Anda di halaman 1dari 9

Handout – Tata Pandang Dunia, Sesi Theologi

KRISTEN

Dua dasar atau sumber pandangan theologis dari Kristen adalah Wahyu Umum
dan Wahyu Khusus.

Wahyu Umum bisa dijumpai melalui “ciptaan” yang merupakan karya dari Allah.
Wahyu Umum dimaksudkan agar supaya semua mahluk ciptaan dapat mengetahui
akan keberadaan Sang Pencipta dan menyembah-Nya (Kitab Roma 1: 19-21).
Namun Wahyu Umum ini tidaklah cukup bagi manusia untuk mengetahui jalan atau
cara kepada keselamatan jiwanya (masalah kekekalan). Oleh karena itu, allah
memberikan Wahyu Khusus

Wahyu Khusus menuntun manusia kepada rahasia kekekalan yang merupakan jalan
keselamatan baginya. Kristen percaya bahwa Wahyu Khusus ini bisa ditemukan
dalam Alkitab.

Setelah meneliti seluruh pewahyuan Allah yang dinyatakan-Nya di dalam Alkitab


yang merupakan catatan sejarah perjumpaan antara manusia dan Allah selama
lebih dari 4000 tahun, maka didapatkan kesimpulan bahwa Wahyu Khusus
sebenarnya merupakan pernyataan tentang Misi Allah untuk menyelamatkan
manusia daripada kematian (kekal).

Alkitab menyatakan bahwa semua manusia sudah berdosa kepada Allah. Pengertian
dosa dalam Alkitab adalah cukup banyak, diantaranya adalah: melanggar perintah
dan larangan Allah; gagal mencapai kehendak Allah bagi hidup seseorang;
memberontak dan melawan Allah; berbuat kejahatan kepada sesamanya, dan
seterusnya. Dan Alkitab juga menyatakan bahwa akibat dosa-dosa ini adalah
kematian bagi manusia (di dunia ini maupun dalam alam kekekalan).

Sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Wahyu, penganut Kristen percaya bahwa ada
hari penghakiman terakhir bagi manusia dan alam semesta. Pada saat itu eksistensi
alam sebagaimana kita ketahui sekarang akan berakhir dan digantikan dengan
ciptaan yang baru oleh Allah.

Oleh karena itu diperlukan jalan keselamatan bagi manusia. Jalan keselamatan
tersebut disediakan oleh Allah sebagaimana dinyatakan-Nya dalam Wahyu Khusus.
1
Finalitas Wahyu Khusus ditemukan dalam pribadi Yesus Kristus sebagai Juru
Selamat, Sang Mesias (Injil Yohanes 3:16) yang datang dari Allah, Sang Pencipta.

”Kata Yesus kepadanya: ‘Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang
kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.’…” (Injil Yohanes 14:6).

“Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya
kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Injil
Yohanes 6:40).

Alkitab mengajarkan bahwa keselamatan manusia adalah merupakan suatu


“anugerah” (Pemberian) dari Allah dan bukan sebagai hasil dari usaha manusia
(Roma 3:24-27). Yang diminta oleh Allah adalah “percaya” atau iman kepada Yesus
Kristus yang sudah di utus-Nya itu.

“Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah
turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.” Kata Yesus Kristus (tercatat dalam Injil
Yohanes 3:13).

Pernyataan di atas menunjukkan betapa absurd-nya ide bahwa manusia bisa ‘naik’
ke surga dengan usahanya sendiri karena bagaimana dia bisa sampai kesana kalau
“di mana” surga itu terletak, dia belum tahu.

Melalui Alkitab, orang Kristen juga mengenal pribadi Sang Pencipta tersebut dengan
lebih baik yang memungkinkan mereka untuk hidup bergaul dengan-Nya.

