Anda di halaman 1dari 104

Surah al-JHijr

Surah ini terdiri dari 99 ayat.


AL-HIJRadalah nama sebuah daerah pegunungan
yang didiami zaman dahulu oleh kaumTsamud
terletak di pinggir jalan antara Madinah
dan Syam (Suriah).
Surah al-Hjjr

Surah ini terdiri dari 9 9 ayat. M a y o r i t a s ulama berpendapat bahwa semua


ayatnya adalah M a k k i y y a h , y a k n i turun sebelum Nabi M u h a m m a d saw.
berhijrah ke M a d i n a h .
M e m a n g , ada j u g a y a n g m e n g e c u a l i k a n ayat 87 yang berbicara tentang
surah al-Fatihah. Ini berdasar dugaan mereka bahwa ahFatihah turun serelah
Nabi saw. berhijrah. Tetapi, pendapat ini lemah. Ada juga yang mengecualikan
ayat 90 dengan alasan b a h w a ia berbicara tentang Ahl al-Kitab/orang-orang
Yahudi yang bermukim di Madinah. Pengecualian ini pun ditolak oleh banyak
ulama.
T i d a k diremukan n a m a lain dari surah ini kecuali al-Hij'r y a i t u wilayah
p e m u k i m a n k a u m Tsamud y a n g dikenal juga dengan MadtVin Shalih yang
terletak pada jalur Khaibar m e n u j u T a b i i k di Saudi Arabia. Penamaan lokasi
itu dengan ^/-////'ryang antara lain berarti larangan^ boleh jadi disebabkan ia
terlarang d i h u n i oleh siapa pun selain k a u m Tsamud.
7 e m a u t a m a clan tujuan uraian surah ini menggambarkan ketinggian
k a n d u n g a n kitab suci a l - Q u r ' a n y a n g d e n g a n g a m b l a n g menjelaskan
kebenaran. M a k n a ini sejalan dengan nama al-Hijr yang kisahnya d e m i k i a n
jelas apalagi bagi vang mendengar atau melihat peninggalan mereka, lebih-
lebih bagi suku Quraisy. D e m i k i a n al-Bk]a i m e n g h u b u n g k a n tema utama
surah ini dengan namanya.

409
KELOMPOK 1
Juz XIV

AYAT 1-15

411
412 Surah al-Hijr [15]
Kelompok I Ayat 1-3 Surah al-Hijr [15] 413

AYAT 1-3

"Alif, Ldm, Ra'. Ini adalah ayat-ayat al-Kiulb, yaitu al-Qur'anyang memberi
penjelasan. Orang-orang yang kafir menginginkan kiranya mereka dahulu
menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang
dan dilalaikan oleh angan-angan, maka- kelak mereka akan mengetahui. "

Penutup surah y a n g lalu berbicara tentang al-Qur'an b a h w a ia adalah


penjelasan yang cukup dan sempurna bagi manusia untuk kebahagiaan dunia
dan akhirat mereka. Nah, di sini sekali lagi Allah swt. menunjuk kepada al-
Q u r ' a n itu dengan m e n y a t a k a n Alif, Lam, Ra. Surah ini adalah sebagian
dari ayat-ayat al-Kitab yang s e m p u r n a n y a ayat- ayat al-Qur'an yang memberi
penjelasan. N a n t i pada masanya, di dunia dan pasti di akhirat kelak, orang-
orang yang kafir 'akan seringkah menginginkan kiranya mereka dahulu, ketika
hidup di dunia, menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka selama hidup
di d u n i a i n i — w a h a i Nabi M u h a m m a d , dan d e m i k i a n juga kamu, wahai
k a u m m u s l i m i n — b i a r k a n mereka makan dan bersenang-senang dari saat ke
saat, dan biarkan juga mereka terus-menerus dilalaikan dari persoalan-
persoalan p e n t i n g oleh angan-angan kosong, maka kelak mereka akan
mengetahui akibat perbuatan b u r u k mereka itu.

Kata ( U J J ) rubbama terdiri d a r i k a t a ( ) rubba yang dapar


m e n g a n d u n g m a k n a jarang/sedikit dan dapat juga m e n g a n d u n g makna
banyak/sering kali. Sedang, kata ( U ) ma y a n g merangkai kata ( ) rubba
itu m e n j a d i k a n k a t a t e r s e b u t t i d a k b e r f u n g s i sebagai huruf yang
mengkasrahkan kara sesudahnya.
Pada umumnya, kata ini dirangkaikan dengan kata yang menunjuk masa
lampau, bahkan k a l a u p u n kata yang datang sesudahnya berbentuk kata kerja
masa datang—seperri pada ayat i n i — m a k n a n y a tetap merujuk pada masa
lalu. M e m a n g , tidak m u n g k i n orang-orang yang kafir yang dibicarakan oleh
ayat ini menginginkan untuk beriman pada saat ayat ini turun, tetapi keinginan
itu baru datang k e m u d i a n setelah berlalu w a k t u di m a n a keinginan mereka
itu tidak dapat tercapai lagi.
414 Surah al-Hijr [15] Kelompok I Ayat 1-3

Kata ( i j* )yawaddu terambil dari akar kata y a n g terdiri dari huruf-huruf


wauw dan ^ / b e r g a n d a , yang mengadung arti cinta, keinginan, dan harapan.
D e m i k i a n Ibn Faris dalam b u k u Maqayzs-nya_. Pakar rafsir, a l - B i q a ' i .
m e n a m b a h k a n bahwa pelaku kata tersebut m e m b u k r i k a n dalam sikap dan
ringkah lakunya kesenangan dan harapannya iru.
Ada y a n g m e m a h a m i keinginan orang-orang y a n g kafir u n t u k menjadi
muslim terjadi kelak di hari Kemudian, dan kara nibba mereka pahami dalam
arri sermg kali dan berulang-ulang Ibu 'Asyur memahaminya dalam arti sedikit
dan bahwa itu terjadi ketika mereka melihat kemenangan y a n g diraih k a u m
muslimin. Misalnya, dalam Perang Badar. Di samping itu—tulisnya—orang-
orang kafir juga sangat ingin agar menjadi orang-orang muslim ketika mereka
m e n y a k s i k a n k a u m m u s l i m i n y a n g d u r h a k a d i a n g k a t dari neraka lalu
d i m a s u k k a n ke surga serelah sebelumnya mereka disiksa. M e r e k a diangkat
ke surga karena a d a n y a iman y a n g bersemai di hati mereka. M e m a n g , pada
akhirnya, semua y a n g percaya kepada Allah swr. dan Nabi M u h a m m a d saw.
akan masuk ke surga w a l a u p u n sebelumnya dosa-dosa mereka yang tidak
d i a m p u n i Allah swt. harus dibersihkan di dalam neraka.

Boleh jadi j u g a keinginan u n t u k menjadi orang-orang m u s l i m rerbetik


dalam benak mereka dalam k e h i d u p a n d u n i a — w a l a u tanpa menyaksikan
k e m e n a n g a n k a u m m u s l i m i n . Ini disebabkan sebagian mereka tahu persi>
bahwa Islam adalah agama yang benar dan Nabi M u h a m m a d saw. adalah
utusan Allah swt. serta al-Qur'an adalah firman-Nya. Mereka ingin beriman,
retapi sikap keras kepala, dengki, dan ambisi m e m p e r t a h a n k a n kedudukan
yang m e n g h a m b a t keinginan itu.

Firman-Nya: ( ) dzarhumlbiarkan mereka dan seterusnya,


m e n g a n d u n g m a k n a tidak m e m i n t a b a n t u a n mereka, tidak menerima
k o m p r o m i dengan mereka, dan ritiak j u g a melayani atau menghiraukan
kejahilan dan cercaan mereka. Ini karena tujuan hidup mereka berbeda dengar,
rujuan hidup Nabi M u h a m m a d saw. dan para pengikur beliau. Mereka hidup
u n t u k m a k a n , b e r m a i n , dan m e n i k m a t i g e m e r l a p a n d u n i a w i sambil
mengorbankan akhirat mereka, serta dilengahkan oleh angan-angan kosong.
Kelompok I Ayat 4-5 Surah al-Hijr [15] 4)5

AYAT 4-5

"Dan Kami tidak membinasakan suat u negeri pun, melainkan ada baginya
ketentuan masa yang telah ditetapkan. Tidak ada suatu umat pun yang dapat
mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya). "

Ayat-ayat y a n g lalu m e n g a n d u n g ancaman bahwa kelak mereka akan


menyesal. Dan, sebagaimana kebiasaan k a u m musyrikin bila diancam, selalu
berkata dengan tujuan mengejek, "Kapan d a t a n g n y a ancaman itu?" atau
1
"Percepatlah kehadirannya!' , ayat-ayat ini mengingatkan semua pihak bahwa
ada w a k t u yang ditetapkan Allah swt. bagi segala sesuatu. Karena itu pula
Allah swt. menegaskan melalui ayat ini bahwa: Kami tidak menjatuhkan
siksa kecuali jika tiba w a k t u n y a , dan ini b u k a n h a n y a berlaku bagi mereka,
tetapi itulah sunnah Kami. Kami tidak membinasakan suatu negeri pun
bersama dengan penduduknya melainkan ada baginya ketentuan, yakni masa
yang telah ditetapkan bagi kebinasaannya. Tidak ada suatu umat pun yang
dapat mendahului ajalnya, dan tidak pula dapat mengundurkan-nya..

Kata ( ^ u S * ) kitab pada ayat 4 di atas bermakna kadar waktu tertentu


yang ditetapkan Allah swt. l a terambil dari kata f ^_^S*) kataba y a n g berarti
mewajibkan/menetapkan. Karena yang menerapkannya adalah Allah swt.,
tentu saja ia tidak akan berubah, bertambah, atau berkurang.
W a k t u y a n g ditetapkan u n t u k p e n d u d u k negeri i t u — t u l i s S a y y i d
Quthub—-dianugerahkan A l l a h swt. kepada mereka agar mereka
m e n g g u n a k a n n y a untuk beramal dan atas dasar amal mereka ditentukan
kesudahan mereka. Bila p e n d u d u k negeri itu beriman, berbuat kebajikan,
melaksanakan perbaikan, dan berlaku adil, Allah swt. akan memperpanjang
usianya sampai mereka menyimpang dari semua prinsip-prinsip itu dan tidak
ada lagi sedikit harapan kebaikan yang tersisa dari mereka. Nah, ketika itulah
tiba ajal mereka dan berakhir eksistensinya sebagai satu umat, baik dengan
kepunahan total m a u p u n sementara dengan kelemahan dan kelayuan. Boleh
\,idl—tulis Sayyid Q u t h u b lebih lanjut—ada yang berkata bahwa "Ada banyak
umat vang tidak beriman, tidak berbuat kebajikan dan perbaikan, tidak juga
416 Surah al-Hijr [15] Kelompok I Ayat 6-7

1
berlaku adil, n a m u n demikian mereka tetap kuat, k a y a dan bertahan.' Apa
y a n g dikatakan itu—tulisnya—tidaklah benar. Karena, pasti ketika itu masih
tersisa bagi umat y a n g bertahan itu kebaikan, w a l a u p u n hanya dalam bentuk
p e m b a n g u n a n material di bumi ini atau kebaikan dalam b e n t u k keadilan
sempit yang mereka perlakukan di tengah masyarakat mereka, atau kebajikan
perbaikan material dan ihsan yang terbatas, dan atas dasar adanya sisa kebaikan
itulah mereka bertahan hidup sampai kebaikan itu habis dan akhirnya mereka
p u n mencapai kesudahan yang pasti. Ini adalah sunnatullah y a n g tidak
berubah. Setiap umat ada ajalnya dan tidak ada suatu umat pun yang dapat
mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat mengundurkan(nya).
Rujuklah kepada penafsiran (QS. ar-Ra'd [ 1 3 ] : 11) untuk m e m a h a m i
1
lebih j a u h penjelasan al-Qur'an tentang j a t u h b a n g u n n y a suatu umat. ^
Kata ( o j y - L - o ) yasta'khirun berarti mundur/menunda. H u r u f td'dan.
sin pada kata ini b u k a n berarti meminta, tetapi di sini ia berfungsi sebagai
penguat sehingga kata tersebut m e n g a n d u n g m a k n a bahwa bila ketetapan
itu datang m a k a mereka tidak akan d i t a n g g u h k a n sesaat pun.

AYAT 6-7

Mereka berkata: "Wahai orang yang diturunkan kepadanya. adz-Dzikr,


sesungguhnya engkau benar-benar orang gila. Mengapa engkau tidak
mendatangkan malaikat kepada kami jika engkau termasuk orang-orang yang
benar?"

Kalau ayat-ayat yang lalu menggambarkan keburukan perbuatan orang-


orang kafir yang tenggelam dalam k e n i k m a t a n d u n i a w i , kini digambarkan
k e b u r u k a n ucapan mereka. Yakni, mereka berkata: "Wahai orang yang
diturunkan kepadanya adz-Dzikr, yakni al-Qur'an sebagaimana pengaku­
anmu, sesungguhnya engkau benar-benar orang gila dengan menyatakan bahwa
apa yang engkau sampaikan itu bersumber dari Allah Yang M a h a a g u n g . "

R u j u k penafsiran Q S . R a ' d [1 3]: 1 1 h a l a m a n 228.


Kelompok i Ayat 6-7 Surah al-Hijr [15] 417

Selanjutnya, mereka mengusulkan hal iain y a i t u kehadiran malaikat


dalam b e n t u k aslinya y a n g dapat mereka lihat dengan mata kepala. M e r e k a
berkata: "Mengapa engkau tidak mendatangkan malaikat kepada kami untuk
m e m b u k t i k a n k e b e n a r a n u c a p a n m u dan agar m e r e k a y a n g l a n g s u n g
m e n y a m p a i k a n pesan Allah atau mereka l a n g s u n g m e n y i k s a k a m i jika
m e m a n g benar engkau termasuk orang-orang yang benar m e n y a n g k u t apa
y a n g engkau sampaikan i t u ? "
Ucapan mereka memanggil Nabi M u h a m m a d saw. bukan dengan nama
beliau atau fungsi beliau sebagai nabi tetapi wahai orang yang diturunkan
kepadanya tf^s-D-s/^r bertujuan mengejek dan mencemoohkan beliau. Ini
d i p a h a m i dari penegasan mereka bahwa engkau adalah orang gila. Di sisi
lain, bentuk pasif yang digunakan orang-orang kafir itu pada kata diturunkan
memberi kesan bahwa mereka menilai peringatan yang disampaikan Nabi
M u h a m m a d saw. itu datang dari satu sumber y a n g tidak jelas, bahkan tidak
diketahui sehingga tidak layak dipercaya.
Kara ( j T J J i ) adz-dzikr dapat berarti sesuatu yang dilafalkan/ diucapkan,
dapat juga berarti sesuatu yang terlintas dalam benak. A l - Q u r ' a n dinamai
iidz-Dzikr karena ia adalah ucapan yang diwahyukan kepada Nabi M u h a m m a d
saw. untuk dibaca dan diingat-ingat. Atau, karena ia adalah peringatan tentang
keesaan Allah swt. dan keniscayaan hari Kemudian, atau karena dengan
mengikuti tuntunannya seseorang akan diingat dan diperlakukan dengan baik
di hari Kemudian, bukan seperti seseorang y a n g diabaikan dan dilupakan.
Asy-Sya'rawi m e m a h a m i dari ucapan k a u m musyrikin itu sebagai bukti
ketiadaan konsistensi serta bertolak belakangnya sikap mereka. Mereka,
tulisnya, mau atau tidak, mengakui bahwa al-Qur'an adalah adz-Dzikr, sedang
kata ini dalam bahasa m e m p u n y a i b a n y a k m a k n a antara lain kemuliaan,
sebagaimana ia juga merupakan nama al-Qur'an. Kaum musyrikin itu telah
sekian kali mencari kelemahan al-Qur'an tapi mereka gagal menemukannya.
Maka, bagaimana mungkin mereka menamai yang turun kepadanya al-Qur'an
itu sebagai seorang y a n g gila, padahal sebelumnya mereka telah mengakui
kejujuran dan amanahnya? Selanjutnya, tulis ulama Mesir k e n a m a a n itu,
mereka dalam tuduhannya kepada Rasul saw. tidak menyadari bahwa mereka
m e m a n g g i l beliau dengan ucapan ya ayyuha (wahai), dan ini serupa dengan
418 Surah al-Hijr [15] Kelompok i Ayat 8

panggilan y a n g d i g u n a k a n Allah swt. kepada beliau. D e m i k i a n Allah swt.


menjadikan lidah mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung
pengagungan dan penghormatan kepada Rasul saw. tanpa mereka sadari. Ini
merupakan k e h e n d a k Allah swt. y a n g bermaksud menjadikan orang-orang
kafir yang keras kepala m e n g a k u i kebenaran tanpa mereka sadari.
H e m a t penulis, pandangan atau kesan asy-Sya'rawi ini sedikit berlebihan.
B a g a i m a n a m u n g k i n kesan penghormatan itu dapat m u n c u l , sedang secara
regas dan gamblang ditemukan kata {jy£ ) majnun/giU dalam ucapan mereka
y a n g ditujukan kepada Rasul saw. Adanya tuduhan yang jelas dalam ucapan
itu sudah c u k u p dapat menghilangkan segala kesan y a n g d i t i m b u l k a n oleh
kata ( ^ j u ) yd ayyuhd yang tidak selalu harus berarti penghormatan. Panggilan
semacam itu tidak khusus digunakan al-Qur'an untuk Nabi saw., tetapi juga
untuk orang-orang beriman, manusia seluruhnya, bahkan juga terhadap orang-
orang kafir d a l a m firman-Nya: ( J j y l & l L^jb J i ) qulyd ayyubal kdfirun, j u g a
kepada manusia yang lengah: ( SSy, £'j£> U OLJ^i L^jb ) yd ayyuhal
insdnu md gharraka bi Rabbika al-Kariml'wahai manusia, apa y a n g telah
m e m p e r d a y a m u (sehingga durhaka) kepada Tuhanmu Yang M a h a Pemurah?
(QS.al-Infithar [ 8 2 ] : 6 ) .

AYAT 8

"Kami tidak menurunkan malaikat melainkan dengan haq dan dengan


demikian mereka tidak diberi tangguh. "

Seperti terbaca di atas, ucapan orang-orang kafir itu m e n g a n d u n g dua


persoalan. A y a t 6 t e n t a n g p e n g i n g k a r a n t e r h a d a p a l - Q u r ' a n , sumber
k e h a d i r a n n y a dan bahwa N a b i M u h a m m a d saw. adalah seorang gila, dan
ayar 7 rentang kehadiran malaikat. Ayat 8 ini m e m b a n t a h terlebih d a h u l u
persoalan k e d u a dengan m e n y a t a k a n : Kami tidak menurunkan malaikat
melainkan dengan h_aq, y a k n i m e n y a n g k u t sesuatu y a n g pasti, seperti
membawa risalah kenabian atau siksa terhadap yang durhaka serta keselamatan
bagi y a n g taat, dan dengan demikian, j i k a malaikat hadir u n t u k mereka lihat
Kelompok I Ayat 8 Surah al-Hijr [15] 419

sebagaimana usul orang-orang kafir itu, pastilah tidak diberi tangguh.


Yang d i m a k s u d dengan turunnya malaikat pada ayat ini bukan d a l a m
arti turunnya membawa w a h y u atau rahmat, tetapi turunnya membawa siksa
Ilahi. Kata al-haq dipahami dalam arti sesuatu yang ditetapkan dan y a n g
ditetapkan itu adalah siksa. M a k n a ini d i k u k u h k a n oleh lanjutan ayat ini
y a n g mengatakan bahwa mereka tidak ditangguhkan.
Ayat di atas serupa dengan firman-Nya dalam Q S . al-An'am [ 6 ] : 8. Di
sana dinyatakan bahwa orang-orang kafir berkata:

'i/j* 'i'££V f [S 'J J St & ij\ %


"Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat? "Sedang kalau Kami
turunkan seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, kemudian mereka tidak
diberi tangguh, "
Ketika menafsirkan ayat al-An'am itu, penulis antara lain mengemukakan
pandangan al-Biqa'i yang menyatakan bahwa jika usul mereka itu diterima,
hanya ada dua k e m u n g k i n a n bagi kehadiran malaikat bagi mereka. Yakni ia
tampak dalam bentuknya yang asli dan ketika itu pastilah manusia tidak
akan m a m p u melihatnya sehingga mereka akan hancur binasa, dan jika para
p e m b a n g k a n g itu diberi k e m a m p u a n untuk melihat malaikat dalam
bentuknya y a n g asli, urusan pun menjadi selesai karena, dengan melihat
malaikat sambil mendengar dari mereka tentang kebenaran rasul dan ajaran-
ajaran yang dibawanya, tentulah mereka akan percaya sehingga tidak ada lagi
arti ujian m e n y a n g k u t i m a n dan selesai pula urusan mereka.

Itu sebabnya sehingga para rasul Allah swt. kepada m a n u s i a haruslah


manusia j u g a dalam rangka memberi manusia pilihan u n t u k beriman atau
ingkar karena, kalau malaikat y a n g t u r u n sebagai rasul, alternatif m e m i l i h
atau menolak ajaran a g a m a y a n g dikehendaki Allah swt. u n t u k d i l a k u k a n
manusia tidak akan terpenuhi.
Thahir Ibn 'Asyur m e n g e m u k a k a n bahwa turunnya malaikat sesuai usul
mereka m e n g a k i b a t k a n kebinasaan k a r e n a boleh jadi Allah swt. telah
menciptakan malaikat m e m i l i k i naluri ketegasan dalam kebenaran sehingga
m e r e k a segera b e r t i n d a k t e r h a d a p p a r a p e m b a n g k a n g , sebagaimana
diisyaratkan oleh firman-Nya:
420 Surah al-Hijr [151 Kelompok I Ayat 9

"Mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai Allah,
dan mereka itu—karena takut kepada-Nya—-selalu berhati-hati" ( Q S . al-
Anbiya' [21J: 2 8 ) . Ibn \Asyur lebih j a u h menjelaskan bahwa: Allah swt.
menghalangi para malaikat berhubungan langsung dengan manusia, kecuali
dengan h a m b a - h a m b a - N y a y a n g m u l i a , yang jiwa k e m a n u s i a a n n y a serupa
dengan jiwa para malaikat itu, dan karena itu pula Allah swt. m e n g h a l a n g i
mereka turun ke b u m i kecuali dalam kasus-kasus tertentu dan langsung atas
perintah Allah swt.

Pandangan serupa d i k e m u k a k a n oleh Thabathaba i, walau u l a m a ini


m e n g e m b a l i k a n kebinasaan itu kepada keadaan para pembangkang, bukan
sifat malaikat. Ulama ini menulis: Jiwa manusia y a n g merasuk ke alam materi
dan tenggelam dalam alam fisik tidak akan m a m p u melihat malaikat-—
seandainya para malaikat itu turun dan berbaur dengan mereka-—-karena
kondisi para malaikar itu berbeda dengan kondisi mereka. Seandainya j i w a
mereka dijadikan serupa dengan kondisi kejiwaan para malaikat, itu tidak
lain kecuali perpindahan dari kerendahan materi/fisika ke puncak spiritual/
metafisika. Dan ini berarti kematian arau keadaan y a n g dialami manusia
sesudah kematiannya.

AYAT 9

"Sesungguhnya Kami yang menurunkan adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami


benar-benar baginya adalah para Pemelihara. "

Ayat ini sebagai bantahan atas ucapan mereka y a n g m e r a g u k a n sumber


,
datangnya al-Qur an. Karena itu, ia dikuatkan dengan kata sesungguhnya dan
dengan m e n g g u n a k a n kata Kami, yakni Allah swt., y a n g m e m e r i n t a h k a n
malaikat Jibril as. sehingga, dengan demikian, Kami menurunkan adz-Dzikr,
,
yakni al-Qur an yang k a m u ragukan itu, dan sesungguhnya Katm''juga bersama
Kelompok I Ayat 9 Surah al-Hijr [15] 421

semua k a u m muslimin benar-benar baginya, yakni bagi al-Qur'an, adalah


y a n g akan menjadi para Pemelihara otentisitas dan kekekalannya.
Ayat ini dapat merupakan dorongan kepada orang-orang kafir unruk
m e m e r c a y a i al-Qur'an sekaligus memutus harapan mereka untuk dapat
mempertahankan keyakinan sesat mereka. Betapa tidak, al-Qur'an dan nilai-
nilainya tidak akan punah tetapi akan benahan. Itu berarti bahwa kepercayaan
yang bertentangan dengannva, pada akhirnya—cepat atau lambat-—pasti akan
dikalahkan oleh ajaran al-Qur'an. Dengan d e m i k i a n , ridak ada g u n a n y a
mereka m e m e r a n g i n y a dan tidak berguna pula m e m p e r t a h a n k a n kesesatan
mereka.

Bentuk j a m a k y a n g d i g u n a k a n ayat ini yang m e n u n j u k Allah swt., baik


pada kata ( Liy j£ ) nahnu nazzalnd/Kami menunaikan m a u p u n dalam hal
pemeliharaan al-Qur'an, mengisyaratkan adanya keterlibatan selain Allah SWT.,
yakni malaikat Jibril as., dalam m e n u r u n k a n n y a dan k a u m muslimin dalam
pemeliharaannya. M e m a n g , tidak ada w a h y u vang berupa ayat al-Qur'an
vang tidak dibawa oleh malaikat Jibril as.—sesuai dengan penegasan al-Qur'an
bahwa w a h y u - w a h y u Allah swt. itu dibawa turun oleh ar-Riih al-Amin, yakni
malaikar Jibril as. (baca Q S . asy-Syu'ara [ 2 6 ] : 1 9 3 - 1 9 4 ) .

Para ulama menggarisbawahi bahwa ada informasi lain dari Allah swt.
y a n g dapat diterima oleh sementara m a n u s i a — t e r m a s u k Nabi M u h a m m a d
saw.-—bukan melalui malaikat Jibril as. atau bahkan bukan melalui malaikat.
Boleh jadi melalui m i m p i atau percakapan langsung di belakang h ijab atau
malaikat y a n g lain (baca Q S . asy-Syura [42J: 5 1 ) .
Kaum muslimin juga ikut m e m e l i h a r a otentisitas al-Qur'an dengan
banyak cara. Baik dengan menghafalnya, menulis dan m e m b u k u k a n n y a ,
merekamnya dalam berbagai alat seperti piringan hitam, kaset, C D , dan lain-
lain. Ini di samping memelihara m a k n a - m a k n a yang d i k a n d u n g n y a . Karena
itu, bila ada vang salah dalam menafsirkan maknanya—-kesalahan yang tidak
dapat ditoleransi—-atau vang keliru dalam membacanya, akan rampil sekian
banyak orang vang meluruskan kesalahan dan kekeliruan itu. A p a yang
dilakukan manusia itu tidak terlepas dari taufik dan bantuan Allah swt. guna
pemeliharaan kitab suci umat Islam itu.
422 Surah al-Hijr [15] Kelompok I Ayat 9

Para ulama menggarisbawahi perbedaan antara a h Q u r an dan kitab suci


yang lalu dari segi pemeliharaan otentisitasnya. Yang ditugaskan memelihara
kitab suci y a n g lalu adalah para penganutnya (saja). (Baca Q S . a l - M a idah
[5]: 4 4 ) . Selanjutnya, karena para penganut kitab suci itu lengah dan tidak
melaksanakan tugas mereka dengan baik, kitab-kitab suci tersebut hilang
atau berubah dengan p e n a m b a h a n , p e n g u r a n g a n , dan pemutarbalikan.
Adapun al-Qur'an, karena Allah swt. yang secara langsung menegaskan bahwa
Dia terlibat dalam pemeliharaannya, insya Allah al-Qur'an akan langgeng
tanpa perubahan sedikit pun.
Sejak dahulu hingga kini. sekian banyak o r a n g — b a h k a n anak-anak
sebelum dewasa—telah m a m p u menghafal keseluruhan ayat-ayat al-Qur'an,
bahkan sekian b a n y a k di antara mereka y a n g menghafalnya adalah orang-
orang y a n g ridak m e m a h a m i artinya. Bahkan, tidak jarang mereka y a n g
berhasil meraih juara dalam musabaqah-musabaqah tilawatil Q u r ' a n pada
tingkat internasional adalah p e m u d a - p e m u d a y a n g bahasa i b u n y a bukan
bahasa a l - Q u f an.
Sementara o r a n g — e n t a h dengan maksud baik atau b u r u k — p e r n a h
memasukkan satu kalimat dalam rangkaian ayat-ayat al-Qur'an. Kalimat itu
adalah shallaAlldhu 'alaihi wa sallam y a n g mereka tambahkan pada Q S . al-
Fath [ 4 8 ] : 2 9 y a n g berbunyi ( iii J U J _UJS ) Muhammadun Rasulullah.
Sisipan kata itu sebenarnya merupakan penghormatan kepada Nabi saw. dan
anjuran u n t u k diucapkan setiap mendengar nama beliau. Tetapi-—kendati
d e m i k i a n — i a tidak dibenarkan untuk ditambahkan ke dalam al-Qur'an dan
ketika itu juga Mushaf y a n g m e n g a n d u n g tambahan itu d i m u s n a h k a n .
Dari hari ke hari. bertambah jelas bukti-bukti kebenaran janji tersebut,
berkat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi y a n g digunakan dalam
pemeliharaannya. Dahulu, ketika turunnya ayat ini, pernyataan tersebut baru
merupakan janji sebagaimana dipahami dari bentuk kata ( 0 j k s l j - ) lahdfizhun,
tetapi kini setelah berlalu lebih dari seribu lima ratus tahun, janji itu telah
menjadi kenvataan w a l a u p u n sekian banyak u p a y a y a n g dilakukan oleh
m u s u h - m u s u h Islam untuk m e n g u b a h atau menghapusnya, dan w a l a u p u n
upaya tersebut dilaksanakan pada masa-masa u m a t Islam dalam keadaan
lemah dan dijajah. Orang-orang Yahudi y a n g m e m i l i k i p e n g a l a m a n dan
Kelompok [ Ayat 9 Surah al-Hijr [15] 423

keahlian dalam mengubah dan memalsukan kirab suci, kendati berhasil


memalsukan ribuan hadits Nabi M u h a m m a d saw., serta m e m u t a r b a l i k k a n
sejarah Islam, sedikit pun mereka tidak berhasil m e l a k u k a n perubahan
terhadap al-Qur'an. Ini semua adalah bukti kebenaran janji Allah swt. itu.
T h a b a t h a b a ' i y a n g beraliran Syi'ah I m a m i y a h secara panjang lebar
m e m b u k t i k a n d a l a m tujuh pasal uraian rentang keterpeliharaan a l - Q u r ' a n
dari segala m a c a m perubahan, baik penambahan m a u p u n pengurangan.
Rujuklah ke penafsirannya rentang ayat ini u n t u k m e n d a l a m i bukti-bukti
yang dipaparkannya. Memang—tulisnya pada pasal tiga—ada riwayat-riwayat
dari kalangan Syi'ah dan sekelompok Ahl as-Sunnah yang menyatakan bahwa
ada beberapa surah dan ayat-ayat atau redaksi-redaksi yang hilang pada masa
pengumpulan pertama vang dilakukan atas perin tali Abu Bakar ra., demikian
juga pada p e n g u m p u l a n k e d u a di masa ' U t s m a n . R i w a y a t - r i w a y a t itu—-
t u l i s n y a — c u k u p banyak vang diriwayatkan oleh kelompok Syi'ah dalam
b u k u - b u k u hadits mereka y a n g diakui, bahkan sementara ulama Syi'ah
m e n i l a i n y a m e n c a p a i d u a ribu hadits. K e l o m p o k Ahl a s - S u n n a h pun
meriwayatkan hal serupa pada kitab-kitab sahih mereka, seperti Bukhari dan
M u s l i m , Abu Daud, an-Nasa'i, Ahmad, dan lain-lain. Imam al-AIusi dalam
tafsirnya menyebut bahwa j u m l a h n y a tidak dapat terhitung. Tetapi, tulis
Thabathaba i lebih jauh, "Itu semua adalah riwayat-riwayat y a n g tidak dapat
diandalkan kesahihannya. Tidak ada satu pun yang mutawdttrata.u memiliki
bukti-bukti y a n g pasti y a n g mengantar akal u n t u k m e n e r i m a n y a . Riwayat-
riwayat itu saling bertentangan, bahkan sebagian di antaranya ridak serupa
dengan gaya redaksi al-Qur'an." Ada juga di antaranya yang bukan merupakan
ayat retapi "sisipan" y a n g d i l a k u k a n seseorang sebagai tafsir dan penjelasan
m a k n a atau apa y a n g diistilahkan oleh pakar-pakar qird at dengan mudraj.
Sekian banyak contoh yang d i k e m u k a k a u Thabathaba'i serta sekian banyak
dalil yang dipaparkannya dan pada akhirnya ulama itu berkesimpulan bahwa
a l - Q u r a n y a n g beredar di kalangan k a u m m u s l i m i n dewasa ini adalah al-
Qur'an y a n g d i t u r u n k a n kepada Nabi M u h a m m a d saw. Tidak ada sedikit
pun yang hilang dari sifat-sifatnya, pengaruh dan keberkahannya. Demikian
lebih kurang Thabathaba'i.
424 Surah al-Hijr [15] Kelompok I Ayat 10-11

AYAT 1 0 - U

"Dan sesungguhnya Kami telah mengutus sebelummu kepada kelompok-


kelompok yang terdahulu. Dan tidak datang kepada mereka seorang rasul pun,
melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. "

Ucapan orang-orang kafir terhadap Nabi M u h a m m a d saw., baik tuduhan


gila, lebih-lebih pengingkaran mereka terhadap risalah beliau dan kebenaran
,
a l - Q u r a n , sungguh menyedihkan dan m e n y a k i t k a n hati beliau. Karena itu,
Allah swt. m e n g h i b u r N a b i - N y a d e n g a n m e n y a t a k a n bahwa: Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus sekian banyak manusia sebagai rasul-rasul
sebelum Kami mengutus-wa, wahai Nabi M u h a m m a d . Kami telah mengutus
mereka itu kepada kelompok-kelompok manusia yang terdahulu. T i d a k satu
malaikat pun yang Kami utus u n t u k m e m b a w a risalah keagamaan kepada
manusia. J i k a kini engkau didustakan oleh k a u m m u , demikian itu pula yang
dialami oleh rasul-rasul yang Kami utus sebelummu. Dan tidak datang kepada
mereka, y a k n i para u m a t terdahulu itu, seorang rasul pun y a n g Kami utus
u n t u k mereka melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya karena itu
jangan bersedih dengan perlakuan k a u m m u terhadapmu.

