Anda di halaman 1dari 13

Pada akhir tahun 1960-an telah diadakan study bersama antara industriawan-

industriawan, IEEE dan General Electric Company.


Study tersbut dilakukan berdasarkan pendekatan Scale-model yang dikenal sebagai teknik
model nanosccoild dan pendekatan monte carlo untuk menentukan parameter-parameter
dari sambaran petir study ini menggunakan model skala dari beberapa type struktur
saluran distribusi untuk menentukan metodologi dari pengaman petir.
Dalam study tersebut telah diamati berbagai metode pengaman petir meliputi penggunaan
lighting arrester pada seluruh phasa, arrester-arrester pada tiang-tiang (dead ends), kawat
tanah dan proteksi yang hanya pada phasa tengah dari saluran tiga phasa.
Hasil utama dari study ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan lighning arrester
pada seluruh phasa pada interval tertentu , ternyata lebih baik dari pada menggunakan
kawat tanah atau dengan menggunakan pengaman hanya pada phasa teratas.

GAMBAR : Trafo dan Arrester.

Arrester dekat trafo dipasang sedekat mungkin ke trafo. Arrester pengaman trafo digardu
induk disisi 20 Kv yang ditanahkan tak effektif (netral ditanahkan dengan tahanan).Jarak
arrester dengan trafo maksimum 6mm (SPLN 7-1978) jenis arrester yang biasa dipakai
jenis kutub (valve arrester) dan jenis tabung tidak (Expulsion) untuk janis arrester tabung
ledak ini perlu diperhatikan hal berikuti ini :
Alat ini mempunyai pengaman yang lebih baik, khususnya pada saluran yang mempunyai
tingkat gangguan yang rendah.
Alat ini khususnya baik digunakan pada saluran dipedesaan (rural) yang dilayani oelh
gardu yang kecil.Yang menjadi persoalan dari teknik ini adalah setiap terjadi spark-over
terjadi perubahan (erosi) pada tabung sehingga memberikan nilai yang berubah-ubah pada
tingkat spark-over.Sesudah 5 atau 6 kali alat ini beroperasi, ketahanan impuls isolasi dari
L A ini akan dengan mudah menjadi tinggi dari ketahanan impuls isolasi peralatan yang
diamankan.Dengan demikian alat L A ini tidak dapat lagi memberikan pengamanan yang
memadai.

Spesifikasi arrester yang dipakai untuk JTM 20 kV adalah 18 kV 5 kA pada sisi 20 kV


trafo hubung bintang ditanahkan 24 kV5 kA seri A (pada sisi 20 kV trafo distribusi
,hubungan delta maupun phasa satu dari system delta 24 kV, 10kA untuk jaringan pada
sisi 20 kV trafo daya (GI).

9.1.5. Arrester pada Trafo Distribusi.


Terminal pentanahan arrester diinterkoneksikan dengan terminal pentanahan tanki trafo
dan terminal pentanahan netral trafo (netral ditanahkan langsung).Jika ditanahkan
bersama maka arus surya yang mengalir ke tanah melalui suatu impedansi (z)
menyebabkan drop tegangan pada impedansi tersebut sehingga tegangan tinggi pada
kumparan primer trafo.
Karena kumparan sekunder dan tanki mempunyai beda potensial terhadap tanah.maka
timbul beda potensial diantara kedua kumparan dan diantara kumparan primer dan tanki
lihat gambar 7.8 Jika ditanahkan bersama maka akan menurunkan drop tegangan pada
impedansi tersebut diatas yaitu menghilangkan beda potensial yang dihasilkan oleh drop
tegangan pada impedansi tersebut diatas yaitu menghilangkan beda potensial yang
dihasilkan oleh drop tegangan pada impedansi tanah lihat gambar 7.9.