Contoh tentang karakter Allah yang ditemukan dalam Alkitab:

• Kitab Daniel 4:35 – Kedaulatan

• Kitab Amsal 15:3, 21 – Sifat Moral

• Kitab Keluaran 32:11-14 (bagian dari Taurat Musa) – Sifat Kesabaran

• Injil Yohanes 10:28 – Sifat Setia

• Kitab Ibrani 1:10 – Penuh Kuasa

• Kitab Yesaya 46:8-11 – Maksud dan Tujuan yang mulia

2
• Kitab Imamat 10:1-7; Pasal 18-20 (bagian dari Taurat Musa) – Keadilan

• Kitab Roma 3:24; 5:8; 6:11; - Kasih dan Pengampunan

Kolose 1:20; 2 Korintus 5:17-21;

1 Petrus 1:18; Efesus 1:7

Orang Kristen juga percaya bahwa Allah sedang menyiapkan suatu umat bagi-Nya
yang dikumpulkan-Nya dan dipelihara-Nya secara khusus melalui dan dalam
komunitas iman yang dikenal sebagai gereja. Umat ini terbentuk dari manusia-
manusia yang telah menerima dengan iman akan “Anugerah Keselamatan” dari
pengajaran dan pengorbanan Yesus Kristus.

Konsep komunitas iman ini penting dalam Tata Pandang Kristen, bahkan
interpretasi Alkitab tidak boleh dilakukan secara subyektif namun dalam bentuk
dialog di antara dan di dalam wadah komunitas iman ini. Tentu saja yang
dimaksudkan sebagai komunitas iman Kristen (baik Protestan, Katholik dan
Orthodoks) adalah yang bersifat global dan tidak terbatas pada gereja lokal semata.

ISLAM

Sumber atau dasar iman Islam adalah kitab suci Al Qur’an dan Sunnah Nabi
Muhammad. Yang dimaksud dengan Sunnah Nabi adalah teladan yang diperoleh
dari perkataan, perilaku, pengajaran dan kisah kehidupan Muhammad sebagai Nabi
bagi umat Islam. Sumber dari Sunnah Nabi adalah Hadits yaitu catatan-catatan
yang diperoleh dari para sahabat dan para murid Muhammad.

Lima Pilar Utama ajaran Islam:

1. Shahadat, yaitu pernyataan iman agama Islam yang berbunyi “ Tidak ada
Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.” Siapa pun yang
mengucapkan pernyataan ini dengan penuh hati/keyakinan di hadapan para
saksi dinyatakan telah memeluk agama Islam.

2. Sholat, yang adalah doa kepada Allah dan harus dilakukan 5 kali dalam
sehari pada waktu-waktu yang telah ditentukan.

3
3. Puasa, wajib bagi penganut Islam untuk menjalankan puasa makan dan
minum selama bulan Ramadhan.

4. Zakat, ada kewajiban bagi umat Islam untuk berderma dengan memberikan
tidak kurang dari 2,5% dari penghasilan (dalam tahun itu) kepada kaum
miskin dan kaum yang lemah lainnya.

5. Naik Haji, kewajiban bagi umat Islam yang memiliki kemampuan (keuangan
dan kesehatan) untuk pergi ke Mekkah untuk beribadah di sana, minimum 1
kali dalam masa hidupnya.

Pengajaran lainnya:

1. Monotheisme – hanya ada satu Tuhan yang layak disembah yaitu Allah.

2. Percaya kepada mahluk-mahluk yang bersifat roh, yaitu: Malaikat, Jin dan
Setan. Islam mengajarkan bahwa malaikat yang tertinggi tingkatnya adalah
Jibril (dari lafalnya, sudah umum dipandang bahwa malaikat ini adalah
Gabriel yang juga disebutkan dalam Perjanjian Lama [penting bagi penganut
Yudaisme] dan Perjanjian Baru dalam Alkitab). Islam juga mengajarkan
bahwa Allah mengutus dua malaikat untuk selalu mendampingi seorang
manusia, satu malaikat untuk mencatat perbuatan baiknya dan yang satunya
untuk mencatat perbuatan jahatnya.

3. Islam mengajarkan bahwa Allah telah mengutus tidak kurang dari seorang
nabi kepada tiap-tiap bangsa di dunia. Para Nabi tersebut menyampaikan
berita yang sama yaitu bahwa hanya ada satu Allah dan semua manusia
haruslah menyembah-Nya. Mereka juga menyampaikan bahwa akan ada hari
penghakiman atas segala perbuatan manusia, baik atau pun jahat. Islam
mengakui Adam, Nuh, Abraham, Daud, Salomo, Yunus, Yohanes Pembaptis
dan Yesus sebagai nabi-nabi Allah. Namun Muhammad sebagai nabi yang
terutama dan terakhir.