Kata ( ) syiya' adalah bentuk j a m a k dari kara ( ) syi'ah, y a k n i


pengikut. Kelompok-kelompok d i n a m a i syi'ah karena kelompok-kelompok
k u saling mengikuti serta sependapat d a l a m pandangan-pandangan mereka.
Penggunaan bentuk kata kerja mudhari'Imasa kini pada kata ( J»^JL )

ya'tihimldatang kepada mereka, padahal uraiannya m e n y a n g k u t masa lalu,


adalah u n t u k menghadirkan dalam benak mitra bicara/pembaca keburukan
sikap orang-orang kafir itu, seakan-akan penolakan dan pengingkaran mereka
masih sedang terjadi.
Kata ( o ) yastahziun terambil dari kata (%^>\) al-huz'u yaitu
m e n a m p a k k a n seakan-akan memuji padahal m a k s u d n y a adalah mencela.
Penambahan huruf td 'dan sin pada kata tersebut untuk mengisyaratkan bahwa
keinginan mereka memperolok-olokkan itu tidak henti-hentinya dan terus-
t
menerus berlanjut dengan penuh antusias. Demikian al-Biqa i.
Kelompok I Ayat 12-13 Surah al-Hijr [15] 425

Di celah ayat di atas, terdapat isyarar tentang kekufuran para penolak


kebenaran al-Qur'an sebagaimana tersirat j u g a ancaman kepada mereka karena
ayat ini menegaskan persamaan mereka dengan umat-umat y a n g lalu, sedang
semua pihak mengetahui bahwa umat yang lalu kafir dan mendurhakai terus-
menerus mereka serta dijatuhi sanksi oleh Allah swt.

AYAT 12-13

"Demikianlah, Kami memasukkannya ke dalam hati para pendurhaka. Mereka


tidak beriman kepadanya dan sesungguhnya telah berlalu sunnah orang-orang
terdahulu. "

Boleh jadi terlintas dalam benak siapa y a n g m e n d e n g a r ayat y a n g lalu


satu pertanyaan: bagaimana bisa u m a t - u m a t yang lalu itu mengambil sikap
y a n g sama, yakni menolak risalah para nabi mereka, padahal mereka hidup
pada masa dan tempat y a n g berbeda. Nah, untuk itu avat ini menyatakan
bahwa: Sebagai mana yang terjadi terhadap orang-orang kafir yang hidup pada
masa lalu itu, demikian jugalah. Kami memasukkannya, yakni pemahaman
a l - Q u r ' a n , ke dalam hati para pendurhaka, yakni orang-orang kafir y a n g
telah m e n d a r a h daging kebejatan dan dosa-dosa d a l a m diri mereka. Tetapi,
pemahaman itu tidak mengantar mereka memercayainya. Dengan demikian,
mereka tidak beriman kepadanya, y a k n i kepada al-Qur'an atau kepada N a b i
M u h a m m a d saw., dan sesungguhnya telah berlalu sunnah orang-orang
terdahulu.

Ada j u g a ulama lain y a n g m e m a h a m i ayat ini d a l a m arti Allah swt.


memasukkan rasa ingkar kepada a l - Q u f a n dan keinginan memperolok-
olokkan itu ke dalam hati para pendurhaka dan, dengan demikian, kondisi
kejiwaan mereka telah berubah; fitrah kesucian y a n g dianugerahkan Allah
swr. sebagai potensi yang seharusnya mereka kembangkan telah menjadi bejat
dan sangat kotor karena kebatilan itu telah sangat kuat mengakar dalam jiwa
mereka dan, dengan demikian, mereka tidak dapat beriman, j i k a makna ini
yang A n d a pilih, h e n d a k n y a A n d a ingat bahwa hal tersebut dilakukan Allah
426 Surah al-Hijr [15] Kelompok I Ayat 14-15

swt. setelah s e b e l u m n y a mereka telah menjadi orang-orang bejat y a n g


mendarah daging kebejatan dalam diri mereka sebagaimana ditegaskan oleh
1
kata ( j y y r ) al-mujrimin!para pendurhaka. B u k a n k a h a y a t di atas
m e n y a t a k a n b a h w a AJIah swt. m e m a s u k k a n rasa ingkar dan keinginan
memperolok-olok itu ke dalam hati al-mujriminfpara pendurhaka?
Kata ( ) kadzdlika a d a j u g a y a n g m e m a h a m i n y a d a l a m arti
"Sebagaimana Kami telah m e m a s u k k a n dan mencerahkan hati orang-orang
yang beriman dengan al-Qur'an, Kami pun memasukkan kebatilan ke dalam
hati para pendurhaka y a n g berbangga dengan dosa-dosanya."
Kata ( ) sunnah berarri kebiasaan. Beberapa u l a m a memahami
p e n u t u p ayat di atas, ( j j j ^ l SL-) sunnatu al-awwal'in, dalam arti kebiasaan-
kebiasaan yang diperlakukan Allah swt. terhadap orang-orang terdahulu, yakni
j a t u h n y a siksa terhadap para pembangkang. A d a juga vang m e m a h a m i n y a
dalam arti kebiasaan u m a t - u m a t terdahulu, yakni kebiasaan mereka selalu
m e n o l a k ajakan para nabi dan memperolok-olokkan mereka.

AYAT 14-15

Dan jika seandainya Kami membukakan kepada mereka pintu langit, lalu
mereka terus-menerus naik ke atasnya, pasti mereka berkata: "Sesungguhnya
pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang
kena sihir. "

Pada avat-ayat yang lalu, telah disinggung permintaan mereka agar


malaikat diturunkan Allah swt. dan mereka lihat dan dengar sendiri. Ayat ini
berkomentar bahwa janganlah siapa pun mengira b a h w a mereka bersedia
beriman jika seandainya usul mereka itu diterima, bahkan jika seandainya
Kami membukakan kepada mereka salah saru pintu dari p i n t u - p i n t u langit,
lalu. mereka terus-menerus naik ke atasnya sehingga dapat m e n y a k s i k a n
berbagai keajaiban dan kekuasaan Allah swt., pasti mereka tetap tidak percaya
dan berkata: "Sesungguhnya pandangan kamilah yangditutupi serta dikaburkan
w a l a u akal k a m i masih tetap terpelihara sehingga, dengan d e m i k i a n , kami
Kelompok i Ayat 14-15 Surah al-Hijr [15] 427

tetap tidak percaya. "Selanjutnya, mereka berkata: "Bahkan kami adaLih orang-
orang yang kena sihir. "Demikianlah, pengingkaran yang merasuk kuat dalam
hati mereka telah menepis berbagai bukti y a n g ada.
F i r m a n - N y a : (L>b ) fatahna alaihim bab ani membukakan
kepada mereka pintu langit bukan berarti m e m u n g k i n k a n mereka naik ke
angkasa, tetapi m a k n a n y a adalah m e n g a n t a r mereka m a s u k ke d a l a m
l i n g k u n g a n alam ruhani di mana para malaikat bertasbih menyucikan Allah
swt.
M e m a n g , kata ( ^ - . j i ) as-sama '/langit m e l a m b a n g k a n juga m a k n a
keluhuran, kesucian, dan ketinggian. Dari arahnyalah wahyu sering kali
ditunjuk dan ke arahnyalah amal-amal kebajikan dinyatakan naik menemui
Sang Pencipta. Bahkan, Yang Mahakuasa sering kali dirunjuk sebagai "Berada
di atas" sana. P e n u n j u k a n arah atas itu, w a l a u p u n t i d a k s e p e n u h n y a
dibenarkan, demikianlah y a n g sering kali terdengar atau terucap oleh banyak
orang termasuk k a u m m u s l i m i n .
Kata ( \ j j j i i )fazhallu terambil dari kata ( ) zhalla yang pada m u l a n y a
digunakan untuk menunjuk satu aktivitas yang dilakukan di siang hari, seperti
kata ( ^+J\) amset yang digunakan menunjuk sore hari. A g a k n y a , ayat ini
menggunakan kata yang menunjuk makna siang hari itu u n t u k menekankan
bahwa kenaikan mereka ke pintu langit itu seandainya diadakan di siang hari
bolong pun di mana mata dapat memandang dengan jelas dan manusia banyak
yang dapat menyaksikannya—seandainya demikian pun keadaannya—mereka
tetap tidak akan percaya. D e m i k i a n kesan y a n g diperoleh asy-Sya'rawi dari
kata rersebut.
Kata ( ci ) sukkirat terambil dari k a t a ( f^~>) sakara y a n g berarti
menutup. Seseorang y a n g mabuk dinamai ( & \ ) sakrtin karena a k a l n y a
rertutup sehingga tidak dapat berpikir dengan baik dan kegiatannya tidak
terkontrol.
KELOMPOK 2

AYAT 1 6 - 2 5

429
430 Surah al-Hijr [15]
Kelompok II Ayat 16 18 Surah al-Hijr [15] 431

AYAT 16-18

"Dar? sesungguhnya Kami telah menciptakan di langit gugusan bintang-bintang


dan Kami telah menghiasinya bagi para pemandang, dan Kami menjaganya
dari setiap setan yang terkutuk, kecuali yang mencuri-curi pendengaran lalu ia
dikejar oleh semburan api yang terang."

Orang-orang kafir menuntut aneka bukti yang bersifat suprarasional dan


tidak sesuai dengan potensi mereka sebagai manusia. S u n g g u h aneh sikap
mereka itu, padahal sekian b a n y a k bukti y a n g terhampar dan mereka lihat
sehari-hari y a n g dapat mereka g u n a k a n u n t u k mencapai hakikat kebenaran
y a n g disampaikan oleh Nabi M u h a m m a d saw. melalui kitab suci al-Qur'an.
Ayat-ayat di atas menguraikan sebagian dari bukti-bukri tersebut. Pertama
kali y a n g dicuri j uk adalah langit guna menyesuaikan dengan uraian ayat yang
lalu yang juga m e n y i n g g u n g tentang langit.
Ayat ini menyatakan: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di langit
gugusan bintang-bintang yang, jika mereka sadari, tidak perlu lagi mereka
m e n u n t u t aneka bukti dan Kami telah menghiasinya, yakni langit, itu, bagi
para pemandang sehingga langit dan hiasannya itu dapat m e m u a s k a n nalar
dan rasa manusia dan mengantarnya percaya kepada keesaan Allah swt. dan,
di samping itu, Kayni juga menjaganya dari setiap setan yang terkutuk, kecuali
setan yang mencuri-curi pendengaran, y a k n i percakapan para malaikat, lalu
ia dikejar oleh semburan api yang terang.

Kata ( £ J > ) buruj adalah b e n t u k j a m a k dari ( ) burj, y a n g dari segi


bahasa bermakna istana atau benteng. Ada ulama yang m e m a h a m i n y a dalam
arti bintang-bintang. Ia dinamai d e m i k i a n karena besar dan a g u n g n y a dan
banyak juga yang memahaminya dalam arti tempat-tempat peredaran bintang-
bintang tertentu. Apa pun m a k n a y a n g dipilih, k e d u a n y a m e n u n j u k k a n
kekuasaan Allah swt.
Ibn 'Asyur memahami kata ( ) buruj dalam arti yang kedua. Bintang-
bintang itu tampak berbentuk titik-titik yang bila dibuatkan garis dengan
mengikuti titik-titik itu, b e n t u k n y a akan terlihat seperti binatang atau alat-
432 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 16-18

alat tertentu. Dari sini, mereka menamainya dengan nama binatang-binatang


atau alat-alat sebagaimana yang terlihat itu. Gugusan bintang itu berada pada
jalur peredaran matahari. Orang-orang terdahulu menjadikannya sebagal
tempat perjalanan matahari y a n g berjumlah d u a belas sebanyak bilangan
bulan-bulan dalam setahun. Yaitu: Kaprikornus Akuarius, Pisces, Aries, Taurus,
Gemini, Kanser, Leo, Virgo, Libra, Skorpio, dan Sagitarius.
Dahulu, orang percaya bahwa bintang-bintang dan benda-benda langit
adalah dewa-dewa y a n g m e m p u n y a i pengaruh pada b u m i dan isinya. Ilmu
p e r b i n t a n g a n atau astrologi m e r u p a k a n salah satu c a b a n g sihir y a n g
mengetahui gerak benda-benda langit, dipercaya oleh masyarakat dapat
mengetahui apa y a n g akan terjadi bagi seseorang, bahkan bagi masyarakat
dan manusia seluruhnya. Para peramal m e m b u a t semacam peta bagi setiap
orang sesuai dengan posisi bintang-bintang saat kelahirannya karena, menurut
mereka, posisi bintang memengaruhi sifat dan pembawaan manusia bahkan
menentukan peristiwa-peristiwa yang dialaminya serta menentukan pula saat
kematiannya. M u n c u l n y a bintang ini dan bintang itu j u g a dipercaya sebagai
pertanda sesuatu. Dalam Perjanjian Baru (Matius 2 ) , disebutkan bahwa orang-
orang Majusi mengetahui kelahiran 'Isa as. setelah mereka melihat bintangnya
di Timur. Atas dasar astrologi, mereka j u g a menentukan hari-hari, bahkan
jam-jam vang baik dan b u r u k u n t u k m e l a k u k a n aktivitas. Dari sini, lahir
apa yang diduga orang sebagai hari baik dan hari sial. Bahkan, melalui i l m u
perbintangan, mereka juga menduga dapat menentukan nasib bangsa-bangsa
serta ciri-ciri suatu era karena setiap era m e m p u n y a i bintangnya. Masyarakat
Arab Jahiliah pun memercayai hal serupa. Ilmu perbintangan d i m a s u k k a n
oleh Nabi saw. dalam bagian ilmu sihir. "Barang siapa yang mempelajari satu
ilmu dari bintang-bintang (astrologi), dia telah mempelajari satu bagian dari
sihir. Sihirnya akan bertambah dengan bertambahnya ilmu perbintangan itu"
(HR. A b u D a u d dan Ibn M a j a h ) . Rasul saw. juga m e m p e r i n g a t k a n bahwa:
"Siapa yang berkunjung kepada peramal dan bertanya sesuatu kepadanya (dan
ia m e m b e n a r k a n n y a ) , s baiatnya tidak diterima Allah selama empat puluh
hari" (HR. M u s l i m dan A h m a d ) .

Para a g a m a w a n tidak berbeda pendapat dalam menetapkan kekufuran


siapa yang percaya bahwa bintang-bintang adalah tuhan-tuhan, baik dipuja
Kelompok II Ayat 16-18 Surah al-Hijr [15] 433

m a u p u n tidak, dan baik kepadanya diajukan permohonan atau tidak. Adapun


b a h w a ia m e m p u n y a i p e n g a r u h t e r h a d a p a k t i v i t a s m a n u s i a — m a k a
kepercayaan semacam ini pun sangat tidak direstui Islam—walau para ulama
tidak m e n i l a i n y a sebagai kekufuran. Ia adalah suatu k e m u n k a r a n dan
kebodohan yang seharusnya ridak menyentuh seorang muslim. Dalih bahwa
potensi b i n t a n g - b i n t a n g d a l a m m e l a h i r k a n p e r i s t i w a baru terjadi jika
memenuhi sekian syarat tertentu, tidak mengurangi pandangan negatif ulama
dan pemikir Islam terhadap astrologi, dan peminat-peminatnya. "Bintang-
bintang hanya dijadikan Allah untuk hiasan langit, melontar setan, dan sebagai
penunjuk arah bagi manusia. Hanya tiga hal itu yang disebut dalam al-Qur'an."
Demikian d i k e m u k a k a n dalam k u m p u l a n hadits sahih Bukhari.
Kini, walau kepercayaan menyangkut astrologi sudah tidak sepenuhnya
sama dengan kepercayaan masa lampau, dan benda-benda langit tidak lagi
dipercaya sebagai dewa-dewa, masih ada saja y a n g percaya bahwa bintang-
bintang mempunyai pengaruh dalam aktivitas manusia. Bukti lain dari masih
tersebarnya sisa-sisa k e p e r c a y a a n itu dapat j u g a terlihat d e n g a n masih
banyaknya kolom-kolom "Nasib Anda Hari Ini" yang terhidang pada media
massa T i m u r dan Barat. Semoga Allah swt. m e l i n d u n g i kita.
Ayat ini b u k a n n y a bermaksud m e m b e n a r k a n p a n d a n g a n masyarakat
masa lampau itu, tetapi menegaskan bahwa itu adalah ciptaan Allah swt. dan
tunduk kepada kehendak-Nya. Ia bukan dewa, tidak juga keberadaannya
menentukan nasib seseorang atati masyarakat.
Ayat-ayat di atas menginformasikan bahwa langit dipelihara oleh Allah
>wt. dari setan sehingga mereka hanya m a m p u mencuri-curi pendengaran.
Kata ( Jjy~>l) istaraqa terambil dari kata ( ) saraqa yang berarti
mencuri. Penambahan h u r u f * / » dan / / J ' p a d a kata itu memberi arti upaya
pencurian y a n g disertai oleh rasa takut y a n g mencekam pelakunya.
Kata ((*=*-j ) rajim biasa diterjemahkan terkutuk A^n dipahami juga dalam
i n i yang hina. Ini karena masyarakat masa lampau melempar seseorang yang
^•;iina. Ada y a n g berpendapat bahwa kata itu berasal dari kata ( ^r')^) ar-
\'r>>2 vang berarti batu. Pelemparan orang-orang yang dihina telah dikenal
:
^ i k zaman Nabi N u h as., sebagaimana diisyaratkan oleh Q S . asy-Syu'ara
Io_: 116. Agaknya, h u k u m rajam yang dijatuhkan kepada para p e z i n a y a n g
434 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 16-18

telah menikah j u g a bertujuan m e n g h i n a pelaku kejahatan itu, di samping


membersihkan dan membentengi masyarakat dari kejahatan tersebut.
Di tempat lain, al-Qur'an mengabadikan ucapan jin y a n g m e n y a t a k a n
bahwa:

Gl^.aJ-A^ j V l ^ ^ - i J - ^ J ..*\\ . U l i * IfL* Joui GS iSjj

"Sesungguhnya kami dahulu dapat menduduki beberapa tempat di langit untuk


mendengar-dengarkan (berita-beritanya). Tetapi sekarang, barang siapa yang
(mencoba) mendengar-dengarkan (seperti itu) tentu akan menjumpai panah
api yang mengintai (untuk membakarnya)" ( Q S . al-Jinn [ 7 2 ] : 9 ) .
M a k s u d n y a , d a h u l u sebelum diutusnya Nabi M u h a m m a d saw. mereka
dengan mudah naik ke langit dan dengan tenang mendengarkan pembicaraan
para malaikat, tetapi kini, w a l a u masih memiliki kemampuan, upaya menuju
ke langit dan ketenangan mendengar pembicaraan itu diusik dengan semburan
api.
Kalau tadinya mereka dengan leluasa mendengar apa saja, k e m u d i a n
menginformasikannya kepada t u k a n g - t u k a n g tenung dan peramal y a n g
m e n y e m b a h atau t u n d u k kepada mereka, sejak diutusnya Nabi M u h a m m a d
saw. k e m a m p u a n tersebut sudah sangat terbatas sehingga sejak itu mereka
hanya dapat mencuri-curi pendengaran. Dengan demikian, kalaupun mereka
dapat memberi informasi kepada rekan-rekannya-—manusia atau j i n — m a k a
informasi itu hanya sepotong-sepotong atau bahkan keliru. Tidak jarang para
peramal yang berhubungan dengan jin membumbui dan menambah-nambah
informasi jin yang setengah-setengah itu. Dalam konteks ini, Allah swt.
berfirman:

"Apakah akan Aku beritakan kepadamu, kepada siapa setan-setan itu turun?
Mereka turun kepada setiap pendusta lagi yang banyak dosa " ( Q S . asy-Sy u'ara'
[26]: 221-222).
Imam Bukhari meriwayatkan melalui sahabat Nabi saw.. Abu Hurairah,
bahwa Nabi saw. bersabda, "Apabila Allah swt. menetapkan suatu ketetapan,
para malaikat merendahkan sayap mereka pertanda tunduk pada ketetapan-
Kelompok II Ayat 16-18 Surah al-Hijr [15] 435

N y a bagaikan rantai yang menyentuh batu y a n g halus serta takut kepada-


Nya. M a k a , apabila ketakutan mereka telah reda, (sebagian) mereka bertanya
kepada sebagian y a n g lain, 'Apa y a n g disampaikan Tuhan?' M a k a , y a n g ini
menjawab kepada y a n g bertanya, 'Allah swt. menetapkan y a n g hak, Dia
Mahatinggi lagi Mahabesar' (sambil menyampaikan apa yang ditetapkan Allah
swt.). Ketika itu, para jin vang mencuri-curi pendengaran d a l a m keadaan
seperti ini (perawi hadits ini m e n u n j u k k a n tangan kanannya dengan
merenggangkan jari-jarinya satu di atas yang lain). Ketika itu, boleh jadi yang
mencuri pendengaran terkena semburan api sehingga membakarnya dan boleh
jadi j u g a ia luput dari semburannya sehingga ia m e n y a m p a i k a n n y a kepada
jin yang ada di bawahnya dan akhirnya sampai ke b u m i dan diterima oleh
tukang sihir atau tenung lalu ia berbohong seratus kebohongan dan ia
dipercaya. Orang-orang y a n g m e n d e n g a r dan m e m e r c a y a i n y a berkata,
' B u k a n k a h pada hari ini dan itu ia m e n y a m p a i k a n kepada kira ini dan itu,
dan ternyata benar?' yakni benar menyangkut apa yang didengar dari langit."
Hadits serupa diriwayatkan juga oleh Imam M u s l i m dalam sahihnya,
melalui I bn 'Abbas, dia berkata, ''Aku diberitakan oleh salah seorang sahabat
Nabi saw. dari kelompok al-Anshar (penduduk M a d i n a h ) bahwa pada suatu
m a l a m mereka d u d u k bersama Nabi saw., tiba-tiba ada cahaya bintang
menyembur." Rasul saw. bertanya, "Apa yang kalian duga pada masa Jahiliah
bila terjadi semburan demikian?" Mereka menjawab, "Allah swr. dan Rasul-
Nya y a n g lebih mengetahui. Kami tadinya berkata (percaya) bahwa pada
malam itu lahir atau mati seorang agung." Rasul saw. menjawab, "Ia tidak
menyembur karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Tuhan kita Yang
Mahasuci dan M a h a t i n g g i n a m a - N y a , apabila menetapkan sesuatu, para
malaikat pemikul 'Arsy (singgasana Ilahi) bertasbih, kemudian penghuni langit
di bawah mereka juga bertasbih hingga sampai tasbih kepada penduduk langit
dunia." Mereka y a n g berada di bawah para malaikat pemikul 'Arsv bertanya,
'Apa yang difirmankan Tuhan?" M a k a , mereka m e n y a m p a i k a n apa yang
difirmankan-Nyaitu. Penduduk langit pun saling bertanya dan memberitakan
hingga sampai kepada penghuni langit dunia. Ketika itu, jin mencuri-curi
pendengaran, lalu menyampaikannya kepada rekan-rekan mereka. Maka, apa
436 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 16-18

yang mereka sampaikan sebagaimana yang mereka dengar adalah benar, tetapi
mereka m e n c a m p u r n y a dengan kebohongan dan menambah-nambabnya".
D e m i k i a n terbaca di atas, baik dari al-Qur'an m a u p u n sunnah, bahwa
jin m e m p u n y a i k e m a m p u a n untuk m e n e m b u s angkasa dan mendengar
percakapan p e n g h u n i - p e n g h u n i n y a dan bahwa kini langit dijaga dan ada
semburan api y a n g dapat m e m b a k a r mereka bila mendekar.
Para u l a m a berbeda p e n d a p a t m e n y a n g k u t m a k n a k a t a - k a t a y a n g
digunakan al-Qur"an dan sunnah itu. Ada yang berpendapat penjagaan langit,
semburan api, dan sebagainya m e n y a n g k u t persoalan yang dipaparkan ini
hanyalah perumpamaan dan penggambaran atau ilustrasi tentang
pemeliharaan Allah swt. terhadap al-Qur'an dari segala m a c a m kerancuan
serta penegasan tentang k e t i d a k m a m p u a n j i n m e m b a t a l k a n tuntunan Ilahi.
Setan, menurut mereka, adalah l a m b a n g keburukan, kedurhakaan, dan
p e m b a n g k a n g a n , malaikat adalah sebaliknya, sedangkan penyemburan api
terhadap setan adalah kekukuhan pemeliharaan/penjagaan.
Berbeda dengan pendapat ini adalah yang menafsirkannya secara harfiah
atau paling sedikit tidak menjelaskan apa yang dimaksud oleh kata-kata yang
digunakan kedua sumber ajaran Islam itu. M e r e k a tidak memperranyakan
di m a n a penjaga langit itu, siapa mereka, dan b a g a i m a n a mereka melontar
karena al-Qurian tidak menjelaskannya, dan tidak juga d i t e m u k a n hadits
sahih yang dapat menjadi sumber informasi. M e r e k a m e n e k a n k a n bahwa
kita ridak boleh menolak atau m e r a g u k a n persoalan y a n g diinformasikan
a g a m a menvangkut penyemburan dengan syihab atau syubub (meteor atau
panah api) dengan dalih ada h u k u m - h u k u m alam yang mengatur peredaran
planet-planet dan benda-benda langit, w a l a u p u n dalam saat y a n g sama kita
harus mengakui keberadaan dan keniscayaan h u k u m - h u k u m alam itu karena,
seperti tulis Sayvid Q u t h u b — s a l a h seorang penganut aliran ini: "Persoalan
penjagaan langit, penyemburan setan, dan semacamnya bukan persoalan kita.
Apalagi, bukankah tidak mustahil dalam peredarannya itu ia menyemburkan
panah-panah api ke arah setan-setan dan jin, dan bukan pulakah peredaran
seluruh planet—yang menyemburkan api maupun yang tidak—kesemuanya
t u n d u k k e p a d a k e h e n d a k Allah swt. y a n g m e n e t a p k a n hukum-hukum
tersebut?"
Kelompok II Ayat 16-18 Surah al-Hijr [15] 437

Selanjutnya, para ulama y a n g menerapkan m a k n a kalimat-kalimat di


atas dalam pengertian hakiki-nyd. berbeda pendapat menyangkut kemampuan
mencuri pendengaran y a n g dilakukan oleh para jin itu, apakah hingga kini
mereka masih dapat melakukannya atau tidak lagi. Yang menafikan berpegang
kepada firman Allah swt.:

"Sesungguhnya mereka benar-benar dijauhkan dari mendengar" ( Q S . asy-


Syu'am [ 2 6 ] : 2 1 2 ) .
Sedang, yang berpendapat mereka masih dapat m e n d e n g a r k a n — w a l a u
dengan sangat terbatas—merujuk kepada firman Allah swt.:

"Mereka menghadapkan pendengaran itu, dan kebanyakan mereka adalah


orang-orang pendusta" asy-Syuanf [26]: 223).
Kata "mereka", menurut p e n d u k u n g pendapat terakhir ini, adalah para
setan/jin itu, b u k a n n y a manusia y a n g menerima berita dari setan.
Hadits y a n g diriwayatkan Bukhari di atas m e n d u k u n g pendapat y a n g
menyatakan bahwa jin masih memiliki kemampuan mendengar berita-berita
langit, tetapi kemampuan tersebut sudah sangat terbatas. Ibn Khaldun dalam
Mutfaddirnah-nyi berpendapat bahwa para jin hanya terhalangi mendengar
saru macam dari berita-berita langit yaitu y a n g berkaitan dengan berita
diutusnya Nabi M u h a m m a d saw., tidak selainnya. Atau, seperti yang ditulis
oleh pakar tafsir, M a h m u d al-Alusi, boleh jadi j u g a keterhalangan itu h a n y a
terbatas menjelang kehadiran Nabi M u h a m m a d saw., b u k a n sebelumnya
dan bukan j u g a sesudah kehadiran beliau sebagai Rasul.
Ayai-ayat di aras berbicara tentang keindahan, yang dirangkaikan dengan
pemeliharaan dan kejauhan dari setan. Ini memberi kesan tentang petlunya
m e m b e r i perhatian kepada k e i n d a h a n tetapi y a n g disertai dengan
pemeliharaan diri dan kejauhan dari segala m a c a m keburukan lahir dan batin
serta terhindar dari segala rayuan dan godaan setan.
438 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 19-20

AYAT 19-20

"Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-


gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran. Dan
Kami telah menjadikan untuk kamu di sana sarana kehidupan, dan yang
kamu sekali-kali terhadapnya bukanlah para pemberi rezeki. "

Setelah ayat yang lalu m e n g u r a i k a n sekelumit tentang kekuasaan Allah


swt. y a n g terhampar di langit, kini dibicarakan sekelumit y a n g terbentang di
b u m i . A l l a h swt. b e r f i r m a n : 'Dan Kami telah menciptakan dan
menghamparkan bumi sehingga menjadi luas terbentang guna m e m u d a h k a n
h i d u p k a m u , kendati Kami menciptakannya bulat, dan menjadikan padanya
gunung-gunung yang mantap dan kukuh agar bumi tidak berguncang sehingga
menyulitkan penghuninya dan Kami tumbuhkan dan ciptakanpadanya, yakni
di b u m i itu, segala sesuatu menurut ukuran y a n g tepat sesuai h i k m a h ,
kebutuhan, dan kemaslahatan m a k h l u k Dan Kami telah menjadikan sebagai
anugerah dari Kami untuk kamu di sana, y a k n i di b u m i , segala sarana
kehidupan, baik vang berupa kebutuhan pokok m a u p u n pelengkap, dan
Kami menciptakan pula m a k h l u k - m a k h l u k yang kamu sekali-kali, wahai
y a n g merasa kuat di bumi, terhadapnya, y a k n i terhadap m a k h l t t k - m a k h l u k
itu bukanlah para pemberi rezeki.

