Anda di halaman 1dari 162

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN

SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT


TERHADAP PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP
FISIKA PADA KONSEP USAHA DAN ENERGI

(Penelitian Kuasi Eksperimen di SMP NEGERI 48 Jakarta Selatan)

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pendidikan
pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

OLEH:
FERDY NOVRIZAL
105016300587

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010 M
ABSTRAK

Ferdy Novrizal, Perogram Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan


Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas ilmu Tarbiyah dan Keguruan. UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta: Penerapan Model Pembelajaran Sains Teknologi
Masyarakat untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa pada Topik Usaha
dan Energi. Eksperimen di SMPN 48 Jakarta Selatan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan model STM untuk
meningkatkan penguasaan konsep siswa. Metode yang digunakan adalah metode
quasi eksperimen dengan Pretest-posttest Control Group design. Penelitian
dilaksanakan di SMP Negeri 48 Jakarta Selatan dengan teknik pengambilan
sampel secara purposive sampling dan pemilihan kelas dilakukan secara random,
didapatkan siswa kelas VIII-1 sebagai kelas eksperimen, dan kelas VIII-3 sebagai
kelas kontrol. Instrumen penguasaan konsep berupa test berbentuk pilihan ganda
yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Hipotesis yang diajukan adalah
penguasaan konsep fisika yang diajarkan dengan menggunakan model STM lebih
tinggi dari penguasan konsep fisika yang diajarkan dengan metode konvensional.
Analisis data menggunakan uji-t pada taraf signifikansi 5% dan dk= 61, dengan
hji prasyarat normalitas dan homogenitas. Pengujian hipotesis menggunakan uji-t,
dari hasil perhitungan statistik didapatkan harga thitung sebesar 2,22 dan ttabel pada
taraf signifikansi 5% dan dk = 61 adalah 1,99. maka pada penelitian ini
didapatkan hasil thitung > ttabel, hal ini menunjukan bahwa hipotesis nol (H0) ditolak
dan hipotesis penelitian (Ha) diterima. Dari penelitian ini dapat disimpullan
bahwa penguasaan konsep fisika siswa yang diajarkan dengan model STM lebih
tinggi daripada penguasan konsep fisika siswa yang diajarkan dengan
menggunakan metode konvensional.

Kata kunci: Model Sains Teknologi Masyarakat, Fisika, dan Penguasan Konsep
ABSTRACT

Ferdy Novrizal, Physic Study Program, Majoring of Natural Sciences Education


(IPA), Faculty of Tarbiyah and Teaching Sciences State Islamic University (UIN),
Syarif Hidayatullah Jakarta, Title: The Application of Model of Science
Technology Society for Increase Procurement of Concept Physich Student on the
Topic of Business and Energy. This Eksperimen in the SMPN 48 South Jakarta.
This research aims to know the application of model of science technology
society for increase procurement of concept physich student. Eksperimen method
are used in this resesrch with Preetest-posttest Control Group Design, this
research has been executed SMPN 48 with sample technic. The ways of sample
technic are purposive sampling and choosing of the class with random way. And
get the student of the class (VIII-1) as the exsperiment class and of the class (VIII-
3) as control class. The multiple choise is the instrument of this theysis to get the
result. The multiple choise have been tested with validation and reliabitation
ways. Hipotesis in this research are used result learning of physich subject with
science technology society model more higher than the result learning of physich
subject with convensional method. Analist of data usung t-test. In the significant
level 5% at dk = 61, with normalitas and homogenitas pre requirement test, with
the calculate statistic result, it gets thit 2,22 value and ttab in the 5% significant
level and dk = 61 is 1,99 value. So this research gets thit more bigger than ttab, its
showed that 0 hypothesys (H0) are rejected and hypothesys of research (Ha) are
accepted. The conclusion of this research are the result learning of physich
subject for SMPN 48 student with science technology society model more higer
than convensional method.

Key word : Science Technology Society Model, Physich,Procurement of Concept


KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji bagi Allah SWT Yang Maha Tinggi


dan syukur kepada Allah SWT Yang Maha Ghafur, atas karunia yang tak
terdefinisikan nilainya. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada
Nabi Muhammad SAW, teladan terbaik yang menjadi sumber inspirasi umat
manusia di seluruh dunia.
Terucap kata syukur atas terselesaikannya skripsi ini dari penulis, yang
menjadi sebuah karya sederhana bagai tetes kecil di lautan ilmu pengetahuan.
Skripsi ini merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar sarjana
pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidatullah
Jakarta. Dalam skripsi ini penulis mengambil judul “Pengaru Model Pembelajaran
Sains Teknologi Masyarakat Terhadap Peningkatan Penguasaan Konsep Fisika
Pada Konsep Usaha dan Energi”. Dengan skripsi ini penulis berharap dapat
memberikan kontribusi positif untuk menambah kajian ilmu pengetahuan
khususnya dalam bidang pendidikan. Untuk itu penulis mengharapkan agar para
pembaca yang budiman berkenan memberikan kritik dan saran untuk
kesempurnaan karya ilmiah ini.
Penulisan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, penulis
dengan tulus ingin megucapkan terima kasih yang mendalam kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Ibu Baiq Hana Susanti, M.Si., Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Alam.
3. Ibu Erina Hartanti, M.Si., Ketua Program Studi Pendidikan Fisika.
4. Bapak Ir Mahmud Siregar, M.Si., Pembimbing I yang telah meluangkan
banyak waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing dan mengarahkan
penulis dalam penulisan skripsi ini.
5. Ibu Kinkin Suartini, M.Pd., Pembimbing II yang telah meluangkan banyak
waktu, tenaga, dan pikirannya untuk membimbing dan mengarahkan penulis
dalam penulisan skripsi ini.

i
6. Bapak Ibu dosen yang telah memberikan ilmu selama proses perkuliahan di
UIN Syarif Hidayatllah Jakarta Program Studi Pendidikan Fisika
7. Ayahanda Syafrizal dan Ibunda Mulyani, yang sepanjang masa memberikan
cinta dan kasih sayangnya sehingga penulis dapat menjadi pribadi seperti saat
ini. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan cinta dan kasih sayang-Nya
untuk mereka berdua.
8. Adikku tercinta Delvi Andrizal. Terima kasih telah menghadirkan semangat
dan dukungan bagi penulis. Semoga Allah SWT selalu memberikan rahmat
dan karunia bagi kita semua.
9. Darmawati S.Ked, terimakasih atas kesabaran, doa, motivasi, dan bantuannya
yang telah diberikan kepada penulis.
10. Keluarga Besar SMP Negeri 48 Jakarta, khususnya Ibu Mami S.Pd. dan Ibu
Tuti alawiyah S.Pd., Guru IPA (fisika) yang telah banyak membantu penulis
selama penelitian dan juga siswa siswi kelas VIII-1 dan VIII-3 angkatan
2009/2010 yang telah membantu penulis dalam pengumpulan data.
11. Teman-teman terbaikku (Samsul, Apik, Ade, Arif, Khaerul, Sulaeman)
Terima kasih atas segala kebaikan yang telah kalian berikan. Teman-teman
seperjuangan di kampus UIN Syarif Hidayatullah angkatan 2005 khususnya
pendidikan fisika yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, penulis sampaikan
terima kasih atas kerjasama dan bantuannya selama ini.
Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi dunia
pendidikan dan pembaca.

Jakarta, Oktober 2010

Penulis

ii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
ABSTRAK
ABSTRACT
KATA PENGANTAR i
DAFTAR ISI iii
DAFTAR GAMBAR vi
DAFTAR TABEL vii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Identifikasi Masalah 4
C. Pembatasan Masalah 4
D. Perumusan Masalah 5
E. Tujuan Penelitian 5
F. Manfaat Penelitian 5
BAB II KAJIAN TEOERITIS, KERANGKA PIKIR, dan PERUMUSAN
HIPOTESIS
A. Kajian Teoeritis 7
1. Model STM dalam Pembelajaran Fisika 7
a. Pengertian STM 7
b. Model STM pada Pendekatan Konstruktivisme 9
c. Tujuan Model STM 10
d. Karakteristik Model STM 12
e. Tahap Pembelajaran STM 15
2. Konsep 19
a. Pengertian Konsep dalam Pembelajaran 19
b. Faktor yang Mempengaruhi Konsep 22
3. Sifat Konsep Energi 23

iii
a. Usaha............................................................................. .. 23
b. Energi 25
4. Motivasi Belajar...................................................................... 29
5. Hasil Penelitian yang Relevan 32
B. Kerangka Pikir 34
C. Perumusan Hipotesis 35
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Metodoe Penelitian 36
B. Waktu dan Tempet Penelitian 36
C. Desain Penelitian 36
D. Populasi dan Sampel 37
E. Teknik Pengumpulan Sampel 37
F. Variabel Penelitian 38
G. Alur Penelitian 39
H. Teknik Pengumpulan Data.......................................................... 40
I. Instrumen Penelitian 40
1. Instrumen Tes 41
a. Uji Validitas 42
b. Uji Reliabilitas 43
c. Taraf Kesukan………………………………………… 43
d. Daya Pembeda Soal 44
2. Instrumen Non Tes………………………………………... 45
J. Teknik Analisis Data 45
1. Uji Normalitas 46
2. Uji Homogenitas 46
3. Uji Hipotesis 46
4. Pengujian Hipotesis………………………………………... 47
BAB IV HASIL PENLITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kontrol .................. 47
B. Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kontrol................. 48
C. Hasil Instrumen Nontest ......................................................... 50

iv
D. Analisis Data ........................................................................... 54
1. Uji Normalitas ................................................................. 54
2. Uji Homogenitas ............................................................... 55
3. Uji Hipotesis ................................................................... 55
E. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................ 57
F. Keterbatasan Penelitian ........................................................ 59
BAB V PENUTUP ................................................................................. 61
A. Kesimpulan ........................................................................... 61
B. Saran ..................................................................................... 61
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 63
LAMPIRAN-LAMPIRAN ......................................................................... 66

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Interaksi Sains Teknologi Masyarakat ..................................... 13


Gambar 2.2 Model Pembelajaran STM........................................................ 18
Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir ......................................................... 35
Gambar 3.1 Alur Prosedur Penelitian........................................................... 39
Gambar 4.1 Histogram Tes Penguasaan Konsep (pretest)
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ....................... 47
Gambar 4.2 Histogram Tes Penguasaan Konsep (posttest)
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ....................... 48
Gambar 4.3 Diagram Batang Penguasaan Konsep
Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol ....................... 50
Gambar 4.4 Persentase Angket Motivasi Siswa Soal No 1.......................... 50
Gambar 4.5 Persentase Angket Motivasi Siswa Soal No 2.......................... 51
Gambar 4.6 Persentase Angket Motivasi Siswa Soal No 3.......................... 51
Gambar 4.7 Persentase Angket Motivasi Siswa Soal No 4.......................... 52
Gambar 4.8 Persentase Angket Motivasi Siswa Soal No 5.......................... 52
Gambar 4.9 Persentase Angket Motivasi Siswa Soal No 6.......................... 53

vi
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Perbedaan Model Pembelajaran STM dengan


Model Pembe;ajaran Tradisional .............................................. 18
Tabel 3.1 Desain Penelitian...................................................................... 37
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penguasaan Konsep.................................. 40
Tabel 3.3 Kategori Drajat Kesukaran....................................................... 42
Tabel 3.4 Kategori Daya Pembeda........................................................... 43
Tabel 4.1 Rekapitulasi Data Hasil Penelitian........................................... 49
Tabel 4.2 Rekapitulasi Nilai Kelompok Eksperimen dan Kontrol........... 50
Tabel 4.3 Rekapitulasi Data Hasil Penelitian Non Tes ............................. 53
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data Posttest .......................................... 54
Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Data Posttest........................................ 55
Tabel 4.6 Hasil Analisis Uji-t................................................................... 56

vii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (iptek) di Era Globalisasi saat ini
berkembang sangat pesat. Perkembangan iptek mendorong terjadinya perubahan
pola pikir manusia. Dalam hal ini ada beberapa manusia yang mengambil nilai
postif dan nilai negatif akan kemajuan iptek. Kemajuan teknologi itu sendiri tak
lepas dari perkembangan akan pengetahuan manusia mengenai apa yang mereka
alami dalam kehidupan sehari-hari. Perkembangan iptek dalam kehidupan sehari-
hari terutama dunia pendidikan khususnya pembelajaran IPA (fisika) sangat
berkaitan sekali. Sebagai contoh banyak sekali alat-alat yang diciptakan karena
kemajuan iptek (televise, radio, hp, dll). Banyaknya alat-alat yang ada dalam
kehidupan sehari-hari karena adanya kemajuan iptek perlu diimbangi dengan
pengetahuan awal siswa mengenai sains (fisika) sehingga siswa dapat memahami
akan fungsi teknologi. Pada saat ini banyak sekali penyalahgunaan kemajuan
iptek yang dilakukan oleh siswa, karena itu diperlukan pengetahuan awal siswa
mengenai sains.
Tidak hanya itu, dalam proses pembelajaran biasanya guru hanya
menjelaskan IPA sebatas produk (yang sudah ada) dan sedikit proses tanpa
pembuktian. Salah satu alasan yang menyebabkan adalah banyaknya materi yang
harus dibahas dan diselesaikan berdasarkan kurikulum yang berlaku. Padahal,
dalam membahas IPA tidak cukup hanya menekankan pada produk, tetapi yang
lebih penting adalah proses untuk membuktikan atau mendapatkan suatu teori atau
hukum. Oleh karena itu, metode, pendekatan dan alat peraga/praktikum sebagai
alat media pendidikan untuk menjelaskan IPA sangat diperlukan. Tujuan
pembelajaran IPA di SMP secara umum adalah agar siswa memahami konsep IPA
dan keterkaitannya dengan kehidupan sehari-hari, memiliki keterampilan tentang
alam sekitar untuk mengembangkan pengetahuan tentang proses alam sekitar,
mampu menerapkan berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala alam dan

1
2

mampu menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah yang ditemukan


dalam kehidupan sehari-hari.
Perkembangan sains dan teknologi serta perubahan kondisi masyarakat
yang sangat pesat ini mengharuskan para guru meningkatkan kemampuan dan
mengembangkan keahliannya. Kini tugas guru semakin kompleks dan menantang,
sehingga selalu dituntut untuk mengembangkan kemampuannya, baik secara
individu maupun kelompok. Tugas utama seorang guru adalah membantu siswa
dalam belajar, yakni berupaya menciptakan situasi dan kondisi yang
memungkinkan terjadinya proses pembelajaran.
Paradigma baru dalam pembelajaran sains adalah pembelajaran dimana
siswa tidak hanya dituntut untuk lebih banyak mempelajari konsep-konsep dan
prinsip-prinsip sains secara verbalistis, hafalan, pengenalan rumus-rumus, dan
pengenalan istilah-istilah melalui serangkaian latihan secara verbal, namun
hendaknya dalam pembelajaran sains, guru lebih banyak memberikan pengalaman
kepada siswa untuk lebih memotivasi siswa agar dapat menggunakan pengetahuan
tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Namun pada kenyataannya masih
banyak guru tidak memperhatikan hal tersebut sehingga siswa tidak paham
tentang kosep yang dipelajari.
Melihat kondisi yang cukup memprihatinkan tersebut, agaknya para
pemerhati maupun praktisi dunia pendidikan di Indonesia dituntut untuk segera
melakukan upaya perbaikan. Dalam hal ini, penulis mencoba mengangkat salah
satu pendekatan pembelajaran dalam IPA yaitu Model Sains-Teknologi-
Masyarakat (STM). Model Sains Teknologi Masyarakat (STM) merupakan suatu
gerakan reformasi dalam pembelajaran sains di sekolah, sebagai upaya membuat
warga negara melek sains dan teknologi (science and technological literacy) yang
telah dimulai sejak dua decade yang lalu di negara-negara yang telah maju. Di
Amerika Serikat misalnya, pendekatan STM muncul sebagai upaya nyata
reformasi dalam pengajaran sains di sekolah (Yager, 1993b-c; 1992b; 1991).1

1
La Maronta Golib, Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat Dalam Pembelajaran Sains
di Sekolah, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 034 Tahun ke-8, Januari 2002, h. 39.
3

Untuk itu pembelajaran sains dengan menggunakan pendekatan STM dapat


mengantisipasi beberapa hal pokok dalam membekali peserta didik, diantaranya :2
a)menghindari ‘materi oriented’ dalam pendidikan tanpa tahu
masalah-masalah di masyarakat secara lokal, nasional, maupun
internasional, b) mempunyai bekal yang cukup bagi peserta didik
untuk menyongsong era globalisasi, c) peserta didik mampu
menjawab dan mengatasi setiap masalah yang berkaitan dengan
kelestarian bumi, isu-isu sosial, isu-isu global, misalnya masalah
pencemaran, pengangguran, kerusuhan sosial, dampak hasil
teknologi dan lain-lainnya hingga pada akhirnya bermuara
menyelamatkan bumi, dan d) Membekali peserta didik dengan
kemampuan memecahkan masalah-masalah dengan penalaran
sains, lingkungan, teknologi, sosial secara integral, baik di dalam
maupun di luar kelas.
Model STM dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara
kemajuan IPTEK, membanjirinya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan
nilai-nilai IPTEK itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Dengan
model STM ini diharapkan siswa memilki landasan untuk menilai pemanfaatan
teknologi baru dan implikasinya terhadap lingkungan dan budaya ditengah
derasnya arus pembanguan pada era globalisasi. Siswa dibiasakan untuk bersikap
peduli akan masalah-masalah sosial dan lingkungan yang berkaitan dengan
IPTEK.3
Pembelajaran STM dalam pembelajaran sains merupakan perekat yang
mempersatukan sains, teknologi dan masyarakat . Isu-isu sosial dan teknologi di
masyarakat merupakan karakteristik kunci dari STM.4 Isu-isu tersebut dipakai
sebagai titik acuan oleh guru untuk merancang dan mengimplementasikan
program pembelajaran. Melihat dasar pijakan pengembangan model STM
tersebut, maka tidak berlebihan kiranya jika model STM dalam pembelajaran IPA
layak dimunculkan sebagai upaya penguasaan konsep peserta didik. Hal ini bisa

2
http://ilmuwanmuda.wordpress.com/pembelajaran-fisika-dengan-pendekatan-sets/
Diakses, tanggal 01 Maret 2010
3
Rusmansyah dan Yudha Irhasyuarna, Implementasi Pendekatan STM dalam Pembelajaran
Kimia di SMUN Kota Banjarmasin, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No. 040 Th ke-9 Januari
2003, h. 114.
4
Rai Sujanem, Penerapan Bahan Ajar yang Berwawasan Pendekatan STM Sebagai Upaya
Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktikum Fisika Dasar, Sikap Ilmiah, Literasi Sains
dan Teknologi Mahasiswa Pendidikan MIPA STKIP Singaraja, Aneka Widya IKIP Negeri
Singaraja No. 1 Th. XXXV Januari 2002, h. 124.
4

dilihat dari hasil wawancara yang peneliti lakukan kepada seorang guru dan murid
dimana menurut guru ketika mengajar fisika lebih dari 50% murid tersebut tidak
paham mengenai pelajaran tersebut, tetapi ketika guru tersebut menggunakan
model sains teknologi masyarakat dalam proses pembelajaran murid lebih
termotifasi lagi untuk mendalami fisika. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan
murid, ketika guru tersebut menerapkan pendekatan sains teknologi masyarakat
murid jadi mengerti apa fungsi pembelajaran tersebut dan aplikasi apa saja yang
ada di masyarakat ketika belajar fisika.
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis uraikan di atas,
maka penulis merasa tertarik untuk membahas dan mengangkat masalah tersebut
menjadi sebuah judul skripsi yaitu: “Penerapan Model Pembelajaran Sains
Teknologi dan Masyarakat untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Siswa
pada Topik Usaha dan Energi.”

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka
dapat diidentifikasi adanya beberapa masalah sebagai berikut:
1. Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang tidak diimbangi
dengan pengetahuan awal siswa mengenai sains (fisika) sehingga siswa
kurang memahami akan fungsi teknologi.
2. Sebagian besar guru belum mampu menciptakan suasana pembelajaran yang
menarik dan menyenangkan, sehingga siswa kurang termotivasi dan merasa
bosan dalam belajar fisika.
3. Proses pembelajaran fisika lebih menekankan pada pencapaian tuntutan
kurikulum dan penyampaian materi semata, sehingga menyebabkan
rendahnya penguasaan konsep fisika siswa.

C. Pembatasan Masalah
Untuk memokuskan masalah dari penelitian ini, dilakukan pembatasan
masalah sebagai berikut.
5

1. Model pembelajaran yang digunakan dalam eksperimen ini adalah model


sains teknologi masyarakat (STM)
2. Penguasaan konsep yang dimaksud disini adalah dilihat dari hasil belajar pada
ranah aspek kognitif pada tingkatan C1 sampai C5. Pada konsep Usaha dan
Energi.
3. Motivasi siswa yang diukur meliputi kesenangan belajar, rasa ingin tahu, dan
berusaha untuk berprestasi.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pembatasan masalah di atas, permasalahan pada penelitian
ini dirumuskan sebagai berikut: “Bagaimanakah peningkatan penguasaan konsep
siswa setelah penerapan model STM pada pembelajaran konsep energi dan
usaha?”
Pertanyaan-pertanyaan dalam penelitian ini adalah :
1 Bagaimana penguasaan konsep siswa pada topik Usaha dan Energi sebelum
dan setelah penerapan model pembelajaran STM?
2 Bagaimana motivasi siswa setelah diterapkan model pembelajaran STM pada
topik Usaha dan Energi?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini
adalah untuk mengetahui ada atau tidaknya peningkatan penguasaan konsep siswa
setelah diterapkan model STM dalam topik Usaha dan Energi.

F. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
1. Bagi peneliti; dapat mengembangkan wawasan tentang model pembelajaran
fisika khususnya model STM serta memberikan pengalaman dalam melakukan
penelitian.
2. Bagi peserta didik; dapat membantu meningkatkan penguasaan konsep pada
topik Usaha dan Energi melalui pembelajaran dengan model STM.
6

3. Bagi guru; dapat memberikan alternatif model pembelajaran yang dapat


mengaitkan antara fenomena atau isu di masyarakat tentang masalah teknologi
dan sosial yang relevan dengan konsep-konsep fisika.
7

BAB II
KAJIAN TEORETIS, KERANGKA PIKIR, DAN PERUMUSAN
HIPOTESIS

A. Kajian Teoretis
1. Model Sains, Teknologi, dan Masyarakat (STM) dalam Pembelajaran
Fisika
a. Pengertian STM
Model sains teknologi masyarakat sebagai suatu program pendidikan
untuk pertama kali diperkenalkan di Indonesia pada tahu 1985. pada tahun
1986, model STM mulai diperkenalkan di Program Pasca Sarjana IKIP
Bandung, sebagai salah satu mata kuliah. Sedangkan penelitian di kelas baru
dilaksanakan pada tahun 1994.1 Sains teknologi masyarakat sebagai suatu
perubahan yang utama di dalam pendidikan ilmu pengetahuan.2 Jadi, dalam
pendidikan ilmu pengetahuan sains teknologi masyarakat merupakan suatu
proses pembelajaran yang dapat mengubah cara berpikir siswa.
Istilah Sains Teknologi Masyarakat diterjemahkan dari bahasa Inggris
“Science Techology Society (STS)”, yaitu pada awalnya dikemukakan oleh
John Ziman dalam bukunya Teaching and Lerning about Science and Society.
Pembelajaran Science Technology Society berarti menggunakan teknologi
sebagai penghubung antara sains dan masyarakat.3 jadi, dalam pembelajaran
menggunakan sains teknologi masyarakat bahwa teknologi dapat digunakan
sebagai penghubung/penerapan antara sains dan masyarakat sehingga siswa
dapat memahami apa yang telah dipelajari.

1
Anna Poedjiadi, Sains Teknologi Masyarakat, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 2005).
h. 111.
2
Elif Bakar, dkk, Preservice Science Teachers Belifes About Science-Technology And Their
Impilication In Society, Eurasia Journal of Mathematics, Science and Technology Education,
Volume 2, Number 3, December 2006. h. 19.
3
Anna Poedjiadi, Op.Cit., h. 99.

7
8

Menurut James E. Hollenbeck, STS means teaching and learning in the


context of human experience.4 STM dipandang sebagai proses pembelajaran
yang senantiasa sesuai dengan konteks pengalaman manusia. Dalam model
ini siswa diajak untuk meningkatkan kreatifitas, sikap ilmiah, menggunakan
konsep, dan proses sains dalam kehidupan sehari-hari.5 Definisi lain tentang
STM dikemukakan oleh PENN STATE dalam Sabar Nurohman bahwa STM
merupakan “an interdisciplinary approach which reflects the widespread
realization that in order to meet the increasing demands of a technical society,
6
education must integrate across disciplines”. Dengan demikian,
pembelajaran dengan model STM haruslah diselenggarakan dengan cara
mengintegrasikan berbagai disiplin (ilmu) dalam rangka memahami berbagai
hubungan yang terjadi di antara sains, teknologi dan masyarakat. Hal ini
berarti bahwa pemahaman kita terhadap hubungan antara sistem politik, tradisi
masyarakat dan bagaimana pengaruh sains dan teknologi terhadap hubungan-
hubungan tersebut menjadi bagian yang penting dalam pengembangan
pembelajaran di era sekarang ini. Menurut Robert E. Yeger ada 5 bidang
dalam model pembelajaran, yaitu: 1) konsep, 2) proses, 3) aplikasi, 4)
kreativitas, dan 5) sikap.7
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa model
STM adalah suatu pembelajaran yang dimaksudkan untuk mengetahui, dimana
ilmu (sains) dapat menghasilkan teknologi untuk perbaikan lingkungan
sehingga bermanfaat bagi masyarakat, dan bagaimana situasi sosial atau isu
yang berkembang di masyarakat mengenai lingkungan dan teknologi
mempengaruhi perkembangan sains dan teknologi, yang memberikan
sumbangan terbaru bagi ilmu pengetahuan.

