konsumsi obat dalam jangka waktu
lama (-), jamu-jamuan (-), rontgen (-).
o Riwayat menderita penyakit sistemik yang berat selama masa kehamilan (-),
kencing manis (-), tekanan darah tinggi (-), riwayat penyakit kelamin (-), riwayat
pemakaian KB hormonal (-).
o Kontrol kehamilan dilakukan ibu pasien rutin di puskesmas. Selama kontrol
kehamilannya ibu pasien mengaku tidak pernah ditemukan adanya kelainan
(kelainan letak janin (-), gemeli (-), perdarahan pervaginam (-), hiperemesis
gravidarum (-), anemia dalam kehamilan (-), panggul sempit (-)) dan biasa
mendapatkan vitamin (vitamin penambah darah) dari puskesmas. Namun ibu
pasien mengaku tidak pernah mengkonsumsi vitamin-vitamin tersebut dengan
alasan tidak berani minum obat. Kebiasaan ini tetap dilakukan ibu pasien sampai
pasien lahir.
o Pola makan ibu pasien selama kehahilan: makan 3-4x/hari, 1x makan habis 1
piring nasi beserta lauk pauk dan sayuran. Ibu pasien juga mengkonsumsi buah-
buahan.
 Riwayat persalinan:
Ibu pasien mengatakan bahwa proses persalinan dibantu bidan di RSUD Sumbawa
Besar. Pasien lahir per vaginam dengan dirangsang dengan obat (induksi
oxytosin). Pasien lahir dengan berat 3 kilo gram, cukup bulan dengan kelainan
bawaan bibir sumbing(+), kelainan lain (-).
 Riwayat tumbuh kembang:
Tengkurap umur 6 bulan, pasien belum bisa mengucapkan kata
 Riwayat Penyakit Dahulu :

7
Asma (-), penyakit kuning (-)
 Riwayat Penyakit Keluarga :
Orang tua pasien mengaku tidak ada anggota keluarga baik dari keturunan ibu
ataupun ayah pasien yang pernah menderita bibir sumbing.
 Riwayat Alergi :
Pasien disangkal adanya alergi terhadap obat atau makanan tertentu.
 Riwayat sosial:
Ibu pasien berumur 28 tahun dan ayah pasien berumur 27 tahun. Pekerjan kedua
orang tua pasien adalah petani dengan penghasilan yang tak tentu.

Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : CM
Tanda vital :
- Nadi : 132 x/menit
- Pernafasan : 28 x/menit
- Suhu axilla : 37,6 °C

THT :

- Telinga: bentuk telinga kanan/kiri normal, infeksi telinga -/-


- Hidung: deviasi (+) ke kanan, deformitas os nasal (-), sadle nose (-).
- Mulut: labium superior sinistra tampak celah sepanjang 2 cm kearah nares
nasi sinistra, celah palatum durum (-), pertumbuhan gigi (-).
V. Diagnosis kerja:
Labioschisis unilateral complete sinistra