Firman-Nya: ( J j j j ^ J i " j* l ^ J taJU ) w a anbatnd fihd rniu kulli


syai'in mauziininldan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut
ukuran d i p a h a m i oleh s e m e n t a r a u l a m a d a l a m arti b a h w a A l l a h swt.
menumbuhkembangkan di b u m i ini a n e k a r a g a m t a n a m a n untuk
k e l a n g s u n g a n h i d u p dan m e n e t a p k a n bagi setiap t a n a m a n itu m a s a
pertumbuhan dan penuaian tertentu, sesuai dengan kuantitas dan kebutuhan
m a h k l u k hidup. Demikian juga, Allah swt. menentukan b e n t u k n y a sesuai
dengan penciptaan dan habitat alamnya.
D a l a m tafsir al-Muntakhab, ayat ini dinilai sebagai menegaskan suatu
t e m u a n i l m i a h y a n g diperoleh melalui pengamatan di laboratorium, y a i t u
setiap kelompok tanaman masing-masing m e m i l i k i kesamaan dilihat dari
Kelompok II Ayat 21 Surah al-Hijr [15] 439

sisi luarnya; demikian juga sisi dalamnya. Bagian-bagian tanaman dan sel-sel
yang digunakannya untuk pertumbuhan memiliki kesamaan-kesamaan yang
praktis tak berbeda. M e s k i p u n antara satu jenis dan lainnya dapat dibedakan,
s e m u a n y a dapat diklasifikasikan dalam satu k e l o m p o k y a n g sama.
Kata ( J^\** ) m.a'dyisy adalah bentuk j a m a k dari kata ( ) ma'isyah
yang pada m u l a n y a berarti memiliki kehidupan. M a k n a ini kemudian beralih
berarti sarana kehidupan.
Firman-Nya: ( j^j^y. «d yj ) wa man lastum lahu birdziqin/dan yang
kamu sekali-kali terhadapnya bukanlah para pemberi rezeki berbicara tentang
m a k h l u k - m a k h l u k Ilahi y a n g l e m a h dan yang bertebaran di b u m i ini, baik
manusia y a n g lemah karena tua, sakit, atau anak-anak m a u p u n binatang-
b i n a t a n g melata y a n g m e m b u t u h k a n b a n t u a n m a n u s i a y a n g m e m i l i k i
k e m a m p u a n . Penggalan ayat ini bermaksud menggarisbawahi bahwa Allah
swt. telah menyiapkan segala sesuatu guna k e n y a m a n a n hidup manusia di
bumi ini. Mereka dapat bekerja, bertani, berdagang, dan sebagainya, Bahwa
ada di antara penghuni b u m i yang lemah, itu bukan berarti bahwa yang kuat
adalah y a n g m e m b e r i mereka rezeki sehingga dapat bertahan hidup. Tidak
s a m a sekali. B u k a n mereka y a n g m e m b e r i n y a rezeki, tetapi Allah swt.
Bagaimana m u n g k i n manusia-manusia yang merasa kuat itu vang memberi
mereka rezeki, padahal mereka sendiri dianugerahi rezeki oleh Allah swt. Itu
semua m e n u n j u k k a n betapa kuasa Allah swt.

AYAT 21

"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan
Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu. "

Setelah menjelaskan bahwa segala anugerah rezeki bersumber semata-


mata dari Allah swt., dan bahwa kadar rezeki y a n g diterima masing-masing
berbeda-beda, ditegaskan-Nya bahwa. Dan tidak ada sesuatu pun yang w u j u d
di alam raya ini melainkan pada sisi Kami-lah sendiri, tidak sedikit pun di
sfsi selain Allah, khazanahnya; Kami yang menciptakan nya, menguasai, dan
440 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 21

juga m e m b a g i n y a sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan Kami. Kami


tidak menurunkannya, yakni menciptakan, menganugerahkan, dan memberi
m a k h l u k k e m a m p u a n u n t u k m e n g g u n a k a n n y a melainkan dengan ukuran
yang tertentu sesuai dengan keadaan masing-masing m a k h l u k .
Kata ( J>\;f -) khazd 'in adalah bentuk j a m a k dari kara ( hjy>-) khaztnah
yang pada m u l a n y a berarti tempat menyimpan sesuatu guna memeliharanya/
lemari. Ayat ini mengibaratkan kekuasaan Allah swt. menciptakan dan
mengatur segala sesuatu seperti keadaan seseorang yang menguasai segala yang
berada d a l a m lemari. D i a p e m i l i k k u n c i n y a , y a n g kuasa m e m b u k a n y a
sekaligus berwenang mengeluarkan apa y a n g terdapat d a l a m lemari itu dan
membaginya u n t u k siapa vang Dia kehendaki.

Beberapa u l a m a m e m a h a m i bahwa ayat ini h a n y a berbicara tentang air


yang diturunkan dari langit dengan alasan bahwa konteks ayat ini berbicara
tentang rezeki. Akan tetapi, pendapat ini kurang tepat, bukan saja karena
rezeki mencakup anugerah lahir dan batin, tetapi j u g a karena ( j * o\) in
min syaiitidak ada sesuatu pun merupakan redaksi yang bersifat u m u m ,
m e n c a k u p segala sesuatu. A d a j u g a yang m e m a h a m i n y a d a l a m arti unsur-
unsur yang berbeda-beda yang dari perpaduan nya terjadi atau tercipta sesuatu.
Allah swt. telah menyediakan di alam raya ini dalam jumlah y a n g sangat
besar dan tidak akan habis aneka ciptaan dan faktor yang merupakan unsur-
unsur murlak bagi kehidupan makhluk, seperti udara, cahaya, kehangatan,
dan lain-lain. Semua itu telah diciptakan Allah swt. dan semata-mata berada
d a l a m k e k u a s a a n dan w e w e n a n g - N y a , dan hal-hal tersebut d e m i k i a n
m e l i m p a h , tetapi karena r a h m a t - N y a kepada m a k h l u k , Dia tidak
m e n u r u n k a n n y a kecuali d a l a m kadar tertentu.

Menurut Sayyid Quthub, makna kata (&\ Ji\j?~) khazd 'in Allah semakin
jelas setelah manusia mengetahui ciri unsur-unsur alam raya dan pembentukan
komponen-komponennya. Kliazd 'in air yang pokok, misalnya, adalah bagian-
bagian kecil dari hidrogen dan oksigen dan bahwa bagian dari khazd'in rezeki
pada tumbuhan yang berwarna hijau adalah cahaya yang dipancarkan matahari
dan sebagainya. Hal yang serupa dengan ini banyak sekali y a n g menjelaskan
m a k n a khazd'in Allah. Itu y a n g telah diketahui manusia. Tetapi, betapapun
Kelompok II Ayat 22 Surah al-Hijr [15] 441

banyak y a n g telah terungkap, ia sebenarnya sedikit, bahkan sedikit sekali jika


dibandingkan dengan apa y a n g berada di sisi Allah swt.
H a k i k a t y a n g d i k e m u k a k a n ini, w a l a u p u n benar adanya, m e m a b a m i
ayar tersebut demikian masih j u g a membatasi redaksi y a n g bersilat u m u m
itu. Karena itu, penulis cenderung m e m a h a m i n y a dalam pengertiannya vang
u m u m mencakup segala anugerah Allah swt. yang diberikan-Nya, baik kepada
jenis m a k h l u k m a u p u n kepada setiap individu. D a l a m konteks ini, antara
lain Allah swt. berfirman;

"Jikalau Allah melapangkan rezeki bagi haniba-hamba-Nya, tentulah mereka


akan melampaui batas di bumi, tetapi Allah menurunkan sesuai kadar yang
dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui (keadaan) hamba-
hamba-Nya lagi Maha Melihat"(QS. asy-Syura [ 4 2 ] : 2 7 ) .
Ayat ini-—seperti diisyaratkan di atas—tidak hanya terbatas pengertiannya
pada hal-hal y a n g bersifat material, tetapi juga y a n g immateriah Karena itu,
dapat juga dikatakan bahwa tidak ada ketenangan batin atau keresahan dan
musibah y a n g m e n i m p a m a n u s i a kecuali sesuai k e t e n t u a n y a n g telah
ditetapkan Allah swt. dan sejalan dengan h i k m a h kebijaksanaan-Nya.

AYAT 2 2

"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan maka Kami


menurunkan dari langit air, lalu Kami beri kamu minum dengannya dan
sekali-kali bukanlah kamu para penyimpannya. "

Setelah ayat y a n g lalu berbicara tentang langit dan bumi, kini diuraikan
tentang angin. Allah swt. berfirman: "Dan Kami telah meniupkan angin untuk
mengawinkan b u t i r - b u t i r a w a n maka dari hasil p e r k a w i n a n itu Kami
menurunkan dan langit air, y a k n i hujan, lalu Kami beri kamu minum
442 Surah al-Wjr 05] Kelompok 11 Ayat 22

dengannya, y a k n i d e n g a n air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu para


penyimpannya.
Kata ( £3ijl) laivaqih adalah bentuk j a m a k dari kata ( v&i) laqih yaitu
unta betina yang m e n a m p u n g [ ) liqoh. K.ata.liqdh berarti air/sperma atau
benih kelahiran anak yang dikandung jantan, baik binatang, tumbuhan, atau
manusia. Ini mengantar betina yang m e n a m p u n g n y a melahirkan anak. Boleh
jadi j u g a kata ( j i ' j l ) lawaqih merupakan bentuk j a m a k dari kata ( )
muUjih, yakni jantan yang m e m b u a h i betina.

M u h a m m a d Sayyid Thanthawi menilai bahwa penggunaan kata ini oleh


al-Qur'an adalah sangat tepat karena, dengan d e m i k i a n , ayat ini
mengisyaratkan fungsi angin y a n g dapat mengantar penyerbukan t u m b u h -
t u m b u h a n dan j u g a angin y a n g m e n g a n d u n g butir-butir air y a n g k e m u d i a n
m e n u r u n k a n hujan. Pendapat serupa d i k e m u k a k a n sebelumnya oleh Ibn
'A syur.

D a l a m tafsir al-Muntakhab dinyatakan bahwa ayat. ini m e n u n j u k k a n


apa y a n g d i b u k t i k a n oleh perkembangan i l m u pengetahuan modern bahwa
a n g i n m e r u p a k a n faktor p e n t i n g d a l a m p e n y e r b u k a n p a d a t u m b u h -
tumbuhan. Selain itu, sebelum awal abad dua puluh belum pernah diketahui
bahwa angin m e m b u a h i awan dengan sesuatu y a n g menghasilkan hujan.
Sebab, proron-proton y a n g terkonsentrasi di bawah molekul-molekul uap
air untuk menjadi rintik-rintik hujan y a n g ada di dalam awan merupakan
komponen u t a m a air hujan y a n g dibawa angin ke tempat b e r k u m p u l n y a
awan. Proton-proton itu m e n g a n d u n g unsur garam laut, oksida, dan unsur
debu yang dibawa angin. Itu semua merupakan zat penting yang menciptakan
hujan.

Selain itu, ditemukan pula bahwa hujan terjadi dari perputaran air. Mulai
dari penguapan air di p e r m u k a a n b u m i dan permukaan laut dan berakhir
dengan turunnya kembali uap itu ke atas p e r m u k a a n bumi dan laut d a l a m
bentuk air hujan. Air hujan vang turun, itu menjadi bahan p e n y i r a m bagi
semua m a k h l u k hidup, termasuk bumi itu sendiri. Air hujan y a n g turun itu
tidak dapat dikendalikan atau ditahan karena akan meresap ke dalam tubuh
berbagai m a k h l u k h i d u p dan ke dalam tanah untuk k e m u d i a n menguap
Kelompok II Ayat 22 Surah al-Hijr [15] 443

lagi. Dan begitu seterusnya. D e m i k i a n lebih kurang d a l a m b u k u tafsir al-


Muntakhab yang disusun oleh sekelompok pakar Mesir.
Penulis kurang setuju menjadikan ayat ini sebagai berbicara tentang fungsi
angin d a l a m p e n y e r b u k a n pada t u m b u h - t u m b u h a n , w a l a u p u n hakikat
tersebut tidak dapat dipungkiri dari segi ilmiah. Dalam buku Membumikan
al-Qur'an penulis m e n y a t a k a n bahwa seseorang yang tidak memerhatikan
h u b u n g a n antara kata ( ^S)j! J ) arsalna ar-riydhd laivdqiha/Kami
telah meniupkan angin untuk mengawinkan dengan kata ( u sUJJ* y t Uji la)
fdanzalnd min as-sarna 'i ma 'anhnaka Kami menurunkan dari langit air akan
menerjemahkan dan m e m a h a m i kata ( ^JMji) lawdqihlmengawinkan dalam
arti m e n g a w i n k a n t u m b u h - t u m b u h a n . N a m u n , bila diperhatikan dengan
s a k s a m a b a h w a k a t a tersebut b e r h u b u n g a n d e n g a n kata s e s u d a h n y a ,
p e m a h a m a n tersebut tidaklah pada rempatnya. Ini karena kata laivdqih
berhubungan dengan kata yang sesudahnya, yaitu turunnya hujan, hubungan
sebab dan akibat sebagaimana dipahami dari penggunaan huruf f j ) fa/maka.
Ini berarti perkawinan y a n g dilakukan angin itu mengakibatkan t u r u n n y a
hujan, bukan mengakibatkan t u m b u h n y a t u m b u h a n . Ini karena tidak ada
h u b u n g a n langsung serta sebab dan akibat antara perkawinan awan dan
t u m b u h n y a tumbuhan. Seandainya yang dimaksud ayat di atas adalah fungsi
angin dalam m e n g a w i n k a n t u m b u h a n , tentu redaksi ayat tersebut akan
berbunyi: maka tumbuhlah tumbuhan dan siaplah buahnya untuk dimakan
bukan seperti bunyi ayat di atas, maka Kami menurunkan dari langit air
hujan.

F i r m a n - N y a : (ay£\±jLJ& ) fa asqaind kumuhallalu Kami beri kamu


minum dengannya m e n u n j u k k a n bahwa demikian kuasa Allah swt. sehingga
segala sesuatu terpulang kepada-Nya, w a l a u dalam hal m e n e g u k air. Allah
swt. menciptakan manusia m e m b u t u h k a n air dan menciptakan air dapat
d i m i n u m manusia, semua itu adalah kuasa dan w e w e n a n g - N y a sehingga
sebenarnya, hai manusia, bahkan seluruh makhluk, k a m u semua sangat
m e m b u t u h k a n Allah swt. Jika Dia menghalangi air atau menjadikan semua
air asin, niscaya k a m u semua tidak dapat bertahan hidup.
Firman-Nya: ( jyjl£ ^ ^ 1 U j ) wa ma antum lahu bikhdzinin/dan sekali-
kali bukanlah kamu para penyimpannya d a p a t berarti b a h w a tempat
444 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 23

penyimpanan hujan di langit dalam kekuasaan m e n c i p t a k a n air hujan,


mengelola turunnya serta kadar air y a n g t u r u n bukanlah berada dalam
wewenang manusia. M e m a n g , manusia dewasa ini melalui pengetahuannya
dapat m e n u r u n k a n h u j a n b u a t a n , tetapi i t u b u k a n berarti manusia
menciptakan hujan karena keberhasilan hujan buatan tergantung oleh
beberapa faktor y a n g berada di luar k e m a m p u a n manusia, antara lain faktor
mengandung tidaknya awan butir-butir air.

AYAT 23

"Dan sesungguhnya Kami benar-benar Kami-lah yang menghidupkan dan


mematikan dan Kami (pulalah) para Pewaris."

Serelah berbicara secara u m u m tentang sebab-sebab kehidupan manusia


dan t u m b u h - t u m b u h a n , kini ayat ini menegaskan kekuasaan Allah swt.
menghidupkan dan m e m a t i k a n , setelah s e b e l u m n y a m e n g i s y a r a t k a n
kekuasaan-Nya itu dalam m e m b i n a s a k a n dan m e m b a n g k i t k a n masyarakat
serta m e n g a n u g e r a h k a n air dan menjadikannya segar untuk d i m i n u m . Di
sini, Allah swt. menegaskan bahwa: Dan sesungguhnya Kami benar-benar
hanva Kami-lah yang menghidupkan m a k h l u k material dan spiritual dan
mematikan mereka dan Kami pulalah para Pewaris dari segala apa yang
ditinggalkan oleh m a k h l u k - m a k h l u k y a n g pernah hidup itu.
Kata ( j y y J i ) al-iudritsim terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-
huruf tuauw, ra, dan t$a \ M a k n a n y a berkisar pada peralihan sesuatu kepada
sesuatu y a n g lain. Dari sini, lahir kata { CJJJ ) waratsa, y a k n i mewarisi, baik
materi m a u p u n selainnya, baik karena keturunan m a u p u n sebab y a n g lain.
Az-Zajjaj mengartikan al-warits sebagai segala sesuatu yang tinggal setelah
ada yang pergi.
Dalam al-Qur'an, kata itu hanya ditemukan sekali dalam bentuk tunggal,
yaitu dalam Q S . al~Baqarah [ 2 ] : 2 3 3 , dan lima kali dalam bentuk j a m a k ,
dua di antaranya m e n u n j u k kepada Allah swt. dan tiga lainnya menunjuk
kepada manusia.
Kelompok II Ayat 23 Surah al-Hijr [15] 445

I m a m Ghazali m e m a h a m i kata al-Wdrits dalam arti Dia yang kembali


kepada-Nya kepemilikan setelah kematian para pemilik. Allah swt. al-Wdrits
y a n g m u t l a k karena semua akan mati dan h a n y a Dia y a n g kekal abadi. Dia
s
vang akan berseru di hari Kemudian ( p j J i ^ j i ) limun al-mulku al-yaumal
kepunyaan siapakah kerajaanpada hari / ? « ? T i a d a y a n g menjawab sehingga
Dia sendiri y a n g menjawab, ( y^&\ Ji ) lilldhi. al-Wdhid al-Qahhdr/
kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan (QS. Ghafir/ab
M u ' m i n [40] : 1 6 ) .
;
Dari a l - Q u r a n ditemukan penegasan-Nya bahwa:

"Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua yang ada di atasnya, dan
hanya kepada Kami-lah mereka dikembalikan" (QS. M a r y a m [ 1 9 ] : 4 0 ) ,
bahkan bukan h a n y a bumi tetapi seluruh alam raya:

"Kepunyaan Allah-lah segala ivarisan (yang ada) di langit dan di bumi" (QS.
Ali 'Imran [ 3 ] : 1 8 0 ) .
A l l a h swt. j u g a disifati oleh N a b i Z a k a r i a as. k e t i k a berdoa agar
1
dianugerahi keturunan sebagai ( orJjijJ j > ) Khairu ah Wdntsin!Sebaik-baik
Yang Mewarisi (QS. al-Anbiya [21]: 8 9 ) . Betapa Dia tidak wajar menyandang
sifat ini, b u k a n k a h sekian b a n y a k y a n g mewarisi y a n g menjadi penghalang
bagi ahli waris yang lain sehingga menjadi mahjiib/terhalangi sehingga tidak
berhak m e n e r i m a warisan, w a l a u p u n statusnya adalah ahli waris? Bukan
pulakah ada di antara mereka y a n g berusaha berlaku curang atau menerima
warisan untuk digunakan secara ridak wajar? Memang, ada yang berlaku baik
bahkan menyerahkan sebagian atau keseluruhan h a k n y a kepada orang lain,
tetapi mereka semua mewarisi m i l i k orang lain (keluarga), berbeda dengan
Allah swt. y a n g mewarisi m i l i k - N y a sendiri y a n g pernah dititipkan kepada
orang lain. Selanjutnya, apa y a n g diwarisi-Nya itu diserahkan pula kepada
h a m b a - h a m b a - N y a yang lain.

Dalam kehidupan dunia, Allah swt. tidak hanya mewariskan harta, tanah/
daerah, (QS. al-Ahzab [ 3 3 ] : 2 7 ) , tetapi juga kitab suci, (QS. Fathir [ 3 5 ] : 32)
446 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 24-25

bahkan atas izin-Nya seseorang dapat mewarisi ilmu dan hikmah sebagaimana
Nabi S u l a i m a n as. mewarisi dari ayah beliau, Nabi Daud as. (QS. a n - N a m l
[ 2 7 ] : 16). N a m u n , y a n g terpenting dari semua itu adalah bahwa:

(lij o&Cy irt

"Surga, yang akan Kami (Allah) wariskan kepada hamba-hamba Kami yang
selalu bertakwa"(QS. M a r y a m [ 1 9 ] : 6 3 ) . M e r e k a y a n g mewarisi surga itulah
vang wajar m e n y a n d a n g sifat ini di dunia dan di akhirat kelak.
M e n a r i k untuk d i k e m u k a k a n bahwa ketika Allah swt. m e n u n j u k diri-
Nya sebagai pelaku pewarisan, al-Qur'an selalu menggunakan bentuk jamak.
Bahkan, seperti d i k e m u k a k a n di atas, tidak d i t e m u k a n kata Wdrits dalam
bentuk tunggal dan semua kata yang m e n u n j u k diri-Nya sebagai Penerima
Warisan selalu dalam bentuk jamak. Agaknya, hal ini u n t u k mengisyaratkan
bahwa AJfah swt. akan mengembalikan (ganjaran) apa yang diwarisi-Nya itu
kepada hamba-hamba-Nya juga jika mereka berbuat baik, dan
mengembalikan pula sanksi dari yang diwarisi-Nya dari kejahatan-kejahatan
mereka.

AYAT 2 4 - 2 5

"Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu dari


kamu dan sesungguhnya Kami mengetahui (pula) orang-orang yang
terkemudian. Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang akan menghimpun
mereka. Sesungguhnya Dia Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui. "

Setelah menjelaskan kekuasaan-Nya mematikan dan menghidupkan, dan


bahwa Dia adalah Pewaris segala sesuatu, dijelaskan-Nya pula bahwa semua
Itu berada dalam liputan ilmu-Nya. U n t u k menjelaskan hal ini, Allah swt.
dalam firman-Nya di atas menekankan bahwa: Dan sesungguhnya Kami telah
mengetahui orang-orang yang terdahulu dari kamu, y a k n i y a n g telah
meninggal d u n i a sebelum kamu, dan sesungguhnya Kami mengetahui pula
orang-orang yang terkemudian, yakni yang masih hidup walau seandainya
Kelompok II Ayat 24-25 Surah al-Hijr [15] 447

mereka berusaha untuk mengakhiri hidupnya. Sesungguhnya Tuhanmu yang


selalu berbuat baik kepadamu, wahai Nabi M u h a m m a d , Dia-lah sendiri yang
akan menghimpun mereka di padang Mahsyar setelah kematian mereka semua.
Sesungguhnya Dia adalah Mahahijaksana menempatkan segala sesuatu pada
tempatnya y a n g tepat lagi Maha Mengetahui segala sesuatu, sampai ke
per'meian-perinciannya yang terkecil.
Para u l a m a berbeda p e n d a p a t tentang m a k n a kata ( j - ) al-
mustaqdimin y a n g diterjemahkan di atas dengan yang telah terdahulu. Ia
terambil dari kata ( f Ji ) qadima y a n g berarti tampil ke depan mendahului.
Al-Biqa'i m e m a h a m i n y a d a l a m arri yang terdahulu mati. Tulisnya: "Seakan-
akan kematian rampil mendahuluinya, walaupun yang bersangkutan dengan
keluarganya berupaya untuk menghambat laju maut dengan berbagai cara."
Lawan dari kata ini a d a l a h ( j j ^ t u J , ; ) al-musta'khirm. Ada juga yang
m e m a h a m i kata al-mustaqdimin dalam arti orang yang taat dan lawannya
adalah yang durhaka, atau yang tampil ke depan dalam medan juang dan
lawannya adalah yang m u n d u r patah semangat d a l a m berjuang, atau y a n g
tampil pada saf pertama dalam shatat dan lawannya adalah yang berada pada
saf di belakang. Jika memerhatikan konteks uraian, a g a k n y a pendapat y a n g
d i k e m u k a k a n antara lain oleh al-Biqa i di atas adalah pendapat yang paling
tepat.

H u r u f j-iw dan ta'pada kedua kata di atas berfungsi menguatkan m a k n a


kematian dan kelanjutan hidup siapa yang dibicarakan ayat ini.
Firman-Nya: ( ^ j - i ^ j& dljj 5 l j ) wa inna Rabhaka huwayahsyuru-huml
sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang akan menghimpun kamu merupakan
natijahlhasil dari pernyataan sebelumnya b a h w a Dia y a n g m e n g h i d u p k a n
dan m e m a t i k a n . Ini karena siapa y a n g kuasa m e n g h i d u p k a n pertama kali
sebelum adanya wujud, lalu m e m a t i k a n n y a setelah k e h i d u p a n — s i a p a yang
kuasa m e l a k u k a n hal i t u — t e n t u m a m p u j u g a m e n g h i d u p k a n n y a kembali
setelah kematian, bahkan kehidupan yang kedua dan penghimpunannya jauh
lebih mudah—dalam pertimbangan logika manusia—-daripada
m e n g h i d u p k a n n y a pertama kali. Bukankah yang d i h i d u p k a n kembali itu
sudah pernah m e n g a l a m i hidup sebelumnya? Bahkan, boleh jadi sisa dari
wujudnya yang lalu masih ada, katakanlah sisa-sisa tulang belulangnya, berbeda
448 Surah al-Hijr [15] Kelompok II Ayat 24-25

dengan yang d i h i d u p k a n pertama kali yang sama sekali belum m e m i l i k i


w u j u d sebelumnya. Di sisi lain, Allah swt. y a n g m e m a t i k a n m a k h l u k /
manusia lalu menghidupkan kembali apa yang telah dimatikan-Nya itu, tentu
saja m e m p u n y a i tujuan dalam m e n g h i d u p k a n n y a kembali karena, jika tidak
demikian, tentu ketetapan-Nya mematikan dan menghidupkan kembali itu
dapat dinilai sebagai permainan atau perbuatan sia-sia. J i k a m e m a t i k a n dan
m e n g h i d u p k a n kembali itu tanpa h i k m a h kebijaksanaan, tentu saja akan
timbul pertanyaan m e n g a p a tidak sejak semula saja k e h i d u p a n pertama
dilanjutkan tanpa kematian? H i k m a h tersebut diisyaratkan d a l a m Q S . al-
M u l k [ 6 7 ] : 2:

Z
<X£ £ 3 Op" L £

"Dia yang menjadikan mati dan hidup supaya Dia menguji kamu siapa di
antara kamu yang lebih baik amalnya, "dan karena itu pula p e n u t u p ayat 2 5
vang ditafsirkan di atas menyatakan: "Sesungguhnya Dia adalah Mahahijaksana
lagi Maha. Mengetahui."
KELOMPOK 3

AYAT 2 6 - 4 8

* — jp— # s* w
^ v- b

S ^ ^ J*\S*

2\

449
450 Surah al-Hijr [15]
Kelompok III Ayat 26-27 Surah al-Hijr [15] 451

AYAT 2 6 - 2 7

"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari tanah liat kering
dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah menciptakan jin
sebelumnya dari angin yang sangat panas. "

Ayat ini dan ayat-ayat berikut memerinci peristiwa kejadian/kehidupan


manusia di persada bumi ini setelah ayat yang lalu menegaskan bahwa Allah
swt. y a n g m e n g h i d u p k a n dan m e m a t i k a n , dan bahwa Dia M a h a b i j a k s a n a
lagi M a h a Mengetahui. Apa y a n g dikemukakan pada ayat yang lal u diuraikan
buktinya oleh kelompok ayat-ayat ini. Di sini, Allah swt. berfirman: Dan
sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia, yakni A d a m , dari tanah liat
kering vang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Dan Kami telah
menciptakan jin sebelumnya, yakni sebelum penciptaan Adam., dari angin
yang sangat panas.
Kata ( J L A U ? ) shalshal terambil dari kata ( i L a U ? ) shalshalah yaitu suara
keras yang bergema akibat ketukan. Yang dimaksud di sini adalah tanah yang
sangat keras dan kering. Kata ini serupa maknanya dengan ( j i k i l i ) al-fakhkhar.
H a n y a saja, kata terakhir ini d i g u n a k a n u n t u k tanah y a n g keras akibat
pembakaran dengan api, berbeda dengan shalshal y a n g kekeringan dan
kekerasannya tanpa pembakaran. Karenaitu, pada Q S . ar-Rabmim [ 5 5 ] : 14,
Allah swt. berfirman:

"Allah menciptakan manusia dari shalshal yang serupa dengan al-fakhkhar. "
Yang serupa dengannya itu adalah shalshal.
Kata ( U-) hama'adalah tanah yang bercampur air lagi berbau, sedangkan
kata ( j ^ ~ * a ) masnun berarti dituangkan sehingga siap dan dengan m u d a h
dibentuk dengan berbagai bentuk yang dikehendaki. Ada juga yang memahami
kata ini dalam arti y a n g telah lama sehingga kedaluwarsa. Ia terambil dari
kata ( ) as-sanah yang berarti tahun. Dengan kara lain waktu yang lama.
452 Surah al-Hijr [151 Kelompok III Ayat 26-27

Thahir Ibn 'Asyiir berpendapat bahwa tujuan uraian ayar ini adalah untuk
m e m b u k t i k a n betapa m e n g a g u m k a n Allah swt. dalam ciptaan-Nya. Dia
menciptakan dari unsur-unsur yang remeh dan menjijikkan itu satu makhluk,
vakni manusia, yang merupakan tokoh u t a m a jenis m a k h l u k a l a m material
y a n g hidup.
Ayat ini tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain yang berbicara tentang
asal kejadian manusia (Adam as.) karena aneka istilah y a n g d i g u n a k a n al-
Qur'an menunjukkan tahapan-tahapan kejadiannya, la tercipta pertama kali
dari tanah lalu tanah itu dijadikannya { ) thin [tanah bercampur air),
k e m u d i a n thin itu m e n g a l a m i proses dan irulah y a n g diisyaratkan oleh
(J a U> JA ) min h ani a'i n masnun dan ini dibiarkan hingga kering dan irulah
y a n g menjadi ( J u ^ U s ) shalshal.