4
James Edward Hollenbeck,(1998) Scince, Technology and Society:an American
Approach to Environmental Education in Practice in Lowa Schools, (Europe: A Plenary
Presentation to the Foundation for Environmental), h. 6.
5
Glen S. Aikenhead, Research Into STS Science Education, (Canada : University of
Sasakatchewan 2005),. 385.
6
Sabar Nurohman, Penerapan Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat (STM) Dalam
Pembelajaran IPA Sebagai Upaya Peningkatan Life Skills Peserta Didik, (Pendidikan Fisika
FMIPA UNY).
7
Robert E. Yeger, Assessment Results with the Science/Technology/Society Approach,
Oktober 1999,. h. 35
9

b. Model STM pada Pendekatan Konstruktivisme


Model STM merupakan sebuah model pembelajaran yang merujuk
pada pendekatan konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan cara belajar
yang menekankan peranan siswa dalam membentuk pengetahuannya
sedangkan guru lebih berperan sebagai fasilitator yang membantu keaktifan
siswa tersebut dalam membentuk pengetahuannya.8 Teori yang dikenal dengan
constructivist theories of leraning menyatakan bahwa siswa harus menemukan
sendiri dan mentransformasi informasi kompleks, mengecek informasi baru
dengan aturan-aturan lama dan merevisi aturan-aturan itu apabila tidak lagi
sesuai. 9
Perkembangan konstruktivisme dalam belajar tidak terlepas dari usaha
keras Jean Piaget dan Vygotsky. Kedua tokoh ini menekankan bahwa
perubahan kognitif kearah perkembangan terjadi ketika konsep-konsep yang
sebelumnya sudah ada mulai bergeser karena ada sebuah informasi baru yang
diterima melalui proses ketidakseimbangan (dissequilibrium). Selain itu, Jean
Piaget dan Vygotsky juga menekankan pada pentingnya lingkungan sosial
dalam belajar dan dengan menyatakan bahwa integrasi kemampuan dalam
belajar kelompok akan dapat meningkatkan pengubahan secara konseptual.
Hakekat dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus
menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Pengetahuan tidak dapat begitu
saja dipindahkan dari otak seseorang (guru) ke kepala orang lain (siswa).
Siswa sendiri yang harus mengartikan apa yang telah diajarkan dengan
menyesuaikan terhadap pengalaman-pengalaman mereka. Tanpa pengalaman,
seseorang tidak dapat membentuk pengetahuan. Pengalaman disini tidak harus
pengalaman fisik, tetapi bisa diartikan juga pengalaman kognitif dan mental.
Banyaknya siswa yang salah menangkap apa yang diajarkan oleh gurunya
(misconseptions), menunjukkan bahwa pengetahuan itu tidak dapat begitu saja

8
Pristiadi Utomo, Pembelajaran Fisika dengan pendekatan SETS. http.//Ilmuan
Muda.Wordpress.com. Diakses tanggal 24 Februari 2010.
9
Muhammad Faiq Dzaki, Teori Konstruktivisme,
http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/teori-konstruktivisme_06.html.
10

dipindahkan, melainkan harus dikonstruksikan atau paling sedikit


diinterpretasikan sendiri oleh siswa.
Selama dua puluh tahun terakhir ini, konstruktivisme telah banyak
diterapkan di Amerika, Eropa dan Australia. Prinsip-prinsipnya adalah sebagai
berikut, yaitu a) pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri, baik secara
personal maupun sosial, b) pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru ke
murid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk bernalar, c) siswa
aktif mengkonstruksi terus-menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep
menuju konsep yang lebih rinci, lengkap sesuai dengan konsep ilmiah, dan d)
guru sekedar membantu menyediakan sarana dan situasi agar proses
konstruksi siswa berjalan mulus.10
Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran menurut konstruktivisme lebih memfokuskan pada kesuksesan
siswa dalam mengkoordinasikan pengalaman mereka dengan cara
mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui interaksi dengan
lingkungannya. Tujuan pendidikan konstruktivisme adalah menghasilkan
individu yang memiliki kemampuan berpikir untuk menyelesaikan tiap
persoalan yang dihadapi
Berdasarkan masalah atau isu di masyarakat yang ditemukan oleh
siswa, guru mengarahkan dengan suatu pendekatan dalam pembelajaran
sehingga siswa dapat mengkontruksi pengetahuannya sendiri, misalnya
dengan eksperimen atau diskusi. Dengan cara ini guru telah menerapkan
paham konstruktivisme dalam pembelajaran, yang dewasa ini sedang diminati
para pendidik dan dijadikan dasar pembelajaran melalui model STM.

c. Tujuan Model STM


Berdasarkan pengertian STM sebagaimana diungkapkan di bagian
sebelumnya, maka dapat diungkapkan bahwa yang menjadi tujuan model
STM adalah untuk menghasilkan lulusan yang cukup mempunyai bekal
pengetahuan sehingga mampu mengambil keputusan penting tentang masalah-

10
Pristiadi Utomo, Op.Cit. h. 12.
11

masalah dalam masyarakat dan sekaligus dapat mengambil tindakan


sehubungan dengan keputusan yang diambilnya (NSTA, 1991).11 Menurut
Zudan K. Prasetyo, salah satu tujuan dari model STM adalah agar sekolah
mengacu pada kurikulum yang dikaitkan dengan masalah-masalah sehari-hari
yang ada di masyarakat sebagai dampak dari penerapan teknologi.12
Menempatkan pembelajaran sains dalam suatu konteks lingkungan dan
kehidupan masyarakat yang dikaitkan dengan teknologi akan membuat sains
dan teknologi lebih dekat dan relevan dengan kehidupan nyata semua siswa.
Tujuan utama pendidikan sains dengan model STM adalah Mempersiapkan
siswa menjadi warga negara dan warga masyarakat yang memiliki suatu
kemampuan dan kesadaran untuk:
1) Menyelidiki, menganalisa, memahami, dan menerapkan konsep-
konsep/prinsip-prinsip dan proses sains dan teknologi pada situasi nyata.
Dalam hakikatnya pembelajarn model STM terutama dalam fisika
adalah suatu pembelajaran yang mengaitkan antara isu/masalah yang ada
dalam keterkaitannya antara sains, teknologi dan masyarakat. Untuk itu dalam
model pembelajaran ini siswa diharapkan mampu menelidiki, menganalisi dan
memahami isu/masalah tersebut.
2) Melakukan perubahan.
Pembelajaran model STM merupakan model pembelajaran yang
menjembatani anata sains, teknologi, dan masyarakat sehingga dengan adanya
model pembelajaran ini siswa mampu melakukan perubahan dalam
pembelajaran sehari-hari terutama pmata pelajaran fisika.
3) Membuat keputusan-keputusan yang tepat dan mendasar tentang
isu/masalah-masalah yang sedang dihadapi yang memiliki komponen sains
dan teknologi.

11
Purwanto,(2008) Upaya Mengembangkan Kecerdasan Majemuk (Multiple Inelligences)
Peserta Didik SMK Melalui Penerapan Pendekatan STM Dalam Pembelajaran Fisika,
(Yogyakarta, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta), h. 6.
12
Zhudan k. Prasetyo,(2006) Kapita Selekta Pembelajaran Fisika, (Jakarta: Universitas
Terbuka, 2006), h. 4.32.
12

Dalam pembelarannya siswa diusahakan mampu mengambil keputusan


mengenai isu/masalah-masalah yang ada dalam kaitannya dengan sain
teknologi masayarakat.
4) Merencanakan kegiatan-kegiatan baik secara individu maupun kelompok
dalam rangka pengambilan tindakan dan pemecahan isu-isu atau masalah-
masalah yang sedang dihadapi.
Perencanaan kegiatan dalam pengambilan keputusan dapat dilakukan
baik secara individu maupun secara kelompok sehingga nantinya siswa dapat
memahami mata pelajaran tersebut dan dapat menerapkannya di lingkungan
kehidupan sehari-hari.
5) Bertanggung jawab terhadap pengambilan keputusan dan tindakannya.13
Berdasarkan beberapa pandangan tersebut, maka dapat disederhanakan
bahwa model STM dikembangkan dengan tujuan agar: 1) peserta didik
mampu menghubungkan realitas sosial dengan topik pembelajaran di dalam
kelas, 2) peserta didik mampu menggunakan berbagai jalan/prespektis untuk
menyikapi berbagai isu/situasi yang berkembang di masyarakat berdasarkan
pandangan ilmiah, dan 3) peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai
warga masyarakat yang memiliki tanggungjawab sosial.

d. Karakteristik Model STM


Berdasarkan dengan tujuan model STM, Heath seperti yang di kutip
oleh La Maronta Golib menyatakan bahwa secara operasional pembelajaran
dengan model STM memiliki karakteristik, yaitu:
1) Diawali dengan isu-isu/masalah-masalah yang sedang beredar serta
relevan dengan ruang lingkup isi/materi pelajaran dan perhatian, minat, atau
kepentingan siswa.
2) Mengikutsertakan siswa dalam pengembangan sikap dan keterampilan
dalam pengambilan keputusan serta mendorong mereka untuk
mempertimbangkan informasi tentang isu-isu sains dan teknologi.

13
La Maronta G, (2002) Pendekatan STM dalam Pembelajaran Sains di Sekolah, Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan, h. 47.
13

3) Mengintegrasikan belajar dan pembelajaran dari banyak ruang lingkup


kurikulum
4) Memperkembangkan literasi sains, teknologi , dan sosial.14

Menurut Yager dalam Hidayat seperti yang dikutip oleh Arnie


Fajar program STM pada umumnya memiliki karakteristik/ciri-
ciri sebagai berikut: 1) identifikasi masalah-masalah setempat
yang memiliki kepentingan dan dampak, 2) penggunaan
sumber daya setempat untuk mencari informasi yang dapat
digunakan dalam memecahkan masalah, 3) keikutsertaan yang
aktif dari siswa dalam mencari informasi yang dapat diterapkan
untuk memecahkan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-
hari, 4) Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap
siswa, 5) suatu pandangan bahwa isis daripada sains bukan
hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasi siswa dalam tes,
6) penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains
dan teknologi, 7) kesempatan bagi siswa untuk berperan
sebagai warga negara dimana ia mencoba untuk memecahkan
isu-isu yang telah diidentifikasi, dan 8) identifikasi bagaimana
sains dan teknologi berdampak dimasa depan.15

Model STM dalam pembelajaran IPA merupakan perekat yang


mempersatukan sains, teknologi, dan masyarakat. Isu-isu sosial dan teknologi
yang terdapat di masyarakat merupakan karakteristik kunci dari model STM.16
Melalui model STM, para siswa belajar IPA dalam konteks pengalaman nyata,
yang mencakup penerapan sains dan teknologi.Bentuk korelasi hubungan
timbal balik antar unsur-unsur sains-teknologi-masyarakat dapat dilihat pada
gambar berikut:

Gambar 2.1 Interaksi sains-teknologi-masyarakat17

14
Ibid., h. 51.
15
Arnie Fajar, Portofolio Dalam Pembelajaran IPS, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya
2004). h. 25-26
16
I Wayan Sadia, Pengembangan Buku Ajar IPA Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
(SLTP) Berwawasan Sains-Teknologi-Masyarakat, (Singaraja: Aneka Widya, 1999) h. 26.
17
La Maronta G, Loc.Citt.,
14

Gambar di atas menunjukkan bahwa sains, teknologi, dan masyarakat


sangat erat hubungannya. Siswa berinteraksi dengan lingkungan sosial
(masyarakat), lingkungan alam (dipelajari dengan sains), dan lingkungan
buatan (teknologi). Teknologi ini diciptakan oleh manusia untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Teknologi dan sains saling melengkapi, sebab sains
merupakan pengetahuan yang sistematis tentang alam dimana manusia hidup
sedangkan teknologi merupakan metode sistematis yang dilakukan manusia
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Dari beberapa karakteristik di atas, dapat disimpulkan bahwa
karakteristik utama model STM adalah pengungkapan masalah atau isu sosial
teknologi diawal pembelajaran. Pembelajaran mengutamakan keaktifan siswa
sedangkan guru hanya berperan sebagai fasilisator saja. Pengungkapan
permasalahan di awal pembelajaran dapat membantu siswa mengkonstruksi
pengetahuan serta mengenalkan peranan sains dalam kehidupan kepada siswa.
Dengan menganalisis permasalahan yang dihadirkan, diharapkan siswa dapat
membuat suatu keputusan. Belajar dari suatu yang nyata akan membentuk
siswa memahami materi pelajaran. Robert E Yager dan Rustaman Roy
mengemukakan 4 perbandingan kontras antara STM yang dikemukakan oleh
NSTA terhadap pengajaran tradisional seperti terlihat pada tebel 2.118
Tabel 2.1 Perbedaan Model Pembelajaran STM
dengan Model Pembelajaran Tradisional
No Model Pembelajaran STM Model Pembelajaran Tradisional
1 Identifikasi masalah dengan Pembelajaran menggunakan buku
minat/pengaruh yang kuat terhadap teks
pembelajaran
2 Menggunakan sumber daya lokal Menggunakan buku teks dalam
untuk mengatasi masalah mengatasi masalah
3 Siswa dengan aktif mencari informasi Siswa bersikap pasif dalam
pembelajaran
4 Pusat pembelajaran siswa ada pada Pusat pembelajaran siswa hanya
diri pribadi serta keingintahuan yang pada informasi yang diberikan
kuat

18
Robert E. Yager and Rustam Roy, STS: Most Pervasive and Most Radical of Reform
Appoarches to “Science” Education, The University of Lowa and Pennsylvania State University,
2000. h. 9.
15

Rumansyah dan Irhasyuarna merangkum perbedaan antara


pembelajaran sains dengan pendekatan STM dan pembelajaran sains lainnya
seperti terlihat pada tabel 2.2. 19
Tabel 2.2 Perbedaan Pembelajaran Model STM
dengan Pembelajaran Sains Lainnya
No. Pembelajaran sains
Pembelajaran pendekatan STM
lainnya
1. Sesuai dengan kurikulum dan berkaitan Konsep berasal dari teks
dengan permasalahan yang dihadapi sesuai kurikulum
masyarakat serta berusaha menjawab
permasalahan tersebut.
2. Multidisipliner, melibatkan berbagai aspek Monodisipliner dan
dan keilmuan dalam pembelajarannya diajarkan secara terpisah
3. Topik /arah /fokus ditentukan siswa atau oleh Topik /arah /fokus
isu /masalah yang ada di lingkungan sekitar ditentukan oleh guru
4. Pembelajaran dimulai dengan aplikasi sains Pembelajaran dimulai dari
(teknologi) dalam masyarakat konsep, prinsip, kemudian
contoh
5. Guru berperan sebagai fasilisator Guru sebagai pemberi
informasi
6. Menggunakan sumber daya yang ada di Menggunakan sumber daya
lingkungan yang ada di sekolah
7. Tugas utama siswa adalah mencari, Tugas utama siswa adalah
mengolah dan menyimpulkan memahami isi buku teks

e. Tahap Pembelajaran STM


Model STM terdiri dari serangkaian tahap pembelajaran.
Keterlaksanaan setiap tahap sangat mendukung dan menentukan keberhasilan
pembelajaran secara keseluruhan. Pembelajaran STM banyak menggunakan

19
Rumansyah dan irhasyuarna, Prospek Penerapan Pendekatan Sains-Teknologi-
Masyarakat (STM) Dalam pembelajaran Kimia Di Kalimantan Selatan , Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan. No. 029 Tahun Ke-7,, h. 195.
16

sumber belajar yang ada dimasyarakat yang berhubungan dengan materi dan
permasalahan teknologi yang akan dikaji. Pembelajaran bersifat fleksibel
karena guru leluasa untuk menerapkan berbagai strategi dan metode belajar.
Hal ini memungkinkan pendekatan STM melatih pola pikir yang divergen,
kerja kelompok diskusi kelas yang berpusat pada siswa, pemecahan masalah,
simulasi, pengambilan keputusan, dan debat dengan menggunakan sumber
belajar yang ada di masyarakat. Tahapan pembelajaran STM pada model STM
terdiri dari:
1. Pendahuluan
Tahap ini membedakan STM dengan pendekatan pembelajaran yang
lainnya. Pada tahap ini dikemukakan isu atau masalah yang ada di masyarakat.
Siswa diharapkan dapat menggali masalah sendiri, namun apabila guru tidak
mendapatkan tanggapan dari siswa, maka masalah dapat saja dikemukakan
oleh guru. Guru memfasilitasi siswa untuk lebih mendalami permasalahan.
Dalam tahap ini guru melakukan apersepsi berdasarkan kenyataan yang
dialami siswa dalam kehidupan sehari-hari. Guru dapat juga melakukan
eksplorasi melalui pemberian tugas untuk melakukan kegiatan diluar kelas
secara berkelompok. Pengungkapan masalah pada awal pembelajaran
memungkinkan siswa mengkonstruksi pengetahuannya sejak awal.
Selanjutnya kostruksi pengetahuan ini akan terus dibangun dan dikokohkan
pada tahap pembentukan dan pemantapan konsep.

2. Pembentukan konsep
Pada tahap pembentukan konsep guru dapat melakukan berbagai
metode pembelajaran misalnya demonstrasi, diskusi, bermain peran, dan
sebagainya. Pendekatan STM juga memungkinkan diterapkannya berbagai
pendekatan seperti pendekatan ketrampilan proses, pendekatan sejarah,
pendekatan kecakapan hidup, dan pendekatan lainnya. Selama melakukan
berbagai aktivitas pada tahap pembentukan konsep siswa diharapkan
mengalami perubahan konsep menuju arah yang benar sampai pada akhirnya
konsep yang dimiliki sesuai dengan konsep para ilmuwan. Pada akhir tahap
17

pembentukan konsep, siswa telah dapat memahami apakah analisis terhadap


masalah yang disampaikan pada awal pembelajaran telah sesuai dengan
konsep para ilmuwan.
3. Aplikasi konsep
Berbekal pemahaman konsep yang benar siswa diharapkan dapat
menganalisis isu dan menemukan penyelesaian masalah yang benar. Konsep-
konsep yang telah dipahami siswa dapat menggunakan produk teknologi
listrik dengan benar karena menyadari bahwa produk-produk listrik tersebut
berpotensi menimbulkan kebakaran atau bahaya yang lain, misalnya bahaya
akibat terjadinya hubungan arus pendek. Contoh yang lain siswa menjadi
hemat dalam menggunakan beraneka sumber energy. Dalam kehidupan sehari-
hari setelah mengetahui terbatasnya energy saat ini.
4. Pemantapan Konsep
Pada tahap ini, guru melakukan pelurusan terhadap konsepsi siswa
yang keliru. Pemantapan konsep ini penting untuk dilakukan mengingat sangat
besar kemungkinan guru tidak menyadari adanya kesalahan konsepsi pada
tahap pembelajaran sebelumnya. Pemantapan konsep penting sebab
mempengaruhi retensi materi siswa.
5. Evaluasi
Kegiatan penilaian dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan
belajar dan hasil belajar yang telah diperoleh siswa. Berbagai kegiatan
penilaian dapat dilakukan mengingat beragamnya hasil belajar yang diperoleh
siswa melalui pembelajaran dengan pendekatan STM.
18

Alur pembelajaran STM dapat dilihat pada gambar 2.2 dibawah ini.20

Tahap 1 Pendahuluan:
Inisiasi/invitasi/apersepsi/ Isu/masalah
eksplorasi thd siswa

Pembentukan/ Pemantapan konsep


Tahap 2 pengembangan
konsep

Aplikasi konsep dalam Pemantapan konsep


Tahap 3 kehidupan: penyelesaian
masalah atau analisis isu

Tahap 4 Pemantapan
konsep

Tahap 5 Penilaian

Gambar 2.2. Model Pembelajaran STM (Poedjiadi, A. 2006)

Jadi, tujuan yang ingin dicapai dari model STM dalam pembelajaran
adalah model interdisiplin ilmu dalam pembelajaran sains, memberikan siswa
pengetahuan tentang keadaan dunia yang sebenarnya, memberikan
kesempatan siswa untuk membentuk pemahaman yang kritis tentang
hubungan sains, teknologi dan masyarakat, dan mengembangkan kapasitas
dan kepercayaan diri siswa untuk mengaplikasikan sains dalam kehidupan
sehari-harinya.

20
Anna Poedjiadi, Sains Teknologi Masyarakat, (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,
2005). h. 126.
19

2. Konsep
a. Pengertian Konsep dalam Pembelajaran
Mempelajari fisika pada dasarnya menguasai kumpulan hukum, teori,
prinsip dan tau rumus yang terbangun oleh konsep sesuai kajiannya. Konsep
merupakan buah pemikiran seseorang yang dinyatakan dalam definisi
sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum dan teori.
Konsep diperoleh dari fakta, peristiwa, pengalaman melalui generalisasi dan
berpikir abstrak.21 Jadi, konsep disini merupakan sesuatu yang nyata sehingga
nantina siswa dapat memahami pembelajaran tersebut.
Dua tujuan utama dari pendidikan adalah meningkatkan ingatan dan
transfer. Ingatan didefinisikan sebagai kacakapan untuk menerima,
menyimpan dan menerima kesan-kesan.22 Sedangkan transfer dalam belajar
atau yang lazim disebut transfer belajar (transfer of learning) mengandung arti
pemindahan keterampilan hasil belajar dari satu situasi kesituasi lainnya
(Reber 1998).23 Kata “pemindahan keterampilan” tidak berkonotasi hilangnya
keterampilan melakukan sesuatu pada masa lalu karena diganti dengan
keterampilan baru pada masa sekarang. Oleh sebab itu, definisi diatas harus
dipahami sebagai pemindahan pengaruh keterampilan melakukan sesuatu
terhadap tercapainya keterampilan melakukan sesuatu lain.24
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa ingatan merupakan
suatu kemampuan untuk mengingat atau memanggil kembali materi yang telah
diperoleh dengan cara yang hampir sama seperti saat belajar, sedangkan
transfer adalah kemampuan menggunakan materi yang telah diperoleh untuk
memecahkan masalah baru, menjawab pertanyaan baru atau untuk
mempermudah mempelajari materi baru.
Konsep merupakan dasar bagi proses-proses untuk memecahkan
masalah. Menurut Sutarto, konsep secara sederhana dapat dimengerti sebagai
katagaori suatu rangsangan (stimulus) berdasarkan atribut-atribut yang

21
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2006), h. 71.
22
Ibid, h. 128.
23
Muhibbin Syah, PsikologiBelajar, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2008), h. 159.
24
Ibid.
20

dimilikinya.25 Dengan terkonsepnya rangsangan oleh siswa dengan baik


diharapkan siswa dengan mudah menemui dan memunculkan kembali dalam
bentuk konsep pada situasi dan kondisi yang lain. Jadi, konsep dapat diartikan
menurut penulis sebagai sesuatu fakta, peristiwa dan pengalaman melalui
generalisasi yang merupakan sesuatu gagasan atau ide.
Penilaian terhadap hasil belajar penguasaan materi bertujuan untuk
mengukur penguasaan dan pemilihan konsep dasar keilmuan (content
objectives) berupa materi-materi esensial sebagai konsep kunci dan prinsip
utama. Konsep kunci dan prinsip utama keilmuan tersebut harus dimilki dan
dikuasai siswa secara tuntas, bukan hanya dalam bentuk hafalan.26
Kemampuan individu dalam mengkonsep rangsangan baru memiliki
tingkatan yang berbeda-beda, yang disebut tingkatan pencapaian konsep.
Klausimer mengkategorikan tingkat pencapaian konsep menjadi 4 (empat)
yaitu : tingkat konkrit, tingkat identitas, tingkat klasifikatoris dan tingkat
formal.27
1) Tingkat konktir, yaitu tingkat menghafal hingga diskriminasi,
pada tingkat ini individu akan merespon rangsangan bila
rangsangan telah dikenal sebelumnya.
2) Tingkat identitas, pada tingkat ini individu telah dapat
merespon rangsangan baru berdasarkan konsep-konsep
rangsangan sejenis yang telah dikenal sebelumnya.
3) Tingkat klasifikatoris, pada tingkat ini individu akan nampak
telah dapat mengenal kesetaraan dua atau lebih rangsangan yang
berbeda dari kelas yang sama, walaupun pada saat itu mereka
belum dapat menentukan criteria atribut atau menentukan nama
konsep rangsangan tersebut.
4) Tingkat formal, pada tingkat ini individu sudah memiliki
kemampuan untuk menentukan atribut-atribut yang membatasi
konsep suatu rangsangan, dengan demikian pada tingkat ini
mereka mampu mengkonsep, mendeskriminasi, memberi nama
atribut-atribut, dan mengevaluasi rangsangan.

25
Sutarto, Buku Ajaran Fisika dengan Tugas Analisis Foto Kejadian Fisika sebagai Alat
Bantu Penguasaan Konsep Fisika, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, 11 (054), 2005, h. 327
26
Ahmad Sofyan, Tonih Feronika dan Burhanudin Milama, Evaluasi Pembelajaran IPA
Berbasisi Kompetensi, (Jakarta: UIN Jakarta Press), h. 14.
27
Sutarto, Op.Cit.,h. 332.
21

Penguasaan konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah


penguasaan konsep dalam ranah kognitif berdasarkan taksonomi Bloom
yang merupakan penguasaan bahan pelajaran yang berkenaan dengan
kemampuan berfikir setelah pembelajaran.
Bloom dan kawan-kawannya seperti yang dikutip oleh Suharsimi
Arikunto menyusun konsep taraf kompetensi kognitif ke dalam enam jenjang
atau tingkatan yang kompelksitasnya bertingkat.28
1. Mengingat berupa kemampuan untuk mempelajari fakta serta mengingat
kembali materi-ide-prinsip yang sudah dipelajari,
2.Pemahaman berupa kemampuan untuk menjelaskan ide dan konsep,
3.Penerapan yaitu kemampuan menggunakan materi yang sudah dipelajari
dalam situasi baru dan dunia nyata,
4.Menganalisa berupa kemampuan untuk menguraikan materi kedalam
bagian-bagian dan melihat hubungannya termasuk klasifikasi analisa dan
membedakan bagian-bagian,
5.Sintesis berupa kemampuan untuk menyesuaikan keputusan atau
serangkaian tindakan,
6.Evaluasi adalah kemampuan untuk membangkitkan produk baru, ide atau
cara pandang terhadap sesuatu.
Cara paling objektif untuk memperoleh kebenaran suatu konsep adalah
dengan menggunakan metode ilmiah. Suatu konsep dikatakan objektif jika
dapat dikonfirmasikan dengan kenyatannya, artinya symbol yang ada dalam
konsep tersebut dapat dileusuri keberadaanya di alam nyata.29 Dari beberapa
pengertian di atas, penguasaan konsep dapat diartikan kemampuan mengingat,
memahami, menerapkan, menganalisis, dan menilai ide atau buah piker
seseorang atau sekelompok orang tentang alam nyata yang diperolehnya dari
fakta peristiwa, dan pengalaman.