4. Islam mengakui adanya empat Kitab Suci yang berasal dari Allah yaitu Taurat
yang disampaikan melalui Musa, Zabur yang disampaikan melalui Daud, Injil
yang disampaikan melalui Yesus dan Al Qur’an yang disampaikan melalui
Muhammad. Namun menurut Islam, ketiga Kitab Suci selain Al Qur’an sudah
4
‘tidak’asli’ lagi dan oleh karena itu hanya Al Qur’an saja yang dipercayai
sebagai ‘pegangan’ bagi umat Islam.

5. Perihal kehidupan sesudah kematian, Islam mengajarkan (sama seperti


Kristen) ada dua tempat kekal yaitu Surga dan Neraka. Islam mengajarkan
bahwa penghakiman Allah akan dilakukan atas dasar pertimbangan
perbuatan baik dan/atau buruk yang sudah dilakkukan manusia. Dan hasil
akhir dari penghakiman ini hanya akan diketahui oleh manusia tersebut pada
saat penghakiman itu terjadi, tidak pada saat kehidupan manusia tersebut di
dunia ini.

Humanisme Sekuler

Tata Pandang ini tidak menerima realitas spiritual/rohani. Oleh karenanya


menganut paham atheisme.

Mengutip salah seorang tokohnya yaitu Corliss Lamont, dia berpendapat bahwa
terjadinya alam semesta bukan karena tindakan Ilahi. Adalah manusia dengan daya
imaginasinya yang menciptakan konsep tentang Allah untuk menjelaskan eksistensi
dari Alam Semesta.

Dalam buku yang berjudul : “What About God?” dikatakan bahwa Allah adalah
suatu figur legenda mistis, mirip dengan kisah tentang naga dan para peri. Jelas
bukanlah figur yang layak untuk mendapatkan perhatian secara serius dan
dijadikan panutan, apa lagi menjadi harapan untuk keselamatan manusia.

Pendapat dari tokoh Humanisme Sekuler, Paul Kurtz yang menyatakan bahwa
manusia adalah mahluk yang sudah berkembang sempurna dan menduduki
peringkat tertinggi dari semua mahluk di bumi. Oleh karenanya Kurtz berpendapat
bahwa manusia mampu untuk menentukan ‘rute’ yang terbaik dalam proses
evolusi. Manusia harus menciptakan sebuah sistem moral yang berdiri sendiri
(independen) selanjutnya dengan menggunakan Ilmu pengetahuan dan
kemampuan rasionya akan mampu menyelesaikan setiap permasalahan yang
muncul di dunia ini.

5
Dengan kata lain, bagi Humanisme Sekuler ilmu pengetahuan dan rasio manusia
adalah “Juru Selamat” dunia. Mereka meletakkan iman-nya pada dua hal tersebut.

Marxist-Leninisme

Tata pandang ini menganut paham atheisme.

Karena Karl Marx menolak eksistensi Allah maka dia memandang bahwa manusia
harus menggantikan kedudukan Allah. Karl Marx berpendapat bahwa Allah
diciptakan dengan gambar dan rupa manusia, jadi manusia adalah Allah yang
sesungguhnya.

Jika kita adalah Allah, maka Marx berpendapat bahwa manusia harus membentuk
realitas sesuai dengan kehendaknya. Konsep ini juga bisa dimengerti sebagai
perwujudan konsep “self-determinism” atau penentuan nasib sendiri dalam wujud
yang ekstrim.

Tata Pandang ini meletakkan titik berat perhatiannya pada masalah ekonomi
masyarakat. Pandangan-pandangan tentang hal-hal di luar ekonomi dibuat untuk
bisa mendukung ideologi revolusi yang bertujuan untuk menciptakan suatu
masyarakat yang memenuhi idealisme paham ini. Oleh karena Karl Marx tidak
memandang agama sebagai salah satu faktor yang menentukan bagi terwujudnya
idealismenya maka paham theologis yang dimiliki oleh Marxist-Leninisme amat
minim atau bahkan bisa dikatakan mereka sama sekali tidak memiliki paham
theologis selain dari ‘Allah itu tidak ada’.