Kata ( ^ \ ) al-jdnn seakar dengan kata ( j* ) jinn y a n g terambil dari


akar kata ( j ^ r ) janana yang berarti menutup/tertutup. Sementara ulama
memahami kata al-jdnn pada ayat ini dalam arti bapak dari kelompok makhluk
yang dinamai jin, sebagaimana A d a m as. adalah b a p a k dari kelompok
m a k h l u k vang dinamai insani manusia. Ada juga yang mempersamakan kata
tersebut dengan jin, apalagi menurut penganut pendapat ini uraian tentang
mereka diperhadapkan dengan uraian tentang inslmanusia.

Kata ( *js^ ) samuni berarti angin yang sangatpanas yang menembus masuk
ke tubuh. Ada juga yang m e m a h a m i n y a dalam ain api yang tanpa usap. Dalam
Q S . a r - R a h m a n [ 5 5 ] : 15 d i n y a t a k a n bahwa ( jU y> ^ j U y 6Uri j J ^ j ) w a
khalaqa al-jdnna min marijin min ndrin/dan jdrin diciptakan dari nyala api.
Dari g a b u n g a n kedua ayar ini dapat d i k a t a k a n bahwa angin panas
mengakibatkan kebakaran sehingga m e n i m b u l k a n nyala api, dari nyala api
itulah jin diciptakan. Demikian, kedua avat tersebut tidak bertentangan dan
saling melengkapi informasi tentang asal kejadian m a k h l u k tersebut. Ini
berarti b a h w a asal kejadian manusia dan jdnn/jin sungguh sangat berbeda.
Jin tercipta dari angin panas vang m e n i m b u l k a n api, sedang manusia seperti
yang telah Anda ketahui.
Kelompok III Ayat 28-31 Surah al-Hijr [15] 453

AYAT 2 8 - 3 1

"Dan ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku


akan menciptakan seorang mati usia dan tanah liat kering dari lumpur hitam
yang diberi bentuk. Maka, apabila Aku telah menyempurnakannya, dan telah
Ku-tiupkan ke dalamnya nih (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kepadanya dalam
keadaan sujud. " Maka, bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-
sama, tetapi iblis enggan bersama-sama dengan para yang sujud itu. "

Sebenarnya nikmat penciptaan dan kehadiran di pentas bumi ini sudah


cukup untuk mendorong manusia taat dan mensyukuri Allah swt., terapi
sebagian orang tidak sadar. M a k a , ayat ini m e n y e b u t k a n nikmat lain yang
lebih besar, yaitu keutamaan yang dianugerahkan Allah swt. kepada manusia
sambil menjelaskan sebab kesesalan manusia. U n t u k itulah ayat di atas
L
d i k e m u k a k a n sesudah a y a t 2d d a n 2 7 y a n g lalu. D e m i k i a n a l - B i q a i
m e n g h u b u n g k a n n y a . Ayat ini m e n u r u t n y a seakan-akan berkata: Sebut dan
ingatkanlah hal itu karena ia sebenarnya sudah cukup untuk mengantar setiap
yang berakal mencapai apa yang diharapkan darinya dan sebut serta ingatkan
pula ketika Tuhanmu, w a h a i Nabi M u h a m m a d , berfirman kepada para
malaikat, "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah
liat keringy<Lv\g berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka, apabila
Aku telah menyempurnakan kejadian fisiknya dan telah Ku-tiupkan ke
dalamnya nih ciptaan-T^, maka tunduklah k a m u semua dan bersungkurlah
secara spontan dan dengan m u d a h sebagai penghormatan kepadanya dalam
keadaan sujud. " Maka, serta merta dan segera tanpa m e n u n d a , bahkan
berpikir, bersujudlah para malaikat yang diperintah itu semuanya bersama-
sama, tetapi iblis enggan ikut bersujud bersama-sama dengan para malaikat
yang sujud itu.
Ayat-ayat y a n g berbicara tentang kisah kejadian manusia d i k e m u k a k a n
oleh a l - Q u f a n sebelum ini, yakni dalam surah al-Baqarah dan al-A'raf. Tetapi,
masing-masing memiliki penekanan yang berbeda dan berbeda juga gaya
uraiannya, walau terdapat juga beberapa persamaan. Sayyid Q u t h u b menulis
bahwa uraian-uraian itu memiliki keserupaan dalam hal pengantarnya, yakni
454 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 28-31

kesemuanya berbicara terlebih dahulu tentang kehadiran dan penguasaan yang


dianugerahkan Allah swt. kepada manusia atas b u m i . Pada Q S . al-Baqarah
12]: 2 9 d i n y a t a k a n bahwa:

"Dia-lah Allah yang menciptakan untuk kamu apa yang ada di bumi
semuanya, "sedang d a l a m Q S . al-A'raf [ 7 ] : 10 dinyatakan bahwa:

"D^w demi, sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di bumi


dan Kami adakan bagi kamu di bumi itu penghidupan. Amat sedikitlah kamu
bersyukur, sedang dalam surah ini adalah seperti yang Anda baca pada ayat 19
dan 20 di atas.
W a l a u p u n pengantarnya dapat dinilai serupa, konteks uraian masing-
masing surah, arah, dan tujuannya berbeda. Pada al-Baqarah, penekanannya
pada uraian tentang penugasan Adam as. sebagai khalifah di bumi y a n g
diciptakan Allah swt. u n t u k manusia. Karena itu, di sana diuraikan rahasia
penugasan iru yang tadinva tidak diketahui oleh para malaikat (baca ayat 3 0 -
3 3 ) . Sedang, pada al-A'raf, penekanannya pada perjalanan panjang manusia
dari surga u n t u k menuju ke surga lagi, sambil m e n u n j u k k a n permusuhan
iblis terhadap manusia sejak awal perjalanan iru hingga akhirnya manusia
tiba kembali ke padang Perhitungan Ilahi, di m a n a ada di antara kelompok
manusia y a n g d i k u m p u l k a n itu yang masuk kembali ke surga karena mereka
m e m u s u h i serta m e n a m p i k ajakan setan dan ada j u g a y a n g terjerumus ke
neraka karena mengikuti langkah-langkah setan yang merupakan musuh abadi
itu. Nah, karena itu, dalam surah al-A'raf, d i t a m p i l k a n uraian m e n y a n g k u t
sujudnya malaikat dan keengganan iblis, keangkuhannya, serta
permohonannya agar ditangguhkan k e m a t i a n n y a hingga hari Kebangkitan.
Itu dimohonkan nya agar ia dapat menjerumuskan anak cucu A d a m as. yang
karena ayah merekalah ia terusir dari surga. (Untuk jelasnya, bacalah kembali
16
ayat-ayat 11 sampai ayat 25 surah t e r s e b u t ) .

B a c a Q S . A'raf [7]: 11 - 2 5 p a d a v o l u m e 4 m u l a i h a l a m a n 2 5 - 6 4 .
Kelompok III Ayat 28-31 Surah al-Hijr [15] 455

Sedang, penekanan uraian d a l a m surah al-Hijr ini adalah uraian tentang


unsur penciptaan A d a m as., rahasia perolehan hidayah dan kesesatan, serta
faktor-faktor dasar m e n y a n g k u t kedua hal itu dalam diri manusia. Karena
iru, di sini diuraikan tentang penciptaan manusia dari tanah liat kering y a n g
berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk serta penciptaan jin sebelumnya
dari api y a n g sangat panas. Kemudian, diuraikan keengganan iblis bersujud
lalu pengusirannya dan permohonannya serta pengakuannya bahwa ia tidak
memiliki kemampuan untuk menjerumuskan hamba-hamba Allah swt. yang
taat kepada-Nya. D e m i k i a n lebih kurang uraian Sayyid Q u t h u b tentang
perbedaan ketiga surah-—aI-Baqarah, al-A'raf, dan a l - H i j r — d a l a m uraian
masing-masing tentang kisah A d a m as.
Ayat di atas m e m b e d a k a n juga dengan jelas asal kejadian manusia dan
asal kejadian jin. Perbedaan itu bukan saja pada unsur ranah dan api. tetapi
yang lebih penting adalah bahwa pada unsur kejadian manusia ada ruh cipraan
Allah swt. Unsur ini tidak d i t e m u k a n pada iblis/jin. Unsur ruhani itulah
vang mengantar manusia lebih mampu mengenal Allah swt., beriman, berbudi
luhur, serra berperasaan halus.
Dalam aI-Baqarah, d i k e m u k a k a n bahwa perintah sujud tersebut datang
setelah A d a m as. m e m b u k t i k a n k e m a m p u a n n y a memberitahu n a m a - n a m a
(benda-benda) setelah para malaikat m e n g a k u i k e t i d a k m a m p u a n mereka.
Di sana, antara lain penulis kemukakan bahwa, sebagai penghormatan kepada
sang khalifah y a n g dianugerahi i l m u dan mendapat tugas mengelola b u m i
itulah, Allah swt. secara langsung memerintahkan kepada para malaikat agar
sujud kepada A d a m . as. Para malaikat m e n y a d a r i bahwa perintah itu tidak
boleh d i t a n g g u h k a n . Karena itulah, sebagai tanda ketaatan dan penyerahan
diri kepada-Nya, maka segera mereka sujud tanpa m e n u n d a atau berpikir,
apalagi perintah tersebut langsung dari Allah swt. Yang M a h a Mengetahui
lagi Mahabijaksana, bukan dari siapa yang dapat salah, keliru atau lupa. Tetapi,
iblis yang memasukkan dirinya d a l a m kelompok malaikat sehingga otomatis
dicakup pula oleh perintah tersebut, enggan dan menolak, bukan karena
tidak ingin sujud kepada selain Allah swt., tetapi karena ia angkuh, yakni
m e n g a b a i k a n hak pihak lain, d a l a m hal ini A d a m as., serta m e m a n d a n g n y a
rendah sambil m e n g a n g g a p d i r i n y a lebih tinggi. Ia enggan sujud, padahal
456 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 28-31

sujud tersebut adalah sujud penghormatan bukan sujud ibadah, atau bahkan
tidak mustahil sujud yang diperintahkan Ailah swt. itu dalam arti sujud kepada
Allah swt. dengan menjadikan posisi A d a m as. ketika itu sebagai arah bersujud,
sebagaimana Ka'bah di M e k k a h dewasa ini menjadi arah k a u m muslimin
sujud kepada-Nya.
Kata ( j - i j ) basyar tcrambW dari kara ( l j ^ ) basyarah y a n g berarti kulit.
t

Kata ini biasa diterjemahkan dengan manusia. Ini, agaknya, karena sisi lahiriah
yang tampak dari manusia adalah kulitnya bukan seperti binatang yang terlihat
dengan jelas bulunya. N a m u n demikian, perlu dicatat bahwa kata ini berbeda
dengan kata insan vang j u g a diterjemahkan dengan manusia. Kata basyar
penekanannya pada sosok yang tampak dari manusia secara u m u m dan y a n g
tidak berbeda antara seseorang dan y a n g lain. M i s a l n y a , anggota t u b u h n y a
sama, masing-masing memiliki dua mata, dua telinga dan hidung, kepalanya
di aras dan kakinya di bawah. M a s i n g - m a s i n g m e m i l i k i naluri y a n g sama,
seperti haus dan lapar, dorongan seksual, cemas, harap, dan lain-lain. Itu
sebabnya Nabi M u h a m m a d saw. diperintah untuk menyatakan bahwa:

"Sesungguhnya aku tidak lain kecuali basyar seperti kamu yang diberi wahyu"
( Q S . al-Kahf [ 1 8 ] : 1 1 0 ) . A d a p u n kata ( OUJI ) insan, ia m e n a m p u n g
perbedaan-perbedaan dalam bidang keruhanian, k e i m a n a n , dan akhlak.
Dengan kata lain, basyar menunjukkan persamaan, sedang kata ( ) insdn
dapat menyiratkan perbedaan antara seseorang dan yang lain. Ayar ini
menegaskan bahwa .Allah swt. menciptakan basyar/manusia semuanya sama,
dan kalaupun terjadi perbedaan antara seseorang dan y a n g lain, hal itu
disebabkan adanva faktor ekstern y a n g mengakibatkan hal tersebut.
Kata ( ) sawwaituhu terambil dari kara ( ^ j - » ) sawwd, yakni
menjadikan sesuatu sedemikian rupa sehingga sedap bagiannya dapat berfungsi
sebagaimana yang direncanakan.
Kata ( c~*Ji>) uafakhtu/Aku meniupkan terambil dari kata ( ) nafakba
yang hakikatnya adalah mengeluarkan angin melalui mulut. Vang d i m a k s u d
di sini adalah memberi potensi ruhaniah kepada m a k h l u k manusia yang
menjadikannya dapat mengenal Allah swt. dan mendekatkan diri kepada-
Kelompok III Ayat 28-31 Surah al-Hijr [15] 457

Nya. Bahwa "peniupan" itu d i n y a t a k a n sebagai dilakukan oleh Allah swt.


adalah sebagai isyarat penghormatan kepada manusia. Perlu dicatat bahwa di
sini tidak ada peniupan, tidak ada juga angin atau ruh dari Zat Allah swt.
y a n g m e n y e n t u h manusia. R u h Allah swt. y a n g d i m a k s u d adalah milik-Nya
dan y a n g merupakan w e w e n a n g - N y a semata-mata.
Uraian tentang penciptaan manusia seperti terbaca di atas mengisyaratkan
bahwa betapapun asal kejadian sesuatu bukan merupakan hal yang istimewa,
bahkan menjijikkan, tetapi jika d a m p a k yang diakibatkannya atau hasil vang
dapat diperoleh darinya merupakan hal-hal y a n g baik dan bermanfaat, unsur
kejadian itu tidak memengaruhi penilaian terhadap sesuatu itu. Sperma yang
menjijikkan jika dipandang, dan y a n g h a n y a bagian kecil dari setetes y a n g
ditumpahkan ke rahim, merupakan asal kejadian manusia. N a m u n demikian,
manusia yang dapat menghasilkan amal-amal kebajikan yang direstui Allah
swt. menjadi malchluk y a n g sangat mulia di sisi-Nya. Itulah y a n g dapat
mengarungi samudra serta menjelajah angkasa. Demikian asal kejadian sesuatu
tidak berpengaruh jika d a m p a k y a n g dihasilkan baik. B u k a n k a h m a n u s i a
sendiri merasa nvaman serta menyukai aroma semerbak walau ia bersumber
dari musang kesturi?
Kata ( OjASrl ) ajma uni semuanya dapat dipahami sebagai penguat dari
kara ( ^ 5 * ) kulluhumlsemua sehingga dengan kata ini dipahami bahwa tidak
ada satu malaikat pun-—setidaknya yang diperintah untuk sujud—yang tidak
sujud. Dapat juga kata itu dipahami dalam arti bersarna-bersama, yakni semua
malaikat itu sujud, dan sujud mereka terlaksana tidak sendiri-sendiri, retapi
serentak dan bersama-sama.
? s
Banyak pakar bahasa berpendapat bahwa kata ( ^ - ^ 1 ) ^ ^ terambil dari
bahasa Arab ( , J j i ) ab/asa yang berarti putus asa atau dari kata ( ^ - J J ) bahisa
y a n g berarti tiada kebaikannya. Ada j u g a y a n g berpendapat b a h w a kata iblis
bukan terambil dari bahasa Arab. Konon, asalnya dari bahasa Yunani, yakni
Diabolos. Kata ini terdiri dari kata dia vang berarti di tengah atau sewaktu
dan ballnn yang berarti melontar atau mencampakkan. Dari penggabungannya,
lahir beberapa m a k n a antara lain menentang, menghalangi, dan yang berada
antara dua pihak u n t u k m e m e c a h belah dan menciptakan kesalahpahaman.
N a m u n , pendapat ini tidak d i d u k u n g oleh banyak ulama, walau m a k n a -
m a k n a itu tidak meleset dari ulah iblis dan setan.
458 Surah al-Hijr [15] Kelompok 111 Ayat 32-35

AYAT 3 2 - 3 5

Dia berfirman, "Wahai iblis! Apa yang menghalangimu tidak bersama-sama


mereka yang sujud itu?" Ia berkata, "Tidak akan terjadi duriku sujud kepada
manusia yang Engkau telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal
dari lumpur hitam yang diberi bentuk. "Dia berfirman, "Keluarlah dari surga
karena sesungguhnya engkau terkutuk dan sesungguhnya atasmu laknat sampai
Hari Kiamat. "

Setelah melihat keengganan iblis sujud, Dia berfirman agar terbukti secara
lahiriah dan di depan khalayak kedurhakaan iblis sebagaimana terbukti
sebelumnya dalam i l m u Allah swt., "Wahai iblis! Apa yang menghalangimu,
yakni apa y a n g terjadi p a d a m u , sehingga tidak ikut sujud bersama-sama
mereka, yakni para malaikat yang sujud lahir dan batin itu?" Ia, y a k n i iblis,
berkata didorong oleh k e a n g k u h a n n y a b a h w a : "Tidak akan terjadi dariku
sujud, yakni sekali-kali aku tidak dapat bersujud, kepada manusia yang Engkau
telah menciptakannya dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam
yang diberi bentuk karena aku lebih mulia darinya sebab aku Engkau ciptakan
dari api." Dia, y a k n i Allah swt., berfirman menjawab k e a n g k u h a n iblis itu,
"Keluarlah dari surga karena sesungguhnya engkau terkutuk sedang siapa y a n g
terkutuk ridak wajar menerima rahmat apalagi surga, dan sesungguhnya atasmu
secara khusus laknat, y a k n i kejauhan dari rahmat Allah swt., y a n g berlanjut
terus sampai Hari Kiamat dan setelah Kiamat datang kutukan itu akan diserrai
dengan siksa y a n g pedih. "

Iblis menolak sujud bukan dengan alasan bahwa sujud kepada A d a m as.
a d a l a h s y i r i k , seperti d u g a a n s e m e n t a r a o r a n g y a n g s a n g a t d a n g k a l
pemahamannya. Keengganannya bersumber dari keangkuhan yang
menjadikan ia m e n d u g a dirinya lebih baik dari A d a m as. Redaksi y a n g
d i g u n a k a n n y a : Tidak akan terjadi dariku sujud, bukan misalnya: Aku tidak
akan sujud menunjukkan bahwa keengganan itu bukan lahir dari faktor luar
dirinya, m i s a l n y a karena ada halangan y a n g merinranginya, atau ada y a n g
melarangnya, atau ia sedang sibuk dengan sesuatu yang lain, tetapi keengganan
Kelompok III Ayat 32-35 Surah al-Hijr [15] 459

itu disebabkan faktor y a n g melekat dalam d i r i n y a y a n g menjadikan sujud


kepada A d a m as. tidak mungkin akan dapat ia lakukan. Faktor y a n g melekat
itu adalah keangkuhan dan kedengkian y a n g ia jelaskan sendiri di tempat
lain dengan ucapannya:

"Aku lebih baik darinya, Engkau telah menciptakan aku dari api sedang Engkau
menciptakannya dari tanah" ( Q S . al-A'raf [7J: 1 2 ) . Alhasil, d a l a m logika
iblis, tidak wajar, bahkan tidak dapat terjadi, m a k h l u k y a n g lebih baik unsur
kejadiannya bersujud kepada m a k h l u k yang lebih rendah unsur kejadiannya.
Padahal, asal kejadian iblis dari api sama sekali tidak dapat dijadikan alasan
untuk m e n y a t a k a n bahwa jenisnya lebih m u l i a dan lebih baik daripada
manusia yang tercipta dari tanah. Secara sedikit terperinci persoalan ini penulis
1
telah kemukakan ketika menafsirkan surah al-A'raf ayat 12. Rujuklah ke sana!
Firman-Nya:

"Sesungguhnya atasmu laknat sampai Hari Kiamat" sedikit berbeda dengan


redaksi Q S . S had [ 3 8 ] : 7 8 . Di sana, d i n y a t a k a n bahwa:

"Sesungguhnya atasmu laknat-Ku sampai Hari Kiamat. " Perbedaan ini,


menurut para ulama, disebabkan pada surah Shad itu Allah swt. m e n g e c a m
iblis y a n g enggan sujud dengan menyatakan:

"Hai iblis apa yang menghalangimu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan
dengan kedua tangan-Ku?" ( Q S . Shad [ 3 8 ] : 7 5 ) . A n d a lihat di sini Allah
swt. langsung m e n u n j u k d i r i - N y a dengan berkata ( C$M) yadayya/kedua
tangan-Ku. Karena itu, sangat wajar jika laknat itu pun di sana dinvatakan-
Nya secara tersurat bahwa ia bersumber dari diri-Nya. Adapun pada surah al-

Lihat kembali cifsii Q S . A ' r a f [7.1: 12 d a l a m v o l u m e 4 h a l a m a n 2 9 .


460 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 36-38

Hijr ini, terlihat bahwa uraian tentang persoalan ini menggunakan kata-kata
yang dihiasi awalnya dengan h u r u f alif'dan lam (a.l) seperti al-sdjidin, ah
insdn, al-jdnn. Dengan demikian, sangat wajar pula jika kata laknat dihiasi
pula dengan kedua huruf itu sehingga berbunyi ( ) al-lanah dan b u k a n
( j ^ * J ) la 'nati.
Bahwa ayat ini mengarahkan jatuhnya laknat kepada iblis karena setiap
kedurhakaan m e n g u n d a n g laknat, sedang tidak satu kedurhakaan pun yang
ridak melibatkan iblis melalui rayuan dan godaannya. Dengan d e m i k i a n ,
seriap kedurhakaan yang dilakukan seseorang, dampak buruknya di samping
akan m e n y e n t u h pelakunya sendiri, juga akan menyentuh pendorongnya,
dalam hal ini setan dan iblis. Dengan demikian, b e r t u m p u k laknat atas iblis
sampai hari Kemudian karena kedurhakaan akan terus-menerus terjadi hingga
hari Kemudian.
Bahwa dalam surah Shad dinyatakan bahwa laknat itu datang dari Allah
swt. karena m e m a n g Yang Mahakuasa itulah sumber-Nya. Laknat dari selain-
N y a tidak akan jatuh tanpa izin-Nya. Laknat y a n g datang dari selain-Nya
hanya permohonan jatuh nya laknat. Nah, apakah permohonan itu diterima
atau ditolak, kesemuanya terpulang kepada Allah swt.

AYAT 3 6 - 3 8

la berkata; "Tuhanku! Maka beri tangguhlah aku sampai hari mereka


dibangkitkan. "'Dia berfirman, "Maka, sesungguhnya engkau di antara mereka
yanv diberi tangguh sampai hari yang ditentukan. "

Setelah iblis menyadari bahwa ia telah d i k u t u k oleh Allah swt. karena


keangkuhan dan kedurhakaan y a n g lahir dari kedengkiannya kepada A d a m
as., kedurhakaannya semakin menjadi-jadi. Terbukti ia tidak m e m o h o n
a m p u n , tidak juga m e m i n t a ditinggikan derajatnya, tetapi Ia berkata dengan
tujuan m e n j e r u m u s k a n m a n u s i a , "Tuhanku! Kalau b e g i t u maka beri
tangguhlah aku, vakni panjangkan usia aku, ke satu w a k t u yang l a m a sampai
hari mereka, yakni semua manusia dibangkitkan dari kubur, yaitu Hari
Kelompok III Ayat 36-38 Surah al-Hijr [15] 461

Kiamat." Dia, yakni Allah swt., berfirman memenuhi harapannya, atau bukan
karena m e m e n u h i n y a , tetapi d e m i k i a n ituiah ketetapan-Nva sejak semula
bahwa, "Maka, jika demikian, sesungguhnya, hai iblis, engkau termasuk di
antara mereka yang diberi tangguh sampai hari yang ditentukan, tetapi setelah
itu engkau harus mati dan mempertanggungjawabkan amal usahamu. "
Ketika menafsirkan ayar serupa pada surah al-A'raf, penulis antara lain
mengemukakan bahwa cukup banyak ulama tafsir ketika membicarakan ayat
ini membahas apakah permohonan iblis dikabulkan Allah swt. dan membahas
juga sampai kapan usianya ditangguhkan oleh Allah swt. Ibn Jarir ath-Thabari,
pakar tafsir klasik, m e n e g a s k a n b a h w a A l l a h swt. tidak m e n g a b u l k a n
permohonannya. Permohonannya baru dapat dikatakan dikabulkan Allah
swt. seandainya Allah swt. berfirman kepadanya: "Engkau termasuk y a n g
ditangguhkan sampai waktu yang engkau minta atau sampai hari
Kebangkitkan atau sampai hari mereka dibangkitkan dan lain-lain yang dapat
menunjukkan bahwa permohonannya menyangkut penangguhan itu diterima
Allah." Demikian ath-Thabari vang diikuti pendapatnya oleh sekian ulama.
Thahir Ibu 'Asyur berpendapat serupa dan inilah—tulis ulama abad XX itu—
yang menjadikan ayat ini m e n y a t a k a n : "Engkau termasuk di antara mereka
yang ditangguhkan, "jawaban ini adalah informasi tentang sesuatu yang telah
d i t e t a p k a n s e b e l u m n y a . Iblis t e r l a l u h i n a u n t u k d i t e r i m a Allah swt.
permohonannya.
Ibn Katsir lain pula p a n d a n g a n n y a . "Aliah swt. memperkenankan apa
yang di mohon kaitnya karena a d a n y a h i k m a h , i rada h, dan kehendak yang
tidak dapat ditolak dan Dia M a h a c e p a t perhitungan-Nya," d e m i k i a n Ibn
Katsir dalam tafsirnya yang dikutip dan dibenarkan oleh M u h a m m a d Rasyid
Kidha dalam tafsir aEManar. Sebelum Ibn Kasti r, penafsir dan pengamal
tasawuf, an-Nasafi, menjelaskan dalam tafsirnya bahwa "Allah swt. menerima
permohonan iblis karena dalam permohonan iru terkandung ujian, sekaligus
untuk m e n d e k a t k a n hati para pencinta Allah swt. bahwa inilah anugerah
Allah swt. bagi y a n g durhaka kepada-Nya, maka bagaimana, yakni tentu
jauh lebih besar anugerah-Nya bagi vang m e n c i n t a i - N y a / ' U n t u k jelasnya,
i;
rujuklah kembali penafsiran ayat 14 dan 15 surah al-A'raf. '

| S
Rujuk volume 4 halaman 38.
462 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 39-40

Di atas, terlihat b a h w a iblis m e n y a t a k a n ( < j j ) Rabbi/'J ubanku. Ini


menunjukkan bahwa Dia mengakui Allah swt. sebagai Tuhan y a n g dengan
rububiyahlpemclih.araan-'Nya. telah m e l i m p a h k a n a n e k a p e m e l i h a r a a n
kepadanya. N a m u n demikian, anugerah yang diakuinva itu tidak
mendorongnya bertaubat atau menyadari kesalahannya karena m e m a n g
jiwanya telah diliputi oleh kebejatan dan kedengkian kepada manusia.

AYAT 3 9 - 4 0

Ia berkata, "Tuhanku, disebabkan oleh penyesatan-Mu terhadap diriku, pasti


aku akan memperindah bagi mereka di bumi dan pasti aku akan menyesatkan
mereka semuanya, kecuali bamba-bamba-Muyang mukhlas di antara mereka. "

Setelah Allah swt. m e n y a m p a i k a n bahwa iblis akan termasuk mereka


vang ditangguhkan h i d u p n y a hingga w a k t u tertentu, ia berkata, "Tuhanku,
disebabkan oleh penyesatan-Mu terhadap diriku, yakni kutukan-Mu
terhadapku h i n g g a hari Kemudian, moka.pasti aku akan memperindah bagi
mereka, yakni menjadikan mereka m e m a n d a n g baik perbuatan maksiat serta
segala m a c a m aktivitas di bumiyang mengalihkan mereka dari pengabdian
k e p a d a - M u , dan pasti pula dengan d e m i k i a n aku akan dapat menyesatkan
mereka semuanya dari jalan lurus menuju kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Upaya tersebut akan menyentuh semua manusia, kecualihamha-hamba-Mu
yang mukhlas di antara mereka, yakni yang Engkau pilih karena mereka telah
menyerahkan diri secara penuh kepada-Mu."