VI. Pemeriksaan Penunjang


- Pre op
o DL,UL,GDS,SC,BT, CT
o Rontgen Thorax AP

VII. Rencana Terapi


- Labioplasty

VIII. Prognosis
Dubia ad bonam
8
STUDI PUSTAKA

Labioschisis atau biasa disebut bibir sumbing adalah cacat bawaan yang menjadi
masalah tersendiri di kalangan masyarakat, terutama penduduk dengan status sosial ekonomi
yang lemah. Akibatnya operasi dilakukan terlambat dan malah dibiarkan sampai dewasa. 1
Fogh Andersen di Denmark melaporkan kasus bibir sumbing dan celah langit-langit
1,47/1000 kelahiran hidup. Hasil yang hampir sama juga dilaporkan oleh Woolf dan
Broadbent di Amerika Serikat serta Wilson untuk daerah Inggris. Neel menemukan insiden
2,1/1000 penduduk di Jepang.2
Insiden bibir sumbing di Indonesia belum diketahui. Hidayat dan kawan kawan di
propinsi Nusa Tenggara Timur antara April 1986 sampai Nopember 1987 melakukan operasi
pada 1004 kasus bibir sumbing atau celah langit-langit pada bayi, anak maupun dewasa di
antara 3 juta penduduk.3 Etiologi bibir sumbing dan celah langit-langit adalah multifaktor.
Selain faktor genetik juga terdapat faktor non genetik atau lingkungan. Faktor-faktor yang
dapat mempengaruhi terjadinya bibir sumbing dan celah langit-langit adalah usia ibu waktu
melahirkan, perkawinan antara penderita bibir sumbing, defisiensi Zn waktu hamil dan
defisiensi vitamin B6.1
Bayi yang terlahir dengan labioschisis harus ditangani oleh klinisi dari multidisiplin
dengan pendekatan team-based, agar memungkinkan koordinasi efektif dari berbagai aspek
multidisiplin tersebut. Selain masalah rekonstruksi bibir yang sumbing, masih ada masalah
lain yang perlu dipertimbangkan yaitu masalah pendengaran, bicara, gigi-geligi dan
psikososial. Masalah-masalah ini sama pentingnya dengan rekonstruksi anatomis, dan pada
akhirnya hasil fungsional yang baik dari rekonstruksi yang dikerjakan juga dipengaruhi oleh
masalah-masalah tersebut. Dengan pendekatan multidisipliner, tatalaksana yang
komprehensif dapat diberikan, dan sebaiknya kontinyu sejak bayi lahir sampai remaja.
Diperlukan tenaga spesialis bidang kesehatan anak, bedah plastik, THT, gigi ortodonti, serta
terapis wicara, psikolog, ahli nutrisi dan audiolog.4
Kelainan ini sebaiknya secepat mungkin diperbaiki karena akan mengganggu pada
waktu menyususui dan akan mempengaruhi pertumbuhan normal rahang serta perkembangan
bicara. Penatalaksanaan labioschisis adalah operasi. Bibir sumbing dapat ditutup pada semua
usia, namun waktu yang paling baik adalah bila bayi berumur 10 minggu, berat badan
mencapai 10 pon, Hb > 10g%. Dengan demikian umur yang paling baik untuk operasi sekitar
3 bulan.1,5Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bustami dan kawan-kawan diketahui bahwa

9
alasan terbanyak anak penderita labioschisis terlambat (berumur antara 5- 15 tahun) untuk
dioperasi adalah keadaan sosial ekonomi yang tidak memadai dan pendidikan orang tua yang
masih kurang.1

TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Labioschisis atau cleft lip atau bibir sumbing adalah suatu kondisi dimana terdapatnya
celah pada bibir atas diantara mulut dan hidung. Kelainan ini dapat berupa takik kecil pada
bahagian bibir yang berwarna samapai pada pemisahan komplit satu atau dua sisi bibir
memanjang dari bibir ke hidung. Celah pada satu sisi disebut labioschisis unilateral, dan jika
celah terdapat pada kedua sisi disebut labioschisis bilateral.4

Gambar 1. Bayi dengan Labioschisis.7

ETIOLOGI
Penyebab terjadinya labioschisis belum diketahui dengan pasti. Kebanyakan ilmuwan
berpendapat bahwa labioschisis muncul sebagai akibat dari kombinasi faktor genetik dan
factor-faktor lingkungan. Di Amerika Serikat dan bagian barat Eropa, para peneliti
melaporkan bahwa 40% orang yang mempunyai riwayat keluarga labioschisis akan
mengalami labioschisis. Kemungkinan seorang
bayi dilahirkan dengan labioschisis meningkat bila keturunan garis pertama (ibu,
ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat labioschisis. Ibu yang mengkonsumsi alcohol
dan narkotika, kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama trimester pertama
kehamilan, atau menderita diabetes akan lebih cenderung melahirkan bayi/ anak dengan
labioschisis.6
Menurut Mansjoer dan kawan-kawan, hipotesis yang diajukan antara lain:7

10
- Insufisiensi zat untuk tumbuh kembang organ selama masa embrional dalam hal
kuantitas (pada gangguan sirkulasi feto-maternal) dan kualitas (defisiensi asam folat,
vitamin C, dan Zn)
- Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu dan kontrasepsi hormonal
- Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia.
- Faktor genetik
Kelainan ini terjadi pada trimester pertama kehamilan, prosesnya karena tidak terbentuknya
mesoderm pada daerah tersebut sehingga bagian yang telah menyatu (prosesus nasalis dan
maksilaris) pecah kembali.7