Cosmic-Humanisme atau New Age Movement (Gerakan Jaman Baru)

Bila seseorang memiliki pemahaman yang cukup tentang agama-agama besar


dunia, maka sesudah mempelajari konsep-konsep dari Cosmic-Humanisme, orang
tersebut akan bisa melihat bahwa konsep-konsep dari agama Hindu dan Buddha
banyak diserap oleh Tata Pandang ini.

Bagi penganut Tata Pandang ini, Allah bukanlah “sesuatu atau pribadi” yang ada di
luar sana. Namun diri kita adalah Allah – lebih tepatnya segala sesuatu adalah Allah
dan Allah adalah segala sesuatu (konsep theologis Pantheisme).

6
Tata Pandang ini sangat mudah untuk berasimilasi dengan tata pandang, konsep
filsafat dan bahkan agama-agama. Sebagai contohnya di Amerika Serikat, banyak
penganut Tata Pandang ini yang mengaku beragama Kristen, namun mereka
memiliki konsep theologis yang berbeda dengan ajaran orthodoks gereja-gereja
Kristen (Protestan dan Katholik) sebagaimana terungkap dari pendapat seorang
tokohnya yaitu John White. Tuan White menyatakan bahwa Anak Allah bukan
(hanya) Yesus namun merupakan gabungan dari “kesadaran Kristus” yang kita
miliki. Bagi mereka Yesus Kristus, sama seperti kita, adalah manusia namun beliau
sudah mencapai sebuah ‘kesadaran diri’ yang sangat tinggi. Yaitu sebuah
‘kesadaran ilahi’ yang setiap penganut Tata Pandang ini didorong untuk
mencapainya juga.

Diperhatikan dari sudut ini maka pandangan ini sangat mirip dengan konsep Arahat
dalam agama Buddha (khususnya dari aliran Theravada / Hinayana).

Cosmic-Humanisme memiliki konsep bahwa tujuan utama manusia adalah untuk


mencapai ‘kesadaran tertinggi’ atas keberadaannya yang sesungguhnya yaitu
sebagai mahluk ilahi (the divine nature). Pandangan ini mirip sekali dengan
pengajaran agama Hindu yang menyatakan bahwa manusia sebenarnya dibentuk
dari esensi Brahman dan oleh karenanya memiliki esensi ilahi dalam dirinya.

Mereka percaya bahwa jiwa manusia bersifat kekal dan tidak bisa dihancurkan.
Ketika kematian terjadi maka jiwa yang kekal itu akan berpisah dengan tubuh yang
mati dan ‘pindah’ ke tubuh yang lain seperti dalam paham reinkarnasi.

Dari penjelasan di atas, maka Tata Pandang ini termasuk ke dalam kelompok Tata
Pandang yang menganut theisme seperti Tata Pandang Kristen dan Islam.

Postmodernisme

Postmodernisme menganut paham atheisme.

Pemahaman tentang konsep theologis yang dianut oleh Tata Pandang ini tidaklah
mudah untuk didapatkan dari pengakuan terbuka tokoh-tokohnya. Hal ini
disebabkan oleh fakta bahwa Tata Pandang ini menolak segala sesuatu yang
bersifat absolut dan pernyataan diri tentang theisme atau atheisme adalah sesuatu
yang bersifat absolut. Walaupun demikian kita dapat memahami mereka sebagai
7
penganut atheisme dari fakta bahwa konsep Postmodernisme bertentangan dengan
konsep theisme yang bersifat absolut dan universal.

Konsep Postmodernisme memiliki akar relativisme yang menyatakan bahwa


kebenaran sesuatu hal sangat ditentukan oleh konteksnya. Relativisme menolak
konsep realisme atau yang lebih dikenal dengan sebutan obyektifisme (lihat materi
handout sebelumnya).