Kata ( ) aghivaita?ii terambil dari kata f ^*l! ) al-ghayy yaitu


kerusakan dan kebejatan. Ia d i g u n a k a n juga dalam arti kesesatan.
H u r u f ba 'pada kata (Lc ) ^ / m i ada y a n g memahaminya berfungsi sebagai
hurut y a n g digunakan untuk bersumpah sehingga kata tersebut merupakan
sumpah iblis. Ia seakan-akan berkata, "Demi penyesatan yang Engkau lakukan
atasku, pasti aku akan m e m p e r i n d a h " Pendapat ini tidak d i d u k u n g oleh
banyak ulama, antara lain dengan alasan tidak lumrah menggunakan kesesatan
atau penyesatan sebagai ucapan yang m e n g u a t k a n k a n d u n g a n sumpah,
Kelompok 111 Ayat 39-40 Surah al-Hijr [15] 463

biasanya sumpah d i k u a t k a n dengan sesuatu y a n g d i m u l i a k a n . Bahkan iblis


sendiri, sebagaimana disebutkan dalam Q S . Shad [38] ayat 8 2 , bersumpah
demi kemuliaan-Nva bahwa ia a k a n menjerumuskan manusia
(tt-giji-H J\3 ) qd la fabizzatika la'ugbwiyannahum ajma'in.
Karena, itu tentu saja di sini ia tidak bersumpah demi penyesatan itu. Di sisi
lain, ada j u g a riwayat y a n g m e n y a t a k a n b a h w a iblis bersumpah, " D e m i
kemuliaan dan keagungan-Mu, aku akan terus-menerus menjerumuskan anak
cucu A d a m selama hayat mereka masih d i k a n d u n g badan." Allah swt.
berfirman: " D e m i kemuliaan dan keagungan-Ku, A k u tetus-menerus akan
mengampuni mereka selama mereka m e m o h o n a m p u n " ( H R . A h m a d
melalui Abu Sa'id al-Khudri). Riwayat ini walaupun tidak dapat
dipertanggungjawabkan kesahihannya, wajar juga digarisbawahi bahwa dalam
redaksinya tidak terdapat kata penyesatan, tetapi justru iblis m e n y e b u t
keagungan dan kemuliaan Allah swt. serupa dengan bunyi ayat surah Shad
itu.

Mayoritas ulama memahami huruf b& 'pada kata ( u ) bima di atas dalam
arti sebab, sebagaimana terjemahan penulis di atas. Memang, kemudian timbul
masalah karena pendapat ini dapat mengesankan bahwa Allah swt. y a n g
menyesatkannya dan katena itu pula ia m e l a k u k a n penyesatan. Kesan ini
semakin kuat jika diperhatikan bahwa Allah swt. tidak membantahnya dalam
ucapannya itu.
Menghadapi masalah ini, bermacam-macam pendapat yang dihidangkan
para mufasir. Penganut paham ktbariyyak/Fatalisme menjadikan ucapan iblis
y a n g t i d a k d i s a n g g a h A l l a h swt. itu sebagai b u k t i b a h w a k e b u r u k a n ,
sebagaimana halnya kebaikan, keduanya bersumber dari Allah swt. Bukankah
dosa yang dilakukan iblis dengan keengganannya sujud itu justru disebabkan
oleh Allah swt? D e m i k i a n dalih mereka.
A d a lagi vang berpendapat bahwa penyesatan y a n g d i m a k s u d adalah
kekecewaan y a n g dialami oleh iblis akibat dijauhkan dari rahmat Allah swt.
Dengan d e m i k i a n , iblis bagaikan berkata, "Karena Engkau mengecewakan
aku dari perolehan rahmat-Mu, aku akan mengecewakan pula manusia dengan
menjerumuskannya ke dalam dosa sehingga kelak mereka pun akan kecewa."
A d a lagi y a n g berpendapat bahwa y a n g d i m a k s u d dengan penyesatan
464 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 39-40

adalah penyesatan d a l a m menelusuri jalan menuju surga. Iblis seakan-akan


berkata, "Karena Engkau telah menyesatkan aku dari jalan menuju ke surga
akibat k e d u r h a k a a n k u e n g g a n sujud k e p a d a A d a m as., a k u p u n akan
menyesatkan manusia dari jalan itu."
T h a h i r Ibn 'Asyur m e m a h a m i penyesatan vang dimaksud iblis di sini
adalah penyesatan y a n g diketahui Allah swt. y a i t u penciptaan iblis dengan
potensi buruk y a n g melekat pada dirinya sejak penciptaannya. Ucapan iblis
tersebut—menurut Ibn ' A s y u r — m e l i m p a h keluar dari lubuk hatinya, tetapi
bukan bertujuan pemuasan hatinya atau pelampiasan dendam. Karena—tulis
Ibn 'Asyur—keagungan Ilahi sedemikian besar—yang tentu saja disadari oleh
iblis—sehingga itu merupakan halangan untuk menyatakan bahwa ucapannya
adalah pemuasan hati dan pelampiasan dendam.
Pendapat ini masih mengesankan sesuatu y a n g tidak wajar dinisbahkan
kepada Allah swt., yakni seakan-akan kesesatan yang dilakukannya disebabkan
oleh penciptaan potensi buruk yang diciptakan Allah swt. pada dirinya, padahal
jin y a n g m e r u p a k a n jenisnya iblis m e m i l i k i j u g a potensi positif tidak j a u h
berbeda dengan manusia. B u k a n k a h ada di antara jenis jin yang taat kepada
Allah swt.? ( b a c a Q S . al-Jinn [ 7 2 ] : 11). Bahkan, bukankah sang iblis sebelum
kedurhakaannya itu justru sangat taat beribadah sehingga dimasukkan dalam
kelompok malaikat?
Penulis lebih cenderung kepada pendapatThabarhaba i yang memahami
arrl penyesatan y a n g d i m a k s u d oleh iblis dan yang d i j a d i k a n n y a alasan
menyesatkan manusia itu adalah kemantapan dan kesinambungan k u t u k a n
A l l a h swt. k e p a d a n y a v a n g j u s t r u d i s e b a b k a n t e r l e b i h d a h u l u oleh
kedurhakaan dan kesesatannya sendiri y a n g enggan sujud kepada A d a m as.
Dengan demikian, penyesaran y a n g terjadi dari Allah swt. adalah akibat
langsung dari kesesatan dirinya sendiri, bukan datang perrama kali dari Allah
swt. Hakikat adanya penyesatan Allah swt. setelah adanya kesesatan makhluk,
berkali-kali diakui al-Qur'an antara lain firman-Nya:

"Ketika mereka berpaling dari kebenaran, Allah pun menudingkan hati


mereka" (QS. ash-Shaff [61J: 5 ) .
Kelompok III Ayat 41-42 Surah al-Hijr [15] 465

Karena itu pula Allah swt. tidak menyanggah pernyataan iblis itu,
karena d e m i k i a n itulah m a k s u d n y a .
Firman-Nya: ( Jefo J ^ ) la'uzayyinanna lahum fi al-ardhil
aku akan memperindah bagi mereka di bumi menjelaskan arena pertarungan
antara manusia dan setan, sekaligus menjelaskan cara y a n g d i g u n a k a n n y a .
D e m i k i a n S a y y i d Q u t h u b y a n g lebih lanjut menulis, " B a h w a tidaldah
seseorang m e l a k u k a n saru kedurhakaan kecuali ada sentuhan setan dalam
memperindah, dan mempereloknya serta m e n a m p a k k a n n y a berbeda dengan
hakikat dan keburukannya. Karena itu, hendaklah manusia sadar tentang
cara setan ini dan berhati-hati setiap dia m e n e m u k a n perindahan bagi sesuatu
dan setiap dia mendapatkan kecenderungan pada dirinya, jangan sampai di
balik itu ada setan. Ketika itu, hendaklah dia segera berhubungan dengan
Allah swt., m e n y e m b a h - N y a dengan tekun, karena setan pada saat i t u —
sesuai pengakuannya sendiri—tidak akan m a m p u m e m p e r d a y a n y a . "
Kara ( ^ „ ^ K i i ) al-mukhlashin terambil dari kata ( js^-) khalusha yang
berarti suci, murni, tidak bercampur dengan yang selainnya. Kata tersebut
pada ayat ini ada y a n g m e m b a c a n y a dengan memfathahkan huruf lam (al-
mukhlashin) dan, dengan d e m i k i a n , ia menjadi objek y a n g dipilih dan
dijadikan Allah swt. khusus bagi diri-Nya, dan ada j u g a yang mengkasrahkan
hmuHaru (al-mukhlishin) sehingga yang bersangkutan merupakan pelaku
y a n g tulus p e n g a b d i a n n y a lagi suci murni semata-mata kepada Allah swt.
Kedua makna ini kak-berkait karena siapa yang mengikhlaskan dirinya kepada
Allah swt. tidak m e m a n d a n g k e p a d a s e l a i n - N y a , A l l a h swt. pun akan
memilihnya untuk berada di hadirat-Nya sehingga dia didekatkan oleh-Nya
kepada-Nya, dan siapa yang berada di hadirat Yang Mahasuci, ridak mungkin
setan akan menyentuhnya.

AYAT 4 1 - 4 2

Dia berfirman, "Ini ad-alah jalan yang lurus; kewajiban-Ku. Sesungguhnya


hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka; kecuali
orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat. "
466 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 41-42

U c a p a n iblis t e r s e b u t b o l e h j a d i m e n i m b u l k a n k e s a n b a h w a ia
m e m p u n y a i k e m a m p u a n dan bahwa apa y a n g akan dilakukannya itu berada
dr luar kekuasaan Allah swt. M a k a , untuk m e n a m p i k kesan yang keliru itu
dan agar iblis tidak berlarut d a l a m k e a n g k u h a n n y a Dia, yakni Allah swt.,
berfirman, "Ini y a k n i apa y a n g e n g k a u sebut itu, yang engkau kecualikan
atau tidak kecualikan, adalah jalan yang lurus; yakni kerentuan vang Ku-
tetapkan sesuai kehendak dan kebijaksanaan-Ku. Aku y a n g menetapkannya
b u k a n k e h e n d a k d a n w e w e n a n g m u . Kewajiban-Ku, y a k n i A l l a h swt.
menetapkan bagi diri-Nya memelihara dan menerapkan kerentuan itu dalam
perolehan kesesatan dan hidayah bagi setiap orang." Selanjutnya, Allah swt.
menegaskan sekali lagi berlakunya ketentuan itu—dengan menyebut seluruh
h a m b a - N y a bahwa Sesungguhnya hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan
bagimu, hai ihlis dan setan, terhadap mereka, kecuali, yakni tetapi orang-
orangyang mengikutimu dengan sengaja dan antusias yaitu orang-orang yang
^ w / s e h i n g g a enggan bertaubat, maka itulah yang dapat engkau goda dan itu
pun hanya sebatas memperindah keburukan bagi mereka.

Kata ( ^ ) 'alayya yang diterjemahkan di atas dengan kewajiban-Ku.


Ada u l a m a seperti ath-Thabari y a n g m e m a h a m i n y a dalam arti ( J ' ) ilayyal
kepada-Ku sehingga penggalan ayat ini seakan-akan berkata, "Inilah jalan
menuju kepada-Ku" atau "Ini a d a l a h j a l a n y a n g A k u s e n d i r i y a n g
menetapkannya, dan Aku sendiri y a n g akan memberi balasan dan ganjaran
sesuai dengan sikap dan amal yang menelusurinya. "Tetapi, pendapat ini tidak
didukung oleh banyak ulama karena ia mengalihkan satu redaksi yang memiliki
m a k n a tertentu lagi populer kepada m a k n a y a n g lain, padahal tidak ada
halangan u n t u k m e m a h a m i n y a seperti m a k n a n y a vang populer lagi semula
itu.
Kata ( J L P ) 'z'^i/biasanya d i g u n a k a n al-Qut'an u n t u k h a m b a - h a m b a
Allah y a n g taat, atau y a n g bergelimang dalam dosa tetapi telah menyadari
dosanya. Ini berbeda dengan kata ( x s-) if 'abidyang digunakan al-Qur'an
u n t u k h a m b a - h a m b a - N y a y a n g durhaka dan yang wajar mendapat siksa-
Nya. Itu sebabnya akhir Q S . al-Fajr [ 8 9 ] : 29-30 menyatakan:
Kelompok III Ayat 41-42 Surah al-Hijr [15] 467

"Masuklah dalam kelompok 'ibdd-Ku dan masuklah dalam surga-Ku, sedang


Q S . AH 'Imran [3]: 182, misalnya, menyatakan ( x-*iJ ^SUa* , j - J iil o\j ) wa
anna Alldha laisa bi zhalldmin lil 'abidldan bahwasanya Allah sekali-kali
bukanlah Penganiaya terhadap al-'abid, y a k n i tidak m e n g a n i a y a — w a l a u
menyiksa h a m b a - h a m b a - N y a y a n g durhaka. Atas dasar p e m a h a m a n m a k n a
kata 'ibddseperti d i k e m u k a k a n ini, arti illd yang biasa diterjemahkan kecuali
di sini p e n u l i s p a h a m i d a l a m arri tetapi dan, d e n g a n d e m i k i a n , y a n g
dikecualikan i t u — y a k n i y a n g dapat dipengaruhi oleh seran—bukanlah
termasuk kelompok y a n g d i n a m a i 'ibdd Allah. M e m a n g , ada j u g a y a n g
m e m a h a m i kata 'ibdd pada ayat ini dalam arti semua hamba Allah dan, j i k a
demikian, tidak ada halangan menerjemahkan kata illd dengan kecuali.
Ayat ini m e m p e r h a d a p k a n kata ( $is.) 'ibdd dengan kata ( JJJUM ) al-
ghawin. Yang d i m a k s u d dengan kata yang kedua ini adalah mereka y a n g
hatinya lebih cenderung kepada kesesatan dan kedurhakaan, bukan mereka
y a n g relah benar-benar sesat dan durhaka. D e m i k i a n T h a h i r Ibn 'Asyur.
Karena—tulisnya—seandainya yang bersangkutan dalam kenyataan telah sesat
dan durhaka, apalagi m a k n a k e m a m p u a n iblis dalam penyesatan itu.
A g a k n y a — w a Alldhu A'lam—maksud k e d u a ayat di atas adalah bahwa
Allah swt. telah melengkapi manusia dengan potensi y a n g menjadikan siapa
di antara mereka yang mengikhlaskan diri kepada Allah swt., m e m b e n t e n g i
dirinya dengan k e t a k w a a n , m a k a iblis dengan segala tentara dan
k e m a m p u a n n y a , tidak akan m u n g k i n dapat berhasil menyesatkan nya.
Keikhlasan dan ketaatan kepada AJlah swt. dapat diibaratkan dengan upaya
imunisasi yang melahirkan kekebalan tubuh menghadapi virus serta k u m a n -
k u m a n penyakit. Yang mengabaikan imunisasi akan sangat mudah diserang
oleh k u m a n - k u m a n tersebut.

Ayat ini m e n u n j u k k a n b a h w a iblis/setan sama sekali tidak m e m p u n y a i


k e m a m p u a n dari dirinya sendiri. Firman Allah swt. y a n g ditujukan-Nya
kepada iblis itu merupakan bantahan y a n g sangat tegas. Seakan-akan v\llah
swt. b e r f i r m a n , "Dugaanmu, wahai iblis, bahwa engkau memiliki
kemampuan untuk menjerumuskan semua m a n u s i a — w a l a u mengecualikan
sebagian m e r e k a — d u g a a n m u itu tidaklah benar karena pada h a k i k a t n y a
engkau tidak m e m i l i k i k e m a m p u a n . Akulah y a n g berwenang p e n u h dalam
468 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 43-44

memberi hidayah dan menambah kesesatan. A k u telah menetapkan slurdth,


y a k n i jalan dan ketentuan m e n y a n g k u t hal tersebut, sehingga jika engkau
m a m p u menyesatkan maka itu karena izin, kehendak, dan kebijaksanaan-
Ku untuk menguji manusia melalui rayuan mu, dan jika engkau gagal m a k a
itu p u n k a r e n a A k u t e l a h m e n g a n u g e r a h k a n m a n u s i a potensi dan
mengajarkannya cara u n t u k menggagalkan usahamu. Potensi y a n g engkau
miliki untuk m e n g g o d a pun adalah bersumber dari A k u semata-mata,
pengaruh k e m a m p u a n itu tidak sedikit pun menyentuh a/-mukhlashin dari
hamba-hamba-Ku."

AYAT 4 3 - 4 4

"Dan sesungguhnya, jahanam itu benar-benar tempat mereka semuanya, la


mempunyai tujuh pintu. Setiap pintu untuk kelompok tertentu."

Bagi yang sesat dan enggan bertaubat telah disiapkan siksa untuk mereka,
vakni neraka J a h a n a m , dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar tempat
berkumpul dan penyiksaan vang telah d i a n c a m k a n kepada mereka, yakni
kepada pengikut-pengikut iblis dan setan, semuanya. Ia mempunyai tujuh
pintu, yakni tingkat. Setiap pintu telah ditetapkan untuk tempat penyiksaan
kelompok tertentu dari mereka.

Ayat ini merupakan juga penegasan tentang kekuasaan Allah swt. y a n g


mutlak. Di sini, seakan-akan .Allah swt. menyatakan bahwa, w a l a u Kami
telah m e m b e r i m u k e m a m p u a n u n t u k m e n g g o d a dan memperbanyak
p e n g i k u t m u , pada akhirnya engkau dan mereka semua akan Kami siksa di
neraka.
Tidak d i t e m u k a n penjelasan dari al-Qur'an tentang m a k n a pintu-pintu
neraka atau surga. Karena itu, kita tidak dapat memastikan apakah pintu
yang d i m a k s u d di sini adalah tempat masuk serupa halnya dengan tempat
masuk dan kel uar dari satu ruangan atau y a n g d i m a k s u d d e n g a n n y a adalah
tingkat.
Kelompok III Ayat 45-46 Surah al-Hijr [15] 469

Kata tujuh juga diperselisihkan m a k n a n y a . Ada yang m e m a h a m i n y a


dalam arti banyak dan ada juga yang m e m a h a m i n y a dalam arti angka yang di
atas e n a m dan di bawah delapan. Bahkan, para ulama yang m e m a h a m i n y a
dalam arti y a n g terakhir ini m e n y e b u t k a n tujuh nama neraka y a n g mereka
anggap merupakan tingkat-tingkatnya yaitu Jahanam, Lazha, al-Jfuthamah,
Sa'ir, Saqar, jahhn, dan al-Hawiyah. Selanjutnya, mengapa tujuh, bukan
angka di atasnya atau di bawahnya? Ada y a n g menjawab, "Karena ada tujuh
anggota tubuh manusia yang merupakan sumber-sumber kedurhakaan, yaitu
mata, relinga, lidah, perur, k e m a l u a n , kaki, dan tangan, dan karena ketujuh
anggota t u b u h itu j u g a dapat menjadi sumber ketaatan kepada Aliah swt.
dengan svarat apa vang d i l a k u k a n n y a disertai dengan niat yang tulus, surga
memiliki delapan pintu, dengan adanya penambahan niat itu. Demikian al-
Khathib asy-Syarbini sebagaimana dikutip oleh al-Jamal dalam tafsirnya vang
mengomentari Tafsir ahjaldlain.

AYAT 4 5 - 4 6

Sesungguhnya orang-orang bertakwa berada dalam surga-surga dan mata air-


mata air. "Masuklah ke dalamnya dengan selamat dalam keadaan aman. "

Sebagaimana kebiasaan al-Qur'an m e n y a n d i n g k a n satu uraian dengan


l a w a n n y a , setelah m e n y e b u t sanksi y a n g menanti k a u m kafirin, di sini
disinggungnya ganjaran orang-orang beriman, yakni Sesungguhnya orang-orang
bertakwa yang mantap k e t a k w a a n n y a berada dalam surga-surga yang ridak
dapat dilukiskan dengan kata-kata karena tidak terlintas dalam benak betapa
indah dan n i k m a t n y a dan di dekat kediaman mereka ada mata air-mata air
y a n g mengalir. Dikatakan kepada mereka oleh para malaikat, "Masuklah ke
dalamnya dengan selamat sejahtera. "Mereka disambur dengan ucapan ''salam"
serta mereka selalu dalam keadaan aman dan damai.
Kata f fk*>) salam rerambil dari akar kata yang terdiri dari tiga huruf siri,
laru, dan mim. M a k n a dasar dari kata y a n g terangkai dari huruf-huruf ini
adalah luput dari kekurangan, kerusakan dan aib. Dari sini, kara selamat
470 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 47-48

diucapkan misalnya bila terjadi hal-hal y a n g tidak diinginkan, n a m u n tidak


mengakibatkan kekurangan atau kecelakaan. Salam atau damai semacam ini
adalah damai pasif. Ada j uga damai positif Ketika Anda mengucapkan selamat
kepada seseorang yang sukses dalam usahanya, ucapan itu adalah cermin dari
kedamaian yang positif. Di sini, bukan saja ia terhindar dari keburukan, tetapi
lebih dari itu, ia meraih kebajikan/sukses. M a k n a inilah y a n g dimaksud oleh
ayat di atas.
Sayyid Quthub memperhadapkan uraian ayat-ayat ini dengan uraian ayat-
ayat yang lalu. Bukan saja antara penghuni surga dan neraka, tetapi juga pada
perincian perolehan masing-masing. "Agaknya, uraian tentang mata air-mata
air diperhadapkan dengan pintu-pintu di neraka; masuknya penghuni surga
dengan salam, dan d a m a i berhadapan dengan rasa takut y a n g m e n c e k a m di
neraka, dan ayat berikut yang menguraikan dicabutnya kedengkian dari hati
para penghuni surga diperhadapkan dengan kedengkian yang membakar hati
iblis, sedang keadaan penghuni surga yang tidak disentuh oleh keletihan dan
tidak k h a w a t i r terusir dari surga merupakan ganjaran akibat rasa takut dan
ketakwaan mereka ketika hidup di d u n i a sehingga mereka wajar mendapar
tempat y a n g menenangkan di sisi Allah swt. Tuhan mereka Yang M a h a
Pemurah." D e m i k i a n Sayyid Q u t h u b .

AYAT 4 7 - 4 8

"Dan Kami cabut apa yang berada dalam dada-dada mereka dari segala
dendam, mereka menjadi saudara-saudara, duduk berhadap-hadapan di atas
dipan-dipan. Mereka tidak disentuh di dalamnya oleh kelelahan dan mereka
sekali-kali tidak akan dikeluarkan. "

Setelah menjelaskan kediaman orang-orang bertakwa di akhirat nanti,


ayat ini menjelaskan kondisi kejiwaan serta h u b u n g a n timbal balik mereka
dengan sesamanya. Ayat ini m e n g g a m b a r k a n hal itu dengan menyatakan:
Dan Kami cabut sampai ke akar-akarnya sehingga tidak akan muncul lagi
dan tidak juga berbekas apa yang tadinya ketika di dunia berada dalam dada-
Kelompok III Ayat 47-48 Surah al-Hijr [15] 471

dada, vakni hati mereka, dari segala dendam kesumat, dengki, dan permusuhan
dan, d e n g a n d e m i k i a n , mereka menjadi saudara-saudara y a n g saling
bersahabat. Persahabatan dan persaudaraan mereka ditandai antara lain dengan
keadaan m e r e k a duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan sambil
bercengkerama dan bersenda gurau. Itu berlanjut setiap saat, tetapi kendati
d e m i k i a n mereka tidak disentuh di dalamnya oleh kelelahan atau kejemuan
dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan dari kenikmatan dan surga
itu. M e r e k a akan m e n i k m a t i n y a u n t u k selama-lamanya.
Kata ( ) ghill terambil dari kara ( J J p ) ghalala yang antara lain berarti
kekeruhan. Dari sini, kata tersebut d i p a h a m i j u g a d a l a m arti permusuhan,
dengki, iri hati, dan dendam kesumat yang kesemuanya melahirkan kekeruhan
jiwa.
K e t i k a m e n a f s i r k a n Q S . a l - A ' r a f [71: 4 3 , p e n u l i s a n t a r a l a i n
mengemukakan bahwa kata ( LPJJ ) naza'na pada firman-Nya:
( pjbjjj*,? J U ) wa naza'nd ma ji shudurihirnlKanii cabut apa yang ada
dalam dada-dada mereka mengisyaratkan bahwa kekeruhan itu dicabut
hingga ke akar-akarnya sehingga naluri yang mengantar kepada dengki dan
dendam tidak akan pernah ada lagi di surga nanti. Seandainya ayat ini berkata
Kami hapus, dapat d i p a h a m i b a h w a sumber y a n g dapat m e n i m b u l k a n
kesalahpahaman dan permusuhan masih ada sehingga boleh jadi suatu ketika
muncul kembali. Untuk menghapus kesan tersebut avat ini menyatakan Kami
cabut.

M e m a n g di d u n i a — b a h k a n di tempat y a n g n y a m a n sekali p u n — t i d a k
jarang terjadi kesalahpahaman bahkan kedengkian antara seseorang dan vang
lain, k e n d a t i mereka t a d i n y a sangat bersahabat. Ini dapat menjadikan
h u b u n g a n mereka tidak harmonis, yang pada g i l i r a n n y a m e n i m b u l k a n
keresahan dan kekeruhan hidup. Nah, ayat ini bermaksud menjelaskan bahwa
di surga sana kehidupan para penghuninya sangat harmonis sehingga mereka
menjadi saudara-saudara y a n g bersahabat, yakni sama-sama senang dan
bahagia, tidak ada ganjalan sedikit pun d a l a m haii mereka, kini dan masa
datang. Ini sejalan juga dengan pernyataan y a n g berkali-kali ditegaskan al-
Qur'an b a h w a penghuni surga tidak akan mengalami rasa rakut dan tidak
pula akan bersedih hati.
472 Surah al-Hijr [15] Kelompok III Ayat 47-48

Melalui ayat ini, S a y y i d Q u t h u b menggarisbawahi bahwa a g a m a Islam


sama sekali tidak berusaha untuk mengubah tabiat manusia dalam kehidupan
dunia ini atau m e n g a l i h k a n manusia menjadi m a k h l u k y a n g lain. Karena
itu, d i a k u i n y a bahwa ada dengki dan dendam kesumat dan ada permusuhan
y a n g dapat hinggap di hati manusia. N a m u n , keberadaannya itu tidak
menghilangkan keimanan dan keislaman mereka dari akar-akarnya. Islam
hanya membimbing agar gejolak sifat-sifat itu melemah sambil mengarahkan
manusia menuju ketinggian dan keluhuran dengan mengajaknya untuk cinta
di jalan Allah swt., demikian juga benci di jalan Allah swt. B u k a n k a h Iman
tidak lain dari cinta dan benci? Di surga nanti, p e n g h u n i n y a telah mencapai
puncak tertinggi kemanusiaannya setelah berhasil melaksanakan peranannya
di pentas hidup duniawi, di sana dan ketika itu Allah swt. mencabut dari
l u b u k hati manusia sumber rasa dengki dan permusuhan sehingga y a n g ada
di surga tidak lain kecuali persaudaraan y a n g tulus lagi sangat bersahabat.
Itulah tingkat penghuni surga. Siapa y a n g sering kali merasakannya d a l a m
dirinya pada kehidupan dunia ini, hendaklah dia bergembi ra karena itu adalah
indikator bahwa dia adalah penghuni surga selama iman menyertai rasa itu.
Amal y a n g luput dari iman tidak sah dan tidak diterima oleh Allah swr.
Demikian lebih kurang tulis Sayyid Q u t h u b .

Anda jangan m e n d u g a bahwa hal tersebut mustahil dalam kehidupan


d u n i a ini. Syaikh Mutawalli asy-Sya'rawi dalam tafsirnya mengutip riwayat
y a n g menyatakan bahwa Sayyidina 'Ali Ibn A b i T h a l i b ra. beserta az-Zubair
Ibn a l - A w w a m , y a n g k e d u a n y a termasuk di antara sekian orang y a n g
digembirakan oleh Rasul saw. sebagai penghuni surga, kedua tokoh tersebut
b e r h a d a p a n sebagai l a w a n d a l a m Perang a l - J a m a l . S a y y i d i n a 'Ali ra.
m e n y a m p a i k a n pada az-Zubair yang sedang m e m e r a n g i n y a itu, "Bukankah
Rasul saw. pernah berkata kepada engkau bahwa engkau akan memerangi
'Ali sedang engkau dalam keadaan menzaliminya?" Mendengar hal tersebut,
Iman yang bersemai di hati az-Zubair mendorongnya meletakkan pedangnya
dan menghentikan peperangan. Demikian iman mencabut permusuhan dari
dada k a u m m u k m i n i n . D a l a m peperangan itu, terlibat juga Thalhah Ibn
'Ubaidillah. Sayyidina 'Ali ra. berkata bahwa, "Aku dan a y a h m u dianugerahi
bagian dari apa yang diinformasikan oleh ayat-ayat ini." Salah seorang hadirin
Kelompok III Ayat 47-48 Surah al-Hijr [15] 473

berkomentar, "Tuhan Mahaad.il, sehingga m a n a m u n g k i n Dia m e n g h i m p u n


engkau (wahai 'Ali) dengan T h a l h a h di surga." 'AU Ibn Abi T h a l i b ra.
menjawab, "Jika demikian, apa makna firman Allah swt.:
(Ji- JA (frAjj-u? J La U P J J J ) wa naza'nd rndfi sbuduribim minghiWKami cabut
apa yang berada dalam dada-dada mereka, dari segala dendam?"
Kata ( ) nashab berarti keletihan fisik dan atau keresahan hati serta
kesulitan hidup.
KELOMPOK 4

AYAT 4 9 - 8 4

475
476 Surah al-Hijr [15]
Surah al-Hijr [15] 477
478 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 49-50

AYAT 4 9 - 5 0

"Kabarkanlah hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Akulah Yang Maha


Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya azab-Ku adalah
azab yang sangat pedih. "

Kandungan kelompok ayat yang lalu menggambarkan janji dan ancaman


Allah swt., rahmat dan siksa-Nya. Nah, kelompok ayat ini berbicara tentang
contoh dari curahan rahmat y a n g dialami oleh Nabi Ibrahim as., N a b i Luth
as. dan k e l u a r g a n y a — k e c u a l i istrinya—serta contoh siksa-Nya terhadap
p e n d u d u k Alkah dan al-Hijr.
Di sisi lain, dapat juga terlihat hubungan ayat-ayat berikut dengan uraian
awal surah pada ayat 3, 4, dan 5, y a k n i firman-Nya:

"Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-


angan, maka kelak mereka akan mengetahui. Dan Kami tidak membinasakan
suatu negeri pun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah
ditetapkan. Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan
tidak (pula) dapat mengundurkan (nya)." Di sini, d i u r a i k a n tentang
kehancuran negeri-negeri yang durhaka penduduknya itu.
Uraian kelompok ayat ini dapat j u g a berhubungan dengan uraian pada
awal surah yang berbicara tentang usul kaum kafirin agar malaikat diturunkan
Allah, y a n g kemudian dijelaskan bahwa mereka tidak turun kecuali dengan
hak antara lain u n t u k m e m b a w a siksa (ayat 8 ) . D e m i k i a n terlihat aneka
hubungan yang erat antara uraian ayat-ayat di atas dan ayat-ayat sebelumnya—
walaupun ayat-ayat surah ini tidak turun sekaligus, tetapi dalam selang waktu
y a n g tidak pendek.
Al-Blqa'i menguraikan bahwa konteks ayar yang lalu mengesankan bahwa
yang akan selamar dan memeroleh surga hanyalah yang benar-benar bertakwa
Kelompok IV Ayat 49-50 Surah al-Hijr [15] 479

y a n g sama sekali tidak dipengaruhi oleh setan karena pengertian mukhlash


yang disinggung oleh ayat 4 0 y a n g lalu adalah yang m u r n i ridak bercampur
dengan sesuatu selainnya. Padahal manusia—-lanjut al-Biqa'i—-adalah makhluk
yang tidak sempurna sehingga ketidaksempurnaan/kekurangannya itu dapat
dinilai bertentangan dengan hakikat takwa dan keikhlasan, dan ini dapat
menjadikan manusia berputus asa lalu mengantarnya menjauh dari Allah
swt. N a h , u n t u k m e n g h i l a n g k a n kesan itu sambil menjawab siapa y a n g
m u n g k i n bertanya bagaimana dengan mereka yang tidak menegakkan takwa
dengan sempurna, ayat ini ditempatkan di sini.
Apa pun h u b u n g a n y a n g A n d a pilih, y a n g pasti adalah Allah swt.
berfirman: Kabarkanlah k e p a d a hamba-hamba-Ku y a n g taat dan y a n g
bergelimang d a l a m dosa dan ingin bertaubat bahwa sesungguhnya Akulah
sendiri Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan kabarkan pula
kepada mereka yang durhaka dan enggan bertaubat bahwa sesungguhnya azab-
Ku adalah azah yang sangat pedih.
Kata ('Jj ) nabbi' terambil dari kata ( i j ) nabd yaitu berita yang penting.
Kata ini berbeda dan lebih khusus dari kata ( j± ) khabar yang berarti berita
secara u m u m .
Kedua ayat di atas dapat juga dipahami sebagai isyarat bahwa perolehan
surga adalah semata-mata karena pengampunan dan rahmat Allah swt., sedang
m a s u k n y a seseorang ke neraka semata-mata karena keadilan-Nya.
A y a t di a t a s m e n g g u n a k a n beberapa redaksi penguat ketika
menginformasikan pengampunan dan rahmat Allah, yaitu: a) sesungguhnya;
b) A k u ; dan c) kedua huruf alifdan larn pada kata al-Ghafurdan ar-Rahi/u.
Di sisi lain ketika menyampaikan siksa, ayat ini tidak menunjuk langsung
kepada Zat Allah dengan menyatakan, Aku yang menyiksa" berbeda, dengan
pengampunan-Nya. Hal ini a g a k n y a disebabkan y a n g menganugerahkan
pengampunan hanya Allah semara, tidak ada keterlibatan selain-Nya, sedang
dalam penyiksaan, Allah swr. dapar menugaskan pelaksanaannya kepada
m a k h l u k . Telah sering kali penulis k e m u k a k a n b a h w a j i k a Allah swt.
m e n u n j u k diri-Nya dalam bentuk tunggal (Aku), hal tersebut antara lain
sebagai isyarat bahwa tidak ada yang terlibat dalam hal itu selain-Nya, berbeda
jika menunjuk diri-Nya dalam bentuk j a m a k , yakni dengan kata Kami.
480 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 51-52

Didahulukannya penyebutan rahmat dan pengampunan Allah atas siksa-


N v a mengisyaratkan b a h w a pada dasarnya rahmat dan p e n g a m p u n a n - N y a
mendahului serta m e n g a l a h k a n amarah dan siksa-Nya, sejalan juga dengan
firman-Nya dalam satu hadits Qudsi: Rahrnat-Ku mengalahkan/mendahului
amarah-Ku.