KLASIFIKASI
Labioschisis diklasifikasikan berdasarkan lengkap/ tidaknya celah yang
terbentuk :6,7
- Komplit
- Inkomplit
Dan berdasarkan lokasi/ jumlah kelainan :6
- Unilateral
- Bilateral

Gambar 2. Klasifikasi Labioschisis.6

MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis dari kelainan labioschisis antara lain :4,5
 Masalah asupan makanan
Merupakan masalah pertama yang terjadi pada bayi penderita labioschisis. Adanya
labioschisis memberikan kesulitan pada bayi untuk melakukan hisapan pada payudara ibu

11
atau dot. Tekanan lembut pada pipi bayi dengan labioschisis mungkin dapat meningkatkan
kemampuan hisapan oral. Keadaan tambahan yang ditemukan adalah reflex hisap dan reflek
menelan pada bayi dengan labioschisis tidak sebaik bayi normal, dan bayi dapat menghisap
lebih banyak udara pada saat menyusu. Memegang bayi dengan posisi tegak lurus mungkin
dapat membantu proses menyusu bayi. Menepuk-nepuk punggung bayi secara berkala juga
daapt membantu. Bayi yang hanya menderita labioschisis atau dengan celah kecil pada
palatum biasanya dapat menyusui, namun pada bayi dengan labioplatoschisis biasanya
membutuhkan penggunaan dot khusus. Dot khusus (cairan dalam dot ini dapat keluar dengan
tenaga hisapan kecil) ini dibuat untuk bayi dengan labio-palatoschisis dan bayi dengan
masalah pemberian makan/ asupan makanan tertentu.
 Masalah Dental
Anak yang lahir dengan labioschisis mungkin mempunyai masalah tertentu yang
berhubungan dengan kehilangan, malformasi, dan malposisi dari gigi geligi pada arean dari
celah bibir yang terbentuk.
 Infeksi telinga
Anak dengan labio-palatoschisis lebih mudah untuk menderita infeksi telinga karena
terdapatnya abnormalitas perkembangan dari otot-otot yang mengontrol pembukaan dan
penutupan tuba eustachius.
 Gangguan berbicara
Pada bayi dengan labio-palatoschisis biasanya juga memiliki abnormalitas pada
perkembangan otot-otot yang mengurus palatum mole. Saat palatum mole tidak dapat
menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara, maka didapatkan suara dengan kualitas nada
yang lebih tinggi (hypernasal quality of speech). Meskipun telah dilakukan reparasi palatum,
kemampuan otototot tersebut diatas untuk menutup ruang/ rongga nasal pada saat bicara
mungkin tidak dapat kembali sepenuhnya normal. Anak mungkin mempunyai kesulitan untuk
menproduksi suara/ kata "p, b, d, t, h, k, g, s, sh, and ch", and terapi bicara (speech therapy)
biasanya sangat membantu.

PENATALAKSANAAN
Idealnya, anak denga labioschisis ditatalaksana oleh “team labiopalatoschisis” yang terdiri
dari spesialistik bedah, maksilofasial, terapis bicara dan bahasa, dokter gigi, ortodonsi,
psikoloog, dan perawat spesialis. Perawatan dan dukungan pada bayi dan keluarganya