Dalam bidang ilmu, filsafat dan theologia, konsep PostModernisme ini membawa
pengaruh besar melalui teori dekonstruksi. Teori ini menyatakan bahwa karena
manusia (konteks) yang menentukan makna dan realitas, maka dalam memahami
makna sebuah buku, pengertian pembaca amat menentukan. Begitu sebuah buku
diterbitkan, maka makna yang terkandung dalam buku tersebut tidak lagi
ditentukan oleh penulisnya namun pembacanyalah yang akan ‘menemukan’
maknanya. Di satu sisi pendapat ini memang mengungkapkan fakta bahwa
pembaca sebuah buku dan karya tulis notabene akan memiliki konsepsi mereka
sendiri tentang isi buku tersebut. Dan konsepsi mereka bisa saja (dan sering)
berbeda dari konsepsi sang penulis aslinya. Namun di sisi lain kita juga bisa
bertanya apakah konsepsi pembaca tersebut adalah yang benar (meskipun berbeda
dari konsepsi penulis buku yang merupakan sumber dari buku yang dibaca)?

Postmodernisme tidaklah begitu peduli untuk menemukan kebenaran, karena bagi


mereka semua hal itu bersifat relatif bergantung dari sudut pandang dari mana
atau dari siapa. Jadinya kita dihadapkan pada dilema suatu Tata Pandang yang
seperti sebuah bengkel mobil yang bersedia untuk ‘membongkar’ namun tidak
bersedia untuk ‘memasang’ kembali (jadi bukan ‘bongkar-pasang’).

Parahnya konsep dekonstruksi ini dibawa oleh banyak orang dalam pembacaan
mereka terhadap Kitab-Kitab Suci. Makna dan ajaran dari Kitab-Kitab Suci tersebut
dibawa pada level subyektifitas para pembacanya. Akibatnya lambat laun, sulit
sekali untuk menemukan kesepahaman di antara penganut agama yang sama
tentang makna Kitab Suci yang bisa berlaku secara universal (makna yang sama
dan berlaku di mana pun dan kapan pun). Sebagai akibatnya komunikasi menjadi
lebih sulit di kalangan pemeluk agama tertentu maupun dengan mereka yang
bukan pemeluk agama tersebut. Hal-hal seperti ini telah terbukti menjadi lahan

8
yang subur tempat bertumbuhnya paham-paham ekstrim yang menawarkan jalan
keluar dari kebingungan akibat relativitas dengan menawarkan konsep-konsep
absolut. Padahal notabene konsepsi absolut yang ditawarkan adalah hasil dari
penafsiran subyektif para pengajarnya yang seringkali tidak lagi mau
mengindahkan konsensus umum dari para penganut agama tersebut, misalnya:
pengajaran tentang ‘bom bunuh diri’ untuk mencapai surga yang tidak bisa
ditemukan dasarnya dalam Kitab Suci agama mana pun.

Tata Pandang Postmodernisme juga mengajarkan bahwa cara menyikapi


pluralisme agama-agama di dunia adalah dengan menolak klaim absolut yang ada
dalam setiap agama. Penolakan mana seyogyanya dilakukan oleh pemeluk agama
yang bersangkutan.

Memang hal ini mungkin bisa meningkatkan hubungan positif di antara para
pemeluk agama yang berbeda karena mengurangi faktor pemicu ketegangan antar
para pemeluk agama yang berbeda.

Namun perlu diingat bahwa pijakan dasar dari Tata Pandang ini menolak konsep
absolut dan oleh karenanya Postmodernisme tidak berkepentingan untuk mencari
apa itu ‘kebenaran’ yang bersifat universal (kebenaran yang sebenarnya yang
tidak berubah-ubah berdasarkan situasi, kondisi, budaya, geografi dan seterusnya).
Konsep relativitas iman pada akhirnya akan menuntun para penganut agama yang
berpegang pada Tata Pandang Postmodernisme untuk jatuh pada keadaan iman
yang semu. Yaitu sebuah keadaan mental di mana bila ditanya apakah mereka
percaya/yakin maka jawabannya adalah sekaligus ya dan tidak. Bila memang
keadaannya demikian lalu perlu ditanyakan apakah mereka akan mendapat
manfaat yang penuh dari ajaran-ajaran agamanya? Lebih buruk lagi, bisa
dipertanyakan apakah mereka sesungguhnya memeluk agama yang diakuinya atau
mereka menciptakan agama mereka sendiri tanpa mereka sadari (bidat /sesat).