AYAT 5 1 - 5 2

Dan kabarkan mereka tentang tamu-tamu Ibrahim. Ketika mereka masuk ke


tempatnya, maka mereka mengucapkan, "Salam". Ibrahim berkata,
"Sesungguhnya kami merasa takut kepada kamu. "

Di atas, telah dikemukakan pendapat Sayyid Q u t h u b tentang hubungan


avat-ayat ini dengan yang sebelumnya. Al-Biqa'i menjadikan ayat ini sebagai
penjelasan tentang m a k n a ( ^ U V i 1 ^Jjl J 5*AJJ ) waliyadzdzakkara ululalbdb/
agar orang-orang berakal mengambil pelajaran setelah a y a t - a y a t l a l u
menjelaskan kandungan m a k n a firman-Nya:

"Supaya mereka mengetahui bahwa Dia adalah Tuhan YangMaha Esa. " y a n g
merupakan p e n u t u p surah y a n g lalu (QS. Ibrahim [ 1 4 ] : 5 2 ) .
Ibn 'Asjair memahami dari perintah ayat ini untuk mengabarkan tentang
tamu-tamu Ibrahim setelah sebelumnya telah diperintahkan mengabarkan
tentang rahmat dan siksa Ilahi sebagai salah satu bukti bahwa apa yang dialami
oleh Nabi Ibrahim as. itu merupakan rahmat Allah y a n g m e l i m p a h kepada
h a m b a - h a m b a - N y a yang taat.
Dapat juga d i k a t a k a n bahwa, setelah m e m e r i n t a h k a n untuk
m e n y a m p a i k a n salah satu hakikat yang sangat penting m e n y a n g k u t sifat-
sifat Allah swt., kini Rasul saw. diperintahkan untuk m e n y a m p a i k a n hakikat
penting l a i n n y a m e n y a n g k u t Nabi Ibrahim as., Bapak para nabi, serra
P e n g u m a n d a n g Tauhid, serta tokoh y a n g sangat d i h o r m a t i oleh k a u m
musyrikin Mekkah, bahkan juga oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Berita
Kelompok IV Ayat 53-56 Surah al-Hijr [15] 481

y a n g disampaikan tentang Nabi Ibrahim, as. itu berkaitan dengan sikap k a u m


musyrikin yang d e m i k i a n berani m e n u n t u t t u r u n n y a malaikat. Di sini
dinyatakan: Dan kabarkan j u g a kepada mereka tentang tamu-tamu Ibrahim,
yakni para malaikat y a n g datang d a l a m bentuk para tamu. Ketika mereka
masuk ke tempatnya, y a k n i ke r u m a h n y a , maka pada saat m a s u k itu mereka
mengucapkan, "SalAm". Ibrahim berkata—setelah menjawab salam t a m u -
t a m u n y a itu—-yakni berkata dengan bahasa lisan atau m e n a m p i l k a n sikap
y a n g m e n y a t a k a n bahwa: "Sesungguhnya kami, yakni aku bersama istriku,
merasa takut kepada kamu. "
Rujuklah ke surah H u d ayat 6 9 dan seterusnya u n t u k mengetahui
perincian pertemuan Nabi Ibrahim as. dengan para malaikat itu. Bahwa di
sana disebutkan secara terperinci dan di sini sepintas karena masing-masing
uraian memiliki konteks dan tujuan pemaparan yang berbeda-beda.
Kata ( jjisrj ) wajiliin terambil dari kata ( J ^ - j ) waja/yaitu keguncangan
hati akibat menduga akan terjadi sesuatu yang buruk.

AYAT 5 3 - 5 6

Mereka berkata, "Janganlah engkau merasa takut, sesungguhnya kami


menggembirakanmu dengan seorang anak laki-laki yang 'alim. " Dia berkata,
"Apakah kamu menggembirakan aku, padahal aku telah disentuh oleh
ketuaan, maka dengan cara bagaimanakah apa yang kamu gembirakan aku
(itu)?" Mereka menjawab, "Kami menggembirakanmu dengan haq, maka
janganlah engkau termasuk orang-orang yang berputus asa. " Dia berkata,
"Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang-orang
yang sesat. "

Setelah t a m u - t a m u , y a i t u para malaikat itu, melihat gelagat takut atau


mendengar penyampaian N a b i Ibrahim as. bahwa beliau dengan istrinya
merasa takut, m a k a mereka berkata, Janganlah engkau, wahai Nabi Ibrahim
as., merasa takut dengan kedatangan kami dan karena kami tidak menyentuh
makanan yang engkau hidangkan, sesungguhnya kami datang
482 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 53-56

menggembirakanmu, yakni menyampaikan kabar gembira kepadamu, dengan


kelahiran seorang anak laki-laki y a n g k u a t — b u k a n seperti anak y a n g lahir
dari orangtua bangka yang kekurangan gizi. Anak itu akan t u m b u h dewasa
d a n y a n g a k a n m e n j a d i s e o r a n g yang 'alim, yakni sangat dalam
pengetahuannya." Anak vang dimaksud adalah Nabi lshaq as. Dia, yakni
Nabi Ibrahim as., berkata setelah mendengar berita yang dinilainya sangat
aneh itu, "Apakah kamu, wahai t a m u - t a m u k u , menggembirakan aku dengan
kelahiran a n a k yang telah lama k u d a m b a k a n itu padahal aku telah disentuh
oleh ketuaan, yakni usiaku telah lanjut, k e k u a t a n k u pun telah rapuh, maka
dengan cara bagaimanakah dapat terlaksana apa, y a k n i berita gembira, yang
kamu gembirakan aku iru?" Mereka menjawab, "Kami menggembirakanmu
dengan disertai oleh haq, yakni melekat pada pemberitaan kami Iru kebenaran
yang pasti lagi akan sesuai dengan kenyataan, maka karena itu janganlah
engkau termasuk orang-orang yang berputus asa. "Dia, yakni Nabi Ibrahim
as., berkata m e n y a n g g a h dugaan bahwa dia berputus asa bahwa, ' A k u sama
sekali tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah karena aku percaya penuh
kepada-Nya dan kekuasaan-Nya apalagi tidak ada yang berputus asa dari
rahmat Tuhannya, kecuali orang-orangyangsesat, yakni yang tidak menemukan
jalan kebenaran serta tidak menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah.

Ayat ini menjelaskan bahwa berita gembira itu disampaikan kepada Nabi
Ibrahim as., sedang dalam surah H u d berita gembira itu disampaikan kepada
istrinya. Boleh jadi p e n y a m p a i a n tersebut terjadi dua kali, y a n g pertama
kepada Nabi Ibrahim as. dan y a n g k e d u a — t i d a k lama k e m u d i a n — k e p a d a
istri beliau. Betapapun, yang pasti berita itu menggembirakan suami istri
itu. Bahkan, kalaupun berita itu h a n y a disampaikan kepada salah seorang
dari pasangan suami istri, itu berarti telah diterima oleh pasangannya.
Para malaikat—sebagaimana rerbaca di atas—tidak melarang isrri Nabi
Ibrahim as. takut, tetapi melarang Nabi Ibrahim as. sendiri {janganlah engkau
merasa takut), padahal m e n u r u t N a b i I b r a h i m as., istrinya p u n takut:
"Sesungguhnya kami merasa takut kepada kamu", hal ini boleh jadi karena
ketika istri Nabi Ibrahim as. ridak berada di hadapan para malaikat atau
boleh jadi juga ini mengisyaratkan bahwa adalah tugas suami m e n a n a m k a n
rasa a m a n kepada istrinya. J i k a suami merasa tenang, k e t e n a n g a n itu
Kelompok IV Ayat 57-60 Surah al-Hijr [15] 483

diharapkan beralih kepada istri, d e m i k i a n j u g a sebaliknya. Kesan ini dapat


dirasakan j u g a ketika para malaikat itu membatasi dugaan berputus asa pada
diri Nabi Ibrahim as. sendiri dengan ridak berkata, "Janganlah k a m u berdua
sebagai suami istri berputus asa."
Sementara u l a m a menggarisbawahi bahwa Nabi Ibrahim as. sama sekali
tidak meragukan kekuasaan Allah. Beliau hanya terheran-heran dan merasa
sangat aneh dan takjub jika dia yang telah tua dan istrinya yang dinilai mandul
itu masih dapat memeroleh keturunan. M a k n a ini sejalan dengan ucapan
istri N a b i Ibrahim as. itu y a n g diabadikan pada Q S . H u d [ 1 1 ] : 72.

<—-~^ c ^ i J 1 JUB o l <J~*^ i J O j jfyt- CJij jjw oJls

Dia berkata: "Sungguh mengherankan, apakah aku akan melahirkan anak


padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamiku dalam keadaan
tua pula? Sungguh ini benar-benar sangat aneh. "
Dengan d e m i k i a n , Nabi m u l i a itu seakan-akan berkata, "Aku tidak
pernah berputus asa, aku hanya mempertanyakan tentang hal itu karena aku
sangat gembira m e n d e n g a r n y a tetapi tercengang bagaimana berita gembira
itu dapat terlaksana. Karena itu, aku bertanya.'' Boleh jadi j u g a , saking
gembiranya, beliau bertanya lagi bukan karena tidak percava, tetapi karena
ingin mendengar sekali lagi berita gembira itu.

AYAT 5 7 - 6 0

Dia berkata, "Apakah urusan kamu, wahai para utusan?" Mereka menjawab,
"Sesungguhnya kami diutus kepada kaum pendurhaka, kecuali pengikut-
pengikut Luth. Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua,
kecuali istrinya, kami telah menentukan, bahwa sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang tertinggal. "

Para tamu itu meyakinkan Nabi Ibrahim as., setelah m e n y a d a r i b a h w a


mereka adalah malaikat utusan-utusan Allah swt. dan menyadari pula bahwa
malaikat tidak turun kecuali aras perintah Allah ( Q S . M a r y a m [ 1 9 ] : 64},
484 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 57-60

dan bahwa kedatangannya selalu disertai dengan haq ( Q S . al-Hijr f 1 5 ] : 8 ) ,


Nabi Ibrahim as. mengalihkan pembicaraan dengan bertanya. Dia berkata,
"Apakah urusan kamu y a n g penting selain p e n y a m p a i a n berita gembira iru,
wahai para utusan Allah?" Mereka menjawab, "Sesungguhnya kami diutus
oleh Allah swt. kepada kaum pendurhaka u n t u k m e m b i n a s a k a n mereka
kecuali pengikut-pengikut latih dan tentu Nabi Luth as. bersama mereka.
Sesungguhnya kami akan menyelamatkan mereka semua dengan penyelamatan
s e m p u r n a , kecuali istrinya. D i a t i d a k akan d i s e l a m a t k a n , kami telah
menentukan, sesuai dengan perintah dan keputusan Allah yang disampaikan-
N y a k e p a d a kami, bahwa sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang
tertinggal bersama-sama dengan orang kafir lainnya."

Kata ( fO&i-) khathbukum terambil dari kata (... hr^ ) khathaba yaitu
berpidato/menyampaikan. Biasanya, ia digunakan dalam arti berita yang penting
vang menjadi bahan pembicaraan dan penyampaian oleh banyak orang. Dari
akar kata y a n g sama, lahir kata ( L k ? - ) khithbah, yakni lamaran untuk
m e n i k a h , bukan saja karena ia adalah berita penting tetapi j u g a karena hal
tersebut menjadi bahan pembicaraan banyak orang.

Kata ( U j i i ) qaddarrui terambil dari kata ( f& ) qaddara y a n g berarti


menetapkan. Yang menetapkan adalah Allah, tetapi di sini para malaikat
menyatakan bahwa mereka yang menetapkannya. Redaksi Ini serupa dengan
ucapan salah seorang sraf y a n g sangat dekat kepada penguasa y a n g misalnya
berkata, "Kami perintahkan ini atau itu," padahal vang memerintahkan adalah
sang penguasa iru. Pendengarnya paham bahwa tidak m u n g k i n staf itu yang
menetapkan, tetapi dia sekadar m e n g u c a p k a n n y a . U c a p a n itu lahir akibat
kedekatannya kepada penguasa tersebut.

Kara ( JJ^UJI ) al-ghdbirin adalah b e n t u k j a m a k y a n g d i g u n a k a n u n t u k


m e n u n j u k pria. Ini berarti bahwa sang istri y a n g durhaka iru termasuk salah
seorang dari orang-orang yang tertinggal, yakni dibinasakan, sama dengan
kebinasaan y a n g m e n i m p a k a u m lelaki. Statusnya sebagai wanita dan istri
nabi tidak meringankan siksa itu atasnya sedikit pun.
Kelompok IV Ayat 61-64 Surah al-Hijr [15] 485

AYAT 6 1 - 6 4

Maka, ketika para utusan itu mendatangi keluarga Luth, dia berkata,
"Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang tidak dikenal." Para utusan
menjawab, "Sebenarnya kami dalang kepadamu dengan azab yang selalu
mereka dustakan. Dan kami datang kepadamu dengan kebenaran dan
sesungguhnya kami betul-betul orang-orang yang benar. "

Setelah selesai dialog para malaikat dengan Nabi Ibrahim as., mereka
pun beralih u n t u k melaksanakan tugas mereka y a n g kedua, yakni terhadap
k a u m ktith as. Maka, segera dan langsung ketika para utusan itu, yakni para
m a l a i k a t y a n g t a d i n y a m e r u p a k a n t a m u - t a m u N a b i I b r a h i m as. itu,
mendatangi rumah keluarga Nabi Luth as., dia, yakni Nabi Luth as., berkata,
"Sesungguhnya kamu, wahai para pendatang, adalah orang-orang yang tidak
dikenal." Para utusan A l l a h itu menjaivab, "Sebenarnya kami datang
kepadamu b u k a n u n t u k b e r m a k s u d jahat, tetapi k a m i d a t a n g dengan
m e m b a w a azab kepada k a u m m u yaitu azab yang selama ini selalu mereka
dustakan jika e n g k a u m e n y a m p a i k a n n y a kepada mereka. Dan sekali lagi,
jangan ragu sedikit pun m e n y a n g k u t tujuan kedatangan kami. Kami datang
kepadamu dengan m e m b a w a kebenaran yang melerai perselisihanmu dengan
k a u m m u y a n g m e n d u s t a k a n m u dan sesungguhnya kami betul-betul orang-
orangyang benar d a l a m ucapan dan perbuatan kami. "

Kata ( Oj^S^a) munkarun/'tidak dikenal terambil dari kata ( ) nakara


yang berarti tidak mengetahui atau tidak merasa tenang serta tidak bersimpati.
Kata y a n g digunakan ayat ini dipahami oleh para u l a m a dalam arti bahwa
t a m u - t a m u yang datang itu adalah otang-otang asing y a n g tidak dikenal di
kalangan masyarakat sehingga menimbulkan kecurigaan, rasa takut, dan gentar
jangan sampai mereka bermaksud buruk.
Sebenarnya, para malaikat itu bermaksud menemui Nabi Luth as. Tetapi,
karena beliau tinggal bersama keluarga, mereka bagaikan m e n g u n j u n g i
keluarga iru, di mana Nabi Luth as. merupakan kepala rumah tangga. Redaksi
ini m e n g e s a n k a n p e n g h o r m a t a n k e p a d a k e l u a r g a N a b i Luth as. y a n g
486 Surah al-Hijr 115"! Kelompok IV Ayat 65

dinyatakan sebagai dikunjungi oleh utusan-utusan Allah swt.


Kata ( OjyS )yamtarim terambil dari kata (hy>) miryahyaitu keraguan
yang mendorong pelakunya curiga dan membantah secara menikahi 6uta
tanpa dasar. Penggalan ayat ini menginformasikan bahwa kedatangan para
malaikat itu bertujuan menyiksa mereka dengan siksaan y a n g selama ini
mereka ragukan k e h a d i r a n n y a dan y a n g selalu mereka pungkiri dengan
berbagai dalih y a n g sangat rapuh.
Ucapan para malaikat, sebagaimana terbaca di atas, menunjukkan betapa
Nabi Luth as. gelisah dengan kedatangan para "orang-orang" iru yang sampai
saat itu beliau belum tahu bahwa mereka adalah para malaikat. Keresahan
dan rasa takut itu wajar karena para malaikat tersebut datang dengan tampan
dan gagah, yang tentu saja akan m e n g u n d a n g kehadiran k a u m n y a y a n g tidak
malu dan segan melakukan hubungan homoseksual. Penekanan dan penguatan
ucapan malaikat itu juga diperlukan karena sebenrar lagi mereka akan meminta
agar Nabi Luth as. meninggalkan lokasi p e m u k i m a n n y a sebagaimana terbaca
pada ayat berikut.
Pada surah Hud, identitas "tamu-tamu" Nabi Luth as. itu tidak terungkap
kecuali serelah k a u m Nabi Luth as. datang u n t u k "mengganggu" para t a m u
dan setelah mereka menolak harapan dan permohonan Nabi Luth as. Sedang
di sini—sebagaimana terbaca pada ayat-ayat yang lalu—identitas mereka telah
terungkap sejak semula dan uraian tentang m a k s u d buruk k a u m N a b i Luth
as. diuraikan k e m u d i a n . H a l ini, m e n u r u t b a n y a k ulama, karena tujuan
pemaparan kisah N a b i Luth as. di sini bukan kronologis peristiwa, tetapi
penekanannya pada p e m b u k t i a n tentang kebenaran ancaman dan bahwa
malaikar, bila datang kepada k a u m durhaka, kedatangan mereka m e m b a w a
bencana, tanpa memberi tangguh.

AYAT 65

"Makapergilah di akhir malam dengan membawa keluargamu, dan ikutilah


mereka dari belakang dan janganlah seorang pun di antara kamu menoleh ke
belakangdan teruskanlah perjalanan ke tempat yang diperintahkan kepadamu. "
Kelompok IV Ayat 65 Surah al-Hijr [15] 487

Setelah Nabi Luth as. mendapat ketenangan, para malaikat berkata


kepadanya, "Jika sekarang engkau telah tenang dan mengetahui tujuan
k e d a t a n g a n k a m i , maka pergilah di akhir malam dengan membawa
keluargamu, dan ikutilah mereka dengan bersungguh-sungguh dari belakang,
yakni jangan berada di depan, dan janganlah seorang pun di antara kamu
menoleh ke belakang agar perjalanan kalian dapat lancar ridak terganggti dengan
pemandangan kiri dan kanan dan teruskanlah perjalanan menuju ke tempat
yang diperintahkan kepadamu. "

Kata ( ) qith'adalah b e n t u k j a m a k dari ( ) aith'ah, y a k n i bagian


terakhir dari sesuatu, sehingga yang dimaksud di sini adalah bagian terakhir
m a l a m , menjelang subuh.
Firman-Nya: ( ^AjUji ^ i t j ) wattabi adbarahum/ikutilah mereka dari
hebikang mengisyaratkan bagaimana seharusnya sikap seorang pemimpin vang
bertanggung j a w a b . Bila ada bahaya y a n g mengancam, sang p e m i m p i n l a h
y a n g harus berada di posisi yang terdekat dengan bahaya itu. Bahaya berupa
siksa y a n g dijanjikan itu akan jatuh di kota yang k a u m Nabi Luth as.
tinggalkan. Itu berarti yang berada di belakang adalah yang paling dekar dengan
lokasi bahaya. Di sanalah Nabi Luth as. d i m i n t a berada. Bukan di bagian
depan. Ini serupa dengan kapten kapal y a n g akan tenggelam, dia haruslah
orang terakhir y a n g meninggalkan kapal. Di sisi lain, Nabi Luth as. d i m i n t a
agar berada di belakang agar tidak ada seorang pengikutnya y a n g tertinggal.
Yang d a t a n g l a m b a t p u n h e n d a k n y a d i a t u n g g u . S e d a n g , p e n g i k u t -
pengikutnya diminta untuk tidak menoleh, di samping agar perjalanan mereka
tidak terganggu, juga karena boleh jadi dengan menoleh, mereka akan
terpengaruh dengan apa y a n g ditinggal, baik harta benda m a u p u n keluarga
yang durhaka.

Ayat ini tidak menjelaskan ke arah mana Nabi Luth as. dan perigikut-
pengikutnya diperintah untuk berhijrah. Ada y a n g berkata ke Jordania, atau
Syam, atau Mesir. Tidak ada penjelasan yang dapat diandalkan kesahihannya
tentang arah mereka. Agaknya, pastilah ke suatu daerah yang p e n d u d u k n y a
tidak m e l a k u k a n kedurhakaan seperti y a n g dilakukan k a u m Luth itu.
488 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 66-69

AYAT 6 6

"Dan telah Kami tetapkan kepadanya perkara itu, yaitu bahwa belakang
mereka akan ditumpas habis di waktu subuh. "

Avat-ayat vang lalu telah menegaskan ketetapan Allah m e n y a n g k u t


kebinasaan k a u m Luth, tetapi belum menginformasikan kapan terjadinya
serta sebaras apa kebinasaan itu. Nah, ayat ini menjelaskan bahwa dan telah
Kami tetapkan dan wahyukan kepadanya, yakni kepada Nabi Luth as., perkara
y a n g sungguh mengerikan itu, yaitu bahwa belakang mereka akan ditumpas
habis, yakni mereka akan ditumpas sampai akhir sehingga tidak akan tersisa
seorang pun, dan itu akan terlaksana di waktu subuh.
Kata ( j * b ) ddbir dan segi bahasa berarti belakang. Dahulu, j i k a musuh
telah terkalahkan, mereka lari pon tang pancing. Biasanya, yang ada di belakang
tidak terkejar atau dibiarkan pergi karena pengejarnya sudah lelah dan bosan
sehingga y a n g di belakang itu dapat berhasil lolos. Ayat ini m e n g g u n a k a n
kara dabir untuk menjelaskan bahwa semua dibinasakan Allah swt., termasuk
siapa y a n g ada di belakang, karena bagi Allah belakang dan depan sama saja
dari segi k e m a m p u a n - N y a membinasakan siapa y a n g dikehcndaki-Nya. Ini
berarti bahwa k a u m N a b i Luth as. itu dibinasakan secara total oleh Allah
swt. melalui para malaikar y a n g diutus-Nya.

AYAT 6 7 - 6 9

Dan datanglah penduduk kota dengan amat gembira. Dia berkata,


"Sesungguhnya mereka adalah tamu-tamuku, maka janganlah kamu
mempermalukan aku dan bertakwalah kepada Allah dan janganlah kamu
membuat aku terhina. "

J i k a ayat y a n g lalu m e n g g a m b a r k a n apa y a n g akan terjadi pada k a u m


N a b i L u t h as. dan rencana para m a l a i k a t itu, a y a t ini beralih u n t u k
Kelompok IV Ayat 70-71 Surah al-Hijr [15] 489

m e n g u r a i k a n apa y a n g terjadi sebelum dialog iru ketika para pendurhaka


mendengar bahwa ada "tamu-tamu" tampan di r u m a h Nabi Luth as.
Dan datanglah sekian banyak orang p e n d u r h a k a dari penduduk kota
Sodom ke tempat Nabi Luth as. tinggal. Mereka datang dengan amat gembira
atau saling g e m b i r a d a n m e n g g e m b i r a k a n karena m e r e k a bermaksud
m e l a k u k a n hubungan seks dengan t a m u - t a m u itu. M e l i h a t gelagat b u r u k
itu, Nabi Luth as. sangat geram. Dia berkata, "Sesungguhnya mereka adalah
tamu-tamuku yang harus kita hormati, maka janganlah kamu
mempermalukan aku dengan melakukan hal-hal y a n g tidak wajar apalagi
memaksanya melakukan hubungan seks dan bertakwalah kepada Allah, yakni
lindungilah diri k a m u dari siksa Allah, dan janganlah kamu membuat aku
terhina akibat p e r l a k u a n m u rerhadap mereka."
Kata ( ) dhayfr/tamu-tamuku m e n g g u n a k a n bentuk mashdarlkata
jadian. Karena itu, ia dapat berarti tunggal dapat j u g a berarri jamak. Yang
dimaksud di sini adalah jamak karena avat-avat vang lalu menggunakan bentuk
jamak untuk menunjukkan kedatangan para malaikat yang merupakan utusan-
utusan Allah. P e n e k a n a n b e l i a u d e n g a n m e n y e b u t k a t a tamu sambil
m e n u n j u k bahwa t a m u - t a m u itu adalah orang-orang y a n g berkunjung
kepadanya mengisyaratkan bahwa mereka adalah para t a m u y a n g harus
dihormati karena demikianlah seharusnya pelayanan terhadap yang bertamu
dan bahwa beliau yang paling bertanggung jawab karena mereka berkunjung
untuk menemui beliau. Ucapan Nabi Luth as. ini bertujuan membangkitkan
dorongan agar kaumnya mengindahkan tata krama penghormatan kepada tamu.

Kata ( jy*~ati ) tafdhahun terambil dari kata (£-£3 )fltdhaha yang berarti
membuka. Kata ( ~A—_ >,'»,) fadhihah adalah terbuka dan tersebarnya sesuatu
yang dinilai aib atau buruk sehingga m e m a l u k a n dan m e n c e m a r k a n n a m a
baik yang bersangkutan.

AYAT 7 0 - 7 1

Mereka berkata, "Dan bukankah kami telah melarangmu menyangkut seluruh


alam?"Dia berkata, "Inilahputri-putriku jika kamu hendak berbuat. "
490 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 70-71

Nasihat, bahkan permohonan, Nabi Luth as. tidak digubris oleh para
pendurhaka dari k a u m n y a itu. Mereka berkata dengan a n g k u h dan kasar,
"Bukankali engkau telah mengetahui bahwa kami pasti akan terus melakukan
apa yang kami anggap baik dan bukankah kami telah melarangmu menyangkut
seluruh alam, yakni m e l a r a n g m u melindungi pria y a n g k a m i bermaksud
melakukan hubungan dengannya?"
M e n d e n g a r u c a p a n dan m e l i h a t sikap m e r e k a iru, N a b i L u t h as.
menawarkan alternatif lain. Dia berkata, "Inilahputri-putri kaumku, nikahilah
mereka jika kamu hendak berbuat, y a k n i melampiaskan dorongan seksual
k a m u , karena irulah cara yang halal, sehat, terhormat, dan sesuai dengan
fitrah manusia."
Firman-Nya: ( J^^ 1
j£ ^ILGJ jljt ) awalam nanhaka ani al-'di amin/dan
bukankah kami telah melarangmu menyangkut seluruh alam d i p a h a m i oleh
asy-Sya'rawi dalam arti "Bukankah kami telah memperingatkan mu agar ridak
menerima para pemuda yang tampan. Tetapi, karena engkau telah menerima
mereka, kami akan m e l a k u k a n apa y a n g kami sukai terhadap mereka."
Firman-Nya: ( J U J i*i3* ) hd'uld 'i banatilinilahputri-putriku ada u l a m a
yang memahaminya dalam arti putri kandung beliau. Dan, menurut penganut
paham ini, walaupun putrinya hanya dua atau tiga orang, sedang y a n g datang
m e n e m u i beliau b a n y a k pria, y a n g beliau m a k s u d k a n adalah m e n i k a h k a n
kedua atau ketiga putrinya itu dengan dua atau tiga tokoh masyarakatnya
yang diharapkan dapat memengaruhi dan mencegah yang lain. Pendapat yang
lebih baik adalah m e m a h a m i n y a dalam arti putri-putri kaumku, yakni wanita
y a n g tinggal di p e m u k i m a n mereka. M e m a n g , nabi atau p e m i m p i n suatu
masyarakat adalah bapak anggota masyarakat itu, sedang masyarakat umum—•
apalagi yang m u d a — a d a l a h putra-putri bangsa.
Kerika menafsirkan Q S . H u d 7 8 , penulis mengutip pendapat al-Biqa'i
yang menyatakan bahwa ucapan Nabi Luth as. inilah putri-putriku bukanlah
dalam pengertian hakiki, tetapi peringatan kepada k a u m n y a bahwa mereka
tidak dapat menyentuh tamu-tamu itu kecuali jika mereka menyentuh terlebih
d a h u l u — s e c a r a paksa—putri-putri beliau karena pencemaran nama akibat
m e l a k u k a n hal y a n g tidak wajar terhadap putri atau tamu sama buruknya,
bahkan boleh jadi terhadap t a m u lebih buruk. Ini, tulis al-Biqa'i, serupa
Kelompok IV Ayat 72-77 Surah al-Hijr [15] 491

d e n g a n seseorang y a n g b e r m o h o n k e p a d a siapa y a n g m e m u k u l a g a r
menghentikan p u k u l a n n y a dan bila dia tidak berhenti atau m e m u k u l lebih
keras lagi, ketika itu si pemohon merangkul y a n g dipukul agar terhindar dari
pukulan. Rujuklah, ke penafsiran ayat serupa dalam surah H u d [11]: 7 8 untuk
19
m e m a h a m i lebih j a u h k a n d u n g a n m a k n a ayat i n i .