12
diberikan sejak bayi tersebut lahir sampai berhenti tumbuh pada usia kira-kira 18 tahun.
Tindakan pembedahan dapat dilakukan pada saat usia anak 3 bulan.6,7
Ada tiga tahap penatalaksanaan labioschisis yaitu :
1. Tahap sebelum operasi
Pada tahap sebelum operasi yang dipersiapkan adalah ketahanan tubuh bayi menerima
tindakan operasi, asupan gizi yang cukup dilihat dari keseimbangan berat badan yang dicapai
dan usia yang memadai. Patokan yang biasa dipakai adalah rule of ten meliputi berat badan
lebih dari 10 pounds atau sekitar 4-5 kg , Hb lebih dari 10 gr % dan usia lebih dari 10 minggu
, jika bayi belum mencapai rule of ten ada beberapa nasehat yang harus diberikan pada orang
tua agar kelainan dan komplikasi yang terjadi tidak bertambah parah. Misalnya memberi
minum harus dengan dot khusus dimana ketika dot dibalik susu dapat memancar keluar
sendiri dengan jumlah yang optimal artinya tidak terlalu besar sehingga membuat bayi
tersedak atau terlalu kecil sehingga membuat asupan gizi menjadi tidak cukup, jika dot
dengan besar lubang khusus ini tidak tersedia bayi cukup diberi minum dengan bantuan
sendok secara perlahan dalam posisi setengah duduk atau tegak untuk menghindari masuknya
susu melewati langit-langit yang terbelah. Selain itu celah pada bibir harus direkatkan dengan
menggunakan plester khusus non alergenik untuk menjaga agar celah pada bibir menjadi
tidak terlalu jauh akibat proses tumbuh kembang yang menyebabkan menonjolnya gusi
kearah depan (protrusio pre maxilla) akibat dorongan lidah pada prolabium , karena jika hal
ini terjadi tindakan koreksi pada saat operasi akan menjadi sulit dan secara kosmetika hasil
akhir yang didapat tidak sempurna. Plester non alergenik tadi harus tetap direkatkan sampai
waktu operasi tiba.
2. Tahap sewaktu operasi

Tahapan selanjutnya adalah tahapan operasi, pada saat ini yang diperhatikan adalah soal
kesiapan tubuh si bayi menerima perlakuan operasi, hal ini hanya bisa diputuskan oleh
seorang ahli bedah Usia optimal untuk operasi bibir sumbing (labioplasty) adalah usia 3
bulan Usia ini dipilih mengingat pengucapan bahasa bibir dimulai pada usia 5-6 bulan
sehingga jika koreksi pada bibir lebih dari usia tersebut maka pengucapan huruf bibir sudah
terlanjur salah sehingga kalau dilakukan operasi pengucapan huruf bibir tetap menjadi kurang
sempurna.

Teknik Operasi

13
Terdapat beberapa metode labioplasty diantaranya : teknik Rose-Thompson, teknik
flap quadrangularis, teknik flap triangularis, teknik Millard dan takenik modifikasi Mohler.
Namun yang paling umum digunakan adalah teknik Millard yang caranya didasari oleh
gerakan memutar dan memajukan (rotation and advancement).
Teknik operasinya yaitu pertama dari sisi lateral, mukosa dikupas dari otot orbikularis
oris. Kemudian otot orbikularis oris bagian merah bibir dipisahkan dari sisanya. Kulit dan
subkutis dibebaskan dari otot orbikularis oris secara tajam, sampai kira-kira sulkus
nasoabialis. Lepaskan mukosa bibir dari rahang pada lekuk pertemuannya, secukupnya.
Kemudian otot dibebaskan dari mukosa hingga terbentuk 3 lapis flap : mukosa, otot dan kulit.
Lalu pada sisi medial, mukosa dilepaskan dari otot. Dibuat flap C. Kemudian dibuat insisi 2
mm dari pinggir atap lubang hidung, bebaskan kulit dari mukosa dan tulang rawan alae,
menggunakan gunting halus melengkung. Letak tulang rawan alae diperbaiki dengan tarikan
jahitan yang dipasang ke kulit. Setelah jahitan terpasang, lekuk atap dan lengkung atas atap
lubang hidung lebih simetris. Kolumela dengan rangka tulang rawan dan vomer yang miring
dari depan ke belakang sulit diperbaiki, sehingga masih miring. Luka di pinggir dalam atap
nares dijahit. Kemudian mukosa oral mulai dari kranial, menghubungkan sulkus ginggivo
labialis. Jahitan diteruskan ke kaudal sampai ke dekat merah bibir. Setelah itu otot dijahit
lapis demi lapis. Jahitan kulit dimulai dari titik yang perlu ditemukan yaitu ujung busur
Cupido. Diteruskan ke atas dan ke mukosa bibir. Jaringan kulit atau mukosa yang berlebihan
dapat dibuang. Sebaiknya luka operasi ditutup dengan tule yang mengandung bahan
pencegah perlenngketan dan kasa lembab selama 1 hari, untuk menyerap rembesan
darah/serum yang masih akan keluar. 1 hari sesudahnya baru luka dirawat terbuka dengan
pemberian salep antibiotik.