Jika terinterkoneksi (solid) antara tanki dan titik pentanahan bersama tidak diizinkan
dapat digunakan celah antara titik pentanahan dan netral kumparan sekunder.Lihat
gambar 7.10.Hal ini menyebabkan arus surya dilewatkan melalaui beberapa impedansi
pentanahan pararel dan behaya terhadap kerusakan isolasi diminimalkan, walaupun dalam
kondisi arus surya besar dan impedansi pentanahan tinggi.
Arrester dipasang pada tiap kawat / penghantar baik trafo 3 phasa maupun satu phasa
untuk system Y , ditanahkan lihat gambar 7.11.Untuk system ∆ (segitiga) arrester pada
jaringan tak ditanahkan. Tegangan pada arrester adalah tegangan phasa-phasa ; jika salah
satu penghantar mengalami gangguan phasa tanah dan arrester pada tiap kawat diisi
primer seperti ditunjukkan pada gambar 7.12.

GAMBAR :Pengamanan dengan arrester tanpa interkoneksi terminal pentanahan.

GAMBAR : Pengamanan dengan arrester dan interkoneksi terminal pentanahan (solid).


GAMBAR : Pengamanan dengan arrester dan interkoneksi pentanahan lewat celah (gap).

GAMBAR : Hubungan arrester pada system bintang ditanahkan.


GAMBAR : Pemakaian arrester pada sysem segi-tiga (delta).

9.1.6. Arrester Pada Rekloser (PBO)


Arrester dipasang sedekat mungkin ke PBO di kedua sisi (sisi sumber dan beban ) pada
tiap penghantar phasa dan pertimbangan lain seperti pada trafo.Jika dari segi ekonomis
arrester dipasang hanya pada satu sisi.maka arrester sebaiknya dipasang pada sisi sumber
PBO.Surya petir pada sisi sumber dapat menyebabkan flash over pada bushing sisi
sumber dan mengakibatkan gangguan fasa tanah yang mana harus diamankan oleh PBO
cadangan.Suatu arrester pada sisi sumber akan mengamankan surnya disisi nya sendiri
mengamankan arus ikutan frekwensi daya (50 Hz).

Jika bushing sisi beban dikenali petir dari sisi beban .PBO berfungsi secara normal untuk
menginteruosi dan mengamankan arus ikutan frekwensi daya bila PBO dipakai pada GI
arrester mengamankan sisi sumber tiap phasa , karenanya hanya satu arrester per phasa
diperlukan pada sisi beban.

9.1.7. Arrester Pada Kapasitor Distribusi


Pemakaian pada kapasitor ini juga memerlukan pertimbangan faktor-faktor yang sama
seperti jarak sedikit mungkin bangku kapasitor dan interkoneksi pentanahan seperti pada
trafo.Arrester surya direkomendasikan untuk semua instalasi kapasitor berikut yaitu
bangku kapasitor hubungan delta, bangku bintang netral ditanhakan bercelah, bangku
kapasitor hubungan bintang netral tak ditanahkan dan bangku saklar.arrester juga
direkomendasikan untuk semua hubungan bintang netral ditanahkan secara solid (batang)
bangku tiga phasa dengan pengenal 500 KV AR atau lebih kecil.
Arrester harus dipasang pada sisi sumber saklar kapasitor dari semua bangku kapasitor
yang mempunyai saklar pengatur faktor daya. Lokasi ini umum dan praktis, dan ini
diperlukan karena ada kemungkinan timbul tegangan lebih dari pukulan balik saklar.

9.1.8. Arrester Pengaman Lebur (PL).


Arrester dipasang pada sisi primer Pengaman Lebur (PL) agar jika terjadi surja petir, arus
surja petir mengalir ke arrester terus ke tanah, tidak melalui PL, sehingga PL tidak lebur /
putus.

Gambar : Hubungan arrester yang direkomondasikan untuk sisi beban dibagian primer
PL.