28
Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta : PT Bumi Aksara
2006),. h. 117-120
29
http://pkab.wordpress.com/2008/06/21/discovery-inquiry-sts-fisika/
Di akses tanggal 20 April 2009
22

Adapun prosedur yang harus dilakukan dalam mengajarkan konsep,


yaitu sebagai berikut .
1. Tetapkan perilaku yang diharapkan diperoleh oleh siswa setelah
mempelajari konsep.
2. Mengurangi banyaknya atribut yang terdapat dalam konsep yang
kompleks dan menjadi atribut-atribut dominant.
3. Menyediakan mediator verbal yang berguna bagi siswa.
4. Memberikan contoh-contoh yang positif dan negative mengenai konsep.
5. Menyajikan contoh-contoh.
6. Sambutan siswa dan penguatan ( reinforcement).
7. Menilai belajar konsep.30

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Penguasaan Konsep


Banyak faktor yang mempengaruhi penguasan konsep terhadap suatu
konsep pembelajaran, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Dalam
memperbaiki penguasaan konsep siswa tidak akan terlepas dari faktor intern
siswa itu sendiri. Guru yang merupakan faktor ekstern dapat membantu
meningkatkan penguasaan konsep siswa, karena guru dianggap sebagai salah
satu sumber belajar dan sumber informasi serta dapat diajak untuk
berkomunikasi secara langsung tentang permasalahan-permasalahan yang
dihadapi oleh siswa.
Motivasi dan minat siswa terhadap kegiatan pembelajaran juga sangat
mempengaruhi proses pembelajarn. Siswa yang memilki motifasi dan minat
yang tinggi terhadap kegiatan pembelajaran, akan lebih mudah menerima
pelajaran yang akan mempengaruhinya terhadap penguasaan konsep tertentu.
Siswa akan bekerja lebih keras jika mereka mempunyai minat dan perhatian
pada pembelajanya.
Dalam kaitannya dengan motivasi, guru harus mampu membangkitkan
motivasi belajar siswa. Misalnya memberikan tugas yang jelas dan dapat

30
Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, (Jakarta :
PT. Bumi Aksara). h. 165 - 169
23

dimengerti, memberikan penghargaan terhadap hasil kerja dan prestasi siswa,


dan hukuman secara efektif dan tepat guna.
Selain itu, dalam kegiatan belajar mengajar guru harus menggunakan
media yang tepat dan variasi metode pembelajaran agar konsep yang dipelajari
siswa mudah dimengerti.
Dengan menggunakan media pembelajaran dapat mempermudah proses
belajar siswa. Selain itu, penggunaan media pembelajaran bertujuan agar
proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien untuk tercapainya tujuan.
Dengan media yang tepat, mempermudah guru menyampaikan suatu konsep
tertentu dan siswa lebih mudah menerima dan mendapatkan suatu konsep
tertentu.

3. Sifat Konsep Energi


a. Usaha
Usaha alias Kerja yang dilambangkan dengan huruf W (Work-bahasa
inggris), digambarkan sebagai sesuatu yang dihasilkan oleh Gaya (F) ketika Gaya
bekerja pada benda hingga benda bergerak dalam jarak tertentu. Hal yang paling
sederhana adalah apabila Gaya (F) bernilai konstan (baik besar maupun arahnya)
dan benda yang dikenai Gaya bergerak pada lintasan lurus dan searah dengan arah
Gaya tersebut.31
Secara matematis, usaha yang dilakukan oleh gaya yang konstan
didefinisikan sebagai hasil kali perpindahan dengan gaya yang searah dengan
perpindahan.

Persamaan matematisnya adalah :

W = Fs cos 0 = Fs (1) = Fs

31
Mikrajudin, IPA Terpadu SMP dan MTS, (Jakarta: Erlangga 2007). h. 33.
24

W adalah usaha alias kerja, F adalah besar gaya yang searah dengan
perpindahan dan s adalah besar perpindahan.

Apabila gaya konstan tidak searah dengan perpindahan, sebagaimana


tampak pada gambar di bawah, maka usaha yang dilakukan oleh gaya pada benda
didefinisikan sebagai perkalian antara perpindahan dengan komponen gaya yang
searah dengan perpindahan. Komponen gaya yang searah dengan perpindahan
adalah F cos

Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

Hasil perkalian antara besar gaya (F) dan besar perpindahan (s) di atas
merupakan bentuk perkalian titik atau perkalian skalar. Karenanya usaha masuk
dalam kategori besaran skalar. Pelajari lagi perkalian vektor dan skalar kalau
dirimu bingun… Persamaan di atas bisa ditulis dalam bentuk seperti ini:32

BESARAN SATUAN MKS SATUAN CGS


Usaha (W) joule erg
Gaya (F) newton dyne
 meter cm
Perpindahan ( x )

32
Dedi Hidayat, Prinsip-prinsip Fisika, (Jakarta: Yudistira, 2000). h. 243.
25

Perlu anda pahami dengan baik bahwa sebuah gaya melakukan usaha
apabila benda yang dikenai gaya mengalami perpindahan. Jika benda tidak
berpindah tempat maka gaya tidak melakukan usaha. Agar memudahkan
pemahaman anda, bayangkanlah anda sedang menenteng buku sambil diam di
tempat. Walaupun anda memberikan gaya pada buku tersebut, sebenarnya anda
tidak melakukan usaha karena buku tidak melakukan perpindahan. Ketika anda
menenteng atau menjinjing buku sambil berjalan lurus ke depan, ke belakang atau
ke samping, anda juga tidak melakukan usaha pada buku. Pada saat menenteng
buku atau menjinjing tas, arah gaya yang diberikan ke atas, tegak lurus dengan
arah perpindahan. Karena tegak lurus maka sudut yang dibentuk adalah 90o. Cos
90o = 0, karenanya berdasarkan persamaan di atas, nilai usaha sama dengan nol.
Contoh lain adalah ketika dirimu mendorong tembok sampai puyeng… jika
tembok tidak berpindah tempat maka walaupun anda mendorong sampai banjir
keringat, anda tidak melakukan usaha. Kita dapat menyimpulkan bahwa sebuah
gaya tidak melakukan usaha apabila gaya tidak menghasilkan perpindahan dan
arah gaya tegak lurus dengan arah perpindahan.

b. Energi
Segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari
membutuhkan energi. Untuk bertahan hidup kita membutuhkan energi yang
diperoleh dari makanan. Setiap kendaraan membutuhkan energi untuk bergerak
dan energi itu diperoleh dari bahan bakar. Hewan juga membutuhkan energi untuk
hidup, sebagaimana manusia dan tumbuhan.
Energi merupakan salah satu konsep yang paling penting dalam fisika.
Konsep yang sangat erat kaitannya dengan usaha adalah konsep energi. Secara
sederhana, energi merupakan kemampuan melakukan usaha. Definisi yang
sederhana ini sebenarnya kurang tepat atau kurang valid untuk beberapa jenis
energi (misalnya energi panas atau energi cahaya tidak dapat melakukan kerja).
Definisi tersebut hanya bersifat umum. Secara umum, tanpa energi kita tidak
dapat melakukan kerja. Sebagai contoh, jika kita mendorong sepeda motor yang
mogok, usaha alias kerja yang kita lakukan menggerakan sepeda motor tersebut.
26

Pada saat yang sama, energi kimia dalam tubuh kita menjadi berkurang, karena
sebagian energi kimia dalam tubuh berubah menjadi energi kinetik sepeda motor.
Usaha dilakukan ketika energi dipindahkan dari satu benda ke benda lain. Contoh
ini juga menjelaskan salah satu konsep penting dalam sains, yakni kekekalan
energi. Jumlah total energi pada sistem dan lingkungan bersifat kekal alias tetap.
Energi tidak pernah hilang, tetapi hanya dapat berubah bentuk dari satu bentuk
energi menjadi bentuk energi lain.
Dalam kehidupan sehari-hari terdapat banyak jenis energi. Energi kimia
pada bahan bakar membantu kita menggerakan kendaraan, demikian juga energi
kimia pada makanan membantu makhluk hidup bertahan hidup dan melakukan
kerja. Dengan adanya energi listrik, kita bisa menonton TV atau menyalakan
komputer sehingga bisa bermain game sepuasnya. Ini hanya beberapa contoh dari
sekian banyak jenis energi dalam kehidupan kita. Misalnya ketika kita
menyalakan lampu neon, energi listrik berubah menjadi energi cahaya. Energi
listrik juga bisa berubah menjadi energi panas (setrika listrik), energi gerak (kipas
angin) dan sebagainya. Banyak sekali contoh dalam kehidupan kita, dirimu bisa
memikirkan contoh lainnya. Secara umum, energi bermanfaat bagi kita ketika
energi mengalami perubahan bentuk, misalnya energi listrik berubah menjadi
energi gerak (kipas angin), atau energi kimia berubah menjadi energi gerak (mesin
kendaraan).
Pada kesempatan ini kita akan mempelajari dua jenis energi yang
sebenarnya selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, yakni energi potensial
dan energi kinetik translasi. Energi potensial dapat berubah bentuk menjadi energi
kinetik ketika benda bergerak lurus dan sebaliknya energi kinetik juga bisa
berubah bentuk menjadi energi potensial. Total kedua energi ini disebut energi
mekanik, yang besarnya tetap alias kekal.
27

Energi Kinetik.
Energi kinetik adalah energi yang dimiliki oleh setiap benda yang
bergerak. Energi kinetik suatu benda besarnya berbanding lurus dengan massa
benda dan kuadrat kecepatannya.33
Ek = ½ m v2
Ek = Energi kinetik ; m = massa benda ; v = kecepatan benda

SATUAN
BESARAN SATUAN MKS SATUAN CGS
Energi kinetik (Ek) joule erg
Massa (m) Kg gr
Kecepatan (v) m/det cm/det
Usaha = perubahan energi kinetik.
W = Ek = Ek2 – Ek1

ENERGI POTENSIAL GRAFITASI


Energi potensial grafitasi adalah energi yang dimiliki oleh suatu benda
karena pengaruh tempatnya (kedudukannya). Energi potensial ini juga disebut
energi diam, karena benda yang diam-pun dapat memiliki tenaga potensial.
Sebuah benda bermassa m digantung seperti di bawah ini.

m
g

33
Ibid, h. 250.
28

Jika tiba-tiba tali penggantungnya putus, benda akan jatuh.


Maka benda melakukan usaha, karena adanya gaya berat (w) yang menempuh
jarak h.
Besarnya Energi potensial benda sama dengan usaha yang sanggup
dilakukan gaya beratnya selama jatuh menempuh jarak h.
Ep = w . h = m . g . h
Ep = Energi potensial , w = berat benda , m = massa benda ; g = percepatan
grafitasi ; h = tinggi benda
SATUAN
BESARAN SATUAN MKS SATUAN CGS
Energi Potensial (Ep) joule erg
Berat benda (w) newton dyne
Massa benda (m) Kg gr
2
Percepatan grafitasi (g) m/det cm/det2
Tinggi benda (h) m cm
Energi potensial grafitasi tergantung dari :
percepatan grafitasi bumi
kedudukan benda
massa benda
ENERGI POTENSIAL PEGAS.
Energi potensial yang dimiliki benda karena elastik pegas.
Gaya pegas (F) = k . x
Ep Pegas (Ep) = ½ k. x2
k = konstanta gaya pegas ; x = regangan
Hubungan usaha dengan Energi Potensial :
W = Ep = Ep1 – Ep2
ENERGI MEKANIK
Energi mekanik (Em) adalah jumlah antara energi kinetik dan energi potensial
suatu benda.
Em = Ek + Ep
29

HUKUM KEKEKALAN ENERGI MEKANIK.


Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Jadi energi itu
adalah KEKAL.
Em1 = Em2
Ek1 + Ep1 = Ek2 + Ep2

ENERGI

Bentuk Energi EK, EP, EM Perubahan Energi Hukum Kekekalan


Energi

4. Motivasi Belajar
Woodwort seperti dikutip oleh Wina Sanjaya mengatakan: “motive is a set
predisposes the individual of certain activities and for seeking certain goals”.
Suatu motif adalah suatu set yang bisa membuat individumelakukan kegiatan-
kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan.34 Dengan demikian, perilaku atau
tindakan yang ditunjukkan seseorang dalam upaya mencapai tujian tertentu sangat
trergantung dari motivasi yang dimiliknya.
Motif dan motivasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan.
Motivasi merupakan penjelmaan dari motif yang dapat dilihat dari perilaku yang
ditunjukkan seseorang. Hilgard mengatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan
yang terdapat pada diri seseorang yang menyebabkan seseorang melakukan
kegiatan tertentu untuk mencapai tujian tertentu.
Menurut Mc. Donald seperi dikutip oleh Sardiman dalam bukunya
interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, motivasi adalah perubahan energi
dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “feeling” dan didahului

34
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta:Kencana Prenada Media, 2006), h.27.
30

dengan tangggapan terhadap adanya tujuan. Berdasarkan pengertian ini terlihat


bahwa dalam motivasi terkandung tiga unsur penting, yaitu:35
a. Motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada setiap individu
manusia. Perkembangan motivasi akan membawa beberapa perubahan energi
dalam sistem “neurophysiological” yang ada pada organisme manusia.
b. Motivasi ditandai dengan munculnya rasa (feeling), afeksi seseorang. Dalam
hal ini motivasi rel;evan dengan persoalan-persoalan kejiwaan, afeksi dan
emosi yang dapat menentukan tingkah laku manusia.
c. Motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan.
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa motivasi
adalah suatu keadaan atau kondisi yang mendorong makhluk untuk bertingkah
laku atau bertindak ke arah tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam pembelajaran dikenal adanya motivasi belajar, yaitu motivasi yang
diterapkan dalam kegiatan belajar. Menurut Hudoyo, motivasi belajar adalah
dorongan untuk mempelajari sesuatu dengan sungguh-sungguh sehingga memiliki
pengertian yang lebih mendalam dalam bidang tersebut untuk
36
mengerahmendapatkan kepandaian. Dari pengertian motivasi belajar yang
dikemukakan para ahli, dapat disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu
dorongan atau kehendak untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan yang
timbul karena adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan.
Pembahasan macam-macam motivasi, hanya akan dibahas dari dua sudut
pandang, yakni motivasi yang berasal dari dalam diri pribadi seseorang yang
disebut “motivasi intrinsik” dan motivasi yang berawal dari luar diri seseorang
yang disebut “motivasi ekstrinsik”.
1) Motivasi intrinsik

35
Sardiman A. M, interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar,, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2007), h. 73.
36
”Motivasi Belajar” artikel diakses pada 19 Desember 2007 dari
http://www.damandiri.or.id/file/naniktunpabsbab2.pdf, h. 28.
31

Motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau fungsinya


tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada
dorongan untuk melakukan sesuatu.37
Motivasi intrinsik juga dapat diartikan sebagai motivasi yang timbul dari
dalam diri seseorang atau motivasi yang erat hubungannya dengan tujuan belajar.
Misalnya: keinginan untuk memahami suatu konsep; keinginan untuk
memperoleh pengetahuan, keinginan untuk memperoleh keterampilan, dan
sebagainya.
Apabila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dari dalam dirinya,
maka ia secara sadar akan melakukan sesuatu kegiatan yang tidak memerlukan
motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat
diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang memiliki motivasi intrinsik
selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatarbelakangi oleh pemikiran
yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajajari akan dibutuhkan dan
sangat berguna di masa mendatang.
Siswa yang memiliki motivasi intrinsik akan memiliki tujuan menjadi
orang yan gterdidik, yang berpengetahuan, yang ahli dalam bidang studi tertentu.
Satu-satunya jalan untuk menuju ke tujuan yang ingin dicapai yaitu belajar,
karena tanpa belajar tidak mungkin mendapat pengetahuan dan menjadi seorang
ahli. Dorongan yang menggerakkan itu bersumber pada suatu kebutuhan,
kebutuhan yang berisikan keharusan menjadi orang yang terdidik dan
berpengetahuan. Jadi, memang motivasi itu muncul dari kesadaran diri sendiri
dengan tujuan secara esensial, bukan sekedar simbol dan seremonial.
2) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena
adanya perangsang dari luar atau motivasi yang datangnya dari luar individu.
Motivasi belajar dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan
belajarnya diluar faktor-faktor situasi belajar. Anak didik belajar karena hendak

37
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2002), Cet.1,
h.149
32

mencapai tujuan yang terletak diluar hal yang dipelajarinya. Misalnya, untuk
mencapai angka tinggi, diploma, gelar, dan sebagainya.38
Perlu ditegaskan bahwa motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang
tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan
agar anak didik mau belajar. Hal ini disebabkan karena kemungkinan besar
keadaan siswa itu dinamis, berubah-ubah dan juga mungkin komponen komponen
lain dalam proses pembelajaran ada yang kurang menarik bagi siswa sehingga
diperlukan motivasi intrinsik.
Berdasarkan penjelasan macam-macam motivasi belajar di atas, baik
motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik, kedua-duanya merupakan
pendorong seseorang untuk melakukan suatu aktivitas atau kegiatan yang timbul
karena adanya kebutuhan untuk mencapai tujuan belajar yang diinginkan. Namun,
tentunya agar aktifitas dalam belajar tersebut memberikan kepuasan atau ganjaran
di akhir kegiatan belajar, maka sebaiknya motivasi yang mendorong siswa untuk
belajar adalah motivasi intrinsik.

5. Hasil Penelitian Relevan


Berdasarkan hasil penelitian yang berhubungan dengan penerapan model
sains teknologi dan masyarakat antara lain adalah sebagai berikut:
I Made Wirata dalam penelitiannya yang berjudul “Implementasi
Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) dengan Bantuan Diagnosis-
Preskriptif dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Fisika Pada Siswa
Kelas I SLTP Negeri 5 Singaraja”. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa
terjadina peningkatan hasil belajar siswa dan siswa sudah cukup memahami, dan
mengenal berbagai perkembangan isu-isu sains, teknologi dan sosial, terutama
yang terkait erat dengan keadaan lingkungan di sekitar siswa.39
Ida Bagus Putu Arnyana dalam penelitiannya yang berjudul “Penerapan
Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi Kelas III
38
Ibid., h.151
39
I Made Wirata, Implementasi Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat (STM) dengan
Bantuan Diagnosis-Preskriptif dalam Upaya Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Fisika Pada
Siswa Kelas I SLTP Negeri 5 Singaraja, Aneka Widya STKIP Singaraja, No. 3 TH. XXXIII Juli
2000.
33

Cawu 3 SMU Negeri 4 Singaraja Tahun Pelajaran 1998/1999”. Fokus masalah


yang terdapat dalam penelitian ini dikarenakan kurangnya pemahaman siswa
mengenai pembelajaran biologi karena dirasakan mata pelajaran biologi sebagai
beban yang harus diingat, dihafal, dipahami, dan tidak dirasakan maknanya dalam
kehidupan sehari-hari, sehingga minat dan motivasi belajar siswa masih sangat
rendah. Untuk itu peneliti menggunakan model STM dalam pembelajaran biologi.
Hasil penelitian ini menunjukan adanya peningkatan hasil belajar siswa yang
disebabkan oleh motivasi belajar siswa yang tinggi.40
I Made Rideng dalam penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Model
Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat Terhadap
Hasil Belajar Siswa SLTP”. Hasil penelitiannya adalah kualitas proses belajar
mengajar untuk kelompok yang diajar dengan model pembelajaran IPA dengan
pendekatan sains teknologi dan masyarakat lebih baik dibandingkan dengan
kelompok yang diajar dengan pendekatan konvensional. skor rata-rata masing-
masing hasil pengamatan 2,96 dan 1,84 untuk skala 1-4. 41
Ni Ketut Rapi dalam penelitiannya yang berjudul “Pengembangan
Literasi Sains dan Teknologi Siswa Melalui Pembelajaran IPA Dengan
Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat di SLTP”. Temuan-temuan penelitian
ini menunjukkan bahwa: (1) tingkat penguasaan siswa kelas eksperimen terhadap
konsep-konsep IPA adalah cukup, sedangkan kelas kontrol adalah kurang sekali.
(2) literasi sains dan teknologi siswa kelas eksperimen berkualitas lebih dari
cukup, sedangkan kelas kontrol adalah kurang. (3) pendekatan STM lebih efektif
daripada pendekatan konvensional dalam pembelajaran konsep suhu dan kalor. 42

40
Ida Bagus Putu Arnyana, Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat dalam
Pembelajaran Biologi Kelas III Cawu 3 SMU Negeri 4 Singaraja Tahun Pelajaran 1998/1999,
Aneka Widya STKIP Singaraja, No. 3 TH. XXXIII Juli 2000.
41
I Made Rideng,(2000) Pengaruh Model Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Sains
teknologi dan masyarakat Terhadap Hasil Belajar SIswa SLTP, Aneka Widya STKIP Singaraja,
no 4 TH. XXIII Januari. h.56
42
Ni Ketut Rapi, Pengembangan Literasi Sains dan Teknologi Siswa Melalui
Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat di SLTP, Aneka Widya
STKIP Singaraja, no 1 TH. XXII Januari 1999. h.175
34

B. Kerangka Pikir
Konsep-konsep fisika merupakan konsep yang cukup sulit untuk
dipelajari dan dipahami oleh siswa karena bersifat abstrak, oleh karena itu
diperlukan metode yang menarik minat para siswa agar konsep fisika mudah
diserap dan dipahami oleh setiap siswa. Rendahnya penguasaan atau
pemahaman tidak terlepas dari penggunaan metode, model, atau pendekatan
pembelajaran yang digunakan oleh para pendidik.
Salah satu model pengajaran yang tepat untuk membuat siswa
memahami terhadap konsep-konsep atau prinsip-prinsip fisika, dan juga
menanamkan pemahaman siswa terhadap teknologi yang berkaitan dengan
konsep tersebut, dan kemungkinan penggunaanya di dalam masyarakat atau
dalam kehidupan sehari-sehari yaitu melalui model STM.
Dalam model STM peserta didik mampu menghubungkan realitas
sosial dengan topik pembelajaran di dalam kelas, peserta didik mampu
menggunakan berbagai jalan untuk mensikapi berbagai situasi yang
berkembang di dalam masyarakat berdasarkan pandangan ilmiah dan peseta
didik mampu menjadikan dirinya sebagai warga masyarakat yang memiliki
tanggung jawab sosial.
Dengan demikian dapat diduga bahwa model STM akan dapat
mempertinggi pencapaian penguasaan konsep fisika siswa.
35

Masalah:
D 1. Kemajuan IPTEK yang tidak diimbangi dengan pengetahuan awal siswa
mengenai sains (fisika)
2. Pembelajaran Usaha dan energy masih belum bersifat kontekstual
3. Penguasaan konsep peserta didik pada topic Usaha dan Energi masih rendah
3

Siswa kurang termotivasi belajar fisika

Model pembelajaran yang mengaitkan antara sains, teknologi, dan masayarakat

1. Menjembatani antara sains teknologi masyarakat


2. Memecahkan isu/masalah yang ada dalam masyarakat
3. Siswa lebih cepat menguasai konsep pembelajaran

Motivasi siswa meningkat

Penguasaan konsep siswa meningkat

Gambar 2.3 Bagan Kerangka Berpikir

C. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir, maka hipotesis penelitian
dirumuskan sebagai berikut: Terdapat pengaruh penerapan model STM
terhadap peningkatan penguasaan konsep siswa.
36

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode quasi eksperimen
atau eksperimen semu yaitu penelitian yang mendekati eksperimen sungguhan
dimana tidak mungkin mengadakan kontrol atau memanipulasikan semua variabel
yang relevan.1 Jadi, penelitian harus dilakukan secara kondisional dengan tetap
memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi validitas hasil penelitian.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di SMP N 48 Jakarta. Adapun waktu yang
diperlukan dalam kegiatan penulisan skripsi ini adalah pada Juli 2009 sampai Mei
2010. Pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan pada bulan April sampai
Mei 2010.

C. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah “pretest – posttest control group
design”.2 Sebelum proses pembelajaran dimulai dilakukan tes awal (pretest)
untuk kedua kelompok, dengan tujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan
konsep siswa. Kemudian setelah akhir penelitian (selesai pertemuan pokok
bahasan) diadakan tes akhir (posttest) dengan butir yang sama pada kedua
kelompok. Dalam hal ini teknik yang digunakan adalah model sains teknologi
msayarakat. Setelah mendapatkan data, kemudian dianalisa untuk mengetahui
apakah penggunaan model sains teknologi masyarakat dalam pengajaran fisika
berpengaruh untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa. Skema disain
digambarkan sebagai berikut:

1
Moh. Kasiram, Metodologi Penelitian: Refleksi Pengembangan Pemahaman dan
Penguasaan Metodologi Penelitian (Malang: UIN Malang Press, 2008), cet. 1, h. 165.
2
Ibid., h. 222.

36
37

Tabel 3.1 Desain Penelitian


Subjek Pre-test Perlakuan Pos-test
Kelompok eksperimen X1 XA X2
Kelompok kontrol X1 XB X2

Pada Tabel 1 tersebut, XA adalah perlakuan (treatment) berupa penerapan


pendekatan STM pada kelompok A sedangkan XB adalah perlakuan
(treatment) berupa penerapan model konvensional.

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Menurut Suharsimi Arikunto, populasi adalah keseluruahn subjek
penelitian.3 Dengan demikian yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh siswa SMP N 48 Jakarta Selatan. Populasi dalam penelitian ini dibagi
menjadi 2 bagian yaitu :
Populasi target : Seluruh siswa SMP N 48 Jakarta Selatan.
Populasi terjangkau : Seluruh kelas VIII SMP N 48 Jakrta Selatan yang
berjumlah 7 kelas.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.4 Artinya
peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi. Apa yang
dipelajari sampel kesimpulannya dapat diberlakukan untuk populasi. Sampel yang
digunakan dalam penelitian yaitu kelas VIII-1 dan VIII-3 SMP Negeri 48 Jakarta.