AYAT 7 2 - 7 7

"Demi umurmu! Sesungguhnya mereka di dalam kemabukan mereka


terombang-ambing. " Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang
mengguntur ketika matahari akan terbit. Maka, Kami jadikan yang di atasnya
ke bawahnya dan Kami hujani mereka dengan (batu) sijjil. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat ayat-ayat bagi orang-orang yang
memerhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya ia benar-benar terletak dijalan
yang masih tetap. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat
tanda bagi orang-orang mukmin P

S u n g g u h , k a u m N a b i Luth as. itu telah m e l a m p a u i batas. M a k a ,


sejenak—sebelum melanjutkan uraian tentang mereka—Allah berfirman,
"Demi umurmu, wahai Nabi M u h a m m a d , yang penuh dengan sifat dan amal-
amal terpuji, Sesungguhnya mereka k a u m Luth itu di dalam kemabukan
mereka m e l a m p i a s k a n nafsu mereka, terus-menerus terombang-ambing
sehingga mereka tidak menyadari kesesatan mereka, bahkan semakin menjadi-
jadi. Maka akibatnya mereka dibinasakan oleh suara keras yang mengguntur,
yang terjadi ketika matahari akan terbit. Maka, akibat suara yang menggelegar
itu, Kami jadikan negeri k a u m Luth itu. yang di atasnya terbalik ke bawahnya,
yakni Kami hancurkan sehingga menjadi j u n g k i r balik, dan Kami hujani
mereka secara bertubi-tubi dengan batu sijjil, yakni batu bercampur tanah
atau tanah bercampur air, lalu m e m b e k u dan mengeras menjadi batu, y a n g
m e n i m p a dan membinasakan mereka.

Rujuk volume 5 halaman 698.


492 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 72-77

Sesungguhnya pada yang demikian itu, yakni pada peristiwa-peristiwa


y a n g disampaikan Ini, benar-benar terdapat ayat-ayat, y a k n i tanda-tanda
kekuasaan Allah, bagi orang-orang yang memerhatikan tanda-tanda yang
terhampar dan terhidang di alam raya.
j a n g a n d u g a apa y a n g diuraikan ini tanpa dasar atau kisah khayal.
Peristiwanya benar-benar terjadi dan masih segar d a l a m ingatan masyarakat
dan sesungguhnya ia, yakni p e m u k i m a n k a u m Luth itu, benar-benar terletak
di jalan u m u m yang masih tetap sehingga dapat dilalui dan dilihat bekas-
bekas kehancurannya oleh para pejalan. Sesungguhnya pada yang demikian
itu, y a k n i pada peristiwa-peristiwa y a n g d i a l a m i oleh N a b i Ibrahim as. dan
Luth as. dan k a u m mereka, benar-benar terdapat tanda kekuasaan Allah y a n g
sangat jelas bagi orang-orang mukmin.

Ayat 73 di atas tidak bertentangan dengan firman-Nya pada ayat 6 6


yang menyatakan: "Bahwa belakang mereka akan ditumpas habis di waktu
subuh"kaiena yang dijelaskan oleh ayat 6 6 itu adalah awal siksaan yang terjadi
menjelang subuh, sedang y a n g dijelaskan di sini adalah k e p u n a h a n mereka
y a n g rerjadi ketika matahari telah terbit, atau dapat j u g a kata musyriqin
diartikan ketika matahari akan terbit sehingga, kedua ayat tersebut semakna.
Lirman-Nya: (lg!iL-> l^Jlp LU^j )fajaalnd 'alaih d sufilah di Kami. jadikan
yang di atasnya ke bawahnya, di s a m p i n g m e m b e r i g a m b a r a n tentang
kehancuran total, j u g a m e n g e s a n k a n persamaan sanksi itu dengan
k e d u r h a k a a n mereka. B u k a n k a h m e r e k a j u g a m e m u t a r b a l i k k a n fitrah?
Seharusnya, pelampiasan syahwat dilakukan dengan lawan seks, tetapi mereka
m e m b a l i k n y a menjadi homoseks. Seharusnya, ia d i l a k u k a n dengan penuh
kesucian, tetapi mereka menjungkirbalikkan dengan m e l a k u k a n n y a p e n u h
kekotoran dan kekejian. Seharusnya, ia tidak dibicarakan secara terbuka, tidak
dilakukan di tempat u m u m , tetapi mereka m e n j u n g k i r b a l i k k a n n y a dengan
m e m b i c a r a k a n di tempat-tempat terbuka dan m e l a k u k a n n y a di tempat
u m u m . D e m i k i a n sanksi sesuai dengan kesalahan.

Kata ( JJ^>) sijjil, m e n u r u t al-Biqa'i, m e n g a n d u n g m a k n a ketinggian.


Atas dasar itu, u l a m a ini m e m a h a m i batu-batu tersebut dilemparkan dari
tempat y a n g ringgi. Rujuklah ke ayat-ayat surah H u d u n t u k memahami
lebih dalam apa y a n g terjadi pada k a u m Nabi Luth as. itu.
Kelompok IV Ayat 72-77 Surah al-Hijr [15] 493

Tbabathaba'i, ulama yang berasal dari Persia, Iran, mendukung pendapat


y a n g m e n y a t a k a n b a h w a kata tersebut berasal dari bahasa Persia y a n g
m e n g a n d u n g m a k n a batu dan tanah yang basah.
Boleh jadi apa yang menimpa k a u m Luth i t u — d e m i k i a n juga peristiwa-
peristiwa l a i n — m e r u p a k a n gempa b u m i atau letusan g u n u n g merapi y a n g
ditetapkan Allah swt. bertepatan dengan kedurhakaan para p e m b a n g k a n g .
Persesuaian w a k r u itu adalah u n t u k menyelaraskan antara i l m u - N y a y a n g
Qadim dan setiap kasus, seperri kasus N a b i Luth as. ini. Boleh jadi j u g a ia
adalah pengaturan khusus dari Allah swt. dalam rangka membinasakan k a u m
Luth. D e m i k i a n lebih kurang komentar Sayyid Q u t h u b .
Kata ( j ^ J i j s l i ) al-mutawassimin adalah bentuk j a m a k dari kata ( pJ>j&\)
al-mutawassim. Ia terambil dari kata ( ) at-tawassum yang pada mulanya
b e r a r t i berpikir dengan tekun serta meneliti dengan saksama. Yang
m e l a k u k a n n y a dilukiskan oleh bahasa sebagai seseorang y a n g m e m a n d a n g
sesuatu dari atas ke bawah. S e m e n t a r a u l a m a m e n g g a r i s b a w a h i b a h w a
kegiatan itu dapat terlaksana dengan baik bila pikiran cerah, hati bersih, dan
dengan pengamatan y a n g j i t u . Ada juga u l a m a y a n g m e n a m b a h k a n bahwa
ini s e r u p a d e n g a n firasat yang tidak dapat diraih kecuali dengan
mengosongkan hati dari segala keburukan serta menghiasi diri dengan akhlak
y a n g m u l i a . D i r i w a y a t k a n b a h w a Nabi saw. bersabda, "Berhati-hatilah
terhadap firasat seorang m u k m i n karena dia melihat dengan nur Ilahi." Lalu,
beliau membaca ayat di atas (HR. at-Tirmidzi, melalui Abu S a ' i d ) . Secara
singkar dan sederhana dapat dikatakan bahwa al-mutawassimin adalah mereka
yang memerhatikan dengan saksama tanda dan indikator-indikator, mencari
sebab-sebab dan akibat sesuatu, serta m e n g a m b i l pelajaran darinya; dan iru
adalah sifat orang-orang m u k m i n .

Al-Biqa i memahami penggunaan al-mutawassimin dalam ayat ini sebagai


ejekan kepada k a u m musyrikin y a n g m e n g a k u sebagai mutawassimin, yakni
orang-orang yang memiliki k e m a m p u a n m e n a r i k pelajaran, tetapi justru
mereka mengabaikan sekian b a n y a k ayat-ayat Ilahi y a n g terhampar. Sifat
mereka itu sungguh bertentangan dengan orang-orang m u k m i n yang cukup
bagi mereka satu ayat dari sekian banyak ayat Ilahi. Agaknya, itulah sebabnya
sehingga ayat 75 m e n g g u n a k a n b e n t u k j a m a k bagi kata ( o b i ) ayat ketika
494 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 72-77

m e m b i c a r a k a n al-mutawassimin, sedang ayar 7 7 m e n g g u n a k a n bentuk


tunggal (djT ) ayah ketika menguraikan tentang orang-orang beriman. Sekali
lagi, y a k n i bagi orang m u k m i n satu ayat pun sudah c u k u p untuk
mengantarnya kepada kesalehan.
Dapat juga dikatakan bahwa bentuk j a m a k bagi ahmutawassimin unttik
mengisyaratkan bahwa mereka baru dapat menyandang nama itu bila mereka
benar-benar melakukan penelitian yang saksama dan mempelajari segala aspek
dan tanda vang terbentang sehingga hasil vang mereka peroleh benar-benar
akurat. B u k a n k a h , seperti d i k e m u k a k a n sebelum ini bahwa pelakunya bila
m e m a n d a n g sesuatu maka pandangannya mengarah dari atas ke bawah? Itu
berarti dia tidak merasa cukup dengan satu tanda saja.
Kata ( *Jyj^) la'amrukal derni umurmu terambil dari kata ( j * * ) 'amr
atau 'umr y a i t u usia. Biasanya, jika kata ini d i g u n a k a n d a l a m konteks
sumpah—seperti pada ayat i n i — m a k a ia diucapkan dengan fathah, yakni
'amr seperti pada ayat ini, dan jika tidak dalam konteks sumpah, ia diucapkan
d e n g a n dhammah, y a k n i 'umr. Kata t e r s e b u t mengandung makna
memakmurkan yang merupakan lawan dari membinasakan. Sementara ulama
m e m a h a m i kata tersebut sebagai sumpah m e n y a n g k u t kehadiran N a b i
M u h a m m a d saw. di pentas bumi ini.
U m u r adalah masa y a n g dilalui j a s m a n i d a l a m rangka m e m a k m u r k a n
hidup. Karena itu, ia berbeda dengan keberadaan pada masa tertentu sebab
tidak selalu keberadaan sesuatu menghasilkan k e m a k m u r a n hidup.
Kata y a n g d i g u n a k a n ayat ini m e n g a n d u n g m a k n a s u m p a h dan, karena
s u m p a h biasanya m e n g g u n a k a n kara y a n g m e n u n j u k k a n keagungan, kata
tersebut bagaikan menyatakan demi keagungan yang dianugerahkan Allah
kepadamu, wahai Nabi Muhammad. D e m i k i a n pendapat Ibn 'Asyur.
T i d a k seorang pun yang disebut u m u r n y a sebagai sumpah oleh Allah
swt. kecuali N a b i M u h a m m a d saw. Ini m e n g i s y a r a t k a n betapa tinggi
k e d u d u k a n beliau di sisi Allah, sekaligus m e n u n j u k k a n b a h w a masa y a n g
dilalui beliau benar-benar beliau isi dengan aktivitas yang m e m a k m u r k a n
jiwa, baik jiwa beliau sendiri m a u p u n jiwa umat manusia.
Kelompok IV Ayat 78-79 Surah al-Hijr [15] 495

AYAT 7 8 - 7 9

"Dan sesungguhnya penduduk Aikah benar-benar orang-orang zalim, maka


Kami membinasakan mereka. Dan sesungguhnya keduanya benar-benar
terletak di jalan yang jelas. "

Setelah menjelaskan kebinasaan k a u m Luth, kini diuraikan secara singkat


k e b i n a s a a n u m a t Nabi S y u ' a i b as. Di s u r a h a s y - S y u ' a r a ' , a l - Q u r ' a n
m e n g u r a i k a n kisahnya secara panjang. Ayat ini secata singkat menjelaskan
bahwa Dan sesungguhnya penduduk Aikah yang nabi nya adalah Syu'aib benar-
benar orang-orang zalim y a n g mempersekutukan Allah dan mendurhakai-
Nya, maka Kami membinasakan mereka. Dan sesungguhnya keduanya, y a k n i
tempat pemukiman peduduk Aikah, dan k a u m Luth atau tempat
p e m u k i m a n M a d y a n dan Aikah benar-benar terletak di jalan u m u m yang
jelas.

Kata ( ) al-aikah terambil dari kata ( ^\>ji\) al-aik yaitu pohon yang
sangat b a n y a k dahan dan lebat d e d a u n a n n y a . Yang d i m a k s u d di sini adalah
tempat p e m u k i m a n k a u m Nabi Syu'aib as. karena mereka tinggal di satu
w i l a y a h y a n g b a n y a k pepohonannya. Ada j u g a y a n g m e m b a c a ayat ini
Ashbabu Laikah dan langsung m e m a h a m i n y a sebagai nama dari satu tempat.
Ada ulama yang m e m p e r s a m a k a n tempat itu dengan M a d y a n , y a n g
terletak di jalur antara Hijaz dan S y a m . Beberapa ulama menyatakan bahwa
tepatnya adalah di pantai Laut M e r a h sebelah tenggara Gurun Sinai. Ulama
lain menyatakan bahwa p e n d u d u k Aikah/Laikah berbeda dengan p e n d u d u k
M a d y a n , "Ini adalah dua lokasi y a n g berdekatan y a n g dipisahkan oleh
p e p o h o n a n y a n g lebat." A t a u , mereka adalah dua suku y a n g berbeda.
P e n d u d u k M a d y a n b e r m u k i m di perkotaan, sedang al-Aikah n o m a d . Bagi
yang memahaminya demikian, memahami kata keduanya dalam arti M a d y a n
dan Aikah.

Kezaliman dan k e d u r h a k a a n k a u m S y u ' a i b antara lain adalah


mempersekutukan Allah swt., merampok, dan melakukan kecurangan dalam
timbangan dan takaran. Siksa yang dijatuhkan kepada M a d y a n adalah gempa,
496 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 80-81

sedang terhadap Aikah adalah angin panas dan awan yang m e n i m b u l k a n api
y a n g m e m b a k a r mereka.
Kata ( ft»)) im&rn bermakna yang diteladani atau diikuti. Jalan d i n a m a i
j u g a imam karena ia ditelusuri dan diikuti dalam rangka mencapai tujuan.

AYAT 8 0 - 8 1

"Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota al-Hijr telah mendustakan para


rasul, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka ayat-ayat Kami, tetapi
mereka darinya selalu berpaling. "

Setelah menjelaskan tentang k a u m Nabi Syu'aib as., dan sebelumnya


k a u m Nabi Luth as., kini dijelaskan tentang k a u m Tsamud yaitu k a u m Nabi
Shalih as. A g a k n y a , ketiga k a u m itu disebut secara berurut oleh ayat-ayat ini
karena ketiganya mengalami siksa y a n g serupa—gempa, api, dan suara y a n g
menggelegar. Suara dapat m e n g g u n c a n g k a n dan m e n i m b u l k a n api. Di sisi
lain, api y a n g bersumber dari l a n g i t m e n i m b u l k a n k e g o n c a n g a n dan
melahirkan suara y a n g menggelegar. Lokasi ketiga k a u m itu dikenal secara
baik oleh k a u m musyrikin M e k k a h dalam perjalanan dagang mereka menuju
Syam.
Ayar ini menegaskan bahwa: Dan sesungguhnya penduduk-penduduk kota
al-Hijr, y a i t u Tsamud k a u m Nabi Shalih as., telah mendustakan para rasul
Allah semuanya, dan Kami telah mendatangkan kepada mereka ayat-ayat
Kami, yakni mukjizat y a n g jelas, seperti u n t a y a n g tercipta dari baru karang
arau keterangan-keterangan yang tegas dan tanda-tanda kekuasaan Allah, tetapi
mereka darinya selalu berpaling dengan sungguh-sungguh lagi mantap. Yakni,
mereka mengabaikan tanda-tanda itu dan tidak m e m e r h a t i k a n n y a , bahkan
menganiayanya.
Kata ( ) al-hijr—seperti diisyararkan pada m u k a d i m a h surah i n i —
berarti larangan. Boleh jadi disebabkan ia terlarang dihuni oleh siapa pun
selain k a u m Tsamud. Boleh jadi j u g a ia terambil dari kata hajar yang berarti
batu karena mereka membelah g u n u n g - g u n u n g batu untuk menjadi tempat
hunian mereka.
Kelompok IV Ayat 82-84 Surah al-Hijr [15] 497

Kaum Tsamud merupakan generasi pertama dari Arab Ba idah sama seperti
'Ad. N a m a mereka tertera dalam ukiran-ukiran peninggalan Raja Sarjoun II,
salah seorang raja Asiria Baru pada 7 1 5 S M . Mereka dinilai sebagai termasuk
bangsa-bangsa y a n g pernah d i t a k l u k k a n raja tersebut di sebelah utara
semenanjung Jazirah Arab. Tempat tinggal mereka, y a n g masyhur d a l a m
b u k u - b u k u pakar Arab, adalah di Hij r y a n g dikenal dengan Mada 'in Shalih
( K o t a - k o t a N a b i S h a l i h as. di W a d i a l - Q u r a ) . A l - A s h t a k h r i p e r n a h
m e n g u n j u n g i tempat tersebut. Dia m e n y e b u t k a n b a h w a di situ terdapat
sebuah sumur y a n g disebut dengan sumur Tsamud. A l - M a s udi, sejarahwan
Islam kenamaan, menyebutkan bahwa tempat tinggal mereka berada di antara
S y a m dan Hijaz sampai ke pantai laut Habasyah (Kthiopia). R u m a h - r u m a h
mereka terpahat di g u n u n g - g u n u n g . Pada zaman a l - M a s ' u d i , peninggalan-
peninggalan mereka masih tampak jelas bagi orang yang melakukan perjalanan
haji dari S y a m di dekat W a d i al-Qura, yakni pada jalur Khaibar menuju
Tabuk di Saudi Arabia. Demikian lebih kurang termaktub dalam Tafsir al-
Muntakhab karva sekelompok pakar Mesir.
Ayat di atas menyatakan bahwa k a u m Nabi Shalih as. mendustakan al-
mursaliu, yakni para rasul. W a l a u p u n rasul yang diurus kepada mereka hanya
seorang, yairti Nabi Shalih as., karena ajaran semua rasul dalam prinsip-prinsip
akidah, syariah, dan akhlak adalah satu/sama, dan prinsip-prinsip itu y a n g
mereka dustakan, m a k a m e n d u s t a k a n salah seorang rasul sama dengan
mendustakan semua rasul. Karena itu, ayat di atas m e n g g u n a k a n bentuk
j a m a k , bukan tunggal.
Didahulukannya kata darinya pada penutup ayat ini mengandung makna
penekanan dan pengkhususan, seakan-akan mereka tidak berpaling
mengabaikan sesuatu apa pun kecuali satu hal yaitu ayat-ayat tersebut.

AYAT 8 2 - 8 4

"Mereka memahat sebagian gunung-gunung untuk menjadi rumah-rumah


dalam keadaan aman. Maka mereka dibinasakan oleh suara keras yang
mengguntur di waktu pagi, maka tidaklah dapat menolong mereka apa yang
telah mereka usahakan."
498 Surah al-Hijr [15] Kelompok IV Ayat 82-84

Kaum Luth, p e n d u d u k al-Alkah, dan al-Hijr, tiga kelompok manusia


durhaka d i g a b u n g kisahnya secara singkat oleh surah ini a g a k n y a karena
keserupaan siksa yang menimpa mereka, yaitu suara yang menggelegar, gempa,
dan api y a n g turun dari langit. M e m a n g , ketiganya kait-berkait. Suara
menggelegar dapat m e n i m b u l k a n gempa dan g e m p a dapat m e n i m b u l k a n
suara yang sangat dahsyat. Api yang turun dari langit pun demikian itu halnya.
Penghuni al-Hijr oleh ayat sebelum ini dinyatakan yang berpaling dari
seruan Allah dan mengingkari ayat-ayat-Nya sangat ktiat dibandingkan dengan
kaum musyrikin Mekkah yang mencemoohkan dan mengingkari risalah Nabi
M u h a m m a d saw. Mereka memahat sebagian gunung-gunung untuk menjadi
rumah-rumah dengan tujuan agar mereka dapat mendiaminya dalam keadaan
aman dari segala macam gangguan. N a m u n , karena mereka berpaling dan
durhaka, Allah m u r k a kepada mereka maka mereka dibinasakan atas perintah
Allah oleh gempa yang sangat dahsyat yang melahirkan atau diakibatkan oleh
suara keras yang mengguntur di waktu pagi, maka tidaklah dapat menolong
dan m e n y e l a m a t k a n mereka apa yang telah d a n terus-menerus mereka
usahakan iru, yakni rumah-rumah dan benteng-bentengyang mereka bangun
di g u n u n g - g u n u n g atau dari batu-batu gunung itu yang tadinya mereka duga
sebagai tempat-tempat aman.

Kata ( dj^i ) yanhitun yang biasa diterjemahkan memahat dari segi


bahasa bermakna memotong batu atau k a y u dari pinggir atau melubanginya
di tengahnya. Sementara u l a m a m e m a h a m i kata ini d a l a m arti m e m o t o n g
batu-batu gunung untuk kemudian menjadikannya sebagai bahan bangunan,
baik rumah tempat tinggal maupun benteng-benteng. Ada juga yang
memahaminya dalam arti menjadikan sebagian gunung-gunung yang terdapat
di w i l a y a h mereka sebagai r u m a h - r u m a h tempat tinggal (gua-gua) setelah
memotong dan atau melubanginya sehingga menjadi ruangan-ruangan tanpa
harus m e m b a n g u n fondasi dan d i n d i n g - d i n d i n g . Pendapat kedua ini lebih
populer.
Kata ( j^twsj») mushbihinlwaktu pagi memberi kesan bahwa bencana
y a n g m e n i m p a kaum Nabi Shalih as. itu terjadi sewaktu mereka bertebaran
di luar r u m a h - r u m a h mereka. D e m i k i a n kesan Ibn 'Asyur.
KELOMPOK 5

AYAT 8 5 - 9 9

ji-li-A>L>oI (^) J * - J H 2 ^ ^UJl

499
500 Surah al-Hijr [15]
Kelompok V Ayat 85-86 Surah al-Hijr [15] 501

AYAT 8 5 - 8 6

"Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara
keduanya, melainkan dengan hacp Dan sesungguhnya Kiamat pasti akan
datang, maka maafkanlah dengan pemaafan yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu, D'ia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha Mengetahui. "

Setelah menjelaskan kekuasaan Allah melaksanakan ancaman-ancaman-


Nva serta menjatuhkan siksa-Nya, lebih lanjut Allah menguraikan secara
u m u m kekuasaan-Nya mencipta langit dan bumi (alam raya) dengan segala
isinya.
Al-Bicia'i m e n g h u b u n g k a n ayat ini dengan ayat y a n g lalu dengan
m e m u n c u l k a n dalam benaknya satu pertanyaan y a n g boleh jadi diajukan
seseorang yaitu: "Mengapa Allah vang membinasakan kaum vang Dia sendiri
yang menciptakannya, padahal tentu saja Dia telah mengetahui bahwa mereka
akan durhaka?" Nah, ayat-ayat di atas i t u — m e n u r u t n y a — a d a l a h jawaban
atas pertanyaan yang muncul itu.
Apa pun h u b u n g a n y a n g Anda pilih atau k e m u k a k a n , y a n g jelas ayat di
atas menyatakan bahwa: Dan tidaklah Kami ciptakan langit dengan ketinggian
dan luasnya serta aneka bintang dan planet, y a n g menghiasinya, dan tidak
juga Kami ciptakan bumi dengan segala m a k h l u k y a n g ada di permukaan
atau dalam perutnya, dan d e m i k i a n juga apa yang ada di antara keduanya,
yakni langit dan bumi, baik yang telah diketahui manusia m a u p u n belum
atau tidak akan dapat diketahui, tidak Kami ciptakan itu semua melainkan
dengan haq, y a k n i selalu disertai kebenaran dan bertujuan benar, bukan
permainan atau kesia-siaan, Itu antara lain Kami ciptakan u n t u k menguji
manusia siapa di antara mereka y a n g menjadikannya bukti keesaan Kami
serta m e n g g u n a k a n n y a dengan baik dan mengantarnya beramal saleh. Dan
sesungguhnya Kiamat, di m a n a m a s i n g - m a s i n g m a n u s i a a k a n d i m i n t a i
pertanggungjawaban serta diberi balasan dan ganjaran vang \acf, pasti akan
datang. Hal iru demikian demi tegaknya "ahhaf dan keadilan yang merupakan
tujuan penciptaan.
502 Surah al-Hijr [15] Kelompok V Ayat 85-86

Maka karena iru, wahai N a b i M u h a m m a d , jangan hiraukan kecaman


dan makian siapa y a n g m e n d u s t a k a n m u , tetapi maafkanlah mereka dengan
pemaafan yang baik. Itu semua karena sesungguhnya Tuhanmu y a n g selalu
berbuat baik dan m e m b i m b i n g m u , Dia-lah Yang Maha Pencipta secara
berulang-ulang lagi Maha Mengetahui segala sifat, ciri, kelakuan, dan isi hati
ciptaan-ciptaan-Nva.
Kata ( ) al-haqq pada ayat di atas, di samping apa yang telah dijelaskan
di atas, juga m e n g a n d u n g makna bahwa / ^ - / k e b e n a r a n tertanam dalam diri
setiap makhluk, dan pada akhirnya akan tampak dengan jelas ke permukaan,
dan bahwa Allah swt. telah menetapkan sistem yang haq lagi sesuai dengan
hikmah kebijaksanaan. Dengan demikian, kalaupun kebaikan dan keburukan,
atau kebenaran dan kebatilan, silih berganti, pada akhirnya kebenaran dan
k e b a i k a n akan m e n g a l a h k a n k e b a t i l a n d a n k e b u r u k a n . H a k i k a t y a n g
d i k e m u k a k a n ini sejalan juga dengan firman-Nya;

jtt, b i s ,JJLAJ^S> J-laV* c T *3-AA>

"Kami melontarkan yang haq atas yang batih maka ia menghancurkan-nya


maka serta merta yang batil itu lenyap" (QS. al-Anbiya' [ 2 1 ] : 18).
Dengari demikian, bila pada suatu saat kebatilan tampak m e n a n d i n g i
haq atau bahkan mengalahkannya, hal tersebut hanya bersifat sementara dan
segera kebenaran akan tampil.
Sebagian buktinya adalah keadaan umat para nabi itu. Mereka tampil
dengan kebatilan tetapi itu tidak bertahan karena tidak lama kemudian mereka
dipunahkan oleh Allah swt, agar akhaq vang h a n y a bersumber dari-Nya itu
tampil cemerlang. Kalaupun masih ada kebatilan y a n g berlanjut dalam
kehidupan dunia ini, ia segera akan punah dan dikalahkan oleh aThaq pada
hari Kemudian nanti, dan itulah vang diisyaratkan oleh lanjutan ayat bahwa
sesiDigguhnya Kiamat pasti datang.

Ayat-ayat y a n g merupakan kelompok akhir surah ini sejalan pesan-


pesannya dengan uraian pada kelompok awal murali. Rujuklah pada ayat-ayat
pertama surah ini yang memerintahkan Nabi saw. u n t u k membiarkan k a u m
musyrikin makan dan m i n u m dan dilengahkan oleh angan-angan kosong,
Kelompok V Ayat 85-86 Surah al-Hijr [15] 503

dan y a n g d m i r n y a mereka ditimpa oleh ketentuan Allah swt. y a n g m e n i m p a


setiap p e n d u d u k negeri y a n g durhaka.
Firman-Nya: ( ^*J*Ji J}*&Jri ja dtij 6 ) ) inna Rabbaka huwa al-Khaltiuju
al-'Alim/sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah Yang Maha Pencipta lagi Maha
Mengetahui m e r u p a k a n alasan bagi perintah memberi maaf y a n g disebut
sebelumnya. Yakni berilah m a a f karena hal itu merupakan kemaslahatan
u n t u k m u dan u n t u k mereka. Adapun u n t u k m u karena hal itu menunjukkan
ketinggian budi pekertimu dan ini dicatat oleh Allah swt. sebagai ganjaran
dan m e n g u n d a n g lebih b a n y a k simpati manusia. Sedang bagi mereka, itu
memberi mereka peluang berpikir dan kesempatan berintrospeksi kiranya
mereka dapat simpati k e p a d a m u dan ajaran-ajaran Islam sehingga pada
akhirnya mereka pun beriman. Demikianlah keadaannya karena Allah M a h a
Pencipta, Dia y a n g menciptakanmu dan menciptakan mereka, dan Dia j u g a
M a h a Mengetahui apa y a n g kamu l a k u k a n . Dia mengetahui potensi dan
kecenderungan k a m u serta mengetahui detak detik j a n t u n g k a m u semua.

Kata ( ^JLO1\ ) ash-shafh sebenarnya tidak tepat diterjemahkan dengan


pemaafan, yakni sinonim dari kata ( y * J l ) al-afwulpemaafan karena ash-
shafh adalah sikap memaafkan disertai dengan tidak mengecam kesalahan pihak
lain. Dari kata ini lahir kata shafh ah y a n g berarti halaman!pagina. Al-
Ashfahani menilai bahwa kata ash-shafh lebih sulit diterapkan seseorang
daripada aT'afwu. Bisa saja seseorang memaafkan, tetapi p e m a a f a n n y a
didahului oleh kecaman terhadap kesalahan, berbeda dengan ash-shafh. Karena
itu, bisa saja seseorang memaafkan tetapi belum memberi shafh. Di sisi lain,
kata maafkerdsti menghapus. Kesalahan y a n g dihapus pada satu halaman di
kertas p u t i h m u n g k i n masih m e n a m p a k k a n bekas-bekas penghapusan itu
pada kerras. Tetapi, bila A n d a m e m b u k a lembaran baru, segalanya baik, baru,
dan bersih. Tidak sedikit pun bekas y a n g ditemukan pada lembaran baru itu.