Gambar 3. Reparasi labioschisis (labioplasti). (A and B) pemotongan sudut celah pada bibir
dan hidung. (C) bagian bawah nostril disatukan dengan sutura. (D) bagian atas bibir

14
disatukan, dan (E) jahitan memanjang sampai kebawah untuk menutup celah secara
keseluruhan.
Operasi untuk langit-langit (palatoplasty) optimal pada usia 18 – 20 bulan mengingat
anak aktif bicara usia 2 tahun dan sebelum anak masuk sekolah. Operasi yang dilakukan
sesudah usia 2 tahun harus diikuti dengan tindakan speech teraphy karena jika tidak, setelah
operasi suara sengau pada saat bicara tetap terjadi karena anak sudah terbiasa melafalkan
suara yang salah, sudah ada mekanisme kompensasi memposisikan lidah pada posisi yang
salah. Bila gusi juga terbelah (gnatoschizis) kelainannya menjadi labiognatopalatoschizis,
koreksi untuk gusi dilakukan pada saat usia 8–9 tahun bekerja sama dengan dokter gigi ahli
ortodonsi.
3. Tahap setelah operasi.
Komplikasi Operasi
 Wound dehiscence paling sering terjadi akibat ketegangan yang berlebih dari tempat
operasi
 Wound expansion juga merupakan akibat dari ketegangan yang berlebih. Bila hal ini
terjadi, anak dibiarkan berkembang hingga tahap akhir dari rekonstruksi langitan,
dimana pada saat tersebut perbaikan jaringan parut dapat dilakukan tanpa
membutuhkan anestesi yang terpisah.
 Wound infection merupakan komplikasi yang cukup jarang terjadi karena wajah
memiliki pasokan darah yang cukup besar. Hal ini dapat terjadi akibat kontaminasi
pascaoperasi, trauma yang tak disengaja dari anak yang aktif dimana sensasi pada
bibirnya dapat berkurang pascaoperasi, dan inflamasi lokal yang dapat terjadi akibat
simpul yang terbenam.
 Malposisi Premaksilar seperti kemiringan atau retrusion, yang dapat terjadi setelah
operasi.
 Whistle deformity merupakan defisiensi vermilion dan mungkin berhubungan dengan
retraksi sepanjang garis koreksi bibir. Hal ini dapat dihindari dengan penggunaan total
dari segmen lateral otot orbikularis.
 Abnormalitas atau asimetri tebal bibir Hal ini dapat dihindari dengan pengukuran
intraoperatif yang tepat dari jarak anatomis yang penting lengkung
Perawatan Pasca bedah
 Pemberian makanan per-oral : Untuk anak-anak yang mengkonsumsi ASI, dapat terus
disusui setelah operasi. Bagi anak-anak yang menggunakan botol, disarankan untuk

15
menggunakan ujung kateter yang lunak selama 10 hari, baru dilanjutkan dengan
penggunaan ujung dot yang biasa.
 Aktivitas : Tidak ada batasan aktivitas tertentu yang perlu dilakukan, namun
hendaknya aktivitas perlu diperhatikan untuk meminimalisasi risiko trauma pada luka
operasi.
 Perawatan bibir : Garis jahitan yang terpapar pada dasar hidung dan bibir dapat
dibersihkan dengan kapas yang diberi larutan hidrogen peroksida dan salep antibiotika
yang diberikan beberapa kali perhari. Jahitan dapat diangkat pada hari ke 5 -7.
Follow – up
Setelah operasi labioplasti, pasien harus dievaluasi secara periodik terutama status kebersihan
mulut dan gigi, pendengaran dan kemampuan berbicara, dan juga keadaan psikososial.

Gambar 4. Sebelum dan sesudah tindakan operasi.