E. Teknik Pengambilan Sampel


Sampel dalam penelitian ini diambil dari populasi terjangkau melalui teknik
“purposive sampling”, yaitu pengambilan sampel berdasarkan pertimbangan
tertentu sesuai dengan tujuan penelitian.5

3
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: PT Rineka
Cipta, 2002), edisis revisi IV Cet. Ke-13, h. 1130
4
Ibid., h. 131.
5
Ibid., h. 139-140.
38

F. Variabel Penelitian
Menurut Sugiyono, “variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat
atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu
yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya.”6 Variabel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada
dua yaitu variabel x atau variabel bebas (Independent Variabel) dan variabel y
atau variabel terikat (Dependent Variabel).
1. Variable bebas (Independent Variabel) yaitu model sains teknologi
masyarakat (STM)
a) Definisi konseptual model STM adalah pendekatan pengajaran yang
mengacu pada konsep yang terdapat di dalam kurikulum dan yang ada
masalah yang terdapat pada masyarakat sebagai dampak dari penerapan
teknologi.
b) Definisi operasional model STM adalah pengajaran yang diawali
dengan masalah-masalah yang terdapat di dalam masyarakat yang
terkait dengan proses pembelajaran.

2. Variable terikat (Dependent Variable) yaitu penguasaan konsep fisika


a) Definisi konseptual yaitu penguasaan konsep adalah terjadinya
perubahan kepandaian, atau kemampuan seseorang dimana proses
tersebut berubah tahap demi tahap pada mata pelajaran fisika.
b) Definisi operasional yaitu penguasaan konsep adalah skor atau nilai
yang diperoleh siswa setelah melakukan kegiatan belajar mengajar pada
mata pelajaran fisika.

6
Sugiyono, Statistika Untuk Penelitian (Bandung: Alfabeta, 2008), cet.13, h. 3.
39

G. Alur Penelitian
Sebelum melakukan penelitian, peneliti melakukan berbagai tahapan sehingga
peneliti dapat mengetahui dengan pasti permasalahan apa yang ada dalam sekolah
tersebut.

Survei Pendahuluan

Masalah Pembelajaran
Pendahuluan
Penyusunan Instrumen

Membuat Perangkat Pembelajaran

Uji Coba +
Analisis

Pretest

Alur Penelitian Pelaksanaan


Penerapan Model Sains Teknologi
Masyarakat

Posttest

Analisis Data

Hasil Penelitian
Akhir
Penarikan Kesimpulan

Gambar 3.1 Alur Prosedur Penelitian


40

Alur penelitian yang dibuat peneliti memiliki 3 tahapan, yaitu :

1. Pendahuluan

Dalam pendahuluan terdapat 5 tahapan yang dilakukan peneliti, yaitu a)


peneliti melakukan survei ke sekolah, b) megidentifikasi masalah pembelajaran, c)
melakukan penyusunan instrumen, d) membuat perangkat pembelajaran, dan e)
melakukan uji coba.

2. Pelaksanaan

Pada tahapan ini hasil dari uji coba instrumen diberikan kepada siswa sebelum
diterapkan model STM untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Setelah itu,
diberikan model STM dalam pembelajaran dan terakhir kembali diberikan tes
untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan penerapan model STM dalam
pembelajaran.

3. Akhir

Pada tahapan akhir peneliti membuat analisis data serta hasil penelitian yang
telah dilakukan dah terakhir memberikan kesimpulan terhadap penelitian.

H. Teknik Pengumpulan Data


Untuk memperoleh data yang valid dan aktual, maka peneliti melakukan
pengumpulan data dengan menggunakan dua buah data. Data utama adalah
penguasaan konsep fisika yang diperoleh dari penyelenggaraan pretest dan
posttest. Data penunjang penelitian adalah data hasil angket berupa motivasi yang
dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.

I. Instrumen Penelitian
Jenis tes yang digunakan yaitu tes objektif penguasaan konsep fisika dalam
bentuk pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban, yaitu a, b, c, dan d.
Instrumen yang akan digunakan untuk mengukur sejauh mana efektifitas model
STM untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika siswa pada materi usaha dan
41

energi diperlukan data tentang kemampuan penguasaan konsep fisika siswa


sebelum dan sesudah perlakuan. Atas dasar ini, teknik pengambilan data
dilakukan dua kali dengan instrumen pengukuran berupa soal pilihan ganda yang
terdiri dari 20 soal, dengan pensekoran jika benar diberi skor 1 dan jika salah
diberi skor 0. Tes yang diberikan sebelum perlakuan disebut tes awal (pretest),
dan tes yang diberikan setelah perlakuan disebut tes akhir (posttest).
1. Instrumen Tes
Berikut ini tabel penyusunan kisi-kisi instrumen tes untuk mengukur hasil
belajar fisika berdasarkan indikator yang akan dicapai
Tabel 3.2 Kisi-kisi Instrumen Penguasaan Konsep
Aspek Kognitif
No Indikator Jumlah
C1 C2 C3 C4
Menjelaskan pengertian
1 energi dan contohnya dalam 1* 2* 2
kehidupan sehari-hari.
Mendeskripsika perubahan
2 energi dan contohnya dalam 3* 4* 2
kehidupan sehari-hari
Membedakan energi kinetik
3 7* 1
dan energi potensial.
Menghitung besar energi
4 8* 10* 2
kinetik dan energi potensial
Menjelaskan hukum 12*,
5 15* 3
kekekalan energi 13*
Menjelaskan perbedaan
antara sumber energi yang
6 dapat diperbaharui dengan 16* 18* 2
energi yang tidak dapat
diperbaharui.
Menjelaskan pengertian 20*,
7 19* 23* 4
usaha 22*
Menganalisis hubungan
8 antara usaha dan energi 25* 26* 2
potensial serta kinetik
Menganalisis hubungan
9 28* 30* 2
antara usaha dan daya

Ket.
Nomor soal bertanda bintang (*) adalah soal yang digunakan dalam penelitian
berdasarkan hasil uji coba instrument yang dilakukan.
42

2. Kalibrasi Instrumen
Instrumen tes hasil belajar yang digunakan untuk penelitian terlebih dulu
harus dilakukan uji kelayakan yaitu: validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan
daya pembeda. Berikut ini adalah langkah-langkah yang ditempuh untuk
mengetahui bahwa tes yang akan dipakai memenuhi keempat kriteria tersebut.

a. Uji Validitas
Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang
diinginkan atau dengan kata lain suatu alat evaluasi disebut valid jika ia dapat
mengevaluasi dengan tepat sesuatu yang di evaluasi tersebut. Uji validitas
adalah uji kesanggupan alat penilaian dalam mengukur isi yang sebenarnya.
Uji coba ini dilakukan dengan mengkorelasikan skor masing-masing item
denmgan skor total. Untuk mengukur validitas soal dalam penelitian ini
digunakan rumus ”point biserial” :7
M p  Mt p
rpbi 
SDt q
Keterangan:
rpbi = Koefisien Korelasi Pont Biserial
Mp = Mean skor pada tes yang memiliki jawaban benar
Mt = Mean skor total
SDt = Standar deviasi dari skor total
P = Proporsi peserta tes yang menjawab benar
Q = Proporsi peserta tes yang menjawab salah, q = 1 – p
Perhitungan uji validitas bisa dilihat pada lampiran 8. Berdasarkan hasil
perhitungan tersebut, diperoleh data bahwa dari 30 soal yang diujicobakan
terdapat 21 soal yang dinyatakan valid. Diantara 21 soal yang valid ini
selanjutnya akan dipilih kembali berdasarkan kriteria yang lainnya untuk dapat
digunakan dalam penelitian ini. Adapun butir soal yang valid terdapat pada
tabel 3.2.

7
M. Subana dan Sudrajat, Dasar-dasar Penelitian Ilmiah (Bandung: Pustaka Setia, 2001),
cet. 1, h. 187.
43

b. Uji Reliabilitas
Reliabilitas alat penilaian adalah ketepatan atau keajegan alat tersebut
dalam menilai apa yang dinilainya. Uji ini dilakukan dengan menggunakan
rumus Spearman-Brown, yaitu :8
2(r1 1 )
r11  2 2

1  r1 1
2 2

Keterangan:
r11 : koefisien reliabilitas instrument
r1 1 : rxy yang disebutkan indeks korelasi antara dua belahan instrumen
2 2

Perhitungan uji reabilitis dapat dilihat pada lampiran 9. Metode yang


digunakan dalam perhitungan reliabilitas ini adalah metode ganjil-genap.
Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh bahwa nilai reliabilitas instrumen
tes ini adalah 0,91. Nilai ini termasuk kategori tinggi. Oleh karena itu, dapat
disimpulkan instrumen ini layak untuk digunakan dalam penelitian ini.
c. Taraf Kesukaran
Untuk mengetahui apakah soal-soal yang diberikan termasuk ke dalam
kategori mudah, sedang, atau sukar, maka digunakna perhitungan taraf
kesukaran dengan rumus :9


Js
Keterangan
P : Indeks kesukaran untuk setiap butir soal
B : Banyak Peserta didikyang menjawab benar
Js : Jumlah seluruh Peserta didikyang mengikuti tes

8
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), ed.
Revisi, cet. 8, h. 100-101.
9
Ibid, h 208
44

Penentuan kriteria indeks kesulitan soal sebagai berikut


Tabel 3.3 Katagori Derajat Kesukaran
Rentang Nilai Katagori
0,00 ≤ I < 0,30 Sukar
0,31 ≤ I < 0, 70 Sedang
0,71 ≤ I ≤ 1,00 Mudah

Perhitungan taraf kesukaran bias dilihat pada lampiran 10. Berdasarkan


hasil perhitungan tersebut, diperoleh data bahwa dari 30 soal yang
diujicobakan terdapat 24 soal dinyatakan sedang, dan 6 soal dinyatakan sukar.
Kriteria soal yang dianggap layak untuk digunakan adalah soal yang memiliki
derajat kesukaran sedang atau mudah. Dengan demikian, instrumen ini layak
untuk digunakan dalam penelitian ini.
d. Daya Pembeda Soal
Analisis daya pembeda mengkaji butir-butir soal dengan tujuan untuk
mengetahui kesanggupan soal dalam membedakan siswayang tergolong
mampu (tinggi prestasinya) dengan siswa yang tergolong kurang mampu
(lemah prestasinya). Cara perhitungan daya pembeda adalah dengan
menggunakan rumus sebagai berikut:10
D = PA – PB, dimana
BA B
PA = dan PB = B
JA JB
Keterangan:
D = daya pembeda
PA = proporsi kelas atas
PB = proporsi kelas bawah
BA = banyak siswakelas atas yang menjawab benar untuk setiap butir soal
BB = banyak siswakelas bawah yang menjawab benar untuk setiap butir soal
JA = jumlah siswakelas atas
JB = jumlah siswakelas bawah
10
Ibid, h. 213
45

Tabel 3.4 Katagori Daya Pembeda


Rentang Nilai Katagori
D < 0,20 jelek (poor)
D = 0,20 – 0,40 cukup (satisfactory)
D = 0,40 – 0,70 Baik (good)
D = 0,7 – 1 Sangat baik (excellent)

Perhitungan daya pembeda bisi dilihat pada lampiran 11. Berdasarkan


hasil perhitungan tersebut, diperoleh data bahwa dari 30 soal yang
diujicobakan terdapat 4 soal yang dinyatakan drop, 6 soal dinyatakan cukup,
12 dinyatakan baik, dan 8 soal dinyatakan baik sekali. Soal-soal yang layak
digunakan adalah soal yang memiliki daya beda yang baik sekali, baik, atau
cukup

3. Instrumen Non Tes


Instrumen non tes dalam penelitian ini yaitu lembar angket motivasi belajar.
Dalam penelitian kuantitatif, lembar angket lebih sering digunakan sebagai alat
pelengkap instrumen lain. Angket pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
motivasi siswa pada pembelajaran model STM.

J. Teknik Analisis Data


Setelah melakukan uji instrumen, maka dilakukan penelitian. Data yang
diperoleh melalui instrumen penelitian selanjutnya diolah dan dianalisis supaya
hasilnya dapat digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian dan menguji
hipotesis. Dalam pengolahan dan penganalisaan data tersebut digunakan statistik.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam penggunaan statistik untuk pengolahan
data tersebut adalah:
46

1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat bahwa data yang diperoleh dari
populasi berdistribusi normal atau tidak. Pengujian ini menggunakan tes
kecocokan chi-kuadrat, dengan rumus ;11

X2 
oi  Ei 2
Ei

Simbol Oi pada persamaan tersebut menunjukan frekuensi obserfasi


sedangkan simbol Ei menunjukan frekuensi ekspektasi (harapan). Kriteria
pengujian nilai chi-kuadrat adalah sebagai berikut:
a. Jika X2hitung ≤ X2tabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak (data terdistribusi
normal)
b. Jika X2hitung > X2tabel, maka Ha ditolak dan Ho diterima ( data tidak terdistribusi
normal)
2. Uji Homogenitas
Sedangkan uju homogenitas varians yang digunakan adalah uji F, yaitu:12
Variansi besar
F
Variansi kecil
Kriteria pengujian uji F adalah sebagai berikut :
a. Fhitung < Ftabel, maka Ha diterima dan Ho ditolak (homogen)
b. Fhitung > Ftabel, maka Ha ditolak dan Ho diterima (tidak homogen)

3. Uji Hipotesis
Setelah prasyarat analisis data dipenuhi, maka hipotesis diuji dengan
uji-t pada taraf signifikansi α = 0,05. Uji-t ini digunakan untuk
membandingkan dua kelompok yang independen dan biasa digunakan
untuk membandingkan akibat dua treatment yang dilakukan pada suatu
penelitian. Uji-t yang digunakan adalah sebagai berikut:
1) Menentukan Uji Statistik13

11
M. Subana dan Sudrajat, Op. Cit., h. 149-150.
12
Ibid., h. 161.
47

X1  X 2
t=
1 1
dsg 
n1 n2

n1  1V1  n2  1V2


dengan dsg 
n1  n2  2

Keterangan:
N1 = Jumlah sampel kelompok 1
N2 = Jumlah sampel kelompok 2
V1 = Varians data kelompok eksperimen 1 (sd1)2
V2 = Varians data kelompok kontrol 1 (sd2)2
dsg = nilai deviasi standar gabungan
X 1 = rata-rata data kelompok 1
X 2 = rata-rata data kelompok 2

4. Pengujian Hipotesis
Secara statistik hipotesis dinyatakan sebagai berikut:
Ho : µ 1 = µ 2
H1 : µ 1 > µ 2
Keterangan:
Ho = Hipotesis nihil
H1 = Hipotesis alternatif
µ 1 = Penguasaan konsep peserta didik sesudah diberi pembelajaran dengan model
sains teknologi masyarakat
µ 2 = Penguasaan kosep peserta didik sesudah diberi pembelajaran dengan model
konvensional

13
Ibid., h. 161-162.
47

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pretest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Berdasarkan hasil analisis data pretest diperoleh histogram seperti gambar 4.1

12

10
Jumlah Siswa

8
Kelas Eksperimen
6
Kelas Kontrol
4

0
15-19 20-24 25-29 30-34 35-39 40-44
Jarak Antar Kelas

Gambar 4.1 Histogram Tes Penguasaan Konsep (Pretest) Kelas Eksperimen


dan Kelas Kontrol

Dari histogram di atas terlihat bahwa pada kelas eksperimen tidak terdapat
siswa yang mendapatkan nilai pada interval 15-19, sedangkan pada kelas kontrol
sebanyak 3 siswa yang mendapatkan nilai pada interval tersebut. Pada kelas
eksperimen sebanyak 4 orang mendapatkan nilai pada interval 20-24, pada kelas
kontrol sebanyak 6 orang. Pada kelas eksperimen sebanyak 9 orang mendapat
nilai pada interval 25-29 pada kelas kontrol sebanyak 7 orang. Pada kelas
eksperimen sebanyak 8 orang mendapatkan nilai pada interval 30-34, pada kelas
kontrol sebanyak 10 orang. Pada kelas eksperimen sebanyak 8 orang
mendapatkan nilai pada interval 35-39, pada kelas kontrol sebanyak 1 orang. Pada
kelas eksperimen sebanyak 3 orang mendapatkan nilai pada interval 40-44, pada
kelas kontrol sebanyak 4 orang. Dari uraian diatas, dapat kita ketahui bahwa nilai
terendah pada kelas eksperimen adalah 20, sedangkan pada kelas kontrol 15. Nilai
tertinggi pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama yaitu 40. Nilai rata-rata

47
48

yang diperoleh oleh kelas eksperimen sebesar 42,6, siswa yang mendapat nilai
diatas rata-rata sebanyak 55%, siswa yang mendapat nilai dibawah rata-rata
sebanyak 45%. Pada kelas kontrol nilai rata-rata yang diperoleh sebesar 42,7,
siswa yang mendapat nilai diatas rata-rata sebanyak 47,5%, siswa yang mendapat
nilai dibawah rata-rata sebanyak 52,5%.

B. Hasil Posttest Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol


Berdasarkan hasil analisis data posttest diperoleh histogram seperti gambar 4.2

16
14
12
Jumlah Siswa

10
Kelas Eksperimen
8
Kelas Kontrol
6
4
2
0
40-46 47-53 54-60 61-67 68-74 75-81
Jarak Antar Kelas

Gambar 4.2 Histogram Tes Penguasaan Konsep (Posttest) Kelas Eksperimen


dan Kelas Kontrol

Dari histogram di atas terlihat bahwa pada kelas eksperimen terdapat 2 siswa
yang mendapatkan nilai pada interval 40-46, sedangkan pada kelas kontrol
sebanyak 2 siswa yang mendapatkan nilai pada interval tersebut. Pada kelas
eksperimen sebanyak 1 orang mendapatkan nilai pada interval 47-53, sedangkan
pada kelas kontrol sebanyak 3 orang. Pada kelas eksperimen sebanyak 8 orang
mendapat nilai pada interval 54-60 sedangkan pada kelas kontrol sebanyak 8
orang. Pada kelas eksperimen sebanyak 3 orang mendapatkan nilai pada interval
61-67, pada kelas kontrol sebanyak 9 orang. Pada kelas eksperimen sebanyak 4
orang mendapatkan nilai pada interval 68-74, pada kelas kontrol sebanyak 5
orang. Pada kelas eksperimen sebanyak 14 orang mendapatkan nilai pada interval
49

75-81, pada kelas kontrol sebanyak 4 orang. Dari uraian diatas, dapat kita ketahui
bahwa nilai terendah pada kelas eksperimen adalah 40, sedangkan pada kelas
kontrol juga 40. Nilai tertinggi pada kelas eksperimen dan kelas kontrol sama
yaitu 81. Nilai rata-rata yang diperoleh oleh kelas eksperimen sebesar 68,34,
siswa yang mendapat nilai diatas rata-rata sebanyak 50%, siswa yang mendapat
nilai dibawah rata-rata sebanyak 50%. Pada kelas kontrol nilai rata-rata yang
diperoleh sebesar 62,42, siswa yang mendapat nilai diatas rata-rata sebanyak
47,5%, siswa yang mendapat nilai dibawah rata-rata sebanyak 52,5%.
Berikut ini adalah tabel rekapitulasi data yang diperoleh selama penelitian.
Tabel 4. 1
Rekapitulasi Data Hasil Instrumen Tes
Pretest Posttest
Data
Eksperimen Kontrol Eksperimen Kontrol
Skor Max 40 40 85 80
Skor Min 20 15 45 40
Rata-rata 29,53 28,93 68,34 62,42
Median 30 29,25 69,7 62,46
Modus 25 30,75 69,7 61,9
SD 5,56 7,27 11,29 9,68

Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan rata-rata nilai posttest pada


kelompomk eksperimen dengan menggunakan model sains teknologi masyarakat
sebesar 68,34 dan kelompok kontrol dengan pembelajaran konvensional sebesar
62,42. Jadi, dapat didapatkan bahwa dengan menggunakan model STM dalam
pembelajaran dapat meningkatkan nilai belajar siswa.

1. Nilai Normal Gain (N-Gain) Kelas VIII Kelompok Eksperimen dan


Kontrol
Berikuti ini adalah tabel rekapitulasi uji Nilai Normal Gain (N-Gain).
Tabel 4.2 Rekapitulasi Nilai Kelompok Eksperimen dan Kontrol
Banyak Rata-rata Rata-rata
Kelompok N-Gain Katagori
Siswa Pretest Posttest
Eksperimen 32 39,5 67,9 0,47 Sedang
Kontrol 31 28,93 62,42 0,40 Sedang
50

Data pada tabel tersebut di atas dapat divisualisasikan dalam histogram


berikut:

Gambar 4.3 Diagram Batang Penguasaan Konsep


Kelompok Eksperimen dan Kontrol

C. Hasil Instrumen Nontes


Berdasarkan angket motivasi belajar yang telah disebarkan pada akhir
pertemuan, didapatkan bahwa pada saat penerapan model pembelajaran STM
siswa termotivasi sehingga penguasaan konsep siswa meningkat. Hal ini bisa
dilihat pada hasil penyebaran angket motivasi belajar berikut.

Gambar 4.4 Persentase Angket Motivasi Siswa


pada Penerapan Model STM Soal No 1
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas siswa menyatakan
setuju jika waktu pelajaran fisika tiba, yaitu sebanyak 20 orang (62,5%),
sedangkan sebagian kecil siswa yang menyatakan tidak setuju 6 orang (18,75%),
sangat setuju 4 orang (12,5%), dan sangat tidak setuju 2 orang (6,25%). Hal ini
51

menunjukkan bahwa dengan menggunakan model STM siswa dapat termotivasi


dalam belajar fisika, sehingga dapat meningkatkan penguasaan konsep fisika.

Gambar 4.5 Persentase Angket Motivasi Siswa


pada Penerapan Model STM Soal No 2
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas siswa
menyatakan tidak setuju jika waktu pelajaran fisika tiba mereka bercanda, yaitu
sebanyak 19 orang (59,375%), sedangkan sebagian kecil siswa yang menyatakan
sangat tidak setuju 5 orang (15,625%), sangat setuju 3 orang (9,375%), dan setuju
5 orang (15,625%). Hal ini menunjukkan bahwa ketika pelajaran berlangsung
dengan menggunakan model STM siswa antusias dalam belajar fisika.

Gambar 4.6 Persentase Angket Motivasi Siswa


pada Penerapan Model STM Soal No 3
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas siswa menyatakan
sangat antusias bertanya ketika pelajaran fisika, yaitu sebanyak 18 orang
(56,25%), sedangkan sebagian kecil siswa yang menyatakan sangat setuju 6 orang
(18,75%), tidak setuju 4 orang (12,5%), dan sangat tidak setuju 4 orang (12,5%).
52

Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model STM pada saat
pembelajaran siswa lebih aktif dalam bertanya.

Gambar 4.7 Persentase Angket Motivasi Siswa


pada Penerapan Model STM Soal No 4
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian siswa
menyatakan tidak setuju, jika waktu pelajaran fisika tiba mereka malu untuk
bertanya, yaitu sebanyak 16 orang (50%), sedangkan sebagian siswa yang
menyatakan sangat tidak setuju 8 orang (25%), sangat setuju 3 orang (9,375%),
dan setuju 5 orang (15,625%). Hal ini menunjukkan bahwa ketika pelajaran
berlangsung dengan menggunakan model STM siswa selalu ingin bertanya ketika
ada yang belum dimengerti.

Gambar 4.8 Persentase Angket Motivasi Siswa


pada Penerapan Model STM Soal No 5
Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa mayoritas siswa menyatakan
setuju sebelum pelajaran fisika dimulai siswa belajar lebih dahulu di rumah, yaitu
sebanyak 15 orang (46,875%), sedangkan sebagian siswa yang menyatakan sangat
setuju 5 orang (15,625%), tidak setuju 8 orang (25%), dan sangat tidak setuju 4
53

orang (12,5%). Hal ini menunjukkan bahwa sebelum dimulainya pelajaran fisika
siswa telah lebih dahulu membaca materi yang akan diajarkan.

Gambar 4.9 Persentase Angket Motivasi Siswa


pada Penerapan Model STM Soal No 6
Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa sebagian siswa
menyatakan tidak setuju, jika siswa belajar pada saat ada ulangan saja , yaitu
sebanyak 17 orang (53.125%), sedangkan sebagian siswa yang menyatakan sangat
tidak setuju 8 orang (25%), sangat setuju 3 orang (9,375%), dan setuju 4 orang
(12,5%). Hal ini menunjukkan bahwa dengan model STM siswa lebih termotivasi
lagi untuk belajar di rumah walaupun tidak ada tugas.
Berikut ini adalah tabel rekapitulasi data instrumen nontes yang diperoleh
selama penelitian.
Tabel 4. 3
Rekapitulasi Data Hasil Penelitian Non Tes
Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator Indikator
1 2 3 4 5 6
Sangat setuju 12,5% 9,375% 18,75% 9,375% 15,625% 9,375%
Setuju 62,5% 15,635% 56,25% 15,625% 46,875% 12,5%
Tidak Setuju 18,75% 59,375% 12,5% 50% 25% 53,125%
Sangat Tidak Setuju 6,25% 15,625% 12,5% 25% 12,5% 25%
54

D. Analisis Data
1. Uji Prasyarat Analisis
Data variabel penelitian yang dianalisis dengan menggunakan statistik
inferensial melalui uji perbedaan rata-rata dengan analisis varians faktorial satu
jalur harus memenuhi beberapa persyaratan. Diantaranya adalah:
a. Uji Normalitas
Pengujian normalitas dilakukan dengan maksud untuk mengetahui
apakah sebaran data dari masing-masing kelompok tidak menyimpang dari
ciri-ciri data yang berdistribusi normal. Pengujian normalitas dilakukan
dengan menggunakan statistik kai kuadrat χ. Berdasarkan hasil pengujian
normalitas posttest dari kelompok eksperimen didapatkan X2 hitung adalah
2
4,0505 dan X tabel adalah 7,81 (perhitungan lengkap lihat lampiran 26).
Begitu juga pada kelas kontrol didapatkan X2 hitung adalah 2,0848 dan X2tabel
adalah 7,81 Penghitungan uji normalitas untuk data posttest ini disajikan pada
lampiran 24 dan Lampiran 25. Berikut adalah hasinya:
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Data Posttest

No. Kelompok Χ2hitung Χ2tabel Keputusan

1 Eksperimen 4,0505 7,81 Data terdisrtibusi normal

2 Kontrol 2,0848 7,81 Data terdisrtibusi normal

Nilai χ2tabel diambil berdasarkan nilai pada tabel konsultasi kai kuadrat
pada taraf signifikansi 5% kolom keputusan dibuat didasarkan pada ketentuan
pengujian hipotesis normalitas yaitu jika X2 hitung  X2tabel maka data
2
dinyatakan data berdistribusi normal. Sebaliknya jika X hitung > X2tabel maka
data dinyatakan tidak berdistribusi normal. Pada tabel 4.11 tersebut terlihat
bahwa semua nilai X2 hitung data lebih kecil dari nilai X2tabel maka dinyatakan
semua data berdisrtibusi normal.
55

b. Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas dilakukan dengan maksud untuk mengetahui
apakah sebaran data dari masing-masing kelompok tidak menyimpang dari
ciri-ciri data yang berdistribusi homogen. Pengujian homogenitas dilakukan
uji perbedaan varians δ2 dengan menggunakan statistik F atau uji-F. Pengujian
homogenitas data posttest penguasaan konsep fisika kelompok eksperimen
dan data posttest penguasaan konsep fisika kelompok kontrol menghasilkan
harga Fhtung sebesar 1,3603 sedangkan Ftabel sebesar 1,84. Pengujian homogen
disajikan pada lampiran 26. Berikut ini adalah hasinya:
Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Data Posttest

No Kelompok Varians Fhitung Ftabel Keputusan

1 Eksperimen 127,4641
1,3603 1,84 Kedua data homogen
2 Kontrol 937024

Sama halnya dengan penentuan keputusan pada uji normalitas, pada uji
homogenitas juga didasarkan pada ketentuan pengujian hipotesis homogenitas
yaitu jika nilai Fhitung  Ftabel maka semua data memiliki varians homogen.
Sebaliknya jika Fhitung > Ftabel maka semua data memiliki varians tidah
homogen. Tampak bahwa hasil penghitungan tersebut nilai Fhitung  Ftabel
sehingga dinyatakan semua data memiliki varians homogen.
Berdasarkan hasil pengujian persyaratan analisis terhadap data dari
kedua kelompok di atas, maka pengujian hipotesis dalam penelitian ini dapat
dianalisis dengan menggunakan uji t dapat dilakukan.