9.1.9. Arrester pada SUTM.


Penempatan arrester pada jaringan dilaksanakan sebagai berikut :
Arrester sedapat mungkin dipasang pada titik percabangan dan pada ujung-ujung saluran
yang panjang, baik saluran utama maupun saluran percabangan, jarak arrester yang satu
dan yang lain tidak boleh lebh dari 500 meter. Jika terdapat kabel tanah sebagai bagian
dari sistem, arrester sebaiknya dipasang pada ujung kabel. Arrester yang dipasang pada
tiap kawat fasa.
9.1.10. Arrester SKTM.
Saluran kabel bawah tanah tahan terhadap gangguan petir jika saluran kabel bawah tanah
mulai dari generator sampai pelanggan. Akan tetapi jika SKTM digabung dengan SUTM,
maka petir dapat masuk ke SKTM melalui SUTM tiang naik.
Jadi arrester harus dipasang pada tiang naik dan di tiap kawat fasa.

Gambar 14 : Tegangan pada SKTM akibat sambaran petir pada SUTM

9.2 KEGAGALAN PENGAMANAN DAN SEBAB-SEBABNYA.


Pengaman tegangan lebih yang terbaik adalah arrester jika pengaman terpasang tapi alat
yang diamankan juga mengalami kerusakan saat terkena sambaran petir baik langsung
maupun tidak langsung disebabkan oleh kekurangan, antara lain :
a. Arrester.
1. Sambungan kawat arrester pada terminal arrester tidak baik (tidak cukup
kencang).
2. Sambungan kawat arrester pada kawat fasa jaringan tidak baik ( tidak cukup
kencang )
3. Sambungan kawat arrester ke terminal tanah arrester tidak baik (tidak cukup
kencang)
4. Sambungan kawat pentanahan arrester yang satu dengan kawat pentanahan arrester
lain tidak baik ( tidak cukup kencang).
5. Sambungan kawat pentanahan arrester dengan kawat batang / batang pentanahan
tidak baik ( tidak cukup kencang ).
6. Tahanan pentanahan arrester lebih besar dari 1 ohm.
7. Jarak arrester terlalu jauh dari trafo.
8. Jarak panjang arrester pada tiang yang satu dengan arrester pada tiang yang lain
terlalu jauh.
9. Arrester tidak bekerja optimal, yaitu walaupun tidak ada petir menyambar
langsung maupun tidak langsung, langsung arrester bekerja. Atau jika ada
sambaran dan arrester bekerja tapi alat yang diamankan juga rusak, ini disebabkan
oleh jarak celah arrester tidak sesuai atau arrester sudah rusak, karena itu perlu
diganti dengan yang baik/baru. Jika arrester meledak karena terkena sambaran
langsung atau tidak langsung baik pada JTM maupun pada arrester maka berarti
arrester tidak dapat bekerja, tidak dapat merubah dirinya menjadi penghantar lagi
jadi arrester harus diganti.

b. Bila turun (trafo, isolator, bushing) Rodgap/Sparkgap.


1. Posisi dan jarak antara rod gap pada terminal sekunder trafo GI maupun pada
terminal primer trafo distribusi perlu dikembangkan ke posisi dan jarak semula
yang benar.
2. Rod gap perlu dibersihkan dari akumulasi kotoran/polusi bushing : tua, kotor,
retak rambut dan lain-lain.
Isolator.
Kotor, jadi perlu dibersihkan dari akumulasi kotoran / polusi.
Retak/pecah, perlu diganti.
Trafo :
Trafo sudah tua/isolasi kumparan menurun tahanan isolasinya.
Minyak trafo kotor, banyak mengandung bahan konduktif, endapan karbon dan
uap/air.

Kawat tanah :
– Jarak kawat tanah dari kawat fasa kurang dari standar ( sudut perlindungan
maksimum 45o ).
– Kawat tanah mengendor.
– Terjadi perubahan konstruksi JTM karena gangguan alam, tiang miring,
dll.
– Pentanahan kawat tanah tidak sempurna ( lebih besar dari 1 ohm )
misalnya sambungan pada konnektor longgar, elektroda bumi berkarat,
perubahan kondisi tanah, dll.

b. Perencanaan salah yaitu penempatan pengaman, jenis/ukuran pengaman,


koordinasi isolasi salah pemilihan dan survey tahanan tanah tidak akurat.
c. Pemeliharaan tidak baik pada jaringan, trafo, penghantar maupun pada alat
pengaman.