PROGNOSIS

Kelainan labioschisis merupakan kelainan bawaan yang dapat dimodifikasi/


disembuhkan. Kebanyakan anak yang lahir dengan kondisi ini melakukan operasi saat usia
masih dini, dan hal ini sangat memperbaiki penampilan wajah secara signifikan. Dengan
adanya teknik pembedahan yang makin berkembang, 80% anak dengan labioschisis yang
telah ditatalaksana mempunyai perkembangan kemampuan bicara yang baik. Terapi bicara
yang berkesinambungan menunjukkan hasil peningkatan yang baik pada masalahmasalah
berbicara pada anak labioschisis.

16
Lampiran 1

Tabel1: Intervesi pada pasien labiognatopalatoschisis8


Intervensi berdasarkan umur*

Umur Intervensi

 Referred to cleft lip and palate team


 Diagnosis dan konseling genetik
Prenatal  Mengatasi masalah psikososial
 Memberikan petunjuk pemberian makan
 Membuat perencanan pemberian makan

 Referred to cleft lip and palate team


lahir-1 bulan  Diagnosis dan konseling genetik
 Mengatasi masalah psikososial
 Menyediakan instruksi pemberian makan dan memeriksa pertumbuhan
 Periksa pemberian makan dan pertumbuhan
1-4 bulan  Operasi bibir sumbing (labioplasty)
 Pemeriksaan telinga dan pendengaran

 Periksa pemberian makan dan tumbuh kembang


5-15 bulan  Pemeriksaan telinga dan pendengaran
 Operasi celah palatum (palatoplasty)
 Menyediakan instruksi menjangga hygiene mulut
 Menilai telinga dan pendengaran
16-24 bulan  Menilai pecakapan dan bahasa
 Memeriksa perkembangan

 Menilai pecakapan dan bahasa, Mengatasi velopharyngoplasty


 Pemeriksaan telinga dan pendengaran
2.5 tahun  Pertimbangkan revisi bibir/hidung sebelum masuk sekolah
 Menilai pengembangan dan penyesuaian psikososial

 Menilai pecakapan dan bahasa, Mengatasi velopharyngoplasty Intervensi


6-11 tahun orthodontic (pengaturan lengkung gigi)
 Cangkok tulang alveolar
 Menilai sekolah / penyesuaian psikososial
 Operasi rahang dan Rhinoplasty kalau diperlukan
12.21 tahun  Jembatan Ortodonti, implan yang diperlukan
 Konseling genetik
 Menilai sekolah / penyesuaian psikososial

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Bustami N, Joni R, Zahari A. Bibir Sumbing di Kabupaten 50 Kota dan Solok, Sumatra
Barat. Padang : Ilmu Bedah FK Universitas Andalas/ RSUP Dr M Jamil.1997.
2. Converse JM, hogan VM, McCarthy JG. Cleft Lip And Palate, Introduction. Dalam:
Reconstructive Plastic Surgery, ed. 11, vol. 4. Philadelphia: WB Saunders.
3. Hidayat dkk. Defisiensi Seng (Zn) Maternal Dan Tingginya Prevalensi Sumbing
Bibir/Langit-Langit Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur
(Laporan Pendahuluan). Disitasi dari : http://www.kalbe.co.id /files/cdk/files/18.html.
Pada tanggal 7 januari 2011.
4. Webmaster. Bibir sumbing. Disitasi dari : http://www.klikdokter.com/
illness/detail/104.htm. Pada tanggal 7 januari 2011. Perbaharuan terakhir: Januari 2008.
5. Sjamsuhidajat R, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jilid 2. Jakarta : EGC.2005.
6. Webmaster. Cleft Lip and Palate. Disitasi dari : http://www.healthofchild
ren.com/C/Cleft-Lip-and-Palate.html?Comments[do]=mod&Comments[id] =4.htm. Pada
tanggal : 7 januari 2011. Perbaharuan terakhir : Janurai 2009.
7. Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al. Sumbing Bibir dan Langitan. Dalam : Kapita
Selekta. Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius – FK UI. 2005.
8. Seattle Children’s Hospital, Research and Foundation. Cleft Lip and Palate. Disitasi dari
http://www.seattlechildrens.org/. pada tanggal 10 Januari 2011.

18