2. Uji Hipotesis
Setelah diketahui dan dinyatakan bahwa data hasil posttest berdistribusi
normal dan homogen, maka dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan uji t.
Adapun kriterianya adalah:
Ho : µX1 < µX2
H1 : µX1 > µX2
56

Ho : Tidak terdapat pengaruh model sains teknologi masyarakat pada


pembelajaran fisika terhadap penguasaan konsep siswa.
H1 : Terdapat pengaruh model sains teknologi masyarakat pada pembelajaran
fisika terhadap penguasaan konsep siswa.
µX1 :Nilai rata-rata kelas eksperimen
µX2 :Nilai rata-rata kelas kontrol
Berdasarkan hasil analisis data menggunakan uji t diperoleh thitung sebesar
2,22 ternyata lebih besar dari ttabel sebesar 1,996 ini berarti H0 ditolak dan H1
diterima pada taraf signifikansi   0,05 . Dengan demikian penelitian ini bisa
menguji kebenaran hipotesis yaitu “terdapat pengaruh penerapan model sains
teknologi masyarakat untuk meningkatkan penguasaan konsep siswa pada topik
usaha dan energy”. Penghitungan uji hipotesis disajikan dilampiran 27. Hasil
rekap analisis anava satu jalur pada tabel berikut:
Tabel 4.6 Hasil Analisis Uji t
Kelompok N mean Dsg t hitung T tabel Kesimpulan
Eksperimen 32 68,34
10,61 2,22 1,996 Ho ditolak
Kontrol 31 62,42

Hasil perolehan posttest pada kelas eksperimen mencapai rata-rata yang


lebih tinggi dari pada rata-rata kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa
peningkatan penguasaan konsep siswa kelas eksperimen setelah diberikan
perlakuan berupa model sains teknologi masyarakat lebih tinggi dari pada
peningkatan penguasaan konsep siswa kelas kontrol yang diberi perlakuan berupa
metode konvensional.
Ternyata perolehan nilai rata-rata yang lebih tinggi oleh kelas eksperimen
diikuti dengan peningkatan nilai deviasi standar. Sehingga nilai deviasi standarnya
justru lebih besar dari pada nilai standar deviasi kontrol. Fakta ini menunjukkan
bahwa keragaman kemampuan siswa kelas eksperimen setelah diberikan
perlakuan model sains teknologi masyarakat lebih tidak merata dari pada kelas
kontrol setelah diberi perlakuan berupa penerapan konvensional. Berbeda dengan
57

itu, kelas kontrol walaupun keragaman kemampuannya lebih merata dari pada
kelas eksperimen setelah diberikan perlakuan, namun peningkatan
kemampuannya lebih kecil dari pada kelas eksperimen.

E. Pembahasan Hasil Penelitian


Temuan yang diperoleh selama penelitian adalah bahwa kelompok
eksperimen yang menggunakan model STM dalam pembelajaran fisika lebih baik
dari pada kelompok kontrol yang menggunakan model konvensional. Pernyataan
ini didasarkan pada perolehan rata-rata nilai posttest yaitu, untuk kelompok
eksperimen nilai rata-rata sebesar 68,34 dan untuk kelompok kontrol sebesar
62,42.
Sesuai dengan hasil pengujian hipotesis dengan uji-t, terbukti bahwa
hipotesis alternatif (h1) yang diajukan secara signifikan dapat diterima. Hasil
pengujian hipotesis meyimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran
STM terhadap peningkatan penguasaan konsep fisika siswa pada konsep usaha
dan energi, yang ditunjukan dengan perolehan thitung sebesar 2,22 ternyata lebih
besar dari ttabel sebesar 1,996 dengan taraf signifikasi 5 %. Hasil penelitian ini
memberikan informasi khususnya kepada guru fisika bahwa model pembelajaran
STM berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan penguasaan konsep
fisika siswa..
Hal ini terbukti dengan terlihatnya peningkatan penguasaan konsep siswa
dengan menggunakan model STM, yang diperoleh dari nilai normal gain. Nilai
rata-rata masing kelompok yaitu, untuk kelompok eksperimen dengan gain 0,47
dan kelompok kontrol 0,40, walaupun pada pengkategorian kedua kelas
dikategorikan sedang, tetap saja terlihat nilai rata-rata N-Gain kelompok
eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontro.
Hal ini sejalan dengan penelitian Dewi Nur Widayanti1 Hasil
Penelitiannya menunjukkan bahwa: (1) peningkatan penguasaan konsep siswa

1
Dewi Nur Widayanti, Pengaruh Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat (STM)
Pada Proses Pembelajaran IPA Biologi Materi Ekosistem Terhadap Penguasaan Konsep dan
Sikap Positif Siswa Kelas VII SMP N 5 Wates, http://one.indoskripsi.com
58

materi ekosistem menggunakan pendekatan sains teknologi masyarakat (STM)


lebih tinggi dibandingkan kelas yang tidak menggunakan pendekatan STM, dan
(2) jumlah siswa yang memunculkan sikap positif melalui pendekatan STM
materi ekosistem lebih tinggi dibandingkan kelas yang tidak menggunakan
pendekatan STM. Selain itu sejalan juga dengan penelitian Ita Pahitah2, dalam
penelitiannya menyimpulkan bahwa pendekatan sains teknologi masyarakat
memberikan pengaruh yang positif bagi siswa dalam mempelajari konsep reaksi
oksidasi reduksi dibandingkan dengan siswa yang diajarkan dengan menggunakan
pendekatan konvensional.
Dari deskripsi data, dapat dilihat bahwa penguasaan konsep siswa yang
diajarkan dengan model sains teknologi masyarakat lebih tinggi daripada siswa
yang diajarkan dengan model konvensional. Seperti telah dijelaskan sebelumnya,
hal ini disebabkan karena siswa yang diajar dengan model sains teknologi
masyarakat mempunyai kesempatan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan belajar
mengajar. Model sains teknologi masyarakat juga melatih siswa untuk
memadukan antara konsep yang telah diperoleh dari penjelasan guru di kelas
dengan konsep yang didapat oleh mereka sendiri baik dari buku-buku maupun
internet. Dalam hal ini siswa diajarkan untuk dapat bekerja sama secara
berkelompok dalam memecahkan masalah dan membuat alternatif untuk
mengatasi permasalahan atau topik yang sedang dikaji.
Data angket menunjukkan bahwa siswa bisa diajak mereformasi strategi
pembelajaran menuju pada pembelajaran yang lebih menekankan pada bagaimana
menggali pengetahuan tidak semata-mata menerima pengetahuan. Artinya dalam
pembelajaran STM siswa berperan aktif dalam menentukan proses pembelajaran.
Dari hasil analisis terhadap butir pernyataan angket menunjukkan bahwa siswa
merasa lebih tertarik belajar fisika dengan model STM karena pembelajaran fisika
dirasakan lebih bermanfaat untuk mempelajari fenomena alam dan teknologi yang

2
Ita Pahitah, (2008) Pengaruh Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat (STM)
terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Reaksi Oksidasi Reduksi, Skripsi S1 Jurusan
Pendidikan IPA Program Studi Pendidikan Kimia Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
59

ditemukan sehari-hari. Misalkan dari analisis angket soal nomer 1 didapatkan


bahwa ternyata siswa tertarik dengan adanya model pembelajaran STM dalam
kegiatan belajar mengajar dikarenakan dalam model tersebut dikaitkan antara
pembelajaran yg diajarkan di sekolah dengan teknologi yang ada di sekitar
lingkungan.
Model sains teknologi masyarakat merupakan pembelajaran yang
berlandaskan pada teori belajar kontruktivisme, yang pada prinsipnya siswa akan
membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksi dengan
lingkungan sekitarnya. Model pembelajaran STM merupakan suatu inovasi
pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori
secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik empirik serta dapat
mengaplikasikannya kedalam teknologi.
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh dari penguasaan konsep dan
motivasi siswa, disimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara
penguasaan konsep dengan motivasi siswa. Sesuai dengan hasil pengujian
hipotesis, terbukti bahwa hipotesis alternatif (h1) yang diajukan secara signifikan
dapat diterima, dengan perolehan nilai t hitung >t tabel. Hasil pengujian hipotesis
meyimpulkan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara penguasaan konsep
dengan motivasi siswa. Dengan demikian diketahui bahwa siswa yang memiliki
penguasaan konsep yang tinggi atau peningkatan belajar yang tinggi memiliki
motivasi terhadap pembelajaran STM yang tinggi pula. Sebaliknya jika siswa
memiliki penguasaan konsep yang rendah atau tidak terdapat peningkatan
penguasaan konsep maka, motivasi siswa terhadap pembelajaran STM juga
rendah.

F. Keterbatasan Penelitian
Pada akhir penelitian ini, ada beberapa hal yang perlu disampaikan yang
terkait selama proses penelitian, antara lain:
1. Waktu yang relatif singkat yakni selama kurang lebih satu bulan, sehingga
tidak sepenuhnya menggambarkan keadaan secara utuh kemampuan siswa
secara keseluruhan
60

2. Sarana dan prasarana (alat-alat laboratorium) di sekolah yang kurang


mendukung.
3. Siswa belum terbiasa dengan proses pembelajaran yang berpusat pada mereka,
maka perlu usaha dari guru untuk memfariasikan model atau strategi
pembelajaran agar siswa paham dengan materi yang ada sehingga penguasaan
konsep siswa menjadi lebih baik.
61

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pembahasan yang telah diuraikan di bab sebelumnya,
dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.
1. Penguasaan konsep fisika peserta didik pada topik Usaha dan Energi
mengalami peningkatan. Hal ini bisa dilihat dari skor pretest yang diperoleh
peserta didik sebesar 39,5 dan setelah diberika tindakan berupa model STM
rerata skor posttest menjadi 68,34. Dilihat dari rerata hasil posttest peserta
didik sudah mencapai standar ketuntasan minimum dalam pembelajaran fisika
(  65). Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar peserta didik pada topik
Usaha dan Energi dapat ditingkatkan melalui penerapan model pembelajaran
STM.
2. Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, terbukti bahwa hipotesis alternatif (H1)
yang diajukan secara signifikan dapat diterima. Hasil pengujian hipotesis
menyimpulkan bahwa terdapat peningkatan penguasaan konsep fisika dengan
menggunakan penerapan model pembelajaran STM, yang ditunjukkan thitung
sebesar 2,22 ternyata lebih besar dari ttabel sebesar 1,996 pada pengujian satu
arah dengan   0,05 . Dan hasilnya thitung = 2,22 > ttabel = 1,996.
3. Model STM ternyata cukup efektif diterapkan pada mata pelajaran fisika
khusunya pada konsep Usaha dan Energi. Hal ini dapat dilihat dari motivasi
yang baik yang dilakukan oleh peserta didik.

B. Saran
Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian ini, maka dapat dikemukakan
beberapa saran sebagai berikut.
1. Model Pembelajaran ini dapat dijadikan salah satu alternatif model
pembelajaran yang menekankan pada pengembangan sains dan teknologi
dalam kehidupan masyarakat.

61
62

2. Setiap guru harus pandai dalam memilih dan menentukan model


pembelajaran, metode, pendekatan, strategi dalam kegiatan belajar mengajar
agar peserta didik tidak selalu menerima informasi hanya dari guru saja.
3. Bagi peneliti lain yang tertarik untuk menerapkan model STM, maka
disarankan untuk meninjau pembelajaran pada ranah afektif atau ranah
psikomotorik.
63

Daftar Pustaka

Arikunto, S. (2006). Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT


Rineka Cipta.

A. M, Sadirman. (2007). interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Raja


Grafindo Persada.

Bagus Putu Arnyana, Ida. (2000). Penerapan Pendekatan Sains Teknologi


Masyarakat dalam Pembelajaran Biologi Kelas III Cawu 3 SMU Negeri 4
Singaraja Tahun Pelajaran 1998/1999, Aneka Widya STKIP Singaraja,
No. 3 TH. XXXIII

Djamarah, S Bahri. (2002). Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Bakar, E, dkk. (2006). Preservice Science Teachers Belifes About Science-


Technology And Their Impilication In Society, Eurasia Journal of
Mathematics, Science and Technology Education, Volume 2, Number 3.

Edward Hollenbeck, J. (1998). Scince, Technology and Society:an American


Approach to Environmental Education in Practice in Lowa Schools,
Europe: A Plenary Presentation to the Foundation for Environmental

E. Yeger, R. (1999). Assessment Results with the Science/Technology/Society


Approach.

E. Yager, R and Rustam Roy. (2000). STS: Most Pervasive and Most Radical of
Reform Appoarches to “Science” Education, The University of Lowa and
Pennsylvania State University.

Faiq Dzaki, M. TeoriKonstruktivisme


http://penelitiantindakankelas.blogspot.com/2009/03/teorikonstruktivisme
_06

Fajar, Arnie. (2004). Portofolio Dalam Pembelajaran IPS. Bandung: PT Remaja


Rosda Karya.

Hamalik, O. (2008). Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem.


Jakarta : PT. Bumi Aksara

Kasiram, Moh. (2008). Metodologi Penelitian: Refleksi Pengembangan


Pemahaman dan Penguasaan Metodologi Penelitian. Malang: UIN
Malang
64

Ketut Rapi, Ni. (1999). Pengembangan Literasi Sains dan Teknologi Siswa
Melalui Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan Sains teknologi dan
masyarakat di SLTP, Aneka Widya STKIP Singaraja, no 1 TH. XXII

K. Prasetyo, Z. (2006). Kapita Selekta Pembelajaran Fisika. Jakarta: Universitas


Terbuka Departemen Pendidikan Nasional

Maronta Golib, La. (2002). Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat Dalam


Pembelajaran Sains di Sekolah, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan No.
034 Tahun ke-8.

Nurohman, S. (2007). Penerapan Pendekatan Sains teknologi dan masyarakat


(STM) Dalam Pembelajaran IPA Sebagai Upaya Peningkatan Life Skills
Peserta Didik, Pendidikan Fisika FMIPA UNY

Poedjiadi, A. (2005). Sains Teknologi Masyarakat, Bandung: PT. Remaja


Rosdakarya.

Purwanto. (2008). Upaya Mengembangkan Kecerdasan Majemuk (Multiple


Inelligences) Peserta Didik SMK Melalui Penerapan Pendekatan STM
Dalam Pembelajaran Fisika, Yogyakarta, Dinas Pendidikan Kota
Yogyakarta

Rideng, I Made. (2000). Pengaruh Model Pembelajaran IPA Dengan Pendekatan


Sains teknologi dan masyarakat Terhadap Hasil Belajar SIswa SLTP,
Aneka Widya STKIP Singaraja, no 4 TH. XXIII

Rumansyah dan Irhasyuarna. (2001). Prospek Penerapan Pendekatan Sains-


Teknologi-Masyarakat (STM) Dalam pembelajaran Kimia Di Kalimantan
Selatan , Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan. No. 029 Tahun Ke-7.

Rusmansyah dan Yudha Irhasyuarna. (2003). Implementasi Pendekatan STM


dalam Pembelajaran Kimia di SMUN Kota Banjarmasin, Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan No. 040 Th ke-9

S. Aikenhead, G. (2005). Research Into STS Science Education, (Canada :


University of Sasakatchewan.

Sagala, S. (2006). Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta.

Sadia, I Wayan. 1999. Pengembangan Buku Ajar IPA Sekolah Lanjutan Tingkat
Pertama (SLTP) Berwawasan Sains-Teknologi-Masyarakat, Aneka Widya
STKIP Singaraja.
65

Sanjaya, W. (2006). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses


Pendidikan, Jakarta:Kencana Prenada Media.

Sujanem, R. (2002). Penerapan Bahan Ajar yang Berwawasan Pendekatan STM


Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Praktikum
Fisika Dasar, Sikap Ilmiah, Literasi Sains dan Teknologi Mahasiswa
Pendidikan MIPA STKIP Singaraja, Aneka Widya IKIP Negeri Singaraja
No. 1 Th. XXXV.

Sofyan, A. dkk. (2006). Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasisi Kompetensi,


Jakarta: UIN Jakarta Press.

Subana, M dan Sudrajat. (2001). Dasar-dasar Penelitian Ilmiah. Bandung:


Pustaka Setia.

Sugiyono. (2008). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sutarto. (2005). Buku Ajaran Fisika dengan Tugas Analisis Foto Kejadian Fisika
sebagai Alat Bantu Penguasaan Konsep Fisika, Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan, 11.

Syah, M. (2008). PsikologiBelajar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Utomo, P. Pembelajaran Fisika dengan pendekatan SETS. http.//Ilmuan


Muda.Wordpress.com. diakses tanggal 15 Januari 2010.

Wirata, I Made. (2000). Implementasi Pendekatan Sains-Teknologi-Masyarakat


(STM) dengan Bantuan Diagnosis-Preskriptif dalam Upaya Meningkatkan
Kualitas Pembelajaran Fisika Pada Siswa Kelas I SLTP Negeri 5
Singaraja, Aneka Widya STKIP Singaraja, No. 3 TH. XXXIII
66

Lampiran 1
INSTRUMEN PENELITIAN

Petunjuk Pengisian
1. Materi dalam instrumen ini adalah materi pelajaran fisika yang dibatasi hanya
pada konsep zat kelas VIII semester genap tingkat SLTP.
2. Instrumen ini berbentuk pertanyaan pilihan ganda dengan empat alternative
jawaban a, b, c dan d.
3. Pilihlah salah satu jawaban yang dianggap paling tepat a, b, c atau d dengan
memberi tanda silang (X) pada lembar pertanyaan dibawah ini.
4. Waktu dalam mengisi instrument ini adalah 90 menit.
5. Instrumen penelitian ini hanya untuk kepentingan ilmiah dan tidak
mempengaruhi nilai siswa.
6. Sebelum menjawab pertanyaan terlebih dahulu tulis nama, kelas dan nama
sekolah dengan lengkap pada kolom dibawah ini.
7. Atas partisipasi dan kerja samanya saya ucapkan terima kasih.
8. Awali pengisian jawaban ini dengan mengucap basmalah.

Nama : ……………………………………
Kelas : ……………………………………
Sekolah : ……………………………………

Jakarta, 26 April 2010

Penulis
67

1. Apabila akan menyalakan kompor diperlukan energi, begitu pula ketika akan
mengayuh sepeda maka kita memerlukan energi agar sepeda itu bergerak.
Jadi, energi adalah . . . (C1)
a. kemampuan benda melakukan gaya
b. kemampuan benda melakukan kerja
c. kemampuan benda melakukan kecepatan
d. kemampuan benda melakukan percepata
2. Ketika kita mendengar nama Negara Belanda maka yang ada dibayangan kita

adalah kicir angin. Jika angin bertiup maka kicir angin akan berputar. Pada

peristiwa ini energi yang terjadi ketika kicir itu berputar adalah. . . . (C2)

a. angin c. listrik

b. air d. matahari

3. Konversi energi adalah . . . . (C1)


a. kemempuan untuk melakukan usaha
b. energi yang dihasilakn oleh gerakan partikel penyusunnya
c. perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lain
d. perubahan energi yang dimiliki benda karena ke adaannya

4. Gambar disamping merupakan kereta api tercepat dunia

dengan kecepatan resmi, 581 km/jam . Kereta super cepat ini

telah menggunakan teknologi Magnetic Levitation (Maglev),

sehingga dapat melayang di atas rel dengan magnet

berkekuatan tinggi. Perubahan energi yang terjadi pada kereta tersebut adalah..

(C2)

a. energi magnet – energi gerak


b. energi magnet – energi bunyi
c. energi listrik – energi magnet
d. energi listrik – energi panas
68

5. Berikut adalah empat dasar pemikiran menyangkut konsversi energi atau

penghematan energi, yaitu . . . .

(1) laju konsumsi energi dewasa ini cenderung meningkat


(2) keterbatasan jumlah energi yang dapat diperbaharui
(3) penggunaan energi yang menurun
(4) ketergantungan masyarakat terhadap energi yang tidak dapat diperbaharui
sangat besar
Pernyataan yang benar adalah . . . . (C2)
a. (1) saja c. (3) saja
b. (2) saja d. (4) saja

6. Gambar disamping merupakan air terjun


Victoria yang terletak di sungai
Zimbabwe. Air terjun ini memiliki lebar
kira-kira 1 mil (1,6 km), dengan
ketinggian 128m (420 kaki). Air terjun
memiliki energi . . . (C1)
a. Kinetik c. Listrik
b. Potensial √ d. Gravitasi

7. Perhatikan gambar disamping.

Sebuah kelereng dalam keadaan diam diletakan di atas.


Ketika kita sentuh dengan menggunakan jari maka kelereng
tersebut akan jatuh ke lantai. Peristiwa jatuhnya kelereng ke
lantai menunjukan bahwa kelereng tersebut memiliki
energi . . . .. (C1)
a. potensial c. kinetik
b. gravitasi d. bunyi
8. Energi potensial adalah . . . . (C1)
a. energi yang timbul karena letak suatu benda
b. energi yang dipunyai oleh suatu benda yang bergerak
69

c. energi yang dihasilkan oleh gerakan partikel penyusun benda


d. energi yang dihasikan oleh arus listrik

9. Sebuah mobil yang massanya 800 kg bergerak dengan kecepatan 10 m/s.

Besar energi kinetik yang dimiliki mobil tersebut adalah . . . . (C2)

a. 4.000 joule c. 40.000 joule


b. 16.000 joule d. 1.600 joule
10. Sebuah mangga tergantung ditangkainya pada ketinggian 7 m di atas tanah (g

= 10m/s2). Jika energi potensial yang tersimpan pada mangga tersebut 350

joule, maka massa benda tersebut adalah . . . . (C3)

a. 50 kg c. 5 kg
b. 500 kg d. 5000 kg
11. Sebuah benda dijatuhkan dari keringgian 5 m di atas tanah. Pada saat

mengenai taanh, benda tersebut memperoleh energi kinetik sebesar 450 joule,

maka massa benda itu adalah . . . . (g = 10 m/s2) (C3)

a. 90 kg c. 100 kg
b. 9 kg d. 10 kg
12. Bunyi hukum kekekalan energi adalah. . . . (C1)
a. energi dapat diciptakan dan dapat berubah bentuk dari satu bentuk ke
bentuk yang lain tanpa mengurangi keseluruhan energi.
b. energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat berubah bentuk dari satu
bentuk ke bentuk lain.
c. energi dapat diciptakan dan tidak dapat berubah bentuk dari satu bentuk
ke bentuk lain.
d. energi tidak dapat diciptakan dan dapat berubah bentuk dari satu bentuk ke

bentuk yang lain tanpa mengurangi keseluruhan jumlah energi.