1. Pemilihan Arrester
Untuk penyederhanaan dalam pemilihan arrester ditentukan langkah-
langkah sebagai berikut :
1) Penentuan besarnya tegangan lebih satu phasa ke tanah
atau tegangan lebih akibat kerja sistem yang tidak normal pada lokasi dimana
arrester dipasang. Tegangan lebih ini akibat gangguan satu phasa ke tanah
dapat menyebabkan kenaikan tegangan phasa sehat lainnya. Besarnya
tegangan ini tergantung dari karakteristik sistem dan jenis pentanahan sistem
pada waktu gangguan terjadi.

2) Perkiraan besarnya tegangan pengenal arrester pada


frekuensi jala-jala. Jika tegangan tinggi sistem dan koefisien pentanahan
sudah diketahui maka tegangan pengenal dari arrester sudah dapat dihitung
secara kasar. Tegangan pengenal tidak boleh lebih rendah dari perkalian kedua
harga diatas. Misal: Tegangan sistem 20 kV ditanahkan efektif maka tegangan
pengenal (110 % x 20 kV) x 0,8 = 17.6 kV. Tegangan pengenal standar untuk
sistem 20 kV adalah 17,6 kV.
Tegangan kerja arrester :
UA = Tegangan rms phasa ke phasa x 1.10 x koefisien pentanahan
UA = 20 x 1.10 x 0.8 = 17.6 utk system yg ditanahkan langsung
UA = 20 x 1.10 x 1 = 22.2 kV utk system yg ditanahkan tidak langsung

3) Memilih besarnya arus impuls yang diperkirakan akan


dilepas melalui arrester. Untuk penangkap petir yang dipasang digardu berlaku :
tegangan system 20 kV, maka In = 10 kA, kelas normal duty

4) Tegangan Pelepasan (Tegangan Kerja/Sisa Arrester)


Ini adalah karakteristik yang paling penting dari arrester untuk
perlindungan di Peralatan. Tegangan kerja penangkap petir ada dibawah T.I.D
peralatan yang dilindungi, maka dengan faktor keamanan yang cukup
perlindungan peralatan yang optimum dapat diperoleh. Tegangan kerja
tergantung pada arus pelepasan arrester dan kecuraman gelombang datang.
Tegangan kerja arrester akan naik dengan naiknya arus pelepasan tetapi
kenaikan ini sangat dibatasi oleh tahanan tak linear dari arrester.

Menurut standard Inggris (B.S) : Tegangan percikan frekuensi jala-jala minimum


= 1.6 x 20 = 32 kV
Menurut standard IEC : Tegangan percikan frekuensi jala-jala minimum = 1.5 x
20 = 30 kV (masih lebih kecil dari existing LA 40 kV – Cooper)

5) Faktor perlindungan
Faktor perlindungan adalah besar perbedaan tegangan antara T.I.D dari
peralatan yang dilindungi dengan tegangan kerja dari arrester. Pada waktu
menentukan tingkat perlindungan peralatan yang dilindungi oleh penangkap
petir umumnya diambil harga 10 % diatas tegangan kerja arrester tujuannya
untuk mengatasi kenaikan tegangan pada kawat penghubung dan toleransi
pabrik.
Besarnya faktor perlindungan ini umumnya lebih besar atau sama dengan
20 % dari TID peralatan arrester yang dipasang dekat dengan peralatan yang
dilindungi.
Contoh:
Tegangan kerja arrester untuk sistem 220 kV adalah 649 kV perlindungan
ini ditambah 10 % untuk kawat penghubung, toleransi pabrik dan lain-lain
sehingga tingkat perlindungan arrester menjadi 713 kV, pilih TID peralatan
sebesar 950 kV. Faktor perlindungan = (950 – 713 ) kV = 237 kV. Faktor
perlindungan ini lebih besar dari 20% dari TID peralatan, sehingga arrester ini
sudah memberi faktor perlindungan yang baik.