Thabathaba'i m e m a h a m i kata pemaafan yang baik adalah melaksanakan


keempat hal yang akan disebut oleh ayat 88 dan 89 berikut yaitu: 1) larangan
memberi perhatian y a n g besar karena takjub dan ingin meraih k e n i k m a t a n
duniawi; 2 ) larangan bersedih karena pengingkaran k a u m musyrikin; 3)
perintah berendah hati dan melakukan hubungan harmonis sambil bersabar
504 Surah al-Hijr [15] Kelompok V Ayat 87

dan m e l i n d u n g i k a u m m u k m i n i n ; serta 4 ) m e n y a m p a i k a n peringatan-


peringatan Allah swt.
Sementara u l a m a memeroleh kesan dari ayat 8 6 di atas, khususnya dari
1
kata ( ( j ^ ) KhaHd.qIMa.ha Pencipta, bahwa Allah akan menjadikan sebagian
lawan Nabi saw. sebagai sahabat dan p e n d u k u n g - p e n d u k u n g ajaran Islam
dan menciptakan dari mereka a n a k keturunan y a n g akan menjadi pembela-
pembela Islam. Ini d i k u k u h k a n juga oleh kata ( lilSj ) Rabbaka, yakni
Tuhanmu y a n g selalu berbuat baik dan m e m b i m b i n g serta m e m e l i h a r a m u ,
wahai Nabi M u h a m m a d .

AYAT 87

"Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepadamu tujuh (ayat) yang


berulang-ulang dan al-Quranyang agung. "

Ayat sebelum ini menghibur Nabi saw. dan menganjurkan beliau agar
memberi maaf yang baik. Di sini, beliau dihibur lagi dengan m e n y e b u t
anugerah Ilahi y a n g sangat besar kepada beliau. Ini u n t u k mengingatkan
bahwa beliau adalah pilihan Allah y a n g tidak m u n g k i n ditinggalkan-Nya.
Al-Bicja'i m e n g h u b u n g k a n ayat ini d e n g a n ayat s e b e l u m n y a y a n g
menyatakan bahwa, setelah ayat vang lalu menyebut sifat Ilmu Allah dalam
redaksi pengagungan, ayat berikutnya menyebut anugerah Allah di dunia ini
kepada Nabi M u h a m m a d saw. y a n g berkaitan dengan sifat ilmu itu.
Allah berfirman: Dan sesungguhnya Kami telah anugerahkan kepadamu.
wahai Nabi M u h a m m a d , tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang, y a i t u surah
al-Fatihah, dan selain itu ada lagi ayat-ayat al-Qur anyang agung.
Berbeda-beda pendapat ulama tentang maksud kata as-sab'al-matsdni.
Mayoritas ulama m e m a h a m i n y a dalam arti surah al-Fatihah yang terdiri dari
tujuh ayar itu.
Dari segi bahasa, kata ( £-iJ^ ) as-sab' berarti tujuh. Ini karena surah
tersebut terdiri dari tujuh ayat, sedang kata ( ) al-matsdni merupakan
bentuk j a m a k dari kata (J^w ) mutsannd yang terambil dari kara ( ) tsanna
Kelompok V Ayat 87 Surah al-Hijr [15] 505

yakn i mengulang, atau dari kata ( ^ ) matsnd y a n g terambil dari kata ( )


itsnain yang secara harfiah berarti dua. Vang dimaksud dengan dua-dua adalah
bahwa ia dibaca d u a kali setiap shalat. J i k a m a k n a ini y a n g d i m a k s u d ,
penamaan tersebut lahir pada awal masa Islam ketika setiap shalat terdiri dari
dua rakaat, atau karena surah ini rurun dua kali, sekali di M e k a h dan sekali di
M a d i n a h . Bila d i p a h a m i dalam arti berulang-ulang, itu antara lain karena ia
dibaca berulang-ulang dalam shalat dan di luar shalat. Atau karena kandungan
pesan setiap ayat al-Fatihah terulang-ulang dalam ayat-ayat al-Qur'an yang lain.
Al-Biqa'i setelah m e n g h u b u n g k a n kata tujuh ayat dengan informasi
tentang tujuh pintu neraka memeroleh kesan bahwa setiap ayat dari surah al-
Fatihah, bila diamalkan tuntunannya, ia menjadi perisai yang menutup pintu-
pintu neraka itu.
J i k a kita m e m a h a m i istilah tersebur dalam arti surah al-Fatihah, ayat ini
mencerminkan betapa tinggi nilai surah al-Fatihah dibanding dengan surah-
surah a(- Qur'an lainnya. Dalam konteks ini, pakar hadits, at-Tirmidzi,
meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, " Demi Tuhan Yang j i w a k u
berada dalam g e n g g a m a n - N y a , Allah ridak m e n u r u n k a n di dalam l a u r a t ,
Injil, m a u p u n Zabur dan al-Qur'an suatu surah seperti as-Sab*al-MatsdniT
A d a juga ulama y a n g m e m a h a m i kata tujuh dalam arti tujuh surah-
surah panjang dan y a n g dikenal dengan istilah as-sab'atb-tbiwdlya.hu surah
al-Baqarah, Ali 'Imriin, an-Nisa , a l - M a idah, al-An'am, al-A'raf, dan al-Anfal
bersama at-Taubah. Pendapat ini tidak tepat karena surah al-Hijr t u r u n di
M e k k a h sedang ketika turunnya surah ini belum lagi turun kepada Nabi
saw. salah satu surah dari y a n g tujuh itu. M a s i h ada pendapat lain, tetapi
agaknya yang paling tepat lagi berdasar penamaan Nabi saw. adalah pendapat
pettama.
Al-Qur'an adalah anugerah y a n g paling berharga bagi manusia. Yang
menerimanya adalah manusia termulia. "Sebaik-baik kamu adalah siapa vang
mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya," demikian sabda Nabi saw.
"Siapa yang dianugerahi al-Qur'an kemudian menganggap ada seseorang yang
d i a n u g e r a h i k e n i k m a t a n d u n i a w i vang lebih u t a m a d a r i n y a , dia telah
meremehkan yang agung dan mengagungkan yang remeh." D e m i k i a n ucap
Sayyidina Abu Bakar ra.
506 Surah al-Hijr [15] Kelompok V Ayat 88-89

AYAT 8 8 - 8 9

"Janganlah sekali-kali engkau mengarahkan matamu kepada apa yang


dengannya Kami telah senangkan golongan-golongan di antara mereka dan
janganlah engkau bersedih hati terhadap mereka dan rendahkanlah sayapmu
kepada orang-orang mukmin. Dan katakanlah, "Sesungguhnya aku hanyalah
pemberi peringatan yang menjelaskan. "

Boleh jadi apa y a n g ditegaskan oleh ayat y a n g lalu tentang tujuan


penciptaan langit dan bumi, m e n i m b u l k a n pertanyaan: m e n g a p a k a u m
musyrikin dapat bergelimang dalam k e n i k m a t a n hidup, padahal mereka
mendurhakai Allah? M e n g a p a mereka y a n g telah diancam oleh Allah masih
dibiarkan dan diulur dengan aneka kenikmatan? Nah, ayat ini menjawab
pertanyaan y a n g timbul dalam b e n a k k u . D e m i k i a n T h a h i r Ibn 'Asyur. Dan
itu pula s e b a b n y a — t u l i s n y a lebih jauh-—ayat ini tidak m e n g g u n a k a n kata
( j ) waldan sebelum kata ( bjs *$) IA tamuddannaMziewa jika d i d a h u l u i
oleh dan—sebagaimana d a l a m Q S . T h a h a [ 2 0 ] : 131 (dJS*ij) wa la
tamuddanna—-maka ia sekadar sebagai larangan y a n g tidak m e m p u n y a i
hubungan langsung dengan ayat sebelumnya.

Dapat j u g a dikatakan bahwa karena apa y a n g telah dianugerahkan oleh


Allah kepada Nabi M u h a m m a d saw., b e g i t u j u g a a p a y a n g a k a n
dianugerahkan-Nya kepada beliau, sedemikian besar, sangat wajar jika beliau
diingatkan agpj janganlah sekali-kali engkau mengarahkan matam-u, y a k n i
jangan memberi perhatian yang besar serta tergiur kepada apa yang dengannya
Kami telah senangkan untuk sementara lagi cepat berlalunya untuk golongan-
golongan di antara mereka orang-orang kafir itu katena apa y a n g mereka
peroleh dan cara penggunaannya adalah batil dan bukan "haq", dan janganlah
engkau bersedih hati terhadap mereka karena keengganan mereka beriman,
atau akibat jatuhnya siksa atas mereka dan kesudahan buruk yang akan mereka
alami. Adapun terhadap sesama kaum beriman, jalinlah hubungan harmonis
dengan mereka dan rendahkanlah sayapmu, y a k n i bersikap rendah hatilah,
kepada orang-orang mukmin. Dan katakanlah kepada mereka y a n g durhaka
Kelompok V Ayat 88-89 Surah al-Hijr [15] 507

itu, bahkan kepada semua orang bahwa "Aku tidak akan bersedih dan marah
k a r e n a o r a n g - o r a n g kafir m e n o l a k a j a r a n y a n g k u s a m p a i k a n k a r e n a
sesungguhnya aku hanyalah pemberi peringatan yang menjelaskan, kepada siapa
p u n y a n g d u r h a k a atau tenggelam d a l a m k e n i k m a t a n d u n i a w i dengan
melupakan akhiratnya." Pesan ayat ini harus dipahami sejalan dengan firman-
N y a dalam Q S . al-Qashash [ 2 8 ] : 7 7 :

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Aliah kepadamu


(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah melupakan nasibmu dari
(kenikmatan) dunia, serta berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat
baik kepadamu. "
Kata ( dJS ) tamuddanna terambil dari kata ( X») madda y a n g berarti
memperpanjang atau menambah. M e m a n g , m a t a tidak dapat diperpanjang,
tetapi la dapat diarahkan karena kata ini di sini berarti mengarahkan.
Kata (;r * j j i ) azwaj adalah j a m a k ( £ j j ) zauj y a n g berarti pasangan.
Pasangan adalah satu y a n g menggenapkan dua hal yang berbeda tetapi
keberpasangan m e n j a d i k a n n y a m e n y a t u d a l a m fungsi dan tujuan.Yang
dimaksud adalah pasangan-pasangan kekururan, khususnya tokoh-tokohnya.
Mereka, walaupun berbeda-beda, terapi menyaru dalam kedurhakaan kepada
Allah swt. Ada j u g a y a n g m e m a h a m i kata tersebut dalam arti pasangan suami
istri. Memang, kenikmatan akan semakin sempurna jika kehidupan duniawi
d i n i k m a t i oleh sepasang pria dan w a n i t a , tetapi sekali lagi itu h a n y a
kenikmatan semu bila tidak disertai oleh haq.
Kata ( ) janah p a d a m u l a n y a berarti sayap. Penggalan ayat ini
mengilustrasikan sikap dan perilaku seseorang seperti halnya seekor burung
y a n g merendahkan sayapnya pada saat ia hendak mendekat dan b e r c u m b u
kepada betinanya, demikian juga bila ia melindungi anak-anaknya. Sayapnya
terus dikembangkan dengan merendah dan merangkul serta tidak beranjak
meninggalkan tempat dalam keadaan d e m i k i a n sampai berlalunya bahaya.
Dari sini, ungkapan itu d i p a h a m i dalam arti kerendahan hati, hubungan
508 Surah al-Hijr [15] Kelompok V Ayat 90-93

h a r m o n i s d a n p e r l i n d u n g a n , d a n k e t a b a h a n bersama k a u m beriman,
khususnya pada saat-saat sulit dan krisis. AJ-Qur'an yang dianugerahkan itu,
serta sikap tidak tergiur oleh kenikmatan duniawi sebagaimana halnya otang
durhaka, merupakan bekal yang sangat berharga untuk melaksanakan tuntunan
Allah swt. di atas antara lain memberi pemaafan yang baik kepada k a u m
pendurhaka itu.
Kata (\j\) and/aku, setelah sebelumnya telah disebut kata ( J\) /wm yang
bermakna sesungguhnya aku, mengandung m a k n a pengkhususan, yakni aku
hanyalah—tidak lebih dari itu—-dan karena Rasul saw. juga tidak h a n y a
berfungsi sebagai pemberi peringatan, tetapi juga pemberi kabar gembira,
m a k a pemberi peringatan y a n g d i m a k s u d tertuju h a n y a k e p a d a p a r a
pendurhaka saja.

AYAT 9 0 - 9 3

"Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan), Kami telah menimpakan


atas al'muqtasimin (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan al-Qur'an
terbagi-bagi. Maka, demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua
tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu. "

Selanjutnya, Allah swt. mengancam k a u m musyrikin M e k k a h dan siapa


pun yang durhaka dan bersikap buruk terhadap al-Qur'an dengan firman-
N y a : Sebagaimana Kami telah m e m b e r i p e r i n g a t a n , Kami juga telah
menimpakan siksa atas al-muqtasimin, yakni orang-orang y a n g m e m i l a h -
milah Kirab Allah swr. dan menyifatinya dengan sifat yang beraneka ragam,
yaitu orang-orang yang telah menjadikan al-Qur'an terbagi-bagi. Ada y a n g
m e n a m a i n y a sihir, atau syair, atau tenung dan sebagainya, atau ada y a n g
mereka benarkan ada juga yang mereka ingkari. Maka, demi Tuhanmu, Kami
pasti akan menanyai mereka semua, kelak di hari Kemudian, tentang apa
yang telah dan rerus-menerus mereka kerjakan dahulu.
Kata ( j ^ - ^ U l i ) al-muqtasimin terambil dari kata ( i ) qasama y a n g
berarti membagi atau memilah-milah, sedang kata (jwa£ ) 'idhin adalah
Kelompok V Ayat 94-96 Surah ai-Hijr [15] 509

bentuk j a m a k dari kata ( LAP ) 'idhdhab y a i t u potongan atau bagian dari


sesuatu y a n g utuh.
Kata ( US') kamd, yang diterjemahkan dengan sebagaimana seperti Anda
baca di atas, berhubu ngan dengan peringatan yang diperintahkan kepada Nabi
M u h a m m a d saw. untuk beliau sampaikan. Atas dasar itu, yang d i m a k s u d
dengan al-muqtasimin adalah sekelompok dari k a u m m u s y r i k i n M e k k a h
yang memberi penilaian b u r u k terhadap al-Qur'an. D a l a m suatu riwayat
disebutkan bahwa tokoh k a u m musyrikin, yaitu al-Walid Ibn al-Mughirah,
menugaskan sekian orang di gerbang masuk kota M e k k a h untuk m e m b a g i
diri dan m e n y a m p a i k a n kepada siapa pun y a n g akan melaksanakan ibadah
haji b a h w a al-Qur'an b u k a n firman Allah swt. tetapi ia adalah sihir, atau
syair, atau ocehan tukang tenung.
Ada j u g a ulama yang m e n g h u b u n g k a n n y a dengan anugerah as-sab'al-
rnatsdni dan m e m a h a m i kata al-muqtasimin dalam arti: sebagaimana Kami
telah menganugerahkan kepadamu surah al-Fatihah dan a l - Q u r a n , demikian
jugalah y a n g telah Kami turunkan kepada kelompok-kelompok Ahl al-Kitab
yang membagi dan m e m i l a h - m i l a h kitab suci mereka. Ada y a n g mereka
t a m p a k k a n dan pelihara sebagaimana aslinya dan ada juga y a n g mereka
s e m b u n y i k a n atau ubah, dan d e m i k i a n juga ada di antara u m a t m u y a n g
menjadikan al-Qur"an terpilah-pilah, ada y a n g mereka percaya dan ada juga
yang mereka tolak dan ingkari.

AYAT 9 4 - 9 6

"Maka sampaikanlah secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan


dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Sesungguhnya Kami memeliharamu
dan para pengolok-olok. Orang-orang yang menganggap ada tuhan yang lain
di samping Allah, maka kelak mereka akan mengetahui. "

J i k a sikap terhadap al-Qur'an dan amal-amal manusia akan d i t u n t u t


pertanggungjawabannya kelak, maka sampaikanlah secara terang-terangan
dan dengan penuh semangat serta kekuatan segala apa yang diperintahkan
510 Surah al-Hijr [15] Kelompok V Ayat 94-96

oleh Allah swt. kepadamu u n t u k disampaikan, y a k n i d a k w a h Islamiah, dan


berpalinglah dari orang-orang musyrik, yakni jangan hiraukan gangguan
mereka, teruslah berdakwah m e n y a m p a i k a n kepada mereka ajaran Ilahi,
sambil memaafkan gangguan mereka terhadap diri pribadimu.
Karena dakwah yang dilaksanakan Nabi saw. selama ini telah mengundang
aneka gangguan, dan tentu akan lebih menjadi-jadi setelah datangnya perintah
ayat yang lalu, hati dan pikiran beliau ditenangkan dengan firman-Nya yang
m e n g g u n a k a n redaksi p e n g u k u h a n "sesungguhnya" y a i t u : Sesungguhnya
Kami, yakni Allah swt. bersama m a k h l u k - m a k h l u k lain y a n g Allah swt.
tugaskan, memeliharamu, w a h a i Nabi M u h a m m a d , dari kejahatan para
pengolok-olok yang merupakan tokoh-tokoh k a u m musyrikin dan yang selama
ini tidak takut atau segan merendahkan ayat-ayat Allah swt. serta memperolok-
o l o k k a n m u secara pribadi, y a i t u orang-orang yang menganggap ada tuhan
yang lain di samping Allah, maka kelak mereka akan mengetahui akibat-
akibat kedurhakaan dan olok-olok mereka.

Kata ( £J*?ti ) fashda terambil dari kata ( ) shadad yang berarti


membelah. Kemudian, karena pembelahan biasanya m e n a m p a k k a n sesuatu
y a n g terdapat pada belahan, kata tersebut berkembang m a k n a n y a menjadi
menampakkan atau terang-terangan. M a k n a inilah yang d i m a k s u d di sini.
Ui sisi lain, pembelahan mengesankan kekuatan dan kesungguhan. Dan sirn,
perintah tersebut menuntut kesungguhan, upaya sekuat tenaga, serta semangat
y a n g menggebu.

?mviVaYi YiYi W k . a u 'ocfS'ika.p k e m dan k a s a i "yang m e n g u n d a n g


antipati. Ia hanya menuntut kesungguhan untuk menjelaskan hakikat ajarar
U l a m d m g a n m e n y e n t u h hati, mencerahkan pikiran, serta dengan k e b a s a n
dan ketepatan a r g u m e n t a s i . N a m u n d e m i k i a n , ia b u k a n berarti tidak
menyampaikan pandangan agama jika dinilai bertentangan dengan pandangan
orang lain a t a u m e n y e m b u n y i k a n h a k i k a t - h a k i k a t n y a karena k h a w a t i r
merugikan pihak lain bila m e m a p a r k a n n y a .

Dengan t u r u n n y a ayat ini, Rasul saw. t i d a k lagi berdakwah secara


sembunyi-sembunyi. Lebih-lebih dengan adanya jaminan bahwa beliau tidak
akan disentuh oleh kejahatan para pengolok-olok. Beberapa ulama berpendapat
Kelompok V Ayat 97-99 Surah al-Hijr [15] 511

b a h w a p e r i n t a h ini d a t a n g setelah betlalu tiga t a h u n atau lebih sejak


pengangkatan Nabi M u h a m m a d saw. sebagai rasul.
Ada beberapa ulama yang berusaha menentukan jumlah serta nama-nama
para pengolok-olok itu serta olok-olokan mereka. M e n g e t a h u i n y a — s e p e r t i
tulis pakar tafsir a r - R a z i — t i d a k b a n y a k faedahnya. Yang jelas b a h w a Allah
swt. telah menjamin N a b i - N y a bahwa beliau tidak akan disentuh oleh
kejahatan para pengolok-olok.

AYAT 9 7 - 9 9

"Dan demi, Kami sungguh mengetahui bahwa sesungguhnya engkau sempit


dadamu disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan
memuji Tuhanmu dan jadilah di antara orang-orang yang sujud dan sembahlah
Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan. "

Jaminan yang disampaikan—seperti yang Anda baca pada penjelasan ayar


di atas—-adalah y a n g m e n y a n g k u t kejahatan para pengolok-olok, bukannya
jaminan hilangnya olok-olok atau ucapan-ucapan buruk. Dengan kata lain,
bukan terhentinya apa yang diistilahkan oleh Q S . Ali 'Imran [3]: 1 1 1 dengan
( ) adzd, y a k n i gangguan. Karena itu, ayat-ayat di atas m e n u n t u n N a b i
saw. dengan menyatakan bahwa: dan Kami Allah bersumpah demi kebesaran
dan kekuasaan Kami, Kami sungguh mengetahui bahwa engkau m e m i l i k i
budi pekerti vang luhur, sangat pemaaf dan penuh toleransi m e n y a n g k u t
gangguan y a n g ditujukan kepada pribadimu, dan Kami juga mengetahui
bahwa sesungguhnya engkau merasa sempit dadamu disebabkan apa yang
mereka selalu ucapkan berupa kebohongan, olok-olokan y a n g ditujukan
kepada Allah swt. dan risalahmu, m e n j a n g a n l a h hiraukan ucapan-ucapan
itu tetapi bertasbihlah menyucikan Allah swt. dari segala kekurangan disertai
dengan memuji Tuhan vang selama ini selalu membimbing dan memelihara^//,'
dan jadilah e n g k a u — s e b a g a i m a n a apa yang engkau telah lakukan selama
ini—salah seorang di antara oraug-orangyang tekun dan kh tisytik sujud yakni
shalat, dan di samping itu sembahlah Tuhanmu dengan berbagai cara y a n g
512 Surah al-Hijr [15] Kelompok V Ayat 97-99

d i s y a r i a t k a n - N y a sampai datang kepadamu keyakinan, yakni kematian.


Dengari demikian, jiwamu akan selalu tenang, pikiranmu terus-menerus cerah,
dan apa pun y a n g m e n i m p a m u akan ringan e n g k a u pikul dan engkau akan
terus d i b i m b i n g oleh Allah swt.
Salah satu cara vang d i t e m p u h Allah swt. g u n a menghalangi kejahatan
para pengolok-olok adalah berrambahnya pemeluk Islam. Dengan keislaman
Sayyidina Hamzah ra., p a m a n Nabi saw. dan Sayyidina ' U m a r ra. lahir
keberanian y a n g lebih besar di kalangan k a u m m u s l i m i n dan m e n c i u t j i w a
k a u m musyrikin karena kedua tokoh tersebut dikenal luas sebagai para
pemberani y a n g tidak rela dilecehkan atau dihina keyakinan mereka.
Kata ( J J J J T 1
-^ 1
) as-sdjidin pada ayat ini dipahami dalam arti orang-orang
yang tekun lagi khusyuk dalam shalat karena penggalan kata sesudahnya adalah
perintah u n t u k m e l a k u k a n a n e k a ibadah. S e a n d a i n y a y a n g d i m a k s u d
dengannya adalah orang-orang yang patuh—'Sebagaimana pendapat sementara
u l a m a — m a k a perintah beribadah y a n g datang sesudahnya terasa bagaikan
pengulangan. Di sisi lain, penyebutan shalat secara khusus m e n u n j u k k a n
betapa pentingnya ibadah itu dibanding dengan ibadah-ibadah yang lain. Ini
sejalan dengan sabda Nabi saw. y a n g m e n j a d i k a n n y a pemisah antara orang
kafir dan m u k m i n , dan bahwa siapa y a n g m e n e g a k k a n n y a m a k a dia telah
menegakkan agama. Hal tersebut demikian karena, dengan shalat sebagaimana
vang diajarkan agama, seseorang dapat terhindar dari aneka dosa dan kejahatan.
Perintah menjadi salah seorang dari kelompok as-sdjidin lebih sulit daripada
dinyatakan jadilah seorang bersujud karena yang masuk dalam kelompok
tertentu harus mencapai suatu tingkat tinggi agar dapat diterima d a l a m
kelompok itu. Sekian banyak syarat yang harus dipenuhi baru dia dapar
direrima dalam kelompok tersebut.

Perintah ayat ini dilaksanakan dengan penuh ketekunan oleh Rasul saw.
Karena itu, "Bila beliau menghadapi kesulitan, beliau melaksanakan shalat."
(HR. A h m a d melalui Hudzaifah ra. h dan karena itu pula Nabi saw. bersabda,
"Sedekat-dekar seorang hamba kepada Tuhannya adalah pada saat dia sujud."
{HR. A h m a d dan M u s l i m melalui Abu Hurairah).
Kata ( j-JL}\) al-yacjin d i p a h a m i oleh b e b e r a p a ulama dalam arti
kemenangan, tetapi banyak ulama yang m e m a h a m i n y a dalam arti kematian.
Kelompok V Ayat 97-99 Surah al-Hijr [15] 513

J ika kata tersebut dipahami dalam arti kemenangan, dapat timbul kesan bahwa
perintah melaksanakan shalat dan beribadah berakhir dengan darangnya
kemenangan. Berbeda halnya jika ia dipahami dalam arti kematian. Kematian
dipersamakan dengan keyakinan karena ia adalah sesuatu y a n g pasti, tidak
seorang pun meragukannya. Setiap saat terlihat ia terlihat, walau seldan banyak
pula orang yang lengah menyangkut kedatangannya. Sayyidina Ali ra. berkata,
"Aku tidak pernah melihat suatu batil (yang akan p u n a h ) tetapi dianggap
hak (pasti dan akan l a n g g e n g ) , sebagaimana halnya k e h i d u p a n dunia, dan
tidak pernah pula melihar sesuatu y a n g haq (pasti) tetapi diduga batil (lenyap
tanpa w u j u d ) seperti halnya maut."
A y a t di atas m e n g g a m b a r k a n d a t a n g n y a k e m a t i a n dengan k a l i m a t
"sampai datang kepadamu keyakinan". Itu berarti bukan manusia yang pergi
m e n e m u i n y a karena m e m a n g semua manusia enggan mati dan, k a l a u p u n
dia berusaha m e n g a k h i r i h i d u p n y a , dia tidak akan berhasil j i k a seandainya
k e m a t i a n belum datang m e n e m u i n y a . N a m u n d e m i k i a n , suka atau tidak
suka, cepat atau lambat, maut pasti datang m e n e m u i kita. l a diibaratkan
dengan a n a k panah y a n g telah dilepas dari busurnya, ia terus akan mengejar
sasarannya, dan begitu ia tiba pada sasaran, saat itu pula k e m a t i a n y a n g
ditujunya tiba. Kecepatan a n a k panah itu j a u h melebihi kecepatan melaju
m a k h l u k hidup sehingga betapa k e n c a n g n y a ia berlari pada a k h i r n y a anak
panah itu mengenainya juga.

A y a t di atas j u g a m e m b u k t i k a n b a h w a shalat dan i b a d a h h a r u s


dilaksanakan sepanjang hayat. Ia tidak boleh terhenti kecuali dengan kematian.
J a n g a n k a n m a n u s i a biasa, Rasulullah saw. p u n y a n g d e m i k i a n suci j i w a n y a
dan d e m i k i a n dekat lagi dicintai Allah swt. masih diperintahkan oleh ayat
ini u n t u k terus shalat dan beribadah, apalagi selain beliau.
Kewajiban agama harus dilaksanakan hingga akhir hayar karena kewajiban
keagamaan bertujuan mengatur lalu lintas kehidupan manusia yang merupakan
m a k h l u k sosial. M a n u s i a sering kali bersifat egois, ingin m e n a n g sendiri,
p a d a h a l d e m i k e m a s l a h a t a n bersama, k e t e n a n g a n d a n k e a d i l a n harus
ditegakkan dan benturan kepentingan sedapat m u n g k i n dihindari. Dari sini,
Allah swt. menetapkan syariat dan menjelaskan sanksi dan ganjaran agar
dengan d e m i k i a n setiap orang sadar dan takut kepada-Nya. D a l a m rangka
514 Surah al-Hijr [15] Kelompok V Ayat 97-99

mengingatkan manusia tentang kehadiran Allah serta sanksi dan ganjaran-


N y a serta mengingatkan pula mereka akan perjalanan h i d u p n y a hingga
m e n e m u i Allah swt. k e l a k — d a l a m rangka itulah, antara l a i n — A l l a h swt.
mensyariatkan ibadah. Tanpa mengingat Allah swt. dan mengingat sanksi
dan ganjaran-Nya serta tanpa takwa, vakni upaya menghindari siksa-Nya,
hidup manusia sebagai individu dan anggota masyarakat akan sangat terganggu
dan dilipuri oleh rasa tidak aman. Demildan itu, ibadah merupakan kebutuhan
individu dan masyarakat. Di samping itu, manusia tidak dapat terhindar
sama sekali dari keresahan hidup. Ada keresahan yang dapat ditanggulanginya
s e n d i r i a t a u b e r s a m a o r a n g l a i n , tetapi a d a j u g a y a n g t i d a k d a p a r
ditanggulanginya. Kecemasan tentang k e m a t i a n dan apa y a n g akan terjadi
sesudahnya mendorong manusia mencari sandaran yang dapat diandalkan.
Ini tidak dapat dia t e m u k a n kecuali pada T u h a n Yang M a h a Esa lagi
M a h a k u a s a . Di s i n i l a h antara lain lahir k e b u r u h a n u n t u k shalat dan
mendekatkan diri kepada-Nya, bahkan pada hari-hari tua kebutuhan tersebut
semakin dirasakan, dan m e m a n g demikian kenyataan yang terlihat sehari-
hari. Semakin dekat kematian kepada seseorang semakin rekun pula dia shalat.
jika demikian, sangat tepat jika ayat ini m e m e r i n t a h k a n untuk shalat dan
beribadah kepada Allah swt. hingga akhir hayat.

Akhirnva. jika A n d a kembali kepada awal surah ini y a n g m e m u l a i


uraiannya tentang al~Qurian (ayat K, keinginan k a u m kafirin untuk menjadi
orang-orang muslim'—paling tidak setelah kematian mereka (ayat 2)—serta
perintahnya kepada Nabi saw. untuk membiarkan mereka yang memperolok-
olok beliau dan risalah Ilahi (ayat 3)-—jika Anda memerhatikan itu s e m u a —
Anda akan menemukan betapa uraian awal surah ini bertemu dengan uraian
akhirnya y a n g berbicara tentang anugerah-Nya berupa ayat-ayat al-Qur'an
sambi! memerintahkan Nabi saw. tidak m e n g h i r a u k a n cemoohan orang-
orang kafir tetapi tetap melaksanakan d a k w a h , m e n y u c i k a n Allah swt., dan
beribadah kepada-Nva. Demikian bertemu dengan sangat serasi awal dan
akhir uraian surah ini. Wa Allah A "lam.