13. Hubungan antara energi mekanik, potensial dan kinetik secara matematis

ditulis dengan... (C1)


70

a. E M  E p  E k c. E m  Ep  Ek

Ep
b. E M  E p  E k d. Em 
Ek
14. Sebuah benda dengan massa 1 kg didorong dari permukaan meja hingga
kecepatan pada saat lepas dari bibir meja adalah 2 m/s. Energi mekanik benda
pada saat ketinggian dari tanah 1 m adalah . . . .(g=10m/s 2 ) (C2)
a. 2 joule c. 12 joule
b. 10 joule d. 22 joule
15. Suatu mesin mempunyai energi mekanik sebesar 750 joule pada saat mesin

mempunyai energi potesnsial sebesar 100 joule, maka besar energi kinetik

mesin tersebut adalah . . . . (C3)

a. 850 J c. 650 J
b. 800 J d. 600 J
16. Perbedaan antara sumber energi yang dapat diperbaharui dan tidak dapat
diperbaharui adalah . . . . (C1)
a. sumber energi yang dapat diperbaharui terbatas di alam sedangkan yang
tidak dapat diperbaharui tidak terbatas
b. sumber energi yang dapat diperbaharui tidak terbatas di alam sedangkan
sumber energi yang tidak dapat diperbaharui terbatas
c. sumber energi yang dapat diperbaharui adalah sumber energi yang bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat sedangkan sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui tidak
d. sumber energi yang dapat diperbaharui adalah sumber energi yang tidak

dimanfaatkan oleh masyarakat sedangkan sumber energi yang tidak dapat

diperbaharui sering dimanfaatkan

17. Contoh penggunaan energi matahari secara langsung oleh manusia adalah. . . .

(C1)

a. setrika listrik c. terjadinya air terjun


71

b. kalkulator d. menjemur pakaian

18. Berikut merupakan beberapa sumber energi.

1 2 3 4
Yang termasuk sumber energi yang dapat diperbaharui adalah. . . . (C2)
a. 1 dan 2 c. 1, 2, dan 4
b. 3 dan 4 d. 2, 3, dan 4

19. Usaha merupakan. . . . (C1)


a. hasil kali antara gaya dengan perpindahan.
b. hasil kali antara gaya dengan kecepatan.
c. hasil kali antara gaya dengan waktu.
a. hasil kali antara gaya dengan percepatan
20. Seekor sapi menarik pedati sejau 2 km pada jalan yang lurus. Jika gaya tarik

sapi kira-kira 5 N, maka usaha yang dilakukan sapi adalah . . . . (C2)

a. 10 J c. 1000 J
b. 10000 J √ d. 100 J
21. Besar suatu usaha yang dilakukan oleh sebuah benda adalah 1000 joule. Jika

massa benda adalah 100 kg dan gaya yang bekerja pada benda adalah 250 N,

maka besar perpindahan yang dilakukan oleh benda adalah . . . . (C3)

a. 2 m c. 4 m
b. 3 m d. 5 m
22. Seorang anak mendorong meja sejauh 2 m dengan gaya 50 N, maka usaha

yang dilakukan anak tersebut untuk mendorong meja adalah . . . . (C2)

a. 100 joule c. 25 joule


72

b. 50 joule d. 75 joule

23. Sebuah bus mogok di tengah jalan. Beberapa orang turun untuk mendorong

bus tersebut. Masing-masing orang mengeluarkan gaya 200 N, 300 N, 400 N,

dan sisanya p N. Jika usaha yang digunakan untuk mengeser bus ke pinggir

jalan sejauh 4 m adalah 4,6 kj, maka harga p adalah . . . . (C4)

a. 200 N c. 300 N
b. 250 N d. 350 N
24. Seorang anak menarik mobil mainan menggunakan tali dengan gaya sebesar

20 N. Tali tersebut membentuk sudut 30o terhadap permukaan tanah. Jika

mobil mainan berpindah sejauh 10 meter dan usaha total yang dilakukan anak

tersebut adalah 153 joule, maka gaya gesekan tanah dengan roda mobil

mainan adalah . . . . (C4)

a. 2 N √ c. 6 N
b. 4 N d. 8 N
25. Energi potensial yang dimiliki pohon kelapa pada ketinggian 8 m di atas
permukaan tanah adalah 320 joule, maka massa kelapa pada pohon tersebut
adalah . . . . (g = 10 m/s2) (C3)
a. 4 N c. 2 N
b. 40 N d. 20 N
26. Usaha total yang dilakukan Ronaldo untuk menendang bola dari keadaan diam
sehingga bergerak lurus menuju gawang dengan kelajuan 30 m/s adalah 67,5
joule, maka massa bola yang ditendang oleh Ronaldo adalah . . . . (C4)
a. 150 meter c. 1,5 meter
b. 15 meter d. 0,15 meter
27. Hubungan dari besarnya usaha dan daya secara matematis dirumuskan
dengan. . . . (C1)
w
a. p c. t  p  w
t
73

t p
b. p d. t 
w w

28. Sebuah pesawat sederhana mempunyai daya 100 watt. Apabila pesawat

melakukan usaha selama 20 s, maka usaha pesawat tersebut adalah . . . (C3)

a. 5 joule c. 120 joule

b. 100 joule d. 2.000 joule

29. Andi yang bermassa 60 kg menaiki tangga selama 4 sekon. Apabila ketinggian

vertikal tangga tersebut adalah 4 meter, maka daya Andi menaiki tangga

tersebut adalah . . . . (g = 10 m/s2) (C2)

a. 400 watt c. 600 watt


b. 500 watt d. 700 watt
30. Seorang anak mampu mendorong meja sejauh 5 meter dengan daya sebesar 5

watt. Jika waktu yang diperlukan anak mendorong meja 30 detik, maka gaya

anak tersebut adalah . . . . (C4)

a. 10 N c. 30 N
b. 20 N d. 40 N
74

Lampiran 2

KUNCI JAWABAN

1 B 11 B 21 C
2 A 12 D 22 A
3 C 13 A 23 B
4 A 14 C 24 A
5 A 15 D 25 A
6 B 16 B 26 D
7 C 17 D 27 A
8 A 18 B 28 D
9 C 19 A 29 C
10 C 20 B 30 C
75

Lampiran 3
SOAL PRETEST DAN POSTES

Nama : ...............................................
Kelas : ...............................................
Sekolah : ...............................................

Petunjuk Pengisian :
1. Bacalah soal dengan teliti sebelum menjawab.
2. Kerjakan terlebih dahulu soal yang dianggap paling mudah
3. jawaban dikerjakan dengan memberikan tanda silang (X) sesuai dengan
jawaban yang dianggap paling benar.
4. Periksa kembali jawaban sebelum dikumpulkan.
5. Awali pengisian jawaban ini dengan mengucap basmalah.

1. Apabila akan menyalakan kompor diperlukan energi, begitu pula ketika akan
mengayuh sepeda maka kita memerlukan energi agar sepeda itu bergerak.
Jadi, energi adalah . . .
a. kemampuan benda melakukan gaya
b. kemampuan benda melakukan kerja
c. kemampuan benda melakukan kecepatan
d. kemampuan benda melakukan percepata
2. Ketika kita mendengar nama Negara Belanda maka yang ada dibayangan kita
adalah kicir angin. Jika angin bertiup maka kicir angin akan berputar. Pada
peristiwa ini energi yang terjadi ketika kicir itu berputar adalah. . . .
a. angin c. listrik

b. air d. matahari

3. Konversi energi adalah . . . .


a. kemempuan untuk melakukan usaha
76

b. energi yang dihasilakn oleh gerakan partikel penyusunnya


c. perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lain
d. perubahan energi yang dimiliki benda karena ke adaannya
4. Gambar disamping merupakan kereta api tercepat dunia
dengan kecepatan resmi, 581 km/jam . Kereta super cepat ini
telah menggunakan teknologi Magnetic Levitation (Maglev),
sehingga dapat melayang di atas rel dengan magnet
berkekuatan tinggi. Perubahan energi yang terjadi pada
kereta tersebut adalah . . .
a. energi magnet – energi gerak
b. energi magnet – energi bunyi
c. energi listrik – energi magnet
d. energi listrik – energi panas

5. Perhatikan gambar disamping.


Sebuah kelereng dalam keadaan diam diletakan di atas.
Ketika kita sentuh dengan menggunakan jari maka kelereng
tersebut jatuh ke lantai. Peristiwa jatuhnya kelereng ke
lantai menunjukan bahwa kelereng tersebut memiliki
energi . . . ..
a. potensial c. kinetik
b. gravitasi d. bunyi
6. Energi potensial adalah . . . .
a. energi yang timbul karena letak suatu benda
b. energi yang dipunyai oleh suatu benda yang bergerak
c. energi yang dihasilkan oleh gerakan partikel penyusun benda
d. energi yang dihasikan oleh arus listrik
7. Sebuah mangga tergantung ditangkainya pada ketinggian 7 m di atas tanah (g
= 10m/s2). Jika energi potensial yang tersimpan pada mangga tersebut 350
joule, maka massa benda tersebut adalah . . . .
a. 50 kg c. 5 kg
77

b. 500 kg d. 5000 kg
8. Bunyi hukum kekekalan energi adalah. . . .
a. energi dapat diciptakan dan dapat berubah bentuk dari satu bentuk ke
bentuk yang lain tanpa mengurangi keseluruhan energi.
b. energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat berubah bentuk dari satu
bentuk ke bentuk lain.
c. energi dapat diciptakan dan tidak dapat berubah bentuk dari satu bentuk
ke bentuk lain.
d. energi tidak dapat diciptakan dan dapat berubah bentuk dari satu bentuk ke
bentuk yang lain tanpa mengurangi keseluruhan jumlah energi.
9. Hubungan antara energi mekanik, potensial dan kinetik secara matematis
ditulis dengan...
a. E M  E p  E k c. E m  Ep  Ek

Ep
b. E M  E p  E k d. Em 
Ek
10. Suatu mesin mempunyai energi mekanik sebesar 750 joule pada saat mesin
mempunyai energi potesnsial sebesar 100 joule, maka besar energi kinetik
mesin tersebut adalah . . .
a. 850 J c. 650 J
b. 800 J d. 600 J
11. Perbedaan antara sumber energi yang dapat diperbaharui dan tidak dapat
diperbaharui adalah . . . .
a. sumber energi yang dapat diperbaharui terbatas di alam sedangkan yang
tidak dapat diperbaharui tidak terbatas
b. sumber energi yang dapat diperbaharui tidak terbatas di alam sedangkan
sumber energi yang tidak dapat diperbaharui terbatas
c. sumber energi yang dapat diperbaharui adalah sumber energi yang bisa
dimanfaatkan oleh masyarakat sedangkan sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui tidak
78

d. sumber energi yang dapat diperbaharui adalah sumber energi yang tidak
dimanfaatkan oleh masyarakat sedangkan sumber energi yang tidak dapat
diperbaharui sering dimanfaatkan
12. Berikut merupakan beberapa sumber energi.

1 2 3 4
Yang termasuk sumber energi yang dapat diperbaharui adalah. . . .
a. 1 dan 2 c. 1, 2, dan 4
b. 3 dan 4 d. 2, 3, dan 4
13. Usaha merupakan. . . .
a. hasil kali antara gaya dengan perpindahan.
b. hasil kali antara gaya dengan kecepatan.
c. hasil kali antara gaya dengan waktu.
d. hasil kali antara gaya dengan percepatan
14. Seekor sapi menarik pedati sejau 2 km pada jalan yang lurus. Jika gaya tarik
sapi kira-kira 5 N, maka usaha yang dilakukan sapi adalah . . . .
a. 10 J c. 1000 J
b. 10000 J d. 100 J
15. Seorang anak mendorong meja sejauh 2 m dengan gaya 50 N, maka usaha
yang dilakukan anak tersebut untuk mendorong meja adalah . . . .
a. 100 joule c. 25 joule

b. 50 joule d. 75 joule

16. Sebuah bus mogok di tengah jalan. Beberapa orang turun untuk mendorong
bus tersebut. Masing-masing orang mengeluarkan gaya 200 N, 300 N, 400 N,
dan sisanya p N. Jika usaha yang digunakan untuk mengeser bus ke pinggir
jalan sejauh 4 m adalah 4,6 kj, maka harga p adalah . . . .
a. 200 N c. 300 N
79

b. 250 N d. 350 N
17. Energi potensial yang dimiliki pohon kelapa pada ketinggian 8 m di atas
permukaan tanah adalah 320 joule, maka massa kelapa pada pohon tersebut
adalah . . . . (g = 10 m/s2)
a. 4 N c. 2 N
b. 40 N d. 20 N
18. Usaha total yang dilakukan Ronaldo untuk menendang bola dari keadaan diam
sehingga bergerak lurus menuju gawang dengan kelajuan 30 m/s adalah 67,5
joule, maka massa bola yang ditendang oleh Ronaldo adalah . . . .
a. 150 meter c. 1,5 meter
b. 15 meter d. 0,15 meter
19. Sebuah pesawat sederhana mempunyai daya 100 watt. Apabila pesawat
melakukan usaha selama 20 s, maka usaha pesawat tersebut adalah . . .
a. 5 joule c. 120 joule

b. 100 joule d. 2.000 joule

20. Seorang anak mampu mendorong meja sejauh 5 meter dengan daya sebesar 5
watt. Jika waktu yang diperlukan anak mendorong meja 30 detik, maka gaya
anak tersebut adalah . . . .
a. 10 N c. 30 N
b. 20 N d. 40 N
80

KUNCI JAWABAN SOAL PRETEST DAN POSTES

1 A 11 D
2 D 12 B
3 B 13 B
4 D 14 C
5 A 15 A
6 C 16 C
7 B 17 D
8 C 18 C
9 C 19 D
10 B 20 A
81

Lampiran 4
ANGKET MOTIVASI BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII IPA
SMP N 48 JAKARTA
Petunjuk
Berilah tanda cek list (√) pada kolom yang telah disediakan sesuai dengan apa
yang anda alami dalam belajar fisika dengan memilih salah satu kolom yang telah
disediakan.
SS = Sangat Setuju TS = Tidak Setuju
S = Setuju STS = Sangat Tidak Setuju
Jawaban pernyataan
No Pernyataan
SS S TS STS
Saya sangat antusias dalam belajar fisika karena
1. dikaitkan langsung dengan penerapannya dalam
bentuk tekonolgi yang ada di sekitar saya.
Saya bercanda dengan teman ketika guru
menyampaikan materi pelajaran fisika karena
2.
penyamapian materi pembelajaran oleh guru
membosankan.
Dalam proses pembelajaran fisika, apabila ada
3. kesulitan saya selalu bertanya hingga saya
mengerti.
Dalam proses pembelajaran fisika, apabila saya
4. tidak mengerti maka saya akan diam saja karena
saya malu untuk bertanya.
Saya membaca terlebih dahulu materi atau bahan
5. yang akan diajarkan oleh guru karena guru selalu
bertanya sebelum proses pembelajaran dimulai.
Saya malas untuk belajar di rumah jika tidak ada
6. ulangan karena salami ini guru jarang memberikan
tugas.
82

Lampiran 5
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(Kelas Eksperimen)
Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : IPA Fisika
Kelas / Semester : VIII / 2
Tahun Pelajaran : 2009/2010
Pertemuan ke : Satu
Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi
5. Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
B. Kompetensi Dasar
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan
energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
C. Materi Pelajaran
Usaha dan Energi
D. Indikator
1. Menjelaskan pengertian energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-
hari.
2. Mendeskripsikan perubahan energi dan contohnya dalam kehidupan
sehari-hari
3. Membedakan konsep energi kinetik dan energi potensial
E. Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian energi.
2. Menyebutkan bentuk-bentuk energi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menyebutkan aplikasi konsep energi dan perubahannya dalam kehidupan
sehari-hari.
4. Membedakan konsep energi kinetik dan enrgi potensial
83

F. Alokasi Waktu
2 x 40 menit (2JP)
G. Model Pembelajaran
Sains Teknologi Masyarakat
H. Metode Pembelajaran
1. Multimedia
2. Diskusi
3. Eksperimen
I. Langkah-langkah Pembelajaran (Pertemuan 1)
A. Kegiatan Awal
Tahap 1
 Seandainya BBM di bumi telah habis, bagaimanakah keadaan bumi?
 Dapatkah manusia menciptakan energi?
B. Kegiatan Inti
Tahap 2
1. Guru menjelaskan mengenai energi
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru.
Apabila ada yang belum dipahami peserta didik dibolehkan untuk
bertanya.
3. Guru memberikan pertanyaan kepada murid mengenai energi untuk
mengetahui pemahaman murid.
Tahap 3
4. Guru membimbing peserta didik dalam membuat kelompok
5. Peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya mengenai isu yang
telah diberikan serta mencari solusi atau isu tersebut.
6. Peserta didik mendiskusikan hasil kelompoknya secara klasikal
7. Guru memberikan kesimpulan mengenai hasil diskusi
Tahap 4
8. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusika perubahan energi
9. Perwakilan tiap kelompok mengembil alat dan bahan yang sudah
disipakan
84

10. Guru mempresentasikan langkah kerja untuk melakukan eksperimen


mengamati perubahan energi
11. Peserta didik dalam setiap kelompok melakukan eksperimen sesuai
dengan langkah kerja yang telah dijelaskan oleh guru
12. Guru memeriksa eksperimen yang dilakukan peserta didik apakah
sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik
atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru
dapat langsung memberikan bimbingan.
C. Kegiatan Akhir
Tahap 5
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki
kinerja dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat
rangkuman
3. Guru memberikan tugas berupa latihan soal.
J. Sumber Belajar
1. Buku IPA Terpadu Jl.2B (Yudhistira) halaman 26-35
2. Buku referensi yang relevan
3. LKS
K. Penilaian Hasil Belajar
Dalam penilaian hasil belajar, guru memberikan soal berupa tes essay untuk
mengetahui apakah siswa sudah memahami mengenai pelajaran yang telah
diberikan. Contoh tes esay yang dibrikan sebagai berikut :
1. Jelaskanlah pengertian konsversi energi! Serta berikan 2 contoh perubahan
energi dalam kehidupan sehari-hari!
Jawab :
Konsversi energi adalah perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lain
Contohnya : Lampu bohlam : energi listrik – energi cahaya
Radio : energi listrik – energi bunyi
85

Jakarta, 01 Maret 2010


Mengetahui Kepala SMP Guru Mata
Pelajaran

Ferdy Novrizal
86

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(Kelas Eksperimen)
Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : IPA Fisika
Kelas / Semester : VIII / 2
Tahun Pelajaran : 2009/2010
Pertemuan ke :Dua
Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi
5. Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
B. Kompetensi Dasar
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan
energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
C. Materi Pelajaran
Usaha dan Energi
D. Indikator
1. Menghitung besar energi kinetik dan energi potensial
2. Menjelaskan hokum kekekalan energy
3. Menjelaskan perbedaan antara sumber energi yang dapat diperbaharui
dengan energi yang tidak dapat diperbaharui
E. Tujuan Pembelajaran
1. Membedakan konsep energi kinetik dengan energi potensial
2. Menyebutkan bunyi hukum kekekalan energi mekanik
3. Membedakan antara energi yang dapat diperbaharui dengan energi yang
tidak dapat diperbaharui
F. Alokasi Waktu
2 x 40 menit (2JP)
G. Model Pembelajaran
Sains Teknologi Masyarakat
87

H. Metode Pembelajaran
1. Multimedia
2. Diskusi
3. Latihan
4. Pengamatan
I. Langkah-langkah Pembelajaran (Pertemuan 2)
A. Kegiatan Awal
Tahap 1
 Pemanasan global yang diyakini sedang terjadi dan akan memasuki
tahap yang mengkhawatirkan juga merupakan dampak penggunaan
energi minyak bumi yang merupakan sumber energi utama saat ini
B. Kegiatan Inti
Tahap 2
1. Guru menjelaskan mengenai energi kinetik dan energi potensial
2. Peserta didik memperhatikan penjelasan yang diberikan oleh guru.
Apabila ada yang belum dipahami peserta didik dibolehkan untuk
bertanya.
3. Guru memberikan pertanyaan kepada murid mengenai energi untuk
mengetahui pemahaman murid.
Tahap 3
4. Guru membimbing peserta didik dalam membuat kelompok
5. Peserta didik mendiskusikan dengan kelompoknya mengenai isu yang
telah diberikan serta mencari solusi atau isu tersebut.
6. Peserta didik mendiskusikan hasil kelompoknya secara klasikal
7. Guru memberikan kesimpulan mengenai hasil diskusi
Tahap 4
8. Guru meminta kepada salah seorang peserta didik untuk menjatuhkan
kelereng yang diletakan diatas meja dengan menggunakan salah satu
jari
9. Peserta didik mengemati apa yang terjadi
10. Guru menjelaskan proses kelereng tersebut ketika jatuh
88

11. Guru menjelaskan mengenai energi potensial, energi kinetik dan energi
mekanik serta memberikan aplikasi contohnya dalah kehidupan sehari-
hari
12. Guru memberikan soal kepada peserta didik mengenai energi
potensial, energi kinetik dan energi mekanik
C. Kegiatan Akhir
Tahap 5
13. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat
rangkuman
14. Guru memberikan tugas berupa latihan soal.
J. Sumber Belajar
1. Buku IPA Terpadu Jl.2B (Yudhistira) halaman 34-41
2. Buku referensi yang relevan
K. Penilaian Hasil Belajar
Tes Essay
1. Sebuah mobil yang massanya 800 kg bergerak dengan kecepatan 10 m/s.
Besar energi kinetik yang dimiliki mobil tersebut adalah . . . .
Diketahui : m = 800 kg
v = 10 m/s
Ditanya : Ek
1 2
Ek  mv
2
E k   800  10
1 2

Jawab : 2
1
E k   800  100
2
E k  40.000 joule
2. Sebuah mangga tergantung ditangkainya pada ketinggian 7 m di atas tanah
(g = 10m/s2). Jika energi potensial yang tersimpan pada mangga tersebut
350 joule, maka massa benda tersebut adalah . . . .
Diketahui : Ep = 350 Joule
h=7m
89

g = 10 m/s2
Ditanya : m
E p  mgh
Ep
m
Jawab : gh
350
m
10  7
m  5 kg

Jakarta, 01 Maret
2010
Mengetahui Kepala SMP Guru Mata
Pelajaran

Ferdy Novrizal
90

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(Kelas Eksperimen)
Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : IPA Fisika
Kelas / Semester : VIII / 2
Tahun Pelajaran : 2009/2010
Pertemuan ke : Tiga
Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi
5. Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
B. Kompetensi Dasar
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan
energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
C. Materi Pelajaran
Usaha dan Energi
D. Indikator
1. Menjelaskan pengertian usaha
2. Menganalisis hubungan antara usaha dan energi potensial serta kinetik
3. Menganalisis hubungan antara usaha dan daya
E. Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian usaha.
2. Menjelaskan kaitan antara energi dan usaha.
3. Membedakan usaha yang bernilai positif dan usaha yang bernilai negatif.
4. Menghitung usaha oleh beberapa buah gaya.
5. Menentukan besarnya daya yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
F. Alokasi Waktu
2 x 40 menit (2JP)
G. Model Pembelajaran
Sains Teknologi Masyarakat
91

H. Metode Pembelajaran
1. Multimedia
2. Diskusi
3. Latihan
4. Pengamatan
I. Langkah-langkah Pembelajaran (Pertemuan ke-3)
A. Kegiatan Awal
Tahap 1
 Apakah lifter yang mengangkat beban tergolong melakukan usaha?
B. Kegiatan Inti
Tahap 2
1. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian usaha.
2. Peserta didik memperhatikan cara menentukan rumusan usaha yang
dilakukan suatu benda yang disampaikan oleh guru.
3. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan usaha yang
disampaikan oleh guru.
4. Peserta didik memperhatikan penjelasan guru mengenai kaitan usaha dan
energi.
Tahap 3
5. Peserta didik dalam setiap kelompok mendiskusikan perbedaan antara
usaha yang bernilai positif dan usaha yang bernilai negatif.
6. Peserta didik mempresentasikan hasil diskusi kelompok secara klasikal.
7. Guru menanggapi hasil diskusi kelompok peserta didik dan memberikan
informasi yang sebenarnya.
8. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan usaha yang
dilakukan oleh beberapa gaya yang disampaikan oleh guru.
9. Guru memberikan beberapa soal menentukan usaha yang dilakukan oleh
beberapa gaya untuk dikerjakan oleh peserta didik.
10. Guru mengoreksi jawaban peserta didik apakah sudah benar atau belum.
Jika masih ada peserta didik yang belum dapat menjawab dengan benar,
guru dapat langsung memberikan bimbingan.
92

11. Peserta didik (dibimbing oleh guru) mendiskusikan pengertian daya.


12. Peserta didik memperhatikan contoh soal menentukan daya yang
dilakukan suatu benda yang disampaikan oleh guru.
Tahap 4
13. Perwakilan tiap kelompok mengembil alat dan bahan yang sudah
disipakan
14. Guru mempresentasikan langkah kerja untuk melakukan eksperimen
menyelidiki besarnya usaha yang dilakukan oleh suatu gaya
15. Peserta didik dalam setiap kelompok melakukan eksperimen sesuai dengan
langkah kerja yang telah dijelaskan oleh guru
16. Guru memeriksa eksperimen yang dilakukan peserta didik apakah sudah
dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada peserta didik atau
kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat
langsung memberikan bimbingan
C. Kegiatan Akhir
Tahap 5
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja
dan kerjasama yang baik.
2. Peserta didik (dibimbing oleh guru) berdiskusi untuk membuat
rangkuman.
3. Guru memberikan tugas rumah berupa latihan soal.
J. Sumber Belajar
1. Buku IPA Terpadu Jl.2B (Yudhistira) halaman 41 - 44
2. Buku referensi yang relevan
3. LKS
K. Penilaian Hasil Belajar
Tes Essay
1. Besar suatu usaha yang dilakukan oleh sebuah benda adalah 1000 joule.
Jika massa benda adalah 100 kg dan gaya yang bekerja pada benda adalah
250 N, maka besar perpindahan yang dilakukan oleh benda adalah . . . .
Diketahui : w = 1000 Joule
93

m = 100 kg
F = 250 N
Ditanya :s
W  Fs
1000  250  s
Jawab : 1000
s
250
s  4m
Jakarta, 01 Maret
2010
Mengetahui Kepala SMP Guru Mata
Pelajaran

Ferdy Novrizal
94

Lampiran 6
RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
(Kelas Kontrol)
Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : IPA Fisika
Kelas / Semester : VIII / 2
Tahun Pelajaran : 2009/2010
Pertemuan ke : Satu
Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi
5. Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
B. Kompetensi Dasar
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan
energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
C. Materi Pelajaran
Usaha dan Energi
D. Indikator
1. Menjelaskan pengertian energi dan contohnya dalam kehidupan sehari-
hari.
2. Mendeskripsikan perubahan energi dan contohnya dalam kehidupan
sehari-hari
3. Membedakan konsep energi kinetik dan energi potensial
E. Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian energi.
2. Menyebutkan bentuk-bentuk energi dalam kehidupan sehari-hari.
3. Menyebutkan aplikasi konsep energi dan perubahannya dalam kehidupan
sehari-hari.
4. Membedakan konsep energi kinetik dan enrgi potensial
95

F. Alokasi Waktu
2 x 40 menit (2JP)
G. Model Pembelajaran
Konvensional
H. Metode Pembelajaran
1. Multimedia
2. Latihan
I. Langkah-langkah Pembelajaran (pertemuan ke-1)
1. Kegiatan Awal
 Motivasi
Kenapa benda yang dilempar ke atas akan selalu jatuh ke bawah?
2. Kegiatan Inti
a. Guru Menjelaskan pengertian energy
b. Guru menjelaskan bentuk-bentuk energy yang ada dalam kehidupan
sehari-hari
c. Jika ada yang tidak dimengerti peserta didik dipersilakan bertanya oleh
guru
d. Guru bertanya kepada pesrta didik aplikasi konsep energy apa saja
yang ada dalam kehidupan sehari-hari
e. Guru kembali menerangkan apliaksi konsep energy apa saja yang ada
dalam kehidupan sehari-hari
f. Guru menjelaskan kembali mengenai energy kinetic dan energy
potensial
g. Guru memberikan soal kepada peserta didik untuk mengetahui sejauh
mana pengetahuan yang telah didapat oleh peserta didik
3. Kegiatan Akhir
a. Guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari hari ini
b. Guru memberikan tugas kepada peserta didik untuk dikerjakan di
rumah
96