6) Jarak Lindung Arrester


Jarak lindung dari arrester ke peralatan yang dilindungi (dalam hal ini
adalah transformator) adalah :
............................................................................(3.6)
Ut −Ua
L= V
du
2
dt
dimana L = Jarak antara arrester dengan peralatan yang dilindungi (m)
= Tegangan ketahanan terhadap gelombang impuls dari peralatan
Ut

yang dilindungi (kV)


Ua = tegangan kerja arrester (kV)
du/dt = Kecuraman dari gelombang yang datang (kV/μs) nilai berkisar
antara 1000 kV/μs - 2000 kV/μs.
V = kecepatan propagasi geombang tegangan lebih ; 300 m/ μs
untuk saluran udara, 150 m/ μs untuk kabel.

(7) Lokasi Pemasangan Arrester


Umumnya alat-alat pelindungan harus diletakkan sedekat mungkin dengan
peralatan yang akan dilindungi, terutama pada ujung transmisi dimana terdapat
gardu atau trafo.
Karena biaya yang mahal maka tidak mungkin memasang arrester pada
setiap peralatan di gardu untuk melindungi peralatan tersebut. Hal ini tidak
perlu dilakukan karena ada faktor perlindungan dari alat pelindungan dari
arrester, oleh karena itu hanya peralatan yang penting saja yang dilengkapi
dengan arrester. Transformator merupakan peralatan yang paling mahal dan
yang paling penting pada sebuah gardu. Jika trafo rusak maka perbaikan /
pergantiannya akan mahal, membutuhkan waktu yang lama, dan juga kerugian
akibat terputusnya daya cukup besar.
Selain itu trafo adalah ujung terminal dari suatu transmisi, tempat paling
sering terjadi pemantulan gelombang. Pada sistem diatas 220 kV TID dari
transformator dapat diperendah pada batas-batas yang diizinkan untuk
memperkecil biaya isolasi. Karena alasan-alasan tersebut diatas maka arrester
pada peralatan umumnya dipasang pada terminal trafo daya.
Arrester berfungsi sebagai by-pass di sekitar lokasi yang membentuk jalan
dengan mudah dilalui oleh tegangan lebih ke sistim pentanahan sehingga tidak
menimbulkan tegangan lebih yang tidak merusak peralatan isolasi listrik. By-
pass ini sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aliran frequensi 50 Hz.
Pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator, bila timbul
gangguan surja, alat ini berfungsi sebagai konduktor yang tahanannya relative
rendah agar dapat mengalirkan arus yang tinggi ke tanah. Setelah surja hilang,
arrester dengan cepat kembali menjadi isolasi.
Jenis-jenis Arester [F.H.Kreuger,1992]
a. Open Spark Gaps arrester
b. An Improvement arrester dihasilkan dari SiC.

Untuk tegangan Sistem 20 kV


I. Pemilihan arrester

3. Tegangan percikan frekuensi jala-jala


Menurut standard Inggris (B.S) : Tegangan percikan frekuensi jala-jala minimum
= 1.6 x 20 = 32 kV
Menurut standard IEC : Tegangan percikan frekuensi jala-jala minimum
= 1.5 x 20 = 30 kV (masih lebih kecil dari existing LA 40 kV – Cooper)
4. Tegangan kerja impuls arrester
lihat table 3 Maximum Impulse Sparkover Test Voltage untuk kelas 5 kA, ULA =
80 kV (existing LA 39 kV, lebih baik)
5. Tegangan sisa arrester
Lihat table 4 Maximum Residula Voltage utk kelas 5 kA, UR = 64 kV
6. Arus pelepasan maksimum arrester
Lihat table point III.6, utk kelas 5 kA : Imax = 65 kA

II. Jarak lindung arrester

BIL trafo < 500 kV _ UT = 110 kV


di/dt = 30 kA/ms (local)
G = 300 ohm (rata-rata)
maka :
L = (UT – ULA).V/(2.dU/dt) =
L = (110 - 80).300/(2.300.30) = 0.5 m

JARAK LINDUNG ARRESTER

Beri Nilai