J. Sumber Belajar
1. Buku IPA Terpadu Jl.2B (Yudhistira) halaman 26-35
2. Buku referensi yang relevan
K. Penilaian Hasil Belajar
Dalam penilaian hasil belajar, guru memberikan soal berupa tes essay untuk
mengetahui apakah siswa sudah memahami mengenai pelajaran yang telah
diberikan. Contoh tes esay yang dibrikan sebagai berikut :
1. Jelaskanlah pengertian konsversi energi! Serta berikan 2 contoh perubahan
energi dalam kehidupan sehari-hari!
Jawab :
Konsversi energi adalah perubahan energi dari satu bentuk ke bentuk lain
Contohnya : Lampu bohlam : energi listrik – energi cahaya
Radio : energi listrik – energi bunyi

Jakarta, 01 Maret 2010


Mengetahui Kepala SMP Guru Mata
Pelajaran

Ferdy Novrizal
97

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(Kelas Kontrol)
Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : IPA Fisika
Kelas / Semester : VIII / 2
Tahun Pelajaran : 2009/2010
Pertemuan ke :Dua
Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi
5.Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
B. Kompetensi Dasar
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan
energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
C. Materi Pelajaran
Usaha dan Energi
D. Indikator
1 Menghitung besar energi kinetik dan energi potensial
2 Menjelaskan hukum kekekalan energy
3. Menjelaskan perbedaan antara sumber energi yang dapat diperbaharui
dengan energi yang tidak dapat diperbaharui
E. Tujuan Pembelajaran
1. Membedakan konsep energi kinetik dengan energi potensial
2. Menyebutkan bunyi hukum kekekalan energi mekanik
3. Membedakan antara energi yang dapat diperbaharui dengan energi yang
tidak dapat diperbaharui
F. Alokasi Waktu
2 x 40 menit (2JP)
G. Model Pembelajaran
Konvensional
98

H. Metode Pembelajaran
1. Multimedia
2. Diskusi
3. Latihan
4. Pengamatan
I. Langkah-langkah Pembelajaran (Pertemuan ke-2)
1. Kegiatan Awal

2. Kegiatan Inti
a. Guru menjelaskan mengenai energi kinetik dan energi potensial serta
cara pengitungannya
b. Guru memberi contoh untuk menghitung energi kinetik dan energi
potensial
c. Guru memberikan latihan kepada peserta didik tentang cara
menghitung energi kinetik dan energi potensial
d. Jika ada peserta didik yang belum paham guru membantu peserta didik
untuk menyelesaikan soal tersebut
e. Guru menjelaskan bunyi hukum kekekalan energi
f. Guru menjelaskan perbedaan energi yang dapat diperbaharui dengan
energi yang tidak dapat diperbaharui
g. Peserta didik dibimbing guru untuk menyebutkan apa saja energi yang
dapat diperbaharui dan energi yang tidak dapat diperbaharui
h. Guru memberikan beberapa soal kepada peserta didik
3. Kegiatan Akhir
a. Jika ada peserta didik yang belum paham guru memberikan
kesempatan untuk bertanya
b. Guru dan peserta didik bersama-sama menyimpulkan materi yang telah
dipelajari hari ini
J. Sumber Belajar
1. Buku IPA Terpadu Jl.2B (Yudhistira) halaman 34-41
2. Buku referensi yang relevan
99

K. Penilaian Hasil Belajar


Tes Essay
1. Sebuah mobil yang massanya 800 kg bergerak dengan kecepatan 10 m/s.
Besar energi kinetik yang dimiliki mobil tersebut adalah . . . .
Diketahui : m = 800 kg
v = 10 m/s
Ditanya : Ek
1 2
Ek  mv
2
E   800  10
1 2

Jawab : k 2
1
E k   800  100
2
E k  40.000 joule

Jakarta, 01 Maret 2010


Mengetahui Kepala SMP Guru Mata Pelajaran

Ferdy Novrizal
100

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN


(Kelas Kontrol)
Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : IPA Fisika
Kelas / Semester : VIII / 2
Tahun Pelajaran : 2009/2010
Pertemuan ke : Tiga
Alokasi Waktu : 2 x 40 Menit

A. Standar Kompetensi
5. Memahami peranan usaha, gaya dan energi dalam kehidupan sehari-hari
B. Kompetensi Dasar
5.3 Menjelaskan hubungan bentuk energi dan perubahannya, prinsip usaha dan
energi serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
C. Materi Pelajaran
Usaha dan Energi
D. Indikator
1. Menjelaskan pengertian usaha
2. Menganalisis hubungan antara usaha dan energi potensial serta kinetik
3. Menganalisis hubungan antara usaha dan daya
E. Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian usaha.
2. Menjelaskan kaitan antara energi dan usaha.
3. Membedakan usaha yang bernilai positif dan usaha yang bernilai negatif.
4. Menghitung usaha oleh beberapa buah gaya.
5. Menentukan besarnya daya yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
F. Alokasi Waktu
2 x 40 menit (2JP)
G. Model Pembelajaran
Konvensional
101

H. Metode Pembelajaran
1. Multimedia
2. Tanya Jawab
3. Latihan
I. Langkah-langkah Pembelajaran (Pertemuan ke-3)
1. Kegiatan awal
 Apersepsi
Guru sedikit bercerita mengenai usaha dalm kehidupan sehari-hari
2. Kegiatan Inti
a. Guru menjelaskan definisi usaha dalam kehidupan sehari-hari dan
usaha dalam fisika dengan memberikan contoh yang ada kaitanya
dalam kehidupan sehari-hari.
b. Guru menjelaskan kaitan antara usaha dengan energi
c. Jika ada yang kurang dimengerti guru mempersilakan peserta didik
untuk bertanya
d. Guru bertanya kepada salah satu peserta didik mengenai usaha
e. Guru menjelaskan cara untuk menghitung besarnya usaha dan daya,
serta memberikan contoh kepada peserta didik
f. Guru memberikan latihan soal kepada peserta didik untuk mengetahui
tingkat pemahamannya
g. Jika masih ada peserta didik yang belum mengerti guru membantu
peserta didik untuk menyelesaikan latihan soal
3. Kegiatan Akhir
a. Guru dan peserta didik bersama-sama memberikan kesimpulan
mengenai pelajaran hari ini
J. Sumber Belajar
1. Buku IPA Terpadu Jl.2B (Yudhistira) halaman 41 – 44
2. Buku referensi yang relevan
L. Penilaian Hasil Belajar
Tes Essay
102

1. Besar suatu usaha yang dilakukan oleh sebuah benda adalah 1000 joule.
Jika massa benda adalah 100 kg dan gaya yang bekerja pada benda adalah
250 N, maka besar perpindahan yang dilakukan oleh benda adalah . . . .
Diketahui : w = 1000 Joule
m = 100 kg
F = 250 N
Ditanya :s
W  Fs
1000  250  s
Jawab : 1000
s
250
s  4m
Jakarta, 01 Maret
2010
Mengetahui Kepala SMP Guru Mata
Pelajaran

Ferdy Novrizal
103

Lampiran 7
LEMBAR KERJA SISWA (LKS)
Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas : VIII
Semester : 2
Materi Pokok : Usaha dan Energi

A. Tujuan
1. Menyelidiki perubahan energi
B. Alat dan bahan
1. lampu 1 buah
2. baterai 2 buah
3. kabel secukupnya
C. Langkah-langkah kegiatan
1. Tiap-tiap kelompok mengambil alat dan bahan yang telah disediakan
2. Sambungkan kabel dengan batubaterai
3. Ujung kabel yang telah disambungkan dengan baterai disambungkan juga
dengan lampu. Seperti gambar di bawah ini

D. Pertanyaan
1. Apang yang terjadi pada lampu setelah dirangkai?
2. Apakah ada perubahan energi?. Jika ada perubahan energi apa yang
terjadi!
E. Kesimpulan
104

LEMBAR KERJA SISWA (LKS)


Sekolah : SMP Negeri 48 Jakarta
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas : VIII
Semester : 2
Materi Pokok : Usaha dan Energi

Fenomena/Masalah
Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar kata usaha dan energi.
Berkaitan dengan kata usaha dan energi ini, sering muncul pertanyaan seperti:
apakah orang yang mendorong tembok kokoh dapat dikatakan melakukan usaha?
Seorang pramusaji yang sedang berjalan mengantarkan makanan ke meja
pelanggannya. Apakah pramusaji ini dikatakan melakukan usaha?
Apakah seorang anak yang berjalan sambil menjunjung tas di atas kepalanya
dapat dikatakan melakukan usaha? Demikian pula seorang atlet angkat besi
mengangkat barbel dari lantai. Pada angkatan pertama, atlet sudah mengerahkan
seluruh tenaganya tetapi barbel tidak terangkat dari lantai. Apakah atlet ini telah
melakukan usaha? Pada kasus yang lain, orang sering menanyakan apakah buah
kelapa yang berada di pohon memiliki energi?

B. Tujuan
1. Menyelidiki besarnya usaha yang dilakukan oleh suatu gaya.
C. Alat dan bahan
1. Balok 1 buah
2. Pegas 1 buah
3. Mistar (100 cm)
D. Langkah-langkah kegiatan
1. Angkatlah sebuah benda perlahan-lahan dengan menggunakan neraca
pegas, dari lantai sampai ke atas meja, amati dan baca besar gaya yang
diperlukan untuk mengangkat itu.
105

2. Lakukan seperti kegiatan 1, tetapi sekarang diangkat sampai dua kali,


tingginya semula. Amati juga gaya yang diperlukan untuk mengangkat itu.
Berbedakah besar gaya yang diperlukan pada kegiatan 1 dengan gaya yang
diperlukan pada kegiatan 2. berbedakah besar energi yang diperlukan pada
kegiatan 1 dan kegiatan 2.
E. Pertanyaan
1. Bagaimanakah besar gaya dalam kedua hal di atas?
2. Apakah besarnya sama?
3. Bagaimana dengan energi yang digunakan, apakah sama?
F. Kesimpulan
106

Lampiran 8

Uji Validitas

Perhitungan uji validitas dilakukan dengan menggunakan uji korelasional point


biserial berdasarkan rumus berikut ini.
Mp  Mt p
r pbi 
SD t q

Dimana:
rpbi = indeks point biserial
Mp = Mean (rata-rata) skor yang dijawab betul oleh testee (peserta tes) pada
butir soal yang sedang dicari korelasinya dengan tes secara
keseluruhan.
Mt = Mean (rata-rata) skor yang dijawab salah oleh testee (peserta tes) pada
butir soal yang sedang dicari korelasinya dengan tes secara
keseluruhan.
SDt = Deviasi standar skor total.
p = proporsi testee yang menjawab betul terhadap butir soal yang sedang
diuji validitasnya.
q = proporsi testee yang menjawab salah terhadap butir soal yang sedang
diuji validitasnya
Untuk keperluan perhitungan nilai point biserial tersebut maka dibuatlah tabel
bantu perhitungan uji validitas. Berikut ini adalah ringkasan tabel perhitungan
untuk menguji validitas instrumen.
107

Tabel Perhitungan Uji Validitas

No Skor untuk item no


Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
A 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1
B 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1
C 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0
D 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1
E 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0
F 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1
G 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0
H 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1
I 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1
J 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0
K 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0
L 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0
M 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1
N 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0
O 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0
P 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1
R 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0
S 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0
T 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0
U 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0
V 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0
W 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0
X 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0
Y 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0
Z 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0
AA 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
q
p
Σ

Mt

rpbi
SD

Uji
AE
AB

Mp
AC
AD

rtabel

Hipotesis
1
0
1
0

13
Valid 15.46 0.57 0.43

0.38
0.35
5.41
13.1
0
0
0
0

14
Valid 15.21 0.53 0.47

0.36
0
0
0
1

13

Valid 16.77 0.57 0.43

0.59
0
0
0
0

17

Valid 15.76 0.43 0.57

0.56
-
0
1
0
1

17

Tidak Valid 12.29 0.43 0.57

0.18
-
1
1
1
0

20

Tidak Valid 12.95 0.33 0.67

0.05
0
0
0
0

14

Valid 16.57 0.53 0.47

0.59
0
0
0
0

13

Valid 16.38 0.57 0.43


0.53
0
1
0
0

18

Tidak Valid 14.56 0.40 0.60


0.32
0
0
0
0

13

Valid 16.46 0.57 0.43


0.54
0
0
1
0

11

Tidak Valid 14.73 0.63 0.37


0.22
0
0
1
0

12

Valid 16.42 0.60 0.40


0.50
0
0
0
0

18

Valid 15.50 0.40 0.60


0.54
0
0
1
0

15

Tidak Valid 14.40 0.50 0.50


0.23
0
0
0
1

13

Valid 16.08 0.57 0.43


0.48
0
0
0
1

19

Valid 14.79 0.37 0.63


0.40
0
0
0
0

Tidak Valid 15.40 0.83 0.17


0.19
0
0
0
0

13

Valid 16.38 0.57 0.43


0.53
0
0
0
0

18

Valid 15.50 0.40 0.60


0.54
0
0
0
0

10

Valid 16.20 0.67 0.33


0.40
1
1
1
0

10

Tidak Valid 13.70 0.67 0.33


0.07
1
0
0
0

Valid 16.56 0.70 0.30


0.41
108
109

Tabel Perhitungan Uji Validitas (lanjutan)

Skor total
No Skor untuk item no (Xt)2
(Xt)
Subjek
23 24 25 26 27 28 29 30
A 1 1 1 0 1 1 0 0 24 576
B 1 0 1 1 0 0 1 0 23 529
C 1 1 0 1 1 1 1 1 23 529
D 1 1 1 1 0 1 1 0 20 400
E 1 1 0 1 0 1 0 1 19 361
F 0 1 1 0 0 1 1 0 18 324
G 1 1 1 0 0 1 0 0 18 324
H 0 0 0 1 0 0 0 1 17 289
I 1 0 1 1 1 0 1 0 16 256
J 1 1 0 0 1 1 0 1 16 356
K 1 1 1 1 1 1 0 0 15 225
L 1 0 0 1 0 0 0 0 15 225
M 0 1 1 0 0 1 1 0 14 196
N 0 1 0 1 0 1 1 0 14 196
O 1 0 0 0 0 0 0 0 13 169
P 1 0 0 1 0 0 1 0 13 169
R 1 1 0 0 0 1 0 0 13 169
S 0 0 0 0 0 0 0 0 10 100
T 1 0 0 0 0 0 0 0 10 100
U 1 0 1 0 0 0 1 0 10 100
V 0 0 0 0 0 0 0 0 9 81
W 1 0 1 0 0 0 0 0 9 81
X 0 0 0 0 0 0 1 0 9 81
Y 1 0 0 1 0 0 0 0 8 64
Z 0 1 0 0 0 1 0 0 8 64
Uji
q
p
Σ

Hipotesis Mt

rpbi
SD
AE
AB

Mp
AC
AD
AA

rtabel
0
1
0
0
1

19

Valid 14.58 0.37 0.63

0.35
0.35
5.41
13.1
0
0
0
1
0

13

Valid 16.08 0.57 0.43

0.48
0
0
0
0
1

11

Valid 15.82 0.63 0.37


0.38
0
0
0
0
1

12

Valid 15.83 0.60 0.40


0.41
0
0
1
0
0

Tidak Valid 16.83 0.80 0.20


0.34
0
0
0
1
0

13

Valid 16.08 0.57 0.43


0.48
0
0
0
1
0

11

Tidak Valid 15.18 0.63 0.37


0.29
0
0
0
0
0

Valid 18.75 0.87 0.13


0.41
4
5
7
7
7

394
16
25
49
49
49

6052
110
111

Lampiran 9

Perhitungan Realibitas
Untuk keperluan perhitungan realibitas instrumen tes ini, digunakan rumus Spearman-Brown
berikut ini.
N  r 12
rn
1  N  1  r 12
Simbol-simbol yang terdapat pada persamaan tersebut dijelaskan pada keterangan berikut ini.
rn = koefisien korelasi seluruh tes
N = perbandingan antara panjang tes secara keseluruhan dengan panjang tes yang
dikorelasikan
r½ = koefisien korelasi antara sebagian tes dengan bagian tes lainnya
Tabel berikut ini adalah ringkasan perhitungan realibilitas ini.

Tabel Perhitungan Reliabilitas Meode Ganjil-Genap


No Skor untuk item no Ganjil Jumlah
subjek 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29
A 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 12
B 1 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 11
C 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 12
D 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 10
E 0 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 1 0 0 0 7
F 1 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 9
G 0 1 1 0 1 0 1 1 0 1 1 1 1 0 0 9
H 1 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 7
I 0 0 1 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 1 9
J 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 1 0 1 0 8
K 0 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 9
L 1 0 1 1 1 0 1 0 0 1 1 1 0 0 0 8
M 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 7
N 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0 0 0 1 8
O 0 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 6
P 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 5
R 1 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 5
S 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4
T 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 3
U 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 5
V 1 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 4
W 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 0 4
X 0 0 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 6
Y 0 0 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 0 0 6
Z 0 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 5
AA 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 4
AB 0 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 1 4
AC 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 4
AD 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 4
AE 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 2

Σ 13 13 17 14 18 11 18 13 5 18 10 19 11 6 11 197
112

Tabel Perhitungan Reliabilitas Meode Ganjil-Genap (lanjutan)


No Skor untuk item no Genap jumlah
subjek 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 22 24 26 28 30
A 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 12
B 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 12
C 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 11
D 0 1 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 0 10
E 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 12
F 0 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 9
G 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 0 9
H 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 0 1 0 1 10
I 0 1 1 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 0 0 7
J 1 1 1 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 1 1 8
K 1 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 1 1 1 0 6
L 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 0 1 0 0 7
M 0 0 1 0 0 1 1 1 0 0 1 1 0 1 0 7
N 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 1 1 1 0 6
O 1 1 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0 0 7
P 1 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 0 8
R 1 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 1 0 8
S 0 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 6
T 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 7
U 1 1 1 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 5
V 0 0 1 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 5
W 1 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 5
X 1 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
Y 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2
Z 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 3
AA 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 3
AB 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 1 0 1 0 3
AC 0 0 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 3
AD 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1
AE 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 2

Σ 14 17 20 13 13 12 15 19 13 10 9 13 12 13 4 197
113

Perhitungan Reliabilitas Metode Ganjil-Genap (lanjutan)

Subjek X Y XY X2 Y2 Dimana:
A 12 12 144 144 144 X : skor total subjek pada item
B 11 12 132 121 144 bernomor ganjil
C 12 11 132 144 121 Y : skor total subjek pada item
D 10 10 100 100 100 bernomor genap
E 7 12 84 49 144
F 9 9 81 81 81
G 9 9 81 81 81
Dari perhitungan tersebut diperoleh
H 7 10 70 49 100
bahwa nilai reliabilitas instrumen ini
I 9 7 63 81 49 adalah 0,911. Nilai ini termasuk
J 8 8 64 64 64 kategori cukup.
K 9 6 54 81 36
L 8 7 56 64 49
M 7 7 49 49 49
N 8 6 48 64 36
O 6 7 42 36 49
P 5 8 40 25 64
R 5 8 40 25 64
S 4 6 24 16 36
T 3 7 21 9 49
U 5 5 25 25 25
V 4 5 20 16 25
W 4 5 20 16 25
X 6 3 18 36 9
Y 6 2 12 36 4
Z 5 3 15 25 9
AA 4 3 12 16 9
AB 4 3 12 16 9
AC 4 3 12 16 9
AD 4 1 4 16 1
AE 2 2 4 4 4
Σ 197 197 1479 1505 1589

r1/2 1/2 0.84


rn 0.911
114

Lampiran 10
Perhitungan Derajat Kesukaran
Untuk menghitung derajat kesukaran digunakan rumus berikut ini.
W  WH
DK  L  100 %
nL  nH
Maksud dari setiap simbol pada persamaan tersebut adalah sebagai berikut.
DK = derajat kesukaran (degrees of difficulty)
WL = jumlah individu kelompok bawah yang tidak menjawab atau menjawab salah pada item tertentu
WH = jumlah individu kelompok atas yang tidak menjawab atau menjawab salah pada item tertentu
nL = jumlah kelompok bawah
nH = jumlah kelompok atas

Tabel Perhitungan Derajat Kesukaran

No Skor untuk item no


Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22
A 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1 1 1
B 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 1 1
C 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 0
D 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1
E 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 0
F 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 0 1
G 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0
H 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0 0 1
I 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1
J 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0
115

K 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1 0 0
L 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0 1 0
M 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0 0 1
N 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0
O 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1 0 0
P 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 1
R 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 0 0 0
S 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0
T 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0
U 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0 0 0
V 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0
W 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1 0 0
X 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0
Y 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0
Z 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 0 0
AA 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0
AB 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0
AC 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0
AD 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 0
AE 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1
Σ 13 14 13 17 17 20 14 13 18 13 11 12 18 15 13 19 5 13 18 10 10 9

TK 0.38 0.41 0.38 0.50 0.50 0.59 0.41 0.38 0.53 0.38 0.32 0.35 0.53 0.44 0.38 0.56 0.15 0.38 0.53 0.29 0.29 0.26
Keputus
Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Sdg Skr Sdg Sdg Skr Skr Skr
an
116

Tabel Perhitungan Derajat Kesukaran (lanjutan)

No Skor untuk item no


Subjek 23 24 25 26 27 28 29 30 (Xt)
A 1 1 1 0 1 1 0 0 24
B 1 0 1 1 0 0 1 0 23
C 1 1 0 1 1 1 1 1 23
D 1 1 1 1 0 1 1 0 20
E 1 1 0 1 0 1 0 1 19
F 0 1 1 0 0 1 1 0 18
G 1 1 1 0 0 1 0 0 18
H 0 0 0 1 0 0 0 1 17
I 1 0 1 1 1 0 1 0 16
J 1 1 0 0 1 1 0 1 16
K 1 1 1 1 1 1 0 0 15
L 1 0 0 1 0 0 0 0 15
M 0 1 1 0 0 1 1 0 14
N 0 1 0 1 0 1 1 0 14
O 1 0 0 0 0 0 0 0 13
P 1 0 0 1 0 0 1 0 13
R 1 1 0 0 0 1 0 0 13
S 0 0 0 0 0 0 0 0 10
T 1 0 0 0 0 0 0 0 10
U 1 0 1 0 0 0 1 0 10
V 0 0 0 0 0 0 0 0 9
W 1 0 1 0 0 0 0 0 9
X 0 0 0 0 0 0 1 0 9
Y 1 0 0 1 0 0 0 0 8
117

Z 0 1 0 0 0 1 0 0 8
AA 1 0 1 1 0 0 0 0 7
AB 0 1 0 0 0 1 1 0 7
AC 0 0 0 0 1 0 0 0 7
AD 1 0 0 0 0 0 0 0 5
AE 0 0 0 0 0 0 0 0 4
Σ 19 13 11 12 6 13 11 4 394

TK 0.56 0.38 0.32 0.35 0.18 0.38 0.32 0.12


Keputusan Sdg Sdg Sdg Sdg Skr Sdg Sdg Skr

Kategorisasi derajat kesukaran tersebut berdasarkan ketentuan berikut ini.


Mudah : DK ≥ 0,70
Sedang : 0,30 < DK < 0,70
Sukar : DK ≤ 0,30
118

Lampiran 11
Daya Beda
Untuk menghitung daya beda setiap soal digunakan rumus berikut ini.
W  WH
DB  L
n
Maksud dari setiap simbol dari persamaan di atas adalah sebagai berikut.
DB = Daya Beda (discriminating power, DP)
WL = jumlah individu kelompok bawah yang tidak menjawab atau menjawab salah pada item tertentu
WH = jumlah individu kelompok atas yang tidak menjawab atau menjawab salah pada item tertentu
n = jumlah kelompok atas atau kelompok bawah

Tabel Perhitungan Daya Beda


Subjek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21
1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 1
2 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1
3 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 1 0
4 1 0 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0
5 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1
Kelompok Atas

6 1 0 0 1 1 1 0 0 1 0 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1
7 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 0 1 1 1 1 0 1 1 1
8 1 1 1 1 0 1 1 0 1 1 0 1 1 1 0 1 1 0 1 0
9 0 0 0 1 1 1 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 0 1 1
10 0 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0
11 0 1 1 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 1 1
12 1 0 0 0 1 0 1 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 1 1 0
13 1 0 1 0 0 1 0 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 0
14 1 0 1 0 0 1 0 0 1 1 1 1 1 0 1 0 0 0 1 0
119

15 0 1 0 1 1 0 1 1 1 0 0 0 1 1 0 1 0 1 1 1
16 0 1 0 1 1 1 1 0 0 1 1 0 0 1 0 1 0 0 0 0
17 1 1 0 0 1 1 0 1 0 0 0 1 0 0 1 1 1 1 0 1
18 0 0 0 1 1 1 1 1 1 0 1 0 0 1 0 1 0 1 0 0
19 0 1 0 1 1 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 0 0
20 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 1 0
21 1 0 0 0 1 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 1 1 1 0 1
22 0 1 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 1 0 0 1 0 0 1 0
23 0 1 0 1 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 0 0 1 0
24 0 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 1 0

25 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0
26 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0
27 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 0 0 0 0
28 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 1 1 0 1 0 0 0 0 0 1
29 0 0 0 0 1 1 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 1 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1

WH 9 8 11 11 7 9 11 9 12 10 6 9 13 9 10 11 3 9 13 8
WL 4 6 2 6 10 11 3 4 6 3 5 3 5 6 3 8 2 4 5 2
-0.33

-0.22
0.56

0.22

1.00

0.56

0.89

0.56

0.67

0.78

0.11

0.67

0.89

0.33

0.78

0.33

0.11

0.56

0.89

0.67
Daya Beda
120

baik sekali

baik sekali

baik sekali

baik sekali

baik sekali

baik sekali
Keputusan

cukup

cukup
cukup

buruk

buruk
drop

drop
baik

baik

baik

baik

baik

baik

baik
Tabel Perhitungan Daya Pembeda (lanjutan)

No Skor untuk item no Σ


Subjek
21 22 23 24 25 26 27 28 29 30
1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 24
Kelompok Atas 1-15

2 1 1 1 0 1 1 0 0 1 0 23
3 0 0 1 1 0 1 1 1 1 1 23
4 0 1 1 1 1 1 0 1 1 0 20
5 0 0 1 1 0 1 0 1 0 1 19
6 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 18
7 1 0 1 1 1 0 0 1 0 0 18
8 0 1 0 0 0 1 0 0 0 1 17
9 1 1 1 0 1 1 1 0 1 0 16
10 1 0 1 1 0 0 1 1 0 1 16
11 0 0 1 1 1 1 1 1 0 0 15
12 1 0 1 0 0 1 0 0 0 0 15
13 0 1 0 1 1 0 0 1 1 0 14
Kelompok Bawah 16-20

14 0 0 0 1 0 1 0 1 1 0 14
15 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 13
16 0 1 1 0 0 1 0 0 1 0 13
17 0 0 1 1 0 0 0 1 0 0 13
18 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 10
19 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 10
20 0 0 1 0 1 0 0 0 1 0 10
21 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 9
121

22 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 9
23 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 9
24 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 8
25 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 8
26 0 0 1 0 1 1 0 0 0 0 7
27 0 0 0 1 0 0 0 1 1 0 7
28 1 0 0 0 0 0 1 0 0 0 7
29 1 0 1 0 0 0 0 0 0 0 5
30 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4
31 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 9
32 1 0 0 0 0 0 0 0 1 0 9
33 0 0 1 0 0 1 0 0 0 0 8
34 0 0 0 1 0 0 0 1 0 0 8

WH 6 7 11 10 8 9 5 10 7 4
WL 4 2 8 3 3 3 1 3 4 0
0.22

0.56

0.33

0.78

0.56

0.67

0.44

0.78

0.33

0.44
Daya Beda
baik sekali

baik sekali
Keputusan

cukup

cukup

cukup
baik

baik

baik

baik

baik

Kategorisasi untuk menentukan daya beda didasarkan ketentuan berikut ini.


Drop : TK < 0
Buruk : 0 ≤ TK < 0,20
122

Cukup : 0,20 ≤ TK < 0,40


Baik : 0,40 ≤ TK < 0,70
Baik Sekali : 0,70 ≤ TK < 1,00
123

Lampiran 12

Rekapitulasi Hasil Uji Coba Instrumen Tes


Taraf
Item No Validitas Daya Pembeda
Kesukaran
1 Valid Sdg baik
2 Valid Sdg cukup
3 Valid Sdg baik sekali
4 Valid Sdg baik
5 Tidak Valid Sdg drop
6 Tidak Valid Sdg drop
7 Valid Sdg baik sekali
8 Valid Sdg baik
9 Tidak Valid Sdg baik
10 Valid Sdg baik sekali
11 Tidak Valid Sdg buruk
12 Valid Sdg baik
13 Valid Sdg baik sekali
14 Tidak Valid Sdg cukup
15 Valid Sdg baik sekali
16 Valid Sdg cukup
17 Tidak Valid Skr buruk
18 Valid Sdg baik
19 Valid Sdg baik sekali
20 Valid Skr baik
21 Tidak Valid Skr cukup
22 Valid Skr baik
23 Valid Sdg cukup
24 Valid Sdg baik sekali
25 Valid Sdg baik
26 Valid Sdg baik
27 Tidak Valid Skr baik
28 Valid Sdg baik sekali
29 Tidak Valid Sdg cukup
30 Valid Skr baik

Penetapan keputusan disamping didasarkan pada kriteria-kriteria tersebut juga


didasarkan pada keterpenuhan indikator. Artinya, setiap indikator diwakili oleh
satu atau lebih soal.
124

Lampiran 13
DATA HASIL PENELITIAN

Kelompok Eksperimen
Nilai
No Nama
Pretes Postes
1 Adi Joyo Negoro 40 45
2 Agrishinta Dewi A 50 70
3 Anas Surya Permana 30 65
4 Anggreina 45 75
5 David Hamonangan 30 75
6 Dea Aprilia 45 50
7 Desy Murdiah 35 55
8 Erlando Bandawesa 35 55
9 Febri Apriansyah 50 75
10 Feri Alfa Prasetia 35 85
11 Gusnaelly Fitriyati A 40 75
12 Ilham Sampurna 40 70
13 Innez Nadia. D 35 55
14 Intan Ratna K 45 65
15 Laras Otaviani 45 50
16 M. Ahya Rosada 35 55
17 M. Iqbal Wiguna 45 80
18 M. Rahma 40 75
19 M. Rifaldi Septian 35 55
20 M. Suprada H 30 60
21 Neneng Soleka 40 45
22 Nissa Rachmani 35 60
23 Pracikal Giya P 40 60
24 Rasmanah 45 75
25 Regita Ardia G 45 80
26 Resy Anissa 35 75
27 Reza Pratama 40 80
28 Rosma Allyka 40 70
29 Salman Farish 50 75
30 Septiani Rachmawati 45 75
31 Utami Insani 35 70
32 Yukie Nugraha 30 80
Jumlah 1265 2135
125

Kelompok Kontrol
Nilai
No Nama
Pretes Postes
1 Aditya Permana 30 40
2 Ahmad Firtiadi 25 65
3 Agi Septiani 25 40
4 Ajeng Ayu Sandra 20 65
5 Aji Susanto 20 70
6 Alek Mardiana 40 55
7 Arif Sanjaya 20 65
8 Debi Darma MN 35 65
9 Dodi Haripin 25 70
10 Fia Oktapiani 30 65
11 Fikri Ari 25 70
12 Fitria 30 55
13 Gema Ramadhan 30 70
14 Irma Rosita 25 55
15 Irnanda 30 40
16 Ismayanti 20 55
17 Makhdoh 25 60
18 Maulana Cahyadi 30 65
19 Maya S 40 70
20 M. Rizal 40 80
21 M. Daru 40 50
22 Neneng Yulianti 25 75
23 Neng Febriyanti 30 75
24 Oki Aditian 15 65
25 Regiana Rolita 20 65
26 Riska Manasari 15 50
27 Riyan Firdana 20 60
28 Rizal Gunawan 15 60
29 Toni Ratir 30 65
30 Via kursita 30 75
31 Yudhi Mulya 30 50
Jumlah 835 1910
126

Lampiran 14
PENGHITUNGAN DAFTAR TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI
PRETEST KELOMPOK EKSPERIMEN

Hasil Pretest Kelas VIII-1


Hasil pretest dari kelas VIII-1 adalah sebagai berikut.
40 45 40 35 40 35 35
50 35 40 45 35 40 30
30 35 35 40 40 40
45 50 45 35 45 50
30 35 45 30 45 45

Dari sana diperoleh bahwa nilai maksimum (Xmaz)) adalah 50 dan nilai minimum (Xmin)
adalah 30. Sehingga dapatlah dibuat sebuah tabel distribusi frekuensi setelah terlebih
dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas (K), dan panjang kelas (P). Nilai
ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan berikut ini.
a. Rentang (R)
R  X mx  X min
 50  30
 20
b. Banyaknya Kelas (K)
K  1  3,3 log n
 1  3,3 log 32
 1  3,3  1,50
 1  4,97
 5,97
6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
c. Panjang Kelas (P)
127

R
P 
K
20

6
 3,33
4
Sehingga panjang kelasnya adalah 4.
d. Frekuensi Relatif
Frekuensi
Kelas Frekuensi Relatif
Absolut
30 - 33 4 12.50 %
34 - 37 9 28.13 %
38 - 41 8 25.00 %
42 - 45 8 25.00 %
46 - 49 0 0.00 %
50 - 53 3 9.38 %
Jumlah (∑) 32 100
128

Lampiran 15
ANALISIS DATA PENGUASAAN KONSEP FISIKA PRETES
(kelompok eksperimen)
Nilai Tengah Frekuensi
Kelas Batas Kelas fi . xi fi . xi2
(xi) (fi)
30 - 33 29.5 31.5 4 126 3969
34 - 37 33.5 35.5 9 319.5 11342.3
38 - 41 37.5 39.5 8 316 12482
42 - 45 41.5 43.5 8 348 15138
46 - 49 45.5 47.5 0 0 0
50 - 53 49.5 51.5 3 154.5 7956.75
Jumlah (∑) 237 249 32 1264 50888

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai rata-rata ( X ),
median (Me), modus (Mo), dan standar deviasi (S) nilai pretest ini. Berikut ini adalah
perhitungan untuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Rata-rata ( X )

X 
 f x
i i

f i

1264

32
 39,5
b. Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistik berikut ini.
1 
 nF 
Me  b  P 2 
 f 
 
 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 33,5
P = panjang kelas = 4
n = banyaknya data = 32
F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median = 4
f = nilai frekuensi kelas median = 9
129

Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai Median dari hasil pretest ini
adalah sebagai berikut.
1 
 .32  4 
Me  33,5  4 2 
 9 
 
 
 33,5  4  1,33
 33,5  5,33
 38,83
c. Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan menggunakan rumus statistik berikut ini.
 b1 
Mo  b  P 
 b1  b2 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 33,5
P = panjang kelas = 4
b1 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sebelumnya = 9–4=5
b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sesudahnya = 9–8=1
Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai modus dari hasil pretest ini
adalah sebagai berikut.
 5 
Mo  33,5  4 
 5 1
 33,5  4  0,83
 33,5  3,33
 36,83
130

d. Deviasi Standar (S)


Nilai deviasi standar ditentukan dengan rumus statistika berikut ini.

 f .x 
 f .x   f
2
2 i i


i ii

S  i

 f 1 i

50888 
1264
2

 32
32  1
1597696
50888 
 32
31
50888  49928

31
960

31
 30,97
 5,56
131

Lampiran 16
PENGHITUNGAN DAFTAR TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI PRETES
KELOMPOK KONTROL

Hasil pretest dari kelas VIII-3 adalah sebagai berikut.


30 40 25 20 40 15 30
25 20 30 25 25 20
25 35 30 30 30 15
20 25 25 40 15 30
20 30 30 40 20 30

Dari sana diperoleh bahwa nilai maksimum (Xmaz)) adalah 40 dan nilai minimum (Xmin)
adalah 15. Sehingga dapatlah dibuat sebuah tabel distribusi frekuensi setelah terlebih
dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas (K), dan panjang kelas (P). Nilai
ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan berikut ini.
a. Rentang (R)
R  X mx  X min
 40  15
 25
b. Banyaknya Kelas (K)
K  1  3,3 log n
 1  3,3 log 31
 1  3,3  1,49
 1  4,92
 5,92
6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
c. Panjang Kelas (P)
R
P 
K
25

6
 4,16
5
132

Sehingga panjang kelasnya adalah 5.


d. Frekuensi relatif
Frekuensi
Kelas Frekuensi Relatif
Absolut
15 - 19 3 9.68 %
20 - 24 6 19.35 %
25 - 29 7 22.58 %
30 - 34 10 32.26 %
35 - 39 1 3.23 %
40 - 44 4 12.90 %
Jumlah (∑) 31 100
133

Lampiran 17
ANALISIS DATA PENGUASAAN KONSEP FISIKA PRETES
(kelompok kontrol)
Batas Nilai Frekuensi
Kelas fi . xi fi . xi2
Kelas Tengah (xi) (fi)
15 - 19 14.5 17 3 51 867
20 - 24 19.5 22 6 132 2904
25 - 29 24.5 27 7 189 5103
30 - 34 29.5 32 10 320 10240
35 - 39 34.5 37 1 37 1369
40 - 44 39.5 42 4 168 7056
Jumlah (∑) 162 177 31 897 27539

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai rata-rata ( X ),
median (Me), modus (Mo), dan standar deviasi (S) nilai pretest ini. Berikut ini adalah
perhitungan untuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Rata-rata ( X )

X 
 f x
i i

f i

897

31
 28,93
b. Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistik berikut ini.
1 
 nF 
Me  b  P 2 
 f 
 
 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 29,5
P = panjang kelas = 5
n = banyaknya data = 31
F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median = 3 + 6 + 7 = 16
f = nilai frekuensi kelas median = 10
134

Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai Median dari hasil pretest ini
adalah sebagai berikut.
1 
 .31  16 
Me  29,5  5 2 
 10 
 
 
 29,5  5  (0,05) 
 29,5  0,25
 29,25
c. Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan menggunakan rumus statistik berikut ini.
 b1 
Mo  b  P 
 b1  b2 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 29,5
P = panjang kelas = 5
b1 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sebelumnya = 10 – 7 = 3
b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sesudahnya = 10 – 1 = 9
Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai modus dari hasil pretest ini
adalah sebagai berikut.
 3 
Mo  29,5  5 
39
 29,5  5  0,25 
 29,5  1,25
 30,75
135

d. Deviasi Standar (S)


Nilai deviasi standar ditentukan dengan rumus statistika berikut ini.

 f .x 
 f .x   f
2
2 i i


i ii

S  i

 f 1 i

27539 
897
2

 31
31  1
804609
27539 
 31
30
27539  25955,13

30
1583,87

30
 52,79
 7,27
136

Lampiran 18
PENGHITUNGAN DAFTAR TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI
POSTTES KELOMPOK EKSPERIMEN

Hasil posttest dari kelas VIII-1 adalah sebagai berikut.


45 50 75 55 45 85 70
70 55 70 85 60 80 80
65 55 55 75 60 70
75 75 65 60 75 75
75 85 70 60 80 75

Dari sana diperoleh bahwa nilai maksimum (Xmaz)) adalah 85 dan nilai minimum (Xmin)
adalah 45. Sehingga dapatlah dibuat sebuah tabel distribusi frekuensi setelah terlebih
dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas (K), dan panjang kelas (P). Nilai
ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan berikut ini.
a. Rentang (R)
R  X mx  X min
 85  45
 40
b. Banyaknya Kelas (K)
K  1  3,3 log n
 1  3,3 log 32
 1  3,3  1,50
 1  4,97
 5,97
6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
c. Panjang Kelas (P)
R
P 
K
40

6
 6,67
7
137

Sehingga panjang kelasnya adalah 7.


d. Frekuensi relatif
Frekuensi
Kelas Frekuensi Relatif
Absolut
45 - 51 3 9.38 %
52 - 58 4 12.50 %
59 - 65 6 18.75 %
66 - 72 5 15.63 %
73 - 79 8 25.00 %
80 - 86 6 18.75 %
Jumlah (∑) 32 100
138

Lampiran 19
ANALISIS DATA PENGUASAAN KONSEP FISIKA POSTTEST
(kelompok eksperimen)

Batas Nilai Tengah Frekuensi


Kelas fi . xi fi . xi2
Kelas (xi) (fi)

45 - 51 44.5 48.00 3 144.00 6912.00


52 - 58 51.5 55.00 4 220.00 12100.00
59 - 65 58.5 62.00 6 372.00 23064.00
66 - 72 65.5 69.00 5 345.00 23805.00
73 - 79 72.5 76.00 8 608.00 46208.00
80 - 86 79.5 83.00 6 498.00 41334.00
Jumlah (∑) 372 393.00 32 2187.00 153423

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai rata-rata ( X ),
median (Me), modus (Mo), dan standar deviasi (S) nilai posttest ini. Berikut ini adalah
perhitungan untuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Rata-rata ( X )

X 
 f x
i i

f i

2187

32
 68,34
b. Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistik berikut ini.
1 
 nF 
Me  b  P 2 
 f 
 
 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 65,5
P = panjang kelas = 7
n = banyaknya data = 32
F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median = 4 + 3 + 7 = 13
139

f = nilai frekuensi kelas median = 5


Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai Median dari hasil posttest ini
adalah sebagai berikut.
1 
 .32  13 
Me  65,5  7 2 
 5 
 
 
 65,5  7  0,6
 65,5  4,2
 69,7
c. Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan menggunakan rumus statistik berikut ini.
 b1 
Mo  b  P 
 b1  b2 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 65,5
P = panjang kelas = 7
b1 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sebelumnya = 8–5=3
b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sesudahnya = 8–6=2
Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai modus dari hasil posttest ini
adalah sebagai berikut.
 3 
Mo  65,5  7 
3 2
 65,5  7  0,6 
 65,5  4,2
 69,7
140

d. Deviasi Standar (S)


Nilai deviasi standar ditentukan dengan rumus statistika berikut ini.

 f .x  2

 f .x  2 i i

f
i ii


i
S
 f 1 i

153423 
2187 
2

 32
32  1
4782969
153423 
 32
31
153423  149467,78

31
3955,22

31
 127,59
 11,29
141

Lampiran 20
PENGHITUNGAN DAFTAR TABEL DISTRIBUSI FREKUENSI NILAI
POSTTEST KELOMPOK KONTROL

Hasil posttest dari kelas VIII-3 adalah sebagai berikut.


55 40 70 55 50 50 50
65 65 60 60 75 60
40 65 70 65 75 60
65 70 55 70 75 65
70 65 55 65 65 80

Dari sana diperoleh bahwa nilai maksimum (Xmaz)) adalah 80 dan nilai minimum (Xmin)
adalah 40. Sehingga dapatlah dibuat sebuah tabel distribusi frekuensi setelah terlebih
dahulu menentukan nilai rentang (R), banyaknya kelas (K), dan panjang kelas (P). Nilai
ketiganya diperoleh berdasarkan perhitungan berikut ini.
a. Rentang (R)
R  X mx  X min
 80  40
 40
b. Banyaknya Kelas (K)
K  1  3,3 log n
 1  3,3 log 31
 1  3,3  1,49
 1  4,92
 5,92
6
Sehingga banyaknya kelas adalah 6
c. Panjang Kelas (P)
R
P 
K
40

6
 6,67
7
142

Sehingga panjang kelasnya adalah 7.


d. Frekuensi relatif
Frekuensi
Kelas Frekuensi Relatif
Absolut
40 - 46 2 6.45 %
47 - 53 3 9.68 %
54 - 60 8 25.81 %
61 - 67 9 29.03 %
68 - 74 5 16.13 %
75 - 81 4 12.90 %
Jumlah (∑) 31 100
143

Lampiran 21
ANALISIS DATA PENGUASAAN KONSEP FISIKA POSTTEST
(kelompok kontrol)
Batas Nilai Frekuensi
Kelas fi . xi fi . xi2
Kelas Tengah (xi) (fi)
40 - 46 39.5 43.00 2 86.00 3698.00
47 - 53 46.5 50.00 3 150.00 7500.00
54 - 60 53.5 57.00 8 456.00 25992.00
61 - 67 60.5 64.00 9 576.00 36864.00
68 - 74 67.5 71.00 5 355.00 25205.00
75 - 81 74.5 78.00 4 312.00 24336.00
Jumlah (∑) 342 363.00 31 1935.00 123595

Berdasarkan tabel distribusi frekuensi tersebut maka dapat ditentukan nilai rata-rata ( X ),
median (Me), modus (Mo), dan standar deviasi (S) nilai posttest ini. Berikut ini adalah
perhitungan untuk menentukan nilai-nilai tersebut.
a. Rata-rata ( X )

X 
 f x
i i

f i

1935

31
 62,42
b. Median (Me)
Nilai median ditentukan dengan rumus statistik berikut ini.
1 
 nF 
Me  b  P 2 
 f 
 
 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 60,5
P = panjang kelas = 7
n = banyaknya data = 31
F = nilai frekuensi kumulatif sebelum kelas median = 8 + 3 + 2 = 13
f = nilai frekuensi kelas median = 9
144

Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai Median dari hasil posttest ini
adalah sebagai berikut.
1 
 .31  13 
Me  60,5  7 2 
 9 
 
 
 60,5  7  0,28
 60,5  1,96
 62,46
c. Modus (Mo)
Nilai modus ditentukan dengan menggunakan rumus statistik berikut ini.
 b1 
Mo  b  P 
 b1  b2 
Dimana:
b = batas bawah kelas median = 60,5
P = panjang kelas = 7
b1 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sebelumnya = 9–8=1
b2 = frekuensi kelas modus dikurangi frekuensi
kelas sesudahnya = 9–5=4
Berdasarkan data tersebut, maka dapat ditentukan nilai modus dari hasil posttest ini
adalah sebagai berikut.
 1 
Mo  70,5  7 
1 4 
 60,5  7  0,2 
 60,5  1,4
 61,9
145

d. Deviasi Standar (S)


Nilai deviasi standar ditentukan dengan rumus statistika berikut ini.

 f .x  2

 f .x  2 i i

f
i ii


i
S
 f 1 i

123595 
19352
 31
31  1
3744225
123595 
 31
30
123595  120781,45

30
2813,55

30
 93,785
 9,68
146

Lampiran 24
PENGHITUNGAN UJI NORMALITAS KELOMPOK EKSPERIMEN

Uji Normalitas Posttest Eksperimen


Z
batas luas Z (Oi -
Kelas fi.xi xi fi. Xi2 batas Ei Oi
kelas tabel Ei)^2/Ei
kelas
44.5 -2.11
45 51 144 48 6912 1.6224 3 0.6326
- 0.0507
51.5 -1.49
52 58 220 55 12100 3.9712 4 0.0002
- 0.1241
58.5 -0.87
59 65 372 62 23064 6.6912 6 0.0796
- 0.2091
65.5 -0.25
66 72 345 69 23805 7.7760 5 1.5412
- 0.243
72.5 0.37
73 79 608 76 46208 6.2272 8 0.3929
- 0.1946
79.5 0.99
80 86 498 83 41334 3.0976 6 1.4040
- 0.0968
85.5 1.52
86 92
-
Jumlah 2187 393 153423 X2 4.0505

Karena Xhitung < Xtabel = 4,0505 < 7.81 pada taraf signifikansi α 0,05 maka data
dinyatakan berdistribusi normal
147

Lampiran 25
PENGHITUNGAN UJI NORMALITAS KELOMPOK KONTROL

Uji Normalitas Posttest Kontrol


Z
batas luas Z (Oi -
Kelas fi.xi xi fi. Xi2 batas Ei Oi
kelas tabel Ei)^2/Ei
kelas
39.5 -2.37
40 46 86 43 3698 1.2896 2 0.3913
- 0.0416
46.5 -1.64
47 53 150 50 7500 3.9773 3 0.2401
- 0.1283
53.5 -0.92
54 60 456 57 25992 7.4989 8 0.0335
- 0.2419
60.5 -0.20
61 67 576 64 36864 8.6118 9 0.0175
- 0.2778
67.5 0.52
68 74 355 71 25205 6.0729 5 0.1895
- 0.1959
74.5 1.25
75 81 312 78 24336 2.3219 4 1.2128
- 0.0749
80.5 1.87
81 -
Jumlah 1935 363 123595 X2 2.0848

Karena Xhitung < Xtabel = 2,0848 < 7.81 pada taraf signifikansi α 0,05 maka data
dinyatakan berdistribusi normal
148

Lampiran 26
PENGHITUNGAN HOMOGENITAS DATA POSTTEST

Eksperimen Kontrol
S2 127,59 93,785
N 32 31

Pengujian homogenitas yaitu:


V1  S12 
F  
V2  S 22 
127,59
F  1,360
93,785
Fhitung 1.360
Ftabel 1.84 Db=31-1=30 pembilang
Db=32-1=31 penyebut

Fhitung < Ftabel


1.30 < 1.84 Data Homogen
149

Lampiran 27
PENGHITUNGAN UJI HIPOTESIS
A. Posttest
Untuk pengujian hipotesis penelitian ini langkah-langkah yang dapat diambil
adalah sebagai berikut
1. Hipotesis
Ho : Tidak ada pengaruh yang signifikan model
H1 : Ada pengaruh yang signifikan model
Ho : µX1 < µX2
H1 : µX1 > µX2

2. Menentukan harga thitung digunakan persamaan :

X1  X 2 n1  1V1  n2  1V2


t dimana dsg 
1 1 n1  n2  2
dsg 
n1 n 2

Langkah-langkah menentukan nilai thitung adalah sebagai berikut.


1. Menentukan nilai-nilai yang telah diketahui.
Dari nilai posttest diperoleh:
X1 = 68,34

X2 = 62,42
V1 = SD12 = (11,3)2 = 127,69
V2 = SD22 = (9,68)2 = 93,70
2. Menentukan nilai deviasi standar gabungan (dsg) dengan rumus berikut ini.
150

n1  1V1  n 2  1V2


dsg 
n1  n 2  2


32  1127,69  31  193,70
32  31  2
3958,39  2904,7

61
6863,09

61
 112,51
 10,61
3. Menentukan nilai thitung berdasarkan rumus data-data yang telah diperoleh.
X1 X 2
t hitung 
1 1
dsg 
n1 n 2
68,34  62,42

1 1
10,61 
32 31
5,92

10,61 0,03125  0,03226
5,92

10,61 0,252
5,92

2,67
 2,22
4. Menentukan nilai ttabel
Derajat kebebasan untuk mencari nilai ttabel adalah:
dk = n1 + n2 – 2 = 32 + 31 – 2 = 61
pada taraf signifikansi 5% nilai ttabel diperoleh dengan interpolasi.
t(0,95)(60) = 2,000
t(0,95)(120) = 1,980
dengan interpolasi diperoleh nilai ttabel untuk dk=61 sebagai berikut.
151

1
t 0,95 61  2,000 (2,00  1,980)
60
 2,000  0,00032
 1,99968
Dengan cara interpolasi yang sama, maka nilai ttabel pada taraf signifikansi 1% adalah:
t(0,99)(60) = 2,660
t(0,99)(120) = 2,617
jadi nilai ttabel dengan dk = 61 diperoleh
1
t 0,99 61  2,660 (2,660  2,617)
60
 2,660  0,0007
 2,659
5. Menguji Hipotesis
Pada taraf signifikansi 1% nilai thitung < ttabel , maka Ho diterima dan Ha ditolak. Namun
pada taraf signifikansi 5% nilai thitung > ttabel , maka Ha diterima dan Ho ditolak
6. Memberikan interpretasi
Berdasarkan hasil uji hipotesis di atas, pada taraf kepercayaan 95% terdapat
perbedaan penguasaan konsep siswa yang menggunakan model sains teknologi
masyarakat dengan yang menggunakan metode konvensional. Namun pada taraf
kepercayaan 99%, tidak terdapat perbedaan penguasan konsep fisika siswa yang
menggunakan model sains teknologi masyarakat dengan yang menggunakan metode
konvensional. Sehingga dapat dikatakan bahwa model sains teknologi masyarakat
dapat mempengaruhi penguasaan konsep siswa hanya pada taraf kepercayaan 95%
saja, tidak pada taraf kepercayan 99%.